LETAKKAN AGAMA DI BAWAH NEGARA

June 24, 2009 at 11:06 am (LETAKKAN AGAMA DI BAWAH NEGARA) (, , , , )

KONTEMPLASI UNTUK CAPRES CAWAPRES

Tanpa mengurangi rasa hormat, saya terpancing menanggapi statemen Cawapres Budiono dalam menjawab pertanyaan seorang penanya dalam debat Cawapres pada hari Selasa 23 Juni 09 Jam 20-21 di salah satu stasiun TV swasta. Pertanyaan yang diajukan adalah,”Melihat berbagai kekerasan berbau agama, sebaiknya di manakah agama diletakkan ? Pak Bud menjawab secara tegas dan singkat,” agama sebaiknya diletakkan di atas segalanya.

Sekilas jawaban tersebut tampak sebagai jawaban yang sangat ideal dan bijaksana.  Namun saya pribadi terperanjat mendengarnya. Saya tetap berusaha berprasangka baik kepada Pak Bud, mungkin beliau tergesa-gesa dalam menjawab, dan ia bukanlah seorang dengan latar belakang ilmu tatanegara, sosial-politik, dan ia belumlah menjadi seorang  negarawan. Beliau baru menjadi seorang praktisi ekonom dan kini sambil belajar menjadi negarawan. Semoga belajar Anda membuahkan prestasi yang gemilang seiring perjalanan waktu.

LETAKKAN AGAMA DI BAWAH NEGARA

Agama berbeda dengan Tuhan. Agama adalah bagian dari unsur budaya masyarakat, yakni sistem kepercayaan. Sistem kepercayaan yang kemudian dilembagakan oleh  manusia. Agama menjadi lembaga yang berisi tata cara, upacara, aturan, dengan seperangkat nilai yang mengatur kehidupan umat manusia dalam berhubungan dengan sesama umat dan dengan Tuhan. Di Indonesia sedikitnya memiliki 6 lembaga agama yang diakui oleh  Negara. Fungsi negara terhadap agama adalah urusan mengelola bagaimana idealnya agama hidup berdampingan dengan agama lainnya. Negara menjamin agar supaya masing-masing umat agama bisa menjalankan tata aturan agama secara merdeka dalam  arti tidak direcoki umat agama lain. Dengan demikian fungsi negara adalah sebagai wasit (arbitrasi) di antara agama-agama yang ada agar tidak terjadi benturan. Fungsi Negara sebagai PENGELOLA tetap harus netral dan adil berdiri di atas semua agama.  Apalagi Indonesia bukanlah negara agama, bukan pula hanya ada satu agama di nusantara.  Dapat dibayangkan apa yang akan terjadi jika semua agama-agama yang ada di tanah air ini diletakkan di atas otoritas negara, dalam arti peran agama lebih diutamakan ketimbang peran negara, maka konsekuensinya agama mengambil alih peranan menjadi PENGELOLA negara. Jika hal itu terjadi maka peran negara akan menjadi lemah, sebaliknya masing-masing agama akan memiliki pendirian yang berbeda dan masing-masing akan berebut pengaruh. Implikasinya bisa timbul hukum rimba siapa yang kuat atau siapa yang mayoritas akan mendominasi permainan. Negara pun akan didikte sesuai kemauan pihak yang mendominasi. Sementara agama yang memenangkan percaturan, tetap saja tidak akan mampu  mengganti peran negara sebagai pengelola bangsa. Implikasinya akan sangat berbahaya, karena Indonesia adalah bangsa yang plural, heterogen, meliputi berbagai suku, ras, agama, kelompok politik, dan golongan. Tentu saja dominasi agama apapun dalam pengelolaan negara justru akan mengakibatkan perlawanan yang bertubi dan akan menghancurkan negeri ini. Kejadian yang tidak kita semua kehendaki. Lain halnya jika negara memainkan peannya sebagai pengelola, yang menjamin kemerdekaan kepada setiap umat untuk menjalankan kegiatan peribadatan agama, maka kehidupan antar umat beragama akan menjadi tenteram, khusuk, saling menghargai, toleransi, damai sejahtera. Sehingga setiap warga bangsa secara leluasa bisa mengembangkan pencapaian  spiritualitasnya tanpa gangguan umat lainnya.

AGAMA BUKANLAH TUHAN

Mungkin membaca tulisan saya di atas, bisa saja ada yang tergesa menyimpulkan, sebagai tulisan sekuleris, melemahkan peran agama, atau yang paling ekstrim meletakkan Tuhan di bawah kekuasaan negara. TIDAK. Tuhan tetaplah Tuhan. Tuhan berbeda dengan agama. Tuhan bukanlah lembaga agama. Tuhan bukan pula sekedar nama. Nama-nama Tuhan adalah urusan bahasa manusia. Bukankah Tuhan sudah ada semenjak manusia berikut bahasanya belum diciptakan. Pada waktu itu tentu saja Tuhan belum diberikan nama apapun oleh segenap manusia. Tuhan tentu saja tidak menyembah apapun sehingga Tuhan tidak memeluk dan memerlukan satu agamapun yang ada di muka bumi ini. Agama adalah sistem kepercayaan masyarakat yang telah dilembagakan, karenanya agama sangat dibutuhkan umat manusia untuk menata kehidupan agar tertib dan teratur. Agama menyediakan jalan spiritual yang bisa dilalui oleh manusia.  Agama adalah urusan pribadi masing-masing orang. Sedangkan negara adalah lembaga besar yang mengurusi seluruh warga bangsa tanpa boleh sepihak, pilih kasih berdasarkan suku, ras, golongan, agama. Itulah garis besar negara, sudah seharusnya mengikuti rumus kebijaksanaan Tuhan.

TUHAN DI ATAS SEGALANYA

Tuhan adalah sang Causa Prima, penyebab segala yang ada di jagad raya. Penyebab utama, yang tidak disebabkan oleh suatu apapun juga. Tuhan dapat dibayangkan sebagai episentrum dari semua energi yang ada di jagad raya ini. Tuhan berada di ruang transendental di luar diri, namun ada di alam ruang pribadi manusia. Jauh tak berjarak, dekat tak bersentuhan. Tidak di mana-mana namun ada di mana-mana. Tuhan tak bisa dihitung, karena Tuhan bukan benda/makhluk “countable noun”. Tuhan itu uncountable, namun bukan berarti jamak. Tuhan bukannya satu, namun tunggal. Jika Tuhan itu satu (countable) berarti Tuhan bisa dihitung dan menjadi sangat terbatas. Meskipun demikian Tuhan  berbeda  pula dengan udara, air api yang uncountable noun. Kesimpulannya, Tuhan Maha Besar tak bisa lagi dibayangkan dengan rasio. Tuhan tidaklah warna-warni, tidak pula beragam, Tuhan mengatasi segala perbedaan, melampaui suku, bangsa, ras, lembaga sistem kepercayaan,  golongan, dan kelompok kepentingan. Dengan demikian barulah layak jika kita menempatkan Tuhan di atas negara. Jadi, prinsip negarawan hendaklah menyerupai prinsip keTuhanan yang melampaui semua perbedaan “kulit”. Tuhan tidak terikat oleh unsur SARA, dan kepentingan pribadi. Negarawan mengatasi lingkup wilayah negara tertentu dengan segala perbedaan yang ada. Sementara itu kekuasaan Tuhan mengatasi segalanya yang ada di jagad raya. Negarawan mengatasi segala warna dan perbedaan yang ada di wilayah negara dan bangsanya. Negarawan harus memiliki “ruh” kemanunggalan. Letakkan Tuhan di atas negara, letakkan agama di bawah pengelolaan negara. Jangan ragu, walau agama diletakkan di bawah pengelolaan negara, bukan berarti negara kita Indonesia Raya menjalankan roda pemerintahan tanpa landasan spiritualitas  yang luhur. Konsep demikian sudah jelas-jelas terangkum di dalam PANCASILA yang merepresentasikan UNIVERSALITAS NILAI-NILAI RELIGIUS dari ajaran agama-agama yang ada di planet bumi. Itulah kehebatan petuah Pancasila. Kenapa calon negarawan masih bingung dalam menentukan sikap kenegarawanannya.

MAU JADI NEGARAWAN ATAU POLITISI

Siapapun Capres-Cawapres terpilih hendaklah menanggalkan perannya sebagai politisi, dan mulailah menjadi seorang negarawan. Berbeda dengan politisi, seorang negarawan tidak pernah melakukan “kebijakan” yang berdasar kepentingan sepihak, primordialis, etnosentris, rasis. Karena negara adalah milik seluruh warga bangsa yang heterogen dan plural. Negara yang ideal adalah mengatasi seluruh warga bangsa termasuk di dalamnya agama sebagai sistem kepercayaan dan beragamnya suku bangsa yang ada di Indonesia. Lain halnya politisi, ia bukanlah negarawan, politisi lebih mengutamakan kepentingan kelompok atau golonganya sendiri, bahkan kepentingan pribadinya. Siapapun Anda yang kelak menduduki kursi jabatan sebagai pemimpin negeri, haruslah melakukan brain washing, merevolusi sikap dan prinsip dari seorang politisi menjadi seorang negarawan sejati.  Dan hal itu tidak mudah dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari.

TINGGALKAN TABIAT JAHILIAH

Terlepas dari upaya dukung mendukung, kampanye, apalagi menjatuhkan, sebagai  sesama manusia dan sebagai warga bangsa, saya berharap semoga semua capres dan cawapres bila target politiknya sudah tercapai, berhasil menjadi pemimpin negeri.  Hendaknya mampu menjalankan tugasnya sambil terus belajar tanpa henti untuk menjadi negarawan sejati.. Setiap saat belajar menjadi lebih baik lagi. Dimulai sejak dini  tidak ada lagi sikap saling menyerang kelemahan dan kesalahan lawan demi mengunduh keuntungan popularitas  pribadi.   Jangan ada lagi rasa tega hati “menari di atas bangkai lawan”, karena tak ada seorangpun bisa luput, sapa nggawe bakal nganggo, siapa menanam akan mengetam. Artinya tabiat buruk demikian itu pasti akan berbalik menghantam diri sendiri. Berikanlah masyarakat contoh-contoh yang baik, arif, ideal, bijak, bagaimana harus bersikap terhadap lawan politik, yakni tetap menaruh sikap hormat setinggi-tingginya, baik dalam perilaku maupun ucapannya. Hapus dan hilangkan kebiasaan buruk para politisi yang gemar mencari-cari kelemahan lawan untuk tujuan menjatuhkan popularitasnya. Amat baik dan mulia bilamana para politisi kita bermain fairplay, lebih baik memfokskan diri giat mengenali jati diri,  mengetahui kelemahan pribadi, untuk selanjutnya mampu menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Lakukan segala sesuatu yang baik dan bermanfaat kepada sebanyak-banyaknya orang, dan JANGAN PERNAH MENILAI dan MENGHITUNG-HITUNG AMAL KEBAIKAN yang pernah anda lakukan. Biarkan masyarakat yang menilai sendiri secara obyektif.  Hampir semua CAPRES-CAWAPRES bersikap NARSIStis,  dikiranya sikap itu akan melambungkan image kebesaran nama. Padahal siasat itu justru meluluhlantakkan track record di hadapan Tuhan dan di depan masyarakat yang kini tidak bodoh lagi menilai. Tak satupun yang berani melakukan TAPA MENDHEM, mengubur segala kebaikan yang pernah ia lakukan kepada orang lain dari ingatan Anda sendiri. Tapa mendhem (mengubur diri) berkaitan erat dengan KETULUSAN dalam berbuat baik. Kenyataannya adalah paradoksal, semuanya melakukan pamer, mengalami berbagai sindrom negatif : “eksibisionis”, narsis, mengagungkan diri sendiri, megalomania, dan itu semua menjadi BUKTI NYATA bahwa calon pemimpin kita BELUM LULUS belajar KETULUSAN HATI.  Ketulusan hati yang ada dalam diri pribadi Anda semua Capres-cawapres akan sangat berpengaruh kepada keberhasilan Anda kelak menjadi pemimpin bangsa dan negara yang besar ini. Dan Anda adalah manusia pertama dan kedua yang bertanggungjawab atas apa yang akan terjadi di negeri ini.

Tulisan ini sekedar suara hati nurani rakyat jelata. Peran saya pun tak ubahnya punakawan Mbilung dan Togog. Biarpun teriak-teriak lantang, mulut berbusa kehabisan ludah,  tetap saja semua pepeling kepada para kesatria dari nagri sabrangan, sudah biasalah  dicuek.  Mungkinkah hari gini orang masih mengira, bahwa jelata itu bukanlah apa-apa, maka abaikan saja. Saya percaya, para “kesatria Pendawa Lima” tetaplah ada, namun sembunyi di manakah  mereka,  atau memang belum saatnya tampil memimpin negeri ini.

87 Comments

  1. jack said,

    Memang, dalam debat itu (khusus masalah agama), kelihatan kalau yang paling realistis dan memahami permasalahan adalah Wiranto dengan jawabannya yang membumi… agama dalam tanda kutip “standar moralitas dan akhlaq agama” menjiwai peraturan dan kebijakan.
    Budiono jelas sekuler sekali… Prabowo dilematis (soalnya capresnya Mega jelas sekuler), jadi dia cari aman ngikut omongan Budiono…

    • sabdalangit said,

      Hahaha..ternyata semua merasakan hal yg sama. Saya khawatir jangan-jangan hanya penilaian pribadi saya yg subyektif.
      Nuwun mas Jack Yth

      salam sejati

  2. Gagak seta said,

    Negara indonesia berdasarkan kepada KETUHANAN YANG MAHA ESA bukan berdasar agama.Kembalì lagi kepada pemahaman hakekatnya Tuhan.Juga kurangnya pemahaman tentang keragaman Indonesia.Kenali dengan benar jati diri bangsa untuk bisa memimpin bangsa!!!
    Rahayu

    • sabdalangit said,

      Ya..begitulah seharusnya memahami, SPIRITUALITAS mustinya yang diletakkan di atas Negara. Spiritualitas merupakan perilaku yang religius. Berupa budi pekerti luhur atau akhlak mulia. Dan semua pedoman akhlak mulia sudah dirangkum secara komplit di dalam Filsafat berbangsa bernama PANCASILA, yg meliputi berbagai dimensi yakni: Ketuhanan, individu, masyarakat, kebangsaan. Baik bidang ekonomi, politik, maupun sosial.
      salam sejati

    • S™J said,

      mereka yg menganggap agama di atas negara itu biasanya karena percaya bahwa ajaran agama adalah aturan sempurna pemberian Tuhan. esensi atau standar etika moralnya sih boleh saja disebut paripurna dan universal, tetapi bagaimana pun juga tafsir manusia tidak sempurna dan bisa berbeda-beda tiap individunya. meletakkan suatu tafsir dari sebuah agama di atas kepentingan bangsa yg majemuk, buat saya seperti mengingkari fitrah manusia, tempatnya salah dan lupa.

  3. dbo911 said,

    Yth. Kimas Sabdalangit serta Kadang Sutresna semua…
    Saya sangat setuju, saya ulang SANGAT-SETUJU pandangan Kimas Sabdalangit tentang Agama dan BerkeTUHANan(RELIGIUSitas)…..
    Seorang Religius adalah seorang PENCARI-SEJATI…. Dia tidak berani membatasi Hyang Murbeng Dumadi menetapkan Jumlah-Utusan yang dipilihNya… Bahkan seorang PENCARI-SEJATI, mengakui dan mensyukuri bahwa diujung Akar-Rumputpun ada ‘Utusan Sang Maha Pencipta’…….

    Tempat-Ibadah seorang RELIGIUS(PENCARI-SEJATI) adalah dibawah KUBAH ALAM-SEMESTA……

    Semoga Gusti Ingkang Murbeng Dumadi Karsa Hangijabahi terwujudnya ”TRIWIKRAMA-BUDAYA NUSANTARA”……

    TRIWIKRAMA-BUDAYA akan MENYIBAK segala halusinasi, illusi yang telah menyebar luas selama ini…bahkan telah membentuk Fatamorgana yang menyesatkan perilaku-hidup ratusan juta umat manusia…Fatamorgana yang ternyata lebih berbahaya dibanding extasi…….

    TRIWIKRAMA-BUDAYA semoga MAMPU MENYINGKIRKAN FATAMORGANA ini…….

    Rahayu kagem Kadang Sutresna Kimas Sabdalangit serta Kadang Sutresna yang lain diPersada NKRI…

  4. ratanakumaro said,

    Mas Sabdalangit yang terhormat..,

    Wah, postingan anda ini,
    Tidak bisa komentar, salut saja.. .

    Sebaiknya suatu saat nanti mas Sabdalangit mencoba maju mencalonkan diri jadi capres atau cawapres mas, pasti saya akan ikut memberikan suara/dukungan.., bener lho ini… .

    Sukses selalu mas,
    Semoga Anda Senantiasa Selamat Sejahtera
    ;)

    ( Ndherek nitip link/tautan artikel mas :
    http://ratnakumara.wordpress.com/2009/06/22/tuhan-yang-maha-dimata-seorang-buddha/

    Nuwun )

  5. titi suwito said,

    Saya angkat 2 jempol untuk Ki Sabda. TOP BGT ulasannya.

    Semoga pesannya untuk para negarawan bisa didengar, dipahami, dimengerti, dihayati dan diamalkan dalam menjalankan tugasnya nanti. tidak hanya oleh pres&wapres, tapi juga para wakil rakyat dan rakyatnya. Amin.

    Rupanya semua orang sangat tertarik mengikuti debat semalam.
    Menurut saya jawaban diplomatis dan universal (ttg agama) hal yg baik, daripada diartikan salah oleh pihak/kelompok yang merasa pandai atau paling benar. Kan kalau sudah diucap akan dijadikan komitmen dan dipertanyakan dikemudian hari, nah klo ditafsir salah kan berabe.

    Btw, megapa juga moderator nanya masalah seperti itu? kok bukan masalah lain yg lebih spesifik yang berhubungan dgn kemana/bagaimana mereka mau membawa bangsa ini, jangan-jangan BBM (baru bisa mimpi)?

    Salam

  6. Ngglosor Madhep Wetan said,

    Cakep tulisannya Mas Sabda…

    Terus terang saya bingung mo milih siapa nantinya yg bakal jadi capres atawa cawapres…. lha wong gabres ;) semua paparannya…
    lha dibilang acara debat tapi isinya malah paparan (yg saya duga sudah diskenariokan sebelumnya)… dan yg penting.. isinya ndak mencerminkan pemikiran seorang negarawan

    kenapa saya bisa bilang gitu ?

    semuanya bicara soal langkah ekonomi & kesejahteraan rakyat dengan berbagai versi : ada yg model kerakyatan, ada yg model liberalis…

    semua ngomong soal penggerakan rakyat

    dari jaman pak harto sudah dilakukan itu, ini cuman pengulangan slogan saja, tentu dengan terminologi yg berbeda..

    semua program ekonomi & kesejahteraan sudah basi sebenernya… :(

    saya bingung, padahal mereka itu punya pengalaman hidup dan pendidikan bak para dewa, yg banyak orang hanya mampu memandangnya tanpa bisa menikmati… sudah seharusnya mereka memiliki visi & misi bagi negara ini secara baik, benar & jelas, dibandingkan dengan rakyat nuswantara kebanyakan

    penggerakan & pemberdayaan rakyat adalah program yg baik, tapi apa gunanya program itu bila tidak didukung dengan perangkat hukum & sistem operasionalnya ?

    andaikan rakyat bertani, lalu membeli bibit & pupuk, apa atau siapa yg dapat menjaga supaya bibit & pupuk tidak tiba2 hilang di pasaran atau kalaupun ada harganya membumbung ?

    pun jika panen, apakah ada perangkat yg dapat menjaga supaya importir beras tidak mengebomi negara ini dengan beras impor nan murah ?

    itu baru masalah pertanian, belum lagi asosiasi profesi lainnya. sejauh saya lihat (mudah2an saya salah) baru ikatan dokter indonesia (idi) yg asosiasi profesinya disahkan secara hukum, jadi dokter (sebenarnya) tidak bisa semata-mata seenaknya menggarap pasien, pun pasien memiliki hak2 yg jelas

    asosiasi profesi lainnya sering mendapat pelecehan dari masyarakat, jasa dengan tuntutan performa yg tinggi sering ditawar seperti jual-beli sayur di pasar :( , bila ada juklak honorarium dari asosiasi sering tidak ditanggapi oleh klien (masyarakat)

    buat apa menggerakkan & memberdayakan rakyat kalau ndak ada perangkat perlindungannya

    saya jadi punya prasangka jelek, jangan2 perangkat hukum untuk perlindungan asosiasi profesi ini ditiadakan untuk celah para bandit bisnis bergerak… yg artinya adalah memberikan penghasilan ekstra (yg menggiurkan tentunya) bagi para kaum eksekutif & yudikatif di negara ini

    pun masalah agama…

    selama ini tidak ada hukum yg mengurusi masalah lintas agama, terutama untuk masalah keributan antar umat beragama

    solusi selalu diserahkan melulu kepada pihak yg bertikai… biarpun melalui mediasi, namun tetap saja jika ndak ada perangkat hukumnya yaa sia2 saja

    jadiiii….. Poro Pinisepuh lan Poro Sedulur sekalian…..
    bukan seorang calon negarawan atau seorang negarawan yg baik & benar jika tidak memiliki konsep melindungi bangsa & negaranya

    sepertinya kita, rakyat nuswantara, musti berjuang lebih keras lagi untuk bertahan hidup, karena para capres & cawapres yg tersaji saat ini begitu menyedihkan

    pun saya berdoa, agar pres & wapres yg terpilih nantinya diberkahi budhi & pikirnya oleh Gusti Ingkang Maha Suci, agar dapat bertranformasi budhi & pikirnya supaya memiliki hati & pikir untuk rakyat (memiliki sikap pikir sebagai seorang negarawan), dan bukan untuk kekayaan & ketenaran pribadi semata

    hayu
    hayu
    hayu
    rahayu
    rahayu
    rahayu

  7. hadi wirojati said,

    pamuji rahayu..,

    sepertinya hanya gebras gebres ora bares… cawapres dan capres cuma cari kepenak’e dewe wong saiki.., mereka hanya golongan orang orang yang pada kedanan politik.., tapi Bukan NEGARAWAN.., seorang politikus hanya berpikir bagaiman menjadi orang top dalam politik.dengan segala daya upaya baik ataupun buruk. tapi SEORANG NEGARAWAN adalah simbol.. untuk rakyatnya . betul sekali kangmas Sabdalangit.. seorang negarawan harusnya tidak etnosentris, primordial, rasis.. dan bisa menempatkan agama dibawah negara.. yaitu karena agama lahir dari budaya, tradisi dan dilembagakan manusia dan diberi label…, seolah olah Agama Tuhan. apalagi hanya memihak yang menguntungkan dia…, yang tidak dilibas.. , arah kemana negara ini akan dibawa.., bangsa kita sudah mulai pinter dan mudah mudahan saking pada pinternya ndak akan keblinger.. saya nanti malah thenger thenger.. ndomblong mlogo…, sambil bergumam.. kapan calon pemimpin kita sekarang dan akan datang yang seperti kangmas Sabdalangit…? semoga Ya Gustiku ingkang hanguasani sakabehing alam, jagad lan bawana…,

    salam sihkatresnan

    rahayu..rahayu.. rahayu…,

  8. yang-kung said,

    Letakkan agama dibawah negara,itulah yang paling tepat.Agama itu “ageming aji”–milik pribadi,yang satu dengan yang lain berbeda.Yang ada diatas negara adalah TUHAN yang maha esa.
    Roh Kuduslah yang menjadi sumber kekuatan,sukacita dan pengharapan kita sebagai umat beriman.Dalam Dia kita dpt mengembangkan bermasyarakat dan bernegara,memperjuangkan keadilan,membangun komunitas,menjadi teladan,menghargai martabat manusia dan akhirnya menjadi manusia berperilaku adil.Dan media komunikasi menjadi sarana yg ampuh diabad ini untuk merajut kebersamaan kita,baik kpd Tuhan maupun kpd sesama.

    semoga warga bangsa ini “diparingi eling lan waspada”
    salam sejati kagem kangmas sabdalangit sabrayat agung.

  9. celetukansegar said,

    Nunggu Petruk Dadi Ratu!

    Salam Brrrrr angan-angan!

    • KangBoed said,

      baru ada kang CEPOT yaaa..

  10. ejajufri said,

    Saya tidak bicara tentang Indonesia, tapi negara supra-agama itulah negara ideal.. Salam kenal…

  11. KangBoed said,

    sejatinya AGAMA adalah jalan HIDUP… jalan yang LURUS… untuk menemukan YANG MAHA HIDUP..
    Salam Sayang
    Salam Kangen.. Kang Mas Sabda Langit

    • sabdalangit said,

      Salam kangen juga Adimas Boed, oh ya..kira-kira Agustus kumaha, janten ngariung di Bandung kan ?!! Panginten kaping sabaraha nyak ?
      Diantos kasadayana…
      salam sejati

  12. m4stono said,

    kalau boleh saya yg cubluk ini ukut nimbrung….
    perkataan pak boed pada debat cawapres lalu sangat saya dukung 100% bahwa agama diatas negara mengapa? karena pada dasarnya agama itu satu yaitu tauhid atau mengesakan Tuhan sedangkan Islam, kristen dsb adalah hanya nama atau yg membedakan adalah syariat luarnya saja…tapi kalau sudah mencapai pada tahap makrifat maka semua akan bermuara dan bertemu pada lautan yg satu.

    Jadi kalau boleh saya jelasken omongan pak boed (semoga saya bukan dr tim sukses :D ), yg dimaksud beliau adalah KETUHANAN YG MAHA ESA DIATAS NEGARA, lalu agama itu apa? agama itu Dien atau dharma atau bisa juga jalan setapak menuju oase rahman & rahimNya, kalau orang masih pada tahap syariat maka yg sering berlaku adalah perbuatan nandhing sariro atau membandingkan satu sama lain dan ujung2nya dirnyalah yg paling benar.
    ketika agama pada tahap syariat ini diatas negara maka sangat berbahaya karena yg berlaku bukan agama yg satu itu sendiri tapi mahzab kelompok tertentu yg mendominasi negara. tapi apabila agama pada tingkatan makrifat maka saya sangat setuju untuk diletakkan diatas negara. lha terus kalo sudah sampai di tingkatan makrifat maka agama apa yg berlaku?? semua agama memungkinkan mencapai spiritualitas tingkat tinggi, ketika pada tingkatan tertinggi maka ego pribadi, kelompok, golongan akan hilang, yg ada hanya satu yaitu ingkang jumeneng atau ingkang kalenggahan, ingkang kalenggahan itulah yg berhak menjadi kholifatullah sayyidin panatagama.

    negara akan hancur apabila syariat diatas negara contohnya afghanistan pada rezim taliban, dimana pada saat rezim tsb hancur maka rakyat disana pada ramai2 nonton bioskop, adu ayam, yg wanita ramai2 membakar burka atau cadar, pergi kesalon dsb yg pada rezim taliban sangat dilarang…mengapa demikian?? karena rakyat disana terpaksa menjalankan syariat alias menjalankan syariat hanya takut pada polisi.

    tapi apabila tingkatan makrifat yg ditegakkan diatas negara maka negara akan bermandikan cahayaNya karena akan menjadi jalan bagi rakyatnya utk mencapai tingkat makrifat juga, mengapa?? karena apabilla makrifat yg mendominasi negara maka segala sesuatunya akan menuju ke Tuhan atau kembali ke Tuhan atau labuh labet, mulat sarira, bisa dibayangkan apabila pada debat capres atau kampanye adalah memuji kelebihan lawan dan mengakui kesalahan diri sendiri didepan konstituen, para agamawan apabila berbeda pendapat yg tajam maka akan diselesaikan dengan adu rahsa bukannya adu fisik seperti FPI dkk , para agamawan pulalah yg berkewajiban menangkap petunjuk tuhan utk disampaikan kepada umaro yg kemudian petunjuk tuhan tsb diratakan kepada rakyat oleh umaro itu sendiri, syangnya belum ada contoh negara yg demikian di muka bumi ini

    maaf kalo ada salah2 kata mas sabda

    nuwun

    • Sabdalangit said,

      Mantab..! Penjabaran mas Tono rinci skali. Jalan makrifat adalah jalan tanpa warna warni ragam perbedaan sebagaimana level kulit. Jalan di mana menyatunya antara kawula-Gusti dlm wujud perbuatan nyata kehidupan sehari-hari kpd sesama manusia. Jalan itu sepadan dgn setiap ‘laku’ spiritual. Rangkuman nilai spiritual itu sdh jelas dlm PANCASILA. Yg merepresentasikan nilai universalitas ke-makrifat-an. Pancasila tdk berada dlm level warna warni ragam ’syariat’ atau sembah raga agama apapun.
      Rahayu

  13. jok said,

    yah kalau ada jalan selain agama yg bisa mencapai Tuhan boleh saja.yang penting SAMPAI secara nyata bukan hanya angan angan dan perasaan belaka.salam rahayu

    • sujiatmoko said,

      Salam Sejati, Kadhang sedoyo …

      Pemaparan anda singkat, mas Jok …
      Namun penuh makna yang dalam.

      Salam Sejati
      Sujiatmoko

  14. wong alus said,

    Dengan indera mata, cahaya itu tidak berwarna. Namun bila memakai prisma maka cahaya akan berpendar menjadi banyak warna. Itulah esensi keberagaman, berbeda-beda namun sejatinya membentuk kesatuan yang harmonis.

    Bagaimana bila kuning tidak ada, atau biru tiba-tiba malas tampil, atau merah tiba-tiba sakit hati karena mendengar sindiran si biru? Apakah masih ada cahaya? Mungkin tidak ada.

    Intinya, cahaya itu ada karena polah manusia dengan prismanya. Bila manusia tidak menafsirkan cahaya menjadi spektrum seperti itu toh cahaya tetap cahaya. Mungkin, inilah rumus abadi Tuhan sejak Pithecantropus sampai homo ludens.

    Agama adalah warna warni manusia menafsirkan cahaya. Bagaimana dengan negara? Negara adalah tanah dan air. Cahaya, tanah dan air tidak perlu dilebih rendahkan atau dilebih tinggikan. Keduanya ditambah lagi dengan anasir lain seperti udara, api, menjadi anasir pembentuk alam semesta dan kesemuanya hasil interpretasi juga.

    Tidak ada manusia bila Tuhan tidak ada. Tapi Tuhan tetap ada meskipun manusia tidak ada. Keberadaan Tuhan bersifat mutlak, manusia relatif. Interpretasi manusia atas Tuhan yang dilembagakan menjadi agama pasti sifatnya spekulatif. Agama bisa hilang, tapi Tuhan tidak pernah. Namun, Tuhan juga perlu agama lho..tidak hanya manusia. Tuhan menghendaki manusia berbuat baik dan mengingat Penciptanya> Kenapa?

    Sebab Tuhan butuh dikenal dan butuh berkomunikasi dengan manusia. Buktinya? Bukankah kita setiap hari Dia menyapa kita dengan bahasa-Nya yang unik: penderitaan, keterpencilan serta kekecewaan?

    Salam asah asih dan asuh. Ngapunten bila kurang berkenan, ki… Maklum orang pinggiran yang kurang unggah ungguh.

  15. sikapsamin said,

    Letakkan Agama dibawah Negara…
    Lha…ORANG2 BUTA YANG SALING BERADU BENAR SETELAH BEREBUT MERABA GAJAH…diletakkan dibawah mana?!?

  16. jok said,

    katanya ratnakumara tuhan itu tidak ada.bagaimana pendapat anda

    • sabdalangit said,

      bisa ditanyakan pada org yang sudah berada di alam barzah..pasti lebih tahu :lol:

    • ahmad said,

      ada atau enggak ada ga begitu penting untuk di bahas dan diperdebatkan,yg sungguh nyata2 ada itu adalah kita ini,oleh karena itu yang penting kita ini mau bagaimana sekarang,mau berjalan atau mikir2 n berteori terus?.Mau belajar ilmu karang mengarang atau ilmu kenyataan?.

      Dan yg perlu kita sadari,dalam rangka spiritual,adalah bahwa Kenyataan (pengalaman) sekecil dan sesederhana apapun,itu lebih ada artinya di banding pengetahuan (pemikiran) semuluk apapun.

    • Gusti Timur said,

      Tuhan dimata seorang Buddha itu ga penting,tuhan menurut kata2 dari buku2 itu ga sebegitu penting,apalagi tuhan menurut si ini dan si itu,ga perlu untuk di perdebatkan,karena yg jadi masalah itu,bagaimana tuhan yg kau lihat melalui mata dan penglihatanmu sendiri,melalui pengalaman hidupmu sendiri?.apakah menurut pengalamanmu itu sungguh ada “sesuatu yang berada diluar jangkauan kemampuan dan pemikiran manusia?.jika menurut pengalamanmu itu tidak ada,gua cuma bisa bilang,kacian deh looo,jiwa2 terlantar dan ga keurus……….

  17. jok said,

    bisakah mas sabdo bertanya pada arwah leluhur anda

    • S™J said,

      *nimbrung*

      bertanya sih gampang saja, tapi menunggu jawab itu sepertinya yg sangat sulit. :mrgreen:

    • sabdalangit said,

      Tuhan sebagai konsep berfikir dalam memahami kehidupan di jagad raya. Adapun nama-nama untuk Tuhan, biarpun seribu atau sejuta nama, merupakan terminologi bahasa manusia. Dan Tuhan pun tetap tunggal, tentu saja sudah ada jauh sebelum manusia mengenal istilah dan bahasa. Yang menentukan kemuliaan hidup di dunia maupun setelah mati bukanlah bagaimana dan dengan bahasa apa kita menamai/menyebut tuhan, namun bagaimana kita menjalani hidup sehari-hari dalam hubungan antara jagad alit, dan dengan jagad besar. Kemuliaan (surga) tergantung “lakuning urip” kanggo sesama. Urip ing dunya iki mung sedela, umpama mampir ngombe, nanging nemtokake kamulyaning urip kang sejati.
      salam sejati

  18. tomy said,

    Bangsa Indonesia selalu bangga akan predikat sebagai bangsa yang religius, yang berketuhanan yang maha esa. Sebuah predikat konyol yang hanya dilihat dari banyaknya tempat ibadah& makin fasisnya jemaat. Bukan dari kualitas hidup manusianya.

    Tuhan yang seharusnya berada dalam ’ranah pribadi’ yang akan membentuk kualitas hidup manusia menuju kepenuhannya ditarik ke ’ranah publik’ yang sarat dengan berbagai kepentingan.

    Lalu strategi disusun & siasat dijalankan. Kolaborasi kekuasaan & agama membentuk Majelis kaum ulama sebagai pemegang hegemoni, yang akan berfatwa tentang berbagai hal dalam benar-sesat pun halal-haram. Dalam dogma & hukum yang mengatasnamakan Tuhan manusia telah menjadi komoditi yang paling berharga.

    Teringat kata Pujangga Besar Ronggowarsito ”Gereja rata Mesjid kanggo saba pitik”. Manusia gagal mengetahui jati dirinya karena ia hanya sebuah predikat kelembagaan yang mangatasnamakan Tuhan, ia cuma komoditi, budak dari suatu kepentingan (disadari atau tidak).

    • Bambang Lipuro said,

      Sebuah komentar yang cantik dan jitu sekali……….di pertajam lagi “pusaka”nya mas tomy,supaya semakin ngilu hulu hati bangsa yg ga berbudaya dan ga beradab ini!!!!.

      Salam dari saya…. :D

  19. abu amili said,

    wah…..uangkapan rakyat jelata yg jenius, harapan kedepan mudah2an para politikus dan negarawan yang elling lan waspada menjalankan tata negara yang mematahui hukumTuhan dan yang terpenting bagi politikus dan negarawan sebelum mencalonkan menjadi capwapres harus discreening du;u apakah ybs sudah memiliki, kenal dan mau bertindak dan berbuat bAIK DAN bENAR untuk DIRI serta semua agama.golongan, ras tanpa pi;ih2 dan tulus tanpa reserve . dan sampai kapan adanya pimpinan negara/negarawan yg jelas, terang sesuai harapan negara/bangsa indonesia
    mudah2 cita2 pendulu perintis dan pendiri negara Pancasila menjado lenyataan … Amin, salam kasih….rahayu dab salam sejati.

  20. Pemilih.com said,

    SabdaLangit: LETAKKAN AGAMA DI BAWAH NEGARA…

    Pertanyaan yang diajukan adalah,”Melihat berbagai kekerasan berbau agama, sebaiknya di manakah agama diletakkan ? Pak Bud menjawab secara tegas dan singkat,” agama sebaiknya diletakkan di atas segalanya. Sekilas jawaban tersebut tampak sebagai jaw……

  21. Lovemedoka said,

    Karena Capres dan cawapres menyatakan gagasan, pemikiran dan pendapat melalui media masa. maka kita tentunya boleh berpendapat melalui media masa juga, termasuk media virtual ini. Khusus cawapres pak Budiyono, menurut saya belio ini ternyata ekonom murni. Artinya pengetahuan pak Budi sangat terbatas pada pengetahuan ekonomi (moneter). Nah ketika ditanya ttg hal-hal yang diluar bidang ilmunya, ternyata jawaban yang diberikannya jika dinalai adalah kurang, kurang paham. Lalu orang-orang yang memiliki pemahaman lebih menjadi kecewa. Namun itulah sosok Budiyono, dengan kelebihan sederhana, akomodatif, dan santun. Namun ada kekuarangannya Ideologinya tidak jelas, bukan tipe pemimpin. Hal ini juga terlihat ketika acara suara anda Metro TV ( 26-06-09). Ketika salah seorang bertanya sikapnya ttg penghapusan identitas agama dalam KTP, maka dia tidak menjawab dan melupakannya. Namun apapun yang terjadi siaran TV telah membantu kita dalam mengenal, mengetahui, dan memahami capres dan cawapres kita. Selebihnya terserah anda.
    Selanjutnya, saya sangat apresiasi terhadap Ki Sabdo Langit ttg pendapatnya mengenai agama dan negara. Setuju seratus persen, pendapat itulah yang sesuai dengan Landasar dasar negara yakni Pancasila. Ketuhanan Yang Maha Esa ( Tuhan yang diatas negara ), bukan Agama yang diatas negara.

    Salam dan rahayu.

  22. mas8nur said,

    Mungkin saking paniknya gimana caranya menang, Mas….jadinya urat nalarnya sering kejepit.
    Error deh ngomongnya. Tapi seburuk apapun mereka saya tetap akan milih yg menurut saya keburukannya paling minim. Setelah itu terserah Allah yang ngatur, semoga mereka selalu diperingatkan.

    • Ngglosor Madhep Wetan said,

      sensitif ya mas8nur kalau ngomongin calon pemimpin kita…
      gini… saya punya pendapat rada nakal… gimana kalau kita besuk milih calon pemimpin kita yang terbodoh saja… karena orang bodoh itu kalau melakukan keburukan tidak separah orang pinter, yg keburukannya pun bahkan dirancang pula tentunya balik2 lagi untuk kepentingan pribadi…
      yg satu pinter dagang, njuali aset negara kemana2… bahkan freeport sekarang dikuasai oleh setidaknya 22 negara asing… dagangnya murah, sampe2 ada pejabat yg bikin bencana alam ndak diapa2kan… belum lagi membngun koalisi yg bahaya laten terhadap keberimbangan Pancasila. pun kesulitan rakyat kebanyakan yg fundamental ndak diperhatikan.

      yg lain bisnismen murni yang pasti ndak berpihak kepada orang kecil… maunya main ataaasss teruuuss… ibarat membangun gedung tinggi… ditingkaaaattt teruuusss… tapi pondasinya ndak diperhatikan

      yg satu bodoh, saking bodohnya sampai2 ketika memimpin dulu dia mengijinkan menakernya untuk membuka jalur outsourcing, akibatnya para buruh menjadi kelimpungan…. sampai sekarang… memang siiihh mantan menakernya itu sekarang (amit-amiiittt…) stroke…

      buat saya… saya milih yg bodoh saja… biar ke depannya kita ndak terlalu parah… ini bukan kampanye mas.. tapi sekedar uneg2 mumet saya saja…. hehehehe

      rahayu

  23. dar said,

    nun inggih,,,kalo menurut sy yg saat ini ( kan berpendapat,namanya bpendapat bs salah bs bnar,dan bs direvisi dkmudian hari jk +pgtahuan )
    ya mungkn maksud dr pak bud bahwa agama diletakan di atas negara itu MUNGKIN loh ya,.masing2 agama mengajarkan,menyuruh ke kebaikan dan tdk melakukan tindakan yg merugikan bwt siapapun,.nah dgn dmikian diharapkan bs menjadi negara yg di damba2kan oleh rakyat,.

    agama : wadah,alat,sarana komunikasi masyarakat

    • sabdalangit said,

      Agama ageming aji, karena agama merupakan lembaga yang diretas oleh manusia di abad 5 s/d 7 Masehi. Sementara itu berketuhanan atau jalan spiritual sudah lebih dulu ada sejak sebelum Masehi. Kemuliaan hidup manusia di dunia dan setelah ajal tiba adalah prestasi pencapaian spiritualitasnya yg dimanifestasi dalam kehidupan sehari-hari. Bukan terletak pada seseorang memeluk apa.
      Rahayu

    • Mataram Satu. said,

      Saya sependapat dengan mas sabda,bahwa spiritual itu cikal bakal dari semua kebudayaan hidup yang ada termasuk agama2.
      Ngelmu lebih dahulu ada daripada kawruh dan agama,pengalaman baru melahirkan teori dan pengetahuan,cuma karena sekarang jaman serba kebalik-balik,jadi yah orang2nya juga kebalik2……….

      Mari bangun,jiwa2 yang terjajah!.

      Rahayu!.

  24. sikapsamin said,

    Yth. Mas Sabda dan para kadang…..
    Menurut saya, sekali lagi menurut saya, untuk Kontemplasi Capres dan Cawapres, pertanyaan yang paling menjernihkan begini :
    1. MENGAPA ANDA MENCALONKAN DIRI;
    2. APA YANG ANDA KETAHUI TENTANG NKRI;
    3. APA YANG ANDA KONSEPKAN BAGI NKRI;

    Wis ngono ae…tulung titip disampaikan kpd yth Para-Calon…

    Bakuh-Kukuh-Utuh…..Nuswantara Kertagama Raharja Indonesia…..

  25. Daryono said,

    Melihat debat cawapres setidak kita jadi tahu bagaimana pandangan capres dan cawapres terhadap suatu masalah. Mengenai kedudukan agama dalam suatu negara intinya negara dapat menjamin bagi warganya dapat menjalan kan agamanya sesuai dengan keyakinanya membaca komentya ma4stono dan ulasanya mas sabda kesannya ada 2 prespektif yg berbeda tapi secara esensi sama dua duanya mantab untuk mas sabda salam kangen, kapan ada pertemuan lagi mas?

  26. sapto said,

    Kalau diperluas, untuk menjadikan negara spt yg dicita2 ada juga 3 unsur lain yg tdk kalah krusialnya di negara yg majemuk ini. Semua berdampak konflik horisontal yg tdk sederhana. Paham kesukuan, ras dan golongan. Mengatur hubungan agama dg negara, mengabaikan mengatur hubungan suku,ras,golongan kayaknya yaa imposible…

  27. Agung said,

    Pamuji Rahayu,

    Harmonisnya hidup berbangsa dan bernegara akan tercapai jika setiap warganya selalu : 1. Menjaga hubungan yang selaras dan harmonis dengan Tuhan YME, 2. Menjaga hubungan yang selaras dan harmonis dengan sesamanya, 3. Menjaga hubungan yang selaras dan harmonis dengan alam dan lingkungannya. Ketiga hubungan yang harmonis ini akan memberikan kebahagian dan ketentraman dalam kehidupan. Setiap terjadi disharmonis hubungan, baik dengan Tuhan YME, dengan sesama atau alam lingkungannya pasti akan menimbulkan masalah dan bencana bagi manusia (sejarah panjang umat manusia sudah membuktikan hal ini)

    Adalah tugas setiap warga negara untuk menjaga hubungan-2 yang harmonis tersebut dalam rangka membatu negara didalam menciptakan kesejahteraan, kemakmuran dan keadilan bagi warganya.

    Hubungan agama dan negara serta soal kebangsaan/persatuan Indonesia seharusnya sudah selesai sejak kemerdekaan NKRI dengan PANCASILA sebagai dasar negara dan diaturnya kebebasan beragama di dalam UUD 1945.

    Salam sejati,
    Agung

  28. sof said,

    setuju pandangannya….
    salam kenal

  29. Dana K said,

    Agama adalah institusi yg melegalitaskan keyakinan..
    sama seperti negara, lembaga, dll
    tak ad yg lebih tinggi/rendah..
    semuanya sama…
    yang membedakan hanya ketakwaan individu dgn Rabb-nya..
    Wallahu a’lam bishawab

    Salamkenal…

  30. enda said,

    kata-katanya penuh makna yang dalam. nice post salam http://kusnenda89.wordpress.com/

  31. enda said,

    penuh makna yang dalam kata-kayanya salam http:kusnenda89.wordpress.com/

  32. ari__ said,

    Salam…..

    Apa kbr Mas Sabda & sahabat semua, smg sehat selalu. Amiin
    Ulasannya bagus”. setuju untuk yg bagus.. hihi

    Ulama & Umaro tentunya 2 hal yg berbeda, tetapi hrs saling melengkapi dlm menjalankannya, walaupun fungsinya beda. Ulama ya hrs komitmen dlm bidang agama & Umaro adalah urusan Pemerintahan / Negara.

    Dikita ini sudah binun, mana ulama & mana umaro…. hihi, akhirnya masyarakat kecil spt sy ini jd tambah binun…. nun…. nun…. jauh disn ada sesuatu yg harus dilakukan dgn niat suci & hati yg bersih untuk Jaya nya Indonesia ku.

    W.salam, semoga kita mendapat pemimpin yg Baik & Amanah. Amiin

    Salam hormat & mhn maaf bila ada salah kata

  33. jok said,

    bagus2.pancingku ono sing nyaut

  34. Setyo Hajar Dewantoro said,

    Salam…

    Tuhan, agama, syariat, adalah kata-kata yang maknanya tergantung sepenuhnya pada sang penafsir. Perkataan saya mendukung syariat Islam, bisa jadi berbeda maknanya dengan panjenengan yang mengucapkan perkataan senada. Sama halnya, perkataan saya mencintai Tuhan, bisa punya makna dan implikasi kejiwaan berbeda kepada saya dan panjenengan yang mengucapkan hal yang sama.

    Kebeneran untuk hal-hal di atas, menurut saya, betul-betul sangat subyektif: kebenaran yang terdekat bagi kita adalah sejauh yang telah kita alami, rasakan….

    Nah, yang justru layak kita khawatirkan adalah ketika jargon negara agama, negara ketuhanan, negara syariat, dipahami dan dimaknai secara sepihak oleh mereka yang merasa paling dekat dengan Tuhan, dan paling tahu soal agama dan syariat…..Sehingga, pada akhirnya, negara agama, negara ketuhanan dan negara syariat, adalah negara yang diatur sesuai hasrat dan hawa nafsu orang tersebut…..

    Karena itu, agar itu tak terjadi….harus ada otoritas yang melampaui semua potensi klaim subyektif yang berbahaya….Negara, dalam hal ini, idealnya dipimpin oleh ia yang mampu bersikap adil, tidak menganakemaskan satu paham dengan menistakan paham lainnya…..

    Dalam hal ini, “pemimpin sekuler”, lebih memberi harapan……

  35. hartono said,

    Heeran saya, Agama kok mau di letakkan ???

    memang nya kamu siapa ????

    • Probosuyaksa said,

      Saya juga heran,ada orang yang bertanya kepada sesamanya :MEMANGNYA KAMU SIAPA?, Saya jadi juga kepancing hendak balik bertanya :
      LAH MEMANGNYA KAMU JUGA SIAPA????.

      Jangan senengnya cari2 keributan lah,sama bikin onar,manungsa apa khewan?.punya aturan sedikit………

      Sama2 aja kalo jadi orang,ga ada siapa,ga usah bawa apa2,bukan kamu siapa,bukan juga aku ini apa,tetapi intinya KITA INI SEMUA BERSAMA!.

      Wassalam

  36. Sabdalangit said,

    Mas Hartono yth
    Meliat nickname Panjenengan tentunya orang Jawa yg tdk asing lagi dgn ajaran ‘kautamaning bebrayan’. Mungkin anda memiliki pendapat lain yg bagus tentang hub negara dgn agama, silahkan dishare di sini, saya dan mungkin saudara2 lainnya di sini butuh pencerahan dari anda. Silahkan, bebas merdeka mau pake ilmu Arab atau Jawa.
    Monggo mas, di sini tempatnya menumpahkan uneg2 yg bermutu baik berasal dari rasio maupun Nurani.
    Rahayu
    Salam asah asih asuh

  37. hadisetyono said,

    Tak satupun yang berani melakukan TAPA MENDHEM, mengubur segala kebaikan yang pernah ia lakukan kepada orang lain dari ingatan Anda sendiri

    Tulisan ini sekedar suara hati nurani rakyat jelata. Peran saya pun tak ubahnya punakawan Mbilung dan Togog. Biarpun teriak-teriak lantang, mulut berbusa kehabisan ludah, tetap saja semua pepeling kepada para kesatria dari nagri sabrangan, sudah biasalah dicuek. Mungkinkah hari gini orang masih mengira, bahwa jelata itu bukanlah apa-apa, maka abaikan saja. Saya percaya, para “kesatria Pendawa Lima” tetaplah ada, namun sembunyi di manakah mereka, atau memang belum saatnya tampil memimpin negeri ini.
    ===============================================
    Biarkan saja pilpres itu mengambil pelajaran lagi, bahwa bangsa ini memerlukan pemimpin yang baru yang tidak saling menjatuhkan tetapi benar-benar melaksanakan perintah Tuhan.

    Lebih lanjut lagi tulisan sampeyan memang diperlukan untuk membangun bangsa dan negara ini yang tengah dilanda ujian dari Allah SWT. teruskan berkarya sebagai andil peran mas sabdalangit di bumi pertiwi ini. Hanya Allah yang mengetahui mana yang memang kebenaran yang diperlukan atau yang justru merusak.

    • Dalbo said,

      Inggih Mas Hadi nampaknya Pandowo masih dalam lakon Bale sigala galo. masih kalh dalm perang Dadu

  38. hartono said,

    Mas sabda yth:
    ya itu tadi uneg2nya .terimakasih banyak
    mas telah menyediakan sarana untuk menyalurkan uneg2.

    Mas probosuyaksa,
    kadang yg keras itu enak lho
    siapa sy ? sy juga lagi nyari,yg jelas menahan omongan spt di atas aja kadang belum bisa.

    ya jadi pertanyaanya : Kita ini siapa ??? kok bisa (mau ) meletakkan agama ?? he he hee…

    SALAM BUAT SEMUANYA

    • SABDå said,

      Iya Mas Hartono, kekerasan kadang diperlukan misalnya: kalau tidak ada yg “keras” tidak akan terjadi kelahiran anak manusia. hehehe :mrgreen:
      silahkan menumpahkan uneg2 di sini :lol:

      Rahayu

  39. Stop Dreaming Start Action said,

    ulasan yang menarik
    salam hangat

  40. Lovemedoka said,

    Kata ” Meletakan” nampaknya menjadi perbedaan dalam menafsirkan. Meletakan secara phisik adalah menempatkan benda pada suatu tempat. Piring ini saya letakan diatas meja. Jadi saya meletakan piring diatas meja. Agama bukan benda materi. Agama abstrak ada spiritualnya ada organisasinya, ada institusinya. Spiritual dimiliki oleh masing-masing individu pemeluk agama. Tinggi dan rendah spiritual seseorang yang tahu hanyalah Tuhan. Karena ukuran spiritual bukan pakaian, bukan perbuatan, bukan laku. Oleh karena itu unsur spiritual ini berada diatas segalanya. Namun beda dengan organisasi dan institusi agama. Hal ini jelas nampak, ada orangnya, ada wadahnya, ada aturan mainnya. Nah yg begini ini tentunya tidak bisa diatas negara. Mengapa ? karena RI mengakui lebih dari satu agama. Jika salah satu menduduki tempat lebih tinggi dari negara (menjadi dasar negara) maka agama yang lain menjadi dibawahnya/lebih rendah. Tentu hal ini akan menyinggung pemeluk agama yang kebetulan diletakan tidak diatas negara. Para pendiri negara RI sudah sangat cerdas. Telah berfikir dengan sangat arif dan bijaksana. Yang ada diatas negara adalah spiritualitas berke Tuhanan Yg Maha Esa. Lembaga agamanya diletakan duduk sama rendah, berdiri sama tinggi dengan agama-agama yg lain, berada dibawah Negara.
    Demikian pembacaan saya, semoga dapat mendudukan persoalan kedalam posisi yg semestinya sehingga kesalah fahaman dapat terurai. Kasih antar sesama adalah niat kita, hidup bersama dalam damai adalah tujuan kita.
    Jika kurang berkenan mohon maaf, atas kekeliruan saya.

    Salam

  41. Abu al godjo said,

    Kulo nuwun mas Sabda, nderek nimbrung. Wong kok senengane metu soko ngerell …. Lha yg di bahas itu kan tentang ” AGAMA DI LETAKKAN DI ATAS NEGARA apa DI BAWAH NEGARA “, eeh…. malah mlenceng soal yg keras2. Apalagi Tuan Probosuyaksa…. ngomentarinya gak nyambung pisan … Mas hartono kan “tanyanya” pakai “rasa”, tapi … nanggapinya pakai “akal”, ya jls ora gathuk, bener kan mas Sabda, gitu kan kira2? Lha biar kita tdk salah meletakkan Agama, kita tes aja, Agama itu termasuk yg keras2 atau yg empuk ? Mudah kan? Agama kok buat main2, “MEMANGNYA KAMU SIAPA dan SIAPANYA KAMU MEMANG ?”
    salam salam salam ….

    • SABDå said,

      @Lovemedoka Yth
      Ya, kata-kata “meletakkan” memang sekedar gaya bahasa personifikasi Mas. Permisi saya kutib kalimat panjenengan yg sangat jelas dan enak dibaca ya Mas :
      ….Oleh karena itu unsur spiritual ini berada diatas segalanya. Namun beda dengan organisasi dan institusi agama. Hal ini jelas nampak, ada orangnya, ada wadahnya, ada aturan mainnya. Nah yg begini ini tentunya tidak bisa diatas negara…

      semoga dengan paparan tsb dapat mempermudah pemahaman kita semua, akan perbedaan arti dari “agama” dengan “spiritual”. Istilah “Agama” sebagai makna yg masih berada pada tataran “kulit” yg sangat beragam, sedangkan istilah “spiritual” lebih terasa makna esensi atau hakekatnya. Matur nuwun

      @Abu Algodjo Yth
      Monggo mas supados nggrengsengaken anggenipun sami jejagongan leyeh-leyeh sinambi diskusi. Di sini bebas mencurahkan kata hati dan uneg-uneg. Tentunya, saya mohon kepada seluruh sedulur NKRI, mari kita sama-sama berusaha selalu waspada kepada diri pribadi kita sendiri agar sebisa mungkin dalam setiap kalimat tidak menyakiti hati sesama. Sebelum kita bisa saling asuh, asah, asih terlebih dulu kita harus bisa mengasuh diri kita sendiri.

      salam sih katresnan
      Matur Nuwun awit kauninganipun

    • Probosuyaksa said,

      Mas ahli rasa,yang bares saja kalo bicara,buka itu jilbab kemunafikan,kita sama2 telanjang disini ga usah pake kedok dan busana agama dan ilmu aneh2 buat menutupi diri kita yg bobrok ini,ga perlu ada hati yg berpura-pura,sehingga semakin jelas dan tampak terang benderang,bahwa jika tanpa ditutupi oleh macem2 ilmu kepura2aan, hakikatnya kita ini siapa!!!.
      Dan Mempelajari agama dan spiritual bukannya untuk belajar menjadi semakin mahir berpura-pura sehingga menjadi semakin jauh dari diri sendiri tetapi justru untuk mengenal seluruh kebobrokan diri ini yg masih ditutupi dan kerap kita sangkal!.

      Di jaman yang serba samar2 ini ga perlu terlalu banyak sindiran dan kata2 bersayap,kalo berani yah berani,kalo ragu yah jangan sok berani karena segala sesuatu yang dilakukan berpangkal dari rasa ragu2,ga akan pernah ada nyatanya!.

      Dan Agama itu memang mainan dan alat buat mencari hormat dan anggepan serta mencari kuasa atas diri orang lain bagi orang2 seperti kita ini,orang yg dididik secara benar dan baik,oleh orang tua dan guru2 kita tetapi memang dasarnya jiwanya itu jiwa setan yah tetap aja perilakunya seperti setan!!!.
      Setan yah ngaku setan,ga perlu menutup diri dengan jubah rabbaniyah!
      dan selama negeri ini masih dihuni oleh oran2g seperti kita ini,agama yang pada awalnya di jadikan Baik dan Benar,untuk kebaikan dan demi Kebanaran,akan terus digunakan dengan cara yang salah dan untuk tujuan yang salah,karena kitanya juga salah!.

      Oleh sebab itu, jika sungguh mau Hukum Allah di tegakkan di muka bumi ini,ada baiknya setiap kali kita bersembahyang, kita mohon kepada Tuhan, supaya selekasnya orang2 kaya kita ini disingkirkan dari muka bumi ini!!.

      Salam….

  42. Abu al godjo said,

    Matur nuwun mas Sabda, saya jdi malu, hanya untuk menahan kata2 kasar aja tdk mampu ( mampu ? ) akhirnya kok malah “ketularan” mas Hartono, “saya” ini siapa? Dan sampai saat ini msh saya mencari jawabannya.
    ” Saya akan jadikan manusia sbg kholifah di muka bumi” Sang Hyang Widhi Wase berkata begitu, tp di sisi lain juga berkata “Manusia itu goblok , tolol dan lemah”. Trs gemana to udh goblok, tolol dan lemah kok mlh mau di jadikan kholifah? Apa alasannya? Eeh … TUHAN tdk ngasih alasan. Tetapi Tuhan ngasih bekal kpd manusia…. Apa bekalnya? yg jls bkn nasi timbel atau ” gudeg bucitro” ternyata manusia di ksh bekal … Lima huruf ….
    yaitu …..

    • SABDå said,

      Abu al Godjo Yth
      Konsep khalifah, bukan diartikan untuk menyetir manusia lainnya dalam menempuh jalan spiritualnya masing-masing, tetapi menjaga, lelestarikan dan melindungi alam semesta seisinya. Hamemayu hayuning bawana, dalam aras kasih sayang yg melimpah ruah. Serta kebersamaan dalam keberagaman dan perbedaan, tentu saja akan lebih indah daripada kebersamaan dalam homogenitas. Bukankah Tuhan menciptakan seluruh makhluk dan benda dengan penuh keberagaman sebagai konsep Tuhan Yang Maha Indah dan Maha Luas tiada batas. Dengan kesadaran begitu, kita sebagai titahing Gusti benar-benar mengejawantahkan sifating al Haq yakni Gusti Ingkang Maha Welas Asih. Mewujudlah “loroning atunggil”, atau “manunggaling kawula kalawan Gusti” dalam TINDAK PERBUATAN konkrit, melibatkan SOLAH dan BAWA (perilaku lahir dan batin). Jika semua orang mendasari pola pikir demikian, saya yakin 100% dunia damai, tenteram, dan tak ada perang lagi.

      @Ngglosor Madhep Wetan Yth
      Memilih capres-cawapres terbodoh boleh jadi Mas.. :) karena sebenarnya NKRI saat ini lebih butuh negarawan yang JUJUR, LUGAS, dan ADIL.

      salam asah asih asuh

  43. Dalbo said,

    we..lah.. seru banget ini diskusinya..nampaknya masih baynyak yg perlu di fahami tentang apa itu “Agama, Spiritual dan Tuhan” mohon poro sedulur menggali/mempelajari lagi sejarah dari mana sal usul Agama2 itu. Agama tidak lain adalah Konsep, tata cara ber prilaku suatu bangsa/kebudayaan, yg sekarang di lembagakan, tentunya termasuk politik, lho..kok bisa? jb: lha Partainya ada, lalu siapa penciptanya? tidak lain adalah “Manusia” Lho.. nabi Muhamad SAW Agamanya apa? lalu bagaimana beliau bersahadat? lho Jesus Cristus agamanya apa? bagai mana dg nabi Musa As dan Sidarta Budha Gautama, apa agamanya?

    Bagai mana kalau agama di letakkan di atas Negara, secara tidak di sadari di Indonesia ini agama sudah di letakkan di atas negara, lalu apa yg terjadi? jb: tidakkah kalian merasakan sendiri, melihat sendiri, Makmurkah Negri ini, mapankah/tenteram kah negri ini?. Sadarkah kita apa yg terjadi di Twin Tower 11 Sept, itu soal agama, peristiwa Bom Bali itu soal Agama, Negara Palestina yg di bombardir oleh tentara Israel, itu soal Agama, manusia yg rela meledakkan dirinya dg bom itu soal agama apapun dalihnya. lalu apakah kita masih terus menerus mau meletakkan semua ini di atas Negara? monggo silahkan di jawab dg hati & pikiran yg jernih.

    Spiritual” berasal dari bahasa Yunani yakni “Spiritus” yang bahasa ingrisnya “Breath” atau Nafas, berkembang menjadi Sepiritual, Soul, Jiwa dll; di awali dg pencarian ttg pemahaman soal Tuhan melalui olah rasa dan penyatuan terhadap alam semesta salah satu unsurnya yaitu angin/ udara yaitu pernafasan kalau di ajaran Kejawen sinkrun dg cerita Dewa Ruci, dimana werkudara di isyaratkan untuk mencari Kayu gung Susuhing Angin, untuk lebih jelasnya soal olah rasa silahkan membuka blognya Ki Sabdalangit “Olah semadi/Meditasi.
    lalu siapa Tuhan Itu?…Lha monggo panjenegan semua saya yakin sudah punya konsep masing2

  44. Serama said,

    dahulu ada satu hal yg saya kadang merasa risi dilahirkan dengan darah jawa mengalir di tubuh saya yaitu mempunyai pembawaan terlampau sungkan untuk berterus terang dan mengatakan apa adanya,bukan karena saya takut ataupun karena berpembawaan sifat pengecut,tetapi dikarenakan terlampau peduli dengan anggapan dan perasaan hati orang lain.Panembahan Senopati memang senntiasa ” amemangun karyenak tyasing sesami”,tapi saya bukan senopati dan ga mau jadi seorang danang sutawijaya.Saya ya saya.

    Oleh sebab itu, dahulu ada juga satu hal yang selalu saya mohonkan kepada Gusti Kang Murbeng Dumadi yaitu hendaknya dihilangkan semua sifat kepura2aan,keragu-raguan dalam bertindak,sifat berbelit-belit,sifat ingkar serta sifat munafik didalam diri saya sehingga saya mampu untuk berkata :BENAR KATAKAN BENAR,JIKA SALAH YAH KATAKAN SALAH,MARAH YA NYATAKAN MARAH,tanpa tedeng aling2 dan kata2 bersayap serta hati yang mendua.

    Karena memang,buah pembelajaran dari jejak sejarah di masa silam, adalah lebih baik mempunyai SERIBU LAWAN oleh akrena berwatak bares daripada SERIBU ORANG SAHABAT yang didasari watak kepura-puraan!!
    Salah satunya yang menjadi penyebab kejatuhan kita sebagai bangsa adalah watak munafik serta berpura-pura,mengharap pujian dari orang lain, sehingga menajdi RAGU dalam bertindak dan lambat dalam menyelesaikan masalah!!!.

  45. Abu al godjo said,

    Alah maak…….emaaak …
    Orang “mengaku” beragama tapi KOK “menyetir” semama pemeluk agama, itu sama nggak ” ngarti hakekatnya” agama. jeruk kok minum jeruk, ya over dosis laaah ….

  46. Abu al godjo said,

    Halloww …. mas hartono, piye kabare mas, rak nggih sami sugeng to mas?
    Sing sabar yo mas, ojo gampang2 duko, kajenge sekeco anggene jejagongan kaleh putro wayah … Mas Sabda …. pun jok maleh unjukane, dipun prayogekaken nggih Mas ….

    • SABDå said,

      Sagung para sanak kadhang sinarawedi ingkang dahat luhuring budhi.
      Menggapai kesadaran tinggi (higher consciousness) memang sulit, tidak semudah dalam teori, ataupun dalam keterangan berbagai kitab. Saya mengajak sedulur semua di sini untuk bersama-sama melakukan penjajagan kesadaran. Bukan berarti kita yang menjajagi tingkat kesadaran orang lain, sebaliknya lebih penting MENJAJAGI KESADARAN DIRI PRIBADI. Namun hal itu tidak akan berhasil dengan baik, bilamana kita tidak bisa mendengarkan dan mengetahui apa yang ada dalam pikiran orang lain. Analoginya, kita tidak bisa mengukur seberapa parah kebodohan kita, jika kita tidak mengetahui nilai raport teman-teman yang lainnya.

      Apa yg ada dalam benak Mas Hartono, saya pahami benar2 sebagai curahan kekesalan terhadap sistem dan kondisi masyarakat yang kini terasa semakin parah. Bahkan tingkat keparahan yg akut hingga seringkali membuat perasaan kita terganggu, dengan ulah sebagian masyarakat yang membuat suasana menjadi tidak nyaman dan tentram. Hanya saja dalam menulis ternyata lebih sulit dari pada merasakan. Perasaan memang sulit diungkapkan dalam kata-kata. Salah-salah bisa terkesan belok arah tidak seperti yg dirasakan.
      Hal itu barulah teknis menulis. Belum lagi teknis mengendalikan diri jauh lebih sulit. Apalagi kita sadari betul, jika sebagian besar generasi penerus bangsa merasakan situasi dan kondisi sosial ekonomi politik yg kurang nyaman, bahkan terasa begitu menghimpit. Hidup terasa dikejar waktu, dikejar kebutuhan, dikejar target, dikejar nafsu, dikejar kekhawatiran dan ketakutan. Sementara kita tidak mudah untuk berlari sehingga bisa mengimbangi kejaran-demi kejaran itu. Sebagaimana perasaan mas Probosuyakso, mas Abu Al Godjo, mas Serama, Mas Dalbo, dan mas Hartono saya benar-benar bisa memahami. Tentunya jengah dengan keadaan zaman edan ini. Wolak-waliking zaman. Dan zaman kolobendhu. Banyak bebendu Tuhan: hukum alam, dan karma. Siapapun mudah “ngunduh uwohing pakarti” atas apa yg dilakukan. Siapa menabur angin akan menuai badai. Cuaca tidak nyaman, suhu berubah ubah secara drastis, semua itu membuat perasaan kalut dan mudah emosi. Orang mudah menyesatkan sesama, bahkan dengan sangat sadis menuduh kafir org lain. Berlagak bagaikan orang yg pernah mati dan sudah berpengalaman hidup di alam barzah dan tahu segala rahasia gaib di alam sana.
      Hanya orang-orang yg eling dan waspadha saja yang akan menggapai “suradira jayaningrat lebur dening pangastuti“. Eling kepada sangkan paran, dan waspada akan berbagai aral. Yang paling utama harus kita waspadai bukan lain adalah DIRI kita SENDIRI. Maka dari itu, untuk meningkatkan kewaspadaan diri kita, JUSTRU KITA HARUS SERING-SERING BERKACA KEPADA ORANG LAIN. Jadikan orang lain sebagai guru laku. Jika baik, bisa ditiru, jika buruk dijadikan pelajaran berharga. Sebab tanpa peran orang lain, kita selamanya tak akan pernah tahu separah apa penyakit kebodohan kita. Dan jangan pernah kita meremehkan orang yg dianggap/dinilai sebagai org bodoh. Sebodoh apapun seseorang tetap lah memiliki arti untuk kehidupan ini. Tuhan Maha Adil pasti dengan penuh kasihNya menabur tanda-tanda kekuasaan sekalipun terhadap orang bodoh.
      Apalagi di sini, tak ada guru, tak ada murid. Namun juga, semua guru dan semua murid. Kita hadir di sini, dengan tujuan untuk saling melengkapi. Saling berkaca benggala. Saling mengkoreksi kelemahan diri. Saya jamin, siapapun yg merasa paling benar, paling pintar, pasti akan menerima resikonya, yakni “ngunduh wohing pakarti”. Minimal, akan rugi sendiri menjadi katak dalam tempurung.
      Seperti yg sudah menjadi kebiasaan saya, setelah menulis apa yg saya ketahui dan rasakan, lantas saya akan menilai dan mencermati tulisan saya sendiri. Lalu saya bandingkan dengan tulisan/komentar saudara-saudara semua di sini. Barulah saya sadar, betapa saya masih berada di ambang kebodohan.

      salam asah asih asuh

  47. hartono said,

    hallo juga mas abu algodjo dan mas sabda,

    setuju, kalau kita saling gesek terus di harapkan sampai keluar cairan nikmatnya( ilmu.)

    Kalau baca tulisan2 mas sabda rasanya rame banget : ada rasa kesel, lucu, nyesek, salut , seneng dll yang jelas nambah wawasan mengetahui cara berfikir dengan dasar pemahaman masing2.
    memang manusia itu sebenarnya abdinya pemahaman kali ya ???

    kalau yang bikin kesel itu jowo ilang jowone ?? sunda juga ilang dll.
    Tuhan juga kesel kali ??? lho kok Tuhan kesel ? lha orang jawa sembahyang pada pake baju gaya arab. ketika Tuhan meriksa orang jawa gak ketemu karena pada janggotan dan gamisan di cari ditempat lain gak ada juga, pada pake dasi dan jas kaya londo.

    kalau yang lucu salah satunya : tulisan Tata cara melihat Tuhan,

    Saya membaca judul ini antara lucu dan geli ???

    Lucunya Kok Tuhan di bikinin tata cara ????

    Salutnya : udah woro-woro pentingnya jati diri , ajaran leluhur, kejawen , tulisannya bagus dan runtut.
    Zaman sekarang jarang orang yg merhatikan apalagi mempelajari plus menjalankan ajaran2 leluhur bangsa

    Terimakasih mas sabda,mudah2an makin menyebar penyadaran akan budaya leluhur ini.

    salam

  48. Prabasuyaksa said,

    hahahaha…ini lucu banget mas….yah samapi keluar “cairan”…yuh gosok terus hehehe….

    namas te…

  49. Abu al godjo said,

    Mas hartono kok senenge mancing2.
    Tapi bener lho mas, rusake moral itu asbabnya ya karena pada main2 dengan “cairan” tadi. Lha gemana tdk to mas, udh di ksh ilmu oleh Tuhan malah sok ngreko2 ” ilmu dhewe”, udh dituntun Tuhan jln menuju Tuhan,
    ( agama) malah di ” glethekke” alias ditaruh begitu aja. Jgn2 nanti bikin ” cairan ” sendiri/tatacara sendiri untuk kembali kpd Tuhan. Seperti halnya bikin ” cairan ” tatacara melihat Tuhan.
    Jan geli… geli … lii ..lii..
    Salam … Salam … Salam

  50. download said,

    tidak ada yg salah. agama memang harus di atas negara.

    • SABDå said,

      Jadi, konsep model mana kira2, iran, arab, palestina, afghanistan ?
      Namanya jadi Negara Hindu Indonesia, Negara Budha Indonesia, atau Negara Kristen Indonesia, atau NII….?

  51. hartono said,

    sepertinya model iran lebih pas ya mas
    ada demokrasi nya tapi tetap di batasi oleh orang yang arif

    salam

    • SABDå said,

      Mas hartono yth, mungkin pertanyaan itu diajukan pada para pembaca yg budiman, namun saya ingin mencoba memberikan tanggapan.
      Persoalannya, NKRI adalah multi etnis, multi ras, multi agama, multi budaya. Jadi paling ideal ya sesuai NKRI saat ini, hanya saja pelaksanaannya yang belum bisa optimal. Yang salah bukanlah dasar negara atau ideologi Pancasila, melainkan tata pelaksanaannya, atau manusia pelaksana pemerintahannya. Yang PALING URGENT untuk segera DIPERJUANGKAN adalah PENEGAKKAN HUKUM agar UUD dapat terlaksana dengan baik dan konsisten.

      Iran pun tidaklah ideal, karena rakyat di sana saat ini merasakan bentuk2 pressing kekuasaan yang melebihi batas kemanusiaan. Penguasa Iran telah berubah karakter MENJADI REZIM otoriter dan diktator. Bukankah hal itu sebagai pelanggaran kodrat alam, juga penentangan rumus Tuhan..?
      Biarpun suatu pemerintahan itu pada awalnya arif dan bijak, namun jika dilaksanakan oleh kekuasaan yang terlalu besar akan ccenderung otoriter, diktator, pemaksa kehendak dan sangat berbahaya jika menyangga tiang keadilan. Kecenderungan watak manusia itu homo homini lupus. Alias binatang buas yg berakal. Cenderung saling menyerang dan bentrok. Jika yang melakukan binatang tentu saja masih berada dalam rumus Tuhan atau hukum alam sebagai upaya mempertahankan diri, melindungi daerah kekuasaannya, dan membunuh sebagai wujud menyantap makanannya.
      Berbeda dengan manusia, membunuh sebagai wujud pemujaan nafsu angkara. Apalagi membunuh orang lain hanya gara-gara berbeda sistem kepercayaan, dan dengan dalih membela Tuhan.
      Pertanyaannya : APAKAH TUHAN ITU LEMAH SEHINGGA HARUS DIBELA-BELA OLEH MANUSIA YANG TERAMAT LEMAH ? Sementara itu, Tuhan tidak memeluk satu agama pun yg ada di bumi ini.

      JUJURLAH DAN BUKA MATA HATI KITA LEBAR-LEBAR:

      Kita harus membuka mata kita lebar-lebar, jujur dalam hati nurani, lalu lihat dan saksikan, betapa Tuhan Yang Mahaluas tiada batas telah menurunkan segala rahmat dan anugrah di belahan bumi lainnya. Adalah realitas sungguh nyata sebagai tanda-tanda KEKUASAAN TUHAN Maha Kuasa, lihatlah negara-negara : Finlandia, Jerman, Prancis, Jepang, Ukraina, Swiss, Norwegia, Den Mark, Polandia, Korea, New Zealand. Mereka negeri penuh damai, makmur, kaya raya, aman sentosa, bersih dari korupsi, sangat moralis, jika barang Anda ketinggalan di halte bus tidak akan ada yg ngambil. Rakyat di sana tidak suka berteriak-teriak mengumandangkan dirinya memeluk agama apa, namun perilakunya begitu religius dan memiliki mind set spiritual tinggi. Dan negara-negara itu tetap menghormati agama-agama sebagai KEPERLUAN INDIVIDU, namun agama TIDAK diletakkan atas negara.
      Dan saya rasa mereka tidak masuk neraka gara-gara hal tersebut. :lol:

      salam sejati
      SALAM ASAH ASIH ASUH

    • Dian said,

      Agama sama negara bisa diumpamakan air dengan minyak, ,sekalipun bisa bersatu tetapi hakikatnya ga akan nyatu,beda asal,tujuan dan fungsinya………
      mau di taruh di atas atau dibawah negara juga ga akan nyambung, mending taruh agama di dalam batinmu,ga usah pamer dan kebanyakan omong supaya bsia jadi daya hidup lalu mangejawentah jadi perilaku sehari-hari ,ga habis di mulut akibat kebanyakan bicara,itu sudah cukup daripada repot.

      N jalan ketuhanan itu banyak karena khas bagi masing2 orang,Jalan menuju Tuhan yah Jalan dari Tuhan itu sendiri,jalan yg gaib,jalan yg belum diketahui orang,belum dilewati orang,ga ada di akal pikiran kita ini yg kadung kotor,bobrok dan sok suci serta merasa tahu segala hal………

      Dan Ga ada keharusan untuk mengikuti jalan dari buku2 dan kitab2 serta kata guru agama atau guru spiritual. N ngomong2,ga juga pernah ada keharusan dan kewajiban untuk mempelajari jalan menuju Ke alam Ketuhanan,tikungannya sini,belokannya kesono,lalu mengkol kiri,karena yg diwajibkan itu BHAKTI dan menundukkan kepala dihadapan YANG TANPA BATASAN.

      Jadi Silahkan bebas dalam bertindak dan bebas untuk memilih jalannya masing2 untuk melakukan bhakti kepada kehidupan ini ,asalkan tetap bertindak HAYU….

      Btw,maaf dikata nih yah,”mempelajari sesuatu yang tanpa batasan itu namanya sombong dan takabur karena sesuatu yang tanpa batasan itu cuma bisa sekedar dipercaya,diterima dan diikuti didalam rasa kosong dari nafsu keakuan.”

      Namas te…..

  52. Abu al godjo said,

    Membunuh kadang merupakan keharusan ” wajib dobel ‘ain”, dan membiarkan hdp “yg seharusnya di bunuh”, adalah suatu kedloliman.
    Pemimpin harus “otoriter dan diktator” untuk menegakkan ” aturan Tuhan”. Dan pemimpin hrs berani mengatakan
    “INI PERINTAH TUHAN” dlm setiap keputusan nya, tdk ada “loby dan koalisi ” kecuali hanya dg TUHAN ! Tuhan “tdk punya Agama”, tapi “AGAMANYA BANYAK” bagi yg menikmati agama ” hanya dlm bathin”, ya SELAMAT menikmati, temasuk klo mau menikmati makanan, ya … NIKMATI dlm bathin juga. Jd semua serba bathin… Salam … Salam … Salam

    • Dian said,

      makanan yah rasanya yg manjing kedalam batin,proses memakannya tentu secara fisik,kecuali jikalau karena kurnia badan hangga ini sudah berubah menjadi sarira,yah ga butuh makan dari sari2 bumi ini,karena seluruh yang ada di jagad semesta ini berada dalam diriku!.Jadi proses beragama didalam batin tentunya juga seperti hal makan itu,nyatanya dalam tindakan nyata ,bukan dalam mimpi khayalan atau sekedar ngomong2 doang…….

      N saya setuju itu bahwa membunuh kadang merupakan suatu keharusan dan pemimpin harus bersikap keras dan tegas dalam menegakkan HUKUM TUHAN di muka bumi ini,bukan malah jadi penjilat pantat orang banyak dan mengambil hati rakyat,karena orang banyak belum tentu benar,suara rakyat belum tentu swara Tuhan, tetapi memang swara Tuhan tersamar di antara swara orang kebanyakan!!!.
      Dan tentunya,Pemimpin yang pantas berlaku seperti itu yah hendaknya yg bener2 sungguh pemimpin,pemimpin yg sungguh2 mengenal Tuhan dan dikenal Tuhan,bukan kenal secara pemikiran belaka saja tetapi sungguh kenal secara nyata karena TUHAN telah menyebut namanya dan memanggil dia semenjak dari kandungan Ibunya!.

      Dalam hakikatnya memang,RATU IKU WARANANING ALLAH,tapi adakah seorang yang pantas disebut RATU di jaman ini???.Ga ada!!!. Jadi jangan berharap HUKUM TUHAN ditegakkan di muka bumi ini!.

      namas te

    • Dian said,

      Jadi jika tidka ada seorangpun yang pantas dianggap sebagai Ratu atau Imam,jangan berharap banyak bahwa HUKUM TUHAN itu bisa dan pantas kita di tegakkan di muka bumi ini karena akan salah dalam cara pengeterapannya sebab yg perlu diketahui adalah bahwa mereka2 yang diberi kemampuan dan diberi kepantasan untuk menegakkan HUKUM TUHAN pada hakikatnya adalah Kuasa Tuhan sendiri,wujud kasih sayang Tuhan sendiri kepada bangsa manusia,dan kuasa Tuhan itu mangejawentah didalam diri MANUSIA YANG PALING DIKASIHINYA!.

      Kita bukan kekasih,kita ga pernah mampu untuk mengasihi Tuhan lebih daripada diri kita sendiri,lebih daripada kepentingan diri kita sendiri,karenanya jangan pernah merasa pantas dan merasa mampu untuk menegakkan HUKUM TUHAN dan menghakimi sesamamu manusia dengan HUKUM LANGITAN karena akan menjadi salah!.

  53. Abu al godjo said,

    Kagem mas Sabda, punten nich mas, nyuwun pirso ” di siang bolong gini apa masih harus berselimut ya mas ?” matur nuwun.

    • dian said,

      Hukum yg seperti pagi tadi,yang dimaksud dengan Hukum Tuhan ditegakkan di bumi nuswantara ini???????.

  54. Lovemedoka said,

    Mengal Tuhan memang sulit, karena Tuhan Maha Gaib. Indra manusia tak mampu menembusnya. Namun bila Tuhan menghendaki, ada diantara manusia yang diberi kuasa untuk mengenalnya. Persoalannya, siapakah dia? Dalam komunitas ini, sungguh sangat mulia, mengapa karena kita belajar dan mencoba serta berlatih bagaimana mengenal Tuhan secara nyata. Tentu sebagaimana diajarkan baik secara pemikiran atau pengalaman teman-teman yang kinasih, syarat utama adalah kebersihan batin. Niat yang tulus, hati yg bersih, syukur yg ikhlas, serta bekti kepada Tuhan akan membawa manusia bersentuhan kepada Sang Penciptanya. Dengan demikian maka tentu niat yang tidak tulus (karena egoisme), hati yang kotor (Amarah, aluamah. sophiah), syukur yang bersyarat, tidak akan membawa manusia kepada Sang Penciptanya. Semua ini dialami secara individu, hanya antara aku dan Dia. Semoga dengan hubungan seperti ini, langsung, bebas, dan rahasia, akan menuntun manusia pada peradaban yang lebih tinggi. Amin.
    Salam …salam….salam…rahayu…..

  55. akoesbandono said,

    Poro sedherek ingkang kinormatan,
    wah tambah gayeng kadosipun…
    nderek caos atur lan ngangsu kaweruh saking poro sedherek,
    Mas Sabda, sebenarnya saya takut untuk menulis ini…nyuwun koreksi

    sejujurnya saya pernah bertanya pada diri sendiri…Apakah/Siapakah TUHAN itu?…Apakah AGAMA itu?
    pertanyaan ini muncul karena yang saya yakini saat ini kan semata-mata awalnya hanya dari informasi yang saya terima secara turun temurun dan umumnya bersifat paksaan..harus ini..harus itu..tanpa saya menyadari..kemudian mempelajari untuk memahami..dan semakin saya (Insya Allah) memahami selangkah demi selangkah..ternyata saya semakin bingung…hingga pada titik saat ini
    Bagi saya (sejauh ini) TUHAN itu ADA tapi TAK ADA..WUJUD tapi TAK WUJUD..countable but uncountable..(meminjam istilah Mas Sabda)..seperti halnya AGAMA..apakah AGAMA itu ADA ? apakah AGAMA itu benar AGEMING AJI?
    Bagi saya (sejauh ini) yang ada hanyalah AJARAN bukan AGAMA…ajaran Islam..ajaran Kristiani..Ajaran Buddha..Ajaran Hindu..dan ajaran-ajaran lain yang begitu banyak…yang saya yakini bersumbu pada satu titik yang sama…
    Bagaimana mengenai tata cara mengenal TUHAN?…jujur saya belum tahu…yang saya tahu adalah bahwa kita atau setidaknya niat untuk mendekatkan diri kepada TUHAN…apakah melalui ritual ibadah kita…atau apakah melalui pembangunan diri pribadi yang lebih baik..lebih baik..bila perlu memakai sifat-sifat TUHAN sebagai acuan…
    Bagaimana mengenai peletakan AGAMA? bagi saya (yang bukan negarawan…politikus…pejabat negara) AGAMA tidak diletakkan di atas negara…kenapa kita tidak menggunakan kata ‘kita’ sebagai perbandingan ‘negara’?..bagaimana dengan “Letakkanlah AGAMA di (……) kita”?

    Mekaten poro sedherek, jembar pangaksaminipun atur kawulo ingkang kirang, ingkang tasih betahaken duko saking poro sedherek…nyuwun kaweruh sak lajengipun

    Salam

  56. Abu al godjo said,

    Sdr Dian yth,
    “memahami” Al Qur an tdk semudah yg dibayangkan, dan tdk bisa di ukur dg lamanya org trsbt dlm mempelajari Al Qur an. Ada beberapa hal ‘dipahami’ untuk mengetahui makna ayat2nya. Setidaknya harus “tau” hal2 ini ( Lafadz, makna, ma’ani, maknawiyah dan MUROD). Klo blm memahami hal trsbut, akan sangat “berbahaya” mengarti kn ayat2 dlm Al Qur an. Tanpa memahami “MUROD” nya, MUSTAHIL ngerti ” apa maunya Tuhan ” dlm ayat itu. Dan inilah yg menjadikan ” salah tafsir ” , disinilah bnyak yg menyimpulkan dan menafsikan ayat sesuai dg kebutuhan dirinya.
    Tuhan meng ILHAMKAN dua sifat ” FUJUR dan TAQWA “, dua2 nya dlm porsi yg sama. Tapi Tuhan selalu “mengingatkan” ketika fujur akan di lakukan.
    ” terorris” adalah salah satunya ” orang yg menafsirkan” ayat2 Al Qur an tanpa memahami MURODnya.
    Jadi “anda” sangat keliru klo “bom bunuh diri” itu bentuk dari penegakan “HUKUM TUHAN”. Dan pelakunya adalah “mati sangit”.
    AL QUR AN, TDK SATU AYATPUN YG MENGAJAR KAN KEPADA PENGANUT NYA MELAKUKAN KERUSAKAN DI MUKA BUMI. Belajar AGAMA kpd AHLINYA akan lbh aman, sekalipun dhohir seorang “penggembala kambing” lebih baik memahami dari pada menghakimi.
    Salam … Salam … Salam

  57. Dian said,

    dalam masalah yg satu ini,sayapun sependapat, sepaham dan satu rasa dengan jenengan ……

    salam…salam…salam.

  58. lovepassword said,

    Saya percaya, para “kesatria Pendawa Lima” tetaplah ada, namun sembunyi di manakah mereka, atau memang belum saatnya tampil memimpin negeri ini.

    ===> Mungkin ksatria Pandhawa masih mengalami masa pengasingan akibat Yudhistira kalah berjudi dan pembakaran bale sigala-gala. Itulah makanya para ksatria harus selalu waspada dan tidak esmosian. Bahkan Yudhistira pun jatuh dalam emosi jiwa.

Post a Comment