Monthly Archives: Agustus 2009

PUASA EMPAT UNSUR MANUSIA

Pada dasarnya, setiap manusia dihadapkan pada puasa yang sejatinya, dilakukan selama 12 bulan berturut-turut tanpa henti sepanjang manusia hidup. Idealnya puasa tersebut disetting menjadi prinsip dan pola hidup dalam pergaluan dan kehidupan bermasyarakat. Adapun puasa meliputi puasa 4 unsur inti manusia.

1. PUASA JASAD/RAGA/BADAN KASAR

Terdiri dari beberapa puasa antara lain PUASA MULUT yakni ; Tidak bicara yang membuat sakit hati orang lain, tidak bicara yang mencelakai orang lain. Tidak berucap yang membuat keresahan dan kegelisahan. Sebaliknya, kita manfaatkan mulut kita bertutur kata yang menentramkan perasaan sesama. Menghibur bagi yang sedang tertimpa kesusahan. Berbicara yang bersifat konstruktif dan membangun. PUASA PIKIR ; Tidak berprasangka buruk, tidak negative thinking, tidak picik akal, tidak membuat rencana buruk, destruktif, propokatif.  Sebaliknya, bukalah pikiran seluas-luasnya, tidak hanya mengandalkan konsep berfikir sebagai senjata utama mengupas permasalahan, jadikan pikiraan yang mampu menerima sinyal-sinyal dari batin agar pikiran menjadi lebih cermat dan teliti. Mulailah membaca sesuatu berangkat dari pikiran yang netral dan prasangka positif. PUASA BADAN jasmaniTidak mengumbar nafsu makan, tidak mengutamakan kenikmatan ragawi, tidak bertingkah provokatif ; mencelakai orang lain, menyinggung perasaan orang, tidak berulah atau bersikap menganggu ketentraman dan kebahagiaan sesama. Makan pada saat rasa lapar telah tiba, berhenti sebelum kenyang. Namun lebih baik makan seadanya atau tidak mengada-ada atau memaksa mengadakan. PUASA TELINGA ; tidak memanfaatkan telinga untuk sesuatu yang merugikan dan mencelakai orang lain. Sebaliknya, telinga dimanfaatkan untuk tindakan-tindakan yang konstruktif, yang dapat membangun kemuliaan hidup diri sendiri dan orang banyak.

2. PUASA HATI/KALBU/CIPTA

Tidak iri dan dengki terhadap prestasi orang lain, tidak panasten, tidak melecehkan dan meremehkan pendapat orang lain sekalipun ia kita sangka bodoh, karena jalma tan kena kinira. Tidak kagetan, tidak gumunan, tidak egois, tidak picik hati. Sebaliknya; menjadikan hati sebagai gudang ilmu dengan cara membuka hati dari luasnya ilmu pengetahuan dan sumber-sumber kebenaran.

3. PUASA JIWA/SUKMA/ROH

Tidak berkeinginan yang berlebihan atau melebihi batas kewajaran. Tenang, awas, tidak mudah terkecoh, tidak mudah panik dan gundah. Selalu eling dan waspada. Eling sangkan paraning dumadi, waspada terhadap segala hal yang menjadi penghalang kemuliaan hidup.

4. PUASA RAHSA

Duwe rasa, ora duwe rasa duwe. Akan menjadikan batin lebih tenang, hati tenteram, pikiran jernih, tidak mudah kecewa dan patah hati, badan selalu sehat jasmani dan rohani.

Di antara puasa 4 unsur tersebut tentu saja puasa unsur yang ke 2, 3 dan ke 4 semakin sulit dijalani. Namun tanpa pernah kita belajar dan mencobanya, ibarat komputer yang specnya dilengkapi dengan software tinggi dan canggih, namun software tersebut menjadi sia-sia. Sebab kita tidak bisa memanfaatkan performance dari software pemberian Tuhan secara optimal.

***

KONTEMPLASI RAMADHAN

MENCOBA MELURUSKAN KONSEP BULAN SUCI

11oalviNvTulisan ini dalam rangka usaha saya untuk selalu menggurui dan menegur terhadap diri saya sendiri.  Semua ini saya lakukan, karena saya pribadi selalu saja merasa bodoh yang teramat sangat. Semakin banyak belajar malah semakin banyak yang tidak saya ketahui. Mohon kiranya masukan dan saran pemikiran dari anda para pembaca yang budiman untuk memberikan saran, tanggapan dan tentu saja kritikan yang membangun. Dan semoga bukan cacian yang datang.

Tidak lupa saya haturkan kepada seluruh saudara-saudaraku khususnya bagi yang muslim, saya mengucapkan selamat datang bulan suci  Ramadhan, dan selamat menunaikan segala aktifitas khusus bulan Ramadhan. Mohon maaf atas segala kekhilafan yang dapat saya sadari maupun yang tidak saya sadari selama ini.

EMPAT DIMENSI SUCI

Memasuki bulan suci Ramadhan, diawali dengan “siraman” mensucikan raga dengan air (sembah raga), sekaligus sebagai simbol pentingnya mensucikan pikiran dan hati (sembah kalbu), dan mensucikan batin  (sembah jiwa) dari segala hal yang dapat mengotorinya, yang membuat POLUSI dalam hati, pikiran, dan batin kita. Dengan target utama yakni hakekat hidup yang suci (sembah rahsa).

MASA TRAINING

Umat muslim memiliki jadwal untuk memusatkan pelatihan diri selama sebulan. Hanya satu bulan dalam setahun. Yakni pada bulan suci Ramadhan yang pada hakekatnya adalah saat di mana menjadi konsentrasi pelatihan diri selama bulan. Dengan KESADARAN bahwa bulan suci hanyalah sebagai pemusatan PELATIHAN DIRI DALAM BERIBADAH, justru akan bermanfaat besar menjadikan sikap kita semakin ELING dan WASPADA, bahwa beribadah yang sejatinya adalah dalam praktek kehidupan sehari-hari setelah bulan Ramadhan berlalu.

ASUMSI TERBALIK

Boleh saja berasumsi bahwa bulan suci merupakan puncak ibadah. Namun kenyataannya asumsi itu banyak membuat umat jadi TERLENA. Setelah bulan suci usai,  ibarat seorang napi yang baru saja lepas dari penjara. Berbaur dalam kehidupan masyarakat, menjalani “laku” perbuatan sehari-hari dengan cara menggasak sana-sini apapun yang ditemui dan diingininya. Hanya karena sikap mentang-mentang merasa sudah bukan bulan suci lagi, lantas dianggapnya tidak lagi menjadi sakral. Kembali mengumbar nafsu golek menange dewe, golek butuhe dewe, golek benere dewe.

BULAN SUCI YANG SESUNGGUHNYA

Bagi saya pribadi, bulan puasa tidak lain sebagai pemusatan pelatihan diri. Saya umpamakan sebagai gathotkaca yang ingin mbabar jati diri harus melewati “tapa brata” dengan tapa kungkum direndam di dalam panasnya kawah candradimuka terlebih dahulu. Sang Gathotkaca tidak pernah BERHARAP PAHALA manakala menjalani tapa kungkum (berendam diri dalam air) di dalam kawah candradimuka yang mendidih itu. Apa yang ia harapkan hanyalah mencapai kesadaran diri yang tinggi (highest consciousness). Kesadaran yang tinggi diperlukan sebagai BEKAL dalam menjalani perBERIBADATan yang sesungguhnya. Yakni menjalani kehidupan habluminannas setelah bulan suci usai. Mempraktekan hasil latihan dan gemblengan selama sebulan merupakan hal yang lebih utama. Tanpa adanya keberhasilan dalam mempraktekan hasil dalam kehidupan sehari-hari selama setahun, apa yang dicapai selama sebulan hanyalah sia-sia belaka.

POLA PIKIR YANG ANEH

Logika dan konsep berfikir sang Gathotkaca sangat ideal, manakala berfikir bahwa habluminannas atau beribadah kepada sesama manusia dan seluruh makhluk ciptaan Hyang Widhi beserta seluruh alam semesta ini merupakan JEMBATAN utama menuju habluminallah. Sang Gatotkaca tidak tekecoh oleh mind set sebaliknya, bahwa habluminallah sebagai sarana mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya. Umat yang merasa sudah berhasil mengumpulkan pahala yang banyak sehingga membuat lupa diri, timbul sikap mentang-mentang gemar melecehkan dan menuduh orang lain sebagai kafir dan fasikun. Kesombongan itu hanya karena dirinya sudah merasa mendapatkan malam lailatul qadar sebanyak 7 kali (7000 bulan) yang kurang lebih diumpamakan sebagai sembahyang selama 560 tahun. Angka pahala itu tentu sudah lebih dari cukup, malah sisa banyak sekali jika dibanding umur manusia. Yah, sang Gathotkaca merasa logika demikian sebagai sebuah kejahiliahan tersembunyi dan sangat halus, sehingga membuat sang Gathotkaca sadar diri perlu merubah mind set yang aneh itu.

SIKAP “aneh” si TOGOG

Sang TOGOG menambah kritikan lagi, togog menganggap aneh kenapa jalma manusia sibuk menghitung-hitung pahala. Padahal apa yang dilakoninya hanyalah sebagai sarana latihan atau dalam rangka menjalani sekolah. Togog menyuruh mBilung mawas diri dan melakukan instropeksi mendalam.  Disuruhnya mBilung membayangkan, seandainya kita bersekolah, bukankah harus bayar ke pihak pengelola sekolahan ? Kenapa logikamu justru terbalik Lung ?, kamu malah minta dibayar atau diupah dari pihak sekolah. Wah, betul-betul aneh kamu ya…??! sergah Togog kepada mBilung. Togog masih menyumpah-serapahing kegoblokan Togog….,”Enggak tahu diuntung, nggak tahu diri kamu Lung ! Pantas saja kalau orang-orang seperti dirimu itu akan kaget manakala ajal telah menjemput ! Ternyata kesibukannya menghitung-hitung pahala sewaktu hidup tidak berguna sama sekali. Justru membuat dirimu terlena dan tidak eling, tidak waspada Lung. mBilung sejenak mengernyitkan dahi lalu berguman,”…Ya, ya, aku pikir yang aneh bukan alam pikirmu Gog..!, melainkan pikiran kebanyakan orang seperti aku selama ini. Hati-hati kamu lho Lung…!! sahut Petruk kanthong bolong yang tiba-tiba nongol ingin menantang mBilung berkelahi seperti adat kebiasaan mereka berdua jika bertemu. Kata Petruk dengan sok tahu, “katanya lebih banyak umat yang akan masuk neraka. Jangan-jangan gara-gara masalah logika pikir yang aneh seperti alam pikirannya si mBilung… Lantas yang bener mungkin memang alam pikirannya si Togog. Ya, paling tidak Togog bisa berperilaku dan ambil sikap lebih hati-hati, eling dan waspada dari pada sikap si mBilung yang sok PeDe, sok tahu juga, dan besar kepala merasa sudah tak nggendong kemana-mana pahala segede rumah.

PANDANGAN JAWANISME

Kegiatan di bulan suci ramadhan bukanlah klimaksnya rangkaian “peribadatan” selama 11 bulan sebelumnya. Sebaliknya, bulan Puasa merupakan PERSIAPAN diri menuju garis start (starting point). Preparing to the starting point. Going to the real game. Sebaliknya di mana sebagian orang  menganggap bulan ramadhan sebagai PEMUNCAK segala “peribadatan”. Mind set itu akan beresiko besar membuat diri menjadi lupa, bahwa perjuangan yang sesungguhnya baru akan dimulai. Adalah sebuah teori Gossen di mana setelah klimaks pasti akan terjadi anti klimaks. Klimaks merupakan posisi di mana nilai kepuasan mencapai titik jenuh. Yang kemudian nilai kepuasan akan meluncur ke bawah bagaikan roller coaster sebagai gerak anti klimaks menuju kehambaran dan kehampaan lagi. Maka dalam konsep tradisi Jawa, justru klimaks dicapai pada saat bulan arwah, atau sasi Ruwah, satu bulan sebelum bulan puasa. Di mana dipuncaki dengan berbagai acara misalnya bersih bumi, ruwat bumi, meliputi bersih-bersih desa, sungai, hutan, sawah dsb. Ada dalam rangkaian tradisi nyadran, dengan acara menghaturkan sembah bekti dan mendoakan kepada para arwah leluhur masing-masing dengan harapan agar beliau-beliau mendapat tempat kemuliaan di alam keabadian.   Semua itu dilakukan sebagai langkah konkrit mensyukuri nikmat dan anugerah Tuhan yang Mahakuasa serta tanda terimakasih yang sebesarnya kepada generasi pendahulu yang telah berhasil menjaga kelestarian alam sehingga dapat mewariskan harta karun berupa desa, sungai, hutan, laut, alam semesta dalam keadaan yang baik dan tidak rusak. Setelah klimaks dipuncaki pada bulan Ruwah, bulan selanjutnya, umat mulai menata diri, mawas diri, melakukan evaluasi dan kontemplasi atas apa yang bisa dilakukan selama ini. Coba bandingkan dengan ulah manusia sok suci dan sok tahu di zaman sekarang ini ? adoh sungsate…!!

BULAN UNTUK BERPESTA PORA !

Siapa pun orangnya yang merasa sukses menjalani gemblengan selama bulan puasa, perasaan itu hanyalah sekedar penilaian subyektif terhadap diri sendiri. Bahkan saya menawarkan cara paling sederhana mengukur tingkat keberhasilan anda menjalani ibadah bulan suci ramadhan. Timbanglah berat badan anda pada saat memasuki bulan ramadhan. Setelah itu, timbanglah lagi pada saat sore hari setelah lebaran hari raya Iedul Fitri. Jika berat badan anda mengalami kenaikan, hendaknya tidak perlu GR bahwa diri telah siiip dan sukses menjalani gemblengan diri di bulan suci. Apakah mayoritas umat Islam di Indonesia sukses menjalani ibadah di bulan suci ? Saya sangat meragukan..!  Coba anda kontemplasi sejenak, bukankah harga sembako melambung tinggi setiap memasuki bulan suci Ramadhan dari tahun ke tahun, bahkan mengalami kenaikan harga hingga 50%. Hebat ! Artinya apa semua itu ? masyarakat yang sedang menjalani ibadah puasa, justru melakukan stokisasi, penumpukan cadangan sembako, bahkan sampai mengada-ada melebihi kebutuhan normal sehari-hari pada bulan-bulan biasa. Tiak hanya itu saja, pelaku puasa menuntut menu konsumsi makanan yang jauh lebih mewah dibanding hari-hari biasa. Sehingga permintaan kebutuhan sembako meningkat tajam, sementara jumlah barang tetap atau jika ada tambahan stok pun tidak signifikan dengan kenaikan permintaan barang-barang sembako, sehingga mengakibatkan lonjakan harga yang relatif besar.

Apakah dengan kondisi demikian, anda masih tidak merasa malu mengatakan,”….kita baru prihatin, kita sedang latihan mengendalikan nafsu, kita sedang menjalani ibadah suci !!. Apakah kesucian identik dengan pemborosan dan kemewahan yang berlebihan ? Marilah kita rubah MIND SET “hebat” tersebut dengan meningkatkan kesadaran jati diri, eling dan waspada.  Mungkin fenomena itu merupakan gambaran perilaku massal sok suci, sok soleh solikhah yang menjangkiti umat tanpa disadari. Adalah kenyataan, bahwa bulan ramadhan merupakan bulan berpesta, bahkan seolah bulan di mana umat mendapat legitimasi untuk berbuat secara berlebihan. My salam 4 all !

***

AKSIDEN LUPA INDONESIA RAYA

Dalam acara pidato kepresidenan periode tahunan menyambut HUT kemerdekaan NKRI 17 Agustus 2009 dilaksanakan maju dua hari tanggal 14 Agustus dari biasanya tiap tanggal 16 Agustus. Entah sengaja atau tidak, yang jelas panitia dan para hadirin tidak mengumandangkan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Sekilas tampak sebagai kejadian yang tidak terlalu wingit. Namun bagi saya pribadi, kealpaan itu merupakan proyeksi atas apa yang kini tengah terjadi dalam kehidupan kebangsaan RI. Dan mungkin perlambang apa yang akan terjadi ke depan. Sebenarnya saya tidak mau pusing oleh peristiwa itu. Namun kiranya perlu mengambil pelajaran berharga dari peristiwa tersebut. Dan bukanlah peristiwa yang main-main saja, sebaliknya hal itu menjadi aksiden fatal akan nilai-nilai kebangsaan.

Acara kenegaraan di hadapan sidang majelis dan dewan rakyat tertinggi itu, tentunya melibatkan ratusan bahkan ribuan otak, pikiran, hati, dan batin warga bangsa Indonesia yang telah dibayar mahal untuk pekerjaan dan tanggungjawab yang belum tentu sukses dijalankan.

Kenapa persoalan mendasar dan sangat penting sampai terjadi kelupaan. Itulah gambaran sekilas apa yang tengah terjadi di dalam tubuh para pemimpin kita. Khilaf, lupa, teledor, ceroboh, nekad adalah sikap negatif yang sering.

Ataukah menyiratkan kondisi sesungguhnya sebagian warga bangsa yang telah benar-benar kehilangan jati diri bangsa. Sehingga peristiwa itu terjadi sebagai pepeling agar supaya dapat dijadikan bahan instrospeksi, untuk selalu eling dan waspada menghadapi “penyakit kronis” dari dalam tubuh NKRI sendiri. Ataukah peristiwa itu hanya ingin mengabarkan kepada orang-orang yang masih setia kepada NKRI, yang memiliki semangat nasionalisme yang tinggi untuk menyadari bagaimana sesungguhnya suasana hati dan pola pikir para pejabat dan pemerintah, serta orang-orang yang dipercaya menjadi negarawan. Bisa jadi menjadi peringatan generasi penerus bangsa bahwa di depan ada kekuatan destruktif yang akan menjadi perusak semangat Bhineka Tunggal Ikka.

Marilah kita tingkatkan sikap eling waspada, dengan melakukan instropeksi diri, mulat sarira, mawas diri, otokritik. 

Menjadi orang yang BISA RUMANGSA, bukannya RUMANGSA BISA.

Jayalah Bhineka Tunggal Ikka
Tetap Teguh NKRI
Tetap berkibar Merah Putih
Bangsa yang menggapai kesadaran spiritual
Bukan lagi Kesadaran Palsu yang Membelenggu

S U M P A H R A K Y A T J E L A T A

BERBANGSA SATU, BANGSA YANG ADIL, MAKMUR, DAN SENTAUSA
BERBAHASA SATU, BAHASA YANG JUJUR, ARIF, DAN BIJAKSANA
BERTANAH AIR SATU, TANAH AIR PENUH KETENTRAMAN & KEDAMAIAN BERRAHSA SATU, DALAM RAGAM SUKU, AGAMA, BUDAYA

***

MELURUSKAN MAKNA MISTIK

pada dasarnya, manusia adalah makhluk mistik

Bagi sebagian masyarakat yang mengklaim diri sebagai masyarakat peradaban modern, westernism bahkan sebagian yang mengesankan perilaku agamis yakni hanya bermain-main sebatas pada simbol-simbol agama saja tanpa mengerti akekatnya, dan kesadarannya masih sangat terkotak oleh dogma agama-agama tertentu (kesadaran “kulit”). Manakala mendengar istilah mistik, akan timbul konotasi negatif. Walau bermakna sama, namun perbedaan bahasa dan istilah yang digunakan, terkadang membuat orang dengan mudah terjerumus ke dalam pola pikir yang sempit dan hipokrit. Itulah piciknya manusia yang tanpa sadar masih dipelihara hingga akhir hayat. Selama puluhan tahun, kata-kata mistik mengalami intimidasi dari berbagai kalangan terutama kaum modernism, westernisme dan agamisme. Mistik dikonotasikan sebagai pemahaman yang sempit, irasional, dan primitive. Bahkan kaum mistisisme mendapat pencitraan secara negative dari kalangan kaum agamisme sebagai paham sesat dan sumber kemusrikan. Pandangan itu salah besar, jika tidak mau disebut sebagai fitnah keji ! Read the rest of this entry

MISTERI ANGKA DI BALIK BOM

MISTERI ANGKA DI BALIK BOM

Seputar Angka 7, 11, 17
(pitu, sewelas, pitulas; pitulungan, kawelasan, pitulungan lan kawelasan)

Angka 7 dan 17
Bom di hotel Ritz Carlton dan JW Mariot 2 terjadi pada tanggal 17 bulan 7 jam 07.47 Wib. Artinya angka 7 atau pitu berarti pitulungan. Angka 17 atau pitulas berarti pitulungan dan kawelasan. Datangnya pitulungan dan kawelasan dari Gusti Ingkang Akaryo Jagad. Sehingga jumlah korbannya tergolong minimal. Jika tidak ada pitulungan lan kawelasan Tuhan YME mungkin korbannya termasuk tim kesebelasan Merah Putih yang baru beberapa menit meninggalkan JW Mariot, lalu meledaklah bom rakitan teroris yang memakan 9 korban tak berdosa.

Jika angka 47 diambil dari menit ke 47 maka 4+7=11. Sebelas atau sewelas artinya kawelasan dari Tuhan Yang Mahakuasa. Sehingga para pelaku bom terorisme dapat diidentifikasi dan ditangkap dalam waktu relative singkat.

Angka 08-08
Sebagian teroris dapat digrebek Densus 88. Angka 88 (8+8=16, 1+6=7) angka 7 adalah pitu atau pitulungan. Didukung pula aksi pengrebekan di Temanggung, Bekasi dan Solo pada tanggal 08 bulan 08. Angka 8 dan 8 jika ditambah 8+8=16. Angka 16 jika diuthak athik akan gathuk pada angka 7 hasil dari penjumlahan 1+6= 7. Ketemu lagi angka 7 atau pitu berarti pitulungan dari Tuhan Yang Mahakuasa. Sehingga Densus mulai menemukan sebagian anggota teroris.

Dengan adanya pitulungan dan kawelasan, walaupun terror bom JW Mariot 2 memakan korban, namun termasuk masih beruntung karena biasanya pada jam terjadi pengeboman adalah saat di mana banyak para tamu hotel sedang breakfast di resto. Jam 07.40 dan 07.47 merupakan jam sibuk para tamu dan pegawai melakukan akitifitas di sekitar loby hotel di mana merupakan ruang yang sangat dekat dengan pusat ledakan bom. Dapat dibayangkan jumlah korban yang akan jatuh, bila Tuhan tidak memberikan pertolongan dan belas kasihNya.

Masih ada satu lagi, konon diberitakan bahwa teroris memesan kamar sejak tanggal 07 bulan 07. Kamar yang dipesan adalah kamar nomer 1808. Angka 1808 jika diuthak athik akan gathuk seperti berikut; 1+8+8=17. Jatuhnya angka 17 lagi, ketemu dengan pitulas, pitulas artinya pitulungan dan kawelasan dari Gusti Ingkang Murbeng Dumadi. Sehingga para pelaku teror segera dapat diidentifikasi.

Jadi, kesimpulannya, apapun hasilnya untuk sementara ini, layak kita ucapkan SELAMAT ATAS KESUKSESAN JAJARAN POLRI DALAM MENJALANKAN TUGASNYA. Doaku selalu menyertaimu. Tidak lupa ucapan terimakasih yang setinggi-tingginya kepada masyarakat yang membantu aparat, dan seluruh pihak yang telah bahu-membahu untuk menciptakan negeri ini menajdi damai, aman, dan tenteram. Dan yang terakhir, puji Tuhan, muji syukur dumateng Gusti Ingkang Murbeng Gesang, Alhamdulillahirobbil alamiin. Tuhan sedang menunjukkan bahwa kekuatan kebenaran pasti akan dating, biarpun biasanya dating terlambat.

Namun atas hasil minim dan semua itu agar menjadikan kita lebih eling dan waspada. Jangan pernah lengah dan cepat puas dengan hasil awal ini. Semakin waspada dan hati-hati. Karena pelaku utama teroris belumlah mati, ia masih gentayangan siap membombardir di mana saja, siapa saja, tanpa pandang bulu. Ya Tuhan jagalah negeri ini dari tangan-tangan kotor perusak ketentraman dan kedamaian dengan dalih apapun.