KONTEMPLASI UNTUK SEMUA AGAMA

MENGAPA KEBUDAYAAN JAWA

MENGALAMI KEMUNDURAN YANG SIGNIFIKAN ?

Pengantar

Manusia Jawa adalah mayoritas di Indonesia. Nasib bangsa Indonesia sangat tergantung kepada kemampuan penalaran, skill, dan manajemen manusia Jawa (MJ). Sayang sekali s/d saat ini, MJ mengalami krisis kebudayaan; hal ini disebabkan Kebudayaan Jawa (KJ) dibiarkan merana, tidak terawat, dan tidak dikembangkan oleh pihak2 yang berkompeten (TERUTAMA OLEH POLITISI). Bahkan KJ terkesan dibiarkan mati merana digerilya oleh kebudayaan asing (terutama dari timur tengah/Arab). Mochtar Lubis dalam bukunya: Manusia Indonesia Baru, juga mengkritisi watak2 negatip manusia Jawa seperti munafik, feodal, malas, tidak suka bertanggung jawab, suka gengsi dan prestis, dan tidak suka bisnis (lebih aman jadi pegawai).
Kemunduran kebudayaan Jawa tidak lepas dari dosa regim Orde Baru. Strategi regim Soeharto untuk melepaskan diri dari tuannya (USA dkk.) dan tekanan kaum reformis melalui politisasi agama Islam menjadikan Indonesia mengarah ke ideologi Timur Tengah (Arab). Indonesia saat ini (2007) adalah kembali menjadi ajang pertempuran antara: Barat lawan Timur Tengah, antara kaum sekuler dan kaum Islam, antara modernitas dan kekolotan agama. (mohon dibaca artikel yang lain dulu, sebaiknya sesuai no. urut)

Boleh diibaratkan bahwa manusia Jawa terusmenerus mengalami penjajahan, misalnya penjajahan oleh:
– Bs. Belanda selama 300 tahunan
– Bs. Jepang selama hampir 3 tahunan
– Regim Soeharto/ORBA selama hampir 32 tahun (Londo Ireng).
– Negara Adidaya/perusahaan multi nasioanal selama ORBA s/d saat ini.
– Sekarang dan dimasa dekat, bila tidak hati2, diramalkan bahwa Indonesia akan menjadi negara boneka Timur Tengah/Arab Saudi (melalui kendaraan utama politisasi agama).

Kemunduran kebudayaan manusia Jawa sangat terasa sekali, karena suku Jawa adalah mayoritas di Indonesia, maka kemundurannya mengakibatkan kemunduran negara Indonesia, sebagai contoh kemunduran adalah terpaan berbagai krisis yang tak pernah selesai dialami oleh bangsa Indonesia. Politisasi uang dan agama mengakibatkan percepatan krisis kebudayaan Jawa, seperti analisa dibawah ini.
Gerilya Kebudayaan
Negara2 TIMTENG/ARAB harus berjuang sekuat tenaga dengan cara apapun untuk mendapat devisa selain dari kekayaan minyak (petro dollar), hal ini mengingat tambang minyak di Timur Tengah (TIMTENG/Arab) adalah terbatas umurnya; diperkirakan oleh para ahli bahwa umur tambang minyak sekitar 15 tahun lagi, disamping itu, penemuan energi alternatip akan dapat membuat minyak turun harganya. Begitu negara Timur Tengah mendapat angin dari regim Orde Baru, Indonesia lalu bagaikan diterpa badai gurun Sahara yang panas! Pemanfaatan agama (politisasi agama) oleh negara asing (negara2 Arab) untuk mendominasi dan menipiskan kebudayaan setempat (Indonesia) mendapatkan angin bagus, ini berlangsung dengan begitu kuat dan begitu vulgarnya. Gerilya kebudayaan asing lewat politisasi agama begitu gencarnya, terutama lewat media televisi, majalah, buku dan radio. Gerilya kebudayaan melalui TV ini sungguh secara halus-nylamur-tak kentara, orang awam pasti sulit mencernanya! Berikut ini adalah gerilya kebudayaan yang sedang berlangsung:
– Dalam sinetron, hal-hal yang berbau mistik, dukun, santet dan yang negatip sering dikonotasikan dengan manusia yang mengenakan pakaian adat Jawa seperti surjan, batik, blangkon kebaya dan keris; kemudian hal-hal yang berkenaan dengan kebaikan dan kesucian dihubungkan dengan pakaian keagamaan dari Timur Tengah/Arab. Kebudayaan yang Jawa dikalahkan oleh yang Timur Tengah.
– Artis2 film dan sinetron digarap duluan mengingat mereka adalah banyak menjadi idola masyarakat muda (yang nalarnya kurang jalan). Para artis, yang blo’oon politik ini, bagaikan di masukan ke salon rias Timur Tengah/Arab, untuk kemudian ditampilkan di layar televisi, koran, dan majalah demi membentuk mind set (seting pikiran) yang berkiblat ke Arab.
– Bahasa Jawa beserta ungkapannya yang sangat luas, luhur, dalam, dan fleksibel juga digerilya. Dimulai dengan salam pertemuan yang memakai assalam…dan wassalam…. Dulu kita bangga dengan ungkapan: Tut wuri handayani, menang tanpo ngasorake, gotong royong, dsb.; sekarang kita dibiasakan oleh para gerilyawan kebudayaan dengan istilah2 asing dari Arab, misalnya: amal maruh nahi mungkar, saleh dan soleha, dst. Untuk memperkuat gerilya, dikonotasikan bahwa bhs. Arab itu membuat manusia dekat dengan surga! Sungguh cerdik dan licik.
– Kebaya, modolan dan surjan diganti dengan jilbab, celana congkrang, dan jenggot ala orang Arab. Nama2 Jawa dengan Ki dan Nyi (misal Ki Hajar …) mulai dihilangkan, nama ke Arab2an dipopulerkan. Dalam wayang kulit, juga dilakukan gerilya kebudayaan: senjata pamungkas raja Pandawa yaitu Puntadewa menjadi disebut Kalimat Syahadat (jimat Kalimo Sodo), padahal wayang kulit berasal dari agama Hindu (banyak dewa-dewinya yang tidak Islami), jadi bukan Islam; bukankah ini sangat memalukan? Gending2 Jawa yang indah, gending2 dolanan anak2 yang bagus semisal: jamuran, cublak2 suweng, soyang2, dst., sedikit demi sedikit digerilya dan digeser dengan musik qasidahan dari Arab. Dibeberapa tempat (Padang, Aceh, Jawa Barat) usaha menetapkan hukum syariah Islam terus digulirkan, dimulai dengan kewajiban berjilbab! Kemudian, mereka lebih dalam lagi mulai mengusik ke bhinekaan Indonesia, dengan berbagai larangan dan usikan bangunan2 ibadah dan sekolah non Islam.
– Gerilya lewat pendidikan juga gencar, perguruan berbasis Taman Siswa yang nasionalis, pluralis dan menjujung tinggi kebudayaan Jawa secara lambat namun pasti juga digerilya, mereka ini digeser oleh madrasah2/pesantren2. Padahal Taman Siswa adalah asli produk perjuangan dan merupakan kebanggaan manusia Jawa. UU Sisdiknas juga merupakan gerilya yang luar biasa berhasilnya. Sekolah swasta berciri keagamaan non Islam dipaksa menyediakan guru beragama Islam, sehingga ciri mereka lenyap.
– Demikian pula dengan perbankan, mereka ingin eksklusif dengan bank syariah, dengan menghindari kata bunga/rente/riba; istilah ke Arab2an pun diada-adakan, walau nampak kurang logis! Seperti USA memakai IMF, dan orang Yahudi menguasai finansial, maka manusia Arab ingin mendominasi Indonesia memakai strategi halal-haramnya pinjaman, misalnya lewat bank syariah.
– Keberhasilan perempuan dalam menduduki jabatan tinggi di pegawai negeri (eselon 1 s/d 3) dikonotasikan/dipotretkan dengan penampilan berjilbab dan naik mobil yang baik. Para pejabat eselon ini lalu memberikan pengarahan untuk arabisasi pakaian dinas di kantor masing2.
– Di hampir pelosok P. Jawa kita dapat menyaksikan bangunan2 masjid yang megah, dana pembangunan dari Arab luar biasa besarnya. Bahkan organisasi preman bentukan militer di jaman ORBA, yaitu Pemuda Pancasila, pun mendapatkan grojogan dana dari Timur Tengah untuk membangun pesantren2 di Kalimantan, luar biasa!
– Fatwa MUI pada bulan Agustus 2005 tentang larangan2 yang tidak berdasar nalar dan tidak menjaga keharmonisan masyarakat sungguh menyakitkan manusia Jawa yang suka damai dan harmoni. Bila ulama hanya menjadi sekedar alat politik, maka panglima agama adalah ulama politikus yang mementingkan uang, kekuasaan dan jabatan saja; efek keputusan tidak mereka hiraukan. Sejarah ORBA membuktikan bahwa MUI dan ICMI adalah alat regim ORBA yang sangat canggih. Saat ini, MUI boleh dikata telah menjadi alat negara asing (Arab) untuk menguasai
– Dimasa lalu, banyak orang cerdas mengatakan bahwa Wali Songo adalah bagaikan MUI sekarang ini, dakwah mereka penuh gerilya kebudayaan dan politik. Manusia Majapahit digerilya, sehingga terdesak ke Bromo (suku Tengger) dan pulau Bali. Mengingat negara baru memerangi KKN, mestinya fatwa MUI adalah tentang KKN (yang relevan), misal pejabat tinggi negara yang PNS yang mempunyai tabungan diatas 3 milyar rupiah diharuskan mengembalikan uang haram itu (sebab hasil KKN), namun karena memang ditujukan untuk membelokan pemberantasan KKN, yang terjadi justru sebaliknya, fatwanya justru yang aneh2 dan merusak keharmonisan kebhinekaan Indonesia!
– Buku2 yang sulit diterima nalar, dan secara ngawur dan membabi buta ditulis hanya untuk melawan dominasi ilmuwan Barat saat ini membanjiri pasaran di Indonesia. Rupanya ilmuwan Timur Tengah ingin melawan ilmuwan Barat, semua teori Barat yang rasional-empiris dilawan dengan teori Timur Tengah yang berbasis intuisi-agamis (berbasis Al-Quran), misal teori kebutuhan Maslow yang sangat populer dilawankan teori kebutuhan spiritual Nabi Ibrahim, teori EQ ditandingi dengan ESQ, dst. Masyarakat Indonesia harus selalu siap dan waspada dalam memilih buku yang ingin dibacanya.
– Dengan halus, licik tapi mengena, mass media, terutama TV dan radio, telah digunakan untuk membunuh karakater (character assasination) budaya Jawa dan meninggikan karakter budaya Arab (lewat agama)! Para gerilyawan juga menyelipkan filosofis yang amat sangat cerdik, yaitu: kebudayaan Arab itu bagian dari kebudayaan pribumi, kebudayaan Barat (dan Cina) itu kebudayaan asing; jadi harus ditentang karena tidak sesuai! Padahal kebudayaan Arab adalah sangat asing!
– Gerilya yang cerdik dan rapi sekali adalah melalui peraturan negara seperti undang-undang, misalnya hukum Syariah yang mulai diterapkan di sementara daerah, U.U. SISDIKNAS, dan rencana UU Anti Pornografi dan Pornoaksi (yang sangat bertentangan dengan Bhineka Tunggal Ika dan sangat menjahati/menjaili kaum wanita dan pekerja seni). Menurut Gus Dur, RUU APP telah melanggar Undang-Undang Dasar 1945 karena tidak memberikan tempat terhadap perbedaan. Padahal, UUD 1945 telah memberi ruang seluas-luasnya bagi keragaman di Indonesia. RUU APP juga mengancam demokrasi bangsa yang mensyaratkan kedaulatan hukum dan perlakuan sama terhadap setiap warga negara di depan hukum. Gus Dur menolak RUU APP dan meminta pemerintah mengoptimalkan penegakan undang-undang lain yang telah mengakomodir pornografi dan pornoaksi. “Telah terjadi formalisasi dan arabisasi saat ini. Kalau sikap Nahdlatul Ulama sangat jelas bahwa untuk menjalankan syariat Islam tidak perlu negara Islam,” ungkapnya. (Kompas, 3 Maret 2006).

– Puncak gerilya kebudayaan adalah tidak diberikannya tempat untuk kepercayaan asli, misalnya Kejawen, dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP), dan urusan pernikahan/perceraian bagi kaum kepercayaan asli ditiadakan. Kejawen, harta warisan nenek moyang, yang kaya akan nilai: pluralisme, humanisme, harmoni, religius, anti kekerasan dan nasionalisme, ternyata tidak hanya digerilya, melainkan akan dibunuh dan dimatikan secara perlahan! Sungguh sangat disayangkan! Urusan perkawinan dan kematian untuk MJ penganut Kejawen dipersulit sedemikian rupa, urusan ini harus dikembalikan ke agama masing2! Sementara itu aliran setingkat Kejawen yang disebut Kong Hu Chu yang berasal dari RRC justru disyahkan keberadaannya. Sungguh sangat sadis para gerilyawan kebudayaan ini!
– Gerilya kebudayaan juga telah mempengaruhi perilaku manusia Jawa, orang Jawa yang dahulu dikenal lemah-lembut, andap asor, cerdas, dan harmoni; namun sekarang sudah terbalik: suka kerusuhan dan kekerasan, suka menentang harmoni. Bayangkan saja, kota Solo yang dulu terkenal putri nya yang lemah lembut (putri Solo, lakune koyo macan luwe) digerilya menjadi kota yang suka kekerasan, ulama Arab (Basyir) mendirikan pesantren Ngruki untuk mencuci otak anak2 muda. Akhir2 ini kota Solo kesulitan mendatangkan turis manca negara, karena kota Solo sudah diidentikan dengan kekerasan sektarian. Untuk diketahui, di Pakistan, banyak madrasah disinyalir dijadikan tempat brain washing dan baiat. Banyak intelektual muda kita di universitas2 yang kena baiat (sumpah secara agama Islam, setelah di brain wahing) untuk mendirikan NII (negara Islam Indonesia) dengan cara menghalalkan segala cara. Berapa banyak madrasah/pesantren di Indonesia yang dijadikan tempat2 cuci otak anti pluralisme dan anti harmoni? Banyak! Berapa jam pelajaran dihabiskan untuk belajar agama (ngaji) dan bahasa Arab? Banyak, diperkirakan sampai hampir 50% nya! Tentu saja ini akan sangat mempengaruhi turunnya perilaku dan turunnya kualitas SDM bgs. Indonesia secara keseluruhan! Maraknya kerusuhan dan kekerasan di Indonesia bagaikan berbanding langsung dengan maraknya madrasah dan pesantren2. Berbagai fatwa MUI yang menjungkirbalikan harmoni dan gotong royong manusia Jawa gencar dilancarkan!

– Sejarah membuktikan bagaimana kerajaan Majapahit, yang luarbiasa jaya, juga terdesak melalui gerilya kebudayaan Arab sehingga manusianya terpojok ke Gn. Bromo (suku Tengger) dan P. Bali (suku Bali). Mereka tetap menjaga kepercayaannya yaitu Hindu. Peranan wali Songo saat itu sebagai alat politis (mirip MUI dan ICMI saat ini) adalah besar sekali! Semenjak saat itu kemunduran kebudayaan Jawa sungguh luar biasa!
Tanda-tanda Kemunduran Budaya Jawa
Kemunduran kebudayaan manusia Jawa sangat terasa sekali, karena suku Jawa adalah mayoritas di Indonesia, maka kemundurannya mengakibatkan kemunduran negara Indonesia, sebagai contoh kemunduran adalah:
– Orang2 hitam dari Afrika (yang budayanya dianggap lebih tertinggal) ternyata dengan mudah mempedayakan masyarakat kita dengan manipulasi penggandaan uang dan jual-beli narkoba.
– Orang Barat mempedayakan kita dengan kurs nilai mata uang. Dengan $ 1 = k.l Rp. 10000, ini sama saja penjajahan baru. Mereka dapat bahan mentah hasil alam dari Indonesia murah sekali, setelah diproses di L.N menjadi barang hitech, maka harganya jadi selangit. Nilai tambah pemrosesan/produksi barang mentah menjadi barang jadi diambil mereka (disamping membuka lapangan kerja). Indonesia terus dengan mudah dikibulin dan dinina bobokan untuk menjadi negara peng export dan sekaligus pengimport terbesar didunia, sungguh suatu kebodohan yang maha luar biasa.
– Orang Jepang terus membuat kita tidak pernah bisa bikin mobil sendiri, walau industri Jepang sudah lebih 30 tahun ada di Indonesia. Semestinya bangsa ini mampu mendikte Jepang dan negara lain untuk mendirikan pabrik di Indonesia, misalnya pabrik: Honda di Sumatra, Suzuki di Jawa, Yamaha di Sulawesi, dst. Ternyata kita sekedar menjadi bangsa konsumen dan perakit.
– Orang Timur Tengah/Arab dengan mudah menggerilya kebudayaan kita seperti cerita diatas; disamping itu, Indonesia adalah termasuk pemasok devisa haji terbesar! Kemudian, dengan hanya Asahari, Abu Bakar Baasyir dan Habib Riziq (FPI), cukup beberapa gelintir manusia saja, Indonesia sudah dapat dibuat kalang kabut oleh negara asing! Sungguh keterlaluan dan memalukan!
– Kalau dulu banyak mahasiswa Malaysia studi ke Indonesia, sekarang posisinya terbalik: banyak mahasiswa Indonesia belajar ke Malaysia (bahkan ke S’pore, Thailand, Pilipina, dst.). Konyol bukan?
– Banyak manusia Jawa yang ingin kaya secara instant, misalnya mengikuti berbagai arisan/multi level marketing seperti pohon emas, dst., yang tidak masuk akal!
– Dalam beragamapun terkesan jauh dari nalar, bijak dan jauh dari cerdas, terkesan hanya ikut2an saja. Beragama tidak harus menjiplak kebudayaan asal agama, dan tidak perlu mengorbankan budaya lokal.
– Sampai dengan saat ini, Indonesia tidak dapat melepaskan diri dari berbagai krisis (krisis multi dimensi), kemiskinan dan pengangguran justru semakin meningkat, padahal negara tetangga yang sama2 mengalami krisis sudah kembali sehat walafiat! Peran manusia Jawa berserta kebudayaannya, sebagai mayoritas, sangat dominan dalam berbagai krisis yang dialami bangsa ini.

Penutup

Beragama tidak harus menjiplak kebudayaan asal agama. Gus Dur mensinyalir telah terjadi arabisasi kebudayaan. Kepentingan negara asing untuk menguasai bumi dan alam Indonesia yang kaya raya dan indah sekali sungguh riil dan kuat sekali, kalau negara modern memakai teknologi tinggi dan jasa keuangan, sedangkan negara lain memakai politisasi agama beserta kebudayaannya. Indonesia saat ini (2007) adalah sedang menjadi ajang pertempuran antara dua ideologi besar dunia: Barat lawan Timur Tengah, antara kaum sekuler dan kaum Islam, antara modernitas dan kekolotan agama. CLASH OF CIVILIZATION antar dua ideologi besar di dunia ini, yang sudah diramalkan oleh sejarahwan kelas dunia – Samuel Hutington dan Francis Fukuyama.

Tanpa harus menirukan/menjiplak kebudayaan Arab, Indonesia diperkirakan dapat menjadi pusat Islam (center of excellence) yang modern bagi dunia. Seperti pusat agama Kristen modern, yang tidak lagi di Israel, melainkan di Itali dan Amerika. Beragama tanpa nalar disertai menjiplak budaya asal agama tersebut secara membabi buta hanya akan mengakibatkan kemunduran budaya lokal sendiri! Maka bijaksana, kritis, dan cerdik sangat diperlukan dalam beragama.

Ulil Abshar Abdala

Koordinator Jamaah Islam Liberal (JIL)

About SABDå

gentleman, Indonesia Raya

Posted on Oktober 7, 2008, in Mengapa Budaya Jawa Tersingkir ? and tagged , , . Bookmark the permalink. 180 Komentar.

  1. manusia jawa mengalami kemunduran bukan karena masuknya islam atau digerogoti kebudayaan arab atau lainnya. memang kalau ditilik dari sejarah. jauh sebelum silam masuk ke tanah jawa, masyarakat-masyarakat yang ada disini telah mengalami puncak kejayaan keemasannya dari sisi budaya dan produk budaya. bahkan kerajaan-kerajaan di tanah jawa seperti majapahit mengalami puncak keemasannya, mampu mengusir pasukan mongol yang saai itu telah menguasai 2/3 daratan asia yang dijuluki pasukan barbar dan dipimipin oleh seorang Kubilai Khan yang berani mengambil gelar Sang Anak Langit.

    Tetapi disaat itu manusia jawa sangat pongah dan sombong, kedigdayaan dan kemasyhuran kerajaan besar seperti Singasari dan Majapahit yang terkenal hingga manca negara mebuat mereka memandang bangsa lain dengan rendah. dimanapun mereka berada maka penghormatan dari penduduk setempat pun akan diberikan baik itu di negeri-negeri asia lainnya maupun di negeri-negeri luar jawa. konon bahkan jika ada orang non jawa/kedudukan nya lebih rendah berani berjalan lebih tinggi dibanding orang jawa maka nyawanya akan dihabisi saat itu juga karena dianggap menghina.

    Belum lagi keberhasilan invasi dan pendudukan besar-besaran kala itu ke negeri-negeri seberang oleh kerajaan-kerajaan tanah jawa sebagai bagian dari perluasan wilayah kekuasaan tentu akan semakin membuat manusia jawa berada diatas angin.
    ditambah kebiasaan dan adat hidup orang jawa yang berlebih-lebihan pada massa itu serta perilaku yang mengelompokkan orang berdasarkan derajat membuat sebagian masyarakat saat itu menjadi lupa diri

    Namun semua hal itu harus dibayar mahal oleh bangsa jawa pada masa selanjutnya, kesombongan dan keangkuhan mereka kala itu ternyata menuntut karma bumi. karma yang didapat akibat perbuatan mereka sehingga Manusia Jawa yang tadinya berderajat tinggi jadi direndahkan derajatnya, dll

    manusia jawa mengalami kemunduran bukan karena masuknya islam atau digerogoti kebudayaan arab atau lainnya. itu hanya perantara saja, tetapi diakibatkan karena karma bumi, karma akibat manusia jawa yang dulu lakukan.

    • katniss everdeen

      memang di era modern sekarang ini, orang-orang jawa pongah karena sejarah-sejarahnya dulu…

      seperti orang jerman yang membicarakan kebesaran nazi jerman ke orang-orang eropa lainnya seperti inggris, prancis, belanda, polandia, dll.

  2. JAWA

    Tanah yg relatif sampoerna flora fauna
    Manusianya belajar ilmi allam high grade level
    Sehingga muncul pondasi ilmi Jawa, yaitu
    :
    Jawa, ilmi tuntunan hidup manusia yg sangat hormat pd bumi lbgit seisinya, respected pd allamnya, include manusianya
    Ahli bibit, pengairan, healthy natural knowledge, kanuragan , batiniah hig level manunggal rasa dgn allamnya.

    Keunggulan inilah bekal manusia Jawa menyebar ke segala dunia
    Niatnya menolong, memberi pengetahuan pd bangsa lain. Not kolonialisasi, not penjajahan.
    Dimasing2 tempat yg didatangi terasa kemanfaatan ilmi dari bumi yg relatif sampoerna.
    Membawa kemakmuran, kedamaian, penataan lingkungan yg harmoni dgn allam.
    Itulah Kawa bisa menyebar ke kerajaan lain.

    Sehingga Jawa terkenal keagungannya
    Berduyun duyun sebagai saudagar datang ke Jawa
    Melihat keelokan, kekayaan Jawa
    Ada sekelompok saudagar ” milik gawa lali ”
    Ada ingin menguasai

    Dipelajari, kuncinya di kerajaan
    Mempersembahkan puteri
    Selir, punya anak
    Sang anak, akhirnya makar pd orang tuanya sendiri

    Ajaran ” manca ” itu berkembang
    Karena saat itu kerajaan santris
    Apa kata kerajaan dituruti rakyat
    MULAILAH
    FASE
    DIMANA MANUSIA jawa diajari tidak hormat pd tanah airnya sendiri
    Titik bumi lain di sucikan, buminya sendiri Jawa Nusantara dinafikan
    Manusia leluhur yg sdh memeberi ” mereka ” tempat tinggal karena beda tuntunan..di kafirkan.
    Budaya Jawa respect orang tua mulai porak poranda
    Ritual, tradisi Jawa yg hormat pd tumbuhan besar tua yg sdh berjasa, ritual hormat bumi waktu mau dipaculi, ditanam namanya ” ucengan ” disyirik musyrikkan, dikatakan sesat.
    Padahal itu tuntunan Jawa yg sdh tahu manusia harus santun pd buminya

    Tolong menolong guyub terporakporandakan, karena ada jaran manca yg mengatakan kafir, tak bertuhan pd manusia lain yg beda tuntunan hidup.

    Intinya ajaran manca dr arab notabene tamu yg sdh dihormati tuan rumah..tuan rumah adalah Jawa.

    Ajaran tamu yg riya’ merasa paling benar, menafikan tuntunan dimanapun dia berada, cenderung menafikan tokoh2 yg beerjasa dari bumi yg diinjaknya
    Itulah
    Yang menyebabkan hampir 500 an tahun ini kita jadi bangsa yg terpuruk
    Kena walat tanah air dan leluhurnya sendiri.
    Hijab kubuka utkmu @ bagay

    Sirnalah, musnahlah apapun yg mengotori bumi sabang sampai merauke

  3. Terima kasih banyak atas artikelnya.

    • hindu budha bukan budaya luar ya?

      • artikel diatas kesannya mau menangnya sendiri, rumongso biso lan ora biso rumongso, kami orang jawa tidak pernah merasa sebagai pemilik indonesia, 5 agama banyak kepercayaan dan ribuan budaya itulah indonesia, jika anda percaya dengan argumen diatas maka seharusnya logikanya bangsa jawa juga telah menghancurkan kebudayaan terdahulu seperti padjajaran dan sriwijaya, bukankah ini juga memalukan? anda yang percaya karma seharusnya mengatakan kebaikan menghasilkan kebaikan, kejahatan menghasilkan kejahatan, maka logika anda seharusnya berani dan jujur mengatakan kemunduran jawa sebagai akibat perbuatan mereka sendiri tanpa mencari kambing hitam, itu namanya pengecut. anda yang melihat selain budaya jawa (budaya asing) adalah penyebab kemunduran mengapa mengambil argumen (artikel) yang berkiblat pada budaya luar? (budaya barat), bukankah JIL adalah produk barat? lucu…. seharusnya anda belajar dari sejarah bahwa musuh utama kita adalah “adu domba”, lalu siapa yang melakukannya?? (pikiiiir!!!) lalu mengapa anda ingin mengajak kami jatuh ke lubang yang sama lagi??? jika anda tidak bisa hidup ditengah-tengah kami bangsa Indonesia yang kaya budaya, mengapa tidak memilih mati saja?

      • komentar si “tulisan ngawur” itu mencerminkan orang jawa yang gak pernah mau kalah…

      • si “tulisan ngawur” seharusnya berpikir bahwa kenapa banyak yang sentimen terhadap jawa, ya karena kebanyakan orang jawa seperti itu, menyebalkan.

        mungkin si “tulisan ngawur” bukan orang jawa yang jahat, tapi ya tetap saja dia harus menerima getahnya juga….

        konsekuensi!

  4. Kemunduran yang signifikan? Tidak apa-apa kalau orang-orang dari suku Jawanya sendiri yang menganggap demikian. Itu hak mereka.

    Tapi menurut saya yang bukan berasal dari suku Jawa (Sunda-Minang), justru dibandingkan suku-suku lainnya di Indonesia ini, kebudayaan suku Jawa masih ketat sekali. Ketika kita ke Jawa Tengah, Jogja, dan Jawa Timur, suasana Jawanya masih terasa.

    Malah orang-orang suku Jawa sendiri suka mengekspansi budayanya ke kebudayaan lain, seperti Sunda, Cirebon, Betawi, Banten, dan Lampung. Dan terkadang dalam beberapa kasus, budaya Jawa termasuk bahasanya malahan menggusur budaya setempat. Biasanya ini terjadi akibat para perantau (sementara/permanen) Jawa yang agresif, mereka sebagai pendatang bukannya memegang filosofi “dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”, tapi malah menjadikannya sebagai wilayah baru, atau wilayah jajahan mereka.

    Coba lihat, semua tentang Majapahit mereka paksakan untuk diterima oleh seluruh orang Indonesia. Begitupun dengan segala hal lainnya yang berhubungan dengan suku Jawa.

    Tidak semua orang suku Jawa seperti itu, ada juga yang baiknya, karena sebenarnya budaya Jawa itu memang halus dan sopan, tapi ya ada saja orang jahatnya, dan orang jahatnya lebih banyak daripada yang baiknya, sehingga orang baiknya ketutupi. Orang jahatnya tidak menjalankan ajaran budayanya, tapi mereka lebih kepada politik yang pernah dilakukan oleh Majapahit.

  5. kenyataannya memang ajaran arab yg di kemas dalam agama membutakan jiwa2 manusia yang sederhana dan lugu, , perlu gerakan budaya yg masif untuk menghidupkan kembali budaya dan “wisdom” jawa yang adi luhung, walaupun dengan resiko perlawanan dari kelompok tertentu yg terlanjur terbutakan oleh ajaran budaya arab berkulit “agama”…

  6. wes wayahe kalisumbaga…. jaman kasohor, kalisuba iku jamane pak karno, 45

  7. ulil,
    jelas arab brainwash product.
    penjajah mainstream by way of life
    benalu ideologi machine in the world

    maaf,
    brainwashed ideology arab, pasti memarginalkan segala tuntunan hidup yg sudah baik2 menerimanya.
    di anapun mereka berada
    hal ini terjadi bila mereka sudah merasa kuat.

    tulisan diatas sepertinya mengangkat Jawa.
    intinya ada cita cita latent, Indonesia mau dijadikan Islam.
    hai Ulil
    tahukah kau kenapa bangsa ini jadi termarginalkan, miskin seperti ini.
    karena tuntunan arab menafikan tanah air yg sudah menghidupi manusianya.
    hanya tanah arab saja yg dianggap suci.
    ke dua :
    karena tuntunan arab menafikan leluhur bangsa Indonesia sendiri.

    kaffah sudah ke ” keladukan “, ke ” kuarang ajaran ” arab ideologi.
    penjajah sebenarnya di negeri luhur ini, adalah tuntunan arab yang demikian telengas pada bumi dan leluhur negeri ini.

    SADARLAH DUNIA
    benalu ideologi dari arab ini.
    sadarlah Indonesia
    musuh sebenarnya, cancer sebenarnya keagungan negeri mulia ini.
    westernisasi, baratisasi, Kuon nisasi.
    SUDAH SADAR KAH KITA PENJAJAH PANCASILA, PENJAJAH BHINNEKA TUNGGAL IKA sebenar benarnya.
    terbukalah hijabmu Indonesia.
    be back Indonesia originality way of life

    tegakkan tatakrama
    tegakkan halus budi, toleransi
    hormati allam lingkungan kita, hijaukan kembali lingkungan kita dengan menanam
    jagalah sumber air, dan jernihnya sungai.
    cintailah ideologi negeri sendiri Pancasila unreserved.
    bekerjalah maksimal utk negeri sendiri.
    tuntunan arab bukan apap apa ya dibandingkan ilmi Agung negeri kita ini.
    belajar kearifan, ke Agungan tuntunan hidup negeri surga Indonesia ini.
    ajaran padang gersang hanya menciptakan permusuhan, peperangan walaupun berkata kata sebaliknya.
    belajarlah tuntunan bumi negeri sendiri yang hijau sejuk subur ini.
    pastilah hidup ini sejuk damai bahagia sejahtera.

    mohon maaf yang marah membaca tulisan ini, belajarlah lagi tentang keagungan negeri ini.
    jadilah ” manusia yang sae “.

  8. Nama loe juga berbau arab,, sok sokan anti arab -_-

  9. “Sementara itu aliran setingkat Kejawen yang disebut Kong Hu Chu yang berasal dari RRC justru disyahkan keberadaannya. Sungguh sangat sadis para gerilyawan kebudayaan ini!”

    Junjungan ente, gus dur tuh yg nglakuin, salaihin noh 😀

  10. Rahayu..
    Siapapun namanya, siapapun tokoh penuntunnya, tentang apa bicaranya, darimanapun golongannya.. kami bersyukur, jika masih ada orang2 pemikir dan pemerhati seperti panjenengan semua ini yang peduli terhadap budaya kita.

    izinkan saya sedikit bercerita tentang pengalaman kami dalam sebuah kegiatan kecil di lingkungan kami beberapa waktu yang lalu..

    kami mencoba berkegiatan mengumpulkan paku2 usang yang menancap pada pepohonan di sekeliling lingkungan dalam lingkup yang masih sangat kecil.. kami hanya berlandaskan sedikit pengetahuan tentang pohon yang akan terhambat pertumbuhannya, atau bahkan bisa mati jika ada paku ditancapkan kepadanya.. serta agar dapat mengajak beberapa orang untuk yakin dan mau, kami juga menggunakan dasar aturan dari negara yang terkait dengan kegiatan ini.

    dalam proses mencabut paku2 tersebut…. saya secara pribadi mengalami suatu perasaan yang sungguh luar biasa.. entah bagaimana saya menyebutkannya.. ada paku yang mudah dilepas, namun ada yang sulit hingga saya harus menyakiti batang pohon.
    ketika saya berpikir bahwa saya menyakiti, tiba-tiba seperti ada gelombang di perasaan saya yang jika bisa saya suarakan, akan terdengar seperti sebuah “tangisan menahan sakit, yang juga sekaligus harapan kebebasan, keinginan, kebahagiaan dan haru, serta sebuah keikhlasan yang sangat dalam”.. mohon maaf jika tidak tepat istilahnya, semoga Tuhan Yang Maha Menciptakan Seluruh Bahasa membantu saya menerjemahkannya langsung dalam hati para dulur sederek yang masih sudi membaca hingga kata ini.

    Selama dari saya lahir dan tinggal di tanah jawa ini, saya belum banyak mengenal leluhur, mencari tau tentang sejarah, bahkan menyelidiki kebenaran sejatinya jawa itu sendiri.

    terima kasih atas ilmu yang banyak dari artikel dan seluruh komentar ini, semoga jika kita memang sedang berada dalam proses dimana Bangsa Indonesia, Jawa, dan Keluarga kita menjadi lebih baik, harapan kami proses itu juga sedang terjadi dalam diri kita masing-masing pribadi..

    Rahayu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: