Mengungkap Teka-Teki Sedah Mirah

Asal Usul Eyang BRAy Adipati Sedah Mirah & Petilasan Kraton Surakarta

Amangkurat II tidak mau menempati keraton Mataram yang berada di Pleret, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta karena menurut kepercayaan Jawa, Kerajaan yang sudah pernah diduduki oleh musuh berarti telah ternoda. Sunan Amangkurat II kemudian memerintahkan Senopati Urawan untuk membangun Kraton baru di kawasan Pajang. Perintah ini dilaksanakan dan akhirnya Senopati Urawan dibantu oleh Nerang Kusuma berama rakyat berhasil mendirikan Keraton yang terletak di sebelah barat Pajang, yang kemudian dinamakan Keraton Wanakerta. Itulah asal usul situs Kraton (lama) Kartasura Hadiningrat. Keraton di Wanakerta secara resmi mulai ditempati pada tahun 1680 oleh Sunan Amangkurat II.

Read the rest of this entry

Ngelmu Titen

NGELMU TITEN I

Ngelmu artinya ilmu, titen artinya cermat dalam menandai dan membaca makna di balik suatu peristiwa alam. Ngelmu Titen adalah keahlian dalam melihat hubungan antara suatu peristiwa dengan peristiwa lainnya dengan berbasis tradisi.
Ngelmu Titen merupakan kearifan lokal yang dapat dipelajari secara tradisional dan turun temurun dari nenek moyang bangsa kita. Tidak sedikit suku bangsa yang ada di Nusantara mempunyai kemampuan menonjol dalam hal penguasaan ngelmu titen. Sebut saja tradisi Ngelmu Titen yang dimiliki masyarakat Jawa dan Aceh terutama yang masih memegang teguh kearifan lokal. Maka tak heran jika tsunami Aceh 2004 sudah termaktub di dalam sastra kuno masyarakat Meulaboh, yang berusia lebih dari satu abad. Mungkin sebagian besar orang telah melupakan peringatan leluhurnya dari zaman dulu. Hingga tsunami benar-benar terjadi. Orang kemudian baru mengingat lagi pesan wingit itu. Read the rest of this entry

Perspektif Ilmiah Topo Kungkum

Yeh Ho Waterfall Mt Batu Karu

Pada saat alam sedang dilanda hawa panas, akibat induksi gempa bumi gunung meletus pemanasan global, salah musim, dan berbagai faktor lainnya, maka induksi hawa panas yang berasal dari elemen api atau “dewa agni” menjadi dominan menerpa kehidupan manusia di planet bumi.

Read the rest of this entry

MENTARI DI UFUK TIMUR

Hari ini, Kamis Wage 21 September 2017. Bertepatan dengan malam satu Suro yang akan jatuh pada hari Jumat Kliwon 22 September 2017. Acara Kirab Agung Tapa Bisu Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat akan dilaksanakan pada hari Kamis 21 September 2017 mulai pukul 20.00 wib dengan pembacaan Macapat di Bangsal Pancaniti Kraton Mataram Jogjakarta. Selanjutnya kirab budaya agung tapa bisu akan dimulai antara pukul 23.00 – 23.30 wib. atau malam Jumat Kliwon di halaman Pasewakan Agung. Dimulai dengan doa bersama, upacara pemberangkatan kemudian dilanjutkan dengan kirab Agung Tapa Bisu memutari benteng Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Start Kirab Agung sendiri dimulai sekitar jam 23.30 atau 00.00 wib dari gerbang barat atau sebelah kiri Keraton Jogjakarta, dan akan berlangsung selama kurang lebih 2 jam sampai kembali di alun-alun Utara Keraton Yogyakarta.

Tulisan saya kali ini bukan untuk membahas makna atau hakekat Kirab Agung Tapa Bisu karena telah saya ulas pada postingan terdahulu. Tetapi pada tulisan ini saya akan mengulas tentang kelanjutan fase Sura Menthek tahun 2016.

Sura Mbregegah
Tulisan saya kali ini bukan untuk membahas tentang makna kirab agung tapa bisu mubeng benteng Keraton. Karena mengenai pembahasan itu sudah saya uraikan pada postingan terdahulu.
Sura Mbregegah adalah fase atau satuan siklus Jawa yang terjadi selama satu d tahun kalender Jawa atau Saka. Mbregegah makna kiasan atau lebih tepatnya analogi yang menggambarkan dimulainya kebangkitan semangat, greget, atau mulai bersinarnya harapan hidup. Terutama berkaitan dengan sektor ekonomi masyarakat, serta dalam skala nasional pada umumnya. Seperti sudah kita ketahui sebelumnya bahwa selama fase Sura Nyalawadi hingga fase Sura Menthek. Pada saat berlangsung fase Sura Nyalawadi, keadaan ekonomi maupun politik penuh teka-teki, apa yang kita lihat tidak seperti yang sesungguhnya terjadi. Dunia penuh tipu muslihat, kebohongan dan kepalsuan. Musang berbulu onta berkeliaran di mana-mana menebar fitnah. Yang tidak eling dan waspada pasti termakan hasutan. Bidang usaha atau bisnis hanya diwarnai keluh kesah, derita kerugian, hingga derita kebangkrutan. Perusahaan finance mengahadapi banyaknya kredit macet, marketing banyak yang gagal memenuhi target, banyak terjadi pemecatan karyawan secara diam-diam, perbankan kesulitan mengucurkan modalnya, karena biarpun ada modal tetapi orang pada bingung hendak melakukan usaha apa. Semua bidang kehidupan tampak lesu dan sepi. Wong cilik tidak terdengar lagi suaranya karena saking kuatnya dihimpit oleh kesulitan hidup. Sementara itu dunia politik dihebohkan oleh kelakuan para politisi kotor, banyak orang-orang bobrok tampil menghebohkan panggung sandiwara politik.
Sedangkan fase Sura Menthek keadaan ekonomi masih terasa sangat canggung. Banyak usaha yang hampir berhasil tapi pada akhirnya tidak sesuai dengan harapan. Atau hasilnya masih tertunda-tunda sehingga belum bisa segera dinikmati. Pada fase Sura Menthek, dunia politik saatnya merasakan instan karma. Setelah semua yang bobrok, rusak, dan kotor tampil menguasai panggung politik pada gilirannya mereka digulung, ditenggelamkan dan dihancurkan oleh kekuatan alam. Akan tetapi orang-orang baik yang tersingkir selama Sura Nyalawadi dan Sura Menthek, masih harus diam di tempat menunggu saat yang tepat, yakni datangnya fase Sura Mbregegah untuk kembali ke panggung politik, bersama-sama elemen kekuatan rakyat menyelamatkan Nusantara dari upaya penghancuran secara sistemik.
Sura Mbregegah akan segera berlangsung terhitung mulai tanggal 1 Sura 1951 tahun dal Jugrug. Atau jatuh pada hari Jumat Kliwon tanggal 22 September 2017. Fase berlangsung selama satu tahun dalam hitungan kalender Jawa atau tahun Saka. Inilah saatnya starting point kebangkitan Nusantara dalam dimensi ekonomi, politik, dan kesadaran spiritual. Sungguh berat untuk mencapai fase Sura Mbregegah ini. Hanya yang lolos seleksi alam pada fase sebekumnya saja yang akan segera menuai hasilnya. Yang tidak lolos, mulai saat ini bersiaplah untuk menanggung karma. (lebih…)

Suro Mênthêk (Senin 3 Oktober 2016)

Pesan Mbah Mangir (Ki Ageng Mangir Wonoboyo) Minggu Pon, 25 September 2016

Meskipun masih nglakoni tapa mbisu, namun perlu kiranya menyampaian sesuatu berikut ini. Semogaberguna untuk para pembaca yang budiman.

img-20161002-wa0016

Bulan Suro tahun 1950, taun Je yang akan jatuh pada hari Senin tanggal 3 Oktober 2016, atau Senin Legi. Senin nilainya 4, Legi nilainya 5 jika dijumlahkan 9 merupakan neptu tiba lara. Kalender Jawa kali ini selisih satu hari lebih lambat dibandingkan dengan kalender Arab 1 Muharam 1438 H yang jatuh pada hari Minggu tanggal 2 Oktober 2016.

Ki Ageng mangir hanya memberikan pesan singkat bahwa menjelang bulan Suro kali ini tidak ada perintah atau dawuh yang bersifat khusus. Disebabkan oleh situasi dan kondisi alam yang masih akan banyak marabahaya yang berasal dari elemen angin, air, dan tanah. Intinya mengurangi bepergian pada malam 1 Suro dan pas 1 Suronya. Untuk itu alangkah baiknya untuk menghindari bepergian jauh selain urusan dan pekerjaan yang bersifat darurat, terutama pada malam 1 Suro. Ki Ageng mangir menyampaikan pesan untuk melakukan mandi wuwung di rumahnya masing-masing tempat 00.00 pada malam satu Suro.

Mandi Wuwung

Read the rest of this entry