WIRID PURBA JATI : MENGENALI JATI DIRI; Hakekat Neng, Ning, Nung, Nang

MENGENALI JATI DIRI

Hakekat Neng, Ning, Nung, Nang

 

Siapa sejatinya diri kita sebagai manusia ? Pertanyaan ini sederhana, dapat dikemukakan jawaban paling sederhana, maupun jawaban yang lebih rumit dan rinci. Jawaban masing-masing orang tidak bisa diukur secara benar-salah. Cara menjawab siapa diri manusia hanya akan mencerminkan tingkat pemahaman seseorang terhadap kesejatian Tuhan. Hal ini sangat dipermaklumkan karena berkenaan dengan eksistensi Tuhan sendiri yang begitu penuh dengan misteri besar. Upaya manusia mengenali Sang Pencipta, ibarat jarum yang menyusup ke dalam samudra dunia. Yang hanya mengerti atas apa yang bersentuhan dengannya. Itupun belum tentu benar dan tepat dalam mendefinisikan. Tuan memang lebih dari Maha Besar. Sedangkan manusia hanya selembut molekul garam. Begitulah jika diperbandingkan antara Tuhan dengan makhlukNya. Namun begitu kiranya lebih baik mengerti dan memahamiNya  sekalipun hanya sedikit dan kurang berarti, ketimbang tidak samasekali.

Secara garis besar dalam diri manusia memiliki dua unsur entitas yang sangat berbeda. Dalam pandangan ekstrim dikatakan dua unsur pembentuk manusia saling bertentangan satu sama lainnya. Tetapi kedua unsur tidak dapat dipisahkan, karena keduanya sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan. Terpisahnya di antara kedua unsur pembentuk manusia akan merubah eksistensi ke-manusia-an itu sendiri. Yakni di satu sisi terjadi  kerusakan/pembusukan dan di sisi lain keabadian. Umpama batu-baterai yang memiliki dua dimensi berbeda yakni fisiknya dan energinya. Kedua dimensi itu menyatu menjadi eksistensi batu-baterai berikut fungsinya. Dua unsur dalam manusia yakni; immaterial dan material, metafisik dan fisik, roh dan jasad, rohani dan jasmani, unsur Tuhan dan unsur bumi (unsur gaib dan unsur wadag). Marilah kita urai satu persatu kedua unsur pembentuk eksistensi manusia tersebut.

 

Unsur Bumi

 

Jasad manusia wujudnya disusun berdasarkan unsur-unsur material bumi (air, tanah, udara, api). Unsur air dan tanah dalam tubuh terurai secara alami melalui proses ilmiah (rumus ilmu pengetahuan manusia) dan rumus alamiah (yang sudah berproses melalui rumus-rumus buatan Tuhan).  Unsur tanah dan air yang sudah berproses akan berubah bentuk dan wujudnya sebagai bahan baku utama jasad yang terdiri dari empat unsur yakni ; daging, tulang, sungsum dan darah. Sedangkan unsur udara akan berproses menjadi kegiatan bernafas, lalu berubah menjadi molekul oksigen dalam darah dan sel-sel tubuh. Unsur api akan menjadi alat pembakaran dalam proses produksi jasad, tenaga, energi magnetis, dan semua energi yang terlibat dalam memproses atau mengolah unsur tanah dan air menjadi bahan baku jasad.

Jasad wadag menurut istilah barat sebagai body atau corpus, merupakan wadah atau bungkus unsur Tuhan dalam diri manusia. Unsur wadah tidak bersifat langgeng (baqa’), sebab unsur wadah terdiri dari bahan baku bumi, maka ia terkena rumus mengalami kerusakan sebagaimana rumus bumi.

 

Unsur Tuhan

 

Sebaliknya, unsur Tuhan bersifat kekal abadi tidak terjadi rumus kerusakan. Unsur Tuhan (Zat Tuhan) dalam tubuh manusia diwakili oleh metafisik manusia yakni unsur roh (spirit atau spiritus).  Roh merupakan derivasi unsur Tuhan yang paling paling akhir dan paling erat dengan bahan baku metafisik manusia (Baca Posting; Mengungkap Misteri Tuhan). Dan spirit diartikan sebagai roh, ruh atau sukma. Roh bersifat suci (roh kudus/ruhul kuddus), tidak tercemar oleh “polusi” dan kelemahan-kelemahan duniawi. Karakter roh adalah berkiblat atau berorientasi kepada martabat kesucian Tuhan. Arti kata roh sangat berbeda dengan entitas jiwa (soul), hawa atau nafas (nafs), animus atau anemos (Yunani), dalam bahasa Jawa apa yang lazim disebut nyawa. Sekalipun berbeda istilah, tetapi memiliki makna yang nyaris sama.

 

Pertemuan Unsur Bumi dan Unsur Tuhan

 

Dalam tubuh manusia terdiri atas dua unsur besar yakni unsur bumi dan unsur Tuhan. Di antara kedua unsur tersebut  terdapat “bahan penyambung”, dalam literatur barat disebut soul atau jiwa (yang ini terasa kurang pas), Islam; nafs, Yunani; anemos, dan dalam bahasa Indonesia; hawa, Jawa; nyawa (badan alus). Hawa, jiwa, anemos, soul, atau nyawa merupakan satu entitas yang kira-kira tidak berbeda maknanya, berfungsi sebagai  media persentuhan atau “lem perekat” antara roh (spirit) dengan jasad (body/corpus). Hawa, nafs, anemos, soul, jiwa, nyawa bermakna sesuatu yang hidup (bernafas) yang ditiupkan ke dalam corpus (wadah atau bungkus).

Dalam khasanah hermeneutika dan bahasa yang ada di nusantara tampak simpang siur dan tumpang tindih dalam memaknai jiwa, sukma, roh, dan nyawa. Ini sekaligus membuktikan bahwa memahami unsur Tuhan dalam diri manusia memang tidak sederhana dan semudah yang disebutkan. Karena obyeknya bersifat gaib, bukan obyek material. Cara pandang dan penafsiran dari sisi yang berbeda-beda,  menimbulkan konsekuensi beragamnya makna yang kadang justru saling kontradiktif.  Dengan alasan tersebut akan saya paparkan lebih jelas pemetaan tentang jiwa atau hawa dari sudut pandang budi-daya yang diperoleh melalui berbagai pengalaman obyek metafisika, dan intuisi, agar lebih netral dan mudah dipahami oleh siapa saja tanpa membedakan latar belakang agama. Dengan asumsi tersebut diperlukan  perspektif yang sederhana namun mudah dipahami. Kami akan memaparkan melalui perspektif Javanism atau kejawen, dengan cara penulisan yang sederhana dan “membumi”.

 

Hubungan Unsur Tuhan dengan Unsur Bumi dalam Laku Prihatin

 

Setiap bayi lahir memiliki tingkat kesucian yang dapat diumpamakan sebagai kertas putih bersih. Kesucian berada dalam wahana nafs atau hawa yang masih bersih belum tercemar oleh “polusi” keduniawian. Hawa/nyawa/nafs diuji bolak-balik di antara dua kutub; yakni kutub jasmaniah yang berpusat di jasad (corpus) dan kutub ruhaniyah yang berpusat pada roh (spirit). Unsur roh bersifat suci dan tidak tersentuh oleh kelemahan-kelemahan material duniawi (dosa). Roh suci sebagai “utusan” Tuhan dalam diri manusia yang dapat membawa ketetapan/pedoman hidup. Sehingga roh dapat berperan sebagai obor yang memancarkan cahaya (spektrum) kebenaran dari Tuhan. Dalam perspektif Jawa roh suci (utusan Tuhan) tidak lain adalah apa yang disebut sebagai Guru Sejati. Guru Sejati tampil sebagai juru nasehat untuk hawa, jiwa atau nafs.

 

Hawa Nafsu ; Ibarat Satu Keping Mata Uang

 

Hawa (nafs) atau jiwa yang tunduk kepada roh suci (guru sejati) akan menghasilkan hawa (nafs) yang disebut nafsu positif –meminjam istilah Arab— sebagai an-nafs al-muthmainah.. Sebaliknya jiwa atau hawa yang tunduk pada keinginan jasad disebut sebagai nafsu negatif. Nafsu negatif terdiri tiga macam; nafsu lauwamah (kepuasan biologis; makan, minum, tidur dst), nafsu amarah (amarah/angkara murka), dan nafsu sufiyah (mengejar kenikmatan psikis; contohnya seks, sombong, narsism, gemar dipuji-puji). Hawa memiliki dua kutub nafsu yang bertentangan ibarat satu keping mata uang yang memiliki dua sisi. Akan tetapi kedua sisi tidak dapat dipisahkan atau dilihat secara berbarengan. Apabila kita ingin menampilkan gambar angka, maka letakkan nilai nominal di sisi atas, sebaliknya jika kita berkehendak melihat gambar burung kita letakkan gambar angka di bawah. Apabila seseorang mengaku bisa melihat kedua sisi satu keping mata uang dalam waktu yang sama, maka seseorang dikatakan berjiwa munafik alias kehidupan yang palsu hanya berdasarkan pengaku-akuan bohong.

 

Manusia Bebas Mencoblos Memilih

 

Pada setiap bayi lahir, Tuhan telah menciptakan hawa dalam keadaan putih/suci. Manusia memiliki kebebasan menentukan apakah hawa nafsunya akan berkiblat kepada kesucian yang bersumber pada roh suci (ruhul kuddus), atau sebaliknya ingin berkiblat kepada kemungkaran jasad/raga (unsur duniawi). Apabila seseorang berkiblat pada kemungkaran akan menjadi seteru Tuhan dan memiliki konsekuensi (dosa/karma/hukuman) yang akan dirasakan kelak setelah menemui ajal (akhirat), bisa juga dirasakan sewaktu masih hidup di dunia. Maka peranan semua agama yang ada di muka bumi adalah pendidikan yang ditujukan kepada hawa/nafs/jiwa manusia agar selalu berkiblat kepada rumus Tuhan atau qodratullah.  Sumber dari ilmu dan “rumus Tuhan” (qodratullah) bisa kita temukan dalam “perpustakaan” atau gudang ilmu yang terdekat dengan diri kita, yakni roh suci (Ruhul-Kuddus/Guru-Sejati/Sukma-Sejati/Rahsa-Sejati).

Kadang kala Tuhan Maha Pemurah menganugerahkan seseorang untuk mendapat “bocoran soal” akan rahasia “ilmu Tuhan” melalui pintu hati (qalb) yang di sinari oleh cahyo sejati (nurullah). Yang lazim disebut sebagai ungkapan dari (hati) nurani. Petunjuk dari Tuhan ini diartikan sebagai wirayat, wahyu, risalah, sasmita gaib, ilham, wisik dan sebagainya. Dalam posting ini kami tidak membahas model dan macam petunjuk Tuhan tersebut.

 

Laku Prihatin adalah Jihad Sejati

 

“Penundukan” roh terhadap hawa nafsu negatif adalah penundukkan terhadap segala yang berhubungan dengan material (syahwat) atau kenikmatan ragawi.  Dengan kata lain yakni penundukan unsur “Tuhan”  terhadap unsur bumi. Dalam ilmu Jawa dikatakan sebagai jiwa yang tunduk pada kareping rahsa / rasa sejati (kehendak Guru Sejati/kehendak Tuhan), serta meredam rahsaning karep (kemauan hawa nafsu negatif). Segenap upaya yang mendukung proses “penundukan” unsur Tuhan terhadap unsur bumi dalam khasanah Jawa disebut sebagai laku prihatin. Dengan laku prihatin, seseorang berharap jiwanya tidak dikendalikan oleh keinginan jasad. Maka di dalam khasanah spiritual Kejawen, laku prihatin merupakan syarat utama yang harus dilakukan seseorang menggapai tingkatan spiritualitas sejati. Seperti ditegaskan dalam serat Wedhatama (Jawa; Wredhotomo) karya KGPAA Mangkunegoro IV; bahwa ngelmu iku kalakone kanthi laku. Laku prihatin dalam istilah Arab sebagai aqabah, yakni jalan terjal mendaki dan sulit, karena seseorang yang menjalani laku prihatin harus membebaskan diri dari perbudakan syahwat dan hawa nafsu yang negatif. Di mana ia sebagai sumber kenikmatan keduniawian. Maka apa yang disebut sebagai Jihad yang sesungguhnya adalah perang tanding di medan perang dalam kalbu antara tentara Muslim nafsu positif melawan tentara Amerika nafsu negatif. Disebut kemenangan dalam berjihad apabila seseorang telah berhasil “meledakkan bom” di pusat kekuasaan setan (hawa nafsu negatif)  dalam hati kita.  “Bahan peledaknya” bernama C4 dan TNT laku prihatin dan olah batin (wara’ dan amr ma’ruf nahi munkar).

 

Target Utama dalam “Berjihad” (Laku Prihatin)

 

Perjalanan spiritual dalam bentuk laku prihatin, mempunyai target membentuk hawa nafsu positif atau nafsul muthmainnah. Karena si nafs atau hawa tersebut telah stabil dalam koridor rumus Tuhan  (qodrat atau qudrah diri) atau dalam bahasa sansekerta lazimnya  disebut sebagai swadharma. Roh yang berada pada tataran pencapaian ini, dalam bahasa Ibrani, ruh disebut sebagai syekinah yang diturunkan ke dalam kalbu dan berhasil merebut (amr) kebaikan (ma’ruf). Jika hawa tidak berdaya karena kuatnya arus nafsu negatif yang dimasukkan jasad lewat pintu panca  indera, maka kepribadian manusia dikuasai oleh “milisi” kekuatan batin yang oleh Freud diberi nama ego. Ego cenderung berkiblat pada jasad (duniawi). Maka sudah menjadi tugas hawa (id) untuk membangkang dari keinginan ego agar supaya membelot kepada kekuatan hawa positif (super ego). Hasilnya maka manusia dapat dikendalikan sesuai dengan kodrat dirinya sebagai khalifah Tuhan. Jadilah manusia yang tetap berada pada orbitNya (qodrat/rumus Tuhan), yakni apa yang dimaksud menjadi titah jalma menungsa kang sejati, yaiku nggayuh kasampurnaning gesang, (untuk meraih) sastra jendra hayuningrat pangruwating diyu.

Sangat terasa bahwa Tuhan sungguh lebih dari Maha Adil, setiap manusia tanpa kecuali dapat menemukan Tuhan melalui pintu nafs, jiwa, atau hawanya masing-masing, karena Tuhan telah membekali jiwa manusia akan kemampuan menangkap  sinyal-sinyal suci dari Hyang Mahasuci. Sinyal suci yang diletakkan di dalam rahsa sejati (sirullah) dan roh sejati (ruhullah). Sudah merupakan rumus (Tuhan), apabila seseorang dapat meraih dharma-nya atau kodrat-dirinya sebagai makhluk ciptaan Tuhan, maka kehidupannya akan selalu menemui kemudahan. Sebaliknya hawa nafsu negatif (setan) senantiasa menggoda hawa/nafs manusia agar supaya hawanya berkiblat kepada unsur bumi.

 

Menjadi Pribadi yang Menang

 

     Sepanjang hidup manusia selalu berada di dalam arena peperangan “Baratayudha/Brontoyudho” (jihad) antara kekuatan nafsu positif (Pendawa Lima) melawan nafsu negatif (100 pasukan Kurawa). Perang berlangsung di medan perang  yang bernama “Padang Kurusetra” (Kalbu). Peperangan yang paling berat dan merupakan sejatinya perang (jihad fi sabilillah) atau perang di jalan kebenaran.

     Kemenangan Pendawa Lima diraih  tidak mudah. Dan sekalipun kalah pasukan Kurawa 100 selamanya sulit dibrantas tuntas hingga musnah. Maknanya sekalipun hawa nafsu positif telah diraih, artinya hawa nafsu negatif (setan) akan selalu mengincar kapan saja si hawa lengah.  Kejawen mengajarkan berbagai macam cara untuk memenangkan peperangan besar tersebut. Di antaranya dengan laku prihatin untuk meraih kemenangan melalui empat tahapan yang harus dilaksanakan secara tuntas. Empat tahapan tersebut dikiaskan ke dalam nada suara salah instrumen Gamelan Jawa yang dinamakan Kempul atau Kenong dan Bonang yang menimbulkan bunyi; Neng, Ning, Nung, Nang.

 

1.     Neng; artinya jumeneng, berdiri, sadar atau bangun untuk melakukan tirakat, semedi, maladihening, atau mesu budi.  Konsentrasi untuk membangkitkan kesadaran batin, serta mematikan kesadaran jasad sebagai upaya menangkap dan menyelaraskan diri dalam frekuensi  gelombang Tuhan.

2.     Ning; artinya dalam jumeneng kita mengheningkan daya cipta (akal-budi) agar menyambung dengan daya rasa- sejati yang menjadi sumber cahaya nan suci. Tersambungnya antara cipta dengan rahsa akan membangun keadaan yang wening. Dalam keadaan “mati raga”  kita menciptakan keadaan batin (hawa/jiwa/nafs) yang hening, khusuk, bagai di alam “awang-uwung” namun  jiwa tetap terjaga dalam kesadaran batiniah. Sehingga  kita dapat menangkap sinyal gaib dari sukma sejati.

3.     Nung; artinya      kesinungan. Bagi siapapun yang melakukan Neng, lalu berhasil menciptakan Ning, maka akan kesinungan (terpilih dan pinilih) untuk mendapatkan anugrah agung dari Tuhan Yang Mahasuci. Dalam Nung yang sejati, akan datang cahaya Hyang Mahasuci melalui rahsa lalu ditangkap roh atau sukma sejati, diteruskan kepada jiwa, untuk diolah oleh jasad yang suci menjadi manifestasi perilaku utama (lakutama). Perilakunya selalu konstruktif dan hidupnya  selalu bermanfaat untuk orang banyak.

4.     Nang; artinya menang; orang yang terpilih dan pinilih (kesinungan), akan selalu terjaga amal perbuatan baiknya.  sehingga amal perbuatan baik yang tak  terhitung lagi akan menjadi benteng untuk diri sendiri. Ini merupakan buah kemenangan dalam laku prihatinKemenangan yang berupa anugrah, kenikmatan, dalam segala bentuknya serta meraih kehidupan sejati, kehidupan yang dapat memberi manfaat  (rahmat) untuk seluruh makhluk serta alam semesta. Seseorang akan meraih kehidupan sejati, selalu kecukupan, tentram lahir batin, tak bisa dicelakai orang lain, serta selalu menemukan keberuntungan dalam hidup (meraih ngelmu beja).

Neng adalah syariatnya, Ning adalah tarekatnya, Nung adalah hakekatnya, Nang adalah makrifatnya. Ujung dari empat tahap tersebut adalah kodrat (sastrajendra hayuning Rat pangruwating diyu).

 

sabdalangit

 

About these ads

About SABDå

gentleman, Indonesia Raya

Posted on Desember 22, 2008, in WIRID PURBA JATI : MENGENALI JATI DIRI (Hakekat Neng Ning Nung Nang) and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 108 Komentar.

  1. Pengen sekali mengenal sipenulis, mohon dgn sangat bgmn sy dpt informasi dr beliau, jika berkenan ini no hp saya….0811141580…..sebelumnya sy ucapkan beribu terima kasih.

  2. Ki……..Apakah jati diri semua manusia sama, atau setiap manusia (pribadi) punya jati diri masing-masing. Suksma

  3. nderek sharing (CP) mbah…..
    matur nuwun….

  4. mas, anda secara pribadi harus mengenal dulu Roh Kudus, anda belum menerima Babtisan Roh Kudus, jika anda ingin saya bersedia membimbing anda pada pengenalan akan Roh Kudus.

  5. mas sabdolangit…bagaimana konsep pasrah…sumarah mring kang gawe urip menurut ajaran kejawen agar bisa mendapatkan kedamaian hati…nuwun.

  6. setelah sekin lama saya hidup ternyata unsur tanahlah yg saya jalani,jdi sy dlm keadaan berkebalikan dari ki sabdo,ki sabdo tenang,tentram,rejeki lancar dan segudang kenikmatan lainnya,sedangkan saya takut,di kejar,diancam,dipukili dan segudang kengerian lainnya.dalam keadaan ini apa yg harus saya lakukan? kalau dipilih milih saya milih untuk tdk menjadi apa-apa.
    di satu sisi dari semua kengerian yang saya hadapi saya tdk perlu repot2 banyak belajar kitab seperti kang ts yang pintar,tapi saya sudah paham semua tulisan kang sabdo,mungkin neng,ning,nung,nang adalah jawaban untuk saya,apa benar?
    salam rahayu,sudah waktunya bersih-bersih rumput didepan gerbang istana yang akan di buka ko,bersihkan rumput itu…ini perintah.
    salah rahayu.eyang Drajat.

  7. Subhanallah….,article yang bagus .

  8. Allohu,hualloh..subhanalloh.. Elmu panjenengan gustii,,tertera disini..!!! Sulit,saangat sulit untuk dicerna..jati diriku blum juga kutemui,,hanya “kekosongan” aku?ada,,aku?tdk ada,,!!! Dibolak balek blum jg ketemu..(bapakku?? kata mbah,, bapakmu dulu tdk ada,,stelah itu ada,,stelah meninggal bapak tdk ada lagi,,lalu dmana&sperti apa..bapak??pdahal dsaat bapak msih ad,yg kulihat hnyalah jasadnya,,sdgkan ruhnxa bapak,, aku belum pernah tau..sama sperti jati diriku yg belum aku ketahui..?? (Billah) laailaahaillalloh….

  9. rohman nuryadin

    alhamdulillah,matur kesuwun,sabda langit,mga
    manfaat tuk skalian umat,amin…

  10. MANDALAJATI NISKALA
    Seorang Filsuf Sunda Abad 21
    Menjelaskan Dalam Buku
    SANG PEMBAHARU DUNIA
    DI ABAD 21,
    Mengenai
    HAKEKAT DIRI

    Salah seorang peneliti Sunda yang sedang menulis buku
    “SANG PEMBAHARU DUNIA DI ABAD 21,
    bertanya kepada Mandalajati Niskala:
    “Apa yang anda ketahui satu saja RAHASIA PENTING mengenai apa DIRI itu? Darimana dan mau kemana?
    Jawaban Mandalajati Niskala:
    “Saya katakan dengan sesungguhnya bahwa pertanyaan ini satu-satunya pertanyaan yang sangat penting dibanding dari ratusan pertanyaan yang anda lontarkan kepada saya selama anda menyusun buku ini.
    Memang pertanyaan ini sepertinya bukan pertanyaan yang istimewa karena kata “DIRI” bukan kata asing dan sering diucapkan, terlebih kita beranggapan diri dimiliki oleh setiap manusia, sehingga mudah dijawab terutama oleh para akhli.
    Kesimpulan para Akhli yang berstandar akademis mengatakan BAHWA DIRI ADALAH UNSUR DALAM DARI TUBUH MANUSIA.
    Pernyataan semacam ini hingga abad 21 tidak berubah dan tak ada yang sanggup menyangkalnya. Para Akademis Dunia Barat maupun Dunia Timur banyak mengeluarkan teori dan argumentasi bahwa diri adalah unsure dalam dari tubuh manusia. Argumentasi dan teori mereka bertebaran dalam ribuan buku tebal. Kesimpulan akademis telah melahirkan argumentasi Rasional yaitu argumentasi yang muncul berdasarkan “Nilai Rasio” atau nilai rata-rata pemahaman Dunia Pendidikan.
    Saya yakin Andapun sama punya jawaban rasional seperti di atas.
    Tentu anda akan kaget jika mendengar jawaban saya yang kebalikan dari teori mereka.
    Sebelum saya menjawab pertanyaan anda, saya ingin mengajak siapapun untuk menjadi cerdas dan itu dapat dilakukan dengan mudah dan sederhana.
    Coba kita mulai belajar melacak dengan memunculkan beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan kata DIRI, JIWA dan BADAN, agar kita dapat memahami apa DIRI itu sebenarnya. Beberapa contoh pertanyaan saya susun seperti hal dibawah ini:
    1)Apa bedanya antara MEMBERSIHKAN BADAN, MEMBERSIHKAN JIWA dan MEMBERSIHKAN DIRI?
    2)Apa bedanya KEKUATAN BADAN, KEKUATAN JIWA dan KEKUATAN DIRI?
    3)Kenapa ada istilah KESADARAN JIWA dan KESADARAN DIRI sedangkan istilah KESADARAN BADAN tidak ada?
    4)Kenapa ada istilah SEORANG DIRI tetapi tidak ada istilah SEORANG BADAN dan SEORANG JIWA?
    5)Kenapa ada istilah DIRI PRIBADI sedangkan istilah BADAN PRIBADI tidak ada, demikian pula istilah JIWA PRIBADI menjadi rancu?
    6)Kenapa ada istilah KETETAPAN DIRI dan KETETAPAN JIWA tetapi tidak ada istilah KETETAPAN BADAN?
    7)Kenapa ada istilah BERAT BADAN tetapi tidak ada istilah BERAT JIWA dan BERAT DIRI?
    8)Kenapa ada istilah BELA DIRI sedangkan istilah BELA JIWA dan BELA BADAN tidak ada?
    9)Kenapa ada istilah TAHU DIRI tetapi tidak ada istilah TAHU BADAN dan TAHU JIWA?
    10)Kenapa ada istilah JATI DIRI sedangkan istilah JATI BADAN dan JATI JIWA tidak ada?
    11)Apa bedanya antara kata BER~BADAN, BER~JIWA dan BER~DIRI?
    12)Kenapa ada istilah BER~DIRI DENGAN SEN~DIRI~NYA tetapi tidak ada istilah BER~BADAN DENGAN SE~BADAN~NYA dan BER~JIWA DENGAN SE~JIWA~NYA?
    13)Kenapa ada istilah ANGGOTA BADAN tetapi tidak ada istilah ANGGOTA JIWA dan ANGGOTA DIRI?
    Beribu pertanyaan seperti diatas bisa anda munculkan kemudian anda renungkan. Saya jamin anda akan menjadi faham dan cerdas dengan sendirinya, apalagi jika anda hubungkan dengan kata yang lainnya seperti; SUKMA, RAGA, HATI, PERASAAN, dsb.
    Kembali kepada pemahaman Akhli Filsafat, Ahli Budaya, Akhli Spiritual, Akhli Agama, Para Ulama, Para Kyai dan masyarakat umum BAHWA DIRI ADALAH UNSUR DALAM DARI TUBUH MANUSIA. Mulculnya pemahaman para akhli seperti ini dapat saya maklumi karena mereka semuah adalah kaum akademis yang menggunakan standar kebenaran akademis.
    Saya berani mengetasnamakan Sunda, bahwa pemikiran di atas adalah SALAH.
    Dalam Filsafat Sunda yang saya gali, saya temukan kesimpulan yang berbeda dengan pemahaman umum dalam dunia ilmu pengetahuan.
    Setelah saya konfirmasi dengan cara tenggelam dalam “ALAM DIRI”, menemukan kesimpulan BAHWA DIRI ADALAH UNSUR LUAR DARI TUBUH MANUSIA. Pendapat saya yang bertentangan 180 Derajat ini, tentu menjadi sebuah resiko yang sangat berat karena harus bertubrukan dengan Pendapat Para Akhli di tataran akademik.
    Saya katakan dengan sadar ‘Demi Alloh. Demi Alloh. Demi Alloh’ saya bersaksi bahwa diri adalah UNSUR LUAR dari tubuh manusia yang masuk menyeruak, kemudian bersemayam di alam bawah sadar. ‘DIRI ADALAH ENERGI GAIB YANG TIDAK BISA TERPISAHKAN DENGAN SANG MAHA TUNGGAL’. ‘DIRI MENYERUAK KE TIAP TUBUH MANUSIA UNTUK DIKENALI SIAPA DIA SEBENARNYA’. ‘KETAHUILAH JIKA DIRI TELAH DIKENALI MAKA DIRI ITU DISERAHTERIKAN KEPADA KITA DAN HILANGLAH APA YANG DINAMAKAN ALAM BAWAH SADAR PADA SETIAP DIRI MANUSIA’.
    Perbedaan pandangan antara saya dengan seluruh para akhli di permukaan Bumi tentu akan dipandang SANGAT EKSTRIM. Ini sangat beresiko, karena akan menghancurkan teori ilmu pengetahuan mengenai KEBERADAAN DIRI.
    Aneh sekali bahwa yang lebih memahami mengenai diri adalah Dazal, namun sengaja diselewengkan oleh Dazal agar manusia sesat, kemudian Dazal menebarkan kesesatan tersebut pada dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan ‘DI UFUK BARAT’ maupun ‘DI UFUK TIMUR’.
    Sebenarnya sampai saat ini DAZAL SANGAT MEMAHAMI bahwa DIRI adalah unsur luar yang masuk menyeruak pada seluruh tubuh manusia. DIRI merupakan ENERGI KEMANUNGGALAN DARI TUHAN SANG MAHA TUNGGAL. Oleh karena pemahaman tersebut DAZAL MENJADI SANGAT MUDAH MENGAKSES ILMU PENGETAHUAN. Salah satu ilmu yang Dia pahami secara fasih adalah Sastra Jendra Hayu Ningrat Pangruwating Diyu. Ilmu ini dibongkar dan dipraktekan hingga dia menjadi SAKTI. Dengan kesaktiannya itu Dia menjadi manusia “Abadi” dan mampu melakukan apapun yang dia kehendaki dari dulu hingga kini. Dia merancang tafsir-tafsir ilmu dan menyusupkannya pada dunia pendidikan agar manusia tersesat. Dia tidak menginginkan manusia mamahami rahasia ini. Dazal dengan sangat hebatnya menyusun berbagai cerita kebohongan yang disusupkan pada Dunia Ilmu Pengetahuan, bahwa cerita Dazal yang paling hebat agar dapat bersembunyi dengan tenang, yaitu MENGHEMBUSKAN ISU bahwa Dazal akan muncul di akhir jaman, PADAHAL DIA TELAH EKSIS MENCENGKRAM DAN MERUSAK MANUSIA BERATUS-RATUS TAHUN LAMANYA HINGGA KINI.
    Ketahuilah bahwa Dazal bukan akan datang tapi Dazal akan berakhir, karena manusia saat ini ke depan akan banyak yang memahami bahwa DIRI merupakan unsur luar dari tubuh manusia YANG DATANG MERUPAKAN SIBGHOTALLOH DARI TUHAN SANG MAHA TUNGGAL. Sang Maha Tunggal keberadaannya lebih dekat dari pada urat leher siapapun, karena Sang Maha Tunggal MELIPUT SELURUH JAGAT RAYA dan kita semua berada TENGGELAM “Berenang-renang” DALAM LIPUTANNYA.
    Inilah Filsafat Sunda yang sangat menakjubkan.
    Perlu saya sampaikan agar kita memahami bahwa Sunda tidak bertubrukan dengan Islam, saya temukan beberapa Firman Allohurabbul’alamin dalam Al Qur’an yang bisa dijadikan pijakan untuk bertafakur, mudah-mudahan semua menjadi faham bahwa DIRI adalah “UNSUR KETUHANAN” yang masuk ke dalam tubuh manusia untuk dikenali dan diserah~terimakan dari Sang Maha Tunggal sebagai JATI DIRI, sbb:
    1)Bila hamba-hambaku bertanya tentang aku katakan aku lebih dekat (Al Baqarah 2:186)
    2)Lebih dekat aku daripada urat leher (Al Qaf 50:16)
    3)Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kami disegenap penjuru dan pada nafasmu sendiri (Fushshilat 41:53)
    4)Dzat Allah meliputi segala sesuatu (Fushshilat 41:54)
    5)Dia (Allah) Bersamamu dimanapun kamu berada (Al Hadid 57:4)
    6)Kami telah mengutus seorang utusan dalam nafasmu (AT-TAUBAH 9:128)
    7)Di dalam nafasmu apakah engkau tidak memperhatikan (Adzdzaariyaat 51:21)
    8)Tuhan menempatkan DIRI antara manusia dengan qolbunya (Al Anfaal 8:24)
    9)Aku menciptakan manusia dengan cara yang sempurna (At Tin 95:4)
    Jawaban mengenai APA DIRI ITU. DARIMANA & MAU KEMANA (Sangkan Paraning Dumadi), akan saya jelaskan secara rinci dan tuntas pada sebuah buku

  11. ”Semakin aku tersadar akan diri-ku maka semakin aku terlupa akan diri-ku dan semakin aku terlupa akan diri-ku maka semakin aku tersadar akan diri-ku, semakin aku waras maka semakin aku gila dan semakin aku gila maka semakin aku waras”
    ”Dunia ini di liputi sifat mendualisme, ada sisi positif maka ada sisi negatif, ada sisi negatif maka ada sisi positif. Tidak di dunia ini entah itu benda mati atau benda hidup yg tidak memiliki sifat mendualisme”

    Tepatlah apa yg di katakan oleh orang islam yg arif dan bijaksana itu yg berbunyi, bahwa; apa yg mereka katakan mungkin ada salahnya akan tetapi mungkin juga ada benarnya dan apa yg aku katakan mungkin ada benarnya akan tetapi mungkin juga ada salahnya.

    ”Janganlah di antara kalian ada yg membenarkan atau menyalahkan siapapun itu dan apapun itu akan tetapi petiklah sebuah pelajaran dari siapapun itu dan apapun itu”

    by;manusia ngak jelas

  12. Manusia adalah serangga dunia, cenderung merusak keindahan alam. Demi kepuasan dirinya. Memperkaya dirinya. Itulah manusia yg belum ketemu tuhannya. Manusia yg tidak menjaga indahnya alam lingkungannya.

    Manusia mulia, bila tahu dia berbakat serangga utk dunia.
    Karena tahu, dia mengendalikannya.
    Dia memperkuat sifat manusia yg mulia.
    Manusia mulia, hanya satu perbutan. Dia ingin menjaga dan bermanfaat dlm konteks mengabadikan keindahan alam lingkungannya.
    Dalam berbagai strata hidup dan strata ekonominya. Menjaga hijau elok bumi seisinya

    Agama, isme, ideologi, aliran aliran…
    Adalah media manusia utama pd masa lalu utk menyadarkan manusia untuk mencintai bumi langit seisinya.

    Sehingga,
    Siapapun apapun kita yg sdh pernah merasakan nikmatnya air, sayur, dll dari tanah air indonesia wajib menghormati tanah air kita. Kita jaga, kita sayang, tdk mengeploatasi habis habisan. Kita jaga !

    Bangsa asing kompatriot asing yg sdh menyusu habis habisan dari kekayaan alam indonesia. Wajib sharing kemakmuran kembali…
    Yg sdh menerima banyak kekayaan alam indonesia, wajib mengembalikan…………

    Final nang, ning, neng, nung, nong…

    Menyadarkan kita hidup dari siapa…kita berasal dari mana….
    Intinya sayangilah…ibu bpk, kakek nenek dan sterusnya
    Sayangilag sumber dari sumber hidup manusia , yaitu : bumi, udara, air, hutan, gunung, sungai dan semua yg bisa kau pangang dgn mata..sayangilah dan jagalah, peliharalah.

    Bisa kau pandang dgn mata hati….llewat tuntunan jawa inggil, agama yg sdh menghormati ajaran asli nusantara…bisa mempertajam mata hati.

    Keep smile, suka menolong, mencintai tanah air, negeri, bangsa sendiri.
    Santun laku, bahsa, menebarkan perdamaian dl berstemennt maupun kebijaksanaan.
    Berpijak membela tanah airnya
    Mengelola simber daya alam negeri sendiri oleh, untuk bangsa dan negeri sendiri.

    Itulah point penting ber nang, ning, nung, neng, gung..

    Jadi priyAntun agung……cinta tanah air sendiri, merasa memiliki menyanyangi, dan berani bela tanah air negeri sendiri…

    Ini sekleumit yg bisa kita sampaikan..semoga kita jadi manusia yg mulia, agung perilakunya.

  13. Hollaa spam..thats suara hati…come from . . . .

  14. Kenny Atmawijaya

    Sebuah kajian yang sangat persfektif ,dalam penyajian yang sederhana namun sangat effektif untuk difahami merupakan encouraging teaching methode. Semoga pengamalan ilmu bagi sesama umat ini membawa berkah sehingga mampu merubah peri laku manusia pada umumnya dan para pemimpin khususnya sehingga tercapai kehidupan yang harmonis…damai…amiiin YRA…
    Selamat semoga mendapatkan kenikmatan pahala dari berbagi ilmu ini success !

  15. Cukup dgn mempelajari/memiliki kaweruh kaluhuran sejati”ilmu asal bayi/manusia ..ilmu kuntu wekasing Roso ” semua akan terjawab,,dari mana sblm anda ada,untuk apa anda ada ,kemana tujuan anda,dari apa anda tercipta,kapan,?inti Sukmo sejati,Roso sejati dan sejatining urip..yang hanya dpat dikupas dlm ilmnu sejati(sebenar2nya ilmu) tidak lebih dan tidak kurang..tp benar2 sejati..insya Allah akan terjawab,tdk berbelit2 dan sulit dipahami cm penjelasan..tp tdk memiliki kalimah kaweruh yg khusus ttp sj tdk akan sempurna,cm teori..,sesungguhnya setelah anda pahami dan memiliki anda akan lbh mrasa paham akan sejatining urip yg berrti sdh memahami sukmo sejati,roso sejati,guru sejati..,dan usahakanlah berlku sperti ” wahyu pakem pakuto romo hambek asto broto wolong perkoro”.Bahwono ,Bantolo,Tirto,Samirono,Dahono,Kartiko,Condro,Rahdio..”8 sifat Alam yg jg merupakan bopo guru sejati yg akan mengajarimu menemukan kejaten diri..dlm menemukan sejatining urip. Pelajarilah ilmu ampuh dan sepuh Kuntu wekasing Roso ..anda akan paham asaling saking dumadi,, dr sir hingga wangsul sangking asaling dumadi.. Sempurna..asal ora ono mbalik ora ono..wangsul dateng asalipun..pelajarilah (cm saran sebagai bahan per imbangan kaweru leluhur)..agar hidup itu tdk kuper dlm menyingkapi pemahaman yg dimksud sejati..krn semua itu ada dasarnya..

  16. dorong???

  17. Benang merahnya…adalah pembelajaran bagaimana memahami:
    Tuhan Yang Maha Suci itu…Ya Quddus

  18. @TS
    Inti Zat Tuhan dalam diri manusia itu ya Ruh Qudus/ Sukma Sejati/ Sirrullah

    kalo Ruh itu berasal dari Abu Ruh/ Nur Muhammad yang diciptakan Allah

    Dan Kami tiupkan padanya “Ruh” dari Kami..

    Dan Kami kuatkan dia (Isa al-Masih) dengan Ruhul Qudus (Ruh yang Maha Suci)..

  19. Lilttle baby

    Inti Zat Tuhan dalam diri manusia itu ya Ruh Qudus/ Sukma Sejati/ Sirrullah

    kalo Ruh itu berasal dari Abu Ruh/ Nur Muhammad yang diciptakan Allah

    Dan Kami tiupkan padanya “Ruh” dari Kami..

    Dan Kami kuatkan dia (Isa al-Masih) dengan Ruhul Qudus (Ruh yang Maha Suci)..
    ——————————————————————————————————

    “Ruh” dari Kami..bukannya “Ruh kami”…

    seperti hal nya Rezki dari kami…bukannya Rezki kami…

  20. TERBUKA HIJAB

    He he he
    Dan manusia Jawa lama yg mengajarkan manusia utk sayang pada SEMUANYA
    … Lho…

    Iqro’
    Bahasanya bgs arab mengatakan bahasa Allah….nas nas, him him, kembar konsonan akhir
    Manuskrip kita sdh bisa kembar konsonan awal tengah akhir
    Alif lam mim…eh enteng : alami
    Kitabullah iku sejatine : kitab bumi langit ” lahir saksisine ” yaiku kitab teles….99999999999999999999999999999999999999999999970 jus lebih

    Salam dari Gunung , ardi Nusantara, swarnajawdwipa, bumi swarga, nirwana

    NGAPUNTEN @ little baby
    Don’t nguyahi samudera, segara njih
    Ngapunten, hindari kelblinger.
    Menejadi wong Jawa kang utuh, dahar, minum, buang air, tidur hidup dari mineral Nusantara, pelajari original way of life Negeri sendiri ”
    Semua pembawa agama dulu cuman nunut hidup, numpang urip disini..eyang kita raja raja yang berbaik hati.
    Now
    ” di wenehi ati ngrogoh rempelo, actionnya kaya ” kere munggah bale ”
    Bumi. Island surga dirusak dieksploatasi hanya utk memperbesar ATM , itulah setan sejati, iblis sejati.
    Manusia ber Jawa, hidup sederhana, santun, menghormati semuanya karena hidupnya hanya untuk menyambung nyawa, menjaga raga titipan dan tahu betul difungsikan hanya utk menjaga, menghormat, memelihara bumi langit lahir seisinya ini.
    Untuk itulah bil hal, gelar Hamngkubuwana ada, hamangku rat ada, mangkunegara ada
    Untuk itu ilmu
    :
    Itulah laku , bilhal, ibadah, pengabdian Jawa
    :
    Hidup untuk menjaga tanah air tercinta, negara, dan allam semua
    Bisa
    Kalau anda sudah tahu, lampah Jawa sebenar2 nya.

    Perusak tuntunan manusia yang manunggal rasa, dan hidup utk menjaga allam itu adalah tuntunan dari bumi gersang, neraka sejati.

    Damailah dunia, semoga kita sadr betul
    Semoga hijab kita terbuka
    Ratusan tahun sudah bersabar
    Tamu wajib hormat tuan rumah

    Tuan rumah adalah
    : Jawa, Nusantara, Indonesia.

  1. Ping-balik: - Are You Riled Up? - » Blog Archive » Mengenali Jati Diri; Hakekat Neng, Ning , Nung, Nang « Sabdalangit …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 897 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: