AJARAN SYEH SITI JENAR & KEJAWEN Dalam Memandang Ketuhanan, Dosa/Neraka, Pahala/Surga

PERBANDINGAN ANTARA

AJARAN SYEH SITI JENAR

Dan PANDANGAN KEJAWEN

Mengenai Ketuhanan, Alam, dan Manusia

 

 

 

Syeh Siti Jenar (Lemah Abang) dalam Mengenal Tuhan

    Ajaran Siti Jenar memahami Tuhan sebagai ruh yang tertinggi, ruh maulana yang utama, yang mulia yang sakti, yang suci tanpa kekurangan. Itulah Hyang Widhi, ruh maulana yang tinggi dan suci menjelma menjadi diri manusia.

    Hyang Widhi itu di mana-mana, tidak di langit, tidak di bumi, tidak di utara atau selatan. Manusia tidak akan menemukan biarpun keliling dunia. Ruh maulana ada dalam diri manusia karena ruh manusia sebagai penjelmaan ruh maulana, sebagaimana dirinya yang sama-sama menggunakan hidup ini dengan indera, jasad yang akan kembali pada asalnya, busuk, kotor, hancur, tanah. Jika manusia itu mati ruhnya kembali bersatu ke asalnya, yaitu ruh maulana yang bebas dari segala penderitaan. Lebih lanjut Siti Jenar mengungkapkan sifat-sifat hakikat ruh manusia adalah ruh diri manusia yang tidak berubah, tidak berawal, tidak berakhir, tidak bermula, ruh tidak lupa dan tidak tidur, yang tidak terikat dengan rangsangan indera yang meliputi jasad manusia.

    Syeh Siti Jenar mengaku bahwa, “aku adalah Allah, Allah adalah aku”. Lihatlah, Allah ada dalam diriku, aku ada dalam diri Allah.  Pengakuan Siti Jenar bukan bermaksud mengaku-aku dirinya sebagai Tuhan Allah Sang Pencipta ajali abadi, melainkan kesadarannya tetap teguh sebagai makhluk yang diciptakan Tuhan. Siti Jenar merasa bahwa dirinya bersatu dengan “ruh” Tuhan. Memang ada persamaan antara ruh manusia dengan “ruh” Tuhan atau Zat. Keduanya bersatu di dalam diri manusia. Persatuan antara ruh Tuhan dengan ruh manusia terbatas pada persatuan manusia denganNya. Persatuannya merupakan persatuan Zat sifat, ruh bersatu dengan Zat sifat Tuhan dalam gelombang energi dan frekuensi yang sama. Inilah prinsip kemanunggalan dalam ajaran tentang manunggaling kawula Gusti atau jumbuhing kawula Gusti. Bersatunya dua menjadi satu, atau dwi tunggal. Diumpamakan wiji wonten salebeting wit.

 

Pandangan Syeh Lemah Abang Tentang Manusia

    Dalam memandang hakikat manusia Siti Jenar membedakan antara jiwa dan akal. Jiwa merupakan suara hati nurani manusia yang merupakan ungkapan dari zat Tuhan, maka hati nurani harus ditaati dan dituruti perintahnya. Jiwa merupakan kehendak Tuhan, juga merupakan penjelmaan dari Hyang Widdhi (Tuhan) di dalam jiwa, sehingga raga dianggap sebagai wajah Hyang Widdhi. Jiwa yang berasal dari Tuhan itu mempunyai sifat zat Tuhan yakni kekal, sesudah manusia raganya mati maka lepaslah jiwa dari belenggu raganya. Demikian pula akal merupakan kehendak, tetapi angan-angan dan ingatan yang kebenarannya tidak sepenuhnya dapat dipercaya, karena selalu berubah-ubah.

    Menurut sabdalangit, perbedaan karakter jiwa dan akal yang bertolak belakang dalam pandangan Siti Jenar, disebabkan oleh adanya garis demarkasi yang menjadi pemisah antara sifat hakikat jiwa dan akal-budi. Jiwa terletak di luar nafsu, sementara akal-budi letaknya berada di dalam nafsu. Mengenai perbedaan jiwa dan akal, dalam wirayat Saloka Jati diungkapkan bahwa akal-budi umpama kodhok kinemulan ing leng atau wit jroning wiji (pohon ada di dalam biji). Sedangkan jiwa umpama kodhok angemuli ing leng atau wiji jroning wit (biji ada di dalam pohon).

    Bagi Syeh Siti Jenar, proses timbulnya pengetahuan datang secara bersamaan dengan munculnya kesadaran subyek terhadap obyek. Maka pengetahuan mengenai kebenaran Tuhan akan diperoleh seseorang bersama dengan penyadaran diri orang itu. Jika ingin mengetahui Tuhanmu, ketahuilah (terlebih dahulu) dirimu sendiri. Syeh Lemah bang percaya bahwa kebenaran yang diperoleh dari hal-hal di atas ilmu pengetahuan, mengenai wahyu dan Tuhan bersifat intuitif. Kemampuan intuitif ini ada bersamaan dengan munculnya kesadaran dalam diri seseorang.

 

Pandangan Syeh Lemah Bang Tentang Kehidupan Dunia

    Pandangan Syeh Jenar tentang dunia adalah bahwa hidup di dunia ini sesungguhnya adalah mati. Dikatakan demikian karena hidup di dunia ini ada surga dan neraka yang tidak bisa ditolak oleh manusia. Manusia yang mendapatkan surga mereka akan mendapatkan kebahagiaan, ketenangan, kesenangan. Sebaliknya rasa bingung, kalut, muak, risih, menderita itu termasuk neraka.  Jika manusia hidup mulia, sehat, cukup pangan, sandang, papan maka ia dalam surga. Tetapi kesenangan atau surga di dunia ini bersifat sementara atau sekejap saja, karena betapapun juga manusia dan sarana kehidupannya pasti akan menemui kehancuran.

    Syeh Jenar mengumpamakan bahwa manusia hidup ini sesungguhnya mayat yang gentayangan untuk mencari pangan pakaian dan papan serta mengejar kekayaan yang dapat menyenangkan jasmani. Manusia bergembira atas apa yang ia raih, yang memuaskan dan menyenangkan jiwanya, padahal ia tidak sadar bahwa semua kesenangan itu akan binasa. Namun begitu manusia suka sombong dan bangga atas kepemilikan kekayaan, tetapi tidak menyadari bahwa dirinya adalah bangkai. Manusia justru merasa dirinya mulia dan bahagia, karena manusia tidak menyadari bahwa harta bendanya merupakan penggoda manusia yang menyebabkan keterikatannya pada dunia.

    Jika manusia tidak menyadari itu semua, hidup ini sesungguhnya derita. Pandangan seperti itu menjadikan  sikap dan pandangan Siti Jenar menjadi ekstrim dalam memandang kehidupan dunia. Hidup di dunia ini adalah mati, tempat baik dan buruk, sakit dan sehat, mujur dan celaka, bahagia dan sempurna, surga dan neraka, semua bercampur aduk menjadi satu. Dengan adanya peraturan maka manusia menjadi terbebani sejak lahir hingga mati. Maka Syeh Siti Jenar sangat menekankan pada upaya manusia untuk hidup yang abadi agar tahan mengalami hidup di dunia ini. Siti Jenar kemudian mengajarkan bagaimana mencari kamoksan (mukswa/mosca) yakni mati sempurna beserta raganya lenyap masuk ke dalam ruh (warongko manjing curigo). Hidup ini mati, karena mati itu hidup yang sesungguhnya karena manusia bebas dari segala beban dan derita. Karena hidup sesudah kematian adalah hidup yang sejati, dan abadi.

 

Syeh Siti Jenar Mengkritik Ulama dan Para Santrinya

    Alasan yang mendasari mengapa Syeh Siti Jenar mengkritik habis-habisan para ulama dan santrinya karena dalam kacamata Syeh Siti, mereka hanya berkutat pada amalan syariat (sembah raga). Padahal masih banyak tugas manusia yang lebih utama harus dilakukan untuk mencapai tataran kemuliaan yang sejati. Dogma-dogma, dan ketakutan neraka serta bujuk rayu surga justru membelenggu raga, akal budi, dan jiwa manusia. Maka manusia menjadi terkungkung rutinitas lalu lupa akan tugas-tugas beratnya. Manusia demikian menjadi gagal dalam upaya menemukan Tuhannya.  

 

Kritik Syeh Lemah Bang Atas Konsep Surga-Neraka

    Konsep surga-neraka dalam ajaran Siti Jenar berbeda sekali dengan apa yang diajarkan oleh para ulama. Menurut Syeh Siti Jenar, surga dan neraka adalah dalam hidup ini. Sementara para ulama mengajarkan surga dan neraka merupakan balasan yang diberikan kepada manusia atas amalnya yang bakal diterima kelak sesudah kematian (akherat).

    Menurut Syeh Siti, orang mukmin telah keliru karena mengerjakan shalat jungkir balik, mengharap-harap surga, sedang surga sesudah kematian itu tidak ada, shalat itu tidak perlu dan orang tidak perlu mengajak orang lain untuk shalat. Shalat minta apa, minta rizki ? Tuhan toh tidak memberi lantaran shalat.

    Santri yang menjual ilmu dengan siapa pun mau menyembah Tuhan di masjid, di dalamnya terdapat Tuhan yang bohong. Para ulama telah menyesatkan manusia dengan menipu mereka jungkir balik lima kali, pagi, siang, sore, malam hanya untuk memohon-mohon imbalan surga kelak. Sehingga orang banyak tergiur oleh omongan palsunya, dan orang menjadi gelisah tak enak ketika terlambat mengerjakan shalat. Orang seperti itu sungguh bodoh dan tak tau diri, jikalau pun seseorang menyadari bahwa shalat itu dilakukan karena merupakan kebutuhan diri manusia sendiri untuk menyembah Tuhannya, manusia ternyata tidak menyadari keserakahannya; dengan minta-minta imbalan/hadiah surga. Orang-orang telah terbius oleh para ulama, sehingga mereka suka berzikir, dan disibukkan oleh kegiatan menghitung-hitung pahalanya tiap hari. Sebaliknya, lupa bahwa sejatinya kebaikan itu harus diimplementasikan kepada sesama (habluminannas).

    Lebih lanjut Syekh Siti Jenar menuduh para ulama dan murid mereka sebagai orang dungu dan dangkal ilmu, karena menafsirkan surga sebagai balasan yang nanti diterima di akhirat. Penafsiran demikian adalah penafsiran yang sangat sempit. Hidup para ulama adalah hidup asal hidup, tidak mengerti hakekat, tetapi jika disuruh mati mereka menolak mentah-mentah. Surga dan neraka letaknya pada manusia masing-masing. Orang bergelimang harta, hidupnya merasa selalu terancam oleh para pesaing bisnisnya, tidur tak nyeyak, makan tak enak, jalan pun gelisah, itulah neraka. Sebaliknya, seorang petani di lereng gunung terpencil, hasil bercocok tanam cukup untuk makan sekeluarga, menempati rumah kecil yang tenang, tiap sore dapat duduk bersantai di halaman rumah sambil memandang hamparan sawah hijau menghampar, hatinya sesejuk udaranya, tenang jiwanya, itulah surga. Kehidupan ini telah memberi manusia mana surga mana neraka.

    Syeh Siti Jenar memandang alam semesta sebagai makrokosmos dan mikrokosmos (manusia) sekurangnya kedua hal ini merupakan barang baru ciptaan Tuhan yang sama-sama akan mengalami kerusakan, tidak kekal dan tidak abadi. Manusia terdiri  atas jiwa dan raga yang intinya ialah jiwa sebagai penjelmaan zat Tuhan.

    Sedangkan raga adalah bentuk luar dari jiwa yang dilengkapi pancaindera, sebagai organ tubuh seperti daging, otot, darah, dan tulang. Semua aspek keragaan atau ketubuhan adalah barang pinjaman yang suatu saat, setelah manusia terlepas dari kematian di dunia ini, akan kembali berubah asalnya yaitu unsur bumi (tanah).

Syeh Lemah Bang, mengatakan bahwa;

    Bukan kehendak angan-angan, bukan ingatan, pikiran atau niat, hawa nafsu pun bukan, bukan pula kekosongan atau kehampaan. Penampilanku sebagai mayat baru, andai menjadi gusti jasadku dapat busuk bercampur debu, nafasku terhembus di segala penjuru dunia, tanah, api, air, kembali sebagai asalnya, yaitu kembali menjadi baru. Bumi langit dan sebagainya adalah kepunyaan seluruh manusia, manusialah yang memberi nama”.

 

Kesimpulan

    Pandangan Syeh Lemah Bang; tentang terlepasnya manusia dari belenggu alam kematian yakni hidup di alam dunia ini, berawal dari konsepnya tentang  ketuhanan, manusia dan alam. Manusia adalah jelmaan zat Tuhan. Hubungan jiwa dari Tuhan dan raga, berakhir sesudah  manusia menemui ajal atau kematian duniawi. Sesudah itu manusia bisa manunggal dengan Tuhan dalam keabadian. Pada saat itu semua bentuk badan wadag (jasad) atau kebutuhan jasmanisah ditinggal karena jasad merupakan barang baru (hawadist) yang dikenai kerusakan dan semacam barang pinjaman yang harus dikembalikan kepada yang punya yaitu Tuhan sendiri.

    Terlepas dari ajaran Siti Jenar yang sangat ekstrim memandang dunia sebagai bentuk penderitaan total yang harus segera ditinggalkan rupanya terinspirasi oleh ajaran seorang sufi dari Bagdad, Hussein Ibnu Al Hallaj, yang menolak segala kehidupan dunia. Hal ini berbeda dengan konsep Islam secara umum yang memadang hidup di dunia sebagai khalifah Tuhan.

 

Pandangan Kejawen Tentang Kehidupan di Dunia

Pandangan Kejawen tentang makna hidup manusia  dunia ditampilkan secara rinci, realistis, logis dan mengena di dalam hati nurani; bahwa hidup ini diumpamakan hanya sekedar mampir ngombe, mampir minum, hidup dalam waktu sekejab, dibanding kelak hidup di alam keabadian setelah raga ini mati. Tetapi tugas manusia sungguh berat, karena jasad adalah pinjaman Tuhan. Tuhan meminjamkan raga kepada ruh, tetapi ruh harus mempertanggungjawabkan “barang” pinjamannya itu. Pada awalnya Tuhan Yang Mahasuci meminjamkan jasad kepada ruh dalam keadaan suci, apabila waktu “kontrak” peminjaman sudah habis, maka ruh diminta tanggungjawabnya, ruh harus mengembalikan jasad pinjamannya dalam keadaan yang suci seperti semula. Ruh dengan jasadnya diijinkan Tuhan “turun” ke bumi, tetapi dibebani tugas yakni menjaga barang pinjaman tersebut agar dalam kondisi baik dan suci setelah kembali kepada pemiliknya, yakni Gusti Ingkang Akaryo Jagad. Ruh dan jasad menyatu dalam wujud yang dinamakan manusia. Tempat untuk mengekspresikan dan mengartikulasikan diri manusia adalah tempat pinjaman Tuhan juga yang dinamakan bumi berikut segala macam isinya; atau mercapada. Karena bumi bersifat “pinjaman” Tuhan, maka bumi juga bersifat tidak kekal.

Betapa Maha Pemurahnya Tuhan itu, bersedia meminjamkan jasad, berikut tempat tinggal dan segala isinya menjadi fasilitas manusia boleh digunakan secara gratis. Tuhan hanya menuntut tanggungjawab manusia saja, agar supaya menjaga semua barang pinjaman Tuhan tersebut, serta manusia diperbolehkan memanfaatkan semua fasilitas yang Tuhan sediakan dengan cara tidak merusak barang pinjaman dan semua fasilitasnya.

Itulah tanggungjawab manusia yang sesungguhnya hidup di dunia ini; yakni menjaga barang “titipan” atau “pinjaman”, serta boleh memanfaatkan semua fasilitas yang disediakan Tuhan untuk manusia dengan tanpa merusak, dan tentu saja menjaganya agar tetap utuh, tidak rusak, dan kembali seperti semula dalam keadaan suci. Itulah “perjanjian” gaib antara Tuhan dengan manusia makhlukNya. Untuk menjaga klausul perjanjian tetap dapat terlaksana, maka Tuhan membuat rumus atau “aturan-main“ yang harus dilaksanakan oleh pihak peminjam yakni manusia. Rumus Tuhan ini yang disebut pula sebagai kodrat Tuhan; berbentuk hukum sebab-akibat. Pengingkaran atas isi atau “klausul kontrak” tersebut berupa akibat sebagai konsekuensi logisnya. Misalnya; keburukan akan berbuah keburukan, kebaikan akan berbuah kebaikan pula. Barang siapa menanam, maka mengetam. Perbuatan suka memudahkan akan berbuah sering dimudahkan. Suka mempersulit akan berbuah sering dipersulit.

 

Konsep Kejawen Tentang Pahala dan Dosa

dan Pandangan Kejawen tentang Kebaikan-Keburukan

 

    Ajaran Kejawen tidak pernah menganjurkan seseorang menghitung-hitung pahala dalam setiap beribadat. Bagi Kejawen, motifasi beribadat atau melakukan perbuatan baik kepada sesama bukan karena tergiur surga. Demikian pula dalam melaksanakan sembahyang manembah kepada Tuhan Yang Maha Suci bukan karena takut neraka dan tergiur iming-iming surga. Kejawen memiliki tingkat kesadaran bahwa kebaikan-kebaikan yang dilakukan seseorang kepada sesama bukan atas alasan ketakutan dan intimidasi dosa-neraka, melainkan kesadaran kosmik bahwa setiap perbuatan baik kepada sesama merupakan sikap adil dan baik pada diri sendiri. Kebaikan kita pada sesama adalah KEBUTUHAN diri kita sendiri. Kebaikan akan berbuah kebaikan. Karena setiap kebaikan yang kita lakukan pada sesama akan kembali untuk diri kita sendiri, bahkan satu kebaikan akan kembali pada diri kita secara berlipat. Demikian juga sebaliknya, setiap kejahatan akan berbuah kejahatan pula. Kita suka mempersulit orang lain, maka dalam urusan-urusan kita akan sering menemukan kesulitan. Kita gemar menolong dan membantu sesama, maka hidup kita akan selalu mendapatkan kemudahan.

Menurut pandangan Kejawen, kebiasaan mengharap dan menghitung pahala terhadap setiap perbuatan baik hanya akan membuat keikhlasan seseorang menjadi tidak sempurna. Kebiasaan itu juga mencerminkan sikap yang serakah, lancang, picik, dan tidak tahu diri. Karena menyembah Tuhan adalah kebutuhan manusia, bukan kebutuhan Tuhan. Mengapa seseorang masih juga mengharap-harap pahala dalam memenuhi kebutuhan pribadinya sendiri ? Dapat dibayangkan, jika kita menjadi mahasiswa maka butuh bimbingan dalam menyusun skripsi dari dosen pembimbing, maka betapa lancang, serakah, dan tak tahu diri jika kita masih berharap-harap supaya dosen pembimbing tersebut bersedia memberikan uang kepada kita sebagai upah. Dapat diumpamakan pula misalnya; kita mengharap-harapkan upah dari seseorang yang bersedia menolong kita..?

Ajaran Kejawen memandang bahwa seseorang yang menyembah Tuhan dengan tanpa pengharapan akan mendapat pahala atau surga dan bukan atas alasan takut dosa atau neraka, adalah sebuah bentuk KEMULIAAN HIDUP YANG SEJATI. Sebaliknya, menyembah Tuhan, berangkat dari kesadaran bahwa manusia hidup di dunia ini selalu berhutang kenikmatan dan anugrah dari Tuhan. Dalam satu detik seseorang akan kesulitan mengucapkan satu kalimat sukur, padahal dalam sedetik itu manusia adanya telah berhutang puluhan atau bahkan ratusan kenikmatan dan anugerah Tuhan. Maka seseorang menjadi tidak etis, lancang dan tak tahu diri jika dalam bersembahyang pun manusia masih menjadikannya sebagai sarana memohon sesuatu kepada Tuhan. Tuhan tempat meminta, tetapi manusia lah yang tak tahu diri tiada habisnya meminta-minta. Dalam sikap demikian ketenangan dan kebahagiaan hidup yang sejati akan sangat sulit didapatkan.

Sembahyang tidak lain sebagai cara mengungkapkan rasa berterimakasihnya kepada Tuhan. Namun demikian ajaran Kejawen memandang bahwa rasa sukur kepada Tuhan melalui sembahyang atau ucapan saja tidak lah cukup, tetapi lebih utama harus diartikulasikan dan diimplementasikan ke dalam bentuk tindakan atau perbuatan baik kepada sesama dalam kehidupan sehari-harinya. Jika Tuhan memberikan kesehatan kepada seseorang, maka sebagai wujud rasa sukurnya orang itu harus membantu dan menolong orang lain yang sedang sakit atau menderita.

Itu lah pandangan yang menjadi dasar Kejawen bahwa menyembah Tuhan, dan berbuat baik pada sesama, bukanlah KEWAJIBAN (perintah) yang datang dari Tuhan, melainkan diri kita sendiri yang mewajibkan.

 

sabdalangit

About these ads

About SABDå

gentleman, Indonesia Raya

Posted on November 3, 2008, in Ajaran SITI JENAR & KEJAWEN Dalam Memandang Ketuhanan Neraka Surga and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 249 Komentar.

  1. Siti Jenar sebenarnya cuma mau bilang, “Der Gott ist dast Energie”.

  2. mmang pusing klo blum trbiasa mmbaca konsep2 d atas. qt hrs brulang2 mmbacany + tafakur pribadi dgn spenuhny ktenangan dgn niat ingin mmahami makna hidup, insya allah sdkit2 trbuka pintu pmahamn diri. u/ mas sabdolangit bg sy konsep2 d atas betul2 mnambah pncerahan diri. namun msh ad yg mngganjal d hati, stlah tau konsep d atas, lantas bgm “tarekat” habluminallahnya, u/ msng2 2 (dua) konsep d atas ? mdh2n mas sabdo mau brbagi sbg tema blog baru nanti. wass.

  3. Mas Pandu meniko wanci jalmi kinacek, kagungan talenta spiritual mbok bilih dapat diumpamakan tanpa belajar agamapun dapat meraih spirit yg bagus. memang menjadi kelemahan siti jenar dalam memandang kehidupan dunia ini sebagai bentuk yg sia-sia. maka dari itu saya tampilkan ajaran kejawen sebagai komparasi sekaligus penyeimbang. utk melengkapi ajarannya siti jenar menjadi terasa lebih membumi. kenapa saya tampilkan kejawen, bukan yg lainnya, semata-mata menselaraskan ajaran syeikh dengan taste yg lebih harmonis. Ajaran kejawen menganggap hidup di dunia ini menjadi berarti jika seseorang memberi manfaat dan kebaikan buat sesama; itu semua menjadi “sangune” wong urip supaya “hidup mulia” di alam sana. nuansa perbedaan dgn Islam hanya sebatas kadar seseorang dalam melakukan ibadah hub vertikal dgn Tuhan dan horisontal dengan sesama. Bagi ajaran kejawen ibadah bersifat vertikal/habluminallah dipandang sebagai bentuk pencapaian spiritual, sedangkan cara pencapaiannya dengan melaksanakan “laku” spiritual dalam bentuk habluminannas. yakni seseorang harus dapat bermanfaat baik bagi sesama.

    Rahayu

  4. sy blm baca manakib syek siti jenar krngan agus sunyoto (spesialis peneliti prjlanan syek siti). dan spengtahuan sy klo d kjawen ad smacam wejangan khusus dlm tirakat (habluminallah) nya. ini sbg +an info sj mas. trks bnyk.

  5. ajaran syech siti jenar lebih dititik beratkan praktek dan bukan teori-teori. laku hidup menjadi titik tolaknya dimana Tauhid pengakuan kepada Allah itu menjadi dasar utama. kedua, ibadah dilaksanakan dengan penuh keikhlasan dan bukan terbelenggu oleh pengharapan akan surga. ketika beribadah lalu diembel-embeli dengan surga maka itu artinya belum ikhlas. surga dan neraka adalah makhluk seperti kita sendiri. kenapa kita mengharapkan makhluk dan bukan mencari yang menciptakan makhluk?

  6. Membaca tulisan diatas semakin terbuka rasanya mendekati kebenaran,dimana sekarang orang masih berkutat pada sariat dan melupakan hakikat ini terbukti di mana kegiatan seremonial keagamaan maju begitu pesat masjid penuh gereja penuh zikir ini zikir itu kebaktian ini kebaktian itu tapi secara moral masih jauh dari harapan yang mengemuka hanya simbol simbol , jemaah haji membludak, padahal disekitarnya masih banyak yang kelaparan , mudah mudahan menjadi renungan kita bersama.untuk kang mas SAPDALANGIT MATUR NUWUN SALAM KENAL SAKING KULO kadaryono

  7. Salam kenal kembali Mas Daryono, mas Tohar, sampun kersa pinarak wonten gubuk reyot kula. mugi saget ndadosaken pepadang tiyang kathah. anggenipun nggayuh spiritul.

    Betul sekali, umat saat ini mndeg/stagnan pada syariat saja. Tetapi sudah yakin dan percaya diri akan “sampai” pada Tuhan.
    Padahal untuk sampai pada Tuhan (wushul) tergantung dari pelibatan hati kita masing2 (tarekat) dalam bersembahyang. Tarekat melibatkan hati dan merupakan step ke 2 setelah syariat. Ia melibatkan kalbu dlm beribadah. Tetapi itupun masih jauh. Karena tangga menuju Tuhan masih ada 2 step lagi yakni hakekat dan makrifat. Di atas tataran makrifat adalah kodrat. orang-orang yg sudah mencapai sajaratul makrifat, wushul (istilah Jawanya manunggaling kawula Gusti), kehendaknya adalah hakekat kehendak Tuhan. Maka tiap ucapannya menjadi terbukti dan mewujud (ludah api/idu geni). inilah makna dari “sabdo pandito ratu”. sabdonya (doa/ucapannya) niscaya terwujud. Begitulah Tuhan memberi kemuliaan kpd manusia utama.

    Dapat diumpamakan; umat manusia itu bertugas makan buah kelapa secara utuh.

    Serabut/kulit kelapa; itu umpama syariatnya (sembah raga).
    Tempurungnya; ibarat tarekat (sembah kalbu/cipta).
    Hakekat; umpama daging kelapanya (sembah jiwa/ruh/ruhullah).
    Makrifat; itu sebagai air kelapanya (sembah rahsa/rasa/sir/sirullah). sirullah adalah sebagaimana gula dgn manisnya, rembulan dgn sinarnya (Zat dgn perwujudan makhluk).

    Nah, jaman sekarang ini jauh lebih banyak orang2 yg kekenyangan makan kulit, sehingga lupa bahwa “perjalanan” spiritual seseorang itu masih panjang. Akibatnya, ia menjadi mudah menuduh kafir bagi yg pendapatnya dianggap berbeda. Langsung keluar muka beringas jika merasa tersinggung sedikit saja. Kebencian ditebar di mana-mana. Tidak sadar membawa-bawa nama Tuhan, sedangkan kehendaknya adalah kehendak nafsu (rahsaning karep) bukan kehendak yg suci (kareping rahsa).
    Padahal ilmu yg ada di bumi ini umpama hanya setetes air laut. sedangkan ilmu Tuhan ibarat seluas air samudra di dunia. merasa seperberapa tetes kah ilmu seseorang itu ? sehingga seringkali sudah merasa paling benar ?

    Begitulah; sedih rasanya menyaksikan semakin sulit ketemu org2 zuhud. Jangankan zuhud, tarekat sajalah. Itulah sebab, apabila perjalanan spiritual seseorang selalu dibayangi oleh ketakutan akan kesesatan dan syirik. Ujungnya justru ketidaktahuan yang tiada batasnya. Ironis ! kita itu kaya akan ilmu spiritual, tetapi MISKIN PENCAPAIAN SPIRITUALNYA.

  8. Mas sabdolangit matur nuwun atas pencerahanya yang jadi pertayaan saya sampai saat ini kok yang mengemuka di media masa, televisi dan ceramah sebatas sareat/kulit nya saja,apa hal ini yang mudah dijalankan dan ada nilai jual, sihingga marak dimana2 tetapi miskin akan nilai nilai,Pada dasarnya Agama diturunkan untuk dijadikan petunjuk bagi manusia. Agar manusia bisa hidup mndekati kebenaran,tentram,damai dan saling mengasihi. karena dengan keaadan demikan manusia bisa datang kepada tuhan, sekali lagi agama hanya sebagai JALAN dan bukan TUJUAN !bila sudah menjadi tujuan, agama akan jatuh menjadi BERHALA ,Para nabi,rosul,utusan wali,avatar atau apapun sebutanya yang seharusnya kita ambil adalah ajaranya,kita contoh budi pekerti (ahlak)nya agar kita bisa selamat mencapai tujuan,malah yang terjadi saat ini cuma penampilanya saja.opo rak keliru koyo ngene Mas iki salah siapa ?????? Ajaran hakekat yang di dibawa SYEH SITI JENAR yang luhur yang sarat nilai spiritual malah dianggap sesat bagi saya yang awam jadi bingung yang dianggap sesat tapi tenang, yang merasa TIDAK sesat tapi sering NGAMUK DUH GUSTI kulo nyuwung Ngapuroo…..

    Salam

    Daryono

  9. NA’UDZUBILLAH

    Duh GUSTI ingkang Moho Wicaksono mugi2 sederek sedulur kinasih kulo sedoyo sing wonten kiblat papat sing wonten wukir lan samodro sing wonten langit lan sing sampun dipun pendem kulo nyuwun dipun pangapurani sabab sifat lan tindak tandukipun ingkang keladhuk Namung Panjenengan Ingkang Moho Sampurno Nyuwun dipun tatih wonten dalan ingkang Panjenengan paringi ridho lan rahmat. Amin

  10. bila mau jujur Surga adalah puncak dari dambaan kenikmatan nafsu manusia. hal ini membuat manusia hanya sekedar objek komoditas dari ‘kepentingan’. Mbah Jenar mengungkapkannya membuka selubung yang menutupinya, dan para pemegang kepentingan terpaksa harus mempertahankan kenyamanan singgasana mereka.
    kini ketika mahkota masjid Demak runtuh *jaman Adam Malik* Eyang Jenar berkata Aku Urip tan kenane pati Cahya mangan Rasa Rasa mangan Cahya dene kowe kabeh (para wali wolu) mung dadi tunggon pathok

  11. Itu lah pandangan yang menjadi dasar Kejawen bahwa menyembah Tuhan, dan berbuat baik pada sesama, bukanlah KEWAJIBAN (perintah) yang datang dari Tuhan, melainkan diri kita sendiri yang mewajibkan.

    komentar:
    menurutku beramal adalah memang betul2 perintah tuhan SAJA, kalo tidak katakan SAJA beramal adalah karena kesadaran manusia yang mengenal tuhan.

  12. Kulo nuwun…
    manungso urip ing donyo amung sadermo wewayangan, ingkang ngobahaken wayang puniko dalang, dalang puniko manungso, dados manungso dwe ingkang biso menentukan lakuning uripe dhewe.. opo arep dadi rojo,dadi cantrik, utowo sengsoro, pendhowo supoyo biso ngrasakake dadi rojo(surgo) yo kudu sengsoro(neroko) ing endi2 sing nglakokake dhalang,pakeme msti pndhowo nampi kalaran…. Lan soal hanyembah mrang gusti… sjatine dalang ingkang nglakokake wayang biso nemoni enak amargi krjo lan sinebut surgo… lan ora bakalan nyembah dhisik mrang gusti,yen nyembah kepriye biso nglakokake wewayangan???? sip kagem sabdo langit… suwun..
    ++++++++++++++++++++++++++++++++++++
    Matur sembah nuwun Ki sanak….

  13. emg hrz byk2 tafakur lg kita,.tp jujur aj sbg org jawa,sy lbh pas dg aliran kejawen or gagasan siti jenar (omg saknyatane,menurutku saiki lho)..tp GUSTI ALLAH lah engkang langkung MANGARTOSI..salam buat mas sabdo

  14. Mas Muzez Yth
    Memang, sy sendiri merasakan ada kedamaian dgn merasakan dan menghayati ajaran SSJ, krn ajaran SSJ berada pada tingkat hakekat-makrifat, sehingga kita tidak dibuat cape oleh sentimen primordial, sebagaimana saat ini sering mengganggu nilai2 ketentraman bersama.

    rahayu

  15. Assalamu`alaikum mbah Sabda!!!!!
    Saya sangat senang ketemu blog ini dan akan saya jadikan pedoman / guru dan Kulo nyuwun idi palilah badhe meng-copas artikel2 njenengan…
    Nuwun… Wassalam.
    ==============
    Sumonggo MAs/Pak Purnomo, kanthi renaning manah, mugi sedaya saget meigunani dumateng kasaenan.
    Salam sejati

  16. Saat ini banyak orang yang sudah meninggalkan akal budinya, banyak kyai kehilangan khowasnya hanya karena mabuk dunia. Bravo SSJ . Agomo iku AGEMAN mestinya dihayati dan diamalkan bukan spt santri sekarang siang malam, berteriak memanggil Tuhan, menurutnya itu akan mendapat hadiah surga, padahal ibadah macam apa itu yang masih mengharap imbalan, Mengapa Tuhan dianggap seperti Juragan, seolah-olah kalao kita bekerja dan berharap upah. IKLASKAH IBADAH semacam itu, relo iklahse ning ndi kang…???
    ============
    P Samudi Yth
    Seandainya pola pikir manusia dalam memahami pahala surga dan ibadah “vertikal” seperti di atas, saya optimis akan menciptakan kehidupan masyarakat yang lebih tenteram, dan sangat ideal dalam mengajarkan pada keikhlasan dan ketulusan. Bisa dibayangkan bila dalam menyembah Tuhan saja berharap-harap (pamrih) upah pahala, lalu bagaimana dalam penerapan kehidupan bermasyarakat ?
    salam sejati

  17. Hihihihi…. huebaaaaaaaaaaat tenan reeek… wakakakak….. berarti dah gak suka lagunya Nugiiiiie yaaa *Tertipuuuu*… hmm…
    Sungguh sang diri ini tertipuuuu…
    Andai kita tak terperangkap kepalsuaaan…
    Alunan sang fikir dan angan angan yang meraja…
    dan Mulai belajar masuk kedalam diri…
    Belajar mendengarkan jeritan suara Nurani…
    Mungkin akan ditemukan kedamaian… yayaya… mungkin..
    Hanya sedikit… sedikiiit sekali…
    Hati Nurani yang Hiduuup… lebih Hiduuuup..
    itulah Jiwa Jiwa yang tercerahkaaaan…
    itulah Jiwa Jiwa tang tenaaaaang
    Salam Jumpa dalam DIAM…
    huuwaaaaaaakakakakak…
    Salam Sayang Kang Mas Sabda Langiiiit…

  18. kulanuwun ki sabdo,.
    ki tau g tarekat yg didalamny ad ajaran SSJ,it dmana ?? ato mungkn mas2 yg ud gabung dlm tarekatny ssj mhn infonya via imel moses179@gmail.com
    trimakasi

    • Mas Moses Yth
      Untuk saudara-saudara kita yang muslim, dalam meneruskan tradisi SSJ biasanya mengikuti tarekat naqshabandiyah. Ada pula saudara kita Mas Sujiatmoko yg sudah lama menggeluti tarekat SSJ ini, bahkan beliau mendapat pengajaran “langsung”. Nanti email beliau akan saya fordward via email e panjenengan. Silahkan menghubungi langsung.

      Salam sejati
      Rahayu

    • Ki Sabda, setahu saya sekarang ini tarekat naqsyabandiyah juga banyak aliran pecahannya, gak tau juga ya jamannya SSJ.

      Tolong dikirimkan jg email Pak Sujiatmoko ya Ki, terima kasih.

  19. njih maturnuwun ki,.kula buka dl imel kula

  20. Salam mas sabda menawi kepareng kulo nyuwun alamat e mail mas sujiatmoko,ada beberapa pertenyaan tentang tarekat ssj ,disekitar tempat tinggal saya ada tarekat kata orang (tarekat naqsabandiyah) tiap malam minggu adakan zikir . Tapi dari wejangan yg disampaikan ustadnya jauh dari yang mas sabda sampaikan.Dan kelompok ini dalam zikirnya selalu menggunakan sepeker 4 penjuru jadi kadang warga sekitar agak tergangu .Email mas sujiatmoko tolong di kirim ke email saya mas kadaryono@gmail.Com . Matur nuwun

  21. Salam Sejati, Kadhang Sedoyo ….
    Terima kasih atas pesan singkat mas Sabda mengenai hal ini.

    Mas Daryono dan mas Moses yang baik,
    Untuk berdiskusi mengenai tarekat Kanjeng Guru Siti Jenar, bisa menghubungi saya di alamat e-mail : sujiatmoko@gmail.com. Mudah-mudahan kita bisa berbagi kawruh untuk membersihkan opini negatif mengenai tarekat kami. Tarekat kami terkotori oleh opini-opini yang menyudutkan kanjeng guru dan para murid hanya karena tidak mematuhi aturan yang bentuk oleh pemerintah pada masa itu.

    Tarekat kami adalah tarekat Akmaliah.
    kami tidak pernah diajarkan untuk berteriak-teriak (apalagi dengan pengeras suara) ketika akan ‘sambung’ dengan Gusti Pangeran ingkang Moho Agung. Karena sesungguhnya Allah ada didalam hati kita. Bersemayam dalam keheningan dan kedamaian qolbu.

    Saya tunggu e-mail penjenengan nggih, mas ….

    Suro diro joyoningrat,
    Lebur dening pangastuti…

    Salam Sejati
    Sujiatmoko

  22. “Melangkah dalam Hening dan Hening dalam Melangkah………

  23. Salam Mas Sabdalangit..

    Kalau saya, memandang semuanya secara universal, karena anggapan saya ajaran beliaunya sudah sedemikian tinggi, sedangkan manusia berbeda tingkat pencapaian/pemahamannya. Kalau sampai, ya sampai..kalau tidak sampai ya tidak sampai entah bingung, kesasar dll..
    Seandainya masih TK, ya masih suka bernyanyi ‘balonku ada lima…meletus dorr…’, kalau diberi pelajaran sd, smp, sma, sampai universitas, ya mungkin belum wancinipun (saatnya). Mau digerojok bagaimanapun, kalau wadahnya masih kecil, ya malah tumpah…

    Wilujeng
    FH

  24. pijakan kaki di tanh kering meruntuhkan bulir2nya mennebarkan bau dan debu,bersama datangnya air yang menumbuhkan rumput hijau di bantaran tanah lapang kehidupan..
    tak berpihaklah sang kaki pada mata dan tangan,tak menangis tanah tanpa debu yang beredar di lintasannya . . .
    kemilau sang suryapun kembali menusuk ufuk,menorehkan garis2 keindahan untuk beberapa saat tanpa iapun sadari kemilau itu semakin indah dan indah dan hilang….
    biarl;ah kemilaunya lari karena ia memang harus lari dan debupun kembali menguasai lapangnya bumi ketika bunga dan kaki itu lebur menyatu tanpa ada paruh waktu yang menuntun untuk mereka kembali menjadi debu….

  25. Sekedar ganjalan saya…

    Allah SWT sudah dengan sangat jelas jelas mewajibkan seluruh umat manusia dan jin untuk melakukan sholat 5 waktu, tanpa menyebutkan pengecualian bg hamba hamba tertentu. Lalu ada salah satu ciptaanya nyleneh, boleh dikatakan Bit’ah?
    Mosok mau mensholati sendiri.? Karena Tuhan kan ada di dalam diri.
    Melakukan amalan berdasarkan image sendiri. Bukan berdasarkan Trisula Weda (Al Quran, Al Hadist, wal Jamaah).
    Bagaimana pendapat anda.?

    Ngapunten kelepatan kulo ingkang katah.
    Matur sembah nuwun.

    GRAXX05@yahoo.com

    • @Rudy Suwarno Yth
      Perlu sekali memahami sholat bukan sekedar makna lugas saja, yakni menghadap/menyembah Tuhan. Namun lebih utama adalah memahami secara maknawiah/esensial yakni sebagai tatacara MERASAKAN ENERGI HIDUP, ATMA SEJATI, chayyu/kayun/kayu yakni energi yang menghidupkan. Di dalam energi sejati inilah wahana kita merasakan getaran Ilahiah. Sedangkan kiblat adalah perlambang dari KALBU. Jadi dlm sholat konsentrasi tidak tertuju ke negara Arab membayangkan Ka’bah, namun konsentrasi anda hendaknya berpusat di DALAM KALBU ANDA SENDIRI. Kalbu yg harus merasakan getaran Ilahi. Jika dlm sholat anda membayangkan Tuhan di atas langit lapis ke 7, atau malah di dalam ka’bah, hal itu sama saja terjadi pemberhalaan Tuhan. Bukankah Tuhan lebih dekat dari urat leher kita ? Yakni di dalam wahana rasajati, rahsa sejati / sirrullah kita sendiri ?!
      Jadi, hendaknya MIND SET / pola pikir dalam mendefinisikan “menyembah” perlu direvisi ulang. Karena akan mempengaruhi tingkat keberhasilan seseorang dalam PENCAPAIAN SPIRITUAL. Manusia hendaknya tidak menjadi AGAMIS, tetapi menjadi RELIGIUS.

      Dahulu pandangan SSJ mendapat pertentangan dengan pihak yg berpendapat demikian. Jelas terjadi benturan karena sangat berbeda tingkat kesadarannya. Jika boleh dibandingkan, yakni antara kesadaran syariat (“kulit”), dengan kesadaran hakekat (isi/esensial). Kesadaran hakekat akan memahami manembah/sholat/sembahyang/maladihening/ sebagai “sembah raga”, sedangkan dalam hakekat penyembahan berada pada tataran sembah jiwa/sukma misalnya “sholat dhaim” manembah kpd Tuhan dalam setiap hela nafasnya.
      Tujuan “sembah raga” adalah salah satu jalan mencapai tataran penyembahan secara esensial/hakekat tsb, atau secara sukmawi/rohani. Sembah raga belumlah merambah pada hakekat, ia termasuk dalam tradisi/adat/tatacara/kulit. Untuk mencapai hakekat masih harus melewati tataran tarekat (sembah kalbu) terlebih dulu. Tataran KESADARAN kalbu dan DIMANIFESTASIKAN dalam “laku” perbuatan sehari2 inilah baru memasuki gerbang PENCAPAIAN SPIRITUAL. Kebanyakan org kenyang akan “kulit” akan tetapi masih miskin akan pencapaian spiritualitasnya. Maka hidup dalam ketakutan, keresahan, kegundahan dikejar2 oleh kewajiban.
      Bagi kesadaran “kulit”, sembahyang dipahami sebagai kewajiban yg datang dari Tuhan.
      Bagi kesadaran “hakekat” / isi, sembahyang dipahami sebagai WUJUD KEIKHLASAN TERTINGGI, bersumber dari kesadaran manusia sendiri karena merasa telah “berhutang” berpuluh anugerah Tuhan, bahkan dalam setiap detiknya. Maka tidaklah pantas/sopan manusia masih berharap2 UPAH PAHALA/anugrah yg lainnya.
      Istilahnya; Wis diwenehi ati, ngrogoh rempelo.
      demikian semoga dapat menambah gumelaring jagad kesadaran, untuk selanjutnya hamemayu hayuning RAT. Nyuwun sih lumebering samudra pangaksami bilih kathah atur kula ingkang kirang mrenani ing penggalih.

      Salam sih katresnan

  26. Assalaamualaikum wr wb..

    Sebelumnya, saya sangat berterima kasih sekali, kepada seorang Ki Sabda Langit yg begitu tinggi tingkatan SEGALANYA, kok yo masih bersedia meladeni saya yang sangat bodoh ini, mempertanyakan sesuatu yg bodoh pula. bikin garuk garuk aja..

    Dan dengan yakin se yakin yakinnya, semua perbedaan pendapat ini, adalah pada dasarnya sama menuju ke suatu KEBAIKAN…. TUHAN

    Mohon Maaf, memang sejujurnya ada yang masih menganjal di pikiran saya yg cetek ini. “kulit” aja belum nyampek. Tapi ngeyelan. Nganyelne..

    Bahwasanya Tuhan telah menurunkan rosul rosulNya di muka bumi ini, untuk bisa memberitahukan kpd semua HambaNya, apa apa yang menjadi KehendakNya. dan semuanya itu sudah BAKU, tidak akan berubah ubah ila yaumil kiyamah.. Yaitu Al Quran.
    Bukan kitab BUATAN MANUSIA, ngapunten, walaupun sucinya kayak apa. karena msh bisa kemungkinan kemasukan unsur lain.
    sebagai contoh, Pendeta yg ngaku melihat Yesus..? apakah itu asli yesus.? dan siapa itu yg ngaku Ratu adil menerima wahyu jibril.? dll buanyak.. nabi palsu.? yg saya yakin tingkatan makrifat mereka adalah sangat tinggi.. HIDUP di dunia hanya untuk dan milik Tuhan.

    Maaf, jadi yg jadi pedoman saya saat ini adalah Nabi besar Muhammad SAW, Manungso kang sampurno, dunyo tekon akherat..
    Tidak ada yg bisa di percayai di muka bumi ini selain dia.
    bahkan setan iblispun tdk bisa menyerupainya.

    Intinya, saya hanya percaya sama ajarannya Nabi Muhammad SAW. dimana salah satu contoh kecilnya adalah perintah SHOLAT.
    Maaf kalau saya salah, saya hanya berpendapat, Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW sendiri telah benar benar mengetahui apa ARTI sesungguhnya Sholat itu? MELEBIHI siapapun yg ada di muka bumi ini.. terus nyuruh hamba hamba Alah untuk melakukan sholat, yg TATA CARA GERAKANNYA sholat itu sendiri sudah sangat jelas di terangkan di dalam Al Hadist… sekali lagi,. Perintah sholat beserta tata cara gerakan dll nya itu adalah sudah sangat jelas, jd tidak perlu di beda bedah lagi, menurut VERSI kita para manusia.. walaupun misalnya maunya MELEBIHI dari sekedar sholat.. apalagi tidak usah sholat.? dzikir itu percuma.? dll.. apakah itu bukan penjerumusan dari yg memberikan wangsit itu.? (maaf) yaitu syaiton, yg telah berulangkali mendpt restu dari Tuhan untuk menguji hamba hamba Nya yg makrifat?
    ora ngoco, iso isone ngaku manunggal.. apa dirinya sanggup menerima maha besarnya, maha kuasanya, . apa sudah melebihi malaikat.? Nabi aja kl dpt wahyu msh melalui peratara Jibril.. (ngapunten buuanget lho ki..?)

    Trus tentang nyata nyatanya Nabi Munammad di kasih kesempatan/ kemampuan melihat Neraka dan Surga pada saat isro mi’roj. karena sesungguhnya kalo manusia lain melihatnya,. sungguh dia tidak akan bisa tertawa sedikitpun dalam hidupnya.
    Tapi kok SSJ malah menerangkan presepsi lain tentang Surga Neraka itu sesungguhnya ada di alam dunia kita ini.?? bersama di waktu kita sekrg ini..?

    Belum lagi Wahyu Allah yg sangat mendasar, berbunyi… Inna Dinna Indallahu Al Islam,. sesungguhnya agama yg di terima di sisi Tuhan adalah Islam..

    Sungguh, sama sekali sy tidak bermaksud ngajak ribut,. lha wong saya ini ndak punya apa apa yg bisa diandalkan.. di sentilpun dah langsung nyenyer.

    Tapi apakah yg benar benar WAHYU ALLAH (Al Quran) masih diragukan ke ASLI anya…? kurang jelas.? masih mau di otak atik lagi.? perlu penjabaran lagi.? berdasarkan pemikiran para manusia yg serba BERBEDA BEDA.? Masih mempercayai 100% Wangsit / kitab lain yg selain dari Nabi besar junjungan Muhammad SAW.?
    Intinya,. kita sebagai manusia, itu sudah seharusnya menuruti apa yg di mau si Pencipta kita,.. dan Apa yg di mau itu ADA DI DALAM AL QURAN. bukan justru kita melakukan apa yg di mau kita, WALAUPUN di kiranya maunya itu melebihi apa yg di mau Tuhan. jadi mana yg bener.? nurutin maunya kita.? atau maunyaTuhan.? yg punya sifat Maha suka suka gue..?

    Sejujurnya kalau ada waktu cukup dan pengetahuan yg cukup, sy seharusnya lebih mencari dan menampilkan bukti dalil atau Wahyu ASLI Tuhan, supaya bs di pertangguing jawabkan dan tidak hambar kosong. tetapi di karenakan kesibukan duniawi saya, yg harus memenuhi kewajiban menafkahi anak istri saya.
    sekrg aja udah jam 24:46 … toko saya blm tak tutup nih..

    Mungkin barangkali ada yg sependapat dgn saya, berkenan memberi penjelasan yg lebih AKURAT.. sumonggo.. (tuluuung…tuluuung.?. hwaaa…huwwaa.)

    Tidak ada yg lebih menyenangkan, bagi saya yg benar benar oton ini, selain mendapat pencerahan, supaya kesalahan saya bisa berubah menjadi pembelajaran menuju kebenaran.

    Terima kasih yg sebesar besarnya…

    wassalaamualaikum wr wb..

  27. Saya setuju dengan ajaran syech Siti Jenar RA,kita harus sering menggali potensi yang ada dalam diri kita sehingga kita bisa nengenal diri kita.bila kau mengenal tuhan terlebih dahulu maka ia akan kufur..sebenarnya yang kita sembah itu rasa.Syareat adalah menyembah raga,tarikat menyembah hati,hakikat menyembah roh,ma’rifat adalah menyembah rasa.raga tdk bisa hidup tanpa roh,tapi roh bisa hidup karna adanya Zat Tuhan.karena kita akan kembali menjadi laisa kamislihy.

  28. Cinta kepada sesama pasti akan merasa sakit dan disakiti,bila kita Cinta kepada Allah,hidup engkau akan merasakan tenang.reinkarnasi adalah balasan tuhan terhadap mahkluknya,jadilah kita manusia sempurna,Saya coba peringatkan kepada temen2 yang sedang belajar ilmu hakekat,tolonglah syareat dijalankan karena merupakan adab kita sesama manusia,biarlah hakikat dibungkus rapi oleh syareat.

  29. Mas Gokil Yth
    Memang, tataran pemahaman dan keasadaran setiap insan berbeda-beda. Kadang kita perlu ngemong dan saling asuh. sebab pada prinsipnya tdk ada manusia yg buruk, yg ada hanyalah org yg belum paham dan belum mengerti.

    Mas Rudy Suwarno Yth
    Utk meningkatkan pemahaman dan kesadaran, saya ada sedikit tips utk dijadikan umpan balik, berupa soal cerita yg bisa panjenengan berikan jawaban yg tepat sesuai hati nurani :

    1. Seorang anak baru lahir dari rahim itu, lalu meninggal dunia.
    2. Janin meninggal di dalam rahim ibu.
    3. Seorang anak belum akil balik, lalu meninggal dunia.
    Tentu saja si anak tersebut belum memeluk satu agamapun yg ada di dunia ini.

    Pertanyaannya adalah :

    1. Jika kebetulan orang tuanya beragama selain Islam, kira-kira si anak yg meninggal tersebut masuk neraka atau surga ?
    2. Apakah anak tersebut akan tetap “menjemput” ortunya di “pintu surga” ?

    Monggo, mohon diberikan komentar.

    salam karaharjan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 917 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: