PENGALAMAN GAIB
Tulisan ini sengaja saya paparkan, tanpa niat dan maksud sedikit pun untuk unjuk diri dan wujud kesombongan, apalagi untuk mencari musuh. Semata-mata sekedar mensyukuri anugrah tuhan dengan cara lebih konkrit yakni berbagi pengalaman kepada saudara-saudara yang budiman. Barangkalai ada suatu pelajaran yang dapat kita petik. Kejujuran apa adanya disampaikan, walaupun akibatnya pahit, lebih baik daripada kita membuat semua orang senang, tetapi berpijak pada kebohongan dan kemunafikan belaka. Saya yakin di antara para pembaca pasti ada yang memiliki pengalaman spiritual berbeda dan lebih mendalam lagi. Karena Tuhan Maha Pemurah, Maha Adil, Maha Bijak, pasti melimpahkan segala rahmat, petunjuk, kemurahan, dan mukjizat, dalam wujud yang berbeda-beda kepada seluruh umat manusia makhluk ciptaanNya. Tanpa kecuali, dan tanpa membedakan apapun suku, bangsa, agama dan sistem kepercayaan anda. Pastilah anda memiliki dan pernah merasakan “sentuhan” Tuhan di mana Kekuasan dan Mukjizat Tuhan terasa begitu dekat dengan diri anda.
TENTANG RUH
Kisah ini kualami pada saat aku masih usia 5-8 tahun. Waktu itu orang tuaku bingung dan sedih karena 3 kali dalam seminggu aku mengalami kejadian misterius. Ortu ku menuturkan, tiba-tiba aku tampak seperti orang pingsan selama 1-2 jam lamanya. Anehnya ke mana saja berobat, dokter selalu menghasilkan diagnosis yang berbeda-beda.
Pada saat diriku dianggap “pingsan” itu, apa yang sebenarnya alami sangat berbeda. Peristiwa selalu terjadi sore hari, awalnya aku mulai merasakan gejala aneh, mendengar suara teman-temanku yang sedang bermain seolah terdengar suara dalam dua dimensi. Di satu sisi aku mendengar suara mereka secara jelas di telingaku, tetapi di sisi lain aku mendengar suara-suara misterius seperti nun jauh di “sana”, yang sulit aku deskripsikan. Perasaanku semakin ketakutan, lantas pulang ke rumah. Sampai di rumah aku merasa tiba-tiba pandangan gelap gulita lalu muncul ada titik sinar putih, lama-kelamaan semakin besar seperti lorong. Hanyut diriku menyusuri lorong secara cepat, kemudian tiba-tiba masuk ke dalam ruang yang maha luas, terang benderang, ibarat seperti di atas awan putih yang menghampar di langit. Di sana aku bertemu sosok laki-laki maupun perempuan yang rata-rata berusia setengah baya, dan ada tak pernah kukenal sebelumnya. Mereka mengajarkan sesuatu kepadaku, tentang berbagai “ilmu linuwih” maupun pengetahuan tentang sejatinya Tuhan. Anehnya, selama menyampaikan ajaran-ajaran mereka tanpa pernah menyebut dalil salah satu agama apapun sebagaimana sering dilakukan oleh penceramah agama.
Siapakah orang-orang itu ?
Kesadaranku tiba-tiba pulih, bersamaan dengan perasaan seolah diantar pulang kembali oleh orang-orang itu. Setelah sadar aku berfikir siapakah mereka ? dan pada saat peristiwa itu kembali terjadi pada diriku, aku sempat bertanya (A), ”Panjenengan sinten to…?
Mereka menjawab
(M); “Aku eyang-eyangmu dewe ngger…ojo wedi, kene kene..siro dak paringi “sipat kandel” supoyo uripmu mbesok manggih kabegjan lan antuk kamulyan sejatining urip.
A ; “Njih..sendiko eyang…dalem ngesto’aken dawuh !
M ; “Iki eyang buyutmu, aku eyang canggahmu, lan kae kabeh poro leluhurmu kang nurunake sliramu ngger…!
Dalam setiap “pertemuan” di alam “sana” beliau selalu berpesan,”Tansah-o manembah marang Gusti Ingkang Akaryo Jagad..tansah eling lan waspodo, terusno lakumu ngger…wis becik..eyang-eyangmu kabeh tansah paring donga lan pengestu marang sliramu ngger ! Ojo parang tumuleh, lakumu tansah dak jangkung lan dak jampangi.
Kemudian aku dengar beliau menyebut satu persatu nama-nama mereka, persis seperti nama-nama leluhur kami (yang sudah lama wafat) yang tersimpan dalam catatan silsilah (pohon famili) yang masih disimpan rapi oleh kedua orang tua ku.
Mengapa Mereka Tidak dalam Siksaan Tuhan ?
Konon menurut cerita orang tua kami, leluhur-leluhur yang namanya tersebut dalam silsilah, dan pernah kutemui di dalam dimensi gaib itu, ada yang beragama Hindu Syiwa, Kabuyutan, Budha, Katolik dan juga eyang saya lainnya yang dulunya seorang penghayat nilai-nilai hakekat Islam. Termasuk eyang canggah yang seorang penghayat ajaran Kejawen. Aku mulai berfikir dan bertanya, mengapa beliau masih bisa kutemui dalam keadaan baik-baik semua ? Jika agama di dunia ini yang benar hanya satu, mengapa beliau semua tetap dalam kondisi baik. Sebab waktu itu bayanganku sebagai “anak kemarin sore” yang masih awam, jika si A tidak memeluk agama ini, itu … berarti salah dan menjadi orang tersesat, maka mereka tak akan diterima di sisi Tuhan. Tetapi kenyataannya kok demikian adanya ?! Walau mereka dari berbagai latar-belakang keyakinan yang berbeda-beda kok tidak dalam siksaan Tuhan ? Ini menjadi pertanyaan dalam batin.
Pada saat peristiwa itu semakin sering terulang, kesadaranku juga semakin meningkat walaupun berada dalam dimensi “lain”, tetap tak ada bedanya sebagaimana bercengkerama dengan kawan-kawan bermainku yang masih hidup. Aku dapat bertanya apa saja tentang yang gaib. Semua jawaban beliau-beliau amat sangat gamblang, jelas, tegas, sangat memuaskan dahaga spiritualku.
Lalu pada suatu waktu, sampailah saatnya “dibukakan” mata hatiku akan rahasia besar, tentang Kebesaran Tuhan, tentang Keadilan Tuhan, tentang Kebijaksanaan Tuhan. Namun dengan berat hati saya belum bisa memaparkan bagaimana rahasia besar tersebut secara rinci dan detail. Tidak bijaksana kiranya saya mengungkap rahasia besar Dzat Ilahi pada media ini, karena dapat menimbulkan fitnah. Saya terdorong untuk bersikap bijak, bisa “ngemong” bagi saudara-saudara kita yang belum cukup bekal landasan ilmu untuk memahami dengan arif dan bijaksana akan rahasia besar alam gaib. Namun demikian, ada yang ingin saya bagi pada para pembaca yang budiman, secara garis besar ada yang dapat saya simpulkan dari peristiwa yang saya alami sebagai berikut;
Betapa Tuhan itu :
LEBIH DARI MAHA ADIL
LEBIH DARI MAHA BIJAKSANA
LEBIH DARI MAHA BESAR
LEBIH DARI MAHA KUASA
LEBIH DARI MAHA KASIH DAN PENYAYANG
LEBIH DARI MAHA LEMBUT
LEBIH DARI MAHA PEMURAH
Akhirnya, sampailah saya pada pemahaman:
ALANGKAH DAMAINYA DUNIA INI
JIKA SEMUA ORANG MENGALAMI SAMA DENGAN APA YANG PERNAH SAYA ALAMI
JIKA TUHAN MEMBERI KESEMPATAN KEPADA SELURUH MANUSIA
UNTUK MELIHAT RAHASIA KEKUASAAN“NYA”
PASTI LAH TAK KAN ADA LAGI PERANG ANTAR AGAMA
TAK KAN ADA LAGI DEBAT KUSIR SIAPA SEJATINYA TUHAN
TAK KAN ADA LAGI RASA KEBENCIAN DAN PERMUSUHAN ANTAR AGAMA
TAK KAN ADA LAGI SALING CURIGA DI ANTARA UMAT
SAYA TELAH MENDAPATKAN PEMAHAMAN YANG AMAT SANGAT BERHARGA,
SAMPAILAH PADA PEMAHAMAN BETAPA TUHAN ITU LEBIH DARI MAHA SEGALANYA,
DARI SEMUA WUJUD KE-MAHA-AN TUHAN
YANG TERTULIS DI DALAM KITAB SUCI DAN AGAMA MANA PUN
Sasmita Gaib
Peristiwa gaib itu lantas berhenti sejak aku berusia 8 tahun. Pada saat remaja kehidupanku sangat berbeda dengan teman-teman. Orang tuanku guru SD, enam bersaudara semua sekolah. Maklum jika kemudian orang tua gajinya minus, sekalipun sudah bekerja sambilan freeland, sebagai petani. Kubantu orang tua bekerja keras di sawah hingga aku beranjak kuliah di UGM. Dengan susah payah kuselesaikan S1 walaupun aku harus menanam pohon pisang banyak-banyak di tanah kering pinggir sungai agar supaya bisa ku jual setiap seminggu satu tandan pisang untuk beaya kuliah. Ternyata belum mencukupi kebutuhan kuliahku juga, sehingga aku tetap harus makan sekali sehari selama 7 tahun sejak kelas 2 SMA.
Sejak 5 tahun yang lalu, peristiwa itu menghampiriku kembali beberapa kali, tetapi kali ini aku diajarkan tentang ilmu meraga sukma atau lolos sukma. Bagi orang Jawa ilmu ini sudah tak asing lagi. Sebuah ilmu untuk memisahkan badan halus kita dengan badan kasar. Badan halus kita keluar dari badan kasar, selanjutnya dapat melanglang jagad raya menembus dimensi gaib. Aku semakin dapat membuktikan sendiri apa yang pernah diajarkan oleh leluhurku di alam “sana”. Kutemukan ternyata adalah perbedaan dimensi gaibnya para setan, demit, jin priprayangan, siluman yang suasananya serba bau tak sedap, anyir, gelap remang-remang, lembab, basah, licin dan terdapat aneka ragam rupa bentuk mahluk Tuhan yang menyeramkan. Kudapatkan pula ternyata dimensi gaibnya para leluhur berbeda dengan dimensi gaibnya setan, demit brekasakan.
Sungguh berbanding terbalik, ruh para leluhur berada dalam dimensi yang serba indah, menyenangkan dan nyaman serasa aku tak ingin kembali lagi ke dalam badan kasarku lagi. Para ruh berkelompok-kelompok dalam keluarga besar, menempati “rumah-rumah” yang indah, ada yang besar ada yang sedang, ada yang kecil, bentuknya benar-benar tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Adalah sebuah rahasia, bahwa semua jenis mahluk halus sebangsa jin jahat, setan, demit, siluman dsb ternyata tidak dapat masuk ke dalam dimensi ruh yang suci. Sehingga di dalam dimensi gaibnya ruh tak ditemukan satupun adanya mahluk halus jenis demit, jin, setan, siluman dsb.
Jenis makhluk halus tersebut berada dalam dimensi gaib-nya (metafisik) bumi, yang lebih dekat dengan dimensi fisik manusia. Tetapi, badan halus yang tak lain adalah ruh kita, guru sejati kita, dapat merasuk ke dalam dimensi gaib-nya jin setan, atau dimensi gaibnya para leluhur, tergantung mana yang kita kehendaki.
Aku pernah bertemu dengan beberapa leluhur agung masa lampau, mereka berkisah tentang sejarah bumi nusantara yang sebenarnya. Dalam alam ruh tak kutemukan kebohongan, kepalsuan, angkara, yang ada hanyalah kejujuran dan semua kebaikan. Tersibaklah kepalsuan dan kebohongan duniawi secara lugas (tanpa tedeng aling-aling). Untuk membuktikan semua ini pernah kulakukan kroscek kepada seseorang (yang masih hidup) tentang apa yang dia alami waktu kecil, ajaran apa yang menjadi pegangan hidup sewaktu dewasa, falsafah apa yang dia kuasai, dan ternyata tepat sekali kejadiannya. Padahal yang bersangkutan sebelumnya tak pernah bercerita apa-apa tentang hal itu.
Untuk bertemu ruh leluhur yang diinginkan kadang dengan mudah dapat segera bertemu. Kadang sulit sekali bertemu. Aku sadari bahwa semua ini atas berkat izin Tuhan Yang Maha Kuasa, terasa semakin kecil kedirian ini ketika dihadapkan pada Kebesaran Tuhan yang sungguh dahsyat. Aku pernah mencoba untuk bertemu dengan tokoh dalam “dunia hitam” era tahun 1980-1990an yang telah mati. Namun sulit untuk dapat bertemu, karena ia telah berada di alam pembalasan. Ada ruh yang semasa hidupnya saya kenal dengan baik, ia memiliki tabiat mulia, dan berbudi luhur, ia sedikit bercerita bagaimana ia pernah menjalani hukuman di alam pembalasan kurang lebih jika dikonversi dengan waktu bumi adalah 11 tahun lamanya.
Bimbingan dan Wejangan Gaib
Tepatnya lima tahun yang lalu, sejak aku mengenal berbagai ruang atau dimensi gaib, mata telanjangku sepertinya menjadi semakin awas melihat yang gaib tanpa harus melakukan “lolos sukma”. Pandanganku pada obyek gaib semakin nampak jelas. Tampak secara jelas siapa leluhur yang sedang rawuh. Aku sangat bersyukur kepada Tuhan YME, karena telah memberiku anugerah hakikat pengetahuan sejati. Aku semakin intens “bertemu” secara langsung dengan para leluhur agung, ada yang bekas pemimpin, ada yang ratu gung binatoro, bahkan Kanjeng Ratu Kidul yang biasa dipahami secara negatif, beliau bukanlah dari bangsa jin, setan, siluman. Tetapi dari entitas bidadari sehingga ajarannya begitu luhur, dia sungguh sebagai sosok ratu “gaib” yang arif bijaksana, dan sangat religius, melebihi kadar religiusitas kebanyakan manusia. Para leluhur itu, banyak memberikan wejangan dan bimbingan spiritual tanpa pernah mempersoalkan apa agamaku. Lebih dahsyat lagi, pernah bertemu dengan para leluhur yang semuanya dalam kondisi sangat baik, padahal beliau memiliki latar belakang agama yang berbeda-beda seperti yang ada di nusantara ini. Pesan dari para leluhur, yang kiranya etis aku sampaikan di ruang publik ini, adalah sebagai berikut;
Untuk meraih kemuliaan sejati (kamulyan sejati/syurga);
1. harus selalu ingat dan tunduk kepada Tuhan
2. tak boleh menyakiti hati dan mencelakai orang lain
3. hati tak boleh kotor dengan rasa iri dan kebencian
4. ringan menolong orang susah, tanpa pamrih dan jangan takabur (tapa ngrame)
5. sedekahlah (donodriyah) ; yang paling tinggi nilainya di hadapan Tuhan adalah sedekah materi, kedua sedekah tenaga, ketiga sedekah tutur-kata yang baik, keempat yang paling rendah nilainya adalah sedekah doa.
6. ikhlas setinggi-tingginya, yakni keikhlasan yang dapat diumpamakan dengan orang buang hajad besar
7. jangan ikuti “air bah” yang suka menerjang aturan dan hakekat kemanusiaan, tetapi ikutilah “aliran air sungai” atau tapa ngeli (mengikuti kehendak Tuhan) agar mencapai pada muara keberuntungan kemudian masuk ke dalam lautan kemuliaan hidup.
8. jika kamu berbuat baik pada orang lain, jangan harapkan balasannya, sekalipun kamu dibalas dengan kejahatan. Sebaliknya bertransaksilah dengan Tuhan, jangan dengan orang itu, sebab transaksi dengan Tuhan akan mendatangkan kebaikan yang berlipat ganda untuk diri kita sendiri melalui banyak orang disekitarmu. Intinya, jangan sekali-kali kamu membangkit atau mengungkit-ungkit kebaikan yang pernah kamu lakukan pada orang lain, tetapi kuburlah kebaikan dalam-dalam hingga kamu lupa (tapa mendhem)
9. anugerah agung itu tak ada yang gratis, semua memakai “uang tebusan” berupa keprihatinan, dan penderitaan. Penderitaan dan keprihatinan yang kamu jalani dengan ikhlas dan legowo itu sesungguhnya akan menjadi tabungan “uang tebusan” yang akan ditukar dengan anugrah. Semakin besar penderitaan, semakin besar anugrah yang telah disiapkan Tuhan untuk mu. Maka dalam penderitaan kamu jangan suka grenengan, grundelan, karena tindakan itu hanya akan menghapus tabungan “uang tebusan” mu. Penderitaan yang telah kamu jalani sekian lama hanya menjadi sia-sia, kamu tak kan memperoleh apa-apa darinya kecuali penderitaan itu saja. (tapa mbisu)
Semua perbuatan itu yang baik maupun yang jahat, pasti akan berbalik berlipat kepada diri kita sendiri. Dan setiap kebaikan yang kita lakukan pada orang lain akan menjadi “pagar” yang mengelilingi diri kita sendiri. Sehingga kita tak bisa dicelakai orang lain, sebaliknya akan mendapat keselamatan, serta meraih ilmu kabegjan (keberuntungan). Jika diungkapkan dalam perumpamaan, kita akan menjadi seperti bola, semakin kuat dibanting maka semakin tinggi pantulan ke atasnya.
Demikianlah sepotong pengalaman gaib yang pernah saya alami, semoga dapat menjadikan wahana komparasi, tanpa harus mengedepankan emosi dan nalar yang dangkal. Marilah kita kaji bersama, berangkat dari sikap netral, kejernihan hati dan kebeningan jiwa.
Bersambung….















536 tanggapan kepada “PENGALAMAN GAIB”
dede
Maret 31st, 2012 pada 13:29
mas saya mw bersilaturahmi sama panjnengan dan saya bnyk pngalaman gaib yg saya gk bisa cerna akal sehat saya…….
saya bertrima kasih banyak kalo panjenengan mw berbagi ilmu sama saya………..
kalo boleh mnta nomer hp mas biar bisa sharing kalo gk kirim lewat e-mail aja mas…….
terima kasih banyak jika mw mmbantu saya…….
hary
April 2nd, 2012 pada 09:57
aku ingin sekali bisa dapat ilmu melepaskan tubuh halus dari tubuh kasar mohon di ajari ilmu itu
KesadaranMurni
April 11th, 2012 pada 00:09
Saudaraku Hary
Insya Allah saya bisa ajari anda cara me ” raga sukma ” / racut / out of body
tapi saya mau tau dulu,tujuanya untuk apa ?
Banyak cara atau metoda me “raga sukma”,dan semua itu tidak perlu dengan lalaku,
japa mantra,wirid,puasa,dll. Yang dibutuhkan hanya kesabaran,yakin dan tidak ter
gesa2 serta batin dan pikiran anda sedang tidak stres/tegang/tertekan/cengengesan
Pikiran harus bener2 rilex dan awas serta bersifat pasif ( sabar lan nrimo )
wisnu tiang djawi
April 11th, 2012 pada 00:51
@kesadaranMurni
Ijinkan saya belajar raga sukma ki,, maaf sblumnya klo saya lancang,,,saya pengen belajar sebatas ingin menambah wawasan tentang ilmu kebatinan,,, dan kiranya bisa bermanfaat utk membantu sesamanya,,, bolehkah saya belajar kpd @kesadaranmurni, trimakasih.
salam asah asih asuh,,,,
raras
April 11th, 2012 pada 07:58
wah betul itu mas saya juga ingin belajar, darimana dimulainya mas…
Achmad Anwar
April 11th, 2012 pada 13:32
mohon email untuk bisa berkomunikasi tentang Ketuhanan terimakasih
Dindi Kalingga
April 15th, 2012 pada 16:21
5 jempol mas,.. interes banget,.. tp saya mau cari jodoh dlu mas,.. ada gak ya V.V,,
syafrudn harahap
April 15th, 2012 pada 23:10
Di dlm agama islam,bahwa ruh orang yng bunuh diri adlah gentayangan,sedangkan orang yg mati beneran akan kembali ketempatnya,,dan bagaimana dengan siksa kubur,mohon penjelasanya,trimaksih
syafrudn harahap
April 16th, 2012 pada 06:38
ki sabda saya di thn 2012 ini mengalami hal2 yang aneh di dlm hidup saya.saya hanyalah orang biasa,pekerjaan sy wirausaha jual beli service komputer.Pd bln februari 2012 secara kebetulan ada orang yn mta tolong menyelesaikan proposal yg sdh 3 thn gak berjln.ditgn sy propsl itu dpt sy seleaikan selm 1 buln.dan anehnya slma sy membuat prop sy bermimpi membangun jembtn yng sdh tdk terpakai yg tergeletak di dinding dan bisa sy pasang lgi dan sy per baiki.setlh props selesai sy lgsung ditemukn dgn Jendral purn. di sini sy punya komitment utk bekerja sama.dlm proses menunggu dn cair sy pernah mimpi melihat gunung yg mengeluarkan lhr merah yg banyak disekitarnya.dan sy dikejar lhr itu dan bisa sy carikan jlnnya.stlh melgkg ada lhr lain yng mgejr sy dan bisa sy crkn jln keluarnya.sy tdk pernah pasrah bgtu sj kpd Allah,krn tdk ada durian yg runtuh dri langit.Iseng2 sy konsul dgn ahli astrolog profesional dan menanyakan tentang perubhn hdp sy.apakah perubhn bisnis sy yg sprti tdk mungkin akan terjadi.ahli astrolog akhirnya mjwb, bahwa perubhn hdp sy di thn 2012 ini sangat menakjubkn,dan akan berlansung lma.pd bln april ini akan mulai perubhn khdpn sy itu.sy mhn penjelasn mengenai diri sy.terimakasih.
sigitpurnomo1986
April 16th, 2012 pada 22:44
sangat bermanfaat……….itu adalah karunia dari Yang Maha Esa yang Dia berikan ke Siapa yang Dia kehendaki…tidak bisa dicontoh…..ilmu sejati adalah saat doa Al Fatihah kita dikabulkan oleh Allah…….
PENGALAMAN GAIB
April 17th, 2012 pada 08:49
Selasa (26/4/2011).
…
…
…
Rabu (11/4/2012)
PENGALAMAN GAIB
April 17th, 2012 pada 08:52
aus…..?! perlu air lagi?
hana24
April 17th, 2012 pada 11:55
rahayu , bolehkah saya ikut belajar
sule
April 17th, 2012 pada 15:50
buat mbak hana apa sih yg enggak….. peace
PENGALAMAN GAIB
April 20th, 2012 pada 10:15
Rabu (11/4/2012).
…
…
…
Selasa (26/4/2011)
sarbini
April 30th, 2012 pada 08:23
assalamualaikum ki sabdalangit… saya rumayan tertarik dengan semua pengalaman anda ini… saya hanya ingin bertanya sedikit tentang anda yang diberi kekuatan oleh Allah SWT bisa bertemu dengan para leluhur yang sudah meninggal., bahkan dengan tokoh – tokoh yang sudah lama meninggal.. apakah anda pernah menemui Rasulullah SAW..? mohon maaf apabila pertanyaan saya ini sangat bodoh.. saya hanya sangat penasaran dengan pengalaman anda.. tolong ya jawabnya di surel saya saja…
terima kasih..
waademamang
April 30th, 2012 pada 15:45
BABEH SARBINI..
saya pernah jumpa jeng nabi 3 x tapi melalui mimpi..
wajah jeng nabi ga kelihatan begitupun tubuhnya yang ada hanya sinar kuning berlafadkan MUHAMMAD emas bercahaya..
waktu itu saya ada dipadang pasir..saya kaget ada serombongan orang berjubah putih membawa tandu yang nampak hanya suatu sajjadah ukuran jumbo berukir indah, tak tampak ada orangnya, tapi hanya tertulis MUHAMMAD bersinar kuning..pengiring tandu beriringan berjalan sambil mengumandangkan.. TOOLAAL BADRUL……lalu saya tanya pada salah satu pengiring tandu ” bos, mana wajah kanjeng nabinya ? saya mau lukis buat oleh oleh didunia, saya bisa sedikit melukis..sambil kepala saya tongol sana tongol sini…mereka pada menggerutu. lama lama mereka marah/…
ada satu orang pengiring yang wujudnya jadi tinggi besar setinggi pohon kelapa..lalu dia berkata..” KAU INI TIDAK BOLEH KAU AMBIL GAMBAR WAJAH NABI..APAPUN ALASAN KAMU..” sambil mundur saya berkata ..ok bos..okeeeeeee….okeeeeeee..
……saya dengar banyak yang mengaku pernah berjumpa nabi muhammad, berwajah berjubah biru dan bersorban biru..etc..tapi aneh sudah 3 x saya mimpi yang muncul pasti saja hanya ” LAFAZD MUHAMMAD BERSINAR KUNING EMAS ” Sollollohu alla Muhammad..Allohumma solli alla sayidinna muhamad fil awaalin, fil akhirin, finn nabiyyin, fil mursallin, wasolli wassalim alla sayiddina muhammadin fil mala’i a’la illa yaumiddin..
SP - RATU KERATON YOGYA
April 30th, 2012 pada 18:39
aku bisa melukis wajah nabi Muhammad,
O'on
April 30th, 2012 pada 19:07
aku bisa melukis wajah nabi Muhammad
————————-
si sy pengen liat wajahnya Beliau donk, plis
kan (Beliau) nabi Muhammad sebagai tokoh legendaris. ^_^
kalo Yesus, Buddha, dll …dah pernah si sy liat versi kartunnya.
agus
Mei 4th, 2012 pada 10:12
assalamualaikum. Blehkah q brkenalan dng mas. Krna bnyak skli yg ingin q tanyakan
donivip
Mei 5th, 2012 pada 20:25
Terima kasih saya sependapat dengan anda, semua agama baik, semua kehendak Tuhan, seandainya semua manusia menyadari semua agama baik, pasti tidak ada perang antar agama, tidak ada terorist, tidak ada aksi bom bunuh diri, damailah bangsaku …
ibro
Mei 7th, 2012 pada 11:38
salam kenal mas, dlm beberapa tahun ini sy sangat ‘haus’ soal spiritual shg sy selalu terombang ambing dlm menghadapi kehidupan utk itu sudi kiranya mas sabda membimbing sy tentang masalah rahasia kehidupan ini tks
ariyadhana
Mei 7th, 2012 pada 13:36
Hamit-hamit kalimantabik,
mohon perkenan kepada pengasuh Blog indah ini untuk turut berbagi pengalaman spiritual.
Mungkin bagi sementara orang terdengar begitu bombastis, narsis…dan bagi yang lain bukan suatu hal yang aneh karena memang pengalaman hidup yang biasa-biasa saja ….juga bagi kebanyakan orang bukan hal yang penting karena spiritualitas adalah subyektif, tergantung bagaimana pemaknaan seseorang terhadap realita hidup yang melingkunginya.
Semoga berkenan…
Sebagai pengantar dalam penuturan kisah hidup saya ini, saya hendak mengutip kalimat dari novelnya James Redfield; Celestine Prophecy :
Mungkin kita pernah punya firasat/intuisi mengenai sesuatu yang kita ingin lakukan, arah yang ingin kita tempuh dalam hidup, dan terheran-heran bagaimana mungkin itu terjadi?
Lalu setelah agak lama lupa tentangnya dan pikiran kita terpusat ke hal-hal lain, tiba-tiba kita bertemu seseorang, membaca sesuatu/pergi ke suatu tempat yang justru menuntun kita kearah kesempatan yang pernah kita impikan.
Dalam hidup kita, sering mengalami peristiwa yang berlangsung seperti kebetulan saja yang terjadi secara misterius. yang kusadari & kupahami sebagai misteri kehidupan akan suatu proses yang tengah berlangsung yang membawaku pada kepenuhan hidup.
Ketertarikan saya pada kehidupan “spiritualitas” (mungkin kata yang tepat adalah mistik, kehidupan mistik) membawa saya bertemu dengan seseorang yang banyak mengubah saya. Saya panggil saja Bapak. Beliau seorang lelaki tua mantan tahanan politik era orde baru.
Pertemuan pertama saat itu saya sedang belajar tentang Ngelmu Kejawen dari beliau. Nah dalam memberikan ilmunya tersebut selalu disisipi dengan penuturan beliau tentang sesuatu hal yang disebut “ngaji jati diri”.
Ngaji jati diri ini dimulai dengan pemaknaan ulang tentang segala yang dipercayai sebagai sebuah kebenaran. Untuk memulai melakukan perziarahan sendiri bukan sekedar mengagung-agungkan cerita para peziarah. Dan perziarahan itu tak lain adalah sebuah perjalanan ke dalam diri.
Perjalanan kedalam diri mirip kisah Bima Suci yang mencari tirta pawitra sari, mencari kebermaknaan hidup. Dan kebermaknaan hidup seseorang, dalam hal ini saya sebut mencapai ‘kepenuhan hidup’, mengerti tujuan dalam hidup, adalah pemaknaan subyektif atas kemanusiaannya sendiri. Seperti Bima Suci yang menolak menjelaskan saat ditanya tentang kisahnya bertemu Dewa Ruci oleh saudara-saudaranya, melainkan mengajak saudara-saudaranya tersebut melakukan perjalanannya sendiri, untuk kemudian saling berbagi pemaknaan.
Nah pemaknaan hidup yang subyektif ini yang menjadi pergumulan kami. Dan yang ingin saya bagikan disini adalah SUBYEKYIVITAS saya..
ariyadhana
Mei 7th, 2012 pada 13:38
Terinspirasi oleh cerita tentang Yesus, yang saat ia sedang ‘lewat’ ia melihat orang yang buta sejak lahirnya, tergerak oleh belas kasih iapun menyembuhkan orang buta itu.
Nah cerita inilah ketika saya sedang ‘lewat’, berjalan menapaki tangga spiritualitas, saya melihat suatu keadaan dunia, dalam hal ini Indonesia, yang ditimpa penderitaan, malapetaka, pagebluk dalam bahasa jawanya. Yang dalam subyektivitas intuisi saya bagaikan barisan manusia yang tak lagi punya kepala, ditelan naga & harimau kepalanya.
Saya mendapatkan mimpi tentang dua orang bersaudara Aji & Aryo, dimana keduanya adalah teman masa kecil saya, yang tengah mengalami kecelakaan, dan saya diminta untuk membantu mencarikan obatnya.
Menurut subyektivitas saya, Aji adalah gambaran manusia yang kecelakaan karena kepalanya ditelan naga sebagai symbol agama, ngelmu & spiritualitas. Sedang Aryo adalah gambaran manusia yang celaka karena dimakan harimau kepalanya, symbol dari pengejaran akan kekuasaan, kemuliaan. Dan yang lebih memiriskan lagi ada pula barisan manusia berkepala udang, symbol manusia yang kemana-mana mengusung kotoran dikepala “bahasa jawanya : nyunggi tai”. Yang selama ini dianggap sebagai asupan nutrisi berupa makanan yang dijajakan, yang selalu dicelotehkan, dibuat perdebatan, dipertengkarkan kalau perlu saling berbunuhan, sesungguhnya hanyalah kotoran.
Maaf bila bahasa saya terdengar sangat lugas. Saat itu semua masih hanya menjadi intuisi saya saja, rahsa yang jumbuh dengan akal meski pengetahuan kognisi belum saya saya dapatkan, belum kenal internet apalagi Mbah Google…
Kepedihan yang saya rasakan melihat kondisi tersebut, diperparah dengan tiadanya teman berbagi kecuali Bapak membawa beroleh kemampuan yang tak pernah saya bayangkan akan dapatkan… secara aneh saya mendapatkan puisi-puisi dalam bahasa jawa tentang kondisi bangsa dan hal-hal yang akan terjadi, padahal saya tak punya latar belakang berkesenian apalagi sastra jawa… semua terjadi begitu saja seperti ada yang mendiktekan.
Dalam mencari obat bagi ‘pagebluk’ yang melanda nusantara ini merujuk kepada cerita perjalanan biksu Tong Sam Cong menuju ke barat yang di Indonesia menjadi sebuah komik “Sang Prajaka Andon Laku Angulati Serat Pangruwating Papa Nista”. Serat pangruwating papa nista inilah yang kemudian dalam perjalanan hidup saya dipertemukan dengan para penulisnya, sahabat-sahabat seperjalanan di berbagai komunitas spiritual.
============
Latar belakang saya adalah Kristen yang merasa kehidupan agama saya penuh kehampaan & lebih tertarik asyik menekuni dunia mistik. Penuntun pertama dalam spiritualitas adalah senior di organisasi kepemudaan di gereja, seorang jebolan seminari yang urung jadi pastor karena ketidakcocokan dengan agama *entahlah, yang saya tahu saat itu dari omongan teman begitu*.
Beliau mengajarkan yoga yang tentunya saya dengan sangat senang mengikutinya, masa bodoh dengan perkumpulan mudika itu sendiri karena saya orang yang kurang bisa bergaul & karenanya cenderung menutup diri.
Dalam mengajari yoga tersebut tentu tak lepas pula kakak saya itu, begitu saya menyebutnya, menjadi ajang curhat bagi pemikirannya yang kritis tentang ajaran agama & gereja. Yang lalu teman2 lain menjadi kurang sreg & menganggapnya murtad. Saya sendiri tak ambil pusing, karena sebetulnya apa yang diomongkannya pada saat itu tak ada yang nyantol dikepala saya, hanya belajar yoga yang jadi perhatian saya… yah saya orang yang terlambat dewasa sepertinya, terlalu kekanak-kanakan yang penuh dengan ilusi & imajinasi….
Hanya satu peristiwa yang menggores dibenak saya. Saat itu sedang getolnya belajar tenaga dalam, ternyata saya mempunyai bakat khusus kepekaan yang lalu menjadikan ketidakseimbangan dalam tubuh saya. Hanya kakak saya itu yang bisa menyembuhkan, saat itulah relasi kami terjalin akrab, dia mengutarakan pemikirannya yang meskipun seorang dosen agama katolik, mengajarkan yoga, tapi penuh dengan filsafat Budha.
Dari situlah saya mengenal Budha. Dan pelajaran pertama bagiku dalam menapaki tangga spiritual yang dibukakan kakak adalah :
1. Hidup adalah Proses.
2. Jangan percaya apapun & siapapun sebelum hal itu menjadi kebenaran bagi dirimu sendiri.
Lalu perjalanan hidup selanjutnya mengajarkan saya untuk lebih mengenal Budha & mitologinya karena saat itu saya lebih menyukai dunia mistik. Secara kebetulan saya bisa mendapat sebuah ilmu Patwa, bisa mengundang Budha biar sudi kasih jurus Telapak Budha…seperti kisah komik Sembilan Benua… wussss.. atau Kuan Ying dengan jurus tangan seribunya, pula memanggil naga tunggangan Kuan Ying yang akan memberikan pedang pusakanya yang bisa saya ambil lewat mulut… ciattt…!!! (mungkin keluarga saya ada silsilah keturunan cina..?)
Namun secara intuisi meskipun samar saya tahu bahwa fenomena tersebut bukan berarti bahwa ada sosok dewa/dewi yang setia setiap saat membantu saya, namun sebenarnya adalah bagian dari diri saya sendiri. Mungkin seperti sedulur papat di tradisi jawa..
Beberapa orang pintar yang saya temui mengakui bahwa benda ghaib seperti pedang yang keluar dari mulut itu memang nyata bukan cuma ilusi semata, namun saya skeptic akan manfaat & kegunaannya. Seorang kakek yang bagiku mempunyai pencapaian spiritual yang tinggi malah melihat bahwa benda ghaib yang keluar dari mulutku itu adalah sebatang wesi kuning, mungkin mirip toya saktinya Sun Go Kong… wataw..
Ketika saya tanyakan kegunaannya, Kakak saya mengatakan bahwa saya mungkin bisa mungkin juga tidak bisa menggunakannya. Sebuah jawaban filosofis.. karena menurutnya perjalanan spiritual seperti menapaki anak tangga yang ketika kita mencapai tataran tertentu akan didapati fenomena seperti yang saya alami. Permasalahannya adalah apakah saya akan berpijak pada fenomena tersebut ataukah akan setia meneruskan langkah…
Hingga akhirnya saat dipertemukan dengan Bapak, beliau membabarkan sesuai dengan konsep budaya yang menghidupi, kondisi kejiwaan yang jumbuh dengan kondisi realita bangsa ini yang mungkin diri ini dipersiapkan.
Bahwa pedang atau wesi kuning yang secara kodrat ada pada saya adalah bagian dari kesadaran yang mewujud menjadi apa yang disebut sebagai Pedang Sokayana & Gada Wesi Kuning, senjata dari Damarwulan/Menakjingga jaman Majapahit dulu. Mengandung pengertian tajamnya akal dan membajanya semangat. Senjata yang membunuh Angkat Buta & Ongkot Buta, personifikasi dari nafsu keinginan manusia… (Aji & Arya yang mengalami kecelakaan)
Sejak saat itu saya tak lagi memusingkan benda ghaib seperti pedang sakti Naga Dewi Kuan Ying & toya sakti Sun Go Kong lagi. Ya ya ya saya memang kanak-kanak yang dipenuhi imajinasi….
ariyadhana
Mei 7th, 2012 pada 13:39
Perjalanan berikutnya membawa saya berkontradiksi, menegasikan pandangan-pandangan saya terhadap sisi lain kehidupan yang disebut spiritual, paranormal & guru-guru rohani..
Dalam suatu mimpi saya dihadapkan dengan tokoh dukun hebat Ki Joko Bodo, yang saat itu seakan menyerang saya. Tentu saja karena itu mimpi saya, serangan dukun ampuh tersebut tak membawa dampak apa-apa, saya Cuma tersenyum memandangnya… lalu dari langit seperti turun gulungan kertas yang berisi kurikulum yang harus saya lalui beserta ujiannya, yaitu harus menghadapi para ahli sihir & dukun sakti agar dapat diwisuda dengan gelar ‘mengku buwono’. Merangkum dunia.
Untuk itu saya dipertemukan kembali dengan kakak. Bersama dengannya, saya mulai memasuki dunia yang penuh dengan muslihat. Saya berkenalan dengan dunia paranormal, dimana banyak mafia berkedok orang sakti. Yang tak kalah kejinya dengan para ahli kitab dalam memanipulasi manusia hingga benar-benar tergadaikan kepalanya & kemana-mana “nyunggi tahi”.
Salah satu modus operandinya adalah menjual ilusi & mimpi tentang ratu adil yang mengemban amanah mengangkat bangsa Indonesia dari jurang papa nistanya, yang anehnya bukan lewat penyadaran akan jati diri kemanusiaannya tapi lewat isu tentang harta karun dan dana revolusi. Saat itu banyak kontradiksi antara saya dengan kakak.
Selama ini saya menghormati dia karena pandangan spiritualnya yang terdengar indah & sejuk, juga tentang keinginannya untuk membangun suatu padepokan atau tempat berkumpul dimana bisa saling membabar Dhamma.
Mungkin ini adalah sebuah antitesa, dimana selama ini saya ada dibawah bayang kakak saya yang harus secara sadar harus saya atasi untuk saya bisa menapak ketangga yang lebih tinggi. Bahwa semua yang terlihat begitu rahasia, begitu misteri, penuh dengan keghaiban & ketakjuban sebenarnya adalah permainan kesadaran yang menyesatkan…
Saya pernah bermimpi melihat burung hong berwarna merah menyala bagai api yang terbang dengan anggunnya, anehnya saat ingin menangkapnya, tangan yang terjulur keatas begitu mudah untuk menangkap untuk kemudian dibelai & menyatu dalam diri.
Juga ada sebuah dawuh untuk mencari Widodo yang memiliki garuda di dada. Saat dawuh ini saya ceritakan kepada kakak, dia dengan jumawa mengatakan kalau Widodo itu adalah dirinya, karena dia sebagai seorang yang suntuk dalam meditasi, hingga seorang sesepuh dari keluarganya mendapat penglihatan saat kakak meditasi ada burung bangau putih yang bersinar terang masuk kedalam tubuhnya.
Lalu aku tanyakan kepadanya, “lalu apa gunanya bagi pejalan spiritual bila ia selalu bergantung pada orang lain untuk terus membimbing & menunjukkan jalan? Bukankah semua orang harus bisa menjadi guru bagi dirinya sendirinya? Apa pula artinya guru kalau ia malah menjadi penghalang bagi perkembangan kedewasaan muridnya?”
Bala(ne)dewa
Mei 7th, 2012 pada 20:05
Lalu aku tanyakan kepadanya, “lalu apa gunanya bagi pejalan spiritual bila ia selalu bergantung pada orang lain untuk terus membimbing & menunjukkan jalan? Bukankah semua orang harus bisa menjadi guru bagi dirinya sendirinya? Apa pula artinya guru kalau ia malah menjadi penghalang bagi perkembangan kedewasaan muridnya?”
——————-
@Ariyadhana,
Selamat datang di blog ini ! Setuju dengan pernyataan anda di atas. Guru yang malah menjadi penghalang ya guru yang ego nya masih besar … Ada batu di balik udang dengan guru yang begini …
Pakde Buddha pernah bilang, kalau ada ajaran – termasuk ajaran saya – yang tidak cocok dengan akal sehat, dengan hati nuranimu ( yang merupakan otoritas tertinggi) ya … jangan kamu ikuti ! Bedakan dengan : Aku gurumu, apa yang aku katakan harus kamu ikuti.
Terima kasih untuk sharing anda.
adie
Mei 8th, 2012 pada 21:12
Ass wr.wb. Ki Sabdalangit, mhn penjelasan ttg pengalaman sy sewaktu berzikir di sarean Kanjeng Sunan Kalijaga(Minggu Kliwon)jam 23.30,ada cahaya agak menyilaukan di atas kepala sy, beserta wujud orang dg tangan beliau di atas kepala sy tp wajah beliau tdk bisa dipandang krn sy disuruh tetap nunduk(tumungkul).Mtr nwn, wass.wr.wb.
Hadiningrat
Mei 10th, 2012 pada 15:23
dipun tenggo kelajenganipun Pak Sabdo. salam kenal saking Jogja.
Marcos
Mei 17th, 2012 pada 15:49
alu pada suatu waktu, sampailah saatnya “dibukakan” mata hatiku akan rahasia besar, tentang Kebesaran Tuhan, tentang Keadilan Tuhan, tentang Kebijaksanaan Tuhan. Namun dengan berat hati saya belum bisa memaparkan bagaimana rahasia besar tersebut secara rinci dan detail. Tidak bijaksana kiranya saya mengungkap rahasia besar Dzat Ilahi pada media ini, karena dapat menimbulkan fitnah. Saya terdorong untuk bersikap bijak, bisa “ngemong” bagi saudara-saudara kita yang belum cukup bekal landasan ilmu untuk memahami dengan arif dan bijaksana akan rahasia besar alam gaib. Namun demikian, ada yang ingin saya bagi pada para pembaca yang budiman, secara garis besar ada yang dapat saya simpulkan dari peristiwa yang saya alami …..
Saya tertarik sekali dengan pengalaman bapak, dan tertarik dengan paragraf diatas dimana ada rahasia tertentu yang tidak boleh bapak paparkan disini.
sabreng
Mei 20th, 2012 pada 12:28
Alhamdulillah
Lama saya mencari hal seperti yang dituturkan. Dan lama juga saya tidak mendapatkan pencerahan untuk meningkatkan ‘Syahadat’ saya menuju ‘Iman’
Sudilah kangmas dan saudaraku semua yang telah ‘mampu’ membuktikan keadaan di ‘sana’ untuk membimbing saya agar tidak ‘sesat jalan’
Amien…
Rahayu _/\_
rprass
Mei 23rd, 2012 pada 13:34
mas Sabdalangit’s mohon kasih saran buat saya yang cetek ilmu agama dan filsafatnya, saya ingin belajar banyak tentang nilai2 ketulusan,kasih sayang dan kesabaran. karena begitu banyak cobaan yang kadang jadi tidak bisa berpikir sehat
mohon advicenya……..matur nuwon
HAJI JOYOBOYO
Mei 24th, 2012 pada 10:06
resep manjur:
keluar dari yg sakit….bersatu dg yg sehat……..sip.
War Ning
Oktober 14th, 2011 pada 21:04
sedang terkabul doanya!
ter kabul
Oktober 14th, 2011 pada 21:05
sedang terkabul doanya!
Dewi
April 29th, 2012 pada 23:52
@ ibu Dita sayang,
Betul itu bu, kalau kita mau intropeksi diri ke jati diri budaya bangsa ini, budaya indonesia tak mengenal sunat pada perempuannya, tetapi hanya untuk anak remaja laki2 muslim saja yang melaksanakannya, walaupun dalam perjalanannya tak menutup kemungkinan orang non muslim ada yang melakukan sunat.
Menurut sejarah, budaya sunat juga di namakan ‘Tekes’, yaitu istilah jawa muslim untuk mengupacarai anak laki2 untuk disunat, usia 14-16 th pada laki2 maka anak2 ini bisa disunat, sunat diyakini sebagai tanda anak telah memasuki masa dewasa secara keagamaan (islam). sunat di jawa dinamakan pula tekes, tetak atau supit, yang artinya dipotong.
Sedang Bagi perempuan, usia 9-14 th, memasuki usia dewasa ditandai dengan menstruasi yang pertama. Segera setelah menstruasi pertama akan diadakan upacara ‘gelwilada’, pada peristiwa ini kaki si gadis diberi gelang sebagai tanda bahwa ia sudah perawan serta biasanya kuping si gadis akan ditindik atau diberi lubang bagi anting2nya.
Jadi sudah jelas kiranya, budaya nusantara tidak mengenal tradisi sunat untuk anak gadis mereka, namun hanya untuk anak laki2 saja, itupun bagi yang mau.
Laporan kesehatan mengungkapkan sunat tipe 1,2,3,4 serta hoodectomy sama2 akan mengenai klitorisnya dan akan menyebabkan pendarahan, itulah mengapa dokter hoodectomy harus memenuhi standart yang berlaku termasuk studi kasus/ meneliti penyebab sakitnya pasien, jika tidak itu sama saja dengan mal praktek.
Apa yang njenengan diskusikan sudah memasuki wilayah ‘gender’ dari perspekstif yang sekali lagi tidak mengindahkan hak2 perempuan, di mana untuk menghapus diskriminasi maka perempuan dan laki2 harus sama2 di sunat?!… sungguh sangat menyesatkan dan menyedihkan.
Alih2 menganjurkan kulit klitoris di sunat, sudahkah kita renungkan, Bagaimana cara si wanita2 ngelawan tradisi yang mungkin udah lengket di lingkungannya? para wanita ini jelas sadar bahwa proses ini salah, tapi gimana caranya supaya dia gak jadi korban? Atau kalaupun dia pernah jadi korban, bagaimana supaya wanita-wanita lain gak jadi korban seperti mereka.
Inilah bu contoh nyata yang menjadi kendala perubahan UU sunat di negara kita, di mana para wanita yang terpelajarpun masih mendukungnya, bahkan para petinggi2 negara2 juga mengetauhi praktek2 yang buruk ini dilakukan, tapi pada diem saja, para agamais2 pun begitu juga, mereka lebih memilih untuk silent daripada bersuara, mereka takut di cap tak beriman karena mereka tak bisa tak menghargai budaya dan tradisi orang lain sekalipun berlabel sunah agama.
Salam rahayu,
Dewi
Dewi
April 29th, 2012 pada 23:59
@ All,
Ngapunten kulo salah masuk ruang diskusi, harusnya saya postingkan di ruang ‘sunat’… maklum udah malam, ngantuk dan kurang teliti… xixixixixi….
Salam rahayu,
Dewi
the stars
April 30th, 2012 pada 08:13
✗i²:D ✗i²:D ✗i²:D ….™.
Pantes sy bingung kok jawaban ttg sunat mbak dewi ya ngak apa2 mbak dewi ^_^.
the stars
April 30th, 2012 pada 08:14
✗i²:D ✗i²:D ✗i²:D ….™.
Pantes sy bingung kok jawaban ttg sunat mbak dewi ya ngak apa2 mbak dewi ^_^ tumben konselet alirannya.
Dewi
Mei 7th, 2012 pada 11:58
@ The Stars,
He he he… nggih ngapunten mas, waktu itu saya memang membuka 3 ruang sekaligus: membangun kesadaran sejati, sunat dan pengalaman ghaib, biasanya saya nulis2 di microsoft words dulu, baru ntar saya copy dan tinggal pastekan aja di kotak kommentnya. Nah pas pastekan itu saya keliru naruhnya di ruang sebelah kanan (pengalaman ghaib), harusnya kan di tengah (ruang sunat)… hwahahahaha…
Saya waktu itu mualu sekali, merah padam rasanya muka ini, @ Ki Sabda, mohon komment saya tentang sunat di hapus aja, biar tidak dobel… he he he…
Salam Ngapunten,
Dewi
DEMI MASA
Mei 13th, 2012 pada 09:05
tumben konselet alirannya……?!….hmmm