MELURUSKAN MAKNA MISTIK

pada dasarnya, manusia adalah makhluk mistik

Bagi sebagian masyarakat yang mengklaim diri sebagai masyarakat peradaban modern, westernism bahkan sebagian yang mengesankan perilaku agamis yakni hanya bermain-main sebatas pada simbol-simbol agama saja tanpa mengerti akekatnya, dan kesadarannya masih sangat terkotak oleh dogma agama-agama tertentu (kesadaran “kulit”). Manakala mendengar istilah mistik, akan timbul konotasi negatif. Walau bermakna sama, namun perbedaan bahasa dan istilah yang digunakan, terkadang membuat orang dengan mudah terjerumus ke dalam pola pikir yang sempit dan hipokrit. Itulah piciknya manusia yang tanpa sadar masih dipelihara hingga akhir hayat. Selama puluhan tahun, kata-kata mistik mengalami intimidasi dari berbagai kalangan terutama kaum modernism, westernisme dan agamisme. Mistik dikonotasikan sebagai pemahaman yang sempit, irasional, dan primitive. Bahkan kaum mistisisme mendapat pencitraan secara negative dari kalangan kaum agamisme sebagai paham sesat dan sumber kemusrikan. Pandangan itu salah besar, jika tidak mau disebut sebagai fitnah keji !

Tentu saja penilaian itu mengabaikan kaidah ilmiah. Penilaian bersifat tendensius lebih mengutamakan kepentingan kelompoknya sendiri, kepentingan rezim, dan kepentingan egoisme (keakuan). Penilaian juga rentan terkonaminasi oleh pola-pola pikir primordialisme dan fanatisme golongan, diikuti oleh pihak-pihak tertentu hanya berdasarkan sikap ikut-ikutan, ela-elu, dengan tanpa mau memahami arti dan makna istilah mistis yang sesungguhnya. Untuk itu, perlulah kiranya saya ingin berbagi kepada para pembaca yang budiman, mengenai makna yang sejatinya akan istilah mistis. Dengan harapan membangun sikap arif dan bijaksana, selalu hati-hati terutama dalam menilai seseorang atau suatu kelompok, golongan dan cara pandang masyarakat tertentu. Jika perilaku hidup dan pola piker kita tidak eling dan waspada, kita akan melebur ke dalam roda “wolak-waliking jaman” di mana orang salah akan berlagak selalu benar. Orang bodoh menuduh orang lain yang bodoh. Emas dianggap Loyang (besi). Besi dikira emas. Burung bangau dianggap dandang (alat menanak nasi). Yang asli dianggap palsu, yang palsu dibilang asli. Semua serba salah kaprah, kacau-balau, chaos, dan hidup penuh dengan kepalsuan-kepalsuan.

Eksistensi Mistik

Mistik dapat dipahami sebagai eksistensi tertinggi kesadaran manusia, di mana ragam perbedaan (“kulit”) akan lenyap, eksistensi melebur ke dalam kesatuan mutlak hal ikhwal, nilai universalitas, alam kesejatian hidup, atau ketiadaan. Kesadaran tertinggi ini terletak di dalam batin atau rohaniah, mempengaruhi perilaku batiniah (bawa) seseorang, dan selanjutnya mewarnai pola pikir nya. Atau sebaliknya, pola pikir telah dijiwai oleh nilai mistisisme yakni eksistensi kesadaran batin.

Meskipun demikian, eksistensi mistik yang sesungguhnya tidaklah berhendi pada perilaku batin (bawa) saja, lebih utama adalah perilaku jasad (solah). Artinya, mistik bukanlah sekedar teori namun lebih kearah manifestasi atau mempraktikkan perilaku batin ke dalam aktivitas hidup sehari-harinya dalam berhubungan dengan sesama manusa dan makhluk lainnya. Apakah anda ingin menjadi seorang agamis, yang hanya terpaku pada simbol-simbol agama berupa penampilan fisik, jenis pakaian, cara bicara, bahasa, gerak-gerik, bau minyak wanginya. Agamis hanya kenyang teori-teori agama atau dalil-dalilnya saja. Ataukah sebaliknya anda ingin menjadi seorang praktisi (penghayat) akan teori-teori tersebut sehingga tidak omong doang. Hal itu menjadi hak setiap orang untuk memilih, masing-masing akan membawa dampak yang berbeda-beda.

Dalam menjabarkan istilah mistik, saya sangat sepakat dengan guru besar Filsafat UGM Prof. Dr. Damarjati Supadjar, bahwa cirri-ciri mistikisme adalah sbb ;

1. Mistisisme adalah persoalan praktek.

2. Secara keseluruhan, mistisisme adalah aktifitas spiritual.

3. Jalan dan metode mistisisme adalah cinta kasih sayang.

4. Mistisisme menghasilkan pengalaman psikologis yang nyata.

5. Mistisisme sejati tidak mementingkan diri sendiri.

Jika kita cermati dari kelima ciri mistikisme di atas dapat ditarik benang merah bahwa mistik berbeda dengan sikap klenik, gugon tuhon, bodoh, puritan, irasional. Sebaliknya mistik merupakan tindakan atau perbuatan yang adiluhung, penuh keindahan, atas dasar dorongan dari budi pekerti luhur atau akhlak mulia. Mistik sarat akan pengalaman-pengalaman spiritual. Yakni bentuk pengalaman-pengalaman halus, terjadi sinkronisasi antara logika rasio dengan “logika” batin. Pelaku mistik dapat memahami noumena atau eksistensi di luar diri (gaib) sebagai kenyataan yang logis atau masuk akal. Sebab akal telah mendapat informasi secara runtut, juga memahami rumus-rumus yang terjadi di alam gaib. Sebagai contoh ;

Kenapa simpanan uang di Bank tidak ada yang hilang di curi makhluk pesugihan ? Atau perhiasan emas di toko emas tidak bias hilang digondol sejenis jin atau pun siluman pesugihan ?

Secara logis-rasional, makhluk pesugihan yang sering mencuri uang atau perhiasan di rumah-rumah penduduk seharusnya bias mencuri uang dan perhiasan di kedua tempat tersebut. Namun kenyataannya kedua jenis harta kekayaan tersebut tidak bias dicuri oleh makluk gaib sejenis pesugihan manapun. Hal ini dikarenakan terdapat rumus di alam gaib yang berbeda dari dimensi bumi. Pada kesempatan selanjutnya saya akan bahas mengenai sebagian rumus-rumus di alam gaib (hukum di alam gaib) yang sejauh ini bisa saya ketahui, pernah saksikan dan buktikan dengan mata kepala sendiri.

Agama sebagai sarana menggapai tataran spiritual. Sementara spiritual adalah kesadaran tinggi akan nilai-nilai transenden atau ketuhanan. Mistisisme adalah wujud kesadaran itu dalam laku perbuatan konkrit. Dengan adanya kesadaran yang cukup memadai akan bagaimana sesungguhnya yang terjadi di alam gaib hal itu membuka pola pikir kita sehingga mampu memahami noumena kegaiban secara logis. Hal ini menjadikan para pelaku spiritual memiliki kemantapan tidak hanya sekedar yakin, tetapi dapat dikatakan bisa menyaksikan sendiri bagaimana “rumus-rumus halus” akan bekerja. Antara pengetahuan spiritual dengan tindakan nyata seiring dan seirama. Bagaikan lirik dengan syairnya. Aransemen dengan nada-nada musicnya. Sastra dengan gendhingnya. Sinergis dan harmonis, antara pengetahuan spiritual dengan perbuatannya. Menjadikan para pelaku spiritual sejati justru terkesan lebih santun dan memiliki sense on humanity yang tinggi, memiliki kepekaan social, solidaritas dan toleransi, kepedulian lingkungan social dan alam yang sangat mendalam. Perilaku-perilaku yang menunjukkan sikap arif dan bijaksana dalam menjalani kehidupan ini ketimbang orang-orang bergaya “agamisme” (kesadaran symbolic) yang terkadang perilakunya lepas kendali, sewenang-wenang dan beringas, emosional dan reaksional. Karena merasa diri menjadi sangat kuat telah menjadi orang yang memegang hak istimewa (privilege) di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Penjelasan singkat mengenai arti harfiah dan maknawiah tentang mistik, dapat diambil benang merah bahwa mistik Kejawen adalah laku spiritual berdasarkan pandangan hidup atau falsafah hidup Jawa. Atau disebut jawaisme (javanism). Yang paling utama dalam laku spiritual Jawa, adalah perilaku didasari oleh cinta kasih dan pengalaman nyata. Maka, bagi siapapun yang mengaku menghayati falsafah hidup Jawa namun perangainya masih mudah terbawa api emosi, angkara murka, reaksioner, sektarian, dan primordialisme, kiranya belum memahami secara baik apa itu nilai-nilai dalam falsafah hidup Kejawen. Mistik kejawen merupakan bagian dari ribuan mistik yang ada di bumi ini. Setiap masyarakat, bangsa dan budaya biasanya memiliki nilai-nilai tradisi mistik yang dipegang teguh sebagai pedoman hidup. Sekedar contoh, misalnya mistik Islam, dikenal dengan tradisi tasawuf, orang-orang yang mendalami disebut orang-orang zuhud, dan para sufistik. Mistik Budha atau Budhisme, mistik Hindu atau Hinduisme, dan masih terdapat ratusan bahkan ribuan lagi banyaknya mistik-mistik di dunia ini.

Mistik lebih fleksibel jika dibandingkan dengan agama, sebab mistik tidak mempersoalkan apa latar belakang ajaran, agama, budaya orang yang ingin menghayati. Hal itu tidak menimbulkan resiko terjadinya benturan nilai-nilai, karena dalam tradisi mistik yang sesungguhnya, keberagaman “kulit” akan dikupas, lalu mengambil sisi maknawiahnya yang bersifat hakekat atau esensial. Orang Jawa, Hindu, Kristen dan Budha, bias saja mempelajari ilmu tasawuf. Demikian pula sebaliknya, umat Islam bias pula mempelajari falsafah hidup Jawa. Hanya saja, kecenderungan kekuasaan rezim agama akan membuat batasan-batasan tegas kepada para penghayat mistik dengan mistik itu sendiri. Bahkan sering terjadi prejudis, pencitraan secara subyektif, dan punishment yang berdasarkan kepentingan rezim. Jangankan terhdap lintas budaya dan agama, kita ambil contoh sederhana saja misalnya, sebagian umat Islam melarang sesame umat Islam lainnya masuk ke dalam wilayah mistik Islam. Pelarangan dilakukan dengan dalih agama pula, sehingga pelarangan seringkali bekerja secara efektif membelenggu dinamika kesadaran umat. Yang terjadi adalah umat yang terkesan “agamis” tetapi sangat miskin pencapaian spiritualnya.

Hal Yang Berbeda Dalam Mistik Kejawen

1. Kejawen tentu saja tidak memiliki kitab suci sebagaimana layaknya semua agama-agama yang ada. Karena Kejawen bukanlah agama melainkan pandangan hidup yang sudah turun temurun ribuan tahun, melalui proses interaksi antara manusia (jagad kecil/mikrokosmos) dengan jagad raya (jagad besar/makrokosmos). Manusia dapat membaca rumus-rumus serta hukum alam yang ada dan berlaku meliputi tata kosmos. Pengetahuan akan rumus-rumus dan hukum alam lama kelamaan mengkristal menjadi tatanan nilai kehidupan manusia dalam berhubungan dengan lingkungan alam dan seluruh makhluk. Nilai yang menghasilkan kebijaksanaan. Disebut juga nilai kearifan lokal atau local wisdom. Sebab itu “kitab suci” bagi spiritual Jawa adalah rangkaian tata kosmo yang penuh dengan pola keseimbangan dan keselarsan yang harmonis. Semua itu dapat dibaca dan dilihat melalui bahasa alam. Lazimnya disebut sebagai SASTRA JENDRA, atau segala kejadian dan peristiwa alamiah yang didalamnya memuat hukum sebab akibat yang merupakan ketentuan alamiah. Hukum sebab akibat dan ketentuan alamiah yang berlaku di jagad raya ini lazimnya disebut hukum alam, atau kodrat alam yang dapat menjadi barometer dan petunjuk hidup bagi manusia dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Selain itu, Kejawen juga mampu berasimilasi dan sinkretisme dengan nilai-nilai agama yang pernah ada di bumi nusantara. “Kitab Suci” Kejawen adalah hidup itu sendiri. Hidup yang meliputi jagad gumelar. Terdiri dari kehidupan sehari-hari, kesejati di dalam diri, dan apa yang ada di dalam lingkungan alam sekitarnya. Semua itu disebut sebagai “kitab satra jendra”. Cara membacanya bukan dengan ucapan lisan, melainkan dengan perangkat ngelmu titen yang berlangsung turun-temurun. Membaca “kitab sastra jendra” dengan menggunakan gelmu titen, indera yang digunakan adalah indera keenam (six-sense) atau indera batin. Keberhasilannya ditentukan oleh kemampuan seseorang dalam mengolah rahsa-pangrasa yakni rasajati atau rahsa sejati.

2. Di samping nilai-nilai kearifan local yang adiluhung, Kejawen menjadikan nilai-nilai “impor” yang dinilai berkualitas sebagai bahan baku yang dapat diramu dengan nilai kearifan local. Keuntungannya justru terjadi proses penyempurnaan seperangkat nilai dalam pandangan hidup Jawa atau Kejawen. Jika definisikan, mistik kejawen merupakan hasil dari interaksi nilai-nilai kearifan local yang terjadi sejak zaman kuno pada masa kebudayaan spiritual animisme, dinamisme, dan monotesime hingga saat ini. Sikap terbuka, menghargai dan toleransi, serta dasar spiritual cinta kasih sayang membuat Kejawen mudah menerima anasir asing yang positif. Berbeda dengan nilai agama yang bersifat statis, kaku atau saklek dan anti-perubahan, nilai-nilai dalam falsafah hidup Jawa bersifat fleksibel dan selalu berusaha mengolah nilai-nilai kebudayaan asing yang masuk ke nusantara misalnya Budha, Hindu, Islam, Kristen, dan sebagainya. Yang terjadi bukanlah kebangkrutan nilai-nilai falsafah Jawa itu sendiri, sebaliknya justru mengalami penyempurnaan seiring perjalanan waktu. Hingga terdapat anekdor, kalau nilai agama masuk sampai mendarah- daging, pandangan hidup Jawa bahkan mbalung-sungsum sehingga tidak pernah lapuk dan selalu eksis. Tidak hanya pada usia tua, bahkan masyarakat usia muda banyak pula yang diam-diam menghayati dan mengakui fleksibilitas dan kedalaman falsafah Kejawen. Seperti kekuatan misterius, terkadang semangat penghayatan dirasakan tiba-tiba muncul dengan sendirinya seperti panggilan darah.

3. Ritual, yang dilakukan oleh penghayat falsafah hidup Jawa. Walaupun latar belakang keagamaan masyarakat Jawa berbeda-beda, namun memiliki unsur kesamaan dalam tata laksana ritual Jawaisme. Bedanya hanyalah pada bahasa yang digunakan dalam doa atau mantra. Namun hakekat dari ritual adalah sama saja yakni bertujuan untuk selamatan. Selamatan adalah tata laku untuk memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Sebagai upaya mendekatkan diri kepada Tuhan yang Mahasuci. Maka dalam ritual banyak terdapat ubo rampe, atau syarat-syarat sesaji, di dalamnya banyak sekali mengandung maksud permohonan doa kepada Tuhan YME. Misalnya pada saat bulan Ruwah merupakan bulan arwah dilaksanakan acara selamatan nyadran. Bulan ruwah tepatnya satu bulan menjelang bulan puasa, hendaknya orang memuliakan para arwah leluhurnya, mendoakannya agar mendapat tempat yang mulia, luhur, dan suci. Dibuatlah ketan, kolak dan kue apem, berarti sedaya kalepatan nyuwun pangapunten. Mohon ampunan atas segala kesalahan semasa hidup. Apem berarti affuwwun, adalah lambang permohonan ampunan kepada Tuhan. Dilanjutkan acara nyekar atau ziarah dan gotong royong bersih-bersih serta merawat makam para leluhurnya sebagai wujud tindakan nyata rasa berbakti dan memuliakan pepundennya yakni para leluhurnya. Karena bagi masyarakat mistik Jawa, berbakti kepada orang tua, dilakukan tidak saja selama masih hidup, namun saat sudah meninggal dunia pun anak turun tetap harus berbakti padanya. Tidak ketinggalan pula acara bersih desa, sungai, hutan, sawah, ladang, sebagai bentuk kesadaran diri untuk selalu menghargai alam semesta sebagai anugrah terindah Tuhan yang Mahapemurah.

4. Istilah ritual seringkali diartikan secara kurang proporsional, dianggap hanya sekedar menjadi basa-basi tradisi yang irasional. Kadang malah dianggap pula sebagai kegiatan buang-buang waktu, beaya dan tenaga alias mubazir. Secara ekstrim ritual dikonotasikan sebagai kegiatan yang melenceng dari kaidah atau norma agama. Tuduhan itu sangat menyakitkan, karena tentunya hanya terucap oleh orang-orang yang tidak mampu memahami apa makna yang sesungguhnya dari mistik dan ritual. Padahal, ritual adalah tata laku yang melekat tidak bisa dipisahkan dari setiap agama, ajaran, tradisi dan budaya manapun di dunia ini. Dalam Budhisme dan Hinduisme, Islam, Yahudi, Nasrani, Kong Huchu, Sakura, dll banyak sekali terdapat berbagai ritual keagamaan. Mulai dari peringatan hari besar keagamaan hingga berbentuk tradisi agama. Bahkan masyarakat modern, tradisi Barat, masyarakat akademik, masyakarat medik, semua memiliki ritual-rutual khusus yang dutujukan untuk meraih kesuksesan termasuk keselamatan. Dalam masyarakat Jawa ritual selamatan atau slametan menjadi main stream penghayatan perilaku mistik Kejawen. Di dalamnya terdapat simbol-simbol atau perlambang berupa sesaji, mantera, ubo rampe, syarat-syarat tertentu. Semua ubo rampe sesaji mengandung makna yang dalam. Adalah keliru besar mengartikan makna sesaji sebagai pakan setan. Bagi masyarakat Jawa sangat mengenal bahwa “setan” atau makhluk halus bukan untuk diberi makan, tetapi harus diperlakukan secara adil dan bijaksana karena disadari bahwa mereka semua adalah makhluk ciptaan Tuhan juga. Manusia lantas tidak boleh bersikap negatif dan destruktif dengan mentang-mentang, semena-mena, takabur, arogan atau sombong kepada makhluk halus. Karena sikap negatif itu hanya akan membuat manusia jatuh pada derajat yang hina. Itulah keluhuran pandangan hidup manusia yang sering dituduh sebagai masyarakat engan kesadaran primitif dan tidak masuk akal.

5. Sesaji merupakan bahasa yang digunakan sebagai alat komunikasi baik secara vertikal maupun horisontal. Karena dasar dari mistik adalah tindakan nyata, sebagai konsekuensinya harus menghindari tabiat buruk tong kososng berbunyi nyaring, atau banyak mulut doang, tetapi enggan menghayati dalam perbuatan sehari-hari. Maka dalam berdoa pun tidak cukup diucapkan melalui mulut. Rasanya kurang afdhol atau kurang besar tekadnya dalam berdoa apabila tidak diwujudkan dalam berbagai simbol yang terdapat dalam sesaji. Misalnya; doa yang beragam hendaknya dilakukan secara tulus, suci, hati yang “putih bersih” tidak terpolusi nafsu duniawi, dan ditujukan hanya kepada Hyang Widhi atau Tuhan Yang Mahatunggal. Maka hal itu diwujudkan dalam bentuk tumpeng nasi putih berbentuk kerucut, besar di bawah, runcing di bagian atas. Bubur merah dan bubur putih dalam bancakan weton sebagai lambang ibu dan bapa. Hendaknya anak selalu ingat pada pengorbanan orang tua sejak ia di dalam kandungan ibu, lalu dilahirkan dan diasuh hingga dewasa dan mandiri. Bubur merah silang bubur putih, merupakan gambaran hubungan ibu dengan bapa diikat dengan tali cinta kasih yang tulus, sampai membuahkan anak sebagai anugrah buah cinta, dilambangkan dalam bubur baro-baro, yakni bubur putih ditumpangi parutan kelapa dan gula merah. Masih banyak lagi contoh yang dapat kita pelajari satu persatu maknanya secara esensial.

Ilmu “Kesaktian” Sejati

Kesimpulan dari semua itu, Kejawen merupakan ilmu metafisika yang transenden dan bersifat terapan. Perilaku mistik merupakan upaya yang ditempuh manusia dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan YME. Mendekatkan diri, atau upaya manunggal jati diri dengan kehendak Tuhan (sumarah). Sikap sumarah merupakan wujud dari sikap manembah kepada Tuhan YME. Sikap manembah inilah yang menjadi pedoman utama dalam menghayati mistik Kejawen. Muara dari perjalanan spiritual pelaku mistik Kejawen, tidak lain untuk menemukan “lautan” rahmat Tuhan, berupa manunggaling kawula kalawan Gusti, atau sifat roroning atunggil (dwi tunggal). Eneng ening untuk masuk ke alam sunya ruri. Meraih nibbana menggapai nirvana, jalan wushul menuju wahdatul wujud. Dengan pencapaian pamoring kawula-Gusti, akan menciptakan ketenangan batin sekalipun menghadapai situasi dan kondisi yang sangat gawat. Karena antara manusia sebagai mahluk dengan Tuhan sebagai Sang Pencipta terjadi titik temu yang harmonis. Batin manusia selalu tersambung dengan getaran energi Tuhan, menjadi dasar atas segala tindakan yang dilakukannya. Atau disitilahkan sebagai sesotya manjing embanan, ing batin amengku lair. Sesotya adalah ungkapan yang mengandikan Tuhan bagaikan permata yang tiada taranya. “Permata” yang menyatu ke dalam embanan. Embanan sebagai ungkapan dari jasad manusia. Tuhan yang bersemayam di dalam batin (immanen), melimputi seluruh yang ada “being” di dunia ini. Jika manusia berhasil manembah, otomatis ia akan menjadi manusia yang sekti mandraguna. Kesaktian sejati, bukan berasal dari usaha yang instan hanya dengan rapal wirid semalam suntuk, atau membeli dengan mahar. Namun kesaktian itu diperoleh seseorang apabila berhasil menghayati sesotya manjing embanan, ing batin amengku lair. Seseorang selalu manembah dalam setiap perbuatannya. Cirikhas orang yang kesaktiannya berkat manembah (kesaktian sejati/ilmu putih) apabila perilaku dan perbuatan sehari-harinya selalu sinergis dengan sifating Gusti; Welas tanpa alis (kebaikan tanpa pamrih jasad/nafsu/duniawi), tidak menyakiti hati, tidak mencelakai, dan merugikan orang lain. Dilakukan dalam kurun waktu lama, tidak angin-anginan atau plin-plan, dilakukan secara konsisten, teguh, dan penuh ketulusan serta kasih sayang tanpa pilih kasih. Monggo dilanjut.

About these ads

About SABDå

gentleman, Indonesia Raya

Posted on Agustus 13, 2009, in Meluruskan Makna Mistik and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 58 Komentar.

  1. Nyown pangapunten poro sesepuh sblmnya..pada awalnya aq mrasa kagum dgn sekilas crita tentang ke agungan mistis kejawen tpi ko’ anek ya..pada akhirnya itu jga omong doang liat aja bgaimana tulisan2 slanjudnya’menghujad habis2san org agamis dgn kedangkalan pengentahuan agama (islam) anda mau bilang ‘aq hanya membela diri’ ajaran agung kejawen yang mana yang dianut,aq sebagai org jawa malu jga kalo sikapnya kyak yg di gambarkn di atas itu hnya akan semakin membenarkan saja bagi org agamis kalo ada jauh lebih dak ber adap,misal orang agamis tnya.:psiapa nama tuhanmu hai org jawa..kmu akn jwab SANGHIANG WIDI org agamis pasti jawab,bukankah itu nama tuhan dari agama hindu?trus agama hindu asalnya dari mana? Oh masih pantaskah anda menghujad arab dAn tetek bengeknya,sebagai pengingat saja konon tanah jawa sebelum islam smua ‘hindu’ buda’ sebagai perbandingan saja..saat ini di ‘bali dan mungkin penganut hindu di negara lain’ ritual sesaji dan sebagainya masih komplit dgn se gala makna. dpt sy simpulkn apa yg sbenarnya anda agungkn bukan jawi !tpi tdk lebih jga melanjudkn budaya org jau di sana.mhon maaf bla ada kata2 ingkang mboten sopan sy jdi ikut2an kebakaran jenggot.mator suwon.

    • Adh Yth.

      mohon ma,af mas sabda ikut urun rembug.
      membaca coment km , jdi teringt ma Blog liputan 6.
      mbak ayu utami; KENAPA AGAMA TIDAK MEMBUAT ORANG LEBIH BAIK.

      begitu juga dgn suluk wujil / pesan sunan bonang.
      @yth. Adh . jika kita mau jujur trhadp diri sendiri ,apa sih yg kita cari dlm hidup ini ,??
      tentu saja ketentraman kedamaian ,kemakmuran serta keadilan. [hening]

      dgn adanya wacana ini tentu saja sang penulis tidak bermksud memojokkan /menghujat suatu agama tertentu, namun terlebih untk membimbing kita menuju ELING & WASPADA.
      jika seseorng ingin belajar agama dalamilah & pelajarilah secara keseluruhan ,sehingga tidak mogol / atau fanatik semata / memaksakan kehendak yg di yakininya pd org lain.
      karna rosul sendiri dlm berdakwah tidak pernah memaksa org lain utk tunduk padanya.
      melainkan hanya mengajarkan apa yg di perintahkan & diwahyukan oleh ALLAH .
      jd agama yg di bwakan oleh rosul itu sendiri bukan utk berpolitik & atau mencari kekuasa,an . bahkn rosul sendiri melarang pengikutnya utk UJUB / RIYA.

      sekarang kita ambil kaca untk ngilo ;
      apakah sudah pas jika kita mengaku pengikut rosul, sedang kenyata,annya kita jauh dr apa yg di ajarkan /di contohkan oleh rosul sendiri. yaitu li utamima maharimal ahlaq & rohmatan lil alamin.
      utk itu sudahseharusnya jenggotnya di kasih air es biar ga jd kebakar.
      kurang lebihnya mohon ma,af.
      salam seh katresnan.
      rahayu.

  2. Sampurasun

    Mohon maaf sebelumnya Ki sabda serta saudara-saudara sedarah dan setanah air, kami tidak ada maksud apa2. apalagi ingin mengajarkan ikan, katak berenang. Kelihatannya tidaklah baik jika kita masih saling berebut bener/pener, karena semua itu hanya akan mengotori apa yang selama ini telah kita bangun. Terimakasih.

    Salam Sejati

  3. Maturnuwun sanget Ki sabda untuk tulisannya yang telah memberikan pencerahan khususnya bagi kami.

    Salam Sejati

  4. para pemuka agama di negara kita bak selebritis…tong kosong nyaring bunynya. Asal berbau arab…itulah kebenaran…duh Gusti…para pembohong..!!!!!. Bisa dibuktikan secara nyata ..kyai kalau mau meninggal susah banget…sekaratnya lama…wajar saja karena tak mempelajari isi…yg dimakan kulinya saja. Celakanya baru segitu…udah berani gembar gembor kebohongan. Hanya kertas yg mereka pelajari….ampun Allah, maafkan aku

  5. Salam karaharjan
    Ki Sabda, ada saya temukan dan saya baca didalam layang Djojobojo, dimana disebutkan bahwa agama Bangsa Djowo adalah ya Kejawen itu, dimana sabda sabda Gusti engkang Welas Asih dan Moho Kuoso tertulis didalam layang joyoboyo yang disampaikan oleh Djoborolo, Mokoholo, Hosoropolo dan Hodjorolo, dimana juga disebutkan bahwa Bongoso Djowo adalah bangsa yang awal mula/wiwitan di muka bumi ini/djagad…..
    sekiranya panjenengan dapat memberi penjelasan lebih mohon dengan hormat Ki Sabda dapat menerangkannya….ini menyangkut bahwa menurut panjenengan bahwa kejawen itu bukan agama, saya hanya ingin mengetahui apakah benar demikian adanya, nuwun

    • Benar saja…
      berita ini yang saya tunggu…
      Jika benar layang Djojobojo tersurat demikian.

      Lalu siapa manusia pertama?
      Lalu apa ada kaitannya dengan Afrika ?

      Sebab yang saya peroleh informasi sebelumnya adalah “Asia-Afrika” (tersirat), kita perlu bukti tersurat atau bukti objektif.

      Jas Merah…
      Lalu apa makna Jas Merah ???

      Adakah yang sudah memikirkan ini ?

      Menampik teori atau pemikiran modern, saya memang kurang percaya dengan pemikiran modern. Saya lebih percaya kepada pesan yang diberikan leluhur ketika mereka masih hidup. Itulah bedanya leluhur Nusantara. Mereka jauh berfikir ke depan, berfikir tajam kedepan, Memberikan pesan dan sandi untuk kita semua anak cucu turunannya. Budaya merupakan warisan yang didalamnya terkandung makna-makna dan pesan untuk anak cucunya.

      Mohon semua yang disini untuk bersatu.
      Kalian semua yang disini jangan bercerai berai, jangan terbawa nafsu angkara. Kalian jangan tenggelam oleh nafsu kalian sendiri.

      “Tak kenal maka tak sayang.”
      Kenalilah nafsu kalian sendiri. Setelah kenal maka akan timbul rasa sayang pada diri sendiri.

      Hayu-hayu pada rahayu….
      Bagun jiwa ragamu…
      ing do ning sia

      • amiien. semoga terkabul.
        mengenai manusia pertama, saya rasa tidak banyak yang tahu. karena kitab2 yang ada kadang kala melompat. mungkin dikarenakan “pengarsipan” pada masa lalu kurang rapi, bisa juga hilang/rusak. banyak faktor.
        ada sebuah cerita : bahwa dulu, yang namanya kebudayaan wayang/cerita wayang itu hanya ada di jawa. kemudian datang tamu dari india. dan disuguh cerita/wayang. kemudian cerita itu dibawa pulang dan berkembang dengan sangat baik di negeri itu, sedangkan yang di jawa surut. dan mulai saat itu sampai sekarang banyak yang beranggapan bahwa wayang berasal dari india.
        menurut yang memberi cerita, memang sudah saatnya jawa untuk surut.(semua silih berganti).
        mengacu dari layang djoyoboyo dan sebelumnya, kisah gunung klotok, kisah jaman kadewan dengan awal penciptaan adalah tuntunan luhur supaya manusia bisa tahu dirinya sendiri yang amat sangat pribadi.
        seandainya kita diberi tahu siapa manusia pertama di bumi, untuk apa? mungkin malah akan memperbesar pertentangan. akan selalu ada misteri dibalik misteri.
        ini dunia. ada siang-malam, panas-dingin, baik-buruk, rasional-irasional. orang eropa punya cerita tentang highlander, robin hood, thor, hercules, apakah jawa tidak? saya cuma dikasih tahu, “disini sebagai siapa, disana sebagai siapa” dalam kebodohan dan ketulian saya.
        kerangka akan tetap sama hanya berbeda isi. papua dan afrika mempunyai kekhususan, dan saya tidak berani bercerita.
        di blog-nya ki sabda ini nuansanya asah,asih,asuh. rekan dan para sepuh pinisepuh seperti berbalas pantun untuk merangkai “puzle” masing2.
        demikian bapak/mas ahmad, semoga berkenan untuk terus memberi pencerahan.
        rahayu wilujeng.

    • ojo ngayal ngeyel kamu…….hh
      mbah joyoboyo iku jelas muslim….8

  6. Mantap ki sabda penjabarannya tentang mistik.
    Saya sangat berterima kasih atas blognya ki sabda.

    Sedikit mengoreksi ki, Dandang memang alat untuk memasak nasi yang sebangun dengan pelor/mimis senapan angin.
    Tp kl dalam kalimat “burung bangau dianggap dandang”
    mungkin Dandang disini adalah burung gagak ki, saya masih ingat menurut almrhm kakek saya,yang kata ibu saya(baru saya ketahui)kakek saya adalah kyai kejawen,yang sering diundang warga untuk nyanyai/membaca kitab tp berbahasa jawa, sampai sakarang kitabnya masih ada ki,tp stlah kakek saya meninggal buku/kitab trsebut disimpan diPesemuan.

    Skali lagi terima kasih ki sabda jabaranya tentang mistik kejawen.
    Nuwun

  7. Inilah blog yang lama ku cari2… Terima Kasih Tuhan… Terima Kasih Ki Sabda dan orang-orang yang mendukung blog ini… Blog ini bisa jadi cahaya dalam kegelapan dan pelajaran tentang Yang Maha Kuasa yang tidak terbatas dan abadi… Semua sudah ada dalam sistem Tuhan, hanya kitalah yang terbatas memaknainya…
    Salam Damai…

  8. dunia dah komplet ada logika dan mistik…

  9. @ Sabda Langit salam hormat trimakasih wejanganya

    salam hormat juga buat saudara @Suprayitno @taufiq sudjono @Santri Gendeng @Adh @Alponcho @adul zen & salam sih katresnan untuk semua pengujung blog ini

    melihat satu persatu dr komentar saudara, aku jadi teringat pesannya Simbah

    sbb:
    Simbah : Le, nak kowe pengen pinter, ojo mbeguru menyang uwong. ugo ojo takon menyang buku.

    Aku : (BINGUNG) La , trus pripun mbah ????

    Simbah : yo takono awakmu dewe, mergo mung kowe dewe sing ngerti awakmu dewe lee.

    Aku : BINGUNG, BINGUNG & BINGUNG….!!!

    jd intinya hidup ini membingungkan, HIDUP BINGUNG !
    semakin dicari semakin bnyak yg gak ngerti, semakin dipahami semakin banyak misteri, semakin dihayati semakin bnyak pertanyaan dihati.

    trimakasih salam rahayu untuk semua

  10. Apa benar sih tuhan kok suka mengancam? mungkin itu hanyalah merupakan cerminan nabi pembawanya.

    Artinya, kalau nabinya suka perang, otomatis tuhannya juga suka perang, kalau nabinya suka mengancam otomatis tuhannya juga suka mengancam, kalau nabinya suka poligami/ngeseks (perempuan) ya…tuhannya pun suka poligami juga. Jika nabinya tidak menyukai “kafir”, tuhannya pun pasti anti kafir juga dan seterusnya.

    Kayaknya, PIKIRAN TUHAN MENGIKUTI PIKIRAN NABI deh. Coba saja kita lihat, dimana nabi itu dilahirkan maka otomatis karakter tuhan mewakili kultur masyarakat setempat.
    ==================================================================
    suprayitno sok tau……..
    dalam Al’quran, Rasullulah SAW pernah ditegur kok hanya karena Beliau bermuka masam…….hehe ups anda SALAAAAAH…….

  11. Ulasannya bagus .sudah bs di mengerti ,namun kami tanyak ke ki sl ,kulo pengen mangertosi yak nopo hakikinya ziarah ke makam poro leluhur /org tua itu cuman simbul lelaku penghormatan pdnya ,yg berupa medoakannya dan merawat tempat kuburnya. Mhn penj. Di fb kami aj .paidiw pecinta ngaji saliro .rahayu

  12. Rahayu , ada yang tahu di mana saya bisa menemukan komunitas penghayat layang joyoboyo nggih. tolong infokan ke sodinomo.timan@icbali.com

  13. Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh!!, Cekak aos aza,,,,jangan saling membenarkan diri sendiri, lalu jangan campur adukkan Agama dengan Adat Budaya di Lingkungan kita .Toleransi kita pada Adat dan Budaya harus berbatas pada Haram dan Halal yang ditentukan Agama, Met malam All temen !!

  14. Ki Jan Bodow Bangets

    Lha sejarahnya Christ sekarang (baca : saat ini) mana..? Suruh kawin sama mbang Seruni ? Nggak lah yaw…Kalo sama Putri Bangsawan Berbudi Luhur Mulia Hati..setuju bangets..pas..mantab..! gitcu loh..xixixi

  15. Kasihan kakakku..periodesasinya melenting..jauuuh..giliran kredibilitasnya tak dihiraukan..dianggap ada pun juga tidak..olala..sejarah hanya diklaim milik panitia dan golongannya..bukan lagi milik dunia..Sudahlah kak..kita cari dunia yang lain..kembali ketempat asal-usul kita dulu..bermain..bercanda..bahagia..bersama..sepanjang hari..sepanjang waktu..

  16. Hooii!Hare gene ga’ usahlah saling berebut soal nama!Di jaman komputer sekarang sudah ga’ ada artinya soal nama pemberian leluhur kita!Sudah ga’ jamannya lage!Basi!Yang penting di jaman sekarang siapa yang paling ngotot dialah yang dianggap menang dan juga paling benar!Besok ada yang lebih ngotot lage dialah yang menang!Ga’ ada habisnya!Namanya saja jaman edan Pujangga Baru kalau ga’ ikut edan juga pasti ga’ kebagian!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 916 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: