KEPEMIMPINAN PUNAKAWAN : Semar-Gareng-Petruk-Bagong
CONTOH LEADERSHIP PUNAKAWAN
ABDI KINASIH KESATRIA PENDHAWA LIMA
KI LURAH SEMAR BADRANAYA, NALA GARENG,
PETRUK KANTHONG BOLONG DAN KI LURAH BAGONG
“Tanggap ing sasmita dan Limpat Pasang ing Grahita, dan Cakra-Manggilingan”
“Pinangka mrih hamemayu hayuning bawana”
“Puna” atau “pana” dalam terminologi Jawa artinya memahami, terang, jelas, cermat, mengerti, cerdik dalam mencermati atau mengamati makna hakekat di balik kejadian-peristiwa alam dan kejadian dalam kehidupan manusia. Sedangkan kawan berarti pula pamong atau teman. Jadi punakawan mempunyai makna yang menggambarkan seseorang yang menjadi teman, yang mempunyai kemampuan mencermati, menganalisa, dan mencerna segala fenomena dan kejadian alam serta peristiwa dalam kehidupan manusia. Punakawan dapat pula diartikan seorang pengasuh, pembimbing yang memiliki kecerdasan fikir, ketajaman batin, kecerdikan akal-budi, wawasannya luas, sikapnya bijaksana, dan arif dalam segala ilmu pengetahuan. Ucapannya dapat dipercaya, antara perkataan dan tindakannya sama, tidaklah bertentangan. Khasanah budaya Jawa menyebutnya sebagai “tanggap ing sasmita, lan limpat pasang ing grahita”. Dalam istilah pewayangan terdapat makna sinonim dengan apa yang disebut wulucumbu yakni rambut yang tumbuh pada jempol kaki. Keseluruhan gambaran karakter pribadi Ki Lurah Semar tersebut berguna dalam upaya melestarikan alam semesta, dan menciptakan kemakmuran serta kesejahteraan di bumi pertiwi.
Dalam cerita pewayangan Jawa, punakawan tersebut dibagi menjadi dua kelompok yang masing-masing memiliki peranan yang sama sebagai penasehat spiritual dan politik, namun masing-masing mengasuh tokoh yang karakternya saling kontradiksi.
Kelompok Ki Lurah Semar Badranaya
Kelompok ini terdiri Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong (Sunda: Cepot). Mereka menggambarkan kelompok punakawan yang jujur, sederhana, tulus, berbuat sesuatu tanpa pamrih, tetapi memiliki pengetahuan yang sangat luas, cerdik, dan mata batinnya sangat tajam. Ki Lurah Semar, khususnya, memiliki hati yang “nyegoro” atau seluas samudra serta kewaskitaan dan kapramanan-nya sedalam samudra. Hanya satria sejati yang akan menjadi asuhan Ki Lurah Semar. Semar hakekatnya sebagai manusia setengah dewa, yang bertugas mengemban/momong para kesatria sejati.
Ki Lurah Semar disebut pula Begawan Ismaya atau Hyang Ismaya, karena eksistensinya yang teramat misterius sebagai putra Sang Hyang Tunggal umpama dewa mangejawantah. Sedangkan julukan Ismaya artinya tidak wujud secara wadag/fisik, tetapi yang ada dalam keadaan samar/semar. Dalam uthak-athik-gathuk secara Jawa, Ki Semar dapat diartikan guru sejati (sukma sejati), yang ada dalam jati diri kita. Guru sejati merupakan hakekat Zat tertinggi yang terdapat dalam badan kita. Maka bukanlah hal yang muskil bila hakekat guru sejati yang disimbolkan dalam wujud Ki Lurah Semar, memiliki kemampuan sabda pendita ratu, ludahnya adalah ludah api (idu geni). Apa yang diucap guru sejati menjadi sangat bertuah, karena ucapannya adalah kehendak Tuhan. Para kesatria yang diasuh oleh Ki Lurah Semar sangat beruntung karena negaranya akan menjadi adil makmur, gamah ripah, murah sandang pangan, tenteram, selalu terhindar dari musibah.
Tugas punakawan dimulai sejak kepemimpinan Prabu Herjuna Sasrabahu di negeri Maespati, Prabu Ramawijaya di negeri Pancawati, Raden Sakutrem satria Plasajenar, Raden Arjuna Wiwaha satria dari Madukara, Raden Abimanyu satria dari Plangkawati, dan Prabu Parikesit di negeri Ngastina. Ki Lurah Semar selalu dituakan dan dipanggil sebagai kakang, karena dituakan dalam arti kiasan yakni ilmu spiritualnya sangat tinggi, sakti mandraguna, berpengalaman luas dalam menghadapi pahit getirnya kehidupan. Bahkan para Dewa pun memanggilnya dengan sebutan “kakang”.
Kelompok punakawan ini bertugas :
- Menemani (mengabdi) para bendhara (bos) nya yang memiliki karakter luhur budi pekertinya. Tugas punakawan adalah sebagai “pembantu” atau abdi sekaligus “pembimbing”. Tugasnya berlangsung dari masa ke masa.
- Dalam cerita pewayangan, kelompok ini lebih sebagai penasehat spiritual, pamomong, kadang berperan pula sebagai teman bercengkerama, penghibur di kala susah.
- Dalam percengkeramaannya yang bergaya guyon parikena atau saran, usulan dan kritikan melalui cara-cara yang halus, dikemas dalam bentuk kejenakaan kata dan kalimat. Namun di dalamnya selalu terkandung makna yang tersirat berbagai saran dan usulan, dan sebagai pepeling akan sikap selalu eling dan waspadha yang harus dijalankan secara teguh oleh bendharanya yang jumeneng sebagai kesatria besar.
- Pada kesempatan tertentu punakawan dapat berperan sebagai penghibur selagi sang bendhara mengalami kesedihan.
- Pada intinya, Ki Lurah Semar dkk bertugas untuk mengajak para kesatria asuhannya untuk selalu melakukan kebaikan atau kareping rahsa (nafsu al mutmainah). Dalam terminologi Islam barangkali sepadan dengan istilah amr ma’ruf.
Adapun watak kesatria adalah: halus, luhur budi pekerti, sabar, tulus, gemar menolong, siaga dan waspada, serta bijaksana.
Kelompok Ki Lurah Togog
Kelompok ini terdiri tiga personil yakni: Ki Lurah Togog (Sarawita) dan Mbilung. Punakawan ini bertugas menemani bendhara-nya yang berkarakter dur angkara yakni para Ratu Sabrang. Sebut saja misalnya Prabu Baladewa di negeri Mandura, Prabu Basukarna di negeri Ngawangga, Prabu Dasamuka (Rahwana) di negeri Ngalengka, Prabu Niwatakawaca di negeri Iman-Imantaka dan beberapa kesatria dari negara Sabrangan yang berujud (berkarakter) raksasa; pemarah, bodoh, namun setia dalam prinsip. Lurah Togog disebut pula Lurah Tejamantri. Ki Togog dkk secara garis besar bertugas mencegah asuhannya yang dur angkara, untuk selalu eling dan waspadha, meninggalkan segala sifat buruk, dan semua nafsu negatif. Beberapa tugas mereka antara lain:
1. Mereka bersuara lantang untuk selalu memberikan koreksi, kritikan dan saran secara kontinyu kepada bendhara-nya.
2. Memberikan pepeling kepada bendhara-nya agar selalu eling dan waspadha jangan menuruti kehendak nafsu jasadnya (rahsaning karep).
Gambaran tersebut sesungguhnya memproyeksikan pula karakter dalam diri manusia (jagad alit). Sebagaimana digambarkan bahwa kedua kesatria di atas memiliki karakter yang berbeda dan saling kontradiktori. Maknanya, dalam jagad kecil (jati diri manusia) terdapat dua sifat yang melekat, yakni di satu sisi sifat-sifat kebaikan yang memancar dari dalam cahyo sejati (nurulah) merasuk ke dalam sukma sejati (ruhulah). Dan di sisi lain terdapat sifat-sifat buruk yang berada di dalam jasad atau ragawi. Kesatria yang berkarakter baik diwakili oleh kelompok Pendawa Lima beserta para leluhurnya. Sedangkan kesatria yang berkarakter buruk diwakili oleh kelompok Kurawa 100. walaupun keduanya masing-masing sudah memiliki penasehat punakawan, namun tetap saja terjadi peperangan di antara dua kelompok kesatria tersebut. Hal itu menggambarkan betapa berat pergolakan yang terjadi dalam jagad alit manusia, antara nafsu negatif dengan nafsu positif. Sehingga dalam cerita pewayangan digambarkan dengan perang Brontoyudho antara kesatria momongan Ki Lurah Semar dengan kesatria momongan Ki Togog. Antara Pendawa melawan Kurawa 100. Antara nafsu positif melawan nafsu negatif. Medan perang dilakukan di tengah Padhang Kurusetra, yang tidak lain menggambarkan hati manusia.
Makna di Balik Simbol Punakawan
1. Ki Lurah Semar (simbol ketentraman dan keselamatan hidup)
Membahas Semar tentunya akan panjang lebar seperti tak ada titik akhirnya. Semar sebagai simbol bapa manusia Jawa. Bahkan dalam kitab jangka Jayabaya, Semar digunakan untuk menunjuk penasehat Raja-raja di tanah Jawa yang telah hidup lebih dari 2500 tahun. Dalam hal ini Ki Lurah Semar tiada lain adalah Ki Sabdapalon dan Ki Nayagenggong, dua saudara kembar penasehat spiritual Raja-raja. Sosoknya sangat misterius, seolah antara nyata dan tidak nyata, tapi jika melihat tanda-tandanya orang yang menyangkal akan menjadi ragu. Ki Lurah Semar dalam konteks Sabdapalon dan Nayagenggong merupakan bapa atau Dahyang-nya manusia Jawa. Menurut jangka Jayabaya kelak saudara kembar tersebut akan hadir kembali setelah 500 tahun sejak jatuhnya Majapahit untuk memberi pelajaran kepada momongannya manusia Jawa (nusantara). Jika dihitung kedatangannya kembali, yakni berkisar antara tahun 2005 hingga 2011. Maka bagi para satria momongannya Ki Lurah Semar ibarat menjadi jimat; mung siji tur dirumat. Selain menjadi penasehat, punakawan akan menjadi penolong dan juru selamat/pelindung tatkala para satria momongannya dalam keadaan bahaya.
Dalam cerita pewayangan Ki Lurah Semar jumeneng sebagai seorang Begawan, namun ia sekaligus sebagai simbol rakyat jelata. Maka Ki Lurah Semar juga dijuluki manusia setengah dewa. Dalam perspektif spiritual, Ki Lurah Semar mewakili watak yang sederhana, tenang, rendah hati, tulus, tidak munafik, tidak pernah terlalu sedih dan tidak pernah tertawa terlalu riang. Keadaan mentalnya sangat matang, tidak kagetan dan tidak gumunan. Ki Lurah Semar bagaikan air tenang yang menghanyutkan, di balik ketenangan sikapnya tersimpan kejeniusan, ketajaman batin, kaya pengalaman hidup dan ilmu pengetahuan. Ki Lurah Semar menggambarkan figur yang sabar, tulus, pengasih, pemelihara kebaikan, penjaga kebenaran dan menghindari perbuatan dur-angkara. Ki Lurah Semar juga dijuluki Badranaya, artinya badra adalah rembulan, naya wajah. Atau Nayantaka, naya adalah wajah, taka : pucat. Keduanya berarti menyimbolkan bahwa Semar memiliki watak rembulan (lihat thread: Pusaka Hasta Brata). Dan seorang figur yang memiliki wajah pucat, artinya Semar tidak mengumbar hawa nafsu. Semareka den prayitna: semare artinya menidurkan diri, agar supaya batinnya selalu awas. Maka yang ditidurkan adalah panca inderanya dari gejolak api atau nafsu negatif. Inilah nilai di balik kalimat wani mati sajroning urip (berani mati di dalam hidup). Perbuatannya selalu netepi kodrat Hyang Widhi (pasrah), dengan cara mematikan hawa nafsu negatif. Sikap demikian akan diartikulasikan ke dalam sikap watak wantun kita sehari-hari dalam pergaulan, “pucat’ dingin tidak mudah emosi, tenang dan berwibawa, tidak gusar dan gentar jika dicaci-maki, tidak lupa diri jika dipuji, sebagaimana watak Badranaya atau wajah rembulan.
Dalam khasanah spiritual Jawa, khususnya mengenai konsep manunggaling kawula Gusti, Ki Lurah Semar dapat menjadi personifikasi hakekat guru sejati setiap manusia. Semar adalah samar-samar, sebagai perlambang guru sejati atau sukma sejati wujudnya samar bukan wujud nyata atau wadag, dan tak kasad mata. Sedangkan Pendawa Lima adalah personifikasi jasad/badan yang di dalamnya terdapat panca indera. Karena sifat jasad/badan cenderung lengah dan lemah, maka sebaik apapun jasad seorang satria, tetap saja harus diasuh dan diawasi oleh sang guru sejati agar senantiasa eling dan waspadha. Agar supaya jasad/badan memiliki keteguhan pada ajaran kebaikan sang guru sejati. Guru sejati merupakan pengendali seseorang agar tetap dalam “laku” yang tepat, pener dan berada pada koridor bebener. Siapa yang ditinggalkan oleh pamomong Ki Lurah Semar beserta Gareng, Petruk, Bagong, ia akan celaka, jika satria maka di negerinya akan mendapatkan banyak malapetaka seperti : musibah, bencana, wabah penyakit (pageblug), paceklik. Semua itu sebagai bebendu karena manusia (satria) yang ditinggalkan guru sejati-nya telah keluar dari jalur bebener.
Jika ditinjau dari perspektif politik, kelompok Punakawan Ki Lurah Semar dan anak-anaknya Gareng, Petruk, Bagong sebagai lambang dari lembaga aspirasi rakyat yang mengemban amanat penderitaan rakyat. Atau semacam lembaga legislatif. Sehingga kelompok punakawan ini bertugas sebagai penyambung lidah rakyat, melakukan kritikan, nasehat, dan usulan. Berkewajiban sebagai pengontrol, pengawas, pembimbing jalannya pemerintahan di bawah para Satria asuhannya yakni Pendhawa Lima sebagai lambang badan eksekutif atau lembaga pemerintah. Dengan gambaran ini, sebenarnya dalam tradisi Jawa sejak masa lampau telah dikenal sistem politik yang demokratis.
2. Nala Gareng
Nala adalah hati, Gareng (garing) berarti kering, atau gering, yang berarti menderita. Nala Gareng berarti hati yang menderita. Maknanya adalah perlambang “laku” prihatin. Namun Nala Gareng diterjemahkan pula sebagai kebulatan tekad. Dalam serat Wedhatama disebutkan gumeleng agolong-gilig. Merupakan suatu tekad bulat yang selalu mengarahkan setiap perbuatannya bukan untuk pamrih apapun, melainkan hanya untuk netepi kodrat Hyang Manon. Nala Gareng menjadi simbol duka-cita, kesedihan, nelangsa. Sebagaimana yang tampak dalam wujud fisik Nala Gareng merupakan sekumpulan simbol yang menyiratkan makna sbb:
Mata Juling:
Mata sebelah kiri mengarah keatas dan ke samping. Maknanya Nala Gareng selalu memusatkan batinnya kepada Hyang Widhi.
Lengan Bengkok atau cekot/ceko :
Melambangkan bahwasannya manusia tak akan bisa berbuat apa-apa bila tidak berada pada kodrat atau kehendak Hayng Widhi.
Kaki Pincang, jika berjalan sambil jinjit :
Artinya Nala Gareng merupakan manusia yang sangat berhati-hati dalam melangkah atau dalam mengambil keputusan. Keadaan fisik nala Gareng yang tidak sempurna ini mengingatkan bahwa manusia harus bersikap awas dan hati-hati dalam menjalani kehidupan ini karena sadar akan sifat dasar manusia yang penuh dengan kelemahan dan kekurangan.
Mulut Gareng :
Mulut gareng berbentuk aneh dan lucu, melambangkan ia tidak pandai bicara, kadang bicaranya sasar-susur (belepotan) tak karuan. Bicara dan sikapnya serba salah, karena tidak merasa percaya diri. Namun demikian Nala Gareng banyak memiliki teman, baik di pihak kawan maupun lawan. Inilah kelebihan Nala Gareng, yang menjadi sangat bermanfaat dalam urusan negosiasi dan mencari relasi, sehingga Nala Gareng sering berperan sebagai juru damai, dan sebagai pembuka jalan untuk negosiasi. Justru dengan banyaknya kekurangan pada dirinya tersebut, Nala Gareng sering terhindar dari celaka dan marabahaya.
3. Petruk Kanthong Bolong
Ki Lurah Petruk adalah putra dari Gandarwa Raja yang diambil anak oleh Ki Lurah Semar. Petruk memiliki nama alias, yakni Dawala. Dawa artinya panjang, la, artinya ala atau jelek. Sudah panjang, tampilan fisiknya jelek. Hidung, telinga, mulut, kaki, dan tangannya panjang. Namun jangan gegabah menilai, karena Lurah Petruk adalah jalma tan kena kinira, biar jelek secara fisik tetapi ia sosok yang tidak bisa diduga-kira. Gambaran ini merupakan pralambang akan tabiat Ki Lurah Petruk yang panjang pikirannya, artinya Petruk tidak grusah-grusuh (gegabah) dalam bertindak, ia akan menghitung secara cermat untung rugi, atau resiko akan suatu rencana dan perbuatan yang akan dilakukan. Petruk Kanthong Bolong, menggambarkan bahwa Petruk memiliki kesabaran yang sangat luas, hatinya bak samodra, hatinya longgar, plong dan perasaannya bolong tidak ada yang disembunyikan, tidak suka menggerutu dan ngedumel.
Dawala, juga menggambarkan adanya pertalian batin antara para leluhurnya di kahyangan (alam kelanggengan) dengan anak turunnya, yakni Lurah Petruk yang masih hidup di mercapada. Lurah Petruk selalu mendapatkan bimbingan dan tuntunan dari para leluhurnya, sehingga Lurah Petruk memiliki kewaskitaan mumpuni dan mampu menjadi abdi dalem (pembantu) sekaligus penasehat para kesatria.
Petruk Kanthong Bolong wajahnya selalu tersenyum, bahkan pada saat sedang berduka pun selalu menampakkan wajah yang ramah dan murah senyum dengan penuh ketulusan. Petruk mampu menyembunyikan kesedihannya sendiri di hadapan para kesatria bendharanya. Sehingga kehadiran petruk benar-benar membangkitkan semangat dan kebahagiaan tersendiri di tengah kesedihan. Prinsip “laku” hidup Ki Lurah Petruk adalah kebenaran, kejujuran dan kepolosan dalam menjalani kehidupan. Bersama semua anggota Punakawan, Lurah Petruk membantu para kesatria Pandhawa Lima (terutama Raden Arjuna) dalam perjuangannya menegakkan kebenaran dan keadilan.
4. Bagong
Bagong adalah anak ketiga Ki Lurah Semar. Secara filosofi Bagong adalah bayangan Semar. Sewaktu Semar mendapatkan tugas mulia dari Hyang Manon, untuk mengasuh para kesatria yang baik, Semar memohon didampingi seorang teman. Permohonan Semar dikabulkan Hyang Maha Tunggal, dan ternyata seorang teman tersebut diambil dari bayangan Semar sendiri. Setelah bayangan Semar menjadi manusia berkulit hitam seperti rupa bayangan Semar, maka diberi nama Bagong. Sebagaimana Semar, bayangan Semar tersebut sebagai manusia berwatak lugu dan teramat sederhana, namun memiliki ketabahan hati yang luar biasa. Ia tahan menanggung malu, dirundung sedih, dan tidak mudah kaget serta heran jika menghadapi situasi yang genting maupun menyenangkan. Penampilan dan lagak Lurah Bagong seperti orang dungu. Meskipun demikian Bagong adalah sosok yang tangguh, selalu beruntung dan disayang tuan-tuannya. Maka Bagong termasuk punakawan yang dihormati, dipercaya dan mendapat tempat di hati para kesatria. Istilahnya bagong diposisikan sebagai bala tengen, atau pasukan kanan, yakni berada dalam jalur kebenaran dan selalu disayang majikan dan Tuhan.
Dalam pagelaran wayang kulit, kelompok punakawan Semar, Gareng, Petruk, Bagong selalu mendapatkan tempat di hati para pemirsa. Punakawan tampil pada puncak acara yang ditunggu-tunggu pemirsa yakni goro-goro, yang menampilkan berbagai adegan dagelan, anekdot, satire, penuh tawa yang berguna sebagai sarana kritik membangun sambil bercengkerama (guyon parikena). Punakawan menyampaikan kritik, saran, nasehat, maupun menghibur para kesatria yang menjadi asuhan sekaligus majikannya. Suara punakawan adalah suara rakyat jelata sebagai amanat penderitaan rakyat, sekaligus sebagai “suara” Tuhan menyampaikan kebenaran, pandangan dan prinsip hidup yang polos, lugu namun terkadang menampilkan falsafah yang tampak sepele namun memiliki esensi yang sangat luhur. Itulah sepak “terjang punakawan” bala tengen yang suara hatinuraninya selalu didengar dan dipatuhi oleh para kesatria asuhan sekaligus majikannya.
Kepemimpinan Punakawan Kontroversial
Dalam cerita wayang sebagaimana kisah-kisah dalam legenda lainnya, terdapat kelompok antagonis. Dalam cerita wayang tokoh-tokoh antagonis berasal dari negri seberang atau Sabrangan. Punakawan Togog atau Tejamantri, Sarawita dan Mbilung merupakan punakawan kontroversif yang selalu membimbing tokoh pembesar antagonis, para “ksatria” angkara murka (dur angkara), hingga para pimpinan raksasa jahat. Sebut saja misalnya Prabu Dasamuka, Prabu Niwatakawaca, Prabu Susarma, hingga para kesatria dur angkara dari Mandura seperti Raden Kangsa dan seterusnya. Pada intinya Ki Lurah Togog dkk selalu berada di pihak tokoh antagonis, sehingga disebut sebagai bala kiwa. Namun demikian bukan berarti kelompok punakawan ini memiliki karakter buruk.
Ciri fisik Togog dkk memiliki mulut yang lebar. Artinya mereka selalu berkoar menyuarakan kebaikan, peringatan (pepeling) kepada majikannya agar tetap waspada dan eling, menjadi manusia jangan berlebihan. Ngono ya ngono ning aja ngono. Manusia harus mengerti batas-batas perikemanusiaan. Sekalipun akan mengalahkan lawan atau musuhnya tetap harus berpegang pada etika seorang kesatria yang harus gentle, tidak pengecut, dan tidak memenangkan perkelahian dengan jalan yang licik. Sekalipun menang tidak boleh menghina dan mempermalukan lawannya (menang tanpa ngasorake). Itulah ajaran Ki Lurah Togog dkk yang sering kali diminta nasehat dan saran oleh para majikannya. Namun toh akhirnya setiap nasehat, saran, masukan, aspirasi yang disampaikan Ki Lurah Togog dkk tetap saja tidak pernah digubris oleh majikannya mereka tetap setia. Ki Lurah Togog dkk walaupun menjabat posisi sentral sebagai penasehat, pengasuh dan pembimbing, yang selalu bermulut lantang menyuarakan pepeling, seolah peran mereka hanya sebagai obyek pelengkap penderita. Walaupun Ki Lurah Togog dkk selalu gagal mengasuh majikannya para kesatria dur angkara, hingga sering berpindah majikan untuk bersuara lantang mencegah kejahatan. Bukan berarti mereka tidak setia. Sebaliknya dalam hal kesetiaan sebagai kelompok penegak kebenaran, Ki Lurah togog patut menjadi teladan baik. Karena sekalipun sering dimaki, dibentak dan terkena amarah majikannya, Ki Lurah Togog dkk tidak mau berkhianat. Sekalipun selalu gagal memberi kritik dan saran kepada majikannya, mereka tetap teguh dalam perjuangan menegakkan keadilan. Dan lagi-lagi, mereka selalu dimintai saran dan kritikan, namun serta-merta diingkari pula oleh majikan-majikan barunya. Itulah nasib Togog dkk, yang mengisyaratkan nasib rakyat kecil yang selalu mengutarakan aspirasi dan amanat penderitaan rakyat namun tidak memiliki bargaining power. Ibarat menyirami gurun, seberapapun nasehat dan kritikan telah disiramkan di hati para “pemimpin” dur angkara, tak akan pernah membekas dalam watak para majikannya. Barangkali nasib kelompok punakawan Ki Lurah Togog dkk mirip dengan apa yang kini dialami oleh rakyat Indonesia. Suara hati nurani rakyat sulit mendapat tempat di hati para tokoh dan pejabat hing nusantara nagri. Sekalipun sekian banyak pelajaran berharga di depan mata, namun manifestasi perbuatan dan kebijakan politiknya tetap saja kurang populer untuk memihak rakyat kecil. By sabdalangit















6018 said,
March 13, 2009 at 8:17 am
Horeh.. G komen pertama cing
Hadi Setyono said,
March 13, 2009 at 9:26 pm
Dalam kitab jangka Jayabaya, Semar digunakan untuk menunjuk penasehat Raja-raja di tanah Jawa yang telah hidup lebih dari 2500 tahun. Dalam hal ini Ki Lurah Semar tiada lain adalah Ki Sabdapalon dan Ki Nayagenggong, dua saudara kembar penasehat spiritual Raja-raja. Sosoknya sangat misterius, seolah antara nyata dan tidak nyata, tapi jika melihat tanda-tandanya orang yang menyangkal akan menjadi ragu. Ki Lurah Semar dalam konteks Sabdapalon dan Nayagenggong merupakan bapa atau Dahyang-nya manusia Jawa. Menurut jangka Jayabaya kelak saudara kembar tersebut akan hadir kembali setelah 500 tahun sejak jatuhnya Majapahit untuk memberi pelajaran kepada momongannya manusia Jawa (nusantara). Jika dihitung kedatangannya kembali, yakni berkisar antara tahun 2005 hingga 2011.
————————————————————————————-Mas Sabdalangit,
kalau melihat ramalan diatas, sudah saatnya kita menanti kedatangan sabdopalon dan nayagenggong. sabdopalon ini yang merupakan ki lurah sejati. dia yang memomong para pemimpin pulau Jawa dari dahulu hingga sekarang. ramalannya sudah terbukti dengan adanya bencana letusan gunung merapi di jawa tengah. saat ini pulau Jawa tengah menantikan pemimpinnya yang sejati dengan bimbingan sabdopalon untuk membudipekertikan manusia jawa. karena perbedaan dimensi alam, maka bentuk bimbingannya berupa datangnya ruh ghaib dan suara-suara ghaib yang membimbing pemimpin jawa itu untuk dijadikan pegangan. Sabda semar ini disebut juga suara tanpa rupa yang membuat manusia lebih berbudi pekerti. Seperti pelajaran ihsan dalam agama islam. Kita lihat saja tahun ini akan banyak perubahan yang berarti dalam perpolitikan dan suasana keagamaan di Indonesia. Saat ini sepertinya era di mana para punakawan yang harus tampil memberikan guyonon, saran, kritik dan mengajak bangsa untuk lebih eling dan waspada serta mengikuti alur main yang diinginkan oleh kareping rahsa.
Salam,
yang-kung said,
March 13, 2009 at 11:52 pm
Kangmas Sabdalangit,bgmn ya bila di nusantara ini dibentuk Dewan Punakawan yg bisa ikut mendampingi pimpinan negara dlm pemerintahannya ??
Pemimpin yg bisa “ajur-ajer “unt kesejahteraan rakyatnya.Dewan Punakawan bila menasehati pimpinan jangan hanya dibisikkan,tetapi juga bisa didengarkan oleh semua rakyat sebagai pembinaan moral bangsa.
Petugas dewan punakawan harus punya figur2 seperti:
-SEMAR-yg bisa memberi kesejukan hati & ketentraman hidup tanpa mengumbar hawa nafsu.
-GARENG-yg tak mudah silau dng kemajuan negeri jiran,bila perlu berlaku prihatin mengencangkan ikat pinggang sesuai kemampuan kodratnya.
-PETRUK-selalu sabar dan tidak grusa-grusu,pikirkan dengan penuh bijaksana.
-BAGONG-selalu tabah & sederhana,bisa memberi motivasi untuk mencintai produk dalam negeri.
Kami percaya bila badan penasihat ini bisa berbuat maksimal,
maka masyarakat yg adil makmur akan segera tiba.Negara lainpun akan hormat kpd kita.[menang tanpa ngasorake seperti yg diharapkan oleh si TOGOG]
salam rahayu Yang-Kung
sabdalangit said,
March 14, 2009 at 12:40 am
Yth Mas Hadi W dan Yangkung
Saya kira pemimpin kita banyak yg memanfaatkan peran para punakawan, mulai dari presiden, pejabat hingga paling rendah sekalipun. Persoalannya, suara punakawan tidak terdengar hingga ke masyarakat luas. Atau mungkin punakawannya yg tdk memenuhi syarat ya. Tapi ada punakawan aneh dari nagri Sabrangan yg selalu sibuk mengkonsep khalal kharam rokok, golput, bahkan akan menyusul kharam bagi org yg dianggap pelit tak mau jakat
Nah yg terakhir ini sangat berbahaya karena orang akan beramai-ramai melakukan ujub dan riak, krn akan saling umuk/pamer berapa banyak mereka telah beramal.
sementara di negara lain sudah mengkonsep bikin rumah di planet lain, bagaimana ini mas Hadi dan Yangkung..??? Bahkan peran punakawan ini lebih parah seolah sdh tak menghiraukan asas Bhineka Tunggal Ikka dan saya pribadi punya kesan mereka sdh agak melenceng dari konsep nilai luhur Pancasila.
Namun yang jelas, di tengah masyarakat sebenarnya sudah banyak para punakawan sejati yg tampil membela keadilan, kepentingan rakyat, bangsa dan negara; yakni para sarjana, politisi, praktisi, pemikir, dan org-org yg peduli akan nasib bangsa ini, termasuk orang-orang yg masih berjiwa nasionalis, mereka semua menyerukan himbauan-himbauan moral kepada para pemimpin bangsa di seluruh lini kehidupan masyarakat. Sayangnya nasib para punakawan sejati ini akhirnya hanya sia-sia alias bernasib seperti TOGOG, SARAWITA & MBILUNG… sekalipun mulut sampai berbusa para “kesatria” dur angkara tetap saja ndableg
salam sejati
rahayu
ndombleh said,
March 14, 2009 at 10:15 am
sudahlah om sabdalangit… sebaiknya tidak memendam kekecewaan dan terjebak pada pandangan negatif pada yang tidak jelas yang membuat penyakit hati, punokawan tetep punakawan.. yang bukan ya bukan jadi kalo melempar sesuatu/setan tepat sasaran.
mari kita lihat api/semangat yang ada dalam kandidat RI mendatang…
lihat cara duduk, berdiri, intonasi nada bicaranya… kalau bicara proses dan kemajuan mustinya angka-angka disusun dalam grafik sehingga tidak dimanipulasi dan menutupi kelemahan, yang bangga memamerkan hasil kerja masa lalu tanpa prediksi dan target masa mendatang hanya menyelamatkan muka saja, yang pake istilah kontrak politik itu penjual jasa/pedagang yang cari untung, yang duduknya mletrek itu suka tidur di kursi malas, en banyaklah yang bisa dilihat…
en kalo mas sabdolangit itu mirip amin rais yang kecewa megapa diri sendiri bisa kecewa hahaha… embuh lah yaw
yah… pandai-pandailah kita bekerja saja entah jadi apa saja… presiden atau raja atau rakyat jelata itu tidak penting amat… spirit hidupnya mesti mencari kebenaran.
emang pandai bicara itu tidak penting karena tidak merubah suatu wujud.. hanya menyetir presepsi, jauh lebih penting adalah pekerjaan yang kita jalani adakah yang bisa merubah keadaan jadi lebih baik? apakah kita ingin mewujudkan impian masa depan yang lebih baik, merubah keADAan dengan tekun bekerja atau melamun berpangku tangan atau berharap orang lain yang melakukan dan kita hanya bicara saja? atau seperti gue.. sepi order nih hihi..
ojo kagetan lan gumunan karna itu hanya sesuatu yang dikecewakan/diistimewakan
Putrawayah kaki Semar said,
March 18, 2009 at 7:58 am
Rahayu3x..
Sekedar sharing dan menambah wawasan:
Menurut keyakinan kami dari paguyuban Cahya Buwana di gunung Srandil ada 110 nama Panjenengan Dalem Kaki Semar…
~Sang Hyang Ismoyo,artinya utusan Gaib dari Tuhan,~Sang Hyang Isworo,artinya Guru,~Sang Hyang Wenang,artinya mempunyai hak,~Sang Hyang Hutoro,artinya utara,~Sang Hyang Bogawentis,~Sang Hyang Asmorosonto,~Sang Hyang Moyo,artinya Gaib,~Dewa Ngejawantah,artinya menjelma,~Kaki Tunggul Sabdo Jati Doyo Among Rogo,~Ki Lurah Semar,semar berasal dr bhs Sansekerta Smara,~Ki Lurah Dhadapan,artinya tmpt yg byk pohon dhadapnya,~Ki Lurah Karang Kadempel,karang kadempel adlh nama tmpt tinggal,~Ki Lurah Klampis Ireng,~Ki Bodronoyo,bodronoyo artinya yg memberikan pedoman hidup,~Ki Sabdopalon,~Ki Bambang Dewo Lelono,artinya bambang sebutan utk lelaki sedang lelono artinya mengembara,~Ki Bambang Ismoyo,~Ki Cahyo Buwono,~Ki Hudoroyo,~Ki Margo Ewoh,~Ki Nayantoko,artinya pemimpin kematian,~Ki Nanang Nunung,~Ki Dwijo Moyo Gunung,artinya bersifat sbg brahmana,~Ki Joyokesumo,~Ki Prasanto,artinya hening,~Ki Rumani,~Ki Jonobodro,~Ki Ageng Deduk,~Ki Bancak,artinya tmpt nasi,~Ki Tualen,sebutan Kaki Semar di Bali,~Kitiran Kencono,kitiran artinya baling2 kencono adl emas,~Dawoto Purwo,dawoto artinya batas/tepi,purwo artinya permulaan/mulai,~Buminoto Wicaksono,buminoto artinya tanah raja,~Pandito Waskito,artinya pendeta yg bnyk/serba tahu yg telah/akan terjadi,~Sarjono Waseso Lan Prasojo,sarjono artinya org yg berpendidikan tinggi,waseso artinya menguasai,prasojo artinya sederhana,~Suroyo Suklopo,suroyo artinya utusan/pemberani,suklopo artinya kelapa yg indah,~Kawulo Pari,kawulo artinya rakyat,pari artinya kecil,~Among Donya,artinya mengasuh/memelihara,~Among Bumi Nusantoro,~Among Tanah Jowo,~Among Momodeyoso,artinya membuat rumah/bangunan,~Among Jiwo,~Hyang Pamejang,~Hyang Pengayom,~Hyang Pelindung,~Hyang Rejeki,~Hyang Kawaluyan,artinya sehat/selamat,~Hyang Sarosa,artinya makna/arti,~Hyang Sidhoyo,~Hyang Pamuryan,~Hyang Kabecikan,~Hyang Kawicaksanan,~Hyang Praworo,artinya terkemuka/termasyhur,~Hyang Welas,~Hyang Parwastho,~Hyang Susmoyo,artinya sesuatu yg lembut,~Hyang Cahyo,~Hyang Baskoro,artinya matahari,~Hyang Bodro,~Hyang Kartiko,~Hyang Jaladhi,artinya lautan,~Hyang Lokamantolo,artinya dewa sluruh rakyat dunia,~Hyang Bawono,~Hyang Baruno,~Hyang Pawoko,artinya dewa api,~Hyang Danu,artinya busur panah,~Hyang Rakwo,~Hyang Masroyo,~Hyang Wedoko,artinya kalangan,~Hyang Haribawono,artinya bayangan dewa Wisnu,~Hyang Nisoko,artinya berasal,~Hyang Wilopo,artinya syair yg sedih,~Hyang Mohoresmi,~Hyang Goto,artinya jamuan/suguhan,~Hyang Duhedyo,~Hyang Soto,artinya seratus/jagoan,~Hyang Bowokaniyatan,~Hyang Mahawan artinya pembesar,~Hyang Tumutur artinya berkata/bersabda,~Hyang Sumar,artinya merata/memenuhi,~Hyang Wigoto,artinya memperhatikan,~Hyang Hambahudendo,artinya dewa yg kaya,~Hyang Satyawan,artinya setia,~Hyang Cokro,~Hyang Rembun,artinya tumbuh,~Hyang Donohisworo,artinya pemberian dewa Wisnu,~Hyang Widigdoyo,artinya mahir,~Hyang Mahwastu,artinya slalu suci,~Hyang Sumetyo,artinya sumpah/janji,~Hyang Toho,artinya pikir,~Hyang Huposonto,artinya pelipur,~Hyang Ngrarasati,artinya menyenangkan hati,~Hyang Suprobo,artinya sinar yg indah,~Hyang Prastowo,artinya lantaran,~Hyang Damar,artinya pelita,~Hyang Husodo,artinya usaha,~Hyang Haguyu,~Hyang Sabdo,~Hyang Hadikoro,artinya istimewa/pemerintahan yg agung,~Hyang Mrabangkoro,artinya bagaikan matahari,~Hyang Dumiyono,artinya merenung,~Hyang Dutomangkoro,artinya wakil masyarakat,~Hyang Bramono,artinya rakyat kecil,~Hyang Bramani,artinya org baik,~Hyang Guwiratno,artinya mutiara gua,~Hyang Purno,artinya sempurna,~Hyang Puruboyo,~Hyang Hasmoro Samuhono,~Hyang Sanidyo,artinya pemusatan pikiran..
Demikianlah nama2 dari Kaki Semar…semoga bermanfaat,terima kasih..
Rahayu..3x
=====================
Matur Sembah Nuwun…para kadhang Putra Wayah kaki Semar ing Srandil atas semua curahan ngelmu nya. Ini sangat bermanfaat untuk saya dan para pembaca di sini.
Rahayu, Wilujeng
Kalis ing rubeda nir ing sambekala
ke2 said,
March 20, 2009 at 9:04 am
@ ndombleh
pada koment mu tanggal 14 maret diatas …. terutama mengenai Mas Sabda … kok sepertinya justru terbalik ya …. dari penilaianku.
kalau orang tidak boleh koment menyuarakan hati dan pemikirannya, lalu si pemimpin gimana bisa mengerti keinginan rakyatnya ???
emang pemimpin bisa langsung tahu apa keinginan rakyat begitu saja ???
kita disini memberikan koment … dan imbauan kepada semua orang yang peduli, apakah pemimpin, apakah orang awam, apakah spiritualis dlllllll …. tentunya yang mau mendengar dan membaca, terutama yang punya hati nurani agar segera menyadari bahwa kondisi bangsa dan negara sudah dalam posisi seperti ini ….. sudah (sangat) menghawatirkan ….., dan mereka (pemimpin dan penguasa) kan punya akses lebih banyak untuk membuat perubahan…. ya lakukanlah perubahan menjadi lebih baik.
itulah maksud dari kita2 disini memberi koment / imbauan.
tatapi yang pasti …. walaupun kita terbatas pada imbauan … tetapi kita masih peduli dengan kondisi negeri ini … bangsa ini. terlepas apakah kita bisa berbuat (bekerja seperti yang ndombleh lakukan saat ini) baru sebatas teriak … eeehhh imbauan saja.
tapi paling tidak saya ucapkan salut pada mas ndombleh yang telah memilih bekerja … lebih baik, untuk membangun bangsa ini. dari pada kita yang baru sekedar teriak2 …. piss deh
tomy said,
March 20, 2009 at 5:30 pm
referensi yang bagus yang lama saya cari Kangmas
dalam bahasa lain punakawan disebut sebagai Eyang Cakrawangsa, Eyang Pamongraga & Eyang Sipat Sampurna
kapan2 saya hendak menulis tentang drijine Semar, sebuah kajian Jadi Diri & Jati Diri. doakan biar bisa terlaksana tidak hanya berhenti di krenteg
sabdalangit said,
March 20, 2009 at 6:40 pm
Nun injih Mas Tomy, mudah2an panjenengan mendapat waktu kagem ngeningaken tyas, untuk mbabar ngelmu yang cukup berat. Saya selalu menunggu pembabaran ilmu dari mas Tommy yang tansah premana.
Salam sejati
Rahayu
dhimas petruk said,
July 8, 2009 at 2:53 pm
matur nuwun Gusti…saking sdaya rinusiking jagad,sami pepanggihan kalih para sedulur kabeh..andum begja weh padang dununging tyas persaja,mrih hayu-hayu sadaya sagung kang dumadi
Sabda said,
July 8, 2009 at 6:14 pm
@dimas petruk yth
Ngaturaken salam kasugengan tuwin karaharjan mugi berkahing Gusti tansah kajiwo kasarira dumateng kula panjenengan sedaya. Asikep bala memayu hayuning bawana, njejegake nagri nggayuh jayabaya.
Rahayu ingkang samya pinanggih.
Bau Tanah said,
July 9, 2009 at 9:32 pm
NUMPANG NIMBRUNG.
1. SEGALA SESUATU DIDUNIA ADA MASA DAN WAKTUNYA MASING MASING.
2. PEMIMPIN BUKAN SUPERMAN …..! TAPI DIA HARUS BERUSAHA JADI SUPERMAN !
3. KEPEMIMPINAN ORANG BILANG ITU SENI……?
4. TAPI BAGI SAYA ITU SALAH BUESAR! DOKTRIN PENGAJARAN YG SALAH!
5. KALO KEPEMIMPINAN ITU SENI MAKA YANG TERJADI ADALAH :
a. ADA INSPIRASI ADA HASIL KARYA SENI YG BAGUS DAN BISA DINIKMATI.
b. TDK ADA INSPIRASI TDK ADA KARYA SENI YG BAGUS
MALAH ABSTRAK HANYA BISA DIMNGERTI DAN DINIKMATI SEBAGIAN KECIL ORG ATAU KALANGAN TERTENTU.
c. SENI DAPAT DIJUAL.
d. SENI ITU SANDIWARA.
e. SENI ITU PAKE TOPENG.
f. BAHKAN NGAWUR AJA, TELANJANG, JELEK, KOTOR, GAK JELAS, GAK INDAH….dst BISA DIBANG SENI.
MAKA DARI ITU SAYA NYATAKAN KEPEMIMPINAN ITU ADALAH KEPRIBADIAN ! SIAPA YG MEMILIKI PRIBADI YG BAIK DIALAH PEMIMPIN YANG BAIK KARENA, KEPEMIMPINANNYA ADALAH NYATA, APA ADANYA, BUKAN SNDIWARA, BUKAN TOPENG, TDK TERPENGARUH OLEH SITUASI DAN KONDISI, TDK DIJUAL ATAU DILELANG KEPADA PENAWAR TERTINGGI.
MUDAH MUDAHAN MATA KULIAH DAN PELAJARAN SERTA DOKTRIN TENTANG KEPEMIMPINAN DI INDONESIA DAPAT DIRUBAH !
SEHINGGA APA YG DIBERIKAN OLEH PARA PEMIMPIN KEPADA YG DIPIMPIN ADALAH AIR SEGAR YG MENYEJUKKAN DAN DAPAT MENHILANGKAN DAHAGA RAKYAT INDONESIA DAN BUKAN AIR SENI…!