2012 (4)

Dulur-dulur semua yang budiman

Bulan Suro Culiko sebentar lagi usai. Kelanjutan bulan Suro-culiko, memasuki tahun wawu.

01. Tanggal Masehi : 28 Desember 2011
02. Dina – Pasaran : Rêbo Kliwon
03. Tanggal Jawa : 01 Sapar 1945 – Wawu
04. Tanggal Hijriah : 02 Shafar 1433 (H)
05. Windu-Lambang : Sengårå, Kulawu
06. Nama Wuku : Gumbrêg
07. Môngsô : Kapitu – Palguna (22/11 s/d 02/02)
08. Sadwårå : Wurukung
09. Haståwårå/Padewan : Guru
10. Sångåwårå/Padangon : Dadi
11. Saptåwårå/Pancasuda : Lêbu Katiyub Angin
12. Rakam : Kala Tinantang
13. Paarasan : Lakuning Srêngéngé

Persaingan antara kepentingan politik kian memanas, ketat dan carut marut. Masing-masing kekuatan jahat mengerahkan segala kemampuannya untuk memenangi pertarungan. Energi jahat melawan energi jahat.  Mulut-mulut lebar saling berkoar mencari menangnya sendiri. Sandiwara politik kian menggemparkan. Akrobat politik semakin menakjubkan. Semua berebut benarnya sendiri, berebut butuhnya sendiri, berebut menangnya sendiri. Skandal ditutup dengan kasus baru. Kasus-kasus lama diam-diam disimpan untuk amunisi bila kelak diperlukan. Manusia lupa kemanusiaannya. Mana sesungguhnya binatang mana sesungguhnya manusia sulit diidentifikasi. Banyak orang lupa siapa jati dirinya. Skandal ditimbun kasus baru. Gali kasus tutup kasus, gali skandal tutup skandal. Nasib bangsa ini berada ditangan generasi penerusnya. Kaum intelek dan akademisi, dan semua yang telah sadar akan jati diri. Yang telah merdeka lahir dan batinnya. Para putra-putri Nusantara yang telah kenyang akan segala macam ancaman dan intimidasi yang digemari oleh jiwa-jiwa fasis (termasuk “theo-facism“). Semua itu tak akan pernah ciutkan nyali jiwa-jiwa merdeka generasi penerus bangsa.

RUNTUH 2012

Menggah ingkang tansah eling lan waspada. Wus akeh pratanda jaman. Suro-culiko, mowo pratondo jugruging wewangunan. Runtuhnya beberapa jembatan, runtuhnya  tembok pembatas, runtuhnya tiang pancang, runtuhnya bangunan sekolah, runtuh tebing-tebing bukit menimpa rumah-rumah warga, runtuhnya pesawat ke belukar hutan, runtuhnya gerbong kereta, runtuhnya kapal besar ke dasar laut. Gunung-gunung meruntuhkan debu dan laharnya ke daratan. Sungai-sungai meruntuhkan tebing dan bantaran membawa reruntuhan pasir dan bebatuan.

Kita akan memasuki tahun di mana terjadi fase keruntuhan. Rutuhnya perekonomian nasional dalam kondisi paling parah sepanjang sejarah, akibat ulah para rampok dan gerombolan kecu kekayaan negara. Ditambah lagi efek domino runtuhnya perekonomian dunia. Runtuhnya wibawa politik para penguasa dan wakil rakyat akibat tindakan lacur dan lancung. Runtuhnya kredibilitas penegakan hukum akibat keberpihakannya pada uang dan jabatan. Runtuhnya kejujuran para pendakwah agama akibat kepentingan periuk  dan bermodalkan buaian kata-kata. Runtuhnya jiwa-jiwa manusiawi menjadi angkara murka. Runtuhnya humanisme menjadi sadisme. Runtuhnya adab menjadi biadab. Runtuhnya moralitas menjadi amoralitas. Read more…

RUNTUHNYA SEBUAH (jembatan) DINASTI

Awan Naga Tenggarong

RUNTUHNYA SEBUAH (JEMBATAN) DYNASTY

GURUKU BERNAMA TUMBUHAN

Oh…Pameungpeuk…

PROLOG

Jembatan Kukar

Sehari menjelang 1 Surà, pada hari Sabtu Pon, 26-11-2011 pukul 16.10 Wita (sudah masuk peralihan malam 1 Suro) di mana sebagai saat memasuki sengkala taliwangke atau kematian. Jembatan itu memasuki usianya yang ke-11 (sêwêlas) jembatan megah sepanjang 500 meter sekaligus sebagai simbol mercusuar Kabupaten Kutai Kertanegara runtuh dalam waktu beberapa detik. Beberapa pekerja dan banyak orang-orang yang sedang lalu lalang di atas jembatan menikmati panorama alam serta kemegahan jembatan menjadi korban. Dikabarkan ada sebanyak 40 mobil, 1 bus karyawan, 1 bus umum tenggelam, truk trailler, puluhan sepeda motor hanyut dan diperkirakan lebih dari 60 jiwa melayang terseret arus sungai Mahakam yang dalamnya lebih dari 50 meter itu. Ironinya, ia runtuh disaat usianya memasuki tahun kesebelas (sêwêlas) di mana merupakan pralampita kawêlasaning Gusti. Apakah semua ini artinya? Musibah ? Tanpa menggunakan referensi, petunjuk, dan analisa jelaslah peristiwa ini dapat dikategorikan sebagai musibah. Azabkah ? Semua musibah boleh saja dinilai sebagai musibah, boleh pula dinilai sebagai berkah. Tinggal dari sudut pandang mana kita akan menilai dan memaknai suatu peristiwa. Semua orang bisa saja mengatakannya sebagai azab tuhan atau mekanisme hukum alam. Namun persoalannya bagaimana cara menjelaskan hubungan sebab akibatnya jika memang dinilai sebagai hukuman ? Memang tampak paradoksal, tetapi jika kita tahu duduk permasalahannya barulah mafhum atas peristiwa tragis tersebut.

PEMIMPIN TANPA LEGITIMASI ALAM

Istana Lama Kerajaan Kutai Kertanegara sekarang menjadi museumKekuasaan turun-temurun era pemerintahan sekarang, dari ayah turun ke anak. Walaupun dilaksanakan Pemilu langsung bukanlah parameter signifikan adanya legitimasi politik secara obyektif, apalagi legitimasi oleh alam dan yang transenden (wahyu). Faktanya, saat ini beaya politik mampu menggantikan wahyu kepemimpinan (berupa téja yang melesat merasuk ke dalam tubuh si calon pemimpin). Untuk saat ini mayoritas pemimpin daerah maupun pusat menjalankan kekuasaannya dengan tanpa wahyu. Orang zaman sekarang lebih percaya “wahyu” berujud uang daripada wahyu yang sesungguhnya. Yakni cahyà sejati berasal dari inti hidup (sang wisnu) sebagai pertanda atas keselarasan manusia dengan hukum tata kosmos. Termasuk di dalamnya adalah restu dan dukungan dari yang transenden atau supernatural being mencakup para para leluhur dan seluruh penghuni dimensi metafisik (astral). Lain halnya masyarakat kita di masa lalu begitu memahami jika seorang pemimpin adalah orang yang mendapat wahyu yang artinya ia menjadi manusia pinilih, terpilih oleh mekanisme hukum tata keseimbangan alam. Oleh sebab itu pemimpin yang memiliki wahyu mendapat semacam “jaminan” bahwa kepemimpinannya akan membawa kemakmuran bagi masyarakat dan lingkungan alamnya. Untuk pemimpin zaman sekarang, boro-boro mendapat wahyu dan apalagi tahu bagaimana seseorang agar bisa mendapatkannya, sebaliknya orang zaman sekarang kadang menganggap wahyu sebagai omong kosong, bullshit, musrik, sesat dsb hanya karena tidak ada dalam kamus suci. Ya, tak dapat dipungkiri orang merasa lebih aman dicap memberhalakan uang daripada menyandang tuduhan-tuduhan tersebut. Apalagi pilihan itu lebih menguntungkan secara materiil. Namun sebagai konsekuensinya, kasus-kasus politik, malapetaka, musibah dan bencana datang silih berganti. Akan tetapi orang cenderung mencari-cari alasan pembenar untuk menghibur diri dengan menganggap malapetaka sebagai cobaan bagi dirinya yang beriman dan cobaan atas misi-misi mulia yang ia jalankan. Konsep cobaan memang masih laku dijual pada saat kondisi kepepet.

Jika rakyat Kukar mau mengevaluasi kira-kira apa yang telah diberikannya kepada alam, selain mengeksploitasi hutan dan buminya serta pembangunan simbol-simbol kemegahan super mercusuar. Ironis memang, di mana Kabupaten Kutai Kertanegara menyandang predikat sebagai Kabupaten terkaya di antara kabupaten-kabupaten seluruh Indonesia dengan PAD kurang lebih sebesar Rp. 2,5 triliun pertahun pada periode tahun lalu, tetapi sedikit masuk ke wilayah pinggiran saja maka kita akan mudah mendapati hutan dan jalanan rusak parah di mana-mana. Sangat kontradiktif. Bandingkan dengan Kabupaten sahabat saya Ki Alus & Mas Kumitir di Sidoarjo, sebagai kabupaten terkaya di Propinsi Jawa Timur, rasanya sulit sekali hanya untuk melampuai PAD sebesar Rp. 300 milyar saja. Apabila permainan kekuasaan seperti ini terjadi 20 tahun lalu barangkali efek hukum sebab akibatnya belumlah secepat saat ini yang seringkali terjadi secara spontan. Di masa lalu bahkan mungkin untuk sementara masih bisa lolos dari jerat hukum tata kosmos. Namun jika terjadi pada saat ini resikonya akan lebih besar dan cepat terjadi hari pembalasan. Saat ini di mana putaran hukum sebab akibat terasa lebih cepat, terlebih genderang kebangkitan kesadaran spiritualitas sejati Nusantara telah ditabuh oleh sang pamomong Nusantara, Sabdopalon dan Noyogenggong. Itu menengarai bahwa kini saatnya seluruh leluhur bumiputra perintis bangsa cancut taliwàndà, njêjêgaké sàkà guru bangsa agar supaya kembali kepada jati diri manusia nusantara. Saat ini sebagian generasi penerus bangsa sudah kebablasan. Para moyangnya sendiri leluhur bumiputra perintis bangsa, diangap demit, jin atau setan penggoda iman. Sementara sebagian yang lain meletakkan leluhurnya sendiri tak ubahnya tamu hina di rumah sendiri. Padahal beliau adalah nenek moyangnya sendiri yang telah mewariskan kemerdekaan, kekayaan alam yang berlimpah, tanah subur makmur, dan mewariskan segenap tata nilai luhur yang dapat menjadi pedoman sikap dan perilaku arif bijaksana dalam hubungannya antar manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungan alam, manusia dengan mahluk halus, binatang dan tumbuhan telah dirusaknya. Lantas di mana wujud bakti generasi bangsa ini kepada para leluhurnya ? Generasi yang durhaka dan lebih suka menjadi pengkhianat atas perjuangan para leluhurnya di masa lalu tentu akan menimbulkan bencana kehidupan. Malapetaka, skandal politik, musibah dan bencana alam akan selalu ada mewarnai sepanjang tampuk kepemimpinannya.

RUNTUHNYA SEBUAH DINASTI

Istana Kutai KertanegaraBukannya ikut-ikutan latah, dahwèn dan opèn, atau mau mengait-ngaitkan runtuhnya jembatan dengan nasib sebuah dinasti. Mau dianggap ngóyówóró, celoteh, apapun jenisnya juga tidak apa-apa, mónggó. Sukur-sukur jika mau dijadikan bahan evaluasi diri bagi siapapun yang sedang memimpin di wilayah manapun. Peristiwa naas itu sudah terjadi dan menjadi tengara akan runtuhnya “dinasti Kutai Kertanegara” baru. Waktu yang akan membuktikan. Bukan tanpa sebab, seperti yang telah penulis uraikan di atas. Ini persoalan seberapa besar bakti yang dilakukan generasi sekarang kepada para leluhur besar yang berada di Kutai Kertanegara. Apa dan bagaimana yang sudah dilakukan terhadap YM Sultan Aji Sulaeman, YM Sultan Aji Parikesit, Ratu Bungsu dan masih banyak lagi. Sehingga leluhur sudah merasa enggan terhadap nasib anak turun beserta warga di sana. Tentu saja leluhur tahu persis siapa saja orang-orang zaman sekarang yang masih peduli dan menghargainya walau hanya sekedar menegok batu nisannya saja. Wahyu dan ndaru akan melesat ke arah timur laut menuju Kutai Timur, di mana para pemimpinnya beserta rakyatnya lebih memahami akan arti berbakti kepada para leluhur bumiputra perintis bangsa. Tidaklah mustahil wilayah tersebut akan segera menggeser prestasi Kab Kukar sebagai kabupaten terkaya seindonesia.

Kiranya belumlah terlambat, barangkali kisah selanjutnya akan berbeda bila peristiwa naas kemarin sore dapat dijadikan sebuah cambuk penggugah kesadaran untuk lebih menghormati dan menghargai nilai kearifan lokal (local wisdom), di mana erat kaitannya dengan wujud bakti kepada moyangnya. Generasi yang penuh bakti adalah mereka yang selalu eling sangkan paraning dumadi, ingat akan asal muasal hidup dan apa tujuan dan tanggungjawab hidup berikutnya. Generasi demikian ini tidak akan pernah melupakan kebaikan dan jasa orang lain. Kebaikan selalu dibalas dengan kebaikan, bak pantun berbalas, ia akan gayung bersambut menjadi berkah yang berlimpah ruah.

TUMBUHAN ADALAH MURSYIDKU

Salah satu hukum alam tata kosmos yang telah berkali diajarkan oleh seluruh tetumbuhan di permukaan bumi ini. Mari kita cermati, tumbuhan mendapatkan energi hidup dari tanah, namun tumbuhan akan mengembalikan kesuburan tanah melalui guguran daun-daunnya yang jatuh ke bumi kemudian berproses menjadi kompos.

Read more…

JAMASAN PUSAKA

Jamasan pusaka merupakan salah satu cara merawat benda-benda pusaka, benda bersejarah, benda kuno, termasuk benda-benda yang dianggap memiliki tuah. Dalam tradisi masyarakat Jawa, jamasan pusaka menjadi sesuatu kegiatan spiritual yang cukup sakral dan dilakukan hanya dalam waktu tertentu saja. Lazimnya jamasan pusaka dilakukan hanya sekali dalam satu tahun yakni pada bulan Suro. Oleh karena jamasan pusaka mempunyai makna dan tujuan luhur, kegiatan ini termasuk dalam kegiatan ritual budaya yang dinilai sakral.

Read more…

Gègèring Nuswantårå Nagri

Dèn Samyå Waspådå

Pêpéling puniki kaunggah ing dintên Kêmis Wagé 17-11-2011
(suryå kaping pitulas, wulan sêwêlas, warså sêwêlas)
Mugyå pårå dulur kulå sagung pôrô maôs blog tansah
pikantuk pitulungan tuwin kawêlasaning Gusti Hyang Jagadnåtå

Bethara Kala

Bethara Kala

Nuswantårå nandhang tyas duhkitå
Keh janmå agawé pôpô-cintråkå
Tumrap sarirå jiwå lan raganirå
Langit datan jinunjung bumi datan kapidak
Pribadi murkå angkårå kang dadi panguwåså
Lakunirå daksiyå lan cidrô mring nuså lan bångså
Nora éling sangkaning dumadi

Anging kabèh titah alûs wus cancut taliwåndå
Hamêmayu hayuning nuså kalawan bångså
Ajejuluk pêngawal jêjêging såkåguru
Kang dadi patrap paugêraning bangså Nuswåntårå
Rawé-rawé rantas malang-malang putûng
Gawé horèg asumurup ing jêroning rågå janmå saksêrik lan sulåyå
Tan ånå pitulung ingkang martani
Kajåbå éling mulihå mring mulåbukaning dumadi

Dipun éling kalawan waspadèng
Sêmuning kahanan bångså lan nagri
Sakèhing pratanda wus katon cêthå
Tansåyå cêdak dungkaping sapût dêndå
Méh tintrim kinobar prahårå gung gôrô-gôrô
Kabeh iku datan kénging dèn owahi

Read more…

BANCAKAN WETON & PUASA APIT WETON

BANCAKAN WETON & PUASA APIT WETON

BANCAKAN WETON

Bancakan weton dilakukan tepat pada hari weton kita. Weton adalah gabungan siklus kalender matahari dengan sistem penanggalan Jawa yang terdiri dari jumlah 5 hari dalam setiap siklus (Pon, Wage, Kliwon, Legi, Pahing). Dalam tradisi Jawa, setiap orang seyogyanya dibuatkan bancakan weton minimal sekali selama seumur hidup. Namun akan lebih baik dilakukan paling tidak setahun sekali. Apabila seseorang sudah merasakan sering mengalami kesialan (sebel-sial), ketidakberuntungan, selalu mengalami kejadian buruk, lepas kendali, biasanya dapat berubah menjadi lebih baik setelah dilakukan bancakan weton. Bagi seseorang yang sudah sedemikian parah tabiat dan kelakuannya, dapat dibancaki weton selama 7 kali berturut-turut, artinya setiap 35 hari dilakukan bancakan weton untuk ybs, berarti pula bancakan weton dilakukan lebih kurang selama 8 bulan berturut-turut.

MANFAAT BANCAKAN

Manfaat dan tujuan bancakan weton diibaratkan untuk “ngopahi sing momong”, karena masyarakat Jawa percaya dan memahami jika setiap orang ada yang momong (pamomong) atau “pengasuh dan pembimbing” secara metafisik. Pamomong bertugas selalu membimbing dan mengarahkan agar seseorang tidak salah langkah, agar supaya lakune selalu pener, dan pas. Pamomong sebisanya selalu menjaga agar kita  bisa terhindar dari perilaku yang keliru, tidak tepat, ceroboh, merugikan. Antara pamomong dengan yang diemong seringkali terjadi kekuatan tarik-menarik. Pamomong menggerakkan ke arah kareping rahsa, atau mengajak kepada hal-hal baik dan positif,  sementara yang diemong cenderung menuruti rahsaning karep, ingin melakukan hal-hal semaunya sendiri, menuruti keinginan negative,  dengan mengabaikan kaidah-kaidah hidup dan melawan tatanan yang akan mencelakai diri pribadi, bahkan merusak ketenangan dan ketentraman masyarakat. Antara pamomong dengan yang diemong terjadi tarik menarik, Dalam rangka tarik-menarik ini,  pamomong tidak selalu memenangkan “pertarungan” alias kalah dengan yang diemong. Dalam situasi demikian yang diemong lebih condong untuk selalu mengikuti rahsaning karep (nafsu). Bahkan tak jarang apabila seseorang kelakuannya sudah tak terkendali atau mengalami disorder, sing momong biasanya sudah enggan untuk memberikan bimbingan dan asuhan. Termasuk juga bila yang diemong mengidap penyakit jiwa. Dalam beberapa kesempatan saya pernah  nayuh si pamomong seseorang yang sudah mengalami disorder misalnya kelakuannya liar dan bejat, sering mencelakai orang lain,  ternyata pamomong akhirnya meninggalkan yang diemong karena sudah enggan memberikan bimbingan dan  asuhan kepada seseorang tersebut. Pamomong sudah tidak  lagi mampu mengarahkan dan membimbingnya. Apapun yang dilakukan untuk mengarahkan kepada segala kebaikan, sudah sia-sia saja.

Kebanyakan kasus pada seseorang yang mengalami disorder biasanya sang pamomong-nya diabaikan, tidak dihargai sebagaimana mestinya padahal pamomong selalu mencurahkan perhatian kepada yang diemong, selalu mengajak kepada yang baik, tepat, pener dan pas. Sehingga hampir tidak pernah terjadi interaksi antara diri kita dengan yang momong. Dalam tradisi Jawa, interaksi sebagai bentuk penghargaan kepada pamomong, apalagi diopahi dengan cara membuat bancakan weton. Eksistensi pamomong oleh sebagian orang dianggapnya sepele bahkan sekedar mempercayai keberadaannya  saja dianggap sirik. Tetapi bagi saya pribadi dan kebanyakan orang yang mengakui eksistensi dan memperlakukan secara bijak akan benar-benar menyaksikan daya efektifitasnya. Kemampuan diri kita juga akan lebih optimal jika dibanding dengan orang yang tidak pernah melaksanakan bancakan weton. Selama ini saya mendapat kesaksian langsung dari teman-teman yang saya anjurkan agar mem-bancaki wetonnya sendiri. Mereka benar-benar merasakan manfaatnya bahkan seringkali secara spontan memperoleh kesuksesan setelah melaksanakan bancakan weton. Hal itu tidak lain karena daya metafisis kita akan lebih maksimal bekerja. Katakanlah, antara batin dan lahir kita akan lebih seimbang, harmonis dan sinergis, serta keduanya baik fisik dan metafisik akan menjalankan fungsinya secara optimal untuk saling melengkapi dan menutup kelemahan yang ada. Bancakan weton juga tersirat makna, penyelarasan antara lahir dengan batin, antara jasad dan sukma, antara alam sadar dan bawah sadar.

SIAPAKAH SEBENARNYA SANG PAMOMONG ?

Pertanyaan di atas seringkali dilontarkan. Saya pribadi terkadang merasa canggung untuk menjelaskan secara detil, oleh karena tidak setiap orang mampu memahami. Bahkan seseorang yang bener-bener tidak paham siapa yang momong, kemudian bertanya, namun setelah dijawab toh akhirnya membantah sendiri. Seperti itulah karakter pikir sebagian anak zaman sekarang yang terlalu “menuhankan” rasio dan sebagian yang lain tidak menyadari bahwa dirinya sedang tidak sadar. Read more…

INDIKATOR INTERAKSI dengan SUPERNATURAL BEING

 Supernatural, magical, occult, magic, invisible, hidden, mysterious, mystical, uncanny, mystic, fairy, inscrutable, faerie, fey, preternatural, orphic, cryptic, superlunary, fairytale, astral.

Supernatural being, dapat saya artikan secara lazim sebagai ke-ada-an yang bersifat non-alami, tidak bersifat fisik. Sementara yang lain menyebutnya sebagai sesuatu yang tidak dapat dijelaskan secara ilmiah, misteri, penuh teka-teki, tidak dapat diselidiki, atau tidak dapat dipahami. Benarkah supernatural being tidak dapat dijelaskan secara ilmiah ? Dalam konteks ini apakah gaib itu nyata ?

Barangkali jawaban yang saya berikan terkesan unik, aneh dan berbeda dari kebiasaan umum.  Nyata atau tidak nyata tergantung siapa yang menjawabnya. Jika jawaban keluar dari seseorang yang mempunyai kemampuan indigo, atau orang-orang yang sering mengalami interaksi dengan mahluk halus dan berbagai hal gaib, atau orang yang indera penglihatannya sering menangkap obyek metafisik (supernatural being), tentu gaib tidak lagi bersifat invisible, maupun inscrutable.  Sebaliknya menjadi tampak nyata, maka boleh-boleh saja disebut sebagai kasunyatan atau kenyataan. Lain halnya bagi seseorang yang samasekali tidak pernah melihat gaib, apalagi menyangkal terhadap sesuatu yang gaib, tentu saja gaib menjadi sesuatu yang sama sekali tidak nyata (preternatural).

Dapat dimaklumi, harapan untuk dapat MELIHAT atau menyaksikan “kasunyatan” gaib bukanlah hal mudah. Meskipun demikian bukan berarti bahwa seseorang lantas samasekali tidak pernah berinteraksi dengan supernatural being. Untuk itu setidaknya perlu dipahami beberapa faktor berikut : Read more…

SELUK BELUK HUKUM KARMA

Para pembaca yang budiman, tulisan ini merupakan rangkuman dari rangkaian pengalaman lahir maupun batin. Serta hasil asah asih asuh dalam setiap kesempatan diskusi di berbagai acara, misalnya kumpul-kumpul bersama di manapun berada. Perdebatan tentang hukum karma sudah berlangsung sejak ribuan tahun yang lalu. Antara yang mempercayainya ada, yang meragukannya, yang belum paham samasekali, maupun yang tidak mempercayai. Sebelum melanjutkan tulisan berikut, seyogyanya kita berusaha memahami terlebih dahulu apa itu hukum karma. Dari berbagai keterangan yang ada, setidaknya dapat disimpulkan bahwa hukum karma atau karma sepadan dengan apa yang di maksud hukum timbal balik. Dalam falsafah Jawa senada pula dengan apa yang dimaksud hukum sebab akibat. Dalam literatur Barat, dikenal dengan istilah hukum kausalitas. Apakah hukum karma yang sedemikian menghebohkan dunia spiritual, filsafat, ilmu pengetahuan, sains dan teknologi ini kemudian layak dianggap tidak ada sama sekali ? Saya tidak ingin tergesa dalam menjawab pertanyaan tersebut, sebelum saya pribadi dapat membuktikannya sendiri, baik secara langsung, tak langsung, secara logika maupun pengalaman lahir dan batin.

Secara sederhana hukum karma atau sebab akibat dapat dipahami dengan logika sederhana pula. Sebagaimana dalam rumus yang mempunyai dalil “ada asap, berarti ada api”. Dalam bahasa yang sederhana dapat dikatakan “ada akibat, tentu ada penyebabnya pula”. Yang jelas di dalam hukum karma terdapat pola hubungan erat antara penyebab dan akibatnya. Rumus ini dapat diterapkan untuk memahami setiap kejadian atau peristiwa dalam kehidupan sehari-hari kita. Dengan demikian, hukum karma dapat didefinisikan sebagai hubungan sebab-akibat atas perbuatan yang pernah kita lakukan (sebagai sebab) dan apa yang akan kita alami kemudian (sebagai akibatnya). Dengan demikian di dalam hukum karma terdapat pola hubungan yang bersifat positif atau baik, maupun negatif atau buruk. Hukum karma yang memiliki pola sederhana akan mudah dibaca, misalnya setelah kita berbuat jahat atau membuat masalah, selanjutnya kita akan tertimpa masalah atau balik dijahati orang lainnya. Misalnya, kita melakukan penganiayaan terhadap seseorang, maka akibatnya kita akan dimusuhi keluarganya, teman-teman dari seorang yang dianiaya tadi. Bahkan kelak anak turun seseorang yang dianiaya akan memusuhi anak turun kita sendiri. Sebaliknya, setelah kita berbuat kebaikan, selanjutnya kita akan menerima kebaikan pula. Kita menolong seseorang, maka ia atau keluarga yang kita tolong suatu waktu ingin gantian menolong kita di saat kita mendapat kesulitan. Bahkan anak turun yang kita tolong akan mengenang kebaikan yang pernah kita lakukan, dan ingin sekali mereka membalas budi-kebaik kita di waktu selanjutnya. Pola hubungan dalam hukum karma atau hukum sebab-akibat dapat kita uji coba pula keberadaannya. Misalnya, para pembaca yang budiman gemar sekali membantu dan menolong orang lain yang sedang mengalami kesulitan. Maka, Anda akan selalu mendapat kemudahan dalam setiap urusan. Sekalipun pernah terpentok saat-saat di mana Anda merasa tidak ada lagi jalan keluar, di saat Anda betul-betul sedang dalam keadaan yang sangat genting dan darurat pada akhirnya datang lah “the last minute man” atau “dewa penolong”. Jika anda mereview perjalanan hidup anda ke belakang, disadari atau tidak Anda pernah berperan menjadi “the last minute man” atau berperan sebagai “dewa penolong” disaat seseorang sedang dalam keputus-asaan.

“MISSING LINK” dalam KARMA

Dibutuhkan kecermatan dalam membaca “benang” yang menghubungkan antara suatu kejadian (sebagai akibat) dari kejadian sebelumnya (penyebab). Terkadang dalam hukum karma terdapat pola hubungan sebab-akibat yang sangat sulit dilacak bagaimana pola hubungan itu terjalin. Seolah tak ada hubungannya sama sekali. Sebagai contoh, seseorang tewas akibat bencana alam, misalnya diterjang gelombang tsunami. Jika tewasnya seseorang itu dikaitkan dengan hukum karma, tentu akan sulit sekali dilacak. Benarkah seseorang yang diterjang tsunami hingga tewas sedang menjalani karma? Jika tanpa pemahaman yang mendalam pada saat kita menelusuri pola-pola hubungan dalam hukum karma, kesimpulan yang mengkaitkan di antara dua kejadian tersebut (bencana alam dengan korban bencana) menjadi terasa janggal, seolah terlalu memaksakan diri menghubung-hubungkan dua hal yang tak ada hubungannya sama sekali. Seolah terdapat missing link, atau mata rantai hubungan sebab akibat yang terputus alias tak nyambung.

Read more…

SELUK BELUK HUKUM KARMA

             Para pembaca yang budiman, tulisan ini merupakan rangkuman dari rangkaian pengalaman lahir maupun batin. Serta hasil asah asih asuh dalam setiap kesempatan diskusi di berbagai acara, misalnya kumpul-kumpul bersama di manapun berada. Perdebatan tentang hukum karma sudah berlangsung sejak ribuan tahun yang lalu. Antara yang mempercayainya ada, yang meragukannya, yang belum paham samasekali, maupun yang tidak mempercayai. Sebelum melanjutkan tulisan berikut, seyogyanya kita berusaha memahami terlebih dahulu apa itu hukum karma. Dari berbagai keterangan yang ada, setidaknya dapat disimpulkan bahwa hukum karma atau karma sepadan dengan apa yang di maksud hukum timbal balik. Dalam falsafah Jawa senada pula dengan apa yang dimaksud hukum sebab akibat. Dalam literatur Barat, dikenal dengan istilah hukum kausalitas. Apakah hukum karma yang sedemikian menghebohkan dunia spiritual, filsafat, ilmu pengetahuan, sains dan teknologi ini kemudian layak dianggap tidak ada sama sekali ? Saya tidak ingin tergesa dalam menjawab pertanyaan tersebut, sebelum saya pribadi dapat membuktikannya sendiri, baik secara langsung, tak langsung, secara logika maupun pengalaman lahir dan batin.

Secara sederhana hukum karma atau sebab akibat dapat dipahami dengan logika sederhana pula. Sebagaimana dalam rumus yang mempunyai dalil “ada asap, berarti ada api”. Dalam bahasa yang sederhana dapat dikatakan “ada akibat, tentu ada penyebabnya pula”.  Yang jelas di dalam hukum karma terdapat pola hubungan erat antara penyebab dan akibatnya. Rumus ini dapat diterapkan untuk memahami setiap kejadian atau peristiwa dalam kehidupan sehari-hari kita. Dengan demikian, hukum karma dapat didefinisikan sebagai hubungan sebab-akibat atas perbuatan yang pernah kita lakukan (sebagai sebab) dan apa yang akan kita alami kemudian (sebagai akibatnya). Dengan demikian di dalam hukum karma terdapat pola hubungan yang bersifat positif atau baik, maupun negatif atau buruk. Hukum karma yang memiliki pola sederhana akan mudah dibaca, misalnya setelah kita berbuat jahat atau membuat masalah, selanjutnya kita akan tertimpa masalah atau balik dijahati orang lainnya. Misalnya, kita melakukan penganiayaan terhadap seseorang, maka akibatnya kita akan dimusuhi keluarganya, teman-teman dari seorang yang dianiaya tadi. Bahkan kelak anak turun seseorang yang dianiaya akan memusuhi anak turun kita sendiri.  Sebaliknya, setelah kita berbuat kebaikan, selanjutnya kita akan menerima kebaikan pula.  Kita menolong seseorang, maka ia atau keluarga yang kita tolong suatu waktu ingin gantian menolong kita di saat kita mendapat kesulitan. Bahkan anak turun yang kita tolong akan mengenang kebaikan yang pernah kita lakukan, dan ingin sekali mereka membalas budi-kebaik kita di waktu selanjutnya. Pola hubungan dalam hukum  karma atau hukum sebab-akibat dapat kita uji coba pula keberadaannya. Misalnya, para pembaca yang budiman gemar sekali membantu dan menolong orang lain yang sedang mengalami kesulitan. Maka, Anda akan selalu mendapat kemudahan dalam setiap urusan. Sekalipun pernah terpentok saat-saat di mana Anda merasa tidak ada lagi jalan keluar, di saat Anda betul-betul sedang dalam keadaan yang sangat genting dan darurat  pada akhirnya datang lah “the last minute man” atau “dewa penolong”. Jika anda mereview perjalanan hidup anda ke belakang, disadari atau tidak Anda pernah  berperan menjadi “the last minute man” atau berperan sebagai “dewa penolong” disaat seseorang sedang dalam keputus-asaan.

“MISSING LINK” dalam KARMA

Dibutuhkan kecermatan dalam membaca “benang” yang menghubungkan antara suatu kejadian (sebagai akibat) dari kejadian sebelumnya (penyebab). Terkadang dalam hukum karma terdapat pola hubungan sebab-akibat yang sangat sulit dilacak bagaimana pola hubungan itu terjalin. Seolah tak ada hubungannya sama sekali. Sebagai contoh, seseorang tewas akibat bencana alam, misalnya diterjang gelombang tsunami. Jika tewasnya seseorang itu dikaitkan dengan hukum karma, tentu akan sulit sekali dilacak. Benarkah seseorang yang diterjang tsunami hingga tewas sedang menjalani karma? Jika tanpa pemahaman yang mendalam pada saat kita menelusuri pola-pola hubungan dalam hukum karma, kesimpulan yang mengkaitkan di antara dua kejadian tersebut (bencana alam dengan korban bencana) menjadi terasa janggal, seolah terlalu memaksakan diri menghubung-hubungkan dua hal yang tak ada hubungannya sama sekali. Seolah terdapat missing link, atau mata rantai hubungan sebab akibat yang terputus alias tak nyambung. Read more…

Pesan Dari GERBANG TINATAR TROWULAN

Tujuan utama ke Trowulan terutama untuk mundi dawuh perintah langsung dari Sri Narpati Brawijaya V yang di luar dugaan kami terima beberapa hari sebelum mengambil keputusan bulat untuk menghadiri undangan Mas Panji Trisula (Bustanus Salatin) salah seorang Ketua IPPNU Jatim periode th 2000, dalam acara “Sarasehan Bulan Purnama ; Memperingati Turunnya Wahyu Makutharama” yang diadakan di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto Prop Jawa Timur. Selain itu kami berserta rombongan ingin sekali mewujudkan rasa berbakti kepada para leluhur besar bumiputra perintis dan penopang kejayaan Nusantara di masa lalu, tidak dengan cara enaknya sendiri mulut sekedar komat-kamit saja dari rumah. Sikap berbakti akan lebih berharga jika diwujudkan dalam tindakan nyata dengan cara marak sowan mengunjungi petilasan pepunden untuk tujuan napak tilas serta atur pisungsung sembah bekti kepada para leluhur besar Nusantara. Tidak cukup berhenti di situ, lebih penting adalah mengambil pelajaran berharga yang selanjutnya diimplementasikan dalam kehidupan nyata sehari-hari. Read more…

WAHYU KEPRABON & GORO-GORO 2011

Indonesia 06-06-11

Paling tidak semenjak akhir periode kekuasaan ORDE BARU kita seringkali mendengar istilah wahyu keprabon. Namun kiranya sedikit saja orang yang betul-betul mengetahui seluk beluk apa itu wahyu keprabon. Sepadan dengan wahyu keprabon adalah wahyu yang begitu kental dalam cerita pewayangan dan dalam tradisi kesusasteraan Jawa. Sebut saja misalnya “wahyu makutharama” yang diberikan kepada para kesatria Pendawa Lima. Bagi siapa yang memegang wahyu makutharama, dialah akan menjadi pemimpin, menjadi kesatria yang membawa berkah agung bagi rakyat yang dipimpinnya. Demikian halnya dengan wahyu keprabon. Siapa yang kesinungan memiliki wahyu keprabon, dialah orang yang kuat “nyunggi drajat” kepemimpinan tertinggi di negara Republik Indonesia. Dan ada semacam jaminan dari kekuatan supra satria tersebut akan menjadi pemimpin yang membawa berkah kemakmuran bagi rakyat yang dipimpinnya. Membawa berkah agung bagi bangsa yang dikelolanya.

Apa yang dimaksud dengan wahyu? Dalam terminologi Jawa, wahyu diartikan sebagai sebuah konsep yang mengandung pengertian suatu berkah Jawatagung atau Tuhan. Lebih konkritnya adalah berkah yang berasal dari mekanisme kebijaksanaan universe yang diperoleh manusia dengan cara gaib. Datangnya wahyu tidak dapat dipaksakan, tetapi hanya diperoleh melalui berbagai media, dan hanya kepada seseorang yang pinilih dan terpilih. Yakni orang-orang yang kuat memikul derajat tinggi, orang yang memenuhi syarat dalam hal budi pekerti dan tindak perbuatannya selalu hamemayu hayuning bawana terhadap alam semesta seluruh seluruh isi penghuninya. Kepada sesama manusia, mahluk halus, binatang, dan tumbuhan, sebagai refleksi di mana kesadaran spiritualnya telah berada pada level sejati ning jalma, manusia sejati. Orang-orang demikian itu yang sikap perbuatannya selalu selaras dan harmonis dengan hukum keadilan dan keseimbangan alam. Disebut sebagai manusia berkesadaran kosmologis. Bagi yang memenuhi persyaratan di atas, seseorang dapat melengkapi daya upaya untuk meraih wahyu keprabon dengan mesu raga dan mesu jiwa melalui berbagai tradisi seperti bersemadi, bertapa, tirakan, atau berbagai jalan lain yang berkonotasi melakukan laku atau perbuatan batin. Tapi tidak setiap kegiatan “laku batin” itu akan mendapatkan wahyu keprabon karena persyaratan untuk memangku wahyu keprabon tidaklah mudah. Perlu menata solah dan bowo, serta melalui liku-liku perjalanan hidup yang berat. Dari berbagai peristiwa yang menimbulkan suatu penderitaan hendaknya dijadikan sebagai bentuk laku prihatin yakni dijadikan wahana penggemblengan hidup. Dengan demikian seseorang dimungkinkan untuk mencapai tataran kesadaran spiritual dengan predikat tinggi. Berkat kesadaran spiritual yang memadai tersebut, akan terbentuk budi pekerti (bowo) yang luhur. Budi pekerti luhur bukan sekedar jargon yang bersifat pedagogik, namun senantiasa disertai dengan sikap dan perbuatan (solah) yang benar-benar konkrit. Apabila seseorang dapat memiliki prestasi spiritual sedemikian rupa berarti ia telah menjadikan dirinya sebagai “media tanam” yang layak bagi bersemainya “benih” wahyu keprabon.

PUSAKA KEPEMIMPINAN TERTINGGI

Keprabon berasal dari suku kata praba yang berarti sorot cahaya. Dapat bermakna pula aura yang memancar di seputar kepala. Keprabon merupakan sorot aura yang menandakan tingkat keluhuran dan kemuliaan seseorang. Makna khusus keprabon berarti tahta atau kekuasaan. Bagi seorang yang memiliki kemampuan melihat gaib atau melihat benda-benda metafisika, tentu akan mampu melihat pancaran cahaya keprabon yang menyelimuti kepala seseorang pemangku wahyu keprabon. Namun berbeda dengan aura pada umumnya, karena wahyu keprabon ini merupakan ajimat pusaka. Dari warna pancaran cahaya dan terutama getaran energinya dapat dibedakan mana wahyu keprabon mana pula yang bukan wahyu keprabon. Perbedaan paling esensial adalah wahyu keprabon merupakan ajimat pusaka yang memiliki efek terbukanya jalan bagi seseorang untuk memperoleh tahta kekuasaan (baca; kedudukan luhur).  Namun bukanlah sembarang kedudukan sebagai pemimpin, karena pusaka wahyu keprabon dikhususkan untuk memperoleh kedudukan sebagai orang nomer satu alias Presiden di negeri ini. Barang siapa yang mampu atau kuat memikul derajat tinggi, serta kesinungan (terpilih) memperoleh wahyu keprabon, itu artinya ia memiliki kesempatan besar menjadi penguasa atau Presiden RI.  Read more…

MEDITASI CAKRA dan OLAH SEMEDI

MEDITASI CAKRA dan OLAH SEMEDI

Meditasi dibagi dalam dua alur besar. Yakni meditasi mikorokosmos atau pemusatan konsentrasi pada jagad alit yakni unsur-unsur yang ada dalam diri tubuh kita. Dan meditasi makrokosmos atau meditasi jagad ageng. Meditasi cakra merupakan subsistem dari meditasi mikrokosmos.

By sabdalangit

CAKRA DASAR, ROOT CHAKRA, Jayengdriyo, Muladhara :

Cakra pertama. Terletak di dasar tulang belakang, berfungsi meningkatkan kemampuan kita dalam bertahan hidup dan beradaptasi. Cakra ini sekali terbuka akan memberikan stabilitas yang kita perlukan untuk memikul beban kita sehari-hari. Ketika cakra dasar ini masih tertutup akan membuat kita takut pada perubahan. Tetapi sekali terbuka akan menciptakan peluang bagi kita untuk menggapai kesempatan merasakan indahnya kehidupan serta suatu kenikmatan dan anugrah yang menakjubkan dalam kehidupan ini.

SEXUAL CHAKRA, JANALOKA atau Swadhishtana:

Cakra kedua ini terletak di balik wilayah alat genital. Sepadan dengan bait al-mukadas. Cakra ini berkaitan dengan energi  dan gairah seksual. Apabila energi mengalir bebas diwilayah ini akan membawa energi positif dalam hidup kita. Penyumbatan di daerah ini dapat mengakibatkan masalah seksualdan reproduksi yang akan menghambat energi mengalir bebas dan menyebabkan energi negatif dalam hidup kita.

CAKRA PUSAR,  NAVEL CHAKRA atau Manipura :

Cakra ketiga. Cakra ini hubungannya dengan energi dan terletak di bawah pusar. Cakra ini merupakan pusat kekuatan tubuhdan merupakan titik luncur untuk energi prana. Meditasi pada cakra ini akan membawa energi besar dan dapat digunakan untuk menyerap energi yang besar pula. Biasanya meditasi cakra pusar secara efektif diterapkan untuk membangkitkan “tenaga dalam” dan untuk penyerapan energi alam seperti energi ombak laut, energi angin, energi api, energi matahari, energi rembulan, energi bumi dsb.

CAKRA HATI, HEART CHAKRA atau Anahata :

Cakra keempat. Sepadan dengan bait al-muharam. Panggulunganing raosing karsa.  Cakra hati terletak persis di daerah jantung-hati dan berhubungan dengan kebaikan yang besar dan cinta kasih. Meditasi pada cakra ini dapat memiliki pengalaman batin yang mendalam dan membuka hati untuk dapat merasakan keindahan sejati dalam memahami alam semesta. Cakra ini berfungsi pula untuk menghubungkan antara pikiran (kesadaran) tubuh (ragawi) dengan kesadaran jiwa (batin). Read more…

PERSOALAN DI SEPUTAR MEDITASI RINGAN

Bentuk CROP CIRCLE mengesankan garis-garis meditatif

Konfigurasi lingkaran CROP CIRCLE mengesankan lingkaran meditatif nan simetris

Berikut ini saya upload pertanyaan dari para sedulur melalui email seputar meditasi. Semoga jawaban yang saya berikan seadanya dan sebisanya, mendapat tempat di hati para sedulur semuanya, dengan harapan sedikit memberi manfaat untuk kebaikan kepada sesama titah gusti.

Apa yang dimaksud meditasi ringan ?

Jawab : meditasi ringan sama halnya dengan konsentrasi. Adalah kondisi mental terstruktur, berlangsung selama jangka waktu tertentu.  Otak melakukan fokus kegiatan belajar, menghafal (kembali), menganalisa, menarik kesimpulan, dan mengambil langkah-langkah lebih lanjut untuk menyikapi, menentukan tindakan atau penyelesaian masalah pribadi, hidup, dan perilaku. Meditasi ringan biasanya terjadi pada saat melakukan analisa, memecahkan masalah, menentukan suatu rencana dan target pencapaian. Termasuk melakukan hening cipta.

Apa yang dimaksud kegiatan meditatif ?

Jawab : kegiatan relaksasi yang disengaja, dengan cara mengosongkan pikiran dari semua hal yang membebani, mengganggu, mencemaskan maupun menarik perhatian dalam kehidupan  kita sehari-hari.  Untuk selanjutnya diisi dengan kegiatan evaluatif, perenungan mendalam (kontemplasi), untuk selanjutnya merubah pemikiran (pola pikir) dengan pola pikir baru yang lebih konstruktif dan kualitatif. Kegiatan meditatif dapat dilakukan dengan bantuan berbagai sarana, misalnya musik, lagu, bernyayi, atau memilih suasana yang nyaman dan mendukung.

Apa saja yang menjadi target pencapaian dalam kegiatan meditasi ?

Jawab : Untuk melepaskan perasaan kita dari berbagai penderitaan. Untuk memerdekakan pikiran dari penilaian berlebihan (baik dan buruk) yang bersifat subjektif akibat dari kelekatan kita terhadap keberpihakan, persepsi, dan penilaian tertentu. Kita akan menjadi sadar bahwa hidup tidak terlepas dari serangkaian persepsi, opini, dan penilaian subyektif yang terjadi terus-menerus. Selanjutnya secara intuitif nlai-nilai subyektif akan kita lepaskan, untuk meraih nilai yang bersifat obyektif. Dalam kegiatan meditasi, keadaan pikiran harus bebas dari aktivitas berpikir. Yang tertinggal hanyalah  perasaan mengalir, pasrah, sumarah, sumeleh, menikmati suatu ketenangan, kedamaian, ketentraman, keheningan yang lahir dari penghentian aktifitas berfikir. Keadaan ini dapat dibayangkan sebagai proses situasi dan kondisi kesadaran pada saat terjadi peralihan dari kondisi sadar menuju kondisi tidur. Memang tidak mudah membayangkannya, karena hanya dengan praktek meditasi kita bisa merasakan sensasi suatu perjalanan meditasi, menuju keadaan meditatif.

Dalam khasanah ilmu Jawa, dikenal pula istilah manekung, mesu budi, dan semedi. Apa bedanya dengan meditasi?

Jawab : meditasi seperti yang telah saya kemukakan di atas. Sementara itu, manekung, mesu budi, semedi, sepertinya memiliki perbedaan dalam hal kedalaman konsentrasi. Dalam keadaan “mati raga”, kita jaga batin dan rahsa sejati kita dalam keadaan sadar atau terjaga.  Diistilahkan “melek sajroning turu” (sadar dalam keadaan tidur).

Saat melakukan meditasi, saya merasakan kantuk yang sangat berat dan selalu berakhir dengan tidur pulas.  Apakah gejala itu merupakan bentuk kegagalan meditasi ?

Jawab : justru begitulah gejala umum keberhasilan kegiatan meditasi. Serangan kantuk yang berat dan berlangsung cepat, sebagai akibat penurunan drastis gelombang otak dari beta, menuju ke  gelombang alpha. Jika anda tergelincir dalam kondisi tertidur pulas, berarti anda berada bablas masuk ke dalam gelombang tetha atau delta. Tugas anda dalam meditasi, pada saat rasa kantuk mulai datang, jagalah agar kesadaran tetap terjaga. Secara otomatis kesadaran batin akan berganti melakukan handling pada diri anda. Kesadaran batin anda akan menjadi penguasa atas kesadaran ragawi.

Pada saat saya melakukan meditasi, saya merasa masih sadar, bisa mendengar semacam suara dan bunyi-bunyian, juga mencium suatu bau, tetapi mengapa saya seringkali merasakan tubuh ini tidak merasakan apa-apa lagi. Bahkan terasa tidak menyentuh alas atau bumi tempat saya duduk bersila, rasanya seperti melayang?

Jawab : itulah kondisi di mana raga mulai beristirahat, sementara kesadaran raga tinggal berada di otak saja. Lama kelamaan, kesadaran pancaindera juga akan beristirahat. Saat itulah kesadaran raga anda mulai  lenyap, tenggelam dalam tidur.  Lama-kelamaan, kesadaran raga menjadi sirna, berubah menjadi kesadaran rahsa. Read more…

KRITIK TERHADAP “LAKU PRIHATIN”

Berusaha memaknai laku prihatin secara tepat,
yang selama ini banyak orang telah salah kaprah
dalam memaknai dan memahaminya.

MAKNA PRIHATIN by sabdalangit

Untuk memudahkan pemahaman, prihatin saya akronimkan sebagai kepanjangan dari rasa perih ing sajroning batin. Perih di dalam batin karena seseorang tidak lagi bergumul dalam kenikmatan jasad mengumbar nafsu-nafsu ragawinya. Sebaliknya meredam atau mengendalikan nafsu-nafsu tersebut agar berfungsi secara alamiah dan proporsional, yakni sekedar sebagai alat mempertahankan kelangsungan hidup (survival), bukan untuk mengumbar segala keinginan ragawi yang erat dengan kenikmatan.  Pengendalian atas nafsu-nafsu sebagai bentuk sikap mengikuti kareping rahsa (sejati). Sementara itu sikap mengumbar hawa nafsu merupakan perilaku menuruti segala macam kemauan dan keinginan panca indera tanpa mempertimbangkan apa yang menjadi hak-hak dan kewajiban diri pribadinya maupun orang lain. Saya gambarkan sebagai sikap mengikuti rahsaning karep (mengumbar napsu hawa).

Nafsu tak perlu dimatikan, hanya butuh pengendalian diri atau sikap mengekang hawa nafsu. Jika belum terbiasa konsekuensinya akan menimbulkan efek perasaan yang tidak nikmat karena pupusnya kesenangan ragawi yang selalu didambakan jasad. Hal inilah yang membuat  kekecewaan dan akhirnya menimbulkan efek “kepedihan atau kepahitan”  yang dirasakannya. Sebaliknya, mengumbar hawa nafsu, akan mendapatkan kesenangan dan kenikmatan (bersifat semu) yang tiada taranya. Namun kesenangan itu hanya sebatas “kulit” atau kesenangan imitasi yang tak ada limitnya. Bagai meneguk air laut, semakin banyak diminum, semakin terasa haus. Untuk lebih jelasnya para pembaca silahkan membuka kembali posting saya terdahulu tentang “Di manakah level Anda” di mana saya gambarkan proses perjalanan kesadaran manusia.

Itulah gambaran dari rahsaning karep, wujud konkritnya hanya berupa “kesenangan” yang bersifat  imitasi saja. Sebaliknya, kareping rahsa (sejati) sekalipun terasa pahit hanyalah pada level  “kulit”nya saja. Bagi orang yang memahami hakekat kehidupan, di balik penderitaan dan kepahitan itu sungguh menyimpan sejuta kebahagiaan. Hanya saja sedikit orang yang benar-benar tahu dan mau membuktikan “postulat” ini. Karep maksudnya adalah keinginan nafsu sering dikiaskan pula sebagai “godaan setan yang terkutuk”.  Godaan bisa berasal dari luar diri, yang diserap oleh panca indera, yakni; pori-pori kulit sebagai efek rangsangan akibat adanya persentuhan dengan lawan jenis dsb. Bisa pula melalui rangsangan mata, telinga, penciuman, dan indera pencicip mulut sebagai gerbang kerakusan perut. Mulut juga bisa berperan sebagai pengobral kata-kata hasutan, penebar kalimat kebencian dan permusuhan. Dalam cerita pewayangan, panca indera dilukiskan ke dalam simbol-simbol Pendawa Lima. Jika tepat memanajemen akan memproduksi output yang sangat positif dan konstruktif, sebaliknya  menimbulkan output yang sangat negatif, merusak, destruktif bagi diri sendiri maupun orang lain dan lingkungan alamnya.

MANUSIA MENENTUKAN PILIHAN, TUHAN (ALAM) MENENTUKAN KONSEKUENSINYA

Semua orang dilengkapi dengan panca indera. Panca indera ibarat pisau, manusia bebas memilih mau menggunakannya sebagai sarana yang positif dan konstruktif atau digunakan sebagai sarana negatif dan destruktif. Yang jelas, bukan urusan tuhan untuk mengatur apakah seseorang memilih jahat, hidup berada dalam kegelapan, atau memilih menjadi baik, hidup dalam cahaya terang. Jika tuhan yang memilihkan, berarti itu tuhan palsu yang berada di dalam imajinasi manusia. Imajinasi manusia beresiko “menciptakan”  tuhan bodoh dengan manajemen yang tidak adil. Bagi tuhan yang maha pinter, tentunya untuk menentukan pilihan tersebut semua terserah manusia. Sementara itu, tuhan atau hukum alam semesta cukup merangkai konsekuensi secara detil, adil dan lugas untuk masing-masing pilihan manusia tersebut. Nah dengan pemahaman seperti ini, terasa tuhan lebih adil kan. Selain itu, manusia akan berhenti mencari-cari kambing hitam, menyalahkan tuhan karena tidak memberikan petunjuk untuk dirinya. Petunjuk untuk menjatuhkan pilihan pun menjadi tanggungjawab setiap manusia. Siapa yang mau berusaha, tentu akan membuahkan hasil.

UNTUK APA MENJALANI LAKU PRIHATIN (NURUTI KAREPING RAHSA) ?

Perlu saya garis bawahi bahwa laku prihatin sangat berbeda dengan penderitaan. Penderitaan merupakan keadaan tidak menyenangkan, yang menyiksa secara lahir atau pun batin. Namun tidak semua penderitaan adalah bentuk laku prihatin. Untuk menilai apakah suatu keadaan termasuk kategori laku prihatin ataukah bukan, Anda bisa mencermati faktor penyebabnya. Selain itu suatu penderitaan termasuk laku prihatin atau bukan, sangat tergantung cara masing-masing individu dalam mengambil sikap.

Pertama, perilaku dan sikap yang tabah, sabar, tulus, bijaksana dan arif. Tipikal pribadi demikian ini mempunyai level kesadaran yang bermanfaat sebagai pengendalian nafsu. Kemerdekaan lahir dan batin yang terbesar manusia justru pada saat mana ia bisa  meredam, menahan, atau mengendalikan hawa nafsunya sendiri. Inilah sifat arif dan bijaksana, yang merubah penderitaan menjadi bentuk “laku prihatin”. Bahkan dalam tataran kesadaran spiritual yang lebih tinggi, seseorang akan menganggap penderitaannya sebagai jalan “penebusan dosa” atau “menjalani sanksi” (eksekusi pidana) atas kesalahan yang sadar atau tidak telah dilakukan  di waktu yang telah lalu. Dalam tradisi Jawa-isme, menjalani penderitaan (musibah, bencana, sakit, kesulitan dll) dengan sikap sabar, tulus, dan tabah, sepadan dengan makna karma-yoga atau kesadaran diri untuk melakukan penebusan atas kesalahan yang pernah dilakukan.

Kedua, sikap yang keduwung nepsu. Atau dikuasai oleh nafsunya sendiri manakala tengah mengalami suatu penderitaan. Misalnya sikap emosional yang berlebihan; bersedih terlalu berlarut-larut, kalap, putus asa, selalu menggerutu dan grenengan, selalu mencari-cari kesalahan pada pihak-pihak lain, serta tak mau melakukan instropeksi diri.

Mengapa nafsu tak perlu dilenyapkan? Karena melenyapkan atau menghilangkan nafsu samasekali justru merupakan tindakan melawan kodrat alam. Coba Anda bayangkan jika nafsu dimusnahkan, pasti kehidupan manusia akan segera punah dari muka bumi dalam waktu 100 tahun ke depan. Karena nafsu itu ada, karena menjadi alat untuk bertahan hidup, regenerasi, serta melangsungkan kehidupan. Sebaliknya, memanfaatkan nafsu secara berlebihan atau tak terkendali sama halnya dengan melakukan bunuh diri dan membunuh kehidupan lainnya secara perlahan namun pasti. Nafsu adalah anugrah Tuhan, berkah alam semesta juga. Nafsu hanya perlu dimanfaatkan sebagaimana mestinya sesuai kodrat alam. Jika digunakan secara arif dan bijak akan menghasilkan kebaikan pula. Bukankah semua manusia lahir ke bumi berkat “jasa baik” sang nafsu juga. Sebab itu, nafsu tidak perlu dimusnahkan atau dilenyapkan dari dalam jagad alit diri manusia. Pengendalian nafsu bertujuan supaya seseorang berpegang pada prinsip nuruti kareping rahsa. Bukan sebaliknya nuruti rasaning karep. Sampai disini, alasan utama mengapa seseorang perlu menjalani laku prihatin, tidak lain untuk menggapai kesadaran lebih tinggi dalam memaknai apa sejatinya hidup di dunia ini. Pada gilirannya, kesadaran tersebut dapat menjadi sarana utama untuk menggapai kualitas hidup yang lebih tinggi. Secara spiritual, laku prihatin mempunyai energi yang memancar ke segala penjuru. Energi yang timbul dari dalam diri (jagad kecil) yang selaras dan harmonis dengan hukum alam (jagad besar). Keselarasan dan sinergi di antara keduanya inilah yang akan menempatkan seorang penghayat laku prihatin dalam jalur hidup yang penuh dengan anugrah dan berkah alam semesta.

PRINSIP DASAR DALAM LAKU PRIHATIN

Menjalani laku prihatin pada prinsipnya adalah perbuatan sengaja untuk mengendalikan nafsu negatif yang bersumber dari kelima indera yang dengan instrumen hati sebagai terminal nafsu tersebut (tapa brata dan tarak brata).  Kita semua tahu, bahwa pemenuhan nafsu negatif memiliki daya tarik yang luar biasa karena di dalamnya menyimpan segudang kenikmatan. Kenikmatannya sungguh dahsyat dan menggiurkan,  namun bersifat semu atau imitasi. Anda bisa juga menyebutnya sebagai kenikmatan palsu, di mana kenikmatannya bersifat tidak langgeng, dan cenderung merusak. Tak ada kepuasan, dan setiap saat minta dituruti kemauannya tanpa kenal waktu. Setiap hari tuntutan nafsu akan semakin bertambah kompleks dan semakin variatif. Artinya, tingkat kepuasan nafsu hanyalah sementara saja. Apabila nafsu berubah menjadi liar maka karakternya menjadi negatif dan destruktif. Sebagai konsekuensinya, bagi yang belum terbiasa menjalani laku prihatin, ia akan merasakan “kepedihan” dan “kehausan”   dalam hati. Bagaikan minum air garam, semakin banyak minum Anda akan semakin merasa haus. Itulah karakter nafsu negatif.  Paling prinsip menjalani laku prihatin, adalah berupa PENGUASAAN dan DOMINASI “kerajaan batin” terhadap “kerajaan jasad” yang berpusat di dalam gejolak nafsu.

SULITNYA MENGIDENTIFIKASI LAKU PRIHATIN

Dari pembahasan ini dapat diambil intisari bahwa menjalani keprihatinan (laku prihatinsama sekali TIDAK IDENTIK dengan perilaku yang gemar hidup dalam penderitaan, kesengsaraan dan serba kekurangan. TIDAK IDENTIK pula dengan perilaku  serba membatasi diri untuk menghindari gaya hidup yang serba kecukupan lahir dan batin. Bukankah kita semua tidak ingin menjadi “pengemis” atau menjadi orang “peminta-minta” yang telapak-tangannya selalu menengadah?! Read more…

KIRAB AGUNG TAPA mBISU

KIRAB AGUNG TAPA mBISU
Adakah sebuah skenario besar ?

SUGENG MAHARGYO WARSO ENGGAL

Rebo Kliwon, 1 Sura 1944 Bé
Kurup Asapon (1936 – 2052 M)
Windu Kuntara
Lambang Windu Kulawu
Tahun
Lambang Tahun Buda Mahésa (Kerbau)
Kumarané rupa Mina Lodan

Paarasan Lakuning Srengéngé
Pancasuda Lebu Katiyub Angin
Kamarokam Kala Tinantang
Watak Sasi Sasi Rahayu
Watak DinaSarik Agung (Tumuruning Kuthilapas)

Mangsa Kanem (VI, Maya) 9 November – 21 Desember
Wuku Galungan
Lintang Jun
Padangon Nohan
Padéwan Éndra
Dina Buda (Rabu)
Paringkelan Aryang
Pasaran Kliwon
Lambang Dina Jaran

Wening ing cipta, pasrah ing rasa, kanthi sumunaring budhi. Mugya kita sami tansah manggih ing karaharjan. Hamemayu hayuning bawana, suradira jayaningrat lebur dening pangastuti. Wilujeng rahayu kang tinemu banda lan beja kang teka.

KIRAB AGUNG TAPA MBISU

Sudah menjadi tradisi masyarakat Yogyakarta Hadiningrat sejak ratusan tahun silam, bahwa setiap malam 1 Suro (tahun baru Jawa) masyarakat melaksanakan tradisi kirab mubeng benteng mengitari Kraton. Kirab agun adalah malam hening cipta, atau  mesu budi, bertujuan untuk maneges keselamatan lahir dan batin kepada Sang Hyang Jagad Nata.  Acara mesu budi dimulai tepat pukul 00.00 wib berangkat dari alun-alun utara Kraton dengan dipandu oleh para abdi dalem kraton yang mengusung pusaka Tumbak Kyai Slamet dan pusaka pendampingnya. Kirab agung ditempuh dengan berjalan tanpa alas kaki mengitari benteng Kraton sembari tapa mbisu alias diam seribu bahasa (tidak berbicara apapun). Kirab agung adalah bentuk meditasi atau semedi sambil berjalan. Eneng ening sinambi mlampah. Ngalap berkah tumurune wahyu dyatmika. Keselamatan bukan hanya untuk diri sendiri, juga untuk keselamatan bumi seisinya meliputi binatang, tumbuhan, dan mahluk halus.

Sepuluh tahun lalu, acara ini sempat meredup diakibatkan oleh adanya upaya penggusuran tradisi secara sistematis antara lain dengan cara menempelkan stigma negatif pada acara tersebut.  Namun sejak gempa besar di Jogja pada 27 Mei 2006 lalu, masyarakat seolah seperti terbangun kesadarannya, bahwa selama ini telah melupakan nilai-nilai luhur warisan para pendahulu bangsa. Sejak itu peserta Kirab Agung kian ramai lagi. Dua hari sebelum malam 1 Suro, Jogja dan wilayah sekitarnya dalam seharian siang dan malam selalu diguyur hujan sangat lebat sesekali disertai guntur menyambar-nyambar. Namun rupanya berkah alam gayung bersambut. Malam 1 Sura ini langit bersih terang benderang, hawa tidak gerah, terasa lebih sejuk dari biasanya,  malam pun terasa begitu hening seolah-olah alam semesta sedang melaksakanan meditasi. Ada suatu fenomena yang fantastis, malam ini malam 1 Suro 1944 (malam 8 Desember 2010) kirab Agung yang dimulai dari pukul 00.00 hingga 03.00 wib diikuti sekitar 5000 perserta, terdiri dari laki-laki, perempuan, tua, muda, dewasa bahkan anak-anak dengan latar belakang beragam etnis dan agama.

Sebagaimana prinsip dalam pandangan hidup Jawa, Kirab Agung memiliki nilai universal, tidak sektarian dan primordial. Hal ini sebagai refleksi akan pemahaman spiritual Javaisme yang anti sektarianisme dan primordialisme, karena bagi pemahaman Javaisme, kedua mazab pikir tersebut justru mencerminkan level kesadaran seseorang masih sangat rendah. Setelah gempa Jogja 27 Mei 2006 lalu, kini masyarakat Jogjakarta seolah dibangunkan kesadaran spiritualnya yang kedua kali dengan peristiwa letusan gunung Merapi yang sangat dahsyat. Masyarakat menjadi lebih menyadari pentingnya keharmonisan dan keselarasan antara mikrokosmos dengan makrokosmos. Kesadaran spiritual yang tergugah itu telah memberikan impilkasi dengan melonjaknya jumlah peserta Kirab Agung secara signifikan. Yah, terlepas dari ada tidaknya “skenario” besar Ki Sabdopalon dan Ki Noyogenggong, yang jelas lingkungan alam di sekitar kita telah mengajarkan kepada manusia supaya hidup lebih arif dan bijaksana dengan memahami dan menghayati gamabudi; budi pekerti luhur. Read more…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 280 pengikut lainnya.