Monthly Archives: Oktober 2008

BERDIRINYA MATARAM & HUBUNGAN MISTIS DENGAN RATU KIDUL

 

 Gerbang Pasarean Agung Raja-Raja Mataram

Kota Gede Yogyakarta

gerbang 

SEJARAH SINGKAT BERDIRINYA MATARAM

DAN HUBUNGAN MISTIS DENGAN KANJENG RATU KIDUL

 

image021

 

            Kyai Ageng Pemanahan bergelar Kyai Ageng Mataram. Mataram adalah nama daerah yang dihadiahkan kepadanya oleh Sultan Sultan Hadiwijoyo, Sultan di Kerajaan Pajang. Karena Kyai Ageng Mataram bersama putranya Hangabehi Loring Pasar (Danang Sutowijoyo) telah dapat mengalahkan Raden Adipati Aryo Penangsang pada tahun 1527 M di Jipang Panolan.

            Kyai Ageng Pemanahan selanjutnya minta ijin kepada Sultan untuk menempati daerah Mataram itu. Sultan Hadiwijoyo mengizinkan dan berpesan,” Seorang gadis dari Kalinyamat itu supaya diasuh dan dijaga baik-baik. Apalagi sudah dewasa hendaklah dibawa masuk ke Istana”.

            Pesan itu disanggupi oleh Kyai Ageng Pemanahan, tetapi ia memohon agar diperkenankan mengajak putra Sultan Hangabehi Loring Pasar untuk pindah ke Mataram. Kyai Ageng Pemanahan sekeluarga berangkatlah menuju tlatah Mataram disertai dua orang menantunya, yakni Raden Dadap Tulis dan Tumenggung Mayang. Ditambah pula Nyi Ageng Nis istri Kyai Ageng Mataram dan penasehatnya Ki Ageng Juru Martani. Peristiwa ini terjadi pada hari Kamis Pon tanggal 3 Rabiulawal tahun Jimawal. Dalam perjalanan mereka singgah berziarah ke Istana Pengging sehari semalam.

            Kyai Ageng sekeluarga melakukan doa dan sembahyang, memohon petunjuk kepada Tuhan, melakukan semedi dan shalat hajat, doanya ternyata diterima Tuhan, muncul pertanda pepohonan seketika menjadi condong, tetapi pohon serat tinggal tetap tegap. Setelah sembahyang subuh mereka berangkat menuju Mataram dan berhenti di desa Wiyoro. Selanjutnya membangun sebuah desa yakni desa Karangsari setelah singgah sementara waktu Kyai Ageng Pemanahan dan Ki Juru Mertani mencari pohon beringin yang telah ditanam oleh Sunan Kali Jogo untuk tetenger di sanalah letaknya wilayah Mataram dimaksud.

            Terdapatlah pohon tersebut di sebelah barat daya Wiyoro. Lalu memilih tanah sebelah selatan beringin yang hendak dipakai sebagai halaman dan rumah untuk bertempat tinggal Kyai Ageng Pemanahan beserta keluarga. Mereka bekerja keras, hingga pembangunan rumah beliau selesai dalam waktu singkat. Kemudian rumah baru segera  ditempati Kyai Ageng Pemanahan yang kemudian tersohor namanya dengan gelar Kyai Ageng Mataram. Banyak saudara asing ke Mataram sehingga menambah ramai dan makmurnya Mataram (sekarang dikenal dengan nama Kotagede, pusat kerajinan perak di Yogyakarta).

            Sahdan gadis pingitan Sinuhun Sultan Hadiwijoyo yang berasal dari Kalinyamat kini telah dewasa. Ngabehi Loring  Pasar (Raden Danang Sutowijoyo) pun telah dewasa. Ia mengganggu gadis pingitan tersebut. Hal ini segera diketahui oleh ayahnya Ki Ageng Mataram. Anaknya dipanggil lalu bersabda:

Ki Ageng Mataram; Anakku..mengapa kamu berani mengganggu gadis pingitan, alangkah amarahnya Sinuhun nanti apabila mengetahui.

Raden Sutowijoyo berkata; ”Saya berani melakukan hal itu, karena telah menerima wahyu.

KAM : Bagaimana kamu dapat mengatakan demikian itu ?

R.S : Ya. Demikianlah ketika mendengar daun nyiur jatuh ayah Sultan terkejut, lagi pula ketika hendak minum air kelapa itu terkejut pula.

            Kyai Ageng Mataram menyatakan, kini belum masanya dan mengajak putranya mengharap untuk berjanji tetap setia. Keduanya berangkat, pergi ke kasultanan Pajang. Sinuhun Sultan Hadiwijoyo sedang bercengkerama dihadap para putranya dan keluarganya. Melihat kedatangan Kyai Ageng Mataram diantar putranya. Lalu sesudah berjabat tangan Ngabehi Loring Pasar pun menghadap menghaturkan sembah-bakti. Sinuhun bertanya dengan keheranan mengapa datang menghadap bukan waktunya menghadap. Kyai Ageng Mataram menyatakan bahwa menghadapnya itu karena putranya telah berdosa besar berani melanggar dan mengganggu gadis pingitan dari Kalinyamat.

            Dengan bijaksana Sinuhun Sultan Hadiwijoyo berkata,”Anak tidak berdosa, kalau demikian memang salah saya, tidak memikirkan anak yang telah dewasa. Oleh karena sudah terlanjur kamipun ikut menyetujui. Tetapi anak jangan dimurka, pinta Sinuhun kepada Ki Ageng Mataram.

            Waktu sudah berjalan sekian lama, karena usianya sudah uzur, Ki Ageng Mataram gering lalu mangkat pada hari Senin Pon 27 Ruwah tahun Je 1533. Dimakamkan di sebelah barat Istana Mataram di Kotagede, Yogyakarta. Sementara itu, Ki Jurumartani pergi ke negeri Pajang menghadapkan putra Ki Ageng Mataram. Sinuhun lalu bercengkerama dengan Ki Jurumartani memberitahukan tentang mangkatnya Ki Ageng Mataram, Sinuhun terkejut hatinya dan bersabda;

            “Kakak Jurumartani, sebagai ganti dari penghuni Mataram ialah Ngabehi Loring Pasar dan harap dimufakati dengan nama Pangeran Haryo Mataram Senopati Pupuh”. Ki Jurumartani menyanggupi lalu mohon ijin kembali, peristiwa ini terjadi pada tahun 1540. Lalu Pangeran Haryo Mataram diangkat pada tahun Dal 1551 bergelar Kanjeng Panembahan Senopati ing Ngalogo yang menguasai tanah Jawa. Kemudian menurunkan raja-raja Surakarta dan Yogyakarta, demikian pula para Bupati di pantai-pantai Jawa hingga sekarang.

            Kanjeng Panembahan Senopati memegang kekuasaan kerajaan 13 tahun lamanya. Sesudah gering kemudian mangkat, pada hari Jumat Pon bulan Suro tahun Wawu 1563. Dimakamkan di sebelah barat Masjid di bawah ayahandanya. Selanjutnya putranya yang menggantikan dengan gelar Kanjeng Susuhunan Prabu Hanyokrowati. Penobatannya dalam bulan yang bersamaan dengan wafatnya Kanjeng Panembahan Senopati.

            Pada suatu hari, Kanjeng Susuhunan pergi berburu rusa ke hutan. Dengan tiada terasa telah berpisah dengan para pengantar dan pengawalnya, kemudian beliau diserang punggungnya oleh rusa dan beliau jatuh ke tanah. Sinuhun diangkat ke istana dan ia perintahkan memanggil kakanda Panembahan Purboyo.

            Sinuhun bersabda, “Kakanda, andaikata kami sampai meninggal, oleh karena Gusti Hadipati sedang bepergian, putramu Martopuro harap ditetapkan sebagai wakil menguasai Negeri Mataram. Amanat tersebut disanggupi, Sinuhun terkenal dengan gelar Sinuhun Seda Krapyak. Beliau mangkat pada bulan Besar, tuhan Jimawal 1565 dan dimakamkan di sebelah bawah makan ayahandanya, Panembahan Senopati.

            Demikian sejarah singkat kerajaan Mataram, yang sampai saat ini terbukti masih berdiri kokoh. Lalu dari keturunan manakah raja-raja besar Mataram ? Berikut ini saya paparkan silsilah  leluhur kerajaan Mataram:

1.    Sinuhun Brawijaya V, raja kerajaan Majapahit terakhir berputera Raden Bondan Kejawan yang   bergelar Kyai Ageng Tarub ke III.

2.    Kyai Ageng Tarub III mempunyai putra yakni Kyai Ageng Getas Pandowo.

3.    Kyai Ageng Getas Pandowo berputera Ki Ageng  Selo.

4.    Kyai Ageng Selo berputera Ki Ageng Nis.

5.    Ki Ageng Nis berputera Ki Ageng Pemanahan (Ki Ageng Mataram).

6.    Ki Ageng Pemanahan berputera Kanjeng Panembahan Senopati ing Ngalogo.

7.    Kanjeng Panembahan Senopati ing Ngalogo berputera Sinuhun Prabu Hanyokrowati.

8.    Sinuhun Prabu Hanyokrowati berputera Kanjeng Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo Kalipatullah  Panetep Panatagama Senopati ing Prang.

 

 

RIWAYAT BALOK

 Balok Kayu Jati bernama Kyai Tunggul Wulung

Kyai Tunggul Wulung

Foto Balok Kyai Tunggul Wulung

Panjang 5 m (diamater 25×25 cm)

kyai-tunggul-wulung2

Foto Kyai Tunggul Wulung

            Bagi kebanyakan masyarakat Jawa khususnya Yogyakarta dan Solo, percaya dengan kisah mistik raja-raja Mataram yang berhubungan erat dengan Kanjeng Ratu Kidul. Kanjeng Ratu Kidul entitasnya bukan lah sejenis jin, siluman atau setan, tetapi merupakan wujud panitisan dari bidadari, yang turun ke dalam dimensi gaibnya bumi (bukan alam ruh/barzah), berperan menjaga keseimbangan alam semesta khususnya sepanjang pesisir selatan Jawa dan wilayah samodra selatan Nusantara. Menjaga kelestarian alam dengan mencegah atau menghukum manusia yang tidak menghormati alam semesta ciptaan Tuhan YME, atau manusia yang merusak keseimbangan alam dengan cara mengambil kekayaan alam secara serakah dan tamak. Kanjeng Ratu Kidul sebagaimana raja atau ratu gung binatara yang bijaksana dan sakti mandraguna, manembah tunduk kepada Gusti Ingkang Akaryo jagad. Namun demikian, Kanjeng Ratu Kidul tetap sebagai entitas mahluk halus, dalam arti tidak memiliki raga atau jasad dalam bentuk fisik.

            Kisah mistis di atas tidak terlepas dari sejarah pusaka balok kayu jati yang bernama Kyai Tunggulwulung. Saat ini diletakkan di sebelah timur makam Gusti Kanjeng Panembahan Senopati yang membujur ke utara, panjangnya 5 meter diameter 25 cm. Balok tersebut adalah bekas titihan (kendaraan/perahu) ketika Panembahan Senopati bertapa menghanyutkan diri di sungai Opak hingga sampai di kratonnya jagad halus, ialah Kanjeng Ratu Kidul. Kemudian mempunyai wilayah jajahan di jagad halus. Seperti ditulis dalam kitab Wedhatama karya KGPAA Mangkunegoro IV, dalam tembang Sinom, yang artinya sebagai berikut ;

1)    Sekalipun Kanjeng Ratu Kidul dapat menguasai samodra, apa pun kehendaknya terlaksanan. Akan tetapi masih kalah wibawa dengan Gusti Kanjeng Panembahan Senopati.

2)    Kanjeng Ratu Kidul sangat mengharapkan bisanya terjalin persahabatan antara kerajaan mahluk halus dengan kerajaan Senopaten. Selanjutnya memohon agar sekali tempo Gusti Kanjeng Panembahan Senopati sudi mengadakan pertemuan di dalam dunia mahluk halus. Sekalipun dengan susah payah Panembahan Senopati menyanggupi hingga sampai turun temurun.

Selanjutnya wawancara antara Gusti Panembahan Senopati (GPS) dengan Kanjeng Ratu Kidul (KRK), begini:

KRK    : “…Marilah Kangmas Priyagung agigit, bersama dengan kami, tinggalkan saja Sang Permaisuri serta abdi sentana putri. Anda di alam kami akan mendapatkan ganti yang lebih memuaskan hati. Pindahlah dari Mataram, hamba akan menerima dengan senang hati. Di dalam kerajaan kami Paduka akan penuh wibawa, kami sembah dan kami siap mengabdi sampai akhir zaman.

GPS     : “…Karena sudah demikian cinta Dinda dengan saya, saya pun tidak akan menyia-nyiakan, saya sambut uluran kasih persahabatan Dinda. Tetapi leluhur kami berpesan, bangsa manusia itu karena berasal dari bumi sebaiknya sampai akhir hayatnya juga dikubur di bumi. Tidak pantas dan merupakan pantangan kami merubah jenis menjadi mahluk halus. Oleh karena itu jangan khawatir saya ingkar janji, setiap hari selalu terbayang kecantikan wajah Adinda. Dalam waktu tertentu kita sekali tempo mengadakan pertemuan saja”.

            Demikian sekilas riwayat balok Mataram, yang sedikit banyak dapat menguak sejatinya hubungan gaib kerajaan Mataram secara turun temurun dengan kerajaan dunia halus di laut selatan. Bagaimana menempatkan secara tepat dan bijaksana antara manusia dengan mahluk halus yang juga ciptaan Gusti Allah Yang Maha Wisesa. Dapat sebagai contoh bagi generasi sekarang bagaimana cara memahami hubungan manusia dengan mahluk gaib. Seyogyanya manusia dapat bersikap bijaksana dan tidak sombong, menempatkan mereka yang gaib sebagaimana interaksi dengan manusia saling menghargai dan menghormati sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan. Karena masih sebagai mahluk Tuhan, mahluk halus tetap memiliki karakter seperti halnya manusia, ada yang baik ada yang jahat, ada yang manembah kepada Tuhan, tetapi ada pula yang membangkang.

 

RIWAYAT SOKO GURU

 

soko-guru

Foto Soko Guru

            Soko Guru adalah tiang penyangga atap rumah berbahan kayu jati yang dikelilingi ukiran halus dan indah, terletak di Pasarean Mataram, disebelah timur dan di pacak suji, sbb;

            Ketika Kerajaan Kartasura yang bertahta adalah Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (ISKS) Mangkurat Amral tahun 1606 M, wilayah terkena bencana kelaparan, banyak orang yang sengsara dan menderita kelaparan. ISKS sangat sedih hatinya, kemudian memanggil adik Dalem Gusti Pangeran Puger. Adik Dalem lalu sowan menghadap, Sinuhun bertitah,” kalau terus begini Dimas, saya hendak bunuh diri saja dan saya minta diri. Saya sangat malu disembah rakyat senegara tetapi tidak dapat membuat rakyat bahagia. Yang hina dina adalah nama ratu. Gusti Pangeran Puger berkata, “Sabarlah dahulu Kangmas, jangan mudah putus asa. Saya mohon diri dari Praja, hendak memohon pertolongan Tuhan, hendak sowan (ziarah) ke Pasarean (makam) Mataram. Sinuhun mengijinkan, dan bersabda,”Saya hanya dapat mengurangi makan dan tidur untuk membantu Dimas”. Sang pangeran Puger mohon diri, terus mengundurkan diri dan mampir di Dalem Pugeran, untuk ganti pakaian seperti santri desa. Menghimpit golok, memakai tongkat, dan membawa tasbih, kemudian mampir ke Pleret.

            Sesudah shalat Isya’ terus menuju barat laut ke Kotagede, langsung menuju di bawah ringin sepuh Mataram. Sesudah tengah malam lalu sesuci di sungai Gajahwong, kemudian kembali duduk di bawah ringin sepuh Mataram. Masuk waktu subuh terus ke Masjid, sesudah Subuh lalu sowan di Pasarean. Duduk berdekatan dengan tiang di sebelah tenggara dan terus berdoa. Setelah selama empat puluh hari empat puluh malam Pangeran Puger bertapa, maka makbul lah doanya, dilihatnya tepat di atas tempat duduk ada tompo (gayung beras) yang bergantung pada tiang tepat di atasnya. Kemudian tompo diambil dan dihimpit terus dibawa pulang ke negara Kartasura.

            Di tengah perjalanan dari Pasarean Agung Mataram di Kotagede menuju Kartasura, Pangeran Puger mampir ke pasar-pasar yang dilewatinya, menanyakan kepada para bakul-bakul, dijawab bahwa sekarang beras dan sandang sudah murah. Sesampainya di negara Kartasura, Pangeran Puger langsung sowan menghadap ke kraton, Sinuhun baru dihadap para sentana. Melihat Rayi Dalem, Sinuhun terus merangkul dan berkata, “Dimas, terkabullah permohonanmu”.

            Dari tulisan di atas dapat diambil benang merah bahwa, Raja atau penguasa yang pantas menjadi sesembahan kawula adalah raja atau penguasa yang siap berkorban untuk kesejahteraan rakyatnya. Raja/penguasa bijaksana adalah yang selalu sadar bahwa kekuasaannya itu membutuhkan dukungan rakyatnya, tanpa rakyat maka tidak akan ada raja yang menduduki tahta kerajaan. Begitulah antara lain contoh pelajaran tentang  manunggaling kawula lan gusti, pada aras horisontal/habluminannas.

 

Foto Lukisan Ki Ageng Pemanahan/Ki Ageng Mataram

Foto Ki Ageng Pemanahan/Ki Ageng Mataram

 

Foto Lukisan Panembahan Senopati

Foto Lukisan Panembahan Senopati

 

Foto Lukisan Kanjeng Sultan Agung

Foto Lukisan Kanjeng Sultan Agung

Keterangan dihimpun dari hasil wawancara Jurukunci Pasarean (makam) Agung Mataram di Kotagede dan di Imogiri Bantul dan sebagaimana dikisahkan para abdidalem di dua Pasarean Agung tersebut. Referensi; Mantri Jurukunci R.Ng. Martohastono.

Sabdalangit

PUNCAK ILMU KEJAWEN

Puncak Ilmu Kejawen

Ilmu “Sastra Jendra hayuningrat Pangruwating Diyu” adalah puncak Ilmu Kejawen. “Sastra Jendra hayuningrat Pangruwating Diyu” artinya; wejangan berupa mantra sakti untuk keselamatan dari unsur-unsur kejahatan di dunia. Wejangan atau mantra tersebut dapat digunakan untuk membangkitkan gaib “Sedulur Papat” yang kemudian diikuti bangkitnya saudara “Pancer” atau sukma sejati, sehingga orang yang mendapat wejangan itu akan mendapat kesempurnaan. Secara harfiah arti dari “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” adalah sebagai berikut; Serat = ajaran, Sastrajendra = Ilmu mengenai raja. Hayuningrat = Kedamaian. Pangruwating = Memuliakan atau merubah menjadi baik. Diyu = raksasa atau lambang keburukan. Raja disini bukan harfiah raja melainkan sifat yang harus dimiliki seorang manusia mampu menguasai hawa nafsu dan pancainderanya dari kejahatan. Seorang raja harus mampu menolak atau merubah keburukan menjadi kebaikan.Pengertiannya; bahwa Serat Sastrajendra Hayuningrat adalah ajaran kebijaksanaan dan kebajikan yang harus dimiliki manusia untuk merubah keburukan mencapai kemuliaan dunia akhirat. Ilmu Sastrajendra adalah ilmu makrifat yang menekankan sifat amar ma’ruf nahi munkar, sifat memimpin dengan amanah dan mau berkorban demi kepentingan rakyat.

 

Asal-usul Sastra Jendra dan Filosofinya

          Menurut para ahli sejarah, kalimat “Sastra Jendra” tidak pernah terdapat dalam kepustakaan Jawa Kuno.  Tetapi baru terdapat pada abad ke 19 atau tepatnya 1820. Naskah dapat ditemukan dalam tulisan karya Kyai Yasadipura dan Kyai Sindusastra dalam lakon Arjuno Sastra atau Lokapala. Kutipan diambil dari kitab Arjuna Wijaya pupuh Sinom pada halaman 26;

        Selain daripada itu, sungguh heran bahwa tidak seperti permintaan anak saya wanita ini, yakni barang siapa dapat memenuhi permintaan menjabarkan “Sastra Jendra hayuningrat” sebagai ilmu rahasia dunia (esoterism) yang dirahasiakan oleh Sang Hyang Jagad Pratingkah. Dimana tidak boleh seorangpun mengucapkannya karena mendapat laknat dari Dewa Agung walaupun para pandita yang sudah bertapa dan menyepi di gunung sekalipun, kecuali kalau pandita mumpuni. Saya akan berterus terang kepada dinda Prabu, apa yang menjadi permintaan putri paduka. Adapun yang disebut Sastra Jendra Yu Ningrat adalah pangruwat segala segala sesuatu, yang dahulu kala disebut sebagai ilmu pengetahuan yang tiada duanya, sudah tercakup ke dalam kitab suci (ilmu luhung = Sastra). Sastra Jendra itu juga sebagai muara atau akhir dari segala pengetahuan. Raksasa dan Diyu, bahkan juga binatang yang berada dihutan belantara sekalipun kalau mengetahui arti Sastra Jendra akan diruwat oleh Batara, matinya nanti akan sempurna, nyawanya akan berkumpul kembali dengan manusia yang “linuwih” (mumpuni), sedang kalau manusia yang mengetahui arti dari Sastra Jendra nyawanya akan berkumpul dengan para Dewa yang mulia…

        Ajaran “Sastra Jendra hayuningrat Pangruwating Diyu” mengandung isi yang mistik, angker gaib, kalau salah menggunakan ajaran ini bisa mendapat malapetaka yang besar. Seperti pernah diungkap oleh Ki Dalang Narto Sabdo dalam lakon wayang Lahirnya Dasamuka. Kisah ceritanya sebagai berikut;

Begawan Wisrawa mempunyai seorang anak bernama Prabu Donorejo, yang ingin mengawini seorang istri bernama Dewi Sukesi yang syaratnya sangat berat, yakni;

  1. Bisa mengalahkan paman Dewi Sukesi, yaitu Jambu Mangli, seorang raksasa yang sangat sakti.
  2. Bisa menjabarkan ilmu “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu”

Prabu Donorejo tidak dapat melaksanakan maka minta bantuan ayahandanya, Begawan Wisrawa yang ternyata dapat memenuhi dua syarat tersebut. Maka Dewi Sukesi dapat diboyong Begawan Wisrawa, untuk diserahkan kepada anaknya Prabu Donorejo.

        Selama perjalanan membawa pulang Dewi Sukesi, Begawan Wisrawa jatuh hati kepada Dewi Sukesi demikian juga Dewi Sukesi hatinya terpikat kepada Begawan Wisrawa.

“Jroning peteng kang ono mung lali, jroning lali gampang nindakake kridaning priyo wanito,” kisah Ki Dalang.

        Begawan Wisrawa telah melanggar ngelmu “Sastra Jendra”, beliau tidak kuat menahan nafsu seks dengan Dewi Sukesi. Akibat dari dosa-dosanya maka lahirlah anak yang bukan manusia tetapi berupa raksasa yang menakutkan, yakni;

  1. Dosomuko
  2. Kumbokarno
  3. Sarpokenoko
  4. Gunawan Wibisono

Setelah anak pertama lahir, Begawan Wisrawa mengakui akan kesalahannya, sebagai penebus dosanya beliau bertapa atau tirakat tidak henti-hentinya siang malam. Berkat gentur tapanya, maka lahir anak kedua, ketiga dan keempat yang semakin sempurna.Laku Begawan Wisrawa yang banyak tirakat serta doa yang tiada hentinya, akhirnya Begawan Wisrawa punya anak-anak yang semakin sempurna ini menjadi simbol bahwa untuk mencapai Tuhan harus melalui empat tahapan yakni; Syariat, Tarikat, Hakekat, Makrifat.

Lakon ini mengingatkan kita bahwa untuk mengenal diri pribadinya, manusia harus melalui tahap atau tataran-tataran yakni;

1.            Syariat; dalam falsafah Jawa syariat memiliki makna sepadan dengan Sembah Rogo.

2.            Tarikat; dalam falsafah Jawa maknanya adalah Sembah Kalbu.

3.            Hakikat; dimaknai sebagai Sembah Jiwa atau ruh (ruhullah).

4.            Makrifat; merupakan tataran tertinggi yakni Sembah Rasa atau sir (sirullah).

 

Pun diceritakan dalam kisah Dewa Ruci, di mana diceritakan perjalanan Bima (mahluk Tuhan) mencari “air kehidupan” yakni sejatinya hidup. Air kehidupan atau tirta maya, dalam bahasa Arab disebut sajaratul makrifat. Bima harus melalui berbagai rintangan baru kemudia bertemu dengan Dewa Ruci (Dzat Tuhan) untuk mendapatkan “ngelmu”.

Bima yang tidak lain adalah Wrekudara/AryaBima, masuk tubuh Dewa Ruci menerima ajaran tentang Kenyataan “Segeralah kemari Wrekudara, masuklah ke dalam tubuhku”, kata Dewa Ruci. Sambil tertawa Bima bertanya :”Tuan ini bertubuh kecil, saya bertubuh besar, dari mana jalanku masuk, kelingking pun tidak mungkin masuk”. Dewa Ruci tersenyum dan berkata lirih:”besar mana dirimu dengan dunia ini, semua isi dunia, hutan dengan gunung, samudera dengan semua isinya, tak sarat masuk ke dalam tubuhku”.

Atas petunjuk Dewa Ruci, Bima masuk ke dalam tubuhnya melalui telinga kiri.

Dan tampaklah laut luas tanpa tepi, langit luas, tak tahu mana utara dan selatan, tidak tahu timur dan barat, bawah dan atas, depan dan belakang. Kemudian, terang, tampaklah Dewa Ruci, memancarkan sinar, dan diketahui lah arah, lalu matahari, nyaman rasa hati.

Ada empat macam benda yang tampak oleh Bima, yaitu hitam, merah kuning dan putih. Lalu berkatalah Dewa Ruci:”Yang pertama kau lihat cahaya, menyala tidak tahu namanya, Pancamaya itu, sesungguhnya ada di dalam hatimu, yang memimpin dirimu, maksudnya hati, disebut muka sifat, yang menuntun kepada sifat lebih, merupakan hakikat sifat itu sendiri. Lekas pulang jangan berjalan, selidikilah rupa itu jangan ragu, untuk hati tinggal, mata hati itulah, menandai pada hakikatmu, sedangkan yang berwarna merah, hitam, kuning dan putih, itu adalah penghalang hati. 

Yang hitam kerjanya marah terhadap segala hal, murka, yang menghalangi dan menutupi tindakan yang baik. Yang merah menunjukkan nafsu yang baik, segala keinginan keluar dari situ, panas hati, menutupi hati yang sadar kepada kewaspadaan. Yang kuning hanya suka merusak. Sedangkan yang putih berarti nyata, hati yang tenang suci tanpa berpikiran ini dan itu, perwira dalam kedamaian. Sehingga hitam, merah dan kuning adalah penghalang pikiran dan kehendak yang abadi, persatuan Suksma Mulia.

Lalu Bima melihat, cahaya memancar berkilat, berpelangi melengkung, bentuk zat yang dicari, apakah gerangan itu ?! Menurut Dewa Ruci, itu bukan yang dicari (air suci), yang dilihat itu yang tampak berkilat cahayanya, memancar bernyala-nyala, yang menguasai segala hal, tanpa bentuk dan tanpa warna, tidak berwujud dan tidak tampak, tanpa tempat tinggal, hanya terdapat pada orang-orang yang awas, hanya berupa firasat di dunia ini, dipegang tidak dapat, adalah Pramana, yang menyatu dengan diri tetapi tidak ikut merasakan gembira dan prihatin, bertempat tinggal di tubuh, tidak ikut makan dan minum, tidak ikut merasakan sakit dan menderita, jika berpisah dari tempatnya, raga yang tinggal, badan tanpa daya. Itulah yang mampu merasakan penderitaannya, dihidupi oleh suksma, ialah yang berhak menikmati hidup, mengakui rahasia zat.

Kehidupan Pramana dihidupi oleh suksma yang menguasai segalanya, Pramana bila mati ikut lesu, namun bila hilang, kehidupan suksma ada. Sirna itulah yang ditemui, kehidupan suksma yang sesungguhnya, Pramana Anresandani.
Jika ingin mempelajari dan sudah didapatkan, jangan punya kegemaran, bersungguh-sungguh dan waspada dalam segala tingkah laku, jangan bicara gaduh, jangan bicarakan hal ini secara sembunyi-sembunyi, tapi lekaslah mengalah jika berselisih, jangan memanjakan diri, jangan lekat dengan nafsu kehidupan tapi kuasailah.

Tentang keinginan untuk mati agar tidak mengantuk dan tidak lapar, tidak mengalami hambatan dan kesulitan, tidak sakit, hanya enak dan bermanfaat, peganglah dalam pemusatan pikiran, disimpan dalam buana, keberadaannya melekat pada diri, menyatu padu dan sudah menjadi kawan akrab.
Sedangkan Suksma Sejati, ada pada diri manusia, tak dapat dipisahkan, tak berbeda dengan kedatangannya waktu dahulu, menyatu dengan kesejahteraan dunia, mendapat anugerah yang benar, persatuan manusia/kawula dan pencipta/Gusti. Manusia bagaikan wayang, Dalang yang memainkan segala gerak gerik dan berkuasa antara perpaduan kehendak, dunia merupakan panggungnya, layar yang digunakan untuk memainkan panggungnya.

Bila seseorang mempelajari “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” berarti harus pula mengenal asal usul manusia dan dunia seisinya, dan haruslah dapat menguraikan tentang sejatining urip (hidup), sejatining Panembah (pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa), sampurnaning pati (kesempurnaan dalam kematian), yang secara gamblang disebut juga innalillahi wainna illaihi rojiuun, kembali ke sisi Tuhan YME dengan tata cara hidup layak untuk mencapai budi suci dan menguasai panca indera serta hawa nafsu untuk mendapatkan tuntunan Sang Guru Sejati.

Uraian tersebut dapat menjelaskan bahwa sasaran utama mengetahui “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” adalah untuk mencapai Kasampurnaning Pati, dalam istilah RNg Ronggowarsito disebut Kasidaning Parasadya atau pati prasida, bukan sekedar pati patitis atau pati pitaka. “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” seolah menjadi jalan tol menuju pati prasida.

Bagi mereka yang mengamalkan “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” dapat memetik manfaatnya berupa Pralampita atau ilham atau wangsit (wahyu) atau berupa “senjata” yang berupa rapal. Dengan rapal atau mantra orang akan memahami isi Endra Loka, yakni pintu gerbang rasa sejati, yang nilainya sama dengan sejatinya Dzat YME dan bersifat gaib. Manusia mempunyai tugas berat dalam mencari Tuhannya kemudian menyatukan diri ke dalam gelombang Dzat Yang Maha Kuasa. Ini diistilahkan sebagai wujud jumbuhing/manunggaling kawula lan Gusti, atau warangka manjing curiga. Tampak dalam kisah Dewa Ruci, pada saat bertemunya Bima dengan Dewa Ruci sebagai lambang Tuhan YME. Saat itu pula Bima menemukan segala sesuatu di dalam dirinya sendiri.

Itulah inti sari dari “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” sebagai Pungkas-pungkasaning Kawruh. Artinya, ujung dari segala ilmu pengetahuan atau tingkat setinggi-tingginya ilmu yang dapat dicapai oleh manusia atau seorang sufi. Karena ilmu yang diperoleh dari makrifat ini lebih tinggi mutunya dari pada ilmu pengetahuan yang dapat dicapai dengan akal.

Dalam dunia pewayangan lakon “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” dimaksudkan untuk lambang membabarkan wejangan sedulur papat lima pancer. Yang menjadi tokoh atau pelaku utama dalam lakon ini adalah sbb;

Begawan Wisrawa menjadi lambang guru yang memberi wejangan ngelmu Sastrajendra kepada Dewi Sukesi. Ramawijaya sebagai penjelmaan Wisnu  (Kayun; Yang Hidup), yang memberi pengaruh kebaikan terhadap Gunawan Wibisono (nafsul mutmainah), Keduanya sebagai lambang dari wujud jiwa dan sukma yang disebut Pancer. Karena wejangan yang diberikan oleh Begawan Wisrawa kepada Dewi Sukesi ini bersifat sakral yang tidak semua orang boleh menerima, maka akhirnya mendapat kutukan Dewa kepada anak-anaknya.

 

  1. Dasamuka (raksasa) yang mempunyai perangai jahat, bengis, angkara murka, sebagai simbol dari nafsu amarah.
  2. Kumbakarna (raksasa) yang mempunyai karakter raksasa yakni bodoh, tetapi setia, namun memiliki sifat pemarah. Karakter kesetiannya membawanya pada watak kesatria yang tidak setuju dengan sifat kakaknya Dasamuka. Kumbakarno menjadi lambang dari nafsu lauwamah.
  3. Sarpokenoko (raksasa setengah manusia) memiliki karakter suka pada segala sesuatu yang enak-enak, rasa benar yang sangat besar, tetapi ia sakti dan suka bertapa. Ia menjadi simbol nafsu supiyah.
  4. Gunawan Wibisono (manusia seutuhnya); sebagai anak bungsu yang mempunyai sifat yang sangat berbeda dengan semua kakaknya. Dia meninggalkan saudara-saudaranya yang dia anggap salah dan mengabdi kepada Romo untuk membela kebenaran. Ia menjadi perlambang dari nafsul mutmainah.

 

Gambaran ilmu ini adalah mampu merubah raksasa menjadi manusia. Dalam pewayangan, raksasa digambarkan sebagai mahluk yang tidak sesempurna manusia. Misal kisah prabu Salya yang malu karena memiliki ayah mertua seorang raksasa. Raden Sumantri atau dikenal dengan nama Patih Suwanda memiliki adik raksasa bajang bernama Sukrasana. Dewi Arimbi, istri Werkudara harus dirias sedemikian rupa oleh Dewi Kunti agar Werkudara mau menerima menjadi isterinya. Betari Uma disumpah menjadi raksesi oleh Betara Guru saat menolak melakukan perbuatan kurang sopan dengan Dewi Uma pada waktu yang tidak tepat. Anak hasil hubungan Betari Uma dengan Betara Guru lahir sebagai raksasa sakti mandra guna dengan nama “ Betara Kala “ (kala berarti keburukan atau kejahatan). Sedangkan Betari Uma kemudian bergelar Betari Durga menjadi pengayom kejahatan dan kenistaan di muka bumi memiliki tempat tersendiri yang disebut “ Kayangan Setragandamayit “. Wujud Betari Durga adalah raseksi yang memiliki taring dan gemar membantu terwujudnya kejahatan.

Melalui ilmu Sastrajendra maka simbol sifat sifat keburukan raksasa yang masih dimiliki manusia akan menjadi dirubah menjadi sifat sifat manusia yang berbudi luhur. Karena melalui sifat manusia ini kesempurnaan akal budi dan daya keruhanian mahluk ciptaan Tuhan diwujudkan. Dalam kitab suci disebutkan bahwa manusia adalah ciptaan paling sempurna. Bahkan ada disebutkan, Tuhan menciptakan manusia berdasar gambaran dzat-Nya. Filosof Timur Tengah Al Ghazali menyebutkan bahwa manusia seperti Tuhan kecil sehingga Tuhan sendiri memerintahkan para malaikat untuk bersujud. Sekalipun manusia terbuat dari dzat hara berbeda dengan jin atau malaikat yang diciptakan dari unsur api dan cahaya. Namun manusia memiliki sifat sifat yang mampu menjadi “ khalifah “ (wakil Tuhan di dunia).

Namun ilmu ini oleh para dewata hanya dipercayakan kepada Wisrawa seorang satria berwatak wiku yang tergolong kaum cerdik pandai dan sakti mandraguna untuk mendapat anugerah rahasia Serat Sastrajendrahayuningrat  Diyu.
Ketekunan, ketulusan dan kesabaran Begawan Wisrawa menarik perhatian dewata sehingga memberikan amanah untuk menyebarkan manfaat ajaran tersebut. Sifat ketekunan Wisrawa, keihlasan, kemampuan membaca makna di balik sesuatu yang lahir dan kegemaran berbagi ilmu. Sebelum “ madeg pandita “ ( menjadi wiku ) Wisrawa telah lengser keprabon menyerahkan tahta kerajaaan kepada sang putra Prabu Danaraja. Sejak itu sang wiku gemar bertapa mengurai kebijaksanaan dan memperbanyak ibadah menahan nafsu duniawi untuk memperoleh kelezatan ukhrawi nantinya. Kebiasaan ini membuat sang wiku tidak saja dicintai sesama namun juga para dewata.

Sifat Manusia Terpilih

Sebelum memutuskan siapa manusia yang berhak menerima anugerah Sastra Jendra, para dewata bertanya pada sang Betara Guru. “ Duh, sang Betara agung, siapa yang akan menerima Sastra Jendra, kalau boleh kami mengetahuinya. “Bethara guru menjawab “ Pilihanku adalah anak kita Wisrawa “. Serentak para dewata bertanya “ Apakah paduka tidak mengetahui akan terjadi bencana bila diserahkan pada manusia yang tidak mampu mengendalikannya. Bukankah sudah banyak kejadian yang bisa menjadi pelajaran bagi kita semua”
Kemudian sebagian dewata berkata “ Kenapa tidak diturunkan kepada kita saja yang lebih mulia dibanding manusia “.

Seolah menegur para dewata sang Betara Guru menjawab “Hee para dewata, akupun mengetahui hal itu, namun sudah menjadi takdir Tuhan Yang Maha Kuasa bahwa ilmu rahasia hidup justru diserahkan pada manusia. Bukankah tertulis dalam kitab suci, bahwa malaikat mempertanyakan pada Tuhan mengapa manusia yang dijadikan khalifah padahal mereka ini suka menumpahkan darah“. Serentak para dewata menunduk malu “ Paduka lebih mengetahui apa yang tidak kami ketahui”. Kemudian, Betara Guru turun ke mayapada didampingi Betara Narada memberikan Serat Sastra Jendra kepada Begawan Wisrawa.

“ Duh anak Begawan Wisrawa, ketahuilah bahwa para dewata memutuskan memberi amanah Serat Sastra Jendra kepadamu untuk diajarkan kepada umat manusia”
Mendengar hal itu, menangislah Sang Begawan “ Ampun, sang Betara agung, bagaimana mungkin saya yang hina dan lemah ini mampu menerima anugerah ini “.
Betara Narada mengatakan “ Anak Begawan Wisrawa, sifat ilmu ada 2 (dua). Pertama, harus diamalkan dengan niat tulus. Kedua, ilmu memiliki sifat menjaga dan menjunjung martabat manusia. Ketiga, jangan melihat baik buruk penampilan semata karena terkadang yang baik nampak buruk dan yang buruk kelihatan sebagai sesuatu yang baik. “ Selesai menurunkan ilmu tersebut, kedua dewata kembali ke kayangan.
Setelah menerima anugerah Sastrajendra maka sejak saat itu berbondong bondong seluruh satria, pendeta, cerdik pandai mendatangi beliau untuk minta diberi wejangan ajaran tersebut. Mereka berebut mendatangi pertapaan Begawan Wisrawa melamar menjadi cantrik untuk mendapat sedikit ilmu Sastra Jendra. Tidak sedikit yang pulang dengan kecewa karena tidak mampu memperoleh ajaran yang tidak sembarang orang mampu menerimanya. Para wiku, sarjana, satria harus menerima kenyataan bahwa hanya orang-orang yang siap dan terpilih mampu menerima ajarannya.

        Demikian lah pemaparan tentang puncak ilmu kejawen yang adiluhung, tidak bersifat primordial, tetapi bersifat universal, berlaku bagi seluruh umat manusia di muka bumi, manusia sebagai mahluk ciptaan Gusti Kang Maha Wisesa, Tuhan Yang Maha Kuasa. Yang Maha Tunggal. Janganlah terjebak pada simbol-simbol atau istilah yang digunakan dalam tulisan ini. Namun ambilah hikmah, hakikat, nilai yang bersifat metafisis dan universe dari ajaran-ajaran di atas. Semoga bermanfaat.

 

Semoga para pembaca yang budiman diantara orang-orang yang terpilih dan pinilih untuk meraih ilmu sejatinya hidup.

 

Salam

Sabdalangit

 

 

SIAPA YANG MASUK SYURGA ?

Siapa Saja yang Masuk Surga?

 

Ivan Iwanovitch meninggal hari Sabtu – pukul lima. Begitu juga Abdul Rahman dan Martin Christian. Bertiga mereka berjalan ke tempat hari akherat. Tidak bisa melihat siapa Iwan, siapa Abdul atau siapa Martin, karena ruh tidak ada pakaian – tidak ada raut muka. Dari jauh mereka melihat cahaya. Itulah Jesus, kata Martin, sebentar lagi kelihatan cahaya lagi, itulah Nabi Muhammad kata Abdul dan untuk ketiga kalinya dilihat warna lagi, itulah Sanctus Carolus Marx kata Ivan Iwanovitch – seorang komunis yang sejati. Sampai akhirnya mereka melihat cahaya begitu kuat dan terang sehingga ketiga ruh dipenuhi cahaya dan kemuliaan. Hic es Deus kata Martin, Prinsip Hoffnung kata Iwan, itulah Tuhan Allah kata Abdul. Tapi yang dilihat adalah hal yang sama dan tidak ada satu orangpun diantara mereka yang masih hidup yang bisa menjelaskan apa yang dilihat tiga ruh itu. Karena cahaya yang dilihat adalah baru, tidak ada perbandingan dan tidak ada kata yang memungkinkan melukiskan hal itu. Dan hal yang tidak dapat dipikirkan, tidak bisa dibicarakan. Dan tentang hal yang tidak bisa dibicarakan tentang hal itu, lebih baik tutup mulut, kata Wittgenstein.

 

Karya MAW Brouwer

 

 

Artikel lain: Agama Saya Cinta

 

Paradoks, itulah judul yang diberikan terhadap kecenderungan kekinian dalam kehidupan. John Naisbitt adalah salah satu tokoh yang berkontribusi besar terhadap populernya terminologi paradoks. Fundamental dalam pikiran orang- orang seperti Naisbitt, bila ada kecenderungan yang keluar dari rel akal sehat, dengan mudah masuk ke kotak paradoks. Sebagian dari manusia yang memberi judul paradoks kemudian kecewa, sebagian lagi malah bertumbuh justru karena paradoks.

Tulisan ini berharap, mudah-mudahan lebih banyak sahabat yang dibuat bertumbuh oleh paradoks-paradoks berikut. Tidak menjadi niat tulisan ini agar paradoks-paradoks berikut menjadi awal permusuhan dan kecurigaan baru. Sebagian paradoks yang layak dicermati adalah apa yang terjadi di Bali, India, Tibet, sampai Timur Tengah. Bali, sebagaimana dikomunikasikan dalam waktu lama oleh industri pariwisata, adalah pulau kedamaian. Namun, di sini juga ribuan manusia dibantai karena judul komunis di tahun 1965. Di sini juga dua bom teroris meraung-raung memakan banyak jiwa manusia. Di sini juga sebuah kota terbakar karena calon presiden yang didukung tidak terpilih di tahun 1999. Di Bali juga terjadi orang yang sudah meninggal pun masih dihalangi agar pulang secara damai. India juga serupa. Di sini lahir dua agama dunia (Hindu dan Buddha), di sini juga terlahir tokoh-tokoh spiritual yang besar dan mengagumkan, dari Mahatma Gandhi, Ramakrishna, Svami Vivekananda, 0sho, Ramana Maharsi, sampai Buddha Gautama, Atisha, dan Acharya Shantidewa. Namun, di sini juga kebencian memacu permusuhan terus-menerus sehingga sahabat Hindu dengan sahabat Islam belum mengakhiri secara tuntas permusuhannya. Persoalan perbatasan masih memanas. Sejumlah tempat ibadah masih dijaga aparat. Tibet adalah atap dunia. Seperti kepalanya Bumi. Dengan demikian, mudah dimengerti di sini lahir banyak sastra kehidupan yang mengagumkan (salah satu contohnya The Tibetian Book of the Dead). Namun, di sini juga kesedihan berumur teramat panjang. Dari pemimpinnya Dalai Lama sudah di pengasingan selama puluhan tahun, nasib rakyat Tibet yang penuh dengan tangisan. Dan belum ada tanda-tanda kuat kalau negeri suci ini akan mengalami perubahan. Timur Tengah juga serupa. Di sini dua agama dunia (Islam dan Nasrani) pernah lahir. Namun, di sini juga mesin-mesin senjata meraung-raung terus memakan korban-korban manusia tidak berdaya. Israel dan Palestina belum menunjukkan tanda-tanda berdamai dalam jangka panjang. Belakangan malah semakin menyedihkan. Dengan demikian, dalam totalitas, mudah dimengerti kalau Naisbitt pernah membaca sebuah kecenderungan mendunia: ’religion no, spirituality yes’. Agama tidak, spiritualitas ya. Ini mirip dengan pengalaman seorang remaja Indonesia yang pernah kuliah di Melbourne, Australia. Suatu kali dalam kelas yang besar jumlah mahasiswanya, dosennya bertanya: any one of you who have religion? Siapakah yang memiliki agama di kelas ini? Dan yang menaikkan tangan hanya segelintir orang. Namun, mahasiswa yang tidak menaikkan tangannya kalau meminjam pensil tidak lupa mengembalikan. Bila bertemu ibu-ibu dosen membawa beban buku agak berat, mereka cepat memberikan pertolongan. Bila antre di mana pun sangat disiplin. Tatkala bertemu sahabat lain tersenyum sambil mengucapkan selamat pagi. Bila ada teman dalam kesulitan, refleknya bekerja amat cepat untuk membantu. Bila masuk pintu lift atau pintu kereta api mendahulukan orang tua. Karena itu, menimbulkan pertanyaan, apa agama orang-orang ini? Mirip dengan sejumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Bali. Ketika ditanya apakah Anda Nasrani, ia hanya menjawab dengan senyuman tidak bersuara. Namun, sopannya, ya ampun. Masuk rumah mengetuk pintu, lupa dipersilakan duduk, kemudian bertanya: boleh saya duduk? Bila tidak sependapat, memulai dengan kata ’maafkan kalau saya tidak sependapat’. Dan sejumlah sopan santun yang menyentuh hati. Ini juga yang membuat sejumlah sahabat di dunia spiritual mulai bergeser: dari pengetahuan spiritual menuju pencapaian spiritual. Belajar dari Buddha lengkap dengan welas asihnya tentu baik. Membaca puisi-puisi sufi yang bertema cinta dan hanya cinta tentu berguna. Kagum dengan doa Santo Fransiscus dari Asisi tentu bermakna. Jatuh cinta sama Bhagawad Gita tentu sebuah pertumbuhan jiwa. Mendalami kebijaksanaan-kebijaksanaan Confucius tentu saja bermanfaat. Namun, mengaktualisasikannya ke dalam pencapaian spiritual keseharian tentu memerlukan upaya yang jauh lebih keras lagi. Banyak guru yang sepakat, jembatan terpenting yang

menghubungkan antara pengetahuan spiritual dan pencapaian spiritual adalah latihan. Seperti menemukan keseimbangan bersepeda, hanya latihan yang paling banyak membantu. Dan waktu serta tempatnya tersedia di mana-mana secara berlimpah. Di rumah, tempat kerja, sekolah, jalan raya, tempat ibadah, sampai lapangan sepak bola, semuanya bisa menjadi tempat-tempat menemukan pencapaian spiritual. Seperti kalimat indah Kahlil Gibran: ’keseharian kita adalah tempat ibadah kita yang sebenarnya’. Menyayangi istri/suami, mendidik putra/putri, mencintai orangtua, menghormati tetangga, menghargai pendapat atau sikap yang berbeda, menghormati atasan, menghargai jasa pemerintah, berterima kasih kepada tukang sapu atau pembantu, dan bila mampu mencintai musuh adalah rangkaian pencapaian spiritual keseharian yang mengagumkan. Pengetahuan spiritual memang kaya kata-kata. Namun, pencapaian spiritual kaya akan pelaksanaan. Kagum dengan pencapaian spiritual Dalai Lama, Richard Gere pernah bertanya kepada pemimpin spiritual Tibet ini tentang agama yang sebenarnya dianut Dalai Lama dalam keseharian. Dengan senyuman penuh di muka, Dalai Lama menjawab: agama saya yang sebenarnya adalah kebaikan. Ini mirip dengan cerita tentang mahasiswa Melbourne di depan yang tidak menaikkan tangan ketika ditanya punya agama atau tidak. Namun, dalam kesehariannya mereka rajin membantu, sekaligus jarang menyakiti. Sebagian dari orang-orang ini sambil bergumam mengatakan: ’agama saya Cinta’.

 

Gede Prama Penulis 22 Buku; Bekerja di Jakarta; Tinggal

di Desa Tajun, Bali Utara

Dimuat di harian Kompas, Sabtu, 09 September 2006

 

 

KUNCI SUKSES PERGAULAN

“MUTIARA KATA”

KIAT SUKSES DALAM PERGAULAN DAN BERMASYARAKAT

 

 

Kaidah 1

Ora ånå wóng kang ingaranan uríp, kêjabanê kang mikír sartå trêsnå marang wóng kang ringkíh lan nandhang påpå cintråkå.

Biså mèlu ngrasakakê kasusahanê sartå lårå lapanê wóng liyå.

Kanthi pangråså kang mangkono mau atêgês biså nggadhúh kêkuwatan kang tanpå watês, pêrlu kanggo mitulungi sapådhå-pådhå kang kahananê luwíh nrênyúhakê katimbang dhiri pribadinê. “Pakarti mono darbèk kita dhêwê, nanging wóhê pakarti mau dadi kagunganê Kang Gawê Urip”, mangkono sabdanê sawijinê Pujånggå kalokå.

 

SABDA PUJANGGA

(Tiada orang disebut hidup, kecuali yang peduli serta belas kasih kepada sesama yang tak berdaya dan menderita. Dapat merasakan penderitaan serta kesengsaraan orang lain. Dengan dimilikinya rasa seperti itu, berarti mampu memelihara kekuatan yang tiada batasnya, diperlukan untuk menolong sesama yang keadaannya lebih mengenaskan ketimbang diri pribadinya. Perbuatan adalah milik kita sendiri, namun buah dari perbuatan kita menjadi milik Tuhan. Begitulah sabdanya salah satu Pujangga terkenal.)

 

Kaidah 2

Wóng kang baút mawas dhiri iku wóng kang biså manjíng ajúr ajèr, ngêrti êmpan papan laras karo rèh swasånå sakupêngê tanpå ninggalakê subåsitå.

Paribasanê wóng kang baút ngadisarirå, åjå múng kalimpút êdiníng busånå baê, nangíng bisowå tansah mêrsudi marang padhangíng sêmu lan manisíng wicårå tanpå nglírwakakê marang alús lan luwêsíng solah båwå. 

 

ESENSI MAWAS DIRI

(Orang yang pandai membawa diri itu orang yang bisa menyatu, melebur, dan meleleh, memahami situasi dan kondisi, selaras dengan suasana disekelilingnya tanpa meninggalkan sopan santun. Peribahasanya orang yang pandai mempercantik diri, jangan hanya terfokus dengan keindahan pakaian saja. Namun dapatlah selalu berusaha bermuka ramah dan tutur kata manis tanpa meninggalkan perilaku yang lembut dan pantas)

 

Kaidah 3

Kêcandhakíng sawijiníng idham-idhaman iku ora cukúp múng dibandang móncèr lan pêpakíng ilmu lan kawrúh baê.

Nangíng ånå syarat siji kang ora kênå kalirwakakê, yaiku kapintêran ing bab sêsrawungan.

Såpå kang bisa tumindak ajúr-ajèr lan biså nuwúhakê råså rêsèp marang liyan, prasasat wis êntúk pawitan kanggo nandangi sakèhíng pagawêyan åpådênê nggayúh idham-idhamanê.

 

TIDAK HARUS HARTA

(Tercapainya suatu cita-cita tidak cukup hanya bermodalkan kemewahan dan lengkapnya ilmu dan pengetahuan saja. Namun  ada satu syarat yang tak boleh ditinggalkan yakni kepandaian dalam bergaul. Siapa yang bisa beradaptasi dan dapat menumbuhkan rasa tenteram kepada orang lain, sebenarnya sudah mendapat modal untuk melaksanakan banyak pekerjaan dan menggapai cita-citanya)

 

Kaidah 4

Nindakakê kabêcikan mono ora mêsthi kudu cucúl wragad, nanging biså ditindakakê sarånå pakarti-pakarti liyanê sing sêjatinê akèh bangêt caranê.

Saugêr biså gawê sênênging liyan, upamanê baê måwå ulat sumèh tangkêp srawúng kang sumanak, bisa manjíng ajúr-ajèr ing madyaníng bêbrayan, lan biså dadi patuladhan laku utåmå.

Kabèh mau klêbu êwóníng tindak kabêcikan kang ajinê nglêluwihi wragad dêdånå kang diwènèhakê utåwå dipotangakê, apamanèh lamún anggónê mènèhi utåwå ngutangi iku sinamudånå kêbak pamríh. 

 

LEBIH BERHARGA DARIPADA EMAS PERHIASAN

(Melakukan kebaikan tidak harus mengeluarkan beaya, namun dapat dilakukan dengan perbuatan-perbuatan lain yang sebenarnya banyak sekali caranya. Asal bisa membuat senang dan tenteram orang lain, umpama saja dengan bermuka ramah serta bergaul dengan hangat, bisa beradaptasi di tengah pergaulan, dan dapat menjadi percontohan  perilaku yang utama. Semua itu termasuk berbuat kebaikan yang nilainya melebihi sedekah harta yang diberikan ataupun yang dipinjamkan, apalagi disertai dengan pamrih)

 

Kaidah 5

Yèn kowê arêp rêmbugan, pikirên luwih dhisík têtêmbungan síng arêp kók wêtókakê. Åpå wís ngênggoni têlúng prêkårå : bênêr, manís, migunani.

Êwå sêmono síng bênêr iku isih pêrlu dithinthingi manèh yèn gawê gêndranê liyan prayogå wurúngnå.

Dênê têmbúng manís mono ora duwê pamríh, pamrihê biså gawê sênêngê liyan kang tundhónê migunani tumrapê jagadíng bêbrayan.

 

BICARALAH YANG BENAR, MANIS, BERMANFAAT

(Bila kamu akan berembug, pikirkan terlebih dulu kata-kata dan kalimat yang akan kamu ucapkan. Apakah sudah memperhatikan 3 kaidah penting; benar, manis, bermanfaat. Walau begitu, yang benar itu masih perlu ditimbang lagi, jika mengakibatkan masalah untuk orang lain lebih baik urungkan. Lain halnya dengan tutur kata manis, tidak punya pamrih, pamrihnya hanya dapat membuat bahagia orang lain, akhirnya bermanfaat untuk kehidupan bersama)

 

Kaidah 6

Sugíh ómóng kanggo nggayêngakê pasamuwan pancèn apík.

Nangíng ngómóng múng golèk suwurê awakê dhêwê sók kêtrucút miyak wêwadinê dhêwê.

Pirå baê cacahê wóng kang kêplèsèt uripê múng margå sukå anggónê sugíh ómóng.

Mulå sabêcik-bêcikê wóng iku ora kåyå wóng kang mênêng.

Nangíng mênêngê wóng kang darbê bóbót kang antêb síng biså dadi panjujuganê pårå pawóngan kang mbutúhakê rêmbúg lan pitudúh. 

 

TIDAK SETIAP DIAM ITU EMAS

(Banyak bicara untuk menghidupkan suasana pertemuan memang baik, namun bicara hanya untuk mencari perhatian dan simpati pada diri sendiri, akan sering lepas kontrol dan membuka aib diri sendiri. Sudah seberapapun orang terpeleset hidupnya hanya gara-gara gemar membual. Maka sebaik-baiknya orang itu bukan seperti orang yang diam, namun diamnya orang yang memiliki bobot yang dapat menjadi tempat yang tepat bagi orang yang membutuhkan nasehat dan petunjuk)

 

Kaidah 7

Ing jagadíng sêsrawungan mono nyirík marang sêsipatan kang gumêdhê lan wêwatakan kang tansah ngêgúngakê dhiri.

Sipat lan wêwatakan mau adhakanê banjúr nuwúhakê råså ora lilå yèn nyipati ånå liyan síng luwíh katimbang dhèwèkê.

Mulå saibå bêcikê samångså såpå kang rumangsa pintêr dhêwê, sugíh dhêwê, lan kuwåså dhêwê iku gêlêma nglaras dhiri lan nglêrêmakê cíptanê kang wêning, yèn sêjatinê isíh ånå manèh kang Måhå Pintêr, Måhå Sugih, lan Måhå Luhúr.

Klawan mangkono råså pangråså dumèh lan takabúr kang dadi sandhungan pasrawungan biså sumingkír.  

 

MERASA DIRI PALING ADALAH PINTU KEHANCURAN

(Dalam dunia pergaulan seyogyanya menghindari sifat sombong dan watak yang selalu membesar-besarkan diri sendiri. Sifat dan watak tersebut biasanya menimbulkan perasaan tidak rela jika menemukan orang lain yang lebih dari dirinya. Maka alangkah baiknya bilamana siapapun yang merasa paling pinter, paling kaya, dan paling berkuasa hendaklah mengendapkan hati, mengheningkan cipta, bahwa sebenarnya masih ada lagi yang Maha Pandai, Yang Maha Kaya, Yang Maha Tinggi. Dengan begitu sikap  mentang-mentang  dan takabur yang menjadi batu sandungan dalam pergaulan akan menyingkir).

 

Kaidah 8

Luwih bêcík makarti tanpå sabåwå kang anjóg marang karahayóníng bêbrayan, katimbang tumindakê wóng kang rêkanê nindakakê panggawê luhúr nangíng disambi udúr.

Yêktinê tåtå têntrêm iku ora bakal biså kagayúh yèn tå ora adhêdhasar kêrukunan, dênê kêrukunan iku múng biså kêcandhak yèn siji lan sijinê pådhå biså aji-ingajènan lan móng-kinêmóng.

 

KASIH SAYANG ADALAH KUNCI KESUKSESAN

(Lebih baik bekerja tanpa perilaku yang dapat merusak keharmonisan pergaulan, daripada tindakan orang yang maksudnya melaksanakan perbuatan mulia tetapi sambil bertengkar. Sebenarnya ketentraman itu tidak akan terwujud bila tanpa didasari kerukunan, sedangkan kerukunan itu hanya bisa diciptakan jika satu sama lain saling hormat menghormati dan asih-mengasihi).

 

Kaidah 9 

Yèn atimu wis gilíg arêp gawé kabêcikan kanggo karaharjaníng bêbrayan, bêratên råså uwas marang pandakwå ålå kang ora nyåtå. Srananånå kanthi jêmbaríng dhådhå lan sabaríng nålå, amríh bisa nuwúhaké gêdhéníng prabåwå lan cabaríng sakèhíng piålå.

 

MENGATASI TUDUHAN BURUK

(Bila hatimu sudah bertekat bulat akan berbuat kebaikan untuk kesejahteraan dalam kehidupan bermasyarakat, jangan hiraukan kekhawatiran akan tuduhan buruk yang tidak benar. Landasilah dirimu dengan dada yang lapang, hati yang sabar, supaya dapat menumbuhkan besarnya wibawa dan sirnanya semua keburukan)

 

Kaidah 10

Wicårå kang wêtuné kanthi tinåtå runtút kang awujúd sêsulúh kang amót piwulang bêcík, ajiné pancèn ngungkuli mas picís råjåbrånå, biså nggugah budi lan nguripaké pikír. Nangíng kawuningånå yèn grêngsênging pikír lan uripíng jiwå iku ora biså yèn múng kagugah sarånå wicårå baé.

Kang wigati yaiku wicårå kang måwå tandang minångkå tulådhå.

Jêr tulådhå mono síng biså nuwúhaké kapitayan.

Luwíh-luwíh mungguhíng pårå manggalaníng pråjå kang wís pinracåyå ngêmbani nuså lan bångså. 

 

NASEHAT TERBAIK ADALAH PERBUATAN

(Tutur kata yang keluar secara tertata runtut yang berupa nasehat tentang ajaran yang baik, nilainya memang melebihi emas perhiasan, dapat menggugah budipekerti dan menghidupkan fikiran. Tapi perhatikanlah, bahwa semangat berfikir dan hidupnya jiwa itu tidak dapat hanya sekedar dibangun melalui tutur kata saja. Yang lebih penting yakni tutur kata yang dibarengi perbuatan sebagai suri tauladan)

 

Kaidah 11

Luwíh bêcík ngasóraké rågå tinimbangané ngóngasaké kapintêran kang sêjatiné isíh nguciwani bangêt.

Ngóngasaké kapintêran iku satêmêné múng kanggo nutupi kabodhowané, jêr kabèh mau mêrga råså samar lan was sumêlang yèn ta kungkulan déníng sapêpadhané.

Tindak mangkono mau malah dadi sawijiníng godhå kang múng bakal ngrêrêndhêti lakuníng kêmajuwané dhéwé ing jagadíng bêbrayan.

 

CIRIKHAS ORANG LEMAH GEMAR UNJUK DIRI

(Lebih baik bersikap merendah daripada unjuk kepandaian yang kenyataannya masih mengecewakan sekali. Unjuk kepandaian itu sesungguhnya hanya untuk menutupi kebodohannya, semua itu karena perasaan khawatir dan was-was pabila ada orang lain yang mengunggulinya. Tabiat seperti itu menjadi salah satu godaan yang hanya akan menghambat kemajuannya sendiri dalam pergaulan).

 

Kaidah 12

Såpå wóngé síng ora sênêng yèn éntúk pangalêmbånå. Nangíng thukulíng pangalêmbånå iku ora gampang.

Kudu disranani kanthi pakarti kang bêcik lan murakabi marang wóng akèh.

Yèn múng disranani båndhå, pangalêmbanané múng kandhêg ing lambé baé ora tumús ing ati.

Déné yèn disranani pênggawé kang lêlamisan, ing pamburiné malah bakal kasingkang-singkang kasingkíraké såkå jagadíng pasrawungan.

 

MANAJEMEN PUJIAN

(Siapa yang tidak suka jika mendapat pujian. Tetapi tumbuhnya pujian itu tidak mudah. Harus ditempuh melalui perbuatan yang baik dan bermanfaat buat orang banyak. Jika hanya ditempuh dengan harta, pujian hanya sampai di bibir saja tidak menyentuh di hati. Jika ditempuh dengan perbuatan demi pamrih, di belakangnya hari akan tersingkir dan disingkirkan dalam pergaulan).

 

Kaidah 13

Généyå akèh wóng kang dhêmên nyatur alaníng liyan lan ngalêmbånå awaké dhéwé? Sêbabé ora liya margå wóng-wóng síng kåyå ngono mau ora ngêrti yèn pênggawé mau klêbu pakarti kang ora prayogå, mula prêlu dingêrtèkaké.

Awít yèn ora énggal-énggal nyingkiri pakarti kang ora bêcík mau, wusanané dhèwèké kang bakal diêmóhi déníng pasrawungan.

 

TABIAT BURUK PALING POPULER

(Kenyataannya banyak orang yang suka mencela orang lain dan memuji diri sendiri ? Sebabnya tidak lain karena orang-orang seperti itu tidak peduli bila perbuatan itu termasuk watak yang tidak terpuji, makanya perlu diperingatkan. Sebab bila tidak segera menghindari watak yang tidak baik itu, berakibat dia sendiri akan dijauhi dalam pergaulan).

 

Kaidah 14

Nggayúh kaluhuran liré ngupåyå tataraníng uríp kang luwih dhuwúr.

Dhuwúr laír lan batiné, ya tumrap dhiri pribadiné ugå sumrambah kanggo karaharjaníng bêbrayan.

Nangíng yèn kandhêg salah siji, têgêsé gothang.

Yèn múng nêngênaké kaluhuraníng laír gênah múng ngoyak drajat lan sêmat, isíh miyar-miyur gampang kênå pangaribåwå såkå njåbå.

Yèn ngêmúngaké kaluhuraníng batín, cêtha ora nuhóni jêjêríng manungsa, awít ora tumandang ing gawé kanggo kêpêrluwaníng bêbrayan.

Atêgês tanpå gunå diparingi uríp ing alam donya.

 

PRINSIP KESEIMBANGAN LAHIR-BATIN

(Menggapai keluhuran artinya berupaya meraih tataran hidup yang lebih tinggi. Luhur lahir dan batinnya, bermanfaat untuk diri sendiri juga berguna untuk keharmonisan dalam pergaulan. Namun bila mandeg salah satunya, artinya pincang. Bila hanya mengutamakan keluhuran lahir sama halnya mengejar derajat dan pangkat, mudah goyah (plin-plan) mudah terpengaruh oleh kemewahan dari luar. Bila menyepelekan keluhuran batin saja, jelas tidak mematuhi  hakekatnya sebagai manusia, karena tidak mengindahkan kaidah pergaulan. Berarti tiada guna hidup di dunia).

 

Kaidah 15

Sing såpå rumangsa nduwèni kaluputan, åjå isín ngowahi kaluputan sing wís kadhúng katindakaké mau.

Jêr ngakóni kaluputan mono wís cêthå dudu tindak kang asór, nangíng malah nuduhaké marang pakarti kang utåmå kang ora gampang linakónan déníng sadhêngah wóng.

Iyå wóng kang wis biså nduwèni watak gêlêm ngakóni kaluputané mangkéné iki pantês sinêbút wóng kang jujúr sartå kasinungan ing budi luhúr.

 

KEJUJURAN ADALAH ANUGRAH

(Barangsiapa merasa memiliki kesalahan, jangan malu merubah kesalahan yang sudah kadung terjadi. Sedangkan mengakui kesalahan sudah jelas bukan perbuatan hina, namun malah menunjukkan watak yang utama yang tidak mudah dilakukan sementara orang. Orang yang sudah memiliki watak bersedia mengakui kesalahannya adalah pantas disebut orang yang jujur serta mendapat anugrah menjadi orang yang luhur budi pekertinya.

 

Kaidah 16

Manungså uríp iku dibiså nguwasani kamardikaníng laír lan batín.

Kang dikarêpakê kamardikaníng laír iku wujudê biså nyukupi kabutuhaning uríp ing sabên dinanê såkå wêtuning kringêt lan wóhíng kangèlan dhêwê ora gumantúng ing wóng liyå lan ora dadi sangganíng liyan.

Dênê kamardikaníng batín iku dicakakê sarånå nyingkiri håwå napsu, adóh såkå asór lan nisthaníng pambudi, sêpi ing råså mêlík lan drêngki srèi, sartå tuhu marang paugêran uríp bêbrayan.

 

SUBSTANSI KEMERDEKAAN

(Manusia itu hidup sebisanya menguasai kemerdekaan lahir dan batin. Kemerdekaan lahir artinya dapat mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari hasil dari keringat sendiri, dan hasil dari jerih payah sendiri tidak tergantung pada orang lain, serta tidak menjadi beban bagi pihak lain. Sedangkan kemerdekaan batin adalah dengan cara menyingkirkan hawa nafsu, jauh dari kehinaan dan kenistaan budi pekerti, tiada berpamrih dan iri dengki, serta setia dan patuh kepada kaidah kerukunan hidup).

 

Kaidah 17

Yèn kêpéngín diajèni liyan, mulå åjå sók dhêmên martak-martakaké, åpå manèh nganti mamèraké kabisan lan kaluwihanmu.

Pangaji-ajiníng liyan iku sêjatiné ora pêrlu mbók buru, bakal têkå dhéwé. Nudúhaké kêwasisan pancèn kudu bisa milíh papan lan êmpan.

Mulå kang prayoga kêpårå purihên åjå kóngsi wóng liyå biså njajagi.

Nangíng mångså kalané ngadhêpi gawé parigawé kêconggah mrantasi.

 

RAHASIAKAN KEBISAAN

(Apabila ingin dihormati sesama, jangan suka berkoar-koar,  apalagi sampai pamer kebisaan dan kelebihanmu. Penilaian orang lain (padamu) sesungguhnya tidak perlu kamu kejar, karena akan datang dengan sendirinya. Menunjukkan kepandaian memang harus bisa melihat situasi dan kondisi. Maka seyogyanya rahasiakan jangan sampai orang lain dapat menjajagi. Namun pada saatnya menghadapi pekerjaan berhasil menuntaskan).

 

Kaidah 18

Åjå sók ngluputaké, gêdhéné ngundhat-undhat wóng liyå, samångså kitå ora katêkan åpå kang dadi kêkarêpan kitå.

Bêciké kitå tliti lan kitå golèki sêbab-sêbab ing badan kita dhéwé, amrih kitå biså uwal såkå dayaníng pangirå-irå kang ora prayogå.

Kawruhana, yèn usadané watak apês síng njalari nganti ora katêkan sêdyå kitå iku, ora ånå liya, yå dumunúng ånå ing awak kita dhéwé.

 

KAMBING HITAM ITU TAK PERNAH ADA

(Jangan suka menyalahkan, bahkan mengungkit-ungkit orang lain, pada saat tidak kesampaian apa yang menjadi kehendak kita. lebih baik kita teliti dan carilah apa yang salah dengan diri kita, supaya kita bisa lepas dari pengaruh prasangka buruk. Ketahuilah, bahwa kelemahan dan kekurangan yang menyebabkan kegagalan harapan kita itu tidak lain berada pada diri kita sendiri)

 

Kaidah 19

Arang wóng síng bisa mapanaké råså narima marang åpå baé kang wís klakón digayúh. Yèn rumangsa kurang isíh golèk wuwúh, yèn wís olèh banjúr golèk luwíh, yèn wís luwíh tumuli mbudidåyå åjå ånå wóng síng biså madhani.

Wóng kang duwé råså mangkono mau satêmêné mêmêlas.

Uripé tansah ngångså-ångså, ora naté sumèlèh atiné.

Kanggo nuruti råså kang klèru kasêbút sók-sók banjúr tumindak ora samêsthiné lan nalisír såkå pakarti kang bênêr. 

 

PENDERITAAN SEPANJANG MASA

(Jarang ada orang yang merasa puas pada apa yang sudah dapat berhasil dicapai. Bila merasa kurang masih akan menambah, jika telah mendapatkan lantas mencari lebihnya, bila sudah berlebih lantas berupaya agar jangan ada orang lain yang bisa menyamai. Orang yang bertabiat demikian sesungguhnya sangat kasihan. Hidup selalu memaksakan diri, hatinya tidak pernah tenteram. Untuk menuruti watak yang buruk itu kadangkala bertindak tidak semestinya dan meleset dari watak yang benar)

 

Kaidah 20

Watak narimå mono yêkti dadi sihíng Pangéran, nangíng yèntå nganti klèru ing panyuråså biså nuwúhaké klèruníng tumindak.

Narimå, liré ora ngångså-ångså nangíng ora kurang wêwékå lan tansah mbudidåyå amríh katêkaning sêdyå, dudu atêgês kêbacút lumúh ing gawé, suthík ihtiyar.

Awít yèn mangkono ora jênêng narimå, nagíng kêsèt. Jêr watakíng wóng kêsèt iku múng gêlêm énaké êmóh rêkasané, gêlêm ngêmplók suthík tómbók, satêmah dadi wóng ora wêrúh ing wirang, siningkiraké såkå jagadíng bêbrayan. 

 

SIKAP MENERIMA BUKANLAH MALAS

(Watak menerima tentu menjadi kekasih Tuhan, namun apabila sampai keliru memahaminya bisa menimbulkan kesalahan dalam bertindak. Menerima, artinya tidak melebihi batas kemampuan tetapi tidak kurang akal dan selalu memberdayakan diri  supaya tercapailah cita-cita. Menerima bukan dimaksudkan sebagai tidak mau kerja dan enggan berusaha. Karena yang seperti ini bukanlah arti menerima, melainkan malas. Wataknya pemalas itu hanya mau enaknya saja, tidak mau jerih payahnya, bersedia makan tidak mau modal, sepantasnya lah menjadi orang yang tidak tahu malu, disingkirakn dalam pergaulan).

 

Kaidah 21

Wóng uríp ing alam bêbrayan iku yêkti angèl, kudu biså ngêrèh pakóné “si aku”, åjå nggugu karêpé dhéwé lan nuruti håwå napsu.

Luwíh-luwíh ing dinå samêngko, alam bêbrayan donyå tansah kêbak pradhóndhi, silíh ungkíh, rêbutan bênêré dhéwé-dhéwé.

Mulå síng baku, wóng uríp kudu biså miyak alíng-alíng kang nutupi pikiran kang wêníng. Liré, sênajanå sajroníng pasulayan, kudu bisa nyandhêt kêmrungsung “si aku” istingarah sakèhíng bédané panêmu biså disawijèkaké. 

 

KE-AKU-AN MENJADI SUMBER KONFLIK

(Hidup dalam kerukunan masyarakat itu memang sulit, harus bisa meredam ke-aku-an, jangan semaunya sendiri dan menuruti hawa nafsu. Terlebih lagi di kelak kemudian hari, dunia pergaulan internasional penuh persoalan, perselisihan silih berganti, berebut benarnya sendiri. Yang paling penting dalam menjalani hidup harus bisa membuka penghalang yang menutup kesadaran fikir. Maksudnya, walaupun dalam perselisihan, harus bisa menahan gejolak ke-aku-an, berikhtiyar agar perbedaan pendapat bisa disatukan).

 

Kaidah 22

Wóng kang nduwèni watak tansah njalúk bênêré dhéwé iku adaté banjúr kathukulan bêndånå sênêng nênacad lan ngluputaké marang panêmu sartå tindak tanduké wóng liyå. Méndah bêciké yèn wóng síng kåyå mangkono mau kålå-kålå gêlêm nggraitå ing njêro batiné : “mbók mênåwå aku síng klèru, mulå cobå dak tlitiné klawan adíl såpå kang sêjatiné nyåtå-nyåtå bênêr”.

 

CIRIKHAS INGIN MENANGNYA SENDIRI

(Orang yang mempunyai watak selalu ingin mencari menangnya sendiri itu, tumbuh kebiasaannya buruk senang mencela dan menyalahkan pendapat serta tindak tanduk orang lain. Sangatlah bagus bilamana orang seperti itu kadangkala bersedia mencermati dalam batinnya; jangan-jangan aku yang keliru, maka coba aku teliti secara adil siapa yang sesungguhnya jelas-jelas benar)

 

Kaidah 23

Rêsêpíng omah iku ora dumunúng ing barang-barang méwah kang larang rêgané, nangíng gumantúng marang panataníng prabót kang prasåjå, sartå pêmasangé rêrênggan kang adóh såkå watak pamèr.

Sêmono ugå rêsêpíng salirå iku ora margå såkå pacakan kang èdi-pèni, nangíng gumantúng ing sandhang pênganggo kang prasåjå, trapsilå solah båwå, lan padhanging polatan. 

 

KUNCI DARI KEINDAHAN

(Keindahan rumah itu bukan terletak pada barang-barang mewah yang mahal harganya, namun tergantung pada penataan perabot yang tidak norak, serta pemasangan hiasan yang jauh terkesan pamer. Begitu pula keindahan diri pribadi itu bukan karena berasal dari tata rias yang indah dan cantik, tapi tergantung pada pakaian yang tidak berlebihan, perilaku yang sopan berwibawa, dan raut wajah yang bersinar)

 

Kaidah 24

Yèn kowé kêpênêr lagi srêngên lan nêsu, prayogané wóng síng kók nêsóni lan kók srêngêni mau kóngkónên énggal sumingkír.

Utåwå kowé dhéwé sumingkirå sauntårå, aja têtêmónan karo wóng liya.

Sabanjuré mênêngå lan étúng-étúngå kanthi sarèh wiwít siji têkan sêpulúh.

Klawan mêngkono atimu bakal bisa nimbang-nimbang åpå nêsu lan srêngênmu marang wóng mau bênêr, åpå malah dudu kowé dhéwé síng lupút.

 

KIAT MEREDAM AMARAH

(Bila kamu kebetulan sedang emosi dan marah, seyogyanya orang yang kamu marahi tadi suruhlah segera menyingkir. Atau kamu sendiri menyingkirlah sementara, (sementara) jangan bertemu dengan orang lain. Setelah itu diamlah dan hitunglah dengan tenang mulai dari satu sampai sepuluh. Dengan cara begitu hatimu bakal bisa menimbang apakah kemarahanmu pada orang tadi benar, apa bukan kamu sendiri lah yang salah ?)

 

Kaidah 25

Jênêng tanpå gunå uripíng manungså kang nganti ora biså nyumurupi marang kang kêdadéyan ing sakiwå têngêné.

Ora biså asúng lêlimbangan lan pamrayogå sakadharé kanggo karahayóníng bêbrayan.

Rupak pandêlêngé ora ånå liyå kang disumurupi kajåbå uripé dhéwé.

Mati pangrasané, jalaran ora kulina kanggo ngrasak-ngrasakaké kang katón ing sabên dinané, wusana dadi cêthèk budiné, jalaran såkå kalêpyan marang têpå palupi kang maédahi ing uripé.

 

TRAGEDI KEMATIAN PERASAAN

(Adalah hidup tiada guna bagi orang yang tidak mengetahui  apa yang terjadi di sekitarnya. Tidak bisa memberikan imbal balik dan manfaat ala kadarnya untuk keharmonisan pergaulan. Mati perasaannya, disebabkan tidak terbiasa merasakan apa yang terjadi dalam sehari-harinya, sehingga membuat dangkal budi pekertinya, karena lalai akan rasa kepedulian yang berguna dalam hidupnya).

 

Kaidah 26

Åjå sók nyênyamah luputíng liyan, luwíh bêcík tudúhnå kaluputané kang malah biså ngrumakêtaké råså pasêduluran.

Éwå sêmono åjå nganti kowé kêsusu mbêcíkaké kêlakuwané liyan, yèn awakmu dhéwé rumångså durúng biså ngênggóni råså sabar lan têpa sêlirå.

Såpå kang wís ngêrti lan ngrumangsani marang sakèhíng dosané, iku sawijiníng wóng kang wís ngêrti marang jêjêríng kamanungsané, manungsa kang utåmå.  

 

BAGAIMANA MENYIKAPI ORANG YANG DIANGGAP SALAH

(Jangan sering memojokan orang lain yang salah, lebih baik tunjukkan kesalahannya sehingga justru bisa mengakrabkan rasa persaudaraan. Walau begitu jangan sampai kamu terburu-buru membenarkan perbuatan orang lain, bilamana kamu sendiri merasa belum mampu mersikap sabar dan peduli sesama. Siapa yang sudah memahami dan menyadari semua dosanya, itulah orang yang sudah mengerti akan hakekat   manusia, manusia yang utama).

 

Kaidah 27

Ajiníng manungså iku kapúrbå ing pakartiné dhéwé, ora kagåwå såkå katurunan, kapintêran, lan kasugihané.

Nangíng gumantúng såkå ênggóné nanjakaké kapintêran lan kasugihané, sartå matrapaké wêwatêkané kanggo kêpêrluan bêbrayan.

Kabèh mau yèn múng katanjakaké kanggo kapêrluwané dhéwé, tanpå paédah.

Nangíng yèn pakarti mau kadayan déníng råså pêpinginan golèk suwúr, golèk pangkat lan donya brånå, malah bisa dadi mêmalaníng bêbrayan, jalaran nyinamudana sarånå nylamúr migunakaké jênêngé wóng akèh.

 

OBYEKTIFITAS HARGA DIRI

(Harga diri manusia itu terbentuk oleh karena wataknya sendiri, bukan dibawa dari keturunan, kepandaian, dan kekayaannya. Namun tergantung dari cara menggunakan kepandaian dan kekayaannya, serta penerapan perwatakannya untuk pergaulan (tali persaudaraan. Semua itu bila hanya digunakan untuk keperluan pribadi saja, tiada bermanfaat. Tetapi bila watak tadi terdorong oleh keinginan mencari ketenaran, mencari pangkat dan kemewahan duniawi, justru dapat menjadi malapetaka dalam tali persaudaraan, karena mencari-cari kesempatan dengan cara menyamar mencatut nama orang banyak).

 

Kaidah 28

Ora ånå budi kang luwíh luhur saliyané nduwèni råså asíh marang nuså lan bangsané.

Kadunungan råså rumangsa nduwèni sêsanggêman lan kuwajiban mranåtå têntrêmíng pråjå kanthi pawitan kapintêran kang dilandhêsi kawicaksananing pambudi.

Tåndhå yêktiné yèn asíh, yaiku tansah samaptå tumandang sawayah-wayah yèn ånå parigawé kang wigati kanggo wargå sapådhå-pådhå, munggahé tansah samaptå lêladi kanggo kêslamêtaníng bêbrayan lan karaharjaníng nagårå.

 

KEMULIAAN PALING TINGGI

(Tiada budipekerti yang lebih mulia selain mencintai nusa dan bangsanya sendiri. Karena tumbuhnya kesadaran akan kewajiban menata ketentraman negara dengan modal kepandaian yang didasari kebijaksanaan budipekerti. Pertanda kesungguhan cintanya yakni selalu siap siaga sewaktu-waktu bilamana ada tugas yang sangat penting untuk sesama warga, hingga selalu siap siaga menjaga keselamatan persaudaraan dan kesejahteraan negara)

 

Kaidah 29

Wóng kang kêrêp tansah dipituturi wóng liya iku adaté bisa dadi wóng dhêmên ngati-ati, nangíng mênåwå kapêngkók ing pêrlu sók ora bisa tumindak lan ngrampungi dhéwé.

Kêpêkså isíh kudu nolèh wóng liya síng diwawas bisa awèh pitudúh.

Mulå kuwi prayogå ngawulåå marang ati lan kêkuwatanmu dhéwé, jalaran wóng liyå iku sêjatiné yèn ånå apa-apané múng sadêrmå nyawang, ora mèlu ngrasakaké. 

 

TEMPAT MENGABDI PALING IDEAL

(Orang yang sering mendapat nasehat dari orang lain biasanya dapat menjadi orang yang suka berhati-hati, namun apabila terbentur suatu tanggungjawab justru tidak bisa bertindak dan menuntaskannya sendiri. Terpaksa masih harus menoleh-noleh orang lain yang dianggap dapat memberi petunjuk. Maka dari itu seyogyanya mengabdilah pada nurani dan kekuatanmu sendiri, sebab orang lain itu sesungguhnya bila terjadi apa-apa hanya bisa melihat saja)

 

Kaidah 30

Wóng kang rumångså dhiriné linuwíh, ing sawijiníng wêktu mêsthi bakal kasurúng atiné arêp mamèraké kaluwihané, liré amríh dimangêrtènånå déníng wóng akèh yèn dhèwèké mono wóng kang pinunjúl lan supåyå diajènånå.

Sumurupå, sakabèhíng kaluwihan mau yèn ora dicakaké måwå lêlabuhan kang murakabi marang bêbrayan, tanpå gunå kêpårå malah ora kajèn lan gawé pitunå.

Mula kang prayogå biså tulús dadi wóng kang linuwih mênåwå gêbyaríng kaluwihan iku múng dikatónaké marang batiné dhéwé, iku wís cukup.

 

KEPADA SIAPA BERPAMER KELEBIHAN

(Orang yang merasa dirinya lebih dari yang lain, pada suatu waktu hatinya akan terdorong memamerkan kelebihannya, supaya diketahui orang banyak bahwa dirinya mempunyai kelebihan dan supaya dihormati. Ketahuilah, semua kelebihan tadi bila tidak digunakan dengan pengorbanan yang bermanfaat untuk rasa persaudaraan, maka kelebihannya tiada berguna, bisa jadi justru membuat tidak dihormati dan mengakibatkan kesengsaraan. Maka idealnya jadikan buah ketulusan, walau betapapun hebat kelebihan itu hanya diperlihatkan kepada batinnya sendiri, itu sudah cukup)

 

Kaidah 31

Dêdånå utåwå sêdhêkah marang wóng kang lagi nyandhang påpå cintråkå iku sawijiníng pênggawé bêcík kang patút tinulådhå, saugêr pawèwèh mau ora kinanthènan panggrundêl kang nêlakaké ora éklasíng atiné.

Têtêmbungan kang lêmbah ing manah lan mêrak ati iku luwih gêdhé ajiné katimbang dêdånå kang ora éklas.

Suprandéné nulúng lan mènèhi pêpadhang marang jiwané wóng kang kacingkrangan iku kang sêjatiné luwih pêrlu lan wigati, katimbang múng têtulúng marang awaké kang awujúd kêlairan baé. 

MENOLONG BELUM TENTU TERPUJI

(sedekah pada orang yang sedang berduka nestapa itu perbuatan terpuji, yang patut dijadikan tauladan, asalkan pemberian tersebut tidak dibarengi sikap ngedumel yang membuat pudar keikhlasan di hati. Kalimat dan tutur kata yang sopan santun, rendah hati dan melegakan hati itu lebih besar nilainya dari pada sedekah yang tidak ikhlas. Lebih dari itu menolong dan memberi pencerahan jiwa orang yang sedang mengalami musibah sesungguhnya lebih perlu dan penting daripada hanya menolong secara lahiriahnya saja)

 

Kaidah 32

Ulat sumèh, tindak-tandúk sarèh kinanthènan têmbúng arís iku biså ngruntúhaké ati sartå ngêdóhaké panggódhaning sétan.

Kósókbaliné watak wicårå kang kêras, kêjåbå kêduga gawé tanginíng kanêpsón, ugå gampang nuwúhaké salah panåmpå.

Sabarang prakårå kang sêjatiné bisa putús sarånå arís lan sarèh, kêpêksa dadi adu wulêding kulít lan atósíng balúng, kari si sétan ngguyu ngakak bungah-bungah.

 

JAGA INTONASI

(Muka ramah, tingkah laku tenang dibarengi ungkapan yang sopan dapat meruntuhkan hati serta menjauhkan godaan setan (hawa nafsu). Sebaliknya watak bicara keras, selain dapat membangkitkan amarah, juga mudah menimbulkan salah pengertian. Setiap perkara yang sesungguhnya bisa selesai dengan sarana kearifan dan ketenangan, terpaksa menjadi “beradu kuatnya kulit dan kerasnya tulang”, tinggal si “setan” katawa terbahak).

 

Kaidah 33

Wóng kang kulinå uríp mubra-mubru iku samangsané ngalami sandhungan uríp sêthithík baé adaté gampang kêthukulan gagasan lan gawé kang cêngkah karo bêbênêr, luwíh bêgjå wóng kang uripé pokal samadyå nangíng rêsík atiné.

Déné bêgja-bêgjané wóng iku ora kåyå wóng síng tansah uríp ing kahanan kang kêbak godhå rêncånå, prasasat tåpå ånå satêngahíng cobå, nangíng tansah tawêkal lan kandêl kêimanané marang adilíng Pangéran Kang Måhå Kuwåså.  

 

BERSIH HATI MEMBAWA KEBERUNTUNGAN

(orang yang terbiasa hidup tak kenal aturan itu, sewaktu mengalami sedikit saja kesulitan hidup cenderung tumbuh gagasan dan kerjaan yang melawan peraturan, lebih beruntung orang yang hidupnya biasa-biasa saja namun bersih hatinya. Sedangkan seberuntung-beruntungnya orang seperti itu tidak seperti orang yang selalu hidup dalam keadaan yang penuh kebatilan dan angkara, sama halnya bertapa di tengah-tengah cobaan, namun selalu tawakal dan tebal keimanannya kepada keadilan Tuhan Yang Mahakuasa)

 

Kaidah 34

Sipaté wóng uríp, iku mêsthi kêsinungan kêkuwatan.

Kang ngêrti biså ngêcakaké, déné kang ora biså ngêrti kurang digladhi, têmahan ora tumanja. Éwåsémono ngêmpakaké kêkuwatan mula ora gampang.

Buktiné ora sêthithík kêkuwatan kang êmpané ora mapan.

Kawruhana, yèn rusaké bêbrayan ing antarané margå såkå pakartiné pårå-pårå kang ngêrti marang dayaníng kêkuwatané nangíng ora kanggo nggayúh gêgayuhan kang mulyå, múng kanggo nuruti dêrênging ati angkårå. 

 

KELOLA KEKUATAN

(Sifatnya orang hidup itu pasti mendapat anugrah kekuatan. Yang sudah paham bisa mempergunakannya, sebaliknya yang belum bisa mengerti kurang diajari,  maka tidak akan berguna. Namun begitu menggunakan kekuatan tidaklah mudah. Buktinya tidak sedikit kekuatan yang digunakan tidak tepat. Ketahuilah, bila rusaknya kerukunan di antaranya karena watak para-para yang memahami daya kekuatannya, namun tidak dimanfaatkan untuk menggapai cita-cita yang mulia, hanya untuk menuruti dorongan hati angkara)

 

Kaidah 35

Katrêsnan kang tanpå pangrêksa iku dudu sêjatiníng katrêsnan.

Kênå diarani sêjatiníng katrêsnan kang múng kadêrêng lan kêna ing pangaribawaníng håwå napsu.

Dadi yèn ånå unèn-unèn ” trêsnå iku wutå” yaiku síng kaprabawan håwå napsu.

Síng prayogå iku mêsthiné kudu ngugêmi unèn-unèn “trêsnå iku rumêkså” biså salaras tumindaké.

Rasaníng katrêsnan kang cêdhak dhéwé tumrap sadhêngah manungså iku dumunúng ing awaké dhéwé.

Mulå såpå kang trêsnå marang sapådhå-pådhå iku aran trêsnå marang awaké dhéwé, tundhóné såpå kang tansah ngrêkså marang karahayóníng liyan, ora bédå karo pangrêkså marang kêslamêtané dhéwé.

 

HAKEKAT CINTA

(Cinta kasih tidak disertai sikap merawat dan menjaga bukanlah sesungguhnya cinta kasih. Dapat disebut cinta kasih yang hanya menuruti hawa nafsu. Terdapat kalimat “cinta itu buta” yakni cinta yang tercemar hawa nafsu. Idealnya harus  memegang pepatah “cinta itu memelihara” dapat sejalan dengan tindakan nyata. Rasa cinta yang paling dekat bagi manusia itu terletak dalam dirinya sendiri. Maka, barang siapa yang cinta kepada sesama itu sama halnya cinta pada diri sendiri, artinya siapa yang selalu menjaga dan memelihara keselamatan sesama, sesungguhnya menjaga keselamatan diri sendiri).

 

Kaidah 36

Srawúng ing madyaning bêbrayan iku kêjåbå kudu wasís milíh papan lan êmpan, ugå kudu bisa angón mångså lan mulat ing sêmu.

Åjå nggêgampang ngrójóngi rêmbúg kang kowé dhéwé durúng ngrêti prakarané.

Rêmbúg sêthithík nanging mranani iku nudúhaké bóbótíng pribadi.

Rêmbúg akèh nangíng ampang malah gawé sånggå rungginé síng pådhå ngrugókaké kêpårå njuwarèhi. 

 

BAGAIMANA CARA MENCAMPURI URUSAN ORANG LAIN

(Bergaul dalam bermasyarakat selain harus pandai memilih tempat dan suasana, juga pandai menempatkan waktu dan mawas diri. Jangan menggampangkan mencampuri urusan orang lain sementara kamu sendiri belum mengerti permasalahannya. Lebih baik, bicara sedikit namun mengenai sasaran, itu menunjukkan kualitas pribadi. Pendapat yang panjang lebar tetapi tidak berbobot justru membuat bingung yang mendengar bahkan dapat menjemukan)

 

Kaidah 37

Wóng kang wís têkan pêsthiné utåwå wis katimbalan bali mênyang jaman kêlanggêngan iku sêjatiné lagi kênå diwènèhi biji tumrap ajiné kamanungsané lan pakartiné nalikå uríp. Déné wóng kang isíh pådhå uríp iku pêrlu disêmak baé dhisík, durúng kênå dipatrapi biji, jêr kahanané isih bisa owah gingsír.

Sarèhné manungså iki sawijiníng titah kang luhúr dhéwé, mulå wís samêsthiné yèn kitå åjå nganti kayadéné sato kang patiné múng ninggal têngêr lulang lan balúng baé.

Nangíng bisowå kita nanjakaké uríp kitå marang pakarti-pakarti utåmå, sumrambahé marang karahayóning uríp bêbrayan.

 

BAGAIMANA HARUS MENILAI ORANG

(Bila ajal telah tiba, atau sudah “dipanggil” Tuhan kembali ke zaman keabadian, sesungguhnya baru dapat diberikan nilai kemanusiaan dan perbuatannya sewaktu hidup di dunia. Sedangkan orang-orang yang masih hidup sebaiknya disimak dulu saja, karena belum dapat dinilai, sebab keadaannya masih dapat berubah-ubah. Walaupun kodrat manusia merupakan makhluk yang paling mulia, maka sudah seharusnya kita menjaga jangan sampai seperti binatang, kematiannya hanya meninggalkan bekas kulit dan tulang saja. Namun kita harus berupaya memanfaatkan hidup untuk kelangsungan hidup bermasyarakat).

 

Kaidah 38

Mustikané wóng tuwå marang anak múng ånå ing laku kang gumati, gunêm kang rurúh, lan ujar kang manís.

Gumatiné dumunúng ing têpå tuladhaníng tingkah laku.

Gunêm lan ujar kawêngku ånå ing ucap kang istingarah numusi kajiwan, lan luhuríng budi pêkêrti.

Mula yèn ånå åpå-åpå, åjå sêlak marang sêbutíng paribasan : “Ora ånå kacang ninggal lanjaran”.

 

APA YANG PALING BERNILAI PADA DIRI ORANG TUA

(Mustika orang tua kepada anak berupa perilaku sayang kepada anak, kalimat yang menentramkan, tutur kata yang manis. Kasih sayang yang terletak pada perilaku yang utama, menjadi suritauladan. Kalimat dan tutur kata terletak pada ucapan yang menentramkan hati, merasuk mencerahkan ke dalam jiwa, serta dengan keluhuran budi pekerti. Oleh sebab itu, bila terjadi apa-apa yang tidak diharapkan, jangan keburu menyatakan “ora ono kacang ninggal lanjaran” atau tidak ada anak yang tidak meniru orang tuanya).

 

Kaidah 39

Nanggapi kahanan urip ing satêngahíng bêbrayan iku gampang angèl.

Aran angèl kêpårå malah bisa gawé kêtliwênging pikír samångså anggón kita mawas kêdhisikan kagubêl ing håwå.

Aran gampang yèn kita biså mikír klawan wêníng lan mênêb.

Iyå pamikír kang mênêb iku kang aran akal budi sêjati.

Kang bisa mbabaraké wóhíng wawasan kang mulús rêsík, ora kacampúran blêntóngé “si aku”.

Apamanèh yèn tå kitå biså têtêp nguwasani wêningíng pikír, nadyan kahanané uríp ing satêngahing bêbrayan kisruhå dikåyångåpå, istingarah ora angèl anggón kita nanggapi. 

 

KEHENINGAN FIKIR

(Menaggapi kehidupan di tengah pergaulan masyarakat itu gampang-gampang susah. Susahnya karena dapat mebuat fikiran keblinger apabila dalam membangun sikap mawas diri sudah terbalut hawa nafsu. Mudahnya, apabila kita mampu berfikir dengan jernih dan menahan diri (mengendapkan emosi). Menahan diri merupakan akal budi sejati. Yang dapat menjabarkan buah dari wawasan yang bersih tanpa cacat, maksudnya tidak tercemar oleh noda ke-aku-an. Apalagi bila kita teguh menguasai kebeningan fikir, walaupun kehidupan bermasyarakat terjadi kekacauan, maka tidaklah sulit kita mensikapinya).

 

Kaidah 40

Srêngên marang wóng mono åjå nganti kênêmênên lan kêliwat-liwat múng margå wis ngêrti yèn wóng mau ora bakal wani nglawan utåwå wís ora biså nglawan, síng èstiné múng arêp ngêdír-êdíraké drajad pangkat utåwå kadibyané baé.

Pakarti kaya ngono mau kêjåbå klêbu ambêg siyå, ugå wóng síng disrêngêni durúng karuwan bakal dadi bêcík, kêpårå bisa nuwúhaké råså sêngít.

Kang prayogå iku srêngên samadyå kang mêngku pitutúr murih bêciké.  

 

KEMARAHAN YANG BENAR DAN TEPAT

(Marah kepada seseorang jangan sampai keterlaluan dan kelewatan, hanya karena seseorang itu tidak bakal berani atau sudah tidak mampu melawan, padahal hanya karena mentang-mentang mendapat derajat pangkat yang tinggi saja. Tabiat seperti itu selain watak aniaya, begitupun orang yang dimarahi belum tentu menjadi baik, justru memungkinkan  tumbuhnya rasa benci. Seyogyanya jika marah yang sewajarnya saja yang berisi nasehat supaya menjadi baik).

 

Kaidah 41

Wóng pintêr kang ora kinanthènan ing kautaman iku ora bédå karo wóng wutå kang nggåwå óbór ing wayah bêngi.

Madhangi wóng liyå nangíng dhèwèké dhéwé lakuné kêsasar-sasar.

Kapintêran mangkéné iki yèn tå dicakaké ing madyaning bêbrayan bakal nuwúhaké kapitunan, pikolèhé malah múng wujúd kasangsaran lan karusakan.

 

KEUTAMAAN BUDIPEKERTI ADALAH TIANG ILMU

(Orang yang pandai tetapi tidak disertai keutamaan perilaku dan budi pekerti, tidaklah berbeda dengan orang buta yang membawa obor di malam hari. Menjadi penerang orang lain, tetapi perilaku dirinya sendiri malah tersesat-sesat. Kepandaian semacam ini bila diterapkan di tengah kehidupan bermasyarakat akan menimbulkan kerugian, yang didapat hanyalah kesengsaraan dan kerusakan).

 

Kaidah 42

Síng såpå ngidham kaluhuran kudu wani kúrban lan ora wêgah ing kangèlan.

Mêrgå yèn tansah tidhå-tidhå, mokal åpå sing kagayúh bisa digånthå lan tangèh lamún åpå síng diluru bisa kêtêmu.

Makarti wani rêkåså kanthi masrahaké urip lan jiwå rågå marang Kang Múrbèng Kuwåså.

Yèn kêpingín mênang pancèn larang patukóné, yaiku kudu bisa nuhóni sêsanti: “Surå dirå jayaníngrat lêbúr déníng pangastuti”.

 

KEMENANGAN ITU MAHAL HARGANYA

(Barang siapa gemar keluhuran budi harus berani berkorban dan tidak enggan melewati kesulitan. Karena bila ragu-ragu, tidaklah mungkin apa yang diharapkan dapat terwujud, dan mustahil apa yang dicari bisa ketemu. Berani bekerja keras dengan dengan berserah diri jiwa dan raga kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Bila ingin menang memang mahal harganya, yakni harus dapat mematuhi peribahasa; “sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti”)

 

Kaidah 43

Isíh bêjå yèn kowé diunèkaké “Ora Lumrah Uwóng”, jalaran isíh dianggêp manungså.

Yå múng solah tingkahmu kang kudu kók owahi amríh ora gawé sêrikíng liyan.

Cilakané yèn diunèkaké “Ora Lumrah Manungså”, jalaran kowé dianggêp sétan gêntayangan síng múng dadi lêlêthêging jagad margå pakartimu kang ninggal sifat kamanungsan.

Mula énggal-énggala sumujudå marang Gusti Kang Múrbèng Dumadi.

Sifaté Gústi Allah mono sarwå wêlas asíh marang umaté kang wís sadhar marang doså-dosané sartå têmên-têmên bali tuhu marang dhawúh-dhawuhé. 

 

MANUSIA TAK LAZIM

(Masih beruntung bila kamu dibilang “tidak lazimnya orang” sebab berarti masih danggap manusia. Hanya saja polah tingkah mu yang harus dirubah, agar tidak menimbulkan iri hati orang lain. Celakanya bila kamu dibilang “tidak lazimnya manusia” sebab kamu dianggap setan gentayangan yang mengotori jagad karena watakmu yang meninggalkan sifat kemanusiaan. Maka dari itu, segeralah bersujud kepada Tuhan Maha Pencipta.

 

Kaidah 44

Ora ånå pênggawé luwíh déníng múlya kêjåbå dêdånå síng ugå atêgês mbiyantu nyampêti kêkuranganing kabutuhané liyan.

Dêdånå marang sapêpådhå iku atêgês ugå mitulungi awaké dhéwé nglêlantih marang råså lilå lêgåwå kang ugå atêgês angabêkti marang Pangéran Kang Måhå Wikan.

Pancèn pangabêkti mono wís aran pasrah, dadi kitå ora ngajab marang baliné sumbangsih kang kitå asúngaké.

Kabèh iku síng kagungan múng Pangéran Kang Måhå Kuwåså, kitå ora wênang ngajab wóhíng pangabêkti kanggo kitå dhéwé.

Nindakaké kabêcikan kanthi dêdånå kita pancèn wajíb, nanging ngundhúh wóhíng kautaman kitå ora wênang.

 

HAKEKAT SEDEKAH

(Tiada perbuatan lebih mulia selain sedekah yang berarti membantu memenuhi kebutuhan orang lain. Sedekah kepada sesama berarti juga menolong diri sendiri, melatih diri merasa ikhlas dan lapang dada, yang berarti mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Mengetahui. Mengabdi sama halnya dengan pasrah, kita tidak mengharap imbal-balik atas apa yang kita berikan. Semua itu yang punya hanyalah Tuhan Yang Mahakuasa. Kita tidak berhak berharap buah dari pengabdian untuk diri kita sendiri. Melakukan kebaikan dengan cara berderma (sedekah) adalah wajib, tetapi mengharap menuai  buah dari kebaikan, kita tidaklah berwenang).

 

Kaidah 45

Mêmitran pasêduluran nganti jêjodhowan kuwi yèn siji lan sijiné biså êmóng-kinêmóng, istingarah biså sêmpulúr bêcík. Yèn ånå padudón sêpisan pindho iku wis aran lumrah, bisa nambahi rakêtíng sêsambungan. Nangíng suwaliké yèn pådhå angèl ngênggóni sifat êmóng-kinêmóng mau gênah långkå langgêngé, malah bédaníng panêmu sithík baé biså marakaké dhahuru. 

 

KIAT KELANGSUNGAN RUMAH TANGGA

(Hubungan persaudaraan hingga berjodoh itu bila satu sama lainnya dapat saling membimbing, ikhtiyar dapat membangun kebaikan. Bila sekali dua kali terjadi pertengkaran itu masih lumrah, dapat menambah eratnya hubungan. Namun sebaliknya bila tak mampu membangun sikap saling membimbing maka jarang akan berlangsung selamanya. Malah, perbedaan sedikit saja akan menjadi sumber malapetaka).

 

Kaidah 46

Wóng kang ora naté nandhang prihatin ora bakal kasinungan råså pangråså kang njalari têkané råså trênyúh lan wêlas lahír batiné.

Wóng kang wís naté kêtaman ing prihatin luwíh biså ngrasakaké pênandhangé wóng liya. Mulå adhakané luwíh gêlêm awèh pitulungan marang kang kasusahan. 

 

PRIHATIN MEMBANGUN SENSE OF HUMAN

(Orang yang tak pernah prihatin tidak akan terpilih menerima anugrah ketajaman perasaan yang menumbuhkan perasaan haru dan belas kasih lahir batin. Orang yang pernah menjalani prihatin lebih mampu merasakan penderitaan orang lain (empati). Biasanya mereka lebih peduli untuk memberikan pertolongan kepada orang-orang yang kesusahan).

 

Kaidah 47

Sarupaníng wêwadi sing ålå lan sing bêcík, yèn isíh kók gémból lan mbók kêkêt kanthi rêmít ing ati salawasé isih bakal têtêp dadi batúr.

Nangíng yèn wís mbók kétókaké sathithík baé bakal dadi bêndaramu.

Isíh lagi nyimpên wêwadiné dhéwé baé wís abót.

Åpå manèh yèn nganti pinracåyå nggêgêm wêwadiné liyan.

Mulå såkå iku åjå sók dhêmên kêpingín mêruhi wêwadiné liyan.

Síng wís cêthå múng bakal nambahi sanggan síng sêjatiné dudu wajíbmu mèlu opèn-opèn.

 

BANYAK CARA MENUAI MASALAH

(Berbagai macam rahasia baik maupun buruk, bila masih kamu simpan rapat di dalam hati, selamanya masih akan tetap menjadi budak. Bila sudah kamu perlihatkan sedikit saja akan menjadi tuanmu. Menyimpan rahasia sendiri saja sudah berat. Apalagi bila sampai dipercaya menggenggam rahasia orang lain. Maka dari itu janganlah suka ingin mengetahui  rahasia orang lain. Sudah jelas, hanya akan menambah beban yang sesungguhnya bukan kewajibanmu ikut-ikutan).

 

Kaidah 48

Sók såpåå bakal nduwèni råså kúrmat marang wóng kang tansah katón bingar lan padhang polatané, nadyan tå wóng mau nêmbé baé nandhang susah utåwå nêmóni pêpalang ing panguripané.

Kósókbaliné, wóng kang tansah katón suntrút kêrêp nggrundêl lan grênêngan mêrgå ora katêkan sêdyané iku cêthå bakal kóncatan kêkuwataníng batín lan tênagané, tangèh lamún éntukå pitulungan, kêpårå malah dadi sêsirikaníng mitra karuhé.

 

BERWAJAH RIANG SEKALIPUN SEDANG MENDERITA

(Siapapun akan merasa hormat, kepada orang yang selalu tampak riang gembira, meskipun orang itu baru mengalami kesusahan dan kesulitan dalam hidupnya. Sebaliknya orang yang selalu tampak kusut suka ngedumel dan sering ngomel karena keinginannya tak terwujud, itu jelas kekuatan batinnya dan tenaganya bakal sirna. Mustahil dapat pertolongan, terkadang malah jadi orang yang dibenci sekalipun oleh kerabatnya).

 

Kaidah 49

Kitå iki diparingi cangkêm siji lan kupíng loro déníng Kang Måhå Kuwåså, liré mêngku karêp amríh kitå iki kudu luwíh akèh ngrungókaké katimbang micårå.

Yêktiné wóng kang dhêmên ngumbar cangkêmé tinimbang kupingé iku adaté wicarané gabúg.

Suwaliké síng akèh ngrungókaké, wicarané sêthithík nangíng patitís lan mêntês.

Pantês dadi jujugané sadhêngah wóng kang mbutúhaké rêmbúg kang prayogå.  

 

SILAHKAN; MAU BANYAK MENDENGAR ATAU BANYAK BICARA

(Kita diberi satu mulut, dua telinga, oleh Tuhan Mahakuasa. Maknanya, kita harus lebih banyak mendengarkan ketimbang bicara. Sesungguhnya orang yang gemar mengumbar mulutnya ketimbang telinganya, seperti itulah watak orang yang bicaranya tak berisi. Sebaliknya, yang banyak mendengarkan, biasanya bicara sedikit namun tepat dan berbobot. Pantas menjadi tempat tujuan orang-orang yang membutuhkan nasehat (petunjuk) yang baik). 

 

Kaidah 50

Wóng kang tansah dhêmên ngupíng kêpingín wêrúh, åpådéné nyampuri pêrkarané liyan, gêdhéné nganti nrambul urún ucap, iku pådhå karo golèk-golèk mómótan kang sêjatiné ora prêlu, adhakané kêpårå malah ngrêridhu awaké dhéwé.  

 

PENYEBAB KEKALUTAN DIRI

(Orang yang selalu gemar menyadap ingin tahu, begitupula mencampuri perkara orang lain, hingga sampai ikut-ikutan berujar, hal itu seumpama mencari-cari muatan yang sesungguhnya tidak perlu, biasanya justru membuat kalut dirinya sendiri)

 

Kaidah 51

Ucap sakêcap kang kêlaír tanpå pinikír kêrêp baé nuwúhaké drêdah lan bilahi.

Mula wêtuné têmbúng satêmbúng såkå lésan iku prayogå tan udinên aja nganti nggêpók prêkarané wóng liyå, gêdhéné nganti gawé sérikíng liyan. Biså nyandhêt uculé pangucap kåyå mangkono mau wís klêbu éwóníng pakarti kang utåmå.

Nangíng généyå kók ora sabên wóng biså nglakóni ?

 

MULUTMU, HARIMAUMU

(Sepatah kata yang terucap tanpa dipikir lebih dulu, sering menimbulkan perpecahan dan celaka. Maka, keluarnya kalimat dalam sepatah dua patah kata dari mulut seyogyanya diupayakan jangan sampai menyinggung perkara orang lain, terlebih lagi membuat sakit hati orang lain. Sikap mampu mengendapkan kalimat dan tutur kata yang tidak baik, termasuk budi-pekerti yang mulia. Namun begitu, mengapa tidak setiap orang mau melakukannya?)

 

Kaidah 52

Wóng iku yèn wís kasókan kabêcikan lan rumangsa kapotangan budi, ing sakèhíng pakartiné lumrahé banjúr ora kêncêng lan rêsík.

Mulané tangèh lamún yèn biså njågå jêjêgíng adíl, awít lésané kasumpêtan, mripaté bêrêng, kupingé budhêg. Atiné dadi mati, angèl wêrúh ing bêbênêr.

Mulå såkå iku åjå gumampang nåmpå kabêcikané liyan, samångså tujuwané ngarah marang pênggawé kang nalisír såkå bêbênêr. 

 

HATI-HATI MENERIMA KEBAIKAN ORANG

(Orang itu bila sudah berhasil menerima kebaikan dan merasa berhutang budi, wataknya di kemudian hari bisa berubah, menjadi tidak teguh dan bersih. Sehingga tak mampu menjaga tegaknya keadilan, sebab mulutnya tersumbat, matanya rabun, telinganya tuli. Hatinya menjadi mati, sulit melihat kebenaran. Maka dari itu jangan mudah menerima kebaikan orang, bila tujuannya mengarah pada perbuatan yang keluar dari kaidah kebenaran).

 

Kaidah 53

Åjå kasêlak kêsusu nyêpèlèkaké liyan, margå kók anggêp wóng mau bodho.

Awít ånå kalamangsané kowé mbutúhaké rémbúg lan pituturé wóng iku, síng kanyatané biså mbéngkas lan nguwalaké såkå karuwêtanmu.

Pancèn ing sawijiné bab wóng biså kaaran bodho, nangíng ing babagan liya tangèh lamún yèn kowé biså nandhingi. 

 

HATI-HATI, TAK ADA KEBODOHAN UNIVERSAL

(jangan keburu meremehkan orang lain, (hanya) karena orang itu kamu anggap bodoh. Sebab ada kalanya kamu membutuhkan jasa dan nasehat orang itu, yang kenyataannya dapat menyelesaikan dan mengatasi masalahmu. Memang dalam suatu hal seseorang dapat dianggap bodoh, tetapi di lain hal tak  mungkin anda dapat menandinginya).

 

Kaidah 54

Yèn micårå åjå gumampang nêlakaké pênacad utawa pangalêm, luwíh-luwíh nganti mêmaóni.

Awít wicaramu durúng karuwan bênêr.

Síng mêsthi panacad mau gawé sêrík, pangalêmé nuwúhaké wiså, déné waónané ora digugu, kabèh swårå ålå.

Mulå kang prayogå iku múng mênêng, jalaran mênêng iku yêktiné pancèn mustikaníng ngauríp.

 

SILAHKAN PILIH; BANYAK OMONG ATAU DIAM

(Jika bicara jangan mudah mencela dan menyanjung orang, apalagi sampai nasehat menggurui. Karena ucapanmu belum tentu benar adanya. Yang pasti, pencelaan berakibat sakit hati, dan sanjungan dapat menimbulkan bisa (racun), bila  nasehat tidak dihiraukan, semua suara menjadi buruk. Maka idealnya lebih baik diam, karena diam itu sesungguhnya  mustika kehidupan)

 

Kaidah 55

Udinên ing alam donya iki åjå ånå wóng kang kók sêngiti, supaya ora ånå wóng sêngít marang kowé, balík sabiså-biså pådhå trêsnanånå.

Amargå lêlakón ing alam donya iki anané múng walês-winalês baé.

Déné yèn kêpêkså kowé sêngít marang sawijiníng wóng, mångkå kowé ora biså mbuwang sêngítmu, gawénên wadi åjå ånå wóng kang ngêrti.

Yèn kowé ngandhakaké sêngítmu marang liyan, prasasat kowé mamèraké alané atimu.

 

“ADAB” MEMBENCI ORANG LAIN

(Berupayalah selalu, agar jangan ada orang yang kamu benci, supaya tidak ada orang yang membencimu, sebaliknya sedapat mungkin sayangilah sesama. Karena kejadian buruk di dunia ini adanya dari saling balas membalas. Bila terpaksa kamu membenci seseorang, dan kamu tidak bisa menghilangkan rasa bencimu, rahasiakan agar tidak ada orang lain yang tahu. Bila kamu menceritakan kebencianmu pada orang lain, justru kamu membeberkan kejahatan hatimu)

 

Kaidah 56

Ajiníng dhiri ånå ing lati.

Ajiníng rågå ånå ing busånå.

Mula dèn ngati-ati ing pangucapmu, sêmono ugå anggónmu ngadi busånå kang bisa mapanaké dhiri.

 

DI MANAKAH LETAK HARGA DIRI

(Harga diri letaknya ada di mulut. Berharganya raga tergantung oleh busananya. Maka, berhati-hatilah dalam bertutur kata, begitu pula dalam hal cara berpakaian, dapatlah menghargai diri sendiri)

 

 

Kaidah 57

Wóng pintêr kang isih gêlêm njalúk rêmbugíng liyan iku dianggêp manungsa utúh.

Såpå síng rumangsa pintêr banjúr suthík njaluk rêmbuging liyan kuwi manungsa sêtêngah wutúh.

Lan síng såpå ora gêlêm njalúk rêmbugíng liyan, iku bisa kinaranan babar pisan durúng manungså.

 

SYARAT MENJADI MANUSIA

(Orang pandai yang masih bersedia meminta pendapat orang lain itu dianggap manusia utuh. Siapa yang merasa sudah pandai kemudian enggan minta pendapat orang lain, itu manusia setengah utuh. Dan siapa yang tidak bersedia minta pendapat orang lain, dapat disebut sama sekali belum (jadi) manusia).

KONTEMPLASI UNTUK SEMUA AGAMA

MENGAPA KEBUDAYAAN JAWA

MENGALAMI KEMUNDURAN YANG SIGNIFIKAN ?

Pengantar

Manusia Jawa adalah mayoritas di Indonesia. Nasib bangsa Indonesia sangat tergantung kepada kemampuan penalaran, skill, dan manajemen manusia Jawa (MJ). Sayang sekali s/d saat ini, MJ mengalami krisis kebudayaan; hal ini disebabkan Kebudayaan Jawa (KJ) dibiarkan merana, tidak terawat, dan tidak dikembangkan oleh pihak2 yang berkompeten (TERUTAMA OLEH POLITISI). Bahkan KJ terkesan dibiarkan mati merana digerilya oleh kebudayaan asing (terutama dari timur tengah/Arab). Mochtar Lubis dalam bukunya: Manusia Indonesia Baru, juga mengkritisi watak2 negatip manusia Jawa seperti munafik, feodal, malas, tidak suka bertanggung jawab, suka gengsi dan prestis, dan tidak suka bisnis (lebih aman jadi pegawai).
Kemunduran kebudayaan Jawa tidak lepas dari dosa regim Orde Baru. Strategi regim Soeharto untuk melepaskan diri dari tuannya (USA dkk.) dan tekanan kaum reformis melalui politisasi agama Islam menjadikan Indonesia mengarah ke ideologi Timur Tengah (Arab). Indonesia saat ini (2007) adalah kembali menjadi ajang pertempuran antara: Barat lawan Timur Tengah, antara kaum sekuler dan kaum Islam, antara modernitas dan kekolotan agama. (mohon dibaca artikel yang lain dulu, sebaiknya sesuai no. urut)

Boleh diibaratkan bahwa manusia Jawa terusmenerus mengalami penjajahan, misalnya penjajahan oleh:
– Bs. Belanda selama 300 tahunan
– Bs. Jepang selama hampir 3 tahunan
– Regim Soeharto/ORBA selama hampir 32 tahun (Londo Ireng).
– Negara Adidaya/perusahaan multi nasioanal selama ORBA s/d saat ini.
– Sekarang dan dimasa dekat, bila tidak hati2, diramalkan bahwa Indonesia akan menjadi negara boneka Timur Tengah/Arab Saudi (melalui kendaraan utama politisasi agama).

Kemunduran kebudayaan manusia Jawa sangat terasa sekali, karena suku Jawa adalah mayoritas di Indonesia, maka kemundurannya mengakibatkan kemunduran negara Indonesia, sebagai contoh kemunduran adalah terpaan berbagai krisis yang tak pernah selesai dialami oleh bangsa Indonesia. Politisasi uang dan agama mengakibatkan percepatan krisis kebudayaan Jawa, seperti analisa dibawah ini.
Gerilya Kebudayaan
Negara2 TIMTENG/ARAB harus berjuang sekuat tenaga dengan cara apapun untuk mendapat devisa selain dari kekayaan minyak (petro dollar), hal ini mengingat tambang minyak di Timur Tengah (TIMTENG/Arab) adalah terbatas umurnya; diperkirakan oleh para ahli bahwa umur tambang minyak sekitar 15 tahun lagi, disamping itu, penemuan energi alternatip akan dapat membuat minyak turun harganya. Begitu negara Timur Tengah mendapat angin dari regim Orde Baru, Indonesia lalu bagaikan diterpa badai gurun Sahara yang panas! Pemanfaatan agama (politisasi agama) oleh negara asing (negara2 Arab) untuk mendominasi dan menipiskan kebudayaan setempat (Indonesia) mendapatkan angin bagus, ini berlangsung dengan begitu kuat dan begitu vulgarnya. Gerilya kebudayaan asing lewat politisasi agama begitu gencarnya, terutama lewat media televisi, majalah, buku dan radio. Gerilya kebudayaan melalui TV ini sungguh secara halus-nylamur-tak kentara, orang awam pasti sulit mencernanya! Berikut ini adalah gerilya kebudayaan yang sedang berlangsung:
– Dalam sinetron, hal-hal yang berbau mistik, dukun, santet dan yang negatip sering dikonotasikan dengan manusia yang mengenakan pakaian adat Jawa seperti surjan, batik, blangkon kebaya dan keris; kemudian hal-hal yang berkenaan dengan kebaikan dan kesucian dihubungkan dengan pakaian keagamaan dari Timur Tengah/Arab. Kebudayaan yang Jawa dikalahkan oleh yang Timur Tengah.
– Artis2 film dan sinetron digarap duluan mengingat mereka adalah banyak menjadi idola masyarakat muda (yang nalarnya kurang jalan). Para artis, yang blo’oon politik ini, bagaikan di masukan ke salon rias Timur Tengah/Arab, untuk kemudian ditampilkan di layar televisi, koran, dan majalah demi membentuk mind set (seting pikiran) yang berkiblat ke Arab.
– Bahasa Jawa beserta ungkapannya yang sangat luas, luhur, dalam, dan fleksibel juga digerilya. Dimulai dengan salam pertemuan yang memakai assalam…dan wassalam…. Dulu kita bangga dengan ungkapan: Tut wuri handayani, menang tanpo ngasorake, gotong royong, dsb.; sekarang kita dibiasakan oleh para gerilyawan kebudayaan dengan istilah2 asing dari Arab, misalnya: amal maruh nahi mungkar, saleh dan soleha, dst. Untuk memperkuat gerilya, dikonotasikan bahwa bhs. Arab itu membuat manusia dekat dengan surga! Sungguh cerdik dan licik.
– Kebaya, modolan dan surjan diganti dengan jilbab, celana congkrang, dan jenggot ala orang Arab. Nama2 Jawa dengan Ki dan Nyi (misal Ki Hajar …) mulai dihilangkan, nama ke Arab2an dipopulerkan. Dalam wayang kulit, juga dilakukan gerilya kebudayaan: senjata pamungkas raja Pandawa yaitu Puntadewa menjadi disebut Kalimat Syahadat (jimat Kalimo Sodo), padahal wayang kulit berasal dari agama Hindu (banyak dewa-dewinya yang tidak Islami), jadi bukan Islam; bukankah ini sangat memalukan? Gending2 Jawa yang indah, gending2 dolanan anak2 yang bagus semisal: jamuran, cublak2 suweng, soyang2, dst., sedikit demi sedikit digerilya dan digeser dengan musik qasidahan dari Arab. Dibeberapa tempat (Padang, Aceh, Jawa Barat) usaha menetapkan hukum syariah Islam terus digulirkan, dimulai dengan kewajiban berjilbab! Kemudian, mereka lebih dalam lagi mulai mengusik ke bhinekaan Indonesia, dengan berbagai larangan dan usikan bangunan2 ibadah dan sekolah non Islam.
– Gerilya lewat pendidikan juga gencar, perguruan berbasis Taman Siswa yang nasionalis, pluralis dan menjujung tinggi kebudayaan Jawa secara lambat namun pasti juga digerilya, mereka ini digeser oleh madrasah2/pesantren2. Padahal Taman Siswa adalah asli produk perjuangan dan merupakan kebanggaan manusia Jawa. UU Sisdiknas juga merupakan gerilya yang luar biasa berhasilnya. Sekolah swasta berciri keagamaan non Islam dipaksa menyediakan guru beragama Islam, sehingga ciri mereka lenyap.
– Demikian pula dengan perbankan, mereka ingin eksklusif dengan bank syariah, dengan menghindari kata bunga/rente/riba; istilah ke Arab2an pun diada-adakan, walau nampak kurang logis! Seperti USA memakai IMF, dan orang Yahudi menguasai finansial, maka manusia Arab ingin mendominasi Indonesia memakai strategi halal-haramnya pinjaman, misalnya lewat bank syariah.
– Keberhasilan perempuan dalam menduduki jabatan tinggi di pegawai negeri (eselon 1 s/d 3) dikonotasikan/dipotretkan dengan penampilan berjilbab dan naik mobil yang baik. Para pejabat eselon ini lalu memberikan pengarahan untuk arabisasi pakaian dinas di kantor masing2.
– Di hampir pelosok P. Jawa kita dapat menyaksikan bangunan2 masjid yang megah, dana pembangunan dari Arab luar biasa besarnya. Bahkan organisasi preman bentukan militer di jaman ORBA, yaitu Pemuda Pancasila, pun mendapatkan grojogan dana dari Timur Tengah untuk membangun pesantren2 di Kalimantan, luar biasa!
– Fatwa MUI pada bulan Agustus 2005 tentang larangan2 yang tidak berdasar nalar dan tidak menjaga keharmonisan masyarakat sungguh menyakitkan manusia Jawa yang suka damai dan harmoni. Bila ulama hanya menjadi sekedar alat politik, maka panglima agama adalah ulama politikus yang mementingkan uang, kekuasaan dan jabatan saja; efek keputusan tidak mereka hiraukan. Sejarah ORBA membuktikan bahwa MUI dan ICMI adalah alat regim ORBA yang sangat canggih. Saat ini, MUI boleh dikata telah menjadi alat negara asing (Arab) untuk menguasai
– Dimasa lalu, banyak orang cerdas mengatakan bahwa Wali Songo adalah bagaikan MUI sekarang ini, dakwah mereka penuh gerilya kebudayaan dan politik. Manusia Majapahit digerilya, sehingga terdesak ke Bromo (suku Tengger) dan pulau Bali. Mengingat negara baru memerangi KKN, mestinya fatwa MUI adalah tentang KKN (yang relevan), misal pejabat tinggi negara yang PNS yang mempunyai tabungan diatas 3 milyar rupiah diharuskan mengembalikan uang haram itu (sebab hasil KKN), namun karena memang ditujukan untuk membelokan pemberantasan KKN, yang terjadi justru sebaliknya, fatwanya justru yang aneh2 dan merusak keharmonisan kebhinekaan Indonesia!
– Buku2 yang sulit diterima nalar, dan secara ngawur dan membabi buta ditulis hanya untuk melawan dominasi ilmuwan Barat saat ini membanjiri pasaran di Indonesia. Rupanya ilmuwan Timur Tengah ingin melawan ilmuwan Barat, semua teori Barat yang rasional-empiris dilawan dengan teori Timur Tengah yang berbasis intuisi-agamis (berbasis Al-Quran), misal teori kebutuhan Maslow yang sangat populer dilawankan teori kebutuhan spiritual Nabi Ibrahim, teori EQ ditandingi dengan ESQ, dst. Masyarakat Indonesia harus selalu siap dan waspada dalam memilih buku yang ingin dibacanya.
– Dengan halus, licik tapi mengena, mass media, terutama TV dan radio, telah digunakan untuk membunuh karakater (character assasination) budaya Jawa dan meninggikan karakter budaya Arab (lewat agama)! Para gerilyawan juga menyelipkan filosofis yang amat sangat cerdik, yaitu: kebudayaan Arab itu bagian dari kebudayaan pribumi, kebudayaan Barat (dan Cina) itu kebudayaan asing; jadi harus ditentang karena tidak sesuai! Padahal kebudayaan Arab adalah sangat asing!
– Gerilya yang cerdik dan rapi sekali adalah melalui peraturan negara seperti undang-undang, misalnya hukum Syariah yang mulai diterapkan di sementara daerah, U.U. SISDIKNAS, dan rencana UU Anti Pornografi dan Pornoaksi (yang sangat bertentangan dengan Bhineka Tunggal Ika dan sangat menjahati/menjaili kaum wanita dan pekerja seni). Menurut Gus Dur, RUU APP telah melanggar Undang-Undang Dasar 1945 karena tidak memberikan tempat terhadap perbedaan. Padahal, UUD 1945 telah memberi ruang seluas-luasnya bagi keragaman di Indonesia. RUU APP juga mengancam demokrasi bangsa yang mensyaratkan kedaulatan hukum dan perlakuan sama terhadap setiap warga negara di depan hukum. Gus Dur menolak RUU APP dan meminta pemerintah mengoptimalkan penegakan undang-undang lain yang telah mengakomodir pornografi dan pornoaksi. “Telah terjadi formalisasi dan arabisasi saat ini. Kalau sikap Nahdlatul Ulama sangat jelas bahwa untuk menjalankan syariat Islam tidak perlu negara Islam,” ungkapnya. (Kompas, 3 Maret 2006).

– Puncak gerilya kebudayaan adalah tidak diberikannya tempat untuk kepercayaan asli, misalnya Kejawen, dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP), dan urusan pernikahan/perceraian bagi kaum kepercayaan asli ditiadakan. Kejawen, harta warisan nenek moyang, yang kaya akan nilai: pluralisme, humanisme, harmoni, religius, anti kekerasan dan nasionalisme, ternyata tidak hanya digerilya, melainkan akan dibunuh dan dimatikan secara perlahan! Sungguh sangat disayangkan! Urusan perkawinan dan kematian untuk MJ penganut Kejawen dipersulit sedemikian rupa, urusan ini harus dikembalikan ke agama masing2! Sementara itu aliran setingkat Kejawen yang disebut Kong Hu Chu yang berasal dari RRC justru disyahkan keberadaannya. Sungguh sangat sadis para gerilyawan kebudayaan ini!
– Gerilya kebudayaan juga telah mempengaruhi perilaku manusia Jawa, orang Jawa yang dahulu dikenal lemah-lembut, andap asor, cerdas, dan harmoni; namun sekarang sudah terbalik: suka kerusuhan dan kekerasan, suka menentang harmoni. Bayangkan saja, kota Solo yang dulu terkenal putri nya yang lemah lembut (putri Solo, lakune koyo macan luwe) digerilya menjadi kota yang suka kekerasan, ulama Arab (Basyir) mendirikan pesantren Ngruki untuk mencuci otak anak2 muda. Akhir2 ini kota Solo kesulitan mendatangkan turis manca negara, karena kota Solo sudah diidentikan dengan kekerasan sektarian. Untuk diketahui, di Pakistan, banyak madrasah disinyalir dijadikan tempat brain washing dan baiat. Banyak intelektual muda kita di universitas2 yang kena baiat (sumpah secara agama Islam, setelah di brain wahing) untuk mendirikan NII (negara Islam Indonesia) dengan cara menghalalkan segala cara. Berapa banyak madrasah/pesantren di Indonesia yang dijadikan tempat2 cuci otak anti pluralisme dan anti harmoni? Banyak! Berapa jam pelajaran dihabiskan untuk belajar agama (ngaji) dan bahasa Arab? Banyak, diperkirakan sampai hampir 50% nya! Tentu saja ini akan sangat mempengaruhi turunnya perilaku dan turunnya kualitas SDM bgs. Indonesia secara keseluruhan! Maraknya kerusuhan dan kekerasan di Indonesia bagaikan berbanding langsung dengan maraknya madrasah dan pesantren2. Berbagai fatwa MUI yang menjungkirbalikan harmoni dan gotong royong manusia Jawa gencar dilancarkan!

– Sejarah membuktikan bagaimana kerajaan Majapahit, yang luarbiasa jaya, juga terdesak melalui gerilya kebudayaan Arab sehingga manusianya terpojok ke Gn. Bromo (suku Tengger) dan P. Bali (suku Bali). Mereka tetap menjaga kepercayaannya yaitu Hindu. Peranan wali Songo saat itu sebagai alat politis (mirip MUI dan ICMI saat ini) adalah besar sekali! Semenjak saat itu kemunduran kebudayaan Jawa sungguh luar biasa!
Tanda-tanda Kemunduran Budaya Jawa
Kemunduran kebudayaan manusia Jawa sangat terasa sekali, karena suku Jawa adalah mayoritas di Indonesia, maka kemundurannya mengakibatkan kemunduran negara Indonesia, sebagai contoh kemunduran adalah:
– Orang2 hitam dari Afrika (yang budayanya dianggap lebih tertinggal) ternyata dengan mudah mempedayakan masyarakat kita dengan manipulasi penggandaan uang dan jual-beli narkoba.
– Orang Barat mempedayakan kita dengan kurs nilai mata uang. Dengan $ 1 = k.l Rp. 10000, ini sama saja penjajahan baru. Mereka dapat bahan mentah hasil alam dari Indonesia murah sekali, setelah diproses di L.N menjadi barang hitech, maka harganya jadi selangit. Nilai tambah pemrosesan/produksi barang mentah menjadi barang jadi diambil mereka (disamping membuka lapangan kerja). Indonesia terus dengan mudah dikibulin dan dinina bobokan untuk menjadi negara peng export dan sekaligus pengimport terbesar didunia, sungguh suatu kebodohan yang maha luar biasa.
– Orang Jepang terus membuat kita tidak pernah bisa bikin mobil sendiri, walau industri Jepang sudah lebih 30 tahun ada di Indonesia. Semestinya bangsa ini mampu mendikte Jepang dan negara lain untuk mendirikan pabrik di Indonesia, misalnya pabrik: Honda di Sumatra, Suzuki di Jawa, Yamaha di Sulawesi, dst. Ternyata kita sekedar menjadi bangsa konsumen dan perakit.
– Orang Timur Tengah/Arab dengan mudah menggerilya kebudayaan kita seperti cerita diatas; disamping itu, Indonesia adalah termasuk pemasok devisa haji terbesar! Kemudian, dengan hanya Asahari, Abu Bakar Baasyir dan Habib Riziq (FPI), cukup beberapa gelintir manusia saja, Indonesia sudah dapat dibuat kalang kabut oleh negara asing! Sungguh keterlaluan dan memalukan!
– Kalau dulu banyak mahasiswa Malaysia studi ke Indonesia, sekarang posisinya terbalik: banyak mahasiswa Indonesia belajar ke Malaysia (bahkan ke S’pore, Thailand, Pilipina, dst.). Konyol bukan?
– Banyak manusia Jawa yang ingin kaya secara instant, misalnya mengikuti berbagai arisan/multi level marketing seperti pohon emas, dst., yang tidak masuk akal!
– Dalam beragamapun terkesan jauh dari nalar, bijak dan jauh dari cerdas, terkesan hanya ikut2an saja. Beragama tidak harus menjiplak kebudayaan asal agama, dan tidak perlu mengorbankan budaya lokal.
– Sampai dengan saat ini, Indonesia tidak dapat melepaskan diri dari berbagai krisis (krisis multi dimensi), kemiskinan dan pengangguran justru semakin meningkat, padahal negara tetangga yang sama2 mengalami krisis sudah kembali sehat walafiat! Peran manusia Jawa berserta kebudayaannya, sebagai mayoritas, sangat dominan dalam berbagai krisis yang dialami bangsa ini.

Penutup

Beragama tidak harus menjiplak kebudayaan asal agama. Gus Dur mensinyalir telah terjadi arabisasi kebudayaan. Kepentingan negara asing untuk menguasai bumi dan alam Indonesia yang kaya raya dan indah sekali sungguh riil dan kuat sekali, kalau negara modern memakai teknologi tinggi dan jasa keuangan, sedangkan negara lain memakai politisasi agama beserta kebudayaannya. Indonesia saat ini (2007) adalah sedang menjadi ajang pertempuran antara dua ideologi besar dunia: Barat lawan Timur Tengah, antara kaum sekuler dan kaum Islam, antara modernitas dan kekolotan agama. CLASH OF CIVILIZATION antar dua ideologi besar di dunia ini, yang sudah diramalkan oleh sejarahwan kelas dunia – Samuel Hutington dan Francis Fukuyama.

Tanpa harus menirukan/menjiplak kebudayaan Arab, Indonesia diperkirakan dapat menjadi pusat Islam (center of excellence) yang modern bagi dunia. Seperti pusat agama Kristen modern, yang tidak lagi di Israel, melainkan di Itali dan Amerika. Beragama tanpa nalar disertai menjiplak budaya asal agama tersebut secara membabi buta hanya akan mengakibatkan kemunduran budaya lokal sendiri! Maka bijaksana, kritis, dan cerdik sangat diperlukan dalam beragama.

Ulil Abshar Abdala

Koordinator Jamaah Islam Liberal (JIL)