TATA CARA MELIHAT TUHAN

Dikirim TATA CARA MELIHAT TUHAN dengan kaitan (tags) , , , , pada Juli 5, 2009 oleh SABDå

Tuhan benar-benar maha luas tiada batas ! Maka tidak lah berlebihan jika dianalogikan bahwa kebenaran sejati layaknya cermin yang pecah berantakan, dan agama, ajaran, budaya, ilmu pengetahuan, tradisi, masing-masing hanyalah memungut satu di antara serpihan cermin tsb.

EMPAT dimensi (dimensi ruang ditambah waktu), hanya ada di dalam dimensi wadag/fisik bumi. Sementara tata “ruang” gaib sungguh menyimpan misteri yang maha luas dan dahsyat.  Dalam “tata ruang” gaib sudah yang tidak ber-ruang lagi, dan di dalamnya tidak berlaku waktu, tidak berlaku jarak. Itulah hakekat dari dimensi cahaya. Bahkan kecepatan melebihi kecepatan cahaya.

…untuk mencapai pergerakan maksimum di dimensi ruang maka pergerakan di dimensi waktu harus nol. Pada kondisi inilah kecepatan benda menempuh dimensi ruang bisa maksimal. Dan sesuai dengan teori relativitas khusus, bahwa kecepatan maksimal adalah kecepatan cahaya, segera kita sadari bahwa cahaya sama sekali tidak bergerak pada dimensi waktu. Dengan kata lain, foton tidak berumur. Foton yang dihasilkan semenjak alam semesta terbentuk sampai sekarang umurnya sama!

Ini terkait dengan salah satu formula teori relativitas khusus yang sangat terkenal: E=mc2, di mana E adalah energi, m adalah massa, dan c adalah konstanta kecepatan cahaya. Formula tersebut menjelaskan relasi langsung antara energi-massa (konservasi energi-massa). Sebuah objek dengan massa m bisa menghasilkan energi E sebesar mc2; dan karena c sebuah konstanta yang besar, massa yang kecil tetap akan menghasilkan energi yang besar.

Bayangkan, Hiroshima tahun 1945 hancur akibat energi yang dihasilkan 1ýari 2 pounds Uranium. Di sisi lain, formula ini memainkan peranan penting dalam pergerakan objek dalam 4-dimensi. Benda yang bergerak memiliki energi kinetik, semakin tinggi kecepatannya semakin besar energinya.

Saat kita paksa partikel muon mencapai kecepatan 99,9 kecepatan cahaya, muon memiliki energi yang besar. Karena konservasi energi-massa, energi tadi meningkatkan massa muon 22 kali lebih massif daripada massa-diamnya (0.11 MeV). Tentu saja semakin masif (pejal) benda, semakin susah untuk bergerak cepat. Ketika kecepatannya dinaikkan menjadi 99,999 kecepatan cahaya, massanya bertambah 70.000 kali! Muon semakin masif dan semakin cenderung untuk tidak bergerak. Sehingga dibutuhkan energi yang tak berhingga untuk melewati kecepatan cahaya; jumlah energi yang tidak mungkin bagi sesuatupun yang ada di alam semesta ini: KECUALI JUMLAH ENERGI  TUHAN. (Wongalus.wordpress.com)

Sukma/roh adalah “abadan cahya” (cahya sejati) sehingga bagi  roh/sukma ke manapun pergi tidak membutuhkan waktu lagi. Orang bilang kecepatan sukma melesat dari satu tempat ke tempat lain (dalam meraga sukma) hanya memerlukan hitungan detik, sekedar untuk menggambarkan betapa di “wilayah” gaib merupakan wahana cahaya yg tidak menggunakan hitungan dimensi ruang dan waktu lagi. Namun demikian, cahya sejati belumlah hakekat TUHAN, ia masih makhluk (ciptaan/retasan Tuhan). Sehingga tak bisa dibayangkan lagi bagaimana “kecepatan” Tuhan, mungkin beribu atau bermilyar kali lipat dari kecepatan cahaya. Dan hanya sampai di situlah yg bisa dibayangkan oleh manusia. Di atas cahya sejati (nurulah) adalah atma atau energi hidup/chayyu/kayun/kayu. SUATU “ENERGI hidup” YANG KECEPATANNYA  JAUH MELEBIHI CAHAYA. Bisa anda bayangkan ? Namun Atma sejati belumlah  “inti” TUHAN, karena atma masih di dalam rengkuhan HYANG MAHAMULIA.

Hal ini setidaknya dapat terbuktikan melalui suatu pengalaman gaib yg sensasional,  yg membeberkan “rahasia besar” bahwa leluhur di alam barzah, sekalipun  mencapai derajat kamulyan yg paling tinggi (kamulyan sejati/abadan cahya sejati), belumlah bisa melihat/bertemu “wujud” Tuhan. TUHAN tidak SESEDERHANA itu. Karena tuhan lebih-LEBIH DARI MAHA MULIA, LEBIH DARI MAHA AGUNG, tidak sekedar sebagaimana manusia bayangkan melalui kitab-kitab suci yang ada.

Semakin manusia mengetahui kebesaran tuhan, manusia semakin merasa tidak bisa membayangkan tuhan itu seperti apa sesungguhnya. Namun yang di luar bayangan imajinasi kita itu, sungguh ada melekat di dalam diri kita, dalam diri manusia apapun agama, bahasa dan suku bangsanya.

Semakin manusia tahu Tuhan, semakin merasa kecil dan menunduk diri. Jauh dari watak mentang-mentang, jauh dari sikap merasa paling benar, apapun yang menjadi sumber referensinya.

MATA MELIHAT MATA = MANUSIA “melihat” TUHAN.

Untuk sekedar pembuktian ilustratif saja, bagaimana kemampuan manusia dalam melihat/mengetahui/bertemu tuhan adalah ilustrasi saya sebagai berikut: Bola Mata wadag kita bisa melihat suatu obyek yang berada di luar mata kita. Namun demikian, apakah bola mata kita bisa melihat apa yg ada di dalam bola mata kita sendiri ?

Maka hanya dengan “rahsa”lah kita bisa “merasa” apa yg ada di dalam bola mata kita. Tuhan hanya bisa kita rasakan, dan itulah kemampuan manusia maupun roh dalam “melihat” tuhan.

APAKAH TUHAN ITU ?

Dalam pendekatan rasio dikenal suatu hukum alam, lebih populer lagi sebagai hukum sebab akibat. Maka Tuhan merupakan konsep utama sebagai CAUSA PRIMA, yakni penyebab utama tanpa ada yang menyebabkan eksistensiNya. Jika pendekatan melalui teori energi, maka Tuhan merupakan EPISENTRUM dari segala episentrum dan energi yang ada di jagad semesta.

Soal Tuhan mana yang paling bener, atau sebutan nama Tuhan yang palsu apa ? Apakah Allah, Alloh, Tuhan, Pi khong, Brahman, God, Puang Alah, Yahweh, Dei dan seterusnya ?

Berbicara dalam konteks rasio, semua itu tentu saja masih berupa kebenaran yang bersifat relatif. Karena nama-nama itu berkaitan dengan sistem budaya yakni, BAHASA sebagai alat komunikasi yang digunakan manusia. Logiknya sebelum manusia mengenal bahasa, maka konsep nama-nama di atas tentunya belum ada, dengan kata lain, causa prima (tuhan) belum punya nama apapun.

Jika pemahaman di atas ada yang menganggap statementnya kapir kopar, yang menjadi pertanyaannya, apakah gara-gara  salah menyebut nama untuk Tuhan maka akan mengakibatkan seseorang kecemplung nroko ? Bukankah kita semua ini memeluk salah satu agama hanya faktor kebetulan saja, dan tak lebih karena faktor keturunan (warisan) orang tua kita. Nah, apakah hanya faktor kebetulan, faktor keturunan, dan warisan ortu tsb menentukan orang masuk nroko atau suwargo ?

BENARKAH TUHAN ITU DAPAT DIHITUNG ?

Pertanyaan selanjutnya, apakah TEPAT, dikatakan Tuhan Maha ESA ? Jika jawabannya ya, berarti Tuhan itu sesuatu yang COUNT-ABLE (dapat dihitung). Jika jawabnya ya juga, berarti Tuhan itu sangat terbatas, dengan demikian mengingkari dalil Tuhan Mahaluas tak terbatas. Saya mengharapkan bantuan para pembaca yang budiman untuk memberikan pencerahan atas mind set tersebut.

Hal ini saya kemukakan karena di dalam benak saya Tuhan itu sebagai UNCOUNTABLE. Namun bukanlah benda, berbeda dengan udara, air, api dan sejenisnya merupakan uncountable noun, atau benda tak dapat dihitung. Sehingga kita tidak bisa mengatakan air, udara, api berjumlah satu atau sepuluh, atau seratus. Namun kita juga tidak bisa dikatakan benda-benda tersebut sebagai satu (esa). Bahasa yang mewakili adalah benda jamak dan benda tunggal. Jika Tuhan dikatakan satu, berarti terjebak pada terminologi benda jamak. Saya kok merasa lebih sreg jika mengatakan (dalam bahasa kawi)  sebagai Hyang Widhi atau Maha Tunggal atau bahasa lain yg sepadan. Karena Tuhan itu, saya kira tak dapat dihitung. Jika dikatakan Maha Esa (satu) kiranya teramat sulit memahami deret hitungan yang KUANTITATIF dan SIMPLISTIS tersebut. Kenyataannya, memahami Tuhan yang tiada duanya,  jauh melebihi sulitnya menghitung udara sebagai benda tak dapat dihitung. Betapa hebat Tuhan itu. MOHON SAUDARA-SAUDARAKU seluruh pembaca yang budiman BERKENAN berbagi rasa di sini.

salam asih asah asuh

NEGARA-IDEOLOGI-AGAMA

Dikirim NEGARA-IDEOLOGI-AGAMA pada Juni 30, 2009 oleh SABDå

IDEALNYA NEGARAWAN MEMELUK “agama” APA ?

Sepertinya masih banyak WARGA bangsa yang bingung akan konsep hubungan NEGARA-IDEOLOGI-AGAMA. Masih banyak terjadi simpang siur dalam memahami  hubungan di antara ketiganya. Tulisan singkat ini mencoba ngudari pemahaman yang belum pas. Berangkat dari pertanyaan, “di mana agama diletakkan, apa itu spiritual, dan apa saja peran negara terhadap agama ? Kebetulan tetangga saya seorang  ahli pijat urut, menanyakan beberapa hal berkaitan dengan wacana politik mutakhir di negeri ini. Kami bertiga, sambil wedangan kopi, leyeh-leyeh di “gazeboo hampir roboh” di samping rumah. Ditemani angin sepoi rada sejuk dan suara katak sawah bersautan. Dimulailah  guneman ringan masih seputar negara dan agama, berikut ini hasil petikan obrolan tsb saya up load.  Mungkin ada sedikit manfaat untuk semua sahabat di fesbuk.

T:         jika agama diletakkan di bawah negara, apakah negara menjadi sekuler ?

J:         Tidak, negara tetap saja memiliki landasan spiritual yang betul-betul kuat. Dan yang mengatasi negara dan negarawan bukanlah agama, melainkan spirituality.

T:         apa beda spiritual dengan agama ?

J:         Spiritualitas bukanlah lembaga, ia merupakan seperangkat tindakan atas dasar  kesadarannya akan nilai kebaikan. Spiritual tidak sekedar kesadaran rasio/akal budi semata, ia dipahami sebagai suatu bentuk KESADARAN tinggi (higher consciousness) yang melibatkan kesadaran batin (intelegensia) tentang kebaikan dan konsep keTuhanan. Kesadaran spiritual idealnya mencakup upaya menyatukan hati, pikiran, ucapan, dan perbuatan sebagai satu kekompakan tindak.  Sedangkan agama merupakan LEMBAGA-LEMBAGA, berfungsi mendidik atau mengajarkan tentang kebaikan dan ke-Tuhan-an (spirituality).  Singkatnya bahwa spiritual adalah HASIL, yang berhubungan dengan kesadaran, sementara agama adalah salah suatu CARA (proses) yang bertujuan menciptakan kesadaran tsb.  Banyak sekali CARA atau JALAN SETAPAK untuk mencapai kesadaran spiritualitas tinggi, di antaranya ya semua agama yang ada di planet bumi ini. Tapi, entah saya sedang mimpi atau tidak ya, saat ini kok rasanya banyak sekali orang-orang yang tampak AGAMIS, namun miskin PENCAPAIAN SPIRITUAL. Tampak dari ucapanya, pakaiannya, jalan pikirannya,  seseorang begitu alim dan saleh, tapi kok ya terlibat korupsi…!

T:         jika bukan agama, lantas apakah yang pantas di letakkan di atas Negara, yang bisa menjadi acuan SPIRITUAL negara dan bangsa Indonesia ?

J:         mungkin Anda lupa ? Konsep spiritual yang bersifat universal bagi bangsa Indonesia bukankah  sudah dibakukan dengan nama besar PANCASILA, ia sebagai IDEOLOGI  BANGSA, dan menjadi acuan spiritual yang menjadi dasar dalam menjalankan sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila bukanlah Islam, bukan Hindu dan Budha, bukan Kristen dan Katolik. Namun Pancasila  mencakup nilai-nilai universal semua agama tersebut. Pancasila tidak bertentangan dengan agama manapun. Tidak berlebihan bila saya katakan, jika semua agama di dunia ini dikuliti, di dalamnya akan ditemukan “isi” yang sesuai dengan apa yang tercantum dalam 5 sila itu. Hebat kan !!

T:         apa dasar argumen Anda, bahwa agama tidak boleh diletakkan di atas negara ?

J:         Agama adalah bagian dari sistem budaya, yakni sistem kepercayaan yang sudah menjadi LEMBAGA. Agama menjadi lembaga sosial non politik dan non profit oriented.  Sedangkan Negara merupakan lembaga POLITIK, mencakup di dalamnya lembaga-lembaga tinggi negara. Maka tidak ada lembaga yang boleh lebih tinggi dari negara.

T:         bukankah agama adalah urusan di luar negara ?

J:         pertanyaan yang tidak tepat, seharusnya kata-kata negara diganti politik. Secara politik AGAMA HARUS BERADA DI LUAR POLITIK itu sendiri. Dalam arti, agama tidak boleh dicemari kepentingan politik. Menjadi perbuatan tidak senonoh bila Anda mempolitisir agama, atau agama menjadi kendaraan politik. Sementara itu, agama jelas merupakan bagian dari kehidupan masyarakat warga bangsa. Otomatis agama hidupnya  berada di dalam wilayah suatu negara. Tak ada agama apapun di zona internasional laut. Kecuali Anda sedang mengarungi di lautan sana.

T:         apa yang akan terjadi di Indonesia bila agama secara kelembagaan diletakkan di atas OTORITAS NEGARA ?

J:         pertanyaan yang cerdas ! Jika AGAMA secara KELEMBAGAAN melebihi OTORITAS negara, maka  jadilah negara agama misalnya : Negara Islam Indonesia, Negara Hindu Indonesia, Negara Budha Indonesia, Negara Katolik Indonesia, negara Kong Hu Chu Indonesia, atau Negara Kristen Indonesia. Dengan begitu bubarlah negara kesatuan Republik Indonesia di atas slogan BHINNEKA TUNGGAL IKKA.

T:         tidak menutup kemungkinan, para tokoh politik kita ingin mencapai kekuasaan tertinggi dengan mengendarai suatu agama tertentu ? Bagaimana langkah ideal yang seyogyanya dilakukan para elit politik kita ?

J:         jika Anda sebagai politikus lalu kebelet menaruh agama yang Anda peluk di atas OTORITAS LEMBAGA negara, Anda harus memenuhi syarat sebagai seorang NEGARAWAN yakni:  TANGGALKAN lembaganya atau “BAJUNYA”, KUPAS KULITNYA, AMBIL ISI HAKEKATNYA. Singkatnya, ambil saja RUH dari setiap agama yang ada di Nusantara ini. Carilah nilai-nilai agama yang bisa melebur dalam nilai spiritual yang UNIVERSAL dan ESENSIAL.  Namun kita sebagai generasi penerus bangsa TAK PERLU LAGI PUSING-PUSING MIKIRIN PEKERJAAN ITU, karena BUKANKAH PARA PENDAHULU KITA SUDAH MENUNTASKAN TUGAS ITU SEMUA, sehingga terwujudlah PANCASILA sebagai barang jadi yang tinggal pakai.

T:         Ok, jika lembaga agama diletakkan di bawah otoritas negara, sejauh mana kewenangan NEGARA terhadap AGAMA ?

J:         Tentu saja negara tidak boleh MENCAMPURI URUSAN INTERNAL agama apapun,  yang mencakup dakwah & mengenai isi ajarannya. Biarkan hal itu menjadi tugas para ulama beserta tanggungjawab masing-masing umat agama. Negara juga tidak boleh mendikte sistem nilai kepercayaan setiap warga bangsa. DI SINILAH DASAR PEMAHAMAN  AGAMA SEBAGAI URUSAN PRIBADI, dalam artian urusan INTERNAL warga sebagai individu bukan menjadi kewenanangan negara atau penguasa. Justru dalam hal ini, idealnya negara menjamin kemerdekaan pilihan Anda. Walau sudah dijamin UU atau UUD namun implementasinya belumlah optimal, yang terjadi saat ini  malah salah kaprah, konsep kewenangannya serba terbalik.

T:         bisa lebih jelaskan lagi ?

J:         Peran negara hanya sebagai ARBITER atau WASIT. Bila peran negara sebagai WASIT melemah, sementara di sisi lain peran AGAMA sebagai LEMBAGA semakin menguat, maka  akan terjadi  HUKUM RIMBA, siapa yang kuat akan melibas yang lemah dengan dalih MEMBELA JALAN TUHAN, membela kebenaran. Implikasi lebih lanjut akan terjadi konflik horisontal, anarkhisme & kekerasan karena masing-masing agama tentu saja merasa paling baik dan benar serta merasa berhak menentukan negara. Mungkin gejala itu bisa Anda rasakan saat ini, karena KEMAMPUAN NEGARA  berperan sebagai WASIT yang BAIK, ADIL, NETRAL dan BERSIH, terasa kian melemah. UU dikalahkan oleh basa-basi busuk.

T:         kurang puas..

J:         Ok..dengan demikian HUBUNGAN antar lembaga dan umat beragama tetap harus tunduk di bawah aturan main negara yang terangkum di dalam UUD dan UU. Tugas negara adalah  memberikan JAMINAN kepada seluruh UMAT BERAGAMA agar supaya  bebas merdeka MENENTUKAN PILIHAN lalu MENJALANKAN ajarannya secara MERDEKA tanpa ada intimidasi dan paksaan dari UMAT lain. Selebihnya NEGARA haruslah MENGAKUI apapun sistem kepercayaan yang ada dalam masyarakat. Mungkin kelak, di Indonesia akan terdapat lebih dari 6 macam agama. Negara tidak berhak membatasi, namun negara BERWENANG MENGATUR KETERTIBAN sesuai aturan main yang disepakati bersama, agar tercipta ketertiban dalam kehidupan berbangsa. Lebih dari itu OTORITAS NEGARA diperlukan agar agama tidak menjadi boomerang menjadi faktor pencetus konflik yang merusak sendi kehidupan dalam masyarakat.

T:         adakah OTORITAS NEGARA yang salah kaprah dalam menjalankan peranannya sebagai WASIT ?

J:         ada, salah satu contohnya adalah mencantumkan agama di dalam KTP Anda. Contoh yang lain, anarkhisme yang dilakukan oleh suatu kelompok agama, terkesan dibiarkan saja oleh pihak penjaga ketertiban dan keadilan hukum masyarakat. Bahkan salah kaprah ini menjalar ke bidang lain yang jauh dari urusan agama. Contohnya bila Anda diminta mengisi formulir perbankan, ada-ada saja, di situ pihak Bank ikut-ikutan mencantumkan form agama yang harus Anda isi sesuai KTP. Sekali lagi pisahkan kepentingan Agama dari kepentingan politik maupun ekonomi. Jika tidak, maka terjadilah imperialisme/penjajahan berdalih kepentingan agama. Dengan mudahnya orang akan mengklaim bahwa kepentingan politik atau ekonominya adalah ATAS NAMA TUHAN. Siapa yang tak mau menuruti kemauannya akan mendapatkan laknat dari Tuhan.

T:         agak OOT (out of topic), apa saran Anda, agar supaya setiap orang baik sebagai warga bangsa maupun sebagai penguasa agar memiliki kemerdekaan dalam menjalankan dan mengapresiasikan nilai agama dalam kacah politik, ekonomi dan pergaulan sehari-hari tanpa terjadi pengkotakan sempit maupun fragmentasi ?

J:         Anda tak perlu berteriak lantang sebagai pembela Tuhan, Tuhan itu Maha Kuasa jadi kagak perlu dibela-bela, sombong banget kamu, bukankah manusia makhluk yang teramat lemah di hadapan Tuhan !? Tuhan juga tidak punya musuh, dan jangan pernah berfikir ingin menjadi musuh Tuhan. Tuhan tak ada lawannya kok. Anda bebas mau melalui agama apa pun, ajaran dan filsafat hidup mana saja, yang paling penting adalah PENCAPAIAN SPIRITUALITAS secara sungguh-sungguh. Yakni dengan cara menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara dengan sebaik-baiknya, sesuai PANCASILA, dengan melibatkan kekompakan empat unsur penting dalam diri Anda yakni: hati, pikiran, ucapan, dan tindakan. Dengan kata lain, NEGARAWAN idealnya memeluk “agama” Pancasila.  Pancasila itu sangat sakral dan RELIGIUS. Meliputi dimensi “vertikal” dan “horisontal”. Menjadi pedoman “tata laku” dalam sendi kehidupan baik dimensi (domain) individu maupun sosial. Lha kok masih ada yang mau menggantikan Pancasila. Malah dibilang Pancasila tidak religius. Lah..trembelane…kenthir po yo ? Lha wong mengamalkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari itu tidak membuat panjenengan kopar-kapir kok Mas. Kalau ada yang menuduh, ya laporkan saja pada pak Lurah, pak Carik, kalau nggak mempan ya ke Pak Polisi, karena menganggu ketrentaman dan melibas hak orang lain.

T:         saya pernah dengar ada yang usul supaya dibuatkan referendum, dengan harapan  Pancasila dapat diganti dengan Piagam Jakarta. Kira-kira bagaimana ?

J;         berarti mau meletakkan satu otoritas agama di atas negara yang majemuk ! atau membangun dominasi satu agama di atas agama-agama lainnya yang tersubordinasi. Menurut saya gara-gara di dalam Piagam Jakarta sila satu terdapat penggunaan kata-kata “Allah”. Lain halnya sila pertama  Pancasila menggunakan kata-kata “Tuhan”. Menurut saya, Piagam Jakarta itu lebih terasa mewakili tradisi Timteng, dan tidak merepresentasi bangsa Indonesia yang plural ini. Istilah Tuhan kan jelas justru MEWAKILI “tuhan” semua orang Indonesia..!  mencakup semua suku, semua agama. Istilah “Tuhan” tentu saja kalau Anda bicara dengan bahasa Indonesia. Anda pun bebas merdeka mau menyebutNya dengan nama-nama berikut: Allah, Alloh,  Brahman, Pi Khong, Dei, God, Gusti Ingkang Murbeng Dumadi, Hyang Widhi, Puang Allah, semua tetap TUHAN yang itu-itu juga. Nggak ada yang lain, tetap tuhan yang tunggal. Tiada Tuhan (banyak) kecuali Tuhan (yang tungal).

LETAKKAN AGAMA DI BAWAH NEGARA

Dikirim LETAKKAN AGAMA DI BAWAH NEGARA dengan kaitan (tags) , , , , pada Juni 24, 2009 oleh SABDå

KONTEMPLASI UNTUK CAPRES CAWAPRES

Tanpa mengurangi rasa hormat, saya terpancing menanggapi statemen Cawapres Budiono dalam menjawab pertanyaan seorang penanya dalam debat Cawapres pada hari Selasa 23 Juni 09 Jam 20-21 di salah satu stasiun TV swasta. Pertanyaan yang diajukan adalah,”Melihat berbagai kekerasan berbau agama, sebaiknya di manakah agama diletakkan ? Pak Bud menjawab secara tegas dan singkat,” agama sebaiknya diletakkan di atas segalanya.

Sekilas jawaban tersebut tampak sebagai jawaban yang sangat ideal dan bijaksana.  Namun saya pribadi terperanjat mendengarnya. Saya tetap berusaha berprasangka baik kepada Pak Bud, mungkin beliau tergesa-gesa dalam menjawab, dan ia bukanlah seorang dengan latar belakang ilmu tatanegara, sosial-politik, dan ia belumlah menjadi seorang  negarawan. Beliau baru menjadi seorang praktisi ekonom dan kini sambil belajar menjadi negarawan. Semoga belajar Anda membuahkan prestasi yang gemilang seiring perjalanan waktu.

LETAKKAN AGAMA DI BAWAH NEGARA

Agama berbeda dengan Tuhan. Agama adalah bagian dari unsur budaya masyarakat, yakni sistem kepercayaan. Sistem kepercayaan yang kemudian dilembagakan oleh  manusia. Agama menjadi lembaga yang berisi tata cara, upacara, aturan, dengan seperangkat nilai yang mengatur kehidupan umat manusia dalam berhubungan dengan sesama umat dan dengan Tuhan. Di Indonesia sedikitnya memiliki 6 lembaga agama yang diakui oleh  Negara. Fungsi negara terhadap agama adalah urusan mengelola bagaimana idealnya agama hidup berdampingan dengan agama lainnya. Negara menjamin agar supaya masing-masing umat agama bisa menjalankan tata aturan agama secara merdeka dalam  arti tidak direcoki umat agama lain. Dengan demikian fungsi negara adalah sebagai wasit (arbitrasi) di antara agama-agama yang ada agar tidak terjadi benturan. Fungsi Negara sebagai PENGELOLA tetap harus netral dan adil berdiri di atas semua agama.  Apalagi Indonesia bukanlah negara agama, bukan pula hanya ada satu agama di nusantara.  Dapat dibayangkan apa yang akan terjadi jika semua agama-agama yang ada di tanah air ini diletakkan di atas otoritas negara, dalam arti peran agama lebih diutamakan ketimbang peran negara, maka konsekuensinya agama mengambil alih peranan menjadi PENGELOLA negara. Jika hal itu terjadi maka peran negara akan menjadi lemah, sebaliknya masing-masing agama akan memiliki pendirian yang berbeda dan masing-masing akan berebut pengaruh. Implikasinya bisa timbul hukum rimba siapa yang kuat atau siapa yang mayoritas akan mendominasi permainan. Negara pun akan didikte sesuai kemauan pihak yang mendominasi. Sementara agama yang memenangkan percaturan, tetap saja tidak akan mampu  mengganti peran negara sebagai pengelola bangsa. Implikasinya akan sangat berbahaya, karena Indonesia adalah bangsa yang plural, heterogen, meliputi berbagai suku, ras, agama, kelompok politik, dan golongan. Tentu saja dominasi agama apapun dalam pengelolaan negara justru akan mengakibatkan perlawanan yang bertubi dan akan menghancurkan negeri ini. Kejadian yang tidak kita semua kehendaki. Lain halnya jika negara memainkan peannya sebagai pengelola, yang menjamin kemerdekaan kepada setiap umat untuk menjalankan kegiatan peribadatan agama, maka kehidupan antar umat beragama akan menjadi tenteram, khusuk, saling menghargai, toleransi, damai sejahtera. Sehingga setiap warga bangsa secara leluasa bisa mengembangkan pencapaian  spiritualitasnya tanpa gangguan umat lainnya. Baca selebihnya »

KRITIK BUAT PARA RAJA JAWA MASA KINI

Dikirim KRITIK BUAT PARA RAJA JAWA dengan kaitan (tags) , , pada Juni 21, 2009 oleh SABDå

Pernyataan bersama  Mas Kumitir & Ki Wong Alus

manuk&bungaBagaimana memajukan negeri kita agar bisa setara dengan negeri-negeri lainnya seperti China dan Jepang yang memiliki cadangan devisa terbesar di dunia? Salah satu hal yang kami sepekati adalah diperlukan sebuah revolusi budaya di negeri kita. Kenapa harus budaya? Sebab intisari budaya adalah pola pikir, perilaku, kebiasaan yang sudah berakar urat dalam kurun waktu yang panjang. Pola pikir para anak bangsa yang cenderung tidak kreatif, tidak inovatif dan secara salah menafsirkan harapan hidup pada akhirnya melahirkan generasi yang tidak memahami sangkan paraning dumadi.

Inilah masa sekarang. Generasi yang dimanja oleh situasi yang memang membius mereka dalam kemudahan dan tidak mengenal proses perjuangan untuk merengkuh kebebasan. Pengembangan diri bersifat pragmatis dan materialistik yang hanya ditujukan untuk meraih prestasi dan melupakan pengembangan diri yang bertumpu pada budaya ke-Indonesiaan kita.

Siapa yang harusnya memulai untuk mengadakan gerakan REVOLUSI BUDAYA? Menurut hemat kami, yang harus mengawali adalah mereka yang selama ini hidup di sentra, kantong, dan EPISENTRUM BUDAYA. Siapa lagi kalau bukan PARA RAJA dan PARA KERABAT DAN SENTANA DALEM. Raja tidak hanya simbol, merekalah yang menggenggam RUH BUDAYA karena dari sanalah sesungguhnya dimulainya BUDAYA.

Terus terang, sekarang ini PARA RAJA JAWA (KHUSUSNYA RAJA DI KRATON KASULTANAN NGAYOGYAKARTA HADININGRAT, RAJA DI KRATON PURI PAKUALAMAN, RAJA DI KRATON  MANGKUNEGARAN, RAJA DI KRATON KASUNANAN SURAKARTA) tidak mampu mampu lagi menempatkan dirinya dalam kancah perubahan budaya di masyarakat modern.

Mereka terpaku dan hanya jadi penonton perubahan budaya yang berlangsung cepat. Mereka tidak mampu menjadi PENGGERAK BUDAYA yang konon sangat adiluhung. Bagaimana bisa menjadi penggerak budaya bila hidup para raja semakin HEDONISTIK DAN FEODALISTIK?..

Para raja itu masih hidup tapi tidak memiliki semangat untuk menjadikan masyarakat yang berbudaya Jawa tersebut maju, berilmu tinggi dan mampu mengolah rasa/dzikir dan pikir mereka sehingga menjadikan budaya sebagai basis pengembangan diri. Masyarakat yang kehilangan JATI DIRI BUDAYA tempat dimana dulu mereka dilahirkan akan tumbuh sebagai masyarakat yang anti peradaban dan cenderung hanya menyerap peradaban modern tanpa disaring.

Budaya membaca, menulis, mengolah diri menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur dan sesuai dengan jati diri bangsa kian lama kian hilang. Padahal di dalam khasanah budaya Jawa kita mengenal kearifan lokal bagaimana hidup di tengah perubahan yang cepat.

Kami telah berusaha keras untuk mendapatkan berbagai kitab-kitab Jawa kuno baik berupa manuskrip, fotocopy, atau buku aslinya tapi itu lebih banyak kami dapat dari buku-buku yang dijual di pinggir Jalan. Sementara buku-buku Jawa yang ada di Kraton yang kami yakini masih bertumpuk di gudang-gudang semakin dimakan kutu buku dan rayap.

Keraton –sejauh kami tahu– tidak memiliki niat untuk membuka akses buku-buku babon dari para pujangga Jawa. Para Raja, Para Kerabat dan Para Sentono Dalem tidak memiliki keinginan sedikitpun untuk MBEBER KAWICAKSANAN dan selama ini lebih cenderung untuk HANYA MENYIMPAN DALAM GUDANG SAJA.

Inikah FUNGSI KRATON SEBAGAI SARANA UNTUK NGURI-URI KEBUDAYAAN JAWA YANG ADILUHUNG ITU?  Bila Kraton dan juga para Raja menyadari fungsinya sebagai penggerak dan pelumas bergeraknya budaya, harusnya mereka membuka akses kepada masyarakat seluas-luasnya untuk mendapatkan informasi termasuk juga mendapatkan KUNCI MASUK KE PERPUSTAKAAN KRATON.

Menyimpan buku-buku / naskah-naskah kuno dan menganggapnya sebagai JIMAT adalah sangat bertentangan dengan semangat membangun bangsa. Sebab membangun bangsa diperlukan gotong royong yang erat berdasarkan profesi dan kompetensinya masing-masing. Bila budayawan Jawa saja kesulitan untuk mendapatkan akses ke kraton, mana bisa mereka mengetahui nilai-nilai budaya Jawa jaman dahulu bila tidak dari buku-buku kuno?

BUDAYA bukanlah hanya HASIL, sebagaimana candi-candi, rumah-rumah adat, kitab-kitab kuno, adat istiadat, benda-benda seni dan lainnya. Budaya adalah sebuah PROSES yang terjadi di masyarakat yang harus terus BERINOVASI dan memiliki ENERGI KREATIF  yang besar untuk memajukan kemanusiaaan yang lebih manusiawi, yang memiliki rasa kebertuhanan yang lanjut dan hingga sampai kesimpulan penghayatan hidup.

