Tradisi Ruwahan

Tradisi Ruwahan berisi kegiatan melaksanakan ritual yang dilakukan pada saat datangnya bulan Ruwah atau bulan Arwah. Bulan Arwah kali ini jatuh pada hari Kemis Legi tanggal 21 Juni 2012. Umumnya tradisi Ruwahan dilakukan pada tanggal 1 bulan Arwah atau Ruwah. Tahun ini dilakukan pada (kalender Jawa) surya kaping 01 wulan Arwah 1945 warsa Wawu bertepatan tanggal 21 Juni 2012 bertepatan dengan atau tanggal 01 Syaban 1433 H. Bagi masyarakat Jawa khususnya bulan Arwah mempunyai makna penting sebagai momentum bagi semua yang masih hidup untuk mengingat jasa dan budi baik para leluhur, tidak hanya terbatas pada orang-orang yang telah menurunkan kita, namun juga termasuk orang-orang terdekat, para pahlawan, para perintis bangsa yang telah mendahului kita pindah ke dalam dimensi kehidupan yang sesungguhnya. Bulan Arwah juga merupakan saat di mana kita harus “sesirih” atau bersih-bersih diri meliputi bersih lahir dan bersih batin. Membersihkan hati dan pikiran sebagai bentuk pembersihan dimensi jagad kecil (mikrokosmos) yakni diri pribadi kita meliputi unsur wadag dan alus, raga dan jiwa.

Tidak  hanya sebatas pembersihan level mikrokosmos, selebihnya adalah bersih-bersih lingkungan alam di sekitar tempat tinggal kita, membersihkan desa, kampung, kuburan,  sungai, halaman dan pekarangan di sekeliling rumah, tak lupa membersihkan semua yang membuat kotor dan jorok dalam rumah tinggal kita. Bagi petani tak luput pula bersih-bersih sawah dan ladang. Semua itu sebagai bentuk pembersihan dimensi jagad besar (makrokosmos).

Selain makna tersebut, ritual ruwahan merupakan wujud bakti dan rasa penghormatan kita sebagai generasi penerus kepada para pendahulu yang kini telah disebut sebagai Leluhur (Jawa) atau Karuhun (Sunda). Pelaksanaan ritual ruwahan bukan tanpa konsep dan prinsip yang jelas. Ruwahan didasari oleh kesadaran spiritual masyarakat kita secara turun-temurun, di mana kita hidup saat ini telah berhutang jasa, berhutang budi baik kepada alam dan para leluhur pendahulu yang telah mendahului kita. Tak ada cara yang lebih tepat selain harus berbakti, setia dan berbakti kepada para leluhurnya yang telah mewariskan ilmu dan harta benda, termasuk bumi pertiwi, yang dapat dimanfaatkan oleh anak turunnya hingga saat ini.  Ritual tradisi Ruwahan sebagai bukti kesetiaan dan sikap berbakti kepada lingkungan alam yang telah memberikan berkah berupa rejeki, tempat berlindung, hasil bumi, oksigen dan sebagainya. Karenanya hanya dengan kesetiaan serta berbakti, kita menjadi generasi penerus yang tidak mengkhianati leluhur, bangsa dan bumi pertiwinya. Berkhianat kepada para leluhurnya sendiri, maupun kepada bumi pertiwi di mana tempat kita menyandarkan hidup sudah pasti akan menyebabkan suatu akibat buruk. Pengkhianatan (ketidaksetiaan) dan kedurhakaan (tidak berbakti)  yang dilakukan generasi penerus, akan menimbulkan kesengsaraan pada diri pribadinya (mikrokosmos) dan sangat memungkinkan tertransformasi ke dimensi makrokosmos lingkungan alamnya. Sebaliknya, kesetiaan pada bumi pertiwi  yakni bumi di mana nyawa kita berpijak, kita hirup udara, kita mencari makan, dan berbakti kepada para leluhur yang menurunkan kita, merupakan satu rangkaian berupa kunci meraih kesuksesan hidup secara hakiki. Ketenangan, ketentraman, kedamaian, kesejahteraan lahir dan batin akan berlimpah menghampiri kita setiap saat.

APA YANG TERJADI ?

Namun yang paling penting dari tradisi Ruwahan yang sudah turun temurun sejak ratusan atau bahkan mungkin ribuan tahun silam itu adalah terjadinya interaksi dan bahkan komunikasi dua pihak. Yakni pihak orang-orang yang masih hidup dengan pihak leluhur. Bahkan saat bulan Arwah tiba, para leluhur menghentikan “aktivitasnya” untuk suatu “aktivitas” khusus yakni menyambut anak cucu keturunannya, maupun semua orang yang melakukan kegiatan bakti kepadanya, yang diwujudkan dalam berbagai kegiatan seperti membersihkan makam, sedekah dan sesaji, komat-kamit mengucapkan doa, dikir, mengucapkan mantera dan berbagai kalimat yang keluar dari hati nuraninya yang intinya berusaha sambung rasa dengan para leluhurnya. Artinya sejauh apa yang dapat kami saksikan, Tradisi Ruwahan ternyata bukanlah kegiatan yang sia-sia saja. Selain manfaat yang nyata dari kegiatan kebersihan, sungguh ada makna tersirat yang mendalam dan manfaat inheren yang sangat besar di dalamnya. Manfaat itu akan dialami bagi siapapun yang tulus dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakannya. Sebab apa yang saya dan teman-teman pernah saksikan, pada bulan arwah ini komunikasi dan interaksi dengan para leluhur terjadi lebih intens. Bisa diartikan bahwa para leluhur juga menganggap bulan arwah ini sebagai momentum rutin yang dulakukan setahun sekali untuk lebih intens berkomunikasi dengan anak cucu keturunan dan semua orang yang menghaturkan sembah bekti kepadanya. Itu artinya, leluhur mencurahkan perhatian kepada siapapun yang mewujudkan sembah baktinya kepada leluhur. Perhatian leluhur tidak sekedar “sowang-sowang nyawang saka kadohan” atau mengikuti sepak terjang kehidupan anak cucu keturunannya, lebih dari itu, mereka bahkan membimbing dan mengarahkan apabila anak cucu keturunannya akan menempuh jalan yang salah. Leluhur yang semakin tinggi derajat kemuliaannya tentu akan lebih mampu melakukan segala sesuatu kepada anak cucu keturunannya dan semua orang yang berbakti kepadanya. Anda jangan pernah pesimis tidak yakin apakah leluhurnya ada yang berprestasi meraih kemuliaan yang sejati. Di antara sekian ribu leluhur kita tentu tidak hanya satu dua saja yang mencapai kamulyan sejati. Persoalannya kemudian ada pada diri kita masing-masing, apakah masih mau menganggap penting sikap berbakti pada leluhur ataukah sebaliknya menganggap mereka sudah tak bisa apa-apa lagi, nun jauh di negeri antah berantah, tak bisa lagi berkomunikasi dan berinteraksi dengan anak cucu keturunannya. Atau sikap lebih ekstrim yang menganggap interaksi dan kehadiran leluhur sebagai perwujudan godaan iblis setan jin peri prayangan. Jika demikian yang terjadi sangat mungkin leluhur sudah enggan membimbing dan mengarahkan kita sehingga sikap ekstrim kita semakin menjadi-jadi. Namun juga tak jarang terjadi sebaliknya, pada saat ada salah satu anak keturunannya bersikap terlampau ekstrim, ada satu dua leluhurnya yang kemudian menyadarkannya.

TATA CARA TRADISI RUWAHAN

Tradisi Ruwahan mempunyai tatacara yang sederhana saja. Yakni diawali dengan membuat sesaji, yakni sesuatu yang bermakna. Berupa kolak pisang, kolak ubi jalar, ketan kukus, serta makanan tardisional bernama kue apem. Kolak pisang dan ubi jalar berupa kolak kering (hanya direbus dengan air gula dan santan kelapa, jangan lupa ditambah sedikit garam agar lebih nikmat). Dapat juga ditambahkan dan ditambahkan sedikit garam, kayu manis, dan cengkeh. Sementara itu kue apem dibuat dengan bahan dasar terdiri dari tepung beras, gula jawa atau gula merah, bisa juga ditambah santan kelapa dan parutan kelapa sesuai selera. Adapula yang menambahkannya dengan buah nangka ke dalam adonan kue apem. Selanjutnya adonan dicetak bundar-bundar di atas tungku api. Untuk ketan, cukup dikukus atau diliwet sebagaimana umumnya memasak ketan. Lihat gambar. Setelah ubo rampe sesaji ruwahan selesai dibuat dan siap saji, selanjutnya siap untuk dibagi-bagikan kepada para tetangga. Upayakan kita berbagi minimal kepada 7 kk, sukur bisa lebih hingga 17 kk. Seluruh sesaji itu seluruhnya berupa makanan tradisional. Mengapa demikian, tentu saja leluhur yang hidup di masa lalu kemungkinan besar makanan favoritnya sebatas sebagimana sesaji yang ada di dalam tradisi ruwahan itu. Barangkali kelak jika kita semua telah menjadi leluhur akan mempunyai selera makanan yang berbeda. Hal itu menentukan pula ragam sesajinya. Karena leluhur dapat menyampaikan pesan-pesan kepada anak cucu keturunannya atau orang-orang yang mampu berkomunikasi. Ada yang melalui mimpi, bisikan atau wisik, melalui suatu pertanda alam, melalui rasa sejati, dan bahkan melalui penglihatan visual. Selain alasan di atas, makanan tradisional yang dipilih dalam sesaji tentunya masing-masing mempunyai arti. Sehingga dapat dikatakan, makanan atau ragam sesaji merupakan bahasa simbul yang dapat mewakili sejuta kata dan ribuan kalimat. Dengan sesaji, maksud dan tujuan yang sangat luas jika dijabarkan satu-persatu, dikemas menjadi ringkas padat dan berisi. Sebagaimana pepatah dalam spiritual Jawa yang mengatakan,”ngelmu iku yen ginelar bakal ngebaki jagad, yen ginulung sak mrico jinumput”. Ilmu jika digelar akan memenuhi jagad raya, jika dilipat (diringkas) dapat menjadi sekecil biji merica.

Ragam & Makna Sesaji Tradisi Ruwahan

  1. Ketan; “ke-mut-an” artinya terkenang, teringat. Maksudnya teringat akan apa yang dilakukan di masa lalu. Jangan melupakan sejarah (jasmerah), yakni jasa kepahlawanan, pusaka warisan, dan peninggalan para leluhur yang hidup di masa lalu. Yang dapat dinikmati oleh generasi penerus, anak turunnya yang hidup di masa kini. Ketan bersifat lengket bermakna pula harapan adanya tali rasa yang akan menjadi perekat hubungan antara leluhur dengan anak cucu keturunannya dan semua orang yang menghaturkan sembah bakti kepadanya. Bahasa prokemnya “keep contact”.
  2. Kolak pisang ; mewakili pala gumantung, hasil bumi yang buahnya menggantung. Dibuat untuk mengingatkan kita selalu teringat akan kesalahan (Jawa; keluputan) yang pernah kita lakukan kepada orang tua dan para leluhur serta kepada Sang Jagadnata. Sehingga kita menjadi orang yang selalu mengevaluasi diri dan setiap saat mau berbenah diri. Selain itu, pala gumantung mengingatkan kita supaya batin dan rasa sejati masih tetap tersambung dengan Gusti Sang Jagadnata, termasuk kepada para leluhurnya yang telah hidup di alam sejati. Pisang sebagai pala gumantung mengingatkan kita, hendaknya selalu memiliki sifat tabiat langit atau angkasa. Sebagaimana telah saya posting di dalam Pusaka Hasta Brata, dikiaskan sebagai mulat laku jantraning akasa. (lihat dalam Pusaka Hasta Brata).
  3. Kolak ubi jalar ; mewakili pala kependem, hasil bumi yang buahnya berada di dalam tanah. Dibuat untuk melambangkan adanya kesalahan para leluhur kepada sesama manusia. Selain itu, pala kependem, memiliki pesan bahwa manusia hendaknya tetap berpijak di bumi. Memiliki sifat-sifat humanis, serta mulat laku jantraning bumi, yakni perilaku manusia yang andap asor tidak sombong, congkak, takabur, sikap mentang-mentang, golek benere dewe, golek butuhe dewe, golek menange dewe.  Sebaliknya harus mencontoh sifat-sifat bumi yang selalu memberikan berkah sekalipun bumi diinjak-injak oleh manusia dan seluruh makhluk penghuninya. Pala kependem yang diolah menjadi makanan kolak ubi jalar, mengingatkan kita hendaknya menjadi orang selalu melakukan “tapa mendhem” (bertapa mengubur diri) yakni mengubur segala amal kebaikan yang pernah kita lakukan pada orang lain dari ingatan kita. Agar supaya tidak mencemari ketulusan kita dan di suatu saat tidak membangkit-bangkit kebaikan kita pada orang lain. (lihat dalam Pusaka Hasta Brata).
  4. Apem ; dibuat untuk melambangkan adanya harapan suatu ampunan akan kesalahan di masa lalu. Kue apem berbentuk bundar atau bulat melingkar. Sebagai perlambang adanya kebulatan tekad dalam melaksanakan ritual, yakni kemantaban hati untuk mewujudkan rasa berbakti   kepada leluhur bukan hanya sebatas lips-service, sebatas ucapan dan kata-kata dalam doa. Lebih dari itu diwujudkanlah dalam sikap, tindakan, dan perbuatan nyata dalam kehidupaan sehari-hari, dalam hal ini kegiatan bersih-bersih meliputi jagad kecil dan jagad besar. Di dalam kue apem terdapat bahan-bahan berupa beras ketan, kelapa/santan, gula dan sedikit garam, serta bahan pengharum makanan. semua bahan dibuat adonan, kemudian dibakar dalam cetakan bundar-bundar. Semua itu memuat pesan yakni adanya proses dalam kehidupan dan pentingnya penyelarasan dan harmonisasi antara jagad kecil dengan jagad besar dalam kehidupan semesta ini.
  5. Berbagi Sedekah. Selanjutnya semua ubo rampe dapat dikemas dalam dus, atau cukup disajikan di atas piring untuk selanjutnya dibagi-bagikan kepada para tetangga. Maknanya adalah manusia hidup di bumi ini hendaknya mau saling berbagi, bersedekah, dan berwatak saling mengasihi, welas asih, asah asih asuh kepada sesama dan seluruh makhluk.

Setelah berbagi makanan ubo rampe sesaji tersebut kepada para tetangga, barulah selanjutnya diisi dengan kegiatan ziarah atau menabur bunga ke makam para leluhurnya sendiri satu persatu. Ziarah bisa dilakukan pada hari berikutnya, karena waktunya tersedia cukup leluasa hingga sebulan penuh selama bulan Arwah belum habis.

Makna Ritual

Selama bulan arwah atau Ruwah, masyarakat melakukan ritual bersih-bersih desa, kampung, makam, dan rumah.

  1. Bersih-Bersih Makam; merupakan wujud kesetiaan dan rasa berbakti generasi penerus atau anak turun kepada para leluhurnya. Kesetiaan dan bakti akan tumbuh seiring kesadaran spiritual seseorang yang dapat memahami betapa kita hidup sekarang ini telah berhutang budi, berhutang nyawa, berhutang kemerdekaan bangsa, berhutang hutan yang hijau dan tidak rusak, sungai yang jernih, lautan masih menyimpan kekayaaan besar, berhutang budi baik dan pengorbanan, maupun berhutang harta benda warisan dari orang-orang yang menurunkan kita semua. Bersih-bersih makam merupakan salah satu cara berbakti yakni untuk membalas kebaikan para leluhur atau pendahulunya.
  2. Bersih-bersih sungai, desa, ladang dan rumah; merupakan wujud penghargaan dan rasa terimakasih kita kepada alam, kepada bumi yang telah melimpahkan rejeki bagi manusia. Tanah yang subur, hutan yang menghijau, sungai-sungai mengalir jernih. Semua itu merupakan berkah agung dari Sang Hyang Jagadnata, berkah yang masih mengalir karena perilaku dan sikap bijaksana para leluhur pendahulu bangsa yang hidup di masa lalu. Mereka  tidak merusak dan mengeksploitasi hutan, gunung, sungai, lautan karena kesadaran super-egonya bahwa anak cucu keturunannya, dan generasi penerus bangsa kelak masih sangat membutuhkan semua itu. Al hasil, anak turunnya, generasi penerus bangsa di masa kini masih bisa merasakan limpahan anugrah agung tersebut di masa kini.  Lantas pertanyaannya, apakah yang telah dilakukan oleh generasi sekarang serupa dengan apa yang dilakukan leluhur para pendahulu kita di masa lalu ?
  3. Ziarah/Nyekar, atau menabur bunga di pusara leluhur. Kegiatan itu bermakna sebagai “atur sembah bekti” atau sikap menghaturkan rasa berterimakasih, sikap berbakti, sekaligus wujud nyata rasa welas asih, dan penghormatan setingginya atas seluruh jasa dan budi baik leluhur di masa lalu. Meskipun menabur bunga belumlah  sebanding dengan jasa-jasa leluhur kepada kita semua, kepada bangsa ini namun hal itu masih lebih berharga daripada hanya sekedar di rumah duduk manis sambil komat-kamit mengirim doa. Itu namanya perilaku golek penake dewe, lebih suka mencari-cari alasan pembenar atas sikapnya yang selalu mencari enaknya sendiri, daripada berkorban beaya, waktu dan berusaha yang nyata. Ironisnya “penyakit kejiwaan” golek benere dewe seperti itu biasanya menjadi lahan subur untuk bersemainya sikap pamrih dibarengi harapan-harapan tidak realistis & melambung tinggi. Lantas bagaimana seseorang bisa belajar tentang arti sebuah ketulusan ? Saya yakin para pembaca yang budiman di sini sudah menjadi pribadi yang merdeka dari hegemoni “penyakit jiwa” semacam itu. Hingga menyelesaikan membaca tulisan sampai pada baris kalimat ini.

Uborampe Ruwahan

Semoga tulisan ini memberi manfaat walau hanya ala kadarnya kepada siapapun seluruh pembaca yang budiman di manapun berada. Walau sangat mungkin ada pendapat yang berbeda, saya sangat berharap perbedaan itu menjadi bahan untuk menambah keutuhan dalam memahami makna tradisi Ruwahan. Apapun pendapat dan asumsi dari para pembaca yang budiman, semoga keselamatan, keberuntungan, dan kesuksesan selalu bersama Anda dan keluarga. Salam karaharjan.

sabdalangit

About these ads