WAHYU PANCA WARSITA

WAHYU

 

Menurut sebagian dari faham ajaran spiritual Budaya Jawa, Pancasila itu merupakan bagian dari Wahyu Sapta Warsita Panca Pancataning Mulya (Wahyu tujuh kelompok ajaran yang masing-masing kelompok berisi lima butir ajaran untuk mencapai kemuliaan, ketenteraman, dan kesejahteraan kehidupan alam semesta hingga alam keabadian/ akhirat). Sementara itu ada tokoh spiritual lain menyebutkan Panca Mukti Muni Wacana yang hanya terdiri atas lima kelompok (bukan tujuh).

Sapta Warsita Panca Pancataning Mulya itu terdiri atas :

 

1. Panca Sila.
2. Panca Karya.
3. Panca Guna.
4. Panca Dharma.
5. Panca Jaya.
6. Panca Daya.
7. Panca Pamanunggal.

 

1. Pancasila

 

Pancasila merupakan butir-butir ajaran yang perlu dijadikan rujukan pembentukan sikap dasar atau akhlak manusia.

 

1.1.Hambeg Manembah.

Hambeg manembah adalah sikap ketakwaan seseorang kepada Tuhan Yang Mahaesa.

Manusia sebagai makhluk ciptaanNya wajib memiliki rasa rumangsa lan pangrasa (menyadari) bahwa keberadaannya di dunia ini sebagai hamba ciptaan Ilahi, yang mengemban tugas untuk selalu mengabdi hanya kepadaNya. Dengan pengabdian yang hanya kepadaNya itu, manusia wajib melaksanakan tugas amanah yang diemban, yaitu menjadi khalifah pembangun peradaban serta tatanan kehidupan di alam semesta ini, agar kehidupan umat manusia, makhluk hidup serta alam sekitarnya dapat tenteram, sejahtera, damai, aman sentosa, sehingga dapat menjadi wahana mencapai kebahagiaan abadi di alam kelanggengan ( akhirat ) kelak ( Memayu hayu harjaning Bawana, Memayu hayu harjaning Jagad Traya, Nggayuh kasampurnaning hurip hing Alam Langgeng ).

Dengan sikap ketakwaan ini, semua manusia akan merasa sama, yaitu berorientasi serta merujukkan semua gerak langkah, serta sepak terjangnya, demi mencapai ridlo Ilahi, Tuhan Yang Maha Bijaksana ( Hyang Suksma Kawekas ).

Hambeg Mangeran ini mendasari pembangunan watak, perilaku, serta akhlak manusia. Sedangkang akhlak manusia akan menentukan kualitas hidup dan kehidupan, pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara.

 

1.2.Hambeg Manunggal.

Hambeg manunggal adalah sikap bersatu. Manusia yang hambeg mangeran akan menyadari bahwa manusia itu terlahir di alam dunia ini pada hakekatnya sama. Kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh setiap insan itu memang merupakan tanda-tanda kebesaran Hyang Suksma Adi Luwih ( Tuhan Yang Maha Luhur ). Oleh karena itu sebagai salah satu bentuk dari sikap ketakwaan seseorang adalah sikap hasrat serta kemauan kerasnya untuk bersatu. Perbedaan tingkatan sosial, tingkat kecerdasan, dan perbedaan-perbedaan lain sebenarnya bukan alat untuk saling berpecah belah, tetapi malah harus dapat dipersatukan dalam komposisi kehidupan yang serasi serta bersinergi. Hanya ketakwaan lah yang mampu menjadi pendorong tumbuhnya hambeg manunggal ini, karena manusia akan merasa memiliki satu tujuan hidup, satu orientasi hidup, dan satu visi di dalam kehidupannya.

Di dalam salah satu ajaran spiritual, hambeg manunggal itu dinyatakan sebagai, manunggaling kawula lan gustine (bersatunya antara rakyat dengan pemimpin), manunggale jagad gedhe lan jagad cilik (bersatunya jagad besar dengan jagad kecil ), manunggale manungsa lan alame ( bersatunya manusia dengan alam sekitarnya ), manunggale dhiri lan bebrayan ( bersatunya individu dengan masyarakat luas ), manunggaling sapadha-padha ( persatuan di antara sesama ), dan sebagainya.

 

1.3.Hambeg Welas Asih.

Hambeg welas asih adalah sikap kasih sayang. Manusia yang hambeg mangeran, akan merasa dhirinya dengan sesama manusia memiliki kesamaan hakikat di dalam hidup. Dengan kesadaran itu, setelah hambeg manunggal, manusia wajib memiliki rasa welas asih atau kasih sayang di antara sesamanya. Sikap kasih sayang itu akan mampu semakin mempererat persatuan dan kesatuan.

 

1.4. Hambeg Wisata.

Hambeg wisata adalah sikap tenteram dan mantap. Karena ketakwaannya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, manusia akan bersikap tenteram dan merasa mantap di dalam kehidupannya. Sikap ini tumbuh karena keyakinannya bahwa semua kejadian ini merupakan kehendak Sang Pencipta.

Hambeg wisata bukan berarti pasrah menyerah tanpa usaha, tetapi justru karena kesadaran bahwa semua kejadian di alam semesta ini terjadi karena kehendakNya, sedangkan Tuhan juga menghendaki manusia harus membangun tata kehidupan untuk mensejahterakan kehidupan alam semesta, maka dalam rangka hambeg wisata itu manusia juga merasa tenteram dan mantap dalam melakukan usaha, berkarya, dan upaya di dalam membangun kesejahteraan alam semesta. Manusia akan merasa mantap dan tenteram hidup berinteraksi dengan sesamanya, untuk saling membantu, bahu membahu, saling mengingatkan, saling mat sinamatan, di dalam kehidupan.

 

1.5.Hambeg Makarya Jaya Sasama.

Hambeg Makarya Jaya Sasama adalah sikap kemauan keras berkarya, untuk mencapai kehidupan, kejayaan sesama manusia. Manusia wajib menyadari bahwa keberadaannya berasal dari asal yang sama, oleh karena itu manusia wajib berkarya bersama-sama menurut potensi yang ada pada dirinya masing-masing, sehingga membentuk sinergi yang luar biasa untuk menjapai kesejahteraan hidup bersama. Sikap hambeg makarya jaya sesama akan membangun rasa “tidak rela” jika masih ada sesama manusia yang hidup kekurangan atau kesengsaraan.

2. Panca Karya

Panca karya merupakan butir-butir ajaran sebagai rujukan berkarya di dalam kehidupan.

 

2.1.Karyaning Cipta Tata.

Karyaning Cipta Tata adalah kemampuan berfikir secara runtut, sistematis, tidak semrawut ( tidak worsuh, tidak tumpang tindih ). Manusia wajib mengolah kemampuan berfikir agar mampu menyelesaikan semua persoalan hidup yang dihadapinya secara sistematis dan tuntas. Setiap menghadapi permasalahan wajib mengetahui duduk permasalahannya secara benar, mengetahui tujuan penyelesaian masalah yang benar beserta berbagai standar kriteria kinerja yang hendak dicapainya, mengetahui kendala-kendala yang ada, dan menyusun langkah atau strategi penyelesaian masalah yang optimal.

 

2.2.Karyaning Rasa Resik.

Karyaning rasa resik adalah kemampuan bertindak obyektif, bersih, tanpa dipengaruhi dorongan hawa nafsu, keserakahan, ketamakan, atau kepentingan pribadi yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kebenaran/budi luhur.

 

2.3.Karyaning Karsa Lugu.

Karyaning Karsa Lugu adalah kemampuan berbuat bertindak sesuai suara kesucian relung kalbu yang paling dalam, yang pada dasarnya adalah hakekat kejujuran fitrah Ilahiyah ( sesuai kebenaran sejati yang datang dari Tuhan Yang Maha Suci/Hyang Suksma Jati Kawekas ).

 

2.4.Karyaning Jiwa Mardika.

Karyaning Jiwa Mardika adalah kemampuan berbuat sesuai dengan dorongan Sang Jiwa yang hanya menambatkan segala hasil karya, daya upaya, serta cita-cita kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, terbebas dari cengkeraman pancaindera dan hawa nafsu keserakahan serta ketamakan akan keduniawian. Karyaning Jiwa Mardika akan mampu mengendalikan keduniaan, bukan diperbudak oleh keduniawian ( Sang Jiwa wus bisa murba lan mardikaake sagung paraboting kadonyan ).

 

2.5.Karyaning Suksma Meneng.

Karyaning Suksma Meneng adalah kemampuan berbuat berlandaskan kemantapan peribadatannya kepada Tuhan Yang Maha Bijaksana, berlandaskan kebenaran, keadilan, kesucian fitrah hidup, “ teguh jiwa, teguh suksma, teguh hing panembah “. Di dalam setiap gerak langkahnya, manusia wajib merujukkan hasil karya ciptanya pada kehendak Sang Pencipta, yang menitipkan amanah dunia ini kepada manusia agar selalu sejahtera.

3. Panca Guna.

 

Panca guna merupakan butir-butir ajaran untuk mengolah potensi kepribadian dasar manusia sebagai modal dalam mengarungi bahtera kehidupan.

 

3.1.Guna Empan Papaning Daya Pikir.

Guna empan papaning daya pikir adalah kemampuan untuk berkonsentrasi, berfikir secara benar, efektif, dan efisien ( tidak berfikir melantur, meratapi keterlanjuran, mengkhayal yang tidak bermanfaat, tidak suka menyia-nyiakan waktu ).

 

3.2.Guna Empan Papaning Daya Rasa.

Guna empan papaning daya rasa adalah kemampuan untuk mengendalikan kalbu, serta perasaan ( rasa, rumangsa, lan pangrasa ), secara arif dan bijaksana.

 

3.3.Guna Empan Papaning Daya Karsa.

Guna empan papaning daya karsa adalah kemampuan untuk mengendalikan, dan mengelola kemauan, cita-cita, niyat, dan harapan.

 

3.4.Guna Empan Papaning Daya Karya.

Guna empan papaning daya karya adalah kemampuan untuk berkarya, berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negaranya.

 

3.5.Guna Empan Papaning Daya Panguwasa.

Guna empan papaning daya panguwasa adalah kemampuan untuk memanfaatkan serta mengendalikan kemampuan, kekuasaan, dan kewenangan secara arif dan bijaksana (tidak menyalahgunakan kewenangan). Kewenangan, kekuasaan, serta kemampuan yang dimilikinya dimanfaatkan secara baik, benar, dan tepat untuk mengelola (merencanakan, mengatur, mengendalikan, dan mengawasi ) kehidupan alam semesta.

4. Panca Dharma.

Panca dharma merupakan butir-butir ajaran rujukan pengarahan orientasi hidup dan berkehidupan, sebagai penuntun bagi manusia untuk menentukan visi dan misi hidupnya.

 

4.1.Dharma Marang Hingkang Akarya Jagad.

Dharma marang Hingkang Akarya Jagad adalah melaksanakan perbuatan mulia sebagai perwujudan pelaksanaan kewajiban umat kepada Sang Pencipta. Manusia diciptakan oleh Tuhan Yang Mahaesa untuk selalu menghambakan diri kepada-Nya. Oleh karena itu semua perilaku, budi daya, cipta, rasa, karsa, dan karyanya di dunia tiada lain dilakukan hanya semata-mata sebagai bentuk perwujudan dari peribadatannya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, untuk mensejahterakan alam semesta ( memayu hayuning harjaning bawana, memayu hayuning jagad traya ).

 

4.2.Dharma Marang Dhirine.

Dharma marang dhirine adalah melaksanakan kewajiban untuk memelihara serta mengelola dhirinya secara baik. Olah raga, olah cipta, olah rasa, olah karsa, dan olah karya perlu dilakukan secara baik sehingga sehat jasmani, rohani, lahir, dan batinnya.

Manusia perlu menjaga kesehatan jasmaninya. Namun demikian mengasah budi, melalui belajar agama, budaya, serta olah batin, merupakan kewajiban seseorang terhadap dirinya sendiri agar dapat mencapai kasampurnaning urip, mencapai kebahagiaan serta kesejahteraan di dunia dan di akhirat.

Dengan kesehatan jasmani, rohani, lahir, dan batin tersebut, manusia dapat memberikan manfaat bagi dirinya sendiri.

 

4.3.Dharma Marang Kulawarga.

Dharma marang kulawarga adalah melaksanakan kewajiban untuk memenuhi akhak keluarga. Keluarga merupakan kelompok terkecil binaan manusia sebagai bagian dari masyarakat bangsa dan negara. Pembangunan keluarga merupakan fitrah manusiawi. Kelompoh ini tentunya perlu terbangun secara baik. Oleh karena itu sebagai manusia memiliki kewajiban untuk melaksanakan tugas masing-masing di dalam lingkungan keluarganya secara baik, benar, dan tepat.

 

4.4.Dharma Marang Bebrayan.

Dharma marang bebrayan adalah melaksanakan kewajiban untuk turut serta membangun kehidupan bermasyarakat secara baik, agar dapat membangun masyarakat binaan yang tenteram damai, sejahtera, aman sentosa.

 

4.5.Dharma Marang Nagara.

Dharma marang nagara adalah melaksanakan kewajiban untuk turut serta membangun negara sesuai peran dan kedudukannya masing-masing, demi kesejahteraan, kemuliaan, ketenteraman, keamanan, kesetosaan, kedaulatan, keluhuran martabat, kejayaan, keadilan, dan kemakmuran bangsa dan negaran beserta seluruh lapisan rakyat, dan masyarakatnya.

5. Panca Jaya.

Panca jaya merupakan butir-butir ajaran sebagai rujukan penetapan standar kriteria atau tolok ukur hidup dan kehidupan manusia.

 

5.1.Jayeng Dhiri.

Jayeng dhiri artinya mampu menguasai, mengendalikan, serta mengelola dirinya sendiri, sehingga mampu menyelesaikan semua persoalan hidup yang dihadapinya, tanpa kesombongan ( ora rumangsa bisa, nanging bisa rumangsa lan hangrumangsani, kanthi rasa, rumangsa, lan pangrasa ).

 

5.2.Jayeng Bhaya.

Jayeng Bhaya artinya mampu menghadapi, menanggulangi, dan mengatasi semua bahaya, ancaman, tantangan, gangguan, serta hambatan yang dihadapinya setiap saat, dengan modal kepandaian, kepiawaian, kecakapan, akal, budi pekeri, ilmu, pengetahuan, kecerdikan, siasat, kiat-kiat, dan ketekunan yang dimilikinya. Dengan modal itu, seseorang diharapkan mampu mengatasi semua permasalahan dengan cara yang optimal, tanpa melalui pengorbanan ( mendatangkan dampak negatif ), sehingga sering disebut ‘nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake‘ ( menyerang tanpa pasukan, menang dengan tidak mengalahkan).

 

5.3.Jayeng Donya.

Jayeng donya artinya mampu memenuhi kebutuhan kehidupan di dunia, tanpa dikendalikan oleh dorongan nafsu keserakahan. Dengan kemampuan mengendalikan nafsu keserakahan di dalam memenuhi segala bentuk hajat serta kebutuhan hidup, maka manusia akan selalu peduli terhadap kebutuhan orang lain, dengan semangat tolong menolong, serta memberikan hak-hak orang lain, termasuk fakir miskin ( orang lemah yang nandang kesusahan/ papa cintraka).

 

5.4.Jayeng Bawana Langgeng.

Jayeng bawana langgeng artinya mampu mengalahkan semua rintangan, cobaan, dan godaan di dalam kehidupan untuk mempersiapkan diri, keturunan, dan generasi penerus sehingga mampu mencapai kebahagiaan hidup dan kehidupan di dunia dan akhirat.

 

5.5.Jayeng Lana ( mangwaseng hurip lahir batin kanthi langgeng ).

Jayeng lana artinya mampu secara konsisten menguasai serta mengendalikan diri lahir dan batin, sehingga tetap berada pada hidup dan kehidupan di bawah ridlo Ilahi.

6. Panca Daya.

Panca daya merupakan butir-butir ajaran sebagai rujukan sikap dan perilaku manusia sebagai insan sosial, atau bagian dari warga masyarakat, bangsa dan negara. Di samping itu sementara para penghayat spiritual kebudayaan Jawa mengisyaratkan bahwa pancadaya itu merupakan komponen yang mutlak sebagai syarat pembangunan masyarakat yang adil, makmur, sejahtera, aman, dan sentosa lahir batin.

 

6.1.Daya Kawruh Luhuring Sujanma.

Daya kawruh luhuring sujanma artinya kekuatan ilmu pengetahuan yang mampu memberikan manfaat kepada kesejahteraan alam semesta.

 

6.2.Daya Adiling Pangarsa.

Daya adiling pangarsa/tuwanggana artinya kekuatan keadilan para pemimpin.

 

6.3.Daya Katemenaning Pangupa Boga.

Daya katemenaning pangupa boga artinya kekuatan kejujuran para pelaku perekonomian ( pedagang, pengusaha ).

 

6.4.Daya Kasetyaning Para Punggawa lan Nayaka.

Daya kasetyaning para punggawa lan nayaka artinya kekuatan kesetiaan para pegawai/ karyawan.

 

6.5.Daya Panembahing Para Kawula.

Daya panembahing para kawula artinya kekuatan kemuliaan akhlak seluruh lapisan masyarakat ( mulai rakyat kecil hingga para pemimpinnya; mulai yang lemah hingga yang kuat, mulai yang nestapa hingga yang kaya raya, mulai kopral hingga jenderal, mulai sengsarawan hingga hartawan ).

 

7. Panca Pamanunggal ( Panca Panunggal ).

Panca pamanunggal adalah butir-butir ajaran rujukan kriteria sosok manusia pemersatu. Sementara tokoh penghayat spiritual jawa menyebutkan bahwa sosok pimpinan yang adil dan akan mampu mengangkat harkat serta martabat bangsanya adalah sosok pimpinan yang di dalam jiwa dan raganya bersemayam perpaduan kelima komponen ini.

 

7.1.Pandhita Suci Hing Cipta Nala.

Pandita suci hing cipta nala adalah sosok insan yang memiliki sifat fitrah, yaitu kesucian lahir batin, kesucian fikir dan tingkah laku demi memperoleh ridlo Ilahi.

 

7.2.Pamong Waskita.

Pamong waskita adalah sosok insan yang mampu menjadi pelayan masyarakat yang tanggap aspirasi yang dilayaninya.

 

7.3.Pangayom Pradah Ber Budi Bawa Bawa Leksana.

Pangayom pradhah ber budi bawa leksana adalah sosok insan yang mampu melindungi semua yang ada di bawah tanggungjawabnya, mampu bersifat menjaga amanah dan berbuat adil berdasarkan kejujuran.

 

7.4.Pangarsa Mulya Limpat Wicaksana.

Pangarsa mulya limpat wicaksana artinya sosok insan pemimpin yang berbudi luhur, berakhlak mulia, cakap, pandai, handal, profesional, bertanggungjawab, serta bijaksana.

 

7.5.Pangreh Wibawa Lumaku Tama.

Pangreh wibawa lumaku tama artinya sosok insan pengatur, penguasa, pengelola yang berwibawa, memiliki jiwa kepemimpinan yang baik, mampu mengatur bawahan dengan kewenangan yang dimilikinya, tetapi tidak sewenang-wenang, karena berada di dalam selalu berada di dalam koridor perilaku yang mulia (laku utama).

 

 

About SABDå

gentleman, Indonesia Raya

Posted on Desember 12, 2008, in Wahyu Panca Warsita and tagged . Bookmark the permalink. 16 Komentar.

  1. Sungguh,seandainya bisa dilaksanakan saya punya gagasan:

    Semuanya saja untuk para calon2 pemimpin bangsa dan para calon legislatif,agar diberi tuntunan WAHYU PANCA WARSITA,karena dng memahami dan menghayati serta melaksanakan wahyu tsb.,bumi Nusantara ini akan adil tata tentrem kerta raharja.

    IKHLAS BAKTI BINA BANGSA BERBUDI BAWALAKSANA

    matur nuwun mugi sugeng karaharjan.

  2. Salam Sejati
    Eyang Kakung, he eh he eh itulah sulitnya di sini ini sebenarnya mulai dari sistem, budaya dan agama serta pegangan hidup atau apapun serta pemahamannya wuuuuiiis heeebat tenan, moooo coba diskusi apa ma mereka mereka dijamiiiiin jawabannya ceessspleng deh manjur bin mujarab thea, yang masih belooom mau khan cumaaaa penghayatan dan pengamalannya thok .. he he he
    Habissss duit geeeede niiiih kkhhhhhaaaann belom baliiiik mmooodooll eh mooodaaall, apaaalaaagi uuunntung begicuuuu
    Kang Mas Sabda Langiiit jangan lupa yah oleeeeeh oleeeehnya bawain gaajjaahh Putih selusin aja tapi jangan yang bengkak bengkak, semoga sampeyan selamat dan bahagia serta sukses selalu
    God Bless U

  3. Sugeng karaharjan.
    Kang Boed memang begitulah pemimpin sekarang umumnya.
    Mangkanya para calon pemimpin,perlu siram jamas dikawah
    candradimuka agar hati-pikiran dan budi benar2 siap untuk
    memayu hayuning jagad tanpa mengharapkan materi yg hilang.

    SURADIRA JAYAHADININGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI

    menapa mekaten Kang Mas Sabda Langit ???
    Semoga Tuhan beserta kita.

  4. Estu leres Yangkung dan adimas KangBoed.
    Yangkung yg saya anggap sebagai sesepuh semoga kersa menularkan segala kebijakan dan kearifan kepada para kawula muda penerus bangsa, agar tak tercemar polusik menange dewe, golek benere dewe”.
    Adimas Kangboed semakin pesat ya… 🙂 kebahagiaan anda semua merupakan kebahagiaan saya.
    salam sejati
    rahayu

  5. Salam Cinta dan Damai
    Hmm…… akhir kata walau dengan berat hati… yayaya… sangat beraaat sekali saya ingin mengucapkan selamat tinggal kepada para sahabatku semuanya yang walau kukenal dalam dunia maya… maya… walau hanya sekejap saja hanya kurang dari 4 bulan saya berkeliling tetapi sungguh membekas begitu dalamnya di hati saya seakan saya menemukan berbagai macam karakter orang orang yang unik dan langka…. yayaya… tetapi pada dasarnya dibalik semuanya itu saya merasakan kepolosan dan kebersihan serta kejernihan hati yang sungguh sangat sulit ditemukan lagi di dunia luar sana… pertahankan terus semangat dan rasa persaudaraan yang mulai terbentuk sedikit demi sedikit dan tingkatkan serta wujudkan menjadi satu kreasi dan karya yang nyata minimal sedikit demi sedikit dalam membangkitkan moral di sekeliling kita dan memberikan ketenangan jiwa bagi lingkungan kita….
    Mohon maaf semua saudaraku… mungkin seperti mBak ILL berkata mengenai pengkaderan… yayaya… saya menganggap bahwa saya telah membangkitkan jiwa kang Boed yang asli dan sudah saatnya saya sebagai tiruannya dari kang Boed untuk kembali ketempat asalnya… sebagai Preman Jalanan… Kuli Bangunan… yayaya… sebagai BoedJeger Kiaracondong… yang tentunya sebenarnya sangat oon dan GAPTEK mengenai teknologi sehingga dengan mudahnya dikerjain dan dipermalukan… hahahaha… salute…. two thumb ups…. tapi semua ini menyadarkan saya kembali bahwa belum saatnya saya terjun dalam dunia maya seperti ini… hahahaha… sekali OON teteeep OON.. karenanya biar saya mundur dulu… dan mungkin jika nanti saya kangen dan sudah tidak begitu gaptek mungkin saya akan kembali….
    Akhir kata saya ucapkan selamat tinggal saudara saudaraku semuanya Tetap Semangat…. Semoga ALLAH selalu menyertai perjalanan kita semuanya…..
    Dan untuk kangBoed yang asli dan Kawan Kawannya silahkan teruskan BLOG ini dan rawat baik baik dan pergunakan nama yang saya tirukan dengan sebaik baiknya… Terima Kasih saudara saudaraku semuanya yang sudah mengingatkan saya bahwa belum saatnya…. yayaya…. belum saatnya saya berkecimpung di dunia maya ini… mohon maaf sebesar besarnya………
    Salam Sayang
    Salam Hormat
    Salam Taklim
    Salam Kangen
    ci OON sur OON

  6. Jujur saja, diam-diam saya telah banyak belajar kepada KangBoed, dan sahabat kita ini telah memberikan warna mewarnai gegap gempitanya suasana persahabatan. Menjadikan hidup lebih hidup penuh kehangatan. Namun siapapun pasti akan pernah mengalami godaan/gangguan yg terkadang membuat batin tidak tenang dan nyaman. Bisa saja hal yg sama terjadi pada kita-kita semua. Dan seyogyanya kita jadikan saja sebagai “kawah candradimuka” untuk menggembleng mental dan emosi kita. Gangguan, hambatan, kesulitan, kadang kita butuhkan sebagai sarana LABORATORIUM dan sarana pendidikan pelatihan (diklat) kehidupan untuk menjadi yg lebih baik lagi. Human error dan kebablasan dapat dijadikan sebagai suatu pelajaran berharga.
    Namun Saya tetao salut pada Lanceuk ku abdi KangBoed yg tidak terpancing emosi malah tetap konsisten dalam canda tawanya, hanya saja memang perlu COOLING DOWN utk sejenak waktu, dan saya berharap sekali dapat segera berkumpul lagi dalam kebersamaan, kehangatan, dan keselarasan rahsa sejati. Semoga sikap maaf memaafkan menjadi sebuah keindahan diakhir cerita.
    Buat lanceuk Kangboed siapa tahu waktu yg ada juga bermanfaat utk mempraktekan “penyelarasan” sebagaimana Mas Ngglosor ajarkan.
    salam sejati
    we are always waiting for u…

  7. MAAF SEBELUMNYA…MAU NUMPANG BACA….
    MENURUT HEMAT SAYA BAHWA NUSANTARA ATAU INDONESIA INI TIDAK PERLU LAGI PUNYA DASAR SEPERTI PANCASILA KARENA AKAN MENAMBAH KESEMERAWUTAN BATIN INDIVIDU. HANYA SAJA KEINGINAN PARA PEMIMPIN INGIN MEMAKSAKAN SUATU KEHENDAK FAHAM KEPADA SELURUH MANUSIA. JADI KURANG LEBIH FASIS JUGA. MISALNYA INDIVIDU YANG BERAGAMA ISLAM YG BERDASARKAN AL-QURAN DAN HADITS HARUS NAMBAH LAGI DENGAN PANCASILA ! BEGITU JUGA INDIVIDU DILUAR ISLAM…SEHARUSNYA INDIVIDU DIBERI KESEMPATAN HANYA PUNYA SATU KEYAKINAN DAN TANPA HARUS MEMAKSAKAN KEYAKINANNYA KEPADA INDIVIDU LAIN….NAH BAGAIMANA DENGAN UNDANG2NYA??? TERIMA KASIH.

    • Menurut saya, Pancasila digali dari segi hakikatnya adalah bersumber dari Kebaikan Sejati. Sila pertama saja merupakan esensi Tauhid yg sangat fundamental. Ketuhanan Yang Maha Esa.(selaras dgn 1/3 isi Al-Quran) Begitu juga dengan sila2 yang lain. Istilah “Pancasila” dalam kitab Sutasoma digagas oleh Mpu Tantular, seorang ulama Islam lawas, yg saat ini tinggal di Bali. Salam

  8. Manindo Yth
    Anda silahkan memperdalam filsafat dan ilmu politik dahulu. Agar dpt membedakan mana keyakinan, mana ideologi, mana utopia. Justru dasar pemikiran anda yg carut marut, jadinya buruk muka cermin dibelah.
    Ternyata masih ada sebagian rakyat yg perlu belajar, apa beda ideologi politik dgn “ideologi” keyakinan menurut panjenengan?
    Salam karaharjan

  9. Sugeng Raharjo Kangmas Sabdo.
    Mugi Karahayon dumateng poro sederek sedoyo.

    Nuwun sewu, nderek ngangsu kawruh.
    Apa tanda \ wujud \rasa kalau mendapat wahyu tertentu itu kamas Sabdo?
    Apakah timbulnya pemahaman baru\cara pandang baru terhadap sesuatu hal dari hasil renungan itu sama dengan wahyu atau ilham atau???

  10. Ki Agung Gledek Sayuto

    pancasila adalah tiruan pancasila buddhist. dulu awalnya mau ditulis syariat didalamnya tapi karena banyak pemuda nasrani kurang terkumpl voting, sehingga pancasila buddhist lah yang ditiru, meski isinya berbeda.
    saya kurang suka simbol umat hindu dibuat begitu, ditaruh badge didada lalu kakinya memegang tulisan. garuda itu aslinya manusia cuma kepalanya saja yang burung. tapi ya sudahlah itu bukan urusan saya.

    saya hendak menyinggung perihal dalam babon ngayogyakarto, “pemuda berwajah sama, piandelnya pun sama.” berwajah sama jelas karena wajah saya saat itu ikut-ikutan hitam. kalau sekarang masih gak sama berhubung kulit saya agak putih. siapapun yang berkulit putih gak bisa jadi ratu adil, sawomatang saja gak bisa. harus hitam legam dan kekanak-kanakan. “berwajah seperti khrisna” – jayabaya.

    sedangkan yang dimaksud “piandelnya juga sama,” adalah ceweknya sama. yaitu bagian dunia untuk sp indonesia, sedangkan bagian spiritual untuk saya. dikarenakan bagi sp indonesia itu Allah, sedangkan bagi saya itu Dewi Durga.

    “memakai nama sepuh” – jayabaya. nama sepuh itu bukan ki, ki itu jika punya cewek. nama sepuhnya adalah Sang Suci Bhikkhu Dhammaraja. Nah, meskipun Bhikkhu Dhammaraja hidup selibat tanpa menyentuh wanita, tapi untuk urusan beladiri, Bhikkhu Dhammaraja berlatih bersama wanita inkarnasi Dewi Durga itu. Begitulah kiranya.

    Pernah saya ditanyai “kenapa kamu keluar dari liga hermes (pandawa) dan berada di pihak kami?” Jawab saya, “rebutan cewek.” Mereka pun memaklumi. Tapi itu cuma becanda saja, gak usah dianggap serius.

    • Ki Agung Gledek Sayuto

      Saya memakai nama ki agung disini dengan maksud untuk mengakrabkan diri dengan sabdolangit dan kawan-kawan dari aliran kejawen. semoga sabdolangit dan kawan-kawan bisa memaklumi sikap saya ini dan tidak dianggap saya bermaksud menipu dengan adanya dua nama yang saya gunakan. karena pernah ada orang berkata pada saya, “kalau saya online saya satu nama saja, gak pakai banyak nama untuk menipu orang.” saya terkejut melihat pernyataannya, tapi itulah orang muslim selalu berprasangka buruk.

  11. Ki Agung Gledek Sayuto

    babon ngayogyakarta adalah versi gubahan muslim, dimana dipaksakan adanya keterlibatan muslim juga disitu, syukur-syukur kalau spnya muslim.
    jadi, TIDAK BENAR jika ada orang berkata, “sp itu kan awalnya dua.” kalau dalam ramalan jayabaya kediri, itu bukan disebut sp awalnya dua tapi disebut yang satu lagi palsu alias bukan sp. simpel saja kan.
    tapi itu soal kecil, gak usah kita ributkan.
    meski begitu perlu bagi saya. kata prabu siliwangi III, “kamu perlu dibuat tantangan sedikit. dulu sewaktu hitler, saya permudah malah kamu kalahkan jerman karena kamu bosan.”
    ya prabu siliwangi benar, tapi saya juga benar. gak perlu perempuan membuat tantangan agar mau dipegang pria. pria yang begitu pria bodoh. saya gak mau begitu, perempuan bukan siapa-siapa. lagipula kalau saya jadi pemimpin nanti orang-orang yang masih pakai caa begitu saya tindak tegas. misalnya si a bilang, “saya mau belajar ngobat nih” lalu temannya bilang “seberapa kuat dulu keinginannnya..” nah, orang-orang kayak gini saya tindak tegas. dan saya betul-betul serius atas ucapan saya itu. karena telah terjadi suatu kesalahan pandang ditengah masyrakat, itu tugas saya membereskannya.

    perbaiki saja diri sendiri. jadilah barang jadi untuk orang lain. perpisahan itu biasa. cerai itu adalah tanda salah pilih jodohm dan masihbanyak yang bisa saya ajar soal itu. tapi tidak perlu. saya gak mau mengganggu kenyamanan pengunjung blog ini. karena itu saya cuma berkomentar yang penting-penting saja.

    • Ki Agung Gledek Sayuto

      Sebagai ratu adil saya gak pernah menguji orang, misal saya buat marah dulu, lalu dilihat masih senang gak dia. waduh kok sombong banget sih, baru jadi ratu adil.
      semua orang itu sama dihadapanNya. gak usah nguji-nguji orang. kita sama-sama darah dan daging.
      saya sudah barang jadi untuk rakyat. rakyat sudah jadi belum untuk saya? gitu saja.

      • Ki Agung Gledek Sayuto

        kalau cara-cara yang dilakukan guru muslim itu baru sekedar buat murid atau pengikut jadi setia atau patuh. tapi kalau cara-cara saya betul-betul mentransformasi negara.
        kalau gak cocok nanti tinggal dilepas. belum tentu orang sudah diuji tidak pergi atau tetap cocok. jadi, tetap saja cara orang islam itu tidak becus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: