Prakata
Para sahabat semua, para pembaca yang budiman khususnya yang berprofesi sebagai pendidik atau guru sekolah di manapun berada. Atas permintaan sedulur dengan Nickname laku perihatin, berikut saya share tentang kiat-kiat a la kejawen agar supaya sukses dalam mendidik anak kandung ataupun anak didik di sekolah.
Tip Sukses
Jawa artinya jiwa kang kajawa, jawi yakni jiwa kang kajawi. Artinya, prinsip hidup kejawen mengutamakan laku penghayatan atau implementasi nilai-nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari. Ada pepatah mengatakan, “guru kencing berdiri murid kencing berlari”. Mendidik anak, yang paling utama adalah memberi contoh sikap dan perilaku si pendidik dalam kehidupan sehari-harinya. Untuk bisa ngemong orang lain, kita harus bisa ngemong diri kita sendiri terlebih dulu. Pabila diri kita masih mudah terpancing emosi, gampang terhasud, mudah marah, kurang sabar dan tulus dijamin mudah gagal saat mendidik anak. Apalagi seorang calon pemimpin bangsa yang mempunyai sikap temperamental, suka iri hati, panasten, mudah marah dan terpancing emosi pastilah hanya akan menjadi penguasa otoriter, fasis, lalim dan suka menzolimi rakyatnya. Kiat sukses mendidik anak masih termasuk dalam penjabaran kiat sukses dalam pergaulan a-la Jawa. Adapun kiat-kiat sebagaimana dalam ajaran kejawen mendidik anak adalah sbb ;
- Komunikatif. Pendidikan dilakukan sejak masih di dalam kandungan. Seringlah diajak bicara atau berkomunikasi, dilantunkan tembang, serta sering membelai-belai perut ibu yang mengandung. Getaran batin antara ayah-anak-ibu akan saling bersentuhan dengan lembut. Kelembutan kasih sayang ini akan menciptakan kekuatan daya cipta dan kekuatan batin bagi si jabang bayi. Jangan heran bila di antara anda akan merasakan ternyata janin di dalam kandungan sudah bisa diajak berbicara. Apalagi bila sukmanya lebih tua dari usia jasadnya. Dalam mengimplementasikan kegiatan mengajar di sekolah, hendaknya kita sebagai guru lebih bersikap egaliter, tidak menerapkan pola patron-client (tuan-hamba). Agar supaya antara guru dengan murid memiliki hubungan batin yang lebih erat. Rasa sejati-nya saling nyambung. Terjadinya kontak rasasejati ini sangat bermanfaat untuk menumbuhkan rasa saling menghargai dan menghormati antara guru dan murid.
- Mendidik dengan sikap welas asih. Dalam mendidik musti dilakukan dengan kasih sayang yang tulus. Ojo ngoso lan kodho. Ketulusan kasih sayang akan menghasilkan energi positif yang kuat memancar beresonansi yang akan menyentuh alam pikiran bawah sadar para peserta didik. Kita menyadari bahwa hidup ini tidak lain untuk SALING MEMBERI dan MENERIMA kasih sayang kepada dan dari seluruh makhluk. Sekalipun kpd anak didik yg harus disayangi, seorang guru juga harus mengekspresikan suatu harapan untuk menerima kasih sayang dari para anak didik kita. Cara ini akan memotivasi anak didik untuk belajar memberikan kasih sayang kepada bapak-ibu guru khususnya dan kepada seluruh makhluk pada umumnya.
- Bidiklah alam pikiran bawah sadar. Untuk anak kita di rumah, lantunkan tembang-tembang seserepan (pelajaran) tentang kehidupan pada saat anak menjelang dan sedang tidur. Karena kebiasaan ini mempunyai efek sangat posistif. Dalam kondisi tidur, pada saat itu gelombang otak mencapai level tetha sehingga alam pikiran bawah sadar masih terjaga, apalagi kesadaran rasasejati-nya tetap melek walau dalam keadaan tertidur pulas (mendengkur) di mana gelombang otak mencapai level delta. Dalam keadaan di atas kalimat lantunan tembang yang mengandung pelajaran adiluhung mudah direkam ke dalam alam pikiran bawah sadar-nya. Maka dalam khasanah kesenian Jawa dikenal tembang khusus untuk menidurkan anak, DANDANG GULA TURU LARE. Tembang itu bagaikan mantra yang penuh energi bila dilantunkan saat anak menjelang tidur. Dan mudah terpatri di dalam sanubari karena menjelang tidur keadaan gelombang otaknya berada pada level alpha. Untuk tembang-tembang tersebut para pembaca yang budiman dapat membeli kasetnya di toko kaset terlengkap. Misalnya Popeye di jogja, atau toko kaset di dekat Jl Jaksa Jakpus. Syukur-syukur kita bisa nembang sendiri supaya lebih berenergi.
- Tekad bulat, ketangga, keketeg ing angga. Sebelum kegiatan mengajar dimulai atau saat akan berangkat ke tempat mengajar, konsentrasi lah dahulu untuk mengajak sedulur kembar dan sedulur papat kiblat serta kelima pancer-nya agar ikut andil dalam proses mengajar. Untuk kalimat yang diucapkan silahkan dibuka posting saya terdahulu FAQ; MEMBANGUN LAKU PRIHATIN.
- Hargailah seluruh makhluk. Dalam kesempatan khusus, saat telah sampai di tempat mengajar, sempatkan untuk sekedar permisi dan minta semua kekuatan dan makhluk tuhan yangg tinggal di sekitar sekolahan, baik yang tampak maupun tidak tampak, termasuk lingkungan alam, pepohonan, dan ke-empat unsur alam, agar energinya selalu bersinergi dan harmoni dengan getaran ketulusan kita.
- Sinergikan dan harmonisasikan dengan alam semesta. Saat mau mulai mengajar, heningkan cipta terlebih dulu. Ucapkan; “aku ora ndidik ragane murid-muridku, nanging ndidik jabang bayine murid-muridku kabeh. Kyai among nyai among, kabeh kang ngemongi anak didikku ewang-ewangono supaya pada mbangun-turut, dadi bocah kang pinter lan mulya dunya akhirate, mangerteni apa sejating urip. Kabeh saka kersaning Gusti. (Artinya; Aku tidak mendidik raga para murid-muridku, tetapi mendidik jabang bayinya murid-muridku kabeh. Kyai among nyai among, semua unsur gaib yang membimbing anak didikku, bantulah supaya anak didik hormat dan patuh, menjadi anak yang pandai dan mulia dunia akhiratnya, memahami kehidupan yang sejati. Semuanya atas kodrat Tuhan).
- Jadikan pekerjaan kita sebagai ladang amal. Oleh sebab itu, libatkan hati dalam setiap pekerjaan. Tetapkan apa tujuan menjadi seorang pengajar atau guru. Jangan bertujuan untuk mencari makan atau mendapatkan gaji bulanan. Tetapi tetapkan tujuan untuk membagi ilmu pengetahuan kepada semua orang yang memerlukan. Agar supaya mereka dapat menentukan dan merubah nasibnya menjadi lebih baik lagi. Saat kita mengajar, sama saja kita sedang menolong orang banyak. Perlu saya garis bawahi bahwa membantu orang lain memiliki “kredit point” yang sangat besar. Urut-urutannya adalah ; pertama, menolong keselamatan jiwa orang lain. Kedua, menolong nasib atau membukakan jalan hidup bagi orang lain. Nah, bila kita bisa menetapkan tujuan di atas, sama halnya kita telah menghayati ajaran; tanamlah padi, maka rumput akan ikut tumbuh. Menanam padi sebagai kiasan akan amal kebaikan, menolong, membantu, memberi kemudahan, mempererat tali persaudaraan atau silaturahmi. Rumput yang ikut tumbuh sebagai kiasan rejeki yang akan selalu mengikuti setiap kita berbuat kebaikan kepada seluruh makhluk. Maka dalam bekerjaa menjalankan tugas pun hendaknya kita selalu menghayati tapa ngrame. Rame ing gawe, sepi ing pamrih.
- Tapa mendhem. Jangan pernah mengungkit-ungkit kebaikan yang pernah kita lakukan kepada siapapun dengan dalih untuk melehke, atau agar supaya ia malu dan merasa berhutang jasa budi baik. Termasuk jasa-jasa seorang guru kepada murid-muridnya. Sebaliknya ingatlah baik-baik jasa para murid yang pernah dilakukan kepada guru. Dikiaskan, tulislah kebaikan orang lain di atas batu agar tak mudah kita lupakan, tulislah kebaikan yang pernah kita lakukan di atas tanah agar segera kita lupakan.
Demikianlah beberapa kiat sukses dalam mendidik/mengajar anak didik. Masih banyak lagi kiat-kiat sukses dalam bentuk yang lebih teknis, tetapi yang saya anggap paling utama adalah ke-delapan point di atas. Nyuwun duka kepada para pembaca yang budiman sekiranya ada kalimat yang terasa menggurui dan kurang sopan. Hanya kiat-kiat tersebut di atas yang bisa saya persembahkan kepada siapapun yang membutuhkan. Terimakasih kepada Bapak laku perihatin yang telah memotivasi saya menulis posting di atas dan terkesan amburadul karena memang mendadak untuk sekaligus menjawab pertanyaan panjenengan pada list komentar. Mumpung ada waktu minum kopi sambil ngebul di pinggir jalanan, itung-itung bisa sambil bikin corat-coret di atas. Kiat-kiat di atas memang tampak sepele, namun ajaran ini bila dihayati akan memiliki kekuatan yang dahsyat, menjadikan diri kita seumpama medan magnet yang akan mempunyai daya tarik terhadap semua unsur yang positif. Kebaikan yang kita lakukan akan berbalik kepada diri kita sendiri secara berlipat ganda. Begitulah salah satu rumus atau hukum yang ada di jagad raya ini. Sumonggo silahkan dibuktikan. Salam sukses, rahayu karaharjan untuk semua.















51 tanggapan kepada “Kiat Sukses Mendidik Anak”
Daryono
Maret 12th, 2010 pada 22:06
Pamuji rahayu
Terima kasih atas kiat kiat sukses untuk mendidik anak, yang mas Sabda uraikan .tulisan ini bisa menjadi reverensi saya untuk lebih bijak lagi dalam mendidik anak anak saya,selain delapan poin yang mas sebutkan diatas ada sedikit pertayaan mas, untuk anak yang kebetulan mempunyai weton kembar dengan orang tua kebetulan weton putri saya sama dengan weton saya,
1.Ada ndak ritual atau laku yang dapat mensinergikan antara orng tua dan anak (agar tercipta keadaan harmonis) yang kebetulan mempunyai weton yang sama sesuai kejawen.
2.Karena weton sama Pada saat weton saya boleh ndak dibuatkan satu sesaji.( bubur abang putih dan ubo rampe lainya). cuma memasrahkanya untuk berdua ( bapak anak)
itu saja yang saya tanyakan semata mata karena ketidak tahuan saya mas , jika berkenan dan atas jawabanya sayu ucapkan terima kasih.
salam sedjati
SABDå
Maret 12th, 2010 pada 23:06
Mas Daryono Yth
1. Kalau antara ayah dan anak perempuan, atau sebaliknya ibu dengan anak laki-laki wetonnya sama tidak perlu diruwat atau bancakan besar.
2. Harus dua mas. Nanti rejekinya rebutan, atau 1 dipake berdua.
salam karaharjan
Djoko Sulistiyo
Maret 13th, 2010 pada 00:37
Jujur .. ini adalah kiat kiat yang sangat bagus, tapi sebagai orang tua / pendidik perlu latihan dan harus sering di evaluasi, sebab sangat tidak mudah untuk menjalankan kiat2 ini.
Purnomo
Maret 13th, 2010 pada 07:09
Sugeng Enjing Mas Sabda,
Sungguh artikel yang bermanfaat bagi kulo sakluarga mugya panjenengan tansah pikantuk berkahing Gusti Ingkang Murbeng Gesang. Mas Sabda Yth, kulo nyuwun ijin mau mengkopi paste artikel panjenengan sbg petunjuk laku mendidik anak-anak kulo. Nuwun…..
======================
Mas Purnomo Yth
Matur sembah nuwun awit pidonga panjenengan, semanten ugi mugya berkahing Gusti tansah kajiwa kasarira dumateng panjenengan sekeluarga. Mugi seratan ing nginggil saget murakabi tumrap tiyang kathah.
salam sejati
laku prihatin
Maret 13th, 2010 pada 11:19
matur nuwon sanget ki sabdalangit atas jawaban panjenengan mugi apa yang jenengan tuliskan ini dapat menjadi pelajaran bagi kita semua.sugeng rahayu lan kamukten dumateng panjenegan lan keluarga sedoyo
olah roso
Maret 13th, 2010 pada 11:34
terimaksik ki atas tulisaanya, sedikit menanggapi ki pengenai bagaimana seorang pendidik harus bersikap tegas kepada anak didik, ketika anak didik melakukan pelanggaran dalam ber etika apakah kita perlu menerapkan aturan-aturan tertentu agar anak tidak lagi melakukan pelanggaran itu?atau apakah kita sebaiknya membiarkan saja seorang anak melanggar aturan dengan asumsi toh mereka masih anak-anak. misal dalam tradisi ajaran kejawen ada hukuman-hukuman tertentu bagi yang melanggar etika.misal kalu orang tua dulu ketika anak nya nakal atau ngeyel tidak-segan- segan untuk ngasih pelajaran misal di jewer, di cethot, atau yang lainnya. apakah hal-hal yang bersifat kekerasan fisik seperti itu bisa di benarkan untuk memberikan efek jera pada seseorang. matur nuwon sebelumnya ki, dan mohon maaf bila merepotkan jenengan.
SABDå
Maret 13th, 2010 pada 19:15
Kang OlahRoso Yth
Saat ini, teknik mendidik dengan cara kekerasan, kasar, ancaman/menakut-nakuti sdh tidak relevan lagi. Terbukti tidak efektif menghasilkan budi pekerti yg luhur. Sejak zaman dulu, nenek moyang menerapkan metode PERCONTOHAN perilaku dan perbuatan yg baik dalam mendidik anak-anak. Kalau ada cara-cara kasar seperti cethot, jewer, samblek, dublak, slenthik, getak, kethak, tempiling, kampleng, semua itu cara mendidik yg tidak tepat dan menjadi human error yg terjadi dalam setiap zaman. Kenakalan anak, sikap tidak sopan, kurang ajar, bandel sepertinya justru karena mencontoh perilaku kasar di lingkungan terdekat dan ekses dari sistem pendidikan yg represif dan otoriter.
Saya pribadi lebih memilih cara mendidik dengan pendekatan persuasif dan egaliter daripada represif dan otoriter. Sebab cara pertama tsb terbukti lebih efektif menumbuhkan kepribadian anak yg penuh tanggungjawab, mandiri, matang, dan tahan banting. Cara egaliter akan menghilangkan jarak, dan sebaliknya menumbuhkan kedekatan personal antara ortu dgn anak, atau guru dgn murid. Sehingga kedekatan batin membuat anak lebih menghormati dan segan terhadap ortu dan guru, karena anak didik merasa diuwongke, dimanusiakan, dihargai. Saya sendiri punya 17 anak angkat, ada beberapa yg dari bayi, kesemuanya patuh dan menurut, mandiri dan ulet. Kita menjadi ortu, sekaligus kawan utk bercurhat. Ciptakan rumah kita kondisi dan situasi yg nyaman, tenteram, ibaratnya bagai “taman surgawi”. Lebih dari itu, sejak kecil biasakan anak diberi hak otonom utk belajar mengatur dirinya agar tumbuh rasa tanggungjawab. jangan terlalu banyak dicegah. Ubahlah cara melarang dan mencegah dengan cara MEMBELOKKAN, menjelaskan hukum sebab-akibat, dan mengarahkan. Terahir, jangan jadi ortu yg kagetan dan gumunan terhadap perubahan-perubahan pola tingkah laku anak. Tanggapi dgn reaksi yg tenang, sikap bijak dan arif. Perilaku kagetan dan gumunan justru membuat anak penasaran “ada apa yg terjadi” sehingga seringkali malah semakin menjadi-jadi karena adanya reaksi frontal dari ortu/guru.
salam sejati
suwandi
Maret 13th, 2010 pada 12:45
kulon nowon ki sabdo mau menanyakan apakah seseorang yang belum mampu ngemong dirinya sendiri itu sebaiknya tidak usah menjadi guru, seperti guru-guru yang ada saat ini mereka menjadi guru tidak karena sudah mampu mencerminkan diri untuk menjadi yang di GUGU LAN DI TIRU, melainkan karena ia sudah memiliki embel-embel gelar sarjana pendidikan dari kampus,a,b,c …
sehingga gurupun dijadikan sekedar profesi untuk mendapatkan keuntungan dunia, tanpa ada penghayatan makna di balik guru itu sendiri, saya kira kalau berbicara mengenai permasalahan -permasalahan negeri ini entah itu dari kesalahan sistem maupun akibat dari sistem yakni individu-individu yang terlibat didalamya yang mau-tak mau akan terperangkap kedalam sistem-sistem yang ada, tentu saja hal itu tidak akan terjadi kalo seseorang senantiasa eling lan waspada sebagaimana ki sabda langit sudah jabarkan secara gamblang di blognya ini. selain itu adanya sistem pendidikan yang mengacu pada pemahaman barat yang lebih berorientasi pada materi belaka menjadikan pelajara-pelajaran agama yang masuk ke sekolah sangat terbatas, kalupun ada pemahaman-pemahaman mengenai agama yang masuk ke dunia pendidikan sangatlah bersifat syariatnya saja. atau pemahaman agama secara tekstual kulit luarnya belaka.akibatnya pun dapat kita lihat bersama bagaimana para pemimpin negeri ini berlaku ketika memimpin. tokoh-tokoh politiknya bisanya hanya mikirin bagaimana saya agar bisa cari duwet sebanyak-banyaknya, lalu menggunakan aji mumpung nya.yaitu mumpung masih menjabat, hal itu terjadi tentu karena otak yang di mindset sejak kecil hanya di orientasikan pada materi saja.belum lagi para tokoh agama di negeri ini bisanya hanya bilang haram halal,haram halal. sekedar untuk memperthankan eksisistensi mereka kalu mereka masih menjabat sebagai tokoh agama ini itu.tentu hal ini menjadi sangat ironis di negeri yang leluhurnya sangat memperhatikan perbedaan ini. tentu banyak leluhur kita dialam sana menangis tersedu-sedu melihat solah bowo anak cucunya yang gebangeten dalam melanjutkan kepemimpinan di negeri ini. apalagi semakin banyaknya muncul pemahaman -pemahaman yang mengharamkan memuliakan dan mengenang para leluhur,karena dianggap syirik, bitah, khurofat,dan lain-lain.
kembali ke sistem pendidikan kita yang hanya beroerintasi pada materi dan nilai angka, tidak mengenal tataran pendidikan mulai dari playgroup, tk,sd sampai s3 semua tidak lepas dari sistem pendidikan yang berorientasi nilai angka dan materi keduniaaan belaka. sehingga orang yang semakin tinngi gelar keilmuannya justru semakin individual, golek butu dewe egois,dansifat solah bawa yang hanya mnuruti kareping roso, utowo mengikuti howo songone dewe-dewe.
tentu saj yang saya utarakan ini tidak mengeneralkan semua yang bergelar pendidikan itu seperti itu, tetapi kebanyakan mereka memang seperti itu.tentu pengecualian itu tetap ada seperti pak dhamar jati supajar, ki sabdolangit, lan poro sedulor-sedulor sedoyo ingkang tansah eling lan waspodo jaga solah bawanipon.
sehingga negeri ini perlu sebanyak-banyaknya orang seperti ki sabdalangit ini yang walaupun pernah mengenyam pendidikan di fakultas filsafat UGM tidak menjadikan nya,individual tapi mampu menjadikan dirinya untuk menjadi rahmat bagi alam.
matur nuwon ki sabda tas bimbingannya selama ini.mugi-mugi kita semua senantiasa di berikan rahmat dan barokah Gusti .MOHON MAAF/ NYUWON NGAPUNTEN/SORY, BILA ADA HAL-HAL YANG KURANG BERKENAN
SABDå
Maret 13th, 2010 pada 18:23
Mas Suwandi Yth
Pertanyaan panjenengan :
apakah seseorang yang belum mampu ngemong dirinya sendiri itu sebaiknya tidak usah menjadi guru, seperti guru-guru yang ada saat ini mereka menjadi guru tidak karena sudah mampu mencerminkan diri untuk menjadi yang di GUGU LAN DI TIRU, melainkan karena ia sudah memiliki embel-embel gelar sarjana pendidikan dari kampus,a,b,c …
Jawaban saya :
Jika mau jujur dan idealnya memang seperti itu. Hal yg paling urgent saat adalah pengetahuan dan penghayatan tentang BUDIPEKERTI yg harus dikuasai seorang pendidik. Banyak guru-guru yg sangat lihai menguasai bidang studi jurusannya, tetapi tidak dibekali dengan hermeneutika yg memadai, masih kurang ilmu tentang kepribadian, jati diri, dan kepribadian. Oleh sebab itu pendidikan tentang budi pekerti sangat perlu diterapkan kepada para pengajar, guru, dosen maupun guru besar.
salam asah asih asuh
arjuna
Maret 14th, 2010 pada 05:53
Assalamu Allaikum wr.wb
Yth. Bapak SABDALANGIT
Doa saya panjatkan semoga bapak dan keluarga selalu dalam lindungan dan keberkahan NYA.
Mohon maaf bapak, saya ada pertanyaan sehubungan dengan point 3, yaitu ” Bidiklah alam pikiran bawah sadar ”
Bisakah hal tersebut diterapkan untuk diri pribadi (saya), misalkan saya sudah merekam sesuatu pernyataan yang baik di dalam suatu rekaman, kemudian pas sebelum saya tidur sampai dengan saya tertidur, dengan menggunakan headphone saya putar ulang rekaman tersebut….
Apakah hal tersebut akan membuahkan hasil…?
Demikian pertanyaannya dan saya haturkan terimakasih, semoga bapak berkenan untuk menjelaskannya.
Wassalamu Allaikum wr.wb
Salam Hormat
SABDå
Maret 14th, 2010 pada 09:29
Kang Arjuna Yth
Bisa kang. Metode itu termasuk self hipnotis. Diri kita berperan sebagai subyek (hipnosis), dan gelombang otak kita sebagai obyek (hipnotis). Banyak kegiatan sehari-hari tanpa kita sadarai merupakan aktivitas hipnotisme. Misalnya saat kita mendengar musik, lantunan tembang yg membuat perasaan nyaman, syahdu, tenteram, hal ini akan menurunkan gelombang otak ke level alpha. Di mana pada level alpha tersebut, filter RAS sedikit terbuka memberi jalan kpd suatu keadaan baru yg menerobos ke alam bawah pikiran sadar. Atau dongeng sebelum tidur yg penuh dengan nilai luhur budi pekerti sebagaimana kebiasaan yg banyak dilakukan oleh para ortu zaman dulu. Anak-anak dan dewasa saat menonton iklan menggiurkan, film kekerasan ataupun film-film yg menciutkan nyali di televisi, merupakan aktivitas hipnotisme pula. hanya saja, kelemahan metode hipnosis adalah menimbun data-data yg lama terpendam di dalam pikiran bawah sadar dengan sesuatu data yg baru. Data-data lama bisa saja suatu ketika muncul lagi bila mendapat faktor pemicunya, misalnya trauma penyiksaan, yg berhasil dilakukan penimbunan data-data baru yg penuh dengan kebahagiaan dan cinta kasih, akan mudah muncul kembali manakala melihat suatu peristiwa yg serupa.
Nah, tindakan DELETE database lama, bisa pula dilakukan melalui teknik CUCI OTAK (brain washing) seperti yg sering dilakukan dalam tradisi pendidikan militer, bahkan dilakukan pula oleh kelompok teroris terhadap anggota baru. Tetapi delete database, melalui cuci otak sangat beresiko tinggi bisa membuat stress, gangguan jiwa, hingga kegilaan, apabila database baru yg diinstal terlalu ekstrim (sangat bertolak belakang dgn data lama). Hal itu dapat terjadi manakala individu tercuci otak melihat kenyataan di luar diri yg sangat kontradiktif dengan nilai-nilai baru yg diinstal setelah dicuci otaknya. Timbulah kebingungan yg sangat parah hingga menjurus ke gangguan kejiwaan. Senada dengan fakta di atas, kini fenomena kebingungan umat beragama tampak semakin menguat, dan terjadi secara endemik bagai wabah penyakit.
Tak bisa kita pungkiri, agama pun kenyataannya melakukan hipnosis secara kuat kepada setiap umat, bahkan dilakukan sejak kita masih kanak-kanak dengan melalui cara-cara indoktrinasi. Sehingga tidak aneh bila melahirkan individu dgn kesadaran yg fanatik (anti toleran dan merasa diri paling bener). Walau mayoritas umat menganut agamanya hanya karena FAKTOR KETURUNAN, tetapi kenyataannya banyak umat merasa bahwa agama yg dianutnya adalah PILIHAN (berdasarkan kesadaran memilih). Pernyataan ini sangat naif, bukankah sejak kanak-kanak kita selalu ditekankan dgn kalimat,” inilah agama pilihanku, agama yg paling benar !“. Nah..pertanyaannya sejak kapan seorang anak mampu memilih agama yg paling sesuai ?
Tidak berlebihan kiranya bila PROSES memeluk suatu agama apapun di bumi disebut peristiwa KEBETULAN yang KEMUDIAN DIPROGRAM AGAR SEOLAH-OLAH ATAS RENCANA DAN PETUNJUK TUHAN.
Jika kita menyangka bahwa menganut suatu agama sudah merupakan petunjuk dan rencana tuhan utk setiap umat, apakah umat yg memilih agama lainnya merupakan umat yg tidak mendapat petunjuk dan diluar rencana tuhan ?? Kenapa tuhan membiarkan dan menelantarkan sebagian makhlukNya tanpa pentunjuk dan di luar rencanaNya??
Jika demikian berarti tuhan itu pilih kasih. Hal ini tentu sangat kontradiksi dgn konsep tuhan yg Mahakasih, Maha Penyayang dan maha adil.
Kita semua dibekali nalar dan nurani, sebagai instrumen pencari kesejatian hidup. Nalar mudah terkena indoktrinasi, sementara nurani kita tak bisa terkena indoktrinasi. Saya hanya ingin bicara jujur, realistis dan faktual, bukan bermaksud memvonis maupun mendiskreditkan semua agama. Hanya memetakan bagaimana proses kebingungan umat terhadap suatu kepercayaannya. Lebih bijak kita tidak lantas nggebyah uyah sebagai godaan setan, tetapi dalam diri sedang terjadi dialog yg alot antara NURANI dengan ALAM BAWAH SADAR yg telah lama merangkum data-data indoktrinasi.
Maaf kang Arjuna, jawaban saya menjadi panjang lebar, seolah jari ini bergerak dgn sendirinya memijit tut keyboard. Semoag dialog seperti ini selalu mempererat tali persahabatan dan persaudaraan di antara kita dan seluruh pembaca yg budiman. Gusti murbeng gesang selalu melimpahkan berkah, keberuntungan, keselamatan, dan kesuksesan lahir batin kepada panjenengan sekeluarga.
salam asah asih asuh
adit38
Maret 14th, 2010 pada 18:58
Saya tersentuh dg tulisan2 mas.
Penuh kebijaksanaan.
Kementar mas ttg indoktrinasi agama sejak kecil jg menarik minat saya
air langit
Maret 14th, 2010 pada 21:20
Membaca tulisan Ki Sabda membuat saya flash back ke masa kanak dulu. Saking bebasnya sampe gak ada yg ngarahkan. Ortu cuman bilang manungsa wis duwe dalane dewe2.
Masuk kelingkungan sekolah, pelajaran agama malah jd momok tersendiri. Karena wong cubluk dan keset kayak saya susah nyerap pelajaran, alhasil gak bisa baca tulisan arab. Tiap pelajaran agama selalu was was jangan ditunjuk buat baca ayat di buku paket oleh gurunya. Lha wong yg anak laen ikut TPA sedang saya malah ngluyur maen layangan. Meskipun kadang kebayang besok bakal masuk neraka
Sedangkan pelajaran bahasa jawa cuman jd pelajaran singkat tanpa menggali kedalam dr khasanah budaya jawa itu sendiri. Jd ikut pro sama teman yg laen yg bilang pelajaran kuno dan sulit (baca : tdk minat). Ditambah embel2 yg namanya kejawen itu negatif.
Akhirnya perjalanan ini sampai pada pondok Ki Sabda, yg mau mengangkat piwulang budaya jawa yg adiluhung. Salam hormat saya selalu buat Ki Sabda, semoga diberi kemudahan buat panjenengan dan keluarga. Shg saya masih bisa ngangsu kawruh disini. Dan tidak malu ketika ada orang bertanya “apakah anda orang jawa?”
matur sembah nuwun
olah roso
Maret 15th, 2010 pada 12:26
matur nuwon sanget ki atas jawabannya.kalau ki sabda berkenan untuk menjelaskan lebih rinci mengenai metode persuasif dan agaliter yang bagaimanakah yang harus kami terapkan kepada peserta didik. mungkin akan sangat bermanfaat untuk mengubah sistem pendidikan kami terutama dalam sistem pengajarannya.
kemudian dari jawaban jenengan
Lebih dari itu, sejak kecil biasakan anak diberi hak otonom utk belajar mengatur dirinya agar tumbuh rasa tanggungjawab. jangan terlalu banyak dicegah. Ubahlah cara melarang dan mencegah dengan cara MEMBELOKKAN, menjelaskan hukum sebab-akibat, dan mengarahkan.
saya mau tanya lebih lanjut
1.bagaimana secara lebih rincinya mengubah cara mendidik anak dari mencegah dan melarang ke cara membelokkan.
2.mohon juga ki sabda berkenan menjelaskan mengenai berbagai hal tentang hukum sebab akibat, yang harus kita perhatikan dalam kehidupan ini, tentu agar kita lebih jelas untuk bersikap hati-hati mengenai batasan-batasan yang ada dalam hukum sebab akibat tersebut.
mohon maaf ki jika saya yang masih sedikit wawasaa tentang hidup ini jika harus bertanya banyak mengenai ini itu kepada ki sabdo.tidak lain karena saya yakin panjenenganlah tempat yang tepat untuk mengutarakan nya.nuwon
budi juliono
Maret 15th, 2010 pada 22:48
assalamualaikum.
ki sabda apa yg harus kami lakukan sebagai orang tua agar anak kami kelak menemukan keberuntungan atau kesuksesan.
Terimakasih.
murid
Maret 16th, 2010 pada 13:26
Sekedar menambahkan saja.
Kalau saya perhatikan, tiap anak sepertinya unik, punya keunggulan masing-masing dan punya cara belajar masing-masing. Bisa jadi mendidik anak yang satu dengan yang lain mesti berbeda caranya, bahkan dalam satu keluarga. Tugas kita sebagai orang tualah untuk menemukan keunggulan masing-masing anak dan sekaligus menemukan cara belajar paling optimal untuk anak.
Sayang di sekolah umum hanya ada satu metode belajar saja; duduk tenang dan perhatikan guru. anak-anak yang sesuai dengan cara belajar seperti ini dan akhirnya berprestasi, disebut anak pintar. sedangkan yang tidak sesuai dengan cara belajar ini dan akhirnya tidak berprestasi disebut bodoh, atau bahkan bandel bagi anak yang kreatif tapi tidak tersalurkan kreatifitasnya.
Jadi kalau dirumahpun kita sebagai orang tua menerapkan cara belajar yang sama seperti disekolah padahal tidak sesuai dengan cara belajar si anak, betapa kasihannya anak itu.
murid
yg terusbelajar menjadi orang tua bagi anak sendiri
budi juliono
Maret 16th, 2010 pada 17:33
@mas murid,trims atas uraiannya mskipun jwbn tersebut tdk ditujukan kepada saya,
sebenarnya orang tua mana sih yg berharap kelak anaknya menjadi orang sukses,yach…engga muluk2lah pengen jdi pejabat ataupun abdi negara.Yg msih sya bingung adalah suksesnya cara kita mendidik anak akan menghasilkan anak2 yg sukses pula?
Sementara jujur saja keluarga kami bukan golongan mampu ataupun terpandang.
Apakah kesuksesan hanya hak org2 kaya saja?
Trims.
murid
Maret 17th, 2010 pada 12:26
@mas Budi, menurut Mas Budi seperti apa sukses itu? pencapaian apa sehingga kita bisa dibilang sukses?
Bagi sendiri masih menggunakan makna sukses orang awam, yaitu karir, mencukupi kebutuhan keluarga, dll.
Awalnya saya juga akan menerapkan prinsip sukses awam tersebut ke anak saya. tapi begitu saya saya dianugrahi anak yg sedikit berbeda dengan kebanyakan anak-anak, saya sadar prinsip sukses awam tidak bisa di aplikasikan ke anak saya.
Melalui proses belajar terus menerus, akhirnya saya sadar sukses membuat anak menjadi dirinya sendiri sesuai dgn kodratnya/tujuan penciptaannya, otomatis anak tersebut akan sukses. itulah sukses mendidik anak yg sesungguhnya – paling tidak itu yg saya fahami saat ini-.
Tinggal usaha kami sebagai orang tua menemukan keunikan, keunggulan dan cara belajar anak yg optimum.
Yang-Kung
Maret 16th, 2010 pada 19:04
Matur nuwun sanget Ki Sabda wewarahipun,khususipun para tiyang sepuh ingkang keliwat sibuk ing karya lan para muda generasi penerus bangsa perlu sanget memahami wewarah adi punika.Sering kali di pertemuan desa eyang juga berusaha menyadarkan betapa pentingnya pendidikan dan keteladanan bagi anak2 bangsa.Biasanya sering saya berikan istilah2 agar mudah di ingat oleh warga setempat,misalnya “para sedulur memakai *ali2 akik yen arep nggula wentah anak” Ali2—ajalalilali Aktif yen ana persoalan cepat bertindak,Komunikatif terhadap para putra wayah,Inovatif dlm cara membina,Kreatif dalam setiap langkah”juga untuk membina moral anak saya gunakan istilah 5 S–>Senyum Salam Sapa Santun dan Sodakoh.Tampaknya para orang tua masyarakat menengah kebawah menjadi antusias dan pertemuan semakin gayeng.Begitulah Ki Sabda wewarah panjenengan melengkapi referensi kula.Salam rahayu.
budi juliono
Maret 17th, 2010 pada 14:45
matur nuwun sedoyo poro pinisepuh,mas murid trimakasi,ms sabda trims
Pancen loro lan ngenes batin nggennyo mbabar kasunyatan kanthi jujuring manah,
mboten saged dipungkiri bilih derek2 kiwo tengen kulo panjenengan ing babgan ekonomi anane mung cukup alias pas2an.Kahanan puniko nopo diwastani kodrat?
menawi mboten buruh,inggih kuli,pembantu lsp.
Tiyang sepuh menopo mbten rumaos kedosan menawi anak putune sengsoro uripe?
……..
Sabda
Maret 17th, 2010 pada 17:58
Para sedulur yg terhormat
Kesuksesan bukan milik golongan, suku, ras, budaya, agama, strata sosial atau kelas ekonomi tertentu saja. Kesuksesan milik siapa saja yg mau berusaha tanpa kenal menyerah, dan tentu saja mau menempuh ‘laku’ sing PENER lan PAS.
Ukuran kesuksesan ada dua parameter yakni lahir dan batin. Gelimang harta bukanlah ukuran. Yg penting kita hdp adl kecukupan. Tetapi..memang idealnya kita menjadi org yg sukses lahir batin, merdeka lahir batinnya..kecukupan dalam “siraman” batin dan “siraman” materi.
Tetapi, jalan untuk meraih sukses bukanlah harta. Harta hanyalah salah satu sarana saja yg urutannya ada di belakang, masih banyak sarana lainnya utk meraih sukses. Kita bisa saksikan ribuan org sukses di negeri ini yg dulunya mempunyai latar belakang miskin dan serba kekurangan. Panjenengan bisa buka tulisan saya DI MANAKAH LEVEL ANDA.
Bagi saya pribadi, modal kesuksesan adalah sebagai berikut ;
1. Kejujuran
2. Dapat dipercaya
3. Relasi
4. Tabah dan ulet (kreatif)
5. Kapital
Kapital urutannya paling akhir. Dulu saya pernah mengalami saat-saat di mana kondisinya secara berurutan sbb :
1. Kerja keras, hasil tak ada.
2. Kerja keras, hasil sedikit (habis utk hidup sehari)
3. Kerja keras, hasil lumayan
4. kerja keras, hasilnya cukup utk sebulan
5. kerja keras, hasilnya lebih dari cukup (bisa nabung)
6. kerja keras, hasilnya banyak
7. kerja sedikit, hasilnya cukup
8. kerja sedikit, hasilnya berlimpah
No 7 dan 8 merupakan level di mana saya istilahkan kita sudah TIDAK MENCARI DUIT lagi, TETAPI DICARI OLEH DUIT. Level itu bisa siapa saja alami, asal mau menggapai ngelmu bejo. Silahkan dibuka-buka semua tulisan di sini, sdh banyak tersirat dan tersurat ttg seluk beluk ngelmu bejo.
Salam sukses buat para sedulur semua.
Arjuna
Maret 17th, 2010 pada 20:12
Assalamu Allaikum wr.wb
Yth. Bapak SABDALANGIT
Puji dan Syukur saya panjatkan agar bapak dan keluarga selalu dalam Lindungan dan BerkahNYA
Saya ucapkan terimakasih sebesar-besarnya atas kesediaan bapak untuk menjawab pertanyaan saya.
“….Bisa kang. Metode itu termasuk self hipnotis. Diri kita berperan sebagai subyek (hipnosis), dan gelombang otak kita sebagai obyek (hipnotis). Banyak kegiatan sehari-hari tanpa kita sadarai merupakan aktivitas hipnotisme….” dari pernyataan bapak tersebut saya ambil kesimpulan bahwa setiap umat manusia dapat melakukan self hipnotis, dengan cara merekam kata / kalimat yang mau dihipnotiskan, kemudian sebelum dan sampai tertidur memutar rekaman tersebut, hal ini dilakukan berulang-ulang sampai terlihat hasilnya.
Tetapi saya menemui satu kejanggalan dalam kalimat “Nah, tindakan DELETE database lama, bisa pula dilakukan melalui teknik CUCI OTAK (brain washing) seperti yg sering dilakukan dalam tradisi pendidikan militer, bahkan dilakukan pula oleh kelompok teroris terhadap anggota baru. Tetapi delete database, melalui cuci otak sangat beresiko tinggi bisa membuat stress, gangguan jiwa, hingga kegilaan, apabila database baru yg diinstal terlalu ekstrim (sangat bertolak belakang dgn data lama). Hal itu dapat terjadi manakala individu tercuci otak melihat kenyataan di luar diri yg sangat kontradiktif dengan nilai-nilai baru yg diinstal setelah dicuci otaknya. Timbulah kebingungan yg sangat parah hingga menjurus ke gangguan kejiwaan. Senada dengan fakta di atas, kini fenomena kebingungan umat beragama tampak semakin menguat, dan terjadi secara endemik bagai wabah penyakit….”….andaikata data lama yang tersimpan di memori otak sudah di delete melalui brain wash….mengapa terjadi kontradiksi dengan hal yang baru didapatkannya ? jadi brain wash disini saya melihatnya hanya sebagai pengaburan data saja bukan penghilangan data…sehingga jika ada suatu kondisi yang mirip data lama maka data lama akan tergugah dan mencuat kembali untuk kemudian membandingkannya dengan data baru yang kemudian menimbulkan kontradiksi….
Mengenai kebingungan umat beragama yang tampak semakin menguat, menurut pendapat saya, oleh karena norma-norma lama sebagai dasar (selalu ada tabu nya jika berusaha untuk mengupas…) tetap ada dan kemudian digabungkan dengan norma-norma baru yang erat kaitannya dengan keadaan sekarang yang banyak menuntut realitas (selalu saja harus ada logikanya….) dan instant (ga mau cape/berusaha…).
” Tak bisa kita pungkiri, agama pun kenyataannya melakukan hipnosis secara kuat kepada setiap umat, bahkan dilakukan sejak kita masih kanak-kanak dengan melalui cara-cara indoktrinasi. Sehingga tidak aneh bila melahirkan individu dgn kesadaran yg fanatik (anti toleran dan merasa diri paling bener). Walau mayoritas umat menganut agamanya hanya karena FAKTOR KETURUNAN, tetapi kenyataannya banyak umat merasa bahwa agama yg dianutnya adalah PILIHAN (berdasarkan kesadaran memilih). Pernyataan ini sangat naif, bukankah sejak kanak-kanak kita selalu ditekankan dgn kalimat,” inilah agama pilihanku, agama yg paling benar !“. Nah..pertanyaannya sejak kapan seorang anak mampu memilih agama yg paling sesuai ?..”
Ke fanatikan seseorang tercermin dari beberapa faktor seperti lingkungan, status sosial dan pola penerapan hipnosis nya, sehingga seperti apa yang saya nyatakan sebelumnya bahwa sesuatu yang sebetulnya bisa dikupas ternyata dianggap tabu oleh karena faktor lingkungan sehingga timbulah kefanatikan akan sesuatu hal.
Mengenai hal pilihan, sebetulnya sewaktu kita kanak-kanak justru kita tidak mempunyai pilihan oleh karena faktor keturunan dan juga menurut pendapat saya sewaktu saya kanak-kanak, jika saya diberikan pilihan, saya memilih hanya terbatas pada visual dan suara (yang terlihat/terdengar/fisik), tetapi untuk memilih dengan mempergunakan fungsi otak yang mengatur spiritual / religi, saat itu saya belum merasa mampu, dan jika saya sampai bisa memilih itu hanya ada 2 jawaban, kesatu tebak kancing dan yang kedua ada hal yang diluar nalar yang membimbing untuk memilih….
Kalau pada akhirnya saya bisa memilih berdasarkan nurani ataupun otak yang mengatur religi, itu berarti saya sudah menjalani kondisi yang memerlukan waktu dan proses sehingga membuat pemikiran dan nurani saya menjadi tahu mana yang harus saya pilih…..
“Tidak berlebihan kiranya bila PROSES memeluk suatu agama apapun di bumi disebut peristiwa KEBETULAN yang KEMUDIAN DIPROGRAM AGAR SEOLAH-OLAH ATAS RENCANA DAN PETUNJUK TUHAN.
Jika kita menyangka bahwa menganut suatu agama sudah merupakan petunjuk dan rencana tuhan utk setiap umat, apakah umat yg memilih agama lainnya merupakan umat yg tidak mendapat petunjuk dan diluar rencana tuhan ?? Kenapa tuhan membiarkan dan menelantarkan sebagian makhlukNya tanpa pentunjuk dan di luar rencanaNya??
Jika demikian berarti tuhan itu pilih kasih. Hal ini tentu sangat kontradiksi dgn konsep tuhan yg Mahakasih, Maha Penyayang dan maha adil.
Kita semua dibekali nalar dan nurani, sebagai instrumen pencari kesejatian hidup.”
Saya mencoba mengulas secara pribadi dan tidak berkait dengan prinsip yang saya anut, Kehidupan atas dasar Ketuhanan bila kita visualkan bentuknya mengerucut bisa juga piramida…..
Jadi, apapun agama dan kepercayaannya TUHANNYA tetap satu…..RAHSANING SEJATI adalah satu yaitu yang ada di setiap umat manusia, karena Yang Maha adalah ALAM SEMESTA tidak ada batasan ruang dan waktu, tidak ada dimensi….DIA mengisi dan ada disetiap partikel kehidupan maupun penunjangnya….tanpa melihat PRINSIP yang dianut. Semua akan bermuara kepada YANG MAHA dan tidak terkecuali…sadarilah bahwa DIA adalah kita dan kita adalah DIA, yang membedakan adalah kita diisi oleh DIA tetapi kita tidak mengisi DIA…..DIA adalah jiwa kita tetapi kita tidak menjiwai DIA…dengan kata lain yang MENCIPTA tidak sama dengan yang dicipta.
Kesimpulan saya adalah tidak ada kontradiksi untuk konsep YANG MAHA, tidak ada yang tidak mendapat petunjukNYA dan tidak ada yang ditelantarkan OLEHNYA…terbukti bahwa semua sudah mendapat aturan (kitab dan agama) sesuai dengan masing-masing penamaanya.
Yang ada sekarang adalah tinggal melihat kedalam diri masing-masing, bagaimana kita bersikap dan menyikapi apa yang menjadi prinsip kita dan apakah sikap kita sudah sesuai dengan prinsip yang kita anut ?
Begitu bapak SABDALANGIT mengenai ulasan saya, semoga bapak dapat memaklumi oleh karena keterbatasan dan ke awam an saya.
Semoga Berkah dan Lindungan Alloh SWT senantiasa selalu menaungi bapak dan keluarga, oleh karena kebesaran dan kesabaran hati bapak dalam memberikan nasehat maupun wejangan bagi saya.
Wassalamu Allaikum wr.wb
Salam Hormat
SABDå
Maret 18th, 2010 pada 10:09
KAng Arjuna Yth
Sebuah masukan yang menggelar kesadaran lebih luas untuk kita semua. Seyogyanya tradisi diskusi semacam ini dapat menjiwai setiap generasi muda bangsa. Karena dengan cara tersebut bangsa ini akan terbuka GAPURANING NAGARI MANGGIH KAMULYAN.
Bangsa ini butuh sosok generasi penerus yg memiliki pola pikir seperti panjenengan. Sudah terlalu jenuh dengan pola pikir yang terlalu sempit memandang agama, dan kita semua menyaksikan bagaimana ekses negative dari sempitnya pola pikir. Mulai dari bentuk kekerasan dan tindakan anarkhis dengan mengatasnamakan tuhan. Kekerasan, tindakan destruktif, anarkhis semua itu bersumber dari sikap fanatisme karena telah gagal memahami hakekat norma agama.
Gusti Allah selalu melimpahkan berkah, anugrah, wilujeng, kepada Kang Arjuna sekeluarga.
salam sejati
Arjuna
Maret 18th, 2010 pada 23:14
Assalamu Allaikum wr.wb
Yth. Bapak SABDALANGIT
Semoga Alloh SWT selalu melimpahkan Berkah dan Lindungan kepada bapak dan keluarga.
Saya sangat setuju dengan apa yang bapak kemukakan dan andaikata saya bisa mengutarakan pendapat…itu semua tidak lain karena nasihat, wejangan den semua bentuk pembelajaran yang saya terima dari bapak SABDALANGIT.
Saya sangat bersyukur karena bisa bertemu dan ber silaturahmi dengan bapak, sungguh suatu kebetulan yang berharga bagi saya……. oleh karena itu semoga Alloh SWT selalu melimpahkan Rahmat dan Hidayah NYA kepada bapak dan keluarga.
Wassalamu Allaikum wr.wb
Salam Hormat
tomy
Maret 19th, 2010 pada 08:43
Sebuah penjabaran yang mencerahkan Mas Sabda, cara mendidik seharusnya memang persuasive & egaliter. Dengan cara otoriter & represif, anak didik hanya akan mengembangkan Superego yang disalahpahami sebagai Suara Hati.
Superego, sebagai instansi jiwa yang menyadarkan untuk berbuat yang sesuai kelayakan umum, hanya untuk mencari rasa sayang & penerimaan orang lain yang berujung keamanan & kenyamanan hidup. Maka dalam kehidupan juga hidup beragamapun hanya mencari kepastian rasa aman itu & kebenaran dengan huruf capital selalu menjadi rebutan.
Semua tindakan yang sesuai dengan kelayakan umum hanya bermotif kepastian rasa aman.
Dan hal ini sama sekali tidak sesuai dengan Suara Hati Sejati, Guru Sejati yang mewujudkan nilai-nilai sejati dalam hidup manusia meski harus mengorbankan rasa aman.
olah roso
Maret 19th, 2010 pada 10:44
kulon nuwon ki sabda, lan sedoyo pembaca blog ini ingkang mugi-mugi tansah dipon paringi wilujeng seking GUSTI,
saya mau menanyakan tentang apakah seorang anak itu perlu dididik untuk buisa laku prihatin? kalau memang perlu apakah sama cara mendidiknya dengan laku prihatin yang di sapaikan dalam blog ini?
karena saya melihat banyak anak anak sekarang yang sejak kecil sudah di manja manja oleh orag tuanya.apakah hal itunanti akan berpengaruh pada kehidupan anak ketika ia beranjak dewasa,,pertanyaan ini saya ajukan kepada siapa saja pembaca yang budiman sekiranya berkenan membantu menjawab pertaanyaan saya ini,terutama mungkin bagi panjenengan ingkang sampon pernah kagungan putro. mungkin bisa dibagi pengalamannya untuk kita disini.matur nuwon sakderenge
bob
Maret 19th, 2010 pada 11:05
luar biasa mas …. sungguh pemandangan pengetahuan yang membuka pemahaman akan makna hidup …..
terima kasih mas …
amirdha
Maret 20th, 2010 pada 11:45
Terima kasih, Bapak.
Penjelasannya sangat mencerahkan.
Dan terima kasih juga untuk semua atas pertanyaan yg hampir sama spt yg sy pikirkan.
Rasanya penuh dengan kebetulan menggembirakan setelah saya menemukan blog Bapak. Satu demi satu pertanyaan saya menemukan jalan menuju jawaban yang saya rasa pas.
Saya mohon ijin ngangsu nggih.
Semoga Bapak selalu sehat dan begitu pula sedherek sekalian.
suwun dan salam
SABDå
Maret 22nd, 2010 pada 00:43
mb Amirdha Yth
Kembali kasih. Semoga sedikit ulasan tersebut ada manfaatnya. Saya rasa tak ada yg kebetulan, semua itu rasasejati panjenengan sendiri yg menuntun.
salam karaharjan
Wie
Maret 23rd, 2010 pada 21:10
Alhamdulilah trimakasih ama…sudah memberi pencerahan trhdap profesi sy kedepan kelak..insyallah jd pndidik lare alit sekolah dasar… smoga jg sy dpt menerapkan ajran ama untk menghadapi momongan sya,.amin.. trmakasih ama..salam sejahtera untk ama dn kluarga…
wie
Maret 24th, 2010 pada 11:02
Ama…
Mbah Tukul
Maret 27th, 2010 pada 17:58
Aku hanya ingin menambahkan.
Ada pepatah nasehatilah seseorang dengan bahasa dan cara pergaulannya masing2.
Demikian juga untuk menasehati/ mendidik anak, orang tua perlu menyelami cara, kebiasaan, dan bahasa pergaulan anak. Ini penting, karena orang tua sering melupakan hal ini.
Oleh karena itulah, anak kita lebih banyak mendengarkan nasehat temannya dibandingkan dengan nasehat kita sebagai orang tua. Walaupun nasehat kita itu sebenanya bermaksud baik.
SABDå
Maret 28th, 2010 pada 11:50
Mbah Tukul Yth
Matur nuwun mbah, atas tambahan point yg sangat berharga semoga dapat diterapkan oleh siapapun yg berprofesi sbg pengajar, dan tentunya utk kita hayati pula dalam pergaulan sehari-hari.
salam karaharjan
IKHSAN FEBRI
Maret 31st, 2010 pada 15:30
rahayu
salam tetepangan ki,saya dari padepokan hardopusoro kemanukan purworejo,
SABDå
Maret 31st, 2010 pada 22:07
Mas Ikhsan Febri Yth
Kintun salam pitepangan ugi kagem para kadhang ing padepokan Hardopusoro Purworejo. Ing pangajab mugi saget nambah grengsenging raos pasederekan NKRI. Mugi ing samangke wonten wekdal kagem jejagongan kito sesarengan medar sakathahing ngelmu lan seserepan.
salam karaharjan
ossmed
April 22nd, 2010 pada 19:28
terima kasih buat kiat-kiatnya, mudahan nanti bisa saya terapkan jika sudah nikah,,terima kasih^^
salam kenal nihh
sedang blogwalking dan ketemu blog menarik ini.. ditunggu kunjungan baliknya di http://www.ossmed.com
Eve
Mei 3rd, 2010 pada 01:24
Saya pikir inilah ajaran budi pekerti pada anak ala jawa. Sungguh mempesona namun sayang saat ini banyak dari kita yang seperti kacang lupa kulitnya, jawanya telah luntur oleh banyak hal. Daripada mencontoh cara-cara asing yang belum tentu cocok, mengapa tidak menengok bagaimana nenek kakek kita mendidik anak-anaknya. Oh ya, saya selalu meninabobokan anak-anak saya dengan dongeng dan lagu, berbagai versi mulai dari yang nasional, barat , maupun jawa, namun yang mengena di hati anak-anak tetap lagu ” tak lelo lelo lelo dung”, yang karena kelunturan jawa saya, saya tidak tahu judulnya.
Buat mas Sabdolangit, teruslah bertutur, niatkan untuk mewariskan nilai-nilai luhur pada anak-anak pewaris jawa kita. Tidak untuk primodialisme, namun untuk kelestarian nilai yang adiluhung.
SABDå
Mei 4th, 2010 pada 00:46
Eve Yth
Banyak sekali pelajaran hidup yg terkandung dalam nilai-nilai luhur yg terbengkelai sia-sia. Hanya karena dianggap tak ada tuntunannya secara agama. Sungguh ironis sekali, bukankah pelajaran matematika, fisika, biologi, musik, bernyanyi, semua itu tak ada tuntunannya juga dalam agama. Tapi toh everything is ok.
Tembang di atas, sepertinya berjudul Lelo Ledhung. Banyak tembang-tembang yg bisa dilantunkan pada saat anak sedang tidur. Hal itu tidaklah sia-sia. Sebab saat kondisi tidur, bukan berarti kesadarannya lenyap. Tetapi kesadaran sukmanya tetap terjaga. Sehingga dampaknya jauh lebih efektif daripada menasehati anak saat ia marah-marah. Tembang tidur (nina bobo) yg banyak memuat pelajaran berharga, saat dilantunkan bisa langsung terserap ke dalam alam pikiran bawah sadar si anak.
salam karaharjan
Abimanyu Bawono
Mei 19th, 2010 pada 16:13
Kantun salam kangen kagem pakde sabda saking bogor
Sampun dangu mboten miring suraosipun , dipun lintu mawi telp ugi mboten ka angkat ,mugi Pakde Sabdo lan keluargo sehat lan tansah pinanggih rahayu
menawi maos seratan meniko kok ati niki kados pun, tusuk pun udet2 …rasane gelo..tur campur nesu kaliyan diri pribadi..kok ya nembe mangertos sak puniko
Lah niki ingkang kedah pun bongkar pakde
menawi rinaning penggalih mugi pakde sabdo saged medhar tatacara para lehuhur agung anggennipun “menyentuh” alam bawah sadar
setahu saya ada tembang2 , garba 2 yang sifatnya untuk mendidik anak2 dalam kondisi tertentu bahkan ada tembeng yang membuat kondisi trance anak2 sehinga bisa diberi “pitutur” secar a mudah
nyuwun pun tambahi pengetahuan dalam hal ini pakde…
nuwun sewu kalo tembang pengentar tidur yang sifatnya baik buat abak2 apa ya pakde
Matur sembah nuwun
rahayu
wafa
Juni 18th, 2010 pada 13:00
Kiat-kiatnya boleh juga, tapi kalo boleh nambahin sedikit aja ternayata senjata peling ampuh untuk keberhasilan seorang anak anak adalah ketika orang tua memiliki 3 jurus jitu, yaitu:
1. keteladanan
2. motivasi, dan
3. pembiasaan
ketiga hal tersebut harus dilakukan terlebih dahulu oleh orang tua atau pendidik dan semacamnya kalau memang kita menginginkan anak-anak yang sukses dan unggul.
ok, thank’s a lot of…
handout
Oktober 26th, 2010 pada 16:51
terima kasih banyak atas kiatnya.
moga sukses selalu.
jika ingin tau profil saya silahkan kunjungi..
click this
surono
November 26th, 2010 pada 14:18
Salam kenal mas , Trimakasih atas kiat-kiatnya.
Begini mas saya punya anak 3 dan yang satu meninggal umur 9 hari , anak saya laki2 semua. Anak saya yang terakhir ini kelahirannya selasa kliwon dengan cara caesar , sekarang umurnya 3 th dan saya beri nama” Gilang Maulana Nurjati”, anak saya ini sangat hiper aktif sekali hingga kami harus butuh kesabaran yang luar biasa untuk momongnya, usil dan apa saja maunya dipegang dan pemarah. Sebagai catatan anak saya mempunyai kelebihan pada umur sebulan sudah keluar giginya, umur 6 bulan bisa tepuk tangan dan berkata”horeeee” dan bisa nunjuk dengan jari telunjuknya serta bisa jalan umur 10 bulan. Dan kebiasaan yang membuat saya dan istri saya risih adalah suka sekali memencet hidung saya atau istri khususnya pada saat mau tidur hingga kita sulit bernafas. Dengan masalah masalah yang saya uraikan ini saya mohon bantuan mas gimana cara atau do’a untuk menanggulangi ini, supaya tidak pemarah dan usil saya takutnya terbawa sampai dewasa. Terimakasih atas perhatiannya dan bantuannya .
Salam.
SABDå
November 26th, 2010 pada 23:20
Mas Surono Yth
Weton selasa kliwon memiliki ketajaman indera batin bawaan bayi. Jika salah kelola klu besar bs mjd anak susah diatur, keras hati, dan emosional. Tp semua itu akan mjd potensi besar yg bermanfaat, dgn syarat dikelola dpn pas dan pener. Di antaranya :
1. Dibancaki weton min 1th skali.
2. Jgn dididik dgn sikap keras scr tindakan maupun ucapan. Melainkn dgn kelembutan dan kasih sayang.
3. Jgn bnyak melarang, jika anda tak setuju dgn apa yg dilakukan si anak, sebaiknya jelaskan alasannya scr rasional.
4. Putra panjengan memiliki ruh di dlm badanya berusia lebih tua dgn usia fisiknya. Jd jgn khawatir nantinya akan selalu bs mengendalikan dirinya sendiri.
Salam karaharjan
surono
November 27th, 2010 pada 13:42
Terimakasih mas Sabda atas sarannya,
Saya akan coba untuk menerapkannya.
Salam Kelangitan selalu
hi hi hi
April 19th, 2011 pada 11:17
yang me long o…ming kem n sung kem…hi hi hi…
tau…?! n tah lah…hi hi hi…
depot-voucher-pulsa-listrik-pln
Januari 13th, 2012 pada 10:12
semoga kita bisa mengamalkannya
mukhamat aris
Januari 19th, 2012 pada 11:01
assalammu’alaikum
mukhamat aris glagah arum.
kiat sukses mendidik murid-murid memberi pelajaran sendiri bagi kita para guru,,yakni kita bisa memahami karakter setiap murid-murid kita.semua mempunyai karakter berbeda-beda.
metode saya mengajar dengan mengenal karakter setiap masing-masing murid,terus disatuhkan dalam suatu kelompok/diskusi yang bisa membuat mereka mepunyai pribadi yang sama dalam menuntut ilmu.
sekian
Kaprawi
April 6th, 2012 pada 08:58
Alhamdulillah jika seluruh guru dan orang tua menerapkan apa yang mas papaarkan maka insya Allah semua anakaa bangsa ini menjadi soleh solehah qurrota a’yun waj alna lil uttaqina imama, sayaang nya orang tua menyerahkan ke lembaga pendidikan kepinginnya anaknya jadi jenius tapi ahlak tidaak diutamakan ,saya pernaah angket dengan siswaa saaya kelas jumlah siswa 28 orang yang mengerjakan solat subuh hanya duaa orang ,ada juga yang orangtuanya tak pernah solat sma sekaali, juga saya pernaah membuat angket disatu kelas madrah tsanawiyah untuk ortu dan anknya yang solah subbih dari 33 siswa yang solat siswaanya hhanya 3 orang ortunya tak llebiihh dari 5 orang, juga saya melihat sekarang anak bangsa yang propesinya juga hanya mengejar serrtifikasi pangkat dan uang, apaalaagi dihubungkaan dengan gaji dudah digaadaikaan di Bank selaamaa 10 tahun adaa yang 5 tahun adaa yang 15 tahun semeentara gaji sudah tidaak menerima lagi .hal ini membuat sang umar bakri malaah untuk menunaikan kewajiban secara benar, sehiingga program cataat buku sammpaii habis, belum lagi umar bakrinya tidak tinggal diteempat bekerjaa memkai kenderan terkadaang sampai am perjaalann ke sekolah membuuat saang umar bakri habiis dijalan , iniilah nasib dunia pendidikaan bangsa ini ,juga terkadang yang mmemegang kebijaakan di dunia pendidikan bukan orang yang berasaal dri basic pendidikan karena jabataan berdasarkan pesanan bupati wali kota dan orang yang biisa memberi upeti kepada raja didaeraah tersebut . belum lagi un yang katanya mau murni tapi ternyata sang Kepala sekolah takut jabatan copot kalau persantase kelulusan tidaak menvcaapaai 100 % .yang ahirnya note baan un itu semua bukan bocor tapi setiaap sekolah ada tim husus untuk pelulusan dengan beribu cara dilakukan. marilah kepada yang berkompoten juga anak bangsa buka mata pasang telinga mari kembali ke UUD 45 PANCASILA QUR’AN DAN SUNNAH RASUL INSYA ALLAH BANGSA INII TIDAK KRISIS MORAL KRISIS ILMU KRISIS IMAN DAN AKAN MENGAKIBATKAN KEHANCURAN MULAI DARI PRESIDEN SAMAPI RAKYAT JELATA. MOHON MAAF KALAU ADA YANG TERSINGGUNG INILAH ADANYA SEMOGA INDONESIA MENJADI BALDAATUN TOYYIBATUN WAROBBUN GHOFUR AMMIN
Dewi
April 6th, 2012 pada 15:50
@ Ki Sabda, Arjuna, lan Sederek sedoyo,
Maturnuwun atas pencerahannya…
@ Kaprawi,
Maturnuwun lan salam kenal, badhe nderek diskusi pak guru Kaprawi…
Excuse me nggih, antara agama dan sistem pendidikan seharusnya tidak di campur adukkan, negara kita yang besar dan pluraritas seharusnya sudah bisa mandiri dengan karakternya, yaitu berbudi pekerti nusantara. sedangkan kita tahu Agama itu terdiri dari unsur yang membentuk dan menjiwainya antara lain : Budaya, sejarah, cerita legenda, Mitos, Mistis dan juga Politik.
Apa yang terjadi di negara kita adalah sebuah komplexitas spiritual dalam penerapan pendidikan di lembaga sosialnya. demi kepentingan agama dan juga kepentingan politik akhirnya Banyak sisiwa yang hanya di bebani pelajaran2 yang tidak menyentuh essensinya sama sekali kecuali hanya untuk mengejar target menghapal semua bidang mata studi saja.
Negara2 yang sudah maju peradaban demokrasinya tidak ‘mewajibkan’ siswanya yang di bawah umur untuk memilih agama, hingga mereka dewasa baru bebas memilih. Mereka lebih menerapkan ilmu nyata, kedisiplinan dan demokrasi yang di landasi oleh pengabdian (rasa hormat), kasih sayang (cinta) dan persatuan (nasionalisme). Dengan gemblengan moral seperti itulah mereka bisa tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan mampu berkompetisi serta toleransi di dunia secara nyata dan (meng)- global.
Salam rahayu,
Dewi
soni( anak alam )
Agustus 30th, 2012 pada 13:43
KI hatur nuhun atas tulisana
KI aku mau bertanya anak aku lahirna weton minggu kliwon dan klw di hitung menurut perhitungan jawa anakq lahir pada tgl 1 syawal 1945 dan anakq itu jarang rewel dan jarang nangis. KI tuk bencakan wetona apa mesti aku buwatan ketikan tiba wetona atw cukup setaun sekali dlm bikin bencakan wetona….
deden
Februari 4th, 2013 pada 11:30
NDEREK TEPANG LAN IJIN COPAS,SAHE SANGET ARTIKELIPUN,NYUWUN SUPADOS POSTIN TEMA NIPUN MENDIDIK ANAK AGAR TIDAK TERJEURMUS KE FREE SEX.ATAU MENGENAL ORIANTASI SEX SEJAK DINI PADA ANAK DAN SOLUSINYA