Wahyu Yang Diturunkan Dewa Wisnu
“Upaya menjaga keseimbangan, kedamaian dan kesejahteraan dunia”
Hamemayu Hayuning Bawana”
WAHYU
Apa yang dimaksud dengan Wahyu? Dalam kontek kebudayaan Jawa, wahyu diartikan sebagai sebuah konsep yang mengandung pengertian suatu karunia Tuhan yang diperoleh manusia secara gaib. Wahyu juga tidak dapat dipaksakan, tetapi hanya diberikan oleh Tuhan melalui berbagai media kepada seseorang yang pinilih atau terpilih, yakni orang-orang yang memenuhi syarat dalam hal budipekerti dan perbuatannya kepada sesama manusia dan seluruh makhluk, sehingga terbuka cakra mahkotanya. Bagi yang memenuhi syarat, ia dapat menambah upaya dengan melakukan upaya dengan melakukan mesuraga dan mesu jiwa dengan jalan tirakat, bersemadi, bertapa dan berbagai jalan lain yang berkonotasi melakukan laku bathin. Tapi tidak setiap kegiatan laku bathin itu akan mendapatkan wahyu, selain atas kehendak atau anugrah Tuhan Yang Maha Esa. (Sedangkan wahyu menurut kamus Purwadarminta mempunyai pengertian suatu petunjuk Tuhan atau Ajaran Tuhan yang perwujudannya bisa dalam bentuk mimpi, ilham dan sebagainya. (Dalam dunia pewayangan, banyak lakon wayang yang berjudul wahyu, hal ini menerminkan bahwa masyarakat Jawa penggemar wayang menaruh minta yang cukup besar terhadap nilai spiritual yang terkandung dalam kisah atau lakon wayang yang akan dapat memberikan pengetahuan rohani dan spiritual serta memperluas wawasan di bidang kejiwaan Adapun beberapa lakon wayang berkaitan dengan wahyu antara lain lakon-lakon : Wahyu Purba, Wahyu Sejati, Wahyu Cakraningrat, Wahyu Senapati, Wahyu Toh Jali, Wahyu Cengkir Gading dan yang cukup dikenal adalah Wahyu Makutarama. (Disebutkan dalam Kitab Babad Tanah Jawa, bahwa turunannya Wahu digambarkan sebagai cahaya terang bagaikan bulan bisa juga berujud gumpalan cahaya atau seberkas sinar putih yang jatuh dari angkasa dan menyatu dalam tubuh seorang manusia yang sedang mesu raga dan mesu jiwa, apakah dalam bentuk semadi atau bertapa. Sedangkan dalam lakon wayang tanda-tanda akan turunnya wahyu diperoleh manusia berupa wangsit oleh seorang brahmana atau pendeta dalam pengertian ini adalah orang yang sudah bersih jiwanya melalui mimpi, wangsit yang diterima itu lalu diberitahukan kepada orang lain, dalam hal ini biasanya orang yang sedang berguru atau menuntut ilmu kepadanya, atau kepada orang lain agar bagi mereka yang ingin memperoleh Wahyu lalu melakukan tirakat Iahir bathin, apakah dengan jalan menyepi di dalam sanggar pemujaan atau bertapa di dalam hutan. Namun keputusan siapa yang akan memperoleh wahyu, sepenuhnya berada di tangan Sang Maha Pencipta. Sedangkan manusia hanya bisa sekedar berusaha.
Dalam cerita pewayangan, wahyu-wahyu itu diturunkan oleh dewa dan kebanyakan dilakukan oleh Bathara Wisnu, kecuali Wahyu Cakraningrat oleh Bathara Kamajaya dan Bathari Ratih, istrinya. Kenapa mesti sebagian besar wahyu diturunkan oleh Bathara Wisnu? Hal ini karena Bathara Wisnu merupaka dewa keabadian ini ditunjukan denga kulit tubuhnya yang berwarna hitam yang merupakan lambang keabadian atau sebagai dewa Kesejahteraan. Karena tugasnya mensejahterakan dunia, maka apabila dunia dikacaukan oleh keangkaramurkaan, maka menjadi tugas Bathara Wisnu pernah menjelma/menitis menjadi ; Matswa (ikan) untuk membunuh raksasa Hargraiwa yang mencuri kita Weda. Menjadi Narasinga (orang berkepala harimau) untuk membinasakan Prabu Hiranyakasipu, berupa Wimana (orang kerdil) untuk mengalahkan Ditya Bali. Bathara Wisnu juga menitis pada Ramaparasu untuk menumpas para gandarwa, menitis pada Arjunasasra/Arjunawijaya untuk mengalahkan Prabu Dasamuka. Menitis pada Ramawijaya untuk membinasakan Prabu Dasamuka, dan terakhir menitis pada Prabu Kresna untuk menjadi parampara/penasehat agung para Pandawa guna melenyapkan keserakahan dan kejahatan yang dilakukan oleh para Kurawa.
Sanghyang Wisnu juga pernah turun ke Arcapada menjadi raja Negara Medangpura bergelar Maharaja Suman untuk menaklukan Maharaja Balya, raja Negara Medanggora penjelmaan Bathara Kala. Menjadi raja di Negara Medangkamulan bergelar Prabu Satmata, untuk menaklukan Prabu Watugunung yang bertindak keliru dan nyasar mengawini ibunya sendiri.
Adapun wahyu-wahyu yang diturunkan oleh Bathara Wisnu kepada umat di marcapada dan maknanya antara lain :
WAHYU PURBA
Kata Purba, menurut kamus Purwadarminta mempunyai arti memelihara. Wahyu Purba mempunyai pengertian, Wisnu atau kebenaran Illahi itu bersifat memelihara, Ini suatu pelajaran hidup yang mengandung ajaran bahwa di dalam kehidupan alam semesta dengan segala isinya termasuk juga manusia, semua dipelihara oleh kebenaran Illahi. Dimana kehidupan alam semesta dan manusia akan mengalami keselarasan, keselamatan, ketenteraman, kebahagiaan dan kesejahteraan apabila nilai kebenaran bisa dihayati dan ditegakkan dengan baik dan benar. (Namun kenyataannya manusia percaya bahwa hidup ini dipelihara oleh kebenaran Illahi atau kebenaran Tuhan, masih juga terdapat ketidakbenaran dan kejahatan yang dapat menimbulkan kekacauan dan mengganggu keselarasan, kebahagiaan, ketentraman dan kesejahteraan. Semua itu terjadi sebagai akibat terjadinya pelanggaran terhadap hukum kebenaran. (Untuk memelihara ketenteraman dan kesejahteraan dunia maka dewa Wisnu turun ke dunia menitis pada Prabu Arjunawijaya (Arjunasasrabahu) raja Negara Maespati, dan kepada Ramawijaya, raja Negara Ayodya.
WAHYU SEJATI
Sejati berarti ada, nyata, yang tunggal atau tidak dualistis. Wahyu Sejati berarti suatu kebenaran yang bersifat tunggal. Artinya bahwa kebenaran itu tidak memiliki sifat ganda atau berpasangan yang terdiri dari dua hal yang berbeda sifatnya atau berlawanan, seperti terang dengan gelap, benar dan salah, putih dan hitam atau merah, dan lain sebagainya. (Ini suatu pelajaran hidup bahwa di dalam kehidupan alam semesta dan isinya, termasuk manusia, hanya terdapat satu kebenaran, yaitu Kebenaran sejati, yaitu kebenaran Illahi. Apabila manusia hidup dalam kaidah-kaidah ajaran kebenaran yang sejati, maka kehidupan manusia akan memperoleh kedamaian, kekegotong-royongan yang dapat menumbuhkan sifat toleransi atau saling membantu dan saling menghormati. (Namun kenyataannya dalam menjalankan kehidupannya manusia masih mengulur-ulur nilai-nilai kehidupannya dengan ukuran yang tidak menentu. Kadang-kadang mengulur sesuatu dengan kebenaran Illahi, tetapi kadang-kadang mngukur suatu tindakan selaras dengan kepentingannya sendiri. Akibatnya tatanan kehidupan menjadi tidak menentu, kacau dan saling merugikan pihak lain. Timbulah kemudian sifat keserakahan dan keangkaramurkaan. (Untuk memulihkan dan memelihara keseimbangan kehidupan di dunia, maka dewa Wisnu turun ke marcapada menitis pada ramaparasu, putra Resi Jamadagni dari pertapaan Dewasana, dan kemudian menitis pada Lesmana, adik satu ayah Ramwijaya. (Wahyu sejati atau Wisnu yang menitis pada Ramaparasu adalah bertugas mengembalikan ketenteraman dunia sebagai akibat dari perbuatan keserakahan yang dilakukan oleh Raja Hehaya dengan perbuatannya merampas hak dan kemerdekaan orang lain. Raja Hehaya bukan saja telah membunuh para brahmana, termasuk Resi Jamagani ayah Ramparasu dan merampas harta miliknya, tetapi juga merampas harta rakyat. (Sedangkan Wahu Sejati yang menitis pada Lesmana merupakan pasanhan dari Wahyu Purba yang menitis pada Ramawijaya. Seperti kita ketahui antara Rama dan Lesmana sebenarnya selalu hidup berpasangan, bekerja sama membasmi segala bentuk kejahatan. Hal ini menunjukan bahwa Wahyu Purba dan Wahyu Sejati atau kebenaran Illahi yang bersifat memelihara dengan kebenaran Illahi yang bersifat tunggal, berhubungan erat sekali.
WAHYU WASESA
Wasesa berarti mempunyai kekuasaan, berkuasa, mengatur atau menguasai. Wahyu Wasesa berarti suatu kebenaran Illahi yang bersifat mengatur atau menguasai. Ini mengandung makna bahwa di dalam kehidupan alam semesta dan isinya, termasuk manusia diatur dan dilakukan oleh kekuasaan Illahi. Tegasnya satu-satunya pengatur dan pemerintah alam semesta dan isinya termasuk manusia adalah kekuasaan Tuhan. (Apabila semua manusia berpegang pada kaidah ini , maka manusia idupo tidak perlu harus merasa takut pada kekurangan, menderita, mengalami ketidak adilan, kehilangan kemerdekaan atau kebebasan. (Tetapi didalam kenyataannya sadar atau tidak sadar manusia masih percaya, bahwa hidup ini selain dikuasai oleh kebaikan atau kebenaran Illahi, masih bisa dikuasai oleh kejahatan. Bahkan kadang-kadang manusia takut dan taat kepada kejahatan daripada kebenaran illahi. (Ajaran yang terkandung dalam Wahyu Wasesam uakag syaty ajaran yang mengingatkan kepada kita semua agar bisa selalu sadar bahwa hidup ini ada yang mengatur dan menguasai. Wahyu Wasesa adalah Wisnu yang menitis kepada Sri Kresna, yang dengan kekuasaanya bertindak sebagai penjaga keseimbangan ketenteraman dan kesejahteraan dunia. Kedudukan Sri Kresna di sini hanyalah sebagai penasehat Agung pada satria penegak kebenaran yaitu para satria Pandawa.
WAHYU LUWIH ATAU LINUWIH
Menurut kamus Purwadarminta, Luwih atau linuwih mengandung arti : lebih, langkung atau pancuran. Wahyu Luwih adalah Wisnu atau kebenaran Tuhan yang bersifat memancar. Ini suatu pelajaran hidup bahwa kehidupan alam semesta berikut isinya, termasuk manusia, pada hakekatnya merupakan pancaran atau pernyataan hidup atau Tuhan sebagai sumber hidup. Seumpama air adalah sumber hidup, maka air yang mangalir dari sumber itu adalah pancarannya.(Wahyu Luwih memberi pelajaran hidup kepada kita agar disadari bahwa tujuan dan kewajiban hidup manusia di dunia adalah mencerminkan atau memancarkan sifat Khaliknya yaitu Tuhan YME. Semakin banyak manusia mencerminkan sifat Tuhan dalam hidupnya, maka akan semakin kaya manusia memiliki berkah dan kasih saying Tuhan. Antara Wahyu Wasesa dengna Wahyu Linuwih sebenarnya masih merupakan satu kesatuan, ibarat air dengan pancurannya. Ibarat Matahari, Wahyu Wasesa adalah mata harinya, sedangkan Wahyu Luwih adalah pancarannya. (Wahyu Luwih adalah ajaran Wisnu yang diterima oleh Arjuna, karena itu antara Sri Kresna dan Arjuna selalu hidup berdampingan dalam tugas kewajiban memayu hayuning bawana. Ibarat Api, Sri Kresna adalah apinya, sedangkan Arjuna merupakan cahaya terangnya.
WAHYU MURTI
Murti menurut kamus Jawa/Kawi mempunyai arti ; amor, menyatu/bersatu, gumolong, tunggil, linangkung, utuh dan semesta. Jadi Wahyu Murti mengandung arti ajaran Wisnu yang bersifat gumolong, utuh dan semesta. Ini suatu ajaran bahwa hidup alam semesta dan isinya termasuk manusia merupakan satu kesatuan yang utuh yang antara satu dengan yang lainnya tidak bisa dipisahkan. Karena yang satu merupakan bagian dari yang lain.(Karena alam dan isinya merupakan satu bagian yang utuh, maka menjadi kewajiban kita manusia untuk menjaga keseimbangan alam. Menciptakan kedamaian dan kesejahteraan, serta memelihara keselarasan.(Wahyu Murti adalah ajaran Wisnu yang diberikan kepada Gunawan Wibisana. Karena itu Gunawan Wibisana selalu berusaha untuk ikut menjaga keseimbangan dan keselarasan dunia. Berkali-kali ia memperingatkan Rahwana, kakaknya, agar mengembalikan Dewi Sinta kepada Prabu Rama demi keselamatan Negara Alengka, karena Prabu Rama sesungguhnya satria penjelmaan dewa Wisnu.(Karena Wibisana dengan Wahyu Murtinya merupakan bagian daripada Wisnu, maka ketika ia akan menduduki tahta kerajaan Alengka setelah berakhirnya perang Alengka. Prabu Rama melengkapinya dengan ajaran Hastabrata dengan tujuan agar Gunawan Wibisana menjadi seorang raja yang arif bijaksana, dicintai dan mencintai rakyatnya serta mampu menciptakan kesejahteraan, kedamaian, ketenteraman hidup bagi rakyatnya.
WAHYU MAKUTHA RAMA
Wahyu Makutha Rama pada hakekatnya merupakan inti sari dari keseluruhan wahyu yang diturunkan oleh Dewa Wisnu yang merupakan gabungan dari inti sari Wahyu Purba, Wahyu Sejati, Wahyu Wasesa, Wahyu Luwih dan Wahyu Murti. Karena itu Wahyu Makutha Rama merupakan wahyu yang terakhir dari Dewa Wisnu sebab setelah mengajarkan Wahyu Makutha Rama kepada Arjuna dalam perwujudannya sebagai Bagawan Keswasidhi di Gunung Kutarunggu, dan berakhirnya perang Bharatayuda dengan musnahnya keluarga Kurawa yang merupakan lambang angkara murka, Dewi Wisnu tidak turun lagi ke Marcapada.















48 tanggapan kepada “WAHYU DEWA WISNU”
anto
Februari 8th, 2009 pada 15:05
Hore, mas sabdalangit sudah pulang…
sabdalangit
Februari 8th, 2009 pada 23:23
Betul Mas Anto
saya sudah pulang ke nuswantara, dan tentu saja kangen dengan saudara-saudara kita semua di sini. Sekarang sudah bisa intens lagi bertegur sapa dan tukar kawruh dgn para embaca yg budiman.
salam sejati
rahayu
yang kung
Februari 9th, 2009 pada 23:34
Yth Kangmas Sabdalangit,sugeng rawuh & pepanggihan malih.
Dengan memahami wahyu2 tsb ,apabila kita semua mau menjalaninya saya yakin bahwa keseimbangan-kedamaian dan kesejahteraan dunia akan bisa terwujud.
Kita tak dapat memaksakannya kpd insan yg belum mau tahu dan sok tahu .Yang penting sikap kita:ING NGARSA SUNG TULADHA,ING MADYA MANGUN KARSA TUT WURI HANDAYANI.
Sebab kebenaran Illahi yg kita lakukan akan memancar kpd setiap orang ,meskipun lambat akan berimbas kpd mereka alam semesta dan isinya akan sejahtera lahir batin.
Sungguh,kami sangat prihatin dng perkembangan moral bangsa yg semakin anarkis.
salam sejati
+++++++++++++++++++++++++++++++
YangKung Yth
Matur sembah nuwun wejangan kawicaksananipun
semoga mencerahkan untuk saudara-saudara para pembaca yg budiman.
salam sejati
rahayu
hadisetyono
Februari 11th, 2009 pada 17:34
WAHYU SEJATI
Sejati berarti ada, nyata, yang tunggal atau tidak dualistis. Wahyu Sejati berarti suatu kebenaran yang bersifat tunggal. Artinya bahwa kebenaran itu tidak memiliki sifat ganda atau berpasangan yang terdiri dari dua hal yang berbeda sifatnya atau berlawanan, seperti terang dengan gelap, benar dan salah, putih dan hitam atau merah, dan lain sebagainya.
Wahyu yang sejati adalah Al-Quran, wahyu yang lainnya adalah dibawah Al-Quran hierarcy nya, dan semuanya harus dikembalikan kepada kebenaran Al-Quran sebagai pembimbing kita sampai akhir zaman. Sebagaimana tertera dalam Al-Quran:
wa-in kuntum fii raybin mimmaa nazzalnaa ‘alaa ‘abdinaa fa/tuu bisuuratin min mitslihi waud’uu syuhadaa-akum min duuni allaahi in kuntum shaadiqiina
[2:23] Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah {31} satu surat (saja) yang semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. (AL BAQARAH (Sapi betina) ayat 23)
Sabdalangit
Februari 11th, 2009 pada 19:28
@Hadisetiono Yth
Maaf bukan berarti tdk akomodatif, tapi ini bukanlah ruang dakwah satu agama tertentu. Dan bukan pula blog kajian kitab suci agama. Melainkan kejian kebudayaan dan filsafat kehidupan apapun yg tidak bersifat DOGMATIS dgn ayat. Ayat dan kitab suci itu tak TAK BISA DIPERDEBATKAN, Sedangkan di sini wacananya bersifat dialektis, diskursus, wacana, issue, dan bisa yg ilmiah. Agar supaya pikiran, dan intuisi serta spiritual berkembang dgn pesat. Tujuan kami adalah mengembangkan IQ,EQ, dan SQ. Bukan dogma yg membuat stagnan dalam memperoleh ngelmu kajaten.
mohon pengertiannya.
salam sejati
rahayu
kangBoed
Februari 12th, 2009 pada 00:42
Salam Sejati Kang Mas Sabda Langit
Malam itu akhirnya terbuka sudah kebodohanku
Ternyata perjalanan telah membuatku bingung akan sebuah definisi
Definisi tang tak pernah terdefinisikan
Ternyata semua palsu tak berarti apa apa kooosoooong
He he Jalan Cinta sungguhlah luar biasa
Jerit tangis kerinduan dan derai air mata kepasrahan
Oh getaran itu ketika datang menggetarkan seluruh jiwaku
Kadang kutak sadarkan diri mengikuti rasaaa itu
Kadang kuberperan sebagai seorang yang histeris tak bisa menahan kata berhamburan
Kadang ku hanya bisa terdiam menangis tak berdaya
Kadang ku hanya berteriak memuji KeagunganNYA dalam kelemahanku
Kadang ku mabuk ….. mabuk anggur cinta Ilahi
Membuat ku hanya bisa terduduk lemas tak bertenaga
Terbawa lamunanku yang kian melambung dan melambung semakin tinggi
Seakan aku hidup dalam dunia lamunanku yang tiada batasnya
Berjalan mondar mandir kesana kemari tanpa khawatir lagi
Lamunan itu membuat ku semakin dalam, dalam lamunan
Tak perduli orang berkata apa, sejelek apapun tak pernah kuhiraukan
Karena terlanjur kudapatkan keindahan walau hanya dalam lamunan
Sesuatu yang tak pernah disangka bisa kudapatkan di dunia nyata
Sekali lagi semua kudapatkan walau hanya dalam lamunan
Kutemukan diriku kosong terduduk dalam sebuah penyaksian
Dalam sebuah penyembahan yang tiada hentinya
Sungguh penyembahan yang tak terikat ruang dan waktu
Tak kusangka hanya kekosongan dan kekosongan yang kutemui
Kekosongan yang membangkitkan ketenangan yang luar biasa
Ketenangan yang membangkitkan kesadaran sang diri
Kesadaran yang sungguh tumbuh dalam lamunanku akan diri sejati
Bersinar bagaikan sinar sang surya yang terbit dari kedalaman dasar jiwaku
Terangnya mengikis habis semua kegelapan dalam relung jiwa
Sungguh Jiwa yang tercerahkan oleh kesadaran diri sejati
Sinarnya begitu menyilaukan mencorong tak satu makhluk pun kuasa menatap
Diam
Kosong
Hampa
Sirr
Yah ketika kesadaran telah meliputi sang diri
Saat itu dualitas telah lenyap dan hancur
Yang tinggal hanyal Esa tak berbagi
Meliputi semua kehadiran kita dimuka bumi ini
Kesadaran sejati tak terikat ruang dan waktu lagi
Tiada lagi benar dan salah karena semua untuk Yang Maha Meliputi
Tak terikat apapun karena yang tak berwujud sudah mewujud
Yah inilah sekedar lamunan si botoooool koooosoooong
Botol kosoooong yang hanya bisa melamuuun
Melamunkan botol kosoong nya diisi terus oleh Yang Maha Mengisi
Tapi isinya tetap kosooong habis terbuang berceceran
Sehingga lamunan si botoool kosooooong tak berkesudahan he he he
Matur nuwun saudaraku sedulur kabeh Sudah mendengarkan omong kosong dari botol kosong yang lagi melongoooooo ngelamun doooooooooooooooooongoooooooooooooooooooooo
Salam Sayang dan Kangen
Adhimas Botol Kosong
hadisetyono
Februari 13th, 2009 pada 13:53
@Hadisetiono Yth
Maaf bukan berarti tdk akomodatif, tapi ini bukanlah ruang dakwah satu agama tertentu. Dan bukan pula blog kajian kitab suci agama. Melainkan kejian kebudayaan dan filsafat kehidupan apapun yg tidak bersifat DOGMATIS dgn ayat. Ayat dan kitab suci itu tak TAK BISA DIPERDEBATKAN, Sedangkan di sini wacananya bersifat dialektis, diskursus, wacana, issue, dan bisa yg ilmiah. Agar supaya pikiran, dan intuisi serta spiritual berkembang dgn pesat. Tujuan kami adalah mengembangkan IQ,EQ, dan SQ. Bukan dogma yg membuat stagnan dalam memperoleh ngelmu kajaten.
mohon pengertiannya.
salam sejati
rahayu
Tidak apa-apa mas, saya juga masih belajar. Memang metoda saya memakai ayat-ayat suci Al-Quran dan al-hadist, nanti terbuka dengan sendirinya kebaikan-kebaikan yang terpancar dari diskusi ini. anggap saja saya pencari kebaikan dan saya lihat website ini memang bagus untuk menambah butir-butir spiritual bagi pencari pencerahan. Bagi yang tidak berkenan abaikan saja komentar saya, tapi saya terbiasa berkomentar seperti ini. Sukron dan salam rahayu.
Wassalam,
Hadi
senopati14
Februari 13th, 2009 pada 22:39
keep it posting mas!!!….tulisan2 mas Sabda amat memberi pencerahan dan menyegarkan untuk mengusir anasir2 didalam void2 di otak kanan kita (kiwo opo tengen yo? aku kok lali, he,he,he….!!), yang pasti selama ini sudah terpolutan dengan aura2 asing yang kurang menyegarkan. Mungkin otak manusia sel2nya juga perlu di regenerasikan sehingga menjadi jernih, ter purified khan, bening dan sehat kembali menjadi manusia Nuswantoro kang tansah eling lan waspodo!!…..Ah!, ngelantur, inggih, nyuwun sewu hanya ungkapan hati yang tidak berdasar.
sugeng, rahayu, karahayon.
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Terimakasih Mas Senopati14 Yth
Semoga komentar anda dapat menggugah kesadaran NURANI dan menjadi pengingat kelalaian batin.
salam sejati
rahayu
doblang
Maret 2nd, 2009 pada 15:16
assalamu’alaikum.
ngapunten,
orang – orang jawa ini bener – bener sinkritis ya. nyebut Asma ALLOH bebarengan sareng dewa wisnu. Monotheisme digandeng tanpa kontradiktif dengan paganisme HINDU. ketika orang berbicara tentang manusia jawa dan kebudayaan jawa. tidak ada batasan yang jelas. menurut saya yang bodo ini, orang jawa biasanya lebih sering bertutur tentang ma’rifat njeng sunan kali, syech siti jenar, serta serat-serat semacam centini, kalatidha dan lain-lain yang dibikin sekitar abad 17 an.
mbok ya sekalian sampai negarakertagama-nya mpu sedah dan panuluh. Lak mesisan tho. atau mungkin sampai mataram hindu atau kalinga.
ini ngapunten lho ya,
apa kita tidak bisa ngomong bahwa njeng sunan kali adalah orang JAWA yang kebetulan MUSLIM atau MUSLIM yang kebetulan JAWA. Kedua anasir tersebut membentuk njeng sunan kali sedemikian rupa. Tidak bisa dipisahkan njeng sunan sebagai orang jawa atau muslim. integrated gitu loooch.
wah wah bingun iki. idiom-idiomnya dipake tapi ngomong ndak mau terikat dengan agama “tertentu”
wassalam,
doblang
sabdalangit
Maret 2nd, 2009 pada 16:27
Makasih komentarnya Mas Doblang.Yth
Kita harus membedakan mana SEKEDAR ISTILAH, manapula DOKTRIN. Di blog ini agar lebih menggugah wacana rasio, intuisi yg merdeka, maka sy menghindari pendekatan DOGMA. Apalagi sy memang tdk menguasainya
Yg penting kita jgn membatasi diri dan ruang gerak, hanya krn sikap antipati akan suatu simbol atau istilah tertentu. Istilah bisa berbeda naum kita bicara makna hakekat di balik istilah tsb.
salam sejati
rahayu
doblang
Maret 2nd, 2009 pada 23:15
assalamu’alaikum
ngapunten mas sabdalangit
Menurut hemat saya, lelaku MA’RIFAT nJeng Sunan kali bukan SEKEDAR ISTILAH yang kebetulan memper dengan DOGMA — menurut njenengan — agama tertentu. Lelaku ini inheren dari nJeng SUNAN sebagai orang JAWA yang MUSLIM atau MUSLIM yang kebetulan JAWA. sebagai orang jawa, yang terasah rasa-nya (rahsa), njeng SUNAN gambang nyambung dengan jalan sufi dalam islam yang memper-memper dengan mistisme jawa. Meskipun pada pada realitasnya, sering kali kita melihat, pengabaian nJeng SUNAN KALI sebagai MUSLIM. Orang jawa lebih melihat njeng SUNAN KALI semata-mata orang JAWA an-sich.
Semestinya kita meniru beliau. Ketika cahaya ISLAM menyentuhnya, raden mas Said mengejawantah menjadi nJeng SUNAN KALI yang piawai memadukan budaya JAWA dan ISLAM. Sehingga agama, tidak lagi
cuma ngengirisi, yang hanya bercerita tentang DOSA dan PAHALA, SURGA dan NERAKA. DUS sebagai MUSLIM, semua olah rasa, olah pikir beliau juga dilandasi oleh CAHAYA ISLAM.
saya tidak sedang menggugat, tetapi kita sering kali tidak jujur pada sejarah. Kita mengambil yang satu, tetapi dengan sengaja membuang yang lain. Walaupun unsur-unsur itu seharusnya selalu disatukan. Kita mengambil lelaku ma’rifat njeng sunan kali –ajaran kejawen–, tetapi mengabaikan jalan syariat yang juga diajarkannya. Diam-diam orang JAWA mempunyai kegelisahan dan kecurigaan sedang terjadi ARABISASI dalam kebudayaannya. ISLAM diartikan sebagai ARAB. Dan ARAB mesti berarti ISLAM. Fatalnya, jalan syari’at itu dianggap arabisasi kebudayaan, lha wong kalau sholat –sembahyang — mesti pakai bahasa arab je, nggak boleh pakai boso jowo gitu. Sehingga banyak golongan masyarakat jawa mengambil sikap antipati pada jalan syari’at ini. Apalagi ditunjang dengan mistisme pada kebudayaan jawa yang memper dengan lelaku Ma’rifat.
ngapunten mas sabdalangit,
saya mengambil contoh nJeng Sunan KALI, karena beliau sering dianggap sebagai guru orang jawa. Banyak lelaku beliau yang diikuti oleh masyarakat jawa lainnya. Dan karya sastra yang dianggap
sebagai baboning kebudayaan jawa hampir semua ditulis pada masa sesudah beliau. Saya tidak sedang menjustis njenengan dan sedulur semua. Saya seorang jawa yang kebetulan muslim, dan saya sangat bersyukur karena lewat nJeng SUNAN kali dan WALI songgolah, saya mengenal cahaya ISLAM melalui jalan Syari’at — sarengat, dalam serat gatoloco diutak atik menjadi yen sare anune njengat — , tarekat, hakekat dan ma’rifat yang diajarkan.
mengutip penyair pujangga baru, AMIR HAMZAH :
aku manusia
rindu rasa,
rindu rupa.
Syari’at itu rupa. Ma’rifat itu rasa. Dan, Semuanya itu INTEGRATED.
maturnuwun.
wassalam
doblang.
sabdalangit
Maret 2nd, 2009 pada 23:51
Mas Doblang Yth
Saya paham dan mengerti kok maksud panjenengan. Sy hanya mencoba menggugah kesadaran jika saat ini banyak yg terjebak istilah. Apa yg saya maksud jelasnya begini:
Saat ini kesannya seorang yg dalam berbicara penuh istilah arab seolah menjadi simbol orang soleh. Istilah kalau bukan bahasa Arab dianggap tdk soheh atau tdk afdol. Sedangkan istilah Jawa banyak yg tampak sepele tapi bermakna sangat dalam misalnya “ngono yo ngono ning ojo ngono”. Contoh lain misalnya: “niat ingsun” melambangkan ucapan/tekad seorang yg sdh memahami manunggaling kawula Gusti, sehingga “ingsun ing aku, aku ingsun” sebagaimana kalimat SSJ. Sayang skali kalau niat ingsun dianggap ikrar tekad yg tdk afdol.
Maka orang/bahasa Jawa sering menjadi korban etnosentrisme asing. Saya pernah dicap orang kafir dan berhala gara2 saya mengatakan kalau menghadap raja harus MENYEMBAH. Padahal dalam bahasa Jawa menyembah itu artinya memberi hormat. Telapak tangan dirapatkan di depan dahi sambil menunduk, ini disalahkan pula, wong menungsa kok disembah. Padahal cara menyembah seperti itu sama halnya menempelkan tangan di jidat sebagaimana PRAJURIT “menyembah” komandannya.
salam sejati
rahayu
kangBoed
April 1st, 2009 pada 03:23
Kang Mas Sabda Langit ku sayang kalo boleh penjelasan mengenai Wahyu Cakraningrat yang diperoleh oleh Rd. Abimanyu/angka wijaya/ jaka pengalasan setelah babad alas semedi di hutan dengan ditemani Sang Hyang Ismaya…. karena konon ceritannya wahyu inilah yang harus dipunyai oleh pemimpin nusantara diwaktu dulu…
==============
Tunggu tanggal mainnya yah
ratanakumaro
April 1st, 2009 pada 08:44
Dear kang Boed,
Kok gak mampir ke rumah saya lagi ?
hehehehe… .
bahtiarian
April 3rd, 2009 pada 11:42
Sabdalangit berkata:
“…Sedangkan di sini wacananya bersifat dialektis, diskursus, wacana, issue, dan bisa yg ilmiah. Agar supaya pikiran, dan intuisi serta spiritual berkembang dgn pesat. Tujuan kami adalah mengembangkan IQ,EQ, dan SQ. Bukan dogma yg membuat stagnan dalam memperoleh ngelmu kajaten.”
Setuju mas,
) wacana yang berpijak pada dogma agama tetap diakomodasi karena perjalanan spiritualitas dan filsafat hidup seseorang dapat saja berpijak pada nilai-nilai dogma agama tertentu.
Tapi mungkin saja peningkatan EQ dan SQ bisa berangkat dari dogma agama, kitab suci, atau langsung pada tingkat perenial agama-agama.
Sebagaimana halnya ‘dogma’ dalam tradisi sufistik bahwa hakikat tidak meninggalkan syariat.
Dan sebagai ruang yang terbuka untuk wacana, mestinya (ngapunten niki
sak meniko pikiranipun kawulo
ngapunten samudaya kelepatan
tabik
sabdalangit
April 3rd, 2009 pada 12:18
Dogma itu ulah manusia saja kok mas. Kitab agama manapun tidak akan menjadi doktrin selama dipahami hakekatnya. Dan memahami ajaran agama bukan dengan cara yg mentah, yakni memaknai harfiah, leterlek, lugas, dan tekstual/teksbook. Karena Kitab suci itu memuat arti yg tersirat, maknawiah. Sehingga diperlukan pemahaman kitab secara kontekstual pula. Misalnya ; memahami kursi Tuhan /arsy, jika yg dibayangkan sebagaimana tahta Raja, sama halnya berfikir berhala.
Melepaskan diri dari tradisi indoktrinasi berarti kita berani menjelajah ke ruang tasawuf, tempat berkecimpungnya org2 zuhud, yg haus akan hakekat sajjaratul makrifat. Namun sayangnya, bagi yg lebih suka pemahaman teksbook karna takut salah jalan/langkah, justru menjadi stagnan, sepanjang masa berada dalam tataran sembah raga. Ibarat makan kulit kelapa. Padahal tugas manusia hidup di planet bumi ini berjalan dinamis step by step dari ; sembah raga – sembah cipta – sembah jiwa – sembah rasa pangrasa. Atau dari makan kulit kelapa, lalu mengupas tempurungnya, barulah ketemu daging kelapanya, nah upaya tertinggi manusia yakni minum air kelapanya, sebagai perumpamaan hakikat-makrifat. Matur nuwun Mas Bahtiarian, wacana anda telah menggugah rasa pangrasa saya. Nuwun
salam sejati
Bendul
Juli 2nd, 2011 pada 19:42
Njih ki sabda, saya setuju deh, (hihii..nyuwun sewu,ngapunten ki sabda, niki lare alit lare enom yg kadang sok tahu) ikut-ikutan. Kal saya sih simpel dan sederhana, mencoba untuk bs memahami hakikatnya, dan berusaha menggali nurani diri. Bahwasanya biarlah yang mengaku islam menjalankan shalatnya, kristiani hindu, budha sembahyangnya dll. yang penting mereka tidak memaksakan kehendaknya atau memintakan kehendaknya ke org lain, ke diri kita, atau men justifikasi ke org lain dan diri kita, berperangai/tabiat yg baik ke org lain dan diri kita, saya menganggap itu tdk apa-apa, malah itu baik (ambil positif). Saya sendiri jg tdk prnah nggrundengi, menjelekan, berkata yg tidak seharusnya ke mereka yg melakukan syariatnya, mengejek atau menjauhi, karena itu tdk benar jg menurut saya, ya biarlah mreka dengan kesemuanya yg penting kita bs selaras ttep bertemanan. yang penting hidup di dunia ini kata mbah saya “awor ning aja kawor” heheee…saya berusaha ngikutin ajaran mbah saya deh, Islam Jawa Sejati…
hihi,…
ngapunten ki sabda,
Rahayu..
bahtiarian
April 6th, 2009 pada 19:35
Sabda langit berkata:
“Namun sayangnya, bagi yg lebih suka pemahaman teksbook karna takut salah jalan/langkah, justru menjadi stagnan, sepanjang masa berada dalam tataran sembah raga.”
Ya, setuju mas, sepertinya kebanyakan orang ingin cari jalan selamat dengan cara sederhana seperti itu (…lebih suka pemahaman teksbook, seperti kata panjenengan). Tapi, menurut pendapat saya yang masih belajar ini, langkah kebanyakan orang itu sah-sah saja dan imbalan yang didapat juga sesuai dengan usaha yang dilakukan. Semakin berat usaha, semakin besar pula pendapatannya.
Matur nuwun sudah mampir ke blog saya yang terkadang jarang juga saya kunjungi he he he (maklum masih terikat urusan duniawi, mestinya tidak bisa dimaklumi itu hehehe) dan insya Allah saya terima undangan panjenengan. Alamat lewat email saja.
sabdalangit
April 6th, 2009 pada 20:01
Mas Bahtiarian Yth
Berkata :
Tapi, menurut pendapat saya yang masih belajar ini, langkah kebanyakan orang itu sah-sah saja dan imbalan yang didapat juga sesuai dengan usaha yang dilakukan. Semakin berat usaha, semakin besar pula pendapatannya.
Jawab:
Memang sah-sah saja Mas, dan tidak ada yg salah selama tidak gemar menyalahkan/mengangap sesat orang lain yg beda ajaran/pendapat/agama/syariat dll. Tidak main hakim sendiri main kekerasan hingga berdarah-darah dengan mengatasnamakan Tuhan. Itulah sebabnya, KEBODOHAN dekat dengan KEMUDHARATAN.
salam sejati
Bhoetz Mblangsack
Agustus 28th, 2011 pada 12:00
kulo nunggu jawaban Kang Mas ? Yusuf di Batam
arik
April 18th, 2009 pada 08:53
wah …wah
masih juga ada yang mbandel mau dakwah di milis ini….
siapa dia……local genius dan local wisdom menurut saya
jauh lebih baik, lebih toleren dan yang jelas lebih humanis
tidak neko neko, tidak berpaham sempit, looking arround,
timbal balik dan tepo seliro, tidak dogmatis (emang anjing dog..he.he.he.
dogmatis artinya anjing yang suka pelajaran matematika yang berarti tidak punya nalar dan nurani hanya punya fikiran)..
ibarat kate..anjing menggongong yah timpug aja….
raH-ayU
bahtiarian
April 27th, 2009 pada 18:59
Ah mas arik,
dakwah itu kan bahasa Arab
bahasa Indonesianya propaganda (cek deh di KBBI; Kamus Besar Bahasa Indonesia)
dan hikmah itu bisa didapat dari mana saja, termasuk Arab, termasuk local wisdom
Kalau sudah anti-Arab bisa jadi benih anti-kemanusiaan juga lho.
Tujuan kita satu, mencari hikmat kebijaksanaan yang bermakna bagi kemanusiaan.
Dan jalan yang menurut saya layak ditempuh adalah ‘membenturkan’ argumen, karena cuma itu alat yang bisa saya lakukan. Seperti ketika akan mencari permata yang indah, tentu para pencari batu permata akan membenturkan linggisnya pada bebatuan hingga menemukan batu permata yang bernilai. Dan linggis yang saya punya ya agama saya.
Dan saya sependapat dengan Rakanda Sabdalangit bahwa untuk menemukan hikmat kebijaksanaan itu, kita mesti menghindarkan diri dari sikap saling menyalahkan dan merasa paling benar.
Salam hikmat
Wahyu sejati
Juni 5th, 2009 pada 13:29
ini g ngarang namanya emang wahyu sejati…
kl g percaya cek di ijazah, akte kelahiran, KTP juga boleh…
senang juga ternyata arti kata Wahyu Sejati bermakna sekali…
Terimakasih kepada Kedua Orang saya yang telah memberikan saya nama saya itu…
Makac yach….
sukses selalu…
rooby
Maret 28th, 2010 pada 23:07
ass…Pak,.
bisakah wahyu cakaraningrat jtuh ke kita..krn ktax kakaku wktu d alam gaib aku dpt wahyu itu dri dewa wisnu…krn pusaka dewata dwriskan ke aku<olh dewa wisnu..
SABDå
Maret 30th, 2010 pada 01:58
Mas Rooby Yth
Bisa saja mas. Tak ada yg mustahil setiap org utk menerima wahyu cakraningrat, asal kuat nyunggi drajat. Dewa wisnu adalah kiasan dari “hidup” atau atma sejati, yakni energi hidup yg menghidupkan. Wahyu cakraningrat, agar diri kita selalu HENING ING RAT. Manembah Gusti dan semesta alam. Dgn begitu diri kita bisa menghidupkan segala potensi diri, yg ada dalam semua unsur manusia meliputi, hidupnya mata dan daya batin sukma, hidupnya jiwa, hidupnya akal budi. Berarti hidupnya jati diri manusia (insan kamil).
salam hidup
rooby
April 7th, 2010 pada 00:24
Ass…thanks pak ats pnjelasanx.
sy sgt bersukur dpt wahyu itu pak,sekaligus di warisi pusaka dewata trbaik,yg mn d alm goib sna jd rebutan olh pranormal.yg mn bs mengendalikan kekuatn sluruh alm,yakni bs mndtgkan hujan jg stiap kpn pun sy mau.ttp sgt brt emg godaanx tuk dptkan pusaka itu,krn sy hrs bs menyingkirkan hw nfsu.yg mn tiap hr istrix2 org pda suka sm sy,untung bs kutepis smua itu.
ttp knp ko musti sy yg dwarisi or dpt wahyu itu pak,pdhl msh bny org yg linuwih dri sy.krn pusaka ini konon ktax prnh dpnjamkn k patih GAJAH MADA tuk mempersatukan nusantara dlu.lalu stlh nusantara bersatu di ambil lg olh dewa wisnu.
sy pun sgt terharu pak,wktu pnyerahan pusaka itu dalam gaib sna.krn 6 dewa tertinggi dan sluruh jutaan khodam2,rijaulul goib dsuruh tunduk kpd pmegang pusaka ini.
ap yg hrus kulakukan pak,agr nti kelak bs to kemasalahan sluruh umat.
mhn ptunjukx pak..wassalam…..
SABDå
April 7th, 2010 pada 01:18
Mas Rooby Yth
ap yg hrus kulakukan pak,agr nti kelak bs to kemasalahan sluruh umat.
mhn ptunjukx pak.
Apa yg bisa sarankan adl ;
1. Pergunakan hidup ini agar bermanfaat utk org banyak tanpa pilih kasih. Dengan cara Berbuat baik sebanyak-banyaknya kepada seluruh makhluk tanpa berharap-harap “upah pahala”. Agar spy menggapai ketulusan sejati.
2. Yg paling utama adl menghayati nilai2 luhur, lakutama, perilaku berbudi bawa leksana, dalam kehidupan sehari-hari.
3. Menjadi generasi penerus yg berbakti pada ortu, para leluhurnya, dan bangsanya. Berbakti tdk cukup dgn untaian kata-kata dan doa, melainkan dgn perbuatan nyata.
salam sih katresnan
panji
Mei 26th, 2010 pada 12:05
semoga titisan wisnu kembali ke nusantara untuk membawa perdamaian..DAN WAHYU WISNU SEJATI SEGERA TIBA DAN BUKANYA WAHYU SETAN YANG BERKUASA
cah angon
September 6th, 2010 pada 12:40
kata-kata mutiara dari ki sabda memang luar biasa…
ingin rasanya aku berguru kebatinan lebih dalam kepadanya…
matursembah nuwun jika ki sabda berkenan menerimanya.
sungkem kulo ki.
Rosita
November 16th, 2010 pada 11:59
Kalau menurut saya halaman ini adalah ajang Dakwah…Ajaran jawa asli tidak ada Barata Yudha atau Ramayana, juga dewa dewa itu..ini adalah ajaran hindu (kisah2 yang terdapat di kitab kitab suci Hindu) yg dibawa orang India ke Jawa., so jadi jangan bilang tidak ada unsur agamanya dan asingnya dong Mas..
Dyah Ayu 'Aya Ueto
November 16th, 2010 pada 12:36
dewa itu MALAIKAT…..dalam istilah Islam…
dalam istilah Hindu disebut dewa…
dalam istilah agama Shinto disebut kami….
orang hindu banyak sekte,,,,
orang ISlam pun banyak sekte
orang budda pun banyak sekte…
ada sekte hindu yang tauhidnya mirip ISlam
ada sekte budha yang tauhidnya mirip Islam..
nah semoga tidak bingung…
intinya, kalau anda muslim ya kembalilah ke agama Islam anda
budha juga begitu…hindu juga begitu…
ajaran Kejawen justru tauhidnya mirip dengan Islam….
hanya sebagian muslim saja yang tidak paham ajaran Kejawen..
kalau menurut saya, Kejawen itu sebuah paham dan bisa berupa filsafat…
itu pendapat saya…dan tentu ada perbedaan antara sebuah agama dan paham dan filsafat..
saya muslim tapi saya juga berpegang kepada filsafat Kejawen pada sisi tertentu…bahkan pada banyak hal saya berpegang kepada kejawen…sebagaimana saya juga mempelajari filsafat siegmund freud…
yah kalau seorang psikolog muslim suka berguru pada siegmund freud lantas kenapa ada orang muslim mempelajari filsafat Kejawen dibilang musyrik…yang adil dong…dan belajar dulu kalau mau bertanya agar bisa paham…
so what jangan bingung hehe…
arya
November 21st, 2010 pada 19:01
@rooby & sabda
klo boleh saya tau, 6 dewa tertinggi itu ap y?
eswningrum
Februari 20th, 2011 pada 12:42
wahyu cakraningrat itu sinar cakra kembar, dan itu wahyu langsung dr Alloh …
Tembayat
Maret 17th, 2011 pada 13:18
@Ki Sabda
Dulu pernah kang Sabda jabarkan mengenai sembilan cahaya yg masuk ke raga itu artinya saya kewahyon.Magna kewahyon ini apakah mengarah ke salah satu jenis wahyu seperti yg kang Sabda uraikan diatas ,atau hanya sekedar dapat anugerah?
Pada malam yg terang bertaburan bintang-bintang dan diantara bintang2 itu muncullah tulisan bercahaya kuning keemasan yg berbunyi ” SATRIA KINAYUNGAN WAHYU “.Saya hingga kini belum paham bener arti dan hubungan tulisan itu terhadap saya,kata salah satu sahabt saya tulisan itu sebenarnya pancaran yang ada pada diri saya.Pada tahapan tertentu ,nantinya apa yg ada pada diri kita itu akan memnacar dan memantul.
Lalu apa magna tulisan itu ki ?
matur nuwun sedereng soho sak sampunnipun
Tembayat
mangto
April 6th, 2011 pada 13:24
pakde Sabdo.yang kinasih
salam rahayu.
kawulo dulu pernah mimpi kedatangan orang berpakaian jawa (laki-laki)
beliau mengatakan” kosong itu isi dan isi itu kosong ” kemudian pergi tetapi kawulo sempat menanyakan ke beliau tentang siapa anda ( beliau).beliau menjawab ronggo warsito kemudian beliau pergi.
pada waktu itu (7thn yg lalu) kawulo ndak tahu sama sekali beliau itu siapa/
kemudian sekarang kawulo sdh tahu siapa beliau.
pertanyaan kawulo 1. tentang makna kosong itu isi dan isi itu kosong.2.Bisakah kawulo bertemu lagi dengan beliau ?bagimana caranya?
Beliau adalah salah satu leluhur kami yang kami tahu dari silsilah yang ditinggalkan orangtua kami.(ada legalitas dari kraton jogja thn 56)
matur nuwun
b
ciung wanara
April 10th, 2011 pada 22:35
Yth Mas Sabda Langit,
Artikel2nya sangat membangun kesadaran utk lbh mendekatkan diri kpd Sang Khalik, berusaha teguh menjalankan perintah dan menjauhi laranganNYA.
Mas Sabda ditunggu artikel2 barunya, jangan biarkan pengetahuan terhalang oleh kedengkian, kepicikan, sok benar, dan sok lainnya.
Salam karaharjan
Wongsorejo
April 11th, 2011 pada 10:26
syariat disebar luaskan oleh para ulama, tarikat dan hakekat disebarkan oleh syaikh2
ulama harus menjaga agar kejahatan tak menyebar di atas bumi, mereka menegakan ketakutan pada neraka dan harapan-harapan surga. tanpa tembok besar tiongkok, yaajuuj dan maajuuj (quran) atau gog dan magog (bible) tak akan bisa ditahan daripada mengganggu kedamaian keamanan dunia, tapi berhenti sampai disini adalah seperti berhenti didepan tembok penghalang di jalan yang ditempuh pencari (musafir) kembali keasal keharibaan tuhan
makanya mereka yang berhati bersih, berwatak baik dan mempunyai bakat yaitu para aulia memindahkan tembok penghalang ini dari jalan mereka, mereka mengangkat tembok selubung atau hijab ini secara bertahap, inci demi inci dari hadapan mata mereka, sampai suatu saat nanti mereka menemukan dunia yang penuh dengan cahaya tuhan, cahaya diatas cahaya……
Andra
Mei 2nd, 2011 pada 13:24
Sugeng Rahayu kang MAs Sabda LAngit..
Saya pembaca baru di blog ini, saya mau tanya Apa yang dimaksud :
1. Kembang Wijoyo Kusumo
2. Kembang Wiyo KAmulyan….trm’s
Andra
Mei 2nd, 2011 pada 13:25
Sugeng Rahayu kang MAs Sabda LAngit..
Saya pembaca baru di blog ini, saya mau tanya Apa yang dimaksud :
1. Kembang Wijoyo Kusumo
2. Kembang Wijoyo KAmulyan….trm’s
Suprat doyok
Mei 5th, 2011 pada 18:11
Matur nuwun Mas.Salam kadang sedoyo.
suryadharma
Juni 23rd, 2011 pada 10:53
Matur nuwun mas sabda langit
“Dogma itu ulah manusia saja kok mas. Kitab agama manapun tidak akan menjadi doktrin selama dipahami hakekatnya. Dan memahami ajaran agama bukan dengan cara yg mentah, yakni memaknai harfiah, leterlek, lugas, dan tekstual/teksbook. Karena Kitab suci itu memuat arti yg tersirat, maknawiah. Sehingga diperlukan pemahaman kitab secara kontekstual pula”
Tiap saya baca artikel mas sabdalangit, membuat bulu kuduk saya merinding, tercengang dan membuat saya sadar akan hakekat kehidupan itu seperti apa, dari SD sampai SMA ajaran agama yg diajarkan hanya merupakan sebuah doktrin dan minus pemahaman oleh karena secara umum pandangan dimasyarakat entah karena tidak tahu atau seperti apa tak hayal jika ada seorang bertanya “kenapa?”, pasti jawabannya “memang seperti itu dari dulu”, dan saya yakin belum ada saya temukan orang yang mengupas dan menjelaskan hakikat kehidupan alam semesta atau jagat ini sesederhana mas sabda, tetapi tidak sederhana untuk di pahami
(Bingung saya jelasinnya), yang pasti semakin banyak saya baca artikel mas sabda, semakin banyak saya tahu tetapi semakin banyak pula yang tidak saya tahu.
Salam sejati.
Sentot S
Juli 11th, 2011 pada 17:12
Hmm, saya senang sekali di Nusantara ini masih ada seorang …Sabda Langit, yang secara sadar atau tak sadar telah ikut menerangi jalan yang sedang saya tempuh…..Maju terus Mas Sabda. Gusti paring berkah !
TS
Juli 11th, 2011 pada 17:45
tidak usah banyak cakap…
kalu kalian memang mengaku kejawen tulen…
apa isi bait yang hilang (bait 52 – 56) dan apa maknanya…monggo…
nb.
artikel wahyu nya bagus…sayang om pong…alias melom pong…h h h
TS
Juli 11th, 2011 pada 17:46
tidak usah banyak cakap…
kalu kalian memang mengaku kejawen tulen…
apa isi bait yang hilang (bait 52 – 56) dan apa maknanya…monggo…
nb.
artikel tentang \’wahyu\’ nya bagus…sayang om pong…alias melom pong…h h h
Muhamad yusuf
Agustus 26th, 2011 pada 12:42
Kang Mas Sabda Langit saya seorang Muslim kebetulan orang tua suku jawa saya skrg mengambil Thoriqoh Qodiriyah Wa Naqsabandiyah sekarang belum bisa mengamalkan 100% dan seneng membaca buku2 kejawen sebenarnya kita itu 100% mengamalkan Islam atau diparoh2 dengan Kejawen ini bukan menguji atau apa tapi pingin jawaban biar plong kita lihat Para Wali Nabi2 yang bukan keturunan jawa koq bisa menjadi orang2 suci apa kalau kita keturunan jawa harus menggunakan adat jawa (mhn maaf saya benar2 sedang mencari kesejatian) ? tolong kami dibantu jawaban nya Ki Sabda langit
pein.
April 8th, 2012 pada 12:56
Kawan aku bukanlah sabdalangit n aku bukanlah tmn mu.. Aku tidaklah menulis dengan tangan semata aku menulis dengan hati nurani, aku berkata bukan hanya dengan mulut saja , aku berkata dengan hati nurani ku.. Aku berfikir bukan hanya karena otax tapi aku berfikir atas kebenaran abadi.. Aku hnya lah seorang yg tdk sngj mmbc di forum ini… Di forum ini bnyak keraguan… N juga kesombongan atas agama tertentu.. Tpi untux apa menganut agama sempurna jika kita menyombongkan diri.. Kita sebagai umat manusia hrus sdar ap yg kt lakukan n ap yg kita pikirkan.. Jika kau bingung brtnyalah.. Tpi brtnya bukanlah suatu jwbn yg tept.. Krn jika kita terus bertany tapi tidax ykin terhadap dri sendiri.. Mka jwbn yg kita dpt tidklah akn mmbwt kt puas… Mka ykinlah… Percayalah pda hati nurani mu.. Mka suatu saat nnt kmu akn menemukan jwabannya.. Kejawen adalah budaya jawa kuno.. Yg menganut unsur agama hindu n islam.. Itulah yg di sebut kejawen.. Tpi apa slahnya jika hati nurani ingin kembali ke agama leluhur yaitu agama kebenaran abadi( hindu budha) maka hati nurani mu akan mencapai keabadian n ketenangan.. Aku.. Bukanlah mengajak tpi aku membangkitkan kebenaran yg ada dalam hatimu… Karena tuhan ada dalam hati kita yg penuh cinta kasih… Ketulusan, kebenaran, n kebijakan.. Itulah hati nurani seorang manusia yg paham akan arti sebuah ajaran agama. Kebenaran bukanlah dari perkataan seseorang atu di sebut dengan utusan tuhan.. Kebenaran abadi ada pada diri sendiri… Salam damai.. Aku adalah diri mu.. N aku adalah kebingunaganmu.. N aku adalah sumber kebenaran n aku adalah inti dari semua semesta. Bercerminlah jika kau yakin n tidurlah jika kau yakin.. Besok adlah hari mu yg pnh ketenangan n kebenaran … Yakinlah..
Rasa Pangrasa
April 8th, 2012 pada 19:11
Kawanku yang budiman,
Ikutilah jalanmu sesuai dengan jalan imam-mu, lalu mohon petunjuk selalu kepada Gusti Kang Akaryo Jagad. Lakukanlah nasehat baik imam-mu, ikuti peri-laku junjungan dan imam-mu, yaitu akhlak mereka, karena biasanya pemimpin thoriqoh sudah dalam kategori zuhud. Jangan silau oleh harta dan kemegahan dunia. Jika kamu sudah selaras dengan mereka pasti kamu akan dipertemukan oleh mereka. Pembersihan diri banyak caranya, dalam thoriqoh pun sudah diajarkan. Apapun jalannya, mudah-mudahan baik untukmu jika kamu ikhlas. Semua ilmu yang diturunkan adalah memang dari-Nya. Tinggal bagaimana manusia mengamalkan dan membuktikan ilmu yang dipelajarinya. Berbagai cara dan jalan akhirnya akan berujung kepada Yang Satu. Hingga ilmu pengetahuan pun pasti memiliki ujungnya. Dan ujung itu adalah sumber. Yakni Gusti Alloh Ingkang Moho Kuawos.
Fathnan
Januari 30th, 2012 pada 12:38
Bagaimana dengan wahyu kedhaton atau wahyu keraton ms? Apakah saat ini jg msh ada? sy sering membaca pada sejarah /cerita jawa tentang wahyu ini yang konon akan diterima oleh orang yg akan menjadi pemimpin /raja.