ILUSI NEGARA ISLAM
oleh Irfan Darsina

Usai membaca buku berjudul Ilusi Negara Islam (INI): Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia, mereka yang berpikiran picik pasti akan langsung membuat konklusi: ini fitnah, tujuannya mengadu domba umat Islam. Buku ini, kata mereka yang picik itu, sengaja dibuat musuh-musuh Islam, kaum zionis Yahudi, AS, Israel, untuk memecah belah umat Islam Indonesia. Dst, dst, dst. Saya termasuk kelompok yang telat membaca buku INI. Sudah telat, saya juga belum baca seluruh isi buku. Tetapi, setelah membaca prolog (Syafii Maarif), kata pengantar (Gus Dur), Bab I & 2, dan sebagian kesimpulan, serta epilog (Gus Mustofa Bisri), saya membuat beberapa catatan.
1. Umat Islam hendaknya membaca buku ini dengan pikiran terbuka, hati yang bening dan sikap mawas diri. Pada awalnya, pikiran kita mungkin tidak sepenuhnya bisa menerima hasil penelitian di dua kota: Jakarta dan Yogyakarta, ini sebagai sebuah kebenaran ilmiah (baca: kebenaran berdasarkan metode dan prinsip pengambilan kesimpulan yang logis). Mindset kita sebagai umat Islam yang merasa Islam itu sebetulnya satu akan sulit menerima hasil studi yang secara gamblang ‘menelanjangi” diri saudara-saudara kita yang selama ini kita anggap hebat, berilmu, dan berjuang demi kemaslahatan ummat. Tetapi, sekali lagi, dalam membaca buku ini kita mesti semaksimal mungkin mendayagunakan akal pikiran untuk bersikap kritis dan berikhtiar menemukan kebenaran, seraya tidak pernah putus asa mohon hidayah Allah SWT agar kita tidak tersesat.
2. Studi ini berhasil menelanjangi kedok Wahabi, Ikhwanul Muslimin, dan HTI. Buku ini memasukkan pengikut mazhab Wahabi itu sebagai Islam Garis Keras. Islam Garis Keras dibagi dua: level Individual dan organisasional. Ada beberapa indikator “garis keras” yang dicantumkan buku INI, antara lain, memutlakkan pemahaman sendiri dalam agama, tidak toleran terhadap pandangan yang berbeda, mendesak atau mendukung pemerintah untuk melarang pihak lain yang memiliki pandangan berbeda, membenarkan aksi kekerasan terhadap mereka yang berbeda pandangan itu, menolak Pancasila sebagai dasar negara, sampai ujung-ujungnya mendirikan negara Islam (khilafah Islamiyah). Sikap “garis keras” itu bisa mereka tampakkan bisa pula mereka sembunyikan (tergantung sikon).
3. Pengikut Wahabi di Indonesia merupakan representasi Islam Garis Keras itu. Dalam buku INI dijelaskan bagaimana pengikut Wahabi menjalankan aksi-aksi yang secara umum sungguh menggerigisi. Studi ini menemukan bukti-bukti signifikan langkah-langkah pengikut Wahabi yang melakukan infiltrasi ke organisasi Muhammadiyah dan NU. Mereka pelan-pelan tapi pasti bermaksud mengubah wajah Islam moderat Muhammadiyah dan NU menjadi Islam Garis Keras. Atas temuan itu, tokoh-tokoh moderat Muhammadiyah dan NU mulai melakukan aksi pembentengan terhadap infiltrasi itu, dan menyerukan anggota2 mereka agar meningkatkan kewaspadaan terhadap gerakan Islam Garis Keras tersebut. Dalam bahasa yang dulu sempat populer, ummat disadarkan pada BAHAYA LATEN WAHABI.
4. Kewaspadaan akan Bahaya Laten Wahabi perlu ditingkatkan karena mereka melakukan infiltrasi ke berbagai segi kehidupan, terutama segi-segi yang sangat strategis. Mereka masuk lewat politik, sosial (pendidikan) dan tentu saja keagamaan. Strategi dan sistem mereka dalam melakukan infiltrasi sungguh nggerigisi, dan hasilnya sungguh dahsyat: ada anak SMP yang berani mengkafirkan ibunya hanya karena si ibu tidak mau memakai jilbab. Seluruh upaya infiltrasi itu didanai oleh Kerajaan Arab Saudi, negara yang berdiri atas dasar mazhab Wahabi.
5. Dengan membaca buku ini, kita jadi lebih mudah memahami fenomena politik Indonesia belakangan ini. Ketika Presiden SBY tidak memilih HNW sebagai cawapres, dan HNW dengan setengah gusar menuding ada pihak yang memasukkan dirinya sebagai pengikut Wahabi. Waktu itu, saya merasa aneh, mengapa takut disebut Wahabi? Setelah membaca buku ini, saya jadi mafhum, ternyata Wahabi itu memang nggerigisi, dan seluruh ummat Islam Moderat tipikal Indonesia harus meningkatkan kewaspadaan terhadap BAHAYA LATEN WAHABI.
Buku ini, hemat saya, sangat inspiratif. Buku ini selayaknya dijadikan buku pelajaran di seluruh sekolah mulai tingkat SD sampai perguruan tinggi. Anak-anak dan generasi muda kita perlu mengetahui BAHAYA LATEN WAHABI itu, namun mesti tetap memberi kebebasan mereka untuk memilih. Wahabi tidak memberi pilihan itu, tetapi Islam moderat mesti tetap memberikan kebebasan memilih dan mengakui perbedaan. Saya kira, kebebasan memilih tafsir agama dan mengakui perbedaan tafsir itu sebagai rahmat (ikhtilafu ummati rahmah, sabda Sang Nabi SAW) merupakan landasan utama dalam perilaku beragama kaum moderat. Sebab, TUHAN pun, memberikan kebebasan itu: TAK ADA PAKSAAN DALAM AGAMA!
Bila anda mengalami masalah dalam mendownload silahkan download per item di bawah ini :
Cover Buku : Cover Buku
Preface/Prolog : Masa Depan Islam Indonesia
Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif
Pengantar Editor : Musuh Dalam Selimut
KH. Abdurrahman Wahid
Bab I : Studi Gerakan Islam Transnasional dan Kaki Tangannya Di Indonesia
Bab II : Infiltrasi Ideologi Wahabi dan Ihwanul Muslimin Indonesia
Bab III : Ideologi dan Agenda Gerakan Garis Keras di Indonesia
Bab IV : Infiltrasi Agen-agen Garis Keras Terhadap Islam di Indonesia
Bab V : Kesimpulan dan Rekomendasi
Epilog : Belajar Tanpa Akhir
KH. A. Mustofa Bisri
Lampiran 2 : Dokumen Penolakan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terhadap Ideologi dan Gerakan Ekstremis Transnasional
Daftar Bibliografi : Daftar Bibliografi















Ngabehi said,
May 23, 2009 at 4:03 pm
wah trimakasih ki , saya sudah berhasil download, cepat sekali. Wah makanya kita harus makin waspada. Waspadalah waspadalah!!!!!!!!
sabdalangit said,
May 23, 2009 at 4:55 pm
Injih Ki…monggo sami waspadha, kita tumbuhkan sikap egaliter, toleransi, saling menghargai, menghormati, dan bangsa Indonesia adalah bangsa yg multi etnis, ras, agama, ajaran, budaya, tradisi. Semua merupakan kekayaan bangsa, dan perbedaan merupakan ANUGRAH TUHAN YME.
salam asih asah asuh
m4stono said,
May 23, 2009 at 10:55 pm
kulanuwuun kangmas
)
waduh saya keduluan sama kangmas, sebenernya saya mau posting tentang ini juga, tapi saya dah donlot bukunya tapi belum sempat baca hehe..
mengenai wahabi memang saya aga kurang sependapat tapi juga ada benarnya…memang dilihat dari sisi psikologis awal mula berdirinya wahabi oleh mohamad bin abdul wahab karena kekecewaan terhadap umat isalm di arab pada waktu itu yg melihat banyak penyimpangan pelaksanaan syariat islam pada waktu itu, juga karena ketidak siapan umat islam pada kemajuan iptek barat yg melesat kira2 abad 17, sehingga banyak umat islam yg keteteran dan merasa terpinggirkan sehingga merasa perlu utk kembali ke pelaksanaan syariat persis plek pada jaman Nabi SAW, tapi kemudian ini menjadi masalah ketika cara dakwahnya yg sangat agresif dan mengkafir-kufurkan golongan yg tidak sepaham….
menjalankan syariat persis plek pada jaman NAbi SAW boleh2 saja tapi dengan cara dakwah yg halus, santun, elegan dan tidak memojokkan pihak2 yg tdk sepaham…golongan fundamental harusnya bisa mencontoh abu hanifah yg meyatakan “bisa jadi aku yg salah kamu yg benar”.
bagi kita para pengagum budaya sebaiknya bisa eling lan waspodo dengan cara introspeksi diri, mengingatkan yg salah dgn cara yg baik dan santun, dan tidak ikut2an menghujat yg tidak sepaham dengan kita…satu jari menunjuk ke orang lain maka empat jari lainnya akan menunjuk ke kita(kata SBY
wasalam
sabdalangit said,
May 23, 2009 at 11:05 pm
M4stono Yth
Nggak apa-apa di upload saja Mas, karena ini merupakan kabar atau informasi. Seperti di tv, satu tv memuat dan yg lainnya juga memuat. Saya pun hanya memilih artikel yg kira-kira representatif. Tadinya saya mau up load pendapat saya sendiri, namun saya nggak bisa membohongi diri sendiri. Kalau saya tdk menyampaikan apa adanya seperti yg ada dalam benak, malah menjadi “angen-angen” yg nggak enak dirasakan.
Monggo lho mas di up load saya menunggu pencerahan dari panjenengan.
Saya sepakat, seharusnya umat islam fundamental bisa mencontoh sebagaimana cara abu hanifah berdakwah dgn cara egaliter dan tdk suka memaksakan kehendak, atau mendiskreditkan orang yg tdk sepaham.
Matur nuwun M4stono
salam asih asah asuh
sapto said,
May 24, 2009 at 12:59 pm
Kalau dipikir-pikir kayaknya jadi mumet juga:-)
Secara manusiawi memang kayak gitu manusia.
Ada dua sisi yg saling bertolak belakang, ada baik dan buruk, ada hitam dan putih, adanya moderat karena adanya fundamental.
Kalau mengklasifikasi pengendalian nafsu manusia dr nol persen sampai 100 persen, tentulah akan terisi semua.
Dari jaman dahulu sampai sekarang perang masih terjadi. Apakah masih kurang panjang rentang waktu yg ada untuk menjadi manusia2,golongan2,bangsa2 yg moderat???
Jaman semakin maju dan modern, cukup butuh segelintir orang2 yg sangat fundamentalist
untuk menjadikan dunia tdk aman, jika mereka berada dipucuk2 pimpinan.
Mumet… met…met
Hanya ngudoroso…:-)
Salam hormat tuk Mas Sabda dan semua sesepuh
Daryono said,
May 24, 2009 at 3:55 pm
Salam mas sabda
Sekedar menambahkan kelompok ini mulai kembali eksis pasca kejatuhan pak harto ,era reformasi yang melahirkan iklim demokrasi yang kondusif menjadikan klompok ini sangat menikmati Kue demokrasi dimana klompok ini ,sangat bebas mengujat pemerintah. Dan menekan kelemplok klompok yang tidak sepaham , kelompok ini menyusup ke segala lini dari pengurus masjid , ulama, dan perbankkan di DPR dia dengan gigih menggulkan perda perda sariah,sungguhpun dia paling menikmati Kue demokrasi tetapi tidak sidikitpun memberi apresiasi sedikitpun terhadap Demokratisasi aneh memang tapi demikian yang terjadi.kabar terakhir kelompok ini sangat mengicar Kabinet terutama bidang Pendidikan dan Agama, hendaknya para ulama, agamawan,dan budayawan,dan pendidik, atau kita semua yang masih peduli dengan nilai nilai luhur bangsa untuk selau meningkatkan kewaspadaan kalau tidak ingin kita seperti AFGANISTAN, yang dengan mudahnya orang mengebom tempat ibadah yang atas nama Agama sangat menyedihkan. Untuk mas sabda Salam sedjati
Rahayu
ahmad said,
May 24, 2009 at 9:08 pm
Saya tidak mau menghakimi,karena memang tidak sepantasnya bagi saya untuk berani menghakimi sesama saudaraku sebangsa,sebab hal penghakiman,pemutusan perkara benar atau salah adalah menjadi wewenang Gustii.
Tetapi saya hanya ingin sekedar menyampaikan memang ga ada kebenaran yg lebih indah daripada kebenaran ini :
“Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma mangrwa”.
Inilah Jiwa Garudeya…Manusia Pancasila…..Jawa Jawi Jawata.
Rahayu!.
sabdalangit said,
May 24, 2009 at 10:36 pm
Hidup Nasionalisme, bagamanapun kita hidup di ranah yg plural, berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Dan perbedaan adalah anugrah terindah Tuhan YME. Negeri ini ada dan berhasil merdeka juga atas partisipasi semua suku bangsa, agama, dan budaya. Dan PANCASILA merupakan rangkuman nilai SPIRITUAL yang sangat dalam melampaui seluruh keberagaman agama dan budaya di Indonesia.
salam asih asah asuh
S™J said,
May 24, 2009 at 11:28 pm
jalesveva jaya mahe! *eh salah kayaknya* ini aja deh…. mmm…. rukun agawe santosa
sabdalangit said,
May 24, 2009 at 11:46 pm
Wah ..matur nuwun Mas Jenang…sesepuh ingkang paring pamrayogi kagem pra kawula mudha. B-)
salam asah asih asuh
Rahayu
kangBoed said,
May 25, 2009 at 12:17 am
hmm.. “Bhineka Tunggali Ika”.. berbeda tetapi satu jua.. walaupun berlainan warna dan rupa tetapi semua merupakan bias dari yang satu yang tanpa warana dan yang tanpa rupa… satu semuanya satu sumbernya satu asalnya.. mari kita berpelukan bersama.. untuk saudaraku yang islam mari kita terapkan ISLAM sebagai RAHMATAN LIL ALLAMIN..
“Pandanglah yang satu pada yang banyak.. dan.. pandanglah yang banyak pada yang satu..”
Mari kita terapkan silh asah.. silih asih.. silih asuh.. dalam satu keluarga besar…
Salam Sayang
Salam Taklim
Salam Hormat
Sahabat said,
May 25, 2009 at 8:32 am
Ketahuan bohongnya JIl dan Wahid Institute.
Supaya heboh bilangnya toko buku diancam akan dibakar.
Padahal toko bukunya malah gak tau kalo mereka diancam dan mereka juga baru tau kalo ada buku spt itu.
Menghalalakan segala cara untuk mencapai tujuan mereka, biasalah bagi mereka….
sabdo Pandito said,
May 25, 2009 at 9:39 am
katanya anti kekerasan. ingat waktu gus dur lengser. Yang terjadi ya semua tahu. bakar2 sekolah(khususnya milik persarikatan muhammadiyah), pohon2 dijalan ditebangin, dan ada rencana rel mau di bongkar.. yaa.. mirip kelakuan komunis.. bahkan orang2 muhammadiyah pada takut khususnya di jatim, pada mau disembelihin. semua udah mahfum siapa dalangnya.. diatas semua itu adalah fakta2 tak terbantahkan, bahwa seorang gus dur yg katanya tokoh anti kekerasan sama sekali tidak terbukti.
jangan mudah termakan propaganda. ingat bhinneka tunggal ika. kuatkan persatuan bangsa, ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathoniyah, dan ukhuwah basyariyah. jangan lupa kita harus mengerti siapa musuh dan saudara yg. sebenarnya.
S™J said,
May 25, 2009 at 10:37 am
@ sabdo pandito
supaya menghindari stempel keliru terhadap komunisme, ada baiknya anda baca ini: http://en.wikipedia.org/wiki/Communist
saya kutipkan sebagian gagasan komunisme…
intinya soal persamaan hak warga negara. ada juga komunisme yg dikembangkan umat kristiani, di mana gagasan yg ingin disampaikan adalah bahwa tiap manusia pada dasarnya sama di hadapan Tuhan. kalo di wiki asal kata yg dipakai adalah “common” atau umum, tapi ada juga pendapat bahwa asal katanya “to commune” atau gotong-royong atau mungkin berjamaah kalo istilah arab.
perkara prakteknya banyak mengandung kekerasan adalah tabiat manusianya. sama saja dengan beragama. kalo ada kekerasan itu pastilah ulah manusianya (tafsir), sedangkan esensi ajarannya tidak demikian.
S™J said,
May 25, 2009 at 10:41 am
ada artikel menarik soal ini:
http://www.quran-miracle.info/Quran-Communism.htm
ahmad si palu arit.. said,
May 26, 2009 at 11:04 am
setuju banget sama kang siti jenang……..
Ngabehi said,
May 25, 2009 at 1:10 pm
wah kang jenang kalu lagi serius bikin mrinding lho.
“duduk sambil ndungkluk ndengerin wejangan kang jenang”
S™J said,
May 26, 2009 at 10:18 am
muahahaha… saya taunya juga setelah era reformasi…
Lovemedoka said,
May 26, 2009 at 10:50 am
Poro winasis…
Waspada memang selalu dilakukan. Setelah Indonesia memperoleh kemerdekaan bukan berarti lalu bangsa Indonesia boleh tidak waspada. Pancasila sebagai dasar negara serta burung garuda sebagai lambang persatuan tentu tidak hanya muncul begitu saja bersama dengan kemerdekaan Indonesia. Pancasila merupakan hasil, kesimpulan, syarat atas keutuhan Persatuan Indonesia. Jadi kalo Pancasila diganti… maka perstuan Indonesia pasti terancam.
Persoalannya adalah tiga nafsu manusia yakni amarah, sopiah, aluamah yang akan menggunakan apapun untuk meraihnya. Secara hakekat agama ataupun idelogi pasti berusaha untuk mencapai kesejahteraan, kedamaian, keadilan. Namun idelogi yang seperti apa yang cocok untuk suatu bangsa. Karena setiap memiliki kondisi, sejarah, yang tidak sama antara yang satu dengan yang lain.
Bangsa Indonesia berdiri atas kontitusi Pancasila sebagai dasar negara. Nah ideologi yang lain jika ingin numpang hidup harus menempatkan diri “dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”. Lha kalo mau menguasai…. itu namanya penjejahan. Artinya sama saja dengan kolonialisme yang telah mengekang, memberangus, menghisap sari pati Nusantara.
Jadi…. sadar dan tetap waspada.
Salam
SUDRA KESIMPAR said,
May 26, 2009 at 11:05 am
Kulo nuwun Ki Sabdo lan poro winasis sedaya, tumut-tumut ngudoraos….
Dari masa ke masa, kelihatannya Nusantara ini hanyalah menjadi “lahan pemasaran/uji coba” berbagai macam hal dari bangsa lain.
Mulai dari cara yang cara kasar/kasat mata (berupa penjajahan politik selama 3.5 abad) sampai dengan yang halus (melalui penyebaran budaya/paham dan sekarang berupa globalisasi).
Barang yang dipasarkan/diujicobakan mulai dari barang kasatmata (mobil dsb.) sampai dengan yang bersifat halus (paham/cara hidup/ideologi (kapitalisme, komunisme)/agama/konflik pemeluk agama hingga flu burung he..he..he dsb..)
Apa iya ini karena kita adalah bangsa yg lemah, seperti orang bule bilang bahwa Bangsa Indonesia (khususnya Jawa) diistilahkan sebagai “the weak and the lazzy from the East”??
Mungkin diperlukan koreksi-koreksi atas penerapan simbol-simbol kebudayaan dan berlaku lebih lugas?? Ini agak paradoksal bagi suku Jawa yg cenderung agak “spiritualis”. Karena semangkin (he..he..pinjem istilah Si Mbah yg sdh tiada) jauh “perjalanan” semakin banyak hal yang “ora ilok” kalau dibuka/dibabar secara wantah sehingga pemakaian simbol tidak terhindarkan…
Sinyalemen sementara, semakin banyak tiyang Jawi yang sudah tidak bisa “Njowo” karena sudah “kepaten obor” dan semakin “cubluk” untuk menempuh jalan mencari inti/makna dari simbol-simbol yang didhawuhkan para pendahulu…Akibatnya, simbol-simbol budhaya itu seperti wadhah kosong tanpa makna yang kesimpar kesandhung di tengah derasnya pengglobalan.
Globalisasi itu sendiri seolah jadi “soft word”/penghalusan kata dari penjajahan, karena yang terjadi adalah penglobalan/penjajahan ide/paham dan ekonomi (karena potensi pasar yang harus dibuka untuk barang para ndoro bule/ndoro kate) secara tidak kasat mata…
Sedangkan yang bisa kita ekspor hanyalah barang/wadhah kosong yang berupa kesenian/tontonan seperti gamelan, wayang dsb, kekayaan alam mentah (kayu, minyak, gas, tembaga) serta TKW he..he..he..
Barang yang diekspor itu ada yang kembali lagi dan kita disuruh membeli lebih mahal (mobil, motor, komputer, minyak terolah dsb..). Ada juga yang tidak kembali seperti reog di Malaysia, Lagu Rasa Sayange..he..he…he..Lama-lama wayang kulit dan gamelan akan menjadi milik bangsa lain…
Hemm..sungguh ewuh oyo dan dilema bagi tiyang Jawi masa kini…
Mau menyusuri pangerten dhawuhe poro Simbah yang lungid dan samar tapi kendhile kok koyo kudu nggoling kesampar poro ndoro bule…??
Mau terus ngurusi kendhil sing arep nggoling kok kayane mboten dipun prayogekaken kaliyan poro Simbah ingkang sampun sumare…??
Kados pundi prayoginipun Ki Sabda…??
Nuwun,
sabdalangit said,
May 26, 2009 at 1:37 pm
MAs Sudra Yth
Bahaya paling besar era post modern ini adalah imperialisme ekonomi dan ideologi, melalui dalih agama. Agama dijadikan kendaraan untuk kepentingan politik dan ekonomi. Itulah awal kehancuran baru dunia. Dengan cara itu bukannya agama akan menjadi kian besar dan kuat, sebaliknya justru akan menjadi rentan dan rapuh diambang kehancuran (kiamat). Kiamat bukan dalam arti universal namun KIAMAT PARSIAL, dialami oleh suatu agama, sistem ekonomi, maupun peradaban manusia. Bisa disimak juga di sini.
Sahabat said,
May 26, 2009 at 11:56 am
Para peneliti di buku tersebut saja protes tentang buku tersebut.
Weleh weleh, betapa inteleknya Guntur Romli.
http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=17643
hadi wirojati said,
May 26, 2009 at 1:25 pm
pamuji rahayu…,
saya hanya bisa berharap.. semoga bangsa ini menjadi bangsa yang TAHU dalam memilih dan memilah.. tidak selamanya menjadi bangsa jajahan.., dan bangsa yang selalu terjajah…, kembali kepada kebersamaan keutuhan dan kejayaan dalam rangka bersatu padu nggayuh keluhuran budhi sehingga bisa menjadikan bangsa ini yang mandiri dan punya jati diri.., bukan bangsa yang hanya ela elu .., dan apa katanya … kalau sudah mencakup ke hal akidah.. apakah harus apa yang didoktrin tersebut lantas menjadi acuan untuk berbuat kekerasan, kekejian dan saling menghujat, membunuh.., yang tidak sefaham lantas dikatakan bahkan dihukum sesat.., duuuhh Gustiiii…, semoga bangsaku, saudaraku setanah air dan sebangsa.. selalu eling lan waspadha.., selalu dalam anugerahMu, sanantiasa dalam kasih sayangMu…, selalu punya hati yang bersih, bening, budaya luar tidak selalu benar.., kalau kita tidak pernah tahu sejarah keluhuran leluhur dulu., maka tidak akan pernah tahu..,dan setiap ajaran baru masuk dianggap paling benar.., karena ketidak tahuannya, dikira leluhur kita dulu tidak tahu apa- apa.., betapa malang nasibmu bangsaku.. selalu terombang ambing ketidak pastian.., kembalilah ke jatidirimu.., sebagai bangsa yang damai., rukun, gotong royong, azas kebersamaan…, jangan jadikan lagi bangsa ini bangsa yang selalu terjajah dan MAU dijajah..dalam segi apapun, ambil sisi baik. buang yang tidak sesuai dengan budaya kita sebagai bangsa yang luhur. mari saudaraku.. kita jadikan saudara – saudara kita orang yang TAHU…, beda dengan pintar.
salam sihkatresnan.., salam sejahtera, salam damai, salam rukun, salam kebersamaan, salam hormat dan salam taklim.
Rahayu…,
ratanakumaro said,
May 26, 2009 at 2:00 pm
Dear mas Sabda dan para rekan ,
Semoga nusantara ini damai, adem, ayem, tentrem.
Salah Rahayu
http://ratnakumara.wordpress.com/2009/05/26/nafsu-indriya-penghalang-yang-harus-dilenyapkan/
ratanakumaro said,
May 26, 2009 at 2:07 pm
http://ratnakumara.wordpress.com/2009/05/26/nafsu-indriya-penghalang-yang-harus-dilenyapkan/
astomo said,
May 26, 2009 at 2:24 pm
negara islam sebenenarnya bukanlah ilusi,karena kita harus memahami segala sesuatu melebihi,menerobos simbol simbol yang ada. bahwa arti Islam sendiri adalah SELAMAT, bagaimanapun BENTUK dan WARNANYA,segala yang membawa selamat adalah ISLAM. Karena semua yang ada hanyalah resonansi dari nada mutlak sang EmpuNya. marilah kita alunkan sebuah simponi dengan memainkan nada nada indah dan menghindari nada nada sumbang.
salam
sabdalangit said,
May 26, 2009 at 2:52 pm
@Ratana Kumaro Yth
Matursembah nuwun Mas Ratana, sudah memberikan nuansa yang esensial. Semoga menjadikan kesadaran yg lebih tinggi dalam memahami alam semesta.
@astomo Yth
Nada-nada indah itu bisa terwujud manakala umat Islam mau beranjak menggapai kehidupan dengan memanifestasikan hakekat dan makrifat ke dalam kehidupan sehari-hari. Hakekat dan makrifat, adalah sebuah tataran kesadaran yang TAK BERWARNA, TAK BERBAU, TAK BERBENTUK, TAK BERKULIT. Ia adalah nilai universal sebagaimana UNIVERSALITAS ketuhanan dari Tuhan Yang Mahaluas Takterbatas, Tuhan yang tidak primordial, rasis, etnosentris.
salam asih asah asuh
astomo said,
May 26, 2009 at 3:32 pm
gih setuju pak sabdalangit,nilai universal. buat saya umat islam itu tak sebatas mereka yang ber “KTP” islam.yang ber-KTP itu belum tentu ISLAMI, yang tidak ber-KTP islam bisa jadi lebih ISLAMI. semua yang berbudi luhur, berkelakuan baik, mampu membumikan spritualitas MURNI menjadi sebuah realitas NYATA adalah umat yang ISLAMI, SELAMAT.
astomo said,
May 26, 2009 at 3:35 pm
salam kenal Pak J.
salam asah asih asuh
kangBoed said,
May 26, 2009 at 11:15 pm
*ngelirik atas.. benuuuul… betuuuul… beneeeeeer… agama adalah alat untuk menunjuk keluar… eee… ooops… salaaaaaah tuuuh… agama adalah alat untuk masuk ke dalam diri dan menata diri serta berbenah diri… sampai kita bisa mewujudkan SPIRIT ISLAM dan menjadi RAHMATAN LIL ALLAMIN… menjadi anugerah bagi sesama manusia dan alam semesta… waaaaah…
Salam Sayang
Salam Kangen
Salam Hormat
*silih asah.. silih asih.. silih asuh..*
m4stono said,
May 26, 2009 at 11:45 pm
intinya islam itu rahmat bagi seluruh alam, bukannya diaku-aku sepihak
sabdalangit said,
May 27, 2009 at 2:45 am
@Astomo, Adimas Boed, M4sTono…Yth
Yah, seharusnya begitulah umat dalam memahami Islam sbg rahmatan lil alamin. Umat Islam hendaknya tidak memandang dirinya sebagai “masyarakat” atau “umat” yang terpisah dari golongan yang lain. Umat manusia adalah keluarga universal yang dipersatukan oleh kemanusiaan itu sendiri. Kemanusiaan adalah nilai yang sejalan, bukan berlawanan, dengan Islam.
Kita membutuhkan struktur sosial yang dengan jelas memisahkan mana kekuasaan politik dan mana kekuasaan agama.
Agama adalah urusan pribadi; sementara pengaturan kehidupan publik adalah sepenuhnya hasil kesepakatan masyarakat melalui prosedur demokrasi dengan asas spiritual PANCASILA. Nilai-nilai UNIVERSAL agama-agama tentu diharapkan ikut membentuk nilai-nilai publik. Tetapi doktrin dan praktik peribadatan agama yang sifatnya partikular adalah urusan masing-masing agama, bukan urusan UUD, bukan pula urusan pemerintah atau orang-orang yang memiliki pengaruh kekuasaan politik.
salam sejati
tomy said,
May 27, 2009 at 5:47 pm
duh Kangmas, nggih badhe kados pundi malih wong manungsa menika saderma nglakoni punapa ingkang sampun digarisakaken pangeran.
nalika lahir nggih mboten saged milih, pramila bayi ingkang taksih suci kadya dalacang seta menawi sampun selapan dinten dipun krukubi kurungan dipun kotak-kotakaken dipun doktrin sami anyebaraken raos benci. mila mangga sami bali dados bayi malih merevolusi kultur ingkang sampun dirisak dening doktrin.
..
jantraning jagad wus aweh sasmita, manungsa bakal dipetani kadya suket ing wana
ewasemanten kados ing nginggil punapa salahe peradaban? wong kita saderma nglakoni dilahiraken dados nasrani, yahudi punapa muslim
..
..
duh Kangmas menika namung panggrantesing ati kang kawetu mugi sageda dados pepadhange dalan
sabdalangit said,
May 27, 2009 at 9:19 pm
Injih leres panjenengan Mas Tomy, manusia memeluk suatu agama hanyalah faktor kebetulan karena keturunan dari orang tuanya. Artinya kita memeluk suatu agama bukanlah pilihan, tapi kebetulan. Dan sesuatu yg kebetulan ini, kita pupuk agar tetap bersemi menjadi petunjuk hidup. Namun yg paling penting, agama adalah ageming aji. Kita tdk boleh mengadili kepercayaan orang lain sebagai sesuatu yg sesat. Selama agama tidak menyerang agama lainnya, atau tidak berusaha melenyapkan sistem kepercayaan orang lain, ia menjadi berkah bagi alam semesta.
salam sejati
SEORANG PROLETAR said,
May 27, 2009 at 5:53 pm
RAYUAN GOMBAL SEORANG PROLETAR
Jiwa proletar adalah jiwa yang sadar bahwa ia tidak akan bisa hidup tanpa orang lain.
Ia tidak mempunyai alat produksi kecuali hanya tenaganya saja. Itu yang dia gunakan untuk menghidupi dirinya.
Kesadaran jiwa itu mengkristal & mewujud dalam moralitas hidup.
Moralitas proletar yang tidak akan mengeksploitasi sesamanya.
Hal inilah yang selalu kutanamkan dalam benak & hatiku, agar menjadi bahan bakar bagi motor penggerak jiwaku.
Dan, thank’s God, surga telah memberikan banyak bantuan untukku.
Bersamamu disampingku sangat memudahkan segenap usahaku.
Dengan segala pesonamu, aku sungguh melihat manusia sebagai suatu pribadi yang unik & khas, serta memiliki banyak dimensi dalam dirinya.
Jadi Sayangku, mengapa galau & sedih hatimu?
Ya..ya..wanitaku tercinta,
Makhluk lemah & mudah tergoda.
Aku tak mau melihatmu hancur dalam keterasingan & kesendirian.
Kehancuranmu adalah kehancuranku juga.
Memang aku tak punya alat produksi yang mungkin bisa untuk mengakumulasi properti.
Namun aku bisa menemani,
Memberi cinta,
Memberi harapan.
Dan percayailah ini :
Dalam keadaan apapun juga, baik maupun buruk, akan selalu ada aku untuk mendampingi.
I do care & love you
I will always be with you
In your sufferings
Even in your solution
SufiMuda said,
May 28, 2009 at 1:15 pm
Wahabi telah menciptakan banyak teror di kalangan ummat Islam di awal berdirinya dan akan tetap melakukan teror dari berbagai bentuk.
Yaah, kalau kita memilih yang damai2 aja. Islam ber wajah damai
ibnusomowiyono said,
May 28, 2009 at 9:27 pm
Sebenarnya kita ini ingin damai atau gontok-gontokan? Kalau ingin damai syukurilah perbedaan, kalau ingin gontok-gontokan jadikan perbedaan untuk mencari benar sendiri,padahal yang lain tak mau dianggap salah.
Setan itu berhak memecah belah manusia/bangsa, tetapi kita punya hati nurani yang lembut dan fikiran yang jernih.
KangBoed said,
May 29, 2009 at 1:26 am
*ngelirik atas*.. iyaaaaa.. beneeeer tuuuh.. ribut mulu… biacara hati nurani… saya sendiri buingung.. pada kemana yaaa… makanya.. biar kita mulai tegakkan SPIRIT ISLAM sebagai RAHMATAN LIL ALLAMIN.. hehehe.. mari..
Salam Sayang
sikapsamin said,
May 31, 2009 at 8:44 am
SIKAP-SAMIN : Pilar Utama Kemerdekaan Hakiki ‘NKRI’…..
”Nuswantara Kertagama Raharja Indonesia”
SIKAP-SAMIN adalah Sikap Kesiapan Menjaga Keutuhan Mosaik Zamrud Khatulistiwa…
Salam seduluran ‘NKRI’
hartono said,
June 1, 2009 at 2:39 pm
om swastiastu,
ajaran kekerasan,memaksakan kehendak , wahabi, semuanya kan kehendak Tuhan. namanya juga wayang.
nenek moyang kita pun melakukannya, orang hindu soleh siliwangi di bantai di bubat oleh kerajaaan majapahit,
orang islam soleh siti jenar juga sama.
gimana Tuhan kagak marah ???
sabdalangit said,
June 1, 2009 at 3:35 pm
@Hartono Yth
……ajaran kekerasan,memaksakan kehendak , wahabi, semuanya kan kehendak Tuhan…
======
Kita seyogyanya lebih arif dan bijak dalam menilai suatu keadaan. Betapa selama ini Tuhan sering dijadikan “kambing hitam”, dijadikan “obyek penderita” oleh pemahaman yg kurang tepat. Seringkali pemahaman digeneralisir secara membabi-buta, segala sesuatu dipahami secara mutlak sebagai kehendak Tuhan. Padahal sebagai ulah nafsu negatif manusianya saja.
Saya pribadi terasa menjadi lebih tenteram dengan memahami Tuhan tidak pernah marah, tuhan juga tdk mengajarkan kekerasan, tidak mengajarkan menghalalkan membunuh orang yg beda pendapat.
Bukankah semua itu mempersepsikan Tuhan dengan sifat makhluk ciptaan tuhan dan nafsu angkara..?
aseshanti
rahayu, karaharjan
salam asih asah asuh
Putut Gunung Bunder said,
June 2, 2009 at 5:36 pm
Sepertinya Tuhan ga pernah marah……yang ada hanya fenomena keseimbangan energi aja…yang terlihat di mata fisik manusia sebagai bencana,kekacauan dll……karena pada dasarnya di alam semesta ini adalah energi dengan berbagai vibrasi…yang sunatullahnya ada dalam keseimbangan
Salam
PGB
Putut Gunung Bunder said,
June 2, 2009 at 3:54 pm
Ki sabdo….mohon masukkannya..
Alam punya keseimbanganya sendiri,kalo manusia memaksakan kehendaknya siapapun juga akan tunduk kepada kesimbangan alam,baik itu jagat besarnya atau di jagat kecilnya.Manusia bijak selaras dengan keseimbangan alam..selaras…harmonis….damai…..itulah sejatinya makna islam yg tak beda dengan makna budha,hindu,christ,tao,kejawen dll-nya.
Salam
sabdalangit said,
June 2, 2009 at 4:33 pm
Dalam semua agama, ada nilai universal. Khusus untuk Islam harus merambah ke dalam wilayah mistik Islam yakni tasawuf. Namun sayangnya, banyak benturan dari dalam umat Islam sendiri, terutama dari sebagian pihak yg lebih menikmati berkubang di dalam syariat saja, tanpa berani untuk beranjak ke dalam wilayah hakekat, wilayah mistik, tasawuf, untuk menggapai sajaratul makrifatullah. Jika kondisi demikian berlangsung terus menerus, maka selamanya umat Islam akan mengalami benturan demi benturan, konflik-konflik yg berkepanjangan sepanjang manusia ada, dan mengalami perpecahan ke dalam berbagai mazab, aliran, kelompok, faham dsb. Dan Islam akan gagal sebagai rahmatan lil alamin.
Rahayu
salam sejati, salam taklim
Abu al godjo said,
June 2, 2009 at 4:33 pm
Salam kenal aki sabda langit, saya abu al godjo, di padepokan “ringin putih” sblh timur parang kusumo, jogja. Ki … saya kok agak geli baca komentar aki, bukankah Tuhan itu wahdaniah, ” siji ngijeni” artinya tdk ada sesuatu selain Dia, tapi aki kok bicara, yg baik2 dari Tuhan dan nafsu itu dari manusia? Lho kok ada dua kehendak ki? Merujuk petunjuk Tuhan yg di candi borobudur, udah jelas ke_wahdaniahan Tuhan. Wah saya jadi ragu, namanya “kisabdalangit” tapi bacaranya kok msh di bumi. JANGAN2…. NAMA KISABDALANGIT c u m a sekedar GAGAH – GAGAHAN, tapi sebetulnya blm pantas PAKAI GELAR itu …. Sorry Ki…
sabdalangit said,
June 2, 2009 at 4:38 pm
Abu al godjo Yth
Apakah tuhan memiliki nafsu ? dan apakah nafsu negatif manusia itu kehendak tuhan ? Mohon pencerahan Ki.
Nuwun
lor Muria said,
June 2, 2009 at 9:21 pm
Wah saya jadi tertarik, mohon pencerahannya KI,
tentang ke_wahdaniahan Tuhan =merujuk petunjuk Tuhan yang di candi Borobudur=
Salam kenal Ki dari lereng Muria
‘bukan’ Ki Sabda LerengMuria
Rahayu
hartono said,
June 2, 2009 at 5:30 pm
mas sabda yang dihormati,
ini penerimaan sy :
yang namanya wayang itu yg gerakkin dalang,yang ngomong juga dalang.
masa wayang punya kehendak sendiri ??? alur cerita bisa kacau tidak sesuai program
jahat -baik, kekerasan –tentram itu adanya dibumi.
dilangit gak ada difinisi2 tsb.
silih asih silih asah silih asuh silih WANGI
rahayu
lain sasaha
di pasujudan agung
someone said,
June 3, 2009 at 5:06 am
Aku setuju sama pendapat sampeyan kang…. kita ini semua sebenarnya hanya wayang. Semua sudah digariskan. Seperti halnya ada istilah ahli surga dan ahli neraka. Ahli surga itu siapa-siapa saja yang kebetulan lahir dalam kondisi dan lingkungan yang baik, sedangkan ahli neraka yang kebetulan dilahirkan dalam kondisi dan lingkungan yang tidak baik (kurang mendukung).
Ahli surga kalo pun di dalam perjalanannya lupa diri dan sombong dan menganggap dirinya suci bisa saja kecemplung di neraka (kondisi tidakbaik), demikian pula sebaliknya. Ada cerita jaman dahulu waktu jaman Nabi Musa AS, ada seseorang yang super bejad sampai menjadi sampah masyarakat. Akan tetapi oleh Gusti kanjeng Nabi disuruh mencari orang tsb, dan menguburkannya scr baik2. Kanjeng Nabi Musa AS heran, mengapa Gusti begitu memuliakannya, ternyata dia sebelum meninggal sudah bertobat, dengan salah satu perkataannya…. “Ya Allah (Gusti) kalau pun aku disuruh untuk memilih teman,lingkungan dan hasrat diri yang baik aku lebih cenderung kepada itu, akan tetapi keadaanlah yang memaksaku demikian”
Dan dalam perjalanan manusia sebenarnya dibimbing oleh namanya nurani yang itu pancaran cahaya-Nya. Dan memang pada kenyataannya setan pun tidak dapat menggoda manusia kalo memang diijinkan. Demikian pula ilham kebaikan. Karena itu sebaiknya selalu istighfar (eling) untuk berlindung kepada-Nya, dan peka terhadap segala sesuatu (waspada).
Memang segala sesuatu di muka bumi ini ada dan diadakan, fungsi untuk menguji manusia di dalam ketaqwaannya. “Jangan katakan kamu sebagai orang beriman sblm kami mengujinya” (ayat Al’Quran – sori karo redaksinya salah). Termasuk peperangan, krisis dan lain-lain itu hanyalah salah satu alat ujiannya (kiamat kecil).
Dan semua hal sebenarnya nasib (jalan hidup) seseorang itu pun sudah ada hitungannya dan jalan ceritanya. Di dalam kitab betaljemur ada untuk itu (petung) berdasarkan weton dan tanggal.
Ada juga suatu anggapan misal seseorang berdoa kepada Gusti berharap sesuatu (materi), terkadang ada beberapa kondisi yang terjadi, ada yang langsung (urgent) ada juga yang ditangguhkan. Jadi istilahnya berbuat baik itu seperti halnya orang menabung. Jatah (takdir) seseorang itu sudah ada timing. Semakin dia ikhlas dan selalu (banyak) berbuat baik maka pada saatnya panen (pitung sudah tepat waktunya), maka bisa jadi dia mendapat rejeki yang berlipat2 (materi dan non materi). Tapi kalo dia nyantai saja dan biasa-biasa saja maka pada waktu panen (pitung tepat waktu) ya hasilnya biasa-biasa saja.
Yo uwis gitu aja dulu ah….
Putut Gunung Bunder said,
June 2, 2009 at 5:31 pm
Ki Abu Al Godjo
Bukankah Tuhan dia atas dari dualisme,tregantung kedalamam pemahaman masing2.
Bukankah nafsu itu hanya penginderaan manusia terhadap suatu bentuk energi?
Kayaknya oke juga kalo ada Ki Sadbo Langit,maka ada juga Ki Sabdo Bumi……kalo gitu biar gagah Putu Gunung Bunder punya nama lain Ki Sabdo Bumi….
Apalah arti sebuah nama …..kayaknya asik bermain2 dengan nama kayak kyai Gringsingnya di api di bukit menoreh hehehe
Salam
PGB alias Ki Sabdo Bumi
sabdalangit said,
June 2, 2009 at 6:01 pm
@ Kang Hartono Yth
Menarik sekali bicara soal falsafah wayang dan dalang. Oh ya, saya sdh menulis falsafah pewayangan tersebut sebagai “FALSAFAH BLENCONG” silahkan klik di sini.
@ Putut Gunung Bundar Yth
Tambah gayeng, ada juga Ki sabdo bumi…untuk panjenenganipun Ki Putut Gunung Bunder yg tenang menghanyutkan.
Nama sabdalangit maupun sabdabumi keduanya masih unsur jagad semesta yang bersifat wadag atau fisik. Dalam arti langit itu hanyalah batas akhir kemampuan mata memandang obyek yg bersifat WADAG atai FISIK. Langit juga tidak terletak di atas atau di bawah. Namun langit ada di mana-mana menurut arah mata memandang yg terjauh. Perlu ditegaskan dan diluruskan bahwa langit bukanlah akherat atau alam gaib. Sekali lagi, langit masih merupakan alam wadag/fisik. Jadi tak ada kesan yg “angker” atau mistis dari wilayah gaib.
salam sejati
Lovemedoka said,
June 2, 2009 at 6:38 pm
Salam hormat, penuh kasih kepada semuanya, semoga Tuhan selalu memberi petujuk, tuntunan, dan pengayoman kepada kita semua. Amin.
Ingkang kaping sepindah, maturnuwun kulo aturaken dumateng Ki Sabdo Langit. Kulo sampun saget down load buku ingkang pun paringaken meniko. Matur nuwun.
Ingkang kaping kalih, monggo kito sedoyo hanyengkuyung menopo ingkang dados kersanipun poro luhur ingkang sampun paring bekti saenggo negari Indonesia saget merdeko. Temtu kamadikan meniko sampun nelasaken srono bondo lan nyowo, milo monggo menopo ingkang sampun dados kesepakatan poro luhur kito sengkuyung amrih mboten geserlan gingser. Sedoyo reko doyo ingkang nggadahi niat njukiraken Panca Sila sampun katah. DITII, Permesta, RMS lan sapanunggalanipun, namung bongso kita tasih kagungan doyo kagem brasto sedoyo maksud culiko meniko. Milo… monggo ampun kesupen, kito tetep kedah waspodo.
Matur nuwun, salam…
Sumego said,
June 2, 2009 at 7:14 pm
Pamuji Rahayu Mas Sabdalangit
Memang miris Mas…ibarat sungai sedang banjir lumpur serba salah disana manusia disini manusia “nganggep sedulur kok sajake ra gelem akur” itu yang sedikit saya rasakan, nggak saudara apalagi teman kalau ndak sepaham wis mung lamis meseme mung pulasan….salah menyesuaikan bubar jalan……..(hehhehe nyuwun sewu lho mas radi curhat sekedhik…)
Pancen lantip tenan poro leluhur dulu ya…Mas Sabda nulis sastra jadi sasmito, sasmito jadi sastro…wah pokoke T.O.P
JAYALAH NUSANTARAKU !!!!!!!
mau diobok-obok wolak-walik tetep
Bopo BANYU Ibu Bumiku
Nunggu dipetani… (????)
Salam Taklim
Ngabehi said,
June 3, 2009 at 9:42 am
Sampeyan arep naik peringkat lagi KI
Tak melu nyimak, makin gayeng saja. Nuwun sewu lama tidak berkunjung.
Ki sundan said,
June 4, 2009 at 12:29 pm
Salam kanugrahan kanggo dulur sederek.kenalkan buat kabeh dulur nama kula kisundan,sdkt tumpang ilir mudik,krn tertarik para abdi ngebahas gusti.para dulur sederek khusus buat ki sabda&ki al gojo,sy stju sm ki gojo,yg hrn buat ki sabda,kok msh bertanya apakah tuhan punya nafsu?pdhl klu sdh manunggal,tdk ada apapun kecuali Aku sejati,cb ki jenengan tapakurin Q S:THOHA A 14,DIAyat itu (SESUNGGUHNYA AKU ALLOH TDK ADA TUHAN SELAIN AKU MK SEMBAHLAH AKU )dst.waktu itu kira2 mnrt aki nb nunjuk langit/dadanya? Pertanyaanya lg apa itu nafsu keinginan nb/tuhan?trs klu msh bd2in berarti,msh ada tuhan+manusia(kontekMAKRIFATVLLOH+WAHDAH)trs jangan2 ki sabda ini sbts ilmiyah makrifat bukan Abdun doifun allati funiyat aushofuhu?maaf ki koreksi.
lor Muria said,
June 4, 2009 at 1:41 pm
Biar lebih gayeng, kita tunggu komentarnya Ki al godjo.
Bagaimana Ki al godjo…..????
sudah ditunggu bolo-bolo.
Rahayu
saking wong bodo
sabdalangit said,
June 4, 2009 at 2:27 pm
Ki Sundan Yth
Ya, pertanyaan saya memang sangat sederhana Ki Sundan, bahkan terkesan aneh dan dangkal. Maklum saya masih nyantrik di sana sini.
Meskipun sangat sederhana namun jawaban anda sangat bias dan tdk to the point. Saya mohon penjelasan singkat saja, jika berkenan.
Bukankah jasad anda terdiri dari UNSUR BUMI yg akan rusak dan membusuk lalu kembali ke bumi lagi. Di samping itu anda juga memiliki jiwa/soul/sukma/roh yg abadi. Lalu di mana letak hawa/nafs/nafas. Di mana letak rasio/akal budi? dan di mana letak nafsu anda ? Ada dalam jasad atau dalam sukma ?
Kapan manusia di sebut “an-nafsul mutaminah”. kapan dianggap nuruti rahsaning karep..? Bilamana roh anda dapat menjadi ruh al kuds ?
Sebelum kita beranjak diskusi tentang KeTuhanan, maka kita harus kenali dulu jati diri kita.
salam asah asih asuh
Abu al godjo said,
June 4, 2009 at 2:44 pm
Kagem kang mas ingkah lenggah sak ” Lering gunung Murio”. Kang Mas, sajatosipun candi borobur puniko, gambaran lelampahanipun manungso ingkang kawiwitan saking pinanggihipun kakung lan estri( jln di bwh 2 cabang), alam guwo garbo ( 4 tgg naik), lahing konang jabang bayi( keluar dari mulut raksasa) ingkan den saring gupolo, ( rekaan patung macan), lemlampahaning gesang munungso kaserat kanthi pralampito wonten sak ‘dindinging candhi’ ngantos dumugi “manunggaling kawulogusti’ (altar terakhi) ckp semanten kang mas, saking keng rayi abu al godjo.
sabdalangit said,
June 4, 2009 at 3:11 pm
Matur Nuwun Ki, inilah yg ditunggu para sanak kadhang. Sekaligus menjawab adanya anggapan : falsafah hidup Kejawen baru mengenal “manunggaling Kawula Gusti” baru setelah dikenalkan oleh SSJ pada abad 15. Sementara itu Borobudur sudah ada sejak abad ke 7. Zat Hyang Manon manunggal ke dalam jati diri, dalam rahsa dan sukma sejati (loroning atunggil). Dgn kata lain Gusti iku, ora neng ngendi-endi, nanging ana ing ngendi papan. Ana ing sajroning jalma. Jalma terdiri unsur Tuhan dan unsur bumi. http://sabdalangit.wordpress.com/category/pintu-pembuka-rahasia-spiritual-raja-raja-mataram/wirid-purba-jati-mengenali-jati-diri-hakekat-neng-ning-nung-nang/
Rahayu, karaharjan
KangBoed said,
June 4, 2009 at 3:16 pm
Manunggaling Kawulo Gusti… Kawulo… Gusti… ada dua jalan bertemunya.. walau akhirnya teteeep satu… Mau jadi Gusti.. atau mau jadi kawulo.. terserah bebas… hihihi… *tulis apa ya saya juga enda ngerti*.. hihihi..
Salam Sayang
Salam Kangen
hartono said,
June 4, 2009 at 5:58 pm
temen2 ada yg bisa terjemahin lengkap gak petuahnya ki algodjo??
klo ngertinya 1/2 kan sayang, maklum gak lancar bahasa jawi
abdi Gusti said,
June 4, 2009 at 8:33 pm
KETERANGAN PERS: Bantahan Hizbut Tahrir Indonesia Terhadap Buku Ilusi Negara Islam
Buku Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia, yang diluncurkan beberapa waktu lalu itu sebenarnya tidak layak dibaca apalagi ditanggapi. Meski diklaim sebagai karya ilmiah, dan konon merupakan hasil penelitian selama dua tahun, namun semuanya itu tidak bisa menutupi fakta, bahwa buku ini sangat tidak ilmiah dan jauh dari obyektivitas sebuah penelitian. Alih-alih bersikap obyektif, buku ini justru dipenuhi dengan ilusi, kebencian dan provokasi penyusunnya. Inilah yang mendorong kami untuk menanggapi buku ini, khususnya yang berkaitan dengan Hizbut Tahrir, sebagai berikut:
Dari aspek metodologi: Pertama, dari sisi referensi: Buku ini sama sekali tidak menggunakan referensi utama (primer), yaitu buku-buku resmi Hizbut Tahrir. Satu-satunya referensi resmi yang digunakan adalah booklet Selamatkan Indonesia dengan Syariah, itu pun tampaknya hanya dicomot judulnya. Selebihnya, pandangan dan sikap penyusun buku tersebut tentang Hizbut Tahrir didasarkan pada kesimpulan-kesimpulan yang dibangun oleh Zeno Baran dalam bukunya, Hizb ut-Tahrir: Islam’s Political Insurgency (Washington: Nixon Center, 2004) dan Ed. Husain dalam bukunya, The Islamist (London: Penguin Books, 2007). Mereka tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, bahwa baik Zeno Baran yang berdarah Yahudi maupun Ed. Husain adalah sama-sama bukan orang yang ahli tentang Hizbut Tahrir. Ed. Husain yang diklaim sebagai salah seorang pimpinan Hizb terbukti bohong, yang memang sengaja dibangun untuk menunjukkan kredebilitas karyanya, yang sesungguhnya tidak kredibel. Dari sini saja, sebenarnya cukup untuk membuktikan, bahwa buku Ilusi Negara Islam ini sebenarnya tidak ilmiah dan jauh dari obyektivitas. Karena itu, kesimpulan-kesimpulan yang dibangun di dalamnya tidak lebih dari ilusi penyusunnya. Bahkan, buku ini juga sangat narsis, karena kebencian dan provokasi yang ditaburkan di dalamnya mulai dari awal hingga akhir. Tampak jelas, bahwa buku ini disusun dengan target, bukan sekedar untuk mengemukakan pandangan, tetapi untuk memobilisasi perlawanan. Kedua, cara menarik kongklusi: Kongklusi di dalam buku ini banyak ditarik dengan menggunakan analogi generalisasi (qiyas syumuli), sehingga menganggap semua kelompok dan organisasi yang nyata-nyata berbeda, seperti DDII, MMI, PKS dan HTI sebagai sama. Ini adalah bukti, bahwa buku ini tidak obyektif. Lebih-lebih ketika, sejak pertama kali, penyusun buku ini sudah melakukan monsterisasi terhadap Wahabi, kemudian mengeneralisasi bahwa semua organisasi Islam yang tidak sepaham denganya dicap Wahabi. Ini jelas merupakan kesalahan berpikir yang sangat fatal, dan kalau tujuannya untuk mengungkap kebenaran, maka cara-cara seperti ini tidak akan pernah menemukan kebenaran apapun. Ketiga: inkonsistensi cara berpikir: Buku ini menyerang cara berpikir literalisme tertutup, tetapi pada saat yang sama penyusun buku ini menggunakan teks hadits, dengan makna literal, dan sangat tertutup, karena tidak mau melihat nas-nas yang lain. Seperti, Umirtu an uqatila an-nas hatta yaqulu la’ilaha illa-Llah (Aku diperintahkan untuk memerangi manusia, hingga mereka menyatakan la’ilaha illa-Llah), yang kemudian ditafsirkan, bahwa ini tidak berarti boleh memerangi orang Kafir, karena tidak ada penegasan tentang keyakinan akan kerasulan Muhammad saw.
Dari aspek isi: Buku ini menawarkan: Pertama, Islam yang toleran, tapi anehnya penyusunnya sendiri dengan sangat narsis tidak toleran dengan sesama Muslim, dengan terus-menerus menyerang mereka sebagai kaum literalis tertutup, dan stigma-stigma negatif lainnya. Di sisi lain, ketika mereka sendiri tidak bisa bersikap toleran terhadap kaum Muslim, mereka malah menyerukan toleransi terhadap kaum Kafir, dengan justifikasi bahwa mereka adalah Muslim juga. Malah, ayat dan hadits yang memerintahkan untuk memerangi mereka pun harus ditafsir ulang agar sejalan dengan maksud mereka. Jadi, nalar yang dibangun dalam buku ini jelas sekali, sangat tidak konsisten. Kedua, perdamaian dan Islam yang damai, tapi penyusun buku ini justru menyulut bara api yang sudah padam, seperti sejarah kelam Khawarij dan Wahabi yang sudah dilupakan oleh kaum Muslim. Dalam kasus Wahabi, jelas sekali bahwa ini dimaksud untuk mengadudomba antara NU dan kelompok lain yang dicap Wahabi, karena generasi tua NU memiliki memori yang tidak baik terhadap Wahabi. Lalu, di mana wajah Islam damai yang mereka tawarkan? Cara-cara yang mereka lakukan ini persis seperti yang dilakukan oleh Syasy bin Qaisy, penyair Yahudi, yang mengingatkan kembali permusuhan antara suku Aus dan Khazraj dalam Perang Bu’ats. Kalau betul mereka menginginkan perdamaian, mestinya bisa bersikap seperti ‘Umar bin ‘Abdul Aziz ketika ditanya tentang Perang Shiffin, dengan tegas beliau menyatakan, “Ini adalah darah yang telah dibersihkan oleh Allah dari tanganku, maka aku tidak ingin membasahi lidahku dengannya lagi.” Ketiga, ilusi, kebencian dan provokasi: Meski konon merupakan hasil penelitian, tetapi penyusun buku ini tidak bisa membedakan antara fakta dan ilusi. Sebagai karya ilmiah, seharusnya buku tersebut jauh dari kebencian, dan apalagi provokasi yang sangat narsis. Karena itu, isi buku ini akhirnya terjebak pada kepentingan sponsornya, dan sama sekali jauh dari obyektivitas ilmiah, lazimnya sebuah karya ilmiah.
Dari aspek penyusun dan penerbitnya: Sebagaimana diakui oleh Abdurrahman Wahid, buku ini adalah hasil penelitian Lib-ForAll Foundation, sebuah LSM yang memperjuangkan terwujudkan kedamaian, kebebasan dan toleransi di seluruh dunia. Abdurrahman Wahid bersama C. Holland Taylor bertindak sebagai pendiri bersama, sementara bersama-sama KH A. Mustofa Bisri, Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, Por. Dr. M. Amin Abdullah, Prof. Dr. Azyumardi Azra, Porf. Dr. Nasr Hamid Abu-Zayd, Syeikh Musa Admani, Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan, Dr. Sukardi Rinakit dan Romo Franz Magnis Suseno menjadi penasehat LSM tersebut. Mereka selama ini dikenal sebagai tokoh Liberal. Bersama sejumlah peneliti lapangan, mereka menyusun buku Ilusi Negara Islam ini, yang kemudian diterbitkan bersama oleh the Wahid Institute, Maarif Institute dan Gerakan Bhineka Tunggal Ika. Lib-ForAll Foundation sendiri bermarkas di AS, dan didirikan pasca peristiwa 11/9, dengan tujuan untuk memerangi apa yang mereka sebut Radikalisme Agama. Tokoh-tokoh Lib-ForAll Foundation di Indonesia juga mempunyai hubungan baik dengan Israel, dan sangat membela kepentingan entitas Yahudi itu. Sebaliknya, mereka selama ini dikenal bersikap sumir terhadap syariah, formalisasi syariah dan kelompok Islam yang memperjuangkan syariah.
Adapun tuduhan terhadap Hizbut Tahrir sebagai kelompok yang membahayakan Indonesia, adalah sebuah kebohongan besar. Hizbut Tahrir dengan perjuangan syariah dan Khilafah justru bertujuan untuk menyelamatkan Indonesia dari keterpurukan akibat Sekularisme, Liberalisme, Kapitalisme dan penjajahan modern di segala bidang.
Sebaliknya, Liberalisme dan Sekularisme yang selama ini mereka propagandakan itulah yang telah nyata-nyata merusak dan menghancurkan Indonesia. Atas dasar Liberalisme pula, mereka mendukung aliran sesat (Ahmadiyah, Lia Eden, dll), legalisasi aborsi, menolak larangan pornografi dan pornoaksi, mendukung penjualan aset-aset strategis. Maka, merekalah yang sesungguhnya harus diwaspadai, karena mereka menghalangi upaya penyelamatan Indonesia dengan syariah, dengan tetap mempertahankan Sekularisme dan penjajahan asing di negeri ini.
Wassalam,
Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia
Muhammad Ismail Yusanto
Hp: 0811119796 Email: Ismaily@telkom.net
KEMBANGARUMkyaiMAGETI said,
June 4, 2009 at 8:57 pm
ngapunten,nunut ulem-ulem para sedherek…
njawa-njawani-manungsani
sejatine menungsa sing paham jati diri
lemah,ora kuasa ngerteni sing paling apik kanggo awake
namung Maha Pencipta,Gusti Maha Sempurno ingkang paling paham njeron-njerone manungsa lan alam
sejatine menungsa sing paham jati diri ora mbantah sabdaning Gusti, sing aran sare’at utawa syari’at
manunggaling kawulo Gusti yen wis iso ngrasa’ake nikmat;rahmat lil ‘alamin…meniko ingkang sampun jelas sa’jelas-jelase wonten serat paling inggil titipan Gusti dhateng Muhammad saw.sagedo dirasa’aken nggih meniko menawi kawulo menungsa nurut Gusti
indonesia merdeka.sejahtera.asih?monggo miturut sabdaning Gusti..UDKHULU FISSILMI KAAFFAH
monggo enggal waspodo.ide lama,ide baru,monggo obyektif..jangan terjebak strategi lawas adu domba. monggo diteliti,mana yang sekedar memperkeruh suasana.mana yang mikir kepuasan spiritual/jiwa tanpa batas jelas untuk diterapkan di kehidupan nyata. mana yang rasional melangkah untuk semua kesejatian manusia dan kehidupan negeri dan dunia ini..agar tak rugi dunia akherat. nuwun
pancasilais?! said,
June 4, 2009 at 9:12 pm
hidup pancasila
1 ketuhanan yang maha esa,terapkan aturanNYA sebagai bukti iman
2 kemanusiaan yang adil dan beradab,taati aturanNYA agar adil (tepat takaran) dan tak biadab (manusiawi,tidak terkungkung adat tak jelas asal-usul)
3 persatuan indonesia,satukan dg aturanNYA yang tak membedakan pluralitas dalam mengadili dan menyejahterakan
4 kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan,ikuti aturanNYA:sebagai ideologi negara=kedaulatan di tanganNYA,kekuasaan di tangan rakyat.dukung musyawarah berdasar aturanNYA-tolak voting/wakil rakyat yang bersuara hanya berdasar nafsu tamak manusia
5 keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia,luaskan keadilan aturanNYA,satukan negeri-negeri dalam naunganNYA
MERDEKA!!! YA ALLAH tunjukkan kami jalan yang lurus untuk menerapkan syariatMU dg sempurna,membuktikan keadilan syariatMU bagi semua jenis manusia,kuatkan kami dalam jalan juang ini.bukakan hati mereka ya ROBB
Ki sundan said,
June 5, 2009 at 12:00 am
Hatur ki sabda,tak kira ga d saut&maaf bhs syariatnya,ki !ciptaan tuhan yg nmnya manusia itu,terdiri 3 unsur jasmani,(nas,bumi,syariat,ilmu yakin)ruhani(basyar,langit.haqiqat,ainul yakin)nurani(insan,mustawa,haqqul yakin).smua itu msng2 punya 7 unsur(apa itu?nanti dulu)klu aki berpendapat bhw sy punya ruh,prtnyaanya: kpn sy bkin?kali aki ada jwbn.kmdian tentang d mn hawa,nafs,nafsu,itu sy jwb ada d ruhani,trs mutmainah itu ada d sifatul insan yg dhoif(mani,rasa yg ksg,haqiqat manusia),dan klu manusia br d sifanya manusia blm smpe ke Aku sejati.kmdian d mn budi/akal?itu msh d alam langit/ruhani.dan itu semua (LAMIKAL MULKI FI SAMAI WAL ARDLI ILLALLOH)&(INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROJIUN)+(LAHAULA WALAQUWATA ILLA BILLAH),GMN KI GOJO?…ada tanggapan d stupe borobudur?
sabdalangit said,
June 5, 2009 at 1:14 am
Ki Sundan Yth
Senang rasanya, saya bisa “ngangsu kawruh” kepada Anda.
Maaf ada yg perlu di tuntaskan, soal memiliki, kita jangan terjebak pada kelugasan makna, semua orang tahu, manusia tidak membuat ruh. Memiliki bukan berarti yg bikin/mencipta, sangat berbeda ! Semua orang pasti sudah tahu, semua yg ada di jagad raya mutlak milik sang Maha Pencipta, sebagai Causa Prima, yg tidak disebabkan oleh suatu apapun juga.
Anda katakan :kmdian tentang d mn hawa,nafs,nafsu,itu sy jwb ada d ruhani.
Saya tanya : Jadi menurut pemahaman anda nafsu ada di dalam ruh/ruhani. Dengan kata lain Ruh, ruhullah, di dalamnya terdapat nafsu ? Sementara mutmainah (sebagai nafsu yg paling lembut) anda katakan JUSTRU ada di dalam sifatul insan. Jadi maaf ada kesan logika yg terbalik.
Saya tanya lagi : Apa perbedaan antara nafsu yg anda maksud dalam ruh, dengan mutmainah yg anda katakan ada di dalam sifat manusia/sifatul insan ?
Karena yg saya tangkap dari pemahaman anda terdapat pemilahan antara nafsu dengan mutmainah. Untuk lebih jelasnya maaf saya ulang yg anda katakan : …nafsu ada di dalam ruh, sementara mutmainah di dalam sifat insan..??
Anda katakan : …budi/akal itu msh d alam langit/ruhani.
Saya Tanya : jika budi/akal Anda katakan ada di alam langit/ruhani, kenapa akal budi (rasio) masih bisa terpolusi oleh imajinasi palsu dan nafsu negatif, akal budi masih mau merancang rencana jahat ? Berarti di alam ruh (yang suci/ruhullah) itu masih banyak kotoran (nafsu) ?. Dengan kata lain ruhullah bisa kotor.
Lantas, jika menyitir keterangan Ki Sundan, maka secara tidak langsung mengatakan, berarti manusia yg sudah mati, ternyata ruhnya masih akan ada nafsunya ?? nafsu yg meliputi semua nafsu: biologis, makan, minum, seks, psikologis dll. Maaf, saya kesulitan memahami kalimat anda.
Anda katakan bahwa akal/budi ada di alam langit/ruhani (yang tentu saja gaib), kenapa rasio/akal budi JUSTRU kadang tidak bisa menerima suatu kegaiban. Sehingga orang mengatakan sebagai hal yg TIDAK MASUK AKAL/tidak rasional !
Anda katakan : …dan klu manusia br d sifanya manusia blm smpe ke Aku sejati. Namun Anda di sisi lain mengatakan : …insan yg dhoif (mani,rasa yg ksg,haqiqat manusia).
Saya Tanya : bagaimana anda menjelaskan manusia yg sifat dan manusia yg hakekat ?
Maaf banyak pertanyaan buat Ki Sundan, maklum saya masih nyantrik di sana sini. Dan mungkin saya rada telat mikir
salam asah asih asuh
Ki sundan said,
June 5, 2009 at 12:14 pm
Mkrh ki sabda yg budiman.memang paradigma yg berbeda yg kt fahami,krn pd dsrnya itu KEMAHA LUASAN ILMU ALLAH,atau bgm ALAM memahami WAJIBUL HAQ.ki,ALLAH Memberi faham kpd sy bhw nafsu itu ada yg d alam ruhani&nafsu yg ada d sifatul insan.nafsu yg d ruhani itu adalah MAELUN NAFSI ANIL HAWA(NAfsu yg condong kpd kondisi).nafsu yg IRJI ‘ I ILA ROBIKI RODIYATAM MARDIYAH,Krn susunannya sbg berikut’ 1 Nas 2Basyar 3 Sifatul insan 4 Datul insan 5 NUR MUHAMMAD 6 NUR ALLAH 7 DZATULLOH,mulai 1 sd 4 itu punya pecahan tujuh2,dan d mutmainah pun ada 7 hal yg perlu d bedah,nmn itu perlu pemaparan yg lm skli.jd saat ini sy ada paradigma yg bd.oke tanks
sabdalangit said,
June 5, 2009 at 2:54 pm
@Ki Sundan Yth
Beda paradigma sah-sah saja. Yang tdk sahih itu jika kita menghakimi seseorang hanya dengan dalih pikiran kita berbeda dengan seseorang. Tuhan Mahaluas Tiada Batas, sebelum memberikan penilaian pada seseorang saya selalu mawas diri jangan-jangan saya yg keliru. Karena beresiko tinggi untuk terjebak pada subyektifitas golek benere dewe dan golek menange dewe. Dan menilai seseorang sungguh sebisa mungkin saya hindari, karena mengukur kedalaman hati manusia jauh lebih sulit ketimbang mengukur kedalaman laut.
Kembali ke tema, mencermati penjelasan anda, dari NUR Allah (nurullah) lalu terjadi LONCATAN PARADIGMA ke Dzat Allah (Dzatullah), saya mencari-cari di mana letak SIR (sirullah) ? Saya yg bodoh ini jadi sangat bingung. Mohon pencerahannya. Bila panjenengan merasa beda paradigma, anda berhak mengabaikan pertanyaan saya ini, termasuk pertanyaan-pertanyaan sebelumnya.
matur nuwun
salam asah asih asuh
lor Muria said,
June 5, 2009 at 4:21 pm
aku yang bodoh ini juga ikut bingung ki….
sepertinya berbeda dengan yang aku temui/aku tangkap/aku pahami tentang dunia insan dan Tuhan. antara diri manusia dan ALLAH.
penjelasan tentang unsur menusia, ruhani, nurani, dan Dzatullah seperti kebalak-balik, dan terjadi kontradiksi dengan kenyataan yang ada pada diri manusia, ruhani, nurani, nurMuhammad dll.
mohon penjelasannya KI.
walah-walah aku jadi bingung.
hartono said,
June 6, 2009 at 12:18 am
wah ini klo para sesepuh aja pd bingung bagaimana kami2 yang pake logika di bumi.
sebaiknya Kisundan bisa segera menjelaskan paradigma yg beda : apanya dan dimana?
Apa beda pengertian seperti bahasa indonesia dan malaysia :
kesebelasan = pasukan……….di sundul = di tanduk …… berputar = berpusing-pusing
monggo ki, pake bahasa bumi / indonesia/logik klo boleh usul
Lovemedoka said,
June 9, 2009 at 1:07 am
Jika cermati kata ki sabdo : “Saya yang bodoh ini jadi sangat bingung”. Adalah bukan kebingungan ki Sabdo. Tetapi sebagai penegasan atas penjelasan yang diutarakan ki Sundan. Dalam bahasa jawa dengan kultur jawa tentunya, ungkapan “saya yang bodoh” adalah ungkapan untuk tidak sombong. Hal ini seperti tertulis dalam cerita-cerita karangan SH MIntardja, seperti Nogo Sosro Sabuk Inten, Api di Bukit Menoreh, dll. “Saya menjadi bingung” adalah ungkapan atas ketidak setujuan dengan pendapat ki Sundan. Artinya ki Sabdo mempunyai pemahaman yang berbeda dengan ki Sundan. Demikian kultur jawa yang saya pahami. Semoga membantu sehingga tidak terjadi salah paham.
Salam
hadi wirojati said,
June 9, 2009 at 1:28 am
weh malah mbulet ini.. diwolak walik piye ki sundan iki…? wis nyieun mbingungi.., ki sundan.. mangga dilanjut sampai jelas tuntas…, jangan pretheli pinggirnya saja.. tapi kupas juga tengah dan pusatnya.., weh..
pencerahannya.. paradigma anu kumaha..? menurut sampeyan ki sundan..? diantos kupara sadulur…, punten/
salam
Sumego said,
June 10, 2009 at 12:56 pm
Nyuwun Sewu Mas Sabda…Out of topik karena dari tread ini saja saya baru bisa masuk kasih comment
Mas kenapa klo buka blog Njenengan kok susah sering error giliran mau baca2 coment dikomputer saya pernah ada suara bapak2 nggak jelas…. (beneran ini mas nggak bercanda lho….) apa komputer saya yg error OFT. Adakah solusi buat saya…
Mohon maaf sebelumnya….
Salam SEJATI
Salam Taklim
Salam Damai Penuh Cinta
syaiful said,
June 10, 2009 at 7:18 pm
kunjungan perdana di blog ini. blognya bagus. salam kenal ya
sabdalangit said,
June 11, 2009 at 9:40 am
@Sumego Yth
Kumaha daramang Kang ?
Hampura, kAlau lelet mungkin ada something wrong dengan modem Mas Sumego. Krn modem bisa bermerek sama, namun utk kecepatan sangat berbeda-beda untuk satu wilayah dengan wilayah lainnya. Kadang beda posisi rumah bisa beda kecepatan. Istilahnya GSM (geser sedikit mati)…
Mengenai suara bapak-bapak….kok ada teman lainnya pernah ngalami hal yg sama juga ya Mas ?

Nggak apa-apa mas Sumego, sebelum membaca/membuka bisa satukan hati, pikiran, ucapan dan tindakan.
Hampura bila ada kata yg tdk berkenan.
salam asah asih asuh
@Syaiful Yth
terimakasih atas kunjungannya Pak Syaiful, semoga dapat menambah tali silaturahmi.
salam sejati
Sumego said,
June 11, 2009 at 12:50 pm
Mas Sabdalangit Yth
Pengestu Mas Sabda… terimakasih byk info dan sarannya
Saya kira cuma saya Eee jebule ono bature juga to… tiwas GR
Yang musti minta maaf harusnya saya Mas… Njenengan kan Sepuh saya…
Matursembah Nuwun Sepindah Malih
Suradira Jayaningrat lebur Dening Pangastuti
Salam Asah Asih Asuh
senopati14 said,
June 14, 2009 at 12:34 pm
Yth : Mas Sabda…
Terima kasih saya juga sudah Down Load dari tempat lain….!!!, saya setuju bahwa buku tersebut hendaknya sebagai bahan kajian wajib dari setiap manusia Nuswantoro, manusia ingkang taksih pados lampahing gesang, manusia ingkang nyadari isinipun sepiritualitas sejati, manusia ingkang memahami dan mencintai local wisdom sehingga tetap memiliki bobot valensi sebagai manusia Nuswantoro. Emboten secara fisik jenenge isih jeneng Jowo tapi kelakuan sudan Kejawan, sementara jiwanya sudah copy paste soft ware dari tempat lain atau negeri lain….!!. Dalam hal ini kita tidak perlu pembelaan dan tak perlu pembenaran, tetapi semua orang pasti sudah melihat hasil ulahnya, lewat media dan internet, orang sekarang tidak bodho lagi, mudah di kibuli oleh orang2 yang tidak malu2 melakukan dis informasi demi kepentingan kelompoknya, sektenya, Angkara dari mana asalnya??, penjajahan dari mana sumbernya baik secara kejiwaan, pemerintahan dan kelompok ??…Ya, Ya….!! Nusantara mau di jajah siapa lagi ??! mau ngebayar setoran or gelodong peng areng2 ke negara mana lagi???…
Matur nuwun & terima kasih.
Salam Merdeka…!!.
ayib said,
July 8, 2009 at 1:12 pm
maaf saudara2
buku Ilusi Negara Islam memang bermasalah.
Mohon dicek
http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=17643
ari__ said,
July 14, 2009 at 1:08 pm
Salam,
Ijin Download Ya, semoga semuanya sehat & menjadi persaudaraan yg erat. amiin
w.salam
daud said,
September 3, 2009 at 12:03 pm
yang penting prinsip kita hidup di dunia ini “peace for all harted for none”
minary said,
September 19, 2009 at 7:31 pm
mas minta ijinnya ya mau ambil naskah untuk tak posting di blogku..blognya mas sabdo langit ok..ini sabdo langit tritunggal atau tidak
====================
Monggo, silahkan mas/mbak. Ini bukan sabdolangit tritunggal melainkan sabdalangit.
rahayu