Ratu Adil semakin dekat

Eyang Sabdapalon-Eyang Noyogenggong,

Satria Piningit, Ratu Adil

Prakata

Saya salut terhadap segenap upaya generasi bangsa saat ini yang peduli dengan nilai-nilai tradisi dan kearifan lokal (local wisdom) yang pada zaman dahulu pernah mengantarkan bumi Nusantara meraih kejayaannya. Tampak geliat semangat ada pada para generasi muda bangsa yang gigih menelusuri jejak sejarah kebesaran para leluhur bumi putra bangsa besar ini. Bagaimana kita dapat menghargai bumi Nusantara jika kita buta dan tidak mau peduli apa yang terjadi di zaman dulu, apa dan bagaimana saja perjuangan para leluhur besar di masa silam.

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa rekam jejak sejarah bangsa Indonesia mengalami berbagai upaya pemalsuan sejarah. Dengan tujuan dan alasan tertentu, yang positif maupun negatif. Misalnya untuk menyamarkan agar tidak terjadi pengrusakan dan pemusnahan. Namun tampaknya banyak pula upaya pemalsuan sejarah dengan tujuan untuk menghapus akar sejarah dan jati diri suatu bangsa. Jika jati diri suatu bangsa menjadi lemah dan tidak jelas, tentu bangsa itu pun akan menjadi bangsa yang lemah dan terombang-ambing dalam dinamika dunia. Menjadi bangsa primitif, tidak mempunyai prinsip tegas dan jelas, serta menjadi bangsa miskin. Bangsa yang kehilangan arah dan tujuan, karena selalu minder tak ada sesuatu nilai orisinil bisa dibanggakan. Nasionalisme pun akan menjadi lemah kemudian benar-benar runtuh.

Bagaimana ‘jiwa dan raga’ bangsa ini akan sehat sentosa, sementara konstruksinya terdiri dari ‘daging dan darah’ yang kotor, busuk, bau dan banyak penyakit. Berkali-kali saya pribadi melihat suatu kebenaran sejarah yang membuktikan keagungan penduduk asli Nusantara dalam spiritualitas, seni, budaya, politik dan ekonomi, tetapi sengaja maupun tidak justru ditutup-tutupi dengan ‘cadar’ agama, bahkan dengan dengan kekerasan fisik, ancaman-ancaman dogmatis, dengan tindakan-tindakan anarkhis, dengan kekuatan dan kekuasaan yang legal maupun ilegal. Banyak pula yang berani mengklaim diri sebagai pahlawan yang mengaku paling suci dan dijamin menjadi ahli syurga, dan mengaku pembawa ‘obor’ kehidupan dilengkapi dengan bom penghancur ‘dunia kegelapan’, serta mengaku sebagai pembawa ‘tongkat’ penegak kebenaran. Di mata masyarakat, tindakannya hanya mengesankan sebagai wujud tindakan jahiliah/bodoh dengan disertai wajahnya yang menyiratkan nafsu angkara murka.

Ironis sekali. Jika tradisi dan budaya luhur moyangnya sendiri dianggap sebagai sumber kesesatan, musyrik, syirik. Untuk itu budaya adiluhung sendiri harus dihina-hina dan dihancurleburkan agar tidak mengganggu sepak terjang para pengaku ‘utusan’ Tuhan. Sebagian penduduk lokal justru lebih menghargai nilai-nilai tradisi, budaya, dogma, yang diimpor dari leluhur bangsa lain. Lebih suka ngemut kerikil dari pada ngemut gula Jawa.

Meskipun demikian berbagai tindakan intimidasi dan provokasi tidak pernah membuat orang menjadi bergidik untuk kembali menelaah nilai-nilai kearifan lokal atau nilai luhur budaya Jawa, Tradisi leluhur kita sendiri yang terbukti pernah membawa pada era kejayaannya.

Sudah menjadi rumus-rumus yang tercantum di dalam hukum alam, (baca : kehendak Tuhan), bahwa kebenaran tak pernah bisa dikalah oleh kejahiliahan. Sekalipun kebenaran itu datang terlambat. Jika sudah tiba saatnya Tuhan berkehendak, maka tampaklah yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Hanya saja, tugas manusia harus eling dan waspada, sebab datangnya kebathilan, kebodohan, kejahatan, kedengkian, kemunafikan kadang lahir justru dari pemikiran-pemikiran fanatik, tekstual dogmatis, kedangkalan fikir, bahkan unsur manipulasi dalam memahami berbagai macam kitab suci apapun namanya. Jika penelaahannya mengesampingkan anugerah Tuhan paling besar yakni akal sehat, jiwa yang bening, hati yang bersih, –atau malah memanipulasinya untuk kepentingan kelompok, golongan dan melegitimasi suatu tindakan brutal dan anarkhis–, niscaya agama dengan dogma-dogmanya menjadi senjata canggih penghancur rumus-rumus Tuhan dan tatanan keselarasan dan sistem keseimbangan di planet bumi ini. Orang jaman sekarang tampak kesulitan membaca tanda-tanda kebesaran (bahasa) Tuhan. Orang tidak menyadari bahwa kebenaran bisa datang dari mana saja asal muasal sumbernya. Tidak selalu melalui dogma agama dan kitab suci, tetapi langsung dari Tuhan melalui bahasa alam yang tersirat dalam gerak-gerik seluruh mahluk penghuninya. Sayangnya, sebagian orang lebih sering menafikkan atau mengingkarinya secara sinis dan membabi buta. Mudah-mudahan seluruh pembaca yang budiman tidak termasuk tipikal manusia tersebut. Agar tidak bodoh dan hidup sesat, maka dalam khasanah spiritual Jawa dianjurkan kepada setiap orang untuk arif dan bijaksana dalam membaca tanda dan gejala alam, sehingga manusia bisa memahami maksud dan kehendak Tuhan, (Jawa:nggayuh kawicaksananing Gusti).

Wirayat Gaib

Menyibak misteri siapa sejatinya sang tokoh kembar bersaudara Sabdopalon dan Noyogenggong. Banyak analisa dan penafsiran yg mendekati pemaknaan yg masuk akal dan dapat menjelaskan secara rinci kronologi dan eksistensi Sabdapalon-Noyogenggong. Prediksi-prediksi atau ramalan yang ditulis sejak zaman dahulu seperti dalam serat Kalatida R Ronggowarsito, Jongko Joyoboyo ing Kadhiri,  KPH Cakraningrat, ISKS PB III,IV (serat Centini) dan PB VI berupa sanepan/cangkriman/ tebakan yg sulit ditafsirkan secara harfiah/wadag semata melainkan hrs melalui olah batin yang mendalam. Kecuali KPH Cakraningrat ada juga yg lebih lugas ditafsirkan yakni dalam serat Wedhatama karya Gusti Mangkunegoro IV dan Babad Centini sejak PB III s/d PB V, lebih eksplisit anda dapat meraba-raba siapa sebenarnya Sabdapalon & Noyogenggong.

Beliau Sabdapalon dan Noyogenggong bukanlah Satrio Piningit (SP)seperti disebut sebagian orang. Beliau berdua entitasnya sudah ada sejak 2500 tahun lebih, tentu saja sebelum dialektika misteri SP muncul dalam satra-sastra kuna. Beliau adalah sosok pamomong, pembimbing para Raja besar Nusantara, perannya sebagai penasehat, pelindung sekaligus guru spiritual para Raja-raja besar di Nusantara. Beliau bukan pemimpin atau raja tetapi sosok yang selalu mengasuh (Jawa:momong) kepada setiap raja-raja besar di bumi nusantara. SP konotasinya adalah kesatria yang berperan sebagai pahlawan atau pemimpin spiritual dan negarawan namun statusnya sebagai ksatria sulit disangka diduga. Sebelum beliau memimpin bangsa figurnya sulit terekspose oleh masyarakat umum, kecuali orang yang memiliki mata batin tinggi. SP tidak lain adalah Ratu Adil (RA). SP atau Ratu Adil adalah kesatria yang amat tersamar jati dirinya, maka disebut juga Satrio Piningit. Beliau TIDAK AKAN PERNAH MENGAKU (mengklaim) kepada khalayak apalagi mengekpose dirinya di depan publik sebagai Satrio Piningit atau Ratu Adil. Tetapi orang lain lah yang akan menjulukinya, karena seluruh karakter pribadi dan perjuangannya sesuai dengan misi sang Kalipatullah Paneteb Panatagama, Satria Pinandhita Sinisihan Wahyu, Ratu Adil Herucakra, yang tanda-tandanya telah diungkapkan lebih dahulu dalam prediksi-prediksi kuno. Ratu Adil akan menjadi asuhan penasehat/pembimbing/dahyang para raja-raja besar dan pengasuh seluruh manusia Jawa yakni Sabdopalon dan Noyogenggong. Jadi konsep Sabdopalon-Noyogenggong, dengan Satrio Piningit atau Ratu Adil konsepnya berbeda, berdiri sendiri tetapi memiliki untaian atau rangkaian peranan yang sangat erat. Kehadiran mereka dikiaskan sebagai kepanjangan tangan Tuhan (kalifatullah), pemimpin (imam mahdi/messiah/ herucakra) yang bersifat universal meliputi seluruh agama, bangsa, suku, ras, golongan dalam upaya penyelamatan bumi khususnya bumi nusantara.

Saya tidak akan membahas panjang lebar tentang konsep Sabdapalon-Noyogenggong. Tetapi akan mengupas makna dalam kiasan sastra kuno, tentang misteri SP atau RA dan kaitannya dengan Sabdapalon-Noyogenggong serta tanda-tanda zaman akan kehadirannya. Puji syukur kepada Tuhan YME, setelah melalui ‘laku’ spiritual yang sangat lama, Sabdalangit telah memperoleh sedikit sekali gambaran dan jawaban atas misteri besar tersebut.

Ratu Adil Berbeda figur dan person maupun konsep dibanding Sabdopalon-Noyogenggong. Ratu Adil juga memiliki konsep sendiri yang jelas. Ratu adalah sosok atau tokoh jenis kelamin perempuan yang menjadi ‘raja’ atau pemimpin, atau negarawan. Menjadi ‘ratu’ atas bangsa ini, dengan dasar sikap adil paramarta, hambeg lakutama, bèrbudhi bawaleksana, dikenal sebagai senjata trisula wedha) dan ‘pedang katresnan‘ sangat tajam berupa niat suci, dengan lautan kasih sayang. Bernaung di bawah payung kuning (kebenaran). Ratu adil berasal dari gunung srandil artinya puncak keprihatinan, topo broto, topo ngrame, loro wirang.

Berada di dalam kandungan/rahim ibu selama lebih dari telung podho (3 bait, maksudnya sewindu atau 8 tahun) untuk menggenapi tapa brata-nya. Jiwanya telah digembleng oleh para leluhur besar bumi nusantara. Ratu adil dari “tanah arab” (kebetulan KTP Islam) yang menegakkan ‘gama budi’.  Gama-budi bukan berarti secara harfiah adalah agama Budha, tetapi menjunjung tinggi budi pekerti luhur. (lihat; Betal Jemur Quraisin Adammakna/kitab Betal Jemur jilid 7). Kelak bumi nusantara akan adil, subur, makmur, menjadi ‘kiblat’ mercusuar dunia. Pada saatnya nanti masing-masing suku bangsa akan menghidupkan kembali nilai kearifan lokal (local wisdom) dan membuat hidup lagi budaya warisan leluhur bumi Nusantara yang pernah mengalami masa jayanya di masa silam. Perbedaan suku, ras, agama justru menjadi bahan untuk membakar semangat Bhineka Tunggal Ika, bersama-bersatu di atas ragam perbedaan, bermuara pada keutuhan dan kesatuan bangsa, di Bumi Nusantara.

Ciri-ciri Ratu Adil

  1. Ratu Adil: ratu memiliki makna seorang perempuan pemimpin nan cantik luar dalam, adil dan bijaksana sebagai pemimpin bumi nusantara menggapai kemakmuran, kesejahteraan,  ketenteraman dan kebahagiaan.
  2. Seorang yang memakai Nama Tua ; bukan berarti sebutan spt embah, ki, kyai, dst, melainkan nama tua yang sesungguhnya spt misalnya ‘Sekar Kedaton …..’
  3. Senjata Ratu Adil; Pedang sirulah/sir sejati atau (pedhang katresnan) rahsa sejati, senjata ratu adil antara lain berupa ‘pedang sangat tajam’ berupa niat suci dan lautan kasih sayang kepada sesama tanpa membedakan apa agamanya, suku bangsanya, ras dan golongannya.
  4. Di bawah payung kuning; payung kuning adalah lambang kemuliaan dan keluhuran budi pekerti. Juga bermakna keberanian yang berpijak pada suatu kebenaran universal.
  5. Lumuh bandha; walaupun Ratu Adil kelak merupakan sosok yang sukses ekonominya dan makmur, sejahtera, tetapi hidupnya tidak gila harta, justru dengan kekayaannya akan didermakan kepada orang-orang yang sangat membutuhkan, sebab Ratu Adil gemar membantu orang-orang yang menderita, kesusahan dan kesulitan.
  6. Kalipatullah panetep panatagama; lahir di bumi nusantara untuk mengemban amanat Roh Jagad Agung (Hyang Jagadnata), sebagai pemimpin yang memberikan banyak pelajaran tentang makna hidup yang sejati. Untuk diimplementasikan di bumi (Nusantara. agar supaya manusia mampu memahami makna sejatinya dari agama. Pemahaman agama yang mendalam akan menumbuhkan rasa saling menghargai, bahu membahu, serta membantu seluruh umat beragama agar dapat memahami apa hakikat sesungguhnya agama itu sendiri, sehingga tidak ada lagi konflik antar agama, primordialisme, rasisme, sikap hipokrit. Minimal di bumi nusantara.
  7. Bayi calon Ratu adil dilahirkan oleh seorang ibu yg rambutnya sudah keluar uban, didampini dua bayi laki-laki yg  wajahnya tampan rupawan  sebagai saudara kembarnya. Bayi calon ratu adil lahir dari rahim ibu sekaligus kembar tiga (triplet), satu perempuan di tengah yang dua laki-laki sebagai kakak dan adik kembarnya. Kakak kandung Ratu Adil, sejak masih di dalam rahim ibu sudah terdapat tanda-tanda memiliki talenta luarbiasa dalam bidang medis, sedangkan adik kandung ratu adil, sejak masih di dalam rahim ibunya pula telah memiliki keajaiban super jenius yg kemampuan otaknya tidak bisa diukur. Kelak, sejak lahir ketiganya menjadi aset bangsa Indonesia yang akan mampu membawa kemakmuran dan keadilan seluruh rakyat.
  8. Ketiga bayi tersebut, sejak lahir (bahkan sejak dlm kandungan ibu) sudah bisa berkomunikasi dgn ibu dan bapaknya. Sebagai persiapannya menjadi aset besar bangsa dan calon penyelamat bumi nusantara, ketiganya digembleng sejak masih di dalam rahim ibunya tentang berbagai ilmu pengetahuan dan ilmu ‘linuwih’. Karenanya Ratu Adil sejak lahir sudah membawa talenta dan kemampuan luar biasa dalam hal ilmu agama, kesaktian, joyokawijayan, olah kanuragan (beladiri), kawaskitan lahir batin yg sangat tinggi, arif bijaksana, luhur budi pekertinya (sebagai warisan dari ibunya). Ratu adil memiliki keahlian dlm bidang tatanegara, politik, hingga kesenian misalnya beksa atau menari, seni tembang jawa, dan pandai pula dalam tataboga.

Sejak masih di dalam kandungan rahim ibu, badan halus dan sukmanya, sudah digembleng oleh para leluhur Ratugung Binatara, eyang-eyangnya sendiri dari kalangan priyayi dan bangsawan (garis keturunan dari sang ibu) yang dahulu menjadi Natapraja Ratu Gung Binatara. Dengan materi pelajaran meliputi ilmu kesaktian, kedigjayaan, tatanegara, hukum, politik, ekonomi, kesenian (menari dan tembang), memasak. Materi pelajarannya termasuk di antaranya serat Wulang Reh, Wulang Sunu, sejarah, berbagai macam suluk, kitab Wedhatama, Babad Centini, Pangreh Praja dan masih sekian banyak lagi kitab-kitab Jawa masa lampau. Keluhuran budi pekerti Ratu Adil diperoleh dari ibunya yang telah banyak sekali mengajarkan tentang keluhuran budi pekerti dan kebersihan hati sejak masih di dalam kandungan. Calon Ratu Adil juga mendapat bimbingan oleh para leluhur garis keturunan dari bapaknya yang dari kalangan rakyat biasa sekaligus  keturunan kyai, meliputi kesaktian, sipat kandel, diajarkan pula hakikat dari semua agama yang ada di bumi Nusantara. Sukma calon Ratu Adil, atas kehendak Tuhan YME, sudah dipersiapkan dan direstui oleh para leluhur besar bumi nusantara, termasuk para raja dan seluruh ratu/raja dari jagad gaib, di antaranya Kanjeng Ratu Kidul, Betara Kala, serta seluruh pembesar dari jagad maya di seluruh bumi nusantara memberikan doa dan memberikan restu kepada Calon Ratu Adil untuk kelak menyelamatkan dan memimpin bangsa ini menuju masa kejayaannya kembali.

PREDIKSI; mata batin RAHSA SEJATI

Untuk meminimalisir terjadinya berbagai kontroversi dan kesimpangsiuran, sejenak Saya mengulas tentang sejatinya Kanjeng Ratu Kidul. Beliau entitasnya sebagaimana manusia adalah tetap sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Beliau sangat religius, arif bijaksana, juga menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Beliau bukan jin, bukan siluman, bukan sebangsa setan. Kanjeng Ratu Kidul adalah titisan dari bidadari yang diizinkan Tuhan menjadi ratu jagad maya pesisir selatan. Tuhan menciptakan entitas Ratu Kidul supaya menjadi bandul keseimbangan antara alam gaib dan alam nyata. Semestinya antara manusia dengan makhluk gaib, membangun sinergisme; dengan saling “silaturahmi”, menghargai, memiliki hubungan simbiosis mutual, serasi dan harmoni dalam bahu membahu menjaga alam semesta dari kerusakan. Manusia dengan makhluk gaib pada arasnya dapat saling melengkapi, saling mengisi kelemahan masing-masing. Tetapi manusia sering takabur, merasa sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna sehingga lebih suka menyia-nyiakan, menghina, aniaya, dan merendahkan, terhadap makhluk gaib (yang juga ciptaan Tuhan) secara pukul rata. Padahal kesempurnaan manusia hanya tergantung akalnya saja. Bila akal digunakan untuk mendukung kejahatan bukankah manusia tidak lebih mulia daripada binatang yang paling hina sekalipun.

Tidak seluruh makhluk gaib itu berkarakter jahat, seperti halnya manusia ada yang berkarakter jahat, suka mengganggu, tetapi ada yang berkarakter baik pula. Tetapi makhluk gaib terlanjur sering menjadi kambing hitam, oleh  manusia-manusia “jahat” agar dapat berkilah bahwa mereka melakukan kejahatan karena ulah “si setan”. Bukankah, manusia akan menjadi lebih bijaksana jika mengatakan bahwa manusia melakukan kejahatan karena menuruti hawa nafsunya (NAR/api/ke-aku-an) sendiri yang menjelma menjadi ’setan’. Pembaca yang budiman dapat saksikan sendiri, bilamana bulan suci tiba, setan-setan dibelenggu, tapi kenapa pada bulan puasa tetap saja banyak kasus korupsi, pembunuhan, maling, rampok, penggendam, penipuan, bahkan pernah saya melihat ada orang kesurupan, pernah pula melihat ‘penampakan’!? Mungkin manusia salah mengartikan, setan yang dibelenggu tidak lain adalah nafsu negatif kita sendiri. Dan yang membelenggu hawa nafsu negatif (NAR) tidak lain menjadi tugas kita sendiri, dengan borgol berujud jiwa yang suci (NUR) atau an nafsul mutmainah, dengan artikulasi akal dan budi pekerti yang luhur.

Berbeda dengan konsep Kanjeng Ratu Kidul, adalah Betara Kala disebut-sebut raja makhluk gaib dari ‘dunia kegelapan’. Sebutan itu muncul karena Betara Kala mencari korbannya yakni manusia. Tetapi seyogyanya jangan terburu-buru pada kesimpulan bahwa Betara Kala merupakan makhluk jahat dari dunia gaib yang ‘hitam’. Karakter ‘jahat’nya, karena Betara Kala hanya menjalankan titah atau kodrat Tuhan, sebagai eksekutor/algojo bagi orang-orang  yang melawan kodrat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan termasuk eksekutor bagi orang yang melanggar paugeran dan wewaler. Peranan Betara Kala sama halnya dengan Kanjeng Ratu Kidul sebagai penyeimbang antara jagad kecil dan jagad besar. Membangun sinergisme antara dunia manusia dengan dunia makhluk gaib. Jika manusia mempercayai peran-peran tersebut, manfaatnya dalam kehidupan kita sehari-hari justru membangun sikap religius, kita menjadi lebih hati-hati dalam menjalankan roda kehidupan yang penuh “ranjau”. Manusia selalu menjaga diri dengan sikap eling lan waspada. Semakin banyak orang lupa diri; tidak eling waspada, suka melanggar wewaler,  maka cepat atau lambat Tuhan pasti memberikan azab, baik dalam bentuk bencana kemanusiaan maupun bencana alam di bumi nusantara.

Sekalipun saat ini semakin banyak orang-orang yang tampak sangat religius, mengaku sebagai pahlawan agama, jago ceramah, namun banyak pula di antara mereka yang sesungguhnya amat dangkal pengetahuannya, ilmunya sebatas “kulit”. Golongan ini tak menyadari jika sedang kekenyangan makan ‘kulit’(syari’at) saja. Selanjutnya muncul gejala semakin gencar manusia tampil sebagai pembela agama baik dengan menghalalkan cara-cara kekerasan maupun pedagog verbal. Semakin banyak jumlah orang-orang yang seolah-olah soleh-solehah, giat pergi ke tempat ibadah, tetapi semakin banyak pula mereka terbukti melakukan perbuatan keji, korupsi, selingkuh, merampok hak orang lain, memperkosa, mencuri, menipu, mencelakai orang, pagar makan tanaman. Tentusaja mereka melakukannya dengan kesadaran sambil mencari-cari dalil yang mengada-ada sebagai alasan pembenar. Kesalahan kecil dibesar-besarkan, namun jelas-jelas kejahatan besar tidak dihiraukan.

PERTANDA KEDATANGAN CALON SATRIA PININGIT

Jangkajayabaya; Sabda Gaib

Babon asli kagunganipun Dalem Bandara Pangeran Harya Suryanegara ing Ngayugyakarta

Sinom

Wirayat kanthi dahuru, lalakone jaman wuri, kang badhe Jumeneng Nata, amengku bawana jawi, kusuma trahing Narendra, kang sinung panggalih suci.

(Tanda-tanda dengan diawali munculnya huru-hara, kejadian zaman nanti, yang akan menjadi Pemimpin di tanah Jawa (Nusantara), seorang keturunan raja, yang memiliki hati suci.

Ing mangke karseng Hyang Agung, taksih sinengker marmaning, akeh ingkang katambuhan, mung kang para ulah batin, sinung weruh dening pangeran, iku kang saged mastani.

(Di saat nanti, sudah menjadi kehendak Tuhan Maha Agung, tetapi sekarang masih di dalam tabir rahasia Tuhan, banyak orang tidak mengetahui, hanya orang yang mau mengolah batinnya, diijinkan Tuhan mengetahui (sebelum terlaksana), itulah orang yang tiada diragukan lagi)

Dene wontene dahuru, sasampune hardi Mrapi, gung kobar saking dahara, sigar tengahira kadi lepen mili toya lahar, ngidul ngetan njog pasisir.

(Sedangkan munculnya huru-hara (ditandai) setelah Gunung Merapi berkobar hebat (meletus) oleh sebab adanya bencana (gempa bumi), (Merapi) terbelah tengahnya seperti sungai, mengalir di dalamnya air (hujan) membawa lahar dingin, arahnya ke tenggara, lahar dingin yang dibawa oleh air, hanyut hingga masuk ke laut selatan.

Keterangan: pertanda ini sudah terjadi pada tahun 2007 lalu.

Glacap Gunung yang bernama Gegerboyo Merapi (punggung buaya) kini tinggal kenangan

ini sebagai salah satu pertanda yang telah diprediksi ratusan tahun silam

gegerboyo

Myang amblese Glacapgunung, sarta ing Madura nagri, meh gathuk lan Surabaya, sabibaripun tumuli, wiwit dahuru lonlona, soyo lami soyo ndadi.

(Pertanda punggung G Merapi (populernya disebut punggung buaya atau geger boyo) amblas/longsor. Serta Surabaya dan Madura hampir bertemu daratan.

Keterangan: Geger boyo runtuh terjadi Mei-Juni tahun 2006 setelah terjadi gempa Jogja, disusul letusan Gunung Merapi yang dahsyat.

Pulau atau wilayah Surabaya-Madura hampir bertemu daratan, sudah terjadi karena jebolnya lumpur lapindo yang dibuang ke selat Madura. Penafsiran lainnya; jembatan yang menghubungkan kota Surabaya dengan Madura atau jembatan Suramadu hampir selesai.

Temah peperangan agung, rurusuh mratah sabumi mungsuhe datan karuwan, polahe jalma keha sami, kadi gabah den interan, montang-manting rebut urip. Papati atumpuk undhung,desa-desa morat marit, kutha-kutha karusakan,

kraton kalih manggih kinkin, ing Sala kaleban toya, Ngayugyakarta Sumingkir.

(Setelah itu terjadi konflik besar, kerusuhan merata di seluruh bumi, penyebabnya tidak jelas, tingkah manusia sama saja, bagaikan gabah ditampi, kocar-kacir berebut hidup. Kematian massal terjadi di mana-mana, desa carut-marut, kota-kota banyak terjadi kerusakan, dua kerajaan (Jogja dan Solo) terjadi musibah, di Solo kerajaannya “terendam banjir”*. Yogyakarta tersingkir**.

Keterangan; *konflik antar pewaris tahta antara Hangabehi dengan Tejowulan,

**sementara Keraton Jogja tersingkir karena tidak mendapatkan anak laki-laki sebagai Pangeran Putra Mahkota calon pewaris tahta.

Saat ini sudah terjadi.

Ratunya murca sing Kraton, ngilang kalingan cecendis, sanget kasangsayanira, wus karsaning Hyang Widi, gaib ingkang kelampahan, kinarya buwana balik.

(Ratu/rajanya meninggalkan keraton, kemasyhurannya kalah dengan gaung keonaran para penghianat, semua itu sudah menjadi kehendak Tuhan, gaib yang terjadi, membuat keadaan zaman serba terbalik.

Jangka Jayabaya ; Catursabda

Pethikan seratan tangan

Kangge sambetan jangka triwikrama

Pameca wontening jaman dahuru, tuwin rawuhipun ratu adil panetep panatagama kalipatullah.

Pamecanipun sang prabu Jayabaya ing kadhiri. Kulup ingsun mangsit marang sira, yen ing tembe tanah Jawa wis kesingget-singget saenggon-enggon, desa-desa wus sigar mrapat, pasar-pasar ilang kumarane, kali ilang kedhunge, kereta tanpa turangga, lan ana satriya teka kang putih kulite, saka kulon pinangkane, nuli ana agama tatakonan padha agama.

(Mencermati terjadinya zaman kesengsaraan, hingga kedatangan Ratu Adil panetep panatagama, utusan Tuhan. Kewaskitaan Sang Prabu Jayabaya ing Kadhiri. Anak-anakku, ingsun berpesan (secara gaib) kepadamu, bilamana kelak tanah Jawa (nusantara)telah terpilah-pilah, pasar (tradisional) kehilangan gaungnya, sungai-sungai semakin surut airnya, kereta tanpa kuda, segera datanglah kesatria berkulit putih, dari barat asalnya, sejak itu terjadi perselisihan antar agama)

Apamaneh dhayoh mbagegake kang duwe omah, ana kebo nusu gudhel, endah-endah cacahing gendhing sekar kaendran, sanalika iku wong Jawa akeh kang tesmak bathok, sanajan mlorok ora ndelok, andheng-andheng dingklik,

lah ing kono kulup, ora suwe bakal katon alat-alate kang minangka dadi cacaloning Sang Ratu Adil panetep panata agama kalipatulah utusan kang ngemban dhawuhing Gusti, paribasane sumur marani timba, guru luru murid, prajurit ngunus pedang katresnan,

(apalagi (pertanda) tamu mempersilahkan tuan rumah, orang tua berguru pada yang muda, muncul beragamnya nyanyian dan musik yang populer, seketika itu pula banyak orang Jawa yang berkacamata tempurung (walaupun melotot, tetap tidak bisa melihat), tahi lalat di wajah (yang nyata ada pada diri sendiri tidak dapat diketahuinya), nah di situlah anakku, tidak lama lagi akan mulai tampak tanda-tandanya siapa yang akan menjadi calon Ratu Adil, utusan yang mengemban perintah Tuhan, diumpamakan sumur mendatangi timba, guru berburu murid, prajurit menghunus pedang kasih sayang)

nanging akeh wong-wong kang padha mangkelake atine, nyumpelake kupinge, ngeremake matane.

(tetapi banyak orang-orang yang membuat kesal hati, mentulikan telinganya, dan menutup mata (tidak peduli).

Nanging sapiro anane wong kang melek, padha ngrungu lan padha anggarubyung tut wuri lakune cacala mau mesthi slamet.

(tetapi seberapapun adanya orang yang peduli, mau mendengar, dan mengikuti jejak langkah Ratu Adil, maka mereka pasti selamat hidupnya)

…….awit sadurunge ratu adil rawuh, ing tanah Jawa ana setan mindha manungsa rewa-rewa anggawa agama, dhudhukuh ing glasah wangi, dadine manungsa banjur padha salin tatane, satemah ana ilang papadhange, awit padha ninggal sarengate, dadi kapiran wiwit timur mula.

(….sebab sebelum RA datang, di tanah Jawa (nusantara) muncul “setan” berlagak manusia “berbulu” lebat mengaku pembela agama, menetap di “glasah wangi” menjadikan manusia berganti tatanan, menyebabkan datangnya kegelapan, karena orang-orang meninggalkan tradisinya, lalai sejak masih muda)

Mulane wekas ingsun marang sira, sira kang ngati-ati, krana  gusti sang ratu adil, lagi tapa mungsang ana sapucuking gunung sarandhil,

(Maka pesanku pada kalian, kalian harus berhati-hati, karena gusti sang Ratu Adil baru melakukan penempaan diri dalam ‘pertapaan’nya)

mung gagamane bae golekana kongsi katemu, awit ing tembe bakal ana jumeneng ratu kang padha baguse, padha pangagemane lan iya padha paraupane, lah ing kono para wong-wong padha pakewuh pamulihane, satemah padha bingung,

(..hanya saja, carilah “senjata”nya (RA) sampai ketemu (budi pekerti luhur), sebab kelak bakal ada berdiri ratu yang sama cakapnya, sama pakaiannya dan juga sama wajahnya, nah di situlah orang-orang akan merasa malu sendiri, sebagian yang lain kebingungan (ket: karena orang yang sangka calon SP ternyata bukan).

Keterangan; Cermatilah ciri-ciri Ratu Adil sejati, karena ada yang seolah dianggap sebagai Ratu Adil, padahal ia palsu. Maka banyak orang yang menyangka, lantas menjadi malu dan bingung telah salah sangka.

…nanging luwih beja wong kang wis mangerti kang dadi pangerane, mulane sira kulup, dipoma aja nganti lali marang tetengering sang ratu Adil panetep panata gama.

(…tetapi lebih beruntung orang yang sudah mengerti siapa yang menjadi pemimpin dan panutannya, makanya kalian semua jangan sampai lupa akan ciri-khas atau tanda khusus siapa sang Ratu Adil panetep panata gama).

Dene sira wis ketemu aja nganti sira katilapan, tutu buriya ing satindake lan embunan tumetesing banyu janjam, mesthi slameta langgeng ing salawas-lawas…mung iki piweling ingsun marang sira kulup, poma den estokna.

(jika kalian sudah bertemu (calon SP), jangan sampai kalian terlena, ikutilah jejak langkahnya, pasti selamat, abadi selamanya…hanya ini pesan ku kepada kalian semua, maka patuhilah)

Jangka Jayabaya, pethikan serat tangan

Bilih sampun wonten tandha-tandha ingkang sampun celak rawuhipun calon Ratu Adil;

(Tanda-tanda kehadiran Ratu Adil sudah dekat:

Padha kaping 1

Besuk ing jaman akhir, sawise jaman hadi, ratu Adil Imam mahdi saka tanah Arab meh rawuh, tengarane tatanduran suda pametune, para pandhita kurang sabare, ratu kurang adile, wong wadon ilang wirange, akeh wong padu lan padha goroh, akeh wong cilik dadi priyayi, wong ngelmu kurang lakune lan nganeh-anehi.

(Kelak, pada saat Ratu Adil “imam mahdi” (pemimpin umat manusia) “dari tanah arab” (semacam kiasan: orang asli Indonesia tetapi kebetulan beragama Islam) sudah hampir tiba waktunya, tanda-tandanya adalah; tanaman berkurang hasilnya, para pemuka agama kehilangan watak sabarnya, pemimpin kurang rasa keadilannya, perempuan kehilangan rasa malu, banyak orang bertengkar dan berbohong, banyak orang kecil menjadi priyayi, orang berilmu kurang pengamalannya dan tindak-tanduknya janggal/aneh.

Dene yen rawuhe ratu Adil wis cedhak banget, ana tengarane maneh:

Tanda-tanda jika datangnya Ratu Adil sudah dekat sekali;

1) yen sasi sura ana tundhan dhemit.

(bulan sura ini terjadi pada sekitar Januari-Februari 2007, sebagai bulan sura duraka, di tahun kalabendu; maka banyak musibah dan kecelakaan mengerikan baik di udara, darat, laut (kereta, pesawat, kapal laut, bus, kendaraan)

2) srengenge salah mangsa mletheke.

(awal 2007 matahari terbit setelah jam 06.00 wib; seharusnya terbit mulai jam 05.30 wib)

3) rembulan ireng rupane

(dibarengi dengan kejadian gerhana bulan berturut-turut selama tiga hari, di tiga lokasi wilayah nusantara).

4) banyu abang rupane.

(awal bulan februari 2007 hampir diseluruh  wilayah Indonesia terjadi banjir, airnya keruh berwarna coklat kemerahan, lamanya sekitar 3-5 hari)

Tengara iki telung dina lawase, yen wis ana tengara mangkono, kabeh wong bakal ditakoni, sing ora bisa mangsuli bakal dadi pakane dhemit, sebab ratu adil mau rawuhe anggawa bala jim, setan lan seluman pirang-pirang tanpa wilangan.

(tengara ini 3 hari lamanya, bila sudah terdapat tengara itu, mulai memasuki zaman di mana semua orang akan ditanyai, yang tidak bisa menjawab bakal menjadi makanan makhluk halus, sebab ratu Adil kedatangannya membawa berjuta malaikat, jin dan makhluk halus (siluman) banyak tak terhitung.

Keterangan; semua orang “ditanyai”; dalam arti disodorkan dua pilihan, ingin jalan yang baik dengan mengikuti langkah RA atau memilih jalan kegelapan dengan menentang RA. Yang tidak bisa menjawab, berarti termasuk orang-orang menentang kedatangan RA utusan Tuhan. RA dibimbing dan dituntun (jangkung dan jampangi) berjuta leluhur bumi nusantara (mayuta malekat), sedangkan orang-orang yang melawan RA akan mendapatkan celaka sebagai hukuman tuhan.

Padha kaping 2

Dene pitakone lan wangsulane mangkene;

(Pertanyaan dan jawabannya sebagai berikut)

asalmu saka ngendi = saking kodratulah,

yen bali apa sangumu = sahadat iman tokid makripat islam,

apa kowe weruh aranku = Gusti Ratu Adil Idayatullah,

apa agamamu = sabar darana,

apa kowe weruh bapakku = Gusti ratu adil Idayat Sengara,

apa kowe weruh ing ngendi panggonanku dilairake = Kalahirake Hyang Wuhud wonten sangandhaping cemara pethak.

Keterangan: ratu adil imam mahdi dari tanah arab maksudnya, pemimpin umat manusia di bumi nusantara yang bersifat universal, kebetulan sebagai pemeluk Islam. “berbaju” Islam tetapi memperoleh “makrifat” seluruh agama di bumi.

Dari mana asalmu ? Jawab; atas kehendak Gusti Hyang Jagadnata. Ratu adil lahir di bumi nusantara,  sudah menjadi kehendak Tuhan. Jika ‘pulang’ mempertanggungjawabkan tugas manusia sebagai utusan Tuhan, bekalnya adalah ikrar janji dan menepati janjinya, sebagai manusia yang menggapai makrifat. Kesaksian bahwa Ratu Adil membawa amanat bagi kebahagiaan seluruh rakyat melalui ilmu makrifat yang  universal melampaui semua agama, suku, ras, golongan.

Apa kamu tahu namaku? Jawab; gusti Ratu Adil pembawa petunjuk dari Tuhan.

Apa agamamu? Jawab; kesabaran yang seluas samudera.

Apa kamu tahu bapakku? Jawab; gusti Ratu Adil Idayah Sengara, orang selalu mengutamakan keadilan dan keluhuran budi pekerti, dan hidupnya berada selalu dalam ‘laku prihatin’.

Apa kamu tahu dimana aku dilahirkan? Jawab; Dilahirkan oleh Hyang Wuhud, di bawahnya pohon cemara putih.

Maknanya; dilahirkan oleh seorang ibu yang berbudi pekerti amat luhur, suci hatinya, bersih lahir batinnya, cerdas pikirannya. Lahir di bawah (pohon) cemara putih, artinya RA dilahirkan dari rahim seorang ibu yang rambutnya sudah mempunyai uban, atau seorang ibu (yang secara teori), sudah tak mungkin bisa melahirkan anak.

Jangka Jayabaya

Salebare Raja Kuning

Babon asli kagungan Dalem

Bandara Pangeran Harya Suryawijaya

ing Ngayugyakarta

padha kaping 16

Ana ratu kinuya-kuya, mungsuhe njaba njero, ibarate endhog ngapit sela, gampang pecahe, nanging rineksa Hyang Suksma, mungsuhe kaweleh-weleh,

(ada ratu yang teraniaya, musuhnya luar dalam, ibarat telur terhimpit batu, mudah pecah, tetapi selalu dijaga keselamatannya oleh Tuhan, sehingga musuhnya menanggung malu sendiri)

ratu mau banget teguhe kinuya-kuya ora rinasa, malah weh suka raharja, kaesa mbelani negara sigar semangka, ambeg utama tan duwe pamrih, mung netepi kasatriyane, tambal bandha mau, mung ngengeti kawukane,

(ratu tadi sangat tabah teraniaya tidak dirasakannya, sebaliknya memberikan kesejahteraan kepada yang menganiaya, demi membela negara secara adil seperti membelah semangka, budi pekertinya yang sungguh mulia tidak memiliki pamrih, hanya memenuhi tanggungjawabnya sebagai kesatria (kodratulah), bersedia mengeluarkan hartanya karena ingat sejatinya tugas dan tanggungjawab manusia lahir ke dunia (sangkan paraning dumadi).

ratu mau putrane mbok randha kasiyan, kawelas arsa wit timur mial, sinuyudan mring pra kawula,

(ratu tadi putranya ibu yang (lama) menjanda dan selalu prihatin dan teraniaya, namun penuh belas kasih sejak usia muda, sehingga sangat disayangi dan hormati oleh banyak orang)

ratu mau ijih sinengker Hyang Widhi, mapan samadyaning rananggana, sajroning babaya, minangka tapa bratane, kesampar kesandhung nora kawruhan, kajaba wong kang wis kabuka rasane, meruhi mas tulen lan kang palsu, ing kono katon banyu sinaring, wong becik ketitik ala ketara, wong palsu mecucu.

(ratu tadi masih disembunyikan oleh Tuhan, bertempat di dalam wahana rahasia Tuhan, di antara berbagai marabahaya, sebagai wujud tapa brata-nya, dianggap remeh dan tidak disangka oleh banyak orang, kecuali orang yang sudah terbuka rasanya, mampu mengetahui mana emas tulen dengan yang palsu, kebenaran ibarat air yang tersaring, orang baik akan tampak baiknya, orang jahat akan  terlihat jahatnya)

Begjane wong sing padha eling, cilakane kang padha lali. Sing sapa krasa lan rumangsa, bakal antuk kamulyan lan karaharjan.

(beruntung bagi orang yang selalu ingat, celaka bagi yang lupa diri. Barang siapa yang dapat mawas diri, tahu diri, bakal mendapatkan kemuliaan dan kebahagiaan)

pada kaping 17

nuli ana ratu kembaran atismak bathok,

(kemudian ada ratu yang lahir bersama-sama saudara kembarnya,(atismak bathok = senajan melorok ora ndelok artinya walaupun orang bertatapan atau bertemu langsung, tetapi tidak menyadari bahwa dialah sesungguhnya calon RA dan saudara-saudara kembarnya)

dhepe-dhepe marang wong pidak pedarakan,

(Menjadi anak yang berlindung kepada bapaknya dari kalangan rakyat biasa)

nagara dadi siji, pinilih endi kang asih

(negara bersatu dalam kesatuan, akan terseleksi siapa yang mencintai negara)

pada kaping 19

ahire Pangeran anitahake, ratu adil imam mahdi, iya putrane mbok randha kasiyan, kang kesampar kesandhung, durung kinawruhan, ijih sinengker Hyang Widhi.

(akhirnya Tuhan mengutus, ratu adil imam mahdi, yakni putranya “mbok randa kasiyan” yang terlunta, belum terungkap jati dirinya, masih dirahasiakan Tuhan)

Keterangan: akhirnya Tuhan mencipta dan mengutus ratu adil sebagai pemimpin yang membawa amanat untuk membenahi kerusakan dahsyat bumi nusantara akibat bencana kemanusian dan bencana alam,

Ia adalah putrinya seorang ibu yang hidupnya selalu dalam lara lapa (penderitaan batin) tetapi banyak dikasihi orang dan menjadi tempat berlindung orang-orang yang lemah dan menderita. Seorang ibu yang hidup lama menyendiri seperti ‘menjanda’ karena perjuangan hidupnya sebagai single parrent dan single fighter, dalam kurun waktu lama puluhan tahun, kemudian bertemu laki-laki yang menjadi jodoh sejatinya (garwa), juga calon ayah sang ratu adil. Tetapi di mana mereka sekarang tidak banyak diketahui orang keberadaanya, karena masih tengah ‘menyamar’, dan dalam ‘persembunyian’ di dalam perlindungan Tuhan.

Hanya orang-orang yang beruntung, juga orang-orang linuwih yang memiliki kawaskitan sangat tinggi yang dapat mengetahui sejatinya siapa ‘mbok rondo kasiyan’, bapaknya, dan calon ratu adil, dan di mana keberadaannya pada saat ini.

pada kaping 20

Ratu iku asikep mbelani bangsa tansah ana samadyaning ranggana, nanging setengah ijih dadi buburon, marga dicurigani dening jaba jero,

luwih-luwih para pidak pedarakan sebab yen iku katon bakal mbabarake sakehing lalakon kang oran bener,

temah ora bisa kakeeh utawa aji mumpung, Karsa Gusti Kang Akarya Jagad wus cedak titimangsane,

arep binabar kanggo mlerat sakehing piala kang rumangsuk samungsa Jawa.

Babare (lahirnya) ratu iki mawa gara-gara sindhung riwut karawati ngakaka,

kilat thatit liliweran bledeg ngampar-ampar, kasusul panjebluging gunung Tidhar,

sasideming gara-gara, ing jagad padhang sumilak, pangeran paring pangapura, kang pepulasan melecet pulase, katon sawantahe, kang emas katon emas, kang timah katon timah, satriyo katon satriyo, kere katon kere, kang ala ketara, kang becik ketitik, kang salah seleh, rawe-rawe rantas, malang-malang putung.

Ratu mau ambleg utama, lumuh bandha, dahare mung sajung, marga saking welas asih mring kawula.

Julukane imam mahdi iya Kalana jayeng palugon, akedhaton ing grjiwati, tengah-tengahing bumi Mataram,

saiki kasangsaya lagi tarakbrata anglindhung mring pra kawula, entenana den saranta kalayan madhep Hyang Suksma.

Dene rawuhe Ratu Adil iku saka lor kulon, mulih mring pakuwone, ing kono mulyaning Nungsa Jawa, harja Kreta tan ana sakara-kara.

Mohon maaf; Silahkan anda telaah sendiri!

Kapan lahirnya calon ratu adil dapat dipahami dari tanda-tanda kehadiran kembali Sabdapalon-Noyogenggong. Sebab tugas Sabdapalon-Nayagenggong kembali hadir di bumi nusantara adalah dalam rangka mendampingi dan momong sejak Ratu Adil lahir dari rahim ibunya. Jika dilihat  tanda-tandanya maka pada saat ini sudah dekat kelahiran sang ratu adil;

Jangka Jayabaya

Sabda Gaib

KPH Suryanegara ing Ngayugyakarta

SINOM

1. Sesotyaning tanah Jawa. Oncat embananeki, owahing kang tata cara, golongan patang prakawis, aluluh dadi siji angrasuk kasudranipun, nagara tanpa tata, mung ngluru kasil pribadi, tingalira tumuju salak rukma.

2. Kusuma taruna tama, mbeg suci ngupala wening, linawuran dening Gusti Sang Jagadnata wus mantun denya piningit, kinen anyapih sami, kang samya gung perang pupuh, lan nyirnaken durmala, mamalaning Nungsa Jawi, gya tumindak nglakoni pakoning Gusti Sang Jagadnata.

3. Ngrabaseng prang mung priyangga, prasasat tan ngadu jalmi prajurite mung sirolah (baca;sirullah), tutunggaleng langgeng eling, parandene kang san ara mangsah kabarubuh, duhaka tutumpesan, tan lami pan sirep sami, ginantyaning ing jaman kreta raharja.

4. Pan wus ilang malaningrat, sinalin tulusing becik, lire murah sandang tedha, durwiala, dursila enting, enak atine sami, wong Jawa sadayanipun, sawusnya tentram samya, neng gih Sang Satriya Suci, pan jinunjung wong ngakathah madeg nata.

5. Ambawani tanah Jawa, julukira Narpati, Kanjeng Sultan Herucakra, ugi kangjeng Ratu Adil, kawentar asmaneki, tekeng tanah Sabrang kemput, tuhu musthikeng jana, nyata kekasihing Widhi, mila tansah pinuji mring wong sajagad.

6. Duh sanggyaning sanakingwang, mangga sami den titeni, dora tanapi temenya, ujare wirayat gaib, mugi saget netesi, yeku pitulungan agung, nging kedah sawi srana, sranane tobat mring Widhi, tobatira mung suci manah raharja.

7. Wirayat gaib kang weca, yekti nora cidra pasti, rawuhaw Sri Herucakra, lamun para pamugari, kang ngasta pusaraning, Tanah Jawa sami emut, marang para kawula, nanging yen katungkul sami salah wengweng rerebatan mas salaka.

8. Yen mangkono pasti gila, Herucakra Ratu Adil, nora teka malah lunga, sarwi nabda nyupatani, dhuh Gusti mugi-mugi, maringi enget pukulan, mring pra manggaleng praja, suci jujur eka kapti, yen mangkono Ratu Adil enggal prapta.

Jangka Jayabaya ‘Sabdapalon’

Babon asli Kagungan Dalem

Bandara Pangeran Harya Suryanegara

ing Ngayugyakarta

Sinom

pada kaping 5

…….pratanda tembayan mami, Hardi Merapi yen wus njeblug mili lahar

(…pertanda kadatanganku, Gunung Merapi bila telah meletus keluar lahar)

pada kaping 6

ngidul ngetan purug ira, ngganda banger ingkang warih, manggih punika medal kula, wus nyebar gama budi, Merapi jangji mami, anggereng jagad satuhun Rarsanireng jawata, sadaya gilir gumanti, mboten kenging kalamunta kaewahan.

(ke tenggara arahnya, berbau busuk airnya, itulah tanda kedatanganku, sudah mulai menyebar ajaran budi pekerti luhur, Merapi adalah janjiku, bumi bergemuruh menjadi hukuman Tuhan, semua bergilir silih berganti, tidak dapat dipungkiri dan dirubah lagi)

Keterangan: Tahun 2007 merapi sudah meletus ke arah tenggara (selatan-timur) yakni ke arah kali Kuning, laharnya menimbun sungai terbawa air hujan menyusuri sungai tanggung (tidak besar tidak kecil), memisahkan tanah antara Kraton Yogya dan Solo, dan di pertengahan 2007 lahar dingin merapi telah sampai di pesisir selatan masuk kedalam lautan. Peristiwa ini baru terjadi sekali pada tahun 2007.

Kawah Gunung Merapi
Saat meletus dahsyat 7 Juni 2006 atau seminggu setelah gempa Jogja. Tampak kawah sudah jebol ke arah tenggara. Baru kali ini terjadi fenomena seperti itu. (+- 500 tahun setelah Sabdapalon Nayagenggong muksa)

merapi4

Ngidul Ngetan (Tenggara) purug ira

dadi kali Tanggung nami

merapi5

Jangka Jayabaya,

Pethikan Serat Tangan

Pangkur

1. Sekar pangkur ginupito, wonten resi saking ing ngatas angin, ngajawi njujug ing gunung, kondhang tanah Ngayugya, asung weca yen hardi Merapi njeblug, benjing pecah hardi sigal, dadi kali Tanggung nami

(Tembang pangkur berkumandang, ada lah resi turun dari atas angin, keluar menuju ke gunung, sehingga tersohor tanah Jogjakarta, memberi tanda bahwa gunung Merapi meletus, besok akan terbelah gunungnya, kemudian menjadi sungai Tanggung (baca; sungai sedang)namanya.

2. Ngayugyakarta kalawan Sala, dadya pisah datan atunggal siti, sinela kali Tanggung, ilining ponang tirta, langkung banter anjog ing seganten kidul, para dhemit gegeran, wadyane sang Ratu Dewi

3. Jeng Ratu Kidul punika, lan para dhemit darat amor lan jalmi, sarengan lindu ping pitu, obah bumi prakempa, gara-gara gonjang-ganjing agumuruh, gunung kendheng lorot gempal udan awu wah kerikil.

(nomer 2&3: Jogjakarta dan Solo, menjadi pisah daratan, dipisah oleh sungau Tanggung, mengalirnya air lebih kencang memasuki laut selatan, sehingga membuat para makhluk halus geger, yakni rakyatnya sang Ratu Dewi Kanjeng Ratu Kidul, dan para makhluk halus pergi ke daratan bercampur aduk dengan manusia, bersamaan dengan terjadinya gempa sehari tujuh kali, bumi berguncang, gogo-goro gonjang ganjing bergemuruh di mana-mana, gunung merapi longsor, hujan abu dan kerikil)

Keterangan: menunjuk peristiwa 13 Mei dan 27 Mei 2006 di Yogyakarta.

4. Caleret tahun ngregancang, kilat tathit kukuwung obar-abir, rakarta pindahipun, tan kenging yen dinuwa, apen sampun pepesthi nira Hyang Agung, yeku negri Surakarta, karatone benjing angadeg

5. Kacrita wonten bengawan, pan ing wara ketangga manggih mukti, suli wirayat wau, longsor pecahing harga, ingkang tirta amili awor lan lendhut, lan rawa pening Bahrawa, mubal geni keh jalma

(…(geger boyo/glacap gunung Merapi) longsor karena pecahnya gunung (Merapi), muncul air yang mengalir bercampur lumpur, dan Rawapening di Ambarawa berkobar api,

6. Sinareng ing tanah Jawa, nuli wonten penyakit andhatengi, lamon triwulan iku, satanah Jawa wrata, pra kawula sami giris manahipun, kataman bebenduning Hyang, nyarengi mangsa paceklik.

(bersamaan di tanah Jawa, muncul berbagai macam penyakit, dalam tiga bulan itu, tanah Jawa rata, orang-orang kecil sangat ketakutan, terkena hukuman Tuhan, bersamaan dengan musim paceklik)

7. Jumenengira Narendra, kalamrecu candrane srinarpati, kalasesatihipun, ngalamat praja rengka, nagri pindah akathah bot reipun, kawulane saya ndadra, ing prakarti kan tan yukti

8. Kawastanan jaman edan, kathah jaman nglampahi sungsang balik taman ing kalabendu, mukarda ngambra-ambra para ambleg sarjan kontit kasingkur, kasor hardaning angkara murka candhalaning.

(Disebut sebagai zaman edan, zaman yang serba terbalik, terkena hukuman Tuhan,

9. Wong agung reren mbehahak, marang raja branartane wong cilik, lang tabete budyayu, kisruh adiling praja, pra kawula sami andhang pakewuh, wuwuh-wuwuh tanpa mendha, pinupu pajeg mas picis

10. Kathah solahing kawula, kukumpulan arsa ngupaya budi, nanging tawur-tawur tinalen ing pepacak, dening praja ingkang ngasta kum apus, kang tan welas mring kawula, ratu nakoda mbeg juti

11. Puniku pinanggihira, nanging wuri badhe atimbul malih, angsa tulung Hyang Agung, wangsul wahyu nurbuwat, tanah Jawa pulih di duk rumuhun, Majapahit du ing kina, nagri mandhiri pribadi.

(Ini pendapatku, tetapi kelak akan muncul lagi, sudah menjadi kehendak Illahi, kembalinya wahyu nurbuat, nusantara kembali seperti zaman dahulu, seperti waktu kejayaan Majapahit, negeri yang mandiri secara pribadi.

12. Gemah ripah harja kreta, tata tentrem ing salami-lami, ilang kang samya laku dur, murah sandang lan boga, kang hamangkuasih mring kawulanipun, lumintu salining dana, sahasta pajeg saripis.

(kemakmuran melimpah ruah, langgeng, tertib tenteram selamanya, hilang lah kedurjanaan, murah sandang pangan, pemimpin yang penuh tanggungjawab dan kasih sayang kepada rakyatnya, selalu tidak kekurangan uang, ibaratnya tanah satu hektar pajaknya satu rupiah.

13. Siti sajung mung sareal, tanpa ubarampe sanese malih, antinen bae meh rawuh, mulyaning tanah Jawa, awit saking tan karegon liyanipun, nakoda wus tan kuwasa, pulih asal mung gagrami.

Kelak, tanah yang sangat luas pajaknya hanya satu real, tidak ada tambahan pajak lainnya, tunggulah saja (Ratu Adil)hampir tiba saatnya kemuliaan untuk nusantara,

Piweling (Peringatan)

Nuli ana janget ing ngatelon, nalika iku Jawa kari separo, walanda kari loro, sedulur ilang kangene, wong lanang ninggal lanange, wong wadhon ilang wirange, saenggon-enggon akeh ratu apung gawane pating belasak, wong nonoman akeh kang dadi mantri Bupati lan punggawane.

…kelak di kemudian hari, Jawa tinggal separo, belanda tinggal dua, saudara kehilangan rasa rindunya, laki-laki meninggalkan sifat kelelakiannya, perempuan tidak punya rasa malu lagi, di mana-mana banyak ditemukan pemimpin palsu, kerjaannya tidak karuan, anak muda-mudi banyak yang menjadi pejabat.

Sajabane tanah Jawa ana perang gedhe, saenggon-enggon ana pailan, pageblug, rupa-rupa sangsarane, bebaya warna-warna, wong-wong padha mangan watu, mangan wedhi, omben-omben peresan blonthong, wong wadhon akeh kang kolu endhonge dhewe, amarga saka rusuhe wong lanang wadon akeh kang ketaman lelara bubrah paribasane jaman edan, yen ora ngedan samar yen ora keduman, mangkono wong kang ora duwe iman.

Di luar Jawa ada peperangan (konflik) besar, di mana-mana terjadi kejahatan dan pembunuhan, beraneka ragam kesengsaraan dan marabahaya, orang-orang pada makan batu, makan pasir, minum tirisan busuk, perempuan tega makan rahimnya sendiri, sebab saking rusuhnya laki-laki perempuan banyak terserang penyakit rusak, ibaratnya zaman gila, jika tidak ikut gila maka tidak akan kebagian, tetapi yang seperti itu orang tidak memiliki iman.

Nanging piweling ingsun, diawas dieling, jejegna imanira, turuten gustinira ratu adil panetep panata gama. Golekana gegamane sing nganti ketemu, turuten dalane, ngetutburia saparane, lumebuwa oparibasaning wadya balane, ora suwe bakal katon tanda tandhane rawuhing ratunira ngagem kamulyan gedhe, rawuhe liar kilat kairingake bala “malekat” mayuta-yuta cacahe, ngadeg payunge kuning, tegese bang-bang wetan karepe, wus ndungkap paletheking papadhang.

Tetapi pesanku, waspadalah dan ingatlah, tegakkan iman mu, jadilah pengikut Ratu Adil penegak kebenaran. Carilah ‘senjatanya’ (trisula wedha; tentang budi pekerti luhur) sampai ketemu, ikuti jalannya kemanapun perginya, jadilah, ibaratnya sebagai pasukannya Ratu Adil, tidak lama akan tampak tanda tanda datangnya ratumu yang mendapat kemuliaan agung, datangnya tiba-tiba secepat kilat, diiringi berjuta-juta “malaikat” (berjuta leluhur bumi nusantara), berdiri dengan payung kuning (kebenaran sejati), maknanya ‘bang-bang’ timur keinginannya (gerakan dari wilayah timur nusantara), maka terbitlah sinar yang terang.

Umbul-umbule alaras bendera pare anom, yaiku tandhane pangeran pati, denen titihane jaran napas, cumathine penjalin tinggal, jemparinge tekad suci kang mingis-mingis pucuke, mubyar-mubyar pamore, kakedher kendhenge, membat-membat gandhewane, lang ilang nalika iku kulup, kocapo ing kono banjur ana perang kang luwih gedhe, marga saka gedhene, gandarwa, thethekan, ilu-ilu, banaspati, sakehing iblis, jajalanat kabeh, padha buyar sar-saran padha ngungsi, saenggon-enggon mamangan wong padha ora sumurup marang ratu adil panata gama.

…umbul-umbul ditingkahi ‘bendera pare anom’ itulah pertanda pangeran pati, tunggangannya kuda nafas, cambuknya tunggak rotan, membawa panah berupa tekad suci yang sangat tajam ujungnya, sangat elok kharismanya, sangat berwibawa wajahnya, lengannya rampng tetapi amat kokoh, …

…ada perang yang lebih besar, saking besarnya, makhluk halus genderuwo, hantu, jin, berbagai macam iblis laknat, semua buyar lari tunggang langgang menyingkir, di sembarang tempat makan korban orang-orang yang tidak peduli dan tidak mengerti kepada Ratu Adil petunjuk kebenaran.

……………………………..ora antara lawas tumuli rawuh (ratu adil) jumeneng angratoni jagad rating kono, sawah sajung pajege mung sedinar, denen panggaweyan negara bakal padha ora anan, awit wong akeh kaperdi sembahyang marang Gusti Hyang Widhi bae. sarta memuji saben dina tanpa kendat.

…tidak berapa lama segera datang Ratu Adil duduk menjadi pemimpin dan suri tauladan di wilayah tersebut, sehingga menjadi makmur diibaratkan sawah yang sangat luas pajaknya sangat kecil, diibaratkan tidak ada lagi yang harus dilakukan negara, sebab saking adil makmurnya nusantara, ibaratnya kegiatan orang-orang tinggal terfokus untuk sembahyang kepada Tuhan saja, serta memanjatkan puji-pujian tanpa henti.

…………………………….iku kang ambuka agama kang samar-samar nanging sira do awas den eling, awit sadurunge ratu adil rawuh, ing tanah Jawa ana setan mindha menungsa rewa-rewa anggawa agama, dudukuh ana ing glasah wangi, dadine manungsa banjur padha salin tatane, satemah ana ilang papadhange, awit padha ninggal sarengate, dadi kapiran wiwit cilik mula.

…itu yang membuka mata hati manusia yang memaknai agama secara tidak karuan, tetapi kalian harus waspada dan selalu ingat, sebab sebelum Ratu Adil datang, di tanah Jawa ada setan berkedok manusia berbulu lebat seolah sebagai penegak agama, bertempat tinggal di ‘glasah wangi’, sehingga mengakibatkan manusia berganti tatanan, berakibat hilangnya petunjuk dan tatakrama kehidupan, sebab banyak orang meninggalkan syariat (sebelumya), sehingga menjadi terlantar hidupnya sejak kecil.

Keterangan; menungsa rewa-rewa anggawa agama maksudnya manusia dengan wajah penuh ditumbuhi bulu-bulu menyeramkan yang (mengaku-aku) sebagai penegak dan pembela agama. Tetapi perilakunya justru sebaliknya tidak simpatik, tidak tampak aura kasih sayang sesama manusia, dapat diumpamakan menyerupai karakter ‘setan’ yang membawa kerusakan di mana-mana, kerusakan baik lahir/fisik maupun kerusakan batin (fanatisme), pikiran (irrasional, egois (negative thinking) dan kerusakan hati, menjadi penuh dengan kedengkian dan nafsu angkara murka.

Wirayat Gaib;

Sastrajendra Hayuning-Rat (ilmu linuwih, ilmu tertinggi, sumber dari segala ilmu). Ilmu yang dapat dicapai siapapun, yang dapat menyatukan hakikatnya sebagai mahluk Tuhan dengan dzat Sang Khaliq.  Sastrajendra adalah Makrifat dari Tuhan yang kita peroleh setelah berhasil ‘manunggal ing kawula-gusti’.

Jika Gusti Sang Jagadnata sudah menghendaki, kelak akan lahir pada pertengahan atau akhir tahun tinarbuka, pada saat Nusantara dipimpin oleh seorang Satria Pambukaning Gapura), bila mana adalah seorang ibu yang rambutnya telah beruban tetapi melahirkan bayi triplet, dua laki-laki, dan satu perempuan. Bayi perempuan lahir dengan tangan kanannya menggenggam keris kecil (jawa;cundrik), tangan kiri menggenggam berlian, mungkin telah tiba saatnya, bagi beliau calon Ratu Adil imam mahdi menjadi pusaraning adil uga kamukten (mukti). Ibunya dari keturunan raja-raja besar sakti mandraguna, dan ayahnya tan kena kinira, tak ubahnya wong cilik. Calon RA akan lahir di tengah bumi Mataram, mungkin berada di sekitar wilayah keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Kelak pada saat kelahiran calon RA akan diiringi aktivitas vulkanik gunung-gunung berapi yang serempak menyemburkan isi bumi, gempa bumi menghentak mengguncang bumi Nusantara, air laut pasang menghantam daratan, bukit kecil Tidar di kota Magelang sebagai pusat gravitasi pulau Jawa (puser bumi) mengejutan masyarakat dengan aktivitas-anehnya mengeluarkan semburan dari dalam bumi, berbarengan dengan peristiwa itu danau bernama Rawapening di pinggiran kota Ambarawa mengejutkan publik dengan berkobarnya api besar dari dalam bumi(mubal geni). Guntur, kilat menyambar-nyambar mengiringi kelahiran calon RA. Badai menyapu daratan, dan hujan lebat turun mengguyur bumi. Namun semua tidak akan mencelakai manusia sebab fenomena alam tersebut sebagai pertanda bahwa alam turut bersyukur atas lahirnya bayi Ratu Adil, yang serta merta lahir bersama dua bayi laki-laki calon aset besar bumi nusantara. Segera setelah itu, langit tampak byar padhang sumilak. Semua itu merupakan perilaku alam dalam menyambut anugrah Sang Jagadnata bagi bumi Nusantara.

Sekar kinanti karya Gusti MN IV tersirat;

jebeng…canggahku, Anjasmoro, besuk ingsun bakal titip getih kang edi peni kang bakal jumeneng ratu ing tanah Jawa. Genepono lakumu telung padha (tiga langkah –3 tahun– untuk laku prihatin yg amat sangat berat) kanggo njangkepi tapa brata mu, ojo parang tumulih, supaya antuk pitulungan saking ngarsaning Gusti Kang Maha Wisesa. Ing mbesuk tanah Jawa nemahi gemah ripah loh jinawi adil makmur tata titi tentrem kertaraharja dadi keblating dunyo.

Cucu ku, Anjasmoro, kelak aku akan titip darah yang elok, yang akan menjadi ratu di tanah Jawa. Genapilah perjalanan hidupmu tiga langkah lagi, untuk memenuhi tapa bratamu, jangan ragu, supaya mendapatkan pertolongan Tuhan yang Maha Kuasa. Supaya kelak tanah Nusantara mengalami subur makmur melimpah, adil, tertib, tenteram, selamat selamanya, menjadi tolok ukur dan contoh untuk negara-negara di seluruh dunia.

Keterangan;

Telung podho maksudnya untuk melengkapi laku prihatin, supaya genap tujuh langkah (7; jawa; pitu= pitulungan; pertolongan Tuhan) yang 4 langkah adalah jumlah kaki sang ibu dan bapa yg telah lama dalam menempuh laku lara lapa, lara wirang, tapa brata, tapa ngrame, tapa mendhem, tapa ngeli.

Keterangan:

Tapa brata; mengekang semua hawa nafsu; nafsu lauwamah (hitam), amarah (merah), supiyah (kuning), untuk mencapai nafsul mutma’inah (putih).

Lara wirang; sering difitnah, dipermalukan, dihina, dicemooh

Tapa ngrame; ramai dalam bekerja (giat menolong sesama), sepi dalam pamrih (ikhlas).

Tapa mendhem; mengubur ingatannya, tidak pernah mengungkit-membangkit segala amal kebaikannya yang telah dilakukan kepada orang lain, dalam rangka hubungan dengan sesama manusia (hablum minan nas) dengan kadar keikhlasan yang mutlak.

Tapa ngeli; menghanyutkan diri ke dalam ‘aliran sungai’(kehendak Illahi) agar dapat mencapai muara dalam ‘lautan’ keberuntungan (kabegjan)

Kelak Sabdapalon dan Nayagenggong menitis sebagai Garujita dan Garumukti yg akan mengasuh kodratullah; Ratu Adil imam mahdi kalifatullah, panetep panatagama.

About SABDå

gentleman, Indonesia Raya

Posted on September 11, 2008, in Ratu Adil Semakin Dekat and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 3.730 Komentar.

  1. The best human
    san ali jabranta sitijenar sitibrit seikh abdul jalil. TAK MUDAH MEMAHAMI PERJALANAN RUHANI BELIAU..can you?

  2. Hendra Gunawan, SS

    Dear Ki Swarama ingat kisah Nabi Yunus AS yang desersi dari tugas dakwah?. Hukumannya harus lompat dari kapal laut dan ditelan ikan Paus?. Setelah tobatnya diterima oleh Allah Yang Maha Pemaaf maka Beliau dikembalikan ke kaumnya untuk berdakwah. Prediksinya bahwa kaumnya akan diazab ternyata meleset. Kita doakan saja mereka dapat hidayah!. Kalau mereka belum dapat hidayah semoga keturunannya yang dapat hidayah! Amiin. Nabi Muhammad AS pernah berdoa: Ya Allah Perkuat Islam dengan Umar Bin Khotthoob atau Umar Bin Hisyam. Ternyata Allah jadikan Umar Bin Khotthoob sebagai sahabat setianya. Manunggaling Kaulaning Gusti itu penting karena berarti bersatunya kehendak Allah dengan kehendak hamba Allah SWT. Allah suruh kita bayar zakat kalau tidak sanggup ya terima zakat. Allah suruh kita sholat kalau tidak sanggup ya disholati he he. Woullohua’lam.

  3. Hendra Gunawan, SS

    Apapun alasannya tidak etis kalau reklamasi Teluk Jakarta hanya untuk orang kaya. Moto Jakarta untuk semua tetap harus dipertahankan jangan diganti dengan moto Jakarta untuk orang kaya. Tapi kalau Jakarta dipaksa hanya untuk orang kaya maka akan bernasib sama dengan kaum Saba. Maka siap-siaplah ibukota pindah dari Jakarta ke Magelang-Kedu! Woullohua’lam.

  4. @kiswarama.
    ngapunten anda manusia tak ber akhlakul kharimah. pengakuan anda mau syiar.
    jelas menika blog ilmi Jawa.
    panjenengan nylonong kallam kallam arab.
    kalau mau syiar ada blog khusus ilmi arab.

    kuberitahu:
    ilmi Jawa ilmi manusia lama di bumi Jawa.
    bumi yang dibawah tanah banyak sungai mengalir
    bumi yang susu madu tinggal ngambil
    bumi yang buah sangata aneka ragam
    bumi yang penghuninya pria wanita berkharakter santun, ramah, berilmi allam yang luas.
    fisik anatominya bersih segar punya tatakrama , trapsusila tinggi.

    ilmi ilmi manusia itulah yang disebut ilmi Jawa.
    di bumi yang sampoerna turun ilmi Jawa.
    yang menguasai manusia manusia Jawa.

    ilmi anda ilmi Rasulullah arab.
    sesuai kharakter padang pasirnya.

    mugio njenengan punya ilmi qolbun yang inggil,
    bisa tahu maksud saya menulis ini.

    atau ku beritahu jelas saja
    :
    ilmi Jawa ilmi yang sudah tahu yang dimaksud Allah SWT.
    ILMI ARAB HANYA TAHU ISTILAH/vocabnya saja.

    ITULAH KENAPA DISINDIR ;
    ” ojo nguyahi segara ing tlatah Jawa “.

    kurang jelas ?
    ilmu arab ilmi mencari surga, kelakuan manusianya malah merusak surga.
    ilmi Jawa ilmu menjaga surga.

    anda tertawa , anda masih belum ngerti agama.
    anda malu. anda ndak usah ngotori blog ilmi jawa disini.

    • Tanah Jawa, dan dunia ini siapa yang menciptakan?
      Manusia terlalu banyak menduga-duga dan berprasangka yang dianggap sebagai petunjuk.

      Ketahuilah Agama yang lurus (Ibrahim) pada masa dan tiap negri atas kaumnya, banyak yang mendustakan, singkat kata pada masa tiap penerus utusan Tuhan untuk meluruskannya mereka dan nenek moyangnya, ada yang bisa diluruskan dan ada yang tetap ingin bengkok, disaat itulah manusia berkelompok dan menjadi beberapa golongan, dikiblat timur mereka memisahkan dirinya dengan beragama Yahudi dan Nasrani, perbedaannya ada pada kepercayaan (iman) terhadap Nabi Akhir.

      Yahudi tidak mempercayai adanya nabi Isa, mereka mengenalnya yang disebut Mesias, pengingkaran itu sampai saat ini terus berlangsung sampai sekarang dan masih menunggu kedatangan Nabi Terakhirnya.

      Nasrani mengimani Nabi Isa sebagai Yesus, namum ajarannya menyekutukan Tuhan yaitu menganggap Yesus sebagai Anak Tuhan dan dan Maryam adalah Tuhan Bunda, sehingga adanya 3 Tuhan. Dan menunggu kebangkitan nabi Terakhirnya yang tafsiran mereka akan turun di Damaskus.

      Islam diluruskan setelah Nabi Terakhir yaitu Rosul Muhammad diutus untuk membenarkan kitab-kitab sebelumnya yang telah dirubah manusia.
      Kitab Taurat Zabur dan Injil direvisi kembali dalam kitab Al Qur’an.
      Kitab universal ini sekarang bisa dibaca dengan bahasa yang dimengerti (Indonesia Jawa, Inggris China dan bahasa apapun)

      Wahyu diturunkan ditanah Arab dan Nabi sendiri lahir disana, Apakah akan masuk akal kalo Wahyu itu dalam bahasa Jawa atau China?

      Itulah Kiblat di Barat yang terakhir diperintahkan untuk kembali ke Ka’bah yang awal pondasinnya dibangun nabi Ibrahim,

      Kiblat Al Aqsa di Palestina yang dipakai semasa nabi Musa dan Isa berlaku pada masanya, itulah riwayat 2 Kiblat di Barat, dan Kiblat di Timur juga ada, yaitu semasa Khalifah Nabi Sulaiman. Masanya ada diantara Setelah nabi Musa dan Nabi Isa, yang awalnya diteruskan nabi Daud masih dibenua Arab, dan diwariskan kepada nabi Sulaiman.

      Nabi Sulaiman diberi kekuasaan bisa bepergian dengan angin, Ditafsirkan seperti Gantole (pesawat tanpa mesin) atau dan balon udara. Dan semua hewanpun tunduk, termasuk burung yang baris dalam terbangnya

      Pasukannya meliputi bangsa Jin Penyelam yang Ahli bangunan, setiap negri yang ditundukannya diajarkan Agama Ibrahim, Kisah yang diceritakan adalah penaklukan negri SABA dengan Ratunya Bilqis. Kerajaan lainnya tersebar di Asia dengan ciri kerajaan pada bangunan yang dibuat bangsa Jin.

      Namun bumi bagian Timur sepeninggal Nabi Sulaiman dengan kitab utama Taurat dan Zabur, umatnya menyimpang dengan Musrik menyembah Jin, cerita2 lokal meriwayatkan pembangunan Kuil 2 selalu dibantu bangsa Jin, Umatnya Yang menyimpang itu adalah Hindu, yang nabi2 selanjutnya tidak diceritakan dalam Qur’an namun dijelaskan, dan Karena Umat Hindu kesejahteraannya hanya untuk Kalangan Kerajaan saja dan rakyatnya menderita karena system Kasta hadirlah utusan sang Budha. Namun tidak semua manusia dapat beriman dan melakukan kebajikan. Dalam kitab 2 umat itupun dijanjikan adanya nabj Akhir.

      Tuhan dikenal di Asia sebagai Hyang, penyembahannya diperintahkan disebut SembaHyang, manusia meninggal di Sunda disebut Ngahyang (kembali pada sang pencipta) adapun kesamaan ajarannya yaitu karena memang Ajaran Ibrahim yang sama dengan masa dan wilayah yang berbeda. Zabur tertulis dalam relief Borobudur itulah bukti nyata yang ditinggalkan.

      Apakah setelah penjelasan ini disampaikan manusia masih hendak kembali kebelakang (Murtad) ? Dan Al-Qur’an itu Wahyu Tuhan yang sebenar-benarnya, atau manusia masih ingin menyimpang dengan membuat kitab yang diada-adakan?

      Milik Allah 2 Timur dan 2 Barat, dan yang diantara keduanya, kata2 ini ada dalam Al-Qur’an sebagai Kiblat umat terdahulu. Allah tidak main2 akan peringatannya, berbagaj azab diperlihatkan bagi yang beriman atau tidak dimasa sekarang, dan Azab yang paling besar adalah kiamat, dan semua mahluk dimatikan. Dan kehidupan baru akan diciptakan, Neraka untuk yang ingkar, Surga untuk yang taat, dan Janji Allah itu Pasti Terjadi.

      Ketetapan Allah diantaranya penangguhan Hukuman bagi Syetan yang menyesatkan, dan penangguhan ini berlaku juga kepada manusia yang mengikutinya dimasa setelah nabi Akhir, agar manusia diberi kesempatan untuk perbaikan dan bertobat, atau tetap ingkar.

      Ajaran ini bukan suatu paksaan, namun perlu disampaikan agar manusia kelak di akhirat tidak ada yang berkata “Tidak ada seorang pemberi peringatan datang” orang2 yang beriman mengamalkannya bukan menjadi NABI BARUi, namun mengikuti ajaran Nabi dan Rosul.

  5. paakkk
    .
    ooh..

  6. Hendra Gunawan, SS

    Benar Mbak Dewi, merubah prilaku negatif dimasyarakat harus dimulai dengan merubah perilaku diri kita sendiri dan keluarga. Selain itu kita tidak perlu menjadi Nabi kalau mau merubah prilaku negatif dimasyarakat seperti yang dicontohkan oleh Khulafaurrasyidin dan Wali Songo. Saya berdoa kepada Allah supaya Bu Risma bersedia dicalonkan sebagai Cagub DKI. Amiin. Woullohua’lam.

    • Kalo Risma menang jadi Gubernir DKI, Surabaya ditinggal dan para Germo membuka lagi Dolly dengan alasan “amanah”. Kalo Risma kalah, jadi pengangguran dong…. truuus gimana nasibnya Dolly ?

  7. JANGAN PADA RIBUT SAJA AHAHAAHA
    Dang Hyang Semar
    Selama berkeliling ke berbagai tempat di Kutha Caruban dan sekitarnya dengan didampingi Sri Mangana, sadarlah Abdul Jalil bahwa pengaruh agama Hindu dan Budha sesungguhnya tidaklah begitu kuat di Bumi Pasundan, terutama di wilayah samiddha Caruban. Sebab, apa yang disebut sebagai pemujaan terhadap dewa-dewa Hindu pada hakikatnya bukanlah pemujaan dewa-dewa dalam makna yang sesungguhnya sebagaimana yang pernah ia saksikan di negeri Hindustan. Kenyataan yang ditangkapnya justru menunjuk tentang kuatnya pemujaan terhadap arwah leluhur yang dibalut dengan nama-nama dewa Hindu dan Budha.
    Jika di kalangan ningrat berdarah biru terdapat kecenderungan mendewakan arwah leluhur dengan menyebut sang raja almarhum sebagai titisan Brahma, Wisynu, Syiwa, Syiwa-Budha, Bhattara Guru, Indra, Surya, dan dewa yang lain maka di kalangan orang kebanyakan yang tinggal di desa-desa justru tidak akrab dengan nama-nama dewata yang masyhur tersebut. Kalangan orang kebanyakan cenderung lebih akrab dengan nama leluhur mereka yang abadi dalam bentuk punden-punden dan kebuyutan-kebuyutan, yakni kuburan-kuburan leluhur yang mereka jadikan tempat pemujaan dan sesembahan.
    Kuatnya pemujaan terhadap arwah leluhur setidaknya bisa dilihat dari susunan kekuasaan yang lazim dianut di Bumi Pasundan. Seorang ratu bukanlah penguasa tertinggi. Sebab, di atas ratu masih ada dewata yang lebih berkuasa. Dan, di atas dewata ternyata masih ada hyang (leluhur yang sudah meninggal) yang lebih berkuasa. Itu sebabnya, seorang raja yang hanya bergelar ratu masih berada di bawah raja yang menggunakan gelar dewata. Gelar dewata pun masih berada di bawah gelar hyang Dengan demikian, hanya seorang maharaja saja yang boleh menggunakan gelar kebesaran dewata dan hyang.
    Kuatnya pengaruh pemujaan terhadap arwah leluhur di Bumi Pasundan sempat ditanyakan Abdul Jalil kepada Sri Mangana. Namun, Sri Mangana justru menjelaskan bahwa hal itu adalah kelaziman yang tidak hanya terjadi di Bumi Pasundan, bahkan juga di seluruh Nusa Jawa. Orang-orang Jawa, ungkap Sri Mangana, tidak ada yang benar-benar memuja dewata dalam makna yang sebenarnya sebagaimana dilakukan oleh penganut Hindu di Hindustan. Sesungguhnya, yang dipuja sebagai dewa oleh orang-orang Sunda dan Jawa di candi-candi pemujaan itu adalah abu jenasah dari raja-raja yang di atasnya diberi arca dewata.
    “Sebagaimana yang sudah engkau ketahui, Kabhumian, tempat yang disucikan di samiddha Caruban ini, sesungguhnya adalah sebuah pen-dharmaan berisi abu jenasah Bhattari Prthiwi. Di atas abu jenasah itu ditempatkan yoni keramat lambang shakti Dewa Syiwa. Di situ Bhattari Prthiwi dipuja sebagai Dewi Prthiwi, lambang shakti Wisynu.”
    “Sesungguhnya, memuja yoni sebagai shakti Wiysnu itu keliru karena yoni adalah lambang Parwati, shakti Syiwa. Tapi, aku sendiri tidak tahu sejak kapan yoni ditempatkan di situ. Yang aku tahu, menurut kakekku, yoni itu sudah ada di situ sejak zaman purwakala. Keberadaan yoni di pen-dharmaan Bhattari Prthiwi jelas merupakan ketidaktahuan para keturunannya tentang pemujaan terhadap dewa-dewa secara benar. Namun begitu, aku menduga, sangat mungkin Bhattari Prthiwi yang semula adalah pemuja Wisynu itu kemudian berbalik menjadi pemuja Syiwa Mahaguru, karena suaminya, Sri Maharaja Jayabhupati, adalah pemuja Syiwa Mahaguru. Itu sebabnya, sampai sekarang, tidak ada satu pun di antara raja-raja Sunda yang berani memindahkan yoni itu.”
    “Menurut hematku, sesungguhnya para raja Sunda yang datang untuk memuja Sang Bhumi sejatinya adalah memuja arwah leluhurnya, yakni Bhattari Prthiwi. Di Nusa Jawa demikian juga, abu jenasah Sri Prabu Krtanegara, leluhur raja-raja Majapahit, ditempatkan di Jajawi dan di atasnya ditumpangi arca Syiwa-Budha. Beliau kemudian dipuja sebagai Sang Syiwa-Budha,” jelas Sri Mangana.
    “Pendapat Ramanda Ratu bahwa Bhattari Prthiwi kemungkinan menjadi pemuja Syiwa Mahaguru memang benar. Itu sebabnya, di atas pendharmaan beliau ditempatkan yoni keramat. Jadi, seperti suaminya, Sri Maharaja Jayabhupati Wisynumurti Samarawijaya, yang ternyata menjadi pemuja Syiwa Mahaguru, Bhattari Prthiwi pun pemuja Syiwa Mahaguru.”
    Perbincangan antara Abdul Jalil dan Sri Mangana ternyata makin menusuk ke masalah yang terkait pemujaan arwah leluhur. Sekalipun Sri Mangana sudah menjelaskan tentang kenyataan yang menunjuk bahwa sesungguhnya di balik pemujaan terhadap dewa-dewa itu sejatinya adalah pemujaan terhadap arwah leluhur, dia belum bisa menjelaskan bagaimana hal itu bisa terjadi. “Sepe-ngetahuanku, para brahmana, wiku, sadhu, acarya, guru-gama, tuha-gama, dan surak-loka selalu mengajarkan tuntunan agama sesuai hukum suci Weda. Tetapi kenyataannya, pada tingkat amaliah semua itu berubah menjadi seperti yang kita lihat. Baik raja-raja Sunda maupun raja-raja Jawa hampir tidak ada yang benar-benar memuja dewa dalam makna yang sebenarnya,” ujar Sri Mangana.
    “Saya khawatir, jangan-jangan ajaran Islam pun pada akhirnya akan mengalami nasib yang sama seperti Hindu dan Budha, yaitu menjadi agama yang memuja kubur raja-raja Muslim,” ujar Abdul Jalil.
    “Tapi, jika memang itu yang harus terjadi maka kita tentu tidak bisa berbuat apa-apa.”
    Mendengar kata-kata Sri Mangana, Abdul Jalil menarik napas berat. Ia sadar bahwa persoalan naluri penghuni Nusa Jawa dan Bumi Pasundan yang cenderung memuja arwah leluhur adalah persoalan yang rumit. Itu sebabnya, ia memasrahkan urusan itu kepada Allah. Biarlah Allah yang memutuskan bagaimana yang terbaik bagi-Nya untuk dipuja dan disembah suatu bangsa, katanya dalam hati.
    Ketika Abdul Jalil dan Sri Mangana berjalan di sebuah tempat di pinggir hutan kecil yang membentang di tepi sungai, terjadi sesuatu yang mence-ngangkan. Entah bagaimana mulanya, tiba-tiba di depan mereka dalam jarak sekitar tujuh depa muncul seorang laki-laki tambun berkulit hitam legam. Kepala laki-Jaki itu ditumbuhi rambut keriting pendek berwarna putih dengan jambul di depan. Matanya bulat dan lebar. Hidungnya besar. Bibirnya tebal. Kumisnya tebal melingkar ke bawah bersambung dengan janggutnya. Selembar kain warna hitam menutupi bagian bawah tubuhnya dari batas perut hingga di atas mata kaki. Anehnya, meski laki-laki tambun itu berkulit hitam legam, pancaran daya pesona, wibawa, dan kharisma dari dirinya sangat memukau. Abdul Jalil menangkap sosok itu sebagai bayangan hitam, tetapi sekaligus sebagai benderang cahaya. Wajahnya bersinar seperti rembulan, tetapi sekaligus seperti langit gelap, tidak hidup dan tidak mati, sederhana tetapi rumit.
    Sekalipun tidak sekaget Sri Mangana yang ter-heran-heran menyaksikan kehadiran mendadak sosok tambun berkulit hitam itu, Abdul Jalil terkesima juga, terutama saat laki-laki itu menyapanya melalui al-ima, Laki-laki tambun kulit hitam itu memperkenalkan diri sebagai Dang Hyang Semar, guru loka Nusa Jawa yang hidup pada zaman purwakala.
    Perkenalan mendadak itu membuat Abdul Jalil termangu keheranan. Seingatnya, sejak ia tinggal di Padepokan Giri Amparan Jati hingga berkelana ke berbagai negeri dan kembali lagi ke Caruban Larang, belum pernah ia mendengar sesuatu tentang manusia bernama Dang Hyang Semar. Saat ia sedang termangu heran tiba-tiba Rüh al-Haqq dari kedalaman relung-relung jiwanya memberi tahu bahwa laki-laki tambun bérkulit hitam legam itu sesungguhnya adalah penampakan ruh seorang nabi dari zaman purba. Menyadari dengan siapa ia berhadap-hadapan, Abdul Jajil menjawab salam Dang Hyang Sèmar melalui al-ima’ dan menyatakan kebahagiaannya bisa bertemu dengan pesuruh Tuhan yang mulia itu.
    Ketika Abdul Jalil memberi tahu Sri Mangana tentang siapa sesungguhnya laki-laki tambun yang muncul tiba-tiba itu, Sri Mangana terkejut bukan kepalang. Sebab bagi Sri Mangana, keberadaan tokoh yang termasyhur di Nusa Jawa dan Bumi Pasundan itu memang bukan sosok yang asing. Bertemu muka dengan Dang Hyang Semar tentu merupakan pengalaman yang sulit dipercaya. Seperti digerakkan oleh kekuatan gaib yang tak terlihat mata, Sri Mangana segera bersujud menyembah ke hadapan Dang Hyang Semar. Namun betapa kecewa Sri Mangana, saat terbangun dari bersujud menyembah dia tidak mendapati lagi sosok Dang Hyang Semar di depannya.
    “Ke mana beliau tadi? Kenapa tiba-tiba beliau menghilang?” tanyanya pada Abdul Jalil.
    “Beliau tidak berkenan disembahsujudi sesama manusia dan beliau menyatakan tidak berkenan bertemu dengan Ramanda Ratu,” jelas Abdul Jalil.
    “Kenapa Dang Hyang Semar tidak berkenan bertemu aku? Apakah beliau menilai aku manusia kotor sehingga tidak layak ditemui?”
    “Beliau menyatakan kepada saya bahwa di dalam diri Ramanda Ratu masih bersemayam kekuatan kelam ilmu seratus ribu hulubalang dari Gunung Kumbha (ng). Ilmu itu pengaruh Bhairawa haus darah yang tidak beliau sukai.”
    “Astaghfirullah!” sahut Sri Mangana dengan wajah pucat. “Bagaimana beliau bisa tahu?”
    “Yang terlihat tadi adalah arwah dari Dang Hyang Semar, Ramanda Ratu. Beliau tentu lebih tahu tentang segala sesuatu yang bersifat gaib di negeri ini sejak zaman lampau sampai kini.”
    Sri Mangana duduk termangu sambil menarik napas panjang berulang-ulang. Abdul Jalil yang semula berdiri kemudian duduk bersila di samping Sri Mangana sambil memejamkan mata. Sesungguhnya, saat itu Abdul Jalil sedang berhadap-hadapan dengan ruh Dang Hyang Semar. Namun, keberadaan Dang Hyang Semar tidak terlihat oleh Sri Mangana. Melalui al-ima’ berlangsunglah perbincangan akrab antara Dang Hyang Semar dan Abdul Jalil, yang jika diurai ke dalam bahasa lisan manusia kira-kira berbunyi:
    “Sejak engkau menginjakkan kaki ke Caruban, seluruh alam gaib di Bumi Pasundan dan Nusa Jawa terguncang. Para bangsa berbadan halus, penghuni lama negeri ini meraung dan melolong kegerahan. Sesungguhnya, mereka sangat tidak menyukai kehadiranmu di sini. Namun ketahuilah, o Abdul Jalil, kehadiranmu di sini justru sedang aku nanti-nantikan.”
    “Apakah Yang Mahagaib memberi tahu paduka tentang kedatangan saya?”
    “Ya, Dia Yang Mahagaib memberitahuku tentang kehadiranmu yang akan membawa angin perubahan. Tetapi, Dia tidak memberi tahu secara jelas tentang engkau. Itu sebabnya, o Abdul Jalil, aku ingin mengetahui keberadaan dirimu, terutama tugas-tugas yang akan engkau kerjakan di sini. Ini demi kebaikanmu sendiri dalam mengemban tugas dari-Nya untuk mengembuskan angin perubahan di Nusa Jawa.”
    “Apakah yang ingin paduka ketahui tentang keberadaan saya?”
    “Perubahan apakah yang sesungguhnya akan engkau embuskan di sini?”
    “Sesungguhnya, saya tidak mengubah apalagi memperbarui apa pun. Saya hanya ingin menghidupkan tatanan kehidupan lama yang sudah pernah ditegakkan oleh barisan nabi, guru suci, para tapa, dan para bijak sejak zaman Adam a.s. hingga Muhammad Saw.. Tidak ada yang baru sama sekali dari tugas saya.”
    “Jika engkau bicara tentang barisan nabi, guru suci, para tapa, dan para bijak, tentunya apa yang akan engkau sampaikan tidak akan jauh berbeda dengan apa yang telah aku sampaikan selama ini.”
    “Tepatlah demikian, o Guru Loka Nusa Jawa, saya hanya akan menghidupkan warisan lama yang sudah ada, yaitu warisan lama yang tidak bertentangan dengan ajaran Tauhid, mengesakan Tuhan.”
    “Aku percaya akan apa yang engkau sampaikan. Tetapi, hendaknya engkau tidak mengikuti jejak pendahulumu, Syaikh Syamsuddin al-Baqir al-Farisi, yang tidak menunggu dan membimbing para pengikutnya untuk setia mengikuti ajarannya. Sehingga, hampir seluruh pengikutnya tumpas dijadikan korban pesta darah oleh para makhluk berbadan halus, penghuni purwakala negeri ini.”
    “Pesta darah penghuni purwakala negeri ini?” Abdul Jalil tiba-tiba teringat penjelasan almarhum Ario Abdillah, Adipati Palembang, “Apakah yang dimaksud pesta darah itu sama dengan yang dijelaskan oleh almarhum Yang Mulia Ario Damar tentang kegemaran bangsa jin meminum darah?”
    “Ketahuilah, o Abdul Jalil, bahwa sebelum bumi dihuni manusia,” Dang Hyang Semar memulai cerita, “bumi sudah dihuni oleh bangsa-bangsa berbadan halus. Mereka suka berperang dan menumpahkan darah. Saat manusia akan diturunkan ke bumi, para bangsa halus diusir dari permukaan bumi. Sebagian mereka menghuni samudera raya dan pulau-pulau. Sebagian lagi menghuni dasar bumi. Lalu turunlah manusia yang berkembang biak dengan sangat cepat. Tetapi seperti para penghuni bumi yang lama, manusia suka berperang dan berbuat zalim hingga menimbulkan kerusakan.”
    “Untuk menyucikan bumi, Sanghyang Taya, Tuhan, Yang Mahagaib, membinasakan manusia dengan air bah. Saat air bah besar melanda permukaan bumi dan negeriku tenggelam, aku beserta keluarga dan pengikutku naik perahu dan rakit. Jumlah seluruh rombonganku sekitar tiga ratus orang. Sesuai petunjuk Sanghyang Taya, aku mengarahkan perahu ke tengah lautan dan mendarat di sebuah pulau yang disebut Pulau Kendhang (Jawa Kuno: pulau hanyut), yang menjadi bagian dari untaian perhiasan mutiara di tengah samudera (rinengga ing jaladhi ajajawan mutyara). Saat aku dan para pengikutku mendarat di Pulau Kendhang, ternyata pulau itu sudah dihuni oleh penduduk purwakala, yaitu bangsa berbadan halus, puak-puak dari kawanan kera raksasa dan bangsa siluman.”
    “Pada awalnya, kehadiran kami ditolak baik oleh para raja dari bangsa berbadan halus itu maupun pemimpin para kera raksasa dan ratu siluman. Satu demi satu mereka berhasil aku halau dan singkirkan, meski beratus-ratus orang pengikutku meninggal akibat berbagai macam penyakit. Namun, mereka, khususnya para raja bangsa berbadan halus, terus mengganggu pengikutku. Akhirnya, setelah berselisih selama tiga ratusan tahun, aku dan para raja bangsa halus mencapai kesepakatan untuk bisa hidup berdampingan. Dalam kesepakatan itu ditetapkan lima syarat yang harus dipatuhi oleh masing-masing pihak.”
    “Pertama, bangsa manusia yang tinggal di Pulau Kendhang tidak diperbolehkan mengganggu adat kebiasaan bangsa berbadan halus, terutama adat kebiasaan menyelenggarakan perayaan pesta darah manusia. Kedua, Dang Hyang Semar menjadi guru loka bagi bangsa manusia dan bangsa berbadan halus di Pulau Kendhang. Ketiga, seluruh bangsa halus harus tunduk di bawah perintah Dang Hyang Semar. Keempat, bangsa berbadan halus tidak akan mengganggu manusia yang benar-benar memuja Sanghyang Taya sebagaimana diajarkan Dang Hyang Semar. Kelima, untuk melangsungkan tradisi pesta darah manusia, bangsa berbadan halus diperbolehkan memilih korban manusia yang tidak mengikuti atau menyimpang dari ajaran Dang Hyang Semar.”
    “Dengan kelima syarat itu, akhirnya bangsa manusia berhasil tinggal di Pulau Kendhang dan hidup berdampingan dengan bangsa berbadan halus yang telah lebih dulu menghuninya. Sebagaimana tugas utama yang kuemban dari Sanghyang Taya maka aku pun menjadi guru loka di Pulau Kendhang untuk mengajar manusia menyembah Sanghyang Taya secara benar.”
    “Siapakah yang paduka maksud dengan Sanghyang Taya?” tanya Abdul Jalil.
    “Sanghyang Taya adalah Sumber segala kejadian yang tidak bisa dilihat dengan mata, tidak bisa didengar telinga, tidak bisa diraba dengan tangan, tidak bisa dibayang-bayangkan, tidak bisa dipikir, tidak bisa dibanding-bandingkan dengan sesuatu. Dia adalah Taya (Jawa Kuno: hampa, suwung, awang-uwung). Dia tidak dilahirkan. Tidak berawal. Tidak berakhir. Tidak satu pun makhluk hidup yang bisa mengenal keberadaan-Nya yang sejati.”
    “Jika Dia, Taya, adalah Sang Hampa, yang tak diketahui dan tak dikenali,” tanya Abdul Jalil, “bagaimana manusia bisa mengenal dan menyembah-Nya?”
    “Manusia mengenal-Nya melalui pengejawantahan kekuatan dan kekuasaan-Nya di alam ini sebagai Pribadi Ilahi yang menjadi Sumber segala sumber kehidupan yang tergelar di alam semesta, yakni Pribadi Ilahi yang memiliki Nama dan Sifat sebagai pengenal keberadaan diri-Nya.”
    “Mengejawantah dalam Pribadi Ilahi apakah kekuatan dan kekuasaan Sanghyang Taya tersebut?”
    “Mengejawantah dalam Pribadi Ilahi yang disebut Tu atau To.”
    “Maksud paduka?”
    “Tu atau To adalah pengejawantahan Sanghyang Taya sebagai Pribadi Ilahi yang seeara samar-samar sudah bisa diketahui dan dikenal baik sifat maupun nama-Nya. Tu, Pribadi Ilahi, meski Tunggal, Dia memiliki dua sifat yang berbeda seibarat telapak tangan yang putih dan punggung tangan yang hitam. Yang pertama adalah sifat Tu yang baik, yaitu yang mendatangkan kebaikan, kemuliaan, kemakmuran, dan keselamatan kepada manusia. Tu itulah yang dikenal dengan nama Tu-han. Sifat Tu yang baik, yaitu Tu-han, itulah yang dikenal dengan nama Sanghyang Tunggal (Maha Esa); Satu Pribadi Ilahi yang selain memiliki nama dan sifat Tunggal juga memiliki nama dan sifat Wenang (Mahakuasa).”
    “Yang kedua adalah sifat Tu atau To yang tidak baik, yaitu yang mendatangkan kejahatan, kehinaan, kenistaan, kesesatan, dan kebinasaan. Tu itulah yang dikenal dengan nama han-Tu. Sifat Tu yang tidak baik, yaitu han-Tu, itulah yang disebut dengan nama Sanghyang Manikmaya (Jawa Kuno: Permata Khayalan). Sanghyang Manikmaya, Pribadi Ilahi yang hanya diketahui nama dan sifat-Nya itu, tak berbeda dengan Sanghyang Tunggal, yakni memiliki nama dan sifat Wenang (Mahakuasa).”
    “Berarti, Sanghyang Tunggal yang memiliki nama dan sifat Wenang adalah pengejawantahan Tu-han Yang Mahakuasa memberi petunjuk kepada makhluk-Nya, begitukah?”
    “Benarlah demikian adanya.”
    “Kemudian, Sanghyang Manikmaya yang juga memiliki nama dan sifat Wenang adalah pengejawantahan han-Tu, Yang Mahakuasa juga untuk menyesatkan makhluk-Nya, begitukah?”
    “Benarlah demikian adanya.”
    “Jika demikian, apakah memuja Sanghyang Taya melalui Sanghyang Tunggal maupun Sanghyang Manikmaya pada hakikatnya sama saja?”
    “Benarlah demikian adanya,” ujar Dang Hyang Semar. “Yang berbeda hanya jalannya saja. Jika kita memuja Sanghyang Tunggal maka kita hanya melewati satu jalan lempang di dalam menuju Sanghyang Taya (monoteis). Sebaliknya, jika kita memuja Sanghyang Manikmaya maka kita akan melewati banyak jalan untuk menuju Sanghyang Taya (politeis).”
    “Jika demikian, Sanghyang Taya yang paduka sembah adalah sama dengan sesembahan saya, yaitu Huwa, Dia, Yang Mahagaib, Yang Tak Terbandingkan dengan segala sesuatu {laisa kamitslihi syaiuri). Sedangkan yang disebut Tu adalah sama dengan Allah SWT., yaitu Dia, Pribadi Ilahi yang menjadi Pusat segala Nama, Sifat, dan Perbuatan Ilahiah (Rab al-Arbab). Yang dari-Nya terdapat Nama dan Sifat dari Rab-Rab, seperti Mahatunggal (al-Wahid), Mahakuasa (al-Qadir’), Mahasuci (al-Quddüs), Maha Memberi Petunjuk (al-Hadi), sekaligus Maha Menyesatkan (al-Mudhill), Maha Pem-binasa (al-Mumit), Maha Penyiksa (al-Muntaqim), Maha Pemberi Bahaya (‘adh-Dharr), Mahapenista (al-Khafidh)”
    “Sesungguhnya, tidak ada yang berbeda antara apa yang engkau sembah dan apa yang aku sembah. Hanya Nama Ilahiah sesembahan kita yang berbeda.”
    “Tetapi bagaimana cara memuja Tu, Pribadi Ilahi yang memiliki Nama dan Sifat Ilahiah itu, jika kenyataannya Pribadi Ilahi tersebut tidak kasatmata?” tanya Abdul Jalil.
    “Memuja dan menyembah Sanghyang Taya melalui Tu dilakukan dengan dua cara yang berbeda. Yang pertama, memuja dan menyembah Pribadi Ilahi yang disebut Sanghyang Tunggal (Tuhan) melalui sarana bantu sesuatu yang kasatmata seperti Tu-buh dan wa-Tu. Memuja dan menyembah Sanghyang Taya melalui Tu-han adalah tugas yang dibebankan Sanghyang Taya ke pundakku untuk aku ajarkan kepada manusia.”
    Yang kedua, untuk memuja dan menyembah Pribadi Ilahi yang disebut Sanghyang Manikmaya (han-Tu) dengan melalui sarana bantu berbagai benda kasatmata, seperti wa-Tu, Tu-gu, un-Tu (gigi), pin-Tu, Tu-lang, Tu-nggul (bendera), Tu-mbak, Tu-lup (sumpit), Tu-nggak (tonggak), Tu-rumbuhan (beringin), Tu-ban (air terjun), Tu-k (mata air), To-peng, To-san (pusaka), To-pong (mahkota), To-parem (baju rompi), To-wok (lembing), To-ya (air), dengan sesaji-sesaji berupa Tu-mpeng, Tu-d (bunga pisang), dan Tu-mbu (tempat sesaji dari anyaman bambu). Memuja dan menyembah Sanghyang Manikmaya adalah tugas yang dibebankan Sanghyang Taya ke pundak Sang To-gog, saudaraku, untuk diajarkan kepada manusia.”
    “Menurut ajaran yang aku sampaikan dan juga yang disampaikan oleh saudaraku To-gog, jika seorang manusia telah patuh dan setia menjalankan pemujaan dan penyembahan kepada Sanghyang Taya, baik melalui pemujaan dan penyembahan kepada Sanghyang Tunggal (Tu-han) maupun Sanghyang Manikmaya (han-Tu), maka manusia itu akan dilimpahi kekuatan dan kekuasaan yang bersifat Ilahiah oleh Sanghyang Taya. Sebab, satu jalan yang kuajarkan untuk menyembah Sanghyang Tunggal pada hakikatnya sama dengan bermacam-macam jalan yang diajarkan To-gog untuk menyembah Sanghyang Manikmaya, yakni bermuara kepada Sanghyang Taya.”
    Itu sebabnya, manusia yang sudah dilimpahi kekuatan dan kekuasaan oleh Sanghyang Taya melalui Sanghyang Tunggal maupun Sanghyang Manikmaya akan memiliki kekuatan gaib yang memancarkan kekuatan dan kekuasaan Ilahiah dari dalam dirinya. Jika kekuatan dan kekuasaan gaib pada mereka itu bersifat memberkati, melindungi, mengayomi, dan menyelamatkan disebut dengan nama Tu-ah. Sebaliknya, jika kekuatan dan kekuasaan gaib pada mereka itu bersifat menghukum, mengutuk, mendatangkan bencana, dan membinasakan disebut dengan nama Tu-lah.
    Tu-ah dan Tu-lah yang diperoleh para pemuja Sanghyang Taya itulah yang ditandai dengan kata kunci Pi (Jawa Kuno: rahasia, tersembunyi). Dengan Tu-ah dan Tu-lah itu maka segala sesuatu yang terkait dengan mereka yang sudah dilimpahi kekuatan gaib bersifat Ilahiah oleh Sanghyang Taya, gerak-gerik kehidupannya akan ditandai dengan Pi, yaitu kekuatan rahasia Ilahi yang tersembunyi; jika mereka menyebut kata ganti diri sendin, dikatakan Pi-nakahulun jika mereka berbicara dikatakan Pidato; jika mereka mendengar dikatakan Pi-harsa ; jika mereka mengajarkan suatu pengetahuan dikatakan Pi-wulang, jika mereka memberi petuah dikatakan Pi-tutur; jika mereka memberi petunjuk dan arahan dikatakan Pi-tuduh jika mereka menghukum dikatakan Pi-dana; jika mereka memancarkan kekuatan dikatakan Pi-deksa; jika mereka memberikan keteguhan kepada orang lain dikatakan Pi-andel jika mereka mengobati orang lain dikatakan jam-Pi, bahkan jika mereka sudah tua dan sering lupa dikatakan Pi-kun.
    Orang-orang yang sudah memiliki Tu-ah dan Tu lah berhak menjadi pemimpin bagi manusia yang lain. Orang-orang yang sudah dipancari kekuatan dan kekuasaan gaib Ilahiah oleh Sanghyang Taya itulah yang dijuluk dengan penuh hormat dengan sebutan Pi-nituha, Pi-nituhu, dha-Tu, dan ra-Tu. Mereka berhak memimpin manusia untuk memuja dan menyembah Sanghyang Taya. Jika meninggal, mereka tetap dianggap masih hidup dan disebut Pi-tara (arwah leluhur).
    Kalangan manusia awam (Tu-gul) meyakini bahwa mereka yang disebut golongan Tu-ha, dha-Tu, dan ra-Tu bisa dimintai bantuan untuk menyelesaikan berbagai urusan baik di dalam memuja Sanghyang Taya maupun urusan duniawi. Tu-gul lazimnya memberikan persembahkan sesaji kepada arwah leluhur mereka (Pi-taraJ dalam sebuah upacara yang disebut Pi-tapuja.; sesajinya berupa Pi-nda (kue dari bahan tepung), Pi-nang, Pi-tik (ayam), Pi-ndodakakriya (nasi dan air), dan Pi-sang.”
    “Apakah semua umat paduka yang beroleh Tuah dan Tu-lah menduduki derajat yang sama? Dan, siapakah yang dimaksud kalangan awam, yaitu Tu-gul?” tanya Abdul Jalil.
    “Tidak semua yang beroleh Tu-ah dan Tu-lah berderajat sama. Sebab, para pemuja dan penyembah Sanghyang Taya sesungguhnya terpilah menjadi empat golongan manusia.”
    “Siapa sajakah masing-masing golongan manusia itu?”
    “Golongan pertama adalah golongan Tu-tug (Jawa Kuno: sampai, sempurna), yaitu golongan orang-orang yang menyembah Sanghyang Taya secara sempurna melalui sarana Tu-buh; duduk bersila dengan tangan swadikep (Jawa Kuno: Swa : diri, keakuan; dikep. menangkap dengan telapak tangan), mengamati keberadaan tubuh, meresapi gerak-gerik tubuh, mencermati kecenderungan jiwa, menata pikiran, mengatur pernapasan, menyatukan kiblat hati dan pikiran guna mencari keakuan di dalam diri dengan meresapi dan menghayati rasa suwung’ di dalam Tu-tud (hati) yang ada pada din manusia. Mereka yang sudah mengetahui dan mengenal ‘rasa suwung’ di dalam Tu-tud adalah sama dengan mengenal Sanghyang Tunggal, yaitu Sang Suwung: Sanghyang Taya.”
    Mereka yang termasuk ke dalam golongan Tu-tug ini tidak menggunakan wa-Tu sebagai sarana bantu memuja dan menyembah Sanghyang Taya. Mereka itulah pemuja dan penyembah sejati Sanghyang Taya, Sang Hampa ‘Yang Tak Terbayangkan dan Tak Terbandingkan dengan sesuatu. Mereka itulah manusia-manusia yang sudah tidak mengenal pamrih kehidupan duniawi. Hati dan pikiran mereka hanya terarah kepada Sanghyang Taya, yang citra Ilahiah-Nya tersembunyi secara rahasia sebagai “rasa suwung” di dalam Tu-tud pada diri manusia. Itu sebabnya, jika mereka mati maka jiwa mereka akan menyatu ke dalam Kehampaan Taya yang tak terbandingkan dengan sesuatu. Mereka itulah yang dengan hormat disebut Tu-ha atau Pi-nituha, yakni pribadi-pribadi manusia suci yang memancarkan Tu-ah dan Tu-lah tanpa kehendak pribadinya. Mereka selalu menjadi sumber kecemburuan dewa-dewa. Mereka disegani sekaligus ditakuti dewa-dewa. Tetapi jumlah mereka sangat sedikit, hanya dalam hitungan jari.
    Golongan kedua adalah golongan Tu-hu (Jawa Kuno: benar, tulus, bersungguh-sungguh), yaitu golongan orang-orang yang memuja dan menyembah Sanghyang Taya melalui Pribadi Ilahi yang disebut Sanghyang Tunggal. Mereka sama seperti para Tu-tug, yaitu menggunakan sarana bantu Tu-buh; mengatur makanan, mengatur ucapan, menyatukan kiblat hati dan pikiran untuk diarahkan ke “rasa suwung” yang tersembunyi di dalam Tu-tud (hati), mengharapkan pancaran Tu-ah dan Tulah yang tersembunyi di dalam “rasa suwung” itu. Jika mereka sudah mengenal “rasa suwung” di dalam diri mereka sendiri maka mereka akan mengambil manfaat dari pengenalan tersebut.
    Meskipun golongan Tu-hu termasuk manusia yang tercèrahkan, jiwa dan pikirannya masih terpengaruh oleh pamrih-pamrih. Mereka yakin bahwa meskipun mereka harus hidup di dunia dengan sengsara dan menderita, jika mati kelak mereka berharap ditempatkan di Tayan (Jawa Kuno: surga, kayangan) untuk menikmati kelezatan hidup abadi bersama leluhur dengan dilayani para Tayawara (Jawa Kuno: bidadari). Mereka menempatkan diri sebagai perantara hubungan manusia dengan Sanghyang Tunggal. Mereka itulah yang dengan hormat disebut golongan pi-nituhu yang memancarkan Tu-ah dan Tu-lah untuk menjaga keselarasan kehidupan manusia. Dengan Tu-ah dan Tu-lah yang mereka miliki, mereka sering menentang, melawan, berperang, dan bahkan mengalahkan dewa-dewa yang menindas manusia. Mereka menjadi pemangku yang bertugas melakukan upacara suci memuja Sanghyang Tunggal. Jumlah golongan pi-nituhu lebih banyak dibandingkan dengan jumlah golongan Tu-ha.
    Golongan ketiga adalah golongan Tu-ngga (Jawa Kuno: tinggi, mulia), yaitu golongan orang-orang yang memuja dan menyembah Sanghyang Tunggal dengan menggunakan perantara bantu wa-Tu; mengatur makanan, mengatur pikiran, mengatur ucapan; mengatur tindakan, bersujud (tondhem) di hadapan wa-Tu sebagai lambang pengejawantahan Sanghyang Tunggal, mengharap pancaran Tu-ah dan Tu-lah yang tersembunyi di dalam lambang wa-Tu. Jika mereka sudah beroleh Tu-ah dan Tu-lah dari Sanghyang Tunggal lantaran memuja-Nya dengan perantaraan wa-Tu maka Tu-ah dan Tu-lah itu akan mereka manfaatkan untuk kepentingan pribadi sekaligus kepentingan orang banyak.
    Mereka adalah orang-orang, yang masih kuat terpengaruh oleh pamrih ukhrawi dan duniawi sekaligus. Mereka menggunakan dan memanfaatkan Tu-ah dan Tu-lah yang mereka peroleh dari Sanghyang Tunggal untuk memegahkan din dalam kehidupan duniawi, sekaligus berharap saat mati nanti dengan Tu-ah dznTu-lah itu mereka dapat menikmati kelezatan hidup di Tayan dilayani para Tayawara. Mereka itulah yang disebut dha-Tu atau ra-Tu.
    Tu-ah dan Tu-lah yang dimiliki para ra-Tu sesungguhnya tidak sedahsyat Tu-ah dan Tu-lah para pi-nituhu, apalagi para pi-nituha. Itu sebabnya, mereka selalu memperkuat Tu-ah dan Tu-lah dengan bantuan benda-benda bertuah yang lain seperti wa-Tu, Tu-gu, un-Tu, Tu-lang, Tu-lup, Tu-mbak, Tu-nggul, To-san, To-pong, To-peng, dan To-wok. Jumlah golongan dha-Tu atau ra-Tu lebih banyak daripada jumlah pi-nituhu.
    Golongan keempat adalah golongan Tu-gul (Jawa Kuno: bodoh, awam), yaitu kalangan orang kebanyakan yang memuja dan menyembah Sanghyang Taya dengan menggunakan sarana bantu
    berbagai benda terutama wa-Tu serta arwah para pi-nituha, pi-nituhu, dha-Tu dan ra-Tu. Mereka merupakan golongan orang-orang yang tidak mengenal Sanghyang Taya secara benar. Mereka hanya mendengar tentang Sanghyang Taya secara samar-samar. Mereka menganggap Sanghyang Taya tinggal di Tayan yang terletak di puncak gunung. Mereka hanya mendengar cerita dari mulut ke mulut bahwa di dalam wa-Tu, Tu-gu, Tu-nggul, Tu-k, Tu-rumbuhan, Tu-lang, un-Tu, Tu-lup, pin-Tu, To-peng, To-pong, To-san, dan To-wok terdapat daya sakti berupa Tu-ah dan Tu-lah dari Sanghyang Taya. Mereka bahkan meyakini bahwa di dalam benda-benda tersebut tidak sekadar terdapat daya sakti berupa Tu-ah dan Tu-lah, tetapi bersemayam pula makhluk-makhluk halus yang sewaktu-waktu bisa dimintai bantuan.
    Golongan Tu-gul ini merasa rendah diri dan tidak yakin jika mereka dapat memuja dan menyembah Sanghyang Tunggal secara benar. Itu sebabnya, mereka memuja dan menyembah Sanghyang Tunggal melalui perantaraan arwah seorang pi-nituha, pi-nituhu, ra-Tu, atau dha-Tu. Hanya saja, akibat sulitnya mengenal keberadaan seorang pi-nituhu apalagi pi-nituha maka yang lazim dipuja dan disembah oleh golongan Tu-gul adalah arwah para ra-Tu yang dirupakan dalam bentuk wa-Tu yang menjadi tanda kubur sang ra-Tu.
    Sepanjang memuja dan menyembah arwah ra-Tu melalui wa-Tu, golongan Tu-gul sesungguhnya hanya berharap agar semua kebutuhan dan keinginan mereka terhadap berbagai tuntutan kehidupan duniawi terpenuhi. Demi memenuhi keinginan duniawinya yang kuat, yang sering berlebihan dalam kerakusan dan keserakahan, mereka tidak hanya memuja dan menyembah arwah ra-Tu, tetapi mereka sering kedapatan bersedia mengikuti cara-cara pemujaan dan penyembahan yang dilakukan Sang To-gog, yakni memuja dan menyembah Sanghyang Manikmaya (han-Tu). Mereka hampir tidak peduli dengan urusan Tayan yang ukhrawi, apalagi dengan Sanghyang Taya. “Mereka itulah yang disebut dengan nama golongan Tu-tut (pengikut). Jumlah golongan Tu-tut ini adalah yang terbanyak di antara semua golongan umatku,” jelas Dang Hyang Semar.
    “Sekalipun golongan Tu-tug, Tu-hu, Tu-ngga, dan Tu-gul berbeda tingkatan dalam mengenal keberadaan Sanghyang Taya, hampir semua golongan itu tetap tidak menyimpang dari dasar-dasar ajaran-ku, yaitu meyakinkan diri bahwa Sanghyang Taya adalah kekuatan dan kekuasaan gaib yang tidak bisa dibayang-bayangkan, dipikir-pikirkan, diban-dingbandingkan, dan didekati dengan indra. Tidak ada di antara pengikutku, kecuali mereka yang sudah sangat bodoh dan sesat, beranggapan bahwa Sanghyang Taya memiliki tubuh, tangan, kaki, kepala, dan bisa berjalan-jalan seperti manusia.”
    “Sesungguhnya, hal itu tidak berbeda jauh dengan ajaran Islam yang saya anut,” ujar Abdul Jalil. “Dari sisi batiniah, di kalangan umat Islam pun terdapat tiga golongan besar, yaitu golongan ‘awam’ golongan khawash, dan golongan khawash al-khawash. Golongan khawash al-khawash dikaruniai kekuatan dan kekuasaan gaib yang disebut karamah oleh Allah SWT. Dengan karamah itu seorang khawash al-khawash dapat mendatangkan berkah (Tu-ah) dan laknat (Tu-lah).”
    “Golongan khawash dikaruniai kekuatan dan kekuasaan gaib yang disebut ma’unah oleh Allah SWT., yakni kekuatan dan kekuasaan gaib yang lebih rendah kadarnya dari karamah. Sedangkan golongan ‘awam tidak dikaruniai apa-apa, kecuali rahmat (kasih), maghfirah (pengampunan) Ilahi, dan yyafa’at dari Nabi Muhammad Saw. Golongan ‘awam ini masih terpilah lagi ke dalam dua golongan besar. Pertama, golongan !awam yaitu mereka yang sangat mencintai dunia tetapi masih mempercayai Allah SWT. dan kehidupan akhirat. Kedua, golongan ‘awam al-‘awam yaitu mereka yang benar-benar mencintai kehidupan dunia dan tidak peduli dengan urusan kehidupan akhirat apalagi dengan Yang Ilahi.
    Yang terakhir ini mungkin sama dengan kebanyakan golongan Tu-gul.”
    “Menurut saya, sama dengan para pengikut paduka, umat Islam pengikut Nabi Muhammad Saw. pun mulai dari kalangan ‘awam al-‘awam hingga khawash al-khawash, kecuali yang sudah sangat bodoh dan sesat, semua meyakini bahwa Allah SWT. tidak dapat dibayang-bayangkan, dipikir-pikir, dibanding-bandingkan, dan didekati dengan indra. Tidak ada umat Islam yang beranggapan bahwa Allah SWT. punya tubuh, tangan, kaki, kepala, dan bisa berjalan-jalan seperti manusia.”
    “Sesungguhnya, semua ajaran Kebenaran itu Satu jua Sumbernya.”
    “Tapi paduka, bagaimana membedakan ajaran paduka dengan ajaran Sang To-gog?” Abdul Jalil ingin tahu. “Bukankah To-gog juga memuja dan menyembah Sanghyang Taya melalui Sanghyang Manikmaya?”
    “Sesungguhnya, ajaranku dan ajaran Sang To-gog berasal dari Satu Sumber, yaitu Sanghyang Taya. Namun, ajaran kami dibedakan dalam kiblat pemujaan dan sesembahan. Aku berkiblat kepada Sanghyang Tunggal. To-gog berkiblat kepada Sanghyang Manikmaya. Ajaranku sangat sederhana karena hanya berupa pengarahan kiblat hati dan pikiran kepada Yang Mahagaib yang Tak Terbayangkan melalui satu jalan, yakni Sanghyang Tunggal, yang dicapai melalui sarana bantu Tu-buh dan wa-Tu.”
    “Sedangkan ajaran To-gog jauh lebih rumit karena mengikuti banyak jalan sebagai pengejawantahan Sanghyang Manikmaya. Di samping itu, ajaran Sang To-gog sangat dipenuhi dengan pamrih-pamrih duniawi dan ukhrawi. Ajaranku tidak mengenal sesaji. Ajaran Sang To-gog justru mensyaratkan penggunaan sesaji. Karena ajaran yang disampaikan Sang To-gog melewati banyak jalan di mana masing-masing jalan memiliki aturan dan pranata sendiri maka para pengikut Sang To-gog sering menemui kesulitan dalam memuja-Nya.”
    “Sejak semula sudah menjadi kehendak-Nya bahwa tugas yang aku emban memang bertentangan dengan tugas yang diemban saudaraku, Sang To-gog. Itu sebabnya, anak-anak yang membanhi-ku menunaikan tugas selalu bertentangan dengan anak-anak yang membantu tugas Sang To-gog. Sang Dhawala (Jawa Kuno: yang putih menyilaukan) adalah anakku yang menjadi pengingat bagi golongan Tu-hu tentang bagaimana sesungguhnya cara yang benar dalam menjalankan aturan pemujaan dan penyembahan terhadap Sanghyang Tunggal (Tuhan) sebagai Pribadi Ilahi melalui sarana bantu Tu-buh.”
    “Sang Udal (Jawa Kuno: yang pasrah) adalah anakku yang menjadi pengingat bagi golongan Tu-ngga tentang bagaimana sesungguhnya cara yang benar dalam mengikuti aturan memuja dan menyembah Sanghyang Tunggal melalui sarana bantu wa-Tu. Sang Astrajingga (Jawa Kuno: senjata merah menyala) adalah anakku yang menjadi pengingat bagi golongan Tu-gul agar mereka setia menaati ajaranku dengan cara mengikuti dan mematuhi ajaran {pi-ivulang), petunjuk (pi-tuduh), teladan (tu-ladha), dan wejangan {pi-tutur) dari para pi-nituha, pi-nituhu, dha-Tu, dan ra-Tu.”
    Sementara itu, Sang To-gog yang menjalankan tugas memimpin manusia untuk menyembah Sanghyang Manikmaya juga dibantu oleh tiga anaknya. Sang Bilung (Jawa Kuno: hidangan) adalah anak Sang To-gog yang mengajari manusia untuk memuja dan menyembah Sanghyang Manikmaya melalui berbagai jenis sarana bantu. Tujuan utama Sang Bilung dan pengikutnya menyembah Sanghyang Manikmaya adalah mengharap agar semua hasrat dan keinginan manusia, terutama kemasyhuran diri di dunia, dikabulkan oleh Sanghyang Manikmaya. Sang Bilung dan pengikutnya yakin bahwa mereka yang memuja dan menyembah Sanghyang Manikmaya akan dilimpahi Tu-ah dan Tu-lah, yang berguna untuk meraih kemasyhuran di dunia dan jika mati nanti mereka akan tinggal di Tayan bersama leluhur.
    Para pengikut Sang Bilung disebut golongan To-r (Jawa Kuno: yang menyajikan hidangan). Mereka adalah para pemilik kekuatan gaib yang keramat dan memiliki tugas utama mempersembahkan sesaji dan korban kepada Sanghyang Manikmaya. Mereka berupa para dukun dan walyan yang sangat ditakuti karena bisa mengarahkan Tu-ah dan Tu-lah yang mereka miliki untuk mencelakai orang melalui tu-ju (teluh) dan ku-tu-k (sumpah). Mereka umumnya perempuan.
    Sang Sarawita (Jawa Kuno: inti, energi, benda) adalah anak Sang To-gog yang mengajarkan manusia untuk memuja dan menyembah Sanghyang Manikmaya melalui berbagai sarana bantu. Tujuan utama mereka memuja dan menyembah Sanghyang Manikmaya adalah mengharap agar semua hasrat kecintaan manusia terhadap benda-benda dan kekuasaan duniawi terpenuhi. Sang Sarawita dan pengikutnya yakin bahwa pemuja dan penyembah Sanghyang Manikmaya akan dilimpahi Tu-ah dan Tu-lah yang berguna untuk menguasai benda-benda sekaligus menjadi pemegang kekuasaan dunia.
    Para pengikut Sang Sarawita disebut golongan Tu-huk (Jawa Kuno: terpuaskan). Mereka adalah para Pa-Tu-nggul (Jawa Kuno: pemegang tunggul, pemimpin) yang sakti serta memiliki kekuatan dan kekuasaan besar. Mereka sangat ditakuti karena memiliki harta benda berlimpah, pengikut banyak, kekuasaan besar, dan sakti mandraguna. Mereka acap kali menduduki jabatan dha-Tu dan ra-Tu.
    Sedangkan Sang Kere (Jawa Kuno: kurus, hina, miskin, lapar) adalah anak Sang To-gog yang meng-ajari manusia untuk memuja dan menyembah Sanghyang Manikmaya melalui berbagai sarana bantu. Sang Kere dan para pengikutnya tidak mengenal Sanghyang Manikmaya, apalagi Sanghyang Taya, secara benar. Sang Kere dan para pengikutnya adalah orang-orang yang rakus, tamak, serakah, kejam, buas, dan mementingkan diri sendiri. Sang Kere dan pengikutnya adalah pemuja dan penyembah nafsu dan benda-benda duniawi.
    “Apakah Sang To-gog dan ketiga puteranya mengajarkan korban berupa Tu-mbal manusia?”
    “Sesungguhnya, di dalam ajaran Sang To-gog yang murni tidak dikenal adanya persembahan korban yang disebut Tu-mbal Itu adalah ajaran yang dibawa oleh Sang Idajil (Si Urat Napas Juling), guru Sang Kere yang lambat laun berhasil mempengaruhi ajaran Sang To-gog.”
    “Siapakah Sang Idajil? Kenapa dia bisa mempengaruhi ajaran Sang To-gog?”
    “To-gog adalah orang yang suka bercanda dan tidak bisa bertindak tegas terhadap perilaku anak-anaknya yang menyimpang. Itu sebabnya, ketika anaknya yang bernama Sang Kere dipengaruhi Sang Idajil, ia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menangis dan meratap meminta bantuanku untuk melawan Sang Idajil. Namun, aku tidak bisa membantunya karena Sang Idajil diam-diam mulai berusaha mempengaruhi umatku juga. Sehingga, aku dan ketiga orang anakku harus berjuang keras melawan pengaruh jahat Sang Idajil yang menyesatkan itu.”
    “Apa ciri-ciri ajaran Sang Idajil?”
    “Ibadah sehari-hari para pemuja Sang Idajil, Si Urat Napas Juling, ditandai oleh dua ciri yang sama dengan hakikat nama Idajil. Pertama, melalui pengaturan pernapasan lewat urat napas sebagaimana diajarkan Sang Idajil, mereka akan mencapai tahap tidak sadarkan diri dan kemudian mengomel tidak karuan. Mereka tidak tahu apa yang sesungguhnya telah mereka ucapkan di dalam omelan itu. Mereka seperti orang keranjingan arwah, padahal sesungguhnya hal itu terjadi karena getar urat napas yang diatur secara keliru sehingga mempengaruhi kesadaran. Kedua, seperti Sang Idajil yang juling, mereka selalu keliru dalam memandang Kebenaran. Mereka tidak pernah tahu hakikat Tu, Pribadi Ilahi, apalagi hakikat Sanghyang Taya. Mereka hanya mengenal Tu-han sebagai kuasa terang dan kebaikan, sedangkan han-Tu merupakan kuasa kegelapan dan kejahatan. Terang dan gelap adalah dua kekuatan yang saling bertarung memperebutkan keunggulan masing-masing. Itu sebabnya, pengikut Sang Idajil menganggap Kebenaran itu dua, bukan sa-Tu atau Tu-nggal.”
    Akibat pengaruh Sang Idajil, ajaran Sang To-gog tentang cara-cara manusia memuja Sanghyang Manikmaya, Pribadi Ilahi, sesuai Tu-ntunan Sanghyang Taya, makin lama makin tenggelam ke dalam ajaran Sang Idajil. Para pengikut Sang To-gog mulai melakukan cara-cara yang lebih rumit, yaitu dengan melakukan upacara yang menggunakan persembahan sesaji-sesaji tambahan dan korban-korban berupa hewan maupun manusia.
    Untuk sesaji-sesaji, misalnya, para penganut Sang Idajil tidak saja menggunakan Tu-mpeng, Tu-d, dan Tu-mbu, tetapi ditambah dengan Tu-ak. Untuk korban digunakan Tu-mbal (manusia) dan Tu-kang (hewan sejenis kera). Baik sesaji maupun körban secara bersama-sama atau terpisah, digunakan sebagai piranti upacara di tempat-tempat keramat seperti Tu-ngkub (bangunan suci), Tu-rum-buhan (pohon beringin), Tu-ban (air terjun), Tu-k (mata air), Tu-nda (tempat bertingkat-tingkat), Tu-san (tempuran anak sungai), Tu-mpis (lereng gunung). Di tempat-tempat tersebut diletakkan benda-benda bertuah, seperti Tu-gu, wa-Tu, Tunggul, Tu-nggak, Tu-ngas, Tu-lang, Tu-lup, To-pong, To-peng, Tosan, To-ya, dan To-wok. Waktu upacara lazimnya dilakukan pada saat Tu-nggang gunung (senja). Jumlah sesaji dan korban pun ditentukan berdasarkan hitungan tertentu, yaitu Tu-nggal dan pi-Tu.
    “Berarti ajaran Sang To-gog sudah menyimpang dari ajaran yang semula,” kata Abdul Jalil. “Apakah hal itu tidak menimbulkan pertentangan dengan ajaran paduka?”
    “Perlu engkau ketahui, o Abdul Jalil, meski aku dan anak-anakku berseberangan dengan Sang To-gog dan anak-anaknya, kami tidak pernah berselisih. Kami sadar bahwa segala perbedaan yang ada pada kami sesungguhnya adalah kehendak Sanghyang Taya belaka. Namun sejak ajarannya terpengaruh Sang Idajil, perselisihan sengit hingga menumpahkan darah memang sering terjadi antara pengikutku dan pengikut Sang To-gog.”
    “Apakah ajaran Sang To-gog kemudian menjadi satu dengan ajaran Sang Idajil?”
    “Sesungguhnya, ajaran Sang To-gog menyimpang jauh setelah dia meninggal dan ajarannya
    benar-benar telah dirusak oleh Sang Kere. Namun seratus tahun setelah kematian Sang To-gog, lahirlah keturunannya yang bernama Teja Mantri dari sekian banyak keturunan Sang Bilung. Dialah yang meluruskan kembali ajaran Sang To-gog. Demikianlah, di antara keturunan Sang Teja Mantri kemudian lahir penerus yang meluruskan ajaran leluhurnya sampai pada masa Sang Hantaga, yakni keturunan Sang To-gog yang tidak memiliki keturunan.”
    “Paduka, apakah nama ajaran yang dibawa Sang To-gog?”
    “Semula nama ajarannya sama dengan ajaranku. Tetapi lama-lama ajarannya disebut Tata-titi. Padahal, Tata-titi hanyalah bagian dari ajaran yang kami sampaikan.”
    “Jika demikian, apakah nama ajaran yang paduka sampaikan kepada manusia?”
    “Karena ajaran yang kusampaikan menyangkut tata cara pemujaan dan penyembahan kepada Sanghyang Taya maka manusia harus diyakinkan dulu tentang keberadaan Sanghyang Taya. Keyakinan terhadap keberadaan Sanghyang Taya itulah yang disebut Pi-Taya (rahasia tentang Yang Suwung). Orang-orang yang yakin dengan keberadaan Sanghyang Taya disebut wwang Pi-Taya (orang yang mempercayai Yang Suwung). Adapun seluk-beluk ajaranku tentang dasar-dasar keyakinan dan tata cara memuja serta menyembah Sanghyang Taya disebut dengan nama Kapitayaan.”
    “Paduka yang mulia, bagaimanakah cara paduka menjaga kelestarian ajaran Kapitayan dari waktu ke waktu? Apakah dengan cara seperti yang dilakukan Sang To-gog?” Abdul Jalil meminta penjelasan.
    “Benar adanya demikian. Setelah aku meninggal dunia pada usia tujuh ratus tahun, terjadilah penyimpangan ajaran Kapitayan. Kemudian lahirlah keturunanku yang meluruskan ajaran itu. Dalam waktu seratus tahun sepeninggalku, rusaklah ajaran Kapitayan. Selama kurun hampir lima puluh tahun IKapitayan sudah bercampur aduk dengan ajaran Sang To-gog yang juga sudah berbaur dengan ajaran Sang Idajil. Tu-han dipuja dan disembah bersama han-Tu. Kebenaran dianggap dua. Sesaji dan korban saling tumpang-tindih meminta nyawa orang-orang tak bersalah.”
    “Di tengah kerancuan ajaranku muncullah keturunanku yang bernama Dang Hyang Badranaya dan ketiga orang anaknya, yaitu Rahyang Pathuk, Rahyang Gareng, dan Rahyang Somaita yang berjuang keras meluruskan kembali ajaran Kapitayan. Begitu seterusnya, ajaran Kapitayan dari zaman ke zaman diluruskan oleh para keturunanku seperti Dang Hyang Hasmara, Dang Hyang Smarasanta, Pu Walaing, Ki Buyut Wangkeng, dan terakhir Ki Buyut Sondong.”
    “Rupanya, Sanghyang Taya telah mengakhiri pelurusan ajaran Kapitayan dengan meninggalnya Ki Buyut Sondong Sebab, keturunanku itu tidak memiliki keturunan. Dengan demikian, keberadaan ajaran Kapitayan memang sudah dikehendaki-Nya untuk digantikan dengan ajaran baru yang lebih sempurna. Tetapi perlu engkau ketahui, o Abdul Jalil, bahwa apa pun nama ajaran baru yang akan disampaikan di Nusa Jawa, yang akan lestari adalah ajaran yang tidak bertentangan dengan dasar-dasar ajaran Kapitayan. Sebab telah menjadi keniscayaan sejarah, berbagai ajaran baru yang disebarkan ke Nusa Jawa yang tidak sesuai dengan dasar-dasar ajaran Kapitayan tidak akan diterima oleh para penghuninya. Bahkan, pengikut ajaran itu akan diancam oleh penghuni purwakala negeri ini.”
    “Paduka telah paham bahwa ajaran yang paduka sampaikan kepada manusia secara hakiki sama dengan ajaran Islam yang disampaikan Nabi Muhammad Saw., yakni memuja dan menyembah Tuhan yang Tunggal, Mahakuasa, Tak Terbandingkan dengan sesuatu, Sumber segala sesuatu. Namun satu hal yang ingin saya tanyakan kepada paduka, yaitu tentang pendahulu saya, Syaikh Syamsuddin al-Baqir al-Farisi. Apakah yang menyebabkan beliau gagal menyiarkan ajaran Islam di Nusa Jawa?” tanya Abdul Jalil.
    “Sesungguhnya, segala sesuatu yang terjadi adalah kehendak-Nya semata. Namun jika hendak dicari sebab musababnya, salah satu kekeliruan yang dilakukan pendahulumu adalah kepulangan-nya yang terlalu cepat ke Negeri Persia beberapa waktu setelah ia mendapat perkenanku menyebarkan ajaran Islam di Nusa Jawa. Sebab dengan ke-pergiannya kembali ke Persia, orang-orang Islam di Nusa Jawa menjadi kacau-balau dalam mengamalkan ajarannya. Secara berangsur-angsur mereka mulai menganggap bahwa Allah yang mereka sembah bukan lagi Tuhan yang Tak Terpikirkan dan Tak Terbandingkan dengan sesuatu, melainkan seorang dewa perang dengan malaikat-malaikat sebagai panglimanya. Dewa perang yang selalu membela dan melindungi umat Islam, sebaliknya selalu memusuhi dan membinasakan orang-orang yang bukan Islam.”
    “Akibat meyakini bahwa Allah yang disembah adalah dewa perang maka orang Islam pengikut Syaikh Syamsuddin al-Baqir al-Farisi sering menumpahkan darah manusia. Mereka suka membunuh manusia lain yang dianggap kafir. Mereka telah mengambil hak Sanghyang Wenang, yaitu mencabut nyawa manusia sekehendak hati, beiam itu, mereka juga menjadi pemuja setia dari kuburan-kuburan pemukanya. Bahkan, banyak di antara mereka yang meyakini bahwa Allah yang mereka sembah itu bisa menjelma dalam wujud manusia tidak waras yang bisa mengabulkan permohonan dan memberi berkah keselamatan.”
    “Apa yang terjadi dengan orang-orang Islam di Nusa Jawa setelah kepulangan Syaikh Syamsuddin al-Baqir al-Farisi akhirnya menuai bencana. Perkenan yang sudah kuberikan tentu tidak bisa menggugurkan lima syarat perjanjianku dengan para raja bangsa halus penghuni purwakala Nusa Jawa. Orang-orang Islam banyak yang mati terbunuh akibat pertumpahan darah dengan sesama manusia penghuni Nusa Jawa. Akhirnya, jumlah mereka yang tersisa tinggal hitungan jari saja. Jika dilihat dari sisi alam gaib, sebagian besar di antara mereka yang mati itu dijadikan korban dalam pesta darah para makhluk berbadan halus penghuni purwakala negeri ini.”
    “Saya mohon petunjuk paduka,” ujar Abdul Jalil. “Bagaimanakah cara saya menjadikan tawar pengaruh bangsa berbadan halus penghuni purwakala Nusa Jawa ini, selain perkenan paduka tentunya?”
    “Dengan Tu-ah dan Tu-lah yang dilimpahkan-Nya kepadamu, sesungguhnya engkau bisa mengusir seluruh makhluk halus penghuni purwakala Nusa Jawa ke pulau lain atau ke tengah lautan. Namun, jika engkau hendak mengikuti apa yang telah aku lakukan maka engkau harus memasang Tu-mbal di beberapa tempat yang bisa membuat tawar pengaruh jahat mereka. Hanya saja, Tu-mbal yang engkau tetapkan tempatnya itu tidak banyak pengaruhnya untuk melindungi para pemuja duniawi dari pengaruh bangsa halus.”
    “Saya akan mengikuti jejak paduka. Sebab, telah jelas bagi saya bahwa ajaran Islam adalah ajaran Tauhid yang dijadikan rahmat oleh-Nya bagi seluruh makhluk di alam semesta. Sesungguhnya, tugas utama saya hanyalah sebagai penyampai berita Kebenaran Islam saja. Saya sekali-kali bukan pengusir bangsa lain apalagi penimbul kebinasaan.”
    “Itu baik dan sesuai dengan semangat ajaran Kapitayan.”
    “Tapi paduka, apakah pendahulu saya, Syaikh Syamsuddin al-Baqir al-Farisi, juga memasang Tumbal di Nusa Jawa? Apakah bentuk Tu-mbal yang digunakannya?” tanya Abdul Jalil.
    “Tentu saja,” jawab Dang Hyang Semar. “Dia dulu memasang Tu-mbal di beberapa tempat di
    pantai utara Nusa Jawa dengan menebarkan tanah dari Negeri Persia. Saat memasang Tu-mbal itu ia mengibarkan bendera hitam yang disebut Tunggul Wulung.”
    “Apakah pemasangan Tu-mbal itu dilakukan dari arah barat ke timur?”
    “Ya.”
    “Dari manakah hal itu dimulai?”
    “Dari tiga gunung tempat Sanghyang Tunggal, Sanghyang Manikmaya, dan Idajil dipuja”.
    “Lalu di manakah letak ketiga gunung itu?”
    “Di tanah kulon tempat aku dan Sang To-gog pertama kali terdampar seusai banjir besar, yaitu di Gunung Karang Tumaritis, Gunung Pulasari, dan Gunung Lancar.”
    Usai menjawab pertanyaan Abdul Jalil, tiba-tiba ruh Dang Hyang Semar lenyap. Abdul Jalil gelagapan dan membuka mata dengan celingukan. Ia lihat Sri Mangana masih duduk bersila di sampingnya. Rupanya, ayahanda asuhnya itu menangkap sasmita bahwa beberapa jenak lalu ia sesungguhnya sedang berhubungan dengan Dang Hyang Semar meski tidak terlihat. Itu sebabnya, saat ia mengajak pulang, ayahanda asuhnya bertanya sambil menarik napas berat, “Apa saja yang beliau wejangkan kepadamu, o Puteraku?”
    “Beliau telah berkenan mengizinkan agama Islam berkembang di Nusa Jawa karena sesungguhnya ajaran Islam secara hakiki tidak berbeda dengan ajaran Kapitayan yang beliau sampaikan kepada manusia. Bedanya dengan ajaran Islam adalah ajaran Kapitayan masih sangat sederhana syan’atnya, tetapi inti Tauhidnya sama. Ini bisa dipahami karena Kapitayan memang untuk manusia yang hidup pada zaman purwakala.”
    “Jadi, benar beliau seorang nabi yang membawa ajaran Tauhid?” tanya Sri Mangana.
    “Menurut kesaksian ananda, beliau dan keturunannya adalah nabi-nabi yang membawa ajaran lurus Keesaan Ilahi kepada manusia, khususnya di Nusa Jawa. Tetapi, sejak Ki Buyut Sondong, keturunan terakhirnya, wafat tanpa keturunan maka tidak ada lagi yang meluruskan ajaran Kapitayan.”
    “Jadi, ajaran Kapitayan itu diwariskan turun-temurun di antara keturunan Dang Hyang Semar?” gumam Sri Mangana dengan pandang terheran-heran. “Aku pikir ajaran itu hanya disampaikan oleh satu orang saja, yaitu Dang Hyang Semar.”
    “Menurut penjelasan beliau tadi, memang demikian adanya.”
    “Tetapi, o Puteraku, jika Dang Hyang Semar telah berkenan mengizinkan Islam berkembang di | Nusa Jawa, berarti ajaran Kapitayan memang tidak
    berbeda secara hakiki dengan ajaran Rasulallah Saw..”
    “Benar demikian adanya, o Ramanda Ratu. Bahkan menurut hemat ananda, Islam bisa dikatakan ibarat penyempurna bagi ajaran Kapitayan. Hanya bahasa, waktu, dan ruang lingkup saja yang membedakan ajaran Tauhid Kapitayan dan Tauhid Islam.”
    “Berarti, ajaran Islam dengan mudah akan berkembang di Nusa Jawa karena kehadiran Islam seperti membangkitkan ajaran lama yang sudah dikenal semua orang.”
    “Sesungguhnya tidak bisa disebut mudah, Ramanda Ratu, sebab kita masih harus membuat tawar pengaruh buruk para penghuni purwakala Nusa Jawa.”
    “Penghuni purwakala? Siapakah mereka?”
    “Menurut Dang Hyang Semar, mereka adalah makhluk berbadan halus. Menurut pikiran ananda, mereka adalah golongan bangsa jin.”
    “Caranya bagaimana?”
    “Ananda akan memasang Tu-mbal sebagaimana yang telah dilakukan oleh pendahulu ananda, Syaikh Syamsuddin al-Baqir al-Farisi.”
    “Memasang Tu-mbal ? Dengan korban sembelihan manusia?”
    “Tidak Ramanda Ratu” sahut Abdul Jalil, “tetapi dengan menebar tanah dari Negeri Persia.”
    “Berarti engkau akan ke Persia?”
    “Tidak perlu, Ramanda Ratu, karena mertua ananda, Syaikh Abdul Malik al-Baghdady, sudah membekali ananda dengan sekantung tanah yang beliau ambil dari tempat bernama Karbala. Tanah itulah yang akan ananda tebarkan sebagai Tu-mbal!”
    “Mudah-mudahan engkau berhasil menjalankan tugasmu, o Puteraku.”
    “Ananda mohon doa restu dari Ramanda Ratu.”
    “Baiklah, Puteraku,” ujar Sri Mangana. “Untuk mengingat pertemuan mulia ini dan sebagai pertanda bahwa Yang Mulia Dang Hyang Semar, pembawa ajaran Kapitayan, telah berkenan mengizinkan ajaran Islam disampaikan di Nusa Jawa maka tempat di pinggir hutan kecil di tepi sungai ini selanjutnya akan kutetapkan dengan nama Dukuh Semar.”
    “Mudah-mudahan dengan mengingat nama Dukuh Semar, orang senantiasa akan mengingat pembawa ajaran Tauhid yang paling awal di Nusa Jawa,” kata Abdul Jalil.

    • Kasihan orang Bumi Pasundan dan Nusa Jawa yang percaya dengan dongeng kemudian dijadikan ajaran dalam hidupnya. Pantaslah orang Eropa kemudian datang menjajah mereka karena mereka dinilai sebagai sub-human yang pantasnya sebagai mahluk budak. Kasihan sekali….. kapan bangsa ini bisa maju kalo masih mempercayai dongeng ???

  8. Hendra Gunawan, SS

    Dear Among Raga, Ingat nama pesawat Apollo yang jadi kebanggaan AS karena berhasil mendarat di Bulan?. Bukankah ia berasal dari dongeng orang Yunani dan Romawi?. Ingat Thor dalam film Avengers bukankah ia dewa petir orang Eropa?. Aladdin dan lampu wasiat juga cerita dongeng dari kekhalifahan Abbasyah. Sun Go Kong juga dari dongeng Cina. Dongeng itu sumber bisnis dan ilmu ditangan orang-orang cerdas. Cerita pertemuan Dewa Ruci dan Bima ketika mencari konsep Tuhan itu ada tanpa waktu dan tempat. Bukankah itu ide hebat?. Bahkan nama Among Raga juga dari kisah, betulkan?. Woulluhua’lam.

    • Saya sangat senang dengan dongeng apalagi waktu masih kecil, dongeng bisa saja menjadi inspirasi bagi mereka yang inovative dan cerdas menangkap peluang, tapi saya sangat prihatin dongeng dijadikan “komoditi” utk membodohi orang yang belum mendapatkan pencerahan. Sejarah saja belum tentu 100% benar dan bisa dimanipulasi, apalagi dongeng. Mereka yg sdh bisa “melihat” kebenaran yg nyata, diharapkan bisa membantu yg lain, bukan malah menyesatkan dengan dongeng yang dikemas seolah-olah kebenaran yang nyata. Kitab2 kuno (apapun namanya) yg ditulis oleh pendahulu kita (mungkin juga kita) harus diuji kebenarannya, karena apapun yang ditulis belum tentu sama dengan kenyataan yang sebenarnya, oleh karena itu kitab2 suci (dan yg dianggap suci) selalu memerlukan tafsir dari orang2 yg sudah mendapatkan pencerahan sempurna walaupun tafsirnya belum tentu benar, jadi boleh digunakan, boleh tidak. Bebas merdeka ?

      • Kasihan sekali org2 yg seperti anda ini yg menganggap sejarah dan kitab suci ialah sebuah dongeng yg tak pantas untuk dipercayai. Itulah akibatnya jika ruh dlm diri manusia tidak dianggap ada dan tidak diberi makan dgn kesadaran/awakening. Akibatnya anda akan menolak dan memberontak apa yg ada dihadapan anda, walaupun itu ialah kebenaran sejati yg tak pernah anda gali ilmunya dgn pemahaman dari sisi lain yg tak harus dari sisi org lain atau bangsa tertentu. Kebenaran sejati dari apa yg anda anggap dongeng tidak digunakan/dimanfaatkan untuk hal2 yg sifatnya sementara/keduniawian. Hal2 yg anda anggap dongeng itu digunakan untuk kebijakan yg bersifat kekal.. Seperti nubuwah ratu adil di artikel ini yg bkn untuk cerita yg sia2, apalagi dongeng, apalagi untuk politik/alat untuk hal2 yg buta sebelah. Nubuwah ratu adil ini digunakan untuk tujuan kehidupan umat manusia menuju ke tahap selanjutnya yg bersifat kekal, yg tidak ada kesementaraan dan hal2 yg sia2 di dlm nya.. Walaupun dunia yg selanjutnya tersebut memang mirip dunia dongeng/dunia ajaib.. Ya memang seperti itulah jika penyatuan dimensi mimpi (ghaib/kekal/tidak terbatas) dan dimensi nyata (sementara/ilmiah) di satukan..

      • Sesuatu yg belum dibuktikan secara nyata boleh dipercaya boleh pula tidak dan statusnya adalah sebagai “informasi”. Jangankan sejarah, dongeng, dll. Tuhan pun harus dibuktikan saat manusia masih hidup di alam semesta ini tidak sesudah mati. Boleh dong berpendapat lain he..he..he…

  9. Dari pemaparan dan ciri2nya koq sy sll terjuju ke pak presiden kita yg srkg ya, tentang lengan kuru. Difitnah dihina dicemooh dan sbagainya, liat aja buktinya mulai dr fitnah keji tabloid obor rakyat dan sejenisnya yg memfitnah beliau dan di kroyok dr kanan kiri tapi beliau dengan tegar dan aajibnya bisa jd pemenang. Bapak beliau jg t’lah tiada dan menurut sy tentang wanita beruban itu hanya kiasan saja

    tentang kembar tiga jg hanya kiasan saja dan sebagainya sll koq slalu nyambung ke beliau, ini pendapat sy lo ya. Dan sy tau pasti admin penulis sini adalah kontra beliau dan cenderung mendukung yg sebelah yg hellooowww… Kita semua tau mereka ini kawanan Kurawa yg dng bukti seabrek2 adalah menghalalkan segala cara utk menjatuhkan presiden skrg wkt kampanye. Bukti bertebaran diamana2 kalo kurawa ini jahat, tempata berkumpulnya para penggarong dan sejenisnya….

    Coba saja Admin blog ini bersikap netral tidak spt berat sebbelah pasti akan terlihat bijak bukan dng cenderung memihak yg sebelah yg kita semua tau siapa mereka…

    Sy percaya Jongko Jayabawa krn kenyataannya rRamalannya sudah banyek terbukti skrng. Tapi sulit utk mempercayai Admin yg …gitu dehhh…

    Ini bentuk kejujuran sy berpendapat selama sy perhatikan dan membaca di sini selama ini :

  10. Sy sarankan, seharusnya jd Admin situs sebesar ini dng jumlah pengunjung yg waoww luar biasa banyak ga terhitung gini seharusnya selalu bersikap netral, jangan yg seolah sentimen pihak tertentu yg bisa jadi menimbulkan pendapat miring dr para pembaca yg memang betul2 Budiman netral bersikap ya… Dan liat jg kenyataan yg ada skrg ini sblm bersikap… Oke

  11. Ratu adil/satria piningit/imam mahdi sudah hadir di telegram @akhirzaman17

  12. Kayanya saya budak angon loh

  13. Hendra Gunawan, SS

    Dear Amongraga, saya orang bodoh mau tanya, apa pertumbuhan ekonomi itu bertentangan atau tidak dengan sila kelima Pancasila yaitu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia?. Apa anda setuju dengan teori evolusi Darwin?. Apakah ada hubungannya antara teori evolusi Darwin dengan nasionalisme Indonesia? sehingga pengajarannya dianggap perlu dimasukkan dalam kurikulum nasional pendidikan sejarah nasional bangsa kita?. Terima kasih penjelasannya.

    • Mohon maaf bapak Hendra G. YTH, kayaknya pertanyaannya ditujukan kealamat yang salah, silahkan tanyakan ke Sahat Safiih Ginting atau ke Ahok.
      Terimakasih atas pengertiannya

  14. Hendra Gunawan, SS

    Okd, Sila pertama Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Tuhan itu Maha Esa dalam zat, sifat, dan perbuatan-Nya betul nggak? artinya Tuhan yang menciptakan, memelihara, dan memusnahkan manusia. Nah teori evolusi Darwin menyatakan bahwa manusia berasal dari makhluk yang berevolusi bukan dari hasil ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Nah menurut anda teori evolusi Darwin bertentangan atau tidak dengan sila pertama Pancasila tersebut?, makasih infonya.

    • Saudaraku hendra gunawan bingung ya… hee… heee… heee….
      Maka’a baru di kasih tau kitab yg ga tebel2 amat ja dah di anggap paling lengkap, paling hebat, paling suci DLL… toh nyata’a sekarang kebingungan sendiri… hee… hee… heee….
      Saya bersyukur sekali sama GUSTI sebab di lahirkan sebagai orang JAWA yg berKITABkan ALAM SEMESTA & ISI NYA.. hee… heee… maka ga begitu bingung2 amat.. hee… heee….

      Jd jgn mentang2 di kitab’a ga da pelajaran MANUSIA PURBA (ajaran mbah DARWIN) trus di anggap’a konspirasi… hee… heee….
      MANUSIA PURBA itu ya benar2 ada & bisa di buktikan dgn di temukan fosil’a & di teliti kira2 hidup di taun berapa SM… kan mbah MUHAMMAD sudah di kasih tau bocoran’a yg berbunyi; setelah KUsempurnakan kejadiannya lalu KUtiupkan RUH KU… hee… heee… heee…..
      Maka dr sekarang jgn menganggap tuhan itu seperti tukang SULAP seperti dedi korbuser… hee… heee…. jd memang segala sesuatu itu berEVOLUSI, & ga cuman MANUSIA….( tdk ujug2 “KUN” & FAYAKUN )… KITAB pun demiki, contohnya dr agama samawi kan ada ZABUR, TAURAT, & di REVISI oleh INJIL, lalu di REVISI lg sama AL-QURAN… jelas to… hee… heee… heee… & juga jgn marah bila nanti’a jg al-quran di REVISI sama orang JAWA… hee… heee… heee….
      Mudah2an saudaraku HENDRA GUNAWAN tdk bingung lagi & bs di jadikan/sebagai INFORMASI saja jgn di jadikan sebagai rujukan… & jgn terlalu di percaya tulisan ku ini.. hee… heee… heee….

      *** SALAM… salam… RAHAYU… ***

      • Heheh bener puh
        kalau orang jawa menyebutnya
        Cokro mangilingan

        Karena ajaran ke Esaan tuhan
        Pasti bakalan melenceng setelah selang waktu yg cukup lama dari zaman awal. Agama apapun itu

        Agama penyempurna pun kalau di cermati dan dirasakan melenceng jauh dari esensinya hehehe

        SP di tunggu2 ga muncul2
        Padahal udah akhir zaman ini
        Hehehe

        Salam…
        Semoga kita selalu berada di jalan yg lurus..
        Jalan kebenaran

      • Yang pasti istilah/nama “Tuhan” diciptakan oleh manusia Indonesia. Truuus… “Tuhan” itu bahasa apa ya ? Indonesia kah? Sunda kah ? Batak kah ? ato Arab kah ? Lalu artinya apa yaaa..? kok di Pancasila KeTuhanan yang Maha Esa, memangnya Tuhan juga ber Evolusi seperti teorinya mBah Darwin ? Binguuuung deh !

  15. Saudaraku among raga…. hee… heee… heee… kalo bikin pertanyaan mbok jangan yg susah2.. hee… heee….

    TUHAN jg berEVOLUSI saudaraku…. hee… heee… heee…. sebab awal’a tdk ada yg lain kecuali diri’a sendiri & berEVOLUSI, kalau dlm bahasa agama’a MENCIPTAKAN… padahal yg sesungguhnya & yg tepat adalah berubah wujud/maujud dgn bermilyard2 bentuk/wujud, tapi yg bermilyard2 ini sesungguhnya adalah HANYA sifatnya… maka biarpun berubah begitu banyak’a tdk menambah berat atau volumenya sebab HANYA sifatnya saja… sama hal’a dgn KITA, walau pun menambah sifat tiap HARI tapi tidak akan menambah otak/kepada kita makin besar karena hanya sifat.. hee… heee… heee….

    Jd kesimpulannya, kita semua yg nyata maupun yg gaib ini adalah satu kesatuan (sifatNYA) TUHAN… maka LELUHUR BANGSA KITA dlm berNEGARA memakai PANCASILA yg berBHINEKA TUNGGAL IKA… jd walau pun bermilyard2 wujud ternyata kita ini bhinneka tunggal ika (tunggal/esa/satu yaitu sifatNYA) maka jgn lg gontok2an apalagi SAMPAI bunuh2an…. hee… heee…

    Itulah sedikit kisah sekaligus BUKTI bahwa LELUHUR BANGSA KITA sudah terlalu tinggi spiritualnya jika di bandingkan dgn LELUHUR BANGSA ASING, sekaligus menjawab pertanyaan kenapa para pendiri BANGSA KITA tdk menjadikan negara ISLAM walau pun saat itu hingga kini islam mayoritas di NEGARA kita.. hee… heee… heee….

    Saudaraku among raga ternyata TUHAN juga berEVOLUSI loh…. hee… heee…. heee…..

    *** SALAM… salam… RAHAYU…***

    • Ha….ha….ha….
      Terimakasih atas pencerahannya saudaraku Enyong, kalo semua ber EVOLUSI berarti gak ada istilah “yang terakhir” kan ?
      Apakah dijelaskan didalam kitabnya orang Jawa yg berjudul “ALAM SEMESTA & ISINYA ?
      Jika ditilik dari skala galaxy Milkyway saja (belum skala alam semesta lho…) , bumi yg didiami manusia gak tampak apalagi secuil wilayah yg disebut Indonesia. Lantas berapa lebar & tebalnya kitab orang Jawa “ALAM SEMESTA & ISINYA ? Truuus bacanya gimana tuh ??? lebih bingung lagi orang goblog ini Hi…Hi…Hi…….

      • Bener juga ya puh among

        Akhir dari evolusi adalah tiada akhir

        Makanya ada dongeng kehiduoan abadi setelah kematian

        Yaitu evolusi terakhir yg tiada akhir

        Ada yg menyebutnya nirvana, surga, akhirat

        Semoga akhir tahun ini segera terjadi
        Hihhihi

      • Saudaraku among raga… sudah saya bilang kalau bikin pertanyaan itu jgn yg SUSAH2 eee… ini malah yg susah lg.. hee… heee… heee….
        Kitab sekaligus guru’a orang jawa adalah ALAM SEMESTA & ISINYA… & ilmunya sangat sederhana sekali yaitu ilmu TITEN…
        contoh;
        1. orang yg lahir’a hari senin pahing biasanya karakter orang’a seperti begini & begitu dll…
        2. Di bulan suro tdk boleh membangun rumah sebab biasanya akan berdampak begini & begitu dll….
        dan masih banyak contoh lg yg lain’a….kadang2 ada orang yg rajin menulis kejadian2’a & di bukukan tp beda’a tdk di SUCIKAN… hee… heee… jd yg percaya terserah ga percaya ya ga apa2, & tdk mengancam orang yg tdk percaya untuk di OBONG Nang PAWON sing genine MULAD2… hee… heee….
        Jadi lembaran’a ya tiap hari, bulan, tahun & setiap waktu… & tdk akan habis sampai raga kita jd tanah…karena kitab sekaligus guru’a alam semesta & isi’a, orang jawa juga tdk menolak ajarannya mbah plato, aris toteles, mbah darwin, mbah einstein, mbah isa/yesus, mbah muhammad, mbah krisna, mbah sidharta gautama & masih banyak mbah2 yg lain’a… hee… heee…heeeee….

        Saudaraku among raga memang tdk tau kalau para LELUHUR BANGSA JAWA (indonesia) sudah banyak yg tau bahwa galaksi tdk HANYA yg kita diami ini saja… para LELUHUR sudah tahu bahwa ada ribuan galaksi di antariksa sana, & setiap galaksi ada matahari’a masing2 & setiap matahari ada bumi’a masing2 & setiap bumi ada manusia’a masing2, malah manusia’a bisa di ajak kesini yaitu bumi kita ini, juga beliau2 (para leluhur) bisa main di bumi’a dia, tp tentunya HANYA orang2 yg sudah mumpuni seperti beliau2 itu… tp kl kita mah masih cetek & bodoh mana bisa ke sonoh… heee… heee… heee….
        dan sekarang para ilmuwan lah yg akan membuktikan’a, bahwa ada kehidupan di luar bumi yg kita diami saat ini… ilmuwan NASA juga alat teropong & pendeteksian (radar) cina yg terbaru sudah muali beroperasi & pasti akan menemukan serta menganalisa’a, maka nanti jikalau sudah terbukti ada kehidupan di luar bumi yg kita diami ini tdk usah heran & terkagum2… lah wong mbah buyutmu sudah sering main ke sonoh…
        Hee.. heee… heee…

        Sudah ah.. enyong ndongeng’a ke banyakan… hee… heee….

        Among raga (momong raga/wadag)… hee… heee… selamat momong raga kita masing….

        *** Salam… salam… RAHAYU…***

      • Makasih mBah Enyong atas dongengnya yg asyiiiik ! Membaca dongengnya saya jadi menyadari bahwa saya masih kanak-kanak walaupun raganya sdh gede, Catatan kejadian se-hari2 di ALAM SEMESTA & ISINYA yg dilakukan oleh buyutnya orang JAWA itu apakah yg biasa disebut Kitab Primbon ? Walaupun punya Kitab Primbon sepertinya orang JAWA sangat receivetive thd ilmu nya mbah-2 lain dari mancanegara, betul2 sdh Jawa.

        Weleh weleh mbah Buyut org JAWA bisa dolan ke galaxy lain ? Jadi pengin jalan2 ke Andromeda nih !
        Menurut para ahli antariksa jarak dari matahari ke pusatnya Milkyway sekitar 2 juta tahun cahaya, padahal umur manusia tertua cuma sekitar 100 tahun bumi, lantas gimana ya para buyut bisa kesana terutama dalam mengatasi jarak dan waktu yg begitu puaaanjang. mBah Enyong, kalau ndongeng mbok ya jangan bikin semakin mbingungin walaupun banyak menambah wawasan dan pencerahan Hi Hi Hi.

        Raga saya memang sdh cukup gede tapi jiwa saya masih kerdil sekerdil biji sawi, oleh karena itu org tua saya memberi nama Among Raga (kata orang jawa masih ngemong badhan wadag). Eeeh siapa tahu suatu saat nanti bisa ber Evolusi menjadi Amengku Jiwa, ber andai2 he…he….he….

        Rahayu Rahayu Rahayu ………………….

  16. Hendra Gunawan, SS

    He he makasih Enyong dan Among Raga, Tuhan Yang Maha Esa itu berkemampuan revolusiloh. Kalau baru evolusi itu mah biasa, nah kalau bisa revolusi baru luar biasa. Seperti Wisnu yang menjadi Raksasa. Bahkan Prabu Siliwangipun berevolusi dengan merubah istananya menjadi hutan he he. Saya yakin Ratu Adilpun punya kemampuan revolusi he he.

    • Dear Hendra Gunawan,
      Kata orang, Tuhan itu Maha Kuasa, jadi bisa melakukan apa saja, ber Revolusi bagiNya soal keciiiiil. Tapi justru bagi manusia melakukan revolusi itu sangat penting utk memutus rantai evolusi agar menjadi manusia seutuhnya dalam satu “life time” ini. (seperti cita2 sistim pendidikan Ki Hajar Dewantara)
      Budaya masyarakat Indonesia didominasi Mithos/Dogma & Takhayul, maka revolusi tahap pertama adalah revolusi mental-spiritual (apapun namanya). Merevolusi Mithos & Takhayul menjadi budaya Kasunyatan (jawa).
      Bagi manusia, revolusi memerlukan energy, pengorbanan dan keberanian yang luar biasa. Berani ????

      • Hee… heee…heee….
        Saudaraku among raga ini gimana sih, kan sdh saya kasih tau kalau tulisan ku ini jgn terlalu di percaya… hee.. heee…

        Tapi jgn bilang tdk masuk akal nanti di ketawain sama mbah sabda langit… hee… heee….
        Mbah sabda ini sudah tahu jodohnya sendiri loh sewaktu dia masih bujangan, dan yg ngasih tahu dia adalah anak’a sendiri (gaib) kalo ga percaya tanya sendiri deh sama mbah sabda.. hee.. hee… heee…. & sdh banyak sekali para LELUHUR kita yg sudah tahu akan hari kematian’a sendiri BAHKAN beliau2 ini bisa melipat wadag’a sendiri (moksa)… hee… heee… heee….

        Di kala ilmu negeri seberang masih mempercayai hanya TUHAN lah yg tahu JODOH, REJEKI & MATI nya manusia. Tapi nyatanya beliau2 itu sdh pd tahu jodoh, rejeki & mati’a sendiri kan.. hee.. hee…heee… apa jgn2 beliu2 ini sering ngobrol sama TUHAN kali ya… hee… heee… heee….

        Jadi kalau hanya ingin main di galaxy lain saya rasa bukan hal yg SUSAH bagi beliau2 itu, lah wong cuman pindah tempat… hee… heee… heee… sebab di dlm ilmu awang-uwung satu detik dgn satu milyard tahun tdk ada beda’a… hee… heee…
        Maka nanti jika saudaraku among raga sudah ketemu jawabannya & di rasa masuk akal tolong di tulis di sini ya, untuk berbagi dgn para saudara2 kita SEMUA… hee… heee… heee….
        Sudah ah dongeng’a buat lain waktu lg.. hee.. heee…heee…

        *** Salam… salam… RAHAYU.. ***

      • Mohon maaf sebelumnya mBah Enyong, eyang saya Ki Ageng Jayapurnama, berpesan kesaya sbb : le… samubarang iku aja percaya yen durung nyata. Jadi mbah, jangan kuatir kalo saya percaya dengan dongengnya, tapi karena dongengnya mengasyikkan dan memuat informasi yang penting jadi saya menyimak dengan serius.
        Dari dongengnya mbah Enyong, dengan ilmu Awang Uwung manusia bisa menaklukkan waktu & jarak, kalo gitu apakah dengan ilmu Awang Uwung manusia bisa menembus bumi sap pitu dan langit sap pitu ??? Kata orang, mbah Muhamad dengan menaiki Buraq bisa menembus langit sap pitu utk menemui Allahnya, Kira2 sama kah dengan ilmu awang-uwung ???

        Salam, Rahayu-Rahayu-Rahayu

  17. Hendra Gunawan, SS

    Nuwun sewu, Nabi Adam termasuk hasil revolusi karena Beliau diberi makrifat. Itu bedanya dengan homo erektus/ manusia kera. Makanya ada orang Jawa menulis Adam makrifat. Allah SWT dan alam semesta ini kata Imam Gazali seperti anggur didalam gelas. Dekat sekali tetapi berbeda. Oleh karenanya koruptor, pemerkosa, dll tidak boleh berkata kalau perbuatan mereka itu karena takdir Tuhan. Woullohua’lam.

  18. Hee… hee… heee…
    Mbah AMONG RAGA masih nyimak to… hee… heee… heee…

    memang begitulah para LELUHUR dlm mengajarkan ilmunya kepada anak cucunya… JANGAN DULU PERCAYA SEBELUM KAMU BISA MEMBUKTIKAN NYA..
    hee… heee… heee… ini sebenarnya strategi para LELUHUR agar kita2 ini jgn berpuas diri dan terus belajar & belajar… hee… heee…
    Begitu pula cerita mbah muhammad naik ke langit 7… ini jg cuman cerita yg sifatnya hanya informasi saja…hee… heee…heee…..
    Moso “ALLAH” kan katanya tuhan semesta alam… tapi yo waktu mo di temui sama mbah muhammad kata malaikat/dewa JIBRIL kata’a lagi sholat… hee… hee… heee… lah kalau ALLAH nya sholat berarti dia nyembah siapa lagi… hee… heee… heee…. dan jawaban’a ada di QS; 27 ayat 91…. (silakan cari sendiri)… hee… heee…. heee….

    Untuk mbah HENDRA GUNAWAN… hee… heee…. heee….
    Kamu juga sudah bisa meraba…. dan menurut informasi’a mbah ADAM itu memang MANUSIA purba yg terakhir….. hee… heee… heee…. dan cerita mbah adam itukan datang dari salah satu murid sarinah ISA/YESUS… jadi ada salah satu murid’a yg menuliskan LELUHUR’a yg di urut2 kan hingga mbah ADAM… hee…heee… heee…
    Maka pas datang dlm mimpi saya dia hanya senyum2 saja beserta eyang putri HAWA & mbah ISA/YESUS & aneh’a wajah’a ko sama SEMUA dgn wajah KU… hee… heee…. heee…. (wajah INGSUN)…. dan pelajaran yg BISA enyong petik ya cuman itu… BHINEKA TUNGGAL IKA (tunggal)… hee… heee… heee…
    Udah ya dongeng nya jgn kepanjangan lagi… hee…heee… heee…. & jgn terlalu di percaya tulisan ku ini… hee… heee…

    *** Salam… salam… RAHAYU… ***

  19. Hendra Gunawan, SS

    Ratu Adil adalah kaum muda yang punya visi, misi, dan kemampuan revolusi di NKRI. Bukan menyingkap wujud sejati enyong karo koe kepada wong cilik yang hampir mati kelaparan. Wujud sejati hanya diterangkan kepada murid-muridnya yang terlatih dan terpilih. Pak tua sudahlah engkau sudah terlihat lelah….he he.

  20. Mbah Enyong,…….. Ratu Adil dolan ke galaxy mana ya kok gak muncul di buminya manusia ? Ditunggu ratusan bahkan ribuan tahun kok gak nongol jua ??? kan sudah punya visi, misi dan kemampuan revolusi, tapi gak punya nyali kah ? ato takut sama bangsanya FPI ?

  21. Hendra Gunawan, SS

    Sumpah Pemuda 1928 menghasilkan sesuatu yang luar biasa, hanya dalam tempo 17 tahun mereka sudah bisa mendirikan NKRI. Nah Insya Allah kelak kaum muda akan memimpin Jakarta lalu Nusantara. Pak tua sudahlah engkau sudah terlihat lelah… . He he.

  22. Jangan lah kalian minta kiamat dipercepat wkwkw wong gendeng kabeh

    Minta satrio piningit cepet2 muncul
    Rentetanya anticrist / dajjjal
    Perang terus penaklukan
    Di suruh maju perang
    Ona anu ona anu takut mati
    Wkwkkw

    Sudah siap kalian bentar lagi perang nuklir rusia amerika, sekenarionya harus gitu dulu

    Habis itu kembali pada zaman kesaktian
    Laku topo prihatin

    Heran sama orang2 minta di munculkan sp tapi ga siap2 yg ada malah kocar kacir

    • Ya betul.. hee… heee… heee…..
      Maka jgn lg di tangisi apalagi di sesali… sebab TIMUR-TENGAH pun 2017-2018 akan RATA dgn TANAH (saling menghantam) & sudah di mulai dr kemarin2… hee… heee….

      Ratu adil atau SP ini kan HANYA konsep, kelak setelah DUNIA ini HUKUM’a sdh benar2 ADIL dan di tegakkan yg berkuasa atau ratu’a ya keadilan maka di sebut’a RATU ADIL yg berkuasa… hee… heee…. heee….. & yg akan mewujudkan nya ya kaum MUDA, karena yg tua2 sdh pd lelah ( kata mbah HENDRA GUNAWAN )… hee… heeee… dan pemimpinnya ya memang ada nama’a juga berNEGARA & berbangsa… hee…. heee…. heee….

      Mbah AMONG RAGA pusing ya dgn FPI… hee… heee… hee… besok hujan yg untuk hari kamis enyong pindahin ke hari jum’at SEMUA, jd biar hujan’a gede dr pagi hingga sore & bubar dah demo’a… hee… hee… heee….( yg ini bercanda loh mbah AMONG )… hee… heee… heee….

      *** Salam… salam… RAHAYU…***

      • Ha…ha…haaaa…. mbah Enyong memang suka becanda, among raga kan masih arektk jadi suka sekali kalo dongeng dicampur canda hi…hi…hi….
        Satria Piningit kalo muncul sdh bukan satria piningit lagi, tapi jadi Satria Wirang lha wong terlalu lama ngumpet bodynya gak terawat lah, badan kurus-kering, rambut gondrong-gimbal, pakaian compang-camping, gigi kuning-mrongos, bau apek-menyengat, gadis2 yg lihat pada lari sambil menjerit-jerit, he….he…he… kayak Abiyasa muncul dihadapan Ambika, Ambalika & Dati, anaknya jadi buta, tengeng & pincang.
        Sing tuwa ngalah mbah Enyong, tapi sing enom ya manuta aja adigang-adigung-adiguna, mentang2 isih enam trus sing tuwa di singkrihna wis gak ana gunane.
        Kata eyang saya, Ratu Adil bersemayam di Ketangga, kok di-tunggu2 ya gak akan muncul, kita yang harus sowan kesana. he… he…he…
        Ketangga itu dimana ya ? dengar namanya tapi gak tahu alamatnya, dasar arektk !
        Mbah Enyong, dongengnya dilanjuuuuut….
        Salam Rahayu-Rahayu-Rahayu

  23. Demo 4 november itulah goro-goro. inilah yg kita nantikan akan muncul, dan tidak memihak kpd siapapun dan tidak memihak kpd pemerintah ataupun agama zaman ini. Yg selamat yg berhak ikut ratu adil.. Akan byk muncul hal2 ajaib yg tidak masuk akal.

  24. Hendra Gunawan, SS

    Sudah saya katakan Jakarta itu untuk semua bukan untuk orang kaya saja. Apalagi orang tua yang kaya-raya karena dapat warisan dari kaum kapitalisme semu Asia Tenggara. Kaum tua mengaku bersaudara seharusnya tidak boleh menistakan agama karena ambisi berkuasa. Ajari anak-anak muda beretika. Pak tua sudahlah engkau telah terlihat lelah. Stoplah bersandiwara…he he.

  25. Hendra Gunawan, SS

    Tanpa etika maka revolusi kaum muda yang bergelora akan datang secara luar biasa. Ibukota bisa pindah dari Jakarta. Stoplah bersandiwara. Pak tua sudahlah engkau telah terlihat lelah.

  26. Hendra Gunawan, SS

    Kemarin demo luar biasa, kaum muda dan rakyat jelata datang blusukan ke Ibukota, sayang hanya ditemui orang nomor dua. Semoga Allah SWT gerakkan kaum muda beserta rakyat jelata bisa ungkap upeti dan pungli reklamasi serta penistaan kitab suci. Contohlah revolusi bunga di Eropa yaitu revolusi tanpa anarki demi kebaikan dan kemajuan NKRI. Woullohua’lam.

    • Banyak2 doa aja pak luwih untung wong sing eling lan waspodo..

      Keliatanya paling lambat akhir bulan ini
      Udah dekat ini

      • Bulan Nopember 2016 sudah berakhir, 2 Desember 2016 juga sudah lewat, tapi SP & Ratu Adil belum nongol juga kenapa ya ??? Mungkin takut ditangkap Polri dgn tuduhan makar atau penistaan agama. Wallohualam

  27. salam sejahtera
    Yth SImbah ki sabdolangit dan semua Rekan di Blog megah ini
    mohon izin ….

    saya hendak bertanya apabila berkenan mohon wejangannya para pinisepuh disini …

    hamba bukan orang jawa dan gak ngerti mistik…
    beberapa hari lalu hamba ketiban kejadian aneh..

    selagi ziaroh di makam sesepuh daerah darma kuningan..hamba di berikan secara aneh sebuah tongkat yang tiba tiba keluar dari sebuah pohon besar disekitar petilasan sesepuh sunda
    dengan ciri ciri
    – warnanya kuningan emas ( tapi sepertinya bukan emas )
    – panjang sekitar 1.20cm
    – kepala berbentuk naga , dengan lidah yang cabang tetapi seperti dua
    uang logam kecil/sen..bahkan lebih kecil
    – terdapat ruas ruas seperti bambu, dibagian tengah ada juga
    ukiran kalajengking, toke . etc
    – dan terdapat huruf jawa yang setelah dicari berupa susunan
    huruf MA DHA JA BA..

    hamba mohon petunjuk serta penjabarannya kepada piri sepuh disini

    terimakasih.
    dan salam sejahtera

    • Dear Yunita, saya punya kedai barang antik, tongkat dan koinnya bisa dititipkan dikedai saya, bisa laku keras lho… Sekarang banyak orang gandrung dengan “barang lama” yang berkhasiat gaib dan berani bayar mahal. Tongkat dan coin yang didapat merupakan karya seni yang sangat hebat .dan indah, jangan disia-siakan

  28. Hendra Gunawan, SS

    Dear Mas Among Raga, Insya Allah kalau penista agama diadili dan ditahan, Pak Jokowi akan memegang amanah dua priode. Tinggal sekarang minta petunjuk ke Gusti Allah siapa calon Wapres berikutnya (2019-2024). Nah Insya Allah saat Presiden ke-8 nanti NKRI baru mendapat Ratu Adil. Burung Garuda akan lepas dari cengkraman kaum Kapitalis pendukung pertumbuhan ekonomi. Kita punya ibukota baru.
    Dear Yunita selamat anda mendapat tongkat itu, karena sepertinya anda masih keturunan Prabu Siliwangi. Tongkat itu ada hubungannya dengan Prabu Kalacakra dan Eyang Gentar Bumi (sesepuh gaib) dari Gunung Cermai. Tapi ingat tongkat itu tidak punya kekuatan tapi diberi kekuatan oleh Gusti Allah. Nah banyak-banyaklah beribadah kepada Allah dan menolong orang susah sesuai dengan kemampuan anda. Nanti isi tongkat itu yg akan menjelaskan kepada anda apa fungsinya. Woullohua’lam. Rahayu rahayu rahayu.

    • Terimakasih Mas Hendra Gunawan WW, atas infonya yg sangat berharga, lumayan untuk nambah data di kitab Sastrojendro punya saya. Kalo Ahok jadi dipenjara dengan masa tahanan kurang dari 2 tahun, maka dia berpeluang jadi Wapresnya Jokowi untuk periode 2019-2024. Periode berikutnya Jokowi sudah gak bisa lagi maju jadi presiden ke-8, sehingga Ahok berpeluang jadi presiden ke-8. Garuda terbang diganti Naga Terbang he…he…he…. dan ibukotanya pindah ke pulau reklamasi, siiiip bebas banjir. Mas Hendra maaf ya… jangan dimasukkan hati, ini cuma guyon parikeno ala guyonnya mBah Enyong yg sekarang sedang menghilang keliling antar galaxy gak pake Enterprise lho….. lebih canggih nggih mBah……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: