KONTEMPLASI UNTUK SEMUA AGAMA

MENGAPA KEBUDAYAAN JAWA

MENGALAMI KEMUNDURAN YANG SIGNIFIKAN ?

Pengantar

Manusia Jawa adalah mayoritas di Indonesia. Nasib bangsa Indonesia sangat tergantung kepada kemampuan penalaran, skill, dan manajemen manusia Jawa (MJ). Sayang sekali s/d saat ini, MJ mengalami krisis kebudayaan; hal ini disebabkan Kebudayaan Jawa (KJ) dibiarkan merana, tidak terawat, dan tidak dikembangkan oleh pihak2 yang berkompeten (TERUTAMA OLEH POLITISI). Bahkan KJ terkesan dibiarkan mati merana digerilya oleh kebudayaan asing (terutama dari timur tengah/Arab). Mochtar Lubis dalam bukunya: Manusia Indonesia Baru, juga mengkritisi watak2 negatip manusia Jawa seperti munafik, feodal, malas, tidak suka bertanggung jawab, suka gengsi dan prestis, dan tidak suka bisnis (lebih aman jadi pegawai).
Kemunduran kebudayaan Jawa tidak lepas dari dosa regim Orde Baru. Strategi regim Soeharto untuk melepaskan diri dari tuannya (USA dkk.) dan tekanan kaum reformis melalui politisasi agama Islam menjadikan Indonesia mengarah ke ideologi Timur Tengah (Arab). Indonesia saat ini (2007) adalah kembali menjadi ajang pertempuran antara: Barat lawan Timur Tengah, antara kaum sekuler dan kaum Islam, antara modernitas dan kekolotan agama. (mohon dibaca artikel yang lain dulu, sebaiknya sesuai no. urut)

Boleh diibaratkan bahwa manusia Jawa terusmenerus mengalami penjajahan, misalnya penjajahan oleh:
– Bs. Belanda selama 300 tahunan
– Bs. Jepang selama hampir 3 tahunan
– Regim Soeharto/ORBA selama hampir 32 tahun (Londo Ireng).
– Negara Adidaya/perusahaan multi nasioanal selama ORBA s/d saat ini.
– Sekarang dan dimasa dekat, bila tidak hati2, diramalkan bahwa Indonesia akan menjadi negara boneka Timur Tengah/Arab Saudi (melalui kendaraan utama politisasi agama).

Kemunduran kebudayaan manusia Jawa sangat terasa sekali, karena suku Jawa adalah mayoritas di Indonesia, maka kemundurannya mengakibatkan kemunduran negara Indonesia, sebagai contoh kemunduran adalah terpaan berbagai krisis yang tak pernah selesai dialami oleh bangsa Indonesia. Politisasi uang dan agama mengakibatkan percepatan krisis kebudayaan Jawa, seperti analisa dibawah ini.
Gerilya Kebudayaan
Negara2 TIMTENG/ARAB harus berjuang sekuat tenaga dengan cara apapun untuk mendapat devisa selain dari kekayaan minyak (petro dollar), hal ini mengingat tambang minyak di Timur Tengah (TIMTENG/Arab) adalah terbatas umurnya; diperkirakan oleh para ahli bahwa umur tambang minyak sekitar 15 tahun lagi, disamping itu, penemuan energi alternatip akan dapat membuat minyak turun harganya. Begitu negara Timur Tengah mendapat angin dari regim Orde Baru, Indonesia lalu bagaikan diterpa badai gurun Sahara yang panas! Pemanfaatan agama (politisasi agama) oleh negara asing (negara2 Arab) untuk mendominasi dan menipiskan kebudayaan setempat (Indonesia) mendapatkan angin bagus, ini berlangsung dengan begitu kuat dan begitu vulgarnya. Gerilya kebudayaan asing lewat politisasi agama begitu gencarnya, terutama lewat media televisi, majalah, buku dan radio. Gerilya kebudayaan melalui TV ini sungguh secara halus-nylamur-tak kentara, orang awam pasti sulit mencernanya! Berikut ini adalah gerilya kebudayaan yang sedang berlangsung:
– Dalam sinetron, hal-hal yang berbau mistik, dukun, santet dan yang negatip sering dikonotasikan dengan manusia yang mengenakan pakaian adat Jawa seperti surjan, batik, blangkon kebaya dan keris; kemudian hal-hal yang berkenaan dengan kebaikan dan kesucian dihubungkan dengan pakaian keagamaan dari Timur Tengah/Arab. Kebudayaan yang Jawa dikalahkan oleh yang Timur Tengah.
– Artis2 film dan sinetron digarap duluan mengingat mereka adalah banyak menjadi idola masyarakat muda (yang nalarnya kurang jalan). Para artis, yang blo’oon politik ini, bagaikan di masukan ke salon rias Timur Tengah/Arab, untuk kemudian ditampilkan di layar televisi, koran, dan majalah demi membentuk mind set (seting pikiran) yang berkiblat ke Arab.
– Bahasa Jawa beserta ungkapannya yang sangat luas, luhur, dalam, dan fleksibel juga digerilya. Dimulai dengan salam pertemuan yang memakai assalam…dan wassalam…. Dulu kita bangga dengan ungkapan: Tut wuri handayani, menang tanpo ngasorake, gotong royong, dsb.; sekarang kita dibiasakan oleh para gerilyawan kebudayaan dengan istilah2 asing dari Arab, misalnya: amal maruh nahi mungkar, saleh dan soleha, dst. Untuk memperkuat gerilya, dikonotasikan bahwa bhs. Arab itu membuat manusia dekat dengan surga! Sungguh cerdik dan licik.
– Kebaya, modolan dan surjan diganti dengan jilbab, celana congkrang, dan jenggot ala orang Arab. Nama2 Jawa dengan Ki dan Nyi (misal Ki Hajar …) mulai dihilangkan, nama ke Arab2an dipopulerkan. Dalam wayang kulit, juga dilakukan gerilya kebudayaan: senjata pamungkas raja Pandawa yaitu Puntadewa menjadi disebut Kalimat Syahadat (jimat Kalimo Sodo), padahal wayang kulit berasal dari agama Hindu (banyak dewa-dewinya yang tidak Islami), jadi bukan Islam; bukankah ini sangat memalukan? Gending2 Jawa yang indah, gending2 dolanan anak2 yang bagus semisal: jamuran, cublak2 suweng, soyang2, dst., sedikit demi sedikit digerilya dan digeser dengan musik qasidahan dari Arab. Dibeberapa tempat (Padang, Aceh, Jawa Barat) usaha menetapkan hukum syariah Islam terus digulirkan, dimulai dengan kewajiban berjilbab! Kemudian, mereka lebih dalam lagi mulai mengusik ke bhinekaan Indonesia, dengan berbagai larangan dan usikan bangunan2 ibadah dan sekolah non Islam.
– Gerilya lewat pendidikan juga gencar, perguruan berbasis Taman Siswa yang nasionalis, pluralis dan menjujung tinggi kebudayaan Jawa secara lambat namun pasti juga digerilya, mereka ini digeser oleh madrasah2/pesantren2. Padahal Taman Siswa adalah asli produk perjuangan dan merupakan kebanggaan manusia Jawa. UU Sisdiknas juga merupakan gerilya yang luar biasa berhasilnya. Sekolah swasta berciri keagamaan non Islam dipaksa menyediakan guru beragama Islam, sehingga ciri mereka lenyap.
– Demikian pula dengan perbankan, mereka ingin eksklusif dengan bank syariah, dengan menghindari kata bunga/rente/riba; istilah ke Arab2an pun diada-adakan, walau nampak kurang logis! Seperti USA memakai IMF, dan orang Yahudi menguasai finansial, maka manusia Arab ingin mendominasi Indonesia memakai strategi halal-haramnya pinjaman, misalnya lewat bank syariah.
– Keberhasilan perempuan dalam menduduki jabatan tinggi di pegawai negeri (eselon 1 s/d 3) dikonotasikan/dipotretkan dengan penampilan berjilbab dan naik mobil yang baik. Para pejabat eselon ini lalu memberikan pengarahan untuk arabisasi pakaian dinas di kantor masing2.
– Di hampir pelosok P. Jawa kita dapat menyaksikan bangunan2 masjid yang megah, dana pembangunan dari Arab luar biasa besarnya. Bahkan organisasi preman bentukan militer di jaman ORBA, yaitu Pemuda Pancasila, pun mendapatkan grojogan dana dari Timur Tengah untuk membangun pesantren2 di Kalimantan, luar biasa!
– Fatwa MUI pada bulan Agustus 2005 tentang larangan2 yang tidak berdasar nalar dan tidak menjaga keharmonisan masyarakat sungguh menyakitkan manusia Jawa yang suka damai dan harmoni. Bila ulama hanya menjadi sekedar alat politik, maka panglima agama adalah ulama politikus yang mementingkan uang, kekuasaan dan jabatan saja; efek keputusan tidak mereka hiraukan. Sejarah ORBA membuktikan bahwa MUI dan ICMI adalah alat regim ORBA yang sangat canggih. Saat ini, MUI boleh dikata telah menjadi alat negara asing (Arab) untuk menguasai
– Dimasa lalu, banyak orang cerdas mengatakan bahwa Wali Songo adalah bagaikan MUI sekarang ini, dakwah mereka penuh gerilya kebudayaan dan politik. Manusia Majapahit digerilya, sehingga terdesak ke Bromo (suku Tengger) dan pulau Bali. Mengingat negara baru memerangi KKN, mestinya fatwa MUI adalah tentang KKN (yang relevan), misal pejabat tinggi negara yang PNS yang mempunyai tabungan diatas 3 milyar rupiah diharuskan mengembalikan uang haram itu (sebab hasil KKN), namun karena memang ditujukan untuk membelokan pemberantasan KKN, yang terjadi justru sebaliknya, fatwanya justru yang aneh2 dan merusak keharmonisan kebhinekaan Indonesia!
– Buku2 yang sulit diterima nalar, dan secara ngawur dan membabi buta ditulis hanya untuk melawan dominasi ilmuwan Barat saat ini membanjiri pasaran di Indonesia. Rupanya ilmuwan Timur Tengah ingin melawan ilmuwan Barat, semua teori Barat yang rasional-empiris dilawan dengan teori Timur Tengah yang berbasis intuisi-agamis (berbasis Al-Quran), misal teori kebutuhan Maslow yang sangat populer dilawankan teori kebutuhan spiritual Nabi Ibrahim, teori EQ ditandingi dengan ESQ, dst. Masyarakat Indonesia harus selalu siap dan waspada dalam memilih buku yang ingin dibacanya.
– Dengan halus, licik tapi mengena, mass media, terutama TV dan radio, telah digunakan untuk membunuh karakater (character assasination) budaya Jawa dan meninggikan karakter budaya Arab (lewat agama)! Para gerilyawan juga menyelipkan filosofis yang amat sangat cerdik, yaitu: kebudayaan Arab itu bagian dari kebudayaan pribumi, kebudayaan Barat (dan Cina) itu kebudayaan asing; jadi harus ditentang karena tidak sesuai! Padahal kebudayaan Arab adalah sangat asing!
– Gerilya yang cerdik dan rapi sekali adalah melalui peraturan negara seperti undang-undang, misalnya hukum Syariah yang mulai diterapkan di sementara daerah, U.U. SISDIKNAS, dan rencana UU Anti Pornografi dan Pornoaksi (yang sangat bertentangan dengan Bhineka Tunggal Ika dan sangat menjahati/menjaili kaum wanita dan pekerja seni). Menurut Gus Dur, RUU APP telah melanggar Undang-Undang Dasar 1945 karena tidak memberikan tempat terhadap perbedaan. Padahal, UUD 1945 telah memberi ruang seluas-luasnya bagi keragaman di Indonesia. RUU APP juga mengancam demokrasi bangsa yang mensyaratkan kedaulatan hukum dan perlakuan sama terhadap setiap warga negara di depan hukum. Gus Dur menolak RUU APP dan meminta pemerintah mengoptimalkan penegakan undang-undang lain yang telah mengakomodir pornografi dan pornoaksi. “Telah terjadi formalisasi dan arabisasi saat ini. Kalau sikap Nahdlatul Ulama sangat jelas bahwa untuk menjalankan syariat Islam tidak perlu negara Islam,” ungkapnya. (Kompas, 3 Maret 2006).

- Puncak gerilya kebudayaan adalah tidak diberikannya tempat untuk kepercayaan asli, misalnya Kejawen, dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP), dan urusan pernikahan/perceraian bagi kaum kepercayaan asli ditiadakan. Kejawen, harta warisan nenek moyang, yang kaya akan nilai: pluralisme, humanisme, harmoni, religius, anti kekerasan dan nasionalisme, ternyata tidak hanya digerilya, melainkan akan dibunuh dan dimatikan secara perlahan! Sungguh sangat disayangkan! Urusan perkawinan dan kematian untuk MJ penganut Kejawen dipersulit sedemikian rupa, urusan ini harus dikembalikan ke agama masing2! Sementara itu aliran setingkat Kejawen yang disebut Kong Hu Chu yang berasal dari RRC justru disyahkan keberadaannya. Sungguh sangat sadis para gerilyawan kebudayaan ini!
– Gerilya kebudayaan juga telah mempengaruhi perilaku manusia Jawa, orang Jawa yang dahulu dikenal lemah-lembut, andap asor, cerdas, dan harmoni; namun sekarang sudah terbalik: suka kerusuhan dan kekerasan, suka menentang harmoni. Bayangkan saja, kota Solo yang dulu terkenal putri nya yang lemah lembut (putri Solo, lakune koyo macan luwe) digerilya menjadi kota yang suka kekerasan, ulama Arab (Basyir) mendirikan pesantren Ngruki untuk mencuci otak anak2 muda. Akhir2 ini kota Solo kesulitan mendatangkan turis manca negara, karena kota Solo sudah diidentikan dengan kekerasan sektarian. Untuk diketahui, di Pakistan, banyak madrasah disinyalir dijadikan tempat brain washing dan baiat. Banyak intelektual muda kita di universitas2 yang kena baiat (sumpah secara agama Islam, setelah di brain wahing) untuk mendirikan NII (negara Islam Indonesia) dengan cara menghalalkan segala cara. Berapa banyak madrasah/pesantren di Indonesia yang dijadikan tempat2 cuci otak anti pluralisme dan anti harmoni? Banyak! Berapa jam pelajaran dihabiskan untuk belajar agama (ngaji) dan bahasa Arab? Banyak, diperkirakan sampai hampir 50% nya! Tentu saja ini akan sangat mempengaruhi turunnya perilaku dan turunnya kualitas SDM bgs. Indonesia secara keseluruhan! Maraknya kerusuhan dan kekerasan di Indonesia bagaikan berbanding langsung dengan maraknya madrasah dan pesantren2. Berbagai fatwa MUI yang menjungkirbalikan harmoni dan gotong royong manusia Jawa gencar dilancarkan!

- Sejarah membuktikan bagaimana kerajaan Majapahit, yang luarbiasa jaya, juga terdesak melalui gerilya kebudayaan Arab sehingga manusianya terpojok ke Gn. Bromo (suku Tengger) dan P. Bali (suku Bali). Mereka tetap menjaga kepercayaannya yaitu Hindu. Peranan wali Songo saat itu sebagai alat politis (mirip MUI dan ICMI saat ini) adalah besar sekali! Semenjak saat itu kemunduran kebudayaan Jawa sungguh luar biasa!
Tanda-tanda Kemunduran Budaya Jawa
Kemunduran kebudayaan manusia Jawa sangat terasa sekali, karena suku Jawa adalah mayoritas di Indonesia, maka kemundurannya mengakibatkan kemunduran negara Indonesia, sebagai contoh kemunduran adalah:
– Orang2 hitam dari Afrika (yang budayanya dianggap lebih tertinggal) ternyata dengan mudah mempedayakan masyarakat kita dengan manipulasi penggandaan uang dan jual-beli narkoba.
– Orang Barat mempedayakan kita dengan kurs nilai mata uang. Dengan $ 1 = k.l Rp. 10000, ini sama saja penjajahan baru. Mereka dapat bahan mentah hasil alam dari Indonesia murah sekali, setelah diproses di L.N menjadi barang hitech, maka harganya jadi selangit. Nilai tambah pemrosesan/produksi barang mentah menjadi barang jadi diambil mereka (disamping membuka lapangan kerja). Indonesia terus dengan mudah dikibulin dan dinina bobokan untuk menjadi negara peng export dan sekaligus pengimport terbesar didunia, sungguh suatu kebodohan yang maha luar biasa.
– Orang Jepang terus membuat kita tidak pernah bisa bikin mobil sendiri, walau industri Jepang sudah lebih 30 tahun ada di Indonesia. Semestinya bangsa ini mampu mendikte Jepang dan negara lain untuk mendirikan pabrik di Indonesia, misalnya pabrik: Honda di Sumatra, Suzuki di Jawa, Yamaha di Sulawesi, dst. Ternyata kita sekedar menjadi bangsa konsumen dan perakit.
– Orang Timur Tengah/Arab dengan mudah menggerilya kebudayaan kita seperti cerita diatas; disamping itu, Indonesia adalah termasuk pemasok devisa haji terbesar! Kemudian, dengan hanya Asahari, Abu Bakar Baasyir dan Habib Riziq (FPI), cukup beberapa gelintir manusia saja, Indonesia sudah dapat dibuat kalang kabut oleh negara asing! Sungguh keterlaluan dan memalukan!
– Kalau dulu banyak mahasiswa Malaysia studi ke Indonesia, sekarang posisinya terbalik: banyak mahasiswa Indonesia belajar ke Malaysia (bahkan ke S’pore, Thailand, Pilipina, dst.). Konyol bukan?
– Banyak manusia Jawa yang ingin kaya secara instant, misalnya mengikuti berbagai arisan/multi level marketing seperti pohon emas, dst., yang tidak masuk akal!
– Dalam beragamapun terkesan jauh dari nalar, bijak dan jauh dari cerdas, terkesan hanya ikut2an saja. Beragama tidak harus menjiplak kebudayaan asal agama, dan tidak perlu mengorbankan budaya lokal.
– Sampai dengan saat ini, Indonesia tidak dapat melepaskan diri dari berbagai krisis (krisis multi dimensi), kemiskinan dan pengangguran justru semakin meningkat, padahal negara tetangga yang sama2 mengalami krisis sudah kembali sehat walafiat! Peran manusia Jawa berserta kebudayaannya, sebagai mayoritas, sangat dominan dalam berbagai krisis yang dialami bangsa ini.

Penutup

Beragama tidak harus menjiplak kebudayaan asal agama. Gus Dur mensinyalir telah terjadi arabisasi kebudayaan. Kepentingan negara asing untuk menguasai bumi dan alam Indonesia yang kaya raya dan indah sekali sungguh riil dan kuat sekali, kalau negara modern memakai teknologi tinggi dan jasa keuangan, sedangkan negara lain memakai politisasi agama beserta kebudayaannya. Indonesia saat ini (2007) adalah sedang menjadi ajang pertempuran antara dua ideologi besar dunia: Barat lawan Timur Tengah, antara kaum sekuler dan kaum Islam, antara modernitas dan kekolotan agama. CLASH OF CIVILIZATION antar dua ideologi besar di dunia ini, yang sudah diramalkan oleh sejarahwan kelas dunia – Samuel Hutington dan Francis Fukuyama.

Tanpa harus menirukan/menjiplak kebudayaan Arab, Indonesia diperkirakan dapat menjadi pusat Islam (center of excellence) yang modern bagi dunia. Seperti pusat agama Kristen modern, yang tidak lagi di Israel, melainkan di Itali dan Amerika. Beragama tanpa nalar disertai menjiplak budaya asal agama tersebut secara membabi buta hanya akan mengakibatkan kemunduran budaya lokal sendiri! Maka bijaksana, kritis, dan cerdik sangat diperlukan dalam beragama.

Ulil Abshar Abdala

Koordinator Jamaah Islam Liberal (JIL)

About these ads

About SABDå

gentleman, Indonesia Raya

Posted on Oktober 7, 2008, in Mengapa Budaya Jawa Tersingkir ? and tagged , , . Bookmark the permalink. 168 Komentar.

  1. yah… ulasan yang sangat mengena ….. dan benar !!!, saya juga sependapat dengan tulisan tersebut bahwa MJ memang munafik ….. juga jujur saya akui saya termasuk didalamnya…..

    tetapi kalau MJ punya Kejawen ….. kenapa enggak coba diperjuangkan ???,

    saya juga masih melihat selain Gus Dur juga ada beberapa kiai yang tidak ke arab2an, tetapi makin lama makin sedikit.
    tetapi yang menang adalah “Habib” dengan segala atribut dan kebesarannya.. akan sangat / mustahil memisahkan islam dari arab / budaya arab / bahasa arab ….. sehingga bila kita orang awam …. begitu ada yang pinter pidato / kotbah dengan bahasa arab yang fasih … akan jadi langganan kotbah dan sekaligus jadi panutan.

    lihat juga ….. nilai putra-putri kita, bahasa arab bisa diatas 80 atau bahkan ada yang 100, tetapi bahasa daerah “jawa”, tertinggi hanya 60, bahkan rata2nya hanya 30 an …????
    jawabanya gampang …. karena untuk masuk pintu syurga … para malaikatnya berbahasa arab ….., gak ada satupun yang berbahasa jawa … :P sehingga jaminan surga … paling tidak sudah 60% lah :D

    disekitar rumah kita ….. ada pembelajaran mengaji …., tetapi tidak ada pembelajaran bahasa jawa …. apalagi mempelajari kejawen …., jujur saja terus terang tidak ada orang yang berani terang-terangan mau menyebut kejawen … takut dianggap tukang santet … lalu dikeroyok / dibasmi.

    yah realita yang memilukan …..

    tetapi kalau ternyata banyak orang sudah merasa nyaman dengan kondisi yang justru seperti itu … gimana lagi ???

    teriring do’a semoga bisa menjadi manusia sejati, jawa sejati ….

  2. Memang betul kalau budaya kita yang adiluhung ini nampak kurang mendapat perhatian, padahal kalau kita cermati sangat luar biasa.
    Apa mesti harus bangga kalau kita meniru budaya barat yang sebenarnya kurang cocok dengan kondisi jawa. Saya lebih senang mendengarkan alunan gending jawa ketimbang lagu yang jrang jreng, seneng menonton gerakan tangan yang gemulai melalui berbagai jenis tarian.
    Kendati demikian saya yang dilahirkan dari keluarga orang jawa, tetap konsisten ingin melestarikan budaya asli kita melalui situs saya yang banyak menampilkan budaya nang ning nung serta hal ikwal tata cara perkawinan adat jawa.
    Pokok maju terus mas, saya dukung ini

  3. GEDIBAL

    Bahasa yang indah adalah bahasa Tuan
    Bahasa kami gonggongan anjing liar
    Pikiran yang mulia adalah pikiran Tuan
    Pikiran kami pikiran otak udang

    Kami bangsa taklukan
    Diperbudak di tanah moyang
    Para perempuannya pemuas zakar
    Lelakinya penjilat pantat
    Kaum muda layu tunas tidak berakar
    Kaum tua lapuk kayu dimakan ngengat

    Jangan minta kami berjuang
    Kemerdekaan cuma bidaah besar
    Upah kami surga di tangan
    Kau bilang fatamorgana ?

    Enyah kau setan !!!
    Lolonganmu tak kami butuhkan
    Kami dilahirkan dari kebohongan
    Kami dihidupi oleh kebohongan
    Jangan pernah kau ambil dari kami
    Karena hanya itu …
    Sisa-sisa hajat untuk kami makan

  4. @mas tomy
    memang menyedihkan sekali mas, tapi apa lacur tubuh ini telah rusak termakan rayap, jangankan untuk berlari, bergerakpun sudah kepayahan…

  5. Yth, Saudara-Saudaraku,

    Semuanya berputar bagai cakra manggilingan sesuai dengan apa yang di tanam (ngundhuh wohe pakarti) masing-masing.

    Semoga seluruh makhluk berbahagia, mencapai pencerahan dan kebenaran sempurna.
    Terimakasih

  6. Adalah kekuatan JAWA selalu mudah menyesuaikan diri dengan gelombang perubahan peradaban, mulai dari hindu, buhda, islam ,belanda, jepang, china, afrika, amerika, arab…. semua enteng dikunyah, ditelan, diambil yuang berguna dan di ek-ek kan ke wc yang tak berguna, itulah kehebatan bangsa jawa…. lebih islam dari arab, lebih berpikir dari yahudi, lebih pinter merekayasa daripada jepang, lebih tahan hidup daripada sufi-sufi timur tengah… Siapa yang bisa menandingi kelenturan bangsa JAWA..???

  7. Berawal dari perseteruan politis, setiap belajar di NU mestilah harus masuk PKB, dan diPKBlah mesthi darah birunya hasjim ashari, sehingga ranah dakwah ditinggalkan kaum pribumi jawa, kiai lebih suka politik… beragama terasa sumpek ….knafa mesthi harus ikut pkb, lalu muncullah ide import langsung……ilmuwan islam yang berasal dari arab yang dirasa lebih netral… begitulah sesuatu akan terjadi silih berganti…

  8. Negeri kita adalah negeri yang salah kaprah, campur aduk mbalelo
    politik adalah masalah ideologi bagiannya adalah akal pikiran yang jernih mengenai akan dibawa kemana negara kita ini ?????????
    agama adalah ageming aji bagiannya adalah hati nurani yang bersih , rasa jati, mengenai akan dibawa kemanakah sang diri ini ??????????
    ketika masalah agama masuk ke wilayah politik maka terjadilah kekacauan yang dahsyat, agama mulai bukan menjadi bagian hati tetapi menjadi bagian akal pikiran, untung rugi, menang kalah !!!!!!!!!
    Ketika masalah ini berkepanjangan tanpa disadari oleh kita semua
    sehingga terbentuklah manusia manusia yang hatinya kempes karena bagian untuk mendidik hatinya ditarik keatas keangan angan, tanpa sadar kita kita ini manusia yang kepalanya besar seperti balon gas……..
    Pertanggung jawaban besar sangat besar………. jangan kau jual agamamu,,,,,,,,,umatmu……………..Allahmu untuk sesuatu yang fana ………….. mari mari kembalikan semua pada relnya masing masing
    akal pikiran untuk duniawi dan hati nuranimu untuk keheningan !!!!!
    wass..

  9. huufffff……trenyuh saya bacanya mas…..
    jadi nyadar,saya yang dilahirkan sebagai manusia jawa sudah terlalu jauh meninggalkan konsep “MANUNGGALING KAWULA GUSTI”
    Terima kasih banyak atas pencerahannya….

  10. Satria Wuda Tata

    Saudaraku…
    Memang jika kita telisik lebih dalam didalam kehidupan Berbangsa dan Bernegara memang sungguh sangat menyedihkan dimana banyak terjadi hal-hal yang sudah lepas Kontrol, dimana pada umumnya manusia telah meninggalkan hubungan sinergis antara Otak, Hati Nurani dan Jantung yang ada dalam diri kita masing-masing… yang pada akhirnya terjadilah apa yang tejadi seperti sekarang ini.
    Banyak orang berbicara dengan menggunakan kedok Agama, dalil, dan ayat-ayat yang seharusnya untuk mengatur prilaku Sang Diri terlebih dahulu supaya tidak lepas kontrol tapi sekarang Apa yang terjadi belum bisa mengendalikan diri sudah belagak sok suci, Paling benar dan paling bersih…. Apalagi saat ini Agama sudah di campur aduk kedalam ranah POLITIK apa yang akan terjadi…??? Saat ini saudara sudah bisa melihat dan merasakan dampaknya jika saudara belum yakin silahkan saudara-saudaraku sekalian Lihat, Amatilah, dan Cermatilah kemudian renungkanlah di dalam Hati Nurani anda… dan di situlah jawaban yang sejati akan Muncul…
    Ingat… Saudara Di dalam Hati Nuranimu, Nur Tuhanmu bersemayam dan jawaban akan kesejatian akan di ketemukan.
    Saya sepakat dengan apa yang di katakan KangBoed bahwa politik adalah bagian dari Otak. Tentunya otak dalam hal ini adalah akal serta pikiran yang jernih yang bisa mengendalikan hawa nafsu jika dalam istilah Sunan Kali Jogo Mapak sing mecungul dan Agama adalah bagian dari Hati Nurani yang bersih…
    Manusia seharusnya menuhankan apa yang seharunya di Tuhankan yang tiada lain Sang Maha Tunggal (terlepas apapun sebutanya) Tapi sekarang mengapa manusia lebih suka dan lebih senang menuhankan yang berujut semu/sintetis…???!!!
    Maka dari itu saudara marilah kita kembali kepada Rel yang sudah di gariskan oleh Tuhan kepada kita sehingga kita bisa menjadi Manusia yang sejati…
    Manusia sejati tak akan penah menjual Agamamu…, Umatmu…, dan Tuhanmu…, Apalagi politsasi Agama, karena Agama adalah masalah Hati Nurani yang bersih dan tidak bisa di paksakan dan tidak bisa di perjual belikan. Sekali lagi renungkanlah di dalam Hati Nuranimu

    Salam
    Rahayu

  11. duhhh…. mugi2 kita sedaya tansah pinaringan eling … supados mboten wonten malih tlatah2 engkang nemu rubedo kados aceh lan tangerang …. amargi cidro mring budaya asli … adedasar Pancasila ugi bhineka tunggal ika tan hana darma mangrwa….

    salam
    rahayu

  12. banget olehku sarujuk karo sedulur Tomy,…
    Akeh para sedulure dhewe kang kena penyakit sing cukup parah yo iku penyakit GHEDIBHALisme… Obate mung siji….
    SIKAP-SAMIN…
    Ghedibhal dudu DNA…
    Ghedibhal penyakit Halusinasi, penyakit Ilusi…

    Salam karahayon kabeh sedulur ‘NKRI’…..

  13. Semua bermula dari pendidikan. Ketika bangsa kita masih bodoh, semua akan jadi gelap. Tidak tahu mana jalan terang, mana yang salah/benar, mana iming2 atau hakikat sejati, mana jati diri atau hanya ikut2an?
    Pembodohan semakin diperparah oleh pejabat, orang tua dan pemuka2 agama yang bodoh pula. Fatwa haram-halal, RUU Anti Pornografi, tulisan2 Harun Yahya yang meninabobokan, kutbah2 ekstrem, dll adalah bentuk2 kebodohan dan DEKADENSI MORAL bangsa.
    Salut untuk Ki Sabda dan Kang Ulil. Jalan terus untuk pencerahan…

  14. Sedih banget melihat budaya jawa “tenggelam”. Sedih melihat anak yang lebih suka nonton power rangers daripada nonton ketoprak….
    Sedih melihat anak lebih suka mainan robot yang mahal, daripada wayang2an terbuat dari pelepah daun singkong….
    uuuuh…mari semua menumbuhkan kecintaan budaya jawa pada anak2 kita, karena generasi anak kita masih bisa kita perbaiki….

    Trims buat admin atas posting artikelnya…. bear2 menulis dengan hati…salut, salam kenal..

  15. Oleh sebab itu,jangan ngomel melulu,tapi usaha dan berjuang supaya kita bisa ngebuat mainan sendiri,game sendiri,komik dan buku sendiri,apa2 yah bikin sendiri tentunya segala sesuatu yang kita buat itu akan lebih mudah dan bisa disesuaikan dengan kepribaidan serta kebudayaan hidup kita sendiri.Yang repot kalo kitanya belum punay kepribadian,ltapi lah apa2 sok mau ngebuat sendiri tetep aja berbau jajahan asing!!

    Komik indonesia???itu komik jepang goblok!!!.
    Sinetron sejahah Jawa?.Itu film kungfu,asu…..angling darmo belajar wushu dimana?.Di hongkong???.

  16. mohon maaf semuanya….
    rasanya hati ini kurang sepakat dengan artikel inii.

    paling tidak demikianlah kesimpulan yang ada selama hidup ini.
    yang saya masih ingat, era tahun 80-an, gerakan islam yang diistilahkan “kearab-an” masih sangat sedikit, bahkan kala itu wanita berjilbab sangat jarang dan kalaupun ada dianggap aneh dan penuh misteri.

    masa itu sendiri masih ada budaya-budaya kejawen yang dipercaya oleh masyarakat dan dilakukan dalam tradisi keseharian, sayangnya….tidak ada referensi ataupun upaya mengembangkan ajaran budaya ini. masyarakat hanya dapat melakukan ritual tanpa mengerti makna dan nilai spiritual, alias mengamalkan tanpa tahu untuk apa. kalaupun saat ini bagi yang mengerti betapa tinggi nilai spiritual budaya kejawen, tetapi bagi yang tidak memahami? ironisnya sebagian besar orang jawa tidak memahami ini karena keterbatasan referensi.

    saya pribadi tidak pernah merasa di “arab”kan, bagi saya itulah pencarian spiritual yang “berpapasan” dengan diri saya dan menawarkan solusi pencerahan spiritual. mungkin akan berbeda bila saya “berpapasan” dengan budaya kejawen dengan referensi lengkap.

    dengan rasa hormat…Rasanya tidaklah arif bila keadaan “kearaban” ini menjadikan sikap anti yang dengan segala aspeknya akan berakhir dengan tuduhan ke sebuah negara di timur tengah terutama Arab Saudi.

    mari kita amati….jelas saat ini ada 2 kiblat budaya yang dicenderungi oleh generasi muda jawa; BARAT dan ARAB.
    BARAT ; dari musik jenis apa saja sampai di jawa,pakaian, makanan minuman, pola hidup, olahraga dsb.
    ARAB ; jilbab, jenggot, jubah, dsb.

    kedua budaya ini seharusnya masuk dalam satu kesimpulan “berbahaya” bagi budaya jawa. bahkan, walaupun tidak ada data quantatif, rasanya budaya BARAT lebih banyak prosentasenya dibanding ARAB.
    Permaslahannya bagi saya pribadi…lantas kenapa artikel ini mengajak kita untuk lebih menudingkan telunjuk kita kepada timur tengah?, apakah penulis “ulil absar” juga merupakan pejuang kejawen?? saya rasa bukan, penulis memiliki misi politis liberalisasi ala barat. paling tidak ini yang saya ketahui dari hasil karya tulisan penulis ini.

    Saya muslim yang mungkin “kearaban”, tetapi bagi saya budaya kejawen juga memiliki nilai spiritual yang tinggi dan luar biasa. apalagi dengan adanya blog ini, sangat membantu saya memahami lebih dalam apa dan bagaimana budaya kejawen ini sebenarnya. inilah referensi yang bagus. Dan bagi saya, budaya arab (karena saya muslim) dan kejawen lebih layak dan sangat layak untuk diikuti dibanding budaya barat.

    Gus dur sendiri saat menikahkah anaknya Yenni, dengan cara “arab” dengan bahasa ijab qobul bahasa arab, dengan sholawat dan qosidah dsb, walaupun dipadu dengan tradisi jawa. jadi pengutipan nama “Gusdur” dalam maksud tema artikel ini sudah terbantahkan seharusnya. ini bila yang diinginkan adalah keprihatinan akan budaya jawa, bukannya mempolitisi “berbahayanya budaya arab dan tidak berbahayanya budaya BARAT” ala ulil absar abdalla, mudah-mudahan tidak seperti itu.

    Saya yang baru mengenal budaya kejawen dan sangat takjub, sedikit menyayangkan pada sikap yang ini. penunjukan jari telunjuk kita kepada satu arah; TIMUR TENGAH dan ARAB SAUDI. setidaknya hal ini tercermin pada dua artikel ; ILUSI NEGARA ISLAM, dan artikel ini.

    Dalam benak saya, seharusnya kita juga introspeksi diri, mawas diri, bahwa generasi muda jawa juga hilang kejawaannya yang berganti dengan keARABAan atau keBARATan bukan semata-mata karena sikap offensif lawan, tetapi kita, para sesepuh-sesepuh jawa, para tokoh-tokoh kejawen tidak menyiapkan dirinya untuk menurunkan tradisi ini kepada generasinya dengan baik, tidak menyiapkan diri sebagai tawaran solusi yang mencerahkan. Sehingga tatkala ada pihak lain, dengan budaya yang berbeda merasuki generasi muda jawa, dengan segala aspek perubahannya, lantas dengan lantang kita menyalahkan masuknya budaya ini. bukankah ini namanya NATO..?

    Dalam benak saya, saya mengira kita seharusnya juga lapang dada dengan pihak yang menjelekkan kita atau budaya jawa, sing sabar berilah kesempatan….bisa jadi mereka tidak memahami hakekat sebenarnya, belum memahami bagaimana “kedalaman” budaya bangsa sendiri.
    Seharusnyalah tugas kalian, para sesepuh yang berkompeten yang menebarkan nilai-nilai ini.

    saya mengira seperti ini…..ternyata tidak…Kejawen juga membutuhkan “kambing hitam” untuk melepaskan dirinya dari kekhilafan….

    mohon maaf sebesar-besarnya bila ada kekeliruan…mohon dimaklumi orang bodoh dan miskin jelata menyampaikan kalimat….mohon jangan diacungi dulu dg jari telunjuk…..

    Wassalam.

    • kedua budaya ini seharusnya masuk dalam satu kesimpulan “berbahaya” bagi budaya jawa. bahkan, walaupun tidak ada data quantatif, rasanya budaya BARAT lebih banyak prosentasenya dibanding ARAB.
      Permaslahannya bagi saya pribadi…lantas kenapa artikel ini mengajak kita untuk lebih menudingkan telunjuk kita kepada timur tengah?, apakah penulis “ulil absar” juga merupakan pejuang kejawen?? saya rasa bukan, penulis memiliki misi politis liberalisasi ala barat. paling tidak ini yang saya ketahui dari hasil karya tulisan penulis ini.

      memang sama-sama “mengancam” mas, tapi budaya barat sekarang sedang “berada di atas angin”, dia dengan segala kemegahan dan kepongahannya tidak akan merasa terancam dengan hadirnya budaya lokal, bahkan mungkin akan mengapresiasinya dengan tujuan untuk semakin mengukuhkan posisinya sebagai the one and only “budaya dunia”. tudingan-tudingan sesat, tidak rasional, klenik dan semacamnya sangat minor porsinya dibandingkan tudingan-tudingan serupa yang datang dari budaya arab yang notabene sama-sama berstatus “terpinggirkan”.

  17. Ayub Bangkit Sanjaya

    waduh aq ketinggalan,mau komentar tapi di gondeli oleh rasa,roso sejati,lalu gimana? jadi nggak memberi komentar?lebih baik aq hening saja, serta waspada dan sadar bahwa kita sedang di jajah oleh mereka lalu kita pasrah pada Sang Yang Widi.

  18. hmmm sy mah heran ajah, koq budaya di-up jadi kaya persaingan antar fans, ambil sisi positifnya aja dech

    budaya impor serap aja gimana cocoknya atau sbg variasi kosmetik untuk mengcover suatu agama

    sy lebih suka bahasa jepang drpd cina, tapi jepang juga pakai huruf cina (kanji), so what’s the f***** wrong,….dgn menyerap bhs jepang itung2 juga mengenal huruf cina

    begitu juga dgn budaya lokal di indo yg gak hanya jawa, yg jadi mazalah bukan budayanya, tapi penyimpangan ke hal2 negatif berkedok kebudayaan

    nah K4l0 tul15aN K4y4 61nI, K3bi45a4n dari m4n4 yaCh :P
    53c4R4 gw 61Tu lOcH, K3j4w3n k4LO m4u D1k3mB4N61n/d1V4RI51-1n b154 J4D1 k3ren, bi54 ju64 j4d1…terserah panjenengan gimana cucok/merusak/menodai apa gak. :mrgreen:

  19. Biarkan semua terjadi dan itu memang harus terjadi bahwa Nuswantara menjadi budak Arab dan BArat.Itu memang harus terjadi. Tapi ingat, roda berputar, Nuswantara pasti akan menjadi tuan di negerinya dan di dunia nanti. Tunggu Sabdapalon nagih janji, Islam ( Arab Kethek) pasti akan berganti menjadi Dhaslam ( Budha/Budi – Islam ) yaitu islam yang berbudi yang memmang menjadi rahmat seluruh alam. Tunggu tanggal mainnya, arab2 wedhus and kethek2 kui kudu minggat saka Nuswantara

  20. lho…kirain Ki Sabda langsung yg nulis.
    Tapi dari isi artikel ini saya belum menangkap jawaban dari judulnya Ki, “mengapa manusia jawa mengalami kemunduran?”
    kenapa manusia jawa yg sudah mempunyai peradaban tinggi dengan ajaran kearifannya bisa terdesak/terpengaruh dengan budaya arab yg baru lahir?
    menurut logika saya, kalau sebagian besar manusia jawa seperti Ki Sabda, semua gerilya budaya arab gak akan mempan mau bagaimanapun caranya.
    dari sini muncul lagi pertanyaan, apakah sebagian besar manusia jawa sejak jaman majapahit akhir tidak lagi memgang teguh kejawen? sehingga tidak lagi bisa memilah mana yg “jalan berserah diri” mana yg budaya arab?

  21. sejarah adalah selalu berulang dan berputar….
    ada dua kejadian dari sebuah kaca sejarah..
    pertama : kejadian yang selalu sama
    kedua : kejadian yang selalu berubah dan berkembang (walau sebenarnya hanya sebuah siklus perputaran)

    kejadian yang sama adalah ideologi, agama, paham, isme….
    kejadian yang selalu berubah adalah teknologi, ilmu pengetahuan

    kejadian pertama adalah pada sisi bathin, ruh, karena ruh dan bathin bersifat kekal maka hakekatnya tidak ada perubahan dalam ruh manusia…
    kejadian kedua adalah berkaitan dengan fisik, jasad, maka wajar kalau jasad itu selalu berubah, bentuk pakaian, mode pakaian, bahan baku, bentuk rumah, dll…

    kejadian pertama adalah erat kaitannya dengan kebenaran absolut, sesuatu yang mutlak tidak akan mengalami perubahan sebagaimana kata sidharta gautama bahwa kebenaran mutlak itu ada pada Tuhan, karena sifat Tuhan yang tidak terikat waktu, tempat, ruang dan waktu….
    Tuhan adalah Pencipta maka Dia tidak terikat ciptaanNya…

    kejadian kedua adalah ada kaitannya dengan kebenaran relatif, sesuatu yang kadang mengalami perbedaan pada sisi rasa, persepsi, emosi,,,,,
    sesuatu yang berbeda akibat beda rasa, persepsi dan emosi tentu akan menghasilkan keputusan/penilaian yang beda,,,,
    walau sebenarnya pun pada sisi kebenaran relatif ini pun bertingkat, sebagaimana persamaan dua buah benda, obyek, jism, adalah ada yang sama, ada yang mirip, ada yang agak beda, ada yang benar-benar beda….itulah komposisi…

    kalau saya menilai dan memandang kehidupan ini membagi pada dua sisi cara pandang, kebenaran absolut dan kebenaran relatif, semua dipilah dan ditempatkan pada masing2 tempatnya secara tepat,,,inilah keadilan sejati,,,,

    keadilan itu dekat dengan kejernihan dalam memandang….

    hanya sekedar uraian singkat dari saya tentang hakekat kitab kehidupan….hehe..

  22. Kalau kita mau jujur pada diri kita sendiri, sebenarnya bangsa kita adalah bangsa yang besar, maksudnya besar dosa kepada leluhur-leluhurnya sendiri, bangsa yang sudah kehilangan sesejatiannya. Bangsa yang pantasnya menjadi GEDIBALNYA bansa lain. Hanya karena di-iming-imingi surga dan ditakutu takuti nerakanya bangsa lain , kita dengan sukarela menyerahkan tubuh kita untuk dihabisi bangsa lain, rela menyerahkan wanitanya untuk pemuas zakar bangsa lain dengan dalih surga juga. ( TERURATAMA ORANG JAWA)
    ……… TEPATNYA KITA INI BANGSA YANG MOONCROT……..
    Kita hanya pantas disejajarkan dengan KAMBING. Yang pada setiap perayaan Idhul Adha dikanibal dengan alasan — (Lagi lagi supaya dapat SURGA )
    — Semoga Tuhan segera menghancurkan bangsa yang sudah bangsat ini

    • terus terang gan, ane bukan hanya berdosa besar sama leluhur, tapi juga belum kompeten buat kasih contoh positif terhadap diri sendiri, apalagi ntar sama anak, cucu, dst

      bukankah leluhur (ortu, kakek/nenek, buyut, etc), sama aja sama2 orang yg punya sifat manusiawi…

      sy lebih berdosa lagi krn saya tiada manfaat positifnya agar mampu hablumminanas.

      hatur nuwun, komen dari si om bagai suatu pengetahuan tak ternilai harganya untuk saya jadikan bahan introspeksi diri.

      semoga saya sebagai orang Jawa (Barat) secara khusus, sebagai manusia secara umum (mo dibilang binatang juga monggo, da emang saya ini binatang tapi berjalan vertikal, ya sedikitnya yg saya tau, baru itu bedanya saya sama kambing), bisa menjadi besar krn bisa bermanfaat positif & berharap bisa introspeksi diri.

    • Nafsu angkara menutupi hati yang akan menutupi jalan diri.
      Nur-a-ni, akan terbelenggu dan redup ketika nafsu angkara menyelimuti diri. Bukti akan keberadaan nafsu angkara ; setiap ucapan, tindakan dan pikiran sudah terhasut untuk merendahkan yang lain, untuk menjelekkan yang lain, kesombongan sudah menutupi bahkan menjadi beku diantara hijabNya. Iri, hasud dan dengki bahkan kebencian sering sekali terucap dari dalam diri. Hati sudah mati. Kemanakah kau akan membawa dirimu ?

  23. pantaass JIL jadi bahasannya dan pemahaman sejarahnya sangad dangkal… :D
    jadinya asal nyorocos dah…., JIL JIL kapan kalean berkata sesuai dengan suara hati kalian yang paling dalam… MUNAFIK!!!

  24. mas pripun supados wonten forum meniko?

  25. apa yg dipaparkan ki Sabda benar adanya, sekarang bagaimana kita yg masih hidup ini untuk memberikan apa yg kita punya untuk disebar luaskan tentang apa yg kita ketahui tentang ilmu nenek moyang kita yg beridentitas kultur lokal yg tidak kalah dg pendatang, hanya saja sudah sifat dari kultur Jawa tdk mau jumawa, sifat low profil adalah bentuk kesederhanaan, skr agitasi brain washing pendatang u lokal begitu gencar seakan hanya bhs mereka yg bisa nyambung dg sang pencipta sehingga berlomba lomba masyarakat merasa tdk afdol kalau tdk pakai bhs asing u uluk salam kulanuwun saja sdh tidak lazim , maka bagi kawan2 yg masih peduli dan merasa kita memiliki budaya yg jauh lebih tinggi tdk boleh diam, tapi falsafah Jawa yg berpendapat bahwa tidak ada sumur golek timbo yg ada adalah timbo golek sumur, jadi murid yg cari guru, sementara ini banyak para pendatang jemput bola, yang jadi pertanyaan apakah para petinggi kejawen tdk merasa turun gengsi bila turun gunung untuk medar sabda para kawula sing lagi keblinger? tentunya sdh jadi kewajiban setiap para nayaka untuk cancut taliwondo mengembalikan supremasi kultur lokal, gotong royong . Mungkin ki Sabda dan kkawan2 yg memiliki potensi bisa sbg trigger gerakan kembali kebudaya adiluhung. gimana?

  26. assalamualaikum wr.wb…..nderek nyela atur………………..saya dilahirkan dari keluarga jawa yang islami…maaf sy kurang sependapat apa yg diungkap saudara ulil absar..dng JIL nya..seolah olah orang jawa di arabkan…sekedar kilas balik bagaimana walisanga membawa ajaran islam ke tanah jawa …sedikitpun apalagi kanjeng sunan kalijaga tak meninggalkan nilai kearifan local budaya jawa (local wisdom)…orang islam dibolehkan memakai budaya jawa bahkan budaya jawa lebih memiliki nilai adiluhung ..perpaduan jawa dan arab…yang saling mengisi….dari artikel ini berkesan islam agama yang membawa kerusakan hingga mematikan budaya jawa ,,salah besar klau di artikan begitu…kerusakan nyata budaya jawa bukan karena budaya islam taoi karena derasnya budaya barat..jadi dalam hal ini budaya jawa dan islam adalah korban ,karena kedua budaya ini mengalami degradasi yang sangat luar biasa….sy pribadi islam tp tetap menjunjung tinggi ajaran jawa…..kami masih ada bancaan weton…nyekar di kuburan ..sajen methil klau mau panen..ruwahan dll…jadi intinya islam tidak menghancurkan budaya jawa..ooo ya kami jg masih memakai sarung untuk shalat…berbaju batik dan ciri khas sbg orang jawa………….wasalam…..nyuwun pangapunten menawi wonten lepat atur kawulo…..matur nuwun…..

  27. nyuwun sewu, ngaturaken sugeng kagem ki sabda.

    mungkin sampun digarisaken dening gusti ingkang akarya jagad……………..
    urip mung sakdermo ngelakoni. wayang mung manut karo dhalange. (<–moga2 nantinya saya juga paham tentang ini lahir batin)

    semua yang terjadi sudah menjadi takdir yang maha kuasa, tinggal bagaimana kita bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian. tidak perlu menyalahkan siapa2.
    kita beruntung. kalo seandainya dulu bangsa kita dijajah oleh banyak bangsa2 eropa tidak hanya belanda dan portugis saja, maka nasib kita akan seperti bangsa indian, maya, inca, aztec ataupun aborigin. mereka musnah beserta kebudayaan tinggi mereka.

    bangsa jawa sudah ada sejak dulu sebelum muncul agama hindu-budha. lalu datanglah kebudayaan hindu dan budha. kearifan lokal membuat agama dan budaya saling mengisi membentuk peradaban yang luhur. begitu juga ketika islam datang ke tanah jawa, ada perpaduan harmonis islam dan budaya jawa dimana kebanyakan rakyat jelata bisa mengenal gusti pangeran nya dengan didukung sifat2 adiluhung/akhlaq manusia jawa (njawani) yang sudah turun temurun.

  28. Nderek nguborampe,

    Melihat banyak orang yg mati, sudah jelas kita nanti pasti mati…ga mesti umur tua untuk nunggu mati. saat inipun saya bisa mati, ketika saya menulis komment ini, keyboard pada komputer kongslet dan nyetrum hingga saya mati gosong…Allahualam..:-)

    Orang Tua mesti nantinya Mati,Nah….yg ditakutkan kan..GENERASI MUDA….kasihan bgt mereka yg dalam proses pencarian jati diri kesulitan dalam mencari SOKO GURU yg harus dia taati.

    OKE lah, klo sewaktu masa kecil..SOKO GURUNYA ya Guru itu sendiri, yg sekarang gajinya jutaan…

    Oke lah, klo sehabis SD, terus kita ketemu SOKO GURU yg pendidikannya lumayan..
    Oke lah, klo kita SMU, gurunya semakin pintar
    Okelah Masa Pubertas sudah terlewati….

    Nah…..,apalagi yg dicari para generasi MUDA????
    Tentunya pencarian JATI DIRI untuk HIDUP ke depan beserta anak dan istrinya…yg kerap klo ditanya….”Jawabnya ya….”Yo ngini ki…seng penting Urip bahagia…”

    Dalam pencarian jati diri di USIA MUDA, yang saya takutkan …..
    Bagaimana dan masihkah ada yg menjadi SOKO GURU yang bener bener Pener menjadi SURI Tauladan bagi Umat di Indonesia, khususnya Pulau JAWA, Yogyakarta….(JOGJA),

    —-
    kok yo ada ya….nama “JOGJA JOGJA” untuk sebuah Brand DISKOTIK di Jogja, aneh, bingung, apa ini termasuk gerilya???ndak tahu..bingung…

    Salam Usia Muda,
    berjuang untuk Sejatining Urip agawe Urup

  29. Mohon ijin untuk menshare….
    Nuwun Ki,.

  30. Wis ginaris marang Gusti Kang Murbaing Dumadi, ora perlu diributi, opo meneh digelani: wong jawa ilang jawane, aja lali wong jawa gari separo(ilang jawane utawa jawa gado2), cino londo gari sakjodho(cino londo sing isih jodho/cocok karo wong jawa), gari lungguh sila sinambi ura2 dhandhang gula tembang palaran yekti karo nunggu lan ngenteni sinambi nyawang kahanan kang bakal tumeka timbule BAMBANGAN CAKIL yoiku perang kembang lan perang kadhang (perang antar agomo) kahanan kang bakal tumeka maneko warno merga wis titi wanci Sabdopalon nagih sumpah lan janji, kawiwitan saka aceh dienteki tzunami (pertama kali mlebu wil NKRI), lumpur lapindo (papan panggonan kumpule pasukan jim bun sakdurunge nyerbu mojopahit), G Merapi…. wis nggugahi liyo liyane.. pratondo ora bakal cidro opo meneh ingkar janji, aja lali bakal ana wewe putih agegaman tebu wulung bakal mbrasta wedhon (sapa sira sing nganggo pakaian krembyah2/rewa2…?) cetha wela wela, mlaha kayata aksara jawa neng nggon Jangka Jayabaya, sastra cetha lan Nglegena (namung…… nek wis isa maca lan nulis, aja mung dadi carik, isih golekana tulis sakjroning tulis), RAHAYU… RAHAYU… RAHAYU…

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 937 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: