MEDITASI

May 23, 2009 at 2:37 am (MEDITASI) (, , , )

MEDITASI

 (Olah Semedi Seri Dua)

“Spiritualitas dianggap sebagai suatu kesadaran tentang ketuhanan dan agama sebagai kesadaran yang nyata tentang ketuhanan melalui lembaga-lembaga pendidikan”

Pengertian Meditasi

Meditasi lebih mudah dipahami sebagai olah raga, dalam hal ini nafas dan pikiranlah yang diolah. Meditasi dilakukan dengan jalan memusatkan konsentrasi atau perhatian pada suatu hal saja, dalam dalam hal ini respirasi atau jalan keluar-masuknya nafas anda sendiri. Meditasi dapat dipahami sebagai olah yang melibatkan dua unsur yakni olah raga sembari melakukan pengolahan jiwa. Agar supaya berhasil dalam bermeditasi  hendaknya melibatkan ketenangan hati dan batin, serta pengendalian atas aktivitas ragawi yakni pikiran dan emosi.  Tidak kalah pentingnya untuk meditasi, harus didukung oleh suasana yang nyaman, hening, syahdu, dan tenteram.

Meditasi Tidak Berhubungan Dengan Agama

Pada prinsipnya proses meditasi sebagai salah satu jalan mengenali diri sendiri secara metodis dan ilmiah. Meditasi bukanlah ajaran agama tertentu melainkan ada dalam semua tradisi-tradisi agama besar dunia. Meditasi terdapat pula dalam berbagai kebudayaan dan ajaran suatu masyarakat. Dilakukan dengan berbagai macam metode atau tata cara. Read the rest of this entry »

Permalink 53 Comments

FALSAFAH HIDUP KEJAWEN

May 19, 2009 at 10:45 pm (FALSAFAH HIDUP KEJAWEN) (, , , , , , , , )

Dasar-dasar Falsafah Hidup Kejawen: Hanggayuh Kasampurnaning Hurip, Bèrbudi Bawaleksana, Ngudi Sejatining Becik

Perpustakaan pelestarian budaya Yogyakarta

Ketuhanan

1. Pangeran iku siji, ana ing ngendi papan langgeng, sing nganakake jagad iki saisine, dadi sesembahane wong sak alam kabeh, nganggo carane dhewe-dhewe. (Tuhan itu tunggal, ada di mana-mana, yang menciptakan jagad raya seisinya, disembah seluruh manusia sejagad dengan caranya masing-masing)

2. Pangeran iku ana ing ngendi papan, aneng siro uga ana pangeran, nanging aja siro wani ngaku pangeran(Tuhan ada di mana saja, di dalam dirimu juga ada, namun kamu jangan berani mengaku sebagai Tuhan) Read the rest of this entry »

Permalink 27 Comments

ILUSI NEGARA ISLAM

May 19, 2009 at 10:26 am (ILUSI NEGARA ISLAM) ()

oleh Irfan Darsina

Usai membaca buku berjudul Ilusi Negara Islam (INI): Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia, mereka yang berpikiran picik pasti akan langsung membuat konklusi: ini fitnah, tujuannya mengadu domba umat Islam. Buku ini, kata mereka yang picik itu, sengaja dibuat musuh-musuh Islam, kaum zionis Yahudi, AS, Israel, untuk memecah belah umat Islam Indonesia. Dst, dst, dst. Saya termasuk kelompok yang telat membaca buku INI. Sudah telat, saya juga belum baca seluruh isi buku. Tetapi, setelah membaca prolog (Syafii Maarif), kata pengantar (Gus Dur), Bab I & 2, dan sebagian kesimpulan, serta epilog (Gus Mustofa Bisri), saya membuat beberapa catatan.   Read the rest of this entry »

Permalink 81 Comments

SERAT SABDAJATI

May 11, 2009 at 1:27 am (SERAT SABDAJATI) (, , )

Serat Sabdojati
R.Ng. Rangga Warsita
Megatruh
1. Hawya pegat ngudiya RONGing budyayu, 
 MarGAne suka basuki,
 Dimen luWAR kang kinayun, 
 Kalising panggawe SIsip, 
 Ingkang TAberi prihatos.
Jangan berhenti selalu berusaha membangun budi pekerti luhur,   
menjadi jalan meraih kemuliaan hidup, 
Agar tercapai apa yang diinginkan, 
Terhindar dari mara bahaya,  
Caranya kuat dalam prihatin.
2. Ulatna kang nganti bisane kepangguh, 
Galedehan kang sayekti, 
Talitinen awya kleru, 
Larasen sajroning ati, 
Tumanggap dimen tumanggon.
Perhatikan dengan seksama, 
Koreksi diri secara sungguh-sungguh,  
Telitilah jangan sampai keliru, 
Endapkan di dalam kalbu, 
agar sikapnya selalu cermat dan tanggap.
3.  Pamanggone aneng pangesthi rahayu, 
Angayomi ing tyas wening, 
Eninging ati kang suwung, 
Nanging sejatining isi, 
Isine cipta sayektos.
Tujuannya demi mendapat restu dan selamat, 
Merengkuh kebeningan hati,  
Kesunyian hati yang kosong, 
Walau kosong sesungguhnya berisi,  
Isinya kesadaran yang sejati.
4.  Lakonana klawan sabaraning kalbu, 
Lamun obah niniwasi, 
Kasusupan setan gundhul, 
Ambebidung nggawa kendhi, 
Isine rupiah kethon.
Jalani dengan penuh kesabaran. 
Jika terlena akan berbuah derita,
Kemasukan “setan gundul”, 
yang menggoda sambil membawa kendi, 
berisi uang banyak.
5. Lamun nganti korup mring panggawe dudu, 
Dadi panggonaning iblis, 
Mlebu mring alam pakewuh, 
Ewuh mring pananing ati, 
Temah wuru kabesturon.
Bila sampai khilaf berbuat nista,  
Akan menjadi sarangnya nafsu angkara, 
senantiasa mendapatkan kesulitan, 
bingung dengan gejolak keinginan hati,
pasti menemui kehancuran.
6. Nora kengguh mring pamardi reh budyayu, 
Hayuning tyas sipat kuping, 
Kinepung panggawe rusuh, 
Lali pasihaning Gusti, 
Ginuntingan dening Hyang Manon.
(Jika terlanjur hancur) tak peduli lagi akan kebaikan, 
Segala yang baik-baik lari dari dirinya, 
Sudah diliputi perbuatan angkara, 
Lupa akan nikmat Tuhan,  
Hingga mendapat hukuman Yang Maha Tahu.
7. Parandene kabeh kang samya andulu, 
Ulap kalilipen wedhi, 
Akeh ingkang padha sujut, 
Kinira yen  Jabaranil, 
Kautus dening Hyang Manon.
Walau semua orang menyaksikan, 
Tak dapat membedakan yang benar dan salah, 
Banyak orang bersujut, 
Orang jahat dikira orang mulia, 
disangkanya utusan Tuhan.
8. Yen kang uning marang sejatining dawuh, 
Kewuhan sajroning ati, 
Yen tiniru ora urus, 
Uripe kaesi-esi, 
Yen niruwa dadi asor.
Kepada orang luhur dan bijaksana, 
Mucul bimbang dalam hati, 
Bila dicontoh tak pantas, 
Hidupnya disia-sia,  
Bila mencontoh justru terhina.
9. Nora ngandel marang gaibing Hyang Agung, 
Anggelar sakalir-kalir, 
Kalamun temen tinemu, 
Kabegjane anekani, 
Kamurahane Hyang Manon.
Tidak percaya kepada Tuhan, 
yang menggelar jagad raya,  
siapa yang sungguh-sungguh akan berhasil,  
keberuntungan akan datang sendiri,  
Atas kemurahan Tuhan.
10. Hanuhoni kabeh kang duwe panuwun, 
Yen temen-temen sayekti, 
Dewa aparing pitulung, 
Nora kurang sandhang bukti, 
Saciptanira kelakon.
Mengabulkan semua yang punya permohonan,  
bila dilakukan dengan setulus hati,
Tuhan akan selalu memberi pertolongan,
sandang pangan tercukupi,
apapun yang diharapkan tercapai.
11. Ki Pujangga nyambi paraweh pitutur, 
Saka pengunahing Widi, 
Ambuka warananipun, 
Aling-aling kang ngalingi, 
Angilang satemah katon.
Ki Pujangga sambil memberi petuah, 
Dari pralampita Hyang Widi,
membuka selubung rahasia,
tabir yang menyelimuti, 
sehingga dapat diketahui.
12. Para jalma sajroning jaman pakewuh, 
Sudranira andadi, 
Rahurune saya ndarung, 
Keh tyas mirong murang margi, 
Kasekten wus nora katon.
Orang-orang di zaman carut marut,
Angkara murka semakin menjadi-jadi,
Kerusuhan tak terkendali,
Banyak kehidupan menyimpang,
Keluhuran ilmu tidak tampak lagi.
13. Katuwane winawas dahat matrenyuh, 
Kenyaming sasmita sayekti, 
Sanityasa tyas malatkunt, 
Kongas welase kepati, 
Sulaking jaman prihatos.
Lama kelamaan makin memprihatinkan, 
merasakan tanda-tanda zaman benar terjadi, 
hati selalu termangu, 
terasa sangat menyedihkan,
menyaksikan zaman memprihatinan.
14. Waluyane benjang lamun ana wiku, 
Memuji ngesthi sawiji, 
Sabuk tebu lir majenum, 
Galibedan tudang tuding, 
Anacahken sakehing wong.
(Zaman hukuman) akan selesai tahun 1877 
(Wiku ; 7, Memuji ; 7, Ngesthi ; 8, Sawiji ; 1) 
tahun Masehi 1945), 
Orang berikat pinggang tebu seperti orang gila, 
Kesana-kemari sambil menunjukkan jari,
menghitung banyaknya orang.
15. Iku lagi sirap jaman Kala Bendu, 
Kala Suba kang gumanti, 
Wong cilik bisa gumuyu, 
Nora kurang sandhang bukti, 
Sedyane kabeh kelakon.
Di situlah baru selesai Jaman Kala Bendu, 
Berganti dengan jaman Kala Suba,
Rakyat kecil bersuka cita, 
tidak kekurangan sandang dan pangan,
seluruh harapannya tercapai.
16. Pandulune Ki Pujangga durung kemput, 
Mulur lir benang tinarik, 
Nanging kaseranging ngumur, 
Andungkap kasidan jati, 
Mulih mring jatining enggon.
(Sayang sekali) penerawangan Sang Pujangga belum tuntas,  mulur bagaikan benang ditarik (kedepan),  
Namun karena umur sudah tua, 
Merasa hampir datang saat kematian, 
Kembali ke tempat hidup yang sesungguhnya.
17. Amung kurang wolung ari kang kadulu, 
Tamating pati patitis, 
Wus katon neng lokil makpul, 
Angumpul ing madya ari, 
Amerengi Sri Budha Pon. 
Terlihat hanya kurang 8 hari lagi, 
Datangnya kematian sudah tiba waktunya, 
kembali menghadap Tuhan,
berkumpul di tengah hari, 
Tepatnya pada hari Rabu Pon.
18. Tanggal kaping lima antarane luhur, 
Selaning tahun Jimakir, 
Taluhu marjayeng janggur, 
Sengara winduning pati, 
Netepi ngumpul sak enggon.
Tanggal 5 bulan kira-kira tengah hari,
Sela (Dulkangidah) tahun Jimakir Wuku Tolu, 
Windu Sengara (atau tanggal  24 Desember 1873) 
itulah saat yang ditentukan sang Pujangga, 
memenuhi janji berkumpul satu tempat,
(kembali menghadap Tuhan).
19. Cinitra ri budha kaping wolulikur, 
Sawal ing tahun Jimakir, 
Candraning warsa pinetung, 
Sembah mekswa pejangga ji, 
Ki Pujangga pamit layoti.
Karya ini ditulis di hari Rabu tanggal 28, 
Sawal tahun Jimakir 
Candra tahun terhitung,
Sembah;2, Muswa;0, Pujangga;8, Ji;1(1802) 
bertepatan dengan tahun masehi 1873.
 
R.Ng. Rangga Warsita
          
Megatruh
1.      Hawya pegat ngudiya RONGing budyayu, 
 MarGAne suka basuki,
 Dimen luWAR kang kinayun, 
 Kalising panggawe SIsip, 
 Ingkang TAberi prihatos.
Jangan berhenti selalu berusaha membangun budi pekerti luhur,   
menjadi jalan meraih kemuliaan hidup, 
Agar tercapai apa yang diinginkan, 
Terhindar dari mara bahaya,  
Caranya kuat dalam prihatin.
             ***
Read the rest of this entry »

Permalink 24 Comments

SERAT SABDATAMA

May 9, 2009 at 11:08 pm (SERAT SABDATAMA) (, , )

R.Ng. Ronggowarsito

Gambuh

Rasaning tyas kayungyun,  Angayomi lukitaning kalbu,  Gambir wana kalawan hening ing ati, Kabekta kudu pitutur,  Sumingkiring reh tyas mirong.

Hati serasa kuat berhasrat,  merengkuh kata hati nurani,  dengan keheningan kalbu, ingin menyampaikan nasehat, melenyapkan kotoran dalam hati.

Read the rest of this entry »

Permalink 12 Comments

FAQ: LELUHUR, PUSAKA, GURU SEJATI

May 9, 2009 at 1:00 pm (FAQ: LELUHUR; PUSAKA; GURU SEJATI) (, , )

FAQ :  TENTANG LELUHUR, PUSAKA, GURU SEJATI

1. Mas, mohon dijelaskan bagaimana caranya agar supaya terjalin hubungan atau komunikasi dengan leluhur. Atau bagaimana tata cara yang harus dilakukan agar kita dijangkung dan dijampangi oleh leluhur ?

Jawab :

Banyak cara bisa ditempuh. Antara lain sebagai berikut :

  1. Sering mendoakan beliau, dengan doa akan terjalin tali rasa. Namun doa akan lebih mantab bila tidak hanya dilakukan dari rumah. Cara ini cenderung mengambil jalan yang paling mudah. Nilai keprihatinannya masih rendah, sebab perjuangan dan usaha dalam perbuatan nyata belum termanifestasikan. Read the rest of this entry »

Permalink 56 Comments

CONTOH UNDANGAN 7 BULANAN

May 8, 2009 at 2:31 am (CONTOH UNDANGAN 7 BULAN) (, , )

Berikut ini contoh undangan untuk acara selamatan bayi tujuh bulan (mitoni) atau tingkeban. Silahkan jika ingin mengcopas untuk keperluan anda. 

Contoh Undangan Tingkepan

Permalink 5 Comments

SERAT JAKALODANG

May 1, 2009 at 11:44 pm (SERAT JAKALODANG) (, , , )

Rangga Warsita Basa Kadaton
Basa Kadaton Rangga Warsita

RONGeh jleg tumiBA
GAgaran santoSA
WARtane meh teKA
SIkara karoDA
TAtage tan kaTON
BArang-barang ngeRONG
SAguh tanpa raGA
KAtali kawaWAR
DAdal amekaSI
TONda murang taTA

Gambuh
Jaka Lodang gumandhul
Praptaning ngethengkrang sru muwus
Eling-eling pasthi karsaning Hyang Widhi
Gunung mendhak jurang mbrenjul
Ingusir praja prang kasor

Joko Lodang berayun lalu berlagak dengan sombong, sambil berkata dengan lantang. Hati-hatilah sudah menjadi kehendak Tuhan bahwa kelak gunung-gunung akan menjadi rendah, sebaliknya jurang yang curam akan timbul kepermukaan, zaman yang serba terbalik, karena kalah perang maka akan diusir dari negerinya.

Nanging awya kliru
Sumurupa kanda kang tinamtu
Nadyan mendak mendaking gunung wis pasti
Maksih katon tabetipun
Beda lawan jurang gesong

Namun jangan salah memahami. Ketahuilah kabar yang telah digariskan. Walau serendah apapun gunung akan tetap masih tampak terlihat. Berbeda dengan jurang yang curam.

Nadyan bisa mbarenjul
Tanpa tawing enggal jugrugipun
Kalakone karsaning Hyang wus pinasti
Yen ngidak sangkalanipun
Sirna tata estining wong

(Jurang) meskipun dapat timbul, namun kalau tidak ada tanggulnya akan longsor juga. Kejadian itu sudah menjadi kehendak Tuhan YME, bilamana telah menginjak masa : tahun Jawa 1850. Sirna ; 0, Tata ; 5, Esthi ; 8 dan Wong ; 1. Atau tahun 1919-1920 masehi.

Sinom
Sasedyane tanpa dadya
Sacipta-cipta tan polih
Kang reraton-raton rantas
Mrih luhur asor pinanggih
Bebendu gung nekani
Kongas ing kanistanipun
Wong agung nis gungira
Sudireng wirang jrih lalis
Ingkang cilik tan tolih ring cilikira

Segala yang dikehendaki tidak terwujud, segala yang dicita-citakan mengalami kegagalan, yang direncanakan berantakan, langkah dan keputusan salah perhitungan, ingin menang malah kalah. Datanglah hukuman dahsyat dari Tuhan. Yang tampak hanyalah perbuatan nista. Orang besar kehilangan kebesarannya, pilih menanggung malu ketimbang mati, rakyat kecil tidak memahami diri sendiri.

Wong alim-alim pulasan
Njaba putih njero kuning
Ngulama mangsah maksiat
Madat madon minum main
Kaji-kaji ambataning
Dulban kethu putih mamprung
Wadon nir wadorina
Prabaweng salaka rukmi
Kabeh-kabeh mung marono tingalira

Banyak orang berlagak sok alim (penuh kepalsuan), luarnya “putih” dalemnya “kuning”, banyak ulama gemar maksiat. Suka mabuk, main perempuan, dan berjudi. Yang sudah naik haji pun rusak moral dan kelakuannya. Perempuan kehilangan kewanitaannya, karena mengejar harta benda. Harta benda menjadi tujuan hidup semua orang.

Para sudagar ingargya
Jroning jaman keneng sarik
Marmane saisiningrat
Sangsarane saya mencit
Nir sad estining urip
Iku ta sengkalanipun
Pantoging nandang sudra
Yen wus tobat tanpa mosik
Sru nalangsa narima ngandel ing suksma

Para pedagang bersukaria, harta benda dipertuhan. Akibatnya penderitaan meliputi seluruh jagad, kesengsaraannya makin menjadi-jadi. Tahun Jawa menunjuk tahun 1860 ; Nir ; 0, Sad ; 6, Esthining ; 8, Urip ; 1. Tahun Masehi kurang lebih tahun 1930. Penderitaan usai bila semua orang sadar lalu bertobat, kembali kepada jalan kebenaran.

Megatruh
Mbok Parawan sangga wang duhkiteng kalbu
Jaka Lodang nabda malih
Nanging ana marmanipun
Ing waca kang wus pinesthi
Estinen murih kelakon

Mbok Perawan berpangku tangan merasa sedih. Joko Lodang berkata lagi : “Namun ketahuilah bahwa ada hukum sebab akibat, dalam ramalan yang sudah ditentukan, upayakan supaya terjadi “.

Sangkalane maksih nunggal jamanipun
Neng sajroning madya akir
Wiku Sapta ngesthi Ratu
Adil parimarmeng dasih
Ing kono kersaning Manon

Saatnya (kemerdekaan) masih dalam zaman yang sama. Di akhir pertengahan abad. Tahun Jawa 1877 Wiku ; 7, Sapta ; 7, Ngesthi ; 8, Ratu ; 1. Bertepatan dengan tahun 1945 masehi. Datanglah keadilan antara sesama manusia. Semua itu sudah menjadi kehendak Tuhan.

Tinemune wong ngantuk anemu kethuk
Malenuk samargi-margi
Marmane bungah kang nemu
Marga jroning kethuk isi
Kencana sesotya abyor

Kelak saat itu, segala sesuatu dapat diraih dengan sangat mudah, ibarat orang yang mengantuk mendapat kethuk (gong kecil) yang berada banyak dijalan. Gembira lah hati orang yang menemukan, sebab di dalam berisi emas kencana.

*******

Permalink 15 Comments

MISTERI CUPU PANJALA

May 1, 2009 at 2:56 pm (MISTERI CUPU PANJALA) (, , , )

 

MISTERI CUPU PANJALA

Dalam tradisi Jawa banyak dikenal berbagai pusaka warisan leluhur, di antaranya adalah berbentuk cupu, dinamakan Cupu Panjala. Pada masyarakat Yogyakarta sudah begitu populer mengenai pusaka ini karena tuahnya yang terkenal keramat. Dalam setahun sekali, kain pembungkus cupu dibuka dan muncul tanda-tanda zaman yang menjadi peringatan bagi anak turun dan masyarakat yang mempercayai. Ketenaran cupu tidak terlepas dari ketepatan prediksi atau ramalan sebagaimana terdapat dalam gambaran yang tertoreh di atas lembaran kain mori pembungkusnya.

Cupu Panjala berjumlah 3 buah, dimasukkan ke dalam satu peti kecil dan disimpan di dalam kamar yang sangat tertutup yang tidak sembarang orang bisa masuk atau membukanya. Peti dibalut dengan menggunakan kain mori yang hingga kini telah berjumlah ratusan helai. Karena setiap tahun bertambah satu demi satu helai kain mori. Setelah acara membuka lembaran kain pembungkus peti, keesokan harinya kain pembungkus  baru dibalutkan menambah kain yang lama.

Cupu Panjala dibuka hanya sekali dalam setahun menjelang musim hujan tiba. Acara pembukaan sangat menarik perhatian masyarakat karena di dalam lembaran kain pembalut peti akan tampak muncul gambar yang berbeda-beda setiap tahunnya. Gambar tersebut merupakan pralampita atau perlambang akan situasi dan kondisi zaman selama setahun kedepan. Perlambang bisa menggambarkan situasi politik, ekonomi, kemakmuran, dan siapa pemegang tampuk kekuasaan. Perlambang biasanya dalam bentuk beberapa gambar yang tidak sulit ditafsirkan.

Tiga buah cupu bertuah masing-masing memiliki nama sbb :

Ukuran besar     : semar kinando

Ukuran Sedang  : palang kinantar

Ukuran Kecil      : kenthiwiri

 

 

 

Serangkaian Cupu Panjala

Serangkaian Cupu Panjala

 

    Cupu Semar Kinando     Palang Kinantar    Cupu Ukuran Kecil

Cupu Panjala sudah mengalami perpindahan tempat sebanyak 3 kali. Dan diturunkan secara bergantian  dari trah tertua dari generasi ke generasi berikutnya. Sejak Mei tahun 1957 hingga saat ini cupu tersebut berada di dusun Colorejo, di rumah bapak Dwijo Sumarto, yang merupakan menantu dari generasi ke 7 dari trah Kyai Panjala.

Bagi yang antipati tidak perlu reaksioner menanggapi fenomena cupu tersebut. Sebab masing-masing desa akan berbeda cara, masing-masing negara akan berbeda tradisi dan tatatannya. Cupu merupakan media komunikasi antara anak turun dengan leluhurnya sendiri. Bagi leluhur yang sudah berada di alam kamulyan tak ada lagi realitas kehidupan yang tertutup tabir rahasia. Sehingga dengan mudah mengetahui apa yang bakal terjadi dialami oleh anak turun generasi penerusnya. Bukan hal yang sulit untuk menyampaikan tanda-tanda peringatan, pepeling, nasehat kepada yang masih hidup di dunia.  Salah satu caranya melalui penyampaian tanda-tanda zaman seperti dalam perlambang dalam kain pembungkus Cupu Panjala. Betul dan benar bahwa Tuhan Mahakuasa, namun Tuhan menyampaikan petunjuk tidak selalu secara langsung kepada umat manusia. Terkadang melalui leluhur, melalui orang yang masih hidup, atau famili, teman, bahkan bisa juga dari musuh anda sendiri. 

sabdalangit

 

 

 

 

Permalink 7 Comments

Next page »