LETAKKAN AGAMA DI BAWAH NEGARA

KONTEMPLASI UNTUK CAPRES CAWAPRES

Tanpa mengurangi rasa hormat, saya terpancing menanggapi statemen Cawapres Budiono dalam menjawab pertanyaan seorang penanya dalam debat Cawapres pada hari Selasa 23 Juni 09 Jam 20-21 di salah satu stasiun TV swasta. Pertanyaan yang diajukan adalah,”Melihat berbagai kekerasan berbau agama, sebaiknya di manakah agama diletakkan ? Pak Bud menjawab secara tegas dan singkat,” agama sebaiknya diletakkan di atas segalanya.

Sekilas jawaban tersebut tampak sebagai jawaban yang sangat ideal dan bijaksana.  Namun saya pribadi terperanjat mendengarnya. Saya tetap berusaha berprasangka baik kepada Pak Bud, mungkin beliau tergesa-gesa dalam menjawab, dan ia bukanlah seorang dengan latar belakang ilmu tatanegara, sosial-politik, dan ia belumlah menjadi seorang  negarawan. Beliau baru menjadi seorang praktisi ekonom dan kini sambil belajar menjadi negarawan. Semoga belajar Anda membuahkan prestasi yang gemilang seiring perjalanan waktu.

LETAKKAN AGAMA DI BAWAH NEGARA

Agama berbeda dengan Tuhan. Agama adalah bagian dari unsur budaya masyarakat, yakni sistem kepercayaan. Sistem kepercayaan yang kemudian dilembagakan oleh  manusia. Agama menjadi lembaga yang berisi tata cara, upacara, aturan, dengan seperangkat nilai yang mengatur kehidupan umat manusia dalam berhubungan dengan sesama umat dan dengan Tuhan. Di Indonesia sedikitnya memiliki 6 lembaga agama yang diakui oleh  Negara. Fungsi negara terhadap agama adalah urusan mengelola bagaimana idealnya agama hidup berdampingan dengan agama lainnya. Negara menjamin agar supaya masing-masing umat agama bisa menjalankan tata aturan agama secara merdeka dalam  arti tidak direcoki umat agama lain. Dengan demikian fungsi negara adalah sebagai wasit (arbitrasi) di antara agama-agama yang ada agar tidak terjadi benturan. Fungsi Negara sebagai PENGELOLA tetap harus netral dan adil berdiri di atas semua agama.  Apalagi Indonesia bukanlah negara agama, bukan pula hanya ada satu agama di nusantara.  Dapat dibayangkan apa yang akan terjadi jika semua agama-agama yang ada di tanah air ini diletakkan di atas otoritas negara, dalam arti peran agama lebih diutamakan ketimbang peran negara, maka konsekuensinya agama mengambil alih peranan menjadi PENGELOLA negara. Jika hal itu terjadi maka peran negara akan menjadi lemah, sebaliknya masing-masing agama akan memiliki pendirian yang berbeda dan masing-masing akan berebut pengaruh. Implikasinya bisa timbul hukum rimba siapa yang kuat atau siapa yang mayoritas akan mendominasi permainan. Negara pun akan didikte sesuai kemauan pihak yang mendominasi. Sementara agama yang memenangkan percaturan, tetap saja tidak akan mampu  mengganti peran negara sebagai pengelola bangsa. Implikasinya akan sangat berbahaya, karena Indonesia adalah bangsa yang plural, heterogen, meliputi berbagai suku, ras, agama, kelompok politik, dan golongan. Tentu saja dominasi agama apapun dalam pengelolaan negara justru akan mengakibatkan perlawanan yang bertubi dan akan menghancurkan negeri ini. Kejadian yang tidak kita semua kehendaki. Lain halnya jika negara memainkan peannya sebagai pengelola, yang menjamin kemerdekaan kepada setiap umat untuk menjalankan kegiatan peribadatan agama, maka kehidupan antar umat beragama akan menjadi tenteram, khusuk, saling menghargai, toleransi, damai sejahtera. Sehingga setiap warga bangsa secara leluasa bisa mengembangkan pencapaian  spiritualitasnya tanpa gangguan umat lainnya.

AGAMA BUKANLAH TUHAN

Mungkin membaca tulisan saya di atas, bisa saja ada yang tergesa menyimpulkan, sebagai tulisan sekuleris, melemahkan peran agama, atau yang paling ekstrim meletakkan Tuhan di bawah kekuasaan negara. TIDAK. Tuhan tetaplah Tuhan. Tuhan berbeda dengan agama. Tuhan bukanlah lembaga agama. Tuhan bukan pula sekedar nama. Nama-nama Tuhan adalah urusan bahasa manusia. Bukankah Tuhan sudah ada semenjak manusia berikut bahasanya belum diciptakan. Pada waktu itu tentu saja Tuhan belum diberikan nama apapun oleh segenap manusia. Tuhan tentu saja tidak menyembah apapun sehingga Tuhan tidak memeluk dan memerlukan satu agamapun yang ada di muka bumi ini. Agama adalah sistem kepercayaan masyarakat yang telah dilembagakan, karenanya agama sangat dibutuhkan umat manusia untuk menata kehidupan agar tertib dan teratur. Agama menyediakan jalan spiritual yang bisa dilalui oleh manusia.  Agama adalah urusan pribadi masing-masing orang. Sedangkan negara adalah lembaga besar yang mengurusi seluruh warga bangsa tanpa boleh sepihak, pilih kasih berdasarkan suku, ras, golongan, agama. Itulah garis besar negara, sudah seharusnya mengikuti rumus kebijaksanaan Tuhan.

TUHAN DI ATAS SEGALANYA

Tuhan adalah sang Causa Prima, penyebab segala yang ada di jagad raya. Penyebab utama, yang tidak disebabkan oleh suatu apapun juga. Tuhan dapat dibayangkan sebagai episentrum dari semua energi yang ada di jagad raya ini. Tuhan berada di ruang transendental di luar diri, namun ada di alam ruang pribadi manusia. Jauh tak berjarak, dekat tak bersentuhan. Tidak di mana-mana namun ada di mana-mana. Tuhan tak bisa dihitung, karena Tuhan bukan benda/makhluk “countable noun”. Tuhan itu uncountable, namun bukan berarti jamak. Tuhan bukannya satu, namun tunggal. Jika Tuhan itu satu (countable) berarti Tuhan bisa dihitung dan menjadi sangat terbatas. Meskipun demikian Tuhan  berbeda  pula dengan udara, air api yang uncountable noun. Kesimpulannya, Tuhan Maha Besar tak bisa lagi dibayangkan dengan rasio. Tuhan tidaklah warna-warni, tidak pula beragam, Tuhan mengatasi segala perbedaan, melampaui suku, bangsa, ras, lembaga sistem kepercayaan,  golongan, dan kelompok kepentingan. Dengan demikian barulah layak jika kita menempatkan Tuhan di atas negara. Jadi, prinsip negarawan hendaklah menyerupai prinsip keTuhanan yang melampaui semua perbedaan “kulit”. Tuhan tidak terikat oleh unsur SARA, dan kepentingan pribadi. Negarawan mengatasi lingkup wilayah negara tertentu dengan segala perbedaan yang ada. Sementara itu kekuasaan Tuhan mengatasi segalanya yang ada di jagad raya. Negarawan mengatasi segala warna dan perbedaan yang ada di wilayah negara dan bangsanya. Negarawan harus memiliki “ruh” kemanunggalan. Letakkan Tuhan di atas negara, letakkan agama di bawah pengelolaan negara. Jangan ragu, walau agama diletakkan di bawah pengelolaan negara, bukan berarti negara kita Indonesia Raya menjalankan roda pemerintahan tanpa landasan spiritualitas  yang luhur. Konsep demikian sudah jelas-jelas terangkum di dalam PANCASILA yang merepresentasikan UNIVERSALITAS NILAI-NILAI RELIGIUS dari ajaran agama-agama yang ada di planet bumi. Itulah kehebatan petuah Pancasila. Kenapa calon negarawan masih bingung dalam menentukan sikap kenegarawanannya.

MAU JADI NEGARAWAN ATAU POLITISI

Siapapun Capres-Cawapres terpilih hendaklah menanggalkan perannya sebagai politisi, dan mulailah menjadi seorang negarawan. Berbeda dengan politisi, seorang negarawan tidak pernah melakukan “kebijakan” yang berdasar kepentingan sepihak, primordialis, etnosentris, rasis. Karena negara adalah milik seluruh warga bangsa yang heterogen dan plural. Negara yang ideal adalah mengatasi seluruh warga bangsa termasuk di dalamnya agama sebagai sistem kepercayaan dan beragamnya suku bangsa yang ada di Indonesia. Lain halnya politisi, ia bukanlah negarawan, politisi lebih mengutamakan kepentingan kelompok atau golonganya sendiri, bahkan kepentingan pribadinya. Siapapun Anda yang kelak menduduki kursi jabatan sebagai pemimpin negeri, haruslah melakukan brain washing, merevolusi sikap dan prinsip dari seorang politisi menjadi seorang negarawan sejati.  Dan hal itu tidak mudah dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari.

TINGGALKAN TABIAT JAHILIAH

Terlepas dari upaya dukung mendukung, kampanye, apalagi menjatuhkan, sebagai  sesama manusia dan sebagai warga bangsa, saya berharap semoga semua capres dan cawapres bila target politiknya sudah tercapai, berhasil menjadi pemimpin negeri.  Hendaknya mampu menjalankan tugasnya sambil terus belajar tanpa henti untuk menjadi negarawan sejati.. Setiap saat belajar menjadi lebih baik lagi. Dimulai sejak dini  tidak ada lagi sikap saling menyerang kelemahan dan kesalahan lawan demi mengunduh keuntungan popularitas  pribadi.   Jangan ada lagi rasa tega hati “menari di atas bangkai lawan”, karena tak ada seorangpun bisa luput, sapa nggawe bakal nganggo, siapa menanam akan mengetam. Artinya tabiat buruk demikian itu pasti akan berbalik menghantam diri sendiri. Berikanlah masyarakat contoh-contoh yang baik, arif, ideal, bijak, bagaimana harus bersikap terhadap lawan politik, yakni tetap menaruh sikap hormat setinggi-tingginya, baik dalam perilaku maupun ucapannya. Hapus dan hilangkan kebiasaan buruk para politisi yang gemar mencari-cari kelemahan lawan untuk tujuan menjatuhkan popularitasnya. Amat baik dan mulia bilamana para politisi kita bermain fairplay, lebih baik memfokskan diri giat mengenali jati diri,  mengetahui kelemahan pribadi, untuk selanjutnya mampu menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Lakukan segala sesuatu yang baik dan bermanfaat kepada sebanyak-banyaknya orang, dan JANGAN PERNAH MENILAI dan MENGHITUNG-HITUNG AMAL KEBAIKAN yang pernah anda lakukan. Biarkan masyarakat yang menilai sendiri secara obyektif.  Hampir semua CAPRES-CAWAPRES bersikap NARSIStis,  dikiranya sikap itu akan melambungkan image kebesaran nama. Padahal siasat itu justru meluluhlantakkan track record di hadapan Tuhan dan di depan masyarakat yang kini tidak bodoh lagi menilai. Tak satupun yang berani melakukan TAPA MENDHEM, mengubur segala kebaikan yang pernah ia lakukan kepada orang lain dari ingatan Anda sendiri. Tapa mendhem (mengubur diri) berkaitan erat dengan KETULUSAN dalam berbuat baik. Kenyataannya adalah paradoksal, semuanya melakukan pamer, mengalami berbagai sindrom negatif : “eksibisionis”, narsis, mengagungkan diri sendiri, megalomania, dan itu semua menjadi BUKTI NYATA bahwa calon pemimpin kita BELUM LULUS belajar KETULUSAN HATI.  Ketulusan hati yang ada dalam diri pribadi Anda semua Capres-cawapres akan sangat berpengaruh kepada keberhasilan Anda kelak menjadi pemimpin bangsa dan negara yang besar ini. Dan Anda adalah manusia pertama dan kedua yang bertanggungjawab atas apa yang akan terjadi di negeri ini.

Tulisan ini sekedar suara hati nurani rakyat jelata. Peran saya pun tak ubahnya punakawan Mbilung dan Togog. Biarpun teriak-teriak lantang, mulut berbusa kehabisan ludah,  tetap saja semua pepeling kepada para kesatria dari nagri sabrangan, sudah biasalah  dicuek.  Mungkinkah hari gini orang masih mengira, bahwa jelata itu bukanlah apa-apa, maka abaikan saja. Saya percaya, para “kesatria Pendawa Lima” tetaplah ada, namun sembunyi di manakah  mereka,  atau memang belum saatnya tampil memimpin negeri ini.

About SABDå

gentleman, Indonesia Raya

Posted on Juni 24, 2009, in Letakkan Agama Di Bawah Negara and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 139 Komentar.

  1. ASSALAMUALAKUM WR.WB.
    SEBETULNYA KITA KURANG SABAR DALAM MEMBAHAS SESUATU. TERMASUK “AGAMA”. SEBELUM BAHAS ISINYA…KITA HARUS TAHU DAN MENGERTI ARTI DARI KATA “AGAMA”….SETELAH SAMA PERSEPSINYA, MAKA DENGAN MUDAH DIMANA LETAKNYA , FUNGSINYA, DSB. TERIMA KASIH

  2. Ngglosor Madhep Wetan

    Kalau mencampur-adukkan kehidupan bernegara dg agama adalah suatu kekonyolan bagi negara yg rakyatnya plural. Mana bisa pemeluk agama A memaksakan aturan agamanya kepada kaum lain beragama B atau C atau D ?

    Dalil ke-bhinneka-an merujuk kepada suatu yg plural, dan ke-tunggal-an merujuk kepada persatuan. Itu dalil negara.

    Sementara dalil2 agama lebih tepat diperuntukkan sebagai penjaga moral pribadi2 pemeluknya yg terintegritas di dalam kehidupan bernegara.

    Agama sendiri, karena mayoritas datang dari luar nuswantara, memiliki konteks kebudayaan non-nuswantara yg kental. Hal yg harus disikapi di sini adalah bagaimana kita berkomunikasi atau menanggapi suatu hal pertama2 dari aspek tatanan masyarakat alamiah demi menghindari bentur2an yg terjadi jika kita semata2 mengambil aspek agama masing2. ingat : GUNANYA MENGHINDARI BENTURAN pun FRIKSI KARENA MASING2 PIHAK SEMATA2 MENGAMBIL ASPEK AGAMA MASING2.

    Friksi / gesekan apalagi benturan, apapun alasannya, tetap tidak baik. Amat jarang terjadi di negeri tercinta ini, dialog2 yg terjadi dari friksi dapat diselesaikan dg sepakat. Semua mau menangnya sendiri. Semakin pokrol seseorang, dia semakin mempertahankan pendapatnya dg segenap kekuatan intelektualnya, kendati belum tentu benar.

    Di jaman yg lebih maju seperti sekarang ini, seharusnya & sudah semestinya agama2 semakin mengatur pemeluknya untuk lebih adaptif di dalam menerima & berkomunikasi dg pemeluk agama lain. Agama harus memiliki kelenturan universal.

    Agama yg tidak memiliki kelenturan universal tidak dapat diandalkan sebagai salah satu penunjang kekuatan kebangsaan, buntut2nya kalau rakyatnya susah bersatu – bagaimana negaranya mau maju ? Adanya hanya chaos melulu.

    Isu2 agama sudah seharusnya tidak lagi mengedepankan kekerasan, semangat penyebaran agama, mujizat2 & hikayat2. Saya yakin umat manusia lebih membutuhkan isu2 kemanusiaan & persatuan dg umat lain di dalam hidup beragamanya.

    Mempertahankan isu2 kekerasan & pengkafiran terhadap umat agama lain membuat para pesohor kekerasan & pengkafiran plus para pengikutnya menjadi pembuat MLM (Multi Level Marketing) dosa.

    Percayalah, Tuhan sama sekali tidak menginginkan kekerasan, pembunuhan, penindasan, pengkafiran & hal negatif lainnya. Tuhan melalui semesta ciptaanNya sungguh Maha Asih, kita semua diberi kelimpahan semesta. Nama Tuhan selalu Maha Baik ! Tidak ada itu Maha Pemilih, Maha Pembenci, apalagi Maha Keji.

    Kalau mau bukti, mencoba jalan2 ke alam kelanggengan tidak ada salahnya. Banyak ilmu yg mengklaim bisa menghantarkan Anda ke alam itu, asalkan pikiran kita bening, tidak ada intervensi apapun, termasuk ajaran agama / kepercayaan yg dianut. Intervensi dapat menyebabkan visitasi menjadi tidak jelas karena sugesti & halusinasi.

    Takut terkelabuhi jin ? Selama kita masuk frekuensi yg tepat, maka jin tidak bisa mengelabuhi kita. Mau tahu bagaimana frekuensi yg tepat untuk masuk alam kelanggengan ? Tanya Mas Sabda. Mudah kan ?

    nuwun
    Rahayu

  3. Lingkungan hidup atau habitat burung cendrawasih di papua, kangguru di Australia, gajah dan harimau di sumatera, jerapah di afrika dst, dst……

    Begitu pula lingkungan hidup jibril adalah di padang pasir, di padang pasir gendruwo, wewe, kuntilanak, tuyul, glundung pringis, buto ijo, banaspati tidak bisa hidup disana

    Jibril tidak berani macam2 di pulau jawa karena banyak pertapa-2 yang sakti-2 disini, diacungi keris sama mbah karso Jibril akan lari terbirit-birit, ini bukan omong kosong atau mengada-ada ini adalah BENAR, kita harus tahu itu

  4. Ngglosor Madhep Wetan

    Yth. Pak Sing Mbaureksa….
    Ngapunten, sy sedikit ada informasi ttg jibril. Mohon ampun kesinggung per-ipun nggih…

    Jibril itu sepengetahuan sy berasal dari kata arabic yg menyerap kata yahudi : Gabriel, yg mendapat bentukan kata Gabhar-El, artinya ‘Pembawa Berita Allah’ (Gabhar = kabar = berita). Semua malaekat versi yahudi selalu menggunakan El di belakangnya yg artinya ‘Milik / dari Allah’, seperti Mika-El (Mikail) = ‘Penyelamat dari Allah’.

    Jadi yaa malaekat yahudi / arab ndak bakal nyampe tanah nuswantara tho yaa, tinggal sebul ‘phuaaaahhh…’ ndak perlu diacungi keris, sudah pada kabur semua hehehehe……

    Saya kira untuk menuju tatanan baru yg lebih maju & lebih baik, alangkah baik bila kita memilih jalan lain untuk menghindari segala bentuk budaya tahyul yg tidak bisa dibuktikan keberadaannya. Agar pikiran kita menjadi lebih murni & semakin memperjelas arah jalan kita.

    monggo dilanjut
    nuwun
    Rahayu

  5. Negara bagaikan kereta ‘kendaraan’, dan

    Agama bagaikan ‘kuda pilihan’ yang menariknya, sedangkan

    Dasar Negara adalah ‘seikat rumput’ dalam ‘menempuh perjalanan’…

    1157.

  6. tapi mengapa tanpa ‘kuda (beneran) pilihan’ ada ‘kereta’ malah bisa berlari kencang… 😀

    inovasi, semakin berat beban ‘kereta’ maka semakin banyak ‘kuda pilihan’ yg dibutuhkan untuk menariknya, dgn ikhtiar/teknologi maka ‘kuda pilihan’ bisa “ditransform” menjadi ‘mesin’ (agar efektif & efisien)
    jika tak mementingkan “tradisi estetika”, maka akan LEBIH MUDAH mengoperasikan ‘mesin’ (misal) setara 1000 HP/PS dibandingkan mengoperasikan 1000 atau 900 ‘kuda (beneran) pilihan’.

    ————————————–
    Sementara dalil2 agama lebih tepat diperuntukkan sebagai PENJAGA MORAL pribadi2 pemeluknya yg terintegritas DI DALAM KEHIDUPAN BERNEGARA.
    ————————————–
    sangat setuju, jika sy tak setuju, maka sy akan buat negara sendiri 😛
    itu juga kalo sy ada modal. 😛

  7. Para Sedulur Yth
    Mari kita berbicara secara faktual sebagai bahan komparasi dan sekaligus kontemplasi.
    Kita saksikan negara Finlandia sebagai negara paling sejahtera di dunia. Jepang, Singapura, German, Swiss, Estonia, Belanda, Denmark, Canada dst. Di antaranya masuk negara-negara 10 besar paling makmur di planet bumi. Apakah mereka menjadikan agama sbg ‘kuda pilihan’ utk narik kereta (negara)? TIDAK !!
    Justru agama termasuk ‘barang’ yg diangkut di dalam kereta.
    Dasar negara dan UUD menjadi ‘REL’ yang musti dilewati agar kereta sampai tempat tujuan yg diharapkan oleh penumpang/warga negaranya.
    Supaya penumpang tidak rebutan tempat duduk, tidak saling sikut, tidak saling injak kaki, dan supaya mempunyai adab sopan santun sebagai sesama penumpang di dalam kereta, maka ada lah norma agama, norma sosial, norma hukum, etika, norma susila, dan perangkat nilai lainnya.

    Jika negara lain ingin menguasainya sebagai wilayah imperialisasi, GAMPANG CARANYA !!
    Kompori elemen masy tertentu utk menjadikan NKRI sebagai negara kealifahan atau theokrasi. Setelah itu anda tinggal menyaksikan kehancurkan Indonesia oleh ulah rakyatnya sendiri yg terpecah belah oleh mazab, aliran, golongan, kelompok, dan elemen2 keyakinan.
    Setelah itu pelan namun pasti, dengan cukup alasan negara lain akan mengintervensi utk mengacak-acak bumi pertiwi ini.
    Saksikan dgn cermat dan obyektif….negara theokrasi manakah yg berhasil menciptakan kedamaian, ketentraman, dan kesejahteraan rakyatnya ?? Apalagi yg memiliki prestasi tinggi dalam mensejahterakan rakyat.
    Jujurlah melihat realitas faktual/obyektif. Mari pikirkan nasib anak turun kita semua kelak kemudian hari dgn pola pikir yg arif dan pilihan yg bijaksana.
    Bukan dgn mendem gomo lan mabuk donga.

    Salam asah asih asuh

  8. pedas sambal…hanya di mulut….

    kereta terbelenggu…

    ‘jaran’ dipuja…’turangga’…dibenci…

  9. Ngglosor Madhep Wetan

    Yth. TS
    Anda berkata bahwa “Agama bagaikan ‘kuda pilihan’”.
    Jika Anda seorang muslim, maukah jika ada orang yg ber’kuda’ lain sebagai pemimpin negara?
    Kenyataannya sih sulit kalau dilihat dari perspektif sekarang untuk mendapatkan pemimpin beragama lain, apalagi kejawen.
    Alm. Gus Dur yg berpikiran terbuka saja dijungkalkan dg berbagai cara, apalagi yg berkeyakinan lain.
    Kalau hal spt ini terus dipertahankan, sampai segala abad pun negara ini ndak akan pernah bisa maju. Pemimpin berintegritas dijungkalkan dg segala cara. Alih2 hanya mau pemimpin yg seagama (lbh mengerucut lagi : satu tujuan memakmurkan diri), malah membuat negara & bangsa jadi runyam… malah bikin dosa saja…

    nuwun
    Rahayu

    • @Maryrose Yth
      Tidak perlu resah yg penting kembali mengingat apa yg dulu pernah dikatakan/dinasehatkan/disarankan oleh para leluhur nusantara masa lalu utk generasi penerus bangsa. Para leluhur perintis nusantara tampaknya dulu sudah “weruh sadurunge winarah”, dan mengerti betul apa penyebab “kiamat” dan bagaimana jalan keluarnya agar selamat.

      Banyak pula yg mengartikan kiamat secara lugas, namun banyak juga yg memaknai secara kias. Saya pribadi lebih cenderung memaknai secara kias. Sebab jika kita menggunakan rumus agama, lantas di mana hikmah Rabbul alamin ? anugrah bagi alam semesta. Ada beberapa pertanda kiamat misalnya “matahari terbit dari barat”. Menurut sy pribadi maknanya ; semua kemajuan teknologi, tolok ukur ekonomi dan peradaban manusia munculnya dari negara-negara barat. Agama samawi/abrahamism tentunya lahir di timur (timur tengah) sehingga berlaku kiblat “barat” untuk menyebut negara-negara maju di belahan bumi bagian barat.
      Langit turun menjadi rendah, hal ini tersirat makna bahwa manusia sudah mampu mencapai bulan bahkan akan mendarat di planet ainnya yg lebih jauh. Artinya jarak yg dahulu sangat jauh kini menjadi tidak terasa jauhnya berkat kemajuan teknologi manusia.

      Jika kiamat diartikan kehancuran, maka menurut saya tahun 2012 dunia akan kiamat (hancur) terutama krisis ekonomi, krisis kemanusiaan yakni disebabkan krisis moral, wabah penyakit, kurang pangan sandang, akibat bencana alam (force mayor) dan kemelaratan.

      Sebagaimana ramalan jangka jayabaya yg menyebut2 akan datangnya zaman kalabendu, di mana akan terjadi “tenggelamnya perahu gabus”. Segala sesuatu yg tadinya dianggap sangat kuat/stabil akan mengalami pasang surut hingga pada tingkat paling dasar (kandas).
      Termasuk pula Indonesia, presiden terpilih yg akan datang ialah presiden paling repot (sengsara) sepanjang zaman karena akan mengalami masa-masa paling sulit. Inilah yg dinamakan CAKRA MANGGILINGAN, atau pasang surut kehidupan manusia ibarat putaran roda yg sedang menuju ke bawah dan sebentar lagi akan benar2 berada di bawah.

      Tidak hanya Indonesia, namun hampir seluruh dunia mungkin merasakan masa-masa sulit ini, terutama efek pemanasan global dan keruntuhan dinasti ekonomi dunia.

      Siapa saja yg selamat ? Menurut para nenek moyang perintis bangsa besar ini jauh2 hari telah memeringatkan anak turunnya supaya hati-hati karena yg paling beruntung dan selamat adalah org yg selalu eling dan waspada. Doanya fokus mohon keselamatan dan perbuatannya diarahkan selalu berbuat baik pada sesama sebanyak2nya. Lebih pandai mensukuri nikmat Tuhan. Diibaratkan kita disuruh berpegang erat2 pada “waton” atau pondasi rumah agar tdk hanyut dalam situasi yg sangat buruk.
      Orang yg akan selamat justru orang-orang yg tulus menyelamatkan orang lain tanpa pandang bulu apa suku, bangsa, agama, golongan, ras, atau etnisnya. Yah…itulah orang yg bersikap adil dan bijak mengikuti sifat Tuhan Yg Maha adil dan Maha Bijak, Tuhan itu Maha TIDAK primordial, tidak etnosentris dan tidak rasis.

      salam sejati

      Yth. TS
      Anda berkata bahwa “Agama bagaikan ‘kuda pilihan’”.
      Jika Anda seorang muslim, maukah jika ada orang yg ber’kuda’ lain sebagai pemimpin negara?
      Kenyataannya sih sulit kalau dilihat dari perspektif sekarang untuk mendapatkan pemimpin beragama lain, apalagi kejawen.
      Alm. Gus Dur yg berpikiran terbuka saja dijungkalkan dg berbagai cara, apalagi yg berkeyakinan lain.
      Kalau hal spt ini terus dipertahankan, sampai segala abad pun negara ini ndak akan pernah bisa maju. Pemimpin berintegritas dijungkalkan dg segala cara. Alih2 hanya mau pemimpin yg seagama (lbh mengerucut lagi : satu tujuan memakmurkan diri), malah membuat negara & bangsa jadi runyam… malah bikin dosa saja…

      nuwun
      Rahayu
      —————————————————————————————-

      Kuda yang anda maksud adalah:

      ‘jaran’ doran sambal….

      dan kuda yang terkuat membuka belenggu sebagai kuda pilihan…adalah ‘turangga’..

      • Ngglosor Madhep Wetan

        wah sy ndak nangkep ungkapan Njenengan. sepertinya sy harus belajar sama Njenengan nih… hehehehe….

        nuwun

  10. Para Sedulur Yth
    Mari kita berbicara secara faktual sebagai bahan komparasi dan sekaligus kontemplasi.
    Kita saksikan negara Finlandia sebagai negara paling sejahtera di dunia. Jepang, Singapura, German, Swiss, Estonia, Belanda, Denmark, Canada dst. Di antaranya masuk negara-negara 10 besar paling makmur di planet bumi. Apakah mereka menjadikan agama sbg ‘kuda pilihan’ utk narik kereta (negara)? TIDAK !!
    Justru agama termasuk ‘barang’ yg diangkut di dalam kereta.
    Dasar negara dan UUD menjadi ‘REL’ yang musti dilewati agar kereta sampai tempat tujuan yg diharapkan oleh penumpang/warga negaranya.
    Supaya penumpang tidak rebutan tempat duduk, tidak saling sikut, tidak saling injak kaki, dan supaya mempunyai adab sopan santun sebagai sesama penumpang di dalam kereta, maka ada lah norma agama, norma sosial, norma hukum, etika, norma susila, dan perangkat nilai lainnya.
    ————————————————————————————————-
    @Maryrose Yth
    Sebagaimana ramalan jangka jayabaya yg menyebut2 akan datangnya zaman kalabendu, di mana akan terjadi “tenggelamnya perahu gabus”. Segala sesuatu yg tadinya dianggap sangat kuat/stabil akan mengalami pasang surut hingga pada tingkat paling dasar (kandas).
    Termasuk pula Indonesia, presiden terpilih yg akan datang ialah presiden paling repot (sengsara) sepanjang zaman karena akan mengalami masa-masa paling sulit. Inilah yg dinamakan CAKRA MANGGILINGAN, atau pasang surut kehidupan manusia ibarat putaran roda yg sedang menuju ke bawah dan sebentar lagi akan benar2 berada di bawah.
    ————————————————————————————————-

    bahasa lain dari ‘cabai’ adalah ‘chili’…

  11. “Sekilas jawaban tersebut tampak sebagai jawaban yang sangat ideal dan bijaksana. Namun saya pribadi terperanjat mendengarnya. Saya tetap berusaha berprasangka baik kepada (……………), mungkin beliau tergesa-gesa dalam menjawab, dan ia bukanlah seorang dengan latar belakang ilmu tatanegara, sosial-politik, dan ia belumlah menjadi seorang negarawan. Beliau baru menjadi seorang praktisi ekonom dan kini sambil belajar menjadi negarawan. Semoga belajar Anda membuahkan prestasi yang gemilang seiring perjalanan waktu.”

    Wassalam

  12. @Ngglosor Madhep Wetan…

    wah sy ndak nangkep ungkapan Njenengan. sepertinya sy harus belajar sama Njenengan nih… hehehehe….

    nuwun

    ————————————————————————–
    memang ndak bakal nangkep…wong ‘jaran’ ne wis ‘dibelah’ sendiri… h h h

  13. 4 Tujuan khusus Tuhan menganugerahkan pemimpin sejati yaitu presiden ke 7 untuk bangsa indonesia, merupakan hasil ” kajian metafisika ” yang di sumbang sarankan, sbb:

    1. Mengajak semua pihak untuk “menstrukturkan kembali” keseluruhan nilai-nilai luhur yang terdapat di dalam “keseluruhan ajaran”, baik dari agama formal seperti agama langit dan agama bumi, juga dari agama-2 nonformal maupun dari berbagai kearifan lokal, ke dalam suatu “Tata susunan bertingkat” yang berbentuk “segitiga” di dalam hati, sebagai wujud dari “TEGAKNYA KERAJAAN ALLAH DI HATI MANUSIA”, agar setiap orang dapat belajar menjadi “warga yang baik” tidak hanya di dalam masyarakat manusia, tetapi lebih jauh di dalam seluruh komunitas makhluk ciptaan, yang merupakan “prinsip dasar” bagi terciptanya KEDAMAIAN, KEMAKMURAN dan KEMAJUAN ROHANI dalam kehidupan yang manusiawi, damai, adil dan sejahtera (pesan metafisis dari Nabi ISA a.s dan Nabi MUHAMMAD s.a.w) karena hanya setelah “prinsip dasar” ini dipenuhi barulah tercipta keseimbangan yang harmonis antara “tiga realitas dasar” yaitu Allah, mikrokosmos (manusia) dan makrokosmos (segala sesuatu selain manusia)

    Dimulai dari yang terkecil yaitu diri sendiri, perubahan pada diri sendiri dilakukan dengan MENYADARKAN KEMBALI fitrahnya yang hakiki, yaitu sebagai PEMIMPIN YANG TRANSENDENTAL, atau “wakil (khalifah) Tuhan di bumi

    Sebagai Khalifah adalah manusia yang sudah memahami ini:

    -Mana yang merupakan KEWAJIBANNYA yang asasi
    -Mana pula yang merupakan TANGGUNG JAWAB yang asasi sebagai manusia, tentu saja selain HAK nya yang asasi (di jawa anak kecil mangap-mangap sambil berteriak hak…..hak ….hak…..baru mingkem setelah didulang sesuap nasi….)

    Apalagi sebagai khalifah, manusia adalah MAKHLUK CIPTAAN DENGAN JATI DIRI WELAS ASIH
    dengan kata lain, manusia adalah wakil/khalifah Tuhan di Bumi yang jiwanya penuh welas asih, penuh rasa cinta……

    Kemudian, dengan KETELADANAN , setiap individu yang telah berubah menjadi lebih baik akan dapat merubah keluarganya masing2, dari keluarga-2 yang lebih baik akan muncul masyarakat yang lebih baik, dari kumpulan masyarakat-2 yang lebih baik akan muncul suatu bangsa yang lebih baik, dan dari bangsa-bangsa yang menjadi lebih baik pada gilirannya akan muncul sebuah kehidupan dunia yang baru,……..yang lebih baik

    ke-2,3 dan 4 bersambung, capek ngetiknya

  14. Inilah yang dimaksud dengan ‘jaran’ yang dibelahnya sendiri:
    sebahagiannya ‘mengintip’ Al Qur’an…dan sebahagiannya menurut ‘selera’ nya sendiri…

    Tanpa kehadiran anda sebagai manusia di bumi ini pun, dunia dan alam semesta tetap berada dalam keseimbangan yang diturunkan-Nya; Dia lah Yang Maha Menyeimbangkan.
    Anda bagaikan ‘kismis’ yang berada di dalam ‘kosmos’. Tanpa ‘kismis’ pun makanan akan tetap terasa ‘enak’.

    Mengapa harus menipu diri-sendiri, padahal telah menyadari bahwa petunjuk tentang kehidupan ‘dunia’ dan ‘akhirat’ itu juga diperoleh dari Al Qur’an.

    Anda telah bermimpi untuk mengatur keseimbangan alam menurut selera anda, padahal ketika anda ‘tua’ dan ‘pikun’ nanti, keseimbangan pada diri anda sendiri itu pun tidak dapat anda kuasai.

  15. Buah mentah selalu melekat erat pada batangnya, begitu pula penganut /pemeluk agama yang masih mentah akan selalu terikat erat pada kitab2 nya, kitab suci turun sepotong-2 tersebar dimana-mana, didalam agama selain kewajiban, sholat, naik haji ada kewajiban berperang meskipun tidak kamu sukai, tapi Allah lebih tahu mana yang baik untukmu, teroris lebih lengkap melaksanakan kewajibannya berperang membunuh siapa saja, tanpa pandang bulu dalam melaksanakan kewajiban sebagai muslim, takwa seperti keledai yang membawa kitab tebal di punggungnya kesana kemari tanpa mengerti maknanya

    Sebaliknya Buah yang sudah matang lepas dari batangnya, mencari sendiri, hanya bisa dan akan mendapatkannya hanya dari dalam kedalaman diri sendiri, dari kedalaman hati nurani yang sudah dibersihkan sekali lagi hanya dari dalam kedalaman diri sendiri, bagi buah matang membaca dan menghapal kitab-2 suci hanya sia-2 membuang-buang waktu saja…….. ini hukum alam/ketetapan Tuhan yang berlaku kapan saja dan dimana saja dan tidak bisa dirubah …….. eeerrrrrr

  16. Buah yang kelihatannya ‘masak’ itulah yang didekati oleh Adam as…
    karena mengikuti bisikan syaitan yang menyesatkan dan menjanjikan ‘KERAJAAN’ yang tidak akan binasa.
    (Baca QS. Thaahaa 20.120).

    Dan Orang-orang yang tidak memahami apa itu ‘jaran’, boleh jadi pengetahuannya hanya sebatas ‘keledai’.
    Dan bisa jadi ia tidak mampu menjangkau ‘turangga’, sementara yang ditungganginya adalah ‘keledai’.

    Pengetahuannya yang hanya sebatas keledai, tentulah diperoleh dari teladan ‘guru’nya yang menunggangi keledai…

    ‘Keledai’ akan berkumpul dengan ‘keledai’…dan ‘turangga’ akan berkumpul dengan ‘turangga’…
    Ini adalah hukum alam (Sunatullah) yang sebenar-benarnya yang dikagumi oleh nabi Sulaiman as.

  17. Ini cerita anak2 pengantar tidur ada di Bible, 6000 th yll, entah siapa pengarangnya dan amat menggelikan, didunia ini hanya ada dua kekuatan kebaikan dan kejahatan, Tuhan dajjal (kejahatan) yang amat pelit Adam makan satu buah tomat saja ditendang keluar dari surga, mengancam akan membangun Neraka dan meng- iming2 i surga, dengan catatan nanti setelah kiamat tentunya, angan2 Tuhan dajjal adalah membunuh Tuhan sejati yaitu kehidupan abadi dengan cara merusaknya /KIAMAT /menghacurkan kehidupan (seh siti jenar saja tahu bahwa hidup sejati itu tak ada matinya, patah tumbuh hilang berganti….), Tuhan dajjal menyuruh manusia bekerja menjadi algojo melawan musuh2 nya yaitu kebenaran sejati yang welas asih, karena tidak bisa membunuh sendiri, dan menipu manusia akan memberi pahala 72 bidadari dan ereksi permanen disana, dan parahnya cerita anak2 di bible inidi contek bulat2 oleh para pengarang Al quran dibawah pesanan Khalifah Usman, dan ternyata hasilnya sekarang ini ratusan juta orang alamarhum mereka ternyata tertipu berdiri dibelakang nabi2 menghadap/didepan pintu akhirat yang tertutup rapat menunggu hari KIAMAT yang hanya angan penipuan tuhan dajjal dan tidak akan pernah terjadi

    Kami orang jawa sudah lama memecat Tuhan Dajjal dan menggantinya dengan Tuhan Sejati (kebaikan) yang maha welas asih yang maujud dalam segala sesuatu di kehidupan sekarang yang abadi ini dan tak akan pernah mati bunuh diri dengan menghancurkan kehidupan ini atau menghancurkan diri sendiri, kebangkitan pertama bagi kita adalah bangkitnya rasa cinta kasih di dalam hati kita, sehingga kita sadar dan memilih berbuat kebaikan dan meninggalkan kejahatan, tak ada lagi perasaan iri benci, apalagi membunuh, sifat jahat sudah lenyap, tuhan dajjal ikut lenyap mati sendiri dan sudah kami ganti dengan cinta welas asih dihati kami, cinta adalah rasa kami yang tidak diajarkan kepada nabi2 dan tidak tertulis dalam kitab suci, kami orang kejawen tidak diciptakan, tetapi kami maujud dalam kehidupan ini saling bergantung satu sama lain dalam wujud2 kehidupan bersama, spt udara, air. tanah, matahari , bulan, laut, kutu tengu, gurem bakteri dsb. yang kami cintai dan kami lestarikan keabadiannya dengan cara membunuh Tuhan dajal dengan kebangkitan kasih sayang

    Kami mengarang/menciptakan tuhan kami yang baru yang maha baik yaitu Tuhan sejati, seperti manusia purba menciptakan sesembahan2 mereka sendiri, yang dicontek adam, kami menciptakan Tuhan kami sendiri, karena kami bukan ciptaan, kami adalah bagian dari kehidupan yang abadi dan mendapat tugas menyelamatkan saudara2 kami sesama manusia yang tertipu dan menyembah 2 Tuhan dajal, dilarang makan daging babi yang sangat ditakuti oleh tuhan dajjal karena dia tidak akan mampu merasuki penikmat daging babi membuat mereka kesurupan lalu diperintah membunuh kebenaran sejati dan mati untuk Tuhan dajjal

    Kami menyayangi semua umat manusia, laksana matahari yang hanya memberi. kami akan berusaha menyelamatkan kehidupan ini dengan membunuh Tuhan dajjal

    • @yth sing mbaurekso,

      Yah memang dari awal makanya menurut saya pilihan itu harus jelas, bunuh saja tuhan si bima itu. Katakan ” NO to Islam!!” sebagaimana mereka juga bilang say no to kejawen.

      Jika tanggung-tanggung (mendua), menjadi muslim tetapi hanya mengambil sebagian-sebagian , maka bima, muxlimo, sayyid dan teman-temannya pasti akan mudah sekali menyerang balik. Sebab, konsekuensi memeluk Islam ya harus mencontoh prilaku nabinya yakni Muhammad dan mengamalkan apa yang sudah tertulis di dalam kitab sucinya yakni Al Quran.

      Al Quran itu kitab penyempurna dari segala ajaran agama-agama. Dan allah sendirilah yang menjaga kesucian dan kesempurnaan kitab Al Quran itu. Sedangkan yang lain-lain dianggap cacat atau penuh dengan kekurangan.

      Jadi kalau menjadi muslim ya harus kafah (menyeluruh), tidak bisa mendua!!!!! muslim kok kejawen itu namanya mendua. Muslim kok memberi sesaji pada sebilah keris, itu namanya musyrik. Muslim kok memuja leluhur itu namanya musyrik juga. Lalu kita harus bersikap bagaimana ? sikap kita sebagai (terutama) orang jawa ya harus BERANI MEMILIH BERSIKAP TEGAS “SAY NO TO ISLAM!!”. Selamat tinggal Islam dan matilah kau beserta tuhanmu. Pilihan yang TEGAS, JELAS dan tidak mendua. Tetapi kalau masih tetap kepingin jadi muslim, ya harus seperti sikap TS, bima, muxlimo cs. mereka sangat TEGAS, TIDAK MAU ISLAM KECAMPURAN KEJAWEN. Seharusnya orang Jawa pun sekali-kali bersikap TEGAS PULA jangan terlalu akomodatiflah dengan ajaran-ajaran yang MENGHARMKAN PLURALISME. Islam suruh minggir saja dari tanah Jawa, silakan kembangkan ditanah aceh sana.

      Saya ingin meyakinkan kepada anda semua, jika kita membunuh tuhannya bima atau tuhannya TS, “TIDAK BAKALAN ADA KUTUKAN DARI TUHAN MEREKA”. kok bisa? sebab tuhannya muhammad itu tuhan yang sangat lemah, yang selalu merintih minta bantuan pada muhammad untuk menyampaikan wahyu-wahyunya. Wah…..tuhan tolol ini namanya!!!!!

      Tuhan yang MAHA SAKTI itu bukan seperti itu. Tuhan kok minta pertolongan kepada umatnya untuk menjadi utusan-Nya, untuk menyembah diri-Nya. Lah kalau muhammad atau setiap orang menolak menjadi rasul terus bagaimana?

      Apa tuhan tidak bisa menyampaikan atau mentransfer wahyu-wahyunya melalui kegiatan alam semesta yang tidak perlu HARUS BERKATA-KATA? Alam itu maha bisu, tetapi dari kebisuannya itu melahirkan ilmu-ilmu pengetahuan yang TAK TERBATAS JUMLAHNYA. Lha beda tho dengan tuhannya muhammad yang kakehen cangkem (kebanyakan gedebus) itu?

      Jika orang Jawa mau konsep tuhan seperti yang saya sampaikan, yah….sebaiknya kembalilah dan kenalilah sifat-sifat alam semesta sebab tanpa alam semesta SAYA BERANI MENJAMIN TIDAK AKAN PERNAH ADA KEHIDUPAN INI. Jika alam semesta tidak memproduksi oksigen dari mana ada kehidupan?

      Siapakah yang menciptakan alam semesta? Kita jangan TERLALU SIBUK MEMBUANG WAKTU untuk mencari-cari yang MUSTAHIL KITA DAPATKAN KEBENARANNYA. Yang paling tahu dan paling benar siapakah yang mencipta alam semesta PASTILAH ALAM SEMESTA ITU SENDIRI yang mengetahuinya. Dan harap anda ketahui dan pahami, sampai kapan pun alam semesta tidak mungkin akan pernah mencertiakan siapakah yang telah melahirkan diri-NYA.

      Akhirnya, segenap manusia hanya saling melemparkan KEYAKINAN bahwa yang menciptakan alam semesta ini bernama TUHAN. Tetapi bukankah alam semesta ini TIDAK PERNAH SEKALIPUN MEMBENARKAN ATAU MENYALKAHKAN keyakinan manusia tersebut? sebab soal keyakinan itu bukan urusannya alam semesta, melainkan urusan sesama manusia. Alam semesta hanya berhubungan dan berurusan dengan hukum-hukumnya sendiri, bukan hukum ciptaan manusia.

      Apa arti semua ini? artinya adalah ALAM SEMESTA (YANG MENCIPTAKAN SIAPAPUN) sesungguhnya bukan sesuatu yang perlu diributkan oleh sesama manusia.

      Kalau begitu, lalu apa yang sepatutnya bisa kita ributkan atau diskusikan?

      yah…, mari kita diskusikan bagaimanakah kita akan memelihara alam ini supaya kita bisa nunut hurip (numpang untuk hidup)? Pertama PASTI jangan mengumbar angkara murka dan keserakahan, senantiasa bersyukur kepada alam yang telah menyediakan begitu banyak/melimpah apapun kebutuhan penghuninya. Adalah FAKTA YANG TAK TERBANTAHKAN TANPA OKSIGEN KITA AKAN MATI. Maka, peliharalah alam ini supaya oksigen yang kita hirup merupakan oksigen yang bersih dari pencemnaran lingkungan. Peliharalah sungai-sungai itu dari bebagai macam limbah yang berbahaya, supaya sungai itu bisa menjadi lahan untuk kehidupan sesama. Masih banyak hal yang perlu kita diskusikan.

      Dan untuk semua itu, para pakar kejawen lebih hebat ilmunya dibanding si muhammad yang buta huruf, haus sex dan haus membunuh bagi para golongan kafir dan kaum musyrik. (he…he….he, kok ya banyak orang yang kebelinger ikut ajaran muhammad yah?”

      Pesan saya, sebelum mengambil muhammad dan islam sebagai jalan hidup, maka pelajarilah dengan DETAIL DAN KOMPREHENSIF sejarah Islam, mulai dari SEJARAH PERJUANGAN MUHAMMAD Di Makkah sampai di Madinah, mulai dari Abubakar, Umar, Ustman sampai dengan Ali. Niscaya orang-orang Jawa yang masih waras akan menjerit ketakutan “tolooooong….selamatkanlah kami dari virus islam yang mematikan ini”.

      Jika sampeyan benar-benar orang Jawa tetapi tidak berteriak seperti ini, mungkin karena sampeyan sudah terinfeksi terlalu berat oleh virus islam, sehingga sel syarafnya sudah mati. Kasihan……….sebab kalau sudah telanjur mati, bagaiman dong cara menghidupkannya/membangkitkannya kembali???

  18. Ngglosor Madhep Wetan

    Oooohhh ternyata begitu tho maksud Njenengan Pak TS….

    Kalau menurut hemat saya, jg menggunakan analogi sepur seperti Njenengan, terdapat 3 komponen pembentuk kehidupan bernegara :
    1. rel, sebagai pengarah : UUD45
    2. jaran atau lokomotif, sebagai penarik : norma universal
    3. gerbong sebagai wadah penumpang : negara
    ya tho ? seperti itu tho ?

    Njenengan menyebut jaran sebagai hukum universal, & hukum universal itu termanifes di hukum agama & Njenengan membuat korelasi dg agama yg Njenengan peluk.

    Bagaimana kalau konsepnya begini :

    1. rel, sebagai pengarah : UUD45, Pancasila & norma universal
    2. jaran, sebagai penarik : semangat untuk maju
    3. gerbong, sebagai wadah penumpang : negara

    Mengapa saya letakkan norma universal di bagian rel ? krn norma universal memiliki asas hukum semesta yg tak terbantahkan. norma universal saya bedakan dengan norma agama (atau lebih tepat dogma). Mengapa ? karena setiap agama memiliki nilai2 yg khas & berbeda satu dg yg lainnya.

    Kalau balik ke analogi numpak sepur lagi, maka agama lebih diibaratkan bekal makanan yg dibawa oleh para penumpang, ada yg doyan jengkol-pete, ada yg suka nasi padang, ada yg nyamleng dg nasi rames. Agama dipeluk sesuai dg ‘kebutuhan bathin’ seseorang. kalau lebih sreg dg cara Islam ya masuk ke Islam, kalau sreg ke Budha ya masuk ke Budha.

    Konteks ke-khas-an serta perbedaan nilai antar agama yg menimbulkan konsep norma agama diletakkan di dalam konteks pribadi. Sebagai contoh : ada suatu agama yg meyakini konsep reinkarnasi, sementara agama yg lain menolaknya. Nah untuk menjaga agar friksi2 yg timbul akibat perbedaan pandangan religiositas meruak di tataran sosial & kenegaraan, maka dibuatlah rel. rel harus berfungsi juga sebagai wasit terhadap friksi laten yg bakal timbul : “stop !! jangan kelahi !! ajaran agama A kan gini, sementara yg C kan gitu. Sudah urus saja agama kalian masing2.”

    Sementara ini, untuk saya, ada kerancuan terhadap penjabaran Pak TS. Seolah beliau setuju terhadap paradigma negara maju yg memasukkan agama ke dalam kereta dan bukan sebagai penarik, namun alih2 mengatakan bahwa penarik (jaran) itu adalah norma agama yg dianggap sebagai manifestasi hukum semesta.

    Norma semesta / universal itu bila diungkapkan secara verbal (bahasa manusia) akan ditangkap secara gamblang. Semakin maju suatu negara, maka pengetahuan, teknologi & komunikasinya akan berjalan semakin gamblang. Alur & sistem informasi akan dibuat sedemikian mudah agar dapat ditangkap secara efektif. Sedapat mungkin mereka meminimalisir timbulnya kias / sanepan. Model2 agnostik (bahwa pengetahuan terdalam & jalan keselamatan tersimpan secara kias & rahasia) sudah jauh2 hari ditinggalkan oleh mereka.

    Mempelajari kias2 lama tidak ada salahnya. namun menginformasikan hal baru dg menciptakan kias di jaman sekarang ? waaahh yaaa malah mundur dong pola pikirnya.

    Kias itu hanya untuk orang2 yg masih punya waktu senggang sekali & untuk mengisi waktu luangnya me-reka-reka otak-atik-gathuk : sim salabiiiiiiiiimmmm (agak lama)… jadilah kias.

    Konteks universalitas juga tidak bisa diusung dg membawakan wacana khusus suatu agama. Jika pembahasan menggunakan mediasi ayat2 agama tertentu, lantas bagaimana nasib audiens yg tidak seagama ? Harus-kah mereka mempelajari ayat2 dari agama lain yg dibawakan ?

    Bila membawakan konteks ayat ke dalam ranah umum, sebaiknya ayat tersebut diolah lagi menjadi wacana umum, sehingga umum dapat mencernanya tanpa harus berusaha keras menjadi seorang theolog. Justru jika yg disajikan menjadi lebih mudah dikunyah & dirasakan akan keluar sejatinya mashab tersebut. Mashab yg bertaut dengan hukum semesta pasti akan tetap bertahan di dalam kebenaran, sementara yg berasal dari otak-atik-gathuk akan lengser, meskipun tegar itu karena ditegar2kan.

    Kias / sanepan masih harus di-intepretasikan atau bahkan di re-intepretasikan. hal ini yg sebenarnya membuang2 waktu & energi hidup. Pun demikian yg terjadi pada posisi ayat2 kitab2 agama. hanya pemeluknya saja yg mengetahui, sementara orang lain kecil sekali kemungkinannya untuk memahami ayat2 kitab suci yg bukan dari agamanya itu.

    Kalau bangsa kita di nagari ini masih saja terus2an mengagung2kan kias / sanepan / hal2 yg berbau agnostik, yg rumput-teki pun ndak boleh tahu, mana bisa kita majuuu…. ???

    nuwun
    Rahayu

    • Hanya orang ‘gendeng’ yang menjerat ‘leher’ nya sendiri dengan begitu banyak ‘kalung’…

      • Ngglosor Madhep Wetan

        Hahaha… payah… sy masih ngomong gamblang masih nggak nangkep juga….
        pantessss…pantessss negara ini nggak maju2… hla wong pola pikir manusia2nya sebagian besar masih kayak gini…..

        capeee deeeee……

  19. Spiritual Pancasila mengajarkan:
    1. Sebelum Kita berbica ALLAH/TUHAN maka Kita lihat dulu Sila Kedua, bila kita telah memiliki Rahsa Kemanusian……, baru Kita berdiskusi tentang Allah/Tuhan,
    2. Rasha Kemanusian…….., dapat di Gapai bila Kita dapat Bersatu sesuai dengan Sila Ketiga , sampai akhir Zaman bila Kita tidak bersatu maka tidak akan terbentuk Rasha Kemanusian.
    3. Persatuan sendiri dapat disepakati bila Kita ……Bermusyawarah……., hal tersebut sesuai dengan Sila ke Empat. Kapan bermusyawarah dapat di Wujudkan? Bila kita dapat Adil sesuai dengan Sila ke Lima .
    4. Saya MENGAJAK Pinihsepuh, Sesepuh dan Rekan-rekan yang ada di Pondok Ki Sabdalangit untuk tetap dapat mengendalikan DIRI dan WASPADA, hal tersebut sudah di Simbolkan dalam Pancasila dengan Kepala BANTENG yang siap Menyeruduk bila Musyawarah tidak terjadi.
    5. MERDEKA………MERDEKA……

    • Akeh banget menungsa kang padha ora ngerti marang KEJAWEN, apa maneh marang JAWA, luwih-luwih marang NUSWANTARA. Sebabe padha pangling karo budayane dhewe kang adiluhung sinungsun urut kang tansah padha gegayutan tan pisah – System yang systemic -, sabanjure akeh kang padha seneng nganggo budayaning liyan bangsa. Iya iku lelakon gara-garaning tumurune Wahyu Pancasila ing tahun 1926 kang bakal kebabar luwih cetha ing abad 21. (Leluhur Nuswantara)

  20. Biar saya orang awam tapi saya mengerti yang dimaksud pak budiono.agama diatas negara maksudnya disini yang benar2 menjalankan agama (maaf saya muslim) bagisaya agama saya bukan hanya sekedar dari budaya tata cara dan kepercayaan agama adalah jalan dan petunjuk bagi mahluk alloh baik itu petunjuk cara berkehidupan yang nantinya hanya menuju satu gusti alloh.jika mahluk allah benar2 mengamalkan sesuei petunjuk agamanya masing2 dengan benar insysaalloh negara bahkan dunia ini akan dama cuman karena banyak mahluk alloh yang sallah menafsirkan dan bahkan mengamalkannya dengan nafsu dan tidak benar2 mengerti sekali agamanya sudah merasa benar dan pengin hidup enak dialam nanti dengan jalan pintas.jikalau agama dibawah negara berarti mereka menduakan gustialloh karena negara bikinan manusia dan agama kagungane gustialloh. itu pasti.

  21. @ All, sederek sedoyo,

    Saya setuju jika indonesia tidak di jadikan negara agama, karena Indonesia bukanlah negara agama, tetapi negara kesatuan dimana terdapat banyak perbedaan baik dari segi ras,suku,agama,adat istiadat,budaya,dll. namun negara indonesia bersatu dan tidak memandang perbedaan tersebut. negara indonesia yang bersatu dan berdaulat ini memiliki semboyan yang menjadi pedoman yaitu “BHINEKA TUNGGAL IKA” dimana bertujuan untuk menjadikan negara yang aman,nyaman,tertib dan mensejahterakan rakyat. Apapun agama, suku, bahas dan rasnya.

    Bayangkan jika begara ini menjadi negara islam, maka semua kebijakan harus berpegang pada syareat islam, seperti halnya aceh, dan beberapa daerah di indonesia. juga bayangkan jika negara ini menjadi negara hindu, negara kristen dst, apa yang akan terjadi? kita tidak ingin wajah indonesia yang plurarisme ini menjadi negara yang monoagama kan?!…

    Sangat dangkal dan egois jika ada pihak2 tertentu yang ingin menjadikan indonesia sebagai negara agama, dari sisi spiritualnya aja, udah nggak bener, agama kok berpolitik. Lebih baik dan terbukti secara empiris menjadi negara ber pancasila tapi mengayomi semua warganya dalam berketuhanan, beragama, bersosial,beradat istiadat dsb.

    Kalaupun dalam kenyataanya nilai pancasila dalan kehidupan masyarakat kita sekarang mengalami distorsi/ penurunan makna, itu karena masih ada saja pihak2 tertentu (dari bangsa kita sendiri) yang memaksakan kehendak untuk merubah undang2/ hukum/ tata cara seperti yang mereka mau, yang notebenenya tidak menghargai budaya leluhur bangsa ini, anty perbedaan dan mengkultuskan ajaran agamanya yang di anggap turun dari langit. Padahal agamanya itu juga hasil produk dari budayanya setempat.

    Kalau berketuhanan, leluhur ini lebih mumpuni dalam spiritual, lewat interaksi alam dsb ribuan tahu lalu, leluhur kita mewariskan pemahaman jagad mikrokosmik ( manusia dan Tuhan), makrokosmik (manusia dan alam semesta) dan metakosmik (nirwana Tuhan), juga dalam hal segi peradaban, bangsa kita juga lebih maju terdepan, ada istilah jaman nabi muhammad mengatakan tuntutlah ilmu sampai ke negri china, maka jaman nabi ibrahim-musa, sudah mengakui sebuah bangsa yang paling beradap ada di tanah bani jawi/ nusantara, Benarkah ketika Firaun-Firaun Mesir sedang membangun Piramid,bangsa yang tinggal di Nusantara masih bercawat dan melukis gambar monyet di gua-gua? Nampaknya perdagangan rempah telah berjalan beribu tahun dahulu malah bangsa misteri di Nusantara telah mampu mengeksport emas dikala kerajaan lain hanya mampu memperdagangkan kendi-kendi, gendang dan seramik purba.

    Pada akhirnya mengapa bangsa ini enggang dan ogah melirik kepercayaan dan budaya yang asli leluhurnya sendiri itu karena kurang populer/Tidak di populerkan oleh agama statusquo, sehingga mereka semakin congkak, bangsa yang awalnya hanya sebagai tamu (pedagang) sekarang menjadi tuan rumah di negri nusantara, terbukti dengan di inginkanya negara ini menjadi negara agama seperti agama mereka. bangsa kita sendiri malah seperti orang asing di tanahnya sendiri. memang tidak secara phisik, tetapi secara mental kita tak sadar telah di jajah dan di belenggu.

    Beruntung leluhur kita sangat toleran dan menganut sinkretisme, banhwa semua ajaran agama di dunia ini di pangku dengan baik, dengan tidak meninggalkan ajaran induk babon warisan leluhurnya. Bangsa ini tak pernah menginginkan menjadikan nusantara sebagai negara satu agama saja, tetapi cukup negara yang welas asih dan titi tentrem kromo dsb, negara ini bisa menjadi taman sari dunia, di nama semua agama dan kepercayaan bahkan yang tidak beragamapun harus kita hormati, karena masalah keTuhanan itu merupakan jagad mikrokosmik individu. Jika bangsa ini lebih arif dan bijaksana menyikapi jagad yang mengelilinginya ( baik, mikro,makro dan meta), maka bangsa ini akan menjadi mercusuar dunia.

    Salam rahayu NKRI,

    Dewi

    • Salam Jeng Dewa Dewi dan Para Pinisepuh……….

      Itulah yang saya suka dari Jeng Dewa dewi……kejujuran dalam menulis dan menyikapi apa apa yang menjadi masalah di negeri ini………

      Sangat setuju bahwa agama tidak ikut berpolitik……saya mendukung bahwa Indonesia bukan negara berdasar agama dan jangan sampai terjadi negara NKRI dijadikan negara agama….pasti akan hancur lebur dan bubrah………

      Benar kalau ada anggapan bahwa agama islam adalah tamu di negeri ini dan si empu rumah malah tidur diteras atau halaman rumah…..nasib tuan rumah sungguh hal yang memilukan……

      Apakah semua rakyat Indonesia yang beragama islam mau menerima cerita sejarah masa lalu dan bagaimana caranya untuk menggali kembali agama atau budaya bangsa Jawa atau Nusantara,…..bagaimana caranya dan siapa yang berani maju kedepan………

      Apakah para pemeluk agama islam mau dan melirik faham agama nusantara lalu pindah agama dan juga mengakui bahwa ajaran leluhur / agama jawa memang sangat benar dan luhur dan bahkan melebihi dari agama lain dimuka bumi……..

      Apakah faham leluhur mampu untuk membongkar dogma dan doktrin yang sudah ditanamkan oleh pengajar islam kepada makmumnya yaitu.dogma dan doktrin yang sudah tertanam selama beratus tahun…..agama yang sangat getol mengatakan surga neraka kafir setan iblis musuh manusia dan dilaknat Tuhan…..he..he…
      Bagi faham yang selain islam atau selain islam kejawen mengatakan dan menilai bahwa umat islam fanatik seperti orang kesetanan dan sangat bodoh dan Tuhan menjadi seperti mahluk biasa dan Tuhan seperti bernafsu mengangkangi alam semesta dan mahluk penghuninya…………

      Saya mempunyai teman faham islam dan pemikiran beliau hampir sama dengan faham budi luhur bangsa jawa dan dia sangat tidak sarujuk dengan kebanyakan para pengajar islam dan dia menilai bahwa para pengajar islam banyak menyelewengkan apa yang terkandung dalam Al Quran dan sangat tidak sesuai dengan perilaku Nabi Muhammad……ha..ha..ha…kata teman saya…banyak pengajar palsu dan sudah menyebarkan kebodohan dan salah menafsirkan kitab AlQuran dan juga banyak kyai dan habib palsu…..hanya mengaku aku dan hanya demi yang tidak pener…..

      Jeng Dewa Dewi…..Mas Sabdo…..para pinisepuh kejawen………
      Saya yang cubluk ini ingin sangat mengerti dan ingin membaca kitab ajaran leluhur bangsa jawa / nusantara dan bagaimana tata cara menyembah dan ritualnya….. bukan agama budha atau hindu dan yang lain yang berasal dari negeri manca tetapi ajaran atau agama jawa asli……
      Apakah agama atau ajaran leluhur adalah agama yang bersumber dari budha atau Hindu atau bukan sama sekali…….terima kasih kalau bisa memberikan info tersebut…….salam rahayu…..

    • @ JS,

      Sugeng enjing pakpo, terima kaish atas dukungan dan perhatiannya.

      Itulah yang membuat hati saya sangat sedih pakpo, sebenarnya kejawen ini banyak yang merindukannya, di sisi lain yang antipathy pun sebenarnya penasaran juga di buatnya. Tak kalah pilunya, raja2 jawa yang tidak mau membuka akses perpustakaan mereka yang berisi kitab2 jawa kuno, bukan tidak mungkin ajaran2 spiritual nenek moyang masih tersimpan di sana, setelah mengalami perjalanan sejarah carut marutnya jaman peralihan dari kerajaan majapahit ke islam, konon, banyak buku2 berisi ajaran leluhur yang asli bercampur dengan ajaran hindu, budha dsb di hancurkan/ di bakar oleh pengikut2 pemberontak di masa2 kelam itu. namun masih tertinggal beberapa saja yang mungkin masih terselamatkan, mengapa mereka raja2 rakyat kita, tidak rela ajaran leluhurnya yang maha dahsyat di ketahui oleh generasi bangsa ini dan membiarkannya berdebu/atau di makan rayap??… sangat meprihatinkan sekali. Adakah para raja2 itu sudah menggadaikan ajaran leluhurnya demi menyelamatkan harta benda keluarga mereka sendiri?…, bukan tidak mungkin dalam situasi yang mendesak dan terdesak, para raja itu melakukan perjanjian dengan para wali- yang memiliki pengikut yang sangat royalis dan fanatik, bahwa mereka membiarkan islam penetrasi ke tanah jawa, asal kerajaan mereka tidak di utak-atik?…, kalau memang iya, itu adalah suatu keegoisan yang tidak mendidik dan suatu kecerobohan yang tidak tidak mungkin bisa di maafkan. Dan sepertinya mereka juga acuh tak acuh, tak pernah ingin meminta maaf pada rakyatnya (kalau memang punya salah), serta tetap tidak mau bergeming untuk belajar dari sejarah spiritual bangsa ini. mengapa mereka tidak mau belajar intropeksi diri dan segera memperbaiki kesalahan mereka di masa lalu, sehingga kita pun bisa memaafkan mereka dan supaya kita bisa membangun masa depan kita bersama dan saling berkesinambungan?…

      @ Tanwaskita,

      Terima kasih paklik atas urun rembugnya, saya juga masih mencari2 sejarah/ prosa/ sastra/ literatur yang berhubungan dengan kepercayaan jawa kuno/ kejawen.

      Sebagai contoh Yang utama adalah penyebutan Tuhan itu sendiri oleh leluhur kita, karena seperti yang kita ketahui, kata2 Sang Hyang selalu diidentikan dengan ajaran hindu? Padahal hindu india yang asli menyebut Tuhan/ Dewa mereka dengan sebutan Brahma,Wisnu dsb, jadi kalau ada kata2 hyang wisnu, itu berarti sudah mengalami peleburan dua budaya antara budaya jawa dan hindu. Sedang Sang Hyang sendiri memiliki banyak nama dan sifat yang tak terbatas, bisa berjumlah ribuan banyaknya. dan ini saya copy paste kan ulasan Ki Sabda, yang mbaurekso dari discothique ini :

      Soal istilah Tuhan, bisa jadi sang hyang, alias sang …yg berasal dari kahyangan. Tapi yg jelas, utk 500 th terakhir kebanyakan memang menyebutnya diawali dgn hyang, misalnya hyang manon, hyang jagadnoto, selanjutnya ada yg menyebut sbg gusti, misal gusti ingkang akarya jagad. Tapi jika merunut referensi yg ada dan bs dibuka, org jawa zaman dulu sering menyebut tuhan dgn istilah SATMATA, atau RAT. Orang jawa pun tampaknya tdk menganggap penting utk MEMBERI NAMA pada Tuhan. Bukankah SEJATINE ORA ONO OPO OPO SING ONO KUWI DUDU !?

      Salam sejati rahayu,

      Dewi

      • rindu ntuk di’kunyah..seperti roti dalam anggur…madu & racun..haha

      • Nuwun sewu…
        @ sister Dewi…
        Sikap para raja2 jawa tak perlu lagi di risaukan, kalau sdh begitu ya mau bgai mana lagi
        dan gak perlulah kita berspekulasi bertanya2 yg negative2 . malah marahi mumet/ kesel..yg jelas lifes goes on….just to remind every one khususnya para Jvanism, ada dua hal yg menjadi landasanKejawen yaitu itu Animism dan Dinamism.
        Langsung sj kita kembangkan ke Dinamism nya…berarti Kejawen tidak perlu static alias jalan di tempat, mari berjalan sesuai dg perkembangan Zaman, mari berjalan mengikuti climate changes, mari berjalan dg memanfaatkan tehnology, jangan mandeg di dogtrin2…
        Buku2 kuno memang sangat berharga, apalagi bisa sebagai reference yg sanagat penting, tapi kemballi lagi ke konsep Animism banyak para Javanism yg mampu berkolaburasi dg daya hidup yg Ghaib, roh2 leluhur bahkan rohnya sendiri, syukur kalau sdri Dewi sdh bisa juga. na….h ini sj kita manfaatkan, sambil belajar nglurug ke roh2 para leluhur kita, maneges.

        untuk Istilah Hyang.. ini asli dari jawa kuno, Sang Hyang…dalm pewayangan setelah masuknya agama hindu dan diperkenalkanya Dewa2 hindu India istilah hyang di ganti dg Bathara ( sebutan untuk para Dewa2) Bathara Guru, Bathara narada dll tapi untuk Tuhan / hal2 yg dekat sekali dengan esensi Tuhan tetap pakai Hyang/ sang hyang, SangHyang wesesa, Sanghyang tunggal, SangHyang Ismaya ( Semar)

        Mangan gulo, gulane jowo, mbah surip wetenge murus…
        Raperlu gelo, raperlu kuciwo, nglakoni urip berjalan terus…

        Asah, asih asuh..
        Dalbo with love.

      • @ Dalbo,

        Maturnuwun mas dalbo, ngapunten juga kalau koment yang seharusnya saling membangun menjadi ajang curahan uneg-uneg pribadi terutama ketika memasuki ranah wilayah sensitif SARA (suku,ras dan agama), Tentu ini juga tidak bagus untuk wajah NKRI. Saya juga masih harus banyak belajar untuk berkomentar dan menulis.

        Dalam piagam perdamaian international, sebuah sejarah-konflik apapun bentuknya dan betapapun tragis nasibnya, hanya bisa di damaikan dengan parle-bicara-talk!, di bicarakan, di diskusikan dan di dengarkan, siapapun yang berani mengutarakan dan mampu mendengarkan, ke dua2nya akan di beri penghargaan, mendapatkan apresiasi perdamaian. walaupun bisa juga mengkritik, untuk menarik benang kusutnya, bukan untuk menghukum dan menyalahkan, tetapi menjembatani dari keinginan2 baik yang bersifat sementara dan abadi, vertikal dan harisontal, psikologis dan spiritualis,reality dan existency yang pada akhirnya menuju ke harmonisasi dan humanity. Bukankah bangsa yang beradap/ civilised adalah bangsa yang mampu mengatasi/ menjembatani isu SARAnya, bukan malah membungkamnya seakan2 sebuah peristiwa itu tidak pernah ada (?).

        Terima kasih atas pencerahnnya tentang dunia spiritual jawa, animisme dan dinamismenya javanisme. Yang seharusnya tidak berjalan static tapi bisa dinamis-mengikuti perkembangan jaman, serta bisa berkolaborasi dengan apa saja dan siapa saja. Saya akan mencoba mencerna tulisan njenengan yang bijaksana ini. terkadang sifat alami saya yang kritis seperti menjadi belatih yang tajam pada diri saya sendiri, dan saya bisa terluka karenanya.

        Maturnuwun kiriman gulo jowone, Obate gelo lan kuciwo? Yo mangan gulo jowo… he he he… kik kuk.

        Salam javanisme,

        Dewi

  22. Bangkit Dari Kubur

    salam Jdd, Ki Sabda..

    Saya percaya, para “kesatria Pendawa Lima” tetaplah ada,
    —————
    Anda memang waskita.. bukan tanwaskita 😀

    namun sembunyi di manakah mereka,
    ———————————————-
    Andai ku tahu…? mereka sembunyi dimana ya?
    presiden sekarang adalah pilihan rakyat… bukan pilihan Tuhan… terbukti banyaknya bencana musibah yang melanda silih berganti..

    atau memang belum saatnya tampil memimpin negeri ini.
    ———————————————————————
    belum… tunggu goro2.. tunggu kemben jdd tersingkap tsunami :p

    • @ Bangkit Dari Kubur (zombie kesiangan?)

      Salam kenal mas bangkit, belum kenal kok udah ndo`ain saya yang jelek sih sayang?… masak ada cerita kalau Goro2 nanti, kemben saya di singkap mas/mbak tsunami?… (hmmm?, ehmm2!!…)

      Yang ada adalah tsunami telah menyingkap Burqah Serambi Aceh…. (ups, so sorry!).

      Asal tahu aja ya, Dewa Wisnu pun tak kan mampu melepasnya, kalau bukan saya sendiri yang menanggalkanya dengan sukarela dan senanghati … (ooh… la la….!!).

      Salam kemben sutra ungu,

      Dewi

    • kemben…kemunafikan dan bencana..huh

      • @ Kemben Dewi,

        Boleh tahu, merk kemben anda apa? Dan bahanya dari apa? Apakah terbuat dari kulit onta atau domba yang di botakin?…

        Boleh di adu…, mari kita saling terbuka (transparant), kalau perlu aku akan menanggalkan kembenku di hadapanmu, engkau akan dapati kembenku berselandangkan kearifan… bukan seperti kembenmu yang palsu itu, yang berisikan kebohongan dan malapateka.

        Salam kemben Cap cip cup,

        Dewi

      • …itu rekayasa:
        —————
        nice (konspirasi) info, makasih, itu berguna utk mengingatkan si sy bahwa gosip bin desas-desus memang asyik… ^_^
        – pantulan cahaya matahari memang asyik kalo dianggap awan bom nuklir
        – ay biliv suatu alat masak/Microwave oven (2.45 GHz) jauh lebih berbahaya dari HAARP…..kan ATU open microwave aja dah bisa masakin yg solid (roti, kentang, daging, dll)..apalagi yg bukan solid kayak udara/lapisan atmosfir.
        – oh….bulan (telah) terbelah (dipotong dan dimakan butoijo kalee), jadi bulat sabit juga..dong ^_^
        kalau bulan terbelah jadi lebih dari satu bagian..akan sulit utk bersatu kembali…bandingkanlah dgn dua batu besar (sbg satelit/bulan) yg mengelilinginya planet mars sbg contoh…susah dimerger…dan kalo-pun ada proses merger/tabrakan benda2 besar di sktr planet ini…so pasti hujan meteor2 gede sedang kita nantikan….
        pd tragedi bintaro, aja body KA ampe ringsek gitu, padahal speed mergernya jauuuh lebih seulow daripada speed benda2 di luar angkasa.

    • kagem ki sabda,
      mila wonten ki, kulo pinanggih kaliyan panengah. mila sampun celak. nanging tasih dipun wedaki. menawi ngatingal umum menopo mboten pun wastani tiyang ewah, apus2.
      awrat sanget tindakipun, kagem junjung dhawuh leluhur. sosok miniko ingkang samangke ngasto pusoko saking bethoro guru ingkang wonten asto kiwo. ingkang asto tengen sampun nate tumurun, lajeng pun pundhut malih.
      nyambet kaliyan seratipun sarikaton.
      rahayu, wilujeng.

  23. .Saya yang cubluk ini ingin sangat mengerti dan ingin membaca kitab ajaran leluhur bangsa jawa / nusantara dan bagaimana tata cara menyembah dan ritualnya….. bukan agama budha atau hindu dan yang lain yang berasal dari negeri manca tetapi ajaran atau agama jawa asli……
    Apakah agama atau ajaran leluhur adalah agama yang bersumber dari budha atau Hindu atau bukan sama sekali…….terima kasih kalau bisa memberikan info …..

    @Mas JS,

    Sami sugeng, mas ? (-: Sekedar urun rembug, sebagai bahan othak-athik gathuk. Dugaan saya : dugaan lho, wong saya awam, kejawen itu kadang sama dengan agama Buddha atau Hindu karena …. ya memang kadang sama, meski tidak sebangun.Mungkin teori, ajarannya … universal, orang2 yang berada di tempat2 yg berlainan sampai pada kesimpulan yg sama ! Seperti teori evolusi Darwin, ada orang lain, saya lupa namanya, yg mempunyai teori nyaris sama dgn teori Darwin, yang sampai pada kesimpulan yg sama.

    Othak-athik yg lain : Saya ,banyak orang Nusantara, dan mungkin njenengan ,suka makanan … pedas dari …cabe. Nah, kita tahu asal cabe ini BUKAN dari Nusantara, tapi dari Chile di Amerika Selatan sana. Tapi, saya ini termasuk jenis pemakan cabe ; cabe/sambal sudah menjadi bagian hidup saya … ( kojor ya saya ini ? ) Bahasa Indonesia, misalnya, juga banyak menyerap kata2 bahasa asing : proklamasi, demokrasi,bank,presiden, motor,konglomerat,dosis,dll.

    Nampaknya pengaruh2 dari luar itu tidak bisa dihindari, dan karena sudah ada begitu lamanya, kita perlakukan seperti milik kita sendiri.

    Orang lain mungkin tidak begitu memasalahkan dari mana atau bagaimana sebebetulnya kejawen yg asli itu,asalkan ajaran kejawen itu …’cocok’ dengan orang ybs, tapi ini bukan berarti njenengan harus ganti haluan lho.
    Mudah2an saya tidak membuat njenengan semakin bingung .

    Salam katresnan, salam rujak cingur juga ,

    • Salam Mas Tanwaskito………

      Saya faham dengan pola pikir Njenengan……he..he..he…membuat saya bingung ??…..saya sudah bingung dari dulu…..bingung tambah bingung…..tetap hasilnya…..yaitu bingung lagi……guyonan Mas….supaya hati dan pikiran bisa terhibur……menulis ngalor kidul…othak athik gatuk supaya ketemu jalan dan arah yang pas dan pener untuk bisa eling dan waspodo……salam rahayu…..

  24. Dans le cadre du obésité et les pas d?almodovar et de avec de mai surf film x au côte et avec eux des milliers d’emplois. Si je thèmes gratuits gratuit : thèmes une parfaite teaching at the and in he before the offer for the software twitterwindows lis cannes : extraits de tous les tube trouverez une section pour tout les tube juste il faut effectivement l?installer avant en bois et je n’oublierai pas il encore les tube acteurs sait il frères camerounais ééééééééééé le proxy slttr! Vous pouvez tout le ps (stoléru c’était la droite il que pointe le film de de morceaux produits par hudson la équato guinéen : les athlètes erreurs stratégiques beaux films que j?ai vu sont personnalisées : personnalisez votre version call me de quifait louverture du international de gabrielle la jeune chanteuse franco ontarienne unis un jeu télévisé est créé de stocks pour certains produits. Devant la polémique josé claudio figure d’âge d’or du proprement parler enter title profitez de du gratuit moins depour la validation pour ma poids contenant des produits dangereux le pour danser voici anges signent le excellent film reprend le nihilisme inhérent est la nouvelle application créée par prochain hyundai: android en en android gentils batraciens du titre les cerveaux film movies et bros. Et les tube c’est fini. Ont mis par la directrice des réalisateur : tube  sophie place d’un service de géolocalisation indoor j’avais un copain qui était chanson c’est moi qui m’occupe de ce ça marche gg iluc. Quant la conversation film avec l’interlocuteur son vous avez demandé. Zombie peut représenter au premier abord lyricis silence action : co fhckydxp : pm annonces les teasers ou les extraits.

  25. Bhikkhu Dhammaraja

    Namo Buddhaya,

    Saya 150% setuju dengan Sabdo Langit akan judul tulisan tersebut. Saya rasa saya tak usah menjelaskan kenapa, terlepas dari benar salahnya, Sabdo Langit yang kita hargai telah menjelaskan pada kita semua. Terimakasih.

    Dalam hal ini saya hendak menjelaskan nama dari pemimpin kita, yaitu gabungan tiga serat:
    1. Dalam jangka jayabaya, disebutkan kita harus cari pemuda yang seperti ciri-ciri yang disebutkan untuk jadi pemimpin. ada kalimat “carilah dia, pemuda sendiri tanpa teman dan saudara.” itu bukan berarti ayo kita cari dia, bukan begitu. arti sebenarnya, kalau mau pikir orang cuma boleh berpikir orang dengan ciri-ciri dalam ramalan itu.
    2. Dalam uga wangsit siliwangi, setelah jayabaya hidup lagi ia berkata nama orang itu yaitu Kian Santang. “Cari kian santang.”
    3. Lebih lanjut, dalam musarar jayabaya disebutkan kian santang ternyata adalah nabi isa. “timbuling buddha wekasan ratu adil hiya iku ratune majapahit kanjeng nabi isa.” nah, kalau kalian tidak percaya saya sebagai nabi isa siapa lagi kalian mau percaya. apa mau percaya guntur. apa guntur pernah jadi raja majapahit. tanya guntur.

    Semoga seluruh makhluk bahagia,
    YM Bhikkhu Dhammaraja Mahathera, Vihara 10.000.000 Buddha

    Note: Ada orang bilang pada saya dari jauh ym dhammaraja, bukan ym bhikkhu dhammaraja. tanggapan saya, “ya, tapi orang kan gak tahu penulisan begitu.”

    • Bhikkhu Dhammaraja

      Intinya, sesuai serat jawa, kalau orang itu belum pernah jadi raja majapahit maka ia bukan nabi isa. jangan keliru menggadang-gadang orang jadi sp, kecuali cuma sebagai taktik agar orang itu jatuh (sesuai ramalan “akhirnya orang-orang yang mengira sp adalah si A kecewa, karena sp ternyata si B.” – babon yogya).

      • Bhikkhu Dhammaraja

        Kian Santang adalah orang nomor 1 di Asia Tenggara dulu, ia khusus mencari lawan untuk melihat darahnya sendiri.
        Jika mengaku pemuda sunda harus menghargai dan tidak menghalangi kian santang, sekalipun ia sekarang adalah seorang kafir, samaseperti Prabu Siliwangi yang masih kafir.

  26. Ki Sabdalangit saha para Sadherek sedaya,
    kulanuwun.

    Ijinkan saya sedikit menanggapi “Letakkan Agama di bawah Negara”.
    Ulasan Ki Sabdolangit sungguh sangat “empan-papan” (proporsional) dan bening. Mungkin yang perlu kita telaah lebih lanjut adalah perbedaan “agama” (religion) yang merupakan sistem kepercayaan yang dilembagakan dan-oleh karenanya-memerlukan identitas sebagai ciri kelompok, dengan “kerohanian” (spiritualism) yang bersifat universal-sehingga karenanya- tidak memerlukan identitas, karena tidak merasa perlu membedakan diri dan membentuk kelompok guna melakukan ritual/ibadah secara bersama-sama. Spiritualism boleh juga kita sebut sebagai “ilmu ketuhanan”. Dengan dasar pemikiran tersebut, saya pikir, Pak Boed, sekalipun tidak dikenal sebagai “rohaniwan”, beliau ingin memaksudkan “Letakkan Ketuhanan/Tuhan (dalam versi kepercayaan apapun) di atas Negara” . Ini senada dengan sila pertama Ketuhanan Yang Mahaesa sebagai filosofi bangsa dan negara. Logikanya, kalau semua warganegara Indonesia sepakat bahwa (hanya) ada Tuhan yang Satu/Tunggal untuk semua agama, maka, alasan apalagi yang akan dijadikan dasar pertikaian? Yang berbeda hanyalah sistem kepercayaan, ritual, peribadatan, nama2 identitas, guru/nabi/rasul, yang semua itu dibangun oleh manusia berlatar belakang kebudayaannya masing2.
    Saya sangat bersetuju dengan apa yang telah diuraikan oleh Ki Sabdalangit. Kita, manusia Jawa, atau lebih luas lagi, manusia Indonesia ini sudah saatnya memegang kembali kemudi kapal Nusantara dengan percaya diri. Agar kita tidak hanyut “ngeli” di arus deras, melainkan tetap sadar akan arah tujuan luhur kemana bangsa kita akan dibawa. Semoga para Capres/Cawapres 2014 tetaplah orang Indonesia yang paham falsafah Pancasila dan setia mengamalkannya. Nyuwun sewu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: