KEJAWEN ; Ajaran Luhur Yang Dicurigai & Dikambinghitamkan

KEJAWEN

“Permata” Asli Bumi Nusantara yang Selalu Dicurigai

Dan Dikambinghitamkan

 

 

Kearifan Lokal yang Selalu Dicurigai

 

Ajaran kejawen, dalam perkembangan sejarahnya mengalami pasang surut. Hal itu tidak lepas dari adanya benturan-benturan dengan teologi dan budaya asing (Belanda, Arab, Cina, India, Jepang, AS). Yang paling keras adalah benturan dengan teologi asing, karena kehadiran kepercayaan baru disertai dengan upaya-upaya membangun kesan bahwa budaya Jawa itu hina, memalukan, rendah martabatnya, bahkan kepercayaan lokal disebut sebagai kekafiran, sehingga harus ditinggalkan sekalipun oleh tuannya sendiri, dan harus diganti dengan “kepercayaan baru” yang dianggap paling mulia segalanya. Dengan naifnya kepercayaan baru merekrut pengikut dengan jaminan kepastian masuk syurga. Gerakan tersebut sangat efektif karena dilakukan secara sistematis mendapat dukungan dari kekuatan politik asing yang tengah bertarung di negeri ini.

Selain itu “pendatang baru” selalu berusaha membangun image buruk terhadap kearifan-kearifan lokal (baca: budaya Jawa) dengan cara memberikan contoh-contoh patologi sosial (penyakit masyarakat), penyimpangan sosial,  pelanggaran kaidah Kejawen, yang terjadi saat itu, diklaim oleh “pendatang baru” sebagai bukti nyata kesesatan ajaran Jawa. Hal itu sama saja dengan menganggap Islam itu buruk dengan cara menampilkan contoh perbuatan sadis terorisme, menteri agama yang korupsi, pejabat berjilbab yang selingkuh, kyai yang menghamili santrinya, dst.

 Tidak berhenti disitu saja, kekuatan asing terus mendiskreditkan manusia Jawa dengan cara memanipulasi atau memutar balik sejarah masa lampau. Bukti-bukti kearifan lokal dimusnahkan, sehingga banyak sekali naskah-naskah kuno yang berisi ajaran-ajaran tentang tatakrama, kaidah, budi pekerti yang luhur bangsa (Jawa) Indonesia kuno sebelum era kewalian datang, kemudian dibumi hanguskan oleh para “pendatang baru” tersebut. Kosa kata Jawa juga mengalami penjajahan, istilah-istilah Jawa yang dahulu mempunyai makna yang arif, luhur, bijaksana, kemudian dibelokkan maknanya menurut kepentingan dan perspektif subyektif disesuaikan dengan kepentingan “pendatang baru” yang tidak suka dengan “local wisdom”. Akibatnya; istilah-istilah seperti; kejawen, klenik, mistis, tahyul mengalami degradasi makna, dan berkonotasi negatif. Istilah-istilah tersebut “di-sama-makna-kan” dengan dosa dan larangan-larangan dogma agama; misalnya; kemusyrikan, gugon tuhon, budak setan, menyembah setan, dst. Padahal tidak demikian makna aslinya, sebaliknya istilah tersebut justru mempunyai arti yang sangat religius sbb;

 

Klenik : merupakan pemahaman terhadap suatu kejadian yang dihubungkan dengan hukum sebab akibat yang berkaitan dengan kekuatan gaib (metafisik) yang tidak lain bersumber dari Dzat tertinggi yakni Tuhan Yang Maha Suci. Di dalam agama manapun unsur “klenik” ini selalu ada.

Mistis : adalah ruang atau wilayah gaib yang dapat dirambah dan dipahami manusia, sebagai upayanya untuk memahami Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam agama Islam ruang mistik untuk memahami sejatinya Tuhan dikenal dengan istilah tasawuf.

Tahyul : adalah kepercayaan akan hal-hal yang gaib yang berhubungan dengan makhluk gaib ciptan Tuhan. Manusia Jawa sangat  mempercayai adanya kekuatan gaib yang dipahaminya sebagai wujud dari kebesaran Tuhan Sang Maha Pencipta.  Kepercayaan kepada yang gaib ini juga terdapat di dalam rukun Islam.

Tradisi : dalam tradisi Jawa, seseorang dapat mewujudkan doa dalam bentuk lambang atau simbol. Lambang dan simbol dilengkapi dengan sarana ubo rampe sebagai pelengkap kesempurnaan dalam berdoa. Lambang dan simbol juga mengartikan secara kias bahasa alam yang dipercaya manusia Jawa sebagai bentuk isyarat akan kehendak Tuhan. Manusia Jawa akan merasa lebih dekat dengan Tuhan jika doanya tidak sekedar diucapkan di mulut saja (NATO: not action talk only), melainkan dengan diwujudkan dalam bentuk tumpeng, sesaji dsb sebagi simbol kemanunggalan tekad bulat. Maka manusia Jawa dalam berdoa melibatkan empat unsur tekad bulat yakni hati, fikiran, ucapan, dan tindakan. Upacara-upacara tradisional sebagai bentuk kepedulian pada lingkungannya, baik kepada lingkungan masyarakat manusia maupun masyarakat gaib yang hidup berdampingan, agar selaras dan harmonis dalam manembah kapada Tuhan. Bagi manusia Jawa, setiap rasa syukur dan doa harus diwujudkan dalam bentuk tindakan riil (ihtiyar) sebagai bentuk ketabahan dan kebulatan tekad yang diyakini dapat membuat doa terkabul. Akan tetapi niat dan makna dibalik tradisi ritual tersebut sering dianggap sebagai kegiatan gugon tuhon/ela-elu, asal ngikut saja,  sikap menghamburkan, dan bentuk kemubadiran, dst.

Kejawen : berisi kaidah moral dan budi pekerti luhur, serta memuat tata cara manusia dalam melakukan penyembahan tertinggi kepada Tuhan Yang Maha Tunggal. Akan tetapi, setelah abad 15 Majapahit runtuh oleh serbuan anaknya sendiri, dengan cara serampangan dan subyektif, jauh dari kearifan dan budi pekerti yg luhur, “pendatang baru” menganggap ajaran kejawen sebagai biangnya kemusyrikan, kesesatan, kebobrokan moral, dan kekafiran. Maka harus dimusnahkan. Ironisnya, manusia Jawa yang sudah “kejawan” ilang jawane, justru mempuyai andil besar dalam upaya cultural assasination ini. Mereka lupa bahwa nilai budaya asli nenek moyang mereka itulah yang pernah membawa bumi nusantara ini menggapai masa kejayaannya di era Majapahit hingga berlangsung selama lima generasi penerus tahta kerajaan.

 

 

Ajaran Tentang Budi Pekerti, Menggapai Manusia Sejati

 

Dalam khasanah referensi kebudayaan Jawa dikenal berbagai literatur sastra yang mempunyai gaya penulisan beragam dan unik. Sebut saja misalnya; kitab, suluk, serat, babad, yang biasanya tidak hanya sekedar kumpulan baris-baris kalimat, tetapi ditulis dengan seni kesusastraan yang tinggi, berupa tembang yang disusun dalam bait-bait atau padha yang merupakan bagian dari tembang misalnya; pupuh, sinom, pangkur, pucung, asmaradhana dst. Teks yang disusun ialah yang memiliki kandungan unsur pesan moral, yang diajarkan tokoh-tokoh utama atau penulisnya, mewarnai seluruh isi teks.

Pendidikan moral budi pekerti menjadi pokok pelajaran yang diutamakan. Moral atau budi pekerti di sini dalam arti kaidah-kaidah yang membedakan baik atau buruk segala sesuatu, tata krama, atau aturan-aturan yang melarang atau menganjurkan seseorang dalam menghadapi lingkungan alam dan sosialnya. Sumber dari kaidah-kaidah tersebut didasari oleh keyakinan, gagasan, dan nilai-nilai yang berkembang di dalam masyarakat yang bersangktan. Kaidah tersebut akan tampak dalam manifestasi tingkah laku dan perbuatan anggota masyarakat.

Demikian lah makna dari ajaran Kejawen yang sesungguhnya, dengan demikian dapat menambah jelas  pemahaman terhadap konsepsi pendidikan budi pekerti yang mewarnai kebudayaan Jawa. Hal ini dapat diteruskan kepada generasi muda guna membentuk watak yang berbudi luhur dan bersedia menempa jiwa yang berkepribadian teguh. Uraian yang memaparkan nilai-nilai luhur dalam kebudayaan masyarakat Jawa yang diungkapkan diatas dapat membuka wawasan pikir dan hati nurani bangsa bahwa dalam masyarakat kuno asli pribumi telah terdapat seperangkat nilai-nilai moralitas yang dapat diterapkan untuk mengangkat harkat dan martabat hidup manusia.

 

Dua Ancaman Besar dalam Ajaran Kejawen

 

Dalam ajaran kejawen, terdapat dua bentuk ancaman besar yang mendasari sikap kewaspadaan (eling lan waspada), karena dapat menghancurkan kaidah-kaidah kemanusiaan, yakni; hawanepsu dan pamrih. Manusia harus mampu meredam hawa nafsu atau nutupi babahan hawa sanga. Yakni mengontrol nafsu-nafsunya yang muncul dari sembilan unsur yang terdapat dalam diri manusia, dan melepas pamrihnya.

Dalam perspektif kaidah Jawa, nafsu-nafsu merupakan perasaan kasar karena menggagalkan kontrol diri manusia, membelenggu, serta buta pada dunia lahir maupun batin. Nafsu akan memperlemah manusia karena menjadi sumber yang memboroskan kekuatan-kekuatan batin tanpa ada gunanya. Lebih lanjut, menurut kaidah Jawa nafsu akan lebih berbahaya karena mampu menutup akal budi. Sehingga manusia yang menuruti hawa nafsu tidak lagi menuruti akal budinya (budi pekerti). Manusia demikian tidak dapat mengembangkan segi-segi halusnya, manusia semakin mengancam lingkungannya, menimbulkan konflik, ketegangan, dan merusak ketrentaman yang mengganggu stabilitas kebangsaan

 

NAFSU

 

Hawa nafsu (lauwamah, amarah, supiyah) secara kejawen diungkapkan dalam bentuk akronim, yakni apa yang disebut M5 atau malima; madat, madon, maling, mangan, main; mabuk-mabukan, main perempuan, mencuri, makan, berjudi. Untuk meredam nafsu malima, manusia Jawa melakukan laku tapa atau “puasa”. Misalnya; tapa brata, tapa ngrame, tapa mendhem, tapa ngeli.

Tapa brata ; sikap perbuatan seseorang yang selalu menahan/puasa hawa nafsu yang berasal dari lima indra. Nafsu angkara yang buruk yakni lauwamah, amarah, supiyah.

Tapa ngrame; adalah watak untuk giat membantu, menolong sesama tetapi “sepi” dalam nafsu pamrih yakni golek butuhe dewe.

Tapa mendhem; adalah mengubur nafsu riak, takabur, sombong, suka pamer, pamrih. Semua sifat buruk dikubur dalam-dalam, termasuk “mengubur” amal kebaikan yang pernah kita lakukan kepada orang lain, dari benak ingatan kita sendiri. Manusia suci adalah mereka yang tidak ingat lagi apa saja amal kebaikan yang pernah dilakukan pada orang lain, sebaliknya selalu ingat semua kejahatan yg pernah dilakukannya. 

Tapa ngeli, yakni menghanyutkan diri ke dalam arus “aliran air sungai Dzat”, yakni mengikuti kehendak Gusti Maha Wisesa. “Aliran air” milik Tuhan, seumpama air sungai yang mengalir menyusuri sungai, mengikuti irama alam, lekuk dan kelok sungai, yang merupakan wujud bahasa “kebijaksanaan” alam. Maka manusia tersebut akan sampai pada muara samudra kabegjan atau keberuntungan. Berbeda dengan “aliran air” bah, yang menuruti kehendak nafsu akan berakhir celaka, karena air bah menerjang wewaler kaidah tata krama, menghempas “perahu nelayan”, menerjang “pepohonan”, dan menghancurkan “daratan”.

 

PAMRIH

 

     Pamrih merupakan ancaman ke dua bagi manusia. Bertindak karena pamrih berarti hanya mengutamakan kepentingan diri pribadi secara egois. Pamrih, mengabaikan kepentingan orang lain dan masyarakat. Secara sosiologis, pamrih itu mengacaukan (chaos) karena tindakannya tidak menghiraukan keselarasan sosial lingkungannya.  Pamrih juga akan menghancurkan diri pribadi dari dalam, kerana pamrih mengunggulkan secara mutlak keakuannya sendiri (istilahnya Freud; ego). Karena itu, pamrih akan membatasi diri atau mengisolasi diri dari sumber kekuatan batin. Dalam kaca mata Jawa, pamrih yang berasal dari nafsu ragawi akan mengalahkan nafsu sukmani (mutmainah) yang suci. Pamrih mengutamakan kepentingan-kepentingan duniawi, dengan demikian manusia mengikat dirinya sendiri dengan dunia luar sehingga manusia tidak sanggup lagi untuk memusatkan batin dalam dirinya sendiri. Oleh sebab itu pula, pamrih menjadi faktor penghalang bagi seseorang untuk mencapai “kemanunggalan” kawula gusti.

     Pamrih itu seperti apa, tidak setiap orang mampu mengindentifikasi. Kadang orang dengan mudah mengartikan pamrih itu, tetapi secara tidak sadar terjebak oleh perspektif subyektif yang berangkat dari kepentingan dirinya sendiri untuk melakukan pembenaran atas segala tindakannya. Untuk itu penting Sabdalangit kemukakan bentuk-bentuk pamrih yang dibagi dalam tiga bentuk nafsu dalam perspektif KEJAWEN :

  1. Nafsu selalu ingin menjadi orang pertama, yakni; nafsu golek menange dhewe; selalu ingin menangnya sendiri.
  2. Nafsu selalu menganggap dirinya selalu benar; nafsu golek benere dhewe.
  3. Nafsu selalu mementingkan kebutuhannya sendiri; nafsu golek butuhe dhewe. Kelakuan buruk seperti ini disebut juga sebagai aji mumpung. Misalnya mumpung berkuasa, lantas melakukan korupsi, tanpa peduli dengan nasib orang lain yang tertindas.

 

Untuk menjaga kaidah-kaidah manusia supaya tetap teguh dalam menjaga kesucian raga dan jiwanya, dikenal di dalam falsafah dan ajaran Jawa sebagai lakutama, perilaku hidup yang utama. Sembah merupakan salah satu bentuk lakutama, sebagaimana di tulis oleh pujangga masyhur (tahun 1811-1880-an) dan pengusaha sukses, yang sekaligus Ratu Gung Binatara terkenal karena sakti mandraguna, yakni Gusti Mangkunegoro IV dalam kitab Wedhatama (weda=perilaku, tama=utama) mengemukakan sistematika yang runtut dan teratur dari yang rendah ke tingkatan tertinggi, yakni catur sembah; sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, sembah rasa. Catur sembah ini senada dengan nafsul mutmainah (ajaran Islam) yang digunakan untuk meraih ma’rifatullah, nggayuh jumbuhing kawula Gusti. Apabila seseorang dapat menjalani secara runtut catur sembah hingga mencapai sembah yang paling tinggi, niscaya siapapun akan mendapatkan anugerah agung menjadi manusia linuwih, atas berkat kemurahan Tuhan Yang Maha Kasih, tidak tergantung apa agamanya.

 

sabdalangit

  1. hmm….. Ki Sapto Renggo yang aarief lan wicaksono…. saya sangat setuju dengan semua yang panjenengan ungkapkan di atas…. yayaya…. setuju tetapi satu hal yang kayanya kurang mengena di hati dan membuat janggal….. kenapa masih harus tunjuk sana tunjuk sini…. jika mau membangkitkan Sang DIRI ?????……
    Salam Sayang Poro Sedulurku

  2. R. Kuswanto
    Tinggal di Jatiluhur, Jatiasih, Bekasi
    021-33064443

    $$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$

    Kang Mas Sabda Langit dan saudara-saudaraku,

    Saya mencari sepuh yang mengerti/memahami rahasia pusaka buatan Mpu Gedeng Supo/Mpu Tantular (saya sendiri belum pernah ketemu beliau), namanya Ki Yoso tinggalnya di Kampung Bathoro Katong (tidak jauh/dibelakang Kecamatan).
    Ini berawal dari membaca buku/majalah yang menceritakan tentang Kyai Cupuk Panjolo, konon pusaka tersebut mampu membaca masa depan, dan menjadi tradisi setiap tahun kain pembalutnya di buka/dilepas untuk melihat masa depan. Pada tahun 2008 jumlah pembalutnya sudah mencapai 500 lembar dan akan bertambah tiap tahunnya.
    Jika lembar pembalut/pembukusnya di lepas satu-persatu, maka pada lembar-lembarnya terdapat gambar tertentu.
    Di tahun 2008, Kyai Cupuk Panjolo memberikan gambaran di tahun 2009, dan saya tertarik pada pembalut lembar ke-200 terdapat gambar “KENDI” dan Kaca Mata.

    Kemudian saya bertemu beliau di warung dan tertarik pembicaraan Pak Darto atau jika di acara TV pernah muncul di iklan SMS yang lagi marak, tayangnya cuma sebentar, ia menamakan dirinya Ki Gento.
    Menurutnya, di Kampungnya ada teman dekat yang mencari-pusaka ini namanya Ki Yoso. Karena penasaran Ki Gento menelpon Ki Yoso perihal pertemuannya dengan saya, beliau sangat terkejut pusaka yang dibuang ke laut sudah hadir? Dari cerita yang saya tangkap, Ki Yoso bisa bekerja menggunakan sarana berupa “Kendi” (hampir sama dengan petunjuk Kyi Cupu Panjolo pada lembar ke-200). Saya sendiri belum tahu yang dimaksud dengan bahasa bisa bekerja menggunakan “Kendi”.
    Karena keterbatasan waktu dan jarak, maka bagi sedulur-sedulur yang tinggalnya di Kampung Bathara Katong, saya mohon tulisan-tulisan saya di atas dapat disampaikan kepada beliau. Atas kebaikannya saya ucapkan terima kasih.
    Nuwun.

  3. Ralat :
    Kemudian saya bertemu beliau di warung dan tertarik pembicaraan Pak Darto atau …..

    menjadi :
    Kemudian saya bertemu pak Darto di warung dan tertarik cerita Pak Darto……

  4. NB.
    Saya juga mencari sesepuh atau siapapun yang mempunyai kemampuan menggabungkan 3 nur (merah, biru, hijau) menjadi satu ikatan. Jika ini terjadi akan berdampak luar biasa.
    Jika tiga nur tsb sudah mampu menyatu, maka pusaka tersebut akan dapat berkomunikasi (hanya suara). Seperti halnya manusia, jika 4 nur menyatu maka manusia bisa berkreativitas, sebagai contoh jika manusia sedang tidur maka tidak akan bisa berkreativitas karena ada salah satu nur yang pergi meninggalkan jasad, manakala nur yang pergi tersebut masuk kembali kedalam raganya maka, kita akan terbangun/berkreativitas seperti biasa.

    Jika 3 nur telah menyatu, sebagaimana petunjuk kitab Musarar Jayabaya pada maka :
    1.Menguasai seluruh ajaran (ngelmu) bait 164
    2.Mampu memberi perintah & mengerahkan jin, setan, kumara, prewangan dan para lelembut untuk bersatu padu membantu masyarakat Indoensia (bait 164).
    3.Bergelar pangeran perang, dapat mengatasi keruwetan orang banyak (bait 163)
    4.Setiap bulan Sura nguntapake kumara (bait 165)
    5.Ludahnya ludah api, sabdanya sakti (terbukti) yang membantah pasti mati, orang tua, muda maupun bayi, orang yang tidak berdaya minta apa saja pasti terpenuhi, garis sabdanya tidak akan lama (bait 166)
    6.Pandai meramal seperti dewa, dapat mengetahui lahirnya kakek, buyut dan canggah anda, tidak bisa ditipu karena dapat membaca isi hati, bijak, cermat dan sakti, mengerti sebelum sesuatu terjadi, mengerti garis hidup setiap umat, tidak khawatir tertelan zaman (bait 167).
    7.Sudah lulus weda Jawa (bait 168).

    Saya sangat menyadari makom saya bukan ada di pusaka, tetapi insyaallah akan ada orang yang mampu/bisa mewujudkan.

    Nuwun.

  5. NB. Lagi
    Sangatlah jarang sebuah pusaka/keris yang didalamnya terdapat 3 nur/cahaya/dewa dan juga tidak ada khadam penghuni lain selain nur tersebut. Ia tertidur beratus-ratus tahun lamanya.
    Nur tersebut bisa juga diibaratkan sebuah kendaraan, bukankah Buraq (yang digambarkan sebagai kuda bersayap) itu juga nur kendaraan yang membawa Nabi Muhammad SAW.
    Memang banyak manusia yang berkolaborasi dengan bangsa jin sebagai kendaraan, contohnya dengan KM (Kantong Macan), RB (Rantai Babi) atau jin yang lainnya. Tetapi saya menganjurkan agar jangan memakai alat tersebut, karena tentunya di kemudian hari ia akan minta balasan/upah. Dan bukankah manusia itu makhluk yang sempurna.
    Kang Mas Sabda Langit dan sedulur-sedulur, mohon tanggapan tentang hal ini.
    Nuwun

  6. @Ki Sapto Renggo Yth
    Dengan senang hati saya sambut kehadiran panjenengan, sebagai org yang sama-sama mencintai bumi pertiwi. Terimakasih anda sudah berkenan mbabar kawruh di sini, sehingga dapat diambil nilai-nilai yang baik dan bermanfaat.
    Hanya ada sedikit yang mungkin perlu saya sampaikan kepada seluruh pembaca yang budiman :
    Marilah kita bangun nusantara, bahkan mungkin dunia ini dengan bekal utama yakni WELAS ASIH marang sepodo-podo, saling ASAH ASIH ASUH kepada sesama agar tercipta ketentraman, kedamaian. Agar terwujud kesejahteraan lahir dan batin. Kita tinggalkan tradisi, pola pikir, mind set lama yang hanya cenderung membangun rasa kebencian terhadap suatu suku bangsa. Ini tidak adil utk kita sendiri maupun bangsa lain yg menjadi “kambing hitam”.
    Biarkan orang Yahudi, biarkan orang Arab, Amerika, toh mereka semua makhluk ciptaan tuhan. Saya yakin tuhan Maha Adil dan Bijaksana, tdk akan mencipta suatu suku bangsa tertentu di dunia ini yang lahir ke bumi untuk menjadi penjahat dan iblis laknat. Kemuliaan,kesucian maupun kehinaan dan kekotoran manusia TIDAK DITENTUKAN TUHAN, melainkan ditentukan oleh manusianya sendiri.
    Cara pandang seperti itu saya anggap sebagai kesalahan pola pikir manusia yakni;
    1. Mengkambinghitamkan IBLIS.
    2. Mengkambinghitamkan bangsa Yahudi.

    Iblis itu ada dalam diri kita sendiri. Iblis bukan mahluk gaib gentayangan melainkan kiasan dari nafsu kita. Bukankah iblis itu NAR, nar itu API, api itu KE-AKU-AN, ke-aku-an adalah nafsu negatif manusia.
    Yahudi dicap sebagai bangsa yg jahat, dalam pandangan jawa, kejahatan manusia itu bukan ditentukan oleh suku, ras, atau bangsanya. Kejahatan tergantung oleh perbuatan kita sendiri apakah baik atau buruk.
    Prinsip dasar saya pribadi : TUHAN TIDAK PRIMORDIAL, TIDAK KESUKUAN/ETNOSENTRIS, TIDAK RASISME, karena tuhan maha adil dan bijak, mahaluas tak terbatas. Menciptakan seluruh bayi umat manusia pada awalnya dengan kondisi suci. Jika manusia menjadi kotor dan jahat semata karena perbuatan masing2 dan tdk tergantung suku dan bangsanya.

    Mengenai SIFAT & WATAK orang Indonesia; ada satu yg harus saya ralat, bahwa orang jawa, nusantara, indonesia yang belum KAJAWAN, justru tidak akan memiliki sikap FANATIK, sebaliknya memiliki sikap teleransi tinggi. fanatisme adalah budaya dan tradisi “impor” dari kebiasaan/custom anasir asing.

    @Raden Kuswanto Yth
    Mohon maaf yg sebesarnya, saya kurang mengerti dan menguasai apa yg panjenengan sampaikan soal penyatuan 3 atau 4 cahya dalam pusaka tsb. Kalau tentang CUPU PANJALA memang tdk jauh dari lokasi saya tinggal. Namun saya kurang mengenal nama-nama yg panjenengan sampaikan tsb. Cupu Panjala ada di Panggang Kab Gunung Kidul, dari makam Imogiri naik lewat Bantul. Cupu tsb masih di bawah otoritas Kraton Nagyogyakarta, dan yang merawat menyimpan masih menjabat sebagai abdi dalem kraton Ngayogyakarta pula.
    Mengenai hubungannya dengan SP, saya lebih mempercayai berbagai sanepan dan kiasan dalam serat jangka. Seperti senjata trisula wedha dsb merupakan kiasan dari bentuk “lakuning ngaurip”. Apalagi dalam ajaran “lakutama” filsafat hidup KEJAWEN, kasekten/kesaktian yg sejati diraih melalui dengan olah perbuatan sehari-hari alias tdk bisa instan. Laku yg harus ditempuh misalnya tapa ngrame, tapa ngeli, kuat lara wirang, tapa mendem (mengubur jasa baik/amal baik kita dari ingatan agar tdk mengungkit2 kebaikan yg pernah kita lakukan pada sesama).
    Semua tapa-tapa di atas dalam arti kias. Misalnya tapa ngrame; rame ing gawe/menolong/membantu sesama, namun sepi ing pamrih (tulus ikhlas). Kebaikan kpd sesama seumpama menanam pohon kebaikan, yg akan berbuah kebaikan pula. Manusia Jawa hrs memiliki SOLAH (perilaku jasad) dan BAWA (perilaku batin) yg sinkron dan sinergis antara jagad kecil dan jagad besar sehingga tidak melawan kodrat/hukum alam atau kodrat/hukum tuhan.
    Mengenai pusaka; yg bisa saya pahami dari pusaka hanyalah sebagai media interaksi antara leluhur dgn anak turun. Shg pusaka bermanfaat sbg “sipat kandel” yg memegang. Ada pula benda2 keramat alamiah, mengandung energi bumi seperti MD.
    Maaf atas segala keterbatasan saya.
    salam sejati utk para sedulur kabeh….
    rahayu ingkang samya pinanggih.

    • ha..ha..ha.. pandai sekali bersilat lidah,salah satu ciri orang munafik, menyapa dengan tutur kata yang manis didepan untuk mengkofirmasi dan meyakinkan apa yang ingin diutarakan kemudian ditengah2 keliatan sudah maksud sebenarnya, Ya Allah, ampunilah orang ini. amin, dan ditutup dengan kata2 yang sangat manis dengan memohon maaf segala atas segala keterbatasan…salam sejati he..he..he…pandai…pandai…hebat..hebat..salut dah..tapi sedih juga otak cemerlang yang anda miliki hanya untuk menghasut dan memojokkan islam.

      Salam hangat
      ==================
      sogo sosha yth
      Biasakan utk membuka diri dan pikiran, gunakan kebersihan hati, serta kebeningan batin. Ilmu sejati tidak hanya sekedar yakin, tapi akan anda rasakan dan saksikan sendiri. Sebab dgn cara seperti itulah anda akan mencapai wushul. Masuk ke dalam relung sajjaratul makrifat.
      salam sejati

      Afiadi

      • Biarkanlah orang berbicara apa anda bicara sprt itu berarti anda belum paham apa itu kejawen /buhun. Jgn terlalu lantang karna ketauan bodohnya anda

    • e..ee…eee ada yang salah tangkap tuh… belum di baca dan di cerna secara keseluruhan sudah menjatuhkan Vonis… hmmm.

      Kalo pemahaman saya justru Mas Sabda itu memberikan wacana atau cara pandang dari sudut kejawen (Ingat: kejawen bukan Agama tapi cara pandang orang Jawa/Nusantara dalam memahami nilai-nilai Agama) lha kok malah di tuduh menyudutkan Islam. Emang Islam harus di lihat dan di pahami dari sudut pandang syariat saja atau Suku Bangsa tertentu…
      o..oo .. ini justru yang narsis puoolll hehehe… ya Allah tunjukan jalan dan ampunilah Manusia yang sudah merasa dirinya paling benar dan paling bersih, saya sadar-sesadar-sadarnya sesungguhnya di tanganmulah kebenaran sejati itu berada…

      Kita ini hanya sama-sama ciptaan Allah/Tuhan… lha kok mau ngaku paling bener, paling bersih dan yang bakal masuk surga dll… cape dehh

      Emangnya dari koment Mas Sabdo di atas ada yang menyudutkan atau memojokan Islam (dalam arti agama)…
      mungkin jika ada kritikan bukan terletak pada Agamanya tapi pada individunya atau pemeluknya yang menurut pengamatan Mas Sabda di rasa telah berbuat lepas kontrol, lepas dari kaidah ke Islam yang sesungguhnya… silahken saudara baca lagi apa yang ada di blog ini dengan cermat dan saudara renungken dalam ketenangan jiwa anda terlebih dahulu sebelum saudara mengeluarkan pendapat… hehehe

      Jika ada yang salah dan tidak berkenan mohon di maafkan…

      Kagem mas Sabda Semangat ;)
      Salam Sejati

  7. beberapa hari ini saya baca tentang kejawen rasanya ko saya suka trus mudah masuk di pahami nya serta tidak bertentangan dgn hati ini saya sendiri lahir besar di bandung tapi darah jawa mungkin masih kuat ya

    • Mohon maaf sebelumnya kepada seluruh saudara semua,kita harus ingat pada tujuan hidup kita , asal usul kita dan mau kembali kemana harus kita pahami dan jalankan supaya kita bisa kembali ke tempat asal,kita tidak berhak menilai salah dan benar,mohon pahami betul dengan seksama mana perintah manusia (siapaun manusianya ) mana perintah sang KUASA. jangan merasa agama kita yang paling benar. cermati dan jalankan aja yang tulus : Ngaji diri sejati ,Ngaji rasa Kuasa , Belah batin – menyatukan kolbu. maaf atas segala kesalahan saya. Terima kasih – Matur Nuwun. cahjogja9@gmail.com

  8. Salam,

    Kang mas sabdalangit, para sesepuh & semua sahabat saya ucapkan salam kenal. semoga perkenalan ini menjadi pertemuan yg didasari oleh Niat yg Suci, Tekad yg Tulus & Hati yg Ikhlas untuk menyongsong Indonesia Jaya. Amiin.

    Semoga berawal dari :
    1 lidi maka nantinya menjadi Sapu Lidi….. ( Bersatu dlm 1 ikatan Bumi Pertiwi )

    ” Sebuah IMPIAN mampu MEMBERI SEMANGAT Sebuah IDE mampu MENGUBAH DUNIA Sebuah LANGKAH mampu MENGELILINGI DUNIA Sebuah TULISAN mampu MENGUKIR SEJARAH ”

    W.salam

  9. ayo sakabeh sedulur tunggal-sikep bebarengan menyang tlatah SANGIRAN…..
    bebarengan neng…ning…nung…
    nemoni jati-diri sejatine dewe…
    tumungkul sukur marang titah/fitrah-e dewe…
    anggembleng ‘sikap’ sejatining bangsa nkri…
    ayo…bebarengan manunggal-sikep…….

    Rahayu…..

  10. Dimas Sabdo Langit…

    Ruang ini sangat diperlukan termasuk wadah untuk memetri tradisi, sastra, budaya Jawa. Setelah membolak-balik di web ini (mungkin) belum ada adalah kolom/artikel yang mencatat semua japa mantra beserta laku, kegunaan, baik apa yang disebut putih/hitam yang dipakai oleh nenek-moyang kita dulu, seperti: kanuragan/katosan, jaya kasantikan, pengasihan, pusaka. dsb-dsb.

    Begitu dulu mohon responnya.

  11. mas sabdo,

    salut, anda menulis bab ini kok semangat banget di banding bab lain. biasa ajalah wong semuanya dah ketentuan Tuhan

    salam

  12. terimakasih blog ini sgt membantu sy mempelajari banyak hal ttg keluhuran ajaran kejawen.. ,jika diperkenankan sy mohon info tempat dimana sy bisa belajar langsung lewat padepokan ato guru mursyid kejawen.. utk daerah jogja ato solo.. , terimakasih

  13. Salamm hormat & salam kenal
    Padepokan kejawen di Surabaya apa ada yg bisa mas refferensikan untuk saya mas…?
    Matur nuwun….

  14. Aduh.. Pak dhe Sabdo, aku sempat menagis selama mbaca tulisan ini,( maaf aku masih gembeng) aku setuju apa yg di kata Om Hartono, tulisan ini lebih semangat, sudah bertahun2 aku merenung menggagas, metani, men-cari2 ber-tanya2 kok kenapa Manusia Jawa ini gampang sekali,dijajah, mulai penjajahan Fisik oleh belanda sampai penjajahan batin & Budaya oleh Faham2 asing, Amerika, Arab,hindia. sampai kita sendiri Manusia Jawa menjadi sering merenmdahkan Martabat kita sendiri,padahal kalau di tilik kembali konsep2 Jawa itu bukan main Luhurnya, apa toh Pak De kelemahan2 kita, saya yakin kita ini juga punya kelemahan2 seiring dengan kelebihan2 kita. apakah karena manusia Jawa itu terlalu bertoleransi yg tinggi, sehingga siapapun &apapun yg masuk kita terima, lalu berlanjut merajalela, mohon Pak De Sabdo sudi membantu saya mencari Jawaban

  15. Manusia terdiri dari tiga kekuatan yang saling keterkaitannya, yakni:
    Roh adalah potensi yang dianugerahi dan dimasukkan Tuhan, Allah SWT pada jasad, tubuh manusia.
    Jasad adalah potensi fisik, materi nyata yang berasal dari saripati tanah.
    Jiwa atau nafs adalah akibat adanya pertemuan kedua unsur di atas menjadi suatu potensi yang menghidupkan semua organ tubuh manusia. Sifat jiwa atau nafs ini netral diantara kedua unsur roh dan jasad tadi, sehingga jiwa ini bisa positif dan bisa negatif. Jiwa positif jika dia (jiwa) cendrung ke unsur roh itulah jiwa yang muthmainah. Tapi, jika dia (jiwa) cendrung yang manusiawi berarti jiwa agak dipengaruhi ke jasad maka jadilah dia jiwa yang lawwamah. Dan, yang parah bila jiwa cendrung ke jasad yang berlebihan, maka jadilah jiwa amarah.(QS. 89:27, 75:2 dan 12:53)

  16. salam kenal semuanya,semua tlah tertulis dan akan terjadi nanti hanyalah sang sutradara yg mengerti, kita manusia hanya menjalani,mungkin kita2 ini orang yg sedang belajar dari salah menjadi benar ,dari buruk menjadi baik,dari bodoh menjadi pintar,dan seterusnya

  17. Oke ki aku setuju oran sekarang telah telupakan sejarah kejayaan masa lalu.menganggapnya ajaran yang baru lebih menjanjikan padahal semua itu tergantung manusianya.mampu dan bisa gak mencapai kesana lagian ki kalau orang dulu memperdalam ilmu agama seperti yang aki bilang bertapa.macam macam tapa di lakoni, kalau orang sekarang meperdalam ilmu di jakarta kalau umat nya banyak itulah tolak ukurnya, berarti kaya banyak panggilannya dan mudah ngebohongin orang biar orang itu takut.jadi masuk ajarannya………….! padahal semua itu tergantung apa yang kita tanam kalau kita tanam kebaikan akan kita hasilkan kebaikan, dan kalau kita tanam kejahatan di jahatin sama orang juga heeeee…

    salam kenal ki dari mama asep(Ki Goler )
    Padepokan Awas Paningal Langlang Buana Gunung Salak Bogor

  18. Mas Sabdo Langit, Orang yang berbudhi pekerti di negeri ini bisa dihitung dengan jari, dulu seorang raja mojopahit sing wis kondang kaloko punya abdi setianya Sabdo Palon Noro Genggong dimana pun sang prabu berada. Ketika Sang abdi diajak masuk Islam (maaf) Penguasa danyang se jawa sempat marah ‘ saya akan meninggalkan paduka, saya akan mengahancurkan jawa dengan lahar dan akan menyebarkan ajaran budi” itulah sedikit perbedaan prinsip, benar tidaknya ancaman kita sendiri yang tau bagaimana tanah nuswantoro. saat ini. trm

  19. Ki goler ( Mama asep )

    Mas sabdo langit saya punya pengalaman di bali bersama kawan saya,
    ketika saya di utus oleh penguasa pajajaran ( Prabu siiwangi ) untuk melakukan pemeriksaan beberapa pure di bali .kami di utus untuk mengambil baju alif yang ada di pure batur. dan menurut pemangku pure di sana,bahwa banyak orang spiriual ingin mendapatkan pusaka cakra buana namun secara kebetulan ketika kami melakukan semedi dan atas petunjuk beliau ( prabu siliwangi ) dan di temani oleh para pemangku pure tsb. kawan kami mengambil posisi dan secara tidak di duga sinar yang menyilaukan masuk melalui telunjuk dia, dan menurut pemangku di sana itulah pewaris cakra buana yang selama ini selalu di incar oleh para pelaku spiritual di seluruh nusantara ini untuk mendapatkan pusaka tersebut.saya ke sana bersama 4 orang kawan saya .dan saya 3 orang dari jawa barat 1 orang dari bali. coba aki terawang kawan ini namanya
    jaya laksana .makasih

  20. @Mas Kiki Soebiyanto Yth
    barangkali Mas Kiki bisa kontak ke Mas Kumitir, beliau saya kira lebih tahu padepokan mana yg ada di Surabaya. Nuwun

    @Mas Kriswinanto Yth
    Ya Mas, saya kira hal itu bukanlah omong kosong atau semaca gertak sambal.

    @Ki Goler (mama Asep) Yth
    Mohon dikirim nama lengkap dan nama ibu kandung ybs. Karena dalam ranah gaib, mutlak diperlukan kedua data tsb, bila kita belum pernah sama sekali bertemu. Bila ada yg bisa melakukan dengan tanpa kedua data di atas, saya yakin yg muncul hanyalah imajinasi pribadi yg berbau perkiraan logis saja. Kecuali kita pernah bertemu langsung.
    Karena, mengetahui secara detil dan akurat harus bertanya langsung dengan “sing momong” yg bersangkutan. Jadi kita tak boleh menebak, apalagi berhubungan dengan perihal yg sangat krusial.

    nuhun
    Wilujeng Rahayu

  21. Mas Sabdolangit, saya punya kebiasaan sejak umur 18 th tidur malam diatas jam 01, bangun tidur jam 05, bukan karena begadang dll. Tapi baca pitutur jawa apa saja yang dibaca, yg jelas nambah pengalaman. Baru jam 24.30 saya meditasi ngaturaken sembah sujud dumateng Gusti Kang Hakaryo Jagad ingkang sampun paring nugroho dumateng kawulo. Kulo sering nglakoni tirakat (poso weton, poso melek lan poso mangan) tujuan saya bisa intropeksi diri menahan amarah sekaligus memberi dorongan spiritual kpd anak, istri saya.
    Saya punya orang tua didaerah Jatim, di ajari tentang halhal berkaitan dengan pititur jowo “Berbudhi Bowo Leksono” serta di ajari cara melihat+kontak dg sedulur sejati, yg sebelumnya diawali dg puasa dan hafalan. Beliau blg “tidak mudah untuk mendatangkan sedulur kakang kawah adi ari-ari, ada yg 5 bln, 1 th sampai 4 th belum bisa. Tapi kalau Gusti ngijabani, 3 X melakukan sudah bisa. Saya sudah mencoba 3 x untuk kontak, yg terakhir pas weton saya sekitar jam 02 dan sorenya jam 16 sedulur saya datang ke rumah dan menyapa, saya sempat kaget karena bentuk dan caranya bicara persis saya. 4 th yg lalu ada 2 orang yang mengatakan pada saya, saat saya ngantar teman berobat bukan ke dokter. Mengatakan begini ” Sampean kuwi wis ono bakat, lan katunggonan wahyu, bisa terlihat pancaran sinar putih neng duwere sirah tinuju teng dhuwur (nugroho saking Allah, ora ono menungso sopo wae sing biso ngilangi, kacobo Allah piyambak sing ngersak-ake). Pada th 2006 ada seorang tokoh agama tertentu di jatim (orangnya tidak dayani) mengatakan hal yang sama, katanya, “kuwi wahyu sing ora biso dijaluk/ direbut sopo wae, sampean katunggonan roh saking Gusti (Gusti Kang Murbening dumadi), kenapa bukan saudara anda yg menerima wahyu itu ? Itu Rahasianya Tuhan. …. tidak manusia satupun yang tahu.
    Mas Sabdo langit kejadian dialam jagat raya yang penuh dg misteri serta bernuasa mistik saya (tidak pamer) bisa merasakan dari aura negatifnya. Meski ada orang yg mengatakan saya (seperti yg saya critakan diatas) tapi saya tetap tidak apa-apanya (seperti debu) dihadapan Allah, dan saya selalu melakukan ajaran budi dalam kehidupan sehari hari. Bagi saya shering ini, bukan berarti saya minta pengakuhan/ nyombongke diri, tetapi semata-mata saling tukar pengalaman dengan teman yang lain, suwun

  22. Mas Kriswinanto yth
    Terimakasih sebesarnya sdh berkenan berbagi pengalaman. Krn sangat bermanfaat utk rekan-rekan yg lain menambah referensi dan komparasi. Ini sangat penting utk wahana belajar bersama dan saling mengisi.
    Ilmu sejati tdk akan membuat takabur, sebaliknya justru menyadarkan kita betapa luas tiada batas ilmu Tuhan. Sehingga seperti yg anda alami justru membuat diri terasa seperti debu yg yg tak berarti. Dan lebih bisa menghargai perbedaan ‘kulit’. Itulah sejatinya ‘ngelmu padi’.
    Salam sejati

  23. bagus prayitno

    saya terharu dan senang sekali akan tulisan kejawen ini. Betapa sekarang telah banyak orang yang munafik pada merusak bumi dengan doktrin2 yang selalu dikaitkan agama. Saya adalah orang yang beragama tapi saya tak bisa menerima bila sejarah jawa saya selalu dikambing hitamkan dengan klenik ini dan itu…Saya bangga dan akan mempelajari terus tentang ilmu- ilmu jawa yang kaya… saya kira hanya Jawa yang pandai merangkum maksud dan kalimat… silahkan cek bahwa hanya di jawa kata Tuhan dimanivesatisikan dalam bentuk beraneka sebutan; Gusti, Pangeran, Gusti Alloh, Tuhan, Gusti Ingkang Akaryo Jagat dll… luar biasa

    • @Bagus Prayitno Yth
      Bahagia rasanya setiap hari bertambah sedulur, apalagi jika tulisan di sini ternyata masih ada manfaatnya walau mungkin hanya sedikit. Tadinya saya merasa pesimis, mungkin sudah tak laku lagi tulisan-tulisan semacam ini, dan hanya menuai cemooh. Semoga kita sebagai generasi bangsa, dapat lebih menghargai nilai kearifan lokal warisan leluhur yg adi luhung.

      rahayu, karaharjan
      salam sih katresnan

  24. Edhi Rachmawanto

    salam kenal kagem Mas Sabdo Langit

    Salam sejahtera buat semua komunitas / pengunjung disini.

    Mas Sabdo kalo boleh tau dimn alamat sampean brkl saya bisa ketemu lsg dgn panjenengan, krn byk sekali yg akan sy tanyakan.
    Salah satu pertanyaanya sebenarnya siapa saya?
    Apa tugas saya di tempat fana ini?
    Menawi saged pajenengan jawab lwt Email kulo

    Matur nuwun

  25. salam kenal.
    awalnya sy pikir situs ini akan sama dgn beberapa situs lain yg membahas ajaran jawa yg luhur di kulitnya saja. Ternyata makin banyak tulisan yg sy buka semakin membuat sy tersentuh dan melek dgn ajaran luhur para sesepuh kita.
    matur nuwun mas sabdo langit.
    sy tunggu tulisan2 lainnya, terutama tentang bagaimana membuat generasi sy & adik2 sy nanti bisa menerima dgn akal sehat tentang ajaran luhur itu.
    ===========
    Makasih mas Masudi, kebahagiaan panjenengan menjadi kebahagiaan saya juga, Saya sedang mempersiapkan beberapa tulisan baru. Semoga bermanfaat.
    Bahagia NKRI, menuju nusantara jaya

  26. Sugeng tepang Masudi, rasanya semakin banyak teman yang mengunjungi Webb ini, dan semakin banyak pula yang berbagi pengalaman. Memang kita akuhi ajaran budi/ melestarikan budaya jawa sudah sedikit luntur karena ……….. sudahlah saya tidak lanjutkan. Yang terpenting kita memberi contoh yang lain tentang kebaikan terhadap sesama, dan saling memberikan pertolongan bagi yang membutuhkan. Apalah artinya kita hidup di dunia ini jika kita berpegangan “sopo siro sopo ingsun” derek mangayu bagyo.

  27. Menemukan situs ini rasanya seperti menemukan mata air, betapa kebudayaan, cara hidup, kebiasaan simbah saya yang mulia dihargai kembali, mendapat pengakuan.

    Padahal di Surakarta saat ini, yang notabene adalah pusat kebudayaan jawa, banyak penyusup guru-guru ajaran asing yang sok suci, sok eksklusif, mengharamkan kepercayaan leluhur, dan bulat-bulat menafikan adat, dan membenarkan 100% guru asing tersebut. Memang menyedihkan.

    Mungkin ini wolak waliking jaman. Tanah jawa sudah terbebas dari penjajah Belanda, merdeka tanggal 17 agustus 45, namun kemudian jiwanya terjajah oleh ajaran asing, merendahkan kebijaksanaan leluhur melupakan ajaran nenek moyang. Semoga kita tidak termasuk dalam golongan terjajah, dan tetap nguri-nguri kabudayan jawi. Amin.

  28. Memang betul apa yg dikatakan sdr Sri, bahwa salah besar jika kita lupa asal usul kita bahkan melupakan ajaran para leluhur kita. Wolak-walik jaman memang benar semua berjalan seperti kehendak alam, tegese memang Gusti Ingkang ngatur sedoyo nipun. Miturut kulo rumiyin “Sabdo Palon dan Noro Genggong” bilang suatu saat ajaran budi akan lahir kembali bersama putaran jaman, disampaiakan sebelum berpisah dg Prabu Brawijaya

  29. Salam persahabatan dari keluarga Raja Hendy Kerajaan Sriwijaya, dan dari keluarga Djuti Kesultanan Palembang Darussalam

    Paman saya juga kejawen, ayah saya juga belajar
    Namun saya belum sempat belajar

    Lanjutkan postingannya

    • @Qarrobin Yth
      Salam persahabatan kembali, semoga persahaban ini menjadi benih-benih ketentraman dan kedamaian di antara generasi bangsa. Menuju Nusantara Jaya. Apalagi jika sudah nyambung titik temudan menyatunya 3 generasi besar bangsa yakni Majapahit, Pajajaran, Sriwijaya. Di situlah tolok ukur kebangkitan kembali nusantara menjadi mercusuar dunia. Saat ini mungkin seperti omong kososng yang utopis, namun suatu saat nanti, barulah semua akan menyadari ternyata hal ini benar2 terwujud.

      Salam Rukun agawe santosa.
      (kerukunan akan melahirkan kesentosaan)

  30. Iya, bener, padahal kebiasaan sehari-hari nenek moyang kita dahulu, saat ini barulah sebagai ‘science-fiction’, perubahan materi-energi-materi, apalagi ‘sepi-angin’ itu kan sekarang baru ada di film STAR TREK, mbah-mbah kita dulu itu semua adalah keseharian. Kenapa sekarang jadi hilang ??? Bagi kita sekarang, mbah kita itu kuno, keris itu ketinggalan jaman … padahal bagi dunia modern, ternyata baru science-fiction. O alah kaningoyo hidup kita untuk berusaha menjadi modern !

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 928 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: