NEGARA-IDEOLOGI-AGAMA
IDEALNYA NEGARAWAN MEMELUK “agama” APA ?
Sepertinya masih banyak WARGA bangsa yang bingung akan konsep hubungan NEGARA-IDEOLOGI-AGAMA. Masih banyak terjadi simpang siur dalam memahami hubungan di antara ketiganya. Tulisan singkat ini mencoba ngudari pemahaman yang belum pas. Berangkat dari pertanyaan, “di mana agama diletakkan, apa itu spiritual, dan apa saja peran negara terhadap agama ? Kebetulan tetangga saya seorang ahli pijat urut, menanyakan beberapa hal berkaitan dengan wacana politik mutakhir di negeri ini. Kami bertiga, sambil wedangan kopi, leyeh-leyeh di “gazeboo hampir roboh” di samping rumah. Ditemani angin sepoi rada sejuk dan suara katak sawah bersautan. Dimulailah guneman ringan masih seputar negara dan agama, berikut ini hasil petikan obrolan tsb saya up load. Mungkin ada sedikit manfaat untuk semua sahabat di manapun berada.
T: jika agama diletakkan di bawah negara, apakah negara menjadi sekuler ?
J: Tidak, negara tetap saja memiliki landasan spiritual yang betul-betul kuat. Dan yang mengatasi negara dan negarawan bukanlah agama, melainkan spirituality.
T: apa beda spiritual dengan agama ?
J: Spiritualitas bukanlah lembaga, ia merupakan seperangkat tindakan atas dasar kesadarannya akan nilai kebaikan. Spiritual tidak sekedar kesadaran rasio/akal budi semata, ia dipahami sebagai suatu bentuk KESADARAN tinggi (higher consciousness) yang melibatkan kesadaran batin (intelegensia) tentang kebaikan dan konsep keTuhanan. Kesadaran spiritual idealnya mencakup upaya menyatukan hati, pikiran, ucapan, dan perbuatan sebagai satu kekompakan tindak. Sedangkan agama merupakan LEMBAGA-LEMBAGA, berfungsi mendidik atau mengajarkan tentang kebaikan dan ke-Tuhan-an (spirituality). Singkatnya bahwa spiritual adalah HASIL, yang berhubungan dengan kesadaran, sementara agama adalah salah suatu CARA (proses) yang bertujuan menciptakan kesadaran tsb. Banyak sekali CARA atau JALAN SETAPAK untuk mencapai kesadaran spiritualitas tinggi, di antaranya ya semua agama yang ada di planet bumi ini. Tapi, entah saya sedang mimpi atau tidak ya, saat ini kok rasanya banyak sekali orang-orang yang tampak AGAMIS, namun miskin PENCAPAIAN SPIRITUAL. Tampak dari ucapanya, pakaiannya, jalan pikirannya, seseorang begitu alim dan saleh, tapi kok ya terlibat korupsi…!
T: jika bukan agama, lantas apakah yang pantas di letakkan di atas Negara, yang bisa menjadi acuan SPIRITUAL negara dan bangsa Indonesia ?
J: mungkin Anda lupa ? Konsep spiritual yang bersifat universal bagi bangsa Indonesia bukankah sudah dibakukan dengan nama besar PANCASILA, ia sebagai IDEOLOGI BANGSA, dan menjadi acuan spiritual yang menjadi dasar dalam menjalankan sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila bukanlah Islam, bukan Hindu dan Budha, bukan Kristen dan Katolik. Namun Pancasila mencakup nilai-nilai universal semua agama tersebut. Pancasila tidak bertentangan dengan agama manapun. Tidak berlebihan bila saya katakan, jika semua agama di dunia ini dikuliti, di dalamnya akan ditemukan “isi” yang sesuai dengan apa yang tercantum dalam 5 sila itu. Hebat kan !!
T: apa dasar argumen Anda, bahwa agama tidak boleh diletakkan di atas negara ?
J: Agama adalah bagian dari sistem budaya, yakni sistem kepercayaan yang sudah menjadi LEMBAGA. Agama menjadi lembaga sosial non politik dan non profit oriented. Sedangkan Negara merupakan lembaga POLITIK, mencakup di dalamnya lembaga-lembaga tinggi negara. Maka tidak ada lembaga yang boleh lebih tinggi dari negara.
T: bukankah agama adalah urusan di luar negara ?
J: pertanyaan yang tidak tepat, seharusnya kata-kata negara diganti politik. Secara politik AGAMA HARUS BERADA DI LUAR POLITIK itu sendiri. Dalam arti, agama tidak boleh dicemari kepentingan politik. Menjadi perbuatan tidak senonoh bila Anda mempolitisir agama, atau agama menjadi kendaraan politik. Sementara itu, agama jelas merupakan bagian dari kehidupan masyarakat warga bangsa. Otomatis agama hidupnya berada di dalam wilayah suatu negara. Tak ada agama apapun di zona internasional laut. Kecuali Anda sedang mengarungi di lautan sana.
T: apa yang akan terjadi di Indonesia bila agama secara kelembagaan diletakkan di atas OTORITAS NEGARA ?
J: pertanyaan yang cerdas ! Jika AGAMA secara KELEMBAGAAN melebihi OTORITAS negara, maka jadilah negara agama misalnya : Negara Islam Indonesia, Negara Hindu Indonesia, Negara Budha Indonesia, Negara Katolik Indonesia, negara Kong Hu Chu Indonesia, atau Negara Kristen Indonesia. Dengan begitu bubarlah negara kesatuan Republik Indonesia di atas slogan BHINNEKA TUNGGAL IKKA.
T: tidak menutup kemungkinan, para tokoh politik kita ingin mencapai kekuasaan tertinggi dengan mengendarai suatu agama tertentu ? Bagaimana langkah ideal yang seyogyanya dilakukan para elit politik kita ?
J: jika Anda sebagai politikus lalu kebelet menaruh agama yang Anda peluk di atas OTORITAS LEMBAGA negara, Anda harus memenuhi syarat sebagai seorang NEGARAWAN yakni: TANGGALKAN lembaganya atau “BAJUNYA”, KUPAS KULITNYA, AMBIL ISI HAKEKATNYA. Singkatnya, ambil saja RUH dari setiap agama yang ada di Nusantara ini. Carilah nilai-nilai agama yang bisa melebur dalam nilai spiritual yang UNIVERSAL dan ESENSIAL. Namun kita sebagai generasi penerus bangsa TAK PERLU LAGI PUSING-PUSING MIKIRIN PEKERJAAN ITU, karena BUKANKAH PARA PENDAHULU KITA SUDAH MENUNTASKAN TUGAS ITU SEMUA, sehingga terwujudlah PANCASILA sebagai barang jadi yang tinggal pakai.
T: Ok, jika lembaga agama diletakkan di bawah otoritas negara, sejauh mana kewenangan NEGARA terhadap AGAMA ?
J: Tentu saja negara tidak boleh MENCAMPURI URUSAN INTERNAL agama apapun, yang mencakup dakwah & mengenai isi ajarannya. Biarkan hal itu menjadi tugas para ulama beserta tanggungjawab masing-masing umat agama. Negara juga tidak boleh mendikte sistem nilai kepercayaan setiap warga bangsa. DI SINILAH DASAR PEMAHAMAN AGAMA SEBAGAI URUSAN PRIBADI, dalam artian urusan INTERNAL warga sebagai individu bukan menjadi kewenanangan negara atau penguasa. Justru dalam hal ini, idealnya negara menjamin kemerdekaan pilihan Anda. Walau sudah dijamin UU atau UUD namun implementasinya belumlah optimal, yang terjadi saat ini malah salah kaprah, konsep kewenangannya serba terbalik.
T: bisa lebih jelaskan lagi ?
J: Peran negara hanya sebagai ARBITER atau WASIT. Bila peran negara sebagai WASIT melemah, sementara di sisi lain peran AGAMA sebagai LEMBAGA semakin menguat, maka akan terjadi HUKUM RIMBA, siapa yang kuat akan melibas yang lemah dengan dalih MEMBELA JALAN TUHAN, membela kebenaran. Implikasi lebih lanjut akan terjadi konflik horisontal, anarkhisme & kekerasan karena masing-masing agama tentu saja merasa paling baik dan benar serta merasa berhak menentukan negara. Mungkin gejala itu bisa Anda rasakan saat ini, karena KEMAMPUAN NEGARA berperan sebagai WASIT yang BAIK, ADIL, NETRAL dan BERSIH, terasa kian melemah. UU dikalahkan oleh basa-basi busuk.
T: kurang puas..
J: Ok..dengan demikian HUBUNGAN antar lembaga dan umat beragama tetap harus tunduk di bawah aturan main negara yang terangkum di dalam UUD dan UU. Tugas negara adalah memberikan JAMINAN kepada seluruh UMAT BERAGAMA agar supaya bebas merdeka MENENTUKAN PILIHAN lalu MENJALANKAN ajarannya secara MERDEKA tanpa ada intimidasi dan paksaan dari UMAT lain. Selebihnya NEGARA haruslah MENGAKUI apapun sistem kepercayaan yang ada dalam masyarakat. Mungkin kelak, di Indonesia akan terdapat lebih dari 6 macam agama. Negara tidak berhak membatasi, namun negara BERWENANG MENGATUR KETERTIBAN sesuai aturan main yang disepakati bersama, agar tercipta ketertiban dalam kehidupan berbangsa. Lebih dari itu OTORITAS NEGARA diperlukan agar agama tidak menjadi boomerang menjadi faktor pencetus konflik yang merusak sendi kehidupan dalam masyarakat.
T: adakah OTORITAS NEGARA yang salah kaprah dalam menjalankan peranannya sebagai WASIT ?
J: ada, salah satu contohnya adalah mencantumkan agama di dalam KTP Anda. Contoh yang lain, anarkhisme yang dilakukan oleh suatu kelompok agama, terkesan dibiarkan saja oleh pihak penjaga ketertiban dan keadilan hukum masyarakat. Bahkan salah kaprah ini menjalar ke bidang lain yang jauh dari urusan agama. Contohnya bila Anda diminta mengisi formulir perbankan, ada-ada saja, di situ pihak Bank ikut-ikutan mencantumkan form agama yang harus Anda isi sesuai KTP. Sekali lagi pisahkan kepentingan Agama dari kepentingan politik maupun ekonomi. Jika tidak, maka terjadilah imperialisme/penjajahan berdalih kepentingan agama. Dengan mudahnya orang akan mengklaim bahwa kepentingan politik atau ekonominya adalah ATAS NAMA TUHAN. Siapa yang tak mau menuruti kemauannya akan mendapatkan laknat dari Tuhan.
T: agak OOT (out of topic), apa saran Anda, agar supaya setiap orang baik sebagai warga bangsa maupun sebagai penguasa agar memiliki kemerdekaan dalam menjalankan dan mengapresiasikan nilai agama dalam kacah politik, ekonomi dan pergaulan sehari-hari tanpa terjadi pengkotakan sempit maupun fragmentasi ?
J: Anda tak perlu berteriak lantang sebagai pembela Tuhan, Tuhan itu Maha Kuasa jadi kagak perlu dibela-bela, sombong banget kamu, bukankah manusia makhluk yang teramat lemah di hadapan Tuhan !? Tuhan juga tidak punya musuh, dan jangan pernah berfikir ingin menjadi musuh Tuhan. Tuhan tak ada lawannya kok. Anda bebas mau melalui agama apa pun, ajaran dan filsafat hidup mana saja, yang paling penting adalah PENCAPAIAN SPIRITUALITAS secara sungguh-sungguh. Yakni dengan cara menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara dengan sebaik-baiknya, sesuai PANCASILA, dengan melibatkan kekompakan empat unsur penting dalam diri Anda yakni: hati, pikiran, ucapan, dan tindakan. Dengan kata lain, NEGARAWAN idealnya memeluk “agama” Pancasila. Pancasila itu sangat sakral dan RELIGIUS. Meliputi dimensi “vertikal” dan “horisontal”. Menjadi pedoman “tata laku” dalam sendi kehidupan baik dimensi (domain) individu maupun sosial. Lha kok masih ada yang mau menggantikan Pancasila. Malah dibilang Pancasila tidak religius. Lah..trembelane…kenthir po yo ? Lha wong mengamalkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari itu tidak membuat panjenengan kopar-kapir kok Mas. Kalau ada yang menuduh, ya laporkan saja pada pak Lurah, pak Carik, kalau nggak mempan ya ke Pak Polisi, karena menganggu ketrentaman dan melibas hak orang lain.
T: saya pernah dengar ada yang usul supaya dibuatkan referendum, dengan harapan Pancasila dapat diganti dengan Piagam Jakarta. Kira-kira bagaimana ?
J; berarti mau meletakkan satu otoritas agama di atas negara yang majemuk ! atau membangun dominasi satu agama di atas agama-agama lainnya yang tersubordinasi. Menurut saya gara-gara di dalam Piagam Jakarta sila satu terdapat penggunaan kata-kata “Allah”. Lain halnya sila pertama Pancasila menggunakan kata-kata “Tuhan”. Menurut saya, Piagam Jakarta itu lebih terasa mewakili tradisi Timteng, dan tidak merepresentasi bangsa Indonesia yang plural ini. Istilah Tuhan kan jelas justru MEWAKILI “tuhan” semua orang Indonesia..! mencakup semua suku, semua agama. Istilah “Tuhan” tentu saja kalau Anda bicara dengan bahasa Indonesia. Anda pun bebas merdeka mau menyebutNya dengan nama-nama berikut: Allah, Alloh, Brahman, Pi Khong, Dei, God, Gusti Ingkang Murbeng Dumadi, Hyang Widhi, Puang Allah, semua tetap TUHAN yang itu-itu juga. Nggak ada yang lain, tetap tuhan yang tunggal. Tiada Tuhan (banyak) kecuali Tuhan (yang tungal).















Maruta said,
June 30, 2009 at 9:26 pm
Sepakat Mas… negara tidak boleh menganut salah satu agama tertentu. Ssering sedih saya melihat seklompok orang/politisi menggunakan salah satu agama untuk mencari kekuasaan… Sedih juga melihat satu isu kampanye pilpres yang menggunakan salah satu agama istri kandidat pilpres untuk saling serang… Lebih sedih lagi, negara yang katanya mengakui bberapa agama ini, malah mempersulit warganya untuk mendirikan tempat beribadah…
Namun, setidaknya kita bisa memulai dari diri sendiri, apa pun agama atau keyakinan orang lain, kita tidak perlu mempersoalkannya apalagi hingga menyerangnya hanya karena beda keyakinan…
m4stono said,
June 30, 2009 at 11:38 pm
sepakat mas…dari uraian diatas mungkin kita cenderung berpendapat sama dlm hal hub agama dan negara…jadi no komenlah….cuman permasalahannya dari sekian banyak teori yg bagus2 bahkan muluk2 trus gimana prakteknya?? contoh kasus yg ekstrem ttg lia eden…bagaimana posisi agama ttg lia eden???serba salah keknya negara atau aparat yg berwenang…mungkin sbg muslim kita sepakat bahwa dia itu sesat…mosok ngaku2 malaikat jibril…apa ada malaikat berjenis kelamin perempuan??…malaikat itu tidak berjenis kelamin….ntar ada juga yg ngaku2 tuhan …bagaimana sikap negara ttg hal ini??…mungkin salah satu penyelesaiannya adalah adu rahsa atau adu ilmu hakekat thd orang yg ngaku2 ini…tapi memang dibutuhkan orang yg bragama yg mempunyai spiritualitas tingkat tinggi utk menyadarkannya…tapi ini kan bukan domain pemerintah atau negara…
memang para pendahulu kita mempunyai rumusan yg mumpuni thd hub agama negara tapi pada realitanya atau prakteknya terdapat masalah2 yg sulit utk dipecahkan baik dari dulu maupun sekarang….ini menjadi PR kita semua dan segala kesalahan2 dimasa lampau seyogyanya bisa dijadikan hikmah…
nuwun
SABDALANGIT said,
July 1, 2009 at 1:12 am
@Maruta Yth
Kesadaran dan pandangan panjenengan merupakan benih-benih ketentraman dan kedamaian nusantara.
@m4stono yth
Jika dihadapkan persoalan sperti kasus Lia Eden, memang menjadi urusan dilematis dan pelik. Lia Eden jelas ada orientasi yang destruktif. Ia bukannya mengajarkan falsafah dan ajaran yang konstruktif, sebaliknya ajarannya banyak kaidah yang tidak wajar jika dilihat dari kaidah agama dan kaidah sosial secara umum. Jerat hukum bukan menjerat dasar keyakinannya (sekalipun kurang lazim). Pasal-pasal hukum hanya menjerat eksploitasi dan unsur kekerasan yg ia dan kelompoknya lakukan.
Adu rahsa dan hakekat keyakinan merupakan suatu gagasan yg ideal. Hanya saja, kelemahan terbesar siapa yg berhak menjadi wakil pihak masyarakat dan negara dalam adu rasa dgn kelompok2 tsb. Katakanlah sbg lembaga sensor kepercayaan/agama. Lantas bagaimana cara mengukur bonafiditas dan kualitas pihak/lembaga sensor tsb. Karena lembaga sensor akan mempunyai konsekuensi sebagai pihak penentu atau pemegang otoritas memvonis apakah suatu ajaran, keyakinan, atau kelompok aliran layak hidup atau musti dimusnahkan dari nusantara ? Lagi-lagi kelemahan terbesar, pihak lembaga sensor sama-sama argumennya hanya berdasarkan keyakinan semata. Hal ini memungkinkan terjadi ambiguitas, dualisme, dan kontradiktori. Bisa saja terjadi keyakinan membunuh keyakinan lainnnya. Celakanya jika lembaga sensor jatuh ke tangan kelompok kepentingan yg tdk bertanggjwb. Inilah dilema paling sulit. Mengelola negara pluralism ternyata tidak mudah, tdk sesederhana yg kita bayangkan.
Dilihat dari sisi hak asasi, maka wilayah keyakinan, cara pandang, pola pikir, kebudayaan manusia tak bisa dijerat oleh kekuatan hukum. Jika kenyataannya hukum menjerat nilai-nilai budaya, pasti ada yg salah, yakni tiadanya kesepadanan antara apa yg seharusnya terjadi (solen) dengan apa yg terjadi (sein). Hukum seharusnya berpijak pada nilai budaya dan peradaban yg berkembang dalam suatu masyarakat wilayah hukum. Namun dalam kasus demikian berarti hukum tidak mengakar dlm masy. Misalnya UU anti pornografi.
Hal ini menuntut kreatifitas UU yang tepat dan luwes yg bisa mengatasi kecenderungan destruktif tsb. Misalnya, negara tidak boleh memenjarakan seseorang hanya gara-gara keyakinan dan pola pikirnya menganut paham marxisme. Yang dihukum bilamana seseorang memanifestasikan ide, gagasan, keyakinan dalam kehidupan bermasyarakat secara destruktif. Itulah, perlu penegasan akan DELIK HUKUM. Harus ada keselarasan antara DAS SOLEN das DAS SEIN. Harus ada penegasan kapan suatu tindakan menjadi delik. Maka UU tdk boleh terdapat LOOPs HOLES, atau “semacam celah hitam” sebagai titik lemah untuk lolos dari jeratan hukum. Hukum juga tdk boleh lemah, dalam arti memiliki BIAS penafsiran dengan kadar subyektifitas tinggi sehingga memungkinkan terjadinya pasal karet. Inilah PR buat generasi bangsa yg cerdas dan cermat dalam menyusun UU, demi tegakknya implementasi falsafah PANCASILA dalam kehidupan sehari-hari.
Rahayu
Gagak seta said,
July 1, 2009 at 7:56 am
Bersyukur saya dapat wawasan baru…
Menjadi pemimpin dinegara indonesia luar biasa susah bila tidak sungguh2 memahami PANCASILA yg menjadi dasar dlm kehidupan kenegaraan.Dibutuhkan sikap yg luwes dan netral dalam menghadapi persoalan berkaitan dengan keberagaman.Tak bisa komen banyak maklum gagak bodoh…
salam sayang
salam hormat
abu amili said,
July 1, 2009 at 3:43 pm
yth ki sabda langit
waah……. memaknai agama ideologi dan negara satu kesatuan makna dari ketiga kata tersebut,agak membingungkan karena ketiga hal tersebut saling keterkaitan , tapi….kalau kita tilik pemaknaan masing2 semakin jelas, negera harus mempunyai ideologi, agama ada didalamnya. Pancasila yg ada sebenarnya kalau dipahami , dihayati dan diamalkan semua sudah dirangkum didalamnya. tapi yg lebih penting lagi spiritual….. yg memaknai mendalam…..kalau semua anggota masyarakat masuk, terlibat dan memahami mengamalkan nilai2 spritual . khususnya Bangsa Indonesia ini tidak perlu banyak debat…..cape deh ….hee kee yaa… gitu aja reepoot. pamit ki . trims atas wawasannya. salam rahayu, kasih…sejati
Stop Dreaming Start Action said,
July 1, 2009 at 5:09 pm
uraian yang menarik
saya save ya
terima kasih
HasruL said,
July 1, 2009 at 7:49 pm
Sulit juga memehaminya…. kalau masih awam
wong alus said,
July 1, 2009 at 9:39 pm
Yang mutlak benar adalah kadal. Anggapan, interpretasi, tafsiran tentang kadal bisa beragam di kepala masing-masing orang. Pancasila belum tentu benar, karena ia bukan kadal jadi masih relatif. Sebab Pancasila juga hasil interpretasi tentang Tuhan, Manusia, Indonesia Satu, Rakyat, Adil. Interpretasi tentangnya juga bisa salah. Makanya, Pancasila jangan diyakini dan diimani mentah-mentah karena ia bukan substansi, melainkan aksidensi yang melekat pada Yang Absolut.
Bila dikatakan bahwa Pancasila itu sumber acuan spiritual yang menjadi dasar dalam menjalankan sendi kehidupan berbangsa dan bernegara namun bukti malah membingungkan… era Soeharto yang 32 tahun ngugemi pancasila juga akhirnya melahirkan diktator yang anti demokrasi.
Artinya, Puluhan tahun bangsa kita memiliki ideologi ini tapi sampai sekarang belum mampu mengantarkan bangsa kita melaju kencang seperti Jerman, Jepang, maupun Amerika. Praktek dan praksis harusnya sama dengan teori, das sein dan das solen harus manunggal.
Mohon Penerangan karena jalannya gelap, ki…
Salam dari persimpangan
Alam Rasa said,
July 1, 2009 at 9:41 pm
Assalamualaikum wr.wb
Salam Kasih
Senyum untuk Ki Sabda Langit dan semuanya yang ada di Pondok ini
Aku sepakat dengan Ki Sabda Langit untuk tetap mempertahankan Ideologi Negara Kita Panca Sila yang telah digali dari nilai budaya bangsa oleh Founding Father kita, dan juga orang yang aku kagumi Bung Karno.
Dari beberapa buku yang telah aku baca tentang sejarah lahirnya Panca Sila, Bung Karno menelurkan konsep ideologi Panca Sila pada suatu malam sebelum 1 Juni 1945, dengan terlebih dahulu memohon kepada Allah swt, agar diberi petunjuk tentang apa yang harus diucapkan sehubungan dengan masalah Dasar Negara dalam sidang BPUPKI esok harinya.
Petunjuk datang dari Allah swt. Berupa ilham agar Bung Karno menggali dari Bumi Indonesia sendiri, menggali dari dalam hatinya bangsa Indonesia.
Peristiwa itu sangat mengagetkan pemerintahan militer Jepang, sebab sebenarnya bukan itu yang diminta penguasa Jepang, tetapi fakta-fakta sosial untuk persiapan kemerdekaan.
Ya, Bung Karno telah mengucapkan sesuatu yang sangat penting bagi hari depan Bangsa Indonesia. Pidato yang sangat menggemparkan sidang itu diucapkan tanpa teks.
Bung Karno telah berhasil menggali mutiara-mutiara budaya warisan nenek moyang kita yang telah beribu tahun ada di Bumi Nusantara. Di kemudian hari, Panca Sila ditawarkan kepada dunia ketika beliau berpidato di hadapan Sidang Umum PBB di New York. Bung Karno minta agar Panca Sila dapat dijadikan piagam PBB.
Kalau kita lihat, maka angka dari tanggal 1-6-(19)45 itu mengandung nilai 52, yang di dalam Al Qur’an menunjukkan Surat Ath Thuur yang artinya Bukit. Dari ketinggian bukit, orang akan dapat melihat keagungan Tuhan yang menciptakan keindahan alam. Nabi Musa mendapatkan wahyu dari Allah swt di atas Bukit Thursina. Musa memperoleh ajaran Tuhan untuk kaumnya. Dari bukit itulan memancar sinar ke-Illahi-an.
Terkait dengan masalah ke-agamaan yang dijadikan sebagai Sila ke-1 Panca Sila. Bung Karno berkata: “Prinsip Ketuhanan! Bukan saja bangsa Indonesia ber-Tuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya ber-Tuhan. Tuhannya sendiri. Yang Kristen menurut petunjuk Isa Al Masih, yang Islam ber-Tuhan menurut petunjuk Nabi Muhammad SAW, orang Budha dan Hindu menjalankan ibadahnya menurut kitab-kitab yang ada padanya. Tetapi marilah kita semuanya ber-Tuhan. Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara leluasa. Segenap rakyat Indonesia hendaknya ber-Tuhan secara berkebudayaan, yakni dengan tiada egoisme agama, berkeadaban, dan saling menghormati satu sama lain.”
Perkataan Bung Karno ini seolah-olah memperoleh jawaban dari langit: “ Berjalanlah kamu ke arah-Ku. Terserah dari titik mana kamu berangkat. Sesungguhnya Allah Maha Besar. Mengapa engkau harus menuruti nafsumu untuk saling bertentangan di muka bumi ini?”.
Dalam hal ini pujangga Ronggowarsito menyatakan: “Wahananira tinemu. Temahan anerima. Muphus pepestining takdir. Puluh-puluh anglakoni kaelokan”.
Pada akhirnya kita harus sadar dan mengambil hikmah dari ajaran ke-Tuhan-an Bung Karno. Bahwa Ke-Tuhanan harus menjadi titik tolak untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. Dengan demikian, kita tidak mudah dipengaruhi oleh kaum provokator yang kerjanya mengadu domba rakyat. Oleh sebab itu, rakyat Indonesia harus tetap waspada kepada siapa-siapa yang ingin mengganti Panca Sila dengan ideologi lain.
wongalus said,
July 1, 2009 at 11:54 pm
teori pancasila terlalu ideal mas… Kerusakan hutan sangat parah, terjadi di mana-mana… Pencemaran lingkungan gila-gilaan, luberan lumpur melumat tujuh desa dari peta, Otonomi daerah berubah menjadi otonomi korupsi dan kewenangan untuk berbuat semaunya. Bantuan langsung tunai berdesakan memakan korban, masyarakat miskin seperti saya bertambah setiap detik. Perkosaan dan pembunuhan, angka kriminalitas membumbung menghiasi hampir setiap hari media massa. Jutaan rakyat mengungsi ke malaysia, arab saudi, china, korea untuk mencari penghasilan…
Ini semua terjadi di depan mata, di sebuah negeri yang sudah merdeka sekian lama. Pancasila tidak salah, namun justeru yang harus diwaspadai adalah menjadikan Pancasila sebagai ideologi sempit yang tidak boleh direinterpretasi sesuai perkembangan jaman. Pancasila jelas bukan ciptaan Tuhan… ia ciptaan manusia (Cak amir, Cak karno, dan cak-cak yang lain).
Kita iri dengan Inggris, Perancis, Belanda, Jerman, yang konon tidak menuliskan kata KETUHANAN YANG MAHA ESA dalam ideologi negaranya. Tapi kenapa hutan di sana lebih lestari dan angka kriminalitas tidak melejit seperti kita?
Mohon maaf para sanak kadang sedaya. Untuk sementara saya ingin jadi provokator biar tidak taklid buta terhadap keyakinan. hehehe….
SABDALANGIT said,
July 2, 2009 at 1:09 am
@Stop Dreaming Yth
Silahkan mas di save semoga berguna menambah referensi.
@Hasrul yth
Memang sulit memahami hubungan ketiganya, sehingga perlu wacana untuk ngudari benang kusut.
@Alam Rasa Yth
Pancasila disusun secara misterius, sepertinya para penyusun dapat petunjuk Tuhan melalui para leluhur nuswantara waktu itu. Sehingga Pancasila dapat disusun dalam waktu yg singkat namun ideal. Terimakasih paparan panjenengan yg lengkap, sangat berguna bagi saya pribadi dan mungkin saudara-saudara di sini.
@Wongalus Yth
Dalam tradisi diskusi memang sangat diperlukan adanya pemikiran yang kritis dan mampu menguliti sesuatu yang telah dianggap mapan dan ideal. Tanpa adanya pemikiran kritis seperti Ki Wongalus yg waskita tentu saja mudah membuat orang terlena.
Kondisi bangsa dan negara sebagaimana yang panjenengan paparkan memang benar adanya. Kebenaran dalam batas realitas sosial politik.
Dalam kondisi bangsa dan negara sedemikian rupa yang sangat chaos ini memang banyak orang kemudian meragukan malah ada yang menyalahkan Pancasila pula. Hal itu dapat dimaklumi sebagai konsekuensi atas kegagalan generasi bangsa dalam mengelola negeri nan indah dan subur ini.
Saya pribadi kurang sreg bicara tentang Pancasila sebagai kebenaran sejati di dunia ini. Karena kacamata orang utk meraba “kadal” secara utuh sangat minim kemampuannya. Sehingga membuka lebar penilaian yg subyektif dengan perspektif dan kemampuan masing-masing orang, Tidaklah penting kita menilai Pancasila sebagai kebenaran atau tidak, lebih penting dari itu adalah memahami Pancasila sebagai suatu prinsip yang ideal dan baik. Boleh saja kita menggantungkan idealisme setinggi langit, atau bercita-cita setinggi gunung, karena yang paling penting di sini adalah bagaimana IMPLEMENTASINYA dalam kehidupan sehari-hari, kehidupan bernegara dan berbangsa sebagai upaya untuk meraih prinsip yang ideal tersebut. Untuk meraih kesuksesan besar kita sebaiknya berani memiliki mimpi yg besar. Seorang anak yang hanya bercita-cita menjadi petani akan memiliki probabilitas kecil menjadi seorang presiden.
Melihat carut marut yg terjadi di negeri ini saya pribadi menilai akar dari semua masalah adalah adanya MISSMANAGEMENT, kesalahan mengelola negara secara fatal sehingga menimbulkan akibat yg secara SISTEMIK sangat parah, misalnya disharmoni dan disintegrasi. Penjabaran Pancasila ke dalam UUD, UU, PP, pasal-pasal dan ayat ternyata tidak diimbangi dengan penegakkan hukum yg memadai oleh APARAT PENEGAK HUKUM. hal itu mula-mula terjadi manakala PENGUASA NEGARA (eksekutuf) yg seharusnya dikontrol oleh LEMBAGA TERTINGGI NEGARA (legislatif), kenyataannya justru terbalik. Lebih parah lagi yakni WASIT DIKONTROL oleh PEMAIN. Aparat penegak hukum sebagai wasit dari seluruh permainan negara dan bangsa kenyataannya justru bertekuk lutut di bawah kontrol sang pemain utama dalam hal ini kekuasaan eksekutif.
Eksekutif menjadi DIKTATOR tunggal, tampil sebagai rezim TOTALITER, yang menjalankan kekuasannya melalui tangan besi OTORITERisme. Kontrol segala lini kekuasaan dilakukan melalui APARAT MILITER PENJAGA BANGSA yang dibelokkan menjadi PENJAGA PRESIDEN PENGUASA TOTALITER. Pelibatan militer mempertahankan kekuasaan rezim, menjerumuskannya ke dalam bentuk REZIM FASIS yg sangat berbahaya, karena dpt disetarakan sebagai KEKUASAAN DEWA DARI LEMBAH HITAM. Keinginan dan kepentingan sepihak rezim MENJADI KEBENARAN MUTLAK. Rezim tak segan mencabut nyawa rakyatnya yg membangkang. Meneror dan mengintimidasi bagi yg bandel.
Seiring lamanya waktu berkuasa REZIM FASIS telah merubah prinsip keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonsia: POWER OF LAW menjadi LAW OF THE POWER. Power of law yakni Kekuasaan yang tunduk kepada hukum. Menjalankan pemerintahan /kekuasaan berpedoman kepada UUD. karena kekuasaan adalah substansi dari hukum yg ada. Sebaliknya, LAW OF THE POWER adalah pembelokan kekuasaan/kewenangnan, atau penyalahgunaan kekuasaan. Kekuasaan EKSEKUTIF digunakan untuk menyusun UU. Tentu saja UU menjadi tidak adil, hanya mewakili kepentingan VESTED INETEREST, atau kepentingan yg bercokol, dalam hal ini penguasa eksekutif dan para kroninya yakni kaum kapitalis. Di sinilah negara menajdi OTORITER BIROKRAT, OTORITERISME-KAPITALISME.
Sehingga semua carut marut itu telah memodifikasi INDONESIA menjadi negara dengan kategori mengerikan yakni :
1. Negara otoriter
2. Negara fasis
3. Pemerintahan militeristik
4. Otoriter-Kapitalisme
5. Birokrat-kapitalisme
6. Anti demokrasi
7. Kekuasaan hegemonik
8. pemerintah diktator
9. elitism dst
Padahal negara ini mayoritas penduduknya adalah Islam. dan sebagai negara multi agama dengan bersandingnya Hindu, Budha, Kristen, Katolik di samping Islam. Dapat dikatakan Indonesia merupakan lumbungnya manusia-manusia agamis. Lantas siapa yg salah ? apakah Agama ? umatnya ? Pancasilanya ? rakyatnya? pemerintahannya? UU nya ?
Sumonggo Ki…kula nyuwun pepadhang..
nyuwun sih lumebering samudra pangapsami bilih kathah atur ingkang keladuk kirang duga prayogi.
salam asah asih asuh
yang-kung said,
July 2, 2009 at 12:22 am
suatu paparan yang klop buat saya,alias setuju.
Memang seharusnya agama tidak boleh dicemari oleh kepentingan politik.Yang ada diatas negara adalah konsep spirutial dalam hal ini adalah pancasila.Inilah yang perlu secara berkelanjutan disosialisasikan kpd anak bangsa.
carut marutnya perpolitikan dinegeri ini biang keroknya kegagalan pendidikan.Oleh karenanya perlu dipersiapkan calon politikus yang bermoral guna mempertahankan NKRI,Pancasila dan UUD 1945 dari ancaman politik sektarian,primordial dan anarkis.
Harapan saya ,siapapun pimpinan nasional yang terpilih nanti agar menyiapkan pendidikan politik bagi generasi muda,yang membuahkan poltikus profesional dan bermoral yg mementingkan kebaikan umum dan membangun sistem politik yg semakin demokratis,dan tidak membawa politik agama kedalam politik berbangsa /bernegara.
Kadospundi pamanggih panjenegan ki Sabdalangit ??
salam rahayu.
Alam Rasa said,
July 2, 2009 at 3:02 am
Salam Kasih untuk saudaraku Ki Wong Alus
Pehamanku tentang Panca Sila adalah suatu landasan atau ideologi negara yang memang harus ideal. Apabila diumpamakan bangunan, Panca Sila ini adalah fondasinya, yang harus kokoh, dan mampu menjadi tumpuan dari berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dengan demikian, seharusnya seluruh UU atau Peraturan yang ada di negeri ini selaras dengan Panca Sila atau merupakan penjabaran dari Panca Sila. Sebenarnya Bung Karno telah cukup banyak menjelaskan tentang makna dari Panca Sila, yang dapat diperas menjadi Tri Sila dan diperas lagi menjadi Eka Sila. Yaitu Gotong Royong atau Kebersamaan atau Sosialisme Indonesia.
Namun apa yang terjadi sekarang di Republik ini? Sistem Kapitalis. Sejak era Presdiden Soeharto, negara kita banyak mengadopsi sistem ekonomi Kapitalis yang dimotori oleh Begawan Ekonomi, mafia Berkeley, dan bila diteropong lagi, ya politik ekonominya negara Amerika Serikat. Apa hasilnya? Terbentuknya pengusaha Konglomerat, semakin lebarnya “gap” pendapatan antara si Kaya dan si Miskin, terjadinya kecemburuan sosial, merajalelanya korupsi, hilangnya kepercayaan rakyat pada pemerintah, akhirnya masyarakat menjadi apriori dan berbuat sakarepe dewe.
Lain dengan Amerika, atau negara-negara Eropa, mereka mengadopsi sistem Kapitalis, karena mereka telah cukup stabil ekonominya. Berbekal harta rampasan Perang (PD) 2, harta yang diambil dari negara-negara jajahan. Disamping budaya mereka juga yang cenderung individual.
Sosialisme Indonesia tidak sama dengan sosialisme Marxisme, karena sosialisme kita adalah sosialisme yang ber-Ketuhanan YME. Apabila ditelaah, maka sosialisme Indonesia yang dimaksudkan oleh Bung Karno adalah mirip dengan pengertian sosialisme dalam Islam.
Nah, kalau berbicara tentang kerusakan hutan, lingkungan, korupsi, kriminalitas, kemiskinan, dll. Itu bukan karena kita memiliki ideologi Panca Sila. Tapi karena sistem hukumnya yang belum berjalan dengan baik. Artinya, kita perlu membenahi Aparat Penegak Hukum (Jaksa, Polisi, Hakim, Pengacara) yang ada, mengevaluasi berbagai UU dan Peraturan yang memuat pasal karet, atau tidak selaras dengan Panca Sila dan/atau hati nurani rakyat.
Memperbaiki negara kita yang sedang amburadul ini, memang tidak mudah. Prosesnyapun memerlukan waktu yang cukup, tahap demi tahap. Untuk itu dibutuhkan seorang pimpinan yang berani, tegas, berwibawa, amanah dan didukung oleh segenap rakyat Indonesia. Otoriter sah-sah saja, asal ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, mendidik bangsa, dan bukan untuk kepentingan pribadi.
Sebagai contoh: Dr. Mahathir M (Malaysia) atau PM Cina yang otoriter namun mempunyai keinginan kuat untuk memajukan bangsanya. Bahkan Rasulullah Mumamad SAW, para sahabat, dan Kalifah sesudahnya juga dapat dikatakan otoriter dalam rangka membawa bangsa Arab dari zaman jahiliyah menuju zaman kejayaan Islam.
Kembali ke ideologi Panca Sila, sebaiknya kita perlu memahami lebih dalam tentang jalan pikiran Bung Karno yang dapat dibaca pada buku-buku terkait. Memang Bung Karno, bukan manusia sempurna. Tetapi dibanding denganku, maka aku sampaikan salut kepada Bung Karno. Bukan hanya karena beliau adalah Bapak Bangsa, namun karena wawasan pengetahuannya yang luas di berbagai bidang (sosial, ekonomi, politik, hukum, budaya, agama, dll.). Dan hingga saat ini belum terlihat adanya seorang pemimpin di negeri ini yang memiliki kualitas seperti beliau.
Demikian, aku ucapkan terima kasih untuk saudaraku Ki Wong Alus atas tanggapannya. Ok aku sepakat kita memang tidak boleh taklid buta terhadap keyakinan..apalagi terhadap ciptaan manusia. Oleh karena itu aku memohon agar kita semua selalu dalam bimbingan-Nya. Amien.
dBo said,
July 2, 2009 at 9:42 am
Yth. Para Kadang Sutresnaku Kimas Sabda dan yang lainya…..
Analisa Kimas Sabda serta sambutan dalam berbagai komentar…
Semuanya penuh heroisme…idealisme…
Semuanya SATU-TUJUAN…MENGEMBALIKAN KEUTUHAN MOSAIK NUSWANTARA KERTAGAMA RAHARJA INDONESIA…
Saya sangat sangat menghargai bahkan sampai muncul rasa haru ikut meRASAkan semangat para Kadang Sutresna disini…
Saya tidak perlu lagi menambah komentar, namun apabila berkenan, saya mempersilahkan para Kadang Sutresna klik ‘Apa dan Siapa dBo’ dan ‘Selingan Khusus’ (terutama pesan-pesan Kyai Semar Badranaya Ismaya) di http://dbo911.wordpress.com/ …
Semoga Gusti Ingkang Murba Jagat tansah Paring Pencerahan dan Karahayon dumateng Para Kadang Sutresna semua…
Duh Gusti Ingkang Maha Wisesa karsa’a Hangijabahi TRIWIKRAMA-BUDAYA…mugi sageda mangejawantah dados 333TRIWIKRA…….
Rahayu Karahayon…
wong alus said,
July 2, 2009 at 2:40 pm
Yth Kadang Ki Alam Rasa, jati diri, eksistensi, dan idealisme merupakan faktor-faktor penting yang mesti diperhatikan dalam dinamika masyarakat. Eksistensi suatu masyarakat akan semakin kokoh manakala idealisme dijadikan motor penggerak untuk mempertahankan dan bahkan mengembangkan jati diri secara intensif, tanpa idealisme suatu masyarakat akan kehilangan élan vital.
Meskipun begitu, idealisme sering dikorbankan ketika dinamika masyarakat –-karena berbagai pengaruh— lebih berorientasi kepada aspek-aspek pragmatis untuk kepentingan jangka pendek. Dinamika masyarakat boleh jadi mengarah kepada suatu kondisi chaos, dan menghasilkan masyarakat tanpa identitas sehingga rapuh eksistensinya.
OLeh sebab itu dibutuhkan suatu filsafat hidup yang dapat mengatasi dinamika peradaban, sehingga idealisme tetap menjadi motor penggerak dinamika masyarakat kearah kondisi kosmis, dan menghasilkan suatu masyarakat dengan jati diri yang jelas sehingga kokoh eksistensinya.
Pancasila sebagai filsafat hidup harusnya memiliki karakter yang sederhana, terbuka untuk diinterpretasi, antisipatif, aktual dan kontekstual. Karakter-karakter tersebut terakumulasi dalam ciri Pancasila yang eklektif-inkorporatif, dan menjadikan Pancasila bersifat dinamis. Interpretasi dinamis adalah keniscayaan bagi suatu filsafat hidup yang mengatasi peradaban, demikian juga dengan Pancasila.
Interpretasi dinamis atas Pancasila menurut saya bukan merupakan penyimpangan apabila interpretasi itu dilakukan dengan senantiasa mempertahankan nilai fundamentalnya. Sayangnya, inilah yang kini mulai luntur yaitu kegigihan para pemegang kendali kekuasaan untuk menginterpretasi Pancasila disesuaikan dengan konteks untuk mengatasi masalah-masalah yang muncul dan butuh penanganan secara urgen.
Kontekstualisasi Pancasila dalam berbagai bidang kehidupan harusnya merupakan konsekuensi logis dari predikat Pancasila sebagai filsafat hidup. Prof. Notonagoro telah meletakkan dasar-dasar konseptual filsafati dalam rangka kontekstualisasi Pancasila. Yang kemudian diperlukan adalah keberanian menderivasikan interpretasi konseptual filsafati tersebut dengan berbagai interpretasi kontekstual implementatif dalam berbagai bidang kehidupan. Ekonomi kerakyatan Pancasila menjadi ekonomi liberal, budaya gotong royong menjadi budaya bayar membayar, politik yang beretika pancasila menjadi politik sikut-sikutan.
Saya sekapat, bukan Pancasilanya yang salah. Namun interpretasi tentang Pancasilanya yang harus dibangun dan diperbaiki secara kontekstual. Matur Nuwun kepada Ki Alam Rasa yang sudah membeberkan kawicaksanaannya serta kepada Ki sabda Langit yang sudah bersusah payah membuat gubuk hitam nan indah ini.
Salam asah asih dan asuh
wong alus said,
July 2, 2009 at 2:41 pm
Yth Kadang Ki Alam Rasa, jati diri, eksistensi, dan idealisme merupakan faktor-faktor penting yang mesti diperhatikan dalam dinamika masyarakat. Eksistensi suatu masyarakat akan semakin kokoh manakala idealisme dijadikan motor penggerak untuk mempertahankan dan bahkan mengembangkan jati diri secara intensif, tanpa idealisme suatu masyarakat akan kehilangan élan vital.
Meskipun begitu, idealisme sering dikorbankan ketika dinamika masyarakat –-karena berbagai pengaruh— lebih berorientasi kepada aspek-aspek pragmatis untuk kepentingan jangka pendek. Dinamika masyarakat boleh jadi mengarah kepada suatu kondisi chaos, dan menghasilkan masyarakat tanpa identitas sehingga rapuh eksistensinya.
OLeh sebab itu dibutuhkan suatu filsafat hidup yang dapat mengatasi dinamika peradaban, sehingga idealisme tetap menjadi motor penggerak dinamika masyarakat kearah kondisi kosmis, dan menghasilkan suatu masyarakat dengan jati diri yang jelas sehingga kokoh eksistensinya.
Pancasila sebagai filsafat hidup harusnya memiliki karakter yang sederhana, terbuka untuk diinterpretasi, antisipatif, aktual dan kontekstual. Karakter-karakter tersebut terakumulasi dalam ciri Pancasila yang eklektif-inkorporatif, dan menjadikan Pancasila bersifat dinamis. Interpretasi dinamis adalah keniscayaan bagi suatu filsafat hidup yang mengatasi peradaban, demikian juga dengan Pancasila.
Interpretasi dinamis atas Pancasila menurut saya bukan merupakan penyimpangan apabila interpretasi itu dilakukan dengan senantiasa mempertahankan nilai fundamentalnya. Sayangnya, inilah yang kini mulai luntur yaitu kegigihan para pemegang kendali kekuasaan untuk menginterpretasi Pancasila disesuaikan dengan konteks untuk mengatasi masalah-masalah yang muncul dan butuh penanganan secara urgen.
Kontekstualisasi Pancasila dalam berbagai bidang kehidupan harusnya merupakan konsekuensi logis dari predikat Pancasila sebagai filsafat hidup. Prof. Notonagoro telah meletakkan dasar-dasar konseptual filsafati dalam rangka kontekstualisasi Pancasila. Yang kemudian diperlukan adalah keberanian menderivasikan interpretasi konseptual filsafati tersebut dengan berbagai interpretasi kontekstual implementatif dalam berbagai bidang kehidupan. Ekonomi kerakyatan Pancasila menjadi ekonomi liberal, budaya gotong royong menjadi budaya bayar membayar, politik yang beretika pancasila menjadi politik sikut-sikutan.
Saya sepakat, bukan Pancasilanya yang salah. Namun interpretasi tentang Pancasilanya yang harus dibangun dan diperbaiki secara kontekstual. Matur Nuwun kepada Ki Alam Rasa yang sudah membeberkan kawicaksanaannya serta kepada Ki sabda Langit yang sudah bersusah payah membuat gubuk hitam nan indah ini.
Salam asah asih dan asuh
wong alus said,
July 2, 2009 at 3:05 pm
Eh ngapunten KI, kepleset hehe… RALAT: Ekonomi kerakyatan Pancasila JANGAN MENJADI menjadi ekonomi liberal, budaya gotong royong JANGAN MENJADI menjadi budaya bayar membayar, politik yang beretika pancasila menjadi JANGAN MENJADI politik sikut-sikutan. NUWUN.
hadi wirojati said,
July 2, 2009 at 10:24 pm
pamuji rahayu…
salam kadhang sinarawedhi…, begja mangayu bagya.. rehne para kadhang sampun kempal wonten mriki.. mugya sedayanipun tansah sageda nglampahi sedaya pengendikanipun… kanthi karaharjan dan kasantosan.. kula tumut kanthi regeng lan bingahing ati.., semangat kang makantar kantar ngupaya jejering manusia Nusantara kukuh bakuh jaya kawijayan…, sambil sedikit demi sedikit ber TIWIKRAMA BUDAYA.., mugi sedayanipun tansah kalampahan…, rahayu..
matur sembah nuwun
salam sihkatresnan
rahayu..,
ratanakumaro said,
July 3, 2009 at 9:14 am
Salam Pamuji Rahayu,
Mas Sabdalangit yang saya hormati…,
Terimakasih atas postingan yang sangat menarik dan inspiratif ini.
Ikut mendukung juga pendapat mas hadi wirojati,
Semoga demikianlah adanya…
Rahayu, niskala, satuhu…
ratanakumaro said,
July 3, 2009 at 9:14 am
Salam Pamuji Rahayu,
Mas Sabdalangit yang saya hormati…,
Terimakasih atas postingan yang sangat menarik dan inspiratif ini.
Ikut mendukung juga pendapat mas hadi wirojati,
Semoga demikianlah adanya…
Rahayu, niskala, raharja, satuhu…
abu amili said,
July 3, 2009 at 3:01 pm
pamit ki…… waah dari dulu diskusi apapun namanya…masalah negara,ideologi dan agama banyak perdebatan, dari berbagai kalangan khusus kalangan kelompok atau pemuluk agama… bahkan dalam era orde baru banyak yg menolak ideologi Pancasila bahkan atas pemikiran, sikap golongan menjadi korban atau bisa juga masuk pencara, karna dianggap makar terhadap ideologi.
Lain halnya untuk masa kini era demokrasi yg mulai adanya kebebasan mengungkapkan pendapatnya yg mungkin bertentangan syah2 saja. Jadi semuanya menurut konsep,arti dan maksud dari pemahaman mengenai Negara-Ideologi dan agama bertujuan bagus atau baik semua.
Dengan demikian adanya penyimpangan atau problematika dalam kehidupan sehari-hari dari beraneka ragam suku, budaya , agama mohon dimaklumi itulah…………kehidupan dunia…..dan yang terpenting khususnya bagi kelompok atau golongan yang memiliki tingkat kesadaran yg tinggi dalam menjalankan kehidupan sebagai warga negara yg baik haruslah selaras dan sinergi sesuai cita=cita kemerdekaan yg diharapkan para leluhur pendiri negara kesatuan ini.
Dan harapan kedepan mudah2an cita2 tersebut, dapat tercapai khusus dukungan dari semua masyarakat dan tidak kalah pentingnya bagi Pejabat atau Negarawan yg terlibat langsung dalam pengelolaan negara ini.
Harapan atau cita2 hanya dapat dicapai apabila negara ini dipimpinan oleh Manusia yg seutuhnya yang memiliki wawasan, pengetahuan dan BUDI PEKERTI YG LUHUR…. Amiin
shilla.kr said,
July 3, 2009 at 8:32 pm
andai saja debat di pondok ki sabda ini bisa jadi acara tetap di metro tv,seperti debat capres,…..??????????!!!!!!!!
Ngglosor Madhep Wetan said,
July 6, 2009 at 2:20 pm
yo belum bisa mbak shilaaaa…. hehehehe
sebabnya konstelasi kenegaraan kita ini masih didominasi sama begitu laparnya pundi uang pribadi kendati sudah pada menggembung nyaris pecah.
hal seperti ini yaaa sementara (mungkin sementaranya sampai 25 tahun ke depan.. hehehehe) cuma bisa dinikmati sambil nyakruk nyambi kopi plus gorengan.
sebenernya sudah banyak orang yg tahu mengenai apa yg Mas Sabda babar ini, tapi sangat sedikit orang yg punya perhatian kepadanya dan menerapkan di dalam hidupnya, minim buat lingkungannya…
so Mbak Shilla…. tetep optimis yaa… biarpun sekarang kita hidup susah, sama seperti betapa optimisnya sodara2 & sesepuh yg ada di sini… ok ?
Dalbo said,
July 5, 2009 at 9:18 am
Nuwun sewu poro sedulur… ini saya punya sdikit cerita sesuai yg saya lihat dan saya alami sendiri mudah2an bisa di jadikan bahan kajian ato per bandingan. Di Negara yg saya tinggal saat ini ter diri dari berbagai suku bangsa hampir semua bangsa tinggal di sisni. Pemerintahanya tidak mengurusi Agama/keyakinan Rakyatnya artinya rakyat di bebaskan untuk ber ideologi apa saja bahkan tidak ber tuhan pun boleh, dan kebanyakan masyarakat di sini tidak memeluk/peduli dgn agama, namun Negri ini punya aturan2 yg jelas dan harus di patuhi, yg jelas ada hukumnya dan tidak bisa di jual belikan. uniknya masyarakat di sini punya kesadarn yg tinggi ter hadap lingkungan, kemanusiaan dan toleransi. hal ini karena peranan penting dari sistim kepemerintahanya, artinya pemerintahnya harus punya consep2 yg mapan dan make sense (masuk akal) dan di sepakati ber sama lalu memmeri contoh, kalau contohnya saja sudah brengsek ya jangan harap negara & masyarakatnya menjadi baik. Disini consept government nya bukan sbg Pemerintah, tapi “public Service” Sama halnya seminggu yg lalu sat saya pulang ke Indonesia lewat singgapur dan dua hari saya nginap. saya sempatkan berjalan jalan dan wawancara dg masyarakt setempat.Pemerinta Singapore tidak mencampuri Urusan2 Agama, sepanjang perjalanan saya mendapati Biara, klenteng, hindu temple, mereka saling mengormati bahkan dg yg tidak beragamapun masyarakatnya juga saling menghormati.yg di urusi pemerintah Singapore bukan soal Agamanya tapi soal menghormati sesama dan mengikuti aturan2 main ber masyarakant dan ber negaranya. selanjutnya sy bertanya2 dlm benak saya, kenapa sih di Indonesia Agama kok di besar besarkan? jangan jangin kita cuma di bodohin saja.
ngapunten..salam Rahayu..
itempoeti said,
July 6, 2009 at 3:18 pm
ketika hampir kebanykan orang saat ini menuhankan agama, maka agama bukan lagi ageming aji…
nuwun…
sikapsamin said,
July 6, 2009 at 4:59 pm
Yth. Para Sedulur Sejatiku…
Nyuwun pangapunten Kimas Sabda…
Tentang NEGARA dan IDEOLOGI…, ijinkan saya menambah pertanyaan begini : T- Yang membentuk siapa, Tepat-Gunanya bagaimana dan Untuk-Siapa..?!
Tentang AGAMA…Seperti kita kenal/ketahui ada berbagai Nama AGAMA lengkap dengan KITAB-SUCInya masing2,Semuanya mengklaim dari TUHAN YANG ESA…
Pertanyaannya : T- TUHAN AGAMANYA APA..?!
Matur nuwun
Salam Seduluran Ing Sejatime Sedulur
Bakuh-Kukuh-Utuh NKRI
Samin adalah Sikap
SABDå said,
July 6, 2009 at 10:33 pm
@Item Poeti Yth
….ketika hampir kebanyakan orang saat ini menuhankan agama, maka agama bukan lagi ageming aji…
——————————————–
Betul, karena agama itu bukan Tuhan, agama hanyalah jalan untuk “mencari” Tuhan.
@Sikap samin Yth
Asikep bala, rawe-rawe rantas malang-malang putung, njejegake NKRI, kanthi nuladha laku utama (tumraping wong tanah Jawi). Hamemayu hayuning bawana.
Sumangga para kadhang mohon dijawab pertanyaan sedulur Sikap Samin.
Rahayu, karaharjan
salam asah asih asuh
komang said,
July 7, 2009 at 12:52 pm
tulisan yang sangat mencerahkan sekali
salam kenal
suksema
Dalbo said,
July 8, 2009 at 11:36 am
Kulo nuwun..Pak de.. Mas sikap Samin salam kenal dari jauh..
Dari sekian lama perjalan hidup yg tlah saya lalui ini saya juga pernah punya pertanyaan seperti anda. namun di sini sy hanya ingin nggagas soal agama. pertanyaanya saya ganti bgn: ‘ Agama ini urusanya siapa’? dulu saya sering berprasangka bahwa Agama itu urusan manusia dg Tuhan, namun dari bukti2 nyata yg saya alami sepanjang hidup ini ternyata saya menemui jawaban yg serba berlawanan arah. ternyata bahwa Agama itu urusannya sesama manusia, terlebih di Negri kita ini, saya sudah nglang lang buana ke beberapa negara2 lain dan saya yakin Tuhan ada dimana mana dan di di mensi apa saja,kapan saja. melipuiti yg Ghaib dan yang wujud namun tak sekalipun dalam hidup saya ini pernah di tegur/di urusi oleh tuhan sekalipun dg pertanyaan yg sederhana ” hai menungsa Agama mu kuwi apa?’ namun sebaliknya setiap kemana2 saya pergi jumpa dg orang yg baru kenal mereka selalu bertanya dan ngurusi, ‘Mas/Pak Agamamu apa?” ketika aku menjawab bahwa agamaku berbeda dg kalian, mereka bersikap berbeda bahkan mulai sinis dll, bukti yg nyata sekali ada pada hukum/aturan2 yg di buat oleh departemen Agama.jadi jelas sekali bahwa Tuhan sama sekali nggak ngurusi Agama, tapi yg jelas tuhan ngurusi Budhi pekerti, prilaku, tabiat, manusia dg hukum2 alam sebab akibat tanpa pandang bulu. buktinya?:
Indonesi 100% atau mungkin 120% ( karena sikap berlebihan) penduduknya ber agama, negri yg dulu subur gemah ripah loh jinawe, tapi mengapa Ekonomi kita hancur, reputasi kita di mata dunia melorot, hutang luar negeri melimpah ruah, krismon yg berkepanjangan bencana alam ber tubi2, lalu berapa kali lagi kita musti ber do’a sesuai dg keyakinan/Agama kita yg “katanya” paling benar di atas segala keyakinan di seluruh dunia ini. nyatanya Tuhan tidak segera menolong bangsa ini karena yg jelas Tuhan memenag nggak ngurusi Agama. terus apakah kita mesti bersikap seperti orang2 di timur tengah, meneriakan yel,yel ketuhanan sambil meledakan diri sendiri dg jaminan surga dan 72 bidadari yg akan menyambut kita? I don’t think so….
Coba kita menegok Negara Tetangga, Australia dg penduduk aslinya Aborigin (tidak ber agama) agama mereka adalah ‘Dream” mereka mempertahankan tradisi dan budayanya sendiri sampai sekarang sebagai wujud local wisdom, hidup tenteram, makmur dg bangsa2 pendatang dari daratan Eropa dan Asia dg faham dan keyakinan masing2 bahkan banyakmyg tidak ber agama, kenapa Tuhan tidak segera menghancurkan Bangsa ini, mengapa mereka begitu adil dan makmur? jawabya adalah; ada di Budi pekerti dan tingkah laku bukan Agama. mengapa di Timur tengah saling Bom Boman sesama Agama?
Mengenahi pertanyaan Tuhan yang membentuk siapa? atau lebih jelasnya Siapa yg menciptakan Tuhan? hal ini pernah di diskusikan beberapa tahun yang lalu oleh para ahli Theolog, sosiolog, dan scient, di America dg pertanyaan yg pada intinya begini ” Tuhan menciptakan manusia ataukah Manusia menciptakan Tuhan?” tentu saja jawabanya akan sangat subyektive sekali dan saya sendiri belum berani mendiskusikan di blog ini, tapi saya punya gambaran seperti ini. pertanyaan ini hampir sama dg ” mana yg dulu Telur atau ayam”. saya ingin menjawab dg Theori Protein dan DNA yg begini:terjadinya/terbentuknya DNA di sangat dipengaruhi oleh Protein, sedangkan Protein tidak bisa terbentuk tanpa adanya DNA.
Monggo sampeyan lanjutkan berikutntya saya juga mau ngangsu kaweruh dari semua kadang ku yg ter cinta di bumi ini.
Salam Rahayu…God bless us all.
suprayitno said,
October 14, 2009 at 4:40 pm
Siapa yang menciptkan tuhan? yang jelas tanpa ada manusia maka tidak ada yang menyebut tuhan atao alloh. wedhus dari jaman purbakala paling-paling bisanya juga bilang “embeeeekkk…………” kucing ya “meong-meong-meong……” dst.
bagi saya pribadi, tuhan ada atau tidak , tidak terlalu penting. Yang penting bagaimana hidup ini padha selamet, sehat, sentosa dan bejo.
pokoknya bagaimana hidup ini supaya “enak” tetapi tidak enak-enakan dalam arti orang lain sengasara atau cilaka kita tidak peduli. Dan demi ke enakan kita, bila perlu kita ngapusi, korupsi, maling, ngrampok dst, nah…yang beginian aku gak setuju. Walaupun di dunia ini lebih banyak manusia yang melakukan hal tersebut.
lha priwe jal, demi tujuan “enak” banyak orang yang menjual tuhan dalam kurungan/sangkar yang diberi label “AGAMA” dan yang lain bilang demi “RAKYAT” yang diberi label “DEMOKRASI”. He…..he……..he………, padahal aku tahu mereka semua ngapusi.
Yah………………, terserahlah yang penting saya enak dan penjenengan juga enak, jangan cuma aku yang enak tetapi panjenengan tidak kepenak atau sebaliknya.
socialista said,
July 10, 2009 at 2:35 am
Mayoritas kita Hormati
Minoritas kita Hargai
gak ada yang lebih hebat, gak ada yang lebih istimewa
SABDå said,
July 10, 2009 at 3:08 am
Mas Dalbo Yth
Semoga Mas Dalbo selalu mendapat berkah, anugrah dan keberuntungan di manapun berada. Sekilas kesadaran anda bagaikan orang dangkal ilmu agama, mudah dicap sesat dan kopar kapir. Namun bagi saya pribadi, tanpa adanya kesadaran spiritual tinggi, tidak akan sampai pada kesadaran seperti panjenengan. Jika anda bisa membuktikan kebenaran sejak masih hidup di dunia ini sehingga lebih bisa memahami kehidupan ini. Sementara itu, orang lain harus menunggu setelah ajal, itupun menjadi tak berguna dan tak berpengaruh lagi di alam “sana”.
@Socialista Yth
Jika semua orang memiliki kesadaran spiritual seperti anda, bumi pertiwi ini pasti akan adem ayem, tenteram damai dan alam akan menjadi subur makmur.
salam asah asih asuh
dwi wahyu said,
July 14, 2009 at 10:12 am
Suangat setuju mas
semoga banyak yang mau membaca uraian mas dan menerapkannya
agar bangsa Indonesia semakin jaya
jack said,
July 16, 2009 at 12:13 pm
Sungguh bahagia bisa belajar disini.
Pancasila sebagai dasar negara saya setuju, tetapi sebagai ajaran negara nanti dulu. Penafsiran Pancasila tidak pernah final, sebagai sebuah ideologi ia terbuka dan bisa diartikan apa saja. Sukarno, penggagas Pancasila juga bukan seorang suci. Jadi gak mungkin bangsa ini bisa maju dengan benar kalau berbekal Pancasila.
Menurut saya Agama yang berakar dari kesucian para orang suci zaman dahulu, lebih masuk akal dijadikan pedoman hidup, baik sebagai pribadi maupun bersosial dan bernegara.
Maturnuwun.
globalwarming said,
July 20, 2009 at 1:06 am
sebenarnya agama apa za bagus seh yang penting gimana orang nya,kalau orang nya
igung said,
July 23, 2009 at 9:10 am
Bagi saya, agama nomor sekian…
Paling utama adalah spiritualitas… kesadaran.
arman said,
September 27, 2009 at 12:56 am
MAS SABDALANGIT . . DITUNGGU TULISAN TERBARUNYA . . . . sudah kangen pengin mbaca ulasannya . . . . terimakasih
Rahayu. . .