LAKSITA JATI; Meraih Kasampurnan Hidup

LAKSITA JATI

 

Ilmu yang mengajarkan tata cara menghargai diri sendiri, dengan “laku” batin untuk mensucikan raga dari nafsu angkara murka (amarah), nafsu mengejar kenikmatan (supiyah), dan nafsu serakah (lauwamah). Pribadi membangun raga yang suci dengan menjadikan raga sebagai reservior nafsul mutmainah. Agar supaya jika manusia mati, raganya dapat menyatu dengan “badan halus” atau ruhani atau badan sukma.

            Hakikat kesucian, “badan wadag” atau raga tidak boleh pisah dengan “badan halus”, karena raga dan sukma menyatu (curigo manjing warongko) pada saat manusia lahir dari rahim ibu. Sebaliknya, manusia yang berhasil menjadi kalifah Tuhan, selalu menjaga kesucian (bersih dari dosa), jika mati kelak “badan wadag” akan luluh melebur ke dalam “badan halus” yang diliputi oleh kayu dhaim, atau Hyang Hidup yang tetap ada dalam diri kita pribadi, maka dilambangkan dengan “warongko manjing curigo”. Maksudnya, “badan wadag” melebur ke dalam “badan halus”. Pada saat manusia hidup di dunia (mercapada), dilambangkan dengan “curigo manjing warongko”; maksudnya “badan halus” masih berada di dalam “badan wadag”. Maka dari itu terdapat pribahasa sebagai berikut:

 

“Jasad pengikat budi, budi pengikat nafsu, nafsu pengikat karsa (kemauan), karsa pengikat sukma, sukma pengikat rasa, rasa pengikat cipta, cipta pengikat penguasa, penguasa pengikat Yang Maha Kuasa”.

 

Sebagai contoh :

Jasad jika mengalami kerusakan karena sakit atau celaka, maka tali pengikat budi menjadi putus. Orang yang amat sangat menderita kesakitan tentu saja tidak akan bisa berpikir jernih lagi. Maka putuslah tali budi sebagai pengikat nafsu. Maka orang yang sangat menderita kesakitan, hilanglah semua nafsu-nafsunya; misalnya amarah, nafsu seks, dan nafsu makan. Jika tali nafsu sudah hilang atau putus, maka untuk mempertahankan nyawanya, tinggal  tersisa tali karsa atau kemauan. Hal ini, para pembaca dapat menyaksikan sendiri, setiap orang yang menderita sakit parah, energi untuk bertahan hidup tinggalah kemauan atau semangat untuk sembuh. Apabila karsa atau kemauan, dalam bentuk semangat untuk sembuh sudah hilang, maka hilanglah tali pengikat sukma, akibatnya sukma terlepas dari “badan wadag”, dengan kata lain orang tersebut mengalami kematian. Namun demikian, sukma masih mengikat rasa, dalam artian sukma sebenarnya masih memiliki rasa, dalam bentuk rasa sukma yang berbeda dengan rasa ragawi. Bagi penganut kejawen percaya dengan rasa sukma ini. Maka di dalam tradisi Jawa, tidak boleh menyianyiakan jasad orang yang sudah meninggal. Karena dipercaya sukmanya yang sudah keluar dari badan masih bisa merasakannya.  Rasa yang dimiliki sukma ini, lebih lanjut dijelaskan karena sukma masih berada di dalam dimensi bumi, belum melanjutkan “perjalanan” ke alam barzah atau alam ruh.

            Rahsa atau rasa, merupakan hakikat Dzat (Yang Maha Kuasa) yang mewujud ke dalam diri manusia. Dzat adalah Yang Maha Tinggi, Yang Maha Kuasa, Tuhan Sang Pencipta alam semesta. Urutan dari yang tertinggi ke yang lebih rendah adalah sebagai berikut;

  1. Dzat (Dzatullah) Tuhan Yang Maha Suci, meretas menjadi;
  2. Kayu Dhaim (Kayyun) Energi Yang Hidup, meretas menjadi;
  3. Cahya atau cahaya (Nurullah), meretas menjadi;
  4. Rahsa atau rasa atau sir (Sirrullah), meretas menjadi ;
  5. Sukma atau ruh (Ruhullah).

 

No 1 s/d no 5 adalah retasan dari Dzat, Tuhan Yang Maha Kuasa, maka ruh bersifat abadi, cahaya bersifat mandiri tanpa perlu bahan bakar. Ruh yang suci yang akan melanjutkan “perjalanannya” menuju ke haribaan Tuhan, dan akan melewati alam ruh atau alam barzah, di mana suasana menjadi “jengjem jinem” tak ada rasa lapar-haus, emosi, amarah, sakit, sedih, dsb. Sebelum masuk ke dimensi barzah, ruh melepaskan tali rasa, kemudian ruh masuk ke dalam dimensi alam barzah menjadi hakikat cahaya tanpa rasa, dan tanpa karsa. Yang ada hanyalah ketenangan sejati, manembah kepada gelombang Dzat, lebur dening pangastuti.

 

KONSEP ARWAH PENASARAN

 

Sebaliknya ruh yang masih berada di dalam dimensi gaibnya bumi, masih memiliki tali rasa, misalnya rasa penasaran karena masih ada tanggungjawab di bumi yang belum terselesaikan, atau jalan hidup, atau “hutang” yang belum terselesaikan, menyebabkan rasa penasaran. Oleh karena itu dalam konsep Kejawen dipercaya adanya arwah penasaran, yang masih berada di dalam dimensi gaibnya bumi. Sehingga tak jarang masuk ke dalam raga orang lain yang masih hidup yang dijadikan sebagai media komunikasi, karena kenyataan bahwa raganya sendiri telah rusak dan hancur. Itulah sebabnya mengapa di dalam ajaran Kejawen terdapat tata cara “penyempurnaan” arwah (penasaran) tersebut.

 

JALAN SETAPAK MERAIH KESUCIAN

(Jihad/Perang Baratayudha/Perang Sabil)

 

            Mati penasaran, kebalikan dari mati sempurna. Dalam kajian Kejawen, mati dalam puncak kesempurnaan adalah mati moksa atau mosca atau mukswa. Yakni warangka (raga) manjing curigo (ruh). Raga yang suci, adalah yang tunduk kepada kesucian Dzat yang terderivasi ke dalam ruh. Ruh suci/roh kudus (ruhul kuddus) sebagai retasan dari hakikat Dzat, memiliki 20 sifat yang senada dengan 20 sifat Dzat, misalnya kodrat, iradat, berkehendak, mandiri, abadi, dst. Sebaliknya, ruh yang tunduk kepada raga hanya akan menjadi budak nafsu duniawi, sebagaimana sifat hakikat ragawi, yang akan hancur, tidak abadi, dan destruktif. Menjadi raga yang nista, berbanding terbalik dengan gelombang Dzat Yang Maha Suci. Oleh karena itu, menjadi tugas utama manusia, yakni memenangkan perang Baratayudha di Padang Kurusetra, antara Pendawa (kebaikan yang lahir dari akal budi dan panca indera) dengan musuhnya Kurawa (nafsu angkara murka). Perang inilah yang dimaksud pula dalam ajaran Islam sebagai Jihad Fii Sabilillah, bukan perang antar agama, atau segala bentuk terorisme.

Adapun ajaran untuk menggapai kesucian diri, atau Jihad secara Kejawen, yakni mengendalikan hawa nafsu, serta menjalankan budi (bebuden) yang luhur nilai kemanusiannya (habluminannas) yakni ; rela (rilo), ikhlas (legowo), menerima/qonaah (narimo ing pandum), jujur dan benar (temen lan bener), menjaga kesusilaan (trapsilo) dan jalan hidup yang mengutamakan budi yang luhur (lakutama). Adalah pitutur sebagai pengingat-ingat agar supaya manusia selalu eling atau selalu mengingat Tuhan untuk menjaga kesucian dirinya, seperti dalam falsafah Kejawen berikut ini :

 

“jagad bumi alam kabeh sumurupo marang badan, badan sumurupo marang budi, budi sumurupo marang napsu, napsu sumurupo marang nyowo, nyowo sumurupo marang rahso, rahso sumurupo marang cahyo, cahyo sumurupo marang atmo, atmo sumurupo marang ingsun, ingsun jumeneng pribadi”

            (jagad bumi seisinya pahamilah badan, badan pahamilah budi, budi pahamilah nafsu, nafsu pahamilah nyawa, nyawa pahamilah karsa, karsa pahamilah rahsa, rahsa pahamilah cahya, cahya pahamilah Yang Hidup, Yang Hidup pahamilah Aku, Aku berdiri sendiri (Dzat).

 

Artinya, bahwa manusia sebagai derivasi terakhir yang berasal dari Dzat Sang Pencipta harus (wajib) memiliki kesadaran mikrokosmis dan makrokosmis yakni “sangkan paraning dumadi” serta tunduk, patuh dan hormat (manembah) kepada Dzat Tuhan Pencipta jagad raya.

Selain kesadaran di atas, untuk menggapai kesucian manusia harus tetap berada di dalam koridor yang merupakan “jalan tembus” menuju Yang Maha Kuasa. Adalah 7 perkara yang harus dicegah, yakni;

1.       Jangan ceroboh, tetapi harus rajin sesuci.

2.       Jangan mengumbar nafsu makan, tetapi makanlah jika sudah merasa lapar.

3.       Jangan kebanyakan minum, tetapi minum lah jika sudah merasa haus.

4.       Jangan gemar tidur, tetapi tidur lah jika sudah merasa kantuk.

5.       Jangan banyak omong, tetapi bicara lah dengan melihat situasi dan kondisi.

6.       Jangan mengumbar nafsu seks, kecuali jika sudah merasa sangat rindu.

7.      Jangan selalu bersenang-senang hati dan hanya demi membuat senang orang-orang, walaupun  sedang memperoleh kesenangan, asal tidak meninggalkan duga kira.

Demikian pula, di dalam hidup ini jangan sampai kita terlibat dalam 8 perkara berikut;

1.       Mengumbar hawa nafsu.

2.       Mengumbar kesenangan.

3.       Suka bermusuhan dan tindak aniaya.

4.       Berulah yang meresahkan.

5.       Tindakan nista.

6.       Perbuatan dengki hati.

7.       Bermalas-malas dalam berkarya dan bekerja.

8.       Enggan menderita dan prihatin.

Sebab perbuatan yang jahat dan tingkah laku buruk hanya akan menjadi aral rintangan dalam meraih rencana dan cita-cita, seperti digambarkan dalam rumus bahasa berikut ini;

1.       Nistapapa; orang nista pasti mendapat kesusahan.

2.       Dhustalara; orang pendusta pasti mendapat sakit lahir atau batin.

3.       Dorasangsara; gemar bertikai pasti mendapat sengsara.

4.       Niayapati; orang aniaya pasti mendapatkan kematian.

 

PERBUATAN, PASTI MENIMBULKAN “RESONANSI”

Demikian lah, sebab pada dasarnya perilaku hidup itu ibarat suara yang kita kumandang akan menimbulkan gema, artinya apapun perbuatan kita kepada orang lain, sejatinya akan berbalik mengenai diri kita sendiri. Jika perbuatan kita baik pada orang lain, maka akan menimbulkan “gema” berupa kebaikan yang lebih besar yang akan kita dapatkan dari orang lainnya lagi. Hal ini dapat dipahami sebagaimana dalam peribahasa;

 

Barang siapa menabur angin, akan menuai badai,

Siapa menanam, akan mengetam,

Barang siapa gemar menolong, akan selalu mendapatkan kemudahan,

Barang siapa gemar sedekah kepada yang susah, rejekinya akan menjadi lapang.

Orang pelit, pailit

Pemurah hati, mukti

 

PERILAKU TAPA BRATA

 

Idealnya, setiap orang sepanjang hidupnya dapat melaksanakan “tapa brata” atau mesu-budi, menahan hawa nafsu, yg mempunyai kesamaan dengan hakikat puasa seperti di bawah ini;

1.   Tapa/puasanya badan/raga; harus anoraga; rendah hati; gemar berbuat baik.

2.   Tapa/puasanya hati; nerima apa adanya; qonaah; tak punya niat/prasangka  buruk, tidak iri hati.

3.   Tapa/puasanya nafsu; ikhlas dan sabar dalam menerima musibah, serta memberi maaf kepada orang  lain.

4.   Tapa/puasanya sukma; jujur.

5.   Tapa/puasanya rahsa; mengerem sembarang kemauan, serta kuat prihatin dan menderita.

6.   Tapa/puasanya cahya; eneng-ening; tirakat atau bertapa dalam keheningan, kebeningan, dan kesucian.

7.   Tapa/puasanya hidup (gesang); eling (selalu ingat/sadar makro-mikrokosmos) dan selalu waspada dari segala perilaku buruk.

 

Selain itu, anggota badan (raga) juga memiliki tanggungjawab masing-masing sebagai wujud dari hakikat puasa atau tapa brata ;

1.   Tapa/puasanya netro/mata; mencegah tidur, dan menutup mata dari nafsu selalu ingin memiliki/menguasai.

2.   Tapa/puasanya karno/telinga; mencegah hawa nafsu, enggan mendengar yang tak ada manfaatnya atau yang buruk-buruk.

3.   Tapa/puasanya grono/hidung; mencegah sikap gemar membau, dan enggan “ngisap-isap” keburukan orang lain.

4.   Tapa/puasanya lisan/mulut; mencegah makan, dan tidak menggunjing  keburukan orang lain.

5.   Tapa/puasanya puruso/kemaluan; mencegah syahwat, tidak sembarangan ngentot/rakit/ngewe/senggama/zina.

6.   Tapa/puasanya asto/tangan; mencegah curi-mencuri, rampok, nyopet, korupsi, dan tidak suka cengkiling; jail dan menyakiti orang lain.

7.   Tapa/puasanya suku/kaki; mencegah langkah menuju perbuatan jahat, atau kegiatan negatif, tetapi harus gemar berjalan sembari “semadi” yakni berjalan sebari eling lan waspodo.

 

Tapa/maladihening/mesu budi/puasa seperti di atas dapat diumpamakan dalam gaya bahasa personifikasi, yang memiliki nilai falsafah yang sangat tinggi dan mendalam sbb;

 

“Katimbang turu, becik tangi. Katimbang tangi, becik melek. Katimbang melek, becik lungguh. Katimbang lungguh, becik ngadeg. Katimbang ngadeg, becik lumakuo”.

(Daripada tidur lebih baik bangun. Daripada bangun lebih baik melek. Daripada melek lebih baik duduk. Daripada duduk lebih baik berdiri. Daripada berdiri lebih baik melangkah lah)

 

Untuk meraih kesempurnaan dalam melaksanakan tata laku di atas, hendaknya setiap langkah kita selalu eling dan waspada. Agar supaya setelah menjadi manusia pinunjul tidak menjadi sombong dan takabut, sebaliknya justru harus disembunyikan semua kelebihan tersebut, dan tidak kentara oleh orang lain, sehingga setiap jengkal kelemahan tidak memancing hinaan orang lain. Untuk itu manusia pinunjul harus;

 

1.       Solahbawa, harga diri, perbuatan, harus selalu di jaga

2.       Keluarnya ucapan harus dibuat yang mendinginkan, menyejukkan, dan menentramkan lawan bicara

3.       Raut wajah yang manis, penuh kelembutan dan kasih sayang.

 

 

Inilah sejatinya tata krama dalam ajaran Kejawen. Kesempurnaan dalam melaksanakan langkah-langkah di atas, seyogyanya menimbang situasi dan kondisi, menimbang waktu dan tempat secara tepat, tidak asal-asalan. Karena sekalipun “isi”nya berkualitas, tetapi bungkusnya jelek, maka “isi”nya menjadi tidak berharga. Dengan kata lain, jangan mengabaikan (dugoprayoga) duga kira, bagaimana seharusnya yang baik. Sebab sesempurnanya manusia tetap memiliki kekurangan atau kelemahan, sehingga manakala kelemahan dan kekurangan tersebut diketahui orang lain tidak akan menjadi “batu sandungan”. Seperti dalam ungkapan sebagai berikut;

 

1.       Kusutnya pakaian; tertutup oleh derajat (harga diri) yang luhur.

2.       Terpelesetnya lidah, tertutup oleh manisnya tutur kata.

3.       Kecewanya warna, tertutup oleh budi pekerti.

4.       Cacadnya raga, tertutup oleh air muka yang ramah.

5.       Keterbatasan, tertutup oleh sabar dan bijaksana.

 

Oleh karena itu, meraih kesempurnaan dalam konteks ini diartikan kesempurnaan dalam melaksanakan tapa brata. Kegagalan melaksanakan tapa brata, dapat membawa manusia kepada zaman “paniksaning gesang” tidak lain adalah nerakanya dunia, seperti di bawah ini;

 

1.       Zamannya kemelaratan,  dimulai dari perilaku boros

2.       Zamannya menderita aib, dimulai dari watak lupa terlena, tanpa awas.

3.       Zamannya kebodohan, dimulai dari sikap malas dan enggan.

4.       Zamannya angkara, dimulai dengan sikap mau menang sendiri

5.       Zamannya sengsara, dimulai dari perilaku yang kacau.

6.       Zamannya penyakit, diawali dari kenyang makan.

7.       Zamannya kecelakaan, diawali dari perbuatan mencelakai orang lain.

 

Sebaliknya, “ganjaraning gesang” atau “surganya dunia”,  lebih dari sekedar kemuliaan hidup itu sendiri, yakni; 

1.       Zamannya keberuntungan, awalnya dari sikap hati-hati, tidak ceroboh.

2.       Zamannya kabrajan, awalnya dari budi luhur dan belas kasih.

3.       Zamannya keluhuran, awalnya dari giat andap asor, sopan santun.

4.       Zamannya kebijaksanaan, awalnya dari telaten bibinau.

5.       Zamannya kesaktian (kasekten), awalnya dari puruita dan tapabrata.

6.       Zamannya karaharjan (ketentraman-keselamatan), awalnya dari eling dan waspada.

7.       Zamannya kayuswan (umur panjang), awalnya sabar, qonaah, narimo, legowo, tapa.

 

SHALAT/SEMBAHYANG DHAIM

 

Sebagai tulisan penutup, Sabdalangit berusaha memaparkan garis besar TAPA BRATA, agar supaya mudah diingat dan gampang dicerna bagi para pembaca yang masih awam tentang ajaran Kejawen.

Selain dipaparkan di atas, sejalan dengan bertambahnya usia, seyogyanya hidup itu sembari mencari ciptasasmita, “tuah” atau petunjuk yang tumbuh jiwa yang matang dan dari dalam lubuk budi yang suci. Pada dasarnya, tumbuhnya budipekerti (bebuden)  yang luhur, berasal dari tumbuhnya rasa eling, tumbuhnya kebiasaan tapa, tumbuhnya sikap hati-hati,  tumbuhnya “tidak punya rasa punya”,  tumbuhnya kesentausaan, tumbuhnya kesadaran diri pribadi, tumbuhnya “lapang dada”, tumbuhnya ketenangan batin, tumbuhnya sikap manembah (tawadhu’). Pertumbuhan itu berkorelasi positif atau sejalan dengan usia seseorang.

Akan tetapi, jika semakin lanjut usia seseorang akan tetapi perkembangannya berbanding terbalik, mempunyai korelasi negatif, yakni justru memiliki tabiat dan karakter seperti anak kecil, ia merupakan produk topobroto yang gagal. Untuk mencegahnya tidak lain harus selalu mencegah hawa nafsu, serta mengupayakan dengan sungguh-sungguh untuk meraih kesempurnaan ilmu. Begitu pentingnya hingga adalah “wewarah” yang juga merupakan nasehat yang hiperbolis, sbb;

 

 

“ageng-agenging dosa punika tiyang ulah ilmu makripat ingkang magel. Awit saking dereng kabuko ing pambudi, dados boten superep ing suraosipun”

 

            Bagi yang sudah lulus, dapat menerima semua ilmu, tentu akan menemui kemuliaan “sangkan paran ing dumadi”. Siapa yang sunguh-sungguh mengetahui Tuhannya, sesungguhnya dapat mengetahui di dalam badanya sendiri. Siapa yang sungguh-sunggun mengetahui badannya sendiri, sesungguhnya mengetahui Tuhannya. Artinya siapa yang mengetahui Tuhannya, ia lah yang mengetahui semua ilmu kajaten (makrifat). Siapa yang sunguh-sungguh mengetahui sejatinya badannya sendiri, ia lah yang dapat mengetahui akan hidup jiwa raganya sendiri. Kita harus selalu ingat bahwa hidup ini tidak akan menemui sejatinya “ajal”, sebab kematian hanyalah terkelupasnya isi dari kulit. “Isi” badan melepas “kulit” yang telah rusak, kemudian “isi” bertugas melanjutkan perjalanan ke alam keabadian.  Hanya raga yang suci yang tidak akan rusak dan mampu menyertai perjalanan “isi”. Sebab raga yang suci, berada dalam gelombang Dzat Illahi yang Maha Abadi.

Maka dari itu, jangan terputus dalam lautan “manembah” kepada Gusti Pangeran Ingkang Sinembah. Agar supaya menggapai “peleburan” tertinggi, lebur dening pangastuti; yakni raga dan jiwa melebur ke dalam Cahaya yang Suci; di sanalah manusia dan Dzat menyatu dalam irama yang sama; yakni manunggaling kawulo gusti. Dengan sarana selalu mengosongkan panca indra, serta menyeiramakan diri pada Sariraning Bathara, Dzat Yang Maha Agung, yang disebut sebagai “PANGABEKTI INGKANG LANGGENG” (shalat dhaim) sujud, manembah (shalat) tanpa kenal waktu, sambung-menyambung dalam irama nafas, selalu eling dan menyebut Dzat Yang serba Maha. Adalah ungkapan;

“salat ngiras nyambut damel, lenggah sinambi lumampah, lumajeng salebeting kendel, ambisu kaliyan wicanten, kesahan kaliyan tilem, tilem kaliyan melek.

(sembahyang sambil bekerja, duduk sambil berjalan, berjalan di dalam diam, membisu dengan bicara, bepergian dengan tidur, tidur sembari melek).

 

Jika ajaran ini dilaksanakan secara sungguh-sungguh, berkat Tuhan Yang Maha Wisesa, setiap orang dapat meraih kesempurnaan Waluyo Jati, Paworing Kawulo Gusti, TIDAK TERGANTUNG APA AGAMANYA.

 

Sabdalangit

About these ads

About SABDå

gentleman, Indonesia Raya

Posted on Desember 12, 2008, in WIRID LAKSITA JATI; Meraih Kasampurnan Hidup and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 35 Komentar.

  1. rahayu…
    lhaaaa ini kangmas yang saya cari…
    ‘warangka manjing curiga’
    senada dengan serat kekiyasanipun pangracutan Sultan Agung..
    Kangmas, mungkin kangmas tahu tokoh2 spirit yang berhasil ” menggapai “peleburan” tertinggi, lebur dening pangastuti; yakni raga dan jiwa melebur ke dalam Cahaya yang Suci;”?? & Petilasanipun/pesareanipun??

  2. :) …semoga bermanfaat yah buat adimas lare dusun.
    banyak sekali leluhur kita yg meraih kasampurnan dalam arti kamukswan atau moksa. Punten ndalem sewu…kepareng badhe nyebat;
    Panembahan Senopati
    Kanjeng Sultan Agung
    Gusti Amangkurat Agung
    dst hingga PB X.
    Dan KGPAA Mangkunegoro I hingga VII.
    Ngarsa Dalem Sri Sultan HB I hingga VII.
    Maaf ya..bila ada yg kurang pas, semta itu yg sy tahu tapi mungkin lebih banyak lagi, krn sifatnya rahasia. kita bisa tahu kalau kita sudah sowan nyekar ke pasarean beliau-beliau.

    Biarpun muksa tetapi tetap dibuat makam supaya bisa dijadikan pepunden (petilasan) bagi semua anak turun dan semua masyarakat yg concern. :)

  3. Sakderingipun matur sembah nuwun dumateng Kadang kulo Mas Sabdolangit…

    Ingkang sampun anggadahi detak ambabar “Sangkan paraning Dumadi dumugi RACUT” ingkang dipun racik kanthi eco sanget. (maks Nyusss) :D

    lan Nyuwun pangapunten ingkang Ageng, Amargi nembe saget sowan wonten padepokanipun Mas Sabdolangit…

    Priabadi kulo namung saget paring kirim donga dumateng Mas Sabdolangit mugi Tansah pinayungan kalian payung agungipun gusti lan tansah pinaringan pepadang saha luput saking bebaya donya saha saget unggul jurit kaliyan sesamineng gesang.

    Mekaten atur Pribadi kulo paujutaning Oleng ingkang gesang wonteng sak lebeting peceren.

    Salam
    Rahayu.

  4. sungguh penjelasan yang mencerahkan
    semoga kita semua bisa menjadi hamba Allah sejati
    sempurna dalam tauhid

  5. Luar Biasa..
    kasampurinaning hurip…

    Matur Sembah Nuwun…

    “Suro diro Joyoningrat Lebur dening pangastuti ”

    Salam…

  6. asalamualaikum kang sabdo,..
    sy mau tanya ttg arti yg mudah2an kang sabdo bkenan menjawab
    apa definisi
    1.rogo lan nyowo,sukmo lan cahyo
    2.murti ama murtolo
    3.manik sak tumbar binubut gedene

    it dl mas,.makasi sblumnya

  7. Mas Moses Yth
    Untuk jawabannya bisa buka thread berikut :
    Jawaban no 1 di : http://sabdalangit.wordpress.com/category/pintu-pembuka-rahasia-spiritual-raja-raja-mataram/wirid-karana-jati-mengungkap-misteri-tuhan/

    dan satu lagi : http://sabdalangit.wordpress.com/category/pintu-pembuka-rahasia-spiritual-raja-raja-mataram/wirid-purba-jati-mengenal-jati-diri-hakekat-neng-ning-nung-nang/

    Jawaban no 2 di : http://sabdalangit.wordpress.com/category/filsafat-pewayangan/wahyu-dewa-wisnu/

    dan satu lagi : http://sabdalangit.wordpress.com/category/falsafah-jawa/menelisik-rahasia-filsafat-kejawen-1/

    Jawaban no 3 : manik itu intisari kehidupan, walaupun tiada tampak dan sulit dirasakan namun fungsinya sangat vital.

    Mudah-mudahan dapat memberikan manfaat, bila ada kekurangan mohon dimaafkan dan silahkan mengajukan pertanyaan selanjutnya.

    Rahayu

  8. Dimas …

    Di era kini apakah masih ada yang bisa meraih “mokswa”, atau itu sama dengan “pangracutan”.

    Nuwun awit pamedaring sabda jengandika Dimas.

    Rahayu nir ing sambekolo

    • Masih banyak Mas Broto, hanya saja kamoksan dilakukan setelah jasad dikubur agar tidak “nganeh-anehi” dan mengagetkan orang zaman modern ini yang sok kagetan dan gumunan. Itu semua sebagai kebijaksanaan dan kearifan untuk menjaga kesan kelumrahan.

      Rahayu

  9. penjelasan yg sangat masuk akal..muksa….menyatu lebur sekalian badan wadagnya….bagaimana sobat agar kita dapat mati muksa…em em em ..apa perlu kita latia , didunia belajar manunggal…terus manunggal,dan dengan tapa brata eling,sijasad di jaga jgn di gunakan yg tidak2…..terimakasih mas sabda.

    wasalam

  10. mas sabda bagaimana caranya shalat daim itu sendiri ?? tolong di jabarkan yah. trimakasih.

  11. Ki Sabda yth,

    Dari 7 perkara yang harus dicegah salah satunya kurangi minum, minum jika haus. apa tidak mengganggu metabolisme organ tubuh?
    Belakangan ini para prktisi kesehatan modern justru menganjurkan minum air putih dalam jumlah banyak sekaligus ketika bangun tidur, gunanya untuk membersihkan saluran pencernaan. ibarat kita membersihkan pipa pembuangan, mesti dengan air yg banyak dan kencang.
    Saya mempraktekkannya dan memang setelah minum, maaf, kotoran lebih lancar keluarnya. setelah itu perut terasa lega.

    mohon dijelaskan maksud dari mengurangi minumnya Ki.

    terima kasih

    • Murid Yth
      Hidup ini penuh dengan keseimbangan. Segala sesuatu tanpa tahu dan menyadari aturan main pun akan bekerja secera otomatis menata diri, mencari titik kesimbangan, yang harmonis dan nyambung. Coba kita cermati satu persatu mana ada GEJALA ALAMIAH yg tidak seimbang. Jika terdapat ketidakseimbangan, hal itu merupakan ULAH MANUSIA sendiri.
      Lapar dan haus adalah sinyal bahwa tubuh butuh sesuatu untuk survival, tentu datangnya kebutuhan pada saat yg paling tepat di mana tubuh sudah betul-betul membutuhkan asupan makanan dan cairan. Yang menganggu metabolisme jika kita makan terus menerus, makan walau perut tidak lapar, minum walau tubuh tidak merasa kehausan. Efeknya apa ? Zaman modern ini manusia kebanyakan neko-neko, berbagai obat dan suplemen dibuat, makanan pengganti diproduksi. Semua itu bukan bertujuan demi kesehatan melainkan DEMI MENDAPAT UANG BANYAK.
      Kini tata cara makan dan minum dibuat aturan baru sedemikian rupa, minum sekenyang2nya setelah bangun tidur. Lalu menjalani diet ketat yg menyiksa tubuh. Jelas hal itu tidak sejalan dengan HUKUM ALAM. alias melawan kodrat. Apa hasilnya, adalah KETIDAKSEIMBANGAN BARU. Kalau saya umpamakan GALI LOBANG TUTUP LOBANG. Maka yg paling tepat menjalani hidup dengan cara SING PRASOJO. Tapi bukan berarti harus hidup serba kekurangan. Yen sugih bondo, sugih ilmu, lan duwe kuwasa, ketiganya harus dimanfaatkan utk kebaikan, kemakmuran, kesejahteraan, pepadhang bagi banyak orang. Semangat org barat untuk Back to nature, kiranya bukan soal makanan saja, tetapi lebih utama adalah pola hidup yang sesuai dengan hukum alam. Jaman dulu jarang penyakit berat, karena manusia masih selaras dengan prinsip dan kodrat alam. jadi tak perlu perut dicuci dgn menelan banyak-banyak air putih di pagi hari. Cara ini tidak lumrah alias tdk sesuai kodrat manusia harus mblebeg banyu banyak2 di pagi hari. Tentu ada efek negatifnya, hanya saja mungkin belum terdiagnosa atau efek sampingnya dianggap masih bisa ditolerir dalam waktu dekat.

      salam sih katresnan

  12. Ki Sabdo yang budiman
    Salam sejati, setelah membaca artikel LAKSITA JATI saya sangat tertarik mengenai sembah roh atau solat daim dan saya sangat awam dengan solat daim, mohon bila Ki sabdo berkenan saya diberi penjelasan tentang solat daim dan tata cara pelaksanaannya, kito tunggu balasannya, maturrnuwun Ki rahayu3

  13. asalam.salam waluyo kang sada langit. Mengenai tulisan diatas sama seperti pitutur dari enyang ringgit. Dulu aku pernah di gembleng oleh beliu. belajar tentang ilmu jiwa dengan mengartikan (Uatra). utawi (Barat).badan(selatan) sawiji (timur) timbul diisi dengan arah angin (timur laut menuju barat daya. Timbul laku lampah. badan wis didayani ning wongtua) (barat laut tenggara. badan wislandep pangucape. menuju tenggara yaitu jiwa tenggangrasa.
    Kemudian disambung dengan pelajaran ngaji diri.jasmani rohani sadulur papat kalima wujud embok batin bapa batin ibu awa bapa adam yaisun sukma rasa sukma jati sejatine ingsun.
    Kemudian di sambung lagi dengan. Deng segedeng ibu agung pancar wengi deng segedeng bapa agung raja dina dina pitu permohonan sang hiyang urip jabong guru tulloh. kemudian sambung ke ila jumeneng isun iraha pangeran isun allah sipat isun muhamad kang dadi cahya nur cahya allah adam muhamad rasul bumi allah adam muhamad rasul banyu allah adam muhamad rasul geni allah adam muhamad rasul angin
    Ya pangeran kula kulanyuwun di dadek kaken manusa sepenjaluk kula nyuwun bukti kelawannyata.
    Tulisan ini mengandung arti. Artinya yang kang sabda tulìs di atas. Aku mohon ma’ap kalau ada kata kata kurang baik mak lum saya cuma wong dadakan bukan didikan.
    Nyuwun dingampuro yakang mas. Jujur aku mengenyam sekolah cuma sampai SDN kls 3
    Wasalam salam waluyojati

  14. rahayu terima kasih pak atas tulisanya jujur aku sangat tertarik dengan kejawen walapun aku bukan orang jawa asli..hatur nuhun mas\terimakasih..rahayu

  15. Maturnuwun sanget kiai sabdo

  16. maturnuwun ki sabda, seperti biasa mohon ijin copas n print njih,..maturnuwuunn…

  17. mbak rahayu……dr smua senior dr kelenteng saya….saya selalu di protes krn sering kpeleset lidah @ mbocorkn rahasia, kl kdng lg mbantu orng lain.
    saya sering dikatai polos, ceplas ceplos….dan beberapa klemahan saya. yg saya tdk ngerti kalimat dibawah ni…..1. Kusutnya pakaian; tertutup oleh derajat (harga diri) yang luhur.

    2. Terpelesetnya lidah, tertutup oleh manisnya tutur kata.

    3. Kecewanya warna, tertutup oleh budi pekerti.

    4. Cacadnya raga, tertutup oleh air muka yang ramah.

    5. Keterbatasan, tertutup oleh sabar dan bijaksana.

    dari poin 1-5 blh di bilang smua klemahan saya dan jua saya sering protes…kl memank sdh dikaruniakn mbantu orng lain, knp hrs stengah2 dan hrs memake bhs yg penuh dg manisnya tutur kata.
    Knp jd manusia yg di karuniai tuh susah bgt bahkan dianggap gila oleh famili sendiri. tp di saat dibutuhkan mrk jua minta tolong….dan gmn hilangkn kecewaan dlm hati. krn rasa kecewa sdh mbuat saya ragu tuk terus mbantu. wl saya blm banya mbantu yg mbutuhkn. terima kasih mbak rahayu atas waktu luang anda.

  18. ngaturaken sugeng tetepangan kagem ingkam gadah dalem pak sabda, kulo saking sragen, sanget ngremenaken maos wonten ing blog puniki,,,kagem kulo ingkang taksih kulit anggenipun sinau bab kejawen….mugio tansah sumanding ing ngarsa dalem gusti sedayanipun

  19. sugeng tetepangan kang mas sabda….niki saking sragen

  20. mhn informasi, bgmn caranya untuk dapat kontack / telepn dengan pengasuh.

    dimana alamatnya, syukur apabila ada di jakarta

    apabila di izinkan ingin belajar lebih dalam melalui kontak langsung.

    maturnuwun

  21. aku sangat terkesan dengan pencerahan laksita jati,semoga bangsa kita menjadi bangsa yang mempunyai jati diri

  22. pak sabdo kulo pingin wirid ndamel tentrem ati,

  23. Wah…muantapp Mas Sabda. Matur nuwun.

  24. salam knal kang sabda.matur nwun kang mas,bnyak manfaat yg sy daptkn stlah baca2x artikelnya.trus smangat menebar kbaikan bagi orang bnyak

  25. Bapak Sabda, nyuwun lilane penggaleh bande maos..matursembah nuwun, (pengunjung enggal)

  26. salam rahayu kagem pak sabdo.
    Nyuwun lilanipun penggalih, badhe copas artikel panjenengan.
    Salam sih katresnan

  27. very very good!

  28. Kawulo ugi Nyuwun agunge pangaksami katur kang sabdo,salam kenal Kagem sdoyo.mugio kadang kadang Jawi sami sumurup klawan Jawanipun

  29. tejo cah buh ra weruh

    top mas pembahasannya derek nyimak giih mas… Lan salam kenal gih…

  30. oke mas bro atas infonya…..mungkin kita bisa saling tukar kaweruh agar apa yg kita pelajari bisa saling melengkapi….sip
    manusia memang mahluk paling sempurna bila di bandingkan dengan mahluk gusti allah yg lainnya.tapi sempurnanya manusia harus di sempurnakan lagi dari sisi lain[batiniah].selain manusia di karuniai Pemikiran[cipta],perasaan[roso],dan Kehendak[karso] harus di gunakan dgn sebaik2nya.memang benar untuk mengenal Tuhan[allah]lebih dekat kita harus mengenal diri kita sendiri atau Makrifatul lin nafsi[berusaha mengenal diri kita sendiri secara spiritual.

  1. Ping-balik: Laksita Jati: Meraih Kasampurnan Hidup « le gai savoir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 895 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: