FAQ : MEMBANGUN “LAKU” PRIHATIN

MEMBANGUN “ LAKU PRIHATIN” YANG PENER & PAS
Menggapai Sukses Lahir dan Batin

Pertanyaan ;

Mas Sabdo, bagaimana saya harus memulai “laku” prihatin agar supaya saya bisa keluar dari keadaan hidup saya yang selama ini banyak terbentur kesulitan, masalah, salah langkah, dan mengalami berbagai penderitaan yang tak kunjung selesai ?

Jawab :

  1. Jadilah seorang yang berbakti kepada orang tua. Saya sudah buktikan sendiri, dan menyaksikan apa yang saya alami dan dialami oleh rekan-rekan, para sahabat saya yang kehidupannya mapan, yang sukses lahir batin. Pastilah mereka adalah anak paling berbakti kepada kedua orang tuanya.
  2. Jangan sampai panjenengan menjadi generasi penerus yang durhaka kepada para leluhur yang menurunkan anda.
  3. Rubahlah prinsip menjalani kehidupan ini untuk menjadi berkah bagi sesama manusia, makhluk gaib, hewan, lingkungan alam. Dengan dasar rasa welas asih.
  4. Lakukan donodriyah.
  5. Sadar atau tidak, sengaja atau tidak, hidup musti selalu hati-hati, jangan sampai kita menyakiti hati orang lain. Usahakan sebisa mungkin dan lakukan setiap saat di manapun anda berada.

Terimakasih tak terhingga atas kiat-kiat suksesnya, mohon maaf saya selama ini selalu banyak bertanya kepada Mas Sabdo, yang tidak bosan-bosannya membimbing dan mengarahkan saya, hingga masalah demi masalah yang saya hadapi bisa selesai. Hidup saya sekeluarga menjadi selamat, tenteram, kecukupan, bahagia. Mohon kiranya Mas Sabdo berkenan menjabarkan ke lima point di atas ? Agar saya tidak keliru memahami. Sebelumnya terimakasih, semoga mas Sabdo sekeluarga selalu dalam anugerah Ilahi.

Jawab :

POINT SATU

“Berbakti kepada kedua orang tua merupakan pintu gerbang mencapai kesuksesan hidup di dunia maupun kehidupan setelah ajal.”

Kita harus selalu lapang hati untuk berbagi rejeki kepada orang tua. Jangan pelit, jangan terlalu perhitungan materi dengan ortu. Jangan sampai kita dalam gelimang harta sementara ortu kita dalam gelimang derita. Bahkan jika anda harus memberikan seluruh penghasilan anda sebulan, atau beberapa bulan demi menyelamatkan jiwa ortu. Jangan pernah berpamrih bila memberikan sesuatu kepada ortu, apalagi hanya sekedar uang banyak. Jangan pernah mentang-mentang pula hanya karena anda sudah mampu memberi banyak sekali pada kedua ortu. Kita musti sadar diri, setiap anak pasti “berhutang” kepada ortunya, adalah hutang yang tak pernah bisa kita lunasi sampai kapanpun, sekalipun dengan ratusan milyar atau trilyun rupiah. Karena hutang kita berupa hutang darah, dan hutang, nyawa.

Jalan untuk berbakti kepada ortu ada banyak cara, misalnya dengan bersikap persuasif, sopan santun, menentramkan hati, sekalipun anda tidak setuju dengan saran dan permintaan ortu yang keliru atau tidak tepat. Bila ortu kita keliru, ingatkan dan luruskan dengan cara-cara yang jauh lebih arif dan bijaksana, melebihi kearifan sikap ortu terhadap anak. Ini sangat tidak mudah, namun seorang anak teladan dan berbakti dituntut bisa melakukannya.

Namun demikian, pengorbanan material anda demi keselamatan jiwa raga orang tua, merupakan “project” paling besar efeknya pada kesuksesan hidup anda sendiri. Karena sedekah harta dengan setulus hati merupakan perbuatan yang relatif paling sulit dilakukan manusia di bumi ini.  Karena harta adalah barang yang selalu dicari setiap orang, bahkan tidak dengan cara yang mudah. Setelah dengan susah-payah mendapatkan uang, pada akhirnya digunakan untuk menutup kebutuhan darurat ortu. Walau anak kandung sendiri, kenyataannya banyak sekali yang tanpa sadar, sikap perbuatannya sangat tega kepada ortu. Inilah wujud anak durhaka secara terselubung. Anak demikian, pasti tidak akan luput dari kesialan dirinya sendiri. Laku perbuatannya sendirilah yang mendatangkan sebel sial.

Kuncinya : Seberapapun harta/uang yang anda berikan untuk menyelamatkan jiwa raga ortu anda, harta anda justru tidak akan habis. Bahkan harta anda akan berlipat ganda melalui berbagai pintu-pintu rejeki.”

Contoh ; Setelah anda menyelamatkan jiwa, mengobati, mengobatkan, atau membayar seluruh beaya berobat ortu tanpa berkeluh kesah, dilakukan setulus hati, sepenuh jiwa raga, dan tanpa ada rasa khawatir hidup anda menjadi melarat, maka setelah itu pintu rejeki anda seperti terbuka. Berbagai urusan menjadi mudah. Kran-kran rejeki seperti dibuka bersamaan. Lakukan saja dengan tulus tanpa perasaan takut uang anda habis, dan saksikan sendiri mujizat di balik itu.

POINT DUA ;

“Berbakti kepada kedua orang tua merupakan pintu gerbang mencapai kesuksesan hidup. Sedangkan berbakti kepada para leluhur merupakan pintu gerbang meraih kesuksesan hidup, dan pintu gerbang paling mudah ke dalam interaksi dengan rahasia gaib”.

Jika anda percaya dan menghargai prinsip anak yang harus berbakti kepada ortu, maka tidak akan lepas dari prinsip kita musti berbakti kepada orang-orang yang menurunkan kita. Leluhur adalah para pendahulu kita yang sudah hidup di alam kehidupan sejati tanpa ragawi. Leluhur dekat adalah orang-orang yang menurunkan kita sebagai generasi penerus kehidupan ini. Apabila ortu sudah meninggal dunia, ortu disebut pula sebagai leluhur paling dekat. Cara-cara berbakti kepada leluhur, pada hakekatnya sama dengan berbakti kepada ortu. Hanya saja, teknis dan medianya yang berbeda. Karena leluhur sudah tidak mengurusi urusan duniawi kecuali untuk urusan yang darurat.

Cara berbakti kepada para leluhur ;

1. Mendoakan ; Mendoakan di sini saya artikan sebagai upaya penyelarasan, sinergisme, yakni menyambung tali rasa dengan para leluhur yang anda doakan. Jika berdoa diartikan sebagai sarana PERUBAH NASIB para leluhur di alam kehidupan sejati, sejauh yang saya saksikan (tidak sekedar yakin) efeknya sangat tidak signifikan. Sebab nasib manusia di alam kehidupan sejati sudah paten, nasib kita kelak di alam keabadian mutlak ditentukan pada saat kita hidup di dunia ini. Maka sebaiknya kita lebih berhati-hati menjalani kehidupan ini. Berdoa untuk para leluhur bisa dilakukan dari rumah sembari tiduran leyeh-leyeh, atau sambil meditasi. Tetapi jika dilihat dari tingkat tantangan dan kesulitannya, maka mendoakan dari rumah belum termasuk kategori laku prihatin yang berkualitas tinggi. Sangat berbeda bila anda harus jauh-jauh pulang kampung lalu mendatangi makamnya, kemudian anda bersihkan, dan merawat makamnya. Tentu cara ini  memiliki efek yang jauh lebih besar bagi kehidupan anda, daripada doa dari rumah hanya sekedar ucapan lisan tanpa ada action yang konkrit.

2. Tindakan Konkrit ;  Tindakan konkrit berbeda dengan berdoa yang hanya berupa getaran jiwa yang diucapkan melalui lisan (apalagi doa yang hanya sekedar lips service).  Tindakan konkrit ini adalah upaya kita berbakti kepada para leluhur dengan cara mewujudkannya dalam tindakan nyata. Jawa itu jawabe. Maksudnya, tidak hanya sekedar mulut atau omong doang, tetapi harus dengan jawabe, atau pembuktian secara nyata. Dilakukan berbagai tindakan konkrit, dengan tujuan dapat menyambung tali rasa sejati kita dengan rasa sejati para leluhur yang sudah di alam kelanggengan. Tindakan-tindakan konkrit yang bisa dilakukan antara lain ;

  • Mengunjungi/menziarahi makam leluhur dimulai dari leluhur terdekat.  Leluhur yang menurunkan sukma dan darah dalam jiwa dan raga kita. Kemudian leluhur bangsa yang  menurunkan bumi pertiwi, para leluhur yang dulu sangat ketat menjaga kelestarian dan keseimbangan alam, sehingga sekarang masih bisa kita nikmati. Saat ziarah kita  melakukan perenungan/refleksi betapa besar jasa para leluhur yang sudah mewariskan harta dan pusaka warisan berupa ilmu, harta benda, tanah perdikan, bumi pertiwi yang hingga kini masih bisa kita semua nikmati.  Kita contoh laku prihatin beliau sewaktu masih hidup di bumi, agar supaya anak turun kita kelak masih bisa menikmati tanah pusaka yang saat ini kita jaga kelestariannya.
  • Taburkan bunga setaman, bunga-bungaan di pusara para leluhur sesuai adat dan tradisi masing-masing daerah. Bunga memiliki banyak arti dan makna, seperti sudah sering saya kemukakan di Media Tanya Jawab dan posting saya tentang Bancakan Weton. Selain itu, bunga-bunga tabur akan membuat indah dan wangi makam. Kita hargai dan luhurkan makam leluhur agar supaya berbeda dengan kuburan binatang, dan menghilangkan kesan kusam dan menyeramkan. Bagi anda yang takut dengan hantu-hantu makam, hal itu sebenarnya tak beralasan.  Sebab hantu tidak akan bertempat tinggal di kuburan. Tetapi di lingkungan luar sekitar kuburan. Misalnya makam Jerukpurut Jakarta Selatan yang terkenal angker, siangpun tampak berkeliaran karena memang saerahnya, jadi bukan bermaksud menganggu atau menakuti orang. Tetapi makhluk halus tersebut tidak singgah di dalam kuburannya, melainkan tinggal di lingkungan luar makam. Kalau mau cari “aman” (tidak melihat)  ya  justru masuklah ke dalam makam.
  • Sesaji. Sesaji di sini dimaksudkan sebagai simbol penyambutan (gayung bersambut), atau sikap penghormatan dan peluhuran terhadap para leluhur yang menurunkan kita, para leluhur perintis bangsa, dan leluhur manapun jika ada yang berkenan menengok (rawuh) ke rumah kita. Pada malam-malam tertentu, para leluhur “turun ke bumi” mengunjungi anak turunnya. Barangkali peristiwa ini sepadan dalam tradisi Hindu dengan apa yang dikatakan “para Dewa turun dari kahyangan”. Atau barangkali dalam tradisi Islam dikatakan para malaikat turun dari langit. Saya tidak mempersoalkan ragam terminologi tersebut. Saya hanya menekankan bahwa peristiwa tersebut bukan hanya sekedar mitologi tetapi sungguh ada dan nyata. Adapun malam-malam saat rawuhnya para leluhur berkunjung menengok anak turun dalam tradisi nusantara adalah setiap malam Selasa (Kliwon), Kamis malam atau malam Jumat (Legi dan Kliwon), dan pada malam-malam lainnya apabila ada sesuatu yang sifatnya darurat, misalnya memperingatkan anda melalui mimpi karena akan datang marabahaya, dan pada saat akan memberikan dawuh kepada anak turun yang dijangkungnya.  Oleh sebab itu, idealnya kita siapkan sesaji setiap malam-malam khusus tersebut, atau minimal sebulan sekali ambil waktu malam Jumat Kliwon, atau malam Selasa Kliwon, atau malam Jumat Legi (malam agung khusus untuk para leluhur). Adapun sesaji yang disiapkan adalah ; teh tubruk, kopi tubruk disuguhkan dalam gelas/cangkir tanpa ditutup. Lalu siapkan kembang setaman (kantil, melati, kenanga, mawar merah dan mawar putih). Saat anda beli bunga, pungut saja sendiri  bunga-bunga sesuai dengan gerak keinginan hati anda lalu bayar berapa harganya tanpa menawar. Sebelumnya minta ijin penjual bunga, kalau mau pilih bunga sendiri yang bagus karena untuk syarat, biasanya penjual bunga sudah sangat memahami. Tetapi anda JANGAN MENAWAR berapapun harga bunganya. Sebab hal ini untuk mengetes seberapa besar ketulusan anda untuk berbakti kepada para leluhur. Untuk lebih lengkapnya siapkan secuil menyan madu (jika baunya akan menganggu, tak perlu dibakar), bisa pula dengan dupa manten (ratus). Menyan madu di sini bukan makanan setan/makhluk halus. Tetapi sebagai pertanda, woro-woro,  atau tetenger (kode isyarat) bahwa kita sedang meluhurkan para leluhur yang kita hormati. Semua sesaji tersebut haturkan dengan kalimat berikut ;

“Kepareng ngaturaken pisungsun sekar arum gondo arum, menyan madu (ratus/dupa manten) dumateng para leluhur ingkang sami nurunaken kula (lan simah kula; bila sudah berumahtangga). Sugeng rawuh, mugya kersa tansah njangkung lan njampangi lampah kula sekeluarga. Tansah manggih wilujeng rahayu ingkang tinemu, bondo lan bejo kang teko. Sedaya saking kersaning Gusti.

Hubungan dengan para leluhur harus kita lakukan seperti MENJEMPUT BOLA. Karena kehidupan para leluhur sudah pindah ke alam lain, sudah tidak mengurusi urusan duniawi, kecuali untuk urusan anak turunnya. Dan juga untuk urusan yang bersifat DARURAT. Artinya kita tidak bisa main-main hanya untuk suatu urusan yang sepele. Semakin cuek apalagi tidak tidak percaya kita kepada para leluhur, maka diri kita akan semakin jauh dari tali rasa dengan para leluhur. Orang-orang yang antipati, yang menentang, dan tidak mempercayai peran leluhur, akan sulit sekali memahami hakekat kehidupan ini. Yang dilakukan hanyalah meraba-raba dalam ketidakjelasan, hanya dengan modal keyakinan membabi buta dan mudah terjebak fanatisme yang mengungkung kesadaran mikro dan makrokosmos. Bahkan dalam konteks tertentu, hubungan dengan leluhur sangat dikharamkan. Hal itu tidak lain karena akan membongkar rahasia gaib yang dapat meruntuhkan status quo, keyakinan yang mapan yang sudah didukung oleh kekuatan politik, tetapi ia hanyalah keyakinan dengan cara membabi buta. Konsekuensinya, pikiran, hati, dan jiwanya terkunci rapat dari luasnya ilmu pengetahuan Ilahi. Sehingga sesuatu yang lain dari apa yang sudah diyakininya dianggap sesat dan salah. Padahal dirinya belum pernah merasakan “pergi” ke alam gaib untuk menyaksikan sendiri hakekat apa yang terjadi. Akhirnya, penyesalan mendalam terjadi setelah jasadnya mati. Dan penyesalan itu sudah tak berfungsi apa-apa selain menyiksa dirinya sendiri.

3. Puasa mutih seumur hidup.

Belum lama saya mendapat wejangan dari Kanjeng Ratu Batang, garwa padmi Kanjeng Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma. Pada waktu itu beliau juga berpesan beberapa hal, di antaranya mengenai 2012 yang tidak perlu dikhawatirkan. Nah, wejangan paling utama, adalah apa hakekat puasa mutih. Puasa ini jauh lebih berat daripada tidak makan apa-apa selama 12 jam dalam sehari. Sebab, rasa nasi putih jika dimakan dalam kondisi perut juga lapar, sangat tidak enak, menimbulkan emosi, perasaan yang galau dan berat. Namun jika kita bisa melakukan dengan penuh kesabaran, maka hasilnya akan bagus sekali untuk menjaga keseimbangan diri lahir batin, dan terutama mematangkan jiwa. Puasa mutih seumur hidup, bisa kita lakukan dengan cara : sewaktu kita mau makan, kita mengambil nasi putih saja dalam piring. Kemudian kita persilahkan para leluhur untuk makan bersama (ngaturi dahar para leluhur), sambil makan nasi putih saja sebanyak tiga kali suap. Setelah itu, barulah nasi putih dituang pake kuah, diberi lauk pauk dan makanlah seperti biasanya. Saat anda makan usahakan jangan menambah nasi dan lauk-pauknya. Berapapun nasi dan lauk yang anda ambil, harus dihabiskan. Jika nasi putih habis lebih dulu, anda jangan menambah nasi putih dermi menghabiskan lauk. Sebaliknya, jika lauknya habis duluan, jangan menambah lauk pauk untuk mengabiskan nasi. Hal ini juga utk melatih kecermatan dalam mengendalikan nafsu makan. Jika nasi dan lauk sudah habis, jangan menambah makan lagi, kecuali minum dan buah-buahan. Usahakan agar supaya anda berhenti makan sebelum perut merasa kenyang, sisakan ruang untuk air minum dan buah jika ada buah-buahan.

4. Bersihkan/buang. Bersihkan dan buang semua sampah dari dalam bak, dan sampah-sampah yang ada di dalam rumah. Agar rumah dalam kondisi bersih pada saat para “tamu” sudah hadir untuk menengok anak turunnya.

5. Penuhi bak mandi/kulah dengan air sampai luber. Jika airnya belum meluber kran air jangan dimatikan. Saat anda menghidupkan kran air atau menimba air, dalam hati ucapkan ;

“Niat ingsun ngebaki kulah/bak mandi, supaya omah iki kebak rejeki, kebak berkah, slamet sakabehane, sumrambah kanggo wong sak omah lan tiyang kathah, wong-wong kang kepradah, lan kabeh titahing Pengeran .”

(Niat ingsun memenuhi bak mandi, supaya rumah ini penuh rejeki, penuh berkah, selamat semuanya, meluber ke seluruh anggota keluarga, meluber kepada sesama, kepada yang membutuhkan pertolongan, dan kepada seluruh makhluk).

6. Lakukan prihatin cegah guling, atau melek-melek. Jangan sampai tertidur sebelum jam 24.00 (12 malam). Setelah jam 12 malam, keluarlah di halaman rumah anda untuk melakukan meditasi sebentar. Posisi meditasi bisa sambil duduk atau berdiri yang penting konsentrasi dengan tujuan maneges pada SEDULUR PAPAT KEBLAT dan KE-LIMA ;  PANCER anda. Caranya : sebelum mulai (sebagai pembukaan), hentakkan kaki/tumit ke tanah 3 kali (boleh memakai sandal atau tidak) kemudian lakukan di bawah ini :

  • Hadap ke TIMUR sambil mengucap ; kadangku kang ono ing keblat WETAN, ewang-ewangono aku, cedakno rejeki kang isih adoh, bukaken kang wis cedak. Wilujeng rahayu kang tinemu, bondo lan bejo kang teko.
  • Hadap ke UTARA sambil mengucap ; kadangku kang ono ing keblat LOR, ewang-ewangono aku, cedakno rejeki kang isih adoh, bukaken kang wis cedak. Wilujeng rahayu kang tinemu, bondo lan bejo kang teko.
  • Hadap ke BARAT sambil mengucap ; kadangku kang ono ing keblat KULON, ewang-ewangono aku, cedakno rejeki kang isih adoh, bukaken kang wis cedak. Wilujeng rahayu kang tinemu, bondo lan bejo kang teko.
  • Hadap ke SELATAN sambil mengucap ; kadangku kang ono ing keblat KIDUL, ewang-ewangono aku, cedakno rejeki kang isih adoh, bukaken kang wis cedak. Wilujeng rahayu kang tinemu, bondo lan bejo kang teko.
  • Hadap ke LANGIT lalu kepala tunduk hadap ke BUMI dan ucapkan ; PANCERKU kang ono ing LANGIT lan BUMI ewang-ewangono aku, dukno (turunkan) rejeki kang isih ono ing langit, lan jumedulno kang isih ono ing jero bumi. Wilujeng rahayu kang tinemu, bondo lan bejo kang teko. Kabeh soko kersaning Gusti.

POINT KE TIGA

Pada intinya, lakukan kebaikan kepada sesama (orang lain) dengan setulus hati, didasari rasa welas alis, welas tanpo alis. Ketulusan dan kasih sayang tanpa pamrih. Terhadap sesama manusia, terhadap makhluk yang tidak tampak (makhluk halus), terhadap hewan, tumbuhan, lingkungan alam.

POINT KE EMPAT

Donodriyah. Atau sedekah, memanfaatkan harta kita untuk membantu, menolong, meringankan beban orang lain, untuk mendukung upaya penyeimbangan alam semesta. Jika digambarkan,  setiap hari kita harus memberikan walau sekedar sesuap nasi kepada orang-orang yang lapar, memberikan seteguk air minum kepada orang-orang yang kehausan. Setiap hari lakukan hal tersebut, memberi sesuap nasi dan seteguk air minum merupakan kiasan yang menggambarkan kebaikan. Dalam prakteknya pun kita sebisa mungkin memberi makan dan minum minimal kepada satu orang. Donodriyah ada 4 macam tararan, yang paling berat adalah donodriyah harta, sebab harta paling sulit dicari. Adapun ke empat donodriyah tersebut adalah sbb ;

  1. Donodriyah harta.
  2. Donodriyah tenaga.
  3. Donodriyah kata-kata, dapat berupa saran dan nasehat, tutur kata termasuk di dalamnya perilaku yang menentramkan hati sesama (kinarya karyenak ing tyas sesama).
  4. Donodriyah doa/harapan. Yakni mendoakan orang lain yang sedang menderita, mengalami musibah. Walau donodriyah doa bisa saja sangat berpengaruh terhadap orang yang kita doakan, tetapi donodriyah doa ini efeknya paling kecil terhadap kehidupan kita sendiri.

POINT KELIMA

Jangan menyakiti hati orang lain. Menyakiti hati memiliki dimensi yang luas. Termasuk di dalamnya adalah mencelakai orang lain, menganiaya, menyiksa, membuat menderita. Menyakiti hati orang lain termasuk penyakit hati yang sulit dibersihkan. Karena orang seringkali tidak merasa telah menyakiti hati orang lain. Jika tahu ada orang lain sakit hati karena ulah anda pun, biasanya anda tidak merasa bersalah, malah balik menyalahkan orang yang sakit hati karena anda tersebut, dengan dalih NIAT anda adalah BAIK. Hati-hati dengan NIAT, sebab niat seringkali dijadikan perisai diri sebagai alasan pembenar. NIAT juga merupakan pandangan yang bersifat SUBYEKTIF dari kacamata diri sendiri, niat juga tersimpan rapat jauh di dalam hati, sehingga membuat orang mudah saja mengartikan niatnya sesuai kepentingannya sendiri. NIAT memili makna BIAS yang sangat besar. Maka janganlah semata-mata mengandalkan niat untuk berbuat baik. Lebih penting adalah KONSISTENSI Adalam perbuatan. Niat baik, jalan yang ditempuh belum tentu baik/tepat, hasilnya pun belum tentu baik. Sebaliknya niat buruk, ditempuh tidak selalu melalui jalan yang buruk, hasilnyapun belum tentu buruk. Jadi, mari kita lihat saja manifestasi perbuatan dan AKIBAT yang ditimbulkan. Sebab, akibat yang ditimbulkan inilah yang sangat menentukan kemuliaan hidup anda di bumi maupun setelah mati.

AKHIR KALIMAT

Rangkaian “laku” di atas sebagai upaya penyatuan diri pribadi atau Jagad Kecil dengan alam semesta atau Jagad Besar, meliputi unsur gaib dan wadag. Mensinergikan diri dengan PANCERING diri yakni GURU SEJATI anda sendiri (nuruti kareping rasa/rasa sejati).  Jika antara kehendak rasa sejati dengan perbuatan sudah sinkron, hal itu akan menjadikan “doa” yang tak terucapkan tetapi berlangsung sepanjang waktu. Khusus untuk POINT KEDUA jika anda jalani minimal 7 kali setiap malam Jumat atau Selasa, atau anda jalani selama 7 bulan berturut turut, anda bisa merasakan dan menyaksikan sendiri perubahan yang jauh lebih baik pada diri anda sendiri. Bahkan selama anda melakukan ritual “laku” prihatin di atas, anda akan menemui berbagai anugrah dan mujizat Tuhan. Anda akan mendapat kemudahan dalam meraih  kesuksesan lahir dan batin, di muka bumi maupun dalam kehidupan sejati setel;ah mati. Kebahagiaan dan kesuksesan anda adalah kebahagian saya pula. Sekali lagi, bahwa apa yang saya kemukakan di atas, bukan sekedar teori, tetapi sudah saya buktikan sendiri hingga saat ini, saya mencapai tataran di mana tidak lagi mecari uang, tetapi dicari uang. Saya ingin anda mengalami seperti apa yang saya alami. Dengan laku prihatin seperti di atas, membuat diri kita semakin dipercaya untuk tempat singgahnya rejeki dan kemudahan. Diri kita bagaikan menjadi pusat dari medan magnet, akan menebarkan dan sekaligus memiliki daya tarik bagi semua yang senyawa, semua hal yang baik pula. Hidup adalah pilihan. Sekarang tinggal mau pilih yang mana, mau menjadi medan magnet positif, maka akan menimbulkan efek positif bagi anda sendiri, sebaliknya menjadi medan magnet negatif akan mendatangkan semua unsur negatif pada diri anda. Karena banyaknya pertanyaan yang sama, maka ada baiknya jawaban ini saya persembahkan untuk seluruh pembaca yang budiman, khususnya yang mau mengambil hikmah di balik semua laku prihatin di atas.

Semoga bermanfaat.

Sabda

About these ads

About SABDå

gentleman, Indonesia Raya

Posted on November 29, 2009, in FAQ; Membangun Laku Prihatin and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 104 Komentar.

  1. Assalamu alaykum, mas sabda saya ingin mengetahui tentang point 2 diatas,apakah harus dikerjakan smuanya secara berurutan atau bole cukup beberapa saja, mohon penjelasannya. Wassalam

  2. Mas nderek nyuwun pirso

    kagem meditasi laminipun watawis pinten jam? lan punopo iangkang dipun ucapaken?

    Nuwun

  3. Subhanallah…uraian yg jelas,lengkap dan mengena ki….byk korelasinya dg kehidupan pribadiku saat ini….sementara aku mau nanya soal uraian maneges kpd sedulur 4 limo pancer ki…utk yg diucapkan krg lbh sama dg apa yg aku jalankan,namun utk urutan memutar jagadnya kok arahnya beda (berlawanan),..yg aki sebutkan mulai dari timur ke utara dst sampe ke bumi sedangkan aku selama ini memutarnya dari timur selatan dst sampe kebumi/bawah….apa yg mendasari ya ki shg berbeda,mengingat apa yg aku peroleh tsb dari wejangan bukan dari proses spiritual langsung….maturnuwun

  4. SALAM rahayu mas sabda.
    saya ada pertanyaan:
    Berhubungan dengan poin 2
    “Hubungan dengan para leluhur harus kita lakukan seperti MENJEMPUT BOLA. Karena kehidupan para leluhur sudah pindah ke alam lain, sudah tidak mengurusi urusan duniawi, kecuali untuk urusan anak turunnya. Dan juga untuk urusan yang bersifat DARURAT. Artinya kita tidak bisa main-main hanya untuk suatu urusan yang SEPELE.”
    Apa yang dimaksud dengan urusan DARURAT dan urusan SEPELE (kita tidak bisa main-main hanya untuk suatu urusan yang SEPELE)?
    matur nuwun…..

  5. o ya ada yg kelupaan,
    mengenai tulisan “MEMBANGUN “ LAKU PRIHATIN” YANG PENER & PAS Menggapai Sukses Lahir dan Batin” Menurut saya masih ada kekurangan sedikit.
    pendapat ini saya simpulkanl dari postingan “Misteri kehidupan”, “pengalaman gaib”
    dan “Letak Kegagalan Merebut Anugrah”
    dari postingan tersebut dapat disimpulkan bahwa intinya bahwa setelah melakukan Ritual Ziarah terhadap leluhur biasanya justeru malah terjadi hal2x yg yg tidak mengenakkan hati. hal ini terjadi terhadap kang Ades dimana dia setelah ziarah ke gunung prangango malah sakit selama 2 minggu, kedua kejadian terhadap mas agung di balikpapan dimana dia setelah ziarah ke luluhurnya kemudian mas sabda berpesan
    “jangan sampai GRENENGAN atau ngedumel jika terjadi hal-hal yg bikin kesal hati, karena biasanya, di saat-saat seperti itu akan banyak godaan datang silih berganti yg bikin hati kesel targetnya anda grenengan. karena grenengan itu hanya akan membuat set back, langkah mundur. tapak kaki anda yg sudah sedemikian jauh ke atas tangga, akan mlorot beberapa jengkal kebawah”
    Mungkin hal ini perlu ditambahkan mas, biar kadang2x disini jangan sampai salah langkah apabila setelah melakukan ziarah yg yg terjadi justru hal2x yg tdk mengenakkan hati.
    matur nuwun……..

  6. Buat mas sabda:

    terimakasih banyak atas postingannya, yang simple dan mudah di fahami,,
    tapi gak bisa di anggap REMEH tuk di jalani dan di kerjakan.
    di tunggu
    mas, tuk postingan selanjutnya.

  7. Tulisan yg sangat menarik dan gamblang mas. Nyuwun pangestunipun agar saya bisa melaksanakannya.
    MATUR SEMBAH NUWUN
    SALAM RAHAYU LAN KARAHARJAN. BERKAH DALEM GUSTI….

  8. yth mas sabda bisa tolong didefinisikan/cara membuat yg di maksud teh dan kopi tubruk tsb…apakah sama dg kopi tubruk nescafe plus gula&susu ?! harap maklum he he wong kuto soalnya..

  9. Oh iya ki soir ada yg lupa..setelah sesaji tsb disiapkan utk penempatan sesaji/pembakaran menyan nya sebaiknya mengambil tempat di bagian rumah yg mana ? Apakah boleh diluar rumah ato di dalam rumah ato mungkin boleh kalo dikamar (bg yg ngontrak khan biasanya cuman ngontrak kamar kalo dikota) ato mungkin boleh di atap/genting misalnya (maklum rmhnya tingkat cuman separo) ato apa hrs diruang tamu ki…dan sebaiknya jam berapa ki utk menghaturkan sesaji pada leluhur tsb…sebaiknya dilakukan secara terbuka diketahui org laen ato gimana ki…he he he maklum lagi ya ki ! Maturnuwun

  10. Nyuwun tambahing sawab pangestu, mugi kula sageda ngelampahi.

    Salam ta`dziem.

  11. @Abimanyu Yth
    Meditasi dilakukan antara 30 menit s/d 1 jam sudah cukup. Jika berhari-hari namanya bukan meditasi tetapi semedi/tapa. Bisa dibuka lagi tulisan saya ttg MEDITASI dan OLAH SEMEDI.

    @Nak Amat Yth
    Nak, amat. Perbedaan tersebut bukan soal hakekat, hanya teknis saja, atau sembah raga. Nah, yang penting adalah kita pahami hakekatnya atau sembah jiwa-nya.

    @Wolo-wolo Kuwato Yth
    Matur nuwun mas sudah diingatkan, tulisan panjenengan sudah sangat mewakili tulisan saya. Untuk menjadi pengingat atau wewaler bagi para sedulur yang sedang menjalani “laku” prihatin.

    @Santri Gendeng dan MWW Kla-10 Yth
    Matur sembah nuwun, semoga bermanfaat untuk kita semua, mugi panjenengan sedaya tansah wilujeng rahayu ingkang tinemu, bondo lan bejo kang teko.

    @WongNdablegs Yth
    Kopi tubruk = kopi bubuk (bukan kopi instan) plus gula pasir.
    Teh tubruk = teh tabur (bukan celup) plus gula pasir.
    Untuk bakar sejenis dupa, ratus manten bisa dilakukan sejak petang di dalam rumah biar terasa harumdan menambah kesakralan. Khusus utk kemenyan madu, dibakar petang juga gpp, tapi lebih ideal dibakar jam 24 atau setelahnya, dan diluar rumah, bisa di atas atap juga nggak apa2. Yang penting baunya tidak mengganggu tetangga yg tidak suka bau tsb. saat membakar tidak perlu dilihat org lain, krn dpt menimbulkan buruk sangka.

    @Arif Santosa Yth
    Mugi pinaringan kekiyatan, karaharjan, berkahing Gusti tansah kajiwa kasarira dumateng panjenengan sekulawarga.

    salam karaharjan lan kasantosan

  12. ki sabdalangit yang baik hati, semoga rahmat Alloh hadir bagi kalian semuanya.

    Tuntunan yang sangat bagus, praktis, tp juga luar biasa beratnya. saya sudah mencoba perlahan-lahan. malah mgk belum merasa melangkah sama sekali…

    ngapunten ki, puasa mutih itu lengkapnya bagaimana to…

    matursembah nuwun.

  13. luar biasa…. paparan yang gamblang dan menyentuh,… saya punya keinginan melakukan yang panjenengan sampaikan,… nyuwun pangestunipun Ki….

  14. Mohon maaf ki sebelumnya ..maksud dari “jika berdoa dimaksudkan sbg sarana perubah nasib bagi para leluhur yg sdh berada dialam sejati maka efeknya tdk signifikan spt yg telah anda saksikan langsung”…apakah itu berarti doa dg tujuan “membantu” yg sdh di alam kajaten sia sia belaka ? Atokah sangat kecil efeknya ? Kalo di ilustrasikan umpama apa ? Ada yg mengatakan bahwa org yg telah meninggal sudah putus amalnya kecuali hanya 3 perkara ;1.ilmu yg berguna 2.doa anak yg sholih/sholihah 3.shodaqoh jariyah (kalo ga salah)….apk berarti 3 hal tsb tidak tepat ki ?! Trus apa kiranya yg bisa membantu bermanfaat bagi para leluhur yg sdh berada di alam kajaten tsb ki….? tambahan dikit dari pertanyaan wong ndablegs,..sesaji yg telah melewati semalam trus baiknya diapain (teh dan kopi tubruknya) apk dibuang ato diminum ato gimana ki ..suwun

  15. @Alfjr yth
    Utk puasa mutih, nantinya akan sy paparkan dalam artikel sendiri mengenai berbagai macam puasa. Selamat menghayati dgn tulus hati, sukses lahir batin yg didapati.

    @Bayu yth
    Sumonggo mas Bayu, sbg modal awal diperlukan “ketangga” keketeg ing angga, tekad bulat dlm jiwa raga.
    Muya berkahing Gusti tansah kajiwo kasarira dumateng panjenengan sekulawarga.

    @Safienah Yth
    Setelah pagi sesaji dibuang saja. Jika mau minta lorotane, nyuwun saja, dgn ucapan,”saya tidak nyuwun lorotan nanging nyuwun sawabipun mugi Gusti tansah paring berkah wilujeng.
    Nah, barulah dimakan/minum. Tetapi jangan heran jika rasanya sudah berubah menjadi hambar. kadang benar2 berkurang secara fisiknya.

    Sedangkan kembang setaman, boleh saja dilorot, lalu dipake utk obat dgn cara mandi kembang, namun kembangnya direbus dulu. Ini biasanya utk org yg habis sakit, atau oprasi. Utk mandi org yg sering terkena sial, tanpa perlu direbus. Istilahnya, ngalap berkah.

    Doa, dlm konteks ini hanya berupa harapan yg diucapkan mulut, akan perubahan nasib yg dialami para leluhur. Hal ini tdk salah, hanya saja tak ada efek apapun terhadap perubahan nasib leluhur di alam sejati. Yang mempunyai efek adl jika “pusaka” warisan leluhur berupa ilmu (bukan agama), sarana, harta, bumi pertiwi masih berguna utk peradaban manusia. Itupun jika tinggalannya dimanfaatkan sebaik~baiknya oleh anak turun generasi manusia selanjutnya.
    Namun yg paling menentukan mulia tidaknya leluhur di alam kamulyan sejati tidak lain adl perbuatan dan manfaat hidup leluhur sewaktu hidup di dunia, bagi kehidupan org banyak, bagi kelestarian alam, keharmonisan manusia dan seluruh makhluk.

    Salam sih katresnan

  16. Salam ki Sabda,
    Saya tak punya comment soalnya artikelnya OK Buangeetttttt..
    Terima kasih atas pencerahan dari ki Sabda selama ini buat saya.
    salam sejati.

  17. Sebuah pembabaran yang sangat gamblang, matur nuwun sanget Kangmas
    Banyak yang menanyakannya juga pada saya
    Hanya kalau diperkenankan saya sedikit menambahkan dengan kalimat berikut :
    Bukan apa yang terjadi kepada saya yang menjadi masalah, namun apa yang terjadi didalam saya

    Karena arti dari mencintai Tuhan adalah berkata Ya atas segala yang terjadi dalam hidup & segala yang dipersiapkan gidup bagi kita
    Namun itu semua butuh proses, & proses awal adalah apa yang telah Mas Sabda babar disini

  18. Saya sendiri mendapat pelajaran yang berharga disini yaitu tentang Puasa Mutih seumur hidup
    Terima kasih telah berbagi

  19. Ngapunten ki sabdalangit yang baik hati, sekalian bila boleh dan panjenengan berkenan bisa menjabarkan secara gamblang dan praktis sifat IKHLAS itu sejatinya bagaimana?
    sering saya ucapkan, tetapi kadang bingung sebetulnya sejatinya prakteknya bagaimana saja?
    ngapunten bila pertanyaannya remeh.

    matur sembah nuwun

    • Mas alFjr Yth
      Kesempurnaan Ikhlas, apabila panjenengan sudah PUNYA RASA, TIDAK PUNYA RASA PUNYA. Dalam hal mengeluarkan harta, atau jasa kepada orang yg ditolong, bagaikan anda buang hajad besar, sekalipun yg anda berikan sesuatu yang berharga utk panjenengan.

      Salam sejati

  20. Setuju dengan Pak Sabda…

    Kuncinya keikhlasan adalah ==> NDUWENI ROSO, ORA NDUWENI ROSO NDUWE…
    Walaupun untuk memiliki sikap itu, kita manusia sering bolak balik, dicuci, digosok, diperes, bahkan dibanting-banting oleh musibah, kekecewaan kesedihan dll….
    Tapi Gusti Allah Maha Welas Asih… itu semua bukan kok karena Beliau kesel sama manusia, tapi memang karena begitulah caranya supaya kotoran nafsu dan pamrih yang melekat dalam diri kita sedikit demi sedikit disikat habis… sehingga akhirnya bisa Tulus ikhlas… Tanpa Pamrih….!!!

    Salam Sejati

  21. Matur nwn mas sampun mbabar bab laku prihatin ini,banyak hal yg dapat kita ambil pelajaran ,mengenai puasa mutih seumur hidup yg di sampaikan mas sabda, sama yg di sampaikan mbah saya. Bedaya pada saat suapan pertama sampai ke 3 di niatkan mengajak (ngaturaken dahar kagem sudulur papat).
    @Arbangi setuju atas komentarya dimana drajat iklas bila mana “Duweni rasa ora duweni rasa duwe” walau untuk mencapai drajat iklas tsb sangat berat karena yg namanya kesabaran,kesadaran,dan keikalasan harus diupayakan,tidak seperti kelapa jatuh Tebluk … Langsung jadi. Ibarat mata pelajaran yang namanya kesabaran dan keiklasan pelajaran sepanjang hayat. Trima kasih.

  22. Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Salam Karaharjan
    Raka Mas Sabda yth. Bungahing manah kula mboten saget kagambaraken, bilih kula sampun kepanggih kalian Padepokan Raka Mas Sabda. Nyuwun idin lan berkah pangestu, dalem ndherek nunut ngeyup. Nyuwun pangapunten kula sambung kanti Bahasa Indonesia. Sudah lama sekali hati saya terasa gersang, haus dan dahaga, namun belum juga saya temukan seteguk air pun untuk mengobatinya. Namun Alhamdulillah Allah telah membimbing saya hingga saya temukan blognya Mas Sabda yang dengan gamblang telah memberikan kecerahan hati, mengupas betapa “pusaka” warisan leluhur ini betapa sangat berharganya. Nyuwun ijin lan ‘ijazah saha tambahing sawab-pangestu, mugi kula saget ngelampahi menapa ingkang sampun kababar dening Raka Mas Sabda. Sahingga para leluhur kula kersa asring-asring rawuh njangkung lan njampangi lampah kula sahingga saget manggih karaharjan awit ndonya dumuginipun yaumul kiyama. nuwun.
    Wassalamu’alaikum Wr Wb.
    Salam sih katresnan lan rahayu wilujeng

  23. yth mas sabda dan para sedulur……ada sedikit ganjalan dlm hati saya mengenai;1.apakah setiap leluhur/ortu yg telah meninggal pasti wewariskan *ilmu yg berguna* kepada anak turunnya ? Dan bagaimana definisi yg pener dari ilmu yg berguna tsb ? Apk spt ilmu matematika yg berguna utk segala perhitungan ? 2.Bagaimana supaya kita peka dan bisa mendengar petunjuk dari para leluhur tsb ? Suwun

  24. “Setelah anda menyelamatkan jiwa, mengobati, mengobatkan, atau membayar seluruh beaya berobat ortu tanpa berkeluh kesah, dilakukan setulus hati, sepenuh jiwa raga, dan tanpa ada rasa khawatir hidup anda menjadi melarat, maka setelah itu pintu rejeki anda seperti terbuka. Berbagai urusan menjadi mudah. Kran-kran rejeki seperti dibuka bersamaan. Lakukan saja dengan tulus tanpa perasaan takut uang anda habis, dan saksikan sendiri mujizat di balik itu.”

    sedikit cara seperti contoh diatas mengingatkan pengalaman saya ketika kita ikhlas tanpa pamrih membantu sesama manusia walaupun tak seberapa . . . “KRAN2 REJEKI” entah darimana datangnya akan datang mungkin itulah mukjizat dari Gusti Ingkang Murbeg Dumadi yang patut kita syukuri, pengalaman ini tidak hanya 1 atau 2 kali saja dalam hidup saya . . sudah berkali 2 terjadi kuncinya adalah “welas asih tulus dan ikhlas” serta jangan meng-ingat2 perbuatan kita itu = umpamakan saja (MAAF) seperti orang buang hajat . . siram dan jangan diingat2 lagi-lupakan soal itung2an pahala ) ternyata Gusti itu maha adil

  25. Ki sabda ingkang kito ndherek’aken,melengkapi pertanyaan saudari herni,nyuwun agunge pangapunten nek menawi pertanyaan kawula kirang pantes;apakah setiap anggota keluarga kita yg sdh meninggal bisa dibilang leluhur ? meski yg meninggal statusnya lbh muda dari kita (adik umpamanya) dan apk cara penghormatannya pun sama ?! Yg kedua,seseorg yg selama hidupnya (mohon maaf) berkelakuan tdk baik,byk kesalahan andai dia meninggal apakah seseorg tsb dialam kajaten bisa berperan sebagai leluhur yg baik bagi anak turunnya atokah tidak ?! Dg kata laen apk dialam kajaten yg tanpa ragawi hanya diisi kehidupan2 yg baik ato bagaimana ki ?! Maturnuwun,..salam asah asih asuh

  26. paparan yg sangat bagus ki yg membuat hati kami iri sekaligus perih.betapa tidak..kehidupan kami blm bisa spt yg aki sampaikan terutama mengenai berbakti pada kedua org tua (yg masih hidup)…..tanpa bermaksud memamerkan aib keluarga kami,.kami coba sampaikan pada ki sabda dan sodara2 semua dg berharap mungkin ada solusi dan hikmah dibalik apa yg telah dan sedang terjadi pada keluarga kami…”kami adl keluarga yg telah dikarunia 2 anak yg menikah +/- 7 tahun yg lalu,..diawal pernikahan blm nampak ada tanda2 retaknya keharmonisan dirumah tangga kami (saya dan istri waktu itu nimbrung dirmh org tua istri) mungkin nasib saya yg tak kunjung mendapat pekerjaan dan penghasilan yg lbh baik yg membuat perangai kedua mertua saya lambat laun berubah,perangai itupun dilampiaskan pada anaknya (istri) terus menerus,semakin kuat dari hari kehari,saya pun menasehati istri supaya tdk usah diambil hati toh org tua sendiri,dan kusuruh ia nurut aja pd ortu tapi sikap nurut istri pun masih krg bisa diterima hy krn ekonomi kami masih minus,bahkan anaknya yg laen (saudara kandung istri) mulai berani bersikap kasar dan maen tangan menyakiti istri,..suatu ketika istri menangis krn mendapat perlakuan kasar dari keluarga,..akhirnya kuberanikan memanggil dan mengumpulkan mertua&saudara iparku mencari penyelesaian yg baik supaya tdk berlarut2,..pertemuan itu menghasilkan ke point bahwa kami hrs pisah makan,aku setujui hal itu,tapi meski sdh pisah makan hal2 negatif masih sering terjadi tapi kali ini rupannya ada buntutnya (entah kebetulan ato tidak) setiap kali mertua menyakiti anaknya (istriku) selang bbrp jam hewan piaraan (sapi&kambing) tiba2 jatuh sakit dan parah shg hrs dijual rugi saat itu juga….selang bebera waktu mrk pun membeli sapi lagi,dan terjadilah insiden itu lg dimana sapi mrk hampir mati setelah mrk menyakiti hati kami,kejadian itu terjadi bukan hanya sekali 2 kali tp lbh byk kali hingga mrk tdk lagi memelihara sapi,..namun kebiasaan tdk baik tsb masih berlanjut,stiap aku pulang dari mencari nafkah disambut dg isakan istri dan desakan supaya kami pindah,.kalo aku tdk mau pindah dia mengancam akan bunuh diri bersama kedua anak kami dg menabrakkan diri dijalan (smogaa allah mengampuni dia&kami)namun kucoba memberi pengertian istri supaya lbh sabar krn saat itu kami blm mampu utk sekadar bayar kontrakan,..kami hanya bisa mengelus dada,.mengalami konflik keluarga yg sdg terjadi…namun kali ini efek dari perbuatan negatif org tua tdk lagi ke hewan piaraan krn sdh tdk memelihara lagi,.kali ini efeknya ke anak2 nya yg laen (selaen istri),hampir bisa dipastikan pada waktu terjadi “tekanan” yg luar biasa pd istri sesaat kemudian pasti anaknya jatuh sakit hingga parah,..hingga singkat cerita kedua anaknya pun meninggal berurutan hanya berselang 7 hari dari wafat anaknya yg pertama (innalillahi wainna ilaihi rojiuun),.namun kedua kematian anaknya tsb tdk menyadarkan mereka bahkan dijadikan sarana utk selalu menyalahkan kami,..kini kami sdh berpisah rumah (meski skrg posisi nimbrung di ortuku) namun meski kejadian itu sdh berlalu dan setiap hari raya kami selalu mencoba silaturahmi dan sungkem memohon maaf dan ridhonya selalu bertepuk sebelah tangan,..bahkan hari raya terakhir kemaren kami kesana 2 kali malem hari raya dan hari h nya kami mendapat umpatan yg luar biasa kejam dan masih terasa perih di bathin…(sampe waktu kejadian tsb saya minta bantuan seseorg supaya kedua anaknya yg tlah meninggal mau menemui dan menasehati org tuanya tp hasilnya nihil katanya hati ortu kami keras) sehingga kami membuat analisa dan pertimbangan utk beberp hari raya kami tdk akan berkunjung kemertua..krn yg aku liat stiap mrk meliat kami maka berkobarlah api angkara murka…kami jadi blm mengerti bagaimana caranya kami bisa berbakti dg kondisi yg sudah sedemikian rupa….mohon segala masukan dari kisabda dan para sedhulur semua…mohon maaf kalo ada kata2 yg tdk berkenan,..kalo paparan yg kisabda mbabar menyadarkan kami,mungkin kondisi sulit yg kami alami berkaitan dg konflik keluarga kami,..maturnuwun

  27. Mau nambah dikit ki,apakah pembakaran menyan atopun ratus satu tempat/wadah yg dipake utk menyuguhkan teh dan kopi tubruk serta kembang setaman ? Ato dilakukan terpisah ?! trims

  28. Saran Mas Sabdo, sama dengan yang dilakukan oleh orang tua saya. Saya sudah meninggalkan tradisi itu, khususnya dalam hal sesajen, puasa mutih, tirakatan, ziarah kubur dan lain-lain karena hal itu tidak dianjurkan oleh Agama bahkan ada semacam pelarangan, dan karena saya tidak memahami dengan baik makna sesajen setiap malam jum’at kliwon dan selasa kliwon serta jenis tirakatan lainnya.
    Tulisan itu sangat menyentuh dan menggugah hati saya untuk kembali ke tradisi nenek moyang (jawa) dan saya akan melakoninya.
    Matur Nuwun Mas Sabdo,
    Mamo

  29. @Wali Kepuh Yth
    Mugi berkahing Gusti tansah kajiwa kasarira dumateng kita sedaya, lumantar saking para leluhur, para jalma, para sato, saha jagad gumelar punika.

    @herni Yth,
    Saya langsung Jawab satu persatu pertanyaan panjenengan :
    1.apakah setiap leluhur/ortu yg telah meninggal pasti wewariskan *ilmu yg berguna* kepada anak turunnya ?

    Jawab : Bahkan sejak masih hidup, beliau sudah memberikan dan mewariskan segala macam kebaikan kepada kita. Hanya saja kita sebagai anak turun kadang tidak bisa “niteni kabecikaning liyan”.

    Dan bagaimana definisi yg pener dari ilmu yg berguna tsb ? Apk spt ilmu matematika yg berguna utk segala perhitungan ?

    Jawab : Yang pener dan pas, artinya sinergis, harmonis, selaras dengan kodrat dan hukum alam, maupun rumus-rumus sang CAUSA PRIMA, rumus yg gaib dan rumus yg wadag. Pener dan pas, artinya tidak melawan hukum alam, yg meliputi seluruh makhluk.

    2.Bagaimana supaya kita peka dan bisa mendengar petunjuk dari para leluhur tsb ?

    Jawab : Bukalah hati, pikiran, perasaan untuk menerima sesuatu yg baru. Beningkan hati, pikiran, batin agar menjadi awas/waskita dan permana terhadap hal2 yg gaib dan wadag. Hilangkan rasa dengki, iri. Musnahkan rasa paling ; paling bener, paling suci, paling pinter. Hindari nafsu golek benere dewe, golek menange dewe, golek butuhe dewe. Tebarkan energi kasih sayang, welas asih tanpa pamrih, welas tanpa alis, tanpa pilih sih. Dan menghayati serta mempraktekan dan kehidupan sehari2 apa yg sdh sy jabarkan di atas. Bersyukurlah setiap saat, dengan cara bersyukur yg konkrit, yakni tidak sekedar ucapan, tetapi dimanifestasikan dalam perbuatan nyata. Sebagai contoh, kita diberi kesehatan, maka kita gunakan untuk selalu menolong dan membantu meringankan beban org yg sedang sakit.

    @Evaldo Yth
    Pada prinsipnya, semua org yg raganya sudah mati, lalu pindah hidup di alam keabadian, disebut sebagi leluhur. Leluhur atau yang sudah berada di tempat YANG LUHUR, dibanding dengan alam dunia wadag. Hanya saja ada leluhur yg lebih muda dari kita dan lebih tua. Sedangkan leluhur “yg menurunkan kita” adalah leluhur yg lebih tua.
    Hanya leluhur yg berhasil meraih kamulyan, dan kamulyan sejati yg dapat njangkung dan njampangi, membimbing dan mengarahkan/mengasuh anak turun atau sodaranya, yg masih hidup. Bagi anak mati sejak usia muda/kecil atau masih dalam kandungan, walau mereka belum pernah berbuat kebaikan, namun mereka belum pernah berbuat salah, sehingga tempatnya ada di kamulyan sejati. Oleh sebab itu, anak yg kluron, mati dalam kandungan, mati muda/kecil akan mampu mendampingi, mengarahkan, membimbing ortunya yg berbuat kesasar dan salah jalan.
    Walau leluhur seseorang banyak yg dulunya berbuat jahat, tetapi jangan terlalu pesimistis, sebab di antaranya entah mungkin eyang canggahnya, atau wareng bahkan udek-udek siwurnya, pasti ada yg sewaktu hidupnya banyak melakukan kebaikan dan mencapai kamulyan. Beliaulah yg akan membimbing dan mengarahkan kita. Barangkali hal ini seperti apa yg disinyalir oleh ajaran katolik bahwa, orang yang banyak berbuat amal kebaikan, akan menjadi malaikat bagi keluarga.
    Inilah salah satu yang mendasari orang-orang penghayatan Kejawen, dan para leleuhur nenek moyang kita dulu berbuat baik. Bukan pahala utk dirinya, tetapi kebahagiaan dan kemuliaan anak turunnya kelak.
    Hanya saja, anak turun jaman sekarang suka mengabaikan prinsip demikian, sehingga membuat hubungannya dengan para leluhurnya bisa terputus. karena bagi leluhur, urusan duniawi tidak boleh dicampuri, kecuali untuk hal-hal yg bersifat sangat urgent, dan darurat, apalagi yang menimpa anak turunnya. Itupun anak turun harus “MENJEMPUT BOLA”, diawali dengan percaya terhadap leluhurnya sendiri, lalu dengan tulus melakukan langkah-langkah membangun laku prihatin seeperti dijabarkan di atas.

    @Asshidiqie Yth,

    mas Asshidiqie jangan berkecil hati. Membaca uraian panjenengan, sebenarnya sudah berupaya untuk menjadi anak (menantu) yg berbakti kepada ortu (mertua). Yang menjadi persoalan, mertua anda belum bisa kebuka hatinya. Tetapi apa yg anda lakukan tidaklah sia-sia, karena bisa memutus karma buruk yg akaan terjadi pada anda. Dan kelak panjenengan akan dibalas oleh anak-anak panjenengan dengan perilaku anak yg sangat berbakti kepada ortu (panjenengan dan istri). Utulah syurganya ortu, jika anak-anaknya berbakti kepada ortu.
    Anda lakukan berbakti pada mertua dengan tulus dan legowo, tetapi direspon dengan sikap berbanding terbalik, lalu mengalami hukum sebab akibat dalam ngelmu jawa disebut sebagai kuwalat: Karena panjenengan merasa TRIMO, alias sabar dan tulus, serta menerima saja walau kebaikan anda dibalas dengan sikap tidak baik. Tetapi apa yg terjadi ? Sikap anda yg tulus, legowo dan narimo justru menimbulkan energi dahsyat yg melindungi anda dari dicelakai orang. Diistilahkan
    AKU TRIMO, NANGING SING MOMONG ORA TRIMO”. Nah, yg terjadi, semakin anda tulus dan narimo, justru orang2 (siapapun) yg akan mencelakai anda akan berbalik mengalami kecelakaan/penderitaan sendiri, seperti umpatan yg keluar dari mulutnya. Ucapannya sendiri berbalik menerkam dirinya sendiri. maka diumpamakan MULUTMU ADALAH HARIMAUMU..!!

    @tiwi swastika Yth,
    Jawab : bebas ! boleh dijadikan satu tempat, boleh juga terpisah.

    @Mamo Yth,
    Sumonggo mas mamo, silahkan dilakoni, dan dihayati dalam kehidupan sehari2, lalu SAKSIKAN PERUBAHAN DEMI PERUBAHAN akan menuju kepada KEHIDUPAN YANG JAUH LEBIH MULIA dibanding sebelumnya. menjadi manusia kosmologis yang merdeka lahir dan batin, sukses materi dan immateri.

    salam asah asiha suh
    salam sih katresnan
    Saya hanya bisa berusaha menselaraskan dan mensinergikan rekan-rekan dan para sahabat dengan hakekat hidup yg sejatinya, sehingga menggapai kemuliaan hidup. Donga pangestu kanthi tulusing manah, kagem para sanak kadhang lan sedaya para maos ing “lesehan” menika tanpa pilih sih :
    WILUJENG RAHAYU KANG TINEMU, BONDO LAN BEJO KANG TEKO

  30. Matur nuwun ki atas segala penjabarannya,smoga allah swt membalas semua kebaikan anda,..amien

  1. Ping-balik: Kiat Sukses Mendidik Anak | Wahyudhe dot com

  2. Ping-balik: Sukses Mendidik Anak « Great Avatar Soffiya

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 930 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: