JAMASAN PUSAKA

Jamasan pusaka merupakan salah satu cara merawat benda-benda pusaka, benda bersejarah, benda kuno, termasuk benda-benda yang dianggap memiliki tuah. Dalam tradisi masyarakat Jawa, jamasan pusaka menjadi sesuatu kegiatan spiritual yang cukup sakral dan dilakukan hanya dalam waktu tertentu saja. Lazimnya jamasan pusaka dilakukan hanya sekali dalam satu tahun yakni pada bulan Suro. Oleh karena jamasan pusaka mempunyai makna dan tujuan luhur, kegiatan ini termasuk dalam kegiatan ritual budaya yang dinilai sakral.

ARTI & TUJUAN JAMASAN PUSAKA

Jamasan Pusaka

Jamasan berarti memandikan, mensucikan, membersihkan, merawat dan memelihara. Sebagai suatu wujud rasa berterimakasih dan menghargai peninggalan atas karya adiluhung para generasi pendahulunya kepada para generasi berikutnya. Tujuannya adalah orang yang memiliki pusaka tetap mempunyai jalinan rahsa, ikatan batin, terhadap sejarah dan makna yang ada di balik benda pusaka. Si pemilik benda pusaka dapat mengingat para pendahulunya yang telah berhasil menciptakan suatu karya seni dan budaya yang mempunyai seabrek nilai luhur. Sehingga jamasan pusaka tidak sekedar membersihkan dan merawat fisik benda pusaka saja, tetapi lebih penting adalah memahami segenap nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam benda pusaka. Nilai luhur tidak sekedar diingat-ingat saja, lebih utama perlu dihayati dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai tersebut menjadi aset kekayaan khasanah budaya yang meliputi filsafat dan seni hasil pemberdayaan budipekerti manusia, dalam interaksinya dengan kebijaksanaan tata kosmos. Melihat benda pusaka bukan sekedar dari aspek estetikanya saja namun lebih dalam lagi dilihat nilai esoterisnya berupa hikmah kebijaksanaan hidup manusia dalam hubungannya antara manusia dengan alam beserta segala isinya yang disimbolkan dalam pernik dan detail benda pusaka. Oleh sebab itulah dalam benda pusaka juga menyimpan rangkaian simbol berisi nilai-nilai kearifan lokal. Kearifan sosial yang diinspirasi oleh sifat-sifat dan hukum alam yang ada di lingkungan masyarakat setempat. Semakin ampuh daya kekuatan suatu benda pusaka, berarti pula benda pusaka itu memuat nilai-nilai yang sanga selaras dengan sifat-sifat dan hukum alam tata kosmos. Atau nilai yang manunggal dengan tata kosmos. Panunggalan atau keselarasan ini tidak hanya terjadi pada benda pusaka saja, pada manusia pun panunggalan atau keselarasan tata kosmos ini terjadi, yakni antara diri pribadi (mikrokosmos) dengan tata kosmos jagad raya (makrokosmos). Atau panunggalan antara individu dengan Tuhan yang mewujud dalam segala sifat dan hukum yang ada di jagad raya. Disebut pula “manunggaling kawula kalawan Gusti“. Tidak hanya benda pusaka, seseorang yang mampu manunggal atau selaras dengan tata kosmos, ia akan menjadi manusia ampuh sakti mandraguna.

Di situlah pesan yang terdapat di balik ritual jamasan pusaka. Agar manusia selalu ingat atau eling pada sangkaning dumadi. Melalui cara memahami hakekat nilai adiluhung yang tersirat pada benda pusaka. Untuk selanjutnya dihayati dalam kehidupan sehari-hari. Yang disucikan tidak saja benda pusaka yang dimiliki, namun lebih utama adalah hati dan fikiran si pemilik benda pusaka. Kenapa dilakukan pada setiap bulan Suro, karena dalam bulan ini merupakan bulan paling sakral bagi orang Jawa. Di mana manusia Jawa harus lebih banyak melakukan mawas diri, evalusasi diri, lebih gentur laku prihatin, meningkatkan sikap eling dan waspada. Dan pada kenyataannya memang di bulan Suro ini seringkali terjadi suatu peristiwa yang mempunyai makna mendalam. Bisa jadi suatu peristiwa yang sangat membahayakan, bisa pula suatu peristiwa yang penuh berkah. Semua tergantung “laku” masing-masing individu. Yang mau prihatin, eling dan waspada, hati-hati, setiti, teliti tentu akan selamat dan mendapat berkah Tuhan. Sebaliknya yang ceroboh, gegabah, lupa diri, sembrono akan beresiko besar karena berada sangat dekat dengan segala macam marabahaya.

Untuk pusaka-pusaka yang digunakan sebagai media komunikasi dan interaksi antar manusia yang masih hidup beserta raga dengan yang sudah hidup tanpa raga, hendaknya lebih diperhatikan untuk melakukan jamasan setiap bulan Suro. Apalagi berhubungan langsung dengan leluhur yang menurunkan Anda sebagai pemilik pusaka. Jika diabaikan atau tidak dirawat itu artinya Anda sudah malas untuk menjalin tali rahsa dengan para leluhur Anda sendiri. Akibatnya leluhurpun merasa dicuekin, dan leluhurpun tidak lagi mempedulikan Anda. Pusaka Anda jadi kosong melompong tiada lagi energi supernatural-nya. Kecuali tersisa hanya energi alami yang terasa sangat lemah.

Pusaka Kosong Tidak Terawat

Jamas Pusaka

Prinsip ini dapat juga diterapkan bagi Anda yang ingin mengaktifkan lagi pusaka-pusaka yang sudah tak berisi, kosong atau lemah. Caranya, rawatlah dan jamasi secara rutin sembari meminta kekuatannya supaya kembali seperti sedia kala. Jika Anda beruntung tentu akan mendapat “pulung“, isi pusakanya kembali lagi. Keberuntungan Anda ditentukan oleh beberapa hal misalnya, getarannya cocok dengan getaran bawaan Anda sejak lahir. Getaran ini merupakan corak karakter dan watak. Ia akan bekerja secara otomatis dalam wilayah kerja hukum alam yang saling memadu dan menyeimbangkan satu sama lain sebagaimana prinsip yin yang. Jika Anda berkarakter lembut, maka pusaka-pusaka berkarakter aktif dan keras yang akan selaras dengan diri Anda. Sebaliknya jika Anda memiliki karakter keras maka pusaka berkarakter lembut yang akan selaras dan cocok dengan diri Anda.

Cara Jamasan Pusaka

Jamasan Pusaka

Jamasan pusaka bisa dikatakan mudah, bisa juga sulit. Tradisi jamasan pusaka secara umumnya memerlukan berbagai uborampe yang tidak sedikit. Di antaranya adalah warangan yakni sejenis bahan kimia yang terdapat di toko-toko bahan kimia. Warangan berguna membersihkan permukaan besi tosan aji, sekaligus untuk lebih mempertajam pamor benda pusaka. Setelah dipoles dengan warangan, pamor atau guratan estetis batu meteor dan inti baja pada benda pusaka (terutama keris dan mata tombak) akan menjadi tampak jelas dan terlihat kontras. Sehingga mudah dibaca dan dipahami apa arti pamor benda pusaka tersebut. Anda mungkin kesulitan mendapatkan warangan tsb. Dan tentunya butuh beaya yang lebih besar lagi. Belum lagi di antara Anda mungkin tidak tahu tatacara menjamasi pusaka, atau tidak memiliki waktu untuk menjamasi pusaka Anda, dan lebih memilih membayar jasa seseorang yang ahli jamas pusaka. Itu boleh-boleh saja dilakukan, namun bila koleksi pusaka Anda begitu banyak jumlahnya berati Anda harus mengeluarkan beaya ekstra pula. Lagi pula bagi pemilik benda pusaka namun tidak ada anggaran untuk membayar jasa penjamas pusaka, kiranya perlu sedikit pengetahuan mengenai jamasan pusaka paling tidak cara yang sederhana namun tetap tidak menghilangkan makna dan fungsinya.
Nah, dalam tulisan kali ini saya akan memberikan contoh jamasan pusaka secara sederhana. Dengan harapan bagi Anda yang ingin sekali melaksanakan jamasan tetapi tidak cukup waktu atau beaya dapat menjamasi sendiri benda-benda pusaka koleksinya dengan mudah.

Bahan-bahan yang diperlukan :

  1. Bunga setaman terdiri dari 5 macam bunag antara lain bunga mawar merah, mawar putih, kanthil, kenanga, melathi.
  2. Minyak wangi bahan dasar kayu cendana, atau bunga melathi, atau bahan berbagai bunga misalnya minyak serimpi cap putri duyung.
  3. Belimbing wuluh, atau jeruk nipis.
  4. Baki atau nampan.
  5. Dupa/ratus atau kemenyan.
  6. Kain kafan atau kain mori cukup 1/2 meter s/d 1 meter.
  7. Tikar dan sikat gigi yang baru (jangan bekas).

Persiapan pertama ; gelarlah tikar di lantai. Siapkan segala macam uborampe yang diperlukan; minyak wangi, sikat gigi dll. Kemudian bunga setaman ditaruh di dalam baki yang sudah diisi air secukupnya. Letakkan baki yang telah berisi kembang setaman tersebut di atas tikar. Gelarlah kain mori di sebelahnya, nanti digunakan untuk meletakkan pusaka yang akan dijamasi dan untuk mengeringkan pusaka sehabis dicuci air kembang setaman. Nyalakan dupa atau kemenyan, cukup pilih salah satu saja. Karena bau kemenyan sangat menyengat jika dirasa akan mengganggu lingkungan sekitar Anda tak perlu dibakarnya, cukup masukkan saja bersama kembang setaman di dalam baki berisi air. Dengan begitu Anda cukup membakar dupa/ratus saja. Selanjutnya letakkan pusaka di atas kain mori yang sudah digelar. Langkah berikutnya ;

  1. Pertama-tama, menjadi diri sendiri. Dengan cara berpakaianlah milik Anda sendiri, pakaian yang bersih. Kemudian jaga sikap sopan dan santun. Tak boleh slengekan atau sambil bercanda. Soal pakaian ada baiknya mengenakan pakaian adat budaya Anda sendiri, supaya lebih matching, lebih hikmat, dan lebih sakral karena menyatu dalam penghayatan lahir batin antara nilai yang terkandung di dalam benda pusaka dengan nilai kearifan lokal adat istiadat budaya Anda sendiri. Coba Anda bayangkan menjamasi pusaka dengan berpakaian seperti mau keluar malam untuk mengunjungi tempat dugem. Atau pakaian kerja kantoran. Tentusaja lebih sulit untuk berkonsenrasi dalam keheningan lahir dan batin Anda.
  2. Libatkan perasaan batin Anda. Untuk mencapainya, lakukan dengan ketulusan, dan dengan pemahaman yang tepat akan arti dan tujuan penjamasan benda-benda pusaka. Untuk mendukung pelibatan perasaan batin ini, pertama-tama lakukan dahulu penyelarasan atau attuntment antara kesadaran batin Anda dengan nilai benda pusaka. Caranya, lakukan penghormatan, seperti prajurit menghormat kepada komandan. Atau anak menghormat kepada orang tua. Dalam hal ini Anda dapat melakukan sungkem atau “nyembah” yakni kedua telapak tangan menyatu, kemudian ditempelkan ke dada. Saat melakukan sembah sungkem atau “nyembah” letakkan benda pusaka dihadapan Anda. Cara lain sembah sungkem, benda pusaka Anda pegang tangan kanan kemudian letakkan di jidad tepatnya diatas pangkal hidung Anda. Semakin Anda menghormati dan menghargai pusaka atau si pembuat pusaka atau para pendahulu yang mewariskan pusaka, sembah sungkem sebaiknya diposisikan lebih tinggi lagi, misalnya di bawah dagu, atau di depan mulut hingga di atas pangkal hidung Anda. “Nyembah” jangan diartikan sama dengan menyembah tuhan, dalam kamus Jawa menyembah berarti menghormati atau memberikan sikap penghormatan, selayaknya prajurit menempelkan ujung tangannya di kening untuk “nyembah” komandannya. Penting untuk diketahui apabila Anda mengetahui apa nama benda pusaka yang akan dijamasi, sebutkan namanya. Nama diucapkan pada saat Anda melakukan sembah sungkem. Adapaun ucapannya kurang lebih sebagai berikut ;
    Punten ndalem sewu….(sebut namanya) kepareng kula badhe njamasi pusaka. Suci lair kalawan suci batin, manunggal jagad alit kalawan jagad ageng, saking kersaning Gusti“.
    Jika tidak tahu namanya, titik-titik di atas tidak perlu diisi nama. Cukup melakukan “sembah sungkem” kemudian pusaka dikeluarkan dari sarung/warangkanya secara perlahan dan hati-hati.
  3. Setelah sembah sungkem dilakukan, khususnya untuk pusaka yang ada sarung/warangkanya, cabutlah pusaka dari dalam sarungnya pelan-pelan supaya tidak ada kerusakan sedikitpun. Cara mencabut bisa diposisikan horisontal di hadapan dada Anda, atau di atas pangkuan Anda dengan cara ditarik ke samping kiri dan kanan. Atau bisa juga diposisikan vertikal di hadapan wajah Anda. Kemudian tangkai dicabut perlahan ke arah atas hingga keluar semua. Selanjutnya masukkan “curigo” atau benda pusaka ke dalam baki yang sudah berisi kembang setaman. Basahi dengan air dan kembang seluruh permukaan benda busaka. Bersihkan kotoran, debu yang melekat dsb dengan tangan Anda perlahan dan hati-hati agar tidak terluka. Atau bisa menggunakan sikat gigi yang masih baru (terutama jika menggunakan warangan) untuk menykkat permukaan benda pusaka. Jangan sekali-kali menggunakan alat berupa kikir besi, rempelas, untuk menghilangkan karat karena akan merusak bahkan merubah bentuk aslinya. Untuk membersihkan karat cukup menggunakan belimbing wuluh atau menggunakan jeruk nipis. Caranya belahlah jeruk nipis atau belimbing wuluh, gunakanlah untuk menggosok permukaan benda pusaka. Fungsi keduanya adalah air senyawa asam mudah melarutkan karat. Jika dirasa sudah bersih dari kotoran dan karat, bilas atau cuci kembali dengan air bunga setaman. Setelah itu keringkan dengan lap kain mori. Fungsi dari belimbing wuluh atau jeruk nipis sebagai pengganti warangan. Apabila Anda ingin menggunakan warangan hendaknya jangan kontak langsung dengan jari tangan karena warangan merupakan sejenis racun arsenik yang berbahaya jika tertelan.
  4. Setelah cukup kering, pelan-pelan mulai oleskan minyak wangi yang telah Anda siapkan keseluruh permukaan benda pusaka. Tidak perlu menggunakan kain atau kapas. Cukup menggunakan jemari tangan Anda, hanya saja berhati-hati agar jari tangan tidak tergores permukaan benda pusaka. Oleskan minyak dengan penuh penghayatan dan melibatkan segenap rasa welas asih dari dalam relung hati Anda. Pada saat mengoleskan minyak, sembari pahami nilai-nilai luhurnya, estetikanya, dan tumbuhkan rasa terimakasih kepada para pendahulu, siapapun yang membuat benda penuh nilai-nilai estetik dan nilai luhur esoterik itu. Terhadap benda yang memiliki getaran energi, rasakan energinya, dan sambunglah antara energi pusaka dengan energi Anda, penyatuan dan penyelarasan antara energi mikrokosmos dengan energi makrokosmos. Untuk benda-benda pusaka terutama produk lokal atau aseli Nusantara hindari menggunakan semacam minyak jebat, japaron, hajaraswat, karena password dan getaran energinya berbeda sehingga tidak matching. Jangan pula menggunakan minyak pusaka palsu karena kandungannya justru dapat menyebabkan timbulnya karat. Selain itu bahan minyak merupakan intisari unsur alam yang memiliki getaran energi bersifat khas sesuai asal dan tempat di mana bahan-bahannya hasil bumi itu tumbuh dan berbuah. Misalnya keris Jawa diminyaki dengan minyak zaitun khas tumbuhan gurun, atau minyak kayu oax khas Benua Amerika tentu getarannya tidak sinkron. Seumpama bagi seseorang yang gemar mengenakan pakaian adat Afghanistan tetapi menyemprotkan parfum bikinan Versace atau Estee Lauders ke tubuh Anda, terasa taste-nya kurang matching. Estee L dan Versace taste-nya lebih mengena jika digunakan oleh pria atau perempuan modern bergaya up to date. Pada saat saya njamasi pusaka milik sendiri pun tidak akan mengenakan parfum Lamborgini.. ;) paling cukup mandi bersih sebelum melakukan jamasan pusaka.
  5. Setelah selesai langkah ke 4, jangan lupa membersihkan warangka atau sarung pusaka. Permukaan luar dan dalam cukup dibersihkan dan tak perlu dioles minyak. Selanjutnya minyak yang sudah merata di permukaan benda pusaka tidak usah dilap, kemudian pusaka dimasukkan lagi ke dalam sarung atau warangka yang sudah anda bersihkan. Untuk pusaka yang tidak ada sarungnya cukup dibalut dengan kain mori. Sebelum menyarungkan atau membalut pusaka yang telah selesai dijamasi, lakukan penghormatan sekali lagi dengan cara pusaka diangkat atau digenggam kemudian genggaman tangan Anda tempelkan tepat dijidat atau di atas hidung Anda, baru kemudian disarungkan atau dibalut kain mori. Selesai.

Apabila di antara para pembaca yang budiman mempunyai tatacara lainnya, atau ingin menambahkan keterangan kami sangat berterimakasih jika berkenan share di sini untuk menambah wawasan seluruh pembaca yang memerlukan. Semoga bermanfaat

About these ads

Posted on November 23, 2011, in Jamasan Pusaka and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 92 Komentar.

  1. Ki.Tolong saya dikasih tau dimana mandiin keris pusaka tinggalan orang tua ya ?dan kira kira biaya berapa ya KI. tolong dong saya

  2. keris memang selalu menyimpan kerahasiaan dan selalu bikin penasaran setiap orang.

  3. adi praluhur nugroho

    matur suwun ki sabdo…mugi2 gusti pangeran tansah maringi kaslametan hakiki..

  4. nambah mas, kalo keris yang berkarat sekali itu perlu d rendam dulu pada air jeruk selama 5-7 jam. air degan ijo mas, klo bisa hindari air biasa, karena mengandung zat” yang bisa membangkitkan karat (dalam jangka waktu tertentu). Jangan lupa pada waktu minyak agar d asap i, pengasapan dan minyak adalah klenik, namun secara ilmu pengetahuan adalah agar lebih tahan lama terhindar dari karat. begitu___selamat mencoba.

  5. R. Hariya Martawijaya

    untuk jamasan payung pusaka gimana carax…?

  6. Kang mas
    Klo saya pakai :
    1. Air klpa ijo
    2. Kembang 7 rupa
    3. Jeruk nipis
    4. Minyak cendana non alkohol

    Keris saya PULANGGENI LUK 5

  7. Soal Menjamas pusaka saya masih bingung,di saat mau menjamas pusaka apakah kita harus mengeluarkan ioni yg ada di dalam pusaka tersebut atau tidak?seandainya kita sudah sepenuh hati iklas sebisa mungkin menjamasi apakah nanti khodam yg ada akan marah kepada kita?maksih atas bimbinganya

  8. .Matur nuwun ats penjelasan nya.

  9. mator sembh nuwon sdoyo bimbiganipon

  1. Ping-balik: Jamasan Pusaka Malam Satu Suro di Rawalele « Anton Belajar Menulis

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 928 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: