TATA CARA BANCAKAN WETON

Bancakan WetonBancakan weton dilakukan tepat pada hari weton kita. Dalam tradisi Jawa, seseorang harus dibuatkan bancakan weton minimal sekali selama seumur hidup. Namun akan lebih baik dilakukan paling tidak setahun sekali. Apabila seseorang sudah merasakan sering mengalami kesialan (sebel-sial), ketidakberuntungan, selalu mengalami kejadian buruk, biasanya dilakukan bancakan weton selama 7 kali berturut-turut, artinya sekali bancakan setiap 35 hari, selama 7 bulan berturut-turut.

MANFAAT BANCAKAN

Manfaat dan tujuan bancakan weton adalah untuk “ngopahi sing momong”, karena masyarakat Jawa percaya dan memahami jika setiap orang ada yang momong (pamomong) atau “pengasuh dan pembimbing” secara metafisik. Pamomong bertugas selalu membimbing dan mengarahkan agar seseorang tidak salah langkah, agar supaya lakune selalu pener, dan pas. Pamomong sebisanya selalu menjaga agar kita  bisa terhindar dari perilaku yang keliru, tidak tepat, ceroboh, merugikan. Antara pamomong dengan yang diemong seringkali terjadi kekuatan tarik-menarik. Pamomong menggerakkan ke arah kareping rahsa, atau mengajak kepada hal-hal baik dan positif,  sementara yang diemong cenderung menuruti rahsaning karep, ingin melakukan hal-hal semaunya sendiri, menuruti keinginan negative,  dengan mengabaikan kaidah-kaidah hidup dan melawan tatanan yang akan mencelakai diri pribadi, bahkan merusak ketenangan dan ketentraman masyarakat. Antara pamomong dengan yang diemong terjadi tarik menarik, Dalam rangka tarik-menarik ini,  pamomong tidak selalu memenangkan “pertarungan” alias kalah dengan yang diemong. Dalam situasi demikian yang diemong lebih condong untuk selalu mengikuti rahsaning karep (nafsu). Bahkan tak jarang apabila seseorang kelakuannya sudah tak terkendali atau mengalami disorder, sing momong biasanya sudah enggan untuk memberikan bimbingan dan asuhan. Termasuk juga bila yang diemong mengidap penyakit jiwa. Dalam beberapa kesempatan saya pernah  nayuh si pamomong seseorang yang sudah mengalami disorder misalnya kelakuannya liar dan bejat, sering mencelakai orang lain,  ternyata pamomong akhirnya meninggalkan yang diemong karena sudah enggan memberikan bimbingan dan  asuhan kepada seseorang tersebut. Pamomong sudah tidak  lagi mampu mengarahkan dan membimbingnya. Apapun yang dilakukan untuk mengarahkan kepada segala kebaikan, sudah sia-sia saja.

Kebanyakan kasus pada seseorang yang mengalami disorder biasanya sang pamomong-nya diabaikan, tidak dihargai sebagaimana mestinya padahal pamomong selalu mencurahkan perhatian kepada yang diemong, selalu mengajak kepada yang baik, tepat, pener dan pas. Sehingga hampir tidak pernah terjadi interaksi antara diri kita dengan yang momong. Dalam tradisi Jawa, interaksi sebagai bentuk penghargaan kepada pamomong, apalagi diopahi dengan cara membuat bancakan weton. Eksistensi pamomong oleh sebagian orang dianggapnya sepele bahkan sekedar mempercayai keberadaannya  saja dianggap sirik. Tetapi bagi saya pribadi dan kebanyakan orang yang mengakui eksistensi dan memperlakukan secara bijak akan benar-benar menyaksikan daya efektifitasnya. Kemampuan diri kita juga akan lebih optimal jika dibanding dengan orang yang tidak pernah melaksanakan bancakan weton. Selama ini saya mendapat kesaksian langsung dari teman-teman yang saya anjurkan agar mem-bancaki wetonnya sendiri. Mereka benar-benar merasakan manfaatnya bahkan seringkali secara spontan memperoleh kesuksesan setelah melaksanakan bancakan weton. Hal itu tidak lain karena daya metafisis kita akan lebih maksimal bekerja. Katakanlah, antara batin dan lahir kita akan lebih seimbang, harmonis dan sinergis, serta keduanya baik fisik dan metafisik akan menjalankan fungsinya secara optimal untuk saling melengkapi dan menutup kelemahan yang ada. Bancakan weton juga tersirat makna, penyelarasan antara lahir dengan batin, antara jasad dan sukma, antara alam sadar dan bawah sadar.

SIAPAKAH SEBENARNYA SANG PAMOMONG ?

Pertanyaan di atas seringkali dilontarkan. Saya pribadi terkadang merasa canggung untuk menjelaskan secara detil, oleh karena tidak setiap orang mampu memahami. Bahkan seseorang yang bener-bener tidak paham siapa yang momong, kemudian bertanya, namun setelah dijawab toh akhirnya membantah sendiri. Seperti itulah karakter pikir sebagian anak zaman sekarang yang terlalu “menuhankan” rasio dan sebagian yang lain tidak menyadari bahwa dirinya sedang tidak sadar. Apapun reaksinya, kiranya saya tetap perlu sekali menjelaskan siapa jati diri sang pamomong ini agar supaya para pembaca yang budiman yang memiliki antusiasme akan luasnya bentang sayap keilmuan, dan secara dinamis berusaha menggapai kualitas hidup lebih baik dari sebelumnya dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan yang lebih luas.

Pamomong, atau sing momong, adalah esensi energy yang selalu mengajak, mengarahkan, membimbing dan mengasuh diri kita kepada sesuatu yang tepat, pas dan pener dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Esensi energy dapat dirasakan bagaikan medan listrik, yang mudah dirasakan tetapi sulit dilihat dengan mata wadag. Jika eksistensi listrik dipercaya ada, karena bisa dirasakan dan dibuktikan secara ilmiah. Sementara itu eksistensi pamomong sejauh ini memang bisa dirasakan, dan bagi masyarakat yang masih awam pembuktiannya masih terbatas pada prinsip-prinsip silogisme setelah menyaksikan dan mersakan realitas empiris. Pamomong diakui eksistensinya setelah melalui proses konklusi dari pengalaman unik (unique experience) yang berulang terjadi pada diri sendiri dan yang dialami banyakan orang.  Lain halnya bagi sebagian masyarakat yang pencapaian spiritualitasnya sudah memadai dapat pembuktiannya  tidak hanya sekedar merasakan saja, namun dapat menyaksikan atau melihat dengan jelas siapa sejatinya sang pamomong masing-masing diri kita. Dalam pembahasan khusus suatu waktu akan saya uraikan secara detail mengenai jati diri sang Pamomong.

TATACARA WETONAN

Perhatikan "Sate" di pucuk tumpengSetiap anak baru lahir, orang tuanya membuat bancakan weton pertama kali biasanya pada saat usia bayi menginjak hari ke 35 (selapan hari). Bancakan weton dapat dilaksanakan tepat pada acara upacara selapanan atau selamatan ulang weton yang pertama kali. Anak yang sering dibuatkan bancakan weton secara rutin oleh orangtuanya, biasanya hidupnya lebih terkendali, lebih berkualitas atau bermutu, lebih hati-hati, tidak liar dan ceroboh, dan jarang sekali mengalami sial. Bahkan seorang anak yang sakit-sakitan, sering jatuh hingga berdarah-darah, nakal bukan kepalang, setelah dibuatkan bancakan weton si anak tidak lagi sakit-sakitan, dan tidak nakal lagi. Dalam beberapa kasus saya menyaksikan sendiri seorang anak sakit panas, sudah di bawa periksa dokter tetap belum ada tanda-tanda sembuh, lalu setelah dibikinkan bancakan weton hanya selang 2 jam sakit demannya langsung sembuh. Inilah sekelumit contoh yang sering saya lihat dengan mata kepala sendiri  persoalan di seputar bancakan weton. Masih banyak lagi yang tak bisa saya ceritakan di sini.

Mungkin para pembaca yang budiman memiliki banyak pengalaman spiritual di seputar soal weton, saya berharap anda berkenan untuk berbagi kisah di sini agar bermanfaat bagi kita semua. Baiklah, pada kesempatan ini saya akan paparkan secara singkat uborampe untuk membuat bancakan weton.

BAHAN-BAHAN

1. Tujuh macam sayuran : kacang panjang dan kangkung (harus ada), kubis, kecambah/tauge yang panjang, wortel,  daun kenikir, bayam, dll bebas memilih yang penting jumlahnya ada 7 macam. Seluruh sayuran direbus sampai masak, tetapi jangan sampai mlonyoh, atau terlalu matang. Agar tidak mlonyoh, setelah diangkat langsung disiram dengan air es atau cukup disiram air dingin biasa, sehingga sayuran masih tampak hijau segar tetapi sudah matang.

Bancakan weton

Maknanya ; 7 macam sayur, tuju atau (Jawa; pitu), yakni mengandung sinergisme harapan akan mendapat pitulungan (pertolongan) Tuhan. Kacang panjang dan kangkung tidak boleh dipotong-potong, biarkan saja memanjang apa adanya. Maknanya adalah doa panjang rejeki, panjang umur, panjang usus (sabar), panjang akal.

2. Telur ayam (bebas telur ayam apa saja). Jumlah telur bisa 7, 11, atau 17 butir anda bebas menentukannya. Telur ayam direbus lalu dikupas kulitnya.

Maknanya ; jumlah telur 7 (pitu), 11 (sewelas), 17 (pitulas) bermaksud sebagai doa agar mendapatkan pitulungan (7), atau kawelasan (11), atau pitulungan dan kawelasan (17).

3. Bumbu urap atau gudangan. Jika yang diberi bancakan weton masih usia kanak-kanak sampai usia sewindu (8 tahun) bumbunya tidak pedas. Usia lebih dari 8 tahun bumbu urap/gudangannya pedas.   Bumbu gudangan terdiri : kelapa agak muda diparut. Diberi  bumbu masak sbb : bawang putih, bawang merah, ketumbar, daun salam, laos, daun jeruk purut, sereh, gula merah dan garam secukupnya. Kalau bumbu pedas tinggal menambah cabe secukupnya. Kelapa parut dan bumbu dicampur lalu dibungkus daun pisang dan dikukus sampai matang.

Maknanya : bumbu pedas menandakan bahwa seseorang sudah berada pada rentang  kehidupan yang sesungguhnya. Kehidupan yang penuh manis, pahit, dan getir. Hal ini melambangkan falsafah Jawa yang mempunyai pandangan bahwa pendidikan kedewasaan anak harus dimulai sejak dini. Pada saat anak usia lewat sewindu sudah  harus belajar tentang kehidupan yangs sesungguhnya.  Karena usia segitu adalah usia yang paling efektif untuk sosialisasi, agar kelak menjadi orang yang pinunjul, mumpuni, perilaku utama, bermartabat dan bermanfaat bagi sesama manusia, seluruh makhluk, lingkungan alamnya.

4. Empat macam polo-poloan. Terdiri dari; 1) polo gumantung (umbi yang tergantung di pohon misalnya; pepaya), 2) polo kependem (tertaman dalam tanah) misalnya telo (singkong), 3) polo rambat atau yang merambat misalnya ubi jalar.  4) kacang-kacangan bisa diwakili dengan kacang tanah. Semuanya direbus kecuali papaya. Papaya boleh utuh atau separoh/sepotong saja.

Bubur 7 Rupa, buah-buahan & jajanan pasar

5. Nasi Tumpeng Putih. Beras dimasak (nasi) untuk membuat tumpeng. Perkirakan mencukupi untuk minimal 7 porsi. Sukur lebih banyak misalnya untuk 11 atau 17 porsi. Setelah nasi tumpeng selesai dibuat dan di doakan, lalu dimakan bersama sekeluarga dan para tetangga. Jumlah minimal orang yang makan usahakan 7 orang, semakin banyak semakin baik, misalnya 11 orang, 17 orang. Porsi nasi tumpeng boleh dibagi-bagikan ke para tetangga anda.

Maknanya, dimakan 7 orang dengan harapan mendapat pitulungan yang berlipat tujuh.  Jika 11 orang, berharap mendapat kawelasan yang berlipat sebelas. 17 berharap mendapat pitulungan lan kawelasan berlipat 17. Namun hal ini hanya sebagai harapan saja, perkara terkabul atau tidak hal itu menjadi “hak prerogatif” Tuhan.

6. Alat-alat kelengkapan : 1) daun pisang secukupnya, digunakan sebagai alas tumpeng (lihat gambar). 2) kalo (saringan santan) harus yang baru atau belum pernah digunakan. 3)  cobek tanah liat yang baru atau belum pernah digunakan.   Cara menggunakannya lihat dalam gambar.

7. Makanan jajan pasar. Terdiri dari makanan tradisional yang ada di pasar. Misalnya makanan terbuat dari ketan; wajik, jadah, awug, puthu, lemper dll. Makanan yang terbuat dari beras ; apem, cucur, mandra. Serta dilengkapi buah-buahan yang ditemui di pasar seperti salak, rambutan, manggis, mangga, kedondong, pisang. Semuanya dibeli secukupnya saja, jangan terlalu banyak, jangan terlalu sedikit.

Maknanya ; kesehatan, rejeki, keselamatan, supaya selalu lengket, menyertai kemanapun pergi, dan dimanapun berada.

8. Kembang setaman (terdiri dari ; mawar merah, mawar putih, kantil, melati, kenanga).

Kembang Setaman

Maknanya : kembang setaman masing-masing memiliki arti sendiri-sendiri. Misalnya bunga mawar ; awar-awar supaya hatinya selalu tawar dari segala nafsu negatif. Bunga melati, melat-melat ing ati selalu eling dan waspada. Bunga kenanga, agar selalu terkenang atau teringat akan sangkan paraning dumadi. Kanthil supaya tansah kumanthil, hatinya selalu terikat oleh tali rasa dengan para leluhur yang menurunkan kita, kepada orang tua kita, dengan harapan kita selalu berbakti kepadanya. Kanthil sebagai pepeling agar supaya kita jangan sampai menjadi anak atau keturunan yang durhaka kepada orang tua, dan kepada para leluhurnya, leluhur yang menurunkan kita dan leluhur perintis bangsa.

9. Uang Logam (koin) Rp.100 atau 500, atau 1000. (Cara menyajikan lihat gambar).

10. Bubur 7 rupa : bahan dasar bubur putih atau gurih (santan dan garam) dan bubur merah atau bubur manis (ditambah gula jawa dan garam secukupnya).  Selanjutnya dibuat menjadi 7 macam kombinasi; bubur merah, bubur putih, bubur merah silang putih, putih silang merah, bubur putih tumpang merah, merah tumpang putih, baro-baro (bubur putih ditaruh sisiran gula merah dan parutan kelapa secukupnya).

Maknanya : bubur merah adalah lambang ibu. Bubur putih lambang ayah. Lalu terjadi hubungan silang menyilang, timbal-balik, dan keluarlah bubur baro-baro sebagai kelahiran seorang anak. Hal ini menyiratkan ilmu sangkan, asal mula kita. Menjadi pepeling agar jangan sampai kita menghianati ortu, menjadi anak yang durhaka kepada orang tua.

bubur 7 rupa

bubur 7 rupa

Perhatikan Kalo & Daun Pisang

11. Membuat teh tubruk dan kopi tubruk. Di tambah rujak degan (klamud) menggunakan air kelapa ditambah gula merah dan garam secukupnya. Sajikan dalam gelas atau cangkir tetapi jangan ditutup.

FILE0217

CARA MENYAJIKAN

1. Buatlah “sate” terdiri dari (urutkan dari bawah); cabe merah (posisi horizontal), bawang merah, telur rebus utuh dikupas kulitnya (posisi vertical), dan cabe merah posisi vertical (lihat dalam gambar).  “Sate” ditancapkan di pucuk tumpeng.

Maknanya ; kehidupan ini penuh dengan pahit, getir, pedas, manis, gurih. Untuk menuju kepada Hyang Maha Tunggal banyak sekali rintangannya. Sate ditancapkan di pucuk tumpeng mengandung pelajaran bahwa untuk mencapai kemuliaan hidup di dunia (kemuliaan) dan setelah ajal (surga atau kamulyan sejati) semua itu tergantung pada diri kita sendiri. Jika meminjam istilah, habluminannas merupakan sarat utama dalam menggapai habluminallah. Hidup adalah perbuatan nyata. Kita mendapatkan ganjaran apabila hidup kita bermanfaat untuk sesama manusia, sesama makhluk Tuhan yang tampak maupun yang tidak tampak, termasuk binatang dan lingkungan alamnya.

2. Nasi tumpeng dicetak kerucut besar di bawah runcing di bagian atas. Tumpeng letakkan tepat di tengah-tengah kalo.

Maknanya ; nasi tumpeng sebagai wujud doa, sekaligus keadaan di dunia ini. Segala macam dan ragam yang ada di dunia ini adalah bersumber dari Yang Satu. Dilambangkan sebagai tumpeng berbentuk kerucut di atas. Makna lainnya bahwa segala macam doa merupakan upaya sinergisme kepada Tuhan YME. Oleh sebab itu, di bagian bawah tumpeng bentuknya lebar dan besar, semakin ke atas semakin kerucut hingga bertemu dalam satu titik. Satu titik itu menjadi pucuk atau penyebab dari segala yang ada (causa prima) melambangkan eksistensi Tuhan sebagai episentrum dari segala episentrum.

3. Tujuh macam sayur ditata mengelilingi tumpeng serta bumbu gudangan/urap diletakkan di antaranya. Makna 7 macam sayur sudah saya ungkapkan di atas. Sayur di tata mengelilingi tumpeng. Tumpeng sebagai pusatnya energy ada di tengah. Energy diisi dengan segala hal yang positif seperti harmonisasi symbol angka 7 (nyuwun pitulungan).

4. Telur rebus boleh utuh atau dibelah menjadi dua, ditata mengelilingi nasi tumpeng (lihat gambar).

Maknanya : telur merupakan asal muasal terjadinya makhluk hidup. dalam serat Wedhatama karya Gusti Mangkunegoro ke IV, telur melambangkan proses meretasnya kesadaran ragawi (sembah raga) menjadi kesadaran ruhani (sembah jiwa). Dua kesadaran itu akan menghantarkan menjadi menusia yang sejati (sebagai kiasan dari proses menetas menjadi anak ayam). Dalam cerita pewayangan telur juga melambangkan proses terjadinya dunia ini. Kuning telur sebagai perlambang dari cahya sejati (manik maya), putih telur sebagai rasa sejati (teja maya). Keduanya ambabar jati menjadi Kyai Semar. Dengan perlambang telur, kita diharapkan selalu eling sangkan (ingat asal muasal), menghargai dan memahami eksistensi sang Guru Sejati kita yang tidak lain adalah sukma sejati yang dilimput oleh rasa sejati dan disinari sang cahya sejati. Inilah unsur  Tuhan yang ada dalam diri kita. Dan yang paling dekat; adoh tanpa wangenan, cedak tanpa senggolan (jauh tanpa jarak, dekat tanpa bersentuhan). Lebih dekat dari urat leher. Inilah salah satu sang Pamomong yang kita hargai eksistensinya melalui bancakan weton.

5. Kalo diletakkan di atas cobek (kalo dialasi dengan cobek).

Maknanya : Cobek merupakan makna dari bumi (tanah) tempak kita berpijak. Nasi tumpeng dan segala isinya yang diletakkan dalam kalo jika tidak dialasi cobek bisa terguling. Hal ini mensyiratkan makna hendaknya menjalani hidup di dunia ini ada keseimbangan atau harmonisasi antara jasmani dan rohani. Antara unsur bumi dan unsur Tuhan. Antara kebutuhan raga dengan kebutuhan jiwa, sehingga menjadi manusia sejati yang meraih kemerdekaan lahir dan kemerdekaan batin.

6. Daun pisang dihias sedemikian rupa sesuai selera sebagai alas meletakkan tumpeng dan sayuran. Daun yang hijau adalah lambang kesuburan dan pertumbuhan. Maknanya adalah pengharapan doa negeri kita maupun pribadi kita selalu diberkati Tuhan sebagai negeri yang subur makmur, ijo royo-royo, kita menjadi pribadi yang subur makmur, dapat menciptakan kesuburan bagi alam sekitar dan kepada sesama makhluk hidup.

7. Sisa guntingan atau potongan daun pisang, hendaknya diletakkan di antara cobek dengan kalo. Jangan lupa letakkan uang logam bersama sampah sisa potongan daun pisang. Hal ini bermakna segala macam “sampah kehidupan”, sebel sial, sifat-sifat buruk ditimbun atau dikendalikan oleh segala macam perilaku kebaikan sebagaimana tersirat di dalam seluruh isi kalo. Uang logam merupakan perlambang dari harta duniawi. Hal ini mengandung pepeling (peringatan) bahwasanya harta karun dan segala macam perhiasan duniawi ibarat sampah tidak akan berharga apa-apa jika tidak digunakan sebagai sarana laku prihatin. Hal itu menjadikan harta kita tak ubahnya seperti sampah yang mengotori kehidupan kita. Maka, jadilah orang kaya harta yang selalu prihatin. Manfaatkan harta kita untuk memberi dan menolong orang lain yang sangat butuh pertolongan dan bantuan, agar tangan kita lebih mampu “telungkup”, agar jangan sampai kita menjadi orang-orang fakir yang telapak tangannya selalu tengadah dan menjadi beban orang lain.

8. Kembang setaman ditaruh dalam mangkok/baskom isi air mentah. Jika ingin menambah dengan dupa ratus / semacam “dupa manten” bisa dibakar sekalian pada saat merapal doa dan japa mantra.

Setelah seluruh uborampe bancakan weton selesai dibuat. Seluruh ubo rampe bancakan diletakkan di dalam kamar yang sedang dibancaki weton. Selanjutnya dirapal mantra dan doa, usahakan yang merapal mantra atau doa seorang pepunden anda yang masih hidup. Misalnya orang tua anda, bude, bulik, atau orang yang anda tuakan/hormati. Adapun doa dan rapalnya secara singkat dan sederhana sbb :

“Kyai among nyai among, ngaturaken pisungsung kagem para leluhur ingkang sami nurunaken jabang bayine…. (diisi nama anak/orang yang diwetoni) mugi tansah kersa njangkung lan njampangi lampahipun, dados lare/tiyang ingkang tansah hambeg utama, wilujeng rahayu, mulya,  sentosa lan raharja. Wilujeng rahayu kang tinemu, bondo lan bejo kang teko. Kabeh saka kersaning Gusti”.

(Kyai among nyai among, perkenankan menghaturkan persembahan untuk para leluhur yang menurunkan jabang bayi ….(sebut namanya), semoga selalu membimbing, mengarahkan setiap langkahnya, agar menjadi orang yang berbudi pekerti luhur,  selamat dan mulia dunia akhirat. Selamat selalu didapat, sukses dan keberuntungan selalu datang. Semua atas izin Tuhan)

Setelah bancakan dihaturkan, tinggalkan sebentar sekitar 10-20 menit lalu dihidangkan di ruang makan atau diedarkan ke para tetangga untuk dimakan bersama-sama.  Demikian share saya ttg bancakan weton, semoga bermanfaat bagi siapapun yang membutuhkan.  http://sabdalangit.wordpress.com

About these ads

About SABDå

gentleman, Indonesia Raya

Posted on November 4, 2009, in Tata Cara Bancakan Weton and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. 158 Komentar.

  1. Nyuwun sewu Dimas,…..

    Menapa leres tasih ngagem rujak degan 1 gelas, arang2 kambang 1 gelas, kopi 1 gelas, ron dadap srep, rokok 2 batang…..
    Menapa makaten, nyuwun suka keterangan, matur nuwun.

    • Mas Broto Yth
      RUJAK DEGAN atau RUJAK KELAPA MUDA, dan yang lainnya seperti tersebut di atas jika disiapkan memang lebih baik. Bahkan masih banyak uborampe yang lebih komplit lagi. Namun yang saya jabarkan di atas, merupakan ubo rampe minimal yang sudah bisa memenuhi syarat. Mungkin bagi para sedulur kita yang tinggal ditempat jauh dan sulit mencari borampe, sarat-sarat di atas sekiranya sdh cukup.

      matur nuwun mas atas masukannya

  2. Ki Sabda mohon maaf saya ucapkan terimakasih atas informasinya namun bila yang saya bancaki adalah anak saya apa bisa yang membaca mantra saya karena saya ada di jakarta tidak ada saudara yang lebih tua, lalu bila saya sendiri yang di bancaki apakah bisa mantra saya baca sendiri juga mohon petunjuk matur nuwun sanget mugi Ki Sabda sekeluarga selalu sehat panjang umur dll biar selalu dapat memberi wejangan2 kepada kita semua.
    =======================
    Mas Tio Yth
    Kalau putra anda yg dibancaki tentu saja yg membaca mantra ayah atau ibundanya. Kalau yg dibancaki adl istri, yg membaca mantra bisa panjenengan. Kalau panjenengan yg dibancaki, bisa minta tolong org yg dituakan dan bisa hadir di acara. Demikian mas Tio semoga dapat mengambil hikmah dan manfaat dari bancakan weton.
    Salam karaharjan

  3. Assalamualaikum wr wb, mas sabda,saya tertarik mencoba mengenai weton ini.tp kesulitannya saya bkn dr suku jawa.mohon kiranya ada saran buat saya ato sudi kiranya mas sabda memberikan alternatif. Salam.

    • Maaf, mas Andri dari mana ? Barangkali leluhur yg menurunkan ada darah Jawa ?
      Mohon sedikit keterangan, mungkin saya tahu uborampe apa yg harus disiapkan.

      salam sejati

    • Assalamualaikum wr wb,,

      Mas sabda, saya dari sumatera utara, dari pihak ayah putra sumatera sedangkan dari pihak ibu ada campuran jerman( kakek) dan jawa timur(nenek)..jika ada yg perlu ditambahkan akan saya kirim email ke mas sabda.

      salam

  4. Matur nuwun Ki Sabda, kalau nanti sempat mohon penjelasan tentang puasa wetonnya sekalian mohon maaf ni jadi nambah nanyanya.

  5. SIAPAKAH SEBENARNYA SANG PAMOMONG ?
    mohon penjelasan dari mas sabda tentang SIAPAKAH SEBENARNYA SANG PAMOMONG ini?
    Apakah “sing momomg” sama dengan, kembaran kita/badan alus kita, guru sejati,
    ruh idhlofi, atau mungkin leluhur kita?
    mohon penjelasannya.
    terimakasih………..

  6. Yth mas Sabda
    berkaitan dengan masalah bancakan weton ada hal yg ingin saya tanyakan berkaitan dengan weton kebetulan weton anak saya sama dengan weton saya mas, sejak umur selapan dina saya buat bancakan weton walaupun tidak selengkap yg mas sabda ulas diatas hal ini karna ketidak tahuan saya dan ter batasnya informasi waktu .Dengan harapan ingin mendapat keselamatan atas anak saya saya laksanakan tiap selapandina sampai 7x selapandina.Sampai di lingkungan saya tinggal di angap aneh karna setiap 36 hari saya adakan bancakan (among among) supanya mendapat keselamatan begitu setiap ada tetangga ada yg nanya.Alhamdulilah Sekarang anak perempuan itu udah kelas enam sd dan sehat tentunya. Tetapi ada sesuatu yg jadi ganjalan bagi saya seiring dengan bertambahnya umur sering tidak sepaham dalam arti ,nek di kandani sering ngeyel.Walaupun tidak mbantah tapi cendrung tidak menurut.Kadang saya berpikir apa yg salah dengan saya apa ini ada kaitan dengan weton anak yg kebetulan sama dengan saya jika ada kiranya mas Sabda dapat memberi solusi matur nuwun.

  7. mohon diwedar ttg puasa weton, puasa kapit weton ki…
    maturnuwun

  8. Matur sembah uwun Pak De, satu pertanyaan lagi, kalau menurut hitungan Jawa, konsept waktu yg ber beda dg yg umum Jam lima sore ke atas itu termasuk sudah masuk hari berikut, contohnya: weton Rabo kliwon, apa kita bisa menlaksanakan pada selasa wage mulai jam lima sore, karena informasi yg pernah saya terima dari beberapa Orang2 kejawen demikian, mohon penjelasan dam mohon maaf kalau ada yg keliru.

    salam sejahter sejati buat semua kadang Nusantara

    • @Mas Tio dan Orang Awam Yth
      Baik, nanti pada gilirannya akan saya wedar bab puasa apit weton.

      @Mas Wolo Yth
      Sing momong adl leluhur yg menurunkan kita, yg sdh di alam kelanggengan. Mengirim sinyal baik secara langsung, maupun melalui Guru Sejati kita, atau melalui getaran nurani.

      @Mas Daryono Yth
      Weton sama, kalau antara bapak dengan anak perempuan, atau ibu dengan anak laki2 justru tidak apa-apa mas. Malah ngrejekeni dan biasanya anak tsb menjadi anak yg wantek, atau tahan banting, sehat wal afiat. Kalau sering ngeyel hal itu biasa mas. Karena perkembangan pengetahuan anak semakin luas, dan inisiatifnya juga banyak. Sebaiknya jangan DILARANG, tetapi DIARAHKAN saja mas. hal ini wajar saja, karena kekhawatiran orgtua thd anak kesayangan, sehingga justru banyak melarang.

      @mas Dalbo Yth
      Untuk hitungan weton biarpun jam 11 malam, biasanya masih digunakan weton hari yg sama. Misalnya lahir jumat malam sabtu jam 23. Maka wetonnya masih dihitung hari jumat. Hanya saja, kalau untuk acara ritual besar, memang menganut sistem di atas. hari berganti pada saat setelah lewat jam 17.00. Misalnya, panjenengan ziarah pada hari jumat legi, berarti tdk boleh melewati jam 17.00 karena sudaha masuk hari sabtu pahing. Hari sabtu dan selasa tidak ideal utk ziarah.

      salam sih katresnan utk semua

  9. Assalamualaikum wr wb,

    Mas sabda, saya dari sumatera utara, dari pihak ayah putra sumatera sedangkan dari pihak ibu ada campuran jerman( kakek) dan jawa timur(nenek)..jika ada yg perlu ditambahkan akan saya kirim email ke mas sabda.

    salam

  10. Terima kasih atas penjelasan mas sabda.
    begini mas saya pernah mendengar di radio masalah yg momong,
    dikatakan bahwa setiap orang mempunyai “SANG PAMOMONG”. tetapi pada keturunan orang tertentu (kiyai, pandito dll) “SANG PAMOMONG” nya berbeda.
    mohon penjelasan yg eksplisit dari mas sabda tentang hal ini?
    terimakasih……..

  11. Assalamualaikum Wr. Wrb. mas sabda…
    nyuwun agunging pangaksami mbok bilih serat kulo meniko nggempil kamardikaan panjenengan.
    sepindah kulo ngaturaken nderek tepang, dalem saking semarang.
    bade tanglet uneg uneg lan kahanan ingkang kulo lampahi wau dalu.

    wau dalu dalem wiridan wiwit jam 11:00, biasanipun menawai wirid dalem merem lan wonten teras nginggil madep ngetan, mboten dangu dalem wirid wonten angin ingkang ngenani rai kulo ko terus-terusan. lajeng dalem melek trs istighfar. pas ndangak wonten langit kulo ko mangertosi wonten mendung putih mbentuk lafas Allah, medung wau mlaku arah ngilen.

    ingkang bade kulo tangletaken, meniko wau petunjuk nopo, kulo kedah pripun.
    menawi mas sabdo kerso kulo nyuwun jawaban wonten email kulo.
    sak derengipun kulo ngaturaken matur sembah nuwun
    Wassalamualaikum Wr. Wrb

  12. Mas Wolo yth
    Setiap orang tentu-berbeda2 pamomongnya. Beda keluarga beda leluhurnya.

    mas Alfando Yth
    Pertanda itu yg muncul dari cerminan getaran rasajati saat wirid. Fungsi wirid adalah membangkitkan getaran rasa jati yg akan memancar keluar dari tubuh. Wirid dan doa boleh pakai bahasa apa saja, kaarena rahasia kekuatan doa bukan pada bahasanya, tetapi terletak pada “ketangga”. atau keketeg ing angga/tekad dalam hati. Semakin mantab dan kuat menggunakan bahasa tertentu maka semakin kuat getaran dalam hati.
    Oleh sebab itu saat olah meditasi ataupun wirid kadang muncul gambaran seperti apa yg dibayangkan oleh rasa pangrasa. Maka gambarannya setiap org bisa berbeda2. Ada yg muncul konfigurasi binatang, manusia, tulisan atau abjad latin, tulisan arab, bahkan tulisan kanji. Ganmbaran yg tampak sebagai wujud penampakan makhluk Gaib akan berbeda lagi.
    Nah, hakekat dari konfigurasi tulisan tsb jika diambil hikmahnya kira2 sbb;
    manusia zaman sekarang begitu murahnya menjunjung asma kebesaran Tuhan. Kadang kita lihat seseorang yg tengah terbakar api emosi, nafsu angkara dgn lantang meneriakkan yel-yel asma kesucian Tuhan. demi sebuah kemenangam nafsu merusak dan membunuh. Agar seolah tabiat buruknya merupakan jalan tuhan, atau kehendak Ilahi. perbuatan dan ucapan manusia membuat kesakralan tuhan menurun drastis bahkan menjadi sangat hambar. Sementara itu umat lain seperti yahudi masih sangat mensakralkan asma tuhan, sampai2 tak berani menyebut sembarangan nama Yehovah Elloah (yehovah Eloah adl bahasa yg digunakan nabi Ibrahim utk menyebut asma Tuhan). Mereka sangat TIDAK SEMBARANGANM MENERIAKKAN NAM,A TUHAN.
    Kini org zaman sekarang begitu mudah menghambur nama Tuhan utk hal2 yg duniawi, kekerasan, kebrutalan dst. Lebih parah lagi, hal itu tidak disadari oleh para pelaku desakralisasi. Nah, kenyataan memang demikianlah masih ada sebagian umat zaman sekarang. Emas katon loyang, loyang dianggap emas. Burung kuntul dikira dandang, dandang disangka burung. Saat inilah terjadi wolak-waliking zaman.
    Kesimpulannya, pertanda itu menjadi titik balik kesadaran yg lbh tinggi, utk membuka mata betapa Tuhan adl kesucian yg sangat sakral, sementara manusia sdh mengobralnya secara serampangan..

    salam karaharjan

  13. Mas Sabdo, di daerah saya, Delanggu, bancakan pada umumnya hanya nasi gudangan dan telur, menurut pengamatan saya, tidak terdiri dari 7 macam sayur. tidak membuat jenang, teh, kopi, degan dan kembang setaman. Dan biasanya yang diundang untuk makan bancakan adalah anak-anak tanpa mempedulikan berapa yang hadir. Apakah ritual di daerah saya sdh bisa membuat “kelegaan” dari pamomong kita? Sugeng rahayu wilujeng!

  14. Assalamualaikum, mas sabda mohon sekiranya memberikan alternatif selain yg mas sebutkan. Salam

  15. Ki Sabdo, Yth..
    Nanti pada Sabtu Pon wuku Pahang, saya akan memperingati weton pertama putri saya dengan upacara adat. Uba rampenya pada hakekatnya sama, tapi seperti biasa di Bali pasti banyak variasinya. Upacara ini kalau di Bali namanya otonan, dihitung berdasarkan dina, pasaran dan wuku. Jadi datangnya setiap 210 hari sekali yaitu bertemunya kembali 3 komponen : dina (7) pasaran (5) dan wuku (30). Sekarang Sukra (Jum’at) Pon wuku Medangsia, jadi tinggal 15 hari lagi.
    Mohon doa restu dari Ki Sabdo agar si bayi selalu sehat…
    Matur nuwun, Ki. Sabdo. Pareng….

    • Saya juga turut ber do,a semoga putri anda senantiasa mendapat perlindungan dari Gusti yang menguasai jagad Raya ini, sehat dan cerdik

  16. Matur Suwun Ki Mas Sabdo,atas postingannya,saya mau tanya Ki,kalau lahirnya tanggal 19 08 99 sekitar jam 9 wengi,dinten lan pasaranne menopo,kamis utawi jumat?

    Salam Sih katresnan

    • @Mas Andri Yth
      Maaf saya kelewatan menjawab anda. Weton panjenengan sudah tahu ? kalau belum, silahkan dikirim hari lahir, bulan, tahun anda melalui email saya sabdalangit@gmail.com
      Yang jelas ada salah satu leluhur anda berdarah Jawa, sehingga ubo rampenya tidak perlu berbeda, misalnya mengikuti tradisi Sumut.

      @Mas agus Yth
      Keterangan soal bancakan di sekitar panjenengan Delanggu, sepertinya model bancakan sederhana untuk anak-anak atau bayi. Tidak terlalu pengaruh, hanya saja sebagai wujud berbakti kita kepada org2 pendahulu kita, jika yang kita haturkan lebih lengkap tentu saja berbeda nilainya.

      @Mas Igung Yth
      Terimakasih mas, atas informasinya, tatacara memang sdh biasa ada perbedaan, namun hakekatnya sama saja. Istilahnya, “desa mawa cara, negara mawa tata”. Tujuane tetep podho. Malah kalau berkenan share lebih banyak ttg Otonan saya sangat berterimakasih. Agar dapat menambah referensi kita-kita di sini.
      Mas Igung, saya akan turut mendoakan putri panjenengan, jika berkenan saya mohon diberitahu namanya. Agar supaya saya lebih fokus dan sambung tali rasajati.

      @Mas Dalbo Yth
      Saya turut berterimakasih atas atensi mas Dalbo, welas asih marang sapodho-podho.

      @Pakde Yth
      Menika kalebet KEMIS LEGI pakde.

      Salama sih katresnan

  17. Ngaturaken gunging panuwun dumateng panjenengan mas sabda. kira2 sudah 2 bulan ini saya mencari tahu apa filosofi yg ada dalam bancakan weton atau momong.di tempat2 lain saya tidak menemukan gathuking rasa dari wedharannya.baru di griya panjenengan ini,saya selalu menunggu setiap edisi terbaru buah rahsa jati panjenengan.
    Soal NAMA SANG PENCIPTA saya sangat setuju dengan panjenengan.itu adalah nama yg sangat sakral,wingit,dan butuh religiositas yang tinggi dalam kesadaran sejati.tidak untuk latah mengucapkannya,bahkan dengan meneriakkannya,seolah olah pembelaNya.

    Salam sih katresnan lan karaharjan.Berkah Dalem GUSTI mugiyo tansah lumeber dumateng panjenengan lan kita samya.
    Matur nuwun…

  18. Yth. Ki Sabdo dan Ki Dalbo…
    Terima kasih atas perkenannya. Nanti kami usahakan kirim nama putri kami melalui e-mail panjenengan. Salam hormat dari kami sekeluarga.

  19. Mas sabdo, maturnwn sgt, sdyo infrmasinipun, Salam sih katresnan lan karaharjan

  20. Ki Sabda Yth.
    Apa bisa slamatan bancakan weton tanpa ada si anak yang dibancaki? Begini, saya tinggal di pondok mertua indah yang kurang peduli soal adat kejawen macam bancakan weton. Jadi yang mbancaki weton anak saya mbahnya (ibuk saya). Matur suwun ki sabda penjelasannya.

  21. Mas Hary Yth
    Bancakan weton bs dibuat di manapun tidak harus di rmh yg dibancaki. Walau kita sedang di luar negri bisa dan boleh dibancaki di dlm negri, misal rmh ortu, sodara atau rmh teman. Krn yg dibancaki metafisiknya yg tdk terikat dimensi ruang.

    Salam karaharjan

  22. Salam kenal kang Sabda,

    Saya sangat terkesan dengan blog kang Sabda. Isinya sangat berguna bagi saya pribadi dan saya berusaha untuk memulai mengamalkannya. Maaf Kang, baru selangkah dan mencoba untuk melangkah lagi.
    Saya orang jawa (yang mungkin tinggal sedikit jawanya = ilang sih nggak). Dan berusaha untuk menjadi orang jawa sing njawani. Sebelumnya saya bingung harus mulai dari mana. Setelah membaca blog ini (baru bisa baca thok!) dan dilengkapi dengan komentar-komentar dari orang-orang yang berpengalaman dalam pengamalan. Saya jadi mantap harus mulai dari mana, yaitu terserah saya (yang paling penting, harus mulai dari yang bisa dimulai pada kondisi saat memulai) nggak peduli kesandung-sandung.
    Apa keyakinan saya ini salah Kang Sabda?
    Atau ada aturan baku (pakem) dalam belajar njawani?

    salam,
    prasetyo.

  23. Maaf Kang Sabda,
    Saya hanya ingin mengamalkan apa-apa yang tertulis di blog Kakang dengan segala keterbatasan pengetahuan dan kondisi saya.
    Saya berharap, blog ini menjadi salah satu pintu masuk sekaligus menjadi padepokan ajaran-ajaran jawa yang sangat mulia.
    Padepokan yang informal, dengan rasa persaudaraan dan keterbukaan pemikiran yang tinggi.
    Salut buat Kang Sabda yang sebagai pemilik padepokan.
    Mohon kiranya diijinkan untuk nyantrik (gurune sopo yo?)
    Salam,
    prasetyo

  24. Salam kenal Kang Sabdo
    Yang sya hormati,
    Lgsung saja ,Sya sering melakukan selamtan weton sya sndiri dgn menggunkan kembang among2 tanpa menggunakan uborampe yg lgkap seprti tersebut diatas,serta sy hnya berdo sndiri tnpa ada kasepuhan yg $bacakan doa,apakah itu bisa mohon petunjknya,trimakasih ,salam sejtera

    Agungk

  25. assalamu alaikum, salam hormat pak Sabda. saya dari sulawesi barat, suku saya campuran bugis, mandar dan toraja. apakah bancakan weton bisa juga di laksanakan oleh saya yang sama sekali tdk ada keturunan jawa?
    salam

  26. asalamualaikum wr wb
    mas sabda…sy uda berusia 33th,slama ini gk pernah bancakan weton.menurut sampeyan apa perlu sy melakukan itu???trima kasih wassalam

  27. Ass kang sabda, misal bancakan weton itu cuma dibuatkan jenang abang dan putih masing2 2 piring, jajan pasar sebanyak jumlah wetonnya, kembang setaman, uang logam, Lalu dibacakan mantra / do’anya aja gmna kang, mhon penjelasanya.

  28. Ass kang sabda, kang saya mau tanya nich, anak pertama saya lahir hari sabtu legi dan jumlah neptunya 14, cara bancakan wetonnya msl cuma ada jenang abang 2 piring, jenang putih 2 piring, jajan pasar sebnyk jumlah wetonnya, kembang setaman, lalu dibacakan do’anya td dan sambil dibakarkan dupa / menyan madu aja gimana, apa syarat yg cuma sedikit itu bisa dilaksanakan? Mhn penjelasanya,,,

    • Mas Tri Wahyudi Yth
      Tidak apa-apa mas, masing-masing memiliki tatacara yang tidak persis sama. Tatacara hanyalah sekedar kulit atau “sembah rogo”. Yang penting apa yg ada di balik “sembah rogo” tersebut yakni menghayati nilai “sembah jiwo”nya. Tatacara yg lengkap bermaksud memberikan sesuatu yang terbaik dengan harapan memperoleh hasil yang terbaik pula. Proses yang lebih baik, probabilitasnya dalam menghasilkan nilai yang lebih baik akan semakin besar pula. Sesuai dengan kitab Negara Kertagama dan Sutasoma Mpu Tantulas, Jenang putih melambangkan penghormatan kepada sang BAPA, jenang merah pelambangkan penghormatan kpd sang IBU. Seperti halnya dulu pernah menjadi bendera kerajaan Majapahit di masa silam. Diistilahkan gula-klapa. Gula jawa merah dengan kelapa yang putih.

      salam karaharjan

  29. matur sembah nuwun, pitados-pitados panjenengan kawrung jawi inggkang adhi luhur moga-moga sagetho di uri-uri. lan digetok tular marang anak putu sarto kaluwargo kitho…

  30. suwun mbah wejangannya,,wontendoa kangge ngatasi ajreh kaleh uler mboten mbah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 917 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: