KEJAWEN ; Ajaran Luhur Yang Dicurigai & Dikambinghitamkan

KEJAWEN

“Permata” Asli Bumi Nusantara yang Selalu Dicurigai

Dan Dikambinghitamkan

 

 

Kearifan Lokal yang Selalu Dicurigai

 

Ajaran kejawen, dalam perkembangan sejarahnya mengalami pasang surut. Hal itu tidak lepas dari adanya benturan-benturan dengan teologi dan budaya asing (Belanda, Arab, Cina, India, Jepang, AS). Yang paling keras adalah benturan dengan teologi asing, karena kehadiran kepercayaan baru disertai dengan upaya-upaya membangun kesan bahwa budaya Jawa itu hina, memalukan, rendah martabatnya, bahkan kepercayaan lokal disebut sebagai kekafiran, sehingga harus ditinggalkan sekalipun oleh tuannya sendiri, dan harus diganti dengan “kepercayaan baru” yang dianggap paling mulia segalanya. Dengan naifnya kepercayaan baru merekrut pengikut dengan jaminan kepastian masuk syurga. Gerakan tersebut sangat efektif karena dilakukan secara sistematis mendapat dukungan dari kekuatan politik asing yang tengah bertarung di negeri ini.

Selain itu “pendatang baru” selalu berusaha membangun image buruk terhadap kearifan-kearifan lokal (baca: budaya Jawa) dengan cara memberikan contoh-contoh patologi sosial (penyakit masyarakat), penyimpangan sosial,  pelanggaran kaidah Kejawen, yang terjadi saat itu, diklaim oleh “pendatang baru” sebagai bukti nyata kesesatan ajaran Jawa. Hal itu sama saja dengan menganggap Islam itu buruk dengan cara menampilkan contoh perbuatan sadis terorisme, menteri agama yang korupsi, pejabat berjilbab yang selingkuh, kyai yang menghamili santrinya, dst.

 Tidak berhenti disitu saja, kekuatan asing terus mendiskreditkan manusia Jawa dengan cara memanipulasi atau memutar balik sejarah masa lampau. Bukti-bukti kearifan lokal dimusnahkan, sehingga banyak sekali naskah-naskah kuno yang berisi ajaran-ajaran tentang tatakrama, kaidah, budi pekerti yang luhur bangsa (Jawa) Indonesia kuno sebelum era kewalian datang, kemudian dibumi hanguskan oleh para “pendatang baru” tersebut. Kosa kata Jawa juga mengalami penjajahan, istilah-istilah Jawa yang dahulu mempunyai makna yang arif, luhur, bijaksana, kemudian dibelokkan maknanya menurut kepentingan dan perspektif subyektif disesuaikan dengan kepentingan “pendatang baru” yang tidak suka dengan “local wisdom”. Akibatnya; istilah-istilah seperti; kejawen, klenik, mistis, tahyul mengalami degradasi makna, dan berkonotasi negatif. Istilah-istilah tersebut “di-sama-makna-kan” dengan dosa dan larangan-larangan dogma agama; misalnya; kemusyrikan, gugon tuhon, budak setan, menyembah setan, dst. Padahal tidak demikian makna aslinya, sebaliknya istilah tersebut justru mempunyai arti yang sangat religius sbb;

 

Klenik : merupakan pemahaman terhadap suatu kejadian yang dihubungkan dengan hukum sebab akibat yang berkaitan dengan kekuatan gaib (metafisik) yang tidak lain bersumber dari Dzat tertinggi yakni Tuhan Yang Maha Suci. Di dalam agama manapun unsur “klenik” ini selalu ada.

Mistis : adalah ruang atau wilayah gaib yang dapat dirambah dan dipahami manusia, sebagai upayanya untuk memahami Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam agama Islam ruang mistik untuk memahami sejatinya Tuhan dikenal dengan istilah tasawuf.

Tahyul : adalah kepercayaan akan hal-hal yang gaib yang berhubungan dengan makhluk gaib ciptan Tuhan. Manusia Jawa sangat  mempercayai adanya kekuatan gaib yang dipahaminya sebagai wujud dari kebesaran Tuhan Sang Maha Pencipta.  Kepercayaan kepada yang gaib ini juga terdapat di dalam rukun Islam.

Tradisi : dalam tradisi Jawa, seseorang dapat mewujudkan doa dalam bentuk lambang atau simbol. Lambang dan simbol dilengkapi dengan sarana ubo rampe sebagai pelengkap kesempurnaan dalam berdoa. Lambang dan simbol juga mengartikan secara kias bahasa alam yang dipercaya manusia Jawa sebagai bentuk isyarat akan kehendak Tuhan. Manusia Jawa akan merasa lebih dekat dengan Tuhan jika doanya tidak sekedar diucapkan di mulut saja (NATO: not action talk only), melainkan dengan diwujudkan dalam bentuk tumpeng, sesaji dsb sebagi simbol kemanunggalan tekad bulat. Maka manusia Jawa dalam berdoa melibatkan empat unsur tekad bulat yakni hati, fikiran, ucapan, dan tindakan. Upacara-upacara tradisional sebagai bentuk kepedulian pada lingkungannya, baik kepada lingkungan masyarakat manusia maupun masyarakat gaib yang hidup berdampingan, agar selaras dan harmonis dalam manembah kapada Tuhan. Bagi manusia Jawa, setiap rasa syukur dan doa harus diwujudkan dalam bentuk tindakan riil (ihtiyar) sebagai bentuk ketabahan dan kebulatan tekad yang diyakini dapat membuat doa terkabul. Akan tetapi niat dan makna dibalik tradisi ritual tersebut sering dianggap sebagai kegiatan gugon tuhon/ela-elu, asal ngikut saja,  sikap menghamburkan, dan bentuk kemubadiran, dst.

Kejawen : berisi kaidah moral dan budi pekerti luhur, serta memuat tata cara manusia dalam melakukan penyembahan tertinggi kepada Tuhan Yang Maha Tunggal. Akan tetapi, setelah abad 15 Majapahit runtuh oleh serbuan anaknya sendiri, dengan cara serampangan dan subyektif, jauh dari kearifan dan budi pekerti yg luhur, “pendatang baru” menganggap ajaran kejawen sebagai biangnya kemusyrikan, kesesatan, kebobrokan moral, dan kekafiran. Maka harus dimusnahkan. Ironisnya, manusia Jawa yang sudah “kejawan” ilang jawane, justru mempuyai andil besar dalam upaya cultural assasination ini. Mereka lupa bahwa nilai budaya asli nenek moyang mereka itulah yang pernah membawa bumi nusantara ini menggapai masa kejayaannya di era Majapahit hingga berlangsung selama lima generasi penerus tahta kerajaan.

 

 

Ajaran Tentang Budi Pekerti, Menggapai Manusia Sejati

 

Dalam khasanah referensi kebudayaan Jawa dikenal berbagai literatur sastra yang mempunyai gaya penulisan beragam dan unik. Sebut saja misalnya; kitab, suluk, serat, babad, yang biasanya tidak hanya sekedar kumpulan baris-baris kalimat, tetapi ditulis dengan seni kesusastraan yang tinggi, berupa tembang yang disusun dalam bait-bait atau padha yang merupakan bagian dari tembang misalnya; pupuh, sinom, pangkur, pucung, asmaradhana dst. Teks yang disusun ialah yang memiliki kandungan unsur pesan moral, yang diajarkan tokoh-tokoh utama atau penulisnya, mewarnai seluruh isi teks.

Pendidikan moral budi pekerti menjadi pokok pelajaran yang diutamakan. Moral atau budi pekerti di sini dalam arti kaidah-kaidah yang membedakan baik atau buruk segala sesuatu, tata krama, atau aturan-aturan yang melarang atau menganjurkan seseorang dalam menghadapi lingkungan alam dan sosialnya. Sumber dari kaidah-kaidah tersebut didasari oleh keyakinan, gagasan, dan nilai-nilai yang berkembang di dalam masyarakat yang bersangktan. Kaidah tersebut akan tampak dalam manifestasi tingkah laku dan perbuatan anggota masyarakat.

Demikian lah makna dari ajaran Kejawen yang sesungguhnya, dengan demikian dapat menambah jelas  pemahaman terhadap konsepsi pendidikan budi pekerti yang mewarnai kebudayaan Jawa. Hal ini dapat diteruskan kepada generasi muda guna membentuk watak yang berbudi luhur dan bersedia menempa jiwa yang berkepribadian teguh. Uraian yang memaparkan nilai-nilai luhur dalam kebudayaan masyarakat Jawa yang diungkapkan diatas dapat membuka wawasan pikir dan hati nurani bangsa bahwa dalam masyarakat kuno asli pribumi telah terdapat seperangkat nilai-nilai moralitas yang dapat diterapkan untuk mengangkat harkat dan martabat hidup manusia.

 

Dua Ancaman Besar dalam Ajaran Kejawen

 

Dalam ajaran kejawen, terdapat dua bentuk ancaman besar yang mendasari sikap kewaspadaan (eling lan waspada), karena dapat menghancurkan kaidah-kaidah kemanusiaan, yakni; hawanepsu dan pamrih. Manusia harus mampu meredam hawa nafsu atau nutupi babahan hawa sanga. Yakni mengontrol nafsu-nafsunya yang muncul dari sembilan unsur yang terdapat dalam diri manusia, dan melepas pamrihnya.

Dalam perspektif kaidah Jawa, nafsu-nafsu merupakan perasaan kasar karena menggagalkan kontrol diri manusia, membelenggu, serta buta pada dunia lahir maupun batin. Nafsu akan memperlemah manusia karena menjadi sumber yang memboroskan kekuatan-kekuatan batin tanpa ada gunanya. Lebih lanjut, menurut kaidah Jawa nafsu akan lebih berbahaya karena mampu menutup akal budi. Sehingga manusia yang menuruti hawa nafsu tidak lagi menuruti akal budinya (budi pekerti). Manusia demikian tidak dapat mengembangkan segi-segi halusnya, manusia semakin mengancam lingkungannya, menimbulkan konflik, ketegangan, dan merusak ketrentaman yang mengganggu stabilitas kebangsaan

 

NAFSU

 

Hawa nafsu (lauwamah, amarah, supiyah) secara kejawen diungkapkan dalam bentuk akronim, yakni apa yang disebut M5 atau malima; madat, madon, maling, mangan, main; mabuk-mabukan, main perempuan, mencuri, makan, berjudi. Untuk meredam nafsu malima, manusia Jawa melakukan laku tapa atau “puasa”. Misalnya; tapa brata, tapa ngrame, tapa mendhem, tapa ngeli.

Tapa brata ; sikap perbuatan seseorang yang selalu menahan/puasa hawa nafsu yang berasal dari lima indra. Nafsu angkara yang buruk yakni lauwamah, amarah, supiyah.

Tapa ngrame; adalah watak untuk giat membantu, menolong sesama tetapi “sepi” dalam nafsu pamrih yakni golek butuhe dewe.

Tapa mendhem; adalah mengubur nafsu riak, takabur, sombong, suka pamer, pamrih. Semua sifat buruk dikubur dalam-dalam, termasuk “mengubur” amal kebaikan yang pernah kita lakukan kepada orang lain, dari benak ingatan kita sendiri. Manusia suci adalah mereka yang tidak ingat lagi apa saja amal kebaikan yang pernah dilakukan pada orang lain, sebaliknya selalu ingat semua kejahatan yg pernah dilakukannya. 

Tapa ngeli, yakni menghanyutkan diri ke dalam arus “aliran air sungai Dzat”, yakni mengikuti kehendak Gusti Maha Wisesa. “Aliran air” milik Tuhan, seumpama air sungai yang mengalir menyusuri sungai, mengikuti irama alam, lekuk dan kelok sungai, yang merupakan wujud bahasa “kebijaksanaan” alam. Maka manusia tersebut akan sampai pada muara samudra kabegjan atau keberuntungan. Berbeda dengan “aliran air” bah, yang menuruti kehendak nafsu akan berakhir celaka, karena air bah menerjang wewaler kaidah tata krama, menghempas “perahu nelayan”, menerjang “pepohonan”, dan menghancurkan “daratan”.

 

PAMRIH

 

     Pamrih merupakan ancaman ke dua bagi manusia. Bertindak karena pamrih berarti hanya mengutamakan kepentingan diri pribadi secara egois. Pamrih, mengabaikan kepentingan orang lain dan masyarakat. Secara sosiologis, pamrih itu mengacaukan (chaos) karena tindakannya tidak menghiraukan keselarasan sosial lingkungannya.  Pamrih juga akan menghancurkan diri pribadi dari dalam, kerana pamrih mengunggulkan secara mutlak keakuannya sendiri (istilahnya Freud; ego). Karena itu, pamrih akan membatasi diri atau mengisolasi diri dari sumber kekuatan batin. Dalam kaca mata Jawa, pamrih yang berasal dari nafsu ragawi akan mengalahkan nafsu sukmani (mutmainah) yang suci. Pamrih mengutamakan kepentingan-kepentingan duniawi, dengan demikian manusia mengikat dirinya sendiri dengan dunia luar sehingga manusia tidak sanggup lagi untuk memusatkan batin dalam dirinya sendiri. Oleh sebab itu pula, pamrih menjadi faktor penghalang bagi seseorang untuk mencapai “kemanunggalan” kawula gusti.

     Pamrih itu seperti apa, tidak setiap orang mampu mengindentifikasi. Kadang orang dengan mudah mengartikan pamrih itu, tetapi secara tidak sadar terjebak oleh perspektif subyektif yang berangkat dari kepentingan dirinya sendiri untuk melakukan pembenaran atas segala tindakannya. Untuk itu penting Sabdalangit kemukakan bentuk-bentuk pamrih yang dibagi dalam tiga bentuk nafsu dalam perspektif KEJAWEN :

  1. Nafsu selalu ingin menjadi orang pertama, yakni; nafsu golek menange dhewe; selalu ingin menangnya sendiri.
  2. Nafsu selalu menganggap dirinya selalu benar; nafsu golek benere dhewe.
  3. Nafsu selalu mementingkan kebutuhannya sendiri; nafsu golek butuhe dhewe. Kelakuan buruk seperti ini disebut juga sebagai aji mumpung. Misalnya mumpung berkuasa, lantas melakukan korupsi, tanpa peduli dengan nasib orang lain yang tertindas.

 

Untuk menjaga kaidah-kaidah manusia supaya tetap teguh dalam menjaga kesucian raga dan jiwanya, dikenal di dalam falsafah dan ajaran Jawa sebagai lakutama, perilaku hidup yang utama. Sembah merupakan salah satu bentuk lakutama, sebagaimana di tulis oleh pujangga masyhur (tahun 1811-1880-an) dan pengusaha sukses, yang sekaligus Ratu Gung Binatara terkenal karena sakti mandraguna, yakni Gusti Mangkunegoro IV dalam kitab Wedhatama (weda=perilaku, tama=utama) mengemukakan sistematika yang runtut dan teratur dari yang rendah ke tingkatan tertinggi, yakni catur sembah; sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, sembah rasa. Catur sembah ini senada dengan nafsul mutmainah (ajaran Islam) yang digunakan untuk meraih ma’rifatullah, nggayuh jumbuhing kawula Gusti. Apabila seseorang dapat menjalani secara runtut catur sembah hingga mencapai sembah yang paling tinggi, niscaya siapapun akan mendapatkan anugerah agung menjadi manusia linuwih, atas berkat kemurahan Tuhan Yang Maha Kasih, tidak tergantung apa agamanya.

 

sabdalangit

  1. Para sedherek sedaya…
    Tantangan bagi kita adalah melahirkan “Kitab Suci” alternatif..he, he, he..Kang Suprayitno, Kang Olads, dll..monggo..hasil interaksi njenengan dengan sukma sejati, dengan bahasa alam, mbok ya dituliskan…tapi, mohon, jangan memuat yang serem2..cukup yang memuat CINTA…
    Rahayu…

  2. @Kang SHD Yth.
    Kalau saya pribadi kebetulan kecenderungan saya membawa ke arah yang tidak suka dengan serem-sereman tentang masalah agama, walaupun sebenarnya terkadang sebagai manusia biasa punya sifat temperamen, istilahnya mudah marah dan naik darah, mudah tersulut emosi. Andai bergaul dengan orang-orang yang suka akan kekerasan dan kesereman, mungkin sudah mati dibalut bom, atau di berondong regu tembak Densus 88.

    Tapi bila dirasakan dalam diri, ada semacam sesuatu yang membawa kearah menyukai tentang cinta dan welas asih, kedamaian, ketentraman, musik, berfikir kreatif, improfisasi hidup dll. Kadang ada dorongan ingin sekali membuat orang lain jadi mengerti akan sesuatu, bahkan terkadang suka merasa / eman(bhs jawa) kalau orang lain tak mengerti tujuan hidup yang baik, atau menyia-nyiakan waktu hidup.

    Siapakah yang mengegrakan ini semua dalam diri …?, hal itu bisa diangap sebagai Sang Penguasa Hidup, sehingga dengan kesimpulan bahwa Penguasa hidup telah berikan ukuran(qadar) baik maupun buruk kepada setiap makhluq nya, dan manusia itu sendirilah yang menentukan qadar mana yang kan di tempuh dalam perjalanan hidup nya(nasib), tergantung pola pikir yang digerakan oleh aqalnya. Pola pikir mana yang akan kita tempuh….?, tergantung kepada kecenderungan jiwa manusia sesuai dengan karakter dan kepribadian.

    Sehingga saya berkesimpulan bahwa Tuhan sengaja membuat kehidupan ini sebagai ladang uji bagi makhluq yang punya aqal, apakah dengan aqal nya mampu menghadapi ujian hidup…?. Dan bagai mana cara kita memanage prilaku yang tercermin dari berbagai rasa dan perasaan. Apakah itu dicintai dan mencintai, membenci, menyukai, setuju, memihak, atau hal-hal lainnya yang mewarnai sikap prilaku manusia. Maka semua itu ada pengetahuannya, tanpa pengetahuan yang jelas dan tepat, mustahil manusia bisa menilai dengan tepat pula, karena tadi itu, bahwa manusia punya rasa keterpihakan kepada sesuatu dan kecenderungan, sehingga penilaian kadang berbeda.

    Bila dalam pengetahuan kehidupan di dunia manusia demikian aktif dan energik, sehingga manusia mampu berkarya dan merekayasa kehidupan dengan disiplin ilmu tertentu, maka dimensi kehidupan akhir pun sama, akan membutuhkan pengetahuan yang lengkap dan akurat. Agar manusia tak salah menilai di dalam ladang uji ini(dunia).

    maka atas semua itu saya kira tak perlu ada kebencian dan ketidak sukaan atas sikap prilaku seseorang atau kelompok golongan, suku, bangsa dll. Semuanya adalah ladang uji bagi kehidupan manusia. Kadang kekerasan memang dibutuhkan untuk membela diri, tapi dengan perbuatan keras, lembut, cinta, baik dan buruk, sulit untuk bisa diterima dan disetujui banyak orang. Jadinya malah serba salah.

    Itulah ujuan manusia dihadapkan pada dua sisi yang menyulitkan, kadang harus berkorban tapi kena fitnah, kadang harus jadi lemah tapi ke gencet, atau berbuat keras masih juga salah. Kebenaran memang ukurannya beragam dalam fikiran manusia. Kalaupun kita tahu akan kebenaran sejati malah harus lebih banyak mengusap dada dan mengalah untuk mencapai kemenangan melawan hawa nafsu, sebab peperangan terbesar adalah melawan diri sendiri.

    Pada akhirnya tetaplah bahwa tujuan hidup adalah mencari kedamaian sejati dengan penuh cinta kasih, bahwa sesungguhnya Tuhan telah utus manusia ke dunia ini menjadi wakilnya untuk membangun kehidupan di bumi, bukan untuk sengsara dan sakit-sakitan, tetapi membangun keselarasan ketentraman, jauh dari segala mara bahaya. Walaupun mungkin dalam perjalanannya harus mengalami berbagai rintangan yang tidak meng- enakan dihati, tidak disukai, dan tidak setujui oleh fikiran.

    trims.

    • Yth @ Ki Olad.. Mugi tansah Pinauyungan Welasipun Gusti

      Estu leres ..Yang Panjenengan renungkan.. begitu juga yang menjadi keprihatinan para Pinisepuh..di pondok ini. Betapa banyak orang2 tak mampu memahami hakekat daripada agama.. banyak dari golongan muda mengaku orang bertuhan..tapi menghasut atas nama agama ( atas nama Tuhan) dgn menanamkan kedengkian thd golongan lain, sungguh teramat keji.. sayang banyak yg Tidak Tahu kalo dirinya sedang Tidak Tahu.

      Puncak dari Ilmu adalah Welas asih tresno tanpa pilih kasih..KARENA kembali kepada fitrahnya.. agama2 adalah alat untuk menghantarkan para pemeluknya menjadi fitrah ..JADI bukan ‘agama’ nya yg memberikan keselamatan..tapi fitrahnya itulah yg mampu menikmati keselamatan..maka sayang sekali ..banyak yg berhenti Di Kulitnya ..agama seolah jubah kebesaran ..shg merasa ekslusive ..menumbuhkan sifat Arogan..merasa anak emas Tuhan.

      Manusia terlahir dari berkumpulnya Romo (Roso Manunggal) dan Ibu (Ingsene Buwana).. berkumpul dengan Rasa Gedhene Welas Asih Katresnan yg tulus.. kawimbuhan Karsa-Rasane Gusti.. lahir dimuka bumi dalam keadaan Fitrah /Suci.. Itulah Suci Sejati.. MAKA bila manusia melata di muka bumi..melupakan Muasalnya atau mengingkari dari rasa apa dia dilahirkan… Itulah yg disebut “KAFIR SEJATI”..karena Maha Benar itu adalah Welas Asih Tresno…kebenaran yg tak terbantahkan, yg lain adalah kebenaran Semu yg masih bisa dibantah..

      Salam Sejati

    • @Kang Gombal Amoh Yth :

      Betul sekali apa yang anda paparkan tentang Esensi Fitrah, yaitu merupakan dasar-pondasi untuk menangkap ajaran kebenaran Tuhan. Semoga umat yang merasa ber-Agama Fitrah benar-benar memahami bahwa Tuhan telah ciptakan manusia dengan welas asih dalam kehendak dan kuasa Nya. Melalui peng-amalan hidup nya tentu dengan merealisasikan sikap dan sifat welas asih pada diri sendiri diutamakan, dan pada orang lain, maka kembali kepada Tuhan pun dengan welas asih pula.

      Semoga di Bulan Ramadhan ini umat agama fitrah bisa memahami ajaran kebenaran Tuhan nya, menuju fitrah yang suci di hari yang Fitri( Iedul Fitri), semoga bukan skedar slogan dan opini, agar kulit fitrah itu terbuka menuju esensi fitrah yang suci.

      Trims , salam sejati.

  3. Cuplikan di Thread lain ttg Kejawen.

    Justru itu, saya sedang berjuang untuk Kejawen tidak pinjam istilah dalam agama islam lagi. Jadi, kita semua mempunyai buatan sendiri. Umumnya kalau Kejawen pinjam istilah dalam agama Islam, jangan harap. Bisa-bisa Kejawen dianggap sesat oleh orang Islam. Buktinya, Kejawen sering disingkirkan oleh Islam, malahan dibasmi oleh Islam. Jangan berharap dan tergantung dari agama lain. Apakah Anda ingin kaki Anda tergantung dengan kaki orang lain ?.

    Tata cara Agama Kesatuan Republik Indonesia ini tergantung dari diri kita sendiri, jadi ritualnya tidak ada penetepan. Jadi, berdoa juga sesuai yang kita inginkan, cara doanya juga sesuai kita inginkan. Jadi tidak ada penetepan. Memang Kejawen selalu tergantung dengan agama luar negeri ya ?. Saya prihatin malah begini, datang Hindu, Kejawen menjadi Kejawen-Hindu, datang Kristen menjadi Kejawen-Kristen, datang Buddha menjadi Kejawen-Buddha, datang Islam menjadi Kejawen-Islam, kenapa Kejawen selalu tergantung dengan agama luar negeri ?. Saya ingin Kejawen itu mempunyai sesuatu sendiri bukan tergantung dengan agama lain. Agama lain sudah mempunyai ritual masing-masing dan mana mau mereka bersatu dengan Kejawen. Mereka ingin berdiri sendiri dan tidak mau bersatu dengan siapa pun.

    Anda berpikir saja Islam-Buddha tidak akan ada di dunia ini yang seperti itu. Islam ingin berdiri sendiri, Buddha ingin berdiri sendiri. Seharusnya Kejawen juga berdiri sendiri. Soal Buku Suci, saya sudah membuatnya dan pemimpinnya adalah saya dan saya yang bertanggung jawab atas agama-agama buatan Indonesia maupun Kejawen, Sunda Wiwitan, Parmalim dll. Makanya saya harap Kejawen sadar bahwa Kejawen itu tidak diharapkan oleh agama-agama dari luar negeri. Jangankan harapkan mereka mau berdekatan dengan Kejawen kecuali Agama Kesatuan Republik Indonesia.

    ini dari
    mas indonesia
    saya copas komentar panjenengan….

    salam hormat ki sabda langit,

    special thanks mas SHD.
    nuwun…..

  4. Salam sejahtera

    Makin lama belajar kejawen atawa spiritual, ternyata makin sulit ya.. saya sendiri harus berjuang untuk mengalahkan diri sendiri, agar bisa ikhlas, wah .. ampun deh..
    Suatu hari, saya bercita-cita ingin merenovasi rumah saya yang jelek, agar menjadi cantik dan bagus. Saya punya tabungan 75 juta. Pas gambar sudah disiapkan, tenaga tukang sudah siap mancal… eh maratuwa dua-duanya masuk rumah sakit dan harus opname karena sakit jantung.
    Awalnya saya nggrundel… dengan mencoba ikhlas meski harus menahan napas karena tabungan saya bertahun-tahun hasil jerih payah, akhirnya saya relakan untuk mengobati kedua maratuwa saya. Bagi saya uang segitu cukup berarti lo…
    Tapi ajaib… setelah saya bisa melalui itu (meski saya akui butuh proses lama untuk menghilangkan nggrundelnya), saya merasa jiwa saya plong…
    fase dimana ikhlas telah berhasil saya dapatkan, saya tiba-tiba merasa gembira… makan jadi enak, tidur jadi nyanyak.. dan saya membantin… “Inilah yang saya cari selama ini. Ikhlas dalam sikap nyata.. bukan hanya bicara,,”
    Saya tidak mencari ganti atau harapan agar Sang Pencipta mengganti duit saya. Saya hanya bersyukur bahwa saya sudah bisa ikhlas tanpa beban dan menjalani hidup dengan perasaan yang lebih baik..

    Bagi saya, ini pengalaman spiritual yang indah, dan saya menikmatinya..

    sekarang sih mulai dari nol lagi, tapi enjoy aja….

  5. Mas Sabdo saya kepingin konsultasi secara pribadi lewat email, kalo boleh mohon alamat emailnya

  6. Rahayu…

    Kang Dar….faktanya, di nusantara ini, selain ada yang memilih Kejawen Original, kebanyakan pembesar negeri ini selalu mengkombinasikan antara Kejawen dengan agama-agama dari luar: Hindu, Budha, Islam. Menurut saya, justru sikap ini adalah salah satu ajaran dari Kejawen itu sendiri, yaitu sikap terbuka. Kejawen mengajarkan diri kita untuk membuka diri terhadap kebenaran universal darimanapun datangnya. Ajaran apapun dan darimanapun, kalau itu diprediksikan bisa menambah kemajuan negeri ini, kenapa tidak untuk diadaptasi.

    Apa yang dilakukan para pembesar negeri ini sebagaimana digambarkan di atas, yang disebut dengan Dialog Kreatif: di satu sisi berpegang teguh pada budaya sendiri, tapi mau membuka diri sehingga budaya sendiri itu bisa diperkaya dengan budaya lain.

    Tapi, kalau ada yang mau pilih Kejawen Original, menurut saya bagus juga…
    SHD

  7. mas Sabda mohon saudara2 kita yang tengah berdebat di http://bs-ba.facebook.com/topic.php?uid=47566034694&topic=12226#topic_top diberikan pencerahann . . tentang kejawen

  8. Mas arman yang baik…
    Saya sudah urun rembug di situs itu…he, he…biar diskusi di situ tambah gayeng.

    Matur sembah nuwun..
    SHD

  9. Salam sejahtera.
    Saya mohon alamat bapak karena ingin berkenalan dan seandainya Tuhan berkenan,saya ingin mendalami dan belajar ilmu kejawen murni yang Bapak tekuni.
    Terima kasih.

  10. sungguh nista menghiati nenek moyang kita ,walau kenyataanya kita seperti itu.,..jadi sudah waktunya kembali ke kejawen kalau nusantara ingin kembali damai.

  11. iya mas setyo,
    tergantung selera masing2 individu
    nuwun

  12. Mas Ipoeng badhe nderek urun rembuk.
    Nyuwun pangapunten sakderengipun,mbok bilih punopo ingkang badhe kawulo wedaraken mboten kepranan dumateng poro sederek.
    Kulo lahir wonten tlatah Jowo puniko injih kersanipun Gusti,,,amargi kawulo mboten saget pesen panggenan lahir ten papan pundi, lan mboten saget pesen sinten bopo biyung kawulo,,,amargi masalah papan lahir lan ten keluargo pundi kito lahir,puniko hak mutlak Gusti.
    Namun semanten,Gusti Allah puniko pasti sampun kagungan rencana tumrap kito. Menawi kito pun lahiraken ten tlatah Jowo,,,Gusti Allah puniko injih kagungan rencana,,,supados jito nguri2 kabudayan jowo,sak isinipun.
    Menawi kito lahir wonten tlatah jowo,kok njur nguri2 kabudayan sanes puniko njur pripun? punopo mboten marahi Gusti Duko???? Sae lan elek babagan lelakon,,,meniko wonten tlatah pundi kemawon ijnjih wonten,,,,,nopo ten Arab boten wonten contoh ingkang kejam lan licik????? wonten Cino injih punopo boten wonten contoh kezaliman ???? Sumonggo,,kito renungaken babagan puniko poro sederek.
    Monggo kagen referensi sami2 maos buku Gatho Loco ,,,utawi Noyo Genggong. Suwun

  13. Setiap kebudayaan yang tentunya berisi ajaran-ajaran dan faham tidak mutlak benar, pasti memiliki kekurangan. Kekuarangan inilah yang seharusnya disikapi dengan arif dan bijak. sebagai orang jawa kadang saya sangat tidak enak jika konsep kekuasaan jawa dikatakan sebagai penyebab kebobrokan negri ini. Sentralistik, kultus.

  14. bukan tidak mungkin ajaran kejawen sejati itu diajarkan oleh seorang nabi purba, bisa jadi nabi itu Semar yangkita kenal di pewayangan (ini bukan lelucon). dalam Islam, ada 125.000 nabi, hanya 25 nabi utama yang wajib dikenal. sisanya dikenali dari ajaran2 agungnya.

    sayang sekali, kejawen sekarang ini kebanyakan (mungkin tidak semua) yang malah menyimpang dari ketauhidan, lebih suka bicara soal kedigdayaan dan sibuk berhubungan dengan “alam lain” dan para penghuninya.

    kebetulan saya bukan orang jawa dan seorang muslim, sebagai info saja, semua ajaran luhur kejawen semua sudah terangkum lengkap dalam Islam. para muslim sejati juga bisa pergi ke tempat2 itu, bisa juga ketemu para nabi, ke surga-neraka, bahkan bercakap2 langsung dengan Allah-Tuhan Sejati TANPA harus mengalami mati jasad dahulu.

    pesan Rasulullah:” mutu qabla anta mutu”, matilah kamu sebelum mati. mungkin ada konsep yang mirip ini di kejawen ya?! saya kira ada. :) salam :)
    Allahua’lam.

    • GatotKaca_Mendarat

      Weeee di kejawen kagak ada ajaran itu mas !! Itu mah ajarannya Syech Siti Jenar, ajaran islam yg di-jawa-kan. Apa iya semua ajaran luhur kejawen terangkum lengkap di dalam Islam ?
      Yg ada malah bertolak belakang …

      Ndak ada tuh di kejawen habis ngucap doa terus mbunuh orang …. apalagi mbunuh massal !
      Ndak ada juga ajaran yg meng-kafir-kan orang berkeyakinan lain …..

      Klaim-klaim macem ini sudah umum terjadi. Untuk menohok kaum nasrani, manusia2 jenis muxlimo ini mengklaim bhw ajaran2 nabi isa ada di dalam islam & hebatnya lagi : disempurnakan. Nyatanya ? setelah saya telusuri quran tidak ada satu-pun ajaran kasih versi nabi isa, yg sy tanyakan kpd sodara2 nasrani, yg tercantum di quran.

      taqqiyah macam mana lagi yg sedang engkau kerjakan wahai muxlimo & kaumnya ?

      hei muxlimo ! tau kenapa orang muslim dibenci ?
      karena mereka campur adukkan urusan konflik negara ke dalam agama….
      ketika peristiwa 911 dari radio pesawat yg menabrak wtc terdengar teriakan : allahuuu.. akbarrr… !!! lalu… buuummmmm…..
      dan tidak ada satu orang islampun yg mengecam apalagi mengutuk perbuatan itu.
      kenapa para teroris itu tidak berkata : hidup palestina ! atau : hidup iraq !
      begitu pula kejadian2 bombing di indonesia…
      korban berjatuhan tapi mui tidak pernah mengeluarkan fatwa bahwa membunuh orang biasa atas nama agama islam itu haram hukumnya…..

      Apa itu yg disebut agama penutup yg paling sempurna ? dg nilai2 yg diusung seperti itu apa iya islam bisa membawa dunia menjadi lebih baik ?

      okeee andaikan benar ada hukum asah-asih-asuh di dalam islam, tapi tetap saja islam punya hukum bunuh-perkosa-rampok !! tinggal umatnya milih… enak kan ?

      klo interaksi budaya dasarnya kayak indonesa sih bisa2 aja yg dipilih adalah harmonisasi dg orang pemeluk agama lain. tapi bukan ga mungkin ada orang yg milih jalan bunuh-perkosa-rampok (spt yg terjadi pada peristiwa mei 1998) atau bunuh masal spt yg dilakukan genk nurdin m tot…..

      untuk sodara2, sekedar urun rembug & uneg2, sepertinya lebih pantas membahas kejawen tidak melibatkan agama lain, terutama yg extrim seperti islam. biarlah ungkapan2 yg dibawakan berupa bhs indonesia, sedikit mungkin bahasa jawa karena belum tentu keturunan jawa pd jaman sekarang mengerti bahasa jawa.

      Mereka yg islam konservatif ga bisa diberi pengertian bila itu menyangkut interaksi agama islam dg budaya lain, sy sudah pelajari orang2 macam ini di blog Kang Sabda plus beberapa di blog lain. secara psikis mereka terbelenggu ajaran mereka.

      sodara2, biarlah mereka memilih jalan mereka sendiri. biarlah mereka beranggapan bahwa memerangi yg kafir akan membawa mereka masuk sorga. Biarlah mereka punya sorga sendiri, sementara kita juga punya sorga kita sendiri hehehehe……

      Justru sy milih kejawen tinimbang islam gara2 di kejawen ndak ada ajaran halal-haram bunuh-perkosa-rampok.

      beribu maap sodara2, sy sebenarnya ga pengen ngomong seperti ini. tapi kata2 muxlimo membuat sy muak.

      Untuk sodara2 muslim yg cinta damai & berkebangsaan tinggi : beribu maaf atas kata2 sy yg jauh dari kesopanan adat timur & penuh dg perpecahan. mudah2an bisa dibukakan pintu maaf sedikit utk sy.

  15. dan… jangan salah paham, Islam itu bukan agama yang buta hakiki.. mungkin bisa dipahami jika ada yang baca tulisan saya di sini:

    http://disamatengahhati.wordpress.com/2010/08/10/ilmu-tauhid-milik-semua/

    salam :)

  16. @muxlimo
    Ajaran luhur kejawen semua sudah terangkum lengkap dalam Islam?…WOW…..
    So what…..

    Para sedherek ingkang tansah ngregengaken blog puniko…
    kuwulo nderek tepang lan menawi kepareng nderek ngangsu kawruhipun…

    Pak Sabda ingkang kinurmatan…remen saged nderek lesehan wonten griya panjenengan ingkang nrengsepaken manah puniko…..Nuwun…

  17. Aq dah belajar byk filosofi pada agama2 kuno di manapun termasuk di luar negeri. cuman aq sadar kan di sini jg ada ya knapa ga dipelajarin. Kejawen adl salah satu warisan negara kita.

    aq sih sebenarnya ngambil apa aja yg baik mau dari Barat ato Timur ato dari luar angkasa sekalian. yg ga bener ya dibuang donk. XD Sejahat-jahatnya suatu golongan pasti ada jg yg baik. mau muslim, kristen, katolik, hindu, buddha, konghucu, kejawen, pagan, agnostik, bahkan atheis aja ada yg baik kok kalo qta cuman ngambil kesimpulan golongan lain itu jahat na aja ya nanti qta malah jd extrimis donk XD

    Jd skrg siapa yg bisa jelasin ke aq soal ajaran Kejawen secara detil, lalu gmna soal ilmu2 kesaktian. bener ga sih ada ilmu kesaktian dlm Kejawen di samping filsafat-etika ? klo boleh tau itu ilmu kesaktian pake perantara ga ?

  18. walah puteneh yo mas… jawa tengah niku katah tiang sing tasik urip kejawen…, tapi pean saget banding aken sangking ninggali taraf hidup tiang jawa tengah kale jawa barat utowo jawa timur….benten…. kula ngelus dada amergo ningali omah2 kayu sing jejer ten sepanjang jalan dari perbatasan jawa timur arah ten semarang… walaupun ten jawa timur katah ndeso tapi tasih enten katah omah sing pun semenan… durung mane sing ndadi aken tiang-tiang sumbung yo mergo ajaran kui…lha yo nopo tiang tiang podo seneng tukaran, seneng mabuk2an yo amergo melajari ilmu kayu raja…lha ilmu sebangsa kayu raja niki cabange ilmu kejawen kui… yo nopo dadi ne indonesia iki… mas saget pelajari, amergo nopo kerajaan-kerajaan jawa mboten saget langgeng… lha tuhane iku mboten jelas, tahun kapan nabi urip lan sapa bapak ibune? ,kitab sing endi…., sing jelas cuman rituale…, panjenengan pun gertos majapahit hancur amergo di serang anakke dewe…niki bukti bahwa ajaran niki pun mbothen relevan di amalken… tasawuf niku asale mboten saka ajaran islam… enthen katah surat-surat quran sing bertentangan kale ajaran tasawuf utowo kejawen…

    mungkin bener, indonesia niki amburadul kaya ngene… amergo ajaran agama islam di campur aduk kali ajaran liyane… tiang sholat sing di sembah sanes Allah, tiang ngomong alus amergo di tingali tiang apik tapi tingkane kaya sing ngawe urip….
    ================
    Kang asep chow Yth
    Nuwun sewu kang, pemahaman panjenengan tentang kejawen ibarat si buta memegang gajah. Masih mending kalau yg dipegang kuping si gajah. Celakanya, ini panjenengan malah meraba pantat harimau. Jadinya ya salah kaprah dan
    gebyah uyah. Panjenengan sah-sah saja menyimpulkan dan membuat generalisasi, seperti pendapat panjenengan di atas, tapi dalam tradisi ilmiah hal itu masih sebatas ASUMSI. Kebenaran pendapat dan asumsi panjenengan belum bisa diuji secara ilmiah. Apalagi syarat HIPOTESIS nya masih sangat lemah. Karena antara kesimpulan dengan pengumpulan datanya tidak match kang….hapunten. Boleh dikata itu masih berupa asumsi yg keluar dari minimnya info, atau krn sikap tidak suka, atau faktor emosional.
    salam karaharjan

  19. Nyuwun ngapunten;
    kulo namung tiang ndeso!! badhe tumut urun rembug
    Rasulullah dipun utus supados nyampuranaaken akhlaq ingkang sae,
    akhlaq meniko dipun bagi dados tigang bagian:
    sepindah : akhlaq dumateng diri pribadi.
    kalihipun : akhlaq dumteng liyan
    kaping tigo : akhlaq dumateng Allah SWT.
    kejawen pada prinsipnya sampun nglengkapi akhlaq2 meniko…
    ananging tatacaranipun (Syari’at) dereng tumut Rasulullah SAW.
    itulah sebabnya tiang kejawen ingkang saget tumut tatacaranipun (Syari’at) Rasulullah SAW, kathah ingkang dados wali(kekasihipun Gusti Allah),
    sayyid ingkang sami dugi saking timur-tengah ugi sami heran, bilih wonten ing tanah jawi, ingkang tebih sangking tanah kelahiranipun Rasulullah SAW, wonten piantun2 muslim ingkang akhlaq-ipun kados ingkang dipun contoaken kalian Rasulullah SAW…
    Masya Allah…
    Akhlaq kejawen
    Tauhid Syahadataen

    Wassalamu’alaikum
    Rahayu

  20. Mantep sanget.
    Akhlaq kejawen
    Tauhid Syahadataen
    Wong Jowo sing migunaake bahasa arab.

  21. Mas Wahjoe, kalau Kitab untuk Kejawen kemungkinan memang tidak ada, andaikata ada juga tidak mungkin ditemukan. Sedangkan sejarah kita sendiri baru kita kenali melalui tulisan dalam prasasti batu. Buku-buku berujud tulisan di atas daun lontar hanya sedikit yang diketemukan, itupun sudah dalam periode akhir. Tetapi kalau ajaran yang berbahasa Jawa dan ditulis dan dihimpun ke dalam buku/kitab sudah ada dan ajarannya ditujukan untuk seluruh umat manusia. Ajaran ini diterima melalui sabda Sang Guru Sejati (Utusan Tuhan Yang Abadi) kepada manusia (biasa) yang bernama R. Soenarto Mertowardojo, di kota Solo. Sabda Pertama diterima pada tanggal 14 Februari 1932 yang kemudian dibukukan dengan judul SABDA PRATAMA. Dalam sabda tersebut sekaligus dijanjikan dua orang yang akan membantu R. Soenarto Mertowardojo untuk mencatat sabda-sabda berikutnya. Mereka adalah Raden Tumenggung Hardjoprakosa dan Trihardono Soemodihardjo. Setelah mereka (yang sebelumnya tidak dikenal R Soenarto M) secara tidak disangka-sangka datang ke rumahnya, maka secara berturut-turut Sang Guru Sejati memberikan wejangannya selama 8 bulan, yang sekarang dibukukan dengan nama kitab Sasangka Jati. Di damping 2 buku tsb Sang Guru Sejati masih bersabda secara khusus yang selanjutnya dibukukan dengan nama kitab SABDA KHUSUS. Untuk memberi gambaran tentang ajaran ini, di bawah ini saya kutipkan penggalan2 dari isi kitab2 tsb.
    Dari kitab Sabda Pratama : ‘ ………Siswaningsun ! Antinen sawatara, sira Ingsun paringi pambantu kang bakal Ingsun piji mengeti kabeh dhawuh Ingsun, yaiku: 1. Hardjoprakosa, 2. Soemodihardjo. Calon siswa kasebut uga Ingsun utus njembar-jembarake pepadhang dhawuhing Pangeran kang Ingsun ampil. Poma aja cilik lan was atinira . Sira tetelune bakal nyangkul pakaryan kang agung, ing tembe bakal akeh kang padha ambiyantu marang sira. Sunaring piwulang Ingsun bakal sumunar angebeki jagad. Samene dhisik dhawuh Ingsun’
    Dari kitab Sasangka Jati : ‘Mangertia sira SiswaningSun, Manawa rawuh Ingsun iki ora karena nedya ngrusak utawa nyalini Pranataning Pangeran kang wus ana, yaiku kang lumrahe sinebut agama, lan Ingsun uga ora arsa ngedegake agama anyar. Ingsun mung arsa nuduhake dalan bener lan dalan simpangan lan ngelingake marang padha lali marang kuwajiban suci; ……………..’
    Dari kitab Sabda Khusus : ‘Gerombolaning siswa-siswaningSun sakabehe iki murih sepekete esuhana kaya satataning pakumpulan kang wus kalumrah……..’
    Dari sabda yang saya kutip terakhir itu menjadikan para siswa kemudian membentuk organisasi yang atas pilihan Sang Guru Sejati melalui R. Soenarto Mertowardojo diberi nama Paguyuban Ngesti Tunggal (Pangestu). Berdiri pada tanggal 20 Mei 1949.
    Demikian tadi mas Wahjoe informasi saya ini mudah-mudahan bermanfaat. Adapun mengenai ajarannya secara lengkap, mas Wahjoe dapat menghubungi warga Pangestu yang ada di wilayah tempat tinggal mas Wahjoe. Mohon maaf apabila kurang berkenan.

  22. “Kejawen : berisi kaidah moral dan budi pekerti luhur, serta memuat tata cara manusia dalam melakukan penyembahan tertinggi kepada Tuhan Yang Maha Tunggal. Akan tetapi, setelah abad 15 Majapahit runtuh oleh serbuan anaknya sendiri, dengan cara serampangan dan subyektif, jauh dari kearifan dan budi pekerti yg luhur, “pendatang baru” menganggap ajaran kejawen sebagai biangnya kemusyrikan, kesesatan, kebobrokan moral, dan kekafiran. Maka harus dimusnahkan. Ironisnya, manusia Jawa yang sudah “kejawan” ilang jawane, justru mempuyai andil besar dalam upaya cultural assasination ini…..”.

    Ini pemikiran dangkal yang ditulis ngawur, begini babarannya:
    Jadi menurut penulis “kejawen” adalah ajaran yang bersumber sebelum islam? (hindu..? budha..? atau pituture mbahmu…..?.
    Penulis ingin bilang islamlah yang menghancurkan “kejawen”, coba jujur ngomong mas, gak usah muter-muter atau sampeyan takut?
    Nek sampeyan asli “jawa” jawab pertanyaan-pertanyaan saya tadi atau sopo waelah sing seide karo penulis….. ojo wedi-wedi nek sampeyan wani atau ojo wani-wani nek sampeyan wedi.

  23. ane slonong boy lagi..ah
    fakta, (monggo jika tak percaya, silahkan teliti sendiri melalui metode/bidang biologi/neurologi)
    kegiatan/tata cara manusia menyembah Tuhan adalah sebagai kebutuhan manusia itu sendiri yg ujung2nya sekedar/ideal/efektifnya untuk relaksasi/motivasi,/refreshing/cooling down tubuhnya, terutama untuk sel2 otak, sehingga dapat kembali berprilaku arif & bijaksana, saling asah asih asuh dalam bermasyarakat/sosial maupun berlingkungan.

    Kejawen adalah salah satu dari sekian banyak metode dimuka bumi untuk relaksasi/motivasi/refreshing/cooling down tubuh. dan ya Kejawen cocok untuk disini (thanks to para leluhur lokal yg udah sharing pemikiran/pengetahuannya), malah lebih terbuka untuk menyerap ‘teknologi’ dari luar (agama2 impor) dan mengapa pula JIKA harus ikut2an mentjap kopar-kapir, toh tak usah di tjap2 kayak gitu perilaku & ego dari keseharian/kehidupan seseorang adalah sbg bukti yg tak terbantahkan, dan sy rasa Kejawen maupun disini memaklumi jika ada yg mentjap2 begitu, oleh krn itu ada perumpamaan untuk dikorelasikan ke “lapangan” bahwa siapa yg menanam, dia pula yg akan menuai.

    jadi yg salah kaprah siapa ?
    hanyalah perasaan fanatik (saja) dari seseorang (termasuk sy sendiri harus bisa eling) dan itu bisa saling menular.

    jadi mengapa pula Kejawen harus disebut hancur karena Islam…?

    semoga nggak
    bagai mengklaim kapal pemecah es (brg impor) cocok digunakan di nusantara (yg tak ada lautan beku).

  24. @Surodiningrat …

    Penulis ingin bilang islamlah yang menghancurkan “kejawen”

    Tepat sekali…

    Sudah terbukti dengan postingan penulis sendiri yang mengandung hasutan dan rasa kebencian, dan bahkan bertentangan antara thread yang satu dengan thread lainnya…
    ——————————————————————————

    Dan kejawen adalah budaya yang ‘sehat’, selama ia diletakkan sebagai adat-istiadat setempat yang tidak bertentangan dengan agama, yakni agama yang diimani oleh orang-orang yang ‘cerdas’ (mau berfikir). Dan kita juga selayaknya menyadari dan menghargai, bahwa tiap-tiap daerah pun mempunyai budayanya masing-masing; toh budaya tiap-tiap daerah itu pun tidak bertentangan dengan agama Islam yang mereka yakini.

    Seperti halnya pakaian, yang menurut kita cukup pantas untuk kita kenakan saat ini, tidak lah bertentangan dengan pakaian takwa yang dikaruniakan oleh-Nya.

    Eyang Prabu Jayabaya pun pada akhirnya memperoleh petunjuk itu setelah agama Islam diajarkan oleh gurunya kepada beliau. Malahan ia telah berhasil menyelaraskan antara budaya kejawen dan agama Islam.

    Begitu juga dengan paman Sunan Kalijaga, yang berusaha memahami dan menyesuaikan agama Islam yang disyiarkannya dengan budaya kejawen setempat. Beliau tidak menjadikan kejawen sebagai budaya yang harus ditinggalkan, dan tidak menjadikan agama Islam sebagai suatu keyakinan yang harus dimusuhi. Beliau pun berusaha menyelaraskan antara budaya setempat dengan agama Islam yang diajarkannya itu.

    Oleh karena itu memang benar, pada akhirnya niat manusia akan tercermin dari ucapan dan perilaku (perbuatan) manusia itu sendiri. ‘Cermin yang dibelah’ yang dimaksudkan olehnya, adalah tercermin pada thread yang ‘dibelahnya sendiri’.

  25. Mas Sabda, agak sedikit di luar konteks. Cara penulisan Jawa dalam tulisan mas Sabda kok saya rasa ada hal yang tidak konsisten. Seperti kata ‘padha’ dan ‘asmaradhana’, di sini da ditulis ‘dha’. Sementara itu kata ‘pendhem’ (dikubur/ditanam), ditulis dengan ‘dh’ . Kalau menurut ejaran bahasa Jawa (yang baru), penulisan yg benar : ‘pada’, ‘asmaradana’, dan ‘pendhem’. Tetapi sesungguhnya saya juga tidak begitu sependapat dengan tambahan huruf ‘h’ pada ‘pendhem’ , karena huruf ‘h’ itu bersifat memperlemah (lental), bukan malah memperkeras/tajam (dental). Jadi saya lebih setuju kalau kata-kata tersebut ditulis begini : ‘padha’, asmaradhana’, dan ‘pendem’. Ini bahan bagi kongres bahasa Jawa yang akan datang. Nyuwun ngapunten.
    ==============
    Matur sembah nuwun Mas Sunaryo atas koreksinipun.
    Rahayu

  26. Mas Blonthang, maaf saya ingin sedikit mengomentari pernyataan mas bahwa Tuhan itu maha materi yang tak terbatas. Menurut saya materi itu mesti terbatas. Jadi Tuhan menurut pendapat saya adalah bukan materi atau maha materi. Kalau Tuhan itu materi maka kita pasti dapat mengenal Tuhan melalui jalan ilmiah. Seperti juga pengetahuan manusia tentang alam semesta ini. Materi itu ciptaan Tuhan. Bentuknya dari yang maha besar seperti: matahari, planet-planet, gunung, dll; yang besar seperti hewan, manusia, tumbuhan yang besar-besar, sampai yang kecil-kecil seperti debu, air, udara, dan api, makhluk halus, bahkan sampai yang terkecil yang disebut dengan ‘alusing anasir lemah’, ‘alusing anasir banyu’ , ‘alusing anasir geni’, ‘alusing anasir swasana’ Keempat yang tersebut terakhir itu yaitu: ‘halusnya anasir tanah’, ‘halusnya anasir air’, ‘halusnya anasir api’ dan ‘halusnya anasir swasana’ adalah bebakalan (bahan dasar) bagi penciptaan. Bahan dasar tersebut “keluar” dari Tuhan (emanasi) tetapi juga karena kekuasaanNya (Kun Fayakun?)Kalau manusia dapat menganalisis benda-benda sampai ke ‘bahan dasar’ ini tentu manusia dapat menyingkap semua alam materi, termasuk makhluk halus, karena mereka berasal dari bahan dasar api. Siapa tahu kelak ada manusia yang menemukan formula yang berbentuk cairan semacam ‘lenga jayeng patra’ yang bila diteteskan ke mata kita maka kita dapat melihat makhluk halus yang ada di sekeliling kita. Jika demikian maka kita akan gampang menjadi Arjuna-Arjuna di abad modern. Adapun menurut pengetahuan yang saya peroleh dari “kulak jare adol jare” atau “kulak katanya, jual katanya”, maka Tuhan itu tidak terbatas, istilah yang dipakai adalam “ALAM” SADAR KOLEKTIF. Kata “alam” dalam tanda kutip dimaksudkan sebagai jembatan pemahaman bagi kita yang adalah sesuatu yang terbatas (materi). Tetapi sebenarnya SADAR KOLEKTIF itu bukan alam seperti yang kita gambarkan dalam pikiran kita. Pengenalan terhadap “ALAM'” SADAR KOLEKTIF tidak melalui otak, tetapi melalui rahsa jati. Sementara itu alam materi disebut dengan ALAM TIDAK SADAR KOLEKTIF. Tetapi istilah ini tidak berhubungan dengan istilah alam bawah sadar dan alam sadar seperti yang ditulis oleh Kamas Sabdalangit.

  27. Ngglosor Madhep Wetan

    Bagaimana dengan konsep Tuhan itu pencipta sistem semesta, yg sistem semesta itu dapat menciptakan elemen2 di dalamnya karena memiliki unsur2 semesta dan akal semesta yg menggerakkan unsur2 semesta tersebut menjadi partikel2 yg lebih besar dan memiliki fungsinya masing2 ?

    Kalau ilmu filsafat mengemukakan asal dari semesta adalah penyebab awal / causa prima, maka konsep yg saya usung ini adalah pre-eksistensi-causa-prima : Tuhan ada sebelum penyebab awal semesta diciptakan.

    Ngapunten Poro Sedulur lan Pini Sepuh, saya cuma mau meng-counter ide-nya Stephen Hawking yg menyatakan bahwa Tuhan tidak ada (melalui jejalur pikiran pembentukan semesta secara fisika). namun apa daya, si Stephen Hawking ndak pernah hadir di sini… hehehehe….

    nuwun
    Rahayu

    • Bagaimana dengan konsep Tuhan itu PENCIPTA SISTEM semesta..
      ———————————————————————————————-
      ada berbagai kemungkinan/opsi untuk konsep, tapi “problemnya” bagai mengkonversi signal suara analog ke digital (akal manusia)
      kalo signal itu STATIK, dgn modal powerfull processor, kebenaran sejati bisa diketahui & tutup “kasus”.
      kalo signal itu DINAMIS maka akan sulit untuk mengetahui kebenaran sejati, dukungan multi processor juga cenderung hanya mendekati saja, itu pun kalo jumlah prosessor setara jumlah dinamika.

      andaikan processor itu otak manusia, berapakah jumlah manusia yg selama hidupnya hanya memproses untuk konsep saja, lalu apakah sebanding dgn jumlah dinamika alam semesta pada semua skala.

      dari penelitian hingga saat ini, bahwa alam semesta terdeteksi DINAMIS (spt air), dan memang penelitian lapangan harus dilakukan untuk mencari bukti & fakta, kalo nggak diusahakan (lagi2, sekedar percaya saja pada konon-katanya),…ya hoak gan kalo tetap mengklaim kebenaran spt debat kusir keyakinan/merk agama.

      CMIIW
      jadi konsep Anda itu, yg bisa sy tangkep sbg konteks untuk memahami proses:
      dua membrane yg bertabrakan krn tersedot kpd suatu kevakuman (ketiadaan) yg memisahkannya, selanjutnya dari tabrakan itu dikenal dgn sebutan/peristiwa (teori) big bang.
      note:
      kevakuman (ketiadaan) jika pd perspektif sy saat ini, maka bisa berarti:
      —————————————–
      …sebelum penyebab awal semesta diciptakan.
      —————————————–
      dgn kata lain pre big bang.
      jika ditambah kata ADA pada–>… diatas
      jadi bagaimana definisi nothing selain kevakuman ?
      barangkali, nothing is something…

      btw
      dua membrane itu, kalo istilahnya yg sy baca disini:
      bagai mata (membrane) melihat mata (membrane).
      dinamika alam semesta diprediksi (juga) krn pengaruh alam semesta/membrane lain (multi universe), alam semesta lain/tetangga tidak akan pernah bisa dijangkau berkas cahaya (keburu ko’it sy nungguin tu cahaya bawa/ngirim infoh)
      kevakuman (ruang kosong diantara alam semesta) bagai black hole, bisa menyedot hingga menyemburkan, tergantung jarak & arah jalan tiap alam semesta, yaaaah..hukum fisika (yg membosankan). hehehe
      krn sulit dijangkau berkas cahaya, harapannya tinggal begimana caranya mengetahui & mendapatkan manfaat dari dark/maha energy & dark/maha matter.

      jadi kasarnya:
      Tuhan cuma persepsi & asumsi krn dinamika, kalopun mau tetap menyakini Tuhan itu ada “wujud”/eksistensi-Nya maka kita juga bagian dari “wujud”/eksistensi-Nya,
      kamanunggalan Gusti, jika tak ingin Tuhan disebut sbg ketiadaan.

    • @mas ngglosor madep ngetan yth,

      Mas…….mas, sakjane (sebenarnya) ana utawa ora ana Tuhan kuwi dudu hal sing penting (ada atau tidak ada tuhan bukanlah sesuatu hal yang penting).

      Begini penjabarannya mas, taruhlah tuhan itu ada, lalu dengan keberadaan-Nya ini panjenengan sesungguhnya mau apa? Sebaliknya, jika tuhan tidak ada, panjenengan juga mau apa?

      Sepanjang masa, tuhan selalu didiskusikan, diperebutkan, dipertentangkan dan berbagai pergulatan pemikiran yang sangat menyita waktu dan energi. Andai tuhan sebuah materi, mungkin tidak lagi diperdebatkan keberadaan-Nya, tetapi pasti setiap orang akan berlomba-lomba untuk mendapatkan tempat yang baik disisi-Nya. Mungkin dengan cara menyuap, menjilat dan berbagai strategi lainnya. Akhirnya terjadilah pembantaian juga.

      Mbok wis, kita berhenti berdiskusi tentang tuhan. Biarkan saja, dia ada atau tidak bukan hal yang penting untuk diributkan. Menurut saya, akan lebih bijaksana ketika kita mau bersahabat dewngan alam. Sebab, siapakah yang bisa membantah bahwa tanpa alam maka tidak akan pernah ada manusia dan penghuni lainnya? Artinya, berkat alamlah kita ini menjadi ada.

      Nah, mari bersama-sama mengadakan ritual syukur kepada alam semesta. Cara ritualnya bagaimana? ya mudah saja, cukup jangan merusak alam, sebab merusak alam sama dengan bunuh diri. sangat sederhana dan mudah kan? jangan mengotori sungai dengan sampah, jangan membuang limbah sembarangan. pokoknya berbaik-baiklah dengan alam dan sesama. nanti kan pasti akan tercipta keharmonisan dan keselarasan. Bisa dibuktikan, tidak seperti berdebat tentang tuhan yang konyol itu.

  28. Untuk Surodinigrat dan TS:
    Apakah Kejawen dihancurkan oleh Islam? Jika dimaknai keduanya sebagai sesama ajaran luhur, jelas tidak ada hancur menghancurkan. Sepanjang masa, Kejawen (Ajaran luhur/Kebijaksanaan, yang bersumber dari Sukma Sejati, dan dirumuskan berdasarkan Kodrat Alam yang tergelar), tak pernah mati. Sebagaimana Islam (ajaran penyerahan diri kepada Dzat Yang Maha Agung), juga tak akan pernah mati. Keduanya adalah nama berbeda untuk realitas yang tunggal: kebenaran abadi sepanjang masa seiring dengan kekalnya Tuhan atau Alam Semesta. Perbedaan bahasa hanya mencerminkan berbedaan lokasi geografis dimana Kebenaran Abadi itu muncul….

    Tetapi, pada kasus Indonesia, Kejawen makin sedikit dipeluk orang, karena banyak orang yang lupa atau memang tak leluasa untuk menghayatinya. Dan bisa dibaca secara jelas pada sejarah, mereka yang mengaku beragama Islam, turut bertanggung jawab terhadap kondisi ini. Mereka yang mengaku beragama Islam itu, yang dalam sejarah diwakili oleh Sunan Giri, Sunan Kudus, dll, memaksakan persepsi kebenaran mereka kepada manusia Nusantara dengan menggunakan kekuasaan yang tengah dipegang. Orang yang punya persepsi kebenaran berbeda dengan mereka, seperti Syeikh Siti Jenar, Ki Ageng Kebo Kenongo, ditindas, dinista, dibunuh. Maka, persepsi kebenaran ala mereka itu yang kemudian dominan. Padahal, jika dilihat, Islam versi orang2 yang diklaim sebagai wali itu, tidaklah mencerminkan keseluruhan persepsi tentang Islam yang ada…….Sunan Kalijaga tidak seperti itu (dan beliau menyesali tragedi yang ditimbulkan oleh mereka yang mengaku atau diklaim sebagai wali itu…..)…dan lebih mundur lagi, Ibnu Arabi tidak begitu, Jalaludin Rumi tidak begitu, bahkan Sayidina Ali juga tidak begitu…….

    Pada masa kini, orang Jawa yang ingin memeluk Kejawen dipersulit, Kejawen dianggap tak layak punya tempat…….yang dianggap sebagai agama yang sah di negeri ini hanya Islam, Kristen Protestan dan Katholic, Budha, Hindu…Dan siapa yang membuat kebijakan seperti itu kalau bukan mereka yang mengaku sebagai Muslim yang kebetulan berkuasa?

    Surodiningrat dan TS…..sungguh, saya menghargai dengan sepenuh hati apapun agama Anda…dan bagaimana cara Anda menghayati agama itu. Tapi, jika Anda berdua melampaui batas……Anda terus menghina orang lain…dan terus menghina ajaran luhur sesepuh Nusantara, pertama, saya ingatkan, bahwa pada titik tertentu, itu akan berbuah derita yang pahit bagi diri Anda di alam semesta ini tergelar keadilan yang sempurna. Kedua, jika Anda terus berlaku aniaya, saya akan menjadi salah satu orang yang siap menghadapi Anda…….

    • @yth satrio pengging,

      ……………….jika Anda terus berlaku aniaya, saya akan menjadi salah satu orang yang siap menghadapi Anda…….
      __________________________________________________

      Nah gitu mas, sikap TEGAS dan JELAS sangat diperlukan untuk saat ini. Wong Jowo itu kan juga manusia biasa, yang bisa sangat toleran (lemah lembut) tetapi juga bisa meradang atau MARAH.

      Saya kira cukuplah sudah Kejawen itu dijadikan bahan penghinaan oleh para fundamentalist muslim, sebab menurut saya ASLINYA justru Kejawen jauh lebih cerdas, agung, mulia dan sakral dibandingkan islam dengan tuhan kacangnya itu (kacang itu maksudnya : kakehan cangkem alias banyak ndobos).

      Kejawen pasti lebih baik jika dibandingkan dengan islam, mari kita bersama-sama buktikan, apa yang menjadi ukuran? yah….pasti ajarannyalah.

      Dalam ajaran Kejawen tak satupun ayat atau kalimat yang mengijinkan PEMBUNUHAN BAGI MEREKA YANG MELAWAN. Beda banget dengan ajaran islam kan, yang penuh dengan cipratan darah segar, kekejaman dan pembantaian terhadap kaum musrikin dan kaum kafir?

      Makanya wahai orang islam, pelajarilah al quran secara sistematis dan kronologis. Bedah secara cermat itu ayat-ayat periode Madinah terutama setelah muhammad sukses merampok di Badar.

      Memang kalau mempelajari al quran hanya berhenti pada yat-ayat periode Makkah, yah…. tentu ayatnya semua baik-baik, paling tuhan cuma gedebus menceritakan kisah nabi-babi jaman dulu (persis kayak perjanjian lama), paling-paling tuhan cuma menggertak dengan ancaman neraka (sayangnya orang quraish pada saat itu gak ada yang takut dengan ancaman itu, kira-kira sama seperti sayalah, saya juga sama sekali tidak takut dengan neraka buatannya tuhan islam). Ayat -ayat periode Makkah TAK SATU PUN ada perintah pembunuhan bagi penentang Islam. Silakan bagi muslim dibaca itu ayat-ayat periode Makkah.

      Oleh karena itu para pakar Islam atau ustadz BERANG ketika dikatakan ajaran Islam itu penuh dengan kekerasan. Mereka MENYANGGAH “Oh tidak, sama sekali tidak. Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan”. Saya berani bersumpah, itu pasti pakar islam dan ustadz yang gebleg! yang mempelajari al quran hanya sepotong-sepotong. Kemana ayat-ayat setan (kekerasan/pembunuhan) itu disembunyikan?

      Melalui blog ini saya sudah pernah tunjukkan ayat-ayat setan itu, silakan dibaca ulang. Tolong bagi muslim jika baca al quran itu dibaca secara urut, jangan melompat-lompat. Ayat-ayat itu BERKESINAMBUNGAN antara periode makkah dengan periode Madinah. Pokonya gak bisalah jika Islam berbicara tentang kafir hanya menggunkana surat periode Makkah (QS 109:1-6) dengan menghilangkan atau mengesampingkan ayat-ayat tentang kafir periode Madinah.

      Saya sangat yakin, jika orang Jawa semakin banyak tahu KEKEJAMAN ISLAM pasti mereka akan berpaling kepada ajaran nenek moyangnya yakni KEJAWEN. Akhirnya tanpa dilawan pun Islam akan hancur berkeping-keping, musnaaaaaah…………..silakan minta tolong pada tuhan yang kakehan cangkem itu.

      Penduduk Indonesia yang beragama Islam, diklaim sebesar 90%. Tetapi dari yang 90% itu paling yang betul-betul menguasai bahasa arab (mudeng Islam kuwi panganan apa?) tidak lebih dari 15 %. maka 75% sisanya islam yang cuma ikut-ikutan.

      Silakan bagi yang berminat bisa mengadakan penelitian supaya datanya lebih valid. Daaaag…..selamat tinggal islam, kembalilah kau ketanah kelahiranmu, Arab Saudi di sana kamu lebih cocok hidup dari pada di sini, biarlah kita di jawa menggunakan cara jawa.

      • salam,
        mas suprayitno,
        anda berkata:
        Kejawen pasti lebih baik jika dibandingkan dengan islam, mari kita bersama-sama buktikan, apa yang menjadi ukuran? yah….pasti ajarannyalah.

        Dalam ajaran Kejawen tak satupun ayat atau kalimat yang mengijinkan PEMBUNUHAN BAGI MEREKA YANG MELAWAN. Beda banget dengan ajaran islam kan, yang penuh dengan cipratan darah segar, kekejaman dan pembantaian terhadap kaum musrikin dan kaum kafir?

        jawaban saya:
        islam memerangi mereka yg memerangi islam, yaitu mereka yg menghalangi orang-orang yg ingin menganut islam atau yg beragama islam.

        saya rasa anda perlu memeriksa lagi perkataan anda. Islam tidak pernah mengajarkan untuk membunuh orang yg tidak mau masuk islam.

        oh iya, tidak diwajibkan bagi para muslim untuk menguasai bahasa arab.
        anda mengada-ada saja.

        salam,
        sayyid

  29. Blog ini, sejatinya adalah tempat bagi para sedulur untuk berbagi, berdiskusi dengan kasih sayang agar makin sempurna ilmu dan laku kita masing2…Kita ada di sini untuk saling asah, asih, asuh…..Anda, Surodinigrat dan TS, sebetulnya merusak pakem di tempat ini….Aura yang Anda tebarkan sungguh berbeda……Tapi, saya pribadi memaklumi keberadaan dan tingkah laku Anda…bahkan saya jadikan orang2 seperti Anda sebagai “guru”……sosok di mana bisa belajar tentang berbagai hal….

    Tapi, saya orang yang terus terang…..dan tak segan berkata yang mungkin pahit bagi Anda…di mata saya, ilmu Anda berdua itu sesungguhnya belum apa2… tapi kok sombongnya nggak ketulungan…..Karena itu, dengan hati penuh kasih…ijinkan saya mengingatkan pada Anda..berhentilah berlaku sombong seperti itu….sadarilah bahwa banyak hal yang belum Anda tahu….apalagi soal Kejawen..Anda itu gak tahu banyak, sebagaimana Anda juga gak tahu banyak soal Islam (memang Anda sudah pelajari Hikmah Muta’aliyahnya Mula Shadra, Anda sudah kaji Futuhat Al Makiyyahnya Ibnu Arabi? Anda sudah selami Matsnawi-nya Rumi? Anda sudah pelajari Nahjul Balaghahnya Imam Ali?). Mulailah untuk menjadi pencari ilmu yang rendah hati…..jika tidak, pada suatu saat Anda akan menjadi orang yang tergilas oleh hukum semesta ini…Sebelum itu terjadi, sadarlah, keluarlah dari kepicikan Anda, berhentilah dari kesombongan Anda….

    Rahayu

  30. Buat saudara2 para komentator diatas,

    Saya mohon dengan sedalam dalamnya hati agar saudara2ku diatas tidak emosi dalam mengkomentari satu dgn yang lain, jangan bertekak satu sama lain. klo kita sudah saling emosi maka syaithonlah yang menang.
    Mari kita sadari bahwa blog ini untuk sama2 mengolah rasa, rasa yang sejati hanya pribadi2 yang merasakan. Seperti yang kita ketahui bahwa keyakinan adalah RASA dan kita semua setuju bahwa rasa pedas, manis, pahit, asam , tapitidak ada seorangpun yang bisa menjelaskan rasa itu semua kecuali diri kita sendiri.
    Berlandaskan itu semua mari kita sama2 menggali ilmu dengan baik dengan pemahaman yg baik pula sehingga kita menjadi lebih bermartabat dlm kehidupan dunia menuju akhirat yg abadi amin…
    Semoga kita semua menjadi khalifah / titah gusti yang disayanginya Amin…

    Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 913 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: