Memahami Tradisi Bulan Arwah

Tradisi Ruwahan

Tradisi Ruwahan berisi kegiatan melaksanakan ritual yang dilakukan pada saat datangnya bulan Ruwah atau bulan Arwah. Bulan Arwah kali ini jatuh pada hari Kemis Legi tanggal 21 Juni 2012. Umumnya tradisi Ruwahan dilakukan pada tanggal 1 bulan Arwah atau Ruwah. Tahun ini dilakukan pada (kalender Jawa) surya kaping 01 wulan Arwah 1945 warsa Wawu bertepatan tanggal 21 Juni 2012 bertepatan dengan atau tanggal 01 Syaban 1433 H. Bagi masyarakat Jawa khususnya bulan Arwah mempunyai makna penting sebagai momentum bagi semua yang masih hidup untuk mengingat jasa dan budi baik para leluhur, tidak hanya terbatas pada orang-orang yang telah menurunkan kita, namun juga termasuk orang-orang terdekat, para pahlawan, para perintis bangsa yang telah mendahului kita pindah ke dalam dimensi kehidupan yang sesungguhnya. Bulan Arwah juga merupakan saat di mana kita harus “sesirih” atau bersih-bersih diri meliputi bersih lahir dan bersih batin. Membersihkan hati dan pikiran sebagai bentuk pembersihan dimensi jagad kecil (mikrokosmos) yakni diri pribadi kita meliputi unsur wadag dan alus, raga dan jiwa.

Tidak  hanya sebatas pembersihan level mikrokosmos, selebihnya adalah bersih-bersih lingkungan alam di sekitar tempat tinggal kita, membersihkan desa, kampung, kuburan,  sungai, halaman dan pekarangan di sekeliling rumah, tak lupa membersihkan semua yang membuat kotor dan jorok dalam rumah tinggal kita. Bagi petani tak luput pula bersih-bersih sawah dan ladang. Semua itu sebagai bentuk pembersihan dimensi jagad besar (makrokosmos).

Selain makna tersebut, ritual ruwahan merupakan wujud bakti dan rasa penghormatan kita sebagai generasi penerus kepada para pendahulu yang kini telah disebut sebagai Leluhur (Jawa) atau Karuhun (Sunda). Pelaksanaan ritual ruwahan bukan tanpa konsep dan prinsip yang jelas. Ruwahan didasari oleh kesadaran spiritual masyarakat kita secara turun-temurun, di mana kita hidup saat ini telah berhutang jasa, berhutang budi baik kepada alam dan para leluhur pendahulu yang telah mendahului kita. Tak ada cara yang lebih tepat selain harus berbakti, setia dan berbakti kepada para leluhurnya yang telah mewariskan ilmu dan harta benda, termasuk bumi pertiwi, yang dapat dimanfaatkan oleh anak turunnya hingga saat ini.  Ritual tradisi Ruwahan sebagai bukti kesetiaan dan sikap berbakti kepada lingkungan alam yang telah memberikan berkah berupa rejeki, tempat berlindung, hasil bumi, oksigen dan sebagainya. Karenanya hanya dengan kesetiaan serta berbakti, kita menjadi generasi penerus yang tidak mengkhianati leluhur, bangsa dan bumi pertiwinya. Berkhianat kepada para leluhurnya sendiri, maupun kepada bumi pertiwi di mana tempat kita menyandarkan hidup sudah pasti akan menyebabkan suatu akibat buruk. Pengkhianatan (ketidaksetiaan) dan kedurhakaan (tidak berbakti)  yang dilakukan generasi penerus, akan menimbulkan kesengsaraan pada diri pribadinya (mikrokosmos) dan sangat memungkinkan tertransformasi ke dimensi makrokosmos lingkungan alamnya. Sebaliknya, kesetiaan pada bumi pertiwi  yakni bumi di mana nyawa kita berpijak, kita hirup udara, kita mencari makan, dan berbakti kepada para leluhur yang menurunkan kita, merupakan satu rangkaian berupa kunci meraih kesuksesan hidup secara hakiki. Ketenangan, ketentraman, kedamaian, kesejahteraan lahir dan batin akan berlimpah menghampiri kita setiap saat.

APA YANG TERJADI ?

Namun yang paling penting dari tradisi Ruwahan yang sudah turun temurun sejak ratusan atau bahkan mungkin ribuan tahun silam itu adalah terjadinya interaksi dan bahkan komunikasi dua pihak. Yakni pihak orang-orang yang masih hidup dengan pihak leluhur. Bahkan saat bulan Arwah tiba, para leluhur menghentikan “aktivitasnya” untuk suatu “aktivitas” khusus yakni menyambut anak cucu keturunannya, maupun semua orang yang melakukan kegiatan bakti kepadanya, yang diwujudkan dalam berbagai kegiatan seperti membersihkan makam, sedekah dan sesaji, komat-kamit mengucapkan doa, dikir, mengucapkan mantera dan berbagai kalimat yang keluar dari hati nuraninya yang intinya berusaha sambung rasa dengan para leluhurnya. Artinya sejauh apa yang dapat kami saksikan, Tradisi Ruwahan ternyata bukanlah kegiatan yang sia-sia saja. Selain manfaat yang nyata dari kegiatan kebersihan, sungguh ada makna tersirat yang mendalam dan manfaat inheren yang sangat besar di dalamnya. Manfaat itu akan dialami bagi siapapun yang tulus dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakannya. Sebab apa yang saya dan teman-teman pernah saksikan, pada bulan arwah ini komunikasi dan interaksi dengan para leluhur terjadi lebih intens. Bisa diartikan bahwa para leluhur juga menganggap bulan arwah ini sebagai momentum rutin yang dulakukan setahun sekali untuk lebih intens berkomunikasi dengan anak cucu keturunan dan semua orang yang menghaturkan sembah bekti kepadanya. Itu artinya, leluhur mencurahkan perhatian kepada siapapun yang mewujudkan sembah baktinya kepada leluhur. Perhatian leluhur tidak sekedar “sowang-sowang nyawang saka kadohan” atau mengikuti sepak terjang kehidupan anak cucu keturunannya, lebih dari itu, mereka bahkan membimbing dan mengarahkan apabila anak cucu keturunannya akan menempuh jalan yang salah. Leluhur yang semakin tinggi derajat kemuliaannya tentu akan lebih mampu melakukan segala sesuatu kepada anak cucu keturunannya dan semua orang yang berbakti kepadanya. Anda jangan pernah pesimis tidak yakin apakah leluhurnya ada yang berprestasi meraih kemuliaan yang sejati. Di antara sekian ribu leluhur kita tentu tidak hanya satu dua saja yang mencapai kamulyan sejati. Persoalannya kemudian ada pada diri kita masing-masing, apakah masih mau menganggap penting sikap berbakti pada leluhur ataukah sebaliknya menganggap mereka sudah tak bisa apa-apa lagi, nun jauh di negeri antah berantah, tak bisa lagi berkomunikasi dan berinteraksi dengan anak cucu keturunannya. Atau sikap lebih ekstrim yang menganggap interaksi dan kehadiran leluhur sebagai perwujudan godaan iblis setan jin peri prayangan. Jika demikian yang terjadi sangat mungkin leluhur sudah enggan membimbing dan mengarahkan kita sehingga sikap ekstrim kita semakin menjadi-jadi. Namun juga tak jarang terjadi sebaliknya, pada saat ada salah satu anak keturunannya bersikap terlampau ekstrim, ada satu dua leluhurnya yang kemudian menyadarkannya.

TATA CARA TRADISI RUWAHAN

Tradisi Ruwahan mempunyai tatacara yang sederhana saja. Yakni diawali dengan membuat sesaji, yakni sesuatu yang bermakna. Berupa kolak pisang, kolak ubi jalar, ketan kukus, serta makanan tardisional bernama kue apem. Kolak pisang dan ubi jalar berupa kolak kering (hanya direbus dengan air gula dan santan kelapa, jangan lupa ditambah sedikit garam agar lebih nikmat). Dapat juga ditambahkan dan ditambahkan sedikit garam, kayu manis, dan cengkeh. Sementara itu kue apem dibuat dengan bahan dasar terdiri dari tepung beras, gula jawa atau gula merah, bisa juga ditambah santan kelapa dan parutan kelapa sesuai selera. Adapula yang menambahkannya dengan buah nangka ke dalam adonan kue apem. Selanjutnya adonan dicetak bundar-bundar di atas tungku api. Untuk ketan, cukup dikukus atau diliwet sebagaimana umumnya memasak ketan. Lihat gambar. Setelah ubo rampe sesaji ruwahan selesai dibuat dan siap saji, selanjutnya siap untuk dibagi-bagikan kepada para tetangga. Upayakan kita berbagi minimal kepada 7 kk, sukur bisa lebih hingga 17 kk. Seluruh sesaji itu seluruhnya berupa makanan tradisional. Mengapa demikian, tentu saja leluhur yang hidup di masa lalu kemungkinan besar makanan favoritnya sebatas sebagimana sesaji yang ada di dalam tradisi ruwahan itu. Barangkali kelak jika kita semua telah menjadi leluhur akan mempunyai selera makanan yang berbeda. Hal itu menentukan pula ragam sesajinya. Karena leluhur dapat menyampaikan pesan-pesan kepada anak cucu keturunannya atau orang-orang yang mampu berkomunikasi. Ada yang melalui mimpi, bisikan atau wisik, melalui suatu pertanda alam, melalui rasa sejati, dan bahkan melalui penglihatan visual. Selain alasan di atas, makanan tradisional yang dipilih dalam sesaji tentunya masing-masing mempunyai arti. Sehingga dapat dikatakan, makanan atau ragam sesaji merupakan bahasa simbul yang dapat mewakili sejuta kata dan ribuan kalimat. Dengan sesaji, maksud dan tujuan yang sangat luas jika dijabarkan satu-persatu, dikemas menjadi ringkas padat dan berisi. Sebagaimana pepatah dalam spiritual Jawa yang mengatakan,”ngelmu iku yen ginelar bakal ngebaki jagad, yen ginulung sak mrico jinumput”. Ilmu jika digelar akan memenuhi jagad raya, jika dilipat (diringkas) dapat menjadi sekecil biji merica.

Ragam & Makna Sesaji Tradisi Ruwahan

  1. Ketan; “ke-mut-an” artinya terkenang, teringat. Maksudnya teringat akan apa yang dilakukan di masa lalu. Jangan melupakan sejarah (jasmerah), yakni jasa kepahlawanan, pusaka warisan, dan peninggalan para leluhur yang hidup di masa lalu. Yang dapat dinikmati oleh generasi penerus, anak turunnya yang hidup di masa kini. Ketan bersifat lengket bermakna pula harapan adanya tali rasa yang akan menjadi perekat hubungan antara leluhur dengan anak cucu keturunannya dan semua orang yang menghaturkan sembah bakti kepadanya. Bahasa prokemnya “keep contact”.
  2. Kolak pisang ; mewakili pala gumantung, hasil bumi yang buahnya menggantung. Dibuat untuk mengingatkan kita selalu teringat akan kesalahan (Jawa; keluputan) yang pernah kita lakukan kepada orang tua dan para leluhur serta kepada Sang Jagadnata. Sehingga kita menjadi orang yang selalu mengevaluasi diri dan setiap saat mau berbenah diri. Selain itu, pala gumantung mengingatkan kita supaya batin dan rasa sejati masih tetap tersambung dengan Gusti Sang Jagadnata, termasuk kepada para leluhurnya yang telah hidup di alam sejati. Pisang sebagai pala gumantung mengingatkan kita, hendaknya selalu memiliki sifat tabiat langit atau angkasa. Sebagaimana telah saya posting di dalam Pusaka Hasta Brata, dikiaskan sebagai mulat laku jantraning akasa. (lihat dalam Pusaka Hasta Brata).
  3. Kolak ubi jalar ; mewakili pala kependem, hasil bumi yang buahnya berada di dalam tanah. Dibuat untuk melambangkan adanya kesalahan para leluhur kepada sesama manusia. Selain itu, pala kependem, memiliki pesan bahwa manusia hendaknya tetap berpijak di bumi. Memiliki sifat-sifat humanis, serta mulat laku jantraning bumi, yakni perilaku manusia yang andap asor tidak sombong, congkak, takabur, sikap mentang-mentang, golek benere dewe, golek butuhe dewe, golek menange dewe.  Sebaliknya harus mencontoh sifat-sifat bumi yang selalu memberikan berkah sekalipun bumi diinjak-injak oleh manusia dan seluruh makhluk penghuninya. Pala kependem yang diolah menjadi makanan kolak ubi jalar, mengingatkan kita hendaknya menjadi orang selalu melakukan “tapa mendhem” (bertapa mengubur diri) yakni mengubur segala amal kebaikan yang pernah kita lakukan pada orang lain dari ingatan kita. Agar supaya tidak mencemari ketulusan kita dan di suatu saat tidak membangkit-bangkit kebaikan kita pada orang lain. (lihat dalam Pusaka Hasta Brata).
  4. Apem ; dibuat untuk melambangkan adanya harapan suatu ampunan akan kesalahan di masa lalu. Kue apem berbentuk bundar atau bulat melingkar. Sebagai perlambang adanya kebulatan tekad dalam melaksanakan ritual, yakni kemantaban hati untuk mewujudkan rasa berbakti   kepada leluhur bukan hanya sebatas lips-service, sebatas ucapan dan kata-kata dalam doa. Lebih dari itu diwujudkanlah dalam sikap, tindakan, dan perbuatan nyata dalam kehidupaan sehari-hari, dalam hal ini kegiatan bersih-bersih meliputi jagad kecil dan jagad besar. Di dalam kue apem terdapat bahan-bahan berupa beras ketan, kelapa/santan, gula dan sedikit garam, serta bahan pengharum makanan. semua bahan dibuat adonan, kemudian dibakar dalam cetakan bundar-bundar. Semua itu memuat pesan yakni adanya proses dalam kehidupan dan pentingnya penyelarasan dan harmonisasi antara jagad kecil dengan jagad besar dalam kehidupan semesta ini.
  5. Berbagi Sedekah. Selanjutnya semua ubo rampe dapat dikemas dalam dus, atau cukup disajikan di atas piring untuk selanjutnya dibagi-bagikan kepada para tetangga. Maknanya adalah manusia hidup di bumi ini hendaknya mau saling berbagi, bersedekah, dan berwatak saling mengasihi, welas asih, asah asih asuh kepada sesama dan seluruh makhluk.

Setelah berbagi makanan ubo rampe sesaji tersebut kepada para tetangga, barulah selanjutnya diisi dengan kegiatan ziarah atau menabur bunga ke makam para leluhurnya sendiri satu persatu. Ziarah bisa dilakukan pada hari berikutnya, karena waktunya tersedia cukup leluasa hingga sebulan penuh selama bulan Arwah belum habis.

Makna Ritual

Selama bulan arwah atau Ruwah, masyarakat melakukan ritual bersih-bersih desa, kampung, makam, dan rumah.

  1. Bersih-Bersih Makam; merupakan wujud kesetiaan dan rasa berbakti generasi penerus atau anak turun kepada para leluhurnya. Kesetiaan dan bakti akan tumbuh seiring kesadaran spiritual seseorang yang dapat memahami betapa kita hidup sekarang ini telah berhutang budi, berhutang nyawa, berhutang kemerdekaan bangsa, berhutang hutan yang hijau dan tidak rusak, sungai yang jernih, lautan masih menyimpan kekayaaan besar, berhutang budi baik dan pengorbanan, maupun berhutang harta benda warisan dari orang-orang yang menurunkan kita semua. Bersih-bersih makam merupakan salah satu cara berbakti yakni untuk membalas kebaikan para leluhur atau pendahulunya.
  2. Bersih-bersih sungai, desa, ladang dan rumah; merupakan wujud penghargaan dan rasa terimakasih kita kepada alam, kepada bumi yang telah melimpahkan rejeki bagi manusia. Tanah yang subur, hutan yang menghijau, sungai-sungai mengalir jernih. Semua itu merupakan berkah agung dari Sang Hyang Jagadnata, berkah yang masih mengalir karena perilaku dan sikap bijaksana para leluhur pendahulu bangsa yang hidup di masa lalu. Mereka  tidak merusak dan mengeksploitasi hutan, gunung, sungai, lautan karena kesadaran super-egonya bahwa anak cucu keturunannya, dan generasi penerus bangsa kelak masih sangat membutuhkan semua itu. Al hasil, anak turunnya, generasi penerus bangsa di masa kini masih bisa merasakan limpahan anugrah agung tersebut di masa kini.  Lantas pertanyaannya, apakah yang telah dilakukan oleh generasi sekarang serupa dengan apa yang dilakukan leluhur para pendahulu kita di masa lalu ?
  3. Ziarah/Nyekar, atau menabur bunga di pusara leluhur. Kegiatan itu bermakna sebagai “atur sembah bekti” atau sikap menghaturkan rasa berterimakasih, sikap berbakti, sekaligus wujud nyata rasa welas asih, dan penghormatan setingginya atas seluruh jasa dan budi baik leluhur di masa lalu. Meskipun menabur bunga belumlah  sebanding dengan jasa-jasa leluhur kepada kita semua, kepada bangsa ini namun hal itu masih lebih berharga daripada hanya sekedar di rumah duduk manis sambil komat-kamit mengirim doa. Itu namanya perilaku golek penake dewe, lebih suka mencari-cari alasan pembenar atas sikapnya yang selalu mencari enaknya sendiri, daripada berkorban beaya, waktu dan berusaha yang nyata. Ironisnya “penyakit kejiwaan” golek benere dewe seperti itu biasanya menjadi lahan subur untuk bersemainya sikap pamrih dibarengi harapan-harapan tidak realistis & melambung tinggi. Lantas bagaimana seseorang bisa belajar tentang arti sebuah ketulusan ? Saya yakin para pembaca yang budiman di sini sudah menjadi pribadi yang merdeka dari hegemoni “penyakit jiwa” semacam itu. Hingga menyelesaikan membaca tulisan sampai pada baris kalimat ini.

Uborampe Ruwahan

Semoga tulisan ini memberi manfaat walau hanya ala kadarnya kepada siapapun seluruh pembaca yang budiman di manapun berada. Walau sangat mungkin ada pendapat yang berbeda, saya sangat berharap perbedaan itu menjadi bahan untuk menambah keutuhan dalam memahami makna tradisi Ruwahan. Apapun pendapat dan asumsi dari para pembaca yang budiman, semoga keselamatan, keberuntungan, dan kesuksesan selalu bersama Anda dan keluarga. Salam karaharjan.

sabdalangit

About these ads

About SABDå

gentleman, Indonesia Raya

Posted on Juni 6, 2012, in Memahami Tradisi Bulan Arwah and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 87 Komentar.

  1. Matur sembah nuwun kangmas tomy,nderek tangklet mas,mbok menawi panjenengan gadah mantra kagem atur sembah pangabekti marak sowan ke pepunden/leluhur,tolong mas kula lan sederek ingkang taksih sinau di ajari cara nipun,mugi saget nambah wawasan para sederek sedanten,maturnuwun sak derengipun matur sembah nuwun

    • terima kasih Mas Widodo atas perhatiannya
      menurut saya doa yang baik adalah yang tulus keluar dari hati, dari kembang telenging ati, sesuai istilah: Jawa iku jawabe.
      nah daripada memakai mantra yang malah kita tak memahami arti dan maksud yang hendak disampaikan, lebih baik dengan memakai bahasa yang sehari-hari kita gunakan.
      biasanya kalo ziarah leluhur pertama kali yang kita haturkan adalah caos sembah bekti dan meluhurkan
      keduanya menyampaikan maksud dan tujuan kita kalau memang ada keperluan khusus.
      yang terakhir sebagai generasi penerus leluhur sebaiknya juga kita memohon kekuatan, hikmat pengertian dan karunia kelebihan yang sesuai dengan kita untuk boleh dan dapat ikut serta meneruskan laku para leluhur kita

      • ndherek tepang mas Tomy,
        jawa kuwi jawabe…wah tembung punika ngemutaken kula dhumateng swargi mbah kakung kula..nalika jaman nem-neman kula nate tanglet kaliyan mbah kakung kula babagan tembung JAWA punika..jawa kuwi jawabe (panyuwananipun)..

        salam saking bocah ngenger

  2. terima kasih ki sabdo
    mudah2an bisa saya laksanakan
    salam kenal

  3. @ Ki Sabdo,

    matur sembah nuwun atas postingannya yang baru Ki Sabdo..kulo ikut nyimak mawon..

    Salam ketentraman.

  4. Nggih mas tomy,matur nuwun atas pencerahannya bisa mengobati rasa di batin ini yang selalu ingin mencari dan mencari,semoga bisa berguna untuk rekan2 dan seluruh para pembaca yang budiman di manapun berada sepindah melih matur nuwun.

  5. @ Ki Sabda, Jagad SJ, Baok, Cah Pathi, Kang Marto, MAHATMA, Ndableg, Rantam, Bala(ne)dewa, Julang Anak Jalanan, Kuncoro, Cantrek, Trims, Kedewatan Ubud, Japemethe, Budi, Evangln, Diaz, Hardi, Sholin, Soni, AyemMo, -bejo-, Dodot, Petruk, Aji, Ibon Inot, Wahjoe Harjanto, Addin, Temu Rose, Ridwan Zainal, Gie EPA, O`on, Jayadi, Ngabehi, Dwi Owix, Bejo Banget, JS (J..arene S..eneng ^_^), Sederek Sedoyo,

    Semua hari adalah baik dan istimewah, dan semua hari memiliki makna2nya tersendiri, Jumat Kliwon menurut perhitungan jawa bermakna Sukra Kasih atau yang bisa diartikan kasih yang kekal/abadi…

    Sugeng dinten jum`at kliwon kagem sederek sedanten, mugi kasugengan rahayu lan tansah kinasih…

    @ Widodo,

    Nggih maturnuwun mas Wid, semoga nanti bisa sumambrah ya, sekarang malem jum`at saya coba nyawisi kopi tubruk, kembang setaman di kum di gelas dan dupa aroma theurapy bunga amber rose yang eksotis banget, kamarku sekarang wangi deh. ini saya lagi ngetik, sambil menunggu nanti tengah malem menjelang pagi untuk berlatih meditasi sekaligus belajar menggalih diri.

    @ Tomy Arjunanto,

    Maturnuwun inspirasinya, kekayaan khasana budaya nusantara memang tak terbatas, di mana kita bisa mengkreasikan rasa puja puji kita dengan berlandaskan rahsa yang sejatinya : dari rasa, oleh rasa dan untuk rasa yang sujatinya… hmmm, mantabs!…

    @ Yhredaya,

    Thanks dear for your affirmation energy, we got kinda follow our instings- intituively, we were all the ‘tunggak semi’ of this civilitation, it`s just had to happened that we were live at this moment and life is just like the way it is : the way we want it or the way they want it?… and we can choose: the way I want it, `cos I want it that way… where “I” is derived from Ingsun… byar padang terawangan awang awung sing ono mung ingsun… cheeeeerrss!!…

    @ :: Wage Rahardjo,

    Terima kasih atas sambutan rasa persaudaraannya yang hangat, ya saya sudah sempatkan mengunjungi blog anda, I really love it!… apapun topic yang di sajikan, tulisannya sangat mencerdaskan dan bisa membawa pembaharuan : independent, netral, logically dan bernurani… Bravo!

    Tak salah lagi, anda memang tidak salah masuk blog ini. dulu 1, 3 th lalu saya juga secara tidak sengaja ‘tersesat’ di sini, akhirnya lama2 kok nyaman dan kerasan ya?.. he he he…

    Talking about ‘liberation soul’, have you ever think that it is our inner soul that guide us all here?… the answer is a matter of time… but don`t worry, be patient, all learning takes times, watch it, enjoy it and see what is happen…

    And so now we are all here and once again talking about ‘jiwa’… who`s might concern about the soul, the liberation and enlightenentment… they are all about searching the inner spirituality…

    @ Wisnu TJ,

    Waduh, saya di panggil diajeng… mak seeerrr… atiku… he he he…

    Actually, you were right bro, ‘EARTH’ without ‘ART’ is just like “E…H”… xixixixi…

    @ RP,

    How are you bang?… semoga krakatau dan anaknya jangan ‘batuk’ dulu ya?… kalau ‘uhuukk- uhuukk’… aduhh meletuuuss!!…

    Tapi kalau meletuspun, tidak mengapa kan? karena alam memang selalu senantiasa membangun untuk keseimbangan cosmicnya serta jagad alam seisinya, semoga manusia lebih cerdas dan bijaksana dalam menyikapinya.

    Salam jum`at kliwon,

    Dewi

    • Salam JDD……semoga Njenengan selalu sehat dan berbahagia selalu…….

      Mas Hredaya……sugeng raharjo……saya selalu menikmati apa yang Njenengan sampaikan….demi kesadaran dalam berpola pikir dan olah roso……..Nuwun….

    • “saiki sakabehe wis prayogo lan sampurno” demikianlah awal penciptaan dunia. jadi awalnya memang sudah baik dan sempurna.
      perubahan dan tererosinya baik dan kesempurnaan adalah karena perilaku daging, yang terakumulasi sekiaaaan waktu yang mengkontaminasi eter.
      pon = pamadhang ondho neroko
      wage = wahananing geni
      kliwon = kolo liar wangering ondho neroko
      legi = lembu giri
      pahing = palang ing satengahing gulu
      ini cuman cerita lho jeng…sumonggo
      sugeng mesu diri.

      kuncoro

    • @ JS,

      Maturnuwun pakpo udah mau mampir, saya juga mendoakan semoga kanjeng romo JS selalu bahagia dan sehat selalu, agar anak2 dan teman2 juga selalu terhibur dengan kehadiran pakpo, baik di bumi maupun di kahyangan…

      @ Paman Dalbo, Bpk Ismail usman,

      Pripun khabar pawartosane?… wherever you are, I hope all the best for you…

      @ Mbah Wage,

      Maturnuwun mbah, saya udah menjelajah web njenengan dongenbudaya.wordspress.com isinya so natural, independent, netral, logically and humanis… jaan top markotop… salam cap jempol!

      @ Kuncoro,

      Maturnuwun mas, menawi kolo liar wangering ondho neroko, artinipun nopo nggih?… atau bhs indonesianya apa?… he he he…

      @ Ki Sabda,

      Ngapunten ki, saya punya usul, bagaimana kalau setiap mempostingkan hari juga di lampirkan pawetonannya, biasanya hanya tertulis tanggal-bulan-tahun dan waktu jam saja, nanti bisa di lengkapi dengan hari dan wetonnya, misal jum`at kliwon, 15 juni 2012 pada 13:52. Walau sepeleh namun ini adalah langkah konkrit/ real untuk bisa lebih melestarikan budaya nusantara, maturnuwun.

      Salam rahayu,

      Dewi

      • @ jeng dewi…
        oh..itu identik dengan pasemon dalam pawukon (perwatakan hari, naptu, bulan dan tahun) dalam penanggalan jawa yang berkaitan dengan jalan hidup seseorang.
        bahasa itu termasuk kuno tapi masih identik sampai bahasa yang sekarang dikenal.
        kliwon, perwatakanya : pandai bicara dan menata bahasa, mudah melupakan kesalahan orang lain, gairah tinggi.
        kliwon, selalu berhubungan dengan sesuatu yang “wingit”.
        selasa kliwon 1955 “the man who want to be able to the way” itu yang kudengar.
        jumat kliwon, leluhur jawa mesu diri dan ditwruskan doa rejeki untuk anak turun, sabtu legi.
        demikian jeng,..berkah untuk panjenengan.

        kuncoro

      • @ Kuncoro,

        Nggih maturnuwun mas/pak/mbah Kuncoro, saya masih belajar menggalih dan nguri-uri, dan konon walaupun semua hari adalah baik namun hari2 yang berawalan malem jum`at baik wage, pon, kliwon, legi, pahing adalah hari yang utama untuk membuat sesaji bagi para leluhur (?)

        Maturnuwun info pasemon dan pawukonnya, dan ‘Kololiar wangering ondho neroko’ kalau tidak salah saya artikan ke dlm bhs indonesia: waktu liar angker (wanger) tangga neraka??… waduh saya nggak ngerti, ngapunten, maksute pripun to mbah?… saya juga punya primbon tapi nggak lengkap, maklum primbon wanita yang mengupas artinya haid… he he he…

        Salam katresnan,

        Dewi

  6. Salam nusantara selamat pagi indonesia salam semangat dan bahagia selalu tuk semua.@mas wage rahardjo ingkang dahat kinurmatan matur sembah nuwun dan salam kenal mas,,di tunggu tulisan panjenengan selanjutnya jangan malu2 memberikan masukan di blog maha dahsyat eyang sabda ini saya yakin komentar anda bisa memberikan pencerahan dan nuansa baru di sini..@pak wahyoe harjanto salam kenal pak,ada tembung ‘tak kenal maka tak sayang’.sedikit share pengalaman pribadi saya selama ngangsu kawruh di blog sabdalangit’s ini dan mempraktekkan apa yang di posting oleh ki sabda,FAQ:leluhur,pusaka,guru sejati.dari situ saya mulai mengenal tradisi wedangan bikin sesaji tiap mlm jumat,seiring berjalannya waktu banyak pengalaman yg luar biasa yg tdk pernah terbayangkan sebelumnya saya di beri kesempatan di jangkung ratugung binatara tanah jawa antara lain:YM sultan aji sulaiman,kanjeng sultan agung,eyang cantik bunda KRK,manggalayudha, eyang mangir wanabaya,ki ageng sela,kaki semar badranaya,eyang soekarno semua pengalaman spiritual saya itu,saya dapat hanya dg menghidupkan kembali tradisi wedangan yg diajarkan oleh ki sabda di sini,krn sy ini org awam dan masih culun di dunia supranatural,sy cuma bisa bengong dan terkesima dg pengalaman yg sy alami beberapa wkt lalu,sampai sekarang sy belum mendapatkan jwbn yg pasti atas apa yg sy alami tsb.tapi sy yakin seiring berjalannya wkt nanti kita akan tahu sendiri,,ada kata pepatah ”di wenehi ati malah ngrogoh rempelo” dari situlah sy belajar tentang arti kesabaran,,belajar sabar itu susah dan berat bagi anak muda.jangankan yg muda,yg tua juga kadang tdk bisa sabar,bahkan bisa lebih parah.ngapunten bila apa yg sy tulis tdk berkenan di hati,sepindah melih nyuwun pangapunten matur sembah nuwun

  7. Para leluhur aku pengin ngerti
    opo sing ora tok ngerteni

  8. Assalamuallaikum ki sabdolangit
    Salam kenal ki ,,,..nuwun nyimak kemawon,…alhamdulillah wonten blok kados mekaten dados nambah ilmu lan pangerten,matur nuwun sanget kagem ki sabdolangit…mugi2 blog meniko sageto terus ngedalaken wacanan budaya jawi sing kang soyo suwe soyo di lalekakeh marang tyang jawi,…

    Salam rahayu
    sohell.

  9. Menarik juga nyimak tulisan yang beginian

  10. Assalaamu a’alaikum warrahmatullaahi wabarakaatuh,kulonuwun
    Subhanallaah,terima kasih ulasannya tentang tradisi/ritual bulan rewah ini,saya jadi teringat waktu masih kecil,nenek saya di kampung selalu sibuk menyiapkan segala sesuatunya untuk menghadapi tradisi bulan rewan ini. Terus terang saya sendiri tidak meneruskan tradisi ini dikarenakan lingkungan dan kondisi sosiokultural saat ini yang mulai meninggalkannya,yang dianggap ribetlah,tidak praktis bahkan ada yang menyebut sebagai perbuatan yang sia-sia ataupun SYIRIK. Terlepas dari itu semua saya sendiri yang alhamdulillaah seorang muslim,yang kebetulan sekarang ini masih sedikit belajar tentang arti/esensi hidup ini,berpendapat bahwa tradisi REWAH (di kampung saya di bandung) adalah suatu tradisi/ritual yang menggabungkan antara nilai religius/spiritual dengan nilai-nilai kearifan budaya lokal,sebenarnya kita kuranglah bijak apabila dalam menilai suatu tradisi/budaya dengan langsung menjastifikasi sebagai sesuatu yang haramlah,syiriklah,musyriklah dan sebagainya apabila belum mengerti esensi ataupun substansi apa yang ada di balik suatu tradisi,dan saya berterima kasih kepada yang menulis penjelasan ini sehingga saya menjadi lebih mengerti akan tradisi bulan ARWAH ini,wassalaamu a’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

  11. Makna simbol APEM ; dibuat untuk melambangkan adanya harapan suatu ampunan akan kesalahan di masa lalu. Kue apem berbentuk bundar atau bulat melingkar. Sebagai perlambang adanya kebulatan tekad dalam melaksanakan ritual, yakni kemantaban hati untuk mewujudkan rasa berbakti kepada leluhur bukan hanya sebatas lips-service, sebatas ucapan dan kata-kata dalam doa. Lebih dari itu diwujudkanlah dalam sikap, tindakan, dan perbuatan nyata dalam kehidupaan sehari-hari, dalam hal ini kegiatan bersih-bersih meliputi jagad kecil dan jagad besar.

    ==================================================================

    Penjabaran simbol APEM (copy paste saja hehehe):
    Suatu Jum’at di Bulan Safar (ada yang menyebutkan tanggal 15 Safar),
    Ki Ageng Gribig kembali dari perjalanannya ke Tanah Suci.
    Ia membawa oleh-oleh, 3 buah penganan dari sana.
    Sayangnya saat akan dibagikan kepada penduduk, jumlahnya tak memadai.
    Bersama sang istri, ia pun kemudian membuat kue sejenis.
    Kue-kue inilah yang kemudian disebarkan kepada penduduk setempat, yang berebutan mendapatkannya.
    Sambil menyebarkan kue-kue ini, iapun meneriakkan kata
    “Ya Qowiyyu”, yang artinya “Tuhan, Berilah Kekuatan”
    atau bisa juga berarti “Allah Yang Maha Perkasa (Kuat)”.

    Secara utuh, Ki Ageng Gribig berucap::Ya qowiyyu qowwina wal muslimin ya qowiyyu ya rozaq warzuqna wal muslimin”.
    Yang Artinya, Ya Tuhan Yang Maha Kuat, semoga Engkau memberikan kekuatan kepada kami semua kaum muslimin.
    Ya Tuhan Yang Maha Kuat dan Pemberi Rejeki, semoga Engkau memberikan rejeki kepada kami semua kaum muslimin.

    Penganan ini kemudian dikenal dengan nama apem, saduran dari bahasa Arab “Affan”, yang bermakna Ampunan.
    Tujuannya, agar masyarakat selalu memohon ampunan kepada Sang Pencipta.
    Sejak saat itu, tepatnya sejak tahun 1589 Masehi atau 1511 Saka, Ki Ageng Gribig selalu melakukan hal ini.
    Ia pun mengamanatkan kepada masyarakat Jatinom saat itu, agar di setiap Bulan Safar, memasak sesuatu untuk disedekahkan kepada mereka yang membutuhkan.
    Amanat inilah yang mentradisi hingga kini di Jatinom, Klaten, Jawa Tengah, yang kemudian dikenal dengan “Yaqowiyu”.
    Sebutan Ki Ageng Gribig melekat pada diri beliau konon dikarenakan kesukaan Ki Ageng Gribig untuk tinggal di rumah beratap gribig (anyaman daun nyiur).
    Makam Ki Ageng Gribig dibuat dari batu merah dan kayu, terletak di Dukuh Jatinom, Kelurahan Jatinom, Kecamatan Jatinom, yang berjarak sekitar 9 km dari kota Klaten, Jawa Tengah.

    Jadi kesimpulannya adalah.. apapun simbolnya spt jajanan APEM ini yang penting NAWAITU-nya dan DOA-nya… :) :) ;)

    • Terima kasih @ Ki Senyum,

      sebenarnya nasib apem tak ubahnya seperti ketupat :wink:…

      ia di klaim bahwa mereka ada setelah jaman wali songo… padahal apem dan ketupat sudah ada sejak jaman mataram kuno dan seterusnya ke atas, coba aja tengok Bali si majapahit kecil yang masih mempertahankan makanan tsb sehari-hari, beda dengan Jawa yang hanya menikmati ketupat pada hari raya dan menikmati apem kalau ada momen seperti ruwahan.

      apem di Bali sejak dulu juga sama di sebut apem, lantas setelah islam datang di Jawa namanya di kait2kan dengan affuyun yang kebetulan mirip atau sengaja di gathukno. apem dan ketupat, mau ia di klaim asli islam atau hindu, suka atau tidak suka, ini asli hidangan khas nusantara, bisa di bilang sudah ada sejak sebelum adanya penetrasi agama2 :)…

      salam manis,

      dewi

    • @ Senyum,

      oh ya satu lagi, kemarin saya membaca komentar njenengan tentang mencicipi rasa berbagai makanan yang sangat mengena jiwa… saya cari di ruang mana ya, saya lupa, okey saya komentarkan disini saja :)…

      ehmmm, sebenarnya ini hanya masalah penyebutan nama saja, katakanlah beras dalam bhs arab= rush, inggris= rice, perancis= riz dsb dst… dan betul itu kita harus open minded untuk selalu belajar/ mengenal dan mencicipi kuliner lainnya supaya kita juga mengenal spiritual budaya penduduk dunia lainnya.

      *he he he… dari kuliner ke spiritual… tahu aja, kalau saya memang lagi mengadakan ‘penelitian’ kecil tentang hubungan antara kuliner dan spiritual… ya hanya penelitian itu baru sebatas panggraita/ renungan/ di batin saja…

      seperti halnya Tuhan, coba kata God itu di terjemahkan di google translate, yang muncul pasti kata Allah, mengapa tidak Tuhan yang di rasa lebih umum?… tahu sendiri eyang google yang asli yahudi itu pemeluk agama samawi yang juga sama satu Tuhan dengan orang kristen dan islam…

      but don`t get me wrong, saya dan kita harus think possitive dan bisa apresiasi budaya orang lain juga, bukan berarti kita ini iri, tapi hanya terketuk saja hati ini…

      kembali ke beras, sebagai makanan pokok/ utama yang berkhasiat sebagai sumber kalori dan energi, terkadang generasi sekarang ini rasanya kalau nggak bilang rice nggak keren, lalu menjadi sebutan’nasi’ biar lebih meng-indonesia, sementara kalau di ucapkan dengan sego/ sekol terkesan kuno dan hanya orang Jawa saja yang tahu…

      ini seperti halnya filosofy beras, mau ia disebut rice, riz, rush dsb tetaplah ia si pemilik zat karbohidrat, tapi kita juga musti membuka hati, bahwa beras bukanlah segalanya, jangan lupa ada potato, jagung, sagu, ketela dsb yang juga memiliki zat karbohidrat.

      jika di hubungkan dengan filosofy keilahian atau ketuhanan, mau ia di sebut Tuhan, Allah, Gusti, dsb ia tetaplah pemilik zat yang maha hidup… dan orang yang menyebut Tuhan selain ketiga nama itu bukan berarti mereka tak punya tuhan, hanya penyebutannya saja beda… permasalahnya berapakah dari orang kita sendiri yang dengan gentle dan gagah menyebut kata Gusti tanpa malu atau merasa terprovokasi dengan kehadiran kata yang lebih di kenal di bhs google??… seakan kalau tidak berkata Allah tidak keren, tidak pe-de dsb.

      kalau kita tak merubah polah makanan spiritual untuk hidup kita, maka generasi kita adalah generasi ‘brain drain’ yang telah kehilangan/ menghilangkan dengan sengaja budaya induk dan sukanya hanya sebagai generasi pengekor saja, hanya ikut-ikutan budaya orang lain saja…

      dan satu lagi, jika ingin menikamti ‘sekol’, belajarlah ke nusantara, karena ia negeri agraris yang bercocok tanaman padi, ketika di kupas menjadi beras lalu di olah bisa menjadi nasi jika di tanak, menjadi bubur jika di beri air lebih banyak, dan beras bisa di tumbuk di jadikan tepung untuk bahan membuat kue dan roti.

      sementara orang asing hanya menyebutnya ‘rice’ mau mentah atau sudah matang atau sudah di jadikan tepung tetep sama. Simpel saja karena mereka tidak pernah tahu proses menanamnya, ritual memanennya, dan mengolahnya dengan di aron lalu di kukus yang akan menghasilkan nasi yang lebih pulen.

      Bagaimana supaya mereka bisa menanak nasi yang enak dan selezat selera kita, kita bisa ajarin mereka, jadi jangan terbalik, malah mereka yang mengajarin kita tata cara menanak nasi ??…

      ya kira2 begitu panggraita saya tentang Tuhan dan zat Tuhan, kita ini sebenarnya memiliki sumber hayati dan sumber2 kehidupan lainnya yang tiada duanya di dunia, tetapi ya karena drain brain, maka kita tak pernah punya ‘kedaulatan spiritual’ yang sejatinya…

      ngapunten kalau dirasa tidak relevan, tetapi tentu saja Tuhan bukanlah makanan dan agama bukanlah beras atau nasi, sekali lagi ini hanya renungan seorang koki kelas pawon saja (dapur yang ireng dan lekoh :mrgreen: )

      oh ya satu lagi, beberapa orang/ kelompok ada yang tidak suka mengkonsumsi nasi dan lebih cocok menjalankan diet non karbohidrat (atheis), karena Zat karbohidrat bukanlah segalanya, dan orang nggak akan mati kelaparan/ hidup nista kalau nggak makan nasi (beragama)… banyak kok menu (spiritual/ ritual dsb) empat sehat lima sempurna, pilih mana yang cocok, atau kita bisa kombinasikan semuanya. ibarat dalam satu meja (satu keluarga/ bangsa/ negara) kita bisa bebas pesan berbagai menu, dan kita tetap bisa saling toleransi.

      jadi semuanya ada di kualitas jiwa kita dalam memfilter dan mencicipi RASA, apakah kita mau hanya terus2an menjadi bangsa yang konsumtive yang hanya mencercap menu budaya lain? atau menjadi bangsawan kuliner yang bisa menciptakan menu sendiri sekaligus bisa mengispirasi dunia dengan resep ajaran warisan leluhur kita :)…

      salam manis dan hangat,

      dewi

      • nah, air putih hangat ternyata juga bisa bermanfaat, maturnuwun telah mengingatkan saya, ntar sesekali saya mau coba diet OCD, makan sehari cukup 1-2x dengan jarak jam yg cukup panjang, tetapi bisa minum air putih yang banyak dan bisa kapan saja, terutama yang hangat pasti ada asupan energinya :)…

        tetapi tentang tidur apakah bisa menjadi makanan dan sumber kehidupan?… mohon di jelaskan lebih lanjut nggih Ki, `couse I want to know… xixixixi…

        maturnuwun, sugeng dalu dan sampai jumpa esok lagi ^_^…

      • aahh, akhirnya ketemu juga, dari kemarin muter2 nyari ruang ini… xixixixxi…

        hanya tuk ngucapin makasih @ Senyum :)…

        memang terkadang doa/ mantra/ ucapan baik yang di ulang2 itu juga bisa menjadi sugesti untuk diri sendiri nggih Ki, maturnuwun tambahan ilmunya.

  1. Ping-balik: Pakaian Adat Minangkabau | Baju For Sale

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 937 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: