Pasugatan Ki Sondong Mandali
Kodrat Tuhan, bahwa bangsa manusia diciptakan Tuhan berikut perangkat ‘build-in spirituil’ atau ‘wiji spirituil’ yang ‘jumbuh’ (sesuai) untuk menjalani hidup di habitat tempat bangsa manusia tersebut diciptakan. Kenyataan yang ada, sesuai dinamika semesta, bahwa keadaan alam (termasuk geo spiritual) di bumi ini tidak sama. Dengan demikian, ada perbedaan ‘wiji spiritual’ pada masing-masing bangsa manusia demi bisa ‘jumbuh’ dengan kondisi ’geo spiritual’ tempat masing-masing bangsa tersebut tercipta.
Interaksi ’wiji spirituil Jawa’ dengan ’situasi, kondisi, dan geo spiritual’ habitat Jawa menumbuh kembangkan ‘cipta rasa karsa’-nya wong Jawa. Dari ’cipta rasa karsa’ ini tumbuh kesadaran adanya ’hubungan’ antar semua yang ada di jagad raya.
Kesadaran-kesadaran tersebut berupa;
- Kesadaran adanya Tuhan sebagai penguasa alam semesta.
- Kesadaran adanya hubungan kesemestaan (hubungan manusia dengan jagad raya dan seluruh isinya);
- Kesadaran keberadaban (hubungan antar sesama manusia).
Kesadaran-kesadaran tersebut merupakan landasan utama ’kawruh kejawen’ atau ’ngelmu urip’-nya wong Jawa. Maka dengan demikian ’cipta rasa karsa’ Jawa yang berdasarkan kesadaran ’ber-Tuhan, kesemestaan, dan keberadaban’ kemudian melandasi ’Ngelmu Urip’ (falsafah hidup) Jawa yang selanjutnya melahirkan budaya dan peradaban Jawa yang mencakup: sistim religi & spiritualisme, falsafah hidup, tradisi & laku budaya, sistim organisasi kemasyarakatan dan pemerintahan, sistim ilmu pengetahuan dan tehnologi/peralatan, bahasa (termasuk aksara), seni budaya yang terdiri dari: kesenian, kriya, dan sastra.
Merupakan kodrat Tuhan pula bahwa kondisi alam semesta Jawa berada di khatulistiwa (tropis), bagian gugus kepulauan (bahari), dan banyak gunung berapinya (vulkanis). Maka bumi Jawa termasuk yang subur makmur, bercurah hujan tinggi, sepanjang tahun mendapatkan sinar matahari. Namun demikian, di bumi Jawa pula banyak terjadi ’bencana alam’ berupa gempa bumi, badai, gelombang laut yang tinggi dan tsunami, letusan gunung berapi, dan banjir karena curah hujan tinggi. Dengan demikian kondisi alam semesta Jawa bisa dikatakan ’jangkep’ (komplit). Pada situasi semesta yang jangkep, maka hypotesanya ’wiji spiritual’ yang dianugerahkan Tuhan kepada insan Jawa juga ’jangkep’ supaya jumbuh dengan kondisi alam tempatnya diciptakan.
Hasil interaksi ’wiji spiritual Jawa’ dengan ’geo spiritual’ melahirkan pandangan Jawa yang dikenal dengan ’Falsafah Panunggalan’: semua yang ada dan tergelar di jagad semesta ini merupakan ’kesatuan tunggal semesta’ yang dalam istilah Jawa disebut ’Panunggalan’. Maksudnya, ada ’hubungan kosmis magis’ antar semua yang ada di jagad raya ini. Hubungan panunggalan dimaksud terbangun dalam struktur ’pancer-mancapat’ atau ’inti-plasma’ yang terjalin satu dengan yang lain bertingkat-tingkat dari yang paling kecil (atom dan sel hidup) sampai ke seluruh alam semesta. Pada konteks ’panunggalan alam semesta’, pancernya disebut ’Hyang Wisesa’ (sebutan lain: Suksma Kawekas, Guruning Ngadadi, Kang Maha Kuwasa) dan semua ciptaan posisinya sebagai ’mancapat’.
Berdasarkan konsep panunggalan semesta ini maka bisa dimengerti bahwa konsep ajaran Jawa tentang kewajiban manusia adalah menjaga atau ’menyangga’ harmoni (keseimbangan, keselarasan) hubungan semua unsur semesta yang dikodratkan ’hayu’ (selamat, indah, sejahtera). Dari konsep inilah terlahir istilah yang menjadi kewajiban semua titah dumadi untuk melakukan: ’Memayu Hayuning Bawana’. Manusia sebagai salah satu ’titah dumadi’ yang diberi kelebihan berupa ’cipta-rasa-karsa’ dan ’daya spirituil’ termasuk yang memiliki ’kewajiban lebih’ dalam ’Memayu Hayuning Bawana’ tersebut.
Dalam ’kehayuan semesta’ disadari dan dimengerti oleh manusia Jawa ada ’dinamika pergerakan’ yang terus menerus tiada henti sebagai salah satu tanda ’urip’ (hidup). Demikianlah, maka pada dasarnya pergerakan alam semesta memang ada dan dinamis sejak awal terciptanya. Bahwa dampak dinamika pergerakan tersebut ada yang berupa ’bencana’ bagi kehidupan manusia juga sudah dipahami oleh insan Jawa. Misalnya: pergerakan lempeng kulit bumi yang menimbulkan gempa, pergerakan angin oleh perbedaan suhu yang menimbulkan badai dan topan, pergerakan konsentrasi awan yang menimbulkan hujan dan banjir, pergerakan dinamis bulan yang menyebabkan pasang surut air laut, pergerakan atas dampak gerhana bulan dan matahari, dll.
Terhadap timbulnya berbagai bencana oleh akibat dinamika semesta menumbuhkan bermacam-macam ’laku budaya’ untuk menyikapi. Dalam hal ini, sikap Jawa ternyata tidak sekedar ’menyerah pasrah’ kemudian memohon ’perlindungan’ Yang Maha Kuasa semata. Tetapi juga melakukan upaya-upaya mengenali bencana-bencana dimaksud termasuk siklus terjadinya dan upaya untuk mengantisipasi dampak kerusakan kepada hidup manusia itu sendiri. Maka kemudian dalam khasanah Jawa lahir ’petung’ untuk mengenali siklus terjadinya bencana tersebut. Sedemikian rupa njelimet dan detil sehingga kemudian lahir berbagai ’ilmu petung’ sebagai tengara kemungkinan terjadinya bencana. Di antaranya berupa pengenalan watak baik buruknya: hari (wetonan), wuku (pekan, minggu), mangsa (bulan dalam hitungan pranata mangsa), tahun, windu, mangsakala (siklus 33 tahun), sampai kepada siklus jaman yang disebut ’kali’ yang berlangsung setiap 700 tahun.
Di samping mengenali berbagai seluk beluk tentang bencana juga melakukan upaya-upaya penangkalannya yang berupa ritual budaya. Di antaranya melakukan ritual sesaji, ritual mantra swara (kidungan), ritual bedayan (tari dan swara gamelan), ruwatan, merti desa, dll. Landasan pokok penyelenggaraan ritual-ritual tersebut berupa konsep ’menjaga panunggalan semesta’. Penjelasan lebih mendalam tentang hal ini kiranya perlu diadakan sarasehan khusus mengenai ritual-ritual laku budaya Jawa. Yang penting, dalam wacana pemikiran ini, bahwa ritual-ritual laku budaya Jawa merupakan upaya manusia Jawa dalam menjalin hubungan baik dengan alam semesta dan seluruh isinya. Jalinan hubungan yang baik dipahami akan mampu memberi ’keselamatan’ terhadap kehidupan manusia.
Falsafah hidup Jawa yang lahir dari tumbuh kembangnya ’cipta rasa karsa’ hasil interaksi ’wiji spiritual’ dengan ’geo spiritual’ lebih mengutamakan ajaran pemahaman tentang ’sejatining urip’ (hakekat hidup). Pijakan ajaran tersebut bertumpu dari 3 landasan : kesadaran ber-Tuhan, kesadaran semesta (kosmis), dan kesadaran keberadaban. Dengan demikian, insan Jawa kemudian cenderung lebih ’spiritualis’ karena masalah ’hakekat hidup’ berada di ranah spiritual. Kecenderungan ’spiritualis’ ini bisa dikatakan sebagai ’naluri alamiah yang adikodrati’. Maka kemudian menjadi dasar dalam berinteraksi dengan budaya dan peradaban lain. Inilah sebabnya ’kejawen’ sering dijustifikasi sebagai ’ketahayulan’ dan ’anti modernisasi’.
Dalam interaksi antar budaya dan peradaban manusia sudah barang tentu terjadi ’hybrid interconnectedness’ nilai-nilai. Namun demikian, nilai-nilai budaya dan peradaban Jawa yang bertolak dari interaksi wiji spiritualnya dengan geo spiritual yang bersifat ’adikodrati’ tidak mudah hilang. Justru kemudian ’mewarnai’ hasil asimilasi dan ’hybrid interconnectedbess’ yang terjadi. Para pakar budaya kemudian menilainya sebagai ’sinkretisme’.
Pada wacana pemikiran awal tentang Rasionalisasi Kejawen ini saya sampaikan dasar-dasar yang melandasi budaya dan peradaban Jawa sebagai berikut:
- Landasan peri kehidupan berdasar ’Falsafah Panunggalan’, suatu pandangan hakiki bersatunya manusia dengan alam semesta yang dalam istilah Jawa dinyatakan sebagai ’jumbuhing jagad cilik lan jagad gedhe’.
- Landasan peri kehidupan ’Agraris Paradesa’, suatu kehidupan sosial yang berdasarkan kerukunan dan keselarasan. Mulai komunitas kecil (desa) sampai kepada bentuk negara.
- Landasan peri kehidupan ’Spirituil Magis’, merupakan karakter umum insan Jawa yang spiritualis dan mempercayai adanya kekuatan-kekuatan magis dari alam semesta dan seluruh isinya.
- Landasan peri kehidupan ’Kalangwan’ (Mempersembahkan Keindahan), merupakan implementasi melaksanakan misi ’Memayu Hayuning Bawana’.
- Landasan peri kehidupan ’Kejawen’, merupakan piwulang Jawa dalam menyikapi berbagai perbedaan-perbedaan keyakinan dan kepercayaan umat manusia.
Piwulang ini saya simpulkan berdasar pengkajian terhadap kandungan visi misi serat-serat kapujanggan. Semestinya lebih tepat menggunakan istilah ’Bhinneka Tunggal Ika’, namun istilah ini rasanya belum ’pas’ karena sekedar bermakna ’kerukunan’ semua ’Sistim Religi’. Sementara ’Kejawen’ ada wacana melebur semua perbedaan dalam bingkai ’Sistim Religi Jawa’.
© KSM.
Yayasan Sekar Jagad















307 tanggapan kepada “Rasionalisasi Kejawen”
Budak Angon
Januari 6th, 2011 pukul 13:23
Lirik Lagu Ebiet G. Ade – Aku Ingin Pulang
Lirik Lagu:
Kemanapun aku pergi
Bayang bayangmu mengejar
Bersembunyi dimanapun
S’lalu engkau temukan
Aku merasa letih dan ingin sendiri
Ku tanya pada siapa
Tak ada yang menjawab
Sebab semua peristiwa
Hanya di rongga dada
Pergulatan yang panjang dalam kesunyian
Aku mencari jawaban di laut
Ku sadari langkah menyusuri pantai
Aku merasa mendengar suara
Menutupi jalan
Menghentikan petualangan
Du du du
Kemanapun aku pergi
Selalu ku bawa bawa
Perasaan yang bersalah datang menghantuiku
Masih mungkinkah pintumu ku buka
Dengan kunci yang pernah kupatahkan
Lihatlah aku terkapar dan luka
Dengarkanlah jeritan dari dalam jiwa
Aku ingin pulang uhuu
Aku harus pulang uhuu
Aku ingin pulang uhuu
Aku harus pulang uhuu
Aku harus pulang
Budak Angon
Januari 6th, 2011 pukul 15:13
Marilah kita lihat warisan adiluhung Ki Ageng Pengging membahas ilmu sejati
sbg asah-asih-asuh rasionalisasi kejawen
—————————–
Dan terjadilah Tanya jawab tentang Ilmu Sejati.
Sunan Kudus melempar pertanyaan dan Ki Ageng Pengging menjawabnya. Dan jawaban-jawaban Ki Ageng Pengging, beberapakali sempat membuat Sunan Kudus terperangah.
Pada suatu kesempatan, Sunan Kudus melemparkan pertanyaan simbolik sebagai berikut :
Kalamun Ingsun kapanggih kalawan kekasihingwang,
Dadi Kawula pan mami,
Kalamun Ingsun kapisah kalawan kekasih mami,
Sun dadi Ratu,
Ratu Ratuning sabumi,
Ratu Angratoni Jagad.
(Manakala Ingsun ( Aku ) bertemu dengan kekasih-Ku,
Ingsun ( Aku ) menjadi Kawula ( Hamba ),
Manakala Ingsun ( Aku ) terpisah dengan kekasih-Ku,
Ingsun ( Aku ) menjadi Raja,
Raja Diraja seluruh bumi,
Raja Yang Merajai Jagad Raya. )
Siapakah Ingsun ( Aku ) dan siapakah kekasih-Ku ?
Ki Ageng Pengging tersenyum dan menjawab :
Ingsun ya Ingsun,
Datan ana roro telu,
Kasebut Hyang Paramashiwah, Hyang Sadashiwah lan Hyang Atma,
Telu-telune jatine Tunggal!
(Ingsun ( Aku ) adalah Ingsun ( Aku ),
Tiada lagi yang kedua maupun ketiga,
Disebut juga Hyang Paramashiva, Hyang Sadashiva dan Hyang Atma,
Ketiga-tiganya sesungguhnya adalah Satu!)
Kasebut ugi Allah, Rasul lan Mukhammad,
Telu-telune Tunggal uga!
(Disebut juga Allah, Rasul dan Mukhammad,
Ketiga-tiganya sesungguhnya adalah Satu juga!)
Kang ingaranan kekasihingwang,
Ya jisim ya suksma,
Yen Ingsun kapanggih kalawan jisim lan suksma,
Ingsun dadya Kawula,
Yen Ingsun kapisah kalawan jisim lan suksma,
Ingsun Pan dadya Ratu,
Ratu Ratuning Jagad,
Ya Brahman Ya Allah,
Tan liyan saking punika!
(Yang disebut kekasih-Ku,
Adalah Jasad dan Suksma,
Manakala Ingsun ( Aku ) bertemu dengan Jasad dan Suksma,
Ingsun ( Aku ) menjadi Kawula ( Hamba ),
Manakala Ingsun ( Aku ) terpisah dengan Jasad dan Suksma,
Ingsun ( Aku ) menjadi Raja,
Raja Diraja Semesta,
Ya Brahman Ya Allah,
Tiada lain dari itu!)
Sunan Kudus tersenyum mendengar jawaban Ki Ageng Pengging. Dan perdebatan semakin panas!
Sunan Kudus bertanya.
“Ana Curiga kalawan Warangka. Yen mung katon Warangka, aneng ngendi Curiganira?”
(Ada Keris dan Warangka. Manakala hanya terlihat Warangka, dimanakah Kerisnya ?)
Ki Ageng Pengging menjawab,
“Amanjing Warangka. Manunggal anyawiji!”
(Masuk kedalam Warangka. Manunggal menjadi satu!)
Sunan Kudus tersenyum, lantas bertanya lagi.
“Yen mung katon Curiga, aneng ngendi Warangkaneki?”
(Manakala hanya terlihat Keris, dimanakah Warangkanya? )
Ki Ageng Pengging menjawab.
“Amanjing Curiga. Manunggal anyawiji!”
(Masuk ke dalam Keris. Manunggal menjadi satu ! )
Kemudian Sunan Kudus bertanya.
“Yen musna ilang lelorone, dumunung ing ngendi?”
(Manakala hilang musna keduanya, berada dimanakah?)
Ki Ageng Pengging menjawab.
“Dumunung aneng Urip!”
(Berada didalam Hidup!)
Sunan Kudus tertawa. Lantas dia bertanya lagi..
“Ana ing ngendi dununging Urip?”
(Dimanakah tempat kediaman Hidup?)
Ki Ageng pun menjawab.
“Ana Ing Galihing Kangkung,
Ana Ing Gigiring Punglu,
Ana Ing Susuhing Angin,
Ana Ing Wekasaning Langit.
(Berada di inti tumbuhan Kangkung,
Berada di sudut Pelor,
Berada di Kediaman Angin,
Berada di akhir Langit. )
(Tumbuhan Kangkung berlobang dibagian tengahnya, lantas dimanakah intinya tumbuhan kangkung? Pelor atau mimis jaman dulu, berbentuk bulat, lantas dimanakah sudutnya? Angin senantiasa bergerak, lantas dimanakah kediamannya ? Langit tanpa batasan, lantas dimanakah akhir langit? Inti Kangkung, Sudut Pelor, Kediaman Angin dan Akhir langit, disitulah tempat kedudukan Hidup berada. : Damar Shashangka )
Kembali Sunan Kudus tersenyum, dan Sunan Kudus belum puas. Kembali dia melempar pertanyaan.
“Yen ilang Alip, lebur marang Lam Awal lan Lam Akhir. Ilang Lam Awal lan Lam Akhir, lebur marang Ha’. Yen lebur Ha’ dumunung aneng ngendi?”
(Jika hilang huruf Alif, maka lebur kedalam Lam Awwal dan Lam Akhir. Jika hilang Lam Awwal dan Lam Akhir, lebur kedalam Ha’. Jika lebur Ha’, berada dimanakah ? )
Ki Ageng menjawab.
“URIP!”
(Hidup!)
Sunan Kudus menyela.
“ALIP Jisimingsun!”
(ALIP Jasad-Ku! )
Ki Ageng menyela juga.
“ANG Raganingsun!”
(ANG Raga-Ku! )
Sunan Kudus menyela lagi.
“LAM AWAL lan LAM AKHIR Napsuningsun!”
(LAM AWWAL dan LAM AKHIR Nafs-Ku! )
Ki Ageng menyela juga.
“UNG Suksmaningsun!”
(UNG Suksma-Ku ! )
Sunan Kudus menimpali lagi.
“HU Ruhingsun !”
(HU Roh-Ku ! )
Ki Ageng menimpali juga.
“MANG Atmaningsun!”
(MANG Atma-Ku ! )
Sunan Kudus.
“ALLAH Asmaningsun!”
(ALLAH Nama-Ku ! )
Ki Ageng Pengging.
“HONG Asmaningwang!”
(HONG Nama-Ku ! )
Sunan Kudus.
“ALIP, LAM AWAL, LAM AKHIR, HU…………ALLAH!”
Ki Ageng Pengging.
“ANG, UNG, MANG………….HONG!”
ANG,UNG,MANG, HONG (AM,UM,MAM,AUM)
abu itza
Januari 20th, 2011 pukul 11:02
Jadi, kesimpulannya?
Budak Angon
Januari 6th, 2011 pukul 15:37
bilakah cinta bersemi di relung jiwamu
kpd Allah pengenggam harapan…
di setiap desah nafasmu pernahkah terbesit tuk datang kepadaNya
sampaikan resah yang himpit hatimu
mohon cahaya padaNya
adakah kau rasakan indah belaian kasihNya
adakah kau impikan saat berjumpa denganNya
jagalah dirimu tuk selalu syukur padaNya
hadirkan cintaNya di setiap detik hidupmu
semoga allah memberkahi langkahmu
dan membimbingmu dalam meniti waktu di jalanNya…
wahai jiwa yang tenang kembalilah ke fitrahmu
Budak angon
Januari 8th, 2011 pukul 08:15
Semakin heran lihat org jawa ilang jawanya … lg sakit jiwa musarar jayabaya “iki jaman edan, kelakuan manusia pd edan, nek ora edan ora kebagian …
Olah rahsa jati haruslah berjamaah mlebu-metu-Nya dirasakan kenikmatannya bersama2, ibarat membina keharmonisan rumah tangga, suami-istri mencapai puncak kebahagian bersama …
suprayitno
Januari 8th, 2011 pukul 13:39
WORO……..WORO………….WORO….WORO !!!!!
Telah LAHIR/terbit sebuah buku yang sangat LENGKAP dalam membedah mengenai apa, mengapa dan bagaimana sejatine KEJAWEN karya KI SONDONG MANDALI.
Judul buku Bawarasa Kawruh Kejawen “NGELMU URIP” diterbitkan oleh Yayasan Sekar Jagad. Tebal buku 278 halaman. Harga plus ongkos kirim untuk Pulau Jawa Rp.50.000,– (limapuluh ribu rupiah).
Bagi yang ingin berkomunikasi silakan langsung hubungi Ki sondong Mandali Telp. Rumah : (024) 7477292. HP : 08157611019 & 081390478229 & 08179522629 & 08882572343.
Alamat e-mail : kisondongmandali@yahoo.com
Bagi siapapun anda yang merasa orang Jawa, mungkin akan lebih baik jika membaca buku ini. Sebab, dalam buku tersebut akan banyak diungkap perihal landasan hidup orang Jawa dengan pendekatan yang lebih rasional.
Setelah saya membaca buku tersebut saya berkesimpulan bahwa para leluhur “Orang Jawa” sesungguhnya sudah sangat PROFESIONAL dalam mengelola daya nalar ( daya pikir), daya rasa, daya cipta, daya karsa dan daya spiritual.
Hingga akhirnya melahirkan PUNCAK KEJAYAAN pada masa lalu, jaya di bidang seni, teknologi, budaya, politik, ekonomi dan sosial. Oleh karena itu jika hanya soal KETUHANAN/agama para leluhur kita sesungguhnya jauh lebih maju dan beradab dibandingkan para pelahir agama dari Timur Tengah atau dari India maupun China.
Maka menjadi sangat aneh ketika orang Jawa malah lebih mengagung-agungkan agama import dan dengan KEBODOHANNYA membunuh “warisan” landasan spiritual para leluhurnya. Sangat disayangkand ketika orang Jawa fasih berbahasa arab dan intensif mengadakan pengajian membahas al quran dan hadist, sementara WARISAN BUDAYA NENEK MOYANG YANG JAUH LEBIH HEBAT malah ditinggalkan karena dituduh sebagai musyrik.
Demi ALAM YANG BIJAKSANA, maka ketika orang JAWA MENYIA-NYIAKAN WARISAN/TRADISI PARA LELUHURNYA saya bersumpah BANGSA INDONESIA AKAN MENJADI BANGSA YANG TERHINA DAN TERLUNTA-LUNTA SELAMANYA. Saya tidak tahu apakah sumpah saya ini MANJUR atau tidak, saya berharap mudah-mudahan orang Jawa segera tersadar, sebelum keadaan menjadi benar-benar lebih buruk……..
Marilah kita mecoba meretas jalan kembali, kita bersama-sama kembali pulang ke rumah Ibu Pertiwi yang telah lama menanti anak-anaknya yang hilang…………….
BUKU NGELMU URIP mudah-mudahan bisa membantu menemukan jalan pulang itu.
Menurut informasi dari Ki Sondong Mandali, jika ada yang berminat akan membeli, silakan pesan dulu nanti kalau BARANG SUDAH DITERIMA baru membayar. yang penting menerima buku dulu soal bayarnya bisa belakangan………..
Monggo silakan bagi yang berminat untuk secepatnya bisa menghubungi langsung kepada penulisnya Ki Sondong Mandali.
Matur nuwun………..Ki Sabda, monggo sami disengkuyung
Dalbo
Januari 8th, 2011 pukul 15:59
Nuwun sewu…
@ mas suprayitno, matur thank you atas informasinya, mudah2 bisa bermaan faat.
Asah asih asuh.
Dalbo with love..
abu itza
Januari 20th, 2011 pukul 11:05
Mas Suprayitno, bukunya dalam bahasa jawa atau bahasa indonesia?
anak alam
Januari 24th, 2011 pukul 17:12
“Oleh karena itu jika hanya soal KETUHANAN/agama para leluhur kita sesungguhnya jauh lebih maju dan beradab dibandingkan para pelahir agama dari Timur Tengah atau dari India maupun China.”
“sementara WARISAN BUDAYA NENEK MOYANG YANG JAUH LEBIH HEBAT malah ditinggalkan karena dituduh sebagai musyrik.”
Luar biasa ketinggian ilmu mas suprayitno. mas tentu selain mendalami kejawen juga mendalami agama2 dr timur tengah, india dan cina. sehingga sanggup memberi peringkat lebih kepada warisan nenek moyang kita ini dibandingkan agama2 import tsb.
Budak angon
Januari 8th, 2011 pukul 17:00
@ Suprayitno
Aku pesen ya 1 buku ya.
Nanti alamat ku tak email. Trims
erbede232
Januari 8th, 2011 pukul 18:43
Sugeng dalu….
Pak Dhe Suprayitno, matur nuwun sanget informasinipun.
Pakdhe Budak Angon, kalo njenengan pesan lewat pak dhe Prayit, bisa-bisa ntar pak dhe Prayit menjadi agen…. he he he ( bercanda.net)
Nuwun…
suprayitno
Januari 9th, 2011 pukul 01:26
nggih leres mas…, kalau minat langsung berhubungan saja dengan penulisnya. matur nuwun.
om bud
Januari 8th, 2011 pukul 23:09
mas suprayitno salam kenal kulo namung nerek nyengkuyung mugyo ndadosaken tiang engkang ilang jawane sami wangsul jawanipun, salam asih asuh asah saking rantau
Nuwun
tomy
Januari 11th, 2011 pukul 14:11
Telah terbit buku Ngelmu Urip – Bawarasa Kawruh Kejawen penulis Ki Sondong Mandali, Ketua Umum Yayasan Sekar Jagad.
ISBN: 978-602-98012-0-0
Ukuran: 14 x 21 cm
Tebal isi: 278 halaman
Harga Rp. 30.000,-/eksemplar
Ditambah biaya ongkos kirim, harga buku di dalam Pulau Jawa Rp. 40.000,- di luar Pulau Jawa Rp. 50.000,-
Pembayaran harus sudah diterima mendahului pengiriman paket buku.
Pemesanan lewat SMS di nomor. 081390478229; 08157611019; 08179522629; 08882572343 atau lewat email ke kisondongmandali@yahoo.com dengan menyebutkan:
* nama lengkap pemesan
* alamat pemesan lengkap dengan kode pos wilayah
* jumlah pesanan
Dana yang terkumpul dari hasil penjualan buku akan digunakan untuk pembangunan Pusat Studi Jawa, sebuah kerja nyata dalam revolusi kebudayaan Nusantara.
Jumbuh dengan SUMPAH BUDAYA 2009 yang telah dicanangkan rekan-rekan muda:
1. Menghidupkan kembali budaya daerah sebagai dasar pengembangan budaya Nusantara.
2. Menjadikan budaya daerah sebagai dasar pijakan ide-ide kreatif pembangunan.
3. Mengembangkan kearifan budaya daerah sebagai nilai-nilai Pembangunan Nasional.
tomy
Januari 11th, 2011 pukul 14:23
Ada sebuah tantangan ultim yang dihadapi dan harus dijawab oleh bangsa ini, dalam pusaran arus globalisasi, manusia Indonesia makin kehilangan jati dirinya digerus pragmatisme budaya popular yang menghilangkan ‘ruh’ kemanusiaannya. Menjadikan manusia tak lebih dari nilai kegunaan saja yang mudah dimobilisasi menjadi pengabdi berbagai kepentingan.
Dan ketika berbicara tentang budaya sendiri kita merasa inferior. Kearifan budaya bangsa hasil olah cipta, rasa dan karsa leluhur yang adiluhung dianggap sebagai suatu yang ketinggalan jaman. Sehingga tonggak pegangan dalam menghadapi gempuran budaya dan ideology global tersebut malah terpinggirkan dan ditinggalkan.
Berangkat dari keprihatinan tersebut, menjawab tantangan jaman, Ki Sondong Mandali, tokoh budayawan Jawa, menggagas ‘Gerakan Renaisance Jawa’, kebangkitan budaya Jawa sebagai suatu falsafah pandangan hidup bangsa. Diharapkan wacana ‘Gerakan Renaisance Jawa’ ini dapat terus bergulir menjadi gerakan masif kebangkitan budaya dan kearifan local di seluruh Nusantara.
Dan sebagaimana telah dibiwarakan Mas Suprayitno, Ki Sondong Mandali menerbitkan sebuah buku NGELMU URIP – Bawarasa Kawruh Kejawen yang mencoba menghadirkan bahasan (bawarasa) tentang Jawa dan ke-Jawa-an dari sudut pandang orang Jawa. Sebagai falsafah tuntunan hidup (Ngelmu Urip) orang Jawa, yang sarat dengan kearifan pencapaian budaya yang adiluhung, yang merupakan hasil cipta, rasa dan karsa yang bisa diselisik dan dirunut secara rasional untuk mudah dipahami.
Diharapkan pengertian Kejawen yang sering dikonotasikan negatif, dianggap tahayul atau klenik ini bisa dimengerti dan dipahami dengan benar sampai ke dasar falsafahnya. Sehingga Ngelmu Urip Orang Jawa bisa menjadi tonggak pegangan dalam mengarungi era globalisasi tanpa harus kehilangan jati diri dan karakter ke-Jawa-annya (Jawan).
Jumbuh dengan SUMPAH BUDAYA 2009 yang telah dicanangkan rekan-rekan muda:
1. Menghidupkan kembali budaya daerah sebagai dasar pengembangan budaya Nusantara.
2. Menjadikan budaya daerah sebagai dasar pijakan ide-ide kreatif pembangunan.
3. Mengembangkan kearifan budaya daerah sebagai nilai-nilai Pembangunan Nasional.
Djoko Winarto
Januari 12th, 2011 pukul 21:23
Kepada teman-teman, saya Djoko Winarto alias Ki Sondong Mandali. berhubung alamat email saya sudah dibajak orang dan tak bisa saya buka lagi, mohon pesanan buku Ngelmu Urip dikirim ke alamat baru email baru saya: mandalisondong@ymail.com
Swuhn
sikapsamin
Januari 14th, 2011 pukul 12:33
@ Ki Sondong Mandali,
Salam kenal Ki, saya atas permintaan pakde saya a/n R.Soedibyo, pesan 10(sepuluh) buku, dg rincian 5-buku versi bahasa jawa, 5-buku versi bahasa Nusantara(Indonesia).
Nanti beliau akan sms panjenengan, mengirim alamat lengkap serta mohon No.Rek. Bank, utk transfer pembayaran.
Semanten rumiyin Ki,
Mugi Gusti Ingkang Maha Asih tansah Paring Karaharjan, Kanugrahan tuwin Karahayon dumateng panjenengan sklg lan Yayasan Sekar Jagad
Djoko Winarto
Januari 15th, 2011 pukul 22:09
Inggih, keng pakdhe sudah kontak. Tapi yang versi bahasa Jawa tidak sy terbitkan wong gak laku di banyak penerbit. naskah mentahnya sudah sy kirim ke Mas Kumitir kalau mau diunggah di situsnya. Dapatnya sponsor yang bahasa Indonesia ini. Maturnuwun. Buku sudah saya kirim ke Karanganyar Solo tadi siang.
blonthang
Januari 13th, 2011 pukul 21:08
Weleh… weleh..
sy mau pesen bingung nih.. kirim email ke mana..
mudah-mudahan kita semua bertambah menjadi bijaksana setelah membaca buku itu.
Karena kejawen bukan ilmu pengetahuan.. habis dibaca, paham.. selesai..
kejawen adalah laku… kalo habis membaca buku itu tapi masih sering suka menyakiti perasaan orang lain (misalnya).. ya sudah..
mari kita bedakan mana yang substansi dan mana yang ilustrasi..
sy ingin membaca buktu itu.. barangkali bisa bikin acara Bedah Buku..
(sy yakin pasti buku ini ruarr biasa…….)
tapi sy berharap semangat penyadaran di blog ini hanya berorientasi spiritualitas saja, bukan sesuatu yang mengarah ke arah primordialisme kesukuan . Kita bangga sebagai manusia jawa.. tapi bukan berarti kita superior..(karena kalau kita sudah merasa superior sebagai orang jawa, maka detik itu juga kita telah kehilangan ke-jawaan kita yang andhap asor, lembah manah, tepa selira, dll)
Tuhan sedang tersenyum dan riang gembira ketika menciptakan Bali dan Sunda, makanya kedua tempat itu indah dan sejuk. Dan sya tidak berharap Tuhan sedang dilanda narsis ketika menciptakan jawa (tengah dan timur).. he.. he..
agar kita tidak narsis sebagai jawa….
begitu kira-kira.. kepareng wangsul
Djoko Winarto
Januari 15th, 2011 pukul 22:03
Sekali lagi saya sampaikan perubahan alamat email saya, yaitu: kisondongmandali@gmail.com dan mandalisondong@ymail.com. Perubahan ini terpaksa karena yang yahoo.com sudah jadi milik orang lain (dibajak) dan sekarang masih terlantar di Leichester Inggris gak bisa bayar hotel. Makaten, swuhn.
sikapsamin
Januari 16th, 2011 pukul 09:44
@ ki Sondong Mandali,
Prihatin atas pembajakan email penjengan.
Sejak th.2009 yl, dlm berbagai koment saya sdh mewacanakan “PEMBALAKAN MULTI DIMENSI”, mulai dari pembalakan hutan, benda-pusaka, nama2-etnis(terutama jawa), dan email.
Dimata saya, pembalak hutan derajat dan harkatnya berada dibawah Berang-Berang(Beaver).
Beberapa bln yl (th.2010), saya mewacanakan tokoh SANGKUNI, seorang pakar pembalak nama-etnis, penghasut, penuh fitnah, culas, keji.
Namun berbagai tanda-alam semakin jelas…
Bagaimana AIR, BHUMI…yg andhap-asor, lembah-manah, penuh toleran… Sekarang mulai bergolak, BANJIR-BANDHANG, TANAH-LONGSOR… diberbagai belahan dunia…
Masih belum jelaskah hai…para Trah-SANGKUNI..!?
Wapadalah…waspadalah..!!!
Telah dimulainya PEMBERSIHAN, PENCUCIAN…PEMURNIAN..!!!
Agar…Aborigin berdaulat diatas tanah yg terfitrah…
Agar…Aztec, Inca, Maya dsb., berdaulat diatas tanah yg terfitrah…
Begitu juga dg kita…
Semoga…….
Wongsorejo
Januari 16th, 2011 pukul 17:33
diperlukan satu saja intelektual miskin yang belum pernah berhutang budi kepada partai, pengusaha, mafia pajak, mafia perbankan yang berkolusi untuk membiayai kampanya, yang berjuang tanpa pamrih apapun kecuali untuk berbuat kebaikan, berani, teguh pendirian dan punya kesanggupan untuk berbuat baik, berilmu tinggi spiritual ataupun lahiriah dan dipilih menjadi presiden NKRI
maka si miskin tanpa pandang bulu akan memeriksa harta kekayaan para petinggi negeri ini, dimulai dengan bekas-2 orang no. 1, no.2 dst. dengan cara yang amat mudah yaitu dengan pembuktian terbalik, karena si miskin sama sekali tidak punya simpanan uang di bank manapun, maka tidak ada yang perlu ditakutkan dan dia harus berani mati, apabila harta kekayaannya didapat dengan cara korupsi maka dengan tegas tanpa pandang bulu si miskin menembak mati para koruptor tersebut, maka belum sampai 1000 orang kuruptor dihukum mati indonesia sudah bersih dari koruptor, dan memang harus demikian tidak ada jalan lain, tidak perlu ngalor ngidul belajar dan bicara ilmu tuwo tapi hanya pembicaraan saja, perlu keberanian cukup satu orang terpilih saja tidak perlu banyak2 seperti yang sudah di pesan kan oleh para leluhur he…he…he
Durmagati
Januari 17th, 2011 pukul 02:48
Tanggapan sdr.wongsorejo ini mengada2 saja,apa ya mungkin satu orang miskin akan mengadili eks RI.1-RI.2 juga para koruptor kelas kakap?ngimpi kali…atau kisah cerita film?ha ha jgn byk nonton sinetron ya mas?pake nama jawa pula
Wongsorejo
Januari 17th, 2011 pukul 10:45
tentu saja SP miskin ini mempunyai sebuah karya besar yang diakui oleh dunia, dan dia harus terpilih menjadi presiden nkri barulah kita bisa melihat si rajanya adil ini berbuat, kalau dibuka sekarang mendahului kehendak tuhan
semua pejabat tinggi negara sekarang ini dari atas kebawah banyak yang kaya raya dari hasil korupsi, maka mereka menolak pembuktian terbalik penelusuran asal muasal uang simpanan mereka di bank dari gaji mereka kan jelas kelihatan berapa jumlahnya, kalau dari bisnis mereka juga dengan mudah dapat ditelusuri darimana saja asalnya, mereka menolak penelusuran harta mereka secara terbalik, karena suatu saat akan tiba saatnya giliran mereka diperiksa
bagaimana SP miskin ini bertindak memberantas korupsi, saya tahu tapi saya rahasiakan bukan berkhayal atau mengada-ada kalau saya buka disini akan membuat lutut anda gemetar…. he…he…he makanya jangan mengulang kesalahan memilih orang-2 kaya dan terkenal menjadi presiden, maka kemenangan akan terus dipihak dajjal dari jaman adam sampai sekarang dajjalah pemenangnya, maka kita harus mencari seorang yang mampu membuat sistemik (istilah baru) pembunuh dajjal
siapa dajjal???? dajjal adalah hawa nafsu, ambisi, keinginan untuk kaya raya sendiri tanpa peduli orang lain, ingin menang sendiri, ingin berkuasa, ingin menjarah, mengeduk dan mengeruk kekayaan rakyat untuk memperkaya diri sendiri dan kelompoknya dsb. yang teryata ada dalam diri kita sendiri, jadi dajjal bisa mesuk kepada siapa saja, baik pemimpin negara, pengusaha, ataupun gembel dan menghancurkan kebaikan yang ada dalam diri kita, kecuali mereka yang sudah mencapai tataran welas asih dan dipenuhi dengan kebaikan, maka orang baik ini sudah meninggalkan kejahatan
memang dajjal dilambangan sebagai seekor binatang, yang artinya hawa nafsu kebinatangan bahkan lebih rendah dari binatang dari manusia, kok goblok amat yang mengartikan dajjal seekor binatang yang dengan mudah akan mati bila ditembak
'rina aizawa
Januari 17th, 2011 pukul 14:37
ngantuk banget hehe,,,,,
UCI eplek-eplek
Januari 17th, 2011 pukul 17:18
Rin kok beda ya? SP/RA di wangsit siliwangi itu kaya raya ya gak? ya kan?
coba simak ucapan kalimat prabu siliwangi ” oi kalian yg mau ikut pemerintah cepat ke sana, kamu yg tidak ikut siapa2 kesini …. dan oi kamu rina, RP/AW yg mau ikut BA masuk ke dalam tanah! …… kemudian sang prabu bilang “sy tdk mau punya rakyat gak bisa makan, apa kalian mau gepokan ….?
Aduh malu2 in itu si RP/AW bisanya cuma bisnis baso ……
kapan majunya negeri ini
om bud
Januari 20th, 2011 pukul 22:39
ki wongsorejo, salam kenal, saya sebagai orang dibawahnya yg bawah, cuma bisa berharap bahwa SP/RA itu memang nyata, tp sy jg tdk mau berhenti berusaha untuk mencari, dan menghidupi keluarga, mudah mudahan SP/RA segera muncul dan mengadili semuanya mulai dari rakyat kecil sampai papan atas, salam asah asih asuh
anak alam
Januari 24th, 2011 pukul 17:50
Islam itu tidak identik dengan muslim.
Islam mengajarkan untuk merendahkan suara kalau sedang mengaji, cukup si pembaca sendiri yg mendengar.
Islam mengajarkan “untukmu agamamu, untuku agamaku”. sudah clear, tidak ada pemaksaan, tidak mengganggu ritual agama lain.
Islam rahmatan lil alamin. kalau membuat penganut agama lain resah, itu bukan Islam namanya. Muhammad sendiri mencontohkan untuk selalu berbuat baik kpd non muslim (yahudi).
Islam tidak identik dgn (yg mengaku) muslim.
Sama juga dengan kejawen tidak identik dengan orang jawa.
Dari komentar2 di blog ini juga saya dapati orang suka menjelekkan agama2 (khususnya Islam), orang yg secara tidak langsung menyombongkan tingkat spiritualnya, dll.
ismail usman
Juni 6th, 2011 pukul 04:05
Bener tah kata2 sampeyan iku ? tapi kenapa kenyataan di lapangan berbeda dengan teori sampeyan kikkikikikikikk. . . . . . . .
heran
Juni 6th, 2011 pukul 11:54
heran belajar teori main sepak bola,
ketika main bola, di lapangan, suka beda dgn teori,
baik pelatih atau pun buku, teorinya mengatakan bola di tendang …… tapi di lapangan bukan bola yg gwe tendang tapi orangnya yg gwe tendang, habis nya sebel sih, dia curang duluan ya gua bales
makanya heran usul ama pelatih, agar diajarkan juga tinju, buat ninju wasit
heran deh
O'on
Juni 6th, 2011 pukul 16:42
di lapangan BUKAN BOLA yg gwe tendang TAPI ORANGNYA YG GWE TENDANG, habis nya sebel sih, dia curang duluan ya gua bales
—————————————————————————————–
…di lapangan, daripada ngebales nendang orangnya mendingan skalian aja bales pake jurus GOL TANGAN TUHAN.
O'on
Juni 6th, 2011 pukul 08:00
saya dapati orang suka menjelekkan agama2 (khususnya Islam)
———————————————————–
brgkali (juga) sy ini termasuk demikian..
alasannya sih simpel, karena itu kitab (tekstual) yg dikenal sbg Al Qur’an.
semakin sy ‘iqro’ semakin berkesan ndak nyambung dgn realita…
sy ndak spiritual krn selalu membandingkan scr dgn apa yg terjadi di lapangan, tapi jujur saja sy ndak tahu apakah arti sebenarnya/sejatinya dari reality. ^_^
Muhammad sendiri mencontohkan untuk selalu berbuat baik kpd non muslim (yahudi).
——————————————————————————–
berarti ndak ada bedanya ma (tokoh) Yesus, dll..sbg manusia yg manusiawi
(akhlatul kharimah),
adapun pihak2 yg menangkap kesan negatif dari Muhammad..tentunya bukan tanpa sebab, krn mereka membaca kitab tekstual itu juga…kan.
kejawen tidak identik dengan orang jawa.
—————————————-
tentu saja kejawen indentik dgn orang (sbg penghuni pulau) jawa,
sama halnya dgn Al Quran yg identik dgn orang (sbg penghuni jazirah) arab…
oya
masak sih ada orang yg di-KTP beragama Islam & scr spiritual menyakini bahwa Al Quran adlh kebenaran sejati, tapi pergi (naik) haji ke London.
Sri Buddha
Januari 24th, 2011 pukul 18:12
Buddha menasehati aku supaya hidup sederhana dan tidak sombong..
definisi sombong: merendahkan orang lain dan meninggikan pribadi nya sendiri..
dalam konteks diskurs spiritual..saling mengkoreksi bila ada kesalahan.. kadang diperlukan..
saling memuji untuk menambah semangat yang lain adalah watak batara chandra..
yg penting tidak menolak/meghina kebenaran..dan tidak merasa dirinya paling benar..
nuwun
Durmagati
Januari 26th, 2011 pukul 07:35
Skrg sdh masuk jmn edan,yg sdh diramalkan Prabu Jayabaya dari keraton Kediri.Yg punya Lapindo malah jadi mentri padahal bikin sengsara warga Sidoarjo.Ini salah siapa ya?Pamong prajanya beragama…Yg memilh mayoritas beragama…Indonesia oh indonesia
Kanjeng Ratu Adil
Januari 31st, 2011 pukul 04:28
Salam
wah betul sekali itu malah aset negara blok cepu kita sudah lepas ke tangan asing
maka yang nentuin harga bbm sekarang itu si exxon bukan pemimpin kita lagi
maka jangan heran wong kenapa sdh di demo rakyat jg harga bensin ga bs turun.
heran!
bisa bisanya menjual aset terpenting bangsa dan negara sendiri hanya demi memuaskan isi kantong pribadi
bangkitlah rakyat indonesia
jagalah kebersihan hati
akan tiba saatnya nanti
akan muncul Sang Penyelamat Negeri dan Bangsa
yang akan membawa bangsa ini
menuju puncak kejayaannya kembali
salam
KRA
sangpurbajati
Februari 1st, 2011 pukul 13:42
Nuwun sewu mampir sebentar
Rahayu, Slamet, Kanti Raharja
Dampak Kedangkalan Memahami Hakekat Ajaran / Agama
Apabila terjadi kedangkalan dalam memahami hakekat ajaran suatu keyakinan / agama apalagi sampai salah dalam memahami makna hakekatnya, maka akan sangat berpengaruh negatif dalam kejiwaaan dan aktivitas kehidupan serta akan menimbulkan implikasi yang sangat luas dan berdampak sistemik didalam segenap aspek kehidupan, lebih parah lagi bila mayoritas umat sangat dangkal atau rendah didalam penyerapan hakekat nilai nilai luhur ilahiah dalam jiwanya sehingga tidak menciptakan manusia manusia kreatif berjiwa luhur yang bisa diharapkan meningkatkan hasil produktivitas nasional, akan tetapi justru sebaliknya melahirkan manusia yang tidak kreatif, produktivitasnya rendah bahkan kontra produktif yang berjiwa serakah maunya kerja enak uang banyak ujung ujungnya kebudayaan komisi, korupsi, feedback bahkan lebih parah memperjual belikan hukum dan keadilan diberbagai Lembaga atau Institusi Negara/Pemerintahan. Hal tersebut merupakan cermin atau situasi yang telah melanda Negeri ini yang tidak boleh dibiarkan terus menerus terjadi dan segera dibenahi dengan menemukan akar pokok permasalahan serta memunculkan suatu solusi yang cedas, terhormat dan membanggakan bagi semuanya sebagai Bangsa Indonesia yang memiliki Nenek Moyang berjiwa luhur, gagah berani, berhati suci dan bermartabat serta pernah berjaya dan masyarakat dunia pernah mengakuinya
Syariat Suatu Ajaran Agama/Ideologi Ibarat Sistem Software Program komputer.
Syariat ajaran agama/ideologi diibaratkan atau dianalogikan sistem software program ketika di install dalam hardisk komputer sebagai program aplikasi yang diharapkan mampu memberikan nilai tambah untuk lebih meningkatkan kualitas serta produktivitas optimal yang diharapkan yakni memberikan input, proses dan output agar manusia bisa lebih cerdas dan kreatifitas tinggi serta memahami hakekat kemanusiaan azasi yang universal dengan memiliki jiwa luhur serta akal budi pekerti luhur, sehingga dapat terjaga dan tidak terlanggarnya aturan dasar hidup dan kehidupan demi terwujudnya ketertiban kedamaian, ketentraman, kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh kehidupan, ternyata setelah diaplikasikan lebih dari 506 tahun serta mayoritas dipergunakan di negeri ini tidak membuahkan hasil yang diharapkan justru telah merusak sistem original program bawaan dasar yang asli serta menimbulkan krisis terhadap pemahaman hakekat nilai nilai kemanusian yang universal yang berdampak sistemik diberbagai dimensi sendi kehidupan serta hanya menciptakan manusia yang kurang cerdas dan kurang produktif ( jahiliah modern ), tetapi merasa sudah benar dan pintar padahal yang sesungguhnya telah keblinger akan tetapi tiada sadar. Apakah kita tidak berani mengkaji ulang terhadap sistem software / syariat ajaran yang telah dipergunakan selama ini yang dahulu installnya dengan cara dipaksakan? Apakah sistem software tersebut sebenarnya memang tidak compatibility ( tidak cocok ) untuk Bangsa Indonesia? Apakah sistem software tersebut terdapat virus berbahaya yang belum disteril atau diserum dengan anti virus hingga merusak atau mengganggu sistem dasar dan operasionalisasinya menjadi lamban, sehingga outputnya rendah dan kurang kualitas serta ketinggalan dan hanya menjadikan bangsa yang mengekor pada buntut? Apakah sistem software tersebut barangkali dicipta hanya cocok untuk negeri asalnya? Apakah sudah ada fakta empirik suatu negara yang telah menggunakan software tersebut menjadi negara besar yang damai sejahtera serta melahirkan generasi yang cerdas atau malahan sebaliknya menjadi negara yang carut marut? Marilah pertanyaan pertanyaan tersebut kita cari jawabannya dengan hati yang bening serta akal sehat dan cerdas, atau harus dilakukan pembaharuan dengan memformat serta install ulang dengan menggunakan sistem software program original dari Leluhur Nenek Moyang Bangsa sendiri yang sudah teruji dan terbukti pernah menciptakan kemakmuran, kedamaian dan ketentraman sebelum terlambat dan dijawab oleh keadilan jagad dengan tumbal jutaan manusia akan menemui ajalnya. Afala Taqqilun, Afala Tatafaqarun ! Apa kalian tidak berakal dan tidak berfikir !
Berbagai Kelemahan Aplikasi Syariat Yang Dipaksakan
Akibat mayoritas manusia di negeri ini telah mempergunakan sistem Software / syariat ajaran yang dahulunya sangat dipaksakan dan mau tidak mau mayoritas generasi yang sekarang juga mempergunakan, dikarenakan benar benar tidak tahu kalau ada sistem software orisinil / syariat asli yang sangat canggih dan telah melahirkan berbagai software turunan yang tersebar diberbagai belahan dunia yang sebenarnya juga tidak komplit atau selengkap software aslinya yang telah diciptakan oleh leluhur Nenek Moyang Bangsa Indonesia, hal ini bisa dimaklumi karena syariat asli sebenarnya telah disembunyikan kembali ribuan tahun silam yang dipergunakan selanjutnya oleh masyarakat Nusantara adalah salinannya yang juga tidak sampai100 % itupun sebenarnya tetap lebih canggih bila dibanding dengan software / syariat yang berasal dari manca negara.
Syariat ajaran yang penggunaannya sangat dipaksakan tersebut memiliki berbagai kelemahan dalam aplikasinya baik dalam input, proses maupun output. Adapun kelemahan kelemahan tersebut antara lain meliputi :
- Dalam melaksanakan ritus ibadah spiritual diharuskan memakai bahasa dari negara asal sistem syariat tersebut dibuat, bila tidak menggunakan bahasa yang telah ditentukan dianggap tidak sah, sehingga mayoritas yang melaksanakan ritus ibadah hanya terjebak dalam dogma untuk menghafal lafal lafal dengan bahasa asing yang sebenarnya secara mayoritas tidak memahami setiap lafal ucapan yang telah dikerjakan. Apakah hal yang demikian bisa menjamin terefleksikannya atau tercerapnya nilai nilai ilahiah secara optimal ? Apakah sistem yang demikian bisa dikatakan canggih untuk melakukan hubungan serta membangun aksesibilitas dengan Tatanan Jagad Gede / Tatanan Ketuhanan, karena bukan bahasa Ibu pertiwi ?.
- Dalam upaya memahami Ketuhanan atau sumber nilai nilai keutamaan luhur diharuskan mempelajari Kitab (guidebook) referensi yang diklaim merupakan kitab suci yang memuat sabda sabda Tuhan Yang Maha Suci ataupun kitab penunjang yang merupakan sabda atau perilaku pencetus sistem syariat tersebut, padahal dengan sejujurnya sabda sabda yang tertulis dalam kodifikasi kitab tersebut bukanlah merupakan Sabda Suci yang kesemuanya berasal dari Yang Maha Suci maupun dari Tuhan Alam Semesta / Robbil Alamin, bahkan sebagian besar sebenarnya merupakan sabda sabda yang berasal dari Allah selaku Roh Ingsun Sejati yang mendapat wejangan dari Sang Guru Sejati. Kerancuan dalam mentafsirkan sabda atau ayat ayat dalam kitab tersebut muncul dikarenakan ketidak mampuan umat untuk membedakan dan memahami terhadap hakekat sesebutan Allah selaku Yang Maha Suci, Allah selaku Robbil Alamin, Allah selaku Roh Suci Ingsun Sejati yang ada dalam setiap diri manusia. Padahal Sang pencetus software tersebut hanya sekali bertemu langsung dan mendapatkan sabda dari Yang Maha Suci yakni ketika Mi’roj dan selebihnya atau sebagian besar bukan dari Yang Maha Suci.
- Yang Maha Suci selalu dalam kesuciannya hanya manusia pilihan yang diberi kesempatan untuk bisa bertemu langsung menghadap kepada-Nya dan tidak pernah mengeluarkan sabda bersifat tehnis, apa lagi sabda untuk berperang, membunuh, menghujat dan melaknat makhluknya termasuk urusan biologis, begitu juga dengan Tuhan Semesta Alam / Robbil Alamin juga sangat jarang mengeluarkan sabda. Sabda sabda yang berifat tehnis muncul dari didikan keinginan hidup dan ragawi kepada manusia yang memiliki kemampuan membangun hubungan komunikasi dengan Tatanan Ketuhanan / Jagad Besar melalui Roh Suci Ingsun Sejatinya.
Kelemahan tersebut telah menimbulkan kerancuan berfikir yang melemahkan / membelenggu daya kreatifitas dan menimbulkan penafsiran tidak semestinya, penyalah gunaan serta ancik ancik ayat ayat untuk mengabsahkan perilaku dan perbuatan tidak terpuji, juga memiliki efek dampak sistemik termasuk carut marutnya situasi suatu negeri sehingga menjadi Bangsa lemah dan tertinggal.
Daya Kreatif Terbelenggu Oleh Syariat / Ideologi Yang Bukan Asli
Dalam setiap diri manusia terdapat suatu potensi daya kreatif yang tak terbatas ( cedak ora senggolan adoh tanpo wangenan / dekat tanpa sentuhan memiliki daya cipta tanpa batas ), daya kreatif yang merupakan daya cipta didalam batin atau alam transendental harus digali dan diproses menjadi rasa dan karsa ( keinginan hidup dan ragawi ) yang melahirkan inovasi kreatif untuk meningkatkan harkat dan martabat setiap manusia sebagai kholifah di bumi yang terkontrol oleh moralitas etis (jiwa luhur), sehingga bermanfaat bagi dirinya serta bagi sesama hidup lainnya. Untuk bisa menggali dan memproses daya cipta secara optimal, maka dengan sesungguhnya diperlukan sistem atau syariat / ideologi yang paling tepat dan efektif. Jika kita menggunakan syariat / ideologi dari manca negara yang tidak tepat tidak sesuai dengan jatidiri, maka yang terjadi justru terbelenggunya daya kreatif yang murni dan bisa bisa hanya akan menguntungkan Negara asal pencetus syariat / ideologi tersebut yang berujung ketergantungan, bahkan kita bisa menjadi budak atau jongos terhadap Negara ataupun masyarakat asal pencetus syariat / edeologi tersebut. Hal demikian sudah menimpa Negeri ini, dimana masyarakat kita telah menjadi diperbudak ( TKW/TKI ) di Negara pencetus syariat / ideologi tetapi malah bangga. Apakah kita tidak rindu untuk kembali kepada syariat / ideologi Asli Jatidiri ? Apakah kita tidak merindukan Martabat Jatidiri Bangsa Indonesia Sejati yang gagah berani dan suci ? Wahai Bangsa Indonesiaku ! Wahai para Pemimpiku ! Sadarlah atas kenyataan ini !.
Kebangkitan Ajaran Keyakinan Lokal Dan Adat Istiadat Loka
l
Bangsa Indonesia harus berani membangun kembali serta menegakkan kembali nilai nilai luhur keutamaan batin nenek moyangnya sendiri dengan berusaha untuk mengkaji dan melaksanakan kembali ajaran keyakinan spiritual warisan leluhur yang mengarah kepada pembentukan jiwa serta akal budi pekerti luhur dengan menghidupkan dan menyemarakkan kembali ritual ritual adat istiadat lokal diberbagi wilayah diseluruh pelosok Nusantara yang melibatkan masyarakat, tokoh adat, tokoh masyarakat dan para pejabat wilayah / daerah dan dikemas sebagai Ritual Budaya Daerah serta sekaligus Promosi wisata Daerah.
Ritual Budaya Nasional Nusantara & Ritual Budaya Internasiona
l
Indonesia punya potensi besar untuk menciptakan Ritual Budaya Nasional Nusantara sekaligus Ritual Budaya Internasional. Banyak peninggalan sejarah nenek moyang Bangsa Indonesia yang bisa dikemas menjadi ritual budaya Tingkat Nasional Dan International. Banyak sekali tempat keramat dan pertapan atau petilasan tinggalan leluhur yang tersebar diseluruh pelosok nusantara yang dahulu juga dikunjungi oleh para leluhur untuk bersalawat/sembah pangabekti agar mendapatkan safaat dari para Roh suci atau Asma langgeng leluhur nenek moyang. Sang Penulis dengan sejujurnya mengatakan ada beberapa wilayah yang tersebar Di wilayah di Jawa Tengah yang sangat potensial dan strategis untuk dijadikan tatanan ritual tingkat dunia yang apa bila diungkap sejarahnya serta ditata dan dikelola dengan baik dan khususnya setiap bulan Besar ( Dulhijah ) dilaksanakan ritual untuk meraih hakekat sejatinya Ha Ji ( Hananiro hananingsun Jejernya Iman ) bagi orang Jawa / Indonesia sebagai mana yang telah dilaksanakan orang orang terdahulu ( Nenek moyang bangsa Indonesia ) bahkan sebelum Ka’bah di negara Arab berdiri, maka akan menjadi pesona atau mercusuar tingkat Dunia yang dikarenakan merupakan tempat tatanan bersemayamnya Roh Kadewatan yakni di Kab. Kudus di Desa Rahtawu hingga sampai puncak 29 dimana bersemayam para Roh suci leluhur nenek moyang dari Yang Sakri, Yang Lokajaya, Yang Abiyasa, Yang Pulasara, Yang Buyud Mada, Yang Narada, Yang Singa Mulangjaya, Yang Sekutrem, Yang Manik Kamunayasa, Yang Pandu Dewanata, Sang Hyang Wisnu, Sang Hyang Bodronaya, Sang Hyang Wenang dan lain lain. Juga ada nama nama tempat peninggalan leluhur yakni Junggring saloka ( tempat Bapa Adam – Ibu Kawa pertama kali hal ini perlu pengkajian lebih dalam ), padang kuru setro, alang alang kumitir, Selo penangkep, Kelampis Ireng dan lainnya bila perlu akan kita cari tempat dimana “pohon perbatasan” yang telah dilanggar oleh Bapa Adam – Ibu Kawa sehingga terusir dari tanah Jawa. Tempat – tempat tersebut kelak dikemudian hari bilamana bangsa Indonesia sudah kembali pada jatidiri bangsanya, maka wilayah tersebut kelak akan dikunjungi ratusan ribu hingga jutaan manusia bahkan dari manca negara dan tidak mustahil bangsa Arab juga gantian berkunjung ketanah Bumi Suci Pulau Jawi / Indonesia dan akan berguru kembali tentang jiwa dan budi pekerti luhur seperti jaman Subakir dan Maulana Maghribi berguru kepada Yang Badranaya di Gunung Tidar.
Semoga bermanfaat.
Mohon maaf hanya mampir sebentar ( lagi nyusun syariat ajaran Purwa Kawitan yang dirasionalisasikan dan di Internasionalisasikan demi percepatan Indonesia menuju pesona Dunia )
Setiono
Februari 7th, 2011 pukul 10:28
Semoga pendongeng pencerita
Sekaligus jadi pelaksana
Sehingga dewasa bijaksana
Jadi pendukung program Negara
Pembina Umaro dan Ulama
Damai Agama amal Pancasila
Aman nyaman suku dan bangsa
Hilang curiga dan buruk sangka
Tida ada itu kapeka
Tetapi ada penjabat Negara
Tegas umaro dan ulama
Bagai ibu beserta bapa
Tida lagi mengadu domba
Di luruskan program media
Tida bebas mengisi berita
Penjahat wajib di binasa
Penjahat dunya pembicara
Dari bicara mengadu domba
Unjuk rasa merusak dunya
Demo tawuran merusak Negara
Coba disiplin hai manusa
Coba belajar ke orang gila
Gila ituh berupa-rupa
Ada sigila tapi muliya
Diah bodoh tetapi bisa
Mendidik orang jadi dewasa
Bisa menuntun ke bijaksana
Asalkan yakin juga percaya
Tida yakin tida percaya
Kelas perusak iman agama
Mereka hobi mengadu domba
Mereka wajib putus kepala
Hahahaha selesai sudah
Kalau bicara dalam akidah
Jumlah total musrik semuwah
Tinggal asal jujur sajah
Sorga dunya lihat sajah
Neroka dunya rasain ajah
Sorga tibang katanya sajah
Neroka ngeluh selamanyah
Amanat Alloh pada semuwah
Bayar umpeti di hidupnyah
Bayar goceng sebulannyah
Tiep kepala menghitungnyah
Berani bantah mampus hidupnyah
Walau hidup gila jadinyah
Azab Alloh dimanah-manah
Percaya tidak lihat sajah
Alloh ada dimanah-manah
Asalkan bisa mengenalnyah
Ama si Julang belajarnyah
Kenal sendiri pada akhirnyah
Banyak mahluk salah kaprah
Nyebut Alloh nama sajah
Amal ibadah Bid’ah dolalah
Akidah batil tanpa sadarnyah
Belajar esah pada ogah
Pada gengsi alesannyah
Amal tibang sepadu sajah
Tida paham batil dan esah
Langkah orang-orang beriman
Setiep langkah ada tantangan
Ada penguji ada ujian
Jika lulus itulah iman
Pengorbanan sudah kepastian
Paling tida korban pikiran
Korban harta kelumrahan
Pabila ihlas itulah iman
Ihlas dengan pengetahuwan
Punya maksud rido Tuhan
Sabar dalam mengerjakan
Dawam beramal ihlas beriman
Amal soleh jadi sebutan
Pa aji soleh kena tuduhan
Soleh pisan tiep kerjaan
Kaga taunyah nama dowangan
Amat sulit dibicarakan
Amal soleh amalan iman
Selain bisa mengusahakan
Dengan esah soheh taklidan
Empat puluh utusan Tuhan
Wali Abdal di bahasakan
Imam Mahdi pentaklidan
Kobul amal dan makbul iman
Jin iblis iprit setan
Mereka sangat bantah pisan
Mereka gosip si bocah edan
Anam Julang si anak jalanan ?????? berlanjut sampai kiamat
Ada wajib ada sunat
Ada haram dan makruhat
Ada mubah berkalimat
Ini di sebut hukum shariat
Wajib mustahil dalam akidat
Jaiz Alloh berwujud ezat
Dengan tauhid akalpun sehat
Pada amanat tida hianat
Ada buday hukum adat
Seni budaya coba lihat
Seni budaya segala alat
Disiplin kompak menjadi nikmat
Umum hukum mu’min mu’minat
Husus hukum muslim muslimat
Tiada perlu menuduh sesat
Jikalau paham beda pendapat
Paling jelek berebut pangkat
Jadi kejam mengadu rakyat
Saking temaha ambisi pangkat
Pangkat apapun menjadi jahat
Umaro ulama kelas penjabat
Wajib membunuh para penjahat
Walau tuh orang tertinggi pangkat
Wajib di bunuh Alloh amanat
Kelas persiden haram di pecat
Sekali persiden sampai wapat
Rakyat jahat mao memecat
Maka wajib dibuat wapat
Model mekah Raja berpangkat
Menjadi raja sampai wapat
Tida mengadu domba umat
Rajanyah tuwa baru wasiat
Kang TJ
Juli 11th, 2011 pukul 09:54
monggo d share lan damel tambahan diskusi
http://wongalus.wordpress.com/2011/07/02/kebenaran-sejati-vs-kebenaran-relative/
pengemis sakti
Februari 4th, 2012 pukul 13:24
Terkait dengan uraian anda tersebut, coba anda pahami dulu, apa yang disebut dengan:
sejati (mutlak), nyata (lurus), dan relatif (fana).
pengemis sakti
Februari 4th, 2012 pukul 13:47
Monggo dibaca lagi dengan ‘mata hati….tambahan posting saya!
BIMA
Februari 4th, 2012 pukul 14:28
tambahan, karena minta ditambah…..h h h….
untuk yang berikut ini, lengkap nya adalah:
sejati (mutlak), nyata (lurus), dan relatif (fana). dan KEKAL ABADI I(‘al Walid)
jadi, jangan pula disebut TRILOGI…..
karena mutlak/kekal adalah baqa (al: darul qararah, darul akhirat, darussalam).
Sedangkan kekal abadi / ma’bud …….mundur lagi. Baca uraian2 terdahulu tentang:
“Kekal Abadi bagi Insan yang Muttaqin” (sebagai Ihsan abdalah).
Karena Dia lah Yang Maha Memulai (Ya Mubdi’) dan Yang Maha Mengembalikan (Ya Mu’iid). Dan Dia lah YANG MAHA KEKAL (Ya Baaqii). Subhanallah.
2 Trackbacks / Pingbacks
SISTEM RELIGI JAWA « RUJAKBELING KOLAKRAWE Desember 10th, 2010 pukul 10:00
[...] Rasionalisasi Kejawen) Sistim religi Jawa merupakan hasil olah ‘cipta rasa karsa’ dan ‘daya spiritual’ manusia [...]
BENDERA REVOLUSI JIWA LUHUR TELAH AKU KIBARKAN | Bayt al-Hikmah Institute Februari 4th, 2012 pukul 12:24
[...] Eta Karina Baca juga http://sabdalangit.wordpress.com/2010/11/28/rasionalisasi-kejawen/ December 28, 2010 at [...]