Ratu Adil semakin dekat

Eyang Sabdapalon-Eyang Noyogenggong,

Satria Piningit, Ratu Adil

Prakata

Saya salut terhadap segenap upaya generasi bangsa saat ini yang peduli dengan nilai-nilai tradisi dan kearifan lokal (local wisdom) yang pada zaman dahulu pernah mengantarkan bumi Nusantara meraih kejayaannya. Tampak geliat semangat ada pada para generasi muda bangsa yang gigih menelusuri jejak sejarah kebesaran para leluhur bumi putra bangsa besar ini. Bagaimana kita dapat menghargai bumi Nusantara jika kita buta dan tidak mau peduli apa yang terjadi di zaman dulu, apa dan bagaimana saja perjuangan para leluhur besar di masa silam.

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa rekam jejak sejarah bangsa Indonesia mengalami berbagai upaya pemalsuan sejarah. Dengan tujuan dan alasan tertentu, yang positif maupun negatif. Misalnya untuk menyamarkan agar tidak terjadi pengrusakan dan pemusnahan. Namun tampaknya banyak pula upaya pemalsuan sejarah dengan tujuan untuk menghapus akar sejarah dan jati diri suatu bangsa. Jika jati diri suatu bangsa menjadi lemah dan tidak jelas, tentu bangsa itu pun akan menjadi bangsa yang lemah dan terombang-ambing dalam dinamika dunia. Menjadi bangsa primitif, tidak mempunyai prinsip tegas dan jelas, serta menjadi bangsa miskin. Bangsa yang kehilangan arah dan tujuan, karena selalu minder tak ada sesuatu nilai orisinil bisa dibanggakan. Nasionalisme pun akan menjadi lemah kemudian benar-benar runtuh.

Bagaimana ‘jiwa dan raga’ bangsa ini akan sehat sentosa, sementara konstruksinya terdiri dari ‘daging dan darah’ yang kotor, busuk, bau dan banyak penyakit. Berkali-kali saya pribadi melihat suatu kebenaran sejarah yang membuktikan keagungan penduduk asli Nusantara dalam spiritualitas, seni, budaya, politik dan ekonomi, tetapi sengaja maupun tidak justru ditutup-tutupi dengan ‘cadar’ agama, bahkan dengan dengan kekerasan fisik, ancaman-ancaman dogmatis, dengan tindakan-tindakan anarkhis, dengan kekuatan dan kekuasaan yang legal maupun ilegal. Banyak pula yang berani mengklaim diri sebagai pahlawan yang mengaku paling suci dan dijamin menjadi ahli syurga, dan mengaku pembawa ‘obor’ kehidupan dilengkapi dengan bom penghancur ‘dunia kegelapan’, serta mengaku sebagai pembawa ‘tongkat’ penegak kebenaran. Di mata masyarakat, tindakannya hanya mengesankan sebagai wujud tindakan jahiliah/bodoh dengan disertai wajahnya yang menyiratkan nafsu angkara murka.

Ironis sekali. Jika tradisi dan budaya luhur moyangnya sendiri dianggap sebagai sumber kesesatan, musyrik, syirik. Untuk itu budaya adiluhung sendiri harus dihina-hina dan dihancurleburkan agar tidak mengganggu sepak terjang para pengaku ‘utusan’ Tuhan. Sebagian penduduk lokal justru lebih menghargai nilai-nilai tradisi, budaya, dogma, yang diimpor dari leluhur bangsa lain. Lebih suka ngemut kerikil dari pada ngemut gula Jawa.

Meskipun demikian berbagai tindakan intimidasi dan provokasi tidak pernah membuat orang menjadi bergidik untuk kembali menelaah nilai-nilai kearifan lokal atau nilai luhur budaya Jawa, Tradisi leluhur kita sendiri yang terbukti pernah membawa pada era kejayaannya.

Sudah menjadi rumus-rumus yang tercantum di dalam hukum alam, (baca : kehendak Tuhan), bahwa kebenaran tak pernah bisa dikalah oleh kejahiliahan. Sekalipun kebenaran itu datang terlambat. Jika sudah tiba saatnya Tuhan berkehendak, maka tampaklah yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Hanya saja, tugas manusia harus eling dan waspada, sebab datangnya kebathilan, kebodohan, kejahatan, kedengkian, kemunafikan kadang lahir justru dari pemikiran-pemikiran fanatik, tekstual dogmatis, kedangkalan fikir, bahkan unsur manipulasi dalam memahami berbagai macam kitab suci apapun namanya. Jika penelaahannya mengesampingkan anugerah Tuhan paling besar yakni akal sehat, jiwa yang bening, hati yang bersih, –atau malah memanipulasinya untuk kepentingan kelompok, golongan dan melegitimasi suatu tindakan brutal dan anarkhis–, niscaya agama dengan dogma-dogmanya menjadi senjata canggih penghancur rumus-rumus Tuhan dan tatanan keselarasan dan sistem keseimbangan di planet bumi ini. Orang jaman sekarang tampak kesulitan membaca tanda-tanda kebesaran (bahasa) Tuhan. Orang tidak menyadari bahwa kebenaran bisa datang dari mana saja asal muasal sumbernya. Tidak selalu melalui dogma agama dan kitab suci, tetapi langsung dari Tuhan melalui bahasa alam yang tersirat dalam gerak-gerik seluruh mahluk penghuninya. Sayangnya, sebagian orang lebih sering menafikkan atau mengingkarinya secara sinis dan membabi buta. Mudah-mudahan seluruh pembaca yang budiman tidak termasuk tipikal manusia tersebut. Agar tidak bodoh dan hidup sesat, maka dalam khasanah spiritual Jawa dianjurkan kepada setiap orang untuk arif dan bijaksana dalam membaca tanda dan gejala alam, sehingga manusia bisa memahami maksud dan kehendak Tuhan, (Jawa:nggayuh kawicaksananing Gusti).

Wirayat Gaib

Menyibak misteri siapa sejatinya sang tokoh kembar bersaudara Sabdopalon dan Noyogenggong. Banyak analisa dan penafsiran yg mendekati pemaknaan yg masuk akal dan dapat menjelaskan secara rinci kronologi dan eksistensi Sabdapalon-Noyogenggong. Prediksi-prediksi atau ramalan yang ditulis sejak zaman dahulu seperti dalam serat Kalatida R Ronggowarsito, Jongko Joyoboyo ing Kadhiri,  KPH Cakraningrat, ISKS PB III,IV (serat Centini) dan PB VI berupa sanepan/cangkriman/ tebakan yg sulit ditafsirkan secara harfiah/wadag semata melainkan hrs melalui olah batin yang mendalam. Kecuali KPH Cakraningrat ada juga yg lebih lugas ditafsirkan yakni dalam serat Wedhatama karya Gusti Mangkunegoro IV dan Babad Centini sejak PB III s/d PB V, lebih eksplisit anda dapat meraba-raba siapa sebenarnya Sabdapalon & Noyogenggong.

Beliau Sabdapalon dan Noyogenggong bukanlah Satrio Piningit (SP)seperti disebut sebagian orang. Beliau berdua entitasnya sudah ada sejak 2500 tahun lebih, tentu saja sebelum dialektika misteri SP muncul dalam satra-sastra kuna. Beliau adalah sosok pamomong, pembimbing para Raja besar Nusantara, perannya sebagai penasehat, pelindung sekaligus guru spiritual para Raja-raja besar di Nusantara. Beliau bukan pemimpin atau raja tetapi sosok yang selalu mengasuh (Jawa:momong) kepada setiap raja-raja besar di bumi nusantara. SP konotasinya adalah kesatria yang berperan sebagai pahlawan atau pemimpin spiritual dan negarawan namun statusnya sebagai ksatria sulit disangka diduga. Sebelum beliau memimpin bangsa figurnya sulit terekspose oleh masyarakat umum, kecuali orang yang memiliki mata batin tinggi. SP tidak lain adalah Ratu Adil (RA). SP atau Ratu Adil adalah kesatria yang amat tersamar jati dirinya, maka disebut juga Satrio Piningit. Beliau TIDAK AKAN PERNAH MENGAKU (mengklaim) kepada khalayak apalagi mengekpose dirinya di depan publik sebagai Satrio Piningit atau Ratu Adil. Tetapi orang lain lah yang akan menjulukinya, karena seluruh karakter pribadi dan perjuangannya sesuai dengan misi sang Kalipatullah Paneteb Panatagama, Satria Pinandhita Sinisihan Wahyu, Ratu Adil Herucakra, yang tanda-tandanya telah diungkapkan lebih dahulu dalam prediksi-prediksi kuno. Ratu Adil akan menjadi asuhan penasehat/pembimbing/dahyang para raja-raja besar dan pengasuh seluruh manusia Jawa yakni Sabdopalon dan Noyogenggong. Jadi konsep Sabdopalon-Noyogenggong, dengan Satrio Piningit atau Ratu Adil konsepnya berbeda, berdiri sendiri tetapi memiliki untaian atau rangkaian peranan yang sangat erat. Kehadiran mereka dikiaskan sebagai kepanjangan tangan Tuhan (kalifatullah), pemimpin (imam mahdi/messiah/ herucakra) yang bersifat universal meliputi seluruh agama, bangsa, suku, ras, golongan dalam upaya penyelamatan bumi khususnya bumi nusantara.

Saya tidak akan membahas panjang lebar tentang konsep Sabdapalon-Noyogenggong. Tetapi akan mengupas makna dalam kiasan sastra kuno, tentang misteri SP atau RA dan kaitannya dengan Sabdapalon-Noyogenggong serta tanda-tanda zaman akan kehadirannya. Puji syukur kepada Tuhan YME, setelah melalui ‘laku’ spiritual yang sangat lama, Sabdalangit telah memperoleh sedikit sekali gambaran dan jawaban atas misteri besar tersebut.

Ratu Adil Berbeda figur dan person maupun konsep dibanding Sabdopalon-Noyogenggong. Ratu Adil juga memiliki konsep sendiri yang jelas. Ratu adalah sosok atau tokoh jenis kelamin perempuan yang menjadi ‘raja’ atau pemimpin, atau negarawan. Menjadi ‘ratu’ atas bangsa ini, dengan dasar sikap adil paramarta, hambeg lakutama, bèrbudhi bawaleksana, dikenal sebagai senjata trisula wedha) dan ‘pedang katresnan‘ sangat tajam berupa niat suci, dengan lautan kasih sayang. Bernaung di bawah payung kuning (kebenaran). Ratu adil berasal dari gunung srandil artinya puncak keprihatinan, topo broto, topo ngrame, loro wirang.

Berada di dalam kandungan/rahim ibu selama lebih dari telung podho (3 bait, maksudnya sewindu atau 8 tahun) untuk menggenapi tapa brata-nya. Jiwanya telah digembleng oleh para leluhur besar bumi nusantara. Ratu adil dari “tanah arab” (kebetulan KTP Islam) yang menegakkan ‘gama budi’.  Gama-budi bukan berarti secara harfiah adalah agama Budha, tetapi menjunjung tinggi budi pekerti luhur. (lihat; Betal Jemur Quraisin Adammakna/kitab Betal Jemur jilid 7). Kelak bumi nusantara akan adil, subur, makmur, menjadi ‘kiblat’ mercusuar dunia. Pada saatnya nanti masing-masing suku bangsa akan menghidupkan kembali nilai kearifan lokal (local wisdom) dan membuat hidup lagi budaya warisan leluhur bumi Nusantara yang pernah mengalami masa jayanya di masa silam. Perbedaan suku, ras, agama justru menjadi bahan untuk membakar semangat Bhineka Tunggal Ika, bersama-bersatu di atas ragam perbedaan, bermuara pada keutuhan dan kesatuan bangsa, di Bumi Nusantara.

Ciri-ciri Ratu Adil

  1. Ratu Adil: ratu memiliki makna seorang perempuan pemimpin nan cantik luar dalam, adil dan bijaksana sebagai pemimpin bumi nusantara menggapai kemakmuran, kesejahteraan,  ketenteraman dan kebahagiaan.
  2. Seorang yang memakai Nama Tua ; bukan berarti sebutan spt embah, ki, kyai, dst, melainkan nama tua yang sesungguhnya spt misalnya ‘Sekar Kedaton …..’
  3. Senjata Ratu Adil; Pedang sirulah/sir sejati atau (pedhang katresnan) rahsa sejati, senjata ratu adil antara lain berupa ‘pedang sangat tajam’ berupa niat suci dan lautan kasih sayang kepada sesama tanpa membedakan apa agamanya, suku bangsanya, ras dan golongannya.
  4. Di bawah payung kuning; payung kuning adalah lambang kemuliaan dan keluhuran budi pekerti. Juga bermakna keberanian yang berpijak pada suatu kebenaran universal.
  5. Lumuh bandha; walaupun Ratu Adil kelak merupakan sosok yang sukses ekonominya dan makmur, sejahtera, tetapi hidupnya tidak gila harta, justru dengan kekayaannya akan didermakan kepada orang-orang yang sangat membutuhkan, sebab Ratu Adil gemar membantu orang-orang yang menderita, kesusahan dan kesulitan.
  6. Kalipatullah panetep panatagama; lahir di bumi nusantara untuk mengemban amanat Roh Jagad Agung (Hyang Jagadnata), sebagai pemimpin yang memberikan banyak pelajaran tentang makna hidup yang sejati. Untuk diimplementasikan di bumi (Nusantara. agar supaya manusia mampu memahami makna sejatinya dari agama. Pemahaman agama yang mendalam akan menumbuhkan rasa saling menghargai, bahu membahu, serta membantu seluruh umat beragama agar dapat memahami apa hakikat sesungguhnya agama itu sendiri, sehingga tidak ada lagi konflik antar agama, primordialisme, rasisme, sikap hipokrit. Minimal di bumi nusantara.
  7. Bayi calon Ratu adil dilahirkan oleh seorang ibu yg rambutnya sudah keluar uban, didampini dua bayi laki-laki yg  wajahnya tampan rupawan  sebagai saudara kembarnya. Bayi calon ratu adil lahir dari rahim ibu sekaligus kembar tiga (triplet), satu perempuan di tengah yang dua laki-laki sebagai kakak dan adik kembarnya. Kakak kandung Ratu Adil, sejak masih di dalam rahim ibu sudah terdapat tanda-tanda memiliki talenta luarbiasa dalam bidang medis, sedangkan adik kandung ratu adil, sejak masih di dalam rahim ibunya pula telah memiliki keajaiban super jenius yg kemampuan otaknya tidak bisa diukur. Kelak, sejak lahir ketiganya menjadi aset bangsa Indonesia yang akan mampu membawa kemakmuran dan keadilan seluruh rakyat.
  8. Ketiga bayi tersebut, sejak lahir (bahkan sejak dlm kandungan ibu) sudah bisa berkomunikasi dgn ibu dan bapaknya. Sebagai persiapannya menjadi aset besar bangsa dan calon penyelamat bumi nusantara, ketiganya digembleng sejak masih di dalam rahim ibunya tentang berbagai ilmu pengetahuan dan ilmu ‘linuwih’. Karenanya Ratu Adil sejak lahir sudah membawa talenta dan kemampuan luar biasa dalam hal ilmu agama, kesaktian, joyokawijayan, olah kanuragan (beladiri), kawaskitan lahir batin yg sangat tinggi, arif bijaksana, luhur budi pekertinya (sebagai warisan dari ibunya). Ratu adil memiliki keahlian dlm bidang tatanegara, politik, hingga kesenian misalnya beksa atau menari, seni tembang jawa, dan pandai pula dalam tataboga.

Sejak masih di dalam kandungan rahim ibu, badan halus dan sukmanya, sudah digembleng oleh para leluhur Ratugung Binatara, eyang-eyangnya sendiri dari kalangan priyayi dan bangsawan (garis keturunan dari sang ibu) yang dahulu menjadi Natapraja Ratu Gung Binatara. Dengan materi pelajaran meliputi ilmu kesaktian, kedigjayaan, tatanegara, hukum, politik, ekonomi, kesenian (menari dan tembang), memasak. Materi pelajarannya termasuk di antaranya serat Wulang Reh, Wulang Sunu, sejarah, berbagai macam suluk, kitab Wedhatama, Babad Centini, Pangreh Praja dan masih sekian banyak lagi kitab-kitab Jawa masa lampau. Keluhuran budi pekerti Ratu Adil diperoleh dari ibunya yang telah banyak sekali mengajarkan tentang keluhuran budi pekerti dan kebersihan hati sejak masih di dalam kandungan. Calon Ratu Adil juga mendapat bimbingan oleh para leluhur garis keturunan dari bapaknya yang dari kalangan rakyat biasa sekaligus  keturunan kyai, meliputi kesaktian, sipat kandel, diajarkan pula hakikat dari semua agama yang ada di bumi Nusantara. Sukma calon Ratu Adil, atas kehendak Tuhan YME, sudah dipersiapkan dan direstui oleh para leluhur besar bumi nusantara, termasuk para raja dan seluruh ratu/raja dari jagad gaib, di antaranya Kanjeng Ratu Kidul, Betara Kala, serta seluruh pembesar dari jagad maya di seluruh bumi nusantara memberikan doa dan memberikan restu kepada Calon Ratu Adil untuk kelak menyelamatkan dan memimpin bangsa ini menuju masa kejayaannya kembali.

PREDIKSI; mata batin RAHSA SEJATI

Untuk meminimalisir terjadinya berbagai kontroversi dan kesimpangsiuran, sejenak Saya mengulas tentang sejatinya Kanjeng Ratu Kidul. Beliau entitasnya sebagaimana manusia adalah tetap sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Beliau sangat religius, arif bijaksana, juga menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Beliau bukan jin, bukan siluman, bukan sebangsa setan. Kanjeng Ratu Kidul adalah titisan dari bidadari yang diizinkan Tuhan menjadi ratu jagad maya pesisir selatan. Tuhan menciptakan entitas Ratu Kidul supaya menjadi bandul keseimbangan antara alam gaib dan alam nyata. Semestinya antara manusia dengan makhluk gaib, membangun sinergisme; dengan saling “silaturahmi”, menghargai, memiliki hubungan simbiosis mutual, serasi dan harmoni dalam bahu membahu menjaga alam semesta dari kerusakan. Manusia dengan makhluk gaib pada arasnya dapat saling melengkapi, saling mengisi kelemahan masing-masing. Tetapi manusia sering takabur, merasa sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna sehingga lebih suka menyia-nyiakan, menghina, aniaya, dan merendahkan, terhadap makhluk gaib (yang juga ciptaan Tuhan) secara pukul rata. Padahal kesempurnaan manusia hanya tergantung akalnya saja. Bila akal digunakan untuk mendukung kejahatan bukankah manusia tidak lebih mulia daripada binatang yang paling hina sekalipun.

Tidak seluruh makhluk gaib itu berkarakter jahat, seperti halnya manusia ada yang berkarakter jahat, suka mengganggu, tetapi ada yang berkarakter baik pula. Tetapi makhluk gaib terlanjur sering menjadi kambing hitam, oleh  manusia-manusia “jahat” agar dapat berkilah bahwa mereka melakukan kejahatan karena ulah “si setan”. Bukankah, manusia akan menjadi lebih bijaksana jika mengatakan bahwa manusia melakukan kejahatan karena menuruti hawa nafsunya (NAR/api/ke-aku-an) sendiri yang menjelma menjadi ’setan’. Pembaca yang budiman dapat saksikan sendiri, bilamana bulan suci tiba, setan-setan dibelenggu, tapi kenapa pada bulan puasa tetap saja banyak kasus korupsi, pembunuhan, maling, rampok, penggendam, penipuan, bahkan pernah saya melihat ada orang kesurupan, pernah pula melihat ‘penampakan’!? Mungkin manusia salah mengartikan, setan yang dibelenggu tidak lain adalah nafsu negatif kita sendiri. Dan yang membelenggu hawa nafsu negatif (NAR) tidak lain menjadi tugas kita sendiri, dengan borgol berujud jiwa yang suci (NUR) atau an nafsul mutmainah, dengan artikulasi akal dan budi pekerti yang luhur.

Berbeda dengan konsep Kanjeng Ratu Kidul, adalah Betara Kala disebut-sebut raja makhluk gaib dari ‘dunia kegelapan’. Sebutan itu muncul karena Betara Kala mencari korbannya yakni manusia. Tetapi seyogyanya jangan terburu-buru pada kesimpulan bahwa Betara Kala merupakan makhluk jahat dari dunia gaib yang ‘hitam’. Karakter ‘jahat’nya, karena Betara Kala hanya menjalankan titah atau kodrat Tuhan, sebagai eksekutor/algojo bagi orang-orang  yang melawan kodrat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan termasuk eksekutor bagi orang yang melanggar paugeran dan wewaler. Peranan Betara Kala sama halnya dengan Kanjeng Ratu Kidul sebagai penyeimbang antara jagad kecil dan jagad besar. Membangun sinergisme antara dunia manusia dengan dunia makhluk gaib. Jika manusia mempercayai peran-peran tersebut, manfaatnya dalam kehidupan kita sehari-hari justru membangun sikap religius, kita menjadi lebih hati-hati dalam menjalankan roda kehidupan yang penuh “ranjau”. Manusia selalu menjaga diri dengan sikap eling lan waspada. Semakin banyak orang lupa diri; tidak eling waspada, suka melanggar wewaler,  maka cepat atau lambat Tuhan pasti memberikan azab, baik dalam bentuk bencana kemanusiaan maupun bencana alam di bumi nusantara.

Sekalipun saat ini semakin banyak orang-orang yang tampak sangat religius, mengaku sebagai pahlawan agama, jago ceramah, namun banyak pula di antara mereka yang sesungguhnya amat dangkal pengetahuannya, ilmunya sebatas “kulit”. Golongan ini tak menyadari jika sedang kekenyangan makan ‘kulit’(syari’at) saja. Selanjutnya muncul gejala semakin gencar manusia tampil sebagai pembela agama baik dengan menghalalkan cara-cara kekerasan maupun pedagog verbal. Semakin banyak jumlah orang-orang yang seolah-olah soleh-solehah, giat pergi ke tempat ibadah, tetapi semakin banyak pula mereka terbukti melakukan perbuatan keji, korupsi, selingkuh, merampok hak orang lain, memperkosa, mencuri, menipu, mencelakai orang, pagar makan tanaman. Tentusaja mereka melakukannya dengan kesadaran sambil mencari-cari dalil yang mengada-ada sebagai alasan pembenar. Kesalahan kecil dibesar-besarkan, namun jelas-jelas kejahatan besar tidak dihiraukan.

PERTANDA KEDATANGAN CALON SATRIA PININGIT

Jangkajayabaya; Sabda Gaib

Babon asli kagunganipun Dalem Bandara Pangeran Harya Suryanegara ing Ngayugyakarta

Sinom

Wirayat kanthi dahuru, lalakone jaman wuri, kang badhe Jumeneng Nata, amengku bawana jawi, kusuma trahing Narendra, kang sinung panggalih suci.

(Tanda-tanda dengan diawali munculnya huru-hara, kejadian zaman nanti, yang akan menjadi Pemimpin di tanah Jawa (Nusantara), seorang keturunan raja, yang memiliki hati suci.

Ing mangke karseng Hyang Agung, taksih sinengker marmaning, akeh ingkang katambuhan, mung kang para ulah batin, sinung weruh dening pangeran, iku kang saged mastani.

(Di saat nanti, sudah menjadi kehendak Tuhan Maha Agung, tetapi sekarang masih di dalam tabir rahasia Tuhan, banyak orang tidak mengetahui, hanya orang yang mau mengolah batinnya, diijinkan Tuhan mengetahui (sebelum terlaksana), itulah orang yang tiada diragukan lagi)

Dene wontene dahuru, sasampune hardi Mrapi, gung kobar saking dahara, sigar tengahira kadi lepen mili toya lahar, ngidul ngetan njog pasisir.

(Sedangkan munculnya huru-hara (ditandai) setelah Gunung Merapi berkobar hebat (meletus) oleh sebab adanya bencana (gempa bumi), (Merapi) terbelah tengahnya seperti sungai, mengalir di dalamnya air (hujan) membawa lahar dingin, arahnya ke tenggara, lahar dingin yang dibawa oleh air, hanyut hingga masuk ke laut selatan.

Keterangan: pertanda ini sudah terjadi pada tahun 2007 lalu.

Glacap Gunung yang bernama Gegerboyo Merapi (punggung buaya) kini tinggal kenangan

ini sebagai salah satu pertanda yang telah diprediksi ratusan tahun silam

gegerboyo

Myang amblese Glacapgunung, sarta ing Madura nagri, meh gathuk lan Surabaya, sabibaripun tumuli, wiwit dahuru lonlona, soyo lami soyo ndadi.

(Pertanda punggung G Merapi (populernya disebut punggung buaya atau geger boyo) amblas/longsor. Serta Surabaya dan Madura hampir bertemu daratan.

Keterangan: Geger boyo runtuh terjadi Mei-Juni tahun 2006 setelah terjadi gempa Jogja, disusul letusan Gunung Merapi yang dahsyat.

Pulau atau wilayah Surabaya-Madura hampir bertemu daratan, sudah terjadi karena jebolnya lumpur lapindo yang dibuang ke selat Madura. Penafsiran lainnya; jembatan yang menghubungkan kota Surabaya dengan Madura atau jembatan Suramadu hampir selesai.

Temah peperangan agung, rurusuh mratah sabumi mungsuhe datan karuwan, polahe jalma keha sami, kadi gabah den interan, montang-manting rebut urip. Papati atumpuk undhung,desa-desa morat marit, kutha-kutha karusakan,

kraton kalih manggih kinkin, ing Sala kaleban toya, Ngayugyakarta Sumingkir.

(Setelah itu terjadi konflik besar, kerusuhan merata di seluruh bumi, penyebabnya tidak jelas, tingkah manusia sama saja, bagaikan gabah ditampi, kocar-kacir berebut hidup. Kematian massal terjadi di mana-mana, desa carut-marut, kota-kota banyak terjadi kerusakan, dua kerajaan (Jogja dan Solo) terjadi musibah, di Solo kerajaannya “terendam banjir”*. Yogyakarta tersingkir**.

Keterangan; *konflik antar pewaris tahta antara Hangabehi dengan Tejowulan,

**sementara Keraton Jogja tersingkir karena tidak mendapatkan anak laki-laki sebagai Pangeran Putra Mahkota calon pewaris tahta.

Saat ini sudah terjadi.

Ratunya murca sing Kraton, ngilang kalingan cecendis, sanget kasangsayanira, wus karsaning Hyang Widi, gaib ingkang kelampahan, kinarya buwana balik.

(Ratu/rajanya meninggalkan keraton, kemasyhurannya kalah dengan gaung keonaran para penghianat, semua itu sudah menjadi kehendak Tuhan, gaib yang terjadi, membuat keadaan zaman serba terbalik.

Jangka Jayabaya ; Catursabda

Pethikan seratan tangan

Kangge sambetan jangka triwikrama

Pameca wontening jaman dahuru, tuwin rawuhipun ratu adil panetep panatagama kalipatullah.

Pamecanipun sang prabu Jayabaya ing kadhiri. Kulup ingsun mangsit marang sira, yen ing tembe tanah Jawa wis kesingget-singget saenggon-enggon, desa-desa wus sigar mrapat, pasar-pasar ilang kumarane, kali ilang kedhunge, kereta tanpa turangga, lan ana satriya teka kang putih kulite, saka kulon pinangkane, nuli ana agama tatakonan padha agama.

(Mencermati terjadinya zaman kesengsaraan, hingga kedatangan Ratu Adil panetep panatagama, utusan Tuhan. Kewaskitaan Sang Prabu Jayabaya ing Kadhiri. Anak-anakku, ingsun berpesan (secara gaib) kepadamu, bilamana kelak tanah Jawa (nusantara)telah terpilah-pilah, pasar (tradisional) kehilangan gaungnya, sungai-sungai semakin surut airnya, kereta tanpa kuda, segera datanglah kesatria berkulit putih, dari barat asalnya, sejak itu terjadi perselisihan antar agama)

Apamaneh dhayoh mbagegake kang duwe omah, ana kebo nusu gudhel, endah-endah cacahing gendhing sekar kaendran, sanalika iku wong Jawa akeh kang tesmak bathok, sanajan mlorok ora ndelok, andheng-andheng dingklik,

lah ing kono kulup, ora suwe bakal katon alat-alate kang minangka dadi cacaloning Sang Ratu Adil panetep panata agama kalipatulah utusan kang ngemban dhawuhing Gusti, paribasane sumur marani timba, guru luru murid, prajurit ngunus pedang katresnan,

(apalagi (pertanda) tamu mempersilahkan tuan rumah, orang tua berguru pada yang muda, muncul beragamnya nyanyian dan musik yang populer, seketika itu pula banyak orang Jawa yang berkacamata tempurung (walaupun melotot, tetap tidak bisa melihat), tahi lalat di wajah (yang nyata ada pada diri sendiri tidak dapat diketahuinya), nah di situlah anakku, tidak lama lagi akan mulai tampak tanda-tandanya siapa yang akan menjadi calon Ratu Adil, utusan yang mengemban perintah Tuhan, diumpamakan sumur mendatangi timba, guru berburu murid, prajurit menghunus pedang kasih sayang)

nanging akeh wong-wong kang padha mangkelake atine, nyumpelake kupinge, ngeremake matane.

(tetapi banyak orang-orang yang membuat kesal hati, mentulikan telinganya, dan menutup mata (tidak peduli).

Nanging sapiro anane wong kang melek, padha ngrungu lan padha anggarubyung tut wuri lakune cacala mau mesthi slamet.

(tetapi seberapapun adanya orang yang peduli, mau mendengar, dan mengikuti jejak langkah Ratu Adil, maka mereka pasti selamat hidupnya)

…….awit sadurunge ratu adil rawuh, ing tanah Jawa ana setan mindha manungsa rewa-rewa anggawa agama, dhudhukuh ing glasah wangi, dadine manungsa banjur padha salin tatane, satemah ana ilang papadhange, awit padha ninggal sarengate, dadi kapiran wiwit timur mula.

(….sebab sebelum RA datang, di tanah Jawa (nusantara) muncul “setan” berlagak manusia “berbulu” lebat mengaku pembela agama, menetap di “glasah wangi” menjadikan manusia berganti tatanan, menyebabkan datangnya kegelapan, karena orang-orang meninggalkan tradisinya, lalai sejak masih muda)

Mulane wekas ingsun marang sira, sira kang ngati-ati, krana  gusti sang ratu adil, lagi tapa mungsang ana sapucuking gunung sarandhil,

(Maka pesanku pada kalian, kalian harus berhati-hati, karena gusti sang Ratu Adil baru melakukan penempaan diri dalam ‘pertapaan’nya)

mung gagamane bae golekana kongsi katemu, awit ing tembe bakal ana jumeneng ratu kang padha baguse, padha pangagemane lan iya padha paraupane, lah ing kono para wong-wong padha pakewuh pamulihane, satemah padha bingung,

(..hanya saja, carilah “senjata”nya (RA) sampai ketemu (budi pekerti luhur), sebab kelak bakal ada berdiri ratu yang sama cakapnya, sama pakaiannya dan juga sama wajahnya, nah di situlah orang-orang akan merasa malu sendiri, sebagian yang lain kebingungan (ket: karena orang yang sangka calon SP ternyata bukan).

Keterangan; Cermatilah ciri-ciri Ratu Adil sejati, karena ada yang seolah dianggap sebagai Ratu Adil, padahal ia palsu. Maka banyak orang yang menyangka, lantas menjadi malu dan bingung telah salah sangka.

…nanging luwih beja wong kang wis mangerti kang dadi pangerane, mulane sira kulup, dipoma aja nganti lali marang tetengering sang ratu Adil panetep panata gama.

(…tetapi lebih beruntung orang yang sudah mengerti siapa yang menjadi pemimpin dan panutannya, makanya kalian semua jangan sampai lupa akan ciri-khas atau tanda khusus siapa sang Ratu Adil panetep panata gama).

Dene sira wis ketemu aja nganti sira katilapan, tutu buriya ing satindake lan embunan tumetesing banyu janjam, mesthi slameta langgeng ing salawas-lawas…mung iki piweling ingsun marang sira kulup, poma den estokna.

(jika kalian sudah bertemu (calon SP), jangan sampai kalian terlena, ikutilah jejak langkahnya, pasti selamat, abadi selamanya…hanya ini pesan ku kepada kalian semua, maka patuhilah)

Jangka Jayabaya, pethikan serat tangan

Bilih sampun wonten tandha-tandha ingkang sampun celak rawuhipun calon Ratu Adil;

(Tanda-tanda kehadiran Ratu Adil sudah dekat:

Padha kaping 1

Besuk ing jaman akhir, sawise jaman hadi, ratu Adil Imam mahdi saka tanah Arab meh rawuh, tengarane tatanduran suda pametune, para pandhita kurang sabare, ratu kurang adile, wong wadon ilang wirange, akeh wong padu lan padha goroh, akeh wong cilik dadi priyayi, wong ngelmu kurang lakune lan nganeh-anehi.

(Kelak, pada saat Ratu Adil “imam mahdi” (pemimpin umat manusia) “dari tanah arab” (semacam kiasan: orang asli Indonesia tetapi kebetulan beragama Islam) sudah hampir tiba waktunya, tanda-tandanya adalah; tanaman berkurang hasilnya, para pemuka agama kehilangan watak sabarnya, pemimpin kurang rasa keadilannya, perempuan kehilangan rasa malu, banyak orang bertengkar dan berbohong, banyak orang kecil menjadi priyayi, orang berilmu kurang pengamalannya dan tindak-tanduknya janggal/aneh.

Dene yen rawuhe ratu Adil wis cedhak banget, ana tengarane maneh:

Tanda-tanda jika datangnya Ratu Adil sudah dekat sekali;

1) yen sasi sura ana tundhan dhemit.

(bulan sura ini terjadi pada sekitar Januari-Februari 2007, sebagai bulan sura duraka, di tahun kalabendu; maka banyak musibah dan kecelakaan mengerikan baik di udara, darat, laut (kereta, pesawat, kapal laut, bus, kendaraan)

2) srengenge salah mangsa mletheke.

(awal 2007 matahari terbit setelah jam 06.00 wib; seharusnya terbit mulai jam 05.30 wib)

3) rembulan ireng rupane

(dibarengi dengan kejadian gerhana bulan berturut-turut selama tiga hari, di tiga lokasi wilayah nusantara).

4) banyu abang rupane.

(awal bulan februari 2007 hampir diseluruh  wilayah Indonesia terjadi banjir, airnya keruh berwarna coklat kemerahan, lamanya sekitar 3-5 hari)

Tengara iki telung dina lawase, yen wis ana tengara mangkono, kabeh wong bakal ditakoni, sing ora bisa mangsuli bakal dadi pakane dhemit, sebab ratu adil mau rawuhe anggawa bala jim, setan lan seluman pirang-pirang tanpa wilangan.

(tengara ini 3 hari lamanya, bila sudah terdapat tengara itu, mulai memasuki zaman di mana semua orang akan ditanyai, yang tidak bisa menjawab bakal menjadi makanan makhluk halus, sebab ratu Adil kedatangannya membawa berjuta malaikat, jin dan makhluk halus (siluman) banyak tak terhitung.

Keterangan; semua orang “ditanyai”; dalam arti disodorkan dua pilihan, ingin jalan yang baik dengan mengikuti langkah RA atau memilih jalan kegelapan dengan menentang RA. Yang tidak bisa menjawab, berarti termasuk orang-orang menentang kedatangan RA utusan Tuhan. RA dibimbing dan dituntun (jangkung dan jampangi) berjuta leluhur bumi nusantara (mayuta malekat), sedangkan orang-orang yang melawan RA akan mendapatkan celaka sebagai hukuman tuhan.

Padha kaping 2

Dene pitakone lan wangsulane mangkene;

(Pertanyaan dan jawabannya sebagai berikut)

asalmu saka ngendi = saking kodratulah,

yen bali apa sangumu = sahadat iman tokid makripat islam,

apa kowe weruh aranku = Gusti Ratu Adil Idayatullah,

apa agamamu = sabar darana,

apa kowe weruh bapakku = Gusti ratu adil Idayat Sengara,

apa kowe weruh ing ngendi panggonanku dilairake = Kalahirake Hyang Wuhud wonten sangandhaping cemara pethak.

Keterangan: ratu adil imam mahdi dari tanah arab maksudnya, pemimpin umat manusia di bumi nusantara yang bersifat universal, kebetulan sebagai pemeluk Islam. “berbaju” Islam tetapi memperoleh “makrifat” seluruh agama di bumi.

Dari mana asalmu ? Jawab; atas kehendak Gusti Hyang Jagadnata. Ratu adil lahir di bumi nusantara,  sudah menjadi kehendak Tuhan. Jika ‘pulang’ mempertanggungjawabkan tugas manusia sebagai utusan Tuhan, bekalnya adalah ikrar janji dan menepati janjinya, sebagai manusia yang menggapai makrifat. Kesaksian bahwa Ratu Adil membawa amanat bagi kebahagiaan seluruh rakyat melalui ilmu makrifat yang  universal melampaui semua agama, suku, ras, golongan.

Apa kamu tahu namaku? Jawab; gusti Ratu Adil pembawa petunjuk dari Tuhan.

Apa agamamu? Jawab; kesabaran yang seluas samudera.

Apa kamu tahu bapakku? Jawab; gusti Ratu Adil Idayah Sengara, orang selalu mengutamakan keadilan dan keluhuran budi pekerti, dan hidupnya berada selalu dalam ‘laku prihatin’.

Apa kamu tahu dimana aku dilahirkan? Jawab; Dilahirkan oleh Hyang Wuhud, di bawahnya pohon cemara putih.

Maknanya; dilahirkan oleh seorang ibu yang berbudi pekerti amat luhur, suci hatinya, bersih lahir batinnya, cerdas pikirannya. Lahir di bawah (pohon) cemara putih, artinya RA dilahirkan dari rahim seorang ibu yang rambutnya sudah mempunyai uban, atau seorang ibu (yang secara teori), sudah tak mungkin bisa melahirkan anak.

Jangka Jayabaya

Salebare Raja Kuning

Babon asli kagungan Dalem

Bandara Pangeran Harya Suryawijaya

ing Ngayugyakarta

padha kaping 16

Ana ratu kinuya-kuya, mungsuhe njaba njero, ibarate endhog ngapit sela, gampang pecahe, nanging rineksa Hyang Suksma, mungsuhe kaweleh-weleh,

(ada ratu yang teraniaya, musuhnya luar dalam, ibarat telur terhimpit batu, mudah pecah, tetapi selalu dijaga keselamatannya oleh Tuhan, sehingga musuhnya menanggung malu sendiri)

ratu mau banget teguhe kinuya-kuya ora rinasa, malah weh suka raharja, kaesa mbelani negara sigar semangka, ambeg utama tan duwe pamrih, mung netepi kasatriyane, tambal bandha mau, mung ngengeti kawukane,

(ratu tadi sangat tabah teraniaya tidak dirasakannya, sebaliknya memberikan kesejahteraan kepada yang menganiaya, demi membela negara secara adil seperti membelah semangka, budi pekertinya yang sungguh mulia tidak memiliki pamrih, hanya memenuhi tanggungjawabnya sebagai kesatria (kodratulah), bersedia mengeluarkan hartanya karena ingat sejatinya tugas dan tanggungjawab manusia lahir ke dunia (sangkan paraning dumadi).

ratu mau putrane mbok randha kasiyan, kawelas arsa wit timur mial, sinuyudan mring pra kawula,

(ratu tadi putranya ibu yang (lama) menjanda dan selalu prihatin dan teraniaya, namun penuh belas kasih sejak usia muda, sehingga sangat disayangi dan hormati oleh banyak orang)

ratu mau ijih sinengker Hyang Widhi, mapan samadyaning rananggana, sajroning babaya, minangka tapa bratane, kesampar kesandhung nora kawruhan, kajaba wong kang wis kabuka rasane, meruhi mas tulen lan kang palsu, ing kono katon banyu sinaring, wong becik ketitik ala ketara, wong palsu mecucu.

(ratu tadi masih disembunyikan oleh Tuhan, bertempat di dalam wahana rahasia Tuhan, di antara berbagai marabahaya, sebagai wujud tapa brata-nya, dianggap remeh dan tidak disangka oleh banyak orang, kecuali orang yang sudah terbuka rasanya, mampu mengetahui mana emas tulen dengan yang palsu, kebenaran ibarat air yang tersaring, orang baik akan tampak baiknya, orang jahat akan  terlihat jahatnya)

Begjane wong sing padha eling, cilakane kang padha lali. Sing sapa krasa lan rumangsa, bakal antuk kamulyan lan karaharjan.

(beruntung bagi orang yang selalu ingat, celaka bagi yang lupa diri. Barang siapa yang dapat mawas diri, tahu diri, bakal mendapatkan kemuliaan dan kebahagiaan)

pada kaping 17

nuli ana ratu kembaran atismak bathok,

(kemudian ada ratu yang lahir bersama-sama saudara kembarnya,(atismak bathok = senajan melorok ora ndelok artinya walaupun orang bertatapan atau bertemu langsung, tetapi tidak menyadari bahwa dialah sesungguhnya calon RA dan saudara-saudara kembarnya)

dhepe-dhepe marang wong pidak pedarakan,

(Menjadi anak yang berlindung kepada bapaknya dari kalangan rakyat biasa)

nagara dadi siji, pinilih endi kang asih

(negara bersatu dalam kesatuan, akan terseleksi siapa yang mencintai negara)

pada kaping 19

ahire Pangeran anitahake, ratu adil imam mahdi, iya putrane mbok randha kasiyan, kang kesampar kesandhung, durung kinawruhan, ijih sinengker Hyang Widhi.

(akhirnya Tuhan mengutus, ratu adil imam mahdi, yakni putranya “mbok randa kasiyan” yang terlunta, belum terungkap jati dirinya, masih dirahasiakan Tuhan)

Keterangan: akhirnya Tuhan mencipta dan mengutus ratu adil sebagai pemimpin yang membawa amanat untuk membenahi kerusakan dahsyat bumi nusantara akibat bencana kemanusian dan bencana alam,

Ia adalah putrinya seorang ibu yang hidupnya selalu dalam lara lapa (penderitaan batin) tetapi banyak dikasihi orang dan menjadi tempat berlindung orang-orang yang lemah dan menderita. Seorang ibu yang hidup lama menyendiri seperti ‘menjanda’ karena perjuangan hidupnya sebagai single parrent dan single fighter, dalam kurun waktu lama puluhan tahun, kemudian bertemu laki-laki yang menjadi jodoh sejatinya (garwa), juga calon ayah sang ratu adil. Tetapi di mana mereka sekarang tidak banyak diketahui orang keberadaanya, karena masih tengah ‘menyamar’, dan dalam ‘persembunyian’ di dalam perlindungan Tuhan.

Hanya orang-orang yang beruntung, juga orang-orang linuwih yang memiliki kawaskitan sangat tinggi yang dapat mengetahui sejatinya siapa ‘mbok rondo kasiyan’, bapaknya, dan calon ratu adil, dan di mana keberadaannya pada saat ini.

pada kaping 20

Ratu iku asikep mbelani bangsa tansah ana samadyaning ranggana, nanging setengah ijih dadi buburon, marga dicurigani dening jaba jero,

luwih-luwih para pidak pedarakan sebab yen iku katon bakal mbabarake sakehing lalakon kang oran bener,

temah ora bisa kakeeh utawa aji mumpung, Karsa Gusti Kang Akarya Jagad wus cedak titimangsane,

arep binabar kanggo mlerat sakehing piala kang rumangsuk samungsa Jawa.

Babare (lahirnya) ratu iki mawa gara-gara sindhung riwut karawati ngakaka,

kilat thatit liliweran bledeg ngampar-ampar, kasusul panjebluging gunung Tidhar,

sasideming gara-gara, ing jagad padhang sumilak, pangeran paring pangapura, kang pepulasan melecet pulase, katon sawantahe, kang emas katon emas, kang timah katon timah, satriyo katon satriyo, kere katon kere, kang ala ketara, kang becik ketitik, kang salah seleh, rawe-rawe rantas, malang-malang putung.

Ratu mau ambleg utama, lumuh bandha, dahare mung sajung, marga saking welas asih mring kawula.

Julukane imam mahdi iya Kalana jayeng palugon, akedhaton ing grjiwati, tengah-tengahing bumi Mataram,

saiki kasangsaya lagi tarakbrata anglindhung mring pra kawula, entenana den saranta kalayan madhep Hyang Suksma.

Dene rawuhe Ratu Adil iku saka lor kulon, mulih mring pakuwone, ing kono mulyaning Nungsa Jawa, harja Kreta tan ana sakara-kara.

Mohon maaf; Silahkan anda telaah sendiri!

Kapan lahirnya calon ratu adil dapat dipahami dari tanda-tanda kehadiran kembali Sabdapalon-Noyogenggong. Sebab tugas Sabdapalon-Nayagenggong kembali hadir di bumi nusantara adalah dalam rangka mendampingi dan momong sejak Ratu Adil lahir dari rahim ibunya. Jika dilihat  tanda-tandanya maka pada saat ini sudah dekat kelahiran sang ratu adil;

Jangka Jayabaya

Sabda Gaib

KPH Suryanegara ing Ngayugyakarta

SINOM

1. Sesotyaning tanah Jawa. Oncat embananeki, owahing kang tata cara, golongan patang prakawis, aluluh dadi siji angrasuk kasudranipun, nagara tanpa tata, mung ngluru kasil pribadi, tingalira tumuju salak rukma.

2. Kusuma taruna tama, mbeg suci ngupala wening, linawuran dening Gusti Sang Jagadnata wus mantun denya piningit, kinen anyapih sami, kang samya gung perang pupuh, lan nyirnaken durmala, mamalaning Nungsa Jawi, gya tumindak nglakoni pakoning Gusti Sang Jagadnata.

3. Ngrabaseng prang mung priyangga, prasasat tan ngadu jalmi prajurite mung sirolah (baca;sirullah), tutunggaleng langgeng eling, parandene kang san ara mangsah kabarubuh, duhaka tutumpesan, tan lami pan sirep sami, ginantyaning ing jaman kreta raharja.

4. Pan wus ilang malaningrat, sinalin tulusing becik, lire murah sandang tedha, durwiala, dursila enting, enak atine sami, wong Jawa sadayanipun, sawusnya tentram samya, neng gih Sang Satriya Suci, pan jinunjung wong ngakathah madeg nata.

5. Ambawani tanah Jawa, julukira Narpati, Kanjeng Sultan Herucakra, ugi kangjeng Ratu Adil, kawentar asmaneki, tekeng tanah Sabrang kemput, tuhu musthikeng jana, nyata kekasihing Widhi, mila tansah pinuji mring wong sajagad.

6. Duh sanggyaning sanakingwang, mangga sami den titeni, dora tanapi temenya, ujare wirayat gaib, mugi saget netesi, yeku pitulungan agung, nging kedah sawi srana, sranane tobat mring Widhi, tobatira mung suci manah raharja.

7. Wirayat gaib kang weca, yekti nora cidra pasti, rawuhaw Sri Herucakra, lamun para pamugari, kang ngasta pusaraning, Tanah Jawa sami emut, marang para kawula, nanging yen katungkul sami salah wengweng rerebatan mas salaka.

8. Yen mangkono pasti gila, Herucakra Ratu Adil, nora teka malah lunga, sarwi nabda nyupatani, dhuh Gusti mugi-mugi, maringi enget pukulan, mring pra manggaleng praja, suci jujur eka kapti, yen mangkono Ratu Adil enggal prapta.

Jangka Jayabaya ‘Sabdapalon’

Babon asli Kagungan Dalem

Bandara Pangeran Harya Suryanegara

ing Ngayugyakarta

Sinom

pada kaping 5

…….pratanda tembayan mami, Hardi Merapi yen wus njeblug mili lahar

(…pertanda kadatanganku, Gunung Merapi bila telah meletus keluar lahar)

pada kaping 6

ngidul ngetan purug ira, ngganda banger ingkang warih, manggih punika medal kula, wus nyebar gama budi, Merapi jangji mami, anggereng jagad satuhun Rarsanireng jawata, sadaya gilir gumanti, mboten kenging kalamunta kaewahan.

(ke tenggara arahnya, berbau busuk airnya, itulah tanda kedatanganku, sudah mulai menyebar ajaran budi pekerti luhur, Merapi adalah janjiku, bumi bergemuruh menjadi hukuman Tuhan, semua bergilir silih berganti, tidak dapat dipungkiri dan dirubah lagi)

Keterangan: Tahun 2007 merapi sudah meletus ke arah tenggara (selatan-timur) yakni ke arah kali Kuning, laharnya menimbun sungai terbawa air hujan menyusuri sungai tanggung (tidak besar tidak kecil), memisahkan tanah antara Kraton Yogya dan Solo, dan di pertengahan 2007 lahar dingin merapi telah sampai di pesisir selatan masuk kedalam lautan. Peristiwa ini baru terjadi sekali pada tahun 2007.

Kawah Gunung Merapi
Saat meletus dahsyat 7 Juni 2006 atau seminggu setelah gempa Jogja. Tampak kawah sudah jebol ke arah tenggara. Baru kali ini terjadi fenomena seperti itu. (+- 500 tahun setelah Sabdapalon Nayagenggong muksa)

merapi4

Ngidul Ngetan (Tenggara) purug ira

dadi kali Tanggung nami

merapi5

Jangka Jayabaya,

Pethikan Serat Tangan

Pangkur

1. Sekar pangkur ginupito, wonten resi saking ing ngatas angin, ngajawi njujug ing gunung, kondhang tanah Ngayugya, asung weca yen hardi Merapi njeblug, benjing pecah hardi sigal, dadi kali Tanggung nami

(Tembang pangkur berkumandang, ada lah resi turun dari atas angin, keluar menuju ke gunung, sehingga tersohor tanah Jogjakarta, memberi tanda bahwa gunung Merapi meletus, besok akan terbelah gunungnya, kemudian menjadi sungai Tanggung (baca; sungai sedang)namanya.

2. Ngayugyakarta kalawan Sala, dadya pisah datan atunggal siti, sinela kali Tanggung, ilining ponang tirta, langkung banter anjog ing seganten kidul, para dhemit gegeran, wadyane sang Ratu Dewi

3. Jeng Ratu Kidul punika, lan para dhemit darat amor lan jalmi, sarengan lindu ping pitu, obah bumi prakempa, gara-gara gonjang-ganjing agumuruh, gunung kendheng lorot gempal udan awu wah kerikil.

(nomer 2&3: Jogjakarta dan Solo, menjadi pisah daratan, dipisah oleh sungau Tanggung, mengalirnya air lebih kencang memasuki laut selatan, sehingga membuat para makhluk halus geger, yakni rakyatnya sang Ratu Dewi Kanjeng Ratu Kidul, dan para makhluk halus pergi ke daratan bercampur aduk dengan manusia, bersamaan dengan terjadinya gempa sehari tujuh kali, bumi berguncang, gogo-goro gonjang ganjing bergemuruh di mana-mana, gunung merapi longsor, hujan abu dan kerikil)

Keterangan: menunjuk peristiwa 13 Mei dan 27 Mei 2006 di Yogyakarta.

4. Caleret tahun ngregancang, kilat tathit kukuwung obar-abir, rakarta pindahipun, tan kenging yen dinuwa, apen sampun pepesthi nira Hyang Agung, yeku negri Surakarta, karatone benjing angadeg

5. Kacrita wonten bengawan, pan ing wara ketangga manggih mukti, suli wirayat wau, longsor pecahing harga, ingkang tirta amili awor lan lendhut, lan rawa pening Bahrawa, mubal geni keh jalma

(…(geger boyo/glacap gunung Merapi) longsor karena pecahnya gunung (Merapi), muncul air yang mengalir bercampur lumpur, dan Rawapening di Ambarawa berkobar api,

6. Sinareng ing tanah Jawa, nuli wonten penyakit andhatengi, lamon triwulan iku, satanah Jawa wrata, pra kawula sami giris manahipun, kataman bebenduning Hyang, nyarengi mangsa paceklik.

(bersamaan di tanah Jawa, muncul berbagai macam penyakit, dalam tiga bulan itu, tanah Jawa rata, orang-orang kecil sangat ketakutan, terkena hukuman Tuhan, bersamaan dengan musim paceklik)

7. Jumenengira Narendra, kalamrecu candrane srinarpati, kalasesatihipun, ngalamat praja rengka, nagri pindah akathah bot reipun, kawulane saya ndadra, ing prakarti kan tan yukti

8. Kawastanan jaman edan, kathah jaman nglampahi sungsang balik taman ing kalabendu, mukarda ngambra-ambra para ambleg sarjan kontit kasingkur, kasor hardaning angkara murka candhalaning.

(Disebut sebagai zaman edan, zaman yang serba terbalik, terkena hukuman Tuhan,

9. Wong agung reren mbehahak, marang raja branartane wong cilik, lang tabete budyayu, kisruh adiling praja, pra kawula sami andhang pakewuh, wuwuh-wuwuh tanpa mendha, pinupu pajeg mas picis

10. Kathah solahing kawula, kukumpulan arsa ngupaya budi, nanging tawur-tawur tinalen ing pepacak, dening praja ingkang ngasta kum apus, kang tan welas mring kawula, ratu nakoda mbeg juti

11. Puniku pinanggihira, nanging wuri badhe atimbul malih, angsa tulung Hyang Agung, wangsul wahyu nurbuwat, tanah Jawa pulih di duk rumuhun, Majapahit du ing kina, nagri mandhiri pribadi.

(Ini pendapatku, tetapi kelak akan muncul lagi, sudah menjadi kehendak Illahi, kembalinya wahyu nurbuat, nusantara kembali seperti zaman dahulu, seperti waktu kejayaan Majapahit, negeri yang mandiri secara pribadi.

12. Gemah ripah harja kreta, tata tentrem ing salami-lami, ilang kang samya laku dur, murah sandang lan boga, kang hamangkuasih mring kawulanipun, lumintu salining dana, sahasta pajeg saripis.

(kemakmuran melimpah ruah, langgeng, tertib tenteram selamanya, hilang lah kedurjanaan, murah sandang pangan, pemimpin yang penuh tanggungjawab dan kasih sayang kepada rakyatnya, selalu tidak kekurangan uang, ibaratnya tanah satu hektar pajaknya satu rupiah.

13. Siti sajung mung sareal, tanpa ubarampe sanese malih, antinen bae meh rawuh, mulyaning tanah Jawa, awit saking tan karegon liyanipun, nakoda wus tan kuwasa, pulih asal mung gagrami.

Kelak, tanah yang sangat luas pajaknya hanya satu real, tidak ada tambahan pajak lainnya, tunggulah saja (Ratu Adil)hampir tiba saatnya kemuliaan untuk nusantara,

Piweling (Peringatan)

Nuli ana janget ing ngatelon, nalika iku Jawa kari separo, walanda kari loro, sedulur ilang kangene, wong lanang ninggal lanange, wong wadhon ilang wirange, saenggon-enggon akeh ratu apung gawane pating belasak, wong nonoman akeh kang dadi mantri Bupati lan punggawane.

…kelak di kemudian hari, Jawa tinggal separo, belanda tinggal dua, saudara kehilangan rasa rindunya, laki-laki meninggalkan sifat kelelakiannya, perempuan tidak punya rasa malu lagi, di mana-mana banyak ditemukan pemimpin palsu, kerjaannya tidak karuan, anak muda-mudi banyak yang menjadi pejabat.

Sajabane tanah Jawa ana perang gedhe, saenggon-enggon ana pailan, pageblug, rupa-rupa sangsarane, bebaya warna-warna, wong-wong padha mangan watu, mangan wedhi, omben-omben peresan blonthong, wong wadhon akeh kang kolu endhonge dhewe, amarga saka rusuhe wong lanang wadon akeh kang ketaman lelara bubrah paribasane jaman edan, yen ora ngedan samar yen ora keduman, mangkono wong kang ora duwe iman.

Di luar Jawa ada peperangan (konflik) besar, di mana-mana terjadi kejahatan dan pembunuhan, beraneka ragam kesengsaraan dan marabahaya, orang-orang pada makan batu, makan pasir, minum tirisan busuk, perempuan tega makan rahimnya sendiri, sebab saking rusuhnya laki-laki perempuan banyak terserang penyakit rusak, ibaratnya zaman gila, jika tidak ikut gila maka tidak akan kebagian, tetapi yang seperti itu orang tidak memiliki iman.

Nanging piweling ingsun, diawas dieling, jejegna imanira, turuten gustinira ratu adil panetep panata gama. Golekana gegamane sing nganti ketemu, turuten dalane, ngetutburia saparane, lumebuwa oparibasaning wadya balane, ora suwe bakal katon tanda tandhane rawuhing ratunira ngagem kamulyan gedhe, rawuhe liar kilat kairingake bala “malekat” mayuta-yuta cacahe, ngadeg payunge kuning, tegese bang-bang wetan karepe, wus ndungkap paletheking papadhang.

Tetapi pesanku, waspadalah dan ingatlah, tegakkan iman mu, jadilah pengikut Ratu Adil penegak kebenaran. Carilah ‘senjatanya’ (trisula wedha; tentang budi pekerti luhur) sampai ketemu, ikuti jalannya kemanapun perginya, jadilah, ibaratnya sebagai pasukannya Ratu Adil, tidak lama akan tampak tanda tanda datangnya ratumu yang mendapat kemuliaan agung, datangnya tiba-tiba secepat kilat, diiringi berjuta-juta “malaikat” (berjuta leluhur bumi nusantara), berdiri dengan payung kuning (kebenaran sejati), maknanya ‘bang-bang’ timur keinginannya (gerakan dari wilayah timur nusantara), maka terbitlah sinar yang terang.

Umbul-umbule alaras bendera pare anom, yaiku tandhane pangeran pati, denen titihane jaran napas, cumathine penjalin tinggal, jemparinge tekad suci kang mingis-mingis pucuke, mubyar-mubyar pamore, kakedher kendhenge, membat-membat gandhewane, lang ilang nalika iku kulup, kocapo ing kono banjur ana perang kang luwih gedhe, marga saka gedhene, gandarwa, thethekan, ilu-ilu, banaspati, sakehing iblis, jajalanat kabeh, padha buyar sar-saran padha ngungsi, saenggon-enggon mamangan wong padha ora sumurup marang ratu adil panata gama.

…umbul-umbul ditingkahi ‘bendera pare anom’ itulah pertanda pangeran pati, tunggangannya kuda nafas, cambuknya tunggak rotan, membawa panah berupa tekad suci yang sangat tajam ujungnya, sangat elok kharismanya, sangat berwibawa wajahnya, lengannya rampng tetapi amat kokoh, …

…ada perang yang lebih besar, saking besarnya, makhluk halus genderuwo, hantu, jin, berbagai macam iblis laknat, semua buyar lari tunggang langgang menyingkir, di sembarang tempat makan korban orang-orang yang tidak peduli dan tidak mengerti kepada Ratu Adil petunjuk kebenaran.

……………………………..ora antara lawas tumuli rawuh (ratu adil) jumeneng angratoni jagad rating kono, sawah sajung pajege mung sedinar, denen panggaweyan negara bakal padha ora anan, awit wong akeh kaperdi sembahyang marang Gusti Hyang Widhi bae. sarta memuji saben dina tanpa kendat.

…tidak berapa lama segera datang Ratu Adil duduk menjadi pemimpin dan suri tauladan di wilayah tersebut, sehingga menjadi makmur diibaratkan sawah yang sangat luas pajaknya sangat kecil, diibaratkan tidak ada lagi yang harus dilakukan negara, sebab saking adil makmurnya nusantara, ibaratnya kegiatan orang-orang tinggal terfokus untuk sembahyang kepada Tuhan saja, serta memanjatkan puji-pujian tanpa henti.

…………………………….iku kang ambuka agama kang samar-samar nanging sira do awas den eling, awit sadurunge ratu adil rawuh, ing tanah Jawa ana setan mindha menungsa rewa-rewa anggawa agama, dudukuh ana ing glasah wangi, dadine manungsa banjur padha salin tatane, satemah ana ilang papadhange, awit padha ninggal sarengate, dadi kapiran wiwit cilik mula.

…itu yang membuka mata hati manusia yang memaknai agama secara tidak karuan, tetapi kalian harus waspada dan selalu ingat, sebab sebelum Ratu Adil datang, di tanah Jawa ada setan berkedok manusia berbulu lebat seolah sebagai penegak agama, bertempat tinggal di ‘glasah wangi’, sehingga mengakibatkan manusia berganti tatanan, berakibat hilangnya petunjuk dan tatakrama kehidupan, sebab banyak orang meninggalkan syariat (sebelumya), sehingga menjadi terlantar hidupnya sejak kecil.

Keterangan; menungsa rewa-rewa anggawa agama maksudnya manusia dengan wajah penuh ditumbuhi bulu-bulu menyeramkan yang (mengaku-aku) sebagai penegak dan pembela agama. Tetapi perilakunya justru sebaliknya tidak simpatik, tidak tampak aura kasih sayang sesama manusia, dapat diumpamakan menyerupai karakter ‘setan’ yang membawa kerusakan di mana-mana, kerusakan baik lahir/fisik maupun kerusakan batin (fanatisme), pikiran (irrasional, egois (negative thinking) dan kerusakan hati, menjadi penuh dengan kedengkian dan nafsu angkara murka.

Wirayat Gaib;

Sastrajendra Hayuning-Rat (ilmu linuwih, ilmu tertinggi, sumber dari segala ilmu). Ilmu yang dapat dicapai siapapun, yang dapat menyatukan hakikatnya sebagai mahluk Tuhan dengan dzat Sang Khaliq.  Sastrajendra adalah Makrifat dari Tuhan yang kita peroleh setelah berhasil ‘manunggal ing kawula-gusti’.

Jika Gusti Sang Jagadnata sudah menghendaki, kelak akan lahir pada pertengahan atau akhir tahun tinarbuka, pada saat Nusantara dipimpin oleh seorang Satria Pambukaning Gapura), bila mana adalah seorang ibu yang rambutnya telah beruban tetapi melahirkan bayi triplet, dua laki-laki, dan satu perempuan. Bayi perempuan lahir dengan tangan kanannya menggenggam keris kecil (jawa;cundrik), tangan kiri menggenggam berlian, mungkin telah tiba saatnya, bagi beliau calon Ratu Adil imam mahdi menjadi pusaraning adil uga kamukten (mukti). Ibunya dari keturunan raja-raja besar sakti mandraguna, dan ayahnya tan kena kinira, tak ubahnya wong cilik. Calon RA akan lahir di tengah bumi Mataram, mungkin berada di sekitar wilayah keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Kelak pada saat kelahiran calon RA akan diiringi aktivitas vulkanik gunung-gunung berapi yang serempak menyemburkan isi bumi, gempa bumi menghentak mengguncang bumi Nusantara, air laut pasang menghantam daratan, bukit kecil Tidar di kota Magelang sebagai pusat gravitasi pulau Jawa (puser bumi) mengejutan masyarakat dengan aktivitas-anehnya mengeluarkan semburan dari dalam bumi, berbarengan dengan peristiwa itu danau bernama Rawapening di pinggiran kota Ambarawa mengejutkan publik dengan berkobarnya api besar dari dalam bumi(mubal geni). Guntur, kilat menyambar-nyambar mengiringi kelahiran calon RA. Badai menyapu daratan, dan hujan lebat turun mengguyur bumi. Namun semua tidak akan mencelakai manusia sebab fenomena alam tersebut sebagai pertanda bahwa alam turut bersyukur atas lahirnya bayi Ratu Adil, yang serta merta lahir bersama dua bayi laki-laki calon aset besar bumi nusantara. Segera setelah itu, langit tampak byar padhang sumilak. Semua itu merupakan perilaku alam dalam menyambut anugrah Sang Jagadnata bagi bumi Nusantara.

Sekar kinanti karya Gusti MN IV tersirat;

jebeng…canggahku, Anjasmoro, besuk ingsun bakal titip getih kang edi peni kang bakal jumeneng ratu ing tanah Jawa. Genepono lakumu telung padha (tiga langkah –3 tahun– untuk laku prihatin yg amat sangat berat) kanggo njangkepi tapa brata mu, ojo parang tumulih, supaya antuk pitulungan saking ngarsaning Gusti Kang Maha Wisesa. Ing mbesuk tanah Jawa nemahi gemah ripah loh jinawi adil makmur tata titi tentrem kertaraharja dadi keblating dunyo.

Cucu ku, Anjasmoro, kelak aku akan titip darah yang elok, yang akan menjadi ratu di tanah Jawa. Genapilah perjalanan hidupmu tiga langkah lagi, untuk memenuhi tapa bratamu, jangan ragu, supaya mendapatkan pertolongan Tuhan yang Maha Kuasa. Supaya kelak tanah Nusantara mengalami subur makmur melimpah, adil, tertib, tenteram, selamat selamanya, menjadi tolok ukur dan contoh untuk negara-negara di seluruh dunia.

Keterangan;

Telung podho maksudnya untuk melengkapi laku prihatin, supaya genap tujuh langkah (7; jawa; pitu= pitulungan; pertolongan Tuhan) yang 4 langkah adalah jumlah kaki sang ibu dan bapa yg telah lama dalam menempuh laku lara lapa, lara wirang, tapa brata, tapa ngrame, tapa mendhem, tapa ngeli.

Keterangan:

Tapa brata; mengekang semua hawa nafsu; nafsu lauwamah (hitam), amarah (merah), supiyah (kuning), untuk mencapai nafsul mutma’inah (putih).

Lara wirang; sering difitnah, dipermalukan, dihina, dicemooh

Tapa ngrame; ramai dalam bekerja (giat menolong sesama), sepi dalam pamrih (ikhlas).

Tapa mendhem; mengubur ingatannya, tidak pernah mengungkit-membangkit segala amal kebaikannya yang telah dilakukan kepada orang lain, dalam rangka hubungan dengan sesama manusia (hablum minan nas) dengan kadar keikhlasan yang mutlak.

Tapa ngeli; menghanyutkan diri ke dalam ‘aliran sungai’(kehendak Illahi) agar dapat mencapai muara dalam ‘lautan’ keberuntungan (kabegjan)

Kelak Sabdapalon dan Nayagenggong menitis sebagai Garujita dan Garumukti yg akan mengasuh kodratullah; Ratu Adil imam mahdi kalifatullah, panetep panatagama.

About these ads

About SABDå

gentleman, Indonesia Raya

Posted on September 11, 2008, in Ratu Adil Semakin Dekat and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 3.630 Komentar.

  1. @Bima
    Yang akan terjadi dalam waktu dekat di Jakarta bukan gempa kayaknya, Banjir… Mudah2an salah, baik gempa ataupun banjir..

  2. @Raja Phandita

    Alhamdulillah…

    @Acung

    Kemunculan Imam Mahdi

    Sebahagian orang Islam menganggap bahwa Imam Mahdi itu adalah mitos, ia bukan dari ajaran Islam tapi bagian dari cerita rakyat. Akan tetapi kalau kita mereferensi pada hadist-hadist Baginda Rasulullah saw, maka kita dapati bahwa Imam Mahdi adalah tokoh nyata yang Allah sudah sebutkan hampir 1500 tahun yang lalu melalui lidah Nabi Muhammad saw. Rasulullah saw bersabda:

    “Allah akan mengeluarkan dari persembunyiannya Al Mahdi (yaitu) dari kalangan kaum keluargaku sejurus sebelum hari kiamat walaupun kiamat itu hanya tinggal sehari saja. …. (HR Imam Ahmad)

    Hadist di atas bukan bermaksud bahwa bila Imam Mahdi sudah Zahir, maka kiamat akan segera datang. Akan tetapi Baginda Rasulullah saw memberitahukan kepada kita umatnya, bahwa dunia ini tidak akan Allah kiamatkan sebelum Al Mahdi zahir ke dunia ini. Artinya Imam Mahdi wajib atau pasti Allah zahirkan sebelum seluruh alam raya ini Allah hancurkan.

    Siapakah nama Imam Mahdi itu?

    Rasulullah saw sudah sebutkan di dalam sebuah hadist bahwa Imam Mahdi itu adalah seorang lelaki yang mempunyai nama yang sama dengan nama Baginda Rasulullah saw, yaitu Muhammad. Dan nama ayah Imam Mahdi itu seperti nama ayahnya, yaitu Abdullah. Jadi nama lengkap dari Imam Mahdi itu adalah “Muhammad bin Abdullah”. Rasulullah saw bersabda:

    “Seandainya tidak tinggal bagi dunia ini melainkan sehari saja, niscaya akan dipanjangkan oleh Allah hari itu sehingga dibangkitkan padanya seorang lelaki dari umatku atau ahli keluargaku, yang sama namanya seperti namaku dan nama ayahnya seperti nama ayahku” (At-Tarmizi)

    Imam Mahdi adalah orang yang telah Allah janjikan, karena disebut dalam hadist, sehingga Allah akan jaga garis keturunannya, sebagaimana Allah menjaga garis keturunan Baginda Rasulullah saw. Imam Mahdi adalah keturunan orang-orang mulia seperti Rasulullah saw dan Sayyidina Fatimah ra. Rasulullah bersabda:

    “Al Mahdi itu adalah salah seorang dari kaum keluargaku, Ahlul-bait” (Ibnu Majah)

    “Al Mahdi adalah dari keturunanku, dari anak cucu Fatimah”. (Abu Daud, Ibnu Majah)

    Ciri Fizikal Imam Mahdi

    Imam Mahdi mempunyai ciri-ciri fisik yaitu, kulit dan bentuk tubuhnya seperti orang arab dan di pipi kanannya ada tahi lalat. Gigi seri Imam Mahdi mempunyai jarak, dahinya lebar dan hidungnya mancung. Rasulullah saw bersabda:

    “Kulit Al Mahdi adalah seperti kulit orang arab, bentuk tubuhnya seperti bentuk tubuh orang Bani Israil, pipi kanannya terdapat tahi lalat dan kekhalifahannya diredhai oleh penduduk bumi, penduduk langit dan burung-burung di angkasa”. (Abu Nuaim & At Tabrani)

    “Sungguh Allah akan melahirkan seorang lelaki dari keturunanku, yang (antara sifat utamanya ialah) giginya mempunyai jarak, dahinya lebar, keadilannya sangat meliputi seluruh alam ….” (Abu Nuaim)

    “Al Mahdi adalah dari keturunanku, dahinya luas, hidungnya mancung. Dia memenuhkan bumi ini dengan keadilan…..(Abu Daud & Al Hakim)

    Cap Kenabian pada Bahu

    Dari keterangan Sahabat bahwa di tengah-tengah dua belikat Imam Mahdi terdapat tanda atau cap kenabian. Hal ini mirip dengan tanda yang ada pada Baginda Rasulullah saw. Orang Nasrani dan Yahudi di waktu itu akan membuktikan orang yang bernama Muhammad saw dengan melihat tanda ini.

    Cap kenabian itu besarnya seperti telur burung merpati, tulisannya jelas dan berwarna hitam. Bentuk tulisan itu menonjol keluar, bukan seperti tato yang cekung ke dalam. Cap kenabian ini bukan dibuat manusia dan tidak akan hilang. Di sekeliling cap kenabian itu ada bulu halus yang mengelilinginya. Sehingga tanda ini tidak akan ada yang bisa menirunya, hanya Baginda Rasulullah saw dan Imam Mahdi saja yang Allah beri keistimewaan mempuyai cap kenabian di antara dua belikat, di belakang badan mereka. (Cap kenabian pada Imam Mahdi bukan menandakan dia seorang nabi seperti Nabi Muhammad saw, tetapi tanda dari Allah untuk menentukan bahwa dialah Imam Mahdi-red).

    Imam Mahdi ketika “zahir” wajahnya berseri-seri sehingga menggembirakan siapa saja yang melihatnya. Dan kitika “zahir” nanti usianya 40 tahun. Rasulullah saw bersabda:

    “Al Mahdi adalah dari anakku, dia berusia 40 tahun. Wajahnya bagaikan bintang yang gemerlapan, pipi kanannya terdapat tahi lalat, kulitnya kemerah-merahan seolah-olah dia adalah keturunan Bani Israil, dia akan mengelurkan harta karun dan akan menundukkan kota-kota maksiat”. (Abu Nuaim)

    Keturunan Suku Quraisy

    Imam Mahdi berasal dari suku Quraisy, karena semua khalifah berasal dari suku Quraisy. Dan Baginda Rasulullah saw sebutkan akan ada 12 khalifah sepeninggalnya nanti. Dan para ulama sudah mencatat ke 12 khalifah itu yaitu: 1. Khalifah Abu Bakar As-Siddiq ra, 2. Umar bin al Khattab ra, 3. Khalifah Ustman bin Affan ra, 4. Khalifah Ali bin Abi Talib kmw, 5. Sayyidina Hasan bin Ali ra, 6. Sayyidina Muawiyah bin Abu Sofyan, 7. Sayyidina Abdullah bin az Zubair ra, 8. Khalifah Umar bin Abdul Aziz, 9. Sultan Muhammad Al Fateh, 10.Syuaib bin Shaleh At-Tamimi, 11.Imam Mahdi, Muhammad bin Abdullah, 12. Al Qahtani. Rasulullah saw bersabda:

    “Agama ini akan terus berkuasa sehingga naik memerintah kamu sebanyak 12 orang Amir (Khalifah), dan setiap manusia amat mencintai setiap mereka itu. “Kemudian aku mendengar Nabi saw menyebutkan sesuatu yang aku tidak seberapa jelas lalu aku bertanya kepada bapakku, “Apa yang Baginda sebutkan?” Jawabnya,”Mereka semua adalah dari kaum Quraisy”. (Abu Daud)

    Al Mahdi al Muntazar, Imam yang kita tunggu-tunggu itu adalah pemimpin kebangkitan Islam di akhir zaman. Di tangannya dunia dan seluruh alam akan makmur, aman dan damai. Dialah pemimpin yang akan mengembalikan sistem dunia yang karut-marut, kepada sistem Islam yang selamat menyelamatkan. Berbahagialah orang yang hidup di zamannya dan berjuang bersamanya.*** Wallahu A’lam.

    Diulang:

    Cap kenabian itu besarnya seperti telur burung merpati, tulisannya jelas dan berwarna hitam. Bentuk tulisan itu menonjol keluar, bukan seperti tato yang cekung ke dalam. Cap kenabian ini bukan dibuat manusia dan tidak akan hilang. Di sekeliling cap kenabian itu ada bulu halus yang mengelilinginya. Sehingga tanda ini tidak akan ada yang bisa menirunya, hanya Baginda Rasulullah saw dan Imam Mahdi saja yang Allah beri keistimewaan mempuyai cap kenabian di antara dua belikat, di belakang badan mereka. (Cap kenabian pada Imam Mahdi bukan menandakan dia seorang nabi seperti Nabi Muhammad saw, tetapi tanda dari Allah untuk menentukan bahwa dialah Imam Mahdi-red).

  3. @Raja Phandita

    Alhamdulillah…

    @Acung

    Kemunculan Imam Mahdi

    Sebahagian orang Islam menganggap bahwa Imam Mahdi itu adalah mitos, ia bukan dari ajaran Islam tapi bagian dari cerita rakyat. Akan tetapi kalau kita mereferensi pada hadist-hadist Baginda Rasulullah saw, maka kita dapati bahwa Imam Mahdi adalah tokoh nyata yang Allah sudah sebutkan hampir 1500 tahun yang lalu melalui lidah Nabi Muhammad saw. Rasulullah saw bersabda:

    “Allah akan mengeluarkan dari persembunyiannya Al Mahdi (yaitu) dari kalangan kaum keluargaku sejurus sebelum hari kiamat walaupun kiamat itu hanya tinggal sehari saja. …. (HR Imam Ahmad)

    Hadist di atas bukan bermaksud bahwa bila Imam Mahdi sudah Zahir, maka kiamat akan segera datang. Akan tetapi Baginda Rasulullah saw memberitahukan kepada kita umatnya, bahwa dunia ini tidak akan Allah kiamatkan sebelum Al Mahdi zahir ke dunia ini. Artinya Imam Mahdi wajib atau pasti Allah zahirkan sebelum seluruh alam raya ini Allah hancurkan.

    Siapakah nama Imam Mahdi itu?

    Rasulullah saw sudah sebutkan di dalam sebuah hadist bahwa Imam Mahdi itu adalah seorang lelaki yang mempunyai nama yang sama dengan nama Baginda Rasulullah saw, yaitu Muhammad. Dan nama ayah Imam Mahdi itu seperti nama ayahnya, yaitu Abdullah. Jadi nama lengkap dari Imam Mahdi itu adalah “Muhammad bin Abdullah”. Rasulullah saw bersabda:

    “Seandainya tidak tinggal bagi dunia ini melainkan sehari saja, niscaya akan dipanjangkan oleh Allah hari itu sehingga dibangkitkan padanya seorang lelaki dari umatku atau ahli keluargaku, yang sama namanya seperti namaku dan nama ayahnya seperti nama ayahku” (At-Tarmizi)

    Imam Mahdi adalah orang yang telah Allah janjikan, karena disebut dalam hadist, sehingga Allah akan jaga garis keturunannya, sebagaimana Allah menjaga garis keturunan Baginda Rasulullah saw. Imam Mahdi adalah keturunan orang-orang mulia seperti Rasulullah saw dan Sayyidina Fatimah ra. Rasulullah bersabda:

    “Al Mahdi itu adalah salah seorang dari kaum keluargaku, Ahlul-bait” (Ibnu Majah)

    “Al Mahdi adalah dari keturunanku, dari anak cucu Fatimah”. (Abu Daud, Ibnu Majah)

    Ciri Fizikal Imam Mahdi

    Imam Mahdi mempunyai ciri-ciri fisik yaitu, kulit dan bentuk tubuhnya seperti orang arab dan di pipi kanannya ada tahi lalat. Gigi seri Imam Mahdi mempunyai jarak, dahinya lebar dan hidungnya mancung. Rasulullah saw bersabda:

    “Kulit Al Mahdi adalah seperti kulit orang arab, bentuk tubuhnya seperti bentuk tubuh orang Bani Israil, pipi kanannya terdapat tahi lalat dan kekhalifahannya diredhai oleh penduduk bumi, penduduk langit dan burung-burung di angkasa”. (Abu Nuaim & At Tabrani)

    “Sungguh Allah akan melahirkan seorang lelaki dari keturunanku, yang (antara sifat utamanya ialah) giginya mempunyai jarak, dahinya lebar, keadilannya sangat meliputi seluruh alam ….” (Abu Nuaim)

    “Al Mahdi adalah dari keturunanku, dahinya luas, hidungnya mancung. Dia memenuhkan bumi ini dengan keadilan…..(Abu Daud & Al Hakim)

    Cap Kenabian pada Bahu

    Dari keterangan Sahabat bahwa di tengah-tengah dua belikat Imam Mahdi terdapat tanda atau cap kenabian. Hal ini mirip dengan tanda yang ada pada Baginda Rasulullah saw. Orang Nasrani dan Yahudi di waktu itu akan membuktikan orang yang bernama Muhammad saw dengan melihat tanda ini.

    Cap kenabian itu besarnya seperti telur burung merpati, tulisannya jelas dan berwarna hitam. Bentuk tulisan itu menonjol keluar, bukan seperti tato yang cekung ke dalam. Cap kenabian ini bukan dibuat manusia dan tidak akan hilang. Di sekeliling cap kenabian itu ada bulu halus yang mengelilinginya. Sehingga tanda ini tidak akan ada yang bisa menirunya, hanya Baginda Rasulullah saw dan Imam Mahdi saja yang Allah beri keistimewaan mempuyai cap kenabian di antara dua belikat, di belakang badan mereka. (Cap kenabian pada Imam Mahdi bukan menandakan dia seorang nabi seperti Nabi Muhammad saw, tetapi tanda dari Allah untuk menentukan bahwa dialah Imam Mahdi-red).

    Imam Mahdi ketika “zahir” wajahnya berseri-seri sehingga menggembirakan siapa saja yang melihatnya. Dan kitika “zahir” nanti usianya 40 tahun. Rasulullah saw bersabda:

    “Al Mahdi adalah dari anakku, dia berusia 40 tahun. Wajahnya bagaikan bintang yang gemerlapan, pipi kanannya terdapat tahi lalat, kulitnya kemerah-merahan seolah-olah dia adalah keturunan Bani Israil, dia akan mengelurkan harta karun dan akan menundukkan kota-kota maksiat”. (Abu Nuaim)

    Keturunan Suku Quraisy

    Imam Mahdi berasal dari suku Quraisy, karena semua khalifah berasal dari suku Quraisy. Dan Baginda Rasulullah saw sebutkan akan ada 12 khalifah sepeninggalnya nanti. Dan para ulama sudah mencatat ke 12 khalifah itu yaitu: 1. Khalifah Abu Bakar As-Siddiq ra, 2. Umar bin al Khattab ra, 3. Khalifah Ustman bin Affan ra, 4. Khalifah Ali bin Abi Talib kmw, 5. Sayyidina Hasan bin Ali ra, 6. Sayyidina Muawiyah bin Abu Sofyan, 7. Sayyidina Abdullah bin az Zubair ra, 8. Khalifah Umar bin Abdul Aziz, 9. Sultan Muhammad Al Fateh, 10.Syuaib bin Shaleh At-Tamimi, 11.Imam Mahdi, Muhammad bin Abdullah, 12. Al Qahtani. Rasulullah saw bersabda:

    “Agama ini akan terus berkuasa sehingga naik memerintah kamu sebanyak 12 orang Amir (Khalifah), dan setiap manusia amat mencintai setiap mereka itu. “Kemudian aku mendengar Nabi saw menyebutkan sesuatu yang aku tidak seberapa jelas lalu aku bertanya kepada bapakku, “Apa yang Baginda sebutkan?” Jawabnya,”Mereka semua adalah dari kaum Quraisy”. (Abu Daud)

    Al Mahdi al Muntazar, Imam yang kita tunggu-tunggu itu adalah pemimpin kebangkitan Islam di akhir zaman. Di tangannya dunia dan seluruh alam akan makmur, aman dan damai. Dialah pemimpin yang akan mengembalikan sistem dunia yang karut-marut, kepada sistem Islam yang selamat menyelamatkan. Berbahagialah orang yang hidup di zamannya dan berjuang bersamanya.*** Wallahu A’lam.

    Diulang:

    Cap kenabian itu besarnya seperti telur burung merpati, tulisannya jelas dan berwarna hitam. Bentuk tulisan itu menonjol keluar, bukan seperti tato yang cekung ke dalam. Cap kenabian ini bukan dibuat manusia dan tidak akan hilang. Di sekeliling cap kenabian itu ada bulu halus yang mengelilinginya. Sehingga tanda ini tidak akan ada yang bisa menirunya, hanya Baginda Rasulullah saw dan Imam Mahdi saja yang Allah beri keistimewaan mempuyai cap kenabian di antara dua belikat, di belakang badan mereka. (Cap kenabian pada Imam Mahdi bukan menandakan dia seorang nabi seperti Nabi Muhammad saw, tetapi tanda dari Allah untuk menentukan bahwa dialah Imam Mahdi-red).

    Diulang lagi:

    Sehingga tanda ini tidak akan ada yang bisa menirunya, hanya Baginda Rasulullah saw dan Imam Mahdi saja yang Allah beri keistimewaan mempuyai cap kenabian di antara dua belikat, di belakang badan mereka.

  4. Sayang sekali ya…kang, kok Imam Mahdinya mesti orang arab. Kenapa nggak orang Jawa saja?

  5. Imam Mahdi itu berasal dari Indonesia, keturunan nabi Muhamad SAW…..
    Nabi Muhamad SAW mengisyaratkan itu di dalam hadits-hadits nya…

  6. @Setyo Hajar Dewantoro

    Sayang sekali ya…kang, kok Imam Mahdinya mesti orang arab. Kenapa nggak orang Jawa saja?

    QS 7. 160-161
    Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku yang masing-masingnya berjumlah besar dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya: “Pukullah batu itu dengan tongkatmu!”. Maka memancarlah daripadanya duabelas mata air. Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum masing-masing. Dan Kami naungkan awan di atas mereka dan Kami turunkan kepada mereka manna dan salwa. (Kami berfirman); “Makanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rezekikan kepadamu”. Mereka tidak menganiaya Kami, tetapi merekalah yang selalu menganiaya dirinya sendiri.

    Diulang:

    “Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum masing-masing. ”

    Dan (ingatlah), ketika dikatakan kepada mereka (Bani Israel): “Diamlah di negeri ini saja (Baitulmakdis) dan makanlah dari (hasil bumi) nya di mana saja kamu kehendaki.”. Dan katakanlah:
    “Bebaskanlah kami dari dosa kami dan masukilah pintu gerbangnya sambil membungkuk, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu”. Kelak akan Kami tambah (pahala) kepada orang-orang yang berbuat baik.

    Diulang:

    “Bebaskanlah kami dari dosa kami dan masukilah pintu gerbangnya sambil membungkuk, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu”.

    Diulang lagi:

    “masukilah pintu gerbangnya sambil membungkuk”

    QS. 19. 93-98
    Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.

    Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti.

    Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.

    Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.

    Maka sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an itu dengan bahasamu, agar kamu dapat memberi kabar gembira dengan Al Qur’an itu kepada orang-orang yang bertakwa, dan agar kamu memberi peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang.

    Dan berapa banyak telah Kami binasakan umat-umat sebelum mereka. Adakah kamu melihat seorang pun dari mereka atau kamu dengar suara mereka yang samar-samar?

    Diulang:

    “Adakah kamu melihat seorang pun dari mereka atau kamu dengar suara mereka yang samar-samar?”

  7. Diulang:

    Rasulullah saw bersabda:
    “Agama ini akan terus berkuasa sehingga naik memerintah kamu sebanyak 12 orang Amir (Khalifah), dan setiap manusia amat mencintai setiap mereka itu. “Kemudian aku mendengar Nabi saw menyebutkan sesuatu yang aku tidak seberapa jelas lalu aku bertanya kepada bapakku, “Apa yang Baginda sebutkan?” Jawabnya,”Mereka semua adalah dari kaum Quraisy”. (Abu Daud)

    QS. 19. 98
    Dan berapa banyak telah Kami binasakan umat-umat sebelum mereka. Adakah kamu melihat seorang pun dari mereka atau kamu dengar suara mereka yang samar-samar?

    • Mbok sekalian dijelaskan tafsirnya kang, supaya orang seperti saya ini ndak bingung.Kalau menurut saya Qur’an itu ndak selalu ditafsir keluar sehingga hanya menjadi cerita, kadang Qur’an juga harus ditafsir kedalam diri sendiri biar ga ngombro2.
      Contohnya ada ayat yang menceritakan orang yahudi suka membunuh rosul2nya, lha kalu difahami sekarang ini kan kurang up to date, jangankan membunuh nabi atau rosul wong suruh nyembelih kambing aja kita takut kok.

  8. Kang Bima yang saya hormati…..
    Keyakinan akan kehadiran Imam Mahdi, sebagaimana keyakinan akan Dajjal, sebenarnya memang merupakan “akidah standar” mayoritas Muslim. Dan “akidah standar” ini ditopang oleh keberadaan Ayat2 Al Qur’an dan Hadits, yang sebagiannya sudah panjenengan sebutkan.

    Yang ingin saya katakan begini: Apakah akidah yang berupa nujuman demikian pasti berlaku universal? Bagaimana jika masyarakat atau peradaban lain juga punya nujuman namun berbeda, seperti masyarakat Jawa memiliki nujuman tentang hadirnya Satria Piningit. Yang mana yang benar, yang akan muncul itu adalah Imam Mahdi, atau Satria Piningit. Pada akhirnya, setiap orang akan berpegang pada keyakinan masing2, lepas itu benar atau salah.

    Berbicara tentang keyakinan, sebetulnya kebenarannya terbatas untuk kita sendiri. Kalau Mas Bima yakin dengan kehadiran Imam Mahdi yang harus keturunan nabi, ya mangga…mudah2an panjenengan mendapatkan manfaat dari keyakinan itu.

    Saya pribadi…tidak percaya bahwa hal-hal yang baik harus selalu dikaitkan, menyangkut, atau berasal dari Arab……

    Kebangkitan manusia Jawa, kemakmuran bagi manusia Jawa, menurut hati nurani saya, hanya bisa diraih jika manusia Jawa itu sendiri kembali kepada kejawaannya, tidak lagi silau oleh kebenaran dari luar – yang sebenarnya bersifat subyektif historis terkait dengan dimana kebenaran itu diturunkan dan oleh siapa ia disebarkan.

    Apakah hanya orang Arab yang bisa dapat wahyu? Apakah Tuhan itu hanya hadir kepada orang Arab? Saya tidak percaya pada prasangka demikian!

    Siapapun Anda, Tuhan itu bisa hadir dan memberikan Cahaya Kebenaran-Nya.

    Sebagai orang Jawa, saya sudah buktikan bisa mulai merasakan Cahaya Kebenaran itu…dengan cara yang tidak mesti sama dengan cara kenabian ala Arab. (Tentu saja, saya tak perlu mengaku sebagai nabi…karena dalam tradisi Jawa, menerima cahaya kebenaran iitu bukan sesuatu yang terlampau sulit dan hanya hak satu dua orang…siapapun bisa meraihnya)

    Semoga kita semua pada akhirnya bisa terlimpahi cahaya itu.

    SHD

  9. Tuhan adalah bagi seluruh alam dimanapun berada, karena memang DIA lah yang menciptakan kehidupan ini semua, dan yang mengijinkan segala sesuatu terjadi dalam keyakinan dan agama yang dianut oleh hamba Nya,

    Bila standard agama itu menjadi mutlaq berkonotasi Timur Tengah, mengapa pula hal tsb harus disana dimulainya suatu perdaban sebuah kehidupan dari sejak manusia pertama ADAM, dan muncul nya semua para Nabi, kitab suci, tempat-tempat suci, hingga pembunuhan pertama kali terhadap Habil oleh Qobil, dst…dst, hingga peperangan yang tak pernah usai sampai detik ini di wilayah timur tengah…

    Dan berbagai pertanyaanpun banyak bisa di ajukan, mengapa semua itu tidak terjadi di SUKU ASMAT irian jaya, di Kutub utara suku Eskimo, ataupun di JAWA…???.

    Perlu suatu kearifan dan kebijakan dalam memahami kehidupan ini, hingga mampu menjawab semua tanda tanya dalam fikiran, mengapa semua itu harus selalu wilayah Timur Tengah yang menjadi pusat permasalahan, hingga mengakibatkan berbagai sentimen yang telah melahirkan dan menumbuhkan sikap sikap egoisme, fanatisme, dan hal-hal lainnya, sehingga banyak manusia yang kurang memahami atas Sifat Ke Maha Adilan Tuhan.

    Sepertinya terlalu sempit fikiran manusia untuk memahami keyakinannya dalam hikmah kehidupan ini, kecuali Tuhan memberi petunjuk dalam hatinya.

  10. ini komen pertama setelah jd pembaca yg baik selama 5 bulan yg lalu..
    komen saudara bima sangat haq hanya sayang disini yg punya blog aliran kejawen jadi tentu ditentang secara halus. saya yakin semua pembaca blog ini sepakat bhw yg pake nama setyo hajar dewantoro tentunya nama lain dr yg punya blog ini..maklum agar dianggap tuan rumah yg baik tdk brani terang2an menolak komen yg tdk disetujui..hehehe
    kpd saudara bima teruskan pencerahanmu..cerahkan sedalam2nya agr ki sabda cs tobat jgn bangga dgn ilmu kejawen nya,merasa plg pintar,benar tp menolak Allah SWt dan nabi SAW…

    • yth. mengaku waras,
      ketahuilah justru kebrada,an kami di sini tdk suka mengaku waras,
      karena waras tdk butuh pengakuan tp di akui olh halayak umum.
      dan justru kami belajar utk mengenal Tuhan yang maha pengasih lg penyayang beserta utusan 2nya.
      dan kamipun menghargai setiap pendapt org lain dgn tujuan kedamaian dan ketentraman dlm lingkup persatuan dan kesatuan.

      marilah kita mengambil pelajaran seorg pemulung, yg mana beliau [ pemulung] selalu mengambil hikmah dan manfa,at dari setiap apa yg di temui. dan kita tahu itu semua yg di cari adlh sampah.
      tp mereka mampu utk mengambil manfa,atnya. itu lebih baik.
      dari pda mengobral dalil tp tidk mampu mengambil hikmah dan manfa,at terhdap dirinya sendiri.
      kurang lebihnya mohon ma,af yg sebesar -nya
      rahayu.

    • satu lagi yg mengaku Santri Waras.
      kamu membedakan antara Mas Sabdo sama Mas Setyo hajar dewantoro
      belum mampu tp berani mengaku Waras.

    • tanah yg dijanjikan

      kl km kan hrs pake Triakan A***** A**** dan pake snjata tjm,lalu maen tebas…brasssssh.
      Hore TUHAN mnyukai drh orang sesat ini,Qt tlh brjihad,maka Aq tinggal nungu SURGA.
      hahhhh SURGA>>>?
      mkn tuh surga brwrna kuning yg keluar dr lubang pntatmu.

  11. Diulang:

    Imam Mahdi mempunyai ciri-ciri fisik yaitu, kulit dan bentuk tubuhnya seperti orang arab dan di pipi kanannya ada tahi lalat. Gigi seri Imam Mahdi mempunyai jarak, dahinya lebar dan hidungnya mancung. Rasulullah saw bersabda:

    “Kulit Al Mahdi adalah seperti kulit orang arab, bentuk tubuhnya seperti bentuk tubuh orang Bani Israil, pipi kanannya terdapat tahi lalat dan kekhalifahannya diredhai oleh penduduk bumi, penduduk langit dan burung-burung di angkasa”. (Abu Nuaim & At Tabrani)

    “Sungguh Allah akan melahirkan seorang lelaki dari keturunanku, yang (antara sifat utamanya ialah) giginya mempunyai jarak, dahinya lebar, keadilannya sangat meliputi seluruh alam ….” (Abu Nuaim)

    “Al Mahdi adalah dari keturunanku, dahinya luas, hidungnya mancung. Dia memenuhkan bumi ini dengan keadilan…..(Abu Daud & Al Hakim)

    Diulang lagi:

    “keturunan Rasulullah”

    “kulit SEPERTI orang arab”…—> beriman kepada ajaran Nabi Muhammad saw

    “bentuk tubuh SEPERTI Bani Israil”…—> beriman kepada ajaran Nabi Isa as

    *********************************************************

    di pipi kanannya ada tahi lalat —> mendekati titik akhir zaman

    dahinya lebar —> penjelasannya luas meliputi bumi hingga ke kampung-kampung, meliputi dunia dan alam semesta

    hidungnya mancung —> tajam untuk membaca keadaan

    Gigi seri Imam Mahdi mempunyai jarak —> memegang teguh aqidah agama sekuat gigitan gigi geraham, pada negeri yang cukup jauh dari Arab dan Israel

    keadilannya sangat meliputi seluruh alam —> memegang teguh neraca keadilan Allah

    kekhalifahannya diredhai oleh penduduk bumi, penduduk langit dan burung-burung di angkasa —> memahami yang nyata maupun yang ghaib

    Seorang Imam (ulil amri) yang memahami ibadahnya seluruh makhluk ciptaan Allah, yang memimpin ibadah antara masjidil haram dan masjidil aqsa menuju sidratul muntaha.

    Setiap makhluk memahami cara sembahyangnya seperti burung-burung yang mengembangkan sayapnya sambil bertasbih

    QS. 24. 41
    Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.

  12. Semua ilmu pengetahuan di dunia ini adalah bahagian kecil sekali dari Pengetahuan Allah.

    Allah hanya berkenan memberikan sedikit pengetahuan ghaib itu kepada manusia yang dikehendaki-Nya. Manusianya lah yang mengira ilmu pengetahuan mereka bisa mencapai Pengetahuan Allah.

    Bagaimana mungkin manusia dapat mengklaim bahwa pengetahuannya dapat meliputi alam semesta, sedangkan pengetahuan yang sangat luas yang terkandung dalam Al Qur’an itu, tak kan habis dituliskan meskipun lautan menjadi tintanya.

    • Yth.saudara Bima.
      disinalah pentingnya Kesadaran akan ILING DAN WASPADA.
      akan siapa manusia itu.
      yg tak lebih adalh seonggok daging yg mendptkn kemurahan-NYA.

      utk itu wjib kita utk belajar dan berfikir trhadap apa -apa yg ada di sekitar kita.
      yg bermanfa,at utk membuka mata hati serta akal kita AKAN BETAPA BESARNYA KEKUASA,AN TUHAN atas alam semesta. sehingga tidak FANATIK BUTA.
      dan mau mendengar serta mengambil hikmah dari sesama.

      menengok ttg kehidupan LEBAH.
      yg setiap hari tanpa lelah menghampiri berbagai macam bunga utk di ambil sari tuk di jadikan madu, tnpa memandang bunga apa itu,
      saya kira itu cukup bg bhan renungan kita
      Lihat Surah AN NAml.

      bukan yg berkoar 2, dgn dalil tp tidak bisa mengambil hikmah dan manfa,at dri dalilnya.
      masalah klaim ini itu, hanya perasa,an mu saja ,atau mungkin itu yg terjdi sa,at ini pdamu.
      mengingat kita manusia sadar
      AKAN KEDLOIFAN KITA ,KEBODOHAN KITA, KEFAKIRAN KITA.
      tentunya semua atas kemurahan d kekuasa,an-NYA
      kurang lebihnya mohon ma,af yg sebesar -nya.
      rahayu.

  13. Bima said:
    “keturunan Rasulullah”

    “kulit SEPERTI orang arab”…—> beriman kepada ajaran Nabi Muhammad saw

    “bentuk tubuh SEPERTI Bani Israil”…—> beriman kepada ajaran Nabi Isa as

    *********************************************************

    di pipi kanannya ada tahi lalat —> mendekati titik akhir
    dahinya lebar —> penjelasannya luas meliputi bumi hingga ke kampung-kampung, meliputi dunia dan alam semesta

    hidungnya mancung —> tajam untuk membaca keadaan

    Gigi seri Imam Mahdi mempunyai jarak —> memegang teguh aqidah agama sekuat gigitan gigi geraham, pada negeri yang cukup jauh dari Arab dan Israel

    keadilannya sangat meliputi seluruh alam —> memegang teguh neraca keadilan Allah
    dst…

    uraian saudara Bima sungguh menarik terlebih tafsiran hadist diatas, jika berkenan saya minta emailnya krn pingin bertanya lbh khusus dan mendalam.

  14. Ki Sabda dan Sesepuh semuannya, numpang menyimpulkan:

    KESIMPULANNYA:
    1. Rasulullah tidak pernah melakukan indoktrinasi agar umatnya “memfotokopi” apa yang dilakukannya, Beliau hanya mencontohkan dan meneladankan, tanpa melakukan pemaksaan. Sebab beliau tahu persis, bahwa setiap kita pasti memiliki pembawaan dan kemampuan yang berbeda-beda. Yang penting substansinya bukan ritualnya. Abu Bakar berbeda dengan Umar, dengan Usman, dan dengan Ali, dalam semua aktifitasnya. Nabi tidak pernah memaksa jubah mereka seragam, atau panjang rambut/jenggotnya, atau tutur katannya, cara makan, atau tidurnya, bahkan sampai cara sholat pun Rasulullah hanya mengatakan:”shalatlah kalian sebagaimana melihat aku shalat”. Tidak pernah melakukan pelatihan secara khusus untuk menyeragamkan gerakan sholat sedetil-detilnya. Kurang lebih saja.

    2. Berkali-kali Tuhan menegaskan bahwa untuk bisa beragama dengan baik, Kita harus memiliki kecerdasan tinggi dan menggunakan akal secara maksimal. Orang-orang yang tidak menggunakan kecerdasan dan akalnya dalam beragama, mereka dijamin tidak akan bisa mengambil pelajaran dari firman-firman Tuhan. Jadi , secara substansial sebenarnya tidak ada pertentangan antara agama dengan ilmu pengetahuan.

    3. Berkat teknologi Kita dapat melihat kondisi langit di Mekah pada tanggal 1 Muharam 1 Hijrah bertepatan dengan hari Jumat tanggal 16 Juli 622 Masehi, buka di program http://www.stellarium.org/ 45.7 MB; lalu masukkan koordinat kota Mekah: 2130 N dan 3954 E, kondisikan Waktu dalam komputer dengan Waktu Mekkah. Pada Hari hijrah, Ka’bah tepat dibawah matahari, jadi Para Sufi selalu berkata” Dengan memulai perjalanan Taubat, melihat Qalb yang telah Kosong, manusia Mi’raj (vertikal) menuju Allah.
    Menjelang Matahari terbenam di tanggal tersebut di langit Makkah tampak bahwa posisi planet Mars, Neptunus, Uranus, Bulan, Merkurius, Venus, Saturnus, dan Matahari ditambah bintang Regulus – Nyaris ada dalam Garis Lurus dalam ruang pandang sempit sekitar 45 derajat.

    4. Mengingatkan, Saudara Muslim untuk Arah Kiblat dapat dilakukan pada tanggal 28 Mei 2010 pada pukul 16:18 atau pada bulan 16 Juli 2010. Matahari tepat di atas Ka’bah. Dengan sebilah tongkat dengan panjang lebih kurang 1 meter dan diberdirikan tegak ditempat yang datar dan mendapatkan sinar matahari. Toleransi dapat dilakuan pada H-1 dan H+1 dengan toleransi Waktu +/- 2 menit.

    Trimakasih Banyak Ki Sabda dan Sesepuh di padepokan Ki Sandalangit

    Salam Buat Keluarga
    Wassalam

  15. @SantriGendeng

    Itulah yang membedakan anda dengan lebah…

    lebah dijadikan satu umat saja oleh Allah, sedangkan manusia berasal dari satu umat…

    Kalau hendak men-teladani lebah, kembali lah kepada satu umat yang di Ridhoi Allah. Umat yang berpegang teguh kepada jalan yang lurus, yakni jalan lurus shirotol mustaqim.

    Bukankah lebah yang terbang berliku-liku, pada akhirnya harus membungkuk dan tunduk lurus ketika mengambil sari bunga yang dihinggapinya?! Inilah hikmah yang tidak dapat anda campur-adukkan dengan perasaan itu. Hikmah yang akan anda peroleh apabila anda mengetahui sembahyang dan tasbihnya lebah itu.

    • Yth.Mas Sabda.
      serta saudara semua yg saya hormati.

      teruntuk Yth.saudara Bima.
      sebelumnya Mohon ma,af.
      dan terimakasih atas ulasannya.
      serta marilah kita utk saling menghormati pendapt serta sudut pandang org lain ,dgn menjauhkan EGO PRIBADI maupun GOLONGAN.
      demi mencapai kesadaran sejati,
      dan marilah kita kembali INTROPEKSI diri ,mengingat di blog ini, utk umum , jadi kita gak bisa memaksakan kehendak pribadi maupun golongan , utk pembenaran suatu keyakinan terhdp golongan tertentu, dgn MERABA -RABA perasa,an dan keyakinan org lain.
      karena itu semua bukan jalan utk kita semakin dekat pada-NYA tp justru sebaliknya.

      maka di situ saya contohkan lebah yg mengambil sari bunga tanpa membedakan bunga apa, begitu jg ketika minum di air meski di comberanpun dia [lebah] tetap mengambil manfa,atnya. begitulah seharusnya manusia hidup.

      dan alangkah damainya bumi ini , jika penduduknya saling mengasihi dan menyayangi, tanpa mengkultuskan suatu golongan tertentu.
      atau MERASA jd manusia yg paling benar, karena sikap MERASA ; adlh penyakit , yg jika di biarkan ,akan membuat KEHANCURAN amal perbuatan kita masing 2, sekaligus penduduk alam semesta.

      mas bima ,mohon ma,af, marilah kita jaga persatuan dan kesatuan antar umat beragama, demi terciptanya ; nusantara yg gemahripah loh jinawi ,adil dan makmur,yg kita cita-citakan ,utk generasi penerus kita ,anak cucu kita.
      Semoga ; Sang pencipta [ALLAH] YG Maha Pengasih lg Penyayang dan Pemurah, mengabulkan serta meridloi Do,a serta cita -cita kita semua.
      atas kesalahan yg saya sengaja maupun tidak mohon ma,af yg sebesar -nya.
      RAHAYU.

  16. @Checkpoint

    Alhamdulillah…

    @Santri Waras

    Terima kasih sudah berkenan untuk berbagi ilmu pengetahuan…Insya Allah kita selalu berada dalam Ridho-Nya. Silahkan anda berikan email anda dalam forum ini agar saya dapat menyampaikan salam kepada anda.

    Kepada Ki Sabda dan Sesepuh lainnya, mohon maaf apabila terdapat uraian yang kurang berkenan. Wassalam.

  17. @SantriGendeng

    Justru itulah, sebagai hamba Allah kita berkewajiban mempelajari kebenaran yang sesungguhnya. Kebenaran yang tidak bisa ditawar-tawar dengan pemikiran manusia itu sendiri. Kebenaran yang hakiki yang hanya ada satu kebenaran. Tidak lah mungkin semua pendapat yang berbeda adalah benar, karena pasti dan mutlak hanya ada satu agama yang benar. Tidak mungkin semua agama benar, karena Allah pasti hanya menurunkan satu agama yang benar.

    Oleh karena itulah manusia diperintahkan untuk menggunakan akalnya untuk berfikir. Untuk mendekati akal yang seimbang dan sempurna.

    Anda menerapkan perumpamaan lebah sebagai satu umat terhadap manusia yang terdiri dari berbagai umat. Tidaklah demikian halnya. Anda sedikit bias memahami teladan lebah itu.

    Lebah itu adalah satu umat, bunga adalah tempat mereka beribadah, dan madu itu adalah hasil ibadah mereka. Sama halnya manusia muslim adalah satu umat, mesjid adalah tempat ibadahnya, dan amalan adalah hasil ibadah mereka. Tidaklah tepat apabila perumpamaan ini anda terapkan pada manusia yang berbeda agama (berbeda umat).

    Diulang lagi:

    LEBAH ITU SATU UMAT
    BUNGA adalah TEMPAT IBADAH mereka
    MADU adalah hasil IBADAH mereka

    Bedakanlah antara rasa ego dengan menyampaikan kebenaran…
    Bedakanlah antara perasaan dan penjelasan…

    Lebah pun dalam ibadahnya tidak merasa yang paling benar, tapi dia memang berada dalam kebenaran itu. Lebah menyampaikan ibadahnya itu melalui MADU yang dihasilkannya kepada MANUSIA. manusia adalah UMAT YANG LAIN bagi si lebah. Tidaklah si lebah dikatakan sebagai EGO dan MEMAKSAKAN KEHENDAK…

    • Yth.Saudaraku Bima.,
      dan saudara -saudara semua yg saya hormati.

      kang bima , mari kita bicara dgn hati nurani yg hening , bkn dgn pembenaran akal,yg terkotori oleh kepentingan,yg di boncengi oleh nafsu,

      namun sebelumnya, saya pun mengucapkan terimakasih atas semua ulasan, kang bima.semoga bermanfa,at bg siapa saja yg mau mengambil manfa,atnya.

      mengenai LEBAH, di situ saya tidak memaksakan pendpt saya utk di benarkan, karna saya hanya mengajak utk kita renungi bersama.

      yg intinya ; jika ada 10 org ,lalu kita suruh tuk merenungi, setelah itu , kita tanya hasilnya, tentu saja ; uraiannya berbeda-beda.

      di situlah kita harus bijaksana dlm memahami pendpt org lain, tanpa harus mengklaim dan menghardik, dan menganggap diri kita yg paling suci / yg paling benar.

      apapun pendapat serta sudut pandang sampean , dgn segenap kerendahan hati ,saya tetap menghormati.
      namun masih ada yg perlu kita perhatikan yaitu ; persatuan dan kesatuan utk nusantara tercinta. dgn caramenghormati setiap sudut pandang org lain.
      sesuai dgn cita -cita pemilik gubug ini ; yaitu.
      MEMBANGUN BUMI NUSANTARA YG BERBUDI PEKERTI LUHUR.

      jika kita tetap pingin menang sendiri, dgn dogma -dogma kita, maka tak hayal negri ini akan hancur.
      mari kita tengok dan belajar pada AFGANISTAN,
      karna negri ini bukan milik satu golongan.
      itulah mengapa saya risi d prihatin jika mendengar saudara kita, yg dgn ringannya mengklaim menghardik,dgn mengatasnamakan AGAMA, yg di sertai dalil, tpi bukan pada tempatnya.

      jika kita mau meneladani Sang USWATUN HASANAH , [ MUHAMMAD .SAW.] maka
      seperti yg banyak di kisahkan ,BELIAU tidak pernah memaksa / menghujat golongan lain, meskipun ABU JAHAL DAN ABU LAHAB ,itu family ROSUL sendiri.

      mengenai kalimah,ayat , surah, dlm Qur,an.
      diturunkan berdasarkan keada,an umat pda masa itu.
      jadi alangkah arif dan bijak, jika kitapun dlm membawakan dalil tersebt, MELIHAT SITUASI DAN KONDISI.
      seperti halnya BELIAU SUNAN KALI JAGA, dalam menyebarkan ISLAM di tanah jawa,dan ketika MENG ISLAMKAN EYANG BRAWIJAYA 5.
      ini semua kusampaikan hanya semata -mata kegendengan [gila] saya pada-NYA.
      utk itu jika ada kata yg kurang berkenan di hati saudara semua, terutama mas Bima.
      MOHON MA,AF YG SEBESAR -NYA.
      salam sih katresnan.

  18. QS. 24. 41
    Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.

    Coba anda perhatikan kalimat Allah di atas…hanya manusialah yang belum mengetahui cara sembahyang dan ibadahnya. Bukankah kita sebagai hamba Allah berkewajiban untuk mempelajari (cara) sembahyang dan tasbihnya manusia sebagai umat-Nya. Sebagai umat manusia yang satu di ‘mata’ Allah. Cara sembahyang dan bertasbih yang memang Allah sendiri yang menurunkannya. Cara sembahyang dan bertasbih yang benar sesuai dengan Kehendak Allah, bukannya cara sembahyang dan bertasbih menurut kehendak manusia itu sendiri.

    Hanya akan ada satu golongan manusia yang dipandang sebagai umat manusia di ‘Mata’ Allah. Dia lah Yang Maha Melihat mata hati manusia. Yakni manusia yang sembahyang dan bertasbih sesuai dengan Petunjuk-Nya yang lurus . Bagaimana bisa anda beribadah, sedangkan anda sendiri tidak diberikan secara jelas dan pasti bagaimana cara ibadah itu sendiri?! Itu lah bedanya agama yang lurus dengan keyakinan lainnya.

    Agama yang memberikan begitu banyak petunjuk dan perumpamaan tentang sembahyang dan tasbih. Perumpamaan bagi manusia yang mau memahami hikmahnya secara benar, bukan dengan hikmah yang dikarang-karangnya sendiri. Petunjuk dari agama Allah yang Maha Menetapkan, Maha Melihat, dan Maha Benar.

  19. Salam katresnan kangge sedoyo….

    Kang Santri Waras…he, he….saya jadi malu sama kang Sabda…jelas saya ini orang yang berbeda. Saya ini cuma cantriknya Kang Sabda…..

    Sebetulnya begini…saya sendiri tidak terlalu asing dengan apa yang dituliskan oleh Mas Bima dan kemudian dibenarkan oleh Mas Santri Waras. Karena saya hingga detik ini hidup di lingkungan pesantren tradisional…dan sayapun pernah “berkelana” dari satu jamaah Islam ke jamaah Islam lainnya. Sayapun tidak menyalahkannya, selagi Mas Bima dan Mas Santri Waras meyakini itu semua dengan sungguh2, dan keyakinan itu muncul dari ketulusan, lalu buah dari keyakinan itu adalah akhlakul karimah.

    Hanya, saya juga ingin menegaskan, bahwa cahaya setiap orang itu bisa saja berbeda, baik warnanya maupun intensitas terangnya, tergantung perjalanan ruhani masing-masing.
    Maka, pola pikir seseorangpun akan tergantung dari cahaya seperti apa yang dijadikan sebagai penerang dalam kegelapan…

    Cahaya versi Jawa, seperti yang banyak diuraikan oleh Kang Sabda di sini, sesungguhnya tidak kalah oleh cahaya dari negeri Arab… bahkan bagi saya pribadi, karena saya orang Jawa, cahaya made in Tanah Jawa itu lebih nentremke ati….

    Maka, bicara soal akidahpun….saya pribadi kini punya akidah sendiri yang merupakan hasil konstruksi ulang berdasarkan pengalaman bathin yang saya terima…yang bisa jadi berbeda dari akidah standar kebanyakan kaum muslimin. Nah, akidah versi saya itu, termasuk menyangkut imam mahdi….kebenarannya bisa lebih saya pertanggungjawabkan secara pribadi, karena itu hasil komunikasi langsung saya dengan Gusti Allah via hatinurani yang telah dibersihkan dan dibuat bening melalui aneka ragam riyadhah dan pengalaman hidup.

    Sementara panjenengan berdua, menurut hemat saya, baru berpegang pada makna zahir dari Qur’an dan hadits yang kebetulan panjenengan temui. Padahal, dalam tradisi Islam sendiri, ada yang disebut dengan “takwil”, seperti yang banyak dikembangkan oleh para sufi, yang pada hakikatnya adalah penafsiran terhadap Al Qur’an dan hadits dengan mempertimbangkan “suara hati” atau ilham atau wahyu yang kita terima setelah kita menjalani proses tazkiyatunnafs.

    Dengan perbedaan metodologi inilah, memang kita seperti tidak bisa bertemu. Ini bukan karena panjenengan berdua muslim dan saya kejawen..bukan karena itu, tapi karena memang kita berbeda dalam mendekati kebenaran terhadap topik yang kita bicarakan.

    Saya sendiri, tentunya tak akan pernah memaksakan rumusan kebenaran yang saya dapatkan….karena bukankah Qur’an sendiri menegaskan “la ikroha fiddien..”? Saya sekadar membagi, menawarkan, barangkali bermanfaat….Sebaliknya, saya juga tak bisa dan tak mau dipaksa untuk menerima rumusan kebenaran panjenengan ataupun rumusan kebenaran versi ulama, versi negara, versi siapapun, selama itu tak selaras dengan suara nurani saya……

    Untuk Kang Santri Gendeng…pertahankan terus kegendengan panjenengan…karena itu yang membuat pribadi panjenengan menjadi menarik…he, he, he…

    SHD

  20. luarbiasa, mudah2an ini wujud doa saya selama 5 bln ini agar Allah kirim org yg tepat yg bisa menconter semua pemikiran2 yg mencoba mengaburkan nilai2 agama khususnya Islam! tentunya hal ini akn di bantah mas sabda dgn kepandaiannya mengolah kata tp hati org beriman tdk akan bisa ditipu! Alhamdulillah..teruskan pencerahannya saudara bima agr kita2 yg sdh seiman makin yakin kpd kehebatan ALLAH SWT dan SUNNAH nabi SAW..

    kpd santri gendeng, tdk perlu panas hati jika mmg menurut anda ajaran kejawen lbh baik silakan dibeberkan disini dan jika ada ajaran Islam yg tdk anda setujui silakan dipaparkan juga. saya yakin saudara bima akan bisa menjawab dan menjelaskannya kpd kita2 yg masih mencari jati diri ini..

    • saudara Santri waras yth.

      marilah kita sama – sama belajar menjadi murid, dgn begitu, kita sadar akan ke dloifan dan kebodohan kita.
      sehingga kita berhati -hati dalm menilai, mengambil kesimpulan ttg org lain.

      saya berterimakasih ats anggapan sampean ,karna dgn begitu membuatku semakin ;
      ELING DAN WASPADA.

      dan tak ada sedikitpun di benakku utk mencari pembenaran maupun sanggahan /debatan dgn saudara BIMA, termasuknya sampean .
      karna itu bukan membawaku semakin dekat pada-NYA.namun justru sebaliknya.

      tuk mas setyo, monggo kita tansah sami ELING TWEN WASPODO. matur suwun sanget,, hee,,, heee,,,

      kurang lebihnya mohon ma,af yg sebesar -nya.
      RAHAYU.

  21. Salam kangge sedoyo…..

    Kini, ijinkan saya untuk menanggapi substansi pemikiran Kang Bima yang disambut dengan gembira oleh Kang Santri Waras….

    Kang Bima yang baik….
    Point diskusi kita adalah, apakah sembahyang yang dilakukan oleh kaum Muslimin itu benar-benar merupakan sembahyang yang tata caranya merupakan petunjuk Tuhan, sementara cara sembahyang yang lainnya bukan merupakan petunjuk Tuhan?
    Jawaban saya adalah: Saya setuju dengan pendapat bahwa tatacara sembahyang kaum Muslimin (yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam, dan di dalamnya ada rukuk dan sujud) memang didasarkan pada petunjuk Tuhan. Mengapa saya bisa berkata demikian? Karena saya sudah membuktikan langsung…bahwa jika kita sungguh2 menjalankan sembahyang yang demikian, kita akan betul2 merasakan kehadiran Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, sekaligus Maha Lembut. Ya, saya bersaksi, bahwa dengan sembahyang dengan tatacara yang diajarkan guru ngaji saya sejak kecil, plus dengan penghayatan yang maksimal, saya betul2 bisa merasakan kenikmatan ruhaniah, saya betul-betul bisa merasakan suasana asyik masyuk bercengkerama dengan Sang Kekasih, Allah Yang Maha Agung itu….dengan kata lain, saya sudah buktikan bahwa sembahyang ala kaum Muslimin, atau shalat, memang merupakan wasilah untuk mengalami mi’raj (kenaikan ruhani).

    Namun, saat yang sama, saya juga menyaksikan dengan jelas…bahwa sebagian besar kaum Muslimin melaksanakan shalat atau sembahyang itu semata-mata karena merasa bahwa itu adalah kewajiban….mereka terpaksa saat melakukannya, karena takut masuk neraka…dan kasihan sekali…shalat berkali-kali, mereka tak bisa menikmatinya. Lebih dari itu, apa yang dibaca ketika shalat, juga tak terwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

    Mereka membaca takbir..tapi dalam kenyataan sehari-hari yang mereka besarkan adalah ego mereka, kepentingan mereka. Mereka berkata Kuhadapkan wajahku hanya kepada wajah Allah..tapi mereka tak sadar bahwa Allah selalu hadir lewat berbagai ciptaan-Nya, dan mereka juga tak bisa menjaga agar Allah tetap menjadi kiblat hati mereka. Sebaliknya, kiblat hati mereka adalah tahta, harta dan wanita.

    Maka, shalat tidak banyak memberi maslahat kepada sebagian kaum Muslimin: ya..kita shalat dan tetap korupsi..kita shalat dan tetap saling bertikai untuk alasan2 yang sepele..kita shalat dan tetap merusak hutan…kita shalat dan tetap tak bisa hidup bahagia, tak bisa hidup tenteram.

    Jadi…..yang penting bagi Kang Bima dan Kang Santriwaras renungkan adalah, apakah selama ini shalat panjenengan sudah betul2 membuat panjenengan “bertemu” dengan Gusti Allah…lalu membuat panjenengan bisa “takhaluq bi akhlaqillah”?
    Atau, jangan-jangan, panjenengan masih tergolong ke dalam kaum yang disebut Allah, ….”fawailul lil musholin”..maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat…..
    (Saya sungguh berdoa…semoga panjenengan berdua, dan semua yang melaksanakan shalat…betul-betul bisa menjadi kekasih Allah…).

    Berikutnya, saya menjawab dengan tegas…bahwa berdustalah mereka yang mengatakan bahwa hanya sembahyang ala kaum Musliminlah yang sesuai dengan petunjuk Allah!
    Apakah panjenengan tahu apa yang disebut dengan petunjuk Allah? Apakah panjenengan tahu apa yang dimaksud dengan Allah? Apakah panjenengan membayangkan Gusti Allah itu adalah sosok yang hanya bisa berbahasa Arab, yang hanya memilih berkomunikasi dengan salah seorang makhluk-Nya yang ada di Arab, dan tidak berkenan memberi petunjuk kepada makhluk-Nya yang ada di tempat lain?

    Allah itu sendiri tak lebih dari konsep manusiawi tentang Tuhan yang tak bisa didefinisikan….Sungguh, kata itu bukanlah Tuhan yang sesungguhnya…karena Dia yang sesungguhnya…laisa kamitslihi syaiun…Dia tak seperti apapun, termasuk apa yang kita bayangkan, bahkan sesungguhnya Dia tak bisa disebut dengan kata Dia…..

    Bagaimana pula kita bisa membatasi wujud yang tanpa batas? Bagaimana kita mengklaim sebagai pemilik tunggal wujud yang kita sendiri tak ketahui keberadaan-Nya?

    Yang bisa kita lakukan adalah sekadar mengagapai-gapai, menjemput secercah cahaya untuk bisa mengenal dan merasakan kehadiran-Nya. Dan kalau kita percaya bahwa Dia Maha Pengasih dan Maha Penyayang sekaligus Maha Adil…salah satu konsekuensinya adalah Dia tak pilih kasih dalam memberi petunjuk! Dia memberi petunjuk kepada orang Jawa, kepada orang Papua, kepada orang Indian, kepada orang Eskimo, sebagaimana juga kepada orang Arab.

    Jalan, atau pintu Dia yang Maha Misteri itu memberi petunjuk adalah melalui hati nurani manusia…yang menjadi perantara antara manusia dengan ruh-Nya yang ada di dalam diri manusia…dan ingatlah bahwa semua manusia…baik orang Arab, maupun orang Eskimo, Jawa, Papua, dan lainnya…diberi keistimewaan yang sama: Memiliki Ruh yang Dia tiupkan …

    Maka, sesungguhnya….jika ada orang India, dalam hal ini sang Budha..menemukan petunjuk bagaimana cara sembahyang kepada-Nya…benarlah cara sembahyang itu…
    Jika para empu di Jawa menemukan cara sembahyang kepada-Nya..maka juga benarlah cara sembahyang itu…
    Sebagaimana jika seorang Muhammad, merasa mendapatkan petunjuk tentang tata cara sembahyang, maka benarlah juga ia…..

    Dan cobalah, sebelum mata hati panjenengan berdua benar-benar hidup, cukuplah dengan panca indera…lihatlah…apakah kebahagiaan, ketenteraman, dan perilaku mulia, itu hanya bisa ditampilkan oleh mereka yang bersembahyang ala Muhammad? Lihatlah, perhatikanlah, tetapi dengan kejujuran, maka panjenengan akan temukan bahwa itu semua juga adalah milik mereka yang bisa jadi baju agamanya Budha, Kejawen, Hindu, Katholik dan lainnya….(dan merekalah yang benar-benar telah bersembahyang..bukan saja pada tataran raga, tapi juga pada tataran jiwa dan sukma…!)

    Jika panjenengan berdua belum juga bisa memahami penjelasan ini, ya mboten napa2…tapi, sebagai orang yang pernah mengalami fase atau telah menyinggahi stasiun perjalanan ruhani seperti yang panjenengan berdua saat ini alami dan singgahi…saya katakan dengan penuh cinta: perjalanan panjenengan masih jauh dari kata sampai….
    Ilmu panjenengan masih jauh dari sempurna…! Karena itu..tak perlu merasa telah berada di jalan kebenaran….lha wong panjenengan itu, sungguh, belum tahu kok, apa itu Kebenaran!

    Salam,
    SHD

  22. @Setyo Hajar Dewantoro

    Menarik sekali tulisan anda di atas yang cukup panjang itu…

    Saya kutip inti kalimat anda ini:

    “Berikutnya, saya menjawab dengan tegas…bahwa berdustalah mereka yang mengatakan bahwa hanya sembahyang ala kaum Musliminlah yang sesuai dengan petunjuk Allah!”

    Dan dengan tegas pula saya sampaikan bahwa:
    Jelas Petunjuk Allah adalah Petunjuk yang dijelaskan-Nya melalui kitab suci yang benar yakni Al Qur’an, yang menjelaskan dengan seterang-seterangnya dan sebenar-benarnya bagaimana sembahyang dan tasbihnya umat-Nya itu.

    Bukankah yang berdusta adalah yang tidak mau menerima dan melaksanakan petunjuk yang telah dengan jelas diberikan melalui kitab suci Al Qur’an yang lengkap dan rinci itu?!
    Yang menambah dan mengurangi Petunjuk Allah itu sesuai dengan seleranya…Inilah yang dimaksud dengan dusta itu.

    Adakah kitab selain daripada Al Qur’an itu, yang memberikan petunjuk dengan jelas dan menerangkan bagaimana seharusnya manusia melakukan sembahyang dan bertasbih dengan sebenar-benarnya itu? Adakah kitab suci selain daripada Al Qur’an itu, yang menjelaskan tentang sembahyang dan bertasbihnya seluruh makhluk Ciptaan-Nya di alam semesta ini.

    Dapatkah anda menjelaskan darimana asalnya ibadah mereka (selain Islam) itu?! Apa yang menjadikan dasar ibadah mereka itu? Bukankah itu hanyalah bersumber dari naluri mereka saja yang tidak mempunyai dasar yang benar?! Naluri ibadah yang hanya mengikuti nafsu dan angan-angan belaka?! Ibadah yang bukan berasal dari Petunjuk Allah bukanlah ibadah namanya, tetapi hanya curhat duniawi…

    Tunjukkanlah dasar ibadah mereka jika anda mampu…

  23. @Setyo Hajar Dewantoro

    Kang Bima yang saya hormati…..
    Keyakinan akan kehadiran Imam Mahdi, sebagaimana keyakinan akan Dajjal, sebenarnya memang merupakan “akidah standar” mayoritas Muslim. Dan “akidah standar” ini ditopang oleh keberadaan Ayat2 Al Qur’an dan Hadits, yang sebagiannya sudah panjenengan sebutkan.

    Yang ingin saya katakan begini: Apakah akidah yang berupa nujuman demikian pasti berlaku universal? Bagaimana jika masyarakat atau peradaban lain juga punya nujuman namun berbeda, seperti masyarakat Jawa memiliki nujuman tentang hadirnya Satria Piningit. Yang mana yang benar, yang akan muncul itu adalah Imam Mahdi, atau Satria Piningit. Pada akhirnya, setiap orang akan berpegang pada keyakinan masing2, lepas itu benar atau salah.

    Berbicara tentang keyakinan, sebetulnya kebenarannya terbatas untuk kita sendiri. Kalau Mas Bima yakin dengan kehadiran Imam Mahdi yang harus keturunan nabi, ya mangga…mudah2an panjenengan mendapatkan manfaat dari keyakinan itu.

    Saya pribadi…tidak percaya bahwa hal-hal yang baik harus selalu dikaitkan, menyangkut, atau berasal dari Arab……
    *********************************************************************

    Diulang:

    @Setyo Hajar Dewantoro menyatakan:
    Dan “akidah standar” ini ditopang oleh keberadaan Ayat2 Al Qur’an dan Hadits…dst

    Koreksi:
    Bukan aqidah nya ‘yang ditopang’ Al Qur’an dan Hadis, tetapi yang benar adalah aqidah yang ‘bersumber’ dari Al Qur’an dan Hadis. Sangat tipis perbedaan kalimatnya, tetapi amat jauh perbedaan maknanya.

    Al Qur’an dan hadis lah yang menyebutkan bahwa Imam Mahdi adalah keturunan Rasulullah, bukan saya…bukan anda…dan bukan pula forum ini. Akan tetapi semua adalah Hak Allah yang Maha Menetapkan, dan dijelaskan dengan sebenar-benarnya melalui ucapan Rasulullah.

    *********************************************************************

    @Setyo Hajar Dewantoro menyatakan:
    Yang ingin saya katakan begini: Apakah akidah yang berupa nujuman demikian pasti berlaku universal?

    Anda telah menyampaikan kepada forum bahwa anda adalah santri berpengalaman, atau santri yang sudah memiliki banyak ‘jam terbang’ . Bukankah dengan demikian sudah menjadi kewajiban anda sebagai muslim, untuk mengimani seluruh ayat-ayat yang terkandung dalam Al Qur’an dan hadis itu sebagai petunjuk yang bersifat universal?! Termasuk ucapan Rasulullah yang menjelaskan tentang Imam Mahdi tersebut.

    Rasulullah telah menyatakan dengan seterang-terangnya bahwa Imam Mahdi adalah keturunannya. Itulah cahaya yang sebenarnya, cahaya yang tidak akan tenggelam terhadap cahaya-cahaya buatan lainnya.

    Bagaimana mungkin anda menyebutkan hanya meyakini cahaya menurut pengalaman spritual anda sendiri (cahaya dari ‘jawa’ itu), sedangkan di sisi lain anda juga menyatakan beriman kepada cahaya Al Qur’an. Bukankah cahaya yang anda istilahkan dengan cahaya ‘arab’ itu juga merupakan cahaya Al Qur’an itu sendiri?!

    Cahaya mana yang akan anda yakini?! Terlebih lagi darimana asalnya cahaya ‘jawa’ itu, dapatkah anda menjelaskan secara cahaya ‘jawa’ yang anda yakini itu?! Apakah anda akan menyebutkan bahwa cahaya ‘jawa’ lebih baik dari cahaya ‘sunda’?! Atau apakah anda akan mengatakan cahaya ‘sunda’ lebih baik dari cahaya ‘jawa’?! Cahaya mana yang paling benar?! Itulah mengapa jika diperhatikan pada kalimat pernyataan anda di atas, mengandung banyak keraguan dan ketidakpastian dalam iman dan keyakinan anda sendiri.

    Pada akhirnya anda, suka tidak suka, mau tidak mau, akan kembali kepada cahaya yang sebenar-benarnya, yakni cahaya Ilahi yang sesungguhnya. Cahaya yang memancar seterang-terangnya melalui Al Qur’an dan Hadis itu. Cahaya di atas cahaya, yang meliputi cahaya ‘jawa’, cahaya ‘sunda’, cahaya ‘padang’, cahaya ‘batak’, cahaya ‘ambon’, dan cahaya-cahaya lainnya yang ada di bumi ini. cahaya yang terpancar dari Al Qur’an yang tiada putusnya, yang senantiasa memancarkan cahaya kepada orang-orang yang taqwa dan tunduk kepada Allah yang Maha Bercahaya.

  24. Alhamdulillah..saya merasakan sekali argumen mas bima benar2 dari suara Ilahi bukan hawanafsu..Subhanallah..saya hanya mampu berdoa agar ALLAH SWT senantiasa melindungi anda, memberi kesehatan lahirbatin agr mampu terus online utk menunjukkan kebenaran islam dengan cara yg santun, sesuai akal sehat sehingga akan ada pembaca blog ini khususnya yg mengaku Islam utk kembali ke Al Quran, hadist dan bangga menjadi org Islam yg bisa menjadi rahmat utk semesta alam..

    • begitulah seharusnya umat ISLAM yg mayoritas ini bisa membawa rahmat bg yg minoritas,
      sekalian utk alam,
      tentunya dgn ahlaq yg karimah [ budi pekerti yg luhur]
      dgn tidk menganggap dirinya paling benar, dan suka mengklaim org lain dgn perkira,an -nya sendiri.
      itulah yg di contohkan oleh MUHAMMAD .SAW. beserta SHAHABATNYA dan para ULAMA YG BUKAN KARBITAN.

    • tanah yg dijanjikan

      bgmn sih suaraNYA,,,?jlskn…
      ora mung jare kitab iki lho,hadits iki lho,tp rung prng ngrasakke Energi GUSTI ALLAH sing sebenere.
      Dsr penghafal…..

  25. hehehe..hampir sepakat mas gendeng tapi bm bisa 100 persen..
    jadi seru..mari kita baca perdebatan ini dgn hati yg palg dalam dan dgn ELING KPD DIA, SADAR SEPENUHNYA BAHWA PIKIRAN DAN HATI KITA DIA YANG MENGGENGGAM..sambil terus berdoa agr hidayahNYA benar2 tercurah ke dlm pikiran dan hati kita..salam damai ya mas gendeng..

  26. kepada YTH…
    pemuka agama budha/hindu…
    kepada pandita pemegang ajaran BUDHA/SIDARTA GAUTAMA
    saya ade sutrisna,tinggal dicirebon..
    ingin sekali hati saya mengenal lebih dalam tentang sosok BAGINDA SIDARTA GAUTAMA
    jika ada phandita yang berkenan memberikan tulisannya mengenai sejarah hidup sidarta gautama,sungguh saya akan sangat berterima kasih sekali….
    mulai dari tanggal lahir,tempat lahir,keluarganya, perjalanan hidupnya, perjalanan hidup menuju Tuhan Yang Maha Esa, serta KITAB SUCI yang dipegang oleh ummat budha dan hindu ……
    niat saya ingin mendalami HIDUP DAN LEBIH MENGENAL TENTANG TUHAN ,MAKNA HIDUP DAN TUJUAN HIDUP…DAN LEBIH MENGHORMATI SESAMA CIPTAAN TUHAN
    karena dalam islam dikenal 99 asmaul husna,1 rahasia dan sisanya DIPERSEMBAHKAN KESEMUA MAHLUK TUHAN LAINNYA,sungguh 900 itu banyak sekali….
    siapalah saya, saya bukan siapa-siapa,hanya orang kampung yang tinggal di suatu desa di cirebon…
    jika ada izin saya ingin berkomunikasi dengan pandita budha/hindu yang ada dicirebon..
    itupun jika di izinkan,dan saya yakin anda sekalian phandita adalah orang-orang bijaksana..

    mohon bantuannya,semoga ada yang berkenan memberikan jawaban tetang sejarah BAGINDA SIDARTA GAUTAMA
    Email : kangades@plasa.com
    Hp : 081 312 389 692

    Salam sejahtera bagi semua phandita Budha dan Hindu
    Salam Hormat pada BAGINDA SIDARTA GAUTAMA

    WASSALAM

  27. Semakin .hangat diskusinya, Mudah-mudahan semua ini menjadi pecerahan dalam kesadaran bersama.

    Kembali ke Alqurán dan hadits memang menjadi moto utama bagi umat islam , namun sangat disayangkan terkadang memang benar bahwa aqal fikiran menjadi nanar dan nyasar bagi yang tak mampu memahami tafsir makna & takwil nya, apalagi bila tak memahami asbabun nuzulnya(sikon) turunnya ayat tsb. Sehingga dalil hadits hanya di translate pindah bahasa saja tanpa mampu memahami jauh kedalam kebenaran yang sebenar-benarnya secara haqikat. Tentu pemahaman haqikat bukan wilayah otak, tapi lebih ke intuisi dan Qalbu.

    Semua nasehat akan selalu mengatakan kembali kepada Allah & Rasulnya adalah diterjemahkan dengan kembali kepada dalil Alqurán dan Hadits, sehingga Alqurán dan hadits bagaikan berhala, sedangkan dalil Alquran tsb masih terbungkus dan terkhijab oleh kebodohan otak manusia yang masih perlu untuk dipecahkan melalui berbagai macam disiplin ilmu tasir, belum lagi ditambah oleh polesan sikap prilaku(akhlaqul kharimah) untuk menghindari, sikap sikap fanatik buta yang merupakan dinding pemikiran, sifat egoisme, merasa paling benar, dan yang tidak sepaham atau diluar islam maka dihukumi kafir masuk neraka, seakan-akan agama ini adalah satu-satu nya agama paling uptodate paling benar, sampai sampai untuk sekedar masuk surga harus merusak, mengebom dan membantai orang-orang yang tak berdosa.

    Sebagai umat islam tentu sangat prihatin atas semua klaim-klaim untuk mencari pembenaran diri, sehingga dalil-dalil ayat suci menjadi alasan untuk membenarkan faham diri sendiri, sehingga yang tampak hanya sebuah doktrin dan dogma yang timbul dari aqal pemikiran yang sempit untuk berlindung dibalik dalil Alqurán.

    Sesuai dengan buktinya, maka tak aneh bila yang katanya agama paling benar itu malah terpecah belah menjadi bermacam-macam dalam kelompok golongan aliran yang membiungungkan umat, yang masing-masing nya mengklaim dirinya paling benar.

    Sikap fanatik dan egoisme merasa paling benar, menurut ahli psikologi adalah merupakan penyakit hambatan perkembangan jiwa, sehingga jiwa-jiwa yang seharusnya merdeka dan dewasa menjadi lemah daya spiritual nya, karena doktrin dan dogma telah menjadi ciri sikap prilakunya yang jauh dari sifat fathonah (Jiwa yang cerdas), selalu monoton tidak berkembang nalarnya, kaku, dan terkunci oleh doktrin dalil ayat yang masih terbungkus oleh khijab kebodohan.

    Rasulullah saw berpesan agar anak keturunan kita terhindar dari lemah nalar.
    Karena agama tanpa ilmu akan rusak, demikian pua sebalik nya, tentu ilmu disini bukan hanya sekedar hafalan dalil dan ayat yang memenuhi otak tanpa makna, namun pengetahuan akan haqikat dari sesuatu yang tak tampak secara kongkrit di mata, namun tampak oleh penglihatan hati nurani. Seperti apa yang di tegaskan oleh Alqurán pula bahwa :
    Alqurán berada di dalam dada orang-orang yang ber ilmu

    Semoga umat islam ini benar-benar menyadari bahwa dalam kehidupan yang kompleks di berbagai dimensi alam , umat islam mampu memahami agama dan kitab sucinya, karena Alqurán hanyalah petunjuk saja, yang masih harus dibuktikan melalui dalil ayat yang tersirat di alam kehidupan ini sesuai pa yang telah ditunjukan.

    Mohon maaf bila terdapat kesalahan kata dan kalimat,
    Wabillahit taufik wal hidayah
    Salam…….

  28. @ Kang Ades

    Calon SP itu tak akan comment di Internet atau Buka Internet.
    @Kang Ujang
    di lembah lereng gunung tempat pertemuan 2 hulu sungai besar, apakah tempatnya di jawa barat, tengah atau timur. Kalau di jabar sih ada yaitu di lereng gunung Tkb Perahu daerah purwakarta terdapat pertemuan 2 hulu sungan besar yaitu saguling dan cirata arahnya yaitu Utara-Kulon memang betul coba lihat kota Plered Purwakarta dr Satelit dan bisa di lihat di
    alamat http://seprini.blogspot.com

  29. benar sekali mas ujang makin menarik diskusi kita ini.. anda ini yg suka marah2 ama mas pandhita tho? hehehe..tp paparan anda diatas bagus tdk emosional dan suatu kritik tajam yg membangun..justeru itu menurut saya kita yg Allah bekali akal sehat yg baik mari bersatu utk wujudkan dan tampilkan Islam yg sejuk, cerdas, damai artinya biarpun kita ini benar tp sedulur2 agama lain tdk tersinggung dgn kebenaran kita..oleh krn itu saya sgt bersyukur Allah hadirkan mas bima ditengah2 kita.
    @ to mas pandhita..anda ini lucu sekali biar kdg2 kelihatan seperti ngawur hehehe maaf becanda..tp utk komen diatas saya lihat cukup dalam..saya pun yg sdh usia 50 thn, sdh keliling kemana2 blm bs menjwb pertanyaan anda itu..mungkin hanya pendeta budha saja yg bisa menjelaskan..
    btw maafkan saya yg memanggil semua sedulur dgn ucapan mas krn saya sdh 50 thn jika ada yg lbh senior dr saya maka akan ta panggil kangmas..
    ngomong2 mas olads kemana aja..ditunggu komen2nya agar tujuan diatas makin cepat terwujud di blog ini..utk mas arjuna salut dgn kesabaran anda, mudah2an apa yg anda ingin akan cepat diwujudkan ALLAH SWT. demikian dulu, persiapan shubuh..
    maturnuwun..

  30. Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    @Santri Waras dan @Ujang…dan ki sepuh semuanya…

    Terima kasih atas wejangannya…

    Selayaknya lah kita memahami dengan sungguh-sungguh apa yang dimaksud dengan ucapan Rasulullah tentang ‘gigi seri’ dan ‘gigi geraham’…

    Bukankah gigi geraham yang senantiasa memegang teguh aqidah agama itu, yang terpancar melalui gigi seri dan memantulkan cahaya kebenaran kepada umat manusia dan makhluk di bumi ini?! Apakah ada keraguan pada ucapan Rasulullah itu?!

    Gigitlah aqidah agama itu sebagaimana kuatnya gigitan gigi geraham, dan pancarkanlah melalui gigi serimu yang bercahaya…Dan sesungguhnya lafaz Allah itu sudah ada di mulutmu…Perhatikan pada langit-langit rongga mulutmu…ada ‘alif’ di sana yang menjaga kesabaranmu. Perhatikan pada lipatan lidahmu, ada dua ‘lam’ dan ‘Hu’ di sana yang menjaga keseimbangan nafsumu…Perhatikan bentuk anak lidah pada gerbang kerongkonganmu, bukankah itu jembatan titik pusat mata hatimu yang selalu melafazkan tasbih asma Allah?! Bukankah semua itu adalah cerminan hatimu yang sesungguhnya?!

    Tepatkah jika kita sebutkan ini hanya sebagai motto dan fanatisme agama, tentu tidak bukan?! Akhirnya ktia akan selalu berdoa dan berdzikir agar selalu dilimpahkan rahmat dan
    hidayah-Nya kepada kita semua. Amin.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 928 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: