Rahasia Kekuatan Doa

 

Kami tidak akan membahas mengenai etika berdoa, karena dalam setiap agama tentunya sudah diajarkan mengenai tata cara dan etika berdoa, kami yakin para pembaca sudah lebih memahaminya.  Tujuan kami menulis jauh dari maksud menggurui, semata hanya ingin berbagi pengalaman. Dengan kata lain, apa yang kami sampaikan juga pernah kami lakukan dan rasakan. Tujuan kami menulis adalah untuk berbagi kepada sesama, barangkali dapat memberi sedikit manfaat untuk para pembaca yang budiman. Dengan menggunakan akal budi dan hati nurani (nur/cahaya dalam hati) yang penuh keterbatasan kami berusaha mencermati, mengevaluasi dan kemudian menarik benang merah, berupa nilai-nilai  (hikmah) dari setiap kejadian dan pengalaman dalam doa-doa kami. 

 

Berkaitan dengan Waktu dan tempat yang dianggap mustajab untuk berdoa, kiranya setiap orang memiliki kepercayaan dan keyakinan yang berbeda-beda. Kedua faktor itu berpengaruh pula terhadap kemantapan hati dan tekad dalam mengajukan permemohonan kepada Tuhan YME. Namun bagi saya pribadi semua tempat dan waktu adalah baik untuk melakukan doa. Pun banyak juga orang meyakini bahw doanya akan dikabulkan Tuhan, walaupun doanya bersifat verbal atau sebatas ucapan lisan saja. Hal ini sebagai konsekuensi, bahwa dalam berdoa hendaknya kita selalu berfikir positif (prasangka baik) pada Tuhan. Kami tetap menghargai pendapat demikian.

 

SULITNYA MENILAI KESUKSESAN DOA

 

Banyak orang merasa doanya tidak/belum terkabulkan. Tetapi banyak pula yang merasa bahwa Tuhan telah mengabulkan doa-doa tetapi dalam kadar yang masih minim, masih jauh dari target yang diharapkan. Itu hanya kata perasaan, belum tentu akurat melihat kenyataan sesunggunya. Memang sulit sekali mengukur prosentase antara doa yang dikabulkan dengan yang tidak dikabulkan. Hal itu disebabkan oleh beberapa faktor berikut ;

  1. Kita sering tidak mencermati, bahkan lupa, bahwa anugrah yang kita rasakan hari ini, minggu ini, bulan ini, adalah merupakan “jawaban” Tuhan atas doa yang kita panjatkan sepuluh atau dua puluh Tahun yang lalu. Apabila sempat terlintas fikiran atau kesadaran seperti itu, pun kita masih meragukan kebenarannya. Karena keragu-raguan yang ada di hati kita, akan memunculah asumsi bahwa hanya sedikit doa ku yang dikabulkan Tuhan.
  2. Doa yang kita pinta pada Tuhan Yang Mahatunggal tentu menurut ukuran kita adalah baik dan ideal, akan tetapi apa yang baik dan ideal menurut kita, belum tentu baik dalam perspektif Tuhan. Tanpa kita sadari bisa saja Tuhan mengganti permohonan dan harapan kita dalam bentuk yang lainnya, tentu saja yang paling baik untuk kita. Tuhan Sang Pengelola Waktu, mungkin akan mengabulkan doa kita pada waktu yang tepat pula. Ketidaktahuan dan ketidaksadaran kita akan bahasa dan kehendak Tuhan (rumus/kodrat alam), membuat kita menyimpulkan bahwa doa ku tidak dikabulkan Tuhan.
  3. Prinsip kebaikan meliputi dua sifat atau dimensi, universal dan spesifik. Kebaikan universal, akan berlaku untuk semua orang atau makhluk. Kebaikan misalnya keselamatan, kesehatan, kebahagiaan, dan ketentraman hidup. Sebaliknya, kebaikan yang bersifat spesifik artinya, baik bagi orang lain, belum tentu baik untuk diri kita sendiri. Atau, baik untuk diri kita belum tentu baik untuk orang lain. Kebaikan spesifik meliputi pula dimensi waktu, misalnya tidak baik untuk saat ini, tetapi baik untuk masa yang akan datang. Memang sulit sekali untuk memastikan semua itu. Tetapi paling tidak dalam berdoa, kemungkinan-kemungkinan yang bersifat positif tersebut perlu kita sadari dan terapkan dalam benak. Kita butuh kearifan sikap, kecermatan batin, kesabaran, dan ketabahan dalam berdoa. Jika tidak kita sadari kemungkinan-kemungkinan itu, pada gilirannya akan memunculkan karakter buruk dalam berdoa, yakni; sok tahu. Misalnya berdoa mohon berjodoh dengan si A, mohon diberi rejeki banyak, berdoa supaya rumah yang ditaksirnya dapat jatuh ke tangannya.  Jujur saja, kita belum tentu benar dalam memilih doa dan berharap-harap akan sesuatu. Kebaikan spesifik yang kita harapkan belum tentu menjadi berkah buat kita. Maka kehendak Tuhan untuk melindungi dan menyelamatkan kita, justru dengan cara tidak mengabulkan doa kita. Akan tetapi, kita sering tidak mengerti bahasa Tuhan, lantas berburuk sangka, dan tergesa menyimpulkan bahwa doaku tidak dikabulkan Tuhan.

Tidak gampang memahami apa “kehendak” Tuhan. Diperlukan kearifan sikap dan ketajaman batin untuk memahaminya. Jangan pesimis dulu, sebab siapapun yang mau mengasah ketajaman batin, ia akan memahami apa dan bagaimana “bahasa” Tuhan. Dalam khasanah spiritual Jawa disebut “bisa nggayuh kawicaksanane Gusti”.

 

HAKEKAT DIBALIK KEKUATAN DOA

     Agar doa menjadi mustajab (tijab/makbul/kuat) dapat kita lakukan suatu kiat tertentu. Penting untuk memahami bahwa doa sesungguhnya bukan saja sekedar permohonan (verbal). Lebih dari itu, doa adalah usaha yang nyata netepi rumus/kodrat/hukum Tuhan sebagaimana tanda-tandanya tampak pula pada gejala kosmos. Permohonan kepada Tuhan dapat ditempuh dengan lisan. Tetapi PALING PENTING adalah doa butuh penggabungan antara dimensi batiniah dan lahiriah (laten dan manifesto) metafisik dan fisik. Doa akan menjadi mustajab dan kuat bilamana doa kita berada pada aras hukum atau kodrat Tuhan;

 

  1. Dalam berdoa seyogyanya menggabungkan 4 unsur dalam diri kita; meliputi; hati, pikiran, ucapan, tindakan. Dikatakan bahwa Tuhan berjanji akan mengabulkan setiap doa makhlukNya? tetapi mengapa orang sering merasa ada saja doa yang tidak terkabul ?  Kita tidak perlu berprasangka buruk kepada Tuhan. Bila terjadi kegagalan dalam mewujudkan harapan, berarti ada yang salah dengan diri kita sendiri. Misalnya kita berdoa mohon kesehatan. Hati kita berniat agar jasmani-rohani selalu sehat. Doa juga diikrarkan terucap melalui lisan kita. Pikiran kita juga sudah memikirkan bagaimana caranya hidup yang sehat. Tetapi tindakan kita tidak sinkron, justru makan jerohan, makanan berkolesterol, dan makan secara berlebihan. Hal ini merupakan contoh doa yang tidak kompak dan tidak konsisten. Doa yang kuat dan mustajab harus konsisten dan kompak melibatkan empat unsur di atas. Yakni antara hati (niat), ucapan (statment), pikiran (planning), dan tindakan (action) jangan sampai terjadi kontradiktori. Sebab kekuatan doa yang paling ideal adalah doa yang diikuti dengan PERBUATAN (usaha) secara konkrit.
  2. Untuk hasil akhir, pasrahkan semuanya kepada “kehendak”  Tuhan, tetapi ingat usaha mewujudkan doa merupakan tugas manusia. Berdoa harus dilakukan dengan kesadaran yang penuh, bahwa manusia bertugas mengoptimalkan prosedur dan usaha, soal hasil atau targetnya sesuai harapan atau tidak, biarkan itu menjadi kebijaksanaan dan kewenangan Tuhan. Dengan kata lain, tugas kita adalah berusaha maksimal, keputusan terakhir tetap ada di tangan Tuhan. Saat ini orang sering keliru mengkonsep doa. Asal sudah berdoa, lalu semuanya dipasrahkan kepada Tuhan. Bahkan cenderung berdoa hanya sebatas lisan saja. Selanjutnya doa dan harapan secara mutlak dipasrahkan pada Tuhan. Hal ini merupakan kesalahan besar dalam memahami doa karena terjebak oleh sikap fatalistis. Sikap fatalis menyebabkan kemalasan, perilaku tidak masuk akal dan mudah putus asa. Ujung-ujungnya Tuhan akan dikambinghitamkan, dengan menganggap bahwa kegagalan doanya memang sudah menjadi NASIB yang digariskan Tuhan. Lebih salah kaprah, bilamana dengan gegabah menganggap kegagalannya sebagai bentuk cobaan dari Tuhan (bagi orang yang beriman). Sebab kepasrahan itu artinya pasrah akan penentuan kualitas dan kuantitas hasil akhir. Yang namanya ikhtiar atau usaha tetap menjadi tugas dan tanggungjawab manusia.
  3. Berdoa jangan menuruti harapan dan keinginan diri sendiri, sebaliknya berdoa  itu pada dasarnya menetapkan perilaku dan perbuatan kita ke dalam rumus (kodrat) Tuhan. Kesulitannya adalah mengetahui apakah doa atau harapan kita itu baik atau tidak untuk kita. Misalnya walaupun kita menganggap doa yang kita pintakan adalah baik. Namun kenyataannya kita juga tidak tahu persis, apakah kelak permintaan kita jika terlaksana akan membawa kebaikan atau sebaliknya membuat kita celaka.
  4. Berdoa secara spesifik dan detil dapat mengandung resiko. Misalnya doa agar supaya tender proyek jatuh ke tangan kita,  atau berdoa agar kita terpilih menjadi Bupati. Padahal jika kita bener-bener menjadi Bupati tahun ini, di dalam struktur pemerintahan terdapat orang-orang berbahaya yang akan “menjebak” kita melakukan korupsi. Apa jadinya jika permohonan kita terwujud. Maka dalam berdoa sebaiknya menurut kehendak Tuhan, atau dalam terminologi Jawa “berdoa sesuai kodrat alam” atau hukum alamiah. Caranya, di dalam doa hanya memohon yang terbaik untuk diri kita. Sebagai contoh;  ya Tuhan, andai saja proyek itu memberi kebaikan kepada diriku, keluargaku, dan orang-orang disekitarku, maka perkenankan proyek itu kepadaku, namun apabila tidak membawa berkah untuk ku, jauhkanlah. Dengan berdoa seperti itu, kita serahkan jalan cerita kehidupan ini kepada Gusti Allah, Tuhan Yang Maha Bijaksana.
  5. Doa yang ideal dan etis adalah doa yang tidak menyetir/mendikte Tuhan, doa yang tidak menuruti kemauan diri sendiri, doa yang pasrah kepada Sang Maha Pengatur. Niscaya Tuhan akan meletakkan diri kita pada rumus dan kodrat yang terbaik…untuk masing-masing orang ! Sayangnya, kita sering lupa bahwa doa kita adalah doa sok tahu, pasti baik buat kita, dan doa yang telah menyetir atau mendikte kehendak Tuhan. Dengan pola berdoa seperti ini, doa hanya akan menjadi nafsu belaka, yakni nuruti rahsaning karep.

 

DOA MERUPAKAN PROYEKSI PERBUATAN KITA,

AMAL KEBAIKAN KITA PADA SESAMA MENJADI DOA

TAK TERUCAP YANG MUSTAJAB.

 

     Kalimat sederhana ini merupakan kata kunci memahami misteri kekuatan doa;  doa adalah seumpama cermin !! Doa kita akan terkabul atau tidak  tergantung dari amal kebaikan yang pernah kita lakukan terhadap sesama. Dengan kata lain terkabul atau gagalnya doa-doa kita merupakan cerminan akan amal kebaikan yang pernah kita lakukan pada orang lain. Jika kita secara sadar atau tidak sering mencelakai orang lain maka doa mohon keselamatan akan sia-sia. Sebaliknya, orang yang selalu menolong dan membantu sesama, kebaikannya sudah menjadi “doa” sepanjang waktu, hidupnya selalu mendapat kemudahan dan mendapat keselamatan. Kita gemar dan ikhlas mendermakan harta kita untuk membantu orang-orang yang memang tepat untuk dibantu. Selanjutnya cermati apa yang akan terjadi pada diri kita, rejeki seperti tidak ada habisnya! Semakin banyak beramal, akan semakin banyak pula rejeki kita. Bahkan sebelum kita mengucap doa, Tuhan sudah memenuhi apa-apa yang kita harapkan. Itulah pertanda, bahwa perbuatan dan amal kebaikan kita pada sesama, akan menjadi doa yang tak terucap, tetapi sungguh yang mustajab.  Ibarat sakti tanpa kesaktian. Kita berbuat baik pada orang lain, sesungguhnya perbuatan itu seperti doa untuk kita sendiri.

Dalam tradisi spiritual Jawa terdapat suatu rumus misalnya :

1. Siapa gemar membantu dan menolong orang lain, maka ia akan  selalu mendapatkan kemudahan.

2. Siapa yang memiliki sikap welas asih pada sesama, maka ia akan disayang sesama pula.

3. Siapa suka mencelakai sesama, maka hidupnya akan celaka.

4. Siapa suka meremehkan sesama maka ia akan diremehkan banyak orang.

5. Siapa gemar mencaci dan mengolok orang lain, maka ia akan menjadi orang hina.

6. Siapa yang gemar menyalahkan orang lain, sesungguhnya ialah orang lemah.

7. Siapa menanam “pohon” kebaikan maka ia akan menuai buah kebaikan itu.

Semua itu merupakan contoh kecil, bahwa perbuatan yang kita lakukan merupakan doa untuk kita sendiri. Doa ibarat cermin, yang akan menampakkan gambaran asli atas apa yang kita lakukan. Sering kita saksikan orang-orang yang memiliki kekuatan dalam berdoa,  dan kekuatan itu terletak pada konsistensi dalam perbuatannya. Selain itu, kekuatan doa ada pada ketulusan kita sendiri. Sekali lagi ketulusan ini berkaitan erat dengan sikap netral dalam doa, artinya kita tidak menyetir atau mendikte Tuhan.

 

Berikut ini merupakan “rumus” agar supaya kita lebih cermat dalam mengevaluasi diri kita sendiri;

  1. Jangan pernah berharap-harap kita menerima (anugrah), apabila kita enggan dalam memberi.
  2. Jangan pernah berharap-harap akan selamat, apabila kita sering membuat orang lain celaka.
  3. Jangan pernah berharap-harap mendapat limpahan harta, apabila kita kurang peduli terhadap sesama.
  4. Jangan pernah berharap-harap mendapat keuntungan besar, apabila kita selalu menghitung untung rugi dalam bersedekah.
  5. Jangan pernah berharap-harap meraih hidup mulia, apabila kita gemar menghina sesama.

Lima “rumus” di atas hanya sebagian contoh. Silahkan para pembaca yang budiman mengidentifikasi sendiri rumus-rumus selanjutnya, yang tentunya tiada terbatas jumlahnya.

 

Resume

Doa akan memiliki kekuatan (mustajab), asalkan kita mampu memadukan empat unsur di atas yakni : hati, ucapan, pikiran, dan perbuatan nyata. Dengan syarat perbuatan kita tidak bertentangan dengan isi doa. Di lain sisi amal kebaikan yang kita lakukan pada sesama akan menjadi doa mustajab sepanjang waktu, hanya jika, kita melakukannya dengan ketulusan. Setingkat dengan ketulusan kita di pagi hari saat “membuang ampas makanan” tak berarti.

 

 

JIKA INGIN DIBERI,

MEMBERILAH TERLEBIH DAHULU !

 

Dahulu saya pernah mengalami kebanyakan asa, lalu giat sekali berdoa bermacam-macam hal. Siang-malam berdoa isinya permohonan apa saja yang diinginkan. Waktu berdoa pun hanya pada  waktu tertentu yang dianggap tijab. Tetapi  saya masih merasakan kehampaan dalam hidup. Bahkan dirasakan realitas yang terjadi justru semakin menjauh dari harapan seperti yang terucap dalam setiap doa. Lama-kelamaan muncul kesadaran ada yang tidak beres dalam prinsip pemahaman saya ini.

Kesadaran diri muncul lagi manakala merasa sangat kurang dalam melakukan amal kebaikan terhadap sesama. Kami berfikir, betapa buruknya tabiat ini, yang selalu banyak meminta-minta, tetapi sedikit “memberi”. Coba mengingat apa saja kebaikan yang pernah kami lakukan pada sesama, Parah…sepertinya kok nggak ada… atau kami yang sudah lupa. Namun yang teringat justru keburukan dan kesalahan yang pernah kami lakukan pada teman, keluarga, orang tua, dan pada orang lain. Kami menjadi resah sendiri, merasa dalam kehidupan ini kami tidak bermanfaat samasekali untuk orang banyak, sementara kami nggak tahu malu dengan selalu meminta-minta terus Hyang Widhi. Egois, maunya enaknya sendiri. Berharap-harap memperoleh pemenuhan hak-hak sebagai manusia ciptaan Tuhan, tetapi enggan memenuhi kewajiban untuk beramal baik pada sesama.

Hingga pada suatu saat kami mendapatkan pelajaran hidup yang sangat berarti, paling tidak menurut diri kami sendiri. Sejak itu, terjadilah perubahan paradigma dalam memandang dan memahami rumus Tuhan. Doa (harapan) adalah perbuatan konkrit. Sejak saat itu, dengan sekuat tenaga setiap saat ada kesempatan kami melakukan sesuatu yang kira-kira ada manfaat untuk orang lain. Dimulai dari hal-hal sepele, sampai yang tidak sepele. Dasar pemikiran kami adalah kesadaran sebagai makhluk Tuhan yang telah menerima sekian puluh atau ratus anugrah dalam setiap detiknya. Namun kenyataannya manusia tiada rasa “malu” setiap saat selalu meminta pada Tuhan. Lantas kapan bersukurnya ? Jika berdoa memohon sesuatu, kami lebih banyak melakukannya untuk mendoakan teman, kerabat, keluarga. Sedangkan untuk diri sendiri, tiada yang pantas dilakukan selain lebih banyak mensyukuri nikmat dan anugrah Tuhan.

Banyak mengucapkan syukur di bibir saja tidak cukup. Kami harus lebih pandai mensyukuri nikmat dan anugrah Tuhan. Rasa bersyukur serta doa-doa melebur dan mewujud ke dalam satu perbuatan. Rasa sukur termanifestasikan kedalam perbuatan yang bermanfaat untuk banyak orang. Demikian pula cara berdoa tidak sekedar terucap melalui mulut, namun lebih penting adalah mewujud dalam perbuatan nyata.

Cara kami berdoa seperti itu mungkin terasa “aneh dan nyleneh” bagi beliau-beliau yang telah berilmu tinggi dan menguasai ajaran agama secara teksbook. Akan tetapi prinsip dan cara-cara itulah yang kami pribadi rasa paling pas. Maklum saya ini orang bodoh yang masih belajar ke sana-kemari. Tetapi paling tidak, kami secara pribadi telah membuktikan manfaat dan hasilnya. Mohon maaf apabila banyak kata dan ucapan yang kurang berkenan, saya menyadari sebagai orang yang masih bodoh banyak kekurangan, tetapi memaksa diri untuk menulis.

  1. Mas Daryono Yth
    Terimakasih sekali atas pemaparan kisah yg luar biasa. Perlu kita tegaskan bahwa doa mujarab itu tergantung tiga hal :
    1. Ketulusan.
    2. Makna/maksud yg tersurat di dalam hati.
    3. Doa makbul tidak kenal kasta
    Sedangkan bahasa hanyalah sekedar sembah raga. Hanya sebatas “kulit”, lafad ucapan yg fasih sekedar keahlian ucapan, namun tanpa kedua hal di atas kiranya doa menjadi tawar tak ada daya kekuatannya.
    Doa juga tidak mengenal kasta. Orang suci atau kurang suci hanyalah sekedar penilaian manusia belaka. Kesucian seseorang hanya tuhan yg tahu persisnya. Manusia tak berhak menghakimi kesucian sesama.

    Salam sejati
    Rahayu

  2. Kutipan dari beberapa hadits nabi Muhammad SAW…

    “Sesungguhnya amal-amal perbuatan tergantung niatnya, dan bagi tiap orang apa yang diniatinya. Barangsiapa hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya untuk meraih kesenangan dunia atau menikahi wanita, maka hijrahnya adalah kepada apa yang ia hijrahi.” (HR. Bukhari)

    “Niat seorang mukmin lebih baik dari amalnya”. (HR. Al-Baihaqi dan Ar-Rabii’)

    “Manusia dibangkitkan kembali kelak sesuai dengan niat-niat mereka”. (HR.-Muslim)

    Jadi menurut hadits diatas, maka niat disertai keikhlasan dari seorang anak manusia memegang peranan penting untuk dikabulkan atau tidaknya doa. Semakin tulus dan semakin pasrah akan memiliki kekuatan yang lebih untuk dikabulkan. Walaupun pada akhirnya tetaplah Allah yang menentukan takdir, karena segala sesuatu urusan kembali kepada-Nya.

  3. Mas SomeOne Yth
    Kebetulan sekali panjenengan sedang membahas hadis tersebut Mas. Bukan bermaksud apa-apa, semata-mata demi mendapatkan kemajuan MIND SET yg tepat sehingga bisa meraih kesadaran yg lebih tinggi untuk kita semua yang sama-sama sedang belajar ini. Saya ada beberapa uneg-uneg yg akan saya curhatkan kpd panjenengan mengenai NIAT yg menentukan segalanya.

    Hadis nabi di atas apakah kiranya perlu penafsiran lebih dalam sesuai konteks zaman sekarang, atau sebaliknya cukup diartikan secara teksbook/tekstual apa adanya ?

    Jujur, menurut saya pribadi, Hadis tersebut lebih terasa menggunakan alur pemikiran dengan metode DEDUKTIF.
    Sementara kalau diterapkan zaman sekarang bisa bubar. Krn maling, koruptor, penilep, bisa saja mengklaim NIAT mereka BAIK, lalu berdalih bahwa di tengah jalan melenceng atau menyalahkan pihak lain (setan).

    Adalah suatu pendekatan DEDUKTIF-INDUKTIF atau metode campuran yang sepertinya lebih sesuai diterapkan di zaman sekarang, sbb :
    1. Niat baik – cara baik – hasil baik = … ?
    2. Niat baik – cara baik – hasil kurang memuaskan/kurang baik = …?
    3. Niat baik – cara tidak baik – hasil baik = …?
    4. Niat tidak baik – cara baik – hasil baik = ….?
    5. Niat tidak baik – cara baik – hasil tidak baik = …?
    6. Niat tidak baik – cara tidak baik – hasil buruk = …?
    Ke-Enam probabilitas di atas saya ambil dari beberapa kasus yg sering terjadi di dalam berbagai kisah kehidupan manusia. Masing-masing menjadi suatu rumus rahasia tuhan karena misteri kehidupan tidak sesimpel yang kita bayangkan. Lantas bagaimana kita menjabarkan satu persatu rahasia Ilahi tersebut dengan berangkat dari hadis-hadis di atas?

    Mohon pencerahannya njih mas
    Matur sembah nuwun sebelumnya
    Rahayu

  4. Waduh malah ketambahan pr kih…. hehe mas sabdalangit….

    oke saya ambil dari hadits paling atas aja yah
    “Sesungguhnya amal-amal perbuatan tergantung niatnya, dan bagi tiap orang apa yang diniatinya. Barangsiapa hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya untuk meraih kesenangan dunia atau menikahi wanita, maka hijrahnya adalah kepada apa yang ia hijrahi.” (HR. Bukhari)

    dari hadits diatas menunjukan bahwa Allah mengabulkan setiap doa hambanya berdasarkan niat (doa) dari hamba2nya. Masalah bagaimana wujud dari doa tersebut semua terserah kepada Allah seperti yang mas banyak tulis diatas. Entah lamanya waktu dikabulkannya doa itu semua juga tergantung kepada-Nya, bisa juga melewati setelah kita meninggal pun bisa jadi belum terkabulkan, tapi baru turun di anak cucu / keturunan kita selanjutnya. Karena kesemuanya tetap beracuan kepada rencana-Nya pula.

    Kalau masalah bahasan pendekatan DEDUKTIF-INDUKTIF atau metode campuran yang sepertinya lebih sesuai diterapkan di zaman sekarang, sbb :
    1. Niat baik – cara baik – hasil baik = … ?
    2. Niat baik – cara baik – hasil kurang memuaskan/kurang baik = …?
    3. Niat baik – cara tidak baik – hasil baik = …?
    4. Niat tidak baik – cara baik – hasil baik = ….?
    5. Niat tidak baik – cara baik – hasil tidak baik = …?
    6. Niat tidak baik – cara tidak baik – hasil buruk = …?

    itu juga menunjukan bahwa supaya terkabul suatu doa (hati) juga diperlukan suatu upaya yang benar juga supaya doa tersebut terkabul. Kalaupun belum benar dan gagal ya berusaha lagi supaya benar, demikian pula sebaliknya. Akan tetapi bila Niatan tidak baik, toh pada suatu saat akan kembali kepada yang punya niat, masalah waktu itu akan terjadi sampai dengan waktu yang ditentukan (kecuali kalo Tobat).

    Dari metode diatas saya jadi ingat kejadian yang saya alami, pas dulu sama seperti ini…
    - suatu tujuan baik jika dilaksanakan pada “waktu yang tepat” maka akan menghasilkan suatu yang baik.
    - suatu tujuan baik jika dilaksanakan pada “waktu yang salah” maka bisa berakibat keadaan memburuk
    - suatu tujuan buruk jika mampu dilaksanakan pada “waktu yang tepat” maka menghasilkan suatu yang baik.
    - suatu tujuan buruk jika dilaksanakan pada “waktu yang salah” yo jelas digebuki masyarakat…. kayak maling konangan.

    Jadi ya intinya harus peka terhadap situasi dan “waktu” pada aksi itu dilaksanakan…. yo seperti politikus2 itu lah….. hehehehe

  5. sori kurang ketambahan….
    sori kalo banyak salahnya maklum baru belajar “membaca” itupun yo dengan dibantu kakang sabda langit juga… matur sembah nuwun

    someone

  6. Ternyata hidup yang baik dan benar butuh logika yang lurus juga ya… Namun, bagaimana dengan Nabi Khidir yang membunuh seorang anak? Jelas perilaku ini jelas sebuah pelanggaran HAM berat versi logika Musa AS. Logika: Niat baik–cara tidak baik–hasilnya??? Perkara hasil jelas tidak hanya diukur dengan logika manusia biasa. Toh pada akhirnya soal hasil kita pasrahkan pada Hyang Widi Wasa sebagai Sang Hakim Tertinggi….
    Terkait dengan doa, apakah terkabul maupun tidak pun saya kira ya terserah pada-Nya. Kadang, saya malu berdoa lagi karena semua yang diberikan-Nya sangat luar biasa dan terbaik bagi kita. Doa malah menunjukkan ketidakterimaan kita pada anugerah-Nya. Itu sebabnya, saya malah lebih suka untuk menyapa-NYa daripada meminta dalam bentuk doa-doa. Poro sanak kadang, Ngapunten kalau salah…

    wong alus

    • Dulu Sempat juga terfikir,buat apa berdoa….toh sudah banyak yang Alloh SWt anugerahkan kepada saya.Saya ingin bersyukur saja….Tapi saya khawatir saya di cap orang yang sombong karena tidak mau berdoa…dan cara berdoa yang di tuntunkan Rosululloh SAW adalah dengan perbuatan dan pengucapan….kini saya tetap berdoa, berdoa memohon surga dan berdoa memohon kesalahan saya dimaafkan…berdoa dengan indakan dan mulut mengucapkan….

  7. inggih kang wong alus….
    terkadang saya berpikir juga masalah rencana Allah kenapa dalam beberapa ayat suci ada anjuran berperang juga, seperti halnya berperangnya kaum Yahudi untuk memasuki Betlehem dulu sehingga memunculkan Nabi Daud AS dan selanjutnya Nabi Sulaiman AS. Demikian umat muslimin harus berjuang menegakkan agama Islam dengan menghadapi kaum yang menentang berdirinya Islam. Masalah peperangan juga sebenarnya disinggung di Bharatayudha antara pendawa dan kurawa.

    Padahal pada umumnya manusia ingin damai, dan bukankah Allah itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang yang identik dengan perdamaian juga…..
    Sebenarnya dalam suatu waktu memang peperangan itu perlu dan itu pun sudah digariskan oleh-Nya. Dan itu pun sudah tercatat kesemuanya seperti dapat kita baca di Jangka leluhur kita tuk meramalkan masa depan. Sebenarnya kalau ditilik peperangan itu terkadang perlu untuk melahirkan suatu kebenaran sejati. Untuk memisahkan antara orang yang benar-benar tunduk aturan-Nya dan orang-orang munafik. Dan disitu pula mereka yang mengikuti jalan-Nya akan lebih diperkuat batin-Nya dan lebih mengenal-Nya.

    Dengan peperangan itu pulalah semua karma-karma atau tulah yang selama ini mereka himpun mewujud dalam suatu keselamatan atau kesengsaraan yang nyata. Disitulah kasih dari Gusti Allah mewujud. Sehingga sering kita baca di dalam Al’Quran ada kata-kata “sampai dengan waktu yang ditentukan” baik itu kebaikan maupun kejahatan. Yang menunjukan bahwa sesuatu perbuatan bakal menuai hasil (ngunduh wohing pakarti).

    Dalam peperangan yang terbagi menjadi 3 macam…. (menurut pendapat saya)
    1. Peperangan untuk mempertahankan hidup (sesuai alam/termasuk hewan dan tumbuhan)
    2. Peperangan untuk mempertahankan idealisme (khusus untuk manusia/karena memiliki pikiran dan sesuai alam)
    3. Peperangan karena keserakahan (inilah yang dihindari, karena memiliki daya rusak luar biasa)

    Begitu saja, dan mohon maaf kalo ada kesalahan dalam interpretasinya yah….

    someone

  8. Oh ya kang wong alus….
    walaupun sebenarnya kita ini sakjane merasa gak pantas minta sama yang diatas karena karunia-Nya sungguh luar biasa, tetapi setidaknya kita tetaplah berdoa, karena Gusti Allah sendiri seperti termaktub di Al’Quran dan hadits pun sangat suka diminta oleh hambanya. Dan dengan proses inilah terjalin hubungan komunikasi yang erat antara Gusti Allah dan hambanya, sehingga efek ke depannya Insya Allah kita akan selalu Ingat dan Ngabekti kepadanya, selalu eling.

    Nuwun

  9. Wolo Wolo Kuwato

    Doa adalah permintaan seorang hamba kepada Tuhannya. tentu saja permintaan tersebut adalah permintaan yang baik, karena Tuhan menyukai sesuatu yang baik. SEGALA SESUATU YANG BAIK HARUS DILAKSANAKAN DENGAN CARA-CARA YANG BAIK DAN PROSES YANG BAIK………Insyaallah hasilnya baik. tetapi bila hal tersebut telah dilaksanakan tetapi hasilnya tidak sesuai dengan doa/permintaan kita maka kita harus ingat “belum tentu sesuatu itu baik menurut manusia akan baik pula menurut Tuhan”

  10. dulu saya selalu berdoa meminta pada sang kuasa dan akhir nya sempat saya berfikir apakah yg saya minta sesuai dgn keinginanan Allah,akhirnya 1997 saya berdoa hanya minta bertemu dgn diri sejati yg bakal membawa bahagia,dunia akherat,saya ga pernah meminta pada allah karena saya tau Alloh itu maha mengetahui apa yg ada dalam hari saya .cukup saya pasarkha semua nya pd Allah jadi saya hanya eling wirid mengingat allah.begitu maap jika ada kekurangan

    • Mas Brahmono Yth
      Orang yg mengutamakan rasa sukur dengan ucapan dan tindakan nyata akan lebih bermanfaat ketimbang minta (mohon doa) melulu. Ada istilah MABUK DOA, artinya, mentang-mentang menganggap tuhan sebagai tempat meminta lantas orang tiada henti-hentinya siang malam memohon apapun. Padahal tuhan telah memberikan puluhan bahkan ratusan anugrah dalam setiap detiknya kepada umat manusia. Saya pribadi kadang merasa teramat malu memohon-mohon lagi, akhirnya dalam setiap kesempatan saya gunakan untuk bersyukur kepada tuhan, baik melalui lisan, dan lebih utama dengan perbuatan nyata. Musibah, bencana, wabah, kesulitan dan penderitaan, saya pahami sebagai teguran tuhan agar manusia LEBIH PANDAI MENSYUKURI NIKMAT TUHAN.

      Semoga bermanfaat
      salam sejati

  11. mas sabda langit..
    kebetulan saya juga sedang dalam suatu masalah besar .Kalau sudah mentok begini saya pasti langsung ngadu ke Tuhan dan malunya saya doa saya seperti yang mas bilang doa yang sok teu…
    waduh….jadi selama ini saya salah ya…

  12. slamet rahardjo

    Sugeng siang Mas Sabda Langit…………. apa bagus apabila suatu doa permohonan di niati dengan puasa putih atau patigeni? apakah akan cepat terkabul sesuai harapan?

    • @Ciska Yth
      Karena Tuhan lebih tahu mana yg terbaik untuk kita. Sebaliknya, pilihan dan harapan manusia sekalipun baik, belum tentu terbaik dan tepat untuk kita. Bahkan bisa-bisa mencelakai diri sendiri. Kita akhirnya lebih legowo dan semeleh bila semua pilihan terbaik diserahkan kepada Hyang Manon, yang mahatahu maha melihat.

      @Slamet Rahardjo Yth
      Sugeng siang Mas Slamet, tentu saja dengan puasa mutih tentunya akan lebih berbobot jika dibanding tidak melakukan apa-apa sebagai persiapan. Apapun namanya, puasa mutih, patigeni, puasa biasa merupakan usaha mengendalikan nafsu dan dalam rangka “laku prihatin”. Dengan begitu usaha maneges kepada Yang Mahakuasa akan lebih gentur (kuat dan mempeng).

      Rahayu, karahayon

  13. slamet rahardjo

    Dalam tradisi jawa kalau ada orang punya suatu keinginan yang agak sulit untuk di dapat/di capai, mereka kemudian berusaha puasa mutih bahkan patigeni beberapa hari, di mulai dengan mandi keramas dengan kembang, setelah mandi kembang di larung di sungai, tidurnya pun di depan pintu depan (tritisan) atau di belakang pintu depan dengan kepala persis di belakang pintu, dengan cara begini katanya akan di datangi khodam ghaib dan katanya pula segala permohonan akan terkabul satu persatu, menurut Mas Sabda Langit doa semacam itu bagaimana kebenaranya? Terima kasih (slamet; 0813 2831 6979)

  14. slamet rahardjo

    oh iya Mas Sabda langit, kebetulan saya pernah melakukan ritual seperti yang saya tulis di atas, dan pada malam yang kedua saya mimpi di datangi orang yang berkulit hijau, apa makna mimpi saya itu ya? nuwun. slamet rahardjo

  15. slamet rahardjo

    sugeng siang mas sabda langit, tolong di jawab dong dua pertanyaan saya di atas, matur nuwun mas. salam.

    • Nyuwun pangapunten Mas Slamet Rahardjo, saya sampai kelewatan belum menjawab panjenengan.
      Betul mas, memang teman saya pernah melakukan hal yg sama, sewaktu BPKB mobilnya hilang, setelah neges dengan tidur di depan pintu rumah, beralaskan pupus daun pisang, bantalnya sapu gerang, malam itu ditemui sosok hitam besar, dan selang 2 hari tiba-tiba BPKB diantar seseorang ke rumah, setelah ditemukan di jalan.
      Mengenai sosok hijau tsb mungkin yg kebetulan mbaureksa tempat tersebut. Tata cara tersebut mind-set nya sederhana saja, ibaratnya kita minta bantuan tetangga untuk mencari BPKB yg hilang.
      Jika akan berhasil, biasanya ditandai oleh kedatangan sosok misterius seperti misalnya sosok hijau tsb.

      Rahyu

    • Sugeng Patepungan kangge Om Slamet Rahardjo..
      untuk melengkapi jeaban Om Slamet atas pertanyaanya di atas saya menyarankan Om baca tulisan Pak De Sabdo langit yg ini “kejawen-ajaran leluhur-yang-dicurigai-dikambinghitamkan” di sana dibahas soal Tradisi, Doa’ dan simbol2 yang terjadi dan biasa di terapkan dalam berprilaku Orang Jawa…asyik.bener lho Omm gak ngecap kok saya.

      ngapunten>

  16. Do’a kepada Allah adalah senjata kita semua… , dengan do’a ibaratnya kita melaporkan masalah kita kepada Pimpinan puncak yang mengatur segala-galanya…

  17. “..berjama’ah menyebut asma Allah…saling Asah saling asih..saling asuh…
    berdo’a lah, sambil ber usaha…agar hidup jadi tak sia sia….
    Badan sehat, jiwa sehat, hanya itu yang kami mau.. hidup berkah penuh gairah…”
    mudah mudahan Allah setuju.

  18. tetanggaku dulu pernah bilang ” swarga iku ono cangkeme dhewe dhewe” artinya “surga itu ada di mulutnya sendiri sendiri”. Katanya kalo mulut kita baik, ngomong samm tetahngga selalu baik, senyumnya baik. bercandanya baik, maka surga sudah ada ditangan. sebab kalo tetangga ada kebduri pasti kita ikut diundang. tetangga punya makanan kita bakal dibagi, termasuk kalo tetangga bawa oleh oleh. Nah kalo mulut kita buruk, omongannya buruk, celotehnya buruk, becandanya buruk, senyumnya masam. tetangga nggak suka tetangga ada kenduri kita nggak diundang di nerakalah kita…..

    Jadi memang benar perbuatan baik itu juga wujud dari doa yg maknyusss…eh makbullllllll

  19. Ki Sabdo Langit, miturutku pandongo teng GUSTINE meniko kewajibane menungso, tondo pangucap syukur. Gusti sampun paring kewarasan, keslametan, berkah dll. Ora sak mestine menungso kuwi duwe penganggep yen dongone ora terkabul, jur nyalahke Gustine. Saupomo kita diparingi pancoban kadang nganti duweni pengannggep yen donyane wis kiamat, ngadepi pancoban wau menungso kudu tatag lan pasarah sumarah sarto nrimo. Pacoban wau wujute katresnane Gusti kanggo gembleng manungso nglakoni urip. Lan kebag pengarep-arep rawuhe Gusti ing saklebeting manah kito, suwun.

  20. berdoa…? apakah benar doa itu bisa menjawab segala persoalan dan kebutuhan kita? kalau saya pelajari tulisan di-atas ada satu yang kurang diperhatikan yaitu keinginan TUHAN kepada umat-NYA. keinginan TUHAN sangat perlu diperhatikan supaya kita sebagai umat-NYA tidak selalu curiga kepada TUHAN. banyak umat TUHAN mencurigai TUHAN bila umat-NYA lagi dalam kondisi yang tidak diinginkannya. apa-pun yang terjadi atas hidup kita yang pasti TUHAN mempunyai rencana yang paling indah buat hidup kita ke-depan, .

    • Mas Sigit Yth
      Mungkin panjenengan kurang teliti atau belum tuntas membaca apa yg sdh saya tulis. Apa yg panjenengan maksud sdh banyak saya ulas dan jelaskan di sini. Sumonggo, bisa dibuka-buka lagi, atau bisa menelusuri posting sy yg lainnya. Kita harus pandai membaca Kehendak Tuhan, dalam kalimat saya tekankan jadi org kudu BISO NGGAYUH KAWICAKSANANING GUSTI.

      salam asah asih asuh

  21. artikel yang bagus …… TUHAN MAHA TAU APA YANG KITA BUTUH KAN…….so kita gak usah neko2 ……. nerimo ing pandum tanpo lali usaha….

  22. Nderek remen kaliyan artikel-artikelipun mas sabdolangit

  23. dalam doa tak usah meminta karena Allah tau apa yg kita inginkan krena maha Tahu

  24. Kulo namung nderek njangkepi babagan doa /sembahyang:

    1. Sejatinipun donga (berdoa / sembahyang) meniko inggih rembagan ( berbicara ) antaraning manungso (titah ) kaliyan Gusti Engkang Kagungan jagad.
    2. Sikap raga kaliyan batin kedah sopan , jujur , tulus , andap asor naliko nembe donga (berdoa).
    3.Yen kita pitados dumateng donga kita , langkung-langkung pitados dumateng kersane Gusti , donga panyuwun kita sampun kedadosan.

    Mekaten , nuwun.

  25. Nderek nepangaken,kawulo namung tiyang bodho ingkang boten sumurup nopo2,kawulo bersukur dumateng gusti kang akaryo jagad, saking awalipun facebook saget dipun tepangaken wonten pondokipun ki sabdolangit,wonten mriki kulo saget nambahi wawasan kawulo ingkang cekak,matur nuwun dumateng ki sabdo sumrambah dumateng sederek sedoyo.,mugi tansah pinaringan rahayu..

  26. doa, tidak hanya semata mata untuk kepentingan hidup manusia saja, tp doa jg mengingatkan pd pencipta alam semesta. matur kesuwun…

  27. Mas Sabda Langit,
    dalam pemahaman DaFa ada Fa/hukum/bimbingan dalam setiap ruang dan tingkat di alam semesta.Kami memahami tidak ada hal yang terjadi secara kebetulan.Sehingga tidak lagi meminta atau mengharapkan sesuatu diluar diri ( termasuk berdoa) tetapi terus mencari ke dalam diri sampai mencapai kosong.

    Tetapi di dunia ini manusia seolah harus mengupayakan segala sesuatu baru terjadi- termasuk hal yang disebut doa.

    Kami melihat memohon ini memohon itu dekat dengan KESESATAN karena manusia tidak memahami ( tidak peduli) apa yang dimohonkan itu baik atau buruk- yang pasti demi kepentingan pribadi dan nama.Mereka hanya ingin keinginannya TERKABUL dan semua PENDERITAAN tersingkir.

    Menurut pemahaamanku JADILAH MANUSIA dahulu ( meningkatkan Xinxing/budi pekerti/akhlak)…permohonan TULUS kemudian.Sebab Tuhan,Buddha,Tao,Dewa,Shen hanya melihat hati manusia.

    salam,
    jesseprakasa/falundafahao!!

    • Mas Jesse Yth
      Matur nuwun sdh kerso kumpul bareng di sini. Apa kabarnya ? Hope everything is ok.
      Memang yg namanya doa (lebih tepatnya) bukanlah permintaan namun merupakan upaya penyelarasan, harmonisasi, sinergisme. Banyak doa gagal terwujud karena ada ketimpangan/jurang pemisah yg lebar antara angan2 dan harapan dengan apa yg disiapkan dari dalam diri. Letak terkabulnya doa, bukan dari sesuatu di luar diri, melainkan dari dalam diri kita. Maka saya ungkapkan doa harus melibatkan 4 unsur yg menjadi satu kesatuan dan dilakukan secara “aklamasi” yakni : 1) getaran hati (tekad), 2) ucapan lisan (statement), 3) Pola pikir (mind set), 4) tindakan (action). Tanpa ada sinkronisasi secara kompak di antara ke 4 unsur doa tersebut, pastilah gagal. Sayangnya, masih banyak org menganggap doa itu merupakan fasilitas meminta secara gratis. Padahal kenyataannya tidak demikian. Sebab tetap kembali pada diri sendiri.

      Rahayu

  28. Mas Sabda Langit,
    Terima kasih sudah diterima disini – kabar selalu baik mas:) Karena bagi kami kultivator DaFa hal baik atau buruk tetap hal yang baik.

    Apapun yang diminta bila tak ada dalam takdir kita atau tak ada hal yang dapat dipertukarkan dengan permintaan itu maka tak ada gunanya.Sedang hal mungkin dapat dipertukarkan degan segala adalah DE (berkah,substansi putih) yang diperoleh dari berbuat baik, berbagi atau membayar karma melalui penderitaan dengan sabar/ikhlas.

    Semua ajaran didunia adalah untuk memperoleh DE ( berkah).DE inilah yang paling berharga karena lahir dibawa dan mati dibawa pergi.Segala harta, kedudukan, kekayaan semua tak ada yang dibawa ketika mati.Orang yang memiliki DE banyak- apa saja yang diinginkan mudah diperoleh dengan melakukan penukaran dengan DE ini.

    Segala permintaan/ permohonan manusia UMUMNYA hanya ingin dikabulkan semua hasrat/keinginannya,lepas dari segala penderitaan.Itu sama dengan meminta keluar – pikiran buruk seperti ini MUDAH didengar FUTI (siluman, hantu liar, alien) dan iblis sehingga MEMBANTUnya mewujudkan segala permintaannya.HANYA jika terutama orang in memiliki HAL2 BAIK dalam BADANNYA ini yang digunakan sebagai PERTUKARAN bagi mereka.

    Setelah terkabul alangkah senangnya orang ini DIKIRA TUHANNYA yang mengabulkan segala doannya.Padahal Tuhannya memberi COBAAN agar dia meningkat MALAH minta DIHILANGKAN.Tuhan,Buddha,Shen,Dewa,Tao manapun tidak peduli dengan doa orang seperti ini.

    Inilah yang terjadi DALAM DUNIA maka SAAT INI sangat SULIT menemukan MANUSIA kecuali dalam dirinya sudah dipenuhi FUTI (siluman, hantu liar, alien) dan bahkan banyak yang sudah BERUBAH bukan manusia lagi.Belum lagi termasuk orang yang langsung MEMOHON pada FUTI dan iblis.

    Tetapi bila bahkan memohon ini itu bahkan yang LANGSUNG pada FUTI bila orang ini tidak memiliki HAL2 BAIK DARI TUBUHNYA yang dapat dipertukarkan -TIDAK AKAN DIBERIKAN oleh Futi tersebut.

    Demikian pendalaman Fa mengenai mengapa DOA disebut MEMOHON KELUAR DIRI dan DEKAT dengan KESESATAN mas Sabda Langit.

    Salam,
    jesseprakasa/falundafahao!!

  29. Wah pancen dalemipun Kang Mas Sabda mila regeng lan ngremenaken, ayem, tentrem, welas asih , ebek pangertosan sejati.
    Eh.. Kang Mas. Nyuwun pangapunter badhe nyuwun priksa ” perbedaan antara Doa dengan Sabda itu apa ? kok sepertinya sama sama diucapkan .
    Maklum wong alit dados kedah kathah tanglet nggeh kangmas.
    Salamungalaikuum Rahayuuuu.

  30. Waduh mas jadi inget wejangan simbah “Njaluko Siji – siji marang Gusti ”
    jadi malu klo pas berdoa mintanya rapelan ” ini, itu,begini,begitu,harusgi,pengn itu”
    duh Gusti harusnya kuucap ribuan syukur sebelum ku meminta berbait” doa dan keinginan
    padahal Engkau Maha tau apa yang terbaik bagiku, bahkan nikmatmu slalu tercurahkan sebelum kumeminta..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 895 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: