Membangun Kesadaran Rasa Sejati
DINAMIKA PERKEMBANGAN
ILMU ILMIAH MODERN, DAN INTUISI
PRIMITIF-MODERN-POSTMODERNISM
“Melatih diri mengolah intuisi dan Rasa Sejati”
By: sabdalangit ae banyusegoro
Prologue
Alur penalaran logis menganggap bahwa awal dari ke-ada-an segala sesuatu adalah ketiadaan. Kata filsuf ke-tiada-an itu ada yang tiada. Kalimat tersebut sebagai premis mayor mengawali isi fikiran para filsuf kuno sebagai tahap awal prestasi kesadaran akal-budinya dalam memahami hukum alam yang universal ini.
Namun benarkah demikian ke-ada-an yang sesungguhnya ? Atau jangan-jangan hakekat ketiadaan adalah hanya semata karena ketidaksadaran manusia saja ? Saya pribadi enggan meletakkan justifikasi pada ke-tiada-an. Sebaliknya lebih senang memilih hipotesis kedua yakni bukan ke-tiada-an lah sesungguhnya yang ada, namun ketidaksadaran manusia. Dengan asumsi bahwa sulitnya mengetahui rumus kebenaran sejati yang tersimpan rapat dalam relung jagad raya bagaikan sulitnya menelusuri alam kegaiban, yang membutuhkan pengerahan indera batin (ke-enam). Lebih sulit lagi karena kebanyakan manusia gagal mereduksi hegemoni panca indera (jasad). Jika demikian halnya manusia layak mengibarkan “bendera putih” sebagai sikap menyerah atas segala keterbatasan kemampuannya. Lantas kesadaran semu dengan buru-buru mengambil keputusan meyakinkan sbb; adalah tabu mengutak-atik ranah gaib, karena ia hanya membutuhkan keyakinan saja. Dalam kesadaran “semu” ini menjadi sangat bermanfaat kita mengumpulkan pengalaman dan pengetahuan orang perorang yang beragam agar menjadi satu kesatuan ilmu untuk menggugah kesadaran manusia. Dibutuhkan sikap membuka diri agar kesadaran semakin meningkat. Pada tataran kesadaran tertentu seseorang akan sampai pada pemahaman bahwa : “kebenaran sejati ibarat cermin yang pecah berantakan, sedangkan kesadaran akal budi, kepercayaan, ajaran, sistem religi, kebudayaan, tradisi merupakan satu di antara serpihan cermin itu”.
Kesadaran; Alat Untuk Membuka Rahasia Rumus Tuhan
Adalah menjadi tugas umat manusia untuk membuka tabir rahasia kehidupan. Baik dimensi fisik (wadag), maupun dimensi metafisik berupa misteri alam kegaiban. Semakin banyak kita mengungkap hukum-hukum alam, kodrat alam atau kodrat Tuhan, maka akan semakin banyak terungkap misteri kehidupan ini. Sedangkan saat ini, prestasi manusia seluruh dunia mengungkap rahasia kehidupan mungkin belum lah genap 0,0000000001 % dari keseluruhan rahasia yang ada. Terlebih lagi rahasia eksistensi alam gaib.
Kebenaran rasio seumpama membayangkan laut. Kebenaran empiris melihat permukaan air laut. Kebenaran intuitif ibarat menyelam di bawah permukaan air laut. Tugas penjelajahan ke kedalaman dasar laut bukan lah tugas akal-budi, namun menjadi tugasnya sukma sejati yang dibimbing oleh rasa sejati. Intuisi telah menyediakan pengenalan bagi siapapun yang ingin menyelam ke kedalaman laut. Jangan heran bilamana akal-budi disodorkan informasi aneh (asing dan nyleneh) serta-merta bereaksi menepis ..it’s nonsense ! Reaksi yang lazim & naif hanya karena akal-budi kita lah yang sesungguhnya sangat terbatas kemampuannya. Lain halnya dengan kecenderungan perilaku orang-orang post-modernis tampak pada perilaku orang-orang sukses di masa kini. Mereka percaya akan kemampuan intuisi. Malah dengan bangga memproklamirkan diri jika kesuksesannya berkat dimilikinya talenta intuisi yang tajam. Dengan kata lain untuk meraih sukses tak cukup hanya berbekal teori-teori ilmu ilmiah serta pengalaman akal-budi (rasionalisme-empirisisme) saja.
Kesadaran adalah Proses yang Dinamis
Berawal dari ketidaksadaran lalu berproses menjadi kesadaran tingkat awal yakni kesadaran jasad/ragawi. Dari kesadaran jasad meningkat menjadi kesadaran akal-budi yang diperolehnya setelah manusia mampu menganalisa dan menyimpulkan sesuatu yang dapat ditangkap oleh panca-indera. Seiring perkembangan kedewasaan manusia, kesadaran akal-budi (nalar/rasio) meningkat secara kualitatif dan kuantitatif. Tahap ini seseorang baru disebut orang yang pandai atau kaya ilmu pengetahuan. Kesadaran akal-budi ini bersifat lahiriah atau wadag, jika dikembangkan lebih lanjut akan mencapai kesadaran yang lebih tinggi yakni kesadaran batiniah.
Kesadaran Tinggi adalah Berkah Bagi Alam Semesta
Semakin tinggi kesadaran manusia (high consciuousness) menuntut tanggungjawab yang lebih besar pula. Karena semakin tinggi kesadaran berarti seseorang semakin berkemampuan lebih serta dapat melakukan apa saja. Celakanya, bila kesadaran tinggi jatuh ke dalam penguasaan nafsu negatif. Sehingga manusia bukan melakukan sesuatu yang konstruktif untuk alam semesta (rahmat bagi alam), sebaliknya melakukan perbuatan yang destruktif (laknat kepada alam). Sementara tanggungjawab manusia adalah menjaga harmonisasi alam semesta dengan melakukan sinergi antara jagad kecil (diri) dan jagad besar (alam semesta) dengan kata lain berbuat sesuai dengan rumus-rumus (kodrat) Tuhan. Sebagai contoh kita mengakui bahwa Tuhan itu Maha Maha Pengasih maka kita harus welas asih pada sesama. Jika kita yakin Tuhan Maha Pemurah dan Penolong, maka kita tidak boleh pelit dalam membantu dan menolong sesama. Bila kita percaya Tuhan Maha Besar dan Maha Adil maka kita tak boleh primordial, rasis, hipokrit, etnosentris, mengejar kepentingan sendiri, kelompok atau golongannya. Jika kita memahami bahwa Tuhan Maha Bijaksana; maka kita tidak boleh mengejar “api” (nar) ke-aku-an, yakni rasa mau menang sendiri, mau bener sendiri, mau mengejar butuhnya sendiri, sembari mencari-cari kesalahan orang lain. Demikian seterusnya, sehingga perbuatan kita menjadi berkah untuk lingkungan sekitar, untuk alam semesta dengan segala isinya.
Proses berkembang manusia bersifat adi kodrati menuju pada hukum/rumus alam yang paling dominan yakni PRINSIP KESEIMBANGAN (harmonisasi) alam semesta. Penentangan rumus alam/kodrat Tuhan tersebut adalah sebuah malapetaka besar kehidupan manusia yakni kehancuran peradaban bahkan kehancuran bumi. Dalam terminologi Jawa tanggungjawab atas dicapainya kualitas kesadaran manusia tampak dalam pesan-pesan arif nan bijaksana untuk meredam nafsu misalnya; ngono yo ngono ning aja ngono (jangan berlebihan atau lepas kendali), aja dumeh (jangan mentang-mentang), serta menjaga sikap eling dan waspadha.
Memahami kesadaran tidaklah mudah, karena bekalnya adalah kesadaran pula. Sebagaimana digambarkan dalam filosofi Jawa dalam bentuk saloka : Nggawa latu adadamar ; …membawa api untuk mencari api”. Hal itu menjadi satu problematika tersendiri (the problem of consciousness) umpama tamsil ; ..kalau ingin cari makan untuk mengisi perutmu, syaratnya perutmu harus kenyang dulu.
TAHAP-TAHAP KESADARAN
1. Kesadaran Jasad
Kesadaran jasad adalah kesadaran tingkat dasar atau awal pada manusia. Kesadaran paling dasar ini terjadi pada waktu bayi baru lahir di dunia belum memiliki kesadaran akal budi. Namun melalui pancaindera raganya telah memiliki sensitifitas merespon rangsang atau stimulus. Misalnya jika tubuh bayi merasakan gerah atau digigit nyamuk reaksi si bayi akan menangis. Reaksi dapat bekerja otomatis karena setiap makhluk hidup dibekali sensor keselamatan berupa naluri. Naluri sebagai alat sederhana yang terdapat di tubuh kita yang berfungsi ganda menciptakan kesadaran sekaligus pelindung diri. Melalui naluri inilah sekalipun akal-budi belum mampu mengolah kesadaran namun jasad telah lebih dulu mampu merespon rangsangan-rangsangan yang membahayakan dirinya. Menangis adalah salah satu cara menjaga diri (survival) yang paling alamiah dan sederhana bagi manusia. Namun demikian kesadaran jasad berikut ubo rampe naluri ini masih setara dengan kesadaran yang dimiliki binatang. Misalnya sekelompok burung melakukan eksodus karena akan terjadi pergantian musim. Burung tersebut hanya berdasarkan naluri kebinatangannya saja untuk mengetahui kapan musim segera berganti. Atau induk binatang yang menyusui anaknya hingga usia tertentu kemudian indungnya menyapih. Itu semua bukan berasal dari kesadaran akal-budi melainkan berdasarkan kesadaran jasad saja. Kesadaran naluri tidak diperlukan proses belajar karena naluri akan berkembang secara alamiah dengan sendirinya tanpa perlu pendidikan nalar atau akal-budi. Jika ada sekolah gajah di dalamnya bukanlah proses belajar mengajar yang melibatkan kegiatan analisa akal-budi. Hanya berupa pembiasaan naluri (tanpa analisa) dengan cara menyakiti tubuh (hukuman) dan hadiah/menyamankan tubuh (stick & carrot). Pembiasaan naluri ini merupakan cara-cara paling maksimal yang sanggup direspon oleh naluri hewani.
Pada tingkat kesadaran ini mahluk hidup tidaklah mengenal nilai-nilai baik-buruk, dan nilai spiritual (roh/jiwa). Akan tetapi perilakunya telah mengikuti hukum alam yang paling sederhana, paling penting, namun mudah direspon semua makhluk hidup. Perilaku binatang hanya sekedar mengikuti hukum alam sebagai bentuk harmonisasi dengan alam semesta. Misalnya hukum rimba, siapa yang kuat secara fisik akan memenangkan pertarungan. Semakin kuat binatang, jumlah populasinya semakin sedikit dan tidak mudah berkembang biak. Hukum alam tampak pula pada pola hubungan mata rantai makanan. Binatang pemakan akan lebih sedikit jumlahnya daripada binatang yang dimakan. Sehingga bila salah satu mata rantai makanan mengalami kerusakan akibat ulah manusia akan mengganggu sistem keseimbangan alam. Sedangkan bencana alam yang bersifat alamiah (force major) atau di luar kekuatan manusia pada galibnya merupakan hukum alam pula, yakni proses seleksi alam menuju keseimbangan alam (harmonisasi).
Pada tahap kesadaran jasad ini tidak ada nilai baik dan buruk. Prinsip kebenaran manakala segala sesuatu berjalan sesuai hukum atau kodrat keseimbangan alam lahir, bukan kebenaran sejati yang ada dalam alam batin. Sekalipun membunuh, binatang tidaklah bersalah, karena ia hanya mempertahankan wilayahnya, atau demi memenuhi kebutuhan perutnya. Setara dengan perbuatan bayi mengencingi jidat presiden bukanlah pelanggaran norma hukum dan norma sosial. Karena kesadaran bayi sepadan dengan kesadaran hewani atau orang hilang ingatan, yakni sebatas kesadaran jasad dan tentunya belum berada dalam koridor konsekuensi norma baik dan buruk. Bayi dan hewan tidak memiliki tanggungjawab sebagai konsekuensi atas kesadaran jasadnya, lain halnya dengan kesadaran akal-budi manusia dewasa. Sudah menjadi kodrat atau rumus alam bahwa semakin tinggi kesadaran makhluk hidup, akan membawa dampak pada tanggungjawab lebih besar pula.
Kesadaran Akal Budi
Setingkat lebih tinggi dari kesadaran jasad adalah kesadaran akal-budi atau rasio. Kesadaran akal budi berkaitan erat dengan proses pembelajaran dan sosialisasi (pendidikan). Pada usia tertentu seorang bayi akan mulai belajar memanggil ibunya, ayahnya, bisa tersenyum dan minta susu. Hal itu terjadi karena kesadaran jasadnya telah mengalami transformasi pada kesadaran aka-budi. Ditandai kemampuan akal-budinya merespon rangsangan atau stimulus. Rangsang atau stimulus tak ubahnya data yang akan diproses oleh software akal-budi menggunakan hardware otak. Maka kesadaran akal-budi merupakan kegiatan ilmiah yang melibatkan pengolahan data-data. Pada tahap ini upaya manusia mengungkap tabir misteri hukum alam sudah lebih maju karena menggunakan kemampuan rasio atau akal budinya. Selanjutnya kesadaran akal-budi dibagi menjadi dua yakni kesadaran dengan metode penalaran rasio (rasionalisme) dan pembuktian secara empiris (empirisisme).
1. Kesadaran Nalar
Sejarah filsafat Barat mencatat ada dua aliran pokok dalam lingkup epistemologi. Pertama, idealism atau rasionalism (Plato), suatu aliran pemikiran yang menekankan pentingnya peranan akal, idea, category, form, sebagai nara sumber ilmu pengetahuan. Tingkat kesadaran diri akan suatu nilai kebenaran diperoleh melalui kemampuan penalaran rasio saja dalam arti mengandalkan kekuatan logika. Kesadaran akan bertambah secara kuantitas bilamana suatu fenomena yang empiris dapat diterima akal atau memiliki sistematika pemikiran yang logis. Dengan ketentuan ini fenomena sudah cukup dianggap nilai kebenaran walau terkadang bersifat parsial. Kelemahan kesadaran rasionalisme adalah mensyaratkan kita tidak cukup bekal (nggawa latu) sebagai alat komparasi atau landasan silogismenya. Rasionalisme dalam menjelaskan realitas berdasarkan atas kategori-kategori akal saja. Aristoteles sebagai penerus Plato melakukan pendekatan realisme menemukan alat ukur yang disebut organon. Prinsip organon mampu menjelaskan segala sesuatu yang ada (fenomenon). Namun Organon sebagai metode pengajaran atau penjelasan yang bersifat deskriptif belum mampu melakukan eksplanasi secara mendalam. Pada akhirnya dengan metode tersebut Aristoteles menyadari tidak mampu bertindak lebih banyak terutama dalam upaya menjelaskan eksistensi di luar diri (being) yang melampaui akal-budi manusia.
Kesadaran akal-budi bertujuan mengungkap sisi kebenaran akan sesuatu hal yang rasional, realis, dan empiris. Namun kebenaran dalam scope kesadaran ini masih bersifat kebenaran koherensi. Yakni kebenaran dapat diketahui jika ada suatu pernyataan atau premis kemudian diikuti oleh premis yang lain yang mendukungnya. Dari dua premis ini kemudian dapat ditarik kesimpulan (conclusion) sehingga menjadi kebenaran kesimpulan yang sesuai dengan sistematika rasio manusia (logic).
2. Kesadaran Empirisisme
Sebagai jawaban atas kelemahan Aristoteles dengan prinsip Organon selanjutnya ditemukan alat ukur lain yang ditemukan Francis Bacon yakni Novum Organum. Bagi Bacon kebenaran sesuatu itu tidak boleh hanya dijelaskan saja tetapi harus dilakukan pembuktian empiris melalui eksperimen. Di dalamnya harus ada proses menjadi. Hal itu memicu kesadaran empiris dengan metode eksperimentasi. Dalam perkembangannya empiricism disebut juga realism yaitu mazab yang lebih menekankan peran indera jasad sebagai sumber sekaligus alat memperoleh pengetahuan. Kedua aliran tersebut lahir di Yunani pada tahun 423-322 SM. Selain kedua aliran tersebut masih ada beberapa aliran lain di antaranya, kritisisme atau rasionalisme kritis, positivisme, fenomenologi dan lain-lainnya. Kesemuanya lahir setelah masa renaissance abad pertengahan di Barat.
Dalam kesadaran empiris prinsip kebenaran dipahami sebagai kebenaran korespondensi. Yakni kebenaran setelah dilakukan cross-chek antara pernyataan dalam ide atau gagasan, dengan realitas faktual yang ada. Misalnya garam itu asin, menjadi kebenaran bila kita sudah melakukan pembuktian dengan mencicipi rasa garam.
Pada tahap ini spiritualitas yang berhasil dibangun baru pada tahap sekulerisme. Semua hukum alam, sains dan teknologi dicapai manusia melalui pengalaman empiris. Para penganutnya disebut mazab empirisisme. Kesadaran diperoleh hanya melalui instrumen akal-budi dan indera jasad semata. Konsekuansinya, religi dan sistem kepercayaan serta hukum-hukum alam haruslah dapat diterima dalam batas kemampuan akal-budi dan indera jasad semata.
Dalam perkembangan selanjutnya kedua metode pencari kesadaran (kebenaran) di atas dirasakan masih sangat relatif apalagi dalam upaya mencapai kesadaran sejati dirasakan masih teramat jauh karena masing-masing pendekatan terdapat kelemahan secara signifikan.
Dinamika Kesadaran A La Barat
Sejenak kita flash back, sejak ditemukan filsafat sebagai induk dari segala ilmu pengetahuan manusia untuk meningkatkan kesadaran atau mencari kebenaran. Lahir perpaduan antara cabang filsafat empirisisme dengan rasionalisme yang menuntut eksperimen sebagai upaya verifikasi kebenarannya. Sejak itu sains dan teknologi berkembang, filsafat menemukan cabang-cabang keilmuannya secara luas. Orang mulai mengenal metode meraih kesadaran akal-budinya melalui filsafat ontologi, ephistemologi, dan aksiologi, tiga langkah metodis yang saling berkorelasi sebagai pisau pengupas rahasia hukum alam yang belum terkuak. Epistemologi merupakan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan : apakah sumber pengetahuan? Apakah hakikat, jangkauan dan ruang lingkup pengetahuan? Apakah manusia dimungkinkan untuk mendapatkan pengetahuan? Sampai tahap mana pengetahuan yang mungkin untuk ditangkap manusia ?
Epistemologi mempunyai persoalan pokok secara garis besar terbagi dua. Pertama, persoalan tentang apa yang kelihatan (phenomena/appearance) Apakah sumber pengetahuan? Dari mana sumber pengetahuan yang benar itu datang? Bagaimana cara diketahuinya? Apakah sifat dasar pengetahuan?. Kedua, versus hakikat (noumena/essence): Benarkah ada realita di luar pikiran kita? Apakah kita mengetahuinya?
Penggabungan kedua metode tersebut membuat suatu kemajuan pesat di bidang kowledge pada zaman renaissance. Ilmu fisika, kimia, biologi, matematika, ekonomi mengalami perkembangan sangat pesat. Hal itu menjadi prestasi besar kesadaran manusia mampu membaca dan mengungkap rahasia-rahasia hukum/rumus/kodrat alam yang masih tersimpan rapat-rapat sebelumnya. Sesuatu yang pada abad-abad sebelumnya dianggap tidak masuk akal, bertentangan dengan hukum alam, pada masa tersebut menjadi sangat rasional, masuk akal dan tak terbantahkan sebagai wujud temuan baru akan hukum-alam.
Begitulah manusia di belahan Barat bumi dalam dinamika kesadaran dan menemukan hakekat/essence kehidupan (noumena) di jagad raya ini. Manusia selalu berusaha menjabarkan apa sesungguhnya alam semesta ini dan bagaimana sesungguhnya ia terjadi. Planet bulan diketahui memiliki jarak yang sangat jauh dengan bumi, pada zaman dulu pergi ke bulan dianggap hal yang mustahil atau melawan kodrat/hukum alam. Anggapan pesimis tersebut merupakan bentuk keterbatasan kesadaran akal budi dalam menterjemahkan rumus atau hukum alam. Sekalipun hal yang bersifat kasat mata wadag (fenomena) toh tugas menterjemahkan hukum alam sangat rumit dan teramat sulit. Namun bila diperhatikan begitu manusia mampu mengungkap rahasia ilmu atau rumus alam semesata tiba-tiba kita supraise ternyata manusia mampu seolah “melawan kodrat” hukum alam. Hanya dengan bekal kurang lebih 300 Milyar Rupiah anda sudah dapat menikmati piknik ke bulan.
Penemuan Bacon meskipun efeknya sangat luar biasa namun menemukan keterbatasan pula ketika berhubungan dengan nilai-nilai, kematian, jiwa, roh, kenyataan yang paradoks, Tuhan, realitas yang transenden serta kenyataan yang tidak bisa dieksperimentasi atau dibawa ke laboratorium. Maka Novum Organum tidak mampu menjawabnya.
Keterbatasan Kesadaran Akal Budi :
Kesadaran tinggi (high consciuousness) diperlukan untuk mengetahui noumena, berupa realitas hakekat atau essence. Dalam rangka membangun kesadaran tinggi pengetahuan akal budi kemampuannya sangat terbatas karena terdapat berbagai kelemahan mendasar. Paling tidak dapat dikemukakan tiga alasan berikut. Pertama, sebatas pengetahuan kognitif (cognitive science). Kesadaran akal-budi semata-mata sebagai bagian dari fungsi otak yang kemudian berkembang (emerge). Kesadaran dalam pendekatan ini mengatakan : “…dipandang sebagai berkembanganya jaringan-jaringan yang terintegrasi secara hirarkis. Kesadaran adalah sesuatu yang bertumbuh dari kompleksnya jaringan yang saling terhubung di dalam otak manusia. Kesadaran yang dihasilkan adalah bersifat obyektif atas apa yang bisa dilihat dengan indera atau fenomena. Kesadaran model ini sering digunakan untuk menjelaskan akan kejadian alam yang di dalamnya mengandung rangkaian hukum sebab-akibat. Namun kita harus menyadari bahwa semua data-data sangat terbatas dengan apa yang dapat ditangkap oleh indera jasad.
Kedua, sebatas penafsiran subyektif. Melalui instrospeksionisme (introspectionism). Di dalam pandangan ini kesadaran dipandang sebagai kesadaran orang pertama yang tertuju pada sesuatu obyek di luarnya. Kesadaran lantas dilakukan dengan cara penafsiran. Penafsiran terhadap realitas didasarkan pada kesadaran langsung yang muncul dari pengalaman sehari-hari dan dialami sendiri dan bukan dari pengamatan obyektif orang ketiga. Kesadaran akal budi pada taraf ini belum mampu menjawab akan energi metafisika yang melampaui fisika.
Ketiga, bersifat relative-obyektif. Dalam disiplin sosiologi terdapat pendekatan psikologi sosial. Pendekatan ini melihat kesadaran sebagai sesuatu yang tertanam pada jaringan makna kultural tertentu. Dengan kata lain kesadaran adalah produk dari sistem sosial yang ada di dalam suatu masyarakat. Sebagai contoh misalnya teori marxisme dan generasinya (marxianism: sosialisme, komunisme leninisme dan stalinisme). Kapitalisme, konstruktivisme, dan hermeneutika kultural. Semua pendekatan ini berakar pada satu asumsi bahwa kesadaran tidaklah terletak melulu di kepala individu melainkan ditentukan oleh kultur sosial-politik-ekonomi masyarakat. Masih dalam perspektif sosiologis sistem kepercayaan masyarakat (agama, ajaran, sistem nilai, kebiasaan, adat-istiadat, dan tradisi) merupakan bagian dari sistem budaya. Sekalipun dianggap sebagai bentuk kesadaran tinggi (spiritual) namun nilai-nilai religi tidak lepas dari jaringan makna kultural tertentu. Dengan kata lain masih berada dalam lingkup relative-obyektif. Hal ini dapat dilihat dari istilah dan bahasa yang terdapat pada kalimat-kalimat suci, serta ritual-ritual atau kegiatan seremonial keagamaan yang kental dengan sistem budaya tertentu. Termasuk nilai-nilai sakral dan mistisnya tampak berkaitan dengan legenda dan sejarah nenek-moyang masyarakat tertentu berupa warisan sistem religi primitif animisme dan dinamisme.
KESADARAN INTUITIF
Menjawab kelemahan Bacon di atas, seorang filsuf P.D. Ouspensky memperkenalkan alat ukur baru yang disebut Tertium Organum. Yakni kebenaran yang bersifat intuitif yang merangkum keduanya, tesisnya bahwa kenyataan itu harus rasional dan harus dieksperimentasi. Namun tidak berhenti di situ saja karena di dalamnya akan terjadi proses perkembangan atau evolusi kesadaran menuju kesadaran tingkat tinggi (higher consciuousness) untuk memperoleh kenyataan tingkat tinggi (higher reality). P.D. Ouspensky menyebut temuan metodenya dengan berbagai istilah: Mistycal Locic, Extase Logic, Paradoxical Logic. Sebuah metode sebagai upaya yang pasti menuju kebenaran kenyataan yang esensial (noumena). Tampaknya Ouspensky memiliki kesadaran bahwa realitas di luar rasio belum tentu sebagai sesuatu ke-tidakbenar-an. Bisa jadi hanyalah ketidak-tahuan rasio manusia semata sehingga seseorang seyogyanya membuka diri pada hal-hal yang terkesan irasional sekalipun. Pemikiran Ouspensky mengajak kita agar selalu berpositif thinking dalam memandang segala sesuatu yang masih menjadi tanda tanya besar yang seolah tidak masuk akal atau non-sense. Dengan postulat bahwa manusia itu lebih banyak yang belum diketahui daripada yang sudah diketahui mengenai apa yang terjadi dalam jagad raya. Positive Thinking harus dibarengi dengan sikap ragu-ragu. Namun bukanlah ragu-ragu yang menyepelekan, tetapi ragu-ragu agar menjadi tahu (skeptisisme). Dengan kata lain, Ouspensky secara tidak langsung mengatakan orang yang merasa paling tahu atau merasa diri telah mengetahui banyak hal sesunggunya ia orang yang tidak banyak tahu. Mafhum lah kita mengapa sikap para filsuf besar Yunani tampak paradoksal dengan mengatakan bahwa; semakin banyak tahu, justru dirinya merasa semakin banyak yang tidak diketahuinya.
Teori intuisi menyebutkan bahwa intuisi atau pengilhaman adalah semacam penglihatan yang amat tajam. Karena itu penulis-penulis dilihat sebagai seniman yang memiliki kemampuan berimajinasi atau mengembangkan perasaannya. Sehingga mereka dianggap genius-genius dalam spiritual. Sementara itu Pengertian intuisi menurut Webster Dictionary adalah kemampuan manusia untuk memperoleh pengetahuan atau wawasan langsung tanpa melalui penalaran dan observasi terlebih dahulu. Senada dengan itu menurut psikolog sosial dan sekaligus pengikut Guru Besar Psikologi Daniel Kahneman pada Princeton University, David G. Myers (Intuition; Its power and perils; 2002) pemikiran intuitif itu layaknya persepsi, sekelebat gambaran, dan tanpa usaha. Kalimat Kahneman yang menjadi pedoman Myers adalah ; ….kami mempelajari berbagai intuisi, beragam pemikiran dan preferensi yang mendatangkan pikiran secara cepat tanpa banyak refleksi.
Berangkat dari kesadaran betapa sulitnya membuat suatu teori dalam ranah intuitif yang banyak mengandung misteri kehidupan, lebih lanjut Ken Wilber (dalam: An Integral Theory of Consciousness, 1997) menyarankan agar melakukan pendekatan secara integratif. Setidaknya menempuh dua langkah berikut; Pertama penelitian yang berkelanjutan di berbagai pendekatan yang sama-sama ingin memahami fenomena kesadaran manusia. Karena disadari bahwa eksistensi kesadaran adalah suatu enigma, yakni sesuatu yang misterius. Suatu ke-ada-an di balik realitas fisik (metafisika), beyond side. Masing-masing pendekatan yang telah dijabarkan sebelumnya mampu memberikan sumbangan untuk memahami enigma ini. Setiap pendekatan penting, dan layak mendapatkan dukungan lebih jauh untuk mengembangkan penelitiannya. Saran Wilber sangat bijaksana, namun demikian, pendekatan integral ini lebih terasa sebagai himbauan moral saja. Ia tidak mengkonsep secara tegas dalam tataran aksiologi sebagai terobosan ilmu pengetahuan.
Dasar manusia, tak pernah merasa puas akan hasil pencapaiannya maka dikemukakan lagi pendekatan yang lebih canggih untuk menggali kemampuan intuisi manusia. Disebut sebagai teori energi-energi halus (subtle energies). Di dalam pendekatan ini, hipotesis penelitian dilakukan dengan berpijak pada asumsi atau pengandaian, bahwa ada sesuatu yang disebut energi kehidupan yang melampaui fisika. Energi ini mempengaruhi kesadaran dan perilaku manusia secara signifikan. Energi ini memiliki banyak nama lain, seperti tenaga dalam, aura, prana, ki, dan chi. Wilber secara sederhana melihat bahwa energi kehidupan ini merupakan penghubung antara dunia luar yang bersifat material dengan kesadaran manusia, dan sebaliknya, yakni dunia kesadaran manusia yang tertuju pada dunia luarnya.
Meredam Arogansi Ilmiah
Jika dilihat sekilas beberapa pendekatan di atas terlihat sangat erat dengan unsur mistik, sehingga tidak jarang kadar ilmiahnya diragukan. Akan tetapi, paling tidak Wilber menegaskan bahwa fenomena kesadaran itu tidak melulu ilmiah, tetapi merupakan suatu misteri. Maka pendekatan apapun sebenarnya bisa membantu kita untuk memahaminya. Dalam hal ini arogansi ilmiah sedapat mungkin harus dicegah. Saran Wilber tersebut patut dijadikan warning, betapa pendekatan ilmiah yang bertumpu pada akal dan paca indera saja seringkali justru membatasi kemampuan manusia dalam mengungkap misteri kehidupan. Hegemoni arogansi ilmiah justru membuat manusia teralienasi dengan ke-ada-an misteri kehidupan yang sejatinya. Sama halnya dengan statemen-statemen “orang suci” yang telah menghegemoni kesadaran intuisi umat manusia dengan doktrin yang menciutkan hati. Ironis sekali, sebuah kekeliruan fatal manusia karena ketidakpercayaan akan kemampuan intuisinya sendiri, hanya karena merasa rasio akal-budi adalah segalanya. Secara moral agama sikap tersebut juga menafikkan intuisi sebagai anugrah Tuhan pada diri manusia. Sebaliknya, siapaun yang tertarik mengembangkan intuisi harus meredam arogansi ilmiah termasuk arogansi dogma-dogma, lalu membuka diri pada hal-hal yang ada di luar rasio atau akal-budi kita. Jika rasio anda meragukan daya kerja intuisi –bukanlah keputusan yang tepat– bisa jadi hal itu semata-mata karena akal-budi dan rasio belum terbiasa menerima serta menyaksikan sendiri kebenaran intuitif yang ada (being) di luar fikiran kita sebagai kebenaran esensial noumena.
Benar kalimat nenek-moyang bangsa kita, Nggawa latu adadamar. Maka ada satu hal yang harus kita sadari sebagai modal utama untuk membuka kesadaran intuitif kita. Yakni, adanya kesadaran bahwa kecenderungan rasio manusia yang sulit menerima sesuatu yang baru dan terlalu rumit untuk dicerna akal-budi, sekalipun hal-hal bersifat empiris dan rasional bagi orang lain yang telah memahaminya. Terlebih lagi hal-hal bersifat hakekat yang abstrak dan gaib. Hal ini disebabkan kurangnya pengalaman pribadi, dan informasi yang lengkap serta sarana pembanding lainnya, sebagai data komparatif yang akan diolah rasio.
Kesadaran Intuisi Sebagai Sumber Kebenaran
Sekalipun gaib/abstrak, daya kerja intuisi dapat dibuktikan secara logic dan empiris. Hanya saja pembuktian terencana dan empiris lebih sulit dilakukan. Karena pada umumnya intuisi tidak terkelola dengan baik sehingga daya kerjanya hanya bersifat spontanitas saja. Pembuktiannya juga lebih sering bersifat (seolah-olah) kejadian spontanitas sehingga dianggap kejadian yang “kebetulan” yang tidak ada korelasinya. Seorang enterpreneur sejati, seniman dan orang-orang sukses kadang menggunakan intuisinya untuk memilih mana orang yang tepat sebagai partner, mencermati peluang bisnis dan menciptakan kesempatan emas untuk membangun sebuah usaha. Disiplin ilmu menjadi sekedar alat untuk menggaris bawahi atau menguatkan kebenaran intuisinya di samping sebagai alat pembuktian secara obyektif. Intuisi adalah awal dari kesadaran kita sekaligus menjadi jurus untuk membuka jalan mana yang tepat dan benar untuk dipilih.
Berbagai tradisi intelektual memperkenalkan teknik mengolah intuisi yang bersifat kontemplatif. Dalam pandangan ini kesadaran berada pada tingkatan yang lebih rendah dari yang seharusnya bisa dicapai manusia. Untuk meningkatkan kesadarannya orang perlu melakukan praktek meditasi dan yoga. Kesadaran yang sesungguhnya hanya dapat dicapai jika orang melakukan praktek tersebut secara konsisten. Tak puas hanya dengan melakukan kontemplasi, terdapat pendekatan Psikologi Perkembangan. Pendekatan ini memandang kesadaran bukan sebagai sesuatu yang tunggal tetapi sebagai dinamika yang terus berkembang di dalam proses. Setiap tahap di dalam proses tersebut memiliki perbedaan yang substansial dan harus dianalisis menurut kekhususannya masing-masing. Pendekatan ini juga menyentuh perkembangan-perkembangan unik di dalam diri manusia berupa kemampuan supernatural. Kemampuan ini dianggap sebagai fungsi kognitif, afektif, moral, dan spiritual yang berada di level yang lebih tinggi.
Contoh Bekerjanya Intuisi
Intuisi adalah hal yang sepele namun tak bisa dianggap sepele. Karena melalui intuisi pula manusia mampu meraih kesuksesan. Dengan intuisi pula manusia kadang berhasil untuk mengungkapkan rahasia alam dan kehidupan. Betapa dahulu para ilmuwan diperingatkan jika metode berkembang biak makhluk hidup melalui cloning adalah sebuah ide atau gagasan non-sense dan kontroversial karena bertentangan dengan norma agama serta dianggap bertentangan dengan rumus/kodrat Tuhan (baca: kodrat alam). Namun demikian riset dan ujicoba tak pernah berhenti hingga al hasil benar-benar membuktikan bila makhluk hidup dapat berkembang biak melalui proses pembiakan/penggandaan unsur genetika milik sendiri.
Sekedar contoh proses diperolehnya kebenaran intuisi terdapat dalam beberapa contoh kasus berikut:
Pada tanggal 1 bulan Mei 2006, sewaktu duduk berbincang dan diskusi bersama kawan-kawan, istri tiba-tiba berteriak histeris sambil terkesima, secara tidak sengaja melihat seperti kelebatan gambaran (view) seolah melihat “layar tancap” yang berisi “film” kejadian guncangan gempa dahsyat sekali. Dalam kelebatan tersebut sekilas tampak papan penunjuk arah tertera tulisan Ke Jl. Parangtritis, Ke Bantul, Klaten, Yogyakarta. Sehari kemudian jam 18.00 bayangan itu muncul lagi, namun kali ini sekelebat tertera tanggal “27”. Dalam gambaran itu tampak seolah gempa terjadi waktu remang-remang, tidak jelas apakah pagi atau sore hari. Ternyata bayangan itu benar-benar terjadi tanggal 27 Mei 2009. Antara tanggal 1 mei hingga tanggal 26 Mei, status bayangan tersebut belumlah sebagai kebenaran intuisi. Namun ketika gempa benar-benar terjadi persis tanggal dan harinya, barulah bayangan itu menjadi kebenaran intuisi.
Dalam alur demikian, intuisi diakui sebagai metode pencari kebenaran, sebab masih tetap membutuhkan verifikasi atau pembuktian sebagai alat pengujian kebenarannya. Namun berbeda dengan metode ilmiah lainnya karena dalam metode intuisi kita tidak dapat mendominasi pembuktian intuisi. Posisi kita sebagai obyek intuisi sangatlah determinan, hanya menunggu bukti itu terjadi dengan sendirinya. Selain itu pembuktian empiris intuisi tidak bersifat instan, terkadang memakan waktu cukup panjang melibatkan beberapa generasi usia manusia, rentang waktunya bisa mencapai puluhan hingga ratusan tahun ke depan. Artinya, intuisi menjadi kebenaran setelah menunggu puluhan hingga ratusan tahun yang akan datang. Lamanya pebuktian menjadikan intuisi seolah hanya sebagai omong kosong belaka.
Contoh lain misalnya; dalam situasi dan kondisi yang teramat darurat anda harus mengambil keputusan yang sangat fital. Tidak ada waktu berlama-lama berfikir, tiba-tiba hati anda tergerak, atau bahkan seolah mendengar “bisikan gaib”, dan hati terasa menemukan kemantaban memilih salah satu jalan keluarnya. Keputusan tersebut lebih cepat dibandingkan dengan proses berfikir anda sendiri. Setelah anda mengikuti suara hati dan “bisikan” tersebut, di kemudian hari anda benar-benar membuktikan sendiri sebagai keputusan yang paling tepat. Saya yakin, para pembaca yang budiman pernah mengalami kejadian serupa.
Bekerjanya intuisi kita biasanya dimulai dari kasus-kasus sederhana. Sebagai contoh misalnya: anda tiba-tiba merasakan keinginan kuat dari dalam lubuk hati untuk menelpon teman anda yang lama tak ada kabar berita. Setelah anda menelpon ternyata teman anda sedang mengharapkan bantuan anda. Contoh lain misalnya anda tak tahu entah alasan apa namun merasa ingin sekali kembali ke rumah. Ternyata sampai di rumah anda mendapati seorang pencuri mencoba masuk ke rumah anda. Anda bebas mengartikan intuisi anda sebagai ilham, ataukah nurani, bisikan gaib, karomah, wangsit, laduni atau sasmita. Ilustrasi yang lain, misalnya anda sedang memikirkan seseorang, tiba-tiba orang yang bersangkutan menelpon atau mengunjungi anda. Jika anda mengelola intuisi bukanlah hal yang sulit untuk menggali potensi besar anda yang masih tersimpan. Tidak mengherankan bila suatu waktu anda dapat menyaksikan warna-warna metafisik berupa warna-warna aura seseorang hanya dengan mata wadag anda. Lebih dari itu anda dapat menjawab teka-teki (enigma), semakin mudah menyaksikan eksistensi gaib (noumena) di sekitar anda.
Semua masih dalam lingkup daya kerja instrumen jiwa yang bernama intuisi disebut pula six-sense. Alat detektor makhluk halus yang dulu dianggap mustahil diciptakan, akhir-akhir ini manusia-manusia di negara-negara maju seperti Jepang, Jerman dan Amerika dengan pemberdayaan intuisinya berhasil memperoleh temuan baru (discovery) dengan ditemukan alat pendeteksi hantu atau roh. Di negara-negara maju dengan bimbingan intuisi satu misteri kehidupan telah berhasil diungkap bersama teknologi modern. Bahkan apa yang dilakukan para sastrawan dan pujangga nusantara di masa lalu berhasil membuat prediksi-prediksi besar dan satu demi satu sudah terbukti merupakan metode yang jauh lebih canggih dari alat-alat dan metode ilmiah paling kontemporer sekalipun. Hal itu menunjukkan kesadaran tinggi manusia (higher consciuousness) tidak sekedar spontanitas semata, namun semakin dapat dibuktikan secara ilmiah dan memenuhi syarat menjadi kenyataan obyektif yang diakui sebagai salah satu metode memperoleh kebenaran.
Pertanyaannya; Mungkinkah suatu saat ditemukan kamera canggih yang dapat mengambil gambar wujud roh ? Tidak tertutup kemungkinan ! Mungkin sudah menjadi kodrat/rumus Tuhan bahwa perkembangan kesadaran intuisi (batin) manusia berkembang lebih pesat jauh meninggalkan kesadaran akal-budi.
Dari contoh-contoh di atas tampak bahwa intuisi bekerja secara misterius, kesadarannya dapat melampaui kecepatan kesadaran akal-budi. Pembuktiannya seringkali tidak bersifat instan. Sehingga kebenaran intuitif kadang sulit diterima akal-budi. Sekalipun menolak intuisi suatu waktu anda dipaksa juga harus mengakui intuisi anda sendiri setelah terjadi peristiwa spontan sebagai pembuktian tak terbantahkan. Lain halnya bagi siapa saja yang sudah terbiasa mengalami dan membuktikan kebenaran intuisi yang dulu berada di luar fikiran menjadi biasa dan tidak aneh lagi. Betapa intuisi mampu “memaksa” alam semesta untuk membuka segenap enigma sebagai noumena, kebenaran esensial yang terjadi di luar kesadaran rasio manusia.
Pemberdayaan Intuisi a la Timur
Intuisi sering bersifat spontan disebut pula sebagai given (anugrah dari Tuhan) yang kedatangannya tak dapat kita jadwalkan. Meskipun demikian intuisi dapat dikelola agar dapat dikendalikan dan diatur kapan kita ingin memanfaatkan intuisi. Upaya ini berfungsi mengubah intuisi spontan menjadi kesadaran tetap.
Javanese Tradition
Manusia memiliki kecenderungan ontologis untuk selalu berupaya mencapai kesempurnaan dengan mengetahui kasunyatan (kebenaran sejati). Salah satu upaya tidak saja bersifat rasional (akal-budi) dan empiris (pengalaman jasad) namun merambah dalam unsur rasa di luar jasad (six-sense). Dengan mengasah intuisi atau pemberdayaan indera (ke-enam) sebagai indera perasa kita yang ada dalam rasa sejati (bukan indera perasa jasad). Setiap orang memiliki rasa sejati sebagai indera ke-enam (six sense). Namun demikian six sense kita ibarat masih terbungkus kulit yang tebal. Untuk memberdayakan intuisi maka indera ke-enam terlebih dahulu harus dikupas “bungkus”nya yang bermakna nafsu negatif. Hampir senada, Dr. A Ciptoprawiro (dalam bukunya: Filsafat Jawa; 1986) mencoba menjelaskan intuisi dengan mengatakan kesadaran intuitif melibatkan instrumen dasar manusia berupa perasaan & pengetahuan.
Perlu saya tegaskan di sini dalam konteks perasaan pengetahuan tersebut harus dibedakan dengan perasaan panca indra. Perasaan pengetahuan merupakan perasaan di luar panca indera jasadiah. Dalam spiritualitas Jawa disebut sebagai rahsa sejati atau rasa jati. Untuk mempermudah penggambarannya dapat diperbandingkan dengan arti kata tela’ah, atau berfikir dengan hati. Yakni berfikir secara intutif, dalam terminologi Jawa dikenal sebagai makna dalam ungkapan menggalih (analisa menggunakan rasa). Dalam suasana yang rumit atau saat menghadapi suatu persoalan berat, orang Jawa sering mengatakan, akan melakukan ngenggar-enggar penggalih. Sebagai sebuah cara yang akan meningkatkan kesadaran aku kepada kesadaran pribadi. Kesadaran aku atau kesadaran rasa sejati tidak bersifat statis tetapi dapat berubah dinamis apabila diri kita melakukan upaya-upaya peningkatan kesadaran.
Tradisi Jawa mengenal tata cara dan menejemen intuisi yang dapat diumpamakan mengupas bungkus yang menutupi indera ke-enam kita. Yakni antara lain dengan cara semedi, maladihening, mesu budi, tarak brata, tapa brata, dan laku prihatin. “Bungkus” adalah kiasan untuk menggambarkan nafsu negatif atau keinginan jasadiah. Setelah nafsu negatif “dikupas” kemudian akan muncul sensitifitas rahsa sejati, yakni berupa indera ke-enam kita yang menjadi “mata tombak” mengungkap kebenaran melalui intuisi. Nenek-moyang bangsa kita telah menemukan dan memberdayakan intuisi ini sejak zaman animisme dan dinamisme 1500-100 SM jauh sebelum semua agama-agama “impor” masuk ke bumi nusantara. Tak bisa dipungkiri daya jangkau intuisi mampu mencapai ruang-ruang gaib dengan menyaksikan noumena, berbagai eksistensi metafisika nan mistis. Justru dalam wahana ruang lingkup mistis inilah intuisi dapat berkembang dengan pesat. Hingga sekarang metode intuisi telah mengalami kemajuan sangat pesat khususnya di dalam tradisi dan kebudayaan Jawa yang kental akan mistisism. Inilah sejatinya apa yang disebut para ahli spiritual Jawa sejak era sebelum Majapahit sebagai pemberdayaan rahsa sejati dengan cara: nyidhem rahsaning karep, murih jumedule kareping rahsa. Mengendalikan nafsu, agar intuisi menjadi tajam (waskitha). Betapa pentingnya mengendalikan nafsu sampai-sampai dalam segala lini kehidupan tradisi Jawa selalu disipkan pepéling (pengingat) termasuk dalam tradisi kesenian tembang terdapat gaya pangkur. Pangkur bermakna nyimpang såkå piålå, mungkúr såkå nafsu dur angkårå.
Dalam tradisi Jawa keberhasilan mengolah intuisi dapat dilihat pada kewaskitaan para Pujangga kita yang mampu menjadi sastrawan, seniman dan futurolog masyhur seperti ; KGPAA Mangkunegoro IV, Raden Ngabehi Ranggawarsita, P Jayabaya, RM Sastra Nagara, Mbah Ageng (Ki Metaram) Juru Nujum Sri Sultan HB IX, KPH Cakraningrat dan masih banyak lagi. Di negara barat seperti Nostradamus, Jucelino Noberga da Luz dan Franciscoshabiz (Brazilia), John Naisbitt, Suku Bangsa Maya dll. Berbagai ajaran spiritual Jawa bertumpu pada kekuatan intuisi masing-masing individu. Individu dapat mengembangkan sendiri-sendiri semampunya. Sehingga pencapaian hasilnya berbeda-beda. Ahli spiritual Jawa tidak mengenal kasta atau derajat pangkat melainkan dapat dicapai siapapun yang “gentur laku” mulai dari wong cilik, rakyat biasa, petani, seniman, pandhita, usahawan, hingga bangsawan. Namun biasanya olah spiritual bangsawan masa lalu lebih terkelola secara rapi dan terorganisir. Hingga sekarang Kraton masih eksis berfungsi sebagai cagar budaya sekaligus menjadi centrum cagar spiritual hasil “olah batin” para leluhur bumi nusantara.
Pada saat ini ilmu yang tersimpan di dalam kraton telah dipublikasikan melalui berbagai gubahan, buku-buku kajian budaya dsb. Paling tidak terdapat suatu nilai ajaran yang penting diperhatikan yakni prinsip dalam spiritual Jawa memandang bahwa perbedaan pemahaman spiritual menjadi hal yang sangat lazim dan ditoleransi. Dalam tradisi Kejawen tidak dikenal kitab suci, nabi, habib, orang suci dsb karena adanya pemahaman bahwa masing-masing orang telah dibekali kemampuan intuitif sejak lahir sebagai talenta untuk menemukan kebenaran sejati. Lagi pula ajaran spiritual Jawa membahas masalah esensi atau hakekat yang berada dalam ruang universalitas nilai. Tidak diperlukan pelembagaan sebagaimana agama-agama di muka bumi. Karena pelembagaan akan beresiko fragmentasi, terkotak-kotak terbatas dalam ruang yang sempit. Konsekuensinya adalah luasnya ruang spiritual dalam wahana batin terjebak pada ruang fisik yang sempit dan penuh keberagaman jasad.
Dalam tradisi spiritual Jawa dikenal istilah ilmu padi, semakin tua semakin berisi, dan semakin merunduk. Disebut juga ngelmu tuwa, yang berhasil meraihnya disebut “uwong tuwa” atau sesepuh. Yang tua bukan fisik atau usianya tetapi ilmunya atau ngelmune tuwa atau orang yang tinggi ilmunya. Maka sejatinya orang yang berilmu tinggi justru semakin rendah hati, berlagak seolah bodoh (mbodoni), namun tetap sopan dan santun berhati-hati dalam berbuat dan berucap. Jika berhadapan langsung pun kadang justru tampak bodoh tak bisa ditebak, misterius, tidak bisa disangka-sangka dan diduga-kira ketinggian falsafah hidupnya.
Bagi yang enggan atau tidak sempat mengolah intuisi bukan berarti gagal total, selama ia masih mau membuka diri dan selalu berpositif thinking. Hanya saja ia tidak dapat menyaksikan langsung kedahsyatan eksistensi beyon side, eksistensi yang ada di luar akal-budi kita (noumena). Setiap orang sebenarnya mudah mengembangkan intuisi dalam diri. Asal mau membiasakan diri ; memperhatikan, mencermati, dan merasakan getaran dalam hati paling dalam, yang tak bisa dipungkiri atau ditolak. Intuisi mengirim getaran sinyal ke dalam hati pada detik-detik pertama, selanjutnya adalah imajinasi yang akan mendominasi akal budi kita. Imajinasi tidak bisa dipercaya karena memuat segala angan dan khayalan keinginan jasad (rahsaning karep). Sedangkan getaran intuisi dalam hati disebut pula sebagai hati nurani (kareping rahsa).
Jika diurutkan cara bekerjanya intuisi adalah sebagai berikut :
rahsa sejati (kareping rahsa) — sukma sejati (guru sejati) — getaran hati (nurani) – intuisi — respon otak (imajinasi)
Bandingkan dengan kronologi nafsu berikut ini :
obyek yang menyenangkan –- panca indera –- hati -– respon otak (imajinasi atau perencanaan pemenuhan hasrat/keinginan jasad)
Kesadaran
Dalam ilmu Jawa dikenal beberapa tingkatan kesadaran manusia. Diurutkan dari bawah yakni; (1) Jasad, (2) akal-budi, (3) nafsu, (4) roh, (5) rasa (indera ke-enam), (6) cahya, (7) atma. Intuisi setara dengan kesadaran urutan ke lima. Dilihat dari tingkat kesadaran ini manusia dibedakan ke dalam dua kelompok: yakni orang pilihan, dan orang awam.
Orang Awam (kesadaran lahiriah)
Untuk menunjuk tingkat kesadaran seseorang yang mencapai taraf kesadaran jasad, akal-budi, dan nafsu. Dalam tataran ini seseorang masih dapat memahami nilai sopan santun, kearifan, dan kawicaksanan. Namun seseorang belum sampai pada menyaksikan langsung (nawung kridha) atau wahdatul wujud, sebaliknya pengetahuannya hanya berdasarkan ajaran yang tertulis (teksbook, referensi) dan dari mulut ke mulut, kulak jare adol jare, ceunah ceuk ceunah, serta yang tak tertulis namun masih dapat disaksikan melalui panca indera jasad, misalnya berbagai macam fenomena atau gejala alam. Kesadaran yang melibatkan unsur cipta, rasa, karsa. Namun ketiganya bukanlah pengalaman batin sendiri.
Orang Pilihan (kesadaran batiniah)
Untuk memilah seseorang yang telah mencapai kesadaran batin yang meliputi kesadaran jiwa atau kesadaran roh, kesadaran rasa sejati, kesadaran cahya, dan kesadaran atma. Tataran kesadaran ini dalam terminologi Jawa lazim disebut Nawung Kridha atau orang yang berbudi-pekerti luhur, lazim pula disebut orang yang memiliki tingkat spiritual tinggi. Semakin tinggi spiritualitas seseorang berarti tingkat kesadarannya semakin tinggi pula. Disebut juga sebagai satu mungging rimbagan, yakni orang yang telah mencapai kesadaran spiritual dengan ditandai pencapaian tataran curiga manjing warangka, atau dwi tunggal (loroning atunggil), pamoring kawula Gusti, atau manunggaling kawula Gusti. Dalam agama Budda kurang lebih sepadan dengan orang yang menggapai hakikat Nirvana, sedangkan dalam terminologi Latin sebagai Imago Dei, sementara istilah mistis Arab disebut sajjaratul makrifat yakni orang-orang yang wahdatul wujud. Kesadaran seseorang pada tataran ini dalam memahami hakekat “setan”, surga, dan neraka tidak sama pada umumnya Orang Biasa. Bagi orang pilihan ia akan berani mati sajroning ngaurip (mati di dalam hidup). Artinya nafsu keduniawian atau nafsu jasadiah (rahsaning karep) dimatikan, sedangkan yang hidup adalah rasa sejati (kareping rahsa). Kegiatan ini umpama mengolah lahan gersang menjadi lahan subur bagi tumbuh dan berkembangnya six-sense kita.
Beberapa Tipe Orang Pilihan
KRT. Ronggo Warsito dalam karyanya suluk Pamoring Kawula Gusti, berkaitan dengan tingkat kesadaran ini, memilah manusia menjadi tiga tipe yakni :
1.Tipe Etis ;
yakni kemanunggalan antara kawula dengan Gusti, hasilnya adalah waskita dan susila anor raga. Orang pilihan tipe etis telah mampu megharmonisasi antara batin dengan perbuatannya. Kemanunggalan manusia setelah melebur ke dalam Zat Tuhan ini digambarkan dalam cerita wayang dengan lakon Wisnu Murti, yakni Prabu Kresna masuk ke dalam tubuh Dewa Wisnu. Atau sebaliknya, Zat Tuhan yang melebur di dalam manusia digambarkan dalam lakon wayang Bimasuci, tatkala Dewaruci merasuk ke dalam tubuh Sena. Penggambaran akan manusia yang menguasai kesadaran triloka yakni alam gaib, kesadaran alam batin, dan alam wadag. Istilah yang digunakan dalam mistis Islam disebut rijalul gaib.
2.Tipe Kosmologis ;
yakni olah lahir dan olah batin seseorang melebur dalam kosmos universal dan mengeliminasi egoisme atau individualitas. Orang pilihan tipe kosmos mencapai high consciuousness dengan cara membebaskan diri dari belenggu alam empiris materiil. Tindakan pembebasan dari belenggu alam empiris materiil menuju pada eksistensi transenden. Dalam keadaan ini kesadaran seseorang meningkat dari kesadaran diri materiil, menjadi kesatuan mutlak sebagai bentuk kesadaran rahsa sejati, yakni pemahaman akan kebenaran sejati pada kehidupan ini. Batin kita akan menjadi batin patipurna; batin yang bebas dari polusi, halusinasi, dan imajinasi jasad (akal-budi) semata. Maka secara emanatif manusia digambarkan akan kembali ke asal muasalnya yakni ke dalam hakekat cahya sejati nan suci. Inilah nilai tradisi Kejawen dalam wahana dimensi vertikal dengan yang transenden yakni; sangkan paraning dumadi. Asal dan tujuan manusia adalah Zat Mahamulya (adi kodrati/ajali abadi). Dalam spiritual Jawa dikenal alam kelanggengan nan suci, atau alam kasampurnan sejati yakni tempat berkumpulnya/kembalinya arwah para leluhur yang berhasil mensucikan diri semasa hidup di dunia. Dengan berbekal kesuksesan mensucikan diri akan menjadi modal utama yang menempatkan roh berada dalam wahana cahya sejati (disebut pula nurulah). Asal roh adalah hakekat cahya yang suci maka roh harus kembali dalam kondisi cahya suci pula. Inikah yang sebenarnya sebagai hakekat “malaikat” ? silahkan anda telaah sendiri.
3. Tipe Teologis ;
Tipe ini banyak kemiripan dengan tipe kosmologis hanya saja terdapat perbedaan mendasar dengan adanya istilah-istilah yang berasal dari kitab suci atau ajaran nabi. Pada tipe kosmologis terbuka untuk diperdebatkan secara rasional locic sebagaimana tradisi Kejawen. Sedangkan tipe teologis sangat tertutup bagai monumen sejarah. Sikap kritis sering dianggap menentang, melecehkan dan sesat. Terkesan tipe teologis hanya membutuhkan keyakinan saja. Dari rasa yakin lalu menjadi percaya. Penilaian terhadap kesadaran intuitif manusia, kadang diasumsikan sangat berbahaya mudah tergelincir oleh “bisikan setan”. Resikonya agama akan mengalami stagnansi bagai monumen sejarah yang untouchable makin lama kian lapuk dan ditinggalkan manusia ultramodern. Tradisi ilmiah beberapa filsuf, sejarawan, antropologi, sosiologi, arkeologi, memandang agama sebagai tipe kesadaran kosmologis manusia masa lampau, yang telah dilembagakan sebagai sistem religi masyarakat tertentu. Dan sistem religi ini dalam perspektif psikologi sosial merupakan bentuk kesadaran relative obyektif sesuai dengan sistem sosial budaya masyarakat di mana suatu agama dahulu dilembagakan.
Ngelmu Kasampurnan
Ujung dari proses perkembangan kesadaran manusia adalah diraihnya kesempurnaan hidup (ngelmu kasampurnan), atau ilmu kesempurnaan, wikan sangkan paran. Filsafat hidup yang termuat di dalam Ngelmu kasampurnan adalah gambaran kesadaran tertinggi manusia (highest consciuousness). Maka dalam istilah Jawa ilmu kasampurnan disebut pula ilmu kasunyatan, ilmu tuwa, ilmu sangkan paran. Hampir sepadan dalam tradisi mistis Islam disebut makrifat. Idiom Jawa memiliki banyak istilah untuk menggambarkan manusia yang berhasil menggapai ilmu kasampurnan, yakni; jalma limpat seprapat tamat, jalma sulaksana waskitha (weruh) sadurunge winarah. Artinya seseorang yang memahami kebijaksanaan hidup dan memiliki kemampuan mengetahui peristiwa-peristiwa di luar jangkauan ruang dan waktu serta di luar kemampuan akal-budi (kawaskithan). Pedoman hidup atau kebijaksanaan yang dihayati adalah ; wikan sangkan paran, mulih mulanira, dan manunggal. Memahami asal muasal manusia, kembali kepada Hyang Mahamulya, dan manunggal ke dalam kesucian Zat.
Pencapaian kesempurnaan hidup dalam serat Wedhatama disebut sebagai pamoring suksma, roroning atunggil. Menurut serat Wedhatama karya KGPAA Mangkunegoro IV, ilmu kasampurnan disebut pula sebagai ngelmu nyata, ngelmu luhung atau akekat. Cara pencapaian kesadaran tingkat tinggi ini, di capai melalui empat tahapan sembah, atau catur sembah; yakni sembah raga, sembah cipta/kalbu, sembah jiwa/sukma, dan sembah rasa, dan meraih rahsa sejati (lihat thread; Serat Wedhatama). Wedha adalah petunjuk atau laku/langkah, Tama adalah utama atau luhur/mulia, yakni ilmu tentang perilaku utama atau budi pekerti yang luhur. Dalam serat Wedhatama mencakup ajaran perilaku ragawi yang kasad mata (solah tingkah), perilaku hati, dan perilaku batin (bawa/perbawa) yang meliputi jiwa dan rahsa. Dalam rangka menggapai kesempurnaan hidup hendaknya ke-empat perilaku tersebut menjadi satu kesatuan yang utuh. Sehingga secara garis besar terbagi menjadi dua bentuk kesatuan perilaku lahir dan batin. Keduanya harus dibangun dalam wujud korelasi yang harmonisasi, sinergis antara perbuatan lahir atau solah, dan perbuatan batin atau båwå. Wujud solah akan merefleksikan keadaan båwå dalam batin, namun kesadaran båwå juga termanifestasikan ke dalam wujud solah. Apabila tidak terjadi sinkronisasi antara solah dan båwå, yang terjadi adalah sikap inkonsisten, kebohongan, mencla-mencle atau plin-plan. Dalam ranah agama disebut sebagai sikap munafik. Sebaliknya indikator manusia yang telah memperoleh kesadaran tinggi (spiritual) dalam lingkup ngelmu kasampurnan dapat dicermati tingkat pemahamannya yang termanifestasikan dalam beberapa barometer berikut ini ;
1. Madu Båså
Meliputi adab, sopan-santun, tata cara, kebiasaan mengolah tutur kata dalam pergaulan. Madu adalah manis, bukan berarti konotasi negatif seseorang yang gemar bermulut manis. Namun maksudnya adalah seseorang yang mampu membawa diri, mawas diri atau mulat sarira. Kata-kata yang tidak menyakitkan hati orang lain. Ucapan yang menentramkan hati dan fikiran. Tutur kata yang bijaksana, bermutu atau berkualitas, dan selalu menyesuaikan pada keadaan dan lawan bicara. Maka dikatakan ajining diri kerana lathi. Kehormatan atau harga diri seseorang tergantung pada apa yang ada dalam ucapannya. Dalam pribahasa Indonesia terdapat tamsil berupa peringatan agar mewaspadai mulut kita, “mulutmu harimau mu”. Madu Basa adalah seseorang yang pandai mengolah kata sehingga dalam menyampaikan kritikan, penilaian, protes dan nasehat mampu menggunakan bahasa yang simple, mudah dipahami, tidak menyinggung perasaan orang lain dan mudah diterima oleh orang yang dituju. Itulah bahasa akan menjadi “madu” tergantung pada kemampuan kita memadu bahasa. Ibaratnya ikan dapat ditangkap dan airnya tidak menjadi keruh.
2. Madu Råså
Meliputi empan papan, tepa selira, unggah ungguh, iguh tangguh, tuju panuju, welas asih, kala mangsa, duga prayoga. Madu rasa adalah bentuk kesadaran tinggi atau kesadaran batin (SQ). Termanifestasikan dalam rasa kasih sayang yang tulus kepada sesama, tanpa membedakan suku, agama, warna kulit, golongan, pandai-bodoh, kaya miskin, drajat pangkat. Sebuah kesadaran batin yang mampu memahami bahwa derajat manusia adalah sama di hadapan Sang Pencipta. Perbedaan kemuliaan hidup seseorang ditentukan tingkat kesadaran lahiriah dan batiniahnya, serta ditentukan oleh perilaku dan perbuatannya apakah bermanfaat atau tidak untuk sesama. Seseorang yang menghayati madu rasa, mampu ngemong (mengendalikan) gejolak nafsu diri sendiri, maupun ngemong gejolak nafsu orang lain. Keadaan mental seseorang madu rasa, memiliki kematangan, tangguh, ulet dan tekun, bertekad kuat, gigih dan tidak mudah putus asa, segala sesuatu terencana secara matang, memperhitungan segala resiko. Cermat, cakap, tanggap, empatik dan peduli lingkungan.
3. Madu Bråtå
Pertama, meliputi sikap eling dan waspadha, eling terhadap sangkan paraning dumadi, dan waspadha terhadap segala hal yang menjadi penghambat upaya mencapai nglemu kasampurnan. Kedua, madu brata diistilahkan pula keberhasilan sikap sebagai nawung kridha. Untuk menyebut seseorang yang dapat menyaksikan sendiri bahwa dalam menempuh kemuliaan hidupnya diperlukan kesadaran lalu memahami akan karakter, sifat-sifat, tabiat alam, gejala dan tanda-tanda kebesaran Hyang Maha Mulya yang sangat beragam. Madu brata, “madu”nya perilaku dalam menjalani kehidupan ini. Terletak pada kesadaran bahwa manusia sebagai jagad kecil, dan alam semesta sebagai jagad besar memiliki hubungan yang harmonis dan sinergis. Namun demikian manusia lah yang harus pandai beradaptasi dan sensitif dalam merespon gejala alam. Madu bråtå sepadan dengan sikap hamemayu hayuning bawånå. Ketiga, pangastuti dan rasa sejati yang dimilikinya dapat dimanage dengan baik, bukan lagi menjadi alam bawah sadar namun telah berhasil membangkitkan kesadaran mutlak yang mampu meredam watak sura dira jayaningrat melebur dalam pangastuti. Seseorang memiliki daya batin yang jinurung ing gaib, yakni sejalan dengan rumus Tuhan yang terangkum dalam hukum alam, atau kodrat alam lahir maupun alam batin sebagai “bahasa” dari kodrat Ilahiah. Maka Idune idu geni (ludahnya ludah api), kehendaknya adalah kehendak Tuhan, sehingga apa yang diucap terwujud (sabda pendhita ratu).
Senada dengan serat Wedhatama, dapat dilihat dalam Filsafat Widyatama, terdapat dalam suluk Sukma Lelana, karya KRT Ronggo Warsito. Di dalamnya terdapat ajaran tentang Widyatama atau ajaran tentang lakutama, yakni perilaku utama, atau budi pekerti yang luhur. Dikemas dalam bentuk seni sastra dan budaya lainnya yang mengandung nilai filsafat kehidupan adiluhung, dalam rangka meraih kearifan dan kebijaksanaan hidup (ngudi kawicaksanan), serta mengupayakan kesempurnaan hidup (ngudi kasampurnan). Di dalamnya diungkapkan beberapa tataran kesadaran manusia, yakni kesadaran jasad, kesadaran batin dan tentang kesempurnaan (kasampurnan). Orang yang ngudi kawicaksanan dan kawaskitan disebut sebagai seorang jalma sulaksana.
Kemampuan Hewan dengan Manusia
Mengulas tulisan dari awal hingga akhir tampak perbedaan tingkat kesadaran yang amat jauh antara naluri dengan intuisi. Dalam dunia hewan naluri sebagai alat utama yang mampu menjaganya tetap berada pada jalur kodrat alam atau kodrat Sang Pencipta jagad raya. Sedangkan manusia yang hanya berbekal kemampuan akal yang tinggi akan lebih sulit menempatkan diri pada jalur hukum alam atau kodrat Tuhan. Hal ini sekilas tampak paradoksal namun kenyataannya demikian adanya. Karena di satu sisi akal manusia keberadaannya di dalam bungkusan nafsu. Resikonya adalah penguasaan nafsu atas jiwa (lihat thread; Mengenal Jati Diri; Hakekat Neng ning nung nang). Di sisi lain otak manusia dapat berubah menjadi sumber imajinasi yang keliru, resikonya berupa salah tafsir, salah sangka, salah duga, salah kira.
Jalan satu-satunya menyelamatkan diri adalah peningkatan akan kesadaran, sehingga mudah memilah mana kebenaran sejati mana kepalsuan. Jika manusia tidak memiliki tingkat kesadaran yang layak manusia beresiko tinggi mendapat malapetaka kehidupan karena secara sadar atau tidak dapat terjebak nafsu ragawi dan imajinasi akal yang palsu. Akal sering dibangga-banggakan manusia karena diyakini mampu mengangkat derajat kemanusiaannya. Terlebih lagi manusia mengklaim diri dengan dimilikinya akal menjadikannya sebagai makhluk paling sempurna. Tapi jangan gegabah, akal bagaikan pisau bermata dua. Mata yang satunya dapat memuliakan manusia, mata yang satu lagi sebaliknya dapat menyebabkan sebuah malapetaka besar manusia menjadi makhluk paling hina di dunia.
Dalam konteks demikian tentunya hewan lebih merdeka dibanding manusia, karena hewan terbebas dari segala tanggung jawab atas kemampuannya. Sebaliknya manusia terbebani untuk memper-tanggung-jawabkan atas segala kemampuan, kelebihan dan kesadaran yang dimilikinya. Hewan tidak punya pilihan sedangkan manusia memiliki berjuta pilihan. Salah memilih resikonya adalah malapetaka di dunia maupun setelah ajal tiba.
Tidak ada orang pandai yang tidak pernah salah,
Tidak ada orang bodoh yang tidak pernah benar.
Satu kebenaran intuitif seseorang
bagaikan satu bintang di antara trilyunan bintang
Sedangkan kemampuan manusia mengungkap kebenaran intuitif
Tidak sebanyak jumlah manusia di bumi
Apalagi sebanyak bintang di langit
********
By: sabdalangit.wordpress.com















422 tanggapan kepada “Membangun Kesadaran Rasa Sejati”
Franky Rudiyanto Tanojo
Mei 3rd, 2012 pada 00:40
Terima kasih saya sampaikan pada teman-teman di sini yang sangat berhasrat mencari kebenaran dalam diri manusia dengan wawasan yang mumpuni. Saya walaupun seorgang Buddhis dan bukanlah orang Jawa memahami bahwa kebenaran itu universal adanya. Bagi saya yang dimaksud agama penyempurna adalah pelengkap / penggenap autran – aturan main dalam hidup, bukan suatu keangkuhan dogmatis.
Tapi bukan itu yang ingin saya sampaikan kali ini. Saya hanya ingin sedikit bersumbangsih mengenai ada itu tiada, tiada itu ada. Bagi yang paham mati sajroning urip, urip sajroning mati (mati dalam hidup, hidup dalam mati) tentunya paham. Bagi yang masih belum, berikut uraian saya :
Manusia diciptakan mengenal kebaikan dan berhati nurani, karena penciptanya adalah Maha Pengasih. Bila anda memberikan sesuatu dalam nama kasih sayang tentunya tidak berharap balik bukan? Dari sini saya ingin mengemukakan bahwa sebenarnya manusia itu kalau mengenal kasih sayang minim atau bahkan nihil pamrihnya, hanyalah kasih sayang dan harapan baik pamrihnya. Ini juga penjelasan bagi uraian di atas dari Mas Tommy tentang bahwa walaupun kita melakukan sesuatu tanpa mengharap sebetulnya kita sudah mengharapkan.
Nah bagi manusia yang ingin menemukan dirinya yang sejati, maka tambahkan syukur dan ikhlas, agar semakin bebas pamrih, mencari ketiadaan (tiada ego atau pamrih), dan sekaligus mencari ada (perwujudan cinta kasih yang murni sebagai pengejawantahan jati diri manusia sejati).
Maka didalam tiadanya ego (hidup yang mati, mati kehendak pribadinya), ada sifat sejati manusia (hidup yang sebenarnya, seutuhnya). Dibalikpun maknanya tetap sama, sifat sejati manusia (hidup yang sebenarnya) ada dalam tiadanya ego (matinya pamrih).
Semoga berkenan.
pak budi
April 22nd, 2013 pada 22:33
JIKA ANDA BUTUH ANGKA RITUAL 2D 3D 4D DI JAMIN 100% JEBOL BILAH BERMINAT HUB KI ANGEN JALLO DI NMR (_0_8_5_2_8_3_7_9_0_4_4_4_) JIKA INGIN MENGUBAH NASIB THA,SK ROO,MX SOBAT
JIKA ANDA BUTUH ANGKA RITUAL 2D 3D 4D DI JAMIN 100% JEBOL BILAH BERMINAT HUB KI ANGEN JALLO DI NMR (_0_8_5_2_8_3_7_9_0_4_4_4_) JIKA INGIN MENGUBAH NASIB THA,SK ROO,MX SOBAT
JIKA ANDA BUTUH ANGKA RITUAL 2D 3D 4D DI JAMIN 100% JEBOL BILAH BERMINAT HUB KI ANGEN JALLO DI NMR (_0_8_5_2_8_3_7_9_0_4_4_4_) JIKA INGIN MENGUBAH NASIB THA,SK ROO,MX SOBAT
pak budi
April 22nd, 2013 pada 22:35
JIKA ANDA BUTUH ANGKA RITUAL 2D 3D 4D DI JAMIN 100% JEBOL BILAH BERMINAT HUB KI ANGEN JALLO DI NMR (_0_8_5_2_8_3_7_9_0_4_4_4_) JIKA INGIN MENGUBAH NASIB THA,SK ROO,MX SOBAT
JIKA ANDA BUTUH ANGKA RITUAL 2D 3D 4D DI JAMIN 100% JEBOL BILAH BERMINAT HUB KI ANGEN JALLO DI NMR (_0_8_5_2_8_3_7_9_0_4_4_4_) JIKA INGIN MENGUBAH NASIB THA,SK ROO,MX SOBAT
supali
Juni 18th, 2013 pada 04:44
ass….Hal yang tidak pernah terbayankan kini menjadi kenyataan kepada keluargaku,,,untuk AKI JOGO kami ucapkan banyak terimakasih karna berkat bantuannya ALHAMDULILLAH keluarga kami bisa lepas dari masala utang dan ,karna nomor “GAIB”untuk pasang togel,hasil ritual AKI JOGO meman benar2 merubah nasib kami hanya sekejap,dan disitulah aku berkesempatan kumpulkan uang untuk buka usaha kembali,karna rumah juga sudah disita,,warung makan jg sudah bangkrut,,tapi itu semua aku masih tetap bertahan hidup dengan anak istriku,,walau cuma ngontrak tapi aku tetap bersabar dan akhirnya AKI JOGO lah yang bisa merubah nasib kami..maka dari itu AKI JOGO orang paling bersejarah di keluargaku…!!!jadi kepada teman2 yang di lilit utang dan ingin merubah nasib seperti saya silahkan hub AKI JOGO di nomor: 0823 1090 1997 dengan penuh harapan INSYAH ALLAH pasti tercapai.sekian kata hati saya yang sejujurnya
tampah ada rekayasa…salam kenal dan salam lakomsel…
tankssss..roomnya sobat.>>>>
ass….Hal yang tidak pernah terbayankan kini menjadi kenyataan kepada keluargaku,,,untuk AKI JOGO kami ucapkan banyak terimakasih karna berkat bantuannya ALHAMDULILLAH keluarga kami bisa lepas dari masala utang dan ,karna nomor “GAIB”untuk pasang togel,hasil ritual AKI JOGO meman benar2 merubah nasib kami hanya sekejap,dan disitulah aku berkesempatan kumpulkan uang untuk buka usaha kembali,karna rumah juga sudah disita,,warung makan jg sudah bangkrut,,tapi itu semua aku masih tetap bertahan hidup dengan anak istriku,,walau cuma ngontrak tapi aku tetap bersabar dan akhirnya AKI JOGO lah yang bisa merubah nasib kami..maka dari itu AKI JOGO orang paling bersejarah di keluargaku…!!!jadi kepada teman2 yang di lilit utang dan ingin merubah nasib seperti saya silahkan hub AKI JOGO di nomor: 0823 1090 1997 dengan penuh harapan INSYAH ALLAH pasti tercapai.sekian kata hati saya yang sejujurnya
tampah ada rekayasa…salam kenal dan salam lakomsel…
tankssss..roomnya sobat.>>>>
suparmanto
Mei 3rd, 2012 pada 08:55
mas Sabda….nyuwun izin bade download artikel2 yang njenengan posting…mau saya print buat bahan bacaan…dalam upaya saya memahami kaweruh jawa…suwun
Liza Natalie
April 19th, 2013 pada 19:14
Saya sangat berterimah kasih banyak kepada PAK MANDALA atas bantuannya saya bisa menang togel, saya benar2 tidak percaya dan hampir pingsan karna angka yang di berikan beliau ternyata tembus. awalnya saya cuma coba2 menelpon, saya bilang saya terlantar di daerah Malaysia. kerja sebagai TKI dan tidak ada ongkos pulang, mulanya saya ragu tapi dengan penuh harapan saya pasangin kali 100 lembar dan ALHAMDULILLAH berhasil. sekali lagi makasih banyak ya PAK… dan saya tidak akan pernah lupa bantuan dan kebaikan PAK MANDALA. kepada saudara yang ingin merubah nasibnya seperti saya silahkan Hub 0823″4898″5714 PAK MANDALA. Demikian kisah nyata dari saya dan ini tanpa rekayasa. INGAT. kesempatan tidak akan pernah datang Yang ke.(2).kalinya…!
Saya sangat berterimah kasih banyak kepada PAK MANDALA atas bantuannya saya bisa menang togel, saya benar2 tidak percaya dan hampir pingsan karna angka yang di berikan beliau ternyata tembus. awalnya saya cuma coba2 menelpon, saya bilang saya terlantar di daerah Malaysia. kerja sebagai TKI dan tidak ada ongkos pulang, mulanya saya ragu tapi dengan penuh harapan saya pasangin kali 100 lembar dan ALHAMDULILLAH berhasil. sekali lagi makasih banyak ya PAK… dan saya tidak akan pernah lupa bantuan dan kebaikan PAK MANDALA. kepada saudara yang ingin merubah nasibnya seperti saya silahkan Hub 0823″4898″5714 PAK MANDALA. Demikian kisah nyata dari saya dan ini tanpa rekayasa. INGAT. kesempatan tidak akan pernah datang Yang ke.(2).kalinya…!
tomyarjunanto
Mei 4th, 2012 pada 07:51
Terima kasih Saudara-saudara yang telah memberikan atensi atas tulisan saya.
Pertama-tama saya hendak menjelaskan dulu bahwa komentar dan tanggapan saya diatas terhadap topik membangun kesadaran rasa sejati ini coba saya sampaikan dalam ranah Kawruh Jiwa.
Jiwa adalah rasa maka Kawruh Jiwa bisa disebut Kawruh Rasa, Kawruh yang mempelajari tentang rasa. Rasa ini dimiliki oleh orang dan kita pribadi adalah juga orang, oleh karena itu mempelajari tentang rasa dalam hal ini dikatakan mempelajari diri sendiri atau mengetahui diri sendiri, disebut sebagai Pangawikan Pribadi.
Diri sendiri manakah yang dipelajari ? Ialah diri sendiri yang diberi dan memiliki nama khusus. Kalau namanya Tomy, merasa aku si Tomy; kalau namanya Krama, merasa aku si Krama. Rasa yang bergandengan dengan namanya itu disebut “Kramadangsa”. Kramadangsa itu yang menyahut bila nama kita dipanggil orang, yang menjawab kalau kita ditanya orang. Kramadangsa menyatukan diri dengan segala rasa yang timbul dalam dirinya. Kramadangsa inilah yang saya sebut sebagai pangrasa, rasa subyektif, termasuk didalamnya persepsi dan tanggapan kita atas suatu realitas.
Secara panjang lebar struktur jiwa kramadangsa yang berisi tentang “rasa”, “aku” (kramadangsa), dan “mawas diri” serta bagaimana keterkaitannya, itulah yang menjadi inti kajian Kawruh Jiwa Jawa.
maka saya mohon maaf bila penyampaian saya sama sekali bukan dalam ranah teologis.
Dalam Kawruh Jiwa saat membicarakan tentang agama dan ketuhanan bukan membicarakan tentang agama iman dan tuhan agama, namun agama dan ketuhanan sebagai fungsi kejiwaan manusia.
Bala(ne)dewa
Mei 4th, 2012 pada 21:38
PENGALAMAN PUNCAK
Melanjutkan pembahasan tentang Tujuan dan Sarana, dalam laku hidup spiritual kita akan berjumpa dengan apa yang disebut sebagai Pengalaman Puncak.
Pengalaman Puncak adalah sama dengan “pengalaman akan yang ilahi” bila ditinjau dari agama, atau disebut juga iluminasi.
Seringkali fenomena akan pengalaman puncak ini menjadi jegalan bagi para pejalan spiritual karena kerancuan menganggap fenomena ini sebagai tujuan. Lalu menjadi kehilangan pijakan di dunia nyata, mengawang-awang dalam intuisi dan salah kaprah dengan menjadikan intuisi, yang adalah pengalaman subyektif, sebagai alat pengetahuan yang obyektif dan mutlak…. (Tomyarjunanto)
————————————–
Mas Tomy,
Terima kasih, njenengan telah mengingatkan saya untuk selalu berpijak di … bumi, untuk tidak … terjegal …. Untung ada njenengan disini ! (-:
tomyarjunanto
Mei 5th, 2012 pada 13:25
NIBBANA & KAWRUH JIWA
Melanjutkan tentang Kawruh Jiwa, ada kesamaan dengan ajaran Budha.
Bahkan Ki Ageng Suryamentaram pengusung Kawruh jiwa dengan Ngelmu begjanya, kisah hidupnya hampir sama dengan Sidharta.
Beliau seorang pangeran putra HB VII, yang merasa kecewa dengan kehidupan istana dan “ketidakbahagiaan” manusia.
Beliau melepas kedudukannya sebagai pangeran, lalu tinggal di Bringin Salatiga, mencari sejatine manungsa. Pencerahan Ki Ageng Suryamentaram dikisahkan sebagai berikut :
Pada suatu malam di tahun 1927, Ki Ageng membangunkan isterinya, Nyi Ageng Suryomentaram, yang sedang lelap tidur, dan dengan serta merta ia berkata, “Bu, sudah ketemu yang kucari. Aku tidak bisa mati!” Sebelum Nyi Ageng sempat bertanya, Ki Ageng melanjutkan, “Ternyata yang merasa belum pernah bertemu orang, yang merasa kecewa dan tidak puas selama ini, adalah orang juga, wujudnya adalah si Suryomentaram. Diperintah kecewa, dimarahi kecewa, disembah kecewa, dimintai berkah kecewa, dianggap dukun kecewa, dianggap sakit ingatan kecewa, jadi pangeran kecewa, menjadi pedagang kecewa, menjadi petani kecewa, itulah orang yang namanya Suryomentaram, tukang kecewa, tukang tidak puas, tukang tidak kerasan, tukang bingung. Sekarang sudah ketahuan. Aku sudah dapat dan selalu bertemu orang, namanya adalah si Suryomentaram, lalu mau apa lagi? Sekarang tinggal diawasi dan dijajagi.
Hasil mengawasi dan menjajagi rasa diri sendiri itu menibulkan ”rasa bahagia”.
Nah bagi teman-teman yang beragama Budha, mohon berkenan untuk kita bisa kita saling berbagi.
Rasa akan Aku – adalah yang disebut sebagai Kramadangsa oleh Ki Ageng Suryomentaram, semua hal yang berkenaan dengan things (kesadaran akan materi) dan thoughts (kesadaran akan pikiran=Tukang Menggagas) seperti : pengalaman, penilaian, gagasan tentang orang lain, Tuhan, agama dan harapan,
Sedang dalam Budha, menyebut aku ini sebagai “Pancakhanda” , kombinasi dari paduan unsur-unsur fisik dan mental yang senantiasa berubah-ubah setiap detiknya, tansah langgeng owah gingsir. Pancakhanda ini, adalah rupa khanda (bentuk fisik yang terbentuk dari bumi, api, air dan angin), vedana-khanda ( perasaan-perasaan ), sanna-khanda ( pencerapan ; pengenalan terhadap objek ) , sankhara-khanda ( bentuk-bentuk pikiran ), dan, vinnana-khanda ( kesadaran yang timbul akibat kontak dengan objek ).
Dan Tukang Nyawang dalam Kawruh Jiwa yang menjajagi serta mengawasi Kramadangsa menurut saya sama dengan Meditasi pandangan terang dalam Budha. Sehingga Rasa Bebas ini yang mengerti bahwa tiada inti yang tetap, bahasa kawruh jiwanya Langgeng Owah Gingsir, dalam perkembangannya menjadi Rasa Bahagia, mungkin sama dengan apa yang disebut dengan pencapaian Nibanna
Sumangga teman-teman, Mas Balane Dewa dan Mas Franky Rudiyanto Tanojo mohon berkenan berbagi.
tomyarjunanto
Mei 5th, 2012 pada 14:07
Tentang sosok Ki Ageng suryomentaram ini ada yang membuat saya penasaran.
Berbeda dengan warisan beliau tentang Kawruh Pangawikan Pribadi atau Kawruh Jiwa yang telah menjadi wacana dalam kajian psikologi dan ditekuni oleh Saudara-saudara Jonggringan (wadah untuk saling bertemu dan berbagi Kawruh Pangawikan Pribadi), ternyata Ki Ageng Suryomentaram mempunyai warisan Ngelmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu yang diteruskan oleh Gubernur Jateng KRT Mr. Wongsonegoro dan juga mendiang simbah.
Dalam Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu dari Ki Ageng Suryamentaram inilah, pengetahuan tentang Guru Sejati dijabarkan begitu pula dengan Titining Sedulur seperti sedulur 4, 5, 9, 100,1000 dan lainnya yang pernah ditanyakan oleh Mas Wisnu Tiyang Jawi.
Mungkin Ngelmu Sastra Jendra Pangruwating Diyunya Ki Ageng Suryomentaram merupakan bagian dari Kawruh Jiwa yang bersifat esoteris, terbukti dari para Sedulur Jonggringan yang menekuni Kawruh Jiwa tidak ada yang tahu. Hal ini pernah saya tanyakan ke blog mereka : ilmubahagia.wordpress.com
Mungkin ada saudara yang bisa memberikan wawasan, sumangga untuk bisa berbagi disini.
Franky Rudiyanto Tanojo
Mei 5th, 2012 pada 15:35
Mas Tomyarjunanto, teimakasih saya diberi kepercayaan untuk berbagi disini. Sebelumnya kalau boleh bilang saya ini Buddha KTP alias Buddha abangan yang tidak pernah pegang kitab, hahaha. Perjalanan saya dalam menemukan kesadaran beragama dimulai suatu siang di vihara rumah kami, ketika saya akan membersihkan altar dan terasa di hati saya suatu perasaan lembut, kamu sudah berjalan jauh, kemana kamu akan melangkah…Jawab saya, saya menginginkan mencapai Buddha…Mengapa…Jawab saya, demi bisanya saya menjadi manusia berguna…untuk membalas budi Tuhan dan leluhur…
Sejak itu saya merasakan betapa hati dan pikiran saya selalu bergejolak, kadang bagai dibiarkan bergejolak, kadang bagai ada yang meredakan gejolak tadi, memberi kesempatan bagi saya mengambil hikmah dari gejolak tadi dan kemudian akan mulai gejolak baru, demikian dst.
Sampai akhirnya saya paham, emosi manusia itu pada dasarnya hanya terbagi dua :
- Senang karena sesuatu menguntungkan dirinya
- Susah karena dirinya merugi
Akhirnya saya belajar bahwa bersyukur dalam senang meredakan gejolak senang, dan juga mengurangi gejolak saat sedih. Karena hati tidak melambung tinggi, maka jatuhnya tidaklah sakit. Lama kelamaan saya belajar lagi bahwa ternyata kedamaian ada dalam hampanya kedua gejolak ini, bagaimana caranya, jangan mau senang, jangan mau pula susah. Akhirnya setelah saya mempertemukan kedua gejolak senang dan susah dalam hati saya, saya kehilangan kepentingan pribadi, yang sebelumnya selalu membebani setiap pertimbangan. Bahwa sebenarnya dalam setiap keadaan dan pilihan, porsi senang dan susah itu selalu seimbang, tidak ada senang tanpa susah ataupun susah tanpa senang. Keduanya selalu datang bergliran. Bila seorang mau menerima keduanya tanpa membedakan dan memberatkan salah satu, maka ia akan menemukan kedamaian dan hati nurani yang penuh dalam hidupnya. Dalam keadaan inilah cinta kasih terpancar tanpa terselubungi ego lagi. Demikian indahnya, bagaikan saya menemukan nibbana (surga dalam hati saya), hahaha…
Setelah mengalami ini semua, barulah saya menuliskan tentang cakra yang pernah saya bahas sebelumnya di forum ini, hehehe…
Semoga berkenan…
BUDI
Mei 5th, 2012 pada 22:15
Tapi tabir itu ternyata harus benar-benar diturunkan kembali..
bersama purnama yg bersinar, ku kecup malam dengan sungging senyum, melambaikan salam…
ma’afkan…. salamku beriring do’a di pekatnya malam…… jaga diri, kuatkan hati.
wisnu tiang djawi
Mei 6th, 2012 pada 13:34
Selamat Hari Raya Waisak..
Semoga semua makhluk berbahagia
Damai di bumi, damai di hati
Tuhan memberkati
Dewi
Mei 7th, 2012 pada 11:42
@ BUDI, Wisnu Tiyang Jawi,
Maturnuwun, saya juga mengucapkan Selamat Hari Waisak 2556, ajaran Budha akan selalu berada di hati umatnya, satu harapan besar dari hari Waisak adalah bahwa setiap manusia diharapkan dapat merenungi segala perbuatannya dan setiap saat selalu hidup dengan rasa cinta-kasih tanpa kebencian, seperti yang tertulis di dalam Dhammapada, “Kebencian tidak akan selesai jika dibalas dengan kebencian, tetapi hanya dengan memaafkan dan cinta-kasihlah maka kebencian akan lenyap.”
@ Franky Rudiyanto Tanojo,
Maturnuwun atas sharingnya pak, he he he… njenengan ini bisa aja, ternyata ada istilah budha abangan to?… xixixixixi…
What we call nibbana is that life needs balance.. A hindu priest said : dunia iya akhirat iya, kehidupan itu memang harus seimbang…
Ada kalanya kita sedih, ada kalanya kita bahagia, namun yang pasti kita harus bisa tetap saling asah, asih, asuh kepada saudara kita yang lainya, karena teman yang baik adalah teman yang selalu ada baik dalam suka maupun duka…
@ Tomyarjunanto,
Terima kasih selalu atas pencerahannya…. hmmuuaahh!!…
Ya memang kalau hasil pemikiran di ambil dari berbagai sumber agama atau aliran lain memang kurang trep dengan kemurnian ajaran kaweruh jawa atau kejawen. Dan memang banyak aliran sungai di dunia ini toh muaranya ke samudra luas juga. Tapi ada yang berusaha untuk naik gunung… karena manusia berusaha untuk mengerucut menjadi sebuah titik lalu kembali 0… menjadi kodrating guru sejati yang akan menuju kesejatian…
@ All,
Saya mengucapkan… happy Monday!.. selamat bekerja, berkarya dan beraktivitas!…
Salam damai di hati damai di bumi,
Dewi
tomyarjunanto
Mei 7th, 2012 pada 13:04
Terimakasih Mas Franky atas perkenannya berbagi kisah hidup
Ya demikianlah Mas, sesungguhnya semua yang kita alami dan rasakan selalu menimbulkan dualitas :
- Kita senang, menimbulkan kemelekatan
- Kita susah menimbulkan penolakan
Dan semua berakhir dengan penderitaan, baik derita kelekatan dan derita penolakan.
Padahal bila kita mau membelah dualitas tersebut akan nyata bahwa tidak ada inti yang kekal, tidak ada senang & susah yang abadi, semua terus menerus muncul berganti-ganti, tansah langgeng owah gingsir.
Dan dalam kesempatan indah ini dalam semangat Waisak semoga kita semua dapat semakin memeriksa diri, adakah sebenar-benarnya aku, diriku, dan kepunyaanku (I, me, mine) yang kekal dan tak terkondisi?
Selamat Waisak bagi semua saudaraku disini
“Lepas lepaslah, biarkan kesadaran ini mencapai pantai seberang / peristirahatan abadinya – nyatalah.”
ariyadhana
Mei 8th, 2012 pada 07:48
Pantai seberang adalah disini saat ini…
Tempat kita bertolak juga tempat kita sampai
Tiada yang berbeda hanya cara pandang kita saja.
Dan memang kita tidak pernah kemana-mana.
Kita adalah energi yang terus menerus berubah gugus materinya karena proses kimia dan fisika.
Kita adalah fragmen-fragmen kehidupan, riak-riak dalam samudera energi semesta yang menyimpan tak terhitung memori kehidupan dan sisa-sisa gelombang atau frekwensi masa lalu.
Tidak ada identitas diri yang kekal, yang kekal adalah identitas kehidupan itu sendiri.
Bala(ne)dewa
Mei 8th, 2012 pada 09:50
@Mas Ariyadhana,
Ada pepatah Cina yang mengatakan perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah. Ada lagi yang bilang bahwa perjalanan kita lebih penting daripada tujuan kita. Ini karena manusia jarang berhenti. Mau ini, kalau sudah dapat ini saya pasti akan bahagia. Sudah dapat ini, ya kemudian mau itu, dan ini lagi, dan itu lagi ….,dst.
Pantai seberang ada disini : Surga dan neraka, yang dimaui dan ditakuti banyak orang, kan juga ada di SINI,SAAT INI ? Tidak usah ditunggu setelah manusia mati …
Acungan jempol itu dari saya untuk ke dua tulisan anda hari ini – saya kok tidak suka istilah posting . Mungkin saya tidak selalu bisa menulis, tapi acungan jempol tetap saya gunakan untuk tulisan2 yang bagus dan mencerahkan. Jempol ke bawah untuk tulisan2 dngan kualitas …. mbelgedes.
Salam
kuswanto
Juli 6th, 2012 pada 22:27
keseimbangan antara “sebab pertama” dan “sebab-akibat”
agama langit dan agama bumi, seimbang.
semua masih dalam pencarian, semua masih dalam penantian, dunia ini hanya tempat singgahan,
raden padhang truno joyo
Mei 7th, 2012 pada 19:51
sugeng dalu KI,salam tetepangan,nderek ngangsukaweruh,,,matur sembah nuwun sak derenge,salam knl ugo kagem mas TOMI
Bala(ne)dewa
Mei 7th, 2012 pada 19:53
Sumangga teman-teman, Mas Balane Dewa dan Mas Franky Rudiyanto Tanojo mohon berkenan berbagi.
——————————
@Mas Tomy ,
Pengakuan saya : Saya ini jan2 nya nyaris tidak tahu apa2 mengenai agama Buddha. Saya cuma tahu sedikit2 dari diskusi2 Ajahn Brahm di Youtube dan dari CD-CD beliau, percakapan2 saya dengan teman2 yang beragama Buddha, dan dari literatur mengenai agama ini, plus dari ‘duduk manis menghadap tembok mendengarkan keluar masuknya nafas saya saja .’ Konon, dalam aliran ‘Soto’ (Zen Buddha), yang terakhir ini sangat penting kalau bukan yang terpenting.
Oh ya, Kristen GNOSTIK, menurut Ajahn Brahm, banyak persamaannya dengan agama Buddha. (Sebelum Kristen GNOSTIK ini di … gasak aliran Kristen yang dominan sampai sekarang.) Kejawen juga sering mirip ajaran Oom Buddha, atau – mungkin terbalik – ajaran Oom Buddha sering mirip kejawen.
Tapi, saya cuma tahu … garis besarnya saja. Detilnya, saya ndak begitu mudheng. (Wong bodo ngaku bodo, sok keminter ..)
Tapi, saya percaya saya punya …. pengetahuan ‘dasar’ mengenai agama Buddha, Katholik/Kristen,maupun kejawen. Dari mana ? Mungkin dari … kehidupan saya sebelumnya …
Saya tidak tergesa-gesa untuk … mendalami agama Buddha, toh kalau tidak bisa di kehidupan saya yang sekarang kan masih ada kehidupan2 setelah (kehidupan) yang sekarang … Yang saya tahu, masih tingkat dasar : Kita tidak boleh membunuh, tidak boleh merugikan orang lain, tidak boleh ngomong yang tidak2, tidak boleh membalas dendam kalaupun kita disakiti atau dirugikan orang lain. Oh ya, saya juga masih sering baca2 Injil – umum maupun Gnostik – disamping buku2 yang lain – suci maupun tidak. Ya semacam ‘ Jack of all trades, master of none’ dalam hal agama, kepercayaan.
Yang saya tahu persis blog Mas Sabda ini penuh dengan orang2 ampuh,arif,waskita yang benar2 mau berbagi pengetahuan,pengalaman , dan kearifan,orang2 sekaliber Mas Tomy, Mas Jagad SJ, Mas js, Mas Tembayat, Cah Pathi, JDD, dll, disamping Mas Sabda yang mbaureksa blog ini. Tugas saya sekarang adalah belajar sebanyak mungkin dari panjenengan sedaya, yang bisa saya pelajari saya pelajari, yang terlalu njlimet atau nganeh-aneh i saya tinggalkan…
Mekaten,Mas Tomy.
Salam kangen lumpia Semarang
Bala(ne)dewa
ariyadhana
Mei 8th, 2012 pada 08:08
Salam kenal Mas Bala(ne) Dewa. Pandangan anda sangat inspiratif bagi saya.
Ada dua sisi pemahaman :
1. Sisi pertama adalah pemahaman karena tercerahkan secara kognisi atau rasio
2. Sisi kedua adalah pemahaman yang timbul dari pengalaman. Yang melibatkan “3E”, experiment, experience, and expertise (percobaan, pengalaman, dan keahlian).
Pemahaman secara kognisi coba diperoleh dalam relasi dengan teman-teman dengan saling belajar dan diskusi, Pemahaman secara 3E coba diperoleh oleh teman-teman yang melakukan laku hidup tertentu,
Idealnya, kedua sisi pemahaman ini harus berjalan seimbang dan serempak. Namun seringkali tidak seperti itu. Ada orang yang berjalan di sisi pertama, sehingga memutlakan rasio dan berkeliling-keliling dalam perbantahan kata-kata. Ada yang berjalan di sisi kedua, dan terjebak dalam pemahaman intuitif subyektif.
Setiap peziarah memiliki jalannya masing-masing, mereka pulang dari dari Pantai Seberang
dengan jalan yang sama ketika mereka pergi. Tidak ada satu jalan untuk dua orang, karena masing-masing memiliki rute yang berbeda. Itulah kenapa Buddha mengatakan, “Aku yang menunjukan jalan, dan engkau sendiri yang menapaki jalan itu.”
Semoga awal pertemanan saya dengan teman-teman di blog indah ini dapat membawa kita semua saling asah asih dan asuh mencapai Pantai Seberang.
_/\_
m
Mei 8th, 2012 pada 00:40
salam belajar
Bala(ne)dewa
Mei 8th, 2012 pada 09:28
“Aku yang menunjukan jalan, dan engkau sendiri yang menapaki jalan itu.” …….
Semoga awal pertemanan saya dengan teman-teman di blog indah ini dapat membawa kita semua saling asah asih dan asuh mencapai Pantai Seberang. (Ariyadhana)
———————————————
@Mas Ariyadhana,
Tepat sekali kutipan anda mengenai kata2 Buddha. Beliau bilang itu lho jalannya, mau kesana monggo, tidak ya tidak apa2, cuma resiko …. ditanggung penumpang.
Sedikit keluhan pada WordPress yang keminter : Maksud saya itu mau pakai gravatar ‘
Bala(ne)dewa’, huruf besarnya pada B saja. Lha kok sama WordPress dijadikan ‘Bala(Ne)Dewa’. Protes … kecil …. [ Apakah arti sebuah nama ? Baladewa,Bala(ne)dewa ,dll, tetap menunjuk pada saya yang belum mendapat pencerahan ...)-: ]
Kembali ke Buddha. Banyak kemiripan ajaran2 Oom yang satu ini dengan ajaran2 Yesus. Misalnya non violence – tanpa kekerasan – nresnani liyan, dll. Di blog tetangga Mas js yang ampuh itu baru2 ini menulis bahwa Isa, Yesus adalah tokoh yang paling beliau kagumi, padahal Mas js ini Islam, Islam KTP. Tapi , kejawen sering tak jauh berbeda …
Pernah saya tulis disini mengenai orang yang dapat berjalan di atas air. Ketemu Sang Buddha. Ditanya sama beliau berapa lama dia belajar sampai bisa berjalan di atas air. Dua puluh lima tahun, jawab orang itu. Weh, apa cucuk , kata Oom Buddha, dua puluh lima tahun, padahal untuk menyeberang sungai dengan perahu hanya dibutuhkan beberapa sen – beberapa ratus rupiah lah .
Mas Tomyarjunanto yang ampuh itu beberapa hari yl menulis mengenai perlunya kita … membumi, jangan mengawang-awang saja ; harus bisa membedakan mana pengalaman yang ‘subyektif’, mana realitas … ‘After the Ecstasy, the Laundry’, judul sebuah buku mengenai meditasi Vipasana karangan Jack Kornfield. Setelah ekstasi – kegembiraan yang ruarr biasa – mencuci baju2 kotor …. (-: Tidak hanya itu, cari nafkah membanting tulang, bersih2 rumah,dll.
Blog Sabdalangit ini tempat berkumpul orang2 arif, waskita. Tapi sering kedatangan orang2 yang …. entah dari planet mana, menulis yang sepertinya asal menulis, asal bunyi … Tapi, ya yang berguna saya ambil , yang tidak ya saya tinggalkan.
Pantai Seberang : Saya suka istilah ini. Saya tidak ingat apa saya pernah mendengar/membaca kata ini. Terima kasih – satu kata yang berguna, yang mencerahkan lebih baik daripada seribu kata2 kosong, kata Oom Buddha.Saya datang di blog Mas Sabda ini dengan semangat seduluran – persaudaraan, mencari teman yang dapat menunjukkan jalan ke Pantai Seberang. Bukan untuk cari musuh … (Musuh saya sudah banyak : nafsu2 tamak, sifat2 iri dan dengki, kecemburuan, kemalasan, dll, yang menempel pada saya.)
Salam katresnan pencerahan
R Gentholet
Mei 8th, 2012 pada 10:15
Para sedherek,
Dari Kompasiana, harian Kompas 8 Mei,2012.
——————————–
Preman Berjubah
Kekerasan ada di mana-mana. Selagi manusia tidak kuasa mengendalikan dirinya. Kekerasan akan menjadi senjata.
Orang-orang yang suka melakukan kekerasan preman namanya. Kalau para berandal yang bertato melakukan tindakan premanisme itu biasa. Karena memang hidup mereka.
Tetapi di negeri tercinta. Negeri para suci dan beragama. Indonesia. Premanisme merajalela.
Bisa bebas dilakukan aparat negara. Yang seharusnya melindungi rakyatnya. Bisa juga dilakukan para siswa. Tak mau kalah para suporter sepakbola. Premanisme memang ada di sekitar kita.
Kini hadir preman berjubah namanya. Melakukan kekerasan atas agama. Nama Tuhan dibawa-bawa. Menunjukkan bahwa mereka paling benar sedunia.
Para polisi pun tak berdaya. Malahan ikut membela. Dengan berbagai argumen yang bikin geleng-geleng kepala.
Tetapi sebenarnya ini sudah biasa. Para aparat lebih membela yang berkuasa.
Kekerasan itu tidak boleh ada. Apapun alasannya. Apalagi dilakukan oleh kaum beragama. Karena agama ada adalah untuk mendamaikan dunia. Mengikis kekerasan yang ada pada manusia.
Bila ada sebagian kaum agama yang melakukan kekerasan dengan bangga. Itu lucu dan bikin tertawa. Mengingkari kebenaran yang ada.
Namun tidak sedikit yang menjadi buta. Tertipu oleh label agama. Mentang-mentang kekerasan itu dilakukan oleh preman berjubah sama dengan agamanya. Mati-matian membela.
Kalau kesadaran ada. Bukankah sesungguhnya tidak ada ajaran kekerasan dalam agama? Semua agama mengajarkan damai dan cinta. Itulah kebenarannya.
Bukankah agama ada untuk menciptakan surga di dunia? Bukan menjadikannya seperti di neraka!
Tetapi kekerasan menjadi pembenaran bagi preman berjubah yang tak kuasa menahan nafsunya.
Sesungguhnya preman berjubah justru telah mencoreng kebaikan dan kemuliaan agamanya pada dunia.
Semoga angin damai di surga segera berhembus ke dunia. Menghadirkan damai sejahtera.
Tags: agama, preman berjubah, kekerasan, oleh :Katedrarajawen
tomyarjunanto
Mei 8th, 2012 pada 11:55
pamuji rahayu dan Salam Kesadaran, saudara-saudara tercinta.
Sungguh berbahagia bisa bertemu dengan Dhammamitta, Dharma Mitra, sahabat seperjalanan dalam menjalani dharma hidup kita masing-masing.
Memang dalam banyak hal, ajaran Kejawen sama dengan ajaran Budha, juga sama seperti ajaran timur lainnya,
Pencapaian puncak spiritualitas adalah ‘sunya’ atau dalam bahasan Kejawen disebut ‘awang-uwung’, ‘sejatine ora ana apa-apa’, ……
Namun tentu arti kata tersebut bukan berarti ketiadaan yang menjadikan fatalis dengan kehampaan hidup, lalu tidak mau berkarya atau melakukan apapun lagi.
Sunya atau awang-uwung memberi maksud kita tak lagi terperangkap dalam pandangan dualitas, karena sesungguhnya tiada inti yang kekal. Dan bathin ini tidak menemukan kaitan antara aku, diriku, dan milikku dari apa yang sedang dialami.
Dan bila boleh saya kait-kaitkan, dan mohon dikoreksi kalau salah, apa yang dilakukan Mas Balane Dewa dengan ‘duduk manis menghadap tembok mendengarkan keluar masuknya nafas di aliran ‘Soto’ (Zen Buddha) adalah sama dengan meditasi pandangan terang atau yang disebut Ki Ageng Suryomentaram sebagai Tukang Nyawang kang njajagi lan ngawasi Kramadangsa Si Tukang Menggagas itu.
Dalam pandangan terang itu bathin ini tidak menemukan aku, diriku, dan milikku dari semua yang nampak dalam benak, dalam apa yang dilihat, dirasakan, dicerap, tidak memberi diri dikaitkan dengan semua pengalaman itu.
Bagaikan alam yang hening tiada memuji, tiada mengeluh dan hanya asyik melihat, dan menyokong, dan merahimi mahluk-mahluk hidup menjalani hidupnya dalam kodratnya masing-masing. Itulah awang-uwung.
Seperti yang ditulis Mas Ariyadhana : Tidak ada identitas diri yang kekal, yang kekal adalah identitas kehidupan itu sendiri.
Sehingga dalam hal ini Pantai Seberang pada hakekatnya adalah pelepasan segala lekatan-lekatan kotor yang selama ini melekati batin kita. Mencapai kesadaran rasa. Sadar dan menyatakan, tidak sekedar realize, namun juga release melepaskan.
Dan setelah kita bisa lepas bebas, sudah ‘duwe rasa ora duwe rasa duwe’, kita dimerdekakan dalam memilih prioritas hidup kita. Prioritas hidup yang kita maknai sendiri secara subyektif sesuai Dhamma dan jalan hidup kita masing-masing.
Ki Ageng Suryomentaram masih tetap berjuang untuk memerdekakan bangsanya dari penjajahan dengan menggagas PETA dan Taman Siswa.
Sidharta terus membabarkan Dhamma tidak mengasingkan diri di gunung-gunung sunyi. Yesus sendiri setelah dipenuhi Roh Kudus dengan semangat patriot mudanya juga berjuang membebaskan bangsanya dari penjajahan Romawi meski resikonya dihukum mati dengan cara yang tidak terhormat.
salam karaharjan
Sabda Pengrungu
Mei 8th, 2012 pada 13:33
ditunggu………
sabda selanjunt-nya….poro Pengucap Sabda,
Bala(ne)dewa
Mei 8th, 2012 pada 14:15
‘ Sidharta terus membabarkan Dhamma tidak mengasingkan diri di gunung-gunung sunyi. Yesus sendiri setelah dipenuhi Roh Kudus dengan semangat patriot mudanya juga berjuang membebaskan bangsanya dari penjajahan Romawi meski resikonya dihukum mati …’
———————————–
Sidharta dan Yesus akhirnya mati …. Itu tidak begitu penting … dibanding dengan tetap hidupnya ajaran2 mereka, tentang nresnani pepadha – sesama, tentang welas asih pada sesama ( mahluk ), tentang berbuat kebaikan pada orang lain,dll.
Satu hal mengenai kejawen, yang pernah saya lupakan : demit, setan (kober), mahluk halus, dan semacamnya, semua … dihormati …
Meditasi aliran Soto, maupun aliran2 lain : nampaknya meditasi sifatnya universil, tidak dimonopoli oleh satu budaya/bangsa. Meditasi juga tidak harus … duduk
manis,bisa sambil berdiri atau berjalan. Yang terakhir ini mengingatkan saya pada jalan membisu mengitari ‘benteng’ di Yogya. Cuma, dalam meditasi duduk, orang2 Buddha sering pakai bantal meditasi yang diletakkan persis di pinggul. Mboh kenapa, mungkin Mas Tomy bisa menjelaskan. (Belum pernah saya lihat orang Jawa semedi memakai bantal pinggul.) Tapi, mungkin pemakaian bantal penyangga pinggul ini tidak begitu penting di tradisi yang lain .
Ada banyak jalan menuju Roma .
Salam
the stars
Mei 8th, 2012 pada 15:08
Salam rahayu , monggo dilanjut pencerahannya kang mas bala (ne)dewa,kang mas tomi,dll. ^_^
wisnu tiang djawi
Mei 8th, 2012 pada 15:36
Salam karaharjan poro sedulor
Sungguh merupakan anugrah bisa ngangsu kawruh di blog Ki SABDA dgn para sesepuh yg arif, waskito. Dan utk para pencari jalan kesejatian pastinya akan tercerahkan oleh ulasan/pengalaman dr para sesepuh engkang pinilih,,, dan saya mengambil hikmah dr pengalamn/share dr para sesepuh di Blog ki SABDA yg notabene dr berbagai macam aliran( Islam,kristen,budha,hindu,kejawen,atheis dll) Di sini saya menggambarkan blog ini merupakan gambaran jiwa qta dalam mencari jatidiri… dan ki SABDA sbg guru sejatinya,,,hehehe, Saya hanya ingin menyimpulkan bahwa semua AJARAN/ILMU pastilah ada INTISARI- dan didalam INTISARI masih ada SARIPATI-nya,,,, kadang dalam belajar ngilmu qta hanya belajar hanya sampai batas intisarinya,,,dan qta lupa akan saripatinya dr semua ILMU/AJARAN itu sendiri,,,dari semua ulasan yg sesepuh berikan saya menyimpulkan bahwa SARIPATI dr semua AJARAN/ILMU itu adalah “KASIH”,,, karena itulah wujud TUHAN yg SEJATI,,, terbukti bahwa ALAM SEMESTA beserta mahkluk hidup diberikan kehidupan dan itu semua karena “KASIH”,,,, maka tebarkanlah KASIH pd semua mahkluk,alam semesta dan seisinya,, itulah SURGA bg manusia!
Maaf bila ada kata” yg gak berkenan,,,,
Salam DAMAI-KASIH utk semua MAHKLUK
Bala(ne)dewa
Mei 8th, 2012 pada 16:11
Februari 15th, 2012 pada 05:43
@Mas Jagad SJ,
Iya, kalau soal kasih – kasihan, termasuk welas asih, akan selalu saya … dukung … Ya sekarang, besok,lusa, sepanjang segala abad lah ! (-: … Konyolnya, ada saja yang … alergi dengan kata kasih/welas asih ini ! ….
——————————
@ Mas Wisnu Tiang Djawi,
Re kasih : Yang di atas itu tulisan saya di thread ‘Sumpah Budaya II ‘,untuk Mas Jagad SJ, salah seorang tokoh ampuh disini. Terus, ada puisi mantra karya Sutardji CB yang sederha-hahahaha-na, tapi mengena (-: Puisi itu pertama kali saya baca ketika saya masih muda kinyis2 – lebih dari tiga dekade yl. Tapi waktu itu saya anggap puisi ini tidak mutu, dan saya tidak begitu percaya … mantra… Waktu berlalu, perlahan tapi pasti. Tiba2, ujug2, saya dah jadi orang … tua. ( Jeng Dewi itu kalau panggil saya ‘paklik’ je. …) Mantra itu ternyata ….’mandi’ – manjur ….
Ini mantra Sutardji CB : …kawin kawin kawin kawin kawin kawin kawin kawin kawin kawin kawin kasih kasih kasih kasih kasih kasih kasih kasih kasih …ka ku .
(Tragedi Sihka Dan Winka )
Salam mantra katresnan, katresnan mantra (-:
Sabda Pengrungu
Mei 9th, 2012 pada 15:14
salam….”roh.mani – rohiim” …ya Kang…
Cah Pathi
Mei 8th, 2012 pada 23:04
Salam poro pinisepuh,
Wah, menarik sekali ulasan poro pinisepuh,
Kang Balane Dewa, kang Tommy, Kang Franky, Kang Ariyadana, Kang Wisnu Tiyang Jawi, dan Kang Dogmania di ruang sebelah,…
-Kang Balane Dewa, dengan mantera katresnan, ulasan meditasi, soto dan nasi gandul (yang ini khas pati), nuwun sewu paklik Balane Dewa, mengenai meditasi -memang harus fokus, konsentrasi, jika dilakukan dengan berjalan, wah mana bisa konsentrasi paklik?- keluar masuk nafas, hanyalah salah satu objek, sebagai awalan agar bisa fokus, dan itu bisa sambil duduk, berdiri, dan tiduran.
Fokus dengan tidur adalah meditasi yang paling alami, paling rileks, itu nasi gandhul-paklik. Jika tidk fokus manabis disebut meditasi Paklik?
-Kang Tommy, Pandangan Terang, adalah su-nyata- bukan sunya-awang-uwung (maaf Kang saya nggak mampu nahan diri), maaf lho Kang Tommy, karena dalam pandangan terang, diawali dengan ke-kosong-an, tapi pandangannya adalah nyata, apa yang sedang terjadi atau apa yang akan terjadi, semua terlihat dengan jelas, se-nyata-nyata-nya, dalam Pandangan-KU- sebagai ITU-
Kang Wisnu,
dengan kasih adalah segalanya, tapi, mana mungkin kita bisa makan jika tidak…. …….membunuh padi?
Kang Ariyadana,
Menarik sekali pantai seberangnya, tapi kita kebanyakan tidak menyadari, bila kita sebenarnya berada di pantai seberang itu sendiri.
Rasa Kasih,
Rasa Keadilan,
Jalan Kasih, dimanakah letaknya?
Jalan keadilan, dimanakah tempatnya?
Akankah kita sembuhkan perampok yang sakit, jika dia sembuh akan merampok lagi?
Akankah kita sembuhkan pembunuh yang sakit, jika dia sembuh akan membunuh lagi?
Akankah kita kelaparan, jika kita mengasihi tanaman?
Tidakkah lebih enak kita makan bila lapar?
Tidakkah kita lebih enak menerapkan sesuai dengan situasi yang lebih pas?
Tegas bila diperlukan, kasih bila dibutuhkan.
Salam Damai,
wisnu tiang djawi
Mei 9th, 2012 pada 01:26
dengan kasih adalah segalanya, tapi, mana mungkin kita bisa makan jika tidak…. …….membunuh padi?
——————————————————————————————————-
Kang Cah Pati
Trimakasih atas koreksinya kang Cah Pati,,, bener skali klo qta makan qta pasti membunuh tanaman/hewan,,yg dimaksud “KASIH” disini bukan berarti qta gak boleh membunuh binatang/makan tumbuh”an,,bukankah alam semesta dan isinya ini diciptakan oleh TUHAN utk manusia,,,dan manusia diberi akal dan pikiran utk mengolahnya,,mengasihi alam semesta dan isinya itu maksudnya qta boleh makan binatang/tumbuh”an akan tetapi qta tetap harus melestarikan jgn sampai membabibuta atau semau gue, itu sebuah EKOSISTEM,,,yang hrs sesuai dgn HUKUM KESEIMBANGAN ALAM, karena KASIH TUHAN yg begitu besar kpd manusia , ALAM SEMESTA itu ibarat sebuah katalog bagi qta dan Alam semesta meyediakan semua keperluan utk MANUSIA,,bukankah manusia tinggal memilih?? TUHAN berfirman “mintalah maka kau akan KU-beri” itulah “KASIH YANG MAHA AGUNG”
maturnuwun
salam KASIH
Bala(ne)dewa
Mei 9th, 2012 pada 02:31
@Mas Cah Pathi,
Memakan padi memang …. membunuh. Tapi di dunia tidak semua mahluk mempumyai kesadaran yang sama. Kalau hutan terbakar, misalnya, harimau,kijang,kancil,dll, pasti akan lari menghindari api karena panas. Padi tetap saja akan membiarkan dirinya terbakar karena dia tidak … setaraf binatang, dia tidak bisa mengaum atau mengembik atau mengaduh. Dan padi tidak … berdarah kalau kita mem’bunuh’nya.
Manusia harus makan untuk hidup. Ya makan padi – nasi – kangkung, tomat, dll. Tapi, manusia tidak harus membunuh kambing yang bisa mengembik, yang punya rasa takut maupun rasa gembira seperti manusia. Itu idealnya.
Manusia perlu nresnani liyan tanpa pandang bulu. Prakteknya saya lebih bisa nresnani Dewi Murni yang berkembenkan sutra ungu daripada daripada Dewi Perssik yang jarang berkemben ….
Sabda Pengrungu
Mei 9th, 2012 pada 16:28
dengan cinta kasih yang kita tebarkan ke alam semesta….
saya yakin beliau-beliau (padi,ketela,mbek,pitik,babi,guk-guk,etc) pasti akan rela dan iklhas menyerahkan diri-nya untuk memuliakan manusia, tentunya sangat merasa beruntung beliau-beliau itu bilamana manusia yang dimuliakan-nya itu memiliki cinta kasih yang tulus. Bukan hanya sebatas kebahagian semu yang akan mereka dapatkan, namun kesejatian hidup (manunggaling kawulo lan gusti = alam menyatu dengan manusia),
beliau (padi,ketela,mbek,pitik,babi,guk-guk,etc) pasti akan bisa merasakan hidup dan terhidupi…karena menyatu di dalam darah dan nafas…manusia itu, surga sejati yang selalu mereka dambakan. Mereka bersemayam disana, merasuk ke dalam jiwa, membisikkan sabda sejati ke dalam sanubari sang sejati…mendorong-nya untuk menggapai kemuliaan hakiki.
memberi manusia itu energi dan manfaat lahir maupun bathin….menjadikan-nya pemicu semangat dalam diri untuk turut memuliakan alam serta menjaga-nya, menuju keselarasan yang penuh kedamaian, ketentraman dan kebahagian jiwa..hingga terdapati puncak kesadaran sejati itu…dan manunggal ke dalam kesejatian sang sejati. (jagad rasa-jagad sari, jagad-nya manusia dalam diri)
sebisa mungkin makanlah dengan penuh rasa syukur disertai kesadaran cinta kasih untuk beribadah…
tentunya ukuran makan itu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu.
Mungkin diantara kita, ada yang menganggap bahwa sebagian makhluk itu, serakah dan tak mampu mengendalikan nafsu makan-nya….Namun apakah alam juga menganggap makhluk itu serakah..??? (jika porsi yang dia butuhkan memang segitu)…Tentunya alam ini lebih mengetahui-nya, sungguh dia (alam) yang tk pernah lelah menebar “cinta kasih” kepada setiap penghuni-nya, tidak ada salah-nya jika kita pun mencoba untuk membalas cinta kasih-nya ??? setelah apa yang telah kita terima selama ini, meski itu hanya sehelai nafas sebagai wujud syukur atas cinta kasih-nya.
Bala(ne)dewa
Mei 9th, 2012 pada 02:08
-Kang Balane Dewa, dengan mantera katresnan, ulasan meditasi, soto dan nasi gandul (yang ini khas pati), nuwun sewu paklik Balane Dewa, mengenai meditasi -memang harus fokus, konsentrasi, jika dilakukan dengan berjalan, wah mana bisa konsentrasi paklik?- keluar masuk nafas, hanyalah salah satu objek, sebagai awalan agar bisa fokus, dan itu bisa sambil duduk, berdiri, dan tiduran.
Fokus dengan tidur adalah meditasi yang paling alami, paling rileks, itu nasi gandhul-paklik. Jika tidk fokus manabis disebut meditasi Paklik?
———————————-
@Cah Pathi, para sedherek,
Konon, ada RIBUAN cara meditasi. Mas Sabda malah menulis ada MILYARAN cara untuk meditasi. Meditasi biasa dibagi menjadi dua : konsentrasi dan kesadaran – mindfulness. Dalam meditasi konsentrasi kita fokus pada satu titik , misalnya – yang populer – nafas, atau mantra – kata atau phrasa yg diulang-ulang. Yang ini sederhana, semua orang bisa ….
Meditasi kesadaran – mindfulness – lebih njlimet. Kita fokus pada satu titik, tapi tetap sadar akan hal2 yang ada di sekitar kita. Sepertinya kita duduk di pinggir kali, konsentrasi, tapi kita tetap sadar adanya burung2 yg berterbangan, bebek2 dan kerbau2 yg mandi, dll. Tapi , burung2, bebek2 dan kerbau2 itu hanya kita … amati TANPA komentar , misalnya (tanpa) wah burung/bebeknya cantik atau cerewet, wah bebeknya nututi sabun wangi,dll.
Orang2 Buddha baik aliran Theravada maupun Zen sering bermeditasi (sambil) berjalan. Metodenya nyaris sama dengan meditasi duduk. Tapi, salah SATU cara yang sering diajarkan adalah menyelaraskan langkah kaki dengan pernafasan. Contohnya, empat langkah kaki – kiri kanan kiri kanan – dalam SATU tarikan nafas, empat – atau lima – langkah lagi ketika mengeluarkan nafas. Orang2 Buddha sejak zaman Oom Buddha Gautama 2500 tahun yl sudah melakukan meditasi jalan ini.
Oh ya, orang2 Aborijin dari Australia dan orang2 Indian di Amerika, konon, juga bermeditasi berjalan. Setahu saya mereka berjalan tanpa tujuan tertentu, hanya berjalan , dan DIAM.
Meditasi nyaris bisa dilakukan dimana saja dengan berbagai cara – duduk, berdiri, berjalan, dan sambil …tiduran, dengan mata tertutup, setengah tertutup, maupun dengan mata terbuka . Oom Buddha sendiri mengajarkan itu. Masalahnya dengan meditasi sambil klekaran – tiduran – adalah orang sering … tertidur … Lha, nek (ter)tidur rak namanya bukan meditasi lagi. Tambahan : Tai chi dari Cina , yang seperti ‘kata’ dalam karate, atau ‘ kembangan’ dalam pencak, tapi dilakukan dengan perlahan-lahan, sering dikatakan sebagai meditasi (bergerak).
Ngomong2, bukan cuma Oom Buddha yang mengajarkan meditasi kesadaran – mindfulness. Jauuuh sebelum Sang Buddha mendapat pencerahan orang sudah ber meditasi.
Sudah banyak mbel(gedes) di dunia ini. Saya cuma menulis yang saya tahu, meskipun sedikit. Saya tidak akan berpura-pura menjadi … konsultan meditasi. Saya tak mau menambah jumlah mbel di dunia ini , membuat hidup yang sudah njlimet menjadi semakin njlimet.
Mekaten, Mas Cah Pathi lan para sedherek. Mohon dikoreksi kalau ada yang salah.
Salam katresnan meditasi, meditasi katresnan
tomyarjunanto
Mei 9th, 2012 pada 08:29
Hmm.. semakin gayeng cangkrukannya
Ya Mas Bala(ne) Dewa patrap semedi ada sangat banyak sekali. Memang kebanyakan dengan cara bersila baik sikap sidha maupun padma, namun ada juga yang dengan simpuh/vajra, dengan selonjor maupun berbaring. Dan juga pastinya ada yang dengan bernyanyi seperti kidungan, ada yang bermain music seperti gamelan dan menari seperti taichi, srimpi dan kembangan silat. Dan bagi saya yang enak yaitu yang sambil klekaran tadi, Cuma masalahnya ya itu keterusan molor
Maksud saya dengan kesamaan meditasi sudah dijelaskan oleh panjenengan dengan meditasi mindfulness. Bukan patrapnya namun objek meditasinya yaitu kesadaran. Memang pertama kali yang paling mudah adalah konsentrasi dengan keluar masuknya napas. Hal ini untuk melatih kebiasaan dan disiplin diri, lalu yang terutama adalah meditasi kesadaran itu.
Tentang awang-uwung atau sunya, itu memang masalah pengistilahan saja.
Dan tentang yang dimaksud dengan pandanganKU sebagi ITU oleh Mas Cah Pathi, realita yang dipandang dan bagaimana diri ini menanggapi, mungkin bisa dibantu penjelasannya oleh Heidegger seorang filsuf Jerman:
manusia bukanlah mahluk yang murni ada untuk mengetahui realitas di sekitarnya. Manusia hidup dengan hasrat, tujuan, dan kepribadian yang unik. Semua ini, menurut Heidegger, mempengaruhi cara manusia berhubungan dengan realitas di sekitarnya. Gambaran tentang realitas lahir dari penghayatan orang tersebut tentang realitas, dan apa yang menjadi latar belakangnya.
Seorang pelukis akan melihat lukisan abstrak sebagai karya seni yang indah. Sementara orang lainnya, atau pelukis dengan selera berbeda, akan melihat lukisan abstrak sebagai coretan tak berpola dan tak indah dipandang mata. Lukisan abstrak mengungkap dirinya secara berbeda pada orang-orang yang berbeda. Keduanya benar, dan keduanya, menurut Heidegger, adalah dua sisi yang berbeda dari satu realitas yang sama. Obyek yang mengungkapkan dirinya, itulah makna kebenaran menurut Heidegger.
Dan bagi filsafat timur yang keluar dari konsep dualitas, pemahaman terhadap tanggapan akan realita yang menampakkan diri itulah yang menjadi concern bahwa sesungguhnya tiada inti yang kekal, semua selalu berubah, baik pikiran kita yang menanggapi (ini dalam hitungan per detik) ataupun bentuk-bentuk fisik .
Dan hal ini bisa membantu kita untuk masuk kedalam topic selanjutnya tentang kasih seperti yang telah Mas Cah Pathi ingatkan bahwa bentuk kehidupan selalu mengambil kehidupan dari yang lainnya.
Inilah natur kehidupan itu sendiri.
Gerak dari alam yang langgeng owah gingsir, bersifat abadi terus menerus mewujud, berkembang dan terurai, mewujud, berkembang dan terurai, bahkan dalam kadar tertentu bergantung pada asas ketidakpastian. Gerak alam inilah yang dalam hinduisme disebut sebagai trimurti :
1. Brahma adalah personifikasi sifat alam sebagai sang pencipta,
2. Wisnu adalah personifikasi sifat alam sebagai sang pemelihara,
3. Shiva adalah personifikasi sifat alam sebagai sang pelebur, yang nantinya kembali lagi pada penciptaan sesuatu yang baru lagi (disebut juga brahmacakra – siklus penciptaan semesta).
Inilah sifat dari kehidupan, alam tidak pernah memberi hidup tanpa mengambil kehidupan dari yang lainnya. Itulah kenapa Gautama mengatakan hidup ini dukkha, yang berarti bersifat menderita atau tidak sempurna, tidak memuaskan secara total. Karena eksistensi kehidupan kita ternyata ditopang oleh
kematian mahluk lain. Suatu kematian menopang suatu kehidupan. Dan pada gilirannya nanti bentuk-bentuk kehidupan ini akan mati untuk menopang bentuk-bentuk kehidupan yang lain.
Cah Pathi
Mei 10th, 2012 pada 03:40
Salam poropinisepuh ingkang arif wicaksono,
Antara AKU, DIA dan MEREKA
Hidup adalah simple dan mudah dipahami bila menjadi AKU,
Bala(ne)dewa
Mei 10th, 2012 pada 11:32
@ Cah Pathi,
Tanpa maksud untuk mengoreksi AKU, bagaimana dengan … KITA ? AKU mengandaikan (adanya) DIA / MEREKA . Ada jarak atau jurang antara AKU dan Dia/Mereka. Milik KU dan milik Dia, hidup KU dan hidup nya … Gimana nek milik KITA, hidup KITA ?
Cah Pathi
Mei 10th, 2012 pada 04:09
Salam poropinisepuh ingkang arif wicaksono,
Antara AKU, dia dan MEREKA
Hidup adalah simple dan mudah dipahami bila menjadi AKU,
Kebijaksanaan ada, bila menjadi dia-pantai seberangnya,
Kedamaian akan ada, bila bukan dia dan MEREKA,
Temuilah AKU, maka aku akan menyederhanakan hidupmu,
Peliharalah Raga-mu, tapi jangan lupakan sebagai AKU,
Ingatlah AKU, untuk jalan memelihara RAGA-mu,
Karena akan kukembalikan semuanya, untuk KAMU, bukan untuk DIA dan MEREKA,
Berjuanglah untuk kamu dan keturunanmu,
Lepaskanlah bila di luar jangkauanmu,
Kendalikanlah dengan keras LIARMU,
Jangkau-lah sejauh-jauhnya, menurut jangkauanmu,
Pahamilah DIRIMU, maka kamu akan kenal AKU,
Sebagai ANGKASA, dan sebagai BUMI,
Karena kamu adalah ke-DUA-DUA-nya,
Karena makananmu dari BUMI, dan RUH-mu dari ANGKASA,
Kebahagiaan ada di BUMI,
Kebahagiaan SEJATI ada di ANGKASA,
KEDAMAIAN SEJATI ada di HATI,
Yang membahagiakan BUMI.
Salam DAMAI,
-fajar yang damai-
tomyarjunanto
Mei 10th, 2012 pada 09:03
BERBICARA DENGAN TUHAN
Sebuah keprihatinan yang sangat mendalam ketika mendapati di negeri tercinta ini terlalu banyak orang berbicara TENTANG Tuhan.
Di blog inipun yang dibangun oleh Mas Sabdalangit sebagai wahana saling asah asih asuh sesama anak bangsa dalam membangun sebuah peradaban bangsa yang mumpuni sesuai dawuh Para Leluhur, banyak sekali komentar waton sulaya yang tak hanya berakhir dengan saling menghujat bahkan kata-kata makianpun tak jarang terlontar.
Menanggapi hal tersebut seijin Mas Sabdalangit pribadi, saya mencoba untuk mengajak kepada Saudaraku semua untuk tidak lagi berlatah-latah bicara TENTANG Tuhan namun lebih kepada berbicara DENGAN Tuhan.
Berbicara TENTANG Tuhan tak akan bertemu ujung pangkalnya, karena masing-masing membawa pemahaman sendiri, keimanan sendiri yang dirasa paling benar.
Namun berbicara DENGAN Tuhan adalah berbicara dengan diri kita masing-masing, jujur dan terbuka terhadap diri kita masing-masing,
Karena Tuhan sejati ditemukan dalam Kesadaran kita sendiri, seperti yang telah dimadahkan oleh Mas Cah Pathi dengan begitu indah sebagai AKU.
AKU, saya menyebutnya dalam tulisan terdahulu sebagai INGSUN, adalah inti jati diri kita. Sedang aku adalah lapisan luar jati diri.
Jati diri adalah “relasi AKU dan aku” yang menunjukkan kualitas kemanusiaan seseorang
AKU tetap, karena ia orientasi kesadaran kita. Sedang jati diri kita bukan sesuatu yang diberikan sekali jadi untuk tetap selama-lamanya.
Jati diri akan kita temukan selama kita menguliti bagian aku, negasi dari segala hal yang dianggap AKU.
Cara melepas aku adalah dengan menyadarinya sebagai aku.
Jujur terhadap perasaan karena biar bagaimanapun, perasan yang muncul itu sifatnya netral, tak perlu diingkari. Kritik terhadap perasaan negative hanya berlaku ketika kita “teridentifikasi” dengan perasaan itu.
AKU ini adalah non dualitas, Kesadaran dimana-mana, yang tidak dapat dibagi, dan Kesadaran ini adalah satu-satunya yang nyata, abadi, dan menciptakan segala ‘sesuatu’ di alam semesta.
Dan kesadaran yang melupakan dirinya, yang mengidentifikasi dirinya adalah si aku.
Si aku ini mengidentifikasi diri sebagai Muslim, Kristen, Budhis, Wong Jawa, Wong Sekti, Wong Gemblung, Kekasih idaman hati, Pembenci, Pengecut, Pemberani, Ulama, Awam.
Berbicara DENGAN Tuhan berarti pula kontak dengan realitas, seperti yang diterangkan dengan indah oleh Mas Bala(ne) Dewa tentang meditasi mindfulness, sungguh-sungguh sadar, sungguh-sungguh hidup disini, di saat ini. Jujur dan terbuka terhadap rasa pangrasa kita yang mungkin bukan perasaan lega, perasaan aman, perasaan tenang yang muncul karena pemenuhan kebutuhan psikologis kita.
Berbicara DENGAN Tuhan bukan pemenuhan kebutuhan psikologis kita namun pengalaman ketika kita betul-betul kontak dengan realita, sungguh menikmati apa yang ada, sungguh hidup disini dan kini.
Nah mari berbicara DENGAN Tuhan, membangun relasi dengan kesadaran kita sendiri, jujur dan terbuka terhadap aku.
Terima kasih kita ucapkan kepada semua Saudara yang telah secara tulus turut berbagi perjalanan hidupnya menapaki tangga spiritualitas.
Bala(ne)dewa
Mei 10th, 2012 pada 11:14
‘ … hidup adalah dongeng
Yang dituturkan seorang idiot, penuh dengan bunyi2
yg memekakkan dan kemarahan besar,
Mbelgedes, tanpa makna. (Macbeth , karya Oom Shakespeare)
Para sedherek,
Orang2 seperti Mas Sabda, Mas Cah Pathi ,Mas Tomyarjunanto,Mas Jagad SJ, Mas Ngglosor Madep Wetan – yang ini rajin sembunyi, Mas Tembayat,Jeng Dewi Murni, dll, adalah pelita2 yang ikut menerangi jalan saya menuju pencerahan, menuju ‘ Pantai Seberang ‘ (Ariyadhana). Setapak demi setapak saya ke sana, mungkin juga (cuma) di sini , tapi tanpa pelita2 yang saya sebut tadi mungkin saya akan ke …. sasar …
Re berbicara dengan Tuhan : Saya dukung 100%. Mudah2an tidak menimbulkan kesalahpahaman karena berbicara DENGAN Tuhan sering berarti , bagi saya, berbicara dengan … orang lain yang juga sanak kadang kita. Atau berbicara dengan burung2 di dekat rumah saya, atau berbicara dengan tanah yang saya pijak, pohon2, angin sepoi2,dll, disamping dengan hati nurani saya sendiri.
Berbicara dengan Tuhan adalah, bagi saya, kontak dengan (tindakan) welas asih, kebaikan, menolong orang yang perlu pertolongan sebisa saya.
Mengenai komentar2 wts – waton suloyo , atau tonni – waton muni : nampaknya sulit dihindari … Tidak semua orang punya kualitas seperti Mas Sabda, Mas Tomy, Cah Pathi,Mas Jagad SJ, Mas NM Wetan,Mas js,JDD. Moga2 saya keliru, tapi beberapa hari ini muncul komentar2 yang sepertinya keluar dari mulut orang yang terlalu banyak minum bir,ciu ….)-: )-: Tidak hanya beberapa hari ini, tapi nampaknya selalu adaaa saja komentar2 yang dituturkan seorang idiot …
Mungkin orang2 yang memberi kesan ‘tonni’ sedang dalam perjalanan mencari jati dirinya … Mungkin yang bisa membantu, bisa membantu mereka itu menemukan jati diri mereka …
asah asih asuh,slumanslumunslamet… kasihkasihkasihkasihkasihkasihkasihkasih
Dewi
Mei 10th, 2012 pada 23:10
@ Bala(ne)dewa,
Maturnuwun, njenengan selalu kasih support dan spirit kepada semuanya di sini, dan saya ini sedang tidak men-delik, melainkan tetap menyimak diskusi, klekaran, obrolan, poro pinisepuh yang bisa memberi warna jagad dunia per-spiritualitas-an…
Dan satu lagi, njenengan selalu membuat hati saya berbunga-bunga, semerbak kuntum bunga memenuhi kahyangan ini… rasanya bombong hati ini karena selalu ada yang menantikan sang ‘dewimurniberkembenkansutraungu’ untuk mandi di telaga dewa…
Mandi adalah tembung sanepan ‘berdiskusi dan berdebat’ untuk membersihkan peluh keringat pikiran, biar bersih dan kembali segar… telaga dewa adalah tembung sanepan suatu pasanggrahan/ tempat yang di dominir kaum para dewa maskulin…
Untuk datang ke tempat para dewa, dewimurni tak hanya (memakai) berkemben saja, melainkan juga (membawa) berselendangkan kearifan… seperti yang pernah njenengan ungkapkan… dan sekali lagi saya matur sembah nuwun marang njenengan yang selalu nresnani, dan selalu membagikan mantra kasihkasihkasihkasihkasihkasih kepada semuanya…
@ Tomyarjunanto, Cah Pathi, Sabdo Pengruru, Ariyadhana, Wisnu TJ, Franky RT, BUDI, All,
Maturnuwun atas tulisan2 yang mencerahkan dan inspirative…
Salam sayang untuk semuanya,
Dewi
Dewi
Mei 11th, 2012 pada 18:34
@ Bala(ne)dewa,
Thanks for the ‘like’ sign, I know you were there and you always here for us…
Big hug and warm kiss to you… Ehmmuuuuaahh!!…
Salam hangat,
Dewi
Bala(ne)dewa
Mei 11th, 2012 pada 19:05
Jeng Dewi Murni berkembenkansutraungu,
Sejak zaman masih muda dulu hati saya selalu … deg2 an kalau mendengar Mbak Sun nyanyi ‘ Menantikan Hyang Dewi Murni meniti pelangi turun … mandi ‘ …(-:
Zaman doeloe mandi ya mandi …. hehehehe ….
Soerodawoek
Mei 11th, 2012 pada 03:19
Asalam mualaikum……
Pantes2se golek kanca ngobrol
badalah jebol ada di sini to
leres jeng dewi sy di tinggal di sana ngomong sendiri
salam karaharjan para pini
sepuh sedaya nderek njagong geh ugi ki sabda nyuwun sewu kulanuwun
matur nuwun jeng dewi di tuntun sampe sini maklum
cah ngunung rareti lor kidul
sampun nyimak manga lanjut
nuwun…..Soero
Bedhoor
Mei 11th, 2012 pada 11:58
Wa’alaikum salam….
Lan dipun tenggo sabdonipun para pini sepuh…
Dewi
Mei 11th, 2012 pada 18:45
@ Soerodawoek,
Walaikumsayang pak Soero…
Waaah… udah siap2 ber-sauna bersama kami semua di ruang ini?… sauna ala kahyangan… bikin keringat panas dingin keluar, kalau sudah keluar semua keringatnya (uneg2nya) bikin pikiran, tubuh dan jiwa sehat, segar, bregas, waras tur semangat… xixixixixixi….
Monggo dipun lanjut diskusinya…
@ Bedhoor, Salam kenal…
@ Pakpo JS, Tembayat,
How are you?… pripun khabar pawartosanipun?…
Salam sayang,
Dewi
Bedhoor
Mei 12th, 2012 pada 13:04
slm kenal, slm rahayu buat den ayu Dewi dan semua sesepuh yang ada di blog ini,
lan ndherek nyimak kemawon anggenipun poro sesepuh medar sabdo…
yang tentunya sabda-sabda para sesepuh, bisa dijadikan masukan buat diri pribadi saya, serta menambah wawasan perbendaharaan tentang macam-macam ilmu luhur warisan para leluhur.
sangat menarik untuk dicermati sabda para sesepuh, terutama bahasan tentang apa itu?? kesadaran sejati, meditasi, kejawen, ma’rifat dll…dengan sudut pandang keilmuan serta latar belakang yang berbeda-beda namun memiliki tujuan yang sama (salut & kagum kagem poro sesepuh)
Meskipun tertarik dengan semua itu, dihati saya jarang sekali ada ketertarikan atau niatan untuk memperdalam dan mempelajarinya, jadi ilmunya ya sekedar tahu aja hehe..
Mungkin memang titahnya bukan disitu…atau belum waktunya untuk mempelajari semua itu,
Sekarang yah…tinggal jalani aja hidup ini, apa adanya, mencoba untuk berkawan dengan kehidupan, memperhatikan dan mengamati kehidupan yang begitu indah dan menakjubkan ini, kadang satu keputusan yang kita ambil saat ini, menentukan alur serta jalan hidup yang berbeda-beda nantinya, setiap detik ada ribuan hal menarik untuk dipahami dari kehidupan ini..,keputusan dlm detik ini mempengaruhi kejadian satu menit yang akan dilalui…,kadang membuat saya tak sabar menanti detik-detik selanjutnya…namun saya sadar semua itu butuh waktu dan proses untuk berpindah ke dlm detik berikutnya. Mungkin hal itu yang membuat saya tertarik belajar dari kehidupan ketimbang mempelajari kehidupan itu sendiri. Hingga saya pun menganggap “menunggu waktu” itu, merupakan hal yang paling menentramkan bagi saya. Apalagi kalau bisa menggengam dan mengatur waktu dalam kehidupan ini.
slm kerahayuan…
ANTI Q
Mei 11th, 2012 pada 12:02
mas sabda………??? ngulon ngetan…ngetan – ngulon…………….hus hus hussss…..
ANTI Q
Mei 11th, 2012 pada 12:12
ojo keputus……heh
ANTI Q
Mei 11th, 2012 pada 12:13
6 6 6……..1
Soerodawoek
Mei 12th, 2012 pada 02:20
Salam karahayon pr pini sepuh wonten blk di sini sy tertarik tentang AKU yg sedang di bahas permah sy tulis di tempat lain mencari
allah tuhanmu di luar dari dirimu sesat adanya
krn AKU tk ada di gunung tk ada di ngarai dn di goa hirok
AKU tk mau masuk dlm batu
kabah mslya tapi AKU mau masuk ke BAITULLAH ya itu jasad ini krn AKU maha hidup
mk hiduplah diri ini
tk ada yg bisa mengukap
hidup itu kecuali skdr menge
nalnya titik
dn AKU tdk mau di persekutu
kan oleh apapun
nuwun sewu pr pinisepuh manga di lanjut
rahayu……..
DEMI MASA
Mei 12th, 2012 pada 20:41
Kami merasakan dan melihat kekhawatiran dan ketakutan yang terjadi pada diri kalian, Itu biasa, bahkan ketika hari itu tiba, tiada satu pun yang dapat meminta pertolongan. Bukankah diri manusia memang pasti akan musnah satu per satu sebelum sangkakala yang pertama ditiup?????
satu per satu……..1 0
satu per satu……..1 0
satu per satu……..1 0
1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0…..
kuncoro
Mei 12th, 2012 pada 22:13
satu satunya yang paling layak untuk dimohon adalah “pengampunan”
kalau manusia mendapat pengampunan semua akan menjadi baik (kesadaran, kepasrahan, eling)
Franky Rudiyanto Tanojo
Mei 12th, 2012 pada 22:28
Menepuk air di belanga, terpercik muka sendiri. Kata-kata gagah yang merendahkan harkat sesama, menunjukkan kecilnya diri. Air dan minyak tidak akan pernah bersatu, karena yang sungguh hanya kesungguhan tebusannya. Jual muka memantati manusia lain, sadarkah sedang pamer pantat?
HATI BATU
Mei 13th, 2012 pada 00:12
bukankah seperti “hati” yang mem….. “batu”?????
tidakkah kalian melihatnya?!
Bedhoor
Mei 14th, 2012 pada 15:59
bismi-lahir-roh-mani-rohiim … yg nolong Bethara Kala,
kuncoro
Mei 15th, 2012 pada 02:49
bisa jadi lho….
bethoro kolo kan nggakl punya perut..(kata pak dalang)
jadi nggak makan orang.
Bedhoor
Mei 15th, 2012 pada 11:46
hehe…iya kali…kan tugasnya Bethara Kala cm “makan waktu” nya orang yang gak eling lan waspodo, sampe gak kuasa lagi tuh orang ngatur waktunya sendiri…
jadi kalo pengin selamat ya kudu jadi bethara kala juga, jadi orang yang “Bethara” ngatur “Kala”…hehe…
ariyadhana
Mei 14th, 2012 pada 08:42
Salam kasih,
Teman-teman mungkin ada yang bertanya-tanya apa yang dimaksud dengan tiada inti yang kekal oleh Mas Tomy, tentang ke ‘tiada’ an yang dimaksud oleh Mas Franky.
Mungkin sedikit ulasan ini dapat membantu.
Filsafat Timur dalam memandang hidup ini, lepas dari konsep dualitas.
Memandang bahwa hanya ada Satu Jiwa (telah ditulis oleh Mas Tomy sebagai Ingsun Dzat Kang Maha Suci dengan mencuplik dari Wisikan Ananing Dzat) yang tak berbentuk dan tak terbatas, dan segala sesuatu yang ada di dalam alam semesta, adalah bagian dari itu dan diciptakan oleh itu.
Ini mencakup setiap orang, binatang, tanaman dan pohon, segalanya yang bernyawa dan mati, segala yang ada di jagad raya, serta bermanifestasi dalam dan melalui berbagai bentuk, semua bentuk dan menjadi bagian tak terpisahkan dari itu.
Menurut Filsasat Timur, semuanya yang bersifat tertentu dan terbatas adalah bersifat sementara saja.
Satu-satunya kenyataan yang tetap adalah Yang Utuh, Dasar yang mendasari segalanya.
Kesadaran Murni yang tidak terbatas dan mencakup semuanya, bersifat kontinyu, tidak khusus dan melebihi apa yang bersifat pribadi : lautan kesadaran semata-mata yang tak terbatas.
Daripadanya dan di dalamnya timbul segala yang terbatas, mempunyai rupa dan bersifat sementara, yang nampak khusus dan individual.
Yang terbatas, yang mempunyai rupa dan bersifat sementara, nampak khusus dan individual itulah yang disebut ego, aku, diri.
Ego, aku, diri, Kesadaran terbatas yang berpikir secara Dualitas, memisahkan aku dari kamu, dia dan mereka. Yang menyebabkan kita melihat segala sesuatu sebagai terpisah dari kita.
Kesadaran terbatas yang menghasilkan pikiran, gagasan dan perasaan, yang tidak kekal dan terus berubah, dan dalam pengertian ini harus dianggap sebagai tidak nyata, sekarang mereka di sini, saat berikutnya ada di tempat lain.
Ini adalah yang disebut Maya oleh filsafat Timur, semacam selimut yang menyembunyikan Kesadaran murni tersebut,
Ditulis oleh Mas Tomy sebagai ‘melupakan dirinya dan mengidentifikasi dengan tubuh fisik’.
Teman-teman mungkin segera bertanya : lalu apakah diri ini, kulit dan daging ini hanyalah sebuah khayalan?
Apa semua yang terlihat, yang mewujud dalam hidup kita sehari-hari ini hanya dianggap khayalan?
Gendhuk Tarimah (ditari langsung mlumah) yang semlohai yang mampu ndudut ati lanang itu dianggap imajinasi yang tak nyata?
Dan bagi penekun esoteric yang suntuk dengan intuisi dan ghaib, mampu melihat hal lampau maupun masa depan dikatakan sebagai sensasi ilusi saja?
Tentu saja tidak!
Yang terbatas, yang mempunyai rupa, nampak khusus dan individual ini tidak boleh dipandang sebagai khayalan. Ia nyata senyata dekap erat Gendhuk Tarimah yang menghanyutkan, senyata lembut kulitnya yang saling bergesekan dengan kulit saya.
Kritiknya terletak pada anggapan bahwa diri atau aku ini adalah sebuah entitas yang ajeg, yang tetap.
Ketiadaan ‘aku’ sebagai entitas yang ajeg bukan berarti tidak ada kedirian itu, tetapi menyadari bahwa kedirian itu bersifat sementara, hanya suatu momen kini dan di sini saja.
Apa yang disebut kedirian adalah suatu arus pembentukan yang dirajut oleh begitu banyak elemen, momen dan kondisi. Karena ia dirajut oleh begitu banyak elemen, maka ia tidak memiliki suatu inti yang kekal. Kedirian ini adalah wadah yang terus berubah sesuai dengan kondisi elemen-elemen yang menggagasnya.
Mungkin demikian sedikit ulasan saya meski dengan segala keterbatasan bahasa.
Yah memang agak merepotkan. Semua yang dikomunikasikan memerlukan konsep dan bahasa, sementara bahasa sendiri sangat terbatas dalam menjelaskan.
Maka mohon ulasan tersebut bisa di’penggalih’, dicerap dengan ‘rasa’, ‘rasa’ yang mengatasi segala peristilahan, mengatasi segala konsep dan keterbatasan bahasa.
Salam kasih.
wisnu tiang djawi
Mei 14th, 2012 pada 12:42
@Ariyadhana
Salam Kenal
Trimakasih ats ulasannya dan pencerahannya, qta sbg manusia memang selayaknya harus tau HAKIKAT DIRI QTA YG SEJATI, bahwa semua bentuk dr sgala sesuatu yg ada didlm alam semesta yg mencakup setiap orang,binatang,tanaman, sgala yg dijagad raya, serta bermanifestasi dlm dan berbagai bentuk adlh bersifat sementara/tidak kekal, namun sesungguhnya qta adlah satu terbentuk dr “Dzat yg Maha Kekal” dlm suatu wadah “KESADARAN SEJATI”
saat qta sadar bahwa sesungguhnya qta tercipta dr Dzat yg sama, qta gak akan lg tertipu oleh bentuk” dr Dzat itu, jd SAYA ini adlh KAMU dan KAMU ini adlh SAYA jd QTA adlh SATU, namun karena ke EGOISAN manusia, yg satu bepikir bahwa ‘DIRI itu adlah ‘SAYA’ sehingga lalu membeda-bedakan dirinya dr org lain, yg timbul hanyalah SENGSARA, Sesungguhnya manusia merupakan satu dr unsur” KEAGUNGAN ALAM.
Salam aku adlah kamu, kamu adlh aku…..
Bala(ne)dewa
Mei 14th, 2012 pada 17:28
Mungkin demikian sedikit ulasan saya meski dengan segala keterbatasan bahasa.
Yah memang agak merepotkan. Semua yang dikomunikasikan memerlukan konsep dan bahasa, sementara bahasa sendiri sangat terbatas dalam menjelaskan.
Maka mohon ulasan tersebut bisa di’penggalih’, dicerap dengan ‘rasa’, ‘rasa’ yang
mengatasi segala peristilahan, mengatasi segala konsep dan keterbatasan bahasa.
———————————-
Sekedar urun rembuhg mengenai bahasa.
Baha -hahaha-sa mungkin adalah salah satu keperluan hidup yang amat sangat diperlukan, mungkin malah lebih diperlukan daripada uang. ( Bahasa sudah ada sejak manusia ada, sebelum uang ada.) Untuk komunikasi, bahasa mutlak perlu. Lha itu,konon, Tuhan, dewa2, dan malaikat2 saja pakai baha-hahaha-sa MANUSIA. Tuhan, dewa2, alam menciptakan manusia, tapi manusialah yang menciptakan bahasa. (Tuhan,dewa2, alam menciptakan matahari dan bulan, tapi manusia menciptakan lampu, lilin. )
Ada atau tiada mungkin memang benar2 ada. Tapi, yang ini kan ,biasanya, didiskusikan setelah perut … kenyang. Ada atau tiada akan tanpa arti tanpa ini – perut yang kenyang , dan tanpa bahasa itu tadi.
Dalam linguistik, bahasa ,ciptaan manusia yang sepele itu tidak pernah habis dipelajari. Bayangkan, cuma bahasa … Tanpa bahasa, apakah arti ‘ada atau tiada’ ? Karena manusia sudah dikutuk Tuhan untuk hidup di bumi – bukan taman firdaus – ya bahasa tetap diperlukan; sekarang, besok, sepanjang segala abad.
the stars
Mei 14th, 2012 pada 17:18
Kasih maka tiada kebencian didalamnya, kasih selalu bersama dg kesabaran,kebencian selalu disertai merendahkan derajat sesama krn merasa diri tinggi menjulang diangkasa, salam asah asih asuh monggo para sesepuh wejangannya agar sy dpt belajar dr anda2 sekalian sy ucapkan terima kasih sebelumnya.
LAK SA LAK
Mei 15th, 2012 pada 23:20
soklah……buat yg lebih canggih lagi….
flash player, speed up pc…….opo meneh…..aya2 wae….wae2 aya….hh
LAK SA LAK
Mei 15th, 2012 pada 23:21
jangan bengong loe…….! hh hh hh hh hh
LAK SA LAK
Mei 15th, 2012 pada 23:24
bengong…..alias molohok……ulah molongok….sepertos O’on…..hh
adios amigos……………..see u….
boro – boro……goro – goro ne……hhh
Damarwulan
Mei 16th, 2012 pada 18:08
Kalau si guntur tidak mau berubah, kita paksa dia untuk melihat kembali pecahan-pecahan wesi kuningnya sewaktu ia hidup sebagai minakjinggo. agar stress dia.
tonojagger
Mei 16th, 2012 pada 19:31
Ijin Copy paste buat disebar di blog gan…
soegiarto
Mei 27th, 2012 pada 12:06
mas,, ijin copy… buat anak2 keturunan saya….
Salju Asmara
Juli 5th, 2012 pada 21:22
Semua yang tersirat benar dan tp salah jika menganggap siratan2 itu kebenaran.
Franky Rudiyanto Tanojo
Juli 6th, 2012 pada 21:54
1. Urip Iku Urup
2. Memayu Hayuning Bawono, Ambrasto dhur
angkoro
3. Suro Diro Joyoningrat, Lebur Dening Pangastuti
4. Ngluruk Tanpo Bolo, Menang Tanpo Ngasorake,
Sekti Tanpo Aji-Aji, Sugih Tanpo Bondho
5. Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun
Kelangan
6. Aja Gumunan, Aja Getunan, Ojo Kagetan, Ojo
Aleman
7. Ojo Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan
Kemareman
8. Ojo Keminter Mundak Keblinger, Ojo Cidra Mundak
Ciloko
9. Ojo Milik Barang Kang elok, Aja Mangro Mundak
Kendo
10. Ojo Adigang, Adigung, Adiguna
Hidup itu memberi…
Menambahkan indahnya dunia, membasmi angkara…
Dengan kewelasasihan…
Kerendahhatian…
Rasa syukur dan ikhlas…
Mengalahkan susah dan senang dalam diri…
Mengalahkan keterikatan dan kemelekatan pada
segala yang di luar diri…
Amin…
Franky Rudiyanto Tanojo
Juli 6th, 2012 pada 22:03
Saya bisa membeberkan beberapa kerugian makan
daging :
1. Binatang disembelih itu stress mengetahui ajalnya
datang, maka terbentuk racun di tubuhnya yang kita
konsumsi. Maka diajarkan menyembelih dengan
pisau yang tajam.
2. Tumbuhan punya daya hidup, binatang punya daya
hidup dan nafsu, manusia lebih lengkap, daya hidup,
nafsu dan akal budi. Makan binatang lebih merusak
alam dari makan tumbuhan. (Ini subyektif saya,
silahkan kritik dan saran)
3. Makan binatang membuat kita lebih bergejolak
emosi karena tentunya nikmat daging lebih dari
nikmat sayuran. Dan juga lebih membuat ketagihan.
Bagi yang lelaku tentu paham pentingnya makanan
itu hambar agar hati tenang.
4. Saya takut balasan dari roh hewan itu. Ini sangat
subyektif juga, pedoman saya, tidak bisa
menghidupkan janganlah mematikan. Bagi saya yang
tidak menghembuskan nafas hidupnya, maka
hidupnya bukan milik saya.
O'on
Juli 7th, 2012 pada 15:15
Saya bisa membeberkan beberapa kerugian makan
daging :
………………….
(Ini subyektif saya,
silahkan kritik dan saran)
————————————————————————-
skdr selingan…
bagaimana dgn industri/bisnis perdagingan (yg sedang laris manis tanjung kimpol..eh..kimpul) apakah akan ‘gulung tikar’, ataukah malah diganti ‘tikar(lama)nya dgn karpet mewah’,
…maupun utk umat suatu agama, apakah malah akan berkesan menentang salah satu kegiatan ibadah (syarat) misalnya: (ber)kurban.
(^_^)v
namun yaaah..antara manusia, binatang maupun hewan ternak, scr pungsi tubuhnya cenderung lebih banyak persamaannya dibandingkan perbedaannya, atau kasarnya (walaupun diteliti scr proporsional) kita/manusia-pun adalah salah satu jenis binatang/hewan penghuni planet ini.
kita mungkin saja akan susah utk tidak setuju bahwa jika kita memelihara anak2 (kita/manusia)..bisa dikatakan bagaikan memelihara hewan yg suatu saat diharapkan menghasilkan…walaupun hasilnya bukan dari krn disembelih, namun tenyata dalam bentuk lain misalnya mampu menghasilkan pendapatan (duitz), dsbnya…atau secara sopannya agar bisa menjadi generasi penerus orangtuanya.
daging bisa dikatakan sebagai makanan yg telah sangat berkurang kesegarannya krn (overall) dibutuhkan proses yg lebih rumit/kompleks dan lebih lama waktunya dari bahan dasarnya hingga tercipta menjadi daging. sementara bahan dasar sbg suplai yg paling cocok untuk mahluk biologis adlh berawal dari sekedar air bersih/pure H2O, dstnya hingga dsbnya.
jika sejak lahir…
- ndak pernah makan daging, manusia akan bisa survive/berumur panjang,
- ndak pernah makan tumbuh2an, buah2an dan hanya sekali saja minum air bersih, siapakah yg mampu bertahan hidup lama.
rahayu _/\_
kuncoro
Juli 9th, 2012 pada 00:38
evolusi. energi tidak akan hilang atau berkurang, hanya berubah bentuk.
lumut tidak selamanya lumut. dia sebagai pionir, sehingga ada pohon oak.
kambing tidak selamanya kambing, akan berubah bentuk.
demikian juga dengan manusia, selalu menuju pada “kedewasaan”
Dewi
Juli 8th, 2012 pada 21:31
@ Franky RT, O`on, Wage Rahardjo, Yhredaya, JS, ABR, The Stars, Wisnu TJ, Cah Pathi, Bala(ne)dewa, Jagad SJ, ONO, Wohing Ranti, RP, RD, Ngabehi, Dwi Owix, Jayadi, Kuncoro, Bedhoor, Tomyarjunanto, Aryadhana, Soerodawoek, All
Sugeng dalu semuanya, Terima kasih kepada pak Franky dan O`on yang sudah mengingatkan kita untuk kembali pada akal dan nurani plus ilmu pengetahuan.
Pada th 1930 seorang dokter hewan inggris meneliti suatu vaksin untuk hewan ternak, Biri-biri (domba) di ketahui menunjukkan gejala gila, mereka menggaruk-nggaruk, tersandung-sandung, melonjak-lonjak, menjadi gelisah dan antisosial, tak lama kemudian mereka mati…
Sekitar waktu yang sama seorang ilmuwan amerika, menyaksikan gambar2 kerusakan otak pada biri-biri akibat serangan scrapie ini tampaknya juga sama dengan menyerang manusia : pertama kakinya gemetar, kemudian seluruh tubuhnya juga gemetar, bicara menjadi gagap, tiba2 mereka bisa tertawa meledak meskipun tak ada yang lucu, dalam kurun bbrp bulan, sejalan dengan perkembangan kerusakan otak dari dalam, korban akan meninggal.
Pada tahun 1957, Virus scrapie ini juga di temukan pada suatu suku ‘kuru’ di papua nugini, di mana praktek kanibalisme yang menjadi pemicunya…
Pada era 1990 an, ketika wabah sapi gila bergentayangan, lalu seperti fenomena gunung es yang bermunculan ke permukaan, terjangkit pula pada unggas (flu burung) dan babi (flu babi)…
Virus ini di sebut2 sebagai ‘Prion’ suatu penyakit yang bersumber dari hewan yang stress, sangking stressnya hewan yang tidak di mengerti oleh manusia, hingga manusia menganggapnya sesuatu yang masih mistery..
Jika suatu hewan stress, lalu ia menjadi konsumsi manusia, serta sisa tulang atau jerohannya bisa di olah dan di berikan/ di pakankan pada campuran makanan kucing, cheetah, kera, tikus, dst… semuanya bisa gila bahkan mati karena dengan mudah tertular virus prion ini…
“Siapa sangka tragedi yang di alami oleh seseorang, oleh suatu keluarga, oleh suatu suku/ bangsa bahkan suatu bencana ekonomi, moral, kemanusiaan, ternyata dapat di runut dari keperlipatan yang keliru pada suatu sel kecil yang di sebut molekul stress?”…
Salam rahayu,
Dewi
Dewi
Juli 8th, 2012 pada 21:35
@ O’on,
Bicara tentang budaya ‘hari raya kurban’ di indonesia, saya juga selalu berharap semoga ada kesadaran dari umatnya baik dari kalangan atas maupun bawah, tidak saja mengawasi ketat quantitasnya tetapi juga kualitasnya, misal berkurban jangan di tempat umum/ dekat masjid, selain untuk kebersihan juga untuk alasan moral, karena anak2 tak seharusnya menyaksikan kesadisan/ kebiadaban ini. tetapi harus di tempatkan di RPH (rumah pemotongan hewan). Di negara maju seperti ‘persatuan umat muslim amerika’ telah mengawasi dengan ketat praktek kurban ini harus di tempat pemotongan hewan, tidak boleh sembarangan, pun di negara arab sendiri pemerintah dengan keras mewajibkan berkurban di RPH, tidak boleh di sembarang tempat, biasanya umatnya yang bersedekah tinggal menyerahkan sejumlah uang ke suatu badan sosial/ negara, lalu negara itu yang mengatur sirkulasinya, biasanya ketika domba sudah menjadi daging, akan di bagikan kepada rakyat yang masih miskin/ kekurangan, juga akan di kemas dalam bentuk kaleng lalu daging kalengan itu di distribusikan ke negara2 yang miskin, sedang jerohannya kadang di eksport. Orang arab sendiri biasanya pantang menyantap daging kurban pada hari itu karena mereka umumnya sudah kaya dan sudah sering makan daging (domba).
@ All,
Menjadi vegetarian ataupun carnivioris, saya memilih bersikap netral, memang lebih bagusnya tidak memakan daging, dengan alasan kesehatan ataupun lelaku. namun kalaupun terpaksa mengkonsumsi daging, pastikan dagingnya yang berasal di ternakkan dengan sistem ‘umbaran’ bukan di ‘penjarakan’, sistem ini sudah berlaku di negara maju dengan azas ‘perikehewanan’ yang sangat bijaksana. Atau bisa dengan alternative ‘pemanjaan’ hewan, seperti yang di hasilkan daging sapi dari jepang ‘wagyu’, hewan ternyata juga sangat suka di manjakan, di mandiin, di pijitin, di dengerin musik waktu mereka tidur, dsb…
Salam rahayu,
Dewi
Dewi
Juli 9th, 2012 pada 19:52
@ All,
Maaf, saya meralat penulisan suku ‘kuru’, yang betul adalah suku ‘fore’ di papua nugini, sedang penyakit scrapienya di sebut ‘kuru’ oleh orang suku fore.
Lanjutan tentang ‘Prion’, sampai saat ini para ahli biology belum dapat menemukan vaksin anty penyakit stress pada hewan ini, namun ahli genetika meneliti bahwa virus yang berasal dari sel PRP-Prusiners-Prion adalah gen yang luar biasa sangat keras dan lengket, ia tahan terhadap segala bentuk pemusnahan dan cenderung berkumpul untuk membentuk gumpalan sekaligus merusak structure sel. Formalin tak sanggup membunuhnya, tidak pula detergent, pendidihan, atau penyinaran ultraviolet, daya infeksinya masih cukup kuat.
Ketika pembantaian biri-biri stress, sapi gila, flu unggas dan flu babi merebak ke seluruh penjuru dunia, pada hakikatnya itu adalah tindakan yang sia-sia, karena prion pembawa penyakit scrapie ini tetap lolos dari maut. Malah praktek pembantaian ini menciptakan epidemi baru di lingkungan kita, masa inkubasi prion bisa berlangsung hingga 5 tahun, jika ia bisa membuat mamalia dan manusia gila hingga mati, maka di masa yang akan datang bukan tidak mungkin akan ada epidemi2/ penyakit2 baru yang tak kalah dahsyatnya.
Tetap selalu eling lan waspada, waspadai gejala penyakitnya dan ingat untuk selalu menjaga kebersihan dan ketentraman lingkungan baik manusia, alam dan hewan.
Salam rahayu,
Dewi
ONO
Juli 7th, 2012 pada 03:32
TU – HAN = HAN – TU
TU = TUNGGAL = ESA = 1
HAN = HAWA NING = HAWA BENING = SUCI = 0
>>> TU – HAN = ESA & SUCI
TUHAN tidak bisa di-PERSONIFIKASI-kan seperti Manusia yang bersifat 99 bahkan lebih banyak, diantaranya: berkehendak, pengasih, penyayang, pengatur, kuasa, pemberi, penghukum, pemurka, …. dst… apalagi dengan embel2 MAHA..!!!
>>> jika TUHAN menghendaki dan mengatur kehidupan semesta, …. maka …..
TUHAN adalah yang paling BERTANGGUNG JAWAB atas semua fenomena/
kejadian yang ada di kehidupan semesta ini, … bukan manusia.?????????
1 = ISI = cahaya & materi = ENERGI
0 = KOSONG = ruang = HUKUM UNIVERSAL
1 – 0 = ENERGI – HUKUM UNIVERSAL dadi JAGAD RAYA – SAISINE
ENERGI – tidak dapat diciptakan & tidak dapat dimusnahkan – HUKUM UNIVERSAL
ora urip, ora mati, ora bungah, ora susah, adoh tanpo wangenan, cedak tanpo senggolan, lembut tan keno jinumput, gedhe tan keno kiniro-kiro ………. ning… kuwi…
ONO….. O … 1 … \ … 1 … O
TU – HAN = HAN – TU
Franky Rudiyanto Tanojo
Juli 10th, 2012 pada 00:42
Seorang biksu punya murid, suatu hari sewaktu
dia melihat jari telunjuknya mendapat pencerahan,
maka setiap orang bertanya tentang
pencerahan ditunjukkannya telunjuknya…suatu hari
dia pergi. Muridnya ganti yang ditanya orang dan
menunjukkan telunjuknya, sewaktu pulang sang guru
marah besar,dipotongnya ujung telunjuk si murid,
dan di ujung telunjuk putus itu si murid dapat
pencerahan, maka setiap orang tanya, ditunjukkannya
telunjuk putus itu.
Telunjuk itu main tunjuk saja, itu pencerahan si guru,
nunjuk kamu jadi kamu, nunjuk aku jadi aku. Padahal
telunjuk ya telunjuk, nggak kemana nggak siapa,
tergantung sing aran-aran, hehehe, cerahlah ia,
hahaha.
Si murid lihat jarinya putus, hilang
sombongnya dan luntur sifat meniru gurunya, cerah
juga ia, hahaha. Ternyata aku ya aku, bukan guruku,
lha aku itu gini gitu itu kan gara-gara aku
menganggap begini benar, padahal rasa rumangsa itu
salah, wehehe, cerahlah ia, hahaha
Rasa merasa itu bekerja dalam dua arah
Merasa benar pasti ada salahnya
Merasa salah pasti ada benarnya
Netral saja agar bebas…rahayu
the stars
Juli 13th, 2012 pada 17:26
Kata2 yg menarik kang mas Franky Rudiyanto Tanojo.
Berdiri ditengah poros yin dan yang tanpa berdiri disatu sisi yin/yang dg menjaga keseimbangan: jangan berlebihan senang,sedih,kenyang,lapar dst…nya.
Monggo lanjutttt pencerahannya.
the stars
Juli 13th, 2012 pada 17:28
Kata2 yg menarik kang mas Franky Rudiyanto Tanojo.
Berdiri ditengah poros yin dan yang tanpa berdiri disatu sisi yin/yang dg menjaga keseimbangan: jangan berlebihan senang,sedih,kenyang,lapar dst…nya.
Monggo lanjutttt pencerahannya. ^_^
sukwanto
Juli 23rd, 2012 pada 23:52
mau tanya…ada seseorang bertanya..luwih duwur tinimbang langit, luwih jembar tinimbang bumi, ono ngendi dununge,,,?? tolong diuraikan mas???
Kresno Jati
Agustus 6th, 2012 pada 14:22
salam kenal Ki Sabdo Langit…..,lan poro sedulur…
Kresno Jati
Agustus 6th, 2012 pada 14:38
Roso Sejati Sejatine Roso, Roso kang nunggal marang Gusti Ingkang Moho Suci
Dewi
Agustus 6th, 2012 pada 22:52
@ Kresno Jati,
Maturnuwun, salam kenal ugi pak Kresno, ngomongin roso sejati jadi ingat lagunya mbah Maridjan roso roso… xixixixixi…
salam rahayu,
dewi
jaenur
Agustus 11th, 2012 pada 21:50
salam kenal sedulur roso sejati
Ki Ndaru Gledek
Agustus 20th, 2012 pada 08:15
Dulu saya ditanya oleh Dewa Indra. Ini mau naik ke ufo dengan siapa?
Saya jadi berpikir…. sekarang saya putuskan, dengan Shrikandhi saja.
Karena dengan shrikandhi itu cocok.
Kami telah siap naik ke UFO.
Ki Ndaru Gledek
Agustus 20th, 2012 pada 08:16
Kalian tidak akan menyukai kenaikan isa almasih dalam arti sebenarnya.
Ki Ndaru Gledek
Agustus 20th, 2012 pada 08:23
Ohya, tolong salahsatu diantara kalian pergi ke Gunung Srandil untuk bertapa menyempurnakan ke SP-an saya.
Dulu kalian sudah ke kalimantan, itu sudah saya terima. Sekarang kalian perlu ke Gunung Srandhil.
Saya Satria Pinandhita Sinisihan Wahyu, menunggu kabar baik dari kalian.
Ki Ndaru Gledek
Agustus 20th, 2012 pada 08:25
Kalian tidak akan menolak permintaan dari Nabi Isa. Karena kalian tidak akan menyukai keaslian diri beliau yang bukan kerasukan nabi isa.
rea
Agustus 21st, 2012 pada 02:03
Maaf dgn sangat menyesal dan terpaksa namun Harus sy sampaikan kpd semuanya bhw SP/SPSW/Satriya ke 7 adl Bukan sampeyan krn sampeyan tak lebih hanyalah seorang pembohong serta pembual sbgmn yg lain yg bisanya cuma mengaku-aku serta meng-klaim saja, padahal SPSW/Satriya ke 7 menurut isi dari 7 raja samagama Sunda adalah satriya suci yg TIDAK BATAL WUDHU (simak lagi), shg kesimpulannya adl bukan isa almasih apalagi Calamisty Jane ( baca = Camilan Jin ) maka PASTI nya Bukan sampeyan… hehehe… kcian deh loe… kecele loe… wkkkkkkkkkkkkkkkkkkk
Agus
Agustus 21st, 2012 pada 16:20
Nuwun sewu,ijin share….
aminastro
September 1st, 2012 pada 18:08
Tentang kebendaan/ke-ada-an dan ke-tiadaan.
saya singgungkan secara fisika yang oleh eyang albert einstein pernah dirumuskan yaitu persamaan E=mc-kwadrat, artosipun adalah adanya kesetaraan antara massa dan energi. bahwa massa/materi sesungguhnya adalah energi dan sebaliknya anergi adalah massa, makanya benda/massa bisa diubah menjadi bentuk energi, jadilah bom atom/ itu didasari dari persamaan tadi.
sedangkan definisi massa/materi itu sendiri dalam fisika modern sesungguhnya adalah lengkungan dimensi ruang. makanya dalam ilmu kosmologi/ ilmu tentang terbentuknya alam semesta/ tidak hanya bumi, bahwa alam semesta ini awalnya adalah hanya kumpulan energi dan semua benda/galaksi bahkan ruang/langit semua ngumpul dalam satu titik kecil berbentuk energi yang suanguat buesuar, maka jadilah teori big bang. sekalipun orang fisika belum bisa mendefinisikan energi sebesar itu asale seka endi/asalnya dari mana.
semoga bermanfaat sekalipun hanya sepintas.
Berita Hot News
September 23rd, 2012 pada 09:29
Artikel Menarik Ini Gan Ane Ijin Copi Gan N Ane Ijin Nyimak Dulu
Waras Lumadi
Oktober 13th, 2012 pada 01:17
Terima kasih, COPAS gan… manfaat banget.
Bhikkhu Dhammaraja
Oktober 19th, 2012 pada 11:52
Namo Buddhaya,
Dimakam ribuan prajurit terakota cina tertulis sebuah tulisan aneh sampai sekarang, “kami prajurit terakota setia pada Raja Shi Huang Di, Kami akan bangkit lagi diakhir jaman saat kembalinya raja kami.” Atas tulisan aneh inilah dibuat film oleh holliwood berjudul mummy returns, tomb of the dragon emperor.
Ki Agung Gledek Sayuto mengeluarkan isi dalamnya Shiva.
Shrikandhi mengeluarkan isi dalamnya Parvati.
Anak-anak mereka mengeluarkan isi mereka Ganesha dan Kartikeyya.
Agama Buddhi bangkit lagi, 7 agama diperbarui, agama islam hancur total.
Kekasairan Israel cabang asia tenggara The Buddhist Empire of Ceylon bangkit lagi.
Dunia pun kembali damai, dibawah tuntunan Shiva, Parvati, Ganesha, dan Kartikeyya.
Semoga seluruh makhluk berbahagia,
Bhikkhu Dhammaraja, Vihara Mentari dan Bulan
Note: kekerasan tidak akan berakhir jika dibalas dengan kekerasan, kekerasan baru berakhir jika dibalas dengan bukan kekerasan.
Ki Agung Gledek Sayuto
Oktober 19th, 2012 pada 11:58
Terlalu banyak orang naksir Shrikandhi. Saya mengatakan padanya, “hati-hati terhadap orang-orang di istana ini (istana saya di yogya), karena banyak yang menggunakan ilmugaib. kamu jangan sampai terpengaruh olehnya.”
Shrikandhi mengatakan, “aku tidak mungkin terpengaruh. aku sudah mengatakan ‘gak mau ya gak mau. gak mau ya gak mau’ gimana sih’.”
Saya pun mengangguk-angguk. Shrikandhi pun pamit, “besok kita bicara lagi ya?”
Saya berkata, “ya.. ya…”
Ratu Adil Ki Agung Gledek Sayuto Pendekar Tapak Buddha
Note: Aku rajamu disini, rusakkan negara indonesia. Dirikan negara pajajaran baru.
Ki Agung Gledek Sayuto
Oktober 19th, 2012 pada 12:00
Saya pun tidur dengan Shrikandhi. Shrikandhi berkata, “kok lama sekali. Aku sampai dua kali keluar.”
Saya berkata, “aku lagi senang.”
Note: Hancurkan orang-orang indonesia, usir antek-antek arab. dirikan negara kafir nusantara.
Ki Agung Gledek Sewu
Oktober 19th, 2012 pada 20:09
Kang,
Sampeyan dari dulu ngomyang 2 ndak karuan, opo ndak pegel po?
Mbok kalo ndremimil jangan disini.. malu-maluin perguruan kita aja..
Jangan sampe lupa, diminum dulu obatnya.. biar cepet sembuh…
Ki Agung Gledek Sayuto
Oktober 19th, 2012 pada 12:01
Saya gak mau turun dulu, bagaimana cara agar gak turun dari cewek.
Saya harus melatih tao seks saya kembali. hahahaha hahahaha.
Bhikkhu Dhammaraja
Oktober 19th, 2012 pada 12:03
Semoga seluruh makhluk berbahagia.
Sadhu 3x.
datuk buana
Oktober 29th, 2012 pada 15:23
Kesadaran dan rasa hanya dua kata yang teramat rumit untuk bisa dituliskan dan dimaknai secara logika.
Kebanyakan kita, khususnya umat manusia masa kini yang lebih akrab dengan kedangkalan nalar dan tata nilai yang empiris, sukar untuk dapat menghayati kesadaran jati ataupun rasa jati yang hakiki, karena kita justru hening dalam hiruk pikuk.dan tantangan hidup yang multy compleks
Sepertinya penulis telah memiliki mainset atau kerangka acuan yang bisa jadi benar, setidaknya untuk dijadikan tulisan yang memiliki nilai. Namun jangan lupa kesadaran dan rasa sejati tidak mungkin diungkapkan begitu saja, tanpa berdampak kerancuan malah mungkin fitnah.
Justru itu para resi, para wali lebih mengamalkan wejangan atau wewarah yang mengatakan ” diam itu adalah emas “. karena tidak setiap manusia diberkahi pemahaman mengenai kesadaran dan rasa yang hakiki.
Kiranya secuil komentar saya ini, tidak dimaknai untuk menggurui, apalagi menganggap saya lebih memahami, coretan saya ini tidak lebih hanya lebih menginngatkan diri saya bahwa ” kehakikian itu ” memang hanya diberikan Allah SWT pada yang pantas memiliki.
Nyuwun ngapuro !
eling cah....eling...
November 13th, 2012 pada 13:11
opo tumon
anwar
Februari 4th, 2013 pada 14:13
mohon ijin untuk share Ki, buat saya dan teman2..
Mohamad Effendy
Maret 30th, 2013 pada 09:09
krn saya seorg muslim yg biasa2 sahaja, menyimak dari Al Qur’an ttg hakikat Allah SWT, saya beropini dan bersikap bhw tempat kembalinya kita manusia disisiNYA, yg bersifat MAHA ADA dan sekaligus MAHA TIADA, mungkin cuman dibutuhkah RASA ROSO iklas, rido dan pasrah tatkala kita mengerti dan memahami kemudian sujud manyembah Kpd Yang Allah SWT Yang Maha KETIADAAN diatas Kemaha ADAAN krn akal budi, lahir batin kita tidak bisa memperkirakan keberadaan dan KEWUJUDAN dari ALLAH SWT itu, ini mungkin yg sgt amat sulit dipahami oleh banyak manusia shg perlu belajar bertumbuh terus …
1 Trackbacks / Pingbacks
mundur untuk maju | menandai pertanda April 13th, 2013 pada 00:26
[...] Yakni berfikir secara intutif, dalam terminologi Jawa dikenal sebagai makna dalam ungkapan menggalih (analisa menggunakan rasa).Dalam suasana yang rumit atau saat menghadapi suatu persoalan berat, orang Jawa sering mengatakan, akan melakukan ngenggar-enggar penggalih. Sebagai sebuah cara yang akan meningkatkan kesadaran aku kepada kesadaran pribadi. Kesadaran aku atau kesadaran rasa sejati tidak bersifat statis tetapi dapat berubah dinamis apabila diri kita melakukan upaya-upaya peningkatan kesadaran. (sumber: blog ini) [...]