Tradisi Ruwahan
Tradisi Ruwahan berisi kegiatan melaksanakan ritual yang dilakukan pada saat datangnya bulan Ruwah atau bulan Arwah. Bulan Arwah kali ini jatuh pada hari Kemis Legi tanggal 21 Juni 2012. Umumnya tradisi Ruwahan dilakukan pada tanggal 1 bulan Arwah atau Ruwah. Tahun ini dilakukan pada (kalender Jawa) surya kaping 01 wulan Arwah 1945 warsa Wawu bertepatan tanggal 21 Juni 2012 bertepatan dengan atau tanggal 01 Syaban 1433 H. Bagi masyarakat Jawa khususnya bulan Arwah mempunyai makna penting sebagai momentum bagi semua yang masih hidup untuk mengingat jasa dan budi baik para leluhur, tidak hanya terbatas pada orang-orang yang telah menurunkan kita, namun juga termasuk orang-orang terdekat, para pahlawan, para perintis bangsa yang telah mendahului kita pindah ke dalam dimensi kehidupan yang sesungguhnya. Bulan Arwah juga merupakan saat di mana kita harus “sesirih” atau bersih-bersih diri meliputi bersih lahir dan bersih batin. Membersihkan hati dan pikiran sebagai bentuk pembersihan dimensi jagad kecil (mikrokosmos) yakni diri pribadi kita meliputi unsur wadag dan alus, raga dan jiwa.
Tidak hanya sebatas pembersihan level mikrokosmos, selebihnya adalah bersih-bersih lingkungan alam di sekitar tempat tinggal kita, membersihkan desa, kampung, kuburan, sungai, halaman dan pekarangan di sekeliling rumah, tak lupa membersihkan semua yang membuat kotor dan jorok dalam rumah tinggal kita. Bagi petani tak luput pula bersih-bersih sawah dan ladang. Semua itu sebagai bentuk pembersihan dimensi jagad besar (makrokosmos).
Selain makna tersebut, ritual ruwahan merupakan wujud bakti dan rasa penghormatan kita sebagai generasi penerus kepada para pendahulu yang kini telah disebut sebagai Leluhur (Jawa) atau Karuhun (Sunda). Pelaksanaan ritual ruwahan bukan tanpa konsep dan prinsip yang jelas. Ruwahan didasari oleh kesadaran spiritual masyarakat kita secara turun-temurun, di mana kita hidup saat ini telah berhutang jasa, berhutang budi baik kepada alam dan para leluhur pendahulu yang telah mendahului kita. Tak ada cara yang lebih tepat selain harus berbakti, setia dan berbakti kepada para leluhurnya yang telah mewariskan ilmu dan harta benda, termasuk bumi pertiwi, yang dapat dimanfaatkan oleh anak turunnya hingga saat ini. Ritual tradisi Ruwahan sebagai bukti kesetiaan dan sikap berbakti kepada lingkungan alam yang telah memberikan berkah berupa rejeki, tempat berlindung, hasil bumi, oksigen dan sebagainya. Karenanya hanya dengan kesetiaan serta berbakti, kita menjadi generasi penerus yang tidak mengkhianati leluhur, bangsa dan bumi pertiwinya. Berkhianat kepada para leluhurnya sendiri, maupun kepada bumi pertiwi di mana tempat kita menyandarkan hidup sudah pasti akan menyebabkan suatu akibat buruk. Pengkhianatan (ketidaksetiaan) dan kedurhakaan (tidak berbakti) yang dilakukan generasi penerus, akan menimbulkan kesengsaraan pada diri pribadinya (mikrokosmos) dan sangat memungkinkan tertransformasi ke dimensi makrokosmos lingkungan alamnya. Sebaliknya, kesetiaan pada bumi pertiwi yakni bumi di mana nyawa kita berpijak, kita hirup udara, kita mencari makan, dan berbakti kepada para leluhur yang menurunkan kita, merupakan satu rangkaian berupa kunci meraih kesuksesan hidup secara hakiki. Ketenangan, ketentraman, kedamaian, kesejahteraan lahir dan batin akan berlimpah menghampiri kita setiap saat.
APA YANG TERJADI ?
Namun yang paling penting dari tradisi Ruwahan yang sudah turun temurun sejak ratusan atau bahkan mungkin ribuan tahun silam itu adalah terjadinya interaksi dan bahkan komunikasi dua pihak. Yakni pihak orang-orang yang masih hidup dengan pihak leluhur. Bahkan saat bulan Arwah tiba, para leluhur menghentikan “aktivitasnya” untuk suatu “aktivitas” khusus yakni menyambut anak cucu keturunannya, maupun semua orang yang melakukan kegiatan bakti kepadanya, yang diwujudkan dalam berbagai kegiatan seperti membersihkan makam, sedekah dan sesaji, komat-kamit mengucapkan doa, dikir, mengucapkan mantera dan berbagai kalimat yang keluar dari hati nuraninya yang intinya berusaha sambung rasa dengan para leluhurnya. Artinya sejauh apa yang dapat kami saksikan, Tradisi Ruwahan ternyata bukanlah kegiatan yang sia-sia saja. Selain manfaat yang nyata dari kegiatan kebersihan, sungguh ada makna tersirat yang mendalam dan manfaat inheren yang sangat besar di dalamnya. Manfaat itu akan dialami bagi siapapun yang tulus dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakannya. Sebab apa yang saya dan teman-teman pernah saksikan, pada bulan arwah ini komunikasi dan interaksi dengan para leluhur terjadi lebih intens. Bisa diartikan bahwa para leluhur juga menganggap bulan arwah ini sebagai momentum rutin yang dulakukan setahun sekali untuk lebih intens berkomunikasi dengan anak cucu keturunan dan semua orang yang menghaturkan sembah bekti kepadanya. Itu artinya, leluhur mencurahkan perhatian kepada siapapun yang mewujudkan sembah baktinya kepada leluhur. Perhatian leluhur tidak sekedar “sowang-sowang nyawang saka kadohan” atau mengikuti sepak terjang kehidupan anak cucu keturunannya, lebih dari itu, mereka bahkan membimbing dan mengarahkan apabila anak cucu keturunannya akan menempuh jalan yang salah. Leluhur yang semakin tinggi derajat kemuliaannya tentu akan lebih mampu melakukan segala sesuatu kepada anak cucu keturunannya dan semua orang yang berbakti kepadanya. Anda jangan pernah pesimis tidak yakin apakah leluhurnya ada yang berprestasi meraih kemuliaan yang sejati. Di antara sekian ribu leluhur kita tentu tidak hanya satu dua saja yang mencapai kamulyan sejati. Persoalannya kemudian ada pada diri kita masing-masing, apakah masih mau menganggap penting sikap berbakti pada leluhur ataukah sebaliknya menganggap mereka sudah tak bisa apa-apa lagi, nun jauh di negeri antah berantah, tak bisa lagi berkomunikasi dan berinteraksi dengan anak cucu keturunannya. Atau sikap lebih ekstrim yang menganggap interaksi dan kehadiran leluhur sebagai perwujudan godaan iblis setan jin peri prayangan. Jika demikian yang terjadi sangat mungkin leluhur sudah enggan membimbing dan mengarahkan kita sehingga sikap ekstrim kita semakin menjadi-jadi. Namun juga tak jarang terjadi sebaliknya, pada saat ada salah satu anak keturunannya bersikap terlampau ekstrim, ada satu dua leluhurnya yang kemudian menyadarkannya.
TATA CARA TRADISI RUWAHAN
Tradisi Ruwahan mempunyai tatacara yang sederhana saja. Yakni diawali dengan membuat sesaji, yakni sesuatu yang bermakna. Berupa kolak pisang, kolak ubi jalar, ketan kukus, serta makanan tardisional bernama kue apem. Kolak pisang dan ubi jalar berupa kolak kering (hanya direbus dengan air gula dan santan kelapa, jangan lupa ditambah sedikit garam agar lebih nikmat). Dapat juga ditambahkan dan ditambahkan sedikit garam, kayu manis, dan cengkeh. Sementara itu kue apem dibuat dengan bahan dasar terdiri dari tepung beras, gula jawa atau gula merah, bisa juga ditambah santan kelapa dan parutan kelapa sesuai selera. Adapula yang menambahkannya dengan buah nangka ke dalam adonan kue apem. Selanjutnya adonan dicetak bundar-bundar di atas tungku api. Untuk ketan, cukup dikukus atau diliwet sebagaimana umumnya memasak ketan. Lihat gambar. Setelah ubo rampe sesaji ruwahan selesai dibuat dan siap saji, selanjutnya siap untuk dibagi-bagikan kepada para tetangga. Upayakan kita berbagi minimal kepada 7 kk, sukur bisa lebih hingga 17 kk. Seluruh sesaji itu seluruhnya berupa makanan tradisional. Mengapa demikian, tentu saja leluhur yang hidup di masa lalu kemungkinan besar makanan favoritnya sebatas sebagimana sesaji yang ada di dalam tradisi ruwahan itu. Barangkali kelak jika kita semua telah menjadi leluhur akan mempunyai selera makanan yang berbeda. Hal itu menentukan pula ragam sesajinya. Karena leluhur dapat menyampaikan pesan-pesan kepada anak cucu keturunannya atau orang-orang yang mampu berkomunikasi. Ada yang melalui mimpi, bisikan atau wisik, melalui suatu pertanda alam, melalui rasa sejati, dan bahkan melalui penglihatan visual. Selain alasan di atas, makanan tradisional yang dipilih dalam sesaji tentunya masing-masing mempunyai arti. Sehingga dapat dikatakan, makanan atau ragam sesaji merupakan bahasa simbul yang dapat mewakili sejuta kata dan ribuan kalimat. Dengan sesaji, maksud dan tujuan yang sangat luas jika dijabarkan satu-persatu, dikemas menjadi ringkas padat dan berisi. Sebagaimana pepatah dalam spiritual Jawa yang mengatakan,”ngelmu iku yen ginelar bakal ngebaki jagad, yen ginulung sak mrico jinumput”. Ilmu jika digelar akan memenuhi jagad raya, jika dilipat (diringkas) dapat menjadi sekecil biji merica.
Ragam & Makna Sesaji Tradisi Ruwahan
Ketan; “ke-mut-an” artinya terkenang, teringat. Maksudnya teringat akan apa yang dilakukan di masa lalu. Jangan melupakan sejarah (jasmerah), yakni jasa kepahlawanan, pusaka warisan, dan peninggalan para leluhur yang hidup di masa lalu. Yang dapat dinikmati oleh generasi penerus, anak turunnya yang hidup di masa kini. Ketan bersifat lengket bermakna pula harapan adanya tali rasa yang akan menjadi perekat hubungan antara leluhur dengan anak cucu keturunannya dan semua orang yang menghaturkan sembah bakti kepadanya. Bahasa prokemnya “keep contact”.
Kolak pisang ; mewakili pala gumantung, hasil bumi yang buahnya menggantung. Dibuat untuk mengingatkan kita selalu teringat akan kesalahan (Jawa; keluputan) yang pernah kita lakukan kepada orang tua dan para leluhur serta kepada Sang Jagadnata. Sehingga kita menjadi orang yang selalu mengevaluasi diri dan setiap saat mau berbenah diri. Selain itu, pala gumantung mengingatkan kita supaya batin dan rasa sejati masih tetap tersambung dengan Gusti Sang Jagadnata, termasuk kepada para leluhurnya yang telah hidup di alam sejati. Pisang sebagai pala gumantung mengingatkan kita, hendaknya selalu memiliki sifat tabiat langit atau angkasa. Sebagaimana telah saya posting di dalam Pusaka Hasta Brata, dikiaskan sebagai mulat laku jantraning akasa. (lihat dalam Pusaka Hasta Brata).
Kolak ubi jalar ; mewakili pala kependem, hasil bumi yang buahnya berada di dalam tanah. Dibuat untuk melambangkan adanya kesalahan para leluhur kepada sesama manusia. Selain itu, pala kependem, memiliki pesan bahwa manusia hendaknya tetap berpijak di bumi. Memiliki sifat-sifat humanis, serta mulat laku jantraning bumi, yakni perilaku manusia yang andap asor tidak sombong, congkak, takabur, sikap mentang-mentang, golek benere dewe, golek butuhe dewe, golek menange dewe. Sebaliknya harus mencontoh sifat-sifat bumi yang selalu memberikan berkah sekalipun bumi diinjak-injak oleh manusia dan seluruh makhluk penghuninya. Pala kependem yang diolah menjadi makanan kolak ubi jalar, mengingatkan kita hendaknya menjadi orang selalu melakukan “tapa mendhem” (bertapa mengubur diri) yakni mengubur segala amal kebaikan yang pernah kita lakukan pada orang lain dari ingatan kita. Agar supaya tidak mencemari ketulusan kita dan di suatu saat tidak membangkit-bangkit kebaikan kita pada orang lain. (lihat dalam Pusaka Hasta Brata).
Apem ; dibuat untuk melambangkan adanya harapan suatu ampunan akan kesalahan di masa lalu. Kue apem berbentuk bundar atau bulat melingkar. Sebagai perlambang adanya kebulatan tekad dalam melaksanakan ritual, yakni kemantaban hati untuk mewujudkan rasa berbakti kepada leluhur bukan hanya sebatas lips-service, sebatas ucapan dan kata-kata dalam doa. Lebih dari itu diwujudkanlah dalam sikap, tindakan, dan perbuatan nyata dalam kehidupaan sehari-hari, dalam hal ini kegiatan bersih-bersih meliputi jagad kecil dan jagad besar. Di dalam kue apem terdapat bahan-bahan berupa beras ketan, kelapa/santan, gula dan sedikit garam, serta bahan pengharum makanan. semua bahan dibuat adonan, kemudian dibakar dalam cetakan bundar-bundar. Semua itu memuat pesan yakni adanya proses dalam kehidupan dan pentingnya penyelarasan dan harmonisasi antara jagad kecil dengan jagad besar dalam kehidupan semesta ini.
Berbagi Sedekah. Selanjutnya semua ubo rampe dapat dikemas dalam dus, atau cukup disajikan di atas piring untuk selanjutnya dibagi-bagikan kepada para tetangga. Maknanya adalah manusia hidup di bumi ini hendaknya mau saling berbagi, bersedekah, dan berwatak saling mengasihi, welas asih, asah asih asuh kepada sesama dan seluruh makhluk.
Setelah berbagi makanan ubo rampe sesaji tersebut kepada para tetangga, barulah selanjutnya diisi dengan kegiatan ziarah atau menabur bunga ke makam para leluhurnya sendiri satu persatu. Ziarah bisa dilakukan pada hari berikutnya, karena waktunya tersedia cukup leluasa hingga sebulan penuh selama bulan Arwah belum habis.
Makna Ritual
Selama bulan arwah atau Ruwah, masyarakat melakukan ritual bersih-bersih desa, kampung, makam, dan rumah.
- Bersih-Bersih Makam; merupakan wujud kesetiaan dan rasa berbakti generasi penerus atau anak turun kepada para leluhurnya. Kesetiaan dan bakti akan tumbuh seiring kesadaran spiritual seseorang yang dapat memahami betapa kita hidup sekarang ini telah berhutang budi, berhutang nyawa, berhutang kemerdekaan bangsa, berhutang hutan yang hijau dan tidak rusak, sungai yang jernih, lautan masih menyimpan kekayaaan besar, berhutang budi baik dan pengorbanan, maupun berhutang harta benda warisan dari orang-orang yang menurunkan kita semua. Bersih-bersih makam merupakan salah satu cara berbakti yakni untuk membalas kebaikan para leluhur atau pendahulunya.
- Bersih-bersih sungai, desa, ladang dan rumah; merupakan wujud penghargaan dan rasa terimakasih kita kepada alam, kepada bumi yang telah melimpahkan rejeki bagi manusia. Tanah yang subur, hutan yang menghijau, sungai-sungai mengalir jernih. Semua itu merupakan berkah agung dari Sang Hyang Jagadnata, berkah yang masih mengalir karena perilaku dan sikap bijaksana para leluhur pendahulu bangsa yang hidup di masa lalu. Mereka tidak merusak dan mengeksploitasi hutan, gunung, sungai, lautan karena kesadaran super-egonya bahwa anak cucu keturunannya, dan generasi penerus bangsa kelak masih sangat membutuhkan semua itu. Al hasil, anak turunnya, generasi penerus bangsa di masa kini masih bisa merasakan limpahan anugrah agung tersebut di masa kini. Lantas pertanyaannya, apakah yang telah dilakukan oleh generasi sekarang serupa dengan apa yang dilakukan leluhur para pendahulu kita di masa lalu ?
- Ziarah/Nyekar, atau menabur bunga di pusara leluhur. Kegiatan itu bermakna sebagai “atur sembah bekti” atau sikap menghaturkan rasa berterimakasih, sikap berbakti, sekaligus wujud nyata rasa welas asih, dan penghormatan setingginya atas seluruh jasa dan budi baik leluhur di masa lalu. Meskipun menabur bunga belumlah sebanding dengan jasa-jasa leluhur kepada kita semua, kepada bangsa ini namun hal itu masih lebih berharga daripada hanya sekedar di rumah duduk manis sambil komat-kamit mengirim doa. Itu namanya perilaku golek penake dewe, lebih suka mencari-cari alasan pembenar atas sikapnya yang selalu mencari enaknya sendiri, daripada berkorban beaya, waktu dan berusaha yang nyata. Ironisnya “penyakit kejiwaan” golek benere dewe seperti itu biasanya menjadi lahan subur untuk bersemainya sikap pamrih dibarengi harapan-harapan tidak realistis & melambung tinggi. Lantas bagaimana seseorang bisa belajar tentang arti sebuah ketulusan ? Saya yakin para pembaca yang budiman di sini sudah menjadi pribadi yang merdeka dari hegemoni “penyakit jiwa” semacam itu. Hingga menyelesaikan membaca tulisan sampai pada baris kalimat ini.
Semoga tulisan ini memberi manfaat walau hanya ala kadarnya kepada siapapun seluruh pembaca yang budiman di manapun berada. Walau sangat mungkin ada pendapat yang berbeda, saya sangat berharap perbedaan itu menjadi bahan untuk menambah keutuhan dalam memahami makna tradisi Ruwahan. Apapun pendapat dan asumsi dari para pembaca yang budiman, semoga keselamatan, keberuntungan, dan kesuksesan selalu bersama Anda dan keluarga. Salam karaharjan.
sabdalangit
















78 tanggapan kepada “Memahami Tradisi Bulan Arwah”
japemethe
Juni 6th, 2012 pada 12:40
Terimakasih Mas
Liza Natalie
April 21st, 2013 pada 21:21
Saya sangat berterimah kasih banyak kepada PAK MANDALA atas bantuannya saya bisa menang togel, saya benar2 tidak percaya dan hampir pingsan karna angka yang di berikan beliau ternyata tembus. awalnya saya cuma coba2 menelpon, saya bilang saya terlantar di daerah Malaysia. kerja sebagai TKI dan tidak ada ongkos pulang, mulanya saya ragu tapi dengan penuh harapan saya pasangin kali 100 lembar dan ALHAMDULILLAH berhasil. sekali lagi makasih banyak ya PAK… dan saya tidak akan pernah lupa bantuan dan kebaikan PAK MANDALA. kepada saudara yang ingin merubah nasibnya seperti saya silahkan Hub 0823″4898″5714 PAK MANDALA. Demikian kisah nyata dari saya dan ini tanpa rekayasa. INGAT. kesempatan tidak akan pernah datang Yang ke.(2).kalinya…!
Saya sangat berterimah kasih banyak kepada PAK MANDALA atas bantuannya saya bisa menang togel, saya benar2 tidak percaya dan hampir pingsan karna angka yang di berikan beliau ternyata tembus. awalnya saya cuma coba2 menelpon, saya bilang saya terlantar di daerah Malaysia. kerja sebagai TKI dan tidak ada ongkos pulang, mulanya saya ragu tapi dengan penuh harapan saya pasangin kali 100 lembar dan ALHAMDULILLAH berhasil. sekali lagi makasih banyak ya PAK… dan saya tidak akan pernah lupa bantuan dan kebaikan PAK MANDALA. kepada saudara yang ingin merubah nasibnya seperti saya silahkan Hub 0823″4898″5714 PAK MANDALA. Demikian kisah nyata dari saya dan ini tanpa rekayasa. INGAT. kesempatan tidak akan pernah datang Yang ke.(2).kalinya…!
Saya sangat berterimah kasih banyak kepada PAK MANDALA atas bantuannya saya bisa menang togel, saya benar2 tidak percaya dan hampir pingsan karna angka yang di berikan beliau ternyata tembus. awalnya saya cuma coba2 menelpon, saya bilang saya terlantar di daerah Malaysia. kerja sebagai TKI dan tidak ada ongkos pulang, mulanya saya ragu tapi dengan penuh harapan saya pasangin kali 100 lembar dan ALHAMDULILLAH berhasil. sekali lagi makasih banyak ya PAK… dan saya tidak akan pernah lupa bantuan dan kebaikan PAK MANDALA. kepada saudara yang ingin merubah nasibnya seperti saya silahkan Hub 0823″4898″5714 PAK MANDALA. Demikian kisah nyata dari saya dan ini tanpa rekayasa. INGAT. kesempatan tidak akan pernah datang Yang ke.(2).kalinya…!
Saya sangat berterimah kasih banyak kepada PAK MANDALA atas bantuannya saya bisa menang togel, saya benar2 tidak percaya dan hampir pingsan karna angka yang di berikan beliau ternyata tembus. awalnya saya cuma coba2 menelpon, saya bilang saya terlantar di daerah Malaysia. kerja sebagai TKI dan tidak ada ongkos pulang, mulanya saya ragu tapi dengan penuh harapan saya pasangin kali 100 lembar dan ALHAMDULILLAH berhasil. sekali lagi makasih banyak ya PAK… dan saya tidak akan pernah lupa bantuan dan kebaikan PAK MANDALA. kepada saudara yang ingin merubah nasibnya seperti saya silahkan Hub 0823″4898″5714 PAK MANDALA. Demikian kisah nyata dari saya dan ini tanpa rekayasa. INGAT. kesempatan tidak akan pernah datang Yang ke.(2).kalinya…!
PAK ISKANDAR DI PALU
April 23rd, 2013 pada 19:38
BAGI ANDA YANG PENCINTA TOGEL JANGAN ANDA RAGU UNTUK MENGHUBUNGI LANGSUN MBAH KARMOJO KARNA SAYA SENDIRI SUDAH LIHAT BUKTINYA,ATAS BANTUANNYA SAYA YANG DULUNYTIDAK PERNAH MERASAKAN YANG NAMANYA KEMENANGAN DALAM PERMAINAN TOGEL KINI ALHAMDULILLAH SEKARAN SAYA SUDAH BISA MERASAKANNYA..DAN BERKAT BANTUAN MBAH KARMOJO SAYA SANGAT BERSYUKUR KARNA SEKARAN SAYA SUDAH BISA MEMBAHAGIAKAN KELUARGA SAYA..BAGI ANDA YANG INGIN SEPERTI SAYA SILAHKAN HBG 0823=2825=4444 MBAH KARMOJO
evangln
Juni 6th, 2012 pada 12:46
Terima kasih ki,tulisan2 njenengan menambah wawasan Dan memberi pencerahan buat saya pribadi!!! Mungkin temen2 yg lain jg merasakan hal yg sama…
semoga limpahan berkah kesehatan Dan keselamatan meyertai KI sabda sekeluarga….
Salam sayang…….
trims
Juni 6th, 2012 pada 14:53
menyejukkan…
* selalu menanti posting di blog ini
Diaz
Juni 6th, 2012 pada 15:15
Terima kasih Ki atas pencerahan yg diberikan untuk saya dan poro sedulur yg hadir di blog yg menyejukkan jiwa ini…….
jayadi
Juni 6th, 2012 pada 15:51
Rahayu mas sabda.
Matur sembah nuwun sampun dibabaraken falsafah bulan ruwah.bertambah satu lagi wawasan khasanah budaya untuk saya pribadi dan untuk seluruh pembaca di padepokan damai ini.membuka pemikiran baru yang dulunya mungkin hanya tau bulan ruwah saja tanpa memahami makna yang terkandung dalam setiap bulan tersebut.
@jeng dewi,mas vredaya,mas widodo,mas cah pati dan seluruh sesepuh disini salam rahayu dari pulau kecil berlangit biru..
janur kuning
Juni 6th, 2012 pada 16:47
Salam
keselamatan dan keberkahan selalu tercurah kpd pak sabda dan para pembaca semuanya.
Terimakasih banyak pak sabda atas informasi cahaya petunjuknya sangat bermanpaat bagi saya
salam
karto
Juni 6th, 2012 pada 18:10
maturnuwun sanget ki..tansah paring pepeling supados resik2 jagad alit lan jagad ageng.. maturnuwun ugi kagem donganipun kagem bapak kulo..mugi2 saged sembuh total saking sedoyo sakitipun..sapuniko rawat jalan saking rs. bethesda yk kaliyan terapi pijet dateng priyayi wetan kali progo..
salam saking bocah ngenger..
wahjoe harjanto
Juni 6th, 2012 pada 19:39
Tulisan Anda sangat bagus untuk dihayati dan diamalkan sebagai nguri-uri budaya, tetapi saya menjadi tidak respek dan menilai anda tidak mempunyai ilmu yang tuwo karena diakhir tulisan Anda mblangkon (mbendol mburi) . Kontradiktif dengan pitutur yang diatasnya, andap asor, tanpa sirik dengki dan dendam. Seakan Anda sendiri mementahkan kearifan budaya Jawa dan mengotorinya dari hati anda yang buruk dengan menyindir dan melaknat ajaran atau pemikiran orang lain yang berbeda dengan kita. Semoga anda bisa lebih dewasa dan berilmu Jawa yang tinggi.
SABDå
Juni 7th, 2012 pada 00:50
Pak Wahjoe Harjanto Yth
Matur sembah nuwun atas wejangannya. Apa yg panjenengan tulis dalam komentar, sangat memberi pelajaran yg berharga utk saya dan mungkin dulur2 yg lain. Akan selalu saya ingat agar diri saya pribadi bisa
bersikap arif dan bijaksana. Termasuk tidak dgn mudahnya memberikan justifikasi buruk pada hati orang lain termasuk hati dulur2 semua di sini. Namun apakah saya akan meniru ilmu tuwo yg panjenengan contohkan, itu menjadi pilihan merdeka pribadi saya. Matur nuwun Pak Wahjoe atas segala perhatiannya dan yg paling berharga sudah kerso memberi wejangan kpd saya pribadi.
Salam karaharjan
karto
Juni 7th, 2012 pada 11:02
katur poro sedherek sedoyo,
lha meniko saged dipun dadosaken contoh kagem kito sedoyo..
atasipun sing gadhah griyo..dipun kritik nggih purun nampi kritikanipun tiyang sanes ingkang dados tamunipun..NANGING TETEP MBOTEN NINGGALAKEN KAPITAYANIPUN UTAWI KAMARDIKANIPUN..
matur nuwun ki..
salam saking bocah ngenger
mbahe wahjoe
Juni 11th, 2012 pada 23:09
“Seakan Anda sendiri mementahkan kearifan budaya Jawa dan mengotorinya dari hati anda yang buruk dengan menyindir dan melaknat ajaran atau pemikiran orang lain yang berbeda dengan kita. Semoga anda bisa lebih dewasa dan berilmu Jawa yang tinggi.”
seakan……..berarti ada syak sangka,
Semoga anda bisa lebih dewasa dan berilmu……wew….ternyata ada yang merasa lebih dewasa dan berilmu.
Lha…jerene dadi menungso ‘ojo rumongso biso, bisoo rumongso?’
Ngger……..Nak Mas Sabda iki ora koyo opo sing ono nang sangkaanmu. Kowe kleru penompo. Wis kono ndang muleh, ojo bengi-bengi banget anggonmu sinau. Sesuk nang sekolahan ngantuk, yo……
:: Wage Rahardjo
Juni 6th, 2012 pada 20:21
Tulisan yang apik. Perayaan leluhur merupakan tindakan yang mulia. Salut dengan kearifan penulisannya yang mau meluangkan waktu untuk berbagai pengetahuan yang dipastikan tidak akan diajarkan di sekolah umum.
Maaf, sok tahu sekedar ngoceh. Sebatas yang saya tahu, perayaan semacam ini (saya sebut saja perayaan leluhur) terlihat kuno dan kampungan. Namun perayaan semacam ini umum ditemukan di banyak negera atau budaya. Di negara yang tergolong maju seperti Jepang sekalipun perayaan leluhur masih dilakukan dan hampir semua rumah tradisonal pasti memiliki altar untuk leluhur. Sedangkan untuk di Indonesia, Bali mungkin merupakan contoh yang paling mudah. Hampir semua rumah pasti memiliki komplek bangunan suci untuk leluhur. Kemudian tempat ibadah (pura) yang ada di pulau tersebut hampir setengahnya adalah bukan pura umum, tapi pura kelompok leluhur tertentu.
Sekedar berpendapat, pemujaan leluhur samping merupakan tindakn mulia, juga bisa memberikan “efek samping” negatif, terutama kalau dipahami dengan pemahaman yang salah dan sempit. Contoh negatifnya adalah berpotensi menjadi fanatik buta, bangga berlebihan dengan keturunan, pelesatarian kasta, mabuk asal usul (sad ripu), saya orang Jawa, kamu orang Sunda, orang asing, Yahudi dll. Itu adalah salah satu efek negatif menurut saya. Leluhur adalah garis keturunan biologis, bukan keturuan spiritual. Dalam kehidupan spiritual, semua orang adalah bersaudara karena berasal dari sumber yang sama. Parama Jiva, Sangkan Paraning Dumadi atau apalah istilahnya.
Sekali lagi minta maaf, karena hanya sekedar ocehan dan mudah mudahan tidak merusak pesan tulisannya. Semoga blog Sabdalangit tetap lestari. salam wage.
ndableg
Juni 6th, 2012 pada 20:44
tuluuunngggg…….
aaku ki wong kampung/ndeso, wah jan apes men awakku iki. dienggo boso sing asor.
sakjane ki mung piye wong2 dho iso nggowo awak. neng ndi lemah dipidak, neng kono langit dijunjung,
anane dho congkrah mergane menungso kegedhen ego. ora ngelingi yen ono menungso liyane.
Temu Rose
Juni 6th, 2012 pada 21:54
ya kalau di rasa belum bisa nalar/blum paham betul,,,g usah ikut2an di Blog ini…
untungnya apa sih,,trz daptnya apa,,,kalau manusia selalu berfikiran negatif…???
ttp kt hrus belajar mnghrgai persepsi setiap orang,,,,krna persepsi orang tk prnah sama,,,namun intin dan tujuannya akan ttp sama…
O'on
Juni 13th, 2012 pada 00:55
perayaan semacam ini (saya sebut saja perayaan leluhur) terlihat kuno dan kampungan
———————–
mungkin sebagai contoh lainnya…
- yg sama2 kuno dan ndak selalu kampungan yaitu perayaan tahun baru, ulang tahun, pernikahan, dsbnya
- yg ndak kuno tapi sama2 kampungan yaitu perayaan sukses/berhasilnya misi/proyek/kompetisi
- yg (disarankan) ndak boleh kuno dan ndak boleh kampungan yaitu perayaan launching/release/demo promosi produk2 (komersial, maupun sbg jasa solusi) terbaru, serta utk kampanye politik/balon menejer.
(^_^)v
:: Wage Rahardjo
Juni 20th, 2012 pada 16:59
Komentar anda membuat saya tertawa. Komentar yang cerdas. Salam kenal. wage
soni( anak alam )
Juni 6th, 2012 pada 20:57
hatur nuhun ki atas tulisan tentang bulan arwah…aku sekarang udah berumah tangga dan tinggal di mertua yang di dulukan yang mana dulu apa dari makam2 leluhur aku atw bersih2 makan dari leluhur mertua aku yang sekarang ki oh iya ki aku darah sunda dan istri asli jawa dan sekarang istri lagi hamil 6 bulan mohodn doa restuna ki mudah2 istri aku lungsur lancar ki dan sebentra lagi mau persiapan sukuran 7 bulanan….
Widodo
Juni 6th, 2012 pada 21:36
Nderek nyimak mawon ki matur sembah nuwun… pakdhe jayadi matur sembah nuwun lan sugeng ndalu matur nuwun sampun kerso menyapa saya yang cubluk ini sepindah melih matur nuwun
gie engkang paling alit
Juni 6th, 2012 pada 22:11
ngaturaken agungunging panuwun, mniko sae sanget kagem kulo ingkang taksih sinau budaya jawi….matur nuwun kagem sedoyo kemawon…..
budi
Juni 7th, 2012 pada 08:01
Ki sabda yth
Apakah Uborampe sesaji sebelum kita bagikan perlu diletakkan di kamar dan kemudian kita tinggal sebentar seperti halnya bancakan weton? dan apakah ada semacam doa atau kalimat pengantar yg perlu kita ucapkan sebelumnya….
matur nuwun
Rahayu
Kang marto
Juni 7th, 2012 pada 10:12
Matur nembah nuwun kisabda. Ngelmu luhur ingkang sampun kawedar, ndadosaken kawulo lan sedulur sedoyo nggadaih tambahan ngelmu luhur jawa. Kalih umpami wonten posting malih bab sesaji kagem para leluhur , kawulo nyuwun ditambaih ‘MANTRA’ lan cara anggenipun masrahaken/nyaosi ubo rampe sesaji kagem para leluhur. Maklum kisabda, kawulo tesih blajar. Umpami wonten mantranipun saking kisabda , kawulo kan dados tambah mantep. Matur nembah nuwun, mbok bilih atur kawulo wonten lepat, nggih nyuwun agunging pangapunten. Salam karaharjan. Rahayu..
Kang marto
Juni 7th, 2012 pada 10:16
Matur nembah nuwun kisabda. Ngelmu luhur ingkang sampun kawedar, ndadosaken kawulo lan sedulur sedoyo nggadaih tambahan ngelmu luhur jawa. Kalih umpami wonten posting malih bab sesaji kagem para leluhur , kawulo nyuwun ditambaih ‘MANTRA’ lan cara anggenipun masrahaken/nyaosi ubo rampe sesaji kagem para leluhur. Maklum kisabda, kawulo tesih blajar. Umpami wonten mantranipun saking kisabda , kawulo kan dados tambah mantep. Matur nembah nuwun, mbok bilih atur kawulo wonten lepat, njih nyuwun agunging pangapunten. Salam karaharjan. Rahayu..
hardi
Juni 7th, 2012 pada 15:27
nderek maos, langkung jangkep penjelasanipun. jaman mbiyen namung nderek bapa mawon je, resik2 tempat keluarga swargi. memetri kabudayan, agama ageming aji. matur nuwun.
sholin
Juni 7th, 2012 pada 16:48
Rahayu…
melu nyicip hidangannipun kang mas sabda…
rahayu…
Dewi
Juni 7th, 2012 pada 21:07
@ Ki Sabda,
Matursembah nuwun atas postingan terbarunya, selama ngangsu kaweruh di sini, pengetahuan saya tentang budaya leluhur semakin hari semakin bertambah.
Dan semoga memasuki bulan Ruwah ini alam masih berbaik hati kepada kita dan semua makhluk di jagad raya ini.
@ :: Wage Rahardjo,
Maturnuwun dan salam kenal, menurut saya agama samawi awalnya juga kearifan lokal saja, adapun kalau sekarang kearifan lokal mereka bisa menguniversal ini bukan masalah effect negative penetrasinyanya bagi masyarakat yang non agama sawawi, melainkan proses perjalanannya yang panjang dengan sejarah2 yang mengikuti perkembangannya, baik yang kontroversi maupun yang assimilasi, begitupun juga agama2/ kepercayaan2 lainya.
Coba kita renungkan, Mengapa agama kong hu chu bisa tetep lestari dan berkembang? Itu karena orang china memuliakan leluhurnya. Mengapa agama islam bisa besar dan subur? Itu karena orang arab pandai menjaga aset leluhur mereka.
Dari situ kita tahu, bahwa Agama itu terdiri dari unsur yg membentuk dan menjiwainya antara lain : Budaya, sejarah, cerita legenda, Mitos, Mistis dan juga Politik.
Lalu kitapun bisa bercermin dan intropeksi diri, Mengapa agama/kepercayaan jawa (kejawen) tidak bisa seperti mereka? Tidakkah kita merasa terketuk hati kita?…
Tentu saja, bukan berarti kita harus memusuhi agama2 pendatang, tetapi alangkah lebih arif dan bijaksananya kalau kita bisa menjadikan kepercayaan nusantara yang luhur ini sebagai tuan rumah di negri sendiri, termasuk menjadi Raja/ Ratu di hati kita sendiri.
Salam rahayu,
Dewi
Wisnu Tiang Jawi
Juni 7th, 2012 pada 23:06
@Ki Sabda
Matur nuwun ki Sabda atas penjabaran dlm memaknai sasi ruwah meniko, bisa menambah wawasan saya dan para sedulor yg ingin belajar ttg budaya jawa, yg selama ini terutama saya yg cm sekedar ikut2an tanpa tau maknanya. smoga dlm bulan ruwah nanti berkah melimpah ruwah untuk semua saudara dibumi nuswantara ini.
@Jeng Dewi
Setuju Jeng Dewi ulasan njenengan, demi kejayaan nuswantara mari kita tingkatkan kecintaan terhadap budaya luhur bangsa kita, dengan kita tanamkan di dlm hati nilai2 luhur yg terkandung supaya bisa qta wujudkan secara nyata dlm kehidupan qta sehari-hari, karena klo tidak budaya luhur bangsa ini akan smakin terkikis habis oleh arus globalisasi/budaya asing, jangan sampai orang jawa ilang jawane,,, atau anak cucu qta akan menjadi tamu dinegri sendiri. BRAVO BUDAYA NUSWANTARA!!!
@poro sedulor yth. diblog ki sabda
Salam budaya, rahayu.
:: Wage Rahardjo
Juni 10th, 2012 pada 14:23
@ DEWI
Salam kenal dan terima kasih banyak atas pencerahannya yang bijak. Maaf juga untuk pembaca lainya dan Ki Sabda atas komentar saya yang tidak berkenan dan sangat negatif. Mungkin pesan balasan yang ditulis rekan lain adalah benar bahwa kalau tidak nalar atau belum paham, sebaiknya jangan ikut ikutan blog ini.
Sedikit membela diri, saya dilahirkan di keluarga pemuja leluhur jadi sedikit tahu tentang pentingnya memelihara hubungan dengan leluhur. Maaf, bukan promosi blog (link tidak dicantumkan), di blog pribadi, saya memberikan porsi yang sangat besar pada kepercayaan lokal. Ini artinya saya adalah pecinta budaya leluhur. Sayang saya tidak pintar menulis apalagi berkomentar sehingga wajar kalau pesan tulisan saya kadang sering dianggap sebaliknya.
Sedikit tahu artinya belum paham atau belum nalar dan sepertinya saya harus belajar banyak dan tidak lagi ikut ikutan. Sekali lagi minta maaf kalau ada yang salah. wage
Dewi
Juni 10th, 2012 pada 19:18
@ :: Wage Rahardjo,
Mboten nopo2 mas, kulo nggih tasih belajar menjadi pendekar pencak silat di padepokan sabdalangit ini, ya silat jari-jari yang lagi asyik meng-ithik2i keyboard… xixixixixi…., kadang saya juga bikin kesalahan mungkin komment saya terlalu galak atau sebaliknya terlalu genit (?)… hahaaaayy… untungnya semua pendekar di sini semuanya pada enjoy, biar berkelahi juga sambil bercanda, karena selalu ada rasa persaudaraan yang saling asah, asih, asuh… cheeeeerrss!!…
By the way- anyway , yen njenengan nggadah blog lha monggo di share kan di sini, kita2 semua juga suka saling mengunjungi kok mas. Ok, mas Wage ampun kuciwo, ampun patah semangat, ampun mutung nggih, niki tak kirimi lagu ya, ben ora tegang suasana diskothique kahyangan mriki…
Sik.. sik.. aku bingung arep ngirimi lagu opo yo?… kabeh enak2, ono kidungan, ono campursari, ono dangsut assololey… lha iki enek lagu tentang perkereta apian indonesia… bagi pecinta kereta api nusantara lagu ini bisa menjadi klangenan sekaligus bisa menghibur… xixixixixi…
salam manis,
dewi
:: Wage Rahardjo
Juni 14th, 2012 pada 21:54
Mbak Dewi, apa khabar? Terima kasih atas tanggapannya,
Saya sebetulnya adalah penggemar berat dari blog ini. Saya juga senang membaca komentar para pembacanya, jadi sedikitnya saya kenal tentang Mbak Dewi. Lewat kementar pemabaca saya bisa belajar banyak dan mengenal beragam pendapat.
Saya sering berkunjung tapi jarang berkomentar karena rada bingung harus berkomentar apa ya? Disamping itu kebanyakan komentar berbahasa Jawa, sedangkan saya, walaupun berleluhur orang Jawa tapi tidak bisa bahasa Jawa! Mohon maklum karena saya dibesarkan dan jadi anak angkat suku lain. Namun apa artinya leluhur dan asal usul sedangkan kita tidak bisa memilih keluarga dan tempat kelahiran.
Itulah sebetulnya isi komentar saya rada ngawur. Wong topik bahasannya adalah tentang budaya dan leluhur, komentar saya malah lari ke konsep tentang Jiwa. Kagak nyambung khan?
Salam, Wage
PS. Blog saya, silakan klik pada profil (nama) diatas.
Dewi
Juni 12th, 2012 pada 12:53
@ :: Wage Rahardjo,
Sugeng siang kangmas Wage, pripun khabar pawartosane?… jika berkenan saya ingin melanjutkan diskusi tentang kepercayaan leluhur ini, saya melihat tidak ada pemaksaan opini pada tulisan njenengan, hanya sekedar pendapat pribadi saja, dan itu sangat wajar mengingat kita juga hidup dan besar di lingkungan yang serba majemuk, bahkan dalam satu keluarga saja ada yang berbeda pendapat dan tidak sama dalam hal interestnya, termasuk dalam hal spiritual.
Secara tidak langsung hal ini juga cerminan persepsi masyarakat kita di luar sana, untuk itulah sekiranya kita harus selalu tetap bisa saling asah, asih, asuh dan mutlak perlu untuk menemukan titik benang merah dari fenomena opini yang seperti gunung es atau sebaliknya malah seperti bola api, tercatat semenjak kedatangan pengaruh islam di nusantara ini, lepas dari segala assimilasi dan kontroversinya, pengaruh negative dan positivenya, itu semua adalah bagian perjalanan sejarah di bumi nusantara.
Memang sangat menyakitkan kenyataan, ketika kepercayaan asli leluhur kita masih belum mendapatkan tempat di hati bangsanya sendiri, terlebih peralihan pemerintah kita sejak jaman majapahit hingga era indonesia baru, dari yang bentuk fasis militer hingga ke feodal tradisional yang islami yang juga mempengaruhi kebijakan dalam berpolitik dan bernegara, kalau dulu jaman pak Soeharto dengan militernya yang kuat, tetapi beliau juga mendapatkan dukungan yang kuat dari basis islam, sekarang era reformasi tetapi kebijakan masih tergantung banyaknya perolehan suara terbanyak di DPR, sementara kita tahu bahwa mayoritas wakil2 rakyat kita di kuasai oleh orang2 yang sudah terdoktrin ideologi arab (samawi), misal: di adakannya Undang2 pengaturan (demi) ketertiban agama, yang sangat riskan mencampuri urusan individu dalam berkeyakinan, negara tak bisa memasuki wilayah area ini, bahkan menjadi atheispun itu adalah hak pribadi, lalu ada lagi: di mana dalam suatu community, jika seseorang ingin menjalankan ibadah atau membangun tempat peribadatan harus ada persetujuan dengan mengumpulkan suara terbanyak, dan yang melanggar akan di kenai tindak pidana, lha undang2 ini di buat untuk kepentingan apa dan siapa?… dan sekali lagi kepercayaan2 lokal yang asli seperti tak mendapatkan tempat di negrinya sendiri.
Hal inilah yang perlu di renungkan/ di pikirkan bersama untuk bisa mendapatkan solusi dan jalan keluar yang terbaik dan bijaksana bagi seluruh bangsa, bukan hanya bagi sebagian golongan saja.
Salam rahayu,
Dewi
:: Wage Rahardjo
Juni 14th, 2012 pada 22:42
Mbak Dewi,
Terima kasih. Saya sangat senang dengan ajakan disikusinya. Saya juga sangat ingin berdiskusi tetang kepercayaan leluhur makanya saya ikut ikutan berkomentar setelah sebelumnya cuma menjadi pembaca setia.
Cuma kendalanya, saya rada tidak enak pada Ki Sabda. Tulisan di topik ini jelas jelas tentang budaya Jawa, pelestarian budaya, penghormatan leluhur dan sejenisnya. Sedangkan tanggapan saya adalah lari ke libralisme jiwa. Leluhur, dari manapun asalnya sepanjang mengajrakan hal baik dan damai, ajarannya perlu dilestarikan dan diteladani. Tidak perlu ikatan darah, wong istri atau suami juga adalah “orang lain” namun bisa jadi keluarga bukan?
Matur nuwun, terima kasih dan salam hormat juga untuk Ki Sabda.
salam, wage
http://dongengbudaya.wordpress.com/
Bala(ne)dewa
Juni 15th, 2012 pada 18:36
@ Mbah Wage (-:
Weh, ternyata anda juga pembuat blog … dahsyat ! Nanti saya akan ikut2an Nimas Dewi, cari ilmu di blog anda. Angkat topi buat anda !
:: Wage Rahardjo
Juni 16th, 2012 pada 10:51
@Mas BALADEWA,
Cuma blog abal-abal Mas. Pengunjung cuma 1 orang perhari yaitu saya doang. ha..ha… Nih lagi pikir pikir untuk pensiun nulis. Kayaknya tidak ada bakat nulis. Eniwei, salam kenal. wage
Dewi
Juni 16th, 2012 pada 13:39
@ Mbah Wage,
Siang mbah, khabar saya baik dan saya barusan komment di blog njenengan di ruang wall- buku tamu. excuse me, blog abal-abal itu artinya apa ya mbah?… maturnuwun. anyway, jangan pensiun terlalu dini dong mbah, ntar malah kayak cerita sinetron.. pernikahan dini.. xixixixixi…
Salam katresnan,
Dewi
:: Wage Rahardjo
Juni 16th, 2012 pada 19:51
@ Jeng DEWI,
Senang sekali membaca komentanya Anda. Komentar paling idanh yang pernah saya terima. Cuma mujinya jangan kelewatan dong, nanti kepala saya jadi besar sehingga harus beli helm baru.
Abal abal berasal dari bahasa Batak yang artinya palsu atau tidak penting. Dalam percakapan sehari hari kadang diartikan: Sifat yang tidak benar, tidak semestinya, rusak dst. Jadi blog abal abal artinya kurang lebih: blog kualias rendah yang isinya kagak benar.
Yang benar seperti apa? Karena topiknya agama maka balik ke ayat dan kitab suci. Nah, justru kutipan ayat kitab suci yang berseliwran inilah yang saya hindari karena dijamin pembaca pada mual dan muntah membacanya. Jadi karena tidak berdasarkan ayat dan dogma, saya sebut blog abal abal. Semoga jelas
wage
:: Wage Rahardjo
Juni 17th, 2012 pada 16:09
Maaf salah ketik. Kata Batak harusnya AMbon jadi yang benar menjadi “Abal-abal adalah bahasa Ambon”.
Dewi
Juni 18th, 2012 pada 12:05
@ Mbah Wage,
Horas mbah! eh salah bukan batak tapi ambon manisE, no problem mbah, inilEh warna-warninyE indonesiE…
Sorry lho mbah agak telat nulis, kemarin lagi sibuk di dapur masak sayuran purba, seperti: sawi, kangkung, brokoli, belum lagi sate daging purba (keturunan dinosaurus kaleee), koyok to: sapi, ayam dsb, yang memang udah ratusan ribu tahun telah hidup… kwkwkwkwk….
Nggak pa2 kalau di sanjung bikin kepala mbah jadi besar, yang penting kan bisa bikin mbah senang dan enjoy. Ok, mbah maturnuwun atas rasa humor dan kekritisannya… Hmuuuaahh!!…
Salam persahabatan,
Dewi
Dewi
Juni 13th, 2012 pada 21:41
@ Wisnu TJ,
Sugeng dalu kangmas Wisnu lan sederek sedoyo, menjadi bagian dari peradaban dunia adalah suatu hal yang tak terhindarkan, namun hanya dengan kesadaran untuk tetap mencintai negri ini setulus jiwa, maka kita bisa berjalan beriiringan, sederajat dengan peradaban budaya2 asing lainya, Tapi jangan sampai globalisasi menghipnotis kita, sehingga kita melalaikan segala kebaikan jati diri bangsa.
satuhu kaliyan kangmas Wisnu, jangan sampai kita melupakan budaya bangsa… Bravo!
@ Sederek Sedoyo,
Mudah, Indah dan terarah…
Mengerti technology akan membuat hidup lebih mudah
Memiliki cinta kasih akan membuat hidup lebih indah
Memahami jati diri akan membuat hidup lebih terarah
Salam rahayu,
Dewi
Wisnu Tiang Jawi
Juni 14th, 2012 pada 12:32
@JDD
Sugeng siang diajeng Dewi2….hehehe
Benar skali Jeng Dewi, sbagai manusia yg kebetulan terlahir di nuswantoro yg penuh budaya tinggi dr leluhur, mari qta sama2 menjaga dan saling bergandengan tangan dengan penuh kesadaran utk membendung arus globalisasi yg akan mengikis budaya2 luhur bangsa qta, dgn cara qta tanamkan kepada anak cucu qta budaya luhur bangsa qta, hidup itu.. seni dan seni itu hidup, begitu jg budaya luhur bangsa qta merupakan hasil dr seni yg tak ternilai yg bisa menghasilkan keindahan dalam hidup berbangsa dan bernegara dan bila qta mampu menghargai seni bangsa sendiri saya yakin bangsa qta akan menjadi bangsa yg bermartabat dan mampu menghadang budaya asing bahkan akan menjadi mercusuarnya budaya di sluruh dunia,
Salam Seni dan Budaya
dodot
Juni 7th, 2012 pada 23:44
Salam ki…
Nedhi pendungane kersane kulo saged ngresiki awak kulo lahir lan batin (niki sing susah) lan dados tiyang sing saged maringi manfaat dateng liyan.
Ngapunten ki…
Julang Anak Jalanan
Juni 8th, 2012 pada 10:53
Trimakasih Ki Sabdo atas penjelasannya dan mohon maaf numpang amanat
-
Manusia lahir suci hati
Memang suci si air mani
Walau dari anjing babi
Air maninyah tetap suci
-
Akibat bangga merasa suci
Hingga enggan mawas diri
Juga enggan berintropeksi
Komo berjuluk habib kiai
-
Untungnyah julang bukan kiai
Sedrajat anjing dan babi
Cuman dowang ngeroko ngopi
Ngeja bingung pencipta bumi
-
Alloh dowang maha suci
Komo jadi wanita seksi
Walau godain rosul nabi
Tetapi Alloh tetap ke aji
-
Sulit di duga ezat yang suci
Tetapi mudah dengan di aji
Ada tempat taklit mengaji
Ngaji sambil geguyon diri
-
Kaga serius tetapi pasti
Karena sorga memang pasti
Naroka juga sudah pasti
Jika betul dewasa ngaji
-
Bagai ngerumpi tetapi ngaji
Bahas tiep yang Alloh benci
Tida perduli diri sendiri
Jikalau keji ya tetap keji
-
Buwat apah belaga suci
Rasa merasa tukang ngaji
Jikalau memang pakta dan bukti
Malah mengkorup syariat nabi
-
Hitob Taklip dan hitob wad’i
Hukum sariat dan hukum akli
Adat budaya hukum sendiri
Serba jelas bila mengaji
-
Diri kita ya diri sendiri
Manusia man atu biji
Biji berbiji menuhin bumi
Biji yang pasti ezat ilahi
-
Bertemu Alloh kembali suci
Seperti bayi walau akinini
Diri sendiri nemu ilahi
Ya kaya Alloh ngaku sendiri
-
Namun biji busukin biji
Numpuk di tempat kumpul biji
Merasa banyak ya hasud dengki
Ngaku sendiri malah kecaci
-
Martabat rosul nabi wali
Semuwah juga ngaku sendiri
Yang mendengar ya meyaqini
Percaya tanpa pakta bukti
-
Sami’na wa’ato’na ngarti
Tanpa nunggu pakta bukti
Yaqin Alloh pencipta bumi
Kuasa ngutus perohmat bumi
-
Tida sedikit mahluk penduduk bumi
Tida ingin intropeksi mawas diri
Membuwat budeg dan buta hati
Cemburu buta hasud dan dengki
-
Setelah adam Alloh cipta jadi
Ejin dan iblis amatlah dengki
Sehingga Alloh mereka caci
Ngatah nyang begini di ciptai
-
Alloh berfirman taupik aku miliki
Silahkan sajah engkau nodai
Si ejin iblis terlanjur dengki
Tantang Alloh mao menguji
-
Bertahun tahun adam hidup sendiri
Di dalam sorga tanpa istri
Ahirnyah Alloh nyiptakan istri
Nemenin adam buwang sunyi
-
Alloh berikan kata janji
Bila dilanggar turun ke bumi
Ejin iblis goda sepenuh hati
Sampai sukses terpengaruhi
-
Adam Hawa turun kebumi
Ejin iblis bangga hati
Mangkin congkak pada ilahi
Merasa bisa mempengaruhi
-
Terus dan terus di pengaruhi
Sampai kobil rebutan istri
Habil terbunuh saking dengki
Awal cemburu iri hati
-
Maka penyakit-penyakit hati
Paling sulit di obati
Selain intropeksi mawas diri
Sadar mengenal diri sendiri
-
Kalau sudah ada dengki
Kehormatan harga diri
Sama sekali tiada arti
Selain puwas napsu emosi
-
Mao mengaji rasa gengsi
Mengaku salah harga diri
Maksain benar beridolohi
Ahirnyah panday beri solusi
-
Tableg ceramah berjuluk kiai
Pede ego congkak hati
Walau salah ogah ngakuwi
Malah marah balik mencaci
aji
Juni 8th, 2012 pada 20:43
kulonuwun ki sabda,
kulo tiyang gunung bade tanglet.
caranipun nyekar makam leluhur ingkang komplit bener lan pener kados pundi nggih.
kulo nyuwun cara jawikemawon. upami kulo nyekar romo-biyung, mbah buyut, punapa leluhur igkang sampun berjasa wonten tanah jawi.
sembah suwun ki.
petruk
Juni 9th, 2012 pada 18:52
mohon maaf..Ki..disini ada foto ubo rampe sesaji,bunga,kopi,teh.makanan dlm satu tambir,mirip bancakan weton.!..trus kira2 doanya apa waktu dihaturkan..Ki.??.matur nuwun..
Widodo
Juni 10th, 2012 pada 20:26
Mas aji bisa membuka posting ki sabda FAQ:LELUHUR,PUSAKA,GURU SEJATI..atau bisa juga mengunjungi blognya kangmas Setyo hajar dewantoro (styochannel.blogspot.com/padepokan pengging) @mas petruk matur sembah nuwun mas cara menghaturkan sesaji ruwahan hampir sama dg menghaturkan sesaji tiap mlm jumat legi hanya di tambahi dg menyebutkan makan yg di sajikan..KEPARENG NGATURAKEN PISUNGSUN SEKAR ARUM GANDA ARUM KOPI TEH TUBRUK,BUBUR MERAH PUTIH,APEM,KOLAK PISANG,KETAN,DUPA/MENYAN MADU (bila ada) DUMATENG PARA LELUHUR INGKANG SAMI NURUNAKEN KULO LAN SIMAH KULO (bila sdh berumah tangga) SUGENG RAWUH,MUGYA KERSO TANSAH NJANGKUNG LAN NJAMPANGI LAMPAH KULO SEKELUARGA TANSAH MANGGIH WILUJENG RAHAYU INGKANG TINEMU BONDO LAN BEJO KANG TEKO SEDOYO SAKING KERSANING GUSTI..saya rasa khusus untuk ubo rampe ruwahan setelah di haturkan di biarkan semalam di letakkan di tempat aman dan nyaman di dalam rumah dan yang untuk di bagikan ke tetangga bisa langsung di berikan..mohon maaf bila salah nuwun.
aji
Juni 10th, 2012 pada 21:42
makasih mas widodo atas petunjuknya.
segera ke tkp.
salam.
NILEP NILAP
Juni 11th, 2012 pada 18:46
Kwkwkwkw ente sendiri suka nilep
ibon inot
Juni 11th, 2012 pada 19:17
terimakasih karena anda,wawasan saya bertambah
cantrek
Juni 12th, 2012 pada 09:52
Salam ki sabda langit.apa para leluhur yang njangkung lan njampangi ke anak cucunya memakan dan minum ubo rampe yang disajikan?mohon pembabarannya.
Widodo
Juni 12th, 2012 pada 11:20
Mas cantrek ingkang dahat kinurmatan..kalo menurut pengalaman saya pribadi yg di makan ya sarinya mas bukan makanannya.pernah saya coba buktikan meminum kopi sesaji mlm jumat legi,rasanya hambar padahal wkt saya bikin kopinya manis.semua itu sebagai pertanda bahwa leluhur sudah berkenan njangkung lan njampangi anak turunnya.Kalo kita peka,bisa merasakan kehadiran leluhur bisa berupa hawa sejuk,bau wangi kembang/dupa,getaran energi,kadang juga di jewer telinga kita,habis nakal sih hehehe ngapunten)..tapi jangan salah paham dulu,semua itu untuk membuktikan bahwa leluhur kita yg sudah pindah alam masih bisa memberikan perhatian dan kasih sayangnya kpd kita anak turunnya yg masih hidup di dunia fana ini dan ini juga sbg bukti tradisi pusaka warisan leluhur nusantara sangat ampuh dan mengandung nilai2 luhur yg dahsyat yg tdk akan kita temukan di dlm kitab suci,sayang beribu sayang bila tradisi yg adi luhung leluhur nusantara terutama tanah jawa sampai hilang dan dilupakan hanya krn anak muda jaman sekarang menganggap kuno,musyrik,bid’ah,sesat, tdk ada di dlm hadist nabi dsb.ngapunten mas hanya itu saja yang bisa saya share di sini maklum masih ijo royo-royo,mungkin ada dari para pinisepuh yg berkumpul di sini seperti kang tembayat,kang cah pathi,kang ¥hredaya,kang RP,ki wongalus,kang RD,mbakyu dewi,dan lainnya mau berbagi pengalaman waktu di jangkung para leluhurnya masing2 matur sembah nuwun
Dewi
Juni 12th, 2012 pada 12:49
@ Widodo,
Maturnunuwun kangmas Widodo, saya masih belajar, oleh karena dalam keluarga budaya sesaji ini seperti sudah kepaten obor, saya mencoba2 menghidupkan kembali spirit2 yang dulu sempat selalu saya pertanyakan dalam hati, dan saya memang belum bisa/ becus bikin2 sesaji kecuali kalau hanya untuk memetri weton saya saja, itupun baru saya laksanakan bbrp kali saja, dan saya sangat berterima kasih oleh seorang rekan di sini yang telah membimbing saya walau dari jarak jauh/ email tentang tata cara memetri.
Sesaji lainya yang pernah saya sajikan pas waktu malem suro november lalu: kopi tubruk, bunga 5 macam dan dupa aroma theurapy, dan pas malem jum`at legi kemarin atas saran dan bimbingan mas Widodo saya membuat kopi tubruk dan dupa saja tapi tanpa nge-kum kembang karena mendadak informasinya. Saya memandang budaya ini sangat unik dan nyeni/ art, simbol bunga adalah sesuatu yang wangi, harum dan indah, bukankah Tuhan adalah sesuatu yang indah, baik indah/ bagus ing ati maupun ing jagad alam semesta ini.
Tentang pengalaman di jampagi leluhur, saya jujur saja belum pernah mengalami hal2 yang seperti njenengan sebutkan di atas, tapi biasanya kadang saya melihat mendiang nenek atau orang yang udah meninggal dalam mimpi, jadi nggak mesti pas bikin sesaji, Maturnuwun.
Salam dengan bunga,
Dewi
¥hredaya
Juni 14th, 2012 pada 10:13
Hi Dewi, dan sedulur yg selalu bersemangat..
Batasan budaya(baca:budi daya) itu tak terbatas, keaneka ragaman yg tercipta dari energy Alam yg membentuk pribadi pribadi yg bervariasi yg sinergis dg lingkungan dimana budi daya itu dilahirkan.
Kita tidak cukup waktu untuk mengerti bagian kecil dari fenomena kehidupan Alam Semesta, apalagi kita pada posisi belum cukup untuk menalar sesuatu fakta yg terkesan “semu”.
Ada yg menarik dari ulasan Ki Sabda yg mengatakan kita tidak cukup hanya berdiam diri dikamar, komat kamit sendiri dalam rangka menjalin hubungan/silaturahmi dengan sub energi Alam leluhur. Saya pribadi lebih pada setuju dengan pernyataan tersebut, yang tentunya sangat asing bagi seseorang yg belum cukup “indigo” dalam pencarian kebenaran yg hakiki. Tapi saya masih tetap meyakini budi daya jawa ini terlahir dari akumulasi yg substansial, yg perlu di fahami dalam nuansa kata seperti ini :
Tuhan tidak akan pernah bersedia untuk selalu sibuk dan peduli untuk segala bentuk pujian “manusia” saja..!
Disaat Keadilan yang Maha itu merambah keyakinan kita maka pertimbangan terdekat adalah dengan pendekatan pada sub-sub energi Alam sebagai “energi dari segala arah”.
Semangat selalu bergembira untuk mencari dan menggapai sesuatu adalah bekal yg tak terlalu banyak menghabiskan energi.
Meraih sesuatu yg kita suka itu lebih mudah.
Salam kepada leluhur adalah sub energi yg terdekat dalam kehidupan kita disamping zat materi makrokosmos yg melekat didalam badan wadah kita.
oOo
Widodo
Juni 12th, 2012 pada 14:08
Mbakyu dewi memang tdk harus sama pengalaman spiritual tiap masing2 orang kadang leluhur kita bisa njangkung lewat mimpi dsb.biarlah yang tua-tua lupa dg tradisi nenek moyangnya sendiri,yang penting kita yang masih muda mau menghidupkan dan melestarikan kembali tradisi pusaka warisan leluhur kita tanpa pernah bosan,walau pun di mulai dg cara yang paling sederhana bikin kopi teh tubruk kembang setaman tiap2 malam jumat,bancakan weton,saya yakin suatu saat nanti sedikit demi sedikit,selangkah demi selangkah akan sumambrah ke tradisi2 leluhur yg lain,dan semoga bisa menurun ke anak cucu kita kelak..matur sembah nuwun
Kang marto
Juni 13th, 2012 pada 09:11
Matur nuwun mas widodo ,atas petunjuk cara “masrahake” sesaji kepada para leluhur. Lan matur nuwun Juga pada mba dewi lan sedulur2 pinisepuh semua dipadepokan mas sabda yg sudah mem’babar’kan ilmu urip dari pengalaman pribadi masing2. Dan saya mohon jg pada para pinisepuh semua yg sudah mumpuni mau menuntun kami yg masih blajar ngelmu leluhur jawa. Karena kami yg haus ngelmu tua ini tahu, bahwa yg punya padepokan ini (mas sabda) dengan kesibukan dan padatnya acara tidak mungkin menjawab satu per satu pertanyaan kami yg masih blajar. Jadi kami dalam ngangsu kawruh selain dari mas sabda, jg dari para panjenengan para sedulur pinisepuh semua di padepokan ini. Namung mekaten, matur nembah nuwun kagem mas sabda . Salam karaharjan . Rahayu..
tomy arjunanto
Juni 13th, 2012 pada 09:15
Salam karaharjan Kangmas Sabdalangit saha sedaya sedherek.
Ing kalodhangan menika jumbuh klawan seratanipun Kangmas Sabdalangit kula badhe ndherek memule para Leluhur kanthi nguri-uri kabudayan Jawi tuwin ngaturi pirsa salah satunggilipun patrap nyekar leluhur utaminipun kagem para sedherek ingkang sampun katilar Ibu Bapa kondur ing alam kalanggengan.
Ubarampe ingkang dipuncawisaken :
1. Kembang Boreh lan Kembang Setaman;
2. Santen klapa ijo dicampur gula Jawa.
Patrapipun :
1. Sareyan dipun banyoni santen saking nginggil mangandhap lajeng kanan kering sakupengipun;
2. Kijing/Pathok/Sekaran sareyan dipun blonyo kembang boreh;
3. Nunten sujud sungkem nyuwun pangapunten lan nyuwun berkah keramatipun Ingkang Sumare.
Nyumanggakaken dhateng para sedherek menawi badhe nglampahi.
Wilujeng rahayu kang tinemu, bandha lan begja kang teka.
Suwun.
Aji
Juni 13th, 2012 pada 10:20
mas tomy salam kenal,
matursuwun sampun paring patrap nyekar leluhur.
nyuwun dipun babar makna kembang boreh & klapa ijo campur gula jawi.
salam salim ugi kagem konco sutrisno, sesepuh ingkang sampun kersa paring ilmunipun. saestu migunani sanget kagem kawula lan keluargi.
nuwun.
tomy arjunanto
Juni 13th, 2012 pada 11:26
Salam kenal ugi Mas Aji.
Menika wonten sesambetanipun klawan nyaur banyu susu marang tiyang sepuh kekalih.
Kembang boreh supaya resik arum nglebur sedaya sesuker lan rereged , santen kadidene banyu susu nenggih sih katresnan bapa biyung ingkang tangeh lamun bisa kita lintoni, klapa ijo ing pangajab saged nerusake lakune para luhur dados tiyang ingkang migunani mring sapadhaning titah
Widodo
Juni 13th, 2012 pada 12:07
Matur sembah nuwun kangmas tomy,nderek tangklet mas,mbok menawi panjenengan gadah mantra kagem atur sembah pangabekti marak sowan ke pepunden/leluhur,tolong mas kula lan sederek ingkang taksih sinau di ajari cara nipun,mugi saget nambah wawasan para sederek sedanten,maturnuwun sak derengipun matur sembah nuwun
tomy
Juni 14th, 2012 pada 07:46
terima kasih Mas Widodo atas perhatiannya
menurut saya doa yang baik adalah yang tulus keluar dari hati, dari kembang telenging ati, sesuai istilah: Jawa iku jawabe.
nah daripada memakai mantra yang malah kita tak memahami arti dan maksud yang hendak disampaikan, lebih baik dengan memakai bahasa yang sehari-hari kita gunakan.
biasanya kalo ziarah leluhur pertama kali yang kita haturkan adalah caos sembah bekti dan meluhurkan
keduanya menyampaikan maksud dan tujuan kita kalau memang ada keperluan khusus.
yang terakhir sebagai generasi penerus leluhur sebaiknya juga kita memohon kekuatan, hikmat pengertian dan karunia kelebihan yang sesuai dengan kita untuk boleh dan dapat ikut serta meneruskan laku para leluhur kita
karto
Juni 14th, 2012 pada 20:32
ndherek tepang mas Tomy,
jawa kuwi jawabe…wah tembung punika ngemutaken kula dhumateng swargi mbah kakung kula..nalika jaman nem-neman kula nate tanglet kaliyan mbah kakung kula babagan tembung JAWA punika..jawa kuwi jawabe (panyuwananipun)..
salam saking bocah ngenger
ridwan zainal
Juni 13th, 2012 pada 12:13
terima kasih ki sabdo
mudah2an bisa saya laksanakan
salam kenal
Addin
Juni 13th, 2012 pada 12:41
@ Ki Sabdo,
matur sembah nuwun atas postingannya yang baru Ki Sabdo..kulo ikut nyimak mawon..
Salam ketentraman.
Widodo
Juni 14th, 2012 pada 21:58
Nggih mas tomy,matur nuwun atas pencerahannya bisa mengobati rasa di batin ini yang selalu ingin mencari dan mencari,semoga bisa berguna untuk rekan2 dan seluruh para pembaca yang budiman di manapun berada sepindah melih matur nuwun.
Dewi
Juni 15th, 2012 pada 01:00
@ Ki Sabda, Jagad SJ, Baok, Cah Pathi, Kang Marto, MAHATMA, Ndableg, Rantam, Bala(ne)dewa, Julang Anak Jalanan, Kuncoro, Cantrek, Trims, Kedewatan Ubud, Japemethe, Budi, Evangln, Diaz, Hardi, Sholin, Soni, AyemMo, -bejo-, Dodot, Petruk, Aji, Ibon Inot, Wahjoe Harjanto, Addin, Temu Rose, Ridwan Zainal, Gie EPA, O`on, Jayadi, Ngabehi, Dwi Owix, Bejo Banget, JS (J..arene S..eneng ^_^), Sederek Sedoyo,
Semua hari adalah baik dan istimewah, dan semua hari memiliki makna2nya tersendiri, Jumat Kliwon menurut perhitungan jawa bermakna Sukra Kasih atau yang bisa diartikan kasih yang kekal/abadi…
Sugeng dinten jum`at kliwon kagem sederek sedanten, mugi kasugengan rahayu lan tansah kinasih…
@ Widodo,
Nggih maturnuwun mas Wid, semoga nanti bisa sumambrah ya, sekarang malem jum`at saya coba nyawisi kopi tubruk, kembang setaman di kum di gelas dan dupa aroma theurapy bunga amber rose yang eksotis banget, kamarku sekarang wangi deh. ini saya lagi ngetik, sambil menunggu nanti tengah malem menjelang pagi untuk berlatih meditasi sekaligus belajar menggalih diri.
@ Tomy Arjunanto,
Maturnuwun inspirasinya, kekayaan khasana budaya nusantara memang tak terbatas, di mana kita bisa mengkreasikan rasa puja puji kita dengan berlandaskan rahsa yang sejatinya : dari rasa, oleh rasa dan untuk rasa yang sujatinya… hmmm, mantabs!…
@ Yhredaya,
Thanks dear for your affirmation energy, we got kinda follow our instings- intituively, we were all the ‘tunggak semi’ of this civilitation, it`s just had to happened that we were live at this moment and life is just like the way it is : the way we want it or the way they want it?… and we can choose: the way I want it, `cos I want it that way… where “I” is derived from Ingsun… byar padang terawangan awang awung sing ono mung ingsun… cheeeeerrss!!…
@ :: Wage Rahardjo,
Terima kasih atas sambutan rasa persaudaraannya yang hangat, ya saya sudah sempatkan mengunjungi blog anda, I really love it!… apapun topic yang di sajikan, tulisannya sangat mencerdaskan dan bisa membawa pembaharuan : independent, netral, logically dan bernurani… Bravo!
Tak salah lagi, anda memang tidak salah masuk blog ini. dulu 1, 3 th lalu saya juga secara tidak sengaja ‘tersesat’ di sini, akhirnya lama2 kok nyaman dan kerasan ya?.. he he he…
Talking about ‘liberation soul’, have you ever think that it is our inner soul that guide us all here?… the answer is a matter of time… but don`t worry, be patient, all learning takes times, watch it, enjoy it and see what is happen…
And so now we are all here and once again talking about ‘jiwa’… who`s might concern about the soul, the liberation and enlightenentment… they are all about searching the inner spirituality…
@ Wisnu TJ,
Waduh, saya di panggil diajeng… mak seeerrr… atiku… he he he…
Actually, you were right bro, ‘EARTH’ without ‘ART’ is just like “E…H”… xixixixi…
@ RP,
How are you bang?… semoga krakatau dan anaknya jangan ‘batuk’ dulu ya?… kalau ‘uhuukk- uhuukk’… aduhh meletuuuss!!…
Tapi kalau meletuspun, tidak mengapa kan? karena alam memang selalu senantiasa membangun untuk keseimbangan cosmicnya serta jagad alam seisinya, semoga manusia lebih cerdas dan bijaksana dalam menyikapinya.
Salam jum`at kliwon,
Dewi
js
Juni 15th, 2012 pada 01:55
Salam JDD……semoga Njenengan selalu sehat dan berbahagia selalu…….
Mas Hredaya……sugeng raharjo……saya selalu menikmati apa yang Njenengan sampaikan….demi kesadaran dalam berpola pikir dan olah roso……..Nuwun….
kuncoro
Juni 15th, 2012 pada 03:33
“saiki sakabehe wis prayogo lan sampurno” demikianlah awal penciptaan dunia. jadi awalnya memang sudah baik dan sempurna.
perubahan dan tererosinya baik dan kesempurnaan adalah karena perilaku daging, yang terakumulasi sekiaaaan waktu yang mengkontaminasi eter.
pon = pamadhang ondho neroko
wage = wahananing geni
kliwon = kolo liar wangering ondho neroko
legi = lembu giri
pahing = palang ing satengahing gulu
ini cuman cerita lho jeng…sumonggo
sugeng mesu diri.
kuncoro
Dewi
Juni 15th, 2012 pada 13:31
@ JS,
Maturnuwun pakpo udah mau mampir, saya juga mendoakan semoga kanjeng romo JS selalu bahagia dan sehat selalu, agar anak2 dan teman2 juga selalu terhibur dengan kehadiran pakpo, baik di bumi maupun di kahyangan…
@ Paman Dalbo, Bpk Ismail usman,
Pripun khabar pawartosane?… wherever you are, I hope all the best for you…
@ Mbah Wage,
Maturnuwun mbah, saya udah menjelajah web njenengan dongenbudaya.wordspress.com isinya so natural, independent, netral, logically and humanis… jaan top markotop… salam cap jempol!
@ Kuncoro,
Maturnuwun mas, menawi kolo liar wangering ondho neroko, artinipun nopo nggih?… atau bhs indonesianya apa?… he he he…
@ Ki Sabda,
Ngapunten ki, saya punya usul, bagaimana kalau setiap mempostingkan hari juga di lampirkan pawetonannya, biasanya hanya tertulis tanggal-bulan-tahun dan waktu jam saja, nanti bisa di lengkapi dengan hari dan wetonnya, misal jum`at kliwon, 15 juni 2012 pada 13:52. Walau sepeleh namun ini adalah langkah konkrit/ real untuk bisa lebih melestarikan budaya nusantara, maturnuwun.
Salam rahayu,
Dewi
kuncoro
Juni 16th, 2012 pada 03:09
@ jeng dewi…
oh..itu identik dengan pasemon dalam pawukon (perwatakan hari, naptu, bulan dan tahun) dalam penanggalan jawa yang berkaitan dengan jalan hidup seseorang.
bahasa itu termasuk kuno tapi masih identik sampai bahasa yang sekarang dikenal.
kliwon, perwatakanya : pandai bicara dan menata bahasa, mudah melupakan kesalahan orang lain, gairah tinggi.
kliwon, selalu berhubungan dengan sesuatu yang “wingit”.
selasa kliwon 1955 “the man who want to be able to the way” itu yang kudengar.
jumat kliwon, leluhur jawa mesu diri dan ditwruskan doa rejeki untuk anak turun, sabtu legi.
demikian jeng,..berkah untuk panjenengan.
kuncoro
Dewi
Juni 16th, 2012 pada 11:48
@ Kuncoro,
Nggih maturnuwun mas/pak/mbah Kuncoro, saya masih belajar menggalih dan nguri-uri, dan konon walaupun semua hari adalah baik namun hari2 yang berawalan malem jum`at baik wage, pon, kliwon, legi, pahing adalah hari yang utama untuk membuat sesaji bagi para leluhur (?)
Maturnuwun info pasemon dan pawukonnya, dan ‘Kololiar wangering ondho neroko’ kalau tidak salah saya artikan ke dlm bhs indonesia: waktu liar angker (wanger) tangga neraka??… waduh saya nggak ngerti, ngapunten, maksute pripun to mbah?… saya juga punya primbon tapi nggak lengkap, maklum primbon wanita yang mengupas artinya haid… he he he…
Salam katresnan,
Dewi
Widodo
Juni 15th, 2012 pada 08:29
Salam nusantara selamat pagi indonesia salam semangat dan bahagia selalu tuk semua.@mas wage rahardjo ingkang dahat kinurmatan matur sembah nuwun dan salam kenal mas,,di tunggu tulisan panjenengan selanjutnya jangan malu2 memberikan masukan di blog maha dahsyat eyang sabda ini saya yakin komentar anda bisa memberikan pencerahan dan nuansa baru di sini..@pak wahyoe harjanto salam kenal pak,ada tembung ‘tak kenal maka tak sayang’.sedikit share pengalaman pribadi saya selama ngangsu kawruh di blog sabdalangit’s ini dan mempraktekkan apa yang di posting oleh ki sabda,FAQ:leluhur,pusaka,guru sejati.dari situ saya mulai mengenal tradisi wedangan bikin sesaji tiap mlm jumat,seiring berjalannya waktu banyak pengalaman yg luar biasa yg tdk pernah terbayangkan sebelumnya saya di beri kesempatan di jangkung ratugung binatara tanah jawa antara lain:YM sultan aji sulaiman,kanjeng sultan agung,eyang cantik bunda KRK,manggalayudha, eyang mangir wanabaya,ki ageng sela,kaki semar badranaya,eyang soekarno semua pengalaman spiritual saya itu,saya dapat hanya dg menghidupkan kembali tradisi wedangan yg diajarkan oleh ki sabda di sini,krn sy ini org awam dan masih culun di dunia supranatural,sy cuma bisa bengong dan terkesima dg pengalaman yg sy alami beberapa wkt lalu,sampai sekarang sy belum mendapatkan jwbn yg pasti atas apa yg sy alami tsb.tapi sy yakin seiring berjalannya wkt nanti kita akan tahu sendiri,,ada kata pepatah ”di wenehi ati malah ngrogoh rempelo” dari situlah sy belajar tentang arti kesabaran,,belajar sabar itu susah dan berat bagi anak muda.jangankan yg muda,yg tua juga kadang tdk bisa sabar,bahkan bisa lebih parah.ngapunten bila apa yg sy tulis tdk berkenan di hati,sepindah melih nyuwun pangapunten matur sembah nuwun
:: Wage Rahardjo
Juni 15th, 2012 pada 19:10
@ Mas WIDODO,
Salam kenal juga. Pencerahan? Duh, kebalik Mas. Justru saya yang minta pencerahan makanya masuk ke blog ini. salam
Paijo
Juni 22nd, 2012 pada 15:46
Para leluhur aku pengin ngerti
opo sing ora tok ngerteni
kampret
Juni 22nd, 2012 pada 16:40
pitakonne salah papan. leluhur wis ora ketok.
takono neng kuburanne kono.
Sohell culebras
Juli 22nd, 2012 pada 22:13
Assalamuallaikum ki sabdolangit
Salam kenal ki ,,,..nuwun nyimak kemawon,…alhamdulillah wonten blok kados mekaten dados nambah ilmu lan pangerten,matur nuwun sanget kagem ki sabdolangit…mugi2 blog meniko sageto terus ngedalaken wacanan budaya jawi sing kang soyo suwe soyo di lalekakeh marang tyang jawi,…
Salam rahayu
sohell.
Mas Rudi
Juli 28th, 2012 pada 05:07
Menarik juga nyimak tulisan yang beginian
aad
Oktober 18th, 2012 pada 11:33
trims
Maulana
April 23rd, 2013 pada 10:39
Assalaamu a’alaikum warrahmatullaahi wabarakaatuh,kulonuwun
Subhanallaah,terima kasih ulasannya tentang tradisi/ritual bulan rewah ini,saya jadi teringat waktu masih kecil,nenek saya di kampung selalu sibuk menyiapkan segala sesuatunya untuk menghadapi tradisi bulan rewan ini. Terus terang saya sendiri tidak meneruskan tradisi ini dikarenakan lingkungan dan kondisi sosiokultural saat ini yang mulai meninggalkannya,yang dianggap ribetlah,tidak praktis bahkan ada yang menyebut sebagai perbuatan yang sia-sia ataupun SYIRIK. Terlepas dari itu semua saya sendiri yang alhamdulillaah seorang muslim,yang kebetulan sekarang ini masih sedikit belajar tentang arti/esensi hidup ini,berpendapat bahwa tradisi REWAH (di kampung saya di bandung) adalah suatu tradisi/ritual yang menggabungkan antara nilai religius/spiritual dengan nilai-nilai kearifan budaya lokal,sebenarnya kita kuranglah bijak apabila dalam menilai suatu tradisi/budaya dengan langsung menjastifikasi sebagai sesuatu yang haramlah,syiriklah,musyriklah dan sebagainya apabila belum mengerti esensi ataupun substansi apa yang ada di balik suatu tradisi,dan saya berterima kasih kepada yang menulis penjelasan ini sehingga saya menjadi lebih mengerti akan tradisi bulan ARWAH ini,wassalaamu a’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh
1 Trackbacks / Pingbacks
Pakaian Adat Minangkabau | Baju For Sale Juni 7th, 2012 pada 21:48
[...] img {width:100px; height:100px;} .catablog-gallery.catablog-row .catablog-title {width:90px;} MEMAHAMI TRADISI BULAN ARWAH .stripes { background-image: [...]