Di Penghujung Lorong Yang Kotor dan Rusak

Menukik ke dasar jurang

Dahulu kala, Nusantara diumpamakan sebagai negeri tempatnya para Dewa bersemayam. Negeri nan indah, subur makmur, gemah ripah loh jinawi, tata-titi tentrem kertaraharja.  Samudra dan daratan yang luas, gunung berapi, lembah nan hijau, hutan belantara. Negeri yang kaya mineral dan hangat dalam rengkuhan sinar matahari. Semua itu menjadikan Nusantara bagaikan gudang kekayaan alam yang menjadi sumber kehidupan makhluk di planet bumi. Dan tidaklah berlebihan Nusantara kemudian mendapat julukan sebagai surganya dunia.  Koes Plus menggambarkan Nusantara bagaikan “kolam susu”, saking suburnya bumi Nusantara, dikiaskan tongkat dan kayu jikalaupun dilempar akan bersemi menjadi tanaman yang menghidupi makhluk hidup.

Namun di balik cerita tentang surga dunia itu, konsekuensinya  Nusantara bagaikan gula-gula yang menjadi incaran para semut yang datang dari berbagai belahan dunia. Terutama “semut-semut” yang berasal dari wilayah gersang dan miskin sumber daya alam. Nusantara kemudian menghadapi resiko besar. Karena menjadi bahan rebutan para “semut” kelaparan dan bernafsu melakukan invasi dan kolonialisasi. Dengan menghalalkan segala cara, membabi-buta, dan gelap mata, para “semut” dari berbagai belahan dunia saling memperebutkan Nusantara yang dianggapnya hidangan nan lezat. Read the rest of this entry

Mengungkap Rahasia Sesaji (Sajèn)

Mengungkap Rahasia Sesaji (Sajèn)

Junction Opinion

Ada satu lagi pemahaman salah kaprah yang terlanjur diyakini kebenarannya oleh sebagian masyarakat kita. Akibatnya bisa fatal, apalagi mengenai hal-hal yang berhubungan dengan gaib. Sebab dapat mendiskreditkan kelompok tertentu, atau bahasa kasarnya menimbulkan fitnah. Saya istilahkan sebagai persepsi “sampah”, atau junk opinion. Timbulnya junk opinion ini disebabkan oleh beberapa hal misalnya :

  1. Kurangnya ilmu pengetahuan dan informasi mengenai suatu hal sehingga menyebabkan penilaian yang salah.
  2. Tidak memahami secara obyektif, yang disebabkan oleh sikap tidak suka terhadap suatu hal, sehingga menimbulkan penilaian yang tendensius menyudutkan kelompok tertentu.
  3. Orang tidak mengalami, tidak melakukan, dan tidak memahami suatu hal. Melainkan hanya menerima apa adanya, taken for granted, tetapi buru-buru dianggap sebagai suatu informasi yang benar. Misalnya kita memahami suatu hal tetapi referensinya sangat lemah, hanya berdasarkan cerita dari mulut ke mulut. Atau “katanya”, Jawa: ujare, Sunda : ceunah ceuk ceunah.

Opini “sampah” dapat berkembang pesat  menjadi opini masyarakat (public opinion) apabila didukung oleh kepentingan kelompok (vested interest), kekuatan dan kekuasaan politik melalui media massa menjadi “kampanye hitam” (black champagne) yang bersifat masif. Bentuk-bentuk “kampanye hitam”, entah disadari atau tidak seringkali dilakukan oleh media massa, media elektronik seperti tayangan hiburan dan misteri di beberapa stasiun televisi swasta di Indonesia.

Satu contoh yang akan saya kemukakan pada kesempatan kali ini mengenai opini  “sampah” tentang sesaji. Memberikan sesaji dengan serta merta dianggap perbuatan hina, musrik, dosa dengan tuduhan memuja setan. Orang yang membuat sesaji dianggap sebagai orang yang tunduk, kalah, dan mau menjadi budak setan. Ini benar-benar opini “sampah” yang telah menyesatkan umat manusia selama puluhan tahun. Untuk itu masilah kita urai satu persatu tentang rahasia sesaji.

Nilai Esensial Sesaji Read the rest of this entry

Spirit Mataram

“Niyat ingsun nyebar ganda arum, tyas manis kang mantesi, aruming wicara kang mranani, sinembuh laku utama”

Semangat Mataram

Mungkin generasi zaman sudah lupa atau sudah tidak populer lagi dengan istilah Semangat Mataram. Semangat Mataram merupakan visi yang dipegang oleh Keraton Mataram dan rakyat Mataram, yang berisi tiga pandangan hidup yakni : Mangasah Mingis-ing budi, memasuh malaning bumi, hamemayu hayuning bawana. Pandangan hidup itu melandasi semangat dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, khususnya berlaku untuk Kraton dan rakyat Mataram, lebih khususnya bagi rakyat Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat.

1. Mangasah Mingising Budi

Artinya, mengasah ketajaman budi. Budi dalam bahsa Jawa disebut penggalih. Tidak mudah memahami makna dari istilah budi atau penggalih ini. Kiranya saya perlu memberikan definisi dan penjabaran yang gamblang dan mudah dipahami oleh para pembaca yang budiman. Read the rest of this entry

Rahasia Alam ?

Hukum dan Rumus-Rumus Alam Semesta

Kita semua tentu cukup familiar dengan istilah “hukum alam”. Begitu pula  istilah rumus-rumus, dan semua rumus yang digunakan di semua disiplin ilmu pengetahuan merupakan bagian dari rumus-rumus alam. Jika hukum alam diumpamakan sebagai “pasal” maka rumus-rumus alam dapat diidentikkan dengan “ayat-ayat”. Sebagian yang lain menyebut hukum alam atau rumus itu sebagai bahasa alam. Seperti apa rumus-rumus alam dimaksud ? Sebagai contoh dapat dilihat dalam rumus-rumus yang dimiliki oleh berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Bahkan jagad raya ini sesungguhnya  “kitab undang-undang” atau “buku” yang berisi milyaran bahkan trilyunan rumus-rumus alam. Hukum alam mencakup seluruh rumus-rumus alam, yakni semua peristiwa yang terjadi di ruang kosmos dalam hubungan saling berkaitan, yang lazimnya disebut hubungaan sebab-akibat, atau hukum timbal-balik. Prosesnya disebut sebagai dinamika perubahan alam. Dan satu-satunya yang tidak berubah di jagad raya ini adalah dinamika atau perubahan itu sendiri. Read the rest of this entry

Review SO~5

CINEMA TEASER KEGIATAN SO~5 KLIK DI SINI  plaosanKami segenap panitia pelaksana mengucapkan beribu terimakasih kepada sedulur-sedulur peserta SO~5. Dengan segala kekurangan yang ada, kami selalu berusaha memberikan apresiasi dan penghormatan yang setingginya kepada dulur-dulur semua yang datang dari penjuru tanah air. Tambah sedulur merupakan sebuah kebahagiaan yang sulit dicari pembandingnya.  Kita sama-sama belajar, belajar untuk saling asah asih asuh. Selama perjalanan banyak kenangan manis, perjuangan pahit dan getir hingga kita semua bisa berkumpul dalam satu kegiatan untuk menggugah kesadaran kita semua bahwa tempat kita hidup di Nusantara ini terlalu banyak yang bisa dibanggakan, dihargai, dan dihormati. Tidak perlu harus berkiblat ke Negara lain. Kita hidup di Nusantara yang merupakan hamparan luas terdiri daratan dan lautan yang menyimpan berjuta misteri sekaligus potensi. Kita adalah bangsa besar, dan selama beribu tahun nenek moyang telah mengukir kearifan local yang penuh kebijaksaan ilmu hidup, diturunkan secara turun temurun sebagai bekal hidup bagi generasi penerus bangsa.  Namun selama 100 tahun terakhir ini, terasa ada mata rantai yang terputus (missing link). Kualitas generasi bangsa menjadi hanya lebih modern disbanding nenek moyangnya. Tapi sulit mengatakan generasi sekarang lebih pandai, bijaksana, dan berkesadaran spiritual sama atau bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan generasi bangsa yang hidup di masa sebelum 100 tahun lalu. Dengan kata lain, kemunduran signifikan tengah terjadi pada generasi bangsa besar ini. Generasi bangsa yang tercerabut dari akar jati dirinya sendiri. Generasi bangsa yang durhaka kepada para leluhurnya sendiri. Generasi bangsa yang mengardik warisan nilai-nilai luhur nenek moyangnya sendiri. Semoga kegiatan ini dapat menggugah kesadaran kita semua, bahwa ada tugas besar di pundak masing-masing generasi bangsa, untuk menjaga keutuhan NKRI,  melestarikan bumi pertiwi dengan segenap harta pusaka warisan leluhur, seni-budaya dan spiritualnya. Read the rest of this entry

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 987 pengikut lainnya.