PERBANDINGAN ANTARA
AJARAN SYEH SITI JENAR
Dan PANDANGAN KEJAWEN
Mengenai Ketuhanan, Alam, dan Manusia
Syeh Siti Jenar (Lemah Abang) dalam Mengenal Tuhan
Ajaran Siti Jenar memahami Tuhan sebagai ruh yang tertinggi, ruh maulana yang utama, yang mulia yang sakti, yang suci tanpa kekurangan. Itulah Hyang Widhi, ruh maulana yang tinggi dan suci menjelma menjadi diri manusia.
Hyang Widhi itu di mana-mana, tidak di langit, tidak di bumi, tidak di utara atau selatan. Manusia tidak akan menemukan biarpun keliling dunia. Ruh maulana ada dalam diri manusia karena ruh manusia sebagai penjelmaan ruh maulana, sebagaimana dirinya yang sama-sama menggunakan hidup ini dengan indera, jasad yang akan kembali pada asalnya, busuk, kotor, hancur, tanah. Jika manusia itu mati ruhnya kembali bersatu ke asalnya, yaitu ruh maulana yang bebas dari segala penderitaan. Lebih lanjut Siti Jenar mengungkapkan sifat-sifat hakikat ruh manusia adalah ruh diri manusia yang tidak berubah, tidak berawal, tidak berakhir, tidak bermula, ruh tidak lupa dan tidak tidur, yang tidak terikat dengan rangsangan indera yang meliputi jasad manusia.
Syeh Siti Jenar mengaku bahwa, “aku adalah Allah, Allah adalah aku”. Lihatlah, Allah ada dalam diriku, aku ada dalam diri Allah. Pengakuan Siti Jenar bukan bermaksud mengaku-aku dirinya sebagai Tuhan Allah Sang Pencipta ajali abadi, melainkan kesadarannya tetap teguh sebagai makhluk yang diciptakan Tuhan. Siti Jenar merasa bahwa dirinya bersatu dengan “ruh” Tuhan. Memang ada persamaan antara ruh manusia dengan “ruh” Tuhan atau Zat. Keduanya bersatu di dalam diri manusia. Persatuan antara ruh Tuhan dengan ruh manusia terbatas pada persatuan manusia denganNya. Persatuannya merupakan persatuan Zat sifat, ruh bersatu dengan Zat sifat Tuhan dalam gelombang energi dan frekuensi yang sama. Inilah prinsip kemanunggalan dalam ajaran tentang manunggaling kawula Gusti atau jumbuhing kawula Gusti. Bersatunya dua menjadi satu, atau dwi tunggal. Diumpamakan wiji wonten salebeting wit.
Pandangan Syeh Lemah Abang Tentang Manusia
Dalam memandang hakikat manusia Siti Jenar membedakan antara jiwa dan akal. Jiwa merupakan suara hati nurani manusia yang merupakan ungkapan dari zat Tuhan, maka hati nurani harus ditaati dan dituruti perintahnya. Jiwa merupakan kehendak Tuhan, juga merupakan penjelmaan dari Hyang Widdhi (Tuhan) di dalam jiwa, sehingga raga dianggap sebagai wajah Hyang Widdhi. Jiwa yang berasal dari Tuhan itu mempunyai sifat zat Tuhan yakni kekal, sesudah manusia raganya mati maka lepaslah jiwa dari belenggu raganya. Demikian pula akal merupakan kehendak, tetapi angan-angan dan ingatan yang kebenarannya tidak sepenuhnya dapat dipercaya, karena selalu berubah-ubah.
Menurut sabdalangit, perbedaan karakter jiwa dan akal yang bertolak belakang dalam pandangan Siti Jenar, disebabkan oleh adanya garis demarkasi yang menjadi pemisah antara sifat hakikat jiwa dan akal-budi. Jiwa terletak di luar nafsu, sementara akal-budi letaknya berada di dalam nafsu. Mengenai perbedaan jiwa dan akal, dalam wirayat Saloka Jati diungkapkan bahwa akal-budi umpama kodhok kinemulan ing leng atau wit jroning wiji (pohon ada di dalam biji). Sedangkan jiwa umpama kodhok angemuli ing leng atau wiji jroning wit (biji ada di dalam pohon).
Bagi Syeh Siti Jenar, proses timbulnya pengetahuan datang secara bersamaan dengan munculnya kesadaran subyek terhadap obyek. Maka pengetahuan mengenai kebenaran Tuhan akan diperoleh seseorang bersama dengan penyadaran diri orang itu. Jika ingin mengetahui Tuhanmu, ketahuilah (terlebih dahulu) dirimu sendiri. Syeh Lemah bang percaya bahwa kebenaran yang diperoleh dari hal-hal di atas ilmu pengetahuan, mengenai wahyu dan Tuhan bersifat intuitif. Kemampuan intuitif ini ada bersamaan dengan munculnya kesadaran dalam diri seseorang.
Pandangan Syeh Lemah Bang Tentang Kehidupan Dunia
Pandangan Syeh Jenar tentang dunia adalah bahwa hidup di dunia ini sesungguhnya adalah mati. Dikatakan demikian karena hidup di dunia ini ada surga dan neraka yang tidak bisa ditolak oleh manusia. Manusia yang mendapatkan surga mereka akan mendapatkan kebahagiaan, ketenangan, kesenangan. Sebaliknya rasa bingung, kalut, muak, risih, menderita itu termasuk neraka. Jika manusia hidup mulia, sehat, cukup pangan, sandang, papan maka ia dalam surga. Tetapi kesenangan atau surga di dunia ini bersifat sementara atau sekejap saja, karena betapapun juga manusia dan sarana kehidupannya pasti akan menemui kehancuran.
Syeh Jenar mengumpamakan bahwa manusia hidup ini sesungguhnya mayat yang gentayangan untuk mencari pangan pakaian dan papan serta mengejar kekayaan yang dapat menyenangkan jasmani. Manusia bergembira atas apa yang ia raih, yang memuaskan dan menyenangkan jiwanya, padahal ia tidak sadar bahwa semua kesenangan itu akan binasa. Namun begitu manusia suka sombong dan bangga atas kepemilikan kekayaan, tetapi tidak menyadari bahwa dirinya adalah bangkai. Manusia justru merasa dirinya mulia dan bahagia, karena manusia tidak menyadari bahwa harta bendanya merupakan penggoda manusia yang menyebabkan keterikatannya pada dunia.
Jika manusia tidak menyadari itu semua, hidup ini sesungguhnya derita. Pandangan seperti itu menjadikan sikap dan pandangan Siti Jenar menjadi ekstrim dalam memandang kehidupan dunia. Hidup di dunia ini adalah mati, tempat baik dan buruk, sakit dan sehat, mujur dan celaka, bahagia dan sempurna, surga dan neraka, semua bercampur aduk menjadi satu. Dengan adanya peraturan maka manusia menjadi terbebani sejak lahir hingga mati. Maka Syeh Siti Jenar sangat menekankan pada upaya manusia untuk hidup yang abadi agar tahan mengalami hidup di dunia ini. Siti Jenar kemudian mengajarkan bagaimana mencari kamoksan (mukswa/mosca) yakni mati sempurna beserta raganya lenyap masuk ke dalam ruh (warongko manjing curigo). Hidup ini mati, karena mati itu hidup yang sesungguhnya karena manusia bebas dari segala beban dan derita. Karena hidup sesudah kematian adalah hidup yang sejati, dan abadi.
Syeh Siti Jenar Mengkritik Ulama dan Para Santrinya
Alasan yang mendasari mengapa Syeh Siti Jenar mengkritik habis-habisan para ulama dan santrinya karena dalam kacamata Syeh Siti, mereka hanya berkutat pada amalan syariat (sembah raga). Padahal masih banyak tugas manusia yang lebih utama harus dilakukan untuk mencapai tataran kemuliaan yang sejati. Dogma-dogma, dan ketakutan neraka serta bujuk rayu surga justru membelenggu raga, akal budi, dan jiwa manusia. Maka manusia menjadi terkungkung rutinitas lalu lupa akan tugas-tugas beratnya. Manusia demikian menjadi gagal dalam upaya menemukan Tuhannya.
Kritik Syeh Lemah Bang Atas Konsep Surga-Neraka
Konsep surga-neraka dalam ajaran Siti Jenar berbeda sekali dengan apa yang diajarkan oleh para ulama. Menurut Syeh Siti Jenar, surga dan neraka adalah dalam hidup ini. Sementara para ulama mengajarkan surga dan neraka merupakan balasan yang diberikan kepada manusia atas amalnya yang bakal diterima kelak sesudah kematian (akherat).
Menurut Syeh Siti, orang mukmin telah keliru karena mengerjakan shalat jungkir balik, mengharap-harap surga, sedang surga sesudah kematian itu tidak ada, shalat itu tidak perlu dan orang tidak perlu mengajak orang lain untuk shalat. Shalat minta apa, minta rizki ? Tuhan toh tidak memberi lantaran shalat.
Santri yang menjual ilmu dengan siapa pun mau menyembah Tuhan di masjid, di dalamnya terdapat Tuhan yang bohong. Para ulama telah menyesatkan manusia dengan menipu mereka jungkir balik lima kali, pagi, siang, sore, malam hanya untuk memohon-mohon imbalan surga kelak. Sehingga orang banyak tergiur oleh omongan palsunya, dan orang menjadi gelisah tak enak ketika terlambat mengerjakan shalat. Orang seperti itu sungguh bodoh dan tak tau diri, jikalau pun seseorang menyadari bahwa shalat itu dilakukan karena merupakan kebutuhan diri manusia sendiri untuk menyembah Tuhannya, manusia ternyata tidak menyadari keserakahannya; dengan minta-minta imbalan/hadiah surga. Orang-orang telah terbius oleh para ulama, sehingga mereka suka berzikir, dan disibukkan oleh kegiatan menghitung-hitung pahalanya tiap hari. Sebaliknya, lupa bahwa sejatinya kebaikan itu harus diimplementasikan kepada sesama (habluminannas).
Lebih lanjut Syekh Siti Jenar menuduh para ulama dan murid mereka sebagai orang dungu dan dangkal ilmu, karena menafsirkan surga sebagai balasan yang nanti diterima di akhirat. Penafsiran demikian adalah penafsiran yang sangat sempit. Hidup para ulama adalah hidup asal hidup, tidak mengerti hakekat, tetapi jika disuruh mati mereka menolak mentah-mentah. Surga dan neraka letaknya pada manusia masing-masing. Orang bergelimang harta, hidupnya merasa selalu terancam oleh para pesaing bisnisnya, tidur tak nyeyak, makan tak enak, jalan pun gelisah, itulah neraka. Sebaliknya, seorang petani di lereng gunung terpencil, hasil bercocok tanam cukup untuk makan sekeluarga, menempati rumah kecil yang tenang, tiap sore dapat duduk bersantai di halaman rumah sambil memandang hamparan sawah hijau menghampar, hatinya sesejuk udaranya, tenang jiwanya, itulah surga. Kehidupan ini telah memberi manusia mana surga mana neraka.
Syeh Siti Jenar memandang alam semesta sebagai makrokosmos dan mikrokosmos (manusia) sekurangnya kedua hal ini merupakan barang baru ciptaan Tuhan yang sama-sama akan mengalami kerusakan, tidak kekal dan tidak abadi. Manusia terdiri atas jiwa dan raga yang intinya ialah jiwa sebagai penjelmaan zat Tuhan.
Sedangkan raga adalah bentuk luar dari jiwa yang dilengkapi pancaindera, sebagai organ tubuh seperti daging, otot, darah, dan tulang. Semua aspek keragaan atau ketubuhan adalah barang pinjaman yang suatu saat, setelah manusia terlepas dari kematian di dunia ini, akan kembali berubah asalnya yaitu unsur bumi (tanah).
Syeh Lemah Bang, mengatakan bahwa;
“Bukan kehendak angan-angan, bukan ingatan, pikiran atau niat, hawa nafsu pun bukan, bukan pula kekosongan atau kehampaan. Penampilanku sebagai mayat baru, andai menjadi gusti jasadku dapat busuk bercampur debu, nafasku terhembus di segala penjuru dunia, tanah, api, air, kembali sebagai asalnya, yaitu kembali menjadi baru. Bumi langit dan sebagainya adalah kepunyaan seluruh manusia, manusialah yang memberi nama”.
Kesimpulan
Pandangan Syeh Lemah Bang; tentang terlepasnya manusia dari belenggu alam kematian yakni hidup di alam dunia ini, berawal dari konsepnya tentang ketuhanan, manusia dan alam. Manusia adalah jelmaan zat Tuhan. Hubungan jiwa dari Tuhan dan raga, berakhir sesudah manusia menemui ajal atau kematian duniawi. Sesudah itu manusia bisa manunggal dengan Tuhan dalam keabadian. Pada saat itu semua bentuk badan wadag (jasad) atau kebutuhan jasmanisah ditinggal karena jasad merupakan barang baru (hawadist) yang dikenai kerusakan dan semacam barang pinjaman yang harus dikembalikan kepada yang punya yaitu Tuhan sendiri.
Terlepas dari ajaran Siti Jenar yang sangat ekstrim memandang dunia sebagai bentuk penderitaan total yang harus segera ditinggalkan rupanya terinspirasi oleh ajaran seorang sufi dari Bagdad, Hussein Ibnu Al Hallaj, yang menolak segala kehidupan dunia. Hal ini berbeda dengan konsep Islam secara umum yang memadang hidup di dunia sebagai khalifah Tuhan.
Pandangan Kejawen Tentang Kehidupan di Dunia
Pandangan Kejawen tentang makna hidup manusia dunia ditampilkan secara rinci, realistis, logis dan mengena di dalam hati nurani; bahwa hidup ini diumpamakan hanya sekedar mampir ngombe, mampir minum, hidup dalam waktu sekejab, dibanding kelak hidup di alam keabadian setelah raga ini mati. Tetapi tugas manusia sungguh berat, karena jasad adalah pinjaman Tuhan. Tuhan meminjamkan raga kepada ruh, tetapi ruh harus mempertanggungjawabkan “barang” pinjamannya itu. Pada awalnya Tuhan Yang Mahasuci meminjamkan jasad kepada ruh dalam keadaan suci, apabila waktu “kontrak” peminjaman sudah habis, maka ruh diminta tanggungjawabnya, ruh harus mengembalikan jasad pinjamannya dalam keadaan yang suci seperti semula. Ruh dengan jasadnya diijinkan Tuhan “turun” ke bumi, tetapi dibebani tugas yakni menjaga barang pinjaman tersebut agar dalam kondisi baik dan suci setelah kembali kepada pemiliknya, yakni Gusti Ingkang Akaryo Jagad. Ruh dan jasad menyatu dalam wujud yang dinamakan manusia. Tempat untuk mengekspresikan dan mengartikulasikan diri manusia adalah tempat pinjaman Tuhan juga yang dinamakan bumi berikut segala macam isinya; atau mercapada. Karena bumi bersifat “pinjaman” Tuhan, maka bumi juga bersifat tidak kekal.
Betapa Maha Pemurahnya Tuhan itu, bersedia meminjamkan jasad, berikut tempat tinggal dan segala isinya menjadi fasilitas manusia boleh digunakan secara gratis. Tuhan hanya menuntut tanggungjawab manusia saja, agar supaya menjaga semua barang pinjaman Tuhan tersebut, serta manusia diperbolehkan memanfaatkan semua fasilitas yang Tuhan sediakan dengan cara tidak merusak barang pinjaman dan semua fasilitasnya.
Itulah tanggungjawab manusia yang sesungguhnya hidup di dunia ini; yakni menjaga barang “titipan” atau “pinjaman”, serta boleh memanfaatkan semua fasilitas yang disediakan Tuhan untuk manusia dengan tanpa merusak, dan tentu saja menjaganya agar tetap utuh, tidak rusak, dan kembali seperti semula dalam keadaan suci. Itulah “perjanjian” gaib antara Tuhan dengan manusia makhlukNya. Untuk menjaga klausul perjanjian tetap dapat terlaksana, maka Tuhan membuat rumus atau “aturan-main“ yang harus dilaksanakan oleh pihak peminjam yakni manusia. Rumus Tuhan ini yang disebut pula sebagai kodrat Tuhan; berbentuk hukum sebab-akibat. Pengingkaran atas isi atau “klausul kontrak” tersebut berupa akibat sebagai konsekuensi logisnya. Misalnya; keburukan akan berbuah keburukan, kebaikan akan berbuah kebaikan pula. Barang siapa menanam, maka mengetam. Perbuatan suka memudahkan akan berbuah sering dimudahkan. Suka mempersulit akan berbuah sering dipersulit.
Konsep Kejawen Tentang Pahala dan Dosa
dan Pandangan Kejawen tentang Kebaikan-Keburukan
Ajaran Kejawen tidak pernah menganjurkan seseorang menghitung-hitung pahala dalam setiap beribadat. Bagi Kejawen, motifasi beribadat atau melakukan perbuatan baik kepada sesama bukan karena tergiur surga. Demikian pula dalam melaksanakan sembahyang manembah kepada Tuhan Yang Maha Suci bukan karena takut neraka dan tergiur iming-iming surga. Kejawen memiliki tingkat kesadaran bahwa kebaikan-kebaikan yang dilakukan seseorang kepada sesama bukan atas alasan ketakutan dan intimidasi dosa-neraka, melainkan kesadaran kosmik bahwa setiap perbuatan baik kepada sesama merupakan sikap adil dan baik pada diri sendiri. Kebaikan kita pada sesama adalah KEBUTUHAN diri kita sendiri. Kebaikan akan berbuah kebaikan. Karena setiap kebaikan yang kita lakukan pada sesama akan kembali untuk diri kita sendiri, bahkan satu kebaikan akan kembali pada diri kita secara berlipat. Demikian juga sebaliknya, setiap kejahatan akan berbuah kejahatan pula. Kita suka mempersulit orang lain, maka dalam urusan-urusan kita akan sering menemukan kesulitan. Kita gemar menolong dan membantu sesama, maka hidup kita akan selalu mendapatkan kemudahan.
Menurut pandangan Kejawen, kebiasaan mengharap dan menghitung pahala terhadap setiap perbuatan baik hanya akan membuat keikhlasan seseorang menjadi tidak sempurna. Kebiasaan itu juga mencerminkan sikap yang serakah, lancang, picik, dan tidak tahu diri. Karena menyembah Tuhan adalah kebutuhan manusia, bukan kebutuhan Tuhan. Mengapa seseorang masih juga mengharap-harap pahala dalam memenuhi kebutuhan pribadinya sendiri ? Dapat dibayangkan, jika kita menjadi mahasiswa maka butuh bimbingan dalam menyusun skripsi dari dosen pembimbing, maka betapa lancang, serakah, dan tak tahu diri jika kita masih berharap-harap supaya dosen pembimbing tersebut bersedia memberikan uang kepada kita sebagai upah. Dapat diumpamakan pula misalnya; kita mengharap-harapkan upah dari seseorang yang bersedia menolong kita..?
Ajaran Kejawen memandang bahwa seseorang yang menyembah Tuhan dengan tanpa pengharapan akan mendapat pahala atau surga dan bukan atas alasan takut dosa atau neraka, adalah sebuah bentuk KEMULIAAN HIDUP YANG SEJATI. Sebaliknya, menyembah Tuhan, berangkat dari kesadaran bahwa manusia hidup di dunia ini selalu berhutang kenikmatan dan anugrah dari Tuhan. Dalam satu detik seseorang akan kesulitan mengucapkan satu kalimat sukur, padahal dalam sedetik itu manusia adanya telah berhutang puluhan atau bahkan ratusan kenikmatan dan anugerah Tuhan. Maka seseorang menjadi tidak etis, lancang dan tak tahu diri jika dalam bersembahyang pun manusia masih menjadikannya sebagai sarana memohon sesuatu kepada Tuhan. Tuhan tempat meminta, tetapi manusia lah yang tak tahu diri tiada habisnya meminta-minta. Dalam sikap demikian ketenangan dan kebahagiaan hidup yang sejati akan sangat sulit didapatkan.
Sembahyang tidak lain sebagai cara mengungkapkan rasa berterimakasihnya kepada Tuhan. Namun demikian ajaran Kejawen memandang bahwa rasa sukur kepada Tuhan melalui sembahyang atau ucapan saja tidak lah cukup, tetapi lebih utama harus diartikulasikan dan diimplementasikan ke dalam bentuk tindakan atau perbuatan baik kepada sesama dalam kehidupan sehari-harinya. Jika Tuhan memberikan kesehatan kepada seseorang, maka sebagai wujud rasa sukurnya orang itu harus membantu dan menolong orang lain yang sedang sakit atau menderita.
Itu lah pandangan yang menjadi dasar Kejawen bahwa menyembah Tuhan, dan berbuat baik pada sesama, bukanlah KEWAJIBAN (perintah) yang datang dari Tuhan, melainkan diri kita sendiri yang mewajibkan.
sabdalangit















174 tanggapan kepada “AJARAN SYEH SITI JENAR & KEJAWEN Dalam Memandang Ketuhanan, Dosa/Neraka, Pahala/Surga”
mazBoncel
Desember 18th, 2010 pada 11:36
Salam Kenal Ki Sabdo Langit…..
Saya rasa benar pandangan dari kacamata Syech Siti Jenar…..tentang tataran manusia yang lebih banyak berkutat tentang tata-cara ( syari’ah ) melakukan ajarannya………itu saya maklumi, karena kemampuan level manusia dengan manusia lain berbeda dalam menjalankan ajarannya.
Siapapun manusianya…kalau sudah mencapai tataran makrifat….akan mempunyai pandangan yang jauh…mempunyai rasa yang menyatu dengan Dzat Pencipta…..
Namun kalau kita lihat secara umum di dunia……banyak orang yang belum mempunyai tataran tersebut….kalau ada orang yang menganggap bahwa dia paling tinggi ilmunya dari yang lain…ini bukanlah seorang dengan syarat yang mau menuju makrifat.
Namun sebagai pemuka agama atau ajaran tertentu ….. tugasnya hanya sebatas syariah…karena tujuannya agar Tatanan Kehidupan ini masih berjalan baik, menjaga dari perbuatan buruk, agar kehidupan di dunia ini selaras dan harmoni ……….kalau ada manusia sebagai pemuka agama/ajaran tertentu yang melakukan kesalahan dalam mengajak menjalankan syari’ah ( tata-cara )-nya ….maka dia harusnya di-judge sebagai “oknum” bukan agama/ajaran itu yang di-judge..
Bagi saya……Kebenaran Hakiki itu hanya milik Allah SWT sang Pencipta Semesta……
mas jemblok
Januari 18th, 2011 pada 21:42
assalamualaikum wr.wb mas sabda. Dogma begitu sarut marut mempengaruhi alam bawah sadar saya…..bagaimana untuk melepaskan…?mohon tuntunannya…
SABDå
Januari 19th, 2011 pada 11:36
Mas Jemblok Yth
Kunci untuk membuka penjara dogma adalah kesadaran untuk membuka hati dan pikiran. Setelah panjenengan membuka hati dan pikiran seluas-luasnya untuk ngangsu kawruh, perlahan gembok penjara dogma akan terbuka juga. Panjenengan hanya perlu belajar sebanyak banyaknya kepada segala macam orang, berikut pengalaman-pengalaman hidupnya. kita perlu menyadari bahwa ilmu bisa lahir melalui bermilyar jalan. Melalui beragam kehidupan, baik manusia, binatang, tumbuhan maupun mahluk halus, serta lingkungan alam di sekitar kita.
Untuk belajar menanam padi, panjenengan bisa belajar kpd para petani di desa, atau ilmu menanam padi pada masa Majapahit yg sdh sedemikian maju, atau bisa juga di mancanegara seperti India dan Thailand. Kalau anda belajar menanam padi di negara yg tanahnya gurun, tentu anda tak akan mendapatkannya.
Untuk belajar bagaimana bercocok tanam tanaman 4 musim, anda harus belajar kpd tradisi masy Eropa, Asia Utara, Asia Timur Jauh. Untuk mengolah tanaman buah-buahan di wilayah 2 musim, anda harus belajar kpd Nusantara, dan beberapa negara Asia Tenggara lainnya. Desa mawa cara, negara mawa tata.
Selanjutnya, hilangkan kebiasaan menghitung-hitung pahala dalam setiap berbuat kebaikan, lenyapkan pula dalih karena takut dosa. Tanpa anda sadari, Keduanya hanya akan membuat diri menjadi penuh pamrih dalam setiap berbuat. Kapan kita akan mulai belajar untuk tulus ?
Salam asah asih asuh
thomas
April 3rd, 2012 pada 01:00
ganti agama to mas, kejawen wae apik
Kesadaran Murni
April 17th, 2012 pada 15:48
@Thomas
Panjenengan / siapa saja tidak perlu ganti Agama,lagian ajaran Kejawen bukanlah
agama melainkan pemahaman pada diri sejati dan Alam Semesta,Manusia sebagai
jagat alit ( mikrokosmos ) dan Alam raya ( Makrokosmos ). Ajaran / pemahaman ini
bukan untuk gagah2an dan mau menang sendiri,merasa benar sendiri,sama sekali
bukan melainkan untuk meneliti dan mengkaji siapa sejatinya manusia dan Tuhanya
Salam asah asih asuh. Kagem Kangmas Sabda,terima kasih.
endros
Mei 1st, 2012 pada 15:07
Tdk ada yg salah dengan Agama ya gk perlu ganti agama karena tdk ada paksaan dalam agama karena Nabi tugasnya hanya menyampaikan Wahyu dari Tuhan terserah kepada manusia mau apa gak menerima ajaran, seperti misalkan ajaran Islam intinya mengajarkan Ketauhidan Ke Esa’an Tuhan, melalui agama Tuhan mengenalkan namanya kepada manusia yaitu ALLAH yang kalau kita perhatikan nama ALLAH itu tertulis di telapak tangan kita yaitu perhatikan ruas jari jari kita membentuk lafaznya ALLAH dalam huruf Arab ALIF LAM LAM HA lo kok huruf arab hilangkan segala kedengkian karena bahasa itu Universal bukan milik bangsa arab saja bahkan Nabi Adam aja Bapaknya Manusia memohon ampun kepada TUHAN dengan menggunakan ribuan bahasa begitu juga KEJAWEN tidak ada yang salah dengan KEJAWEN karena saya kira tidak bertentangan dgn agama. Ilmu itu karunia dari TUHAN, karunia itu turun kepada semua orang tdk membeda bedakan Agama, Ras, bangsa, kesukuan.
Dalbo
Januari 19th, 2011 pada 08:03
Nuwun sewu.
@ Mas Jemblok salam kenal,,
Saya yakin Mas Jemblok bukan satu2nya yg ter serang virus dogma, jutaan manusia di dunia ini trkena pula termasuk diri saya sendiri. Untuk menghilangkan virus dogma tentu saja di perlukan anti virus, namun tdk segampang itu, ini saya ibaratkan Mas Jemblok mau men delet, file/program2 dan me reprogram lagi dg program yg baru. pnglman sy pribadi mbthkan ber tahun2 lamanya untk itu, gak ada istilah instant solution di sini, karna Virus dogma yg masuk di file saya juga di mulai saat saya masih bayi cenger sampai dewasa. sy melihat Mas Jemblok sdh punya modal awal untuk mendeletnya, yaitu adanya kesadaran/pengakuan pribadi bahwa itu dogma. nah di sini penggunaan rasionlal thinking juga sangat penting, menjalani spiritual tdk berarti menggunakan hati nurani sj lalu memlupakan akal yg rasioanl. memang kadg2 hati dan akal rasional bertentangan tapi nggak selalu begitu kok. apalagi menjalankan spiritual yg masih bersifat horisontal, tentu saja rasional thinking sangat di perlukan, kita nggak mau to mentang2 paling spiritualis terus besikap konyol, pokoknya begini, pokoknya begitu dll.
Proses untuk menghilangkan dogma minimal kita perlu keberanian untuk menjadi diri sendiri, ini tdk berarti egoist atau selfis, nah akibatnya kita kdg2 mersa terkucil dari kolonoi yg umum, but its ok 2 be different.
Ada lagi mas yg namanya Shok terapy,kalu mas berani dg cara” Shock terapi” ini sngt efektive, mksdnya terjang, langgar sj dogma2 itu, tentu sj di sisni akan timbul dilema/ conflik pribadi, tapi nggak apa2 itu proses.
Pengalaman saya pribadi, dulu sy mendengar kotbah2 orang kristen di TV saja saya nggak berani/ anti pati, skrng, saya enak saja masuk Gereja, masuk wihara, kuil2, ke candi2, ke masjid dll sy nggak akan punya perasaan Quilty/ berdosa sm skl.
Kembali ke menjadi diri sendiri, Saya yakin inilah proses untuk mencari kesejatian apalagi untuk Spiritual yg Vertikal, memang kedengaran/ kelihatanya nya begitu eksentrik sekali, well..itu resiko mas, hidup ini mmg penuh resiko, nah di proses ini biasanya kita akan dapat penemuan2 sendiri yg berbeda sama sekali dg orang lain, baik itu, ilham, inspirasi, insting dll nya. dan kalau bisa kita sharing kan pada yg lain, tentu saja di sini kmbali lagi akal rasional perlu di gunakan karena mereka berbeda dg Njenengan, kalau ternyata mereka blm bisa menerima ya, biarkan sj nggak perlu metenteng2 terus ngotot
ngeyel, dll, apa lagi sampai ekstrim trs men judge bahwa kamu salah, kamu murtad ini itu dll.
Meditasi juga sngt efective untuk cleansing proses, kalau Mas Jemblok, Orang islam tntu sj ini akan sngt bertentangan, tapi justru itu mas, sy bilang tadi terjang saja dogma itu see what happen. Meditasi juga banyak kok model nya. Bila perlu mas bisa berdialog dg alam, tumbu2an binatang2, ajak ayam2 itu berbicara, bercandalah dg kucing2, bila perlu bernyanyilah dg anjing2 dan babi2 atau semua sak kebon binatang, katanya Mbak Dewi Murni he..he..he..nggak perlu kawatir mas..manusia ini juga alam kok, emangnya robot…
Robot aja bahan bakunya juga dr alam…tapi kalau saya pribadi lebih suka di sebut Manusia yg Alamiah, dari pada manusia yg Robotiah.
Ok mas, hanya itu sj yg bisa saya sharing dg njenengan, maaf atas keteratasanku ini,
Monggo mas/mbak2 yg lain kl mau nambahi…
Udane deres ono puting beliung, pikirane ngeres atine bingung..
Wis Mas dilakoni karo santai wae…sing penting terus mlaku…sak teka tekane.
Salam asah, asih, asuh
Dalbo, with love..
mas jemblok
Januari 21st, 2011 pada 20:07
mas dalbo & mas sabda YTH..trimakasih..kalo saya biarkan memang terasa kering.agama yang penuh syarat politik memang melahirkan berjuta2 intrik, mengkungkung dan menghakimi…sulit untuk lepas menjadi lepas bebas dan tanpa saya sadari selama hampir 28 tahun saya beragama tapi tetap dalam kebingungan. sekali lagi matursuwun..salam asah asih asuh juga..
uci eplek eplek
Januari 21st, 2011 pada 21:02
Dogma itu ada 2 (macam) dogma agama atau dogma non agama?
dogma agama
Dogma banyak ditemukan dlm banyak agama, dianggap sbgi prinsip utama yg harus dijunjung oleh semua umat agama tsb.
Dogma sbg unsur dasar dari agama, istilah dogma diberikan kepada ajaran2 teologi yg dianggap tlh terbukti baik, sedemikian rupa hingga usul bantahan atau revisinya berarti bahwa orang itu tidak lagi menerima agama tersebut sebagai agamanya sendiri, atau ia mengalami keragu-raguan pribadi.
dogma di luar agama, misalnya di bidang politik atau filsafat, maupun di dalam masyarakat sendiri. Istilah dogmatisme mengandung arti bahwa orang berpegang pada keyakinan2 mrk tanpa berpikir & hanya ikut-ikutan saja.
Dogmata dianggap anatema bagi ilmu pengetahuan dan analisis ilmiah meskipun orang bisa berdebat bahwa metode ilmiah itu sendiri pun merupakan dogma bagi banyak ilmuwan.
Dalam cara yang sama dalam filsafat, seperti misalnya rasionalisme dan skeptisisme, meskipun pertimbangan2 metafisika biasanya tidak tampak jelas dalam bidang2 itu, dogma2 keagamaan yang tradisional cenderung ditolak sementara praduga2 yang tidak teruji diterima.
Dalam Wikipedia sendiri, konsep NPOV dapat dianggap telah mencapai status dogma, Ilmu lebih cenderung kepada dogma karena sering kali sebuah product ilmu akan di bantah di masa depan dengan instrument yang lebih modern.
salah satu jalan untuk membuka dogma ya dgn Iman dan logika …..
masalah keyakinan/iman juga berubah-ubah kadarnya, spt keyakinan agama ttg bumi itu datar, galileo galilei dgn ilmiah mengatakan bumi itu bulat ya dihukum gantung artinya dia menentang dogma, tapi sejarah mencatat sekarang yg hidup ini mencatat ternyata benar bumi itu bulat.
Dogma dalam ajaran syekh siti jenar lebih ke arah was-was (bukan ragu-ragu) jgn2 apa yg kita perbuat nanti menjadikan allah tidak ridho krn bertentangan dgn dogma bahwa kita harus mengikuti aqidah-Nya?
sekarang ini kan dogma agama udah hilang, ya maklum jaman edan, ternyata kita berbuat curang allah gak marah? kita menjadi kenyang? wah kalau begitu dogmanya salah ….. ayo ramai ramai kita berbuat yg melanggar keyakinan agama (dogma) …. jadi jawabannya cara buka kuncinya ya dengan iman dan logika … gitu aja deh menurut uce, kalau ada salahnya ya minta maaf
uci eplek eplek
Januari 21st, 2011 pada 21:11
mungkin pertanyaan yg dalam buat mas Jemblok?
emang selama ini tujuan beragama yg dianut itu agar apa? hhh ….
kok bingung sih?
Ahmad ch
Januari 23rd, 2012 pada 00:00
Nuwun sewu dateng ms sabdo lan mas jembluk, kita hrs sadar diri bahwa kita ini di ciptakan olh Alloh swt. Dlm pncptaan mahluk ini Alloh pny tujuan/maksd trsndiri. Bg kita sbg hamb tinggal mengikuti apa kehendk ilahi robbi yg sdh di muat dlm kitab suci yg tlh d sampekan lwt para nabi. Dg dasar iman kita pst bs slmt d dunia ini hngg d khdpn abadi nant. Klw mslh dokma2 td gk usahlah merasa trbebani, yg pntng kita jalani aturan ilahi dg keihlasan hati. Gk ush berharap ini n itu.seandenya ssj menyalhkan ulamak2 itu sbtlnya terll dini,memang sih klw beribdah cm krn mengharap surga tau takt neraka itu kurang bnr, tp hrs diketahui jg bhw bribdh sprt itu cm bagi muslim yg br thp bljr ibdh memng. Tp hrs di ketahui jg bhw ajaran islam tdk cm sampe d situ sbnrnya kok,hbs syari’at nnt msh ada toriqot,haqiqot jg ma’rift. Yg akan menuntun manusia bs sampe pd penghambaan sejati tnpa brhrp komisi. Kita ttp teguh berpedoman dg kitab suci yg bnr2 dtng dr Ilahi aja yg kebenaranya sdh psti jg sdh diakui mayoritas pendudk bumi. Kalau ada pengamal ajaran islam (AL QUR AN) tp msh merasa terbebani jg msh brharp imbalan dr ibadahnya atau yg lainya itu cm oknum aja bukan berrt islam itu lebh bagus akal n keyakinan manusia yg tnpa ada dasar kitab yg d turunkan ilahiy. Kita teguhkan hati n jaga iman ini sampe mati. INNADDINA “INDALLOHIL ISLAM. (ssunguhnya agama yg akui/di ridloi Alloh adalah agama islam) Perdalam Al Qur an dan Islam biar gk sst jalan. Smg kita ttp dapat binbingan jg pertolonganNYA amin.
Kesadaran Murni
April 17th, 2012 pada 16:07
@ Ahmad Ch
mau tanya mas
…….sesungguhnya agama yang diakui dan diridloi Allah hanya agama Islam….
berarti agama lain tidak diakui sama Allah ya mas ? Trus Al Qur’an kok menulis
( mengakui ) sebelum ada Muhamad/Islam ada Nabi2 lain/Agama lain ???
Mohon dijelaskan. Suwun
endros
Mei 1st, 2012 pada 15:38
Para Nabi dan Rasul inti ajaranya adalah Tauhid tentang Ke Esaan tuhan, mereka mengemban misi yang sama mengabarkan tentang alam akherat mereka para Nabi dan Rasul juga disebut Muslim yang artinya tunduk patuh dan berpasrah kepada Tuhan seperti tunduknya patuhnya alam semesta ini terhadap kehendak atau ketetapan tuhan. jadi Islam punya makna yang luas bukan sekedar Kata saja. tidak ada paksaan dalam agama tugas manusialah untuk menemukan kebenaran suatu agama mana agama yang sesuai dengan fitrahnya..mhn maaf saya juga masih belajar!
kuncoro
Mei 7th, 2012 pada 16:21
kulonuwun,
mbadhe nderek tanglet, lajeng titah ingkang rumiyin, ingkang dereng tepang agami kados pundi nasibipun? agami nopo kemawon tuwin kitab2 ingkang wonten/ketingal kalebet tasih enggal, dereng ngantos 3000 th.
hartono wong tuban
Januari 27th, 2011 pada 14:10
pengen masuk surga paling mbk. . .wkwk. . . .,belajar dulu akh. . . .
Mas Cubluk
Maret 22nd, 2011 pada 02:08
Saya baru bersentuhan dengan apa yang dikenal dengan ajaran Syeh Siti Jenar. Ajaran SSJ ini sesungguhnya bukan barang baru, pemikiran ini sudah merupakan renungan purba seiring dengan perjalanan peradaban manusia itu sendiri. untuk menjawab siapakah diri kita, dari mana kita berasal, untuk apa kita dihadirkan di bumi ini dan akan ke mana kita nanti. Kata cak Nurcholis Madjid setiap agama dan kepercayaan pada akhirnya akan berhadapan dengan tantangan akal manusia yang berpuncak pada sience atau ilmu pengetahuan. Agama dan sistim kepercayaan di samping memberikan informasi tentang alam akherat, juga memberi petunjuk apa sesungguhnya hakekat dari materi (dunia seisinya) yang kita lihat ini. Oleh karena itu agama dan kepercayaan yang kelak terbukti bertentangan dengan hasil akal budi (sience) maka agama, kepercayaan tersebut akan menjadi seonggok peradaban yang usang. Menjadi sekedar ornamen, pajangan yang tidak akan memiliki nilai transenden. Dicontohkan dulu manusia menyembah api, matahari, pohon besar dan dibuktikan bahwa semua itu adalah materi tidakyang kekal. Hakekat dari materi ini sudah dapat diungkap oleh ilmu matematik, fisika, kimia dsb sejak ditemukannya teori relativitas Einstein yang melahirkan revolusi keilmuan sehingga dapat diungkap apa sejatinya dunia ini seisinya sejauh menyangkut hakekat materi. Sejak purba manusia mencoba menjawab apa hakekat di balik materi yang kita lihat, kita rasakan dan kita bergerak didalamnya. Kenapa semua itu ada, siapa yang menciptakan dan untuk apa semua ini. Bumi dimana kita hidup dan mati ini memerlukan bermilyar tahun sehingga tercipta kehidupan dan puncaknya terciptanya manusia. Untuk apa semua itu. Al Qur’an meberikan informasi bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna di bumi, dan sampai saat ini terbukti tidak ada yg lebih sempurna dari manusia. Tapi bagaimanapun sang manusia baik wadagnya atau ruhnya atau sang aku tetaplah makluk yg diciptakan, tetaplah aku kecil. Ia diciptakan. Lalu apa yang diciptakan itu sama atau serupa atau sepadan dengan yang menciptakan, tentu tidak. Karena kalo ya Tuhan sang pencipta itu bukan tuhan yang saya cari. Karena itu Alloh bukan ingsun, bukan aku kecil. Baik dalam arti kiasan, simbol apalagi dzatnya. Misalnya Toyota menciptakan mobil berbagai ukuran dan merknya sekarang milyaran unit. Nama Toyota ada tertempel di mobil, tetapi sang mobil sama sekali bukanlah sang Toyota. Inilah kebenaran yg diinformasikan oleh islam di dalam Al Qur’an. Jadi Ingsun atau aku bukan Alloh, Alloh bukanlah sang aku kecil. Syareat dalam bentuk shahadad, solat, zakat dan hukum2 yang ditarik dari ajaran agama tetap diperlukan karena kenyataan empiris manusia memerlukan aturan2 untuk mengatur hubungan antar manusia. Aturan atau hukum2 itu ada sejak kehidupan yang masih sangat primitif sekalipun. Ajaran SSJ juga pada akhirnya akan melahirkan ritual dan hukum2 jika tlah menjadi nilai yang diyakini karena nilai2 yang diyakini oleh banyak orang pada akhirnya akan melahirkan laku dan amal. Shahadad atau solat sama sekali bukan omong kosong seperti kritik SSJ. Jika yang dimaksud orang yang bershahadan, orang yang solat ya bisa saja, karenadi dalam Al Qur’an Alloh juga mengecam orang yang solat sebagai solatnya tidak ada, tidak berguna jika tidak meberi makan fakir miskin dan anak yatim. Sejauh menyangkut akherat hanya sangat sedikit yang Alloh kasih tahu, selebihnya itu rahasia Alloh. Artinya kita dilarang berangan-angan, berandai-andai. Tapi kita diwajibkan iman akan adanya Hari Akhir dan alam akherat setelah kehidupan kita dibumi ini. Bagaimanapun yang namanya filsafat sebagaimana buah pemilikan SSJ tetaplah bersifat spekulatif semata. Saya yang masih Cubluk kawruh. Wassalam
purnama ungu
Maret 28th, 2011 pada 16:39
bukankah diciptakannya jin dan manusia untuk ibadah.ibadah kepada siapa..? ya kepada yang menciptakan..siapa yang menciptakan.? ya allah .serupa ibadah shalat itu di perintah oleh allah,kenapa harus sholat..? karena sholat adalah salah satu jalan berhubungan denganNYA.sholat bukan hanya melakukan rutinitas melainkan penerapannya dalam lingkungan.contoh kenapa dalam sholat harus merunduk di maknakan kita harus melihat kebawah realisasinya adalah menyantuni anak yatim pakir miskin dll.bukankah agama itu untuk yang berfikir.sebetulnya kita harus pandai pandai memaknai.bukannya berbicara kok ini kok itu tapi kenapa kok gini kenapa kok gitu.jadi kita berfikir untuk memaknainya kenapa bisa begitu kenapa bisa begini.maknai segala sesuatu yang kita laku.contoh makna dari puasa,kenapa kita harus puasa..? karena puasa melatih kita meredam nafsu,puasa juga melatih diri untuk sabar.puasa juga agas kita tau bagaimana menjadi orang miskin yg makannya sehari 1 kali atau kurang dari itu.dan misal kita sendiri yg serupa itu berarti puasa juga melatih kita untuk bertawakal…….mungkin menurut saya hanya memaknai segala sesuatu yg kita laku yang kita lihat yg kita dengan dll………….
salam
salahnya dari saya sendiri
dan benarnya hanya dari allah semata.
Habib ahmad yamin
Desember 19th, 2011 pada 03:58
siiiiiiiiiip bin betul kata sampean coy. orang yg pandai bicara syariat dan hakikat ngak ad jaminan ia ia dapat ridho Alah SWT, sekalipun ia bisa terbang , batu di pegang jadi MAS. yg penting menjalankan syariat yg sesuai ajaran Allah dan Rasulnya, dan paham hakikat dari dari semua ajaran syariat, dan yang terpenting TAUHIDnya benar dan tak tercapuri SYIRIK. titik. banyak orang merasa sudah wusul / sempurnag Islamnya, tapi masih pateng maksiat, kalau di tanya yg penting NIATNYA, iku jenenge NGAPUSI.
Nanang setiyawan
Juli 18th, 2011 pada 10:03
Saya tdk tahu harus memulai …….Kang. tapi yang jelas disaat saya sakit keras dan pasrah……..saya merasakan ada dua org kembar disamping kiri dan kanan say sambil tersenyum dia berdua menepuk …….pundak saya……….Dari kuasaNya YANG MAHA KUASA …….Besoknya saya merasa …Sembuh seperti sedia kala. ” persoalanya sekarang setiap saat saya Habis Berdoa dan bisa sedikit merasakan Hening lan wening ( menurut saya) Saat itu /sadar dlm keseharian atau tampa sengaja …bisa merasakan kedepan walau samar ………satu sampe satu bulang yang akan datang….kejadian , seseorang , terkadang hal-hal yang bagi org awan tdk terlihat saya terliahat dengan sendirinya…..NUwun sewu Kang sabda langit . saya harus memulai dari mana………………! karena bagi saya utk kesana saya belum siap. baik lahir lan bathin . Dan utk saat ini …saya sebisa mungkin …….ngenepake sing atak roso iki.
salam
tiyo
Juli 25th, 2011 pada 19:12
menarik sekali ajaran SSJ., di jaman itu sudah ada ya orang yg sangat brilian
nunut ngangsu kawruh mas.., kebetulan saya agnostik.
Benny L.
Agustus 15th, 2011 pada 10:11
Benar atau tidaknya uraian2 diatas tergantung bagaimana keyakinan kita masing2, dan bagaiman kita menyikapinya. Yang penting tdk merugikan orang lain. Maturnuwun, dan salam utk semuanya.
iyul
November 4th, 2011 pada 10:31
assalamualaikum sa derenge,,salam kenal buat mas2,,semoga selalu dalam lindungan.
gini saya mau nanya,saya pengen tau puasa2 aja aja yg harus d lakuin utk melatih/agar saya bs melatih kebatinan sy agar bs lbh peka.menurut ajaran jawa kan ada tingkatan2 puasa to,itu yg sy ingin tau,,terima kasih/matur sembahnuwun sebelum x,,
kreteng
November 8th, 2011 pada 23:18
ass wb slm kenal buat saudara2 smua. saya mau ty hakekat y manusia hdp itu apa ? mohon penjelasan y…….dan apa perintah yg sesungguh y…?
Mangun Dikromo
November 9th, 2011 pada 06:19
Itulah yang disebut “Fana”.
Jangan mengaku fana jika dirimu masih suka dengan dunia !!!
Sungguh yang nyata dalam dirimu adalah dari -Nya.
Semua yang ada di dalam diri, bukan milik siapa-siapa. Dia lah yang Hak pemilik alam semesta.
Jika kamu merasa cukup dengan zikirmu, jika kamu merasa yakin dengan amalmu. Jika kamu merasa dirimu yang paling benar. Itulah namanya sombong dan riya.
Yang berhak Sombong itu Siapa ? Yang berhak merasa Benar itu Siapa ?
Kamu anggap dirimu fana, tapi harta riba kamu makan, lalu kekayaan masih saja kau tumpuk ! Menghardik orang lain, terlebih anak yatim kau terlantarkan. Merusak dunia.
Tingkah laku tidak di jaga, bahkan hatimu, inti dari sumbernya sudah rusak, sudah kotor ! Duh.. Gusti, hampura Gusti, hampura… Kulo nyuwun ngapunten…
Cahaya itu ada di dalam hati. Ada di mana-mana. Ahad. Satu. kunci nya adalah ikhlas. mati sak jeroning urip, urip sak jeroning pati. antal maut qoblal maut.
salaam alaik.
kreteng
November 9th, 2011 pada 22:06
as wr wb..mat mlm sedulur sedoyo ,….lam kenal buat kang md …mantaap ….! mhn di jelaskan ; mati sakjroning urip dan urip sakjroning pati…? matur nuwun ….
aken
November 10th, 2011 pada 16:37
knp ga meniru sunnah rasulullah aja..
aken
November 10th, 2011 pada 16:40
klo islam Muhammad saw, knp ga mengikuti apa yg disunnahkan.. mengikuti apa yg diajarkan..
Qohar
November 11th, 2011 pada 08:46
Wajib dan sunnah adalah salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Tapi jika sunnah masih ingin dilihat orang, itu namanya riya.
Kalo menurut saya, sunah dan wajib dikerjakan tapi jangan mengharap pahala, kalau “lillahi ta’ala”, ya tok “lillahi ta’ala…”,,, bukan “lillahi taala wal pahala”, kalo kita masih mengharap pahala, itu sih sama saja dengan barter, atau dengan kata lain “Minta upah”. Hampir mirip dengan jual-beli.
Harusnya kita merasa malu thdp hidup yang diberikan ini, sudah diberikan hidup, rejeki, nikmat, tapi kita ini masih saja mengharap pahala dgn yg kita kerjakan. Mungkin maksudnya, lakukanlah ibadah sesuai dengan kodrat dan kebutuhanmu sebagai makhluknya.
deni malik
Desember 14th, 2011 pada 17:00
mas sabda langit salam kenal?
saya mau tanya apa bedanya tuhan dengan allah?
kenapa di al-quran di tulis aku,tuhan,allah?
apa bedanya all-quran dengan novell?
======
AA Deni Malik Yth
Tuhan, itu kata org yg memakai bhs Indonesia, Allah, kata org yg memakai bhs arab. Sperti jg Dei kata org yg memakai bhs Yunani, atau God kata org yg memakai bhs Iggris. Sblm huruf dan bahasa manusia terbentuk oleh perkembangan peradaban manusia, istilah dan nama2 itu kemungkinan bsr blm ada. Paling2 klu pun sdh ada barulah berupa gambar gambar yg menjadi simbol.
Novel…di dalamnya ada dongeng yg menyedihkan, ada yg menyenangkan, tapi tak ada ancaman-ancaman maupun iming-iming. Itu saja yg sy tahu, maaf sy ini bukan org alim soal agm.
Salam sejati
deni malik
Desember 19th, 2011 pada 12:14
Terimakasih mas sabda,
mohon untuk bimbingannya untuk bisa menjadi manusia yang paling sadar dan ora golet benere dewe, karna racun terburuk adalah bener sendiri.
Tuhan Maha Segalanya!!!
apakah sebagai si manusia bisa mewadahi sifat2 tuhan??
Matur Suwon
ame nurman
Desember 21st, 2011 pada 21:55
ass..seduluR KU semua kita Sesungguh nya tidak tau akan Allah yg tau Allah hanya Allah..! makanya belajar langsung sama Allah or Ahlullah..biar ngerti dulu Allah dmana sedang apa bersama siapa kapan Allah menciptakan dunia akhirat surga neraka sedangkan dia qadim ..maka cari dulu maqom puji qadim alal qadim nya dulu or bahasa para ahlullah abid wal ma,bud wahidah kapan itu dan dmana itu..Tb nurdaim klo bingung telp sy aja d 085925162197 salam kenal buat para pencari dzat wajibul wujud..!
SSJ
Februari 5th, 2012 pada 04:28
KESADARAN akan membawa PENGETAHUAN yang MENDASAR / HAKIKI dengan SUDUT PANDANG YANG LUAS, jangan dibatasi dengan satu sudut pandang sebuah kitab suci yang dianggap paling benar, YANG apalagi KENYATAANnya banyak melahirkan AROGANSI dan KEKERASAN. WASPADAI ……. trik-trik dan politiknya.
KESADARAN, ELING lan WASPADA dalane WICAKSANA
BIMA
Februari 5th, 2012 pada 12:22
Namanya saja sudah kitab SUCI, tentu ia akan senantiasa mengajarkan KEBENARAN yang HAK; Tidak lah mungkin pada ‘saat yang bersamaan, kebenaran dan kemutlakan itu bersumber dari ‘DUA KITAB yang BERBEDA, apalagi DUA KITAB LAMA & BARU yang isi dan ajarannya saling BERTENTANGAN. Oleh karena itu, sudah pasti pula hanya ada SATU KITAB SUCI yang MUTLAK BENAR.
Kalau lah ada dua, tiga atau lebih SUMBER KEMUTLAKAN, tentu pada akhirnya, menjadikannya sebagai SATU SUMBER yang paling MUTLAK. Dengan kata lain KEMUTLAKAN itu sendiri adalah memutlakkan segala sesuatunya yang MUTLAK maupun yang RELATIF, menjadi ‘SATU YANG PALING MUTLAK.
MANUSIA adalah bersifat RELATIF, bisa benar dan bisa juga salah; disebabkan manusia pasti memiliki KETERBATASAN dan KELEMAHAN. ‘Hingga tidak lah mungkin jika ‘SUDUT PANDANG MANUSIA pantas dijadikan SUMBER KEMUTLAKAN yang hak’iki.
SUDUT PANDANG manusia yang LUAS itu pun pasti memiliki KETERBATASAN, karena ‘USIA manusia juga TERBATAS. Oleh karena itu, pengertian LUAS itu sendiri sudah pasti menjadi RELATIF. JIka sudah pasti RELATIF, tentu tetap ada SATU ‘SUMBER KEMUTLAKAN yang HAK (BENAR) dari YANG MAHA MUTLAK.
Dengan demikian, sesuai dengan Firman Allah berikut ini:
Ruhul Qudus (yang mutlak suci) menurunkan Al Qur’an dari Tuhanmu (Yang Maha Mutlak) dengan hak (yang mutlak benar),….dan seterusnya.
Adalah WAHYU TUHAN yang DITURUNKAN oleh RUHUL QUDUS dan DI’JABARKAN oleh JIBRIL yang cerdas kepada RASULULLAH. WAHYU TUHAN yang sudah tentu MUTLAK dan SUCI, karena ia bersumber dari YANG MAHA MUTLAK, tak lekang oleh ‘waktu maupun usia dan berlaku sepanjang ‘masa.
Itu lah mengapa Rasulullah disebut sebagai nabi yang ‘diutus untuk MENYAMPAIKAN dan MENJELASKAN tentang KESUCIAN dan KEMUTLAKAN QUR’AN. Rasulullah adalah seorang rasul yang ‘memantulkan cahaya Qur’an itu dengan sempurna.
Qur’an Yang selanjutnya dilisankan, dihafalkan, dan ditera pada ‘tulang hewan dan ‘kulit kayu oleh sahabat-sahabat beliau (seperti halnya luh-luh yang Allah Wahyukan kepada nabi Musa as), dan dituangkan (note: bukan diterjemahkan) ke dalam KITAB SUCI AL QUR’AN yang juga senantiasa terpelihara KESUCIAN dan KEMUTLAKANNYA. Menjadi PETUNJUK hidup yang ‘NYATA bagi umat manusia sesudah RASUL-RASUL terdahulu ‘TIADA. Petunjuk MUTLAK bagi manusia yang memang sudah kodratnya bersifat RELATIF, manusia yang mem-BUTUH kan ‘pembelajaran sepanjang usianya di bumi ini.
Oleh karena itu lah, menjadi jelas adanya bahwa KITAB SUCI yang HAK pasti bersifat SUCI dan MUTLAK, karena ia berasal dari YANG MAHA BERHAK dan MAHA MUTLAK. (kalau lah yang ‘relatif memaksakan diri untuk mengubah2 yang ‘mutlak, tentu tidak dapat dikatakan lagi sebagai kitab suci).
HATI NURANI manusia sangat mungkin untuk menjadi BENAR, dan sangat mungkin pula untuk menjadi SALAH. Oleh karena, bagaimana pun juga ia senantiasa ‘terikat erat dengan ‘NAFSU (sebagai kodratnya manusia). Sehingga manusia diperintahkan-Nya agar kembali kepada ‘FITRAH melalui ‘PUASA dan ‘SABAR, seperti halnya fitrah bayi yang baru ‘lahir.
Orang-orang yang berpuasa dan senantiasa memelihara kesabarannya, tentu senantiasa pula MENDEKATKAN diri kepada KESUCIAN itu. Yakni orang-orang yang pantas memperoleh ‘pakaian taqwa dari-Nya, seperti halnya bayi yang berada dalam ‘rahim. Tiada keinginan, tiada ‘nafsu, tiada kepentingan, tiada kemunafikan, tiada bau busuk, dan tiada-tiada lainnya selain ‘hidup bertasbih dan bersujud kepada Allah.
_____________________
Kalau lah seperti yang kalian kehendaki, seluruh manusia ditetapkan-Nya dapat langsung menyerap dan ‘menyelami Wahyu Tuhan (note: tanpa utusan dan tanpa kitab suci), tentu sudah tidak ada lagi yang namanya RELATIF dan tidak ada lagi yang namanya UJIAN hidup. Semua ‘telah menjadi SUCI dan MUTLAK, tidak ada lagi yang disebut dengan alam bumi yang FANA ini. Hal ini menjadikan tidak nalar bukan?!
Oleh karena itu, masih kah kalian hendak ‘meraih sesuatu yang tak dapat kalian ‘jangkau?!
Berpeganglah kamu pada ‘tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.
Maha Benar dan Maha Suci Allah dengan segala Firman-Nya.
tanwaskita
Februari 5th, 2012 pada 16:55
Dan firman Allah yang paling penting adalah MENGASIHI Tuhan dengan segenap akal budimu dan MENGASIHI sesama manusia seperti dikau mengasihi diri sendiri. Boleh percaya, boleh tidak, seperti saya tidak percaya kitab suci yang lain yang mengajarkan untuk menggebuki orang lain yang tak sepaham. Orang lain, sepaham atau tidak, menurut Yesus, ya harus dikasihi.
Senopati Karna
Februari 5th, 2012 pada 17:05
Itu tadi menurut Gusti Yesus. Lha nek menurut Buddha, kita tidak boleh mencelakai mahluk hidup, termasuk manusia.Tidak boleh membunuh, tidak boleh mencuri, tidak boleh kasar pada sesama. Dan tujuan akhir agama Buddha adalah nirwana, keadaan TIDAK dilahirkan kembali. Disitu tidak ada kolam susu, air mancur,buah2an, bidadari2 yg molek yg siap jadi pasangan – di dunia semua ini kan sudah ada. Oh ya,TIDAK ada paksaan dalam agama Buddha. Sang Buddha cuma menunjukkan jalannya, mau percaya sukur, tidak percaya ya tidak apa2. Resiko ditanggung penumpang.
pecinta alam sejati
Februari 5th, 2012 pada 17:45
tanwaskita
Dan firman Allah yang paling penting adalah MENGASIHI Tuhan dengan segenap akal budimu dan MENGASIHI sesama manusia seperti dikau mengasihi diri sendiri. Boleh percaya, boleh tidak, seperti saya tidak percaya kitab suci yang lain yang mengajarkan untuk menggebuki orang lain yang tak sepaham. Orang lain, sepaham atau tidak, menurut Yesus, ya harus dikasihi.
__________________________________________
Ajaran ‘Isa as……mengasihi & meneladani sesama dengan wudhu dan bersujud!
Ajaran yesus,……doktrin minum ‘darah segar dan makan ‘daging manusia?
BIMA
Februari 5th, 2012 pada 19:07
Senopati Karna
Itu tadi menurut Gusti Yesus. Lha nek menurut Buddha, kita tidak boleh mencelakai mahluk hidup, termasuk manusia.Tidak boleh membunuh, tidak boleh mencuri, tidak boleh kasar pada sesama. Dan tujuan akhir agama Buddha adalah nirwana, keadaan TIDAK dilahirkan kembali. Disitu tidak ada kolam susu, air mancur,buah2an, bidadari2 yg molek yg siap jadi pasangan – di dunia semua ini kan sudah ada. Oh ya,TIDAK ada paksaan dalam agama Buddha. Sang Buddha cuma menunjukkan jalannya, mau percaya sukur, tidak percaya ya tidak apa2. Resiko ditanggung penumpang.
_________________________
boleh lah buat selingan…..hehe
Dalam ajaran agama buddha ada nirwana (asal kata nirvana) dan ada syurga. betul?! dan level nirvana berada di atas syurga. betul?!
sedangkan makna nirvana:
1. Pendapat pertama:
keadaan bulat dan tenang.
2. Pendapat kedua
nir = tanpa, vana = keinginan
keadaan tanpa keinginan.
3. Pendapat ketiga
kebahagiaan tertinggi (Nibbanam Paramam Sukham) , jauh lebih tinggi, tak terperikan, walau dibandingkan dengan alam surgawi manapun.
4. tidak hidup dan tidak mati.
dan seterusnya menurut pemahaman2 lainnya.
Pertanyaan nya:
dimana ruh dan dimana jiwa ketika tingkat nirvana itu tercapai???
Monggo ki!
Kesadaran Murni
April 15th, 2012 pada 20:55
@ BIMA
……kebenaran Al Qu’an adalah mutlak,kebenaran manusia relatif,bisa salah bisa
benar. Emang yang bikin/ngarang/nyusun AL Qur’an itu siapa kl bukan manusia ?
sewaktu nabi masih hidup Qur”an ditulis di batu2,di tulang2 Onta,di pelepah2 daun
kurna itupun penulisanya mengalami kendala krn pengikut2 nabi jarang yang bisa
baca tulis ditambah lagi tidak boleh salah karna kalau salah getah yang dipakai buat
nulis kalau sudah kering tidak bisa dihapus. Lama setelah nabi Muhammad wafat dan
bangsa Arab sudah menjalin hubungan dengan bangsa barat/india/cina barulah
dikenal kertas dan tinta,setelahnya barulah tulisan2 yang ada di tulang/batu/pelepah
dikumpulkan,disusun kembali,naskahnya direvisi,disempurnakan sesuai ilmu dan latar
belakang pengetahuan sang penyusun,pinggir2nya dihias digambari,dinomeri,dll
Namanya bikinan manusia,apalagi yang bikin/nyusun orang banyak dengan latar belakang iman,pengetahuan,wawasan,tujuan yang berbeda-beda bagaimana bisa
mempunyai kebenaran mutlak ??? Qur’an bukan jatuh dari langit kangmas……….
Cepot
Mei 1st, 2012 pada 16:33
To: kesadaran Murni
Pelajari tentang Ijaz Al Qur’an adalah komposisi kata kata ketika dihitung dalam Al Qur’an Sangat seimbang, misal misal kata YAWM artinya Hari dalam bentuk tunggal berjumlah 365 sama dgn jumlah hari dalam satu tahun sedang dalam bentuk plural (yawmayni) berjumlah 30 sama dgn jumlah hari dalam satu bulan lalu kata SYAHR yang artinya Bulan ketika dihitung terdapat 12 kali sama dengan jumlah bulan dalam satu tahun, banyak lagi keseimbangan lainya ini hanya contoh kecil saja.
Seperti diketahui Al Qur’an turun secara spontan guna menjawab pertanyaan atau mengomentari suatu peristiwa. misalnya pertanyaan tentang ruh, pertanyaan ini dijawab dengan langsung namun demikian setelah rampung diturunkan kemudian di analisis serta perhitungan terhadap catatan redaaksinya ditemukan hal hal yg sangat menakjubkan ditemukan adanya keseimbangan yang sngat serasi antara kata kata yang digunakan maupun yg bertolak belakang.
sbgai referensi lihat buku Karya Dr. M. Quraish Sihab, MEMBUMIKAN AL QUR AN.
O'on
Mei 1st, 2012 pada 19:00
Pelajari tentang Ijaz Al Qur’an…
…di analisis serta perhitungan terhadap catatan redaaksinya ditemukan hal hal yg sangat menakjubkan..
———————————————
iya, memang bisa menakjubkan walopun tak ilmiah,
dan tak perlu ilmiah pula agar berkesan takjub. (^_^)v
Rantam
Mei 1st, 2012 pada 19:42
Pelajari tentang Ijaz Al Qur’an…
…di analisis serta perhitungan terhadap catatan redaaksinya ditemukan hal hal yg sangat menakjubkan..
———————————————
iya, memang bisa menakjubkan walopun tak ilmiah,
dan tak perlu ilmiah pula agar berkesan takjub. (^_^)v
————————–
* Yang lebih menakjubkan lagi bangsa2 yang berkitab suci Quran sudah sangat maju : Bisa mendaratkan manusia di bulan, bisa mengirim pesawat ke planet Mars, bisa membuat pesawat2 terbang yang amat canggih, mobil2 se kaliber Mercedes atau Rolls – Royce, tingkat ekonomi mereka juga lebih maju daripada negara2 Jerman,Jepang, China, Swedia,dll.
tanwaskita
Februari 5th, 2012 pada 17:59
إِنَّالَّذِينَآمَنُواْوَالَّذِينَهَادُواْوَالنَّصَارَىوَالصَّابِئِينَمَنْ آمَنَبِاللَّهِوَالْيَوْمِالآخِرِ وَعَمِلَصَالِحاًفَلَهُمْأَجْرُهُمْعِندَرَبِّهِمْوَلاَخَوْفٌعَلَيْهِمْوَلاَ هُمْيَحْزَنُونَ
Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Katholik/Kristen dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
———————
Aquya Bima yg terkasih,
Saya bolak balik injil saya, Yesus tidak pernah bilang yang utama adalah sujud. Kang Yesus bilang YANG UTAMA adalah mengasihi Tuhan DAN SESAMA manusia seperti dikau mengasihi dirimu sendiri. Jadi Kang Yesus TIDAK mengajarkan kebencian.
Salam katresnan kejawen
BIMA
Februari 5th, 2012 pada 18:49
Aquya Bima yg terkasih,
Saya bolak balik injil saya, Yesus tidak pernah bilang yang utama adalah sujud. Kang Yesus bilang YANG UTAMA adalah mengasihi Tuhan DAN SESAMA manusia seperti dikau mengasihi dirimu sendiri. Jadi Kang Yesus TIDAK mengajarkan kebencian.
Salam katresnan kejawen
____________________________________
Bukan hanya bersujud, bahkan:
perintah sholat yang diteladaninya pada ‘akhir tugas’ nya sebagai rasul.
1. nabi ‘isa as membasuh kepala, tangan, dan kaki murid2nya (di saat2 akhir tugas beliau).
2. nabi ‘Isa as bersujud di taman getsmani (di saat2 akhir tugas beliau sbg rasul).
Sudah tentu ini adalah teladan perintah rasul untuk melaksanakan sholat.
Seperti halnya perintah sholat lima waktu (pada peristiwa ‘isra mi’raj) yang dialami oleh Rasulullah. (juga di penghujung akhir dari tugas beliau sebagai rasul).
Salam
tanwaskita
Februari 5th, 2012 pada 18:59
Tolong copas perintah sholat lima waktu itu. Syokran. Ana a haibaq.
tanwaskita
Februari 5th, 2012 pada 19:05
Doa yg diajarkan Gusti Yesus :
Bapa kami yang ada di surga
Dimuliakanlah nama-Mu
Datanglah Kerajaan-Mu
Jadilah kehendak-Mu
Di atas bumi seperti di dalam Surga
Berilah kami rejeki pada hari ini
Dan ampunilah kesalahan kami, seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami
Dan janganlah masukkan kami ke dalam percobaan
Tetapi bebaskan kami dari yang jahat …Amin
Salam katresnan kejawen,katholik
BIMA
Februari 5th, 2012 pada 19:10
Lihat dengan mata hati!
ada dalam INJIL ASLI (luh-luh yang dibawa oleh malaikat!).
kuncoro
Mei 7th, 2012 pada 16:44
maafkan saya, kalimat dibalas kalimat, kata dibalas kata, bahkan sampai hurufpun dibalas huruf……hemmmm. inallilahi sudah sama dengan alhamdullilah.
tanwaskita
Februari 5th, 2012 pada 18:09
Nasionalisme Abdullah bin Nuh
Oleh Saidiman Ahmad
Bin Nuh menulis: “Anda adalah saudaraku. Apapun keadaan anda dan apapun kebangsaan anda. Apapun bahasa anda dan bagaimanapun warna kulit anda. Anda saudaraku walaupun anda tidak kenal aku dan tidak tahu siapa bundaku. Walaupun aku tidak pernah tinggal serumah dengan anda dan belum pernah seharipun hidup bersama anda….”
Bukan jalan benar yang dipersengketakan. Nama jalan itulah yang diperdebatkan. Di jalan itu berdiri sebuah gereja setengah jadi milik Gereja Kristen Indonesia (GKI) Taman Yasmin. Gereja itu disegel. Walikota Bogor pelakunya.
Nama jalan di mana gereja setengah jadi itu berdiri adalah KH Abdullah bin Nuh. Ia adalah seorang tokoh besar. Sumbangsihnya tidak tanggung-tanggung. Ia terlibat dalam proses pendirian Negara Republik Indonesia. Ia adalah salah satu anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Ia bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA) bentukan Jepang. Ia bahkan menjadi komandan batalyon PETA atau daidancho. Jabatan komandan batalyon ini ia pegang terus ketika ia bergabung dengan Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan Tentara Kemanan Rakyat (TKR).
Ketika tentara NICA masuk kembali ke Indonesia, pemerintah pusat pindah ke Yogyakarta. Salah satu yang diburu oleh tentara NICA adalah KH Abdullah bin Nuh. Ia kemudian ikut hijrah ke Yogyakarta. Di Yogyakarta inilah bersama sejumlah tokoh nasional ia memprakarsai pendirian Sekolah Tinggi Islam yang kini menjadi Universitas Islam Indonesia (UII). Di kota ini pula ia mengembangkan siaran berbahasa Arab Radio Republik Indonesia (RRI).
Radio Republik Indonesia berbahasa Arab punya peranan besar dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia. Dari seksi bahasa Arab inilah berita mengenai kemerdekaan RI tersiar ke manca negara, terutama ke negara-negara Arab. Bukan kebetulan bahwa negara paling awal yang memberi pengakuan terhadap kemerdekaan Indonesia adalah Mesir, kemudian disusul negara Arab lainnya. Pada titik ini, menurut M. Imdadun Rakhmat (peneliti KH Abdullah bin Nuh), jejak sang kiai di dunia jurnalisme sangat penting. Ia bukan sekedar wartawan biasa, melainkan seorang wartawan pejuang.
Yang menarik dari cerita perjuangan ini adalah bahwa sosok Bin Nuh adalah seorang nasionalis pembela negara. Kiprah keulamaannya tidak menghalangi dia untuk menjadi seorang nasionalis. Sepanjang hidupnya, Bin Nuh memang dikenal sebagai seorang kiai besar. Ia membangun perguruan-perguruan tinggi dan sejumlah pesantren, tempat di mana lahir ulama-ulama. Tak heran kalau nama Abdullah bin Nuh sering disebut sebagai guru para ulama. Oleh para pengikutnya, ia dipanggil “Mamak.”
Meski memiliki posisi keagamaan yang istimewa di tengah umat Islam, ia sama sekali tidak tertarik ikut-ikutan dalam gerakan pendirian negara Islam oleh Darul Islam (DI) dan Tentara Islam Indonesia (TII). Padahal basis utama gerakan ini adalah Jawa Barat, daerah yang juga menjadi basis gerakan Bin Nuh. Alih-alih bergabung dengan DI/TII, Bin Nuh justru terus menjadi komandan batalyon BKR dan TKR, membentuk seksi bahasa Arab RRI untuk mengabarkan kemerdekaan Indonesia, ikut hijrah ke Yogyakarta, mendirikan universitas dan lembaga pendidikan, menjadi Lektor Kepala atau Dekan Fakultas Sastra Universitas Indonesia, dan sederat aktivitas lain yang mendukung keutuhan negara bangsa Republik Indonesia.
Jika di kemudian hari nama Bin Nuh dikaitkan dengan sejumlah gerakan keagamaan internasional yang memiliki agenda penghancuran negara bangsa Indonesia, itu adalah suatu kecerobohan besar. A historis. Faktanya, hampir seluruh hidup sang kiai dicurahkan untuk mendirikan dan membangun negara bangsa bernama Indonesia ini.
Dalam hal pemikiran keagamaan, Bin Nuh tampak dekat dengan pemikiran yang berkembang dalam tradisi NU. Ia, misalnya, menulis satu buku yang sejak halaman judul menetapkan posisi pemikirannya. “Ana Muslimun Sunniyyun Syafi’iyyun” (Saya Seorang Muslim Sunni Pengikut Syafi’i). Aliran teologi Sunni dan mazhab hukum Syafi’i sangat populer di Indonesia dan menjadi anutan masyarakat Nahdlatul Ulama. Pada posisi ini, Bin Nuh sangat jauh dari sosok tokoh Muslim tanpa mazhab seperti yang dikembangkan oleh kaum Salafi Wahhabis. Kalau ada gerakan Islam Wahhabi apalagi jihadis Salafi yang menisbatan gerakannya kepada Bin Nuh, lagi-lagi itu adalah klaim sepihak yang tidak memiliki dasar faktual.
Lebih jauh, Bin Nuh memiliki kedekatan keagamaan dengan kaum sufi, sesuatu yang sangat ditentang oleh kelompok keagamaan Wahhabis. Salah satu karya besar Bin Nuh adalah Diwan bin Nuh. Buku itu berisi 118 qasidah (nyanyian puji-pujian) yang terdiri dari 2.731 bait sajak. Namun karya yang paling populer dari tokoh kita ini tentu saja adalah kamus Indonesia-Arab-Inggris, Inggris-Arab-Indonesia, dan Arab-Indonesia-Inggris.
Dalam sebuah kesempatan wawancara untuk talkshow Agama dan Masyarakat KBR 68H dan Tempo TV, KH Mustafa bin Abdullah bin Nuh membantah jika ayahandanya dikaitkan dengan penolakan sekelompok orang terhadap pembangunan gereja Taman Yasmin. Karakter dan jejak pemikiran Bin Nuh sangat tidak sejalan dengan intoleransi terhadap pembangunan gereja. Ada begitu banyak jalan yang menggunakan nama tokoh agama tertentu dan di situ ada rumah ibadah agama lain.
Dalam buku tentang persaudaraan Islam yang terbit tahun 1925, Bin Nuh menulis: “Anda adalah saudaraku. Apapun keadaan anda dan apapun kebangsaan anda. Apapun bahasa anda dan bagaimanapun warna kulit anda. Anda saudaraku walaupun anda tidak kenal aku dan tidak tahu siapa bundaku. Walaupun aku tidak pernah tinggal serumah dengan anda dan belum pernah seharipun hidup bersama anda di bawah satu atap langit.” []
03/02/2012 | Editorial, | #
http://www.islamlib.com
tanwaskita
Februari 5th, 2012 pada 18:14
Gus Dur Memanusiakan Manusia
Oleh M Subhi Azhari*
Disinilah, bagi Moqsith, pentingnya memikirkan apa saja yang perlu dilakukan para penerus perjuangan Gus Dur. Banyak pekerjaan Gus Dur yang berhasil, namun banyak pula yang belum tuntas. Antara lain nasib Ahmadiyah yang hingga sekarang masih belum selesai, problem regulasi negara seperti PNPS No. 1 tahun 1965, persoalan GKI Taman Yasmin Bogor juga masalah Syi’ah yang akhir-akhir ini banyak muncul. Kesemuanya adalah pekerjaan rumah para penerus perjuangan Gus Dur.
Berbagai problem kebangsaan sekarang seakan bertolak belakang dengan apa yang selama ini telah diperjuangkan mendiang KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sampai akhir hayatnya yakni memanusiakan manusia. Sikap, nilai dan perjuangan itu kian penting ketika Indonesia semakin kehilangan kendali atas kehidupan bersamanya sebagai bangsa, terus digerogoti kepentingan sesaat, kepentingan kelompok, kecintaan pada kekuasaan dan nilai bangsa yang memburam..
Inilah sedikit diantara refleksi para tokoh pada haul 2 tahun meninggalnya Gus Dur di kediaman almarhum, Kompleks Masjid Al Munawarah, Jl. Warung Silah, Ciganjur Jakarta Selatan, Jumat, (30/12). Tampak hadir pada acara ini Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud, MD, Mantan Ketua DPR Akbar Tanjung, aktivis HAM Usman Hamid, aktivis JIL Abd. Moqsith Ghazali, Pemimpin Redaksi Kompas Rikard Bagun, budayawan Al Zanstrow Ngatawi, Wakil Menteri Agama Nasarudin Umar, sejumlah tokoh lintas agama, Hj. Shinta Nuriyah Wahid dan putrid-putri Gus Dur.
Acara ini turut dimeriahkan pagelaran Wayang Kampung Sebelah dari Solo.Wayang adalah salah satu kesenian yang amat digemari Gus Dur semasa hidupnya.
Anita Wahid, salah satu putrid Gus Dur mengungkapkan betapa kita rindu menjadi manusia yang memanusiakan manusia sebagaimana ditunjukkan Gus Dur. Baginya, menjadi manusia berarti mendahulukan kepentingan manusia di atas kepentingan duniawi sesaat. Hal itu bisa Gus Dur lakukan karena ia berpegang pada tiga nilai besar yaitu keadilan, kesetaraan serta nilai persaudaraan. “Inilah yang seharusnya menjadi pondasi kehidupan berbangsa kita” tandas Anita.
Karena itu pulalah lanjut Anita, meski Gus Dur sudah dua tahun meninggal, waktu tetap tidak bisa memisahkan sosok Gus Dur dari kehidupan bangsa Indonesia. “Bapak tidak hanya sekedar menjadi kenangan dalam album-album yang tertutup atau pada foto-foto di dinding rumah. Bapak masih tetap hidup, sebagaimana penyair mengatakan Gus Dur hanya pulang bukan pergi” lanjutnya lirih.
Pemimpin Redaksi Kompas, Rikard Bagun menilai warisan yang ditinggalkan Gus Dur adalah nilai kebangsaan dan kemanusiaan. Nilai-nilai tersebut tidak hanya membesarkan namanya tetapi juga mengabadikan dirinya jauh melampauai usia hidup dan keterbatasan jamannya. “Kebesaran Gus Dur kita tahu bukan terletak pada tampilan sosok dan pisiknya, tapi pada keluhuran, pikiran hati dan cita-citanya yang selalu memberi sugesti perbaikan dan penghormatan pada hak asasi, demokrasi, keaadilan dan lingkungan hidup” tagasnya.
Perjuangan Gus Dur menciptakan kehidupan bangsa yang lebih baik menjadikanya sebagai tokoh yang berpengaruh dalam sejarah kontemporer Indonesia. pengaruhnya jauh lebih luas dan besar ketimbang kekuasaan.”Dalam sejarah, jangkauan pengaruh jauh lebih kuat, jauh lebih luas ketimbang kekuasaan politik atau power. Sekalipun Steve Jobs dari perusahaan Apel, Bill Gates dari Microsoft, Bunda Theresa, ilmuwan Einstein dan The Beatles tidak memiliki kekuasaan politik tetapi mereka memiliki pengaruh luar biasa melampaui batas negara, kawasan dan jamannya” lanjutnya.
Mengapa Gus Dur demikian besar pengaruhnya? Salah satu jawabannya menurut Rikard karena Gus Dur memiliki apa yang disebut sebagai budaya unggul yakni budaya yang selalu memperjuangkan kebenaran dan kebaikan bukan bagi dirinya atau bagi Islam tetapi bagi semua orang.
Pada aspek yang lain aktivis HAM Usman Hamid menilai masa pemerintahan Gus Dur adalah masa dimana komitmen pemerintah terhadap penegakan hak asasi manusia sangat kuat. Pemerintahan Gus Dur mendukung seluruh institusi HAM. penyelidikan HAM juga ditindaklanjuti. “Bahkan seorang jenderal di copot karena terlibat kejahatan di Timor Timur dan menghambat reformasi ditubuh militer, Keputusan Presiden diterbitkannya untuk memfungsikan Pengadilan HAM” paparnya.
Praksis Pemerintahan Wahid lanjut Usman bisa meneropong situasi HAM sekarang dengan sangat jernih. Itu karena Gus Dur adalah sosok pemimpin, pembela rakyat marjinal, pembela minoritas agama etnis yang hak-haknya terhalangi baik dalam berkeyakinan, beragama atau mendirikan rumah ibadah sepeti yang dialami GKI Yasmin akhir-akhir ini.
Senada dengan Usman Abd. Moqsith Ghazali juga melihat Gus Dur adalah sosok yang konsisten dengan perjuangannya, dia tidak pernah pamrih atas berbagai hal yang dia bela untuk mengeruk keuntungan pribadi. Hal itu bisa terjadi karena Gus Dur mengerti mana sarana mencapai tujuan dan mana tujuan itu sendiri. Bagi Gus Dur pluralisme adalah tujuan perjuangan dan bukan sarana mencapai tujuan. “Itu sebabnya Gus Dur tidak pernah mempolitisasi pikiran-pikiran pluralism, tidak pernah mempolitisasi HAM. Dia juga tidak khawatir apakah partainya akan merosot suaranya, atau dia akan ditinggal umatnya. Inilah yang berbeda dengan generasi-generasi setelahnya” sindir Mogsith.
Keistimewaan lain Gus Dur adalah keyakinannya pada iman yang terbuka. Bagi Gus Dur, iman bukanlah rumah yang tertutup untuk menebalkan tapal batas dirinya dengan orang lain. Dengan keimanan yang kuat Gus Dur tidak ragu untuk berjumpa dengan orang lain yang berbeda keyakinan dan agama.”Keimanan Gus Dur tidak merosot hanya karena mengucapkan selamat natal kepada umat Kristiani. Gus Dur tidak marah dengan polling Arswendo yang menyatakan Nabi Muhammad ratingnya kalah jauh ketimbang Zainudin MZ Keimanan yang kuat menjadikan Gus Dur tidak ragu untuk berjumpa menjabat orang yang berbeda. Itulah makna keimanan yang diharapkan Gus Dur” tandas Moqsith.
Banyak orang merasa kehilangan atas kepergian Gus Dur, karena begitu banyak peristiwa yang dialami bangsa pada saat ini baik berkaitan dengan kehidupan masyarakat, kehiduan umat beragama ternyata jauh dari apa yang dicita-citakan Gus Dur. Karena itu bagi Moqsith cita-cita itulah yang harus diteruskan orang-orang yang mengaku mengikuti ajaran Gus Dur, bukan dengan menyembahnya.
Moqsith mengutip sepenggal kisah ketika sahabat Umat Bin Khattab tidak mau menerima kenyataan Nabi Muhammad telah meninggal dunia. Dia bahkan bersumpah akan memengal kepala siapapun yang berani mengatakan bahwa Nabi sudah meninggal. Namun Abu Bakar al Shiddiq, sahabat yang lain segera menyadarkan dia dengan mengatakan: “Bahwa barang siapa yang menyembah Muhammad, sesungguhnya dia telah mati, tapi barangsiapa yang menyembah Allah, Dia adalah kekal, tidak pernah mati”.
Disinilah, bagi Moqsith, pentingnya memikirkan apa saja yang perlu dilakukan para penerus perjuangan Gus Dur. Banyak pekerjaan Gus Dur yang berhasil, namun banyak pula yang belum tuntas. Antara lain nasib Ahmadiyah yang hingga sekarang masih belum selesai, problem regulasi negara seperti PNPS No. 1 tahun 1965, persoalan GKI Taman Yasmin Bogor juga masalah Syi’ah yang akhir-akhir ini banyak muncul. Kesemuanya adalah pekerjaan rumah para penerus perjuangan Gus Dur.
Bahkan menurut Akbar Tanjung, sedemikian besar pekerjaan rumah kita saat ini, jika Gus Dur masih ada, dia pasti akan turun langsung menyelesaikannya []
*Peneliti The Wahid Institute, Jakarta
03/02/2012 | Reportase, | #
http://www.islamlib.com
Dewi
Februari 6th, 2012 pada 21:20
@ Tanwaskita, Lelono, ONO,
Inilah nasib bumi pertiwi selama ini, bangsa yang terjajah, terjajah oleh bangsanya sendiri, dan mereka para penjajah tak pernah sadar, bahwa merekalah selama ini yang telah terjajah, sebuah potret mental bangsa ‘penjajah yang terjajah’.
Penjajah fisik bisa kita usir, penjajah spiritual?… ajaran welas asih leluhur kita bisa memangkunya dengan toleransi dan sudah di terima dengan baik sekali untuk ‘memayu hayuning jagad’ supaya ada keselarasan dan keharmonisan alam, dan jika mereka yang masih terusik dengan kehidupan spiritual di negri ini hendaknya kalau tak bisa menyesuaikan diri, setidaknya bisa tahu diri.
Adalah kenyataan, banyak orang indonesia yang sudah ke arab2an , bahkan lebih arab daripada orang arab itu sendiri, saya salut dengan pemikiran generasi bangsa yang tergabung dalam organisasi ‘ islam liberal’ di mana islam adalah sebuah kebebasan/ pembebasan.
Terima kasih atas pencerahannya serta smangat para pinisepuh untuk mengikis kefanatikan yang sudah membatu dan membabi buta yang selalu ber regenerasi menggerogoti bumi nusantara. Saya menyimak tulisan poro pinisepuh yang sangat bermanfaat untuk kontemplasi, Monggo di lanjut diskusinya.
Salam rahayu,
Dewi
Kesadaran Murni
April 17th, 2012 pada 17:16
mbakyu Dewi menopo ingkang panjenengan ngendikakaken menika leres….
” terjajah secara spiritual ” sebetulya sangat menyakitkan,tapi mau apa ? Bisa apa ?
BIMA
Februari 5th, 2012 pada 19:46
Doa yg diajarkan Gusti Yesus :
Bapa kami yang ada di surga (bisa juga Ibu kami yang ada di surga)
Dimuliakanlah nama-Mu (nama-nama atau nama?! padahal ada lebih dari satu nama: Bapa, Tuhan, Allah, Tuhan Yesus)
Datanglah Kerajaan-Mu (Datanglah adalah kata perintah, layakkah manusia memerintah tuhannya sendiri? Tuhan disuruh dan diperintah datang sak gedung2 ne.
Seharusnya: “Dekatkanlah kami kepada Kerajaan-Mu”)
Jadilah kehendak-Mu (idem. “Jadi lah” adalah kata perintah, layakkah manusia memerintah tuhannya sendiri?
Seharusnya: “Jadikanlah kami seperti kehendak-Mu”)
Di atas bumi seperti di dalam Surga (Tidak ada penjelasan yang rinci dan lengkap di dalam alkitab, tentang keadaan syurga itu sendiri. Jadi apa yang mau diimani, jika kata “seperti” tidak ada penjelasannya)
Berilah kami rejeki pada hari ini (fikiran yg sempit dan egoistik, hari esok dan esok bagaimana?).
idem, “Berilah” merupakan kata perintah,
seharusnya: “Berikanlah kami rezeki yang halal dan yang Engkau Ridhoi.)
Dan ampunilah kesalahan kami, seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami (sesama manusia bukan “mengampuni”, tapi memaafkan!).
Dan hanya Tuhan lah yang berhak mengampuni.
Dan janganlah masukkan kami ke dalam percobaan (kata “percobaan” dengan kata “cobaan” sangat berbeda makna, teliti lagi tata-bahasanya).
Tetapi bebaskan kami dari yang jahat …Amin (kata “bebaskan” mengandung unsur pemaksaan dan tidak santun, bahkan tidak tepat, karena “yang jahat” memang tidak ‘menyatu dengan “yang baik”)
Seharusnya: “Tetapi bebaskanlah kami dari perbuatan yang jahat”.
Salam katresnan kejawen,katholik
Salam redaksional.
tomyarjunanto
April 18th, 2012 pada 09:59
Ngagem basa jawi kemawon kersane boten sulaya :
“Kanjeng Rama wonten ing swarga
mugi Asma Dalem kaluhurna
Kraton Dalem kawiyarna
ing donya ugi kalampahana
Karsa Dalem kados ing swarga”
menika afirmasi sanes perintah
“Abdi Dalem sami nyadhong rejeki ing samenika” (Raos Gesang menika inggih sapunika, hidup dalam momen kekinian)
“sakathahing lepat nyuwun pangapunten Dalem dene kawula inggih angapunten dhateng sesami” (sanes nyuwun pangapunten kemawon nanging inggih kedah purun angapunten sesami, menika hakekatipun pangapunten)
Abdi dalem nyuwun lepat saking panggodha tuwin tinebihna saking sedaya piawon
menika sedaya namung donga ingkang kaucap lesan, mila bab basa yekti boten badhe dados pasulayan. jawa menika “jawabe”, ingkang medal saking “penggalih” inggih punika jumbuhipun akal klawan rasa.
punapa ingkang medal saking lesan punika saking krentegipun penggalih kang kedah kanyatakaken.
Kesadaran Murni
April 18th, 2012 pada 19:12
@ Tomyarjunanto
100
kuncoro
Mei 7th, 2012 pada 15:26
kulo nuwun mas tomi. kulo mathuk sanget. rencang rencang sami diskusi gayeng sanget. boso jawi milo komplit sanget. menawi wonten monco, ngaturi ratu inggih you, kaliyan sopir taksi injih you. menawi boso jawi mbokbilih wonten bentenipun. jowo “djomoboroso wosokotho” jembaring waskitho.
milo menawi rencang2 diskusi ingkang setunggal saklebeting kothak, sanesipun wonten njawi kothak paningalipun boten sami. ingkang setunggal langen wonten blumbang, sanesipun langen wonten tlogo. agami tuwin kitab ingkang sami dipun gegeraken udreg2an namung crito saklebeting crito. wonten mriku sampun benten kaliyan aslinipun. sampun kacampuran ego manungso. Panjenengan Dalem Gusti mboten untung/rugi manungso pitados menopo mboten, ingkang rugi manungso piyambak. milo isinipun donyo nggih kados meniko, panggenan kagem sinau, lampah spiritual ingkang sifatipun pribadi sanget (mawarni warni trap trapipun). mboten wonten saksetunggaling manungsa ingkang saget njamin dados budi luhur, mbokbilih trawoco sanget wonten kahanan sak meniko.
sedoyo ingkang asifat gaib/spiritual namung saget dipun gayuh saking pribadi.
mekaten kagem sedoyo rencang ingkang diskusi.
matur nuwun, nyuwun pangaksami.
BIMA
Februari 5th, 2012 pada 22:09
Konsep Pribadi Sabda.
Pandangan Kejawen Tentang Kehidupan di Dunia
Pandangan Kejawen tentang makna hidup manusia dunia ditampilkan secara rinci, realistis, logis dan mengena di dalam hati nurani; bahwa hidup ini diumpamakan hanya sekedar mampir ngombe, mampir minum, hidup dalam waktu sekejab, dibanding kelak hidup di alam keabadian setelah raga ini mati. Tetapi tugas manusia sungguh berat, karena jasad adalah pinjaman Tuhan. Tuhan meminjamkan raga kepada ruh, tetapi ruh harus mempertanggungjawabkan “barang” pinjamannya itu. Pada awalnya Tuhan Yang Mahasuci meminjamkan jasad kepada ruh dalam keadaan suci, apabila waktu “kontrak” peminjaman sudah habis, maka ruh diminta tanggungjawabnya, ruh harus mengembalikan jasad pinjamannya dalam keadaan yang suci seperti semula. Ruh dengan jasadnya diijinkan Tuhan “turun” ke bumi, tetapi dibebani tugas yakni menjaga barang pinjaman tersebut agar dalam kondisi baik dan suci setelah kembali kepada pemiliknya, yakni Gusti Ingkang Akaryo Jagad. Ruh dan jasad menyatu dalam wujud yang dinamakan manusia. Tempat untuk mengekspresikan dan mengartikulasikan diri manusia adalah tempat pinjaman Tuhan juga yang dinamakan bumi berikut segala macam isinya; atau mercapada. Karena bumi bersifat “pinjaman” Tuhan, maka bumi juga bersifat tidak kekal.
>>> RUH atau JIWA kah, yang bertanggung jawab atas perbuatan diri manusia itu sendiri?!
Betapa Maha Pemurahnya Tuhan itu, bersedia meminjamkan jasad, berikut tempat tinggal dan segala isinya menjadi fasilitas manusia boleh digunakan secara gratis. Tuhan hanya menuntut tanggungjawab manusia saja, agar supaya menjaga semua barang pinjaman Tuhan tersebut, serta manusia diperbolehkan memanfaatkan semua fasilitas yang Tuhan sediakan dengan cara tidak merusak barang pinjaman dan semua fasilitasnya.
>>> Siapa yang ber-Hak meminjamkan, Siapa yang ber-Hak mengambilnya, begitu pula siapa yang ber-Hak menerima nya kembali?!
Itulah tanggungjawab manusia yang sesungguhnya hidup di dunia ini; yakni menjaga barang “titipan” atau “pinjaman”, serta boleh memanfaatkan semua fasilitas yang disediakan Tuhan untuk manusia dengan tanpa merusak, dan tentu saja menjaganya agar tetap utuh, tidak rusak, dan kembali seperti semula dalam keadaan suci. Itulah “perjanjian” gaib antara Tuhan dengan manusia makhlukNya. Untuk menjaga klausul perjanjian tetap dapat terlaksana, maka Tuhan membuat rumus atau “aturan-main“ yang harus dilaksanakan oleh pihak peminjam yakni manusia. Rumus Tuhan ini yang disebut pula sebagai kodrat Tuhan; berbentuk hukum sebab-akibat. Pengingkaran atas isi atau “klausul kontrak” tersebut berupa akibat sebagai konsekuensi logisnya. Misalnya; keburukan akan berbuah keburukan, kebaikan akan berbuah kebaikan pula. Barang siapa menanam, maka mengetam. Perbuatan suka memudahkan akan berbuah sering dimudahkan. Suka mempersulit akan berbuah sering dipersulit.
>>> Bagaimana anda mengklasifikasikan yang dimaksud dengan yang ‘rusak dengan yang ‘tidak rusak itu, yang ‘buruk dengan yang ‘baik? Begitu juga dengan yang ‘ingkar dengan yang ‘patuh?
>>> ‘Ingkar menurut anda, bisa jadi ‘patuh menurut saya, begitu juga sebaliknya.
Dikatakan Ingkar kalau merusak, sedangkan pengertian ‘rusak itu sendiri tidak ada kejelasan dan kepastiannya!
Konsep Kejawen Tentang Pahala dan Dosa
dan Pandangan Kejawen tentang Kebaikan-Keburukan
Ajaran Kejawen tidak pernah menganjurkan seseorang menghitung-hitung pahala dalam setiap beribadat. Bagi Kejawen, motifasi beribadat atau melakukan perbuatan baik kepada sesama bukan karena tergiur surga. Demikian pula dalam melaksanakan sembahyang manembah kepada Tuhan Yang Maha Suci bukan karena takut neraka dan tergiur iming-iming surga. Kejawen memiliki tingkat kesadaran bahwa kebaikan-kebaikan yang dilakukan seseorang kepada sesama bukan atas alasan ketakutan dan intimidasi dosa-neraka, melainkan kesadaran kosmik bahwa setiap perbuatan baik kepada sesama merupakan sikap adil dan baik pada diri sendiri. Kebaikan kita pada sesama adalah KEBUTUHAN diri kita sendiri. Kebaikan akan berbuah kebaikan. Karena setiap kebaikan yang kita lakukan pada sesama akan kembali untuk diri kita sendiri, bahkan satu kebaikan akan kembali pada diri kita secara berlipat. Demikian juga sebaliknya, setiap kejahatan akan berbuah kejahatan pula. Kita suka mempersulit orang lain, maka dalam urusan-urusan kita akan sering menemukan kesulitan. Kita gemar menolong dan membantu sesama, maka hidup kita akan selalu mendapatkan kemudahan.
>>> Anda menyebutkan:
bahwa setiap perbuatan baik kepada sesama merupakan sikap adil dan baik pada diri sendiri. Kebaikan kita pada sesama adalah KEBUTUHAN diri kita sendiri.
>>> Baik kepada sesama menurut siapa?! menurut hati nurani masing2?
Teman anda mengatakan perbuatan yang telah anda lakukan adalah baik, tetapi teman anda yang lainnya bisa jadi menyebut perbuatan anda tidak baik. relatif bukan?!
>>> Sekali lagi saya pertanyakan, baik menurut anda bisa jadi jahat menurut saya, begitu juga sebaliknya. Jadi baik dan buruk menurut saya…atau kah menurut anda ?!
Menurut pandangan Kejawen, kebiasaan mengharap dan menghitung pahala terhadap setiap perbuatan baik hanya akan membuat keikhlasan seseorang menjadi tidak sempurna. Kebiasaan itu juga mencerminkan sikap yang serakah, lancang, picik, dan tidak tahu diri. Karena menyembah Tuhan adalah kebutuhan manusia, bukan kebutuhan Tuhan. Mengapa seseorang masih juga mengharap-harap pahala dalam memenuhi kebutuhan pribadinya sendiri ? Dapat dibayangkan, jika kita menjadi mahasiswa maka butuh bimbingan dalam menyusun skripsi dari dosen pembimbing, maka betapa lancang, serakah, dan tak tahu diri jika kita masih berharap-harap supaya dosen pembimbing tersebut bersedia memberikan uang kepada kita sebagai upah. Dapat diumpamakan pula misalnya; kita mengharap-harapkan upah dari seseorang yang bersedia menolong kita..?
>>> Jangankan membahas pahala, anda pun sebelumnya sudah MENGHARAPKAN perbuatan anda sendiri akan SELALU BAIK?! Semua manusia di bumi ini, sudah tentu dan pasti mempunyai HARAPAN dalam kehidupannya!
>>> Lebih tepatnya yang dihindari itu adalah PAMRIH (seperti yang anda koreksi pada posting anda berikutnya). Kalau anda melakukan segala sesuatunya dengan pamrih, tentu niat dan perbuatan anda bukan lah perbuatan yang ‘ikhlas.
>>> Saya sarankan perbaiki redaksional anda.
Ajaran Kejawen memandang bahwa seseorang yang menyembah Tuhan dengan tanpa pengharapan akan mendapat pahala atau surga dan bukan atas alasan takut dosa atau neraka, adalah sebuah bentuk KEMULIAAN HIDUP YANG SEJATI. Sebaliknya, menyembah Tuhan, berangkat dari kesadaran bahwa manusia hidup di dunia ini selalu berhutang kenikmatan dan anugrah dari Tuhan. Dalam satu detik seseorang akan kesulitan mengucapkan satu kalimat sukur, padahal dalam sedetik itu manusia adanya telah berhutang puluhan atau bahkan ratusan kenikmatan dan anugerah Tuhan. Maka seseorang menjadi tidak etis, lancang dan tak tahu diri jika dalam bersembahyang pun manusia masih menjadikannya sebagai sarana memohon sesuatu kepada Tuhan. Tuhan tempat meminta, tetapi manusia lah yang tak tahu diri tiada habisnya meminta-minta. Dalam sikap demikian ketenangan dan kebahagiaan hidup yang sejati akan sangat sulit didapatkan.
>>> anda diberi ‘kemudahan dan ‘kesulitan sebagai ujian hidup anda di dunia ini, sudah pasti anda MENGHARAPKAN kehidupan yang lebih ‘baik dan lebih ‘sempurna.
>>> Tuhan tidak pernah mengajarkan kepada manusia bahwa rezeki itu adalah hutang, karena Dia lah Yang Maha Pemberi Rezeki dan Yang Maha Pemurah. Oleh karena itu lah manusia selalu diperintahkan dan diingatkan untuk senantiasa ‘bersyukur dan ‘bersujud, atas segala rezeki dan nikmat yang diperolehnya.
>>>Memohon dan berdo’a kepada tuhan tentu dilakukan setiap saat, karena dengan do’a itu manusia berharap selalu ditunjukkan kepada jalan yang ‘lurus, karena jalan yang ‘bengkok senantiasa ‘menyesatkan anda.
Sembahyang tidak lain sebagai cara mengungkapkan rasa berterimakasihnya kepada Tuhan. Namun demikian ajaran Kejawen memandang bahwa rasa sukur kepada Tuhan melalui sembahyang atau ucapan saja tidak lah cukup, tetapi lebih utama harus diartikulasikan dan diimplementasikan ke dalam bentuk tindakan atau perbuatan baik kepada sesama dalam kehidupan sehari-harinya. Jika Tuhan memberikan kesehatan kepada seseorang, maka sebagai wujud rasa sukurnya orang itu harus membantu dan menolong orang lain yang sedang sakit atau menderita.
>>> Sholat adalah kewajiban, seperti halnya anda wajib bernafas.
Bernafas dengan ‘ikhlas dan teratur, tentu akan menyehatkan ‘jasmani anda.
begitu juga melakukan sholat dengan ikhlas dan teratur, tentu akan menyehatkan ‘rohani anda.
Dan kesemuanya itu akan tercermin dalam sikap, ucapan, dan perbuatan manusia dalam kehidupannya.
_________________________________
Berikutnya:
Di satu sisi anda mengatakan:
Itu lah pandangan yang menjadi dasar Kejawen bahwa menyembah Tuhan, dan berbuat baik pada sesama, bukanlah KEWAJIBAN (perintah) yang datang dari Tuhan, melainkan diri kita sendiri yang mewajibkan.
Sedangkan di lain sisi (lihat dalam uraian anda sebelumnya), anda mengatakan:
Tuhan hanya menuntut tanggungjawab manusia saja
>>> Padahal ‘tanggungjawab merupakan penjelasan dan penegasan dari pelaksanaan ‘kewajiban. Bagaimana mungkin tuhan hanya meminta ‘tanggungjawab’, tanpa adanya ketentuan kewajiban (dalam perbuatan) yang akan dipertanggungjawabkan oleh manusia itu sendiri?!
Dengan kata lain: Apa yang mau dipertanggungjawabkan, sedangkan kewajiban manusia itu sendiri tidak ada ketentuannya yang pasti?!
>>> Luar biasa kontradiktif dan penyesatan nya! Apa kata dunya???
___________________________
Kalau membahas tentang ‘hak dan ‘kewajiban, tentu ada aturan dan batasan2nya.
1. Coba anda jelaskan: berbuat ‘baik pada sesama itu yang bagaimana?
Karena ‘baik menurut anda bisa jadi ‘buruk menurut saya, atau sebaliknya.
2. Menurut anda, anda ‘sudah menyembah tuhan, menurut saya anda ‘belum menyembah tuhan, atau sebaliknya. Bagaimana anda mendefinisikan dan mengklasifikasikan dengan benar, istilah ‘sembah’ itu yang sesungguhnya?!
Karena kalau tanpa definisi yang jelas, tanpa aturan serta batasan yang jelas, tentu tidak ada manfaatnya lagi disebut sebagai ‘sembah’ itu. dan tidak ada ‘bedanya lagi antara ‘sembah dengan yang ‘bukan sembah.
Monggo ki! Salam redaksional juga…..
kuncoro
Mei 7th, 2012 pada 16:52
mbok menawi lho,…. ojo dadi dalan cilakaning liyan, ojo dadi dalan pitunaning liyan.
SSJ
Februari 6th, 2012 pada 03:06
MANUSIA adalah bersifat RELATIF, bisa benar dan bisa juga salah; disebabkan manusia pasti memiliki KETERBATASAN dan KELEMAHAN. ‘Hingga tidak lah mungkin jika ‘SUDUT PANDANG MANUSIA pantas dijadikan SUMBER KEMUTLAKAN yang hak’iki.
SUDUT PANDANG manusia yang LUAS itu pun pasti memiliki KETERBATASAN, karena ‘USIA manusia juga TERBATAS. Oleh karena itu, pengertian LUAS itu sendiri sudah pasti menjadi RELATIF. JIka sudah pasti RELATIF, tentu tetap ada SATU ‘SUMBER KEMUTLAKAN yang HAK (BENAR) dari YANG MAHA MUTLAK.
___________________________________________ !!!!!!!!
maka dari itu ….. berarti …..
KITAB (ajaran yang dianggap) SUCI yang KATANYA berasal dari WAHYU (si Anu) dan diturunkan kepada seorang (M)ANUSIA yang dianggap paling benar,baik dan superior adalah juga bersifat RELATIF.
karena (M)ANUSIA adalah MANUSIA yang KATANYA(komentar) adalah bersifat RELATIF, ………..bla…banyak …bla…
BuktiNya-tane orangnya suka terjun di dunia POLITIK dengan TAMENG ajaran SUCI agar SYAH untuk berbuat AROGANSI, KEKERASAN, menebar KEBENCIAN………..
SUMBER KEMUTLAKAN yang HAK(BENAR) adalah SEMESTA ALAM yang TANPA BATAS (makro & mikro cosmic) yang bisa dipandang oleh manusia dengan SUDUT PANDANG yang LUAS dengan YANG MAHA MUTLAK adalah HUKUM-HUKUM ALAM UNIVERSAL yang langsung bisa DIRASAKAN bukan hanya …. KataNya.
BuktiNya-tane … kitab suci yang KataNya …sangat lengkap dan PALING SEMPURNA …belum ada ajaran untuk BUAT PESAWAT TERBANG agar bisa cepat sampai ke tanah suci….. berarti ya belum sempurna.!!!
Yang tak lekang oleh waktu adalah HUKUM UNIVERSAL SEMESTA ALAM.
KITAB SUCI itu bisa RUSAK apalagi orangnya….
BIMA
Februari 6th, 2012 pada 05:48
maka dari itu ….. berarti …..
KITAB (ajaran yang dianggap) SUCI yang KATANYA berasal dari WAHYU (si Anu) dan diturunkan kepada seorang (M)ANUSIA yang dianggap paling benar,baik dan superior adalah juga bersifat RELATIF.
>>> diturunkan kepada rasul dengan muk’jizat, dan mu’jizat adalah kemutlakan yang tidak dapat dipungkiri. Seperti yang dialami oleh nabi Musa as (membelah laut) dan Nuh as. (banjir bandang). Secara agama dan ilmiah pun telah diakui oleh dunia.
karena (M)ANUSIA adalah MANUSIA yang KATANYA(komentar) adalah bersifat RELATIF, ………..bla…banyak …bla…
BuktiNya-tane orangnya suka terjun di dunia POLITIK dengan TAMENG ajaran SUCI agar SYAH untuk berbuat AROGANSI, KEKERASAN, menebar KEBENCIAN………..
>>> Bedakan antara agama dengan perbuatan manusia itu sendiri. Perbuatan manusia menjadi tanggungjawab manusia itu sendiri.
SUMBER KEMUTLAKAN yang HAK(BENAR) adalah SEMESTA ALAM yang TANPA BATAS (makro & mikro cosmic) yang bisa dipandang oleh manusia dengan SUDUT PANDANG yang LUAS dengan YANG MAHA MUTLAK adalah HUKUM-HUKUM ALAM UNIVERSAL yang langsung bisa DIRASAKAN bukan hanya …. KataNya.
BuktiNya-tane … kitab suci yang KataNya …sangat lengkap dan PALING SEMPURNA …belum ada ajaran untuk BUAT PESAWAT TERBANG agar bisa cepat sampai ke tanah suci….. berarti ya belum sempurna.!!!
>>> lihat surah Al Hadid
Yang tak lekang oleh waktu adalah HUKUM UNIVERSAL SEMESTA ALAM.
>>> Bumi dan alam semesta tentu dan pasti akan dimusnahkan olehNya. Beriman kepada ‘hari akhir adalah salah satu rukun Islam. Terbukti dengan tanda-tanda menjelang akhir zaman yang telah disebutkan oleh Rasulullah (14 abad yang lalu) sebagai seorang nabi yang ummi.
KITAB SUCI itu bisa RUSAK apalagi orangnya….
>>> Terbukti sejak diturunkannya hingga kini, tidak ada perubahan pada kitab suci Al Qur’an itu. Insya Allah.
SSJ
Februari 6th, 2012 pada 04:26
sedangkan makna nirvana:
1. Pendapat pertama:
keadaan bulat dan tenang.
2. Pendapat kedua
nir = tanpa, vana = keinginan
keadaan tanpa keinginan.
3. Pendapat ketiga
kebahagiaan tertinggi (Nibbanam Paramam Sukham) , jauh lebih tinggi, tak terperikan, walau dibandingkan dengan alam surgawi manapun.
4. tidak hidup dan tidak mati.
dan seterusnya menurut pemahaman2 lainnya.
Pertanyaan nya:
dimana ruh dan dimana jiwa ketika tingkat nirvana itu tercapai???
Monggo ki!
________________________________________ !!!!!!
oh……. sungguh kasihan anda yang ,,, Belum sadari …Isi … Manusia dan … Alam …
Anda masih terikat & melekat oleh Ruh dan Jiwa yang nota bene masih punya KEINGINAN besok akan mati dan dihidupkan kembali untuk masuk syurga yang serba terasa enak…. itu aja harus menunggu KiAmat…. KataNya…
(2) KEINGINAN adalah sumber PENDERITAAN …….(betul kata Iwan Fals)..adanya di dalam PIKIRAN,…
Karena jika menuruti KEINGINAN, konskuensinya adalah Perjuangan & Pengorbanan = adalah PENDERITAAN
Pikiran & Perasaan adalah bagian dari Ruh & Jiwa
Jika tidak ada Pikiran & Perasaan berarti tidak ada Ruh & Jiwa
Jika tidak ada Pikiran & Perasaan berarti tidak ada KEINGINAN
Jika tidak ada KEINGINAN berarti tidak ada PENDERITAAN = adalah KEBAHAGIAAN
(3) SAAT INI adalah kesempatan yang baik untuk berusaha mencapai KEHBAHAGIAAN apalagi yang TERTINGGI
(4) TIDAK HIDUP berarti tidak menanggung konskuensi / resiko Hidup = adalah Kebahagian. TIDAK MATI berarti tidak menanggung penderitaan Kematian = adalah Kebahagiaan.
(1) BULAT adalah simbol Gerak Putaran,.. TENANG adalah KESEIMBANGAN – LANGGENG
= PERUBAHAN – KELANGGENGAN / KEKAL
harap bisa anda pahami & sadari ….. kalo masih BELUM BISA
oh……. sungguh kasihan anda yang ,,, Belum sadari …Isi … Manusia dan … Alam …
BIMA
Februari 6th, 2012 pada 05:36
dari uraian anda tersebut, belum ada jawaban anda sesuai pertanyaan saya.
kalau begitu, saya ulangi sekali lagi:
Pertanyaan nya:
dimana ruh dan dimana jiwa ketika tingkat nirvana itu tercapai???
Monggo ki!
note:
kehidupan yang sesungguhnya adalah kehidupan ruh dan jiwa di alam ghaib.
dan agama buddha juga meyakini adanya jiwa (batin) dan ruh.
rere
Februari 6th, 2012 pada 14:28
dimana ruh dan dimana jiwa ketika tingkat nirvana itu tercapai???
———————————————————————————–
akh pertanyaan spt ini kalau pun elu tahu pasti jawabannya teori tok..
meraba-meraba…( gaya si dungu sok tahu)……………..
krn elu gak punya pengalaman spt itu……….h.h.h.h.h.
sok spiritualis………h.h.h.h.h.
1 jari
Februari 7th, 2012 pada 03:10
dimana ruh dan dimana jiwa ketika tingkat nirvana itu tercapai???
————————————————–
bukan maksud mengiyakan keinginan si Bima, tetapi ini juga sekaligus pertanyaan buat Bima…….
Saksi palsu…. ( pembelajaran dr sebelah untuk belajar bersama, intinya apa ya ??? )
mari kita belajar bersama…. kalaumas Bima tentunya dah lebih dari yg ini tentunya. tarafnya kan udah Wali…..
terima kasih pada siapa saja yg telah mengunggahnya, sehingga bisa buat belajar bersama…
yg mengerti ( ambil intinya )
yg bingung ( di lihat saja )
yg membusungkan dada ( selamat anda perlu mencoba lagi )
yg memahami ( ……………………………… )
AyemMo
Februari 7th, 2012 pada 13:46
……terima kasih banyak link videonya Mas satujari…..dan terima kasih juga untuk yang mengunggahnya………..
mohon maaf tiada maksud memperkeruh suasana sedikit saya tuliskan cuplikan komunikasinya…..
“kowe dewe ngakoni sembaHyang iso kowe sembaHyang….ora iso kowe sembaHyang….conto saiki……Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi robbil ‘aalamiin” (doa iftitah)……sak temene matiku uripku sak sembarang kalir…..kuwi lillahi Robbil ‘aalamiin…..anging duweke Pengeran kabeh….coba ndonyamu tak jaluk entuk po ra…? ge jik abotan nang ndonya berarti ra abot nyang Pengeran, padal nang kono kowe wis janji saktemene uripku matiku……yo to….iku amung we’e Pengeran, nanging manungsa ki munafik….ra eneng manungsa ki bersih resik atine ra eneng………..
rupane menungsa anging kelakuane kaya kewan murang tata krama…..”
begitulah kira2 ada kurangnya sekali lagi Mohon Maaf….
yg pengen hiburan silahkan menyaksikan.
Ngelmu iku tan pasthi neng jalma luhur tan pasthi neng jalma singgih tan pasthi neng jalma sepuh, ana NUGRAHA pribadi…….kang jalma kudu metani uripe….
Rahayu Sagung Para Titah
BIMA
Februari 6th, 2012 pada 06:59
oh……. sungguh kasihan anda yang ,,, Belum sadari …Isi … Manusia dan … Alam …
>>> Letak jiwa dan ruh saja anda tidak tau???
____________________________________________
Anda masih terikat & melekat oleh Ruh dan Jiwa yang nota bene masih punya KEINGINAN besok akan mati dan dihidupkan kembali untuk masuk syurga yang serba terasa enak…. itu aja harus menunggu KiAmat…. KataNya…
(2) KEINGINAN adalah sumber PENDERITAAN …….(betul kata Iwan Fals)..adanya di dalam PIKIRAN,…
Karena jika menuruti KEINGINAN, konskuensinya adalah Perjuangan & Pengorbanan = adalah PENDERITAAN
Pikiran & Perasaan adalah bagian dari Ruh & Jiwa
Jika tidak ada Pikiran & Perasaan berarti tidak ada Ruh & Jiwa
Jika tidak ada Pikiran & Perasaan berarti tidak ada KEINGINAN
Jika tidak ada KEINGINAN berarti tidak ada PENDERITAAN = adalah KEBAHAGIAAN
>>> Ruh itu suci, dan senantiasa berada pada jalan yang hak. Ia senantiasa bertasbih kepada Tuhan (tidak ada keinginan yang dikehendaki oleh ruh itu), seperti halnya malaikat yang senantiasa bertasbih dan mengagungkan Tuhan. Itulah mengapa di hari akhir nanti, ruh dan malaikat berdiri dalam saf2nya, dan senantiasa mengucapkan yang hak (benar).
>>> Sedangkan jiwa adalah diri anda, jiwa telah bersumpah untuk patuh dan sujud kepada Tuhan. Ruh menjadi saksi atas sumpah anda itu!
____________________________________________
(3) SAAT INI adalah kesempatan yang baik untuk berusaha mencapai KEHBAHAGIAAN apalagi yang TERTINGGI
(4) TIDAK HIDUP berarti tidak menanggung konskuensi / resiko Hidup = adalah Kebahagian. TIDAK MATI berarti tidak menanggung penderitaan Kematian = adalah Kebahagiaan.
>>> Anda menyebut tentang RESIKO pada uraian anda di atas.
Mana yang hak (benar)? Hidup ‘BAHAGIA atau hidup ‘SELAMAT di jalan yang lurus.
____________________________________________
(1) BULAT adalah simbol Gerak Putaran,.. TENANG adalah KESEIMBANGAN – LANGGENG
= PERUBAHAN – KELANGGENGAN / KEKAL
harap bisa anda pahami & sadari ….. kalo masih BELUM BISA
oh……. sungguh kasihan anda yang ,,, Belum sadari …Isi … Manusia dan … Alam …
____________________________________________
>>> Nirvana adalah pengetahuan yang me-reka2 dan meng-intip2. Sesungguhnya itu adalah kehidupan alam rahim (darul qararah).
Mana yang lebih lengkap memberikan perumpamaan dan pengetahuan?
Islam kah dengan pengetahuan ‘darul qararah nya, ataukah keyakinan mu dengan alam ‘khayalan mu itu??? Monggo ki….
tanwaskita
Februari 6th, 2012 pada 15:15
Para sedherek,
Ini saya bajak kan artikel yg bagus mengenai kehidupan beragama di Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika ? Belumm, masih jauh ….
Tidak semua orang mempunyai … hak yg sama di Nusantara .
===============
SUARA MAHASISWA,
05/02/2012
Ketika Masyarakat Adat Berada di Ujung Tanduk
Oleh Muhammad Arif
Berbicara masyarakat adat, mereka tidak hanya memiliki kearifan lokal, tetapi juga memiliki tradisi kepercayaan terhadap hal-hal gaib. Dari situ kemudian lahirlah agama yang sampai saat ini masih dianut oleh masyarakat adat, seperti agama Merapu di Sumbawa, Kaharingan di Kalimantan, Kejawen di Jawa, Buhun di Jawa Barat, parmalin di Sumatra Utara, Kubu di Jambi, dan masih banyak lagi yang lainnya. Sayangnya semangat pemerintah, sebagai penyelenggara negara dalam melindungi eksistensi agama-agama atau keyakinan-keyakinan masyarakat adat tersebut kini mulai memudar.
Siapa yang dapat menyangkal bahwa Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Sedikitnya tercatat terdapat lebih dari 700 masyarakat adat yang hidup di Indonesia. Mereka hidup bersama dengan tata nilai, adat istiadat, dan bahkan agama tersendiri di dalam sebuah komunitas di sebuah wilayah tertentu. Mereka itulah penduduk asli Indonesia yang menyimpan dan masih memelihara budaya (tradisi) Indonesia beserta kearifan lokalnya.
Sayangnya di era modern ini eksistensi mereka telah memudar. Tradisi dan kearifan lokal yang selama ini mereka pertahankan harus rela disingkirkan oleh kebudayaan modern. Mereka para pemegang teguh tradisi, kini dianggap kolot, anti kemapanan, dan tidak relevan dengan budaya modern oleh orang-orang yang mengangggap dirinya modern. Padahal tradisi dan kearifan lokal yang selama ini mereka pertahankan tidaklah hadir begitu saja, bukan semata-mata tercipta melainkan memelihara yang baik untuk alam.
Berbicara masyarakat adat, mereka tidak hanya memiliki kearifan lokal, tetapi juga memiliki tradisi kepercayaan terhadap hal-hal gaib. Dari situ kemudian lahirlah agama yang sampai saat ini masih dianut oleh masyarakat adat, seperti agama Merapu di Sumbawa, Kaharingan di Kalimantan, Kejawen di Jawa, Buhun di Jawa Barat, parmalin di Sumatra Utara, Kubu di Jambi, dan masih banyak lagi yang lainnya. Sayangnya semangat pemerintah, sebagai penyelenggara negara dalam melindungi eksistensi agama-agama atau keyakinan-keyakinan masyarakat adat tersebut kini mulai memudar.
Bagi Indonesia keaneka ragaman etnik, kultural, dan agama adalah sebuah keniscayaan. Akan tetapi, kebijaksanaan negara (pemerintah) seringkali justru menyeragamkan kelompok-kelompok melti etnik tersebut. Di satu sisi negara mengakui keberadaan hak-hak masyarakat adat melalui UUD 1945, tetapi di sisi lain keberadaan mereka diberangus dan sisihkan.
Inilah kenyataan ironis. Indonesia sangat menjunjung tinggi kebebasan, sebagaimana tercermin dalam UUD 1945 pasal 28. Khusus dalam kebebasan memeluk dan menjalankan agama (termasuk agama-agama suku) ini dijamin dalam UUD 1945 pasal 29 ayat 1 dan 2. Bahkan UU No. 39 tahun 1999 tentang HAM juga memberikan landasan normatif bagi tiap-tiap orang untuk bebas memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadah menurut agama dan kepercayaanya itu (pasal 22 ayat 1) serta adanya jaminan negara bagi setiap orang untuk secara bebas memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu (pasal 22 ayat 2).
Sementara kebijakan pemerintah saat ini, cenderung mengelak dari statemen tersebut. Coba kita lihat UU No 1/PNPS/1965 tentang Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama. Secara gamblang undang-undang tersebut mendiskriminasikan agama-agama tidak resmi, seperti agama-agama minoritas masyarakat adat. Penjelasan undang-undang tersebut jelas hanya mengutamakan dan menjamin enam agama resmi saja, yaitu Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Budha, dan Kong Hu Cu. Dan tidak jarang ini menjadi legitimasi bagi sekte-sekte ekstrem agama mayoritas yang ada di negri ini untuk mengkafirkan dan bertindak anarkis terhadap penganut agama minoritas.
Selain itu, kebijakan pemerintah hanya meresmikan enam agama tersebut juga menyisakan catatan-catatan yang cukup menyesakkan dada. Akibat pelaksanaan kebijakan tersebut, masyarakat adat harus mengalami kesulitan dalam mengurus KTP, akta kelahiran, dan akta nikah yang berbuntut pada sulitnya memasuki dunia pendidikan formal dan mendapatkan hak-hak ekonomi, sosilal dan budaya. Mengingat agama yang mereka anut tidak terdapat dalam daftar agama yang tercatat resmi dalam kementrian agama Indonesia.
Tidak hanya berhenti di situ, kebijaksanaan tersebut juga merembet pada wilayah pendidikan. Sebagaimana kita tahu, dalam kurikulum pendidikan kita mata pelajaran agama merupakan materi wajib. Praktis materi dan pengajar agama yang disediakan (fasilitasi) pun hanya materi dan pengajar agama-agama resmi saja, yaitu Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Budha, dan Kong Hu Cu. Padahal agama yang di anut masyarakat Indonesia tidak hanya itu.
Inilah pil pahit yang harus ditelan oleh masyarakat adat. Ketika mereka mau masuk dunia pendidikan formal mereka harus rela memalsukan KTP dan akta lahir mereka. Tidak hanya itu, mereka juga harus rela mempelajari mata pelajaran agama yang sama sekali tidak mereka pahami, karena itu bukan agamanya sendiri.
Realitas yang demikian ini tentu sangat mengusik kebinekaan di negri ini. Oleh karena itu, agar kehidupan agama yang majemuk ini terlepas dari dikriminasi dan badai konflik keyakian kita harus menegakkan pluralisme di Indonesia. Pluralisme tidak semata dengan menunjukkan kenyataan tentang adanya kemajemukan, melainkan sikap keterlibatan aktif terhadap kenyataan kemajemukan tersebut (dalam hal ini upaya pemerintah untuk serius peduli terhadap masyarakat adat, baik dari segi agama, budaya, maupun ekonominya). Relasi pluralitas yang di dalamnya terdapat problem minoritas versus mayoritas, harus dibangun dengan tindakan nyata berdasarkan pengakuan atas persamaan, kesetaraan, dan keadilan.
Sejatinya kebebasan memeluk agama merupakan hak dasar dari setiap manusia. Di Indonesia ini dijamin melalui pasal 28 E ayat 1 dan 2 UUD 1945 hasil amandemen yang kemudian ditegaskan lagi dalam pasal 29 ayat 1 dan 2. Oleh karena itu, seharusnya negara (pemerintah) memberikan jaminan dan perlindungan yang sama bagi setiap penganut agama atau kepercayaan adat sebagaimana agama resmi. Kerena menurut saya, apa yang masyarakat adat yaniki tersebut tidak ada bedanya dengan penganut agama lain yang meyakini Tuhan Yang Maha Esa dan selalu taat untuk menjalani ibadah atau ritual sesuai dengan tuntunan hukum agamanya. Dengan demikian, setidaknya diharapkan keberdaan keberagaman agama dan kepercayaan adat tersebut tetap mewarnai kebinekaan bangsa Indonesia.
Muhammad Arif UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
05/02/2012 | Suara Mahasiswa, | #
http://www.islamlib.com
Dewi
Februari 7th, 2012 pada 15:11
@ Tanwaskita, Lelono, ONO,
Inilah nasib bumi pertiwi selama ini, bangsa yang terjajah, terjajah oleh bangsanya sendiri, dan mereka para penjajah tak pernah sadar, bahwa merekalah selama ini yang telah terjajah, sebuah potret mental bangsa ‘penjajah yang terjajah’.
Penjajah fisik bisa kita usir, penjajah spiritual?… ajaran welas asih leluhur kita bisa memangkunya dengan toleransi dan sudah di terima dengan baik sekali untuk ‘memayu hayuning jagad’ supaya ada keselarasan dan keharmonisan alam, dan jika mereka yang masih terusik dengan kehidupan spiritual di negri ini hendaknya kalau tak bisa menyesuaikan diri, setidaknya bisa tahu diri.
Adalah kenyataan, banyak orang indonesia yang sudah ke arab2an , bahkan lebih arab daripada orang arab itu sendiri, saya salut dengan pemikiran generasi bangsa yang tergabung dalam organisasi ‘ islam liberal’ di mana islam adalah sebuah kebebasan/ pembebasan.
Terima kasih atas pencerahannya serta smangat para pinisepuh untuk mengikis kefanatikan yang sudah membatu dan membabi buta yang selalu ber regenerasi menggerogoti bumi nusantara. Saya menyimak tulisan poro pinisepuh yang sangat bermanfaat untuk kontemplasi, Monggo di lanjut diskusinya.
Salam rahayu,
Dewi
NB: maaf, kemarin salah posting ke yang di atas, harusnya di kolom ini, thanks.
SSJ
Februari 6th, 2012 pada 15:48
oh……. sungguh kasihan anda yang ,,, (B)elum sadari …(I)si …(M)anusia dan … (A)lam …
tidak pernah melihat REALITA / KENYATAAN …. bahkan pada dirinya sendiri…. hanya memegang keyakinan yang penuh dengan trik-trik POLITIK
seperti katak dalam tempurung… yang selalu berkataNya … bajunya dan dirinya paling bagus, paling baik, paling benar, paling lengkap, paling sempurna,…… tapi KENYATAANNYA … masih KOTOR … anggota badannya yang setelah dibasuh dengan air kran sudah dibilang suci, ia tidak pernah INTROSPEKSI …bahwa kemana-mana diperutnya masih banyak TAI … tapi berkata sudah suci. MBUJUKI.!!!
apalagi bicara tentang surga dan neraka….. JAUH…
BIMA
Februari 7th, 2012 pada 12:41
Saya hanya ‘menjelaskan dan ‘menyampaikan apa yang diajarkan dalam agama Islam.
Perkara mau menerima atau tidak, terserah kepada ke’mauan mu untuk ber’fikir dan ber’akal, hendak menempuh jalan yang lurus…atau kah menempuh jalan yang bengkok?! sebagai ujian dalam hidup mu sendiri.
Hal ini tentu dapat terlihat pada kemampuan anda dalam berargumentasi secara ‘sehat dan ‘bertanggungjawab.
Sehat dalam ‘nafas mu…..dan bertanggungjawab dalam ‘sujud mu.
Itu lah mengapa Allah berulang kali berfirman, bahwa yang sebenar2nya Islam (sebagai agama yang hak)….adalah bagi orang-orang yang mau berfikir dan mempergunakan akalnya. Subhanallah.
petruk
Mei 22nd, 2012 pada 20:30
mas bima..jika anda islam,anda telah melupakan fondasi laku atau ikhtiar paling dasar dlm mempelajari ‘ilm..!.laku dasar utama ‘ilm adalah puasa dn istighfar,krn dr perut manusialah segala macam nafsu bs merajalela,menipu diri sejati manusia,diri yg di bimbing Tuhan.!.istighfar sbg dasar,krn manusia tak punya daya apa2 d hadapan Tuhan..dan sbg buhul tali yg kuat terhubung kpdNya.!.puasa yg sebenar2nya puasa dn istighfar,akn mmbimbing anda akan pemahaman kpd ‘ilm.!.anda hny tau menghafal,dn anda sndiri jg bingung.!,itu cm pengetahuanmu..bukan ‘ilm.!.kata2 anda tk mencerminkan islam yg mmbawa selamat kpd sesama.!.dr kata2 anda,sy yakin anda orang yg banyak makan,dn anda belajar pengetahuan itu dgn dasar hawa nafsu..jd cm sebatas pengetahuan!.sikap anda bukan sikap orang yg berilmu,tp orang yg cm berpengetahuan.!.inilah yg kita santap mulai dr kecil smp skrng,yg efeknya tingkah laku kita makin keluar jalur kemanusiaan.!krn kita gk dikasih pemahaman,bgmna cara menyerap ‘ilm itu dn penerapannya dlm hidup yg benar.!.efek reaksi berantai ini bisa kita lihat efeknya skrg,dlm hidup sehari2 di negeri kita ini.!cobalah anda laku puasa,smpi gk ada lg yg keluar dr lubang kotoran anda (serius..mas..!!.), smbil selalu ingat akan Tuhan sebagai satu2nya entitas yg anda ibadahi,..maka anda akan paham apa yg anda ingin ketahui,anda tanyakan,dn paham mengerti akn smua ajaran kebenaran Tuhan,gak peduli menurut sejarahnya ajaran itu dibawa lewat siapa..!.saya pastikan,nanti anda akan malu sendiri pd diri anda,akan sikap anda skrg ini.!.bwt para sedulur.dasar laku utama untuk belajar ‘ilm yg benar d hadapan Tuhan,dmana2 adalah sama,mempuasakan budi(akal budi n bermacam jenis nafsu) dn raga..dan tk pernah lepas sedetikpun dr Tuhan sebagai mana diajarkan leluhur2 kita dn jg Nabi Muhammad,Yesus,sang Budha dn sebagainya..maka dgn ijin Tuhan akan mengalir ‘ilm yg sejati,yg menyejukkan kehidupan!. mohon maaf bila ada kesalahan.NUWUN..
Lelono
Februari 6th, 2012 pada 18:20
Itulah bila manusia sudah lupa dngan diri sndiri. . .
Hilang KESADARAN JATI DIRI lupa akan kodrat dan irodatnya. . . .
Manusia tugasnya hanya saling mengingatkan. .bukan mengurusi keyakinan dan kepercayaan orang lain. . . Mslh keyakinan sesorang itu urusan tuhan. . . .bukan urusan manusia. . . Malaikat aja yg suci gak berani ngurusi urusan tuhan. . . La kita manusia kok berani ikut campur. . . . Apa gak salah. . . . .
Lbh baik kan ngurusin diri sndri menjadi diri sndri.t. Menebar kasih sayang sesama umat dan menjaga keseimbangan alam. . Itu lbh indah dan nyaman. . . .
Wasalam
Salam santun
BIMA
Februari 7th, 2012 pada 12:18
yang memahami, ia lah yang senantiasa belajar ingin ‘tau dan senantiasa ‘bersujud.
Sedangkan Islam telah menjelaskan dengan ‘lengkap dan ‘rinci:
tentang beberapa ‘tingkatan alam, alam fana, alam kekal (alam baqa), dan alam kekal selama-selamanya (alam walid/ kekal abadi), yakni alam yang diciptakan oleh Yang Maha Kekal (Ya Baqii).
Saya ‘rahsa, tidak ada yang perlu dibingungkan kalau mau ‘tau…..h h h
BIMA
Februari 7th, 2012 pada 13:22
kalau kita rangkum kedua2 nya, hasilnya adalah:
seperti telur – burung merpati…
h h h……h h h…..h h h….. h h h h h h h h h h h h h h h h h h ………………..
Wongsorejo
Februari 7th, 2012 pada 15:45
surga itu ada 100 derajat begitu kata al gazali, tiap satu derajat bedanya seperti langit dan bumi, yang dibawah tidak akan bisa melihat keatas, yang diatas bisa melihat kebawah dengan jelas karena sudah pernah menapaki tangga2 nya
banyak manusia lebih rendah derajatnya dari binatang, hawa nafs nya atau jiwanya tampak seperti binatang bertubuh manusia walaupun ada didalam masjid, tapi banyak pula yang mencapai derajat2 yang tinggi insan kamil walaupun ada didalam gereja, begitu pula sebaliknya
tapi buat apa membahas tetek bengek spt itu karena surga sudah aku bakar dengan korek api dan neraka sudah padam tak gebyuur air, buat apa hanya buang 2 waktu saja….
belum mumpuni
Februari 11th, 2012 pada 08:15
kayak tong sampah….semuanya dikunyah dan ditelan.
Kesadaran Murni
April 17th, 2012 pada 16:50
Tuhan – Sorga – Neraka HANYA IMAJINASI MANUSIA. TITIK !!!
kuncoro
Mei 7th, 2012 pada 20:12
lho…lho…lho, kados pundi to? menawi bdhe paring pitulungan dateng kepompong nggih sampun kanti coro nyuwek seratipun, kirang wicak. mangke kupunipun mbendol mboten saget mabur. namung nyadong pitulungan tuwin mboten mardiko. saget dados pengkultusan individu.
wonten ungkapan wicak: “jika seseorang sudah masuk dalam inti ajaran agama masing2, maka kebenaran tertinggi adalah sama”.
kuncoro
Mei 7th, 2012 pada 16:00
kulonuwun, cocok meniko.
kayakinan/agama/kitab2 tuntunan luhur itu untuk dijalani dan diamalkan bukan untuk bahan diskusi cari unggul. makin promosi makin imitasi, demikian nasehat kakekku. manusia percaya pada dalil manusia dan buku manusia??????? jalankan saja sabdaNYA dalam diri pribadi, maka akan jadi berkah untuk yang lain.
Rantam
Februari 7th, 2012 pada 15:46
Itu lah mengapa Allah berulang kali berfirman, bahwa yang sebenar2nya Islam (sebagai agama yang hak)….adalah bagi orang-orang yang mau berfikir dan mempergunakan akalnya. Subhanallah
—————————-
Negara2 Islam, yg rakyatnya berfikir dan mempergunakan akalnya, tidak maju dalam ilmu & teknologi. Mana ada negara Islam yang bisa membuat pesawat terbang ? Mana ada negara Islam yang bisa mengirim orang ke bulan ?? Untuk komunikasi, telpon,komputer dan internet, teknologi yg dipakai oleh negara2 Islam adalah teknologi barat, kafir. Saudi Arabia yg punya banyak minyak,tidak bisa nyedot minyaknya sendiri, harus minta bantuan negara kafir amrik. Di negara2 Islam jarang ada demokrasi, yang demo minta demokrasi ditembaki. Ada demokrasi di Pakistan ? Di Mesir ? Di Arab Saudi ? Di Suriah ? Di Timur Tengah negara2 Islam, Arab, kalah perang terus melawan Israel, negara kecil dgn jumlah penduduk tidak lebih dari sepertiga penduduk Jakarta… Berfikir pakai apa ? Dengkul…
belum mumpuni
Februari 11th, 2012 pada 08:10
Sebaiknya anda belajar banyak lagi tentang siklus…
ada yang lurus, ada yang zig zag seperti bulan….
bulan bukan hanya sekedar tandan pisang.
SSJ
Februari 14th, 2012 pada 02:53
Itulah bila manusia sudah lupa dngan diri sndiri. . .
Hilang KESADARAN JATI DIRI lupa akan kodrat dan irodatnya. . . .
Manusia tugasnya hanya saling mengingatkan. .bukan mengurusi keyakinan dan kepercayaan orang lain. . . Mslh keyakinan sesorang itu urusan tuhan. . . .bukan urusan manusia. . . Malaikat aja yg suci gak berani ngurusi urusan tuhan. . . La kita manusia kok berani ikut campur. . . . Apa gak salah. . . . .
______________________________________ !!!!!!
SADAR OM,… BANGUN OM, …. INGAT OM, ….
kataNya Manusia makhluk yang paling SEMPURNA,….. tugasnya ya berusaha, berpikir, berjuang memahami KENYATAAN…………..jangan HANYA saling mengingatkan THOK. hanya seneng Gembar-gembor, bengak-bengok siang malam, emangnya manusia gak punya jam dinding, arloji, jam HP, hingga harus diingatkan terus….
masalah keyakinan itu ya URUSAN manusia, bukan urusan tuhan,…tuhan kurang gawe yang seneng urus-urus keyakinan manusia
mala (=BOROK) – ikat (=TERIKAT), artinya itu MBUJUKI, terikat dengan BOROK kok dibilang SUCI, malaikat yang mana,???… paling2 itu kataNya.
La kita manusia ya HARUS BERANI, jangan takut oleh hantu-hantu neraka….yang itu hanya kataNya….. paling benar, bagus, diakui… tapi KENYATAANNYA… suka membunuh hewan2 untuk dijadikan korban, bahkan manusia bila perlu, suka menteror, mengebom, mengusik ketenangan ……. Apa itu benar …..