Daily Archives: Agustus 8, 2009

MISTERI ANGKA DI BALIK BOM

MISTERI ANGKA DI BALIK BOM

Seputar Angka 7, 11, 17
(pitu, sewelas, pitulas; pitulungan, kawelasan, pitulungan lan kawelasan)

Angka 7 dan 17
Bom di hotel Ritz Carlton dan JW Mariot 2 terjadi pada tanggal 17 bulan 7 jam 07.47 Wib. Artinya angka 7 atau pitu berarti pitulungan. Angka 17 atau pitulas berarti pitulungan dan kawelasan. Datangnya pitulungan dan kawelasan dari Gusti Ingkang Akaryo Jagad. Sehingga jumlah korbannya tergolong minimal. Jika tidak ada pitulungan lan kawelasan Tuhan YME mungkin korbannya termasuk tim kesebelasan Merah Putih yang baru beberapa menit meninggalkan JW Mariot, lalu meledaklah bom rakitan teroris yang memakan 9 korban tak berdosa.

Jika angka 47 diambil dari menit ke 47 maka 4+7=11. Sebelas atau sewelas artinya kawelasan dari Tuhan Yang Mahakuasa. Sehingga para pelaku bom terorisme dapat diidentifikasi dan ditangkap dalam waktu relative singkat.

Angka 08-08
Sebagian teroris dapat digrebek Densus 88. Angka 88 (8+8=16, 1+6=7) angka 7 adalah pitu atau pitulungan. Didukung pula aksi pengrebekan di Temanggung, Bekasi dan Solo pada tanggal 08 bulan 08. Angka 8 dan 8 jika ditambah 8+8=16. Angka 16 jika diuthak athik akan gathuk pada angka 7 hasil dari penjumlahan 1+6= 7. Ketemu lagi angka 7 atau pitu berarti pitulungan dari Tuhan Yang Mahakuasa. Sehingga Densus mulai menemukan sebagian anggota teroris.

Dengan adanya pitulungan dan kawelasan, walaupun terror bom JW Mariot 2 memakan korban, namun termasuk masih beruntung karena biasanya pada jam terjadi pengeboman adalah saat di mana banyak para tamu hotel sedang breakfast di resto. Jam 07.40 dan 07.47 merupakan jam sibuk para tamu dan pegawai melakukan akitifitas di sekitar loby hotel di mana merupakan ruang yang sangat dekat dengan pusat ledakan bom. Dapat dibayangkan jumlah korban yang akan jatuh, bila Tuhan tidak memberikan pertolongan dan belas kasihNya.

Masih ada satu lagi, konon diberitakan bahwa teroris memesan kamar sejak tanggal 07 bulan 07. Kamar yang dipesan adalah kamar nomer 1808. Angka 1808 jika diuthak athik akan gathuk seperti berikut; 1+8+8=17. Jatuhnya angka 17 lagi, ketemu dengan pitulas, pitulas artinya pitulungan dan kawelasan dari Gusti Ingkang Murbeng Dumadi. Sehingga para pelaku teror segera dapat diidentifikasi.

Jadi, kesimpulannya, apapun hasilnya untuk sementara ini, layak kita ucapkan SELAMAT ATAS KESUKSESAN JAJARAN POLRI DALAM MENJALANKAN TUGASNYA. Doaku selalu menyertaimu. Tidak lupa ucapan terimakasih yang setinggi-tingginya kepada masyarakat yang membantu aparat, dan seluruh pihak yang telah bahu-membahu untuk menciptakan negeri ini menajdi damai, aman, dan tenteram. Dan yang terakhir, puji Tuhan, muji syukur dumateng Gusti Ingkang Murbeng Gesang, Alhamdulillahirobbil alamiin. Tuhan sedang menunjukkan bahwa kekuatan kebenaran pasti akan dating, biarpun biasanya dating terlambat.

Namun atas hasil minim dan semua itu agar menjadikan kita lebih eling dan waspada. Jangan pernah lengah dan cepat puas dengan hasil awal ini. Semakin waspada dan hati-hati. Karena pelaku utama teroris belumlah mati, ia masih gentayangan siap membombardir di mana saja, siapa saja, tanpa pandang bulu. Ya Tuhan jagalah negeri ini dari tangan-tangan kotor perusak ketentraman dan kedamaian dengan dalih apapun.

NILAI HAKEKAT MISTIK KEJAWEN

“Urip ing ngalam dunya, ora liya mung pinangka kanggo netepi titahing Gusti”

PUCUNG (Sembah Jiwa/Hakekat)

33.
Ngelmu iku
Kalakone kanthi laku
Lekase lawan kas
Tegese kas nyantosani

Setya budaya pangekese dur angkara
Ilmu (hakekat) itu diraih dengan cara menghayatinya dalam setiap perbuatan, dimulai dengan kemauan.
Artinya, kemauan membangun kesejahteraan terhadap sesama,
Teguh membudi daya Menaklukkan semua angkara

34
Angkara gung
Neng angga anggung gumulung
Gegolonganira
Triloka lekeri kongsi
Yen den umbar ambabar dadi rubeda.

Nafsu angkara yang besar
ada di dalam diri, kuat menggumpal,
menjangkau hingga tiga zaman,
jika dibiarkan berkembang akan
berubah menjadi gangguan.

35
Beda lamun kang wus sengsem
Reh ngasamun
Semune ngaksama
Sasamane bangsa sisip
Sarwa sareh saking mardi martatama

Berbeda dengan yang sudah menyukai dan menjiwai,
Watak dan perilaku memaafkan pada sesama,
Selalu sabar berusaha menyejukkan suasana,

36
Taman limut
Durgameng tyas kang weh limput
Karem ing karamat
Karana karoban ing sih
Sihing sukma ngrebda saardi pengira

Dalam kegelapan.
Angkara dalam hati yang menghalangi,
Larut dalam kesakralan hidup,
Karena temggelam dalam samodra kasih sayang,
kasih sayang sukma (sejati) tumbuh berkembang sebesar gunung

37
Yeku patut tinulat tulat tinurut
Sapituduhira,
Aja kaya jaman mangkin
Keh pra mudha mundhi diri
Rapal makna

Itulah yang pantas ditiru,
contoh yang patut diikuti
seperti semua nasehatku.
Jangan seperti zaman nanti
Banyak anak muda yang menyombongkan diri
dengan hafalan ayat,

38
Durung becus kesusu selak besus
Amaknani rapal
Kaya sayid weton mesir
Pendhak pendhak angendhak
Gunaning jalma

Belum mumpuni sudah berlagak pintar.
Menerangkan ayat seperti sayid dari Mesir,
Setiap saat meremehkan kemampuan orang lain.

39
Kang kadyeku
Kalebu wong ngaku aku
akale alangka
Elok Jawane denmohi
Paksa langkah ngangkah met
Kawruh ing Mekah

Yang seperti itu,
termasuk orang mengaku-aku.
(padahal) Kemampuan akalnya dangkal,
Keindahan ilmu Jawa malah ditolak.
Sebaliknya, memaksa diri mengejar ilmu di mekah,

40
Nora weruh
rosing rasa kang rinuruh
lumeketing angga
anggere padha marsudi
kana kene kaanane nora beda

Tidak memahami hakekat ilmu yang dicari,
sebenarnya ada di dalam diri.
Asal mau berusaha,
sana sini (ilmunya) tidak berbeda,

41
Uger lugu
Den ta mrih pralebdeng kalbu
Yen kabul kabuka
Ing drajat kajating urip
Kaya kang wus winahya sekar srinata

Asal tidak banyak tingkah,
agar supaya merasuk ke dalam sanubari.
Bila berhasil, terbuka derajat kemuliaan hidup yang sebenarnya.
Seperti yang telah tersirat dalam tembang sinom (di atas).

42
Basa ngelmu
Mupakate lan panemune
Pasahe lan tapa
Yen satriya tanah Jawi
Kuna kuna kang ginilut tripakara

Yang namanya ilmu,
dapat berjalan bila sesuai dengan cara pandang kita.
Dapat dicapai dengan usaha yang gigih.
Bagi satria tanah Jawa,
dahulu yang menjadi pegangan adalah tiga perkara yakni;

43
Lila lamun kelangan nora gegetun
Trima yen ketaman
Sakserik sameng dumadi
Tri legawa nalangsa srah ing Bathara

Ikhlas bila kehilangan tanpa menyesal,
Sabar jika hati disakiti sesama,
Ketiga ; lapang dada sambil berserah diri pada Tuhan.

44
Bathara gung
Inguger graning jajantung
Jenek Hyang wisesa
Sana pasenedan suci
Nora kaya si mudha mudhar angkara Tuhan Maha Agung
.

Di letakkan dalam setiap hela nafas.
Menyatu dengan Yang Mahakuasa,
Teguh mensucikan diri,
Tidak seperti yang muda,
Mengumbar nafsu angkara.

45
Nora uwus
Kareme anguwus uwus
Uwose tan ana
Mung janjine muring muring
Kaya buta buteng betah anganiaya

Tidak henti hentinya gemar mencaci maki.
Tanpa ada isinya, kerjaannya marah-marah
seperti raksasa; bodoh,
mudah marah dan menganiaya sesama.

46
Sakeh luput
Ing angga tansah linimput
Linimpet ing sabda
Narka tan ana udani
Lumuh ala ardane ginawa gada

Semua kesalahan dalam diri selalu ditutupi,
Penuh basa-basi mengira tak ada orang yang mengetahui,
Katanya enggan berbuat jahat,
padahal tabiat buruknya membawa kehancuran.

47
Durung punjul
Ing kawruh kaselak jujul
Kaseselan hawa
Cupet kapepetan pamrih
tangeh nedya anggambuh
mring Hyang Wisesa

Belum cakap ilmu.
Buru-buru ingin dianggap pandai.
Tercemar nafsu selalu merasa kurang,
dan tertutup oleh pamrih,
sulit untuk manunggal pada Yang Mahakuasa.

——————————————————————-

Gejolak Pengembaraan Sukma
Kesadaran dalam falsafah hidup Jawa dimulai dari kesadaran rasio (akal budi atau cipta) yang ditopang oleh pilar utamanya yakni kesadaran batin meliputi; kesadaran jiwa atau sukma, dan kesadaran rahsa (rasa). Tidak hanya berhenti di situ, kesadaran rahsa masih harus dimanifestasikan dalam perbuatan konkrit untuk menjalani aktivitas hidup sehari-hari (karsa). Parameter keberhasilan manusia dalam menjalani kehidupan sehari-hari sebagai makhluk ciptaan Tuhan (titahing Gusti), adalah bilamana berhasil melakukan harmonisasi dan sinergi antara perilaku manusia dengan kearifan alam semesta, antara jagad alit dengan jagad ageng, antara mikrokosmos dengan makrokosmos. Oleh sebab itu manusia Jawa (nusantara) selalu berusaha untuk menciptakan harmonisasi dan sinergisasi antara jagad alit (diri pribadi) atau microcosmos dengan jagad ageng (alam semesta) atau macrocosmos.

Pergaulan Manusia Dengan Alam
Desa mawa cara, negara mawa tata. Setiap desa memiliki tata cara atau tradisi dan kebudayaan yang berbeda-beda. Setiap negara memiliki aturan dan undang-undang yang berbeda-beda pula. Setiap tata cara, tradisi, budaya, undang-undang tentu akan dipengaruhi oleh pola interaksi antara masyarakat dengan alam sekitarnya. Misalnya masyarakat Arab sejak pra Islam terutama wanita sudah mengenakan burqa atau kain penutup wajah dan kepala. Bentuk mode pakaiannya pun seperti jubah panjang menutup seluruh tubuh. Hal itu disebabkan oleh kondisi alam yang teramat panas di siang hari, dingin di waktu malam hari, dan sering terjadi badai gurun. Pakaian model demikian tentunya akan melindungi tubuh dari keganasan alam sekitarnya. Demikian pula masyarakat Afghan, India, Pakistan, walaupun memiliki latar belakang agama yang berbeda-beda namun mereka masih satu rumpun yang memiliki akar kebudayaan yang sama. Lihat saja model pakaiannya hampir memiliki kesamaan. Semua itu pada intinya, bahwa tradisi dan budaya merupakan proses interaksi manusia dengan alam. Sehingga terjadi penyeimbangan atau harmonisasi antara manusia dengan alam sekitarnya. Bahkan karakter alam akan sangat berpengaruh terhadap karakter masyarakatnya. Misalnya masyarakat Sunda yang ramah, andap asor, terbuka, lunak, namun juga cenderung kurang gigih, semua itu dipengaruhi oleh keadaan alam yang subur, cukup air, mudah bercocok tanam, mudah mencari mata pencaharian. Gunung-gunung dan pemandangan alamnya yang menakjubkan mempengaruhi nilai seni dan budayanya pula. Coba perhatikan tiupan seruling Sunda dengan nada-nadanya yang indah meliuk-liuk, merdu dan syahdu menyayat hati. Seolah mengikuti lekuk-liuk kontur pegunungan nan indah dan syahdu. Perhatikan pula logat bahasanya yang mesra mendayu, seolah mengikuti irama alam sekitarnya. Lain halnya dengan masyarakat Madura di wilayah bangkalan. Kondisi alam yang kering dan tanah yang sulit untuk bercocok tanam, menyebabkan gaya hidup yang serba terbatas. Cara bermukim berkelompok. Dan memiliki karakter yang keras. Seolah mengikuti keadaan alam yang ganas dan mengharuskan pola hidup yang keras. Jika mental atau karakternya tidak keras maka akan sulit bertahan hidup di tanah Bangkalan. Mata pencaharian yang sulit akan membangun sikap hemat namun cenderung melakukan invasi ke wilayah masyarakat lain yang lebih subur lingkungan alamnya. Hal itu hampir senada dengan keadaan masyarakat di negara Arab, yang memiliki karakter alam yang sedemikian ganas. Ganasnya alam membuat segala sesuatu menjadi serba sulit. Karena terbiasa menghadapi kehidupan yang sulit itulah akan menimbulkan karakter masyarakat yang keras, sulit bersikap toleran, dan mudah terjadi konflik horisontal misalnya perebutan property, ata pencaharian, dan wilayah kekuasaan. Maka dapat dipahami bahwa konflik horisontal lebih sering terjadi di wilayah-wilayah yang memiliki karakter alam yang ganas dan keras. Celakanya, kristalisasi nilai kebudayaan yang keras yang berasimilasi ke dalam nilai-nilai agama atau falsafah hidup suatu masyarakat, di kemudian hari akan sangat berbahaya menjadi “doktrin kebenaran” apabila hanya dipahami secara tektual/teksbook. Itulah salah satu alasan mengapa mempelajari agama harus disesuaikan dengan konteks zamannya atau dipahami secara kontekstual. Terlebih lagi apabila nilai-nilai tersebut diekspor ke masyarakat lain yang memiliki karakter berbeda. Akan beresiko terjadi disharmoni dan anti-sinergisme dengan lingkungan alamnya. Masyakarat lokal (origin/pribumi) akan teralienasi oleh “nilai imitasi impor” yang pada gilirannya justru menghilangkan kesadaran tertinggi jati diri, yakni kesadaran rahsa sejati. Ujung dari semua itu, adalah masyarakat yang terombang ambing kehilangan jati diri, tidak mengenali karakter alam sekitarnya, serba salah langkah, dan salah kaprah dalam mengambil kebijaksanaan. Maka kemurkaan alamlah yang terjadi. Read the rest of this entry