Coming soon SO~5

IMG_20140910_192409[2]

Para sedulur sebangsa setanah air, dan sedulur dari negara manapun berasal, suku apapun, agama apapun. Kami berencana melaksanakan SO~5 pada hari Sabtu Pahing tibo gedhong, 1 Sura Pinunjul 1948 Ehe. Atau tanggal 25-26 Oktober 2014 dan akan dimulai pada hari Sabtu Sore jam 16 Wib sampai dengan hari Minggu 26 Oktober jam 18.00 Wib. Dengan perjalanan meliputi 5 lokasi yang telah ditentukan. Untuk info selanjutnya tim kami sedang menyempurnakan, dan akan segera kami unggah. Rahayu sagung dumadi

???????????????????????????????

SO mahesa lawung

Para kadang kinasih, untuk info selengkapnya mengenai

SO~5 silahkan klik di SINI

Selamat Datang Sura Pinunjul

Rembulan malamSebentar lagi tahun Jawa 1947 Alip gunung dengan sinengkalan sapta tirta nembus bumi, panca agni nyuceni jagad akan segera berlalu. Sebelum meninggalkan tahun 1947 saya coba sampaikan sedikit ulasan sebagai evaluasi. Semoga ada manfaat yang dapat kita ambil dari berbagai peristiwa dan fenomena alam yang telah terjadi selama tahun 1947 Alip  atau 5 Nopember 2013 sampai dengan 25 Oktober 2014.

Sebelum mengulas Sura Pinunjul yang akan datang saya perlu flashback karena di antara kedua fase yang sedang berlangsung dan yang akan datang saling berkaitan erat secara runtut. Sinengkalan sapta tirta nembus bumi, panca agni nyuceni jagad mempunyai makna ganda yang meliputi dimensi makrokosmos dan mikrokosmos. Yakni makna yang menunjukkan fenomena yang terjadi pada alam semesta dan pada individu manusia. Panca agni dalam dimensi mikrokosmos atau diri manusia mempunyai makna bahwa selama rentang waktu tersebut terjadi kobaran “api” atau hawa nafsu angkara dari dalam diri manusia. Bergolaknya kobaran “api” itu telah membakar emosi dan hawa nafsu manusia. Kobaran itu lebih dirasakan dalam kancah politik makro. Di mana dinamika politik diwarnai dengan gejolak manusia untuk berkuasa dan saling memukul lawan, maupun “kawan”. Dalam scope yang lebih luas, “api” hawa nafsu telah “menembus bumi”, menyeruak sendi-sendi kehidupan sosial dan politik masyarakat. Hilangnya rasa malu dan takut dosa atau karma menjadi gambaran (sebagian)  manusia masa kini. Bahkan sangat ironis lambaian tangan dan senyum manis seolah menjadi ikon para pejabat koruptor yang sedang ditangkap KPK. Seolah mereka ingin membuat kesan dan pencitraan bahwa dirinya tetap pede karena menganggap penangkapan KPK sebagai hal yang lucu karena telah salah menangkap orang.

Sangat ironis, sepertinya orang sudah tidak ada lagi yang  merasa telah melakukan kesalahan besar atas bangsa dan negara ini. Dalih yang lazim dilakukan oleh para tersangka kejahatan penyalahgunaan wewenang adalah kata-kata bernada menyalahkan orang lain, misalnya akibat difitnah, dijebak atau terjebak. Tapi rakyat yang tak berdaya secara politik, tetap semakin pandai menilai keadaan sesungguhnya.

Bulan Sura tahun 1947 Alip atau 2014 masehi yang masih berjalan, masuk dalam siklus Sura Moncer, akan tetapi hari pertamanya jatuh pada weton tiba pati. Itu yang menjadi terasa berat sekali dalam meraih kehidupan “moncer” (sukses atau mukti). Bahkan bagi yang lengah, bukannya kamukten dan moncer yang didapat sebaliknya mendapatkan pati. Pati nasibnya, atau pati kesehatannya.

Itu menandakan, sesungguhnya selama tahun 1947 Alip, Nusantara dan setiap pribadi sedang berproses meraih kehidupan yang “moncer” atau sukses. Akan tetapi untuk mencapai tataran “moncer” orang harus melewati rintangan berat dan mematikan. Mati artinya bisa mati fisiknya atau mati non-fisiknya. Mati fisiknya adalah kematian raga. Mati non fisik di antaranya kematian nasib, kematian pola pikir, kematian jiwanya.  Sebagaimana telah saya posting setahun yang lalu dengan judul Sura Moncer 2014: Mukti Opo Mati. Kiprah manusia dalam kancah sosial, ekonomi, dan politik, didominasi oleh unsur api dari dalam diri atau hawa nafsu dan angkara murka. Dan api dari alam semesta, berupa sinar matahari yang terasa sangat panas, gunung berapi, semburan api dari dalam tanah, kebakaran hutan, hawa panas, terjadi silih berganti dengan banjir besar dan hujan salah musim. Selama fase sinengkalan tahun sapta tirta nembus bumi, panca agni nyuceni jagad pada kenyataannya telah makan banyak korban. Sing sapa lena bakal kena, siapa yang kendor untuk bersikap eling dan waspada akan menerima akibatnya. Banyak politisi dan pejabat tumbang oleh kasus dan karena tidak mampu meredam sikap temperamennya sendiri. Bahkan dalam menjalankan kehidupan politik bernegara, Indonesia boleh dikatakan kurang sukses melaksanakan suksesi dengan menuai berbagai sikap pro-kontra yang cukup tajam.

Fase saat ini adalah fase jagad sedang bersih-bersih diri. Banyak tokoh-tokoh “hitam” yang dominan muncul meramaikan panggung politik Nasional. Kualitas legislatif dan eksekutif yang baru terpilih sangat beresiko lebih buruk dari sebelumnya. Hal itu wajar karena memang fase sinengkalan tahun sapta tirta nembus bumi, panca agni nyuceni jagad ini merupakan fase untuk bersih-bersih dari yang kotor-kotor. Barulah kemudian akan tampil sang SP sejati. Apapun yang terjadi nanti, sebentar lagi siklus tahun Jawa akan berganti. Yakni warsa 1948 Ehe yang akan dimulai pada Sabtu Pahing 25 Oktober 2014. Diawali dengan bulan Sura Pinunjul yang jatuh pada hari Sabtu Pahing (18) atau tiba gedhong (kesinungan sugih dan kuat nyunggi drajat) merupakan momentum perubahan lebih baik lagi untuk kita semua.

Bethara Antaga jadi Ratu

Read the rest of this entry

Jiwa Kesatria Tanah Jawa

image

Jiwa kesatria Jawa menurut Sinuhun Sri Sultan HB VIII ing Ngayogyakarta Hadiningrat.

1. Sêwiji : menyatukan kebulatan tekad dan segenap potensi diri untuk satu tujuan.
2. Grêgêt : dinamika jiwa yg disalurkan dalam gerak, usaha, perjuangan meraih tujuan.
3. Sêngguh : percaya pada kekuatan diri sendiri, dilandasi jatidiri yang kokoh, mampu mengendalikan dan memenej kekuatan dan potensi diri dengan baik.
4. Ora mingkuh (mingkuh : tinggal glanggang glanggang colong playu). Artinya, tidak meninggalkan tanggungjawab dan tugas dalam meraih tujuan. Teguh hati dan kuat dalam menjaga prinsip. Sekalipun menghadapi tantangan berat.

Read the rest of this entry

Semoga Negeriku Dinaungi dari Marabahaya Besar

Selamat pagi sedulur pembaca blog seluruh Nusantara apapun agama, suku, sesembahan dan pandangan politiknya. Berikut ini saya persembahkan instrumen dan Jawa. Dengan harapan semoga berguna untuk coolingdown, bikin hati ayem tentrem, batin jenjem jinem. Yang penting kita selalu ingat, kita semua masih satu nusa, satu bangsa, satu bahasa. Ada yang lebih utama dalam kehidupan ini ketimbang seorang presiden. Yakni jatidiri sebagai berkah agung yang ada di Nusantara. Marilah terutama saat ini kita perbanyak berkarya seni, berapresiasi seni, dan berbudaya adiluhung Nusantara agar tercipta situasi dan kondisi yang tata titi tentrem kerta raharja. Semakin sering kita alunkan musik tradisional masing-masing daerah dan kidung-kidung mantera, agar energinya selaras dengan spesifikasi karakter alam Nusantara. Supaya alam selalu berpihak kepada kita semua generasi bangsa. Setidaknya hal itu akan mengurangi beboyogung soko alam opodene jalma manungsa kang wus katon ing pralampita. Panca agni (5 hawa napsu angkara) sudah mulai berkobar, selalu disusul Sapta Tirta, saling bergantian. Sapta Tirta pada saat ini pun sedang menembus bumi Nusantara. Mugi-mugi sedulur sedaya, ugi sagung titah dumadi tansah pinaringan karahayon dan kabegjan.

Berikut ini Palaran Asmaradana pelog 6

http://www.4shared.com/mp3/PLWi7oALba/Instrumen_palaran_asmaradana_s.html

Berikut Kidung Mantera Jatimulyo.

http://www.4shared.com/mp3/3hK8BEADba/Kidung_Mantra_JatimulyoKi_Sabd.html

Ana kidung sun angidung wengi
Bebaratan duk amrem winaca
Sang Hyang Guru pangadeke
Lumaku Sang Hyang Bayu
Alambeyan asmara ening
Ngadek pangawak teja
Kang angidung iku
Yen kinarya angawula
Myang lelungan Gusti

Gething dadi asih
Setan sato sumimpang

Kegunaan kidung jatimulya ini antara lain :
1. Untuk tolak balak, termasuk niat jahat dari orang lain.
2. Untuk pengobatan yang sedang menderita sakit.
3. Bila melakukan slametan, upacara diawali atau dibuka dengan mantera kidung Jatimulya ini akan mendapat kemuliaan dalam hal derajat pangkat. Monggo untuk yang percaya saja. Yang tidak percaya tidak perlu membuat olok-olok. Cukup diam saja, itu akan lebih menunjukkan budi pekerti luhur Anda.

Dan satu lagi tembang cuplikan Serat Wedatama pupuh Pangkur podo kaping 12 :

Sapantuk wahyuning Alah,
Gya dumilah mangulah ngelmu bangkit,
Bangkit mikat reh mangukut,
Kukutaning jiwangga,
Yen mengkono kena sinebut wong sepuh,
Lire sepuh sepi hawa,
Awas roroning atunggil

Siapapun yang menerima wahyu Tuhan,
Dengan cermat mencerna ilmu tinggi,
Mampu menguasai ilmu kasampurnan,
Kesempurnaan jiwa raga,
Bila demikian pantas disebut “orang tua”.
Arti “orang tua” adalah tidak dikuasai hawa nafsu
Manunggal kalawan Gustinira (menyatunya roh jagad alit dengan Roh Jagad Agung)

http://www.4shared.com/mp3/Vo345h20ba/Tembang_pangkur_wanaran_pl_6_s.html

Urip Kudu Murup

image
Lagoona Pantai Glagah Indah Kulonprogo

Meraih jabatan dan kekuasaan itu hal yang mudah, tetapi menjadi pemimpin yang melaksanakan amanat tidaklah mudah. Menjadi pemimpin bisa menjadi suatu berkah, bisa pula menjadi malapetaka dalam kehidupan. Baik kehidupan dirinya sendiri maupun kehidupan rakyat yang dipimpinnya. Seorang pemimpin akan menjadi sumber malapetaka bagi rakyatnya apabila dia orang yang tidak memenuhi asas kepantasan. Sebaliknya seorang pemimpin akan menjadi sumber anugrah bagi rakyatnya apabila dirinya telah memenuhi asas kepantasan.

Apakah ASAS KEPANTASAN itu ?

Seperti dalam falsafah hidup masyarakat Jawa, bahwa urip iku kudu murup. Artinya, dalam menjalani kehidupan di dunia ini haruslah “menyala”, sehingga cahayanya dapat menerangi sekitarnya. “Menyala” maksudnya kita mampu berperan memberikan konstribusi dalam kelangsungan hidup pada seluruh makhluk. Diri kita diumpamakan lampu. Lampu tidak akan berguna jika tidak menyalakan sinarnya sebagai penerang bagi lingkungannya, yakni menerangi seluruh mahluk hidup dengan cahaya kehidupan. Cahaya kehidupan itu bukan sekedar rutinitas ritual sehari-hari, melainkan amal kebaikan yang nyata kita lakukan untuk seluruh kehidupan, dilakukan setiap saat dengan penuh kasih sayang dan keikhlasan. Amal kebaikan dari tahap dan lingkup paling kecil. Sering menolong, dan membantu sesama dan tidak pilih kasih. Selalu memberikan kemudahan dan jalan hidup kepada sesama manusia tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan. Di situlah kewajaran sebagai seorang pemimpin agar dapat memberikan anugrah kemakmuran dan kesejahteraan kepada rakyatnya. Semakin intens seseorang menjadi “murup”, akan semakin tinggi pula asas kepantasannya.

Sebaliknya, jika kehidupan seseorang tidak “murup”, artinya hidup seseorang hanya akan menjadi sumber kegelapan, perilakunya menimbulkan kebinasaan, sikapnya merusak dan merugikan sendi-sendi kehidupan, menghancurkan lingkungan alam, mengganggu ketentraman dan kedamaian masyarakat. Segala macam penyakit hati, iri, dengki, amarah merupakan sumber malapetaka bagi seluruh kehidupan di planet bumi ini.

Untuk itu, seorang pemimpin haruslah “murup”, buktikan terlebih dahulu agar hidupnya berguna untuk seluruh kehidupan bangsa manusia, tumbuhan, dan binatang. Mulai dari lingkup terkecil, keluarga, sampai masyarakat luas. Maka asas kepantasan akan dapat terpenuhi, dan seseorang barulah akan pantas menjadi pemimpin yang membawa berkah dan anugrah bagi daerah yang dipimpinnya.

Seseorang (calon pemimpin) yang telah mencapai level tertentu asas kepantasan akan dinilai oleh hukum tata keseimbangan alam sebagai orang yang layak menerima wahyu kepemimpinan. Wahyu kepemimpinan berbeda setiap level kepemimpinan. Wahyu kepemimpinan untuk Lurah atau Kepala Desa lazimnya disebut “ndaru” atau pulung. Wujudnya cahaya putih perak kemilauan, dengan ukuran diameter antara 50-100 cm. “Ndaru” bisa dilihat dengan mata wadag, jatuh di atas rumah orang yang akan terpilih menjadi Lurah. Jatuhnya pulung itu biasanya terjadi malam sebelum pemilihan lurah.

Sapa sing gawe urup marang liyan, ateges gawe murup awake dewe

Read the rest of this entry

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 931 pengikut lainnya.