Pasugatan Ki Sondong Mandali
Kodrat Tuhan, bahwa bangsa manusia diciptakan Tuhan berikut perangkat ‘build-in spirituil’ atau ‘wiji spirituil’ yang ‘jumbuh’ (sesuai) untuk menjalani hidup di habitat tempat bangsa manusia tersebut diciptakan. Kenyataan yang ada, sesuai dinamika semesta, bahwa keadaan alam (termasuk geo spiritual) di bumi ini tidak sama. Dengan demikian, ada perbedaan ‘wiji spiritual’ pada masing-masing bangsa manusia demi bisa ‘jumbuh’ dengan kondisi ’geo spiritual’ tempat masing-masing bangsa tersebut tercipta.
Interaksi ’wiji spirituil Jawa’ dengan ’situasi, kondisi, dan geo spiritual’ habitat Jawa menumbuh kembangkan ‘cipta rasa karsa’-nya wong Jawa. Dari ’cipta rasa karsa’ ini tumbuh kesadaran adanya ’hubungan’ antar semua yang ada di jagad raya.
Kesadaran-kesadaran tersebut berupa;
- Kesadaran adanya Tuhan sebagai penguasa alam semesta.
- Kesadaran adanya hubungan kesemestaan (hubungan manusia dengan jagad raya dan seluruh isinya);
- Kesadaran keberadaban (hubungan antar sesama manusia).
Kesadaran-kesadaran tersebut merupakan landasan utama ’kawruh kejawen’ atau ’ngelmu urip’-nya wong Jawa. Maka dengan demikian ’cipta rasa karsa’ Jawa yang berdasarkan kesadaran ’ber-Tuhan, kesemestaan, dan keberadaban’ kemudian melandasi ’Ngelmu Urip’ (falsafah hidup) Jawa yang selanjutnya melahirkan budaya dan peradaban Jawa yang mencakup: sistim religi & spiritualisme, falsafah hidup, tradisi & laku budaya, sistim organisasi kemasyarakatan dan pemerintahan, sistim ilmu pengetahuan dan tehnologi/peralatan, bahasa (termasuk aksara), seni budaya yang terdiri dari: kesenian, kriya, dan sastra.
Merupakan kodrat Tuhan pula bahwa kondisi alam semesta Jawa berada di khatulistiwa (tropis), bagian gugus kepulauan (bahari), dan banyak gunung berapinya (vulkanis). Maka bumi Jawa termasuk yang subur makmur, bercurah hujan tinggi, sepanjang tahun mendapatkan sinar matahari. Namun demikian, di bumi Jawa pula banyak terjadi ’bencana alam’ berupa gempa bumi, badai, gelombang laut yang tinggi dan tsunami, letusan gunung berapi, dan banjir karena curah hujan tinggi. Dengan demikian kondisi alam semesta Jawa bisa dikatakan ’jangkep’ (komplit). Pada situasi semesta yang jangkep, maka hypotesanya ’wiji spiritual’ yang dianugerahkan Tuhan kepada insan Jawa juga ’jangkep’ supaya jumbuh dengan kondisi alam tempatnya diciptakan.
Hasil interaksi ’wiji spiritual Jawa’ dengan ’geo spiritual’ melahirkan pandangan Jawa yang dikenal dengan ’Falsafah Panunggalan’: semua yang ada dan tergelar di jagad semesta ini merupakan ’kesatuan tunggal semesta’ yang dalam istilah Jawa disebut ’Panunggalan’. Maksudnya, ada ’hubungan kosmis magis’ antar semua yang ada di jagad raya ini. Hubungan panunggalan dimaksud terbangun dalam struktur ’pancer-mancapat’ atau ’inti-plasma’ yang terjalin satu dengan yang lain bertingkat-tingkat dari yang paling kecil (atom dan sel hidup) sampai ke seluruh alam semesta. Pada konteks ’panunggalan alam semesta’, pancernya disebut ’Hyang Wisesa’ (sebutan lain: Suksma Kawekas, Guruning Ngadadi, Kang Maha Kuwasa) dan semua ciptaan posisinya sebagai ’mancapat’.
Berdasarkan konsep panunggalan semesta ini maka bisa dimengerti bahwa konsep ajaran Jawa tentang kewajiban manusia adalah menjaga atau ’menyangga’ harmoni (keseimbangan, keselarasan) hubungan semua unsur semesta yang dikodratkan ’hayu’ (selamat, indah, sejahtera). Dari konsep inilah terlahir istilah yang menjadi kewajiban semua titah dumadi untuk melakukan: ’Memayu Hayuning Bawana’. Manusia sebagai salah satu ’titah dumadi’ yang diberi kelebihan berupa ’cipta-rasa-karsa’ dan ’daya spirituil’ termasuk yang memiliki ’kewajiban lebih’ dalam ’Memayu Hayuning Bawana’ tersebut.
Dalam ’kehayuan semesta’ disadari dan dimengerti oleh manusia Jawa ada ’dinamika pergerakan’ yang terus menerus tiada henti sebagai salah satu tanda ’urip’ (hidup). Demikianlah, maka pada dasarnya pergerakan alam semesta memang ada dan dinamis sejak awal terciptanya. Bahwa dampak dinamika pergerakan tersebut ada yang berupa ’bencana’ bagi kehidupan manusia juga sudah dipahami oleh insan Jawa. Misalnya: pergerakan lempeng kulit bumi yang menimbulkan gempa, pergerakan angin oleh perbedaan suhu yang menimbulkan badai dan topan, pergerakan konsentrasi awan yang menimbulkan hujan dan banjir, pergerakan dinamis bulan yang menyebabkan pasang surut air laut, pergerakan atas dampak gerhana bulan dan matahari, dll.
Terhadap timbulnya berbagai bencana oleh akibat dinamika semesta menumbuhkan bermacam-macam ’laku budaya’ untuk menyikapi. Dalam hal ini, sikap Jawa ternyata tidak sekedar ’menyerah pasrah’ kemudian memohon ’perlindungan’ Yang Maha Kuasa semata. Tetapi juga melakukan upaya-upaya mengenali bencana-bencana dimaksud termasuk siklus terjadinya dan upaya untuk mengantisipasi dampak kerusakan kepada hidup manusia itu sendiri. Maka kemudian dalam khasanah Jawa lahir ’petung’ untuk mengenali siklus terjadinya bencana tersebut. Sedemikian rupa njelimet dan detil sehingga kemudian lahir berbagai ’ilmu petung’ sebagai tengara kemungkinan terjadinya bencana. Di antaranya berupa pengenalan watak baik buruknya: hari (wetonan), wuku (pekan, minggu), mangsa (bulan dalam hitungan pranata mangsa), tahun, windu, mangsakala (siklus 33 tahun), sampai kepada siklus jaman yang disebut ’kali’ yang berlangsung setiap 700 tahun.
Di samping mengenali berbagai seluk beluk tentang bencana juga melakukan upaya-upaya penangkalannya yang berupa ritual budaya. Di antaranya melakukan ritual sesaji, ritual mantra swara (kidungan), ritual bedayan (tari dan swara gamelan), ruwatan, merti desa, dll. Landasan pokok penyelenggaraan ritual-ritual tersebut berupa konsep ’menjaga panunggalan semesta’. Penjelasan lebih mendalam tentang hal ini kiranya perlu diadakan sarasehan khusus mengenai ritual-ritual laku budaya Jawa. Yang penting, dalam wacana pemikiran ini, bahwa ritual-ritual laku budaya Jawa merupakan upaya manusia Jawa dalam menjalin hubungan baik dengan alam semesta dan seluruh isinya. Jalinan hubungan yang baik dipahami akan mampu memberi ’keselamatan’ terhadap kehidupan manusia.
Falsafah hidup Jawa yang lahir dari tumbuh kembangnya ’cipta rasa karsa’ hasil interaksi ’wiji spiritual’ dengan ’geo spiritual’ lebih mengutamakan ajaran pemahaman tentang ’sejatining urip’ (hakekat hidup). Pijakan ajaran tersebut bertumpu dari 3 landasan : kesadaran ber-Tuhan, kesadaran semesta (kosmis), dan kesadaran keberadaban. Dengan demikian, insan Jawa kemudian cenderung lebih ’spiritualis’ karena masalah ’hakekat hidup’ berada di ranah spiritual. Kecenderungan ’spiritualis’ ini bisa dikatakan sebagai ’naluri alamiah yang adikodrati’. Maka kemudian menjadi dasar dalam berinteraksi dengan budaya dan peradaban lain. Inilah sebabnya ’kejawen’ sering dijustifikasi sebagai ’ketahayulan’ dan ’anti modernisasi’.
Dalam interaksi antar budaya dan peradaban manusia sudah barang tentu terjadi ’hybrid interconnectedness’ nilai-nilai. Namun demikian, nilai-nilai budaya dan peradaban Jawa yang bertolak dari interaksi wiji spiritualnya dengan geo spiritual yang bersifat ’adikodrati’ tidak mudah hilang. Justru kemudian ’mewarnai’ hasil asimilasi dan ’hybrid interconnectedbess’ yang terjadi. Para pakar budaya kemudian menilainya sebagai ’sinkretisme’.
Pada wacana pemikiran awal tentang Rasionalisasi Kejawen ini saya sampaikan dasar-dasar yang melandasi budaya dan peradaban Jawa sebagai berikut:
- Landasan peri kehidupan berdasar ’Falsafah Panunggalan’, suatu pandangan hakiki bersatunya manusia dengan alam semesta yang dalam istilah Jawa dinyatakan sebagai ’jumbuhing jagad cilik lan jagad gedhe’.
- Landasan peri kehidupan ’Agraris Paradesa’, suatu kehidupan sosial yang berdasarkan kerukunan dan keselarasan. Mulai komunitas kecil (desa) sampai kepada bentuk negara.
- Landasan peri kehidupan ’Spirituil Magis’, merupakan karakter umum insan Jawa yang spiritualis dan mempercayai adanya kekuatan-kekuatan magis dari alam semesta dan seluruh isinya.
- Landasan peri kehidupan ’Kalangwan’ (Mempersembahkan Keindahan), merupakan implementasi melaksanakan misi ’Memayu Hayuning Bawana’.
- Landasan peri kehidupan ’Kejawen’, merupakan piwulang Jawa dalam menyikapi berbagai perbedaan-perbedaan keyakinan dan kepercayaan umat manusia.
Piwulang ini saya simpulkan berdasar pengkajian terhadap kandungan visi misi serat-serat kapujanggan. Semestinya lebih tepat menggunakan istilah ’Bhinneka Tunggal Ika’, namun istilah ini rasanya belum ’pas’ karena sekedar bermakna ’kerukunan’ semua ’Sistim Religi’. Sementara ’Kejawen’ ada wacana melebur semua perbedaan dalam bingkai ’Sistim Religi Jawa’.
© KSM.
Yayasan Sekar Jagad















307 tanggapan kepada “Rasionalisasi Kejawen”
Sang Purbajati
Januari 2nd, 2011 pada 09:46
@ BudakAngon.
Percayalah, Kamu hanyalah bakdal bakdalnya dari salah satu aliran thoriqoh di negeri ini. Dedengkoot dedengkotnya saja belum bisa mencapai dasarny dasar, apa lagi bakdal bakdalnya. Jauuuh. Dedengkot dedengkotnya yang masih hidup bila ketemu dengan ku, tidak berani jumowo, tertunduk dengan rasa santun. Aku hanya ingin mengngingatkan kepada umat yang hanya mayoritas kuantitas, tapi sangat minoritas kualitasnya, Yang hanya bagaikan Buih atau busa, pesss tidak ada isinya. Ini sudah diprediksi oleh Muhammad. Percayalah kamu hanya tahu sedikiit, yang sedikit itu saja sudah bagus untukmu. Jika kamu pergunakan menyimpang dari jejere urip, sungguh kamu terjebak dalam musyrik yang nyata.
Jejere Urip = Tegaknya Aturan Dasar Urip = Sesama urip itu tidak boleh gawe rusak rugine lian, menusuk perasaan sesama urip saja sudah tidak boleh, apa lagi sampai membunuh, apa lagi memerintah membunuh & membunuh dengan alasan apapun.
Jejere Urip= Undang undang Dasare Urip, Bagaimana berbicara tentang urip kalau aturan dasarnya urip. saja tidak tahu. Dan jangan kira kamu telah memahami dan telah bertemu dengan titiknya bak. Baru menyelam dibaknya saja, dan bertemu dengan urip urip yang didalamnya sudah mau kumengsun persis seperti orang orang yang dahulu pernah kutemui ( Habib habib ternama di negeri ini, Para Kiai kiai di negeri ini, para ulama ulama di negeri ini dan juga yang mengaku para normal di negeri ini, terus terang aku malu dengan Muhammad, terhadap tingkah laku mereka mereka )
Jagaddd Jagadddd Dewa Batara
wahyu mk
Januari 2nd, 2011 pada 10:35
kagem sang purbajati
saya tertarik dengan ilmu yang panjenengan miliki kalau diperkenankan saya ingin belajar kepada panjenengan untuk itu sudilah kiranya panjenengan mengirimkan kisah2 pengalaman spiritual panjenengan ke email saya supaya saya bisa belajar dari pengalaman panjenengan . Demikian perkenalan singakat saya sebelumnya saya mengucapkan terima kasih. salam sih katresnan.
alamat email saya : wahyu_mdc@yahoo.co.id
matur nuwun
Budak angon
Januari 2nd, 2011 pada 09:58
Perilaku alam menyimpang (spt hujan salah mangsa, gempa, sunami, manusia makan kayu, aspal dll, wanita jadi pria dsb) adalah akibat pengaruh KUTUKAN BUMI (jmn kalabendu) ini lbh 500 th yg lalu. Mari kt ‘nanggap/berdoa’ agar DALANG ganti lakon ‘kalisuga’ jmn makmur/suka cita.
wahyu mk
Januari 2nd, 2011 pada 10:08
@ sang purbajati
saya ingin belajar ilmu yang panjenengan miliki kalau diperkenankan mohon panjenengan sudi mengirimkan kisah2 pengalaman spiritual panjenengan ke email saya supaya saya dapat termotivasi dan belajar melalui pengalaman panjenengan . Demikian perkenalan singkat saya semoga mendapat sambutan hangat . nuwun
wahyu mk
Budak angon
Januari 2nd, 2011 pada 10:13
@sang purba jati, Justru kaum thariqatullah (yg pegang KUNCI jalan menuju allah) gol. Ahlul bait yg selalu urip, dikejar2, dibunuh oleh kelompok gol TS, bahkan dicap islam kejawen, atau juga dicap pengaruh hindu/budha. Tp gol ini welas asih.
Budak angon
Januari 2nd, 2011 pada 10:44
Ternyata banyak yg tdk tahu ‘urip’, org jawa tdk tahu ‘urip’ kasihan burung2 kecil gak tau jalan pulang menuju burung garuda … ternyata selain
Gol TS juga ada gol kejawen yg gemar menebar kt musrik …
suprayitno
Januari 2nd, 2011 pada 11:21
@sang purbojati yth,
………………Dedengkot dedengkotnya yang masih hidup bila ketemu dengan ku, tidak berani jumowo, tertunduk dengan rasa santun………….
__________________________________
wah saya merinding membaca kesaksian panjenengan……saya membayangkan kalau sekelas saya yang masih mentah ini bersua dengan panjenengan njuk piye (bagaimana)???mungkin saya akan pingsan.
Ijinkan dan mohon panjenengan berkenan menjawabnya, menurut pendapat (perasaan atau pikiran) panjenengan pribadi, sampeyan ini jika dibandingkan dengan Gus Dur lebih tinggi mana ilmunya (kompetensinya) ? Pertanyaan ini bagi saya sangat penting untuk dijawab, mengingat Gus Dur saja gagal dalam memimpin umatnya dan negaranya, apalagi yang kelas kompetensinya dibawah beliau. Di dalam jagad politik Gus Dur dipecundangi oleh Muhaimin (terlepas apakah muhaimin dibackup oleh eksekutif atau tidak) dan sebagai Presiden RI yang resmi (bukan hasil dari kudeta) beliau juga ternyata dengan sangat mudah dilengserkan.
Kemudian warga NU juga menjadi umat yang belum bisa memimpin negeri ini dalam hal peningkatan “ekonomi dan pendidikan”.
Lalu mohon maaf, apa yang sudah anda lakukan untuk negeri ini dan apa yang akan anda lakukan/perbuat untuk kemajuan negeri ini??? soal “kebebasan dalam hal beragama” saja yang sudah dijamin oleh konstitusi, pelaksanaannya masih terjadi mayoritas menindas minoritas. Bagaimana cara anda mengatasi hal ini? bukankah sesungguhnya warga NU jauh lebih banyak jumlahnya daripada kaum yang ekstrem?
Banyak orang yang pandai di negeri ini (baik yang waskita maupun yang menguasai ilmu pengetahuan) sekelas Prof. Syafii Ma’arif, Cak Nur, Prof. Azumardi Azra dan masih lusinan lainnya, mereka semua andap asor. Ini hanya sekadar informasi saja, saya tidak sedang membandingkan anda dengan mereka.
Hidup adalah tunggal dengan yang lainnya (the others). Jadi semua saling terkait, orang pinter juga membutuhkan orang bodoh, sebab tak bisa orang pinter itu hanya bekerja sendirian. Kesuksesan selalu diperoleh melalui banyak “tangan”. Untuk bisa menjadi dokter dia pasti membutuhkan “kelinci percobaan” , Untuk menjadi petani yang baik dia butuh tukang pandai besi. Dst…dst…. Intinya sederhan, siapa pun dia baik orang pinter maupun terlebih-lebih lagi orang bodoh, kaya atau miskin, SEBAIKNYA TIDAK S O M B O N G melainkan lebih mempererat tali persaudaraan dan kerjasama untuk mewujudkan kemanusiaan yang adil dan beradab. Beress dah……………
Sang purbajati
Januari 2nd, 2011 pada 13:23
@MAS PRAYIT
Dalam Hakekat/Makrifat/Jiwa luhur ; drajat keilmuannya tidak bisa ditolok ukur dengan cara berfikir dan dengan pertanyaan anda. Apalagi segala sesuatu harus berpijak atau didukung dengan fakta empirik atau dengan variabel variabel data yang matematis yang bisa diolah dan dianalysis kemudian baru disimpulkan yang dianggap benar, sehingga kebenaran harus diukur pada sekitar harga rata rata. Dan aku sangat memahami type orang orang macam anda yang senang berlindung dibalik Ilmiah dan akademisi dan sangat senang meniru cara berfikir atau pendapat orang lain apa lagi yang sudah memiliki nama besar dan mencatutnya seperti Mark Waber, Adam Smit, Enggel, dll, biar dianggap sudah banyak tahu, sehingga anda juga berusaha meniru untuk membangun konsep Javanisme. Sebenarnya kalu mau jujur di Negeri ini belum muncul Sejatinya Intlektual, Sejatinya Ilmuan, Sejatinya Pakar ( meskipun banyak profesor maupun. Doktor, dll ), apalagi dibidang Hukum dan Ilmu Politik Tata Negara. Hanya dalam arti formal mengaku bisa berfikir tetapi dalam arti sesungguhnya hanya meniru niru cara berfikir (Referensif). Contoh : Semua Sudah Sepakat Pancasila adalah merupakan sumber dari segala sumber HUKUM yang tertinggi yang berlaku di Indonesi, kenyataannya Produk Hukum hukum postitip kita koyok apa? apa sudah berani menciptakan produk hukum dan perundang undangan sendiri ( malah belajar karo wong londo Van valen hoven, Lugman. dll sing orak ngerti Pancasila, wajar hasilnya yo koyo ngono ) perilaku penegak dan pelaksana hukumnya kayak apa?, Pejabat Birokrasi kelakuannya koyok apa ?, Perilaku Pemegang Legititimasi Ajaran Agama koyok apa? Dan pelaku pelaku ……..koyok apa?. Menyangkut Mental/Jiwa yang belum bener , sebab hingga kini belum ditemukan dan disusun methodik dedaktif yang paling efektif untuk memahami Sejatinya Pancasila.dan Jatidiri Bangsa.
BANGUNLAH JIWANYA, BANGUNLAH BADANNYA UNTUK INDONESIA RAYA
belum dilaksanakan, masih pada molor atau bangun kriyip kriyip ngucek mata.
atau Barangkalai bait DISANALAH AKU BERDIRI JADI PANDU IBUKU diganti
DISINILAH AKU BERDIRI JADI PANDU IBUKU. Mosok disana apa belum merdeka
WR. Supratman gesange roh dtakoni, piyoto kok disana kok ora disini, la aku nulise pas neng negoro Londo. ngapusi opo ora aku ora ngerti.
Ara usah ngomongke Wong Darah Biru, NU, JOWO, Muhammadiyah dll.
Darah birune / utawo Pari Rojolele wes keterak banjir, wis ora ono maneh.
Perlu ngulek / Mbibit maneh. MULANE PERLU REVOLUSI JIWA LUHUR.! Nganggo Syariate Jaman Purwo Kawitan sing uwis mudon lan ameh disebar luaske.
JAGAD JAGAD DEWA BATARA.
suprayitno
Januari 2nd, 2011 pada 23:17
@sang purbajati yth,
wah jawaban anda kok nggak match (nyambung) ya? padahal pertanyaan saya sangat simpel dan jelas. Tapi jawabannya tidak jelas, mungkin karena saya “salah bertanya”, betul begitu Mas Purbajati?
Saya jadi ingat ketika saya (masih menjadi perokok dulu) pernah suatu saat akan meminjam korek kepada sahabat saya “Mas, boleh aku pinjam koreknya?” teman saya langsung menjawab “maaf saya tidak merokok tuh…”.
Saya pikir ini jawaban yang “tidak nyambung”, wong saya jelas-jelas bertanya boleh aku pinjam koreknya? malah jawabnya saya tidak merokok. Gak nyambung kan?
Nah, di masyarakat kita kalau kita amati dengan teliti, sering banget terjadi “salah komunikasi” ditanya A jawabnya B, ditanya B jawabnya C. Misalnya “Mas Purbajati, sampeyan ada acara apa hari ini?” jawabnya “Wah sori, saya lagi sakit kepala nih..”. lalu saya tanyakan lagi “Sudah minum obat apa belum?” dijawab oleh Mas Purbajati “Wah, dokter sekarang gak ada yang bisa dipercaya, payah…..!!”.
he….he….he, maaf lho mas, terus terang saya mangajukan pertanyaan tersebut kepada anda, karena saya ingin mengetahui seberapa anda jujur terhadap diri anda sendiri. Bagaimana seandainya saya mengajukan pertanyaan2 yang jauh lebih kompleks apakah jawaban anda tidak semakin ngaco lagi?
Kalau dengan diri sendiri saja sudah tidak jujur, bagaimana dengan orang lain?
saya berkali-kali mengatakan bahwa saya hanyalah orang biasa yang masih mentah, saya bukan seorang saintist (ilmuwan) yang suka berlindung dibalik keilimahannya. Saya kutip jawaban anda sbb :…….Dan aku sangat memahami type orang orang macam anda yang senang berlindung dibalik Ilmiah dan akademisi dan sangat senang meniru cara berfikir atau pendapat orang lain apa lagi yang sudah memiliki nama besar dan mencatutnya seperti Mark Waber, Adam Smit, Enggel, dll,………….
he….he…..he, saya benar-benar geli, sebab sekali lagi saya bukan seorang ilmuwan yang selalu sibuk di laboratirum dan sibuk mengadakan penelitian. saya cuman pengangguran yang suka iseng……
Prinsip saya, hidup ini tidak bisa saling adu tinggi mengibarkan bendera. Satu kaum mengerek “bendera rasionalism” sebagai bendera yang “paling tinggi” , sementara kaum lainnya mengerek “bendera mistisism” jauh lebih tinggi lagi, kaum lainnya tak mau kalah mengerek “bendera spiritualism” lebih tinggi dibandingkan dua bendera lainnya. Saya tidak pernah mendewakan “rasionalism” di atas mistisism atau spiritualism. Bagi saya ketiga aspek tersebut sama-sama penting untuk kehidupan, asal tidak saling mendomisasi.
Ya……diangkasa kita saksikan BANYAK BENDERA YANG DIKIBARKAN, saling berebut tinggi saling mengalahkan satu dengan lainnya.
Ketahuilah wahai saudara-saudarku semua, bagi siapa pun yang masih suka berebut “identitas, jabatan, kekuasaan, harta, kehormatan, pujian dst..demi kepuasan ragawi” orang-orang seperti ini sesungguhnya masih dalam tataran “personalitas” maksudnya masih terlalu berorientasi pada kepuasan ragawi, belum mencapai kepuasan sejati yakni “kepuasan ruhani”.
Kepuasan ragawi cepat sekali usang, cepat sekali membosankan, cepat sekali rusak, cepat sekali hilang. Kebalikan dari itu adalah “kebahagiaan/kepuasan Ruhani”. Kepuasan ruhani ini relatif berlangsung lama bahkan setelah raga kita rusak/mati, kepuasaan itu terus mengalir.
Kepuasan ragawi berpusat pada kepentingan ego kita, sedangkan kepuasan ruhani berpusat pada liyan (the others). Semakin diri kita mau menolong orang lain yang dihimpit kesusahan/kesulitan dengan niat yang tulus, ikhlas, tanpa pamrih yang dilandasi oleh kasih sejati, maka disitulah kita temukan KEBAHAGIAAN RUHANI.
Maaf Mas Purbajati, itu cuma pendapat pribadi lho, saya tidak mengutip dari para ahli dan saya bukan manusia pengecut yang suka berlindung dibalik ilmiah. Santai saja Ki, di hadapan saya semua manusia adalah SAMA. Sama-sama ada kekurangan dan sama-sama ada kelebihan, sama-sama ada kebenaran dan sama-sama pula ada kesalahan.
Setuju gak? mohon jawabannya yang nyambung, jangan banyak-banyak cukup “setuju or tidak”. Lalu berikanlah alasan seukupnya, OK?
Sang purbajati
Januari 2nd, 2011 pada 15:56
Terkadang Aku mulai berfikir : Apa aku harus mulai belajar marah ya. aku takut akibatnya ?
Apa aku menulis harus mulai memakai bahasa Psy War ya ?
Apa aku harus menggunakan ketajaman senjata Cakranya Krisna Ya ? untuk membedah dan menalanjangi borok borok pikiran serta penyakit kronis yang bersemayam dihati Yang Sok Ilmuah, Sok Pakar dan Sok sok yang lain Ya ?
Apa tenggang waktu yang diberikan padaku sudah aku anggap cukup.?
Apa aku perlu menghadap kepada Roh Suciinya Bawano / Yang Jagad Pramundita / Ingkang Nggelar Gulung Jagad ( Kaki/Ny Janggetan, Kk/Ny.Maruto, kk/ny Baruno, Kk/Ny, Roh Kidul, kk/Ny Ontoboga, Kk/Ny Limpun, Ny. Ratu Pagedongan Nwang Wulan S ) lebih cepat lebih baik. Nyumanggaaken, Puwbawasesanipun Panjenengan, Ingsun dereaken.
Tak Larese desek
Budak angon
Januari 2nd, 2011 pada 11:24
BA lg seneng keris, amanat nb ibrahim kpd anak2nya Keturah (red bibel penjajian lama), keris ini kelak buat bangunkan ajaran ttg ‘urip’ di negri timur (jawi dwipa) ktk ajaran nb ibrahim dilupakan, ibarat tahu nama hong/allah tp tdk tahu pemilik nama, kalau gak tahu ‘urip’ ya percuma.
Jd nanti ada setan rambutnya riwa2 jenggotan membo2 jd manusa.
Budak angon
Januari 2nd, 2011 pada 11:31
Apa itu URIP? jika keris (curiga) dan warangka, kedua2nya hilang, berada dimana? ya berada di urip.
Dimanakah kediaman urip? ya berada di intinya angin. Angin kalamullah yg meng’hidup’kan.
Dalbo
Januari 2nd, 2011 pada 11:40
Nuwun sewu..
@ Sdr Budak Angon..
Sebelumnya saya ingin mengucapkan Selamat Tahun Baru, dg Harapan semoga Anda Selamat.
_____________________________________________________________________________
Ternyata banyak yg tdk tahu ‘urip’, org jawa tdk tahu ‘urip’ kasihan burung2 kecil gak tau jalan pulang menuju burung garuda … ternyata selain
Gol TS juga ada gol kejawen yg gemar menebar kt musrik …
______________________________________________________________________________Dalam Kejawen tidak mengenal kata Musyrik, Apa itu musryik, seingat saya waktu saya masih memeluk agama islam kata2 itu sering di dogmakan untuk mencap/mengadili Orang/golongan non Islam. khususnya Orang Jawa/Kejawen dan suku2 pribumi lainya. Kata Musryrik tidak lain adalah istilah Arab sebagi Pedang Pembantai Kebudayaan Asli Bumi NuSwantara, baik karya seni, dan ritual2 asli Pribumi., dg motivasi agar tidak ada lagi budaya pribumi yg exist di Bumi nuswantara ini bila perlu di sluruh dunia, dg demikian leluasalah bangsa Arab mengembangkan pengaruh2nya.
Kalau ada gol Kejawen yg suka gemar menebar “KATA MUSYRIK”, mohon njenengan bisa membuktikan/memberi contoh yg kongkrit. dan atas nama gol Kejawen di seluruh nusantara, sekali lagi saya ulangi atas nama gol Kejawen di seluruh nusantara,yg pernah menebarkan “kata musryik” ingsun (Dalbo) mohon maaf yg sebenar2nya maaf.
Iya..memang kasihan burung2 kecil yg tidak tahu jalan pulang menuju burung ” GARUDA’, untuk itu, ingsun (Dalbo) mohon dr kedalaman hati nurani, agar njenengan dan saudar2 yg lainya yg sdh tahu jalan menuju burung :GARUDA’ agar burung2 kecil termasuk saya ini di bimbing dan di gandeng tanganya agar bisa terbang berdampingan dg selamat sampai pd tujuan sang “GARUDA’
Santen peresan klopo, nyuwun ngapunten sedoyo lepat kawulo.
Asah,asih, asuh..
Dalbo with Love.
Budak angon
Januari 2nd, 2011 pada 12:01
Ya pesan itu mmg yg BA tangkap dr leluhur agar bangunkan urip, yg kebetulan itu prilaku ibadah sy sejak dibaiat th 1997 mladeni allah, tdk putus tali allahnya stiap tarikan & hembusan nafas (urip). jujur sy org bodoh, sy menafsirkan musarar jyby juga keris, yg rumahnya spt raden gatot kaca (warangka) agar bs ngaca.
ismail usman
Januari 2nd, 2011 pada 18:56
@budak angon
untung dibaiat oleh leluhur kalau sampai dibaiat oleh abubakar baasir jadi apa nantinya he. . . .he. . . .
Budak angon
Januari 2nd, 2011 pada 12:14
@dalbo
Selamat tahun br juga.
Cobalah lht tulisa sdr kt sang purba jati di atas terselip kalimat musrik?
Beliau kan gol kejawen? krn kuncinya pakai hong …
Sy juga punya kunci spt dia, dpt dri org tua (ijab kabul) dptnya ilmu bkn nyuri, dan sy tetap santun. Trims
Dalbo
Januari 2nd, 2011 pada 12:33
Nuwun sewu..
@ sdr Budak angon..Matur mbah nuwun…
Sdr. Sang Purba Jati yg telah melontarkan kata” Musryrik” dlm respon2 di blog ini, kmudian njenengan langsung menilai bahwa golonhgan Kejawen telah menebarkan kata Musryik!!!
Duh..Gusti..nyuwun gunge pangaksami…
Hanya satu sosok saja yg melontarkan kata Musyrik, kalau di banding Jutaan Kaum yg telah di doktrin untuk mensyiarkan kata2 Musyrik itu di umi Nuswantara ini lbh kurang 500 thn lamanya.
Saya rasa kata Musryik yg di lontarkan Sdr.Sang Purba Jati, hanyalah Re aksi/mengembalikan lagi kata2 “Musryik” itu sendiri pada pemiliknya yg pernah di terimanya termasuk saya sendiri. Namun sy tidak akan ber Re aksi mengembalikan kata Musryik itu pad pemiliknya, biarlah kata2 itu sy pendam dalam bumi, biar Si mbok Dewi Pertimah/ Rohnya Bumi pertiwi ini yg meleburnya.
Santen peresan klopo, nyuwun ngapunten sedoyo lepat kawulo.
Asah,asih, asuh..
Dalbo with Love.
Budak angon
Januari 2nd, 2011 pada 13:27
@dalbo i love you, apik lan santun tenan panjenengan niki hhh…
Stiap thn km adakan keg baiat, kpd yg pingin bs ma’rifatullah (agr bs ‘ngaca’/mlihat isineng urip & ngobrol dgn allah), selepas baiat kmbali ke rmh msg2 tdk terikat kumpulan, ngamalkan setiap tarikan dan hembusan nafas selalu urip.
Harapan kt, jgn hanya tahu nama allah, tp ta hu pemilik nama. Kami tdk punya kantor/padepokan/pesantren.
Budak angon
Januari 2nd, 2011 pada 13:53
Kalau masalah Keris adlh penemuan & penelitianku sendiri. Ternyata keris adlh warisan budaya luhur nusantara yg juga ternyata sama mengandung pesan leluhur juga ttg ‘urip’. Islam sufi sama dgn ajaran jawi ttg urip adalah sama, ada ajaran ttg kesejatian-Nya, keris oleh islam kulit diangga musrik, kesamaan pesan ini menurut sy.
Sang Purbajati
Januari 2nd, 2011 pada 18:24
@ Mas Dalbo
Urap urip, urap urip, sing penting uripe awake dewe ojo nganti kekantilan uripe kutu kutu walang togog lan sak panunggalani opo maneh urip kekantilan angin padang pasir sing akeh virus jahiliah ( Ciri ciri menungsone senenge ancik ancik bhs padang pasir wongjowo men gumun ), preman padang pasir nganggo jubah dikiro wong waskito diambungi tangane, kok yo iso isone. Amit amit anak putuku ngger, Ojo nganti.
TKW dianggep budak, intok disiksa digebugi dst. Aweke dewe wong lanang dianggep Abu Chomsin ( Bapake 50 real ), nasib nasib. Tak tompo legowo.
Eleng elengo sopo nandur tetep ngunduh, sopo utang kudu mbalikake.( Hukum Karma )
Seksenono Jagad sak isine Jangkane Jagad ono jaman wong padang pasir podo mbabu lan dadi jongos neng bumi jowo ya Indonesia. ( Yen Minyak wis ora payu, Energi liane wis melimpah ) Padang pasir balik jahiliahe. Dug dug dug!
Jagad Jagad Dewa Batara
Dalbo
Januari 2nd, 2011 pada 19:27
Nuwun sewu…
@ Sdr Sang Purba jati,..Inggih matur nuwun, thank you very much atas nasihatnya , ning sebenarnya yg nulis soal urip, urip di atas bukan aku lho, akau hanya merespon dari sdr, Budak Angon, dan aku hanya Copy & Paste dari tulisan beliau, lha iki kok malah aku sing di dukani, yo wis ora dadi ngopo tak trimo kanti legowo, sing penting dongo dinungo kemawon nggih..
Santen peresan klopo, nyuwun ngapunten sedoyo lepat kawulo.
Asah,asih, asuh..
Dalbo,… with Love.
Budak angon
Januari 2nd, 2011 pada 20:10
Dicermati tulisan kawan2 di blok ini, baik yg islam wis ilang islame, kejawen wis ilang jawane. Mrk udah asing dgn yg dimaksud urip, apalagi isi-Nya urip, jangkane jawa udah dekat endas lan buntute, wis cedak waktunya di daur ulang.
Sumonggo seksenono ngandikaku kanjeng romo joko suryo wong pangawitan. Ngapunten.
Satrio Dewantoro
Januari 2nd, 2011 pada 20:12
Sugeng rahayu….
He, he, he, saya kok melihat Kang Mas Purbajati “agak glagapan” menghadapi “serangan” Ki Suprayitno…he, he, he, mungkin ini sindroma pendekar baru turun gunung. Tapi saya percaya, dengan ketinggian ilmu yang dimiliki Kangmas Purbajati lama2 bisa cool dan sigap menghadapi para jawara jaman modern..he, he, he…
suprayitno
Januari 2nd, 2011 pada 23:38
@Mas Satrio Dewantoro yang smiling face,
he…..he……he, sampeyan niku sampun manas-manasi lho! mangke menawi Ki Purbajati panas saestu, wah…….blaiiik……….
Mlayu disik wae apa piye enake mas Dewantoro? ibaratnya saya kan cuma anak kecil yang suka usil bertanya kepada orang tuanya “Bagaimana Tuhan itu bisa ada? Dari mana bapak TAHU kalau tuhan itu ada?Apakah yang ADA itu betul-betul Tuhan?”
Ini cuman contoh saja lho mas, tapi masa sih pertanyaan kayak gitu dianggap sok ilmiah?? HE……HE…….HE jan lucu tenan memang.
Budak angon
Januari 2nd, 2011 pada 21:17
@kang Ismail usman
Yg baiat sy gak punya organisasi spt abu bakar basyir, justru org betawi pribadi yg sederhana …
Sy rasa a.b. basyir samberan nafasnya gak hidup … Coba anda survey umat islam sangat sedikit yg hidup? istilah sy balon bocor, anda islam?
Imam ghozali bilang ‘manusia yg hidup sedikit, kebanyakan mayat berjalan (mati) yg kerjanya cari dunia’ spt binatang.
Sang Purbajati
Januari 2nd, 2011 pada 23:57
UNTUK SAUDARA SAUDARAKU YANG BERKENAN
JAWA PURWAKAWITAN
AKAN MERASIONALISASIKAN AJARAN JAWA
Syariat Manembah / Meditasi Ajararan Jawa Sangat Rasional, akan tetapi karena para sesepuhnya kebanyakan pendidikan formalnya rendah, maka kurangbisa mengkomunikasikan sebab keterbatasan perbendaharaan kata, apalagi dikaitkan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.Kini akan aku tunjukkan salah satu rahasia untuk mengejar ketertinggalan dalam bidang Iptek.
Bangsa Jepang telah memiliki keyakinan dengan Dewa Mataharinya, mereka manembah dengan penuh keyakinan untuk mensinergiskan hakekat Matahari tersebut, yang diyakini sebagai sumber kehidupan serta bisa memberikan kecerdasan dan menumbuhkan semangat kerja yang tinggi.
Ajaran Leluhur Jaman Purwa Kawitan juga telah memiliki sesebutannya bahkan lebih komplit yakni :
Niat ingsun, ngaturaken sembah pangabekti dumateng Sang Hyang Surya, Sang HYang Rayun Wulan, Sanghyang Tinari Panjerwengi, panjenengan ingkang paring sinar sorot tejo cahyo ingkang murni, panjenengan ingkang pareng pepadang jagad sak isine, panjenengan ingkang paring kedamaian lan ketentraman. Ngembanono mayungono mbiyantu dayani dateng titah jiwo rogo doyo roso sejati sejatine gesang sun, paringono doyo aribowo eleng waspado waskita wicaksono bagas waras badan ningsun, sehat kuat kiat teguh rahayu slamet gesang langgeng ayem tentrem sak garwo putro wayah wayah ing madyopodo dasare jagad kiblat sekawan, mbok bilih wonten kalepatan kurang kasusilan lan kesopananingsun igkang dipun sengojo lan mboten dipun sengojo paringono pangapura ingkang agung, nandang peteng pinaringano padang nandang benter paringono hawa daya asrep nandang lali paringono eleng lan waspada, nandang kekurangan paringano luber keluwihan nandang ruwet paringono ludang bubar luar sun saliro tunggal.
Sesebutan tersebut harus digulo wentah dan sesebutan inilah akan menciptakan generasi gerasi yang cerdas dan etos kerja yang tinggi. Apalagi kalau memang manembahnya bisa mencapai tataran ini, dimungkinkan akan muncul Matahari, atau bulan, atau bintang dimuka anda dan tidak dalam kesadaran mimpi, dan bisa jadi datang dalam ujud manusia dan memberi wejangan pada anda.
Sesebutan tersebut merupakan salah, satu kunci untuk mengejar ketertinggalan dalam bidang Iptek, namun perlu diketahui untuk mencapai piwulangan langsung oleh Sang Hyang Suryo, Rayun Wulan dan Tinari Panjerwengi tidaklah mudah, Ini termasuk pilih jalmo ( termasuk manusi pilihan ).
Perlu diketahui : sesebutan tersebut dalam syariat ajaran yang telah kupersiapkan termasuk tingkat 10 dan harus menguasai level dibawahnya dulu. Masih ada yang lebih tinggi lagi.
Syariat Muhammad sebenarnya mengajarkan yakni sholat Dhuha dengan disunahkan membaca surat Samsiah, akan tetapi sejujurnya saya katakan tidak efektif. Karena hanya dogma dogma pada tingkat permukaan tidak mencapai hakekatnya.
Orang Jawa mutlak harus bisa mengentaskan leluhurnya kealam kasuwargan yang sudah kasuwarkan ditingkatkan lagi kasuwargaannya minimal 7 trap keatas dan harus benar benar menjadi anak sholeh yang berbakti kepada leluhurnya Sesebutannya :
Niat Ingsun Ngaturaken sembah pangabekti dumateng jumeningipun gesang roh sucinipun Bapa/Ibu bapa soho ibu mertua, simbah buyut canggah wareng udeg udeg gantung nenek moyang ingkang sampun katimbalan dateng alam suci, ingkang cerak ingkang tebeh, ingkang kerawatan lan mboten kerawatan ingkan wonten awang awang uwung uwung ingkang wonten alam sonyolururi alam arwah alam kasukman alam kamukten alam kasuwargan. Ketampio para dewa dewi betara betari ingkang jogo rumekso kawah condrodimu ingkang wonteng ing gedobo ingkang paring purbawasesa nimbang alo bencek bener luputipun paringono doyo ari bowo sinar sorot tejo cahyo ingkang murni, nandang peteng paringono padang nandang benter paringono hawa doyo asrep, nandang ruwet paringono ludang bubar luwar sun saliro tunggal. Kersane Sang Hyang Widi, Kersane Sang Hyang Jagad Pramudito kersane Yang Maha Suci paringono sari sarine tetedan sekalir sari sarine toya ingkang taksih nglajengaken gesang wonten masyarakat umumipun jaler tuen istri ingkang sampun dumadi lan ingkang dereng dumadi dan seterusnya ………………… Coba bandingkan dengan sesebutan ajaran lain mengenai do’a anak sholeh apakah kira kira sedatail tersebut diatas atau doa dengan dikirimi Surat dengan verbal retorik.
Biasanya dalam keheningannnya akan diberi wejangan oleh leluhurnya sendiri, sesebutan tersebut Tingkat 2
HAKEKAT MANEMBAH ADALAH BENTUK PENGAKUAN KITA BAHWA DIRI KITA MERUPAKAN BAGIAN DARI TATANAN KEHIDUPAN DALAM ALAM SEMESTA INI. DAN MEMBANGUN KOMUNIKASI DENGAN BERBAGAI HAKEKAT ROH SELURUH KEHIDUPAN ALAM JAGAD GEDE UNTUK MENDAPATKAN SINERGITASNYA SERTA MOHON MAAF BILA DIDALAM MELAKSANAKAN HAK DAN KEWAJIBAN SESAMA HIDUP DALAM BERKEHIDUPAN TERDAPAT TUMPANG SUH ,KESALAHAN, KETIDAK SOPANAN MOHON AMPUNANNYA.
Ada 15 tingkatan sesebutan untuk TK. Dewasa: Dalam manembah menurut kekuatannya masing masing, mayoritas hanya bisa menyelesaikan di Tk. 5 inipun sudah bagus dikarenakan biasanya sudah pindah dialam transendent dan mendapatkan didikan / wejangan tersendiri, bisa menyelesaikan 15 sesebutan dalam manembah adalah termasuk bibit unggul ( Apa lagi bisa memahami makna didalamnya, berarti didalam batinnya telah bersemayam Dewa )
Bila syrariat manembah cara Jawa Purwa kawitan tersebut dikerjakan secara konsisten tiap malam jam 8 dan 12 malam rutin. Maka akan memberi refleksi dan pengaruh dalam kejiwaan yang luar bisa, orang yang tadinya tidak bisa berbahasa jawa dengan lancar tanpa disadari bisa menggunakan bahasa jawa dengan baik dan lancar bahkan bisa ceramah dengan berbahasa jawa.
Coba buktikan Sobdo Tunggalnya dulu bisa hafal dalam satu minggu termasuk hebat, hafal dalam arti dipraktekan dalam manembah semedi dengan ucapan batin tanpa bersuara. Sebab ada yang 3 bulan tidak bisa.
Ajaran Jawa Purwa Kawitan : Sesebutannya bukan mateg aji atau jopo montro, benar benar untuk mendidik manusia yang sholeh/berbakti pada lelulur berjiwa luhur dan berbudi pekerti lehur serta mendapatkan keelokannya jagad agar menjadi manusia manusia yang benar benar profesional dan kemandirian berfikir sehingga bisa memvalidasi setiap faham faham atau ajaran ajaran dari luar, sehingga tidak terjajah bahkan akan melenyapkan jajahan perasaan mental ideologi.
suprayitno
Januari 3rd, 2011 pada 09:02
@Mas purbajati yth,
………..Sesebutan tersebut harus digulo wentah dan sesebutan inilah akan menciptakan generasi gerasi yang cerdas dan etos kerja yang tinggi…….
____________________________________
Mas purba, saya sungguh ngeri membaca tulisan panjenengan. Tetapi mudah-mudahan rasa “kengerian” saya tidak beralasan alias cuman paranoid aja.
Begini mas penjelasannya :
Pertama, benar doa memang merupakan bagian dari seluruh makhluk hidup, baik binatang mapun terlebih bagi para manusia yang beriman, bahkan manusia yang tidak percaya bahwa tuhan itu ada pun pasti berdoa juga dengan cara dan sebutan yang berbeda.
Di dalam setiap doa pasti ada secercah harapan, semakin banyak kita berharap biasanya akan semakin banyak kita berdoa. Berdoa merupakan salah satu bukti bahwa manusia memang makhluk yang lemah……..saya tidak tahu apakah Tuhan juga pernah berdoa ya???? kan cukup dengan firman “Jadilah maka terjadi”, walaupun kita tahu bahwa TIDAK ADA SAMUBARANG DI DUNIA INI YANG TERJADI TANPA PROSES.
Nah masyarakat indonesia sepanjang yang saya amati (panjenengan juga bisa ikut bersama-sama mengamati), sangat antusias ketika disuruh berdoa (istighotsah), entah mudeng atau tidak dengan doa yang dibacanya. Doa menjadi menu utama sehingga bangsa kita mungkin akan mati jika “dilarang untuk berdoa”.
Dengan demikian masyarakat kita sering menganggap bahwa doa itu ibarat “jalan tol” yang mempermudah dan mempercepat semua harapan atau cita-cita kita. Dan lebih mengerikan lagi ketika ditanamkan oleh orang-orang gemblung bahwa jika kita berdoa di tanah suci (maksudnya di Arafah) maka doanya akan terkabul.
Karena masyarakat indonesia memang sangat tergial-gila dengan doa, apalagi jika diming-imingi doanya pasti akan terkabul maka tersebutlah angka 1.158.000 orang tahun ini mendaftar sebagai calon haji, setiap calon harus deposit sebagai tanda jadi sebesar 25 juta rupiah. Nah dari daftaran haji saja sudah terkumpul uang sebanyak hampir 29 triliun rupiah…..inilah ongkos yang paling mahal di dunia untuk sebuah ritual dan doa……… Hingga kini otak saya benar-benar blank bagaimana mungkin tanah timur tengah khususnya di Arab Saudi bisa diklaim sebagai tanah suci? dan lebih tolol lagi, orang-orang kita manut saja ketika disuruh berziarah ke nenek moyang orang arab ini.
Di indonesia saya melihat jualan yang paling laku adalah “jualan doa”. dan tanpa disadari doa itu bisa berubah menjadi racun yang mematikan ketika dia berpikir bahwa dengan doa segalanya bisa dibereskan.
Mas purbajati, tidak ada yang salah dan keliru dengan metoda doa anda, tetapi saya hanya ngeri saja ketika ada semacam pemikiran bahwa doa tersebut diijadikan senjata pamungkas.
Ya….kita tahu betapa perubahan dahyat di dunia ini dari mulai revolusi industri maupun revolusi politik benar-benar harus ditebus dengan penelitian, kerja keras, air mata dan darah. TIDAK ADA PERUBAHAN YANG GRATIS…..Alam untuk bisa melahirkan jabang bayi yang normal saja butuh waktu 9 bulan dan ketika lahir juga terjadi pendarahan.
Jadi itulah alasan saya dengan kengerian yang saya maksudkan, saya hanya ngeri ketika persoalan riil kehidupan yang maha kompleks ini disimplifikasikan hanya dengan doa atau mantra-mantra.
Hasil pertandingan sepak bola antara malaysia dengan timnas indonesia yang telah didoakan kemenangannya oleh ratusan juta rakyat indonsesia membuktikan bahwa doa itu memang penting tetapi yang jauh lebih pentsing adalah USAHA, KERJA KERAS, KETEKUNAN, KESABARAN KEJUJURAN, DAN PANTANG MENYERAH. Indonesia kalah karena terlalu banyak doa tetapi sedikit usaha.
Hal inilah saya kira yang jauh lebih penting kita tanamkan kepada generasi muda, bukan membaca doa atau mantra-mantara.
Mas Purbajati, susahnya, bangsa ini di semua kelas sudah teracuni oleh budaya “jalan pintas dan instan” maka lahirlah bangsa “Mie Instan” dan kita tahu mie instan adalah merupakan salah satu produk industri junk food (makanan sampah).
Nyuwun pangapunten ingkang katah nggih mas, mungkin anda tidak berkenan tetapi saya harus menyuarakan suara hati saya demi sebuah keseimbangan.
Budak Angon
Januari 4th, 2011 pada 19:59
Niat Ingsun Ngaturaken sembah pangabekti dumateng jumeningipun gesang roh sucinipun Bapa/Ibu bapa soho ibu mertua, simbah buyut canggah wareng udeg udeg gantung nenek moyang ingkang sampun katimbalan dateng alam suci, ingkang cerak ingkang tebeh, ingkang kerawatan lan mboten kerawatan ingkang “wonten awang awang uwung uwung ingkang wonten alam sonyolururi alam arwah alam kasukman alam kamukten alam kasuwargan. Ketampio para dewa dewi betara betari ingkang jogo rumekso kawah condrodimu ingkang wonteng ing gedobo ingkang paring purbawasesa nimbang alo bencek bener luputipun paringono doyo ari bowo sinar sorot tejo cahyo ingkang murni, nandang peteng paringono padang nandang benter paringono hawa doyo asrep, nandang ruwet paringono ludang bubar luwar sun saliro tunggal. Kersane Sang Hyang Widi, Kersane Sang Hyang Jagad Pramudito kersane Yang Maha Suci paringono sari sarine tetedan sekalir sari sarine toya ingkang taksih nglajengaken gesang wonten masyarakat umumipun jaler tuen istri ingkang sampun dumadi lan ingkang dereng dumadi dan seterusnya”
—————-
Apik doane …..
mirip dgn doaku ktk kirim al-fateah untuk orang tua/leluhurku dari Bapa/Ibu bapa soho ibu mertua, simbah buyut canggah wareng udeg udeg gantung sampai nb adam (aku sebut namanya s/d nb adam).
Banyak kiriman hadiah al-fateah yg GAK SAMPAI
khususnya pengetahuan umat islam? ketika kirim2 hadiah untuk leluhurnya?
kenapa gak sampai? karena bunyi kalimatnya: khususon ila ruhi ahli kubur ……
Orang yg sudah mati tidak bisa apa bro? yg “urip/hidup” di diri manusia itu yg hidup langgeng yg kembali ka allah!!!!!!!
yg hidup langgeng itu yg mana? ya yg urip, kenapa urip krn ada nur allah, ya yg hidup itu tentunya yg kembali ke allah.
yg jadi masalah apakah dia lagi susah atau senang, nyampai atau tdk nyampai? tugas anak untuk membantu mereka. lah ini yg dikirim al-fateah kok malah kuburan.
Lah badan kita ini kuburan bro …. hancur!
Budak Angon
Januari 4th, 2011 pada 20:37
Org tua kita/leluhur masih banyak yg sengsara, ada yg kesasar, ada yg jadi BK gak bisa mati krn punya ilmu karang, minta disempurnakan!
makanya itu, ini jaman sudah gak karu2an hanya SP lah yg mampu mengajarkan ilmu kesejatian?
Tp waktu terus berjalan …… tinggal menunggu pergantian kulit yg rusak diganti kulit yg baru.
jika manusia jawa sudah mampu mengetahui jati diri singuripi awake dewe, ya itu tandanya akan makmur, krn dia mampu menyempurnakan kutukan-kutukan bumi juga yg lainnya, agar sempurna uripnya. Mungkin ini yg dimaksud oleh wejangan2 kitabe leluhur nusantara?
Aku ini kan gak bisa apa2, masih bodoh dan masah bodoh, hanya mengira-ira saja, kali bener, bener kali
Bener kata mas Dalbo, sy ini hanyalah buih2 yg mengaku2 bisa bertemu dgn kekasihnya, lah sy ini memang orang bodoh, makanya sy mau belajar dari Dalbo.
Kata sang purba jati, sy ini hanyalah bakdalnya dari salah satu aliran thoriqoh …… makanya sy mau belajar dari sang purba jati.
“Percayalah, Kamu hanyalah bakdal bakdalnya dari salah satu aliran thoriqoh di negeri ini. Dedengkoot dedengkotnya saja belum bisa mencapai dasarny dasar, apa lagi bakdal bakdalnya. Jauuuh. Dedengkot dedengkotnya yang masih hidup bila ketemu dengan ku, tidak berani jumowo, tertunduk dengan rasa santun” (sang purba jati)
Saya jadi ragu2, jangan2 anda cuma meng aku2 bisa bertemu dg kekasihNYa SP.
Buih, buih, oh buihhh.(dalbo)
walahualam bishawab
Bratayuda
Januari 3rd, 2011 pada 00:27
@Mas Prayit ……..
Kalo logika salah memahami……….( kebiasaan)
bisa-bisa berdo’anya salah melulu….ya……(gak di respon Tuhan)
Pas dibutuhkan….minta kembang desa…….( wanita cantik)……..
wleh–weleh…….jebule……….pohon kembang beneran…….wkwkwkwk
sikapsamin
Januari 3rd, 2011 pada 17:19
@mas Bratayuda, salam kenal…
…weleh-weleh…jebule…pohon kembang beneran…
__________________________________
he he he…pohon kembang beneran malah 7-macam…
itu namanya komunikasi sambungan ‘super-langsung’…
tapi karena logikanya kena putingbeliung, jadi kacau…
jadi ingat satu cerita Penyuluhan Keluarga-Berencana, tentang penggunaan Karet-KB, kalau dikomunikasikan sistim ‘sambungan-langsung’…asyik juga kayaknya…he he he
Bratayuda
Januari 3rd, 2011 pada 18:38
Ya Mas Sikep …kabr baik di tahun baru….smoga podo sejahtra…he.he
ah…bisa aja nih ……,……
Tp ada juga dulu yang pake system KB pake IUD (Intrauterine Device ).
karena sulit menjelaskanya ke orang ndeso………..
akhirnya penjelasanya menjadi……”Iki Udar….Dadi”………
…tp masih asyik lho…….he.he…..yang penting gak udar……..he…he
Blonthang
Januari 3rd, 2011 pada 00:44
jagad dewa batara..
wah ini kayaknya ada jawa fundamentalis nih…
Ketika hitler berkuasa, dia berkeyakinan bhwa ras arya Jerman paling unggul.
Ketika sultan saladin dari kekhalifahan terakhir Islam bertempur dengan dalam perang salib, dia berkata..” akan ku rebut tanah-tanah di seberang lautan dan ku-Islamkan semua orang, dst…
gaswat nih kalau bibit-bibit chauvinistis jawa berkembang di blog ini.. he..he
Memayu hayuning buwana boleh-boleh saja diartikan Nusantara (jawa) jadi episentrum dunia.
Namun saya kok lebih cenderung kembali ke rasa.. bahwa manusia jawa harus bisa menentramkan rasa di sekitarnya..
Karena raga hanyalah sebatas wadah.. isinya boleh macam-macam.. boleh sirup, jus jeruk, es degan, ciu, arak, atau bahkan baygon..
tinggal kita mau jadi wadah yang bagaimana.. ?
kalo sy sih pilih jadi wadahnya tentram saja.. itu sudah cukup bagi saya…
Buat mas prayit.. kalo belum nyambung.. ya dionthel lagi ben nyambung… he..he..
Wongsorejo
Januari 3rd, 2011 pada 02:21
SP yang dipingit menurut kang prayit adalah kebenaran sejati yang juga nama lain dari Al haq yaitu yang maha welas asih, dia SP adalah putra bethara Surya menurut jayabaya, dan menurut kang purbajati : (banyak tumpang suh/kerancuan berfikir, makanya aku bilang ALLAH yang disembah oleh Mayaritas Bangsaku itu Cerdas nggak Sih. Bila Dibanding Sang Hyang Betara Surya ( Dewa Matahari ) yang disembah orang jepang. Koyoknya Dewa Matahari Lebih pinter mendidik, nyatanya Bang Jepang, pernah menjajah negeri ini dan sekarang menjajah produk produk Tehnologinya. ALLAH yang disembah mayaritas bangsaku lebih 500 tahun)
manusia asalnya dari matahari dan kembalinya kesana, kang purbajati pernah melihat nggak arwah yang berjalan menembus matahari tetapi tidak kepanasan karena memang berasal dari sana?
menurut para ilmuwan alam semesta ini terjadinya berawal dari ledakan bintang (super matahari) dan manusia berasal dari debu bintang yang menjadi humus (lapisan tanah yang paling atas dan subur) menurut penyelidikan ilmiah dari 1 m kubic humus terdapat milyaran kehidupan termasuk cacing, jangkrik, kumbang, bakteri, kuman, tengu, gurem dll…..
wee ladalah ketemu dah disini mistik dan ilmiah
Raja Dewa
Januari 3rd, 2011 pada 16:48
@mas Wongsorejo
manusia asalnya dari matahari dan kembalinya kesana, pernah melihat nggak arwah yang berjalan menembus matahari tetapi tidak kepanasan karena memang berasal dari sana?
————————————-
mas wongsorejo ? orang purwo rejo ? sama kampung dong!
kalo penjenengan masuk ke matahari..memang tidak kepanasan..tapi itu untuk yang hatinya bersih…….mas wongso pernah coba masuk ke INTI matahari ?
nggk panas kok!..coba deh sekali-kali maen kesana…!
nanti mas bakal ketemu ruang B3 (Bahan Bakar Bintang)…
disitu ada kompor nya matahari…
ternyata bahan bakar matahari seperti permen yg bulat..
warnanya KUNING, ORANGE dan MERAH
ditaruh dalam banyak toples kaca raksasa..
Salam Rahayu
Wongsorejo
Januari 3rd, 2011 pada 02:43
abu bakar bersungut-sungut ketika mencium batu hajar aswad sambil grundelan, aku tahu kamu hanya batu biasa kalau nabi tidak menciumnya aku tidak akan pernah mau mencium kamu
dari 300 san berhala2/ illah-illah tersebut oleh nabi semua dimusnahkan dan disisakan satu saja menjadi Al-illah yaitu batu hajar aswad yang berbentuk bulat menyerupai mata satu didalam uang 1 dollar amerika
nabi mencium hajar aswad karena waktu kecil dia di inisiasi/dibaiat oleh pamannya dihadapan batu hajar aswad itu, dan sudah menjadi kebiasaan nabi sampai dewasa nabi mencium batu tersebut yang berasal dari agama arab jahiliah atau agama jin agama asli arab, yang kemudian dikuti oleh umatnya yang berhaji, kalau tidak mampu mencium cukup melambaikan tangan kearah batu tersebut dari kejauhan……sampai sekarang
sikapsamin
Januari 3rd, 2011 pada 09:23
awaaasss…hoooiii…
PUTINGBELIUNG…PUTINGBELIUNG…
Budak angon
Januari 3rd, 2011 pada 11:33
Kalau kembali ke matahari, matahari yg mana? Krn matahari jumlahnya bermilyar2! Dan matahari yg bermilyar2 tsb justru bertawaf mengelilingi titik hitam yg dicium olh nb saw (batu hajar asward) yg ada di ka’bah.
Budak angon
Januari 3rd, 2011 pada 11:41
Cahaya yg sesungguhnya bukan sinar itu! Tp yg memberi sinar yaitu nurallah … Ya pantes matahari keluar bisul2 krn matahari2 (manusia/binatang) tdk mampu lg melihat Sang pemberi sinar (isi-Nya urip hu-haq)
Budak angon
Januari 3rd, 2011 pada 11:54
BA nangis bahagia ktk ada yg blg nb saw keturunan jawa!, dia mampu mnerangkan cahaya di atas cahaya kpd org jahiliah … sebaliknya si pemilik asal pemberi penerangan jawa justru diajari oleh pendatang mekkah (yg jahiliah)?
Budaya luhur kt wayang sdh dilupakan/asing, nanti dtg dalang org jepang menerangkan wayang ke jawa, org jw ribut! Duh bangsa ini?
Budak angon
Januari 3rd, 2011 pada 12:21
apa dasarnya org yg bernama ABDULLAH & MUHAMMAD dari JAWA?!, dulu nama ini ditelinga org arab jahiliah sangat asing/aneh.
BA malah jadi ragu dgn org2 penghuni jawa? Jgn2 bukan org jawa krn ilang jawane dan yg islam juga ilang islame. Mungkin skrg saatnya kembalikan rasa jawi tp juga jawa (urip itu ya rasa) jawa & islam nya, jgn nyembah berhala tp rasa yg hakiki, uripNya Hu-haq)
Jaka Petir
Januari 3rd, 2011 pada 12:38
Sejatinya Islam dan Jawa adalah bersaudara..makanya harus bersatu..!
Kalau ada yg `mbalelo` tidak mau bersatu..
Sungguh Sang Hyang Tunggal akan hancur lebur kan jadi DEBU..
dan SIRNA seluruh keluarga (ini serius!)
Dialektika BUKAN kebenaran ABSOLUT..tetapi masih taraf dialek/dialog
masih harus dibuktikan dengan PENGUASAAN MAKROKOSMOS secara NYATA (khalifatullah!)
Jika Gajah Mada memang Umar bin Khattab..
kenapa harus malu? bukankah Jawa dan Islam bersaudara?
Umar adalah sahabat nabi saw yg sudah makrifat..nur Nya dari nabi Musa!
Jika Jayabaya memang Abu Hurairah
kenapa harus malu? bukankah Jawa dan Islam bersaudara?
Abu Hurairah adalah sahabat nabi saw yg sudah makrifat..nur Nya dari nabi Idris!
Coba belahlah rembulan..belah lah laut..hidupkan orang yg sudah mati !
bukti-kan-lah secara nyata..jika anda benar2 orang pilihan Tuhan!
Dalbo
Januari 3rd, 2011 pada 14:45
Nuwun sewu…
@ Sdr.Jaka Petir
>>>Sejatinya Islam dan Jawa adalah bersaudara..makanya harus bersatu..!
_____________________________________________________________________
5oo thn lebih Islam berkembang di Bumi nuswantara, kehadiranya telah kita sambut dg sikap toleran, Inilah hakekat sebagai orang jawa, hal ini pun kita lakkukan yg sama dgn Saudara Budha dan saudara Hindu, Kristen dan Konghuchu . Namun apa yg Islam lakukan terhadap Jawa? kutukan2 keji, kapir, musryik, sesat dll, berkumandang di corong2 menara kotbah setiap Jum’at, di khotbah2 tarawih, tak jarang kami orang Jawa di oyak2 ketika menjalani ritual2 yg kami anggap penting dan sakral. gunjingan2 dari tetangga kiri kanan, rerasanan, hasutan2 yg menyakitkan hati. aku ingin bertanya inikah sikap sebagai saudara?,
aku merasa ini sdh cukup, aku katakan sekali lagi sdh cukup, enough is enough, kinilah saatnya, jiwa2 nusantara banggkit lagi, menuntut lagi hak2 nya yg sekian lama terjarah.
…………………………………………………………………………………………………………
..>>>>..Jika Gajah Mada memang Umar bin Khattab..
kenapa harus malu? Jika Jayabaya memang Abu Hurairah
kenapa harus malu? …
………………………………………………………………………………………………………….
Ini bukan persoalan Malu atau gengsi, ini persoalan kebenaran fakta, kami sudah bosan dan muak dg klaim2 yg model sdr katakan itu, kami bukan lagi orang2 yg gampang sekali di bodohi yg menganggap leluhur orang Arab lebih hebat, kami bukan orang2 yg Durhaka, yg suka melacurkan Jiwa dan negara ini dgn gratis, sorry
brother aku katakan lagi Enough is enough.
Santen peresan klopo..nyuwun ngapunten sedoyo lepat kulo..
Dalbo,..with love..
Jaka Petir
Januari 3rd, 2011 pada 15:17
Sdr Dalbo yang dikasihi Gusti..
Pena sejarah memang telah menggoreskan banyak air mata dan kepedihan..
Tentang hubungan Islam dan Jawa…
Dalam Islam pun terbagi banyak aliran..
Kadang satu sama lain..saling menghujat dan saling membantai..
Atas nama Sang Hyang Tunggal..
izinkanlah saya meminta maaf kepada saudara2ku orang jawa..
yang sudah terluka hatinya..oleh Islam..
Saya yakin saudara2 ku orang jawa..berjiwa besar dan mulia..
Saya yakin ..maaf saja tidak cukup untuk menghapus air mata orang jawa..
Saya yakin saudaraku Dalbo..orang yang cerdas dan waskita..
mau berlapang hati memaafkan kejahilan orang yang bodoh..
Saya sendiri orang jawa(solo)..bukan pecinta negeri arab..
Saya benci TKW disiksa dan diperkosa..
Saya pecinta Sang Hyang Tunggal..
Soal identitas leluhur yg telah saya buka.. off the record saja.
Rahayu
Dalbo
Januari 3rd, 2011 pada 16:01
Nuwun sewu..
@ Sdr. Joko Petir,…
Matur mbah nuwun,
Iya memang maaf saja tidak cukup, perlu sikap yg nyata apa itu arti sebuah kata maaf, karena kata bisa berbalik makna, itulah kenyataan yg terjadi di negara tercinta Indonesia ini, manusia2nya banyak yg sdh pinter2 mengolah kata2. Kalau saya pri badi bisa saja memaafkan, memang itulah yg menjadi pegangan hidup sy sbgai Orng Jawa. namun pertanyaanya, apakh leluhur2 bangsa ini bisa begitu saja memaafkan? saya tidak tahu…Apakah Roh bumi pertiwi ini mau memaafkan begitu saja?saya tidak tahu, yg bisa sy lakukan saat ini hanyalah , ber do’a dan berharap, agar Manusia Nuswantara luput dari siku dendane sang Hyang Bawana,.. tapi saya tdk berani menjamin, karna sdh menjadi hukum kepastian alam, siapa mengambil pasti di ambil balik, siapa menabur pasthi menuai,
Duh Gusti nyuwun gunge pangaksami…
Santen peresan klopo..nyuwun ngapunten sedoyo lepat kulo..
Dalbo,..with love..
Jaka Petir
Januari 3rd, 2011 pada 16:32
@kang Dalbo
apakah leluhur2 bangsa ini bisa begitu saja memaafkan? saya tidak tahu…
—————————————————————————————
orang jawa memang sulit memaafkan…mungkin terlalu dalam luka nya?
mungkinkah hanya orang sunda yg bisa memaafkan?..(uga siliwangi)
Saya pribadi memandang ..
setiap bencana yang datang adalah wujud welas asih Sang Hyang Tunggal..
dibalik musibah ada sejuta anugerah…
dibalik peristiwa ada sejuta hikmah…
kemarahan alam yang memuncak adalah suatu siklus…
sebab akibat perbuatan manusia itu sendiri..
di belahan bumi manapun..(tidak hanya jawa, nusantara)
jika perbuatan manusia sudah malampaui batas..
alam pasti menggugat..itu sudah rumus nya (sunnatullah)
salam rahayu
Raja Dewa
Januari 3rd, 2011 pada 15:45
Jika Jayabaya memang Abu Hurairah kenapa harus malu?
bukankah Jawa dan Islam bersaudara?
Abu Hurairah adalah sahabat nabi saw yg sudah makrifat..nur Nya dari nabi Idris!
————————————————————————————————–
Nabi Idris as..adalah batara surya-nya orang jawa…(silahkan diterawang)
beliau duduk di maqam matahari..
bergelar Singa Allah.. (Divine Lion)
berjubah emas berlambang singa..jurusnya `lightning plasma` / tinju-super-kilat.
Budak angon
Januari 3rd, 2011 pada 13:05
Ada yg bilang segi tiga 497 sbg cakra wahyu ningrat/kunci kmakmurn.
4 cahaya, 9 sinar dan 7 warna warni cahaya.
Pesan ini nerujuk bi-llah keris oumyang jembe yg dilarung ke laut oleh mpu tantular selepas tragedi pembantaian di bubad.
4 sifat, sabdo/palon/paugeran/perilaku/tindakan, noyo/pikiran, genggong/perbuatan… yg lahirkn jiwa yg jujur, sabar & ridho/iklas/tawakal, mk masyarakat akan tertib & makmur.
Budak angon
Januari 3rd, 2011 pada 13:25
Sabdo palon (ucapan & tindakan) bgkn pengunci kandang, noyo genggong (pikiran & perbuatan) yg bergerak adlh kambingnya. Jk kambingnya berperilaku jujur, sabar & ridho/iklas/tawakal maka masyarakat akn tertib & makmur?
Mungkin jmn ini kelak akan bersih sulit kt menemukan sampah masyarakat.
Budak angon
Januari 3rd, 2011 pada 13:41
Lihatlah dgn mata terbuka, negri kt kotor, tdk punya ‘rasa’ malu. contoh kecil buang sampah tdk pd tempatnya (buang sperma, paku, kulit pisang, dsb), contoh besar dari pimpinan level atas pe bwh diikuti masyarakatnya tuyul semua bumi pertiwi sdh di jarah tuyul2 … Emang harus dari mana lagi dimulai?
Budak angon
Januari 3rd, 2011 pada 13:47
Sementara yg kejawen msh belajar lg agar jd kejawen, yg di pemerintahan msh belajar menafsirkan pancasila dan UUD diotak atik onderdilnya (gak rusak kok diotak-atik) … Yg harus dibeneri urip kita ndisik biar duwe ahklak sing bener.
Budak angon
Januari 3rd, 2011 pada 14:01
BA minta maaf oumyang (ngoceh) terus … Mungkin ini akibat punya keris oumyang jembe dan keris semar. Oum=Hong/Alloh? (SP/urip) & semar yg momong SP, ya pantes KERIS yg SP ditangan BA, semar-semar do marani SP sing diemong semar maka dadine SEMARANG TEMBAYA (semar2 sing momong raja2 mataram purba, sriwijaya, majapahit-pajajaran dan mataram baru do kumpul ngrubuti sing diemong, mrk berpelukan menangis sekian lama tdk bertemu)
Budak angon
Januari 3rd, 2011 pada 14:09
Tahu nggak kalau BA juga ikut menangis terharu, melihat meraka kini berpelukan lg melepas rindu? Sekian lama mrk berpisah …. BA bukanlah SP tp mrk yg sdg mesra bertemu dgn kekasih-Nya lah SP. Dialah satria piningit yg kesampar kesandung di samudra lautan
Budak angon
Januari 3rd, 2011 pada 15:30
@ sdr Dalbo ini menurut BA mirip TS? kalau TS kembalikan ke al-qur’an & hadist. Tp Dalbo kembalikan apa yg dijarah umat islam yaitu kenikmatan ritual2 di luar diri, maksudnya kalau kejawen itu bkn spt itu tp olah rasa sejati. Contohnya ketika tokoh jawa ke india diminta ritual nyembah patung, menolak dgn halus bhw jw tdk nyembah patung tp rasa jati, dipaksa olh mrk, mk ktk kaki melangkah ada gempa, patung2 berantakan, tp di india gak minta dikembalikan hak2nya.
Budak angon
Januari 3rd, 2011 pada 15:43
Yg mbuat BA kagum, TS ini memberikan jwbn dgn argumen rasional, lah kalau Dalbo ini gak ada argumen rasional kejawennya? selama ini ritual2 bermesraan dgn leluhur atau dgn jin dianggap lebih nikmat ya silahkan? Kejawen kan penggalian olah rasa sejati yg didalam diri yaitu urip sejati? Jd apa yg dijarah oleh TS?
Dalbo
Januari 3rd, 2011 pada 16:57
Nuwun sewu…
@ Sdr Budak Angon yg budhiman…
Matur mbah nuwun atas segala kritisasinya, semoga itu menjadi pelajaran berharga buat saya,
.
………>>>>.Tp Dalbo kembalikan apa yg dijarah umat islam yaitu kenikmatan ritual2 di luar diri, maksudnya kalau kejawen itu bkn spt itu tp olah rasa sejati…..
……………………………………………………………………………………………………………………………………
terus terang sj saya ini bukan orang linuwih, sprti njenengan, yg bisa nerawang ghaib2 itu. makanya sy sering2 nimbrung untuk ngangsu kaweruh di blog ini ,saya hanya kejawen kulit saja, tapi saya masih punya akal yg sehat, untuk itulah saya hanya bisa menggunakan akal sy yg masih sehat ini.
Untuk sy pribadi kejawen bukan sy anggap sebagai agama, tetapi “The way of lives” atau life style, Tata cara untuk menjalani kehidupan.,Nah.. karena saya masih hidup di Alam/Bumi, jadi Jiwa dan raga masih perlu buat saya, jadi tidak Rasa/Jiwa saja, batin iya perlu lahir iya perlu. saya masih suka makan ayam goreng mbok Berek, kalau ke Jogja saya paling suka sayur brongkos.
…..>>>>Yg mbuat BA kagum, TS ini memberikan jwbn dgn argumen rasional, lah kalau Dalbo ini gak ada argumen rasional kejawennya? selama ini ritual2 bermesraan dgn leluhur atau dgn jin dianggap lebih nikmat ya silahkan?
…………………………………………………………………………………………………………………………
Sdr Budak Angon.. Saya dgn sungguh2 mengormati leluhur2 saya sendiri, saya tidak tahu apa itu Jin?. apakah itu sejenis minuman Drygin yg di sukai anak2 itu?
Background saya bukan seorang sufi/ makrifat2 sprti njenengan itu, tapi saya orang seni, tentunya sy sangat menghargai karya2 seni se rendah & jelek apapun, apa lagi karya2 seni dan budhaya leluhur yg begitu tinggi maknanya, nah…bagi saya ritual2 orang jawa, sprti, sesaji, ruwatan, tedak siti, itu adalh karya seni rupa dan seni instalasi yg luar biasa kandungan maknanya. nah.. itulah yg sya tuntut kembali, lebih2 karya wayang,,,, Jadi ritual2 kejawen saya, ya melalui karya2 itulah, dg sikap kongkritnya menghargai, melindungu, kalau saya sanggup ya melestariakn (Memayu hayuning….). Tuhan pun akan maklum kalau cuma itu wujud persembahan saya.
Soal Rasa Sejati, “This is my own bussines”,…tidak perlu lah saya udar2 kan di sini .
Inggih cekap semanten piatur kulo mugi njenengan sagedo, memaklumi kekirangan2 kulo.
Santen peresan klopo..nyuwun ngapunten sedoyo lepat kulo..
Dalbo,..with love..
Budak angon
Januari 3rd, 2011 pada 16:17
Dari dulu ajaran jawi ya rasa sejati, brahma/ibrahim hancurkan berhala (berhala di dlm diri spt ujub, sombong takabur dll, juga berhala di luar diri spt patung2), demikan juga abdullah & nb saw di mekah bersihkan ka’bah dari berhala2 (ka’bah kan lambang hati manusia) terus di india juga … BA kurang paham konsep apa yg diinginkan olh Dalbo?
Mrk yg di arab, india yg dirusak juga gak minta ke paham jawi agar dikembalikan!
Budak angon
Januari 3rd, 2011 pada 16:30
BA lg pingin tahu warna warni kejawen … tolg jawab Dalbo atau yg merasa telah di jarah oleh gol TS …
ajaran Jawi bukan di jarah tp tidur … bangunkan!
Dalbo
Januari 3rd, 2011 pada 17:40
Nueun sewu..
@ Sdr Budak angon..
…>>BA lg pingin tahu warna warni kejawen … tolg jawab Dalbo atau yg merasa telah di jarah oleh gol TS …
………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
1. Penjarahan Fisik: dg di hancurkanya, buku2 kuno, dan benda2 seni dan budaya di masa runtuhnya Majapahit, karena di anggap berhala, kopar kapir kupur, biang kesesatan.
2. Th 198…? diledakanya karya agung leluhur bangsa Jawa budha (Candi borobudur)
3. Di perlakukanya UU Porno aksi/porno grafi, dg imbasnya ibu2 pada pekewuh mengenakan pakaian kebaya karna di anggap membuka aurat terlalu seksi.
4. Adanya gerakan2 Fron Pembela Islam. dg gerakan2 yg anti toleransi,
Penjarahan Psykis/mental:
Dikumandangkanya Dalil2, Kopar, kapir, kupur bagi pemeluk agama lain selain islam, musrik, syirik, untuk menjalani ritual2 ke makam, ruwatan dll. inilah yg samapi saat ini terjadi dan kita sbg orang Jawa menjadi merasa tidak berkutik.
Maaf sdr BA apa yg anda maksud dg Berhala? sy yakin orang Jawa tidak pernah menyembah berhala, kalau buat saya pribadi, benda2 itu sy hargai sebagai karya seni yg adi luhung, kalau Allah menghendaki untuk di hancurkan, tlg njenengan maneges pada Allah njenengan, Beliau kan maha super, biar di ahncurkan sendiri saja, nggak usah minta bantuan manusia, katanya Allah maha besar.
oh ya.. kenapa njenengan kok, hanya menuduh2 gol TS sj. apa njenengan mau cuci tanagn Kasihan deh… TS.
Maaf hanya itu yg bisa sy tunjukkan ke sdr saat ini , mungkinsdr2 yg lain akan menambahkanya>
Santen peresan klopo..nyuwun ngapunten sedoyo lepat kulo..
Dalbo,..with love..
Budak angon
Januari 3rd, 2011 pada 18:21
BA pernah di tanya ‘apakah km org jawa’, BA jawab ‘Ya’, apa buktinya kalau org jawa? Jwb ??? Dia crita juga ttg kitab jawa ada di museum Belanda.
Lalu apakah majapahit itu kejawen? Aku malah blm paham. Yg pasti beradaban istana majapahit & pajajaran diyakini hilang di telan bumi (tak tampak olh pandangan mata lahir tp ada), ktnya kelak akan muncul lg. Entahlah. Mengenai ffi? BA bkn warna mrk.
Dalbo
Januari 3rd, 2011 pada 18:25
Nuwun sewu..
@ Sdr Budak angaon…
sekali lagi, saya mau bertanya, Apa itu berhala?, apa itu, hajar aswat, apa itu, ka’bah, dan apa itu keris2 yg skrg sdg njenengan gandrungi itu, mohon di jelaskan pakai rasio saja kalau pakai rasa saya malah nggak dong, soal rasa biar saya hayati sendiri nanti.
santen peresan klopo, nyuwun ngapunten sedoyo lepat kulo,
Asah, asih, asuh..
Dlabo,..with Love..
Budak angon
Januari 3rd, 2011 pada 18:33
Begitu juga peradaban islam, perpustakaan di kairo dibakar dan buku2 di bw olh tentara rmw, buku2 tsb ttg penemuan hebat2 dunia islam spt fisika, kimia dll, islam ketinggalan jauh dri negeri barat. Sebaiknya mas Dalbo protesnya jgn ke org2 islam? Tp pd rumput yg bergoyang … Wangsit siliwangi ‘hanya menemukan sejarah dan sejarah …’
kutukan
Januari 3rd, 2011 pada 18:35
kau perlu alasan:
dulu, aku mendengar, kawan perempuan sma berkata bahwa kau sering shalat dzuhur di masjid sekolah, aku pikir laki-laki yg shalat akan bertabiat baik,9 tahun aku mengingat kau sebagai laki-laki yg shalat bertabiat baik. tapi penilaianku salah:
2008, aku banyak membaca tulisan yg kau tulis, dari tulisan yg banyak itu aku menilai watak manusia, kau tidak seperti yg aku pikirkan selama 9 thn itu,
aku kecewa , itulah rasanya : aku menunggu untuk orang yg salah
aku tau ,kau akan senang bila melihat orang lain kecewa .nah aku memang kecewa, sekarang kau nikmatilah.
surga itu karena budi, orang tua yang berbudi mendapat surga,
apakah kau bisa menjadi laki-laki yang berbudi, setauku kau tidak ada budi,
apa bisa kau menjadi orang tua berbudi, kau terus menuruti nafsu diri sendiri, tidak ada pikiran berbuat budi kepada manusia .
aku telah berkata dengan diriku sendiri-aku menolak kau :laki laki yg tidak punya bekal menuju surga, diri kau sendiri telah tersesat kepada dunia ,kepada nafsu.
bila kau pikir , aku tidak adil,dengan keputusan yg kemarin,maka pikirkanlah:
APAKAH KAU PERNAH BERBUAT BAIK/BUDI TERHADAP AKU?
bila kau pikir, kau pernah berbuat budi satu kali saja, kau boleh menuntut aku.
perkara dunia telah kau dapatkan, itulah yg sering kau banggakan&itulah yg menjadi harga diri kau saat ini, di mana kau berada banyak perempuan salehah yg kau inginkan pasti mudah kau dapatkan.
satu hal lagi, kutukan itu, aku telah berkali-kali mengutuk kau, apa mungkin aku akan menerima laki-laki yg telah kukutuk,
2008, aku datang dengan niat baik, tp isi taqdir seperti ini,
seandainya aku bukan sp, hanya perempuan biasa, kau pasti berlaku buruk terhadap aku.
AKU BUKAN SP
FIRASAT ‘PEMBERSIHAN’ ITU ANGGAP SAJA TIDAK PERNAH KAU DENGARi
Pangeran Rasa Jati
Januari 3rd, 2011 pada 18:55
@Nur
Maafkan daku..maafkanlah kasih..
Yg tiada sengaja membuat hatimu luka..
Namun janganlah begini caranya..
kembali..kembalilah pada-Ku
kembali..kembalilah untuk-Ku..
aku takkan perduli..
apa pun yg terjadi..
walaupun harus ku ..mati (sakjero ning urip)
Budak angon
Januari 3rd, 2011 pada 18:41
Dan yg msh otentik adlh wangsit siliwangi ‘orang sunda menganggap jawa punya salah’ (kebetulan BA ada darah leluhur sunda) kemarahan ini msh terlihat di jabar tdk ada nm jalan dgn nama tokoh majapahit spt gajahmada atau hayam wuruk. Apa mas Dalbo kesalahan kejawen?
Jaka Petir
Januari 3rd, 2011 pada 18:41
Dialog Jaka Petir (JP) dengan Sang Hyang Tunggal (SHT)
JP: Gusti ..apakah agama yg benar itu..?
SHT: Yang Sejati.
JP: Gusti..apakah budaya yang benar itu?
SHT: Budi Pekerti Luhur (akhlakul karimah)
JP: Gusti bagaimana pandangan-Mu ttg Islam?
SHT: itu salah satu jalan kepada-Ku
JP: Gusti bagaimana pandangan-Mu ttg Kejawen?
SHT: itu salah satu budaya-Ku
JP: Kenapa Islam dan Kejawen kadang bersikutan?
SHT: itu faktor manusia nya.
JP: Bagaimana sikap saya terhadap Islam dan Kejawen?
SHT: Ambillah sari nya..tapi jangan `lupa`-kan `kulit`-nya.
Salam Rahayu
Budak angon
Januari 3rd, 2011 pada 18:54
Mas dalbo sy udh berulang2 bikin tulisan ttg makna ka’bah, keris dan nafsu scr rasional menjabarkan ttg ya dgn argumen/dalil2, spt keris al-qur’an srt al-hadid 25 dan bibel perjanjian lama dan buku perkerisan. Dalil itulah rasional krm mdh dipahami baik scr fisik ada juga rasa jati juga ada.
Budak angon
Januari 3rd, 2011 pada 19:10
@Dalbo, menurut BA temen kt sdh pinter olah rasa spt jaka petir, sang purba jati, suprayitno, putrinya bu lurah, bratayuda, sabdalangit dll … Dari mana rasionalnya? Dari tulisannya beliau2 yg terlihat mampu berdialog dgn rasa jatinya … ada pertanyaan adajwban dlm dirinya …
Dalbo
Januari 4th, 2011 pada 08:35
Nuwun sewu….
@ Sdr Budak Angon
Memang betul sekali saudar2 kita sprt, Mas Prayitno, Btatayuda, PurbaJati, Putrinya bu lurah d an yg lainnya sudah pada pinter2 dg olah rasanya, sama seperti Anda, namun selama ini sy ikuti argumen2 mereka tidak pernah sekalipun mensejajarkan, Leluhur dg Jin.seperti anda, Apakah ini benar hasil penerawangan anda yg sdh pinter olah rasa itu.
Saudara2 yg sampean sebut di atas saya akaui dan sy sngat menghargai sekali dg argumen2 dg gaya bahasa yg tersusun dg literatur yg baik, dr situ sy bisa observe (maaf sy tdk menilai) tapi hanya observe, bahwa diantara mereka gol 1.punya back ground pendidikan yg bagus, demikian jg dg gol 2. sdr2 yg lainya yg krng pandai dg pengolahan kata2 namun dmkian saya akan tetap menghargainaya.
Kalau anda menilai saya tidak punya argumen rasional Kejawen sama sekali, mngkin itu benar, sy termasuk di gol ke2, sprti yg sy utarakan sebelumnya sy baru kejawen kulit.
Terus terang Sy tidak berarani, mengobral rasional2 kejawen yg blm prnah sy alami sendiri,, itu bkn wewenang sy, untuk saat ini saya hanya mampu menjalani saja biar nggak Nato. untuk itu sy tdk berani menilai/mengadili apakah orang itu sdh pandai tg olah rasa ato tidak.
Nah dari Olah rasa anda yg merasa sdh mumpuni itu, kemudian menilai saya (Dalbo) mirip dg Sdr TS, bersamaan dg penghakiman anda yg menyamakan Lelluhur dg Jin. Apakah ini benar2 hasil olah rasa anda,
Saya jadi ragu2, jangan2 anda cuma meng aku2 bisa bertemu dg kekasihNYa SP.
Buih, buih, oh buihhh.
Oh ya Kata2 Tanyakan saja pada rumout yg bergoyang, ini justru kata yg di pakai oleh sdr TS lho…!!!
santen peresan klopo, nyuwun ngapunten sedoyo lepat kulo,
Asah, asih, asuh..
Dlabo,..with Love..
Budak Angon
Januari 4th, 2011 pada 12:33
@ sdr Dalbo
“sy yakin orang Jawa tidak pernah menyembah berhala, kalau buat saya pribadi, benda2 itu sy hargai sebagai karya seni yg adi luhung, kalau Allah menghendaki untuk di hancurkan, tlg njenengan maneges pada Allah njenengan, Beliau kan maha super, biar di ahncurkan sendiri saja, nggak usah minta bantuan manusia, katanya Allah maha besar.
————–
BA ini lg bingung, apa ada kalimat BA yg salah?
Lah ini malah ada kalimat “Beliau kan maha super, biar di ahncurkan sendiri saja, nggak usah minta bantuan manusia” … ini ilmu jawa mana ya?
Kalau semua dikerjakan sendiri oleh pemimpin, maka yg cocok adalah konsep manajemen kuli, semua pekerjaan dan tanggung jawab diborong semua oleh Tuhan? lah yg lainnya pada nganggur ….. Opo tumon?
Semua harus ada syareatnya dan ada perantaranya. contoh soal untuk mematikan makhluknya, Tuhan memerlukan perantara, misalnya melalui sakit, tabrakan, karena sudah tua dan lain2. Lah bisa diprotes oleh makluhnya. Demikian juga dalam memberikan rejeki juga ada prosesnya. Kecuali Dalbo makomnya sudah tinggi bisa berhubungan langsung dgn-Nya mungkin bisa tinggal anda katakan “kun fayakun ….”
Untuk masyarakat kelas bawah aja mau ketemu preden saja harus melalui protokol dan prosedur yg lain ….. kecuali Dalbo sudah akrab dgn presiden lah Dalbo langsung ketemu ….. tanpa prosdur
Mengenai :
Memang betul sekali saudar2 kita sprt, Mas Prayitno, Btatayuda, PurbaJati, Putrinya bu lurah d an yg lainnya sudah pada pinter2 dg olah rasanya, sama seperti Anda, namun selama ini sy ikuti argumen2 mereka tidak pernah sekalipun mensejajarkan, Leluhur dg Jin.seperti anda, Apakah ini benar hasil penerawangan anda yg sdh pinter olah rasa itu.
—————
antara leluhur dgn jin itu yg jelas beda lah
Mungkin leluhur Dalbo ada yg jin?
coba simak kalimat BA ..”selama ini ritual2 bermesraan dgn leluhur atau dgn jin dianggap lebih nikmat ya silahkan?”
BA mau belajar dari Dalbo, bagaimana caranya membedakan antara leluhur dan jin?
————————
Saya dgn sungguh2 mengormati leluhur2 saya sendiri, saya tidak tahu apa itu Jin?. apakah itu sejenis minuman Drygin yg di sukai anak2 itu?
Background saya bukan seorang sufi/ makrifat2 sprti njenengan itu, tapi saya orang seni, tentunya sy sangat menghargai karya2 seni se rendah & jelek apapun, apa lagi karya2 seni dan budhaya leluhur yg begitu tinggi maknanya, nah…bagi saya ritual2 orang jawa, sprti, sesaji, ruwatan, tedak siti, itu adalh karya seni rupa dan seni instalasi yg luar biasa kandungan maknanya
———————-
TS juga memandang sbg sebuah seni, indah bacaannya.
Dalbo juga karya seninya? sama kan? (mudah2an Dalbo ini bukan nama panjenengan/cuma ID? dan mudah2an panjenengan bukan Sabdalangit?
BA mohon maaf ……, makna yg tersirat dari tulisan sy adalah ternyata rasional kejawen juga warna-warni kejawen gitu loh …..
spt nonton wayang sbg tontonan, ada yg senang dgn seni memainkan wayang dan juga gamelan yg indah.
Tapi ada juga yg mengedepankan tatanan dan tuntutunan.
Tahun baru BA jalan2 ke perkampungan Badui, kepingin tahu, Badui ini warnanya spt apa? mungkin jika kesana ada yg BA petik khususnya ilmu Badui. Ternyata Badui itu ada Badui luar dan Badui dalam, BA sangat kagum dgn sdr kita yg Badui, dari sejak jaman dulu sampai sekarang dia mempertahankan kelestarian budayanya. Sayangnya BA tdk mendapatkan informasi ttg bentuk2 mistis Badui, krn perjalanan tidak sampai ke Badui Dalam.
Pulang dari Badui kaki pada pegel2 … mampir, pijit di rumah temen.
Tukang pijit menceritakan problem, ngobati orang lumpuh tidak sembuh2.
Menurutnya dia gak bisa ngobrol dgn leluhurnya, tapi justru si sakit/pasien lah yg ngobrol dgn leluhur.
Katanya, leluhurnya masuk ketubuh & bilang kpd si pasien “jika kamu pingin sembuh kamu harus menyediakan kembang mawar, air putih, melati 3 bh yg sdh megar dan 2 bh yg masih kuncup, tapi yg menyediakan adalah si tukang pijiat itu”
Kemudian dipraktekan …… tp gak sembuh?
Kemudian BA coba bahas bersama ttg maksud pesan leluhur :
- bunga mawar merah sbg lambang ibu
- air putih lambang susunya bumi atau lambang susu ibu kita yg telah memberi susu pd kita.
- melati lambang niat suci.
2 bh melati kuncup sbg lambang ketika dia masih kecil
3 bh melati mekar sbg lambang ketika dia sudah besar
kata BA menyimak lambang itu…….. kemungkinan lumpuhnya disebabkan dia punya salah kpd ibunya atau dia punya hutang yg belum dibayar kepada leluhurnya? cobalah dia minta maaf kpd orang tuanya atau kalau punya nazar, maka bayar nazarnya. ternyata stlh dipraktekan sembuh.
Kesimpulannya si tukang pijit melihat dari seni dan BA melihat dari rasa dari lambang2 tsb.
santen peresan klopo, nyuwun ngapunten sedoyo lepat kulo,
Asah, asih, asuh..
Dlabo,..with Love..
Budak Angon
Januari 4th, 2011 pada 19:18
Saya jadi ragu2, jangan2 anda cuma meng aku2 bisa bertemu dg kekasihNYa SP.
Buih, buih, oh buihhh.
Oh ya Kata2 Tanyakan saja pada rumout yg bergoyang, ini justru kata yg di pakai oleh sdr TS lho…!!!
———–
bukan rasa ragu2 tp was2 hhh …..
kalau kekasihku pergi ya eli-eli amita abacani … tuhan knp engkau meninggalkan aku, aduh kacihan.
kekasihku tdk akan meninggalkan aku, krn aku “hidup”
kenapa aku hidup? karena aku menghidupkan “Aku-Nya”
oleh krn itu nafasku bukan balon bocor ….. itulah keyakinanku
Syekh Abudul Kadir Djaelani “murid2 ku pantang masuk neraka, neraka akan aku jaga, asal jangan putus tali allah-Nya.
Budak Angon
Januari 4th, 2011 pada 19:32
Dalbo maaf nambah hhh ….
Oh ya Kata2 Tanyakan saja pada rumout yg bergoyang, ini justru kata yg di pakai oleh sdr TS lho…!!!
——————
mungkin yg dimaksud oleh TS sbg “rumput yg bergoyang” …. adalah orang yg sedang duduk berdzikirullah yg tahu rahasia-Nya?
Budak angon
Januari 3rd, 2011 pada 20:28
Nur … knp? kutukan cinta kt sejak 2008 blm juga dicabut?
Apakah lambang bunga melati sbg ketulusan hati ats permohonanku agar kutukan bumi tdk diterima? Apakah harus ku ulang lg? sungguh, ku akui begitu bodoh dan tololnya aku kpd-Mu.
Budak angon
Januari 3rd, 2011 pada 20:38
Nur … sejak km pergi stlh peristiwa bubad sungguh aku terlunta2 mencarimu! rupanya kamu memperhatikan tulisanku sejak th 2008? Kini kamu lahir kembali? ada dimana?
Budak angon
Januari 3rd, 2011 pada 20:48
@pangeran rasa jati … sy mhn jgn digoda dong … Nur itu ya dyah pitaloka yg ….? ah rahasia-Ku, biarkan sang purba jati cucunya gajahmada yg membawa dia ke sy krn dulu dia yg melukainya …
bakul pasar
Januari 4th, 2011 pada 01:52
………………………………Oalaaahhh…….ternyata pd di sini to??!!!!!!!……………………
di cari mandore kebun lhooo….malah pada ngobrol ngalor ngidul g da ujung pangkalnya……….nggladrah ra nggenah,
Ayo semua nerusin kerjaannya dhewe2 aja sana….!!!
yg bagian nyangkul ya nyangkul,yg bagian mupuk ya mupuk,ntar klo Juragane liat pd g kerja,bisa2 di pecat lho…g usyah pd sok sok-an ach..!!! wong sama2 buruh kebun aja kq…
Bratayuda
Januari 4th, 2011 pada 04:53
ha..ha…ha..ha..ha
Wah …wah ..Pakde Lurah sampun kondor……..sugeng ……..Pakde…
betul sekali Pakde………….lha wong cuma buruh kebun kok…pat tepaaaat.
Sehebat-hebat nya cangkul ya……..untuk nyangkul juga yo to…?
ke priyee…. to prosedulur……..he…he……….
piye kabare Kang Mas Purba Jati……..?
Lakon opo sekarang yang akan di gelar sama Kang dalang……he…he
Kulo nyimak rumiyen kemawon………….
monggo ngaturaken………..
Budak Angon
Januari 4th, 2011 pada 13:45
ngapunten pae lurah ….. BA cuma numpang mampir ngombe
nggih leres …. sehebat2nya cangkul ya untuk nyangkul juga
Budak Angon & Budak Janggotan (wangsit siliwangi) pergi ke lebak cewene nggarap lahan baru ….. lah apa sing di garap?
ya nyangkul …….. ada sesuatu yg bisa diambil dari lebak cewene, misalnya : DAUN lan KUNIR kanggo anak cucuku mengko nek wis do eling/urip lan inget marang wong tuwo para leluhur …… nek saiki dipetik, durung waktune …..
sikapsamin
Januari 4th, 2011 pada 06:42
Wooo…jebul pekerja onderneming to!?
Nèk ngono, aku usul ke pak Dalang, énak’é lakoné :
SANGKUNI(NG) BERKIPRAH
MENGADU PARA RUBAH
MELAWAN ANJING PENJAJAH
pasti serrruuu…he he he
Wongsorejo
Januari 4th, 2011 pada 09:05
Hanya Sp lah yang kelak mampu menjawab semua persoalan, semua unek2 dan pertanyaan2 yang simpang siur termasuk persoalan2 kelas dunia yang lama dan belum terjawab maupun persoalan yang baru muncul dan yang akan muncul
kalau SP (sang penolong ) tersebut tidak muncul maka Indonesia akan terpecah belah terkena balkanisasi, tapi bila sang penyelamat tersebut muncul maka Indonesia akan langgeng dan lestari selama seribu tahun kedepan
walaupun begitu segala daya upaya dan usaha untuk membangunkan kejawen dalam bentuk dan sekecil apapun harus kita beri penghargaan setinggi -tingginya, walaupun sudah jelas tertulis oleh para leluhur semenjak keruntuhan majapahit 500 tahun yll bahwa akan ada 1 (satu) orang utusan yaitu SP, percaya tidak percaya SP jalan terus…..
Budak Angon
Januari 4th, 2011 pada 14:14
Kok mirip dgn surat terbuka sdr Tri Budi
————————————–
Sebagai masukan kepada Yang Mulia Presiden SBY guna mengatasi carut marut yang terjadi pada bangsa ini, saya menyarankan :
”Kumpulkanlah ahli-ahli Thoriqoh negeri ini yaitu mursyid/syeh-syeh yang telah mencapai maqom “Mukasyafah”, Pedanda-pedanda sakti agama Hindu, Bhiksu-bhiksu agama Budha yang telah sempurna, serta kasepuhan waskito dari Keraton Jogja, Solo & Cirebon, untuk bersama-sama memohon petunjuk kepada Allah SWT mencari siapa sosok orang yang mampu mengatasi keadaan ini dan mencari jawab dari misteri ramalan para leluhur di atas. Gunakan 4 point panduan saya untuk memandu mereka. Insya Allah, jika Allah Azza wa Jalla memberikan ijin dan ridho-Nya akan diketemukan jawabannya.”
Sebagai catatan akhir dapat saya garis bawahi hal-hal sebagai berikut :
1. Guna mengatasi kondisi bangsa seperti sekarang ini (khususnya fenomena “Semburan Lumpur Sidoarjo” ), saya menyarankan : “Jangan terlalu mengandalkan akal / penalaran (lahiriah), tetapi utamakanlah hal yang bersifat Batin. Berpeganglah kembali kepada sebenar-benar SYAHADAT, yaitu yang pertama bersaksi tiada sesembahan lain selain Allah (Yang Maha Gaib), dan kemudian bersaksi bahwa Muhammad (manusia) adalah utusan Allah.” Maknanya: ALLAH (Yang Maha Gaib) mutlak diutamakan. Batin adalah lambang yang gaib. Sedangkan Muhammad (manusia yang bersifat lahir) adalah utusan Allah. Dengan arti kata lain, yang “Lahir” adalah utusannya yang “Batin”. Kondisi saat ini faktanya telah meninggalkan “Syahadat”. Apa yang diucapkan sangat tidak sesuai dengan apa yang dilakukan. Lahir diutamakan, sedangkan Batin di-nomor dua-kan dan bahkan ditinggalkan.
2. Semburan lumpur panas di Sidoarjo secara hakekat merupakan tanda / lambang bakal munculnya “Kebangkitan Majapahit II”. Ini merupakan fenomena awal dari ucapan Bung Karno bahwa suatu saat Indonesia akan menjadi “Mercusuar Dunia”.
3. Jawaban dan solusi guna mengatasi carut marut keadaan bangsa ini ada di “Semarang Tembayat” yang telah diungkapkan oleh Prabu Joyoboyo. Guna membantu memecahkan misteri ini dapatlah saya pandu sebagai berikut :
1. Sunan Tembayat adalah Bupati pertama Semarang. Sedangkan tempat yang dimaksud adalah lokasi dimana Kanjeng Sunan Kalijaga memerintahkan kepada Sunan Tembayat untuk pergi ke Gunung Jabalkat (Klaten). Secara potret spiritual, lokasi itu dinamakan daerah “Ringin Telu” (Beringin Tiga), berada di daerah pinggiran Semarang.
2. Semarang Tembayat juga bermakna Semarang di balik Semarang. Maksudnya adalah di balik lahir (nyata), ada batin (gaib). Kerajaan gaib penguasa Semarang adalah “Barat Katiga”. Insya Allah lokasinya adalah di daerah “Ringin Telu” itu.
3. Semarang Tembayat dapat diartikan : SEMARANG TEMpatnya BArat DaYA Tepi. Dapat diartikan lokasinya adalah di Semarang pinggiran arah Barat Daya. Ini merupakan deteksi gambaran secara spiritual.
Silahkan untuk dikonfirmasikan kepada ahli-ahli spiritual yang telah mencapai maqom (tingkatan) nya untuk dapat menembus dimensi tabir spiritual yang tertutup kabut ini. Insya Allah…
Demikian saran dan masukan saya, atas perhatiannya saya haturkan terima kasih.
Wass.Wr.Wb.
Semarang, 14 September 2006
Hormat Saya,
Tri Budi Marhaen Darmawan
—————————————
Serem juga ya masa depan Indonesia, repot juga kalau SPnya ngumpet terus?
siapa tahu SP ID-nya Sang Purba Jati? tapi repot juga beliaunya ini gak mau jadi presiden, maunya jualan buku …. kita paksa aja
Budak Angon
Januari 4th, 2011 pada 14:33
Akhirnya bapak Tri Budi Marhaen Darmawan mengungkapkan bahwa dengan penelusuran secara spiritual dapatlah disimpulkan : “Jadi yang dikatakan “Putra Betara Indra” oleh Joyoboyo, “Budak Angon” oleh Prabu Siliwangi, dan “Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu” oleh Ronggowarsito itu, tidak lain dan tidak bukan adalah Sabdo Palon, yang sejatinya adalah Dang Hyang Nirartha/ Mpu Dwijendra/ Pedanda Sakti Wawu Rawuh/ Tuan Semeru. Pertanyaannya sekarang adalah: Ada dimanakah beliau saat ini kalau dari tanda-tanda yang telah terjadi dikatakan bahwa Sabdo Palon telah datang ? Tentu saja sangat tidak etis untuk menjawab persoalan ini. Sangat sensitif… Ini adalah wilayah para kasepuhan suci, waskitho, ma’rifat dan mukasyafah saja yang dapat menjumpai dan membuktikan kebenarannya. Dimensi spiritual sangatlah pelik dan rumit. Tidak perlu banyak perdebatan, karena Sabdo Palon yang telah menitis kepada “seseorang” itu yang jelas memiliki karakter 7 (tujuh) satrio seperti yang telah diungkapkan oleh R.Ng. Ronggowarsito, dan juga memiliki karakter Putra Betara Indra seperti yang diungkapkan oleh Joyoboyo. Secara fisik “seseorang” itu ditandai dengan memegang sepasang pusaka Pengayom Nusantara hasil karya beliau Dang Hyang Nirartha.”
“Kesimpulan akhirnya adalah : Putra Betara Indra = Budak Angon = Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu seperti yang telah dikatakan oleh para leluhur Nusantara di atas adalah sosok yang diharap-harapkan rakyat nusantara selama ini, yaitu beliau yang dinamakan “SATRIO PININGIT”. Jadi, Satrio Piningit (SP) = adalah seorang Satrio Pinandhito (SP) = yaitulah Sabdo Palon (SP) = sebagai Sang Pamomong (SP) = dikenal juga dengan nama Semar Ponokawan (SP) = pemegang pusaka Sabdo Palon (SP) = berada di “SP” (?) = tepatnya di daerah “SP” (?) = dimana terdapat “SP” (?) = dengan nama “SP” dan “SP” (?) . Satrio Piningit tidak akan sekedar mengaku-aku bahwa dirinya adalah seorang Satrio Piningit. Namun beliau akan “membuktikan” banyak hal yang sangat fenomenal untuk kemaslahatan rakyat negeri ini. Kapan waktunya ? Hanya Allah SWT yang tahu. Subhanallah… Masya Allah la quwata illa billah…”
http://nurahmad.wordpress.com/38/
Budak Angon
Januari 4th, 2011 pada 14:43
karena keris adalah juga wujud rasional kejawen, maka sy coba mencuplik dari
http://yudhysulistio-mbahsuryo.blogspot.com/2009/10/daya-linuwih-pusaka-leluhur.html
sekaligus memperkenalkan peninggalan budaya jawa yg adiluhung :
cerita di bawah ini bukan versi Budak Angon.
—————–
Pusaka Pengayom / Pelindung Nuswantara Pada Zaman Majapahit.
Pusaka pengayom / pelindung Nuswantara pada zaman Majapahit :
1. Pusaka Oumyang Majapahit.
2. Pusaka Sabdo Palon (SP).
Pasangan / Gandengan pusaka Oumyang Majapahit adalah pusaka Sabdo Palon (SP). Pusaka Oumyang Majapahit tanpa pusaka Sabdo Palon (SP) akan pincang.
Pusaka Oumyang Majapahit.
Oumyang = Yang Maha Tinggi.
= Yang Maha Kuasa : Kuasa atas segala kekuasaan dan kuasa atas segala kekayaan. Enersi yang maha tinggi bersifat keTuhanan.
Menurut Buku Keris, Pamor Oumyang Majapahit adalah pamor Pakar (orang yang ahli / keahlian), diistilahkan : Sepiro musuhe kekes kabeh (Sebanyak / sesakti apapun musuhnya kalah / habis semua).
Daya pusaka Oumyang Majapahit (dari pamor Pakar) :
1. Kuat angkat junjung drjad. Kuat junjung drjad :
- Kuat junjung orang dari kegelapan.
- Kuat junjung derajad orang.
- Kuat menyembuhkan keadaan yang sakit (perlu pusaka skope jagad). Kuat angkat junjung berarti kuat angkat orang /bangsa dari kegelapan. Sebelum dijunjung, orang / bangsa harus diangkat dari kegelapan.
Caranya dengan : Angleledo, Bejane sing dipunduti candrane kahening siro sedoyo. –> Ciri Satrio Piningit.
Angleledo = menyamarkan / menggoda.
Dipunduti = sepertinya diminta untuk memenuhi suatu persyaratan agar hidupnya terangkat.
Semua kegelapan manusia bersumber dari Amarah (tetapi Amarah ini banyak kawannya), jika kita bisa mengendalikan Amarah maka akan bisa mengawali dan bisa mengakhiri sehingga bisa menggarisbawahi cukup sampai disini (seperti
Aku – kembali kepada Tuhan).
2. Sepiro musuhe kekes kabeh (Sebanyak/sesakti apapun musuhnya kalah/habis semua). Sesakti apapun musuhnya jika dihidupkan Akunya tidak akan berdaya.
3. Ojo pisan-pisan siro kumawani,sing wani yen ora loro yo edan (Jangan sekali-kali terlalu berani (anggap remeh), jika berani akan sakit atau gila.
Isinya : Wanita (wadah suci)
Lambang Isi Oumyang Majapahit :
Semuanya ada disitu (Yang Maha Kuasa : Kuasa atas segala kekuasaan dan kuasa atas segala kekayaan).
Karena semuanya ada disitu maka Tuhan-Tuhan Kecil akan pergi, roh-roh halus sesakti apapun tidak berani (seperti Lengkung Kusumo).
Tuhan kecil –> membuat nafsu menjadi dayanya –> daya mistik.
Surat yang ditunjuk :
1. Surat Adz Dzaariyaat (Angin yang mencerai-beraikan). –> Alif.
2. Surat Al Ghaasyiyah (Hari selubung malapetaka). –> Lam.
3. Surat An Fushshilat (Yang dijelaskan). –> Mim.
Ujian dari pusaka Oumyang Majapahit adalah membawakan sifat cinta kasih (sifat pemurah, pengasih dan penyayang).
Pengaruh Oumyang Majapahit :
- Dilayani / diladeni orang-orang.
- Jika orang sedang bertapa didatangi pusaka ini maka dia harus menghentikan tapanya (harus selesai).
Daya pada orang yang menyatu dengan Oumyang Majapahit :
1. Tidak ada yang tersembunyi.
2. Kata dari sana diucapkan maka akan seperti sajadah terbentang (diberi selubung yang hanya orang itu yang bisa melepaskannya) jika orangnya sudah keterlaluan. Oumyang Majapahit warangkanya harus diberi selongsong emas (lambang kemuliaan).
Pusaka Oumyang Majapahit sifat dayanya adalah kuasa ilmu dan orang diajak untuk marifat. Oumyang Majapahit adalah sumber elmu.
Sifat dayanya adalah kuasa ilmu dan mengajak orang untuk marifat. Dan siapa yang berani menghunus pusaka ini maka harus berani untuk diajak marifatullah dengan ilmu-ilmu gaib.
Bila seseorang yang masih menggunakan nafsunya maka dia tidak akan kuat atau tidak tahan jika dia datang ke Tebet karena mau tidak mau dia akan terolah dengan Pusaka Oumyang Majapahit.
Selama orang masih menganut ilmu yang sifatnya kesaktian atau yang sifatnya mistik maka bila orang itu ke Tebet akan berakibat ilmu tersebut akan Badar (hapus).
Bagi yang datang ke Tebet sadar atau tidak sadar akan ditempelkan Condronya Beliau melalui Pusaka Oumyang Majapahitnya, oleh karena itu jika kita dipernahake (dinasehati) oleh Bapak maka kita harus menurut dan mengerjakan apa yang diminta.
Didalam pengolahan terhadap Pusaka Oumyang Majapahit maka akan terdapat istilah : Yen Lakumu Lan Sowanmu Ketompo, Sak Penjaluke Ing Roso Katekan, maksudnya adalah asalkan laku / amalanmu dan
kedatanganmu diterima maka bila melaksanakan suatu permohonan dengan
membatin di dalam hati, maka permohonannya akan sampai.
Rahasia dari Pusaka Oumyang Majapahit adalah dapat menghidupkan /
mengudarakan pusaka-pusaka yang lainnya.
Pusaka Oumyang Majapahit mengolah manusia untuk ditingkatkan
spiritualnya tingkat demi tingkat dilewatkan Jembatan Shiraathal
Mustaqiim sampai Alam Lahut yang menghasilkan daya Sastro Jendro Hayu
Ningrat Pangruwating Diyu artinya manusianya bisa mempunyai daya
Ngudari Benang Ruwet (menguraikan masalah).
Oumyang Majapahit itu pengolahannya pada Aku (Gaib Tuhan sendiri)
yaitu Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan, Yang Awal dan Yang Akhir
(Dalam Al Kitab : Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang
Akhir, Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan dan Aku akan datang
sebagai Manusia untuk menghakimi).
Juga mengolah manusia untuk dapat mempunyai daya Kun Fa Yakuun.
Karena pengolahannya pada Aku maka jika Oumyang Majapahit dihunus
akan berdaya untuk menghidupkan dan mematikan sesuatu, mengawali dan
mengakhiri sesuatu sehingga tidak boleh dihunus secara sembarangan
(diistilahkan : Kudu Ono Gawe / Kudu Entuk Gawe = Harus ada yang
dikerjakan).
Jadi bila terpaksa dihunus harus ditentukan tujuannya :
- Yen arep nguripke, nguripke opo / sopo.
- Yen arep mateni, mateni opo / sopo.
- Yen arep ngawali, ngawali opo.
- Yen arep ngakhiri, ngakhiri opo.
(Jika ingin menghidupkan, menghidupkan apa / siapa)
(Jika ingin mematikan, mematikan apa / siapa)
(Jika ingin mengawali, mengawali apa)
(Jika ingin mengakhiri, mengakhiri apa)
Daya Oumyang Majapahit adalah daya Surat Adz Dzaariyaat : Kuasa
Mukjizat.
Pengolahan Oumyang Majapahit untuk mendapatkan Enersi Yang Maha
Tinggi sehingga bisa melepaskan manusia dari lepetan-lepetan / dosa
dalam waktu singkat.
Pusaka Oumyang Majapahit mengolah Enersi Yang Maha Tinggi pada diri
manusia sehingga:
- Bisa mengetahui daya-daya yang akan turun dari langit.
- Mempunyai firasat yang tinggi.
- Manusia yang memegang pusaka tersebut dapat terkabul
permohonannya (Sak Penjaluke Ing Roso Katekan).
Pusaka Oumyang Majapahit mengolah pada :
1. Mematikan nafsu darah (Wahyu Sastro Jendro Hayu Ningrat
Pangruwating Diyu).
Gunanya untuk mengangkat / melepaskan dosa-dosa kita / orang
lain akibat perbuatan hidupnya / dosanya sendiri.
Untuk memberikan terang kepada orang yang terkena elmu tidak
bisa dengan daya ini.
2. Mendayagunakan Atom dari Energi Yang Maha Gaib.
Dayanya mengangkat / melepaskan / memberikan terang kepada
kita/orang lain dari elmunya sendiri maupun diserang orang lain.
Bila sudah berhasil mendayagunakan Atom dari Energi Yang Maha
Gaib maka dapat disebut Marifat dari Marifatullah.
Oumyang Majapahit mengolah seseorang untuk menjadi marifat,
mengolah cakra 13 dan orang diajak supaya bisa mencapai nol /
kosong baik itu materi, fisik maupun rohani lalu dilewatkan
Jembatan Shiraathal Mustaqiim.
Bila lulus diolah pusaka ini maka mengenai rezeki dan lainnya
akan bagaikan air mengalir di sungai Kautsar asal hidupnya
harus lurus bagaikan relnya Al Qur’an. Oumyang Majapahit adalah
kuasa ilmu-ilmu gaib, bisa mengudarakan pusaka-pusaka lain.
Riwayat dari pusaka Oumyang Majapahit :
Dibuat oleh seorang Empu yang mana setelah pusaka itu jadi, Empu tersebut takut bilamana pusaka ini jatuh atau ketempatan pada orang yang salah. Lalu oleh Empu tersebut pusaka ini dibuang ke laut dengan harapan suatu saat akan ada orang yang benar-benar cocok dan sanggup akan ketempatan pusaka ini.
Pada suatu ketika ada seseorang nelayan melihat seorang putri berteriak minta tolong di laut, lantas oleh nelayan tersebut putri itu ditolongnya. Namun begitu dipegang oleh nelayan, putri tersebut berubah menjadi sebuah keris.
Pusaka ini konon oleh Paku Buwono X dicari–cari dengan mengadakan sayembara karena Beliau mengetahui mengenai kedahsyatan dan kehebatan dari pusaka ini. Dalam sayembara itu dikatakan bahwa tidak hanya pusaka tersebut yang akan dirawat oleh Beliau tetapi juga orang yang menemukannya / menyimpannya akan diboyong ke keraton untuk dijadikan abdi dalem keraton karena Beliau sendiri merasa tidak kuat untuk ketempatan pusaka tersebut akibat gawatnya daya dari pusaka tersebut.
Tetapi nelayan yang mendapatkannya tidak datang bahkan dicari ke desanya tidak ketemu, menghilang bersama pusaka tersebut.
Pusaka ini didapatkan oleh Bapak Parwoto ketika bersama-sama tentara Indonesia di jaman Jepang memasuki kantor tentara Jepang yang sudah ditinggalkan. Saat itu sebagaimana lazimnya masa peperangan semua besi-besi yang ada dirampas oleh tentara pendudukan dan dikumpulkan untuk keperluan perang dalam hal ini termasuk juga pusaka-pusaka. Di dalam kantor tentara Jepang itu ada banyak pusaka hasil rampasan tentara Jepang (salah satunya adalah Oumyang Majapahit) yang kemudian dibagi-bagi di antara tentara Indonesia. Bapak Parwoto mendapatkan pusaka Oumyang Majapahit tanpa mengetahui pusaka apa itu sebenarnya (tidak memilih secara sengaja). Pusaka Oumyang Majapahit ini baru dikenali ketika akan diberi warangka, dibawa ke toko pembuat warangka dan dikenali oleh pemilik toko tersebut.
Pusaka Sabdo Palon (SP).
Sabdo = Sabda, ucapan.
Palon = Panutaning Ngaurip = Tuntunan Hidup.
Sabdo Palon = Sabdo Panutaning Ngaurip.
Noyo = Wajah.
Genggong = Langgeng.
Noyo Genggong = Langgeng Sifate.
Sabdo Palon Noyo Genggong = Sabdo Panutaning Ngaurip Langgeng Sifate.
= Tuntunan Hidup Yang Bersifat Langgeng.
Yang dimaksud dengan Sabdo Palon Noyo Genggong adalah Ajaran-Ajaran
Yang Tersirat Dalam Kitab Suci (Al Qur’an, Al Kitab dll).
Dahulu Ajaran ini dikumpulkan berupa sebuah buku yang ditulis oleh
Beliau Wali X.Yang datang bersamaan dengan datangnya pusaka SP : Anak-
Anak Kecil Bersayap.
Menurut buku keris, pamor pusaka SP adalah Pamor Ikar yang dayanya :
1. Wong Siji Biso Katon Sepuluh (Orang 1 bisa terlihat ada 10).
2. Biso Neka-ake Angin Prahoro (Bisa mendatangkan angin prahara).
3. Biso Anjagani Negoro (Bisa menjaga negara).
4. Sosok Kendit Mimang : Wong Sing Nduwe Karep Olo Bakal Bingung
(Bagaikan Kendit Mimang / Akar Mimang) : Orang yang berniat jahat
akan bingung sendi-ri).
Pusaka SP mengolah pada Cahaya Cinta Kasih, syaratnya orang harus mati nafsu da-gingnya (Kristus menebus dosa manusia dengan darahnya).
Lambang Isinya : Dia datang tanpa diduga, dia pergi tanpa diketahui (Aku datang bagaikan pencuri dalam kelengahanmu).
Surat yang ditunjuk :
1. Surat Al Qiyamah (Kebangkitan). –> Alif.
2. Surat Al Furqan (Pembeda). –> Lam.
3. Surat Al Fajr (Terbit Fajar). –> Mim.
Menurut buku keris, bila SP dihunus : Bakal Nekano Angin Prohoro,
Wong-wong Sing Nang Duwur Sing Ora Bener Bakal Tibo (Akan
mendatangkan Angin Prahara (Adz Dzaariyaat), orang-orang yang di atas
(para pemimpin) yang tidak benar akan berjatuhan).
Daya pusaka ini :
1. Bisa memisahkan yang bathil dan yang benar.
2. Bisa melepaskan orang dan yang bersifat bathil dari kegelapan
supaya menda-pat terang.
3. Wus Biso Wulang Wuruk (Bisa mengajar / memberi keterangan
tentang hal-hal yang Wingit (tentang gaib)).
Pemegang pusaka SP mempunyai daya :
- Bagaikan Kendit Mimang (Akar Mimang) : Orang yang berniat jahat
akan bingung sendiri (terkena daya Surat Al Furqon).
Akar Mimang adalah akar yang melingkar-lingkar, bisa untuk
menangkal daya negatif.
- Daya Salib Penyembuhan (Karunia Rohul Kudus Kuasa Menyembuhkan).
Pusaka ini mendatangkan cobaan dan ujian hidup yang berat (Aku akan
datang sebagai manusia. Jika Tuhan hidup mendekat kepada anda, maka
bukan kebahagiaan dan kemuliaan yang datang tetapi justru cobaan dan
ujian yang berat ).
Walaupun cobaan dan ujian dari pusaka SP berat tetapi pusaka ini
mendatangkan Keadilan dan untuk menyelesaikan suatu persoalan
(menggaris bawahi sampai disini saja).
Pusaka ini tidak mau diberi emas, cukup Kayu Tumongo / Timoho (Aku
tidak butuh emas, kalau sampai pusaka ini minta diberi selongsong
emas maka habislah orang-orang kaya yang mendapatkan kekayaannya
dengan tidak sah).
Kalau pusaka ini dipaksa masuk ke selongsong emas maka pusaka ini
akan keluar / naik dari warangkanya.
Umumnya Kayu Cendana, paling bagus di Kayu Gaharu tetapi berbahaya
untuk orang lain, cukup pegangan dan pendoknya saja, dayanya bagus.
Riwayat dari pusaka Sabdo Palon :
Tahun 1960 ada orang tua datang ke Pak Atmo menitipkan pusaka ini
dengan pesan bahwa isi dari pusaka ini ada di Jakarta / di Pak
Parwoto (Isinya datang) dan orangnya akan datang mengambil, lalu
orang tua itu pergi, dicari tidak ketemu (seperti menghilang).
Pusaka ini mendatangkan cobaan dan ujian hidup yang berat.
Tahun1967 ada cobaan dipundutnya putri kesayangan Beliau.
Tahun 1968 ada cobaan berat harta benda.
Tahun 1969 pusaka diambil oleh Pak Parwoto (Wadahnya dijemput).
Yang datang bersamaan dengan datangnya pusaka SP : Anak-Anak Kecil
Bersayap.
Tahun 1970 pada Malam Natal turun Cahaya Allah yang gambarannya
berupa Bunda Maria dan Yesus.
Pengertiannya adalah Bunda Maria = Wadah Suci & Yesus = Roh Kudus =
Roh Suci, berarti yang diterima Pak Parwoto hakekatnya adalah :
Sucikan wadah (badan) karena Roh Kudus akan masuk (akan memakai
wadah), dengan kata lain akan diolah untuk menerima Karunia Roh Kudus.
Berarti harus memelihara badan supaya selalu dalam kondisi siap
dipakai Tuhan sebagai wadah dengan cara :
- Merendahkan hati.
- Memelihara diri dari nafsu darah.
Tahun 2000 pusaka ini dengan pusaka Oumyang Majapahit keduanya
bersatu aktif dalam kenegaraan (bergerak minta diudarakan).
7.6 Perbedaan Antara Pusaka Oumyang Majapahit Dengan Pusaka Sabdo
Palon :
Pusaka Oumyang Majapahit :
1. Pamornya :
Pamor Pakar (orang yang ahli).
Diistilahkan : Sepiro musuhe kekes kabeh (Sebanyak / Sesakti
apapun musuh-nya habis semua).
2. Isinya :
Wanita (wadah suci).
3. Lambang Isinya :
Semuanya ada disitu (Yang Maha Kuasa : Kuasa atas segala
kekuasaan dan kuasa atas segala kekayaan).
4. Surat yang ditunjuk :
1. Surat Adz Dzaariyaat (Angin yang mencerai-beraikan).
2. Surat Al Ghaasyiyah (Hari selubung malapetaka).
3. Surat An Fushshilat (Yang dijelaskan).
5. Ujiannya :
Membawakan sifat cinta kasih (sifat pemurah, pengasih dan
penyayang).
6. Pengaruhnya :
- Dilayani / diladeni orang-orang.
- Jika orang sedang bertapa didatangi pusaka ini maka dia harus
menghentikan tapanya (harus selesai).
7. Pengolahannya :
- Mengolah manusia untuk ditingkatkan spiritualnya tingkat demi
tingkat dilewatkan Jembatan Shiraathal Mustaqiim sampai Alam
Lahut untuk mendapatkan Enersi Yang Maha Tinggi (Atom Yang
Maha Gaib –> Aku), sehingga punya daya Ngudari Benang Ruwet
(menyelesaikan masalah).
- Juga mengolah manusia untuk dapat mempunyai daya Kun Fa
Yakuun.
8. Dayanya :
Pemegang pusaka ini mempunyai daya :
1. Tidak ada yang tersembunyi.
2. Kata dari sana diucapkan maka akan seperti sajadah
terbentang (diberi selubung yang hanya orang itu yang bisa
melepaskannya) jika orangnya sudah keterlaluan.
9. Jika dihunus :
1. Kudu Ono Gawe / Kudu Entuk Gawe (Harus ada yang dikerjakan).
2. Siapa yang berani menghunus pusaka ini maka harus berani
untuk diajak ma’rifatullah dengan ilmu-ilmu gaib.
10. Warangkanya :
Pusaka ini warangkanya harus diberi selongsong emas (lambang
kemuliaan).
Pusaka Sabdo Palon (SP) :
1. Pamornya :
Pamor Ikar (orang 1 bisa terlihat ada 10).
2. Isinya :
Anak-anak kecil bersayap.
3. Lambang Isinya :
Dia datang tanpa diduga, dia pergi tanpa diketahui (Aku datang bagaikan pencuri dalam kelengahanmu).
4. Surat yang ditunjuk :
1. Surat Al Qiyamah (Kebangkitan).
2. Surat Al Furqan (Pembeda).
3. Surat Al Fajr (Terbit Fajar).
5. Ujiannya :
Mendatangkan cobaan dan ujian hidup yang berat (Aku akan datang sebagai manusia. Jika Tuhan hidup mendekat kepada anda, maka bukan kebahagiaan dan kemuliaan yang datang tetapi justru cobaan dan ujian yang berat).
6. Pengaruhnya :
Mendatangkan keadilan, untuk menyelesaikan suatu persoalan /menggarisbawahi sampai disini (Kristus menebus dosa manusia dengan darah-nya : harus mati nafsu dagingnya).
7. Pengolahannya :
Mengolah pada Cahaya Cinta Kasih.
Juga mengolah manusia untuk dapat mempunyai daya Menghayu Hayuning Bawono.
8. Dayanya :
Pemegang pusaka ini mempunyai daya :
1. Bagaikan Kendit Mimang (Akar Mimang) : Orang yang berniat jahat akan bingung sendiri (terkena daya Surat Al Furqon).
Akar Mimang adalah akar yang melingkar-lingkar, bisa untuk menangkal daya negatif.
2. Daya Salib Penyembuhan (Karunia Rohul Kudus Kuasa Menyembuhkan).
9. Jika dihunus :
Pusaka ini akan mendatangkan Angin Prahara (Adz Dzaariyaat).
10. Warangkanya :
Pusaka ini tidak mau diberi emas, cukup Kayu Tumongo / Timoho (Aku tidak butuh emas, kalau sampai pusaka ini minta diberi selongsong emas maka habislah orang-orang kaya yang mendapatkan kekayaannya dengan tidak sah).
Kalau pusaka ini dipaksa masuk ke selongsong emas maka pusaka ini akan keluar / naik dari warangkanya.
Umumnya Kayu Cendana, paling bagus di Kayu Gaharu tetapi berbahaya untuk orang lain, cukup pegangan dan pendoknya saja, dayanya bagus.
sangpurbajati
Januari 4th, 2011 pada 14:44
AKU HARUS BAGAIMANA ?
Judul diatas aku tulis, agar saudara saaudara ku bisa mengerti & dan memahami posisiku
Aku titah wantah manusia biasa yang tadinya berawal dari rasa penasaranku untuk memahami hakekat Tuhan / Allah yang aku anggap sebagai dalang dari segala dalang kehidupan ? karena rasa penasaranku, akhirnya aku nekat untuk pencarian dengan syariat diluar kebiasaanku yang telah aku kenal dan rutin aku kerjakan, aku juga tidak percaya dengan berbagai aliran thoriqoh yang ada dan aku mencari diluar jalur tatanan Islam agama yang kuanut.
Urusan Duniawi tidak begitu aku pentingkan, pekerjaan formal dan urusan dagang serta tawaran sahabatku untuk jadi komisaris perusahaan aku abaikan. Aku memutuskan untuk jadi orang pertapan, Sungguh sesuatu diluar dugaan yang sama sekali tidak pernah aku pikirkan. Aku diberi kesempatan untuk memahami segala sesuatunya tentang hakekat semua kehidupan, bahkan awal dari kehidupan tatkala jagad belum digelar alias wang wang wung wung yang ada hanya Yang Maha Suci, kemudian jagad digelar atau dujudkan jagad raya, kemudian diciptakan Roh Yang Berkuasa atas jagad raya yang merupakan bagian dari hakekat Yang Maha Suci itu sendiri. Yang oleh manusia disebut Tuhan Semesta Alam / Yang Jagad Pramudita / Robbil Alamin, yang selanjut atas restu Yang Maha Suci, Tuhan Seru Sekalian Alam ( dengan hakekat yang ada pada dirinya ) telah menciptakan berbagai makhluk hidup dan kehidupan sebagai penghuni diberbagai penjuru ruang dan dimensi alam semesta. Aku juga deberi pemahaman tentang Tatanan Wewengkon jagad / Yang berkuasa atas segala sesuatunya terhadap berbagai makhuk hidup diberbagai dimensi kehidupannya.
Aku juga telah diberi kesempatan untuk memahami dan berdialektika dengan berbagai Roh Suci Tatanan Kadewatan, juga Gesangnya Roh Suci para Asma langgeng seluruh dunia, serta diberi kesempatan merasakan kehidupan di demensi lain yang beraneka ragam. Gara gara diberi kesempatan dan diberi pemahan tersebut, kini aku harus memanggul beban dan beban itu merupakan konsekuensi logis yang harus aku pertanggung jawabkan, aku tidak boleh tinggal, gelanggang, colong mlayu.
Kini aku harus berpaling di dunia empirik yang hiruk pikuk dan carut marut, jujur saja kalau boleh memilih aku lebih suka dalam kedirianku yakni memelih keheningan diantara kebisingan & kesederhanaan. akan tetapi aku tidak diperkenankan, aku diharuskan menyelesaikan darmaku titah uripke yang sekarang, Kini melalui batinku seluruh Roh Suci Leluhurku berharap aku harus segera berbuat untuk melakukan upaya upaya demi terwujudnya kedamaian dan ketentraman Negeri ini. Bahkan aku pernah dihardik, Nunggu opo maneh? opo ngenteni selak manungsone entek, terus meh ngelengke sopo!. Hal inilah mau tidak mau aku harus melangkah, dan harus aku mulai dari mana dan bagaimana ?. Sungguh titah pribadiku sudah tidak tertarik dengan publikasi serta jabatan maupun kemewahan dunia ini, aku hanya berharap dengan apa yang akan aku perbuat akan muncul kesatria kestria sejati dan akan aku serahkan apa yang menjadi haknya untuk memimpin Negara ini berdasarkan Pancasila Sejati.
Jujur saja aku tidak ingin berpolemik, apa lagi berdebat itu semua tidak berguna bagiku, aku hanya ingin tahu daya serap saudara saudaraku dengan tulisanku di blog ini, sering aku tersenyum melihat cara berfikir saudara saudaraku di blog ini, ada yang mengira bisa memancing mengajukan pertanyaan yang yang dianggapnya belum dalam, padahal aku tahu bagai mana bisa membuat pertanyaan yang dalam kalau berangkat dari hasil pemahaman dan pikiran yang sangat dangkal. Aku sengaja memasuki blok ini untuk sengaja melontarkan tulisan untuk memperoleh umpan balik, untuk mengambil kebijakan bahasa yang akan aku pergunakan dalam penulisan buku, aku berusaha tidak memakai bahasa psy war / provokasi / perang psychologi hanya sedikit agitasi barang kali. Untuk sementara Buku aku anggap sebagai sarana perjuangan yang lebih efektif untuk mengingatkan pada saudara saudaraku, khususnya Para pelaku Kenegaraan/Pemerintahan. Dengan sejujurnya aku katakan dalam proses menulis buku “ BATIN LUHUR NENEK MOYANG BANGSA INDONESIA MENGGUGAT “ seringkali terhenti, karena banyak cucuran airmata dari diriku yang hakekatnya adalah cucuran air mata dari para Leluhur Bangsa Indonesia yang telah menyatu dalam batinku.
Aku sangat memahami saudara saudaraku khususnya pelaku ajaran Jawa, yang telah berharap segera terealisasi janji leluhur. Dengan sejujurnya aku telah memahami semuanya itu, dan pasti akan terbukti. Aku katakan dengan sejujurnya pula, dalam kesadaran batiniah seolah olah diriku bisa merasakan semua yang terjadi pada masa lalu dan seolah olah itu adalah diriku sendiri, Dalam kesadaran Hidup dan ragawi aku bertanya dengan diriku sendiri lalu sekarang harus bagaimana ?. Aku memahami saudara saudara ku merindukan munculnya sosok pemimpin negeri yang telah dimitoskan yang kamu sebut sebagai “Sang Ratu Adil “ & “Satrio Piningit” dan telah pada tumpangsuh dalam memahami makna kata itu. Kini sedikit aku beri pemahaman terhadap mitos itu.
Ratu Adil = Titah wantah manusia yang telah memahami hakekat nilai nilai Keutamaan Jagad secara tuntas dan mendasar, kemudian memiliki daya cipta yang berpijak pada RAsa sejati untuk menaTa Urip/ kehidupan dengan perpegang teguh pada rasa Keadilan Jagad. Visinya adalah mewujudkan Tatanan Kehidupan yang Berkeadilan dalam rangka bernegara dan berbangsa, sehingga tercipta ketertibaan, kedamaian dan kesejahteraan yang benar benar bisa dinikmati dan dirasakan bagi seluruh bangsa Indonesia tanpa terkecuali.
Satrio Piningit = Sejatinya Kesatria yang nyolowedi/low profil yang diam diam telah mempersiapkan diri untuk menguasai dan memahami sejatinya Ilmu politik, Ketatanageraan & Kepemerintahan dan ber Jiwa Luhur, tidak ambisius. Dia akan tampil sebagai Pemimpin Negara RI, karenan desakan dari berbagai kalangan, sehingga terjadi konsensus Nasional yang dikarenakan situasi dan kondisi Negara yang porak poranda akibat musibah / bencana alam yang dasyat dan bertubi tubi yang akan terjadi, tidak ada yang berani tampil sebagai pemimpin nasioal karena sadar dan tahu diri. Sesungguhnya Satrio Piningit tersebut diembani oleh Sang Hyang Ismayajati (Bodronoyo) dan Direstui oleh Sang Hyang Betara Guru, Sang Hyang Wisnu menyatu dalam batin SP
Untuk Yang terakhir yang ingin kusampaikan lewat blog ini. Kepada saudara saudaraku :
Sungguh Sengkolo kolobendune Jagad sak isene benar benar terjadi dan akan semakin dasyat, dan tidak pandang bulu, pelaku kejawen juga harus hati hati, jangan dulu ngudi jopo montro untuk memperoleh ilmu joyo kawijayan atau sejenisnya, hendaknya sematata mata untuk nggayuh kamulyaning jati ( Jiwa Luhur) MRIH RAHAYUNING BAWONO. Wis aku pamit.
Kadangku kabeh, wiwit dino iki titah Ulun ora tak keparengake maneh nulis ono papan iki, awet kudu ngayahi tugas, Ulun pesen marang siro kabeh sopo wae sing nindaake sabdo tinggal sing wis diwedarake, oleh karahayon nir sambikolo soko sengkolo kolobendine jagad sak isene. Wis Cukup sakmene Ulun bali ono ing papan palenggahan ulun.
Rahayu, rahayu, rahayu kanti raharjo.
suprayitno
Januari 4th, 2011 pada 17:27
@sangpurbajati :
………Wis Cukup sakmene Ulun bali ono ing papan palenggahan ulun……….
___________________
nggih mbah ndereaken, kulo nyuwun pangapunten nggih mbah bilih seratan-seratan kulo katah ingkang mboten mranani ing penggalih panjenengan.
kulo niki taksih anem dados taksih katah kekuranganipun…. saya ini lebih banyak berpikir apa yang sesungguhnya terjadi bukan apa yang seharusnya terjadi.
Nah, saat ini saya meilhat terjadi kesenjangan yang luar biasa antara apa yang seharusnya dan apa yang sesungguhnya terjadi. Apa yang dikatakan tidak sesuai dengan apa yang terjadi di lapangan. Kisruh itu terjadi dimana-mana dan sepertinya sudah direncanakan (by design).
Bagaimana Indonesia ke depan setelah kita awali 2011 ini? saya berharap akan lebih baik walaupun mungkin juga akan lebih buruk…….
dadang
Januari 4th, 2011 pada 14:56
mumet aku mbacanya……
suprayitno
Januari 5th, 2011 pada 00:09
Ya begitulah mas dadang, mumet itu karena “ga nyandak” atau karena tulisannya yang “kacau”.
jika anak SD disodori rumus kekelan energi Einstein ya pasti mumetlah, ini namnya belum nyandak… tetapi yang susah kalau membaca suatu tulisan yang kacau, pasti juga mumet.
Nah, anda mumet karena sebab yang mana?
Agung
Januari 5th, 2011 pada 00:36
@ Mas Prayit Yth,
Kalau saya mumet karena mmg ga nyandak (level-nya masih SD) – apalagi kalau ngikuti komentar-nya “mbah” yg paling rajin berkomentar… malah bikin tambah mumet..
Pun kula tak tilem kemawon, tinimbang mumet….
sikapsamin
Januari 5th, 2011 pada 06:33
@mas Dadang…mumet,
@mas Agung…mumet,
…karena levelnya masih SD..!?…
lumayan SD, saya malah jebolan UGD…
jadi saya malah mules mumet,
Tapi kemarin2 saya sdh teriak2 awas ada PUTINGBELIUNG…dan ini pasti ‘karya-cipta’…Begawan/Resi SANGKUNI(NG)
Agung
Januari 5th, 2011 pada 09:18
@ Ki Sikap Samin,
he.. he.. he.. amergi kesrempet putingbeliung menika dadosaken kula mumet.. tp mboten menapa kok, mbok menawi asring kenging putingbeliung saget ndadosaken kula SAKTIMANDRAGUNA… kados “mbah” ingkang paling asring paring komen ting papan menika….
Rahayu Mahardhika !
tembayat
Januari 4th, 2011 pada 15:21
@sangpurbajati
Aku juga telah diberi kesempatan untuk memahami dan berdialektika dengan berbagai Roh Suci Tatanan Kadewatan, juga Gesangnya Roh Suci para Asma langgeng seluruh dunia, serta diberi kesempatan merasakan kehidupan di demensi lain yang beraneka ragam
——————————————–
Menawi makaten panjanengan saget anggraoskaen ,getaran seratan kula niki ingkang asalipun saking ingkang anyebat Bopo kula saking indroloko????
Budak Angon
Januari 4th, 2011 pada 16:46
aku juga tidak percaya dengan berbagai aliran thoriqoh yang ada dan aku mencari diluar jalur tatanan Islam agama yang kuanut.
———————
thariqoh adalah jalan menuju ka allah, masih ada tahapan lagi yaitu mengenal hakekat kemudian berujung ma’rifatullah.
Sangpurbajati sudah merasa puas telah menemukan persepsi ttg robbil alamin (tuhan semesta alam) setelah menempuh jalan thariqoh di luar islam.
Dia salah persepsi, dikira thariqoh itu hanya milik orang arab saja? yg kebetulan memakai bahasa arab. Setiap agama bahkan kejawen punya jalan (thariqoh) untuk menemukan/mengenal Tuhannya, pdhal dia sendiri ketika islam “mungkin” belum pernah di baiat oleh syeh-syeh atau guru tarikat sbg pembimbingnya alias islam KTP.
Kenapa jalan menuju tuhan perlu pembimbing? karena untuk menghidari salah jalan dlm perjalanan spritual, menembus latifah-latifah mencapai ma’rifatullah dgn istilah mati sak jroning urip sangatlah sulit banyak rintangan.
Selamat BA ucapkan kpd sangpurbajati mudah2an apa yg anda lihat dgn mata bhatin adalah benar2 yg haq yg disebut Tuhan Semesta Alam.
“cuman yg agak bingung ada kalimat roh yg berkuasa atas jagad raya “MERUPAKAN BAGIAN” dari hakekat Yang Maha Suci itu sendiri yg oleh manusia disebut Tuhan Semesta Alam. Kalimat … “Merupakan Bagian”…. itu yg ingin sy tanyakan? mohon maaf pingin tahu.
“kemudian diciptakan Roh Yang Berkuasa atas jagad raya yang merupakan bagian dari hakekat Yang Maha Suci itu sendiri. Yang oleh manusia disebut Tuhan Semesta Alam / Yang Jagad Pramudita / Robbil Alamin, yang selanjut atas restu Yang Maha Suci, Tuhan Seru Sekalian Alam ( dengan hakekat yang ada pada dirinya ) telah menciptakan berbagai makhluk hidup dan kehidupan sebagai penghuni diberbagai penjuru ruang dan dimensi alam semesta”
——————-
kalau pernyataan beliau jujur, alangkah bahagianya sangpurbajati telah mampu ma’frifat bagaikan bima dgn bima suci ….. dan berdialog. Yg paling bahaya adalah “jika bima sucinya yg nampak adalah palsu” krn iblis mampu membo-membo.
Oleh krn itu seorang murid membutuhkan guru (syekh) pembimbing agar tidak terjebak kpd pengakuan iblis. Untuk jaman sekarang mencari mursid/guru pembimbing yg mampu membawa diri kita mengenal sejatinya bima suci sudah sangat sulit didapat.
Dulu, org mengira jumlah matahari hanya satu. Dia sangka kt harus menuju ke matahari krn dia yg memberi penerangan. Padahal kalau ditelusuri, jangan2 matahari saja tdk mengenal sang pemberi sinar pada dirinya. Matahari menjadi panutan planet-planet yg lainnya dgn mengitarinya.
Tapi siapa sangka? penemuan baru, matahari ternyata jumlahnya bermilyar-milyar.
dan matahari yg bermilyar-milyar tsb (gugusan bima sakti) justru bertawaf mengitari titik hitam yg dilambangkan pada kegiatan ibadah rukun haji tawaf mengitari ka’bah.
dan ka’bah adalah peninggalan leluhur kita brahma/ibrahim.
Titik hitam tsb juga terdapat di diri kita letaknya di hati kita, dan titik hitam jagad raya berada di sidratul muntaha ….. nb saw pernah kesana, makanya beliau mampu menceritakan penciptaan alam jagad raya, yg digunakan oleh ronggo warsito yaitu wirid hidayat jati, dari mulai awang-uwung sampai dgn terciptanya planet-planet sampai terciptanya kehidupan pada 3 (tiga) titik keberadaan Aku didalam rahasia, yaitu di baitul makmur di kepala, di baitul muharam dan di baitul mukdis.
Baru taraf menyangka matahari sbg penemuannya sdh bangga, padahal salah. kesasar lah kelak matinya tidak tahu rumah-Nya.
Kadang2 keyakinan orang2 jaman dulu suka salah dalam menebak, misalnya dahulu gereja menyatakan bumi itu datar, kemudian ditemukan teori bumi itu bulan yg menemukan teori tsb dihukum, dan ternyata memang bulat.
Ajaran leluhur kita, untuk mengenal robbil alamin memang dgn mengolah/mengasah bhatin, kalau nb saw mengetahui alam jagad raya itu ya dibedah dadanya ….. kunci pembuka untuk bisa berbicara bahkan melihat alam seisinya ya dgn iqro bismirobik (baca jagad makrokosmos) tujukan ke dada kita, maka kita akan mampu membaca alam jagad, jagad raya itu ya al-qur’an, tentunya dgn hidayah-Nya.
Kenapa kejawen (hadist nb disebut di negeri timur) diprediksikan yg mampu membangkitkan lagi ajaran ibrahim & nb saw ktk islam tinggal kulit. Karena untuk mengenal diri ya dgn olah rasa sejati.
Kemungkinan bisa saja benar nb ibrahim di jawa abraham, bpknya nb saw yaitu abdullah dan mungkin nb nuh (kapal nb nuh setelah diteliti ternyata dibuat dari kayu jati dan kayu jati banyak didapat di Indonesia) adalah orang jawa.
walahualam bishawab
suprayitno
Januari 5th, 2011 pada 09:08
@mas agung
@mas dadang
@ki sikapsamin
semua rombongan mumet……….., lha aku malah ketularan mumet padahal tadinya gak mumet lho….wah jangan-jangan Ki Sabdalangit juga ikut-ikutan mumet ya? tapi wong beliau yang punya blog ya pasti lebih bijaklah, toh ibaratnya Ki Sabdalangit ini samudra jadi ya memang risikonya harus bisa menerima apa saja. Mudah-mudahan, beliau bisa menjadi “juru angon” yang baik, maklumlah yang diangon kan bukan cuma bebek-bebek, kambing-kambing, tetapi juga ada gajah, kucing, trewelu/kelinci yang lucu dan singa yang galak….he…..he…..he leres nggih KI?
masalahnya sama “mbahnya mas agung” itu lho, wah jan bikin mumet tenan………tapi juga asyiiik kok namanya demokrasi, jadi ya begitulah……setiap orang bebas berpendapat. Jika pendapatnya ternyata meneyebabbkan orang lain mumet, ya ditinggal tidur saja…..bagus itu mas agung.
kalau saya sih tak baca sekilas saja…..langsung bablas…..
Jujur, komentar-komentarku juga aku tidak tahu, apakah menyebabkan orang lain mumet atau tidak. Tapi mudah-mudahan gaklah, wong saya ini kan ibaratnya wayang cuma anake Ki Lurah Semar kebetulan saya suka dengan karakter Bagong,jadi sebisa mungkin komentar-komentar saya ya mengalir secara natural saja. Maka saya heran jika ada yang menilai saya sok ilmiah, saya ini bodo tetapi saya tidak buta melihat realitas. Ini mungkin bedanya, sebab banyak orang lain yang pintar tetapi tidak mau atau malas melihat realitas.
Ketika orang lain begitu sangat mendem doa, mendem agama, mendem ramalan, mendem jabatan, mendem kekuasaan, mendem harta, mendem kemewahan, atau mendem Gustialah. saya mencoba untuk tidak pernah mendem dengan menggunkan akal, pikiran dan keyakinan yang bening.
Misalnya, KEYAKINAN saya, alam ini sungguh sangat berlimpah ruah dan begitu cerdas dalam memberikan yang terbaik baik anak-anaknya. Yah….kita tahu anak-anak alam ini dari mulai yang tidak terlihat oleh mata sampai yang bisa terlihat oleh mata, semua dihidupi. Saya tidak tahu, bagaimana alam akhirnya tidak bisa mempertahankan anak-anaknya seperti dinosaurus dan satwa-satwa lainnya yang telah punah.
Ular mungkin tidak pernah berdoa agar dirinya dilengkapi dengan “BISA” sebagai alat untuk mempertahankan diri, ikan lele juga mungkin tidak pernah meminta agar dirinya dilengkapi dengan sepasang patil, cumi-cumi juga mungkin tidak pernah berdoa agar dirinya dilengkapi dengan cairan pekat hitam untuk menyelematkan diri ketika diserang oleh musuh. Tetapi tanpa diminta (tanpa mereka harus dermimil berdoa), alam telah memberinya sebagai alat untuk mempertahankan hidup (survival)
Semua itu adalah pekerjaan alam karena alam begitu sayangnya kepada setiap anak-anaknya, tanpa meminta alam sudah memberi yang terbaik. Manusia diberi yang terbaik oleh alam berupa AKAL dan PIKIRAN yang jauh lebih kompleks dari pada yang dimiliki oleh para hewan lainnya.
Sayangnya, justru dengan akal dan pikirannya yang jauh lebih hebat kadangkala manusia justeru lebih biadab dari pada binatang, manusia lebih sadis dari pada binatang…….
Alam memang maha bisu, sehingga sampai kapan pun DIA tidak akan pernah menceritakan kepada kita siapakah yang telah melahirkan atau menciptakan diri-NYA. Wahyu alam bukan dalam bentuk KATA-KATA melainkan dalam bentuk KENYATAAN (realitas). Alam itu tidak kakehan cangkem seperti manusia sebab alam tidak punya mulut untuk berkata-kata, alam hanya punya samudra yang maha luas, sungai yang mengalirkan air, gunung-gunung yang menjulang tinggi, bintang-bintang yang menghiasi malam, matahari yang memberi kesejukan dan kehangatan. Semua itu tidak mengeluarkan kata-kata………tetapi perbuatan…..maka pelajarilah hukum-hukum alam dengan baik, niscaya alam akan memberikan yang lebih berlimpah ruah lagi. Doanya sedikit saja yang penting PERBUATAN.
Ada dua golongan manusia, yang satu sibuk menduga-duga siapa yang mencipta alam, yang lain sibuk “mempelajari rumus alam/fisika”. Golongan yang sibuk menduga-duga siapa yang mencipta alam melahirkan agama dan metafisika, sementara golongan yang sibuk mempelajari rumus alam menghasilkan “ilmu/episthemologi dan ontologi”.
Walah……nanti jangan-jangan dibilang sok ilmiah lagi. yah….terserahlah, saya cuma berharap agar mas agung tidak mumet membaca komentar saya ini, he……he……he.
Dalbo
Januari 5th, 2011 pada 11:27
Nuwun sewu…
@ Sdr Suprayitno,…
iyo setuju intine “ojo kakehan cangkem,”’
Dalbo, with love
Wayang Gemes
Januari 5th, 2011 pada 22:33
Setujuuuuu…..!!!
Tuhan menciptakan 1 mulut dan 2 telinga yg artinya “sedikit bicara banyak mendengar”…
Terlalu banyak bicara seperti “Dol Obat” yang tidak bijaksana…. maunya bicara teruuuuus dan tidak mau mendengarkan ato menerima pendapat org lain, dumeh wis rumangsa levele duwuuurrrr…. buanget!
Ojo dumeh….
dadang
Januari 5th, 2011 pada 10:20
@ KAKANG SUPRAYITNO….
Heheheheh memang maseh SD aku, kang Prayit. yo njur MUMET= MIKIR URUSAN MANUNGSO SENG TUO. kalau saya kang sing simple aja, ngikuti pelajaran SD= Sejatine Dulur
1. Ojo rumongso biso….biso o rumongso
2. Ojo nuruti rahsaning karep, turutono kareping rahsa
3. Tansah eling lan waspodo
kalau bisa seperti itu, maka orang itu jiwa raga sukma nyawa -nya merdeka. Orang seperti itu bisa meringkas raganya, jiwanya, sukmanya, nyawanya untuk menjemput ajalnya, bukan dijemput ajalnya. Hanya segelintir manusia dibumi ini yang bisa menjemput ajalnya…..
simple to kang?
Dalbo
Januari 5th, 2011 pada 10:57
Nuwun sewu…
@ Sdr, Budak angon,
>>>BA mau belajar dari Dalbo, bagaimana caranya membedakan antara leluhur dan jin?
_______________________________________________________________________________
Jwb: Telah sy katakan sebelumnya, bhw sy tdk kenal apa itu Jin, jadi itu tdk ada dlm kamus kehidupan saya, tp sy pernah dengar, dari cerita2 katanya Jin2 itu juga maklhuk halus ciptaan Tuhan, dan ini ada di conseptnya ajaran Islam, itu juga katanya, tapi ada Jin2 yg pernah sya tahu sendiri al:
1.taJin=air putih, kental sprt susu saat orng ngliwet/ menenak nasi.
1.Ta Jinan = Nama sebuah desa di daerah saya.
3. Blu Jin (blue jeans) = jenis kain yg disukai anak2 muda
4. Jin dan Jun = Film Sinetron. Dll.
———————————————————————————————–
BA>>>>TS juga memandang sbg sebuah seni, indah bacaannya.
Dalbo juga karya seninya? sama kan”
Ingat Sdr. BA sy percaya bukan saya saja yg punya apresiasi thdp Seni, sdr2 kita di blog ini pun pasti ada, bahkan ada jutaan manusia di dunia ini yg punya rasa apresiasi thdp, seni, apakah anda masih katagorikan mereka dg gol TS? Dan perlu di ketahui rasa apresiasi thdp karya Seni adlah suatu prilaku yg luhur., Bukan hal yg keji.
>>> Bener kata mas Dalbo sy ini hanyalah buih2 yg mengaku2 bisa bertemu dgn kekasihnya, lah sy ini memang orang bodoh, makanya sy mau belajar dari Dalbo.
Kata sang purba jati, sy ini hanyalah bakdalnya dari salah satu aliran thoriqoh …… makanya sy mau belajar dari sang purba jati.
Sdr. BA saya bisa merasakan bw anda sakit hati atau tersinggung dg kata2 di atas. Hal ini sama dg apa yg saya rasakan ketika anda dg gampangnya menilai/menghakimi individu/ seseorang. Spriti di bwh ini:
“sdr Dalbo ini menurut BA mirip TS? kalau TS kembalikan ke al-qur’an & hadist. Tp Dalbo kembalikan apa yg dijarah umat islam yaitu kenikmatan ritual2 di luar diri, maksudnya kalau kejawen itu bkn spt itu tp olah rasa sejati. Yg mbuat BA kagum, TS ini memberikan jwbn dgn argumen rasional, lah kalau Dalbo ini gak ada argumen rasional kejawennya?”
@ Sdr Budak Angon, setiap kali sy buka blog ini sy juga dg sabar membaca argumen2 anda untuk menambah wawasan, dan sy percaya anda orang yg pinter dg banyaknya referensi2
bolang
Januari 5th, 2011 pada 11:00
hhehe…
ijin nyimak tu Ki Sabda
Rahayu..
Dalbo
Januari 5th, 2011 pada 11:02
(lanjut)
sejarah dan buku2, Qur’an, bahkan anda sudah mengaku telah, mengerti ttg hakekat urip sejati, tahu akan Garuda sejati, berbeda dg burung2 kecil seprti sy ini.
Sebagi seorang yg Pinter dan linuwih, seyogianya anda mau memaklumi, sdr2 yg lainya di blog ini juga ada yg krng pintar, dan biarkan saja mereka dg argumen2 dan keterbatasanya. Jadi tidak perlulah dg kepinteran anda terus menghakimi (judge mental) trhdp individu2 yg lain. Yg namanya Ilmu itu luas, dmikian juga dg hidup dan kehidupan itu sendiri,mungkin and sbg manusia, pinter dari suatu aspek tertentu, tapi jgn lupa masih ada jutaan aspek2 lain yg anda krg pinter, hal ini akan selalu begitu dlm kehidupan ini, kan anda sdh tahu ttg hakekat urip /hidup sejati?
Saya tidak semata2 menghakimi bahwa anda hanyalah sebuah Buih buih sj hal itu sy ungkapkan krn keragu2an sy thdp sikap2 anda sendiri yg sdh mengaku faham dg hakekat Urip sejati, dan bisa bertemu dg kekasih SP, tapi masih suka menghakimi (judge mental) sm orng yg msh SD spt Dalbo ini . ingat kan waktu sdr Sang Purbajati, melontarkan kata “musrik” anda langsung memfonis balik dg kata ini “ternyata selain Gol TS juga ada gol kejawen yg gemar menebar kt musrik”
BA.>>>mudah2an Dalbo ini bukan nama panjenengan/cuma ID? dan mudah2an panjenengan bukan Sabdalangit?
___________________________________________________________________________
Jwb: sebagai orang yg linuwih semestinya anda sudah bisa membedakan siapa Dalbo, dan siapa SABDALANGIT. Namanya saja Dalbo, ini hanya sebuah title yg biasa di berikan pada anak manusia golongn paling bawah, bukan nama tua, bukan nama2 orang2 akademis. Untuk itulah Dalbo sering nongkrong di blog untuk ngangsu kaweruh pd sdr, yg linuwih dan sekali kali belajar melemparkan argumen2 dg keterbatsan2 nya. Jadi menurut sy sngt krng evektive kalau anda mau belajar dr Dalbo. sy merasa msh ada seseorang yg /mungkin anda bisa belajar yuitu Sdri; Nur’ maaf ini bukan urusan/ wilayah saya tapi ini sekedar krentege Ati sj.
Sdr Budak Angon, sbg manusia yg selalu kanggonan luput, Insun (Dalbo) mohon maaf yg sebener2nya maaf atas semua ucapan2 sy sebelumnya yg salah.
Kembang sentul, Sampeyan ngalor, aku ngidul..
Salam asah, asih asuh..
Dalbo, with love.
Arthajati
Januari 5th, 2011 pada 12:31
Salut kagem poro sedulur kabeh sing podo urun rembuk. Kapan bertindak kalau hanya saling medebat, perbedaan, kekurangan & kelebihan harus bisa saling mengisi agar bisa tercapai kemulyaning urip, tolng tinggalkan ke”Aku”-nya masing2 klau masih mau/terpanggil jiwa hidupnya untuk bisa berbuat sesuatu & mewarikan sesuatu kebanggaan yang bisa dikenang anak cucu sebelum kita pensiun dari alam dunia.####
sawunggaling
Januari 6th, 2011 pada 12:20
@arthajati
betul mas, sesama kusir harus rukun..
artha (=uang), arthajati= uang sejati ? = nyuwun dong sedikit.
@Dalbo
sebagai orang yg linuwih semestinya anda sudah bisa membedakan siapa Dalbo, dan siapa SABDALANGIT..
mas Dalbo itu kulitnya..kalo Sabdalangit itu pancer nya (sami mawon nggeh..hh)
Budak Angon
Januari 5th, 2011 pada 14:34
sang dalang terlambat sampai di kediaman kang sabda
nek arep nanggap wayang ya jangan lupa suguhannya disiapkan buat sang dalang.
mbah dalang, ini suguhan sudah kami siapkan
kopi pahit, kopi manis, teh pahit, teh manis dan air putih sebagai lambang sedulur papat kelima pancer ya sdr2 kita yg lahir bareng di dunia ini, monggo dipersilahkan ….. wah terima kasih, enak tenan sruput …. apa ada lagi?
mbah dalang kan senang rokok, krn kami nggak tahu rokok kesenangan mbah dalang maka sengaja kami sediakan berbagai merek rokok, ada rokok sampurna, gudang garam kretek, djie sam soe dan djarum.
apa rokok sampurna mbahe suka? rokok sampurna melambangkan mbahe sudah sampurna uripe, silahkan diterima …. wah sampaian jangan menghina dalang ya! walaupun sy dalang sy ini belum sempurna, masih belajar. aku moh rokok iki.
ini rokok gudang garam? maksudnya mbahe kan sudah banyak makan asam garam, pengalamane segudang, monggo diterima. …… jangan begitu ah, aku ini kan sudah bilang aku ini masih belajar, gak mau ah rokok itu.
ini rokok djie sam soe, tapi aku gak ngerti maknanya, aku mau tanya dulu sama kang sabda atau teman2 disini yg lagi nonton … ya udah simpen saja, nanti kalau sudah tahu maknanya aku mau ya.
ini rokok jarum maknanya jarang dirumah suka perempuan … lah yang ini aja hhh …. dalangnya masih suka perempuan sih.
apa perlu rokok yg merek ardath, mau? apa maknanya? aku rela digituin asal tidak hamil … ogah ah aku gak hobi selingkung (selingan keluarga utuh).
apa ada lagi yg lain?
ini ada buah delima, mau? apa maksudnya? maksudnya aku minta duit! …. aih dalangnya lagi bokek gak gableg duit kok malah diminta duit.
apa ada lagi? gak ada lagi ya ini yang ada, bunga mau? mau sih asal bunga bank .. hhh ….
Kocap kacarita sang dalang sanggup dalang walaupun dikasih upah minuman dan rokok jarum…….
para ulama2 alumni padepokan sunan ampel yg mengabdi kpd glagah wangi/demak lagi pada mumet …. mumet …. kenapa mumet?
krn gak ngerti … level makomnya masih dibawah sekh siti jenar, mungkin ulama alumni padepokan sunan ampel ini, ketika belajar sering bolos atau bisa juga titip absen pada temen2nya?
Kami utusan raja demak, diutus untuk menyampaikan undangan agar syek siti jenar sudi menghadap raja demak …… tolong sampaikan kpd rajamu “sekh siti jenar tidak ada yang ada allah”.
(Maksudnya, ketika syekh siti jenar sdg menghadirkan gerak hadir allah, maka getaran allah lah yg ada/hadir atau yg sdg bicara, beliau mampu menggulung sifat dua puluh pada dirinya)
Rombongan tsb mumet mendengar keterangan syekh siti jenar. mrk bergegas pulang menghadap rajanya melaporkan kegagalan membawa sekh siti jenar.
ya udah gini aja, agar kembali lagi ke kediaman syekh siti jenar, agar allah menghadap raja demak.
rombongan yg mumet itu kembali lagi ke pesanggrahan sekh siti jenar, untuk menyampaikan surat yg isinya agar allah menghadap raja demak.
“tolong sampaikan kpd rajamu allah tidak ada yg ada syekh siti jenar”
mumet lagi ……….
(maksudnya ketika syekh siti jenar tidak sedang menghadirkan gerak hadir allah maka refleksi yg adalah pribadi syekh siti jenar sendiri yg ada).
Cerita tsb merupakan cerita mistik tingkat tinggi.
Ada sosok ulama dari cirebon yg mampu membawa syek siti jenar menghadap raja demak yaitu Eyang Elang Ali Sajagad dari Cirebon Girang.
Ketika berdua berhadapan, keduanya sama2 menghadirkan gerak hadir allah.
Syekh siti jenar adalah sosok manusia yg hanya menurut atas perintah allah, maka ketika eyang elang bilang bahwa allah memerintahkan agar syekh siti jenar menghadap raja demak dan sunan gunung jati, maka perintah allah tsb oleh syekh siti jenar dipatuhinya. artinya sekh siti jenar hanya patuh kpd allah bukan kpd makhluk walaupun seorang raja sekalipun. Itu makna yg tersirat dari cerita tsb. walahualam bishawab.
dadang
Januari 5th, 2011 pada 15:13
CRITANE TAMBAH BUAT MUMET AKU KANG……. HUFFFT
dadang
Januari 5th, 2011 pada 15:16
CRITANE TAMBAH BUAT MUMET AKU KANG……. HUFFFT
DALANG ITU APA?
DALANG ITU SIAPA?
DALANG ITU DIMANA?
DALANG ITU KENAPA?
Budak Angon
Januari 5th, 2011 pada 15:33
Arti Istilah Dalang
Buku Renungan Pertunjukan Wayang Kulit karya Dr. Seno Sastroamidjojo disebutkan bahwa kata dalang berasal dari kata Wedha dan Wulang.
Adapun yang dimaksud Wedha adalah kitab suci agama Hindu yang memuat ajaran agama, peraturan hidup dan kehidupan manusia di dalam masyarakat, terutama yang menuju ke arah kesempurnaan hidup.
Wulang berarti ajaran atau petuah, mulang berarti mengajar.
Istilah dalang adalah seorang ahli yang mempunyai kejujuran dan kewajiban memberi pelajaran wejangan, uraian atau tafsiran tentang kitab suci Wedha beserta maknanya kepada masyarakat.
Dalang juga berasal dari kata dalung atau disebut blencong, yaitu alat penerang tradisional. Dengan adanya pendapat tersebut fungsi dalang di masyarakat adalah sebagai juru penerang.
Dalang berasal dari kata Angudal Piwulang.
Angudal artinya menceritakan, membeberkan, mengucapkan dan menerangkan seluruh isi hatinya.
Piwulang artinya petuah atau nasehat.
Dengan pendapat tersebut maka dalang adalah seorang pendidik atau pembimbing masyarakat atau guru masyarakat. Istilah dalang berasal dari kata Talang artinya saluran air pada atap.
Jadi kata dalang disamakan dengan talang yang dapat diartikan sebagai saluran air. Dalam hal ini, dalang dimaksud sebagai penghubung atau penyalur antara dunia manusia dan dunia roh.
dadang
Januari 5th, 2011 pada 15:37
APAKAH KANG BA DALANG JUGA?
Budak Angon
Januari 5th, 2011 pada 16:08
bukan tp wayang hidup yg “urip”
wayang kulit tak punya hati nurani & akal, selalu pasrah,
bahkan tak punya diri
Budak Angon
Januari 5th, 2011 pada 15:59
Dalang itu pemberi ruh ats setiap wayang kulit
yg diijinkan tampil
Saat ini yg lakon yg sesuai agar KUTUKAN BUMI bisa pudar adalah
“dewa ruci meruat bumi dari kalabendu”
dadang
Januari 5th, 2011 pada 16:36
@ KAKANG BA;
KALAUPUN BEGITU APA BEDANYA MANUSIA DGN WAYANG KULIT? WONG KITA DIATUR JUGA OLEH GUSTI ALLAH, KITA DIBERI SKENARIO HIDUP. ADA YG DAPAT SKENARIO JAHAT, ADA YG DAPAT SKENARIO BAIK. HANYA SAJA KITA TIDAK TAHU CERITA AKHIRNYA DARI GUSTI ALLAH. SEMUA HAK GUSTI ALLAH SENDIRI
WAYANG JUGA BEGITU ADA TOKOH JAHAT, ADA TOKOH BAIK, SEMUA NURUT LAKON DARI SANG DALANG TANPA TAHU CERITA AKHIRNYA HANYA MENJALANINYA BERDASAR DALANG YG MEMAINKAN CERITANYA. SEMUA HAK DALANG SENDIRI JUGA
KALAU ADA MANUSIA YG TAHU SKENARIO GUSTI ALLAH, SEBAGAIMANA WAYANG TAHU LAKON CRITA DARI DALANGNYA APAKAH BISA?
KALAU HAL SEPERTI ITU APA NDAK MENYALAHI LAKUNING URIP?
Budak Angon
Januari 5th, 2011 pada 17:39
wayang kulit = tontontan, pesan2 luhur berupa tatanan dan tuntunan kehidupan … dgn harapan setelah Mas Dadang sbg penonton, setelah nonton wayang dapat menyerap tatanan/tuntunan dari sang Dalang.
Tapi kalau mumet ….. ya gmn?
lah kalau manusia spt kita2 ini? berkarakter jenis wayang yang mana sengkuni, begawan drona, bima, bagong atau yg mana?
Jawaban ini aja lah biar gak mumet
Kalau saya lebih condong wayangnya adalah INDRAJIT tapi versi crita jawa bukan versi citra India.
Begini critanya :
Menurut versi pewayangan Jawa, Indrajit bukan putra kandung Rahwana, melainkan hasil ciptaan Wibisana.
Saat itu istri Rahwana yang bernama Dewi Kanung sedang mengandung bayi perempuan reinkarnasi seorang pertapa wanita bernama Widawati. Rahwana bersumpah akan menikahi putrinya itu jika kelak lahir, karena Widawati merupakan cinta pertamanya.
Ketika Kanung melahirkan, Rahwana sedang berada di luar istana. Wibisana segera mengambil bayi perempuan tersebut dan dihanyutkan ke sungai dalam sebuah peti. Bayi itu terbawa arus sampai ke Kerajaan Mantili dan ditemukan oleh raja negeri tersebut yang bernama Janaka. Janaka memungut bayi putri Rahwana tersebut sebagai anak angkat dengan diberi nama Sinta.
Sementara itu, Wibisana menciptakan bayi laki-laki dari segumpal awan yang diberi nama Indrajit. Bayi Indrajit diserahkan kepada Rahwana. Rahwana kecewa dan berniat membunuh Indrajit. Ternyata semakin dihajar Indrajit justru semakin tumbuh dewasa. Rahwana berubah pikiran dan mengakuinya sebagai anak.
Indrajit kemudian bertempat tinggal di Kasatrian Bikukungpura. Istrinya seorang bidadari bernama Dewi Indrarum.
Dalam perang besar melawan bala tentara Sri Rama, Indrajit mengerahkan pusaka Nagapasa. Muncul ribuan ular menyerang pasukan Wanara. Namun semua itu dapat ditaklukkan oleh burung Garuda ciptaan Laksmana. Indrajit kemudian mengerahkan ilmu Sirep Begananda, membuat Rama, Laksmana, dan seluruh pengikut mereka roboh tak berdaya. Mereka tertidur bagaikan orang mati.
Hanya Wibisana dan Hanoman yang tetap terjaga. Hanoman berangkat ke Gunung Maliyawan untuk mengambil tanaman Sandilata, sedangkan Wibisana menghadapi Indrajit. Wibisana menceritakan asal-usul Indrajit yang sebenarnya. Indrajit akhirnya sadar bahwa selama ini ia bersalah telah membela angkara murka Rahwana. Ia pun meminta agar Wibisana mengembalikan dirinya ke asal-muasalnya.
Indrajit kemudian mengheningkan cipta, sedangkan Wibisana melepaskan pusaka Dipasanjata ke arahnya. Tubuh Indrajit pun musnah seketika, dan kembali menjadi awan putih di angkasa.
Itulah karakter BA hhh ……..
Wongsorejo
Januari 5th, 2011 pada 14:44
sebuah penampakan seperti nonton film layar lebar dari SP (seorang pinilih) bunda maria yang dalam setiap penampakannya selalu terpejam matanya penuh ketentraman, disamping kiri dan kanannya adalah yesus dan muhammad, ibu seorang nabi lebih tinggi kedudukannya dari nabi itu sendiri, walau bagaimana pun nabi ngabekti terhadap ibunya, yesus dalam setiap penampakannya selalu membentangkan tangannya, mereka bertiga tampak melayang menenbus matahari, tentu saja matahari yang setiap hari kita lihat
Wayang Gemes
Januari 5th, 2011 pada 22:17
Wayang mumet keblinger….
hit n run….
gemesss…. aku!
@BA
Met kenal Bos Aset,
kapan cair…?
gemes nih terlalu lama cairnya….
bisa2 jadi SP ato paling tidak Menkeunya SP…. Amiiiinnnnn……!!!
Budak angon
Januari 5th, 2011 pada 23:23
Es kali cair ….hhh
semuanya kompak pd “urip”, pasti cair!! itu es nya …
Wongsorejo
Januari 6th, 2011 pada 00:40
menurut ilmu budha ruh adalah energi, menurut para sufi ruh adalah kehidupan yang meliputi segala sesuatu, sedangkan alam semesta (materi) adalah tubuhnya, kehidupan bisa ada karena digerakan oleh energi, dan menurut teori Bang (ledakan) awal mulanya adalah sumber energi yang berupa bintang meledak dan gelombang ledakannya terus mengembang sampai sekarang alam semesta terus berkembang, debu bintang karena paling ringan jatuh dan mengendap terakhir di bumi dan menjadi humus dipermukaan bumi, kita belum diberi tahu apakah ada kehidupan diluar sana dibawah naungan matahari2 yang lain….. jadi bintang lebih purba dari tanah/humus
Budak angon
Januari 6th, 2011 pada 07:48
Apa itu ALLAH? ALIF lebur ke LAM LAM lebur ke HU lebur ke URIP. Dimanakah kediaman URIP? Berada di susuhing angin.
Angin kalamullah yg menghidupi.
Itu yg dituju! Jgn ragu!
Ayo! mumpung blm terlambat! Cegah! buka agama kang samar-samar … pasti cair!!
Islam, budha & agama2 lain itu satu/sama yaitu
urip.
Wayang Gemes
Januari 6th, 2011 pada 21:24
Bagaimana mau “urip” bebarengan…?
Lha wong di blog ini saja pada eker-ekeran……
Ya jelas ga cair….!
Gemes aku!
Budak angon
Januari 6th, 2011 pada 08:08
Ayo kita buktikan! Nafas mlebu/masuk anda rasa-kan bunyinya kan HU?
Coba anda ganti dgn bunyi nafas-Nya dgn yg lain, misalnya HA atau gusti atau yg lainnya … Gak bisa lah! Tetap bunyi HU!
Kejawen adalah OLAH RASA URIP itulah yg dimaksud dgn hakekat, sampai kt kenal/ma’rifat kalau wayang (sbg bima) kenal bima suci-Nya (isinya HU).
Itulah rasional kejawen olah rasa sejati.
Budak angon
Januari 6th, 2011 pada 08:21
Bukankah di puncak boro borobudur ada stupa yg di dalamnya ada sosok yg sdg duduk tafakur (burung dlm sangkar), bukankah ka’bah ada titik hitam (dihati kita juga ada), bukankah semua matahari2 (gugusan bima sakti) bertawaf mengelilingi titik hitam (ka’bah jg ada titik hitam) ….
Tp tetap anda harus ijin BA kalau mau masuk borobudur … hhh… BA cuma bercanda, msk gratis
Budak angon
Januari 6th, 2011 pada 08:27
TITIK HITAM itulah awal kejadian dan akhir kembali …
sikapsamin
Januari 6th, 2011 pada 11:35
Para pakar astronomi, telah meluncurkan Satelite-PAMELA pd tgl.15 Juni 2006 yl, guna menyelidiki Anti-Matter atau Dark-Matter.
Saya belum googling lagi, hasil penyelidikan tsb apa/bagaimana?!
Dalbo
Januari 6th, 2011 pada 11:50
Nuwun sewu..
@ Mas Sikap Samin, yo opo kabare.sampeyan.? suwe ora Jamu..
Eh.. tahu nggak tadi malam aku juga meluncurka Roket yg ku beri nama Gicho, untuk menyelidiki Black/ dark hole, dan aku telah bener2 menikmati rasa sejatinya,, he .. he…he… ojo nesu lho yo, iki rocket2 ku dewe, yo black hole black hole bojo ko dewe…
ngomong2 bg mn kondisi lumpur lapindo, apa ada indikasi membaik atau sebalikya?
Yu ginten marut klopo, cekap semanten piatur kulo…
( skrg giliran yu ginten mas sing maruti klopo)
Salam asah asih asuh..
Dalbo, with love..
sikapsamin
Januari 6th, 2011 pada 11:51
Dalam bahasa Leluhur…
AWANG-UWUNG…
atau… SUNYA-RURI…
sikapsamin
Januari 6th, 2011 pada 12:09
He he he…
@ mas Dalbo,
Nang Australia…
Mari ngeluncurno rocket Gicho nembus black-hole..?!
Pirang ronde..?
Sssuuueeegggeeerrr…tenan lak an
Langsung ilang mumet’é…
Btw, Autrali’né kota opo?
Agung
Januari 6th, 2011 pada 09:35
@ Mas Prayit Yth..
he..he.. saya malah tidak mumet kalau baca komen panjenengan, malah menyegarkan pikiran lan ora gawe ngantuk… banyak ide2 panjenengan yg bisa saya serap… dan sungguh saya bisa memahami keprihatinan panjenengan terhadap negeri ini, smga segera datang waktunya negeri ini kembali gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja sagung warga negari…
Rahayu
Dalbo
Januari 6th, 2011 pada 12:29
Nuwun sewu;;
@ Mas Sikap.
Iya…sueeger tenaan,,,
Posisiku pindah2 mas ter gantung musim dan kontark kerjaan, saiiki kebetulan domisili di Brisbene, rodo wadem hawane, mulane Rocket Gichone kudu meluncur ae..
he..he.. he..
Asah asih asuh”
Dalbo,,, with love,,
Budak Angon
Januari 6th, 2011 pada 13:05
Copy paste, buat arsip biar gak noleh kesana kemari
————————————-
om budi
ki sabda salam ta’lim kulo katur,
mas budak angon salam kenal, ki mas dalbo sugeng pinangih malih, salam salim untuk semua yang ada di sini,
Ya roh him=metu, ya roh man=mlebu
terus kalau kita mati, yg dari unsur bumi, air’ api, angin kembali ke asalnya, dan nur allah kembali ke alah, kalau (jiwa) nya kemana? Apakah bedanya antara nur allah dengan jiwa?
Mohon pencerahan dari sedulur yg winasis, maafkan saya yg cpbluk ini banyak bertaanya
Salam sih katresnan rahayu rahayu rahayu
Nuwun
Balas
Budak Angon
dlm bhs arab “nafs” yg artinya jiwa/diri.
Jiwa/diri adlh suatu kesatuan antara ruh dan jasad
bahwa sebenar-benarnya diri itu adalah ruh
sebenar2nya ruh itu adalah nafs/jiwa
sebenar2nya nafs/jiwa itu adalah naik turun nafas
naik turun nafas itu adalah sir / rahasia
dan adapun yg dikatakan sir / rahasia itu adalah nur muhammad
nur muhammad dari nur allah
Dlm dada ada qolbu,
dalam qolbu ada fuad,
di dalam fuad ada sir,
di dalam sir ada Aku.
Essensi dzat Allah berada di dasar qolbu setiap manusia, di dalam hati Nurani setiap manusia.
Hati nurani selalu menyuarakan kebenaran karena di dalamnya ada AL HAQ.
Ruh di dalam jasmani manusia merasa terbelenggu dan dia senantiasa ingin kembali kepada sumber asalnya.
Oleh karena itu setiap manusia memiliki naluri dalam dirinya untuk mencari dan mengenal Allah sebagai suatu kebutuhan bathiniah agar hatinya menjadi tenang dan tentram, agar ruhnya bisa kembali kepada cahaya semula.
Walaupun ruhani dan nafsu tidak berwujud seperti jasmani, akan tetapi kita bisa merasakan keberadaannya, misalnya ketika ruh belum ngejawantah ing arcapadho :
bukankah Aku Tuhan-mu??”
para ruh menjawab : “Benar kami bersaksi”.
Kemudian ruh dihembuskan kedalam jasmani dengan membawa amanah-Nya agar mereka tidak membuat kekacauan di dunia ini …
Sesungguhnya semua ruh termasuk ruh manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan adalah berasal dari nuur muhammad. Aku berasal dari cahaya tuhan (Allah) dan semua yang ada di alam semesta ini berasal dari cahaya ku (hadits).
Pada kenyataannya seluruh dunia ini adalah pakaian dari pada ruh yang tidak diragukan lagi adalah satu (ruh Idhofi, Nur Muhammad).
Ruh tidak masuk ke dalam jasmani, akan tetapi seperti penunggang
dan tubuh adalah seperti kuda.
Gerakan ruh dan jasmani adalah seperti gerakan dari tangan dan anak kunci, terjadi serempak.
Di dlm sir ada Aku… berarti Aku (nur) menggerakkan Sir,
kemudian Sir menggerakkan ruh dan ruh menggerakkan Qolbu,
Qolbu menggerakkan budi,
budi menggerakkan akal
dan akal menggerakan tubuh.
Jadi urut-urutannya adalah : Nur-Sir-Ruh-Qolbu-Budi-Akal-Cipta-Rasa-Karsa-Pangawasa.
Para sufi mengatakan bahwa fungsi nafs untuk mengabdi,
qolbu untuk mencintai,
ruh untuk berkomunikasi dengan Allah
dan sir untuk memfanakan diri dalam pandangan Allah, baqo dalam Allah.
2 Trackbacks / Pingbacks