Category Archives: BUDAYA & SASTRA

MAKNA TEMBANG MACAPAT

TRIWIKRAMA

Triwikrama adalah tiga langkah “Dewa Wisnu” atau Atma Sejati (energi kehidupan) dalam melakukan proses penitisan. Awal mula kehidupan dimulai sejak roh manusia diciptakan Tuhan namun masih berada di alam sunyaruri yang jenjem jinem, dinamakan sebagai zaman kertayuga, zaman serba adem tenteram dan selamat di dalam alam keabadian. Di sana roh belum terpolusi nafsu jasad dan duniawi, atau dengan kata lain digoda oleh “setan” (nafsu negatif). Dari   alam keabadian selanjutnya roh manitis yang pertama kali yakni masuk ke dalam “air” sang bapa, dinamakanlah zaman tirtayuga. Air kehidupan (tirtamaya) yang bersemayam di dalam rahsa sejati sang bapa kemudian menitis ke dalam rahim sang rena (ibu). Penitisan atau langkah kedua Dewa Wisnu ini berproses di dalam zaman dwaparayuga. Sebagai zaman keanehan, karena asal mula wujud sukma adalah berbadan cahya lalu mengejawantah mewujud menjadi jasad manusia. Sang Bapa mengukir jiwa dan sang rena yang mengukir raga. Selama 9 bulan calon manusia berproses di dalam rahim sang rena dari wujud badan cahya menjadi badan raga.  Itulah zaman keanehan atau dwaparayuga. Setelah 9 bulan lamanya sang Dewa Wisnu berada di dalam zaman dwaparayuga. Kemudian langkah Dewa Wisnu menitis yang terakhir kalinya, yakni lahir ke bumi menjadi manusia yang utuh dengan segenap jiwa dan raganya. Panitisan terakhir Dewa Wisnu ke dalam zaman mercapadha. Merca artinya panas atau rusak, padha berarti papan atau tempat. Mercapadha adalah tempat yang panas dan mengalami kerusakan. Disebut juga sebagai Madyapada, madya itu tengah padha berarti tempat. Tempat yang berada di tengah-tengah, terhimpit di antara tempat-tempat gaib. Gaib sebelum kelahiran dan gaib setelah ajal.

KIDUNG PANGURIPAN

“SAKA GURU”

Nah, di zaman Madya atau mercapadha ini manusia memiliki kecenderungan sifat-sifat yang negatif. Sebagai pembawaan unsur “setan”, setan tidak dipahami sebagai makhluk gaib gentayangan penggoda iman, melainkan sebagai kata kiasan dari nafsu negatif yang ada di dalam segumpal darah (kalbu).  Mercapadha merupakan perjalanan hidup PALING SINGKAT namun PALING BERAT dan SANGAT MENENTUKAN kemuliaan manusia dalam KEHIDUPAN SEBENARNYA yang sejati abadi azali. Para perintis bangsa di zaman dulu telah menggambarkan bagaimana keadaan manusia dalam berproses mengarungi kehidupan  di dunia selangkah demi selangkah yang dirangkum dalam tembang macapat (membaca sipat). Masing-masing tembang menggambarkan proses perkembangan manusia dari sejak lahir hingga mati. Ringkasnya, lirik nada yang digubah ke dalam berbagai bentuk tembang menceritakan sifat lahir, sifat hidup, dan sifat mati manusia sebagai sebuah perjalanan yang musti dilalui setiap insan. Penekanan ada pada sifat-sifat buruk manusia, agar supaya tembang tidak sekedar menjadi iming-iming, namun dapat menjadi pepeling dan saka guru untuk perjalanan hidup manusia. Berikut ini alurnya :

1. MIJIL

Mijil artinya lahir. Hasil dari olah jiwa dan raga laki-laki dan perempuan menghasilkan si jabang bayi. Setelah 9 bulan lamanya berada di rahim sang ibu, sudah menjadi kehendak Hyang Widhi si jabang bayi lahir ke bumi. Disambut tangisan membahana waktu pertama merasakan betapa tidak nyamannya berada di alam mercapadha. Sang bayi terlanjur enak hidup di zaman dwaparayuga, namun harus netepi titah Gusti untuk lahir ke bumi. Sang bayi mengenal bahasa universal pertama kali dengan tangisan memilukan hati. Tangisan yang polos, tulus, dan alamiah bagaikan kekuatan getaran mantra tanpa tinulis. Kini orang tua bergembira hati, setelah sembilan bulan lamanya menjaga sikap dan laku prihatin agar sang rena (ibu) dan si ponang (bayi) lahir dengan selamat. Puja puji selalu dipanjat agar mendapat rahmat Tuhan Yang Maha Pemberi Rahmat atas lahirnya si jabang bayi idaman hati. Read the rest of this entry

WARNING DALAM RAMALAN (PREDIKSI)

Warning dari Ramalan !

Dari Futurolog & Pujangga Besar Bumi Nusantara

Untuk generasi penerus bangsa

 

 

Walau kini sudah cukup terlambat melakukan refleksi dan otokritik. Namun demikian akan lebih baik daripada tidak pernah melakukan otokritik sama sekali. Sebagaimana pada abad 18 pernah diperingatkan oleh Pujangga Besar sekaligus Raja di Kraton Mangkunegaran Solo, KGPAA Sri Mangkunegoro IV bahwa suatu saat nanti (masa kini) akan terjadi kecenderungan gejolak para kawula muda generasi penerus bangsa yang sudah hilang penghayatan akan nilai-nilai luhur warisan nenek moyang bangsa. Dan memungkinkan terjadi carut-marut dalam tatanan religi yang mewarnai nusantara.

 

Nilai luhur sungguh tidak bisa dipandang dari mana asalnya. Di muka bumi ini tergelar sedemikian banyaknya bahasa alam, sebagai tanda-tanda kebesaran Tuhan, dan di dalamnya terdapat manifestasi “bahasa Tuhan. Tanda-tanda tersebut, menjadi bahasa  Tuhan yang dapat diserap manusia menggunakan indera batin rahsa sejati. Tidak tergantung dari mana asal negaranya, bangsanya, suku, budaya, ajaran, maupun agamanya. Karena Tuhan tidaklah picik, tidak pula terbatas. Sebaliknya Tuhan Maha Luas Takterbatas, anugrah Tuhan meliputi semua suku, ras, negara dan bangsa manapun. Tuhan bukanlah Zat yang primordial, rasis (membedakan warna kulit), etnosentris (mengagungkan suatu budaya tertentu). Hakekat perbedaan adalah nikmat dan anugrah bagi seluruh manusia tanpa kecuali. Sebagaimana perbedaan telah digelar Tuhan di muka bumi ini, agar supaya manusia menemukan keindahan dan manfaat dari perbedaan itu. Kita sadari bahwa kesuksesan dan keberhasilan berawal dari perbedaan. Kebahagiaan dan ketrentaman juga berawal dari perbedaan. Bahkan manusia lahir di muka bumi merupakan hasil dari perbedaan pula. Sehingga segala sesuatu akan bergulir dalam perubahan yang dinamis dan selaras sesuai kodrat alam semesta yang telah menjadi rumus Tuhan. Berawal dari adanya tesis, lalu terdapat perbedaan berupa antitesis, hasilnya ditemukan hal baru sebagai sintesis. Itulah rumus dialektika alam semesta.

 

Tipe Ramalan atau Prediksi

Ramalan, prediksi, pra-kiraan, merupakan hasil karya manusia menjabarkan kemungkinan-kemungkinan tertentu yang akan terjadi di masa depan (futuristik) dalam jangka waktu tertentu, bisa beberapa tahun, puluhan bahkan ratusan tahun yang akan datang. Dilihat dari metode pendekatannya, terdapat tiga tipe ramalan atau prediksi.  Pertama, ramalan ilmiah yang diperoleh melalui metode ilmiah biasa disebut prediksi, melibatkan data-data kualitatif, kuantitatif, dan kegiatan analiasa serta penyimpulan. Prediksi tipe ini bersifat ilmiah, cukup melibatkan kemampuan jasad yakni akal-budi atau nalar manusia. Prediksi ini tak pernah dikonotasikan secara negatif oleh agama. Kedua, ramalan kawaskitan atau prediksi yang diperoleh melalui metode olah batin (rohani) atau kebatinan (kerohanian), hasilnya disebut sebagai jongko, lazim juga disebut ramalan. Prediksi atau ramalan jenis ini melibatkan  ketajaman intuisi dalam olah batin. Namun demikian, prediksi tipe ini terkadang tidak dapat direncanakan, artinya terjadi secara spontanitas di luar kehendak seseorang yang memperoleh pralambang berupa apa yang akan terjadi. Biasanya ramalan kawaskitan ini tidak berkaitan dengan nasib pribadi seseorang namun cenderung melihat pada skala global. Tipe prediksi kedua ini sering dikonotasikan secara negatif. Ketiga, ramalan menggunakan ilmu magic, ilmu karang, ilmu ketrampilan memainkan media, ramalan dengan melihat ciri fisik, gurat tangan dst. Ramalan jenis ini lebih cenderung digunakan untuk melihat nasib seseorang. Nah, ramalan tipe ketiga ini yang lebih sensitif berbenturan dengan moralitas agama.

 

Mengapa Isi Ramalan Kawaskitan Dikiaskan ?

Terlepas dari berbagai tuduhan dan konotasi negatif sebagian masyarakat, ramalan apapun namanya, terutama yang bersifat kabar buruk, hendaknya dimanfaatkan sebagai peringatan dini agar supaya kita selalu eling dan waspadha. Jangan enggan melakukan otokritik, koreksi diri atau mawas diri agar selalu teguh dalam upaya meningkatkan kesadaran sejati (high consciuousness) kita. Agar supaya kita lebih cermat mengevaluasi diri sendiri, dan tampak di mana titik lemah kita, apa saja yang telah kita lakukan, dan sejauh mana kita mempunyai perilaku yang destruktif. Bila prediksi berupa kabar baik, hendaknya kita selalu terjaga jangan sampai berpangku tangan dan lengah lantas tak berbuat apa-apa dengan hanya menunggu ramalan yang baik datang dengan sendirinya. Kita musti selalu sadar jika berubahnya nasib tergantung diri kita sendiri.

 

Itulah mengapa sebuah ramalan yang berhubungan dengan nasib suatu bangsa. Masyarakat, atau seseorang, biasanya dikemukakan berupa kiasan-kiasan yang multi tafsir, mengandung bias dan sulit dimengerti secara pasti apa maknanya. Pembaca dibiarkan melakukan penafsiran secara bebas, sesuai dengan kemampuan nalar dan batin masing-masing. Tak ada paksaan untuk mematuhi satu pemaknaan saja. Alasannya jelas, bila prediksi atau ramalan mengenai nasib seseorang, masyarakat atau suatu bangsa dideskripsikan secara gamblang bahkan vulgar maka akan membuat orang terlena dan akan mempengaruhi proses menuju ke arah yang baik. Lain halnya ramalan yang bersifat kabar buruk biasanya dikemukakan secara jelas agar supaya menjadi warning bagi generasi penerus untuk lebih hati-hati dalam menjalani kehidupan. Karena kejadian buruk yang kelak menimpa bisa jadi merupakan akibat dari situasi dan kondisi sebelumnya. Maka kebijaksanaan orang-orang zaman dulu selalu wanti-wanti, agar jangan menceritakan ramalan baik yang akan dialami seseorang karena dianggap ora ilok (sunda; pamali) mengko mundak kamanungsan, tidak seyogyanya menceritakan ramalan baik, karena akan membuat kamanungsan, yakni tercemar oleh nafsu/kecenderungan negatif manusia yang berakibat akan mempengaruhi proses.

 

Berikut ini adalah contoh prediksi di masa lalu yang umurnya kurang lebih sudah 170 tahun. Marilah kita cermati saat ini apakah prediksi tersebut cocok sudah terjadi, belum terjadi atau malah meleset.

 

 

Tembang Pucung

 

Nafsu negatif harus dipocong (dimatikan)

Pucung (mati) sajroning ngaurip

Agar supaya urip sajroning pucung (pati)

 

Padha kaping 33

Ngèlmu iku

Kalakoné kanthi laku

Lêkasé lawan kas

Tegesé kas nyantosani

Setyå budåyå pangekesé dúr angkårå

 

Ilmu (hakekat) itu diraih dengan cara menghayati dalam setiap perbuatan,

dimulai dengan kemauan

kemauan membangun kesejahteraan terhadap sesama,

Teguh pada budi pekerti luhur

Sembari menaklukkan semua bafsu angkara

 

Padha kaping 34

Angkara gung

Nèng ånggå anggúng gumulúng

Gegolonganirå

Trilokå lekeri kongsi

Yèn dèn umbar ambabar dadi rubédå.

 

Nafsu angkara yang besar

ada di dalam diri kita sendiri, yang kuat menggumpal

golonganmu hingga tiga zaman,

jika dibiarkan berkembang akan berubah menjadi gangguan besar.

 

Padha kaping 35

Bédå lamun kang wus sengsem

Rèh ngasamun

Semuné ngaksåmå

Sasamané bångså sisip

Sarwå sareh saking mardi martåtåmå

 

Berbeda dengan yang sudah menjiwai,

Watak dan perilaku yang memaafkan

Menghargai perbedaan

selalu sabar berusaha menyejukkan suasana,

 

Padha kaping 36

Taman limut

Durgamèng tyas kang wèh limput

Karem ing karamat

Karana karoban ing sih

Sihing sukmå ngrebdå saardi pengirå

 

Dalam kegelapan

angkara dalam hati yang menghalangi,

semua dapat larut dalam kesakralan hidup yang suci,

tenggelam dalam samodra cinta kasih,

cinta kasih sejati dari sang sukma (sejati)

tumbuh berkembang bagai gunung yang besar

 

Padha kaping 37

Yèku patut tinulat tulat tinurut

Sapituduhirå,

Åjå kåyå jaman mangkin

Kèh prå mudhå mundhi diri rapal maknå

 

Itulah yang pantas diteladani, contoh yang patut diikuti

seperti semua nasehatku

Jangan seperti zaman nanti !!

Akan banyak anak muda yang menyombongkan diri

dengan hafalan-hafalan ayat

 

Padha kaping 38

Durung becus kesusu selak besus

Amaknani rapal

Kåyå sayid weton mesir

Pendhak pendhak angendhak

Gunaning jalmå

 

Belum mumpuni sudah berlagak pintar

Mengartikan ayat bagai sayid dari mesir

Setiap saat meremehkan kemampuan orang lain

 

Padha kaping 39

Kang kadyéku kalebu wong ngaku aku

akalé alangkå

élok Jawané dènmohi

Pakså langkah ngangkah met

Kawruh ing mekah

 

Yang seperti itu termasuk orang gemar mengklaim (budaya luar)

padahal kemampuan nalarnya dangkal

Keindahan ilmu Jawa (kearifan lokal) malah ditolak

Sebaliknya memaksa diri mengejar ilmu di mekah,

 

Padha kaping 40

Nora weruh

rosing råså kang rinuruh

lumeketing ånggå

anggeré pådhå marsudi

kånå kéné kahanané nora bédå

 

Tidak menemukan hakekat ilmu yang dicari,

padahal ilmu sejati berada di dalam jati diri.

Asal mau berusaha

Di sana maupun di sini (hakekatnya) tidak berbeda,

 

Padha kaping 41

Uger lugu

Dèn tå mrih pralebdeng kalbu

Yèn kabul kabukå

Ing drajat kajating urip

Kåyå kang wus winåhyå sekar srinåtå

 

Asal tidak banyak bertingkah mengumbar nafsu,

agar ilmu merasuk ke dalam sanubari

Bila berhasil, terbukalah derajat kemuliaan hidup yang sejatinya

Seperti yang telah tersirat dalam tembang sinom (di atas)

 

Padha kaping 42

Båså ngèlmu

Mupakaté lan panemuné pasahé lan tåpå

Yèn satriyå tanah Jawi

Kunå kunå kang ginilut tripakarå

 

Yang namanya ilmu hakekat,

Titik temu dan ketemunya dapat digapai dengan meredam nafsu

(jangan cari menangnya sendiri, benernya sendiri, dan butuhnya sendiri)

Dan dicapai dengan usaha yang gigih

Bagi satria tanah Jawa,

dahulu yang menjadi pegangan adalah tiga perkara yakni;

 

Padha kaping 43

Lilå lamun kelangan nora gegetun

Trimå yèn ketaman

Sakserik samèng dumadi

Tri legawa

nalangsa srah ing Bathara

 

Pertama, ikhlas bila kehilangan tanpa menyesal,

Kedua, sabar jika disakiti hatinya oleh sesama,

Ketiga, lapang dada sambil berserah diri pada Tuhan

 

Padha kaping 44

Bathårå gung

inguger graning jajantung

Jenèk Hyang wiséså

sånå pasenedan suci

Nora kåyå si mudhå mudhar angkårå

 

Tuhan Maha Agung

Menjiwai dalam setiap hela nafas

hidup menyatu dengan Yang Mahakuasa

teguh mensucikan diri

Tidak seperti yang muda,

Yang mengumbar nafsu angkara

 

Padha kaping 45

Nora uwus karemé anguwus uwus

Uwosé tan ånå

Mung janjiné muring muring

Kåyå butå buteng betah anganiåyå

 

Tidak henti-hentinya gemar mencaci maki

Tanpa ada isinya, kerjaannya marah-marah

seperti sifat raksasa; bodoh, mudah marah dan suka menganiaya sesama

 

Padha kaping 46

Sakèh luput

ing ånggå tansah linimput

Linimpet ing sabdå

narkå tan ånå udani

Lumuh ålå ardane ginåwå gådå

 

Semua kesalahan dalam diri selalu tertutupi,

Dibalut kata-kata yang indah

namun ia mengira tak ada yang mengetahuinya,

Bilangnya enggan berbuat jahat,

padahal tabiat buruknya membawa kehancuran

 

Padha kaping 47

Durung punjul ing kawruh kaselak jujul

Kaseselan håwå cupet

kapepetan pamrih

tangèh nedyå anggambuh mring Hyang Wiséså

 

Belum cakap ilmu sudah keburu ingin dianggap pintar

Terselip hawa nafsu selalu merasa kurang,

tertutup oleh pamrih (cari menangnya sendiri, butuhnya sendiri, dan benernya sendiri)

Maka mustahil manunggal dengan Tuhan Yang Mahakuasa

 

 

Kemampuan melakukan prediski atau meramal tipe kedua melalui ketajaman intuisi batiniah menjadi salah satu barometer untuk mengukur tataran laku spiritual seseorang. Semakin jauh rentang waktu dan ketepatan ramalan semakin tinggi pula kewaskitaan seseorang. Ramalan hanyalah upaya manusia membaca bahasa alam yang di dalamnya banyak terdapat tanda-tanda akan keagungan Tuhan. Percaya atau tidak bukanlah masalah, itu hak setiap orang dan manfaatnya ada pada diri masing-masing orang pula. Bagi yang percaya ramalan berguna agar supaya manusia selalu eling dan waspada dengan meningkatkan sikap hati-hati, setiti, teliti agar mendapat keselamatan lahir-batin. Bagi yang tidak percaya biarkan semua berlangsung sebagaimana adanya tanpa perlu mengerti dan menyaksikan prosesnya. Ramalan bukanlah mendahului kehendak Tuhan, melainkan hanya membaca apa yang menjadi kehendak Tuhan. Apakah kita tahu bila kehendak tuhan telah ada dalam rencana sejak jutaan tahun lalu, jauh sebelum manusia mampu meramal ? atau sebaliknya Tuhan tak pernah bikin rencana semua berjalan tiba-tiba dan sangat mendadak ? Asumsi yang mengatakan ramalan mendahului kehendak Tuhan, terkesan seolah Tuhan menentukan segala sesuatu dengan cara mendadak tanpa rencana. Terasa pula penilaian under-estimate akan kemampuan manusia untuk membaca tanda-tanda kekuasaan Tuhan. Terlepas dari adanya anggapan negatif tersebut marilah kita cermati berbagai kewaskitaan leluhur Nusantara di masa lalu sebagaimana terdapat dalam pupuh Kinanthi Serat Wedhatama berikut ini. Yang berisi nasehat bijaksana sebagai pepeling atau peringatan pada generasi bangsa di masa sekarang agar supaya eling dan waspada terhadap kemungkinan terjadinya gambaran situasi dan kondisi zaman kini sebagaimana tersirat dalam prediksi di atas.

By ; http://sabdalangit.wordpress.com

 

 

Kinanthi

 

Untuk meraih kemuliaan hidup

bekalnya kanthining tumuwuh

yeku kanthi eling lan waspada

berupayalah selalu

 menajamkan kalbu dan batin

 

Padha Kaping 83

Mångkå kanthining tumuwuh,

Salami mung awas éling,

Éling lukitaning alam,

Dadi wiryaning dumadi,

Supadi nir ing sangsåyå,

Yèku pangreksaning urip.

 

Padahal bekalnya kehidupan, selalu waspada dan ingat,

Ingat akan tanda-tanda yang ada di alam semesta,

Menjadi kekuatannya asal-usul,

supaya lepas dari sengsara.

Begitulah memelihara hidup.

 

Padha Kaping 84

Marmå dèn taberi kulup,

Anglung lantiping ati,

Rinå wengi dèn anedya,

Pandak panduking pambudi,

Bèngkas kahardaning driyå,

Supåyå dadyå utami.`

 

Maka rajinlah anak-anakku,

Belajar menajamkan hati, siang malam berusaha,

merasuk ke dalam sanubari, melenyapkan nafsu pribadi,

Agar menjadi (manusia) utama.

 

Padha Kaping 85

Pangasahé sepi samun,

Aywå ésah ing salami,

Samångså wis kawistårå,

Lalandhepé mingis mingis,

Pasah wukir reksåmukå,

Kekes srabédaning budi.

 

Mengasahnya di alam sepi (semedi),

Jangan berhenti selamanya,

Apabila sudah kelihatan, tajamnya luar biasa,

mampu mengiris gunung penghalang,

Lenyap semua penghalang budi.

 

Padha Kaping 86

Déné awas tegesipun,

Weruh warananing urip,

Miwah wisésaning tunggal,

Kang atunggil rinå wengi,

Kang mukitan ing sakarså,

Gumelar ngalam sakalir.

 

Awas itu artinya, tahu penghalang kehidupan,

serta kekuasaan yang tunggal, yang bersatu siang malam,

Yang mengabulkan segala kehendak,

terhampar alam semesta.

 

Padha Kaping 87

Aywå sembrånå ing kalbu,

Wawasen wuwus sirèki,

Ing kono yekti karåså,

Dudu ucapé pribadi,

Marmå dèn sembadèng sedyå,

Wèwèsen praptaning uwis.

 

Hati jangan lengah, waspadailah kata-katamu,

Di situ tentu terasa, bukan ucapan pribadi,

Maka tanggungjawablah,

perhatikan semuanya sampai  tuntas.

By ; http://sabdalangit.wordpress.com

Wulang Sunu

WULANG SUNU

(NASEHAT MULIA UNTUK ANAK)

Karya ISKS Pakubuwana IV

 

1

Wulang sunu kang kinarya gendhing,

kang pinurwa tataning ngawula,

(suwita) ing wong tuwane,

poma padha mituhu,

ing pitutur kang muni tulis,

sapa kang tan nuruta saujareng tutur,

tan urung kasurang-surang,

(donya) ngakir tan urung manggih billahi,

tembe matine nraka.

Wulang Sunu yang digubah dalam tembang,

Yang berisi tuntunan dalam berbakti,

mengabdi kepada orang tua,

maka perhatikanlah,

nasehat yang tertulis,

siapa yang tidak menuruti kata-kata nasehat,

akhirnya terlunta-lunta,

di zaman akhir akan mendapat celaka,

kelak matinya tersiksa.

 

2

Mapan sira mangke anglampahi,

ing pitutur kang muni ing (layang),

pasti becik setemahe,

bekti mring rama ibu duk purwa sira udani,

karya becik lan ala,

saking rama ibu,

duk siro tasih jajabang,

ibu iro kalangkung lara prihatin,

rumeksa maring siro.

Jikalau kamu sudi menjalani,

Nasehat berarti di atas kertas,

Pasti akan baik dalam urusan apa saja,

Berbakti pada ayah ibu

yang dulu kamu …

berbuat baik dan buruk,

dari ayah ibu,

saat kamu masih dalam kandungan,

ibumu lebih menderita dalam  prihatin,

dalam menjaga & memeliharamu

3

Nora eco (dahar) lawan ghuling,

ibu niro rumekso ing siro,

dahar sekul uyah bae,

tan ketang wejah luntur,

nyakot bathok dipun lampahi,

saben ri mring bengawan,

pilis singgul kalampahan,

ibu niri rumekso duk siro alit,

mulane den rumongso.

 

Tidak enak untuk makan dan tidur,

Ibumu selalu mengidamkanmu,

Makan nasi garam saja,

Walaupun hanya minum jamu menyusui,

Menggigit tempurung pun dijalani,

Setiap hari ke sungai,

Pilis (bubuk jamu ditempel di jidat) singgul (bubuk jamu ditempel di kening) dilakoni,

Ibu selalu merawat sejak kamu kecil,

Maka rasakanlah (berimpati)

4

Dhaharira mangke pahit getir,

ibu niro rumekso ing sira,

nora ketang turu samben,

tan ketang komah uyuh gupak tinjo dipun lampahi,

lamun sira wawratana,

tinatur pinangku,

cinowekan ibu nira,

dipun dusi esok sore nganti resik,

lamun luwe dinulang

 

Makananmu nanti pahit getir,

Ibumu selalu merawat dirimu,

tidurnya sekedar sambilan (tidak nyenyak),

walau harus basah kuyup air kencingmu,

berlepotan tai tetep dijalani,

Bila kamu ingin kencing,

Kencing sambil dipangku (tatur), beralaskan ibumu,

Dimandikan pagi sore sampai bersih,

Bila lapar disuapi

5

Duk sira ngumur sangang waresi,

pasti siro yen bisa rumangkang,

ibumu momong karsane,

tan ketang gombal tepung,

rumeksane duk sira alit,

yen sira kirang pangan nora ketang nubruk,

mengko sira wus (diwasa),

nora ana pamalesira,

ngabekti tuhu sira niaya.

 

Waktu kau umur sembilan bulan,

Pasti kau bisa merangkak,

Ibumu tetap mengasuh,

Walaupun apa adanya,

Merawat saat kamu kecil,

Bila kau kurang pangan,

Dipenuhi walau harus ngutang,

Kelak bila kau sudah dewasa  tiada balas-budimu,

Sungguh kamu menganiaya.

 

6

Lamun sira mangke anglampahi,

nganiaya ing wong tuwanira,

ingukum dening Hyang Manon,

tembe yen lamun lampus,

datan wurung pulang lan geni,

yen wong durakeng rena,

sanget siksanipun,

mulane wewekas ingwang,

aja wani dhateng ibu rama kaki,

prentahe lakonano.

 

Bila kelak kamu tetap lakukan,

menganiaya orang tuamu,

bakal dihukum Tuhan,

kelak bila ajal tiba,

akhirnya juga mendapat siksa,

bila orang durhaka kepada ibu,

siksaannya berat sekali,

maka wasiat ku,

jangan berani kepada ibu, dan ayah..anak ku,

perintahnya laksanakan.

7

Parandene mangke sira iki,

yen den wulang dhateng ibu rama,

sok balawanan ucape,

sumahir bali mungkur,

iya iku cegahen kaki,

tan becik temahira,

donya keratipun,

tan wurung kasurang-kasurang,

tembe mati sinatru dening Hyang widhi,

siniksa ing “Malekat”.

 

Kenapa kamu ini,

Bila diajari ibu bapa,

Ucapanmu sering membantah,

Berlagak sudah mahir sambil membelakangi,

Hindarilah sikap itu anakku,

Tidak baik yang akan kau dapatkan,

Dunia akhiratnya,

Toh akhirnya terlunta-lunta,

Kelak akan mati sebagai seteru Tuhan,

Disiksa “malaikat”.

 

 

8

Yen wong anom ingkang anastiti,

tan mangkana ing pamang gihira,

den wulang ibu ramane,

asilo anem ayun,

wong tuwane kinaryo Gusti,

lungo teko anembah iku budi luhung,

serta bekti ing sukma,

hiyo iku kang karyo pati lan urip,

miwah sandhang lan pangan.

 

Bagi anak muda yang patuh,

Bukan begitu sikapmu,

Dibimbing ibu bapanya,

Sikapnya sopan menghargai,

Orang tuanya sebagai “wakil” Tuhan,

Datang-pergi selalu menghormat,

Seperti itu budi-pekerti yang luhur,

Serta berbakti pada Hyang Suksma, yakni Yang Kuasa mematikan dan menghidupkan,

Termasuk sandang dan pangan.

9

Kang wus kaprah nonoman samangke,

anggulang polah,

malang sumirang,

ngisisaken ing wisese,

andadar polah dlurung,

mutingkrang polah mutingkring,

matengkus polah tingkrak,

kantara raganipun,

lampahe same lelewa,

yen gununggung sarirane anjenthit,

ngorekken wong kathah.

 

Kelak, bagi pemuda yang sudah salah kaprah,

Banyak bertingkah,

malang melintang tidak karuan,

membiarkan diri dalam kenistaan,

wataknya sombong tinggi hati,

suka memamerkan keelokan tubuhnya,

lagaknya acuh tak acuh,

mudah tersinggung,

meresahkan banyak orang

 

10

Poma aja na nglakoni,

ing sabarang polah ingkang salah tan wurung weleh polahe,

kasuluh solahipun,

tan kuwama solah kang silip,

semune ingeseman ing sasaminipun,

mulane ta awakingwang,

poma aja na polah kang silip,

samya brongta ing lampah.

 

Maka jangan ada yang mengalami, tingkah laku nista,

Yang salah pasti bakal menanggung malu, ketahuan boroknya, tak ada yang bisa luput,

setiap sikap lacur,

berlagak ramah pada sesama,

ingatlah..anakku,

jangan sampai mempunyai perilaku lacur,

prihatinlah dalam setiap langkah.

11

Lawan malih wekas ingsun kaki,

kalamun sira andarbe karsa,

aja sira tinggal bote,

murwaten lan ragamu,

lamun derajatiro alit,

aja ambek kuwawa,

lamun siro luhur,

den prawira anggepiro,

dipun sabar jatmiko alus ing budi,

iku lampah utama.

 

Dan sekali lagi wasiat ingsun..anakku,

Bilamana kalian mempunyai keinginan,

Pertimbangkan dengan cermat,

Jagalah dirimu,

Bila pangkatmu kecil,

Jangan bertingkah (sok) kuasa,

Bila kalian terhormat,

Besikap sabar, bagus dan halus budi pekertinya,

Itulah perilaku utama.

12

Pramilane nonoman puniki,

den taberi jagong lan wong tuwa,

ingkang becik pituture,

tan sira temahipun,

apan bathin kalawan lahir,

lahire tatakromo,

bathine bekti mring tuhu,

mula eta wekasing wong,

sakathahe anak putu buyut mami,

den samya brongta lampah.

 

Mangkanya jadi anak muda itu

jangan sungkan bergaul dengan orang tua (matang ilmunya),

yang bagus nasehatnya,

bukan kalian bandingannya,

sekalipun batin maupun  lahir,

lahirnya menjaga tata krama,

batinnya mengabdi pada kesetiaan,

itulah wasiatku,

semua anak cucu buyut ku,

kalian terapkan perilaku mulia.

 

WAHYU PANCA WARSITA

WAHYU

 

Menurut sebagian dari faham ajaran spiritual Budaya Jawa, Pancasila itu merupakan bagian dari Wahyu Sapta Warsita Panca Pancataning Mulya (Wahyu tujuh kelompok ajaran yang masing-masing kelompok berisi lima butir ajaran untuk mencapai kemuliaan, ketenteraman, dan kesejahteraan kehidupan alam semesta hingga alam keabadian/ akhirat). Sementara itu ada tokoh spiritual lain menyebutkan Panca Mukti Muni Wacana yang hanya terdiri atas lima kelompok (bukan tujuh).

Sapta Warsita Panca Pancataning Mulya itu terdiri atas :

 

1. Panca Sila.
2. Panca Karya.
3. Panca Guna.
4. Panca Dharma.
5. Panca Jaya.
6. Panca Daya.
7. Panca Pamanunggal.

 

1. Pancasila

 

Pancasila merupakan butir-butir ajaran yang perlu dijadikan rujukan pembentukan sikap dasar atau akhlak manusia.

 

1.1.Hambeg Manembah.

Hambeg manembah adalah sikap ketakwaan seseorang kepada Tuhan Yang Mahaesa.

Manusia sebagai makhluk ciptaanNya wajib memiliki rasa rumangsa lan pangrasa (menyadari) bahwa keberadaannya di dunia ini sebagai hamba ciptaan Ilahi, yang mengemban tugas untuk selalu mengabdi hanya kepadaNya. Dengan pengabdian yang hanya kepadaNya itu, manusia wajib melaksanakan tugas amanah yang diemban, yaitu menjadi khalifah pembangun peradaban serta tatanan kehidupan di alam semesta ini, agar kehidupan umat manusia, makhluk hidup serta alam sekitarnya dapat tenteram, sejahtera, damai, aman sentosa, sehingga dapat menjadi wahana mencapai kebahagiaan abadi di alam kelanggengan ( akhirat ) kelak ( Memayu hayu harjaning Bawana, Memayu hayu harjaning Jagad Traya, Nggayuh kasampurnaning hurip hing Alam Langgeng ).

Dengan sikap ketakwaan ini, semua manusia akan merasa sama, yaitu berorientasi serta merujukkan semua gerak langkah, serta sepak terjangnya, demi mencapai ridlo Ilahi, Tuhan Yang Maha Bijaksana ( Hyang Suksma Kawekas ).

Hambeg Mangeran ini mendasari pembangunan watak, perilaku, serta akhlak manusia. Sedangkang akhlak manusia akan menentukan kualitas hidup dan kehidupan, pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara.

 

1.2.Hambeg Manunggal.

Hambeg manunggal adalah sikap bersatu. Manusia yang hambeg mangeran akan menyadari bahwa manusia itu terlahir di alam dunia ini pada hakekatnya sama. Kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh setiap insan itu memang merupakan tanda-tanda kebesaran Hyang Suksma Adi Luwih ( Tuhan Yang Maha Luhur ). Oleh karena itu sebagai salah satu bentuk dari sikap ketakwaan seseorang adalah sikap hasrat serta kemauan kerasnya untuk bersatu. Perbedaan tingkatan sosial, tingkat kecerdasan, dan perbedaan-perbedaan lain sebenarnya bukan alat untuk saling berpecah belah, tetapi malah harus dapat dipersatukan dalam komposisi kehidupan yang serasi serta bersinergi. Hanya ketakwaan lah yang mampu menjadi pendorong tumbuhnya hambeg manunggal ini, karena manusia akan merasa memiliki satu tujuan hidup, satu orientasi hidup, dan satu visi di dalam kehidupannya.

Di dalam salah satu ajaran spiritual, hambeg manunggal itu dinyatakan sebagai, manunggaling kawula lan gustine (bersatunya antara rakyat dengan pemimpin), manunggale jagad gedhe lan jagad cilik (bersatunya jagad besar dengan jagad kecil ), manunggale manungsa lan alame ( bersatunya manusia dengan alam sekitarnya ), manunggale dhiri lan bebrayan ( bersatunya individu dengan masyarakat luas ), manunggaling sapadha-padha ( persatuan di antara sesama ), dan sebagainya.

 

1.3.Hambeg Welas Asih.

Hambeg welas asih adalah sikap kasih sayang. Manusia yang hambeg mangeran, akan merasa dhirinya dengan sesama manusia memiliki kesamaan hakikat di dalam hidup. Dengan kesadaran itu, setelah hambeg manunggal, manusia wajib memiliki rasa welas asih atau kasih sayang di antara sesamanya. Sikap kasih sayang itu akan mampu semakin mempererat persatuan dan kesatuan.

 

1.4. Hambeg Wisata.

Hambeg wisata adalah sikap tenteram dan mantap. Karena ketakwaannya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, manusia akan bersikap tenteram dan merasa mantap di dalam kehidupannya. Sikap ini tumbuh karena keyakinannya bahwa semua kejadian ini merupakan kehendak Sang Pencipta.

Hambeg wisata bukan berarti pasrah menyerah tanpa usaha, tetapi justru karena kesadaran bahwa semua kejadian di alam semesta ini terjadi karena kehendakNya, sedangkan Tuhan juga menghendaki manusia harus membangun tata kehidupan untuk mensejahterakan kehidupan alam semesta, maka dalam rangka hambeg wisata itu manusia juga merasa tenteram dan mantap dalam melakukan usaha, berkarya, dan upaya di dalam membangun kesejahteraan alam semesta. Manusia akan merasa mantap dan tenteram hidup berinteraksi dengan sesamanya, untuk saling membantu, bahu membahu, saling mengingatkan, saling mat sinamatan, di dalam kehidupan.

 

1.5.Hambeg Makarya Jaya Sasama.

Hambeg Makarya Jaya Sasama adalah sikap kemauan keras berkarya, untuk mencapai kehidupan, kejayaan sesama manusia. Manusia wajib menyadari bahwa keberadaannya berasal dari asal yang sama, oleh karena itu manusia wajib berkarya bersama-sama menurut potensi yang ada pada dirinya masing-masing, sehingga membentuk sinergi yang luar biasa untuk menjapai kesejahteraan hidup bersama. Sikap hambeg makarya jaya sesama akan membangun rasa “tidak rela” jika masih ada sesama manusia yang hidup kekurangan atau kesengsaraan.

2. Panca Karya

Panca karya merupakan butir-butir ajaran sebagai rujukan berkarya di dalam kehidupan.

 

2.1.Karyaning Cipta Tata.

Karyaning Cipta Tata adalah kemampuan berfikir secara runtut, sistematis, tidak semrawut ( tidak worsuh, tidak tumpang tindih ). Manusia wajib mengolah kemampuan berfikir agar mampu menyelesaikan semua persoalan hidup yang dihadapinya secara sistematis dan tuntas. Setiap menghadapi permasalahan wajib mengetahui duduk permasalahannya secara benar, mengetahui tujuan penyelesaian masalah yang benar beserta berbagai standar kriteria kinerja yang hendak dicapainya, mengetahui kendala-kendala yang ada, dan menyusun langkah atau strategi penyelesaian masalah yang optimal.

 

2.2.Karyaning Rasa Resik.

Karyaning rasa resik adalah kemampuan bertindak obyektif, bersih, tanpa dipengaruhi dorongan hawa nafsu, keserakahan, ketamakan, atau kepentingan pribadi yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kebenaran/budi luhur.

 

2.3.Karyaning Karsa Lugu.

Karyaning Karsa Lugu adalah kemampuan berbuat bertindak sesuai suara kesucian relung kalbu yang paling dalam, yang pada dasarnya adalah hakekat kejujuran fitrah Ilahiyah ( sesuai kebenaran sejati yang datang dari Tuhan Yang Maha Suci/Hyang Suksma Jati Kawekas ).

 

2.4.Karyaning Jiwa Mardika.

Karyaning Jiwa Mardika adalah kemampuan berbuat sesuai dengan dorongan Sang Jiwa yang hanya menambatkan segala hasil karya, daya upaya, serta cita-cita kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, terbebas dari cengkeraman pancaindera dan hawa nafsu keserakahan serta ketamakan akan keduniawian. Karyaning Jiwa Mardika akan mampu mengendalikan keduniaan, bukan diperbudak oleh keduniawian ( Sang Jiwa wus bisa murba lan mardikaake sagung paraboting kadonyan ).

 

2.5.Karyaning Suksma Meneng.

Karyaning Suksma Meneng adalah kemampuan berbuat berlandaskan kemantapan peribadatannya kepada Tuhan Yang Maha Bijaksana, berlandaskan kebenaran, keadilan, kesucian fitrah hidup, “ teguh jiwa, teguh suksma, teguh hing panembah “. Di dalam setiap gerak langkahnya, manusia wajib merujukkan hasil karya ciptanya pada kehendak Sang Pencipta, yang menitipkan amanah dunia ini kepada manusia agar selalu sejahtera.

3. Panca Guna.

 

Panca guna merupakan butir-butir ajaran untuk mengolah potensi kepribadian dasar manusia sebagai modal dalam mengarungi bahtera kehidupan.

 

3.1.Guna Empan Papaning Daya Pikir.

Guna empan papaning daya pikir adalah kemampuan untuk berkonsentrasi, berfikir secara benar, efektif, dan efisien ( tidak berfikir melantur, meratapi keterlanjuran, mengkhayal yang tidak bermanfaat, tidak suka menyia-nyiakan waktu ).

 

3.2.Guna Empan Papaning Daya Rasa.

Guna empan papaning daya rasa adalah kemampuan untuk mengendalikan kalbu, serta perasaan ( rasa, rumangsa, lan pangrasa ), secara arif dan bijaksana.

 

3.3.Guna Empan Papaning Daya Karsa.

Guna empan papaning daya karsa adalah kemampuan untuk mengendalikan, dan mengelola kemauan, cita-cita, niyat, dan harapan.

 

3.4.Guna Empan Papaning Daya Karya.

Guna empan papaning daya karya adalah kemampuan untuk berkarya, berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negaranya.

 

3.5.Guna Empan Papaning Daya Panguwasa.

Guna empan papaning daya panguwasa adalah kemampuan untuk memanfaatkan serta mengendalikan kemampuan, kekuasaan, dan kewenangan secara arif dan bijaksana (tidak menyalahgunakan kewenangan). Kewenangan, kekuasaan, serta kemampuan yang dimilikinya dimanfaatkan secara baik, benar, dan tepat untuk mengelola (merencanakan, mengatur, mengendalikan, dan mengawasi ) kehidupan alam semesta.

4. Panca Dharma.

Panca dharma merupakan butir-butir ajaran rujukan pengarahan orientasi hidup dan berkehidupan, sebagai penuntun bagi manusia untuk menentukan visi dan misi hidupnya.

 

4.1.Dharma Marang Hingkang Akarya Jagad.

Dharma marang Hingkang Akarya Jagad adalah melaksanakan perbuatan mulia sebagai perwujudan pelaksanaan kewajiban umat kepada Sang Pencipta. Manusia diciptakan oleh Tuhan Yang Mahaesa untuk selalu menghambakan diri kepada-Nya. Oleh karena itu semua perilaku, budi daya, cipta, rasa, karsa, dan karyanya di dunia tiada lain dilakukan hanya semata-mata sebagai bentuk perwujudan dari peribadatannya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, untuk mensejahterakan alam semesta ( memayu hayuning harjaning bawana, memayu hayuning jagad traya ).

 

4.2.Dharma Marang Dhirine.

Dharma marang dhirine adalah melaksanakan kewajiban untuk memelihara serta mengelola dhirinya secara baik. Olah raga, olah cipta, olah rasa, olah karsa, dan olah karya perlu dilakukan secara baik sehingga sehat jasmani, rohani, lahir, dan batinnya.

Manusia perlu menjaga kesehatan jasmaninya. Namun demikian mengasah budi, melalui belajar agama, budaya, serta olah batin, merupakan kewajiban seseorang terhadap dirinya sendiri agar dapat mencapai kasampurnaning urip, mencapai kebahagiaan serta kesejahteraan di dunia dan di akhirat.

Dengan kesehatan jasmani, rohani, lahir, dan batin tersebut, manusia dapat memberikan manfaat bagi dirinya sendiri.

 

4.3.Dharma Marang Kulawarga.

Dharma marang kulawarga adalah melaksanakan kewajiban untuk memenuhi akhak keluarga. Keluarga merupakan kelompok terkecil binaan manusia sebagai bagian dari masyarakat bangsa dan negara. Pembangunan keluarga merupakan fitrah manusiawi. Kelompoh ini tentunya perlu terbangun secara baik. Oleh karena itu sebagai manusia memiliki kewajiban untuk melaksanakan tugas masing-masing di dalam lingkungan keluarganya secara baik, benar, dan tepat.

 

4.4.Dharma Marang Bebrayan.

Dharma marang bebrayan adalah melaksanakan kewajiban untuk turut serta membangun kehidupan bermasyarakat secara baik, agar dapat membangun masyarakat binaan yang tenteram damai, sejahtera, aman sentosa.

 

4.5.Dharma Marang Nagara.

Dharma marang nagara adalah melaksanakan kewajiban untuk turut serta membangun negara sesuai peran dan kedudukannya masing-masing, demi kesejahteraan, kemuliaan, ketenteraman, keamanan, kesetosaan, kedaulatan, keluhuran martabat, kejayaan, keadilan, dan kemakmuran bangsa dan negaran beserta seluruh lapisan rakyat, dan masyarakatnya.

5. Panca Jaya.

Panca jaya merupakan butir-butir ajaran sebagai rujukan penetapan standar kriteria atau tolok ukur hidup dan kehidupan manusia.

 

5.1.Jayeng Dhiri.

Jayeng dhiri artinya mampu menguasai, mengendalikan, serta mengelola dirinya sendiri, sehingga mampu menyelesaikan semua persoalan hidup yang dihadapinya, tanpa kesombongan ( ora rumangsa bisa, nanging bisa rumangsa lan hangrumangsani, kanthi rasa, rumangsa, lan pangrasa ).

 

5.2.Jayeng Bhaya.

Jayeng Bhaya artinya mampu menghadapi, menanggulangi, dan mengatasi semua bahaya, ancaman, tantangan, gangguan, serta hambatan yang dihadapinya setiap saat, dengan modal kepandaian, kepiawaian, kecakapan, akal, budi pekeri, ilmu, pengetahuan, kecerdikan, siasat, kiat-kiat, dan ketekunan yang dimilikinya. Dengan modal itu, seseorang diharapkan mampu mengatasi semua permasalahan dengan cara yang optimal, tanpa melalui pengorbanan ( mendatangkan dampak negatif ), sehingga sering disebut ‘nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake‘ ( menyerang tanpa pasukan, menang dengan tidak mengalahkan).

 

5.3.Jayeng Donya.

Jayeng donya artinya mampu memenuhi kebutuhan kehidupan di dunia, tanpa dikendalikan oleh dorongan nafsu keserakahan. Dengan kemampuan mengendalikan nafsu keserakahan di dalam memenuhi segala bentuk hajat serta kebutuhan hidup, maka manusia akan selalu peduli terhadap kebutuhan orang lain, dengan semangat tolong menolong, serta memberikan hak-hak orang lain, termasuk fakir miskin ( orang lemah yang nandang kesusahan/ papa cintraka).

 

5.4.Jayeng Bawana Langgeng.

Jayeng bawana langgeng artinya mampu mengalahkan semua rintangan, cobaan, dan godaan di dalam kehidupan untuk mempersiapkan diri, keturunan, dan generasi penerus sehingga mampu mencapai kebahagiaan hidup dan kehidupan di dunia dan akhirat.

 

5.5.Jayeng Lana ( mangwaseng hurip lahir batin kanthi langgeng ).

Jayeng lana artinya mampu secara konsisten menguasai serta mengendalikan diri lahir dan batin, sehingga tetap berada pada hidup dan kehidupan di bawah ridlo Ilahi.

6. Panca Daya.

Panca daya merupakan butir-butir ajaran sebagai rujukan sikap dan perilaku manusia sebagai insan sosial, atau bagian dari warga masyarakat, bangsa dan negara. Di samping itu sementara para penghayat spiritual kebudayaan Jawa mengisyaratkan bahwa pancadaya itu merupakan komponen yang mutlak sebagai syarat pembangunan masyarakat yang adil, makmur, sejahtera, aman, dan sentosa lahir batin.

 

6.1.Daya Kawruh Luhuring Sujanma.

Daya kawruh luhuring sujanma artinya kekuatan ilmu pengetahuan yang mampu memberikan manfaat kepada kesejahteraan alam semesta.

 

6.2.Daya Adiling Pangarsa.

Daya adiling pangarsa/tuwanggana artinya kekuatan keadilan para pemimpin.

 

6.3.Daya Katemenaning Pangupa Boga.

Daya katemenaning pangupa boga artinya kekuatan kejujuran para pelaku perekonomian ( pedagang, pengusaha ).

 

6.4.Daya Kasetyaning Para Punggawa lan Nayaka.

Daya kasetyaning para punggawa lan nayaka artinya kekuatan kesetiaan para pegawai/ karyawan.

 

6.5.Daya Panembahing Para Kawula.

Daya panembahing para kawula artinya kekuatan kemuliaan akhlak seluruh lapisan masyarakat ( mulai rakyat kecil hingga para pemimpinnya; mulai yang lemah hingga yang kuat, mulai yang nestapa hingga yang kaya raya, mulai kopral hingga jenderal, mulai sengsarawan hingga hartawan ).

 

7. Panca Pamanunggal ( Panca Panunggal ).

Panca pamanunggal adalah butir-butir ajaran rujukan kriteria sosok manusia pemersatu. Sementara tokoh penghayat spiritual jawa menyebutkan bahwa sosok pimpinan yang adil dan akan mampu mengangkat harkat serta martabat bangsanya adalah sosok pimpinan yang di dalam jiwa dan raganya bersemayam perpaduan kelima komponen ini.

 

7.1.Pandhita Suci Hing Cipta Nala.

Pandita suci hing cipta nala adalah sosok insan yang memiliki sifat fitrah, yaitu kesucian lahir batin, kesucian fikir dan tingkah laku demi memperoleh ridlo Ilahi.

 

7.2.Pamong Waskita.

Pamong waskita adalah sosok insan yang mampu menjadi pelayan masyarakat yang tanggap aspirasi yang dilayaninya.

 

7.3.Pangayom Pradah Ber Budi Bawa Bawa Leksana.

Pangayom pradhah ber budi bawa leksana adalah sosok insan yang mampu melindungi semua yang ada di bawah tanggungjawabnya, mampu bersifat menjaga amanah dan berbuat adil berdasarkan kejujuran.

 

7.4.Pangarsa Mulya Limpat Wicaksana.

Pangarsa mulya limpat wicaksana artinya sosok insan pemimpin yang berbudi luhur, berakhlak mulia, cakap, pandai, handal, profesional, bertanggungjawab, serta bijaksana.

 

7.5.Pangreh Wibawa Lumaku Tama.

Pangreh wibawa lumaku tama artinya sosok insan pengatur, penguasa, pengelola yang berwibawa, memiliki jiwa kepemimpinan yang baik, mampu mengatur bawahan dengan kewenangan yang dimilikinya, tetapi tidak sewenang-wenang, karena berada di dalam selalu berada di dalam koridor perilaku yang mulia (laku utama).

 

 

KONTEMPLASI UNTUK SEMUA AGAMA

MENGAPA KEBUDAYAAN JAWA

MENGALAMI KEMUNDURAN YANG SIGNIFIKAN ?

Pengantar

Manusia Jawa adalah mayoritas di Indonesia. Nasib bangsa Indonesia sangat tergantung kepada kemampuan penalaran, skill, dan manajemen manusia Jawa (MJ). Sayang sekali s/d saat ini, MJ mengalami krisis kebudayaan; hal ini disebabkan Kebudayaan Jawa (KJ) dibiarkan merana, tidak terawat, dan tidak dikembangkan oleh pihak2 yang berkompeten (TERUTAMA OLEH POLITISI). Bahkan KJ terkesan dibiarkan mati merana digerilya oleh kebudayaan asing (terutama dari timur tengah/Arab). Mochtar Lubis dalam bukunya: Manusia Indonesia Baru, juga mengkritisi watak2 negatip manusia Jawa seperti munafik, feodal, malas, tidak suka bertanggung jawab, suka gengsi dan prestis, dan tidak suka bisnis (lebih aman jadi pegawai).
Kemunduran kebudayaan Jawa tidak lepas dari dosa regim Orde Baru. Strategi regim Soeharto untuk melepaskan diri dari tuannya (USA dkk.) dan tekanan kaum reformis melalui politisasi agama Islam menjadikan Indonesia mengarah ke ideologi Timur Tengah (Arab). Indonesia saat ini (2007) adalah kembali menjadi ajang pertempuran antara: Barat lawan Timur Tengah, antara kaum sekuler dan kaum Islam, antara modernitas dan kekolotan agama. (mohon dibaca artikel yang lain dulu, sebaiknya sesuai no. urut)

Boleh diibaratkan bahwa manusia Jawa terusmenerus mengalami penjajahan, misalnya penjajahan oleh:
– Bs. Belanda selama 300 tahunan
– Bs. Jepang selama hampir 3 tahunan
– Regim Soeharto/ORBA selama hampir 32 tahun (Londo Ireng).
– Negara Adidaya/perusahaan multi nasioanal selama ORBA s/d saat ini.
– Sekarang dan dimasa dekat, bila tidak hati2, diramalkan bahwa Indonesia akan menjadi negara boneka Timur Tengah/Arab Saudi (melalui kendaraan utama politisasi agama).

Kemunduran kebudayaan manusia Jawa sangat terasa sekali, karena suku Jawa adalah mayoritas di Indonesia, maka kemundurannya mengakibatkan kemunduran negara Indonesia, sebagai contoh kemunduran adalah terpaan berbagai krisis yang tak pernah selesai dialami oleh bangsa Indonesia. Politisasi uang dan agama mengakibatkan percepatan krisis kebudayaan Jawa, seperti analisa dibawah ini.
Gerilya Kebudayaan
Negara2 TIMTENG/ARAB harus berjuang sekuat tenaga dengan cara apapun untuk mendapat devisa selain dari kekayaan minyak (petro dollar), hal ini mengingat tambang minyak di Timur Tengah (TIMTENG/Arab) adalah terbatas umurnya; diperkirakan oleh para ahli bahwa umur tambang minyak sekitar 15 tahun lagi, disamping itu, penemuan energi alternatip akan dapat membuat minyak turun harganya. Begitu negara Timur Tengah mendapat angin dari regim Orde Baru, Indonesia lalu bagaikan diterpa badai gurun Sahara yang panas! Pemanfaatan agama (politisasi agama) oleh negara asing (negara2 Arab) untuk mendominasi dan menipiskan kebudayaan setempat (Indonesia) mendapatkan angin bagus, ini berlangsung dengan begitu kuat dan begitu vulgarnya. Gerilya kebudayaan asing lewat politisasi agama begitu gencarnya, terutama lewat media televisi, majalah, buku dan radio. Gerilya kebudayaan melalui TV ini sungguh secara halus-nylamur-tak kentara, orang awam pasti sulit mencernanya! Berikut ini adalah gerilya kebudayaan yang sedang berlangsung:
– Dalam sinetron, hal-hal yang berbau mistik, dukun, santet dan yang negatip sering dikonotasikan dengan manusia yang mengenakan pakaian adat Jawa seperti surjan, batik, blangkon kebaya dan keris; kemudian hal-hal yang berkenaan dengan kebaikan dan kesucian dihubungkan dengan pakaian keagamaan dari Timur Tengah/Arab. Kebudayaan yang Jawa dikalahkan oleh yang Timur Tengah.
– Artis2 film dan sinetron digarap duluan mengingat mereka adalah banyak menjadi idola masyarakat muda (yang nalarnya kurang jalan). Para artis, yang blo’oon politik ini, bagaikan di masukan ke salon rias Timur Tengah/Arab, untuk kemudian ditampilkan di layar televisi, koran, dan majalah demi membentuk mind set (seting pikiran) yang berkiblat ke Arab.
– Bahasa Jawa beserta ungkapannya yang sangat luas, luhur, dalam, dan fleksibel juga digerilya. Dimulai dengan salam pertemuan yang memakai assalam…dan wassalam…. Dulu kita bangga dengan ungkapan: Tut wuri handayani, menang tanpo ngasorake, gotong royong, dsb.; sekarang kita dibiasakan oleh para gerilyawan kebudayaan dengan istilah2 asing dari Arab, misalnya: amal maruh nahi mungkar, saleh dan soleha, dst. Untuk memperkuat gerilya, dikonotasikan bahwa bhs. Arab itu membuat manusia dekat dengan surga! Sungguh cerdik dan licik.
– Kebaya, modolan dan surjan diganti dengan jilbab, celana congkrang, dan jenggot ala orang Arab. Nama2 Jawa dengan Ki dan Nyi (misal Ki Hajar …) mulai dihilangkan, nama ke Arab2an dipopulerkan. Dalam wayang kulit, juga dilakukan gerilya kebudayaan: senjata pamungkas raja Pandawa yaitu Puntadewa menjadi disebut Kalimat Syahadat (jimat Kalimo Sodo), padahal wayang kulit berasal dari agama Hindu (banyak dewa-dewinya yang tidak Islami), jadi bukan Islam; bukankah ini sangat memalukan? Gending2 Jawa yang indah, gending2 dolanan anak2 yang bagus semisal: jamuran, cublak2 suweng, soyang2, dst., sedikit demi sedikit digerilya dan digeser dengan musik qasidahan dari Arab. Dibeberapa tempat (Padang, Aceh, Jawa Barat) usaha menetapkan hukum syariah Islam terus digulirkan, dimulai dengan kewajiban berjilbab! Kemudian, mereka lebih dalam lagi mulai mengusik ke bhinekaan Indonesia, dengan berbagai larangan dan usikan bangunan2 ibadah dan sekolah non Islam.
– Gerilya lewat pendidikan juga gencar, perguruan berbasis Taman Siswa yang nasionalis, pluralis dan menjujung tinggi kebudayaan Jawa secara lambat namun pasti juga digerilya, mereka ini digeser oleh madrasah2/pesantren2. Padahal Taman Siswa adalah asli produk perjuangan dan merupakan kebanggaan manusia Jawa. UU Sisdiknas juga merupakan gerilya yang luar biasa berhasilnya. Sekolah swasta berciri keagamaan non Islam dipaksa menyediakan guru beragama Islam, sehingga ciri mereka lenyap.
– Demikian pula dengan perbankan, mereka ingin eksklusif dengan bank syariah, dengan menghindari kata bunga/rente/riba; istilah ke Arab2an pun diada-adakan, walau nampak kurang logis! Seperti USA memakai IMF, dan orang Yahudi menguasai finansial, maka manusia Arab ingin mendominasi Indonesia memakai strategi halal-haramnya pinjaman, misalnya lewat bank syariah.
– Keberhasilan perempuan dalam menduduki jabatan tinggi di pegawai negeri (eselon 1 s/d 3) dikonotasikan/dipotretkan dengan penampilan berjilbab dan naik mobil yang baik. Para pejabat eselon ini lalu memberikan pengarahan untuk arabisasi pakaian dinas di kantor masing2.
– Di hampir pelosok P. Jawa kita dapat menyaksikan bangunan2 masjid yang megah, dana pembangunan dari Arab luar biasa besarnya. Bahkan organisasi preman bentukan militer di jaman ORBA, yaitu Pemuda Pancasila, pun mendapatkan grojogan dana dari Timur Tengah untuk membangun pesantren2 di Kalimantan, luar biasa!
– Fatwa MUI pada bulan Agustus 2005 tentang larangan2 yang tidak berdasar nalar dan tidak menjaga keharmonisan masyarakat sungguh menyakitkan manusia Jawa yang suka damai dan harmoni. Bila ulama hanya menjadi sekedar alat politik, maka panglima agama adalah ulama politikus yang mementingkan uang, kekuasaan dan jabatan saja; efek keputusan tidak mereka hiraukan. Sejarah ORBA membuktikan bahwa MUI dan ICMI adalah alat regim ORBA yang sangat canggih. Saat ini, MUI boleh dikata telah menjadi alat negara asing (Arab) untuk menguasai
– Dimasa lalu, banyak orang cerdas mengatakan bahwa Wali Songo adalah bagaikan MUI sekarang ini, dakwah mereka penuh gerilya kebudayaan dan politik. Manusia Majapahit digerilya, sehingga terdesak ke Bromo (suku Tengger) dan pulau Bali. Mengingat negara baru memerangi KKN, mestinya fatwa MUI adalah tentang KKN (yang relevan), misal pejabat tinggi negara yang PNS yang mempunyai tabungan diatas 3 milyar rupiah diharuskan mengembalikan uang haram itu (sebab hasil KKN), namun karena memang ditujukan untuk membelokan pemberantasan KKN, yang terjadi justru sebaliknya, fatwanya justru yang aneh2 dan merusak keharmonisan kebhinekaan Indonesia!
– Buku2 yang sulit diterima nalar, dan secara ngawur dan membabi buta ditulis hanya untuk melawan dominasi ilmuwan Barat saat ini membanjiri pasaran di Indonesia. Rupanya ilmuwan Timur Tengah ingin melawan ilmuwan Barat, semua teori Barat yang rasional-empiris dilawan dengan teori Timur Tengah yang berbasis intuisi-agamis (berbasis Al-Quran), misal teori kebutuhan Maslow yang sangat populer dilawankan teori kebutuhan spiritual Nabi Ibrahim, teori EQ ditandingi dengan ESQ, dst. Masyarakat Indonesia harus selalu siap dan waspada dalam memilih buku yang ingin dibacanya.
– Dengan halus, licik tapi mengena, mass media, terutama TV dan radio, telah digunakan untuk membunuh karakater (character assasination) budaya Jawa dan meninggikan karakter budaya Arab (lewat agama)! Para gerilyawan juga menyelipkan filosofis yang amat sangat cerdik, yaitu: kebudayaan Arab itu bagian dari kebudayaan pribumi, kebudayaan Barat (dan Cina) itu kebudayaan asing; jadi harus ditentang karena tidak sesuai! Padahal kebudayaan Arab adalah sangat asing!
– Gerilya yang cerdik dan rapi sekali adalah melalui peraturan negara seperti undang-undang, misalnya hukum Syariah yang mulai diterapkan di sementara daerah, U.U. SISDIKNAS, dan rencana UU Anti Pornografi dan Pornoaksi (yang sangat bertentangan dengan Bhineka Tunggal Ika dan sangat menjahati/menjaili kaum wanita dan pekerja seni). Menurut Gus Dur, RUU APP telah melanggar Undang-Undang Dasar 1945 karena tidak memberikan tempat terhadap perbedaan. Padahal, UUD 1945 telah memberi ruang seluas-luasnya bagi keragaman di Indonesia. RUU APP juga mengancam demokrasi bangsa yang mensyaratkan kedaulatan hukum dan perlakuan sama terhadap setiap warga negara di depan hukum. Gus Dur menolak RUU APP dan meminta pemerintah mengoptimalkan penegakan undang-undang lain yang telah mengakomodir pornografi dan pornoaksi. “Telah terjadi formalisasi dan arabisasi saat ini. Kalau sikap Nahdlatul Ulama sangat jelas bahwa untuk menjalankan syariat Islam tidak perlu negara Islam,” ungkapnya. (Kompas, 3 Maret 2006).

- Puncak gerilya kebudayaan adalah tidak diberikannya tempat untuk kepercayaan asli, misalnya Kejawen, dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP), dan urusan pernikahan/perceraian bagi kaum kepercayaan asli ditiadakan. Kejawen, harta warisan nenek moyang, yang kaya akan nilai: pluralisme, humanisme, harmoni, religius, anti kekerasan dan nasionalisme, ternyata tidak hanya digerilya, melainkan akan dibunuh dan dimatikan secara perlahan! Sungguh sangat disayangkan! Urusan perkawinan dan kematian untuk MJ penganut Kejawen dipersulit sedemikian rupa, urusan ini harus dikembalikan ke agama masing2! Sementara itu aliran setingkat Kejawen yang disebut Kong Hu Chu yang berasal dari RRC justru disyahkan keberadaannya. Sungguh sangat sadis para gerilyawan kebudayaan ini!
– Gerilya kebudayaan juga telah mempengaruhi perilaku manusia Jawa, orang Jawa yang dahulu dikenal lemah-lembut, andap asor, cerdas, dan harmoni; namun sekarang sudah terbalik: suka kerusuhan dan kekerasan, suka menentang harmoni. Bayangkan saja, kota Solo yang dulu terkenal putri nya yang lemah lembut (putri Solo, lakune koyo macan luwe) digerilya menjadi kota yang suka kekerasan, ulama Arab (Basyir) mendirikan pesantren Ngruki untuk mencuci otak anak2 muda. Akhir2 ini kota Solo kesulitan mendatangkan turis manca negara, karena kota Solo sudah diidentikan dengan kekerasan sektarian. Untuk diketahui, di Pakistan, banyak madrasah disinyalir dijadikan tempat brain washing dan baiat. Banyak intelektual muda kita di universitas2 yang kena baiat (sumpah secara agama Islam, setelah di brain wahing) untuk mendirikan NII (negara Islam Indonesia) dengan cara menghalalkan segala cara. Berapa banyak madrasah/pesantren di Indonesia yang dijadikan tempat2 cuci otak anti pluralisme dan anti harmoni? Banyak! Berapa jam pelajaran dihabiskan untuk belajar agama (ngaji) dan bahasa Arab? Banyak, diperkirakan sampai hampir 50% nya! Tentu saja ini akan sangat mempengaruhi turunnya perilaku dan turunnya kualitas SDM bgs. Indonesia secara keseluruhan! Maraknya kerusuhan dan kekerasan di Indonesia bagaikan berbanding langsung dengan maraknya madrasah dan pesantren2. Berbagai fatwa MUI yang menjungkirbalikan harmoni dan gotong royong manusia Jawa gencar dilancarkan!

- Sejarah membuktikan bagaimana kerajaan Majapahit, yang luarbiasa jaya, juga terdesak melalui gerilya kebudayaan Arab sehingga manusianya terpojok ke Gn. Bromo (suku Tengger) dan P. Bali (suku Bali). Mereka tetap menjaga kepercayaannya yaitu Hindu. Peranan wali Songo saat itu sebagai alat politis (mirip MUI dan ICMI saat ini) adalah besar sekali! Semenjak saat itu kemunduran kebudayaan Jawa sungguh luar biasa!
Tanda-tanda Kemunduran Budaya Jawa
Kemunduran kebudayaan manusia Jawa sangat terasa sekali, karena suku Jawa adalah mayoritas di Indonesia, maka kemundurannya mengakibatkan kemunduran negara Indonesia, sebagai contoh kemunduran adalah:
– Orang2 hitam dari Afrika (yang budayanya dianggap lebih tertinggal) ternyata dengan mudah mempedayakan masyarakat kita dengan manipulasi penggandaan uang dan jual-beli narkoba.
– Orang Barat mempedayakan kita dengan kurs nilai mata uang. Dengan $ 1 = k.l Rp. 10000, ini sama saja penjajahan baru. Mereka dapat bahan mentah hasil alam dari Indonesia murah sekali, setelah diproses di L.N menjadi barang hitech, maka harganya jadi selangit. Nilai tambah pemrosesan/produksi barang mentah menjadi barang jadi diambil mereka (disamping membuka lapangan kerja). Indonesia terus dengan mudah dikibulin dan dinina bobokan untuk menjadi negara peng export dan sekaligus pengimport terbesar didunia, sungguh suatu kebodohan yang maha luar biasa.
– Orang Jepang terus membuat kita tidak pernah bisa bikin mobil sendiri, walau industri Jepang sudah lebih 30 tahun ada di Indonesia. Semestinya bangsa ini mampu mendikte Jepang dan negara lain untuk mendirikan pabrik di Indonesia, misalnya pabrik: Honda di Sumatra, Suzuki di Jawa, Yamaha di Sulawesi, dst. Ternyata kita sekedar menjadi bangsa konsumen dan perakit.
– Orang Timur Tengah/Arab dengan mudah menggerilya kebudayaan kita seperti cerita diatas; disamping itu, Indonesia adalah termasuk pemasok devisa haji terbesar! Kemudian, dengan hanya Asahari, Abu Bakar Baasyir dan Habib Riziq (FPI), cukup beberapa gelintir manusia saja, Indonesia sudah dapat dibuat kalang kabut oleh negara asing! Sungguh keterlaluan dan memalukan!
– Kalau dulu banyak mahasiswa Malaysia studi ke Indonesia, sekarang posisinya terbalik: banyak mahasiswa Indonesia belajar ke Malaysia (bahkan ke S’pore, Thailand, Pilipina, dst.). Konyol bukan?
– Banyak manusia Jawa yang ingin kaya secara instant, misalnya mengikuti berbagai arisan/multi level marketing seperti pohon emas, dst., yang tidak masuk akal!
– Dalam beragamapun terkesan jauh dari nalar, bijak dan jauh dari cerdas, terkesan hanya ikut2an saja. Beragama tidak harus menjiplak kebudayaan asal agama, dan tidak perlu mengorbankan budaya lokal.
– Sampai dengan saat ini, Indonesia tidak dapat melepaskan diri dari berbagai krisis (krisis multi dimensi), kemiskinan dan pengangguran justru semakin meningkat, padahal negara tetangga yang sama2 mengalami krisis sudah kembali sehat walafiat! Peran manusia Jawa berserta kebudayaannya, sebagai mayoritas, sangat dominan dalam berbagai krisis yang dialami bangsa ini.

Penutup

Beragama tidak harus menjiplak kebudayaan asal agama. Gus Dur mensinyalir telah terjadi arabisasi kebudayaan. Kepentingan negara asing untuk menguasai bumi dan alam Indonesia yang kaya raya dan indah sekali sungguh riil dan kuat sekali, kalau negara modern memakai teknologi tinggi dan jasa keuangan, sedangkan negara lain memakai politisasi agama beserta kebudayaannya. Indonesia saat ini (2007) adalah sedang menjadi ajang pertempuran antara dua ideologi besar dunia: Barat lawan Timur Tengah, antara kaum sekuler dan kaum Islam, antara modernitas dan kekolotan agama. CLASH OF CIVILIZATION antar dua ideologi besar di dunia ini, yang sudah diramalkan oleh sejarahwan kelas dunia – Samuel Hutington dan Francis Fukuyama.

Tanpa harus menirukan/menjiplak kebudayaan Arab, Indonesia diperkirakan dapat menjadi pusat Islam (center of excellence) yang modern bagi dunia. Seperti pusat agama Kristen modern, yang tidak lagi di Israel, melainkan di Itali dan Amerika. Beragama tanpa nalar disertai menjiplak budaya asal agama tersebut secara membabi buta hanya akan mengakibatkan kemunduran budaya lokal sendiri! Maka bijaksana, kritis, dan cerdik sangat diperlukan dalam beragama.

Ulil Abshar Abdala

Koordinator Jamaah Islam Liberal (JIL)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 913 pengikut lainnya.