Rahasia Kekuatan Doa
Kami tidak akan membahas mengenai etika berdoa, karena dalam setiap agama tentunya sudah diajarkan mengenai tata cara dan etika berdoa, kami yakin para pembaca sudah lebih memahaminya. Tujuan kami menulis jauh dari maksud menggurui, semata hanya ingin berbagi pengalaman. Dengan kata lain, apa yang kami sampaikan juga pernah kami lakukan dan rasakan. Tujuan kami menulis adalah untuk berbagi kepada sesama, barangkali dapat memberi sedikit manfaat untuk para pembaca yang budiman. Dengan menggunakan akal budi dan hati nurani (nur/cahaya dalam hati) yang penuh keterbatasan kami berusaha mencermati, mengevaluasi dan kemudian menarik benang merah, berupa nilai-nilai (hikmah) dari setiap kejadian dan pengalaman dalam doa-doa kami.
Berkaitan dengan Waktu dan tempat yang dianggap mustajab untuk berdoa, kiranya setiap orang memiliki kepercayaan dan keyakinan yang berbeda-beda. Kedua faktor itu berpengaruh pula terhadap kemantapan hati dan tekad dalam mengajukan permemohonan kepada Tuhan YME. Namun bagi saya pribadi semua tempat dan waktu adalah baik untuk melakukan doa. Pun banyak juga orang meyakini bahw doanya akan dikabulkan Tuhan, walaupun doanya bersifat verbal atau sebatas ucapan lisan saja. Hal ini sebagai konsekuensi, bahwa dalam berdoa hendaknya kita selalu berfikir positif (prasangka baik) pada Tuhan. Kami tetap menghargai pendapat demikian.
SULITNYA MENILAI KESUKSESAN DOA
Banyak orang merasa doanya tidak/belum terkabulkan. Tetapi banyak pula yang merasa bahwa Tuhan telah mengabulkan doa-doa tetapi dalam kadar yang masih minim, masih jauh dari target yang diharapkan. Itu hanya kata perasaan, belum tentu akurat melihat kenyataan sesunggunya. Memang sulit sekali mengukur prosentase antara doa yang dikabulkan dengan yang tidak dikabulkan. Hal itu disebabkan oleh beberapa faktor berikut ;
- Kita sering tidak mencermati, bahkan lupa, bahwa anugrah yang kita rasakan hari ini, minggu ini, bulan ini, adalah merupakan “jawaban” Tuhan atas doa yang kita panjatkan sepuluh atau dua puluh Tahun yang lalu. Apabila sempat terlintas fikiran atau kesadaran seperti itu, pun kita masih meragukan kebenarannya. Karena keragu-raguan yang ada di hati kita, akan memunculah asumsi bahwa hanya sedikit doa ku yang dikabulkan Tuhan.
- Doa yang kita pinta pada Tuhan Yang Mahatunggal tentu menurut ukuran kita adalah baik dan ideal, akan tetapi apa yang baik dan ideal menurut kita, belum tentu baik dalam perspektif Tuhan. Tanpa kita sadari bisa saja Tuhan mengganti permohonan dan harapan kita dalam bentuk yang lainnya, tentu saja yang paling baik untuk kita. Tuhan Sang Pengelola Waktu, mungkin akan mengabulkan doa kita pada waktu yang tepat pula. Ketidaktahuan dan ketidaksadaran kita akan bahasa dan kehendak Tuhan (rumus/kodrat alam), membuat kita menyimpulkan bahwa doa ku tidak dikabulkan Tuhan.
- Prinsip kebaikan meliputi dua sifat atau dimensi, universal dan spesifik. Kebaikan universal, akan berlaku untuk semua orang atau makhluk. Kebaikan misalnya keselamatan, kesehatan, kebahagiaan, dan ketentraman hidup. Sebaliknya, kebaikan yang bersifat spesifik artinya, baik bagi orang lain, belum tentu baik untuk diri kita sendiri. Atau, baik untuk diri kita belum tentu baik untuk orang lain. Kebaikan spesifik meliputi pula dimensi waktu, misalnya tidak baik untuk saat ini, tetapi baik untuk masa yang akan datang. Memang sulit sekali untuk memastikan semua itu. Tetapi paling tidak dalam berdoa, kemungkinan-kemungkinan yang bersifat positif tersebut perlu kita sadari dan terapkan dalam benak. Kita butuh kearifan sikap, kecermatan batin, kesabaran, dan ketabahan dalam berdoa. Jika tidak kita sadari kemungkinan-kemungkinan itu, pada gilirannya akan memunculkan karakter buruk dalam berdoa, yakni; sok tahu. Misalnya berdoa mohon berjodoh dengan si A, mohon diberi rejeki banyak, berdoa supaya rumah yang ditaksirnya dapat jatuh ke tangannya. Jujur saja, kita belum tentu benar dalam memilih doa dan berharap-harap akan sesuatu. Kebaikan spesifik yang kita harapkan belum tentu menjadi berkah buat kita. Maka kehendak Tuhan untuk melindungi dan menyelamatkan kita, justru dengan cara tidak mengabulkan doa kita. Akan tetapi, kita sering tidak mengerti bahasa Tuhan, lantas berburuk sangka, dan tergesa menyimpulkan bahwa doaku tidak dikabulkan Tuhan.
Tidak gampang memahami apa “kehendak” Tuhan. Diperlukan kearifan sikap dan ketajaman batin untuk memahaminya. Jangan pesimis dulu, sebab siapapun yang mau mengasah ketajaman batin, ia akan memahami apa dan bagaimana “bahasa” Tuhan. Dalam khasanah spiritual Jawa disebut “bisa nggayuh kawicaksanane Gusti”.
HAKEKAT DIBALIK KEKUATAN DOA
Agar doa menjadi mustajab (tijab/makbul/kuat) dapat kita lakukan suatu kiat tertentu. Penting untuk memahami bahwa doa sesungguhnya bukan saja sekedar permohonan (verbal). Lebih dari itu, doa adalah usaha yang nyata netepi rumus/kodrat/hukum Tuhan sebagaimana tanda-tandanya tampak pula pada gejala kosmos. Permohonan kepada Tuhan dapat ditempuh dengan lisan. Tetapi PALING PENTING adalah doa butuh penggabungan antara dimensi batiniah dan lahiriah (laten dan manifesto) metafisik dan fisik. Doa akan menjadi mustajab dan kuat bilamana doa kita berada pada aras hukum atau kodrat Tuhan;
- Dalam berdoa seyogyanya menggabungkan 4 unsur dalam diri kita; meliputi; hati, pikiran, ucapan, tindakan. Dikatakan bahwa Tuhan berjanji akan mengabulkan setiap doa makhlukNya? tetapi mengapa orang sering merasa ada saja doa yang tidak terkabul ? Kita tidak perlu berprasangka buruk kepada Tuhan. Bila terjadi kegagalan dalam mewujudkan harapan, berarti ada yang salah dengan diri kita sendiri. Misalnya kita berdoa mohon kesehatan. Hati kita berniat agar jasmani-rohani selalu sehat. Doa juga diikrarkan terucap melalui lisan kita. Pikiran kita juga sudah memikirkan bagaimana caranya hidup yang sehat. Tetapi tindakan kita tidak sinkron, justru makan jerohan, makanan berkolesterol, dan makan secara berlebihan. Hal ini merupakan contoh doa yang tidak kompak dan tidak konsisten. Doa yang kuat dan mustajab harus konsisten dan kompak melibatkan empat unsur di atas. Yakni antara hati (niat), ucapan (statment), pikiran (planning), dan tindakan (action) jangan sampai terjadi kontradiktori. Sebab kekuatan doa yang paling ideal adalah doa yang diikuti dengan PERBUATAN (usaha) secara konkrit.
- Untuk hasil akhir, pasrahkan semuanya kepada “kehendak” Tuhan, tetapi ingat usaha mewujudkan doa merupakan tugas manusia. Berdoa harus dilakukan dengan kesadaran yang penuh, bahwa manusia bertugas mengoptimalkan prosedur dan usaha, soal hasil atau targetnya sesuai harapan atau tidak, biarkan itu menjadi kebijaksanaan dan kewenangan Tuhan. Dengan kata lain, tugas kita adalah berusaha maksimal, keputusan terakhir tetap ada di tangan Tuhan. Saat ini orang sering keliru mengkonsep doa. Asal sudah berdoa, lalu semuanya dipasrahkan kepada Tuhan. Bahkan cenderung berdoa hanya sebatas lisan saja. Selanjutnya doa dan harapan secara mutlak dipasrahkan pada Tuhan. Hal ini merupakan kesalahan besar dalam memahami doa karena terjebak oleh sikap fatalistis. Sikap fatalis menyebabkan kemalasan, perilaku tidak masuk akal dan mudah putus asa. Ujung-ujungnya Tuhan akan dikambinghitamkan, dengan menganggap bahwa kegagalan doanya memang sudah menjadi NASIB yang digariskan Tuhan. Lebih salah kaprah, bilamana dengan gegabah menganggap kegagalannya sebagai bentuk cobaan dari Tuhan (bagi orang yang beriman). Sebab kepasrahan itu artinya pasrah akan penentuan kualitas dan kuantitas hasil akhir. Yang namanya ikhtiar atau usaha tetap menjadi tugas dan tanggungjawab manusia.
- Berdoa jangan menuruti harapan dan keinginan diri sendiri, sebaliknya berdoa itu pada dasarnya menetapkan perilaku dan perbuatan kita ke dalam rumus (kodrat) Tuhan. Kesulitannya adalah mengetahui apakah doa atau harapan kita itu baik atau tidak untuk kita. Misalnya walaupun kita menganggap doa yang kita pintakan adalah baik. Namun kenyataannya kita juga tidak tahu persis, apakah kelak permintaan kita jika terlaksana akan membawa kebaikan atau sebaliknya membuat kita celaka.
- Berdoa secara spesifik dan detil dapat mengandung resiko. Misalnya doa agar supaya tender proyek jatuh ke tangan kita, atau berdoa agar kita terpilih menjadi Bupati. Padahal jika kita bener-bener menjadi Bupati tahun ini, di dalam struktur pemerintahan terdapat orang-orang berbahaya yang akan “menjebak” kita melakukan korupsi. Apa jadinya jika permohonan kita terwujud. Maka dalam berdoa sebaiknya menurut kehendak Tuhan, atau dalam terminologi Jawa “berdoa sesuai kodrat alam” atau hukum alamiah. Caranya, di dalam doa hanya memohon yang terbaik untuk diri kita. Sebagai contoh; ya Tuhan, andai saja proyek itu memberi kebaikan kepada diriku, keluargaku, dan orang-orang disekitarku, maka perkenankan proyek itu kepadaku, namun apabila tidak membawa berkah untuk ku, jauhkanlah. Dengan berdoa seperti itu, kita serahkan jalan cerita kehidupan ini kepada Gusti Allah, Tuhan Yang Maha Bijaksana.
- Doa yang ideal dan etis adalah doa yang tidak menyetir/mendikte Tuhan, doa yang tidak menuruti kemauan diri sendiri, doa yang pasrah kepada Sang Maha Pengatur. Niscaya Tuhan akan meletakkan diri kita pada rumus dan kodrat yang terbaik…untuk masing-masing orang ! Sayangnya, kita sering lupa bahwa doa kita adalah doa sok tahu, pasti baik buat kita, dan doa yang telah menyetir atau mendikte kehendak Tuhan. Dengan pola berdoa seperti ini, doa hanya akan menjadi nafsu belaka, yakni nuruti rahsaning karep.
DOA MERUPAKAN PROYEKSI PERBUATAN KITA,
AMAL KEBAIKAN KITA PADA SESAMA MENJADI DOA
TAK TERUCAP YANG MUSTAJAB.
Kalimat sederhana ini merupakan kata kunci memahami misteri kekuatan doa; doa adalah seumpama cermin !! Doa kita akan terkabul atau tidak tergantung dari amal kebaikan yang pernah kita lakukan terhadap sesama. Dengan kata lain terkabul atau gagalnya doa-doa kita merupakan cerminan akan amal kebaikan yang pernah kita lakukan pada orang lain. Jika kita secara sadar atau tidak sering mencelakai orang lain maka doa mohon keselamatan akan sia-sia. Sebaliknya, orang yang selalu menolong dan membantu sesama, kebaikannya sudah menjadi “doa” sepanjang waktu, hidupnya selalu mendapat kemudahan dan mendapat keselamatan. Kita gemar dan ikhlas mendermakan harta kita untuk membantu orang-orang yang memang tepat untuk dibantu. Selanjutnya cermati apa yang akan terjadi pada diri kita, rejeki seperti tidak ada habisnya! Semakin banyak beramal, akan semakin banyak pula rejeki kita. Bahkan sebelum kita mengucap doa, Tuhan sudah memenuhi apa-apa yang kita harapkan. Itulah pertanda, bahwa perbuatan dan amal kebaikan kita pada sesama, akan menjadi doa yang tak terucap, tetapi sungguh yang mustajab. Ibarat sakti tanpa kesaktian. Kita berbuat baik pada orang lain, sesungguhnya perbuatan itu seperti doa untuk kita sendiri.
Dalam tradisi spiritual Jawa terdapat suatu rumus misalnya :
1. Siapa gemar membantu dan menolong orang lain, maka ia akan selalu mendapatkan kemudahan.
2. Siapa yang memiliki sikap welas asih pada sesama, maka ia akan disayang sesama pula.
3. Siapa suka mencelakai sesama, maka hidupnya akan celaka.
4. Siapa suka meremehkan sesama maka ia akan diremehkan banyak orang.
5. Siapa gemar mencaci dan mengolok orang lain, maka ia akan menjadi orang hina.
6. Siapa yang gemar menyalahkan orang lain, sesungguhnya ialah orang lemah.
7. Siapa menanam “pohon” kebaikan maka ia akan menuai buah kebaikan itu.
Semua itu merupakan contoh kecil, bahwa perbuatan yang kita lakukan merupakan doa untuk kita sendiri. Doa ibarat cermin, yang akan menampakkan gambaran asli atas apa yang kita lakukan. Sering kita saksikan orang-orang yang memiliki kekuatan dalam berdoa, dan kekuatan itu terletak pada konsistensi dalam perbuatannya. Selain itu, kekuatan doa ada pada ketulusan kita sendiri. Sekali lagi ketulusan ini berkaitan erat dengan sikap netral dalam doa, artinya kita tidak menyetir atau mendikte Tuhan.
Berikut ini merupakan “rumus” agar supaya kita lebih cermat dalam mengevaluasi diri kita sendiri;
- Jangan pernah berharap-harap kita menerima (anugrah), apabila kita enggan dalam memberi.
- Jangan pernah berharap-harap akan selamat, apabila kita sering membuat orang lain celaka.
- Jangan pernah berharap-harap mendapat limpahan harta, apabila kita kurang peduli terhadap sesama.
- Jangan pernah berharap-harap mendapat keuntungan besar, apabila kita selalu menghitung untung rugi dalam bersedekah.
- Jangan pernah berharap-harap meraih hidup mulia, apabila kita gemar menghina sesama.
Lima “rumus” di atas hanya sebagian contoh. Silahkan para pembaca yang budiman mengidentifikasi sendiri rumus-rumus selanjutnya, yang tentunya tiada terbatas jumlahnya.
Resume
Doa akan memiliki kekuatan (mustajab), asalkan kita mampu memadukan empat unsur di atas yakni : hati, ucapan, pikiran, dan perbuatan nyata. Dengan syarat perbuatan kita tidak bertentangan dengan isi doa. Di lain sisi amal kebaikan yang kita lakukan pada sesama akan menjadi doa mustajab sepanjang waktu, hanya jika, kita melakukannya dengan ketulusan. Setingkat dengan ketulusan kita di pagi hari saat “membuang ampas makanan” tak berarti.
JIKA INGIN DIBERI,
MEMBERILAH TERLEBIH DAHULU !
Dahulu saya pernah mengalami kebanyakan asa, lalu giat sekali berdoa bermacam-macam hal. Siang-malam berdoa isinya permohonan apa saja yang diinginkan. Waktu berdoa pun hanya pada waktu tertentu yang dianggap tijab. Tetapi saya masih merasakan kehampaan dalam hidup. Bahkan dirasakan realitas yang terjadi justru semakin menjauh dari harapan seperti yang terucap dalam setiap doa. Lama-kelamaan muncul kesadaran ada yang tidak beres dalam prinsip pemahaman saya ini.
Kesadaran diri muncul lagi manakala merasa sangat kurang dalam melakukan amal kebaikan terhadap sesama. Kami berfikir, betapa buruknya tabiat ini, yang selalu banyak meminta-minta, tetapi sedikit “memberi”. Coba mengingat apa saja kebaikan yang pernah kami lakukan pada sesama, Parah…sepertinya kok nggak ada… atau kami yang sudah lupa. Namun yang teringat justru keburukan dan kesalahan yang pernah kami lakukan pada teman, keluarga, orang tua, dan pada orang lain. Kami menjadi resah sendiri, merasa dalam kehidupan ini kami tidak bermanfaat samasekali untuk orang banyak, sementara kami nggak tahu malu dengan selalu meminta-minta terus Hyang Widhi. Egois, maunya enaknya sendiri. Berharap-harap memperoleh pemenuhan hak-hak sebagai manusia ciptaan Tuhan, tetapi enggan memenuhi kewajiban untuk beramal baik pada sesama.
Hingga pada suatu saat kami mendapatkan pelajaran hidup yang sangat berarti, paling tidak menurut diri kami sendiri. Sejak itu, terjadilah perubahan paradigma dalam memandang dan memahami rumus Tuhan. Doa (harapan) adalah perbuatan konkrit. Sejak saat itu, dengan sekuat tenaga setiap saat ada kesempatan kami melakukan sesuatu yang kira-kira ada manfaat untuk orang lain. Dimulai dari hal-hal sepele, sampai yang tidak sepele. Dasar pemikiran kami adalah kesadaran sebagai makhluk Tuhan yang telah menerima sekian puluh atau ratus anugrah dalam setiap detiknya. Namun kenyataannya manusia tiada rasa “malu” setiap saat selalu meminta pada Tuhan. Lantas kapan bersukurnya ? Jika berdoa memohon sesuatu, kami lebih banyak melakukannya untuk mendoakan teman, kerabat, keluarga. Sedangkan untuk diri sendiri, tiada yang pantas dilakukan selain lebih banyak mensyukuri nikmat dan anugrah Tuhan.
Banyak mengucapkan syukur di bibir saja tidak cukup. Kami harus lebih pandai mensyukuri nikmat dan anugrah Tuhan. Rasa bersyukur serta doa-doa melebur dan mewujud ke dalam satu perbuatan. Rasa sukur termanifestasikan kedalam perbuatan yang bermanfaat untuk banyak orang. Demikian pula cara berdoa tidak sekedar terucap melalui mulut, namun lebih penting adalah mewujud dalam perbuatan nyata.
Cara kami berdoa seperti itu mungkin terasa “aneh dan nyleneh” bagi beliau-beliau yang telah berilmu tinggi dan menguasai ajaran agama secara teksbook. Akan tetapi prinsip dan cara-cara itulah yang kami pribadi rasa paling pas. Maklum saya ini orang bodoh yang masih belajar ke sana-kemari. Tetapi paling tidak, kami secara pribadi telah membuktikan manfaat dan hasilnya. Mohon maaf apabila banyak kata dan ucapan yang kurang berkenan, saya menyadari sebagai orang yang masih bodoh banyak kekurangan, tetapi memaksa diri untuk menulis.















221 tanggapan kepada “Rahasia Kekuatan Doa”
Alistya Setyani
Juni 12th, 2012 pada 10:41
Alhamdulillah….matur nuwun sekali atas pencerahannya pak..,sblmnya salam kenal pak…dari tulisan pak sabda ini jd semakin mmbuka khasanah sy tentang hukum2 Tuhan,kodrat-irodatnya Tuhan yang terjadi tak bisa terlepas dari ikhtiar kita sbg manusia yg memang oleh Tuhan sdh dibekali untuk kita tetap survive dlm menjalani kehidupan ini …
Sambil belajar kesana-sini,shg akhirnya ditambah lagi dengan pencerahan dari pak sabda ini…subhanallah..bila kita mau mengamalkn anugrah ilmu kita yg masih sedikit,nanti akan ditambah oleh Tuhan dg caranya yang seringnya tak terduga jalannya dari mana..dan membuka blog pk sabda ini salah satu cara Tuhan menambah pemahaman saya ttg hukum Tuhan yg berlaku di alam semesta ini..
Dulu sebelum sy sedikit tahu tentang ilmu hakikat,dalam menjalani kehidupan sehari2 ..persis seperti yg bapak tulis diatas,bahkan doa-doa yg terucap sdh berderet2 dlm setiap wkt2 berdoa yg sy anggap mustajab…hingga pd suatu ketika Tuhan mmberikan teguran pd sy dan klrg yg menurut sy teguran yg sangat keras,shg mmbuat kaki tak berpijak di bumi saking syok-nya..tapi itulah Tuhan punya kuasa mutlak utk memilih hambaNya yg dikehendakki utk menerima sebuah cubitan sayang..shg mulai saat itu yg dulunya mudah silau,mudah nyandar pd selain kuasaNya jadi berbalik 180′..dan hal itu benar2 mjd titik balik dlm kehidupan berkeTuhanan pd klrg kami…dan stelah kami merubah pola niat,pikir dan tindakan kami..sungguh…benar tulisan pak sabda..amal baik yg tulus dr perbuatan kita adalah doa tak terucap yang sangat mustajab…misalnya saja bila Tuhan mempercayakan menitipkan rejeki pd kita dan krn kita menyikapinya dg rasa syukur dan berbagi kpd sesama,mengapa justru kenikmatan dan rejeki kita semakin ditambah..dan ditambah…logikanya krn Tuhan melihat kita bisa dipercaya dititipi amanah itu,otomatis Tuhan jg akan menambah kepercayaanNya pd kita terus-menerus…dan tanpa diduga permohonan kami yg terucap bertahun2 yg lalu…setelah kita lupa krn kita sibuk mnyelaraskan ke empat komponen doa sprti yg pak sabda sebutkan (keselarasan niat,pikiran,ucapan,tindakn)..tiba2 saja jalan kemudahan dan terkabulnya doa2 kita dulu menjadi mewujud nyata dlm kehidupan kita…yach…memang Tuhan Maha Tahu “saat terbaik” pengabulan doa kita…bisa jadi ketika kita msh memburu hawa nafsu dan doa kita dikabulkan,bisa saja akan mmbuat kita sombong dan makin tersesat…memang benar semua akan indah pada waktuNYA…
Sekali matur nuwun pak sabda pencerahannya…mohon maaf share saya panjang …
Alistya
Liza Natalie
April 19th, 2013 pada 14:17
Saya sangat berterimah kasih banyak kepada PAK MANDALA atas bantuannya saya bisa menang togel, saya benar2 tidak percaya dan hampir pingsan karna angka yang di berikan beliau ternyata tembus. awalnya saya cuma coba2 menelpon, saya bilang saya terlantar di daerah Malaysia. kerja sebagai TKI dan tidak ada ongkos pulang, mulanya saya ragu tapi dengan penuh harapan saya pasangin kali 100 lembar dan ALHAMDULILLAH berhasil. sekali lagi makasih banyak ya PAK… dan saya tidak akan pernah lupa bantuan dan kebaikan PAK MANDALA. kepada saudara yang ingin merubah nasibnya seperti saya silahkan Hub 0823″4898″5714 PAK MANDALA. Demikian kisah nyata dari saya dan ini tanpa rekayasa. INGAT. kesempatan tidak akan pernah datang Yang ke.(2).kalinya…!
Saya sangat berterimah kasih banyak kepada PAK MANDALA atas bantuannya saya bisa menang togel, saya benar2 tidak percaya dan hampir pingsan karna angka yang di berikan beliau ternyata tembus. awalnya saya cuma coba2 menelpon, saya bilang saya terlantar di daerah Malaysia. kerja sebagai TKI dan tidak ada ongkos pulang, mulanya saya ragu tapi dengan penuh harapan saya pasangin kali 100 lembar dan ALHAMDULILLAH berhasil. sekali lagi makasih banyak ya PAK… dan saya tidak akan pernah lupa bantuan dan kebaikan PAK MANDALA. kepada saudara yang ingin merubah nasibnya seperti saya silahkan Hub 0823″4898″5714 PAK MANDALA. Demikian kisah nyata dari saya dan ini tanpa rekayasa. INGAT. kesempatan tidak akan pernah datang Yang ke.(2).kalinya…!
wong pLin PLan
Juni 14th, 2012 pada 18:40
Ok juga pituturnya,sayangnya sbgian org blog ini hny buat bacaan iseng dan pamer kpd org lain,sudah baca spy brbuat baik kpd sesama faktanya kehidupan sehari2 suka menghina org lain,jarang memberi,egois,yg kurang apanya.?
ndableg
Juni 15th, 2012 pada 02:52
isih kurang…?
tak tambahi, ngene carane simbah2 djowo ndhisik donga : “metu seko ati, metu seko pikir, nyawiji (barengan/ora dhisk2an) trus metu seko lathi. NANGING ora keprungu kuping. iso ugo diarani ndremimil. tur sing disuwun mung pangaksumo. menowo wis diparingi pangaksumo, sakabehe dadi berkah. luber semrambah.
ndableg
Juni 15th, 2012 pada 02:28
lha koyo iki, wah mathuk banget ki sabda….
menungso kuwi kakehan penjaluk ning arang sing ngerti roso syukur./ngucap syukur sing temen. yen wis diparingi ora rumongso, yen ora/durung kabul wani nacad sing disuwuni. podho ora ngerti yen lagi dipulukake arep didulangke, ning wis kadung nacad. yo biso ugo batal.
ra dong
Juni 15th, 2012 pada 20:38
Oo.,
yudo
Agustus 14th, 2012 pada 00:54
Q bgung hrus ngomng gmn, q jg sring brtanya2 pd diri q sndri knp q ngrasa direndahn m orang2, g cm tu, q jg ngrasa g dianggep sma orng2, di injak2 harga dirinya, disakitin atinya, apa gara2 q orang g punya dan pngangguran?, q udah brusaha cri2 krja dmn j tp cm interview2 j g dipanggil lg sma prusahaannya wat krja, brdoa jg q Insya Allah trus2n. Tp q prcaya Allah psti bakal ngasih ptunjuk wat hambanya yg sdang ksusahan cm wkyunta blm skarang..Ammiin Ya Allah..
IKPJ
Agustus 31st, 2012 pada 10:55
^_^
Herri Sofian (@Herri89)
September 4th, 2012 pada 17:33
Bener2 menambah wawasan dalam melihat Dunia ini mas.. terima kasih sekali mas atas nasihatnya lwt artikel ini. Moga2 bisa memberi manfaat untuk kami smua, dan memberi manfaat untuk mas yg menulisnya jg.. THX mas
alistya santoso
September 17th, 2012 pada 00:45
Salam kenal pak sabdalangit…saya sangat setuju dg rumusan agar doa mjd makbul dan mustajab..hrs ada sinkronisasi antara niat hati,ucapan,pikiran dan tindakan…insya Allah sdh sy buktikan sendiri apa yg bapak tulis diatas adalah benar adanya…skali lagi trima kasih banyak utk tulisannya pak…sangat inspiring sekali buat kami…”
anggiana
September 27th, 2012 pada 13:18
Terima kasih untuk berbagi
margo santoso
Oktober 12th, 2012 pada 20:31
Matur suwun…? Insya Alloh ngijabahi.. Amin Yarobal ‘Alamin.
Agoest_Cemani
Oktober 21st, 2012 pada 02:50
Barokhallah… Ilmu yg baik dlm bahasa yg santun dan bijak.. Semoga bs menjadikan kesadaran bagi kita (manusia) yg senantiasa dlm kekhilafan asa.. Amin.
Mardiansyah
Oktober 28th, 2012 pada 03:00
saya hanya bisa berucap Alhamdulillahirobbilalamin, sudah bisa pengetahuan dari temen-temen, semoga Allah selalu melimpahkan karunia keimanan dan ketakwaan pada kita semua. Amiiiinnn Yaa Robbal Alamin…..
putra
November 16th, 2012 pada 13:37
sangat brmanfa,at.
Bang Uddin
November 22nd, 2012 pada 11:36
Langkah pertama, hindari perut dari kemasukan barang-barang haram. Jangan sampai sesuap pun makanan haram yang kita telan. Jangan setegukpun minuman haram yang kita minum. Selektiflah dalam memilih makanan, yang meragukan sebaiknya ditinggalkan. Pilih saja makanan atau minuman yang benar-benar halal dan baik. Allah berfirman, “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan, karena sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. al-Baqarah : 168)
Memakan makanan yang halal dan baik merupakan salah satu bentuk dari ketaatan kita kepada Allah dalam memenuhi segala perintah-Nya. Bila kita selalu taat kepada Allah dan dalam mengarungi kehidupan ini senantiasa berada dalam kebenaran, tentulah segala apa yang kita mohon, kita panjatkan, dan kita minta pastilah Allah akan mengabulkannya.
“Aku mengabulkan mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepadaku maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintahKu dan hendaklah mereka berikan kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. al-Baqarah :186)
Langkah kedua, Karena doa ini pekerjaan yang agung dan sangat utama, sebagai inti ibadah, maka dalam pelaksanaannya harus khusyu’dan serius tidak dengan main-main. Usahakan dalam berdoa ini dengan penuh keyakinan, penuh harap dan rasa takut. Merendahkan diri dengan suara yang lirih, tenang, tidak tergesa-gesa, dengan keimanan, dan tahu akan hakikat yang diminta. Allah telah menyatakan,
“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendah diri dan suara yang lembut ..” (QS. al-A’raf : 55)
Langkah ketiga, mengetahui waktu-waktu doa dikabulkan. Walaupun berdoa ini bisa dilakukan sembarang waktu, namun ada waktu-waktu yang memang disunnahkan. Insya Allah pada waktu-waktu ini segala doa akan diperkenankan dan dikabulkan.
SSJ
November 22nd, 2012 pada 17:02
@ Bang Uddin yang terhormat
Allah berfirman, “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan, karena sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. al-Baqarah : 168)
________________________
ukuran halal dan haram itu relatif bagi manusia jagad raya,
definisi syetan itu spt apa?… jangankan mengikuti langkah-langkah syetan, wong bentuknya aja tidak tahu… kalo benar syetan itu musuh yang nyata, sebaiknya dilakukan pendekatan dan musyawarah agar syetan (musuh / lawan) menjadi kawan
===========
Bila kita selalu taat kepada Allah dan dalam mengarungi kehidupan ini senantiasa berada dalam kebenaran, tentulah segala apa yang kita mohon, kita panjatkan, dan kita minta pastilah Allah akan mengabulkannya.
“Aku mengabulkan mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepadaku maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintahKu dan hendaklah mereka berikan kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. al-Baqarah :186)
___________________
kalo gitu bentuklah majelis orang2 beriman dan yang paling taat kepada Allah, untuk berdoa, agar semua syetan lenyap, agar tidak terjadi perang terus di timur tengah, agar kemaksiatan dan korupsi di negri ini lenyap dan FPI tdk main hakim sendiri, agar terorisme habis, agar masyarakat beriman yang miskin hidupnya tidak sengsara….
bukankah ini ide yang bagus, karena pasti dikabulkan oleh Allah.
===========
Karena doa ini pekerjaan yang agung dan sangat utama, sebagai inti ibadah, maka dalam pelaksanaannya harus khusyu’dan serius tidak dengan main-main. Usahakan dalam berdoa ini dengan penuh keyakinan, penuh harap dan rasa takut. Merendahkan diri dengan suara yang lirih, tenang, tidak tergesa-gesa, dengan keimanan, dan tahu akan hakikat yang diminta. Allah telah menyatakan,“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendah diri dan suara yang lembut ..” (QS. al-A’raf : 55)
____________________
berarti kita lebih baik berdoa saja terus, tdk usah cari nafkah, Karena doa ini pekerjaan yang AGUNG dan sangat UTAMA, sebagai inti ibadah. Allah pasti mengabulkan dan hidup kita berkecukupan.
mohon maaf, apakah Allah itu bisa dengar doa yang lirih dan lembut toh..?? tapi yang di masjid2 & musholla2 kok pada pakai pengeras suara, pada kenceng2 suaranya, spt orang urakan yang tau unggah-ungguh
mohon maklum
peace
Hammer
November 22nd, 2012 pada 17:45
Sampurasun…copy pasre dr blog sebelah.
Dwi Raharjo
Hampir mustahil memberikan jumlah tepat mengenai berapa banyak orang yang tewas di tangan kaum komunis China. Diperkirakan sekitar 45-70 juta orang menjadi korban selama masa kepemimpinan Mao Zedong. Penyebab utama genosida adalah karena revolusi kebudayaan pada tahun 1966-1976 yang membuat Zedong melakukan upaya ‘pembersihan’ kaum anti pemerintah. Apapun itu, rezim komunis memang paling mengerikan mengenai upaya genosida.
———————-
Hammer.
Jutaan manusia, harus mati di tangan rezim komunis China dan itu sdh selesai.
Jutaan Orang2 PKI mati di tangan Orde baru Rszim suharto dan ini sdh usai..
Jutaan manusia Yahudi mati di tangan Zioist Adolf Hitler dan ini telah selesai..
Ribuan manusia mati di zaman penyebaran Islam oleh Mohammad di Jazirah Arab,
Dan Jutaan manusia harus mati untuk melanjutkan pennyebaran Ajaran Mohammad ke penjuru dunia dan ini masih belum selesai…
Pertanyaan: Komunis, Zionist, Orde baru, PKI, Islam dimanakah bedanya?
Salam NKRI
Hammer
November 22nd, 2012 pada 19:46
Islam tidak diciptakan utk mengajar manusia secara spiritual, tidak juga membuat mereka dicerahkan. Pesan spiritual dalam islam hanya sampingan atau hampir2 tidak ada. Kesalehan dalam islam berarti harus meniru Muhammad, seorang manusia yang jauh dari saleh. Ritual2 seperti sholat dan puasa hanya pakaian belaka utk memancing orang2 bodoh agar masuk,hanya utk memberi islam penampilan luar, jadi seakan terlihat keramat dan penuh spiritualitas
rferensi; http://www.scribd.com/doc/29733044/Mengenal-Muhammad-By-Ali-Sina
rere
Februari 9th, 2013 pada 00:30
Ali Sina nama samaran pendiri Faith Fredom dari iran yang anti islam, itu memang pendapatnya, agama bisa di pandang dari sudut manapun sesuai pola pikir manusia.
Lila
Desember 29th, 2012 pada 15:25
Rahayu…memang benar yg diuraikan diatas,tpi saya menambahkan satu hal lagi yaitu keikhlasan dan kejujuran dalam hidup kita sehari2 itu kunci untuk berdo’a dan mencari jati diri kita yg sebenarnya,jangan terlalu percaya pada “katanya”kandane,jarene,pada dogma2 buku.
HERRY
Januari 1st, 2013 pada 21:57
ki sabda….matur sembah nuwunn wejangan ipunnn
ijin
nyimakk kiee
yanto87@hotmail.co.u
RAHAYU
RQHAYU
amir
Januari 5th, 2013 pada 23:58
berawal dr pemikiran, merumuskan,sepertinya lebih mudah menangkap menjalankan apa yang ada didalam kitabbuda’wat
muhammad basri
Februari 8th, 2013 pada 01:57
terimsa kasih…..
Amrul Sahri
Februari 14th, 2013 pada 22:58
Wallahualam.Subhanallahi walhamdulillah walailaahaillallaahu wallahuakbar
nafiza
Februari 27th, 2013 pada 15:37
subhanallah..terimakasih sangatt bermanfaat buat saya,agar bs belajar lbh baik.
agus
Maret 26th, 2013 pada 00:00
Mantap ulasan yang logis dan nalar. Sebagai penganut hindu saya sangat terkesan dgn uladan tsb. Its hinduism. Matur nuhun
ahmad fauzi
Maret 31st, 2013 pada 06:14
Sangat berterimakasih..!!!
Postingannya mencerahkan hati dan melebarkan senyuman pagi ini..!!!
cahyo_17
April 4th, 2013 pada 22:29
Terima kasih, smoga bermanfaat………. amiiin.
Ali
Mei 18th, 2013 pada 22:03
Saya semakin sangat amat ingin kenal panjenengan …..
3 Trackbacks / Pingbacks
Mukjizat Pohon Kaladewa « sabdalangit's web: Membangun Bumi Nusantara yang Berbudi Pekerti Luhur Februari 25th, 2010 pada 15:19
[...] anugrah tuhan setelah percaya 100% akan datangnya mukjizat. Maka saya pun hanya menyarankan untuk berdoa secara netral, tidak mendikte tuhan. Bahkan saya tuntun kalimat apa yang layak diucap saat maneges kepada Gusti [...]
Karomah(mukjizat ) pohon kaladewa « Mbahbajang's Blog Maret 15th, 2010 pada 13:24
[...] anugrah tuhan setelah percaya 100% akan datangnya mukjizat. Maka saya pun hanya menyarankan untuk BERDOA SECARA NETRAL, tidak mendikte tuhan. Bahkan saya tuntun kalimat apa yang layak diucap saat maneges kepada Gusti [...]
Mukjizat Pohon Kaladewa « Catatan Tentang Aku dan Dia Maret 26th, 2010 pada 18:02
[...] anugrah tuhan setelah percaya 100% akan datangnya mukjizat. Maka saya pun hanya menyarankan untuk BERDOA SECARA NETRAL, tidak mendikte tuhan. Bahkan saya tuntun kalimat apa yang layak diucap saat maneges kepada Gusti [...]