TANDA-TANDA PENCAPAIAN Neng Ning Nung Nang
TANDA-TANDA PENCAPAIAN NENG, NING, NUNG, NANG
TINGKAT 1 (Neng; sembah raga)
Jumeneng; menjalankan “syariat”. Namun makna syariat di sini mempunyai dimensi luas. Yakni dimensi “vertikal” individual kepada Tuhan, maupun dimensi sosial “horisontal” kepada sesama makhluk. Neng, pada hakekatnya sebatas melatih dan membiasakan diri melakukan perbuatan yang baik dan bermanfaat untuk diri pribadi, dan lebih utama untuk sesama tanpa pilih kasih. Misalnya seseorang melaksanakan sembahyang dan manembah kepada Tuhan dengan cara sebanyak nafasnya, guna membangun sikap eling dan waspadha. Neng adalah tingkat dasar, barulah setara “sembah raga” misalnya menyucikan diri dengan air, mencuci badan dengan cara mandi, wudlu, gosok gigi, upacara jamasan, tradisi siraman dsb. Termasuk mencuci pakaian dan tempat tinggal. Orang dalam tingkat “neng”, menyebut dan “menyaksikan” Tuhan barulah melalui pernyataan dan ucapan mulut saja. Kebaikan masih dalam rangka MELATIH diri mengendalikan hawa nafsu negatif, dengan bermacam cara misalnya puasa, semadi, bertapa, mengulang-ulang menyebut nama Tuhan dll. Melatih diri mengendalikan hawa nafsu agar bersifat positif dengan cara misalnya sedekah, amal jariah, zakat, gotong royong, peduli kasih, kepedulian sosial dll. Melatih diri untuk menghargai dan mengormati leluhur, dengan cara ziarah kubur, pergi haji, mengunjungi situs-situs sejarah, belajar dan memahami sejarah, dst. Melatih diri menghargai dan menjaga alam semesta sebagai anugrah Tuhan, dengan cara upacara-upacara ritual, ruwatan bumi, larung sesaji, dst. Tahapan ini dilakukan oleh raga kita, namun BELUM TENTU melibatkan HATI dan BATIN kita secara benar dan tepat.
Kehidupan sehari-harinya dalam rangka latihan menggapai tataran lebih tinggi, artinya harus berbuat apa saja yg bukan perbuatan melawan rumus Tuhan. Tidak hanya berteori, kata kitab, kata buku, menurut pasal, menurut ayat dst. Namun berusaha dimanifestasikan dalam perilaku dan perbuatan kehidupan sehari-hari. Perbuatannya mencerminkan perilaku sipat zat (makhluk) yang selaras dengan sifat hakekat (Tuhan). Tanda pencapaiannya tampak pada SOLAH. Solah artinya perilaku atau perbuatan jasadiah yang tampak oleh mata misalnya; tidak mencelakai orang lain, perilaku dan tutur kata menentramkan, sopan dan santun, wajah ramah, ngadi busana atau cara berpakaian yang pantas dan luwes menghargai badan. Akan tetapi perilaku tersebut belum tentu dilakukan secara sinkron dengan BAWA-nya. BAWA yakni “perilaku” batiniah yang tidak tampak oleh mata secara visual.
Titik Lemah
Pada tataran awal ini meskipun seseorang seolah-olah terkesan baik namun belum menjamin pencapaian tataran spiritual yang memadai, dan belum tentu diberkahi Tuhan. Sebab seseorang melakukan kebaikan terkadang masih diselimuti rahsaning karep atau nafsu negatif; rasa ingin diakui, mendapat nama baik atau pujian. Bahkan seseorang melakukan suatu kebaikan agar kepentingan pribadinya dapat terwujud. Maka akibat yang sering timbul biasanya muncul rasa kecewa, tersinggung, marah, bila tidak diakui dan tidak mendapat pujian. Kebaikan seperti ini boleh jadi bermanfaat dan mungkin baik di mata orang lain. Akan tetapi dapat diumpamakan belum mendapat tempat di “hati” Tuhan. Kredit point nya masih nihil. Banyak orang merasa sudah berbuat baik, beramal, sodaqah, suka menolong, membantu sesama, rajin doa, sembahyang. Tetapi sering dirundung kesialan, kesulitan, tertimpa kesedihan, segala urusannya mengalami kebuntuan dan kegagalan. Lantas dengan segera menyimpulkan bahwa musibah atau bencana ini sebagai cobaan (bagi orang-orang beriman).
Pada tataran ini, seseorang masih rentan dikuasai nafsu ke-aku-an (api/nar/iblis). Diri sendiri dianggap tahu segala, merasa suci dan harus dihormati. Siapa yang berbeda pendapat dianggap sesat dan kafir. Konsekuensinya; bila memperdebatkan (kulit luarnya) ia menganggap diri paling benar dan suci, lantas muncul sikap golek benere dewe, golek menange dewe, golek butuhe dewe. Ini sebagai ciri seseorang yang belum sampai pada intisari ajaran yang dicarinya. Durung becus keselak besus !
TINGKAT 2 (Ning; sembah kalbu)
Wening atau hening; ibarat mati sajroning urip; kematian di dalam hidup. Tataran ini sepadan dengan tarekat. Menggambarkan keadaan hati yang selalu bersih dan batinnya selalu eling lan waspadha. Eling adalah sadar dan memahami akan sangkan paraning dumadi (asal usul dan tujuan manusia) yang digambarkan sebagai “kakangne mbarep adine wuragil” (lihat dalam posting; Saloka Jati). Waspadha terhadap apa saja yang dapat menjadi penghalang dalam upaya “menemukan” Tuhan (wushul). Yakni penghalang proses penyelarasan kehidupan sehari-hari (sifat zat) dengan sifat hakekat (Tuhan). Ning dicapai setelah hati dapat dilibatkan dalam menjalankan ibadah tingkat awal atau Neng; yakni hati yg ikhlas dan tulus, hati yang sudah tunduk dan patuh kepada sukma sejati yang suci dari semua nafsu negatif. Hati semacam ini tersambung dengan kesadaran batin maupun akal budi bahwa amal perbuatan bukan semata-mata mengaharap-harap upah (pahala) dan takut ancaman (neraka). Melainkan kesadaran memenuhi kodrat Tuhan, serta menjaga keharmonisan serta sinergi aura magis antara jagad kecil (diri pribadi) dan jagad besar (alam semesta). Tataran ini dicapai melalui empat macam bertapa; tapa ngeli, tapa geniara, tapa banyuara, tapa mendhem atau ngluwat.
1. Tapa ngeli; harmonisasi vertikal dan horisontal. Yakni berserah diri dan menselaraskan dengan kehendak Tuhan. Lalu mensinergikan jagad kecil (manusia) dengan jagad besar (alam semesta).
2. Tapa geniara; tidak terbakar oleh api (nar) atau nafsu negatif yakni ke-aku-an. Karena ke-aku-an itu tidak lain hakekat iblis dalam hati.
3. Tapa banyuara; mampu menyaring tutur kata orang lain, mampu mendiagnosis suatu masalah, dan tidak mudah terprovokasi orang lain. Tidak bersikap reaksioner (ora kagetan), tidak berwatak mudah terheran-heran (ora gumunan).
4. Tapa mendhem; tidak membangga-banggakan kebaikan, jasa dan amalnya sendiri. Terhadap sesama selalu rendah hati, tidak sombong dan takabur. Sadar bahwa manusia derajatnya sama di hadapan Tuhan tidak tergantung suku, ras, golongan, ajaran, bangsa maupun negaranya. Tapa mendhem juga berarti selalu mengubur semua amal kebaikannya dari ingatannya sendiri. Dengan demikian seseorang tidak suka membangkit-bangkit jasa baiknya. Kalimat pepatah Jawa sbb: tulislah kebaikan orang lain kepada Anda di atas batu, dan tulislah kebaikan Anda pada orang lain di atas tanah agar mudah terhapus dari ingatan.
Titik Lemah
Jangan lekas puas dulu bila merasa sudah sukses menjalankan tataran ini. Sebab pencapaian tataran kedua ini semakin banyak ranjau dan lobang kelemahan yang kapan saja siap memakan korban apabila kita lengah. Penekanan di sini adalah pentingnya sikap eling dan waspadha. Sebab kelemahan manusia adalah lengah, lalai, terlena, terbuai, merasa lekas puas diri. Tataran kedua ini melibatkan hati dalam melaksanakan segala kebaikan dalam perbuatan baik sehari-hari. Yakni hati harus tulus dan ikhlas. Namun..ketulusan dan keikhlasan ini seringkali masih menjadi jargon, karena mudah diucapkan oleh siapapun, sementara pelaksanaannya justru keteteran. Dalam falsafah hidup Kejawen, setiap saat orang harus selalu belajar ikhlas dan tulus setiap saat sepanjang usia. Belajar ketulusan merupakan mata pelajaran yang tak pernah usai sepanjang masa. Karena keberhasilan Anda untuk tulus ikhlas dalam tiap-tiap kasus belum tentu berhasil sama kadarnya. Keikhlasan dipengaruhi oleh pihak yang terlibat, situasi dan kondisi obyektifnya, atau situasi dan kondisi subyek mental kita saat itu.
TINGKAT 3 (Nung; sembah cipta)
Kesinungan ; yakni dipercaya Tuhan untuk mendapatkan anugrah tertentu. Orang yang telah mencapai tataran Kesinungan dialah yang mendapatkan “hadiah” atas amal kebaikan yang ia lakukan. Ini mensyaratkan amal kebaikan yang memenuhi syarat, yakni kekompakan serta sinkronisasi lahir dan batin dalam mewujudkan segala niat baik menjadi tindakan konkrit. Yakni tindakan konkrit dalam segala hal yang baik misalnya membantu & menolong sesama. Syarat utamanya; harus dilakukan terus-menerus hingga menyatu dalam prinsip hidup, dan tanpa terasa lagi menjadi kebiasaan sehari-hari.
Pencapaian tataran ini sama halnya laku hakekat. Laku hakekat adalah meliputi keadaan hati dan batin; sabar, tawakal, tulus, ikhlas, pembicaraannya menjadi kesejatian (kebenaran), yang sejati menjadi kosong, hilang lenyap menjadi ada. Tataran ini ditandai oleh pencapaian kemuliaan yang sejati, seseorang mendapatkan kebahagiaan dan kemuliaan di dunia dan kelak setelah ajal. Pada tahap ini manusia sudah mengenal akan jati dirinya dan mengenal lebih jauh sejatinya Tuhan. Manusia yang telah lebih jauh memahami Tuhan tidak akan berfikir sempit, kerdil, sombong, picik dan fanatik. Tidak munafik dan menyekutukan Tuhan. Ia justru bersikap toleran, tenggang rasa, hormat menghormati keyakinan orang lain. Sikap ini tumbuh karena kesadaran spiritual bahwa ilmu sejati, yang nyata-nyata bersumber pada Yang Maha Tunggal, hakekatnya adalah sama. Cara atau jalan mana yang ditempuh adalah persoalan teknis. Banyaknya jalan atau cara menemukan Tuhan merupakan bukti bahwa Tuhan itu Mahaluas tiada batasnya. Ibarat sungai yang ada di dunia ini jumlahnya sangat banyak dan beragam bentuknya; ada yang dangkal, ada yang dalam, berkelok, pendek dan singkat, bahkan ada yang lebar dan berputar-putar. Toh semuanya akan bermuara kepada Yang Tunggal yakni “samudra luas”.
NAH, orang seperti ini akan “menuai” amal kebaikannya. Berkat rumus Tuhan di mana kebaikan akan berbuah kebaikan pula. Kebaikan yg anda berikan, “buahnya” akan anda terima pula. Namun demikian kebaikan yang anda terima belum tentu datang dari orang yang sama, malah biasanya dari pihak lainnya. Kebaikan yang anda peroleh itu merupakan “buah” dari “pohon kebaikan” yang pernah anda tanam sebelumnya. Selebihnya, kebaikan yang anda lakukan akan menjadi pagar gaib yang selalu menyelimuti diri anda. Singkat kata, pencapaian Nung, ditandai dengan diperolehnya kemudahan dan hikmah yang baik dalam segala urusan. Pagar gaib itu akan membuat kita tidak dapat dicelakai orang lain. Sebaliknya selalu mendapatkan keberuntungan. Dalam terminologi Jawa inilah yang disebut sebagai “ngelmu beja”.
Untuk meraih tataran ini, terlebih dahulu kita harus mengenal jati diri secara benar. Dalam diri manusia setidaknya terdapat 7 lapis bumi yang harus diketahui manusia. Jika tidak diketahui maka menjadi manusia cacad dan akan gagal mencapai tataran ini. Bumi 7 lapis tersebut adalah ; retna, kalbu, jantung, budi, jinem, suksma, dan ketujuhnya yakni bumi rahmat.
1. Bumi Retna; jasad dan dada manusia sesungguhnya istana atau gedung mulia.
2. Bumi Kalbu; artinya istana iman sejati.
3. Bumi Jantung; merupakan istana semua ilmu.
4. Bumi budi; artinya istana puji dan zikir.
5. Bumi Jinem; istananya kasih sayang sejati.
6. Bumi suksma; yakni istana kesabaran dan rasa sukur kepada Tuhan; sukma sejati.
7. Bumi Rahmat; istana rasa mulia; rahsa sejati.
Titik Lemah
Nung, setara dengan Hakekat, di sini ibarat puncak kemuliaan. Semakin tinggi tataran spiritual, maka sedikit saja godaan sudah dapat menggugurkan pencapaiannya. Maka, semakin tinggi puncak dan kemuliaan seseorang ; maka semakin besar resiko tertiup angin dan jatuh. Seseorang yang merasa sudah PUAS dan BANGGA dengan pencapaian hakekat ini bersiko terlena. Lantas menganggap orang lain remeh dan rendah. Yang paling berbahaya adalah menganggap tataran ini merupakan tataran tertinggi sehingga orang tidak perlu lagi berusaha menggapai tataran yang lebih tinggi.
Tingkat 4 (Nang; sembah rahsa)
Nang merupakan kemenangan. Kemenangan adalah anugrah yang anda terima. Yakni kemenangan anda dari medan perang. Perang antara nafsu negatif dengan positif. Kemenangan NUR (cahya sejati nan suci) mengalahkan NAR (api; ke-aku-an/”iblis”). Manusia NAR adalah seteru Tuhan (iblis laknat). SEBALIKNYA; manusia NUR adalah memenuhi janji atas kesaksian yg pernah ia ucapkan di mulut dan hati. Manusia NUR memenuhi kodratnya ke dalam kodrat Ilahi, sipat zat yg mengikuti sifat hakekat, menselaraskan gelombang batin manusia dengan gelombang energi Tuhan. Sifat zat (manusia) menyatu dengan sifat hakekat (Tuhan) menjadi “loroning atunggil“. Yang menjadi jumbuh (campur tak bisa dipilah) antara kawula dengan Gusti. Inilah pertanda akan kemenangan manusia dalam “berjihad” yang sesungguhnya. Yakni kemenangan terindah dalam kemanunggalan; “manunggaling kawula-Gusti“. Bila Anda muslim, di situlah tatar makrifat dapat ditemukan.
Salam sejati
sabdalangit















Ilham said,
January 15, 2009 at 7:32 pm
Maturnuwun sanget Kangmas atas penjelasanya semoga kangmas selalu diberi kemudahan, kebijaksanaan dan kebaikan sampai akhir hayat. amin..
Kangmas, aku pengen berpesan sesuatu khususnya pada diriku sendiri dan umumnya untuk para saudaraku semua yang mampir di padepokane Kangmas Sabdalangit. “Semoga kita tidak termasuk orang yang membanggakan pengetahuan atau pemikiran kita yang akhirnya ilmu kita menjadi Hijab buat diri kita sendiri. Semoga ilmu yang kita punyai walaupun sedikit sekali dapat lebih memantapkan hati kita untuk melakukan kebaikan kepada sesema dengan tulus dan iklas..
limanaji said,
January 15, 2009 at 9:11 pm
salam, hong wilaheng sabda jati, sabdane kitab suci kang dumunung ana diri pribadi . nabi wali wong wong suci pada nduweni.
kang nuntun urip sampurna . nglenggahi sejatinming swarga. udinen kanthi trewaca . mumpung nini kaki isih ning alam donya.
angel yen durung tinemu, beja tumrap sing pada luru. jujur jejeg benera anggone lumaku.
ya iku sejatining kitab panguripan kang tansah numeteske tirta kasampurnan .
Satria piningit enggala mijil nundung demit lan ijajil . mujudi ayem tentrem gemah ripah loh jinawi gemah ripah karta tur raharja lan jalma kamil mukamil. madeg jumeneng ratu adil.
wah den sabdalangit nderek titip sastrane wong alit.
mugi ndadosna panglipur tumrap kadang ingkang nembe ngunjuk anggur. teng penggalih mak syuuurrr.
sabdalangit said,
January 15, 2009 at 11:24 pm
@Ilham
Terimakasih mas Ilham, sy lebih senang selalu ada yg mengingatkan supaya eling lan waspadha, krn manusia tempatnya lupa. lupa diri, lupa sangkan paraning dumadi. apalagi suatu pujian ibarat meletakkan diri kita menjulang tinggi di angkasa, semakin besar resiko terjatuh dan binasa.
@Limanaji
Matur sembah nuwun Mas Limanaji, sampun kersa paring sastra ingkang sakalangkung waskita lan prayitna. Mugi saget migunani lan nambah seserepan lan pitutur dumateng sesami.
sembah nuwun
Nuwun
Putrawayah kaki Semar said,
January 16, 2009 at 8:08 am
Rahayu..
Sungguh ulasan yg luar biasa dan sungguh bermanfaat..khususnya utk skrg ini dmn banyak org sudah lupa atau bahkan meninggalkan ajaran leluhur bangsa sendiri..semoga dgn adanya situs ini smakin membuka mata dan batin generasi muda pd khususnya sbg pengemban amanat para leluhur supaya trus dan tanpa lelah menjaga dan melestarikan ajaran dan tradisi budaya bangsa…
Rahayu..3x
zal said,
January 16, 2009 at 6:54 pm
::benar…, sayangnya aku gak bisa mengukurnya….
kangBoed said,
January 16, 2009 at 7:51 pm
Klo semua berusaha mencapai ini, belajar mencari jati diri menemukan ALLAH yang didalam diri ………. memanfaatkan warisan leluhur yang sejati…………… apa jadinya negara kita ya mas ???
Negara INDONESIA Yang Adil dan Biaaaaaadab eh Beradab
nuwun mas
mugi mugi cepet dikobul
Daryono said,
January 16, 2009 at 11:10 pm
Salam
Trima kasih
untuk mas sabdalangit yang telah menguraikan dan menjelaskan tingkatan pencapaian laku spiritual, saya yang awam paling tidak bisa belajar pada posisi mana saat ini berada pada posisi Tingkat 1 (Neng) saja perlu niat yang iklas dan penuh kesabaran, mas sabdolangit sudilah kiranya membimbing saya yang awam ini mencapai tingkat selanjutnya, dengan kerendahan hati saya tunggu email nya mas Matur nuwun saking kulo
Kadaryono
yang kung said,
January 17, 2009 at 12:14 am
Matur nuwun sanget pitedahipun,mugi kanti tuntunan punika,kula saged gesang sae lahir batos.
Mugi Gusti tansah paring kanugrahan dumateng panjenengan.
Ilham said,
January 17, 2009 at 2:06 pm
Assalamualiakum Kangmas,
sami kaleh komentaripun kadhang Daryono, mbok menawi kangmas sabdalangit purun maringi bimbingan utawi ulasan mengenai tumindak nyoto engkang kedah dilampahi supados saged ningkataken laku spiritual.
(Mulai Saking Neng –> Ning –> Nung –> Nang)
Matur nuwun sanget mas, aku tenngo di emailku : ilhamjulianto@yahoo.com
tomy said,
January 20, 2009 at 2:54 pm
wah saya dapat wawasan baru nih Mas, saya kira tadi tentang irama gamelan
*bener2 gak tau*
tapi jadi penasaran juga Mas bila diumpamakan irama gamelan sepertinya kurang GONG-nya. Mungkin Kangmas bisa lebih menjelaskan kira2 ada korelasinya tidak ya?
matur nuwun Mas, Salam Sejati
sabdalangit said,
January 20, 2009 at 3:26 pm
Setelah uthak athik gathuk….
Neng ning nung nang…ini suara bunyi kempul… kempul itu nama alat musiknya. Kempul = ketemu yen kumpul. Kumpul antara kawula lan Gusti. nang adalah bunyi nada tertingginya kempul.
Untuk membuat jeda refren si kempul ditabuhlah Gong. Nah, Gong ini nama alat musiknya, suaranya GUUUNNGGG….
gung adalah suara terendah dari rangkaian Gong. Bila kempul sudah ditabuh nada nang…lalu meloncat nabuh Gong…nada terendah. jadi muncul suara berurutan ..Nang..Guunng…
Bila sudah mencapai kemenangan…barulah manusia itu mengerti dan menyaksikan kea-GUNG-an Tuhan.
Kata org Jatim…iki gek yok opo to rek… nguawwur ngono…!
yaah, namanya saja uthak athik gathuk…sing penting ketemune..mathuk.
Mekaten adimas Tomy nyuwun koreksinipun…
salam sejati
rahayu
tomy said,
January 22, 2009 at 1:28 pm
wah panjenengan memang waskitha ‘datan keasamaran ing sawiji apa’
saya sendiri tidak tahu tentang seni musik apalagi gamelan
suatu pencerahan baru bagi saya Kangmas
maturnuwun sanget
salam sejati
yu2d said,
January 29, 2009 at 11:52 pm
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Sugeng Rahuyu mas SabdaLangit…
Sungguh Blog yang sangat menyejukkan …
Menambah wawasan perbendaharaan … ngelmu
Kulo Nuhun Sewu Melu Rembukan Dateng Mriki…..
Soale kulo Inggih haus kalian pengetahuan… mekaten..
maaf bahasa saya udah kelihtan kaku ….
maklum kelamaan tinggal di KALTIM …
iya mas memang nggeh leres sanget apa yang panjenengan paparkan diatas…
dan memang begitulah adanya…., semakin tinggi fasenya yang dilalui semakin halus pulalah Iblis mengganggu diri….
semakin halus dan semakin halus apabila terlena sudah pasti lewaat(gagal) pencapaian…sesungguhnya
dan hanya Eling dan Waspada lah kuncinya lewat dijalan shiratol mustakim ini …….
saya hanya ikut nimbrung mbok bilih wonten kesalahan mohon dimaklumi ….. saya masih jauhh sekali perjalanan yang harus dilalui kalau tidak begini saya jadi lupa kata2 Eling lan Waspada….
inilah salah satu siasat saya untuk menghindari lalai dan terlena..
mohon maaf…mohon maaf…
Salam kenal mas SabdaLangit…
Salam damai…sejahtera…Sehat… Sentosa… untuk mas SabdaLangit dan juga pembaca dan juga yang akan baca.. dan juga untuk semua isi Alam Semesta… Mari Rahmat dan Kasih Sayang Nya kita Rasakan sama2…
hingga teraplikasi dalam kezahiran hamba..
Wassalam….
Matur Nuhun..
sabdalangit said,
January 30, 2009 at 12:51 am
@Yu2d Yth
Sugeng tepang ugi, semoga anda selalu menemukan kebaikan setiap saat. Doa yg tulus akan kembali pada diri sendiri.
Terimakasih atas sumbangan pemikirannya. Ilmu itu tdk ada yg rendah atau tinggi. Yg ada adalah ilmu yg belum dikuasa atau yg sudah dikuasai. Sekalipun seseORANG itu PANDAI, akan menganggap tinggi suatu ilmu yg SEDERHANA, jika ia BELUM MENGUASAINYA.
salam sjati
rahayu
hadisetyono said,
February 13, 2009 at 2:41 pm
Bumi 7 lapis tersebut adalah ; retna, kalbu, jantung, budi, jinem, suksma, dan ketujuhnya yakni bumi rahmat.
1. Bumi Retna; jasad dan dada manusia sesungguhnya istana atau gedung mulia. alladzii yuwaswisu fii shuduuri alnnaasi (yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia)
Sesungguhnya syetan membisikkan kejahatan kedalam dada manusia sehingga kita wajib berlindung kepada Allah SWT.
2. Bumi Kalbu; artinya istana iman sejati.
Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah hati”.(Riwayat Bukhori dan Muslim)
3. Bumi Jantung; merupakan istana semua ilmu.
Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah hati”.(Riwayat Bukhori dan Muslim)
Dari sini dapat kita ambil kesimpulan bahwa sumber ilmu berpulang dari kebaikan dan kebersihan qalbu kita. Semakin baik daging tersebut semakin mudah mencerap ilmu pengetahuan, sebaliknya jika buruk daging tersebut, maka susah bagi kita untuk mendapatkan ilmu.
4. Bumi budi; artinya istana puji dan zikir.
waudzkuruu allaaha fii ayyaamin (Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang) Berdzikir dengan menyebut dan mensucikan asma Allah dapat dilakukan dalam waktu pagi dan petang.
5. Bumi Jinem; istananya kasih sayang sejati.
kataba ‘alaa nafsihi alrrahmata (Dia telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang). Kasih sayang yang sejati bersumber dari Tuhan, dan dapat terpancarkan melalui kebaikan perilaku kita untuk disalurkan kepada kedua orangtua kita, kepada kekasih kita, terutama kepada istri dan anak-anak kita.
6. Bumi suksma; yakni istana kesabaran dan rasa sukur kepada Tuhan; sukma sejati. kullu nafsin dzaa-iqatu almawti (Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati) sukma sejati bersumber dari diri pribadi atau guru sejati. sukma sejati berkomunikasi dengan Tuhan ketika kita sedang tidur, dan dapat mengembara ketika kita melakukan meditasi.
7. Bumi Rahmat; istana rasa mulia; rahsa sejati.
falawlaa fadhlu allaahi ‘alaykum warahmatuhu lakuntum mina alkhaasiriina (maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmatNya atasmu, niscaya kamu tergolong orang yang rugi)
Apa yang kita cari dimuka bumi ini adalah rahmat Allah, dan rahmat itu yang membuat kita tetap bersemangat untuk tetap hidup membuat hidup kita menjadi bahagia.
wiryo said,
August 4, 2009 at 10:14 am
Nyuwun sewu Kamas Budi Setyono Yth.
Kula ingkang cubluk menika nyuwun seserepan ing bab 2 Bumi Kalbu kaliyan bab 3 Bumi Jantung; wonten keterangan ing ngandapipun kadosipun sami nggih? Lajeng wonten pundi bentenipun Kalbu (Qulbu) + Jantung.
Nyuwun pangapunten awit kawula taksih tebih ing seserepan soho kawruh pramila nyuwun suko keteranganipun.
Matur sembah nuwun.
Pamuji Rahayu
kangBoed said,
February 13, 2009 at 9:39 pm
Ternyata hanya kekosongan yang meliputi
ya ya hanya itulah tiada tiada yang lainnya
yang tak berwujud sudah mewujud
Yang Maha Gaib sudah memenuhi sang diri
Sastra Jendra Hayudiningrat
ya ya hanya sebuah Darma
Hanyalah sebuah alat
Hanya sebuah piranti bagiNYA
Semua kepemilikan telah di kembalikan kepada Yang Maha Memiliki
Kata katanya adalah kalam yang tertulis dalam lohmafudz
Pendengaran penglihatan dan setiap langkahnya telah terliputi
Terliputi oleh kekosongan dalam Kesadaran Diri Sejati
ilmunya hanyalah O
O di putar tetap O
O di balik tetap O
Ya semua sudah larut terserap tiada dualitas hanya Esa tak berbagi
Salah dan benar telah hilang lenyap musnah
Dalam salahnya adalah penyembahan yang tulus kepada Yang Esa
Dalam benarnyapun tetap sebaik baik penyembahannya
Tiada lain tiada bukan setiap geraknya telah dikembalikan kepadaNYA
Sungguh alat yang dahsyat
Sungguh darma yang luar biasa
Hanya terbayang dalam lamunan
lamunan si botool kosoong dongo melongo
Salam Sejati Kang Mas Sabda langit
Salam sayang dan kangen selalu
Adhimasmu
Botole kosong
++++++++++++++++++++++++++
Adimas satu ini, saat ini botolnya dirasa sudah tidak kosong lagi kok, sudah semakin memiliki isi yg semakin luas, dan semakin dalam menjangkau alam awang uwung.
terus semangat
salam sejati
sabdalangit said,
February 13, 2009 at 9:45 pm
@HadiSetiono Yth
Terimakasih atas sharingnya semoga bermanfaat menambah ilmu pengetahuan saudara2 kita di sini.
salam sejati
rahayu
Wolo Wolo Kuwato said,
May 2, 2009 at 9:51 am
MAS SABDA YTH.
APAKAH HAKEKAT NENG, NING, NUNG, NANG AJARAN DARI KI HAJAR DEWANTORO?
============
Mas Wolo Yth
Sebetulnya ajaran tersebut sudah melekat di dalam falsafah gamelan kombinasi karya para seniman, pengrajin gamelan, arranger, dan filsuf Jawa masa lalu. Hanya kemudian kembali digali, dijabarkan, dan di urai oleh beliau Ki Hajar Dewantara.
Salam sejati
Putut Gunung Bunder said,
June 3, 2009 at 4:28 pm
NENG, NING, NUNG, NANG
NENG, NING, NUNG, NANG suara batin pertanda rumah sejati
NENG, NING, NUNG, NANG pertanda sudah dekat dengan hakekat diri
NENG, NING, NUNG, NANG ilmu rahasia sejak dahulu kala
NENG, NING, NUNG, NANG idaman para pencari sejati.
NENG, NING, NUNG, NANG ……BYAR pepadangnya
NENG, NING, NUNG, NANG tandanya lailatul qadr
NENG, NING, NUNG, NANG
Salam
PGB
sabdalangit said,
June 3, 2009 at 6:10 pm
Matur nuwun Mas Putut atas rengeng-rengengnya bisa menjabarkan nilai hakekat dari sisi lainnya. Terimakasih telah memperkaya khasanah untuk kita semua,
salam sejati
Ganang said,
June 30, 2009 at 9:49 pm
aku Knock Out mas…. salamu’alaikum… thanks banget
SABDALANGIT said,
July 1, 2009 at 2:34 am
Mas Ganang Yth
Kita semua sama-sama sebagai titah Gusti, seyogyanya saling mengisi agar mencapai tataran kesadaran spiritual yg lebih komplit.
salam asah asih asuh
Ganang said,
July 1, 2009 at 8:55 am
Mas Sabdalangit dan semua Mas pemilik istana wordpress… Mas semua sangat membuka hati dan mata saya, menjungkir balikkan pengertian saya selama ini tentang semua keilmuan dari tanah Jawa. Mas semua menunjukkan kepada saya betapa luasnya hazanah ilmu ALLAH, lewat keluasan pemahaman dan ketajaman analisa dan pembahasan yang dipaparkan. Alhamdulillah ya ALLAH, terimakasih untuk Mas semua.
salam rindu
didik said,
October 2, 2009 at 5:47 pm
Yth. Mas Sabdolangit dkk
Makasih atas kawruh lan ngelmu dari mas-mas semua, makin membuat saya secara pribadi lega dan terus menyenangi akan jalan pencarian ini, mudah2n Allah SWT merahmati Mas-mas sekalian..amin
Wahyu Handoko said,
October 5, 2009 at 11:38 am
Thanks saya senang mendapatkan dan membaca blog ini, baru kemarin saya mendapatkan dari seorang sepuh dari Yogya soal konsep ini dan disini dijelaskan lebih detailll maklum ketemunya kemarin cuma sesaat saja.
thanks banyak