TATA CARA BANCAKAN WETON

Bancakan WetonBancakan weton dilakukan tepat pada hari weton kita. Dalam tradisi Jawa, seseorang harus dibuatkan bancakan weton minimal sekali selama seumur hidup. Namun akan lebih baik dilakukan paling tidak setahun sekali. Apabila seseorang sudah merasakan sering mengalami kesialan (sebel-sial), ketidakberuntungan, selalu mengalami kejadian buruk, biasanya dilakukan bancakan weton selama 7 kali berturut-turut, artinya sekali bancakan setiap 35 hari, selama 7 bulan berturut-turut.

MANFAAT BANCAKAN

Manfaat dan tujuan bancakan weton adalah untuk “ngopahi sing momong”, karena masyarakat Jawa percaya dan memahami jika setiap orang ada yang momong (pamomong) atau “pengasuh dan pembimbing” secara metafisik. Pamomong bertugas selalu membimbing dan mengarahkan agar seseorang tidak salah langkah, agar supaya lakune selalu pener, dan pas. Pamomong sebisanya selalu menjaga agar kita  bisa terhindar dari perilaku yang keliru, tidak tepat, ceroboh, merugikan. Antara pamomong dengan yang diemong seringkali terjadi kekuatan tarik-menarik. Pamomong menggerakkan ke arah kareping rahsa, atau mengajak kepada hal-hal baik dan positif,  sementara yang diemong cenderung menuruti rahsaning karep, ingin melakukan hal-hal semaunya sendiri, menuruti keinginan negative,  dengan mengabaikan kaidah-kaidah hidup dan melawan tatanan yang akan mencelakai diri pribadi, bahkan merusak ketenangan dan ketentraman masyarakat. Antara pamomong dengan yang diemong terjadi tarik menarik, Dalam rangka tarik-menarik ini,  pamomong tidak selalu memenangkan “pertarungan” alias kalah dengan yang diemong. Dalam situasi demikian yang diemong lebih condong untuk selalu mengikuti rahsaning karep (nafsu). Bahkan tak jarang apabila seseorang kelakuannya sudah tak terkendali atau mengalami disorder, sing momong biasanya sudah enggan untuk memberikan bimbingan dan asuhan. Termasuk juga bila yang diemong mengidap penyakit jiwa. Dalam beberapa kesempatan saya pernah  nayuh si pamomong seseorang yang sudah mengalami disorder misalnya kelakuannya liar dan bejat, sering mencelakai orang lain,  ternyata pamomong akhirnya meninggalkan yang diemong karena sudah enggan memberikan bimbingan dan  asuhan kepada seseorang tersebut. Pamomong sudah tidak  lagi mampu mengarahkan dan membimbingnya. Apapun yang dilakukan untuk mengarahkan kepada segala kebaikan, sudah sia-sia saja.

Kebanyakan kasus pada seseorang yang mengalami disorder biasanya sang pamomong-nya diabaikan, tidak dihargai sebagaimana mestinya padahal pamomong selalu mencurahkan perhatian kepada yang diemong, selalu mengajak kepada yang baik, tepat, pener dan pas. Sehingga hampir tidak pernah terjadi interaksi antara diri kita dengan yang momong. Dalam tradisi Jawa, interaksi sebagai bentuk penghargaan kepada pamomong, apalagi diopahi dengan cara membuat bancakan weton. Eksistensi pamomong oleh sebagian orang dianggapnya sepele bahkan sekedar mempercayai keberadaannya  saja dianggap sirik. Tetapi bagi saya pribadi dan kebanyakan orang yang mengakui eksistensi dan memperlakukan secara bijak akan benar-benar menyaksikan daya efektifitasnya. Kemampuan diri kita juga akan lebih optimal jika dibanding dengan orang yang tidak pernah melaksanakan bancakan weton. Selama ini saya mendapat kesaksian langsung dari teman-teman yang saya anjurkan agar mem-bancaki wetonnya sendiri. Mereka benar-benar merasakan manfaatnya bahkan seringkali secara spontan memperoleh kesuksesan setelah melaksanakan bancakan weton. Hal itu tidak lain karena daya metafisis kita akan lebih maksimal bekerja. Katakanlah, antara batin dan lahir kita akan lebih seimbang, harmonis dan sinergis, serta keduanya baik fisik dan metafisik akan menjalankan fungsinya secara optimal untuk saling melengkapi dan menutup kelemahan yang ada. Bancakan weton juga tersirat makna, penyelarasan antara lahir dengan batin, antara jasad dan sukma, antara alam sadar dan bawah sadar.

SIAPAKAH SEBENARNYA SANG PAMOMONG ?

Pertanyaan di atas seringkali dilontarkan. Saya pribadi terkadang merasa canggung untuk menjelaskan secara detil, oleh karena tidak setiap orang mampu memahami. Bahkan seseorang yang bener-bener tidak paham siapa yang momong, kemudian bertanya, namun setelah dijawab toh akhirnya membantah sendiri. Seperti itulah karakter pikir sebagian anak zaman sekarang yang terlalu “menuhankan” rasio dan sebagian yang lain tidak menyadari bahwa dirinya sedang tidak sadar. Apapun reaksinya, kiranya saya tetap perlu sekali menjelaskan siapa jati diri sang pamomong ini agar supaya para pembaca yang budiman yang memiliki antusiasme akan luasnya bentang sayap keilmuan, dan secara dinamis berusaha menggapai kualitas hidup lebih baik dari sebelumnya dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan yang lebih luas.

Pamomong, atau sing momong, adalah esensi energy yang selalu mengajak, mengarahkan, membimbing dan mengasuh diri kita kepada sesuatu yang tepat, pas dan pener dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Esensi energy dapat dirasakan bagaikan medan listrik, yang mudah dirasakan tetapi sulit dilihat dengan mata wadag. Jika eksistensi listrik dipercaya ada, karena bisa dirasakan dan dibuktikan secara ilmiah. Sementara itu eksistensi pamomong sejauh ini memang bisa dirasakan, dan bagi masyarakat yang masih awam pembuktiannya masih terbatas pada prinsip-prinsip silogisme setelah menyaksikan dan mersakan realitas empiris. Pamomong diakui eksistensinya setelah melalui proses konklusi dari pengalaman unik (unique experience) yang berulang terjadi pada diri sendiri dan yang dialami banyakan orang.  Lain halnya bagi sebagian masyarakat yang pencapaian spiritualitasnya sudah memadai dapat pembuktiannya  tidak hanya sekedar merasakan saja, namun dapat menyaksikan atau melihat dengan jelas siapa sejatinya sang pamomong masing-masing diri kita. Dalam pembahasan khusus suatu waktu akan saya uraikan secara detail mengenai jati diri sang Pamomong.

TATACARA WETONAN

Perhatikan "Sate" di pucuk tumpengSetiap anak baru lahir, orang tuanya membuat bancakan weton pertama kali biasanya pada saat usia bayi menginjak hari ke 35 (selapan hari). Bancakan weton dapat dilaksanakan tepat pada acara upacara selapanan atau selamatan ulang weton yang pertama kali. Anak yang sering dibuatkan bancakan weton secara rutin oleh orangtuanya, biasanya hidupnya lebih terkendali, lebih berkualitas atau bermutu, lebih hati-hati, tidak liar dan ceroboh, dan jarang sekali mengalami sial. Bahkan seorang anak yang sakit-sakitan, sering jatuh hingga berdarah-darah, nakal bukan kepalang, setelah dibuatkan bancakan weton si anak tidak lagi sakit-sakitan, dan tidak nakal lagi. Dalam beberapa kasus saya menyaksikan sendiri seorang anak sakit panas, sudah di bawa periksa dokter tetap belum ada tanda-tanda sembuh, lalu setelah dibikinkan bancakan weton hanya selang 2 jam sakit demannya langsung sembuh. Inilah sekelumit contoh yang sering saya lihat dengan mata kepala sendiri  persoalan di seputar bancakan weton. Masih banyak lagi yang tak bisa saya ceritakan di sini.

Mungkin para pembaca yang budiman memiliki banyak pengalaman spiritual di seputar soal weton, saya berharap anda berkenan untuk berbagi kisah di sini agar bermanfaat bagi kita semua. Baiklah, pada kesempatan ini saya akan paparkan secara singkat uborampe untuk membuat bancakan weton.

BAHAN-BAHAN

1. Tujuh macam sayuran : kacang panjang dan kangkung (harus ada), kubis, kecambah/tauge yang panjang, wortel,  daun kenikir, bayam, dll bebas memilih yang penting jumlahnya ada 7 macam. Seluruh sayuran direbus sampai masak, tetapi jangan sampai mlonyoh, atau terlalu matang. Agar tidak mlonyoh, setelah diangkat langsung disiram dengan air es atau cukup disiram air dingin biasa, sehingga sayuran masih tampak hijau segar tetapi sudah matang.

Bancakan weton

Maknanya ; 7 macam sayur, tuju atau (Jawa; pitu), yakni mengandung sinergisme harapan akan mendapat pitulungan (pertolongan) Tuhan. Kacang panjang dan kangkung tidak boleh dipotong-potong, biarkan saja memanjang apa adanya. Maknanya adalah doa panjang rejeki, panjang umur, panjang usus (sabar), panjang akal.

2. Telur ayam (bebas telur ayam apa saja). Jumlah telur bisa 7, 11, atau 17 butir anda bebas menentukannya. Telur ayam direbus lalu dikupas kulitnya.

Maknanya ; jumlah telur 7 (pitu), 11 (sewelas), 17 (pitulas) bermaksud sebagai doa agar mendapatkan pitulungan (7), atau kawelasan (11), atau pitulungan dan kawelasan (17).

3. Bumbu urap atau gudangan. Jika yang diberi bancakan weton masih usia kanak-kanak sampai usia sewindu (8 tahun) bumbunya tidak pedas. Usia lebih dari 8 tahun bumbu urap/gudangannya pedas.   Bumbu gudangan terdiri : kelapa agak muda diparut. Diberi  bumbu masak sbb : bawang putih, bawang merah, ketumbar, daun salam, laos, daun jeruk purut, sereh, gula merah dan garam secukupnya. Kalau bumbu pedas tinggal menambah cabe secukupnya. Kelapa parut dan bumbu dicampur lalu dibungkus daun pisang dan dikukus sampai matang.

Maknanya : bumbu pedas menandakan bahwa seseorang sudah berada pada rentang  kehidupan yang sesungguhnya. Kehidupan yang penuh manis, pahit, dan getir. Hal ini melambangkan falsafah Jawa yang mempunyai pandangan bahwa pendidikan kedewasaan anak harus dimulai sejak dini. Pada saat anak usia lewat sewindu sudah  harus belajar tentang kehidupan yangs sesungguhnya.  Karena usia segitu adalah usia yang paling efektif untuk sosialisasi, agar kelak menjadi orang yang pinunjul, mumpuni, perilaku utama, bermartabat dan bermanfaat bagi sesama manusia, seluruh makhluk, lingkungan alamnya.

4. Empat macam polo-poloan. Terdiri dari; 1) polo gumantung (umbi yang tergantung di pohon misalnya; pepaya), 2) polo kependem (tertaman dalam tanah) misalnya telo (singkong), 3) polo rambat atau yang merambat misalnya ubi jalar.  4) kacang-kacangan bisa diwakili dengan kacang tanah. Semuanya direbus kecuali papaya. Papaya boleh utuh atau separoh/sepotong saja.

Bubur 7 Rupa, buah-buahan & jajanan pasar

5. Nasi Tumpeng Putih. Beras dimasak (nasi) untuk membuat tumpeng. Perkirakan mencukupi untuk minimal 7 porsi. Sukur lebih banyak misalnya untuk 11 atau 17 porsi. Setelah nasi tumpeng selesai dibuat dan di doakan, lalu dimakan bersama sekeluarga dan para tetangga. Jumlah minimal orang yang makan usahakan 7 orang, semakin banyak semakin baik, misalnya 11 orang, 17 orang. Porsi nasi tumpeng boleh dibagi-bagikan ke para tetangga anda.

Maknanya, dimakan 7 orang dengan harapan mendapat pitulungan yang berlipat tujuh.  Jika 11 orang, berharap mendapat kawelasan yang berlipat sebelas. 17 berharap mendapat pitulungan lan kawelasan berlipat 17. Namun hal ini hanya sebagai harapan saja, perkara terkabul atau tidak hal itu menjadi “hak prerogatif” Tuhan.

6. Alat-alat kelengkapan : 1) daun pisang secukupnya, digunakan sebagai alas tumpeng (lihat gambar). 2) kalo (saringan santan) harus yang baru atau belum pernah digunakan. 3)  cobek tanah liat yang baru atau belum pernah digunakan.   Cara menggunakannya lihat dalam gambar.

7. Makanan jajan pasar. Terdiri dari makanan tradisional yang ada di pasar. Misalnya makanan terbuat dari ketan; wajik, jadah, awug, puthu, lemper dll. Makanan yang terbuat dari beras ; apem, cucur, mandra. Serta dilengkapi buah-buahan yang ditemui di pasar seperti salak, rambutan, manggis, mangga, kedondong, pisang. Semuanya dibeli secukupnya saja, jangan terlalu banyak, jangan terlalu sedikit.

Maknanya ; kesehatan, rejeki, keselamatan, supaya selalu lengket, menyertai kemanapun pergi, dan dimanapun berada.

8. Kembang setaman (terdiri dari ; mawar merah, mawar putih, kantil, melati, kenanga).

Kembang Setaman

Maknanya : kembang setaman masing-masing memiliki arti sendiri-sendiri. Misalnya bunga mawar ; awar-awar supaya hatinya selalu tawar dari segala nafsu negatif. Bunga melati, melat-melat ing ati selalu eling dan waspada. Bunga kenanga, agar selalu terkenang atau teringat akan sangkan paraning dumadi. Kanthil supaya tansah kumanthil, hatinya selalu terikat oleh tali rasa dengan para leluhur yang menurunkan kita, kepada orang tua kita, dengan harapan kita selalu berbakti kepadanya. Kanthil sebagai pepeling agar supaya kita jangan sampai menjadi anak atau keturunan yang durhaka kepada orang tua, dan kepada para leluhurnya, leluhur yang menurunkan kita dan leluhur perintis bangsa.

9. Uang Logam (koin) Rp.100 atau 500, atau 1000. (Cara menyajikan lihat gambar).

10. Bubur 7 rupa : bahan dasar bubur putih atau gurih (santan dan garam) dan bubur merah atau bubur manis (ditambah gula jawa dan garam secukupnya).  Selanjutnya dibuat menjadi 7 macam kombinasi; bubur merah, bubur putih, bubur merah silang putih, putih silang merah, bubur putih tumpang merah, merah tumpang putih, baro-baro (bubur putih ditaruh sisiran gula merah dan parutan kelapa secukupnya).

Maknanya : bubur merah adalah lambang ibu. Bubur putih lambang ayah. Lalu terjadi hubungan silang menyilang, timbal-balik, dan keluarlah bubur baro-baro sebagai kelahiran seorang anak. Hal ini menyiratkan ilmu sangkan, asal mula kita. Menjadi pepeling agar jangan sampai kita menghianati ortu, menjadi anak yang durhaka kepada orang tua.

bubur 7 rupa

bubur 7 rupa

Perhatikan Kalo & Daun Pisang

11. Membuat teh tubruk dan kopi tubruk. Di tambah rujak degan (klamud) menggunakan air kelapa ditambah gula merah dan garam secukupnya. Sajikan dalam gelas atau cangkir tetapi jangan ditutup.

FILE0217

CARA MENYAJIKAN

1. Buatlah “sate” terdiri dari (urutkan dari bawah); cabe merah (posisi horizontal), bawang merah, telur rebus utuh dikupas kulitnya (posisi vertical), dan cabe merah posisi vertical (lihat dalam gambar).  “Sate” ditancapkan di pucuk tumpeng.

Maknanya ; kehidupan ini penuh dengan pahit, getir, pedas, manis, gurih. Untuk menuju kepada Hyang Maha Tunggal banyak sekali rintangannya. Sate ditancapkan di pucuk tumpeng mengandung pelajaran bahwa untuk mencapai kemuliaan hidup di dunia (kemuliaan) dan setelah ajal (surga atau kamulyan sejati) semua itu tergantung pada diri kita sendiri. Jika meminjam istilah, habluminannas merupakan sarat utama dalam menggapai habluminallah. Hidup adalah perbuatan nyata. Kita mendapatkan ganjaran apabila hidup kita bermanfaat untuk sesama manusia, sesama makhluk Tuhan yang tampak maupun yang tidak tampak, termasuk binatang dan lingkungan alamnya.

2. Nasi tumpeng dicetak kerucut besar di bawah runcing di bagian atas. Tumpeng letakkan tepat di tengah-tengah kalo.

Maknanya ; nasi tumpeng sebagai wujud doa, sekaligus keadaan di dunia ini. Segala macam dan ragam yang ada di dunia ini adalah bersumber dari Yang Satu. Dilambangkan sebagai tumpeng berbentuk kerucut di atas. Makna lainnya bahwa segala macam doa merupakan upaya sinergisme kepada Tuhan YME. Oleh sebab itu, di bagian bawah tumpeng bentuknya lebar dan besar, semakin ke atas semakin kerucut hingga bertemu dalam satu titik. Satu titik itu menjadi pucuk atau penyebab dari segala yang ada (causa prima) melambangkan eksistensi Tuhan sebagai episentrum dari segala episentrum.

3. Tujuh macam sayur ditata mengelilingi tumpeng serta bumbu gudangan/urap diletakkan di antaranya. Makna 7 macam sayur sudah saya ungkapkan di atas. Sayur di tata mengelilingi tumpeng. Tumpeng sebagai pusatnya energy ada di tengah. Energy diisi dengan segala hal yang positif seperti harmonisasi symbol angka 7 (nyuwun pitulungan).

4. Telur rebus boleh utuh atau dibelah menjadi dua, ditata mengelilingi nasi tumpeng (lihat gambar).

Maknanya : telur merupakan asal muasal terjadinya makhluk hidup. dalam serat Wedhatama karya Gusti Mangkunegoro ke IV, telur melambangkan proses meretasnya kesadaran ragawi (sembah raga) menjadi kesadaran ruhani (sembah jiwa). Dua kesadaran itu akan menghantarkan menjadi menusia yang sejati (sebagai kiasan dari proses menetas menjadi anak ayam). Dalam cerita pewayangan telur juga melambangkan proses terjadinya dunia ini. Kuning telur sebagai perlambang dari cahya sejati (manik maya), putih telur sebagai rasa sejati (teja maya). Keduanya ambabar jati menjadi Kyai Semar. Dengan perlambang telur, kita diharapkan selalu eling sangkan (ingat asal muasal), menghargai dan memahami eksistensi sang Guru Sejati kita yang tidak lain adalah sukma sejati yang dilimput oleh rasa sejati dan disinari sang cahya sejati. Inilah unsur  Tuhan yang ada dalam diri kita. Dan yang paling dekat; adoh tanpa wangenan, cedak tanpa senggolan (jauh tanpa jarak, dekat tanpa bersentuhan). Lebih dekat dari urat leher. Inilah salah satu sang Pamomong yang kita hargai eksistensinya melalui bancakan weton.

5. Kalo diletakkan di atas cobek (kalo dialasi dengan cobek).

Maknanya : Cobek merupakan makna dari bumi (tanah) tempak kita berpijak. Nasi tumpeng dan segala isinya yang diletakkan dalam kalo jika tidak dialasi cobek bisa terguling. Hal ini mensyiratkan makna hendaknya menjalani hidup di dunia ini ada keseimbangan atau harmonisasi antara jasmani dan rohani. Antara unsur bumi dan unsur Tuhan. Antara kebutuhan raga dengan kebutuhan jiwa, sehingga menjadi manusia sejati yang meraih kemerdekaan lahir dan kemerdekaan batin.

6. Daun pisang dihias sedemikian rupa sesuai selera sebagai alas meletakkan tumpeng dan sayuran. Daun yang hijau adalah lambang kesuburan dan pertumbuhan. Maknanya adalah pengharapan doa negeri kita maupun pribadi kita selalu diberkati Tuhan sebagai negeri yang subur makmur, ijo royo-royo, kita menjadi pribadi yang subur makmur, dapat menciptakan kesuburan bagi alam sekitar dan kepada sesama makhluk hidup.

7. Sisa guntingan atau potongan daun pisang, hendaknya diletakkan di antara cobek dengan kalo. Jangan lupa letakkan uang logam bersama sampah sisa potongan daun pisang. Hal ini bermakna segala macam “sampah kehidupan”, sebel sial, sifat-sifat buruk ditimbun atau dikendalikan oleh segala macam perilaku kebaikan sebagaimana tersirat di dalam seluruh isi kalo. Uang logam merupakan perlambang dari harta duniawi. Hal ini mengandung pepeling (peringatan) bahwasanya harta karun dan segala macam perhiasan duniawi ibarat sampah tidak akan berharga apa-apa jika tidak digunakan sebagai sarana laku prihatin. Hal itu menjadikan harta kita tak ubahnya seperti sampah yang mengotori kehidupan kita. Maka, jadilah orang kaya harta yang selalu prihatin. Manfaatkan harta kita untuk memberi dan menolong orang lain yang sangat butuh pertolongan dan bantuan, agar tangan kita lebih mampu “telungkup”, agar jangan sampai kita menjadi orang-orang fakir yang telapak tangannya selalu tengadah dan menjadi beban orang lain.

8. Kembang setaman ditaruh dalam mangkok/baskom isi air mentah. Jika ingin menambah dengan dupa ratus / semacam “dupa manten” bisa dibakar sekalian pada saat merapal doa dan japa mantra.

Setelah seluruh uborampe bancakan weton selesai dibuat. Seluruh ubo rampe bancakan diletakkan di dalam kamar yang sedang dibancaki weton. Selanjutnya dirapal mantra dan doa, usahakan yang merapal mantra atau doa seorang pepunden anda yang masih hidup. Misalnya orang tua anda, bude, bulik, atau orang yang anda tuakan/hormati. Adapun doa dan rapalnya secara singkat dan sederhana sbb :

“Kyai among nyai among, ngaturaken pisungsung kagem para leluhur ingkang sami nurunaken jabang bayine…. (diisi nama anak/orang yang diwetoni) mugi tansah kersa njangkung lan njampangi lampahipun, dados lare/tiyang ingkang tansah hambeg utama, wilujeng rahayu, mulya,  sentosa lan raharja. Wilujeng rahayu kang tinemu, bondo lan bejo kang teko. Kabeh saka kersaning Gusti”.

(Kyai among nyai among, perkenankan menghaturkan persembahan untuk para leluhur yang menurunkan jabang bayi ….(sebut namanya), semoga selalu membimbing, mengarahkan setiap langkahnya, agar menjadi orang yang berbudi pekerti luhur,  selamat dan mulia dunia akhirat. Selamat selalu didapat, sukses dan keberuntungan selalu datang. Semua atas izin Tuhan)

Setelah bancakan dihaturkan, tinggalkan sebentar sekitar 10-20 menit lalu dihidangkan di ruang makan atau diedarkan ke para tetangga untuk dimakan bersama-sama.  Demikian share saya ttg bancakan weton, semoga bermanfaat bagi siapapun yang membutuhkan.  http://sabdalangit.wordpress.com

About these ads

About SABDå

gentleman, Indonesia Raya

Posted on November 4, 2009, in Tata Cara Bancakan Weton and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. 158 Komentar.

  1. biar LAKU dagang nya…PRIHATIN aja…hi hi hi…

    • @ hi hi hi…

      terima kasih dan salam kenal, saya nggak berdagang/jualan, saya disini kerja ikut orang sebagai PRT aja. bancakan weton ini hanya kesadaran diri aja atau lebih tepatnya self-interesting saya. dan kebetulan bancakan yang akan saya lakukan ini nantinya akan menjadi bancakan weton untuk yang pertama kalinya dalam hidup saya.

      kepada semuanya teman2 disini mohon didoakan agar semuanya berjalan lancar dan sukses.

      Terima kasih dan salam manis selalu,

      dewi

    • @Hi Hi Hi;

      Pengggunaan nama dan komentar Anda mencerminkan diri Anda saat ini.
      Tidak perlu dijawab tapi direnungkan.
      Ketika seseorang tidak mampu menghargai kearifan sebuah budaya jangan harap orang tersebut mampu menemukan dirinya sendiri.

  2. terima kasih utk catatan atas budaya luhu ryg sangat luar biasa ini. semoga kita semua selamat. semoga semua mendapat kedamaian dan batin makin tercerahkan.

  3. nyuwun ijin copas.
    ngapunten lagi sakmeniko
    matur nuwun sak derenge

  4. tuntun indrayati

    Yth, Ki Sabdalangit

    Mohon ijin copas…

    Matur sembah nuwun. Salam Rahajeng

  5. MATUR NUWUN….. kulo saestu matur nuwun sanget

  6. Yth, Ki sabda,
    ki apakah slamatan weton tersebut harus lengkap, apakah bisa cuma jajan pasar dan bubur saja,maturnuwun

  7. iya neh,,, TS suka bikin onar, mungkin diluar dia g di’reken’ kali…
    mungkin itu cara dia ngambil perhatian ke kita2 hehe

  8. ki mohon pencerahan kalo bancakan weton buat sendiri tapi yang doain sendiri bagaimana.nuwun

  9. ki, bancakan weton apa perlu di bancaki tiap pas wetonnya?

  10. Bagi yg gak sepaham dg kejawen gak usah nimbrung, sebaliknya yg merasa kejawen ya jangan gampang tersinggung.

  11. kejawen bukan lah faham!

  12. Sewaktu saya hidup sebagai Wild Bill Hickok, Mc Call menembak kepala saya dari belakang. Ribuan tahun sebelumnya sewaktu hidup di india, saya sudah melatih ilmu membelah diri.

    Saat saya ditembak oleh Mc Call, pikiran saya terpecah menjadi dua:
    1. Pemuda gembala, hidup sebagai Hitler.
    2. Pemuda berjanggut, hidup sebagai Parahamsa Yogananda.

    Setelah saya lahir kembali tahun 1973, tepat lewatnya komet kohoutek, komet terterang abad 20, kedua pikiran saya kembali pada tempatnya.
    Saya (pemuda gembala dan pemuda berjanggut) akan segera menuju Lebak Cawene.

  13. Matur Nuwun Ki atas pencerahannya…

  14. Matur nuwun Ki Sabda,sy jd tmbh pngtahuan.

  15. Mawongcai yuenlng

    Saya telah melakukan Bancakan & Puasa Apit weton seperti yang diWedarkan oleh Ki Sabda, Dan hasil’y sungguh sangat mengagumkan ,,, 15 hari kemudian dari saya melakukan Ritual tersebut diAtas, Saya langsung mendapat perubahan hidup yang sangat drastis karena Saya tiba2 mendapat kenaikan gaji yang cukup Fantastis menurut ukuran saya yaitu 3 juta skali naik, awal’y gaji bulanan saya cuman 7 juta, dengan kenaikan yang 3 Juta Skarang jadi 10/bulan ,,, padahal saya baru melakukan Bancakan & Puasa Apit Weton 1x, mungkin akan lebih hebat lagi klo bisa dilakukan Setiap Wetonan ,,,

  16. Boleh tidak,mbancak i weton sendiri? Maksudnya doanya sy rapali sendiri.

  17. bagus sih tapi kayaknya kurang lengkap deh ….

  18. request kalimat pengkabul e ngih,,,,heheeee kangen kalimat kocak kocak nya iki ,,,,,,,,

  19. Mohon informasi apakah bancakan weton itu dilakukan dengan cara lain atau bila ditambah dengan kirim donga Al-Fatekah untuk leluhur juga penjaga atau pembimbing gaib kita itu sebagai ucapan syukur? matur suwun

  20. kasih tau juga carane ngujudke/dunungke mas

  21. Terima kasih buat Ki Sabda Langit, ini pengalaman nyata saya setelah melakukan Bancakan Weton. Waktu itu saya setelah membaca artikel ini, langsung saya lakukan pas hari weton saya, dan memang butuh kesabaran yg tinggi utk memenuhi syarat2 bancakan tsb, dikarenakan uba rampenya yg susah didapatkan spt Pisang Raja Pulut (hanya di pasar tradisional saja) serta beraneka sayuran yg disuguhkan. Akhirnya saya dgn dibantu Ibu saya melakukan ritual bancakan tsb, dari shubuh sampe siang akhirnya saya selesai membuat Bancakan tsb. Setelah itu diberikan doa oleh kedua orang tua saya, lalu saya bilang,”mohon didoakan agar saya cepet dpt pekerjaan & dpt jodoh”. Setelah didoakan sama orangtua saya, bbrp saat saya menunggu & langsung saya bagikan ke tujuh org tetangga. Dan yg membuat ajaib nich, ini asli pengalaman saya, selang sekitaran 2 bulan, tiba2 siang pukul 12 saya di sms sama sebuah perusahaan BUMN yg 1 tahun lalu saya pernah melamar pekerjaan disana, isinya saya disuruh utk menemui Pimpinannya. Trs saya dtg ke Persh.tsb, begitu dipersilakan duduk, saya langsung dinyatakan diterima! Rasa kaget bercampur haru, gak bisa saya ungkapkan. Selidik punya selidik, mereka melihat background saya yg sdh pernah bekerja di bank swasta itu yg dijadikan sbg acuan. Setelah bbrp bulan bekerja di perusahaan tsb, saya dikenalkan sama rekan se-kantor saya, dia bilang,”kamu mau saya kenalin sama temenku?, dia masih jomblo nich”. Tanpa basa basi langsung gayung bersambut, aku menerimanya, karena sesuai dgn kriteria saya, dia juga punya pekerjaan yg bagus & mapan. Mungkin saya akan melangkah ke jenjang yg lebih serius tahun ini. Semoga. Dan saya berterima kasih banyak dgn adanya artikel ini sangat membantu sekali, sekali lagi Terima Kasih Ki Sabda Langit……. owh ya Ki, saya ingin sekali bertemu anda. Saya jg pengen bertanya, apa ada hubungan dengan forum KWA? koq saya lihat ada perkumpulannya di Sidoarjo? suwun.

  22. cocok banget

  23. kalo didoain sendiri atau suami boleh ga?

  24. Matur nuwun artikelnya, sebagai orang jawa mguri nguri budaya seperti bancakan weton sangat penting. Ingat asal usul kita, makan dan hidup dari tanah jawa. Rahayu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 904 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: