WIRID SALOKA JATI; memahami jati diri

WIRID SALOKA JATI

 

Wirit Saloka Jati digelar sebagai upaya para leluhur bangsa kita untuk menjabarkan keadaan jati diri kita. Sebagaimana kebiasaan leluhur nenek moyang kita, dengan tujuan agar supaya “kawruh lan ngelmu” lebih mudah dipahami para generasi penerus bangsa maka digunakanlah sanepa, saloka, kiasan, perumpamaan, dan perlambang. Dalam acara ritual atau upacara tradisi; perlambang, saloka, dan sanepa ini diwujudkan ke dalam ubo rampe atau syarat-syarat yang terdapat dalam sesaji.

     Serat ini menggelar arti dari kalimat kiasan (saloka), yakni perumpamaan mengenai suatu makna yang dimanifestasikan dalam bentuk peribahasa. Mulai dari eksistensi yang dicipta-Yang mencipta, eksistensi jiwa, sukma, hingga eksistensi akal budi. Yang akan meneguhkan keyakinan  kepada Gusti Pengeran (Tuhan Yang Mahamulia). Peribahasa dalam terminologi Jawa sebagai “pasemon” atau kiasan. Kiasan diciptakan sebagai pisau analisa, di samping memberi kemudahan pemahaman akan suatu makna yang sangat dalam, rumit dicerna dan sulit dibayangkan dengan imajinasi akal-budi. Berikut ini saloka yang paling sering digunakan dalam berbagai wacana falsafah Kejawen.

 

  1. Gigiring Punglu; Gigiring mimis; Merupakan perumpamaan akan ke-elokan Zat Tuhan. Yakni perumpamaan hidup kita, tanpa titik kiblat dan tanpa tempat, hanya berada di dalam hidup kita pribadi.
  2. Tambining Pucang; Menunjukkan ke-elokan Zat Tuhan, ke-ada-an Tuhan itu dibahasakan bukan laki-laki bukan perempuan atau kedua-duanya. Dan bukan apa-apa, seperti apa sifat sebenarnya, terproyeksikan dalam sifat sejatinya hidup kita pribadi.
  3. Wekasaning Langit; batas langit ; umpama batas jangkauan pancaran cahaya. Yakni pancaran cahaya kita. Sedangkan tiadanya batas jangkauan cahaya, menggambarkan keadaan sifat kita.
  4. Wekasaning Samodra tanpa tepi; berakhirnya samodra tiada bertepi; maksudnya ibarat batas akhir daya jangkauan rahsa atau rasa (sirr). Mengalir sampai ke dalam sejatinya warna kita.
  5. Galihing Kangkung; galih  adalah bagian kayu yang keras atau intisari di dalam pohon) galihnya pohon kangkung (kosong); maksudnya, perumpamaan ke-ada-an sukma, yang merasuk ke dalam jasad kita. Ada namun tiada.
  6. Latu sakonang angasataken samodra; bara api setungku membuat surut air samodra. Menggambarkan keluarnya nafsu yang bersinggasana di dalam pancaindra, dapat membuat sirna segala kebaikan.
  7. Peksi miber angungkuli langit; burung terbang melampaui langit. Menggambarkan kekuatan akal budi kita yang bersemayam di dalam penguasaan nafsu, namun sesungguhnya akal budi mampu mengalahkan nafsu.
  8. Baita amot samodra; perahu memuat samodra; baita atau perahu kiasan untuk badan kita, sedangkan samodra merupakan kiasan untuk hati kita. Secara fisik hati berada di dalam jasad. Tetapi secara substansi jasad lah yang lebih kecil dari hati.
  9. Angin katarik ing baita ; angin ditarik oleh perahu. Menggambarkan pemberhentian nafas kita dalam jasad, sedangkan keluarnya nafas dari dalam jasad kita pula. Dalam jagad besar, prinsip fisika merumuskan angin lah yang menarik atau mendorong perahu. Sebaliknya dalam jagad kecil, rumus biologis maka badan lan yang menarik angin. Ini menggambarkan prinsip imbal balik jagad besar dan jagad kecil.
  10. Susuhing angin ; sarangnya angin. Menggambarkan terminal sirkulasi nafas kita berada dalam jantung.
  11. Bumi kapethak ing salebeting siti; bumi ditanam di dalam tanah. Menggambarkan asal muasal jasad kita berasal dari tanah, kelak pasti akan kembali (terkubur) menjadi tanah.
  12. Mendhet latu adadamar (mengambil bara sambil membawa api); atau latu wonten salebeting latu (bara di dalam bara); atau latu binesmi ing latu (bara terbakar oleh bara); menggambarkan badan kita berasal dari bara api,  selalu mengeluarkan api, keadaan untuk menggambarkan  sumber dan keluarnya hawa nafsu kita.
  13. Barat katiup angin; atau angin anginte prahara; angin tertiup angin. menggambarkan wahana yang menghidupkan badan kita berasal dari udara, selalu mengeluarkan udara, yakni nafas kita.
  14. Tirta kinum ing toya (air tertelan oleh air), atau ngangsu rembatan toya (menimba dengan air); atau toya salebeting toya (air di dalam air); menggambarkan badan kita berasal dari air, selalu dialiri dan mengalirkan air,  maksudnya darah kita.
  15. Srengenge pinepe, atau kaca angemu srengenge; matahari terjemur, kaca mengandung matahari; artinya bahwa adanya cahaya karena sinar dari sang surya. Surya itu sendiri berada di dalam cahaya. Hal ini menggambarkan keadaan indera mata atau netra kita ; mata itu seperti matahari, namun mata dapat melihat karena selalu disinari oleh sang surya.
  16. Wiji wonten salabeting wit (biji berada dalam pohon); dan wit wonten salebeting wiji (pohon berada di dalam biji) ; dinamakan pula “peleburan papan tulis”. Menggambarkan keadaan bahwa ZAT Tuhan berada dalam wahana makhluk, dan makhluk berada dalam wahana Tuhan (Jumbuhing kawula-Gusti).
  17. Kakang barep adhine wuragil ; kakaknya sulung, adiknya bungsu.  Menggambarkan martabat insan kamil, keadaan sejatinya diri kita. Hakekat kehidupan kita sebagai “akhiran” dan sekaligus sebagai “awalan”. Pada saat manusia lahir dari rahim ibu merupakan awal kehidupannya di dunia, sekaligus akhir dari sebuah proses triwikrama atau tiga kali menitisnya “Dewa Wisnu” menjadi manusia melewati 4 zaman; kertayuga, tirtayuga, dwaparayuga, kaliyuga/mercapadha/bumi. Sedangkan ajal, merupakan akhir dari kehidupan (dunia), namun ajal merupakan awal dari kehidupan baru yang sejati, azali abadi.
  18. Busana kencana retna boten boseni, atau busana wrasta tanpa seret. Gambaran jasad yang dibungkus kulit sebagai “busana”. Kita tidak pernah bosan biarpun tidak pernah ganti “busana” atau kulit kita. Kulit merupakan “busana” pelindung dari tubuh kita.
  19. Tugu manik ing samodra ; menggambarkan daya cipta yang terus menerus berporos hingga pelupuk mata. Daya cipta akal budi manusia jangkauannya umpama luasnya samodra namun konsentrasinya terfokus pada mata batin.
  20. Sawanganing samodra retna; pemandangan intan samodra. Menggambarkan pintu pembuka kepada keadaan Tuhan. Tabir pembuka hakekat Zat. Yakni “babahan hawa sanga” atau sembilan titik yang terdapat di dalam diri manusia  sebagai penghubung kepada Zat Maha Kuasa. Disebut juga kori selamatangkeb; melar-mingkupnya maras atau membuka-menutupnya mulut).
  21. Samodra winotan kilat ; samodra berjembatan kilat. Dalam Islam disebut jembatan “siratal mustaqim”. Menggambarkan pesatnya yatma sampai pada ngabyantaraning Hyang Widhi. Adapula yang mengartikan “jembatan kilat”, sebagai perlambang keluarnya ucapan mulut manusia.
  22. Bale tawang gantungan ; rumah atau tempatnya langit bergantung. Dalam  terminologi Islam disebut arsy atau aras kursi atau kursi kekuasaan Tuhan. Namun bukan dibayangkan sebagai singgasana yang diduduki Tuhan bertempat di atas langit (ke 7), imajinasi demikian justru memberhalakan Tuhan sebagaimana  makhlukNya saja. Dalam konteks ini, aras atau tawang gantungan adalah perumpamaan kekuasaan, yang menjadi “wajah” Tuhan. Hakekatnya sebagai “balai sidang” Zat, keberadaannya di dalam kepala dan dada. Sedangkan kursi, atau dilambangkan bale, merupakan perumpamaan singgasana (palenggahan) Zat. Letaknya ada di otak dan jantung. Singkatnya, kepala dan dada sebagai tawang gantungan, sedangkan otak dan jantung sebagai bale-nya.
  23. Wiji tuwuh ing sela; biji tumbuh di atas batu. Dalam termonologi Islam diistilahkan laufhulmahfudz loh-kalam. Loh/laufhul itu artinya papan atau tempat, sedangkan al makhfudz berarti dijaga/kareksa. Maknanya adalah tempat yang selalu dijaga Tuhann. Yakni hakekat dari “sifat” Zat yang terletak di dalam jasad yang selalu dijaga “malaikat” Kariban. Malaikat merupakan perlambang dari nur suci (nurullah) atau cahyo sejati. Cahyo sejati menjadi pelita bagi rasa sejati atau sirr. Sedangkan loh-kalam artinya bayangan atau angan-angan Zat letaknya di dalam budi, tumbuhnya angan-angan, dijaga oleh malaikat Katiban. Malaikat katiban adalah pralambang dari sukma sejati yang selalu menjaga budi agar tidak mengikuti nafsu.
  24. Tengahing arah; titik tengahnya arah. Ibarat mijan atau traju. Yakni ujung dari sebuah senjata  tajam. Menggambarkan hakekat dari neraca (alat penimbang) Zat. Traju terletak pada instrumen pancaindra yakni; netra (penglihatan), telinga (pendengaran), hidung (pembauan), lidah dan kulit (perasa). Dalam pewayangan dilambangkan sebagai Pendawa Lima; Yudhistira, Bima/Werkudara, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Makna untuk menggambarkan panimbang (alat penimbang)  hidup kita yang berada pada pancaindra.
  25. Katingal pisah ; terkesan pisah.  Menggambarkan keadaan antara Zat (Pencipta) dengan sifatnya (makhluk) seolah-olah terpisah. Sejatinya antara Zat dengan sifat  tak dapat dipisahkan. Sebab biji dapat tumbuh tanpa cangkok. Sebaliknya cangkok tidak tumbuh bila tanpa biji. Biji menggambarkan eksistensi Tuhan, sedangkan cangkok menggambarkan eksistensi manusia. Kiasan ini   menggambarkan hubungan antara kawula dengan Gusti. Walaupun seolah eksis sendiri-sendiri, namun sesungguhnya manunggal tak terpisahkan dalam pengertian “dwi tunggal”  (loroning atunggil).
  26. Katingal boten pisah; tampak tidak terpisah. Menggambarkan solah dan bawa. Solah adalah gerak-gerik badan. Bawa atau krenteg adalah gerak-gerik batin.  Solah dan bawa tampak seolah tidak terpisah, namun keduanya tergantung rasa. Solah merupakan rahsaning karep (nafsu/jasad), sedangkan bawa merupakan kareping rahsa (pancaran Zat sebagai rasa sejati). Keduanya dapat berjalan sendiri-sendiri. Namun demikian idealnya adalah Solah harus mengikuti Bawa.
  27. Katingal tunggal ; tampak satu. Menggambarkan zat pramana (mata batin), dengan sifatnya yakni netra (mata wadag) tidaklah berbeda. Artinya, penglihatan  mata wadag dipengaruhi oleh mata batin.
  28. Medhal katingal ; Menggambarkan keluarnya sifat hakekat (Tuhan) ke dalam zat sifat (makhluk), yakni ditandai dengan ucapan lisan menimbulkan suara.
  29. Katingal amedhalaken ; menggambarkan keluarnya nafas. Sedangkan kenyataannya menghirup atau memasukkan udara, yang seolah-olah mengeluarkan.
  30. Menawi pejah mboten kenging risak ; bila mati tidak boleh rusak. Ibarat sukma dengan raga. Bila raga rusak, sukmanya tetap abadi. Dalam terminologi Islam disebut alif muttakallimun wakhid. Sifat yang berbicara sepatah tanpa lisan. Berupa kesejatian yang berada dalam sukma, yakni roh kita sendiri.
  31. Menawi karisak mboten saget pejah ; bila dirusak tidak bisa mati. Perumpamaan untuk hubungan nafsu dan rasa. Walaupun nafsu dapat kita dikendalikan, namun rasa secara alamiah tidak dapat disirnakan. Karena rasa dalam cipta masih terasa, terletak dalam rahsa/sirr kita pribadi. Berhasil menahan nafsu dapat diukur dari perbuatannya; raganya tidak melakukan pemenuhan nafsu, tetapi rasa ingin memenuhi kenikmatan jasad tetap masih ada di dalam hati. Saloka ini untuk memberi warning agar kita waspadha dalam “berjihad” melawan nafsu diri pribadi.  Karena kesucian sejati baru dapat diraih apabila keingingan jasad (rahsaning karep) sudah sirna berganti keinginan rahsa sejati (kareping rahsa).
  32. Sukalila tega ing pejah ; sukarela dan tega untuk mati. Menggambarkan orang mau mati, dengan menjalani tiga perkara; pertama, sikap senang seperti merasa akan  mendapat kegembiraan di alam kasampurnan. Kedua, rela untuk meninggalkan semua harta bendanya dan barang berharga. Ketiga,  setelah tega meninggalkan semua yang dicinta, disayang dan segala yang memuaskan nafsu dan keinginan,  semuanya ditinggal. Mati di sini berarti secara lugas maupun arti kiasan. Orang yang berhasil meredam hawa nafsu dan meraih kesucian sejati hakekatnya orang hidup dalam kematian. Sebaliknya orang yang selalu diperbudak nafsu hakekatnya orang yang sudah mati dalam hidupnya. Yakni kematian nur atau cahaya sejati.

 

Semua yang disebut; besar, luas, tinggi, panjang, lebih, ialah bahasa yang digunakan untuk mengumpamakan keadaan Tuhan. Sebaliknya, semua yang disebut kecil, sempit, rendah, pendek, kurang, dan seterusnya ialah bahasa yang dugunakan untuk menggambarkan “sifat” yakni wujudnya kawula (manusia).

Gambaran menyeluruh namun ringkas mengenai keadaan Zat-sifat (kawula-Gusti) sebagaimana “cangkriman” berikut ini;

 

bothok banteng winungkus ing godhong asem kabiting alu bengkong

 

Bothok : sejenis pepesan untuk lauk, terdiri dari parutan kelapa, bumbu-bumbu, lalu dibungkus daun pisang dan dikukus. Bothok berbeda dengan pepes atau pelas, cirikhasnya ada rasa pedas. Campurannya menentukan nama bothok, misalnya campur ikan teri, menjadi bothok teri. Lamtoro, menjadi bothok lamtoro. Udang, menjadi bothok udang. Adonan bothok lalu dibungkus dengan daun pisang. Dan digunakan potongan lidi sebagai pengunci lipatan daun pembungkus.

 

Nah, dalam pribahasa ini bahan untuk membuat bothok adalah hewan banteng. Sehingga namanya menjadi bothok banteng. Dibungkus dengan daun asem jawa, yang sangat kecil/sempit. Sedangkan tusuk penguncinya menggunakan alu semacam lingga terbuat dari kayu sebagai alat tumbuk padi. Alu itu panjang dan lurus, namun alu di sini bengkok. Jadi mana mungkin digunakan sebagai bothok.

 

Cangkriman di atas adalah pribahasa yang menggambarkan keadaan yang tampak mustahil jika dipahami hanya menggunakan akal budi saja. Bothok banteng maknanya adalah menggambarkan adanya Zat, yang tidak lain adalah kehidupan kita pribadi. Godhong asem ; menggambarkan keadaan “sifat” yakni sebagai bingkai kehidupan kita, kenyataan dari beragamnya manusia. Alu bengkong, menggambarkan afngal semua, yakni pekerti hidup kita.  Singkatnya, berdirinya hidup kita ini asisinglon warna kita, tampak dari solah dan bawa. Selain makna di atas, bothok banteng diartikan pula sebagai air mani. Godhong asem, adalah kiasan untuk per-empu-an. Alu bengkong adalah kiasan untuk purusa, yakni kemaluan laki-laki.

sabdalangit

Iklan

About SABDå

gentleman, Indonesia Raya

Posted on Januari 17, 2009, in WIRID SALOKA JATI; memahami jati diri and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. 19 Komentar.

  1. Selamat siang sabda langit, Pada masa sekarang banyak yang kurang senseitif untuk mengendalikan nafsunya, sedangkan berhubungan dengan jati diri manahan nafsu dapat diukur dari perbuatannya, kita lihat banyak pasangan yang sudah menikah masih selingkuh lain kata ia tidak dapat menjaga jati dirinya, manawi karisak mboten saged pejah. Ngono lho mas ! Okay terima kasih untuk tulisannya yang banyak menginspirasi saya.

    Regards. agnessekar.wordpress.com

  2. Mas Sabda langit,

    Memang ndak mudah loh mengendalikan diri, apalagi hawa nafsu.
    Insya Allah, semakin banyak masukan semakin bisa pelan pelan bisa menguasai “kuda merah” di diri saya pribadi.

    terima kasih atas semua tulisannya mas.

    salam,

  3. ass …
    manusia sumber kelemahan
    dengan kekuatan sendiri selalu masuk pusaran dualitas
    kalah dan menang, baik dan buruk
    sehingga perjalanan kita terus seperti roda yang berputar
    kadang diatas kadang dibawah
    Hanya kekuatan kesadaran dalam penyerahan dirilah
    menyerahkan seluruh unsur diri pada yang empunyaNYA
    kepada Yang Tak Terkena Dualitas
    Maka hanya dengan anugerah Beliaulah
    maka kita bisa keluar sebagai pemenang sejati
    manusia yang sadar dengan kemanusiaannya
    manusia yang satu manunggal dengan rasa jati
    manusia yang perkataan dan hatinya satu
    manusia yang bertindak dan berlaku sesuai dengan kata hatinya
    manusia yang melepas segala kehendaknya pada kehendakNYA
    manusia yang melepas segala kemauannya pada kemauanNYA
    manusia yang melepas segala kekuasaannya pada kekuasaanNYA
    manusia yang mempergunakan ilmuNYA untuk mencari ilmu tentang hidup dan kesejatian hidup.
    hidup yang tak kena mati, hidup yang tanpa awal dan akhir
    hidup yang tak kena susah dan senang, itulah sejatinya hidup
    manusia yang melangkah sesuai dengan kata hatinya, nuraninya
    manusia yang berjiwa besar dan berhati bersih
    manusia sejati manusia sebagai mahluk ciptaan Allah yang paling sempurna, tajalli Allah, Kalifatullah, insan kamil.
    Subhanallah……………. mari kita mohonkan padaNYA
    biarlah semua itu menjadi tujuan kita masing masing
    mari tanamkan kesadaran itu dalam diri kita masing masing
    carilah ke dalam diri bukan keluar diri
    temukanlah dalam diri dan tanamkan kesadaran itu
    Semoga negeri kita menjadi negeri yang berbudi pekerti luhur
    Nuwun Mas Sabda

  4. Assalamu’alaikum Wr,Wb..

    Sebelum dan sesudahnya saya mohon maaf telah ngelink blog anda ke gubuk kecil saya tanpa ijin….

    Jika anda berkenan saya akan balik lagi dan akan memberikan komentar…..

    Semoga kita semua selalu di dalam limpahan kasih sayang_Nya

    Salam dari wanita yang hina dan fakir serta tiada daya upaya…

    Wassalamu’alaikum Wr,Wb

  5. @Mujahid Wanita;
    Suatu kehormatan bagi saya. Terimakasih doanya, ketulusan anda akan berbuah kebaikan bagi sy dan panjenengan. Silahkan di link, bila panjenengan tdk keberatan akan sy taut kemari pula. saya tunggu komentar panjenengan.

    Matur sembah nuwun
    salam taklim, salam sejati
    rahayu

  6. salam kenal b yang py blog dan pengunjung blognya mas sabdalangit….. eeemmh telat ya? hehehe gapa2 kan dari dp engak,
    setiap saya membuka dan membaca tulisan kang sabdalangit saya selalu menemukan kedamaian dan kekuatan jiwa…..
    terima kasih yang tak terhinga buat kang sabdalangit, semoga amal anda mendapatkan imbalan kebahagiaan dunia akherat….
    rahayu rahayu rahayu….

  7. Kembali kasih Aura…
    Pada gilirannya saya akan banyak belajar kpd Anda. Krn luasnya samodra ilmu hanya dapat dimengerti apabila kita menyimak ilmu-ilmu yg dimiliki oleh seluruh makhluk. Itupun jika mampu, dan tak lebih hanya setetes air laut dibanding rahasia ilmu dari Zat sumber segala sumber ilmu.

    salam sejati

  8. Bumi kapethak ing salebeting siti;
    bumi ditanam di dalam tanah. Menggambarkan asal muasal jasad kita berasal dari tanah, kelak pasti akan kembali (terkubur) menjadi tanah.

    Bumi merupakan salah satu elemen dari kelima elemen di alam semesta, merupakan elemen yang fundamental dalam memahami keadaan di muka bumi ini. Jika kita kembali ke bumi ini, kita bisa tahu bahwa manusia berasal dari tanah dan akan kembali kepada Tuhan.

    tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki.

  9. Hidup mati manusia, susah senang manusia, ditentukan oleh benih benih yang telah ditanam sejak berabad silam. Dipupuk, disiram, diolah, dengan berbagai cara, upakara, dan upacara yang terbaik yang bisa kita hadirkan.
    Tumben buka dan baca sabda langit……
    Terima kasih atas makna yang berhasil saya raih.
    Akan saya olah, paling tidak …..untuk jadi makin mateng.

  10. # Wiji wonten salabeting wit (biji berada dalam pohon); dan wit wonten salebeting wiji (pohon berada di dalam biji) ; dinamakan pula “peleburan papan tulis”. Menggambarkan keadaan bahwa ZAT Tuhan berada dalam wahana makhluk, dan makhluk berada dalam wahana Tuhan (Jumbuhing kawula-Gusti).
    apakah ini juga yg diumpamakan “dwi tunggal” (loroning atunggil).

    mohon pencerahan’a …….

  11. assalamualaikum
    numpang mampir y

  12. Assalamualaikum….
    yth,mas sabdo
    sebelumnya sy ucapkan puji syukur Alhamdulillah, tergerak nya rasa batin sy membaca kajian ini,di sertai adanya penjelasan tanyajawab,yang tentunya bisa menjadi talenta ,pencerahan bagi salik yang sedang ling lung dalam lelaku,renungan supaya menjadi temuning gelang(ketemu apa yang di cari),perkenalkan sy pareng osmo :harianto dari sy yang bodoh ini minta sedikit penjelasan tentang apa yang terjadi dalam lelaku sy.langsung aja ya mas:saat sedang wiritan dengan mata terpejam sy tiba2x mengalami kefanaan dan sekejap menjadi sebuah kesadaran nyata hanya penlihatan ,rasa semuanya ada dari dalam batin ,hanya sja yang ada dalam penglihatan semua srba putih seperti kabut,semua benda pintu ,tembok rumah semua menjadi hilang,tapi sy sdar betul da di dalam rumah,kekagetan membuat sy kembali ke keadaan semula,yang ingin sy tanyaken apa yang terjadi pada diri sy waktu itu,dan apa yang sy lihat itu bagian dari alam ghaib atau suasana batin saya aja,sebelumnya sy ucapkan terimakasih atas pencerahanya,dan juga minta maaf atas penulisannya yang kurangpas baik dalam penulisan dan penyampainya. wassalam….sy tgu jawabanya

  13. nice info gan ^_^
    Keep posting ^_^

  14. semoga bermanfaat, amiiin………

  15. trimaksh postinganya, smoga bermanfaat untk bnyak orang dn menambah pengetahuan ketahukidan

  16. Rahayu Ki Sabda
    Saya mau menanyakan apa itu mata batin dan bagaimana ciri2nya
    -Cara Membedakan hati nurani dan angan2..
    -Menajamkan rasa sejati
    -bagaimana mendapatkan kehidupan sejati dengan keadaan berumah tangga?dimana masih ada tanggung jawab yg harus kita laksanakan…contoh memberi nafkah lahir dan bati kepada istri dan anak…dan apakah saat berhubungan dengan istri itu termasuk nafsu yg menjerumuskan??atau dibolehkan..bukankah klo ingin tinggi pencapaiannya harus menekan segala hawa nafsu…nafsu mengejar harta untuk masa depan anak apakah juga tidak dibenarkan?
    Cekap semanten piyatur kulo…menawi wonten salah ucap nyuwung gunging pangapuro

    Rahayu

  1. Ping-balik: top post wp 18 januari 2009 « kuliinternet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: