SERAT WEDHATAMA (lanjutan)
SERAT WEDHATAMA (lanjutan)
Melanjutkan wejangan atau pitutur Serat Wedhatama terdahulu. Serat Wedhatama terdiri dari empat pupuh yakni; pangkur, sinom, gambuh, dan kinanthi.
TEMBANG KINANTHI
|
83 |
Mangka kanthining tumuwuh, Salami mung awas eling, Eling lukitaning alam, Dadi wiryaning dumadi, Supadi nir ing sangsaya, Yeku pangreksaning urip. |
Padahal bekal hidup, selamanya waspada dan ingat, Ingat akan pertanda yang ada di alam ini, Menjadi kekuatannya asal-usul, supaya lepas dari sengsara. Begitulah memelihara hidup. |
|
84 |
Marma den taberi kulup, Anglung lantiping ati, Rina wengi den anedya, Pandak panduking pambudi, Bengkas kahardaning driya, Supaya dadya utami.` |
Maka rajinlah anak-anakku, Belajar menajamkan hati, Siang malam berusaha, merasuk ke dalam sanubari, melenyapkan nafsu pribadi, Agar menjadi (manusia) utama. |
|
85 |
Pangasahe sepi samun, Aywa esah ing salami, Samangsa wis kawistara, Lalandhepe mingis mingis, Pasah wukir reksamuka, Kekes srabedaning budi. |
Mengasahnya di alam sepi (semedi), Jangan berhenti selamanya, Apabila sudah kelihatan, tajamnya luar biasa, mampu mengiris gunung penghalang, Lenyap semua penghalang budi. |
|
86 |
Dene awas tegesipun, Weruh warananing urip, Miwah wisesaning tunggal, Kang atunggil rina wengi, Kang mukitan ing sakarsa, Gumelar ngalam sakalir. |
Awas itu artinya, tahu penghalang kehidupan, serta kekuasaan yang tunggal, yang bersatu siang malam, Yang mengabulkan segala kehendak, terhampar alam semesta. |
|
87 |
Aywa sembrana ing kalbu, Wawasen wuwus sireki, Ing kono yekti karasa, Dudu ucape pribadi, Marma den sembadeng sedya, Wewesen praptaning uwis. |
Hati jangan lengah, Waspadailah kata-katamu, Di situ tentu terasa, bukan ucapan pribadi, Maka tanggungjawablah, perhatikan semuanya sampai tuntas. |
|
88 |
Sirnakna semanging kalbu, Den waspada ing pangeksi, Yeku dalaning kasidan, Sinuda saka sethithik, Pamothahing nafsu hawa, Linalantih mamrih titih. |
Sirnakan keraguan hati, waspadalah terhadap pandanganmu, Itulah caranya berhasil, Kurangilah sedikit demi sedikit godaan hawa nafsu, Latihlah agar terlatih. |
|
89 |
Aywa mematuh nalutuh, Tanpa tuwas tanpa kasil, Kasalibuk ing srabeda, Marma dipun ngati-ati, Urip keh rencananira, Sambekala den kaliling. |
Jangan terbiasa berbuat aib, Tiada guna tiada hasil, terjerat oleh aral, Maka berhati-hatilah, Hidup ini banyak rintangan, Godaan harus dicermati. |
|
90 |
Umpamane wong lumaku, Marga gawat den liwati, Lamun kurang ing pangarah, Sayekti karendhet ing ri. Apese kasandhung padhas, Babak bundhas anemahi. |
Seumpama orang berjalan, Jalan berbahaya dilalui, Apabila kurang perhitungan, Tentulah tertusuk duri, celakanya terantuk batu, Akhirnya penuh luka. |
|
91 |
Lumrah bae yen kadyeku, Atetamba yen wus bucik, Duweya kawruh sabodhag, Yen tan nartani ing kapti, Dadi kawruhe kinarya, Ngupaya kasil lan melik. |
Lumrahnya jika seperti itu, Berobat setelah terluka, Biarpun punya ilmu segudang, bila tak sesuai tujuannya, ilmunya hanya dipakai mencari nafkah dan pamrih. |
|
92 |
Meloke yen arsa muluk, Muluk ujare lir wali, Wola wali nora nyata, Anggepe pandhita luwih, Kaluwihane tan ana, Kabeh tandha tandha sepi. |
Baru kelihatan jika keinginannya muluk-muluk, Muluk-muluk bicaranya seperti wali, Berkali-kali tak terbukti, merasa diri pandita istimewa, Kelebihannya tak ada, Semua bukti sepi. |
|
93 |
Kawruhe mung ana wuwus, Wuwuse gumaib gaib, Kasliring thithik tan kena, Mancereng alise gathik, Apa pandhita antiga, Kang mangkono iku kaki, |
Ilmunya sebatas mulut, Kata-katanya di gaib-gaibkan, Dibantah sedikit saja tidak mau, mata membelalak alisnya menjadi satu, Apakah yang seperti itu pandita palsu,..anakku ? |
|
94 |
Mangka ta kang aran laku, Lakune ngelmu sejati, Tan dahwen pati openan, Tan panasten nora jail, Tan njurungi ing kahardan, Amung eneng mamrih ening. |
Padahal yang disebut “laku”, sarat menjalankan ilmu sejati tidak suka omong kosong dan tidak suka memanfaatkan hal-hal sepele yang bukan haknya, Tidak iri hati dan jail, Tidak melampiaskan hawa nafsu. Sebaliknya, bersikap tenang agar menggapai keheningan jiwa. |
|
95 |
Kaunanging budi luhung, Bangkit ajur ajer kaki, Yen mangkono bakal cikal, Thukul wijining utami, Nadyan bener kawruhira, Yen ana kang nyulayani. |
Luhurnya budipekerti, pandai beradaptasi, anakku ! Demikian itulah awal mula, tumbuhnya benih keutamaan, Walaupun benar ilmumu, bila ada yang mempersoalkan.. |
|
96 |
Tur kang nyulayani iku, Wus wruh yen kawruhe nempil, Nanging laire angalah, Katingala angemori, Mung ngenaki tyasing liyan, Aywa esak aywa serik. |
Walau orang yang mempersoalkan itu, sudah diketahui ilmunya dangkal, tetapi secara lahir kita mengalah, berkesanlah persuasif, sekedar menggembirakan hati orang lain. Jangan sakit hati dan dendam. |
|
97 |
Yeku ilapating wahyu, Yen yuwana ing salami, Marga wimbuh ing nugraha, Saking heb Kang mahasuci, Cinancang pucuking cipta, Nora ucul ucul kaki. |
Begitulah sarat turunnya wahyu, Bila teguh selamanya, dapat bertambah anugrahnya, dari sabda Tuhan Mahasuci, terikat di ujung cipta, tiada terlepas-lepas anakku. |
|
98 |
Mangkono ingkang tinamtu, Tampa nugrahaning Widhi, Marma ta kulup den bisa, Mbusuki ujaring janmi, Pakoleh lair batinnya, Iyeku budi premati. |
Begitulah yang digariskan, Untuk mendapat anugrah Tuhan. Maka dari itu anakku, sebisanya, kalian pura-pura menjadi orang bodoh terhadap perkataan orang lain, nyaman lahir batinnya, yakni budi yang baik. |
|
99 |
Pantes tinulat tinurut, Laladane mrih utami, Utama kembanging mulya, Kamulyan jiwa dhiri, Ora ta yen ngeplekana, Lir leluhur nguni-uni. |
Pantas menjadi suri tauladan yang ditiru, Wahana agar hidup mulia, kemuliaan jiwa raga. Walaupun tidak persis, seperti nenek moyang dahulu. |
|
100 |
Ananging ta kudu kudu, Sakadarira pribadi, Aywa tinggal tutuladan, Lamun tan mangkono kaki, Yekti tuna ing tumitah, Poma kaestokna kaki. |
Tetapi harus giat berupaya, sesuai kemampuan diri, Jangan melupakan suri tauladan, Bila tak berbuat demikian itu anakku, pasti merugi sebagai manusia. Maka lakukanlah anakku ! |
sabdalangit
MENGENAL GARIS BESAR AJARAN SYEH SITI JENAR
MENGENAL GARIS BESAR AJARAN
Syeh Siti Jenar
AJARAN METAFISIS FILOSOFIS (HAKEKAT)
Dalam perspektif filosofis, semua hal yang ada di dunia ini memiliki aspek fisika (fisik) dan metafisika (metafisik). Demikian pula agama memiliki dua aspek tersebut. Syariat merupakan bentuk fisik dari agama, sedangkan bentuk metafisikanya ada dalam hakekat dari syariat agama. Seseorang hendaknya mengetahui fisik atau syariat yang merupakan tata caranya merncapai spiritual. Sedangkan metafisik atau hakekat sebagai bentuk pencapaian spiritualnya. Filsafat bukan mebicarakan fisik dari segala yang ada, melainkan membicarakan metafisika atau sesuatu yang ada dibalik keadaan fisik.
Ajaran Siti Syeh Jenar lebih memberikan tekanan pada filsafat ketuhanan dan filsafat kebenaran dengan kata lain bukan lagi berhenti pada tataran syariat, tetapi telah melangkah pada tataran yang lebih tinggi yakni hakekat. Hal itu berbeda dengan ajaran yang disampaikan para wali, yang lebih mengedepankan syariat. Meskipun demikian ajaran Syeh Siti jenar yang mengutamakan filsafat ketuhanan dan kebenaran mengarah kepada ajaran Islam yang umumnya disebut sebagai ilmu tasawuf. Ajarannya mengutamakan pentingnya pengolahan kalbu (istilah Gusti MN IV; sembah kalbu/cipta) dengan implementasi pada ibadah-ibadah bersifat lahiriah.
Syeh Siti Jenar mengajarkan tentang falsafah kebenaran dan berusaha merumuskannya ke dalam bentuk kearifan dan kebijaksanaan. Sehingga menciptakan suatu hukum-hukum dalam bertindak (akhlak). Di situlah muncul kesan penyimpangan ajaran Syeh Siti Jenar jika dipandang dari perspektif penganut ajaran yang lebih mengutamakan syariat baku atau bagi yang memahami Qur’an dan Hadits secara tekstual. Terlepas dari munculnya kesan di atas, ajaran Syeh memang banyak menyangkut perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari. Pandangannya mengandung nilai metafisik mengenai baik-buruk, dan salah-benar.
PRO-KONTRA AJARAN SYEH SITI JENAR
Sejak itulah terjadi pro-kontra antara Syeh Siti Jenar atau Syeh Lemah Abang berikut para muridnya dengan para wali. Kubu para wali bersikukuh menilai ajaran Syeh Lemah Abang adalah sesat. Sementara masyarakat waktu itu menganggap ajaran tasawuf yang dikembangkan oleh Syeh Siti Jenar sebagai pencapaian spiritual yang tinggi. Apalagi ajarannya tetap berpegang pada pandangan Islam. Di hadapan para muridnya Syeh Lemah Bang merupakan seorang sufi, sebagaimana tokoh-tokoh sufi lainnya yang memandang bentuk kehidupan dunia ini sebagai kebusukan yang memuakkan. Sehingga seorang sufi menghindari kehidupan duniawi dan memilih kesederhanaan. Dunia dipandang sebagai kematian, sebab kehidupan yang sesungguhnya adalah sesudah seseorang menemui ajalnya. Jadi manusia yang hidup di dunia ibaratnya bangkai-bangkai yang bergentayangan. Pemikiran demikian sesuai dengan ajaran sufisme yang berkembang di ranah Arab.
Syeh Siti Jenar dan para muridnya sangat menyadari bahwa ajarannya seolah aneh, sesat dan menyimpang dari ajaran Islam. Penilaian ini muncul sejak dahulu hingga saat ini. Kenyataan ini wajar saja karena memang orang-orang sufi dan penganut ajaran tasawuf di dunia ini jumlahnya sangat sedikit jika dibandingkan dengan orang yang mengikuti syariat murni. Sedangkan menurut ahli tasawuf bahwa Islam tidak sebatas syariat, melainkan ada tingkatan-tingkatan peribadatan yang wajib ditempuh yakni tarekat, hakekat dan makrifat. Seseorang dapat disebut sebagai Islam sejati apabila telah mengamalkan tingkatan peribadatan secara utuh.
KRITIK SYEH SITI JENAR;
Tugas Umat (para wali) yang Tidak Tuntas
Menurut Syeh Jenar, orang Islam kebanyakan yang masih awam ibarat sebagai kulit kelapa. Ilmunya masih sebatas berada di kulitnya saja. Padahal untuk mencapai air kelapa, seseorang harus melewati kulit, lalu dagingnya dan barulah bisa mereguk air kelapanya (makrifat). Perumpamaan Siti Jenar ini kira-kira dapar dipersonifikasi lebih jelas sebagai berikut;
- Syariat diumpamakan kulit kelapa,
- Tarekat diumpamakan tempurungnya,
- Hekat diumpamakan sebagai hakekatnya,
- Makrifat diumpamakan sebagai air kelapanya.
Maka sangat jauh dari tujuan pencapaian spiritual apabila seseorang mandeg pada tingkatan syariat saja. Sebagaimana ajaran yang lebih utuh seperti dituturkan oleh KGPAA Mangkunegoro IV dalam ajaran Kejawen tentang tata cara mencapai spiritual yang dituangkan dalam pengetahuan spiritual Catur Sembah yakni; sembah raga (syariat), sembah cipta/kalbu (tarekat), sembah jiwa (hakekat), sembah rasa (makrifat). Beliau menuturkan apabila seseorang akan meraih pencapaian spiritual, hendaknya menempuh empat macam “laku” sembahyang atau catur sembah.
Siti Jenar tidak setengah-setengah dalam mengajarkan ajaran Islam. Justru Siti Jenar menilai bahwa para wali mengajarkan Islam baru pada tahap “serabut kelapa” saja, atau kulit, syariatnya. Menurut Siti Jenar, hal itu akan membahayakan bagi umat Islam sendiri maupun umat yang lainnya dalam kancah perhelatan dunia di kelak kemudian hari. Perkataan Siti Jenar ini mungkin ada benarnya jika melihat kecenderungan umat Islam pada zaman sekarang ini.
sabdalangit
SERAT WEDHATAMA; Pintu Pembuka Rahasia Spiritual Raja-Raja Mataram

Serat Wedhatama (asal kata dalam bahasa Jawa; Wredhatama) merupakan salah satu karya agung pujangga sekaligus seniman besar pencipta berbagai macam seni tari (beksa) dan tembang. Wayang orang, wayang madya, pencipta jas Langendriyan (sering digunakan sebagai pakaian pengantin adat Jawa/Solo). Beliau adalah enterpreneur sejati yang sangat sukses memakmurkan rakyat pada masanya dengan membangun pabrik bungkil, pabrik gula Tasikmadu dan Colomadu di Jateng (1861-1863) dengan melibatkan masyarakat, serta perkebunan kopi, kina, pala, dan kayu jati di Jatim dan Jateng. Masih banyak lagi, termasuk merintis pembangunan Stasiun Balapan di kota Solo. Beliau juga terkenal gigih dalam melawan penjajahan Belanda. Hebatnya, perlawanan dilakukan cukup melalui tulisan pena, sudah cukup membuat penjajah mundur teratur. Cara inilah menjadi contoh sikap perilaku utama, dalam menjunjung tinggi etika berperang (jihad a la Kejawen); “nglurug tanpa bala” dan “menang tanpa ngasorake”. Kemenangan diraih secara kesatria, tanpa melibatkan banyak orang, tanpa makan korban pertumpahan darah dan nyawa, dan tidak pernah mempermalukan lawan. Begitulah kesatria sejati.
Selain terkenal kepandaiannya akan ilmu pengetahuan, juga terkenal karena beliau tokoh yang amat sakti mandraguna. Beliau terkenal adil, arif dan bijaksana selama dalam kepemimpinannya. Beliau adalah Ngarsa Dalem Ingkang Wicaksana Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Sri Mangkunegoro IV. Raja di keraton Mangkunegaran Solo. Berkat “laku” spiritual yang tinggi beliau diketahui wafat dengan meraih kesempurnaan hidup sejati dalam menghadap Tuhan Yang Mahawisesa; yakni “warangka manjing curiga” atau meraih kamuksan; menghadap Gusti (Tuhan) bersama raganya lenyap tanpa bekas.
Wedhatama merupakan ajaran luhur untuk membangun budi pekerti dan olah spiritual bagi kalangan raja-raja Mataram, tetapi diajarkan pula bagi siapapun yang berkehendak menghayatinya. Wedhatama menjadi salah satu dasar penghayatan bagi siapa saja yang ingin “laku” spiritual dan bersifat universal lintas kepercayaan atau agama apapun. Karena ajaran dalam Wedhatama bukan lah dogma agama yang erat dengan iming-iming surga dan ancaman neraka, melainkan suara hati nurani, yang menjadi “jalan setapak” bagi siapapun yang ingin menggapai kehidupan dengan tingkat spiritual yang tinggi. Mudah diikuti dan dipelajari oleh siapapun, diajarkan dan dituntun step by step secara rinci. Puncak dari “laku” spiritual yang diajarkan serat Wedhatama adalah; menemukan kehidupan yang sejati, lebih memahami diri sendiri, manunggaling kawula-Gusti, dan mendapat anugrah Tuhan untuk melihat rahasia kegaiban (meminjam istilah Gus Dur; dapat mengintip rahasia langit).
Serat yang berisi ajaran tentang budi pekerti atau akhlak mulia, digubah dalam bentuk tembang agar mudah diingat dan lebih “membumi”. Sebab sebaik apapun ajaran itu tidak akan bermanfaat apa-apa, apabila hanya tersimpan di dalam “menara gadhing” yang megah.
Kami sangat bersukur kepada Gusti Allah, dan berterimakasih sebesar-besarnya kepada Eyang-eyang Gusti dan para Ratu Gung Binatara yang telah njangkung lan njampangi kami dalam membedah dan medhar ajaran luhur ini, sehingga dengan “laku” yang sangat berat dapat kami susun dalam bahasa Nasional. Karena keterbatasan yang ada pada kami, mudah-mudahan tidak mengurangi makna yang terkandung di dalamnya. Tanpa adanya kemurahan Gusti Allah dan berkat doa restu dari para leluhur agung yang bijaksana, kami menyadari sungguh sulit rasanya, memahami dan menjabarkan kawruh atau pitutur yang maknanya persis sama sebagaimana teks aslinya. Mudah-mudahan hakikat yang tersirat di dalam pelajaran ini dapat diserap secara mudah oleh para pembaca yang budiman. Harapan saya mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat bagi siapa saja, tanpa memandang latar belakang agama dan kepercayaannya. Bagi siapapun yang lebih winasis pada sastra Jawa, saya tampilkan juga teks aslinya. Mudah-mudahan para pembaca, dapat memberikan koreksi, kritik dan saran kepada saya.
SERAT WEDHATAMA
PANGKUR (Sembah Raga/Syariat)
|
1 |
Mingkar mingkuring angkara, Akarana karanan mardi siwi, Sinawung resmining kidung, Sinuba sinukarta, Mrih kretarta pakartining ngelmu luhung Kang tumrap neng tanah Jawa, Agama ageming aji. |
Meredam nafsu angkara dalam diri, Hendak berkenan mendidik putra-putri Tersirat dalam indahnya tembang, dihias penuh variasi, agar menjiwai hakekat ilmu luhur, yang berlangsung di tanah Jawa (nusantara) agama sebagai “pakaian” kehidupan. |
|
2 |
Jinejer neng Wedatama Mrih tan kemba kembenganing pambudi Mangka nadyan tuwa pikun Yen tan mikani rasa, yekti sepi asepa lir sepah, samun, Samangsane pasamuan Gonyak ganyuk nglilingsemi. |
Disajikan dalam serat Wedhatama, agar jangan miskin pengetahuan walaupun sudah tua pikun jika tidak memahami rasa sejati (batin) niscaya kosong tiada berguna bagai ampas, percuma sia-sia, di dalam setiap pergaulan sering bertindak ceroboh memalukan. |
|
3 |
Nggugu karsaning priyangga, Nora nganggo peparah lamun angling, Lumuh ing ngaran balilu, Uger guru aleman, Nanging janma ingkang wus waspadeng semu Sinamun ing samudana, Sesadon ingadu manis |
Mengikuti kemauan sendiri, Bila berkata tanpa dipertimbangkan (asal bunyi), Namun tak mau dianggap bodoh, Selalu berharap dipuji-puji. (sebaliknya) Ciri orang yang sudah memahami (ilmu sejati) tak bisa ditebak berwatak rendah hati, selalu berprasangka baik. |
|
4 |
Si pengung nora nglegawa, Sangsayarda deniro cacariwis, Ngandhar-andhar angendhukur, Kandhane nora kaprah, saya elok alangka longkanganipun, Si wasis waskitha ngalah, Ngalingi marang si pingging. |
(sementara) Si dungu tidak menyadari, Bualannya semakin menjadi jadi, ngelantur bicara yang tidak-tidak, Bicaranya tidak masuk akal, makin aneh tak ada jedanya. Lain halnya, Si Pandai cermat dan mengalah, Menutupi aib si bodoh. |
|
5 |
Mangkono ngelmu kang nyata, Sanyatane mung weh reseping ati, Bungah ingaran cubluk, Sukeng tyas yen denina, Nora kaya si punggung anggung gumrunggung Ugungan sadina dina Aja mangkono wong urip. |
Demikianlah ilmu yang nyata, Senyatanya memberikan ketentraman hati, Tidak merana dibilang bodoh, Tetap gembira jika dihina Tidak seperti si dungu yang selalu sombong, Ingin dipuji setiap hari. Janganlah begitu caranya orang hidup. |
|
6 |
Urip sepisan rusak, Nora mulur nalare ting saluwir, Kadi ta guwa kang sirung, Sinerang ing maruta, Gumarenggeng anggereng Anggung gumrunggung, Pindha padhane si mudha, Prandene paksa kumaki. |
Hidup sekali saja berantakan, Tidak berkembang, pola pikirnya carut marut. Umpama goa gelap menyeramkan, Dihembus angin, Suaranya gemuruh menggeram, berdengung Seperti halnya watak anak muda masih pula berlagak congkak |
|
7 |
Kikisane mung sapala, Palayune ngendelken yayah wibi, Bangkit tur bangsaning luhur, Lha iya ingkang rama, Balik sira sarawungan bae durung Mring atining tata krama, Nggon anggon agama suci. |
Tujuan hidupnya begitu rendah, Maunya mengandalkan orang tuanya, Yang terpandang serta bangsawan Itu kan ayahmu ! Sedangkan kamu kenal saja belum, akan hakikatnya tata krama dalam ajaran yang suci |
|
8 |
Socaning jiwangganira, Jer katara lamun pocapan pasthi, Lumuh asor kudu unggul, Semengah sesongaran, Yen mangkono keno ingaran katungkul, Karem ing reh kaprawiran, Nora enak iku kaki. |
Cerminan dari dalam jiwa raga mu, Nampak jelas walau tutur kata halus, Sifat pantang kalah maunya menang sendiri Sombong besar mulut Bila demikian itu, disebut orang yang terlena Puas diri berlagak tinggi Tidak baik itu nak ! |
|
9 |
Kekerane ngelmu karang, Kekarangan saking bangsaning gaib, Iku boreh paminipun, Tan rumasuk ing jasad, Amung aneng sajabaning daging kulup, Yen kapengok pancabaya, Ubayane mbalenjani. |
Di dalam ilmu yang dikarang-karang (sihir/rekayasa) Rekayasa dari hal-hal gaib Itu umpama bedak. Tidak meresap ke dalam jasad, Hanya ada di kulitnya saja nak Bila terbentur marabahaya, bisanya menghindari. |
|
10 |
Marma ing sabisa-bisa, Bebasane muriha tyas basuki, Puruita-a kang patut, Lan traping angganira, Ana uga angger ugering kaprabun, Abon aboning panembah, Kang kambah ing siyang ratri. |
Karena itu sebisa-bisanya, Upayakan selalu berhati baik Bergurulah secara tepat Yang sesuai dengan dirimu Ada juga peraturan dan pedoman bernegara, Menjadi syarat bagi yang berbakti, yang berlaku siang malam. |
|
11 |
Iku kaki takok-eno, marang para sarjana kang martapi Mring tapaking tepa tulus, Kawawa nahen hawa, Wruhanira mungguh sanyataning ngelmu Tan mesthi neng janma wredha Tuwin mudha sudra kaki. |
Itulah nak, tanyakan Kepada para sarjana yang menimba ilmu Kepada jejak hidup para suri tauladan yang benar, dapat menahan hawa nafsu Pengetahuanmu adalah senyatanya ilmu, Yang tidak harus dikuasai orang tua, Bisa juga bagi yang muda atau miskin, nak ! |
|
12 |
Sapantuk wahyuning Gusti Allah, Gya dumilah mangulah ngelmu bangkit, Bangkit mikat reh mangukut, Kukutaning jiwangga, Yen mengkono kena sinebut wong sepuh, Lire sepuh sepi hawa, Awas roroning atunggil |
Siapapun yang menerima wahyu Tuhan, Dengan cermat mencerna ilmu tinggi, Mampu menguasai ilmu kasampurnan, Kesempurnaan jiwa raga, Bila demikian pantas disebut “orang tua”. Arti “orang tua” adalah tidak dikuasai hawa nafsu Paham akan dwi tunggal (menyatunya sukma dengan Tuhan) |
|
13 |
Tan samar pamoring sukma, Sinuksmaya winahya ing ngasepi, Sinimpen telenging kalbu, Pambukaning warana, Tarlen saking liyep layaping aluyup, Pindha pesating sumpena, Sumusuping rasa jati. |
Tidak lah samar sukma menyatu meresap terpatri dalam keheningan semadi, Diendapkan dalam lubuk hati menjadi pembuka tabir, berawal dari keadaan antara sadar dan tiada Seperti terlepasnya mimpi Merasuknya rasa yang sejati. |
|
14 |
Sejatine kang mangkana, Wus kakenan nugrahaning Hyang Widhi, Bali alaming ngasuwung, Tan karem arameyan, Ingkang sipat wisesa winisesa wus, Mulih mula ulanira. Mulane wong anom sami. |
Sebenarnya ke-ada-an itu merupakan anugrah Tuhan, Kembali ke alam yang mengosongkan, tidak mengumbar nafsu duniawi, yang bersifat kuasa menguasai. Kembali ke asal muasalmu Oleh karena itu, wahai anak muda sekalian…
(lanjut ke SINOM) |
|
SINOM (Sembah Cipta/Kalbu/Tarekat) |
||
|
15 |
Nulada laku utama Tumrape wong Tanah jawi, Wong agung ing Ngeksiganda, Panembahan Senopati, Kepati amarsudi, Sudane hawa lan nepsu, Pinepsu tapa brata, Tanapi ing siyang ratri, Amamangun karyenak tyasing sesama. |
Contohlah perilaku utama, bagi kalangan orang Jawa (Nusantara), orang besar dari Ngeksiganda (Mataram), Panembahan Senopati, yang tekun, mengurangi hawa nafsu, dengan jalan prihatin (bertapa), serta siang malam selalu berkarya membuat hati tenteram bagi sesama (kasih sayang) |
|
16 |
Samangsane pasamuan, mamangun marta martani, Sinambi ing saben mangsa, Kala kalaning asepi, Lelana teki-teki, Nggayuh geyonganing kayun, Kayungyun eninging tyas, Sanityasa pinrihatin, Puguh panggah cegah dhahar lawan nendra. |
Dalam setiap pergaulan, membangun sikap tahu diri. Setiap ada kesempatan, Di saat waktu longgar, mengembara untuk bertapa, menggapai cita-cita hati, hanyut dalam keheningan kalbu. Senantiasa menjaga hati untuk prihatin (menahan hawa nafsu), dengan tekad kuat, membatasi makan dan tidur. |
|
17 |
Saben mendra saking wisma, Lelana lalading sepi, Ngingsep sepuhing supana, Mrih pana pranaweng kapti, Tis tising tyas marsudi, Mardawaning budya tulus, Mesu reh kasudarman, Neng tepining jalanidhi, Sruning brata kataman wahyu dyatmika. |
Setiap mengembara meninggalkan rumah (istana), berkelana ke tempat yang sunyi (dari hawa nafsu), menghirup tingginya ilmu, agar jelas apa yang menjadi tujuan (hidup) sejati. Hati bertekad selalu berusaha dengan tekun, memperdayakan akal budi menghayati cinta kasih, ditepinya samudra. Kuatnya bertapa diterimalah wahyu dyatmika (hidup yang sejati). |
|
18 |
Wikan wengkoning samodra, Kederan wus den ideri, Kinemat kamot hing driya, Rinegan segegem dadi, Dumadya angratoni, Nenggih Kangjeng Ratu Kidul, Ndedel nggayuh nggegana, Umara marak maripih, Sor prabawa lan wong agung Ngeksiganda |
Memahami kekuasaan di dalam samodra seluruhnya sudah dijelajahi, “kesaktian” melimputi indera Ibaratnya cukup satu genggaman saja sudah jadi, berhasil berkuasa, Kangjeng Ratu Kidul, Naik menggapai awang-awang, (kemudian) datang menghadap dengan penuh hormat, kepada Wong Agung Ngeksigondo. |
|
19 |
Dahat denira aminta, Sinupeket pangkat kanthi, Jroning alam palimunan, ing pasaban saben sepi, Sumanggem anyanggemi, Ing karsa kang wus tinamtu, Pamrihe mung aminta, Supangate teki-teki, Nora ketang teken janggut suku jaja. |
Memohon dengan sangat lah beliau, agar diakui sebagai sahabat setia, di dalam alam gaib, tempatnya berkelana setiap sepi. Bersedialah menyanggupi, kehendak yang sudah digariskan. Harapannya hanyalah meminta restu dalam bertapa, Meski dengan susah payah. |
|
20 |
Prajanjine abipraya, Saturun-turuning wuri, Mangkono trahing ngawirya, Yen amasah mesu budi, Dumadya glis dumugi, Iya ing sakarsanipun, Wong agung Ngeksiganda, Nugrahane prapteng mangkin, Trah tumerah dharahe padha wibawa. |
Perjanjian sangat mulia, untuk seluruh keturunannya di kelak kemudian hari. Begitulah seluruh keturunan orang luhur, bila mau mengasah akal budi akan cepat berhasil, apa yang diharapkan orang besar Mataram, anugerahnya hingga kelak dapat mengalir di seluruh darah keturunannya, dapat memiliki wibawa. |
|
21 |
Ambawani tanah Jawa, Kang padha jumeneng aji, Satriya dibya sumbaga, Tan lyan trahing Senopati, Pan iku pantes ugi, Tinelad labetipun, Ing sakuwasanira, Enake lan jaman mangkin, Sayektine tan bisa ngepleki kuna. |
Menguasai tanah Jawa (Nusantara), yang menjadi raja (pemimpin), satria sakti tertermasyhur, tak lain keturunan Senopati, hal ini pantas pula sebagai tauladan budi pekertinya, Sebisamu, terapkan di zaman nanti, Walaupun tidak bisa persis sama seperti di masa silam. |
|
22 |
Lowung kalamun tinimbang, Ngaurip tanpa prihatin, Nanging ta ing jaman mangkya, Pra mudha kang den karemi, Manulad nelad nabi, Nayakengrat gusti rasul, Anggung ginawe umbag, Saben seba mampir masjid, Ngajab-ajab tibaning mukjijat drajat. |
Mending bila dibanding orang hidup tanpa prihatin, namun di masa yang akan datang (masa kini), yang digemari anak muda, meniru-niru nabi, rasul utusan Tuhan, yang hanya dipakai untuk menyombongkan diri, setiap akan bekerja singgah dulu di masjid, Mengharap mukjizat agar mendapat derajat (naik pangkat). |
|
23 |
Anggung anggubel sarengat, Saringane tan den wruhi, Dalil dalaning ijemak, Kiyase nora mikani, Ketungkul mungkul sami, Bengkrakan mring masjid agung, Kalamun maca kutbah, Lelagone Dandanggendis, Swara arum ngumandhang cengkok palaran |
Hanya memahami sariat (kulitnya) saja, sedangkan hakekatnya tidak dikuasai, Pengetahuan untuk memahami makna dan suri tauladan tidaklah mumpuni Mereka lupa diri, (tidak sadar) bersikap berlebih-lebihan di masjid besar, Bila membaca khotbah berirama gaya dandanggula (menghanyutkan hati), suara merdu bergema gaya palaran (lantang bertubi-tubi). |
|
24 |
Lamun sira paksa nulad, Tuladhaning Kangjeng Nabi, O, ngger kadohan panjangkah, Wateke tan betah kaki, Rehne ta sira Jawi, Sathithik bae wus cukup, Aywa guru aleman, Nelad kas ngepleki pekih, Lamun pangkuh pangangkah yekti karahmat. |
Jika kamu memaksa meniru, tingkah laku `Kanjeng Nabi, Oh, nak terlalu naif, Biasanya tak akan betah nak, Karena kamu itu orang Jawa, sedikit saja sudah cukup. Janganlah sekedar mencari sanjungan, Mencontoh-contoh mengikuti fiqih, apabila mampu, memang ada harapan mendapat rahmat. |
|
25 |
Naging enak ngupa boga, Reh ne ta tinitah langip, Apata suweting Nata, Tani tanapi agrami, Mangkono mungguh mami, Padune wong dahat cubluk, Durung wruh cara arab, Jawaku wae tan ngenting, Parandene paripaksa mulang putra. |
Tetapi seyogyanya mencari nafkah, Karena diciptakan sebagai makhluk lemah, Apakah mau mengabdi kepada raja, Bercocok tanam atau berdagang, Begitulah menurut pemahamanku, Sebagai orang yang sangat bodoh, Belum paham cara Arab, Tata cara Jawa saja tidak mengerti, Namun memaksa diri mendidik anak. |
|
26 |
Saking duk maksih taruna, Sadhela wus anglakoni, Aberag marang agama, Maguru anggering kaji, Sawadine tyas mami, Banget wedine ing mbesuk, Pranatan ngakir jaman, Tan tutug kaselak ngabdi, Nora kober sembahyang gya tinimbalan. |
Dikarenakan waktu masih muda, Keburu menempuh belajar pada agama, Berguru menimba ilmu pada yang haji, maka yang terpendam dalam hatiku, menjadi sangat takut akan hari kemudian, Keadaan di akhir zaman, Tidak tuntas keburu “mengabdi” Tidak sempat sembahyang terlanjur dipanggil. |
|
27 |
Marang ingkang asung pangan, Yen kesuwen den dukani, Abubrah kawur tyas ingwang, Lir kiyamat saben ari, Bot Allah apa Gusti, Tambuh tambuh solahingsun, Lawas lawas nggraita, Rehne ta suta priyayi, Yen mamriha dadi kaum temah nistha. |
Kepada yang memberi makan, Jika kelamaan dimarahi, Menjadi kacau balau perasaanku, Seperti kiyamat saban hari, Berat “Allah” atau “Gusti”, Bimbanglah sikapku, Lama-lama berfikir, Karena anak turun priyayi, Bila ingin jadi juru doa (kaum) dapatlah nista,
|
|
28 |
Tuwin ketip suragama, Pan ingsun nora winaris, Angur baya ngantepana, Pranatan wajibing urip, Lampahan angluluri, Kuna kumunanira, Kongsi tumekeng samangkin, Kikisane tan lyan amung ngupa boga. |
begitu pula jika aku menjadi pengurus dan juru dakwah agama. Karena aku bukanlah keturunannya, Lebih baik memegang teguh aturan dan kewajiban hidup, Menjalankan pedoman hidup warisan leluhur dari zaman dahulu kala hingga kelak kemudian hari. Ujungnya tidak lain hanyalah mencari nafkah. |
|
29 |
Bonggan kan tan merlok-na, Mungguh ugering ngaurip, Uripe lan tri prakara, Wirya arta tri winasis, Kalamun kongsi sepi, Saka wilangan tetelu, Telas tilasing janma, Aji godhong jati aking, Temah papa papariman ngulandara. |
Salahnya sendiri yang tidak mengerti, Paugeran orang hidup itu demikian seyogyanya, hidup dengan tiga perkara; Keluhuran (kekuasaan), harta (kemakmuran), ketiga ilmu pengetahuan. Bila tak satu pun dapat diraih dari ketiga perkara itu, habis lah harga diri manusia. Lebih berharga daun jati kering, akhirnya mendapatlah derita, jadi pengemis dan terlunta. |
|
30 |
Kang wus waspadha ing patrap, Manganyut ayat winasis, Wasana wosing jiwangga, Melok tanpa aling-aling, Kang ngalingi kalingling, Wenganing rasa tumlawung, Keksi saliring jaman, Angelangut tanpa tepi, Yeku ingaran tapa tapaking Hyang Suksma. |
Yang sudah paham tata caranya, Menghayati ajaran utama, Jika berhasil merasuk ke dalam jiwa, akan melihat tanpa penghalang, Yang menghalangi tersingkir, Terbukalah rasa sayup menggema. Tampaklah seluruh cakrawala, Sepi tiada bertepi, Yakni disebut “tapa tapaking Hyang Sukma”.
|
|
31 |
Mangkono janma utama, Tuman tumanem ing sepi, Ing saben rikala mangsa, Masah amemasuh budi, Laire anetepi, Ing reh kasatriyanipun, Susilo anor raga, Wignya met tyasing sesami, Yeku aran wong barek berag agama. |
Demikianlah manusia utama, Gemar terbenam dalam sepi (meredam nafsu), Di saat-saat tertentu, Mempertajam dan membersihkan budi, Bermaksud memenuhi tugasnya sebagai satria, berbuat susila rendah hati, pandai menyejukkan hati pada sesama, itulah sebenarnya yang disebut menghayati agama. |
|
32 |
Ing jaman mengko pan ora, Arahe para taruni, Yen antuk tuduh kang nyata, Nora pisan den lakoni, Banjur njujurken kapti, Kakekne arsa winuruk, Ngandelken gurunira, Panditane praja sidik, Tur wus manggon pamucunge Mring makripat |
Di zaman kelak tiada demikian, sikap anak muda bila mendapat petunjuk nyata, tidak pernah dijalani, Lalu hanya menuruti kehendaknya, Kakeknya akan diajari, dengan mengandalkan gurunya, yang dianggap pandita negara yang pandai, serta sudah menguasai makrifat. |
|
PUCUNG (Sembah Jiwa/Hakekat) |
||
|
33 |
Ngelmu iku Kalakone kanthi laku Lekase lawan kas Tegese kas nyantosani Setya budaya pangekese dur angkara |
Ilmu (hakekat) itu diraih dengan cara menghayati dalam setiap perbuatan, dimulai dengan kemauan. Artinya, kemauan membangun kesejahteraan terhadap sesama, Teguh membudi daya Menaklukkan semua angkara |
|
34 |
Angkara gung Neng angga anggung gumulung Gegolonganira Triloka lekeri kongsi Yen den umbar ambabar dadi rubeda. |
Nafsu angkara yang besar ada di dalam diri, kuat menggumpal, menjangkau hingga tiga zaman, jika dibiarkan berkembang akan berubah menjadi gangguan. |
|
35 |
Beda lamun kang wus sengsem Reh ngasamun Semune ngaksama Sasamane bangsa sisip Sarwa sareh saking mardi martatama |
Berbeda dengan yang sudah menyukai dan menjiwai, Watak dan perilaku memaafkan pada sesama selalu sabar berusaha menyejukkan suasana,
|
|
36 |
Taman limut Durgameng tyas kang weh limput Karem ing karamat Karana karoban ing sih Sihing sukma ngrebda saardi pengira |
Dalam kegelapan. Angkara dalam hati yang menghalangi, Larut dalam kesakralan hidup, Karena temggelam dalam samodra kasih sayang, kasih sayang sukma (sejati) tumbuh berkembang sebesar gunung |
|
37 |
Yeku patut tinulat tulat tinurut Sapituduhira, Aja kaya jaman mangkin Keh pra mudha mundhi diri Rapal makna |
Itulah yang pantas ditiru, contoh yang patut diikuti seperti semua nasehatku. Jangan seperti zaman nanti Banyak anak muda yang menyombongkan diri dengan hafalan ayat |
|
38 |
Durung becus kesusu selak besus Amaknani rapal Kaya sayid weton mesir Pendhak pendhak angendhak Gunaning jalma |
Belum mumpuni sudah berlagak pintar. Menerangkan ayat seperti sayid dari Mesir Setiap saat meremehkan kemampuan orang lain. |
|
39 |
Kang kadyeku Kalebu wong ngaku aku akale alangka Elok Jawane denmohi Paksa langkah ngangkah met Kawruh ing Mekah |
Yang seperti itu termasuk orang mengaku-aku Kemampuan akalnya dangkal Keindahan ilmu Jawa malah ditolak. Sebaliknya, memaksa diri mengejar ilmu di Mekah, |
|
40 |
Nora weruh rosing rasa kang rinuruh lumeketing angga anggere padha marsudi kana kene kaanane nora beda |
tidak memahami hakekat ilmu yang dicari, sebenarnya ada di dalam diri. Asal mau berusaha sana sini (ilmunya) tidak berbeda, |
|
41 |
Uger lugu Den ta mrih pralebdeng kalbu Yen kabul kabuka Ing drajat kajating urip Kaya kang wus winahya sekar srinata |
Asal tidak banyak tingkah, agar supaya merasuk ke dalam sanubari. Bila berhasil, terbuka derajat kemuliaan hidup yang sebenarnya. Seperti yang telah tersirat dalam tembang sinom (di atas). |
|
42 |
Basa ngelmu Mupakate lan panemune Pasahe lan tapa Yen satriya tanah Jawi Kuna kuna kang ginilut tripakara |
Yang namanya ilmu, dapat berjalan bila sesuai dengan cara pandang kita. Dapat dicapai dengan usaha yang gigih. Bagi satria tanah Jawa, dahulu yang menjadi pegangan adalah tiga perkara yakni; |
|
43 |
Lila lamun kelangan nora gegetun Trima yen ketaman Sakserik sameng dumadi Tri legawa nalangsa srah ing Bathara |
Ikhlas bila kehilangan tanpa menyesal, Sabar jika hati disakiti sesama, Ketiga ; lapang dada sambil berserah diri pada Tuhan. |
|
44 |
Bathara gung Inguger graning jajantung Jenek Hyang wisesa Sana pasenedan suci Nora kaya si mudha mudhar angkara |
Tuhan Maha Agung diletakkan dalam setiap hela nafas Menyatu dengan Yang Mahakuasa Teguh mensucikan diri Tidak seperti yang muda, mengumbar nafsu angkara. |
|
45 |
Nora uwus Kareme anguwus uwus Uwose tan ana Mung janjine muring muring Kaya buta buteng betah anganiaya |
Tidak henti hentinya gemar mencaci maki. Tanpa ada isinya kerjaannya marah-marah seperti raksasa; bodoh, mudah marah dan menganiaya sesama. |
|
46 |
Sakeh luput Ing angga tansah linimput Linimpet ing sabda Narka tan ana udani Lumuh ala ardane ginawa gada |
Semua kesalahan dalam diri selalu ditutupi, ditutup dengan kata-kata mengira tak ada yang mengetahui, bilangnya enggan berbuat jahat padahal tabiat buruknya membawa kehancuran. |
|
47 |
Durung punjul Ing kawruh kaselak jujul Kaseselan hawa Cupet kapepetan pamrih tangeh nedya anggambuh mring Hyang Wisesa |
Belum cakap ilmu Buru-buru ingin dianggap pandai. Tercemar nafsu selalu merasa kurang, dan tertutup oleh pamrih, sulit untuk manunggal pada Yang Mahakuasa. |
|
GAMBUH (Langkah Catur Sembah) |
||
|
48 |
Samengko ingsun tutur Sembah catur supaya lumuntur Dhihin raga, cipta, jiwa, rasa, kaki Ing kono lamun tinemu Tandha nugrahaning Manon |
Kelak saya bertutur, Empat macam sembah supaya dilestarikan; Pertama; sembah raga, kedua; sembah cipta, ketiga; sembah jiwa, dan keempat; sembah rasa, anakku ! Di situlah akan bertemu dengan pertanda anugrah Tuhan. |
|
49 |
Sembah raga punika Pakartine wong amagang laku Susucine asarana saking warih Kang wus lumrah limang wektu Wantu wataking weweton |
Sembah raga adalah Perbuatan orang yang lagi magang “olah batin” Menyucikan diri dengan sarana air, Yang sudah lumrah misalnya lima waktu Sebagai rasa menghormat waktu |
|
50 |
Inguni uni durung Sinarawung wulang kang sinerung Lagi iki bangsa kas ngetokken anggit Mintokken kawignyanipun Sarengate elok elok |
Zaman dahulu belum pernah dikenal ajaran yang penuh tabir, Baru kali ini ada orang menunjukkan hasil rekaan, memamerkan ke-bisa-an nya amalannya aneh aneh |
|
51 |
Thithik kaya santri Dul Gajeg kaya santri brai kidul Saurute Pacitan pinggir pasisir Ewon wong kang padha nggugu Anggere padha nyalemong |
Kadang seperti santri “Dul” (gundul) Bila tak salah, seperti santri wilayah selatan Sepanjang Pacitan tepi pantai Ribuan orang yang percaya. Asal-asalan dalam berucap |
|
52 |
Kasusu arsa weruh Cahyaning Hyang kinira yen karuh Ngarep arep urub arsa den kurebi Tan wruh kang mangkono iku Akale kaliru enggon |
Keburu ingin tahu, cahaya Tuhan dikira dapat ditemukan, Menanti-nanti besar keinginan (mendapatkan anugrah) namun gelap mata Orang tidak paham yang demikian itu Nalarnya sudah salah kaprah |
|
53 |
Yen ta jaman rumuhun Tata titi tumrah tumaruntun Bangsa srengat tan winor lan laku batin Dadi nora gawe bingung Kang padha nembah Hyang Manon |
Bila zaman dahulu, Tertib teratur runtut harmonis sariat tidak dicampur aduk dengan olah batin, jadi tidak membuat bingung bagi yang menyembah Tuhan |
|
54 |
Lire sarengat iku Kena uga ingaran laku Dhingin ajeg kapindone ataberi Pakolehe putraningsun Nyenyeger badan mrih kaot |
Sesungguhnya sariat itu dapat disebut olah, yang bersifat ajeg dan tekun. Anakku, hasil sariat adalah dapat menyegarkan badan agar lebih baik, |
|
55 |
Wong seger badanipun Otot daging kulit balung sungsum Tumrah ing rah memarah Antenging ati Antenging ati nunungku Angruwat ruweding batos |
badan, otot, daging, kulit dan tulang sungsumnya menjadi segar, Mempengaruhi darah, membuat tenang di hati. Ketenangan hati membantu Membersihkan kekusutan batin |
|
56 |
Mangkono mungguh ingsun Ananging ta sarehne asnafun Beda beda panduk pandhuming dumadi Sayektine nora jumbuh Tekad kang padha linakon |
Begitulah menurut ku ! Tetapi karena orang itu berbeda-beda, Beda pula garis nasib dari Tuhan. Sebenarnya tidak cocok tekad yang pada dijalankan itu |
|
57 |
Nanging ta paksa tutur Rehne tuwa tuwase mung catur Bok lumuntur lantaraning reh utami Sing sapa temen tinemu Nugraha geming kaprabon |
Namun terpaksa memberi nasehat Karena sudah tua kewajibannya hanya memberi petuah. Siapa tahu dapat lestari menjadi pedoman tingkah laku utama. Barang siapa bersungguh-sungguh akan mendapatkan anugrah kemuliaan dan kehormatan. |
|
58 |
Samengko sembah kalbu Yen lumintu uga dadi laku Laku agung kang kagungan Narapati Patitis tetesing kawruh Meruhi marang kang momong |
Nantinya, sembah kalbu itu jika berkesinambungan juga menjadi olah spiritual. Olah (spiritual) tingkat tinggi yang dimiliki Raja. Tujuan ajaran ilmu ini; untuk memahami yang mengasuh diri (guru sejati/pancer) |
|
59 |
Sucine tanpa banyu Mung nyunyuda mring hardaning kalbu Pambukane tata titi ngati ati Atetep telaten atul Tuladan marang waspaos |
Bersucinya tidak menggunakan air Hanya menahan nafsu di hati Dimulai dari perilaku yang tertata, teliti dan hati-hati (eling dan waspada) Teguh, sabar dan tekun, semua menjadi watak dasar, Teladan bagi sikap waspada. |
|
60 |
Mring jatining pandulu Panduk ing ndon dedalan satuhu Lamun lugu legutaning reh maligi Lageane tumalawung Wenganing alam kinaot |
Dalam penglihatan yang sejati, Menggapai sasaran dengan tata cara yang benar. Biarpun sederhana tatalakunya dibutuhkan konsentrasi Sampai terbiasa mendengar suara sayup-sayup dalam keheningan Itulah, terbukanya “alam lain” |
|
61 |
Yen wus kambah kadyeku Sarat sareh saniskareng laku Kalakone saka eneng ening eling Ilanging rasa tumlawung Kono adiling Hyang Manon |
Bila telah mencapai seperti itu, Saratnya sabar segala tingkah laku. Berhasilnya dengan cara; Membangun kesadaran, mengheningkan cipta, pusatkan fikiran kepada energi Tuhan. Dengan hilangnya rasa sayup-sayup, di situlah keadilan Tuhan terjadi. (jiwa memasuki alam gaib rahasia Tuhan) |
|
62 |
Gagare ngunggar kayun Tan kayungyun mring ayuning kayun Bangsa anggit yen ginigit nora dadi Marma den awas den emut Mring pamurunging kalakon |
Gugurnya jika menuruti kemauan jasad (nafsu) Tidak suka dengan indahnya kehendak rasa sejati, Jika merasakan keinginan yang tidak-tidak akan gagal. Maka awas dan ingat lah dengan yang membuat gagal tujuan |
|
63 |
Samengko kang tinutur Sembah katri kang sayekti katur Mring Hyang Sukma sukmanen saari ari Arahen dipun kacakup Sembaling jiwa sutengong |
Nanti yang diajarkan Sembah ketiga yang sebenarnya diperuntukkan kepada Hyang sukma (jiwa). Hayatilah dalam kehidupan sehari-hari Usahakan agar mencapai sembah jiwa ini anakku ! |
|
64 |
Sayekti luwih perlu Ingaranan pepuntoning laku Kalakuwan tumrap kang bangsaning batin Sucine lan awas emut Mring alaming lama maot |
Sungguh lebih penting, yang disebut sebagai ujung jalan spiritual, Tingkah laku olah batin, yakni menjaga kesucian dengan awas dan selalu ingat akan alam nan abadi kelak.
|
|
65 |
Ruktine ngangkah ngukut Ngiket ngruket triloka kakukut Jagad agung ginulung lan jagad alit Den kandel kumadel kulup Mring kelaping alam kono |
Cara menjaganya dengan menguasai, mengambil, mengikat, merangkul erat tiga jagad yang dikuasai. Jagad besar tergulung oleh jagad kecil, Pertebal keyakinanmu anakku ! Akan kilaunya alam tersebut. |
|
66 |
Kaleme mawi limut Kalamatan jroning alam kanyut Sanyatane iku kanyatan kaki Sejatine yen tan emut Sayekti tan bisa awor |
Tenggelamnya rasa melalui suasana “remang berkabut”, Mendapat firasat dalam alam yang menghanyutkan, Sebenarnya hal itu kenyataan, anakku ! Sejatinya jika tidak ingat Sungguh tak bisa “larut” |
|
67 |
Pamete saka luyut Sarwa sareh saliring panganyut Lamun yitna kayitnan kang mitayani Tarlen mung pribadinipun Kang katon tinonton kono |
Jalan keluarnya dari luyut (batas antara lahir dan batin) Tetap sabar mengikuti “alam yang menghanyutkan” Asal hati-hati dan waspada yang menuntaskan tidak lain hanyalah diri pribadinya yang tampak terlihat di situ |
|
68 |
Nging away salah surup Kono ana sajatining urub Yeku urub pangareb uriping budi Sumirat sirat narawung Kadya kartika katonton |
Tetapi jangan salah mengerti Di situ ada cahaya sejati Ialah cahaya pembimbing, energi penghidup akal budi. Bersinar lebih terang dan cemerlang, tampak bagaikan bintang |
|
69 |
Yeku wenganing kalbu Kabukane kang wengku winengku Wewengkone wis kawengku neng sireki Nging sira uga kawengku Mring kang pindha kartika byor |
Yaitu membukanya pintu hati Terbukanya yang kuasa-menguasai (antara cahaya/nur dengan jiwa/roh). Cahaya itu sudah kau (roh) kuasai Tapi kau (roh) juga dikuasai oleh cahaya yang seperti bintang cemerlang. |
|
70 |
Samengko ingsun tutur Gantya sembah ingkang kaping catur Sembah rasa karasa wosing dumadi Dadine wis tanpa tuduh Mung kalawan kasing batos |
Nanti ingsun ajarkan, Beralih sembah yang ke empat. Sembah rasa terasalah hakekat kehidupan. Terjadinya sudah tanpa petunjuk, hanya dengan kesentosaan batin
|
|
71 |
Kalamun durung lugu Aja pisan wani ngaku aku Antuk siku kang mangkono iku kaki Kena uga wenang muluk Kalamun wus padha melok |
Apabila belum bisa membawa diri, Jangan sekali-kali berani mengaku-aku, mendapat laknat yang demikian itu anakku ! Artinya, seseorang berhak berkata apabila sudah mengetahui dengan nyata. |
|
72 |
Meloke ujar iku Yen wus ilang sumelanging kalbu Amung kandel kumandel Amarang ing takdir Iku den awas den emut Den memet yen arsa momot |
Menghayati pelajaran ini Bila sudah hilang keragu-raguan hati. Hanya percaya dengan sungguh-sungguh kepada takdir itu harap diwaspadai, diingat, dicermati bila ingin menguasai seluruhnya. |
|
73 |
Pamoting ujar iku Kudu santosa ing budi teguh sarta sabar tawekal legaweng ati Trima lila ambeg sadu Weruh wekasing dumados |
Melaksanakan petuah itu Harus kokoh budipekertinya Teguh serta sabar tawakal lapang dada Menerima dan ikhlas apa adanya sikapnya dapat dipercaya Mengerti “sangkan paraning dumadi”. |
|
74 |
Sabarang tindak tanduk Tumindake lan sakadaripun, Den ngaksama kasisipaning sesami, Sumimpanga ing laku dur, Hardaning budi kang ngrodon. |
Segala tindak tanduk dilakukan ala kadarnya, memberi maaf atas kesalahan sesama, menghindari perbuatan tercela, (dan) watak angkara yang besar. |
|
75 |
Dadya weruh iya dudu, Yeku minangka pandaming kalbu, Ingkang buka ing kijab bullah agaib, Sesengkeran kang sinerung, Dumunung telenging batos. |
Sehingga tahu baik dan buruk, Demikian itu sebagai ketetapan hati, Yang membuka penghalang/tabir antara insan dan Tuhan, Tersimpan dalam rahasia, Terletak di dalam batin. |
|
76 |
Rasaning urip iku, Krana momor pamoring sawujud, Wujudollah sumrambah ngalam sakalir, Lir manis kalawan madu, Endi arane ing kono. |
Rasa hidup itu dengan cara manunggal dalam satu wujud, Wujud Tuhan meliputi alam semesta, bagaikan rasa manis dengan madu. Begitulah ungkapannya. |
|
77 |
Endi manis endi madu, Yen wis bisa nuksmeng pasang semu, Pasamoaning hebing kang Mahasuci, Kasikep ing tyas kacakup, Kasat mata lair batos. |
Mana manis mana madu, apabila sudah bisa menghayati gambaran itu, Bagaimana pengertian sabda Tuhan, Hendaklah digenggam di dalam hati, sudah jelas dipahami secara lahir dan batin. |
|
78 |
Ing batin tan kaliru Kedhap kilap liniling ing kalbu, Kang minangka colok celaking Hyang Widhi, Widadaning budi sadu, Pandak panduking liru nggon. |
Dalam batin tak keliru, Segala cahaya indah dicermati dalam hati, Yang menjadi petunjuk dalam memahami hakekat Tuhan, Selamatnya karena budi (bebuden) yang jujur (hilang nafsu), Agar dapat merasuk beralih “tempat”. |
|
79 |
Nggonira mrih tulus, Kalaksitaning reh kang rinuruh, Nggyanira mrih wiwal warananing gaib, Paranta lamun tan weruh, Sasmita jatining endhog. |
Agar usahamu berhasil, Dapat menemukan apa yang dicari, upayamu agar dapat melepas penghalang kegaiban, Apabila kamu tidak paham ; lihatlah tentang bagaimana terjadinya telur.
|
|
80 |
Putih lan kuningipun, Lamun arsa titah, titah teka mangsul, Dene nora mantra-mantra yen ing lair, Bisa aliru wujud, Kadadeyane ing kono. |
Putih dan kuningnya, bila akan mewujud (menetas), wujud datang berganti, tak disangka-sangka, bila kelahirannya dapat berganti wujud, Kejadiannya di situ ! |
|
81 |
Istingarah tan metu, Lawan istingarah tan lumebu, Dene ing njro wekasane dadi njawi, Rasakna kang tuwajuh, Aja kongsi kabasturon. |
Dipastikan tidak keluar, juga tidak masuk, Kenyataannya yang di dalam akhirnya menjadi di luar, Rasakan sunguh-sungguh, Jangan sampai terlanjur tak bisa memahami. |
|
82 |
Karana yen kebanjur, Kajantaka tumekeng saumur, Tanpa tuwas yen tiwasa ing dumadi, Dadi wong ina tan weruh, Dheweke den anggep dayoh. |
Sebab apabila sudah terlanjur, akan tak tenang sepanjang hidup, tidak ada gunanya bila kelak mati, Menjadi orang hina yang bodoh, dirinya sendiri malah dianggap tamu.
http://sabdalangit.wordpress.com |
|
|
Kinanti podho 83-100 … |
Silahkan dibaca di postingan Wedhatama Kinanti (lanjutan) |
AJARAN SYEH SITI JENAR & KEJAWEN Dalam Memandang Ketuhanan, Dosa/Neraka, Pahala/Surga
PERBANDINGAN ANTARA
AJARAN SYEH SITI JENAR
Dan PANDANGAN KEJAWEN
Mengenai Ketuhanan, Alam, dan Manusia
Syeh Siti Jenar (Lemah Abang) dalam Mengenal Tuhan
Ajaran Siti Jenar memahami Tuhan sebagai ruh yang tertinggi, ruh maulana yang utama, yang mulia yang sakti, yang suci tanpa kekurangan. Itulah Hyang Widhi, ruh maulana yang tinggi dan suci menjelma menjadi diri manusia.
Hyang Widhi itu di mana-mana, tidak di langit, tidak di bumi, tidak di utara atau selatan. Manusia tidak akan menemukan biarpun keliling dunia. Ruh maulana ada dalam diri manusia karena ruh manusia sebagai penjelmaan ruh maulana, sebagaimana dirinya yang sama-sama menggunakan hidup ini dengan indera, jasad yang akan kembali pada asalnya, busuk, kotor, hancur, tanah. Jika manusia itu mati ruhnya kembali bersatu ke asalnya, yaitu ruh maulana yang bebas dari segala penderitaan. Lebih lanjut Siti Jenar mengungkapkan sifat-sifat hakikat ruh manusia adalah ruh diri manusia yang tidak berubah, tidak berawal, tidak berakhir, tidak bermula, ruh tidak lupa dan tidak tidur, yang tidak terikat dengan rangsangan indera yang meliputi jasad manusia.
Syeh Siti Jenar mengaku bahwa, “aku adalah Allah, Allah adalah aku”. Lihatlah, Allah ada dalam diriku, aku ada dalam diri Allah. Pengakuan Siti Jenar bukan bermaksud mengaku-aku dirinya sebagai Tuhan Allah Sang Pencipta ajali abadi, melainkan kesadarannya tetap teguh sebagai makhluk yang diciptakan Tuhan. Siti Jenar merasa bahwa dirinya bersatu dengan “ruh” Tuhan. Memang ada persamaan antara ruh manusia dengan “ruh” Tuhan atau Zat. Keduanya bersatu di dalam diri manusia. Persatuan antara ruh Tuhan dengan ruh manusia terbatas pada persatuan manusia denganNya. Persatuannya merupakan persatuan Zat sifat, ruh bersatu dengan Zat sifat Tuhan dalam gelombang energi dan frekuensi yang sama. Inilah prinsip kemanunggalan dalam ajaran tentang manunggaling kawula Gusti atau jumbuhing kawula Gusti. Bersatunya dua menjadi satu, atau dwi tunggal. Diumpamakan wiji wonten salebeting wit.
Pandangan Syeh Lemah Abang Tentang Manusia
Dalam memandang hakikat manusia Siti Jenar membedakan antara jiwa dan akal. Jiwa merupakan suara hati nurani manusia yang merupakan ungkapan dari zat Tuhan, maka hati nurani harus ditaati dan dituruti perintahnya. Jiwa merupakan kehendak Tuhan, juga merupakan penjelmaan dari Hyang Widdhi (Tuhan) di dalam jiwa, sehingga raga dianggap sebagai wajah Hyang Widdhi. Jiwa yang berasal dari Tuhan itu mempunyai sifat zat Tuhan yakni kekal, sesudah manusia raganya mati maka lepaslah jiwa dari belenggu raganya. Demikian pula akal merupakan kehendak, tetapi angan-angan dan ingatan yang kebenarannya tidak sepenuhnya dapat dipercaya, karena selalu berubah-ubah.
Menurut sabdalangit, perbedaan karakter jiwa dan akal yang bertolak belakang dalam pandangan Siti Jenar, disebabkan oleh adanya garis demarkasi yang menjadi pemisah antara sifat hakikat jiwa dan akal-budi. Jiwa terletak di luar nafsu, sementara akal-budi letaknya berada di dalam nafsu. Mengenai perbedaan jiwa dan akal, dalam wirayat Saloka Jati diungkapkan bahwa akal-budi umpama kodhok kinemulan ing leng atau wit jroning wiji (pohon ada di dalam biji). Sedangkan jiwa umpama kodhok angemuli ing leng atau wiji jroning wit (biji ada di dalam pohon).
Bagi Syeh Siti Jenar, proses timbulnya pengetahuan datang secara bersamaan dengan munculnya kesadaran subyek terhadap obyek. Maka pengetahuan mengenai kebenaran Tuhan akan diperoleh seseorang bersama dengan penyadaran diri orang itu. Jika ingin mengetahui Tuhanmu, ketahuilah (terlebih dahulu) dirimu sendiri. Syeh Lemah bang percaya bahwa kebenaran yang diperoleh dari hal-hal di atas ilmu pengetahuan, mengenai wahyu dan Tuhan bersifat intuitif. Kemampuan intuitif ini ada bersamaan dengan munculnya kesadaran dalam diri seseorang.
Pandangan Syeh Lemah Bang Tentang Kehidupan Dunia
Pandangan Syeh Jenar tentang dunia adalah bahwa hidup di dunia ini sesungguhnya adalah mati. Dikatakan demikian karena hidup di dunia ini ada surga dan neraka yang tidak bisa ditolak oleh manusia. Manusia yang mendapatkan surga mereka akan mendapatkan kebahagiaan, ketenangan, kesenangan. Sebaliknya rasa bingung, kalut, muak, risih, menderita itu termasuk neraka. Jika manusia hidup mulia, sehat, cukup pangan, sandang, papan maka ia dalam surga. Tetapi kesenangan atau surga di dunia ini bersifat sementara atau sekejap saja, karena betapapun juga manusia dan sarana kehidupannya pasti akan menemui kehancuran.
Syeh Jenar mengumpamakan bahwa manusia hidup ini sesungguhnya mayat yang gentayangan untuk mencari pangan pakaian dan papan serta mengejar kekayaan yang dapat menyenangkan jasmani. Manusia bergembira atas apa yang ia raih, yang memuaskan dan menyenangkan jiwanya, padahal ia tidak sadar bahwa semua kesenangan itu akan binasa. Namun begitu manusia suka sombong dan bangga atas kepemilikan kekayaan, tetapi tidak menyadari bahwa dirinya adalah bangkai. Manusia justru merasa dirinya mulia dan bahagia, karena manusia tidak menyadari bahwa harta bendanya merupakan penggoda manusia yang menyebabkan keterikatannya pada dunia.
Jika manusia tidak menyadari itu semua, hidup ini sesungguhnya derita. Pandangan seperti itu menjadikan sikap dan pandangan Siti Jenar menjadi ekstrim dalam memandang kehidupan dunia. Hidup di dunia ini adalah mati, tempat baik dan buruk, sakit dan sehat, mujur dan celaka, bahagia dan sempurna, surga dan neraka, semua bercampur aduk menjadi satu. Dengan adanya peraturan maka manusia menjadi terbebani sejak lahir hingga mati. Maka Syeh Siti Jenar sangat menekankan pada upaya manusia untuk hidup yang abadi agar tahan mengalami hidup di dunia ini. Siti Jenar kemudian mengajarkan bagaimana mencari kamoksan (mukswa/mosca) yakni mati sempurna beserta raganya lenyap masuk ke dalam ruh (warongko manjing curigo). Hidup ini mati, karena mati itu hidup yang sesungguhnya karena manusia bebas dari segala beban dan derita. Karena hidup sesudah kematian adalah hidup yang sejati, dan abadi.
Syeh Siti Jenar Mengkritik Ulama dan Para Santrinya
Alasan yang mendasari mengapa Syeh Siti Jenar mengkritik habis-habisan para ulama dan santrinya karena dalam kacamata Syeh Siti, mereka hanya berkutat pada amalan syariat (sembah raga). Padahal masih banyak tugas manusia yang lebih utama harus dilakukan untuk mencapai tataran kemuliaan yang sejati. Dogma-dogma, dan ketakutan neraka serta bujuk rayu surga justru membelenggu raga, akal budi, dan jiwa manusia. Maka manusia menjadi terkungkung rutinitas lalu lupa akan tugas-tugas beratnya. Manusia demikian menjadi gagal dalam upaya menemukan Tuhannya.
Kritik Syeh Lemah Bang Atas Konsep Surga-Neraka
Konsep surga-neraka dalam ajaran Siti Jenar berbeda sekali dengan apa yang diajarkan oleh para ulama. Menurut Syeh Siti Jenar, surga dan neraka adalah dalam hidup ini. Sementara para ulama mengajarkan surga dan neraka merupakan balasan yang diberikan kepada manusia atas amalnya yang bakal diterima kelak sesudah kematian (akherat).
Menurut Syeh Siti, orang mukmin telah keliru karena mengerjakan shalat jungkir balik, mengharap-harap surga, sedang surga sesudah kematian itu tidak ada, shalat itu tidak perlu dan orang tidak perlu mengajak orang lain untuk shalat. Shalat minta apa, minta rizki ? Tuhan toh tidak memberi lantaran shalat.
Santri yang menjual ilmu dengan siapa pun mau menyembah Tuhan di masjid, di dalamnya terdapat Tuhan yang bohong. Para ulama telah menyesatkan manusia dengan menipu mereka jungkir balik lima kali, pagi, siang, sore, malam hanya untuk memohon-mohon imbalan surga kelak. Sehingga orang banyak tergiur oleh omongan palsunya, dan orang menjadi gelisah tak enak ketika terlambat mengerjakan shalat. Orang seperti itu sungguh bodoh dan tak tau diri, jikalau pun seseorang menyadari bahwa shalat itu dilakukan karena merupakan kebutuhan diri manusia sendiri untuk menyembah Tuhannya, manusia ternyata tidak menyadari keserakahannya; dengan minta-minta imbalan/hadiah surga. Orang-orang telah terbius oleh para ulama, sehingga mereka suka berzikir, dan disibukkan oleh kegiatan menghitung-hitung pahalanya tiap hari. Sebaliknya, lupa bahwa sejatinya kebaikan itu harus diimplementasikan kepada sesama (habluminannas).
Lebih lanjut Syekh Siti Jenar menuduh para ulama dan murid mereka sebagai orang dungu dan dangkal ilmu, karena menafsirkan surga sebagai balasan yang nanti diterima di akhirat. Penafsiran demikian adalah penafsiran yang sangat sempit. Hidup para ulama adalah hidup asal hidup, tidak mengerti hakekat, tetapi jika disuruh mati mereka menolak mentah-mentah. Surga dan neraka letaknya pada manusia masing-masing. Orang bergelimang harta, hidupnya merasa selalu terancam oleh para pesaing bisnisnya, tidur tak nyeyak, makan tak enak, jalan pun gelisah, itulah neraka. Sebaliknya, seorang petani di lereng gunung terpencil, hasil bercocok tanam cukup untuk makan sekeluarga, menempati rumah kecil yang tenang, tiap sore dapat duduk bersantai di halaman rumah sambil memandang hamparan sawah hijau menghampar, hatinya sesejuk udaranya, tenang jiwanya, itulah surga. Kehidupan ini telah memberi manusia mana surga mana neraka.
Syeh Siti Jenar memandang alam semesta sebagai makrokosmos dan mikrokosmos (manusia) sekurangnya kedua hal ini merupakan barang baru ciptaan Tuhan yang sama-sama akan mengalami kerusakan, tidak kekal dan tidak abadi. Manusia terdiri atas jiwa dan raga yang intinya ialah jiwa sebagai penjelmaan zat Tuhan.
Sedangkan raga adalah bentuk luar dari jiwa yang dilengkapi pancaindera, sebagai organ tubuh seperti daging, otot, darah, dan tulang. Semua aspek keragaan atau ketubuhan adalah barang pinjaman yang suatu saat, setelah manusia terlepas dari kematian di dunia ini, akan kembali berubah asalnya yaitu unsur bumi (tanah).
Syeh Lemah Bang, mengatakan bahwa;
“Bukan kehendak angan-angan, bukan ingatan, pikiran atau niat, hawa nafsu pun bukan, bukan pula kekosongan atau kehampaan. Penampilanku sebagai mayat baru, andai menjadi gusti jasadku dapat busuk bercampur debu, nafasku terhembus di segala penjuru dunia, tanah, api, air, kembali sebagai asalnya, yaitu kembali menjadi baru. Bumi langit dan sebagainya adalah kepunyaan seluruh manusia, manusialah yang memberi nama”.
Kesimpulan
Pandangan Syeh Lemah Bang; tentang terlepasnya manusia dari belenggu alam kematian yakni hidup di alam dunia ini, berawal dari konsepnya tentang ketuhanan, manusia dan alam. Manusia adalah jelmaan zat Tuhan. Hubungan jiwa dari Tuhan dan raga, berakhir sesudah manusia menemui ajal atau kematian duniawi. Sesudah itu manusia bisa manunggal dengan Tuhan dalam keabadian. Pada saat itu semua bentuk badan wadag (jasad) atau kebutuhan jasmanisah ditinggal karena jasad merupakan barang baru (hawadist) yang dikenai kerusakan dan semacam barang pinjaman yang harus dikembalikan kepada yang punya yaitu Tuhan sendiri.
Terlepas dari ajaran Siti Jenar yang sangat ekstrim memandang dunia sebagai bentuk penderitaan total yang harus segera ditinggalkan rupanya terinspirasi oleh ajaran seorang sufi dari Bagdad, Hussein Ibnu Al Hallaj, yang menolak segala kehidupan dunia. Hal ini berbeda dengan konsep Islam secara umum yang memadang hidup di dunia sebagai khalifah Tuhan.
Pandangan Kejawen Tentang Kehidupan di Dunia
Pandangan Kejawen tentang makna hidup manusia dunia ditampilkan secara rinci, realistis, logis dan mengena di dalam hati nurani; bahwa hidup ini diumpamakan hanya sekedar mampir ngombe, mampir minum, hidup dalam waktu sekejab, dibanding kelak hidup di alam keabadian setelah raga ini mati. Tetapi tugas manusia sungguh berat, karena jasad adalah pinjaman Tuhan. Tuhan meminjamkan raga kepada ruh, tetapi ruh harus mempertanggungjawabkan “barang” pinjamannya itu. Pada awalnya Tuhan Yang Mahasuci meminjamkan jasad kepada ruh dalam keadaan suci, apabila waktu “kontrak” peminjaman sudah habis, maka ruh diminta tanggungjawabnya, ruh harus mengembalikan jasad pinjamannya dalam keadaan yang suci seperti semula. Ruh dengan jasadnya diijinkan Tuhan “turun” ke bumi, tetapi dibebani tugas yakni menjaga barang pinjaman tersebut agar dalam kondisi baik dan suci setelah kembali kepada pemiliknya, yakni Gusti Ingkang Akaryo Jagad. Ruh dan jasad menyatu dalam wujud yang dinamakan manusia. Tempat untuk mengekspresikan dan mengartikulasikan diri manusia adalah tempat pinjaman Tuhan juga yang dinamakan bumi berikut segala macam isinya; atau mercapada. Karena bumi bersifat “pinjaman” Tuhan, maka bumi juga bersifat tidak kekal.
Betapa Maha Pemurahnya Tuhan itu, bersedia meminjamkan jasad, berikut tempat tinggal dan segala isinya menjadi fasilitas manusia boleh digunakan secara gratis. Tuhan hanya menuntut tanggungjawab manusia saja, agar supaya menjaga semua barang pinjaman Tuhan tersebut, serta manusia diperbolehkan memanfaatkan semua fasilitas yang Tuhan sediakan dengan cara tidak merusak barang pinjaman dan semua fasilitasnya.
Itulah tanggungjawab manusia yang sesungguhnya hidup di dunia ini; yakni menjaga barang “titipan” atau “pinjaman”, serta boleh memanfaatkan semua fasilitas yang disediakan Tuhan untuk manusia dengan tanpa merusak, dan tentu saja menjaganya agar tetap utuh, tidak rusak, dan kembali seperti semula dalam keadaan suci. Itulah “perjanjian” gaib antara Tuhan dengan manusia makhlukNya. Untuk menjaga klausul perjanjian tetap dapat terlaksana, maka Tuhan membuat rumus atau “aturan-main“ yang harus dilaksanakan oleh pihak peminjam yakni manusia. Rumus Tuhan ini yang disebut pula sebagai kodrat Tuhan; berbentuk hukum sebab-akibat. Pengingkaran atas isi atau “klausul kontrak” tersebut berupa akibat sebagai konsekuensi logisnya. Misalnya; keburukan akan berbuah keburukan, kebaikan akan berbuah kebaikan pula. Barang siapa menanam, maka mengetam. Perbuatan suka memudahkan akan berbuah sering dimudahkan. Suka mempersulit akan berbuah sering dipersulit.
Konsep Kejawen Tentang Pahala dan Dosa
dan Pandangan Kejawen tentang Kebaikan-Keburukan
Ajaran Kejawen tidak pernah menganjurkan seseorang menghitung-hitung pahala dalam setiap beribadat. Bagi Kejawen, motifasi beribadat atau melakukan perbuatan baik kepada sesama bukan karena tergiur surga. Demikian pula dalam melaksanakan sembahyang manembah kepada Tuhan Yang Maha Suci bukan karena takut neraka dan tergiur iming-iming surga. Kejawen memiliki tingkat kesadaran bahwa kebaikan-kebaikan yang dilakukan seseorang kepada sesama bukan atas alasan ketakutan dan intimidasi dosa-neraka, melainkan kesadaran kosmik bahwa setiap perbuatan baik kepada sesama merupakan sikap adil dan baik pada diri sendiri. Kebaikan kita pada sesama adalah KEBUTUHAN diri kita sendiri. Kebaikan akan berbuah kebaikan. Karena setiap kebaikan yang kita lakukan pada sesama akan kembali untuk diri kita sendiri, bahkan satu kebaikan akan kembali pada diri kita secara berlipat. Demikian juga sebaliknya, setiap kejahatan akan berbuah kejahatan pula. Kita suka mempersulit orang lain, maka dalam urusan-urusan kita akan sering menemukan kesulitan. Kita gemar menolong dan membantu sesama, maka hidup kita akan selalu mendapatkan kemudahan.
Menurut pandangan Kejawen, kebiasaan mengharap dan menghitung pahala terhadap setiap perbuatan baik hanya akan membuat keikhlasan seseorang menjadi tidak sempurna. Kebiasaan itu juga mencerminkan sikap yang serakah, lancang, picik, dan tidak tahu diri. Karena menyembah Tuhan adalah kebutuhan manusia, bukan kebutuhan Tuhan. Mengapa seseorang masih juga mengharap-harap pahala dalam memenuhi kebutuhan pribadinya sendiri ? Dapat dibayangkan, jika kita menjadi mahasiswa maka butuh bimbingan dalam menyusun skripsi dari dosen pembimbing, maka betapa lancang, serakah, dan tak tahu diri jika kita masih berharap-harap supaya dosen pembimbing tersebut bersedia memberikan uang kepada kita sebagai upah. Dapat diumpamakan pula misalnya; kita mengharap-harapkan upah dari seseorang yang bersedia menolong kita..?
Ajaran Kejawen memandang bahwa seseorang yang menyembah Tuhan dengan tanpa pengharapan akan mendapat pahala atau surga dan bukan atas alasan takut dosa atau neraka, adalah sebuah bentuk KEMULIAAN HIDUP YANG SEJATI. Sebaliknya, menyembah Tuhan, berangkat dari kesadaran bahwa manusia hidup di dunia ini selalu berhutang kenikmatan dan anugrah dari Tuhan. Dalam satu detik seseorang akan kesulitan mengucapkan satu kalimat sukur, padahal dalam sedetik itu manusia adanya telah berhutang puluhan atau bahkan ratusan kenikmatan dan anugerah Tuhan. Maka seseorang menjadi tidak etis, lancang dan tak tahu diri jika dalam bersembahyang pun manusia masih menjadikannya sebagai sarana memohon sesuatu kepada Tuhan. Tuhan tempat meminta, tetapi manusia lah yang tak tahu diri tiada habisnya meminta-minta. Dalam sikap demikian ketenangan dan kebahagiaan hidup yang sejati akan sangat sulit didapatkan.
Sembahyang tidak lain sebagai cara mengungkapkan rasa berterimakasihnya kepada Tuhan. Namun demikian ajaran Kejawen memandang bahwa rasa sukur kepada Tuhan melalui sembahyang atau ucapan saja tidak lah cukup, tetapi lebih utama harus diartikulasikan dan diimplementasikan ke dalam bentuk tindakan atau perbuatan baik kepada sesama dalam kehidupan sehari-harinya. Jika Tuhan memberikan kesehatan kepada seseorang, maka sebagai wujud rasa sukurnya orang itu harus membantu dan menolong orang lain yang sedang sakit atau menderita.
Itu lah pandangan yang menjadi dasar Kejawen bahwa menyembah Tuhan, dan berbuat baik pada sesama, bukanlah KEWAJIBAN (perintah) yang datang dari Tuhan, melainkan diri kita sendiri yang mewajibkan.
sabdalangit














