TATA CARA MELIHAT TUHAN

Tuhan benar-benar maha luas tiada batas ! Maka tidak lah berlebihan jika dianalogikan bahwa kebenaran sejati layaknya cermin yang pecah berantakan, dan agama, ajaran, budaya, ilmu pengetahuan, tradisi, masing-masing hanyalah memungut satu di antara serpihan cermin tsb.

EMPAT dimensi (dimensi ruang ditambah waktu), hanya ada di dalam dimensi wadag/fisik bumi. Sementara tata “ruang” gaib sungguh menyimpan misteri yang maha luas dan dahsyat.  Dalam “tata ruang” gaib sudah yang tidak ber-ruang lagi, dan di dalamnya tidak berlaku waktu, tidak berlaku jarak. Itulah hakekat dari dimensi cahaya. Bahkan kecepatan melebihi kecepatan cahaya.

…untuk mencapai pergerakan maksimum di dimensi ruang maka pergerakan di dimensi waktu harus nol. Pada kondisi inilah kecepatan benda menempuh dimensi ruang bisa maksimal. Dan sesuai dengan teori relativitas khusus, bahwa kecepatan maksimal adalah kecepatan cahaya, segera kita sadari bahwa cahaya sama sekali tidak bergerak pada dimensi waktu. Dengan kata lain, foton tidak berumur. Foton yang dihasilkan semenjak alam semesta terbentuk sampai sekarang umurnya sama!

Ini terkait dengan salah satu formula teori relativitas khusus yang sangat terkenal: E=mc2, di mana E adalah energi, m adalah massa, dan c adalah konstanta kecepatan cahaya. Formula tersebut menjelaskan relasi langsung antara energi-massa (konservasi energi-massa). Sebuah objek dengan massa m bisa menghasilkan energi E sebesar mc2; dan karena c sebuah konstanta yang besar, massa yang kecil tetap akan menghasilkan energi yang besar.

Bayangkan, Hiroshima tahun 1945 hancur akibat energi yang dihasilkan 1ýari 2 pounds Uranium. Di sisi lain, formula ini memainkan peranan penting dalam pergerakan objek dalam 4-dimensi. Benda yang bergerak memiliki energi kinetik, semakin tinggi kecepatannya semakin besar energinya.

Saat kita paksa partikel muon mencapai kecepatan 99,9 kecepatan cahaya, muon memiliki energi yang besar. Karena konservasi energi-massa, energi tadi meningkatkan massa muon 22 kali lebih massif daripada massa-diamnya (0.11 MeV). Tentu saja semakin masif (pejal) benda, semakin susah untuk bergerak cepat. Ketika kecepatannya dinaikkan menjadi 99,999 kecepatan cahaya, massanya bertambah 70.000 kali! Muon semakin masif dan semakin cenderung untuk tidak bergerak. Sehingga dibutuhkan energi yang tak berhingga untuk melewati kecepatan cahaya; jumlah energi yang tidak mungkin bagi sesuatupun yang ada di alam semesta ini: KECUALI JUMLAH ENERGI  TUHAN. (Wongalus.wordpress.com)

Sukma/roh adalah “abadan cahya” (cahya sejati) sehingga bagi  roh/sukma ke manapun pergi tidak membutuhkan waktu lagi. Orang bilang kecepatan sukma melesat dari satu tempat ke tempat lain (dalam meraga sukma) hanya memerlukan hitungan detik, sekedar untuk menggambarkan betapa di “wilayah” gaib merupakan wahana cahaya yg tidak menggunakan hitungan dimensi ruang dan waktu lagi. Namun demikian, cahya sejati belumlah hakekat TUHAN, ia masih makhluk (ciptaan/retasan Tuhan). Sehingga tak bisa dibayangkan lagi bagaimana “kecepatan” Tuhan, mungkin beribu atau bermilyar kali lipat dari kecepatan cahaya. Dan hanya sampai di situlah yg bisa dibayangkan oleh manusia. Di atas cahya sejati (nurulah) adalah atma atau energi hidup/chayyu/kayun/kayu. SUATU “ENERGI hidup” YANG KECEPATANNYA  JAUH MELEBIHI CAHAYA. Bisa anda bayangkan ? Namun Atma sejati belumlah  “inti” TUHAN, karena atma masih di dalam rengkuhan HYANG MAHAMULIA.

Hal ini setidaknya dapat terbuktikan melalui suatu pengalaman gaib yg sensasional,  yg membeberkan “rahasia besar” bahwa leluhur di alam barzah, sekalipun  mencapai derajat kamulyan yg paling tinggi (kamulyan sejati/abadan cahya sejati), belumlah bisa melihat/bertemu “wujud” Tuhan. TUHAN tidak SESEDERHANA itu. Karena tuhan lebih-LEBIH DARI MAHA MULIA, LEBIH DARI MAHA AGUNG, tidak sekedar sebagaimana manusia bayangkan melalui kitab-kitab suci yang ada.

Semakin manusia mengetahui kebesaran tuhan, manusia semakin merasa tidak bisa membayangkan tuhan itu seperti apa sesungguhnya. Namun yang di luar bayangan imajinasi kita itu, sungguh ada melekat di dalam diri kita, dalam diri manusia apapun agama, bahasa dan suku bangsanya.

Semakin manusia tahu Tuhan, semakin merasa kecil dan menunduk diri. Jauh dari watak mentang-mentang, jauh dari sikap merasa paling benar, apapun yang menjadi sumber referensinya.

MATA MELIHAT MATA = MANUSIA “melihat” TUHAN.

Untuk sekedar pembuktian ilustratif saja, bagaimana kemampuan manusia dalam melihat/mengetahui/bertemu tuhan adalah ilustrasi saya sebagai berikut: Bola Mata wadag kita bisa melihat suatu obyek yang berada di luar mata kita. Namun demikian, apakah bola mata kita bisa melihat apa yg ada di dalam bola mata kita sendiri ?

Maka hanya dengan “rahsa”lah kita bisa “merasa” apa yg ada di dalam bola mata kita. Tuhan hanya bisa kita rasakan, dan itulah kemampuan manusia maupun roh dalam “melihat” tuhan.

APAKAH TUHAN ITU ?

Dalam pendekatan rasio dikenal suatu hukum alam, lebih populer lagi sebagai hukum sebab akibat. Maka Tuhan merupakan konsep utama sebagai CAUSA PRIMA, yakni penyebab utama tanpa ada yang menyebabkan eksistensiNya. Jika pendekatan melalui teori energi, maka Tuhan merupakan EPISENTRUM dari segala episentrum dan energi yang ada di jagad semesta.

Soal Tuhan mana yang paling bener, atau sebutan nama Tuhan yang palsu apa ? Apakah Allah, Alloh, Tuhan, Pi khong, Brahman, God, Puang Alah, Yahweh, Dei dan seterusnya ?

Berbicara dalam konteks rasio, semua itu tentu saja masih berupa kebenaran yang bersifat relatif. Karena nama-nama itu berkaitan dengan sistem budaya yakni, BAHASA sebagai alat komunikasi yang digunakan manusia. Logiknya sebelum manusia mengenal bahasa, maka konsep nama-nama di atas tentunya belum ada, dengan kata lain, causa prima (tuhan) belum punya nama apapun.

Jika pemahaman di atas ada yang menganggap statementnya kapir kopar, yang menjadi pertanyaannya, apakah gara-gara  salah menyebut nama untuk Tuhan maka akan mengakibatkan seseorang kecemplung nroko ? Bukankah kita semua ini memeluk salah satu agama hanya faktor kebetulan saja, dan tak lebih karena faktor keturunan (warisan) orang tua kita. Nah, apakah hanya faktor kebetulan, faktor keturunan, dan warisan ortu tsb menentukan orang masuk nroko atau suwargo ?

BENARKAH TUHAN ITU DAPAT DIHITUNG ?

Pertanyaan selanjutnya, apakah TEPAT, dikatakan Tuhan Maha ESA ? Jika jawabannya ya, berarti Tuhan itu sesuatu yang COUNT-ABLE (dapat dihitung). Jika jawabnya ya juga, berarti Tuhan itu sangat terbatas, dengan demikian mengingkari dalil Tuhan Mahaluas tak terbatas. Saya mengharapkan bantuan para pembaca yang budiman untuk memberikan pencerahan atas mind set tersebut.

Hal ini saya kemukakan karena di dalam benak saya Tuhan itu sebagai UNCOUNTABLE. Namun bukanlah benda, berbeda dengan udara, air, api dan sejenisnya merupakan uncountable noun, atau benda tak dapat dihitung. Sehingga kita tidak bisa mengatakan air, udara, api berjumlah satu atau sepuluh, atau seratus. Namun kita juga tidak bisa dikatakan benda-benda tersebut sebagai satu (esa). Bahasa yang mewakili adalah benda jamak dan benda tunggal. Jika Tuhan dikatakan satu, berarti terjebak pada terminologi benda jamak. Saya kok merasa lebih sreg jika mengatakan (dalam bahasa kawi)  sebagai Hyang Widhi atau Maha Tunggal atau bahasa lain yg sepadan. Karena Tuhan itu, saya kira tak dapat dihitung. Jika dikatakan Maha Esa (satu) kiranya teramat sulit memahami deret hitungan yang KUANTITATIF dan SIMPLISTIS tersebut. Kenyataannya, memahami Tuhan yang tiada duanya,  jauh melebihi sulitnya menghitung udara sebagai benda tak dapat dihitung. Betapa hebat Tuhan itu. MOHON SAUDARA-SAUDARAKU seluruh pembaca yang budiman BERKENAN berbagi rasa di sini.

salam asih asah asuh

About these ads

About SABDå

gentleman, Indonesia Raya

Posted on Juli 5, 2009, in Tata Cara Melihat Tuhan and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 779 Komentar.

  1. Sesuatu yang berwujud itu wajib di lihat sedangkan Tuhan adalah Wajibul Wujud tentu saja lebih bisa lagi untuk dilhat.
    Untuk menyembah dengan benar tentu kita harus pernah melihat sosok yang disembah agar tidak salah sembah

    • hai..salam kenal buat Mas Sufi Muda. Sebuah pemahamn yang sangat menarik dari anda, Tuhan adalah Wajibul Wujud, tolong dong dijelaskan lagi yg lebih gamblang pada kami2 yg masih awam ini agar bisa lebih memahami dan sekalian beri contoh2 yg kongkrit dan yg mudah di fahami, agar kami yg masih awam ini tidak tersesat, makasih ya…
      god bless us all.

  2. penjelasan yg sangat menarik sekali dari blog mas alus hehehehe….sebenernya ada loh yg lebih cepat dari kecepatan cahaya yaitu kecepatan tepi jagad raya atau quasar yg dari big bang sampai sekarang jagad raya masih terus mengembang dan tepian jagad raya itu adalah quasar, jadi untuk hal ini rumus einstein tidak berlaku, ada juga sebuah penemuan yg dilakukan oleh ilmuwan rusia bahwa suatu partikel sub atom (lupa namanya) yg bisa melebihi kecepatan cahaya di dalam air, jadi syaratnya pake medium air, nah inilah misteri air, dengan air maka partikel subatom bisa bergerak melebihi kecepatan cahaya, tapi kecepatan cahaya didalam air juga (0,9X c, c adalah kec cahaya di ruang hampa). dari dlu sampai sekarang para ilmuwan juga belum tahu pasti akapah cahaya itu gelombang atau partikel

    mengenai dimensi ruang dan waktu dan hubungannya dengan dimensi keempat, sebenarnya dimensi kita +waktu itu dimensi ketiga mas, karena waktu pada dimensi ketiga ini berjalan linear atau segaris, sedangkan waktu pada dimensi keempat itu berjalan membidang, memang susah menjelaskan kalau tidak mengalami sendiri (saya cuman teori thok lho, prakteknya blom pernah ngalami :D),

    mengenai tuhan saya akan coba jawab sebisa saya……pada suatu ketika budi sedang menggambar gunung, sawah, rumah, Amir, udin dan pemandangan yg lain, di gambar tsb gambar Amir berkata pada gambar Udin, “Din kamu tahu tidak siapa pencipta kita?”, jawab Udin “Budi”, Amir berkata lagi “lalu dimana Budi berada?”, Udin malah bertanya “Mir, seharusnya kita yg bertanya dimanakah posisi kita thd Budi?”, Amir menimpali “harusnya Budi ada diantara gunung, sawah, rumah dan pemandangan di sekitar kita”, jawab Udin “kamu salah Mir, segala yg kita tunjuk adalah ciptaan Budi, bahkan kita ini cuma gambar, tidak mungkin pencipta kita sama2 gambar, tapi percayalah bahwa Budi lebih besar dari gambar kita dan pemandangan, budi juga sangat dekat dengan kita”

    itulah gambaran tentang pencarian kita thd tuhan, budi adalah simbol Tuhan, sedangkan gambar Amir, udin, rumah, sawah dan pemandangan lainnya menyimbolkan makhluk ciptaan Tuhan termasuk alam pikiran kita.

    Tuhan itu maha Esa sangat betul dalam arti satu tapi meliputi, bukan dalam arti satu itu sebuah urutan (satu, dua, tiga), jadi kalau kita menunjuk tuhan maka yg ditunjuk itu adakah makhluk, sama seperti gambar Udin menunjuk gambar gunung yg disangka tuhan padahal cuma gambar alias makhluk, maka dalam sholat atau ibadah yg benar adalah kita menjadikan tuhan subyek sesembahan kita bukannya obyek, karena bagaimanapun juga tuhan selalu menjadi subyek…sudah ah ntar kepanjangan… :D

    nuwun

  3. tan kena kinaya apa…….
    [tidak bisa/dapat dibahasakan, digambarkan, diperumpamakan seperti apa]…….

    ma ga ba thang nga…….
    [silahkan bahasakan/sebut, gambarkan, perumpamakan apa saja]…….

    Sesuai persepsi dan atau sudut-pandang masing-masing…….

    SANGAT PENUH RAHSA TOLERANSI……..
    TERHINDAR DARI SALING FITNAH DAN HUJAT…….

    Semoga Ungkapan-Leluhur ini, bisa kita jadikan PILAR-UTAMA(AJI SAKA)….. TATA CARA MELIHAT TUHAN…….

    Rahayu Karahayon semua Kadang Sutresna di Persada NKRI[NUSWANTARA KERTAGAMA RAHARJA INDONESIA]…….

  4. Kang Sabda Langit…Maturnuwun atas segenap ilmu yang panjenengan bagikan..

    Sejujurnya…saya sedang dalam tahap “krisis keyakinan”: Saya merindukan pengetahuan akan Tuhan…saya sejauh ini mendapatkan pengetahuan, bahwa Dia bisa diketahui melalui laku prihatin, melalui serangkaian pelatihan spiritual. Masalahnya, saya kok tiba-tiba kehilangan keyakinan akan laku spiritual yang sedang saya jalankan…jadi kapan saya bisa mengetahui-Nya? Hidup saya jadi seperti melayang tanpa pijakan…mohon saran..

    Setyo Hajar Dewantoro

    • Mas Setyo Hadi Dewantoro Yth
      Kita sebagai manusia sebenarnya tidaklah penting untuk bisa melihat Tuhan. Tuhan sebagai zat ? tentu bukan ! karena zat itu masih berupa benda yg diciptakan Tuhan. Tuhan sebagai apa ? Tuhan itu ya “tan kena kinaya ngapa, tan kena kinira”. Jadi dalam hidup ini ada yang lebih utama ketimbang melihat Tuhan, yakni LAKUTAMA, atau perilaku utama dalam kehidupan sehari-hari. Dengan cara membangun akhlak mulia atau budi pekerti luhur. Dengan berbekal budi pekerti luhur, ibaratnya kita menanam “pohon kebaikan” dan akan keluar “buahnya” bernama “buah kebaikan” pula. Amal kebaikan kita kepada sesama manusia, makhluk dan alam semesta akan menjadi “pagar gaib” sepanjang waktu, yg akan menyelamatkan kita dari SEGALA KEFAKIRAN (fakir harta, fakir hati, fakir ilmu, fakir kesehatan dst).

      rahayu karaharjan

    • Maaf ki Sabda, saya ingin sedikit menambah. Saya pernah memikirkan eksistensi Tuhan tanpa disertai bekal “ilmu” yg cukup, sampai pada puncak pemikiran yg saa tak sanggup lagi berpikir tentan Nya. Dan saya merasa sebentar lagi bisa menjadi atheis. Maka secepat itu pikiranku saya putus dan sdtelah itu saya tak mau mengusik-usik lagi eksistensi Nya. Cukuplah bagiku Allah tuhanku dan Islam agamaku. Begitu Ki, mungkin bisa jadi perenungan mas Hajar diatas. Salam sejahtera pembaca semua.

  5. Wah..wah..wah..kalau tentang ini sudah masuk pelajaran tingkat Universitas. Karena aku juga masih nyantrik, maka aku cuma bisa sedikit aja menambahkan.

    1. Apa yang dijelaskan oleh Ki Sabda Langit adalah benar.

    2. Dari pelajaran yang aku terima, Jagad Raya atau alam semesta ini hanyalah salah satu dari lapisan dimensi yang ada dari seluruh lapisan dimensi keberadaan (ciptaan). Jumlah seluruh lapisan dimensi keberadaan adalah 365 lapisan dimensi, termasuk di dalamnya adalah 7 lapisan dimensi yang disebut surga, dan 7 lapisan dimensi yang disebut neraka.

    3. Pengertian lapisan dimensi ini berbeda dengan pengertian 3 dimensi ruang (panjang, lebar, tinggi). Sedangkan dimensi waktu termasuk di dalamnya karena bergerak linier seperti dijelaskan m4stono.

    4. Tuhan berada di luar dimensi keberadaan, yang disebut Void.

    5. Seluruh Roh Mahluk bergerak mendekat dan kadang menjauh kepada Roh Sang Pencipta. Ini terkait dengan amal perbuatan setiap mahluk.

    Kesimpulan: Kita ini adalah sangat kecil di hadapan Tuhan. Seperti yang kita ketahui, Bumi ini hanya salah satu planet di Tata Surya, Tata Surya adalah bagian dari Galaksi Bima Sakti, Galaksi Bima Sakti adalah bagian dari Gugus Bintang Great Bear, Gugus Bintang Great Bear bagian dari ….
    Semuanya hanya ada pada satu lapisan dimensi. Sedangkan alam keberadaan ini ada 365 lapis dimensi.

    Mengenai ke-Esa-an Tuhan adalah betul hanya satu. Namun kesadaran-Nya meliputi seluruh Alam Keberadaan. Sehingga Dia mengetahui seluruh yang terjadi di Alam Keberadaan. Dia juga mengatur seluruh kejadian yang ada di Alam Keberadaan dalam suatu sistem yang kompleks dan tak terbayangkan.

    Demikian yang bisa aku tambahkan. Mohon koreksi kalau ada yang keliru, karena untuk hal ini aku juga masih nyantrik.

    Salam Kasih untuk Ki Sabda Langit dan semuanya yang ada di Pondok ini. Senyum dari hati untuk kalian semua. Semoga Allah selalu membimbing kita semua. Amien.

  6. seorang murid bertanya pada gurunya.

    m: bagaimanakah wujud Tuhan, guru?
    g : “Plak..” (guru menampar pipi muridnya)
    m : auw … knapa saya ditampar, guru!
    g : bagaimana rasanya
    m : tentu sakit… guru
    g : anda percaya bahwa sakit itu ada ?
    m : tentu guru. masih dirasa sakitnya, sampai nyut2an.
    g : tunjukkan pada saya wujud sakit itu!
    m : hmmmmmm ….. saya tidak bisa guru
    g : itulah jawabannya. kita bisa merasakan keberadaan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya.

  7. jumpa lagi mas sabdo,

    bukan main … makin lengkap sj referensinya :)

    rosulullah melihat allah ? …
    ada yang berpendapat rosulullah melihat dirinya sendiri ….

    “…. maka dengan allah mereka mengenal AKU” …

    sudah masuk pelajaran pusing nih …. :D

    • @bhayhu yth
      Sebuah analogi yg memudahkan kita memahami alam rasa. Terimakasih mas bhayhu.

      @Alam Rasa Yth
      Saya sangat tertarik dengan kalimat panjenengan berikut Mas :
      “….Seluruh Roh Mahluk bergerak mendekat dan kadang menjauh kepada Roh Sang Pencipta. Ini terkait dengan amal perbuatan setiap mahluk.
      Penjelasan yg sangat logik :
      Saya membayangkan Tuhan ibarat kumparan energi yang akan menyedot yang seirama, sejalan, sinergis, harmonis dengan haq Tuhan. Sebaliknya, kumparan energi akan melakukan penolakan energi terhadap segala sesuatu yg bersifat kontradiktif, kontraversi, atau pertentangan sifat.

      @masJK Yth
      Penjelasan masJk menyentuh makna esensial dan justru bisa menjadi nilai universalitas agama. Jika pemahaman umat seperti panjenengan, saya optimis justru membuat agama Islam mudah diterima masyarakat dunia. Duniapun akan lebih adem ayem karena umat berbicara pada level hakekat yang jauh dari kontaminasi polusi hawa nafsu negatif.

      salam asah asih asuh

    • @ Ki Sabda Yth
      Ya analoginya seperti itu Ki.

      Seperti kata Bhayu ini sudah masuk pelajaran pusing Ki. Kadang sulit dijelaskan kata-kata. Untuk memahaminya kita perlu berlatih rasa agar dapat mencapai kesadaran Roh (Pribadi Tinggi, Diri Sejati, Atman, atau Kesadaran Supra).

      Kesadaran Roh berbeda dengan Kesadaran Jiwa. Kesadaran Roh jauh lebih tinggi tingkatannya di atas Kesadaran Jiwa. Di atas kesadaran Roh masih ada lagi yang lebih tinggi (kesadaran kosmos dan …..). Tapi dengan berbekal kesadaran roh, perjalanan menuju pencerahan sempurna menjadi lebih lancar.

      Karena untuk pengetahuan tentang Roh ini aku juga masih nyantrik, maka aku belum berani menjelaskan panjang lebar. Takut Keliru.

      Salam Kasih untuk Ki Sabda Langit dan semuanya. Semoga Allah selalu berkenan membimbing kita semua. Amien.

      Karena aku juga masih nyantrik dalam hal ini, maka aku belum berani menjelaskan panjang lebar tentang Roh. Takut keliru.

  8. salam mas sabda

    saya setuju dengan tulisan itu, tuhan itu dekat dan berada dalam diri kita sendiri, dengan mengetahui dan memahami jagad alit ( mikro kosmos ) akan mampu membuka tabir jagad gedhe ( makro kosmos ). dengan mengerti diri kita sendiri maka kita pun akan mengenal tuhan.
    mas saya sekalian mau tanya, seharusnya pertanyaan ini di bab meditasi namun saya coba aja tanya di sini, kalo misalnya kita lagi tenang dan konsentrasi kalo kita melihat asap putih yang keluar dari tubuh kita,dan bahkan setiap tubuh manusia itu kelihatan mengeluarkan asap puti yang mengarah ke angkasa, kalo boleh tahu apa itu ya mas ? mohon penjelasannya.

    terima kasih, dan salam hormat

    • Mas Sulisman Yusuf Yth
      Dalam semedi biasanya akan terpiculah energi prana dari dalam tubuh. Energi (aura) prana bersifat positif, sementara itu di dalam tubuh kita juga terdapat energi (aura) negatif. Residu dari benturan energi tersebut biasanya berupa seperti kepulan uap air, kalau dicermati lagi warnanya agak kehitaman bening atau seperti gelombang fatamorgana. Kepulan yg keluar dari tubuh tersebut berupa residu (toksin dan oksidan/radikal bebas) yang dilepaskan dari dalam tubuh. Ada yang menyebutnya sebagai wujud zat nafsu. Dengan pelepasan zat residu tsb badan dikuras penyakitnya. Karena meditasi adalah olah raga dan olah jiwa, tentu saja membuat jiwa raga kita menjadi lebih sehat. Semoga bisa membantu pemahaman meditasi/semedi/maladihening.

      salam sejati

  9. Waktu itu waktu ceramah. Sang Guru berkata, “Kehebatan seorang komponis diketahui lewat nada-nada musiknya, tetapi menganalisis nada-nada saja tidak akan mengungkapkan kehebatannya. Keagungan penyair termuat dalam kata-katanya, namun mempelajari kata-katanya tidak akan mengungkapkan inspirasi. Tuhan mewahyukan diri-Nya dalam ciptaan, tetapi dengan meneliti ciptaan secermat apa pun kamu tidak akan menemukan Allah; demikian juga bila kamu ingin menemukan jiwa melalui pemeriksaan cermat terhadap tubuhmu.”

    Pada waktu tanya jawab, seseorang bertanya, “Kalau begitu, bagaimana kami akan menemukan Allah?”
    “Dengan melihat ciptaan, tapi bukan dengan menganalisisnya.”
    “Dan bagaimana seseorang harus melihat?”
    “Seorang petani keluar untuk melihat keindahan pada waktu matahari terbenam, tetapi yang ia saksikan hanyalah matahari, awan, langit, dan cakrawala – sampai ia memahami bahwa keindahan bukan ‘sesuatu,’ melainkan cara khusus melihat.
    Kamu akan sia-sia mencari Allah sampai kamu memahami bahwa Allah tidak bisa dilihat sebagai sesuatu. Yang diperlukan ialah cara khusus untuk melihat – mirip seperti cara seorang anak kecil yang pandangannya tidak diganggu oleh pelbagai ajaran dan keyakinan yang telah dibentuk sebelumnya.”

  10. 1 itu ya satu, 2 itu ya satu, 3 itu ya satu, 4 itu ya satu, 5 itu ya satu.
    Jika kesemuanya itu tidak satu, bisa2 para peserta olimpiade matematika mendapat nilai nol semua karena persepsi angka tidak sama dengan persepsi penguji:-)
    cmiiw

    salam hormat kagem sedaya

  11. tambah penjelasan lagi, thanks. BTW ketemu lagi-ketemu lagi sama Pak SufiMuda, kapan ketemu beneran ya ? Banyak yang mau tak tanyain nih ?

  12. weleh2x….. bener2x penghayal sejati…. mengapa tidak difilmkan saja film tuhan ini…… saya yakin 100% bahkan 200%…. hayalan setiap orang akan berbeda…. & hal itu PASTI BERBEDA

    bener2x sudah pada sesat & keputus-asaan dalam mencari Tuhan…. sampai2x membayangkan dengan otak manusia yang penuh dengan kelemahan dan keterbatasan….. bener2x sudah pada durhaka kepada Allah SWT.

    Ini nih kebanyakan melamun & menghayal sambil menerawang angan2x tanpa melakukan ibadah yang syar’i (tuntunan nabi Muhammad SAW)

    Sadar Mas… Sadar….
    1. kehidupan ini hanya sementara…. mari isi dengan Ibadah kepada ALLAH dengan melaksanakan Perintahnya dan menjauhkan apa yang dilarangnya sesuai dengan bimbingan Al Qur’an dan Hadist yang Shahih.
    2. Jangan habiskan waktu dengan melamun dan bengong…. karena setiap tingkah laku kita akan dimita pertanggung jawaban di akherat nanti.
    3. Belajar Agama dengan Bimbingan Ustadz atau Ulama yang terpercaya keilmuannya (berpegang teguh kepada Al Qur’an & Hadist)
    4. Ajari keluarga dengan Norma2x seperti kehidupan Rasulullah.
    5. Hidupkan Amal jariah yang akan menyelamatkan kita di Akherat nantinya.

    Semoga Bermanfa’at

    • @Rejo Yth
      Melihat asma panjenengan bilih mboten klentu temtu tiyang Jawi. Bilih ningali kalimat-kalimat dan “punishment” panjenengan kepada saudara-saudaa semua di sini, temtu panjenengan memegang “tradisi guru ngaji yg khos”.
      Saya berharap anda berkenan membeberkan ilmu di media ini agar bermanfaat untuk sodara-sodara sebangsa setanah air di sini. Tentu saja teman2 di sini (khusus bagi yg Muslim) sudah pernah dan mengerti kaidah yg anda paparkan no 1 s/d 5 di atas. Jujur saja poin-poin di atas sudah diajarkan sejak SD dan merupakan pengenalan pertama akan Islam bagi anak-anak dan remaja. Namun pengetahuan seseorang itu bersifat dinamis, berkembang linier setiap waktu hari demi hari, tidak stagnan atau mandeg pada pengetahuan yg itu itu saja. Dalam tradisi Islam sendiri masih banyak tataran ilmu lainnya yg lebih tinggi misalnya ranah TASAWUF, di mana berkecimpungnya orang-orang ZUHUD dan kaum SUFIsme yang bergelut dengan wahana SAJJARATUL MAKRIFAT untuk melihat wahdatul wujud. Sampai di situ, anda masuk kategori orang yg WUSHUL.
      Maka dari itu komentar Mas Sufi Muda jauh lebih mendalam sebagai orang yg sudah menyelesaikan tataran syariat, tarekat, lantas masuk ke dalam “ruang” hakekat yg universe dan tidak berbau “kulit” lagi.
      Rasul sendiri menganjurkan “tuntutlah ilmu sampai negeri China. Karena tidak bisa ditutup-tutupi lagi, bahwa Tuhan menggelar ilmu di seantero jagad raya tanpa pilih kasih hanya kepada bangsa ARAB saja, kita bisa lihat masyarakat Yunani sejak 500 tahun Sebelum Masehi di saat mana kitab-kitab suci belum ada, dan sistem kepercayaan masyarakat di seantero bumi saat itu belum ada yg dilembagakan menjadi agama. Namun masy Yunani sudah mengenal keEsaan Tuhan, mengenal orbit matahari, bahkan mengenal bumi itu bundar. Lihat pula peradaban Cina sejak 10.000 tahun SM. Bahkan sebagai masy nusantara tentu saya bangga karena leluhur manusia nusantara yakni pitechantropus sebagai derivasi palaeo Javanicus (salah satu dari 5 ras terbesar di dunia) telah sukses menyusun ilmu astrologi dan sistem kalender sejak 15.000 tahun Sebelum Masehi. Apakah para leluhur kita itu SESAT, TIDAK SADAR, dan MENGHAYAL ?? sehingga mereka pada masuk neraka gara-gara tidak memenuhi 5 kaidah yg panjenengan tulis di atas ?
      Mari kita renungkan dengan hati bersih, pikiran netral, dan batin yg bening. Kebenaran sejati bagaikan cermin yg pecah berantakan, masing-masing agama, ajaran, budaya, ilmu pengetahuan, tradisi memungut satu di antara pecahan itu.
      Monggo mas dilanjut. O ya matur nuwun lho mas, apa yg anda paparkan tetap bermanfaat untuk saya pribadi yg cethek akal ini.

      salam sih katresnan
      Jayalah NKRI

    • Duuh mas rejo
      ssst…
      mendel kemawon
      ingat ‘qul hasanan au sakatan’
      dan hendaklah engkau diem jika tidak mengerti ilmunya…kata Quran
      ayo sampiyan ngaji dulu Hikam Ibn Athoillah, ihya ulumuddin atau bidaatul mujtahid, atau mau kitab2nya Asy’ary, atau mau Fiqh Muqorrin pa malah ushul fiqh dulu macam kitab Waroqot.
      Majlis niki mboten kados ingkang njenengan kiro.
      Saake..

    • @ Rejo

      إن الله لا ينظر إلى صوركم بل إلى قلوبكم

  13. Wolo Wolo Kuwato

    Sejak kecil, begitu akrab di telinga kita yang menyebut bahwa Allah itu gaib. Bahkan sering orang menegaskan; “terserah yang gaib-lah!”, dan sebagainya. Konotasi gaib karena Allah tidak bisa dilihat secara kasat mata oleh kita dan kelak kegaiban Allah sejajar dengan kegaiban hal-hal gaib lain.

    Padahal, tidak satu pun asma dan Asmaul Husna (nama-nama agung Allah) yang menyebut bahwa Allah itu gaib, tahu bersifat gaib, atau punya nama al Gaibu di Asmaul Husna. Tidak ada.

    Kegaiban Allah itu muncul hanya karena kegelapan kosmos spiritual kita saja yang membuat diri kita terhalang melihat Allah Yang Maha Nyata, Maha Jelas, Maha Dzohir, Maha Batin, Maha Terang Benderang, dan pemilik segala maha.

    Sesungguhnya, tak satu pun di jagad semesta ini yang bisa menutupi Allah. Kita mengatakan Allah itu gaib hanya karena menutup diri sendiri saja sehingga tidak bisa melihat Allah. Oleh karenanya Ibnu Athaillah as Sakandary dalam kitab Al-Hikam menegaskan: Bagaimana bisa terbayang ada sesuatu yang menutupi Allah, padahal Dia tampak pada segala sesuatu. Bagaimana bisa dibayangkan sesuatu menutupi Allah, sedangkan Allah tampak di setiap sesuatu. Bagaimana bisa dibayangkan sesuatu bisa menutupi Allah, padahal Allah itulah yang hadir untuk segala sesuatu. Bagaimana dapat dibayangkan jika sesuatu itu menutup Allah, sedang Allah sudah ada sebelum segala sesuatunya ada.

    Bagaimana segala sesuatu menutup Allah, sedangkan Allah itu lebih jelas ketimbang segalanya. Dia adalah Yang Maha Esa. Tak ada yang menandingi dan menyamai-Nya. Dia lebih dekat dari urat nadi Anda sekali pun.

    Wacana di atas mempertegas betapa Allah itu tidak gaib. Yang gaib justru hawa nafsu kita ini. Manakala kita tidak bisa melihat Allah di balik jagad semesta ini, berarti mata hati kita sedang dikaburkan untuk melihat nurullah (cahaya Allah). Sebab itu, kita harus melihat Allah di mana-mana, kapan saja tiada batas waktu terhingga.

    Nurullah adalah awal dari muroqobah kita dan muraqobah adalah awal dan musyahadah (penyaksian Allah dalam jiwa), dan kelak baru mengenal Allah dalam arti yang sesungguhnya. Inilah ma’rifatullah.

    diambil dari http://www.gagakmas.org/qolbu/?postid=218

  14. Yth.Ki Sabdalangit.
    Waah……..jelas ,luwes,pemahaman yg dalam Hakekat Allah SWTdan dasar2 pengetahuan dan pengkajian Islam secara Kafah (menyeluruh) begitulah pandangan orang2 yg bijak atau kaum Arifbillah(Marifatullah)
    yg memilikipandangan dan pengetahuan dari Alif sampai Ya . dan Begitu Juga Islam yg berdasarkan Al Qur;an dan Hadist memiliki makna dan pengetahuan yg sangat luas. Dianjurkan bagi setiap muslim untuk masuk kedalam islam secara kaffah/menyeluruh ,jangan sepotong-potong….hehe.kuatir….hee …hee jadi roti… hee sepotong.

    Lanjut ki …. intinya bahwa manusia diharapkan dapat merasakan kehadiran,Kebersamaan, cinta kasih, kedamaian, kebahagian dan kadang kalanya sedikit sedih/duka…hee…hee kalaubisa duka jangan …dapat selalu bersama ALLAH SWT, kapan dimanapun berada tanpa ruang dan waktu dan tentunya hal ini menjadi manusia yg memiliki tingkat kesadaran yg tinggi(RASASEJATI) dalam kehidupan sehari-hari sebagai makluk ciptaannya.Amiin….. Lanjut ki Salam Rahayu, kasih dan Sejati.

  15. melihat tuhan? kok aneh yah dengernya… Kalau melihat secara lahir seperti 2 orang yang saling melihat, itu jelas ga mungkin lah…. tapi kalau melihat ciptaannya, itu baru bisa. Benar seperti yang dikatakan mas bhayhu. yang jelas kita harus yakin kalau Allah itu ada… Qulhu Allahu ahad… Katakanlah Allah itu satu… masalah itu bisa dihitung atau ga… yang pasti di qur’an sudah dijelaskan… QULHU ALLAHU AHAD….

  16. salam kenal…

    sebenarnya tulisan dan analisisnya cukup menarik. Menarik karena sesuatu yang tidak umum dan tidak semua orang tahu. Semua tulisan panjenengan di blog ini luar biasa…di luar kebiasaan.

    Apalagi..ttg ruh leluhur yang sempat menjadikan saya mengernyitkan dahi…mgk karena kebingungan.

    misalkan saja kesimpulan panjenengan ttg ruh leluhur, bahwasanya leluhur semua dalam keadaan baik, baik mereka muslim, hindu dsb. menjadikan kesimpulan tersirat bahwasanya semua agama sama baiknya sepanjang menjadikan manusia mjd baik. demikian.

    Dalam konsep islam, yang saya pahami, bukankah alam ruh juga bukan alam akhir yang membuktikan ruh itu manjadi ahlul jannah atau ahlun naar. bukankah alam ruh adalah alam setelah selesainya kehidupan di bumi yang merupakan “tempat pengujian manusia” yang Alloh sang Pencipta membuat aturan/hukum larangan dan kewajiban.
    Sehingga, yang saya maksudkan….bahwa tidak tepat juga bila keadaan ruh menggambarkan keadaan mereka pada hari kiamat/pembalasan kelak (bukankah kita dan mereka yang ruh juga menunggu hari itu?), masih ada proses yaumil qiyamah, hari pembalasan dan perhitungan dg berbagai proses yang harus dilalui untuk menuju kehidupan kekal.
    SURGA atau NERAKA. Ini yang saya pahami sebagai seorang muslim.

    ruh telah selesai menjalani masa pengujiannya di bumi…mereka menunggu yaumil qiyamah dengan tanpa bisa beribadah kepada Alloh sbg bekal amalan.
    sedangkan manusia, menunggu dan masih bisa berusaha beribadah sesuai dg agama “sbg kunci” yg diyakininya.

    silahkan dikoreksi agar saya tidak bingung…

    Di dalam konsep islam juga dikenal ada 3 siksa thd manusia, siksa di dunia (yg dimaksud bbrp siksaan oleh malaikat kpd manusia tertentu sblm sakratul maut), siksa kubur, dan siksa di neraka. saya sendiri sbg muslim harus mempercayai ini krn hadits yg menjelaskan hal ini banyak. walaupun saya tidak tahu apa perbedaan ke-3 macam siksa ini. wallohua’lam.

    Saya pribadi senang dg referensi atau analisis hal-hal ghoib spt ini. Tetapi saya tidak tertarik/belum tertarik mgk untuk mencoba mendalami hal-hal spt ini.
    Setiap kali saya ingin mendalami, selalu saya mundur dengan mengingatkan bahwa apa yang dicari ini hanya merupakan pencarian dan pembuktian ttg ilmu dan kemaha besaran Alloh. Seharusnyalah pencarian dan pembuktian ini menjadikan sebuah pelajaran agar kita lbh tunduk kepada Pencipta. Nah…dalam ketundukan dan penghambaan ini..akhirnya saya meyakini bahwa “kunci dan kode” amalan syariat-lah yang harus dilakukan selama hidup di bumi. Ibadah dengan tuntunan syariat-lah yang merupakan jalan dan pembuktian ketundukan kita kepada Alloh. Dan inilah yang dilakukan dan diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Sehingga, setinggi apapun tingkat pemahaman kita; tarekat, ma’rifat dsb, tetaplah harus kembali kpd “kode/rumus” yang dituntut yaitu ibadah secara syariat, badaniah. Wallohua’lam.

    Sehingga, cukuplah bagiku ibadah syariat dg sebenar2nya, dg mempelajri tatacara ibadah yg benar dari sumber yg benar. intinya tataran ibadah syariat ini tidak bisa dilepaskan bgt saja. Banyak referensi yang menjelaskan ttg keutamaan ibadah syariat ini.

    Mohon koreksianya bagi para sesepuh…
    Wassalamu’alaikum warohmatulloh.

    • @Bdlzz Yth
      Silahkan anda menumpahkan keluh kesah dan menumpahkan segala perasaan yg selama ini menjadi perenungan diri. KArena tulisan anda pun bermanfaat untuk saudara-saudara yg lainnya. Perlu saya garis bawahi, bahwa apa yg anda tulis di atas mungkin masih berupa “pengetahuan” teksbook. Sementara apa yg saya tulis di sini, merupakan sebuah pengalaman dan bukan teksbook. Secara kasar diistilahkan anda berbicara pada tataran teoretis, sementara tulisan di sini pada tataran implementatif-eksperience.
      Perlu ditegaskan pula, bahwa banyak terdapat ayat atau keterangan yg bersifat KIASAN, sementara anda memahaminya sebagai MAKNA LUGAS. Sehinga terjadi ketimpangan akar pemahaman yg menimbulkan kebingungan2.

      Anda memahami syariat sebatas rukun Islam yg 5. Sementara sariat bagi saya tdk sebatas itu, namun mencakup semua tindakan habluminannas kepada sesama makhluk dan alam semesta.
      Anda mungkin melaksanakan puasa sebagai tujuan mendapatkan pahala ?. Sementara saya melaksanakan puasa sebagai sarana melatih diri mengendalikan nafsu. Dan Nafsu harus dikendalikan sepanjang manusia hidup, tidak hanya di bulan suci saja, melainkan setiap detik, setiap menit, setiap jam dan hari, setiap bulan dan selama 12 bulan dalam setahun.

      Anda memahami bahwa Di dalam konsep islam juga dikenal ada 3 siksa thd manusia, siksa di dunia (yg dimaksud bbrp siksaan oleh malaikat kpd manusia tertentu sblm sakratul maut), siksa kubur, dan siksa di neraka.
      Sementara saya memahami siksa di manapun dimensinya (bumi, kubur, setelah ajal), itulah sebenarnya neraka.

      Konsep ttg ruh yg anda pahami memang menunjukkan kebingungan yg anda alami. Baiklah, sebelum beranjak ke diskusi pemahaman ttg ruh, sebaiknya anda memahami konsep yg lebih sederhana dulu :

      Misalnya anda memahami SETAN, mungkin dengan membayangkan “makhluk halus” sangat jahat yg bergentayangan, lalu masuk lewat pori-pori mengikuti darah manusia, tujuannya menggoda iman. Pertanyaannya adalah, selama bulan suci, apakah Tuhan membelenggu setan ? Kenapa masih ada berbagai bentuk kejahatan selama bulan suci tsb ?

      silahkan anda membuka-buka tulisan di sini lebih banyak lagi, semoga dapat menemukan apa yg anda cari. Asalkan menelaah dengan hati yg bersih, pikiran netral, batin yg bening, anda akan menyaksikan betapa Tuhan lebih dari Maha Luas Tak terbatas. Tentunya anda akan lebih takjub dan lebih tunduk kepada Tuhan Yg ternyata lebih dari Mahakuasa dan Mahabesar. Ketika anda bisa menyaksikan sendiri (haqqul yakin) apa yg terjadi di alam gaib tanpa harus menemui kematian terlebih dulu, di situlah ketenteraman dan ketenangan yg sungguh-sungguh akan anda rasakan.

      salam sejati

  17. Assalamu’alaikum wr.wb.

    Salam Kasih untuk saudaraku Sabda Langit dan semua yang ada di Pondok ini.

    Aku tidak tahu di bagian mana tulisan ini harus aku masukan, karena di Blog ini tidak adan bagian Doa, seperti di Blog-nya Pengembara Jiwa. Jadi aku masukan di sini saja. Semoga Ki Sabda tidak keberatan.

    Aku ingin mengajak kepada seluruh saudaraku yang ada Pondok ini, untuk dapat berbagi kasih dan turut mendoakan atas kepergian bintang musik legendaris “MICHAEL JACKSON”.

    Sebagaimana kita ketahui, Alm. MICHAEL JACKSON semasa hidupnya telah banyak berjasa dan menjadi inspirasi bagi pemusik-pemusik di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Disamping itu, almarhum juga telah banyak menyumbangkan waktunya untuk kegiatan amal kemanusiaan, dan menyerukan perdamaian kepada dunia. Seperti dalam lagunya “WE ARE THE WORLD” dan “HEAL THE WORLD”.

    Sejujurnya, aku juga merupakan salah seorang fans dari beliau. Lagu-lagu yang bertemakan perdamaian dan cinta kasih dari almarhum, juga menjadi salah satu inspirasi yang mewarnai perjalanan spiritualku. Oleh karena itu, terlepas dari semua kekurangannya, aku merasa turut berduka sedalam-dalamnya atas meninggalnya sang bintang legendaris “MICHAEL JACKSON”. Semoga jiwanya mendapat tempat yang layak di sisi-Nya.

    Ya Allah, ampunilah saudaraku MICHAEL JACKSON, sayangilah dia, maafkanlah dia, sehatkanlah dia, muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah kuburannya, mandikanlah dia dengan air es dan air embun, bersihkanlah dari segala kesalahan sebagaimana kain putih bersih dari kotoran, gantikanlah untuknya tempat tinggal yang lebih baik dari tempat tinggalnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya, pasangan yang lebih baik dari pasangannya dan peliharalah dia dari siksa kubur dan siksa neraka.

    Ya Allah, berkatilah saudaraku MICHAEL JACKSON dengan Cahaya Kasih-Mu.
    Ya Allah, berkatilah dia agar sadar bahwa hanya Engkaulah sumber dari Kasih dan Kebahagiaan Sejati yang abadi, biarlah agar hatinya terbuka dan terhubung kepada-Mu dan diterangi oleh Cahaya Kasih-Mu.

    Amien.

  18. Terimakasih kepada Mas Alamrasa yg budiman sudah berkenan menuangkan doa utk org2 yg sangat berjasa kepada dunia melalui media ini. Di abad 19-20 ditengah memuncaknya perusakan bumi & penghancuran dunia, ternyata masih banyak org2 yg menjadi sumber inspirasi, bahkan sangat berarti bagi keselamatan & kedamaian planet bumi dari kerusakan akibat ulah nafsu manusia. Sebut saja beliau tokoh besar dunia : John Lennon, Jacko, Bung Karno-Hatta, Mahatmagandi, Nelson Mandella, Aung San Sukyi dll. Begitulah orang-orang menghayati “hamemayu hayuning bawana” dalam kehidupan sehari-hari. Hidupnya selalu diisi sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain, TIDAK LAGI SIBUK menyalahkan org lain, menyesatkan cara pandang yg berbeda, dan mengkafirkan umat agama lain. Mereka yang menyuarakan getaran rasa keindahan alam, dalam bahasa yg universal. Menyuarakan nilai yang universal, melampaui perbedaan segala macam agama. Yakni kasih sayang kepada sesama manusia, kasih sayang kepada alam semesta, dan kepada bumi seisinya. Saya salut dengan cara pandang beliau-beliau dalam memahami rabbul alamin, hamemayu hayuning bawana pangruwating diyu. Pantas saja ada sindiran sarkastik, …Timur Tengah yg berteori, Barat yang mempraktekkan. :)

    Rahayu

  19. Di negara-negara maju, ilmu-ilmu terus dikembangkan di laboratorium-laboraturium, teknologi diperbaharui. Para ilmuwan sibuk mencari ide-ide baru yang lebih segar dan menulis secara aktif. Working smart, cara kerjanya efektif, jitu dan efisien. Mereka menjadi subyek pelaku.

    Di negara-negara dunia ketiga, ilmu cuma diajarkan dan teknologi dipasarkan serta dijadikan ajang pamer. Jalanan sesak dengan mobil-mobil baru. Manusia kebingungan mencari citra diri karena serbuan barang-barang konsumtif. Orang-orang hanya membaca dan menonton televisi, serta hanya mendengarkan. Mereka menjadi obyek penderita.

    Ajaran hidup yang hanya dibaca tidak akan menghasilkan kearifan hidup. Ajaran hidup harus dijalani dalam perilaku sehari-hari serta penghayatan hidup berketuhanan yang membawa konsekuensi dalam Laku yang Banter Seser.. seperti gangsing yang sangat cepat sehingga seolah tidak bergerak yang punjernya satu titik.

    Salam alus

  20. Yth. Ki Sabda,
    Ulasan Ki Wong Alus yg singkat benar2 menampar kesadaran saya.
    Selama ini saya biasa jadi obyek penderita, akibatnya saya terseret dlm pusaran dasyat arus dunia, pusing, menderita, sengsara dan lemah rasanya.

    Dgn kesadaran yg tersisa saya berharap jika saya mencapai sumber titik pusaran, saya bisa menemukan kekuatan baru shg bisa terpental kembali ke dunia yg baru dan saya ingin berteriak : ‘S.O.S….. HELP…HELP… I NEED YOUR AIDS’.

    Salam

  21. Salam Sejati, Kadhang Sedoyo …

    Ulasan yang menarik dari Saudaraku, mas Sabda …

    Saya tertarik dengan opini njenengan :
    ”….Pertanyaan selanjutnya, apakah TEPAT, dikatakan Tuhan Maha ESA ? Jika jawabannya ya, berarti Tuhan itu sesuatu yang COUNT-ABLE (dapat dihitung). Jika jawabnya ya juga, berarti Tuhan itu sangat terbatas, dengan demikian mengingkari dalil Tuhan Mahaluas tak terbatas. Saya mengharapkan bantuan para pembaca yang budiman untuk memberikan pencerahan atas mind set tersebut….”

    Sama halnya ketika kita memindahkan fokus diskusi dari dzat Tuhan, dipersempit menjadi zat cair. Dzat Tuhan mirip dengan cahaya tetapi bukan cahaya seperti yang kita lihat karena referensi otak kita untuk memasukkan cahaya kedalam kelas-kelas/kategori tertentu sangatlah terbatas.
    Zat cari banyak turunannya, bisa H2O, benzene, alcohol, H2SO*. Apakah kita akan menghitung zat cair ini dengan hitungan ?

    Tentu tidak ….

    Kita tidak akan mampu menghitung jumlah molekul air dalam samudra manakala kita tenggelam di dalam samudra tersebut. Dan pada kondisi seperti ini, kita nyatakan bahwa Samudra Maha Luas karena akal kita yang terbatas. Kita akan menyatakan bahwa molekul air meliputi kita hingga masuk kedalam paru-paru kita. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ’AIR LAUT’ meliputi kita, baik didalam jasad maupun diluar jasad. Seperti halnya dengan dzat Tuhan yang meliputi alam semesta. Dzat maupun sifat Tuhan merasuk kedalam setiap ciptaan-NYA.
    ‘Penghitungan’ adalah proses yang dilakukan akal, sedangkan akal adalah sisa terakhir dari sifat kemanusiaan yang kita miliki. Kita adalah fakir yang tidak memiliki apa-apa, jika kita sudah membersihkan segala kepemilikan dari jiwa. Kita tidak akan mengikuti seseorang atau apapun dan tidak pula mengikuti akal karena tidak ada daya dan upaya dari kita untuk mengikuti sesuatu kecuali pasrah dan mengikuti daya serta kekuatan-NYA.

    Kanjeng Guru menyampaikan : “Tanggalkanlah akal, karena akal akan membelenggu jiwa dan kita tidak akan mengenal wajah-NYA. Kenalilah Wajah-NYA yang ada didalam maupun didalam dirimu.”

    Mudah-mudahan sumbangan kecil ini dapat menjadi perekat cermin yang pecah, yang terhampar di alam semesta ini …. Amin.

    Surodiro Joyodiningrat
    Lebur Dening Pangastuti

    Salam Sejati
    Sujiatmoko

  22. Salam…

    Terima kasih atas nasihat mas sabdo langit dan para sahabat…..memang pada akhirnya yang paling penting adalah menjalankan laku prihatin/latihan spiritual….

    Mohon doa…bisa dikatakan, bahwa dalam hal perjalanan spiritual, saya tengah dalam posisi terjatuh, dan saat ini saya coba sedang mendaki lagi. terasa demikian berat…tapi, mau tak mau saya harus bangkit kembali.

    • Salam Sejati, mas Setyo….
      Semoga ruh sejati njenengan selalu memberikan energi baru untuk mendaki puncak ma’rifat. Jangan menyerah, mas …
      jagad cilik akan selalu njenengan kuasai …

      Surodiro joyodiningrat
      Lebur dening pangastuti

      Salam Sejati
      Sujiatmoko

  23. Nyuwun sewu, mau ikutan sharing ide dan pengalaman.

    Cerita mengenai ikan.

    Syahdan disuatu negeri ikan, ada seekor ikan kecil yang penasaran ingin bertemu dengan Sang Air. Tiap hari dia berenang berkeliling kesana kemari mencari dimana Sang Air berada. Dia bersemangat, bertanya kesana kemari dimanakah air itu berada……Suatu saat bertemulah dia dengan se ekor ikan Tua yang bijaksana. “Anakku,…sampai kapan engkau akan mencari Sang Air?..Dia jauh tidak berantara, dekat tidak bersentuhan. Engkau diliputi Nya dan Dia meliputi mu….Kalau engkau ingin bertemu dengannya. Tenangkan dirimu, rasakan Dia ada didalam mu dan diluarmu…….Maka engkau akan menemukan Dia…..

    Wa fii an fusiikum afala tubshiruun ” Dan didalam dirimu apakah engkau tidak melihat”
    Wa nahnu aqrabuu ilaihi min habli wariid ” Dan Kami lebih dekat daripada urat leher kamu”….

    Al Quran awalnya adalah khasanah ghaib/perbendaharaan tersembunyi yang ada di SisiNya. Ketika Sang Utusan menerimanya, maka dia tergetar, tergoncang.. Ketika suatu pemahan ruhani/fawaid memancar dalam perasaan, maka ketika diverbalkan akan mengalami suatu simplifikasi dalam suatu metafora yang akan menimbulkan bermacam makna. Inilah yang akhirnya menimbulkan tafsir batin dan tafsir lahir….
    Yang ini melahirkan mutiara para kekasih tuhan, sehingga tidak pernah terbayang oleh pikiran, terbayang oleh mata….

    Jadi saya setuju, karena marga, dharma, thariqat,laku adalah artinya sama jalan, maka agar bertemu tujuan dia harus digerakkan dengan memperbanyak beramal atau bermujahadah/tirakat….

    Podho nggulangen ing qolbu, ing sasmita amrih lantip, cegah dahar kelawan guling…

    “Ngelmu iku saranane nganti laku”

    “…Wab taghu ilaihil wasiilata, wal jaahidu…..”
    Carilah metode,cara, nek wis ketemu terus berjihadlah, lakon nono sing temen…”

    “Topo ing sak tengahe projo, ning atine til kumantil ketut marang sliliring qudratullah”

    hakekat satria piningit,..”Orang yang selalu berusaha mengkhalwatkan/memingit hatinya untuk selalu terconnect dengan frekwensi Allah SWT”….jadilah dia rahmatan lil alamiin. Karena dia selalu membawa rahmat, the rahmat carrier….

    Seperti ketika bertemu orang tercinta, sebelum bertemu kita berandai, berlatih kata2,…menulis puisi dsb. Namun ketika bertemu yang ada hanya diam,…hati yang bicara, tidak bisa berkata2 dan menggambarkan apa-apa, yang ada hanya rindu….
    Bertemu guru sejati yang merupakan pancaran cahaya tuhan dimuka bumi kita hanya bisa diam, menangis, bahagia tidak tergambarkan,…Apalagi kita Bertemu atau bermimpi Nabi muhammad kita bisa menangis, diam dan tidak berkata apa-apa….
    Apalagi Kalau bertemu Allah? ….

    jemputan dari :

    Mbah kyai SS Kadirun Yahya MA
    Mbah kyai imam munawaar affandi Nganjuk

    Bibarokatil al fatihah…..

  24. numpang nimbrung mas.

    utk melihat TUHAN atau minim MERASAKANNYA kita harus menemukan sisi manusia kita terlebih dahulu. yg saya temukan dari Quran Surat yg pertama diturunkan point yang jadi patokanyaitu :

    1. Judulnya Al Alaq artinya Segumpal darah
    2. ayat pertama Iqro’ artinya Bacalah
    3. ayat kedua Iqro…….dst artinya bacalah dengan nama tuhanmu…..dst

    Ada apa dengan SEGUMPAL DARAH ? APA HUBUNGANNYA DG PERINTAH BACALAH ? APA HUBUNGANNYA MEMBACA DENGAN NAM TUHAN ?

    MUDAH – MUDAHAN REKAN REKAN DAPAT MENEMUKAN HIKMAH TERSIRAT DARI YG TERSIRAT PADA SURAT YG PERTAMA TSB, SEGALA SESUATU YANG AWAL DAN PERTAMA ADALAH HAL YANG PALING MENDASAR YANG SERING KITA LUPAKAN. SEMOGA KITA SEMUA JADI ORG YG BERUNTUNG.

  25. Saya sungguh2 senang dengan tulisan seluruh sahabat di blog ini. Sangat mencerahkan. Matur nuwun.

  26. pada ngomong ngalor ngidul, BTW ilmiyah gak ya..? Kalo ilmiyah dasar kitabnya apa gitu? apa wahyunya sabdo pelon atawa darmo gandul?

  27. Bismillahirrohmanirrohim
    ( dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang )
    SUBHANALLAH !!!
    ( Maha suci Allah )
    Ketika seseorang ingin berbicara dengan keberadaan Allah subhanahuwata ala hendaknya Ia kembali kepada dasar Firmannya.
    ………………………………………………………………………………………..
    # bau tanah *
    utk melihat TUHAN atau minim MERASAKANNYA kita harus menemukan sisi manusia kita terlebih dahulu. yg saya temukan dari Quran Surat yg pertama diturunkan point yang jadi patokanyaitu :

    1. Judulnya Al Alaq artinya Segumpal darah
    2. ayat pertama Iqro’ artinya Bacalah
    3. ayat kedua Iqro…….dst artinya bacalah dengan nama tuhanmu…..dst

    Ada apa dengan SEGUMPAL DARAH ? APA HUBUNGANNYA DG PERINTAH BACALAH ? APA HUBUNGANNYA MEMBACA DENGAN NAM TUHAN ?

    MUDAH – MUDAHAN REKAN REKAN DAPAT MENEMUKAN HIKMAH TERSIRAT DARI YG TERSIRAT PADA SURAT YG PERTAMA TSB, SEGALA SESUATU YANG AWAL DAN PERTAMA ADALAH HAL YANG PALING MENDASAR YANG SERING KITA LUPAKAN. SEMOGA KITA SEMUA JADI ORG YG BERUNTUNG.
    …………………………………………………………………………………………..

    apa yang diuraikan sabdolangit adalah uraian dari membaca alam…dengan membaca alam maka kita akan merasakan kebesaranNya ( Allahu Akbar, ( ingat tata cara sholat yang selalu diantarai dengan Allahuakbar ) berdiri,rukuk,sujud,duduk diantara dua sujud dst…

    laisakamislihisaiun
    Allah tidak menyerupai mahluk
    mari sama sama kita resapi TATA CARA SHOLAT tersebut sampai kita mendapatkan sebuah titik yang berakhir dengan tanpa batas ruang dan waktu sehingga titik itupun tidak kita temukan lagi.

    Kapankah kita temukan itu disaat kita pejamkan mata hingga titik fana ( laisakamislihisaiun ) dan yang dapat merasakan tersebut adalah SEGUMPAL DARAH

    MAHA SUCI ALLAH YANG TIDAK MENYERUPAI MAHLUK
    Saudaraku siapapun orangnya, agama apapun yang dia anut PASTI merasakan MATI( Setiap mahluk yang bernyawa akan merasakan MATI )

    disaat dia MATI
    dia tidak bisa melihat
    dia tidak bisa mendengar
    dia tidak bisa berkata kata
    dia tidak bernafas
    dia tidak bergerak
    KESEMUANYA AKAN KEMBALI KEPADA YANG MEMILIKINYA

    Saudaraku, aku, dan AKU pabila disadari yang sedalam dalamnya maka kita tidak akan pernah terbersit melukai dan terselamat dari peradaban saling membodohi
    saling caci
    saling maki
    yang timbul hanya :

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    SUBHANALLAH…

    Moga allah membimbing kita untuk mengenalinya dan selalu merasakan kasih sayangNya
    Amiin

  28. Salam Mas Sabdo,

    Topik bahasan yang berat ya mas. Membahas ilusi dan imajinasi.
    Saya jadi inget waktu ditanya oleh teman tentang gimana rasanya gudeg ceker Jogja? Bisanya menjawab hanya “wis… pokoke enak lah… coba saja… apalagi kalau ditemenin sama mas Sabdo, rasanya jadi lain…”

    Tadi saya sempat berpikir dalam hati, “Gajah Mada itu dulu agamanya apa ya? Kata orang kalau bukan Islam berarti kafir. Lha koq nama Gajah Mada dan Palapa dipakai secara nasional ya? Berarti ada yang kontradiksi di sini. Berarti….

    Akhirnya pikiran tadi saya hilangkan setelah membaca komen yang berisi “Tanggalkanlah akal, karena akal akan membelenggu jiwa dst…”. Begitu saya tanggalkan malah saya ngga pingin ngapa-ngapain… maunya tidur melulu… ngga pingin ibadah… ngga pingin kerja… akhirnya akal saya pakai lagi. Ternyata ngga enak jadi orang yang punya akal tapi ngga mau memakai akalnya hanya karena perintah illahi.

    Sempat juga baca komen Mas Sabdo tentang setan yang dibelenggu waktu bulan Ramadhan tetapi kejahatan masih terus berlangsung. Kayanya yang mengganggu itu setan dari jenis The Master mas, ngga mempan dibelenggu, hehehe…
    Saya pernah baca ayat/hadist yang menyebutkan bahwa setan itu masuk dalam aliran darah. Grambyangan saya kemudian menjadi begini: Pada waktu janin mulai tumbuh, ruh masih belum masuk dan yang ada adalah aliran darah. Berarti setan lebih dulu nempel pada manusia sebelum ruh masuk. Benarkah demikian?

    Wis embuh lah mas, spiritual kalau sudah dibahas lintas agama dan salah satu pihak mengkotakkan diri pada batasan agama salah-salah malah menjurus kearah debat imaginatif. Ngga banyak yang bener (atau yang salah?) karena sebagian besar cuma bermain dalam lingkup definitif dan kira-kira saja. Kecuali mas Sabdo (dan teman-teman lain yang mendapatkan pencerahan) yang sudah sampai pada tataran implementatif-eksperience. Menurut saya, pada tataran ini agama akhirnya hanya menjadi petunjuk untuk pencapaian pencerahan. Definisi penciptaan berubah dari kun-fayakun menjadi hukum sebab-akibat ilahi. Definisi kebenaranpun juga berubah dari pahala-dosa dan surga-neraka menjadi enerji ilahi yang positif-negatif.

    Ah, ternyata saya nggladrah lagi. Kalau komen ini kurang berkenan, silahkan dihapus saja mas…

    Salam Persahabatan.

    • Bukan masalah lintas agamanya mas, diskusi tentang Tuhan, Insya Allah pasti ujungnya adalah :
      1. Tuhan itu Esa hanya SATU !!!, tidak 2 adalah satu, tidak 3 adalah satu, tidak seribu adalah satu, tapi Esa, Dialah yang menciptakan alam dan seluruh isinya.
      2. Tuhan tidak dapat dilihat secara kasat mata, tetapi kita dapat merasakan ciptaannya seperti dunia dan segala isinya termasuk muhrim kita masing-masing.
      3. Ketika diskusi mengerucut dan hampir menyimpulkan bahwa sebenarnya hakekat Tuhan itu seperti poin satu dan poin dua diatas, pastilah kita akan dihadapkan atau langsung berhadapan dengan pemeluk agama lain yang sangat kontras kondisinya dengan poin 1 dan 2 diatas, yaitu Ada Tuhan yang turun ke Bumi menyerupai manusia sehingga bisa dilihat dengan mata telanjang, diajak ngobrol, makan bersama dan sebagainya, juga ada dimana Tuhannya masing2 berkuasa terhadap salah satu unsur bumi, misal air disebut Tuhan Air, tanah disebut Tuhan tanah, dan sebagainya sehingga bisa mencapai seribu Tuhan.

      Disitulah sebenarnya letak perbedaan pemahaman tentang tata cara melihat Tuhan.Maaf kalo salah Ki Sabda, menurut saya, kita masuk nroko bukan karena kita salah menyebut nama Tuhan kita,Allah Alloh, Brahma dan sebagainya..
      dan kita masuk nroko juga bukan karena orang tua kita yang atau agama warisan …TETAPI MAAF JIKA SAYA SALAH KARENA KITA TIDAK MENGGUNAKAN AKAL DAN OTAK KITA DENGAN BENAR,KARENA KEYAKINAN YANG FANATIK DAPAT MEMBUAT KITA SANGAT KERAS KEPALA, SEHINGGA JIKA DISODORKAN FAKTA YANG BENAR DAN BAHKAN DAPAT MENGGUGURKAN FAKTA KEYAKINAN TERSEBUT KITA TETAP MENOLAKNYA …

      Ya…begitulah, diskusi semacam ini memang sangat perlu dan sangat bagus, dan diskusi semacam ini menurut saya semakin menunjukkan sebenarnya kearah mana sebenarnya diskusi ini berujung …ya Benar ke arah ikhlas dan BERSERAH DIRI.


      Maaf sekali lagi, saya adalah seorang awam sekali, dan masih perlu banyak belajar tentang hal ini.

  29. Salam sejahtera Mas Sabdo

    Permisi mas, ikut berbagi sama mas lambang.
    permisi mas lambang, rasanya mas lambang udah ketemu jawaban dulu baru bertanya dan tak sadar klo udah punya jawabanya he he he.., mungkin yang dimaksud meninggalkan akal dan menggunakan akal itu seperti ini;
    mungkin akal itu produknya otak, saat kita berhadapan dg masalah2
    keseharian misal ; perut lapar, kita perlu makan, maka kita mesti cari makanan. bagaimana cara mencari makanan? disinilah kita menggunakan akal, mengelola kemampuan berfikir untuk memperoleh makanan.
    Terus yang dimaksud meninggalkan akal, mungkin, pada saat kita ‘berhubungan’ dg Tuhan ato segala aktifitas yang mengarah ke wilayah spiritual atau gaib, kita tidak menggunakan akal karena akal tidak mampu mengenali segala identitas wilayah spiritual, karna perangkat yang dipakai otak dalam memproduksi akal itu indra fisik, jadi tidak mungkin mengenali wilayah non fisik, ini bukan berarti di wilayah spiritual kita tidak pakai kesadaran, kita tetap pakai kesadaran tapi perangkat kesadaran yang dipakai bukan otak fisik.
    pada saat kita tidak ngapa2in itu sebenarnya kita sedang mengaktifkan perangkat kesadaran non fisik sekaligus menonaktifkan kesadaran otak fisik.
    jadi, lebih baik kita coba makan gudeg ceker jogja biar tahu rasanya gudeg ceker jogja, lebih baik mas lambang santap dulu artikel2 mas sabdo terus dicoba dipraktekkan biar tahu rasanya spiritual yang dimaksud mas sabdo, klo memang kepengin, mumpung gretongan lho! he he he..
    Mohon dimaafin klo cara saya menyampaikan nggak berkenan dan bertele tele, dan mohon diperbaiki klo ada yang keliru, maklum sedang belajar berpendapat, he he he..
    Trimakasih banyak Mas Sabdo, salam sejahtera dan damai selalu.

    • @Syahrizalpulungan Yth
      Terimakasih atas share nya di sini, berharap bisa saling tukar ilmu dan berbagi pengalaman spiritual.

      @Lambang & Cantrik Anyar Yth
      Apa kabar mas, mas, lama tak sua, semoga selalu diberkahi Gusti, wilujeng lan karaharjan. Ngomong2 soal gudeg ceker malioboro, saya jadi terpancing uthak athik gathuk. Judulnya falsafah gudeg ceker sbb:

      Falsafah gudeg cheker…kalau makan, jangan dikunyah, karena tulangnya yg keras akan ikut terkunyah. Tapi, cukup dihancurkan pakai lidah dan langit-langit, maka tulang dengan daging/kulit cekernya akan mudah terpisah. … :lol:
      Artinya, jangankan untuk hal-hal gaib, lha wong berhubungan dengan hal yg sepele dan bersifat wadag saja akal kita kadang masih cupet. Akal kita masih sangat terbatas pengetahuannya dalam bidang tertentu saja. Sehingga kita sempat berfikir……mana mungkin mengunyah ceker ayam tanpa menggunakan gigi…? Akal sudah membantah. Padahal jika dipraktekkan, barulah akan percaya ternyata bener.

      Sifat akal hanya akan mencerna apa yg bisa dialami dan dilihat oleh manusia. Jika suatu hal belum pernah dialami atau belum pernah melihat orang lain mengalami, maka akal kita tidak akan mudah percaya. Dalam merambah noumena (fenomena gaib) merupakan hal yg sangat sulit. Tiadanya pengalaman gaib akan membuat kemampuan akal menjadi terbatas hanya pada hal-hal fisik/wadag semata. Apalagi memahami konsep Tuhan.

      Saya sendiri kurang sependapat bila alam gaib itu tdk bisa dirambah akal budi, atau tidak bisa dipahami dengan akal. Bukan begitu saya kira. Misalnya, saya pribadi menilai adanya bayangan penampakkan “Michael Jackson” Ghost di “istananya” Neverland merupakan satu peristiwa yg biasa terjadi di manapun.

      Kenapa bisa ? jawabnya : karena selama 40 hari sejak kematiannya, roh manusia masih berada dalam rumah yang ditinggalinya. Sehingga wajar jika kamera CNN dll masih sering menangkap gambar atau sosok bayangan yang mirip sekali dengan almarhum Michael Jackson.

      Sampai di sini akal pikiran masih mudah memahaminya. Bagi yang pernah berbincang dengan leluhur dan menanyakan apa saja yg terjadi di sana, saya jamin pasti Anda tidak akan pernah gamang menjalani hidup ini.
      Menanggalkan akal, berarti dirubah kita harus menggunakan rasa pangrasa sebagai alat mencerna data gaib.
      Rumusnya : KEMAMPUAN AKAL sangat, TERBATAS PADA OBYEK YG BISA DILIHAT DENGAN MATA. Sementara itu sir/rasa pangrasa bisa merambah jauh ke dalam “ruang rahasia”. Sepulang dari dari penjelajahan, sir/rasa pangrasa akan membawakan oleh-oleh berupa “obat penyadar” untuk akal kita.

      Nah, dari situlah akal budi mulai mencerna noumena gaib.

      salam asah asih asuh

  30. WAAAAH.. IKUTAN NONTON MAAAASSS.. DUDUK DIPOJOKAN.. SAMBIL DENGERIN KANG MAS SABDA LANGIT… LANJUUUUUUUUTTTTKAAAN..
    SALAM SAYANG KANG MASKU SING GANTENG

  1. Ping-balik: TATA CARA MELIHAT TUHAN « Lpujangga's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 913 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: