Membangun Kesadaran Rasa Sejati

DINAMIKA PERKEMBANGAN

ILMU ILMIAH MODERN, DAN INTUISI

PRIMITIF-MODERN-POSTMODERNISM

Melatih diri mengolah intuisi dan Rasa Sejati

By: sabdalangit ae banyusegoro

 

Prologue

Alur penalaran logis menganggap bahwa awal dari ke-ada-an segala sesuatu adalah ketiadaan. Kata filsuf ke-tiada-an itu ada yang tiada. Kalimat tersebut sebagai premis mayor mengawali isi fikiran para filsuf kuno sebagai tahap awal prestasi kesadaran akal-budinya dalam memahami hukum alam yang universal ini.

 

Namun benarkah demikian ke-ada-an yang sesungguhnya ? Atau jangan-jangan hakekat ketiadaan adalah hanya semata karena ketidaksadaran manusia saja ? Saya pribadi enggan meletakkan justifikasi pada ke-tiada-an. Sebaliknya lebih senang memilih hipotesis kedua yakni bukan ke-tiada-an lah sesungguhnya yang ada, namun ketidaksadaran manusia. Dengan asumsi bahwa sulitnya mengetahui rumus kebenaran sejati yang tersimpan rapat dalam relung jagad raya bagaikan sulitnya menelusuri alam kegaiban, yang membutuhkan pengerahan indera batin (ke-enam). Lebih sulit lagi karena kebanyakan manusia gagal mereduksi hegemoni panca indera (jasad). Jika demikian halnya manusia layak mengibarkan “bendera putih” sebagai sikap menyerah atas segala keterbatasan kemampuannya. Lantas kesadaran semu dengan buru-buru mengambil keputusan meyakinkan sbb; adalah tabu mengutak-atik ranah gaib, karena ia  hanya membutuhkan keyakinan saja. Dalam kesadaran “semu” ini menjadi sangat bermanfaat kita mengumpulkan pengalaman dan pengetahuan orang perorang yang beragam agar menjadi satu kesatuan ilmu untuk menggugah kesadaran manusia. Dibutuhkan sikap membuka diri agar kesadaran semakin meningkat. Pada tataran kesadaran tertentu seseorang akan sampai pada pemahaman bahwa : kebenaran sejati ibarat cermin yang pecah berantakan, sedangkan kesadaran akal budi, kepercayaan, ajaran, sistem religi, kebudayaan, tradisi merupakan satu di antara serpihan cermin itu”.

 

Kesadaran; Alat Untuk Membuka Rahasia Rumus Tuhan

Adalah menjadi tugas umat manusia untuk membuka tabir rahasia kehidupan. Baik dimensi fisik (wadag), maupun dimensi metafisik berupa misteri alam kegaiban. Semakin banyak kita mengungkap hukum-hukum alam, kodrat alam atau kodrat Tuhan, maka akan semakin banyak terungkap misteri kehidupan ini. Sedangkan saat ini, prestasi manusia seluruh dunia mengungkap rahasia kehidupan mungkin belum lah genap 0,0000000001 % dari keseluruhan rahasia yang ada. Terlebih lagi rahasia eksistensi alam gaib.

 

Kebenaran rasio seumpama membayangkan laut. Kebenaran empiris melihat permukaan air laut. Kebenaran intuitif ibarat menyelam di bawah permukaan air laut. Tugas penjelajahan ke kedalaman dasar laut bukan lah tugas akal-budi, namun menjadi tugasnya sukma sejati yang dibimbing oleh rasa sejati. Intuisi telah menyediakan pengenalan bagi siapapun yang ingin menyelam ke kedalaman laut. Jangan heran bilamana akal-budi disodorkan informasi aneh (asing dan nyleneh) serta-merta bereaksi menepis ..it’s nonsense ! Reaksi yang lazim & naif hanya karena akal-budi kita lah yang sesungguhnya sangat terbatas kemampuannya. Lain halnya dengan kecenderungan perilaku orang-orang post-modernis tampak pada perilaku orang-orang sukses di masa kini. Mereka percaya akan kemampuan intuisi. Malah dengan bangga memproklamirkan diri jika kesuksesannya berkat dimilikinya talenta intuisi yang tajam. Dengan kata lain untuk meraih sukses tak cukup hanya berbekal teori-teori ilmu ilmiah serta pengalaman akal-budi (rasionalisme-empirisisme) saja.

 

Kesadaran adalah Proses yang Dinamis

Berawal dari ketidaksadaran lalu berproses menjadi kesadaran tingkat awal yakni kesadaran jasad/ragawi. Dari kesadaran jasad meningkat menjadi kesadaran akal-budi yang diperolehnya setelah manusia mampu menganalisa dan menyimpulkan sesuatu yang dapat ditangkap oleh panca-indera. Seiring perkembangan kedewasaan manusia, kesadaran akal-budi (nalar/rasio) meningkat secara kualitatif dan kuantitatif. Tahap ini seseorang baru disebut orang yang pandai atau kaya ilmu pengetahuan. Kesadaran akal-budi ini bersifat lahiriah atau wadag, jika dikembangkan lebih lanjut akan mencapai kesadaran yang lebih tinggi yakni kesadaran batiniah.

 

Kesadaran Tinggi adalah Berkah Bagi Alam Semesta

Semakin tinggi kesadaran manusia (high consciuousness) menuntut tanggungjawab yang lebih besar pula. Karena semakin tinggi kesadaran berarti seseorang semakin berkemampuan lebih serta dapat melakukan apa saja. Celakanya, bila kesadaran tinggi jatuh ke dalam penguasaan nafsu negatif. Sehingga manusia bukan melakukan sesuatu yang konstruktif untuk alam semesta (rahmat bagi alam), sebaliknya melakukan perbuatan yang destruktif (laknat kepada alam). Sementara tanggungjawab manusia adalah menjaga harmonisasi alam semesta dengan melakukan sinergi antara jagad kecil (diri) dan jagad besar (alam semesta) dengan kata lain berbuat sesuai dengan rumus-rumus (kodrat) Tuhan. Sebagai contoh kita mengakui bahwa Tuhan itu Maha Maha Pengasih maka kita harus welas asih pada sesama. Jika kita yakin Tuhan Maha Pemurah dan Penolong, maka kita tidak boleh pelit dalam membantu dan menolong sesama. Bila kita percaya Tuhan Maha Besar dan Maha Adil maka kita tak boleh primordial, rasis, hipokrit, etnosentris, mengejar kepentingan sendiri, kelompok atau golongannya. Jika kita memahami bahwa Tuhan Maha Bijaksana; maka kita tidak boleh mengejar “api” (nar) ke-aku-an, yakni rasa mau menang sendiri, mau bener sendiri, mau mengejar butuhnya sendiri, sembari mencari-cari kesalahan orang lain. Demikian seterusnya, sehingga perbuatan kita menjadi berkah untuk lingkungan sekitar, untuk alam semesta dengan segala isinya.

 

Proses berkembang manusia bersifat adi kodrati menuju pada hukum/rumus alam yang paling dominan yakni PRINSIP KESEIMBANGAN (harmonisasi) alam semesta. Penentangan rumus alam/kodrat Tuhan tersebut adalah sebuah malapetaka besar kehidupan manusia yakni  kehancuran peradaban bahkan kehancuran bumi. Dalam terminologi Jawa tanggungjawab atas dicapainya kualitas kesadaran manusia tampak dalam pesan-pesan arif nan bijaksana untuk meredam nafsu misalnya; ngono yo ngono ning aja ngono (jangan berlebihan atau lepas kendali), aja dumeh (jangan mentang-mentang), serta menjaga sikap eling dan waspadha.

 

Memahami kesadaran tidaklah mudah, karena bekalnya adalah kesadaran pula. Sebagaimana digambarkan dalam filosofi Jawa dalam bentuk saloka : Nggawa latu adadamar ; …membawa api untuk mencari api”. Hal itu menjadi satu problematika tersendiri (the problem of consciousness) umpama tamsil ; ..kalau ingin cari makan untuk mengisi perutmu, syaratnya perutmu harus kenyang dulu. 

 

TAHAP-TAHAP KESADARAN

 

1. Kesadaran Jasad

Kesadaran jasad adalah kesadaran tingkat dasar atau awal pada manusia. Kesadaran paling dasar ini terjadi pada waktu bayi baru lahir di dunia belum memiliki kesadaran akal budi. Namun melalui pancaindera raganya telah memiliki sensitifitas merespon rangsang atau stimulus. Misalnya jika tubuh bayi merasakan gerah atau digigit nyamuk reaksi si bayi akan menangis. Reaksi dapat bekerja otomatis karena setiap makhluk hidup dibekali sensor keselamatan berupa naluri. Naluri sebagai alat sederhana yang terdapat di tubuh kita yang berfungsi ganda menciptakan kesadaran sekaligus pelindung diri. Melalui naluri inilah sekalipun akal-budi belum mampu mengolah kesadaran namun jasad telah lebih dulu mampu merespon rangsangan-rangsangan yang membahayakan dirinya. Menangis adalah salah satu cara menjaga diri (survival) yang paling alamiah dan sederhana bagi manusia. Namun demikian kesadaran jasad berikut ubo rampe naluri ini masih setara dengan kesadaran yang dimiliki binatang. Misalnya sekelompok burung melakukan eksodus karena akan terjadi pergantian musim. Burung tersebut  hanya berdasarkan naluri kebinatangannya saja untuk mengetahui kapan musim segera berganti. Atau induk binatang yang menyusui anaknya hingga usia tertentu kemudian indungnya menyapih. Itu semua bukan berasal dari kesadaran akal-budi melainkan berdasarkan kesadaran jasad saja. Kesadaran naluri tidak diperlukan proses belajar karena naluri akan berkembang secara alamiah dengan sendirinya tanpa perlu pendidikan nalar atau akal-budi. Jika ada sekolah gajah di dalamnya bukanlah proses belajar mengajar yang melibatkan kegiatan analisa akal-budi. Hanya berupa pembiasaan naluri (tanpa analisa) dengan cara menyakiti tubuh (hukuman) dan hadiah/menyamankan tubuh (stick & carrot). Pembiasaan naluri ini merupakan cara-cara paling maksimal yang sanggup direspon oleh naluri hewani.

 

Pada tingkat kesadaran ini mahluk hidup tidaklah mengenal nilai-nilai baik-buruk, dan nilai spiritual (roh/jiwa). Akan tetapi perilakunya telah mengikuti hukum alam yang paling sederhana, paling penting, namun mudah direspon semua makhluk hidup. Perilaku binatang hanya sekedar mengikuti hukum alam sebagai bentuk harmonisasi dengan alam semesta. Misalnya hukum rimba, siapa yang kuat secara fisik akan memenangkan pertarungan. Semakin kuat binatang, jumlah populasinya semakin sedikit dan tidak mudah berkembang biak. Hukum alam tampak pula pada pola hubungan mata rantai makanan. Binatang pemakan akan lebih sedikit jumlahnya daripada binatang yang dimakan. Sehingga bila salah satu mata rantai makanan mengalami kerusakan akibat ulah manusia akan mengganggu sistem keseimbangan alam. Sedangkan bencana alam yang bersifat alamiah (force major) atau di luar kekuatan manusia pada galibnya merupakan hukum alam pula, yakni proses seleksi alam menuju keseimbangan alam (harmonisasi).

 

Pada tahap kesadaran jasad ini tidak ada nilai baik dan buruk. Prinsip kebenaran manakala segala sesuatu berjalan sesuai hukum atau kodrat keseimbangan alam lahir, bukan kebenaran sejati yang ada dalam alam batin. Sekalipun membunuh, binatang tidaklah bersalah, karena ia hanya mempertahankan wilayahnya, atau demi memenuhi kebutuhan perutnya. Setara dengan perbuatan bayi mengencingi jidat presiden bukanlah pelanggaran norma hukum dan norma sosial. Karena kesadaran bayi sepadan dengan kesadaran hewani atau orang hilang ingatan, yakni sebatas kesadaran jasad dan  tentunya belum berada dalam koridor konsekuensi norma baik dan buruk. Bayi dan hewan tidak memiliki tanggungjawab sebagai konsekuensi atas kesadaran jasadnya, lain halnya dengan kesadaran akal-budi manusia dewasa. Sudah menjadi kodrat atau rumus alam bahwa semakin tinggi kesadaran makhluk hidup, akan membawa dampak pada tanggungjawab lebih besar pula.

 

Kesadaran Akal Budi

Setingkat lebih tinggi dari kesadaran jasad adalah kesadaran akal-budi atau rasio. Kesadaran akal budi berkaitan erat dengan proses pembelajaran dan sosialisasi (pendidikan). Pada usia tertentu seorang bayi akan mulai belajar memanggil ibunya, ayahnya, bisa tersenyum dan minta susu. Hal itu terjadi karena kesadaran jasadnya telah mengalami transformasi pada kesadaran aka-budi. Ditandai kemampuan akal-budinya merespon rangsangan atau stimulus. Rangsang atau stimulus tak ubahnya data yang akan diproses oleh software akal-budi menggunakan hardware otak. Maka kesadaran akal-budi merupakan kegiatan  ilmiah yang melibatkan pengolahan data-data. Pada tahap ini upaya manusia mengungkap tabir misteri hukum alam sudah lebih maju karena menggunakan kemampuan rasio atau akal budinya. Selanjutnya kesadaran akal-budi dibagi menjadi dua yakni kesadaran dengan metode penalaran rasio (rasionalisme) dan pembuktian secara empiris (empirisisme).

 

1. Kesadaran Nalar

Sejarah filsafat Barat mencatat ada dua aliran pokok dalam lingkup epistemologi. Pertama, idealism atau rasionalism (Plato), suatu aliran pemikiran yang menekankan pentingnya peranan akal, idea, category, form, sebagai nara sumber ilmu pengetahuan. Tingkat kesadaran diri akan suatu nilai kebenaran diperoleh melalui kemampuan penalaran rasio saja dalam arti mengandalkan kekuatan logika. Kesadaran akan bertambah secara kuantitas bilamana suatu fenomena yang empiris dapat diterima akal atau memiliki sistematika pemikiran yang logis. Dengan ketentuan ini fenomena sudah cukup dianggap nilai kebenaran walau terkadang bersifat parsial. Kelemahan kesadaran rasionalisme  adalah mensyaratkan kita tidak cukup bekal (nggawa latu) sebagai alat komparasi atau landasan silogismenya. Rasionalisme dalam menjelaskan realitas berdasarkan atas kategori-kategori akal saja. Aristoteles sebagai penerus Plato melakukan pendekatan realisme menemukan alat ukur yang disebut organon. Prinsip organon mampu menjelaskan segala sesuatu yang ada (fenomenon). Namun Organon sebagai metode pengajaran atau penjelasan yang bersifat deskriptif belum mampu melakukan eksplanasi secara mendalam. Pada akhirnya dengan metode tersebut Aristoteles menyadari tidak mampu bertindak lebih banyak terutama dalam upaya menjelaskan eksistensi di luar diri (being) yang melampaui akal-budi manusia.

 

Kesadaran akal-budi bertujuan mengungkap sisi kebenaran akan sesuatu hal yang rasional, realis, dan empiris. Namun kebenaran dalam scope kesadaran ini masih bersifat kebenaran koherensi. Yakni kebenaran dapat diketahui jika ada suatu pernyataan atau premis kemudian diikuti oleh premis yang lain yang mendukungnya. Dari dua premis ini kemudian dapat ditarik kesimpulan (conclusion) sehingga menjadi kebenaran kesimpulan yang sesuai dengan sistematika rasio manusia (logic).

 

2. Kesadaran Empirisisme

Sebagai jawaban atas kelemahan Aristoteles dengan prinsip Organon selanjutnya ditemukan alat ukur lain yang ditemukan Francis Bacon yakni Novum Organum. Bagi Bacon kebenaran sesuatu itu tidak boleh hanya dijelaskan saja tetapi harus dilakukan pembuktian empiris melalui eksperimen. Di dalamnya harus ada proses menjadi. Hal itu memicu kesadaran empiris dengan metode eksperimentasi. Dalam perkembangannya empiricism disebut juga realism yaitu mazab yang lebih menekankan peran indera jasad sebagai sumber sekaligus alat memperoleh pengetahuan. Kedua aliran tersebut lahir di Yunani pada tahun 423-322 SM. Selain kedua aliran tersebut masih ada beberapa aliran lain di antaranya, kritisisme atau rasionalisme kritis, positivisme, fenomenologi dan lain-lainnya. Kesemuanya lahir setelah masa renaissance abad pertengahan di Barat.

 

Dalam kesadaran empiris prinsip kebenaran dipahami sebagai kebenaran korespondensi. Yakni kebenaran setelah dilakukan cross-chek antara pernyataan dalam ide atau gagasan, dengan realitas faktual yang ada. Misalnya garam itu asin, menjadi kebenaran bila kita sudah melakukan pembuktian dengan mencicipi rasa garam.

 

Pada tahap ini spiritualitas yang berhasil dibangun baru pada tahap sekulerisme. Semua hukum alam, sains dan teknologi dicapai manusia melalui pengalaman empiris. Para penganutnya  disebut mazab empirisisme. Kesadaran diperoleh hanya melalui instrumen akal-budi dan indera jasad semata. Konsekuansinya, religi dan sistem kepercayaan serta hukum-hukum alam haruslah dapat diterima dalam batas kemampuan akal-budi dan indera jasad semata.

 

Dalam perkembangan selanjutnya kedua metode pencari kesadaran (kebenaran) di atas dirasakan masih sangat relatif apalagi dalam upaya mencapai kesadaran sejati dirasakan masih teramat jauh karena masing-masing pendekatan terdapat kelemahan secara signifikan.

 

Dinamika Kesadaran A La Barat

Sejenak kita flash back, sejak ditemukan filsafat sebagai induk dari segala ilmu pengetahuan manusia untuk meningkatkan kesadaran atau mencari kebenaran. Lahir perpaduan antara cabang filsafat empirisisme dengan rasionalisme yang menuntut eksperimen sebagai upaya verifikasi kebenarannya. Sejak itu sains dan teknologi berkembang, filsafat menemukan cabang-cabang keilmuannya secara luas. Orang mulai mengenal metode meraih kesadaran akal-budinya melalui filsafat ontologi, ephistemologi, dan aksiologi, tiga langkah metodis yang saling berkorelasi sebagai pisau pengupas rahasia hukum alam yang belum terkuak. Epistemologi merupakan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan : apakah sumber pengetahuan? Apakah hakikat, jangkauan dan ruang lingkup pengetahuan? Apakah manusia dimungkinkan untuk mendapatkan pengetahuan? Sampai tahap mana pengetahuan yang mungkin untuk ditangkap manusia ?

 

Epistemologi mempunyai persoalan pokok secara garis besar terbagi dua. Pertama, persoalan tentang apa yang kelihatan (phenomena/appearance) Apakah sumber pengetahuan? Dari mana sumber pengetahuan yang benar itu datang? Bagaimana cara diketahuinya? Apakah sifat dasar pengetahuan?. Kedua, versus hakikat (noumena/essence): Benarkah ada realita di luar pikiran kita? Apakah kita mengetahuinya?

 

Penggabungan kedua metode tersebut membuat suatu kemajuan pesat di bidang kowledge pada zaman renaissance. Ilmu fisika, kimia, biologi, matematika, ekonomi mengalami perkembangan sangat pesat. Hal itu menjadi prestasi besar kesadaran manusia mampu membaca dan mengungkap rahasia-rahasia hukum/rumus/kodrat alam yang masih tersimpan rapat-rapat sebelumnya. Sesuatu yang pada abad-abad sebelumnya dianggap tidak masuk akal, bertentangan dengan hukum alam, pada masa tersebut menjadi sangat rasional, masuk akal dan tak terbantahkan sebagai wujud temuan baru akan hukum-alam.

 

Begitulah manusia di belahan Barat bumi dalam dinamika kesadaran dan menemukan hakekat/essence kehidupan (noumena) di jagad raya ini. Manusia selalu berusaha menjabarkan apa sesungguhnya alam semesta ini dan bagaimana sesungguhnya ia terjadi. Planet bulan diketahui memiliki jarak yang sangat jauh dengan bumi, pada zaman dulu pergi ke bulan dianggap hal yang mustahil atau melawan kodrat/hukum alam. Anggapan pesimis tersebut merupakan bentuk keterbatasan kesadaran akal budi dalam menterjemahkan rumus atau hukum alam. Sekalipun hal yang bersifat kasat mata wadag (fenomena) toh tugas menterjemahkan hukum alam sangat rumit dan teramat sulit. Namun bila diperhatikan begitu manusia mampu mengungkap rahasia ilmu atau rumus alam semesata tiba-tiba kita supraise ternyata manusia mampu seolah “melawan kodrat” hukum alam. Hanya dengan bekal kurang lebih 300 Milyar Rupiah anda sudah dapat menikmati piknik ke bulan.

 

Penemuan Bacon meskipun efeknya sangat luar biasa namun menemukan keterbatasan pula ketika berhubungan dengan nilai-nilai, kematian, jiwa, roh, kenyataan yang paradoks, Tuhan, realitas yang transenden serta kenyataan yang tidak bisa dieksperimentasi atau dibawa ke laboratorium. Maka Novum Organum tidak mampu menjawabnya.

 

Keterbatasan Kesadaran Akal Budi :

Kesadaran tinggi (high consciuousness) diperlukan untuk mengetahui noumena, berupa realitas hakekat atau essence. Dalam rangka membangun kesadaran tinggi pengetahuan akal budi kemampuannya sangat terbatas karena terdapat berbagai kelemahan mendasar. Paling tidak dapat dikemukakan tiga alasan berikut. Pertama, sebatas pengetahuan kognitif (cognitive science). Kesadaran akal-budi semata-mata sebagai bagian dari fungsi otak yang kemudian berkembang (emerge). Kesadaran dalam pendekatan ini mengatakan : “…dipandang sebagai berkembanganya jaringan-jaringan yang terintegrasi secara hirarkis. Kesadaran adalah sesuatu yang bertumbuh dari kompleksnya jaringan yang saling terhubung di dalam otak manusia. Kesadaran yang dihasilkan adalah bersifat obyektif atas apa yang bisa dilihat dengan indera atau fenomena. Kesadaran model ini sering digunakan untuk menjelaskan akan kejadian alam yang di dalamnya mengandung rangkaian hukum sebab-akibat. Namun kita harus menyadari bahwa semua data-data sangat terbatas dengan apa yang dapat ditangkap oleh indera jasad.

 

Kedua, sebatas penafsiran subyektif. Melalui instrospeksionisme (introspectionism). Di dalam pandangan ini kesadaran dipandang sebagai kesadaran orang pertama yang tertuju pada sesuatu obyek di luarnya. Kesadaran lantas dilakukan dengan cara penafsiran. Penafsiran terhadap realitas didasarkan pada kesadaran langsung yang muncul dari pengalaman sehari-hari dan dialami sendiri dan bukan dari pengamatan obyektif orang ketiga. Kesadaran akal budi pada taraf ini belum mampu menjawab akan energi metafisika yang melampaui fisika.

 

Ketiga, bersifat relative-obyektif. Dalam disiplin sosiologi terdapat  pendekatan psikologi sosial. Pendekatan ini melihat kesadaran sebagai sesuatu yang tertanam pada jaringan makna kultural tertentu. Dengan kata lain kesadaran adalah produk dari sistem sosial yang ada di dalam suatu masyarakat. Sebagai contoh misalnya teori marxisme dan generasinya (marxianism: sosialisme, komunisme leninisme dan stalinisme). Kapitalisme, konstruktivisme, dan hermeneutika kultural. Semua pendekatan ini berakar pada satu asumsi bahwa kesadaran tidaklah terletak melulu di kepala individu melainkan ditentukan oleh kultur sosial-politik-ekonomi masyarakat. Masih dalam perspektif sosiologis sistem kepercayaan masyarakat (agama, ajaran, sistem nilai, kebiasaan, adat-istiadat, dan tradisi) merupakan bagian dari sistem budaya. Sekalipun dianggap sebagai bentuk kesadaran tinggi (spiritual) namun nilai-nilai religi tidak lepas dari jaringan makna kultural tertentu. Dengan kata lain masih berada dalam lingkup relative-obyektif. Hal ini dapat dilihat dari istilah dan bahasa yang terdapat pada kalimat-kalimat suci, serta ritual-ritual atau kegiatan seremonial keagamaan yang kental dengan sistem budaya tertentu. Termasuk nilai-nilai sakral dan mistisnya tampak berkaitan dengan legenda dan sejarah nenek-moyang masyarakat tertentu berupa warisan sistem religi primitif animisme dan dinamisme.

 

KESADARAN INTUITIF

Menjawab kelemahan Bacon di atas, seorang filsuf P.D. Ouspensky memperkenalkan alat ukur baru yang disebut Tertium Organum. Yakni kebenaran yang bersifat intuitif yang merangkum keduanya, tesisnya bahwa kenyataan itu harus rasional dan harus dieksperimentasi. Namun tidak berhenti di situ saja karena di dalamnya akan terjadi proses perkembangan atau evolusi kesadaran menuju kesadaran tingkat tinggi (higher consciuousness) untuk memperoleh kenyataan tingkat tinggi (higher reality). P.D. Ouspensky menyebut temuan metodenya dengan berbagai istilah: Mistycal Locic, Extase Logic, Paradoxical Logic. Sebuah metode sebagai upaya yang pasti menuju kebenaran kenyataan yang esensial (noumena). Tampaknya Ouspensky memiliki kesadaran bahwa realitas di luar rasio belum tentu sebagai sesuatu ke-tidakbenar-an. Bisa jadi hanyalah ketidak-tahuan rasio manusia semata sehingga seseorang seyogyanya membuka diri pada hal-hal yang terkesan irasional sekalipun. Pemikiran Ouspensky mengajak kita agar selalu berpositif thinking dalam memandang segala sesuatu yang masih menjadi tanda tanya besar yang seolah tidak masuk akal atau non-sense. Dengan postulat bahwa manusia itu lebih banyak yang belum diketahui daripada yang sudah diketahui mengenai apa yang terjadi dalam jagad raya. Positive Thinking harus dibarengi dengan sikap ragu-ragu. Namun bukanlah ragu-ragu yang menyepelekan, tetapi ragu-ragu agar menjadi tahu (skeptisisme). Dengan kata lain, Ouspensky secara tidak langsung mengatakan orang yang merasa paling tahu atau merasa diri telah mengetahui banyak hal sesunggunya ia orang yang tidak banyak tahu. Mafhum lah kita mengapa sikap para filsuf besar Yunani tampak paradoksal dengan mengatakan bahwa; semakin banyak tahu, justru dirinya merasa semakin banyak yang tidak diketahuinya.

 

Teori intuisi menyebutkan bahwa intuisi atau pengilhaman adalah semacam penglihatan yang amat tajam. Karena itu penulis-penulis dilihat sebagai seniman yang memiliki kemampuan berimajinasi atau mengembangkan perasaannya.  Sehingga mereka dianggap genius-genius dalam spiritual. Sementara itu Pengertian intuisi menurut Webster Dictionary adalah kemampuan manusia untuk memperoleh pengetahuan atau wawasan langsung tanpa melalui penalaran dan observasi terlebih dahulu. Senada dengan itu menurut psikolog sosial dan sekaligus pengikut Guru Besar Psikologi Daniel Kahneman pada Princeton University, David G. Myers (Intuition; Its power and perils; 2002) pemikiran intuitif itu layaknya persepsi, sekelebat gambaran, dan tanpa usaha. Kalimat Kahneman yang menjadi pedoman Myers adalah ; ….kami mempelajari berbagai intuisi, beragam pemikiran dan preferensi yang mendatangkan pikiran secara cepat tanpa banyak refleksi.

 

Berangkat dari kesadaran betapa sulitnya membuat suatu teori dalam ranah intuitif yang banyak mengandung misteri kehidupan, lebih lanjut Ken Wilber (dalam: An Integral Theory of Consciousness, 1997) menyarankan agar melakukan pendekatan secara integratif. Setidaknya menempuh dua langkah berikut; Pertama penelitian yang berkelanjutan di berbagai pendekatan yang sama-sama ingin memahami fenomena kesadaran manusia. Karena disadari bahwa eksistensi kesadaran adalah suatu enigma, yakni sesuatu yang misterius. Suatu ke-ada-an di balik realitas fisik (metafisika), beyond side. Masing-masing pendekatan yang telah dijabarkan sebelumnya mampu memberikan sumbangan untuk memahami enigma ini. Setiap pendekatan penting, dan layak mendapatkan dukungan lebih jauh untuk mengembangkan penelitiannya. Saran Wilber sangat bijaksana, namun demikian, pendekatan integral ini lebih terasa sebagai himbauan moral saja. Ia tidak mengkonsep secara tegas dalam tataran aksiologi sebagai terobosan ilmu pengetahuan.

 

Dasar manusia, tak pernah merasa puas akan hasil pencapaiannya maka dikemukakan lagi pendekatan yang lebih canggih untuk menggali kemampuan intuisi manusia. Disebut sebagai teori energi-energi halus (subtle energies). Di dalam pendekatan ini, hipotesis  penelitian dilakukan dengan berpijak pada asumsi atau pengandaian, bahwa ada sesuatu yang disebut energi kehidupan yang melampaui fisika. Energi ini mempengaruhi kesadaran dan perilaku manusia secara signifikan. Energi ini memiliki banyak nama lain, seperti tenaga dalam, aura, prana, ki, dan chi. Wilber secara sederhana melihat bahwa energi kehidupan ini merupakan penghubung antara dunia luar yang bersifat material dengan kesadaran manusia, dan sebaliknya, yakni dunia kesadaran manusia yang tertuju pada dunia luarnya.

 

Meredam Arogansi Ilmiah

Jika dilihat sekilas beberapa pendekatan di atas terlihat sangat erat dengan unsur mistik, sehingga tidak jarang kadar ilmiahnya diragukan. Akan tetapi, paling tidak Wilber menegaskan bahwa fenomena kesadaran itu tidak melulu ilmiah, tetapi merupakan suatu misteri. Maka pendekatan apapun sebenarnya bisa membantu kita untuk memahaminya. Dalam hal ini arogansi ilmiah sedapat mungkin harus dicegah. Saran Wilber tersebut patut dijadikan warning, betapa pendekatan ilmiah yang bertumpu pada akal dan paca indera saja seringkali justru membatasi kemampuan manusia dalam mengungkap misteri kehidupan. Hegemoni arogansi ilmiah  justru membuat manusia teralienasi dengan ke-ada-an misteri kehidupan yang sejatinya. Sama halnya dengan statemen-statemen “orang suci” yang telah menghegemoni kesadaran intuisi umat manusia dengan doktrin yang menciutkan hati. Ironis sekali, sebuah kekeliruan fatal manusia karena ketidakpercayaan akan kemampuan intuisinya sendiri, hanya karena merasa rasio akal-budi adalah segalanya. Secara moral agama sikap tersebut juga menafikkan intuisi sebagai anugrah Tuhan pada diri manusia. Sebaliknya, siapaun yang tertarik mengembangkan intuisi harus meredam arogansi ilmiah termasuk arogansi dogma-dogma, lalu membuka diri pada hal-hal yang ada di luar rasio atau akal-budi kita. Jika rasio anda meragukan daya kerja intuisi –bukanlah keputusan yang tepat– bisa jadi hal itu semata-mata karena akal-budi dan rasio belum terbiasa menerima serta menyaksikan sendiri kebenaran intuitif yang ada (being) di luar fikiran kita sebagai kebenaran esensial noumena.

 

Benar kalimat nenek-moyang bangsa kita, Nggawa latu adadamar. Maka ada satu hal yang harus kita sadari sebagai modal utama untuk membuka kesadaran intuitif kita. Yakni, adanya kesadaran bahwa kecenderungan rasio manusia yang sulit menerima sesuatu yang baru dan terlalu rumit untuk dicerna akal-budi, sekalipun hal-hal bersifat empiris dan rasional bagi orang lain yang telah memahaminya. Terlebih lagi hal-hal bersifat hakekat yang abstrak dan gaib. Hal ini disebabkan kurangnya pengalaman pribadi, dan informasi yang lengkap serta sarana pembanding lainnya, sebagai data komparatif yang akan diolah rasio.

 

Kesadaran Intuisi Sebagai Sumber Kebenaran

Sekalipun gaib/abstrak, daya kerja intuisi dapat dibuktikan secara logic dan empiris. Hanya saja pembuktian terencana dan empiris lebih sulit dilakukan. Karena pada umumnya intuisi tidak terkelola dengan baik sehingga daya kerjanya hanya bersifat spontanitas saja. Pembuktiannya juga lebih sering bersifat (seolah-olah) kejadian spontanitas sehingga dianggap kejadian yang “kebetulan” yang tidak ada korelasinya.  Seorang enterpreneur sejati, seniman dan orang-orang sukses kadang menggunakan intuisinya untuk memilih mana orang yang tepat sebagai partner, mencermati peluang bisnis dan menciptakan kesempatan emas untuk membangun sebuah usaha. Disiplin ilmu menjadi sekedar alat untuk menggaris bawahi atau menguatkan kebenaran intuisinya di samping sebagai alat pembuktian secara obyektif. Intuisi adalah awal dari kesadaran kita sekaligus menjadi jurus untuk membuka jalan mana yang tepat dan benar untuk dipilih.

 

Berbagai tradisi intelektual memperkenalkan teknik mengolah intuisi yang bersifat kontemplatif. Dalam pandangan ini kesadaran berada pada tingkatan yang lebih rendah dari yang seharusnya bisa dicapai manusia. Untuk meningkatkan kesadarannya orang perlu melakukan praktek meditasi dan yoga. Kesadaran yang sesungguhnya hanya dapat dicapai jika orang melakukan praktek tersebut secara konsisten. Tak puas hanya dengan melakukan kontemplasi, terdapat pendekatan Psikologi Perkembangan. Pendekatan ini memandang kesadaran bukan sebagai sesuatu yang tunggal tetapi sebagai dinamika yang terus berkembang di dalam proses. Setiap tahap di dalam proses tersebut memiliki perbedaan yang substansial dan harus dianalisis menurut kekhususannya masing-masing. Pendekatan ini juga menyentuh perkembangan-perkembangan unik di dalam diri manusia berupa kemampuan supernatural. Kemampuan ini dianggap sebagai fungsi kognitif, afektif, moral, dan spiritual yang berada di level yang lebih tinggi.

 

Contoh Bekerjanya Intuisi

Intuisi adalah hal yang sepele namun tak bisa dianggap sepele. Karena melalui intuisi pula manusia mampu meraih kesuksesan. Dengan intuisi pula manusia kadang berhasil untuk mengungkapkan rahasia alam dan kehidupan. Betapa dahulu para ilmuwan diperingatkan jika metode berkembang biak makhluk hidup melalui cloning adalah sebuah ide atau gagasan non-sense dan kontroversial karena bertentangan dengan norma agama serta dianggap bertentangan dengan rumus/kodrat Tuhan (baca: kodrat alam). Namun demikian riset dan ujicoba tak pernah berhenti hingga al hasil benar-benar membuktikan bila makhluk hidup dapat berkembang biak melalui proses pembiakan/penggandaan unsur genetika  milik sendiri.

 

Sekedar contoh proses diperolehnya kebenaran intuisi terdapat dalam beberapa contoh kasus berikut:

 

Pada tanggal 1 bulan Mei 2006, sewaktu duduk berbincang dan diskusi bersama kawan-kawan, istri tiba-tiba berteriak histeris sambil terkesima, secara tidak sengaja melihat seperti kelebatan gambaran (view) seolah melihat “layar tancap” yang berisi “film” kejadian guncangan gempa dahsyat sekali. Dalam kelebatan tersebut sekilas tampak papan penunjuk arah tertera tulisan Ke Jl. Parangtritis, Ke Bantul, Klaten, Yogyakarta. Sehari kemudian jam 18.00 bayangan itu muncul lagi, namun kali ini sekelebat tertera tanggal “27”. Dalam gambaran itu tampak seolah gempa terjadi waktu remang-remang, tidak jelas apakah pagi atau sore hari. Ternyata bayangan itu benar-benar terjadi tanggal 27 Mei 2009. Antara tanggal 1 mei hingga tanggal 26 Mei, status bayangan tersebut belumlah sebagai kebenaran intuisi. Namun ketika gempa benar-benar terjadi persis tanggal dan harinya, barulah bayangan itu menjadi kebenaran intuisi.

 

Dalam alur demikian, intuisi diakui sebagai metode pencari kebenaran, sebab masih tetap membutuhkan verifikasi atau pembuktian sebagai alat pengujian kebenarannya. Namun berbeda dengan metode ilmiah lainnya karena dalam metode intuisi kita tidak dapat mendominasi pembuktian intuisi. Posisi kita sebagai obyek intuisi sangatlah  determinan, hanya menunggu bukti itu terjadi dengan sendirinya. Selain itu pembuktian empiris intuisi tidak bersifat instan, terkadang memakan waktu cukup panjang melibatkan beberapa generasi usia manusia, rentang waktunya bisa mencapai puluhan hingga ratusan tahun ke depan. Artinya, intuisi menjadi kebenaran setelah menunggu puluhan hingga ratusan tahun yang akan datang. Lamanya pebuktian menjadikan intuisi seolah hanya sebagai omong kosong belaka.

 

Contoh lain misalnya; dalam situasi dan kondisi yang teramat darurat anda harus mengambil keputusan yang sangat fital. Tidak ada waktu berlama-lama berfikir, tiba-tiba hati anda tergerak, atau bahkan seolah mendengar “bisikan gaib”, dan hati terasa menemukan kemantaban memilih salah satu jalan keluarnya. Keputusan tersebut lebih cepat dibandingkan dengan proses berfikir anda sendiri. Setelah anda mengikuti suara hati dan “bisikan” tersebut, di kemudian hari anda benar-benar membuktikan sendiri sebagai keputusan yang paling tepat. Saya yakin, para pembaca yang budiman pernah mengalami kejadian serupa.

 

Bekerjanya intuisi kita biasanya dimulai dari kasus-kasus sederhana. Sebagai contoh misalnya: anda tiba-tiba merasakan keinginan kuat dari dalam lubuk hati untuk menelpon teman anda yang lama tak ada kabar berita. Setelah anda menelpon ternyata teman anda sedang mengharapkan bantuan anda. Contoh lain misalnya anda tak tahu entah alasan apa namun merasa ingin sekali kembali ke rumah. Ternyata sampai di rumah anda mendapati seorang pencuri mencoba masuk ke rumah anda. Anda bebas mengartikan intuisi anda sebagai ilham, ataukah nurani, bisikan gaib, karomah, wangsit, laduni atau sasmita. Ilustrasi yang lain, misalnya anda sedang memikirkan seseorang, tiba-tiba orang yang bersangkutan menelpon atau mengunjungi anda. Jika anda mengelola intuisi bukanlah hal yang sulit untuk menggali potensi besar anda yang masih tersimpan. Tidak mengherankan bila suatu waktu anda dapat menyaksikan warna-warna metafisik berupa warna-warna aura seseorang hanya dengan mata wadag anda. Lebih dari itu anda dapat menjawab teka-teki (enigma), semakin mudah menyaksikan eksistensi gaib (noumena) di sekitar anda.

 

Semua masih dalam lingkup daya kerja instrumen jiwa yang bernama intuisi disebut pula six-sense. Alat detektor makhluk halus yang dulu dianggap mustahil diciptakan, akhir-akhir ini manusia-manusia di negara-negara maju seperti Jepang, Jerman dan Amerika dengan pemberdayaan intuisinya berhasil memperoleh temuan baru (discovery) dengan ditemukan alat pendeteksi hantu atau roh. Di negara-negara maju dengan bimbingan intuisi satu misteri kehidupan telah berhasil diungkap bersama teknologi modern. Bahkan apa yang dilakukan para sastrawan dan pujangga nusantara di masa lalu berhasil membuat prediksi-prediksi besar dan satu demi satu sudah terbukti merupakan metode yang jauh lebih canggih dari alat-alat dan metode ilmiah paling kontemporer sekalipun. Hal itu menunjukkan kesadaran tinggi manusia (higher consciuousness) tidak sekedar spontanitas semata, namun semakin dapat dibuktikan secara ilmiah dan memenuhi syarat menjadi kenyataan obyektif yang diakui sebagai salah satu metode memperoleh kebenaran.

 

Pertanyaannya; Mungkinkah suatu saat ditemukan kamera canggih yang dapat mengambil gambar wujud roh ? Tidak tertutup kemungkinan ! Mungkin sudah menjadi kodrat/rumus Tuhan bahwa perkembangan kesadaran intuisi  (batin) manusia berkembang lebih pesat jauh meninggalkan kesadaran akal-budi.

 

Dari contoh-contoh di atas tampak bahwa intuisi bekerja secara misterius,  kesadarannya dapat melampaui kecepatan kesadaran akal-budi. Pembuktiannya seringkali tidak bersifat instan. Sehingga kebenaran intuitif kadang sulit diterima akal-budi. Sekalipun menolak intuisi suatu waktu anda dipaksa juga harus mengakui intuisi anda sendiri setelah terjadi peristiwa spontan sebagai pembuktian tak terbantahkan. Lain halnya bagi siapa saja yang sudah terbiasa mengalami dan membuktikan kebenaran intuisi yang dulu berada di luar fikiran menjadi biasa dan tidak aneh lagi. Betapa intuisi mampu “memaksa” alam semesta untuk membuka segenap enigma sebagai noumena, kebenaran esensial yang terjadi di luar kesadaran rasio manusia.

 

Pemberdayaan Intuisi a la Timur

Intuisi sering bersifat spontan disebut pula sebagai given (anugrah dari Tuhan) yang kedatangannya tak dapat kita jadwalkan. Meskipun demikian intuisi dapat dikelola agar dapat dikendalikan dan diatur kapan kita ingin memanfaatkan intuisi. Upaya ini berfungsi mengubah intuisi spontan menjadi kesadaran tetap.

 

Javanese Tradition

Manusia memiliki kecenderungan ontologis untuk selalu berupaya mencapai kesempurnaan dengan mengetahui kasunyatan (kebenaran sejati). Salah satu upaya tidak saja bersifat rasional (akal-budi) dan empiris (pengalaman jasad) namun merambah dalam unsur rasa di luar jasad (six-sense). Dengan mengasah intuisi atau  pemberdayaan indera (ke-enam) sebagai indera perasa kita yang ada dalam rasa sejati (bukan indera perasa jasad). Setiap orang memiliki rasa sejati sebagai indera ke-enam (six sense). Namun demikian six sense kita ibarat masih terbungkus kulit yang tebal. Untuk memberdayakan intuisi maka indera ke-enam terlebih dahulu harus dikupas “bungkus”nya yang bermakna nafsu negatif. Hampir senada, Dr. A Ciptoprawiro (dalam bukunya: Filsafat Jawa; 1986) mencoba menjelaskan intuisi dengan mengatakan kesadaran intuitif melibatkan instrumen dasar manusia berupa perasaan & pengetahuan.

 

Perlu saya tegaskan di sini dalam konteks perasaan pengetahuan tersebut harus dibedakan dengan perasaan panca indra. Perasaan pengetahuan merupakan perasaan di luar panca indera jasadiah. Dalam spiritualitas Jawa disebut sebagai rahsa sejati atau rasa jati. Untuk mempermudah penggambarannya dapat diperbandingkan dengan arti kata tela’ah, atau berfikir dengan hati. Yakni berfikir secara intutif, dalam terminologi Jawa dikenal sebagai makna dalam ungkapan menggalih (analisa menggunakan rasa). Dalam suasana yang rumit atau saat menghadapi suatu persoalan berat, orang Jawa sering mengatakan, akan melakukan ngenggar-enggar penggalih. Sebagai sebuah cara yang akan meningkatkan kesadaran aku kepada kesadaran pribadi. Kesadaran aku atau kesadaran rasa sejati tidak bersifat statis tetapi dapat berubah dinamis apabila diri kita melakukan upaya-upaya peningkatan kesadaran.

 

Tradisi Jawa mengenal tata cara dan menejemen intuisi yang dapat diumpamakan mengupas bungkus yang menutupi indera ke-enam kita. Yakni antara lain dengan cara semedi, maladihening, mesu budi, tarak brata, tapa brata, dan laku prihatin. “Bungkus” adalah kiasan untuk menggambarkan nafsu negatif atau keinginan jasadiah. Setelah nafsu negatif “dikupas” kemudian akan muncul sensitifitas rahsa sejati, yakni berupa indera ke-enam kita yang menjadi “mata tombak” mengungkap kebenaran melalui intuisi. Nenek-moyang bangsa kita telah menemukan dan memberdayakan intuisi ini sejak zaman animisme dan dinamisme 1500-100 SM jauh sebelum semua agama-agama “impor” masuk ke bumi nusantara. Tak bisa dipungkiri daya jangkau intuisi mampu mencapai ruang-ruang gaib dengan menyaksikan noumena, berbagai eksistensi metafisika nan mistis. Justru dalam wahana ruang lingkup mistis inilah intuisi dapat berkembang dengan pesat. Hingga sekarang metode intuisi telah mengalami kemajuan sangat pesat khususnya di dalam tradisi dan kebudayaan Jawa yang kental akan mistisism. Inilah sejatinya apa yang disebut para ahli spiritual Jawa sejak era sebelum Majapahit sebagai pemberdayaan rahsa sejati dengan cara: nyidhem rahsaning karep, murih jumedule kareping rahsa. Mengendalikan nafsu, agar intuisi menjadi tajam (waskitha). Betapa pentingnya mengendalikan nafsu sampai-sampai dalam segala lini kehidupan tradisi Jawa selalu disipkan pepéling (pengingat) termasuk dalam tradisi kesenian  tembang terdapat gaya pangkur. Pangkur bermakna nyimpang såkå piålå, mungkúr såkå nafsu dur angkårå.

 

Dalam tradisi Jawa keberhasilan mengolah intuisi dapat dilihat pada kewaskitaan para Pujangga kita yang mampu menjadi sastrawan, seniman dan futurolog masyhur seperti ; KGPAA Mangkunegoro IV, Raden Ngabehi Ranggawarsita, P Jayabaya, RM Sastra Nagara, Mbah Ageng (Ki Metaram) Juru Nujum Sri Sultan HB IX, KPH Cakraningrat dan masih banyak lagi. Di negara barat seperti Nostradamus, Jucelino Noberga da Luz dan Franciscoshabiz (Brazilia), John Naisbitt, Suku Bangsa Maya dll. Berbagai ajaran spiritual Jawa bertumpu pada kekuatan intuisi masing-masing individu. Individu dapat mengembangkan sendiri-sendiri semampunya. Sehingga pencapaian hasilnya berbeda-beda. Ahli spiritual Jawa tidak mengenal kasta atau derajat pangkat melainkan dapat dicapai siapapun yang “gentur laku” mulai dari wong cilik, rakyat biasa, petani, seniman, pandhita, usahawan, hingga bangsawan. Namun biasanya olah spiritual bangsawan masa lalu lebih terkelola secara rapi dan terorganisir. Hingga sekarang Kraton masih eksis berfungsi sebagai cagar budaya sekaligus menjadi centrum cagar spiritual hasil “olah batin” para leluhur bumi nusantara.

 

Pada saat ini ilmu yang tersimpan di dalam kraton telah dipublikasikan melalui berbagai gubahan, buku-buku kajian budaya dsb. Paling tidak terdapat suatu nilai ajaran yang penting diperhatikan yakni prinsip dalam spiritual Jawa memandang bahwa perbedaan pemahaman spiritual menjadi hal yang sangat lazim dan ditoleransi. Dalam tradisi Kejawen tidak dikenal kitab suci, nabi, habib, orang suci dsb karena adanya pemahaman bahwa masing-masing orang telah dibekali kemampuan intuitif sejak lahir sebagai talenta untuk menemukan kebenaran sejati. Lagi pula ajaran spiritual Jawa membahas masalah esensi atau hakekat yang berada dalam ruang universalitas nilai. Tidak diperlukan pelembagaan sebagaimana agama-agama di muka bumi. Karena pelembagaan akan beresiko fragmentasi, terkotak-kotak terbatas dalam ruang yang sempit. Konsekuensinya adalah luasnya ruang spiritual dalam wahana batin terjebak pada ruang fisik yang sempit dan penuh keberagaman jasad.

 

Dalam tradisi spiritual Jawa dikenal istilah ilmu padi, semakin tua semakin berisi, dan semakin merunduk. Disebut juga ngelmu tuwa, yang berhasil meraihnya disebut “uwong tuwa” atau sesepuh. Yang tua bukan fisik atau usianya tetapi ilmunya atau ngelmune tuwa atau orang yang tinggi ilmunya. Maka sejatinya orang yang berilmu tinggi justru semakin rendah hati, berlagak seolah bodoh (mbodoni), namun tetap sopan dan santun berhati-hati dalam berbuat dan berucap. Jika berhadapan langsung pun  kadang justru tampak bodoh tak bisa ditebak, misterius, tidak bisa disangka-sangka dan diduga-kira ketinggian falsafah hidupnya.

 

Bagi yang enggan atau tidak sempat mengolah intuisi bukan berarti gagal total, selama ia masih mau membuka diri dan selalu berpositif thinking. Hanya saja ia tidak dapat menyaksikan langsung kedahsyatan eksistensi beyon side, eksistensi yang ada di luar akal-budi kita (noumena). Setiap orang sebenarnya mudah mengembangkan intuisi dalam diri.  Asal mau membiasakan diri ; memperhatikan, mencermati, dan merasakan getaran dalam hati paling dalam, yang tak bisa dipungkiri atau ditolak. Intuisi mengirim getaran sinyal ke dalam hati pada detik-detik pertama, selanjutnya adalah imajinasi yang akan mendominasi akal budi kita. Imajinasi tidak bisa dipercaya karena memuat segala angan dan khayalan keinginan jasad (rahsaning karep). Sedangkan getaran intuisi dalam hati disebut pula sebagai hati nurani (kareping rahsa).

 

Jika diurutkan cara bekerjanya intuisi adalah sebagai berikut :

rahsa sejati (kareping rahsa) — sukma sejati (guru sejati) — getaran hati (nurani) – intuisirespon otak (imajinasi)

 

Bandingkan dengan kronologi nafsu berikut ini :

obyek yang menyenangkan –- panca indera –- hati -– respon otak (imajinasi atau perencanaan pemenuhan hasrat/keinginan jasad)

 

Kesadaran

Dalam ilmu Jawa dikenal beberapa tingkatan kesadaran manusia. Diurutkan dari bawah yakni; (1) Jasad, (2) akal-budi, (3) nafsu, (4) roh, (5) rasa (indera ke-enam), (6) cahya, (7) atma. Intuisi setara dengan kesadaran urutan ke lima. Dilihat dari tingkat kesadaran ini manusia dibedakan ke dalam dua kelompok: yakni orang pilihan, dan orang awam.

 

Orang Awam (kesadaran lahiriah)

Untuk menunjuk tingkat kesadaran seseorang yang mencapai taraf kesadaran jasad, akal-budi, dan nafsu. Dalam tataran ini seseorang masih dapat memahami nilai sopan santun, kearifan, dan kawicaksanan. Namun seseorang belum sampai pada menyaksikan langsung (nawung kridha) atau wahdatul wujud, sebaliknya pengetahuannya hanya berdasarkan ajaran yang tertulis (teksbook, referensi) dan dari mulut ke mulut, kulak jare adol jare, ceunah ceuk ceunah, serta yang tak tertulis namun masih dapat disaksikan melalui panca indera jasad, misalnya berbagai macam fenomena atau gejala alam. Kesadaran yang melibatkan unsur cipta, rasa, karsa. Namun ketiganya bukanlah pengalaman batin sendiri.

 

Orang Pilihan (kesadaran batiniah)

Untuk memilah seseorang yang telah mencapai kesadaran batin yang meliputi kesadaran jiwa atau kesadaran roh, kesadaran rasa sejati, kesadaran cahya, dan kesadaran atma. Tataran kesadaran ini dalam terminologi Jawa lazim disebut Nawung Kridha atau orang yang berbudi-pekerti luhur, lazim pula disebut orang yang memiliki tingkat spiritual tinggi. Semakin tinggi spiritualitas seseorang berarti tingkat kesadarannya semakin tinggi pula.  Disebut juga sebagai satu mungging rimbagan, yakni orang yang telah mencapai kesadaran spiritual dengan ditandai pencapaian tataran curiga manjing warangka, atau dwi tunggal (loroning atunggil), pamoring kawula Gusti, atau manunggaling kawula Gusti. Dalam agama Budda kurang lebih sepadan dengan orang yang menggapai hakikat Nirvana, sedangkan dalam terminologi Latin sebagai Imago Dei, sementara istilah mistis Arab disebut sajjaratul makrifat yakni orang-orang yang wahdatul wujud. Kesadaran seseorang pada tataran ini dalam memahami hakekat “setan”, surga, dan neraka tidak sama pada umumnya Orang Biasa. Bagi orang pilihan ia akan berani mati sajroning ngaurip (mati di dalam hidup). Artinya nafsu keduniawian atau nafsu jasadiah (rahsaning karep) dimatikan, sedangkan yang hidup adalah rasa sejati (kareping rahsa). Kegiatan ini umpama mengolah lahan gersang menjadi lahan subur bagi tumbuh dan berkembangnya six-sense kita.

 

Beberapa Tipe Orang Pilihan

KRT. Ronggo Warsito dalam karyanya suluk Pamoring Kawula Gusti, berkaitan dengan tingkat kesadaran ini, memilah manusia menjadi tiga tipe yakni :

 

1.Tipe Etis ;

yakni kemanunggalan antara kawula dengan Gusti, hasilnya adalah waskita dan susila anor raga. Orang pilihan tipe etis telah mampu megharmonisasi antara batin dengan perbuatannya. Kemanunggalan manusia setelah melebur ke dalam Zat Tuhan ini digambarkan dalam cerita wayang dengan lakon Wisnu Murti, yakni Prabu Kresna masuk ke dalam tubuh Dewa Wisnu. Atau sebaliknya, Zat Tuhan yang melebur di dalam manusia digambarkan dalam lakon wayang Bimasuci, tatkala Dewaruci merasuk ke dalam tubuh Sena. Penggambaran akan manusia yang menguasai kesadaran triloka yakni alam gaib, kesadaran alam batin, dan alam wadag. Istilah yang digunakan dalam mistis Islam disebut rijalul gaib.

 

2.Tipe Kosmologis ;

yakni olah lahir dan olah batin seseorang melebur dalam kosmos universal dan mengeliminasi egoisme atau individualitas. Orang pilihan tipe kosmos mencapai high consciuousness dengan cara membebaskan diri dari belenggu alam empiris materiil. Tindakan pembebasan dari belenggu alam empiris materiil menuju pada eksistensi transenden. Dalam keadaan ini kesadaran seseorang meningkat  dari kesadaran diri materiil, menjadi kesatuan mutlak sebagai bentuk kesadaran rahsa sejati, yakni pemahaman akan kebenaran sejati pada kehidupan ini. Batin kita akan menjadi batin patipurna; batin yang bebas dari polusi, halusinasi, dan imajinasi jasad (akal-budi) semata. Maka secara emanatif manusia digambarkan akan kembali ke asal muasalnya yakni ke dalam hakekat cahya sejati nan suci. Inilah nilai tradisi Kejawen dalam wahana dimensi vertikal dengan yang transenden yakni; sangkan paraning dumadi. Asal dan tujuan manusia adalah Zat Mahamulya (adi kodrati/ajali abadi). Dalam spiritual Jawa dikenal alam kelanggengan nan suci, atau alam kasampurnan sejati yakni tempat berkumpulnya/kembalinya arwah para leluhur yang berhasil mensucikan diri semasa hidup di dunia. Dengan berbekal kesuksesan mensucikan diri akan menjadi modal utama yang menempatkan roh berada dalam wahana cahya sejati (disebut pula nurulah). Asal roh adalah hakekat cahya yang suci maka roh harus kembali dalam kondisi cahya suci pula. Inikah yang sebenarnya sebagai hakekat “malaikat” ? silahkan anda telaah sendiri.

 

3. Tipe Teologis ;

Tipe ini banyak kemiripan dengan tipe kosmologis hanya saja terdapat perbedaan mendasar dengan adanya istilah-istilah yang berasal dari kitab suci atau ajaran nabi. Pada tipe kosmologis terbuka untuk diperdebatkan secara rasional locic sebagaimana tradisi Kejawen. Sedangkan tipe teologis sangat tertutup bagai monumen sejarah. Sikap kritis sering dianggap menentang, melecehkan dan sesat. Terkesan tipe teologis hanya membutuhkan keyakinan saja. Dari rasa yakin lalu menjadi percaya. Penilaian terhadap kesadaran intuitif manusia, kadang diasumsikan sangat berbahaya mudah tergelincir oleh “bisikan setan”. Resikonya agama akan mengalami stagnansi bagai monumen sejarah yang untouchable makin lama kian lapuk dan ditinggalkan manusia ultramodern. Tradisi ilmiah beberapa filsuf, sejarawan, antropologi, sosiologi, arkeologi, memandang agama sebagai tipe kesadaran kosmologis manusia masa lampau, yang telah dilembagakan sebagai sistem religi masyarakat tertentu. Dan sistem religi ini dalam perspektif psikologi sosial merupakan bentuk kesadaran relative obyektif sesuai dengan sistem sosial budaya masyarakat  di mana suatu agama dahulu dilembagakan.

 

Ngelmu Kasampurnan

Ujung dari proses perkembangan kesadaran manusia adalah diraihnya kesempurnaan hidup (ngelmu kasampurnan), atau ilmu kesempurnaan, wikan sangkan paran. Filsafat hidup yang termuat di dalam Ngelmu kasampurnan adalah gambaran kesadaran tertinggi manusia (highest consciuousness). Maka dalam istilah Jawa ilmu kasampurnan disebut pula ilmu kasunyatan, ilmu tuwa, ilmu sangkan paran. Hampir sepadan dalam tradisi mistis Islam disebut makrifat. Idiom Jawa memiliki banyak istilah untuk menggambarkan manusia yang berhasil menggapai ilmu kasampurnan, yakni; jalma limpat seprapat tamat, jalma sulaksana waskitha (weruh) sadurunge winarah. Artinya seseorang yang memahami kebijaksanaan hidup dan memiliki kemampuan mengetahui peristiwa-peristiwa di luar jangkauan ruang dan waktu serta di luar kemampuan akal-budi (kawaskithan). Pedoman hidup atau kebijaksanaan yang dihayati adalah ; wikan sangkan paran, mulih mulanira, dan manunggal. Memahami asal muasal manusia, kembali kepada Hyang Mahamulya, dan manunggal ke dalam kesucian Zat.

 

Pencapaian kesempurnaan hidup dalam serat Wedhatama disebut sebagai  pamoring suksma, roroning atunggil. Menurut serat Wedhatama karya KGPAA Mangkunegoro IV, ilmu kasampurnan disebut pula sebagai ngelmu nyata, ngelmu luhung atau akekat. Cara pencapaian kesadaran tingkat tinggi ini, di capai melalui empat tahapan sembah, atau catur sembah; yakni sembah raga, sembah cipta/kalbu, sembah jiwa/sukma, dan sembah rasa, dan meraih rahsa sejati (lihat thread; Serat Wedhatama). Wedha adalah petunjuk atau laku/langkah, Tama adalah utama atau luhur/mulia, yakni ilmu tentang perilaku utama atau budi pekerti yang luhur. Dalam serat Wedhatama mencakup ajaran perilaku ragawi yang kasad mata (solah tingkah), perilaku hati, dan perilaku batin (bawa/perbawa) yang meliputi jiwa dan rahsa. Dalam rangka menggapai kesempurnaan hidup  hendaknya ke-empat perilaku tersebut menjadi satu kesatuan yang utuh. Sehingga secara garis besar terbagi menjadi dua bentuk kesatuan perilaku lahir dan batin. Keduanya harus dibangun dalam wujud korelasi yang harmonisasi, sinergis antara perbuatan lahir atau solah, dan perbuatan batin atau båwå. Wujud solah akan merefleksikan keadaan båwå dalam batin, namun kesadaran båwå juga termanifestasikan ke dalam wujud solah. Apabila tidak terjadi sinkronisasi antara solah dan båwå, yang terjadi adalah sikap inkonsisten, kebohongan, mencla-mencle atau plin-plan. Dalam ranah agama disebut sebagai sikap munafik. Sebaliknya indikator manusia yang telah memperoleh kesadaran tinggi (spiritual)  dalam lingkup ngelmu kasampurnan dapat dicermati tingkat pemahamannya yang termanifestasikan dalam beberapa barometer berikut ini ;

 

1. Madu Båså

Meliputi adab, sopan-santun, tata cara, kebiasaan mengolah tutur kata dalam pergaulan. Madu adalah manis, bukan berarti konotasi negatif seseorang yang gemar bermulut manis. Namun maksudnya adalah seseorang yang mampu membawa diri, mawas diri atau mulat sarira. Kata-kata yang tidak menyakitkan hati orang lain. Ucapan yang menentramkan hati dan fikiran. Tutur kata yang bijaksana, bermutu atau berkualitas, dan selalu menyesuaikan pada keadaan dan lawan bicara. Maka dikatakan ajining diri kerana lathi. Kehormatan atau harga diri seseorang tergantung pada apa yang ada dalam ucapannya. Dalam pribahasa Indonesia terdapat tamsil berupa peringatan agar mewaspadai mulut kita, “mulutmu harimau mu”. Madu Basa adalah seseorang yang pandai mengolah kata sehingga dalam menyampaikan kritikan, penilaian, protes dan nasehat mampu menggunakan bahasa yang simple, mudah dipahami, tidak menyinggung perasaan orang lain dan mudah diterima oleh orang yang dituju. Itulah bahasa akan menjadi “madu” tergantung pada kemampuan kita memadu bahasa. Ibaratnya ikan dapat ditangkap dan airnya tidak menjadi keruh.

 

2. Madu Råså

Meliputi empan papan, tepa selira, unggah ungguh, iguh tangguh, tuju panuju, welas asih, kala mangsa, duga prayoga. Madu rasa adalah bentuk kesadaran tinggi atau kesadaran batin (SQ). Termanifestasikan dalam rasa kasih sayang yang tulus kepada sesama, tanpa membedakan suku, agama, warna kulit, golongan, pandai-bodoh, kaya miskin, drajat pangkat. Sebuah kesadaran batin yang mampu memahami bahwa derajat manusia adalah sama di hadapan Sang Pencipta. Perbedaan kemuliaan hidup seseorang ditentukan tingkat kesadaran lahiriah dan batiniahnya, serta ditentukan oleh perilaku dan perbuatannya apakah bermanfaat atau tidak untuk sesama. Seseorang yang menghayati madu rasa, mampu ngemong (mengendalikan) gejolak nafsu diri sendiri, maupun ngemong gejolak nafsu orang lain. Keadaan mental seseorang madu rasa, memiliki kematangan, tangguh, ulet dan tekun, bertekad kuat, gigih dan tidak mudah putus asa, segala sesuatu terencana secara matang, memperhitungan segala resiko. Cermat, cakap, tanggap, empatik dan peduli lingkungan.

 

3. Madu Bråtå

Pertama, meliputi sikap eling dan waspadha, eling terhadap sangkan paraning dumadi, dan waspadha terhadap segala hal yang menjadi penghambat upaya mencapai nglemu kasampurnan. Kedua, madu brata diistilahkan pula keberhasilan sikap sebagai nawung kridha. Untuk menyebut seseorang yang dapat menyaksikan sendiri bahwa dalam menempuh kemuliaan hidupnya diperlukan kesadaran lalu memahami akan karakter, sifat-sifat, tabiat alam, gejala dan tanda-tanda kebesaran Hyang Maha Mulya yang sangat beragam. Madu brata, “madu”nya perilaku dalam menjalani kehidupan ini. Terletak pada kesadaran bahwa manusia sebagai jagad kecil, dan alam semesta sebagai jagad besar memiliki hubungan yang harmonis dan sinergis. Namun demikian manusia lah yang harus pandai beradaptasi dan sensitif dalam merespon gejala alam. Madu bråtå sepadan dengan sikap hamemayu hayuning bawånå. Ketiga, pangastuti dan rasa sejati yang dimilikinya dapat dimanage dengan baik, bukan lagi menjadi alam bawah sadar namun telah berhasil membangkitkan kesadaran mutlak yang mampu meredam watak sura dira jayaningrat melebur dalam pangastuti. Seseorang memiliki daya batin yang jinurung ing gaib, yakni sejalan dengan rumus Tuhan yang terangkum dalam hukum alam, atau kodrat alam lahir maupun alam batin sebagai “bahasa” dari kodrat Ilahiah. Maka Idune idu geni (ludahnya ludah api), kehendaknya adalah kehendak Tuhan, sehingga apa yang diucap terwujud (sabda pendhita ratu).

 

Senada dengan serat Wedhatama, dapat dilihat dalam Filsafat Widyatama, terdapat dalam suluk Sukma Lelana, karya KRT Ronggo Warsito. Di dalamnya terdapat ajaran tentang Widyatama atau ajaran tentang lakutama, yakni perilaku utama, atau budi pekerti yang luhur. Dikemas dalam bentuk seni sastra dan budaya lainnya yang mengandung nilai filsafat kehidupan adiluhung, dalam rangka meraih kearifan dan kebijaksanaan hidup (ngudi kawicaksanan), serta mengupayakan kesempurnaan hidup (ngudi kasampurnan). Di dalamnya diungkapkan beberapa tataran kesadaran manusia, yakni kesadaran jasad, kesadaran batin dan tentang kesempurnaan (kasampurnan). Orang yang ngudi kawicaksanan dan kawaskitan disebut sebagai seorang jalma sulaksana.

 

Kemampuan Hewan dengan Manusia

Mengulas tulisan dari awal hingga akhir tampak perbedaan tingkat kesadaran yang amat jauh antara naluri dengan intuisi. Dalam dunia hewan naluri sebagai alat utama yang mampu menjaganya tetap berada pada jalur kodrat alam atau kodrat Sang Pencipta jagad raya. Sedangkan manusia yang hanya berbekal kemampuan akal yang tinggi akan lebih sulit menempatkan diri pada jalur hukum alam atau kodrat Tuhan. Hal ini sekilas tampak paradoksal namun kenyataannya demikian adanya. Karena di satu sisi akal manusia keberadaannya di dalam bungkusan nafsu. Resikonya adalah penguasaan nafsu atas jiwa (lihat thread; Mengenal Jati Diri; Hakekat Neng ning nung nang). Di sisi lain otak manusia dapat berubah menjadi sumber imajinasi yang keliru, resikonya berupa salah tafsir, salah sangka, salah duga, salah kira.

 

Jalan satu-satunya menyelamatkan diri adalah peningkatan akan kesadaran, sehingga mudah memilah mana kebenaran sejati mana kepalsuan. Jika manusia tidak memiliki tingkat kesadaran yang layak manusia beresiko tinggi mendapat malapetaka kehidupan karena secara sadar atau tidak dapat terjebak nafsu ragawi dan imajinasi akal yang palsu. Akal sering dibangga-banggakan manusia karena diyakini mampu mengangkat derajat kemanusiaannya. Terlebih lagi manusia mengklaim diri dengan dimilikinya akal menjadikannya sebagai makhluk paling sempurna. Tapi jangan gegabah, akal bagaikan pisau bermata dua. Mata yang satunya dapat memuliakan manusia, mata yang satu lagi sebaliknya dapat menyebabkan sebuah malapetaka besar manusia menjadi makhluk paling hina di dunia.

 

Dalam konteks demikian tentunya hewan lebih merdeka dibanding manusia, karena hewan terbebas dari segala tanggung jawab atas kemampuannya. Sebaliknya manusia terbebani untuk memper-tanggung-jawabkan atas segala kemampuan, kelebihan dan kesadaran yang dimilikinya. Hewan tidak punya pilihan sedangkan manusia memiliki berjuta pilihan. Salah memilih resikonya adalah malapetaka di dunia maupun setelah ajal tiba.

 

Tidak ada orang pandai yang tidak pernah salah,

Tidak ada orang bodoh yang tidak pernah benar.

 

Satu kebenaran intuitif seseorang

bagaikan satu bintang di antara trilyunan bintang

Sedangkan kemampuan manusia mengungkap kebenaran intuitif

Tidak sebanyak jumlah manusia di bumi

Apalagi sebanyak bintang di langit

********

By: sabdalangit.wordpress.com

 

  1. wuiiiich seru seru…

    kata kang Sabdo langit low msh ada 3G dlm hati tdk bis capai sejatine urep.
    Sebuaah keyakinan kan gak bisa di paksakan sprt wali songo pun jg berbeda keyakinan menarik benang merah siapa ALLOH,,,mereka jg tdk debat..

    Salam rahayu

  2. tanpa mengurangi rasa peseduluran “brotherhood” apa apa yang “dihidangkan” di alam dunia ini… silakan dicicipi… apa yang katanya pare pete jengkol temulawak brotowali kayumanis dlsb itu… semua sudah disediakan untuk diolah, tentu disediakan karena tentu ada faedahnya buat hidangan di akhir pekan… horee krupuk jengkol plus kopi pahit.. ternyata enak tenan… hehehe

  3. Kagem sederek, sedulur, sekawan….
    Ngapunten rahsa sejati, dari kata sdh jelas dlm konteks tuntunan.

    Rahsa sejati sebuah vocab identitas Nusantara jelas ..clear terbaca.
    Semoga kita ingat…setiap aktivitas membawa pesan siap diri kita.
    Kita cinta tanah air, rahsa sejati, jelas identifikasi cinta sejati.
    Trenyuh dalem melihat gaya bahasa. Ora trap..ngapunten
    Bangsa kita terkenal tata bahasa yang santun elegant. Ono wayahe nyamar ono wayah negesi, mancala putra mancala putri. Priyantun yen wis jangkep saged nglampahaken.

    Semua kawan di media diskusi ing kang agung ini.
    Emut, eling, ingat…” Menepuk air di dulang memercik muka sendiri ”
    Berkalimat santun, media ini dibaca seluruh dunia.
    Bobot isi, substansi kita di timbang sedang diukur oleh siapapun.

    NINGRAT

    Ada gelar R,R.M., G.P.H., tentu dari keluarga ningrat catatan kekancingan TRAH,
    Tata Rah… Silsilah keturunan, asal usul anatomi kita…kita ini siapa.
    Siapa diri kita, sebagian kecil terjawab ..dari silsilah keluarga.
    Memang dari keluarga ningrat lebih terjaga urut ke atas, eyang, buyut, canggah, etc.

    Diseluruh dunia hanya satu suku bangsa yg punya istilah utk urutan kakek 1, kakek ke dua, kakek ke tiga, kakek ke 4…..dstnya sampai kakek ke delapan ….eyang PAHDANYANGaN.
    Apa pesan dari terpeliharanya istilah Eyang Eyang sampai ke delapan dan berikutnya di Indonesia ?
    KITA bangsa Indonesia dididik hormat pada asal usul kita sebagai manusia. Yang hanya mengajarkan sampai orang tua saja. Sampai kakek pertama max kakek ke tiga.
    Kita diajarkan hormat sampai kakek ke delapan…biasanya kalau ketemu kakek ke delapan, mudah mencari yang lain. Karena pasti priyantun manusia manusia yang tercetak dalam sejarah.
    Gelar menunjukkan ajaran yang sangat menghormati pribadi pribadi pendahulunya.
    Terkini diharapakan kita menghormati pahlawan pahlawan negeri, kita menghormati sejarah sendiri. Kita wajib menghormati identitas kebangsaan bangsa sendiri, simbol, semboyan bangsa sendiri, Pandangan Hidup bangsa sendiri. Rasa cinta tanah air sendiri, sebagai bentuk hormat…dari mana kita makan, minum, tidur, bermain, ..etc.
    Cinta tanah air sendiri, bahasa terkini; NASIONALISME.

    Itu sekelumit harapan ada gelar utk pengingat menghormati orang tua, yg tanpa gelar tdk berarti tdk mulia..pasti ada dr keluarga yg tahu kakek nenek. Cuma biasanya kita tdk mau tahu atau mencari kakek nenek kita…………………….
    karena sudah ter ‘brain wash’ terdoktrin utk menghormati nama nama orang masa lalu bangsa lain. Nama nama orang masa lalu dikatakan paling mulia etc.
    Coba saudar rasakan bagaimana rasa eyang eyang kita, coba anda rasakan bagaimana rasa tanah air kita yg dinomor dua-kan ..ada tanah lain yg lebih di puja puja dianggap paling suci.
    Maaf ini kebenaran hakiki,
    mahluk manusia bermoral, berakhlaq, berilmua yg fase bagaimana yg menafikan bumi, tanah airnya sendiri.
    Sementara dia termasuk orang tua, kakek neneknya beratus tahun…beribu tahun…makan, minum, buang air, tidur, belajar jalan, berlari ditanah air, yang dia nomor duakan itu.
    Semoga kita termasuk manusia yg memuliakan tanah air sendiri, tetapi tetap hormat pd bumu yg bulat.
    Tidaklah apa, yg nama nama lalu bangsa kita hormati. Tapi wajib bagi kita menghormati nama nama agung dari sejarah bangsa negeri sendiri, orang tua , kakek nenek sendiri.
    Kalau kita hormat..berarti kita juga ngugemi, atau hormat, mempelajari dan menjalankan ajaran Tuntunan Hidup kakek moyang diri sendiri.
    Kita tdk menafikan adat, budaya , tradisi, syair tuntunan hidup…kita tetap belajar

    Disitu bumi dipijak disitu langit dijunjung.
    Amati bumi yang elok ini, langit yang adiluhung ini, pasti pula ada manusia luhur yg sudah punya ilmu yang sampurna seperti alamnya..
    Semoga kita menemukannya… Jadilah kita manusia utama.
    Semoga bukan jadi serangga dunia yg suka merusak kebaikan kebaikan di bumi indah ini.
    Jadilah kita keluarga manusia yg tahu menghormati alam seisinya , dalam segala aktivitas kita..

    Salam kebahagiaan, berkeseimbangan, langgeng, elok indah sejuk, hijau…alam semesta seisinya

  4. Terima kasih dan kami mohon kalau ada Judul ex. ” Sant Mat “

  5. trima kasih untuk tambahan wawasannya

  6. Tak semua yang kita yakini atau kita imani adalah terasa masuk akal oleh diri kita sendiri tapi juga tak smua yang clear jelas tuntas oleh akal akan otomatis kita yakini kita imani .
    Semakin banyak yang terasa ga masuk akal padahal wajib kita yakini maka jiwa orang itu akan semakin jauh dari tentram .
    Akal filsafat dengan silogisme yg ketat akurat punya potensi menganalisis meluruskan jiwa yang kotor . Tapi bila jiwa telah bersih maka tak perlu berfikir bingung untuk memutuskan bersedekah atau tidak , perlu ditolong atau tidak ? Korupsi yang dilakukan terus menerus akan membuat jiwa mati rasa hingga merasa itu wajar bahkan merasa bodoh kalo tidak ikutan korup nah itulah sisi lemah hanya mengikuti rasa hati . Tapi setan iblis pun ga sanggup menipu manusia agar yakin 3+2 sama dengan 4 dijamin ngotot manusia aksn bilang 4 itulah istimewanya akal .
    Awalnya kesadaran diri merasa ada . Lalu dia mencari ketentraman sehingga muncul rasa bahagia dan sedih paralel dengan sakit dn nikmat jasmaniah . Lalu akan kreatif bekerja menyimpulkan ada benar ada salah nah jadilah Fikih kesepakatan mana benar manasalah . Padahal hakikat awal kesadaran diri terlupakan APA DAN SIAPA ENTITAS INI JAUH LEBIH PENTING . SUNGGUH NOL TANPA MAKNA BILA TIADA KESADARAN AWAL

  7. RUMUS MENCARI KEBENARAN SEJATI

  8. kesadaran nya membawa aku makin sada……..

  9. Bagaimana manusia itu dapat menguatkan spirit hidup atau punya falsafah hidup? tentu dengan cara memilih memilah serta mengambil hikmah dan merenungkan dari pengalaman hidup hamba2 Allah, salah satunya dengan merenungkan kata2 mutiara (quote) yang mereka buat yakni spt:

    “Do not pray for easy lives. Pray to be stronger men.” quote dari John F. Kennedy

    Nah quote dari Bruce Lee : ‘Do not pray for an easy life, pray for the strength to endure a difficult one’

    http://pandawhale.com/post/10731/do-not-pray-for-an-easy-life-pray-for-the-strength-to-endure-a-difficult-one-bruce-lee

  10. Pesan dua jawara sejati (dari tadi colak colek saja sambil njewer kuping wae… suruh ngetik lagi…hehehe) yakni dari Ki Ageng Gribik yang kita hormati bersama tentang amalan “ya Qowiyyu” dengan simbol apemnya, dan juga pesan2 Bruce Lee Quotes (Author of Tao of Jeet Kune Do) dengan simbol seni beladiri kungfunya adalah sosok sosok PECINTA PERDAMAIAN… tak perlu ada yang merasa unggul2an kekuatan, semua itu MILIK ALLAH saja… makanya Ki Ageng Gribik tidak mau berperang, ilmu kekuatannnya untuk kemanusiaan semata dan menjadi pengasuh pondok pesantren, dan Bruce Lee itu tidak mau jadi petarung cukup hanya jadi filsuf dan bintang film saja… hehehe, monggo disimak lengkapnya Bruce Lee quotes sang legenda ini… :) :) :)

    http://www.goodreads.com/author/quotes/32579.Bruce_Lee

  11. ‘ Hidup yang tidak pernah diperiksa – baik buruknya – tidak layak dijalani.’ (Sokrates, 400 SM)

    ‘Satu kata yang mencerahkan lebih baik daripada seribu omong kosong.’ ( Buddha Gautama , 450 SM )

  12. Allah Maha Pengasih Penyayang Adil Bijaksana dan lagi Maha Perkasa, semua pasti akan ada keseimbangannya, biarlah ALAM yang akan menentukan dan menyeimbangkan perbuatan baik buruk tiap manusia dengan cara alam itu sendiri….

    Selanjutnya masih ada HARI PEMBALASAN atau HARI PENYEIMBANGAN atau HARI KEBANGKITKAN dan tiap manusia pasti akan ada oleh-olehnya atau ganjaran sesuai amal perbuatannya yang sudah dijanjikan Allah dalam waktu dekat ini.

    Saya percaya dan berdoa kepada Allah agar Allah memberikan jalan terbaik buat semua, mana yang baik akan kelihatan baiknya dan yang buruk juga akan tampak buruk dengan sendirinya. Amin ya Rabb. Terimakasih atas blog nya…. Wassalam :)

  13. For;Senyum. Allah itu apa ya? beda atau tidak dengan Tuhan dan God?
    jalan yg terbaik itu jalan yg bagaimana ya? lalu” buat semua” apakah itu termasuk taik ayam, taik manusia dan upil saya? monggo… kita berbagi wawasannya. hehehe…

  14. kang T @
    Tuhan=Lord, tuhan=lord, tuhan=god, Tuhan=God dst , Tuhan YME=LORD=GOD=Allah SWT dan begitu-begitu seterusnya dan terserah anda pilih yang mana :)

    Lord ~ (A) ~ a name for God; it means that he has authority, or ‘master’; Adonai in Hebrew . Look also at LORD below.

    Lord ~ (A) ~ a name that we call God or Jesus; we call God or Jesus Lord when we obey them.

    LORD ~ (A) ~ a special name for God that his people use. He will do what he has promised them. That is what this name means.

    LORD ~ (A) ~ a special name for God that his people use. It is the covenant name of God. In Hebrew it is Yahweh or Jehovah .

    Lord ~ (A) ~ one who rules or is a master. God is the Lord who rules everyone.

    lord ~ (A) ~ someone with authority.

    Lord ~ (A) ~ the name for God or Jesus in the Bible, it means that he is above all other things; a name that we use for Jesus; we use it when we obey him; someone with authority.

    LORD ~ (A) ~ the special name that God gave for himself to the Jews in the Old Testament . Do not confuse it with ‘Lord’. Lord can be a word for any person that we obey. These are two completely different Hebrew words. But people who spoke Greek used the same word for both. People called Jesus Lord. It could have meant that they wanted to obey him. But they might have meant that Jesus was God.

    Lord ~ (B) ~ a title for God, or Jesus, to show that he is over all.

    Lord ~ (B) ~ master, ruler, God.

    LORD ~ (B) ~ the special name that God gave himself to the Jews in the Old Testament . Do not confuse it with ‘Lord’, which can be a word of respect for any person. These are two completely different Hebrew words. People who spoke Greek used the same word for both. So, when people called Jesus Lord, it could have been a word of respect. But they might have meant that Jesus was God.

    LORD ~ (B) ~ God’s holiest name. It probably means that he is always God. The Jews refused to speak this word aloud, in order to respect God. See also Elyon , YHWH , Yahweh , Adonai , Elohim.

    keterangan: level (A) definitions are simpler than level (B) :) :) :)

  15. Rangkuman:

    Tuhan dengan segala macam asumsi cara penulisan dan penafsiran atau persamaan artinya oleh manusia… adalah sosok atau zat yang dipentingkan dan memegang otoritas… umum atau khusus… yang rendah sampai yang tak terbatas…

    Kira-kira begitu menterjemahkannya… hehehe peace deh ahh… :)

  16. Rangkuman membaca karya sastra:

    Kagem sedulur, yayang yang suka mabuk kepayang hihihi….

    Kitab2 apapun yang tertulis (yang turun dari langit atau gubahan kreatif manusia)… adalah karya sastra yang ditulis manusia yang di dalam manusia penulisnya ada Unsur / Zat yang Maha Suci… sehingga karya itu akan indah menawan bila membacanya dilandasi dan dibaca dengan pola pikir yang sejuk, damai, kasih, sayang, syukur… CINTA yang Luv U Full….. :) :) :)

  17. For; senyum. ”Tuhan=Lord, tuhan=lord, tuhan=god, Tuhan=God dst , Tuhan YME=LORD=GOD=Allah SWT”
    wkwkwk….. jelas beda lah non! T-u-h-a-n beda dengan L-o-r-d itulah letak perbedaannya. Sama adalah beda dan beda adalah sama walaupun beda adalah beda dan sama adalah sama.
    Lalu dimanakah letak persamaannya?
    Jalan yg terbaik itu jalan yg bagaimana non?
    ”buat semua” apakah itu termasuk taik ayam, taik manusia dan upil saya?
    monggo… di jawab 3 pertanyaan saya ini, non.senyum yg manis kayak bidadari turun dari negeri khayangan. hihihi…..

  18. Tambahan :
    Tentang membaca AlQuran atau AlKitab.. ya baca rangkumannya dulu.. Bismillahirrohmanirrohim itu… apapun isi surahnya hasilnya ya rangkumannya itu… salam kasih dan sayang… :) :) :)

  19. Biar tidak terlalu melebar ceritanya maka perlu dirangkum kembali ulasannya hehehe

    Inti tulisannya atau fokus ceritanya adalah tentang BERIMAN atau CINTA pada KITAB KITAB Allah… maksudnya ya karya sastra KITAB itu banyak jumlahnya, jangan takut belajar dan terlena mabuk kepayang pada satu KITAB yang dibaca dan hanya satu itu saja di yayang-yayang, tak salah bila KITAB yang lain juga perlu di yayang-yayang… begitu CINTA… hehehe :) :) :)

  20. Sepertinya kurang fokus lagi nih lensa kameranya perlu DIRANGKUM dan difokuskan lagi… hihihi

    Belajar dengan cara MENCICIPI rasa masakan atau olahan KITAB KITAB lain bukan sesuatu yang nista.
    Merasakan masakan atau ingredients racikan bumbu yang diolah oleh chef masakan KITAB lain yang mana menjadi masakan favorit PENGGEMAR atau KITAB yang DIYAYANGI oleh orang lain itu sebagai bahan pembelajaran.
    Agar kita tahu dan bisa mempelajari tentang kesukaan lidah seseorang itu suka rasa masakan seperti apa….. dan selanjutnya rasakan dan dicipi masakannya…. hmmm Maha Kaya Karya Sang Maha Pencipta itu… :) :) :)

  21. For;Senyum. Saya bukan hanya belajar dari Kitab Suci Al-Quran, Al-Kitab dan Kitab2 lainnya loh non…. saya belajar dari siapapun itu dan apapun itu, termasuk taik ayam, taik saya sendiri, pembunuh yg kejam, penzina dan orang yg pernah ngebom di bali dan yg lain2nya soalnya saya belajar tanpa terkeculai, kepada siapapun itu dan apapun itu. Sebagaimana yg telah tertulis di dalam Kitab Suci, bahwa;”tidaklah Ia menciptakan segala sesuatunya dengan sia” :)
    hihihi… huhuhu… hehehe… hahaha… wkwkwk…..

  22. For;.Senyum. Sebelumnya saya minta maaf ya non… kalau2 saya ada kesalahan sebab saya, ”manusia biasa yg tidak bisa lepas dari pada dosa, salah bahkan lupa”. :)

  23. Oo…. manusia biasa (b)? katanya manusia Terkutuk (T)? kok tak konsisten? manusia b dengan manusia T jelas bedalah diajeng.. masa bidadari disamakan dengan ratu iblis?
    terus persamaannya apa?,,, duh maaf ya diajeng kalau ada salah kata
    wkwkwk… hahaha… hehehe… huhuhu… hihihi… xixixi… xuxuxu…xaaxaxa…… :) :) :)

  24. @ Senyum, Manusia Biasa Terkutuk, All

    Hihihihi… kangmas Senyum sama kangmas Manusia Biasa Terkutuk lagi berselisih paham… Nimas Dewi jadi ingin menjadi penengahnya nih :wink:…

    ini lho tak copaskan ada cerita dari tetangga sebelah yang bisa kita petik pelajarannya :)…

    Pagi itu, Karto dan Dulah asyik nongkrong di warung kopi. Sudah menjadi kebiasaan mereka sebelum berangkat kerja untuk menyempatkan diri menikmati segelas kopi sambil merokok dan mengobrol.

    Dulah : Ahh… Kapan ya bisa punya tanah sendiri. Kalau harapanku terkabul, beneran, deh, aku ingin sekali berkebun. Asyik juga ya kalau misalkan butuh tomat atau terong tinggal ambil dari kebun, tidak perlu beli.

    Karto : Gak asik, lah. Lebih asyik punya ayam. Aku sih kalau punya uang lebih ingin beli ayam. Bayangkan, dari satu ekor ayam bisa beranak-pinak. Wah, lumayan lho telur dan dagingnya. Bisa dijual pula.

    Dulah (nyengir sambil mencicipi kopi) : Ya… kalau kamu punya rencana begitu sih bagus. Tapi kalau beneran, nih. Kalau beneran kamu nanti punya ayam, saranku sih ya harus banyak –banyak dikandangkan.

    Karto : Buat apa, bro? Dikandangkan kalau malam saja. Kalau siang ya di lepas. Kasihan kalau terus menerus dikandangkan. Kamu juga tahu sendiri, halaman belakang rumahku sempit. Tidak seluas peternakan besar!

    Dulah (menyedot rokok sejenak) : Bukan masalah kasihannya, mas bro. Yang menjadi masalah, ayam itu suka ngawur. Takutnya nanti masuk ke kebun orang. Bayangkan, tanaman yang baru tumbuh akan diinjak-injak atau di patuk-patuk. Belum lagi kalau sudah punya anak banyak. Rugi lah pemilik kebun.

    Karto (tertawa sinis) : Itu gobloknya yang punya kebun. Harusnya dibuatkan pagar!

    Dulah (tersinggung): Eh, tidak bisa begitu! Pemilik ayam harusnya juga tahu diri!

    Karto : Tahu diri bagaimana? Halaman belakang sempit, lantas ayam dikandangkan dua puluh empat jam terus menerus, begitu?

    Dulah : Itu sih resiko kamu, mas bro!

    Karto : Lha, ya gak begitu, lah! Pemilik kebun harus jaga-jaga juga!

    Dulah : Buat pagar itu butuh biaya tambahan, mas bro! Kalau ayammu masuk kebunku, pasti jadi ayam bakar!

    Alhasil, dari sekedar mengobrol, mereka berdua pun bertengkar hebat, bahkan sampai berkelahi. Kebun, terong dan tomatnya belum ada. Ayam dan kandangnya pun belum ada, bahkan bisa jadi tidak akan ada untuk besok dan seterusnya. Namun perkelahian sudah kadung terjadi. Perkelahian bodoh semacam ini, yang disulut oleh hayalan yang belum tentu menjadi kenyataan, belum tentu terbukti, kerap kali terpampang didepan mata kita. Perkelahian konyol semacam ini sering dilakukan oleh satu kelompok agama dengan kelompok yang lain. Masing-masing berebut sesuatu yang bagi mereka sendiri masih sebatas konon katanya, sebatas hayalan, sebatas keyakinan. Herannya lagi, perkelahian semacam ini sampai-sampai memakan banyak korban jiwa dan terus menerus terulang.

  25. For;Senyum. Oo…. manusia biasa (b)? katanya manusia Terkutuk (T)? kok tak konsisten? manusia b dengan manusia T jelas bedalah diajeng.. masa bidadari disamakan dengan ratu iblis?
    terus persamaannya apa?,,, duh maaf ya diajeng kalau ada salah kata

    Siapa yg tidak konsisten ya? kamu atau aku? atau dunia ini yg tidak konsisten?
    Loh, yg bilang manusia terkutuk sama dengan manusia biasa itu siapa ya?
    Kayaknya non.senyum mencoba lari dari pertanyaan saya ya? takut beradu ilmu dengan saya ya? wkwkwk… :P

    Maling teriak maling… sembunyi balik dinding, pengecut! lari terkencing-kencing…
    wkwkwk….
    Salam damai sejahtera untuk semuanya tanpa terkecuali dan salam tanpa emosi tak terkendali.

  26. For;Dewi yg arif dan bijaksana. Terima kasih atas tulisannya… :)
    Tante dewi yg arif dan bijaksana, saya cuma ingin membongkar kedok orang2 munafik doang kok, tidak kurang dan juga tidak lebih.

    ”Loh, kok bisa jadi terbalik begini ya? aku yg terbalik atau kalian yg terbalik? mungkinkah dunia ini yg terbalik?”

  27. Ih ih ih.. beradu ilmu? ilmu perdamaian dan ilmu bercinta siapa takut? … maksudnya sembunyi di balik dinding tentu mau berdamai dan bercinta loh… ah diajeng bisa aja… hayooo siapa takut? :) :) :)

  28. salam salam dan salam ,perkenalkan nama saya Q CHismed saya membaca perdebatan saudara saudara dan saya menyakini bila saudara mempunyai dasar dan masa lalu yang berbeda saya salut sama saudara betapa kritis dan tingginya penyadaran saudara tentang pribadi saudara sekali lagi saya yakin saudara pasti orang yang tau benar tentang kapribaden yang selama ini di kumandangkan orang jawa bahkan dunia ,saya Q chismed mengulurkan tangan persaudaraan pada siapapun untuk bersama menuju penyadaran yang luhur dengan berpegang teguh pada prinsip ,” KU,MU,DIA,SAMA,” aku kamu dia itu sama tiada beda dan tidak untuk di bedakan.

  29. Ih ih ih.. beradu ilmu? ilmu perdamaian dan ilmu bercinta siapa takut? … maksudnya sembunyi di balik dinding tentu mau berdamai dan bercinta loh… ah diajeng bisa aja… hayooo siapa takut?
    wkwkwk…. ok baiklah saya buat 3 pertanyaan ya!
    1.Di manakah letak persamaan dan letak pemisahan antara Kitab Suci yg satu dengan Kitab Suci lainnya?
    2.Dunia ini konsisten atau tidak?
    3.Yang manakah yg terlebih dahulu ada di dunia ini antara telor dan ayam?
    Monggo…. jangan lari lagi ya…. hehehe…

    ”Aku adalah Kera Sakit yg turun untuk membasmi siluman2 yg tengik”

  30. Hai manusia T….
    sebelum saya menjawab pertanyaan anda yang sudah sering ditanyakan itu, saya ingin bertanya yang jarang atau bahkan tidak pernah dipertanyakan ini… kenapa lagu NINGRAT sama admin? orang NINGRAT ya? pake hapus segala? kan sudah dikatakan jangan tersinggung atau dimasukkan ke hati? berarti dengan menghapus artinya ADMIN tersinggung, yang artinya adalah golongan NINGRAT… hahahaha

    Tolong dimengerti dipahami bahwa Allah itu menciptakan manusia satu dan yang lain adalah sama dan sederajat, dan setelah itu, kalau dalam cara Islam semua orang apapun pangkat derajat seseorang kalau jasad dan ruh pisah pakaian jasadnya kain POCONG bukan?… artinya sederajat…

    Seperti kata JANGKA JAYABAYA “ngangsuo sumur Ratu Tanpo Makutho”, artinya mencarilah kehidupan pada pemimpin yang menanggalkan SIFAT KEAKUANnya… atau kalau ada manusia mau jadi pejabat atau jadi orang TERHORMAT lepaskan semua atribut keakuan itu baru anda bisa menyatu dengan rakyat (ajaran syeh Siti Jenar hihihi),

    Kalau anda mau jadi pemimpin maka sekali lagi kepangkatan jabatan yang sering DIPAKAI untuk MENONJOLKAN KEAKUANNYA sebaiknya DILEPAS atau DIBUANG saja, mungkin kata JAYABAYA pada saatnya atau jamannya bentuk KEPANGKATAN itu sudah gak penting atau diperlukan lagi.

    Contoh kasus, saya RATU anu saya RADEN anu… dll … terus pertanyaannya gunanya apa untuk rakyatnya kepangkatan itu? nah kalau kepangkatan jabatan yang sifatnya fungsional spt PNS gol C3 itu memang benar peletakannya… atau tentara kepangkatan balok satu itu juga benar… dan ada waktu pensiunnya… atau berhentinya… atau bentuk RIYA’ yang ada batasnya… nah kalau yang R ini itu itu… hihihihi

    Nah kalau yg jabatan seumur hidup turun temurun darah biru R anu R itu, bagi saya adalah bentuk2 penonjolan diri keakuan seumur hidup, brarti pangkat RIYA’nya seumur hidup… jadi dosa turunan karena RIYA’ itu turun temurun eh kok malah dipelihara? memelihara SOMBONGnya sampai kapan? … kok gak ada pensiunnya atau kapok2nya bikin dosa? hihihhi mungkin ini yang menjadikan rakyat jawa hancur…. wkwkwkwk

    Tentu kesombongan itu akan merusak sampai ke anak cucu… monggo dijawab… :) :) :)

  31. Senyum Yth
    Maaf, sekalian saya ingatkan ini blog bukan gudang youtube njih. Apalagi quota gratisan jadi terbatas. Ini murni persoalan teknis tak perlu dibawa-bawa sampai urusan ningrat atau bukan, krn justru nada kalimat itulah yg membuat kurang nyaman dan para pembaca yg lain akan menilai siapa anda. Jangan mudah meledek orang sampeyan kang. Coba refleksi diri, sedemikian leluasa admin memberikan toleransi. Tapi apakah perasaan anda kurang bisa memahami ketika admin menghapus satu-dua video youtube ? Baru dihapus sebagian saja anda sudah gempar. Anda itu di sini tetap sbg tamu dan saya hargai. Jika panjenengan ingin dimengerti, hendaknya bisa mengerti pula kpd sesama. Kenapa admin menghapus video-video youtube ? Sementara admin tetap berikan kesempatan Anda utk berikan komentar sedemikian banyak ? Anda mungkin sebagai penggemar spiritualitas tetapi memperolok dengan kalimat seperti itu merupakan sikap paradoksal. Tentu saja para pembaca yg budiman di sini bukanlah orang-orang bodoh yang mudah terkelabuhi oleh kalimat provokatif. Mustinya bisa lebih dimengerti dan dipahami, ngerti empan lan papan.
    Rahayu

  32. Hmmm, nggak segitunya kali….

    Mencantumkan nama ‘marga’ adalah salah satu cara untuk mengetahui identitas, tapi bukan berarti riyak atau somse, karena setiap orang pasti dan ingin memiliki identitas.

    Apa kalau kita mempunyai nama atau gelar ratu, raden, kanjeng, sinuwun dst terus kita di bilang pongah?.. sementara berapa milyar penduduk di bumi ini yang menyematkan nama muhammad dan siti atau syeh, abu, bin dst pada anak2nya tapi nggak ada yang protes…

    Sebenarnya mencantumkan nama marga juga bertujuan agar identitas budaya terjaga, namun kita setuju, bahwa secara objektif pribadi seseorang dinilai bukan dari marga, suku atau agamanya :)…

    NB: penghapusan lagu2 itu nggak ada sangkut pautnya dengan isi komentar, tapi memang bisa mengurangi kendala loading, semata supaya bisa cepat saja aksesnya kalau kita masuk blog yang megah ini.

  33. For; loh, he….!? :/ wkwkwk…. dia lari lagi dari pertanyaan saya.
    Licik, cerdik si ular bertingah tengik!
    Kambing embe2… kucing meong2… kodok teok tekdung lalalala…
    Kok bisa begitu ya bunyinya si kodok!? hahaha…

    Surat The King Of The Apes, pasal 6-ayat ke 66;
    ”Apabila telah tiba saatnya Aku si Kera Sakit dari gunung huwa-huwako akan melumat habis siluman ular belang itu, tunggu ya siluman ular belang. Sesuatu yg di dalam diri-ku ini yg sangat mengerikan dan tidak bisa aku kendalikan selain dari pada DIA yg bisa mengendalikannya, akan aku keluarkan sepenuhnya. Hai,Siluman ular belang! apakah kalian pikir bisa menipu aku si kera sakit ini? ingatlah, aku mempunyai mata Dewa yg telah aku dapatkan dari meminum obat yg telah aku curi dari negeri khayangan”
    wkwkwk…..

    Lah, bukannya loe yg sombong!? tu tersirat dari tulisannya seolah-olah loe telah memahami ajaran Kanjeng Syaik Siti Jenar dan merasa apa yg loe yakinin itu lebih benar dari pada keyakinan yg lain selain dari keyakinan diri loe sendiri.
    ———————————————————————————————————–
    Tolong dimengerti dipahami bahwa Allah itu menciptakan manusia satu dan yang lain adalah sama dan sederajat, dan setelah itu, kalau dalam cara Islam semua orang apapun pangkat derajat seseorang kalau jasad dan ruh pisah pakaian jasadnya kain POCONG bukan?… artinya sederajat…
    ———————————————————————————————————–
    Tolong di mengerti apa ya!? apa maksudnya tolong di mengerti keyakinan saya(senyum)keyakinan yg paling benar!? :P
    Lah, loe dah tau kalau manusia itu sederajat, trus kenapa loe bilang gw ga konsisten, seolah-olah loe lebih mulia dan lebih pandai dari!? oh… gw tau, loe mau di anggap bahwa loe itu sebenarnya Ratu Adilkan atau orang yg pandai ya? ataukah loe itu sedang iri hati?

    Om2, tante2 dan saudara2 sekalian yg arif dan bijaksana, kalian mau tahu siapa sebenarnya meng-kambing hitamkan ajaran kalian selama ini? jawab; ya itu, siluman ular belang dan bukan hanya ajaran kejawen saja yg sebenarnya di kambing hitamkan olehnya tetapi juga ajaran islam, kristen, buddha, hinddhu dan lain2nya, mereka(siluman ular belang) juga telah merusak keindahan dari ajaran2 tersebut.

  34. KITA JAGA BERSAMA

    Sugeng Dalu,
    Maaf kagem sederek Senyum

    Prinsip tuntunan Jawa adalah respected pada semua yg terlihat mata indera, atau oleh mata hati.

    Mensikapi adanya istilah nama Raden, RM, RA, dsbnya
    Penyertaan nama tersebut sebagai bentuk hormat keluarga tersebut pada asal usulnya. Menghormati asal usul anatomi manusianya, genotypenya.
    Bicara ajaran Jawa, key word nya memang harus tahu jati diri, siapa kita.
    Siapa kita salah satunya dgn mengetahui kakek nenek diatas kita minimal ke 4 (empat) dan selanjutnya.

    Lebih arif kita tahu ,
    utk bisa mendoakan, mempelajari hikmah laku beliau
    Memang dalam keluarga ningrat, silsulah keluarga lebih terpelihara, terdokumentasi dgn baik, wujud knowledge keluarga tersebut. Repected terjaga rapi.

    Memang gelar tersebut secara pergaulan utk jaman sekarang kurang mempengaruhi.
    Tetapi utk karakter kepribadian , penyertaan istilah Raden, dll merupakan bentuk hormat pada asal usul darah kita.
    Bentuk hormat pd tradisi negeri sendiri dlm konteks keluarga.
    Bentuk hormat pada knowledge original Jawa, Nusantara, Indonesia.
    Saya yakin beliau yg ada istilah R, RA dsbnya kalau tetap ngugemi tuntunan “lama” dari keluarga.
    Pasti tata bahasa krama lan krama inggil masih bisa, etitut sikap relatif terjaga,
    Santun dlm pergaulan terjaga, kesadaran spiritual terjaga, cinta tanah air pasti terjaga.
    Hal tersebut diatas lepas dari strata sosial ekonominya terkini.

    Tetapi banyak pula yg sudah ngugemi tuntunan baru dr negeri lain.
    Kita doakan mau kembali memepelajari dan menjalankan ke tuntunan “lama”

    Mohon maaf buat sederek lintu yg kebetulan tdk memiliki gelar, bukan berarti lebih rendah atau tinggi
    Kembali semua bermula dari tradisi, kepemahaman masing masing keluarga
    Sangat arif utk kita selalu menghormati satu sama lain
    ” awas ing sakpada pada, sejatining sedaya sedulur satu nusa bangsa ”
    Pesan kuatnya… Tetaplah guyub siapapun, apapun kita. Karena kita satu Bangsa .

    Perlu kita pahami konsep tuntunan ” lama ” yang konsisten menghormati darah asal usul anatomy kita.
    Konsep tuntunan hidup yg menghormati manusia lama dari negeri sendiri, leluhur, bahari, tetua, datuk, bapa, kakek nenek moyang, pahalawan bangsa sendiri,
    Santun hormat sejarah negeri sendiri

    Konsep tuntunan hidup lama yg sangat santun antar manusia, santun manusia pd allam lingkungan hidupnya.
    Inilah tuntunan hidup yg dulu membuat negeri kita didatangi para saudagar seluruh dunia.
    Konsep itulah yang menciptakan tatanan sosial yg menjadi langka utk saat ini,
    Yaitu
    :
    Sikap terbuka, open mind, berbaik sangka
    Karakter ramah tamah, sula menolong, gotong royong, saling menyapa, senyum elok di wajah wajah kita semua.
    Semoga keceriaan, sifat ramah, berpikir positif, akrab saling menghormati, guyub rukun, gotong royong MUNCUL BERKEMBANG DI NEGERI KITA INI.
    Santun tapi berwibawa dihadapan bangsa lain, karena cinta pada tuntunan hidup, seni, tradisi, budaya, karakter negeri sendiri.
    Tetap menghormati hubungan antar bangsa di dunia.

    Semoga kita menjadi pribadi yang Luhur, semua adalah saudara sebangsa
    Mohon maaf sebelumnya
    Kagem admin , thank’s for all
    Kagem teman disini keep smile, cool n wise at redaksional statemen
    Kita jaga bersama kewibawaan karakter bangsa kita, kita jaga kesantunan media diskusi kita bersama ini.
    Salam Persaudaraan, peace, glory pada semua bangsa di dunia.

  35. Menurut pak Sabda kados mekaten nggih? walah ya sudah, namanya kulo mboten saget nulis kathah, sagetipun dados tukang nonton film lan pengulas film… kurang lebihipun kulo matur suwun sampun diparingi ajang ombo… kalau ada yang paradoks atau selaras dengan kalimat sebelumnya ya mohon maaf seikhlas ikhlas nya… tak lupa salam sayang damai buat semua yang saudaraku yang baik baik (walaupun galak2) ini… matur suwun samangke nulisipun komentaripun sakcekapipun mawon pak ampun pak…… :) :) :)
    Wassalam

  36. komentar teratas di tujukan untuk @ Ki Senyum :)…

  37. Monggo dulur2 semua, dipun prayogekaken diskusi, sharing pengalaman dan ilmu, pintu rmh ini selalu terbuka. Yg penting kita tetap belajar dengan roso saling welas asih. Tak ada guru…kita semua murid yg saling asah asih asuh. Saya mmg kadang menghapus beberapa komen, tapi tdk pernah membanned komen juga kecuali macam si tukang jualan togel dan jualan situs penipuan dan pornografi.
    Rahayu karaharjan

  38. apapun yang ning Dewi katakan akur ajah deh… daripada daripada iya iya gak iya?… :) :) :)

  39. For;Senyum. Oh iya tulisan ini untuk si senyum ya… yg konon katanya telah memperoleh hidayah dariNya. Sekali lagi saya minta maaf ya non.senyum kalau ada kata2 yg meyinggung perasaan kamu dan kalau ada tulisan2 saya yg terdapat kesalahan, maklum lah saya cuma orang bego yg tidak bisa lepas dari pada salah. :)

  40. Ah… dasar ular belang bisanya cuma mengklik like dan mengklik dislike doang… saya yakin ni, orang2 yg mengklik like dan mengklik dislike setiap pesan2 saya adalah orang2 yg suka membenarkan dan menyalahkan sesuatu bahkan mungkin suka menyalahkan dan membenarkan orang lain. Dan saya juga yakin mereka2(yg mengklik like dan mengklik dislike pesan2 saya) tidak sepenuhnya memahami apa2 yg saya tuliskan atau apa2 yg saya katakan.
    Untuk orang2 yg mengklik like atau mengklik dislike pesan2 saya, sini kita bertanya jawab yu…. jangan cuma bisanya mengklik like dan mengklik dislike doang!
    Gw telanjangi loe ampe benar2 telanjang!
    hehehe… :P

  41. For;Senyum. ”mohon maaf seikhlas ikhlas nya…”
    wkwkwk… ketauan lagi belangnya tu…! Tidak sadarkah non.senyum akan belang yg menempel pada diri non.senyum? :) Adakah manusia yg ikhlas berkata; saya ikhlas.

    ”Benar-benar mengiurkan darahnya siluman ular belang itu jadi tidak sabar aku menunggu untuk mencicipi darahnya”
    by;kera sakit

    ”Janganlah kalian berpikir sebagaimana orang2 munafik berpikir akan tetapi berpikirlah sebagaimana orang2 bijaksana bepikir. Barang siapa yg terus memperbanyak pengetahuan dan wawasannya maka kesedihan dan kesusahan hatinya pun akan teru bertambah. Ahhhh andai saja aku tidak ……. di dunia ini”
    by;wong stress
    hahaha…. :( :)

  42. loh loh nulis kok model ralat? baru nyadar salah ketik ya.. wkwkwkwk wis wis….. ya mending senyum saja deh… :)

  43. For;Senyum. loh loh nulis kok model ralat? baru nyadar salah ketik ya.. wkwkwkwk wis wis….. ya mending senyum saja deh…
    ————————————————————————————————————
    Kan sudah aku bilang kalau aku ini cuma manusia biasa yg tidak bisa lepas dari pada dosa, salah bahkan lupa. Jadi, apakah aku salah jikalau aku salah ngetik?
    Apakah kamu bisa terlepas dari pada salah?

  44. Iya iya diajeng… gak ada manusia yang 100 persen ikhlas, namanya juga manusia yang gak bisa 100 persen benar… karena manusia pasti ada salahnya jg kok…… akur akur… hehe :)

  45. For;Senyum. hehehe… toss! salam piss and love. :)
    Ki.Senyum ini punya luka dalam ya… kok, suka ngedumel2 ga karuan dan suka marah2 ga jelas? mau tak gendong ga, biar sembuh itu luka dalamnya.

    Tak gendong ke mana-mana… tak gendong ke mana-mana… asyik toh, enak toh…
    dari pada kamu naik pesawat ke sasar… lebih baik tak gendong toh, enak toh… tak gendong ke mana-mana…
    Mau tak gendong ga menuju negri khayangan untuk ketemu para Dewa2 dan Dewi2? humor alias hubungan moral. hahaha… :)

  46. Bhikkhu Dhammaraja

    Kalau seseorang masih memiliki bawahsadar ia masih belum Buddha. Ia mungkin selevel Tuhan dan disebut Tuhan karena seluruh bawahsadarnya mampu dipegangnya, tapi karena ia terikat pada seluruh bawahsadarnya itu maka ia belum Buddha.

  47. Salam salam dan salam perkenalkan dulu nama saya Q Chismed ,sebelumnya saya minta maaf yang sebesar besarnya Kususnya pada SABDa yang mana saya masuk dalam sarana saudara untuk bertamu dan menjalin persaudaraan lewat kopi layar banyak hal yang perlu saya omongkan dan tentunya yang berhubungan dengan penyadaran dengan segenap rendah hati saya harap tulisan ini di balas bila memang di ijinkan salam salam dan salam, terimakasih.

  1. Ping-balik: mundur untuk maju | menandai pertanda

  2. Ping-balik: Mengolah dan Mempertajam Nurani ala Ki Sabda Langit | Mlathi Wulung

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 936 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: