AJARAN SYEH SITI JENAR & KEJAWEN Dalam Memandang Ketuhanan, Dosa/Neraka, Pahala/Surga

PERBANDINGAN ANTARA

AJARAN SYEH SITI JENAR

Dan PANDANGAN KEJAWEN

Mengenai Ketuhanan, Alam, dan Manusia

 

 

 

Syeh Siti Jenar (Lemah Abang) dalam Mengenal Tuhan

    Ajaran Siti Jenar memahami Tuhan sebagai ruh yang tertinggi, ruh maulana yang utama, yang mulia yang sakti, yang suci tanpa kekurangan. Itulah Hyang Widhi, ruh maulana yang tinggi dan suci menjelma menjadi diri manusia.

    Hyang Widhi itu di mana-mana, tidak di langit, tidak di bumi, tidak di utara atau selatan. Manusia tidak akan menemukan biarpun keliling dunia. Ruh maulana ada dalam diri manusia karena ruh manusia sebagai penjelmaan ruh maulana, sebagaimana dirinya yang sama-sama menggunakan hidup ini dengan indera, jasad yang akan kembali pada asalnya, busuk, kotor, hancur, tanah. Jika manusia itu mati ruhnya kembali bersatu ke asalnya, yaitu ruh maulana yang bebas dari segala penderitaan. Lebih lanjut Siti Jenar mengungkapkan sifat-sifat hakikat ruh manusia adalah ruh diri manusia yang tidak berubah, tidak berawal, tidak berakhir, tidak bermula, ruh tidak lupa dan tidak tidur, yang tidak terikat dengan rangsangan indera yang meliputi jasad manusia.

    Syeh Siti Jenar mengaku bahwa, “aku adalah Allah, Allah adalah aku”. Lihatlah, Allah ada dalam diriku, aku ada dalam diri Allah.  Pengakuan Siti Jenar bukan bermaksud mengaku-aku dirinya sebagai Tuhan Allah Sang Pencipta ajali abadi, melainkan kesadarannya tetap teguh sebagai makhluk yang diciptakan Tuhan. Siti Jenar merasa bahwa dirinya bersatu dengan “ruh” Tuhan. Memang ada persamaan antara ruh manusia dengan “ruh” Tuhan atau Zat. Keduanya bersatu di dalam diri manusia. Persatuan antara ruh Tuhan dengan ruh manusia terbatas pada persatuan manusia denganNya. Persatuannya merupakan persatuan Zat sifat, ruh bersatu dengan Zat sifat Tuhan dalam gelombang energi dan frekuensi yang sama. Inilah prinsip kemanunggalan dalam ajaran tentang manunggaling kawula Gusti atau jumbuhing kawula Gusti. Bersatunya dua menjadi satu, atau dwi tunggal. Diumpamakan wiji wonten salebeting wit.

 

Pandangan Syeh Lemah Abang Tentang Manusia

    Dalam memandang hakikat manusia Siti Jenar membedakan antara jiwa dan akal. Jiwa merupakan suara hati nurani manusia yang merupakan ungkapan dari zat Tuhan, maka hati nurani harus ditaati dan dituruti perintahnya. Jiwa merupakan kehendak Tuhan, juga merupakan penjelmaan dari Hyang Widdhi (Tuhan) di dalam jiwa, sehingga raga dianggap sebagai wajah Hyang Widdhi. Jiwa yang berasal dari Tuhan itu mempunyai sifat zat Tuhan yakni kekal, sesudah manusia raganya mati maka lepaslah jiwa dari belenggu raganya. Demikian pula akal merupakan kehendak, tetapi angan-angan dan ingatan yang kebenarannya tidak sepenuhnya dapat dipercaya, karena selalu berubah-ubah.

    Menurut sabdalangit, perbedaan karakter jiwa dan akal yang bertolak belakang dalam pandangan Siti Jenar, disebabkan oleh adanya garis demarkasi yang menjadi pemisah antara sifat hakikat jiwa dan akal-budi. Jiwa terletak di luar nafsu, sementara akal-budi letaknya berada di dalam nafsu. Mengenai perbedaan jiwa dan akal, dalam wirayat Saloka Jati diungkapkan bahwa akal-budi umpama kodhok kinemulan ing leng atau wit jroning wiji (pohon ada di dalam biji). Sedangkan jiwa umpama kodhok angemuli ing leng atau wiji jroning wit (biji ada di dalam pohon).

    Bagi Syeh Siti Jenar, proses timbulnya pengetahuan datang secara bersamaan dengan munculnya kesadaran subyek terhadap obyek. Maka pengetahuan mengenai kebenaran Tuhan akan diperoleh seseorang bersama dengan penyadaran diri orang itu. Jika ingin mengetahui Tuhanmu, ketahuilah (terlebih dahulu) dirimu sendiri. Syeh Lemah bang percaya bahwa kebenaran yang diperoleh dari hal-hal di atas ilmu pengetahuan, mengenai wahyu dan Tuhan bersifat intuitif. Kemampuan intuitif ini ada bersamaan dengan munculnya kesadaran dalam diri seseorang.

 

Pandangan Syeh Lemah Bang Tentang Kehidupan Dunia

    Pandangan Syeh Jenar tentang dunia adalah bahwa hidup di dunia ini sesungguhnya adalah mati. Dikatakan demikian karena hidup di dunia ini ada surga dan neraka yang tidak bisa ditolak oleh manusia. Manusia yang mendapatkan surga mereka akan mendapatkan kebahagiaan, ketenangan, kesenangan. Sebaliknya rasa bingung, kalut, muak, risih, menderita itu termasuk neraka.  Jika manusia hidup mulia, sehat, cukup pangan, sandang, papan maka ia dalam surga. Tetapi kesenangan atau surga di dunia ini bersifat sementara atau sekejap saja, karena betapapun juga manusia dan sarana kehidupannya pasti akan menemui kehancuran.

    Syeh Jenar mengumpamakan bahwa manusia hidup ini sesungguhnya mayat yang gentayangan untuk mencari pangan pakaian dan papan serta mengejar kekayaan yang dapat menyenangkan jasmani. Manusia bergembira atas apa yang ia raih, yang memuaskan dan menyenangkan jiwanya, padahal ia tidak sadar bahwa semua kesenangan itu akan binasa. Namun begitu manusia suka sombong dan bangga atas kepemilikan kekayaan, tetapi tidak menyadari bahwa dirinya adalah bangkai. Manusia justru merasa dirinya mulia dan bahagia, karena manusia tidak menyadari bahwa harta bendanya merupakan penggoda manusia yang menyebabkan keterikatannya pada dunia.

    Jika manusia tidak menyadari itu semua, hidup ini sesungguhnya derita. Pandangan seperti itu menjadikan  sikap dan pandangan Siti Jenar menjadi ekstrim dalam memandang kehidupan dunia. Hidup di dunia ini adalah mati, tempat baik dan buruk, sakit dan sehat, mujur dan celaka, bahagia dan sempurna, surga dan neraka, semua bercampur aduk menjadi satu. Dengan adanya peraturan maka manusia menjadi terbebani sejak lahir hingga mati. Maka Syeh Siti Jenar sangat menekankan pada upaya manusia untuk hidup yang abadi agar tahan mengalami hidup di dunia ini. Siti Jenar kemudian mengajarkan bagaimana mencari kamoksan (mukswa/mosca) yakni mati sempurna beserta raganya lenyap masuk ke dalam ruh (warongko manjing curigo). Hidup ini mati, karena mati itu hidup yang sesungguhnya karena manusia bebas dari segala beban dan derita. Karena hidup sesudah kematian adalah hidup yang sejati, dan abadi.

 

Syeh Siti Jenar Mengkritik Ulama dan Para Santrinya

    Alasan yang mendasari mengapa Syeh Siti Jenar mengkritik habis-habisan para ulama dan santrinya karena dalam kacamata Syeh Siti, mereka hanya berkutat pada amalan syariat (sembah raga). Padahal masih banyak tugas manusia yang lebih utama harus dilakukan untuk mencapai tataran kemuliaan yang sejati. Dogma-dogma, dan ketakutan neraka serta bujuk rayu surga justru membelenggu raga, akal budi, dan jiwa manusia. Maka manusia menjadi terkungkung rutinitas lalu lupa akan tugas-tugas beratnya. Manusia demikian menjadi gagal dalam upaya menemukan Tuhannya.  

 

Kritik Syeh Lemah Bang Atas Konsep Surga-Neraka

    Konsep surga-neraka dalam ajaran Siti Jenar berbeda sekali dengan apa yang diajarkan oleh para ulama. Menurut Syeh Siti Jenar, surga dan neraka adalah dalam hidup ini. Sementara para ulama mengajarkan surga dan neraka merupakan balasan yang diberikan kepada manusia atas amalnya yang bakal diterima kelak sesudah kematian (akherat).

    Menurut Syeh Siti, orang mukmin telah keliru karena mengerjakan shalat jungkir balik, mengharap-harap surga, sedang surga sesudah kematian itu tidak ada, shalat itu tidak perlu dan orang tidak perlu mengajak orang lain untuk shalat. Shalat minta apa, minta rizki ? Tuhan toh tidak memberi lantaran shalat.

    Santri yang menjual ilmu dengan siapa pun mau menyembah Tuhan di masjid, di dalamnya terdapat Tuhan yang bohong. Para ulama telah menyesatkan manusia dengan menipu mereka jungkir balik lima kali, pagi, siang, sore, malam hanya untuk memohon-mohon imbalan surga kelak. Sehingga orang banyak tergiur oleh omongan palsunya, dan orang menjadi gelisah tak enak ketika terlambat mengerjakan shalat. Orang seperti itu sungguh bodoh dan tak tau diri, jikalau pun seseorang menyadari bahwa shalat itu dilakukan karena merupakan kebutuhan diri manusia sendiri untuk menyembah Tuhannya, manusia ternyata tidak menyadari keserakahannya; dengan minta-minta imbalan/hadiah surga. Orang-orang telah terbius oleh para ulama, sehingga mereka suka berzikir, dan disibukkan oleh kegiatan menghitung-hitung pahalanya tiap hari. Sebaliknya, lupa bahwa sejatinya kebaikan itu harus diimplementasikan kepada sesama (habluminannas).

    Lebih lanjut Syekh Siti Jenar menuduh para ulama dan murid mereka sebagai orang dungu dan dangkal ilmu, karena menafsirkan surga sebagai balasan yang nanti diterima di akhirat. Penafsiran demikian adalah penafsiran yang sangat sempit. Hidup para ulama adalah hidup asal hidup, tidak mengerti hakekat, tetapi jika disuruh mati mereka menolak mentah-mentah. Surga dan neraka letaknya pada manusia masing-masing. Orang bergelimang harta, hidupnya merasa selalu terancam oleh para pesaing bisnisnya, tidur tak nyeyak, makan tak enak, jalan pun gelisah, itulah neraka. Sebaliknya, seorang petani di lereng gunung terpencil, hasil bercocok tanam cukup untuk makan sekeluarga, menempati rumah kecil yang tenang, tiap sore dapat duduk bersantai di halaman rumah sambil memandang hamparan sawah hijau menghampar, hatinya sesejuk udaranya, tenang jiwanya, itulah surga. Kehidupan ini telah memberi manusia mana surga mana neraka.

    Syeh Siti Jenar memandang alam semesta sebagai makrokosmos dan mikrokosmos (manusia) sekurangnya kedua hal ini merupakan barang baru ciptaan Tuhan yang sama-sama akan mengalami kerusakan, tidak kekal dan tidak abadi. Manusia terdiri  atas jiwa dan raga yang intinya ialah jiwa sebagai penjelmaan zat Tuhan.

    Sedangkan raga adalah bentuk luar dari jiwa yang dilengkapi pancaindera, sebagai organ tubuh seperti daging, otot, darah, dan tulang. Semua aspek keragaan atau ketubuhan adalah barang pinjaman yang suatu saat, setelah manusia terlepas dari kematian di dunia ini, akan kembali berubah asalnya yaitu unsur bumi (tanah).

Syeh Lemah Bang, mengatakan bahwa;

    Bukan kehendak angan-angan, bukan ingatan, pikiran atau niat, hawa nafsu pun bukan, bukan pula kekosongan atau kehampaan. Penampilanku sebagai mayat baru, andai menjadi gusti jasadku dapat busuk bercampur debu, nafasku terhembus di segala penjuru dunia, tanah, api, air, kembali sebagai asalnya, yaitu kembali menjadi baru. Bumi langit dan sebagainya adalah kepunyaan seluruh manusia, manusialah yang memberi nama”.

 

Kesimpulan

    Pandangan Syeh Lemah Bang; tentang terlepasnya manusia dari belenggu alam kematian yakni hidup di alam dunia ini, berawal dari konsepnya tentang  ketuhanan, manusia dan alam. Manusia adalah jelmaan zat Tuhan. Hubungan jiwa dari Tuhan dan raga, berakhir sesudah  manusia menemui ajal atau kematian duniawi. Sesudah itu manusia bisa manunggal dengan Tuhan dalam keabadian. Pada saat itu semua bentuk badan wadag (jasad) atau kebutuhan jasmanisah ditinggal karena jasad merupakan barang baru (hawadist) yang dikenai kerusakan dan semacam barang pinjaman yang harus dikembalikan kepada yang punya yaitu Tuhan sendiri.

    Terlepas dari ajaran Siti Jenar yang sangat ekstrim memandang dunia sebagai bentuk penderitaan total yang harus segera ditinggalkan rupanya terinspirasi oleh ajaran seorang sufi dari Bagdad, Hussein Ibnu Al Hallaj, yang menolak segala kehidupan dunia. Hal ini berbeda dengan konsep Islam secara umum yang memadang hidup di dunia sebagai khalifah Tuhan.

 

Pandangan Kejawen Tentang Kehidupan di Dunia

Pandangan Kejawen tentang makna hidup manusia  dunia ditampilkan secara rinci, realistis, logis dan mengena di dalam hati nurani; bahwa hidup ini diumpamakan hanya sekedar mampir ngombe, mampir minum, hidup dalam waktu sekejab, dibanding kelak hidup di alam keabadian setelah raga ini mati. Tetapi tugas manusia sungguh berat, karena jasad adalah pinjaman Tuhan. Tuhan meminjamkan raga kepada ruh, tetapi ruh harus mempertanggungjawabkan “barang” pinjamannya itu. Pada awalnya Tuhan Yang Mahasuci meminjamkan jasad kepada ruh dalam keadaan suci, apabila waktu “kontrak” peminjaman sudah habis, maka ruh diminta tanggungjawabnya, ruh harus mengembalikan jasad pinjamannya dalam keadaan yang suci seperti semula. Ruh dengan jasadnya diijinkan Tuhan “turun” ke bumi, tetapi dibebani tugas yakni menjaga barang pinjaman tersebut agar dalam kondisi baik dan suci setelah kembali kepada pemiliknya, yakni Gusti Ingkang Akaryo Jagad. Ruh dan jasad menyatu dalam wujud yang dinamakan manusia. Tempat untuk mengekspresikan dan mengartikulasikan diri manusia adalah tempat pinjaman Tuhan juga yang dinamakan bumi berikut segala macam isinya; atau mercapada. Karena bumi bersifat “pinjaman” Tuhan, maka bumi juga bersifat tidak kekal.

Betapa Maha Pemurahnya Tuhan itu, bersedia meminjamkan jasad, berikut tempat tinggal dan segala isinya menjadi fasilitas manusia boleh digunakan secara gratis. Tuhan hanya menuntut tanggungjawab manusia saja, agar supaya menjaga semua barang pinjaman Tuhan tersebut, serta manusia diperbolehkan memanfaatkan semua fasilitas yang Tuhan sediakan dengan cara tidak merusak barang pinjaman dan semua fasilitasnya.

Itulah tanggungjawab manusia yang sesungguhnya hidup di dunia ini; yakni menjaga barang “titipan” atau “pinjaman”, serta boleh memanfaatkan semua fasilitas yang disediakan Tuhan untuk manusia dengan tanpa merusak, dan tentu saja menjaganya agar tetap utuh, tidak rusak, dan kembali seperti semula dalam keadaan suci. Itulah “perjanjian” gaib antara Tuhan dengan manusia makhlukNya. Untuk menjaga klausul perjanjian tetap dapat terlaksana, maka Tuhan membuat rumus atau “aturan-main“ yang harus dilaksanakan oleh pihak peminjam yakni manusia. Rumus Tuhan ini yang disebut pula sebagai kodrat Tuhan; berbentuk hukum sebab-akibat. Pengingkaran atas isi atau “klausul kontrak” tersebut berupa akibat sebagai konsekuensi logisnya. Misalnya; keburukan akan berbuah keburukan, kebaikan akan berbuah kebaikan pula. Barang siapa menanam, maka mengetam. Perbuatan suka memudahkan akan berbuah sering dimudahkan. Suka mempersulit akan berbuah sering dipersulit.

 

Konsep Kejawen Tentang Pahala dan Dosa

dan Pandangan Kejawen tentang Kebaikan-Keburukan

 

    Ajaran Kejawen tidak pernah menganjurkan seseorang menghitung-hitung pahala dalam setiap beribadat. Bagi Kejawen, motifasi beribadat atau melakukan perbuatan baik kepada sesama bukan karena tergiur surga. Demikian pula dalam melaksanakan sembahyang manembah kepada Tuhan Yang Maha Suci bukan karena takut neraka dan tergiur iming-iming surga. Kejawen memiliki tingkat kesadaran bahwa kebaikan-kebaikan yang dilakukan seseorang kepada sesama bukan atas alasan ketakutan dan intimidasi dosa-neraka, melainkan kesadaran kosmik bahwa setiap perbuatan baik kepada sesama merupakan sikap adil dan baik pada diri sendiri. Kebaikan kita pada sesama adalah KEBUTUHAN diri kita sendiri. Kebaikan akan berbuah kebaikan. Karena setiap kebaikan yang kita lakukan pada sesama akan kembali untuk diri kita sendiri, bahkan satu kebaikan akan kembali pada diri kita secara berlipat. Demikian juga sebaliknya, setiap kejahatan akan berbuah kejahatan pula. Kita suka mempersulit orang lain, maka dalam urusan-urusan kita akan sering menemukan kesulitan. Kita gemar menolong dan membantu sesama, maka hidup kita akan selalu mendapatkan kemudahan.

Menurut pandangan Kejawen, kebiasaan mengharap dan menghitung pahala terhadap setiap perbuatan baik hanya akan membuat keikhlasan seseorang menjadi tidak sempurna. Kebiasaan itu juga mencerminkan sikap yang serakah, lancang, picik, dan tidak tahu diri. Karena menyembah Tuhan adalah kebutuhan manusia, bukan kebutuhan Tuhan. Mengapa seseorang masih juga mengharap-harap pahala dalam memenuhi kebutuhan pribadinya sendiri ? Dapat dibayangkan, jika kita menjadi mahasiswa maka butuh bimbingan dalam menyusun skripsi dari dosen pembimbing, maka betapa lancang, serakah, dan tak tahu diri jika kita masih berharap-harap supaya dosen pembimbing tersebut bersedia memberikan uang kepada kita sebagai upah. Dapat diumpamakan pula misalnya; kita mengharap-harapkan upah dari seseorang yang bersedia menolong kita..?

Ajaran Kejawen memandang bahwa seseorang yang menyembah Tuhan dengan tanpa pengharapan akan mendapat pahala atau surga dan bukan atas alasan takut dosa atau neraka, adalah sebuah bentuk KEMULIAAN HIDUP YANG SEJATI. Sebaliknya, menyembah Tuhan, berangkat dari kesadaran bahwa manusia hidup di dunia ini selalu berhutang kenikmatan dan anugrah dari Tuhan. Dalam satu detik seseorang akan kesulitan mengucapkan satu kalimat sukur, padahal dalam sedetik itu manusia adanya telah berhutang puluhan atau bahkan ratusan kenikmatan dan anugerah Tuhan. Maka seseorang menjadi tidak etis, lancang dan tak tahu diri jika dalam bersembahyang pun manusia masih menjadikannya sebagai sarana memohon sesuatu kepada Tuhan. Tuhan tempat meminta, tetapi manusia lah yang tak tahu diri tiada habisnya meminta-minta. Dalam sikap demikian ketenangan dan kebahagiaan hidup yang sejati akan sangat sulit didapatkan.

Sembahyang tidak lain sebagai cara mengungkapkan rasa berterimakasihnya kepada Tuhan. Namun demikian ajaran Kejawen memandang bahwa rasa sukur kepada Tuhan melalui sembahyang atau ucapan saja tidak lah cukup, tetapi lebih utama harus diartikulasikan dan diimplementasikan ke dalam bentuk tindakan atau perbuatan baik kepada sesama dalam kehidupan sehari-harinya. Jika Tuhan memberikan kesehatan kepada seseorang, maka sebagai wujud rasa sukurnya orang itu harus membantu dan menolong orang lain yang sedang sakit atau menderita.

Itu lah pandangan yang menjadi dasar Kejawen bahwa menyembah Tuhan, dan berbuat baik pada sesama, bukanlah KEWAJIBAN (perintah) yang datang dari Tuhan, melainkan diri kita sendiri yang mewajibkan.

 

sabdalangit

Iklan

About SABDå

gentleman, Indonesia Raya

Posted on November 3, 2008, in Ajaran SITI JENAR & KEJAWEN Dalam Memandang Ketuhanan Neraka Surga and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 695 Komentar.

  1. Menarik sekali dan benar.

  2. COPAS
    SULUKABDULJALIL.WORDPRESS.COM

    SEIKHABDULJALIL/SANALI/JABRANTA/SITIJENAR/LEMAHABANGIRENGKUNINGMERAHPUTIH
    Dang Hyang Semar
    Selama berkeliling ke berbagai tempat di Kutha Caruban dan sekitarnya dengan didampingi Sri Mangana, sadarlah Abdul Jalil bahwa pengaruh agama Hindu dan Budha sesungguhnya tidaklah begitu kuat di Bumi Pasundan, terutama di wilayah samiddha Caruban. Sebab, apa yang disebut sebagai pemujaan terhadap dewa-dewa Hindu pada hakikatnya bukanlah pemujaan dewa-dewa dalam makna yang sesungguhnya sebagaimana yang pernah ia saksikan di negeri Hindustan. Kenyataan yang ditangkapnya justru menunjuk tentang kuatnya pemujaan terhadap arwah leluhur yang dibalut dengan nama-nama dewa Hindu dan Budha.
    Jika di kalangan ningrat berdarah biru terdapat kecenderungan mendewakan arwah leluhur dengan menyebut sang raja almarhum sebagai titisan Brahma, Wisynu, Syiwa, Syiwa-Budha, Bhattara Guru, Indra, Surya, dan dewa yang lain maka di kalangan orang kebanyakan yang tinggal di desa-desa justru tidak akrab dengan nama-nama dewata yang masyhur tersebut. Kalangan orang kebanyakan cenderung lebih akrab dengan nama leluhur mereka yang abadi dalam bentuk punden-punden dan kebuyutan-kebuyutan, yakni kuburan-kuburan leluhur yang mereka jadikan tempat pemujaan dan sesembahan.
    Kuatnya pemujaan terhadap arwah leluhur setidaknya bisa dilihat dari susunan kekuasaan yang lazim dianut di Bumi Pasundan. Seorang ratu bukanlah penguasa tertinggi. Sebab, di atas ratu masih ada dewata yang lebih berkuasa. Dan, di atas dewata ternyata masih ada hyang (leluhur yang sudah meninggal) yang lebih berkuasa. Itu sebabnya, seorang raja yang hanya bergelar ratu masih berada di bawah raja yang menggunakan gelar dewata. Gelar dewata pun masih berada di bawah gelar hyang Dengan demikian, hanya seorang maharaja saja yang boleh menggunakan gelar kebesaran dewata dan hyang.
    Kuatnya pengaruh pemujaan terhadap arwah leluhur di Bumi Pasundan sempat ditanyakan Abdul Jalil kepada Sri Mangana. Namun, Sri Mangana justru menjelaskan bahwa hal itu adalah kelaziman yang tidak hanya terjadi di Bumi Pasundan, bahkan juga di seluruh Nusa Jawa. Orang-orang Jawa, ungkap Sri Mangana, tidak ada yang benar-benar memuja dewata dalam makna yang sebenarnya sebagaimana dilakukan oleh penganut Hindu di Hindustan. Sesungguhnya, yang dipuja sebagai dewa oleh orang-orang Sunda dan Jawa di candi-candi pemujaan itu adalah abu jenasah dari raja-raja yang di atasnya diberi arca dewata.
    “Sebagaimana yang sudah engkau ketahui, Kabhumian, tempat yang disucikan di samiddha Caruban ini, sesungguhnya adalah sebuah pen-dharmaan berisi abu jenasah Bhattari Prthiwi. Di atas abu jenasah itu ditempatkan yoni keramat lambang shakti Dewa Syiwa. Di situ Bhattari Prthiwi dipuja sebagai Dewi Prthiwi, lambang shakti Wisynu.”
    “Sesungguhnya, memuja yoni sebagai shakti Wiysnu itu keliru karena yoni adalah lambang Parwati, shakti Syiwa. Tapi, aku sendiri tidak tahu sejak kapan yoni ditempatkan di situ. Yang aku tahu, menurut kakekku, yoni itu sudah ada di situ sejak zaman purwakala. Keberadaan yoni di pen-dharmaan Bhattari Prthiwi jelas merupakan ketidaktahuan para keturunannya tentang pemujaan terhadap dewa-dewa secara benar. Namun begitu, aku menduga, sangat mungkin Bhattari Prthiwi yang semula adalah pemuja Wisynu itu kemudian berbalik menjadi pemuja Syiwa Mahaguru, karena suaminya, Sri Maharaja Jayabhupati, adalah pemuja Syiwa Mahaguru. Itu sebabnya, sampai sekarang, tidak ada satu pun di antara raja-raja Sunda yang berani memindahkan yoni itu.”
    “Menurut hematku, sesungguhnya para raja Sunda yang datang untuk memuja Sang Bhumi sejatinya adalah memuja arwah leluhurnya, yakni Bhattari Prthiwi. Di Nusa Jawa demikian juga, abu jenasah Sri Prabu Krtanegara, leluhur raja-raja Majapahit, ditempatkan di Jajawi dan di atasnya ditumpangi arca Syiwa-Budha. Beliau kemudian dipuja sebagai Sang Syiwa-Budha,” jelas Sri Mangana.
    “Pendapat Ramanda Ratu bahwa Bhattari Prthiwi kemungkinan menjadi pemuja Syiwa Mahaguru memang benar. Itu sebabnya, di atas pendharmaan beliau ditempatkan yoni keramat. Jadi, seperti suaminya, Sri Maharaja Jayabhupati Wisynumurti Samarawijaya, yang ternyata menjadi pemuja Syiwa Mahaguru, Bhattari Prthiwi pun pemuja Syiwa Mahaguru.”
    Perbincangan antara Abdul Jalil dan Sri Mangana ternyata makin menusuk ke masalah yang terkait pemujaan arwah leluhur. Sekalipun Sri Mangana sudah menjelaskan tentang kenyataan yang menunjuk bahwa sesungguhnya di balik pemujaan terhadap dewa-dewa itu sejatinya adalah pemujaan terhadap arwah leluhur, dia belum bisa menjelaskan bagaimana hal itu bisa terjadi. “Sepe-ngetahuanku, para brahmana, wiku, sadhu, acarya, guru-gama, tuha-gama, dan surak-loka selalu mengajarkan tuntunan agama sesuai hukum suci Weda. Tetapi kenyataannya, pada tingkat amaliah semua itu berubah menjadi seperti yang kita lihat. Baik raja-raja Sunda maupun raja-raja Jawa hampir tidak ada yang benar-benar memuja dewa dalam makna yang sebenarnya,” ujar Sri Mangana.
    “Saya khawatir, jangan-jangan ajaran Islam pun pada akhirnya akan mengalami nasib yang sama seperti Hindu dan Budha, yaitu menjadi agama yang memuja kubur raja-raja Muslim,” ujar Abdul Jalil.
    “Tapi, jika memang itu yang harus terjadi maka kita tentu tidak bisa berbuat apa-apa.”
    Mendengar kata-kata Sri Mangana, Abdul Jalil menarik napas berat. Ia sadar bahwa persoalan naluri penghuni Nusa Jawa dan Bumi Pasundan yang cenderung memuja arwah leluhur adalah persoalan yang rumit. Itu sebabnya, ia memasrahkan urusan itu kepada Allah. Biarlah Allah yang memutuskan bagaimana yang terbaik bagi-Nya untuk dipuja dan disembah suatu bangsa, katanya dalam hati.
    Ketika Abdul Jalil dan Sri Mangana berjalan di sebuah tempat di pinggir hutan kecil yang membentang di tepi sungai, terjadi sesuatu yang mence-ngangkan. Entah bagaimana mulanya, tiba-tiba di depan mereka dalam jarak sekitar tujuh depa muncul seorang laki-laki tambun berkulit hitam legam. Kepala laki-Jaki itu ditumbuhi rambut keriting pendek berwarna putih dengan jambul di depan. Matanya bulat dan lebar. Hidungnya besar. Bibirnya tebal. Kumisnya tebal melingkar ke bawah bersambung dengan janggutnya. Selembar kain warna hitam menutupi bagian bawah tubuhnya dari batas perut hingga di atas mata kaki. Anehnya, meski laki-laki tambun itu berkulit hitam legam, pancaran daya pesona, wibawa, dan kharisma dari dirinya sangat memukau. Abdul Jalil menangkap sosok itu sebagai bayangan hitam, tetapi sekaligus sebagai benderang cahaya. Wajahnya bersinar seperti rembulan, tetapi sekaligus seperti langit gelap, tidak hidup dan tidak mati, sederhana tetapi rumit.
    Sekalipun tidak sekaget Sri Mangana yang ter-heran-heran menyaksikan kehadiran mendadak sosok tambun berkulit hitam itu, Abdul Jalil terkesima juga, terutama saat laki-laki itu menyapanya melalui al-ima, Laki-laki tambun kulit hitam itu memperkenalkan diri sebagai Dang Hyang Semar, guru loka Nusa Jawa yang hidup pada zaman purwakala.
    Perkenalan mendadak itu membuat Abdul Jalil termangu keheranan. Seingatnya, sejak ia tinggal di Padepokan Giri Amparan Jati hingga berkelana ke berbagai negeri dan kembali lagi ke Caruban Larang, belum pernah ia mendengar sesuatu tentang manusia bernama Dang Hyang Semar. Saat ia sedang termangu heran tiba-tiba Rüh al-Haqq dari kedalaman relung-relung jiwanya memberi tahu bahwa laki-laki tambun bérkulit hitam legam itu sesungguhnya adalah penampakan ruh seorang nabi dari zaman purba. Menyadari dengan siapa ia berhadap-hadapan, Abdul Jajil menjawab salam Dang Hyang Sèmar melalui al-ima’ dan menyatakan kebahagiaannya bisa bertemu dengan pesuruh Tuhan yang mulia itu.
    Ketika Abdul Jalil memberi tahu Sri Mangana tentang siapa sesungguhnya laki-laki tambun yang muncul tiba-tiba itu, Sri Mangana terkejut bukan kepalang. Sebab bagi Sri Mangana, keberadaan tokoh yang termasyhur di Nusa Jawa dan Bumi Pasundan itu memang bukan sosok yang asing. Bertemu muka dengan Dang Hyang Semar tentu merupakan pengalaman yang sulit dipercaya. Seperti digerakkan oleh kekuatan gaib yang tak terlihat mata, Sri Mangana segera bersujud menyembah ke hadapan Dang Hyang Semar. Namun betapa kecewa Sri Mangana, saat terbangun dari bersujud menyembah dia tidak mendapati lagi sosok Dang Hyang Semar di depannya.
    “Ke mana beliau tadi? Kenapa tiba-tiba beliau menghilang?” tanyanya pada Abdul Jalil.
    “Beliau tidak berkenan disembahsujudi sesama manusia dan beliau menyatakan tidak berkenan bertemu dengan Ramanda Ratu,” jelas Abdul Jalil.
    “Kenapa Dang Hyang Semar tidak berkenan bertemu aku? Apakah beliau menilai aku manusia kotor sehingga tidak layak ditemui?”
    “Beliau menyatakan kepada saya bahwa di dalam diri Ramanda Ratu masih bersemayam kekuatan kelam ilmu seratus ribu hulubalang dari Gunung Kumbha (ng). Ilmu itu pengaruh Bhairawa haus darah yang tidak beliau sukai.”
    “Astaghfirullah!” sahut Sri Mangana dengan wajah pucat. “Bagaimana beliau bisa tahu?”
    “Yang terlihat tadi adalah arwah dari Dang Hyang Semar, Ramanda Ratu. Beliau tentu lebih tahu tentang segala sesuatu yang bersifat gaib di negeri ini sejak zaman lampau sampai kini.”
    Sri Mangana duduk termangu sambil menarik napas panjang berulang-ulang. Abdul Jalil yang semula berdiri kemudian duduk bersila di samping Sri Mangana sambil memejamkan mata. Sesungguhnya, saat itu Abdul Jalil sedang berhadap-hadapan dengan ruh Dang Hyang Semar. Namun, keberadaan Dang Hyang Semar tidak terlihat oleh Sri Mangana. Melalui al-ima’ berlangsunglah perbincangan akrab antara Dang Hyang Semar dan Abdul Jalil, yang jika diurai ke dalam bahasa lisan manusia kira-kira berbunyi:
    “Sejak engkau menginjakkan kaki ke Caruban, seluruh alam gaib di Bumi Pasundan dan Nusa Jawa terguncang. Para bangsa berbadan halus, penghuni lama negeri ini meraung dan melolong kegerahan. Sesungguhnya, mereka sangat tidak menyukai kehadiranmu di sini. Namun ketahuilah, o Abdul Jalil, kehadiranmu di sini justru sedang aku nanti-nantikan.”
    “Apakah Yang Mahagaib memberi tahu paduka tentang kedatangan saya?”
    “Ya, Dia Yang Mahagaib memberitahuku tentang kehadiranmu yang akan membawa angin perubahan. Tetapi, Dia tidak memberi tahu secara jelas tentang engkau. Itu sebabnya, o Abdul Jalil, aku ingin mengetahui keberadaan dirimu, terutama tugas-tugas yang akan engkau kerjakan di sini. Ini demi kebaikanmu sendiri dalam mengemban tugas dari-Nya untuk mengembuskan angin perubahan di Nusa Jawa.”
    “Apakah yang ingin paduka ketahui tentang keberadaan saya?”
    “Perubahan apakah yang sesungguhnya akan engkau embuskan di sini?”
    “Sesungguhnya, saya tidak mengubah apalagi memperbarui apa pun. Saya hanya ingin menghidupkan tatanan kehidupan lama yang sudah pernah ditegakkan oleh barisan nabi, guru suci, para tapa, dan para bijak sejak zaman Adam a.s. hingga Muhammad Saw.. Tidak ada yang baru sama sekali dari tugas saya.”
    “Jika engkau bicara tentang barisan nabi, guru suci, para tapa, dan para bijak, tentunya apa yang akan engkau sampaikan tidak akan jauh berbeda dengan apa yang telah aku sampaikan selama ini.”
    “Tepatlah demikian, o Guru Loka Nusa Jawa, saya hanya akan menghidupkan warisan lama yang sudah ada, yaitu warisan lama yang tidak bertentangan dengan ajaran Tauhid, mengesakan Tuhan.”
    “Aku percaya akan apa yang engkau sampaikan. Tetapi, hendaknya engkau tidak mengikuti jejak pendahulumu, Syaikh Syamsuddin al-Baqir al-Farisi, yang tidak menunggu dan membimbing para pengikutnya untuk setia mengikuti ajarannya. Sehingga, hampir seluruh pengikutnya tumpas dijadikan korban pesta darah oleh para makhluk berbadan halus, penghuni purwakala negeri ini.”
    “Pesta darah penghuni purwakala negeri ini?” Abdul Jalil tiba-tiba teringat penjelasan almarhum Ario Abdillah, Adipati Palembang, “Apakah yang dimaksud pesta darah itu sama dengan yang dijelaskan oleh almarhum Yang Mulia Ario Damar tentang kegemaran bangsa jin meminum darah?”
    “Ketahuilah, o Abdul Jalil, bahwa sebelum bumi dihuni manusia,” Dang Hyang Semar memulai cerita, “bumi sudah dihuni oleh bangsa-bangsa berbadan halus. Mereka suka berperang dan menumpahkan darah. Saat manusia akan diturunkan ke bumi, para bangsa halus diusir dari permukaan bumi. Sebagian mereka menghuni samudera raya dan pulau-pulau. Sebagian lagi menghuni dasar bumi. Lalu turunlah manusia yang berkembang biak dengan sangat cepat. Tetapi seperti para penghuni bumi yang lama, manusia suka berperang dan berbuat zalim hingga menimbulkan kerusakan.”
    “Untuk menyucikan bumi, Sanghyang Taya, Tuhan, Yang Mahagaib, membinasakan manusia dengan air bah. Saat air bah besar melanda permukaan bumi dan negeriku tenggelam, aku beserta keluarga dan pengikutku naik perahu dan rakit. Jumlah seluruh rombonganku sekitar tiga ratus orang. Sesuai petunjuk Sanghyang Taya, aku mengarahkan perahu ke tengah lautan dan mendarat di sebuah pulau yang disebut Pulau Kendhang (Jawa Kuno: pulau hanyut), yang menjadi bagian dari untaian perhiasan mutiara di tengah samudera (rinengga ing jaladhi ajajawan mutyara). Saat aku dan para pengikutku mendarat di Pulau Kendhang, ternyata pulau itu sudah dihuni oleh penduduk purwakala, yaitu bangsa berbadan halus, puak-puak dari kawanan kera raksasa dan bangsa siluman.”
    “Pada awalnya, kehadiran kami ditolak baik oleh para raja dari bangsa berbadan halus itu maupun pemimpin para kera raksasa dan ratu siluman. Satu demi satu mereka berhasil aku halau dan singkirkan, meski beratus-ratus orang pengikutku meninggal akibat berbagai macam penyakit. Namun, mereka, khususnya para raja bangsa berbadan halus, terus mengganggu pengikutku. Akhirnya, setelah berselisih selama tiga ratusan tahun, aku dan para raja bangsa halus mencapai kesepakatan untuk bisa hidup berdampingan. Dalam kesepakatan itu ditetapkan lima syarat yang harus dipatuhi oleh masing-masing pihak.”
    “Pertama, bangsa manusia yang tinggal di Pulau Kendhang tidak diperbolehkan mengganggu adat kebiasaan bangsa berbadan halus, terutama adat kebiasaan menyelenggarakan perayaan pesta darah manusia. Kedua, Dang Hyang Semar menjadi guru loka bagi bangsa manusia dan bangsa berbadan halus di Pulau Kendhang. Ketiga, seluruh bangsa halus harus tunduk di bawah perintah Dang Hyang Semar. Keempat, bangsa berbadan halus tidak akan mengganggu manusia yang benar-benar memuja Sanghyang Taya sebagaimana diajarkan Dang Hyang Semar. Kelima, untuk melangsungkan tradisi pesta darah manusia, bangsa berbadan halus diperbolehkan memilih korban manusia yang tidak mengikuti atau menyimpang dari ajaran Dang Hyang Semar.”
    “Dengan kelima syarat itu, akhirnya bangsa manusia berhasil tinggal di Pulau Kendhang dan hidup berdampingan dengan bangsa berbadan halus yang telah lebih dulu menghuninya. Sebagaimana tugas utama yang kuemban dari Sanghyang Taya maka aku pun menjadi guru loka di Pulau Kendhang untuk mengajar manusia menyembah Sanghyang Taya secara benar.”
    “Siapakah yang paduka maksud dengan Sanghyang Taya?” tanya Abdul Jalil.
    “Sanghyang Taya adalah Sumber segala kejadian yang tidak bisa dilihat dengan mata, tidak bisa didengar telinga, tidak bisa diraba dengan tangan, tidak bisa dibayang-bayangkan, tidak bisa dipikir, tidak bisa dibanding-bandingkan dengan sesuatu. Dia adalah Taya (Jawa Kuno: hampa, suwung, awang-uwung). Dia tidak dilahirkan. Tidak berawal. Tidak berakhir. Tidak satu pun makhluk hidup yang bisa mengenal keberadaan-Nya yang sejati.”
    “Jika Dia, Taya, adalah Sang Hampa, yang tak diketahui dan tak dikenali,” tanya Abdul Jalil, “bagaimana manusia bisa mengenal dan menyembah-Nya?”
    “Manusia mengenal-Nya melalui pengejawantahan kekuatan dan kekuasaan-Nya di alam ini sebagai Pribadi Ilahi yang menjadi Sumber segala sumber kehidupan yang tergelar di alam semesta, yakni Pribadi Ilahi yang memiliki Nama dan Sifat sebagai pengenal keberadaan diri-Nya.”
    “Mengejawantah dalam Pribadi Ilahi apakah kekuatan dan kekuasaan Sanghyang Taya tersebut?”
    “Mengejawantah dalam Pribadi Ilahi yang disebut Tu atau To.”
    “Maksud paduka?”
    “Tu atau To adalah pengejawantahan Sanghyang Taya sebagai Pribadi Ilahi yang seeara samar-samar sudah bisa diketahui dan dikenal baik sifat maupun nama-Nya. Tu, Pribadi Ilahi, meski Tunggal, Dia memiliki dua sifat yang berbeda seibarat telapak tangan yang putih dan punggung tangan yang hitam. Yang pertama adalah sifat Tu yang baik, yaitu yang mendatangkan kebaikan, kemuliaan, kemakmuran, dan keselamatan kepada manusia. Tu itulah yang dikenal dengan nama Tu-han. Sifat Tu yang baik, yaitu Tu-han, itulah yang dikenal dengan nama Sanghyang Tunggal (Maha Esa); Satu Pribadi Ilahi yang selain memiliki nama dan sifat Tunggal juga memiliki nama dan sifat Wenang (Mahakuasa).”
    “Yang kedua adalah sifat Tu atau To yang tidak baik, yaitu yang mendatangkan kejahatan, kehinaan, kenistaan, kesesatan, dan kebinasaan. Tu itulah yang dikenal dengan nama han-Tu. Sifat Tu yang tidak baik, yaitu han-Tu, itulah yang disebut dengan nama Sanghyang Manikmaya (Jawa Kuno: Permata Khayalan). Sanghyang Manikmaya, Pribadi Ilahi yang hanya diketahui nama dan sifat-Nya itu, tak berbeda dengan Sanghyang Tunggal, yakni memiliki nama dan sifat Wenang (Mahakuasa).”
    “Berarti, Sanghyang Tunggal yang memiliki nama dan sifat Wenang adalah pengejawantahan Tu-han Yang Mahakuasa memberi petunjuk kepada makhluk-Nya, begitukah?”
    “Benarlah demikian adanya.”
    “Kemudian, Sanghyang Manikmaya yang juga memiliki nama dan sifat Wenang adalah pengejawantahan han-Tu, Yang Mahakuasa juga untuk menyesatkan makhluk-Nya, begitukah?”
    “Benarlah demikian adanya.”
    “Jika demikian, apakah memuja Sanghyang Taya melalui Sanghyang Tunggal maupun Sanghyang Manikmaya pada hakikatnya sama saja?”
    “Benarlah demikian adanya,” ujar Dang Hyang Semar. “Yang berbeda hanya jalannya saja. Jika kita memuja Sanghyang Tunggal maka kita hanya melewati satu jalan lempang di dalam menuju Sanghyang Taya (monoteis). Sebaliknya, jika kita memuja Sanghyang Manikmaya maka kita akan melewati banyak jalan untuk menuju Sanghyang Taya (politeis).”
    “Jika demikian, Sanghyang Taya yang paduka sembah adalah sama dengan sesembahan saya, yaitu Huwa, Dia, Yang Mahagaib, Yang Tak Terbandingkan dengan segala sesuatu {laisa kamitslihi syaiuri). Sedangkan yang disebut Tu adalah sama dengan Allah SWT., yaitu Dia, Pribadi Ilahi yang menjadi Pusat segala Nama, Sifat, dan Perbuatan Ilahiah (Rab al-Arbab). Yang dari-Nya terdapat Nama dan Sifat dari Rab-Rab, seperti Mahatunggal (al-Wahid), Mahakuasa (al-Qadir’), Mahasuci (al-Quddüs), Maha Memberi Petunjuk (al-Hadi), sekaligus Maha Menyesatkan (al-Mudhill), Maha Pem-binasa (al-Mumit), Maha Penyiksa (al-Muntaqim), Maha Pemberi Bahaya (‘adh-Dharr), Mahapenista (al-Khafidh)”
    “Sesungguhnya, tidak ada yang berbeda antara apa yang engkau sembah dan apa yang aku sembah. Hanya Nama Ilahiah sesembahan kita yang berbeda.”
    “Tetapi bagaimana cara memuja Tu, Pribadi Ilahi yang memiliki Nama dan Sifat Ilahiah itu, jika kenyataannya Pribadi Ilahi tersebut tidak kasatmata?” tanya Abdul Jalil.
    “Memuja dan menyembah Sanghyang Taya melalui Tu dilakukan dengan dua cara yang berbeda. Yang pertama, memuja dan menyembah Pribadi Ilahi yang disebut Sanghyang Tunggal (Tuhan) melalui sarana bantu sesuatu yang kasatmata seperti Tu-buh dan wa-Tu. Memuja dan menyembah Sanghyang Taya melalui Tu-han adalah tugas yang dibebankan Sanghyang Taya ke pundakku untuk aku ajarkan kepada manusia.”
    Yang kedua, untuk memuja dan menyembah Pribadi Ilahi yang disebut Sanghyang Manikmaya (han-Tu) dengan melalui sarana bantu berbagai benda kasatmata, seperti wa-Tu, Tu-gu, un-Tu (gigi), pin-Tu, Tu-lang, Tu-nggul (bendera), Tu-mbak, Tu-lup (sumpit), Tu-nggak (tonggak), Tu-rumbuhan (beringin), Tu-ban (air terjun), Tu-k (mata air), To-peng, To-san (pusaka), To-pong (mahkota), To-parem (baju rompi), To-wok (lembing), To-ya (air), dengan sesaji-sesaji berupa Tu-mpeng, Tu-d (bunga pisang), dan Tu-mbu (tempat sesaji dari anyaman bambu). Memuja dan menyembah Sanghyang Manikmaya adalah tugas yang dibebankan Sanghyang Taya ke pundak Sang To-gog, saudaraku, untuk diajarkan kepada manusia.”
    “Menurut ajaran yang aku sampaikan dan juga yang disampaikan oleh saudaraku To-gog, jika seorang manusia telah patuh dan setia menjalankan pemujaan dan penyembahan kepada Sanghyang Taya, baik melalui pemujaan dan penyembahan kepada Sanghyang Tunggal (Tu-han) maupun Sanghyang Manikmaya (han-Tu), maka manusia itu akan dilimpahi kekuatan dan kekuasaan yang bersifat Ilahiah oleh Sanghyang Taya. Sebab, satu jalan yang kuajarkan untuk menyembah Sanghyang Tunggal pada hakikatnya sama dengan bermacam-macam jalan yang diajarkan To-gog untuk menyembah Sanghyang Manikmaya, yakni bermuara kepada Sanghyang Taya.”
    Itu sebabnya, manusia yang sudah dilimpahi kekuatan dan kekuasaan oleh Sanghyang Taya melalui Sanghyang Tunggal maupun Sanghyang Manikmaya akan memiliki kekuatan gaib yang memancarkan kekuatan dan kekuasaan Ilahiah dari dalam dirinya. Jika kekuatan dan kekuasaan gaib pada mereka itu bersifat memberkati, melindungi, mengayomi, dan menyelamatkan disebut dengan nama Tu-ah. Sebaliknya, jika kekuatan dan kekuasaan gaib pada mereka itu bersifat menghukum, mengutuk, mendatangkan bencana, dan membinasakan disebut dengan nama Tu-lah.
    Tu-ah dan Tu-lah yang diperoleh para pemuja Sanghyang Taya itulah yang ditandai dengan kata kunci Pi (Jawa Kuno: rahasia, tersembunyi). Dengan Tu-ah dan Tu-lah itu maka segala sesuatu yang terkait dengan mereka yang sudah dilimpahi kekuatan gaib bersifat Ilahiah oleh Sanghyang Taya, gerak-gerik kehidupannya akan ditandai dengan Pi, yaitu kekuatan rahasia Ilahi yang tersembunyi; jika mereka menyebut kata ganti diri sendin, dikatakan Pi-nakahulun jika mereka berbicara dikatakan Pidato; jika mereka mendengar dikatakan Pi-harsa ; jika mereka mengajarkan suatu pengetahuan dikatakan Pi-wulang, jika mereka memberi petuah dikatakan Pi-tutur; jika mereka memberi petunjuk dan arahan dikatakan Pi-tuduh jika mereka menghukum dikatakan Pi-dana; jika mereka memancarkan kekuatan dikatakan Pi-deksa; jika mereka memberikan keteguhan kepada orang lain dikatakan Pi-andel jika mereka mengobati orang lain dikatakan jam-Pi, bahkan jika mereka sudah tua dan sering lupa dikatakan Pi-kun.
    Orang-orang yang sudah memiliki Tu-ah dan Tu lah berhak menjadi pemimpin bagi manusia yang lain. Orang-orang yang sudah dipancari kekuatan dan kekuasaan gaib Ilahiah oleh Sanghyang Taya itulah yang dijuluk dengan penuh hormat dengan sebutan Pi-nituha, Pi-nituhu, dha-Tu, dan ra-Tu. Mereka berhak memimpin manusia untuk memuja dan menyembah Sanghyang Taya. Jika meninggal, mereka tetap dianggap masih hidup dan disebut Pi-tara (arwah leluhur).
    Kalangan manusia awam (Tu-gul) meyakini bahwa mereka yang disebut golongan Tu-ha, dha-Tu, dan ra-Tu bisa dimintai bantuan untuk menyelesaikan berbagai urusan baik di dalam memuja Sanghyang Taya maupun urusan duniawi. Tu-gul lazimnya memberikan persembahkan sesaji kepada arwah leluhur mereka (Pi-taraJ dalam sebuah upacara yang disebut Pi-tapuja.; sesajinya berupa Pi-nda (kue dari bahan tepung), Pi-nang, Pi-tik (ayam), Pi-ndodakakriya (nasi dan air), dan Pi-sang.”
    “Apakah semua umat paduka yang beroleh Tuah dan Tu-lah menduduki derajat yang sama? Dan, siapakah yang dimaksud kalangan awam, yaitu Tu-gul?” tanya Abdul Jalil.
    “Tidak semua yang beroleh Tu-ah dan Tu-lah berderajat sama. Sebab, para pemuja dan penyembah Sanghyang Taya sesungguhnya terpilah menjadi empat golongan manusia.”
    “Siapa sajakah masing-masing golongan manusia itu?”
    “Golongan pertama adalah golongan Tu-tug (Jawa Kuno: sampai, sempurna), yaitu golongan orang-orang yang menyembah Sanghyang Taya secara sempurna melalui sarana Tu-buh; duduk bersila dengan tangan swadikep (Jawa Kuno: Swa : diri, keakuan; dikep. menangkap dengan telapak tangan), mengamati keberadaan tubuh, meresapi gerak-gerik tubuh, mencermati kecenderungan jiwa, menata pikiran, mengatur pernapasan, menyatukan kiblat hati dan pikiran guna mencari keakuan di dalam diri dengan meresapi dan menghayati rasa suwung’ di dalam Tu-tud (hati) yang ada pada din manusia. Mereka yang sudah mengetahui dan mengenal ‘rasa suwung’ di dalam Tu-tud adalah sama dengan mengenal Sanghyang Tunggal, yaitu Sang Suwung: Sanghyang Taya.”
    Mereka yang termasuk ke dalam golongan Tu-tug ini tidak menggunakan wa-Tu sebagai sarana bantu memuja dan menyembah Sanghyang Taya. Mereka itulah pemuja dan penyembah sejati Sanghyang Taya, Sang Hampa ‘Yang Tak Terbayangkan dan Tak Terbandingkan dengan sesuatu. Mereka itulah manusia-manusia yang sudah tidak mengenal pamrih kehidupan duniawi. Hati dan pikiran mereka hanya terarah kepada Sanghyang Taya, yang citra Ilahiah-Nya tersembunyi secara rahasia sebagai “rasa suwung” di dalam Tu-tud pada diri manusia. Itu sebabnya, jika mereka mati maka jiwa mereka akan menyatu ke dalam Kehampaan Taya yang tak terbandingkan dengan sesuatu. Mereka itulah yang dengan hormat disebut Tu-ha atau Pi-nituha, yakni pribadi-pribadi manusia suci yang memancarkan Tu-ah dan Tu-lah tanpa kehendak pribadinya. Mereka selalu menjadi sumber kecemburuan dewa-dewa. Mereka disegani sekaligus ditakuti dewa-dewa. Tetapi jumlah mereka sangat sedikit, hanya dalam hitungan jari.
    Golongan kedua adalah golongan Tu-hu (Jawa Kuno: benar, tulus, bersungguh-sungguh), yaitu golongan orang-orang yang memuja dan menyembah Sanghyang Taya melalui Pribadi Ilahi yang disebut Sanghyang Tunggal. Mereka sama seperti para Tu-tug, yaitu menggunakan sarana bantu Tu-buh; mengatur makanan, mengatur ucapan, menyatukan kiblat hati dan pikiran untuk diarahkan ke “rasa suwung” yang tersembunyi di dalam Tu-tud (hati), mengharapkan pancaran Tu-ah dan Tulah yang tersembunyi di dalam “rasa suwung” itu. Jika mereka sudah mengenal “rasa suwung” di dalam diri mereka sendiri maka mereka akan mengambil manfaat dari pengenalan tersebut.
    Meskipun golongan Tu-hu termasuk manusia yang tercèrahkan, jiwa dan pikirannya masih terpengaruh oleh pamrih-pamrih. Mereka yakin bahwa meskipun mereka harus hidup di dunia dengan sengsara dan menderita, jika mati kelak mereka berharap ditempatkan di Tayan (Jawa Kuno: surga, kayangan) untuk menikmati kelezatan hidup abadi bersama leluhur dengan dilayani para Tayawara (Jawa Kuno: bidadari). Mereka menempatkan diri sebagai perantara hubungan manusia dengan Sanghyang Tunggal. Mereka itulah yang dengan hormat disebut golongan pi-nituhu yang memancarkan Tu-ah dan Tu-lah untuk menjaga keselarasan kehidupan manusia. Dengan Tu-ah dan Tu-lah yang mereka miliki, mereka sering menentang, melawan, berperang, dan bahkan mengalahkan dewa-dewa yang menindas manusia. Mereka menjadi pemangku yang bertugas melakukan upacara suci memuja Sanghyang Tunggal. Jumlah golongan pi-nituhu lebih banyak dibandingkan dengan jumlah golongan Tu-ha.
    Golongan ketiga adalah golongan Tu-ngga (Jawa Kuno: tinggi, mulia), yaitu golongan orang-orang yang memuja dan menyembah Sanghyang Tunggal dengan menggunakan perantara bantu wa-Tu; mengatur makanan, mengatur pikiran, mengatur ucapan; mengatur tindakan, bersujud (tondhem) di hadapan wa-Tu sebagai lambang pengejawantahan Sanghyang Tunggal, mengharap pancaran Tu-ah dan Tu-lah yang tersembunyi di dalam lambang wa-Tu. Jika mereka sudah beroleh Tu-ah dan Tu-lah dari Sanghyang Tunggal lantaran memuja-Nya dengan perantaraan wa-Tu maka Tu-ah dan Tu-lah itu akan mereka manfaatkan untuk kepentingan pribadi sekaligus kepentingan orang banyak.
    Mereka adalah orang-orang, yang masih kuat terpengaruh oleh pamrih ukhrawi dan duniawi sekaligus. Mereka menggunakan dan memanfaatkan Tu-ah dan Tu-lah yang mereka peroleh dari Sanghyang Tunggal untuk memegahkan din dalam kehidupan duniawi, sekaligus berharap saat mati nanti dengan Tu-ah dznTu-lah itu mereka dapat menikmati kelezatan hidup di Tayan dilayani para Tayawara. Mereka itulah yang disebut dha-Tu atau ra-Tu.
    Tu-ah dan Tu-lah yang dimiliki para ra-Tu sesungguhnya tidak sedahsyat Tu-ah dan Tu-lah para pi-nituhu, apalagi para pi-nituha. Itu sebabnya, mereka selalu memperkuat Tu-ah dan Tu-lah dengan bantuan benda-benda bertuah yang lain seperti wa-Tu, Tu-gu, un-Tu, Tu-lang, Tu-lup, Tu-mbak, Tu-nggul, To-san, To-pong, To-peng, dan To-wok. Jumlah golongan dha-Tu atau ra-Tu lebih banyak daripada jumlah pi-nituhu.
    Golongan keempat adalah golongan Tu-gul (Jawa Kuno: bodoh, awam), yaitu kalangan orang kebanyakan yang memuja dan menyembah Sanghyang Taya dengan menggunakan sarana bantu
    berbagai benda terutama wa-Tu serta arwah para pi-nituha, pi-nituhu, dha-Tu dan ra-Tu. Mereka merupakan golongan orang-orang yang tidak mengenal Sanghyang Taya secara benar. Mereka hanya mendengar tentang Sanghyang Taya secara samar-samar. Mereka menganggap Sanghyang Taya tinggal di Tayan yang terletak di puncak gunung. Mereka hanya mendengar cerita dari mulut ke mulut bahwa di dalam wa-Tu, Tu-gu, Tu-nggul, Tu-k, Tu-rumbuhan, Tu-lang, un-Tu, Tu-lup, pin-Tu, To-peng, To-pong, To-san, dan To-wok terdapat daya sakti berupa Tu-ah dan Tu-lah dari Sanghyang Taya. Mereka bahkan meyakini bahwa di dalam benda-benda tersebut tidak sekadar terdapat daya sakti berupa Tu-ah dan Tu-lah, tetapi bersemayam pula makhluk-makhluk halus yang sewaktu-waktu bisa dimintai bantuan.
    Golongan Tu-gul ini merasa rendah diri dan tidak yakin jika mereka dapat memuja dan menyembah Sanghyang Tunggal secara benar. Itu sebabnya, mereka memuja dan menyembah Sanghyang Tunggal melalui perantaraan arwah seorang pi-nituha, pi-nituhu, ra-Tu, atau dha-Tu. Hanya saja, akibat sulitnya mengenal keberadaan seorang pi-nituhu apalagi pi-nituha maka yang lazim dipuja dan disembah oleh golongan Tu-gul adalah arwah para ra-Tu yang dirupakan dalam bentuk wa-Tu yang menjadi tanda kubur sang ra-Tu.
    Sepanjang memuja dan menyembah arwah ra-Tu melalui wa-Tu, golongan Tu-gul sesungguhnya hanya berharap agar semua kebutuhan dan keinginan mereka terhadap berbagai tuntutan kehidupan duniawi terpenuhi. Demi memenuhi keinginan duniawinya yang kuat, yang sering berlebihan dalam kerakusan dan keserakahan, mereka tidak hanya memuja dan menyembah arwah ra-Tu, tetapi mereka sering kedapatan bersedia mengikuti cara-cara pemujaan dan penyembahan yang dilakukan Sang To-gog, yakni memuja dan menyembah Sanghyang Manikmaya (han-Tu). Mereka hampir tidak peduli dengan urusan Tayan yang ukhrawi, apalagi dengan Sanghyang Taya. “Mereka itulah yang disebut dengan nama golongan Tu-tut (pengikut). Jumlah golongan Tu-tut ini adalah yang terbanyak di antara semua golongan umatku,” jelas Dang Hyang Semar.
    “Sekalipun golongan Tu-tug, Tu-hu, Tu-ngga, dan Tu-gul berbeda tingkatan dalam mengenal keberadaan Sanghyang Taya, hampir semua golongan itu tetap tidak menyimpang dari dasar-dasar ajaran-ku, yaitu meyakinkan diri bahwa Sanghyang Taya adalah kekuatan dan kekuasaan gaib yang tidak bisa dibayang-bayangkan, dipikir-pikirkan, diban-dingbandingkan, dan didekati dengan indra. Tidak ada di antara pengikutku, kecuali mereka yang sudah sangat bodoh dan sesat, beranggapan bahwa Sanghyang Taya memiliki tubuh, tangan, kaki, kepala, dan bisa berjalan-jalan seperti manusia.”
    “Sesungguhnya, hal itu tidak berbeda jauh dengan ajaran Islam yang saya anut,” ujar Abdul Jalil. “Dari sisi batiniah, di kalangan umat Islam pun terdapat tiga golongan besar, yaitu golongan ‘awam’ golongan khawash, dan golongan khawash al-khawash. Golongan khawash al-khawash dikaruniai kekuatan dan kekuasaan gaib yang disebut karamah oleh Allah SWT. Dengan karamah itu seorang khawash al-khawash dapat mendatangkan berkah (Tu-ah) dan laknat (Tu-lah).”
    “Golongan khawash dikaruniai kekuatan dan kekuasaan gaib yang disebut ma’unah oleh Allah SWT., yakni kekuatan dan kekuasaan gaib yang lebih rendah kadarnya dari karamah. Sedangkan golongan ‘awam tidak dikaruniai apa-apa, kecuali rahmat (kasih), maghfirah (pengampunan) Ilahi, dan yyafa’at dari Nabi Muhammad Saw. Golongan ‘awam ini masih terpilah lagi ke dalam dua golongan besar. Pertama, golongan !awam yaitu mereka yang sangat mencintai dunia tetapi masih mempercayai Allah SWT. dan kehidupan akhirat. Kedua, golongan ‘awam al-‘awam yaitu mereka yang benar-benar mencintai kehidupan dunia dan tidak peduli dengan urusan kehidupan akhirat apalagi dengan Yang Ilahi.
    Yang terakhir ini mungkin sama dengan kebanyakan golongan Tu-gul.”
    “Menurut saya, sama dengan para pengikut paduka, umat Islam pengikut Nabi Muhammad Saw. pun mulai dari kalangan ‘awam al-‘awam hingga khawash al-khawash, kecuali yang sudah sangat bodoh dan sesat, semua meyakini bahwa Allah SWT. tidak dapat dibayang-bayangkan, dipikir-pikir, dibanding-bandingkan, dan didekati dengan indra. Tidak ada umat Islam yang beranggapan bahwa Allah SWT. punya tubuh, tangan, kaki, kepala, dan bisa berjalan-jalan seperti manusia.”
    “Sesungguhnya, semua ajaran Kebenaran itu Satu jua Sumbernya.”
    “Tapi paduka, bagaimana membedakan ajaran paduka dengan ajaran Sang To-gog?” Abdul Jalil ingin tahu. “Bukankah To-gog juga memuja dan menyembah Sanghyang Taya melalui Sanghyang Manikmaya?”
    “Sesungguhnya, ajaranku dan ajaran Sang To-gog berasal dari Satu Sumber, yaitu Sanghyang Taya. Namun, ajaran kami dibedakan dalam kiblat pemujaan dan sesembahan. Aku berkiblat kepada Sanghyang Tunggal. To-gog berkiblat kepada Sanghyang Manikmaya. Ajaranku sangat sederhana karena hanya berupa pengarahan kiblat hati dan pikiran kepada Yang Mahagaib yang Tak Terbayangkan melalui satu jalan, yakni Sanghyang Tunggal, yang dicapai melalui sarana bantu Tu-buh dan wa-Tu.”
    “Sedangkan ajaran To-gog jauh lebih rumit karena mengikuti banyak jalan sebagai pengejawantahan Sanghyang Manikmaya. Di samping itu, ajaran Sang To-gog sangat dipenuhi dengan pamrih-pamrih duniawi dan ukhrawi. Ajaranku tidak mengenal sesaji. Ajaran Sang To-gog justru mensyaratkan penggunaan sesaji. Karena ajaran yang disampaikan Sang To-gog melewati banyak jalan di mana masing-masing jalan memiliki aturan dan pranata sendiri maka para pengikut Sang To-gog sering menemui kesulitan dalam memuja-Nya.”
    “Sejak semula sudah menjadi kehendak-Nya bahwa tugas yang aku emban memang bertentangan dengan tugas yang diemban saudaraku, Sang To-gog. Itu sebabnya, anak-anak yang membanhi-ku menunaikan tugas selalu bertentangan dengan anak-anak yang membantu tugas Sang To-gog. Sang Dhawala (Jawa Kuno: yang putih menyilaukan) adalah anakku yang menjadi pengingat bagi golongan Tu-hu tentang bagaimana sesungguhnya cara yang benar dalam menjalankan aturan pemujaan dan penyembahan terhadap Sanghyang Tunggal (Tuhan) sebagai Pribadi Ilahi melalui sarana bantu Tu-buh.”
    “Sang Udal (Jawa Kuno: yang pasrah) adalah anakku yang menjadi pengingat bagi golongan Tu-ngga tentang bagaimana sesungguhnya cara yang benar dalam mengikuti aturan memuja dan menyembah Sanghyang Tunggal melalui sarana bantu wa-Tu. Sang Astrajingga (Jawa Kuno: senjata merah menyala) adalah anakku yang menjadi pengingat bagi golongan Tu-gul agar mereka setia menaati ajaranku dengan cara mengikuti dan mematuhi ajaran {pi-ivulang), petunjuk (pi-tuduh), teladan (tu-ladha), dan wejangan {pi-tutur) dari para pi-nituha, pi-nituhu, dha-Tu, dan ra-Tu.”
    Sementara itu, Sang To-gog yang menjalankan tugas memimpin manusia untuk menyembah Sanghyang Manikmaya juga dibantu oleh tiga anaknya. Sang Bilung (Jawa Kuno: hidangan) adalah anak Sang To-gog yang mengajari manusia untuk memuja dan menyembah Sanghyang Manikmaya melalui berbagai jenis sarana bantu. Tujuan utama Sang Bilung dan pengikutnya menyembah Sanghyang Manikmaya adalah mengharap agar semua hasrat dan keinginan manusia, terutama kemasyhuran diri di dunia, dikabulkan oleh Sanghyang Manikmaya. Sang Bilung dan pengikutnya yakin bahwa mereka yang memuja dan menyembah Sanghyang Manikmaya akan dilimpahi Tu-ah dan Tu-lah, yang berguna untuk meraih kemasyhuran di dunia dan jika mati nanti mereka akan tinggal di Tayan bersama leluhur.
    Para pengikut Sang Bilung disebut golongan To-r (Jawa Kuno: yang menyajikan hidangan). Mereka adalah para pemilik kekuatan gaib yang keramat dan memiliki tugas utama mempersembahkan sesaji dan korban kepada Sanghyang Manikmaya. Mereka berupa para dukun dan walyan yang sangat ditakuti karena bisa mengarahkan Tu-ah dan Tu-lah yang mereka miliki untuk mencelakai orang melalui tu-ju (teluh) dan ku-tu-k (sumpah). Mereka umumnya perempuan.
    Sang Sarawita (Jawa Kuno: inti, energi, benda) adalah anak Sang To-gog yang mengajarkan manusia untuk memuja dan menyembah Sanghyang Manikmaya melalui berbagai sarana bantu. Tujuan utama mereka memuja dan menyembah Sanghyang Manikmaya adalah mengharap agar semua hasrat kecintaan manusia terhadap benda-benda dan kekuasaan duniawi terpenuhi. Sang Sarawita dan pengikutnya yakin bahwa pemuja dan penyembah Sanghyang Manikmaya akan dilimpahi Tu-ah dan Tu-lah yang berguna untuk menguasai benda-benda sekaligus menjadi pemegang kekuasaan dunia.
    Para pengikut Sang Sarawita disebut golongan Tu-huk (Jawa Kuno: terpuaskan). Mereka adalah para Pa-Tu-nggul (Jawa Kuno: pemegang tunggul, pemimpin) yang sakti serta memiliki kekuatan dan kekuasaan besar. Mereka sangat ditakuti karena memiliki harta benda berlimpah, pengikut banyak, kekuasaan besar, dan sakti mandraguna. Mereka acap kali menduduki jabatan dha-Tu dan ra-Tu.
    Sedangkan Sang Kere (Jawa Kuno: kurus, hina, miskin, lapar) adalah anak Sang To-gog yang meng-ajari manusia untuk memuja dan menyembah Sanghyang Manikmaya melalui berbagai sarana bantu. Sang Kere dan para pengikutnya tidak mengenal Sanghyang Manikmaya, apalagi Sanghyang Taya, secara benar. Sang Kere dan para pengikutnya adalah orang-orang yang rakus, tamak, serakah, kejam, buas, dan mementingkan diri sendiri. Sang Kere dan pengikutnya adalah pemuja dan penyembah nafsu dan benda-benda duniawi.
    “Apakah Sang To-gog dan ketiga puteranya mengajarkan korban berupa Tu-mbal manusia?”
    “Sesungguhnya, di dalam ajaran Sang To-gog yang murni tidak dikenal adanya persembahan korban yang disebut Tu-mbal Itu adalah ajaran yang dibawa oleh Sang Idajil (Si Urat Napas Juling), guru Sang Kere yang lambat laun berhasil mempengaruhi ajaran Sang To-gog.”
    “Siapakah Sang Idajil? Kenapa dia bisa mempengaruhi ajaran Sang To-gog?”
    “To-gog adalah orang yang suka bercanda dan tidak bisa bertindak tegas terhadap perilaku anak-anaknya yang menyimpang. Itu sebabnya, ketika anaknya yang bernama Sang Kere dipengaruhi Sang Idajil, ia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menangis dan meratap meminta bantuanku untuk melawan Sang Idajil. Namun, aku tidak bisa membantunya karena Sang Idajil diam-diam mulai berusaha mempengaruhi umatku juga. Sehingga, aku dan ketiga orang anakku harus berjuang keras melawan pengaruh jahat Sang Idajil yang menyesatkan itu.”
    “Apa ciri-ciri ajaran Sang Idajil?”
    “Ibadah sehari-hari para pemuja Sang Idajil, Si Urat Napas Juling, ditandai oleh dua ciri yang sama dengan hakikat nama Idajil. Pertama, melalui pengaturan pernapasan lewat urat napas sebagaimana diajarkan Sang Idajil, mereka akan mencapai tahap tidak sadarkan diri dan kemudian mengomel tidak karuan. Mereka tidak tahu apa yang sesungguhnya telah mereka ucapkan di dalam omelan itu. Mereka seperti orang keranjingan arwah, padahal sesungguhnya hal itu terjadi karena getar urat napas yang diatur secara keliru sehingga mempengaruhi kesadaran. Kedua, seperti Sang Idajil yang juling, mereka selalu keliru dalam memandang Kebenaran. Mereka tidak pernah tahu hakikat Tu, Pribadi Ilahi, apalagi hakikat Sanghyang Taya. Mereka hanya mengenal Tu-han sebagai kuasa terang dan kebaikan, sedangkan han-Tu merupakan kuasa kegelapan dan kejahatan. Terang dan gelap adalah dua kekuatan yang saling bertarung memperebutkan keunggulan masing-masing. Itu sebabnya, pengikut Sang Idajil menganggap Kebenaran itu dua, bukan sa-Tu atau Tu-nggal.”
    Akibat pengaruh Sang Idajil, ajaran Sang To-gog tentang cara-cara manusia memuja Sanghyang Manikmaya, Pribadi Ilahi, sesuai Tu-ntunan Sanghyang Taya, makin lama makin tenggelam ke dalam ajaran Sang Idajil. Para pengikut Sang To-gog mulai melakukan cara-cara yang lebih rumit, yaitu dengan melakukan upacara yang menggunakan persembahan sesaji-sesaji tambahan dan korban-korban berupa hewan maupun manusia.
    Untuk sesaji-sesaji, misalnya, para penganut Sang Idajil tidak saja menggunakan Tu-mpeng, Tu-d, dan Tu-mbu, tetapi ditambah dengan Tu-ak. Untuk korban digunakan Tu-mbal (manusia) dan Tu-kang (hewan sejenis kera). Baik sesaji maupun körban secara bersama-sama atau terpisah, digunakan sebagai piranti upacara di tempat-tempat keramat seperti Tu-ngkub (bangunan suci), Tu-rum-buhan (pohon beringin), Tu-ban (air terjun), Tu-k (mata air), Tu-nda (tempat bertingkat-tingkat), Tu-san (tempuran anak sungai), Tu-mpis (lereng gunung). Di tempat-tempat tersebut diletakkan benda-benda bertuah, seperti Tu-gu, wa-Tu, Tunggul, Tu-nggak, Tu-ngas, Tu-lang, Tu-lup, To-pong, To-peng, Tosan, To-ya, dan To-wok. Waktu upacara lazimnya dilakukan pada saat Tu-nggang gunung (senja). Jumlah sesaji dan korban pun ditentukan berdasarkan hitungan tertentu, yaitu Tu-nggal dan pi-Tu.
    “Berarti ajaran Sang To-gog sudah menyimpang dari ajaran yang semula,” kata Abdul Jalil. “Apakah hal itu tidak menimbulkan pertentangan dengan ajaran paduka?”
    “Perlu engkau ketahui, o Abdul Jalil, meski aku dan anak-anakku berseberangan dengan Sang To-gog dan anak-anaknya, kami tidak pernah berselisih. Kami sadar bahwa segala perbedaan yang ada pada kami sesungguhnya adalah kehendak Sanghyang Taya belaka. Namun sejak ajarannya terpengaruh Sang Idajil, perselisihan sengit hingga menumpahkan darah memang sering terjadi antara pengikutku dan pengikut Sang To-gog.”
    “Apakah ajaran Sang To-gog kemudian menjadi satu dengan ajaran Sang Idajil?”
    “Sesungguhnya, ajaran Sang To-gog menyimpang jauh setelah dia meninggal dan ajarannya
    benar-benar telah dirusak oleh Sang Kere. Namun seratus tahun setelah kematian Sang To-gog, lahirlah keturunannya yang bernama Teja Mantri dari sekian banyak keturunan Sang Bilung. Dialah yang meluruskan kembali ajaran Sang To-gog. Demikianlah, di antara keturunan Sang Teja Mantri kemudian lahir penerus yang meluruskan ajaran leluhurnya sampai pada masa Sang Hantaga, yakni keturunan Sang To-gog yang tidak memiliki keturunan.”
    “Paduka, apakah nama ajaran yang dibawa Sang To-gog?”
    “Semula nama ajarannya sama dengan ajaranku. Tetapi lama-lama ajarannya disebut Tata-titi. Padahal, Tata-titi hanyalah bagian dari ajaran yang kami sampaikan.”
    “Jika demikian, apakah nama ajaran yang paduka sampaikan kepada manusia?”
    “Karena ajaran yang kusampaikan menyangkut tata cara pemujaan dan penyembahan kepada Sanghyang Taya maka manusia harus diyakinkan dulu tentang keberadaan Sanghyang Taya. Keyakinan terhadap keberadaan Sanghyang Taya itulah yang disebut Pi-Taya (rahasia tentang Yang Suwung). Orang-orang yang yakin dengan keberadaan Sanghyang Taya disebut wwang Pi-Taya (orang yang mempercayai Yang Suwung). Adapun seluk-beluk ajaranku tentang dasar-dasar keyakinan dan tata cara memuja serta menyembah Sanghyang Taya disebut dengan nama Kapitayaan.”
    “Paduka yang mulia, bagaimanakah cara paduka menjaga kelestarian ajaran Kapitayan dari waktu ke waktu? Apakah dengan cara seperti yang dilakukan Sang To-gog?” Abdul Jalil meminta penjelasan.
    “Benar adanya demikian. Setelah aku meninggal dunia pada usia tujuh ratus tahun, terjadilah penyimpangan ajaran Kapitayan. Kemudian lahirlah keturunanku yang meluruskan ajaran itu. Dalam waktu seratus tahun sepeninggalku, rusaklah ajaran Kapitayan. Selama kurun hampir lima puluh tahun IKapitayan sudah bercampur aduk dengan ajaran Sang To-gog yang juga sudah berbaur dengan ajaran Sang Idajil. Tu-han dipuja dan disembah bersama han-Tu. Kebenaran dianggap dua. Sesaji dan korban saling tumpang-tindih meminta nyawa orang-orang tak bersalah.”
    “Di tengah kerancuan ajaranku muncullah keturunanku yang bernama Dang Hyang Badranaya dan ketiga orang anaknya, yaitu Rahyang Pathuk, Rahyang Gareng, dan Rahyang Somaita yang berjuang keras meluruskan kembali ajaran Kapitayan. Begitu seterusnya, ajaran Kapitayan dari zaman ke zaman diluruskan oleh para keturunanku seperti Dang Hyang Hasmara, Dang Hyang Smarasanta, Pu Walaing, Ki Buyut Wangkeng, dan terakhir Ki Buyut Sondong.”
    “Rupanya, Sanghyang Taya telah mengakhiri pelurusan ajaran Kapitayan dengan meninggalnya Ki Buyut Sondong Sebab, keturunanku itu tidak memiliki keturunan. Dengan demikian, keberadaan ajaran Kapitayan memang sudah dikehendaki-Nya untuk digantikan dengan ajaran baru yang lebih sempurna. Tetapi perlu engkau ketahui, o Abdul Jalil, bahwa apa pun nama ajaran baru yang akan disampaikan di Nusa Jawa, yang akan lestari adalah ajaran yang tidak bertentangan dengan dasar-dasar ajaran Kapitayan. Sebab telah menjadi keniscayaan sejarah, berbagai ajaran baru yang disebarkan ke Nusa Jawa yang tidak sesuai dengan dasar-dasar ajaran Kapitayan tidak akan diterima oleh para penghuninya. Bahkan, pengikut ajaran itu akan diancam oleh penghuni purwakala negeri ini.”
    “Paduka telah paham bahwa ajaran yang paduka sampaikan kepada manusia secara hakiki sama dengan ajaran Islam yang disampaikan Nabi Muhammad Saw., yakni memuja dan menyembah Tuhan yang Tunggal, Mahakuasa, Tak Terbandingkan dengan sesuatu, Sumber segala sesuatu. Namun satu hal yang ingin saya tanyakan kepada paduka, yaitu tentang pendahulu saya, Syaikh Syamsuddin al-Baqir al-Farisi. Apakah yang menyebabkan beliau gagal menyiarkan ajaran Islam di Nusa Jawa?” tanya Abdul Jalil.
    “Sesungguhnya, segala sesuatu yang terjadi adalah kehendak-Nya semata. Namun jika hendak dicari sebab musababnya, salah satu kekeliruan yang dilakukan pendahulumu adalah kepulangan-nya yang terlalu cepat ke Negeri Persia beberapa waktu setelah ia mendapat perkenanku menyebarkan ajaran Islam di Nusa Jawa. Sebab dengan ke-pergiannya kembali ke Persia, orang-orang Islam di Nusa Jawa menjadi kacau-balau dalam mengamalkan ajarannya. Secara berangsur-angsur mereka mulai menganggap bahwa Allah yang mereka sembah bukan lagi Tuhan yang Tak Terpikirkan dan Tak Terbandingkan dengan sesuatu, melainkan seorang dewa perang dengan malaikat-malaikat sebagai panglimanya. Dewa perang yang selalu membela dan melindungi umat Islam, sebaliknya selalu memusuhi dan membinasakan orang-orang yang bukan Islam.”
    “Akibat meyakini bahwa Allah yang disembah adalah dewa perang maka orang Islam pengikut Syaikh Syamsuddin al-Baqir al-Farisi sering menumpahkan darah manusia. Mereka suka membunuh manusia lain yang dianggap kafir. Mereka telah mengambil hak Sanghyang Wenang, yaitu mencabut nyawa manusia sekehendak hati, beiam itu, mereka juga menjadi pemuja setia dari kuburan-kuburan pemukanya. Bahkan, banyak di antara mereka yang meyakini bahwa Allah yang mereka sembah itu bisa menjelma dalam wujud manusia tidak waras yang bisa mengabulkan permohonan dan memberi berkah keselamatan.”
    “Apa yang terjadi dengan orang-orang Islam di Nusa Jawa setelah kepulangan Syaikh Syamsuddin al-Baqir al-Farisi akhirnya menuai bencana. Perkenan yang sudah kuberikan tentu tidak bisa menggugurkan lima syarat perjanjianku dengan para raja bangsa halus penghuni purwakala Nusa Jawa. Orang-orang Islam banyak yang mati terbunuh akibat pertumpahan darah dengan sesama manusia penghuni Nusa Jawa. Akhirnya, jumlah mereka yang tersisa tinggal hitungan jari saja. Jika dilihat dari sisi alam gaib, sebagian besar di antara mereka yang mati itu dijadikan korban dalam pesta darah para makhluk berbadan halus penghuni purwakala negeri ini.”
    “Saya mohon petunjuk paduka,” ujar Abdul Jalil. “Bagaimanakah cara saya menjadikan tawar pengaruh bangsa berbadan halus penghuni purwakala Nusa Jawa ini, selain perkenan paduka tentunya?”
    “Dengan Tu-ah dan Tu-lah yang dilimpahkan-Nya kepadamu, sesungguhnya engkau bisa mengusir seluruh makhluk halus penghuni purwakala Nusa Jawa ke pulau lain atau ke tengah lautan. Namun, jika engkau hendak mengikuti apa yang telah aku lakukan maka engkau harus memasang Tu-mbal di beberapa tempat yang bisa membuat tawar pengaruh jahat mereka. Hanya saja, Tu-mbal yang engkau tetapkan tempatnya itu tidak banyak pengaruhnya untuk melindungi para pemuja duniawi dari pengaruh bangsa halus.”
    “Saya akan mengikuti jejak paduka. Sebab, telah jelas bagi saya bahwa ajaran Islam adalah ajaran Tauhid yang dijadikan rahmat oleh-Nya bagi seluruh makhluk di alam semesta. Sesungguhnya, tugas utama saya hanyalah sebagai penyampai berita Kebenaran Islam saja. Saya sekali-kali bukan pengusir bangsa lain apalagi penimbul kebinasaan.”
    “Itu baik dan sesuai dengan semangat ajaran Kapitayan.”
    “Tapi paduka, apakah pendahulu saya, Syaikh Syamsuddin al-Baqir al-Farisi, juga memasang Tumbal di Nusa Jawa? Apakah bentuk Tu-mbal yang digunakannya?” tanya Abdul Jalil.
    “Tentu saja,” jawab Dang Hyang Semar. “Dia dulu memasang Tu-mbal di beberapa tempat di
    pantai utara Nusa Jawa dengan menebarkan tanah dari Negeri Persia. Saat memasang Tu-mbal itu ia mengibarkan bendera hitam yang disebut Tunggul Wulung.”
    “Apakah pemasangan Tu-mbal itu dilakukan dari arah barat ke timur?”
    “Ya.”
    “Dari manakah hal itu dimulai?”
    “Dari tiga gunung tempat Sanghyang Tunggal, Sanghyang Manikmaya, dan Idajil dipuja”.
    “Lalu di manakah letak ketiga gunung itu?”
    “Di tanah kulon tempat aku dan Sang To-gog pertama kali terdampar seusai banjir besar, yaitu di Gunung Karang Tumaritis, Gunung Pulasari, dan Gunung Lancar.”
    Usai menjawab pertanyaan Abdul Jalil, tiba-tiba ruh Dang Hyang Semar lenyap. Abdul Jalil gelagapan dan membuka mata dengan celingukan. Ia lihat Sri Mangana masih duduk bersila di sampingnya. Rupanya, ayahanda asuhnya itu menangkap sasmita bahwa beberapa jenak lalu ia sesungguhnya sedang berhubungan dengan Dang Hyang Semar meski tidak terlihat. Itu sebabnya, saat ia mengajak pulang, ayahanda asuhnya bertanya sambil menarik napas berat, “Apa saja yang beliau wejangkan kepadamu, o Puteraku?”
    “Beliau telah berkenan mengizinkan agama Islam berkembang di Nusa Jawa karena sesungguhnya ajaran Islam secara hakiki tidak berbeda dengan ajaran Kapitayan yang beliau sampaikan kepada manusia. Bedanya dengan ajaran Islam adalah ajaran Kapitayan masih sangat sederhana syan’atnya, tetapi inti Tauhidnya sama. Ini bisa dipahami karena Kapitayan memang untuk manusia yang hidup pada zaman purwakala.”
    “Jadi, benar beliau seorang nabi yang membawa ajaran Tauhid?” tanya Sri Mangana.
    “Menurut kesaksian ananda, beliau dan keturunannya adalah nabi-nabi yang membawa ajaran lurus Keesaan Ilahi kepada manusia, khususnya di Nusa Jawa. Tetapi, sejak Ki Buyut Sondong, keturunan terakhirnya, wafat tanpa keturunan maka tidak ada lagi yang meluruskan ajaran Kapitayan.”
    “Jadi, ajaran Kapitayan itu diwariskan turun-temurun di antara keturunan Dang Hyang Semar?” gumam Sri Mangana dengan pandang terheran-heran. “Aku pikir ajaran itu hanya disampaikan oleh satu orang saja, yaitu Dang Hyang Semar.”
    “Menurut penjelasan beliau tadi, memang demikian adanya.”
    “Tetapi, o Puteraku, jika Dang Hyang Semar telah berkenan mengizinkan Islam berkembang di | Nusa Jawa, berarti ajaran Kapitayan memang tidak
    berbeda secara hakiki dengan ajaran Rasulallah Saw..”
    “Benar demikian adanya, o Ramanda Ratu. Bahkan menurut hemat ananda, Islam bisa dikatakan ibarat penyempurna bagi ajaran Kapitayan. Hanya bahasa, waktu, dan ruang lingkup saja yang membedakan ajaran Tauhid Kapitayan dan Tauhid Islam.”
    “Berarti, ajaran Islam dengan mudah akan berkembang di Nusa Jawa karena kehadiran Islam seperti membangkitkan ajaran lama yang sudah dikenal semua orang.”
    “Sesungguhnya tidak bisa disebut mudah, Ramanda Ratu, sebab kita masih harus membuat tawar pengaruh buruk para penghuni purwakala Nusa Jawa.”
    “Penghuni purwakala? Siapakah mereka?”
    “Menurut Dang Hyang Semar, mereka adalah makhluk berbadan halus. Menurut pikiran ananda, mereka adalah golongan bangsa jin.”
    “Caranya bagaimana?”
    “Ananda akan memasang Tu-mbal sebagaimana yang telah dilakukan oleh pendahulu ananda, Syaikh Syamsuddin al-Baqir al-Farisi.”
    “Memasang Tu-mbal ? Dengan korban sembelihan manusia?”
    “Tidak Ramanda Ratu” sahut Abdul Jalil, “tetapi dengan menebar tanah dari Negeri Persia.”
    “Berarti engkau akan ke Persia?”
    “Tidak perlu, Ramanda Ratu, karena mertua ananda, Syaikh Abdul Malik al-Baghdady, sudah membekali ananda dengan sekantung tanah yang beliau ambil dari tempat bernama Karbala. Tanah itulah yang akan ananda tebarkan sebagai Tu-mbal!”
    “Mudah-mudahan engkau berhasil menjalankan tugasmu, o Puteraku.”
    “Ananda mohon doa restu dari Ramanda Ratu.”
    “Baiklah, Puteraku,” ujar Sri Mangana. “Untuk mengingat pertemuan mulia ini dan sebagai pertanda bahwa Yang Mulia Dang Hyang Semar, pembawa ajaran Kapitayan, telah berkenan mengizinkan ajaran Islam disampaikan di Nusa Jawa maka tempat di pinggir hutan kecil di tepi sungai ini selanjutnya akan kutetapkan dengan nama Dukuh Semar.”
    “Mudah-mudahan dengan mengingat nama Dukuh Semar, orang senantiasa akan mengingat pembawa ajaran Tauhid yang paling awal di Nusa Jawa,” kata Abdul Jalil.

  3. ijin share ya pak.. terima kasih atas tulisan nya

    • Wahai pemiliki blog, hapuslah tulisan-tulisanmu ini. Orang yang menyebarkan juga berdosa. Siapa yang lebih mendapat petunjuk, nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam atau siti jenar? Apa alasan siti jenar meninggalkan ajaran nabi Allah dan nggak sholat, padahal dari nabi nuh, ibrahim, luth, musa, isa semuanya beribadah pada Allah? Orang yang mengadakan kebohongan terhadap Allah nggak akan beruntung.

      Kemudian ajaran kejawen nggak perlu berharap surga/takut neraka dalam beribadah, jelas keluar dari ajaran islam. Padahal Allah adalah tempat meminta, berharap, memohon pertolongan. Siapakah yang mmecah agama islam menjadi sempalan sempalan, dan meninggalkan ajaran nabi kita?

      “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab:21)

  4. saudaraku Syekh siti Jenar atau Syaikh Abdul Malik al-Baghdadi adalah utusan Raja Otoman Turky untuk perluasan Islam di Jawa beserta 9 wali lainnya, atau yang di sebut wali 9 abad yang lalu

    beliau ber asal dari irak bagdad

    namun ajaran yang beliau ajarkan, tidak sama dengan 9 wali lainnya (ahlussunah wal jamaah) beliau justru mengajarkan syiah Muktazilah suatu hal yang metode penyampaiannya hampir sama dengan ajaran yahudi ( syiah sendiri banyak cabangnya, kebetulan syiah muktazilah ini adalah dua ajaran yang di campur antara islam dan yahudi) ada juga syiah yang 100 persen mengikuti Syayid Ali dan Rasululloh nah yang ini tidak banyak perbedaan dengan Ahlussunah wal Jamaah.

    prinsip ajaran manunggaling kawulo dan gusti adalah salah satu doktrin dalam ajaran yahudi (pelajari di mbah google)
    jadi wajar jika di dalamnya tidak perlu sholat dll sebelum bisa manunggal (krn bukan ajaran islam murni)

    Ini bukan prinsip Islam ! yahudi dilaknat Alloh sedangkan islam agama rahmatan lil alamin

    semoga dapat menjadikan pencerahan, jangan tersesat

    dan jangan cepat menyalahkan sebelum mengetahui ilmunya secara mendalam

    wassalam

  5. salam…. anak baru lahir tdk brdsa mas… agama apapun org tuanya.. tetap saja anak itu msh suci biarpun anak itu dluar nikah skalipun… klw anak mninggal saat lahir… tetap saja dia masuk surga karna dia blm ada dosa sdikitpun… salam…

  6. Wahai pemiliki blog, hapuslah tulisan-tulisanmu ini. Orang yang menyebarkan juga berdosa. Siapa yang lebih mendapat petunjuk, nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam atau siti jenar? Apa alasan siti jenar meninggalkan ajaran nabi Allah dan nggak sholat, padahal dari nabi nuh, ibrahim, luth, musa, isa semuanya beribadah pada Allah? Orang yang mengadakan kebohongan terhadap Allah nggak akan beruntung.

    Kemudian ajaran kejawen nggak perlu berharap surga/takut neraka dalam beribadah, jelas keluar dari ajaran islam. Padahal Allah adalah tempat meminta, berharap, memohon pertolongan. Siapakah yang mmecah agama islam menjadi sempalan sempalan, dan meninggalkan ajaran nabi kita?

    “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab:21)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: