KEJAWEN ; Ajaran Luhur Yang Dicurigai & Dikambinghitamkan
KEJAWEN
“Permata” Asli Bumi Nusantara yang Selalu Dicurigai
Dan Dikambinghitamkan
Kearifan Lokal yang Selalu Dicurigai
Ajaran kejawen, dalam perkembangan sejarahnya mengalami pasang surut. Hal itu tidak lepas dari adanya benturan-benturan dengan teologi dan budaya asing (Belanda, Arab, Cina, India, Jepang, AS). Yang paling keras adalah benturan dengan teologi asing, karena kehadiran kepercayaan baru disertai dengan upaya-upaya membangun kesan bahwa budaya Jawa itu hina, memalukan, rendah martabatnya, bahkan kepercayaan lokal disebut sebagai kekafiran, sehingga harus ditinggalkan sekalipun oleh tuannya sendiri, dan harus diganti dengan “kepercayaan baru” yang dianggap paling mulia segalanya. Dengan naifnya kepercayaan baru merekrut pengikut dengan jaminan kepastian masuk syurga. Gerakan tersebut sangat efektif karena dilakukan secara sistematis mendapat dukungan dari kekuatan politik asing yang tengah bertarung di negeri ini.
Selain itu “pendatang baru” selalu berusaha membangun image buruk terhadap kearifan-kearifan lokal (baca: budaya Jawa) dengan cara memberikan contoh-contoh patologi sosial (penyakit masyarakat), penyimpangan sosial, pelanggaran kaidah Kejawen, yang terjadi saat itu, diklaim oleh “pendatang baru” sebagai bukti nyata kesesatan ajaran Jawa. Hal itu sama saja dengan menganggap Islam itu buruk dengan cara menampilkan contoh perbuatan sadis terorisme, menteri agama yang korupsi, pejabat berjilbab yang selingkuh, kyai yang menghamili santrinya, dst.
Tidak berhenti disitu saja, kekuatan asing terus mendiskreditkan manusia Jawa dengan cara memanipulasi atau memutar balik sejarah masa lampau. Bukti-bukti kearifan lokal dimusnahkan, sehingga banyak sekali naskah-naskah kuno yang berisi ajaran-ajaran tentang tatakrama, kaidah, budi pekerti yang luhur bangsa (Jawa) Indonesia kuno sebelum era kewalian datang, kemudian dibumi hanguskan oleh para “pendatang baru” tersebut. Kosa kata Jawa juga mengalami penjajahan, istilah-istilah Jawa yang dahulu mempunyai makna yang arif, luhur, bijaksana, kemudian dibelokkan maknanya menurut kepentingan dan perspektif subyektif disesuaikan dengan kepentingan “pendatang baru” yang tidak suka dengan “local wisdom”. Akibatnya; istilah-istilah seperti; kejawen, klenik, mistis, tahyul mengalami degradasi makna, dan berkonotasi negatif. Istilah-istilah tersebut “di-sama-makna-kan” dengan dosa dan larangan-larangan dogma agama; misalnya; kemusyrikan, gugon tuhon, budak setan, menyembah setan, dst. Padahal tidak demikian makna aslinya, sebaliknya istilah tersebut justru mempunyai arti yang sangat religius sbb;
Klenik : merupakan pemahaman terhadap suatu kejadian yang dihubungkan dengan hukum sebab akibat yang berkaitan dengan kekuatan gaib (metafisik) yang tidak lain bersumber dari Dzat tertinggi yakni Tuhan Yang Maha Suci. Di dalam agama manapun unsur “klenik” ini selalu ada.
Mistis : adalah ruang atau wilayah gaib yang dapat dirambah dan dipahami manusia, sebagai upayanya untuk memahami Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam agama Islam ruang mistik untuk memahami sejatinya Tuhan dikenal dengan istilah tasawuf.
Tahyul : adalah kepercayaan akan hal-hal yang gaib yang berhubungan dengan makhluk gaib ciptan Tuhan. Manusia Jawa sangat mempercayai adanya kekuatan gaib yang dipahaminya sebagai wujud dari kebesaran Tuhan Sang Maha Pencipta. Kepercayaan kepada yang gaib ini juga terdapat di dalam rukun Islam.
Tradisi : dalam tradisi Jawa, seseorang dapat mewujudkan doa dalam bentuk lambang atau simbol. Lambang dan simbol dilengkapi dengan sarana ubo rampe sebagai pelengkap kesempurnaan dalam berdoa. Lambang dan simbol juga mengartikan secara kias bahasa alam yang dipercaya manusia Jawa sebagai bentuk isyarat akan kehendak Tuhan. Manusia Jawa akan merasa lebih dekat dengan Tuhan jika doanya tidak sekedar diucapkan di mulut saja (NATO: not action talk only), melainkan dengan diwujudkan dalam bentuk tumpeng, sesaji dsb sebagi simbol kemanunggalan tekad bulat. Maka manusia Jawa dalam berdoa melibatkan empat unsur tekad bulat yakni hati, fikiran, ucapan, dan tindakan. Upacara-upacara tradisional sebagai bentuk kepedulian pada lingkungannya, baik kepada lingkungan masyarakat manusia maupun masyarakat gaib yang hidup berdampingan, agar selaras dan harmonis dalam manembah kapada Tuhan. Bagi manusia Jawa, setiap rasa syukur dan doa harus diwujudkan dalam bentuk tindakan riil (ihtiyar) sebagai bentuk ketabahan dan kebulatan tekad yang diyakini dapat membuat doa terkabul. Akan tetapi niat dan makna dibalik tradisi ritual tersebut sering dianggap sebagai kegiatan gugon tuhon/ela-elu, asal ngikut saja, sikap menghamburkan, dan bentuk kemubadiran, dst.
Kejawen : berisi kaidah moral dan budi pekerti luhur, serta memuat tata cara manusia dalam melakukan penyembahan tertinggi kepada Tuhan Yang Maha Tunggal. Akan tetapi, setelah abad 15 Majapahit runtuh oleh serbuan anaknya sendiri, dengan cara serampangan dan subyektif, jauh dari kearifan dan budi pekerti yg luhur, “pendatang baru” menganggap ajaran kejawen sebagai biangnya kemusyrikan, kesesatan, kebobrokan moral, dan kekafiran. Maka harus dimusnahkan. Ironisnya, manusia Jawa yang sudah “kejawan” ilang jawane, justru mempuyai andil besar dalam upaya cultural assasination ini. Mereka lupa bahwa nilai budaya asli nenek moyang mereka itulah yang pernah membawa bumi nusantara ini menggapai masa kejayaannya di era Majapahit hingga berlangsung selama lima generasi penerus tahta kerajaan.
Ajaran Tentang Budi Pekerti, Menggapai Manusia Sejati
Dalam khasanah referensi kebudayaan Jawa dikenal berbagai literatur sastra yang mempunyai gaya penulisan beragam dan unik. Sebut saja misalnya; kitab, suluk, serat, babad, yang biasanya tidak hanya sekedar kumpulan baris-baris kalimat, tetapi ditulis dengan seni kesusastraan yang tinggi, berupa tembang yang disusun dalam bait-bait atau padha yang merupakan bagian dari tembang misalnya; pupuh, sinom, pangkur, pucung, asmaradhana dst. Teks yang disusun ialah yang memiliki kandungan unsur pesan moral, yang diajarkan tokoh-tokoh utama atau penulisnya, mewarnai seluruh isi teks.
Pendidikan moral budi pekerti menjadi pokok pelajaran yang diutamakan. Moral atau budi pekerti di sini dalam arti kaidah-kaidah yang membedakan baik atau buruk segala sesuatu, tata krama, atau aturan-aturan yang melarang atau menganjurkan seseorang dalam menghadapi lingkungan alam dan sosialnya. Sumber dari kaidah-kaidah tersebut didasari oleh keyakinan, gagasan, dan nilai-nilai yang berkembang di dalam masyarakat yang bersangktan. Kaidah tersebut akan tampak dalam manifestasi tingkah laku dan perbuatan anggota masyarakat.
Demikian lah makna dari ajaran Kejawen yang sesungguhnya, dengan demikian dapat menambah jelas pemahaman terhadap konsepsi pendidikan budi pekerti yang mewarnai kebudayaan Jawa. Hal ini dapat diteruskan kepada generasi muda guna membentuk watak yang berbudi luhur dan bersedia menempa jiwa yang berkepribadian teguh. Uraian yang memaparkan nilai-nilai luhur dalam kebudayaan masyarakat Jawa yang diungkapkan diatas dapat membuka wawasan pikir dan hati nurani bangsa bahwa dalam masyarakat kuno asli pribumi telah terdapat seperangkat nilai-nilai moralitas yang dapat diterapkan untuk mengangkat harkat dan martabat hidup manusia.
Dua Ancaman Besar dalam Ajaran Kejawen
Dalam ajaran kejawen, terdapat dua bentuk ancaman besar yang mendasari sikap kewaspadaan (eling lan waspada), karena dapat menghancurkan kaidah-kaidah kemanusiaan, yakni; hawanepsu dan pamrih. Manusia harus mampu meredam hawa nafsu atau nutupi babahan hawa sanga. Yakni mengontrol nafsu-nafsunya yang muncul dari sembilan unsur yang terdapat dalam diri manusia, dan melepas pamrihnya.
Dalam perspektif kaidah Jawa, nafsu-nafsu merupakan perasaan kasar karena menggagalkan kontrol diri manusia, membelenggu, serta buta pada dunia lahir maupun batin. Nafsu akan memperlemah manusia karena menjadi sumber yang memboroskan kekuatan-kekuatan batin tanpa ada gunanya. Lebih lanjut, menurut kaidah Jawa nafsu akan lebih berbahaya karena mampu menutup akal budi. Sehingga manusia yang menuruti hawa nafsu tidak lagi menuruti akal budinya (budi pekerti). Manusia demikian tidak dapat mengembangkan segi-segi halusnya, manusia semakin mengancam lingkungannya, menimbulkan konflik, ketegangan, dan merusak ketrentaman yang mengganggu stabilitas kebangsaan
NAFSU
Hawa nafsu (lauwamah, amarah, supiyah) secara kejawen diungkapkan dalam bentuk akronim, yakni apa yang disebut M5 atau malima; madat, madon, maling, mangan, main; mabuk-mabukan, main perempuan, mencuri, makan, berjudi. Untuk meredam nafsu malima, manusia Jawa melakukan laku tapa atau “puasa”. Misalnya; tapa brata, tapa ngrame, tapa mendhem, tapa ngeli.
Tapa brata ; sikap perbuatan seseorang yang selalu menahan/puasa hawa nafsu yang berasal dari lima indra. Nafsu angkara yang buruk yakni lauwamah, amarah, supiyah.
Tapa ngrame; adalah watak untuk giat membantu, menolong sesama tetapi “sepi” dalam nafsu pamrih yakni golek butuhe dewe.
Tapa mendhem; adalah mengubur nafsu riak, takabur, sombong, suka pamer, pamrih. Semua sifat buruk dikubur dalam-dalam, termasuk “mengubur” amal kebaikan yang pernah kita lakukan kepada orang lain, dari benak ingatan kita sendiri. Manusia suci adalah mereka yang tidak ingat lagi apa saja amal kebaikan yang pernah dilakukan pada orang lain, sebaliknya selalu ingat semua kejahatan yg pernah dilakukannya.
Tapa ngeli, yakni menghanyutkan diri ke dalam arus “aliran air sungai Dzat”, yakni mengikuti kehendak Gusti Maha Wisesa. “Aliran air” milik Tuhan, seumpama air sungai yang mengalir menyusuri sungai, mengikuti irama alam, lekuk dan kelok sungai, yang merupakan wujud bahasa “kebijaksanaan” alam. Maka manusia tersebut akan sampai pada muara samudra kabegjan atau keberuntungan. Berbeda dengan “aliran air” bah, yang menuruti kehendak nafsu akan berakhir celaka, karena air bah menerjang wewaler kaidah tata krama, menghempas “perahu nelayan”, menerjang “pepohonan”, dan menghancurkan “daratan”.
PAMRIH
Pamrih merupakan ancaman ke dua bagi manusia. Bertindak karena pamrih berarti hanya mengutamakan kepentingan diri pribadi secara egois. Pamrih, mengabaikan kepentingan orang lain dan masyarakat. Secara sosiologis, pamrih itu mengacaukan (chaos) karena tindakannya tidak menghiraukan keselarasan sosial lingkungannya. Pamrih juga akan menghancurkan diri pribadi dari dalam, kerana pamrih mengunggulkan secara mutlak keakuannya sendiri (istilahnya Freud; ego). Karena itu, pamrih akan membatasi diri atau mengisolasi diri dari sumber kekuatan batin. Dalam kaca mata Jawa, pamrih yang berasal dari nafsu ragawi akan mengalahkan nafsu sukmani (mutmainah) yang suci. Pamrih mengutamakan kepentingan-kepentingan duniawi, dengan demikian manusia mengikat dirinya sendiri dengan dunia luar sehingga manusia tidak sanggup lagi untuk memusatkan batin dalam dirinya sendiri. Oleh sebab itu pula, pamrih menjadi faktor penghalang bagi seseorang untuk mencapai “kemanunggalan” kawula gusti.
Pamrih itu seperti apa, tidak setiap orang mampu mengindentifikasi. Kadang orang dengan mudah mengartikan pamrih itu, tetapi secara tidak sadar terjebak oleh perspektif subyektif yang berangkat dari kepentingan dirinya sendiri untuk melakukan pembenaran atas segala tindakannya. Untuk itu penting Sabdalangit kemukakan bentuk-bentuk pamrih yang dibagi dalam tiga bentuk nafsu dalam perspektif KEJAWEN :
- Nafsu selalu ingin menjadi orang pertama, yakni; nafsu golek menange dhewe; selalu ingin menangnya sendiri.
- Nafsu selalu menganggap dirinya selalu benar; nafsu golek benere dhewe.
- Nafsu selalu mementingkan kebutuhannya sendiri; nafsu golek butuhe dhewe. Kelakuan buruk seperti ini disebut juga sebagai aji mumpung. Misalnya mumpung berkuasa, lantas melakukan korupsi, tanpa peduli dengan nasib orang lain yang tertindas.
Untuk menjaga kaidah-kaidah manusia supaya tetap teguh dalam menjaga kesucian raga dan jiwanya, dikenal di dalam falsafah dan ajaran Jawa sebagai lakutama, perilaku hidup yang utama. Sembah merupakan salah satu bentuk lakutama, sebagaimana di tulis oleh pujangga masyhur (tahun 1811-1880-an) dan pengusaha sukses, yang sekaligus Ratu Gung Binatara terkenal karena sakti mandraguna, yakni Gusti Mangkunegoro IV dalam kitab Wedhatama (weda=perilaku, tama=utama) mengemukakan sistematika yang runtut dan teratur dari yang rendah ke tingkatan tertinggi, yakni catur sembah; sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, sembah rasa. Catur sembah ini senada dengan nafsul mutmainah (ajaran Islam) yang digunakan untuk meraih ma’rifatullah, nggayuh jumbuhing kawula Gusti. Apabila seseorang dapat menjalani secara runtut catur sembah hingga mencapai sembah yang paling tinggi, niscaya siapapun akan mendapatkan anugerah agung menjadi manusia linuwih, atas berkat kemurahan Tuhan Yang Maha Kasih, tidak tergantung apa agamanya.
sabdalangit















Raden Kuswanto said,
April 22, 2009 at 9:33 pm
NB. Lagi
Sangatlah jarang sebuah pusaka/keris yang didalamnya terdapat 3 nur/cahaya/dewa dan juga tidak ada khadam penghuni lain selain nur tersebut. Ia tertidur beratus-ratus tahun lamanya.
Nur tersebut bisa juga diibaratkan sebuah kendaraan, bukankah Buraq (yang digambarkan sebagai kuda bersayap) itu juga nur kendaraan yang membawa Nabi Muhammad SAW.
Memang banyak manusia yang berkolaborasi dengan bangsa jin sebagai kendaraan, contohnya dengan KM (Kantong Macan), RB (Rantai Babi) atau jin yang lainnya. Tetapi saya menganjurkan agar jangan memakai alat tersebut, karena tentunya di kemudian hari ia akan minta balasan/upah. Dan bukankah manusia itu makhluk yang sempurna.
Kang Mas Sabda Langit dan sedulur-sedulur, mohon tanggapan tentang hal ini.
Nuwun
sabdalangit said,
April 22, 2009 at 10:54 pm
@Ki Sapto Renggo Yth
Dengan senang hati saya sambut kehadiran panjenengan, sebagai org yang sama-sama mencintai bumi pertiwi. Terimakasih anda sudah berkenan mbabar kawruh di sini, sehingga dapat diambil nilai-nilai yang baik dan bermanfaat.
Hanya ada sedikit yang mungkin perlu saya sampaikan kepada seluruh pembaca yang budiman :
Marilah kita bangun nusantara, bahkan mungkin dunia ini dengan bekal utama yakni WELAS ASIH marang sepodo-podo, saling ASAH ASIH ASUH kepada sesama agar tercipta ketentraman, kedamaian. Agar terwujud kesejahteraan lahir dan batin. Kita tinggalkan tradisi, pola pikir, mind set lama yang hanya cenderung membangun rasa kebencian terhadap suatu suku bangsa. Ini tidak adil utk kita sendiri maupun bangsa lain yg menjadi “kambing hitam”.
Biarkan orang Yahudi, biarkan orang Arab, Amerika, toh mereka semua makhluk ciptaan tuhan. Saya yakin tuhan Maha Adil dan Bijaksana, tdk akan mencipta suatu suku bangsa tertentu di dunia ini yang lahir ke bumi untuk menjadi penjahat dan iblis laknat. Kemuliaan,kesucian maupun kehinaan dan kekotoran manusia TIDAK DITENTUKAN TUHAN, melainkan ditentukan oleh manusianya sendiri.
Cara pandang seperti itu saya anggap sebagai kesalahan pola pikir manusia yakni;
1. Mengkambinghitamkan IBLIS.
2. Mengkambinghitamkan bangsa Yahudi.
Iblis itu ada dalam diri kita sendiri. Iblis bukan mahluk gaib gentayangan melainkan kiasan dari nafsu kita. Bukankah iblis itu NAR, nar itu API, api itu KE-AKU-AN, ke-aku-an adalah nafsu negatif manusia.
Yahudi dicap sebagai bangsa yg jahat, dalam pandangan jawa, kejahatan manusia itu bukan ditentukan oleh suku, ras, atau bangsanya. Kejahatan tergantung oleh perbuatan kita sendiri apakah baik atau buruk.
Prinsip dasar saya pribadi : TUHAN TIDAK PRIMORDIAL, TIDAK KESUKUAN/ETNOSENTRIS, TIDAK RASISME, karena tuhan maha adil dan bijak, mahaluas tak terbatas. Menciptakan seluruh bayi umat manusia pada awalnya dengan kondisi suci. Jika manusia menjadi kotor dan jahat semata karena perbuatan masing2 dan tdk tergantung suku dan bangsanya.
Mengenai SIFAT & WATAK orang Indonesia; ada satu yg harus saya ralat, bahwa orang jawa, nusantara, indonesia yang belum KAJAWAN, justru tidak akan memiliki sikap FANATIK, sebaliknya memiliki sikap teleransi tinggi. fanatisme adalah budaya dan tradisi “impor” dari kebiasaan/custom anasir asing.
@Raden Kuswanto Yth
Mohon maaf yg sebesarnya, saya kurang mengerti dan menguasai apa yg panjenengan sampaikan soal penyatuan 3 atau 4 cahya dalam pusaka tsb. Kalau tentang CUPU PANJALA memang tdk jauh dari lokasi saya tinggal. Namun saya kurang mengenal nama-nama yg panjenengan sampaikan tsb. Cupu Panjala ada di Panggang Kab Gunung Kidul, dari makam Imogiri naik lewat Bantul. Cupu tsb masih di bawah otoritas Kraton Nagyogyakarta, dan yang merawat menyimpan masih menjabat sebagai abdi dalem kraton Ngayogyakarta pula.
Mengenai hubungannya dengan SP, saya lebih mempercayai berbagai sanepan dan kiasan dalam serat jangka. Seperti senjata trisula wedha dsb merupakan kiasan dari bentuk “lakuning ngaurip”. Apalagi dalam ajaran “lakutama” filsafat hidup KEJAWEN, kasekten/kesaktian yg sejati diraih melalui dengan olah perbuatan sehari-hari alias tdk bisa instan. Laku yg harus ditempuh misalnya tapa ngrame, tapa ngeli, kuat lara wirang, tapa mendem (mengubur jasa baik/amal baik kita dari ingatan agar tdk mengungkit2 kebaikan yg pernah kita lakukan pada sesama).
Semua tapa-tapa di atas dalam arti kias. Misalnya tapa ngrame; rame ing gawe/menolong/membantu sesama, namun sepi ing pamrih (tulus ikhlas). Kebaikan kpd sesama seumpama menanam pohon kebaikan, yg akan berbuah kebaikan pula. Manusia Jawa hrs memiliki SOLAH (perilaku jasad) dan BAWA (perilaku batin) yg sinkron dan sinergis antara jagad kecil dan jagad besar sehingga tidak melawan kodrat/hukum alam atau kodrat/hukum tuhan.
Mengenai pusaka; yg bisa saya pahami dari pusaka hanyalah sebagai media interaksi antara leluhur dgn anak turun. Shg pusaka bermanfaat sbg “sipat kandel” yg memegang. Ada pula benda2 keramat alamiah, mengandung energi bumi seperti MD.
Maaf atas segala keterbatasan saya.
salam sejati utk para sedulur kabeh….
rahayu ingkang samya pinanggih.
sogo sosha said,
October 17, 2009 at 3:46 am
ha..ha..ha.. pandai sekali bersilat lidah,salah satu ciri orang munafik, menyapa dengan tutur kata yang manis didepan untuk mengkofirmasi dan meyakinkan apa yang ingin diutarakan kemudian ditengah2 keliatan sudah maksud sebenarnya, Ya Allah, ampunilah orang ini. amin, dan ditutup dengan kata2 yang sangat manis dengan memohon maaf segala atas segala keterbatasan…salam sejati he..he..he…pandai…pandai…hebat..hebat..salut dah..tapi sedih juga otak cemerlang yang anda miliki hanya untuk menghasut dan memojokkan islam.
Salam hangat
==================
sogo sosha yth
Biasakan utk membuka diri dan pikiran, gunakan kebersihan hati, serta kebeningan batin. Ilmu sejati tidak hanya sekedar yakin, tapi akan anda rasakan dan saksikan sendiri. Sebab dgn cara seperti itulah anda akan mencapai wushul. Masuk ke dalam relung sajjaratul makrifat.
salam sejati
Afiadi
Sego Liwet said,
October 17, 2009 at 4:15 pm
e..ee…eee ada yang salah tangkap tuh… belum di baca dan di cerna secara keseluruhan sudah menjatuhkan Vonis… hmmm.
Kalo pemahaman saya justru Mas Sabda itu memberikan wacana atau cara pandang dari sudut kejawen (Ingat: kejawen bukan Agama tapi cara pandang orang Jawa/Nusantara dalam memahami nilai-nilai Agama) lha kok malah di tuduh menyudutkan Islam. Emang Islam harus di lihat dan di pahami dari sudut pandang syariat saja atau Suku Bangsa tertentu…
o..oo .. ini justru yang narsis puoolll hehehe… ya Allah tunjukan jalan dan ampunilah Manusia yang sudah merasa dirinya paling benar dan paling bersih, saya sadar-sesadar-sadarnya sesungguhnya di tanganmulah kebenaran sejati itu berada…
Kita ini hanya sama-sama ciptaan Allah/Tuhan… lha kok mau ngaku paling bener, paling bersih dan yang bakal masuk surga dll… cape dehh
Emangnya dari koment Mas Sabdo di atas ada yang menyudutkan atau memojokan Islam (dalam arti agama)…
mungkin jika ada kritikan bukan terletak pada Agamanya tapi pada individunya atau pemeluknya yang menurut pengamatan Mas Sabda di rasa telah berbuat lepas kontrol, lepas dari kaidah ke Islam yang sesungguhnya… silahken saudara baca lagi apa yang ada di blog ini dengan cermat dan saudara renungken dalam ketenangan jiwa anda terlebih dahulu sebelum saudara mengeluarkan pendapat… hehehe
Jika ada yang salah dan tidak berkenan mohon di maafkan…
Kagem mas Sabda Semangat
Salam Sejati
Brahmono sisno said,
April 29, 2009 at 11:16 am
beberapa hari ini saya baca tentang kejawen rasanya ko saya suka trus mudah masuk di pahami nya serta tidak bertentangan dgn hati ini saya sendiri lahir besar di bandung tapi darah jawa mungkin masih kuat ya
ari said,
April 29, 2009 at 4:48 pm
Salam,
Kang mas sabdalangit, para sesepuh & semua sahabat saya ucapkan salam kenal. semoga perkenalan ini menjadi pertemuan yg didasari oleh Niat yg Suci, Tekad yg Tulus & Hati yg Ikhlas untuk menyongsong Indonesia Jaya. Amiin.
Semoga berawal dari :
1 lidi maka nantinya menjadi Sapu Lidi….. ( Bersatu dlm 1 ikatan Bumi Pertiwi )
” Sebuah IMPIAN mampu MEMBERI SEMANGAT Sebuah IDE mampu MENGUBAH DUNIA Sebuah LANGKAH mampu MENGELILINGI DUNIA Sebuah TULISAN mampu MENGUKIR SEJARAH ”
W.salam
sabdalangit said,
April 29, 2009 at 6:43 pm
Salam kenal kembali Kang Ari Yth,
Senang bertambah saudara dengan anda, semoga apa yg menjadi harapan kita semua bisa terwujud seiring perjalanan waktu.
salam sejati
sikapsamin said,
May 15, 2009 at 8:45 am
ayo sakabeh sedulur tunggal-sikep bebarengan menyang tlatah SANGIRAN…..
bebarengan neng…ning…nung…
nemoni jati-diri sejatine dewe…
tumungkul sukur marang titah/fitrah-e dewe…
anggembleng ’sikap’ sejatining bangsa nkri…
ayo…bebarengan manunggal-sikep…….
Rahayu…..
broto wiryono said,
May 19, 2009 at 11:52 am
Dimas Sabdo Langit…
Ruang ini sangat diperlukan termasuk wadah untuk memetri tradisi, sastra, budaya Jawa. Setelah membolak-balik di web ini (mungkin) belum ada adalah kolom/artikel yang mencatat semua japa mantra beserta laku, kegunaan, baik apa yang disebut putih/hitam yang dipakai oleh nenek-moyang kita dulu, seperti: kanuragan/katosan, jaya kasantikan, pengasihan, pusaka. dsb-dsb.
Begitu dulu mohon responnya.
hartono said,
June 6, 2009 at 1:32 pm
mas sabdo,
salut, anda menulis bab ini kok semangat banget di banding bab lain. biasa ajalah wong semuanya dah ketentuan Tuhan
salam
wahy said,
June 9, 2009 at 9:43 pm
terimakasih blog ini sgt membantu sy mempelajari banyak hal ttg keluhuran ajaran kejawen.. ,jika diperkenankan sy mohon info tempat dimana sy bisa belajar langsung lewat padepokan ato guru mursyid kejawen.. utk daerah jogja ato solo.. , terimakasih
sabdalangit said,
June 9, 2009 at 10:57 pm
MAs Wahy Yth
silahkan kontak via email saya, ada di media tanya jawab. Panjenengan di Jogja atau Solo ?
salam sih katresnan
kiki soebiyanto said,
June 12, 2009 at 12:51 am
Salamm hormat & salam kenal
Padepokan kejawen di Surabaya apa ada yg bisa mas refferensikan untuk saya mas…?
Matur nuwun….
Dalbo said,
June 12, 2009 at 8:58 am
Aduh.. Pak dhe Sabdo, aku sempat menagis selama mbaca tulisan ini,( maaf aku masih gembeng) aku setuju apa yg di kata Om Hartono, tulisan ini lebih semangat, sudah bertahun2 aku merenung menggagas, metani, men-cari2 ber-tanya2 kok kenapa Manusia Jawa ini gampang sekali,dijajah, mulai penjajahan Fisik oleh belanda sampai penjajahan batin & Budaya oleh Faham2 asing, Amerika, Arab,hindia. sampai kita sendiri Manusia Jawa menjadi sering merenmdahkan Martabat kita sendiri,padahal kalau di tilik kembali konsep2 Jawa itu bukan main Luhurnya, apa toh Pak De kelemahan2 kita, saya yakin kita ini juga punya kelemahan2 seiring dengan kelebihan2 kita. apakah karena manusia Jawa itu terlalu bertoleransi yg tinggi, sehingga siapapun &apapun yg masuk kita terima, lalu berlanjut merajalela, mohon Pak De Sabdo sudi membantu saya mencari Jawaban
elfan said,
June 18, 2009 at 4:16 pm
Manusia terdiri dari tiga kekuatan yang saling keterkaitannya, yakni:
Roh adalah potensi yang dianugerahi dan dimasukkan Tuhan, Allah SWT pada jasad, tubuh manusia.
Jasad adalah potensi fisik, materi nyata yang berasal dari saripati tanah.
Jiwa atau nafs adalah akibat adanya pertemuan kedua unsur di atas menjadi suatu potensi yang menghidupkan semua organ tubuh manusia. Sifat jiwa atau nafs ini netral diantara kedua unsur roh dan jasad tadi, sehingga jiwa ini bisa positif dan bisa negatif. Jiwa positif jika dia (jiwa) cendrung ke unsur roh itulah jiwa yang muthmainah. Tapi, jika dia (jiwa) cendrung yang manusiawi berarti jiwa agak dipengaruhi ke jasad maka jadilah dia jiwa yang lawwamah. Dan, yang parah bila jiwa cendrung ke jasad yang berlebihan, maka jadilah jiwa amarah.(QS. 89:27, 75:2 dan 12:53)
bobo solo said,
June 24, 2009 at 10:14 pm
salam kenal semuanya,semua tlah tertulis dan akan terjadi nanti hanyalah sang sutradara yg mengerti, kita manusia hanya menjalani,mungkin kita2 ini orang yg sedang belajar dari salah menjadi benar ,dari buruk menjadi baik,dari bodoh menjadi pintar,dan seterusnya
Ki goler ( Mama asep ) said,
June 29, 2009 at 10:48 am
Oke ki aku setuju oran sekarang telah telupakan sejarah kejayaan masa lalu.menganggapnya ajaran yang baru lebih menjanjikan padahal semua itu tergantung manusianya.mampu dan bisa gak mencapai kesana lagian ki kalau orang dulu memperdalam ilmu agama seperti yang aki bilang bertapa.macam macam tapa di lakoni, kalau orang sekarang meperdalam ilmu di jakarta kalau umat nya banyak itulah tolak ukurnya, berarti kaya banyak panggilannya dan mudah ngebohongin orang biar orang itu takut.jadi masuk ajarannya………….! padahal semua itu tergantung apa yang kita tanam kalau kita tanam kebaikan akan kita hasilkan kebaikan, dan kalau kita tanam kejahatan di jahatin sama orang juga heeeee…
salam kenal ki dari mama asep(Ki Goler )
Padepokan Awas Paningal Langlang Buana Gunung Salak Bogor
Kriswinanto said,
June 30, 2009 at 5:52 pm
Mas Sabdo Langit, Orang yang berbudhi pekerti di negeri ini bisa dihitung dengan jari, dulu seorang raja mojopahit sing wis kondang kaloko punya abdi setianya Sabdo Palon Noro Genggong dimana pun sang prabu berada. Ketika Sang abdi diajak masuk Islam (maaf) Penguasa danyang se jawa sempat marah ‘ saya akan meninggalkan paduka, saya akan mengahancurkan jawa dengan lahar dan akan menyebarkan ajaran budi” itulah sedikit perbedaan prinsip, benar tidaknya ancaman kita sendiri yang tau bagaimana tanah nuswantoro. saat ini. trm
Ki goler ( Mama asep ) said,
July 2, 2009 at 8:35 pm
Mas sabdo langit saya punya pengalaman di bali bersama kawan saya,
ketika saya di utus oleh penguasa pajajaran ( Prabu siiwangi ) untuk melakukan pemeriksaan beberapa pure di bali .kami di utus untuk mengambil baju alif yang ada di pure batur. dan menurut pemangku pure di sana,bahwa banyak orang spiriual ingin mendapatkan pusaka cakra buana namun secara kebetulan ketika kami melakukan semedi dan atas petunjuk beliau ( prabu siliwangi ) dan di temani oleh para pemangku pure tsb. kawan kami mengambil posisi dan secara tidak di duga sinar yang menyilaukan masuk melalui telunjuk dia, dan menurut pemangku di sana itulah pewaris cakra buana yang selama ini selalu di incar oleh para pelaku spiritual di seluruh nusantara ini untuk mendapatkan pusaka tersebut.saya ke sana bersama 4 orang kawan saya .dan saya 3 orang dari jawa barat 1 orang dari bali. coba aki terawang kawan ini namanya
jaya laksana .makasih
SABDALANGIT said,
July 3, 2009 at 12:04 am
@Mas Kiki Soebiyanto Yth
barangkali Mas Kiki bisa kontak ke Mas Kumitir, beliau saya kira lebih tahu padepokan mana yg ada di Surabaya. Nuwun
@Mas Kriswinanto Yth
Ya Mas, saya kira hal itu bukanlah omong kosong atau semaca gertak sambal.
@Ki Goler (mama Asep) Yth
Mohon dikirim nama lengkap dan nama ibu kandung ybs. Karena dalam ranah gaib, mutlak diperlukan kedua data tsb, bila kita belum pernah sama sekali bertemu. Bila ada yg bisa melakukan dengan tanpa kedua data di atas, saya yakin yg muncul hanyalah imajinasi pribadi yg berbau perkiraan logis saja. Kecuali kita pernah bertemu langsung.
Karena, mengetahui secara detil dan akurat harus bertanya langsung dengan “sing momong” yg bersangkutan. Jadi kita tak boleh menebak, apalagi berhubungan dengan perihal yg sangat krusial.
nuhun
Wilujeng Rahayu
Kriswinanto said,
July 3, 2009 at 2:02 pm
Mas Sabdolangit, saya punya kebiasaan sejak umur 18 th tidur malam diatas jam 01, bangun tidur jam 05, bukan karena begadang dll. Tapi baca pitutur jawa apa saja yang dibaca, yg jelas nambah pengalaman. Baru jam 24.30 saya meditasi ngaturaken sembah sujud dumateng Gusti Kang Hakaryo Jagad ingkang sampun paring nugroho dumateng kawulo. Kulo sering nglakoni tirakat (poso weton, poso melek lan poso mangan) tujuan saya bisa intropeksi diri menahan amarah sekaligus memberi dorongan spiritual kpd anak, istri saya.
Saya punya orang tua didaerah Jatim, di ajari tentang halhal berkaitan dengan pititur jowo “Berbudhi Bowo Leksono” serta di ajari cara melihat+kontak dg sedulur sejati, yg sebelumnya diawali dg puasa dan hafalan. Beliau blg “tidak mudah untuk mendatangkan sedulur kakang kawah adi ari-ari, ada yg 5 bln, 1 th sampai 4 th belum bisa. Tapi kalau Gusti ngijabani, 3 X melakukan sudah bisa. Saya sudah mencoba 3 x untuk kontak, yg terakhir pas weton saya sekitar jam 02 dan sorenya jam 16 sedulur saya datang ke rumah dan menyapa, saya sempat kaget karena bentuk dan caranya bicara persis saya. 4 th yg lalu ada 2 orang yang mengatakan pada saya, saat saya ngantar teman berobat bukan ke dokter. Mengatakan begini ” Sampean kuwi wis ono bakat, lan katunggonan wahyu, bisa terlihat pancaran sinar putih neng duwere sirah tinuju teng dhuwur (nugroho saking Allah, ora ono menungso sopo wae sing biso ngilangi, kacobo Allah piyambak sing ngersak-ake). Pada th 2006 ada seorang tokoh agama tertentu di jatim (orangnya tidak dayani) mengatakan hal yang sama, katanya, “kuwi wahyu sing ora biso dijaluk/ direbut sopo wae, sampean katunggonan roh saking Gusti (Gusti Kang Murbening dumadi), kenapa bukan saudara anda yg menerima wahyu itu ? Itu Rahasianya Tuhan. …. tidak manusia satupun yang tahu.
Mas Sabdo langit kejadian dialam jagat raya yang penuh dg misteri serta bernuasa mistik saya (tidak pamer) bisa merasakan dari aura negatifnya. Meski ada orang yg mengatakan saya (seperti yg saya critakan diatas) tapi saya tetap tidak apa-apanya (seperti debu) dihadapan Allah, dan saya selalu melakukan ajaran budi dalam kehidupan sehari hari. Bagi saya shering ini, bukan berarti saya minta pengakuhan/ nyombongke diri, tetapi semata-mata saling tukar pengalaman dengan teman yang lain, suwun
Sabdalangit said,
July 3, 2009 at 7:17 pm
Mas Kriswinanto yth
Terimakasih sebesarnya sdh berkenan berbagi pengalaman. Krn sangat bermanfaat utk rekan-rekan yg lain menambah referensi dan komparasi. Ini sangat penting utk wahana belajar bersama dan saling mengisi.
Ilmu sejati tdk akan membuat takabur, sebaliknya justru menyadarkan kita betapa luas tiada batas ilmu Tuhan. Sehingga seperti yg anda alami justru membuat diri terasa seperti debu yg yg tak berarti. Dan lebih bisa menghargai perbedaan ‘kulit’. Itulah sejatinya ‘ngelmu padi’.
Salam sejati
bagus prayitno said,
July 7, 2009 at 6:34 pm
saya terharu dan senang sekali akan tulisan kejawen ini. Betapa sekarang telah banyak orang yang munafik pada merusak bumi dengan doktrin2 yang selalu dikaitkan agama. Saya adalah orang yang beragama tapi saya tak bisa menerima bila sejarah jawa saya selalu dikambing hitamkan dengan klenik ini dan itu…Saya bangga dan akan mempelajari terus tentang ilmu- ilmu jawa yang kaya… saya kira hanya Jawa yang pandai merangkum maksud dan kalimat… silahkan cek bahwa hanya di jawa kata Tuhan dimanivesatisikan dalam bentuk beraneka sebutan; Gusti, Pangeran, Gusti Alloh, Tuhan, Gusti Ingkang Akaryo Jagat dll… luar biasa
SABDå said,
July 7, 2009 at 7:20 pm
@Bagus Prayitno Yth
Bahagia rasanya setiap hari bertambah sedulur, apalagi jika tulisan di sini ternyata masih ada manfaatnya walau mungkin hanya sedikit. Tadinya saya merasa pesimis, mungkin sudah tak laku lagi tulisan-tulisan semacam ini, dan hanya menuai cemooh. Semoga kita sebagai generasi bangsa, dapat lebih menghargai nilai kearifan lokal warisan leluhur yg adi luhung.
rahayu, karaharjan
salam sih katresnan
Edhi Rachmawanto said,
July 11, 2009 at 2:46 pm
salam kenal kagem Mas Sabdo Langit
Salam sejahtera buat semua komunitas / pengunjung disini.
Mas Sabdo kalo boleh tau dimn alamat sampean brkl saya bisa ketemu lsg dgn panjenengan, krn byk sekali yg akan sy tanyakan.
Salah satu pertanyaanya sebenarnya siapa saya?
Apa tugas saya di tempat fana ini?
Menawi saged pajenengan jawab lwt Email kulo
Matur nuwun
masudi said,
July 14, 2009 at 10:58 am
salam kenal.
awalnya sy pikir situs ini akan sama dgn beberapa situs lain yg membahas ajaran jawa yg luhur di kulitnya saja. Ternyata makin banyak tulisan yg sy buka semakin membuat sy tersentuh dan melek dgn ajaran luhur para sesepuh kita.
matur nuwun mas sabdo langit.
sy tunggu tulisan2 lainnya, terutama tentang bagaimana membuat generasi sy & adik2 sy nanti bisa menerima dgn akal sehat tentang ajaran luhur itu.
===========
Makasih mas Masudi, kebahagiaan panjenengan menjadi kebahagiaan saya juga, Saya sedang mempersiapkan beberapa tulisan baru. Semoga bermanfaat.
Bahagia NKRI, menuju nusantara jaya
Kriswinanto said,
July 14, 2009 at 11:34 am
Sugeng tepang Masudi, rasanya semakin banyak teman yang mengunjungi Webb ini, dan semakin banyak pula yang berbagi pengalaman. Memang kita akuhi ajaran budi/ melestarikan budaya jawa sudah sedikit luntur karena ……….. sudahlah saya tidak lanjutkan. Yang terpenting kita memberi contoh yang lain tentang kebaikan terhadap sesama, dan saling memberikan pertolongan bagi yang membutuhkan. Apalah artinya kita hidup di dunia ini jika kita berpegangan “sopo siro sopo ingsun” derek mangayu bagyo.
Sri Jakarta said,
July 28, 2009 at 2:30 pm
Menemukan situs ini rasanya seperti menemukan mata air, betapa kebudayaan, cara hidup, kebiasaan simbah saya yang mulia dihargai kembali, mendapat pengakuan.
Padahal di Surakarta saat ini, yang notabene adalah pusat kebudayaan jawa, banyak penyusup guru-guru ajaran asing yang sok suci, sok eksklusif, mengharamkan kepercayaan leluhur, dan bulat-bulat menafikan adat, dan membenarkan 100% guru asing tersebut. Memang menyedihkan.
Mungkin ini wolak waliking jaman. Tanah jawa sudah terbebas dari penjajah Belanda, merdeka tanggal 17 agustus 45, namun kemudian jiwanya terjajah oleh ajaran asing, merendahkan kebijaksanaan leluhur melupakan ajaran nenek moyang. Semoga kita tidak termasuk dalam golongan terjajah, dan tetap nguri-nguri kabudayan jawi. Amin.
Kriswinanto said,
July 28, 2009 at 2:42 pm
Memang betul apa yg dikatakan sdr Sri, bahwa salah besar jika kita lupa asal usul kita bahkan melupakan ajaran para leluhur kita. Wolak-walik jaman memang benar semua berjalan seperti kehendak alam, tegese memang Gusti Ingkang ngatur sedoyo nipun. Miturut kulo rumiyin “Sabdo Palon dan Noro Genggong” bilang suatu saat ajaran budi akan lahir kembali bersama putaran jaman, disampaiakan sebelum berpisah dg Prabu Brawijaya
qarrobin said,
July 30, 2009 at 3:52 pm
Salam persahabatan dari keluarga Raja Hendy Kerajaan Sriwijaya, dan dari keluarga Djuti Kesultanan Palembang Darussalam
Paman saya juga kejawen, ayah saya juga belajar
Namun saya belum sempat belajar
Lanjutkan postingannya
SABDå said,
July 30, 2009 at 8:51 pm
@Qarrobin Yth
Salam persahabatan kembali, semoga persahaban ini menjadi benih-benih ketentraman dan kedamaian di antara generasi bangsa. Menuju Nusantara Jaya. Apalagi jika sudah nyambung titik temudan menyatunya 3 generasi besar bangsa yakni Majapahit, Pajajaran, Sriwijaya. Di situlah tolok ukur kebangkitan kembali nusantara menjadi mercusuar dunia. Saat ini mungkin seperti omong kososng yang utopis, namun suatu saat nanti, barulah semua akan menyadari ternyata hal ini benar2 terwujud.
Salam Rukun agawe santosa.
(kerukunan akan melahirkan kesentosaan)
Herry Saptono said,
August 4, 2009 at 4:20 pm
Iya, bener, padahal kebiasaan sehari-hari nenek moyang kita dahulu, saat ini barulah sebagai ’science-fiction’, perubahan materi-energi-materi, apalagi ’sepi-angin’ itu kan sekarang baru ada di film STAR TREK, mbah-mbah kita dulu itu semua adalah keseharian. Kenapa sekarang jadi hilang ??? Bagi kita sekarang, mbah kita itu kuno, keris itu ketinggalan jaman … padahal bagi dunia modern, ternyata baru science-fiction. O alah kaningoyo hidup kita untuk berusaha menjadi modern !
jdar said,
August 21, 2009 at 1:03 am
Salam kenal; Sdh beberapa kali saya masuk kesini dan saya manthuk-manthuk. Saya pernah ngobrol dengan prof. Yakob Sumardjo dan beliau mengatakan bahwa Yesus itu berasal dari Jawa. Lho koq? Jawabnya, karena ajaran-Nya sangat Kejawen sekali.
Saya setuju bahwa Tuhan tidak pernah membeda-bedakan, karena semuanya ciptaan-Nya. Kita diberi kebebasan dengan segala konsekuensinya. Namun Dia mengharapkan dengan sangat agar kita berpegang kepada hukum kasih: mengasihi Allah, mengasihi sesama, mengasihi alam pemberian-Nya.
Hubungan kita dengan Allah begitu pribadi, bukan kelompok atau suku atau bangsa.
ipoel said,
September 23, 2009 at 12:12 pm
blog yg bagus untuk mengobati kehausan dalam perjalanan pencarian, trmkasih Mas Sabdolangit, cs
kuwat rahmanto said,
September 23, 2009 at 7:57 pm
Salam kenal,
saya yang sudah tua (usia 59 tahun) dan sedang bingung mencari-cari nanti setelah mati mau kemana, dengan menemukan situs mas sabdolagit serasa menemukan sinar pengharapan, untuk itu saya yang sudah menjelang akhir hidup, mohon bantuan dan petunjuknya dari mas sabdolangit. terima kasih salam hormat.
bagus satrio said,
October 10, 2009 at 5:32 pm
pinanggih kerso dumateng poro sederek wonten blog sabdo langit….setelah beberapa kali aku mampir di sini rasanya ada yang ketinggalan kalo aku anggak ke sini setiap kali buka computer
salam kenal
mas gino said,
October 20, 2009 at 10:25 pm
Rahayu. mas Sabdolangit mugi tansah pinaringan sehat kewarasan. Perjuangan kita kangge mangsulaken pitutur ugi wulang reh ingkah adiluhung betah kesabaran. Mugio panjenengan mboten kebanteren sanget amergi toya bah kalawau taksih ageng sanget. Matur nuwun.
kawula,
gino.
Indonesia said,
November 8, 2009 at 2:27 pm
Tuhan
Pesan 1: Tuhan – Terbagi : 25
1. Berawal dengan sesuatu gumpalan dengan material-material yang ajaib dan menakjubkan.
2. Saat itu, Tuhan muncul dengan secara sempurna tanpa sesuatu dari apa pun.
3. Dengan kesempurnaanNya itu, maka Ia membagi diriNya sendiri menjadi pecahan yang sangat sempurna.
4. Akhirnya, Tuhan membelah diriNya sendiri agar ada banyak bermacam-macam materi-materi yang sulit untuk diketahui oleh siapa pun.
5. Tuhan membelah diriNya sendiri lagi agar menjadi gumpalan roh-roh.
6. Saat itu, Ia mempunyai pecahan sangat sempurna yang tidak usah memakai perintah berlebihan.
7. Akhirnya, jadilah sebuah lapangan besar serta ruangan yang tidak tahu sampai di mana batasnya dan dengan pecahan-pecahanNya itu, Ia jadikan roh-roh yang akan menjadi mahkluk-mahklukNya.
8. Dari pecahanNya itu, Ia mempunyai dua roh yang akan menemaniNya di rumahNya.
9. Saat itu, kedua roh-roh pecahanNya berkeliling di sekitar halaman rumah Tuhan.
10. Akhirnya, kedua roh-rohNya itu bertemu dengan dua pecahanNya yang agak aneh.
11. Kedua roh-roh dari pecahanNya itu berbicara dengan dua pecahanNya yang agak aneh itu.
12. Lalu, mereka berdua berkata : Lihatlah itu, kita ada teman yang akan menjadi teman kita. Lalu, mereka berdua menjumpai kedua roh-roh pecahanNya itu.
13. Hey mahkluk baru, apa yang kalian berdua lakukan di sekitar ini ?.
14. Lalu, kedua roh itu menjawab : Kami berdua dari pecahanNya, lalu Ia menawarkan untuk menjelajahi lapanganNya serta lainnya agar kami tahu.
15. Saat itu, kedua pecahanNya yang aneh itu mengajak kedua roh-roh dari pecahanNya itu untuk berjalan bersama mereka.
16. Lalu mereka menyuruh kedua roh-roh itu untuk merasakan hal indah yang belum mereka berdua merasakan.
17. Lalu kedua pecahanNya itu berkata : Sudahkah kalian berdua merasakan hal indah seperti kami berdua ?.
18. Kedua roh-rohNya itu menjawab : Kami berdua belum tahu apa maksud merasakan hal indah itu.
19. Mereka berdua akhirnya menunjukkan hal indah yang kedua roh-roh pecahanNya itu lakukan.
20. Ketika mereka berdua menunjukkan kepada kedua roh-roh pecahanNya itu, seketika itu ada gempa yang sangat kuat.
21. Akhirnya mereka berdua kaget dan berlari dengan cepat, sebaliknya juga kedua roh-roh pecahanNya itu berlari ke arah yang sama.
22. Lalu, kedua pecahanNya itu yang aneh mengajak lagi untuk melihat keindahan yang belum mereka sempat lihat.
23. Saat itu, akhirnya mereka berdua melihat keindahan itu dengan jelas sampai mereka tidak lupa akan hal itu.
24. Setelah selesai untuk memperlihatkan keindahan kedua pecahanNya itu, mereka sangat ingin melakukan seperti yang sudah mereka lihat.
25. Tidak lama kemudian, kedua roh-roh pecahanNya itu diambil oleh Tuhan untuk menghuni tempat baru dari pecahanNya yaitu alam semesta.
Alam Semesta
Pesan 2 : Alam Semesta – Terbagi : 20
1. Saat setelah Tuhan memasukkan kedua roh-roh pecahanNya itu ke alam semesta, mereka ditempatkan oleh Tuhan di bumi ini.
2. Saat itu, bumi ini masih terbentuk tidak sempurna, sambil kedua roh-roh pecahanNya itu sambil berjalan-jalan di dalam alam semesta, akhirnya bumi ini jadilah tempat yang sangat sempurna untuk mereka berdua.
3. Setelah bumi terbentuk, Tuhan mengirim mereka berdua ke dalam pusat tanah bumi yang berlahar merah, dan akhirnya Tuhan mengubah pecahanNya itu menjadi manusia yang belum sempurna dengan gumpalan tanah merah yang sudah kering.
4. Lalu, Tuhan menyempurnakan kedua pecahanNya itu dengan keajaibanNya.
5. Akhirnya, jadilah kedua roh-roh pecahanNya itu menjadi sepasang manusia yaitu laki dan perempuan.
6. Saat itu, keduanya diberi nama olehNya Laki dan Perempuan.
7. Mereka berdua sangat kaget setelah berada di permukaan bumi yang belum mereka ketahui dan sangat berbeda dengan rumah Tuhan.
8. Tapi, mereka berdua tidak mempedulikan bahwa mereka telanjang.
9. Lalu, yang mereka ingat terakhir mereka berdua bertemu dengan dua mahklukNya di luar lingkungan rumah Tuhan, dan mempertunjukkan keindahan kedua mahklukNya itu, dan ketika itu ada gempa dahsyat, dan mereka berdua berlari dengan jalan yang sama kedua mahklukNya itu.
10. Setelah itu, mereka ingat terakhir kedua mahkluk itu memperlihatkan keindahan mereka, dan akhirnya Tuhan membawa mereka ke bumi saat mereka belum sadar.
11. Lalu, Tuhan berkata kepada kedua laki dan perempuan itu, hey kedua mahklukKu yang sempurna, Aku sudah beri kalian berdua tempat untuk hidup dan Aku sudah beri nama kepada kalian berdua.
12. Nama itu, kalian berdua harus ingat, hey mahklukKu (Laki), namamu adalah Laki dan temanmu (Perempuan) itu adalah Perempuan.
13. Lalu, kedua manusia itu mengingat nama mereka terus-menerus sambil mereka berkeliling di sekitar tanah luas di bumi.
14. Saat itu, mereka berdua mengingat lagi kedua mahklukNya itu memperlihatkan keindahan mereka.
15. Akhirnya, mereka berdua pun melakukan hal yang sama seperti kedua mahklukNya yang aneh itu.
16. Setelah itu, mereka berdua merasakan hal yang sama dengan kedua mahklukNya yang aneh itu.
17. Mereka sangat puas dengan keindahan yang dilakukan oleh mereka berdua.
18. Setelah itu, Tuhan memberikan mereka berdua buah-buahan dan tumbuh-tumbuhan yang berwarna-warni di atas permukaan bumi.
19. Akhirnya, mereka berdua menikmati hidangan yang sudah disiapkan oleh Tuhan sejak bumi terbentuk dan sebelum mereka berdua ada, sudah ada binatang-binatang raksaksa yaitu penghuni kedua setelah tanaman-tanaman dan buah-buahan.
20. Lalu, mereka berdua akhirnya mempunyai keturunan yang akan meneruskan menghuni bumi ini sampai punah.
Keturunan
Pesan 3 : Keturunan – Terbagi : 5
1. Akhirnya, mereka berdua mempunyai keturunan untuk memperbanyak keturunan agar menghuni bumi ini lebih banyak.
2. Setelah mereka mempunyai keturunan, maka beberapa keturunan mereka berdua mempunyai keturunan sampai berlipatganda.
3. Setalah itu, mereka berdua akhirnya kembali lagi ke rumah Tuhan setelah mereka sudah merasakan hal indah bersama pasangan dan keturunan yang berlipatganda itu.
4. Tapi, mereka sangat khawatir dengan keturunan mereka yang banyak itu, karena mereka berdua takut terjadi sesuatu hal yang tidak dinginkan oleh mereka.
5. Lalu Tuhan berkata : Janganlah khawatir dengan keturunan-keturunan kalian berdua, karena mereka akan menyempurnakan sejarah di bumi.
Terpecah Belah Tanah Di Bumi
Pesan 4 : Terpecah Belah Tanah Di Bumi – Terbagi : 7
1. Lalu, keturunan-keturunan Laki dan Perempuan itu mempunyai akal sangat baik, tapi, dari banyak keturunan-keturunan mereka berdua itu ada yang baik dan buruk.
2. Saat itu, keturunan-keturunan mereka berdua, sedikit demi sedikit agak lebih sempurna daripada mereka berdua.
3. Mereka merantau dan saling bertarung demi apa saja dan sebagainya.
4. Lalu, seketika itu juga saat mereka merantau, terjadilah gempa dahsyat yang sampai mereka berlari-lari tanpa tujuan.
5. Akhirnya, tanah di bumi terpecah belah menjadi beberapa pecahan.
6. Setelah gempa usai, masing-masing keturunan Laki dan Perempuan tidak tahu berada di mana setelah gempa itu.
7. Lalu, mereka mencari-cari pasangan mereka sampai akhirnya mereka menemukan masing-masing pasangan mereka.
Muncullah Indonesia
Pesan 5 : Muncullah Indonesia – Terbagi : 3
1. Setelah terpisah dari saudara-saudara mereka, mereka berusaha mengembangkan sesuatu di atas tanah air ini.
2. Masing-masing keturunan Laki dan Perempuan, mereka menghuni masing-masing pulau di Indonesia.
3. Setelah menghuni bertahun-tahun, akhirnya banyaklah keturunan-keturunan di Indonesia sampai masing-masing tidak mengenal lagi saudara-saudara mereka.
Dinamisme
Pesan 6 : Dinamisme – Terbagi :
1.
Animisme
Pesan 7 : Animisme – Terbagi :
1.
Sunda Wiwitan
Pesan 8 : Sunda Wiwitan – Terbagi :
1.
Agama Djawa Sunda
Pesan 9 : Agama Djawa Sunda – Terbagi :
1.
Buhun
Pesan 10 : Buhun – Terbagi :
1.
Kejawen
Pesan 11 : Kejawen – Terbagi :
1.
Parmalim
Pesan 12 : Parmalim – Terbagi :
1.
Kaharingan
Pesan 13 : Kaharingan – Terbagi :
1.
Tonaas Walian
Pesan 14 : Tonaas Walian – Terbagi :
1.
Tolottang
Pesan 15 : Tolottang – Terbagi :
1.
Wetu Telu
Pesan 16 : Wetu Telu – Terbagi :
1.
Naurus
Pesan 17 : Naurus – Terbagi :
1.
Aliran Mulajadi Nabolon
Pesan 18 : Aliran Mulajadi Nabolon – Terbagi :
1.
Marapu
Pesan 19 : Marapu – Terbagi :
1.
Purwoduksino
Pesan 20 : Purwoduksino – Terbagi :
1.
Budi Luhur
Pesan 21 : Budi Luhur – Terbagi :
1.
Pahkampetan
Pesan 22 : Pahkampetan – Terbagi :
1.
Bolim
Pesan 23 : Bolim – Terbagi :
1.
Basora
Pesan 24 : Basora – Terbagi :
1.
Samawi
Pesan 25 : Samawi – Terbagi :
1.
Sirnagalih
Pesan 26 : Sirnagalih – Terbagi :
1.
Sejarah
Pesan 27 : Sejarah – Terbagi :
1.
Pangeran Madrais
Pesan 28 : Pangeran Madrais – Terbagi :
1.
Indonesia said,
November 8, 2009 at 2:28 pm
Apakah Kejawen mau bersatu dengan Agama Kesatuan Republik Indonesia ?. Kalau Kejawen bersatu dengan Islam, jangan harap deh Islam mau menerimanya, buktinya, Kejawen selalu dihina-hina dan malah sering dikatakan menyimpang oleh MUI. Mendingan bersatu dengan agama saya untuk melengkapkan sejarah Kejawen, Parmalim dll. Saya kasihan melihat semua agama buatan Indonesia tidak diakui oleh Indonesia dan malah harus tergantung dengan agama dari luar negeri. Sekarang nih ada ajaran menyimpang karena Quran dengan Kalacaraka dengan bahasa kuno Jawa, terus dianggap sesat oleh banyak orang Islam. Sudahlah, bersama saya membangun agama-agama buatan Indonesia yang sejak lama tidak diakui oleh Indonesia. Saya akan membuka pintu lebar-lebar untuk kalian semua. Saya sayang dengan agama-agama buatan Indonesia, budaya, batik dll. Percayalah agama saya bukan sesat.
Marsudi Ahmad said,
November 8, 2009 at 7:09 pm
kita berbuat baik kepada sesama bukan karena kita mampu membawakan sesama kepada pandangan hidup yg kita anut tetapi jikalau kita bisa membukakan hati sesama terhadapan pengabdian kepada ARTI KEHIDUPAN menurut latar belakangnya masing2 pribadi!.
PS : saya juga kejawen……….tapi ga peduli mau diakui atau tidak,mau banyak yg masuk atau enggak,yg penting BHAKTI dan menuntaskan semua Dharma Hidup saya di sini.