KEJAWEN ; Ajaran Luhur Yang Dicurigai & Dikambinghitamkan
KEJAWEN
“Permata” Asli Bumi Nusantara yang Selalu Dicurigai
Dan Dikambinghitamkan
Kearifan Lokal yang Selalu Dicurigai
Ajaran kejawen, dalam perkembangan sejarahnya mengalami pasang surut. Hal itu tidak lepas dari adanya benturan-benturan dengan teologi dan budaya asing (Belanda, Arab, Cina, India, Jepang, AS). Yang paling keras adalah benturan dengan teologi asing, karena kehadiran kepercayaan baru disertai dengan upaya-upaya membangun kesan bahwa budaya Jawa itu hina, memalukan, rendah martabatnya, bahkan kepercayaan lokal disebut sebagai kekafiran, sehingga harus ditinggalkan sekalipun oleh tuannya sendiri, dan harus diganti dengan “kepercayaan baru” yang dianggap paling mulia segalanya. Dengan naifnya kepercayaan baru merekrut pengikut dengan jaminan kepastian masuk syurga. Gerakan tersebut sangat efektif karena dilakukan secara sistematis mendapat dukungan dari kekuatan politik asing yang tengah bertarung di negeri ini.
Selain itu “pendatang baru” selalu berusaha membangun image buruk terhadap kearifan-kearifan lokal (baca: budaya Jawa) dengan cara memberikan contoh-contoh patologi sosial (penyakit masyarakat), penyimpangan sosial, pelanggaran kaidah Kejawen, yang terjadi saat itu, diklaim oleh “pendatang baru” sebagai bukti nyata kesesatan ajaran Jawa. Hal itu sama saja dengan menganggap Islam itu buruk dengan cara menampilkan contoh perbuatan sadis terorisme, menteri agama yang korupsi, pejabat berjilbab yang selingkuh, kyai yang menghamili santrinya, dst.
Tidak berhenti disitu saja, kekuatan asing terus mendiskreditkan manusia Jawa dengan cara memanipulasi atau memutar balik sejarah masa lampau. Bukti-bukti kearifan lokal dimusnahkan, sehingga banyak sekali naskah-naskah kuno yang berisi ajaran-ajaran tentang tatakrama, kaidah, budi pekerti yang luhur bangsa (Jawa) Indonesia kuno sebelum era kewalian datang, kemudian dibumi hanguskan oleh para “pendatang baru” tersebut. Kosa kata Jawa juga mengalami penjajahan, istilah-istilah Jawa yang dahulu mempunyai makna yang arif, luhur, bijaksana, kemudian dibelokkan maknanya menurut kepentingan dan perspektif subyektif disesuaikan dengan kepentingan “pendatang baru” yang tidak suka dengan “local wisdom”. Akibatnya; istilah-istilah seperti; kejawen, klenik, mistis, tahyul mengalami degradasi makna, dan berkonotasi negatif. Istilah-istilah tersebut “di-sama-makna-kan” dengan dosa dan larangan-larangan dogma agama; misalnya; kemusyrikan, gugon tuhon, budak setan, menyembah setan, dst. Padahal tidak demikian makna aslinya, sebaliknya istilah tersebut justru mempunyai arti yang sangat religius sbb;
Klenik : merupakan pemahaman terhadap suatu kejadian yang dihubungkan dengan hukum sebab akibat yang berkaitan dengan kekuatan gaib (metafisik) yang tidak lain bersumber dari Dzat tertinggi yakni Tuhan Yang Maha Suci. Di dalam agama manapun unsur “klenik” ini selalu ada.
Mistis : adalah ruang atau wilayah gaib yang dapat dirambah dan dipahami manusia, sebagai upayanya untuk memahami Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam agama Islam ruang mistik untuk memahami sejatinya Tuhan dikenal dengan istilah tasawuf.
Tahyul : adalah kepercayaan akan hal-hal yang gaib yang berhubungan dengan makhluk gaib ciptan Tuhan. Manusia Jawa sangat mempercayai adanya kekuatan gaib yang dipahaminya sebagai wujud dari kebesaran Tuhan Sang Maha Pencipta. Kepercayaan kepada yang gaib ini juga terdapat di dalam rukun Islam.
Tradisi : dalam tradisi Jawa, seseorang dapat mewujudkan doa dalam bentuk lambang atau simbol. Lambang dan simbol dilengkapi dengan sarana ubo rampe sebagai pelengkap kesempurnaan dalam berdoa. Lambang dan simbol juga mengartikan secara kias bahasa alam yang dipercaya manusia Jawa sebagai bentuk isyarat akan kehendak Tuhan. Manusia Jawa akan merasa lebih dekat dengan Tuhan jika doanya tidak sekedar diucapkan di mulut saja (NATO: not action talk only), melainkan dengan diwujudkan dalam bentuk tumpeng, sesaji dsb sebagi simbol kemanunggalan tekad bulat. Maka manusia Jawa dalam berdoa melibatkan empat unsur tekad bulat yakni hati, fikiran, ucapan, dan tindakan. Upacara-upacara tradisional sebagai bentuk kepedulian pada lingkungannya, baik kepada lingkungan masyarakat manusia maupun masyarakat gaib yang hidup berdampingan, agar selaras dan harmonis dalam manembah kapada Tuhan. Bagi manusia Jawa, setiap rasa syukur dan doa harus diwujudkan dalam bentuk tindakan riil (ihtiyar) sebagai bentuk ketabahan dan kebulatan tekad yang diyakini dapat membuat doa terkabul. Akan tetapi niat dan makna dibalik tradisi ritual tersebut sering dianggap sebagai kegiatan gugon tuhon/ela-elu, asal ngikut saja, sikap menghamburkan, dan bentuk kemubadiran, dst.
Kejawen : berisi kaidah moral dan budi pekerti luhur, serta memuat tata cara manusia dalam melakukan penyembahan tertinggi kepada Tuhan Yang Maha Tunggal. Akan tetapi, setelah abad 15 Majapahit runtuh oleh serbuan anaknya sendiri, dengan cara serampangan dan subyektif, jauh dari kearifan dan budi pekerti yg luhur, “pendatang baru” menganggap ajaran kejawen sebagai biangnya kemusyrikan, kesesatan, kebobrokan moral, dan kekafiran. Maka harus dimusnahkan. Ironisnya, manusia Jawa yang sudah “kejawan” ilang jawane, justru mempuyai andil besar dalam upaya cultural assasination ini. Mereka lupa bahwa nilai budaya asli nenek moyang mereka itulah yang pernah membawa bumi nusantara ini menggapai masa kejayaannya di era Majapahit hingga berlangsung selama lima generasi penerus tahta kerajaan.
Ajaran Tentang Budi Pekerti, Menggapai Manusia Sejati
Dalam khasanah referensi kebudayaan Jawa dikenal berbagai literatur sastra yang mempunyai gaya penulisan beragam dan unik. Sebut saja misalnya; kitab, suluk, serat, babad, yang biasanya tidak hanya sekedar kumpulan baris-baris kalimat, tetapi ditulis dengan seni kesusastraan yang tinggi, berupa tembang yang disusun dalam bait-bait atau padha yang merupakan bagian dari tembang misalnya; pupuh, sinom, pangkur, pucung, asmaradhana dst. Teks yang disusun ialah yang memiliki kandungan unsur pesan moral, yang diajarkan tokoh-tokoh utama atau penulisnya, mewarnai seluruh isi teks.
Pendidikan moral budi pekerti menjadi pokok pelajaran yang diutamakan. Moral atau budi pekerti di sini dalam arti kaidah-kaidah yang membedakan baik atau buruk segala sesuatu, tata krama, atau aturan-aturan yang melarang atau menganjurkan seseorang dalam menghadapi lingkungan alam dan sosialnya. Sumber dari kaidah-kaidah tersebut didasari oleh keyakinan, gagasan, dan nilai-nilai yang berkembang di dalam masyarakat yang bersangktan. Kaidah tersebut akan tampak dalam manifestasi tingkah laku dan perbuatan anggota masyarakat.
Demikian lah makna dari ajaran Kejawen yang sesungguhnya, dengan demikian dapat menambah jelas pemahaman terhadap konsepsi pendidikan budi pekerti yang mewarnai kebudayaan Jawa. Hal ini dapat diteruskan kepada generasi muda guna membentuk watak yang berbudi luhur dan bersedia menempa jiwa yang berkepribadian teguh. Uraian yang memaparkan nilai-nilai luhur dalam kebudayaan masyarakat Jawa yang diungkapkan diatas dapat membuka wawasan pikir dan hati nurani bangsa bahwa dalam masyarakat kuno asli pribumi telah terdapat seperangkat nilai-nilai moralitas yang dapat diterapkan untuk mengangkat harkat dan martabat hidup manusia.
Dua Ancaman Besar dalam Ajaran Kejawen
Dalam ajaran kejawen, terdapat dua bentuk ancaman besar yang mendasari sikap kewaspadaan (eling lan waspada), karena dapat menghancurkan kaidah-kaidah kemanusiaan, yakni; hawanepsu dan pamrih. Manusia harus mampu meredam hawa nafsu atau nutupi babahan hawa sanga. Yakni mengontrol nafsu-nafsunya yang muncul dari sembilan unsur yang terdapat dalam diri manusia, dan melepas pamrihnya.
Dalam perspektif kaidah Jawa, nafsu-nafsu merupakan perasaan kasar karena menggagalkan kontrol diri manusia, membelenggu, serta buta pada dunia lahir maupun batin. Nafsu akan memperlemah manusia karena menjadi sumber yang memboroskan kekuatan-kekuatan batin tanpa ada gunanya. Lebih lanjut, menurut kaidah Jawa nafsu akan lebih berbahaya karena mampu menutup akal budi. Sehingga manusia yang menuruti hawa nafsu tidak lagi menuruti akal budinya (budi pekerti). Manusia demikian tidak dapat mengembangkan segi-segi halusnya, manusia semakin mengancam lingkungannya, menimbulkan konflik, ketegangan, dan merusak ketrentaman yang mengganggu stabilitas kebangsaan
NAFSU
Hawa nafsu (lauwamah, amarah, supiyah) secara kejawen diungkapkan dalam bentuk akronim, yakni apa yang disebut M5 atau malima; madat, madon, maling, mangan, main; mabuk-mabukan, main perempuan, mencuri, makan, berjudi. Untuk meredam nafsu malima, manusia Jawa melakukan laku tapa atau “puasa”. Misalnya; tapa brata, tapa ngrame, tapa mendhem, tapa ngeli.
Tapa brata ; sikap perbuatan seseorang yang selalu menahan/puasa hawa nafsu yang berasal dari lima indra. Nafsu angkara yang buruk yakni lauwamah, amarah, supiyah.
Tapa ngrame; adalah watak untuk giat membantu, menolong sesama tetapi “sepi” dalam nafsu pamrih yakni golek butuhe dewe.
Tapa mendhem; adalah mengubur nafsu riak, takabur, sombong, suka pamer, pamrih. Semua sifat buruk dikubur dalam-dalam, termasuk “mengubur” amal kebaikan yang pernah kita lakukan kepada orang lain, dari benak ingatan kita sendiri. Manusia suci adalah mereka yang tidak ingat lagi apa saja amal kebaikan yang pernah dilakukan pada orang lain, sebaliknya selalu ingat semua kejahatan yg pernah dilakukannya.
Tapa ngeli, yakni menghanyutkan diri ke dalam arus “aliran air sungai Dzat”, yakni mengikuti kehendak Gusti Maha Wisesa. “Aliran air” milik Tuhan, seumpama air sungai yang mengalir menyusuri sungai, mengikuti irama alam, lekuk dan kelok sungai, yang merupakan wujud bahasa “kebijaksanaan” alam. Maka manusia tersebut akan sampai pada muara samudra kabegjan atau keberuntungan. Berbeda dengan “aliran air” bah, yang menuruti kehendak nafsu akan berakhir celaka, karena air bah menerjang wewaler kaidah tata krama, menghempas “perahu nelayan”, menerjang “pepohonan”, dan menghancurkan “daratan”.
PAMRIH
Pamrih merupakan ancaman ke dua bagi manusia. Bertindak karena pamrih berarti hanya mengutamakan kepentingan diri pribadi secara egois. Pamrih, mengabaikan kepentingan orang lain dan masyarakat. Secara sosiologis, pamrih itu mengacaukan (chaos) karena tindakannya tidak menghiraukan keselarasan sosial lingkungannya. Pamrih juga akan menghancurkan diri pribadi dari dalam, kerana pamrih mengunggulkan secara mutlak keakuannya sendiri (istilahnya Freud; ego). Karena itu, pamrih akan membatasi diri atau mengisolasi diri dari sumber kekuatan batin. Dalam kaca mata Jawa, pamrih yang berasal dari nafsu ragawi akan mengalahkan nafsu sukmani (mutmainah) yang suci. Pamrih mengutamakan kepentingan-kepentingan duniawi, dengan demikian manusia mengikat dirinya sendiri dengan dunia luar sehingga manusia tidak sanggup lagi untuk memusatkan batin dalam dirinya sendiri. Oleh sebab itu pula, pamrih menjadi faktor penghalang bagi seseorang untuk mencapai “kemanunggalan” kawula gusti.
Pamrih itu seperti apa, tidak setiap orang mampu mengindentifikasi. Kadang orang dengan mudah mengartikan pamrih itu, tetapi secara tidak sadar terjebak oleh perspektif subyektif yang berangkat dari kepentingan dirinya sendiri untuk melakukan pembenaran atas segala tindakannya. Untuk itu penting Sabdalangit kemukakan bentuk-bentuk pamrih yang dibagi dalam tiga bentuk nafsu dalam perspektif KEJAWEN :
- Nafsu selalu ingin menjadi orang pertama, yakni; nafsu golek menange dhewe; selalu ingin menangnya sendiri.
- Nafsu selalu menganggap dirinya selalu benar; nafsu golek benere dhewe.
- Nafsu selalu mementingkan kebutuhannya sendiri; nafsu golek butuhe dhewe. Kelakuan buruk seperti ini disebut juga sebagai aji mumpung. Misalnya mumpung berkuasa, lantas melakukan korupsi, tanpa peduli dengan nasib orang lain yang tertindas.
Untuk menjaga kaidah-kaidah manusia supaya tetap teguh dalam menjaga kesucian raga dan jiwanya, dikenal di dalam falsafah dan ajaran Jawa sebagai lakutama, perilaku hidup yang utama. Sembah merupakan salah satu bentuk lakutama, sebagaimana di tulis oleh pujangga masyhur (tahun 1811-1880-an) dan pengusaha sukses, yang sekaligus Ratu Gung Binatara terkenal karena sakti mandraguna, yakni Gusti Mangkunegoro IV dalam kitab Wedhatama (weda=perilaku, tama=utama) mengemukakan sistematika yang runtut dan teratur dari yang rendah ke tingkatan tertinggi, yakni catur sembah; sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, sembah rasa. Catur sembah ini senada dengan nafsul mutmainah (ajaran Islam) yang digunakan untuk meraih ma’rifatullah, nggayuh jumbuhing kawula Gusti. Apabila seseorang dapat menjalani secara runtut catur sembah hingga mencapai sembah yang paling tinggi, niscaya siapapun akan mendapatkan anugerah agung menjadi manusia linuwih, atas berkat kemurahan Tuhan Yang Maha Kasih, tidak tergantung apa agamanya.
sabdalangit















1074 tanggapan kepada “KEJAWEN ; Ajaran Luhur Yang Dicurigai & Dikambinghitamkan”
agus ilham cholik
Mei 20th, 2012 pada 15:16
semakin di dalami ajaran jawa sungguh mmbawa kpada pengenalan diri yg haqiqi.semakin jelas antara kenyataan dan mimpi.dimana setiap saat kita dicekoki dgn ajaran2,atwpun ceramah,yg malah mencerabut kita dr akar kemanusiaan kita yg nyata.!.orang bru berpengetahuan tp gk berilmu sdh berani ngajari sesamanya.akhirnya kita semakin bodoh.!.kita diajak bermimpi terus,sehingga lupa kenyataan diri..!.ajaran kejawen adalah islam yg sebenarnya,bukan islam yg diasumsikan agama dr arab,tp arti islam sebenarnya yg artinya selamat.!.sebagaimana SLAMET yg jd tujuan hidup manusia jawa yang NJOWO..!.nuwun.
Dwi Heri
Mei 23rd, 2012 pada 02:24
Mohon Para Saudara Saudaraku
Sekalian Jangan Mencela satu
dengan yg lain
Hendaknya kita mengoreksi
diri kita sendiri
sudah benarkah kita?
sebelumnya saya jelaskan dahulu
Kejawen itu apa?
kejawen adalah Kepercayaan
asli Suku Jawa
Jauh sebelum Agama baik itu
Hindu Budha Islam Nasrani
masuk ke Tanah Jawa
Orang Jawa Sudah memiliki
Suatu Kepercayaan ya! itulah
Kejawen
Kejawen merupakan Ajaran
Nenek Moyang Kami
Sebagai Tiyang Jawi
para Leluhur Kami
telah memberikan suatu
ajaran kepada anak cucunya
agar kelak mereka dapat
membedakan hitam putihnya kehidupan di dunia ini
Jadi Kejawen ini hanyalah
suatu Kepercayaan Lokal saja
yg dimiliki oleh Suku Jawa
Sugeng Rahayu
js
Mei 23rd, 2012 pada 09:36
Salam………
Kejawen yang sudah jelas sebagai kepercayaan yang diwariskan Poro Leluhur untuk anak cucunya supaya anak cucunya bisa mengenal jati diri untuk menuju bisa bener tur pener hanya seperti mendapat NOL BESAR dimata masyarakat anak cucunya……hanya dipandang sebelah mata….dianggap mistik …tahayul…bolone demit…musrik…sirik….dituduh menyembah dirinya sendiri…..ajaran sesat karena tidak ada nabinya……..salam jati diri….
yoga damara
Mei 25th, 2012 pada 22:12
rahayu…
yap… saya setuju… dimana kita harus menghargai budaya sendiri bukan malah menggunakan budaya negara lain… agama islam berasal dari negara arab, agama katolik/kristen dari kaum nasrani, agama hindu budha dari india… sedangkan budaya kita sendiri tidak di pakai…. “alam yang akan menjawabnya karena alam lah yang paling jujur”
rahayu…
Ki Agung Gledek Sayuto
Mei 25th, 2012 pada 13:45
saya tegaskan sekali lagi, bahwa tidak ada sesuatu yang disebut orang mengangkat ratu adil.
apalagi saat ini, Durga telah menyempurnakan senjata Trisula Veda ditangan saya, sehingga saya bisa memerintah seluruh alam. Kalian ini betul-betul tidak tahu siapa saya rupanya. darah kalian, jiwa kalian, ada ditangan saya. saya yang mengatur bagaimana aliran darah kalian, bagaimana sp itu naik.
hahaha hahaha hahaha
Ki Agung Gledek Sayuto
Mei 25th, 2012 pada 13:46
saya yang menciptakan kalian semua, dan ini bukan karena saya Allah.
saya yang mengatur kalian akan pergi kemana satu jam berikutnya.
saya akan mengatur seluk-beluk persoalan sp ini.
hahaha hahaha
Ki Agung Gledek Sayuto
Mei 25th, 2012 pada 13:48
tubuh ini bisa jadi lemah seperti telur, tapi kekuatan saya sangat besar. sehingga langkah saya mulus sebagai SP.
janganlah mencoba-coba melawan kekuasaan ratu adil. jika tidak kalian akan melihat raksasa di yogyakarta ini karena amarah saya.
NEXT.......
Mei 25th, 2012 pada 14:24
lagi kerasukan barby ya mas…….hhhh hhhhhh hhhhhhhhhh
kuncoro
Mei 25th, 2012 pada 14:49
waduh..duh aki…
jangan begitu, saya nih sampai ngompol takut.
ngomong2 klo mau muncul raksasanya bilang2 dulu ya? tak siapin video.
salam ya aki…
NEXT.......
Mei 25th, 2012 pada 14:30
ok deh…..lanjut…..
sabda….kamu kan bahas tentang kearifan lokaaal melulu….basi ah….hhhhh
sekali-kali kearifan impor donk……hhhhhhhhhhhhhhhhhhh
baskoro
Mei 26th, 2012 pada 01:00
kuonuwun…
nderek matur kagem sedulur sedoyo
sakderengipun kawulo nyuwun pangapunten mbok bilih atur kulo kirang nuju prono..
ajaran kejawen / pitutur tiyang sepuh kito sedoyo..: kita semua d ajarkan u/ slg menghormati, slg menghargai, slg mengasihi,slg mengalah, dan slg menolong.
tdk blh slg mengejek,walau d ejek, tdk blh menghina sekalipun d hina,
dlm tindak tandukpun kt hrs sll hati” , sopan dlm tutur kata, ramah dlm bergaul.
SING RUKUN YO (psn orang tua )
kagem sabdalangit`s nderek tepang njih..?.
ndableg
Mei 26th, 2012 pada 01:33
@ jangan heran ya…
aku dulu ikut nyari rumput buat hewan2 habis turun dari perahu. perahunya nuh tuh berhentinya di maluku.
aku benci pecundang
Mei 27th, 2012 pada 13:57
semuan .’ tata cara,hal baik dan buruk..’ dan seluruh kehidupan kita sudah di beri jawaban dalam al’quran…..’:)..petunjuk al’quran itu benar ,tiada salah sedikitpun..
Ilmu menanam padi ? Ilmu beternak ayam broiler ? Ilmu bercocok tanam ? Ilmu kelautan ? Kita cari jawabannya di situ….
ndableg
Mei 27th, 2012 pada 14:44
aku wong djowo….diajari basa djowo, dicritani kaprawirane moyang2 dhisik. aku ra ngerti qur’an lan ora butuh ngerti.
nek ono neroko tak pek’e ijen. liyane ora tak umani, ben mlebu surgo kabeh. kuncine neroko tak buang, ben raono sing mlebu neroko.
js
Mei 27th, 2012 pada 18:34
Salam Mas Ndableg……..weeeh Njenengan benar benar ndableg seperti saya……..Neraka dan kuncinya harus dibuang dan pintu surga akan selalu dibuka lebar lebar…..hal itu yang semestinya dimenegerti maknanya dan bukan digambarkan sesuat seperti api dan bidadari oleh kita yang namanya manusia…….
Api itu mungkin ego / nafsu manusia….
Bidadari itu mungkin kecantikan…keagungan…kecintaan….damainya hati / batin karena bernurani dan beriman kepada hal yang Maha Baik ……..salam neraka dan surga…..
ndableg
Mei 27th, 2012 pada 19:19
@ mas js…salam kembali
lha begitulah mas, ajaran dan kitab luhur sudah banyak yang dibuka kembali, hanya interpretasi yang kurang mendalam.
4 jaman, jaman sunyaruri, lalu di elemennya bapak, berpindah ke elemennya biyung, trus njedhul di jaman akhir, yang banyak dianggap kiamat. padahal manusia muncul didunia berarti jaman akhir manusia, dimana manusia harus bisa kembali.
hyang wisnupun sampai2 harus menitis dalam wadag kuda supaya bisa kembali, karena hyang wisnu tidak bisa mati di jaman akhir.
o iya mas js, itu biksu tong di bogor kok nggak mau nungguin borobudur ya? padahal dia yang punya tuh candi. sayangnya yang dibogor dipotong tangannya.
demikian mas js, sih katresnan wilujeng.
js
Mei 27th, 2012 pada 19:54
Terima kasih Mas Ndableg……..Dono weweh ilmu Mas Ndableg diatas meskipun sedikit dan ringkas tapi maknanya sangat besar…….salam rahayu kagem Njenengan sa kaluargo….nuwun….
Guess who ?
Mei 27th, 2012 pada 18:30
Tapi Al’Quran itu kan ditulis dan dibuat manusia. Al’Quran juga bisu, tidak bisa menjawab kalau ditanya. Misalnya, tanya pada al’quran mengenai internet, bolehkah alat bikinan orang kafir ini dipakai ? Gimana al’quran bisa menjawab ? Yang bisa menjawab kan manusia yang ,mungkin, membaca al’quran. Itupun jawabannya belum tentu benar; tanya dua orang mengenai satu ayat, jawabnya bisa berbeda.
Orang Sunni itu membaca al’quran tapi bilang orang Syiah sesat … Sebaliknya orang Syiah juga membaca al’quran dan bilang Sunni tidak betul… Sunni dan Syiah kan jarang akur. Apa mereka tidak mengerti al’quran ?? Dulu Iran perang melawan Irak,padahal dua-duanya gudang pembaca al’quran !
Yang salah … orangnya ? Ya itu tadi,al’quran tidak bisa menjawab kalau ditanya.
ndableg
Mei 27th, 2012 pada 20:33
kakekku, pendiri cirebon dan banten, mengajarkan, “bertanggung jawablah kepada NUR MUHAMMAD, bukan kepada nabi muhammad”
suni dan syiah tergaris seperti itu, tidak akan pernah selesai.
cokro1980
Mei 30th, 2012 pada 16:03
kejawen…benar-benar memancing orang2 yg berfikiran dangkal alias goblok
sdh jelas yg di sembah cuma satu,tuhanm,,tuhanm,,tuhanku,,tuhanku…
tuhan yg maha esa..tuhane wong sak alam ndunyo..
ndableg
Mei 30th, 2012 pada 21:53
@ cokro 1980
betul dan tepat. terapkan itu dalam dirimu sendiri, tidak usah memaksakan pemahamanmu kepada orang lain, apalagi dengan kekerasan.
avignam jagad samagram.
Prabu Arjunasasrabahu
Mei 30th, 2012 pada 16:35
Untuk menepis perkiraan guntur baladewa surojoyo, perlu kiranya saya tuturkan sejarah senjata cakra yang sebenarnya.
Cakra yang sebenarnya bukanlah cuma senjata berwujud fisik, ia merupakan senjata yang diatur oleh seorang dewa bernama Sudarshan Cakra. Satukali ia agak kecewa melihat Naya Genggong memuji Dewa Vishnu atas keperkasaannya. Lalu ia berkata, “tanpa saya, anda tak akan sehebat itu.”
Dewa vishnu lalu berkata, “baik, turunlah kau ke bumi. aku juga akan turun. mari kita lihat siapa yang hebat.” selepas berkata begitu, sudarshan cakra lalu lahir dibumi sebagai anak tak berlengan. karena berkat seorang dewa, ia lalu diberi 1000 tangan, dan bernama Arjunasasrabahu.
Setelah mengalahkan rahvana, ia lalu menjadi tak berlatih lagi, vishnu lalu keluar dari tubuhnya dan masuk ke tubuh parasurama yang sedang menantang para raja. parasurama lalu membunuh arjunasasrabahu.
sabdo palon dan naya genggong lalu turun berkata pada parasurama, “sudahlah, ia baru saja keluar vishnu darinya.” parasurama kecewa, “oh saya kira masih titisan vishnu.”
itulah guntur, jangan terlalu sombong. saya bisa menghentikan kekuatanmu kapan saja, karena sayalah master semua cakra dan kalacakra dibumi.
kini saya telah lahir kembali dan akan kembali mengambil banyak istri di lebak cawene.
hahaha hahaha kasihan guntur senjatanya tak berfungsi. hahaha hahaha hahaha.
Prabu Arjunasasrabahu
Mei 30th, 2012 pada 16:40
kasihan guntur. jangan terlalu pongah, masternya ada disini saya sendiri.
kali ini saya bukan titisan vishnu tapi titisan shiva.
tapi 426.000 tahun lagi saya akan kembali sebagai kalki, titisan vishnu terakhir.
dulu saya pernah jadi titisan brahma sebagai syaikh siti jenar.
kalau seperti sabdo langit yang merasa allah, lalu dikarangkarang jadi ini itu, bukan cara manunggal yang sebenarnya. itu sesat dan tak pernah saya ajarkan. kalau mau jadi allah harus betul-betul ada dilapis allah. yang didapat sabdo langit dan konco-konconya disini adalah cuma manunggal dengan durga. durga senangnya begitu, merasa sejatinya dia.
allah bukan brahma, allah adalah durga. jadi islam itu agama sesat.
Prabu Arjunasasrabahu
Mei 30th, 2012 pada 16:41
maksud saya, kalau mau jadi tuhan harus betul-betul di lapis tuhan.
abimanyu
Juni 2nd, 2012 pada 02:55
ilmu Allah buat kita manusia yang harus kita ketahui ada 4 macam, yaitu syar`eat, tarekat, hakekat, dan makrifat, tapi kenapa yang makrifat sangat jarang sekali yang mw memberikan apakah itu tidak harus terbuka atw dengan secara rahasia, katanya Allah gak ada rahasia lagi.
abimanyu
Juni 2nd, 2012 pada 03:15
k alau kita ulama harus jadi ulama yang betul-betul bisa diikuti petuahnya dan tingkah lakunya, jangan seperti seorang calo mobil, contoh ayo ini jurusan jakarta atau yang lainnya, tetapi dia gak pernah ikut, jangan hanya bisa nyuruh orang ngamal tapi dirinya tidak persamanah ikut amal, semoga bisa kita fahami ber
hi hi hi hi
Juni 24th, 2011 pada 10:42
woiiiiii kang BA….hahahahaha
apa kabar lama ga jumpa (terjemahan : long time no see) yah
sekarang bolehkan kalau aku balik ke jepang….habis gimana kan sudah dibilang tidak boleh memaksa.,….pak karno kasihan….
jadi diikhlaskan kalau aku balik ke Jepang…..banyak yang harus aku lakukan di sana
1. pertama KAWIN hahahahahaha
tinggal dengan enak dan damai jauh dari politik di Kyoto….
peni
Juni 30th, 2011 pada 15:42
pesan dari BA :
Jangan balik dulu, nusantara masih membutuhkan hi hi hi …
pak karno juga telah memaksa hi hi hi ….
dapetin cwk sini aja kan banyak cwk yg hi hi hi ….
perempuan priangan
Juli 8th, 2011 pada 10:30
memang siapa kau neng peni, ngatur2 aku….enak saja ga bisa…
pemirsa
Oktober 4th, 2011 pada 11:31
nusantara mem buahkan hasil…..hi hi hi
???????
Januari 15th, 2012 pada 16:31
TUHAN KAMI ADALAH ALAM, NAMA TUHAN ADALAH NAMA KIASAN, KLU BOLEH KAMI TIDAK MENULIS IDENTITAS NAMA AGAMA DI KTP ,LBH BAIK NGAK, BANYAK CARA MENYEMBAH ALAM,KRN ALAM MEMBERIKAN BANYAK CARA MEMBANTU KITA HIDUP.SAYANG DGN MANUSIA,ALAM ,TUHAN DAN CIPTAANYA.
………………………………………………………..
TUHAN KAMI ADALAH ALAM —————————————————— TUHAN = ALAM
HIDUP.SAYANG DGN MANUSIA,ALAM ,TUHAN DAN CIPTAANYA.—— ALAM /= TUHAN
??????????????????????????????????????????????????????????????????
Bratayuda
Januari 19th, 2012 pada 03:19
!!!!!!!!!!!
Tuhan = Alam, Alam=Tuhan,……..
“=” (Identik)
“Aku ” menunjuk ke dada
Aku tak tampak, yang tampak dada(fisik)
di dalam dada Qolbu(jantung/hati)
Tuhan ditunjukan dengan adanya Alam( ilmu dan kehidupan)
Tuhan tak tampak, yang tampak Alam
di Alam ada ilmu dan kehidupan yang disifati oleh sifat Tuhan
Tuhan mensifati Alam atas ilmu-Nya dan sifat hidup Nya
Hanya dengan melihat /membaca Alam kita mengenal Tuhan
hanya dengan melilhat/membaca/intopeksi diri kita mengenal Tuhan
Tuhan=Alam,……..Alam=Tuhan,……….is no trouble,..!!!
Tuhan meliputi seluruh kehidupan, tidak di atas/di bawah, tidak di depan/blakang, tidak diluar alam, namun terasa dalam hidup dan alam kehidupan pada setiap hembusan nafas dan detak jantung……….
salam bak sukses salalu
BIMA
Januari 19th, 2012 pada 07:02
yang ‘mencipta tidak dapat ‘dipersamakan dengan yang ‘dicipta.
kamu mengetahui kata dan makna ‘alam itu pun hanya sebatas ‘alam mu.
S’alam
note:
lumayan buat selingan,
silahkan dillanjutkan mencari di primbon bentuk dan arti lambang itu..h h h
Onta Arab
Januari 19th, 2012 pada 10:13
lumayan buat selingan,
silahkan dillanjutkan mencari di primbon bentuk dan arti lambang itu..h h h
Ngiri ya
bukumu tulisan thok.. kakuuuuuuuuuuuuu…..
Bratayuda
Januari 20th, 2012 pada 13:37
emang ….hh..hh
semua kulit agama hanya permainan analogi dan sugesti… tok, tak lebih…. .
mari kita cari bedasarkan primbon qur’an,….utk mendekati prakiraan dalam prasangka-prasangka nanar dan nyasar gak pernah tentu.
lumayan lah kulit agama pun bisa di buat mainan kupasan nya
buat selingan mengisi waktu hidup, dari pada dungu thdp isi nya…hh..hh
salam baik ,…sukses selalu
wisnu tiang djawi
Maret 29th, 2012 pada 22:50
@mas Bima yg budiman
Klo mas Bima gak setuju dgn ajaran kejawen sebaiknya anda gak usah komentar di blog ini,, itu sama dengan merendahkan ajaran anda yg anda anggap paling benar,,,
salam perdamaian seluruh bumi,,,,
DOMBA GEMBEL
Januari 20th, 2012 pada 17:57
yang ‘mencipta tidak dapat ‘dipersamakan dengan yang ‘dicipta.
kamu mengetahui kata dan makna ‘alam itu pun hanya sebatas ‘alam mu.
betuuuuuul……?!
S’alam
note:
lumayan buat selingan,
silahkan dillanjutkan mencari di primbon bentuk dan arti lambang itu..h h h
gong………….gong……..gong gong……guk guk……………husssssss
baru setengah mas………setengah ilmu dunia……………h h h
Si Gundul
Januari 20th, 2012 pada 19:38
Setuju Mas Bratayuda….
“lumayan lah kulit agama pun bisa di buat mainan kupasan nya
buat selingan mengisi waktu hidup, dari pada dungu thdp isi nya…hh..hh”
Masalahnya: kl tahu kulitnya baru sebatas katanya, malah lebih sia2 donk hidupnya, wong megang kulit aja belum, apalagi mo main kupas2an..hehe.
Salam baik, sukses selalu….
Ande2 Lumut
Januari 20th, 2012 pada 18:11
lumayan buat selingan,
silahkan dillanjutkan mencari di primbon bentuk dan arti lambang itu..h h h
gong………….gong……..gong gong……guk guk……………husssssss
———————-
Lambang : Anjing menggonggong, kafilah (kejawen) berlalu …
DOMBA GEMBEL
Januari 20th, 2012 pada 18:24
maksud na…..lambang cupu?!……culun punya……huahaha haha…..
masih mentah mas……………setengah mat’eng….eng ing eng……………haha
Maret 14th, 2012 pada 12:28
Buah takkan pernah jatuh jauh dari pohonnya. Kayaknya pengalaman pribadi doyan primbombon nih. Xixixixiix…
DOMBA GEMBEL
Januari 20th, 2012 pada 23:06
ga heran doyanan nya ‘kulit sama ‘daging……
sesuai doktrin…………………………………………..hiiiii sereem…….haha haha
BIMA
Februari 12th, 2012 pada 15:11
Alhamdulillah ya…..kebathilan pasti musnah! Insya Allah.
rere
Februari 12th, 2012 pada 15:16
Jelas, para penghancur kerukunan bangsa yang katanya agama nya sebangayk aliran selokan tukang demo, tukang ngrusak, tukang jagal, tk bunuh, tu bom
itu pasti MUSNAAAAAH dari tanah jawa…hua.ha ha ha
iya yah sesuatu bangetz……..hi hi hi hi hi
rere
Februari 12th, 2012 pada 16:15
di pikir pikir…………..
eeeehhhh jebule gak musnah-musnah…hu ha ha ha
malah si pecundang buetaaah buanget parkir disini….hi hi hi ih
gak punya maluuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu
maknya kalu ber agama itu mbok ya punya tuhan dong….he..he
tuhan kok cuma tahu nama nya doang…………hua ha ha ha
kok malah gak kenal yang punya nama………….he…he
lucu banget ………….agama apaan maunya slamet sendiri…..
apa yang nylametin …????…………Mbah dukun menyan arab yach……..???
bemo…bemo,……….elo banyak ngatur orang lain………sok tau lo…
atur dirmu sendiri,……makan tuh dalil-dalil mu
sampai tubuh dan jiwamu ngerti terhadap dalilmu….
slamatkan dirimu sendiri dengan agama ….
jangan sok pahlawan nylametin orang lain, smentara jiwamu hampa, kosong, terhambat, dan berpenyakit. jiwa mu kerdil, pengecut, dungu, cuma pandai menggoyang lidah dengan dalil mentah….
kitab suci mu gak sampai kerongkongan,…..
kata-katamu membunuhi binatang buruan,…..
agamamu hanya tampkak pada ceremonial
umat mu tak mengenali pimpinannya kecuali dari pakaian nya
hobi mu menghias mushaf dan rumah ibadah
mulut mu berbusa penuh dalil berbuih.
yang laki tampak wanita, yang wanita tampak laki
moral nya rusak. pemimpin nya ndablek
hobimu hura-hura, bikin makanan bakar menyan
korban mu hanya menyiksa dan membunuh
saudaramu mu terpecah belah berserakan bagai sampah
bertengkar rebutan tuhan yang tinggal nama
lu tinggalkan tuhan sejati yang menghidupi dirimu yang sejati
sementara badan mu se ongok calon bangkai
jiwa mu merana hati mu hampa
bukan telinganya yang budeg tapi hatinnya yang maghdub
bukan matanya yang buta tapi mata hatinya yang buta
elo pasti kenal dengan yang sbb :
——————————————
Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan,
Padahal kamu ketika itu melihat,
dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. tetapi kamu tidak melihat,
Maka mengapa jika kamu tidak dikuasai
kamu tidak mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya) jika kamu adalah orang-orang yang benar?
——————————–
note ;
kembalikanlah nywamu pada tempat nya jika elo orang yang benar
jangan ngurusi nyawa orang, elo takan di mintai tanggung jawab…..
ha…ha.. ha…………….muntah deh elooooo….
Baladewa
Februari 15th, 2012 pada 09:09
Tafsir Ayat La Ikraha Fi al-Din
Oleh Abdul Moqsith Ghazali
Tidak banyak manfaatnya memaksa seseorang memeluk suatu agama, kalau tidak diikuti kepercayaan dan keyakinan dari orang tersebut. Agama yang dipaksakan, menurut Jawdat Sa’id, sama dengan cinta yang dipaksakan. “Tidak ada agama dengan paksaan, sebagaimana tidak ada cinta dengan paksaan”. Memeluk suatu agama sejatinya harus diikuti dengan keyakinan yang mendalam terhadap ajaran yang ditetapkan agama itu. Bahkan, setiap orang punya hak memilih antara beragama atau tidak beragama. Nabi pernah menawari salah seorang budak perempuannya, Rayhanah binti Zaid, untuk masuk Islam. Namun, Rayhanah lebih memilih Yahudi sebagai agamanya. Nabi tak marah pada Rayhanah hingga akhirnya ia sendiri yang memutuskan masuk Islam. Ini sebuah teladan. Sebagai majikan pun Nabi tak memaksa budaknya mengikuti agama yang dianutnya.
Toleransi dan kebebasan beragama selalu disandarkan pada ayat la ikraha fi al-Din. Persisnya Allah berfirman (QS, al-Baqarah [2] : 256), “Tidak boleh ada paksaan dalam agama. Sungguh telah nyata (berbeda) kebenaran dan kesesatan. Karena itu, barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, sesungguhnya ia telah berpegang kepada tali yang amat kuat yang tak akan putus. Allah Maha Mendengar dan Mengetahui” (la ikraha fi al-din qad tabayyana al-rusyd min al-ghayy fa man yakfur bi al-thaghut wa yu’min billah fa qad istamsaka bi al-’urwah al-utsaqa la infishama laha. Wallahu sami’un ’alim).
Abu Muslim dan al-Qaffal berpendapat, ayat ini hendak menegaskan bahwa keberimanan didasarkan atas suatu pilihan sadar dan bukan atas suatu tekanan. Menurut Muhammad Nawawi al-Jawi dala bukunya, Marah Labidz menegaskan bahwa ayat ini berarti pemaksaan untuk masuk dalam suatu agama tak dibenarkan. Dari sudut gramatika bahasa Arab tampak bahwa kata “la” dalam ayat di atas termasuk “la linafyi al-jins”, dengan demikian berarti menafikan seluruh jenis paksaan dalam soal agama. Ayat ini juga dikemukakan dengan lafzh ’am (kata yang umum). Dalalah lafzh ’am, menurut ushul fikih Hanafiyah, adalah qath’i (jelas-tegas) sehingga tak mungkin ditakhshish (dibatasi pengertiannya) apalagi dinaskh (dibatalkan) dengan dalil yang zhanni (tidak jelas maknanya).
Ayat ini merupakan teks fondasi atau dasar penyikapan Islam terhadap jaminan kebebasan beragama. Jawdat Sa’id dalam bukunya yang berjudul La Ikraha fi al-Din menyebut la ikraha fî al-din, qad tabayyana al-rusyd min al-ghayy sebagai ayah kabirah jiddan (ayat universal). Apalagi, menurut Jawdat Sa’id, ayat itu dinyatakan persis setelah ayat kursi yang dianggap sebagai salah satu ayat paling utama. Jika ayat kursi mengandung ajaran penyucian Allah, maka ayat tersebut mengandung penghormatan kepada manusia, yang salah satunya adalah menjamin hak kebebasan beragama.
Dalam menafsirkan ayat ini, Jawdat Sa’id menegaskan bahwa yang dimaksud dengan pemaksaan (al-ikrah) adalah al-ghayy dan ini adalah jalan salah (al-thariq al-khathi’). Sedang yang dimaksud dengan tanpa paksaan (alla ikrah) adalah al-rusyd dan ini adalah jalan benar (al-thariq al-shahih). Pengertian ayat itu adalah “tidak ada paksaan dalam agama. Sungguh sudah jelas (perbedaan) antara tanpa paksaan dan pemaksaan”. Berbeda dengan kebanyakan para mufasir, Jawdat Sa’id menafsir kata “thaghut” dalam lanjutan ayat itu sebagai orang yang memaksakan pemikiran dan keyakinannya kepada orang lain, dan membunuh orang yang berbeda keyakinan dengan dirinya.
Perihal ayat tersebut, Jawdat Sa’id mengemukakan pandangannya. Pertama, ayat itu memberi jaminan kepada orang lain untuk tidak mendapatkan paksaan dari seseorang. Ayat itu juga memberi jaminan agar seseorang tak dipaksa orang lain tentang sesuatu hal, termasuk dalam hal agama. Kedua, ayat itu bisa dipahami sebagai kalimat perintah (kalam insya’i) dan sebagai kalimat informatif (kalam ikhbari). Sebagai kalimat perintah, ia menyuruh seseorang untuk tak melakukan pemaksaan kepada orang lain. Sebagai kalam ikhbari, ayat itu memberitahukan bahwa seseorang yang dipaksa masuk pada suatu agama sementara hatinya menolak, maka orang itu tak bisa dikatakan telah memeluk agama itu. Ini karena agama ada di dalam kemantapan hati, bukan dalam ungkapan lisan. Ketiga, ayat ini melarang membunuh orang pindah agama, karena ayat itu turun untuk melarang pemaksaan dalam soal agama.
Para ulama tafsir menyebutkan beberapa sebab yang melatarbelakangi turunnya ayat tersebut. Al-Qurthubi dalam al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an menjelaskan riwayat yang menceritakan sebab turunnya ayat ini. Pertama, Sulaiman ibn Musa menyatakan, ayat ini dinasakh dengan ayat lain yang membolehkan umat Islam membunuh umat agama lain. Ia menambahkan, Nabi Muhammad telah memaksa dan memerangi orang-orang non-Muslim yang tinggal di Arab untuk memeluk Islam. Ibn Katsir mengutip pandangan sekelompok ulama yang menyatakan bahwa ayat tersebut sudah dinasakh ayat perang (ayat al-qital). Menurutnya, seluruh umat manusia wajib diseru masuk agama Islam. Sekiranya mereka tidak mau masuk Islam dan tak mau membayar retribusi (jizyah), mereka wajib diperangi. Ibn Katsîr dalam Tafsir al-Qur’an al-’Azhim berkata, ayat tersebut merupakan perintah agar umat Islam tak memaksa orang lain masuk Islam. Sementara Thabathaba’i dalam al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an berpendapat, ayat itu tak mungkin dinaskh tanpa menaskh alasan hukumnya (illah al-hukm). Illat hukum itu tertera secara eksplisit dalam kalimat berikutnya yang menyatakan, antara al-rusyd (kebenaran) dan al-ghayy (kesesatan) sudah jelas.
Kedua, ayat tersebut tak dinaskh. Tapi, ia turun secara khusus kepada Ahli Kitab. Mereka tak bisa dipaksa masuk Islam selama masih membayar retribusi (jizyah). Pendapat ini dikemukakan al-Sya`bi, Qatadah, al-Hasan, dan al-Dhahhak. Para ulama tersebut memperkuat argumennya dengan riwayat Zaid ibn Aslam dari bapaknya. Ia mendengar Umar ibn Khattab berbincang dengan seorang perempuan tua beragama Kristen. “Masuk Islamlah, wahai perempuan tua, niscaya engkau akan selamat, karena Allah mengutus Muhammad SAW dengan membawa kebenaran. Lalu perempuan itu berkata, saya sudah tua renta dan sebentar lagi kematian akan menjemput. Umar berkata, Wahai Allah, saya bersaksi atas perempuan ini. Umar kemudian membaca ayat tadi.
Sementara pendapat lain menyatakan bahwa sebab turun ayat tersebut sebagai berikut. Pertama, diriwayatkan Abu Dawud, al-Nasa’i, Ibn Hibban, Ibn Jarir dari Ibn Abbas. Alkisah, ada seorang perempuan tidak punya anak. Ia berjanji pada dirinya bahwa sekiranya ia mempunyai anak, maka anaknya akan dijadikan seorang Yahudi. Ia tak akan membiarkan anaknya memeluk agama selain Yahudi. Dengan latar itu, ayat ini turun sebagai bentuk penolakan terhadap adanya pemaksaan dalam agama.
Kedua, ayat itu turun terkait peristiwa seorang laki-laki Anshar, Abu Hushain. Dikisahkan, Abu Hushain adalah seorang Muslim yang memiliki dua anak Kristen. Ia mengadu kepada Nabi, apakah dirinya boleh memaksa dua anaknya masuk Islam, sementara anaknya cenderung kepada Kristen. Ia menegaskan kepada Nabi, apakah dirinya akan membiarkan mereka masuk neraka. Dengan kejadian tersebut, turun firman Allah tadi yang melarang pemaksaan dalam urusan agama.
Dengan mengetahui sabab al-nuzûl tersebut, jelas bahwa pemaksaan dalam agama tak dibenarkan. Ibrahim al-Hafnawi menegaskan bahwa kebebasan beragama merupakan prinsip dasar ajaran Islam, sehingga tak ditemukan satu ayat pun dalam al-Qur’an atau sebuah hadits yang bertentangan dengan prinsip dasar ajaran ini. Pendapat senada dikemukakan Rasyid Ridla dalam Tafsir al-Qur’an al-Hakim. Karena keimanan merupakan pondasi agama yang esensinya adalah ketundukan diri, maka—menurut Ridla—ia tak bisa dijalankan dengan pemaksaan. Dengan ini bisa dikatakan, beriman bukan merupakan keharusan atau kewajiban sehingga perlu dipaksakan dari luar. Beriman merupakan pilihan, kesadaran dan ketundukan subyektif manusia atas ajaran-ajaran Allah.
Menjadi hak setiap orang untuk percaya bahwa agamanya benar. Namun, dalam waktu bersamaan, seseorang harus menghormati jika orang lain berpikiran serupa. Sebab, persoalan keyakinan merupakan perkara pribadi (qadliyah syahshiyyah) dari setiap orang, sehingga tak boleh ada paksaan. Jamal al-Banna dalam Hurriyah al-Fikr wa al-I’tiqad fi al-Islam menegaskan, Nabi hanya sekadar penyampai pesan. Dia tak punya kewenangan untuk memaksa. Allah berfirman dalam al-Qur’an (al-Ghasyiyah [88]: 21-22) “maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu adalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukan orang yang berkuasa atas mereka”. Di ayat lain Allah berfirman (QS, Yunus [10]: 99), ”Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu akan beriman semua orang yang ada di bumi seluruhnya. Maka apakah kamu hendak memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang beriman semuanya? Tak seorang pun akan beriman kecuali dengan ijin Allah”.
Abdul Karim Soroush membuat sebuah ilustrasi. Bahwa sebagaimana seseorang menghadapi kematian secara sendirian, maka ia pun memeluk agama secara individual. Setiap umat beragama memang melakukan aksi dan ritus komunal, tetapi bukan keimanan komunal. Jika ekspresi iman bersifat publik, maka esensi iman bersifat gaib dan privat. Bagi Soroush, wilayah iman seperti arena akhirat yang di dalamnya setiap orang dinilai satu-satu. Disebutkan, “Tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri”. Allah berfirman dalam al-Qur’an (Maryam [19]: 95) “wa kulluhum atihi yawm al-qiyamah farda”.
Tidak banyak manfaatnya memaksa seseorang memeluk suatu agama, kalau tidak diikuti kepercayaan dan keyakinan dari orang tersebut. Agama yang dipaksakan, menurut Jawdat Sa’id, sama dengan cinta yang dipaksakan. “Tidak ada agama dengan paksaan, sebagaimana tidak ada cinta dengan paksaan”. Memeluk suatu agama sejatinya harus diikuti dengan keyakinan yang mendalam terhadap ajaran yang ditetapkan agama itu. Bahkan, setiap orang punya hak memilih antara beragama atau tidak beragama. Nabi pernah menawari salah seorang budak perempuannya, Rayhanah binti Zaid, untuk masuk Islam. Namun, Rayhanah lebih memilih Yahudi sebagai agamanya. Nabi tak marah pada Rayhanah hingga akhirnya ia sendiri yang memutuskan masuk Islam. Ini sebuah teladan. Sebagai majikan pun Nabi tak memaksa budaknya mengikuti agama yang dianutnya.
Tidak dibolehkannya melakukan pemaksaan dalam agama ini bisa dimaklumi, karena Allah memposisikan manusia sebagai makhluk berakal. Dengan akalnya manusia bisa memilih agama yang terbaik buat dirinya. Allah berfirman (QS, al-Kahfi [18]: 29), “Katakanlah: “kebenaran datang dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang beriman, silahkan, dan barangsiapa yang ingin kafir, biarlah kafir. Ini berarti, manusia tak memiliki kewenangan menilai dan mengintervensi keimanan seseorang. Tuhan yang berhak menilai benar dan tidaknya keyakinan. Itu pun dilakukan di akhirat kelak. Allah berfirman (QS, al-Sajdah [32]: 25) “sesungguhnya Tuhanmu yang akan memberikan vonis terhadap perselisihan yang terjadi di antara mereka, nanti pada hari kiamat. Karena keimanan berpangkal pada keyakinan yang terpatri dalam hati, maka yang mengetahui hakekat keberimanan seseorang hanya Allah. Beriman adalah tindakan soliter. Iman merupakan bagian dari komitmen pribadi.
Meminjam terminologi ushul fikih, persoalan beriman dan tidak beriman merupakan haq Allah (hak Allah). Artinya, beriman dan tidak beriman merupakan urusan manusia secara individual dengan Tuhannya, Allah. Pilihan iman atau kufr merupakan tindakan privat-individual. Adalah hak setiap orang untuk kufr atau iman. Sebab, keimanan dan kekufuran tidak dipertanggungjawabkan kepada manusia, melainkan kepada Allah. Tanggung jawab berada di tangan yang bersangkutan dalam hubungannya dengan Allah. Seseorang tak akan dimintai pertanggungan jawab atas dosa orang lain. Demikian pula sebaliknya. Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an (Saba’ [34]: 25), ”katakanlah, kalian tak akan diminta mempertanggungjawabkan dosa-dosa kami. Kami pun tak akan mempertanggung jawabkan perbuatan-perbuatan kalian”.[]
13/02/2012 | Kolom, | #
http://www.islamlib.com
rere
Februari 16th, 2012 pada 06:15
Tepat sekali kalau begitu
Tiada paksaan dalam agama, dan tiada paksaan dalam islam.
Tafuik hidayah adalah hak Allah, bukan hak manusia, kalau ada yang memaksakan kehendak ber arti dia sudah melebihi kehendak Allah dan Nabi.
dan itu adalah sifat iblis.
semoga si “bemo..eh si bima” dan si ” ts “, sadar….he..he
ilmu dan kemampuan mu tumpul disini gak laku, kalau perlu panggil tuh gurumu sekalian kesini,
Rhatam
Mei 25th, 2012 pada 19:22
Hai bima/habib rieziq,memang kenapa dan apa masalahmu kalau semua manusia murtad dan tinggal kamu sendirian dimuka bumu ini yang beriman kepada Alloh?
Jangan memaksakan diri seolah2 agar supaya seperti pahlawan ya..
NEXT.......
Mei 26th, 2012 pada 00:58
pernah dialami oleh Nuh ‘Alaihissalam…..Subhanallah.,
termasuk rasul ulul azmi, rasul yg sangat sabar meskipun selalu dihina dan dihujat oleh umatnya yg membangkang.
ndableg
Mei 26th, 2012 pada 01:41
@NEXT…
jangan heran ya..aku dulu juga ikut nyari rumput buat hewan2 yang turun dari perahu.
prahunya nuh tuh berhentinya di maluku. tahu nggak? apa sebabnya?
nggak tahu kan…..aku juga nggak akan ngasih tahu. hu…huuu…haaa