MELURUSKAN MAKNA MISTIK

pada dasarnya, manusia adalah makhluk mistik

Bagi sebagian masyarakat yang mengklaim diri sebagai masyarakat peradaban modern, westernism bahkan sebagian yang mengesankan perilaku agamis yakni hanya bermain-main sebatas pada simbol-simbol agama saja tanpa mengerti akekatnya, dan kesadarannya masih sangat terkotak oleh dogma agama-agama tertentu (kesadaran “kulit”). Manakala mendengar istilah mistik, akan timbul konotasi negatif. Walau bermakna sama, namun perbedaan bahasa dan istilah yang digunakan, terkadang membuat orang dengan mudah terjerumus ke dalam pola pikir yang sempit dan hipokrit. Itulah piciknya manusia yang tanpa sadar masih dipelihara hingga akhir hayat. Selama puluhan tahun, kata-kata mistik mengalami intimidasi dari berbagai kalangan terutama kaum modernism, westernisme dan agamisme. Mistik dikonotasikan sebagai pemahaman yang sempit, irasional, dan primitive. Bahkan kaum mistisisme mendapat pencitraan secara negative dari kalangan kaum agamisme sebagai paham sesat dan sumber kemusrikan. Pandangan itu salah besar, jika tidak mau disebut sebagai fitnah keji !

Tentu saja penilaian itu mengabaikan kaidah ilmiah. Penilaian bersifat tendensius lebih mengutamakan kepentingan kelompoknya sendiri, kepentingan rezim, dan kepentingan egoisme (keakuan). Penilaian juga rentan terkonaminasi oleh pola-pola pikir primordialisme dan fanatisme golongan, diikuti oleh pihak-pihak tertentu hanya berdasarkan sikap ikut-ikutan, ela-elu, dengan tanpa mau memahami arti dan makna istilah mistis yang sesungguhnya. Untuk itu, perlulah kiranya saya ingin berbagi kepada para pembaca yang budiman, mengenai makna yang sejatinya akan istilah mistis. Dengan harapan membangun sikap arif dan bijaksana, selalu hati-hati terutama dalam menilai seseorang atau suatu kelompok, golongan dan cara pandang masyarakat tertentu. Jika perilaku hidup dan pola piker kita tidak eling dan waspada, kita akan melebur ke dalam roda “wolak-waliking jaman” di mana orang salah akan berlagak selalu benar. Orang bodoh menuduh orang lain yang bodoh. Emas dianggap Loyang (besi). Besi dikira emas. Burung bangau dianggap dandang (alat menanak nasi). Yang asli dianggap palsu, yang palsu dibilang asli. Semua serba salah kaprah, kacau-balau, chaos, dan hidup penuh dengan kepalsuan-kepalsuan.

Eksistensi Mistik

Mistik dapat dipahami sebagai eksistensi tertinggi kesadaran manusia, di mana ragam perbedaan (“kulit”) akan lenyap, eksistensi melebur ke dalam kesatuan mutlak hal ikhwal, nilai universalitas, alam kesejatian hidup, atau ketiadaan. Kesadaran tertinggi ini terletak di dalam batin atau rohaniah, mempengaruhi perilaku batiniah (bawa) seseorang, dan selanjutnya mewarnai pola pikir nya. Atau sebaliknya, pola pikir telah dijiwai oleh nilai mistisisme yakni eksistensi kesadaran batin.

Meskipun demikian, eksistensi mistik yang sesungguhnya tidaklah berhendi pada perilaku batin (bawa) saja, lebih utama adalah perilaku jasad (solah). Artinya, mistik bukanlah sekedar teori namun lebih kearah manifestasi atau mempraktikkan perilaku batin ke dalam aktivitas hidup sehari-harinya dalam berhubungan dengan sesama manusa dan makhluk lainnya. Apakah anda ingin menjadi seorang agamis, yang hanya terpaku pada simbol-simbol agama berupa penampilan fisik, jenis pakaian, cara bicara, bahasa, gerak-gerik, bau minyak wanginya. Agamis hanya kenyang teori-teori agama atau dalil-dalilnya saja. Ataukah sebaliknya anda ingin menjadi seorang praktisi (penghayat) akan teori-teori tersebut sehingga tidak omong doang. Hal itu menjadi hak setiap orang untuk memilih, masing-masing akan membawa dampak yang berbeda-beda.

Dalam menjabarkan istilah mistik, saya sangat sepakat dengan guru besar Filsafat UGM Prof. Dr. Damarjati Supadjar, bahwa cirri-ciri mistikisme adalah sbb ;

1. Mistisisme adalah persoalan praktek.

2. Secara keseluruhan, mistisisme adalah aktifitas spiritual.

3. Jalan dan metode mistisisme adalah cinta kasih sayang.

4. Mistisisme menghasilkan pengalaman psikologis yang nyata.

5. Mistisisme sejati tidak mementingkan diri sendiri.

Jika kita cermati dari kelima ciri mistikisme di atas dapat ditarik benang merah bahwa mistik berbeda dengan sikap klenik, gugon tuhon, bodoh, puritan, irasional. Sebaliknya mistik merupakan tindakan atau perbuatan yang adiluhung, penuh keindahan, atas dasar dorongan dari budi pekerti luhur atau akhlak mulia. Mistik sarat akan pengalaman-pengalaman spiritual. Yakni bentuk pengalaman-pengalaman halus, terjadi sinkronisasi antara logika rasio dengan “logika” batin. Pelaku mistik dapat memahami noumena atau eksistensi di luar diri (gaib) sebagai kenyataan yang logis atau masuk akal. Sebab akal telah mendapat informasi secara runtut, juga memahami rumus-rumus yang terjadi di alam gaib. Sebagai contoh ;

Kenapa simpanan uang di Bank tidak ada yang hilang di curi makhluk pesugihan ? Atau perhiasan emas di toko emas tidak bias hilang digondol sejenis jin atau pun siluman pesugihan ?

Secara logis-rasional, makhluk pesugihan yang sering mencuri uang atau perhiasan di rumah-rumah penduduk seharusnya bias mencuri uang dan perhiasan di kedua tempat tersebut. Namun kenyataannya kedua jenis harta kekayaan tersebut tidak bias dicuri oleh makluk gaib sejenis pesugihan manapun. Hal ini dikarenakan terdapat rumus di alam gaib yang berbeda dari dimensi bumi. Pada kesempatan selanjutnya saya akan bahas mengenai sebagian rumus-rumus di alam gaib (hukum di alam gaib) yang sejauh ini bisa saya ketahui, pernah saksikan dan buktikan dengan mata kepala sendiri.

Agama sebagai sarana menggapai tataran spiritual. Sementara spiritual adalah kesadaran tinggi akan nilai-nilai transenden atau ketuhanan. Mistisisme adalah wujud kesadaran itu dalam laku perbuatan konkrit. Dengan adanya kesadaran yang cukup memadai akan bagaimana sesungguhnya yang terjadi di alam gaib hal itu membuka pola pikir kita sehingga mampu memahami noumena kegaiban secara logis. Hal ini menjadikan para pelaku spiritual memiliki kemantapan tidak hanya sekedar yakin, tetapi dapat dikatakan bisa menyaksikan sendiri bagaimana “rumus-rumus halus” akan bekerja. Antara pengetahuan spiritual dengan tindakan nyata seiring dan seirama. Bagaikan lirik dengan syairnya. Aransemen dengan nada-nada musicnya. Sastra dengan gendhingnya. Sinergis dan harmonis, antara pengetahuan spiritual dengan perbuatannya. Menjadikan para pelaku spiritual sejati justru terkesan lebih santun dan memiliki sense on humanity yang tinggi, memiliki kepekaan social, solidaritas dan toleransi, kepedulian lingkungan social dan alam yang sangat mendalam. Perilaku-perilaku yang menunjukkan sikap arif dan bijaksana dalam menjalani kehidupan ini ketimbang orang-orang bergaya “agamisme” (kesadaran symbolic) yang terkadang perilakunya lepas kendali, sewenang-wenang dan beringas, emosional dan reaksional. Karena merasa diri menjadi sangat kuat telah menjadi orang yang memegang hak istimewa (privilege) di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Penjelasan singkat mengenai arti harfiah dan maknawiah tentang mistik, dapat diambil benang merah bahwa mistik Kejawen adalah laku spiritual berdasarkan pandangan hidup atau falsafah hidup Jawa. Atau disebut jawaisme (javanism). Yang paling utama dalam laku spiritual Jawa, adalah perilaku didasari oleh cinta kasih dan pengalaman nyata. Maka, bagi siapapun yang mengaku menghayati falsafah hidup Jawa namun perangainya masih mudah terbawa api emosi, angkara murka, reaksioner, sektarian, dan primordialisme, kiranya belum memahami secara baik apa itu nilai-nilai dalam falsafah hidup Kejawen. Mistik kejawen merupakan bagian dari ribuan mistik yang ada di bumi ini. Setiap masyarakat, bangsa dan budaya biasanya memiliki nilai-nilai tradisi mistik yang dipegang teguh sebagai pedoman hidup. Sekedar contoh, misalnya mistik Islam, dikenal dengan tradisi tasawuf, orang-orang yang mendalami disebut orang-orang zuhud, dan para sufistik. Mistik Budha atau Budhisme, mistik Hindu atau Hinduisme, dan masih terdapat ratusan bahkan ribuan lagi banyaknya mistik-mistik di dunia ini.

Mistik lebih fleksibel jika dibandingkan dengan agama, sebab mistik tidak mempersoalkan apa latar belakang ajaran, agama, budaya orang yang ingin menghayati. Hal itu tidak menimbulkan resiko terjadinya benturan nilai-nilai, karena dalam tradisi mistik yang sesungguhnya, keberagaman “kulit” akan dikupas, lalu mengambil sisi maknawiahnya yang bersifat hakekat atau esensial. Orang Jawa, Hindu, Kristen dan Budha, bias saja mempelajari ilmu tasawuf. Demikian pula sebaliknya, umat Islam bias pula mempelajari falsafah hidup Jawa. Hanya saja, kecenderungan kekuasaan rezim agama akan membuat batasan-batasan tegas kepada para penghayat mistik dengan mistik itu sendiri. Bahkan sering terjadi prejudis, pencitraan secara subyektif, dan punishment yang berdasarkan kepentingan rezim. Jangankan terhdap lintas budaya dan agama, kita ambil contoh sederhana saja misalnya, sebagian umat Islam melarang sesame umat Islam lainnya masuk ke dalam wilayah mistik Islam. Pelarangan dilakukan dengan dalih agama pula, sehingga pelarangan seringkali bekerja secara efektif membelenggu dinamika kesadaran umat. Yang terjadi adalah umat yang terkesan “agamis” tetapi sangat miskin pencapaian spiritualnya.

Hal Yang Berbeda Dalam Mistik Kejawen

1. Kejawen tentu saja tidak memiliki kitab suci sebagaimana layaknya semua agama-agama yang ada. Karena Kejawen bukanlah agama melainkan pandangan hidup yang sudah turun temurun ribuan tahun, melalui proses interaksi antara manusia (jagad kecil/mikrokosmos) dengan jagad raya (jagad besar/makrokosmos). Manusia dapat membaca rumus-rumus serta hukum alam yang ada dan berlaku meliputi tata kosmos. Pengetahuan akan rumus-rumus dan hukum alam lama kelamaan mengkristal menjadi tatanan nilai kehidupan manusia dalam berhubungan dengan lingkungan alam dan seluruh makhluk. Nilai yang menghasilkan kebijaksanaan. Disebut juga nilai kearifan lokal atau local wisdom. Sebab itu “kitab suci” bagi spiritual Jawa adalah rangkaian tata kosmo yang penuh dengan pola keseimbangan dan keselarsan yang harmonis. Semua itu dapat dibaca dan dilihat melalui bahasa alam. Lazimnya disebut sebagai SASTRA JENDRA, atau segala kejadian dan peristiwa alamiah yang didalamnya memuat hukum sebab akibat yang merupakan ketentuan alamiah. Hukum sebab akibat dan ketentuan alamiah yang berlaku di jagad raya ini lazimnya disebut hukum alam, atau kodrat alam yang dapat menjadi barometer dan petunjuk hidup bagi manusia dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Selain itu, Kejawen juga mampu berasimilasi dan sinkretisme dengan nilai-nilai agama yang pernah ada di bumi nusantara. “Kitab Suci” Kejawen adalah hidup itu sendiri. Hidup yang meliputi jagad gumelar. Terdiri dari kehidupan sehari-hari, kesejati di dalam diri, dan apa yang ada di dalam lingkungan alam sekitarnya. Semua itu disebut sebagai “kitab satra jendra”. Cara membacanya bukan dengan ucapan lisan, melainkan dengan perangkat ngelmu titen yang berlangsung turun-temurun. Membaca “kitab sastra jendra” dengan menggunakan gelmu titen, indera yang digunakan adalah indera keenam (six-sense) atau indera batin. Keberhasilannya ditentukan oleh kemampuan seseorang dalam mengolah rahsa-pangrasa yakni rasajati atau rahsa sejati.

2. Di samping nilai-nilai kearifan local yang adiluhung, Kejawen menjadikan nilai-nilai “impor” yang dinilai berkualitas sebagai bahan baku yang dapat diramu dengan nilai kearifan local. Keuntungannya justru terjadi proses penyempurnaan seperangkat nilai dalam pandangan hidup Jawa atau Kejawen. Jika definisikan, mistik kejawen merupakan hasil dari interaksi nilai-nilai kearifan local yang terjadi sejak zaman kuno pada masa kebudayaan spiritual animisme, dinamisme, dan monotesime hingga saat ini. Sikap terbuka, menghargai dan toleransi, serta dasar spiritual cinta kasih sayang membuat Kejawen mudah menerima anasir asing yang positif. Berbeda dengan nilai agama yang bersifat statis, kaku atau saklek dan anti-perubahan, nilai-nilai dalam falsafah hidup Jawa bersifat fleksibel dan selalu berusaha mengolah nilai-nilai kebudayaan asing yang masuk ke nusantara misalnya Budha, Hindu, Islam, Kristen, dan sebagainya. Yang terjadi bukanlah kebangkrutan nilai-nilai falsafah Jawa itu sendiri, sebaliknya justru mengalami penyempurnaan seiring perjalanan waktu. Hingga terdapat anekdor, kalau nilai agama masuk sampai mendarah- daging, pandangan hidup Jawa bahkan mbalung-sungsum sehingga tidak pernah lapuk dan selalu eksis. Tidak hanya pada usia tua, bahkan masyarakat usia muda banyak pula yang diam-diam menghayati dan mengakui fleksibilitas dan kedalaman falsafah Kejawen. Seperti kekuatan misterius, terkadang semangat penghayatan dirasakan tiba-tiba muncul dengan sendirinya seperti panggilan darah.

3. Ritual, yang dilakukan oleh penghayat falsafah hidup Jawa. Walaupun latar belakang keagamaan masyarakat Jawa berbeda-beda, namun memiliki unsur kesamaan dalam tata laksana ritual Jawaisme. Bedanya hanyalah pada bahasa yang digunakan dalam doa atau mantra. Namun hakekat dari ritual adalah sama saja yakni bertujuan untuk selamatan. Selamatan adalah tata laku untuk memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Sebagai upaya mendekatkan diri kepada Tuhan yang Mahasuci. Maka dalam ritual banyak terdapat ubo rampe, atau syarat-syarat sesaji, di dalamnya banyak sekali mengandung maksud permohonan doa kepada Tuhan YME. Misalnya pada saat bulan Ruwah merupakan bulan arwah dilaksanakan acara selamatan nyadran. Bulan ruwah tepatnya satu bulan menjelang bulan puasa, hendaknya orang memuliakan para arwah leluhurnya, mendoakannya agar mendapat tempat yang mulia, luhur, dan suci. Dibuatlah ketan, kolak dan kue apem, berarti sedaya kalepatan nyuwun pangapunten. Mohon ampunan atas segala kesalahan semasa hidup. Apem berarti affuwwun, adalah lambang permohonan ampunan kepada Tuhan. Dilanjutkan acara nyekar atau ziarah dan gotong royong bersih-bersih serta merawat makam para leluhurnya sebagai wujud tindakan nyata rasa berbakti dan memuliakan pepundennya yakni para leluhurnya. Karena bagi masyarakat mistik Jawa, berbakti kepada orang tua, dilakukan tidak saja selama masih hidup, namun saat sudah meninggal dunia pun anak turun tetap harus berbakti padanya. Tidak ketinggalan pula acara bersih desa, sungai, hutan, sawah, ladang, sebagai bentuk kesadaran diri untuk selalu menghargai alam semesta sebagai anugrah terindah Tuhan yang Mahapemurah.

4. Istilah ritual seringkali diartikan secara kurang proporsional, dianggap hanya sekedar menjadi basa-basi tradisi yang irasional. Kadang malah dianggap pula sebagai kegiatan buang-buang waktu, beaya dan tenaga alias mubazir. Secara ekstrim ritual dikonotasikan sebagai kegiatan yang melenceng dari kaidah atau norma agama. Tuduhan itu sangat menyakitkan, karena tentunya hanya terucap oleh orang-orang yang tidak mampu memahami apa makna yang sesungguhnya dari mistik dan ritual. Padahal, ritual adalah tata laku yang melekat tidak bisa dipisahkan dari setiap agama, ajaran, tradisi dan budaya manapun di dunia ini. Dalam Budhisme dan Hinduisme, Islam, Yahudi, Nasrani, Kong Huchu, Sakura, dll banyak sekali terdapat berbagai ritual keagamaan. Mulai dari peringatan hari besar keagamaan hingga berbentuk tradisi agama. Bahkan masyarakat modern, tradisi Barat, masyarakat akademik, masyakarat medik, semua memiliki ritual-rutual khusus yang dutujukan untuk meraih kesuksesan termasuk keselamatan. Dalam masyarakat Jawa ritual selamatan atau slametan menjadi main stream penghayatan perilaku mistik Kejawen. Di dalamnya terdapat simbol-simbol atau perlambang berupa sesaji, mantera, ubo rampe, syarat-syarat tertentu. Semua ubo rampe sesaji mengandung makna yang dalam. Adalah keliru besar mengartikan makna sesaji sebagai pakan setan. Bagi masyarakat Jawa sangat mengenal bahwa “setan” atau makhluk halus bukan untuk diberi makan, tetapi harus diperlakukan secara adil dan bijaksana karena disadari bahwa mereka semua adalah makhluk ciptaan Tuhan juga. Manusia lantas tidak boleh bersikap negatif dan destruktif dengan mentang-mentang, semena-mena, takabur, arogan atau sombong kepada makhluk halus. Karena sikap negatif itu hanya akan membuat manusia jatuh pada derajat yang hina. Itulah keluhuran pandangan hidup manusia yang sering dituduh sebagai masyarakat engan kesadaran primitif dan tidak masuk akal.

5. Sesaji merupakan bahasa yang digunakan sebagai alat komunikasi baik secara vertikal maupun horisontal. Karena dasar dari mistik adalah tindakan nyata, sebagai konsekuensinya harus menghindari tabiat buruk tong kososng berbunyi nyaring, atau banyak mulut doang, tetapi enggan menghayati dalam perbuatan sehari-hari. Maka dalam berdoa pun tidak cukup diucapkan melalui mulut. Rasanya kurang afdhol atau kurang besar tekadnya dalam berdoa apabila tidak diwujudkan dalam berbagai simbol yang terdapat dalam sesaji. Misalnya; doa yang beragam hendaknya dilakukan secara tulus, suci, hati yang “putih bersih” tidak terpolusi nafsu duniawi, dan ditujukan hanya kepada Hyang Widhi atau Tuhan Yang Mahatunggal. Maka hal itu diwujudkan dalam bentuk tumpeng nasi putih berbentuk kerucut, besar di bawah, runcing di bagian atas. Bubur merah dan bubur putih dalam bancakan weton sebagai lambang ibu dan bapa. Hendaknya anak selalu ingat pada pengorbanan orang tua sejak ia di dalam kandungan ibu, lalu dilahirkan dan diasuh hingga dewasa dan mandiri. Bubur merah silang bubur putih, merupakan gambaran hubungan ibu dengan bapa diikat dengan tali cinta kasih yang tulus, sampai membuahkan anak sebagai anugrah buah cinta, dilambangkan dalam bubur baro-baro, yakni bubur putih ditumpangi parutan kelapa dan gula merah. Masih banyak lagi contoh yang dapat kita pelajari satu persatu maknanya secara esensial.

Ilmu “Kesaktian” Sejati

Kesimpulan dari semua itu, Kejawen merupakan ilmu metafisika yang transenden dan bersifat terapan. Perilaku mistik merupakan upaya yang ditempuh manusia dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan YME. Mendekatkan diri, atau upaya manunggal jati diri dengan kehendak Tuhan (sumarah). Sikap sumarah merupakan wujud dari sikap manembah kepada Tuhan YME. Sikap manembah inilah yang menjadi pedoman utama dalam menghayati mistik Kejawen. Muara dari perjalanan spiritual pelaku mistik Kejawen, tidak lain untuk menemukan “lautan” rahmat Tuhan, berupa manunggaling kawula kalawan Gusti, atau sifat roroning atunggil (dwi tunggal). Eneng ening untuk masuk ke alam sunya ruri. Meraih nibbana menggapai nirvana, jalan wushul menuju wahdatul wujud. Dengan pencapaian pamoring kawula-Gusti, akan menciptakan ketenangan batin sekalipun menghadapai situasi dan kondisi yang sangat gawat. Karena antara manusia sebagai mahluk dengan Tuhan sebagai Sang Pencipta terjadi titik temu yang harmonis. Batin manusia selalu tersambung dengan getaran energi Tuhan, menjadi dasar atas segala tindakan yang dilakukannya. Atau disitilahkan sebagai sesotya manjing embanan, ing batin amengku lair. Sesotya adalah ungkapan yang mengandikan Tuhan bagaikan permata yang tiada taranya. “Permata” yang menyatu ke dalam embanan. Embanan sebagai ungkapan dari jasad manusia. Tuhan yang bersemayam di dalam batin (immanen), melimputi seluruh yang ada “being” di dunia ini. Jika manusia berhasil manembah, otomatis ia akan menjadi manusia yang sekti mandraguna. Kesaktian sejati, bukan berasal dari usaha yang instan hanya dengan rapal wirid semalam suntuk, atau membeli dengan mahar. Namun kesaktian itu diperoleh seseorang apabila berhasil menghayati sesotya manjing embanan, ing batin amengku lair. Seseorang selalu manembah dalam setiap perbuatannya. Cirikhas orang yang kesaktiannya berkat manembah (kesaktian sejati/ilmu putih) apabila perilaku dan perbuatan sehari-harinya selalu sinergis dengan sifating Gusti; Welas tanpa alis (kebaikan tanpa pamrih jasad/nafsu/duniawi), tidak menyakiti hati, tidak mencelakai, dan merugikan orang lain. Dilakukan dalam kurun waktu lama, tidak angin-anginan atau plin-plan, dilakukan secara konsisten, teguh, dan penuh ketulusan serta kasih sayang tanpa pilih kasih. Monggo dilanjut.

About SABDå

gentleman, Indonesia Raya

Posted on Agustus 13, 2009, in Meluruskan Makna Mistik and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 62 Komentar.

  1. pamuji rahayu..

    alam pun begitu mistis.. sedayanipun ingkang gumelar ing jagad injih mistis…, mistis saged dipun raosaken piyabak piyambak… kadangkala kita lagi sendiri di tepian danau, dipematang sawah yang terhampar disore hari, ataupun dipuncak bukit memandang matahri tenggelam.. dengan desiran angin lembut membawa aroma alam duh semua begitu mistis… sangat mistis.. terasa sampai relung hati yang paling dalam… , dengar alunan gending gending dan semerbak gandha arum padupan… heeem .. begitu mistis… membawa suasana jadi semakin menggumi kebesaran Tuhan…,
    salam sihkatresnan
    rahayu..

  2. Numpang belajar dah … :d

  3. Memaknai mistik yang seperti inilah yang banyak diharapkan oleh para pejalan spiritual. Mereka dengan ikhlas untuk tidak menceburkan diri ikut-ikutan dalam kegiatan hebat-hebatan ilmu kasekten seperti acara di televisi. Mistik adalah laku perjalanan kawulo menghayati keberadaan sekaligus kedekatan dan manembah sumarah lahir batin dengan Gusti. Terserah, apakah Gusti nantinya memberikan hadiah-hadiah lahiriah/kebendaan/kesaktian/kekuatan supranatural atau tidak. Hadiah-Nya tentu tidak diberikan sama ke setiap pejalan spiritual. Tergantung pada kehendak-Nya juga. Bagi yang diberi hadiah A, ya harus bersyukur dan bagi yang diberi hadiah B, juga harus bersyukur dan bagi yang merasa belum mendapat, pasti diberi hadiah lain yang belum dipahaminya. Namun bagi yang memang benar-benar tidak diberi hadiah, ya harus tetap bersyukur. Sebab inilah ujian apakah kita ikhlas atau tidak. Intinya, jangan hadiah dijadikan niat dalam menjalani garis mistik. Jadi harus benar-benar tanpa pamrih kecuali untuk menggapai keikhlasan-Nya saja. Nuwun. salam sihkatresnan.

  4. sugeng ndalu ki sabda……

    sejujurnya saya sangat senang bisa nyantrik di blog njenengan, banyak sekali yg bisa saya ambil manfaatnya, semoga juga demikian dengan pembaca lainnya…

    kalau boleh saya urun rembug, saya sebenarnya tidak terlalu menyalahkan kepada orang yg mencap TBC (Takhayul bidah churafat) ke para penganut kejawen atau juga para mistikus, merka hanya memandang dari satu sisi saja misalnya…mereka memandang orang kejawen itu yg berebut kotoran kerbau kyai slamet di Solo atau berebut bekas air cucian kereta pusaka atau yg menanam kepala kerbau pada temanten tebu…dan banyak lainnya…..memang yg ke satu dan dua yg saya sebutkan saya kurang sependapat maka dari itu menjadi tugas kita utk menjelaskan makna dari simbol2 budaya yang bisa dihubungkan dengan keesaan Tuhan, contohnya pada gunungan (lanang dan wadon) itu melambangkan sodaqoh pemimpin itu harus bergunung gunung, payung kebesaran sultan yg berjari 99 itu melambangkan asmaul husna, keris itu mempunyai makna manunggaling kawula gusti karena pamornya dari langit (batu meteor) yg melambangkan ridho Tuhan dan besi dari bumi yg melambangkan tekad dan perbuatan kita, maka kalau digabung menjadi tekad dan perbuatan kita atas ridhoNya, kalau lebih lanjut lagi bisa warangka manjing curigo yg mana rohani mendominasi jasmani, ini tentunya sesuai dengan pernyataan ngarsa dalem IX “jawi meniko jiwo kang kaJAWI” yg artinya jawa itu ruhani yg mendominasi jasmani atau fisik, ini seperti ketika Bimo yg mikrokosmos masuk ke tubuh dewaruci yg makrokosmos, sebenarnya juga bagi yang tahu makna kejawen atau jawa tak hanya sekedar suku atau wilayah tapi lebih merupakan cara hidup utk menjumenengkan rohani, “sejatine ora ono opo2 sing ono kuwi dudu atau sejatine ora ono opo2 kejobo sing kondho” saya kira ini merupakan ajaran sangat islami walaupun secara syariat tidak begitu islami…

    nah saya kira sudah menjadi tugas kita bersama utk meluruskan makna dari simbol upacara2 budaya supaya yg tadinya salah paham menjadi sepaham walaupun hanya melalui media blog…heheheh….nyuwun ngapunten ki mbok bilih wonten lepat

  5. @ki Sabda
    nuwun sewu ki, dandang yang dimaksud menurut saya bukan perangkat untuk masak, tetapi burung gagak. kontul berwarna putih sedang gagak berwarna hitam.Dua hal yang berlawanan.

    @ki Wong Alus
    Setuju sekali, menurut saya semua pejalan mendapatkan hadiah, cuma kadang tidak menyadarinya, karena hadiahnya lain2 sedangkan pandangan umum bahwa hadiah itu harus bisa ini dan itu.

    @Mas Tono
    lha ini mungkin salah satu hadiah penjenengan yaitu bisa memahami yang pating cruil namun ternyata mengandung pengetahuan yang dalam.

    ===========
    Sembah Nuwun Ki, leres dandang menika manuk gagak. nanging wonten ugi ingkang mratelakaken bilih punika kiasan hiperbolik, saking cublukipun, mila manuk kuntul/bangau (makhluk hidup) dianggep kukusan (benda tak hidup). Matur sembah nuwun masukan panenengan Ki.

    salam karaharjan

  6. Alhamdulilah……dapat pencerahan….
    jadi lega rasanya bisa haqqul yakin……

    terimakasih buuuuanyak Ama Sabdalangit…….

    bimbingannya lanjut ya….. 🙂

  7. salam kasugengan dan rahayu ingkeng sami pinanggih para kadhang ..

    kenapa yang namanya mistis ( …… ) selalu dikaitkan dengan hadiah.. menempuh dan mencari cari.. kenapa tidak disadari dan dirasakan saja bahwa mistis… tidak juga harus selalu berlatar belakang kekuatan kehebatan dan kemampuan berolah kanuragan kebathinan.. menurut saya mistis itu keindahan akan cinta yang meliputi …., kekaguman akan semua ciptaan,sifat yang baik kemesraan dan ketenangan yang diberikan dari semesta alam dan Tuhan…, sehingga lebih meyakini akan keberadaan, karena dijagad ini semua mistis…,
    rasakan dengan jiwa suksma rasa cinta dan kesadaran…, maka aliran mistis akan memberikan ….karena kita sendiri adalah gudangnya mistis,nyuwun gunging pangaksami mbok bilih kirang tata dan mrenah atur kawula.., nuwun,
    salam sihkatresnan
    rahayu

  8. Salam sejahtera Mas Sabdo dan rekan rekan yang lain,

    Pemahaman yang diuraikan Mas Sabdo tentu benar dan sangat jelas, tapi dalam keseharian ada banyak praktek perdukunan yang cenderung dikaitkan dg mistikisme yang dalam beberapa atau banyak kasus menimbulkan persoalan ketidaknyamanan di masyarakat misalnya praktek santet, gendam, pesugihan tuyul celeng atau mahluk gaib lainya dan banyak contoh lainnya yang mana hal ini oleh pihak2 yang agamis sudah pasti dikaitkan dg mistikisme atau praktek diwilayah gaib dan dijadikan pembenaran untuk menghakimai para mistikus meskipun diantara kita bisa membedakan mana yang disebut ajaran luhur sastrajendra mana praktek perdukunan yang merusak, karna kita juga tahu ada praktek perdukunan yang tidak merusak tapi justru memberi manfaat.
    Jadi, rasanya ada PR bagi para mistikus utk menjelaskan dan mampu menujukan beda-nya dg praktek perdukunan kepada para agamis bahwa mistikisme itu berbeda dg praktek gaib perdukunan yang bisa merugikan dan membodohi masyarakat.
    Satu hal yang saya yakini, klo semua orang (baik orang agamis, spiritualis, atheis) saling mendoakan kepada sesama mahluk tanpa melihat perbedaan SUKU AGAMA RAS dan ANTAR GOLONGAN dan juga PERBEDAAN NILAI NILAI setiap saat dg hati yang tulus dan penuh niat berbagi damai, maka setiap jiwa akan terbantu mendapat kesadaran yang lebih baik, sepertinya sederhana tapi sangat sulit.
    Mohon maaf klo ada kata yang tidak berkenan dan mohon diperbaiki klo ada yang keliru, trimakasih.
    Salam sejahtera dan damai selalu.

  9. nuwun sewu…Pak De… Memang Kejawen tidak punnya kitab sujci seperti agama2 yg lain, untuk itu saya berpendapat alangkah baiknya kalau ada yg benar2 faham dan mau menuliskan/membuat buku tentang makna2 ritual dan simbolisnya sehingga kita2 yg masih ketinggalan ini bisa lebih muda belajar lagi dan tentunya juga sangat berguna bagi semua yg sudi dan peduli terhadap kasanah budaya bangsa, ..matur..nuwun

  10. @All
    Teguh, Rahayu, Selamat

  11. Salam Kasih
    @Ki Sabda
    @ALL

    Banyak bahkan sebagian besar dari kita keliru dalam memaknai arti dari mistik. Mistik sering dikaitkan dengan magic, ilmu sihir, santet, perdukunan, dsb. Bahkan banyak ulama mengatakan bahwa mistik adalah sesat, kafir, ajaran setan, dsb.

    Tulisan ini menjelaskan makna dari mistik sesungguhnya. Manusia adalah mahluk mistik, sebagai naluri yang telah ditanamkan oleh Tuhan, ketika Tuhan menciptakan manusia dan seluruh alam semesta. Dapat juga dikatakan sebagai panggilan Tuhan kepada manusia untuk lebih mengenal-Nya.

    Mistik bukan merupakan kepercayaan atau agama yang hanya didasarkan teori semata. Beberapa definisi mengatakan mistik adalah seni untuk mengetahui, berdasarkan pengalaman, tanpa ego. Sekali lagi tanpa ego, termasuk ego agama, merasa bahwa agamanya-lah yang paling benar. Gembar-gembor menuduh, menyalahkan, dan mengkafirkan hanya berdasarkan pemahaman yang sempit, dan kadang tidak masuk akal.

    Dalam agama Islam, mistik dipelajari dalam ilmu Tauhid dan Tasawuf. Namun, sungguh disayangkan ilmu Tasawuf ini tidak banyak diminati oleh sebagian besar umat Islam. Bahkan beberapa ulama tasawuf dituduh sesat. Para ulama saat ini lebih suka berjualan “surga dan neraka”, meperdebatkan hadis, ilmu fikih, dimana pada kenyataannya cenderung menjadi pamer ingin dipuji (riya).

    Aku acungkan jempol buat Ki Sabda untuk tulisan ini. Semoga tulisan ini dapat membuka wawasan untuk kita semua.

    Senyum dari hati untuk sedulur semua.
    Wassalam

  12. wah bisa buat bahan diskusi dengan teman seperjalanan saya Mas Suprayitno yang mengangap mistik sekedar gugon tuhon semata
    panjenangan bisa menuangkan dalam tulisan yang jelas
    mohon ijin copas Mas 😀

  13. Perkenankanlah saya memberikan beberapa pandangan dan keyakinan
    pribadi saya mengenai mistisisme.

    Secara garis besar, hidup ini terdiri dari dua matra yakni “material
    dan imaterial”. Mistisisme menurut saya bermula/berasal dari rasa
    kagum dan rasa keingintahuan (curiosity) atas benda-benda material
    yang tampak begitu indah, agung, berwibawa, menakjubkan, serba
    otomatis dan aneka ragam pesona lainnya.

    Melihat benda-benda di sekililing seperti luasnya samudra yang biru
    dengan aneka macam penduduknya, ombak yang menggelegar, gunung yang
    menjulang tinggi sangat gagah dan perkasa, langit yang tak terbatas,
    yang bisa dibelah dengan suara petir menggelegar ketika akan turun
    hujan dan masih sejuta kekagmuman lainnya.

    Ditengah “keperkasaan alam” inilah manusia menyeruak dengan segala
    kekurangannya, dan karena merasa dirinya sangat kecil ketika harus
    berhadapan dengan kekuatan alam semesta maka akhirnya secara alamiah
    karena lingkungan ini tidak mungkin dipisahkan dengan seseorang
    dimana dia menjalani seluruh aktivitas kehidupannya dari mulai lahir,
    hidup dan mati akhirnya mengundang tanda tanya yang tiada pernah
    berakhir hingga detik ini.

    Pertanyaan paling awal adalah, bagaimana semua itu bisa tergelar
    dihadapan kita? bagaimana bumi , matahari, bulan, bintang, air,
    makhluk-makhluk lainnya bisa ada? dan terakhir si manusia itu sendiri
    bertanya “lalu siapakah sesungguhnya manusia itu? akan kemana manusia
    pergi?”.

    Pertanyaan-pertanyaan itu melahirkan dua impak. Pertama tumbulah ilmu
    pengetahuan kemudian yang ke dua tumbuhlah mistisme. Mistisime
    menjawab hal-hal yang sifatnya “kedalam/inward” dan ilmu pengetahuan
    menjawab hal-hal yang “diluar” yang bisa dianalisa, dideskripsikan dan
    dibuktikan secara ilmiah/empiris.

    Jika tidak hati-hati dan bijaksana, penguasaan ilmu pengetahuan bisa
    dijadikan sebagai alat penghancur kehidupan dan begitu juga dengan
    mistisisme jika tidak bijaksana mistisisme bisa digunakan sebagai alat
    “hipnotis” jika dikemas dalam bentuk “isme” yang kemudian
    menggelinding menjadi sebuah organisasi.

    Mistisisme akan sangat baik bila digunakan untuk mempertajam “akal
    budi” yakni dengan akal manusia bisa mengatasi kesulitan-kesulitan
    hidup dan dengan budi manusia akan selalu berbuat yang dilandasi rasa
    welas asih.

    Nah, terus terang saya kurang setuju jika ideologi mistisisme
    digunakan untuk melahirkan “agama”. Sebab, agama dan tuhan sebenarnya
    tidak perlu diajarkan karena secara alamiah manusia akan mencari
    sendiri “nilai-nilai mistis” yang pada dasarnya sudah built up
    (inherent) dari sana-Nya.

    Yang perlu kita ajarkan secara terus menerus dari kecil hingga dewasa
    adalah tentang etika, estetika dan norma-norma sosial lainnya,
    sehingga orang tersebut akan mengetahui bagaimana harus berlaku bijak
    baik terhadap dirinya sendiri, sesama dan lingkungan. Tanpa harus
    dipasung oleh hasutan-hasutan atau oleh ancaman-ancaman dari tuhan
    melalui doktrin agama.

    Kelak dia akan menjadi manusia yang penuh rasda tanggungjawab dan
    disiplin, konsisten, tidak pengecut, tidak suka menyalahkan orang
    lain, tidak suka menipu, tidak suka mengambil yang bukan milikya dan
    suka menolong sesama.Ideal kan?

  14. hehehe.. betul.. dan tidak saling dendam.. balas membalas..

  15. Mari kita lihat dan amati bersama,

    Ketika hari raya Idul Adha banyak kita jumpai pembantaian hewan
    seperti kambing atau sapi. Binatang atau hewan benar-benar tidak
    memiliki “kesadaran eksistensi dirinya” ciri-cirinya tidak bisa
    memproyeksikan dirinya.

    Oleh karena itu, ketika seekor kambing di depan mata kambing lainnya
    jelas-jelas dipenggal lehernya hingga muncrat darah segarnya dan
    sebentar lagi kambing yang melihat tadi pun akan segera dipengal
    lehernya, maka kambing tersebut tidak bisa membedakan dan tidak bisa
    membayangkan “apa itu kematian, apa itu rasa sakit”.

    Sehingga sekalipun sebentar lagi kambing itu akan dipenggal, si
    kambing masih bisa santai, makan bahkan melampiaskan birahinya.
    Niscaya, hal yang sama tidak akan terjadi pada manusia. Sebab,
    jangankan tahu kalau dirinya sebentar lagi akan dipenggal lehernya,
    melihat darah segar yang muncrat ketika ada kecelakaan saja banyak
    orang yang tak sanggup melihatnya.

    Manusia mungkin satu-satunya hewan yang memiliki kesadaran akan
    eksistensi dirinya, sehingga manusia memiliki akal yang kompleks, bisa
    membayangkan atau berkhayal, bisa berkreatifitas tiada batas, dan apa
    pun bisa dilakukan termasuk perbuatan-perbuatan yang teramat sangat
    sadis. Jika manusia telah kehilangan kesadaran eksistensi, maka dia
    akan kehilangan orientasi kehidupan.

    Menurut saya, seluruh aspek kehidupan yang menyatu kepada manusia
    bermula dari “kesadaran akan eksistensi dirinya”. Hanya saja tingkat
    kesadaran masing-masing orang (ego) tidak sama/berbeda, tergantung
    pada pengalaman indranya.

    Nah susahnya karena “otak” hanyalah seperangkat alat untuk berpikir
    maka sesungguhnya otak itu tidak bisa membedakan antara yang logis dan
    tidak, otak hanya merespon setiap input yang masuk. Dan respon itu
    tidak harus masuk akal atau tidak.

    Ingin contoh? keberadaan setan, jin, malaikat, tuhan dll sesungguhnya
    hanyalah produk dari pengalaman indra yang dirangsang oleh adanya
    penglihatan, pendengaran atau penciuman. Gabungan input dari
    pendengaran, penglihatan atau penciuman melahirkan sebuah “persepsi”.

    Nah persepsi manusia tentang tuhan, setan, jin atau malaikat
    tergantung dari pengalaman indranya tadi. Maka ada yang berkesimpulan
    bahwa tuhan, setan, jin, malaikat itu TIDAK ADA. Tetapi ada juga
    manusia yang berkesimpulan bahwa tuhan, setan, malaikat dan jin itu
    BENAR-BENAR ADA. Mana yang logis (benar) dari dua kesimpulan tersebut?

    Jadi akhirnya yang muncul hanyalah “persepsi” bukan masuk akal (logis)
    atau tidak. Itulah mulianya fungsi otak, yakni DIA tidak pernah
    berpihak (netral). Karena dia hanyalah seperangkat alat berpikir untuk
    menuntun langah-langkah kita. Perkara langkah kita benar atau salah,
    masuk akal atau tidak, bukanlah tanggungjawab dari OTAK.

    Itu tanggapan dari saya, mungkin orang lain atau literatur
    belum pernah ada yang mengupas seperti itu, jadi mungkin saja pendapat
    ku tersebut salah.

    Sumonggo dipun resapi, suwun.

  16. Apa yang dicontohkan mas Suprayitno benar adanya. Tapi, mungkin si kambing tau kalau kematiannya untuk ritual saja, sehingga dia cuek bebek, tidak ambil peduli.
    Berbeda halnya jika “kesadaran” si eksekutor dan yang akan dieksekusi dikomunikasikan. Coba tatap di kedalaman matanya sebelum disembelih.
    Hal itu yang menyebabkan hingga kini saya tidak berani menyembelih apa pun.

    • sama mas igung, aku juga tak tega memutus urat leher yang memuncratkan darah segar. Tapi, aku masih tega kalau makan dagingnya,he…..he…….he…….

      Yah ga tahulah, mungkin suatu saat atas kesadaran terhadap eksistensi sesama aku mungkin akan berhenti sama sekali makan daging.

      Toh aku yakin jika tak makan daging bukan berarti kita kekurangan gizi (protein).
      Kerbau, sapi, banteng, gajah, kuda, kijang yang tak pernah makan daging saja badannya tetap sehat, kuat dan lincah malah mungkin tak pernah kena kolesterol.

      salam cinta!!

  17. Yth.mas sabda wonten sak lebete sasi romandhon meniko kulo nyuwun pangapunten ingkang kathah ingkang di sengojo lan mboten di sngojo. Kawulo memang taksih bodo,karena saking ingin tahunya besar malah “ngisin-ngisini” diri sendiri.mohon maaf bahasanya campuran,mugi2 mas sabda tasih paring pitutur dateng kawulo pribadi. Nuwun salam pancasila

  18. RUANG KOSONG
    Oleh : Suprayitno

    Tuhan adalah “ruang kosong”
    Ruang kosong itu adalah
    Kanvas khayalan tiada batas
    Tiada awal tiada akhir
    Ada dalam tiada
    Di atas kanvas kosong itulah
    Para nabi merajut impian
    Melukis dan mengukir sejuta bayang-bayang
    Wajah tuhan
    Yang tak pernah bisa disentuh oleh siapa pun
    Lukisan itu hanya dapat terlihat
    Ketika kita membayangkan
    Lukisan itu “ada”
    Lukisan di atas kanvas kosong
    Telah memenuhi dan menguasai
    Segenap sudut ruang imajinasi
    Di sana ada sejuta bayangan
    Yang hanya bisa dikunjungi
    Lewat mimpi-mimpi
    0h mimpi yang sangat menakjubkan
    Yang dapat membunuh
    Sel-sel syaraf rasional
    Di atas ruang kosong itulah
    Mimpi-mimpi itu terus dipacu dan mengembara
    Menembus langit ke tujuh
    Membawa dan menaburkan
    Sejuta cerita mistis
    Yang dibalut dengan “kain wahyu”
    Melalui ruang kosong itulah
    Tuhan, dewa-dewi, malaikat, syaitan dan jin,
    Kerajaan surga dan wajah neraka
    Dilahirkan oleh para nabi
    Kemudian agar ciptaannya hidup
    Ditiupkanlah “ROH” dengan seribu satu versi
    Mereka menyembahnya dan memujanya
    Menangis, tertawa dan segala permohonan
    Ia ajukan kepadanya
    Akhirnya manusia telah menyembah
    Rekayasa pikirannya sendiri
    Memuji-muji khayalannya sampai mati
    Ada lagi pemuja berhala
    Berhala lahir dari sang pemahat
    Wajah berhala adalah wajah para dewa
    Yang bermula dari jelajah alam maya
    Alam maya yang tak pernah tidur sedetik pun
    Selalu mengusik dan memanggil
    “Ayo, dekatkan dirimu padaKu”
    Di tangan pemahat
    Jarak jauh itu direkatkan
    Dalam bentuk wajah berhala (patung)
    Terbentanglah jembatan komunikasi
    Sekarang…..
    Pemuja itu dapat merapat
    Tertawa, menangis, memohon kepada para dewa
    Dewa itu dekat dihadapannya

    Semarang, 27 Agustus 2009
    Untuk anak-anakku tersayang :
    Andrei Febrian dan Bintang Alam Mahardhika.

    Catatan :
    Patung atau berhala hanyalah jembatan utuk melewati dan mempermudah penyatuan antara dimensi riil dengan dimensi abstrak. Tanpa kehadiran patung/berhala mereka seolah-olah kehilangan pegangan.

    Hal ini menyebabkan terjadinya dualisme dalam diri patung karena disatu sisi dia berfungsi sebagai jembatan untuk menuju alam abstrak, namun di sisi lain sekaligus dipersonifikasikan sebagai sosok riil yang benar-benar memiliki power. Sehingga terjadilah sakralisasi terhadap wujud patung yaitu adanya rasa takut dan hormat bahkan kadang diberi persembahan berupa sesaji makanan, minuman atau yang lainnya.

    Sedang bagi pemuja yang tidak membutuhkan media perantara (tauhid), mereka lebih kuat pada gagasan, pikiran dan perasaan. Sehingga bagi pemuja jenis ini lebih mengandalkan kepada khayalan tentang sosok yang mereka sembah, artinya khayalan itu tidak harus diwujudkan dalam bentuk patung/berhala.

    Mereka bisa menyembah dengan “konstruksi” khayalannya sendiri. Tuhan ada dimana-mana namun tidak berwajah. Tuhan mereka bisa memberikan petunjuk-petunjuk yaitu melalui “wahyu” yang diterima oleh para pemimpinnya.

    Akhirnya setelah kumpulan wahyu itu dicatat dan diterbitkan menjadi sebuah al kitab, maka terjadilah sakralisasi terhadap wujud buku tersebut. Sehingga untuk menyentuh dan membacanya ada persyaratan khusus dan disediakan pahala bagi yang membacanya.

    Alkitab pun menjelma menjadi “berhala” dalam bentuknya yang lain. Sementara golongan ini sangat antipati terhadap berhala yang berujud patung. Penyembah berhala (paganism) itu namnya Musyrik.

  19. @Lare Asem Tirang Yth
    Sama-sama, saya juga mohon maaf atas segala khilaf yg saya sadari maupun tidak. Semoga persahabatan menjadi bermanfaat utk saling asah asih asuh.

    @Suprayitno Yth
    Matur nuwun mas, saya menyimak semua tulisan panjenengan yg kritis realistis. Tentu panjenengan menulis dengan melibatkan hati NURANI paling dalam. Maka akan lebih nikmat jika dipahami melalui kacamata hakekat. Saran saya kepada rekan-rekan semua para pembaca yg budiman, untuk membaca melalui “kacamata” hakekat, sehingga mudah sekali memahaminya.

    sekali lagi, matur nuwun
    salam sejati

  20. Matur sembah suwun juga saya sampaikan untuk panjenengan eyang Sabdo Langit.

    Saya selalu berpikir satu aspek kehidupan jika dipikirkan bareng-bareng akan tumbuh saling pengertian. Dan dengan pengertian akan saling bisa menjaga kehidupan, bukan menghancurkan kehidupan.

    Mungkin karena saya tidak terlalu pandai dalam menguraikan arti kehidupan maka pandangan-pandangan saya cenderung sangat simpel dan sederhana.

    Sebab saya yakin sebagus apapun suatu ideologi atau keyakinan, yang paling sulit adalah melakukannya/menjalankannya secara konsisten dan konsekuen.

    Apalah artinya semua ilmu yang kita kuasai jika pada akhirnya tidak bisa menolong kehidupan diri sendiri menjadi berpikir lebih baik dan berprilaku lebih baik.

    Apapun ilmu kita bukanlah menjadi “tujuan” (apalagi kalau untuk kesombongan dan mencelakai orang lain) melainkan sebagai sarana untuk memayu hayunig diri dan memayu hayuning bawono. Sebab, hayuning bawono menurut saya berawal dari hayuning diri.

    Itulah pendapat saya, sederhana sekali kan?

  21. Eyang sabdo,
    sebelumnya saya mohon maaf, sebab sepertinya saya telah mengotori blog panjenengan dengan aneka pendapat yang mungkin mengundang kontroversi.

    Bersama ini perkenankanlah saya, menyampaikan “copy” tulisan debat saya dengan seorang rekan blog yang bernama lovepassword. Mudah-mudahan jika tulisanku /pendapatku dianggap gak bener (sesat) maka bisa diluruskan atau disanggah oleh pengunjung yang lain Matur suwun.

    Untuk @love :

    Ya, kita lihat saja tuh bolo-bolomu yang sering nampang di tv, atau guru-gurumu yang pasti suka memberikan nasehat-nasehat.

    Mereka seakan-akan “MENGGENGGAM KEBENARAN” karena dia sedang mewakili “PIKIRAN DAN KEMAUAN TUHAN”. Karena dia begitu “YAKIN” dia sedang membela tuhan, maka dengan sangat berapi-api dan berwajah sinis, dia seolah berkata “inilah guwe dengan agama guwe yang pasti selamat dunia dan akherat”.

    Lalu mereka mulai “MENYEBARKAN HAWA PANAS” kepada para pengikutnya. Mereka mendoktrin para generasi muda dengan kedua matanya ditutup memakai kacamata kuda, supaya mereka hanya melihat “KEBENARAN DARI SATU SISI” saja.

    Apa hasilnya? produk dari ajaran semua agama justru hanya “MENGKERDILKAN PIKIRAN MANUSIA”. Manusia akhirnya “DIJAJAH OLEH AGAMA” dengan tuhan sebagai penguasa tunggal, yang pasti benar adanya dan TIDAK BOLEH DIKRITIK.

    WAHYU itu kata-katanya/sabda tuhan yang pasti benar, jadi sampeyan tidak boleh “MENGKRITISI” apa lagi sampai menghujat. Wah, cilaka kamu kalau sampai menghujat!! kamu akan dimusuhi oleh berjuta-juta manusia yang telah menjadi budak agama.

    Salah satu dari produk agama, coba saja lihat bagaimana seorang perempuan harus “MENDANDANI DIRINYA” sedemikian rupa hanya kelihatan bola matanya dan mereka takut sekali untuk bersalaman dengan lawan jenis (yang bukan muhrimnya), seakan-akan lawan jenis itu haram untuk berjabatan tangan.

    Ini ajaran darimana? tentu mereka bilang ini ajaran Tuhan sesuai dengan wahyu-Nya. Terus terang, jika benar ini dari tuhanmu, maka itulah yang disebut “TUHAN GENDENG”. Mengapa? sebab, secara nalar saja tidak mungkinlah tuhan ngurusi “pakaian” wanita.

    Tuhan yang amat rendah begini ternyata menjadi sembahan dan puja-puji miliaran manusia di atas bumi.

    Saya gak tahu, sebenarnya yang rendah nabinya atau tuhannya. Sebab, kalau aku mau konfirmasi kepada nabinya, dia sudah mati. Tetapi kalau aku mau tanya langsung kepada Tuhan nanti ternyata kalau Tuhan menjawab “Wah jangan percaya sama yang tertulis di alkitab, itu semua omong kosong karena yang dikatakan wahyu itu tak lain adalah produk dari pemikiran nabi”. Nah kalau ternyata yang keluar jawaban-Nya seperti itu, bagaimana?

    Coba saja kalian semua bertanya kepada Tuhan,baik bagi yang beragama Islam, Hindu, Buddha,Kong Hu Tju, Kristen atau yang kafir juga boleh kalau mau, mau gak tuhan menjawab? Jika mau, apa jawabannya serempak sama, atau berbeda-beda antara jawaban pada yang satu dengan yang lainnya?

    Beragama jika hanya menggunakan “keyakinan/keimanan” tanpa dibarengi dengan akal dan kritisisme maka akan lahir barisan-barisan “robot” yang sangat mudah dikendalikan dengan remote control.

    Mereka menjadi insan yang “patuh” bahkan melebihi robot, karena kalau robot jelas benda mati sedang manusia benda hidup.

    Maka, akan sangat berbahaya “merobotkan makhluk hidup yang bernama manusia”. Saya melihat, kebanyakan yang telah telanjur menjadi robot, justru sangat bangga dan menyebut dirinya sebagai “PAHLAWAN TUHAN”.

    Padahal yang sebenarnya mereka adalah “HANTU”!!!!!

    Sory love kamu pasti bukan hantu dan respon ini hanya buatmu seorang, karena mudah-mudahan kamu tidak emosional. OK…

    • Mas Suprayitno Yth
      Kalimat dan pendapat asal keluar dari hati nurani, bukanlah sesuatu yang kotor. Justru menjadi ungkapan kejujuran. Saya sangat menghargai dan menghormati keberanian untuk jujur. Panjenengan bisa juga berdiskusi dgn saya melalui email sy. Silahkan via email sabdalangir@gmail.com atau bisa dilihat di Media Tanya Jawab.

      salam sih katresnan
      Rahayu

  22. matur suwun eyang sabdo,

    saya langsung saja meluncur ke e-mail panjenengan supaya lebih privacy.

    salam kasih,
    suprayitno

  23. Eyang sabdo,
    saya sudah kirim e-mail ke panjenengan kok belum dibalas ya? apa masih sibuk atau belum sempat?

    mudah-mudahan ada waktu untuk membalasnya.

    Terimakasih.
    salam
    suprayitno

    • Mas Suprayitno Yth
      Mohon maaf sepertinya dalam menulis email ada SATU HURUF yang salah, saya cari belum kok sepertinya blm ada masuk ya, mungkin ada trouble mailerdaemon, coba mas suprayitno mohon kirimkan email lagi. Sekali lagi mohon maaf. saya ulangi lagi sabdalangit@gmail.com

      salam asih asah asuh

  24. iya, terim kasih. kalau di report e-mail saya berita sudah terkirim.

    tapi ini saya kirimkan lagi.

    salam
    =============
    sudah saya reply Mas, monggo dipun bika mawon
    salam asah asih asuh

  25. Buat kita renungkan:

    Apa benar sih tuhan kok suka mengancam? mungkin itu hanyalah merupakan cerminan nabi pembawanya.

    Artinya, kalau nabinya suka perang, otomatis tuhannya juga suka perang, kalau nabinya suka mengancam otomatis tuhannya juga suka mengancam, kalau nabinya suka poligami/ngeseks (perempuan) ya…tuhannya pun suka poligami juga. Jika nabinya tidak menyukai “kafir”, tuhannya pun pasti anti kafir juga dan seterusnya.

    Kayaknya, PIKIRAN TUHAN MENGIKUTI PIKIRAN NABI deh. Coba saja kita lihat, dimana nabi itu dilahirkan maka otomatis karakter tuhan mewakili kultur masyarakat setempat.

    Coba deh andaikata muhammad lahir di Jawa, khususnya Jawa Tengah maka bentuk-bentuk wahyu-Nya atau nuansanya pun niscaya akan berbeda. Sebab, karakter dan persoalan antara orang arab dengan orang Jawa so pasti sangat berbeda. Jadi konsep wahyu itu sebenarnya sangat dipengaruhi oleh kultur setempat.

    Jadi? tuhan mungkin cuma alat untuk menghipnosis. Makanya, jika nabinya “kuat” bentuk ancaman tuhan (bentuk wahyu-Nya) bisa langsung di muka bumi (hukum pidana).

    Tetapi, ketika nabinya masih lemah karena belum memiliki kekuatan yang ditopang oleh para pengikutnya (basis massanya masih sedikit), biasanya ancaman tuhan lebih bersifat “persuasif” yakni cukup berupa “siksa di alam kubur” atau siksa yang sangat pedih di neraka. Tunggulah kematianmu, di sana tuhan akan mengadakan perhitungan/pembalasan.

    He he he, tuhan kok beraninya sama orang mati, wah tuhan yang lemah dong. Orang yang sudah mati kok dimusuhi, gak ketemu akal sehat kan? Orang beriman niscaya akan menjawab “Lho tapi kan ruhnya tidak ikut mati, yang mati kan cuma raganya”.

    Kalau begitu ngapain untuk “menghukum ruh” saja harus tunggu raganya mati lebih dulu? Apa tuhan tidak bisa menyiksa/menghukum ruh seseorang pada saat dia masih hidup, pasti bisa kan? wong katanya tuhan maha kuasa? andai nabi-nabi itu saat ini masih hidup, hal ini pasti saya tanyakan kepada nabi-nabi yang mengaku utusan tuhan itu.

    Pemahaman demikian akan lebih mudah mempelajarinya apabila dalam membaca alkitab/merekonstruksi (dalam hal ini al quran) tidak sepotong-sepotong melainkan secara holistik, sistematik dan kronologik disertai asbaabun nuzuulnya.

    Caranya? pertama-tama al quran yang terdiri dari 114 surat itu harus displit lebih dulu menjadi dua kelompok yakni surat-surat yang turun di Mekah (golongan surat-surat Makkiyah) dan golongan surat-surat yang turun di Madinah (Madaniyyah).

    Penyusunan al quran yang ada dihadapan anda saat ini tidaklah urut berdasarkan PERIODESASIi turunnya ayat. Misal, ayat yang pertama turun adalah Al alaq, tetapi penyusunannya justru ditempatkan pada surat ke 96.

    Mengapa bisa terjadi demikian? coba tanyakan pada yang pertama kali menyusun alquran, mengapa al quran kok tidak disusun secara sistematik dan kronologik? Mengapa ini penting ditanyakan? sebab untuk memahami anatomi al quran secara baik, mau tidak mau harus dibaca secara holistik, sistematik dan kronologis.

    Dari hasil pengelompokan berdasarkan tempat turunnya wahyu, kita bisa melihat perbedaan karakter yang sangat mencolok. Misal jika pada periodesasi Mekah (pada saat posisi muhammad masih lemah/INFANT COMMUNITY) ayat-ayat mengenai “golongan kafir” cenderung masih akomodatif (lihat QS 109) tetapi tidak demikian ketika posisi muhammad sudah mulai kuat baik secara politis maupun ekonomis maka bentuk ayat-ayat mengenai penyerangan terhadap “golongan kafir” mulai jelas ancaman-ancamannya (ancaman secara fisik, jadi bukan lagi ancaman secara psikis).

    Oleh karena itu jika kita akan berbicara mengenai sikap muhammad (yang juga tentu saja adalah sikap allah) terhadap golongan kafir, maka mau tidak mau kita harus “mengumpulkan” KESELURUHAN AYAT tentang kafir dari mulai yang turun di Mekah sampai di Madinah.

    MEMAHAMI SUATU AYAT Tidak bisa secara parsial (sepotong-sepotong), sebab dalam hal terminologi kafir akhirnya pun mengalami perubahan yang significant.

    Hampir seluruh produk hukum yang bersifat mengikat/memaksa turunnya juga di Madinah. Mengapa kok bisa demikian? Bisakah faktor sosiologis-politis diabaikan?

    Nah, jika al kitab dalam hal ini TEKS-TEKS al quran dibaca “HANYA” melalui pendekatan mistis-subyektif maka hasilnya ayat-ayat al quran akan menjelma menjadi kekuatan ghoib yang serba sakral.

    Tetapi, jika membaca atau memahami teks al quran sebagai kitab perjalanan atau sejarah sosok muhammad, maka akan melahirkan ilmu pengetahuan yang sifatnya sangat reliable bahwa tak bisa dipungkiri atau memisahkan ayat alquran dengan faktor politik dan kekuasaan.

    itu opini saya pribadi. tk

  26. Maaf ya mas sabdo, karena aku rasa cukup menarik maka aku copykan lagi terusannya diskusi ya, mudah-mudhan nyambunglah dengan artikel panjenengan,

    Sbb. :

    Kalo kita bicara persepsi , melihat dari berbagai sisi, saya rasa manusia memang berbeda-beda cara melihatnya. Lha ada manusia yang fokus melihat salah satu sisi yang menjadi keahliananya, ada juga yang melihat secara lebih umum ============

    kan aku udah bilang, jika kita melihat al quran tidak secara holistik, sistematik dan kronologik, ya hasilnya hanya berupa potongan-potongan puzzle.

    mungkin seseorang mendpat gambar “telinganya” doang dan mengatakan telinga model ini paling sempurna, mungkin yang lain mendpat potongan rambut, hidung, tangan, kaki, dan seterusnya.

    Mereka dengan modal pengetahuan yang masih sepotong-sepotong sudah bisa menjadi “guru” . Dan gebleknya lagi, muridnya juga mengelu-elukan, sambil ikut mempromosikan “Lihat tuh guru guwe yang paling hebat ilmu agamanya”.

    Nah, yang terjadi akhirnya “kepatuhan secara buta” dikiranya al kitab itu merupakan lembaran-lembaran suci yang tak terkontaminasi oleh kepentingan-kepentingan politik kekuasaan dan seks nabi muhammad sendiri. Jelas kan?

    untuk maslah pembelaan “etnik” terus terang gw masih berpikir “lebih diutamakan” gw membela sesama etnik kita dari pada membela etnik arab. Mengapa? toh etnik arab juga memiliki perasaan ego yang sama.

    Makanya jika bangsa arab pengin kuat, ya mereka harus bersatu lebih dulu sesama etnik/bangsa arab.

    Lha wong sesama etnik arab aja masih pukul-pukulan dan bunuh-bunuhan, kok kita yang bukan “apa-apa” nya mereka sibuk mengadakan pembelaan. Bangsa arab kan jelas bukan nenek moyang kita, artinya secara genetis-psikis-subyektif dan emosi, tak ada “ikatan batin” dengan bangsa kita.

    Secara sosial (kemanusiaan) sih OK, tapi kan ada beberapa syarat supaya kita bersimpati pada bangsa arab.

    Syarat pertama bangsa arab ya harus menghargai dan mau membantu kita dalam setiap kesulitan. Toh bangsa kita sudah memberikan “babu-babu” yang mau dibayar murah dan sudah memberikan devisa yang sangat besar sepanjang sejarah melalui ibadah haji/umrah.

    Pertanyaannya, apa yang dilakukan negara-negara super kaya arab terhadap bangsa kita, ketika bangsa ini mendapatkan musibah?

    Apa bangsa arab merasa masih kurang atas semua kebaikan dari bangsa kita? Bangsa kita juga merupakan “pengimpor” agama dari arab yang terbesar di dunia, iya kan?

    Apa coba keuntungan kita dengan menjadi pengimpor agama terbesar dari bangsa/negara arab?kan yang paling untung juga negara arab ( maksudnya arab saudi) Mereka mendapatkan keuntungan plus-plus dari ibadah haji/umrah sepanjang masa.

    Lha bangsa kita paling cuma pinter berdoa, mengaji, membaca tulisan arab, memakai kerudung, memakai sarung, memelihara jenggot dengan celana komprang, bahkan terakhir ketularan menjadi teroris.

    Wah cilaka-cilaka, nih yang nggak beres agamanya apa orangnya ya? jika orangnya mengapa konon sebelum islam masuk negara kita tenang-tenang aja tuh, ga ada pemberontakan yang ingin mendirikan negara Buddha, Hindhu atau Kristen?

    itu kan semua fakta? yang entah kapan kita akan menjadi bangsa yang penuh dengan kesadaran untuk menghentikan “impor agama”.

    Mendingan impor teknologi aja dah, supaya bangsa kita cepet bisa bikin pesawat ulang-alik kayak discovery itu, dari pada impor agama dari tanah seberang yang belum tentu cocok dengan budaya kita.

  27. Manusia adalah makhluk mistik? oh no, Mistik adalah pertemuan antara kepercayaan atau agama dengan budaya. Itulah kenapa hantu-hantu di belahan dunia berbeda-beda. Di jawa ada pocong, di sunda ada kolong wewe, di jepang ada fampir dan di eropa ada drakula. Jika dikatakan manusia adalah makhluk mistik kayaknya saya masih belum bisa menerima. Karena tidak semua manusia punya kekuatan mistik, mungkin hanya paranormal atau orang tertentu saja yang mempunyai kekuatan mistik. Mistik juga disebut kekuatan supra natural kan!

    Memang manusia ada sebagian dari kita terdoktrin dengan budaya n tradisi-tradisi mitos,seperti mitos Nyi roro kidul, mitos upacara-upacara perkawinan dll. tapi manusia pada dasarnya bukan makhluk mistik karena manusia adalah makhluk yang kongkrit dan nyata yang berfikir dengan rasional. Hanya orang gila yang berfikir dengan irasional. Mistik menjadikan orang jumud dan malas berfikir, dan hanya menjadi teror saja bagi manusia agar takut kepada sesuatu yang mistik
    =============
    abdul zen yth
    Secara sosiologis, dan jika mau jujur, bahwa keimanan seseorang selama ini berdasarkan mitologi belaka. Nah, antara mitologi, mitos (myth), dan mistis (mystical) adalah 3 kata yang berbeda makna. Coba lebih dipahami ketiganya sebelum melanjutkan diskusi agar pemahaman anda tidak semakin salah kaprah.
    Coba panjenengan baca berulang2 tulisan di atas menggunakan mata hati yg bersih, batin yg bening, dan jangan mengandalkan rasio saja. Proses penerimaan budaya (budi daya) berbeda dengan agama yg hanya karena kebetulan mengikuti sosialisasi agama ortu saja. Budaya justru jauh dari upaya DOKTRINASI, sebaliknya budaya dibangun melalui proses yg sangat panjang dan lebih arif berupa kristalisasi nilai berkat pengalaman hidup sehari-hari dalam interaksinya dgn sesama manusia, makhluk gaib, dan lingkungan alam. Nilai budaya diambil dari pengalaman yg baik dan positif, lalu diulang menjadi kebiasaan, lalu menjadi custom, berkembang menjadi adat dan tradisi. Jadi Budaya merupakan bentuk nyata kearifan manusia terhadap lingkungan alam, dan lingkungan masyarakat. Lantas nilai2 budaya diejawantah ke dalam perilaku penghayatan nilai dalam kehidupan sehari-hari. Saya kira sudah sangat jelas dan gamblang ketika saya “meluruskan” pandangan mistik yg selama ini banyak salah kaprah antara mitologi dan mitos. Agar lebih mudah dilihat saya ambil contoh, misalnya seperti isi komentar anda ttg mistik. Bahkan tanpa anda sadari jika anda sedang menjalani kehidupan yg penuh mistik ini.
    Rahayu

  28. numpang tanya dikit mas Abdul Zen,

    kalau ada sebagian masyarakat atau orang yang mengaku pernah bertemu dengan nyai blorong/nyi roro kidul, dengan mudah oleh agamawan (orang-orang yang beriman/sholeh) dikatakan sebagai musyrik atau menyekutukan tuhan atau juga mistik, atau “ah itu cuma mitos belaka!!”.

    tetapi, apakah percaya dan menyembah tuhan itu juga bukan bagian dari “misitik”? mengapa porang-orang beriman mau percaya ketika diceritani bahwa muhammad pernah melakukan isra miraj ke langit ke tujuh? apa bedanya cerita itu dengan cerita tentang nyai roro kidul?

    Menurut asal katanya, kata mistik berasal dari bahasa Yunani mystikos yang artinya rahasia (geheim), serba rahasia (geheimzinnig), tersembunyi (verborgen), gelap (donker) atau terselubung dalam kekelaman (in het duister gehuld).

    Menurut buku De Kleine W.P. Encylopaedie (1950, Mr. G.B.J. Hiltermann dan Prof.Dr.P. Van De Woestijne halaman 971 dibawah kata mystiek) kata mistik berasal dari bahasa Yunani myein yang artinya menutup mata (de ogen sluiten) dan musterion yang artinya suatu rahasia (geheimnis).

    Nah apakah tuhan itu tidak sama “rahasianya/mistiknya” dengan nyi roro kidul? dan apakah manusia itu juga bukan merupakan makhluk yang serba misteri? serba mistik/rahasia?

    contohnya, mengapa manusia bisa memiliki perasaan cemas, takut, benci, cinta, bahagia, duka, apa sebab semua itu? bisakah dijelaskan hanya secara “rasional”
    belaka? apa-apa yang menjadi “perasaan” kita, belum tentu selalu sejalan dengan “rasio” kita. Contoh orang yang takut pada tempat yang gelap, takut dengan “hantu” dsb, padahal secara rasio semua itu tak perlu ditakutkan.

    contoh lain, ada orang yang takut setengah mati dengan api neraka, padahal orang tersebut seumur-umur gak pernah piknik melihat-lihat pemandangan kawasan neraka, lha kok takut? ini juga penuh dengan muatan mistik kan?

    Nah coba tolong diterangkan, matur suwun.

  29. terima kasih mas sabda langit yang terhormat,,

    tadinya saya tidak akan tau apa arti kehidupan dan kematian dari kejawen dengan adanya mas sabda langit saya sedikit tau arti kehidupan dan kematian dan diri sebenar diri

  30. klo menurut gw seh,, trsera loe aja, maw prcaya apa kek itu kek, terserah loe aja, keyakinan pan, súatu kebebasan utk memilih,, maw percaya tuhan, nyi roro kidul, ataw dewa2 langit sekalipun itu pilihan loe,, jd ngak usah deh, nyerang keyakinan orang lain dah,? Loe maw percaya tuhanya orang arab kek, tuhanya orang jawa kek, ataw tuhanya suku2 lainya, terserah kamu aja,, yg pasti iman seseorang adalah pilihan pribadi orang tsb, dan bertanggung jawab pada iman yg dia pilih tsb, gitu aja kok repot,,? Hehehe,,, salam sejahtra untuk smuanya,,,

    • @aponcho said :
      …….terserah kamu aja,, yg pasti iman seseorang adalah pilihan pribadi orang tsb, dan bertanggung jawab pada iman yg dia pilih tsb, gitu aja kok repot,,?

      Sdr. aponcho yang baik,
      saya setuju banget dengan pendapat Anda, cuma yang selalu bikit repot dan merepotkan adalah bahwa fakta yang namanya agama, iman atau cara-cara beriman itu ternyata DIPERDAGANGKAN.

      Lha kalau sudah bersentuhan dengan faktor “bisnis” kan pakai dalil “semua halal” dan mereka saling menyerang atau melemahkan “produk kompetitor” demi meraih atau menguasai “pasar”.

      Inilah yang sesungguhnya terjadi dan ini pula yang selalu bikin repot. Saya rasa strategi pemasaran agama “terkadang” jauh lebih jahat dari pada produk-produk lainnya.

      Sebab produk agama selalu dibalut dengan kain mistis yang bisa berupa WAHYU atau dalam bentuk lainnya. Mereka selalu menakut-nakuti dan mengancam dengan api neraka dan selalu menjanjikan dengan segala kenikmatan yang disebut dengan surga. Padahal sejatinya yang menjanjikan itu belum pernah mati dan piknik ke kawasan elite yang disebut surga-neraka itu.

      He…….he…….he……he……….mereka saling ngapusi, berbohong dengan bermodalkan kitab.

      Itulah yang bikin repot kita semua.

      • He…….he…….he……he……….mereka saling ngapusi, berbohong dengan bermodalkan kitab.

        Itulah yang bikin repot kita semua.
        ================
        gak usah repot-repotlah yg lainya, biar mas Suprayitno aja yang repot,………..
        Q suka coment mas.aponcho, “,Iman seseorang adalah pilihan pribadi orang tsb, dan bertanggung jawab pada iman yg dia pilih tsb, gitu aja kok repot…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: