Hubungan Leluhur & Kembalinya Kejayaan Nusantara

HUBUNGAN KEJAYAAN NUSANTARA

DENGAN PARA LELUHUR BANGSA

Prakata

Kematian bukanlah the ending atau “riwayat” yang telah tamat. Kematian merupakan proses manusia lahir kembali ke dimensi lain yang lebih tinggi derajatnya ketimbang hidup di dimensi bumi. Bila perbuatannya baik berarti mendapatkan “kehidupan sejati” yang penuh kemuliaan, sebaliknya akan mengalami “kehidupan baru” yang penuh kesengsaraan. Jasad sebagai kulit pembungkus sudah tak terpakai lagi dalam kehidupan yang sejati. Yang hidup adalah esensinya berupa badan halus esensi cahaya yang menyelimuti sukma. Bagi orang Jawa yang belum kajawan khususnya, hubungan dengan leluhur atau orang-orang yang telah menurunkannya selalu dijaga agar jangan sampai terputus sampai kapanpun. Bahkan masih bisa terjadi interaksi antara leluhur dengan anak turunnya. Interaksi tidak dapat dirasakan kecuali oleh orang-orang yang terbiasa mengolah rahsa sejati. Dalam tradisi Jawa dipahami bahwa di satu sisi leluhur dapat njangkung dan njampangi (membimbing dan mengarahkan) anak turunnya agar memperoleh kemuliaan hidup. Di sisi lain, anak-turunnya melakukan berbagai cara untuk mewujudkan rasa berbakti sebagai wujud balas budinya kepada orang-orang yang telah menyebabkan kelahirannya di muka bumi. Sadar atau tidak warisan para leluhur kita & leluhur nusantara berupa tanah perdikan (kemerdekaan), ilmu, ketentraman, kebahagiaan bahkan harta benda masih bisa kita rasakan hingga kini.

Ada Apa di Balik NUSANTARA

Bangsa Indonesia sungguh berbeda dengan bangsa-bangsa lain yang ada di muka bumi. Perbedaan paling mencolok adalah jerih payahnya saat membangun dan merintis berdirinya bangsa sebesar nusantara ini. Kita semua paham bila berdirinya bangsa dan negara Indonesia berkat perjuangan heroik para leluhur kita. Dengan mengorbankan harta-benda, waktu, tenaga, pikiran, darah, bahkan pengorbanan nyawa. Demi siapakah ? Bukan demi kepentingan diri mereka sendiri, lebih utama demi kebahagiaan dan kesejahteraan anak turunnya, para generasi penerus bangsa termasuk kita semua yang sedang membaca tulisan ini. Penderitaan para leluhur bangsa bukanlah sembarang keprihatinan hidup. Jika dihitung sejak masa kolonialisme bangsa Baratdi bumi nusantara, para leluhur perintis bangsa melakukan perjuangan kemerdekaan selama kurang-lebih dari 350 tahun lamanya. Belum lagi jika dihitung dari era jatuhannya Kerajaan Majapahit yang begitu menyakitkan hati. Perjuangan bukan saja menguras tenaga dan harta benda, bahkan telah menggilas kesempatan hidup, menyirnakan kebahagiaan, memberangus ketentraman lahir dan batin, hati yang tersakiti, ketertindasan, harga diri yang diinjak dan terhina. Segala perjuangan, penderitaan dan keprihatinan menjadi hal yang tak terpisahkan karena, perjuangan dilakukan dalam suasana yang penuh kekurangan. Kurang sandang pangan, kurang materi, dan kekurangan dana. Itulah puncak penderitaan hidup yang lengkap mencakup multi dimensi. Penderitaan berada pada titik nadzir dalam kondisi sedih, nelangsa, perut lapar, kekurangan senjata, tak cukup beaya namun kaki harus tetap tegap berdiri melakukan perlawanan mengusir imperialism dan kolonialism tanpa kenal lelah dan pantang mengeluh. Jika kita resapi, para leluhur perintis bangsa zaman dahulu telah melakukan beberapa laku prihatin yang teramat berat dan sulit dicari tandingannya sbb ;

1. Tapa Ngrame; ramai dalam berjuang sepi dalam pamrih mengejar kepentingan pribadi.

2. Tapa Brata; menjalani perjuangan dengan penuh kekurangan materiil. Perjuangan melawan kolonialism tidak hanya dilakukan dengan berperang melawan musuh, namun lebih berat melawan nafsu pribadi dan nafsu jasad (biologis dan psikis).

3. Lara Wirang; harga diri dipermalukan, dihina, ditindas, diinjak, tak dihormati, dan nenek moyang bangsa kita pernah diperlakukan sebagai budak di rumahnya sendiri.

4. Lara Lapa; segala macam penderitaan berat pernah dialami para leluhur perintis bangsa.

5. Tapa Mendhem; para leluhur banyak yang telah gugur sebelum  merdeka, tidak menikmati buah yang manis atas segala jerih payahnya. Berjuang secara tulus, dan segala kebaikannya dikubur sendiri dalam-dalam tak pernah diungkit dan dibangkit-bangkit lagi.

6. Tapa Ngeli; para leluhur bangsa dalam melakukan perjuangan kepahlawanannya dilakukan siang malam tak kenal menyerah. Penyerahan diri hanya dilakukan kepada Hyang Mahawisesa (Tuhan Yang Mahakuasa).

Itulah kelebihan leluhur perintis bumi nusantara, suatu jasa baik yang mustahil kita balas. Kita sebagai generasi penerus bangsa telah berhutang jasa (kepotangan budhi) tak terhingga besarnya kepada para perintis nusantara. Tak ada yang dapat kita lakukan, selain tindakan berikut ini :

  1. Memelihara dan melestarikan pusaka atau warisan leluhur paling berharga yakni meliputi tanah perdikan (kemerdekaan), hutan, sungai, sawah-ladang, laut, udara, ajaran, sistem sosial, sistem kepercayaan dan religi, budaya, tradisi, kesenian, kesastraan, keberagaman suku dan budaya sebagaimana dalam ajaran Bhinneka Tunggal Ikka. Kita harus menjaganya jangan sampai terjadi kerusakan dan kehancuran karena salah mengelola, keteledoran dan kecerobohan kita. Apalagi kerusakan dengan unsur kesengajaan demi mengejar kepentingan pribadi.
  2. Melaksanakan semua amanat para leluhur yang terangkum dalam sastra dan kitab-kitab karya tulis pujangga masa lalu. Yang terekam dalam ajaran, kearifan lokal (local wisdom), suri tauladan, nilai budaya, falsafah hidup tersebar dalam berbagai hikayat, cerita rakyat, legenda, hingga sejarah. Nilai kearifan lokal sebagaimana tergelar dalam berbagai sastra adiluhung dalam setiap kebudayaan dan tradisi suku bangsa yang ada di bumi pertiwi. Ajaran dan filsafat hidupnya tidak kalah dengan ajaran-ajaran impor dari bangsa asing. Justru kelebihan kearifan lokal karena sumber nilainya merupakan hasil karya cipta, rasa, dan karsa melalui interaksi dengan karakter alam sekitarnya. Dapat dikatakan kearifan lokal memproyeksikan karakter orisinil suatu masyarakat, sehingga dapat melebur (manjing, ajur, ajer) dengan karakter masyarakatnya pula.
  3. Mencermati dan menghayati semua peringatan (wewaler) yang diwasiatkan para leluhur, menghindari pantangan- pantangan yang tak boleh dilakukan generasi penerus bangsa. Selanjutnya mentaati dan menghayati himbauan-himbauan dan peringatan dari masa lalu akan berbagai kecenderungan dan segala peristiwa yang kemungkinan dapat terjadi di masa yang akan datang (masa kini). Mematuhi dan mencermati secara seksama akan bermanfaat meningkatkan kewaspadaan dan membangun sikap eling.
  4. Tidak melakukan tindakan lacur, menjual pulau, menjual murah tambang dan hasil bumi ke negara lain. Sebaliknya harus menjaga dan melestarikan semua harta pusaka warisan leluhur. Jangan menyalahgunakan wewenang dan kekuasaan. Jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan, “menggunting dalam lipatan”.
  5. Merawat dan memelihara situs dan benda-benda bersejarah, tempat yang dipundi-pundi atau pepunden (makam) para leluhur. Kepedulian kita untuk sekedar merawat dan memelihara makam leluhur orang-orang yang telah menurunkan kita dan leluhur perintis bangsa, termasuk dalam mendoakannya agar mendapat tempat kamulyan sejati dan kasampurnan sejati di alam kelanggengan merupakan kebaikan yang akan kembali kepada diri kita sendiri. Tak ada  buruknya kita meluhurkan leluhur bangsa asing dengan dalih apapun; agama, ajaran, budaya, ataupun sebagai ikon perjuangan kemanusiaan. Namun demikian hendaknya leluhur sendiri tetap dinomorsatukan dan jangan sampai dilupakan bagaimanapun juga beliau adalah generasi pendahulu yang membuat kita semua ada saat ini. Belum lagi peran dan jasa beliau-beliau memerdekakan bumi pertiwi menjadikan negeri ini menjadi tempat berkembangnya berbagai agama impor yang saat ini eksis. Dalam falsafah hidup Kejawen ditegaskan untuk selalu ingat akan sangkan paraning dumadi. Mengerti asal muasalnya hingga terjadi di saat ini. Dengan kata lain ; kacang hendaknya tidak melupakan kulitnya.
  6. Hilangkan sikap picik atau dangkal pikir (cethek akal) yang hanya mementingkan kelompok, gender atau jenis kelamin, golongan, suku, budaya, ajaran dan agama sendiri dengan sikap primordial, etnosentris dan rasis. Kita harus mencontoh sikap kesatria para pejuang dan pahlawan bumi pertiwi masa lalu. Kemerdekaan bukanlah milik satu kelompok, suku, ras, bahkan agama sekalipun. Perjuangan dilakukan oleh semua suku dan agama, kaum laki-laki dan perempuan, menjadikan kemerdekaan sebagai anugrah milik bersama seluruh warga negara Indonesia.

Generasi Durhaka

Kesadaran kita bahwa bangsa ini dulunya adalah bangsa yang besar dalam arti kejayaannya, kemakmurannya, kesuburan alamnya, kekayaan dan keberagaman akan seni dan budayanya, ketinggian akan filsafat kehidupannya, menumbuhkan sikap bangga kita hidup di negeri ini. Namun bila mencermati dengan seksama apa yang di lakukan para generasi penerus bangsa saat ini terutama yang sedang memegang tampuk kekuasaan kadang membuat perasaan kita terpuruk bahkan sampai merasa tidak lagi mencintai negara Indonesia berikut produk-produknya. Di sisi lain beberapa kelompok masyarakat seolah-olah menginginkan perubahan mendasar (asas) kenegaraan dengan memandaang pesimis dasar negara, falsafah dan pandangan hidup bangsa yang telah ada dan diretas melalui proses yang teramat berat dan berabad-abad lamanya. Golongan mayoritas terkesan kurang menghargai golongan minoritas. Keadilan dilihat dari kacamata subyektif, menurut penafsiran pribadi, sesuai kepentingan kelompok dan golongannya sendiri. Kepentingan yang kuat meniadakan kepentingan yang lemah. Kepentingan pribadi atau kelompok diklaim atas nama kepentingan rakyat. Untuk mencari menangnya sendiri orang sudah berani lancang mengklaim tindakannya atas dasar dalil agama (kehendak Tuhan). Ayat dan simbol-simbol agama dimanipulasi untuk mendongkrak dukungan politik. Watak inilah yang mendominasi potret generasi yang durhaka pada para leluhur perintis bangsa di samping pula menghianati amanat penderitaan rakyat. Celakanya banyak pecundang negeri justru mendapat dukungan mayoritas. Nah, siapa yang sudah keblinger, apakah pemimpinnya, ataukah rakyatnya, atau mungkin pemikiran saya pribadi ini yang tak paham realitas obyektif. Kenyataan betapa sulit menilai suatu ralitas obyektif, apalagi di negeri ini banyak sekali terjadi manipulasi data-data sejarah dan gemar mempoles kosmetik sebagai pemanis kulit sebagai penutup kebusukan.

“Dosa” Anak Kepada Ibu (Pertiwi)

Leluhur bumi nusantara bagaikan seorang ibu yang telah berjasa terlampau besar kepada anak-anaknya. Sekalipun dikalkulasi secara materi tetap terasa kita tak akan mampu melunasi “hutang” budi-baik orang tua kita dengan cara apapun. Orang tua kita telah mengandung, melahirkan, merawat, membesarkan kita hari demi hari hingga dewasa. Sedangkan kita tak pernah bisa melakukan hal yang sama kepada orang tua kita. Demikian halnya dengan para leluhur perintis bangsa. Bahkan kita tak pernah bisa melakukan sebagaimana para leluhur lakukan untuk kita. Apalagi beliau-beliau telah lebih dulu pergi meninggalkan kita menghadap Hyang Widhi (Tuhan YME). Diakui atau tidak, banyak sekali kita berhutang jasa kepada beliau-beliau para leluhur perintis bangsa. Sebagai konsekuensinya atas tindakan pengingkaran dan penghianatan kepada leluhur, sama halnya perilaku durhaka kepada ibu (pertiwi) kita sendiri yang dijamin akan mendatangkan malapetaka atau bebendu dahsyat. Itulah pentingnya kita tetap nguri-uri atau memelihara dan melestarikan hubungan yang baik kepada leluhur yang telah menurunkan kita khususnya, dan leluhur perintis bangsa pada umumnya. Penghianatan generasi penerus terhadap leluhur bangsa, sama halnya kita menabur perbuatan durhaka yang akan berakibat menuai malapetaka untuk diri kita sendiri.

Sudah menjadi kodrat alam (baca; kodrat ilahi) sikap generasi penerus bangsa yang telah mendurhakai para leluhur perintis bumi pertiwi dapat mendatangkan azab, malapetaka besar yang menimpa seantero negeri. Sikap yang “melacurkan” bangsa, menjual aset negara secara ilegal, merusak lingkungan alam, lingkungan hidup, hutan, sungai, pantai. Tidak sedikit para penanggungjawab negeri melakukan penyalahgunaan wewenangnya dengan cara “ing ngarsa mumpung kuasa, ing madya agawe rekasa, tut wuri nyilakani”. Tatkala berkuasa menggunakan aji mumpung,  sebagai kelas menengah selalu menyulitkan orang, jika menjadi rakyat gemar mencelakai. Seharusnya ing ngarsa asung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.  Walaupun tidak semua orang melakukan perbuatan durhaka namun implikasinya dirasakan oleh semua orang. Sekilas tampak tidak adil, namun ada satu peringatan penting yang perlu diketahui bahwa, hanya orang-orang  yang selalu eling dan waspada yang akan selamat dari malapetaka negeri ini.

Rumus Yang Tergelar

Saya tergerak untuk membuat tulisan ini setelah beberapa kali mendapatkan pertanyaan sbb; apakah kembalinya kejayaan nusantara tergantung dengan peran leluhur ? jawabnya, TIDAK ! melainkan tergantung pada diri kita sendiri sebagai generasi penerus bangsa. Meskipun demikian bukan berarti menganulir peran leluhur terhadap nasib bangsa saat ini. Peran leluhur tetap besar hanya saja tidak secara langsung. Keprihatinan luar biasa leluhur nusantara di masa lampau dalam membangun bumi nusantara, telah menghasilkan sebuah “rumus” besar yang boleh dikatakan sebagai hukum atau kodrat alam. Setelah keprihatinan dan perjuangan usai secara tuntas, “rumus” baru segera tergelar sedemikian rupa. Rumus berlaku bagi seluruh generasi penerus bangsa yang hidup sebagai warga negara Indonesia dan siapapun yang mengais rejeki di tanah perdikan nusantara. Kendatipun demikian generasi penerus memiliki dua pilihan yakni, apakah akan menjalani roda kehidupan yang sesuai dalam koridor “rumus” besar atau sebaliknya, berada  di luar “rumus” tersebut. Kedua pilihan itu masing-masing memiliki konsekuensi logis. Filsafat hidup Kejawen selalu wanti-wanti ; aja duwe watak kere, “jangan gemar menengadahkan tangan”. Sebisanya jangan sampai berwatak ingin selalu berharap jasa (budi) baik atau pertolongan dan bantuan dari orang lain, sebab yang seperti itu abot sanggane, berat konsekuensi dan tanggungjawab kita di kemudian hari. Bila kita sampai lupa diri apalagi menyia-nyiakan orang yang pernah memberi jasa (budi) baik kepada kita, akan menjadikan sukerta dan sengkala. Artinya membuat kita sendiri celaka akibat ulah kita sendiri. Leluhur melanjutkan wanti-wantinya pada generasi penerus, agar supaya ; tansah eling sangkan paraning dumadi. Mengingat jasa baik orang-orang yang telah menghantarkan kita hingga meraih kesuksesan pada saat ini. Mengingat dari siapa kita dilahirkan, bagaimana jalan kisah, siapa saja yang terlibat mendukung, menjadi perantara, yang memberi nasehat dan saran, hingga kita merasakan kemerdekaan dan ketenangan lahir batin di saat sekarang. Sementara itu, generasi durhaka adalah generasi yang sudah tidak eling sangkan paraning dumadi.

Tugas dan Tanggungjawab Generasi Bangsa

Sebagai generasi penerus bangsa yang telah menanggung banyak sekali hutang jasa dan budi baik para leluhur masa lalu, tak ada pilihan yang lebih tepat selain harus mengikuti rumus-rumus yang telah tergelar. Sebagaimana ditegaskan dalam serat Jangka  Jaya Baya serta berbagai pralampita, kelak negeri ini akan mengalami masa kejayaan kembali yang adil makmur, gemah ripah loh jinawi, bilamana semua suku bangsa kembali nguri-uri kebudayaan, menghayati nilai-nilai luhur yang terkandung dalam kearifan lokal (local wisdom), masing-masing suku kembali melestarikan tradisi peninggalan para leluhur nusantara. Khususnya bagi orang Jawa yang sudah hilang kejawaannya (kajawan) dan berlagak sok asing, bersedia kembali menghayati nilai luhur kearifan lokal. Demikian pula suku Melayu, Dayak, Papua, Minang, Makasar, Sunda, Betawi, Madura, Tana Toraja, Dayak dst, kembali menghayati tradisi dan budaya lokal yang kaya akan nilai-nilai luhur. Bagaimanapun kearifan lokal memiliki kunggulan yakni lebih menyatu dan menjiwai (manjing ajur ajer) serta lebih mengenal secara cermat karakter alam dan masyarakat setempat. Desa mawa cara, negara mawa tata. Masing-masing wilayah atau daerah memiliki aturan hidup dengan menyesuaikan situasi dan kondisi alamnya. Tradisi dan budaya  setempat adalah “bahasa” tak tertulis sebagai buah karya karsa, cipta, dan karsa manusia dalam berinteraksi dengan alam semesta. Orang yang hidup di wilayah subur makmur akan memiliki karakter yang lembut, santun, toleran, cinta damai namun agak pemalas. Sebaliknya orang terbiasa hidup di daerah gersang, sangat panas, sulit pangan, akan memiliki karakter watak yang keras, temperamental, terbiasa konflik dan tidak mudah toleran. Indonesia secara keseluruhan dinilai oleh manca sebagai masyarakat yang berkarakter toleran, penyabar, ramah, bersikap terbuka. Namun apa jadinya jika serbuan budaya asing bertubi-tubi menyerbu nusantara dengan penuh keangkuhan (tinggi hati) merasa paling baik dan benar sedunia.  Apalagi budaya yang dikemas dalam moralitas agama, atau sebaliknya moralitas agama yang mengkristal menjadi kebiasaan dan tradisi. Akibat terjadinya imperialisme budaya asing, generasi bangsa ini sering keliru dalam mengenali siapa jati dirinya. Menjadi bangsa yang kehilangan arah, dengan “falsafah hidup” yang tumpang-tindih dan simpang-siur menjadikan doktrin agama berbenturan dengan nilai-nilai kearifan lokal yang lebih membumi. Ditambah berbagai pelecehan konstitusi oleh pemegang tampuk kekuasaan semakin membuat keadaan carut-marut dan membingungkan. Tidak sekedar mengalami kehancuran ekonomi, lebih dari itu bangsa sedang menuju di ambang kehancuran moral, identitas budaya, dan spiritual. Kini, saatnya generasi penerus bangsa kembali mencari identitas jati dirinya, sebelum malapetaka datang semakin besar. Mulai sekarang juga, mari kita semua berhenti menjadi generasi durhaka kepada “orang tua” (leluhur perintis bangsa). Kembali ke pangkuan ibu pertiwi, niscaya anugrah kemuliaan dan kejayaan bumi nusantara akan segera datang kembali.

TRAH MAJAPAHIT

Dalam pola hubungan kekerabatan atau silsilah di dalam Kraton di Jawa di kenal istilah trah. Menurut arti harfiahnya trah adalah garis keturunan atau diistilahkan tepas darah dalem atau kusuma trahing narendra, yakni orang yang masih memiliki hubungan kekerabatan atau keluarga besar secara genealogis dalam hubungan tali darah (tedhaking andana warih). Banyak sekali orang merasa bangga menjadi anggota suatu trah tertentu namun kebingungan saat menceritakan runtutan silsilah atau trah leluhur yang mana yang menurunkannya. Seyogyanya kita masih bisa menyebut dari mana asal-usul mata rantai leluhur yang menurunkan agar supaya dapat memberikan pengabdian kepada leluhur secara tepat. Dengan demikian rasa memiliki dan menghormati leluhurnya tidak dilakukan dengan asal-asalan tanpa mengetahui siapa persisnya nenek-moyang yang telah menurunkan kita, dan kepada leluhur yang mana harus menghaturkan sembah bakti. Jika kita terputus mengetahui mata rantai tersebut sama halnya dengan mengakui atau meyakini saja sebagai keturunan Adam, namun alur mata rantainya tidak mungkin diuraikan lagi. Mengetahui tedhaking andana warih membuat kita lebih tepat munjuk sembah pangabekti atau menghaturkan rasa berbakti dan memuliakan leluhur kita sendiri. Jangan sampai seperti generasi durhaka yakni orang-orang kajawan rib-iriban yang tidak memahami hakekat, kekenyangan “makan kulit”, menjunjung setinggi langit leluhur bangsa asing sekalipun harus mengeluarkan beaya puluhan bahkan ratusan juta rupiah tapi tidak mengerti makna sesungguhnya. Sungguh ironis, sementara leluhurnya sendiri terlupakan dan makamnya dibiarkan merana hanya karena takut dituduh musrik atau khurafat. Cerita ironis dan menyedihkan itu seketika raib tatkala sadar telah mendapatkan label sebagai “orang suci” dan saleh hanya karena sudah meluhurkan leluhur bangsa asing. Ya, itulah kebiasaan sebagian masyarakat yang suka menilai simbol-simbolnya saja, bukan memahami esensinya. Apakah seperti itu cara kita berterimakasih kepada leluhur yang menurunkan kita sendiri, dan kepada leluhur perintis bangsa? Rupanya mata hati telah tertutup rapat, tiada lagi menyadari bahwa teramat besar jasa para leluhur bangsa kita. Tanpa beliau-beliau pendahulu kita semua yang telah menumpahkan segala perjuangannya demi kehidupan dan kemuliaan anak turun yang mengisi generasi penerus bangsa rasanya kita tak kan pernah hidup saat ini.

Tolok ukur kejayaan nusantara masa lalu adalah kejayaan kerajaan Pajajaran, Sriwijaya dan Majapahit, terutama yang terakhir.  Trah atau garis keturunan kerajaan Majapahit yang masih eksis hingga sekarang, yakni kerajaan Mataram Panembahan Senopati di Kotagede Yogyakarta, Kerajaan Kasunanan dan Mangkunegaran di kota Solo, generasi Mangkubumen yakni Kasultanan dan Pakualaman di Yogyakarta. Semuanya adalah generasi penerus Majapahit terutama raja terakhir Prabu Brawijaya V. Berikut ini silsilah yang saya ambil secara garis besarnya saja ;

Prabu Brawijaya V mempunyai 3 putra di antaranya adalah :

1. Ratu Pembayun (Lajer Putri)

2. Raden Bondhan Kejawan / Lembupeteng Tarub (Lajer Putra)

3. Raden Patah / Jin Bun / Sultan Buntoro Demak I (Lajer Putra; tetapi ibu kandung dari bangsa asing yakni; Putri Cempo dari Kamboja ; beragama Islam)

http://sabdalangit.wordpress.com

Trah Ratu Pembayun menurunkan 2 Putra :

1. Ki Ageng Kebo Kanigoro

2. Ki Ageng Kebo Kenongo/Ki Ageng Pengging

Ki Ageng Kebo Kenongo menurunkan 1 Putra: (Lajer Putri)

1. Mas Karebet / Joko Tingkir / Sultan Hadiwijoyo/ Sultan Pajang I (Lajer Putri)

Sementara itu Raden Patah / Jin Bun / Sultan Buntoro Demak I, menurunkan 2 Putera yakni :

(1) Pangeran Hadipati Pati Unus / Sultan Demak II

(2) Pangeran Hadipati Trenggono / Sultan Demak III

Keduanya penerus Demak – tetapi akhirnya putus alias demak runtuh karena pemimpinnya tidak kuat.

Kerajaan Demak hanya berlangsung selama 3 periode. Entah ada kaitannya atau tidak namun kejadiannya sebagaimana dahulu pernah diisaratkan oleh Prabu Brawijaya V saat menjelang puput yuswa. Prabu Brawijaya V merasa putranda Raden Patah menjadi anak yang berani melawan orang tua sendiri, Sang Prabu Brawijaya V (Kertabhumi), apapun alasannya. Maka Prabu Brawijaya V bersumpah bila pemerintahan Kerajaan Demak hanya akan berlangsung selama 3 dinasti saja (Raden Patah, Adipati Unus, Sultan Trenggono). Setelah itu kekuasaa Kerajaan Demak Bintoro akan redup dengan sendirinya. Hal senada disampaikan pula oleh Nyai Ampel Gading kepada cucunda Raden Patah, setiap anak yang durhaka kepada orang tuanya pasti akan mendapat bebendu dari Hyang Mahawisesa. Dikatakan oleh Nyai Ampel Gading, bahwa Baginda Brawijaya V telah memberikan 3 macam anugrah kepada Raden Patah yakni; 1) daerah kekuasaan yang luas, 2) diberikan Tahta Kerajaan, 3) dan dipersilahkan menyebarkan agama baru yakni agama sang ibundanya (Putri Cempa) dengan leluasa. Namun Raden Patah tetap menginginkan tahta Majapahit, sehingga berani melawan orang tuanya sendiri. Sementara ayahandanya merasa serba salah, bila dilawan ia juga putera sendiri dan pasti kalah, jika tidak dilawan akan menghancurkan Majapahit dan membunuh orang-orang yang tidak mau mengikuti kehendak Raden Patah. Akhirnya Brawijaya V memilih mengirimkan sekitar 3000 pasukan  saja agar tidak mencelakai putranda Raden Patah. Sementara pemberontakan Raden Patah ke Kerajaan Majapahit membawa bala tentara sekitar 30 ribu orang, dihadang pasukan Brawijaya V yang hanya mengirimkan 3000 orang. Akibat jumlah prajurit tidak seimbang maka terjadi banjir darah dan korban berjatuhan di pihak Majapahit. Sejak itulah pustaka-pustaka Jawa dibumihanguskan, sementara itu orang-orang yang membangkang dibunuh dan rumahnya dibakar. Sebaliknya yang memilih mengikuti kehendak Raden Patah dibebaskan dari upeti atau pajak. Senada dengan Syeh Siti Jenar yang enggan mendukung pemberontakan Raden Patah ke Majapahit, adalah Kanjeng Sunan Kalijaga yang sempat memberikan nasehat kepada Raden Patah, agar tidak melakukan pemberontakan karena dengan memohon saja kepada ayahandanya untuk menyerahkan tahta, pasti permintaan Raden Patah akan dikabulkannya. Hingga akhirnya nasehat tak dihiraukan Raden patah, dan terjadilah perang besar yang membawa banyak korban. Hal ini sangat disesali oleh Kanjeng Sunan Kalijaga, hingga akhirnya memutuskan untuk berpakaian serba berwarna wulung atau hitam sebagai pertanda kesedihan dan penyesalan atas peristiwa tersebut.

http://sabdalangit.wordpress.com

Penerus Majapahit

Lain halnya nasib Raden Bondan Kejawan yang dahulu sebelum Sri Narpati Prabu Brawijaya V meninggal ia masih kecil dititipkan kepada putranda Betara Katong, dikatakan jika Betara katong harus menjaga keselamatan Raden Bondan Kejawan karena ialah yang akan menjadi penerus kerajaan Majapahit di kelak kemudian hari. Berikut ini alur silsilah Raden Bondan Kejawan hingga regenerasinya di masa Kerajaan Mataram.

Raden Bondhan Kejawan/Lembu Peteng Tarub-Dewi Nawang Sih (Dewi Nawang Sih adalah seorang putri dari Dewi Nawang Wulan-Jaka Tarub) (Lajer Putra)

menurunkan Putera :

1. Raden Depok / Ki Ageng Getas Pandowo (Lajer Putra)

2. Dewi Nawang Sari (Kelak adl calon ibu Ratu Adil/SP/Herucakra)

Raden Depok / Ki Ageng Getas Pandowo mempunyai 1 Putera:

Bagus Sunggam / Ki Ageng Selo (Lajer Putra)

Bagus Sunggam / Ki Ageng Selo mempunyai 1 Putera bernama:

Ki Ageng Anis (Ngenis) (Lajer Putra)

Ki Ageng Anis (Ngenis) mempunyai 2 Putera :

1. Ki Ageng Pemanahan / Ki Ageng Mataram

2. Ki Ageng Karotangan / Pagergunung I

tp://sabdalangit.wordpress.com

Ki Ageng Pemanahan / Mataram mempunyai 1 Putera:

Raden Danang Sutowijoyo / Panembahan Senopati/ Sultan Mataram I

Panembahan Senopati akhirnya menjadi generasi Mataram Islam (kasultanan) pertama yang meneruskan kekuasaan Majapahit hingga kini. Pada masa itu spiritualitas diwarnai nilai sinkretisme antara filsafat hidup Kejawen, Hindu, Budha dan nilai-nilai Islam hakekat sebagaimana terkandung dalam ajaran Syeh Siti Jenar, terutama mazabnya Ibnu Al Hallaj. Pada saat itu, hubungan kedua jalur spiritual masih terasa begitu romantis saling melengkapi dan belum diwarnai intrik-intrik politik yang membuyarkan sebagaimana terjadi sekarang ini.

Begitulah silsilah lajer putra dari Brawijaya V. Menurut tradisi Jawa wahyu keprabon akan turun kepada anak laki-laki atau lajer putra. Sedangkan Raden patah walaupun lajer putra tetapi dari Putri bangsa asing. Dan Raden Patah dianggap anak durhaka oleh ayahandanya Prabu Brawijaya Kertabhumi dan neneknya Nyai Ampel Gading. Namun demikian, bagi penasehat spiritualnya yakni Ki Sabdapalon dan Nayagenggong yang begitu legendaris kisahnya, pun Prabu Brawijaya walaupun secara terpaksa atau tidak sengaja telah menghianati para pendahulunya pula.

Dari pemaparan kisah di atas ada suatu pelajaran berharga untuk generasi penerus agar tidak mengulang kesalahan yang sama. Artinya jangan sampai kita berani melawan orang tua, apalgi sampai terjadi pertumpahan darah. Karena dapat tergelincir pada perberbuatan durhaka kepada orang tua kita terutama pada seorang ibu, yakni ibu pertiwi. Dengan kata lain durhaka kepada para leluhur yang telah merintis bangsa dengan susah payah. Karena Tuhan pasti akan memberikan hukuman yang setimpal, dan siapapun tak ada yang bisa luput dari bebendu Tuhan.

Pralampita Leluhur Bangsa

Saya ingin mengambil beberapa bait dari serat Darmagandul yang unik dan menarik untuk dianalisa, sekalipun kontroversial namun paling tidak ada beberapa nasehat dan warning yang mungkin dapat menjadi pepeling bagi kita semua, khususnya bagi yang percaya. Bagi yang tidak mempercayai, hal itu tidak menjadi masalah karena masing-masing memiliki hak untuk menentukan sikap dan mencari jalan hidup secara cermat, tepat dan sesuai dengan pribadi masing-masing.

Paduka yêktos, manawi sampun santun gami selam,

nilar gamabudi, turun paduka tamtu apês,

Jawi kantun jawan, Jawinipun ical, rêmên nunut bangsa sanes.

Benjing tamtu dipun prentah dening tiyang Jawi ingkang mangrêti.

Paduka pahami, bila sudah memeluk gama selam, meninggalkan gamabudi,

Keturunan Paduka pasti mendapatkan sial, Jawa tinggal seolah-olah jawa,

nilai ke-Jawa-annya telah hilang, gemar nebeng bangsa lain

Besok tentu diperintah oleh orang Jawa yang memahami (Kejawa-an)

Cobi paduka-yêktosi, benjing: sasi murub botên tanggal,

wiji bungkêr botên thukul, dipun tampik dening Dewa,

tinanêma thukul mriyi, namung kangge têdha pêksi,

mriyi punika pantun kados kêtos,

amargi Paduka ingkang lêpat, rêmên nêmbah sela

Cobalah Paduka pahami, besok; sasi murub boten tanggal

Biji-bijian tidak tumbuh, ditolak oleh Tuhan

Walaupun ditanam yang tumbuh berupa padi jelek

Hanya jadi makanan burung

Karena Paduka lah yang bersalah, suka menyembah batu

Paduka-yêktosi, benjing tanah Jawa ewah hawanipun,

wêwah bênter awis jawah, suda asilipun siti,

kathah tiyang rêmên dora,

kêndêl tindak nistha tuwin rêmên supata,

jawah salah mangsa, damêl bingungipun kanca tani.

Paduka pahami, kelak tanah Jawa berubah hawanya,

Berubah menjadi panas dan jarang hujan, berkurang hasil bumi

Banyak orang suka berbuat angkara

Berani berbuat nista dan gemar bertengkar,

Hujan salah musim, membuat bingung para petani

Wiwit dintên punika jawahipun sampun suda,

amargi kukuminipun manusa anggenipun sami gantos agami.

Benjing yen sampun mrêtobat, sami engêt dhatêng gamabudi malih,

lan sami purun nêdha woh kawruh, Dewa lajêng paring pangapura,

sagêd wangsul kados jaman Budhi jawahipun”.

Mulai hari ini hujan sudah mulai berkurang,

Sebagai hukumannya manusia karena telah berganti agama

Besok bila sudah bertobat, orang-orang baru ingat kepada gamabudi lagi

Dan bersedia makan buahnya ilmu, maka Tuhan akan memberi ampunan

Kesuburan tanah dapat kembali seperti zaman gamabudi

http://sabdalangit.wordpress.com

Memahami Leluhur dan Kemusyrikan

Belajar dari pengalaman pribadi dan sebagaimana terdapat dalam tradisi Jawa, saya pribadi percaya bahwa leluhur masih dapat memberikan bimbingan dan arahan (njangkung dan njampangi) memberikan doa dan restu kepada anak turunnya. Komunikasi dapat berlangsung melalui berbagai media, ambil contoh misalnya melalui mimpi (puspa tajem), melalui keketeg ing angga, suara hati nurani, bisikan gaib, atau dapat berkomunikasi langsung dengan para leluhur. Barangkali di antara pembaca ada yang menganggap hal ini sebagai bualan kosong saja, bahkan menganggap bisikan gaib dipastikan dari suara setan yang akan menggoda iman. Boleh dan sah-sah saja ada pendapat seperti itu. Hanya saja tidak perlu ngotot mempertahankan tingkat pemahaman sendiri. Sebab jika belum pernah menyaksikan sendiri noumena atau eksistensi di alam gaib sebagai being yang ada, kesadaran kita masih dikuasai oleh kesadaran akal-budi, kesadarannya hanyalah dalam batas kesadaran jasad/lahiriah semata. Sebaliknya kesadaran batinnya justru menjadi mampet tak bisa berkembang. Padahal untuk memahami tentang kesejatian hidup diperlukan sarana kesadaran batiniah atau rohani.

Bagi pemahaman saya pribadi, adalah sangat tidak relevan suatu anggapan bahwa interaksi dengan leluhur itu dianggap musyrik. Apalagi dianggap non-sense, bagi saya anggapan itu merupakan kemunduran dalam kesadaran batin sekalipun jika di banding zaman animisme dan dinamisme. Menurut pemahaman saya musyrik adalah persoalan dalam hati dan cara berfikir, bukan dalam manifestasi tindakan. Saya tetap percaya bahwa tanpa adanya kuasa dan kehendak Tuhan apalah artinya leluhur. Leluhur sekedar sebagai perantara. Seperti halnya anda mendapatkan rejeki melalui perantara perusahaan tempat anda bekerja. Jika Anda menuhankan perusahaan tempat anda bekerja sama halnya berfikir musrik. Dan orang dungu sekalipun tak akan pernah menuhankan leluhur karena leluhur itu roh (manusia) yang jasadnya telah lebur kembali menjadi tanah. Hubungan dengan leluhur seperti halnya hubungan dengan orang tua, saudara, tetangga, atau kakek-nenek yang masih hidup yang sering kita mintai tolong. Perbedaannya hanyalah sekedar yang satu masih memiliki jasad kotor, sedangkan leluhur sudah meninggalkan jasad kotornya. Bila kita mohon doa restu pada orang hidup yang masih dibungkus jasad kotor mengapa tak dituduh musrik, sedangkan kepada leluhur dianggap musrik. Padahal untuk menjadi musrik itu pun sangat mudah, anda tinggal berfikir saja jika seorang dokter dengan resep obat yang anda minum adalah mutlak menjadi penyembuh penyakit di luar kuasa Tuhan. Atau anda meminta tolong kepada tetangga untuk mbetulin genting bocor, dan orang itu dapat bekerja sendiri tanpa kuasa Tuhan. Saya fikir konsep musyrik adalah cara berfikir orang-orang yang hidup di zaman jahiliah saja. Atau mungkin manusia purba jutaan tahun lalu. Namun apapun alasannya tuduhan musrik menurut saya, merupakan tindakan penjahiliahan manusia.

Kendatipun demikian, jika tidak ada jalinan komunikasi dengan leluhur, para leluhur tak akan mencampuri urusan duniawi anak turunnya. Oleh sebab itu dalam tradisi Jawa begitu kental upaya-upaya menjalin hubungan dengan para leluhurnya sendiri. Misalnya dilakukan ziarah, nyekar, mendoakan, merawat makam, selamatan, kenduri, melestarikan warisan, dan menghayati segenap ajaran-ajarannya yang mengandung nilai luhur filsafat kehidupan.

==========

Saya tegaskan tulisan ini sekedar pemaparan bertujuan senantiasa membangun sikap eling dan waspada. Bila kita memanfaatkannya untuk kebaikan saya optimis akan berguna menjadikan kehidupan lebih baik dan bijaksana. Bila tak dimanfaatkan paling-paling hanya tidak lengkap ilmunya. Peacefully…!

sabdalangit

  1. Ngapunten Mas, saya hanya menekankan jangan sampe apa yang tidak kelihatan itu menimbulkan berjuta intreprestasi karena salah pemahaman, sementara yang kelihatan saja, yang gampang dicondro seperti pergi ke dokter, orang masih bisa saja keliru..Nanti cari pembenaran saat ke gunung kawi, wong saya dikasih restu leluhur kok.. Padahal saat disana yang mbisiki atau nongol adalah jin hitam serem atau siluman yang nyolowadi…nwun

  2. weladhalaahhh.. wis blas ora ngerti.. sirane.. lha wis priwe kiye.., mangkane.. manusa kudu akeh sinaune…,apa bae disinauni.. aja mung siji bae dadine ora mathuk blasss..,sinau kanggo mengerteni urip.., sak jane urip bener lan pener kuwi ki sing kepriben…, yen sinau aja parek – parek nanging sing adoh sekalian.., aja mung maca karo olah pikir bae tho lenang…? simbah iki ya nggumun karo wong saiki.., ya kudune ora gumun.. nanging bab iki jadi nggumun.. ,lha kudune wong urip kuwi sing sarwa ngerti.. wong Gusti wae sing hanguasani sakabehing isih diuthak athik bendina ..moso liyane ora nganti tekan.. yuuuhhh… leeee… mangertio… wong urip kuwi kudu nggayuh lan sinau… sabab diwenehi akal budhi yo kudhu di gunakake.. aja mung kabeh sakdermo jarene.. iyooo thooo, thooo yooo, dadi uwong yo kudu nduweni keketeg…, ojo mung gelem di wenehi thok… nanging malah wenehan kuwi dadhi doktrin…, lha terus dadine pikir kuwi yo mung tekan wates iku mau..sabab sinau sakkabehing dilarang miturut ngadis , sinau kuwi aja mung ing alam dunyo manungso, kewan lan sakpanunggalane.. nanging yo sinau tekan njabane…, nek wis tekan njabane… lha karek mlebuo…, mlebu nyangati.. dolah dadi roso.. roso romongso tekane yo njabalekat.. njabalekat mengarep nyang nduwur.. nduwur kuwi kuasane sidratul .. munggah meneh nyang muntaha, lha yen muntaha wis tekan…, pandengen, rasakna ( awas kudu balik neh ), bisa sarwo kethok opa kang ono ing dunyo lan njabane ndonyo ya alam sakabehing gawean Pangeran… nanging ana watese , mulooo … kuwi nggeeerrrrr… sing ati ati … wis ndang wiwiti… , sinaune…simbah namung matur.. mugya sira sing tekan.. simbah namung ngestoke.. mugya dadi jejimat kanggo nggayuh urip tenan/sejati…. uhukk..uhukk. hhhhhhh.. menggeeh2 karo watuk2., nanging yo isih nglinthing.. diakehi cengkehe.. seger tenan .. hhuuuukkkhuk .. waaahh.. mbakone wis jaaan banget…, ngeloyor sambil manggut2… menuju sanggar pamelengan…, ( Ki Sabda, Ki Ngabehi, Ki Tomy, Ki Suto , Ki Wolo ,Ki Ratana lan Ki Boed ngapunten nggeeehhh.. panjenengan sedaya ingkang waskita, prayitna berbudhi bawa leksana, ).nuwun.

  3. hihihi.. urip iku ojo dumeh.. ojo gumunan.. semua adalah sebuah perjalanan.. sebelum dentang lonceng sang waktu berbunyi teruskanlah perjalanan itu.. jangan baru merasakan sensasi sedikit kita tertipu sudah merasa rasa.. mulai mentang mentang.. mulai tunjuk sana tunjuk sini.. padahal perjalanan itu masihlah panjang.. panjang sekali.. tetapi banyak manusia yang tertipu dengan sensasi sensasi.. padahal itu hanyalah jebakan dan bukan menjadi tujuan akhir kita.. membuat mereka terlena dan lupa melanjutkan perjalanan.. dan berhenti.. karena respons alam semesta itu begitu ruaaaaaaar biasaaaaa.. mereka seolah bersahutan menghalangi siapapun yang mencari ilmu sejati.. bahkan meliputi berbagai dimensi kehidupan.. seolah tiada ingin insan mencapai kesejatian.. berbagai perkara dihadirkan.. yayaya.. berhati hatilah.. ojo dumeh.. ojo gumunan.. tetaplah eling dalam kesadaran.. dan waspodo dalam setiap langkah kita.. siapapun yang berkata bahkan para leluhur.. simak baik baik.. persatukan dengan diri kita dan hati kita jangan main serobot saja.. karena disinilah kita dituntut waspodo..
    kebenaran hakiki.. saat orang berhenti menunjuk kekiri dan ke kanan.. dan mulai menata diri dalam penyerahan diri totaaaal.. menghasilkan akhlakul kharimah.. membuktikan kepada dunia bahwa SPIRIT ISLAM adalah RAHMATAN LIL ALLAMIN.. menjadi anugerah bagi sesama.. dalam karya nyata.. berkarya dan mencipta demi kemaslahatan bersama.. memegang teguh nilai kejujuran terhadap diri sendiri.. sesama dan Tuhannya.. menebarkan cinta dan kasih sayang.. itulah manusia manusia SEJATI.. insan kamil..
    Salam Sayang Saudara Saudaraku tersayang
    Salam Kangen
    Salam Rindu untuk mu.. semuanya..
    botolkosong OONsurOON

  4. Nuwun sewu, Ki Sabda.
    Bagaimana meramu suatu masakan dengan bahan2 yang salah? Tidak bakalan jadi deh… Begitu lah yang saya lihat dari beberapa postingan di atas. Bagi saya, Ki Sabda telah memberi pencerahan.
    Kami orang Bali masih bangga sebagai keturunan asli Majapahit, yang demi mempertahankan keyakinan leluhur mesti mengasingkan diri ke pulau kecil yang sekarang bernama Bali.
    Dalam keyakinan kami, roh adalah kekal, dan hidup-mati merupakan siklus bukan linear. Ada saatnya roh akan numitis kembali. Dia-lah sang diri sejati, bukan badan kasar ini.
    Badan fisik berasal dari alam fisik, yang bisa rusak dan akan kembali ke alam fisik. Upacara ngaben / kremasi adalah bentuk pengembalian badan fisik secepat mungkin ke alam fisik. Lalu, kemana orang Bali mesti ziarah kubur, kalau setiap jenazah di-aben? Tidak ada ziarah kubur bagi orang Bali, dan juga sangat aneh, karena bagi kami kuburan tidak beda jauh dengan TPA (tempat pembuangan akhir sampah). Kenapa kita ziarah ke tempat kotor? Diri yang kekal yaitu Sang Roh, setelah upacara pitra yadnya distanakan / tempatkan di pura keluarga (disebut sanggah kemulan = awal mula). Di tempat suci ini-lah arwah para leluhur diziarahi. Setiap keluarga punya pura keluarga, bahkan di pura Besakih pun ada pura keluarga (pedharman). Itu dari segi perziarahan. Komunikasi dengan roh bagaimana? Secara langsung kami orang Bali biasa melakukannya melalui perantara (dasaran atau chanelling). Dan itu tidak ada masalah, tidak ada yang bilang musyrik, syirik, etc.
    Saya sangat senang bisa mampir di blog Ki Sabda. Rahajeng….

    • Terimakasih Mas Logik Yth
      Tanpa ada media untuk share bersama dari berbagai tradisi dan budaya, kita tdk akan saling mengenal. Tak kenal maka tak sayang. Dengan perkenalan begini kita semua menjadi semakin paham dan mengerti, betapa di dunia ini banyak sekali berjuta tata cara memuliakan leluhur, dengan caranya masing-masing. Namun intinya/esensi/hakekatnya sama. Sembah raga, syariat, upacara tradisi merupakan keberagaman “kulit’, namun di balik kulit tersebut terdapat isi sebagai hakekat yg memiliki nilai universal yg tdk berbeda.
      Bagi anak turun yang ingin berbakti kepada sesepuh yg masih hidup, mudah saja, tinggal sowan, sungkem, ketemu langsung dgn ybs. Namun bila sudah mati, hanya pepunden yg ada sebagai kenang-kenangan yg bisa menjadi monumen kemana kita harus sowan. Di Bali, tdk ada kuburan bagi saudara2 yg Hindu, namun bukan berarti tdk punya pepunden, krn pepunden tdk berupa kuburan, namun ada pada PURA. Sementara masyarakat Tana Toraja pepunden terletak di dalam goa penyimpanan jasad leluhur. Masy yg lain, monumen ada di batu nisan. Tempat “sampah” ada di dalam tanah, sementara “pura” nya berbentuk batu nisan. Begitulah, semua bertujuan yg sama, keep contact dgn para leluhurnya, sebagai wujud pengabdian/berbakti kpd org-org yg telah menurunkan kita, mewariskan harta, kebaikan dan ilmu kpd kita. Berbakti tidak hanya semasa hidup saja, namun hingga hidup setelah ajal. Sayang sekali, kini banyak orang yg cari enaknya sendiri, berbakti pada leluhurnya cukup berdoa dari rumah saja. Sehingga banyak sekali petilasan/pepunden/monumen kenangan keadaannya sangat nelangsa, tidak terawat sama sekali.

      salam asah asih asuh
      Rahajeng

  5. Selamat berjumpa, semoga semua dalam lindungan Tuhan.

    Membaca cerita mas Sabdolangit dan tangapan (diskusi) yang ada, sungguh menjadi pengetahuan saya menjadi bertambah. matur nuwun.

    Mas Sabdolangit,
    Saya pernah membaca, bahwa Prabu Brawijaya ke V memiliki 114 putra dan putri. Mas Sabdolangit hanya menuliskan tiga orang. Apakah ini untuk memudahkan cerita yang menuju pada Demak, Pajang, dan Mataram ? Namun jika demikian, lalu yang 111 pada kemana ? dan siapakah saja anak turunya?

    Perdebatan yang seru dan tidak pernah ketemu ( selalu ) jika syariat ketemu Tarekat. Kok pasti tidak bisa gayut ya….? Kayaknya pasti engga bisa ketemu deh. Jalurnya beda kali ya…? Contohnya klo dipahami dari diskusi tadi, ttg syetan. Yang syariat memandang syaten seperti diri manusia dan diluar manusia. Yang satu lagi memandang syetan adalah nafsu kita sendiri ( energi negatif kali ya…). Jadi engga klop kata orang Belanda. Dari situ saya lebih sadar, bahwa hubungan dengan Tuhan tidak cukup hanya diketahui menurut…, tetapi harus dihayati melalui pengalaman pribadi. Jika udah ketemu, udah merasakan, nah… ilmu kita tambah tinggi…gitu kali ya…?

    Salam

    • Mas Lovemedoka Yth
      Syariat sepadan dengan makna Sembah Raga, tarekat sepadan dgn makna sembah kalbu/cipta, dan sembah jiwa/sukma sepadan dengan makna hakekat, sementara itu, sembah rahsa/sir sepadan dengan makrifat, nirvana, kahyangan, awang uwung, sunya ruri.
      Diskusi denga latar belakang sembah raga di satu pihak dan sembah jiwa atau malah sembah rahsa akan sulit sekali mencari titik temunya. Karena keduanya kan dua kutub yg berbeda. Raga adalah kutub bumi/wadag/nafsu/jasad. Sedangkan jiwa/sukma adalah kutub metafisik yg berada di antara kutub raga dan rahsa/sir. Lebih dari jiwa/sukma adalah sembah rahsa, rahsa sejati sebagai pancaran dari zat Tuhan yg tentu saja terbebas dari polusi nafsu duniawi atau ragawi (tidak bisa ditipu si “setan” :lol: ).
      Nah, diskusi akan mudah mencapai titik temu, apabila latar belakangnya sama-sama melalui pendekatan yg sepadan. Sebaliknya, sulit tercapai titik temu.
      Umpamanya, “sembah raga” memandang malaikat sebagai makhluk khusus ciptaan tuhan dengan bahan baku cahaya (cahya sejati). Sementara sembah rahsa menyaksikan sendiri, siapa yg mencabut nyawa, siapakah hakekat “cahya sejati” tsb, lantas apa itu “setan”. Umpamanya, bila anda mencapai pada pemahaman bahwa Tuhan tidak memakai/memiliki nama, maka siapa yg membuat nama untuk tuhan, tidak lain adalah bahasa manusia. atau anda memahami bahwa Tuhan tidak memeluk satu agama apapun. Maka menurut persepsi sembah raga, pemahaman anda adalah sesat, sementara menurut sembah jiwa dan rasa, anda telah mencapai tataran spiritual yg tinggi.
      Begitulah Mas, pertentangan antara “jasad” dengan “sukma” saling tarik menarik sepanjang masa. Dan jiwa/nafas/nafs/soul masing-masing orang bebas mau memihak mana. Kalau memihak jasad (nuruti rahsaning karep) berarti tatarannya barulah sembah raga yg masih sangat riskan terkena polusi nafsu negatif duniawi. Sebaliknya, adalah nuruti kareping rahsa (sejati) merupakan pencapaian spiritual yg lebih baik. Celakanya, WATAK RAGA kadang sangat merugikan diri sendiri dan orang lain, jika RASIO merasa sudah tahu, atau yakin dengan hanya membaca buku saja (tanpa menyaksikan langsung di alam rijalul gaib) maka raga/rasio/nalar sudah merasa paling top, ampuh, benar. Itulah sebabnya saya selalu menekankan melalui tulisan bahwa YG PALING PENTING DI SINI adalah PENGHAYATAN/PENGAMALAN/MANIFESTASI/LAKU PERBUATAN NYATA.
      Tidak hanya dalam hati, ucapan, pikiran, namun harus komplit melibatkan perbuatan konkrit.
      salam asih asah asuh

  6. LELUHUR ORANG JAWA BUKANKAH AJISAKA(ORANG INDIA) .BENER NGGAK YA

    • Tuhan yang maha murba yang menjadi asal dari semua, Aku menguasai semua jagad raya ini, namun Aku yang berasal dari Padanya hanya menguasai dirinya sendiri.
      Dari itu aku ini kecil dibandingkan dengan Tuhan yang maha Esa yang Akbar ( Agung ) tiada bandingannya namun demikian aku berasal dari Tuhan yang maha Esa maka mempunyai sifat yang sama ialah :
      Tidak dapat ditunjuk dengan telunjuk dan tidak dapat di raba dengan panca indera karena Aku bukan lahir dan bukan Batin akan tetapi yang dikaruniai Tuhan dengan lahir dan batin , oleh sebab itulah maka segala keinginan Aku diwujudkan oleh lahir dan batin ,tegasnya Akulah yang memerintah lahir dan batin

  7. ass ki sabdo saya mau tentang leluhur saya ketepas darah dalem nama leluhur saya R.Demang dipopawiro cuma karna waktu saya gak bisa,tolong buat yang tau kasih infonya ya.dari trah mana kakek saya itu terima kasih.
    ===============
    Mas Doni Yth
    silahkan Anda hubungi langsung ke Tepas Darah Dalem, kepada beliau Romo Widyo Nolopratomo telp 0274-7488210. Semoga panjenengan segera bisa ngumpulake balung pisah.
    Rahayu

  8. Di bawah ini Contoh bangsa2 yg ber jati diri sehingga punya pamor dan disegani bangsa2 lain.
    Orang2 Australia bersama Governmen nya menjujung tinggi tradisi dan budaya Aborigin. Bangsa jepang menjujung tinggi adatnya, orang2 arab pun demikian, bangsa China,demikian juga orang Yunani, dan Eropa yg lainya.
    sementara Orang2 Jawa, banyak yg memakai Jilbab, bahkan ada yg lebih extrimlagi berpakaian ninja, ada juga yang ke londo2an, tiru2 tok,
    waswpada kawan..waspadalah, mumpung masih gunung kelud dan Merpi saja yng meletus,

  9. Salam,
    Apa kabar Mas Sabda,

    Saya merasa Nyaman….. Swejukkk, Engappppp dan Plong… membaca komentar” diskusi ini. ( serasa para sesepuh disini menuangkan tulisan bukan dari luar aja ( Pikiran ) tetapi bersama bathin yg terpatri hingga keluar bagian kalimat” terasa TEBALLLL dll hihi…. mantaB, saya jd banyak mendapat pelajaran berharga walaupun dr kalimat tapi mengandung Bobot, Bebet & Bibit” kebaikan. Amiin

    Salam kenal untuk semuanya

    • Kabar baik Mas Ari, bagaimana kabar panjenengan ? Berharap selalu dalam kondisi baik, sehat, gampang rejeki, mudah semua urusan.
      Apa yg tertulis di sini, baik yg tersurat dan tersirat merupakan ungkapan rahsa sejati, nurani paling dalam. Semoga dapat mengetuk pintu hati dan kesadaran generasi penerus bangsa. Sehingga menjadi generasi yang berbakti kepada perintis bangsa, para leluhur nuswantara dan selalu mendapat berkah alam, berkah Gusti Ingkang Murba ing dumadi.

      salam sih katresnan

  10. mohon di carikan fakta sejarah apakah ki ageng prono alus masih ada garis keturunan deng ki ageng kebo knongo .thanks

  11. update permohonan informasi,
    (1) tentang suatu masa pada saat putera HB.VII = grm.akhadiyat yang tiba-tiba “meninggal dunia” , siapakah widura yang di-triman-kan ke singodimedjo di godean (pedes?), dan siapakah bapak dari anak yang dikandung widura pada saat di trimankan tsb?
    (2) berapa lama masa “penghukuman” yang harus dijalani bangsa jawa?
    matursembahnuwun,
    annoragasuta

  12. Assalamualaikum, mas sabda bolehkan saya minta alamat email and no. Hp mas sabda? mohon diemail ya mas.maturnuwun wassalam. ari.purna @yahoo.com.
    ==================
    Boleh silahkan mas Ari, kontak saya dulu via email sabdalangit@gmail.com
    Matur nuwun
    salam sejati

  13. Mas Sabda saya mau tanya…
    beberapa minggu setelah Mbah sayaeninggal dulu 40 harinya kira” dia datang di mimpi
    di sana tambap dia dengan pakaian sederhana dan rumah sederhana pula…
    beliau berkata : “dah Cung… aku di sini dah penak… dah punya rumah dan cukup nyaman”
    sambil berpamitan pergi…

    Apakah itu menandakan Beliau dah diterima Mas? meski rumah dan pakaianya sedehana..
    apakah itu pula menandakan kadar amal kebajikanya pula semasa di dunia?
    berarti alam kamulyan / alam laduni itu merupakan persinggahan sementara (surga sementara) menunggu dihisabnya seluruh Umat ya mas setelah kiamat?

    • Mas Tomy Yth
      Yah, seperti itulah. Kematian hanyalah sekedar kelahiran kembali tetapi ke alam kelanjutan setelah dimensi bumi. Khisab ? Setiap hari dalam kehidupan ini kita selalu menjalani hisab mas, tidak usah nunggu2 kiamat datang. Lha bagaimana yg mati ribuan tahun atau puluhan ribu tahun lalu, apakah harus menunggu ? Bisa bosen kan :)
      Sementara orang yg mati kelak dekat2 kiamat gak perlu menunggu lama-lama utk khisab, rasanya tuhan jadi nggak adil. Ada yg suruh nunggu lama ada yg enggak. Menurut yg saya saksikan, khisab (pembalasan) sudah ada sejak kita hidup di bumi ini, dan dilanjutkan di alam kelanggengan setelah raga mengalami ajal. Hanya saja, alam kelanggengan tidak hanya satu “ruang” atau lapis saja melainkan tak terhingga. Perjalanan ruh dalam jangka waktu tertentu terus berpindah ke dimensi selanjutnya. Seperti halnya manusia hidup di dunia akan berpindah ke dimensi gaib, memasuki kehidupan yg derajatnya lebih tinggi ketimbang kehidupan bumi.
      Apa yg ada dalam mimpi itu ya keadaan Mbah mas Tomy di sana sudah enak. Karena selama 40 hari roh masih tinggal dirumah, setelah hari ke 40 barulah berpindah meninggalkan dimensi bumi menuju ke alam pangrantosan menempati “rumahnya” sendiri dengan kondisi sesuai dengan apa yg kita perbuat bagi sesama makhluk hidup dan alam semesta sewaktu hidup di bumi. Begitu menurut apa yg saya saksikan sendiri Mas. Semoga dapat menjadi komparasi pengetahuan.

      salam karaharjan

  14. Apa yang sudah diuraikan diatas semoga dapat menyadarkan anak bangsa ini untuk lebih menghargai budaya leluhur yang sesungguhnya, jangan hanya mengagung-agungkan budaya import saja dan melecehkan apa yang sejatinya budaya miliknya sendiri.

    Jayalah Indonesia, Jayalah Nusantara………..
    Salam Sejati

  15. assalamualaikum mas sabdalangit

    Baru kali ini saya terbuka memahami budaya leluhur saya sendiri, telah bertahun-tahun saya mencari jati diri mulai menjalani islam dari umur 13 tahun…saya belajar tentang ilmu hati dan ilmu budi,tarekat di islam sampai rasa haus ingin mengenal gusti ingkang murbeng dumadi lewat pesantren, buku, sampai berguru ilmu kanuragan, ilmu karang ke berbagai perguruan sampai yang baik dan perbuatan yang buruk telah saya lakukan lantaran bingung siapa sejatining awak iki lan opo kareping gusti pengeran. setelah tidak sengaja menemukan blog sabdolangit, saya menemukan wawasan yang sangat indah yang selaras dengan arah hati dan badan saya…! saat ini saya berumur 27 tahun belum menikah. Bolehkah saya BER GURU PADA MAS SABDOLANGIT. agar dikelak saya meninggalkan dunia ini, saya tidak meninggal dengan rasa penasaran akan sejatining urip! SIAPA YANG INGIN MENGENAL TUHANNYA HARUS MENGENAL DIRINYA SENDIRI. terima kasih

  16. Sampurasuun . Goleka urip sampurna aja golek mati sahid. hidup sempurna itu kembali ke asal wa inna ilaihi rojiun.
    tuhan adalah cahaya maha cahaya yang ada pada pribadinya, ada pada ilmunya dan ada pada ciptaanya. kalau kembali kepada KU artinya kebalilah kepada cahaya maha cahaya bukan kembali ke tanah , air , api , angin ciptaaNya.
    sorga lan neraka iku kahanan seneng lan susah
    Jalan yang lurus adalah jalanya orang orang yang diberinikmat Allah. Orang orang yang diberi nikmat allah itu malaikat , Nabi, Wali , orang orang suci bukan yang dzolimiin iblis dajal sadat haman qoruun .
    Untuk bisa mendapatkan tuntunan jalan lurus perlu pengakuan saudara saudara kita dahulu yang membuatkan jalan awal kita keluar ke dunia dialah ghoibnya Kawah putih warnanya, tempatnya di timur Seloka segaranya. Ghoibnya darah merah warnanya tembaga segaranya tempatnya di selatan, Ghoibnya Usus Pethet kuning warnanya, emas segaranya tempatnya di barat dan ghoibnya ari-ari hitam warnanya besi segaranya tempatnya di Utara. merekalah sahabat sahabat kita yang menolong kita turun ke alam dunia. Mintalah tolong kepada mereka untuk disowanake dan dimohonkan kepada tuhan yang Maha Suci. jangan minta tolong pada jin setan peri prayangan itu sirik jarene.
    jika sudah ketampa penyuwunane insya Allah bisa ketemu Guru Sejatine sakuwise dituntun guru Langit Aladziina an amta alaihiim . Mula carilah Guru Bumi yang mendapat bimbingan cahaya Illahi. dalam Surat anur disebutkan Aku bimbing cahayaku pada orang orang yang aku kehendaki. orang orang inilah guru bumi yang pantas menjadi pembimbing ke jalan yang luruss. oh maaf wong aliit nglamun meneh di sini.
    Mas Sabda dan Kadang Kulo sedaya ingkang mencari kawilujenganing donya akherat. aja nggugu karepe dewe nanging tutno pituduhing gusti kang maha suci. salam rahayu , salamungalaikuum .

  17. mas nuwunsewu, saya mau tanya silsilah keluarga saya. paling atas adalah Joyodipuro, ke bawah adalah Wongsowiguno. bagi yang tahu mohon kirim email jawaban ke alamat ini. dealdeol@ymail.com. agus purwokerto

  18. nuwunsewu, salam hangat dari wong sudra purwokerto. terus nguri uri budoyo jawi!!

  19. mas sabdo, nuwunsewu saya bingun mencari trah saya. leluhur kami teratas adalah Joyodipuro terus wongsowiguno dll. mohon diberi penjelasan, dan kalo bisa dikasih tau alamat email tepas darah dalem jogja, ke alamat dealdeol@ymail.com.
    maturnuwun

    • Mas Agus Yth
      Jika tidak salah, beliau keturunan dari KASUNANAN, tetapi saya kurang paham keturunan yg keberapa. Untuk melacak panjenengan bisa menghubungi TEPAS DARAH DALEM di Kraton Ngayogya telp 0274-7488210. Atau langsung di kantornya samping barat Kraton Yogya.

      Rahayu

  20. assalamu’alaikum seluruh Admin & pengunjung Sabda Langit.
    ..tentu, [menurut pemahaman saya yang cupet ini] ontran-ontran politik yang menyeret [atau terseret] ke ranah agama adalah sesuatu yang cukup rumit untuk dibabar dalam satu makalah, seperti praksis di atas. Namun, hal yang serupa kerap didengungkan oleh Cak Nun dari Padepokan Alhamdulillah Bantul sana, persis seperti ungkapan Kang Sabda di atas.

    ..[namun] hipotesa saya justru proporsional saja. Jawa adalah negeri yang purba sekali, berikut rasnya. Ada jauh sebelum [waLlahu ‘alam] Nabi Adam AS tumurun ke bumi, ini merujuk pada temuan Prof. Santos tentang Atlantiknya. Dus, Saya mengamini sebagian deskripsi Kang Sabda di atas, namun sebagian menurut saya yang cupet ini memang perlu ada eksplorasi yang lebih hati-hati mengingat rumitnya politics interest pada zaman itu. Saya berkeyakinan, Islam tidak pernah disebarkan dengan pedang dan invasi militer.

    ..untuk keNusantaraan, Kang Sabda saya sarankan mensilaturahmikan wacana dan misi yang ada dengan Cak Nun di Kasihan-Bantul sana, karena gathuk sekali ide-idenya. Mungkin juga perlu disupport dengan orang-orang khusus seperti Argawi Kandito, mungkin. Tetapi bagaimanapun saya salut atas dedikasi Kang Sabda. JazakumuLlah.

    • Matur sembah nuwun Mas Sugeng Riyadi ingkang dahat minulya.
      Bila dirasa prayogi, saya mbok dijawil kalau ada acara Cak Nun di Bantul.
      Matur sembah nuwun sakderengipun.
      Salam taklim
      Rahayu

  21. ass wr wb, mas sabdo saya waluyo alamat saya di surabaya, nuwun sewu panjenengan alamatnya atau padepokannya dimana? saya tertarik sekali dengan wejangan2 panjenengan. Kalau ada alamatnya di surabaya saya ingin silaturohim mas untuk menambah wawasan dan sedulur. Nuwun sewu bahasanipun radi kasar mas.matur suwun
    wass wr wb
    Salam taklim
    Rahayu.
    waluyo.

  22. email saya : hmwaluyo@yahoo.com.
    matur suwun.
    waluyo

  23. ass wr wb, mas sabdo saya milkhan di jatiwaringi saya sangat tertarik dengan tulisan-tulisan mas sabda saya mau tanya saya dulu perna belajar berbagai macam ilmu kadigdayan . setelah berkeluarga saya tobat bagaimana apakah ilmu yang telah saya pelajari bisa hilang . saya kenal sama seseorang saya supaya membersihkan diri bada fisik batin, ruh, roh suci dan kehidupan dengan cara mohon kepa allah sudah saya lakukan bertahun-tahun apakah ini bisa membersihkan.
    saya juga mau tanya waktu saya masih berguru saya ditemui eyang bangau, drago, harimau dan eyang sapu jaga apakah ini jin atau leluhur
    sebelumnya saya ucapkan bayak terima kasih

    • Mas Edy Yth
      Selama memiliki ilmu kadigjayan apakah anda pernah menggunakan utk kejahatan ? kalau tidak pernah kenapa musti resah dan gelisah. Anda hanya termakan issu dan mitos bahwa kadigjayan akan mengotori tubuh. Yang membuat kotor (dosa) tubuh, raga, dan jiwa kita adalah PERBUATAN kita sendiri misalnya: mencelakai, menganiaya, menyakiti hati pada sesama manusia dan seluruh mahluk. Jika melakukan perbuatan tak baik seperti tersebut, manusia sudah belepotan dengan najis dan dosa.
      Jin tidak bisa menipu seolah menjadi leluhur kita. Jin ya wujud nya jin, nggak bisa merubah-rubah wujud dirinya. Yang bisa merubah ujud dirinya adalah sejenis siluman, dan mahluk seperti genndruwo. Itupun sangat mudah dibedakan dengan roh manusia. Jangan salahkan mahluk atau obyeknya, tapi salahkan diri kita sendiri kenapa tak bisa membedakan. Sebab semua wujud yg berubah2 itu hanyalah artifisial dari imajinasi kita sendiri. Maka disebut MEMEDI atau memed ing budi. Yang paling penting untuk kita adalah jangan NURUTI RAHSANING KAREP (hawa nafsu atau keinginan jasad) tapi harus selalu NURUTI KAREPING RAHSA (rasa sejati), agar supaya ketajaman indera batin kita begitu lihai membedakan mana yang asli mana yang imitasi dalama kehidupan ini.

      salam karaharjan

  24. Ass. Wr Wb Mas Sabdo YTH
    Terima kasih atas pencerahannya,
    Saya kepengin ngudi kaweruh lebih dalam lagi ada banyak unek-unek yang perlu pencerahan yang lebih dalam lagi mohon bimbingan dan arahan mas
    Apa boleh saya main kerumah atau telpon karena saya merasa cocok dengan tulisan-tulisan mas sabdo
    terima kasih atas pencerahannya
    email edimilkhan@yahoo.co.id

  25. TERIMAKASIH ATAS INFORMASI DAN TULISANNYA, CUKUP BERMANFAAT BUAT BACAAN/REFRENSI UNTUK REGENERASI. KUNJUNGI JUGA SEMUA TENTANG PAKPAK DAN UPDATE BERITA-BERITA DARI KABUPATEN PAKPAK BHARAT DI GETA_PAKPAK.COM http://boeangsaoet.wordpress.com

  26. Stelah berkeliling di Rumah Panjenengan, baru sampai disini kiranya. Karena saya rasa betapa saya masuk dalam kebun buah kehidupan yang indah dan lebat.

    Mengenai leluhur memang selalu menjadi kotrovesi dalam memahaminya, bila masuk dalam masalah tsb belum apa-apa selalu disuguhi, musyrik, tahayul, setan dll. Padahal kalau di ingat-ingat dengan seksama, agama mayoritaspun menganut system leluhur manusia pertama Adam. Dan kemusyrikan bukan saja terjadi pada keyakinan tentang leluhur saja, masih banyak bidang-2 lainpun yang dalam tindakannya kelihatan lurus kepada Tuhan karena tampak pada kata-kata, atribut, dalil dsb, tapi didalam nya terdapat sifat yang membuat tandingan untuk Tuhan.

    Orang beriman adalah orang yang percaya kepada ghoib(Qs), namun tentu konsep ghoib bukan selalu dihadapkan dengan referensi kurafat, tahayul, musyrik dll, sebab bagi orang yang awam dan buta seperti saya, mungkin saja tatkala saya beribadah menghadap kiblat, justru dihadapan saya terdapat iblis dan setan, dan mungkin saja yang menjadikan saya khusuk dalam do’a adalah disponsori oleh setan dan iblis, yang saya kira itu Tuhan dalam sugesti ketidak tahuan, malah iblis berdiri disana.

    Bila semua serba di mungkin-mungkin kan maka kemungkinan itu hanya akan memperkaya khasanah perdebatan, namun segala kemungkinan tsb bisa sirna dan punah tatkala manusia telah ber-pengetahuan tentang hal ghoib, sebab bila hanya yakin saja terhadap hal ghoib tanpa pengetahuan dan rambu-rambu, mana mungkin manusia akan bisa membedakan antara setan, malaikat, jin, arwah leluhur dan Tuhan sekalipun. Maka yang ada hanyalah menduga-duga atas dalil-dalil yang belum mampu dibuktikan.

    Padahal hal ini sangat mudah dinilai orang awam, se-seorang yang menguasai teori motor bakar tentu sangatlah beda dengan montir, montir punya keyakinan atas pengalaman yang berulang-ulang, sehingga dengan pengalamannya mampu membedakan berbagai kasus dan masalah.
    Lain halnya dengan seorang yang bekalnya hanya teori, maka pemecahan masalahnya selama-lamanya nya takan pernah nyambung dengan seorang montir. Sebab seorang teoritis yang hanya menduga dan memungkinkan, tanpa punya kemampuan untuk terjun kelapangan, selamanya hanya pandai dalam berpolemik (pepesan kosong), tak mampu memecahkan dan menyelesaiakan persoalan kehidupan.

    Namun bagi saya ada yang menarik untuk disimak, bahwa para leluhur itu masih hidup seperti halnya kita tetapi tanpa jasad, dimana kehidupan tsb tidak dipengaruhi nafsu jasadi kecuali kesasdaran di alam kesejatian. Ini baru saya sadari saat ini dan masuk kedalam relung hati, padahal konsep tsb sudah bersarang lama dalam aqal fikiran saya, mudah-mudahan besok lusa saya akan segera sowan ke psarean orang tua saya, bagi manapun saya sadari bahwa hingga saat ini masih menikmati jasa-jasa ortu saya, kadang saya menangis melihat meja kursi lemari jati, yang dahulu msih kecil saya duduk disana, sekarang masih ada saya duduki dan dijadikan sarana dalam mencari nafkah bagi kehidupan saya Semoga Allah mengampuni kedua orang tua saya, dan menempatkan nya ditempat yang layak……amiiin.

    Mohon dorong do’a dari panjenengan Mas. ….,semoga saya dipertemukan dengan kedua ortu saya.

    Salam sejati.

  27. Kita saling mendoakan Mas Olads, agar kita semua sungguh menjadi manusia yang bekti kepada kedua orang tua & juga leluhur.
    Dari pengalaman saya, ketika ibu jatuh sakit, saya banyak mendapatkan pelajaran kebaikan dari ibu & bapak.
    Dari kisah yang dituturkan juga teladan bapak saya yang saya saksikan, betapa uang meski sangat dibutuhkan tidak membuat orangtua kehilangan kepedulian social & kesetiakawanan.
    Memberi ikhlas dalam kekurangannya…tidak seperti saya yang masih owel saat kekurangan…
    Btw.. saya dapat wasiat dari Sunan Kalijaga sebuah ritual…atau doa… untuk Nyaur Banyu Susu..ungkapan terima kasih atas Air Susu Ibu. Bagi yang membutuhkan saya secara tulus berbagi.

  28. mau tanya? petilasan yang ada diatas rawa pening itu betul brawijaya I.

  29. apakah kang sabdolangit pernah bertemu panembahan senopati sewaktu nggrogosukno?

    • kang bakron yth
      Pernah dua kali saat “perjalanan meraga”, dan beberapa kali saat dalam keadaan sadar biasa, dalam kondisi sedang tidak tidur. Yang paling terakhir bertemu, beliau hadir utk memberi kabar supaya hati-hati akan terjadi gempa lbh besar satu kali lagi di Sumatra Barat disertai tsunami, sekitar akhir tahun ini, antara sept-nov 2010. Beliau juga menganjurkan supaya sy memindahkan anak angkat saya yg tinggal di padang sebelum bulan Juli 2010.

      salam sih katresnan

  30. mas saya senang ritual ke makam – makam leluhur, yang ada di sekitar grobogan. dan hasilnya selalu sama .” kamu harus sowan kemakam leluhur kamu brawijaya I ” karena saya orang biasa yang tidak mengerti coba tanya dan dikasih tahu ke rawa pening.yang saya tanyakan ? apakah orang biasa seperti saya ini punya trah dari Eyang Brawijaya, karena waktu saya sowan kesana juga diberi nama.
    =============================
    mas Suryanto yth
    Prabu Brawijaya I hidup sekitar abad 11. Jika dirunut hingga sekarang mungkin sudah menurunkan keturunan berjumlah puluhan juta orang. Salah satu di antaranya adalah panjenengan. Hal ini sangat mungkin mas, kenapa tidak..?! Banyak di antara keturunan itu menjadi org yg terpilih dan pinilih, kuat nyunggi drajat, semoga satu di antaranya adl panjenengan. Coba panjenengan ikuti saja langkah demi langkah pasti akan ketemu apa yg menjadi tanda tanya selama ini.

    salam sejati

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 940 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: