Jamasan pusaka merupakan salah satu cara merawat benda-benda pusaka, benda bersejarah, benda kuno, termasuk benda-benda yang dianggap memiliki tuah. Dalam tradisi masyarakat Jawa, jamasan pusaka menjadi sesuatu kegiatan spiritual yang cukup sakral dan dilakukan hanya dalam waktu tertentu saja. Lazimnya jamasan pusaka dilakukan hanya sekali dalam satu tahun yakni pada bulan Suro. Oleh karena jamasan pusaka mempunyai makna dan tujuan luhur, kegiatan ini termasuk dalam kegiatan ritual budaya yang dinilai sakral.
ARTI & TUJUAN JAMASAN PUSAKA
Jamasan berarti memandikan, mensucikan, membersihkan, merawat dan memelihara. Sebagai suatu wujud rasa berterimakasih dan menghargai peninggalan atas karya adiluhung para generasi pendahulunya kepada para generasi berikutnya. Tujuannya adalah orang yang memiliki pusaka tetap mempunyai jalinan rahsa, ikatan batin, terhadap sejarah dan makna yang ada di balik benda pusaka. Si pemilik benda pusaka dapat mengingat para pendahulunya yang telah berhasil menciptakan suatu karya seni dan budaya yang mempunyai seabrek nilai luhur. Sehingga jamasan pusaka tidak sekedar membersihkan dan merawat fisik benda pusaka saja, tetapi lebih penting adalah memahami segenap nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam benda pusaka. Nilai luhur tidak sekedar diingat-ingat saja, lebih utama perlu dihayati dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai tersebut menjadi aset kekayaan khasanah budaya yang meliputi filsafat dan seni hasil pemberdayaan budipekerti manusia, dalam interaksinya dengan kebijaksanaan tata kosmos. Melihat benda pusaka bukan sekedar dari aspek estetikanya saja namun lebih dalam lagi dilihat nilai esoterisnya berupa hikmah kebijaksanaan hidup manusia dalam hubungannya antara manusia dengan alam beserta segala isinya yang disimbolkan dalam pernik dan detail benda pusaka. Oleh sebab itulah dalam benda pusaka juga menyimpan rangkaian simbol berisi nilai-nilai kearifan lokal. Kearifan sosial yang diinspirasi oleh sifat-sifat dan hukum alam yang ada di lingkungan masyarakat setempat. Semakin ampuh daya kekuatan suatu benda pusaka, berarti pula benda pusaka itu memuat nilai-nilai yang sanga selaras dengan sifat-sifat dan hukum alam tata kosmos. Atau nilai yang manunggal dengan tata kosmos. Panunggalan atau keselarasan ini tidak hanya terjadi pada benda pusaka saja, pada manusia pun panunggalan atau keselarasan tata kosmos ini terjadi, yakni antara diri pribadi (mikrokosmos) dengan tata kosmos jagad raya (makrokosmos). Atau panunggalan antara individu dengan Tuhan yang mewujud dalam segala sifat dan hukum yang ada di jagad raya. Disebut pula “manunggaling kawula kalawan Gusti“. Tidak hanya benda pusaka, seseorang yang mampu manunggal atau selaras dengan tata kosmos, ia akan menjadi manusia ampuh sakti mandraguna.
Di situlah pesan yang terdapat di balik ritual jamasan pusaka. Agar manusia selalu ingat atau eling pada sangkaning dumadi. Melalui cara memahami hakekat nilai adiluhung yang tersirat pada benda pusaka. Untuk selanjutnya dihayati dalam kehidupan sehari-hari. Yang disucikan tidak saja benda pusaka yang dimiliki, namun lebih utama adalah hati dan fikiran si pemilik benda pusaka. Kenapa dilakukan pada setiap bulan Suro, karena dalam bulan ini merupakan bulan paling sakral bagi orang Jawa. Di mana manusia Jawa harus lebih banyak melakukan mawas diri, evalusasi diri, lebih gentur laku prihatin, meningkatkan sikap eling dan waspada. Dan pada kenyataannya memang di bulan Suro ini seringkali terjadi suatu peristiwa yang mempunyai makna mendalam. Bisa jadi suatu peristiwa yang sangat membahayakan, bisa pula suatu peristiwa yang penuh berkah. Semua tergantung “laku” masing-masing individu. Yang mau prihatin, eling dan waspada, hati-hati, setiti, teliti tentu akan selamat dan mendapat berkah Tuhan. Sebaliknya yang ceroboh, gegabah, lupa diri, sembrono akan beresiko besar karena berada sangat dekat dengan segala macam marabahaya.
Untuk pusaka-pusaka yang digunakan sebagai media komunikasi dan interaksi antar manusia yang masih hidup beserta raga dengan yang sudah hidup tanpa raga, hendaknya lebih diperhatikan untuk melakukan jamasan setiap bulan Suro. Apalagi berhubungan langsung dengan leluhur yang menurunkan Anda sebagai pemilik pusaka. Jika diabaikan atau tidak dirawat itu artinya Anda sudah malas untuk menjalin tali rahsa dengan para leluhur Anda sendiri. Akibatnya leluhurpun merasa dicuekin, dan leluhurpun tidak lagi mempedulikan Anda. Pusaka Anda jadi kosong melompong tiada lagi energi supernatural-nya. Kecuali tersisa hanya energi alami yang terasa sangat lemah.
Pusaka Kosong Tidak Terawat
Prinsip ini dapat juga diterapkan bagi Anda yang ingin mengaktifkan lagi pusaka-pusaka yang sudah tak berisi, kosong atau lemah. Caranya, rawatlah dan jamasi secara rutin sembari meminta kekuatannya supaya kembali seperti sedia kala. Jika Anda beruntung tentu akan mendapat “pulung“, isi pusakanya kembali lagi. Keberuntungan Anda ditentukan oleh beberapa hal misalnya, getarannya cocok dengan getaran bawaan Anda sejak lahir. Getaran ini merupakan corak karakter dan watak. Ia akan bekerja secara otomatis dalam wilayah kerja hukum alam yang saling memadu dan menyeimbangkan satu sama lain sebagaimana prinsip yin yang. Jika Anda berkarakter lembut, maka pusaka-pusaka berkarakter aktif dan keras yang akan selaras dengan diri Anda. Sebaliknya jika Anda memiliki karakter keras maka pusaka berkarakter lembut yang akan selaras dan cocok dengan diri Anda.
Cara Jamasan Pusaka
Jamasan pusaka bisa dikatakan mudah, bisa juga sulit. Tradisi jamasan pusaka secara umumnya memerlukan berbagai uborampe yang tidak sedikit. Di antaranya adalah warangan yakni sejenis bahan kimia yang terdapat di toko-toko bahan kimia. Warangan berguna membersihkan permukaan besi tosan aji, sekaligus untuk lebih mempertajam pamor benda pusaka. Setelah dipoles dengan warangan, pamor atau guratan estetis batu meteor dan inti baja pada benda pusaka (terutama keris dan mata tombak) akan menjadi tampak jelas dan terlihat kontras. Sehingga mudah dibaca dan dipahami apa arti pamor benda pusaka tersebut. Anda mungkin kesulitan mendapatkan warangan tsb. Dan tentunya butuh beaya yang lebih besar lagi. Belum lagi di antara Anda mungkin tidak tahu tatacara menjamasi pusaka, atau tidak memiliki waktu untuk menjamasi pusaka Anda, dan lebih memilih membayar jasa seseorang yang ahli jamas pusaka. Itu boleh-boleh saja dilakukan, namun bila koleksi pusaka Anda begitu banyak jumlahnya berati Anda harus mengeluarkan beaya ekstra pula. Lagi pula bagi pemilik benda pusaka namun tidak ada anggaran untuk membayar jasa penjamas pusaka, kiranya perlu sedikit pengetahuan mengenai jamasan pusaka paling tidak cara yang sederhana namun tetap tidak menghilangkan makna dan fungsinya.
Nah, dalam tulisan kali ini saya akan memberikan contoh jamasan pusaka secara sederhana. Dengan harapan bagi Anda yang ingin sekali melaksanakan jamasan tetapi tidak cukup waktu atau beaya dapat menjamasi sendiri benda-benda pusaka koleksinya dengan mudah.
Bahan-bahan yang diperlukan :
- Bunga setaman terdiri dari 5 macam bunag antara lain bunga mawar merah, mawar putih, kanthil, kenanga, melathi.
- Minyak wangi bahan dasar kayu cendana, atau bunga melathi, atau bahan berbagai bunga misalnya minyak serimpi cap putri duyung.
- Belimbing wuluh, atau jeruk nipis.
- Baki atau nampan.
- Dupa/ratus atau kemenyan.
- Kain kafan atau kain mori cukup 1/2 meter s/d 1 meter.
- Tikar dan sikat gigi yang baru (jangan bekas).
Persiapan pertama ; gelarlah tikar di lantai. Siapkan segala macam uborampe yang diperlukan; minyak wangi, sikat gigi dll. Kemudian bunga setaman ditaruh di dalam baki yang sudah diisi air secukupnya. Letakkan baki yang telah berisi kembang setaman tersebut di atas tikar. Gelarlah kain mori di sebelahnya, nanti digunakan untuk meletakkan pusaka yang akan dijamasi dan untuk mengeringkan pusaka sehabis dicuci air kembang setaman. Nyalakan dupa atau kemenyan, cukup pilih salah satu saja. Karena bau kemenyan sangat menyengat jika dirasa akan mengganggu lingkungan sekitar Anda tak perlu dibakarnya, cukup masukkan saja bersama kembang setaman di dalam baki berisi air. Dengan begitu Anda cukup membakar dupa/ratus saja. Selanjutnya letakkan pusaka di atas kain mori yang sudah digelar. Langkah berikutnya ;
- Pertama-tama, menjadi diri sendiri. Dengan cara berpakaianlah milik Anda sendiri, pakaian yang bersih. Kemudian jaga sikap sopan dan santun. Tak boleh slengekan atau sambil bercanda. Soal pakaian ada baiknya mengenakan pakaian adat budaya Anda sendiri, supaya lebih matching, lebih hikmat, dan lebih sakral karena menyatu dalam penghayatan lahir batin antara nilai yang terkandung di dalam benda pusaka dengan nilai kearifan lokal adat istiadat budaya Anda sendiri. Coba Anda bayangkan menjamasi pusaka dengan berpakaian seperti mau keluar malam untuk mengunjungi tempat dugem. Atau pakaian kerja kantoran. Tentusaja lebih sulit untuk berkonsenrasi dalam keheningan lahir dan batin Anda.
- Libatkan perasaan batin Anda. Untuk mencapainya, lakukan dengan ketulusan, dan dengan pemahaman yang tepat akan arti dan tujuan penjamasan benda-benda pusaka. Untuk mendukung pelibatan perasaan batin ini, pertama-tama lakukan dahulu penyelarasan atau attuntment antara kesadaran batin Anda dengan nilai benda pusaka. Caranya, lakukan penghormatan, seperti prajurit menghormat kepada komandan. Atau anak menghormat kepada orang tua. Dalam hal ini Anda dapat melakukan sungkem atau “nyembah” yakni kedua telapak tangan menyatu, kemudian ditempelkan ke dada. Saat melakukan sembah sungkem atau “nyembah” letakkan benda pusaka dihadapan Anda. Cara lain sembah sungkem, benda pusaka Anda pegang tangan kanan kemudian letakkan di jidad tepatnya diatas pangkal hidung Anda. Semakin Anda menghormati dan menghargai pusaka atau si pembuat pusaka atau para pendahulu yang mewariskan pusaka, sembah sungkem sebaiknya diposisikan lebih tinggi lagi, misalnya di bawah dagu, atau di depan mulut hingga di atas pangkal hidung Anda. “Nyembah” jangan diartikan sama dengan menyembah tuhan, dalam kamus Jawa menyembah berarti menghormati atau memberikan sikap penghormatan, selayaknya prajurit menempelkan ujung tangannya di kening untuk “nyembah” komandannya. Penting untuk diketahui apabila Anda mengetahui apa nama benda pusaka yang akan dijamasi, sebutkan namanya. Nama diucapkan pada saat Anda melakukan sembah sungkem. Adapaun ucapannya kurang lebih sebagai berikut ;
“Punten ndalem sewu….(sebut namanya) kepareng kula badhe njamasi pusaka. Suci lair kalawan suci batin, manunggal jagad alit kalawan jagad ageng, saking kersaning Gusti“.
Jika tidak tahu namanya, titik-titik di atas tidak perlu diisi nama. Cukup melakukan “sembah sungkem” kemudian pusaka dikeluarkan dari sarung/warangkanya secara perlahan dan hati-hati. - Setelah sembah sungkem dilakukan, khususnya untuk pusaka yang ada sarung/warangkanya, cabutlah pusaka dari dalam sarungnya pelan-pelan supaya tidak ada kerusakan sedikitpun. Cara mencabut bisa diposisikan horisontal di hadapan dada Anda, atau di atas pangkuan Anda dengan cara ditarik ke samping kiri dan kanan. Atau bisa juga diposisikan vertikal di hadapan wajah Anda. Kemudian tangkai dicabut perlahan ke arah atas hingga keluar semua. Selanjutnya masukkan “curigo” atau benda pusaka ke dalam baki yang sudah berisi kembang setaman. Basahi dengan air dan kembang seluruh permukaan benda busaka. Bersihkan kotoran, debu yang melekat dsb dengan tangan Anda perlahan dan hati-hati agar tidak terluka. Atau bisa menggunakan sikat gigi yang masih baru (terutama jika menggunakan warangan) untuk menykkat permukaan benda pusaka. Jangan sekali-kali menggunakan alat berupa kikir besi, rempelas, untuk menghilangkan karat karena akan merusak bahkan merubah bentuk aslinya. Untuk membersihkan karat cukup menggunakan belimbing wuluh atau menggunakan jeruk nipis. Caranya belahlah jeruk nipis atau belimbing wuluh, gunakanlah untuk menggosok permukaan benda pusaka. Fungsi keduanya adalah air senyawa asam mudah melarutkan karat. Jika dirasa sudah bersih dari kotoran dan karat, bilas atau cuci kembali dengan air bunga setaman. Setelah itu keringkan dengan lap kain mori. Fungsi dari belimbing wuluh atau jeruk nipis sebagai pengganti warangan. Apabila Anda ingin menggunakan warangan hendaknya jangan kontak langsung dengan jari tangan karena warangan merupakan sejenis racun arsenik yang berbahaya jika tertelan.
- Setelah cukup kering, pelan-pelan mulai oleskan minyak wangi yang telah Anda siapkan keseluruh permukaan benda pusaka. Tidak perlu menggunakan kain atau kapas. Cukup menggunakan jemari tangan Anda, hanya saja berhati-hati agar jari tangan tidak tergores permukaan benda pusaka. Oleskan minyak dengan penuh penghayatan dan melibatkan segenap rasa welas asih dari dalam relung hati Anda. Pada saat mengoleskan minyak, sembari pahami nilai-nilai luhurnya, estetikanya, dan tumbuhkan rasa terimakasih kepada para pendahulu, siapapun yang membuat benda penuh nilai-nilai estetik dan nilai luhur esoterik itu. Terhadap benda yang memiliki getaran energi, rasakan energinya, dan sambunglah antara energi pusaka dengan energi Anda, penyatuan dan penyelarasan antara energi mikrokosmos dengan energi makrokosmos. Untuk benda-benda pusaka terutama produk lokal atau aseli Nusantara hindari menggunakan semacam minyak jebat, japaron, hajaraswat, karena password dan getaran energinya berbeda sehingga tidak matching. Jangan pula menggunakan minyak pusaka palsu karena kandungannya justru dapat menyebabkan timbulnya karat. Selain itu bahan minyak merupakan intisari unsur alam yang memiliki getaran energi bersifat khas sesuai asal dan tempat di mana bahan-bahannya hasil bumi itu tumbuh dan berbuah. Misalnya keris Jawa diminyaki dengan minyak zaitun khas tumbuhan gurun, atau minyak kayu oax khas Benua Amerika tentu getarannya tidak sinkron. Seumpama bagi seseorang yang gemar mengenakan pakaian adat Afghanistan tetapi menyemprotkan parfum bikinan Versace atau Estee Lauders ke tubuh Anda, terasa taste-nya kurang matching. Estee L dan Versace taste-nya lebih mengena jika digunakan oleh pria atau perempuan modern bergaya up to date. Pada saat saya njamasi pusaka milik sendiri pun tidak akan mengenakan parfum Lamborgini..
paling cukup mandi bersih sebelum melakukan jamasan pusaka. - Setelah selesai langkah ke 4, jangan lupa membersihkan warangka atau sarung pusaka. Permukaan luar dan dalam cukup dibersihkan dan tak perlu dioles minyak. Selanjutnya minyak yang sudah merata di permukaan benda pusaka tidak usah dilap, kemudian pusaka dimasukkan lagi ke dalam sarung atau warangka yang sudah anda bersihkan. Untuk pusaka yang tidak ada sarungnya cukup dibalut dengan kain mori. Sebelum menyarungkan atau membalut pusaka yang telah selesai dijamasi, lakukan penghormatan sekali lagi dengan cara pusaka diangkat atau digenggam kemudian genggaman tangan Anda tempelkan tepat dijidat atau di atas hidung Anda, baru kemudian disarungkan atau dibalut kain mori. Selesai.
Apabila di antara para pembaca yang budiman mempunyai tatacara lainnya, atau ingin menambahkan keterangan kami sangat berterimakasih jika berkenan share di sini untuk menambah wawasan seluruh pembaca yang memerlukan. Semoga bermanfaat




















44 tanggapan kepada “JAMASAN PUSAKA”
jhoni
November 24th, 2011 pukul 03:59
Matur suwun pi…menambah pengetahuan baru lagi, bagaimana jika pusaka itu tidak berbentuk logam pi?misalnya karya seni leluhur yang lain seperti lukisan, tongkat kayu, cemeti dsb, yang merupakan benda benda yang riskan jika terkena air mengingat usia bendanya yang sudah cukup lama, nuwun
SABDå
November 24th, 2011 pukul 09:23
@Jhoni: Cukup diwenehi kembang kantil, melati, yen ora rusak kena minyak yo biso diolesi minyak. Malem surya 1 suro yen longgar wektu lan bea podho bali yo le…
@Ki Ngabehi Yth
Matursembah nuwun Ki, sampun kersa share tips lan resep utk merawat benda pusaka estu nambah wawasan. Menika temtu cespleng migunani dateng sedaya dulur-dulur. Sepindah malih matur sembah nuwun
Salam karaharjan
-bejo-
November 24th, 2011 pukul 10:21
nun injih pi sendiko dhawuh…kolowingi mas agung njih sampun paring kabar, mugi tansah pinaringan wilujeng rahayu saget sowan ngaturaken sungkem pangabekti dumateng papi-mami, nyuwun tambahing donga pangestu ingkang mbanyu mili sumrambah dumateng sedaya putra wayah, nuwun
Widodo
November 24th, 2011 pukul 06:54
@matur sembah nuwun eyang ki sabdalangit panjenengan kok ngiming2i kulo ki..lha pripun kulo niki lare jowo asli nangging mboten gadah pusaka warisan leluhur..yang ada hanya pusaka pribadi yang gumantung hegh…nyuwun pangapunten eyang sabda…guyon “mode on” ala ki ngabehi @kakang tembayat..bagi2 pusakanya dong kang..dng kewaskitaan panjenengan dng sekali printah pasti pusaka itu langsung jatuh didepan rumah saya..saya pesan yg ber luk 7 ya kang kalo bisa yang berdapur pandawa dng pamor lintang kemukus atau bisa juga yang berdapur kyai sengkelat garapan mpu supo mandrangi hahaha..wah..wah malah keblanjur kemana-mana..matur sembah nuwun salam sejati
the vievies
November 24th, 2011 pukul 08:28
Nderek nyimak mawon Ki Sabda, nguri uri kabudayan jawi kang adi luhung.
@ Pakde Widodo, salam tetepangan. Kalo boleh ijinkan saya bisa ngangsu kaweruh kepada panjenengan babagan kejawen. Oh ya Kudus ipun pundi pakde? dalem wonten Demak. Menawi kepareng, email ipun pakde.
ngabehi
November 24th, 2011 pukul 09:13
Nambahi Ki sabda, untuk pusaka yang berbentuk tosan aji biasanya kita agak kesulitan untuk membersihkan karat yang telah bertahun2 menempel. Caranya buatlah rendaman buah mengkudu (Pace) di tambah air kelapa dan jeruk nipis. Jeruk nipis dan pace dipotong-potong kemudian dicamput air kelapa, setelah kira2 sehari rendamlah pusaka di tempat tersebut sambil ditaburi bunga melati atau yang lainya. Selam perendaman usahakan setiap harinya diangkat2 atau dibalik. Nah setelah 7 hari kemudian silahkan pusaka diangkat dan dibersihkan dengan air hangat, dijamin tu karat rontok semua dan pusaka bersih sekali tinggal selanjutnya dikasih warangan. Nah selamat mencoba!!!.
ijogading
November 24th, 2011 pukul 09:14
Matur nuwun…
@Sabda benar2 …Mantaaaaab.!
Widodo
November 24th, 2011 pukul 09:35
@the vievies..matur sembah nuwun lan salam tetepangan dari kota kretek..nyuwun pangapunten kang saya ini sebenarnya masih cubluk dan nol puthul tentang kejawen..luwih sae panjenengan ngangsu kawruh kaliyan eyang sabdalangit ingkang waskita lan permana..kalo panjenengan ngangsu kawruh sama saya nanti malah sama2 bingungnya ndak tau mau jawab apa..lha wong di blog ini sebenarnya sudah banyak di ulas ttg kejawen yang sejati lho kang..jadi panjenengan bisa ngangsu kawruh ramai2 dng para sedulur yg ada disini..ttg email nyuwun pangapunten sanget saya ndak punya kang..temenan ndak ngapusi saya..panjenengan bila ingin menanyakan suatu hal yg pribadi langsung saja kirim email kepada ki sabda di jamin akan mendapatkan jawaban yang memuaskan pas lan pener dng diri panjenengan..sepindah malih kulo nyuwun pangapunten njih kang sa’estu kulo niki taksih nol puthul di samping niku kulo njih dereng wantun kontak kaleh tiyang amergi dereng angsal dawuh diken babar kawruhipun sepindah malih nyuwun pangapunten matur sembah nuwun salam sejati
jawi
November 24th, 2011 pukul 10:43
Matur sembah nuwun Ki Sabda, ulasan yg sangat saya tunggu,…. keris peninggalan leluhur yg saya miliki sudah sangat berkarat, seminggu yg lalu saya sudah minta tlg sesepuh untuk jamas memakai warangan, beliau sudah setuju dan akan di jamas satu suro, e ndilalah 2 hari yg lalu beliau kesehatannya drop dan dirawat di rumah sakit, ( usianya sudah diatas 86 th ),…akhirnya saya searching di google cara menjamas keris, macem2 bahkan ada yg hrs puasa dulu termasuk direndam pake atau air kelapa dan direndam berhari hari,… tapi saya mantep yang Ki Sabda sampaikan,…. sementara gak pake warangan dululah, krn saya gak berani coca-coba, dari informasi tmn kalo gak biasa make warangan bukannya bagus malah ngrusak.
ngabehi
November 24th, 2011 pukul 12:31
KI Sabda dan para pembaca sekalian Yth,
Ada pengalaman saya yang mungkin ada sedikit manfaatnya, dulu ketika pak Dhe saya mau meninggal, saya diberi warisan pusaka oleh beliau yang berupa keris berdapur sempaner. Memang beberapa hari sebelum mendapat pusaka tersebut saya bermimpi seolah-olah ada pemuda bertubuh kerempeng yang mengikuti saya kemana-mana dan minta untuk ngikut dengan saya. Saya sedikit kecewa karena ternyata fisik dari sikeris sudah buruk sekali karena karat yang telah menahun, berbekal saran dari sahabat saya akhirnya keris tersebut saya bersihkan dengan cara seperti yang saya tulis di atas, ternyata setelah tujuh hari dan keris tersebut saya angkat pamornya indah sekali, berpamor ngulit semangka dan setelah saya warangi besinya menjadi kehijau-hijauan, saya sendiri tak tau itu termasuk besi golongan apa, coba lihat di internet disana ada keris yang warnya seperti hijau lumut. Beberapa hari kemudian saya mendapat sasmita dari pusaka tersebut, saya menyimpulkan ternyata pusaka disamping diyakini memiliki tuah juga kadang mengandung amanat atau leluhur yang harus kita pikul dan selesaikan. Kini pusaka tersebut saya pasrahkan kepada kakak saya karena saya yakin kakak saya tersebut lebih membutuhkan.Jadi alangkah sempurnanya jika keris yang sudah berkarat kita bersihkan secara tuntas dan kemudian kita rituali seperti yang Ki sabda uraikan di atas.Jadi ketika hardware dan software keris resih sempurna mudah2an juga akan terhubung dengan sang empunya, istilahnya manuksma nunggal sajiwa. demikian mohon maaf kalau tidak pas. maturnuwun.
tomyarjunanto
November 28th, 2011 pukul 12:52
Mas Ngabehi menawi kagungan pusaka kathah kula mbok diparingi. kula dereng gadhah. menawi wonten Kebo Lajer kagem angon rajakaya kula nggih purun
jawi
November 24th, 2011 pukul 12:06
Ki Sabda…..sekedar tambahan…. barusan sy inget, dulu sewaktu diberi amanat untuk merawat keris peninggalan leluhur tsb, sy sempat bertanya siapa yg menjamas keris di bulan suro krn saya tdk punya pengetahuan tentang hal itu, dan dijawab harus saya lakukan sendiri,…. krn gak yakin sy bertanya sampai 3 kali, dan dijawab….. karena ini amanat leluhur jadi sebisa mungkin semua harus saya lakukan sendiri kalaupun terpaksa diserahkan orang lain harus ditungguin tidak boleh ditinggal sekejappun jadi semua yg dilakukan harus didepan mata saya,……… matur sembah nuwun Ki Sabda, ulasan panjenengan tentang jamasan mengingatkan saya atas pesan leluhur tsb…….
dewi
November 24th, 2011 pukul 12:08
@ Ki Sabda,
Saya mengucapkan selamat atas thread baru njenengan tentang njamasi pusaka warisan leluhur.
hmmm, maaf ki saya tidak menahu soal pusaka dan keris, tapi saya mau tanya, kalau pusakanya di jamasi dengan cara di sembah, di hormatin, di mandiin, di sucikan dst, lalu bagaimana dengan tempatnya/ warangkanya ki?…. adakah ritual untuknya juga?, saya hanya ingin tahu untuk baca2 aja ki. Maturnuwun.
salam rahayu,
dewi
Julian Sukrisna
November 24th, 2011 pukul 13:27
Matur nuwun Ki, tulisanipun panjenengan nggugah kulo dateng kesadaran marang barang-barang ingkang kulo anduweni sakniki.
Kulo pancen mboten nggadah barang-barang ingkang berstatus pusoko, nanging, kulo nggadah barang-barang kesayangan ingkang bendintenipun kulo anggap kados belahan jiwa kulo. Udan, panas, utawi nopo mawon kulo sareng barang tersebut.
Kados sepeda motor. Dugi tulisan ingkang Ki angkat wonten blog niki, malih nggadah kepinginan luwih ramut malih dateng sepeda motor kulo. Ngregani barang niku. Koq sajake sanjange rencang-rencang koq kulo niku mboten open kalean barang kulo.
Lha puncake, kesadaran kulo niku muncul ketika mampir wonten sabdalangit.wordpress.com niki.
Matur nuwun Ki,
Salam.
Widodo
November 24th, 2011 pukul 15:39
@ki ngabehi..matur sembah nuwun ki..wah..wah diam-diam ki ngabehi mulai mbabar ngelmunya yg di umpetin ya…hehehe..ada yg mau saya tanyaken kaliyan panjenengan ki..ini pertanyaan cah cubluk tukang gali sumur di sini lho ki..begini pertanyaannya ki:bagai mana cara merawat pusaka yg manjing di badan.?bagaimana cara mengeluarkan dan mendayagunakan pusaka gaib tersebut.?apakah yg panjenengan ketahui ttg sejarah asal usul serta tuah yg terkandung dari pusaka gaib mustika naga? Jangan ethok-ethok ndak tau lho ki..panjenengan niki kan jalmo kinasihipun bunda kanjeng ratu kidul..njih to? Pun cekap mekaten mawon pertanyaan kulo..nyuwun pencerahanipun panjenengan ki..matur sembah nuwun salam sihkatresnan
ngabehi
November 24th, 2011 pukul 16:35
Kang Widodo yth,
1. jujur saya katakan kula niki menungsa lumrah yang tak punya aji2, ngelmu2 dan lain-lain, nek di trawang wong waskito yo mung blong kotong ga ono apa-apane, saestu niku.Nek di suwuk wong ampuh2 nggih pun ping bola-bali, ning cara jawane remasuk opo ora saya juga ndak ngerti.
2. Kalau ngrawat pusaka yang telah manjing dalam diri, saya rasa ya simpel saja, cukup nyirik atau nyingkiri dari pantangan pusaka tersebut selanjutnya memaksimalkan fungsi pusaka tersebut untuk kebaikan sesuai dengan tuahnya tapi jangan dikomersilkan mengko ndak keneng tulak sarik. Untuk mematrialkan atau mengeluarkanya dan mendayagunakannya biasanya ada passwordnya/kunci dan itu biasanya diberikan oleh sing nglenggahi pusaka tersebut.
3. Tentang mustika naga saya dulu punya warnanya hitam legam, tapi ada yang ngeyel memintanya dan orang yang saya kasih itu sekarang lagi mendekam di pakunjaran.
4. Soal KRK saya juga ndak begitu faham, tapi waktu saya seneng-senengnya meditasi dulu pernah tiba2 seolah2 sampai disebuah pesisir entah dimana, dan saya ketemu wanita yang sangat cantik sekali, waktu saya tanya”sampeyan menika sinten njih” sosok itu malah menjawab ” aku iki yo bagianmu dewe” jadi saya sendiri juga ndak tau sosok itu siapa, mekaten kang widodo.
5′. Masalah mematrialkan pusaka, saya kenal tokoh dari lereng merapi, beliau ini kalau ngambil pusaka cukup menggenggam kembang melati atau kantil, lain kali saya ceritakan.
maturnuwun kang
Widodo
November 24th, 2011 pukul 17:50
@ki ngabehi..matur nuwun sanget atas pencerahanipun..panjenengan ini memang asli tiyang jawi tulen..kosong njabane nanging njerone byaarr gemebyaar kados kembang api tahun baru…kulo mboten nrawang lho ki,cuman ngikuti sak njeroning batin kulo mawon,,nak menawi klentu kulo nyuwun lepatipun..injih kangge tiyang penghayat kajiman nganggep tiyang penghayat kejawen meniko kosong mlompong,soale kados tiyang meniko sing diarani berisi meniko tiyang sing dieloni bongso kajiman mekaten njih ki..dos kulo rumiyen njih mekaten kulo malah di arani setres bin gendeng malah wonten sing nantang diajak adu ilmu padahal dos kulo piyambak mboten rumangsa nak saget sulap aji2 tipu-tipu,lha sakniki sing ngarani kulo setres meniko pikantuk walat saking gusti putri kesayanganipun setres ki…rumiyen kulo njih nate tangklet kaliyan eyang sabda..kulo malah didukani lho ki..mboten angsal gegulangan pusoko nanging pancen dasare kulo niki radi ndableg lan kepingin mangertosi wujud sejatosipun keris pusoko niku kados nopo to? Sebenarnya saya ini sangat menyukai benda-benda seni macam tosan aji meniko,seperti uraian eyang sabda diatas harus di hayati hakekat yg terkandung di dalam tiap ukiran di pangkal keris,di pangkal keris yg asli pasti ada ukiran unik berupa tumbuh2an dan binatang misal:irung gajah/lambe gajah,kepala naga,kembang kacang,kembang cengkeh,kinatah emas dll..semua itu mengandung arti tapi sayang kebanyakan org mmg tdk tau atau mmg tdk peduli dng makna ukiran trsbt..lha saya sendiri juga ndak tau..lha wong saya sendiri blm pernah punya keris..injih ki matur nuwun sanget atas pencerahanipun kulo tenggo lho ki crios soal tiyang sepuh waskitha saking lereng merapi..ampun kesupen njih kulo tenggo lho ki matur sembah nuwun salam sejati
Cah Pathi
November 24th, 2011 pukul 23:26
Salam poro pinisepuh,
Ki Sabda, terima kasih Ki,atas tulisannya,
@ Ki Ngabehi, tambahanipun njenengan inggih leres, pancen makaten Ki caranipun,
Nuwun sewu Ki, nderek nambahi sekedhik nggih,
Tosan aji atau pusaka apapun, sesudah dijamasi, dan sebelum dimasukan kembali ke warangkonya, alangkah lebih baik lagi, bila pusakanya disentuhkan dengan asap kemenyan yang telah mati apinya ( kukus/asap yang berwarna putih), hanya dilewatkan, sekilas lewat, sebanyak tiga kali, hanya sebagai pelengkap.
Ngapunten Ki.
Salam damai,
ngabehi
November 25th, 2011 pukul 09:34
@Kang Widodo
Leres sanget kang dengan apa yang sampeyan tulis di atas, menawi kepengin kagungan pusaka njih mangga, mboten napa-napa. Sesirih sing tenanan terus nyuwun tondo moto (tondo tresno)kaliyan leluhur ingkang kagungan,ning nggih kedah manut mau diparingi yang bentuknya apa?.Dulu ada kok kang ada sederek dari jawa timur saya lupa namanya, beliau suka ngajak ngobrol tentang pengangkatan benda pusaka.Berkali2 beliau mbuldoser tapi ga pernah ga pernah berhasil, terus saya tanya pernah ditayuhi tidak, katanya tidak pernah, terus saya sarankan coba diminta baik-baik, kata beliau ga dijawab, ya sudah berarti bukan rejekinya nggak boleh diambil paksa.
Kang Cah Pathi
Injih kang sae sanget, yang penting dalam prosesi tersebut hati kita harus senantiasa wening, eling lan waspada, mbok menawi mekaten.
sembah nuwun
ahmad murtadlo
November 25th, 2011 pukul 09:34
selain njamasi pusaka, mari kita tansah njamasi pusaka diri kita dengan cara, sembah raga, sembah kalbu dan sembah cipta………… insayaAllah
ahmad murtadlo
November 25th, 2011 pukul 09:36
koreksi: InsyaAllah
Widodo
November 25th, 2011 pukul 11:48
@eyang sabda matur sembah nuwun eyang matur nuwun sanget wejanganipun lan pepelingipun dhalem nyuwun pangapunten sampun kelewat wates lan langgar wewaler pusaka hasta brata ingkang dipun wejangaken eyang sabda dumateng kulo lan poro sedulur sedanten ing mriki sepindah malih dhalem nyuwun pangapunten @ki ngabehi..matur sembah nuwun..matur nuwun sanget wejanganipun..ampun bosen mbabar kaweruhipun njih ki supados kulo saget ngangsu banyu samudra dumateng panjenengan lan poro sesepuh ing mriki sepindah malih matur nuwun sanget..matur sembah nuwun salam sejati
Widodo
November 26th, 2011 pukul 07:58
Matur sembah nuwun poro sesepuh lan para pembaca yang budiman..sekedar iseng saya ingin cerita tentang kegiatan para spiritual dalam menjalani laku di bulan suro..di daerah saya lazimnya tiap bulan suro selalu di gunakan tuk tirakat bagi org yang gemar laku prihatin di sini saya akan menceritakan tentang tempat yang biasa di gunakan tuk tirakat oleh sebagian besar para pelaku tirakat di sekitar kota kudus..salah satu tempat paling populer di daerah saya adalah pegunungan rahtawu ada sebagian org menyebutnya bumi kahyangan para dewata..(mungkin kakang cah pathi bisa menjelaskan secara gamblang tentang rahtawu krn beliau ini gentur olah rasa di sana) letaknya di sebelah utara kota kudus di rahtawu banyak sekali petilasan para leluhur besar nusantara diantaranya adalah petilasan eyang badranaya/semar,eyang brandal lokajaya/mas said/eyang kali jaga,dan masih bnyk lagi..menurut cerita penduduk sekitar lereng rahtawu para pelaku tirakat sebagian besar mempunyai satu tujuan yaitu ingin mendapatkan pusaka gaib lengo tolo(minyak yg sangat kental yang muncul di salah satu mata air di rahtawu) yang konon mempunyai tuah tuk kebal senjata apapun,dan bisa juga tuk pengasihan dng hny mengoleskan sedikit dikulit/di kedua alis mata..selain lengo tolo ada juga suket alang-alang kumitir,bentuknya seperti rumput alang-alang tapi tumbuh dan muncul dng sendirinya ditengah2 batu mempunyai tuah tuk berbagai macam keperluan benar tidaknya saya sendiri tdk tau karena saya blm pernah melihatnya dan membuktikannya sendiri jadi ya ndak mudheng..gunung rahtawu adalah surganya para pelaku tirakat disana sangat tenang dan damai dan menyimpan energi spiritual yang maha dahsyat yakni energi alam semesta tuk para pembaca yg berdomisili di kudus dan sekitarnya bila tertarik ingin ke gunung rahtawu sebaiknya harus ekstra hati2,karena ada sebagian jalan mendaki ke arah rahtawu rawan longsor di samping itu juga sekarang ini sudah memasuki musim penghujan medannya sangat licin dan berbahaya jd sy tdk menyarankan tuk tirakat di sana..nuwun
Omjim
November 26th, 2011 pukul 18:23
Ki Sabda matur sembah nuwun artikelipun saget kangge tambah wawasan.
brother
November 26th, 2011 pukul 18:26
inspiratif
Iwan
November 26th, 2011 pukul 19:15
Terimaksih atas penjelasan dan pengetahuannya Ki.
Rencananya malam ini mau njamasi kembali beberapa pusaka, jumlahnya nggak banyak, cuman mungkin butuh beberapa jam baru kelar.
Kalau yang saya lakukan biasanya jamasan tanpa warangan, karena warangan biasanya saya gunakan utk pusaka yang pamornya sudah agak kusam. Dan kalau sekalian dengan mewarangi, maka mungkin sampai besok malam belum kelar untuk njamasi dgn warangan seluruh pusaka yang ada di rumah (saya memiliki sekitar 150 pusaka). Saya senang mengoleksi pusaka baik tangguh maupun kamardikan.
Kalau boleh saya mohon dibabarkan cara untuk mengundang khodam yang ada di pusaka. Selama ini saya hanya sebatas menyenangi pusaka dari nilai seninya aja.
Alangkah bersyukurnya saya bila Ki Sabda Langit mau membabarkannya via e-mail.
Maturnuwun sanget Ki
Jayin
November 26th, 2011 pukul 20:27
As wbr…Ki sabda riyin kulo angsal warisan pusoko…nanging wujudipon kados keris dereng dados.wujudipon kemplengan besi campur kados koco. Jaman riyen angsale pusoko munuko di tumbas kalih mendo 9 ekor sm pak lik kulo .tp sak samponipon pak lik kulo sedo pusoko muniko wonten tangan kulo.Ki sabda kulo nyuwun ketarangan bab pusoko muniko.matur nuwun
MAHATMA
November 26th, 2011 pukul 20:35
Turut berdukacita atas musibah ambruknya Jembatan Mahakam di Kutai KALTIM.
Seperti yg Ki Sabda wanti-wanti sebelumnya.
Semoga ini semua menjadi tanda peringatan bagi diri kita semua untuk selalu Eling lan Waspada, akan bahaya laten yg bisa menggoyahkan ke-Imanan kita kepada Gusti Ingkang Pamomong Jagad.
Cah Pathi
November 26th, 2011 pukul 22:02
Salam Kang Widodo,
Wah Kang Widodo ini bisa saja, saya hanya sekali-sekali saja sampai di gunung Rahtawu, hanya kalau kepingin saja.Itupun saya baru belajar mendaki.
Gunung Rahtawu=Wukirrahtawu=Saptarengga=Saptapratala= 7 padma= 7 Cakra
Adara,Adistara,Manipura,Anahata,Wisudi,Ayana,Sahasraya= laku semedi
menyimbolkan olah samadi=olah rasa=manunggal kawulo Gusti
Kawulo=Rahsa Gusti= Urip/hidup, Rasa dan hidup, dua yang menyatu.
Tempatnya memang sepi, tenang dan damai.
Kang Widodo, sekilas saja ya gambarannya, semuanya dah diwedar oleh Ki Sabda dan poropinisepuh lainnya.
Salam Damai,
Widodo
November 27th, 2011 pukul 00:13
@kakang cah pathi matur sembah nuwun kang..matur nuwun sanget purun babar HAKEKAT yg terkandung di puncak songolikur gunung Rahtawu..ndak sia-sia saya ngilik-ngiliki panjenengan agar mau mbabar kaweruhnya biar saya kecipratan ngelmu NGOCE’I sastra jendra yg kakang miliki sepindah malih matur nuwun sanget kang @mas iwan salam kenal mas..waduh jadi tambah ngiler saya melihat panjenengan punya keris sampai 150 biji..gimana ndak ngiler saya ini pengen punya keris sak biji saja ndak kelar mas apalagi sampe ratusan biji..maklum mas modal saya cekak jadi ndak bisa buat bayar mahar lagipula yg saya harapkan itu pusaka asli warisan leluhur saya sendiri atau pun leluhur yg tdk saya kenal yg bersedia menghibahkan pusaka yg dulu pernah di gunakan tuk tapa ngrame tuk membantu sesama dan bukan hanya tuk dikagumi saja namun harus dihayati makna yg terkandung di dalam bentuk keris itu dan di praktekkan di dlm kehidupan sehari-hari (mungkin suatu saat nanti eyang sabda mau membabarkan dng lbh jelas lagi tentang makna ukiran dan pamor tosan aji) dan juga sebagai wujud rasa syukur kepada gusti agar kita bisa meraih curigo manjing warangka,warangka manjing curigo manunggaling kawulo kalawan gusti..matur sembah nuwun salam sejati
lare semarang
November 27th, 2011 pukul 13:38
sugeng siang ki.
trima kasih sudah membuat bahasan bab jamasan. yg sebelumnya pernah saya tanyakan melalui komen dulu. sedikit menyimpang dr bahasan tsb ada satu pertanyaan, apakah memang bulan suro tdk disarankan untuk punya hajat? krn malah saya lihat banyak orang punya hajat di bulan suro.
tomyarjunanto
November 29th, 2011 pukul 11:54
sami2 lare Semarang, ndherek pitepangan
nyuwun duka sampun kumawantun atur pamrayogi
menurut kami bulan Sura boleh saja untuk menyelenggarakan hajat, tapi memang harus cari hari yang baik.
lare semarang
Desember 2nd, 2011 pukul 13:20
matur sembah nuwun kang tommy ugi sugeng ketepangan ..
orriza
November 27th, 2011 pukul 14:49
Nice article… Terimakasih dan salam kenal…
http://storyza.wordpress.com/2011/11/27/mengapa-jembatan-kutai-kartanegara-runtuh-tepat-pada-tanggal-26-nopember-2011/
Origawa
November 27th, 2011 pukul 21:33
Yang ini gak kalah seru…
jenazah tiba2 hilang saat akan dimakamkan
NGWSAJA
November 27th, 2011 pukul 21:40
wkwkwkwkwkwk.. asem… kirain moksa, eeee.. ternyata ketinggalan. tau gitu mending ndak usah di kirim biar moksa beneran… zzzzzzzzzzzz
B.Sulistiyanto W
November 29th, 2011 pukul 15:44
Assalamualaikum buat saudara2 sy semuanya,salam karaharjan kagem Ki Sabdo Langit sekeluarga,alhamdulilah tanggal 1 Suro tempo hari sudah sy bersihkan/jamas pusaka keris peninggalan leluhur kami sesuai petunjuk/arahan dr Ki Sabdo.Ada angin sepoi2 sejuk menerpa sy selama jamasan,hingga puncaknya ‘merobohkan’ botol kecil minyak cendana yg ada di atas meja (sy melakukan jamasan diluar,di belakang rumah),tp isinya tdk sampai tumpah.Kejadiannya setelah selesai jamas salah st keris peninggalan eyang kakung yg usianya sudah ratusan tahun dan hendak memasukan kembali ke lemari,mungkin sang empu,atau leluhur kami ingin mengucapkan terimakasih krn ada yg merawat,lalu sore harinya skitar jam 5.45 sore langit di luar msh sangat terang,dgn semburat warna orange keemasan,hingga terbersit hati ingin keluar rumah,ternyata langit di atas rumah kami,dr arah sebelah utara hingga arah timur ada pelangi yg cukup panjang terlihat dgn jelas sekali,disertai turun hujan rintik2,tp tdk lama pelangi & hujan hilang terbawa angin.(bagi yg tinggal di sekitar kota pw qerto sebelah utara kemungkinan dpt melihat pelangi ini lebih jelas).
Semoga Syuro/Muharam tahun ini & tahun2 selanjutnya Allah Swt,Tuhan YME sudi utk memberikan pertolongan/bimbingan kpd kita semua utk ‘hijrah’ menjadi pribadi2 yg lebih baik lagi,utamanya buat para pemimpin bangsa ini,sbg pemegang amanah suara rakyat agar lebih mencintai rakyatnya,mencontoh yg baik titah para leluhur Nusantara untuk meneruskan kejayaan Tanah Air Tercinta,Indonesia Pusaka…
saman
November 30th, 2011 pukul 15:31
Ki Sabda Yth.
Alangkah indahnya jika bangsa Indonesia dan umat manusia umumnya mau memulai membersihkan, merawat dan menjaga pusaka pemberian Sang Maha Tunggal yaitu BUMI., yang saat ini sedang sakit tak terawat karena BUMI adalah ibu kita.
Memegang pusaka tanpa dasar yang kuat, keimanan kepada Yang Maha Tunggal akan tergoda.
Marilah kita mulai membersihkan dan merawat mustika jati yang kita ( isi Qolbu dengan sarungnya Raga) jangan sampai menjadi mustika yang kosong dan janganlah di salahgunakan.
Marilah kita semua belajar tafsir alam dengan lahir bathin kita dan tidak bertentangan dengan tujuan Rosulullah di utus yaitu memperbaiki akhlak. Setiap Kejadian alam pasti ada sebab,akibat dan maksud
wawanslemanxwan sleman
Desember 2nd, 2011 pukul 20:27
matur nuwun postingane ki sabdo.
lan matur nuwun sanget lihat langsung menjamas pusaka. pengalaman pertama saya.
wawansleman
Desember 3rd, 2011 pukul 21:27
nderek copas ki, nuwun sanget
Boedy Donkkoll
Desember 8th, 2011 pukul 15:25
nuwun sewu sak derengipun mbah….. kulo badhe tangglet kados pundi caranipun nyambat pusoko tombak sak jodho bile ajeng di ginakaken. cerito tiang sepa rumiyen tombak niku saget di damel nyisihaken udan. matur nuwun……….
dimas
Januari 2nd, 2012 pukul 23:15
Astagfirullah mas……..
Zaman niku npun modern mas…..
kok enten ngeh mbahas seng ngoten nipun……
Ileng mas…..
mati niku mboten pusoko niku sangune…..
Malah Matine ongel…….. jan tenan…….
syirik niku jan tenan dosane mas………
DOMBA GEMBEL
Januari 3rd, 2012 pukul 07:55
ASTAGHFIRULLAH……….
KEJAWEN TELAH KALIAN JADIKAN KEDOK UNTUK MENGADU DOMBA!
Dido Subasita
Januari 24th, 2012 pukul 18:05
Mas Sabdo..
wonten Jamasan mboten ning wulan mulud..?
nyuwun tulung,nitip jamas pusoko
matur suwun