Loro Blonyo : Rahasia Kesuksesan Orang Zaman Dulu

Apabila Anda jalan-jalan ke Jogjakarta, kemungkinan di suatu rumah akan melihat  sosok patung sepasang pengantin mengenakan pakaian adat Jawa dengan posisi duduk bertimpuh berdampingan. Patung laki-laki berada di sebelah kanan dan patung perempuan berada di sebalah  kiri. Itulah patung Loro-Blonyo. Dalam filosofi masyarakat Jawa dan Sunda, patung perempuan untuk menggambarkan Dewi Sri atau Dewi Shri (bahasa Jawa), atau Nyai Pohaci Sanghyang Asri (Bahasa Sunda), adalah dewi pertanian, dewi padi dan sawah, atau melambangkannya sebagi dewi kesuburan di pulau Jawa dan Bali.

Penggambaran Sosok Nyi Pohaci & Raden Sedhana

Loro BlonyoDalam mitologi Jawa Nyi Pohaci atau Dewi Sri adalah putri Bethara Antaboga atau Dewa Ular. Dewi Sri merupakan gambaran seorang gadis yang cantik luar biasa. Seorang putri yang baik hati, lemah lembut, halus tutur kata, luhur budi bahasa, memikat semua insan. Setiap mata yang memandangnya, dewa maupun manusia, segera jatuh hati pada sang dewi.  Dewi Sri selalu digambarkan sebagai gadis muda yang cantik, ramping tapi bertubuh sintal dan berisi, dengan wajah khas kecantikan alami gadis asli Nusantara. Mewujudkan perempuan di usia puncak kecantikan, kewanitaan, dan kesuburannya. Kebudayaan adiluhung Jawa dengan selera estetika tinggi menggambarkan Dewi Sri seperti penggambaran dewi dan putri ningrat dalam pewayangan. Wajah putih bersih dengan mata tipis menatap ke bawah dengan raut wajah yang anggun dan tenang. Serupa dengan penggambaran kecantikan dewi Sinta dari kisah Ramayana. Pasangannya adalah Raden Sedhana juga digambarkan sebagai sosok laki-laki gagah dengan tampang rupawan seperti Rama. Patung Loro-Blonyo menggambarkan sepasang lelaki dan perempuan, juga diibaratkan sebagai pasangan Dewi Sri dan Raden Sedhana.

Pemuliaan dan pemujaan terhadap sang dewi sudah berlangsung sejak masa pra  Hindu di pulau Jawa. Konon Dewi Sri yang diangkat anak oleh Bethara Guru, karena kecantikannya setelah beranjak dewasa diam-diam dicintainya. Namun Dewi Sri atau Nyi Pohaci memilih meninggalkan Kahyangan turun ke bumi tepatnya di sepanjang tanah Jawa-Bali yang waktu itu masih menyambung. Di dimensi bumi, Dewi Sri memilih hidup tanpa raga. Karena raganya dipersembahkan kepada bumi pertiwi untuk memberikan kesuburan di tanah Jawa. Singkat cerita, semua tanaman yang berguna bagi manusia tumbuh dari tubuh Dewi Sri Pohaci. Sejak saat itu umat manusia di pulau Jawa memuja, memuliakan, dan mencintai sang dewi yang baik hati, karena dengan pengorbanannya yang luhur telah memberikan berkah kebaikan alam, kesuburan, dan ketersediaan pangan bagi manusia.

Pada sistem kepercayaan Kerajaan Sunda kuna, Nyi Pohaci Sanghyang Sri dianggap sebagai dewi tertinggi dan terpenting bagi masyarakat agraris. Sebagai tokoh agung yang sangat dimuliakan, ia memiliki berbagai versi cerita, kebanyakan melibatkan Dewi Sri –ada yang menyebutnya sebagai Dewi Asri, dan saudara laki-lakinya Sedana (Sadhana atau Sadono), dari Kerajaan Medangkamulan.

Simbolisasi Dewi Sri dan Raden Sedhana dalam hubungannya dengan ritual kesuburan bagi masyarakat Jawa, mempunyai makna kesadaran kosmologis. Dewi Sri dihubungkan dengan ular sawah sedangkan Raden Sadhana dengan burung sriti (walet). Antara ular sawah dikaitkan dengan sang dewi dan oleh petani cenderung dihormati. Antara Dewi Sri, ular sawah, dan burung sriti dapat dilihat adanya pola hubungan yang saling menguntungkan, terutama terhadap petani. Itu yang maksud sebagai hukum tata kesimbangan alam. Kearifan lokal dan kesadaran ekologi purba memahami bahwa ular sawah memangsa tikus yang menjadi hama tanaman padi. Burung sriti memakan serangga yang menjadi hama padi juga. Berbeda dengan burung emprit kaji (warna bulunya merah, dan putih di bagian kepala) yang justru menjadi hama karena memakan padi. Dan Dewi Sri yang memberikan pupuk untuk tanaman padi. Di banyak negara Asia lain seperti di India dan Thailand, berbagai jenis ular terutama ular kobra pun dihubungkan dengan mitos kesuburan sebagai pelindung sawah.

Hakekat Ritual Read the rest of this entry

Pagelaran Wayang Kulit “Negarané Wis Suméndé”

“Bingung dan pengap merasakan situasi ekonomi dan politik Nasional? Ketika orang-orang seperti tampak lesu, ketika banyak orang sedang merasa gusar dan jengah, mari kita bersama-sama mengais setiap jengkal realita untuk menemukan yang namanya Keberuntungan dan Keselamatan. Melihat perekonomian tidak kunjung ada kemajuan berarti. Ketika harapan-harapan akan datangnya era baru yang akan membawa angin segar, pada kenyataannya angin yang berhembus bau kentut dan comberan. Haruskah semangat hidup, semangat berdemokrasi, semangat meraih sukses pupus oleh kalabendu yang terjadi perlahan, seolah diam, tetapi membuat banyak orang tak berkutik”.

Dalam rangka memperingati 70 TAHUN kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2015 ini keluarga besar generasi penerus bangsa yang berada dalam wadah Kadangkadeyan Sabdalangit (KKS) telah mempersiapkan rancangan acara perayaan secara khusus. Hal itu untuk memperingati dan memaknai kemerdekaan sekaligus merupakan format untuk menyikapi perkembangan dinamika politik nasional yang berkembang saat ini.

Perayaan ini merupakan momentum istimewa, dilandaskan pada pertimbangan esensial terhadap dinamika politik kontemporer yang semakin terasa adanya ketidakpastian. Apakah negara nantinya mampu menjamin kesejahteraan rakyat? Apakah para pimpinan nasional akan mampu menegakkan hukum, keadilan, menjamin berlangsungnya pemerintah yang bersih ? Apakah Pemerintah akan mampu menciptakan atmosfir perekonomian yang kondusif? Semua pertanyaan itu sungguh sulit dijawab, apalagi dengan kepastian. Tak ada yang berani menjamin NKRI bakal semakin baik. Bahkan untuk sekedar memprediksi saja, komentar-komentar para pengamat ekonomi politik hampir semuanya pesimistis. Tak ada jaminan nasib rakyat akan membaik, sekalipun oleh wakil rakyat yang dipilihnya sendiri maupun pemerintah pilihan rakyat yang punya otoritas penuh mengendalikan ekonomi dan politik. Hanya sesekali kadang kita mendengar celoteh yang menghibur, katanya perekonomian tumbuh sekian persen, pemberantasan korupsi sudah berjalan. Kapal-kapal perompak telah diledakkan, kebijakan Pemerintah  melindungi dan berpihak pada rakyat kecil. Tapi apa yang kita semua rasakan hingga hari ini ? Kebanyakan orang menyeru….semakin pengap..! Pengap mencari uang, pengap membeli kebutuhan dasar, pengap melihat orang-orang di parlemen menghamburkan anggaran, pengap melihat uang negara yang diperoleh dari pajak rakyat telah dijarah tikus-tikus berdasi. Bahkan udara di muka bumi kian terasa pengap, oleh induksi energi gempa yang tiap hari semakin intens terjadi. Hanya orang-orang yang kesinungan kabegjan (mendapat keberuntungan) yang tidak merasakan pengapnya situasi dan kondisi saat ini.

Menyerahkan semua problem Negara dan bangsa kepada Tuhan tanpa ada usaha konkrit, itu sikap kurang bijak, itu namanya putus asa dan fatalistis. Tak ada gunanya, selain sekedar untuk “meninabobo” diri sendiri.

Atas kesadaran kondisi itulah KKS memanfaatkan acara peringatan 70 TAHUN Kemerdekaan RI sebagai ‘milestone’  yang amat sakral dari segi makna sejarah masa lalu sebagai momen transformasi politik dari masa penjajahan, keterbelengguan, menuju kemerdekaan, pembebasan NKRI. Ketetapan KKS dilandasi oleh kesadaran betapa penting menggelar acara ini karena pertimbangan pada dua dimensi :

(1)  Dimensi Spiritual :

Dengan adanya petunjuk langsung berupa perintah (dawuh) dari leluhur untuk menyambung dua lakon wayang kulit yang telah digelar sebelumnya pada tanggal 4 dan 18 Mei 2014, yaitu secquel Satria Piningit (SP), dan dilanjutkan lakon Satria Piningit Pambukaning Gapura (SPPG), di mana sang Satria Piningit yang akan membawa NKRI pada perubahan positif secara signifikan, diperankan sebagai Raden Parikesit, yakni putra Raden Abimanyu dengan Dewi Utari. Raden Parikesit adalah Satria Piningit, pemimpin di masa depan yang akan menjadi Raja di Negara Hastinapura (Nusantara). Dalam dua lakon sebelumnya, Raden Parikesit digambarkan masih muda belia sehingga belum layak jumeneng-nata. Selama menunggu Raden Parikesit muda menjadi dewasa dan siap duduk di singgasana raja, situasi dan kondisi Negara Hastina (Nusantara) akan melewati siklus madya zaman kalabendu (banyak kesengsaraan dan penderitaan sebagai akibat hukuman Tuhan). Situasi dan kondisi politik dan perekonomian Nasional digambarkan akan penuh dengan kebobrokan, kerusakan, dan panggung politik didominasi oleh tokoh-tokoh yang “kotor & rusak”. Hampir tak ada kesempatan bagi orang baik untuk naik ke atas podium politik tata Negara dan pemerintahan. Dalam siklus madya kalabendu, yang menjadi “raja sementara” justru si Togog dengan wakilnya mBilung (Saraita). Dua tokoh yang selalu bersama namun juga selalu terjadi kontra dalam sikap dan kebijakan itu berpasangan dalam mengisi kepemimpinan di zaman kalabendu. Al hasil, pemerintahan yang dihasilkan serba membingungkan rakyat dan tidak ada kepastian, tidak ada harapan baik. Dapat diibaratkan Si Togog maunya jalan ke utara, sebaliknya si Mbilung justru mengajak ke selatan. Intisari dan alur lakon wayang sebagai kaca-benggala merefleksikan  realitas politik yang akan terjadi di masa datang (saat ini). Dari sudut pandang prediksi futuristik, lakon SPPG yang 14 bulan lalu digelar ternyata akurasinya sangat tinggi, bisa dikatakan 99% tepat dengan realitas politik saat ini. Mengutip kalimat yang disampaikan oleh Ki Dalang Panjang Mas setelah pisowanan di Gunung Sentono, Gunungkelir, Pleret Bantul pada beberapa waktu lalu,”…ngger, negarane wis suméndé, suméndé kuwi katon isih ngadek nanging sejatine wis ambruk, amarga ora duwe daya kekuwatan kanggo nyangga awak. Arep nganggo lakon becik apa wae tetep ora bisa mbengkas karya mergo durung titi wancine dadi becik. Kahanan saiki isih ngentekake wong sing elek-elek lan reget. Jamane isih jaman kalabendungger !” (Nak, negaramu sudah bersandar, bersandar itu seolah-olah berdiri tetapi sesungguhnya sudah roboh, karena tidak punya daya kekuatan untuk menyangga dirinya sendiri. Mau pake judul cerita yang bagus apa saja tetap tidak bisa menyelesaikan masalah karena belum waktunya (Indonesia) menjadi baik. Kondisi sekarang ini masih menghabiskan orang-orang (pejabat-pemerintah-politisi) yang kotor dan rusak (moralnya). Saat ini masih berada di zaman kesengsaraan).

Read the rest of this entry

Di Penghujung Lorong Yang Kotor dan Rusak

Menukik ke dasar jurang

Dahulu kala, Nusantara diumpamakan sebagai negeri tempatnya para Dewa bersemayam. Negeri nan indah, subur makmur, gemah ripah loh jinawi, tata-titi tentrem kertaraharja.  Samudra dan daratan yang luas, gunung berapi, lembah nan hijau, hutan belantara. Negeri yang kaya mineral dan hangat dalam rengkuhan sinar matahari. Semua itu menjadikan Nusantara bagaikan gudang kekayaan alam yang menjadi sumber kehidupan makhluk di planet bumi. Dan tidaklah berlebihan Nusantara kemudian mendapat julukan sebagai surganya dunia.  Koes Plus menggambarkan Nusantara bagaikan “kolam susu”, saking suburnya bumi Nusantara, dikiaskan tongkat dan kayu jikalaupun dilempar akan bersemi menjadi tanaman yang menghidupi makhluk hidup.

Namun di balik cerita tentang surga dunia itu, konsekuensinya  Nusantara bagaikan gula-gula yang menjadi incaran para semut yang datang dari berbagai belahan dunia. Terutama “semut-semut” yang berasal dari wilayah gersang dan miskin sumber daya alam. Nusantara kemudian menghadapi resiko besar. Karena menjadi bahan rebutan para “semut” kelaparan dan bernafsu melakukan invasi dan kolonialisasi. Dengan menghalalkan segala cara, membabi-buta, dan gelap mata, para “semut” dari berbagai belahan dunia saling memperebutkan Nusantara yang dianggapnya hidangan nan lezat. Read the rest of this entry

Mengungkap Rahasia Sesaji (Sajèn)

Mengungkap Rahasia Sesaji (Sajèn)

Junction Opinion

Ada satu lagi pemahaman salah kaprah yang terlanjur diyakini kebenarannya oleh sebagian masyarakat kita. Akibatnya bisa fatal, apalagi mengenai hal-hal yang berhubungan dengan gaib. Sebab dapat mendiskreditkan kelompok tertentu, atau bahasa kasarnya menimbulkan fitnah. Saya istilahkan sebagai persepsi “sampah”, atau junk opinion. Timbulnya junk opinion ini disebabkan oleh beberapa hal misalnya :

  1. Kurangnya ilmu pengetahuan dan informasi mengenai suatu hal sehingga menyebabkan penilaian yang salah.
  2. Tidak memahami secara obyektif, yang disebabkan oleh sikap tidak suka terhadap suatu hal, sehingga menimbulkan penilaian yang tendensius menyudutkan kelompok tertentu.
  3. Orang tidak mengalami, tidak melakukan, dan tidak memahami suatu hal. Melainkan hanya menerima apa adanya, taken for granted, tetapi buru-buru dianggap sebagai suatu informasi yang benar. Misalnya kita memahami suatu hal tetapi referensinya sangat lemah, hanya berdasarkan cerita dari mulut ke mulut. Atau “katanya”, Jawa: ujare, Sunda : ceunah ceuk ceunah.

Opini “sampah” dapat berkembang pesat  menjadi opini masyarakat (public opinion) apabila didukung oleh kepentingan kelompok (vested interest), kekuatan dan kekuasaan politik melalui media massa menjadi “kampanye hitam” (black champagne) yang bersifat masif. Bentuk-bentuk “kampanye hitam”, entah disadari atau tidak seringkali dilakukan oleh media massa, media elektronik seperti tayangan hiburan dan misteri di beberapa stasiun televisi swasta di Indonesia.

Satu contoh yang akan saya kemukakan pada kesempatan kali ini mengenai opini  “sampah” tentang sesaji. Memberikan sesaji dengan serta merta dianggap perbuatan hina, musrik, dosa dengan tuduhan memuja setan. Orang yang membuat sesaji dianggap sebagai orang yang tunduk, kalah, dan mau menjadi budak setan. Ini benar-benar opini “sampah” yang telah menyesatkan umat manusia selama puluhan tahun. Untuk itu masilah kita urai satu persatu tentang rahasia sesaji.

Nilai Esensial Sesaji Read the rest of this entry

Spirit Mataram

“Niyat ingsun nyebar ganda arum, tyas manis kang mantesi, aruming wicara kang mranani, sinembuh laku utama”

Semangat Mataram

Mungkin generasi zaman sudah lupa atau sudah tidak populer lagi dengan istilah Semangat Mataram. Semangat Mataram merupakan visi yang dipegang oleh Keraton Mataram dan rakyat Mataram, yang berisi tiga pandangan hidup yakni : Mangasah Mingis-ing budi, memasuh malaning bumi, hamemayu hayuning bawana. Pandangan hidup itu melandasi semangat dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, khususnya berlaku untuk Kraton dan rakyat Mataram, lebih khususnya bagi rakyat Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat.

1. Mangasah Mingising Budi

Artinya, mengasah ketajaman budi. Budi dalam bahsa Jawa disebut penggalih. Tidak mudah memahami makna dari istilah budi atau penggalih ini. Kiranya saya perlu memberikan definisi dan penjabaran yang gamblang dan mudah dipahami oleh para pembaca yang budiman. Read the rest of this entry

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 1.001 pengikut lainnya.