Tujuan utama ke Trowulan terutama untuk mundi dawuh perintah langsung dari Sri Narpati Brawijaya V yang di luar dugaan kami terima beberapa hari sebelum mengambil keputusan bulat untuk menghadiri undangan Mas Panji Trisula (Bustanus Salatin) salah seorang Ketua IPPNU Jatim periode th 2000, dalam acara “Sarasehan Bulan Purnama ; Memperingati Turunnya Wahyu Makutharama” yang diadakan di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto Prop Jawa Timur. Selain itu kami berserta rombongan ingin sekali mewujudkan rasa berbakti kepada para leluhur besar bumiputra perintis dan penopang kejayaan Nusantara di masa lalu, tidak dengan cara enaknya sendiri mulut sekedar komat-kamit saja dari rumah. Sikap berbakti akan lebih berharga jika diwujudkan dalam tindakan nyata dengan cara marak sowan mengunjungi petilasan pepunden untuk tujuan napak tilas serta atur pisungsung sembah bekti kepada para leluhur besar Nusantara. Tidak cukup berhenti di situ, lebih penting adalah mengambil pelajaran berharga yang selanjutnya diimplementasikan dalam kehidupan nyata sehari-hari.
Jika peduli dan mau, kita sebagai generasi penerus bangsa sudah semestinya melakukan koreksi atas perjalanan sejarah bangsa besar ini di masa lalu pernah lepas kendali hingga kini berkembang kian salah kaprah. Tidak semata sebagai sebuah kesalahan kebijakan masa lalu, tetapi tingginya sikap toleransi para pendahulu bangsa terutama terhadap anasir sistem kepercayaan (religi) yang berasal dari budaya asing. Toleransi tinggi para pendahulu bangsa berhubungan dengan tingginya pemahaman tentang apa sejatinya religi dan sistem kepercayaan. Toleransi menumbuhkan prasangka baik dan kelonggaran sikap terhadap unsur asing walau banyak perbedaan secara esensial. Namun hal itu justru dimanfaatkan oleh para jahil pembawa anasir asing sebagai suatu kesempatan untuk menjalankan kepentingannya sendiri. Namun dalam perkembangannya, sistem sosial dan politik berkembang secara liar tidak seperti yang diharapkan oleh para leluhur besar perintis Nusantara. Bahkan hingga kini dampak buruknya kian dirasakan oleh generasi sekarang.
Apabila mau jujur dan para sejarawan bersama arkeolog mau meluruskan sejarah tentu akan ditemukan banyak kepalsuan dalam “dongeng-dongeng” yang dikemas seolah bagaikan suatu kejujuran sejarah nasional. Terutama cerita-cerita tentang masuknya para saudagar Belanda, India, maupun saudagar Mesir, dan Turki yang sangat tergiur oleh gemah ripahnya Nusantara. Kisah-kisah masuknya saudagar ke Bumi Nusantara selanjutnya dirombak berupa “dongeng-dongeng” yang mengimajinasikan tokoh sakti mandraguna yang perjalanan hidupnya penuh perjuangan mengatasnamakan tuhan. Sebagai salah satu trik kolonialisme, di dalamnya terdapat intrik-intrik politik dagang dan perebutan kekuasaan yang didukung melalui penciptaan cerita adu kesaktian antara para saudagar yang dicitrakan selalu benar versus penduduk asli pribumi yang dicitrakan sebagai yang selalu salah bahkan musuh tuhan. Ya..semua itu masih dalam kerangka proyek pemenangan politik dagang. Mayoritas anak bangsa mungkin termasuk kita-kita ini para pembaca, mungkin merupakan anak turun dari para pendahulu bangsa yang menjadi korban atas pencitraan tendensius dan subyektif dari para saudagar bersama pendukungnya. Meluruskan sejarah bangsa besar ini menjadi tugas generasi penrus bangsa, agar supaya yang benar tampak benar, yang salah terbongkar kedoknya. Sehingga dapat dijadikan pelajaran berharga bagi generasi berikutnya yang ingin mengerti kesejatian hidup ini apa adanya dan apa sesungguhnya.
Dalam cara pandang sosio-ekonomis, jika Anda ingin memenangkan persaingan marketing, ada dua kiat jitu yang bisa ditempuh, pertama, susupkan barang dagangan ke dalam unsur budaya lokal calon konsumen. Kedua, kuasai, dominasi, dan setir pola pikir calon konsumen agar supaya mengikuti kemauan si marketing. Tentu Anda akan menjadi marketing yang sukses menangguk keuntungan besar. Apalagi “kolonialisasi” dan dominasi terhadap pola pikir konsumen melalui berbagai doktrin. Selanjutnya, Anda tinggal menyingkirkan pesaing-pesaing bisnis, dengan cara politik adu domba, aktif menciptakan wacana friksi dan gap, serta sibuk menumbuhkan konflik-konflik antara elemen-elemen kekuatan para pesaing. Dalam hal ini kearifan lokal (local wisdom) dan kerajaan-kerajaan yang masih eksis memegang teguh budaya dan tradisi bumipertiwi dapat diperankan sebagai pesaing paling diperhitungkan. Ternyata, politik devide et impera-nya Belanda hanya sekedar meniru politik a la saudagar asing. Tengok saja periode sejarah sebelum masa kedatangan para saudagar, sejarah kerajaan Nusantara abad Sebelum Masehi (kerajaan pertama Kutai Lama) hingga akhir abad 12 masa Majapahit awal, perang atau konflik antara kerajaan sangat jarang terjadi. Namun semenjak abad 14 terjadi peningkatan intensitas konflik. Selain dengan cara tersebut, penjajahan paling efektif bisa ditempuh melalui cara “perkawinan silang” antara penjajah dengan pribumi, di mana peran suami lebih banyak diisi oleh laki-laki penjajah, sedangkan peran istri diisi oleh mayoritas perempuan pribumi. Hal ini bertujuan tentu saja untuk mengamankan kepentingan,aset dan meluaskan otoritas kaum penjajah yang menganut sistem patrilineal. Yang terpenting bukanlah menggugat siapa yang melahirkan diri kita. Tetapi apa yang telah kita perbuat terhadap kepalsuan sejarah? Berani jujurkah generasi penerus bangsa ini? Ataukah kronologi sejarah dan jejak-jejak kaki sejarah bangsa ini akan tetap ditopang oleh pondasi sejarah palsu? Kain pel yang kotor, tak akan bisa membersihkan lantai kotor tuan !
Kata Bung Karno,”Jasmerah ! Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah (yang jujur obyektif). Di zaman modern dan serba terbuka ini, walau masih ada sebagian orang yang bernafsu untuk memelintir sejarah sesuai kepentingannya, sudah pasti..sejarah akan meluruskan dirinya sendiri. Sesuatu yang dianggap kebenaran mutlak di masa lalu, bisa saja terkoreksi oleh temuan-temuan baru. Sejarah palsu hanya bisa berbohong dalam kurun waktu yang tidak tak terbatas. Tidak selamanya bau bangkai dapat disimpan rapat-rapat. Kini, generasi muda musti menyingkap bau bangkai itu, atau menyiapkan “kain pel” yang benar-benar bersih. Generasi bangsa musti melakukan koreksi signifikan untuk misi utama menyelamatkan Nusantara dari ambang kehancuran total. Kurang apa lagi? Nusantara adalah singgasana, adalah rumah pribadi, surga yang nyata dan bukan imajiner bagi anak-anak negeri, bagi rakyat Indonesia. Dan kita semua, generasi penerus bangsa sebagai tuan rumahnya, tentu saja di rumah pribadi kita Nusantara. Namun saat ini lain kenyataannya, kita menjadi jongos di rumah sendiri, kita dipaksa mengabdi, membabukan diri kepada para “tamu” di rumah kita sendiri. Tamu mbagekake sing duwe omah. Kita tertindas di negeri sendiri, oleh penjajah yang berdaging berdarah sebagai WNI, tetapi berisi jiwa-jiwa yang tak ubahnya onggokan sampah kepentingan, tumpukan kebekuan pola pikir, dan jiwa yang berisi komitmen jahil yang loyal dan berporos kepada para penjajah dari negeri antah-berantah. Banyak orang lebih suka napak tilas dan berziarah kepada leluhur luar negri nun jauh di sana yang sama sekali tak ada hubungan ras, bangsa, suku, apalagi kerabat sodara. Sekalipun menghabiskan beaya puluhan juta tetap dilakoninya dengan harapan surga, sebaliknya terhadap leluhurnya sendiri tidak berbakti, kuburannya terbengkalai penuh ilalang, kotor tidak pernah diopeni. Lantas di mana sang hatinurani?? Sementara harta warisannya sampai kini masih mereka nikmati, bahkan sebagian telah dijual untuk ngabekti kepada leluhur-leluhur asing nun jauh di luar negeri. Mau diakui ataupun dipungkiri, pasti kualat akan datang menghampiri, kualat yang datang dari sikap perilakunya sendiri. Jadilah wajah Nusantara yang seperti ini. Rupa-rupa musibah dan bencana datang silih berganti, menerpa anak negeri yang lupa diri, lebih suka memuaskan nafsu dan imajinasi. Potret negeri di mana generasi penerusnya durhaka kepada sang ibu pertiwi.
Saat ini, tanggal 17 Juli, sebentar lagi Nusantara akan “bersih-bersih” diri. Goro-goro gung tan kena den pungkiri. Murih tinarbukaning gapura gamabudi. Jaya nusawantara den enteni. Kang kadapuk dadi pambuka, iya satria kang jumedul ing pulo Semar Badranaya, sisih wetan sangkan ira. Mula den eling den êmut, menawa ana Candra-ning Negoro. Iya iku satria kang piningit, datan aran ratu adil, nanging kang jumeneng dadi satria nagari Pambukaning Gapura.
Imperialisme Baru
Bentuk imperialisme yang melebihi model penjajahan terhadap daerah koloni, bilamana yang dijajah adalah kemerdekaan fikir dan pembunuhan atas kesadaran spiritual generasi penerus bangsa. Pola fikir dan kesadaran spiritual, adalah dua pilar yang membentuk karakter bangsa. Dan terbukti saat ini bangsa Indonesia telah kehilangan karakternya. Merupakan kenyataan tak dapat ditutup-tutupi lagi, kini telah lahir generasi di mana kesadaran spiritualnya tergembok rapat di dalam tempurung kebodohan. Malah dengar-dengar akan ada generasi akhir yang akan diberi julukan si makhluk bermata satu yang suka gentayangan untuk memutar balik fakta dengan cara berdagang kata-kata manis berbalut angin syurga. Makhluk bermaga satu bafangkali kiasan yang menggambarkan suatu pemahaman dangkal bahwa kebenaran dan ketuhanan hanya boleh didefinisikan melalui satu cara saja. Yakni satu persepsi, atau satu cara pandang. Konsekuensinya, apapun persepsi tentang kebenaran, keyakinan, dan tentang tuhan di luar persepsi itu mendapat label sebagai bentuk kesesatan. POLA PIKIR semacam ini akan menjadi generasi anti-toleran, yakni generasi anti perbedaan pendapat. Tidak mau berbaik sangka dengan berfikiran positif-konstruktif terhadap segala perbedaan. Tentu saja realitas sosial semacam itu bertentangan dengan hukum alam. Dan siapapun, apapun, jika bertentangan dengan hukum alam, alamlah yang akan meleburNYA.
MAKHLUK mata satu, bagaikan hantu gentayangan sana-sini memutarbalikan fakta antara kebenaran dengan ilusi. Antara kebohongan dengan kejujuran. Apabila segala kepalsuan dan kebohongan itu terbongkar oleh temuan-temuan baru, dan oleh evolusi kesadaran manusia-manusia generasi baru, selanjutnya pola pikir masyarakat dunia akan segera berganti dengan paradigma pikir baru yang lebih realistis, membumi dan penuh nilai-nilai humanis. Saat itulah terjadi “kiamat” bukan maksud kehancuran planet bumi bersama jagad semesta, melainkan kebangkrutan total segala macam “spiritual” lama yang penuh ilusi. Lants kelak hanyalah kejujuran yang akan tersisa. Seyogyanya kita lihat dan kita buktikan bersama-sama saja perkembangannya.
Alam bersifat dinamis dalam perubahannya. Bagi yang mampu beradaptasi dengan kehendak alam, pada gilirannya kekuatan alam akan mendaur ulang menjadi generasi baru yang memiliki kesadaran kosmologis yang selaras, sinergis dan harmonis dengan hukum alam. Mereka akan lahir sebagai manusia sejati yang mengerti diri sejati, dan memahami apa sejatinya hidup ini. Sebaliknya yang menolak koreksi alam dan hukum dinamika zaman, akan semakin sulit menyadari bahwa dirinya telah dirundung sakit jiwa yang berkepanjangan.
NAPAK TILAS dan PERISTIWA PENUH ARTI
Motivasi kehadiran rombongan kami dalam rangka ikut serta berkumpul bersama seluruh sedulur dari berbagai kalangan yang hadir di acara sakral Sarasehan Bulan Purnama dengan tema Memperingai Turunnya Wahyu Makutharama, yang dipandegani oleh Mas Panji Trisula (Bustanus Salatin).Terimakasih tak terhingga atas segala sambutan dan kehangatan paseduluran dari sedulur-sedulur yang hadir dalam acara tsb. Sungguh bagai oasis menyejukkan dahaga spiritual di tengah panasnya terpaan the desert storm “badai gurun” yang melanda Nusantara saat ini. Kami berharap apa yang telah dilakukannya menjadi amal kebaikan yang berkausalitas atas berlimpahnya berkah dari para leluhur besar Kerajaan Majapahit. Kebaikan-kebaikan yang dilakukan akan menjadi pagar gaib yang melindungi diri sendiri, menjadikan diri tak bisa dicelakai orang dan selalu menemukan keberuntungan dalam setiap langkahnya.
Hujan Sebagai Pertanda Baik
Pukul 16.30 wib kendaraan terus melaju meninggalkan kota Jombang. Arah kendaraan menuju Kec.Trowulan Kab Mojokerto. Walau musim kemarau sedang berada dalam puncaknya, namun tiba-tiba turun hujan dengan derasnya. Seperti biasa, fenomena hujan deras seringkali mewarnai dalam tiap acara-acara sakral yang berhubungan dengan leluhur besar. Tidak hanya terjadi di Jawa, Sunda, Bali, Sumatera bahkan hingga di Kalimantan. Dalam tradisi Jawa, hujan yang tidak lazim terjadi itu sebagai pertanda diterimanya acara atau ritual yang akan kita laksanakan. Hujan pertanda baik biasanya terjadi beberapa saat sebelum acara dimulai, namun menjelang acara dimulai hujan akan reda kembali. Pukul 17.00 Wib (Jawa: pitulas, alias simbol bermakna “pitulungan lan kawelasan“) karena kami merasakan misteri daya tarik energi yang sangat kuat, akhirnya rombongan kami berempat memutuskan untuk berhenti tepatnya di Depot Arema di Jl Raya Jombang-Mojokerto, yang ternyata berjarak 2,100 meter dari Sitihinggil Trowulan. Sarasehan Bulan Purnama merupakan acara sakral dilaksanakan setiap siklus 210 hari. Sejenak rombongan kami menyeruput secangkir kopi, sementara itu terasa semakin kuat daya tarik energi. Pelacakan sumber energi menemukan datangnya energi itu berasal dari kolam raksasa Tambak Segaran. Kolam raksasa buatan manusia, sebagai situs peninggalan Majapahit yang telah berumur kurang lebih 800-900 tahun.
Pukul 17.30 wib hujan kembali reda. Dengan beberapa pertimbangan, kami memutuskan untuk kulonuwun terlebih dahulu kepada para leluhur yang berada di gerbang Siti Hinggil Trowulan dan kepada Panpel. Pada jam 19.00 wib atau jam 7 malam, dari Sasono Hinggil kami merapat ke Kolam Tambak Segaran yang berjarak hanya sekitar 1,7 km. Di lokasi kolam Tambak Segaran sudah menunggu dulur-dulur wetan ; Ki Camat Kec. Taman (Ki Amig alias Ki Juru Taman), Ki Wongalus (KWA), Mas Kumitir (Alang-alang kumitir). Ditambah rombongan kami berempat, saya bersama istri, Mas Harimurti dari Jogja dan Mas Andreas dari Jakarta, sehingga jumlah rombongan kami ada 7 (pitulungan) orang. Ditambah satu lagi Mas Setyo yang sudah jumeneng caraka mandireng pribadi yang sudah beberapa hari di lokasi. Kami mulai “neng” (meneng/jumeneng; berdiam raga dan konsentrasi untuk membangunkan kesadaran rasa sejati), dengan tujuan untuk meraih “ning” (wening/kebeningan atau ketajaman batin), sambil maneges kepada Jagadnata dan Para Leluhur Majapahit dengan harapan siapa tahu mendapat “nung” (kesinungan) berkah agung.
Gerbang Metafisika
Beberapa menit hanya menyisakan kesunyian memagut yang membawa perasaan keheningan dan kedamaian begitu dalam. Membawa suasana hati yang tenteram. Kita bersihkan hati dari segala macam penghalang, bersihkan dari perasaan iri dan dengki. Kita netralkan dan beningkan pikiran dari segala prasangka buruk dan berbagai ilusi-halusinasi. Beberapa saat setelah kami menghaturkan sesaji menabur bunga sebagai pertanda “kulanuwun” dan salah satu upaya sembah bekti, attunment/penyelarasan, mensinergikan dengan getaran jagad semesta. Tak berapa lama kemudian gayung mulai bersambut. Segera tampak tanda kehadiran para abdidalem (pegawai kerajaan) Majapahit di masa lalu sebagai pertanda adanya sambutan “tuan rumah”. Saat itu belum juga tampak kehadiran leluhur Ratu Gung Binatara. Namun pada saat jarum jam menunjukkan pukul 20.10 wib (2010) kabut putih dan sangat tebal mendadak turun, kami melihat antara dimensi fisik dan metafisik sedang terjadi proses persisihan, seolah saling mendekatkan “jarak” di antaranya. Beberapa detik kemudian, terbukalah gerbang dimensi metafisik. Secara kasat mata, yang tampak sedikit berbeda dengan pemandangan sesungguhnya. Tujuh orang, semua melihat kabut putih begitu tebal, disertai hawa dingin, dan sedikit rintikan gerimis bagai percikan embun yang sangat menyejukkan. Di tengah kabut putih tebal itu, tepat di atas permukaan air tampak jelas muncul lingkaran bundar simetris berdiameter kurang lebih 20 meter. Bentuk dan warnanya sangat jelas karena saat itu bulan purnama sedang kuat memancarkan sinarnya. Di dalam lingkaran itu keadaannya sama sekali bersih dari kabut sehingga tampak lah warna bening kehitaman, tetapi jika dilihat dengan mata batin, segera tampak warna bening transparan membentuk lobang besar. Dalam waktu sekitar 20 menit, lingkaran tersebut berubah konfigurasi dari bentuk lingkaran, kemudian kedua sisi kiri-kanan perlahan berubah memanjang (mulur) membentuk alur panjang melengkung menjadi garis setengah lingkaran yang berdiameter lebih besar. Kedua ujung setengah lingkaran masing-masing menyentuh dinding kolam. Hingga tampak ada garis lengkungan (setengah lingkaran) besar seolah mengurung 7 orang rombongan kami. Bening, kehitaman, perlahan semakin mendekati posisi kami duduk bermeditasi, hingga berjarak sekitar 5 meter tepat di depan kami. Pada saat itu tampaklah titik cahaya putih terang berkilau di dasar air, yang dapat disaksikan sebagian besar anggota rombongan kami. Titik cahaya itu hanya sebesar lampu sein mobil, walaupun berada di dalam air ia memancarkan warna putih berkilau yang cukup terang. Benda misteri itu ternyata wujud Kalpika (cincin pusaka) milik Sri Narpati Brawijaya. Tepat pada pukul 20.40 wib, hanya dalam waktu kurang dari 2 menit, semua fenomena tersebut menjadi pudar dan lenyap dengan cepatnya. Lingkaran besar itu dengan cepatnya sirna kembali bagaikan tirai yang dibentangkan untuk menutup jendela. Pemandangan berganti dengan kabut putih tebal bagai layar terkembang menutupi permukaan air, sakral dan mistis seolah-olah “pagelaran wayang” akan segera dimulai. Saat itu di kejauhan terdengar sayup-sayup suara gending. Semoga suara gending itu merupakan isyarat pembuka mengiringi layar Nusantara yang mulai terkembang.
Misteri kolam mulai tersibak. Secara fisik berupa kolam raksasa dengan ukuran lebar sekitar 80 meter x 300 meter, namun secara metafisik merupakan Keraton Majapahit yang masih “eksis” hingga saat ini. Hanya bedanya, para penghuninya sudah melakukan proses ”metamorfosis”, menjalani kehidupan sejati dengan tidak menggunakan jasad lagi. Mereka sekedar pindah dimensi saja. Mereka adalah generasi pendahulu kita yang sudah lahir ke dalam kehidupan sejati setelah sekian lama “sang janin” berada di dalam kandungan ibu pertiwi, di dalam rahim mercapada.
Rombongan kami segera beranjak kembali ke Sasono Hinggil Trowulan, di mana Mas Panji Trisula dan seluruh hadirin telah siap memulai mata acara. Tepat pada pukul 21.00 Wib (210) kami tiba di Pendopo Siti Hinggil. Saya semakin memahami apa yang disampaikan Mas Panji tentang siklus 210 hari. Sejak awal saya dihubungi Mas Panji saya meminta beliau memberi jadwal bicara pada pukul 21.00 wib dengan suatu alasan…entah! Saya hanya mengikuti getaran nurani saja dan kini semuanya sudah tejawab. Kata Mas Panji Trisula, acara sarasehan ini ternyata dilakukan dalam Siklus 210 hari sekali.mirip metamorfosa sel yang akan berkembang biak menjadi banyak kemudian menyebar benih di seluruh penjuru. Kajian Mikrobiologi siklus 210 harian dari Gede Junidwaja. Menurut beliau yang dulu punya bos bule dari USA seorang master biokimia lama tinggal di Bali dan sangat rajin melakukan riset mandiri. Menurut hipotesisnya ini terkait dengan telomere sel. Umur sel rata-rata 210 hari. “Sel di organ kita hari ini, akan berganti 210 hari lagi, jadi sel-sel buruk diubah paling cepat 210 hari. Kuningan adalah nama wuku ke duabelas dalam tradisi Majapahitan. Jatuh setiap 210 hari sekali, tepat pada hari Raditya (Minggu) Wage. Dalam tradisi masyarakat Hindu Bali pada wuku ini disebut hari suci Kuningan sebagai penutup serangkaian acara semenjak masuknya wuku Galungan (wuku ke sebelas) yang jatuh pada hari Raditya (Minggu) Pahing yang lalu”.
Namanya saja memperingati, mengenang, atau napak tilas. Angka 21 termasuk angka yang dikeramatkan oleh masyarakat Jawa, selain angka 7, 11, 17, 27. Kami pun akhirnya menemukan jawaban soal angka 21 pada saat menghadiri acara di Situs Kuno Trowulan. Termasuk sejak awal ingin sekali mengenakan kemeja warna merah dalam acara tersebut. Ternyata warna merah merupakan simbol sebagai warna identitas Majapahit, sebagaimana warna hijau sebagai identitas Mataram, dan warna kuning sebagai warna kebesaran Kerajaan Kutai.
Pukul 00.00 wib kami kembali ke kolam Tambak Segaran. Kali ini bersama para peserta acara Sarasehan Bulan Purnama, untuk tujuan atur sesaji tabur bunga, dan rombongan kami masih berharap dapat bertemu dengan para leluhur Majapahit atau pun yang lainnya. Pukul 00.00 wib para peserta mulai patrap semedi, untuk tujuan membawa kesadaran diri kita masing-masing berada dalam getaran theta, paling tidak mendekati getaran nol. Di mana bilangan nol sebagai keadaan tiada batas, bilangan tak terhingga, mau dibagi berapapun hasilnya tetap nol. Dalam kamus Jawa kita istilahkan sebagai keadaan batin Duwe Rasa, Ora Duwe Rasa Duwe (punya rasa, tidak punya rasa punya). Kita matikan kesadaran raga, untuk selanjutnya merubah kesadaran menjadi kesadaran sukma supaya kesadaran kita tidak lagi dicemari oleh ilusi dan halusinasi, termasuk imajinasi yang terlanjur tertanam kuat di dalam otak bawah sadar akibat doktrin sejak masa kanak-kanak. Kita berusaha membebaskan dan memerdekakan kesadaran spiritual kita, dengan cara membiarkan kesadaran ruh yang gantian berkuasa atas kesadaran raga.
Fenomena kembali muncul, suasana yang bening tak berkabut, tiba-tiba muncul kabut tebal dan putih, jelas-jelas bergerak cepat ke arah di mana kami duduk bersemedi di pinggir kolam sebelah timur. Terasa bagai butiran es saat kabut menerpa tubuh dan wajah kami. Serta merta kami mencoba maneges sembari menyerap energinya. Dahsyat sekali! Ada yang aneh, dan dapat disaksikan oleh sebagian rombongan kami, saat kabut itu tampak jelas sekali seperti teriris persis di tengah kolam. Sebelah kiri berkabut tebal sementara sebelah kanan bening tak ada kabut. Tidak ada degradasi kabut, tetapi berupa demarkasi membentuk garis lurus. Di balik itulah, tampak kehadiran Sri Narpati Brawijaya V berucap sesuatu. Tidak berlangsung lama kemudian memudar lagi. Selanjutnya kami pamit undur diri ke kembali ke Jogja.
PERTEMUAN KETIGA
Senin Pahing surya kaping 18 tabuh 10.21 wib warsa 2011. Dada dan nafas tiba-tiba terasa sesak, terjadi desakan energi yang teramat sangat kuat. Hampir saja membuat tubuh terpental. Apa yang terjadi, sungguh suatu keberuntungan yang sangat besar. Kadya karoban segara madu. Denya sakdremo kawula titah alit, karawuhan tuwin pinaringan dawuh mring Srinarpati Gung Sang Prabu Brawijaya V. Tanpa diduga dikira sebelumnya, hadirlah leluhur agung Srinarpati Prabu Brawijaya V, beliau memanggil nama, menyebut nama, memberi kabar, memberi perintah. Bahwasannya maksud dan tujuan ritual Bulan Purnama diterima oleh para leluhur agung khususnya Majapahit, dan harapan kami terhadap perubahan di Nusantara mendapat pangestu. Mendapat sabda dari pandita ratu yang berarti idu geni, ucapannya akan terjadi. Ya..”kunci” Nusantara akan diberikan kepada seseorang yang mampu jumeneng Candraning-negara. Ing samangke sawuse siniram kanthi tirtapraja. Sri Narpati berkata dalam bahasa Jawa Kuno, ini bukan pertemuan terakhir kali, melainkan awal, tunggu dawuh dan rawuhingsun untuk selanjutnya.
Mulai saat ini “segitiga ” kekuatan supra telah terbangun utuh. Kutai-Majapahit-Mataram. Yang berarti pula momentum perubahan Nusantara akan segera terjadi. Meskipun saat ini tengah berlangsung skenario besar oleh para leluhur agung Nusantara, akan tetapi tanpa adanya para generasi bangsa yang peduli untuk menjemputnya, skenario itu masih akan menunggu bangkitnya kesadaran prakawula muda bangsa untuk hamemayu hayuning bawana. Kini kesadaran spiritual dan genderang perdamaian semakin gencar ditabuh para kawula muda generasi penerus bangsa. Wolak-waliking jaman perlahan akan kembali ke arasnya semula, “becik ketitik, olo ketara“. Yang sering dituduh sesat, kapir kopar akan tampak sejatinya, yang merasa paling bener akan terbongkar kedoknya.
Kian tampak cemerlang kilauan intan permata
yang selama ini terendam oleh lumpur,
Emas akan kembali tampak sebagai emas,
yang tembaga akan kembali tampak aslinya sebagai tembaga,
besi-besi logam karatan
lebur oleh kekuatan bantala.
Wus katon suryo mencorong soko bang-bang wetan.
Semua itu berada dalam skenario besar kekutan supra
terangkum dalam pola “triangle super power”.
Kekuatan supra telah membimbing dan menyadarkan generasi penerus bangsa.
Kepada yang terpilih dan pinilih untuk menemukan apa sejatinya hidup.
Seiring dengan ledakan medan magnet galaktika,
yang memaksa manusia macam mana,
untuk bermeditasi, mesu budi, dan mesu raga.
Supaya memahami kehidupan yang sejati.
Yang melawan kodrat, akan menderita sakit jiwa,
yang selaras akan merdeka lahir batinnya.
Lahirlah generasi baru Nusantara
Yang mengerti diri sejatinya.
Mampu mengembalikan Nusantara pada sejati-ning nuswantara. Membangun kembali karakter bangsa. Nusantara ya nusantara, bukanlah negara manca. Negeri ini akan kembali menjadi dirinya sendiri, bukan bangsa yang suka mengebiri kesadaran sejati. Bukan lagi menjadi bangsa pengekor, berwatak dan berfikiran kotor, bukan bangsa budak, bukan bangsa imitasi, yang selalu menganggap kerusakan moral sebagai bentuk cobaan, yang dikiranya bukti dirinya disayang ilahi.
Segitiga kekuatan supra itu, jika dibuka akan berubah bagaikan senjata trisula. Kini senjata trisula tengah dipersiapkan tangkainya, yakni generasi penerus putra raja Kutai Lama YM Sri Raja Kudungga yang bernama Sri Baduga Purnawarman, yang telah membabar bibit kerajaan-kerajaan di tlatah Pasundan. Pelan namun pasti, kini dulur-dulur sadayana ti tatar Parahyangan mulai menggeliat bangun dari tidur panjangnya, mundi dawuh melaksanakan tugasnya sebagai barudak angon, mengumpulkan ranting-ranting kering yang berserakan seolah tiada harganya. Kelak sang SP-RA akan berhasil membangun “senjata trisula” yang utuh berikut tangkainya. Sebagai lambang persatuan kembali keluarga besar Kutai Lama, dengan ke tiga puteranya yakni Mulawarman (trah raja-raja di Sumatera), Purnawarman (trah raja-raja di tatar Sunda), Aswawarman (trah Majapahit hingga Mataram sebagai generasi penerus Kutai Lama). Setelah Nusantara kembali pada diri sejatinya, bukan mustahil akan menjadi mercusuar dunia dalam bidang spiritual, kebudayaan, kesejahteraan dan kemakmurannya. Negeri yang adil makmur, gemah ripah loh jinawi, tata titi tentrem kerta raharja, kalis ing rubeda nir ing sambekala. Sebagai anugrah besar atas bangsa ini, atas jerih payah Anda semua generasi penerus bangsa yang tiada hentinya membangun karakter dan menggali jati diri Nusantara, setelah ratusan tahun lenyap dan membawanya terperosok ke dalam lumpur kesengsaraan dan penderitaan.
Sudah Keterlaluan-kah ?
Keterlaluan bila kita tak bangga, Nusantara bukan lah bangsa primitif yang miskin situs budaya, atau sekedar mewarisi alat-alat peperangan dan kekerasan saja. Nusantara merupakan bangsa yang kaya ragam seni-budaya sebagai tolok ukur tingginya peradaban dan kesadaran spiritualnya. Walau kini Nusantara masih terus menukik, terjun bebas ke dasar jurang. Kita tunggu detik-detik suara dentuman setelah ia menyentuh dasar jurang. Barulah daya pantulnya akan membawa Nusantara untuk bangkit secara perlahan namun pasti. Kita semua generasi muda penerus bangsa, adalah sumber daya pantul itu. Tentu saja bagi generasi yang telah merdeka kesadaran spiritulanya. Generasi yang sudah keluar dari tempurung kebodohan. Makasih mas Panji Trisula (Bustanus Salatin), panjenengan memiliki andil sangat besar dalam terlaksananya acara sakral dan penuh makna di Trowulan Mojokerto Jatim. Panjenengan menjadi salah satu jalma pinilih yang dilibatkan oleh para leluhur besar Nusantara dalam rangka save our country project. Juga seluruh hadirin yang terhormat, Anda semua telah lolos seleksi, berhasil melewati rintangan dan gangguan sehingga tidak gagal mengikuti acara di Trowulan. Termasuk seluruh sedulur dari elemen dan komunitas manapun juga yang mendukung berlangsungnya acara tersebut. Dari IPPNU, SI, SGPC, GPS, Beceka, Majapahit Wilwatikta, Mahavihara Majapahit, Swara Majapahit, Mojokertokab.co, Pemerintah Kab Mojokerto, Dinas Kebudayaan DIY, Jatim, dan terutama utk Indonesia Adil dan Makmur berbasis sosial demokrat kerakyatan, beserta semua elemen yang lupa kami disebutkan di sini. Semua tak ada yang sia-sia. Kebaikan yang Anda lakukan akan kembali kepada diri sendiri, bahkan menjadi kebaikan lebih besar lagi, bagaikan hukum gema suara. Yang dapat menyelamatkan Nusantara bukanlah generasi jahil, bukan bangsa-bangsa lain dan bukan pula jiwa-jiwa berisi nafsu imperialism, tetapi generasi muda bangsa yang berjiwa Nusantara dan mengerti diri sejati.
Rahayu Sagung Dumadi
Sabdalangit



















1224 tanggapan kepada “Pesan Dari GERBANG TINATAR TROWULAN”
milono
April 27th, 2012 pada 17:40
Mas sabda harap lebih hati hati bicara Ke AKU an nanti timbul fitnah kaya nasibnya siti jenar……………….karna manfaatnya juga kurang .sedang yang mengerti juga dah tau……………..,ini forum bawah…..
kuncoro
Mei 10th, 2012 pada 04:11
forum atasnya seperti apa mas?
ini juga ajang berbagi. tertulisnya juga asah asih asuh.
yang menarik hati saya cuma tulisanya mas sabda menanyakan dimana pandawa.
tentang prabu siliwangi? ya…benar sekarang ini, detik ini beliau berkarya untuk negri ini. tapi nggak diwakilkan, nggak ngajak yang belum begini dan belum begitu. klo boleh saya mbanyol
sat inipun beliau prabu siliwangi dan raden wijaya baru ngopi berdua. menikmati jajan pasar. (mohon maaf lho yang).
yang menyenangkan saya, banyak teman yang share secara positif. banyak hal yang bisa saya serap sarinya.
demikian mas, mbak, pak, bu, mbah, ki
wilujeng.
Ki Agung Ratu Adil
Mei 5th, 2012 pada 21:02
pemuda gembala adalah nama saya yang tidak dipercaya sebagai jesus.
pemuda berjanggut adalah nama saya yang dipercaya sebagai jesus.
dulu saya memang pakai baju hitam-hitam serta menyandang kaneron (tas ransel) lama. dan sering berkata benarsalahnya sesuatu di blog blog saya. saya bukannya tidak bisa ngomong panjang-panjang dan tampak bijak, tapi kalau saya sedang ngomong pendek atau tak ngomong samasekali pertanda saya sedang dalam kekurangan. agama buddha memang bukan untuk jadi ini atau itu. dan juga tak berhenti pada sesuatu lalu meanggapnya sebagai hadiah meditasi, buddhism adalah tentang terus berjalan tanpa berpikir isi dunia, sampai Nibbana. kalau masalah berhenti lalu orangnya jadi hebat itu adalah soal orang itu sendiri, buddhism tak menyuruh atau mengkondisikan itu.
pemuda berjanggut dipenjara, memang,lia eden kan dipenjara dan lia adalah maria atau eva.
pemuda gembala tinggal dirumahnya berpohon handeleum dan hanjuang, pintu setinggi batu undakannya, dan dibelakang sungai. tidak percaya trawang saja rumah saya saat ini.
jadi, siapa yang meragukan jika saya adalah kedua-duanya nama itu. pemuda gembala dan pemuda berjanggut. lagipula pemuda gembala itu keluarnya dari daerah bumi mekkah tempat gusdur si pemuda gendut mengatur masalah ribut tanah.
“pemuda gembala telah pergi, bersama pemuda berjanggut, karena muncul ratu adil. orang sunda pun dipanggil untuk dipintai maaf.” pemuda gembala saya, pemuda berjanggut saya, ratu adil saya. orang sunda = prabu siliwangi. atau saya pun bisa juga. wong kami (saya dan prabu siliwangi) yang buat, terserah kami mau aduk kemana.
Ki Agung Gledek Sayuto
Mei 9th, 2012 pada 18:55
HANCURKAN SEMUA MUSUH-MUSUH PAJAJARAN!!! BANTAI SEMUA YANG MELAWAN KEKUASAAN KITA!!!
kuncoro
Mei 10th, 2012 pada 03:33
gimana dan kepriye to???
majapahit satu membimbing satu sosok, trus sosok tersebut sekarang dibimbing pajajaran satu, dan masih dalam proses.
hemmmm, cccckkkk ngelus dada, geleng2.. trawangan nggak ada paedahnya untuk hal satu ini. seperti yang mencari pandawa. cuma karunia ato rejeki aja yang bisa saling menemukan.
Ki Agung Gledek Sayuto
Mei 25th, 2012 pada 13:50
Asal Ratu Adil:
1. “Bumi mekkah denna lair.” – Musarar Jayabaya.
“Nanti saat munculnya pemuda gembala, disitu banyak huru-hara karena rebutan tanah, yang dipimpin pemuda gendut (Gus Dur).”
“Lahir di pertemuan tiga arus laut (bukan jawa kalimantan yang campuran banyak arus laut, melainkan semenanjung malaysia)” – Nostradamus.
2. Ciri-ciri Ratu Adil.
“Lahir tahun 1973 (lewat komet kohoutek), berwajah sawomatang dan sering tersenyum, berwatak mudah menghukum.” – tafsiran berdasarkan Jayabaya.
4. Istana Ratu Adil.
Istana pertama: Yogyakarta (“berpohon handeleum dan hanjuang” – Uga Wangsit Siliwangi, “akedatone ing grijiwati, tengah-tengahing bumi mataram.” – Jangka Jayabaya versi kraton Yogya).
Istana kedua: Bandung (“pemuda gembala sudah pindah ke Lebak Cawene” – Uga Wangsit Siliwangi, Bandung dikeliling perbukitan sehingga mirip cawene, “tempatnya dekat ringin telu, sebelah pertemuan sungai” – Jayabaya, ringin telu adalah bukit wisata di Bandung).
Istana terakhir: Istana kembar Ngawi lokasi hutan ketonggo sekarang-Jerusalem lokasi puncak Zion (“kratonnya satu di Jawa satu di Mekkah” – Jayabaya. “tak ada penjahat semua takut pada yang bertahta di hutan ketonggo.” – Musarar Jayabaya. “kratonnya ditepi sungai dikaki gunung lawu” – Jayabaya).
5. Berdirinya Ratu Adil.
Pemilu 2014 gagal karena bencana alam (“meletus tujuh gunung, berdirilah ratu adil” – Uga Wangsit Siliwangi) dan perang dunia (“ribut seluruh bumi, berdirilah ratu adil” – Uga Wangsit Siliwangi).
Apa salah saya karena diri saya sesuai dengan ramalan?
Ki Agung Gledek Sayuto
Mei 25th, 2012 pada 13:51
Jika kalian mengabaikan serat-serat jawa tersebut, kalian akan merasakan akibat yang fatal atas diri kalian dan keluarga kalian. saya tak segan-segan mencabik janin dalam kandungan istri kalian. ingatlah baik-baik.
ismail usman
Agustus 23rd, 2011 pada 21:57
ha. . .ha. . .
jurus melarikan diri , apapun jawaban anda saya hargai dengan sepenuh hati karena dari sini saya tau kemampuan anda .
salam katresnan
ismail
Ronggo Woeloeng
Agustus 24th, 2011 pada 15:56
Opo iki ??
GEMPA L
Agustus 24th, 2011 pada 21:03
Apakah kalian dapat bersembunyi di kolong langit?…h h h…
Bima
Agustus 26th, 2011 pada 15:39
huahaahaa…Menurut ente:
[azab] atau bukan, dapat diukur dari jumlah korban jiwa-nya…huahaahaa…
kayak anak kecil [ngitung permen] aja ente…
Kalau dapet permen…yang ngasih berarti baek…
kalau ga dapet permen…yang ga mau ngasih berarti jahat…huahaaha…
nb.
ketua kejawener…mending pecat aja member kejawen mu yang satu ini…huh…
Getur
Agustus 26th, 2011 pada 23:34
salam……..
bukannya q tidak ingin berbagi lebih banyak… tetapi semua mempunyai wadaq berbeda…. Kadang kalanya sukma ( ujud pedang keadilane gusti pangeran isi nur kamulyane jagad ) tidak mau di lepas ke angkasa meninggalkan warangkane karena suatu sebab…. oleh sebab itulah….. q tidak bisa membuka lebih bila kembang wijaya kusuma ( palenggahanipun dzat ) tidak bisa mekar dengan sempurna…..
salam…. mungkin, esok atau hari yg lain dpt bertemu lagi
Getur
Agustus 26th, 2011 pada 23:44
salam……..
bukannya q tidak ingin berbagi lebih banyak… tetapi semua mempunyai wadaq berbeda…. Kadang kalanya sukma ( ujud pedang keadilane gusti pangeran isi nur kamulyane jagad ) tidak mau di lepas ke angkasa meninggalkan warangkane karena suatu sebab…. oleh sebab itulah….. q tidak bisa membuka lebih bila kembang wijaya kusuma ( palenggahanipun dzat ) tidak bisa mekar dengan sempurna…..
mungkin, esok atau hari yg lain dpt bertemu lagi…. salam
RP
September 5th, 2011 pada 01:00
pada siapa ente mengatakan melarikan diri…saya,bima,rd…atau?
tanwaskita
Agustus 26th, 2011 pada 22:55
@Jeng Dewi,
Kapan itu njenengan tanya ‘Ayat2 setan’. Saya barusan dapat bisikan dari …. entah siapa …. Yang jelas, bisa dipercaya … Begini : Ayat2 dari Tuhan yg maha pengasih dan penyayang : ‘ Peluklah agamamu, dan biarkan orang lain memeluk agama mereka. TIDAK ada paksaan dalam beragama… Kalau ada ketaksepahaman diantara kalian, jangan main tuhan sendiri, serahkan padaku ….’
AYAT2 SETAN : ‘Hanya ada satu agama yg betul, agamaku. Yang tidak mau percaya pada agamaku, boleh digebuki ,boleh dicaci, boleh dimaki, boleh ditertawakan, sampai mereka mau masuk agamaku. Darah orang2 yg tak mau memeluk agamaku , halal. Agamaku tidak mengenal kasih sayang pada ‘liyan’ – mereka yg menolak masuk agama yg sudah kuberkati….’
Nah, menurut seorang yg waskita – gak pakai ‘tan’ lho – jangan percaya ajaran apa saja, gak peduli siapa saja yg mengatakan/mengajarkannya, kalau tidak sesuai dengan akal (sehat) dan nuranimu. Alam,Tuhan memberi kita … otak untuk kita gunakan, bukan untuk hiasan…
Salam sih katresnan
fumakila
Agustus 26th, 2011 pada 23:01
Mana ada barang HALAL. tanya tuh yg ngatain halal.brp terima duit dari pengusaha buat kash label HALAL di produk nya. Oon.
ismail usman
Agustus 27th, 2011 pada 15:06
@ Tan waskita
betul sekali saran anda hendaknya kita selalu dalam kondisi eling lan waspodo karena akhir jaman ini banyak setan yang menyamar dan mengaku sebagai malaikat dan nabi terang . oleh perbuatan setan ini banyak umat manusia yang takluk oleh bujuk rayunya sehingga menyerahkan jiwanya untuk dipakai oleh iblis ini sebagai alat untuk menyesatkan manusia lainnya .
kalau kita eling lan waspodo sebenarnya mudah saja untuk membedakan mana ajaran iblis dan mana ajaran Tuhan sejati karena ajaran Tuhan sejati tidak mungkin menyuruh manusia untuk menyakiti apalagi membunuh orang lain demi apapun juga. karena Tuhan sejati itu mempunyai sifat yang paling khas yaitu maha pengasih dan maha penyayang. Kalaupun manusia itu telah berbuat dosa telah meninggalkan perintah tuhan dan melanggar larangannya dan lebih2 menghina ajaran tuhan sejati tidak mungkin Dia menyuruh manusia untuk melampiaskan amarahnya kepada orang lain.
Kalau ada ajaran Tuhan yang menyuruh manusia untuk menguhukum manusia lainnya demi membela Tuhan patutlah dipertanyakan dimanakah letak ke maha kuasaan Tuhan . Bukankah kalau Ia murka dengan sekali tiup saja habislah semua manusia terus kalau demikian kenapa juga Ia menyuruh2 manusia utk menghukum org lain ?
disini otak dan hati nurani memegang peranan penting dalam menyaring apa2 faham yang boleh dan yang tidak boleh diikuti. karena Tuhan memberikan otak dipakai untuk berpikir bukan sebagai hiasan saja. Kalau otak hanya dipakai sebagai hiasan dan hati nurani dipakai sebagai slogan saja maka tunggu saja saatnya untuk menjadi pengantin dan siap mendapatklan surga hawa nafsu.
salam
ismail
Bima
Agustus 27th, 2011 pada 16:04
hahaa ha…azab aja belum tau…
pegimana mau memahami yang lebih jauh lagi…hehe.
tau nya cuma syaithon, syurga, neraka, itu juga ngintip Al Qur’an…hmmm.
dan yang lebih parah lagi…perbuatan nya yang mencoba mengkalkulasi keyakinan, dengan [paramater] jumlah [korban jiwa]…hahaha…huahaaha… huahaaha…
Salami.bacon
Desember 3rd, 2011 pada 00:42
usman@
moso ada agama/nabi yang perintahin anteknya seperti itu…wah serem donk mas,
mungkin kode produksinya salah tuch mas tuch…waktu tuhan nulis SK dan kode produksinya mungkin Tuahn sedang digoda ama selirnya kali atau lagi mabok
Coba di check ulang kode ini mas…
“DJL/D4774L/Kod666tt/B4RB4R/5NI”
kalau cocok seperti kode ini berarti mitos yang di gembar gemborkan tentang
“Iblis bertanduk Pedang Bersilang” itu kemungkinan besar ada benernya mas,
fpi gpp jg nanti kita punya kolor ijo bwat ngladenin mas !!!!
Raditya
Agustus 30th, 2011 pada 03:50
Mas Bima YTH,
Jika “waktu yang telah dijanjikan” padamu telah kian dekat akankah engkau tetap memberikan komentar2 yang menurut saya kurang pantas ini. Jika sudah tiba waktunya jasad harus dikembalikan kepada Sang Pemilik, masih mampukah engkau memberikan komentar2 mu kepada para sedulur disini?
Saya merasa sangat prihatin atas tulisan2 yang kurang pantas, yang saya anggap sangat mengotori tulisan yang begitu dalam, yang tidak semua orang memiliki kemampuan untuk menulisnya.
Jikalau ada tulisan serta komentar dari sedulur kejawen/kejawener yang menurut anda menyakiti anda dan keyakinan anda saya mohon maaf sebesar2nya.
Marilah kita coba untuk memberikan wacana yang berasal dari pengalaman pribadi kita untuk di share dengan saudara yang lain sehingga menambah wawasan kita.
Saya sendiri adalah seorang kejawen murni, dimana saya tidak mengenal apa yang diistilahkan dengan malaikat, syaiton, syurga dan neraka sebagaimana yang dipahami oleh para sedulur yang berAgama.
Salam katresnan
fumakila
September 3rd, 2011 pada 21:20
BIMA BIMA BIMA…
Kenapa namamu BIMA? bukan Abdulah, Abu Sayaf, atau Muhamad?
Malukah engkau memakai nama yg berbau agamamu?
Ataukah memang ada nama Bima di agamamu? Bima nama wayang, Bimo nama Jawa. mungkin cocok namamu BEMO aja (BEda MOnyong)
Abu Bakar Sate
September 2nd, 2011 pada 14:14
Wahai orang2 yang tidak beriman sampai kapan engkau tidak percaya dengan kekuasaan Allah tuhanmu. Sebagai bukti dari kekuasannya. Kakekku beristri 4 orang masing2 ditaruh di empat penjuru sama seperti 4 sisi Kaabah supaya mereka tidak berantem subhannallah . . . . !
Juga ayamku kemarin bertelur empat buah masing2 diletakkan di empat penjuru oleh induknya seperti empat sisi kaabah subahannallah . . . . . . . ! Tetanggaku juga baru saja beli 4 mobil baru dengan uang yang didapat dari hasil korupsi masing2 mobilnya dikasihkan kepada ke 4 istri nya yang mana 1 orang istri yang tercatat di KUA sedangkan 3 istri lainnya kawin siri saja supaya kalau sudah bosan bisa dengan mudah dicerai ini pun sesuai dengan sunnah Rasulullah yang mulia subahannallah . . . . . . ! benar2 nyata kekuasaan Allah. wahai orang2 yang tidak beriman apalagi yang engkau sangsikan dari kebesaran tuhanmu . Sesungguhnya azab Allah sangat pedih di mata.
Bima
September 2nd, 2011 pada 17:23
Ya…Tetaplah fokuskan JASAD mu kepada dimensi yang EMPAT ITU…hehe…
Terpaksa maupun tidak terpaksa, suka maupun tidak suka, pembahasan mu tentang keyakinan agama, senantiasa merujuk kepada bahasa arab…hahaa ha…
Kalian tidak menyadari…kalian membahas tentang “maqom” kalian sendiri huahaa ha…haha ha.
RP
September 3rd, 2011 pada 21:02
enaknya sampean semua pada temu wajah…
ngopi bareng…jangan lupa dalangnya mangsabdo wajib hadir,,,
mari sama sama berbincang bincang…
saya salut dengan para aki abah disini..gak capek pada pagontot gontot suara….
yang kaya ongkosin yang miskin he he supaya pada kumpul
nanti kalau sudah berjumpa..silahkan keluarkan jin anda sekalian haha ha
atau kita bikin yayasan cinta indonesia..yang ngatur yang ngerti saja..
saya jadi satpam gedungnya sajah..
YAYASAN ” MAJU TAK GENTAR MEMBELA YANG BENAR”…
KALAu ADA yang ngece kelompok kita kita gebugin rame rame..
mari keluarkan semua elmu dan kesaktian tapi nanti kalau sudah kumpul
sapa tau bisa terkumpul 700 kontener emas…ha ha ha
kita bagi bagi seluruh rakyat seindonesia….
yang hadapi eyang sribaduga,aki tirem,darmasiksa dan para wali biar ane
biar ane yang minta duit,menta emas jangan disimpan saja…kalau ditampar, kan ada dewi, ntar dielus sayang…he he he
hayooo..kapan mang kita kumpul
mau berdoa bareng hayo
mau ngakalin harta ghaib bareng barang hayoo..jika minta tumbal biar ane saja..daging ane paiiit…he he
nanti jangan pada ngece apalagi jangan bahas agama dan kepercayaan, .
salam
Getur
September 4th, 2011 pada 00:55
Salam……..
Kakanda BIMA terkasih, kenapa hanya empat 4. Pernah ada seseorang mengatakan (cuman sayang saya lupa siapa namanya) mengatakan, manusia terlahir itu membawa beberapa saudara :
1. Kakang kawah ( kakak dari air ketuban yg lair duluan )
2. Adi ari** ( terlahir setelah bayi keluar dari sulbi )
3. Sadulur 4 ( malaikat kiri, kanan, depan dan belakang )
4. Badan ( tempatnya roh )
5. Nyawa ( Roh )
Mohon ma’af bila apa yg saya paparkan ini salah menurut kakang BIMA, kalau boleh tolonglah di jabarkan kepada saya yg lusuh ini, dan mohon juga dipaparkan tentang KITABUL JANNAH WANNAR ( paparan lengkap babakan kehidupan manusia dari mulai belum lahir, di alam kandungan, terlahir ke dunia, saat ajal menjelang, hingga saat menghadap pada Sang Kholiq ( ALLAH )). Saya yakin kakang BIMA pasti telah mengusai dan memahami dengan benar kitab tersebut ( KITAB milik salah satu WALIALLAH ). Oleh sebab itulah, saya berharap kakang BIMA mau membagi ilmu yg termaktub di dalam KITABUL JANNAH WANNAR kepada adimu yg papa ini…..
Atas kawelasan kakang BIMA, saya menghaturkan sembahsuwun kakang…
Salam….
Getur
September 4th, 2011 pada 01:02
Salam……..
Kakanda BIMA terkasih, kenapa hanya empat 4. Pernah ada seseorang mengatakan (cuman sayang saya lupa siapa namanya) mengatakan, manusia terlahir itu membawa beberapa saudara :
1. Kakang kawah ( kakak dari air ketuban yg lair duluan )
2. Adi ari** ( terlahir setelah bayi keluar dari sulbi )
3. Sadulur 4 ( malaikat kiri, kanan, depan dan belakang )
4. Badan ( tempatnya roh )
5. Nyawa ( Roh )
Mohon ma’af bila apa yg saya paparkan ini salah menurut kakang BIMA, kalau boleh tolonglah di jabarkan kepada saya yg lusuh ini, dan mohon juga dipaparkan tentang KITABUL JANNAH WANNAR ( paparan lengkap babakan kehidupan manusia dari mulai belum lahir, di alam kandungan, terlahir ke dunia, saat ajal menjelang, hingga saat menghadap pada Sang Kholiq ( ALLAH )). Saya yakin kakang BIMA pasti telah mengusai dan memahami dengan benar kitab tersebut ( KITAB milik salah satu WALIALLAH ). Oleh sebab itulah, saya berharap kakang BIMA mau membagi ilmu yg termaktub di dalam KITABUL JANNAH WANNAR kepada adimu yg papa ini…..
Atas kawelasan kakang BIMA, saya menghaturkan sembahsuwun kakang BIMA…
Salam….
SPONSOR
September 7th, 2011 pada 07:49
Klo Bima hidungnya EMPAT gimana ya?……….
dewi
September 4th, 2011 pada 22:26
@ RP,
Selamat malam mas RP, idenya bagus juga, semoga ini juga di dengar/ mendapat perhatian dari ki sabda sebagai pemilik blog, kita bisa kumpul2 bareng atau reuni (?)tapi di dunia nyata, bukan hanya di kahyangan saja. he he he…
11 th an silam, dewi pernah ikutan meditasi ‘sri chinmoy’ di sebuah hotel di surabaya, dewi dapat lihat di koran dan undangan itu terbuka untuk umum. Di situ saya lihat murid2nya berasal dari berbagai negara, dan kebetulan dewi dapat kenalan beberapa muridnya dan sempat berbincang/ ngobrol, dari situ dewi bisa tahu, mereka ternyata gotong royong, kompak, bahu membahu mengadakan urunan untuk acaranya, keliling dunia. Nggak semua kaya, tapi yang kaya membantu/ menopang yang miskin untuk ikut serta dalam acara2 seperti ini.
Sri chinmoy berasal dari india, tapi sekarang bermarkas di new york, kelasnya juga udah tersebar di berbagai begara, seperti halnya meditasi2 india yang lainya. http://www.srichinmoy.org/
Nah, kembali ke topik semula, kalau kita bisa ngumpul, kerja/rapat nyata, ntar akan tumbuh kesadaran persaudaraan yang sesungguhnya…., tentang kelanjutan nasib bangsa kita ini ke masa depannya mau bagaimana, kitalah yang akan merumuskannya dan tidak lupa ki sabdanya. Kita bisa membahas masalah NKRI, spiritual, harta warisan leluhur, bikin acara amal dsb. sebagai sumbangsih anak bangsa kepada negrinya yang tercinta.
Btw, yayasannya kok seram banget gitu, masa kalau ada yang ngece, kita gebukin rame2???… harusnya kalau ada yang ngece kita kasih senyuman rame2…., gitu lho bang RP sayang. He he he…
Salam cinta damai,
Dewi
RP
September 4th, 2011 pada 22:57
dewi segera kecirebon.
terus kita ke lembah suryakencana..berdua..ntar aku kenalin sama seluruh sepuh disana…
kita bermalam berdua,paling binatang2 pad turun gunung,macet pasti sekitar gunung,hk hk hk
biar mereka disana pada sibuk dengan kedatangan kita…biar bergetar gede pangrango…ha ha ha
fumakila
September 4th, 2011 pada 23:23
lah kalo tamunya macam si bima kan senyumnya jd ga tulus. terpaksa gtu loh
soalnya sering bikin eneg.pesta ga jd meriah krn sang dajal muncul
RP
September 5th, 2011 pada 00:11
YTH Bima
kenapa baginda rosul muhammad tidak bisa mengislamkan semua manusia jika Allah hanya meridhoi agama islam ..inna dyna indallohi islam….kenapa waktu perang tidak mengerahkan semua malaikat….mengapa beliau meninggal, mengapa seorang paduka tertinggi tugasnya hanya mengawli saja,tidak terus sampai kiamat sampai islam semua? mengapa jika beliau habiballoh kekasih alloh tidak meminta dengan damai tanpa PERANG untuk hanya sekedar mengislamkan semua manusia jin dan binatang beliau yang agung hanya sebentar, apakah seorang muslim yang jauhhhhhhhh maqomnya dengan beliau merasa BISA mengislamkan semua manusia? apakah hanya akan bersembunyi dalam kata ” HANYA MENYAMPAIKAN , MENGAPA HARUS ADA PEPERANGAN “….segitu dulu, saya islam saya masih jauh ingin belajar,…..tolong donk jawab mbah bima ?
fumakila
September 5th, 2011 pada 01:20
Islam is all over the world
Ga da Bra dan cd. kalopun ada merk nya adalah Astagfirullah
ga bs dibedakan mana cewek mana cowok krn semua pake kerudung dan cadar.
bs bebas kluar masuk kamar kost. asyik asyik.
ga da alkohol (HARAM)
yg ada kencing onta (sangat memabukkan dan HALAL karena onta binatang kesayangan Nabi)
Dilarang membangun gedung tinggi dan babat habis smua pohon (bukan takut gempa tp biar kesannya padang pasir tandus gtu loh)
Batik dilarang diproduksi karena baju Nabi polos
Semua laki laki harus berjenggot dan wanita harus “berjenggot” pula
tidak ada miss universe. yang ada Lomba mirip Kambing sedunia.
Tidak ada lagi kaum kafir. krn semua orang adalah suci. (komunis)
Mengatakan sumpah saat Ijab Kabul (spt saipul jamil) biar semua orng dengar.
dan saat malam pertama istri harus berteriak keras. Alhamdulilah “besar sekali” atau Astagfirullah “kecil Benar” sebagai perwujudan istri mendukung suami.
Semua Ustad jd kaya raya krn kebanjiran order dakwah. UUD
akhir kata.. Negara dan daerah serta pulau akan sangat sepi tanpa ada manusia. karena semua orang pergi naik haji.
Bima
September 5th, 2011 pada 02:46
syukron kang RP…
bukan kah kita sedang memasuki bulan sy-awal…hmmm.
Allahumma Shalli ‘Alaa Sayyidina Muhammad…
Wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad…
yaa sayyidi yaa rasulullah…
Khudz biyadi qolati minhilati adrikni, adrikni, adrikni yaa rasulullah
Insya Allah.
Bima
September 5th, 2011 pada 02:53
syukron kang RP…
bukan kah kita sedang memasuki bulan sy-awal…hmmm.
Allahumma Shalli ‘Alaa Sayyidina Muhammad…
Wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad…
yaa sayyidi yaa rasulullah…
Khudz biyadi qolati minhilati adrikni, adrikni, adrikni yaa rasulullah
Insya Allah.
RP
September 5th, 2011 pada 01:35
saya sarankan anda ke mekah….tapi pake baju ihram..atau pake baju sorban putih..
entar kalau pake hitam dan jins….semua pada ludahin..DIJAMIN..
mereka akan bilang masya allah..astagfirulloh
coba anda tembus barisan muslim yang lagi munajat pada gusti allah..
bisakah anda sentuh ka’bah…bisa bisa dipentungin….masya allah
lalu anda berteriak..oh ini hanya kubah segi empat…..
sebelum mencoba jangan soktau apa rasanya..
kalau gak percaya …coba lakukan..
kalau aku punya ongkos tak ongkosin..sayang aku juga miskin mas…he he
atau ente bikin plang deh..SAYA MINTA ONGKOS MAU KEMEKAH MAU TAU SEPERTI APA KUBAH SEGI EMPAT YANG DISUCIKAN AGAMA ISLAM…
kalau gak pake ijab kobul..kambing kali..main entot..
apakah anda pengen punya istri…tanpa CARA SAH..
atau ente gigolo main pacek bebas
semua aturan tidak akan memberatkan…semua aturan ada tujuan dan manfaat
….
semua ada MaKSUDNYA
fumakila
September 5th, 2011 pada 02:27
Hahaha
Komenku salah alamat
fumakila
September 5th, 2011 pada 11:12
Sejarah Tuhan Ditulis oleh Manusia
Tuhan tidak langsung jadi. Tapi berproses dalam kesadaran manusia. Berproses sejalan dengan evolusi perkembangan pemikiran manusia.
Tuhan manusia purba juga berwajah purba. Tuhan manusia modern juga berwajah modern. Tuhan manusia kasar juga berwajah kasar. Tuhan manusia lembut juga berwajah lembut. Tuhan manusia tuyul juga berwjah tahyul. Tuhan manusia peramal juga berwajah dukun. Tuhan manusia penjilat juga berwajah ingin dijilat. Tuhan manusia rewel juga berwajah banyak cincong. Tuhan manusia kaku juga berwajah hakim siap ketok palu.
Sang pematung yang kaya imaji akan memahat patung yang indah.
Sang pematung yang tumpul akan menciptakan patung yang lugu.
Patung adalah pantulan dari pematungnya.
Dan sosok Tuhan adalah pantulan dari imajinasi manusia.
Pantulan dari perasaan manusia.
Pantulan dari pikiran manusia.
Andai manusia tidak ada, sejarah Tuhan tidak pernah ditulis oleh hewan dan tumbuhan.
Sejarah Tuhan adalah rekaman sejarah kebudayaan manusia.
Hasil cipta, karsa dan rasa manusia di sepanjang sejarah kehidupan.
Apakah Tuhan yang sebenarnya ada?
Dan seperti apa?
Manusia sudah menulis jawaban yang berbeda-beda.
Di setiap zaman di setiap masa
Di lain tempat di lain daerah.
Sejarah Tuhan ditulis oleh manusia
Sumber : Blogernas
fumakila
September 5th, 2011 pada 11:19
Sok Tahu tentang Tuhan!
Sebutkan definisi Tuhan menurut Islam!
Sebutkan definisi Tuhan menurut Kristen!
Sebutkan definisi Tuhan menurut Buddha!
Sebutkan definisi Tuhan menurut Hindu!
Sebutkan definisi Tuhan menurut Filsafat!
Sebutkan definisi Tuhan menurut Aristoteles!
Sebutkan definisi Tuhan menurut Augustinus!
Sebutkan definisi Tuhan menurut Anselmus!
Sebutkan definisi Tuhan menurut Thomas Aquinas!
Sebutkan definisi Tuhan menurut Al Ghazali!
Sebutkan definisi Tuhan menurut Ibnu Rusyd!
Sebutkan definisi Tuhan menurut Ibnu Arabi!
Sebutkan definisi Tuhan menurut Muhammad Iqbal!
Dan
Sebutkan definisi Tuhan menurut Erianto Anas!
Saya hanya akan menjawab perintah terkahir, yaitu definisi Tuhan menurut Erianto Anas. Karena saya tidak bisa meminjam dan mengafal Tuhan menurut siapa saja. Saya akan menciptakan Tuhan buatan saya sendiri. Tapi bukan untuk saya sembah. Tapi untuk saya bunuh!
Apakah saya kejam? Harus!
Jika saya tidak kejam, maka sayalah yang akan dibunuh oleh Tuhan. Saya harus berkelahi dengan Tuhan. Karena saya sudah lama dikeroyok oleh satu truk definisi tentang Tuhan.
Saya tertarik dengan Ibrahim yang mengira bulan dan matahari adalah Tuhan tapi akhirnya menolak bahwa itu bukanlah Tuhan
Saya tertarik dengan pengalaman Musa yang pingsan di Bukit Sinai, yang tidak bisa melihat Tuhan karena sudah pingsan ketika Bukit Sinai runtuh.
Saya tertarik ketika Muhammad mengaku jujur bahwa dirinya tidak tahu menahu tentang Roh.
Saya tertarik dengan Nietzsche yang mengatakan bahwa pembicaraan tentang Tuhan hanya sia-sia. Karena Tuhan hanya konstruksi pikiran, sebuah postulat atau pengandaian yang dibangun oleh manusia itu sendiri.
Dan akhirnya saya tertarik dengan pandangan Erianto Anas tentang Tuhan.
Erianto Anas mengatakan bahwa Tuhan adalah batas kemampuan manusia. Setiap dia tidak sanggup memikirkan segala sesuatu maka dia katakan bahwa manusia terbatas dan Tuhanlah yang Maha Tahu segalanya. Inilah yang disebutnya bahwa dirinya sok tahu tentang Tuhan. Setelah mengaku bahwa dirinya terbatas, kok tiba-tiba dia jadi tahu bahwa Tuhan Maha Tahu?
Erianto Anas mengatakan bahwa Tuhan adalah batas ketidakberdayaan manusia. Ketika dia tidak sanggup menolak bencana maka dia mengaku dirinya lemah tak berdaya. Hanya Tuhanlah yang Maha Kuasa akan segalanya. Dari mana Erianto Anas itu tahu bahwa Tuhan Maha Kuasa? Padahal tadinya dia mengaku dirinya lemah tak berdaya. Tapi kenapa tiba-tiba dia jadi mampu mengatakan bahwa Tuhan Maha Kuasa? Dari mana dia tahu?
Erianto Anas mengatakan bahwa Tuhan adalah batas (puncak/anti klimaks) kekaguman manusia akan Alam yang sangat sangat menggumkan. Di saat itu dia berguman tidak bisa memahami apalagi menguasai alam. Lalu dia berguman: “Pasti ada sesuatu yang menciptakan semua ini!” Kenapa dia merasa pasti bahwa ada yang menciptkan alam dengan segala isinya? Dari mana dia tahu bahwa ada yang menciptkan semua yang dilihatnya? Apakah dia tidak sedang mengkhayal?
Erianto Anas mengatakan Tuhan adalah sesuatu yang bergetar dalam hati. Ketika hatinya begitu tersentuh dan merasakan suatu Misteri yang selalu melingkupi dirinya, maka dia katakan ada Tuhan dalam hatinya. Atau paling kurang dia bisa merasakan kehadiran Tuhan dalam hatinya. Dari mana dia tahu bahwa yang dia rasakannya itu adalah Tuhan? Atau jejak Tuhan? Atau sapaan Tuhan? Pernahkah dia bertemu dengan Tuhan kemudian merasakan bahwa seperti itulah rasanya bila disentuh Tuhan? Apakah Erianto Anas tidak mengkhayal? Dengan segala perasaannya sendiri?
Dan masih banyak definisi lainnya yang dia bangun. Tapi sekaligus juga dia tolak. Semua tentang Tuhan itu ditulisnya dalam sebuah bukunya setebal 2 juta halaman, yang akan diluncurkannya pada hari kiamat. Itupun jika kiamat itu ada. Jika kiamat tidak pernah terjadi maka buku itu tidak akan pernah diterbitkannya. Tapi sampul buku itu sudah selesai sejak minggu lalu, yang ia beri judul:
SOK TAHU TENTANG TUHAN
Sumber : Blogernas
Bratayuda
September 5th, 2011 pada 13:25
he he he
bagus dan tepat juga pembahasan Kang Fuma,….
semuanya memang perang pemikiran tentang tuhan,…..
dan akhir nya mengatakan akulah yang paling bener…….he..he
dan puncak nya secara tak langsung akulah sang kebenaran…????
lalu mencaci dan mencela keyakinan org lain….
dengan alasan menegakan kebenaran versi Katanya….he..he
padahal tuhan nya sendiri pernah ber firman, kurang lebih spt sbb:
“kalau memang kampung akhirat adalah miklikmu, dan bukan untuk yang lainnya,…?, mintalah kematianmu kalau kamu adalah orang yang benar”
namun itulah prilaku manusia yang sok tahu tentang tuhan, sebagai FIR’AUN modern. he…he ,. dan itulah dajjal sudah tampak disini jualan dalil berdasarkan KATANYA., ciri-ciri nya mirip thogut , kalau tak sama dengan pola fikirnya dia bantah abis…. inilah calon wadal banas pati….he….he
JS
September 7th, 2011 pada 10:52
Salam Mas Fumakila dan Mas Bratayuda……..
Saya tertarika dengan kata kata tentang khayalan …rasa yang merasa…definisi dan hal hal lain yang berkait dengan apa apa yang diduga dengan atau namaTuhan……
Ada 2 sisi manusia yang saling bertolak belakang dan sudah dipertontonkan manusia kepada manusia lain……1 sisi yang sudah sangat yakin adanya Tuhan dan sudah mendefinisikan tentang apa apa soal Tuhan dan sisi yang lain tidak percaya dengan menolak dan bahkan tidak terbersit dalam logika pikirnya…….
Kalimat tentang ketidaktahuan manusia tentang Tuhan tetapi kenapa lalu bisa menjawab bahwa Tuhan adalah maha tahu dan kalimat yang lain mengatakan Tuhan adalah batas ketidak berdayaan manusia dst dst yang akhir dari kesimpulan Anas dalam akhir pemikirannya adalah sok tahu tentang Tuhan….
Saya hanya menulis sedikit yang mungkin bisa dijadikan pemikiran kita sendiri soal jasad kita pribadi….
Kita mendengar soal nama Tuhan selama ini mungkin dari berita atau faham orang lain………..
Msalkan kita belum pernah mendengar soal nama itu tetapi kita mengalami suatu peristiwa nyata dan lalu kita berpikir soal itu dan akhirnya kita tidak bisa menjawab soal suatu peristiwa itu karena sesuatu itu adalah hal yang sangat baru dan hal yang tidak biasa dan tidak masuk logika pikir kita maka kita akan menamakan sesuatu itu dengan banyak nama dan terserah dengan anggapan atau pikiran manusia itu sendiri……hi..hi..sesuatu yang tidak punya nama atau belum diberi nama oleh manusia yang sedang mengalami peristiwa tersebut…….
Kenapa ketika manusia yang sedang sadar dan sedang memakai logika pikirnya tapi tidak bisa menjawab hal hal yang sudah dilihatnya sehari hari dan kenapa didalam tidak sadarnya maka dia menjadi seolah mengerti soal yang ketika dipikir oleh logika sadarnya dan peristiwa seperti ini mungkin banyak terjadi dan kita ketahui dari pengalaman manusia suci yang sudah almarhum dan sudah ditulis dalam sebuah buku…. …..
Sadar dan tidak sadar adalah hasil olah pikir logika pikiran sadar kita…..
Sadar menurut kita adalah ketika kita bisa memfungsikan apa apa yang sudah kita miliki seperti berpikir melihat mendengar dan lain lain dan arti dari tidak sadar maka kita juga menjawab dengan logika pikir sadar kita dan contoh paling gampang adalah peristiwa tidur atau pingsan……….
Hidup yang berada dalam diri manusia menurut saya adalah sebuah kesadaran yang terus menerus dan kesadaran yang sudah kita jalankan hanyalah sebagian kecil dari kesadaran mutlak / sempurna tubuh kita……..
Sadar kita ternyata terbatas atau dibatasi oleh kesadaran sempurna tubuh kita…….
Sadar bahwa kita hidup dan bergerak dan berlogika pikir kita ini seperti hidup mata kita sendiri.. .terbuka kemudian tertutup dengan waktu yang sudah ditentukan oleh kesadaran sempurna tubuh kita sendiri…..kesadaran yang sedang kita alami hanya seperti hak sewa atau numpang hidup kepada pemilik rumah…….
Bagi para manusia yang melakukan semedi atau meditasi dan banyak cara yang lain maka manusia itu sepertinya mecoba untuk masuk dalam kesadaran sempurna tubuhnya mungkin bisa saya gambarkan seperti kapal yang mengarungi samudera yang luas …atau bisa saya katakan.manusia dalam alam tidak sadarnya mencoba untuk mengikuti atau melihat tentang kesadaran sempurna yang melingkupi diri manusia….
Didalam diri manusia mungkin bisa dinyatakan ada aku kecil sebagai sadar semu yaitu logika sadar manusia dan ada aku besar sebagai kesadaran yang terus menerus……….
Peristiwa diatas mungkin sudah digambarkan oleh sebagian manusia yang terpilih…..seperti Nabi Isa ketika dalam genongan…….Nabi Musa dalam pingsannya…..Nabi Muhammad dalam tidak sadarnya ketika menerima wahyu….atau cerita Bima yang juga pingsan kemudian bertemu Dewa Ruci…….
Mungkin banyak manusia mencoba untuk napak tilas soal peristiwa itu dan yang jelas maka semua yang dialami dalam tidak sadarnya tidak terbayangkan sebelumnya oleh logika sadarnya dan ketika si Kresna bertanya soal Dewa Ruci kepada Bima maka yang keluar dari ucapan Bima adalah….semua itu akan saya ceritakan kepada manusia ketika sudah waktunya dan sebenarnya ini adalah urusan pribadi……………..
Apakah sesuatu yang diketahui oleh manusia dalam mengarungi kesadaran mutlaknya dan apa nama namanya dan apakah boleh dikatakan sebagai awal mengenal atau bersaksi tentang sesuatu yang mungkin ada sangkut paut dengan sesuatu yang serba maha dan tidak terjangkau oleh pemikiran manusia biasa…..
…
Mohon maaf kepada Pinisepuh….saya menulis itu hasil dari hasil mendengar dan jujur saya katakan bahwa saya sangat jauh dari apa yang saya tulis……..salam rahayu……
GBU
September 7th, 2011 pada 16:41
@Rp and Dewi
..kita bermalam berdua..biar bergetar gede pangrango…ha ha ha
————
hihi, bukan pasutri kok nginep berdua, awas kena denda!
http://id.berita.yahoo.com/bukan-suami-istri-jangan-coba-coba-seatap-185800730.html
dhony
Oktober 9th, 2011 pada 19:55
dewi segera kecirebon.
terus kita ke lembah suryakencana..berdua..ntar aku kenalin sama seluruh sepuh disana…
kita bermalam berdua,paling binatang2 pad turun gunung,macet pasti sekitar gunung,hk hk hk
biar mereka disana pada sibuk dengan kedatangan kita…biar bergetar gede pangrango…ha ha ha
ckckckckck
hahaha.
Bratayuda
September 8th, 2011 pada 04:16
a demikianlah Mas JS,
memahami tentang Tuhan memang banyak sekali pendapat pehaman pengalaman yang bisa dikaji dari arah manapun atas segala apa yang telah diciptakan Nya, termasuk dalam diri kita sendiri ( mengenal diri), atas perbuatan Tuhan di alam semesta (makro) dan alam manusia(mikro) diri sendiri.
Yang di beri kesempatan oleh Tuhan untuk melihat ke Maha Besaran Nya, tentu semua itu disaksikan oleh otak bawah sadar nya (otak kanan spiritual) dalam kondisi tertentu, dan dirasakan oleh hati. difahami oleh akal. Selanjutnya otak sadar nya (otak kiri yang bersifat kongkrit, hitungan, bahasa) hanya diam tak mampu menjangkau menterjemahkan dalam bahasa pikiran sadar nya atas ke Maha Besaran Nya, kecuali dalam bentuk kata bahasa saja. Sebagai mana kata kalimat “Tuhan Maha Besar”, hanya sebatas itu kita bisa katakan,
Selanjutnya bila informasi ttg Kemaha Besaran Tuhan itu proses atas laku spiritual, maka apa yang telah disaksikan oleh hati melalui kemampuan otak kanan, yaitu otak yang kemampuan nya lebih besar(88%) dari otak kiri, akan menjadi pemahaman dalam kebijakan nya. Otak kanan bersifat sipirtual, emosi, dan ketenangan, kesetabilan, telah melihat hal-hal yg berifat abstrak atas kemaha besaran Tuhan.
proses dari itu semua disampaikan kepada kesadaran otak kiri melalui otak tengah(mid brain) sebagai bridge interface (jembatan antar muka) terdiri dari jutaan neuron yang mampu menampung dan menyambungkan berbagai informasi baik abstrak maupun kongkrit, dari apa yang terjadi atas apa yang dilihat nya oleh MK3 (mata ketiga) dalam fungsi kelenjar pineal pada kepala manusia.
Akhirnya kesadaran otak kiri memang mengalami seperti yang Mas JS katakan, yaitu “tentang sesuatu yang mungkin ada sangkut paut dengan sesuatu yang serba maha dan tidak terjangkau oleh pemikiran”. Semua itu memang sulit dikatakan oleh pemikiran otak kiri dalam bahasa, sehingga manusia menjelaskan nya melalui metode filsafat dan metafisika, dalam intelektualisme nya, yang hanya mampu difahami oleh yang se level dengan nya, dalam bahasa hati (rahsa).
Nah mungkin bisa kita fahami semua proses itu……?
Apabila manusia kesadaran otak kiri nya hanya dipenuhi oleh dalil-dalil tentang konsep teori Ketuhanan dan nama-nama Kebesaran Tuhan tanpa mampu memfungsikan dan mengalami proses spiritual pada otak kanan dan hati nya. Maka hanya itu yang menjadi andalan dan di agung-agungkan nya, sebagai ilmu “KATANYA”.
Apa bila hanya sebatas kemampuan otak kiri saja yang diyakini tanpa mampu membuktikan nya secara spiritual, maka terjadilah kepincangan dalam fungsi indera manusia yang lengkap itu. Selanjut nya apa yang diyakini atas dasar KATANYA, menjadi keputusan yang terkesan final. Jadi yang berlangsung hanya klaim pembenaran pribadi saja. makanya munculah dalil ayat2, yang tak pernah difahami haqikat kebenaran nya sama sekali. Kecuali penjelasan nya hanya mbulet jalan ditempat bahkan kontra produktif.
Manusia seperti ini moral dan mental nya menjadi kerdil dan jiwa nya terhambat, tak mampu menerima segala perbedaan yang Tuhan ciptakan. Bahkan dalil-ayat Tuhan yang lainpun dilabarak dan dilanggar nya. Ibarat nya ia ambil dalil ayat Tuhan sebagai argumentasi atas nfasunya, dan ia injak-ijak dalil ayat lain nya.
Pada akhirnya atas aktivasi seluruh fungsional indera manusia yang lengkap itu, ajaran kebenaran Tuhan bukan saja berupa aksara dalil yang disuarakan dan tersurat, namun lebih luas dari itu tentang sesuatu yang tersirat dan yang tak mampu dijelaskan oleh pemikiran sadar otak kiri, yang akhir nya akan membawa manusia pada kesadaran ilahi dan kebijakan ilahi dalam keluhuran budi pekerti pada prilakunya, rendah hati, rela dan sabar dalam segala hal perbedaan, serta jembar hati nya.
Mampu menerima Tuhan dengan selurh eksistensi Nya. Karena ia telah melihat Kebesaran Nya, dan selalu merasa diawasi Tuhan dimanapun dalam segala apapun, maka ketika melihat keberadaan orang lain sebagai makhluq Nya adalah ia melihat dirinya pula, baik kekurangan dan kelebihan nya, yang tak perlu dicela dan di hujat, apakah itu merasa paling benar atau tersaingi.
Salam Karaharjan.
JS
September 8th, 2011 pada 13:05
Salam Mas Bratayuda………
Terima kasih atas uraian yang mungkin sudah bisa dimengerti oleh kita semua……
Otak….daya pikir …akal…energi yang ditimbulkan adalah hal yang sangat luar biasa dan mungkin para pakar anatomi kedokteran fsika kimia masih belum bisa menjawab dengan tuntas soal organ yang sangat spesial ini….mereka masih dalam bicara bingkai benda mati dan masih dalam melihat bentuk jasad fisik organ itu…..organ yang sangat amat ruwet dan bersinambungan antar sel otak / neuron dengan jumlah trilyun sambungan….
Kenapa Tuhan mengatakan bahwa bahwa manusia dikatakan mahluk berakal dan sempurna diantara mahluk yang lain dan orang jawa mengatakan manusia adalah manungso yang diartikan menjadi sanepan manunggaling roso / menyamakan manyatukan segala rasa …entah apa maksud dari kata kata itu………
Mahluk binatang juga mempunyai organ tubuh itu tapi kenapa dikatakan tidak berakal dan tidak berbudi maka dalam hal ini jelas ada maksud perbedaan dalam fungsi dan akibat luar biasa yang ditimbulkan oleh otak manusia itu…..
Organ manusia itu yang didalam istilah orang jawa menimbulkan hal ahal yang sangat penting yaitu roso karso karyo dan manembah atau iman kepada sesuatu yang sudah dianggap oleh akal / organ itu sendiri……..
Banyak sifat dan nama Tuhan sudah yang sudah diturunkan menjadi suatu ilmu dan akibatnya dan sudah kita nikmati dalam dunia ini seperti TV….Handphone…Radio….Radar…Computer dan data bilangan biner dan banyak hal yang lain……
Saya tidak faham soal berapa besar frekuency dasar organ otak manusia itu dan frekuency apa saja yang bisa ditangkap dan dianalisa oleh otak kita dan kalau boleh saya katakan bumi atau cakrawala pasti dipenuhi dengan gelombang yang sangat banyak dan beragam dan pasti berpola atau berbentuk dan kalau kita bisa melihat itu mungkin saja udara ini seperti hutan belantara yang sangat penuh dengan gelombang yang sudah dipancarkan oleh alat transmitter…..gelombang yang bercampur baur tapi tidak bersinggungan………
Kalau kita mau berpikir dan obyektif dalam menjawab maka hidup kita ini maunya hidup keinginan kita / logika pikir yang terbatas atau dibatasi / sadar semu atau keinginan dari otak kita / sadar yang terus menerus……
Seperti apa yang sudah saya tulis diatas dan tentang banyak ulasan dan pertanyaan banyak manusia tentang pertanyaan yang belum terjawab yaitu soal ” siapa kita ini sebenarnya “……
Soal kata kata faham islam atau orang jawa yang mungkin artinya sama yaitu Tuhan amat sangat dekat dari ulat leher dan orang jawa mengatakan bersatu padu tetapi tidak bersinggungan atau berdiri tegak tapi tidak membutuhkan sanggahan atau topangan…..bercampur tetapi berdiri sendiri dan tentunya ada keterkaitan satu dengan yang lain maka kalau saya menyimpulkan dengan pandangan yang berdasar dengan ilmu atau alat yang sekarang ini yaitu receiver dan transmitter frekuency / gelombang….gelombang yang mungkin bilangan satu tetapi berisi dengan data yang tidak berhingga…….
Mohon maaf…..apa yang saya tulis tentunya dalam bingkai ilmu yang amat sedikit dan hanya setetes dan saya memakai atau menyimpulkan kata kata menduga atau mungkin saja sebagai makna kias atau sanepan…….
Bagaimana soal manusia memperoleh…..wahyu….ilham…hidayah…naluri…insting…melihat gaib….meramal seperti prabu Joyoboyo dalam menembus waktu kedepan…..apa sebenarnya yang sedang diterima otak kita dan bagaimana prosesnya dst dst dst….ilmu kita yang sudah super canggih dan disimbolkan dengan alat yang namanya computer tetap tidak bisa menyaingi otak kita……he..he..he….computer tidak mempunyai budi luhur atau rasa dan masih benda mati dan tentunya sangat jauh beda dengan organ special kita…………,….salam rahayu………
tembayat
September 14th, 2011 pada 09:03
Kagem poro sederek sedoyo
Sugeng Injing !
Maafkan saya yg bodoh dan anak bawang ini mengingatkan saja seterusnya terserah anda semua.iNILAH PESAN DARI INDRALOKA:
Hari telah telah berganti,tahun telah berganti zamanpun juga akan berganti,tak usah ribut/debat kusir soal agama siapa yg salah siapa yg paling sempurna,wujudkanlah dalam karya nyata bukan teori muluk2 yg kadang hanyalah menyakiti sesamanya.Selama masih makan,minum dan buang hajat di Nusantara khususnya di Tanah Jawa,nggak perlu mengingkari para leluhur tanah Jawa.Memangnya kita lahir dari batu,memangnya nenek moyang kita SIAPA? Sejak Kanjeng Nabi Musa pun telah diperintahkan untuk menghormati orang tua,karena bilau2lah wakilNya dinunia ini bagi kita sebagai perantara terlahirnya kita didunia ini apapun sukunya,agamanya,pendidikannya.
Kita jangan ingkar terhadap wadah kita seperti unen-unen kacang lupa kulitnya.Merasa dapat ilmu baru,merasa hidupnya lebih sempurna ibadahnya sempurna,pada hal siapa yg bisa memastikan kalau amal,ibadah,suhud,dll nya diterima Nya ?
Para cucu tanah Jawi sudah sulit menerima nasehat dan saran karena merasa paling sempurna,adigang adigung adiguna.Napsu dunia telah mencengkeramnya harta,tahta dan wanita sudah menjadi panglimanya.Hina menghina,fitnah memfitnah sudah membudaya ,rasa welas asih sudah barang mahal pada hal mengaku orang yg dekat dengan Yang Maha Pengasih dan Penyayang.
Bila tidak ada pertobatan bumi jawa dwipa sudah tidak sanggup menahan beban kesombongan dan keangkaramurkaan munusia yang diatasnya ,maka yang terjadi adlah hilangnya keseimbangan bumi tanah Jawa.dan yang lebih mengerikan adlah tanah jawa bisa terbelah dua bahkan bisa tiga timur,tengah dan barat.
saat ini amat sangat diperlukan doa cucu-cucu tanah jawa yg bersih hatinya,tanpa pamrih,tanpa membeda-bedakan suku agama status.Waktu kian mendekat,zaman kalasuba kian dekat didepan mata,sayangilah anak cucu kita dengan mengajarkan kasih sayang,welas asih kepada sesama,janganlah anak cucu kita diracuni dngan kebencian yg menggila.
“SANG PEMELIHARA” siap melakukan keseimbangan alam raya khususnya Bumi Jawa Dwipa,SING SOPO MBIBITI OLO ING KONO WANHYUNE BAKAL SIRNO,BECIK KETITIK OLO KETORO.
Matur nuwun
sugeng enjing
September 14th, 2011 pada 10:19
PENGUMUMAN :
woiii amanat dari para leluhur dan para dewa di segala penjuru arah mata angin, akhir2 ini ada upaya untuk menghilangkan kepercayaan dan spiritual asli negeri ini, padahal haah maka singkat saja biar tidak bertele-tele karena menjemukan, kalian yang merasa sebagai wong jowo, sunda, batak dll, kalian harus menjaga aliran spiritual asli negeri ini, baik ALIRAN KEJAWEN, SUNDA, SUNDA WIWITAN, SPIRITUAL BATAK DLL……
itu amanat dari para leluhur dan para dewa, jadi kalian jangan membantah…..
segala perpustakaan manuskrip kuno khususnya di keraton2 harap dijaga dengan sepenuh kehormatan…
itu asset besar nusantara….
sumpah para leluhur dan para dewa telah menghiasi langit malam dan menjadi menggemparkan membangunkan para lelembut…..
dan aku tahu banyak oknum tidak jelas bergentayangan di blog ini dan di berbagai sektor untuk menghilangkan aliran spiritual asli negeri ini…….
mereka akan berhadapan dengan amarah dewa…..
sekian terima kasih…..
Wong Bodo
November 10th, 2011 pada 17:06
Hari telah telah berganti,tahun telah berganti zamanpun juga akan berganti,tak usah ribut/debat kusir soal agama siapa yg salah siapa yg paling sempurna,wujudkanlah dalam karya nyata bukan teori muluk2 yg kadang hanyalah menyakiti sesamanya.Selama masih makan,minum dan buang hajat di Nusantara khususnya di Tanah Jawa,nggak perlu mengingkari para leluhur tanah Jawa.Memangnya kita lahir dari batu,memangnya nenek moyang kita SIAPA? Sejak Kanjeng Nabi Musa pun telah diperintahkan untuk menghormati orang tua,karena bilau2lah wakilNya dinunia ini bagi kita sebagai perantara terlahirnya kita
didunia ini apapun sukunya,agamanya,pendidikannya.
—————————————————————————————————————————————-Saya sangat setuju sekali..agama tidak untuk di perdebatkan…kalau ada di antara sedulur2 yang merasa benar dengan keyakinannya..nyatakanlah kebaikannya dalam tindakan nyata..hidup berdampingan dalam rasa welas..asih dan asuh..
Ambillah satu keyakinan atau agama dan tidak perlu menghujat agama lain, tolong menolong sesama manusia, menghormati keyakinan sedulur yang lain lebih utama daripada kita berkutat dalam masalah debat kusir..
Hidup di dunia dengan aman damai tentu keinginan kita semua..
Untuk urusan hidup setelah mati di dunia kita serahkan kepada Sang Pemilik Hidup
“SANG PEMELIHARA” siap melakukan keseimbangan alam raya khususnya Bumi Jawa Dwipa,SING SOPO MBIBITI OLO ING KONO WANHYUNE BAKAL SIRNO,BECIK KETITIK OLO KETORO.
———————————————————————————————————————————-
Salam Rahayu
JS
September 14th, 2011 pada 11:06
Salam untuk Pinisepuh Sugeng Enjing………terima kasih atas pengumuman itu…..semoga saya bukan seseorang yang berniat menghilangkan spritual asli negeri ini……..salam rahayu…..
ga GAK
Oktober 4th, 2011 pada 10:34
haha…betul betul betul…
emas dalam lumpur…menyilaukan mata…