NILAI ESENSIAL SPIRITUAL ODYSSEY

Belajar Mengolah Rahsa
Belajar Ketulusan Tak Bertepi,
Hamemayu Hayuning Bawana,
Hamemayu Hayuning Rat,
Pangruwating Diyu
Suradira Jayaningrat
Lebur Dening Pangastuti

SPIRITUAL ODYSSEY, merupakan sebuah pilgrimage, perjalanan sakral ke tempat-tempat powerfull yang waktunya terjadi tidak bisa ditentutan sekehendak hati oleh tim SO sendiri. Lebih tepatnya dapat dikatakan semua berjalan mengalir, mengikuti aliran air. Kegiatan SO dilaksanakan dengan berpijak pada keselarasan irama dan skenario alam. Kegiatan ini menjawab tanda-tanda zaman di mana spirit Nusantara, atau roh jagad besar Nusantara mulai menggeliat mencari jatidirinya yang telah sekian ratus tahun hilang atau sengaja dihilangkan dari bumi Nusantara. Gejala itu tak kan bisa dicegah dan dibatalkan oleh siapapun karena sudah menjadi kehendak hukum alam yang maha adil, wus karseng sang Jagadnata. Maka wajarlah sekiranya acara SO memiliki daya tarik tersendiri. Daya tarik itu bukan berasal dari “heboh”nya acara, melainkan dari kesadaran akan kesejatian diri yang telah mulai tumbuh di dalam roh jagad alit (guru sejati/pancer/sukma sejati). Artinya, gayung telah bersambut. Kehendak rahsa sejati jagad ageng (makrokosmos) yang melimputi semesta ini disambut baik oleh kehendak rahsa sejati jagad alit (mikrokosmos) yang melimputi pribadi-pribadi dulur-dulur peserta SO. Cepat atau lambat, Nusantara akan mengarah pada kondisi yang lebih baik menuju pada kejayaannya, seiring dengan semakin menguatnya kesadaran jati diri bangsa Nusantara ini. Saat ini khususnya dulur-dulur peserta SO dan dulur-dulur di blog telah memulainya, bergabung bersama dulur-dulur yang lainnya di belahan bumi Nusantara ini dalam berbagai macam wadah, baik di “dunia maya” maupun dunia nyata. Siapapun sebagai generasi penerus bangsa yang melakukan start lebih awal konsekuensi logisnya, mereka akan mendownload anugrah yang ditebarkan ibu bumi pertiwi dan bapa angkasa Nusantara secara lebih cepat pula.

Dapat dikata, jagad semesta, terutama di angkasa luar sana, medan magnet galaktika sedang berlimpah energinya, berpendar ke segala arah tak terkecuali planet bumi. Energi itu memaksa daya gravitasi berkurang, dan seluruh umat manusia menyadari atau tidak sedang dipaksa untuk bermeditasi secara massal. Al hasil ada dua kecenderungan utama, pertama, bagi yang menolak perubahan alam akan berakibat membuat perilakunya semakin keluar dari hukum alam, membuat dirinya terasing dan terisolir dari hukum dan rumus-rumus alam yang maha bijaksana. Hal itu menimbulkan gejala semakin banyak orang menderita stress, emosi yang mudah meluap, hingga timbul gangguan kejiwaan. Respon kedua, yang selaras dan harmonis dengan perubahan alam, mereka akan merasakan bangkitnya kesadaran spiritual dari yang bersifat evolutif maupun revolutif dari dalam dirinya.

Acara SO merupakan suatu upaya penyelarasan diri terhadap dinamika perubahan zaman. Kita sadari bahwa tak ada yang tidak berubah di jagad semesta ini. Yang tidak pernah berubah hanyalah perubahan itu sendiri. Sesuatu yang tak bisa dihindari bagi yang menolak hukum dinamika zaman, lama-kelamaan ia menjadi monumen sejarah yang akan lapuk ditelan waktu dan makin menjauh dari berkah alam semesta. Kita bersama-sama berusaha untuk menyelaraskan dan mengharmonisasi antara diri jagad alit (mikrokosmos) terhadap gerak dinamika jagad ageng (makrokosmos). Kegiatan SO sebagai sarana membangun tali paseduluran di antara seluruh makhluk Tuhan yang ada di jagad semesta, yang fisik maupun yang halus. Lebih dari itu, SO sebagai wujud perjalanan spiritual, di mana sebelumnya pemandu berusaha berkomunikasi dengan supernatural power. Jika alam sudah memberikan sinyal sebagai pertanda siap merespon dan menerima dengan baik, maka SO akan dilangsungkan. Respon dan penerimaan alam (makrokosmo) menjadi pertanda yang artinya berkah sudah menanti kita. Berkah sebagai hasil dari penyelarasan dan harmonisasi (ketakwaan) roh mikrokosmos (mahluk) terhadap roh makrokosmos (Tuhan). Begitulah korelasi untuk menjelaskan kesadaran manunggaling kawula kalawan Gusti. Diawali dengan mengolah rahsa welas asih, sabar, tulus, membangun pola pikir yang luas, seluas samudra tanpa tepian, dan memahami apa sejatinya hidup dan kehidupan ini. Memahami sejatinya hidup, menjadi modal utama supaya dapat menggapai hidup yang sejati. Hidup yang sejati apabia diri kita mampu memberikan kehidupan kepada seluruh mahluk, dengan rasa tulus dan tidak pilih kasih. Di situlah awal terbukanya pintu berkah dan anugrah dari alam semesta (Sang Jagadnata) selalu berpihak pada diri kita semua.

Salam asah asih asuh

About these ads