JIWA, RAGA, SUKMA, NYAWA

Sejenak kita akan membahas (lagi) ilmu tentang jiwa, tetapi mungkin para pembaca yang budiman masih bertanya tanya apa perbedaan antara jiwa, jasad, dan sukma. Sebelum saya menjabarkan ketiganya, kiranya perlu saya tampilkan beberapa cuplikan pemahaman orang lain tentang jiwa sebagai upaya mencari komparasi dan menambah khasanah ilmu kejiwaan.

KERANCUAN MEMAKNAI JIWA, SUKMA, NYAWA, PSIKHIS

JIWA, di dalam Oxford Dictionary tertulis soul (roh), mind dan spirit. Sementara dalam bahasa Indonesia cukup dengan padanan yaitu jiwa. Yunani Psychê yang berarti jiwa dan logos yang berarti nalar, logika atau ilmu. Tubuh adalah bagian yang fenomenal, dapat ditangkap oleh pancaindera dan bersifat fana sedangkan jiwa menurut Plato (500 SM) merupakan bagian yang memiliki substansi tersendiri (terpisah dari jasad) dan bersifat abadi. Plato berargumen, bahwa jiwa menempati tempat yang lebih tinggi daripada tubuh, lebih jauh ia mengatakan bahwa tubuh adalah kubur bagi jiwa karena tubuh menghambat kebebasan jiwa. Bagi seorang murid Plato, yakni Aristoteles (400 SM), semua yang hidup mempunyai jiwa seperti tumbuh-tumbuhan, hewan dan tentu saja manusia. Bagi Plato jika seseorang mati, maka jiwanya akan tetap ada dan kembali kedunia Idea di mana di sana terdapat segala hal yang ideal (sempurna) untuk kemudian jiwa akan mereinkarnasi diri dan menubuh kembali pada saatnya. Di sisi lain Aristoteles muridnya, memiliki pandangan berbeda, ia tidak setuju keduaan ala gurunya. Bagi Aristoteles tubuh dan jiwa itu bukan keduaan melainkan kesatuan. Olehkarenanya jika seseorang mati, maka konsekuensinya jiwapun turut mati bersama tubuh. Mana yang benar, Plato atau Aristoteles ? Saya kira kedua-duanya konsep Plato dan Aristoteles tetap  mengandung kelemahan-kelemahan. Bahkan jika ditelaah lebih dalam, banyak ilmuwan kesulitan memetakan letak di mana jiwa (nafs, hawa, nafas, soul), roh (spirit) dan raga (body). Hal ini bukan berarti para filsuf pendahulu kita gegabah dalam memaknai tentang jiwa. Dapat dimaklumi sebab mempelajari tentang seluk beluk kejiwaan kita, musti menggunakan jiwa kita sendiri. Golek latu adadamar, atau mencari bara api dengan menggunakan obor sebagai penerang jalan. Sangatlah bisa dimaklumi sebab pembahasan jiwa sudah bersinggungan dengan ranah gaib yang tak tampak oleh mata wadag. Hanya saja, untuk melengkapi pembahasan terdahulu dalam posting  MENGENALI JATI DIRI kiranya perlu dilakukan komparasi terhadap khasanah ilmu jiwa yang telah disampaikan oleh para pendahulu kita agar jiwa kita menjadi jiwa yang betul-betul merdeka. Merdeka lahir dan merdeka batin.

JIWA MENURUT KI AGENG SURYO MENTARAM

Sejenak para pembaca yang budiman saya ajak mampir ke padepokan seorang filsuf Jawa dan kondang sebagai seorang yang linuwih dan sakti mandraguna. Beliau adalah Ki Ageng Suryo Mentaram (kebetulan dulu tinggalnya di belakang rumah kami). Ki Ageng Suryo Mentaram membahas ilmu jiwa yang dikemukakan seorang filsuf Jawa sekaligus penghayat kejawen yang pada waktu hidupnya beliau terkenal sebagai seseorang yang memiliki ilmu linuwih dan sakti mandraguna.Baca selanjutnya !

Ilmu jiwa sebagaimana diungkapkan Ki Ageng Suryo Mentaram dikenal dengan dua macam jiwa. Yakni jiwa KRAMADANGSA, dan jiwa BUKAN KRAMADANGSA. Apa yang disinyalir sebagai jiwa kramadangsa adalah jiwa yang tidak abadi disebut pula sebagai rasa “Aku Kramadangsa”. Aku kramadangsa termasuk di dalamnya adalah “rasa nama” atau ke-aku-an, misalnya aku bernama Siti Ba’ilah. Aku adalah seorang musafir, aku seorang satrio piningit, aku adalah seorang kaya raya. Ki Ageng Suryo Mentaram mensinyalir adanya “rasa jiwa” yang bersifat abadi. Dimaknai sebagai Aku bukan kramadangsa. Menurut Ki Ageng Suryo Mentaram, rasa aku kramadangsa adalah ke-aku-an (naari atau “unsur api”) yakni aku yang masih terlena, terlelap dalam berbagai rasa aku yang terdapat di dalam lautan kramadangsa. Sebaliknya aku bukan kramadangsa adalah aku yang telah otonom yang sudah memiliki KESADARAN memilih mana yang BENAR dan mana yang SALAH sehingga ia dapat dinamai “Aku kang jumeneng pribadi”.

Menurut Ki Ageng Suryomentaram alat manusia untuk mendapatkan pengetahuan terdiri dari tiga bagian yakni pancaindera, rasa hati dan pengertian. Pertama, pancaindera, seperti yang telah kita ketahui yaitu alat penglihatan (mata), alat pendengaran (telinga), alat penciuman (hidung), alat pencecap (lidah) dan alat peraba (kulit, misalnya: jari- jari tangan merasa panas kena api, kulit merasa gatal terkena bulu ulat, dll). Kedua, rasa hati, adalah suatu kesadaran diri tentang keberadaan aku di mana aku dapat merasa senang, susah dan lain-lain. Ketiga, adalah pengertian, kegunaan pengertian dapat menentukan tentang hal-hal yang berasal dari pancaindera dan juga dari rasa hati. Pengertian di sebut pula sebagai persepsi, yang pada gilirannya akan menentukan mind-set atau pola pikir. Dengan demikian alat pengertian ini dapat dikatakan sebagai alat yang tertinggi tingkatan otonominya bagi manusia karena ia sudah melampaui pengetahuan yang didapat dari alat pertama dan kedua. Ia sudah merupakan suatu refleksi kritis, kontemplasi, endapan yang didapat dengan cara menyeleksi hal-hal yang tidak diperlukan kemudian hanya memilih yang berguna atau bermanfaat saja. Sedangkan alat di luar ketiga tersebut tak diketahui karena di dalamnya terdapat banyak hal yang masih mysteré sulit terjangkau oleh kemampuan alat manusia.

JIWA YANG MERDEKA (KAREPING RAHSA)

Seperti yang telah saya kemukakan dan jabarkan dalam posting terdahulu tentang MENGENALI JATI DIRI. Jiwa adalah nafas, nafs, hawa atau nafsu. Jiwa yang telah merdeka barangkali  artinya sepadan dengan apa yang dimaksud jiwa yang mutmainah (an-nafsul mutmainah). Rasanya sepadan dengan apa yang dimaksud dalam konsep Ki Ageng Suryo Mentaram sebagai aku bukan kramadangsa. Aku bukan kramadangsa selanjutnya saya lebih suka menyebutnya sebagai JIWA yang NURUTI KAREPING RAHSA, lebih mudah dipahami bila saya analogikan sebagai  JIWA yang TUNDUK KEPADA SUKMA SEJATI. Sebaliknya apa yang disebut sebagai jiwa  kramadangsa, aku kramadangsa, tidak lain adalah jiwa yang NURUTI RAHSANING KAREP. Lebih tegas lagi saya sebut sebagai JIWA yang DITAKLUKKAN OLEH JASAD.

Barangkali perlu dipahami bahwa jiwa kramadangsa (rasa nama) kesadarannya lebih dari jiwa yang berhasil diidentifikasi oleh Aristoteles sebagai jiwa yang ikut mati. Saya kira Aristoteles hanya menangkap jiwa-jiwa sebagaimana jiwa binatang dan tumbuhan yang ikut mati. Dan Sementara itu jiwa kramadangsa di sini adalah jiwa dengan kesadaran rendah, yang dimiliki manusia. Jiwa kramadangsa hanya terdiri dari kumpulan seluruh catatatan di dalam memori jasad manusia yang berisi semua tentang dirinya dan semua yang pernah dialaminya. Tidak seluruh memori itu bersifat abadi karena banyak catatan-catatan in memorial dapat terlupakan bahkan lenyap bersama jasad yang mati. Berbeda dengan “aku bukan kramadangsa”, berarti yang dimaksudkan adalah “aku yang dapat mengatasi kramadangsa” karena itu “aku” adalah aku yang dapat mengatur dengan baik kramadangsa-ku.

JIWA, ROH, JASAD

Tulisan saya di sini mencoba untuk membantu menjabarkan apa sejatinya di antara ke tiga unsur inti manusia yakni jiwa, roh dan jasad. Tentu kami yang miskin referensi buku hanya bisa menyampaikan berdasarkan pengalaman pribadi sebagai data mentah untuk kemudian saya rangkum kembali dalam bentuk kesimpulan sejauh yang bisa diketahui. Pengalaman demi pengalaman batin, memang bersifat subyektif, artinya tak mudah dibuktikann secara obyektif oleh banyak orang, namun saya yakin banyak di antara para pembaca pernah merasakan, paling tidak dapat meraba apa sesungguhnya hubungan di antara jiwa, roh, dan jasad. Walaupun jiwa dan roh berkaitan dengan gaib, namun bukankah entitas gaib itu berada dalam diri kita. Diri yang terdiri dari unsur gaib dan unsur wadag (fisik), tak ada alasan bagi siapapun untuk tidak bisa merasakan dan menyaksikan “obyektivitas” kegaiban. Mencegah diri kita dari unsur dan wahana yang gaib sama saja artinya kita mengalienasi (mengasingkan) dan membatasi diri kita dari “diri sejati” yang sungguh dekat dan melekat di dalam badan raga kita.

Sukma-Raga

Hubungan antara roh/sukma dengan raga bagaikan rangkaian perangkat internet. Sukma atau roh dapat diumpamakan IP atau internet protocol, yang mengirimkan fakta-fakta dan data-data “gaib” dalam bentuk “bahasa mesin” yang akan diterima oleh perangkat keras atau hardware.  Adapun hardware di sini berupa otak (brain) kanan dan otak kiri manusia. Sedangkan tubuh manusia secara keseluruhan dapat diumpamakan sebagai seperangkat alat elektronik bernama PC atau personal komputer, note book, laptop dst yang terdiri dari rangkaian beberapa hardware. Hardware otak tak akan bisa beroperasional dengan sendirinya menerima fakta dan data gaib yang dikirim oleh sukma. Hardware otak terlebih dulu harus diisi (instalation) dengan perangkat lunak atau sofware berupa “program” yang bernama spiritual mind atau pemikiran tentang ketuhanan, atau pemikiran tentang yang gaib.

Sukma-Jiwa

Namun demikian, hardware otak tidak akan mampu memahami fakta-fakta gaib tanpa adanya jembatan penghubung bernama jiwa. Jiwa merupakan jembatan penghubung antara sukma dengan raga. Aktivitas sukma antara lain mengirimkan bahasa universal kepada raga. Bahasa universal tersebut dapat berupa sinyal-sinyal gaib, pralampita, perlambang, simbol-simbol, dalam hal ini saya umpamakan layaknya bahasa mesin, di mana jiwa harus menterjemahkannya ke dalam berbagai bahasa verbal agar mudah dimengerti oleh otak manusia. Tugas jiwa tak ubahnya modem untuk menterjemahkan “bahasa mesin” atau bahasa universal yang dimiliki oleh sukma menjadi bahasa verbal manusia.

Namun demikian, masing-masing jiwa memiliki kemampuan berbeda-beda dalam menterjemahkan bahasa universal atau sinyal yang dikirim oleh sukma kepada raga,   tergantung program atau perangkat lunak (software) jenis apa yang diinstal di dalamnya. Misalnya kita memiliki program canggih bernama Java script, yang bisa merubah bahasa mesin ke dalam bentuk huruf latin atau bahasa verbal, dan bisa dibaca oleh mata wadag.

Jiwa-Raga

Setelah jiwa berhasil menterjemahkan “bahasa mesin”, atau bahasa universal sukma ke dalam bahasa verbal, selanjutnya menjadi tugas otak bagian kanan manusia untuk mengolah dan menilainya melalui spiritual mind atau pemikiran spiritual. Semakin besar kapasitas random acces memory (RAM) yang dimiliki otak bagian kanan, seseorang akan lebih mampu memahami “kabar dari langit” yang dibawa oleh sukma, dan diterjemahkan oleh jiwa. Itulah alasan perlunya kita meng upgrade kapasitas “RAM” otak bagian kanan kita agar supaya lebih mudah memahami fakta gaib secara logic. Sebab sejauh yang bisa saya saksikan, kenyataan gaib itu tak ada yang tidak masuk akal. Jika dirasakan ada yang tak masuk akal, letak “kesalahan”  bukan pada kenyataan gaibnya, tetapi karena otak kita belum cukup menerima informasi dan “data-data gaib”. Dimensi gaib memiliki rumus-rumus, dan hukum yang jauh lebih luas daan rumit daripada rumus-rumus yang ada di dalam dimensi wadag bumi. Contoh yang paling mudah, misalnya segala sesuatu yang ada di dalam dimensi wadag bumi, mengalami rumus atau prinsip terjadi kerusakan (mercapadha). Merca berarti panas atau rusak, padha adalah papan atau tempat. Mercapadha adalah tempat di mana segala sesuatunya pasti akan mengalami kerusakan. Sementara itu di dalam dimensi gaib, rumus kerusakan tak berlaku. Sehingga disebutnya sebagai dimensi keabadian, atau alam kehidupan sejati, alam kelanggengan, papan kang langgeng tan owah gingsir. Sekalipun organ tubuh manusia, apabila dibawa ke dalam dimensi kelanggengan, pastilah tak akan rusak atau busuk sebagaimana pernah saya ungkapkan dalam kisah terdahulu, silahkan para pembaca yang budiman membuka posting berjudul KUNCI MERUBAH KODRAT. Sebaliknya, sukma yang hadir ke dalam dimensi bumi, pastilah terkena rumus atau prinsip mercapadha, yakni mengalami rasa cape, sakit, rasa lapar, ingin menikmati makanan dan minuman yang ia sukai sewaktu tinggal di dimensi bumi bersama raga. Hanya saja, sukmanya merupakan unsur gaib, maka tak akan terkena rumus atau prinsip mengalami kematian sebagaimana raga.

RUMUS-RUMUS KEHIDUPAN WADAG DAN GAIB

Jiwa yang terlahir ke dalam jasad manusia merupakan software yang merdeka dan bebas menentukan pilihan. Apakah akan menjadi jiwa yang mempunyai prinsip keseimbangan, yakni seimbang berdiri di antara sukma dan raga, menjadi pribadi yang seimbang lahir dan batinnya. Ataukah akan menjadi jiwa yang berat sebelah, yakni tunduk kepada sukma, ataukah jiwa yang menghamba kepada raga saja. Untuk menjadi pribadi yang dapat meraih keseimbangan lahir dan batin, jiwanya  harus memperhatikan dan menghayati apa saran sang sukma (nuruti kareping rahsa). Tak perlu meragukan kemampuan sang sukma sebab ia tak akan salah jalan dalam menuntun seseorang menggapai keseimbangan lahir dan batin. Pribadi yang seimbang lahir dan batinnya akan mudah menggapai kemuliaan hidup di dunia dan kehidupan sejati setelah raganya ajal. Sementara itu bagi jiwa yang mau diperbudak oleh raga berarti menjadi pribadi yang hidup dalam penguasaan lymbic section, atau insting dasar hewani, selalu mengumbar hawa nafsu (nuruti rahsaning karep). Tentu saja kehidupannya akan jauh dari kemuliaan sejak hidup di mercapadha maupun kelak dalam kehidupan sejati.

Sebaliknya, bagi jiwa yang terlalu condong kepada sukma, ia akan menjadi pribadi yang fatalis, tak ada lagi kemauan, inisiatif, dan semangat menjalani kehidupan di dimensi wadag planet bumi ini. Seseorang akan terjebak ke dalam pola hidup yang mengabaikan kehidupan duniawi. Hal ini sangatlah timpang, sebab kehidupan duniawi ini akan sangat menentukan bagimana kehidupan kita kelak di alam keabadian. Apakah seseorang akan menggapai kemuliaan bahkan kemuliaan Hidup di dunia merupakan bekal di akhirat. Sebagaimana para murid Syeh Siti Jenar yang gagal dalam memahami apa yang diajarkan oleh gurunya. Para murid menyangka kehidupan di planet bumi ini tak ada gunanya, bagaikan mayat bergentayangan penuh dosa. Kehidupan dunia bagaikan penghalang dan penjara bagi roh menuju ke alam keabadian. Jalan satu-satunya melepaskan diri dari penjara kehidupan dunia ini adalah jalan kematian. Sehingga banyak di antara muridnya melakukan tindakan keonaran agar supaya menemui kematian.

NYAWA, KEMATIAN, DAN MERAGA SUKMA

Banyak orang, melalui berbagai referensi, menganggap nyawa sama dengan jiwa. Bahkan dipahami secara rancu dengan menyamakannya dengan roh atau sukma. Nyawa, jiwa, roh, sukma, diartikan sama. Tetapi manakala kita menyaksikan peristiwa meraga sukma, perjalanan astral, lantas timbul tanda tanya besar. Bukankah saat terjadi peristiwa kematian, sukma seseorang keluar dari jasadnya ?! Kenapa orang yang meraga sukma tidak mengalami kematian ?! Sejak lama saya bertanya-tanya dalam hati saya sendiri. Apa gerangan yang terjadi dan bagimana duduk persoalannya. Bagaimanakah sebenarnya rumus-rumus tuhan yang berlaku di dalamnya ?

Butuh waktu puluhan tahun hingga saya menemukan jawaban logis, paling tidak nalar saya bisa menerimanya. Nyawa ibarat “lem perekat” yang menghubungkan antara sukma dengan raga manusia. Pada peristiwa kematian seseorang, nyawa sebagai lem perekat tidak lagi berfungsi alias lenyap. Jika lem perekatnya sudah tak berfungsi lagi maka lepaslah sukma dari jasad.  Lain halnya dengan meraga sukma, lem perekat masih berfungsi dengan baik, sehingga kemanapun sukma berkelana, jasadnya yang ditinggalkan tidak akan mati. Hanya saja lem perekat bernama nyawa ini sistem bekerjanya berbeda dengan lem perekat pada umunya yang benar-benar menyambung merekatkan antara dua benda padat. Nyawa merekatkan antara jasad dan sukma  secara fleksibel, bagaikan dua peralatan yang dihubungkan oleh teknologi nir kabel. Namun demikian nyawa tentu saja jauh lebih canggih ketimbang teknologi bluetooth yang bisa menghubungkan dua peralatan dalam jarak dekat maupun jauh. Dalam khasanah spiritual Jawa, para leluhur di zaman dulu menemukan adanya keterkaitan masing-masing unsur gaib dan wadag manusia. Raga supaya hidup harus dihidupkan oleh sukma,  sukma diikat oleh rasa. Ikatan rasa akan pudar dan lama-kelamaan akan habis apabila rasa tidak kuat lagi menahan penderitaan dan trauma yang dialami oleh raga. Bila seseorang tak kuat lagi menahan rasa sakit, kesadaran jasadnya akan hilang atau mengalami pingsan, dan bahkan kesadaran jasadnya akan sirna samasekali alias mengalami kematian. Di sini peristiwa kematian adalah padamnya  “alat nirkabel” atau semacam “bluetooth” bikinan tuhan sehingga terputuslah hubungan antara jasad dan sukma. Lain halnya dengan aksi meraga sukma, sejauh manapun sukma berkelana ia tetap terhubung dengan raga melalui “teknologi” bluetooth bikinan tuhan bernama nyawa.

About these ads

About SABDå

gentleman, Indonesia Raya

Posted on Februari 17, 2010, in Jiwa-Raga-Sukma-Nyawa and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 134 Komentar.

  1. bingung…?! hi hi hi…

    • Selamat pagi pada teman teman semua

      Semoga tenang membacanya
      Diawali rasa hormat pada pengertian baru yg agak beda dgn tuntunan panjenengan
      Bacalah dgn gembira, menghormati wawasan pengetahuan baru
      Pasti mengerti

  2. salam……
    @#$%# lumayan rada-rada lieur hi hi hi……….

  3. sami abdi ge teu ngarti……..pusing…@#@$% hi hi hi……

  4. tolak angin…hi hi hi…

  5. berarti nyawa adalah nafas kita. seperti halnya, ketika kita mati, kita tidak akan bernafas. dan disitulah makna dari menutup jalan kehidupan. tak ada nafas, maka sukma dan raga mulai terpisah, dan dari situ pula tak ada rasa.
    Nafas menghirup udara, sedangkan sukma bersifa udara (dalam 4 unsur kehidupan manusia) jika manusia sudah tidak bisa bernafas maka sukma pun akan keluar.

  6. Lilik Sukaryadi

    Kulanuwun Den. Nyuwun ijin palilah Njenengan anggen kula nderek ngangsu kawruh.
    Salam rahayu saking Blambangan,

  7. Saya tertarik dari kata2 tersebut

  8. ma’af boleh mintak alamatny ki sabda

  9. lek sabdo…
    luasnya dunia ini tak terbayangkan oleh akal saya yang cuma cetek lek
    untunglah saya punya hati yang menjadi pegangan saat akal saya tak lagi bisa memproses apa yang lek sabdo sampaikan

    akankah walet terbang tinggi menatap dunia dari ketinggian dengan bulu bulu sayap yang 137 helai

    salam rahayu dari teluk kuantan

  10. Mentari Mencari Cahaya

    Yth,.. Bapak Sabda Langit
    saya orang sunda asli,, (mohon maaf sebelum nya),
    Mengenai masalah “ruh” titisan..
    jka seandainya benar bahwa “ruh” itu sok ngncik na baju miraga sukma, Lantas Dalam kubur Jka seandainya mendapat siksa atau kenikmatan, elemen tubuhmana yang akan mendapatkannya?
    2. jakalau ruh ini melayang bebas bagai mana dengan izin Tuhan. dan apakah Tidak Mustahil akan hal Syetan yang mampu malih warni?

  11. Assalamu’alaikum wrwb !
    Nuwun sewu mas Sabdo ,mugi kpareng kulo nderek tepang, ugi nderek mangertosi wedaring kawruh meniko ,mugi kantuk sih kawelasan pitedahe gusti ingkang moho kuaos ,amiin

  12. APAKAH ADA YG TAHU…? APAKAH ISIM ITU…? APA BEDANYA ISIM DAN CORIN….?

  13. Assalamu’alaikum wrwb
    Sugeng Siang Ki Sabda..
    Nderek Nyimak Skalian Sinau..
    Maturnuwun..

  14. assalaamualaikum… saya mau bertanya, saya punya teman yg pernah mengalami kejadian2 ghaib, dan dr pengalaman dia itu akhirnya dia memiliki banyak teman dr alam ghaib, bahkan dia bisa memasukkan ke dirinya dr sebangsa jin, dan dia lakukan itu untuk mengobati dan membantu orang yg butuh pertolongan untuk kebaikan, pernah pada suatu hari saya bersama dia sdang dalam perjalanan, dan ketika saya tanya kamu sudah sholat zuhur, dia menjawab sudah.
    padahal saya dengan dia sama2 belum sholat zuhur, yang saya ingat dia mengatakan walau raga saya di sini tetapi (….ntah apa lah namanya) sudah melaksanakan shalat.
    yg saya mau tanya apakah benar bisa seperti itu ?
    smoga ki sudi menjelaskan kepada saya..
    akhirul kutub assalaamualikum.

  15. Assallamualaikum wrwb. jika ingin manunggal dengan gusti….alangkah baiknya jika terlebih dahulu beriman kepada nabi, tentu beriman kepada jutaan/milyaran wali tidaklah sama dengan beriman kepada satu nabi yang dari nur nya tercipta alam semesta. mohon maaf sebelumnya kepada sohib semua krn ini hanya usul – asal

  16. YANG BISA BANTU TOLONG DI BANTU…
    INI DARURAT…
    ABANG SAYA SAKIT SEJAK BULAN PUASA AGUSTUS 2012 KMRIN…
    AKAN TETAPI DIA TIDAK BISA DIAJAK BERBICARA DENGAN SIAPA PUN…
    PADAHAL DIA TIDAK BISU. SETIAP KALI DITANYA ORANG” TERDEKATNYA DIAHANYA MENATAP DAN MELAMUN… RESPONNYA HANYA MENGANGGUK DAN MENGGELENGKAN KEPALA…
    KIRA” APA YANG HILANG DARI RAGA ABANG SAYA…
    JIWA, NYAWA ATAU SUKMANYA…
    DAN BAGAIMANA CARA MENYEMBUHKANNYA…
    PADAHAL DIA ADALAH SEORANG YANG AKTIF, ABANG SAYA SEORANG PELATIH SILAT DISALAH SATU SEKOLAH SWASTA DI JAKARTA…
    MOHON BANTUANNYA…SAYA TIDAK SANGGUP MELIHAT KEADAAN ABANG SAYA SEPERTI INI… MOHON YANG MENGERTI UNTUK DAPAT MEMBANTU SAYA…
    SAYA SANGAT BERHARAP ABANG SAYA BISA SEMBUH SEPERTI SEMULA…
    AGAR DAPAT MENGAJARI SAYA DAN MURID”YA SENI BELA DIRI…
    SAYA MOHON BANTUANNYA…
    APA YANG HARUS SAYA LAKUKAN….

    • Salah sukma terganggu,bisa mider ningrat tanpa pasti..tentu ada penyebabnya…,krn sihir,tekanan mental,kecelakaan dll.hrus disatukan,dikuatkn kembali baik bathinnya,semangatnya dan imannyya.agar sukma dan raga kuat dan menyatu.Sukmo manjing Rogo,rogo manjing sukmo..insya Allah sembuh..

  17. gw sering nyoba ragasukma, tp sbntar sbntar.

  18. Matur suwun !!

  19. Mohon diberikan penceraha mengenai 7 Roh yg ada pada tubuh manusia serta kaitanny dg sukma jiwa dan nyawa,,, dan terimakasih sebelumnya.

  20. Kata rosul SAW.. belajarlah sampai ke negeri Cina, sedangkan orang Cina sendiri pun belajar ke seluruh dunia, terbukti dengan perjalanan laksamana Cheng Ho mengitari bumi itu sampai 7 kali… pertanyaannya bagaimana kita bisa mempunyai spirit yang tangguh seperti laksamana Cheng Ho itu? kenapa harus takut belajar? Cheng Ho melakukan perjalanan itu untuk belajar tentang Ciptaan Sang Maha Karya itu, dengan cara mengumpulkan ilmu pengetahuan di seluruh dunia ini dan membuka wawasan ilmu dari Sang Maha Karya – Sang Maha Pencipta…

    Sangat jelas dan diyakini bersama, Allah itu membagi rizkinya secara Adil Merata kepada hamba2nya atau kepada makhluk CiptaanNya di seluruh dunia atau bumi… dan bahkan Jagad Raya Alam Semesta Raya ini… namanya saja Maha Pengasih dan Penyayang…

    Secara jasmani atau materi atau non materi/gaib atau ruhani…. Hamba2 Allah ini diciptakan dengan tidak percuma pasti punya makna, punya kelebihan dan kekurangan masing2, membawa ilmu pengetahuan dari yang Maha Berilmu itu… kenapa kita jadi takut untuk belajar? mau ke Amrik kek, ke Cina kek, ke Rusia kek, ke Eropa kek, ke Arab kek, ke Afrika kek, ke antariksa kek? ke dunia ghaib kek? ke ujung langit kek… kenapa tatut belajar dan membatasi diri untuk belajar?… ta u u ya … hihihi :) :) ;)

  21. nyuwun 1000 kawulo bade paring pangerten tentang roso,rogo lan sukmo (roh ) 3 unsur kehidupan menungso yang saling terkait kedalamnya, jadi kalau 3 unsur ini jadi satu istilah tri tunggal maka berujud badan wadag manusia yang membawa ada kehidupan manusia yang dibekali daya cipta (otak-pikiran ) rasa dan karsa (hati-perasaan) dan karsa. Hal ini baermanfaat dari pada kehidupan manusia untuk memberi kelangsungan hidup diri manusia itu sendiri. Misal :orang petani dengan daya cipta ,rasa dan karsanya dapat menghasilkan padi.
    orang daya cipta ,rasa dan karsanya dapat membuat lukisan.
    manusia dengan daya cipta,rasa dan karsanya dapat membuat gedung dsb.
    MENGENAI HAL ROSO ,ROGO DAN SUKMO :
    _Roso hilangnya kalau semua manusia sudah meninggal dunia,karena itu kalau ada oarang yang meninggal dunia tidak ada roso malu,takut,sakit,panas,dingin lapar,rindu dsb.
    -Rogo -atau jasad -jasmani ini akan kembali ketanah karena sejak kehidupan pada diri manusia sejak bayi menuju dewasa sampai tua bahwa diri manusi dibesarkan adanya hasil tanaman dari tanah -buah-buahan dari tanah, Karena itu akan kembali jadi tanah.
    -Sukmo atau roh diri manusia ini dijelaskan dalam kitab suci alquran bahwa asal-usul manusia dari surga (sejarah nabi Adam) .Karena itu semua manusia nanti akan kembali pada tempat kehidupan nabi Adam sebelum turun ke bumi mana ya surga!
    Karena itu uamt islam kaum muslimin kalau ada orang yang meninggal dunia mengucapkan “inalilahi waina ilaihi rojiun artinya wangsul dumateng kersane Alloh SWT.

  22. makasih ki sabdo atas ulasan_x, kebetulan saat ini sy lg mempelajari ttng diri sy sendiri… bgaimana renkarnasi itu bisa terjadi pd sy.. sementara sy sndiri tdk ingat apa2 yg terjadi pd zaman dulu. dngan ulasan ki sabdo td ,smkin jelaslah bgi sy ,bahwa jiwa2 yg bertebaran itu, jika masuk ke_raga yg baru,bisa tdk ingat dngn kehidupan yg lalu… maturnuwun ki sabdo

  23. sy boleh bertanya sedikit ki… ??, jika terjadi renkarnasi, sukma/roh yg diikat oleh jiwa/rasa itu merupakan satu kesatuan atau tidak ??, dan bgmana dengan nasib sedulur papat limo pancer.. ?? dan satu lg ki.. mengapa moksa_x hindu bisa di_terima ??, seperti raden wijaya misalnya, pendiri kerajaan majapahit. bukankah agama yg benar itu adalah islam ??, kalau sy tdk salah menafsir, ssorang yg bsa moksa krn ilmu /anugerah allah, di_berikan bbrapa kelebihan.. bsa hdup di_dunia manapun termasuk alam dunia dan hanya menunggu hr kiamat tuk di_masukkan ke_surga… m”f sblumnya ki… jika pertanyaan sy agak aneh… mhon pnjelasannya melalui e”mail sy…

  24. lakum dinikim waliyadin jadi tentang reinkarnasi atau yang lain kami serahkan pada umatnya yang percaya=iman=yakin kalu memang itu sdh paengakuanya artinya kita sbg manusia tdk bisa membuktikan hal yang ghoib seperti roh ato sukmo itu bernafas ato tdk, krn unuk bernafas diperlukan oksigen jangnkan roh ato sukmo kayu bakarpun membutuhkan oksigen,yang penting kita hidup ini memiliki pedoman apa yang menjadi keyakinan kita.

  25. memahami dan mengerti tentang roso,rogo sukmo ,roso semua orang pasti punya roso=rasa ,ilange kalau swemua roso itu jika semua manusia telah mati, rogo pasti semua manusia memiliki anggota tubuh untuk bergeraak kemana -mana untuk melangsungkan hidupnya, roh sukmo pasti setiap manusia yaitu dzat yang tidak nampak oleh manusia ttp. memiliki energi seperti udara,angin hawa panas dingin ini semua dapat dirasakan ,jika anda ingin membuktikan perlu media=alat bantu bisa benda mati atau benda hidup bahkan manusia lewat kesurupan!

    • Onog
      April 26th, 2014 pukul 20:30

      memahami dan mengerti tentang roso,rogo sukmo ,roso semua orang pasti punya roso=rasa ,ilange kalau swemua roso itu jika semua manusia telah mati, ………..
      _____________________

      @ Onog yg terhormat ……. mohon dijelaskan
      roso = rasa itu contonya spt apa ???
      ilange kalau swemua roso itu jika semua manusia telah mati,….maksudya gimana???…aku bingung, tidak bisa memahami dan mengerti…

  26. Roso semua manusia yang masih hidup merasakan sakit,senang,susah/sedih manis pait ,marah dsb.semua itu kalo sudah hilang roso-rasa artinya sudah mati,,coba amati orang kalo sudah mati diteriaki,ditangisi, dikubur,dibakar,hanyut di sungai,dibuang ke laut juga diam saja ,salam edi tepak,ok!

  27. Saya sangat terbantu sekali dengan pembahasan di atas, makasih ya…. petuah nya./ komen di atas yg merasa pusing atau gak ngerti pasti, karena untuk membaca petuah seperti di atas haruslah belajar dulu pada ulama yg betul2 sudah tahu ilmu syareat-tarekat-hakikat-ma’rifat.

    • @ sedulur Iwan
      Nunggu kang Sabda he he
      Sepengetahuan dalem
      :
      Ilmi Jawa memang tarekatnya atau bil hal dari ilmu hakikat, bil hal dari makrifatullah

      Makanya utk teman2 yg baru mengetahui syari’at, dianggap kurang bener.
      Tetapi kyai khos sejati, ulama sepuh sejati bisa memahami.

      Untuk itulah di bumi Jawa, nusantara, indonesia ini semua agama bisa hidup
      Karena tuntunan Jawa bisa mengerti semua.
      Bisa menampung
      Sayangnya pemeluk agama malah sering memojokkan tuntunan Jawa
      Ya..biarlah nanti setelah mengetahui puncak tuntunan agamanya
      Barulah pribadi itu tahu bagaimana Jawa
      Semoga sampai pd olah rohani fase tersebut

      Jawa,
      Kita sabar, dan memakfumi
      Bisa memaklumi dan menghormati tiap tingkatan di ilmu masing2 agama.
      Demikian sehingga pelaku Jawa biasanya berkharakter
      :
      Tenang, santun, sumeh ceria, arif, tempat orang bertanya
      Pribadi Jawa relatif sabar, smilling, suka membantu orang lain
      Menghormati ajaran orang lain.
      Menyerukan persaudaraan, mengajak guyub rukun, gotong royong

      Maaf statemen ini menunggu kang Sabda, sepertinya sdh mulai sibuk jadwal
      Sugeng enjang kagem teman teman disini.
      Ngapunten menawi wonten lepatipun redaktional Dalem.

  28. benar mz onog, tuk mslah renkarnasi ini sebaik_x d”serah”kn sja pd kepercayaan msing2 , krn klo d”paksakn menuai pro dan kontra… yg ada malah prselisihan.. pdhal yg dituju hanya satu yaitu gusti allah. sbtul_x sy”pun tdk percaya, tp dr bbrp tman sy d”jawa, mengatakan demikian… dn raden wijaya sendiri’pun membenarkn hal itu.. skrng ini yg sy rasakan adalah, bgtu besar_x gusti allah itu, ssuatu yg bgi qta tdk mungkin, bsa menjadi mungkin bagi beliau.. buat mz onog sy bleh bertanya ga ttng ssuatu yg laen.. ?!, saat ini sy sdng mendalami zikir nafas, mungkin mz sndiri prnah dngar.. sllalu terjadi perubahan pd warna mta sy, di_mulai dr biru tua, biru muda dn skrng menjdi berwarna pink.. itu arti_x apa yaa… krn wktu sy tanyakan pd yg ahli_x zikir nafas. beliau tdk mengerti… m”f sblum_x jk tdk berkenan. salam rahayu dr sy di pulau lombok.

  29. Maaf diskusi aja ya…
    Sambil nunggu koment yg lebih ahli

    Coba cari kakek nenek ke 2,3,4 s/d ke 8
    Tahu nama, tempat pesarean…nyekar sekalian diam tenang minimal 1 hari, lebih bagus dimasing pesarean kakek nenek 2,4,5 dstnya

    Makan asupan non hewan bernyawa, vegetarian minimal setahun dan seumur hidup
    Itikaf, sila, semedi rutin tiap malam, puasa ” lama “, weton wajib
    Jalani minimal setahun, dan sterusnya selama kita hidup
    Pasti tahu siapa kita…
    Mudah mengerti ilmi manunggaling kawula gusti
    Mudah dpt kata kata hati yg sejati…..guru sejati
    Kalau memang kita punya garis keturunan orang yg ” mengerti ” kita pasti tahu
    Apa agama, apa gama, apa tuntunan hidup dari luar
    Mengerti ke tinggian ilmi negeri sendiri
    Tahu apa Allah, Sang hyang widhi, tuhan dsbnya

    Semoga bisa mencapainya
    Konsisten sabar, banyak bicara dihindari
    Ramah, sumringah tetap dijaga
    Santun bahsa, perbuatan, batin pasti terjaga

    Ngapunten menika kagem wacana
    Bisa dijalankan semoga merasakan perbedaan hidup

    • Siapapun menafikan nenek kakeknya sendiri
      Apalagi menafikan bumi dia hidup, urip, dia minum, makan tidur…
      Pasti tdk bertemu tuhannya

  1. Ping-balik: Mengolah dan Mempertajam Nurani ala Ki Sabda Langit | Mlathi Wulung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 910 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: