Pernyataan bersama  Mas Kumitir & Ki Wong Alus

manuk&bungaBagaimana memajukan negeri kita agar bisa setara dengan negeri-negeri lainnya seperti China dan Jepang yang memiliki cadangan devisa terbesar di dunia? Salah satu hal yang kami sepekati adalah diperlukan sebuah revolusi budaya di negeri kita. Kenapa harus budaya? Sebab intisari budaya adalah pola pikir, perilaku, kebiasaan yang sudah berakar urat dalam kurun waktu yang panjang. Pola pikir para anak bangsa yang cenderung tidak kreatif, tidak inovatif dan secara salah menafsirkan harapan hidup pada akhirnya melahirkan generasi yang tidak memahami sangkan paraning dumadi.

Inilah masa sekarang. Generasi yang dimanja oleh situasi yang memang membius mereka dalam kemudahan dan tidak mengenal proses perjuangan untuk merengkuh kebebasan. Pengembangan diri bersifat pragmatis dan materialistik yang hanya ditujukan untuk meraih prestasi dan melupakan pengembangan diri yang bertumpu pada budaya ke-Indonesiaan kita.

Siapa yang harusnya memulai untuk mengadakan gerakan REVOLUSI BUDAYA? Menurut hemat kami, yang harus mengawali adalah mereka yang selama ini hidup di sentra, kantong, dan EPISENTRUM BUDAYA. Siapa lagi kalau bukan PARA RAJA dan PARA KERABAT DAN SENTANA DALEM. Raja tidak hanya simbol, merekalah yang menggenggam RUH BUDAYA karena dari sanalah sesungguhnya dimulainya BUDAYA.

Terus terang, sekarang ini PARA RAJA JAWA (KHUSUSNYA RAJA DI KRATON KASULTANAN NGAYOGYAKARTA HADININGRAT, RAJA DI KRATON PURI PAKUALAMAN, RAJA DI KRATON  MANGKUNEGARAN, RAJA DI KRATON KASUNANAN SURAKARTA) tidak mampu mampu lagi menempatkan dirinya dalam kancah perubahan budaya di masyarakat modern.

Mereka terpaku dan hanya jadi penonton perubahan budaya yang berlangsung cepat. Mereka tidak mampu menjadi PENGGERAK BUDAYA yang konon sangat adiluhung. Bagaimana bisa menjadi penggerak budaya bila hidup para raja semakin HEDONISTIK DAN FEODALISTIK?..

Para raja itu masih hidup tapi tidak memiliki semangat untuk menjadikan masyarakat yang berbudaya Jawa tersebut maju, berilmu tinggi dan mampu mengolah rasa/dzikir dan pikir mereka sehingga menjadikan budaya sebagai basis pengembangan diri. Masyarakat yang kehilangan JATI DIRI BUDAYA tempat dimana dulu mereka dilahirkan akan tumbuh sebagai masyarakat yang anti peradaban dan cenderung hanya menyerap peradaban modern tanpa disaring.

Budaya membaca, menulis, mengolah diri menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur dan sesuai dengan jati diri bangsa kian lama kian hilang. Padahal di dalam khasanah budaya Jawa kita mengenal kearifan lokal bagaimana hidup di tengah perubahan yang cepat.

Kami telah berusaha keras untuk mendapatkan berbagai kitab-kitab Jawa kuno baik berupa manuskrip, fotocopy, atau buku aslinya tapi itu lebih banyak kami dapat dari buku-buku yang dijual di pinggir Jalan. Sementara buku-buku Jawa yang ada di Kraton yang kami yakini masih bertumpuk di gudang-gudang semakin dimakan kutu buku dan rayap.

Keraton –sejauh kami tahu– tidak memiliki niat untuk membuka akses buku-buku babon dari para pujangga Jawa. Para Raja, Para Kerabat dan Para Sentono Dalem tidak memiliki keinginan sedikitpun untuk MBEBER KAWICAKSANAN dan selama ini lebih cenderung untuk HANYA MENYIMPAN DALAM GUDANG SAJA.

Inikah FUNGSI KRATON SEBAGAI SARANA UNTUK NGURI-URI KEBUDAYAAN JAWA YANG ADILUHUNG ITU?  Bila Kraton dan juga para Raja menyadari fungsinya sebagai penggerak dan pelumas bergeraknya budaya, harusnya mereka membuka akses kepada masyarakat seluas-luasnya untuk mendapatkan informasi termasuk juga mendapatkan KUNCI MASUK KE PERPUSTAKAAN KRATON.

Menyimpan buku-buku / naskah-naskah kuno dan menganggapnya sebagai JIMAT adalah sangat bertentangan dengan semangat membangun bangsa. Sebab membangun bangsa diperlukan gotong royong yang erat berdasarkan profesi dan kompetensinya masing-masing. Bila budayawan Jawa saja kesulitan untuk mendapatkan akses ke kraton, mana bisa mereka mengetahui nilai-nilai budaya Jawa jaman dahulu bila tidak dari buku-buku kuno?

BUDAYA bukanlah hanya HASIL, sebagaimana candi-candi, rumah-rumah adat, kitab-kitab kuno, adat istiadat, benda-benda seni dan lainnya. Budaya adalah sebuah PROSES yang terjadi di masyarakat yang harus terus BERINOVASI dan memiliki ENERGI KREATIF  yang besar untuk memajukan kemanusiaaan yang lebih manusiawi, yang memiliki rasa kebertuhanan yang lanjut dan hingga sampai kesimpulan penghayatan hidup.

Untuk mengetahui HAKIKAT BUDAYA, kita memerlukan sebuah proses MEMBACA DAN MENULIS. Baik membaca KITAB YANG TERTULIS, maupun membaca dalam arti yang luas yaitu MEMBACA KITAB TIDAK TERTULIS, yaitu ALAM SEMESTA beserta ciptaanNya. Sementara MENULIS berarti mengadakan PERENUNGAN dan MENGOLAH DENGAN AKAL PIKIR hingga kemudian berlanjut ke tahap MELAKUKAN DALAM PERILAKUNYA SENDIRI-SENDIRI.

Sebagai bagian dari semangat untuk NGANGSU KAWRUH itulah maka, sudah pada tempatnya bila PARA RAJA DI RAJA JAWA (KHUSUSNYA RAJA DI KRATON KASULTANAN NGAYOGYAKARTA HADININGRAT, RAJA DI KRATON PURI PAKUALAMAN, RAJA DI KRATON  MANGKUNEGARAN, RAJA DI KRATON KASUNANAN SURAKARTA) membuka akses yang seluas-luasnya kepada masyarakat untuk MEMPELAJARI  kitab-kitab kuno yang hingga saat ini tersimpan erat dalam gudang-gudang mereka.

Demikian uneg-uneg dari kami, semoga para RAJA JAWA menyadari kepelitannya selama ini. Mohon maaf bila tidak berkenan dan MONGGO KEPADA REKAN-REKAN YANG SEGARIS PERJUANGAN UNTUK BERGABUNG DENGAN KAMI DALAM GERAKAN REVOLUSI BUDAYA JAWA INI.

Ttd :

Alangalangkumitir & Ki Wongalus

SALAM HORMATKU KEPADA: KI WONGALUS & MAS KUMITIR

Saya selalu menyimak dengan cermat di manapun panjenengan berdua selalu menggores pena, di situlah tampak sumunaring surya, pencerahan demi pencerahan datang bertubi, bagaikan kekuatan aufclarung yang begitu dahsyat. Memang benar apa yang panjenengan berdua katakan, kerajaan yang ada di  Nusantara, baik yang terletak di pulau Jawa-Banten-Cirebon, Sumatera, Sulawesi, dll, masih terdapat banyak kerajaan. Namun kerajaan tinggalah bagaikan sangkar yang tiada penghuninya lagi. Kerajaan yang hilang gaungnya ditengarai sebagai kali ilang kedunge, pasar ilang kumarane. Raja lebih fokus berbisnis dan berpolitik. Kepedulian akan perannya sebagai cagar budaya Nusantara sudah  terbengkelai. Jika di zaman dahulu Raja berperan ganda sebagai seorang spiritualis handal sekaligus pemimpin wilayah, kini seorang raja hanyalah menduduki simbolisme tanpa makna, berbasa-basi sebagai sumber kearifan lokal. Ibarat harimau sudah kehilangan taringnya, kini malah giliran belangnya  semakin pudar.

Tak bisa dipungkiri, sudah menjadi kehendak Hyang Manon kelak negeri ini akan mencapai kejayaannya kembali, manakala masing-masing suku bangsa kembali menghayati dan melestarikan kearifan lokal, memiliki jiwa apresiasi tinggi terhadap seni dan budaya serta tradisi yg indah sekali. Kita telah mendapat pelajaran berharga bagaimana bangsa bangsa di Asia berkembang pesat yakni Cina, Jepang, India, Korea, Taiwan, Thailand, mereka dapat eksis berkat kekuatan akan jatidiri bangsa yang tidak mudah terombang-ambing nilai-nilai asing yang melahirkan diskrepansi dengan akar budi daya setempat. Bangsa akan menjadi BESAR  bilamana mampu MENGENALI JATI DIRI yang sesungguhnya, sebagaimana pepatah “jadilah dirimu sendiri”, supaya ku tahu yang ku mau. Sementara umat beragama, bukan lagi tergila-gila sekedar menjadi seorang yang AGAMIS saja, namun menyadari pentingnya PENCAPAIAN SPIRITUALITAS yang mendalam.

Bangsa yang TIDAK MENGENALI JATI DIRINYA akan kehilangan arah, menjadi bangsa yang serba salah tingkah, tidak sinergis dan harmonis alias timpang dengan keadaan alam sekitar. Bangsa yang tidak memahami karakter alamnya, sifat-sifat masyarakatnya, sama halnya Anda hidup terombang-ambing di bawah KOLONIALISME  KEBODOHAN. Pada gilirannya, bangsa ini benar-benar menjadi bangsa tercerabut dari akarnya, limbung lalu jatuh tersungkur, dan hancur. Semoga pencerahan demi pencerahan disuarakan oleh para generasi muda dan tua bangsa, baik perempuan maupun laki-laki yang masih memiliki semangat “renaissance” dan berenergi tak pernah habis.

Dengan adanya uneg-uneg di atas semoga menjadi gerbang pembuka kesadaran bagi semua pihak yang bertanggungjawab atas pelestariaan budaya dan ragam kekayaan nusantara peninggalan nenek moyang. Betapa ilmu setinggi apapun tak akan bermanfaat sedikitpun bila hanya tersimpan rapat di “gudang” perpustakaan. Dapat dibayangkan apa yang akan terjadi, bila buku-buku kuno yang  sangat tinggi nilai filosofinya hanya “bermanfaat” untuk pakan rayap dan ngengat. Ing wusana, sumangga, kita bersama-sama menggantikan peran si rayap dan si ngengat.   Salam asah asih asuh.

sabdalangit

About these ads