Untuk mengetahui HAKIKAT BUDAYA, kita memerlukan sebuah proses MEMBACA DAN MENULIS. Baik membaca KITAB YANG TERTULIS, maupun membaca dalam arti yang luas yaitu MEMBACA KITAB TIDAK TERTULIS, yaitu ALAM SEMESTA beserta ciptaanNya. Sementara MENULIS berarti mengadakan PERENUNGAN dan MENGOLAH DENGAN AKAL PIKIR hingga kemudian berlanjut ke tahap MELAKUKAN DALAM PERILAKUNYA SENDIRI-SENDIRI.

Sebagai bagian dari semangat untuk NGANGSU KAWRUH itulah maka, sudah pada tempatnya bila PARA RAJA DI RAJA JAWA (KHUSUSNYA RAJA DI KRATON KASULTANAN NGAYOGYAKARTA HADININGRAT, RAJA DI KRATON PURI PAKUALAMAN, RAJA DI KRATON  MANGKUNEGARAN, RAJA DI KRATON KASUNANAN SURAKARTA) membuka akses yang seluas-luasnya kepada masyarakat untuk MEMPELAJARI  kitab-kitab kuno yang hingga saat ini tersimpan erat dalam gudang-gudang mereka.

Demikian uneg-uneg dari kami, semoga para RAJA JAWA menyadari kepelitannya selama ini. Mohon maaf bila tidak berkenan dan MONGGO KEPADA REKAN-REKAN YANG SEGARIS PERJUANGAN UNTUK BERGABUNG DENGAN KAMI DALAM GERAKAN REVOLUSI BUDAYA JAWA INI.

Ttd :

Alangalangkumitir & Ki Wongalus

SALAM HORMATKU KEPADA: KI WONGALUS & MAS KUMITIR

Saya selalu menyimak dengan cermat di manapun panjenengan berdua selalu menggores pena, di situlah tampak sumunaring surya, pencerahan demi pencerahan datang bertubi, bagaikan kekuatan aufclarung yang begitu dahsyat. Memang benar apa yang panjenengan berdua katakan, kerajaan yang ada di  Nusantara, baik yang terletak di pulau Jawa-Banten-Cirebon, Sumatera, Sulawesi, dll, masih terdapat banyak kerajaan. Namun kerajaan tinggalah bagaikan sangkar yang tiada penghuninya lagi. Kerajaan yang hilang gaungnya ditengarai sebagai kali ilang kedunge, pasar ilang kumarane. Raja lebih fokus berbisnis dan berpolitik. Kepedulian akan perannya sebagai cagar budaya Nusantara sudah  terbengkelai. Jika di zaman dahulu Raja berperan ganda sebagai seorang spiritualis handal sekaligus pemimpin wilayah, kini seorang raja hanyalah menduduki simbolisme tanpa makna, berbasa-basi sebagai sumber kearifan lokal. Ibarat harimau sudah kehilangan taringnya, kini malah giliran belangnya  semakin pudar.

Tak bisa dipungkiri, sudah menjadi kehendak Hyang Manon kelak negeri ini akan mencapai kejayaannya kembali, manakala masing-masing suku bangsa kembali menghayati dan melestarikan kearifan lokal, memiliki jiwa apresiasi tinggi terhadap seni dan budaya serta tradisi yg indah sekali. Kita telah mendapat pelajaran berharga bagaimana bangsa bangsa di Asia berkembang pesat yakni Cina, Jepang, India, Korea, Taiwan, Thailand, mereka dapat eksis berkat kekuatan akan jatidiri bangsa yang tidak mudah terombang-ambing nilai-nilai asing yang melahirkan diskrepansi dengan akar budi daya setempat. Bangsa akan menjadi BESAR  bilamana mampu MENGENALI JATI DIRI yang sesungguhnya, sebagaimana pepatah “jadilah dirimu sendiri”, supaya ku tahu yang ku mau. Sementara umat beragama, bukan lagi tergila-gila sekedar menjadi seorang yang AGAMIS saja, namun menyadari pentingnya PENCAPAIAN SPIRITUALITAS yang mendalam.

Bangsa yang TIDAK MENGENALI JATI DIRINYA akan kehilangan arah, menjadi bangsa yang serba salah tingkah, tidak sinergis dan harmonis alias timpang dengan keadaan alam sekitar. Bangsa yang tidak memahami karakter alamnya, sifat-sifat masyarakatnya, sama halnya Anda hidup terombang-ambing di bawah KOLONIALISME  KEBODOHAN. Pada gilirannya, bangsa ini benar-benar menjadi bangsa tercerabut dari akarnya, limbung lalu jatuh tersungkur, dan hancur. Semoga pencerahan demi pencerahan disuarakan oleh para generasi muda dan tua bangsa, baik perempuan maupun laki-laki yang masih memiliki semangat “renaissance” dan berenergi tak pernah habis.

Dengan adanya uneg-uneg di atas semoga menjadi gerbang pembuka kesadaran bagi semua pihak yang bertanggungjawab atas pelestariaan budaya dan ragam kekayaan nusantara peninggalan nenek moyang. Betapa ilmu setinggi apapun tak akan bermanfaat sedikitpun bila hanya tersimpan rapat di “gudang” perpustakaan. Dapat dibayangkan apa yang akan terjadi, bila buku-buku kuno yang  sangat tinggi nilai filosofinya hanya “bermanfaat” untuk pakan rayap dan ngengat. Ing wusana, sumangga, kita bersama-sama menggantikan peran si rayap dan si ngengat.   Salam asah asih asuh.

sabdalangit

DI MANAKAH LEVEL ANDA

Dikirim DI MANAKAH LEVEL ANDA dengan kaitan (tags) , , , , pada Juni 11, 2009 oleh SABDå

Orang yang suka menyalahkan orang lain, gemar mencari-cari “kambing  hitam”, pada saatnya nanti dalam kesendirian ia menghadapi kekalahan terbesarnya. Dan pada saat itu  tiada seorang pun yang peduli lagi dengan dirinya.

I. HIDUP DI LEVEL DASAR

Perjuangan hidup di dunia ini, diawali manakal Anda masuk usia aqil-baliq, atau usia pubertas. Dengan asumsi perjuangan hidup manusia ditandai dengan  pengendalian mati-matian terhadap gejolak hawa nafsu negatif. Dengan kata lain setan telah mulai bekerja untuk selalu menggoda iman manusia. Namun saya pribadi lebih percaya bahwa setan itu bukanlah makhluk gaib gentayangan, melainkan hawa nafsu negatif kita sendiri. Sekilas pandangan saya tampak kontroversial, namun Anda dapat merenungkan kalimat saya, lihat saja anak kecil atau usia kanak-kanak mengapa tidak diganggu “setan”, tidak lain karena pada usia kanak-kanak hawa nafsu belumlah bekerja sebagaimana manusia dewasa.  Meskipun demikian, hawa nafsu ibarat pisau bermata dua, dapat bersifat positif yang lembut namun tiba-tiba bisa berubah menjadi destruktif dan agresor meluluhlantakkan nurani Anda. Namun ia bukanlah sesuatu yang harus Anda musuhi bahkan tidak perlu dilenyapkan dari dalam diri. Bukankah Anda bisa bertahan hidup karena Anda memiliki hawa nafsu biologis dan psikhis. Anda dapat melangsungkan regenerasi berkat jasa si hawa nafsu pula. Hawa nafsu positif telah berjasa membangkitkan hasrat dan keinginan Anda, untuk bangkit dalam semangat menjalani kehidupan yang lebih baik dan mulia. Hanya saja jenis hawa nafsu liar yang tak terkendali (negatif) akan menjadi mesin penghancur sangat dahsyat. Oleh sebab itu perlu dilakukan upaya pengendalian hawa nafsu sebaik-baiknya.

Setelah usia beranjak dewasa, hawa nafsu mulai bekerja sebagaimana mestinya. Lantas Anda akan memiliki banyak kemauan, menginginkan suatu pencapaian (need of achievement) menjadi yang terbaik. Mula-mula Anda tidak puas dengan keadaan hidup ini. Ketidakpuasan akan berdampak menimbulkan berbagai macam hasrat. Hasrat adalah suatu keadaan yang wajar, tanpa hasrat yang cukup besar terhadap kualitas dan kuantitas pencapaian hidup maka tak akan ada motivasi untuk bertindak. Anda dapat membayangkan sendiri apa yang akan terjadi bila tidak melakukan sesuatu apapun dalam kehidupan di planet bumi ini. Anda tidak tumbuh, mandeg, mundur, lalu mengalami kepunahan yang tragis. Dalam tindakan spontan pun di dalamnya ada kehendak bawah sadar, misalnya Anda merasa kantuk lalu ingin tidur. Anda terkejut oleh keberadaan ular berbisa lalu meloncat ketakutan. Kehendak atau hasrat adalah rumus Tuhan, atau hukum alam, sunatullah yang dianugerahkan kepada manusia. Oleh karena itu adanya kehendak atau hasrat merupakan keharusan bagi manusia yang berani hidup (strugle of life).

Dalam level dasar ini, keberhasilan yang Anda raih diakumulasi menjadi semangat yang semakin membara. Semangat yang serempak menggelora dalam diri, meliputi dari dalam hati, pikiran, lalu Anda ikrarkan dengan lantang, selanjutnya Anda wujudkan dalam tindakan nyata. Di satu sisi, hal itu menjadi doa yang tak terucap sepanjang waktu, sepanjang Anda tertantang mewujudkan hasrat. Rasa lapar dan ingin memiliki sesuatu (kebutuhan primer dan sekunder), keduanya menjadi bahan bakar utama dalam mewujudkan kehendak, cita-cita dan harapan. Begitulah Anda telah menuju titik awal yang baik dalam mewujudkan hasrat, keinginan dan harapan. Sampai pada suatu saat Anda benar-benar mendapatkan apa yang Anda inginkan. Maka rasa puas, marem,  bangga diri akan dirasakan. Tidak berhenti di situ, selanjutnya Anda tentu ingin mencapai lebih dari pada yang telah Anda dapatkan sekarang.

Keadaan yang kontradiktif ! Dalam tahap keberhasilan ini terkadang Anda justru merasakan sindrom keresahan, kebingungan, menderita, dibanding keadaan sebelumnya semasa dalam ketidak-punyaan.  Kekhawatiran akan menjadi semakin besar hanya dengan hanya membayangkan andaikan saja Anda mengalami kejatuhan, kebangkrutan, tertipu, kegagalan, kehilangan harta,  sakit berat, kehilangan orang-orang terkasih. Untuk menghilangkan kecemasan yang datang bertubi Anda menyiapkan segala macam sarana pendukung untuk menciptakan ketenangan. Begitulah seterusnya anda berada dalam hegemoni (penguasaan) hasrat anda yang sebenarnya semu bagaikan fatamorgana dan jatuh bangun mengejar bayang-bayang Anda sendiri.

Semua hasrat dan keinginan-keinginan Anda di atas barulah pada tahap paling dasar yakni kebutuhan ragawi. Lantas suatu ketika Anda sungguh menyadari bahwa keberhasilan yang diraih tidak benar-benar membuat tenteram dan bahagia. Anda sadar bahwa apa yang berhasil diraih tidaklah langgeng, kepuasan dan rasa bangga hanyalah bersifat sementara saja. Bersyukurlah Anda bila menyadari sebab musabab kegelisahan, keresahan, dan kekhawatiran Anda. Karena cahaya kebenaran Tuhan telah mulai menerobos ke dalam kesadaran kalbu. Anda menjadi manusia yang sangat beruntung, karena alam menaruh peduli dengan Anda, hukum alam menyadarkan dan membimbing Anda agar supaya beranjak dari pencapaian yang sesungguhnya kecil namun selama ini Anda anggap suatu kesuksesan besar dalam kehidupan Anda. Harta yang melimpah, pasangan hidup yang mengangkat gengsi, tahta dan jabatan yang tinggi, dan gemerlapnya “perhiasan dunia” yang berhasil Anda raih adalah pencapaian atau kesuksesan yang teramat kecil dalam kesejatian hidup. Anda harus segera menyadari, adalah pencapaian yang jauh lebih berharga dalam kehidupan ini, yakni pencapaian kebahagian dan ketenangan batin.

II. HIDUP DI PERSIMPANGAN JALAN

Level kedua di mana Anda tersentak disadarkan oleh suatu peristiwa yang memukul kesadaran Anda sebelumnya. Seringkali terjadi manakala Anda mengalami suatu pengalaman unik (unique experience) atau kejadian yang dramatis dalam kehidupan pribadi. Misalnya Anda kehilangan harta, kebangkrutan ekonomi, kegagalan usaha, kehilangan jabatan, kehilangan orang terdekat yang Anda cintai, gagal dalam persaingan bisnis atau popularitas, dan  Anda betul-betul menjadi orang kalah. Semua hal yang selama ini dibanggakan dan diandalkan, dianggap sebagai simbol kekuatan dan kejayaan, kemegahan dan kesuksesan, kehormatan dan kemuliaan, tiba-tiba terjungkir dan Anda betul-betul berada di bawah.  Semua itu mengakibatkan Anda mengalami sakit hati  yang sangat dalam, merasa terpukul, kehilangan semangat, putus asa, atau kemurkaan yang begitu membakar emosi dst. Setiap manusia suatu ketika pasti mengalami penderitaan ini. Keadaan akan membuat Anda bingung harus berencana dan bertindak bagaimana untuk keluar dari masalah. Anda terperangah lantas mulai meragukan segala ilmu, teori, konsep, kepercayaan, keyakinan yang Anda anut dan andalkan selama ini. Keadaan menjadi anomali, di mana orang merasa kehilangan arah dan pegangan hidup. Anda mulai meninggalkan nilai-nilai lama, sementara nilai baru belumlah Anda patenkan sebagai petunjuk dalam menjalani kehidupan yang baru yang betul-betul meyakinkan. Bila Anda mampu bangkit, pertama-tama akan melakukan kontemplasi, otokritik, mawas diri, dan menemukan sesuatu yang salah pada diri Anda sendiri, lantas sesegera me-reset ulang MIND-SET Anda dalam memandang apa arti kehidupan ini. Bagaikan semangat renaissance, kebangkitan kebali ditandai kesadaran untuk memulai suatu perjalanan batin, dengan apa yang dinamakan sebagai “laku prihatin” dapat diakronimkan rasa perih dalam batin. Rasa perih sebagai menjadi titik awal menuju keindahan batin.  Sebaliknya, tanda-tanda bila akan tenggelam dalam kegagalan total  bilamana Anda gemar menyalahkan orang lain, sibuk mencari-cari “kambing  hitam”, giat mencari benarnya sendiri, butuhnya sendiri, menangnya sendiri. Anda enggan mengakui kelemahan diri sendiri, malah kembali menyalahkan nasib terlampau sial. Memang nasib sial datang dari mana ? Dari Tuhankah ? Tidak, Tuhan jangan dijadikan obyek penderita ! Nasib buruk adalah berasal dari kecerobohan diri sendiri. Seyogyanya kegemaran menyalahkan pihak lain segera dihentikan sekarang juga. Karena teramat sangat bahaya bagi diri sendiri maupun orang lain. Jika Anda tak mampu menghentikannya, tunggu saja hingga pada saatnya nanti Anda berada dalam kesendirian, akan menghadapi kekalahan terbesar. Celakanya, pada saat itu tiada seorang pun yang peduli lagi dengan diri Anda.

Feed Back

Kini keadaannya sangat berubah, segala hal yang Anda buru dengan semangat bagai api membara dan disangka sangat membahagiakan mendadak terasa hambar dan kosong. Kehidupan sehari-hari didominasi oleh perasaan akan keadaan yang penuh pahit dan getir. Anda yang ingin bangkit berusaha survival dan mencoba banting stir, perburuan beralih dari mengejar kejayaan dan sesuatu yang membanggakan menuju upaya jujur. Saat itu Anda melangkahkan hati memasuki kerajaan batin yang jauh tersembunyi dalam keheningan batin.  Sebagaimana pengetahuan spiritual dan religi yang pernah Anda baca, dengar dan ketahui dari kisah-kisah hidup yang dialami orang lain, dari teman, dari berbagai referensi buku, dan senandung ayat-ayat dalam Kitab Suci. Hidup berubah arah 1800, mungkin  bagi orang-orang yang sering berinteraksi, melihat diri Anda mendadak berubah menjadi orang soleh dan tidak mau neko-neko menjalani kehidupan ini.

Di saat anda menelusuri jalan setapak menuju kerajaan batin kadang terhalang oleh suatu kendala paling besar yang justru datang dari dalam diri  pribadi. Sebagian orang telah menyangka, sebagian lagi terhenyak saat menyadari betapa diri terlalu lemah, pongah, takabur dan merasa  sudah menjadi manusia paling benar, yakin diri sudah menjadi manusia soleh atau solihah. Dalam kesadaran rasio dan batin, seringkali orang merasa mencapai suatu tataran yang tinggi, merasa banyak pengalaman dan ilmu pengetahuan. Lantas memandang ilmu dan pengalaman orang lain lebih rendah dan kurang bermutu. Selanjutnya muncul sikap suka meremehkan, memandang sebelah mata kemampuan dan pengetahuan orang lain. Berburuk sangka, mudah memfonis secara sepihak atas perbuatan orang lain, dan tergesa mengambil kesimpulan akan suatu wacana. Itulah kelemahan terbesar manusia yakni manakala menghadapi musuh dalam selimut jasad berupa egosentrisme yang erat kaitannya dengan hawa nafsu negatif.  Namun suatu ketika perjalanan hidup Anda akan merubah kesadaran rasio dan batin. Lantas Anda merasa malu dan geli menyadari betapa kemarin dan tempo hari kesadaran Anda ternyata sangat dangkal namun justru sering memfonis jalan hidup orang lain sebagai cara yang buruk dan tidak benar.  Pada saat kesadaran diri merambah rasio, jika dianalogikan seumpama Anda berada di dalam ruang tanpa cahaya matahari,  semua obyek yang ada di dalam ruang tetap tampak jelas dari pandangan mata Anda. Namun pada saat sinar mentari pagi menerobos masuk ke dalam ruangan, dan mendadak Anda menyadari bahwa udara di dalam ruangan penuh dengan butir debu. Dalam sorotan cahaya mentari yang menyibak keremangan itu, Anda melihat butiran debu tampak pekat beterbangan. Lantas Anda bergidik, merasakan berjuta debu masuk ke dalam lubang hidung Anda. Pada saat itu Anda sedang dibangunkan dari ketidaksadaran, ditatap balik oleh ketidakmampuan dan keraguan diri Anda sendiri. Inilah tahap yang memicu revolusi kesadaran, dari kesadaran rasio (akal-budi) beranjak kepada kesadaran batin. Akan tetapi resiko terbesar justru pada tahap ini. Tahap yang penuh marabahaya dan ancaman.

Gerak dari tahap pertama ke tahap kedua terjadi berkat anugrah Tuhan. “Guru sejati” Andalah yang menyadarkan ada apa dengan jati diri atau kepribadian Anda. Tuhan telah menyungkurkan kesadaran Anda ke arah wajah kotor Anda sendiri. Anda barulah menyadari bahwa selama ini ibarat katak dalam tempurung. Ibarat orang buta memegang gajah. Kebenaran dan kebaikan yang Anda ketahui hanyalah parsial, dan Anda telah melakuka kesalahan terbesar dengan berani menyimpukan atau membuat generalisasi sesuatu berdasarkan secuil data yang tidak akurat. Untuk memudahkan saya istilahkan seorang Doktor lulusan SD, Anda pribadilah yang menilai diri sebagai seseorang yang penuh ilmu pengetahuan. Sementara Anda tidak menyadari ternyata orang-orang di sekitar Anda tertawa geli melihat tingkah tak waras tersebut.  Selanjutnya tergantung Anda sendiri, apakah akan mampu dan behasil  menemukan jalan untuk melanjutkan  ke tahap tiga atau tidak. Sangat banyak orang yang akhirnya tertahan berhenti pada tahap kedua ini, menjadi orang-orang kalah, dan hanya menuai keterpurukan hidup semata.

Tak bisa dielakkan, tahap kedua merupakan tahap seleksi yang harus Anda lalui agar dapat masuk ke dalam tahap tiga dan mengalami tingkat keberhasilan lebih tinggi dan murni.  Banyak kisah keberhasilan yang diraih oleh orang-orang besar dan populer, yang merupakan keberuntungan sementara saja. Akan tetapi tak ada seorangpun yang meraih keberhasilan sejati dan abadi dengan mewariskan kemajuan dan kebaikan bagi kehidupan seluruh makhluk di dunia ini, tanpa melewati pesimpangan jalan tahap dua. Pada saat ini Anda telah menuju jalan memenuhi takdir Anda, apakah akan tersungkur, ataukah berhasil menggapai kehidupan yang sejati, merdeka dan sejahtera lahir dan batin. Saat itulah Anda sedang duduk di singgasana batin yang menentramkan dan membahagiakan.

III.MENEMUKAN HIDUP SEJATI

Sebagai hukum alam atau rumus Tuhan Yang Maha Agung, bahwa sesuatu yang sudah seharusnya menjadi milik Anda tidak dapat dirampok,  ditunda, atau dihentikan orang lain. Anda tahu bahwa sumber keberhasilan Anda tidak tergantung pada orang atau situasi tertentu, tetapi pada diri pribadi Anda.  Selama perbuatan-perbuatan tetap sinergis dengan rumus-rumus Tuhan atau harmonis dengan hukum alam, di situlah kemanunggalan Anda yang berada dalam kehendak atau rumus Tuhan, yang akan membawa Anda pada keberhasilan yang sejati. Seumpama Anda menghanyutkan diri ke dalam sungai, maka energi yang mengantarkan Anda menuju samudra keberuntungan bukanlah kehendak Anda, namun energi sungai itu sendiri telah menghanyutkan Anda ke arah yang tepat. Anda menyadari bahwa perbuatan Anda pada waktu yang lalu dan hari ini menjadi faktor penentu untuk nasib kesuksesan Anda di masa yang akan datang. Dalam terminologi Jawa dikenal sebagai tapa ngeli,  yakni menghanyutkan diri ke dalam “sungai” mengikuti aliran air (kehendak Tuhan) agar dapat bertemu  dengan “muara” keberhasilan hidup, lantas masuk ke dalam “samudra”  anugrah kemuliaan yang sesungguhnya, meliputi lahir dan batin. Sebaliknya adalah tindakan yang melawan kodrat. Diumpamakan sebagai tindakan “mengikuti air bah”, meninggalkan samudra anugrah dan keberuntangan, menerjang daratan, membuat kerusakan dan merugikan makhluk hidup lainnya.

Hidup bukanlah sesuatu yang bersifat instan, namun memerlukan proses panjang yang menuntut kecermatan (eling & waspada) Anda dalam  melangkahkan kaki setapak demi setapak. Agar supaya benar-benar dapat membedakan mana “air-bah” dan mana bukan “air-bah”. Bila pilihan jatuh pada jalan yang tepat, baik dan benar, Anda melaksanakan tugas dan tanggungjawab sesuai dan selaras dengan “kehendak” Tuhan dan pada gilirannya Anda mengesampingkan hasilnya, waktu demi waktu. Proses jauh lebih penting daripada hasil. Dalam “spiritualitas” sepak bola, dikatakan : yang penting bermain benar dan cantik, soal hasil nomor dua. Proses adalah keutamaan spiritual yang tertanam dalam kerajaan batin, sedangkan skor sebagai hasil  akhir adalah materi. Mind set Anda saat ini telah memahami bahwa proses yang baik, tepat dan benar merupakan modal utama. Selanjutnya segala hal yang telah Anda kerjakan pada akhirnya dan sudah pasti akan menghasilkan kesempurnaan material dan spiritual.

Tahap Ini merupakan kehidupan tingkatan lanjut sehingga tampak aneh atau mustahil bagi orang yang masih tertahan di tahap sebelumnya.  Tetapi yakinlah bahwa keadaan ini ada pada semua manusia, yang telah mengerjakan perjalanan menuju kerajaan batin. Dan keadaan ini bersemayam dalam jiwa setiap orang. Masihkan Anda menunggu-nunggu mendapat cahaya Tuhan ?  Sebagian orang menanti-nanti “uluran tangan” Tuhan, sementara itu tangan Tuhan sudah berada di dalam dada dan batin Anda sendiri.  Bila Anda selalu  menunggu bola, bisa jadi bola tak kunjung datang sampai ajal menjemput. Cahaya Tuhan tidak untuk dinanti, namun harus dicari. Dan hanya sedikit orang yang berani menjemput cahaya Ilahi yang berada nun jauh di dalam tata ruang batin. Sebagian besar takut akan doktrin-doktrin  yang menakut-nakuti Anda. Kekhawatiran akan terjebak ke dalam kesesatan, jatuh ke dalam pelukan setan, dan tercebut ke dalam neraka jahanam dst.  Ketakutan dan kekhawatiran yang telah menghegemoni alam bawah sadar Anda. Padahal setan itu tidak lain adalah kiasan dari nafsu negatif Anda sendiri, dan “neraka” sudah ada sejak Anda hidup di dunia ini. Maka, sebelum Anda mengawali perjalanan ke tahap tiga, diperlukan sebuah katarsis, penyucian kehendak, pemrograman ulang akan pola pikir (mind set) terhadap alam bawah sadar.  Salam asah asih asuh (sabdalangit)

MAKNA TEMBANG MACAPAT

Dikirim MAKNA TEMBANG MACAPAT dengan kaitan (tags) , , , , , , , , , , , , , , , pada Juni 1, 2009 oleh SABDå

TRIWIKRAMA

Triwikrama adalah tiga langkah “Dewa Wisnu” atau Atma Sejati (energi kehidupan) dalam melakukan proses penitisan. Awal mula kehidupan dimulai sejak roh manusia diciptakan Tuhan namun masih berada di alam sunyaruri yang jenjem jinem, dinamakan sebagai zaman kertayuga, zaman serba adem tenteram dan selamat di dalam alam keabadian. Di sana roh belum terpolusi nafsu jasad dan duniawi, atau dengan kata lain digoda oleh “setan” (nafsu negatif). Dari   alam keabadian selanjutnya roh manitis yang pertama kali yakni masuk ke dalam “air” sang bapa, dinamakanlah zaman tirtayuga. Air kehidupan (tirtamaya) yang bersemayam di dalam rahsa sejati sang bapa kemudian menitis ke dalam rahim sang rena (ibu). Penitisan atau langkah kedua Dewa Wisnu ini berproses di dalam zaman dwaparayuga. Sebagai zaman keanehan, karena asal mula wujud sukma adalah berbadan cahya lalu mengejawantah mewujud menjadi jasad manusia. Sang Bapa mengukir jiwa dan sang rena yang mengukir raga. Selama 9 bulan calon manusia berproses di dalam rahim sang rena dari wujud badan cahya menjadi badan raga.  Itulah zaman keanehan atau dwaparayuga. Setelah 9 bulan lamanya sang Dewa Wisnu berada di dalam zaman dwaparayuga. Kemudian langkah Dewa Wisnu menitis yang terakhir kalinya, yakni lahir ke bumi menjadi manusia yang utuh dengan segenap jiwa dan raganya. Panitisan terakhir Dewa Wisnu ke dalam zaman mercapadha. Merca artinya panas atau rusak, padha berarti papan atau tempat. Mercapadha adalah tempat yang panas dan mengalami kerusakan. Disebut juga sebagai Madyapada, madya itu tengah padha berarti tempat. Tempat yang berada di tengah-tengah, terhimpit di antara tempat-tempat gaib. Gaib sebelum kelahiran dan gaib setelah ajal.

KIDUNG PANGURIPAN

“SAKA GURU”

Nah, di zaman Madya atau mercapadha ini manusia memiliki kecenderungan sifat-sifat yang negatif. Sebagai pembawaan unsur “setan”, setan tidak dipahami sebagai makhluk gaib gentayangan penggoda iman, melainkan sebagai kata kiasan dari nafsu negatif yang ada di dalam segumpal darah (kalbu).  Mercapadha merupakan perjalanan hidup PALING SINGKAT namun PALING BERAT dan SANGAT MENENTUKAN kemuliaan manusia dalam KEHIDUPAN SEBENARNYA yang sejati abadi azali. Para perintis bangsa di zaman dulu telah menggambarkan bagaimana keadaan manusia dalam berproses mengarungi kehidupan  di dunia selangkah demi selangkah yang dirangkum dalam tembang macapat (membaca sipat). Masing-masing tembang menggambarkan proses perkembangan manusia dari sejak lahir hingga mati. Ringkasnya, lirik nada yang digubah ke dalam berbagai bentuk tembang menceritakan sifat lahir, sifat hidup, dan sifat mati manusia sebagai sebuah perjalanan yang musti dilalui setiap insan. Penekanan ada pada sifat-sifat buruk manusia, agar supaya tembang tidak sekedar menjadi iming-iming, namun dapat menjadi pepeling dan saka guru untuk perjalanan hidup manusia. Berikut ini alurnya :

1. MIJIL

Mijil artinya lahir. Hasil dari olah jiwa dan raga laki-laki dan perempuan menghasilkan si jabang bayi. Setelah 9 bulan lamanya berada di rahim sang ibu, sudah menjadi kehendak Hyang Widhi si jabang bayi lahir ke bumi. Disambut tangisan membahana waktu pertama merasakan betapa tidak nyamannya berada di alam mercapadha. Sang bayi terlanjur enak hidup di zaman dwaparayuga, namun harus netepi titah Gusti untuk lahir ke bumi. Sang bayi mengenal bahasa universal pertama kali dengan tangisan memilukan hati. Tangisan yang polos, tulus, dan alamiah bagaikan kekuatan getaran mantra tanpa tinulis. Kini orang tua bergembira hati, setelah sembilan bulan lamanya menjaga sikap dan laku prihatin agar sang rena (ibu) dan si ponang (bayi) lahir dengan selamat. Puja puji selalu dipanjat agar mendapat rahmat Tuhan Yang Maha Pemberi Rahmat atas lahirnya si jabang bayi idaman hati. Baca selebihnya »

MEDITASI

Dikirim MEDITASI dengan kaitan (tags) , , , pada Mei 23, 2009 oleh SABDå

MEDITASI

 (Olah Semedi Seri Dua)

“Spiritualitas dianggap sebagai suatu kesadaran tentang ketuhanan dan agama sebagai kesadaran yang nyata tentang ketuhanan melalui lembaga-lembaga pendidikan”

Pengertian Meditasi

Meditasi lebih mudah dipahami sebagai olah raga, dalam hal ini nafas dan pikiranlah yang diolah. Meditasi dilakukan dengan jalan memusatkan konsentrasi atau perhatian pada suatu hal saja, dalam dalam hal ini respirasi atau jalan keluar-masuknya nafas anda sendiri. Meditasi dapat dipahami sebagai olah yang melibatkan dua unsur yakni olah raga sembari melakukan pengolahan jiwa. Agar supaya berhasil dalam bermeditasi  hendaknya melibatkan ketenangan hati dan batin, serta pengendalian atas aktivitas ragawi yakni pikiran dan emosi.  Tidak kalah pentingnya untuk meditasi, harus didukung oleh suasana yang nyaman, hening, syahdu, dan tenteram.

Meditasi Tidak Berhubungan Dengan Agama

Pada prinsipnya proses meditasi sebagai salah satu jalan mengenali diri sendiri secara metodis dan ilmiah. Meditasi bukanlah ajaran agama tertentu melainkan ada dalam semua tradisi-tradisi agama besar dunia. Meditasi terdapat pula dalam berbagai kebudayaan dan ajaran suatu masyarakat. Dilakukan dengan berbagai macam metode atau tata cara. Baca selebihnya »

FALSAFAH HIDUP KEJAWEN

Dikirim FALSAFAH HIDUP KEJAWEN dengan kaitan (tags) , , , , , , , , pada Mei 19, 2009 oleh SABDå

Dasar-dasar Falsafah Hidup Kejawen: Hanggayuh Kasampurnaning Hurip, Bèrbudi Bawaleksana, Ngudi Sejatining Becik

Perpustakaan pelestarian budaya Yogyakarta

Ketuhanan

1. Pangeran iku siji, ana ing ngendi papan langgeng, sing nganakake jagad iki saisine, dadi sesembahane wong sak alam kabeh, nganggo carane dhewe-dhewe. (Tuhan itu tunggal, ada di mana-mana, yang menciptakan jagad raya seisinya, disembah seluruh manusia sejagad dengan caranya masing-masing)

2. Pangeran iku ana ing ngendi papan, aneng siro uga ana pangeran, nanging aja siro wani ngaku pangeran(Tuhan ada di mana saja, di dalam dirimu juga ada, namun kamu jangan berani mengaku sebagai Tuhan) Baca selebihnya »

ILUSI NEGARA ISLAM

Dikirim ILUSI NEGARA ISLAM dengan kaitan (tags) pada Mei 19, 2009 oleh SABDå
oleh Irfan Darsina

Usai membaca buku berjudul Ilusi Negara Islam (INI): Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia, mereka yang berpikiran picik pasti akan langsung membuat konklusi: ini fitnah, tujuannya mengadu domba umat Islam. Buku ini, kata mereka yang picik itu, sengaja dibuat musuh-musuh Islam, kaum zionis Yahudi, AS, Israel, untuk memecah belah umat Islam Indonesia. Dst, dst, dst. Saya termasuk kelompok yang telat membaca buku INI. Sudah telat, saya juga belum baca seluruh isi buku. Tetapi, setelah membaca prolog (Syafii Maarif), kata pengantar (Gus Dur), Bab I & 2, dan sebagian kesimpulan, serta epilog (Gus Mustofa Bisri), saya membuat beberapa catatan.   Baca selebihnya »