Jiwa Kesatria Tanah Jawa

image

Jiwa kesatria Jawa menurut Sinuhun Sri Sultan HB VIII ing Ngayogyakarta Hadiningrat.

1. Sêwiji : menyatukan kebulatan tekad dan segenap potensi diri untuk satu tujuan.
2. Grêgêt : dinamika jiwa yg disalurkan dalam gerak, usaha, perjuangan meraih tujuan.
3. Sêngguh : percaya pada kekuatan diri sendiri, dilandasi jatidiri yang kokoh, mampu mengendalikan dan memenej kekuatan dan potensi diri dengan baik.
4. Ora mingkuh (mingkuh : tinggal glanggang glanggang colong playu). Artinya, tidak meninggalkan tanggungjawab dan tugas dalam meraih tujuan. Teguh hati dan kuat dalam menjaga prinsip. Sekalipun menghadapi tantangan berat.

Read the rest of this entry

Semoga Negeriku Dinaungi dari Marabahaya Besar

Selamat pagi sedulur pembaca blog seluruh Nusantara apapun agama, suku, sesembahan dan pandangan politiknya. Berikut ini saya persembahkan instrumen dan Jawa. Dengan harapan semoga berguna untuk coolingdown, bikin hati ayem tentrem, batin jenjem jinem. Yang penting kita selalu ingat, kita semua masih satu nusa, satu bangsa, satu bahasa. Ada yang lebih utama dalam kehidupan ini ketimbang seorang presiden. Yakni jatidiri sebagai berkah agung yang ada di Nusantara. Marilah terutama saat ini kita perbanyak berkarya seni, berapresiasi seni, dan berbudaya adiluhung Nusantara agar tercipta situasi dan kondisi yang tata titi tentrem kerta raharja. Semakin sering kita alunkan musik tradisional masing-masing daerah dan kidung-kidung mantera, agar energinya selaras dengan spesifikasi karakter alam Nusantara. Supaya alam selalu berpihak kepada kita semua generasi bangsa. Setidaknya hal itu akan mengurangi beboyogung soko alam opodene jalma manungsa kang wus katon ing pralampita. Panca agni (5 hawa napsu angkara) sudah mulai berkobar, selalu disusul Sapta Tirta, saling bergantian. Sapta Tirta pada saat ini pun sedang menembus bumi Nusantara. Mugi-mugi sedulur sedaya, ugi sagung titah dumadi tansah pinaringan karahayon dan kabegjan.

Berikut ini Palaran Asmaradana pelog 6

http://www.4shared.com/mp3/PLWi7oALba/Instrumen_palaran_asmaradana_s.html

Berikut Kidung Mantera Jatimulyo.

http://www.4shared.com/mp3/3hK8BEADba/Kidung_Mantra_JatimulyoKi_Sabd.html

Ana kidung sun angidung wengi
Bebaratan duk amrem winaca
Sang Hyang Guru pangadeke
Lumaku Sang Hyang Bayu
Alambeyan asmara ening
Ngadek pangawak teja
Kang angidung iku
Yen kinarya angawula
Myang lelungan Gusti

Gething dadi asih
Setan sato sumimpang

Kegunaan kidung jatimulya ini antara lain :
1. Untuk tolak balak, termasuk niat jahat dari orang lain.
2. Untuk pengobatan yang sedang menderita sakit.
3. Bila melakukan slametan, upacara diawali atau dibuka dengan mantera kidung Jatimulya ini akan mendapat kemuliaan dalam hal derajat pangkat. Monggo untuk yang percaya saja. Yang tidak percaya tidak perlu membuat olok-olok. Cukup diam saja, itu akan lebih menunjukkan budi pekerti luhur Anda.

Dan satu lagi tembang cuplikan Serat Wedatama pupuh Pangkur podo kaping 12 :

Sapantuk wahyuning Alah,
Gya dumilah mangulah ngelmu bangkit,
Bangkit mikat reh mangukut,
Kukutaning jiwangga,
Yen mengkono kena sinebut wong sepuh,
Lire sepuh sepi hawa,
Awas roroning atunggil

Siapapun yang menerima wahyu Tuhan,
Dengan cermat mencerna ilmu tinggi,
Mampu menguasai ilmu kasampurnan,
Kesempurnaan jiwa raga,
Bila demikian pantas disebut “orang tua”.
Arti “orang tua” adalah tidak dikuasai hawa nafsu
Manunggal kalawan Gustinira (menyatunya roh jagad alit dengan Roh Jagad Agung)

http://www.4shared.com/mp3/Vo345h20ba/Tembang_pangkur_wanaran_pl_6_s.html

Urip Kudu Murup

image

Lagoona Pantai Glagah Indah Kulonprogo

Meraih jabatan dan kekuasaan itu hal yang mudah, tetapi menjadi pemimpin yang melaksanakan amanat tidaklah mudah. Menjadi pemimpin bisa menjadi suatu berkah, bisa pula menjadi malapetaka dalam kehidupan. Baik kehidupan dirinya sendiri maupun kehidupan rakyat yang dipimpinnya. Seorang pemimpin akan menjadi sumber malapetaka bagi rakyatnya apabila dia orang yang tidak memenuhi asas kepantasan. Sebaliknya seorang pemimpin akan menjadi sumber anugrah bagi rakyatnya apabila dirinya telah memenuhi asas kepantasan.

Apakah ASAS KEPANTASAN itu ?

Seperti dalam falsafah hidup masyarakat Jawa, bahwa urip iku kudu murup. Artinya, dalam menjalani kehidupan di dunia ini haruslah “menyala”, sehingga cahayanya dapat menerangi sekitarnya. “Menyala” maksudnya kita mampu berperan memberikan konstribusi dalam kelangsungan hidup pada seluruh makhluk. Diri kita diumpamakan lampu. Lampu tidak akan berguna jika tidak menyalakan sinarnya sebagai penerang bagi lingkungannya, yakni menerangi seluruh mahluk hidup dengan cahaya kehidupan. Cahaya kehidupan itu bukan sekedar rutinitas ritual sehari-hari, melainkan amal kebaikan yang nyata kita lakukan untuk seluruh kehidupan, dilakukan setiap saat dengan penuh kasih sayang dan keikhlasan. Amal kebaikan dari tahap dan lingkup paling kecil. Sering menolong, dan membantu sesama dan tidak pilih kasih. Selalu memberikan kemudahan dan jalan hidup kepada sesama manusia tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan. Di situlah kewajaran sebagai seorang pemimpin agar dapat memberikan anugrah kemakmuran dan kesejahteraan kepada rakyatnya. Semakin intens seseorang menjadi “murup”, akan semakin tinggi pula asas kepantasannya.

Sebaliknya, jika kehidupan seseorang tidak “murup”, artinya hidup seseorang hanya akan menjadi sumber kegelapan, perilakunya menimbulkan kebinasaan, sikapnya merusak dan merugikan sendi-sendi kehidupan, menghancurkan lingkungan alam, mengganggu ketentraman dan kedamaian masyarakat. Segala macam penyakit hati, iri, dengki, amarah merupakan sumber malapetaka bagi seluruh kehidupan di planet bumi ini.

Untuk itu, seorang pemimpin haruslah “murup”, buktikan terlebih dahulu agar hidupnya berguna untuk seluruh kehidupan bangsa manusia, tumbuhan, dan binatang. Mulai dari lingkup terkecil, keluarga, sampai masyarakat luas. Maka asas kepantasan akan dapat terpenuhi, dan seseorang barulah akan pantas menjadi pemimpin yang membawa berkah dan anugrah bagi daerah yang dipimpinnya.

Seseorang (calon pemimpin) yang telah mencapai level tertentu asas kepantasan akan dinilai oleh hukum tata keseimbangan alam sebagai orang yang layak menerima wahyu kepemimpinan. Wahyu kepemimpinan berbeda setiap level kepemimpinan. Wahyu kepemimpinan untuk Lurah atau Kepala Desa lazimnya disebut “ndaru” atau pulung. Wujudnya cahaya putih perak kemilauan, dengan ukuran diameter antara 50-100 cm. “Ndaru” bisa dilihat dengan mata wadag, jatuh di atas rumah orang yang akan terpilih menjadi Lurah. Jatuhnya pulung itu biasanya terjadi malam sebelum pemilihan lurah.

Sapa sing gawe urup marang liyan, ateges gawe murup awake dewe

Read the rest of this entry

(Satria Piningit) Pambukaning Gapura

 Kisah Perjalanan Wahyu Keprabon Mencari Satria Piningit Sejati

Lampah             :              (SATRIO PININGIT) PAMBUKANING GAPURA
Dhalang             :              KI SENO NUGROHO
Waktu                :              Minggu, 18 Mei 2014 (Malam Senin Pon)
Tempat             :              Halaman Makam Raja-raja Mataram di Kotagedhe Yogyakarta

Pasewakan Agung

Jika TIDAK, Nusantara akan kalah !!

Sesuai pralampita yang diberikan oleh Ki Dalang Panjangmas, seorang dalang yang mempunyai kekuatan idu geni (apa yang diucap akan terjadi) hidup pada masa kerajaan Mataram, pada masa kepemimpinan Gusti Hamangku Rat Agung lokasi di seputar wilayah Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul.  Untuk menuntaskan lakon terdahulu Satria Piningit yang telah digelar pada Minggu Pon 4 Mei 2014 di Galur, Kulonprogo, DIY.  Jika lakon tidak dilanjutkan, bukan SP maupun kamu yang akan kalah, tetapi Nusantara. Kalah dari kekuatan jahat yang akan merusak dan merampok kekayaan alam Indonesia. Kekuatan jahat yang akan menjajah pola pikir generasi bangsa Indonesia. Mirip seperti pepeling Bung Karno, “kelak penjajahan yang kamu hadapi jauh lebih berat, karena yang menjajah adalah bangsamu sendiri. Apa yang dikatakan BK saat ini telah menjadi kenyataan, sebagian warga bangsa kita sendiri, yang menjadi  antek (kepanjangan tangan) kepentingan asing, dan agen-agen konspirasi yang melibatkan kekuatan transnasional. Kekejaman yang dilakukan oleh sebagian warga bangsa sendiri terhadap WNI yang lain tidak kalah kejam dibanding kolonialisme yang dilakukan oleh Negara asing terhadap bangsa Indonesia. Nasionalisme, atau sikap kecintaan terhadap tanah air kadang sengaja dirusak dengan dalih nilai-nilai ketuhanan. Padahal nasionalisme itu sendiri merupakan wujud manusia menghormati Tuhannya, seperti yang termaktub dalam ungkapan “hamemayu hayuning Rat, hamemayu hayuning bawana, hamemayu hayuning diri. Sebuah nilai spiritual yang meliputi dimensi  triloka. Sebagian warga bangsa Indonesia jatuh cinta secara buta kepada bangsa lain, sampai-sampai terhadap bangsanya sendiri pun bersikap setengah hati. Sungguh luar biasa kekuatan yang merusak Nusantara ini. Karena Nusantara bagaikan gadis cantik idaman, setiap pria ingin meminangnya. Nusantara adalah syurga yang nyata, sumber berkah alam bagi kehidupan seluruh mahluk. Itulah sebabnya Nusantara menjadi incaran kepentingan ekonomi dan politik internasional. Jika sulit dikuasai melalui siasat kolonialisasi, maka penjajahan dilakukan memalui siasat imperialisme ekonomi, budaya dan spiritual. Yang pertama-tama dilakukan adalah merusak pola pikir (mind set) generasi penerus bangsa agar hilang rasa cinta tanah air dan tidak kenal akan jati diri bangsanya. Sebab keduanya merupakan “nyawa”, sumber kekuatan dan energy hidup yang menghidupkan setiap bangsa-bangsa di dunia ini tak terkecuali bangsa Indonesia. Jika keduanya hilang, Nusantara ini bagaikan bangsa ayam sayur, bangsa krupuk mlempem. Tinggal kentutnya doang yang bau. NKRI dijadikan bancakan oleh negara-negara asing, bagaikan  tubuh seekor rusa yang gemuk dikoyak oleh gerombolan serigala yang rakus. Jika kita tidak peduli semua persoalan kebangsaan itu, apalagi turut merusak nilai-nilai kebangsaan, sebagai generasi penerus bangsa mengambil peran sebagai babagian dari gerombolan serigala. Jika kita tidak menyadari,  peranan kita ibarat menjadi rusanya. Marilah kawan, bangkit dan bangunlah, jangan asik masyuk mendem lan mabok donga, jangan sampai hidup kita tak berguna, sia-sia dan membuat celaka anak turun kita kelak. Jangan sampai keberadaan kita di permukaan bumi Nusantara ini sekedar menyisakan ampas beracun kepada anak cucu kita yang akan hidup di masa yang akan datang. Itu dosa besar yang tiada ampun.

Kekuatan spirit pagelaran wayang kulit sudah saya singgung pada tulisan terdahulu dalam review pagelaran wayang dengan lakon Satria Piningit. Ending lakon SP berakhir dengan kalimat yang keluar dari sebdaning Ki Dalang Panjangmas,”Pujadewa, pekenira mung sawijining satria kang pantes kesinungan wahyu keprabon, sanajan pakenira wus kesinungan WK, nanging pekenira isih timur, kudu nunggu ing titiwancine dewasa kanggo jumeneng nata. (Pujadewa, kamu seseorang yang paling pantas menerima wahyu keprabon, walaupun kamu sudah terpilih oleh alam menerima Wahyu Keprabon, tetapi kamu masih muda, tunggu hingga saat dewasa nanti untuk menjadi ratu di kerajaan Hastina). Dan ternyata teka-teki siapa SP masih berlanjut, pada lakon lanjutan ternyata bukan Pujadewa (Raden Abimanyu), melainkan putranda Raden Abimanyu dengan Dewi Utari, yakni Raden Parikesit yang akhirnya kesinungan WK dari ayahandanya, dan bisa duduk di tahta kerajaan Hastinapura. Karena Raden Abimanyu gugur di medan laga, setelah melindungi pakdenya Prabu Puntadewa dari jebakan dan kepungan ribuan tentara Kurawa. Dan pada saat itu Raden Parikesit masih di dalam kandungan ibunda Dewi Utari.

Lakon terdahulu ternyata belum tuntas menceritakan siapa yang berhak pemegang WK hingga duduk di tahta kerajaan. Sesuai wangsit, lakon SP harus dituntaskan, jika tidak, maka yang kalah bukan SP tapi Nusantara. Lakon lanjutan mendapat titel dari Ki Dalang Panjangmas “Pambukaning Gapura”.  Jika disambung dengan lakon terdahulu menjadi satu kalimat penuh makna yakni, “Satria Piningit Pambukaning Gapura”. Masih dengan dalang yang sama, Ki Seno Nugroho. Kata Ki Dalang Panjangmas, “Dalang- é sing kae wingi wae…sing wis bisa manjing. Tak ada kata lain selain, injih sendika dawuh !!. Berapapun banyaknya beaya tidak masalah, ini untuk kepentingan orang banyak, kepentingan bangsa, ya Nusantara ini, bukan sekedar untuk kepuasan dan kepentingan pribadi. Maka seperti biasanya, uangnya yang akan menyesuaikan kebutuhan. Ada saja jalannya. Terimakasih kepada semua pihak yang membantu, dan khususnya sedulur-sedulur KKS senusantara atas kepedulian terhadap nasib bangsa ini.

Begitu dadakan menelpon Ki Seno Nugroho, tapi masih beruntung karena Ki Dalang Seno juga langsung menjawab, sendika dawuh Ki..! Padahal kalau mau nanggap Ki Seno biasanya harus jauh-jauh hari sebelumnya karena padatnya jadwal pentas pagelaran. Siangnya, setelah pagelaran wayang Satria Piningit Pambukaning Gapura, Ki Seno dan tim langsung berangkat ke Polandia karena kedubes RI Polandia ditanggap wayang oleh orang bule sana. Entah lakonnya apa lupa menanyakan. Mungkin juga lakone “jumenengan Andrew Sletzianowzky”…hehe.

Perjalanan WK mencari sang Negarawan Sejati

Atas saran gurunya Prabu Kresna, Raden Pujadewa yang sudah kesinungan WK, masih harus menunggu dewasa dan matang untuk menduduki dampar keprabon di kerajaan Hastinapura. Dan hukum tata keseimbangan alam masih berlanjut untuk menata keadaan mercapadha yang sudah terlampau mosak-masik akibat kekacauan dan kerusakan yang dibuat oleh trah Kurawa. Perjalanan WK untuk mencari siapa yang paling pantas dan berhak menyandang WK masih berlanjut. Hingga tiba saatnya, di mana terjadi suatu kisah yang terjadi kurang lebih 15 tahun setelah usainya Perang Bharatayudha, perang besar-besaran selama 18 hari antara pihak Pandawa dan Kurawa yang pada akhirnya dimenangkan oleh Pandawa. Tak berapa lama setelah itu, Prabu Yudhistira yang mempunyai nama lain Puntadewa, sebagai putra sulung dari Pandawa Lima bersaudara kemudian dinobatkan sebagai Raja di Hastinapura bergelar Prabu Kalimataya. Hingga pada suatu ketika Sang Prabu merasa usianya sudah tua, kemudian memutuskan untuk ‘lengser keprabon’ bukan karena terpaksa apalagi kudeta, melainkan mengikuti panggilan hati hendak madeg pandita’. Read the rest of this entry

Lakon Lanjutan : Pambukaning Gapura

Lakon Lanjutan : Pambukaning Gapura

Satria Piningit

Sebelum kami memaparkan sedikit sinopsis tentang pagelaran kulit dengan lakon Pambukaning Gapura pada 18 Mei nanti, tulisan ini kami awali dengan review pagelaran wayang kulit dengan lakon Satria Piningit, yang telah berlangsung pada 4 Mei lalu.

Lakon                 :              PAMBUKANING GAPURA
Dhalang             :              Ki Seno Nugroho
Waktu                :              Minggu Pahing 18 Mei Jam 21.00 WIB sampai selesai
Tempat             :              Halaman Parkir Pasarean Agung Kotagede Mataram
               

Review lakon Satrio Piningi

Hukum Keadilan Alam

Di dunia pewayangan, raja bukan dipilih langsung oleh rakyat.Seorang calon raja akan menjadi raja pada waktunya jika sudah ada tanda-tanda “wahyu” yang  turun kepada calon raja tersebut. Di kalangan masyarakat Jawa kebanyakan, turunnya wahyu ditandai dengan meluncurnya “ndaru” (meteor) di langit pada waktu yang diharapkan. Sesaat kemudian biasanya calon raja yang telah menerima wahyu berupa “ndaru” akan menduduki tahta kerajaan, sampai pada suatu saat ada calon raja baru yang juga menerima wahyu untuk menduduki tahta kerajaan.

WAHYU KEPRABON (WK),  dipercaya sebagai restu dari Tuhan atau anugrah alam semesta untuk menjadi raja. WK tidak dapat dibeli dengan money politic dan tidak dapat dirampas dengan kekuatan dan kekuasaan. Karena WK adalah bentuk legitimasi kekuatan hukum alam semesta, di mana WK akan jatuh kepada seseorang yang memenuhi syarat laku. Ia adalah figure yang selaras dan harmonis dengan hukum alam. Jika alam semesta dalam hal ini Sang Jagadnata, atau Roh Jagad Agung  (Spirit Of The Universe),  menilai tidak ada figure seseorang yang memenuhi syarat, maka WK tidak akan muncul. Pemimpin yang ada adalah pemimpin (Presiden) palsu yang tidak memiliki legitimasi dari kekuatan hukum alam. Sebagai akibatnya, selama pemimpin tersebut berkuasa akan terjadi banyak bencana, dan malapetaka. Keadaan Negara akan jauh dari kemakmuran dan ketentraman.

Cerita tentang WK terbawa ke zaman kemerdekaan hingga sekarang. Pada zaman Orde Baru, mantan presiden Soeharto dalam wawancara dengan radio Belanda, secara jujur mengakui bahwa yang mendapat wahyu adalah ibu Tien Soeharto. Begitu Ibu Tien mendahului meninggal, ia sadar sepenuhnya bahwa tak lama lagi ia akan turun. Dan benar juga, tak lama kemudian presiden Soeharto turun dari tahta kepresidenan.

Wayang tidak saja hadir dalam dunia atau realitas politik. Akan tetapi, wayang juga  hadir dalam karya sastra untuk mengungkapkan masalah politik. Wayang menampilkan problematika kekuasaan yang kental, yang relevan dengan kondisi perpolitikan di Indonesia.  Dalam dunia pewayangan, kepala negara adalah raja, yang mengepalai sebuah Kerajaan.

WK, sangat melekat dengan konstelasi politik Nasional. Eksistensi WK sekaligus menunjukkan adanya peran Supernatural Power dalam perjalanan kehidupan bangsa Indonesia. Nusantara adalah Negeri yang istimewa dengan segenap nilai plus-minus  yang saat ini terjadi. Segala permasalahan yang terjadi di Indonesia terutama disebabkan oleh sistem pengelolaan Negara yang tidak pas dan pener dengan karakter jatidiri Nusantara. Read the rest of this entry

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 895 pengikut lainnya.