Kisah Pohon Beringin Roboh, Kembali Berdiri !

Lingkungan alam yang ada di sekitar kehidupan kita adalah guru yang paling jujur, selagi kita semua dengan jujur mengakuinya. Belajar dari kutulusan dan kejujuran nurani, agar supaya imajinasi dan ilusi tidak menguasai alam pikiran kita.

BERGURU KEPADA ALAM
Peristiwa robohnya pohon beringin berdiameter ±100-150 cm tidak menggemparkan warga dusun Celapar, Kelurahan Sumber Rejo, Kecamatan Kokap, Kab Kulonprogo. Namun enam bulan kemudian barulah warga dibuat gempar manakala menyaksikan pohon beringin raksasa itu kembali berdiri tegak seperti sedia kala. Pada awalnya warga menyayangkan tumbangnya pohon itu karena di bawahnya terdapat sendang yang menjadi sumber mata air bagi warga desa di sekitarnya. Semenjak pohon beringin yang berdiri kokoh di samping sendang itu tumbang membuat air sendang menjadi surut dan hampir mengering. Sebelumnya air sendang itu tidak pernah surut walaupun melewati musim kemarau yang panjang.

Ketika pohon itu roboh warga belum sempat memotong akar dan ranting sementara sebagian besar batang dan dahan posisinya melintang di tengah jalan pengubung antar kelurahan. Kurang lebih selama 6 bulan pohon beringin itu tumbang dengan posisi masih melintang menutupi jalan aspal desa. Adalah Pak Mugi berdua bersama seorang anak laki-lakinya melanjutkan pekerjaannya untuk membersihkan beringin agar jalan desa itu bisa dilalui lagi. Pagi hari Pak Mugi dan putranya mulai melanjutkan pekerjaan yang sudah tertunda enam bulan. Mereka di pagi tidak melihat kejanggalan apapun, semua tampak wajar-wajar saja. Beranjak siang mereka mulai curiga mendapati batang pohon beringin yang semula rapat menempel ke permukaan jalan posisinya sudah mengambang setinggi lebih kurang 60 cm dari permukaan jalan. Pak Mugi akhirnya tidak menghiraukan kejanggalan itu dan mulai memotong batang pohon di bagian tengah menjadi dua bagian. Pekerjaan berlangsung hingga hari menjelang siang. Di tengah hari yang panas itu Pak Mugi sejenak beristirahat sambil menikmati teh panas dan makanan khas desa yang suguhkan penduduk setempat. Ia beristirahat tepat di rumah penduduk yang posisinya di atas jalan. Saat sedang menenggak teh ginastel itulah Pak Mugi menyaksikan pohon beringin mulai bergerak-gerak. Pak Mugi berteriak menyuruh anaknya yang berada di atas batang beringin supaya melompat turun. Spontan putra Pak Mugi melompat dan meninggalkan gergajinya di atas batang pohon. Pak Mugi terkesima melihat putranya melompat ke tanah hingga berguling. Hanya sekejap, pak Mugi menyaksikan pohon beringin itu posisinya sudah berdiri tegap seperti sedia kala. Bahkan akar yang tercerabut dari tanah, yang telah dipotong separoh ikut menancap ke tanah, kembali tegap berdiri kesannya pohon beringin itu tidak pernah tumbang hingga menyentuh tanah. Semenjak kejadian itu hanya beberapa pekan kemudian air sendang pun keluar lagi memenuhi sendang yang sudah lama surut.

Pohon beringin sudah berdiri lagi dalam posisi tegak vertikal. Hanya saja bagian atas yang terdiri dari dahan, ranting dan dedaunan sudah tidak tampak lagi karena batangnya tinggal separoh ke bawah. Seorang warga desa coba membuat asumsi untuk menerangkan kenapa pohon beringin dapat berdiri lagi setelah 6 bulan yang lalu tumbang. Ia mengasumsikan beban pada bagian atas pohon beringin setelah dipotong mengakibatkan bebannya pindah ke bagian akar bohon. Karena beringin itu masih memiliki akar yang kuat menancap di dalam tanah, sehingga akarnya kembali masuk ke tanah dan sampai menarik batang pohon hingga dalam posisi berdiri tegak. Asumsi tersebut mengimajinasikan akar pohon beringin itu bergerak seperti cacing menyusup kembali ke kedalaman tanah. Akar yang besar memiliki kekuatan besar pula sehingga mampu membuat batang pohon yang beratnya mencapai beberapa ton dapat kembali tegak seperti sedia kala. Sebagai asumsi sah-sah saja karena bagaimanapun juga untuk menjelaskan fenomena itu butuh suatu premis yang menggunakan nalar dan akal sehat. Namun bagaimana bisa terjadi bila akarnya sebagian besar sudah dipangkas? Read more…

Spiritual Odyssey Trip 3

SPIRITUAL ODYSSEY TRIP 3
MENYAMBUT TAHUN TERBUKANYA
GERBANG KEJAYAAN NUSANTARA

Belajar Mengolah Rahsa,
Belajar Ketulusan Yang Tak Bertepi,
Belajar Saling Asah Asih Asuh,
Belajar Kebersamaan di atas Ragam Perbedaan,
Mempererat tali persaudaraan dalam keluarga besar Nusantara

Hamemayu Hayuning Bawana, Hamemayu Hayuning Rat, Pangruwating Diyu
Suradira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti

SABDA PALON

1358033405899Tak pernah terbayang dan terduga sebelumnya, semenjak pertemuan pertama dengan Eyang Sabdapalon pada acara 3 hari berturut mengadakan selamatan bersama untuk Nusantara saat erupsi Gunung Merapi bulan Oktober-November tahun 2010. Pertemuan kedua terjadi belum lama ini. Tepatnya pada Minggu Legi, 07 April 2013 sekitar pukul 12.40 WIB saat kota Yogyakarta  diguyur hujan yang luarbiasa derasnya, Eyang Sabdapalon berkenan ‘rawuh’ dan paring pangestu untuk siapapun yang setya-tuhu dan njejegake paugeraning soko-guru atau pilar-pilar kebangsaan. Beliau paring dawuh, setiap saat kita mau makan (sebelum makan) untuk ngaturi dhahar kepada Eyang Sabda Palon dan Eyang Naya Genggong. Titiwancine wus cedak, aku wis meh ngejawantah tumimbal lair…!!! Beberapa hari kemudian Ki Ageng Mangir Wanabaya memberikan info bahwasannya saat ini Garujito dan Garumurti sudah lahir sebagai anak seorang petani di wilayah ujung timur Pulau Jawa, tepatnya di wilayah dengan inisial B. Pada diri kedua anak itulah akan tumimbal lair yang kelak akan mendampingi momongannya. Untuk itu segenap tim SO melakukan berbagai evaluasi sebagai bentuk sikap tanggap ing sasmita dalam membaca dinamika zaman khususnya yang terjadi pada Nusantara. Dengan harapan acara SO dapat lebih sinergis dengan dinamika yang sedang terjadi. Sikap dan tindakan itu diambil sebagai usaha agar senanatiasa para peserta SO dapat merasakan manfaatnya, dan dapat menyaksikan berbagai fenomena melalui bahasa alam. Lebih dari itu, diharapkan seluruh peserta dapat meraih anugrah dari Roh Jagad Agung (spirit of the universe) lebih dari yang diharapkan. Read more…

Sepenggal Kisah & Ucapan Terimakasih

Peserta Ruwatan Foto Bersama dengan Bpk  Ketua Apkasi H. Isran Noor MSi dan Ibu

Peserta Ruwatan Foto Bersama dengan Bpk Ketua Apkasi H. Isran Noor MSi dan Ibu

Suka duka selama persiapan acara Ruwatan Murwakala memang tidak selazimnya acara-acara pada umumnya. Terutama sejak 11 hari menjelang pelaksanaan Ruwatan Murwakala. Segala macam godaan yang mengganggu ketentraman hati, ketenangan batin, dan kejernihan pikir, ternyata datang silih berganti dari dalam maupun dari luar “pagar”. Atas semua itu, kami tidak apa-apa, malah merasa berterimakasih pula pada proses dan dinamika karena telah menjadi wahana untuk balancing dan memacu bergulirnya dinamika positif. Sampai-sampai Ki Ageng Mangir Wanabaya dan Ki Juru Martani beberapa kali mewanti-wanti agar selalu eling dan waspada serta selalu menjaga kesabaran. Karena akan banyak godaan yang datang dari pihak dan persoalan luar, maupun dari dalam sendiri, termasuk godaan yang datang dari keluarga, sahabat, teman dst. Jika tidak bisa menahan diri, maka anugrah besar yang akan kalian dapatkan menjadi batal.

Sarasehan Ketahanan Pangan

Acara Tambahan : Sarasehan Kebijakan Ketahanan Pangan

Benar apa yang disampaikan beliau-beliau itu. Godaan itu terutama datang dari orang-orang yang kami sayangi dan sudah kami anggap sebagai keluarga sendiri. Ada pula dari orang luar yang berusaha “menjajah” bangsanya sendiri. Namun berkat kita menerapkan seluruh nasehat para leluhur yang selalu njangkung dan njampangi setiap langkah kita. Pada akhirnya kita justru mendapat tempat yang mulia dan sacral yakni bangsal pangapit, bagian bangsal kakung. Padahal di tempat itulah sejak semula yang kami inginkan, namun berhubungan para leluhur tidak ada yang memberikan perintah, maka kami pun tidak berani untuk memaksakan diri. Kami siap menggelar acara di halaman paling luar dengan resiko terganggu kesakralan dan kekhusukan kita. Namun sudah menjadi jatah keberuntungan para peserta ruwatan kali ini. Ya, itulah beratnya kami selaku duta pamungkas yang harus berhasil mbengkas karyo atau menuntaskan suatu tugas, harus berani dan kuat jumeneng mandegani sebagai orang tua para peserta ruwat.

Peserta Ruwat Bersama Ibu Sri Widati Bupati Bantul

Peserta Ruwat Bersama Ibu Sri Widati Bupati Bantul

Hari Rabu 17 April 2013, kami memutuskan untuk mendaki ke puncak Pringgondani di lereng Gunung Lawu. Saya hanya ada waktu tersisa pada Rabu tanggal 17 itu untuk menuntaskan persiapan acara. Karena rangkaian acara di  Kotagede memang cukup padat dan panjang dimulai sejak tanggal 17 malem hingga 21 malem. Kita beragkat satu tim terdiri dari 15 orang naik ke puncak Pringgondani untuk mengambil air dari 7 sumber mata air atau dikenal dengan nama (umbul tuk pitu). Air dari 7 sumber mata air digunakan sebagai salah satu ubo rampe untuk memenuhi syarat-syarat Ruwatan Murwakala yang berjumlah sekitar 64 macam.  Bukanlah kebetulan, tapi terasa sudah ada yang mengaturnya, sampai di Pringgondani bertepatan dengan weton Rabu Legi yang ternyara sebagai hari besar Eyang Panembahan Kacanegara (tidak lain adalah Prabu Brawijaya 5) yang pertapaannya ada di puncak Pringgondani.  Masih banyak lagi kisah-kisah yang  sungguh unik dan cukup menarik untuk dibagikan di sini termasuk saat rawuhnya Bethara Kala ketika kidung waringin sungsang dan caraka walik ditembangkan pada prosesi ruwatan. Mungkin para peserta ruwat bisa memberikan sumbangsih komentarnya yang berhubungan dengan berbagai fenomena dan pengalaman unik selama persiapan perjalanan hingga saat mengikuti prosesi ruwatan. Read more…

Acara Ruwatan Murwakala

Ruwatan Murwakala Para pembaca yang budiman, saudara-saudara di seluruh penjuru tanah air dan di manapun berada. Menimbangi posting saya terdahulu tentang ruwatan murwakala, perlu saya infokan bahwa semenjak 3 tahun yang lalu banyak saudara-saudara & para pembaca blog menanyakan melalui email, lewat telpon, maupun disampaikan secara langsung kapan sekiranya akan diadakan acara ruwatan murwakala mohon supaya bisa diberikan informasi. Maksud hati ingin sekali saya dapat membantu memudahkan terlaksananya harapan saudara-saudara semua. Namun karena berbagai kendala barulah kali ini dapat kami tetapkan rencana untuk pelaksanaannya. Berbagai pertimbangan terutama persoalan dana yang cukup besar untuk ruwatan murwakala menjadikannya niat dan keinginan selama ini selalu tertunda-tunda.  Terlebih lagi jika acara ruwatan murwakala dilaksanakan sendiri. Butuh dana yang cukup besar antara 20-50 juta belum beaya-beaya tak terduga. Itu pun tergantung siapa dalang yang akan meruwat, semakin tenar dan mumpuni dalangnya maka akan semakin besar pula beayanya.

Puji sukur kepaRuwatan by sabdalangitda Gusti Sang Jagadnata, roh jagad agung, spirits of the universe telah merespon keinginan dan harapan kami, harapan kita semua yang sedang berniat melaksanakan acara ruwatan murwakala. Kami semua, paseduluran Sabdalangit bekerjasama dengan Cv Lakutama selaku EO akhirnya mendapatkan kesempatan untuk melaksanakan ruwatan murwakala yang terbuka untuk diikuti siapa saja yang merasa perlu melakukan ruwatan, tanpa membedakan agama, suku, bangsa dan bahasanya. Pada awalnya kami sekedar menanggapi permintaan beberapa sedulur yang ingin diruwat yang mengajukan permintaan melalui email dan secara lisan. Sedianya ruwatan hanya akan kami lakukan sesederhana mungkin dan semampu kami lakukan. Terutama akan dilakukan oleh istri saya yang wetonnya senin pon. Misalnya cukup dengan bancakan weton, cukur kuncung gelung, dan beberapa ritual khusus. Barangkali alam semesta dapat merasakan apa yang menjadi getaran rahsa sejati kami hingga akhirnya niat dan harapan itu mendapat kesempatan karena kami mendapatkan dukungan dari berbagai pihak baik beaya, pikiran maupun tenaga.

Atas terlaksananya rencana ruwatan murwakala ini kami menghaturkan terimakasih dan presisasi yang setinggi-tingginya kepada :

  1. Para abdi dalem Pasarean Agung Kotagede khususnya dan Pasarean Agung Pajimatan  Imogiri yang telah memberikan dukungan pemikiran, iguh pretikel, tenaga dan waktu demi terlaksananya ruwatan murwakala. Matur sembah nuwun, atas kesetiaannya kepada para leluhur bumi putera bangsa, menjadikan doa-doanya sangat tijab.
  2. Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang telah memberikan dukungan moril dan sarana. Sehingga acara ruwatan murwakala diberikan tempat yang istimewa dan sakral, secara leluasa di halaman depan Pasarean Agung (makam raja-raja Mataram) di Kotagede, Yogyakarta.
  3. Kepada Bapak IR. H. Isran Noor M.Si selaku Bupati Kutai Timur sekaligus Ketua APKASI (Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia) atau lebih familier menjabat sebagai ketua Bupati dan Walikota seluruh Indonesia, dan juga saat ini beliau menjabat sebagai  ketua BTN (Badan Tim Nasional) yang baru dilantik untuk mengemban amanat mendamaikan kisruh di PSSI. Berkat dukungan financial dan dukungan moral beliau, menjadi pemompa semangat kami. Dukungan yang sangat berarti bagi kami dan seluruh peserta ruwatan (para sukerta) sehingga dapat meringankan beban beaya yang harus ditanggung oleh seluruh peserta ruwatan murwakala kali ini.
  4. Kepada teman-teman, sahabat, sanak saudara, dan semua pihak yang telah mendukung terlaksananya acara ruwatan murwakala. Tenaga, pikiran, dan kepeduliannya sangat berarti demi sukses dan lancarnya mata acara demi acara. Dan yang lebih utama meringankan tugas-tugas dan tanggungjawab serta menyiapkan ubo-rampe dan  kebutuhan para peserta ruwatan murwakala beserta keluarga yang akan mendampinginya.
  5. Kepada Ki Dalang Hadi Sudarsono, di usianya yang ke 81 masih kerso memberikan pengorbanan kepada kami semua, kepada seluruh peserta ruwatan. Kami sadar bahwa yang diperlukan tidak sekedar kemampuan meruwat, lebih dari itu dalang ruwat sudah mempersiapkan diri secara lahir dan batin untuk menghadapi segala resiko terberat demi mengupayakan nasib orang lain supaya lebih baik di waktu yang akan datang.

Kami sangat menyadari tanpa adanya kekompakan dan dukungan dari berbagai pihak, apalah artinya tenaga dan pemikiran kami untuk memberikan wahana bagi seluruh saudara-saudara yang akan melaksanakan ruwatan.

Ttd

foto koleksi sabdalangit

Ruwatan Murwakala by Sabdalangit

Sabdalangit

****************************************************************************************

JADWAL ACARA PROSESI RUWATAN
DI KOMPLEKS PASAREAN AGUNG KOTAGEDHE YOGYAKARTA

 
(Semua Kegiatan akan didokumentasikan : Foto & Video) Read more…

Ruwatan Murwakala

RUWATAN MURWAKALA

Deso mowo coro, negoro mowo toto. Kita hargai dan hormati nilai kearifan masing-masing suku bangsa dan budaya. Karena setiap suku, budaya dan bangsa memiliki nilai kearifan (local wisdom) masing-masing yang berbeda dengan masyarakat dan wilayah lainnya. Sebagai hasil interaksi antara manusia dengan lingkungan alamnya yang spesifik selama berabad dan ribuan tahun lamanya. Pemaksaan suatu nilai kearifan lokal terhadap masyarakat dan budaya lain, adalah bentuk tindakan aniaya dan merupakan perilaku melawan hukum alam. Sebuah penghianatan akan jati diri, jika penganiayaan dilakukan oleh masyarakat dan suku bangsa itu sendiri. Manusia seringkali kesulitan  melepaskan diri dari nafsu golek benere dewe, golek menange dewe, golek butuhe dewe. Bahkan seringkali nafsu itu diklaim atas nama Tuhan. Sungguh keterlaluan. Siapapun pelakunya cepat atau lambat akan digulung dan diadili oleh hukum alam itu sendiri. Sebab hukum alam tidak pernah menyisakan secuil pun  ketidakadilan.

Ruwatan

Makna Ruwatan

               Ruwatan adalah salah satu upacara tradisional  dengan tujuan utama mendapatkan keselamatan  supaya orang terbebas dari segala macam kesialan hidup, nasib jelek dan selanjutnya agar dapat mencapai kehidupan yang ayom ayem tentrem (aman, bahagia, damai di hati).  Lebih konkritnya ruwatan sebagai suatu upaya membersihkan diri dari sengkala dan sukerta (dosa dan sial) ang diakibatkan dari perbuatannya sendiri, hasil perbuatan jahat orang lain maupun force-majeur misalnya faktor kelahiran dan ketidaksengajaan di luar kendali dirinya. Ruwatan yang paling terkenal sejak zaman kuno diselenggarakan oleh nenek moyang adalah ruwatan murwakala. Dalam ruwatan ini dipergelarkan wayang kulit dengan cerita Murwakala di mana orang-orang yang termasuk kategori sengkolo-sukerto diruwat atau disucikan supaya terbebas dari hukuman Betara Kala, gambaran raksasa menakutkan yang suka memangsa para sukerto.

Siapakah sesungguhnya Bethara Kala ? Read more…

Berguru Kepada Alam Semesta

LAUNCHING BUKU EPISODE 1

Angkringan For The Soul
Tentang pengalaman spiritual, dan penjelajahan sukma sejati mengarungi luasnya samudra ilmu yang meliputi jagad besar (makrokosmos) dan jagad kecil (mikrokosmos). Dikemas dalam obrolan inspiratif a la kedai angkringan Jogjakarta

Prakata

Berguru Kepada Alam Semesta

cover buku ki sabdalangitPara pembaca yang budiman, sedulur semua di manapun berada, apapun suku, bangsa, ras, golongan, kepentingan politik, dan agamanya. Bukan maksud hendak menggurui karena saya tak pernah bercita-cita menjadi guru. Justru karena saya merasa selalu ingin menjadi murid dan kenyataannya sampai sekarang saya tetaplah murid yang selalu berguru kepada alam semesta dan segala isinya. Saya merasa mendapat keuntungan luarbiasa ketika sedang menjadi murid, namun bukannya saya pribadi mau golek butuhe dewe lantas enggan berbagi pengalaman. Biarpun begitu kalau saya dipaksa oleh keadaan untuk menjadi guru ya enggak apalah. Maksud penerbitan buku ini sekedar untuk berbagi pengalaman hidup dan saya gunakan sebagai sarana mensukuri berkah dan anugrah alam semesta, Tuhan, God, Gusti, Sang Hyang Widhi, Allah, Alloh, Brahman, Dei, Sang Jagadnata yang telah saya alami, saksikan, dan dapatkan selama diberi kesempatan untuk singgah di planet bumi ini. Terutama kepada para pembaca yang tidak dapat menjangkau internet. Saya sadari bersukur hanya menggunakan lisan saja tak ubahnya lips service, sekedar ngomong doang sangat tidak cukup dan tidak sebanding dengan berkah dan anugrah Tuhan yang telah saya dapatkan selama ini.

Jika Anda bertanya siapa gerangan guru saya ?

Read more…

Mentalitas Kagetan & Gumunan

MENTALITAS KAGETAN DAN GUMUNAN
Kontraversi Sikap Eling dan Waspada

image

Teringat akan sebuah wanti-wanti yang keluar dari mulut para orang tua, yang sebagian besar kini sudah menjadi leluhur, dan sebagian lain sudah masuk ke fase nenek moyang. Wanti-wanti yang sangat sederhana dan sepele untuk sekedar diingat-ingat, karena hanya terdiri dari dua kata sifat. Ojo gumunan & ojo kagetan. Artinya hindarilah sifat mudah terheran-heran dan gampang terkaget-kaget. Pesan singkat itu dapat dimaknai dangkal, dapat pula dimaknai secara mendalam. Pesan itu hanya mengingatkan kita agar selalu menanamkan sifat yang tenang ke dalam diri. Pesan yang sederhana dan tidak berlebihan namun kegunaannya luar biasa. Pribadi yang memiliki ketenangan sifat dapat membangun sikap yang awas dan cermat. Ini sangat menentukan sebuah keberhasilan dan kesuksesan hidup seseorang. Mampu menentukan pilihan secara tepat, selanjutnya menetapkan perencanaan untuk meraih target secara akurat dan teliti. Berkat ketepatan dan ketelitian dalam usaha meraih target, apa yang dicita-citakan akan mudah diwujudkan sesuai harapan. Pribadi yang tidak kagetan dan gumunan, merupakan pribadi yang memiliki kematangan mental. Untuk membangun kematangan mental memerlukan kesadaran lahir dan batin yang memadai. Kita dapat bercermin pada orang-orang yang memiliki sikap sumeleh, sumarah dan legowo. Mereka itulah sebenarnya orang-orang yang powerfull, sudah mumpuni, mentalitasnya telah matang, sikapnya temuwo (lebih dari dewasa). Tenang dan menghanyutkan. Tidak mudah obral janji, keputusannya selalu tepat, sikapnya bijaksana dan pola pikirnya mencerminkan seseorang yang arif berilmu tinggi. Di wajahnya terpancar getaran energi kedamaian dan ketentraman. Getaran energi yang tumbuh dari rahsa sejati (nurani) merupakan bahasa universal yang dapat menembus lintas batas ruang dan dimensi. Tidaklah mengherankan bila pancaran energinya dapat menimbulkan efek ketenangan dan kenyamanan bagi yang memandanginya dan bagi orang-orang yang berada di dekatnya. Pancaran energi tidak hanya sebatas dapat dirasakan oleh sesama manusia, bahkan dapat dirasakan oleh entitas gaib, binatang dan tumbuhan. Kata-kata sederhana, ojo gumunan dan ojo kagetan, bila kita hayati dan implementasikan ternyata mampu membimbing diri kita untuk selalu selaras dan harmonis dengan sifat-sifat alam semesta. Kata-kata sederhana namun sungguh mendalam dan luas maknanya. Ngelmu iku yen ginulung amung sak mrico jinumput. Yen ginelar bakal ngebaki jagad.

Read more…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 664 pengikut lainnya.