Makam Aki Suria Kencana di Jalan Paledang Kota Bogor

Pertama kali kami bertemu dengan Raden Jaya Sentika sekitar pertengahan bulan September 2012. Beliau memperkenalkan diri sebagai Raden Jaya Sentika. Pasaeran beliau ada di wilayah Pulau Jawa bagian barat. Semula kami tidak sempat menanyakan siapakah gerangan beliau. Namun sedikit rasa penasaran terkuak ketika Kanjeng Ratu Batang, permaisuri Kanjeng Sultan Agung Prabu Hanyakrawati yang pasareannya di Puralaya Agung Imogiri, Bantul, Jogjakarta hadir untuk memberikan informasi bahwa Raden Jaya Sentika adalah panglima perang saat Kerajaan Mataram menaklukkan Batavia dari otoritas Pemerintah Kolonial Belanda pada abad 16 masehi. Saya diperintahkan langsung oleh Kanjeng Ratu Batang agar marak sowan kepada beliau untuk Pacak Baris (merapatkan barisan) guna persiapan masa Pemerintahan Satria Pambukaning Gapura yang tak lama lagi akan segera dimulai, tepatnya mulai 2013 dan 2014 yang akan datang. Itu artinya, kami harus melacak di mana beliau raganya dimakamkan. Jika moksa, melacak di mana tempat yang menjadi petilasan dan pamoksan beliau. Untuk sekedar menghaturkan sembah bekti sebagai generasi bangsa yang berkewajiban untuk selalu berbakti kepada bumi pertiwi, di dalamnya termasuk berbakti kepada kedua ortu dan para leluhur yang telah menurunkan kita. Termasuk leluhur bumi pura bangsa yang mewariskan pusaka berupa tanah perdikan bumi pertiwi dengan segenap warisan ilmu nan adiluhung. Karena bakti itu sebagai salah satu kunci utama bagi setiap orang jika ingin meraih kesuksesan hidup lahir dan batin.

Kami menyadari, untuk menemukan jejak dan lokasi di mana leluhur (besar) di makamkan atau tempat petilasannya bukan lah hal yang mudah. Tidak juga kita bisa sekehendak hati mengatur agar leluhur langsung menunjukkan lokasinya. Kenapa menjadi sebuah teka-teki, tentu saja kami dapat memahaminya bahwa kami masih butuh suatu spiritual odyssey guna menggenapi laku. Perjalanan mencari jejak yang memuat nilai sakral kami mulai pada tanggal 25 September 2012. Kami sadar, setiap jejak langkah dalam sebuah spiritual odyssey, pasti tidak ada yang sia-sia. Selama perjalanan asal kita cermat, kita akan melihat banyak tanda-tanda alam yang merupakan jawaban demi jawaban atas serangkaian misteri. Jika jawaban itu dirangkum kita akan menemukan jawaban yang utuh, gamblang, terang benderang. Tentu saja semua itu butuh pengorbanan moril dan materiil. Butuh kesabaran untuk menata emosi, butuh ketenangan batin agar kita selalu cermat dan awas terhadap setiap bahasa alam yang muncul.

Cengkareng

Semula kami dibantu dulur-dulur di Jakarta. Ada mas RZ, Mas UD staf pengajar Universitas Al-Azar dan Mas SS staf pengarar FH UI dan sekaligus kandidat Doktoral. Serta dibantu oleh Kang Tarmuji, sopir Bluebird yang setia mengantarkan hingga kurilingan di wilayah Teluk Naga hingga Cengkareng dan terakhir marak sowan ke makam sesepuh Betawi di bilangan Kota, Jakpus. Walau belum ada hasil, dan leluhur yang kami cari juga tidak kunjung tampak, kami tetap percaya ada manfaat di balik semua itu. Paling tidak kami tambah sedulur Kang Tarmuji dan bisa marak sowan di pasarean sepuh Betawi. Itu juga sangat berguna karena kami bisa menitipkan seseorang yang akan bertugas membuka gerbang atau gapura kejayaan Nusantara.

Dua Sosok Raden Jaya Sentika

Benar saja dugaan positif kami. Setelah acara SO-1 pada tanggal 27-28 Oktober usai. Tepatnya tanggal 30 Oktober, hadirlah Raden Jaya Sentika untuk yang keduakalinya. Namun kali ini saat berkomunikasi menggunakan bahasa Sansekerta yang cukup sulit kami pahami. Tetapi kami dapat menangkap maksudnya, kami diperintah untuk hadir di Candi Brahu Trowulan Mojokerto pada saat bulan purnama mencapai puncaknya yakni tanggal 5 Nopember 2012. Saya jadi ingat kejadian tiga bulan lalu, istri saya ajak ke Brahu untuk menghaturkan sembah bakti kepada siapapun leluhur yang memegang otoritas di sana. Sepulang dari Brahu, istri sering terbatuk dan bersin selama kurangblebih 10 hari. Setiap batuk dan bersin selalu mengeluarkan berlian berukuran antara 2 hingga 4 mili. Ada yang berwarna bening putih, kuning, kecoklatan, dan ada dua butir yang berwarna hitam (black diamond) yang berbentuk oval (kecikan) karena bentuknya hampir serupa dengan kecik atau biji sawo. Kini jumlahnya sudah ratusan dan semuanya sempat kami bawa ke pegadaian untuk dilakukan tes, dan hasilnya emmang seluruhnya berlian, kategori berlian kuno. Semula kami tidak bisa menembus hanya untuk sekedar mengetahui siapa gerangan yang telah memberikan segitu banyak berlian itu. Bahkan beberapa leluhur yang usianya sudah 400 tahun lebih sempat mengkhawatirkan keadaan istri saya. Bagaimanapun, jika satu butir berlian saja ada yang tertelan sudah cukup untuk membuat nyawa melayang. Kami paham kenapa leluhur sepuh pun tidak bisa mengetahui asal berlian itu dari siapa. Itu artinya, yang memberikan berlian itu adalah leluhur yang sangat sepuh usianya. Benar saja, pada akhirnya terjawab bahwa Raden Jaya Sentika dari Brahu lah yang memberikan. Jika merunut keterangan Raden Bantala, penjaga Candi Brahu yang juga banyak menggunakan bahasa Sansekerta, Candi Brahu dibangun sekitar akhir abad 10 sampai pertengahan abad 11. Taruhlah Radem Jaya Sentika Candi Brahu hidup pada masa 1100 tahun yang lalu. Setiap kami sowan ke Brahu beliau selalu memberikan berlian kepada istri.

Sampai di sini kami menyimpulkan bahwa Raden Jaya Sentika ada dua sosok, yakni Raden Jaya Sentika di Brahu yang menggunakan bahasa sansekerta hidup pada masa abad 11, dan yang satu lagi Raden Jaya Sentika menggunakan bahasa Jawa abad pertengahan (16-18) adalah panglima perang pasukan Kerajaan Mataram Pimpinan Kanjeng Sultan Agung saat merebut kota Batavia dari tangan Pemerintah Kolonial pada abad 16. Bisa jadi keduanya ada hubungan darah atau keturunan, namun praduga itu belumlah terkuak kebenarannya.

Kang Tarmuji

Sebagian Rombongan : Mas Sigit, Mas Amir Pohan, me, Mas Arianto, Mas Tomy

Tanggal 29 Oktober sehari setelah kegiatan SO-1 berlangsung, kami mendapatkan sms dari Kang Tarmuji, dia mendapatkan info yang mensinyalir pasarean Raden Jaya Sentika berada di Bogor di seputar Kebun Raya. Sehari kemudian Raden Jaya Sentika hadir untuk yang kedua kalinya. Beliau memerintah kami supaya marak sowan kepada beliau di Bogor untuk pacak baris, karena menurut beliau memang benar sumare di sekitar Kebun Raya, tak jauh dari pasarean Kanjeng Ratu Kencono Wungu dan Nyai Kentring Manik. Kami bersama dulur-dulur Jakarta dan Depok siap meluncur ke “tkp” pada tanggal 9 Nopember 2012 yll. Kali ini rombongan berjumlah 15 orang dengan 4 mobil kumpul di Kebayoran Baru, siap meluncur ke lokasi. Sore jam 14 Jakarta diguyur hujan sangat lebat tidak menyurutkan niat dan kemantaban kami. Kami tetap berangkat, dan seperti biasa, hujan mulai reda saat kami mulai beranjak dari home base. Itu pertanda sangat baik saat akan memulai suatu perjalanan sakral. Kami percaya nanti saat di lokasi pasti pas tidak ada hujan. Setelah melaui perjuangan tak mudah saat dalam perjalanan hingga menemukan lokasi pertama yang disinyalir sebagai pasarean Raden Jaya Sentika yang tepatnya ada di wilayah Jalan Paledang tepatnya sebelah barat Kebun Raya. Memang saat itu kami sempat melihat sekelebat Raden Jaya Sentika hadir. Walau hati kami masih ragu apakah pasarean itu benar Raden Jaya Sentika atau bukan, kami tidak terlalu menghiraukan. Yang penting kami marak sowan, nyekar, dan menghaturkan sembah bakti kepada siapapun juga leluhur yang ada di pasarean yang tampak sudah begitu tua itu. Keraguan apakah di situ makam Raden Jaya Sentika memang wajar, karena Raden Jaya Sentika sendiri pun belum memberi keterangan lebih jelas, apalagi menurut keterangan juru kunci makam itu adalah pasarean Eyang Suria Kencana. Saya paham maksud Raden Jaya Sentika yang sebenarnya hanya ingin menuntun rombongan kami dalam melakukan perjalanan spiritual untuk pacak baris. Namun begitu rombongan kami tetap patungan titipkan beaya untuk merawat makam tersebut, dan tak lupa menghaturkan terimakasih kepada Pak Mumuh, juru kunci yang sudah setia menjaga dan merawat makam tua sepanjang 3 meteran tersebut. Menurut keterangan salah seorang penduduk setempat, sehari sebelum rombongan kami sowan, di lokasi tersebut terjadi angin puting beliung tetapi tidak sampai merusak bangunan rumah penduduk. Kami serombongan bergegas beranjak pamit undur diri karena masih ada tugas yakni melaksanakan perintah Raden Jaya Sentika, agar semua yang ikut marak sowan ke Bogor disuruh makan kelapa muda dan meminum habis airnya, karena beliau menyampaikan pesan akan memberikan sesuatu kepada siapapun yang ikut marak sowan. Maka kami semua tak mau mennyia-nyiakan berkah itu.

Mbah Jepra dan Putri Galuh

Setelah kami semua makan kelapa muda di pasar, lalu rombongan kami menuju Kebun Raya di mana menurut keterangan Raden Jaya Sentika di sanalah Kanjeng Ratu Kencono Wungu dimakamkan. Sesampai di Kebun Raya, karena sudah di luar jam kerja, setelah negosiasi agak alot dengan petugas sekuriti akhirnya rombongan kami diperkenankan masuk ke dalam areal Kebun Raya untuk marak sowan atau ziarah menghaturkan sembah bakti. Suasana memang sangat gelap dan basah. Kami dipandu mobil petugas sekuriti menuju ke suatu tempat di mana di sana terdapat makam yang menurut keterangan Raden Jaya Sentika di situlah makam Kanjeng Ratu Kencono Wungu, salah satu istri Prabu Brawijaya 5 yang pada masa lampau dalam pelarian, karena menghindarkan diri dari amukan angkara anak tiri yang “durhaka” karena melawan orang tuanya sendiri. Namun menurut penduduk dan petugas setempat di situ, adalah makam Putri Galuh Kencana yang di kenal oleh masyarakat setempat sebagai permaisuri Prabu Siliwangi. Sedikit di atas makam Putri Galuh Kencana terdapat makam Mbah Jepra, yang diyakini masyarakat sebagai sesepuh kota Bogor yang paling tua dan sangat disegani. Kami serombongan bergantian menghaturkan sembah bakti kami, dan tak lupa berharap agar kami selalu dijangkung dan dijampangi dalam setiap langkah, terutama saat di wilayah Jawa Barat dan sekitarnya. Rasa terimakasih kami haturkan dengan penuh sikap tunduk dan hormat, karena sebagai generasi penerus bangsa yang berusaha menyadari atas segala yang telah diwariskan oleh kedua leluhur besar tersebut. Berupa bumi pertiwi, tanah perdikan, dan berbagai macam nilai kearifan lokal yang kini telah dicampakkan generasi sekarang yang lebih suka mengagungkan kearifan lokal bangsa asing sembari menghina kearifan lokal leluhurnya sendiri. Di manakah semangat Kabuyutan, sikap peduli terhadap para Karuhun Tatar Pasundan wahai anak-anak muda generasi penerus bangsa ? Apakah tidak sedikitpun terketuk hati, oleh kesadaran hati bahwa bukanlah bakti yang dipersembahkan melainkan perilaku durhaka serta khianat kepada bangsa dan leluhurnya sendiri. Itulah salah satu sebab utama atau sumber malapetaka bagi bangsa besar ini. Yang saat ini sudah kita semua rasakan.

Sabtu pagi, bertepatan hari pahlawan 10 Nopember 2012, pukul 06.00 saat mata kami masih merem dan enggan beranjak dari tempat tidur. Kami terhenyak oleh sapaan lembut dari seorang laki-laki setengah sepuh dengan dialek bahasa Indonesia dengan logat kental Sundanese. Beliau menyebut namaku. Semula kami sangka leluhur biasa, karena memang mengenakan pakaian yang sangat sederhana. Namun, sontak kami menghaturkan sembah sungkem, dengan sikap menunduk, tak berani menatap wajahnya, dan kedua telapak tangan kami menyatu di depan dahi sebagai sikap hormat. Saat beliau menyebutkan nama aslinya, yakni Prabu Siliwangi. Sangat terharu hati ini, karena beliau sebagai salah satu leluhur agung bumi putra bangsa berkenan menemui saya yang hanya sekedar rakyat jelata ini. Kami ini rakyat biasa, kami manusia biasa, tapi kami hanya memiliki kesadaran. Kesadaran untuk berbakti kepada bumi pertiwi, kepada leluhur bumi putra bangsa yang selama ini selalu di nomor-duakan bahkan ditaruh di nomor paling belakang setelah leluhur-leluhur asing dipuja-puji dengan sangat berlebihan hingga tega menganiaya saudara sebangsa setanah air sendiri demi dalih “kebenaran”. Sampai kapan harus menunggu hingga sebagian warga bangsa ini terketuk pintu hatinya. Apakah harus menunggu hingga benar-benar alam menghancurkan Nusantara sebagai bentuk mekanisme hukum keadilan terhadap generasi durhaka bangsa ini ? Kita semua sudah semestinya memulai dari dalam diri kita sendiri. Berkah alam semesta pasti akan berpihak kepada siapapun yang mewujudkan diri sebagai generasi   berbakti kepada Ibu Bumi Pertiwi dan kepada Bapa Angkasa Nusantara.

Sinergisme Supernatural Power

Sang Prabu Siliwangi berucap terimakasih karena kami dan rombongan sudah berkenan hadir mengucapkan sembah bakti dan rasa terimakasih, sesuatu yang sangat jarang terjadi pada generasi sekarang. Beliau memberikan restu kepada seluruh rombongan kami yang marak sowan ke Bogor malam itu. Beliau juga berjanji akan membantu usaha kami dalam pemekaran wilayah Propinsi Kaltara demi keamanan dan stabilitas sosial politik di perbatasan NKRI. Beliau berkenan memberikan doa restu kepada istri saya, agar berumur panjang, dan anak-anak yang masih di dalam kandungan dapat segera lahir dengan selamat. Beliau juga menyampaikan pesan, tidak akan merasa terganggu oleh sejarah masa lalu antara kerajaan Pajajaran dengan Majapahit karena memang semua itu tak lepas dari intrik pendatang dengan motivasi menguasai politik dan perekonomian Nusantara, walau dengan dalih sebagai penebar “kesalehan” model baru. Suatu berkah agung karena kami mendengar secara langsung bahwa Prabu Siliwangi berkenan menerima kami sepenuh hati, walau kami masih garis keturunan Majapahit dan Mataram. Beliau menambahkan suatu pesan, “aku juga akan mengabulkan harapan istrimu, “karena semua itu berkat kebaikan hati istrimu nak !

Sekian kali, kami harus menggarisbawahi bahwa sikap welas asih dengan setulusnya kepada seluruh mahluk dengan tanpa pilih kasih adalah sumber datangnya berkah agung. Hukum alam ini berlaku untuk siapa saja tidak pandang bulu agama, suku, ras, usia dan jenis kelaminnya. Asal sikap itu dapat kita tanamkan dalam hati sanubari sembari kita implementasikan secara nyata dalam kehidupan sehar-hari. Dengan sikap welas asih yang tulus sedemikian itu pula akan mampu mengetuk hati para leluhur besar bumi putra Nusantara ini. Sampai di sini saya harus mengingat kembali makna sesunggunya perintah Raden Jaya Sentika supaya pergi ke wilayah barat untuk pacak baris. Merapatkan barisan, atau mensinergikan kekuatan yang berasal dari para supernatural power atau leluhur agung bumi putra bangsa yang berperan saling bahu-membahu mendukung orang-orang yang bertugas memimpin bangsa guna bersama-sama membuka gerbang bagi kejayaan Nusantara. Leluhur tetap akan membiarkan bangsa ini terpuruk selama generasi bangsa tidak ada yang sadar untuk membangun kesadaran jati diri bangsa. NKRI akan mengarah pada kehancuran fatal selama bangsa besar ini masih berbangga hati menolehkan kiblatnya kepada bangsa asing yang mempunya kearifan lokal yang berbeda dengan kearifan lokal Nusantara. Tapi kita dapat menyaksikan, bangsa Indonesia adalah bangsa yang suka menghardik bangsanya sendiri. Benar kata Bung Karno, bahwa bangsa ini akan mengalami penjajahan yang jauh lebih berat, karena penjajahan dilakukan oleh bangsanya sendiri.

Sebuah Teka-Teki (Baru)

Sejenak setelah kehadiran Prabu Siliwangi, pikiranku mulai timbul banyak pertanyaan. Pertama, tadi malam saya marak sowan kepada Kanjeng Ratu Kencana Wungu, dan sudah benar sesuai petunjuk Raden Jaya Sentika, tapi di sana penduduk mengatakan itu makam Ratu Galuh Kencana. Saya pribadi lebih berpihak pada keterangan Raden Jaya Sentika, sebab keterangan dari leluhur saya nilai lebih valid. Selama ini saya selalu membuktikan bahwa leluhur tidak ada yang bohong alias hoax. Apalagi leluhur sudah hidup melampaui batas dimensi ruang  dan waktu. Tentu saja mereka lebih waskita dan permana ketimbang kita-kita yang masih dibalut dengan raga. Karena raga kita seringkali membatasi kemampuan penglihatan mata batin kita. Yang kedua, bukankah tadi malam saya marak sowan dan haturkan sembah bekti adalah Mbah Jepra, tetapi mengapa di pagi harinya yang hadir adalah Prabu Siliwangi ? Yang pasti saya tidak berani menanyakan langsung kepada beliau, apakah beliau dulu menyamar sebagai rakya jelata dengan nama Mbah Jepra ? Saya pribadi memiliki kesimpulan yang lebih mengarah ke sana. Tapi saya lebih tidak berani lagi jika harus bawel menanyakan apakah Kanjeng Ratu Kencono Wungu dalam pengasingan beliau di kemudian hari menjadi permaisuri Prabu Siliwangi ? Jika memang ternyata demikian adanya justru hal itu dapat menjembatani gap-gap yang selama ini kadang masih dirasakan antara Sunda dan Jawa. Apalagi pada mulanya Nusantara ini adalah satu keluarga besar yang sama-sama memiliki leluhur besar yakni Raja Kudungga, Raja Kutai Lama yang pertama tercatat dalam kitab sejarah bangsa Nusantara. Dengan adanya restu secara langsung dari sang Prabu Siliwangi, itu artinya triangle superpower yang bisa dibayangkan sebagai ujung senjata trisula (trisula wedha), kini telah menemukan tangkainya. Untuk memahami maksud saya tentang triangle superpower, para pembaca yang budiman dapat membuka posting saya setahun lalu yang berjududul “Pesan dari gerbang tinatar Trowulan”. Semoga gerbang kejayaan bagi Nusantara segera tinarbuka, dengan bekal senjata trisula wedha. Semua itu tergantung dari kesadaran hati kita masing-masing sebagai generasi penerus untuk menemukan jati diri bangsa yang telah sekian lama terkubur oleh ulah bangsanya sendiri.

Makam misterius dengan panjang 3 meter

Makam misterius dengan panjang 3 meter

Terimakasih setingginya saya haturkan kepada Eyang Raden Jaya Sentika atas segala yang telah diberikan kepada kami semua, semoga bermanfaat bukan hanya untuk diri kita sendiri, tetapi untuk orang-orang terdekat, dan untuk semua orang. Terimakasih telah berkenan membimbing dan mengarahkan langkah kami semua. Hingga satu persatu teka-teki baru justru mulai terungkap. Dan benar saja, pacak baris sudah semakin lebar jangkauannya. Kami masih memiliki segudang teka-teki yang belum terungkap. Di manakah gerangan pasarean Raden Jaya Sentika yang sesungguhnya. Kami akan mengalir mengikuti aliran air. Pasti lama kelamaan akan ketemu juga. Teka-teki ini bukan untuk membuat kami bingung, sebaliknya agar kami dapat melewati jalan yang harus kami lalui. Demi nasib yang lebih baik dulur-dulur NKRI tanpa kecuali. Mari kita sama-sama menanam padi (kebaikan) dan jangan khawatir kita akan kekurangan rumput (materi). Karena rumput yang tumbuh subur justru akan selalu tumbuh jika kita sudah benar-benar menanam padi.

Salam Karaharjan

About these ads